-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 20

Jilid 20

- Oh, kau? - Rawayani terperanjat

- Ya, aku. Kita sudah saling mengenal, bukan? Meskipun hanya selintasan. -sahut Diah Windu Rini seraya maju mendekat - Aku tahu siapa yang menyuruh mereka. Mereka laskar dari Madura yang dikirimkan kemari untuk membantu tentara Kartasura. Me- reka mengangkut peti-peti ini atas perintah Adipati Cakraningrat -

Nama Adipati Cakraningrat sudah terkenal semenjak puluhan • tahun yang lalu. Siapapun menaruh hormat padanya, karena anak -keturunan Cakraningrat musuh Kompeni Belanda. Adipati Cakraningrat menantu raja Kartasura pula.

- Baiklah. - Rawayani menyenak nafas. - Siapa yang menjamin, bahwa harta benda ini milik Adipati Cakraningrat? -

- Aku. - jawab Diah Windu Rini dengan suara meyakinkan.

- Apakah kau sanggup melindungi? - Rawayani tersenyum.

- Kesanggupanku sama besarnya dengan kesanggupanmu me- lindungi Gemak Ideran.- Itulah jawaban Diah Windu Rini yang berada diluar dugaan Ra- wayani. Bahkan Gemak Ideran pula. Bagaimana Diah Windu Rini tahu, bahwa dirinya kini berada dalam genggaman Rawayani?

Ru-panya Rawayani ingin memperoleh keyakinan pula. Menegas

- Gemak Ideran? Siapa dia? -

- Bukankah engkau yang ikut masuk dalam pesanggerahan?- Rawayani merasa tidak perlu berkepanjangan memprmasalahkan Gemak Ideran. Dengan mendadak ia menghunus pedangnya sambil berkata :

- Kau berlagak sebagai pelindung harta benda ini. Coba aku ingin melihat ilmu pedangmu. -

Wajah Diah Windu Rini tidak nampak heran. Rupanya dia sudah menduga akan menghadapi peristiwa demikian. Semenjak ia melihat gerak-gerik Rawayani df perkampungan Cing Cing Go- ling, ia merasa akan mendapat kesulitan di kemudian hari dengan gadis itu. Sebaliknya, jantung Gemak Ideran berdegup tak

keruan-keruan.

Kedua-duanya adalah seumpama dua ekor macan betina. Keduanya sama angkuhnya dan masing-masing memiliki kepan- daiannya sendiri. Ilmu pedang Diah Windu Rini tidak perlu di- sangsikan. Cepat dan ganas. Sedangkan Rawayani seorang gadis ahli racun. Dengan obat istimewanya, dirinya pernah memiliki te-naga dahsyat sekian kali lipat Bila Rawayani menggunakan obat istimewanya, tenaganya akan dapat menghnbangi Diah Windu Rini. Bukan mustahil malahan jauh melebihi. Padahal, di dalam ha-tinya ia tidak mengharapkan salah-seorangnya menderita luka.

Dalam pada itu, mereka berdua sudah saling berhadapan. Berkatalah Rawayani:

- Aku pantas memanggilmu ayunda. Ayunda datang dari jauh. Silahkan ayunda mulai terlebih dulu! -

Diah Windu Rini selamanya seorang gadis yang tinggi hati. Tanpa berkata lagi, terus saja pedangnya dihunus dan langsung di- tikamkan. Namun tikamannya asal jadi saja. Agaknya, dia tidak bermaksud melukai Rawayani.

Beda dengan Rawayani yang berhati kejam. Dia berkelahi de- ngan sungguh-sungguh seperti adatnya, terus saja ia menikam punggungnya dengan maksud membunuh satu kali gebrakan. Ke- ruan saja Diah Windu Rini terkejut Rkirnya:

- Gadis ini benar-benar kejam. Dia berkelahi dengan sungguh- sungguh. -

Oleh pikiran itu, secepat kilat ia memutar tubuhnya. la menangkis berbareng menyerang. Diapun seorang gadis yang tinggi hati.

Demi menyelamatkan harta-benda laskar Madura, dia tadi bersedia mengalah. Tetapi merasa dipelakukan dengan kejam, segera ia mengim bangi. Dalam hal ilmu pedang, ia sudah berada pada puncak kesempurnaan. Bisa dibayangkan betapa cepat gerakan pedangnya.

Begitu pedang Rawayani tertangkis miring, ujung pedangnya sudah mengarah ke bahu hendak memutuskan tulang sambung. Inilah bahaya!

- Bagus! - seru Rawayani.

la berkelit sambil memutar tubuhnya pula. Ilmu pedangnya tidak kurang anehnya. Pantas dia berani me-nantang Cing Cing Goling, pikir Gemak Ideran dengan hati berde-baran. Baru saja tubuhnya setengah memutar, pedangnya menye-lonong membuat serangan balik. la menusuk berbareng meni-kam.

Sebenarnya Diah Windu Rini melihat suatu lowongan. Kalau saja ia mau menabas pedang Rawayani, pasti terpotong menjadi dua bagian. Akan tetapi ia tidak mau mengecewakan lawannya. Hal ini ada sebabnya. Yang pertama, Rawayani menolong Niken Anggana tatkala berada di perkampungan iblis Cing Cing Goling. Tanpa petunjuknya, tidak mudah ia menemukan kamar tahanan Niken Anggana. Yang kedua, Rawayani ikut memusuhi rombongan orang-orang bertopeng. Dan yang ketiga mengenai hubungan-nya dengan Gemak Ideran. Gagak Seta sempat melihat dan memberi kabar kepadanya. Karena pertimbangan itu, ia hanya mengelak dengan mengendapkan kepalanya saja. Hba- tiba pedang Rawayani berkelebat nyaris menyambar rambutnya dan berbalik hendak menabas telinga. Buru-buru ia melompat ke samping enam langkah jauhnya. Diluar dugaan, Rawayani sudah memburu tiba. Dalam sekejap mata saja, ia sudah berada di depan hidungnya kembali.

- Ayunda, kenapa ayal-ayalan? - tegur Rawayani.

Belum habis gaung suaranya ia sudah menyerang kembali. Gerakan pedangnya tidak pernah ragu. Langsung saja menikam atau menusuk. Kadangkala berputar, lalu menabas dengan mendadak.

- Celaka! - pikir Gemak Ideran dengan hati cemas.

- Rawayani ibarat iblis. Kalau ayunda Windu Rini tidak melayani dengan sungguh-sungguh pasti rugi. Sebab rupanya Rawayani mengguna-kan obatnya yang istimewa. Gerakan pedangnya mantap dan membawa kesiur angin. -

Tetapi Diah Windu Rini berpikir lain. Memang gerakan pedang Bawayani membawa tenaga sakti. Akan tetapi ilmu pedangnya masih kacau-balau. Pendek kata campur aduk tak keruan-keruan, sehingga tenaga saktinya tidak ikut mendukung. la ibarat seseorang yang lagi kalap. Baik tikaman, tusukan maupun tabasan pedangnya asal jadi saja.

Memang kecepatannya bisa mengelabui lawan yang masih dangkal pengetahuannya. Tidak demikianlah baginya. Meskipun begitu, mau tak mau ia dipaksa untuk bergerak cepat Melihat kesanggupannya, terbangunlah semangat tempurnya. Memang, kerapkali watak Diah Windu Rini mau menang sendiri. Bila watak mau menang sendiri terbangun, tiba-tiba ia menjadi galak dan ganas.

Syukur, masih saja ia teringat. Rawayani bukan musuh dengan arti sebenarnya. Bahkan ia percaya di kemudian hari akan banyak gunanya. Karena itu segera ia menguasai diri setiap kali semangat tempurnya terbangun. la kini hanya melayani saja. Tak terasa sera-tus jurus telah lewat. Inilah kejadian yang pernah disaksikan Gemak Ideran untuk yang pertama kali.

Biasanya Dian Windu Rini menghabisi perlawanan musuhnya paling banyak dalam limabelas gebrakan. Kenapa sampai seratus jurus? Apakah ilmu pedang Rawayani memang terlalu hebat?

Gemak Ideran tidak percaya. Dia-pun secrang pemuda berkepandaian pula. Sesekali melihat jurus Rawayani banyak terdapat kelemahannya. Hanya saja sukar ditem-bus. la jadi teringat kepada pengalamannya sendiri tatkala bertempur melawan Blandaran.

- Ah, jelas! - Gemak Ideran tersadar. - Rawayani menggunakan obat istimewa penghimpun dan penambah tenaga sakti. Tetapi kalau digunakan terlalu lama, bukankah bakal menderita seperti diri-ku?-

Tohir dengan seluruh teman-temannya mengikuti pertempuran itu dengan hati kebat-kebit. Tentu saja mereka mengharapkan, Diah Windu Rini yang menang. Sebab mereka tahu, Diah Windu Rini puteri Adipati Cakraningrat. Tetapi pertandingan itu sendiri terasa bertele-tele, sehingga mereka tidak tahu dengan pasti siapakah yang bakal merebut kemenangan.

Selagi mereka dalam keadaan berbimbang-bimbang, terdengar suara benturan memekakkan telinga,

Rawayani menyerang dengan dahsyat Rupanya dia mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Didesak demikian, Diah Windu Rini tak mau berayal lagi. Terpaksa ia menabaskan pedangnya. Tak! Dan pedang Rawayani patah menjadi dua bagian.

Memang pedang Diah Windu Rini termasuk pedang mustika. Menyaksikan peristiwa itu, Tohir dan teman-temannya nyaris bersorak kegirangan. Namun pada detik berikutnya mendadak terjadi suatu peristiwa yang ajaib pula. Rawayani berputar dan menghantamkan sisa pedangnya yang masih digenggamnya. Entah bagaimana caranya menghantamkan, tahu-tahu pedang Diah Windu Rini terpental dan terlepas dari tangannya.

Kecuali Rawayani sendiri, hanya Gemak Ideran yang tahu apa yang sudah terjadi. Rawayani memiliki ilmu istimewa. Itulah obat' yang bisa menambah tenaga saktinya sekian kali lipat Dan dengan tenaga istimewa itu, ia menyambitkan pedangnya. Diah Windu Rini terperanjat Sama sekali ia tidak mengira, Rawayani memiliki tenaga simpanan. Sewaktu menyadari, sudah kasep.

Dan pedangnya terbang dan menancap pada sebatang pohon. Sampai disini pertempuran adu kepandaian selesai. Sebenarnya, bila saja Diah Windu Rini bertempur dengan sungguh-sungguh, ilmu pedang Rawayani masih kalah jauh. Tetapi dia hanya bersikap melayani, akhirnya pertempuran adu kepandaian itu tiada yang menang dan yang kalah.

- Ayunda, terima kasih. Ilmu pedangmu benar-benar hebat! -seru Rawayani dengan nada gembira. - Akan tetapi aku masih mempu nyai kepandaian yang lain. Itulah ilmu menyambit senjata bidik.

Apakah ayunda berkenan melayani diriku,-

Diah Windu Rini mengangguk dengan senang hati. Adu kepan- daian yang berakhir dengan sama kuat sebentar tadi, tidak me- muaskan hatinya. Benar ia dapat mematahkan pedang Rawayani, tetapi hal itu berkat pedang mustikanya. Sedang pedang Rawayani termasuk pedang lumrah. la sudah mengenal tenaga sakti Rawayani yang berada di atas dirinya sendiri.

Maka ia berjanji akan mengadakan perlawanan dengan sungguh- sungguh. Katanya kemudian:

- Silahkan! Akupun perlu menambah pengalaman -Rawayani tersemyum. Sahutnya :

- Sebelum kita atur macam pertandingannya, bolehkah aku mengenal nama ilmu bidik ayunda? Ilmu kepandaianku sendiri bernama Kupu-Kupi Terbang Unggi. -

Diah Windu Rini tertawa mendengar kepolosan hati Rawayani. Katanya dengan senang hati : - Sebenarnya bukan ilmu kepandaianku sendiri. Aku hanya mewarisi kepandaian guruku. Guruku menamakan Kembang Teratai. -

- Nama bagus! - seru Rawayani seperti kanak-kanak. - Nah, sekarang kita atur begini. Adu kepandaian ini terdiri dari dua bagian. Bagian menyerang dengan irama dan menyerang Merdeka. -

Diah Windu Rini tercengang, Untuk pertama kali itu ia mendengar istilah demikian. Ada-ada saja gadis ini, pikirnya. Sewaktu ia bennaksud minta penjelasan, Rawayani berkata lagi :

- Masing-masing membawa tiga butir peluru. Seranglah aku dulu tiga kali. Kalau aku beruntung dapat menangkis atau mengelak, aku ganti menyerang tiga kali. Inilah yang kumaksudkan dengan serangan Irama. Dan yang kumaksudkan dengan menyerang merdeka, kita masing-masing boleh menyerang sesuka hati kita sampai salah satu pihak merasa takluk. -

- Bagus! - Diah Windu Rini tertawa geli. - Lalu mengapa aku harus menyerangmu terlebih dulu? -

- Ayunda berasal dari Madura. Artinya seorang tetamu jauh. Maka aku wajib menghormati tetamu dari jauh. - jawab Rawayani dengan sederhana.

Gemak Ideran kenal benar kepandaian Dian Windu Rini melepaskan senjata bidik. Belum pernah bidikannya meleset satu kali-pun. Selalu mengenai sasaran dan akan membawa akibatnya sendiri. Sekarang Rawayani mempersilahkan Diah Windu Rini untuk mulai menyerang dulu. Bukankah seperti seseorang mencari malapetakanya sendiri? Gemak Ideran percaya, Diah Windu Rini akan dapat merobohkan Rawayani cukup satu kali serangan saja. Namun iapun mengenal Rawayani sebagai seorang gadis yang kejam serta memiliki bermacam-macam ilmu yang aneh.

Gerak-geriknya sukar diduga. Sangat yakin kepada kepandaiannya sendiri. Ajaibnya dapat membuktikan pula. la berani mempersilah kan Diah Windu Rini mulai dulu. Tentunya sudah mempunyai pegangan dan perhitungan yang cermat Teringat akan pengalaman-nya bergaul dengan Rawayani, tak dikehendaki sendiri hatinya tegang luar biasa. Dan keringat dingin mulai membasahi lehernya. Dalam pada itu, Diah Windu Rini sudah menggenggam tiga butir pelurunya yang berbentuk mirip bunga teratai mungil. Setelah menimbang-nimbang sejenak, berkatalah ia dengan suaranya yang lantang:

- Kau berhati-hatilah! Maaf ! -

Dengan suara mendengung Diah Windu Rini melepaskan senjata bidiknya dengan dua jarinya. Hebat sambarannya. Rawayani buru-buru memutar tubuhnya dan membiarkan sambaran peluru Diah Windu Rini lewat di sampingnya. Tetapi berbareng dengan gerakannya ia menarik sehelai selendang berwarna hitam. Itulah selendang istimewanya yang sering dibuatnya menutupi mukanya.

Diah Windu Rini tertegun sejenak.

Lalu melepaskan pelurunya yang kedua. Kali ini, Rawayani tidak berani main mengelak. Selendang hitamnya diayun-ayunkan. Dan tiba-tiba saja peluru Diah Windu Rini yang menyambar dengan suara mendengung lenyap begitu saja tergulung oleh ayunan selendang istimewa itu.

Diah Windu Rini benar-benar terperanjat Tak pernah diduga-nya, bahwa Rawayani memiliki kepandaian sehebat itu. Sekarang ia membidikkan pelurunya dengan disertai tenaga sakti. Gerakan tangannya cekatan dan hebat luar biasa. Pelurunya menyambar dengan suara mendesing mengarah ke lambung.

- Wuuuuooo ... bagus! - seru Rawayani kagum.

Dengan lincah sekali ia memutar tubuhnya sambil mengayun- ayunkan selendangnya, Sedetik kemudian terdengar suara bentro-kan logam yang nyaring. Ternyata Rawayani meminjam peluru Dian Windu Rini yang tadi kena digulungnya untuk menangkis serangan peluru Diah Windu Rini yang ketiga. Tepat tangkisannya, sehingga kedua peluru itu saling bentrok dan saling terpental. Lalu jatuh dengan suara berisik ke batu-batuan jalan.

Peluru Diah Windu Rini kecuali berbentuk Bunga Teratai bergigi tajam. Tetapi Rawayani dapat menangkapnva dengan selendang. Itu menandakan, Rawayani memiliki tenaga penghisap yang hebat Lebih hebat lagi, ia dapat memukul peluru ketiga dengan meminjam peluru kedua yang tergulung di dalam selendangnya.

Tak usah diceritakari lagi, bahwa Tohir dan kawan-kawannya kagum luar biasa. Bahkan Diah Windu Rini pula, tak terkecuali Ge~ mak Ideran yang menyaksikan adu kepandaian itu dari atas tebing, Rawayani sendiri kemudian mengenakan pelanginya di pun-daknya. Berkata lantang:

- Terima kasih atas kebaikan ayunda. Ayunda sudi mengalah. Sekarang giliranku, bukan? -

Belum habis gaung suaranya, tiba:tiba saja ia sudah melepaskan peluru tanpa suara. Syukur Diah Windu Rini bermala tajam.

Dengan tenang ia menunggu sampai peluru Rawayani menghampiri sasarannya. Lalu dengan lincah ia mengelak. Kelincahannya ternyata tidak kalah dibandingkan dengan kelincahan Rawayani. Semua yang menyaksikan bersorak kagum sampai ada di antara mereka bertepuk tangaa Gemak Ideran sendiri ikut bersyukur bukan kepalang. la sudah khawatir, jangan- jangan Rawayani menggunakan racun.

Ternyata kali ini tidak. Mudah-mudahan Rawayani tidak bermaksud membunuh ayunda Windu Rini, doa'nya.

Selagi laskar Madura bersorak-sorai, Rawayani sudah melepas- kan pelurunya yang kedua. Kali ini pelurunya memperdengarkan suara mendesing yang cukup nyaring. Sebelum tiba di sasaran, peluru itu berputar-putar dulu di atas kepala. Lalu dengan mendadak menyambar dengan suatu kecepatan kilat .

- Sekarang mengertilah Diah Windu Rini apa sebab ilmu mele- paskan senjata bidik Rawayani bernama kupu-kupu terbang tinggi. Selain menukik ke atas membawa sifat bomerang. Tak terasa ia memuji:

- Bagus! -

Diah Windu Rini yang berhati angkuh tidak mau menimpuknya dengan pelurunya. la hanya mengandalkan kepada kelincahan- nya. Dan. dengan tangkas dan gesit ia mengelak. Tiga kali peluru Rawayani mengubernya, dan tiga kali pula ia mengelak. Dan peluru itu runtuh ke tanah kehabisan daya.

- Ih! Pantaslah ayunda dikirim ke Jawa. Ternyata kepandaian ayunda amat tinggi. - seru Rawayani memuji.

Namun dibalik pujiannya ia bermaksud hendak mengelabui lawannya, Pada detik itu pula ia melepaskan peluru yang ketiga.

Diah Windu Rini tetap masih mengelak. Karena sudah mengenal gerakan berbaliknya, ia menunggu sesaat Tiba-tiba ia diuber dua kali. Karena terlalu cepat, kali ini ia terpaksa menimpukkan pelurunya. Tak! Peluru Rawayani tergempur. Rupanya si cerdik sudah memperhitungkan kejadian itu. Begitu pelurunya kena timpuk, lantas saja terbelah menjadi dua. Yang sebagian runtuh di atas tanah. Yang sebagian berputar memburu sasaran. Syukur timpukan Diah Windu Rini tadi dilakukan dengan cara sedot pancing (dikedut) sehingga pelurunya berbalik meletik ke samping dan memukul pecahan peluru. Dan peluru ketiga Rawayani jatuh dengan berbareng di atas tanah.

Apa yang dilakukan Diah Windu Rini adalah ajaran gurunya yang istimewa. Ilmu ini kelak diwarisi adiknya-seperguruan Surengpati.

Surengpati disegani lawan dan kawan berkat ilmu sentilannya yang istimewa itu. (selanjutnya baca : BENDE MATARAM).

- Adu kepandaian menyerang dengan Irama ternyata tiada yang kalah dan menangt - seru Rawayani. - Sekarang marilah kita saling menyerang dengan merdeka. -

- Baik. - Diah Windu Rini menanggapi. - Sekarang, kaulah yang kupersilahkan dulu menyerang diriku. Dengan begitu kita bertindak adil. -

Kata-kata Diah Windu ini tidak perlu diulangi lagi. Rawayani lantas saja melepaskan pelurunya. Tetapi tidak hanya sebuah atau dua buah, melainkan sekaligus duabelas biji. Begitu dilemparkan di udara nampak berkeredep kena cahaya matahari saling susul menyusul. Indah bagaikan belasan ekor kupu-kupu terbang tinggi, akan tetapi sesungguhnya membawa ancaman maut . Menghadapi serangan demikian, Diah Windu Rini tidak berani sembrono. Mula-mula ia mengelak dua tiga kali. Lalu menghamburkan peluru Kembang Teratai untuk meruntuhkan sekalian peluru Rawayani yang berterbangan bagaikan hujan gerimis.

Gemak Ideran kagum bukan main Inilah tontonan kepandaian yang pantas untuk dilihat Mengapungnya belasan peluru Rawayani sudah membawa keindahan sendiri. Kini disusul dengan melesatnya peluru Kembang Teratai yang berkilauan kena pantulan cahaya matahari. Dan peluru-peluru itu saling berbenturan serta meletik ke samping meninggalkan kilatan cahaya menyilaukan. Ah, benar-benar indah luar biasa.

"Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!" terdengar suara logam yang saling berbenturan. Dan belasan peluru terpental kalang kabut Meletik ke sana kemari mengundurkan para penonton beberapa langkah.

Rawayani terkejut bukan main. Semua pelurunya tergempur runtuh. Apalagi tiba-tiba sebuah peluru Kembang Teratai menga- rahpadanya, Cepat-cepat ia melompat mengelak. Belum lagi kaki- nya menginjak, lagi-lagi ia diburu beberapa peluru Kembang Teratai. Terpaksa ia menarik selendangnya. Dan dengan selendang itu, la bermaksud menggulung beberapa peluru yang memburunya.

Diluar dugaan, kali Diah Windu Rini ingin memperlihatkan kepandaiannya. Selendang istimewanya ternyata tidak dapat bertahan terhadap serangan Kembang Teratai yang datang saling menyusul. Tahu-tahu terobek panjang dan seperti tergunting putus. Sewaktu dikedutkan, terbang melayang di udara terbawa angin.

Selagi pandang mata yang menyaksikan kabur dan bingung, Rawayani sudah melompat ke luar gelanggang sambil tertawa gelak. Serunya dengan suara polos :

- Sudah, sudah... ilmu menyambit senjata bidik Kembang Teratai benar-benar heibat! Aku takluk... benar-benar takluk.. .!-

Semua orang yang mendengar pernyataan Rawayani yang diucapkan dengan polos, bergembira. Di antara mereka ada yang ber-jingkrak-jingkrak kegirangan.

- Hai! Hai! Mengapa berjingkrakkan seperti kuda lumping? - bentak Rawayani. - Apakah kalian kira harta-benda ini akan kuserahkan padamu? O, tidak! -

Itulah pernyataan Rawayani diluar dugaan siapapun. Apakah dia hendak melanggar perjanjian? Kalau dia bersitegang, bakal hebat akibatnya. Keruan saja Tohir bergemeteraa Dengan suara agak menggigil ia menyahut:

- Bukankah nona sudah menyatakan takluk? -

- Aku takluk kepada ayunda dan bukan kepada kalian. - damprat Rawayani. Kemudian berpaling kepada Diah Windu Rini. Berkata :

- Ayunda, kuserahkan barang bawaan mereka kepadamu. Selanjutnya aku tidak mau tahu lagi. -

Sebagai seorang gadis yang cerdas luar biasa, Diah Windu Rini dapat menangkap makna yang tersirat Lalu bertanya menegas ke-. pada Tohir:

- Mengapa sampai kalian angkut kemari? -

Mendapat pertanyaan itu, wajah Tohir berubah. Jawabnya sulit .

- Sebenarnya ... sebenarnya -

- Sebenarnya bagaimana? -

- Kami diperintahkan menyusul tuanku puteri. Panglima sediri yang memerintahkan kami. -

- Mengapa sampai berada di lembah Gunung Lawu? -

- Menurut bunyinya perintah, tuanku puteri berada di pesanggrahan. Sewaktu kami tiba di pesanggrahan sebelah barat kota Ngawi, kami diberitahu tuanku puteri berada di sini. Di lembah ini kami ubek-ubekan mencari beradanya tuanku puteri sampai... sampai... sampai kami kena hadang nona itu. -

,

Diah Windu Rini mengerutkan dahinya, tanda hatinya tidak puas. Akan tetapi rasanya kurang bijaksana bila hal itu diutarakan di depan Rawayani. Maka berkatalah ia memerintah :

- Kalian kembali ke pesanggrahan. Segera aku akan datang me- nyusul. -

Tohir dan kawan-kawannya segera mengiakan. Kemudian dengan cekatan mereka mengumpulkan semua obat-obatan yang jatuh berciciran di atas tanah. Rawayani mengawaskan kesibukan mereka dengan tertawa pelahan. Akan tetapi dia tidak berbuat sesuatu. Tidak menghalang-halangi atau menyetujui. Bukankah harta rampasan itu sudah diserahkan kembali kepada Diah Diah Windu Rini? Akan tetapi begitu mereka selesai merapikan peti- peti yang terbongkar, tiba-tiba ia melesat dan dengan sebat membuat mereka berdiri di tempatnya tanpa dapat berkutik sedikitpua Kemudian masing-masing di jejali sebutir pel berwarna merah .

- Telan! - bentaknya. - Siapa yang sudah mertelan akan dapat bergerak lagi. -

Karena tidak berdaya sama sekali, terpaksalah mereka patuh kepada perintah Rawayani. Dan setelah mereka semua menelan masing-masing sebutir pel merah, Rawayani membebaskannya.

- Ayunda! - katanya kepada Diah Windu Rini sambil mengangsurkan sebuah botol kecil. - Inilah obat pemunah. Selagi ia hendak menegas, Rawayani berkata lagi kepada Tohir dan teman-temannya: - Kau dengar keteranganku tadi? Siapa yang tidak percaya boleh coba. Mula-mula perutmu akan sakit sekali seperti tercocok ribuan jarum. Setelah itu, keringatmu akan mengucur bagaikan orang mandi. Kau akan kehilangan tenaga. Dan lambat-laun kau akan jatuh tersungkur. Lalu mati perlahan-lahan berbareng dengan luluh-nya tubuhmu. Dan satu-satunya obat pemunahnya kini berada di tangan tuanmu puteri. Kalau ingin selamat, janganlah coba main gila. Sekarang terserah kepadamu masing- masing. Jiwamu berada di botol ini. -

Mendengar keterangan Rawayani mereka menggigil ketakutan. Delapan bagian mereka percaya keterangan Rawayani, mengingat kepandaian gadis itu sangat tinggi. Maka dengan mengangguk-angguk mereka turun gunung. Pandang mata mereka memohon belas kasih kepada Diah Windu RinL

- Ayunda! Apakah ayunda percaya kepada apa yang sudah diterangkan? - Rawayani memcoba menjajagi hati Diah Windu Rini.

--Maksud ketarangan mereka? - Diah Windu Rini menegas

-Ya.-

- Sebenarnya tidak perlu mereka kau racun. Aku mempunyai caraku sendiri. - ujar Diah Windu Rini dengan menyenak nafas.

- Kenapa repot-repot? Inilah cara yang paling baik. - Diah Windu Rini mengamati wajah Rawayani. Gadis ini gapah tangannya, pikirnya. Dia main bunuh saja semenjak di perkampungan Cing Cing Goling. Tentunya ada latar belakangnya apa sebab dia tumbuh menjadi seorang gadis yang ganas.

Pikiran itu sudah tercetak dalam benak Diah Windu Rini semenjak ia bertemu dengan Rawayani. Itulah sebabnya, dalam beberapa hal ia mau mengalah. Justru ia berkenan mengalah, hampir saja ia roboh ditangannya. Syukur, ilmu kepandaiannya tinggi.

la menunggu sampai rombongan yang mengaku laskar Madura lenyap dari penglihatan. Kemudian dengan suara perlahan ia berkata kepada Rawayani:

- Adik, aku ingin berbicara denganmu. Man kita mencari ternpat yang cocok. -

- Kukira, di sinipun kita tidak perlu beralih tempat Ayunda ingin membicarakan tentang apa? - sahut Rawayani dan ia mendahului duduk di atas batu

Diah Windu Rini tertegun sejenak, lalu mengangguk. Dan ia duduk di sampingnya seperti seorang kakak duduk mendampingi adiknya yang sedang dirundung malang. Gemak Ideran yang berada di atas tebing bersyukur di dalam hati. Dengan demikian, ia dapat mengikuti pembicaraan mereka berdua. - Biarlah kuperkenalkan diriku. - Diah Windu Rini mulai. -Namaku Diah Windu Rini. Umurku duapuluh empat tahun. Tentu-nya aku lebih tua daripadamu, bukan? -

- Ya. Aku baru berumur kurang lebih duapuluh tahun. Namaku Sekar Rawayani. -

- Kau puteri siapa, adikku? Kepandaianmu sudah cukup tinggi.

- Kau sendiri puteri siapa dan siapa gurumu? Kepandaian ayunda sangat tinggi. Tentunya gurumu seorang sakti. - Rawayani balik bertanya.

Diah Windu Rini tertawa. la sendiri terkenal angkuh dan tinggi hati. Tetapi bila dibandingkan dengan Rawayani, ia mengaku kalah. Gadis ini selain angkuh, cerdik pula. Kecerdikannya bahkan mendekati keliaran dan kebinalan. Kali ini entah apa sebabnya, ia bersedia mengalah. Sahutnya:

- Aku puteri Adipati Cakraningrat. Guruku bermukim di atas gunung Semeru. Orang menyebutnya sebagai Ratu Bulungan.-

- Oh! Jadi ayunda puteri Adipati Cokrodiningrat? Rawayani nampak terkejut. - Tetapi mengapa dengan mudah mempercayai mulut mereka? Meskipun mereka mengaku laskar Madura, terusterang saja aku tidak percaya. -

- Alasanmu? - Diah Windu Rini seperti menguji. - Yang berbincang tadi memang berlogat Madura. Tetapi lainnya membungkam. Melihat temannya dalam kesukaran, mengapa mereka tidak membantu ? Tentunya untuk menyembunyikan lidahnya. Tetapi mereka kini tidak akan berani bertingkah lagi.

Aku sudah menjejali mereka dengan pel racun Locaya. -

- Apa itu? - Diah Windu Rini terperanjat .

Tetapi Rawayani tidak menjawab. Ia berkata mengalihkan pembicaraan:

- Gurumu disebut orang Ratu Bulungan? Belum aku mendengar nama beliau. Kalau begitu, perlu aku bertanya kepada paman.

- Siapakah pamanmu? -

- Aku diambil anak-angkat Panglima Dipayuda semenjak masih kanak-kanak. Paman Dipayuda gemar mengambil anak-angkat Baru-baru ini aku mendengar kabar, dia memungut seorang pemuda Cina pelarian dari Jakarta. Namanya Tan Jin Siang.

Dengan begitu aku mempunyai seorang kakak-angkat - Rawayani mengulum senyum. - Paman Dipayuda seorang panglima tulen.

Justru demikian, banyak sekali aku menerima ajaran mengenal siasat, medan dan laskar. Seperti tadi. Mereka mengaku diri sebagai laskar. Tetapi gerakan kaki dari tangannya bukan seorang laskar. Wajah mereka lebih mirip rombongan penyelundup demi memperkaya diri sendiri. Karena memandang ayunda aku tidak mau berkepanjangan Hm... tapi mereka tidak akan berani bertingkah lagi. Pel yang ditelannya akan membunuhnya dengan suatu penderitaan hebat -

Lagi-lagi Rawayani melepaskan kalimat itu. Gemak Ideran yang mengenal betapa hebat racun Ular Locaya menggeridik di-luar kehendaknya sendiri. Rawayani benar-benar liar dan ganas.

Sebaliknya ia heran pula, apa sebab Diah Windu Rini yang terkenal galak tiba-tiba menjadi seorang gadis yang penyabar dan bijaksana, Dia kenal jalan pikiran Diah Windu Rini. Otaknya sangat cerdas dan kebijaksanaannya kerapkali tidak dimengerti orang, karena jangkauan pikirannya sangat jauh. la percaya, Diah Windu Rini pasti menyembunyikan maksudnya terhadap Rawayani. Sekiranya tidak demikian, mustahil dia benikap begitu sabar dan telaten.

- Adik! Terayata pengetahuanmu jauh lebih luas daripada diriku. - ujar Diah Windu Rini dengan suara pahit - Tentunya paman-mu Dipayuda yang mengajarkmu. -

Halus pertanyaan Diah Windu Rini. Akan tetapi membawa jebakan pula. Biasanya orang menyembunyikan nama gurunya. Artinya pertanyaan demikian tidak akan memperoleh jawaban langsung. Meskipun dengan jalan berputar, namun Rawayani bu- kan seorang gadis yang bodoh. Prarasanya tajam. la mengukur pekerti orang lain dengan bajunya sendiri.

Padahal ia selalu menaruh curiga terhadap siapapun. Seperti sikapnya sekarang. Dia memanggil Diah Windu Rini dengan ayunda saja. Padahal dia sudah kenal namanya. Gemak Ideran yang mengintip dari atas tebing sudah dapat menebak sembilan bagian. Pasti Rawayani akan mengelak. Ternyata benar.

Pertanyaan Diah Windu Rini dijawab Rawayani dengan pertanyaan pula. Katanya dengan disertai tertawa pendek. :

_-Apakah aku perlu menjawab pertanyaan ayunda? -

- O tidak. tidak usah. - Diah Windu Rini seperti tersadar. - Aku hanya ingin mendongeng tentang keluargaku. Maukah engkau mendengarkan? -

- Kau ingin mendongeng di hari begini? - Rawayani heran.

Waktu itu matahari sudah sepenggalah tingginya. Sebentar lagi siang hari tiba. Menurut tutur-kata penduduk, dongeng akan memper cepat kurun waktu. Karena itu lebih tepat bila dilakukan di malam hari. Akan tetapi suasana alam di lembah Gunung Lawu kala itu sangat indah. Matahari di bawah sana kelihatan cerah be- ning. Daun-daun berkesan semarak. Di sembarang tempat

bunga-bunga denga aneka-warnanya mencongakkan din dari balik semak dan belukar. Kesannya aman tenteram dan damai. Dan dongeng di tengah alam begini mendukung seseorang yang sedang mencari ketenteraman syahdu.

- Kalau tidak berkenan? Aku justru heran. Benarkah ayunda mempunyai waktu ? -

Diah Windu Rini tertawa serintasan. Lalu berkata mulai : - Ayahku seorang Adipati. Beliau tidak hanya beristerikan pui -ri- puteri Madura saja, akan tetapi menjadi menantu Raja Kartasura juga.-

- Dan masing-masir j melahirkan putera dan puterinya, bukan? - potong Rawayani.

Diah Windu Riiii tidak menjawab. la hanya mengangguk mem- benarkan. Akan tetapi wajahnya bersemu merah. Melanjutkan :

- Kerapkali di antara putera-puterinya tidak saling mengenal. Seperti ibuku. Menurut ibu, sebenarnya ibu masih mempunyai seorang adik. Akan tetapi bibi diambil anak-angkat oleh sorang Bupati dari Bandawasa. -

- Apa? - Rawayani memotong kembali dengan suara seperti orang tersengat sesuatu. - Bupati Bandawasa? -

- Ya. Apakah adik pernah hidup di Bandawasa? -

- Apakah ayunda pernah bertemu dengan Bupati Bandawasa yang ayunda ceritaka itu? - lagi-lagi pertanyaan Diah Windu Rini dijawab dengan pertanyaan.

Diah Windu Rini terhenyak. Dia bukan seorang gadis yang dungu. Kecuali otaknya cerdas luar biasa, rasanya tajam pula. Tentu saja dengan cepat ia dapat menangkap makna yang tersirat di balik ucapan Rawayani yang ketus dan sengit Pandang matanya tiba- tiba menjangkau di jauh sana. Pikirannya melayang ke lembah Gunung Semeru. Waktu itu senjahari tiba dengan diam-diam. Gunung Bromo dan Agrapura sudah tertutup kabut la baru saja mandi danganti pakaian. Tiba- tiba gurunya berkenan memanggil-nya. Inilah peristiwa yang jarang sekali terjadi, semenjak dirinya dalam asuhan gurunya sepuluh tahun yang lalu.

Ternyata gurunya sedang membicarakan orang-orang pandai pada jaman itu. Kemudian nama-nama Ilmu Sakti yang harus diingat-ingat Di antaranya menyinggung Ilmu Sakti Batu Panas. Sebenafnya, dabulu mantram Empu Ramayadi yang kemudian diwarisi Ki Ageng Perbageni. Lalu hilang tiada kabarnya lagi. Hal ini pernah dikabarkan kepada Gemak Ideran. (baca kembali jilid : 6) Akan tetapi menurut gurunya, kitab sakti itu berada pada paman gurunya yang bernama Mulana Ibrahim. Menyadari bahwa ilmu sakti itu tiada guna faedahnya bagi kebijaksanaan hidup, Maulana Ibrahim tidak mengajarkannya kepada puteranya: Adi Pundi. Dia hanya belajar sampai tingkat tujuh. Kitab lanjutannya disembunyikan kepada salah seorang kepercayaannya.

Kabarnya, Ilmu Sakti Batu Panas sampai tingkat empat belas Karena berkepandaian tinggi, Mulana Ibrahim cepat sekali memperoleh pangkat tinggi. Oleh Sri Baginda Paku Bhuwana I, ia diangkat menjadi Adipati Bandawasa.

Tetapi pada suatu hari, ia dibunuh oleh pelayannya. Peristiwa itu sangat menggemparkan Adi Pundi, puteranya, kemudian menggantikan kedudukan ayahnya, sebagai Bupati Kediri Dia bersumpah akan melarang anak-keturunannya mempelajari ilmu sakti macam apa-pun Tetapi sekali lagi, nasib berbicara lain .

Kabarnya dia dibunuh seorang sakti yang haus darah. Dan sampai disini, gurunya tidak dapat melanjutkan ceritanya. Hanya satu hal yang dikesankan bahwa puteri Bupati Kediri itu sebenarnya adalah adik-misannya sendiri. Dia hidup sengsara, karena ibunya membawa si bocah pergi merantau memnggalkan Kediri.

Sewaktu Diah Windu Rini melihat berkelebatannya bayangan berkerudung hitam di perkampungan Cing Cing Goling, entah apa sebabnya hatinya bergetar. Apalagi ikut-campurnya Rawayani, sehubungan dengan Ilmu Sakti Batu Panas yang dimiliki Cing Cing Goling. Semenjak itu, ia mulai menaruh perhatian.

- Ayunda! Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku? -seru Rawayani.

Diah Windu Rini tersentak dan lamunanya. Setengah gugup ia menjawab:

- Tentang apa? -

- Apakah ayunda pernah bertemu dengan Bupati Bandawasa yang ayunda sebutkan? -

Diah Windu Rini tidak menjawab. Pelahan-lahan ia meninggalkan tempatnya dan berjalan hendak menuruni tanjakan yang berada duapuluh langkah di depannya. Rawayani yang semenjak tadi berdiri dengan kepala menebak nebak, mengawaskan kepergiannya dengan sikap tegang.

Gemak Ideran yang mengintip dari atas tebing berdebar-debar hatinya. la kenal watak dan perangai kedua-duanya. jika penyakit angkuhnya Diah Windu Rini kumat, ia tidak sudi menghiraukan keadaan hati orang lain. Sebaliknya, Rawayani sering tersinggung kehormatan dirinya. Dan ia mempunyai cara sendiri untuk mencapai maksudnya.

- Ayunda Windu Rini tidak bersedia menjawab penegasanannya.

- pikir Gemak Ideran di dalam hati. — Apakah Rawayani mau diperlakukan begitu? Dia selalu mau menang sendiri.—

Gemak Ideran tidak dapat melihat kesan wajahnya, karena Rawayani membelakanginya. Lagi pula ia berada di atas tebing. Andaikata ia dapat melihat wajahnya pun, kesannya tidak jelas. Karena itu,ia hanya dapat bersikap menung gu dengan hati tak keruan-keruan. Akan tetapi sungguh mengherankan! Rawayani tidak mengambil tin-dakan apapun. Bahkan tiba-tiba ia memutar kepalanya mencari tempat duduk yang layak. Lalu dengan kemalas-malasan ia duduk di atasnya. Belum sempat ia menegakkan badan, mendadak jatuh tersungkur menggabruk tanah .

Menyaksikan peristiwa itu, Gemak Ideran tergetar hatinya. Memang ia sudah dapat menduga sembilan bagian se menjak tadi. Mula mula tenaganya yang dapat mengimbangi Diah Windu Rini.Lalu gerak-geriknya yang tidak wajar.

Biasanya, Rawayani tidak mau mengalah sedikitpun. Tetapi terhadap Diah Windu Rini seringkali ia melupakan kebiasaannya. Bukankah karena penguasaan diri ? Apalagi yang menyebabkan, kalau bukan obat istimewanya yang bisa melukai dirinya manakala dipergunakan berlebih lebihan. itulah sebabnya, Rawayani tidak mencegah kepergian Diah Windu Rini, meskipun hati tidak puas.

Mengingat dirinya menderita seperti apa yang sedang diderita Rawayani, ia jadi perasa. Tak tega ia membiarkan ga dis itu menderita demikian Walaupun tidak mengerti bagaimana cara menolongnya, namun ia wajib membantu memulihkan tenaganya sedapat-dapatnya. Apalagi - apapun alasannya - gadis itu berjasa padanya. Kalau saja dirinya tidak diberi obat istimewa, tidak mungkin ia berani melawan Blandaran. Apalagi sampai dikerubut beramai-ramai oleh Laskar Antawati.

Sebaliknya, tenaganya kini belum pulih seperti sediakala. Memang, sudah dapat ia bergerak dengan leluasa, tetapi tenaga saktinya seakan-akan musnah. Karena itu, perlu ia menghinpun kembali. Maka duduklah ia bersemadi menyalurkan hawa murninya.

Rawayani sendiri sebenarnya tidak membutuhkan pertolongan siapapun. la sudah tahu caranya menjaga diri. Sengaja ia membiarkan dirinya jatuh bertelungkup. Itulah salah satu cara mengosongkan badannya, melupakan perasaannya dan mematikan hati. Dengan hati-hati ia menghidupkan semangatnya. Lalu menyalurkan hawa. Satu jam kemu-dian, ia sudah berhasil memperoleh tenaganya kembali. Setelah memeriksa diri, ia menelan dua butir ramuan obat. Dan sekali lagi ia bersemadi.

Lewat tengah hari, pikirannya mulai dapat bekerja seperti sediakala. Segera ia memperbaiki letak pakaiannya dan berjalan menurum tanjakan. Tujuannya ingin melacak kepergian Diah Windu Rini. Sebab hatinya merasa kurang puas. Diah Windu Rini menghindari dirinya, selagi belum menjawab pertanyaannya.

Menurut kata hati ingin ia menahannya. Akan tetapi ia khawatir Diah Windu Rini akan bertindak dengan kekerasan. Mengingat obat istimewanya yang mungkin sekali bisa merusak persendiannya, mau tak mau ia harus menahan diri.

— Dia menanyakan tentang kakek dan ayah. Apa maksudnya? — ia berpikir bolak-balik.

Teringat kepandaian Diah Windu Rini, diam-diam ia memuji dalam hati. Dia bersikap mengalah terhadapku. Mengapa? Rawayani seorang gadis yang cerdas dan ringan tangan. Namun menghadapi sikap dan kepandaian Diah Windu Rini ia merasa mati kutu. Padahal dia sudah menggunakan obat istimewanya yang bisa melipat gandakan tenaga saktinya. Kecuali kalah dalam hal mengadu kepandaian, ia mengakui tidak dapat menebak sikap Diah Windu Rini yang penuh teka-teki. Diah Windu Rini memang seorang gadis luar biasa yang jarang dilahirkan sejarah Otaknya cerdas luar biasa, berke-pandaian tinggi dan pandai melihat jangkauan jauh. Tindakan serta kebijaksanaannya melampaui jamannya, se-hingga susah ditebak orang Rawayani boleh mengaku cerdik Namun masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Diah Windu Rini.

Semenjak Rawayani muncul, gerak-geriknya sudah berada dalam pengamatannya. Siapa mengira? Seperti diketa-hui, Gemak Ideran dan Niken Anggana memencar sewaktu melakukan tugas. Gemak Ideran berada di tepi Bengawan Solo dan disana Rawayani mulai muncul. Pada saat itu, Diah. Windu Rini sudah melihat kehadirannya. Sebab ia berada tidak jauh daripada Gemak Ideran dan Niken Anggana. Terus saja ia menguntitnya sampai tiba di perkampungan Cing Cing Goling.

Sewaktu Gemak Ideran dipancing Rawayani ke luar pesanggerahan, diam-diam ia menguntitnya pula. Melihat maksud baik Rawayani terhadap pemuda itu, dengan cepat Diah Windu Rini sudah dapat memperoleh kesimpul-annya. Segera ia balik ke pesanggerahan hendak menunggu perkembangannya. Tidak lama kemudian ia melihat Rawayani masuk ke pesanggerahan hampir berbareng dengan ma-suknya rombongan orang-orang bertopeng. Setelah menga-mati gerak-geriknya, hatinya lega.

Ternyata Rawayani berusaha membantu kesukaran Gemak Ideran yang wajib ikut serta menghadapi rombongan orang-orang bertopeng. Itulah sebabnya, ia dapat meninggalkan pesanggerahan dengan hati lapang untuk mengubar adiknya seperguruan Surengpati.

Tatkala balik kembali ke pesanggerahan, Niken Anggana tiada lagi dalam kamamya. Buru-buru ia menyelidiki kamar Gemak Ideran. Bungkusan pakaian perbekalan pemuda itu, tiada lagi di tempatnya. Hatinya sedikit lega.

Mau ia menduga, kepergian pemuda itu pasti ada hubungannya dengan hilangnya Niken Anggana. la tahu, kepandaian Gemak Ideran sudah termasuk tinggi. Tidak mudah orang menjatuhkannya. Apalagi bila ditunjang dengan daya juang.

Sudah semenjak lama, Gemak Ideran menaruh hati kepada Niken Anggana.

Tentunya pemuda itu akan berjuang sekuat tenaga menolong Niken Anggana manakala terancam bahaya. Namun memikirkan beberapa kemungkinan, segera ia mengejarnya. Teringatlah dia, Niken Anggana ingin menghadang. ayahqya di lembah Gunung Lawu. Maka berangkat pulalah ia ke Gunung Lawu.

Tetapi lembah Gunung Lawu begitu luas. Diah Windu Rini dalam kebimbangan. Tak tahu ia, harus pergi ke mana. Syukur ia bertemu dengan Surengpati yang sedang main kejar-kejaran mengadu kepandaian melawan Singgela dan Gagak Seta. Baik Surengpati maupun Gagak Seta sempat memberi kabar, di mana beradanya Niken Anggana dan Gemak Ideran.

Terus saja ia menyusul ke pertapaan Sondong Landeyan. Tiba- tiba ia melihat rombongan orang Madura kena hadang Rawayani. Tak peduli apakah rombongan orang Madura yang mengaku laskar ayahnya tulen atau palsu, ia wajib melindungi. Dan selanjutnya, ia dapat mengikat Rawayani dengan caranya sendiri. la percaya, munculnya Rawayani di lembah gunung pasti tidak jauh dari tempat beradanya Gemak Ideran.

Dugaannya tepat sekali. Ini membuktikan betapa ia memiliki karunia Illahi yang istimewa. Kecuali otaknya cerdas luar biasa, rasanya tajam pula sehingga pandai menarik kesimpulan dengan cepat dan tepat. Dengan hadirnya Rawayani di lembah gu- nung,semuanya akan jadi beres. Rawayani akan menjaga Gemak Ideran. Dan Gemak Ideran akan menjaga Niken Anggana.

Dengan demikian akan saling terlihat dan saling menjaga. Tentu saja dengan alasan nya masing-masing

Sementara itu, Rawayani melanjutkan peijalanannya dengan cepat. Lembh lereng gunung terlintasi, Sebentar lagi dusun Ngrambek ke lihatan di depan matanya. Di dusun itulah, ia hendak mengambil kedua kudanya. Kudanya sendiri dan kuda Gemak Ideran. Kudanya sendiri, termasuk kuda jempolan. Kuda berbulu hitam lekam dan hanya mau bergerak dari tempatnya atas perintahnya. Terhadap orang lain, binatang itu menjadi galak. Apalagi bila yang mendekatinya bermaksud jahat.

Biasanya dia akan berdiri tegak. Berbenger, lalu menerjangkan kedua kaki depan nya. Itulah pula sebabnya, ia menitipkan kudanya kepada seorang petani yang sederhana, bernama Partosimin. Terhadap Partosimin ia berkata: — Yang satu ini boleh kau bawa ke kali untuk dimandikan. Tetapi yang hitam ini, jangan sekali-kali kau dekati kecuali engkau membawa rumput dan serbuk. Mengerti?-

- Mengerti, ndoro. - jawab Parto simin mengangguk-angguk. Wajahnya cerah dan semangat hidupnya timbul, karena melihat serenceng uang di atas meja.

- Kau ambil semuanya! Kularang siapapun mengambil kudaku ini dengan alasan macam apapun. — Rawayani mengesankan tiap patah katanya. - Pendek kata, hanya aku sendiri yang boleh mengambil kuda ini. -

- Tentu saja, tentu saja. Bukankah kedua kuda ini milik nona?—

Partosimin tidak tahu, bahwa yang seekor diperuntukkan bagi Gemak Ideran. Bukan mustahil pemuda itu bisa datang untuk mengambil kudanya, meskipun kuda itu sendiri kuda pemberiannya.

- Sudah dua hari kutinggalkan. Entah bagaimana cara ,dia merawat si Guntur .... - pikir Rawayani.

Guntur adalah nama kudanya. Kuda pemberian orang tuanya. Kuda mustika yang hanya patuh kepadanya seorang.

la memasuki jalan simpang yang tiba di ujung halaman rumah Partosimin. Terus saja ia memanggil-manggil: - Partosimin! Partosimin!—

Partosimin seorang petani yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Menilik usianya, pantas ia menjadi bapak Rawayani. Akan tetapi Rawayani memanggil namanya tanpa menggunakan sebutan apapun. Hal itu ada sebabnya. Pada dewasa itu, seorang anak priyayi kedudukannya berada di atas tingkatan kaum petani. Dia boleh memanggil langsung namanya tanpa menggunakan sebutan paman atau pak.

Begitu juga terhadap isteri Partosimin. Sebalik-nya mereka berdua hams menyebut anak seorang priyayi dengan sebutan ndoro atau tuanku puteri.

— Partosimin! — seru Rawayani mengulangi. Partosimin tidak menyahut. Halaman sunyi senyap.

Kedua kudanya yang dulu diikat di halaman samping tidak kelihatan. Tiba-tiba ia mempunyai firasat buruk. Namun pada detik itu pula, segera dibantahnya. Katanya di dalam hati :

Meskipun di Ibukota terjadi huru-hara, masakan sampai melanda ketenteraman hidup orang-orang dusun? Mungkin sekali, ia membawa kudaku berjalan-jalan untuk dimandikan. Ah, apakah mungkin?—

Dengan perasaan saling mengendapkant ia memasuki halaman rumah. la tercengang. Dilihatnya pagar depan roboh dan nampak beberapa bekas tapak kaki kuda dan orang. Terus saja ia menolak daun pintu yang tertutup.

— Min ! Simin ! - serunya dengan suara tinggi.

la mendengar suara bergeser tempat. Dan muncullah pemilik rumah dengan isterinya. Mereka berdua nampak keta-kutan. Masih di tengah ambang pintu penyambung ruangan tengah, Partosimin berkata tak lancar:

- Semenjak kanak-kanak, belum pernah Ngrambe dilalui perampok, penyamun atau orang jahat. Tetapi hari ini . . ya hari ini ... serombongan orang datang kemari .. Apakah nona ingin lapor ke Kepala Kampung. Mari kuantar. -

- Sudan, sudah! Jangan berbicara berkepanjangan! - tungkas Rawayani galak. - Kau maksudkan mereka merampok barang- barang ku ? -

— Ya . .. . kedua ekor kuda nona... .—

- Apa ? kudaku dicuri ? - Rawayani terperanjat sampai wajahnya pucat.

- Benar. Mereka membawa kuda nona ke arah . .. -

Rawayani tidak menunggu Partosimin menyelesaikan ucapannya, Cepat ia melesat bagaikan anak panah terlepas dari gandewanya. Tiba di jalan ia lari terus dan lari terus. Bekas tapak kaki kuda mengarah ke tenggara. Mungkin memutari pinggnng gunung. la berdiri tergugu sekian lama-nya. Lalu balik kembali ke rumah Partosimin.

- Bagaimana nona? - sambut Partosimin dengan suara tergopoh- gopoh.

- Sebenarnya bagaimana macam pencurinya?— Rawayani menegas dengan geram.

Partosimin menelan ludah. Lalu menjawab dengan suara tersendat-sendat:

- Peristiwanya terjadi semalam. Baru saja aku masuk ke kamar, tiba-tiba kuda nona berbenger dan bergerak ber-putaran. Dinding rumah disepaknya seolah-olah sengaja membangunkan seisi rumah. Kami melompat ke luar. Tetapi pada saat itu, beberapa orang berpakaian hitam mengancamkan senjata tajam.Jangan bergerak, ancamnya. Aku tidak diperkenankan ke luar pintu.

Terpaksa aku menuruti kehendaknya. Tak lama kemudian mereka sudah ber-hasil membawa kedua kuda nona. Aku memberanikan diri mengintip dari celah dinding. Bayangan mereka sebentar saja sudah lenyap dari penglihatan.-

Rawayani mencoba menyabarkan diri. la menghela nafas. Wajahnya muram. Pikirnya:

- Benar-benar mengherankan ! Guntur hanya patuh kepada perintahku, selain itu ibu dan paman. Orang lain jangan harap dapat menjinakkan. Tetapi pencuri itu dapat membawanya pergi. Tentunya pencuri jempolan. Ah, tidak! Tidak mungkin! Guntur tidak mungkin tunduk. Tidak mungkin menyerah kalah. Apakah paman sendiri yang mem-bawa Guntur? Tetapi biasanya

paman tidak mau ber-gurau denganku. - ia berhenti menebak- nebak.Melanjut-kan :

- Kalau bukan paman, lalu siapa? Apakah di dunia ini terdapat semacam ilmu yang dapat menjinakkan Guntur ? -

Otak Rawayani serasa pecah memikirkan hilangnya Guntur. Sekian lamanya ia mencoba memecahkan teka-teki itu, namun tidak juga berhasil. Partosimin yang berada di dekatnya jadi gelisah. Menyaksikan wajah Rawayani yang berubah-rubah tak menentu, dengan sedih ia berkata setengah menghibur:

- Nona , apakah nona ingin melaporkan peristiwa pencurian ini? Mari kuhantarkan .... -

Partosimin tidak merasa, bahwa ucapan itu adalah kata-kata ulangan. Tadi Rawayani memotong ucapannya. Kini ia nampak kian mendongkol. Setengah mendamprat:

- Apa yang harus kuadukan? Kalau sudah kuadukan, kepala kampungmu bisa apa? Tak dapatkah engkau menu-tup mulutmu? Aku sedang memikirkan bagaimana caranya melacak pencuri itu.

- - Tunggu! - tiba-tiba Partosimin berubah. - Memang kedua kuda nona hilang. Namun ada seorang gadis cantik datang kemari menukar dua ekor kuda nona. -

Rawayani tercengang. Menegas:

- Siapa? -

- Seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian putih.-

Rawayani terdiam. Bayangan Diah Windu Rini berkele-bat dalam benaknya : Minta keterangan:

- Kecuali dia, siapa lagi? -

- Hanya seorang diri. -

Rawayani terdiam lagi. Tadinya ia mengira, diiringkan orang- orang yang mengaku sebagai laskar Madura. Selagi hendak membuka mulut, Partosimin mendahului, Kafanya;

- Nona tadi mengantarkan dua ekor kuda. -

- Dua ekor kuda? Apakah dibawa sendiri? -

- Bukan begitu. Setelah dia pergi, datang dua orang yang berbicara dengan lidah lucu. Mereka berdua itulah yang mengantarkan dua ekor kuda untuk nona atas perintahnya. - Rawayani tidak perlu penjelasan lagi. Tentunya dua orang Madura yang datang mengantarkan kuda atas perintah Diah Windu Rini. Maka segera ia memerintahkan membawa kuda pemberian Diah Windu Rini. Meskipun kuda biasa, tetapi kelihatari terpilih.

— Baiklah. — Rawayani memutuskan. — Yang seekor ini kutinggalkan disini. Kalau ada seorang pemuda mengaku bernama Gemak Ideran, serahkan kuda itu!

Rawayani tidak menunggu jawaban Partosimin. Setelah mengangsurkan uang satu ringgit, ia melompat ke atas kuda berbulu cokelat. Segera ia mengaburkannya ke arah tenggara. Akan tetapi kuda ini bukan scperti Guntur. Se-bentar saja nafasnya sudah memburu.

Barangkali karena jalannya mendaki terlalu tajam. Menyadari kenyataan itu, tidak dapat Rawayani main paksa. la masih perlu tenaganya. Maka ia membiarkan kudanya berjalan seenaknya. Itulah sebabnya, sampai Magrib tiba belum juga ia dapat mengejar kawanan pencuri.

Hatinya yang bergolak panas mulai dingin. Terasalah,bahwa cara mencari jejak kawanan pencuri kurang tepat. Bukan mustahil, kawanan pencuri sengaja menyesatkan.

- Benar. - ia berpikir di dalam hati. - Jalan ini berbelit-belit. Mereka itu kabur ke mana ? - Memperoleh pikiran demikian, ia mencari jalan pintas. Segera ia mendaki ketinggian, kemudian menyebarkan penglihatannya.

Tetapi sekali lagi h gagal. Selumh lembah gu nung sudah tertutup kabut tebal semenjak tadi.

- Biarlah aku mencari penginapan. - pikirnya. Menjelang gelap malam, ia melihat api perdiangan .

Ternyata api itu datang dari sebuah dusun. Dan apa yang disebut dusun itu sebenarnya hanya terdiri dari tiga atau empat rumah.

Penduduknya ramah dan bebas dari prasangka. Melihat seorang gadis datang ke dusunnya seorang diri, mereka segera berkumpul dan melayani Rawayani dengan wajah cerah.

Yang seroang memasakkan air minum dan yang lain menyediakan hidangan seadanya. Rawayani memberi mereka segenggam uang kecil. Dan melihat tamunya murah hati, mereka berebut menawarkan ayamnya Demikianlah, maka malam itu Rawayani memperoleh santap malam yang sedap, dan tempat tidur tersendiri. Sebab yang menyediakan tempat tidurnya dengan sukarela pindah ke tetangganya.

Hidup di bawah gunung memang menyenangkan. - ujar Rawayani. ~ Selamanya tenteram, tenang dan damai. -

- Betul, nona. - sahut tuan rumah. Pada detik berikutnya, wajahnya berbimbang-bimbang. - Tetapi beberapa minggu ini, jalanan menuju ke Kartasura tidak dapat dilalui. - - Mengapa? — Rawayani heran.

- Petak rimba di scbelah barat ini, sekarang menjadi sarang penjahat. Entah penjahat dari mana, tetapi kata orang yang sudah pernah melihat, mereka mengenakan pakaian sama warna. -

- Oh, maksud bapak berpakaian seragam? - Rawayani menegas.

- Apakah sama warna itu namanya seragam? - tuan rumah minta penjelasan .

Rawayani mengangguk Berkata :

- Petak rimba apakah di lembah gunung terdapat rimba?

- Maksud kami ladang yang ditumbuhi pohon-pohon cemara

sekian ribu banyaknya, nona. - Rawayani memikir sejenak. Mencoba :

- Apakah bapak atau panian ada yang bersedia mengantarkan aku ke sana?—

- Buat apa? - mereka menyahut dengan serentak dengan pandang mata tak mengerti.

- Dusun ini aman tenteram. Sayang, kalau penjahat-penjahat itu dibiarkan hidup di situ. - Hadirin berpaling kepada tuan rumah. Dan tuan rumah melemparkan pandang matanya kepada sekalian tetangganya. Setelah saling pandang beberapa saat lamanya akhir-nya tuan rumah berkata:

- Apakah maksud nona hendak mengusir mereka? -

- Ya. -

- Bagaimana mungkin, nona? Mereka berjumlah banyak dan menggunakan senjata tajam. Menurut kabar, kadang-kala kelihatan serombongan laskar dan beberapa orang asing berkeliaran di sana. Ada yang mengabarkan, laskar itu mencoba memberantas. Kenyataannya, mereka tetap saja bercokol di situ.


Rawayani mendongkol Tetapi ..alasan tuan rumah memang dapat dimengerti. Mereka yang bertempat tinggal di dusun terpencil itu, tidak bisa diharapkan mempunyai kepandaian. Bisa tetap tinggal di dusunnya tanpa terganggu, sudah merupakan karunia sendiri.

Malam hari itu, dengan diam-diam Rawayani ke luar dari rumah penginapannya. Kebetulan, udara agak terang. Meskipun berkabut, namun cahaya bulan banyak menolong penglihatan. Selagi hendak ke luar halaman, tiba-tiba tuan rumah muncul dari rumah samping.

- Mau bergadang? Mari kutemani. - katanya. - Tetapi di sini tiada sesuatu yang dapat dilihat. — - Terima kasih. Biarlah aku seorang diri saja. Aku ingin berjalan- jalan barang sebentar menunggu kantuk. -

Tuan rumah tertawa mengerti. Sahutnya: - O silahkan Hanya saja, keadaan tanah sekitar sini cukup licin. Sebab selamanya basah kena kabut. -

Rawayani memanggut dan berjalan ke luar jalan. Di luar dusun, terdapat sebuah telaga alam kecil Airnya jernih. Hanya sayang tidak terawat, sehingga semak belukar tumbuh liar di tepinya Setelah menjenguk telaga itu serintasan, Rawayani melanjutkan jalan ke arah petak rimba yang nampak hitam lekam tertutup kabut. Syukur, ia seorang gadis yang berkepandaian, sehingga pandang matanya melebihi manusia lumrah .

Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya dua sosok bayangan orang belasan meter di depannya. la heran. Segera ia menguntitnya. Di balik tirai kabut, terdapat tanah datar yang berumput. Pohon-pohon Pinus bertebaran di sembarang tempat. Merupakan benteng alam yang terlindung dari penglihatan orang. Ke sanalah, kedua sosok bayangan itu menyelinap masuk.

Rawayani menghentikan langkahnya. Selagi menimbang- nimbang, muncul dua sosok bayangan lagi yang datang dari arah kanan. Merekapun masuk ke benteng alam itu.

Rawayani heran. Pikirnya, mereka bukan gerombolan pencuri biasa atau kawanan penyamun yang tidak teratur. Gerakan tubuh dan tata-aturannya memasuki sarangnya mengingatkan Rawayani kepada tata-atur tentara yang terlatih. Tertarik penglihatan itu, ia lari pula mengikuti; tiba-tiba ia melihat semacam tenda di depan matanya. la ragu-ragu. Benarkah itu tenda perkemahan. Dengan me-ngendap-endap ia menghampiri. Tangannya meraba. Ter-nyata terbuat dari batu. Apakah goa batu, pikirnya. Pada saat itu, ia mendengar suara orang berbicara. Cepat ia menyelinap masuk dan memipit dinding yang bergelombang.

Kebetulan sekali, di dalam ruang goa itu nampak cahaya penerangan. Dengan begitu, dirinya terlindung. Malahan dapat melihat apa yang terjadi di dalam. Hanya saja, ia harus berwaspada terhadap pintu masuk Bukan mustahil, masih banyak yang akan datang dan pergi. Karena itu segera ia menutupi diri dengan mantel hitam yang selalu dibawanya kemana saja ia pergi. Mantel hitam yang terbuat dari sutra tipis semacam kain kelambu

- Paman Sriwenda! Apakah paman benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri?.- terdengar suara seorang wanita.

- Tidak hanya melihat, akan tetapi pernah berhantam - sahut Sriwenda.

- Hm, apakah itik itu mau melintasi jalan ini? - Rawayani tahu siapa yang dimaksudkan dengan istilah

itik itu. Tentunya seseorang yang sedang diincar. Pikirnya di dalam hati : - Aku seperti pernah mendengar suara perempuan ini.- dari balik kerodong mantelnya, ia mencoba menembus penerangan yang remang-remang Sementara itu terdengar seseorang yang berbicara dengan lidah cadel.

Kali ini Rawayani terperanjat Tak usah dijelaskan lagi. Itulah suara orang Cina totok. Kalau begitu, pikirnya ini bukan kawanan penyamun biasa. Teringat kepada huru-hara yang terjadi di Kartasura bukan mustahil ada hubung-annya.

- Menyelidiki ? - sahut Sriwenda. Kukira, dia belum mengerti markas kita berada di sini. Mungkin secara kebetulan saja, dia mengarah kemari .

- Apakah bukan karena gara-gara kuda perempuan itu? - tungkas suara seorang perempuan.

Rawayani kini teringat. Itulah suara Antawati, Apakah dia yang mencuri kudanya? la benar-benar merasa aneh. Bila dia yang mencuri, bagaimana caranya menaklukkan si Guntur? Tentu saja hatinya jadi tertarik. Dengan penuh perhatian ia mengikuti pembicaraan mereka.

- Tiat Seng! Bagaimana menurut pendapatmu? - Sriwenda ininta pendapatnya orang Cina yang dipanggil Tiat Seng.

- Kalau hanya perkara kuda, itu gampang. - jawab Tiat Seng. - Dua-duanya bisa kita pancing kemari. Lebih baik lagi, kalau satu- satu. Begitu masuk kemari, dia bisa apa?- - Jangan sembrono! - Antawati memperingatkan - Pemuda itu hebat tenaga saktinya. Kami pernah dikalahkan Kalau saja dia tidak melarikan diri, siang-siang kami semua sudah jadi tawanan.

-

Mendengar kata-kata Antawati, dada Rawayani serasa hendak meledak Jelas sekali, mereka sedang membicara-kan Gemak Ideran dan dirinya. Sudah beberapa waktu lamany a, ia ingin menghajar perempuan itu.

- Makanya, kita pancing mereka seorang demi seorang. - ujar Tiat Seng. -- Kita bukankah sudah lama bekerja-sama? Ada rejeki, kita bagi bersama. Ada susahnya, kita pikul bersama. Pada saat ini, kekuatan kita sudah nyata. Sri Baginda tidak akan melupakan budi kalian. Semuanya akan kulaporkan. -

- Perempuan itu pasti mencari kudanya. Secara kebetulan, itik itu akan melintasi jalan ini. - ujar Antawati.

- Yang masih harus kita pertanyakan, kemana larinya Niken Anggana. Daripadanya, kita bisa mengharapkan pedang Sanggabhuwana sebagai alat tukar yang ampuh.-

- Alat tukar bagaimana? - Tiat Seng tidak mengerti. - Ah, itu urusan kami. - sahut Antawati dengan cepat.

- Pendek kata, bila kami bisa menguasai pedang pusaka itu, ayah akan dapat mewujudkan cita-cita Sri Baginda mendiri-kan suatu dinasti yang kuat. - Tentu saja Tiat Seng tidak mengerti arah jalan pikiran Antawati. Sebaliknya, tidak demikianlah halnya Rawayani.la tahu pasti makna kata-katanya. Antawati pasti akan membawa pedang Sanggabhuwana kepada orang sakti yang akan menukar dengan Ilmu Batu Panas secara lengkap.

Siapa orang sakti itu, Rawayani mengerti pula.

- Baiklah. - terdengar Tiat Seng memutuskan. - Kalau begitu, kita bersiap-siap untuk menjebak dua itik itu. -

Merasa sudah cukup, hati-hati Rawayani mengundurkan diri. la pulang ke pondoknya. Sepanjang jalan, ia mulai berpikir keras. Sebenarnya, siapakah yang dimaksud dengan istilah perempuan? Kalau bukan dirinya, siapa lagi? Bukankah dirinya pula yang kehilangan kuda? Dalam hal ini, dia sudah memperoleh kesimpulan dan keyakinan.

Kini tinggal Gemak Ideran. Benarlah dia berada di sekitar lembah ini? Memang ia berharap, pada suatu hari Gemak Ideran akan mengambil kudanya. Tetapi tidak secepat ini. Apakah dia turun gunung bersama Niken Anggana? Nah, masalah Niken Anggana inilah yang masih merupakan teka-teki baginya. Agaknya, kawanan Antawati sangat berkepenting-an dalam hal Niken Anggana daripada dirinya.

Keesokan harinya, ia meninggalkan dusun pondokannya. Kepada tuan rumah dan sekalian penduduknya, ia berka ta hendak melanjutkan perjalanan. Tetapi sebenarnya ber-sembunyi di sekitar sarang penyamun. la menemukan sebuah goa yang berada tidak jauh dari telaga. Kudanya-pun dibawa masuk ke dalam, sehingga tidak nampak oleh penglihatan. Setelah itu, hati- hati ia menghampiri jalan. la memilih sebuah ketinggian dan mendekam di atasnya.

Beberapa orang berkelebat masuk ke dalam rimba Pinus. Lalu lenyap dan tiada meninggalkan bekas suara apa-pun. Suasana sekitar rimba itu sunyi senyap dan terlalu hening. Sekian lamanya Rawayani menunggu. Namun tiada sesuatu yang menarik perhatian. Tatkala matahari sudah sepenggalah tingginya, Gemak Ideran tidak muncul-muncul juga. Apakah dia tidak melnlui jalan itu?

Hampir saja, Rawayani meninggalkan tempatnya. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda. Tidak lama kemudian muncullah seorang pemuda dari balik tikungan jalan. Setelah diamati, ternyata benar-benar Gemak Ideran.

Memang ia sedang menunggu tibanya pemuda itu. Tetapi setelah Gemak Ideran muncul, hatinya gelisah.

- Antawati memuji ketangguhannya. - pikir Rawayani di dalam hati. - Tentu Gemak Ideran dipaksa bertempur. Tetapi ia tidak kurang suatu apa. Kalau begitu, ia pandai mengatur diri. —

Rawayani tidak tahu, bahwa Gemak Ideran menderrta kerugian seperti dirinya la rebah dua hari dua malam di tengah hutan. Lalu bangun tertatih-tatih mengintip dirinya tatkala adu kepandaian melawan Diah Windu Rini. la me-merlukan waktu satu hari penuh urituk memulihkan kesegarannya.

Setelah itu hendak menolong dirinya. Akan tetapi Rawayani sudah meninggalkan tempatnya. Setelah berpikir sebentar, teringatlah dia kepada kuda pemberian Rawayani. la yakin, Rawayani mungkin berada di Ngrambek untuk mengambil kudanya pula. Dan berangkatlah dia ke Ngrambe. Malam tiba, sewaktu ia tiba di dusun itu. dari tutur-kata Partosimin, ia merasa perlu untuk menyusul.

Syukur, Partosimin dapat menunjukkan ke mana arah perjalanan Rawayani. Tetapi di tengah jalan, terpaksa ia menginap. Pada saat itulah, ia kena intip Sriwenda dan teman-teman-nya. Dan sebelum matahari terbit, segera ia melanjutkan perjalanan. Kini tibalah ia di ujung rimba pohon Pinus.

- Gemak Ideran bakal menghadapi musuh tangguh. khasiat obatku pasti sudah sirna. Apakah dia bisa melawan kerubutan mereka? - Pikir Rawayani lagi. - Hari perjanjian kira-kira masih satu bulan lagi. Kenapa menyusulku? Hm, tahulah aku. Anak Haria Giri belum diketemukan; Tentunya dia ingin minta keteranganku. Fuih.... -

Tiba-tiba terdengar jeritan seorang perempuan. Rawayani melongokkan kepalanya. Siapa? Gemak Ideran nam-paknya terperanjat mendengar suara jeritan yang nyaring dan melengking. Ia berpaling ke arah datangnya jeritan. Tampaklah seorang laki-laki yang berwajah bengis lari dengan seorang gadis memasuki rimba Pinus. Dengan tertawa terbahak-bahak; laki-laki itu membentak :

- Di tengah rimba raya ini, kau mengharapkan per-tolongan siapa

? -

- Tolong! Tolongl - gadis itu mencoba memberontak.

Gemak Ideran tersentak menyaksikan perlakuan laki-laki bengis itu. Terus saja ia lari mengejar. Kuda pemberian Rawayani bukan termasuk kuda jempolan. Akan tetapi cukup kuat berlari-larian mendaki lereng gunung.

Sekarang Rawayani yang terkejut. Teringatlah pembicaraan ahtara Antawati dan Tiat Seng. Dengan sekilas pandang tahulah dia, itulah permainan sandiwara mereka untuk menjebak Gemak Ideran. Tidak memperdulikan kese-lamatan diri, terus saja ia muncul dari balik ketinggian dan menyusul Gemak Ideran sambil berseru nyaring :

- Jangan kejar! Kau terjebak!—

Tetapi Gemak Ideran tidak mendengar peringatan Rawayani. Dengan bernafsu ia mengejar laki-laki bengis tadi yang melarikan seorang gadis. Menyaksikan hal itu, dengan serentak Rawayani menghunus pedang pendeknya dan memburu. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara bentrok-an senjata. la lari terus sampai melihat Gemak Ideraa bertempur melawan kepungan beberapa orang bersenjata. Dan di antara mereka terdapat Tiat Seng dan Sriwenda.

Gadis yang terculik tadi, memang akal mereka. Gadis itu mendadak saja sudah menghunus senjatanya dan berseru gembira kepada Sriwenda:

— Paman ! Bagus atau tidak akalku ini? —

Gemak Ideran mendongkol. Tetapi tak dapat lagi ia mundur. Maka dengan goloknya ia.mengadakan perlawanan.

Syukur Sriwenda pernah merasakan betapa hebat tenaga sakti pemuda itu. Karena itu, tidak berani ia terlalu mendesak. Tidak demikianlah halnya teman-temannya. Seorang pria yang berperawakan pendek buntet menerjang dengan sembrononya. Tahu-tahu ia kena. gempur golok Gemak Ideran dan terpental dengan dahi mengucurkan darah.

Rawayani mengentikan langkahnya. la tercengang menyaksikan keperkasaan Gemak Ideran. Apakah dia masih dapat menggunakan obatnya yang istimewa sehingga mampu menggempur lawan dengan sekali jadi? Sebenarnya, tidak demikian. Orang itu yang semberono. Dia mengandal kepada jumlah kawannya dan memandang rendah lawan-nya. Akibatnya, ia kena batunya.

- Hm. — terdengar Tiat Seng mendengus. Lalu merangsak dengan Ilmu silat Thay-kek kun. Tetapi Gemak Ideran tidak takut. Ternyata ilmu goloknya terlalu hebat bagi Tiat Seng. Sama sekali ia tidak dapat berbuat banyak. Bahkan seorang pembantunya, roboh lagi. Kali ini terjengkang dengan berlumuran darah.

-Tiat Seng, minggir! -- teriak gadis yang terculik tadi. - Biar kuhantamnya dengan paku beracunku. -

Mendengar istilah racun, tersiraplah Rawayani. Lantas saja ia terbangun seperti harimau betina terganggu tidurnya.

Maklum, ia seornag ahli racun. Dengan sekali melompat ia mengayunkan sejata jarumnya yang beracun pula. Mak-sudnya jelas. Hendak ia meruntuhkan semua paku beracunnya perampuan itu sambil memberi pclajaran

Tetapi sungguh aneh sifat senjata paku beracunnya perempuan itu. Begitu runtuh di tanah tiba-tiba terlihatlah belasan racun menyambar seakan-akan terlepas dari pegasnya. Untuk melindungi diri, Rawayani terpaksa memutar pedang pendeknya.

- Rawayani, awas! - seru Gemak Ideran. Suaranya setengah gembira setengah bersemangat. Lalu ia mengebaskan goloknya dan belasan jarum berbisa terpental bertebaran sehingga orang- orang yang mengepung meloncat mundur menjauhi.

- Pencar ! - seru Tiat Seng. Itulah aba-aba sandi memerintahkan mereka agar kabur berpencaran. Akan tetapi karena cadel, Tiat Seng memerlukan mengulangi beberapa kali. Gemak Ideran tidak menghiraukan arah lari mereka. Yang diincar hanyalah si Tiat Seng. Sebab beradanya Tiat Seng di antara mereka, menarik perhatiannya. Rawayani demikian pula. Dengan berseru pendek ia menganjurkan agar Gemak Ideran jangan membiarkan Tiat Seng lepas. Tentu saja seruan itu membuat Tiat Seng gugup Seperti orang kebakaran jenggot mencari air, ia melompat menyusup sejadi-jadinya di antara pohon-pohon Pinus yang padat.

- Mengapa engkau tidak.mendengarkan peringatanku? — tegur Rawayani sambil berlari mengejar.

- Kukira engkau yang terculik. - sahut Gemak Ideran

- Kenapa engkau mengira diriku?—

- Secara kebetulan aku melihat engkau menggunakan tenaga berlebih-lebihan. -

- Ah. - Rawayani tercengang. Dan diluar kehendaknya sengiri ia menghentikan langkahnya. - Jadi engkau melihat semuanya? -

Gemak Ideran- sudah terlanjur membuka kartu. Maka dengan wajah menyeringai ia mengangguk. Katanya lagi:

- Itulah sebabnya, mengapa aku ingin menyusulmu.-

- Sebab apa? — Rawayani menegas. Gemak Ideran menghentikan larkiya pula. Sahutnya:

- Banyak yang ingin kutanyakan. Misalnya, apa sebab engkau menggunakan tenaga sakli berlebih-lebihan, padahal kau tahu akan akibatnya. -

- Hm, tentang itu? - Rawayani mendengus. Ia mencari tempat duduk. Setelah duduk di atas batu, ia melanjutkan:

- Bukankah aku membawa obat penyembuhnya? -

Seperti biasanya, suaranya tinggi dan lantang. Akan tetapi, di dalam hatinya sesungguhnya ia terharu' terhadap sikap pemuda itu. Ternyata Gemak Ideran memperhatikan dirinya sampai menyusul perjalanannya. Karena itu, kesan-nya bertambah baik.

- Lalu apa lagi? - masih ia menguji.

- Tentang kuda, umpamanya. Siapakah yang mencuri kudamu dan siapa pula yang mengganti kudamu ? -

- Siapa yang mengganti kudaku, sudah dapat kutebak. Dialah ayundamu Diah Windu Rini. Tetapi siapa yang mencuri kudaku. .

. . nah, ini harus kita buktikan dulu. Orang itu pasti mempunyai ilmu istimewa untuk menaklukkan si Guntur. - ujar Rawayani.

Lalu menyiratkan pandangannya merenungi lembah rimba yang berkabut - Kita bisa masuk. akan tetapi tidak mudah untuk keluar. Mari kita periksa lembah rimba ini. -

Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan Gemak Ideran. Kecuali masalah hubungannya dengan Diah Windu Rini dan orang-orang Madura yang dihadangnya, juga ingin mendengarkan pendapatnya tentang beradannya orang asing di antara anak-anak Cing Cing Goling. Tetapi Rawayani sudah beranjak dan tempatnya. Dengan memaksa diri, ia mencoba menerobos semak-semak yang memadatkan rimba Pinus.

Ternyata luar biasa sulitnya. Bahkan lambat-laun, ia kehilangan arah.

- Ideran, apakah engkau membawa bekal pengisi perut?- Gemak Ideran tertawa geli. Sahutnya.:

- Dari mana aku memperolehnya ? -

- Wah, kalau begitu hari ini terpaksa kita berpuasa. Hawanya makin dingin pula. -

- Kita balik saja. -

- Kau bisa? -