Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 18

Jilid 18

Tujuh kali berturut-turut ia menyerang bolak-balik. Sebaliknya Blandaran benar-benar berkepandaian tinggi. Seperti belut ia selalu dapat meloloskan diri. Memang ia satu-satunya murid Ki Ageng Sendang Warih, adik-seperguruan Telaga Warih. Dengan kakak-seperguruan, Ki Ageng Sendang Warih hanya kalah seurat. Tidak mengherankan, Blandaran memi-liki kepandaian sstaraf dengan anak-murid Kyahi Ujung Gunung. Bahkan lebih perkasa, karena usianya masih me-mungkinkan untuk lebih meningkat lagi. Karena itu, tidak mudah Nyai Dandang Wutah merobohkannya.

Blandaran sendiri rupanya sengaja membiarkan diri nya diserang berturut-turut untuk menjajagi kepandaian lawan. Sejenak kemudian ia tertawa pelahan melalui hidungnya dan mulai mengadakan serangan balasan.

Dengan berani ia menirukan gaya serangan Nyai Dandang Wutah. Karena kepandaiannya berasal dari satu sumber, jurus- jurusnya di-kuasai dengan baik. Dalam hal ini ia jauh lebih beruntung, sebab tenaga himpunannya masih penuh. Hanya memerlu kan beberapa detik saja, ia dapat menguasai gerakan lawan. Nyai Dandang Wutah terpaksa membela diri. Merasa terdesak, ia menangkis. Artinya mau tak mau ia harus menga du tenaga.

Kembali lagi terdengar suara bentrokan keras dan ia terhuyung mundurtiga langkah. Blanda ran yang cerdik, tidak sudi menyia- nyiakan kesempatan yang bagus itu. la melompat maju dan mengulangi serangannya. Begitu he-bat desakannya, sehingga Nyai Dandang Wutah merasa su-sah untuk bernafas.

Semua saudara-seperguruan Sondong Landeyan terkejut, tercengang berbareng cemas menyaksikan Nyai Dandang Wutah kian terdesak. Sama sekali mereka tidak mengira, Blandaran berkepandaian tinggi.

Sebenarnya segera mereka ingin mengulurkan tangan, akan tetapi mereka terikat. Blandaran tadi hanya menantang dua orang di antara mereka. Sondong Jerowan dan Dandang Wutah.

Karena itu tidak dapat mereka membantu. Kecuali itu, Blandaran masih mempunyai pembantu-pembantunya pula yang jumlahnya cukup banyak. Kecuali dua orang yang mengenakan seragam laskar, masih terdapat Antawati dan anak-buahnya. Sekali mereka terjun ke gelanggang pertempuran, akibat-nya sudah dapat dibayangkan. Karena itu, mereka hanya dapat mengharapkan kebangkitan Sondong Jerowan yang tadi roboh teijengkang.

Tetapi Sondong Jerowan ternyata tidak dapat bergerak lagi. Sekalian saudara seperguruannya belum mengetahui betapa hebat akibat pukulan Blandaran yang sebenarnya sudah menguasai 1!mu Sakti Batu Panas tingkat empat. Setiap pukulannya membawa hawa beracun yang dapat melumpuhkan urat nadi. Tidak perduli apakah dia menggunakan ilmu kepandaiannya yang aseli.

Sebab Ilmu Sakti Batu Panas sebenarnya dibangkitkan oleh susunan mantra yang membersitkan hawa sakti tertentu yang kemudian mendarah daging dalam dirinya. Sekali orang belajar menghayati mantra sakti itu, dia tidak akan dapat membebaskan diri dari belenggunya.

Dua perwira yang mengikuti pertempuran antara Blandaran melawan Sondong Jerowan dan Nyai Dandang, se-bentar tadi sempat gelisah. Tetapi setelah melihat Sondong Jerowan roboh hanya dalam satu gebrakan saja, hati mereka lega bukan main. Namun kemudian mereka kembali tegang, begitu melihat serangan beruntun Nyai Dandang Wu-tah.

Andaikata mereka yang menghadapi serangan demikian, bakal roboh dalam beberapa gebrakan saja. Untung setelah Nyai Dandang Wutah menyerang Blandaran tujuh kali berturut-turut, mendadak dia jadi terkurung oleh tong-kat rampasan Blandaran. Menyaksikan hal itu, mereka berdua bersyukur di dalam hati. Lalu saling memandang dengan tertawa lebar. Justru pada saat itu, mereka mendengar Blandaran berteriak nyaring :

- Hai mahkluk tolol ! Kamu berdua kenapa jadi boneka bengong? Bukankah kamu berdua mempunyai tugas di sini? Kenapa tidak cepat-cepat membekuknya? Cepat, tangkap! - Kedua perwira itu terkejut. Buru-buru mereka menyahut:

- Baik! -

Setelah menyahut demikian mereka menghunus pedangnya dan lari menghampiri Niken Anggana. Gemak Ideran yang semenjak tadi memperhatikan jalannya pertempuran, terkejut. Segera ia hendak menghadang mereka, akan tetapi sudah kedahuluan Sukesi dan Wigagu yang melompat melindungi Niken Anggana.

Menyaksikan peristiwa itu, Gemak Ideran tercengang. la jadi tidak mengerti sikap mereka berdua. Sesungguhnya menghendaki Niken Anggana sebagai alat tukar untuk menuntut dendam guru- nya, atau hendak melindungi dari tangan-tangan jahat ? .

Sukesi dan Wigagu termasuk angkatan muda, karena mereka berdua murid Sondong Landeyan. Dibandingkan dengan para paman seperguruannya dan Nyai Dandang Wutah, mereka masih kalah setingkat. Akan tetapi karena usia mereka masih tergolong muda, himpunan tenaga saktinya masih penuh.

Barangkali manakala bersatu-padu melawan Blandaran, belum tentu terkalahkan. Atau andaikata kalahpun, Blandaran memerlukan waktu yang cukup lama. Sekarang mereka menghadang dua perwira itu dengan pe-dang terhunus. Bisa dibayangkan, pertempuran itu bakal ramai. Maka diam-diam Gemak Ideran tertarik hatinya untuk mengamati kepandaian mereka masing masing . Kedua perwira itu tahu, bahwa lawan mereka adalah murid Sondong Landeyan. Tentu tidaklah sehebat paman-paman gurunya. Maka dengan membusungkan dada, mereka menghantam pedangnya. Lalu memutar tubuhnya untuk menghalau serangan balik. Ternyata mereka berkepandaian tinggi. Menilik gerakan pedangnya, mereka murid Blandaran. Akan tetapi sebagai warga kaum Cing Cing Go-ling, sedikit bariyak mereka berdua pasti sudah mengantongi llmu Sakti Batu Panas meskipun paling tinggi baru sampai tingkat tiga.

Sukesi dan Wigagu, sebaliknya murid seorang ahli pedang. Mereka berdua hampir mewarisi kepandaian gurunya. Maka dapat dimengerti betapa hebat ilmu pedang mereka berdua. Dalam satu gebrakan saja, kedua perwira itu segera terlibat dalam satu pertempuran yang seru.

Gemak Ideran kagum bukan main, la sendiri sudah merasa mewarisi kepandaian gurunya dalam hal ilmu golok. Akan tetapi bila menghadapi baik pihak perwira maupun piha, Sukesi, belum tentu dapat berbuat banyak. Syukur, ia sudah menelan pel istimewa pemberian Rawayani. Mengandal kepada tenaga istimewanya, bila perlu ia akan segera turun ke gelanggang pertempuran untuk membantu Sukesi dan Wigagu.

Andaikata menjadi serba salah, rasanya ia berani melawan mereka berempat sekaligus. Entah bagaimana jadinya, itu soal nanti. Dalam beberapa gebrakan, kedua perwira itu merasa kerepotan. Tetapi pukul rata, mereka berdua lebih berun tung daripada Sukesi dan Wigagu. Meskipun kegesitan mereka berdua kalah jauh dibandingkan dengan Sukesi, namun dalam hal tenaga mereka berdua menang seurat. Menyadari hal itu, lantas saja mereka memutuskan akan mengadu kekerasan. Trang, trang !

Dua kali mereka membentur senjata-nya. Ternyata mereka berhasil. Meskipun Sukesi dapat mengelak dengan lincah, akan tetapi mereka berhasil melukai Wigagu. Benar tidak terluka parah namun Wigagu sempat mengalirkan darah.

Sukesi terperanjat. Cepat ia balik kembali dan memberondong ke dua lawannya dengan serangan beruntun. Wi-gagupun tidak tinggal diam. Dengan semangat membalas, ia menerjang bagaikan banteng terluka. Lima enam gebrakan lagi berlangsung dengan cepat. Dan mereka berdua berhasil melukai lawannya.

Dengan demikian kedua belah pihak tiada yang menang atau kalah. Walaupun demikian, kedua perwira itu masih bersemangat. Dengan menggebu-gebu mereka menyerang berbareng.

- Haha ... - Blandaran tertawa.

Sekalipun sedang bertempur, masih sempat ia melihat keadaan Sukesi dan Wigagu.

- Hai anak murid Ujung Gunung. Nyatanya, kalian harus belajar lebih banyak lagi. Apakah kalian masih nekat hendak menjadi pahlawan? - Merahpadam sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Akan tetapi mereka harus menerima kenyataan yang pahit.

Meskipun letak kekalahannya semata-mata kalah tenaga karena dimakan usia. Sondong Jerowan memak-sa berdiri tertatih-tatih. Jelas sekali, ia menderita luka dalam.

Walaupun demikian, ia merasa wajib untuk menjaga nama perguruannya. Apa akibatnya, ia harus maju lagi. Ten-tu saja sekalian saudara-seperguruannya tidak mengijinkan. Berbareng mereka maju bersama untuk mencegahnya.

- Adik. - ujar Sondong Jerowan dengan suara tidak jelas. - Dandang Wutah sebentar lagi akan roboh. Kalau aku tidak maju, lalu siapa lagi yang akan menjaga nama perguruan kita?-

Sondong Gunung, Sondong Muraji, Sondong Meguwa, Sondong Pabelan dan Sondong Wido termangu-mangu. Mereka berlima memang masih dalam keadaan segar bugar. Dapatlah mereka menerjang bersama-sama.

Akan tetapi akibatnya tentu lebih hebat. Sebab Antawati dan anak buahnya tentu mempunyai alasan untuk maju bersama pula.

Mereka memang tidak takut mati. Tetapi bila kematian itu terjadi demi menyaksikan robohnya rumah perguruannya, rasanya tiada gunanya. Selagi mereka dalam keadaan demikian, melompatlah seorang pemuda ketengah gelanggang. Dialah Gemak Ideran.

Sebenarnya dia bukan sanak bukan kadang. Akan tetapi karena pernah mendengar cerita kepahlawanan Sondong Landeyan, ia merasa tidak rela bila nama rumah perguruan pahlawan itu runtuh oleh seorang bekas gemblak. Selain itu ia berkepentingan pula demi me-nyelamatkan Niken Anggana, senyampang masih memiliki tenaga istimewa.

Munculnya memang membuat kejutan luar biasa. Karena memiliki tenaga istimewa, dengan sekali melompat ia menerkam kedua perwira yang sedang mendesak Sukesi dan Wigagu. Kemudian digabrukan mencium tanah.

Menyaksikan peristiwa itu, Sukesi dan Wigagu tercengang. Siapakah pemuda ini ? Kedua perwira itu kepandaian nya seimbang dengan mereka. Kenapa bisa dirobohkan hanya dalam satu gebrakan saja ? Blandaran terperan jat. Dadanya serasa meledak. Belum pernah ia melihat Gemak Ideran. Akan tetapi menyaksikan kepandaiannya, ia tidak boleh dipandang ririgan.

Pikirnya di dalam hati: - Budak dari mana dia? Aku sendiri belum tentu dapat merobohkan kedua babi itu dalam satu gebrakan. - Oleh rasa penasaran, ia mendesak Dandang Wutah. la mulai melepaskan pula pukulan beruntun. Maka terpaksalah Dandang Wutah mundur setangkah demi selangkah Blandaran tertawa terbahak-bahak sambil membentak lantang :

- Dandang Wutah ! Dan kau pula Sondong Jerowan I Sudahlah menyerah saja. Kiranya kalian hanya mengandal kepada orang lain. Padahal perguruan paman Ujung Gunung selamanya dapat mengatasi kesukarannya sendiri. Mengapa kini kalian mengundang orang lain untuk membantumu? Hm, hm ... maka habislah sudah riwayat perguruan Ujung Gunung. Semenjak sekarang, kalian tidak kuijinkan lag! menginjak tanah ini. Nah, menggelindinglah ! -

Wajah Dandang Wutah merah padam karena rasa marah dan malu. Dengan berseru nyaring ia menerjang :

- Siapa yang minta bantuan orang lain? Cobalah sekali lagi ! -

Sebenarnya di dalam hati ingin ia menegur Gemak Ideran karena bertindak lancang. Akan tetapi betapapun juga, sebenarnya pemuda itu telah menolong dirinya sewaktu kena desak terus menerus. Lagipula, pemuda itu menolong kehormatan Sukesi dan Wigagu. Maka pelampiasan rasa marah dan malunya dialamatkan kepada Blandaran. Tetapi Blandaran menganggap serangannya tidak berarti. Sambil tertawa mengejek ia menangkis tanpa beralih dari tempat-nya.

Gemak Ideran tertawa terbahak-bahak. Karena hati Blandaran sedang terusik oleh kemuncullannya dalam gelanggang, ia mengira pemuda itu mengejek dirinya lantas saja ia menegur:

- Kau menertawakan apa? -

- Aku menertawakan seorang gemblak. - sahut Gemak Ideran. Bagi setiap pemuda Jawa Timur istilah gemblak tidak asing lagi. Sondong Jerowan tadi menyebut guru Blandaran sebagai bekas paman gurunya. Dan biasanya orang sakti yang bermukim di lereng Gunung Lawu adalah para Warok. Kalau dia disebut sebagai pelayan seorang warok, apalagi kalau bukan seorang gemblak alias kekasih sang warok?

Keruan saja Blandaran tidak dapat menguasai dirinya lagi. Tetapi ia tengah menghadapi serangari Dandang Wutah yang gencar.

Mau tak mau tak dapat ia membagi perhatian. Selagi ia berusaha hendak mengatasi serangan Dandang Wutah, terdengar suara Gemak Ideran lagi :

- Kau bilang aku orang undangan rumah perguruan ini? Kau pendeta linglung ! -

- Habis? Apa perlumu datang kemari? - teriak Blandaran sambil menangkis sabetan Selendang Gadung Melati Nyai Dandang Wutah.

- Aku datang kemari dengan ujuanku sendiri. - sahut Gemak Ideran. - Terus terang saja, aku belum mengenal siapakah beliau semua. Akan tetapi nama pendekar Sondong Landeyan sudah kudengar dan akan selamanya kujunjung tinggi. Aku tahu di sinilah letak rumah perguruan pendekar besar Sondong Landeyan. Maka kularang engkau merusak sejengkal tanahnya. -

- Lalu ... sebenarnya kau ini... - Blandaran tergegap-gegap karena terbakar rasa marahnya.

- Kau boleh bertengkar dengan bibi Dandang Wutah dan paman Sondong Jerowan perkara kehormatan rumah perguruan Kyahi Ujung Gunung. - Gemak Ideran memotong. -Dalam hal ini aku tidak perduli. -

- Oh. - hati Blandaran lega karena pemuda itu datang bukan urusan rumah perguruan.

- Tetapi jangan sekali-kali engkau menghubungkan dengan Niken Anggana putri ahli pedang Haria Gin. Apapun alasanmu. Niken Anggana tidak boleh kau singgung-singgung lagi. Aku datang kemari untuk menjemputnya.

Blandaran tertawa pelahan. Memang ia menggenggam dua maksud, meskipun perintah Cing Cing Goling berbunyi lain. Cing Dng GoSing memerintahkan dirinya membantu puterinya Antawati untuk memperoleh pedang pusaka Sangga Buwana.

Bagi dirinya sendiri, perintah itu jatuh nomor dua. Apalagi pedang pusaka itu bersangkutan dengan halnya bila dibandingkan dengan hadirnya para murid pendekar Ujung Gunung. Semenjak jaman mudanya, gurunya bermusuhan dengan kakaknya seperguruan Telaga Warih. Dalam hal mendidik anak-murid Kyahi Ujung Gunung, legal Warih ikut menangani. Maka ia diakui sebagai paman-guru yang syah.

Sebaliknya, tidaklah demikian nasib gurunya. Selain tidak diakui, ia didepak keluar dari rumah perguruan. Maka gurunya berbareng majikannya yang dicintainya itu, selanjutnya hidup dengan hati murung. Sebagai murid berbareng kekasihnya, Blandaran wajib menegakkan kembali kehormatan sang guru. Dirinya sendiripun ikut berkepentingan. Semua orang tahu, ia seorang gemblak. Dalam pandangan mata masyarakat, kedudukannya tidak lebih tinggi daripada seorang tunasusila. Maka perlulah ia merebut kehormatan dirinya lag! dengan mempertunjukkan kegagahannya. Akan tetapi ia sadar, anak murid Ujung Gunung dan Telaga Warih berkepandaian tinggi. la perlu memiliki kepandaian istimewa untuk mengungguli mereka. Oleh pikiran itu, ia mengabdi kepada Cing Cing Goling yang berkenan mengang katnya sebagai adik-seperguruannya karena ia berkepandaian tinggi.

Lambat-laun ia bisa ikut mewarisi llmu Sakti Batu Panas sampai tingkat e m p a t. Setelah merasa cukup mulailah ia mengarahkan pandang matanya ke Gunung Lawu. Secara kebetulan kakaknya Cing Cing Goling memilih dirinya untuk membantu Antawati yang secara ke-betulan-pula mempunyai sedikit urusan dengan keluarga Sondong Landeyan. Dan kesempatan itu tiada mau ia menyia-nyiakan.

Demikianlah ia membalas serangan Dandang Wutah sambil membatin :

- Biarlah tua bangka ini kurobohkan dulu. Setelah itu baru aku mengurusi pemuda yang usilan itu. Aku harus memperhhatkan kepada mereka, bahwa kepandaian guru berada di atas Telaga Warih yang diakui sebagai paman gurunya yang syah. -

Dengan pikiran itu, hatinya jadi tenang. Diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti llmu Batu Panas yang disembu-nyikan di balik jurus-jurus ajaran gurunya. Maka sebentar saja, Nyai Dandang Wutah benar-benar dalam keadaan bahaya. Dengan suatu kesebatan yang luar biasa, ia membenturkan tongkat tongkat rampasannya untuk melibat Selendang Gadung Melati.

Nyai Dandang Wutah terpaksa mengadu tenaga keras melawan keras. Keruan saja, nenek yang sudah berusia lanjut itu merasa tidak dapat lagi mempertahankan senjatanya. Namun sebagai seorang pendekar sejati, ia pantang menyerah. Tekatnya lebih baik mat! daripada senjata andalannya terebut lawan.

Demikianlah setelah saling berkutat, Blandaran mengangkat tongkatnya yang sudah melibat selendang lawan. Lalu bermaksud akan dibawanya berputar.

Nyai Dandang Wutah yang berperawakan kurus kering dengan sendirinya bukan merupakan beban yang berarti bagi Blandaran. Sewaktu Blandaran hampir saja dapat mengangkat tubuh Dandang Wutah, tiba-tiba berkelebat lah sesosok bayangan.

Bayangan itu melesat bagaikan kejapan cahaya. Dan dengan dibarengi suara benturan nyaring, tongkat Blandaran tergempur miring.

Kemudian nampaklah seorang gadis cantik jelita berdiri tegak di tengah pertempuran. Dialah Niken Anggana yang tadi menyerang tongkat Blandaran. Sebenarnya bukan menyerang pendeta gadungan itu atau Nyai Dandang Wutah. Akan tetapi yang diarahnya adalah titik garis tengah antara ujung tongkat dan libatan selendang. Akibatnya kedua senjata itu terenggang dan kedua pihakterpisah beberapa langkah. Hal itu ada se-babnya, karena Nyai Dandang Wutah sedang mati- matian membetot selendangnya dari libatan tongkat Blandaran.

Begitu terlepas, \e. mundur terjengkang. Syukur, Sondong Wido dan Sondong Muraji buru-buru menyambutnya. Se-kiranya tidak demikian, ia bakal roboh terjengkang.

Semua orang termasuk Gemak Ideran terheran-heran menyaksikan kepandaian Niken Anggana. Apakah gadis itu memiliki himpunan tenaga yang sangat tinggi melebihi Blandaran dan Nyai Dandang Wutah? Sebenarnya, tidak demikian. Sebentar tadi ia mengaku kepada Sukesi, bahwa ia mewarisi beberapa kepandaian ayahnya akan tetapi dilarang menggunakannya. Di antaranya ia pandai melihat titik temu adu tenaga antara Blandaran dan Nyai Dandang Wu-tah. Dan dengan menggunakan kecerdasannya dan keringanan tubuhnya, ia melesat tinggi sambil menggempur-kan pedangnya.

Untuk pertama kali itu, Gemak Ideran menyaksikan kepandaian Niken Anggana yang sejati. Selama itu, dapat dia merahasiakannya sehingga berkesan bodoh dan tidak ber-daya. Kiranya, dia sudah membekal beberapa bagian ilmu kepandaian ayahnya yang termashur di kolong langit sebagai seorang ahli pedang. Hebatnya, Sukesi dapat menebak dengan tepat.

- Sebagai seorang ahli pedang, sedikit banyak paman Haria Giri tentu pernah memberi petunjuk-petunjuk kepada puterinya. - Gemak Ideran bergumam dengan dirinya sendi-ri. - Ah, kenapa aku tidak mempunyai pikiran begitu? Sebaliknya, dengan sekali lihat Sukesi sudah dapat membaca latar belakangnya. Ah, pengalaman memang mahaguru. Dalam hal ini aku kalah pengalaman bila dibandingkan dengan Sukesi dan lain-lainnya Maka aku harus berhati-hati dan berwaspada menghadapi iblis Blandaran -

Blandaran sama sekali tidak mengira, bahwa akan ada seseorang yang dapat memisahkan libatannya. Waktu itu ia tengah mengerahkan tenaganya untuk mengangkat tubuh Dandang Wutah. Memang ia sedang memusat kan seluruh perhatiannya sehingga tidak melihat berkelebatnya Niken Anggana. Andaikata tetap waspada seperti sediakala, da-patlah ia dengan mudah mengelak atau menangkis. Walau-pun demikian, ia memuji kepandaian gadis itu yang bisa menggagalkan maksudnya.

la menoleh dan mengamat-amati. Hatinya tercekat, karena gadis itu ternyata cantik luar biasa. Usianya belum lagi menginjak duapuluh tahun. Masih sangat muda, namun sudah berkepandaian tinggi. Tetapi apa sebab dapat tertawan Antawati sangat mudah ? Selagi hendak membuka mulut-nya, Niken Anggana sudah mendahului ucapannya yang lembut kepada Sukesi :

- Bibi, biarlah hari ini aku menggunakan sebagian kecil kepandaian ayah. Kata ayah, ilmu pedang yang akan kugunakan nanti bernama Ilmu Landeyan. Maksud ayah sebagai pernyataan menyesal terhadap sahabatnya yang bernama Landeyan. Dahulu sama sekali tak kemengerti makna itu. Tetapi setelah semalam bibi menjelas kan permasalahan-nya, aku jadi mengerti. Maka demi nama paman Sondong Landeyan, ilmu pedang ini akan kugunakan untuk mengusir pendeta itu. Bukan mustahil aku belum dapat mengalah-kannya, karena ilmu pedang ciptaan ayah baru kukuasai kulitnya saja. Bila aku sampai mati, sudikah bibi mengabadi-kan ilmu pedang ini? -

Belum sempat Sukesi menjawab, Blandaran tertawater-bahak- bahak dengan disertai tenaga saktinya sehingga lembah gunung itu jadi mendengung-dengung. Hatinya amat mendongkol, karena dirinya seolah-olah dianggap sebagai barang percobaan.

- Hai orok ! Tak kusangka, mulutmu pandai mengoceh. Apakah ilmu pedang ciptaan ayahmu begitu berharga sampai perlu diabadikan? -

Niken Anggana tidak menyahut. Sebagai gantinya ia berputar menghadap Blandaran sambil mengibaskan pedang nya beberapa kali. Katanya kemudian :

- Ini bukan pedang Sangga Buwana. Meskipun demikian cukup tajam untuk alat pemotong kepala. -

Gemak Ideran terperanjat. Belum pernah sekali jua, ia mendengar ucapan Niken Anggana setajam itu. Benar diu-capkan dengar suara lembut, namun mempunyai perbawa yang menyeramkan. Sebab, jangan lagi memotong kepala orang.

Bahkan memotong kepala ayam saja, pribadi Niken Anggana tidak mengijinkan. la pantas dipuja sebagai bida-dari yang bersih dari segala noda dunia

Sementara itu, dengan tiba-tiba saja Niken Anggana sudah menikamkan pedangnya. Dandang Wutah yang sedang ditolong kedua saudara-seperguruannya, tidak sempat mengikuti perubahan yang terjadi di gelanggang pertempuran. Hatinya terlalu sedih dan pikirannya kusut. Wajah-nya muram suram seperti bulan terselimut awan kelabu. Sebaliknya Sukesi dan Wigagu benar-benar mengikuti gerakan pedang Niken Anggana yang indah dan cepat luar biasa.

Blandaran terperanjat berbareng penasaran. Terpaksa ia menggerakkan tongkat rampasannya pula. la mencoba mengelak ke samping, ke depan maupun mundur. Akan tetapi pedang Niken Anggana senantiasa mengikutinya tak ubah bayangan.

Karena itu, Blandaran segera membentur-kan tongkatnya. Niatnya jelas. la hendak mengadu tenaga. Akibatnya beberapa kali terdengar suara benturan nyarmg, diikuti letikan api yang memercik di ujung senjata.

Niken Anggana tahu, ia kalah himpunan tenaga sakti. Itulah sebabnya, ia menggunakan siasat tipu daya. Kadang-kala menyerang dengan sungguh-sungguh, namun tiba-tiba hanya gertakan belaka. Dengan sangat lincah ia melompat-lompat dari penjuru ke penjuru. la berputar-putar begitu cepatnya sehingga tubuhnya nampak mirip gangsing. Gemak Ideran kagum bukan main, la kini memang membekal himpunan tenaga sakti yang hebat berkat pel istimewa pemberian Rawayani. Akan tetapi pel itu bukan berarti dapat menyulap kepandaiannya mencuat menjadi tinggi. llmu kepandaiannya tetap saja seperti yang dimiliki. Karena itu pandang matanya sempat berkunang-kunang mengikuti gerakan Niken Anggana.

Kembali lagi hatinya jadi sibuk. Pikirnya :

- Dibandingkan dengan Niken, kepandaianku ternyata masih kalah jauh. Hm, apakah aku berani berlagak melindungi dirinya lagi? -

Blandaran yang tengah menghadapi serangan Niken Anggana yang istimewa itu lambat-laun dapat menguasai diri. Untuk melindungi diri, iapun memutar tongkatnya dengan disertai tenaga llmu Sakti Batu Panas. la ikut pula ber-putar mengikuti gerakan lawannya. la menunggu saatnya yang tepat sambil membenturkan tongkatnya. Itulah sebabnya, suara benturan senjata seringkali terjadi sehingga terdengar memekakkan telinga. Menyaksikan hal itu, men-dadak saja Gemak Ideran seperti diingatkan. Serunya di da-lam hati :

- Celaka! Tentu gemblaknya itu menggunakan hawa beracun llmu Batu Panas. -

Memikir begitu, terus saja ia melesat menerjang Blandaran dengan goloknya. Trang ! Begitu terbentur tenaganya, Blandaran terpental mundur berjumpalitan. - Hai ! Kau berani menyerang aku? - bentaknya dengan nafas agak memburu.

Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Bukankah tadi aku berkata, jangan sekah-kali menyinggung- nyinggung adikku Niken Anggana. Sekarang, engkau tidak hanya menyinggung. Tetapi malahan bertempur. Maka aku terpaksa menghajarmu. -

- Bedebah ! - Blandaran memaki. - Apakah kau mau main keroyok? -

- Apakah engkau hendak memanggil kedua laskar babi-mu itu? Silahkan ! - Gemak Ideran membalas mendamprat.

Blandaran mendongkol sampai wajahnya nampak merah padam. Kata-katanya tadi diharapkan untuk bisa mengikat satu tata-atur pertempuran satu lawan satu seperti yang dilakukan sebentar tadi terhadap Sondong Jerowan dan Dan-dang Wutah. Ternyata Gemak Ideran sudah dapat menebak maksudnya. Karena tidak sudi kalah gertak, ia menyahut :

- Kamu mau maju berbareng? Hohooo ... silahkan ! -Gemak Ideran hendak menjawab, tetapi Niken Anggana sudah mendahului. Katanya setengah menegur dirinya. - - Kakang ! Aku tidak mengharapkan bantuanmu? - Gemak Ideran buru-buru menyahut. - Aku masuk dalam gelanggang karena melihat kecurangannya? -

- Kecurangan ? - Niken Anggana tidak mengerti.

- Adik! - ujar Gemak Ideran. - llmu pedangmu bagus sekali. Aku percaya, pendeta gadungan ini akan dapat kau kalahkan. Akan tetepi dia menggunakan tenaga tambahan yang tidak wajar. Itulah hawa beracun llmu Batu Panas. Lihatlah paman Sondong Jerowan ! Dia roboh dengan sekali hantam. Dan kukira... - dia tidak melanjut kan kalimatnya, karena teringat pengalamannya sendiri.

Meskipun llmu Sakti Batu Panas yang dikuasai Blandaran tidak setinggi Cing Cing Goling, akan tetapi dalam suatiu pertempuran secara berhadap-hadapan sudah cukup dapat membahaya-kan lawannya. Tentunya di dunia ini tiada orang lain lagi yang bisa menyembuhkan kecuali Cing Cing Goling dan Ra-wayani.

- Ngacau ! - bentak Blandaran.

- Ngacau apa? - Gemak Ideran balik mendamprat. - Apa-kah kau kira aku tidak mengetahui tangan jahatmu? Niken I Kau layani saja dua begundalnya pendeta gadungan ini. Dengan ilmu pedangmu itu, kau akan dapat memotong ke-palanya. Pendeta gundul ini, biarlah aku yang menghadapi. - - Kakang Gemak Ideran, biarkanlah aku menolong diriku sendiri. - sahut Niken Anggana.

- Niken ! Tak dapat engkau berlawanan dengan pendeta gadungan yang jahat ini. Mundur! - Gemak Ideran mempe- ringatkan dengan suara lantang.

Tetapi Niken Anggana yang biasanya patuh pada setiap patah perkataannya, kali ini membandel. la mendahului menyerang Blandaran dengan gerakan pedangnya yang sangat indah.

Pedangnya berputar cepat terus menerus, hingga setitik airpun tidnkkan dapat menembus BarangkaN ia bermaksud melindungi pernafasannya dari hawa beracun lawannya. Dan menghadapi serangan demikian, diam-diam Blandaran kagum di dalam hati. la dipaksa untuk bergerak cepat pula untuk mengimbangi gerakan Niken Anggana.

Dengan demikian, tidak mempunyai kesempatan untuk mengerahkan hawa beracun llmu Batu Panas. Seperti diketahui, jurus-jurus llmu Batu Panas dilakukan dengan gerakan lamban dan sederhana. Lawan yang menganggap remeh justru akan terjebak, karena kelambanan dan kesederhanaannya itu adalah ternpat membangkitkan hawa beracun llmu Batu Panas.

Hanya sekejap mata saja, pertempuran sengit sudah berlangsung sepuluh jurus. Lalu meningkat sampai duapuluh jurus. Baik pihak Antawati maupun pihak Rumah Perguruan Ujung Gunung kagum bukan main menyaksikan kegesitan dan kelincahan Niken Anggana.

Sondong Jerowan tadi roboh hanya dalam satu gebrakan saja, sedang Dandang Wutah terdesak mundur terus-menerus setelah bertempur selama lima jurus saja. Tetapi Niken Anggana sudah melampaui duapuluh jurus lebih dan belum ada tanda-tanda dia akan kalah.

Nyai Dandang Wutah yang mengenal kepandaian Blandaran berpikir di dalam hati :

- Bocah ini masih sangat muda. Meskipun demikian ilmu pedangnya dapat mengimbangi kepandaian Blandaran. Hanya sayang, dia belum sempat berlatih lebih mendalam lagi, sehingga tenaga saktinya tidak sempat bekerja. Hm . ka-lau begitu Haria Giri mungkin benar-benar pantas disebut sebagai seorang ahli pedang. Mungkin kepandaiannya tidak berada dibawah Sondong Landeyan. -

Sementara itu, pertempuran adu kepandaian makin lama makin seru. Tak terasa akhirnya mereka yang menjadi penonton bersorak kagum setiap kali menyaksikan serangan Niken Anggana yang indah dan berbahaya.

Meskipun Blandaran dapat mengelak atau menangkis, akan tetapi pen on-ton menjagoi Niken Anggana diluar kemauannya sendiri. Menyaksikan kegesitan dan kelincahan Niken Anggana pihak Rumah Perguruan Sondong Landeyan percaya, bahwa gadis itu tidakkan tergerayang keganasan Blandaran. Bebe-rapa kali dia berada dalam bahaya, namun pada detik itu pula pandai meloloskan diri.

Gemak Ideran yang tadi menghkawatirkan Niken Anggana, ternganga-nganga keheranan. Hampir-hampir ia tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Kecuali tidak per-nah menyaksikan kepandaian Niken Anggana, gadis itu ternyata pandai menolong diri setiap kali nyaris terperangkap bahaya. la sendiri merasa belum sanggup menghadapi Blandaran yang berkepandaian tinggi dan ganas.

Memang pertempuran adu kepandaian antara Blandaran dan pihak Sondong Jerowan berbeda jauh dengan Ni ken Anggana. Menghadapi Sondong Jerowan, Blandaran su-dah faham jurus- jurusnya karena sumbernya sama. Seba-liknya ilmu pedang Niken Anggana masih asing baginya. la harus melayani hati-hati dan berwaspada. Itu lah sebabnya tidak dapat ia merobohkannya segampang merobohkan Sondong Jerowan dan Nyai Dandang Wutah.

Niken Anggana sudah bertempur tigapuluh jurus. Berarti pula sudah memperlihatkan tigapuluh kali ragam serangan. Sedang Ilmu Pedang Landeyan ciptaan ayahnya berjumlah enampuluh jurus. Dengan begitu, ia kinitinggal menggeng-gam semacam modal tigapuluh jurus lagi. Andaikata ia sudah berpengalaman tidak perlu tergesa-gesa melanjutkan jurus-jurusnya. la bisa mengulangi dengan jurus-jurus ga-bungan atau berselang-seling. Musuh setidak-tidaknya, bisa dikelabui.

Sebaliknya Blandaran yang sudah kenyang makan garam, segera dapat menggunakan pikirannya. Sambil mem-bela diri ia memperhatikan jurus serangan Niken Anggana yang selalu berobah. Teringatlah dia kepada ucapan Niken Anggana kepada Sukesi. Sebelum bertempur, Niken Anggana minta kepada Sekesi agar mengabadikan Ilmu Pedang Landeyan ciptaan ayahnya. Bukankah berarti hendak memperlihatkan sejurus demi sejurus? Kalau begitu, biar-lah kuberi kesempatan untuk memperlihatkan seluruh ju-rusnya, pikir Blandaran.

Blandaran dapat bersikap demikian, sebab ia menang tenaga. Sambil bertempur ia mulai mengamat-amati. Setelah sampai duapuluh jurus, ia mulai mengenalnya. Sekarang tidak perlu lagi ia cemas. Bahkan sedikit demi sedikit ia mendesak. Tongkatnya yang kasar dan berat lantas saja dapat mengimbangi pedang Niken Anggana.

Didesak demikian, terpaksalah Niken Anggana melanjutkan jurusnya yang ketiga puluh satu dan seterusnya. Pe-nonton mulai tegang. Tidak lagi mereka bersorak sorai kagum, karena kedua pihak seimbang. Sebaliknya Gemak Ideran mulai cemas.

Prarasanya ternyata benar. Mendadak saja Blandaran merobah cara berkelahinya. Dia memutar tongkatnya makin lama makin cepat sehingga membawa kesiur angin. - Celaka ! - pikir Gemak Ideran. - Kalau dia berkesempatan memutar senjatanya, berarti pula sempat mengerahkan tenaga Hawa Beracun Ilmu Batu Panas ... -

Dengan penuh perhatian ia mengamat-amati gerakan tongkat Blandaran. Sekarang tongkat Blandaran tidak ha-nya dapat mengimbangi, akan tetapi mulai mengurung pula. Artinya gerakan pedang Niken Anggana yang lembut dan penurut. Tidak pernah ia berusaha membantah perintah siapapun. Apalagi dalam hal tindak kekerasan.

Jangan-jangan dia kehilangan daya tempur. Ternyata sama sekali tidak. Justru merasa terancam bahaya, pedangnya menjadi ganas. Sebab manakala terancam bahaya maut, makhluk itu akan berusaha menyelamat kan diri dengan cara apapun juga.

Begitulah, sewaktu Niken Anggana merasa terancam bahaya, bangkitlah semangat tempurnya untuk metepaskan diri dari kurungan Blandaran.

Mendadak saja tubuhnya melesat tinggi. Pedangnya berkelebat memapas ujung tongkat Blandaran. Tetapi karena tongkat lebih perkasa daripada pedang, ia hanya mampu menggempur miring. Namun ia tidak kehilangan akal. la justru menggunakan pantu- lannya untuk membantu melambungkan tubuhnya lebih tinggi lagi.

Tentu saja, Blandaran yang sudah berpengalaman tidak mengijinkan ia meminjam tenaganya. Dengan sebat ia menyusuli serangan berantai yang sangat berbahaya. Itulah serangan berantai yang tadi dapat mementalkan tubuh Nyai Dandang Wutah nyaris roboh terjengkang andaikata tidak disangga dua orang saudara seperguruan nya.

Sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan rata-rata berumur enampuluh tahun. Mereka mengenal ragam ilmu pedang. Apalagi adiknya-seperguruan yang termuda -Sondong Landeyan - mahir sekali dalam hal ilmu pedang. Karena itu, mereka dapat mengikuti tipu-daya dan gerakan serangan ilmu pedang Niken Anggana dengan jelas. Mereka tahu, ilmu pedang Niken Anggana bisa merebut kemenangan. Hanya sayang, Niken Anggana masih terlalu muda.

Barangkali inilah salah satu sebab mengapa ayahnya melarang menggunkannya ,. Jurus-jurusnya boleh hebat dan sempurna. Akan tetapi tanpa dukungan himpunan tenaga sakti, daya tekanannya tidak berarti banyak.Dalam suatu pertempuran jarak panjang, lambat-laun ia akan kalah.

Blandaran tahu akan hal itu. Karena itu dengan berbesar hati ia menghantamkan tongkatnya dengan tenaga penuh. Niken Anggana sedang melayang di udaratatkala ia merasa kena imbasan suatu tenaga yang panas luar biasa. Apakah ini yang dinamakan tenaga hawa Ilmu Batu Panas? Hatinya tercekat begitu teringat hal itu. Terus saja ia mengibaskan pedangnya sambil membuka dadanya. Hai! - seru sekalian saudara- seperguruan Sondong Landeyan terperanjat. Tetapi pada detik yang mengancam maut itu, sekali lagi Niken Anggana memperlihatkan jurus pertahanannya yang luar biasa. Ternyata ia masih mempunyai kepandaian yang istimewa.

Dengan sebat ia menggerakkan kakinya. Tubuh-nya melengkung sehingga kedua kakinya melewati perut-nya. Dan dengan kedua kaki yang terbalik letaknya ia menginjak ujung tongkat. Tubuhnya membal dan melesat ke luar gelanggang. Kemudian mendarat dengan tak kurang suatu apa.

- Pendeta gadungan ini benar-benar hebat. - pikir Gemak Ideran di dalam hatinya. - Pantas dia sombong dan ga-nas. Kalau begitu, aku harus segera melumpuhkan sebelum tenaga istimewaku pudar. Pada saat ini Niken Anggana masih segar bugar. Tetapi bila pendeta gadungan itu berkesempatan melepaskan salah satu pukulan nya hawa beracun, akibatnya akan runyam.

Senyampang belum terjadi sesuatu, kapan lagi aku harus ikut maju? -

Sementara itu Niken Anggana sudah menerjang lagi dengan jurus-jurusnya yang baru. Pedangnya berkelebatan mengurung Blandaran. Akan tetapi Blandaran yang sudah mulai memahami inti gerakan ilmu pedang Landeyan, tetap gagah katau tidak boleh dikatakan bahkan bertambah gagah. Tongkatnya terdengar menderu-deru. Itu suatu tanda, bahwa dia mulai dapat mengerahkan hawa beracun Ilmu Batu Panas.

Meskipun pedang Niken Anggana masih saja tatap lincah, namun lambat-laun pastilah menghirup hawa beracun itu. Sadar akan bahaya yang mengancam, Gemak Ideran tidak berpikir panjang lagi. Terus saja ia melesat me-masuki gelanggang sambil menghantam goloknya.

Masuknya Gemak Ideran, mengejutkan Blandaran. Terpaksa ia menangkis kuat lawan kuat. la tahu, pemuda itu mempunyai himpunan tenaga sakti yang tinggi melebihi dirinya. Sebaliknya ia percaya kepada hawa beracun Ilmu Batu Panas.

Diluar dugaan gempuran tenaga sakti Gemak Ideran tidak hanya kuat, tetapi bisa bertahan terhadap hempa-san hawa beracun.

Bahkan tenaganya maha dahsyat. Tahu-tahu dirinya terpental dua langkah dan hampir-hampir roboh terjengkang.

Kedua perwira yang pernah merasakan kehebatan tenaga Gemak Ideran terperanjat. Melihat Blandaran terpental dua langkah, hatinya ciut. Terus saja mereka berdua maju menerjang. Sukesi dan Wigagu tidak membiarkan mereka. Wigagu yang tadi sempat terkulai, masih penasaran. Dengan pedang terhunus ia menghadang dan pertempuran seru terjadi sangat cepat.

Sekarang, baik Wigagu maupun Sukesi bertempur sangat baik. Soalnya karena merasa sudah memperoleh pegangan. Sebentar tadi, kedudukan Niken Anggana dan Gemak Ideran masih belum jelas. Tetapi setelah kedua muda-mudi itu membela nama rumah- perguruannya, mereka jadi mantap. Mereka berdua merasa wajib menjaga kehormatan rumahperguruannya. Untuk sementara, masalah Niken Anggana dapat dikesampingkan. Itulah sebanya kedua perwira yang tadi dapat melukai Wi-gagu, sudah bukan lawan mereka lagi.

llmu Pedang ajaran Sondong Landeyan betul-betul berwibawa. Gerakan jurus-nya mantap dan dukungan himpunan tenaga saktinya tepat. Menyaksikan perubahan yang mencemaskan itu, Anta-wati yang semenjak bersikap menunggu lantas saja berseru

:

- Mereka sudah mendahului main keroyok. Serbu ! -Anak-buah Antawati berjumlah empat belas orang. Sudah semenjak tadi, mereka tidak bersabar lagi. Kini mereka mendengar aba-aba untuk menyerbu. Tidak mengheran-kan, seperti anjing kena gebuk mereka lantas saja mener-jang dengan gegap gempita.

- Celaka ! - seru Sondong Gunung yang masih memiliki watak berangasan. - Mari kita layani. -

Sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan ada-lah pendekar-pendekar berpengalaman. Menghadap i ser-buan anak- buah Antawati bukan merupakan suatu peristi-wa yang mengejutkan. Hanya saja mereka tadi sempat me-nyaksikan betapa ampuh hawa beracun llmu Batu Panas yang berhasil melukai kakaknya seperti Sondong Jerowan. Padahal di antara mereka, Sondong Jerowanlah yang ber-kepandaian paling tinggi. Meskipun demikian, hawa beracun llmu Batu Panas bukan alasan untuk membuat mereka gentar. Begitu mendengar suara Sondong Gunung, segera mereka memasuki gelanggang pertempuran dengan senja-ta andalannya masing-masing. Nyai Dandang Wutah yang sudah kena pengaruh hawa beracun llmu Batu Panas, tidak terkecuali. Dengan memaksa diri, ia mengayunkan senjata andalan Selendang Gadung Melati.

Antawati tadi menuduh Gemak Ideran main keroyok. Kalau dipikir, justru dialah yang main keroyok. Anak-buahnya berjumlah empat belas orang, ditambah dirinya, Blandaran dan kedua perwira. Berarti delapan belas orang.

Sedang di pihak Gemak Ideran hanya berjumlah sembilan orang, karena baik Sondong Jerowan maupun Nyai Dandang Wutah sebenarnya sudah tidak mampu berbuat banyak. Dengan begitu, masing-masing berhadapan dengan dua musuh. Dalam hal ini, Blandaranlah yang merupakan lawan terberat. Untung untuk sementara Gemak Ideran dapat menandingi. Bahkan melebihi.

Akan tetapi tenaga sakti yang dimiliki bersandar pel istimewa pemberian Rawayani. Kekuatan dan kemauannya terbatas.

Makin sering digunakan, makin kuranglah dayanya. Sebaliknya, meskipun Blandaran kalah dalam hal mengadu tenaga, tetapi ilmu kepandaian-nya bermacam ragam. Dengan suatu kesabaran tertentu, lambat-laun dia pasti bisa mengungguli Gemak Ideran.

Gemak Ideran menyadari kelemahan itu. Maka diam-diam dia sudah mencari akal untuk membawa Niken Anggana melarikan diri. Pikirnya : - Niken Anggana bukankah dimusuhi anak-murid dan saudara-seperguruan Sondong Landeyan? Berkorban untuk mereka tiada gunanya. - Memikir demikian, segera ia melepaskan pukulan beruntun seraya mendekati Niken Anggana.

Blandaran benar-benar licik dan licin. Karena mengetahui pemuda itu memiliki tenaga kuat, tidak berani ia me-nangkis. la hanya mengelak sambil menyerang Niken Anggana lolos dari libatannya. Dan setiap kali menyerang Niken Anggana dengan sebat ia senantiasa berada di belakang punggung gadis itu.

Dengan begitu, pukulan Gemak Ideran tidak hanya sia-sia saja, tetapi terhalang pula.

Menghadapi akal Blandaran, Gemak Ideran merasa kuwalahan-. Memang, ilmu kepandaiannya masih terpaut jauh bila dibandingkan dengan Blandaran. la hanya memiliki tenaga tambahan, tetapi bukan menambah kegesitannya. Itulah sebabnya, tidak dapat ia mengimbangi kesebatan Blandaran.

Pukulan-pukulannya selalu menghantam udara ko-song. Manakala berniat mendesaknya, tiba-tiba saja Niken Anggana sudah berada di depannya menutupi sebagian sasarannya.

Sementara itu pertempuran antara saudara-seperguman Sondong Landeyan melawan anak-buahnya Antawati berlangsung cepat dan seru. Hebat ilmu kepandaian seka-lian saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Gerakan senjata mereka mantap dan pasti. Sayang mereka sudah berusia lanjut sehingga tidak berani mengobral tenaga. Justru demikian, merugikan kedudukannya sendiri. Sebab dengan cepat saja, mereka sudah mulai terkurung rapat.

Selagi mereka bertempur dengan lawannya masing-ma-sing, tiba- tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak. Ha-ti Gemak Ideran tercekat. Siapa lagi yang datang? Kalau anak-buah Cing Cing Goling datang lagi membantu teman-temannya, celakalah sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan termasuk Sukesi dan Wigagu. Memperoleh pikiran demikian, sebat luar biasa ia menggempur Blanda-ran dan menghantam dua orang yang datang kesamping, dua orang itu terpental tinggi di udara dan terbanting telak di atas tanah pegunungan yang keras.

- Hai Surengpati! Hebat pukulan bocah itu ! - terdengar suara seruan nyaring.

Gemak Ideran terperanjat. la seperti pernah mengenal suara itu. Segera ia menoleh dan melihat tiga orang yang sedang lari saling menyusul. Yang bersuara tadi Saring alias Gagak Seta. Dia sedang diuber seorang pemuda pula yang mengenakan pakaian mentereng. Barangkali pemuda itulah yang dipanggil Gagak Seta dengan nama Surengpati. Dan melihat munculnya Gagak Seta, Gemak Ideran merasa memperoleh dewa penolong. Terus saja berteriak :

; Kakang Gagak Seta ! -

Mendengar teriakan Gemak Ideran, Blandaran ikut menoleh. Selagi demikian, Gagak Seta sudah berkelebat melepaskan pukulan. Blandaran terkejut setengah mati. Mimpipun tidak pernah, bahwa pada suatu hari ia bakal bertemu dengan seorang pemuda lain lagi yang memiliki himpunan tenaga sakti yang dahsyat luar biasa. la mencoba menangkis. Prak I Akibatnya dia jatuh menggelinding dan memekik bangun dengan mata berkunang-kunang.

- Bangsat ! Siapa kau? -

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Aku sendiri tidak tahu, siapa diriku! Hai Kebo Bangah, lumayan juga tua bangka ini.Barangkali cocok untukmu! -

Seorang pemuda berperawakan tinggi besardan berkepala botak maju dengan wajah menyeramkan. la mende-ngus. Lalu menyahut :

- Kalau cocok, lalu untuk apa? -

- Setali tiga uang denganmu. Sama-sama beracun, sama-sama edan pula. Coba aku ingin melihat, mana yang bagus antara racunmu dan racunnya. -

Ucapan Gagak Seta membuktikan bahwa dia berkepandaian tinggi. Sebab dengan sekali adu kesaktian sudah mengetahui lawannya mempunyai hawa beracun. - Hm. - Kebo Bangah alias Singgela mendengus. Gagak Seta agak mengenal watak dan perangai Kebo

Bangah. Dia tertawa terbahak-bahak. Berkata :

- Selamanya kau membanggakan diri sebagai manusia beracun nomor satu. Kau berani melawan dia? -

- Hm. - lagi-lagi Kebo Bangah mendengus.

- Hahaha... hai Surengpati! Dia tidak berani. Kalau begitu, di dunia ini tinggal kita berdua yang nomor satu. -

.- Apa? - Kebo Bangah kena dibakar hatinya. Dan terus saja ia meloncat menerjang Blandaran.

Blandaran tadi sempat beradu keras lawan keras melawan Gagak Seta, la sadar, pemuda itu memiliki tenaga pukulan yang dahsyat luar biasa melebihi Gemak Ideran. Tentunya pemuda yang bernama Kebo Bangah itupun demikian pula. Maka buru-buru ia bersiaga.

Kebo Bangah ternyata seorang pemuda yang congkak dan ganas. Kena dibakar hatinya, tanpa berpikir panjang lagi terus saja ia mendahului menyerang. Bres !

- Bagaimana? - teriak Gagak Seta. - Betul atau tidak? -

- Lumayan... lumayan... - sahut Kebo Bangah tak jelas. - Bagus ! Biarlah dia jadi lawanmu. Aku dan si Jangkrik Bongol ini biar berlomba. Hai Bongol, kau berani bertaruh denganku atau tidak? -

- Bertaruh apa? - sahut Surengpati alias Jangkrik Bongol.

- Hayo kita berdua ramai-ramai merobohkan orang. Siapa yang merobohkan orang lebih banyak, dialah yang menang. -

- Bagus ! -

Kedua pemuda itu kemudian menerjang anak-buah Antawati. Hebat cara bertempurnya. Seperti bayangan iblis mereka bergerak cepat dari tempat ketempat. Sebentar saja beberapa orang roboh terjengkang tak berkutik lagi.

Gemak Ideran dan Niken Anggana berdiri tertegun dengan pikirgnnya masing-masing.

Gemak Ideran teringat ke-pada tutur-kata Rawayani, bahwa mereka bertiga muncul di Pesanggrahan mem bunuh rombongan orang bertopeng. Sepak terjangnya ternyata luar biasa hebatnya. Lain lagi pikiran Niken Anggana. Kedatangan mereka bertiga tidak membuatnya heran atau terkejut. Sebab mereka bertiga pernah muncul di Pesanggrahan.

Perhatiannya kini mencari Diah Windu Rini. Di manakah dia? Diah Windu, kakak-se-perguruan Surengpati, dulu dia ikut mengejar. Kini, bayang-annya tiada nampak. Apakah dia balik kembali ke Pesang-gerahan? Teringat akan Diah Windu Rini, Niken Anggana menjadi gelisah sehingga lupa menggerakan pedangnya.

Dalam pada itu sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan terheran-heran melihat datang tiga pemuda itu. Setelah memperhatikan sepak-terjangnya yang luar biasa, tak terasa Sondong Jerowan dan Nyai Dandang Wutah menghela nafas.

Berkata kepada dirinya sendiri :

- Ah benarlah kata pepatah. Gelombang yang baru men-dorong arus yang lama. Tulang-belulang kita sudah keropos. Siapa mengira, dunia melahirkan anak-anak muda yang tiba-tiba berkepandaian sangat tinggi? -

Tetapi Sondong Jerowan dan Nyai Dandang Wutah salah tafsir. Mereka mengira, ketiga pemuda itu datang untuk membantu mereka. Ternyata tidak demikian. Setelah berhasil mengocar- acirkan anak-buah Antawati, Surengpati dan Gagak Seta berbalik menyerang saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Keruan saja mereka kaget bukan kepalang.

- Hai, hai ! Apa artinya ini? - teriak Sondong Meguwa. -Kalian siapa? -

Sebagai jawabannya mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Terdengar Surengpati berkata kepada Gagak Seta : - Pengemis edan ! Aku tidak senang bermain-main dengan bangsa kucaci. Bagaimana kalau kita mencoba-coba orang-orang tua bangka ini? -

- Bagus ! Kalau kau bisa memperoleh kegembiraan, aku sih cuma mengiringkan. -

Gemak Ideran tercengang-cengang menyaksikan sikap mereka yang acak-acakan. Mereka tadi menggebah anak-buah Antawati sampai lari tunggang-langgang. Sekarang tiba-tiba menyerang kelima saudara-seperguruan Sondong Landeyan yang masih segar bugar. la jadi tidak me-ngerti cara mereka berpikir.

- Orang-orang pandai biasanya aneh. Ternyata benar. -pikir Gemak Ideran di dalam hati.

Singgela alias Kebo Bangah sementara itu sudah sibuk bertempur melawan Blandaran. Blandaran tadi berkesan gagah menghadapi sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Akan tetapi menghadapi Kebo Bangah, ia mati kutu. Berbagai cara ia melepaskan hawa beracun llmu Batu Panas. Ternyata sama sekali tidak mempan terhadap pemuda itu. Sebaliknya hidungnya menyengat bau amis luar biasa. Itulah bau amis ular berbisa yang dapat membahayakan paru-paru dan jantung.

- Celaka ! Diapun memiliki ilmu hawa beracun. - ia terperanjat.

Pada saat itu, ia sempat mengerling kepada dua muridnya yang berpakaian laskar. Mtreka berdua sudah kena di-robohkan Sukesi dan Wigagu. Memperoleh penglihatan demikian, buru-buru Blandaran memutuskan. Katanya di dalam hati:

- Kalau aku tidak segera kabur, apakah harus menunggu sampai aku roboh di tangan pemuda ini? -

Memperoleh pikiran demikian, segera ia melepaskan pukulan beruntun yang menjadi andalannya. Kebo Bangah terpaksa mengelak dan kesempatan itu dipergunakan Blandaran kabur turun gunung. Tentu saja kaburnya mengejutkan hati kedua muridnya. Setelah mereka berdua kena terten-dang roboh, dengan tertatih-tatih mereka bangkit. Lalu lari terpincang-pincang meninggalkan gelanggang pertempuran.

Sukesi dan Wigagu tidak sempat mengejarnya mereka berdua, karena Kebo Bangah tiba-tiba berbalik menyerang dirinya. Buru- buru mereka menangkis, kemudian melawan dengan ilmu pedang ajaran gurunya.

Sebentar saja mereka bertiga terlibat dalam suatu pertempuran yang sengit.

- Hai Jangkrik! Mereka lumayan juga. Kau bagaimana? -

- Urusi dirimu sendiri. Aku sudah mendapat boneka permainan. - sahut Surengpati dengan suara datar.

- Bagus ! Hayo berlomba. Kau atau aku yang bisa merobohkan lebih dulu. - Kebo Bangah tertawa terbahak-bahak . Gemak Ideran tercenung-cenung. Akhirnya tertawa geli. Ini namanya pertempuran awut-awutan karena tidak jelas siapa lawan siapa kawan. Kalau di pikir diapun begitu juga. Siapa lawannya yang benar tidak jelas pula. Antawati dan anak- buahnya jelas-jelas lawannya. Sebaliknya, Sukesi, Wigagu dan sekalian saudara sepergu ruan Sondong Landeyan bukan temannya bertempur pula. Karena datangnya ke rumah perguruan Sondong Landeyan semata-mata demi membebaskan Niken Anggana, maka diapun segera men-gambil keputusan cepat senyampang mereka semua masih terlibat dalam satu pertempuran. Memikir begitu, ia beralih tempat menghampiri Niken Anggana yang masih berdiri terlongong-longong mencari di mana beradanya Diah Win-du Rini.

- Niken ! - bisik Gemak Ideran. - Coba tangan kirimu ! -

Niken Anggana tersadar mendengar suara Gemak Ideran. la tidak mengerti maksud Gemak Ideran. Dengan kepala kosong ia mengulurkan tangan kirinya. Pada saat itu, Gemak Ideran menyambar tangan kirinya dan dibawanya ber-lari kencang meninggalkan medan pertempuran.

- Hei kakang ! Kau bawa ke mana aku? - ia minta keterangan.

- Kita tidak bisa berbicara dengan orang-orang edan.Buat apa bercokol di sana? -

- Tidak! - Niken Anggana mencoba menarik tangannya. -Aku harus bertanggung jawab. - Gemak Ideran sudah dapat menebak kata hati Niken Anggana. Gadis itu pasti masih kokoh pada keputusan hati-nya. Maka segera ia mengalihkan pembicaraan :

- Tiga orang aneh itu muncul kembali. Mungkin mereka bermaksud baik seperti yang dilakukan di Pesanggerahan. -

- Eh, apakah kakang melihat mereka muncul di Pesanggerahan?

-

Sambil terus membawa Niken Anggana berlari kencang, Gemak Ideran menjawab :

- Benar. -

Tidak usah diterangkan lagi, Gemak Ideran berdusta. Na-mun waktu itu Niken Anggana berada di dalam kamar Diah Windu Rini, sehingga tidak mengetahui dirinya berada dengan Rawayani jauh di luar Pesanggerahan.

- Ayunda Diah Windu Rini mengejar mereka bertiga. Sekarang mereka muncul di sini,tetapi ayunda tidak kelihatan. -

- Tentu saja. Apa perlunya bergaul dengan tiga manusia aneh itu? -

Gemak Ideran masih membawa Niken Anggana berlari-larian kencang beberapa waktu lamanya. Setelah merasa aman, barulah ia berhenti dan mempersilahkan Niken Anggana beristirahat di atas batu.

- Ayunda Windu Rini seorang pendekaryang pandai ber-pikir. Aku yakin dia kini berada di Pesanggerahan menunggu kita. - Gemak Ideran mulai berbicara lagi.

Wajah Niken Anggana mendadak nampak kusut. la tidak bersemangat mendengarkan kata-kata Gemak Ideran. Gemak Ideran yang perasa lalu berkata lagi :

- Niken ! Apakah kau menyesal kubawa lari sampai di sini? Kau berada di tengah orang-orang yang tidak mengerti dirimu. Mereka semua memandangmu sebagai musuh nomor satu pula. -

- Tetapi aku bisa mengerti sikap mereka. - sahut Niken Anggana dengan suaranya yang lembut seperti biasanya. -Ibuku memang menyakitkan hati paman Sondong Landeyan. Aku bisa mengerti. Maka aku akan balik kembali untuk memikul tanggung jawab. -

Gemak Ideran tertawa geli. Ujarnya :

- Adik ! Taruhkata ayahmu salah, namun hatimu amat mulia. -

Niken Anggana tidak menanggapi. Beberapa saat lamanya, ia berdiam diri. Lalu menyenak nafas. Berkata :

- Aku mendengar kisah ini dari mulut bibi Sukesi dan pa-man Wigagu yang berhati luhur. Coba bagaimana penda-patmu? - Niken Anggana kemudian nwngulangi kisah naasnya pendekar Sondong Landeyan seperti yang dikabarkan Sukesi dan Wigagu. Dan mendengar adegan yang mengharu-kan itu, Gemak Ideran menundukkan kepalanya. Sebagai seorang pria ia dapat merasakan betapa sakit hati Sondong Landeyan, begitu mendengar ucapan isterinya yang sangat dicintainya. Diapun akanterjun juga kedalam jurang seperti yang dilakukan Sondong Landeyan, apabila peristiwa itu menimpa dirinya.

- Yah. - ia berkata dengan suara agak mendesah. - Menilik bunyi kisah itu, paman Haria Giri perkJ melukai paman Sondong Landeyan dahulu sebelum bertindak. -

Niken Anggana mengangguk dengan wajah sedih. Sewaktu hendak membuka mulut, Gemak Ideran mendahului:

- Karena terluka parah tak dapat paman Sondong Landeyan melawan ayahmu. Meskipun demikian, ia tidak akan nekat bunuh diri seumpama tidak mendengar ucapan ibu-mu. Tetapi-------

- Janganlah kakang membela ibu atau ayahku. Betapa-pun juga aku masih jauh beruntung bila dibandingkan dengan nasib kakang Pitrang. Aku masih berada di tengah-te-ngah ayah dan ibu. Tetapi kakang Pitrang hidup sebatang kara. -

- Ah tidak I - bantah Gemak Ideran. - Apapun kata orang, ibumu berusaha dengan caranya sendiri hendak merebut Pitrang dari tangan paman Sondong Landeyan. Aku per-caya, cinta kasih seorang ibu akan dibawa mati. - Niken Anggana tercengang.

21. PITRANG

Niken Anggana tercengang. Ucapan Gemak Ideran baginya, sungguh mengherankan. Tidak dapatkah pemuda itu menerima penjelasannya? Kenapa jadi begitu? la memang seorang gadis yang masih polos dan bebas. Hatinya lapang dan tulus.

Sama sekali ia tidak tahu, bahwa Gemak Ideran sudah semenjak lama menaksir dirinya. Dan biasanya, orang yang lagi menaksir sesuatu, berbicara dengan hatinya dan bukan dengan akal dan pikirannya.

Semenjak mendaki gunung, sebenarnya Gemak Ideran sudah bersikap luar biasa Jauh berbeda dari p jda biasanya. Tiba-tiba saja jadi galak, ganas dan keras kepala. Ucapannya tajam dan nekat-nekatan sehingga berkesan setengah liar. Sebenarnya itulah letupan sejati keadaan hatinya.

Melihat kekasihnya terancam bahaya, ia melupakan segala- galanya. la jadi kalap seperti kerasukan setan. Sekarang kekasih yang dibelanya dengan mempertaruhkan nyawa-nya, tiba-tiba hendak balik ke sarang lawan. Keruan saja, ia tidak merelakan. Apapun alasannya, harus dicegah.

- Apakah kakang hendak menyertaiku ke pondok paman Sondong Landeyan? - Niken Anggana tiba-tiba menegas. - Apa? - Gemak Ideran terkejut Niken Anggana mencoba mengerti jalan pikiran Gemak Ideran. Hati-hati ia mencoba:

- Atau menurut kakang aku harus mencari ayah? Tetapi dimana beradanya ayah, aku kurang pasti. Mungkin menyertai Sri Bagin- da. Berarti kakang harus menyertaiku dua sampai tiga bulan. -

Itulah kata-kata Niken yang diharapkan Gemak Ideran. Dua sampai tiga bulan menyertai gadis pujaan hatinya, bukankah suatu karunia? Lebih lama malahan lebih bagus. Akan tetapi pada detik itu, mendadak berkelebatlah bayangan Rawayani. Tak dikehendaki sendiri, hatinya tergetar.

Bukankah ia berjanji satu bulan lagi akan bertemu? Terhadap gadis istimewa itu, ia mempunyai kesan-nya sendiri. la merasa dihinggapi perasaan takut Sepak terjangnya susah diduga.

Bagaimana kalau tiba-tiba dia mengambil tindakan terhadap Niken Anggana? Memikirkan kemungkinan itu, pikirannya jadi kusut

- Rawayani sangat berbisa. Seluruh tubuhnya dilindungi racun yang mematikan. - Pikirnya dalam hati. - Tak apalah, apabila ia me-nyiksaku. Tetapi bila Niken diikut-ikutkan menanggung kesalahan ... ih! -

Oleh pikirannya itu, wajah Gemak Ideran bembah. Dan me- nyaksikan perubahan wajah Gemak Ideran, Niken Anggana he- ran. Menegas: - Kakang! Apakah yang kau pikirkan? Apakah usulku tidak te-pat?

- Gemak Ideran tertawa untuk menghapus kesan wajahnya. Lalu menyahut:

- Bukan begitu! Bukan begitu... !-

- Bukan begitu bagaimana? - Niken Anggana mendesak. Gemak Ideran menghela nafas. Untuk sedetik dua detik, ia gelisah.

Akhirnya berkata memutuskan :

- Mari kita mencari kedai minuman. Aku haus dan lapar. -

Tanpa menunggu jawaban Niken Anggana, Gemak Ideran mendahului berjalan. Niken Anggana yang jnerasa aneh melihat sikap Gemak Ideran, membatalkan niatnya hendak balik ke perta- paan Sondong Landeyaa Dengan penuh tanda tanya, ia mengikuti Gemak Ideran mencari kedai makanan.

Waktu itu senjahari sudah mendekati petang. Suasana sekitar lembah Gunung Lawu nampak samar-samar. Kesejukan hawanya mulai meresapi seluruh tubuh. Kabut tipis mulai turun dari ping-gang gunung. Dusun-dusunyang bertebaran di celah- celah tebing, masih berkesan tenang-tentram. Suasana perang di sekitar Ibukota belum kuasa mengubah tata-kehidupannya.

Tidak lama kemudian nampak sebuah kedai yang cukup besar di tepi jalan penghubung. Kedai itu berada di tengah empang. Pe- ngusahanya bernama Kliwon. Agaknya sudah turun-temurun. Hal itu dibuktikan dengan jumlah pengunjungnya yang banyak. Rata- rata terdiri dari pedagang-pedagang keliling yang menganggap kedai Kliwon sebagai tempat persinggahan, Begitu masuk ke ruang dalam, Gemak Ideran memesan arak dan makanan untuk Niken Anggana. Sebelum Niken Anggana menegas apa sebab ia memesan arak, ia berkata menerangkan :

- Niken! Arak ini perlu sebagai penghangat badan di atas gunung.

-

Niken Anggana memanggut kecil dan duduk di sampingnya. Dengan berdiam diri ia mengamati kawannya yang bersikap aneh itu. Aneh! Sungguh aneh! Keterangan Gemak Ideran memang beralasan. Akan tetapi belum pernah ia melihat pemuda itu mi- num arak. Apalagi dengan gaya seorang peminum.

Gemak Ideran sendiri, tidak pedulian. Begitu arak disajikan, lantas saja ia meminumnya dengan sekali jadi. Berkata sambil ter-tawa kepada Niken Anggana :

- Aku haus. Benar-benar haus. Kau tidak minum? -

- Lebih baik kau pesankan air ten, - sahut Niken Anggana dengan suaranya yang tetap merdu.

Tidak lama kemudian, pelayan menyajikan hidangan khas bua- tan orang gunung. Meskipun lauk-pauknya terdiri dari daging kambing, daging lembu, ikan empang dan ayam, namun masakan-nya terlalu sederhana. Namun karena dibantu oleh hawa gunung yang sejuk, kelihatan sedap juga sehingga kuasa menimbulkan seler amakan.

Dengan berdiam diri, Gemak Ideran mulai makan. Begitu pula Niken Anggana. Sambil makan, Niken Anggana berpikir di dalam hati:

- Kakang Gemak Ideran seorang pemuda yang setia dan cerdas. Sekarang ia bersikap lain Agaknya ia enggan berpisah denganku. Bukankah dia bertanggung jawab kepada paman Adipati Cakraningrat menjaga keselamatanku? Sekarang aku memutuskan hendak kembali ke pertapaan paman Sondong Landeyan untuk mempertanggung jawabkan kesalahan ayah, Bukankah aku akan melibatkan dirinya? Kecuali akan ditegur paman Adipati, ayahpun tidak akan tinggal diam. Agaknya ia tidak senang aku menyebut-nyebut nama kakang Pitrang. Mengapa begitu? -

Niken Anggana hanya benar separoh. Sebenarnya, Gemak Ide- ran tidak bersikap begitu terhadap Pitrang. Bahkan di dalam lubuk hatinya, ingin ia bertemu dengan Pitrang. Kalau Niken Anggana kelak benar-benar menjadi istrinya, bukankah Pitrang menjadi kakak-iparnya? Tetapi sekali lagi, bayangan Rawayani selalu berkelebatan di depan kelopak matanya.

Masih syukur, Niken Anggana tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkaa Tetapi justru demikian, pikiran hatinya jadi ruwet . -Niken!-akhirnyaia berkata. -Ayahmu seorang ahli pedang kenamaan. Barangkali seorang ahli pedang nomor satu pada jaman ini. Apakah ayahmu pernah menyebut-nyebut jenis ilmu sakti yang bernama Ilmu Sakti Batu Panas? -

-Tidak. -NikenAngganamenggelengkankepalanya. -Ayah hanya berkata, bahwa di luar rumah terdapat berbagai macam ilmu sakti yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Hanya saja aku tadi sempat melihat kehebatan ilmu sakti itu. Syukur, ayah dahulu pernah mengajari aku cara mengelakkan semua pukulan berbahaya.

Itulah sebabnya aku dapat lolos dari gempuran Blandaran. -

- Hm, mungkin pada saat ini dia sudah terjungkal di tangan Gagak Seta, Surengpati atau Singgela. -

- Itulah yang kuharapkaa Tetapi bagaimana andaikata dia masih saja dapat meloloskan diri? -

- Aku tidak takut - sahut Gemak Ideraa Mendadak suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. la tadi sudah menggunakan tenaga berlebihan. Menurut Rawayani, ia akan menderita letih. Setelah itu, tenaga tambahannya yang istimewa akan lenyap.

Bahkan bisa membuat dirinya jadi sakit Teringat akan hal itu, tak terasa ia meneruskan :

- Hanya saja... hanya saja -

- Hanya saja bagaimana? ; Niken Anggana menegas. Gemak Ideran tidak menjawab. la tertawa panjang sambil menyuapi mulutnya. Jelas sekali, ia tidak menghendaki Niken Anggana mengetahui rahasia dirinya. Sebaliknya Niken Anggana seorang gadis yang cerdas. Perubahan wajah Gemak Ideran menarik perhatiannya. Setelah meneguk minuman dua tiga kali, ia berkata seperti kepada dirinya sendiri :

- Belum pernah aku melihat kakang bertempur sehebat tadi. Pukulan-pukulan kakang, amat dahsyat Dari mana kakang memperoleh ilmu sakti itu? Atau kakang sengaja menyembunyikan ? -

- Hai! Masakan pukulanku begitu hebat? - Gemak Ideran berpura- pura heran.

- Setidak-tidaknya, Blandaran segan mengadu tenaga keras melawan keras. Padahal dengan mudah dia dapat merobohkan saudara-seperguruan paman Sondong Landeyan, Ah, pasti pukulan kakang terlalu dahsyat baginya. -

Didesak demikian, Gemak Ideran merasa terpojok. Pada saat itu pula, bayangan Rawayani berdiri di depan matanya. la jadi merasa sedih, karena tak dapat ia memberi keterangan yang benar kepada seorang gadis yang dicintainya.

Keruan hatinya mendongkol dan gemas pada dirinya sendiri. Tatkala ia hendak membuka mulutnya, terdengan suara derap kuda yang dijalankan pelahan-lahan. la menoleh dan melihat enam berjalan kaki mengiringkan tiga orang penunggang kuda. Jelas sekali, mereka adalah anak-buah Antawati. Sedang yang menunggang kuda, Teguh, Wulung dan Sriwenda.Teringatlah dia, betapa angkuh dan sombong Teguh dan Wulung sewaktu sedang mendaki gunung. Tetapi mereka kini kelihatan layu seperti daun kekurangan air, akibat ketemu batunya. Mana Blandara ? Mana pula Antawati ?

- Bagus! - seru Gemak Ideran sambil beranjak dari tempat du- duknya. - Dicaripun belum tentu ketemu. -

- Kakang! Mau ke mana? - tukas Niken Anggana. la agak mencemaskannya. Nampaknya Gemak Ideran tidak seperti biasanya. Dia nampak beringas dan seperti ada yang mengganjal hatinya.

- Sebentar. - sahut pemuda itu. Dan dengan gesit ia sudah bera- da di luar kedai.

Niken Anggana jadi tak enak hati. Segera ia membayar harga makanan dan minuman, lalu menyusulGemaklderan. Setelah be- rada di luar kedai, ia berdiri mengawaskan tingkah-laku Gemak Ideran dari jauh. Lapat-lapat ia mendengar Gemak Ideran berseru nyaring dan menghadang rombongan itu.

- Selamat petang, selamat petang! -

- Hai! - bentak Teguh sambil menahan kendali kudanya yang segera diikuti dua orang temannya. - Bukankah engkau yang menga-cau di atas pertapaan Sondong Landeyan? -

Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Memangnya kenapa? Kalian sendirilah yang mengacau di atas gunung. Kebetulan, malah. Sudah semenjak pagi tadi aku ingin mematahkan kedua kakunu, biar berjalan pulang dengan merayap. -

- Apa? - wajah Teguh merah padam.

Wulung yang berada di sampingnya, lantas saja ikut membentak:

- Majikanku sudah cukup sabar. Sebenarnya apa sih kemauan- mu?-

Lagi-lagi Gemak Ideran tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Kau ini memang manusia tolol! Sudah tahu, majikanmu tiada lagi di sini. Dan kau masih gertak. Bagaimana kalau kau sekarang kupatahkan kedua lenganmu menjadi delapan bagian? Kau bisa apa?-

Orang ketiga yang bercokol di atas kudanya adalah Sriwenda. Dia termasuk salah seorang paman guru Antawati. Dengan pan- dang tak senang, ia menoleh. Kemudian berkata setengah mem- bentak: - Hai, kau besar kepala banget Sebenarnya siapa sih yang me- lindungimu sampai berani bersikap kurang ajar terhadapku? Apa- kah kau benar-benar sudah bosan hidup? -

- Haha aku laki-laki. Selamaqya aku hidup di atas kakiku

sendiri. Bukan seperti moncongmu yang sudi jadi budak orang. -

- Kau bilang apa? - Sriwenda menggerung.

- Kau berlagak mau memperoleh pedang Sangga Buwana. Mana pedang itu? -

-Itulah gara-garamu, karena gadis itu kaularikan. Huh laki-laki

yang cuma pandai melarikan gadis. Apakah ada harganya? -

Gemak Ideran tengah kusut pikirannya. Mendengar Sriwenda menyinggung-nyinggung soal seorang gadis, hatinya tiba-tiba ter- bakar. Bukankah yang dimaksudkan Niken Anggana? Lantas saja ia bersikap carang. Dengan mengacung-acungkan goloknya, ia membentak:

- Kau sendiri apakah cukup berharga berbicara denganku? Kau anjing budukan! -

- Apa? - bentak Sriwenda.

Terus saja ia melompat dan atas ku-danya sambil menghunus pedangnya. Sriwenda, tadi pagi terlibat dalam suatu pertem puran. Dia tidak sempat memperhatikan kehebatan Gemak Ideran yang mempe roleh tenaga sakti tambahan yang sempat menggegerkan barisan Antawati. Sebaliknya, Teguh dan Wulung sempat melihat kehebatan Gemak Ideran.

Blandaran yang begitu perkasa, segan mengadu tenaga keras lawan keras. Karena itu, meskipun mendongkol mereka bersikap hati-hati. Sementara itu, Gemak Ideran berkata lantang :

- Hai budak-budak belian! Aku masih mau mengampuni kalian, asalkan bersedia memberi keterangan. -

- Keterangan apa? - Teguh mendahului Sriwenda dan Wulung. Di dalam hati, ia lebih senang bisa menghindari pertempuran dengan pemuda itu.

- Kalian adalah antek-antek Antawati. Paling tidak Antawati yang menyuruh rombongan bertopeng menyerbu pesanggrahan. Coba berilah aku keterangan, di mana ayundaku Windu Rini? -

- Windu Rini? - Teguh mengulang.

Lalu menoleh kepada Wulung dan Sriwenda untuk memperoleh bantuan.

Pertanyaan Gemak Ideran itu tidak hanya berada di luar dugaan rombongan Sriwenda, Teguh dan Wulung saja, akan tetapi Niken Anggana pula. Memang, semenjak tadi ia ingin menanyakah masalah Diah Windu Rini. la sendiri melihat dengan mata kepala sendiri, Diah Windu Rini mengejar tiga sekawan Gagak Seta, Singgela dan Surengpati. Ternyata ia berpisah dengan mereka ber-tiga.

- Orang ini cuma cari perkara saja. - bentak Sriwenda tak senang. Lalu kepada Gemak Ideran: - Dia budakmu atau gula-gula-mu?-

Kali ini Gemak Ideran tiada dapat menahan diri lagi. Selama-nya ia amat hormat kepada Diah Windu Rini. Dan tak pernah terlintas pikiran kotor apapun. Sekarang ia didamprat dengan tuduhan yang memalukan. Terus saja ia melompat menghan tamkan goloknya. Sriwenda yang memang sudah siap tempur, dengan sebat menangkis pedangnya. Suatu benturan adu tenaga tak terhindarkan lagi. Kedua senjata bentrok dan membersitkan suara dengung nyaring berbareng dengan percikan api. Sriwenda tergentak mundur empat langkah, sedang tangan Gemak Ideran terasa pegal Diam-diam Gemak Ideran tercekat hatinya. Ternyata tambahan tenaga saktinya, tidak lagi sehebat tatkala berada di atas gu-nung. Walaupun begitu, ia merasa masih berada di atas tenaga sakti Sriwenda.

Sebaliknya, Sriwenda benar-benar terkejut Untuk pertama kali ia mengadu tenaga dengan Gemak Ideran. Memang ia sebentar pa- gi tadi, sempat menyaksikan cara pemuda itu bertempur. Baik Blandaran, Antawati dan lain-lainnya segan terhadapnya. Namun tidak diduganya, bahwa Gemak Ideran benar-benar hebat

tenaga-nya. Tenaganya lebih kuat dibandingkan dengan Blandaran. Tetapi sebenarnya, Sriwenda hanya benar separoh. Sekiranya dia siang tadi bentrok dengan Gemak Ideran, ia akan terpental tinggi tak ubahnya layang-layang putus.

Dan segera ia mengetahui, bahwa tenaga Gemak Ideran sekarang tidaklah sehebat tadi siang. Sekiranya di tahu lebih jauh lagi, sebenarnya tenaga Gemak Ideran yang aseli tidaklah berbeda jauh daripadanya. Bahkan dalam suatu gebrakan lama, ia akan menang.

- Teguh! Wulung! Kalian masakan jadi penonton saja? - teriaknya gusar.

Meskipun berlagak galak, namun di dalam hati mereka berdua gentar menghadapi Gemak Ideran. Tetapi begitu dibentak paman gurunya, dengan terpaksa mereka maju berbareng.

- Hai! - gertak Gemak Ideran. - Benar-benarkah kalian ingin merasakan golokku? -

Tegnh dan Wulung berbimbang-bimbang menggerakkan sen- jatanya masing-masing. Justru demikian, senjata mereka kabur tinggi di udara kena gempur gagang golok Gemak Ideran. Dan pa-da saat itu pula, mereka berdua roboh terjengkang kena pukulan tangan kiri Gemak Ideran.

Menyaksikan peristiwa yang terjadi begitu cepat, Sriwenda ter- peranjat Memang tenaga sakti Gemak Ideran amat hebat Akan tetapi tidak menyangka dapat bergerak gesit pula. Segera ia mengarahkan Ilmu Sakti Batu Panas yang baru dikuasainya tiga bagian Dan dengan mengandalkan pada keampuhannya, ia maju memancing!

- Bagus! - seru Gemak Ideran sambil tertawa.- Budak-budak Cing Cing Goling rata-rata mempunyai kepandaian lumayan. -

- Lumayan bagaimana? - Sriwenda mendongkol.

- Ilmu Sakti Batu Panas memang hebat Sayang, gerakannya lamban sehingga masih bisa memberi kesempatan lawan untuk mencegahnya. - sahut Gemak Ideran.

Pemuda ini memang pernah mengamati cara bertempur Tambal Pitu, adik adik seperguruan Cing Cing Goling sewaktu melawan Tanggul Tuban dan kawan-kawannya. Dan mendengar kecaman Gemak Ideran, muka Sriwenda merah padam. Memang letak keanehan berbareng keheba-tan Ilmu Sakti Batu Panas justru pada kelambanannya. Kilihatan-nya ayal-ayalan, tetapi gerakan tangan dan kakinya lambat-laun akan melibat lawan. Sebaliknya, manakala lawan sangat gesit dan pandai mengintip titik-titik kelemahannya, dapat menggunakan kelambanannya untuk menarik keuntungan. la tadi sempat me-nyaksikan betapa kuat dan gesit gerakan Gemak Ideran, sehingga hatinya gentar diluar kehendaknya sendiri.

- Bocah edan! Kau bilang Ilmu Sakti Batu Panas begitu lamban sehingga bisa memberimu kesempatan untuk mencegah? Baik, boleh kau boca! - ia tak mau kalah. Setelah berkata demikian, Sriwenda berkelahi dengan mengerahkan hawa beracun. Tak usah dikatakan lagi, dia bermaksud membunuh Gemak Ideran. Seketika itu juga, hawa beracun membersit bagaikan asap yang tidak kelihatan. Tak ubah ribuan paku iblis, hawa beracun Ilmu Sakti Batu Panas berseliwe ran mencari sasaran. Itulah saat-saat berbahaya yang ditakuti lawan. Hawa beracun Ilmu Sakti Batu Panas memang tak dapat terlihat oleh penglihatan. Lawan yang tidak mempunyai kepandaian tinggi, pasti akan mati terjengkang diluar tahunya sendiri. Karena hawa beracun itu mendadak saja menyerang bagaikan ribuan jarum.

Syukur, Gemak Ideran dahulu sempat menyaksikan betapa hebat Ilmu Sakti Batu Panas. Menurut keterangan Rawayani, setiap gerakannya mengandung racun berbahaya. Dia sendiri pernah merasakan akibatnya. Itulah sebabnya tak mau ia membiarkan dirinya terlibat Mumpung ia masih memiliki sisa tenaga sakti tambahan yang istimewa, terus saja ia membuyarkan hawa beracun yang melibatnya. Dan berkat sisa tenaga saktinya yang istimewa itu, gulungan hawa beracun Ilmu Sakti Batu Panas dapat dibuyar-kannya.

Jarak tempur antara Sriwenda dan Gemak Ideran boleh dikatakan berhadap-hadapan. Menurut teori, tidak mungkia Gemak Ideran dapat terlepas dari libatan Ilmu Sakti Batu Panas yang memang istimewa. Akan tetapi tenaga sakti tambahan yang berada dalam diri Gemak Ideran, justru berasal dari keluarga yang bermusuhan dan mengetahui benar ciri-ciri keistimewaan Ilmu Sakti Batu Pa- nas. Keruan saja, dengan sangat mengherankan, tiba-tiba pukulan Sriwenda menumbuk sesuatu yang kosong. Dan pada detik beri-kutnya, ia terangkat beberapa senti dari atas tanah. Kemudian ter-buncang mundur dan terlempar dari gelanggang. Bluk! la roboh dengan sendirinya. la heran bukan main. Tahu- tahu ia menggigil kedinginan.

Kenapa?

Gemak Ideran tertawa. Menggertak :