-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 17

Jilid 17

- Aku datang kemari semata-mata untuk membebaskan Niken. - pikirnya di dalam hati. - Niken sendiri agaknya sudah terpengaruh oleh cerita Ki dalang Gunacarita. Di Wukir Bayi, pendekar Sondong Landeyan bertempat tinggal. Agaknya tiada jeleknya aku dapat bertatap muka dengan pendekar itu. Menurut dalang Gunacarita, dia seorang pendekar besar dan paling sakti. Biarlah aku datang menghadap. Aku tidak percaya, bahwa hatinya sempit. -

Dengan keyakinan itu, timbullah semangatnya. Demikianlah setelah membawa goloknya, ia melangkahkan kaki-nya hendak menuruni tanjakan. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kuda. Suara itu datangnya dari balik tikungan jalan. Orangnya belim muncul, tetapi suara seorang laki-laki terdengar minta keterangan kepada temannya berjalan : - Nona ! Menurut ayahanda nona, pendekar Sondong Landeyan mati terjerumus di dalam jurang. Benarkah itu? -

- Kau bisa menutup mulutmu atau tidak? - terdengar bentakan lantang. Jelas sekali, pemilik suara itu seorang wanita. Dan mendengar suara itu, Gemak Ideran merasa se-erti memperqleh f irasat.

Segera ia menghentikan langkah-nya dan duduk di atas batu yang mencongkak di atas jalan.

Tidak lama kemudian muncul tiga oraag penunggang kuda. Dua orang pria dan seorang wanita berumur kira-kira duapuluh tujuh tahun. Wanita itu boleh dikatakan cantik juga. Potongan tubuhnya seperti perawakan Rawayani. Singsat, padat dan berkesan gesit. Sedang dua orang pria yang mengiringkan berumur hampir sebaya dengannya. Mereka berdua bersenjatakan pedang panjang.

Dengan penuh perhatian Gemak Ideran mengamat-ama-ti wanita itu. Pikirnya :

- Dia membentak orang yang minta keterangan. Apakah dia majikan mereka berdua? Jangan-jangan dialah Antawati yang muncul di Pasuruan dengan mengenakan topeng. -

Hanya dalam waktu kurang dari satu bulan Gemak Ideran telah memperoleh pengalaman yang meluaskan pengetahuannya. Itu berkat pertemuannya dengan Rawayani. Meskipun demikian, ia belum pandai menarik kesimpulan.

Yang terkesan di dalam dirinya, wanita itu pantas berkedudukan sebagai majikan. Pakaian yang dikenakan mentereng. Wajahnya memancarkan cahaya kepemimpinan. Suaranya lantang dan agaknya berwibawa.

- Paman Sriwenda tentunya sudah berada di sini, bukan? - laki- laki yang sebentar tadi dibentak minta keterangan .

Wanita yang diiringkan tidak menjawab. la hanya memberi isyarat mata kepadanya. Dan memperoleh isyarat mata, laki-laki itu menatapkan matanya ke arah Gemak Ideran yang duduk bercokol di atas batu.

- Hai ! Kau siapa? - serunya dengan suara garang.

- Kau sendiri siapa? - sahut Gemak Ideran setengah mendengus.

- Kau belum kenal kami bertiga, ya? Aku Teguh dan kawanku ini bernama Wulung. Dan dia ... -

-Tutup mulutmu ! - bentak wanita yang akan diperkenal-kan.

Kena bentak wanita itu, Teguh mengunci mulutnya. la merasa kelepasan omong. Karena itu ia perlu mencari kambing hitam. Terus saja ia menghampiri Gemak Ideran sambil membentak :

-.Hai ! Kenapa kau mengawaskan aku? -Tiba-tiba saja ia membungkuk dan dengan cekatan me-nyambar sebuah batu sebesar gundu. Gerakannya membuktikan dirinya seorang pendekar yang mempunyai kepandaian.

Wanita itu menoleh. Melihat ingkah Teguh, kembali lagi ia menegor dengan suaranya yang lantang:

- Teguh ! Kenapa usilan? -

Tetapi tegurannya sudah kasep. Teguh sudah terlanjur menimpukkan batunya. Timpukannya meleset bagaikan peluru besi. Gemak Ideran terperanjat. la memungut apa saja yang dapat dibuat nya melawan.

Karena hawa pegunungan dingin dan lembab, tanahnya lembek pula. Tanpa berpikir panjang lagi, segera ia membuat sebuah gundu tanah lembek. Lalu menimpuk pula dengan berseru :

- Hai ! Apakah kau penguasa di sini? -

Gundu tanahnya terlepas dan memukul batu Teguh terpental.balik. Menyaksikan peristiwa itu, tidak hanya wanita itu saja yang heran, juga dirinya sendiri. Gundu yang terbuat dari tanah lembek, tidak memiliki kekerasan sekeras batu. Apabila dibuat menimpuk,palmg-paling hanya mampu me-nempel. Akan tetapi mustahil dapat memukul balik. Tetapi kenyataannya, tidak.

Batu Teguh benar-benar terpental balik. Sudah begitu gundunya masih mampu menyambar Teguh dengan suara mendesing. Teguh kaget setengah mati. Buru-buru ia mengelak sambil menangkiskan tangannya. Pada saat itu, wanita itu memajukan kudanya dan melecutkan cambuknya. Hebat tenaganya. Begitu tersampok cambuknya, gundu Gemak Ideran rontok berhamburan di atas jalan.

- Tuan ! - seru wanita itu dengan sopan. - Kepandaianmu hebat. Apa perlu melayani seorang pelayan yang tidak berarti?

Menangpun, tuan tidak akan termashur. -

Gemak Ideran tidak menjawab. la masih sibuk dengan rasa herannya sendiri. Dari mana ia memperoleh tenaga begini hebat? Apakah berkat pel istimewa pemberian Rawayani. Tiba-tiba saja timbullah keberaniannya. Terus saja membentak :

- Kedua budakmu bergaya seperti anak raja. Kalau kau tidak bisa menghajarnya, biarlah aku yang-mewakilimu. Kau anak Cing Cing Goling, bukan? Mari, aku ingin mencoba-coba kehebatanmu. -

Dia cuma main ngawur saja. Tetapi ternyata benar. Wanita itu yang bukan lain adalah Antawati, terperanjat. Beberapa saat lamanya ia menatap wajah Gemak Ideran. Lalu menyahut :

- Pada saat ini aku tidak mempunyai waktu untuk menerima tantanganmu. Carilah aku di perkampungari ayahku. Di sana kita boleh mencoba-coba mengadu kepandaian. -

Setelah berkata demikian, Antawati mencambuk kuda-nya dua kali dan binatang itu segera melompat kabur seper-ti diuber setan. Teguh dan Wulung buru-buru menyusulnya sambil berkata setengah berseru :

- Nona ! Apakah nona kenal dia? -

- Siapa lagi kalau bukan Gemak Ideran. -

- Oh ! Kenapa tidak dibereskan sekali? -

Antawati menjawab tidak jelas. Diasudah mengaburkan kudanya mendaki tanjakan. Teguh dan Wulung mencoba menyusulnya.

Akan tetapi kuda mereka kalah tegar dibandingkan dengan kuda Antawati. Sementara itu, Gemak Ideran masih heran dengan dirinya sendiri. Untuk lebih meya-kinkan, ia memungut sebuah batu dan ditimpukkan kepada dahan pohon yang berada kurang lebih sepuluh langkah di depannya. Tak ! Dan dahari itu patah dengan suara berge-meretak.

Gemak Ideran tertegun. Berbagai perasaan bergumul di dalam dirinya. Rasa terkejut, heran dan girang saling mendalam dirinya. Rasa terkejut, heran dan girang saling mengendapkan. Seketika itu, bayangan Rawayani tercetak jelas di dalam benaknya. Dan pada saat itu pula teringatlah dia, ia tidak boleh terlalu sering menggunakan keampuhan nya. Sebab tambahan tenaga itu hanya dapat digunakan dalam lima gebrakan. Tidak lebih lagi.

Setelah itu, ia harus beristirahat satu malam penuh. la tadi sudah merasakan keistimewaannya dua kali berturur-turut. Maka perlu ia me-nyimpan tenaga istimewa itu. Siapa tahu, ia bakal menghadapi suatu peristiwa yang memaksa dirinya harus berkelahi. Dengan pikiran itu, ia melanjutkan perjalanannya mendaki gunung. Wukir Bayi ternyata susah didaki. la membutuhkan waktu setengah harian. Dan selama itu, berturut-turut ia bertemu dengan beberapa penunggang kuda yang ra-ta-rata berusia lanjut. Mungkin sekali, merekalah adik se-perguruan Sondong Landeyan.

Terdiri dari enam laki-laki dan seorang nenek yang berusia enampuluh tahunan. Se-lain mereka, beberapa kalria melihat orang-orang berpera-wakan tegap dengan tampang bengis. Gayanya seperti ma-jikan-majikan Tuan tanah. Gemak Ideran segera mengenal mereka dari seragam pakaian yang dikenakannya. Itulah berkat pengalamannya menyelundup ke perkampungari Cing Cing Goling beberapa malam yang lalu. Mereka me-ngeriakan pakaian warna kelabu dengan selempang sarung berwarna hitam, seperti yang dilakukan peronda-peronda- nya.

- Bagus ! Antawati mengerahkan budak-budaknya. Ten-turiya budak budakterpihh. Rupanya dia mau main paksa. -pikirnya di dalam hati.

Waktu itu musim hujan belum terlampui. Musim semi akan segera datang. Tetapi di lembah gunung, pendudukti-dak mengenal musim hujan atau musim semi. Sepanjang tahun, lembah gunung dalam keadaan makmur sentausa. Hujan sering tiba dengan mendadak. Lalu mendadak hilang pula. Tak lama kemudian hujan rintik senantiasa mengunjungi. Itulah sebabnya lembah gunung selalu kelihatan dalam keadaan segar bugar. Kecuali diselimuti kehijauan yang semarak, bunga aneka warna tumbuh sesukanya. Kupu-ku-pu atau tetabuhan datang pergi seperti kaum pelancong. Mereka berebut menghisap sari-sari bunga.

Tentang peristiwa matinya Sondang Landeyan yang terjerumus di dalam jurang, Gemak Ideran belum sempat mendengar cerita ki dalang. Maka ia tidak mempunyai kesan yang mendalam. Berita kematiannya yang sempat di dengar tak ubah berita kecelakaan belaka.

Meskipun demikian, terhadap tokoh Sondong Landeyan ia menaruh hormat. la me-rasa berbahagia bila memperoleh kesempatan untuk berte-mu. Seumpama Sondong Landeyan benar-benar sudah mati, akan merupakan suatu kehormatan sendiri manakala diperkenankan menjenguk makamnya.

Matahan tepat berada di atas langit, sewaktu ia tiba di pertapaan Wukir Bayi. Begitu melintasi ketinggian, ia meli-hat sebuah perkampungan kecil. Di sebelah kiri perkampungan terdapat sebuah lapangan luas yang dibatasi oleh tebing jurang.

Sebuah batu tinggi semacam tugu berdiri tegak di atas tebing. Apakah itu yang disebut batu karang di atas gunung ? layakin, itulah batu tempat pertemuan.

Bukti-nya, tokoh-tokoh yang dilihat nyatadi berkumpul di situ. Baru saja ia mengamat-amati mereka, tiba-tiba terdengar suara nyaring menusuk telinganya : - Haaa ... itulah dia! Hayo kita bereskan saja dia !-Gemak Ideran menoleh. Suara itu datang dari kerumun orang yang berwajah bengis. Mereka terdiri dari belasan orang yang berperawakan tidak rata. Ada yang pendek, ada yang tinggi jangkung, ada yang gendut dan ada pula yang kerempeng. Dan yang berteriak tadi ternyata si Teguh.

- Hm, kiranya begundal-begundal Cing Cing Goling. - Gemak Ideran menggerendeng.

la menebarkan penglihatannya kepada tujuh orang yang berdiri di seberang. Tentunya mereka yang disebut sebagai adik- seperguruan Sondong Landeyan. Sebab umur mereka rata-rata sudah limapuluh tahun lebih. Bahkan si nenek yang berumur enampuluhan tahun berada di antara mereka. la mencoba mencari Niken Anggana. Barangkali ada di antara mereka.

Ternyata tiada. la jadi menebak-nebak. Pikir-nya di dalam hati :

- Menurut Rawayani, Niken Anggana ditolong Wigagu dan Sukesi, dua murid Sondang Landeyan. Mengapa tidak nampak? - 64

Gemak Ideran belum pernah melihat Wigagu dan Sukesi. Mereka bertujuh yang dikabarkan sebagai adik-seperguruan atau murid Sondong Landeyan, juga baru didengarnya dari mulut Rawayani. Menurut pendapatnya, mereka tentu-nya lebih pantas bila disebut sebagai adik-seperguruan Sondong Landeyan. Dalam hal ini, ia benar. Akan tetapi mereka berempat bersikap garang. Teguh yang pernah mera-sakan keampuhan sentilan tangan Gemak Ideran, terus saja membentak :

- Hai Gemak Ideran ! Kau mau jual lagak di sirii? -Gemak Ideran tertawa melalui dadanya. Menyahut:

- Kau sendiri mau jual apa di sini? -

- Apa? - bentak Teguh. - Kau mau pergi atau tidak? -

- Hm, mengapa aku tidak boleh datang kemari? Apakah ini gunungmu? - Gemak Ideran membalas membentak.

Setelah membentak demikian, ia melangkah maju memasuki kalangan.

Teguh dan Wulung agaknya sudah bersepakat untuk menghajar Gemak Ideran. Dengan serentak mereka meng-hunus pedangnya dan terus menyerang. Ternyata gerakan pedang mereka bersatu- padu. Teguh menikam dada se-dang serangan Wulung membabat pinggang.

Gemak Ideran ingin menghemat tenaga tambahannya yang istimewa. Menghadapi serangan itu ia tertawa panjang sambil berkata :

- Eh, kalian benar-benar tidak mengenal sopan-santun. Kita sama-sama tetamu di sini. Apa hak kalian mengusirku? Kalau kalian berlagak mengusir, akupun bisa mengusir kamu berdua pergi ! -

Dengan gesit ia mengelakkan tikaman Teguh. Lalu menggempur ujung pedang Wulung dengan gagang goloknya. Trang ! Suara bentrokan itu terdengar nyaring. Dan yang hebat, pedang Wulung terbang tinggi di udara.

Teguh dan Wulung terkejut. Telepakan tangan merekapun terasa panas. Mereka sama sekali tidak pernah menduga, bahwa Gemak Ideran memiliki himpunan tenaga sakti begitu hebat.

Untung Gemak Ideran tidak bermaksud menggunakan tenaga tambahan secara utuh. la tahu diri.

Sekiranya tidak demikian, pergelangan tangan Wulung pasti sudah patah.Sebaliknya dua temannya yang berada di belakang mereka, belum mengenal dan belum pernah melihat kepandaian Gemak Ideran. Dengan menyumpah-serapah mereka menyerang dari kanan dan kiri. Akan tetapi dengan satu ge-brakan pula, mereka terpelanting roboh mencium tanah. Menyaksikan peristiwa itu, Antawati membentak dengan suara lantang :

- Gemak Ideran ! Apakah benar-benar engkau hendak memusuhi kami? -

- Bukan aku yang memusihimu, tetapi engkau yang mendahului. Di mana Niken Anggana? - membalas membentak dengan sikap menantang. Rupanya sikap Gemak Ideran membuat pengiring Antawati tidak senang. Dengan serentak mereka memaki-maki sambil melepaskan senjata bidiknya. Gemak Ideran terkesiap. Kemudian timbullah rasa marahnya. Apalagi ia memang sudah memutuskan untuk mengadakan perlawanan. Terus saja ia mengobat-abitkan gagang goloknya. Karena marah, secara otomatis ia mengerahkan tenaga saktinya. Justru demikian, tenaga tambahan yang diperolehnya dari Rawayani ikut aktip. Dengan satu sabetan saja, pelbagai senjata rahasia lawan terpukul hancur.

- Kamu menyerang diriku dengan senjata bidik. Apakah kamu kira aku lidak mempunyai? Jika kamu tetap bandeL jangan salahkan diriku. Aku bisa membalas dengan melepaskan senjata bidikku. - Mereka belum pernah melihat apalagi mengenal senjata bidik Gemak Ideran yang terdin dari peluru besi. Meskipun demikian, hati mereka agak takut juga, mengingat tenaga sakti yang diperlihatkan pemuda itu. Maka mereka tidak be-rani membandel atau main coba-coba lagi.

Antawati membatalkan maksudnya untuk menghajar Gemak Ideran. Namun ia memberi isyarat kepada dua orang pembantunya untuk mencoba kepandaian Gemak Ideran. Tetapi belum lagi mereka bergerak dari tempatnya, mendadak terdengar salah seorang adik-seperguruan Sondong Landeyan berseru :

- Hai! Di sini, kamilah yang berhak mengambil tindakan dan memutuskan sesuatu. Kenapa kalian berlagak seperti tuan rumah. Cobalah tanya dulu, apa maksud kedatangannya kemari.

-

- Siapakah tuan? -

- Aku Sondong Jerowan, saudara-seperguruan Sondong Landeyan urusan rumah tangga. -

Gemak Ideran mendengar suara Sondong Jerowan. Orang itu kira-kira berusia limapuluh empat tahun. Perawakan tubuhnya tinggi besar. Gagah dan sesuai dengan suara-nya yang masih saja terdengar menggelegar bagaikan gun-tur meledak di sianghari bolong. Mau tak mau ia menoleh dan mengamat-amati. Lalu berkata melalui Antawati :

- Paman ! Aku Gemak Ideran, putera Sawunggaling. Aku datang kemari karena urusan Niken Anggana: Akulah teman berjalan Niken Anggana. Tetapi kena dikacau oleh orang orang gila itu. -

- Siapa yang gila? Kau sendiri yang gila ! - bentak Antawati. Dan puteri Cing Cing Goling itu lantas saja maju ke depan. - Niken Anggana bukan sanak bukan kadangmu. Kenapa engkau ikut campur? Mulutmu mengaku sebagai anak Sawunggaling. Tetapi mengapa tidak mengerti tata tertib? -

Gemak Ideran tertawa pelahan. Sahutnya :

- Tata-tertib kabupaten Surabaya jauh berlainan dengan tata- tertib anak Cing Cang Goling. Baru saja aku datang dan begundal-begundalmu sudah menyerang dengan membabi buta. Nah, siapakah yang tidak mengerti tata-tertib. Apakah begini cara tata-tertib orang-orangnya Cing Cing Go-ling? -

Antawati melecutkan cambuknya yang berbunyi nyaring seperti letupan kilat menusuk cakrawala. Ujarnya dengan suara tak kalah sengitnya :

- Kami berada di sini karena undangan anak-murid atau rumah perguruan Sondong Landeyan. Kau sendiri, siapa yang mengundang? Kau orang luar! Kenapa lancang me-masuki wilayah ini? -

-Eh, enak saja kau mengoceh seperti burung. - bentak Gemak Ideran. Kemudian menuding orang-orangnya sam-bil berkata : - Begundal-begundalmu itu apakah bukan orang luar? Apakah mereka mempunyai kepentingan lang-sung terhadap Niken Anggana? -

- Mereka adalah orang-orangku. Kehadirannya samalah halnya diriku sendiri. Di mana saja aku berada, merekapun berada pula di sampingku. Dan kami datang dalam masalah Niken Anggana. Kau sendiri, apa kepentinganmu? -

- Gemak Ideran tercengang. Lalu tertawa karena rasa mendongkolnya. Menyahut :

-Niken Anggana adalah temanku berjalan. Sekarang dia kau culik. Apakah aku tidak mempunyai kepentingan? Nona, janganlah kau sembarangan memutar lidahmu yang tidak bertulang! -

- O beg itu f Bagus ! Kalau begitu, bisa diselesaikan sendiri Tetapi tidak disini. Pendek kata pada hari ini, hanya pihak kami dan pihak tuan rumah yang berhak berada di tempat ini untuk saling berbicara. -

Gemak Ideran menatap wajah Antawati. Cara puteri Cing Cing Goling berbicara hampir mirip dengan Rawayani. Syukur ia sudah mempunyai pengalaman bergaul dengan Rawayani. Terhadap orang-orang yang memiliki cara berpikir seperti Rawayani, rasanya tidak asing lagi. la merasa bisa menghadapi.

Menghadapi orang seperti Rawayani, ia perlu mengacaukan dulu benang merahnya. Maka segera ia mengalihkan pembicaraan :

- Hai ! Bagaimana kalau kedatanganku kemari semata-mata hendak menyatakan hormatku kepada pendekar besar Sondong Landeyan.-

Ingatannya hanya kepada ucapan Rawayani yang sempat mengabarkan, bahwa mereka akan berkumpul di batu karang yang berada di atas gunung, tempat Sondong Landeyan terjerumus di dalam jurang.

-Apa? Kau berkata ingin memberi hormat kepada pendekar Sondong Landeyan? Hai Gemak Ideran ! Di depanmu berdiri tujuh saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Coba tanya, apakah mereka mengenalmu ! - Gemak Ideran menelan ludah. Dengan sesungguhnya, baik dirinya maupun mereka belum saling mengenal. Tetapi ia anak Sawunggaling. la percaya, nama ayahnya pasti dikenal mereka. Sebab sembilan bagian golongan pendekar tentu mendegar kabar peristiwa ayahnya yang berontak melawan kekuasaan Kompeni Belanda. Maka sahutnya dengan suara mantap :

- Benarkah itu ? Paman-paman pendekar, benarkah paman sekalian tidak pernah mengenal nama ayahku ? -

Cerdik cara Gemak Ideran mengajukan pertanyaan. Sondong Jerowan yang mewakili keenam saudara seperguruannya maju selangkah. Menyahut dengan suara setengah berseru :

- Saudara kecil! Kau putera Adipati Sawinggaling ? Nama ayahmu tersimpan hangat di dalam perbendanaraan hatiku. Tentu saja aku mengenal nama ayahmu ! -

- Nah, bagaimana nona genit? - Gemak Ideran mengejak Antawati.

Tentu saja Antawati tidak puas mendengar jawaban Sondong Jerowan. Akan tetapi di pertapaan Wukir Bayi, Sondong Jerowan termasuk golongan tuan rumah. Usia-nyapun lebih tua daripada ayahnya sendiri. Maka ia wajib menghormati. Namun di hadapan Gemak Ideran tak mau ia kalah pamor. Dengan sengit ia berkata kepada Sondong Jerowan : - Paman ! Apakah benar jumlah adik-seperguruan pendekar besar Sondong Landeyan berjumlah tujuh? -

- Benar. - sahut Sondong Jerowan. - Semuanya berjumlah tujuh. Dan semuanya menggunakan nama Sondong, kecuali ayunda Nyai Dandang Wutah. -

- Kalau boleh tahu, siapa saja nama paman sekalian? -

- Boleh ! Apa halangannya? Kami biasa pergi dan datang dengan terang, nona. - ujar Sondong Jerowan. - Baiklah aku mewakili sekalian saudaraku seperguruan. Merekalah Sondong Pabelan, Sondong Meguwa, Sondong Gunung, Sondong Muraji dan Sondong Wido. Dan inilah ayunda kami semua. Beliau bernama Nyai Dandang Wido. Sekarang tentunya aku boleh balik bertanya, siapakah nona ini? -

- Oh, aku Antawati. Kami datang atas undangan ayunda sukesi dan abang Wigagu. -

- Ooo ... mereka adalah keponakan kami semua. -

- SebaliknyaH apa sebab paman sekalian berada di sini pula? -

- Kukira, tidak perlu aku menjelaskan berkepanjangan. Tentunya nona tahu, pertapaan ini adalah seumpama permukiman kami bertujuh. Dan semenjak kakang Sondang Landeyan meninggal, kami selalu datang satu tahun sekali untuk menjenguk tempat musibah. - Antawati memanggut-manggut dengan mengulum senyum. Berseru kepada Gemak Ideran :

- Hai bangsat! Kau mendengar sendiri, pendekar Sondong Landeyan sudah wafat. Kau tadi berkata hendak menyatakan hormatmu kepadanya. Bagaimana caramu meng-hormat? Jelas sekali, engkau mencari-cari alasan yang tidaktepat. Nah, menggelindinglah sebelum kami bertindak.-

- Apa? Kau suruh aku menggelinding seperti telur? - Gemak Ideran menyahut dengan penasaran.

- Orang ingin menyatakan hormatnya. Apakah mesti harus berhadapan menyatakan hormat , Apakah mesti harus berhadapan dengan orangnya? Hai anak iblis ! Sebenarnya apakah hakmu mau main usir saja? Kalau aku tidak mau, kau bisa berbuat apa? -

Panas hati Antawati didamprat demikian. Meledak :

- Bagus ya, kau menyebut diriku sebagai anak iblis. Kami datang kemari sebagai tetamu terhormat. Kalau engkau berani mengacau di sini, apakah kau kira kami tidak dapat memaksamu ke luar dari sini? -

- Hm, apakah kau bisa? Boleh coba ! - tantang Gemak Ideran. - Aku datang kemari untuk meminta kembali temanku berjalan yang kau culik. Apakah salah? Setelah tiba di sini, aku akan menyatakan hormatku kepada pendekar besar Sondong Landeyan dengan caraku sendiri. Apakah salah? Baiklah jika engkau melarang, biarlah aku menjenguk rumah pertapaan beliau. -

Setelah berkata demikian, ia melangkahkan kakinya mengarah ke padepokan. Keruan saja hati Antawati seperti terselomot api.

Terus saja ia menghunus pedangnya dan melompat menghadang nya. Serunya nyaring :

- Gemak Ideran ! Mau ke mana? -

Gemak Ideran merandek. la tercengang. Lalu tertawa terbahak- bahak. Serunya pula :

- Aiii ... apakah kau tuli? -

- Kularang engkau bergerak biar satu langkahpun ! - hardik Antawati.

Pada saat itu, Sondong Jerowan maju menghampiri Minta keterangan kepada Gemak Ideran :

- Anak muda, sebenarnya apa yang terjadi ? -

- Apakah paman tidak mengetahui peristiwa Niken Anggana? -

- Niken Anggana? Apa itu ? - Sondong Jerowan heran. - Kalau tidak mengetahui, mengapa bisa bersama-sama datang kemari? -

- Oh ! Sudah kukatakan tadi, setiap satu tahun sekali kami berkumpul di sini. Inilah hari Selasa Pon, hari naasnya Saudaraku Sondong Landeyan. Dan pada hari naasnya, kami berkumpul di sini satu tahun sekali. -

- 0 begitu? Jadi paman sekalian belum mengetahui urusan ini? - Gemak Ideran tertegun sejenak.

Lalu menjelaskan :

- Kami berangkat dari Madura hendak ke Kartasura. Di sepanjang jalan, kami selalu direcoki gerombolan anak iblis. Beberapa kali kami lolos. Tetapi kemarin lusa, anak iblis ini berhasil menculik temanku berjalan Niken Anggana. Untuk ini aku datang kemari. -

Sondong Jerowan mengernyitkan dahinya. Sejenak kemudian berkata :

- Anak muda, keteranganmu masih membingungkan. Taruh kata benar, apa alasanmu memasuki Wukir Bayi. B-lasan tahun pertapaan Wukir Bayi jarang dirambah orang, kecuali penduduk kampung. -

- Salah seorang temanku sempat mengintip pembicaraan anak iblis ini dengan dua murid paman Sondong Landeyan. Itulah sebabnya, aku datang kemari. - - Hai! Benarkah itu? - Sondong Jerowan berubah wajah-nya. - Kalau benar, di mana temanmu berjalan itu? -

- Sudahlah, jangan layani bangsat ini. Dia mengada-ada.- potong Antawati.

Terus saja ia membabatkan pedangnya.

Gemak Ideran sudph bersiaga. Begitu melihat gerakan tangan Antawati, ia mundur selangkah sambil menghunus goloknya. Lalu melompat maju membenturnya. Hebat benturan Gemak Ideran yang masih menyimpan sisa tenaga istimewa pemberian Rawayani. Antawati tergempur mundur sampai tiga langkah.

Teguh dan Wulung segera maju dengan berbareng. Namun mereka tidak berani menyerang. Mereka hanya menghadang di depan Gemak Ideran. Demikian pulalah pengawal-pengawal Antawati. Selagi demikian, tiba-tiba terdengar suara seorang puteri yang halus sejuk :

- Sudara sekalian, tahan ! Biarlah aku yang berbicara. - Mendengar suara yang halus sejuk itu, mereka semua menoleh termasuk Sondong Jerowan bertujuh. Dan dari halaman kediaman Sondong Landeyan, muncul dua orang puteri yang diiringkan seorang pria setengah umur. Pria itu berperawakan tegap singsat. Wajahnya cakap dan bercahaya, sedang wanita yang berjalan di depan berwajah manis. Dan melihat munculnya mereka bertiga, semua orang berputar arah kepadanya. Hati Gemak Ideran berdebar-debar. Sebab wanita yang berada di belakang wanita yang berusia kira-kita empatpu-luh tahun adalah Niken Anggana. Seketika itu juga, terdengarlah suara Rawayani mengiang dalam telinganya. Kata-nya di dalam hati :

- Mereka berdua tentunya yang bernama Sukesi dan Wigagu. Mereka akan menjual jasa. Niken Anggana ditukar dengan pedang Sangga Buwana. Sekarang aku tinggal mengamati sekalian saudara-seperguruan pendekar Sondong Landeyan. Jika mereka bisa dipengaruhi Sukesi dan Wigagu, Antawati akan memperoleh pedang Sangga Buwana. Apakah aku akan tinggal diam saja? Paling tidak aku bisa membawa Niken Anggana lari. -

Memikir sampai disitu, mendadak saja ia mengharapkan munculnya Rawayani. Entah apa sebab nya, pada saat ia menaruh kepercayaan besar kepadanya. la yakin asal saja Rawayani hadir pastilah gadis siluman itu akan bisa memperoleh jalan keluar yang tepat.

Dalam pada itu, Sukesi sudah membawa Niken Anggana ke tengah kalangan. Wigagu tetap berada di belakangnya setelah mengangguk hormat kepada sekalian paman gurunya.

- Sukesi, kau mau berbicara apa? - tegur Sondong Jerowan.

- Mengenai gadis ini. - jawab Sukesi dengan suaranya yang lembut.

- Siapa dia? - Sukesi tidak segera menjawab. la berpaling kepada Antawati. la memberi isyarat agar Antawati dan sekalian pengiringnya menyarungkan senjatanya masing-masing. Setelah itu, kembali ia menghadap kepada Sondong Jerowan bertujuh. Berkata :

- Paman sekalian dan bibi Dandang Wutah. Untuk kesekian kalinya, kita memperingati hari malapetaka yang menimpa guru kami berdua Sondong Landeyan. Dan setiap kali kita hadir di sini, selalu saja musuh besar kita muncul dalam bayangan mata kita. Itulah Haria Giri ahli pedang kena-maan pada jaman ini. Di sinilah Hari Giri menjerumuskan guru kami masuk ke jurang yang ribuan meter dalamnya. Dan penutupan hari peringatan itu, selalu paman-paman dan bibi bersumpah hendak menuntut balas.

Tetapi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu, belum juga kita sempat menunaikan tugas pembalasan dendam. Tetapi rupanya Tuhan kini berkenan membukakan jalan bagi kita se-mua.

Tahukah, siapa anak gadis ini? Dialah puteri Haria Giri dengan bibi Mulatsih. -

- Dia siapa? -Sondong Jerowan menegas.

- Gadis ini. Namanya Niken Anggana. - Sukesi menerangkan.

Mendengar kata-kata Sukesi sekalian saudara-saudara Sondong Landeyan berubah wajahnya. Nyai Dandang Wutah yang semenjak tadi berdiam diri tiba-tiba batuk seperti orang sakit bengek. Serunya dengan suaranya yang kurang jelas :

- Coba ulangi lagi, siapa dia ! - - Dialah anak Haria Giri. Satu ibu dengan anakku Pitrang.

- Dari siapa engkau memperoleh keterangan ini? -

Sukesi menoleh kepada Antawati. Dan Antawati terus saja menimbrung :

- Memang dia anak Haria Giri. Sebenarya aku yang menawannya.. Karena diminta ayunda Sukesi, maka kuserahkan anak jahanam itu kepadanya. -

Mendengar ucapan Antawati, Nyai Dandang Wutah nampak tidak senang. Tegurnya :

- Kau siapa berani ikut campur? Aku sedang minta keterangan kepada orangku sendiri. Kenapa kau usilan? -

- Sebab tanpa jasaku, kalian semua tidak akan dapat membekuk anak Haria Giri. - sahur Antawati dengan cepat dan lancar. - Coba sudah berapa tahun kalian cuma pandai mendendam saja?

-

Nenek Dandang Wutah berbatuk-batuk. Lalu membentak :

- Itu urusan kami. Sebenarnya kau siapa? -

- Aku anak Cing Cing Goling. -

- Hm, dengarkan ! Seumpama kau anak malaikatpun, baiklah kau dengar peringatanku ! Sekali lagi kau berani membuka mulutmu sebelum kusuruh, kau bakal pulang nama saja. Mengerti? - Keruan saja anak-buah Cing Cing Goling terkejut sampai berjingkrak. Hampir saja mereka menyumpah-nyumpah serapah, kalau saja Antawati tidak mencegahnya. Sebaliknya diam-diam Gemak Ideran bergirang di dalam hati. Kalau sekalian saudara- seperguruan pendekar Sondong Landeyan bersikap demikian, pastilah Antawati tidak memperoleh tempat.

- Sebaliknya nek, dengarkan kata-kataku ! - Antawati tidak mau mengalah.

- Apakah kau anggap mudah menawan anak Haria Giri? Selain ayahnya seorang ahli pedang, gadis ini mendapat perlindungan Panembahan Cakraningrat Adipati Madura. Nenek tahu sendiri siapa Panembahan Cakraningrat. Dia salah seorang menantu raja Kartasura. -

Nenek Dandang Wutah menyenak nafas. Wajahnya nampak prihatin. Jelas sekali, di dalam hati ia membenarkan kata-kata Antawati. Tetapi dengan sikapnya yang angkuh ia mengalihkan pandangnya kepada Sukesi kembali. Katanya :

- Sukesi, jawablah pertanyaanku tadi dengan mulutmu sendiri ! - Sukesi rupanya mengenal watak dan perangai bibinya itu.

Setelah mengangguk hormat ia menyahut :

- Dengan sesungguhnya dia adalah anak Haria Giri. Dia sendiri sudah mengaku. - - Anak, benarkah itu? - nenek Dandang Wutah menegas.

Niken Anggana mengangguk dan gemparlah sekalian saudara- seperguruan pendekar Sondong Landeyan. Dengan mata mendelong mereka mengawaskan Niken Anggana. Seperti berjanji mereka berbareng menyiasati. Kesan mereka hampir tiada berbeda. Puteri musuh besar-nya itu sangat cantik, halus budi-pekertinya, nampak jujur dan cerdas Kesan ini diperolehnya dari pandang mata dan sikapnya. Dan memperoleh kesan demikian mendadak saja mereka merasa kehilangan pegangan yang kokoh.

Sebaliknya Antawati dengan sekalian pengiringnya amat gembira. Jalan yang akan dirambahnya jadi rata. Seumpama orang meminta sesuatu tinggal membalikkan tangan saja. Selagi demikian, terdengarlah suara Sondong Meguwa yang berdiri di samping nenek Dandang Wutah. Semenjak tadi, Sondong Meguwa membungkam mulut. Pendekar ini usianya seimbang dengan nenek Dandang Wutah. Rambut, misai dan jenggotnya sudah putih. Meskipun demikian, perawakan tubuhna yang kekar masih nampak perkasa. Dengan suara tenang berwibawa ia berkata kepada Niken Anggana :

- Anak, sadarkah engkau makna anggukanmu ? -

Kembali lagi Niken Anggana mengangguk. Pandang matanya yang bisanya mengesankan sifat kekanak-kanakannya meredup. Gemak Ideran yang beradatidakjauh daripa-danya, tergetar hatinya. Mau ia ikut menimbrung, tetapi suara Sondong Meguwa sudah mendahului. Kata pendekar itu :

- Anak, dengarkan dulu yang jelas. Kami semua ini adalah saudara-seperguruan Sondong Landeyan. Dan semenjak jaman muda, kami berusaha jangan sampai salah tangan. Kau mengerti maksudku, bukan? Biarlah kuulangi lagi pertanyaanku dan aku mengharapkan jawabanmu. Sadarkah engkau akan makna anggukanmu tadi? -

- Memang aku anak Haria Giri. -

Sondong Meguwa menarik nafas. Berkata :

-Tahukah engkau, bahwa Haria Giri itu musuh kami nomor satu? -

- Tidak. -

- Tidak bagaimana? Sondong Muguwa heran.

- Menurut bibi Sukesi dan paman Wigagu, ayah membunuh paman Sondong Landeyan. Apakah membunuh orang itu mesti harus bermusuhan atau saling membenci? Mengapa eyang menyebut ayah sebagai musuh nomor satu? -

Sondong Meguwa tertawa pelahan. Tertawa yang mengundang rasa iba. Lalu berkata lagi minta keterangan : - Kalau kami tidak boleh menyebut ayahmu sebagai musuh kami nomor satu, lalu harus menyebut dia dengan apa ? .

Niken Anggana menegakkan kepalanya. Menjawab dengan suaranya yang polos :

- Bukankah ayahku dan paman Sondong Landeyan saling memperebutkan ibuku? Ibu sendiri sudah bersikap adil. Dengan paman Sondong Landeyan, ibu melahirkan putera-nya. Dengan ayah, ibu melahirkan diriku. Mengapa eyang menyebut ayah sebagai musuh nomor satu? Mestinya harus kepada yang menyebabkan terjadinya peristiwa bunuh membunuh itu. -

- Oh, jadi ibumu yang harus kami pandang musuh nomor satu? -

- Tetapi ibuku sudah melahirkan putera paman Sondong Landeyan. Mengapa harus dimusuhi? -

Sebenarnya kata-kata Niken Anggana banyak terdapat lobang- lobang kelemahan dan berkesan menggelikan. Akan tetapi karena diucapkan dengan hati yang polos, Sebenarnya kata-kata Niken Anggana banyak terdapat lobang-lobang kelemahannya dan berkesan menggelikan. Akan tetapi karena diucapkan dengan hati yang polos, justru dapat menggugah rasa iba sekalian saudara-seperguruan Sondang Landeyan. Mereka seperti diingatkan, bahwasanya dalam hal membalas dendam si anak tidak boleh dibawa-bawa. - Anak ! Kata-katamu sebenarnya masuk akal. - ujar nenek Dandang Wutah menggantikan Sondong Meguwa yang sempat terlongong sejenak. - Tetapi ibumu ikut serta membunuh adikku Sondong Landeyan. Coba katakan padaku, kami harus bersikap bagaimana? -

Didesak demikian, Niken Anggana tidak dapat menjawab. Gemak Ideran jadi penasaran. Tanpa berpikir panjang lagi lantas saja ia berseru :

- Bagus ! Bagus Saudara seperguruan pendekar besar Sondong Landeyan memang hebat semua sampai-sampai seorang anak yang tidak mengerti dosa ayah ibunya dibawa-bawa untuk dijual sebagai alat tukar. -

Ucapan Gemak Ideran bagaikan geledek menyambar kepala mereka. Selagi mereka berputar afah, Antawati men-damprat:

- Kau tahu apa? Kau mau minggat dari sini atau tidak? -

- Nanti dulu ! - Sondong Jerowan menengahi. Lalu minta keterangan kepada Gemak Ideran :

- Anak muda, kau berbicara perkara alat tukar. Apa maksudmu? -

- Sebentar paman ! Sebelum aku menjawab pertanyaan paman, ijin kan aku berbicara dengan Niken Anggana. Aku berjanji adil. Akulah saksinya, Niken Anggana adalah puteri Haria Giri. - - Oh. - sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan setengah berseru. Mereka saling pandang, karena arti kehadiran Gemak Ideran belum jelas. Tetapi ucapannya itu, kedudukan Niken Anggana tidak diragukan lagi. Gadis itu benar-benar anak musuh besar mereka.

- Silahkan ! - ujar Sondong Jerowan.

Gemak Ideran kemudian berputar menghadap Niken Anggana. Serunya dengan suara agak gemetar:

- Niken ! Benarkah ayahmu membunuh paman Sondong Landeyan? -

- Setidak-tidaknya menjadi penyebabnya. - jawab Niken Anggana dengan polos.

- Menjadi penyebabnya bagaimana? -

- Dalam keadaan luka parah paman Sondong Landeyan harus melawan serangan ayah. Kemudian kemudian ibu menyakiti hati paman Sondong Landeyan. Lalu ... paman Sondong Landeyan membiarkan dirinya terjerumus ke dalam jurang. -

- Siapa yang mengabarkan peristiwa itu? -

- Bibi Sukesi dan paman Wigagu. Beliau berdua sempat menyaksikan peristiwa itu. Kalau memang demikian halnya, bukankah sudah layak aku yang harus menebus kesalahan orang tuaku? -

Mendengar jawaban Niken Anggana, Gemak Ideran tercengang. Lalu tertawa terbahak-bahak. Serunya :

-Hukum apa itu? Apakah engkau dipaksa mereka berdua? -

- Tidak. Bibi Sukesi dan paman Wigagu justru berkata, bahwa aku tak dapat dipersalahkan. Tetapi karena hari ini berkumpul sekalian saudara-seperguruan paman Sondong Landeyan, mereka berdua memutuskan untuk memohon pertimbangannya -

Hati Niken Anggana memang bersih dan polos. Sama sekali ia tidak mempunyai prasangka terhadap masalah apapun. Justru demikian, Gemak Ideran merasa seperti menumbuk-numbuk jalan buntu. Dalam kebingungannya ia jadi penasaran. Lalu berkata setengah berteriak :

- Niken ! Coba katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi sampai engkau kena diculik anak siluman itu ! -

- 0, dia tidak menculik aku. Dia hanya berkata, aku perlu membantu ayunda Windu Rini. Lalu aku dipertemukan dengan bibi Sukesi dan paman Wigagu. -

- Dipertemukan bagaimana? - Gemak Ideran tidak puas. -Niken, engkau bukan seorang gadis yang bodoh. Keteranganmu ini tidak masuk akal. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi dengan dirimu sekarang ini? Apakah engkau benar-benar dalam keadaan sehat? -

- Ya, sesehat ikan dalam air. - sahut Niken Anggana dengan lembut.

- Ih! Apakah engkau tidak tahu, bahwa siluman itu anak Cing Cing Goling yang pernah menyekapmu dalam kamar batu? -

- Yang mana? - Niken Anggana tercengang.

- Dia inilah! -

- 0, kalau memang anak Cing Cing Goling, dia jahat. Tetapi malam itu yang membimbingku ke luar pesanggrahan, bukan dia. Dia seorang gadis yang berhati baik. Melihat diriku tidak mampu menyusul ayunda Windu Rini, aku dititipkan kepada bibi Sukesi dan Wigagu. Lalu aku dibawa kemari. Disinlah aku baru menyadari kesalahan orang tuaku. -

Hati Gemak Ideran serasa ingin meledak saja. Berbagai bayangan berkelebatan dalam otaknya. Jelas sekali, Niken Anggana kena dikelabui Antawati yang cerdik. Tetapi untuk menerangkan hal itu, rasanya tidak sempat lagi. Tentunya Antawati tidak akan tinggal diam. Meskipun demikian Niken Anggana perlu disadarkan. Katanya . - Niken, baiklah anggap saja semuanya itu benar. Tetapi aku percaya, engkau bukan bodoh dalam arti sebenarnya. Engkau cuma masih terlalu hijau dalam pengalaman hidup sehingga belum pandai membeda kan yang jahat dan yang baik hati. Yang benar dan yang luput. Ketahuilah, iblis itu tidak beda dengan Geringging yang menuntunmu masuk ke perkampungan ayahnya. Engkau akan diperjual-belikan. Maksud ku engkau akan dijadikan alat tukar. - ia berhenti menegaskan.

Kemudian berbalik menghadap Sondong Jerowan bertujuh. Bekata :

- Paman, dua kali aku menyebut-nyebut perkara alat tukar. Sekarang dengarkan keterangan-ku. Mudah-mudahan paman percaya. -

- Silahkan, nanti kami pertimbangkan. - sahut Sondong Jerowan.

- Perempuan iblis itu bernama Antawati.Dia anak Cing Cing Goling yang memiliki llmu Sakti Batu Panas. -

- Apa? - Sondong Jerowan terkejut. la menoleh kepada sekalian saudara-seperguruan yang mendadak saja berubah wajahnya.

Lalu menegas : - Siapa dia? -

Gemak Ideran tersenyum. la mempunyai harapan. Menjawab : - Mungkin sekali nenek dan paman sekalian sudah lama mengundurkan diri dari percaturan masyarakat. Pada saat ini negara dalam keadaan goncang. Kartasura diserbu laskar Garundi. -

- Ya, itu tahu. - potong Sondong Gunung yang tiba-tiba maju mendampingi Sondong Jerowan. - Kau belum menjawab siapa itu Cing Cing Goling. -

- Dia seorang iblis besar. Semenjak mudanya dia membunuhi orang yang tak terhitung lagi berapa jumlahnya. Gurunya dahulu mencuri kitab llmu Sakti Batu Panas dari keluarga Dipajaya.

Selanjutnya berhasil mempelajari sampai tingkat tujuh. -

- Ngacau! - bentak Antawati. Dan puteri itu langsung saja melompat menikamkan pedangnya yang segera diikuti oleh empat orang.

Gemak Ideran sudah menduga, Antawati tidak akan tinggal diam. Maka ia sudah bersiaga. Begitu mendengar bentakan Antawati, terus saja ia menghunus goloknya dan menangkis semua serangan yang meluruk padanya.

Pada saat itu pula, ia sempat melihat berkelebatnya dua bayangan. Merekalah Sondong Jerowan dan Sondong Gunung yang menyapu Antawati berlima dengan satu pukulan di udara. Dan terkena pukulan udara yang istimewa itu, Antawati berlima terpsntai mundur tiga langkah. Untung, Sondong Jerowan dan Sondong Gunung tidak berniat jahat. Sekiranya demikian, mereka berlima mungkin akan menderita luka pa-rah. Tetapi dengan mempertontonkan kepandaian memu-kul udara itu, semua orang tahu saudara- seperguruan pen-dekar besar Sondong Landeyan tidak boleh dipandang remeh.

- Kalian tidak boleh bertindak sendiri. Di sini, kamilah tuan rumah.

- bentak Sondong Jerowan.

Antawati menyarungkan pedangnya. Sambil mengepriki pakaiannya ia tertawa panjang. Sahutnya :

- Tak kukira pendekar-pendekar Wukir Bayi sudi mendengarkan ocehan burung yang tidak lebih daripada bualan seorang bangsat. -

- Nona ! - damprat Sondong Gunung. - Di sini, semua orang kami pandang sebagai tetamu kami. Sebaiknya, jagalah mulutmu ! -

Anak-buah Antawati bergerak maju hendak menerjang. Mereka tidak rela menyaksikan majikan mudanya ditegur demikian. Tetapi Antawati memberi isyarat agar menyimpan pedangnya.

Gemak Ideran tertawa. Katanya setengah berseru :

- Paman Sondong kini menyaksikan sendiri, betapa hebat wibawa Cing Cing Goling terhadap golongan manusia-manusia kantong sampah. Mereka memandang Cing Cing Goling seperti malaikat. Begitu melihat sikap paman tidak memuaskan majikan mudanya, lantas saja mau menerjang.-

- Sudahlah, jangan hiraukan mereka. Lanjutkan saja keteranganmu tentang Cing Cing Goling ! - potong Sondong Gunung.

- Ah, kalau begitu paman sekalian sudah tahu apa llmu Sakti Batu Panas. Pada saat ini Cing Cing Goling sudah menguasai tingkat tujuh. la tidak berani berlanjut, karena takut tersesat seperti yang pernah dialami gurunya. Maka perlu ia memperoleh bimbingan. 

Konon, kabarnya pada jaman ini masih terdapat seorang sakti yang sudah berhasil menguasai tingkat empatbelas. Orang itu berkenan membimbingnya dengan sempurna, asalkan saja Cing Cing Go-ling bisa mempersembahkan pedang Sangga Buwana. Mengira, pedang pusaka tersebut berada di rumah perguruan paman Sondong Landeyan, iblis besar itu mengguna-kan akal licik. Dia tahu, paman Haria Giri musuh besar paman sekalian nomor satu. Maka ia memerintah kan anaknya untuk menawan Niken Anggana sebagai alat tukar. Secara kebetulan Geringging kakaknya perempuan iblis ini berhasil menuntun Niken Anggana memasuki perkampungannya. Adikku Niken Anggana ini, memang masih hijau dalam segala halnya. Syukur, secara kebetulan pula kami dapat membebaskannya. Itulah berkat jasa puteri Dipajaya. Tetapi baru saja terlepas dari mulut harimau, Niken Anggana yang kurang berpengalaman tercengkeram beruang betina ini. Beruang betina ini lebih cerdik daripada kakaknya. Dengan dalih seperti dikatakan Niken Anggana tadi, ia mempersembahkan Niken Anggana kepada bibi Sukesi dan paman Wigagu dengan harapan bisa dijadikan alat tukar yang ampuh.

- Maksudmu sebagai alat tukar pedang Sangga Buwana? - Sondong Jerowan menegas.

- Benar. -

Sondong Jerowan beralih pandang kepada Sukesi. Membentak:

- Apakah benar begitu? -

Sukesi semenjak tadi bersikap mendengarkan, menjawab dengan suaranya yang tetap lembut:

- Maksudnya memang begitu. Tetapi aku mempunyai pendapat sendiri. Meskipun begitu, semuanya itu terserah kepada paman sekalian. -

- Kau mempunyai pendapat apa? -Sukesi tersenyum. Lalu menjawab :

- Paman sekalian tahu, pedang Sangga Buwana tidak berada di tangan kita. -

Jawaban Sukesi itu menggemparkan sekalian anak-buah Antawati. Puteri Cing Cing Goling itu lantas saja berseru : - Ayunda Sukesi, kau sendiri yang berkata ... pedang Sangga Buwana berada di rumah perguruan ini. Apakah engkau hendak mempermainkan aku? Kalau engkau membuat susah diriku, akupun bisa membuat kalian hidup tidak matipun tidak. -

Inilah kata-kata yang merupakan tantangan terus-terang. Keruan saja sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan berubah wajahnya. Kedua alis mereka berdiri tegak. Mereka semua menunggu jawaban Sukesi terhadap dampratan Antawati.

Seketika itu juga, suasana sekitar batu karang yang berdiri kokoh di atas gunung itu menjadi sunyi senvap menegangkan.

20. PERTEMPURAN AWUT-AWUTAN

Dengan mendengarkan percakapan dan memperhatikan sikap mereka masing-masing semenjak tadi, Gemak Ideran segera dapat mengambil kesimpulan. Mereka terbagi men-jadi tiga kelompok saudara-seperguruan Sondong Lan-deyan, kelompok Antawati dan Sukesi dengan Wigagu.

Meskipun masing-masing pihak masih menyembunyikan hal-hal yang belum jelas sehingga susah untuk dihubung-hubungkan, namun pada garis besarnya dapat terbaca dengan mudah.

Gemak Ideran jadi teringat kepada pengala-mannya sendiri. Katanya di dalam hati :

- Antawatilah yang memegang kuncinya. Dia sudah merencanakan semenjak lama. Mula-mula muncul di Pesuruan untuk menghambat kedatanganku bertiga agar tepat tiba pada hari yang dikehendaki. Itulah hari berkumpulnya sau dara- saudara seperguruan pendekar Sondong Landeyan di sini. Dengan maksud yang samaanak-buahnyadikerahkan.

Mengepung di rumah makan Pandaan, mencegat di tengah hutan, mengikuti sampai memasuki wilayah Madiun. Ke-mudian menawan Niken dan menangkapnya kembali. Bu-kan main !

Sungguh pekerjaan yang rapih Mungkin sekali Sukesi, Wigagu dan sekalian saudara-seperguruan pendekar Sondong Landeyan sudah termasuk orang-orang yang diperhitungkan. Hm, kalau begitu aku harus berjaga aga terhadap ketiga-tiganya. -

Memikir demikian, ia menjelajahkan pandang matanya. Diam- diam ia menghitung jumlah mereka. Sementara itu telah terjadi perubahan yang cepat. Sukesi dan Wigagu ti-ba-tiba bersikaptegas terhadap Antawati. Kata Sukesi yang masih saja berkesan lembut:

- Apakah yang kau maksudkan membuat kami hidup tidak matipun tidak? -

- Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti makna kata-kataku. Kecuali kalau engkau menyerahkan pedang Sangga Buwana. Bukankah aku sudah berbuat jasa padamu dengan mempersembahkan anak musuh besarmu? -

- Haria Giri memang musuh besar kami. Akan tetapi di atas kami berdua masih terdapat paman-paman guru. Be liaulah yang lebih berhak mengambil tindakan. Nan, tanya-kan pada beliau di mana pedang pusaka itu berada. - - Tidak ! Aku cukup mendengar jawabanmu. - bentak Antawati.

- Oh, kau ingin mendengarkan jawabanku? -

- Cepat ! Aku tidak mempunyai waktu lagi. - Antawati mendesak dengan gelisah.

-Terus-terang saja, aku bergembirasewaktu mendengar rencanamu hendak menawan anak Haria Giri. Akan tetapi setelah aku melihat dan mengenal pribadinya, aku mempu nyai lain.

Tetapi legakan hatimu I Anak ini akan tetap bersa-maku sampai ayahnya datang menjemput. Bukankah begitu, maksudmu? -

- Maksudku? - Antawati tercengang. - Itu urusanmu! Tetapi baiklah, cepatlah serahkan pedang Sangga Buwana ke-padaku!-

- Dalam hal ini aku hanya dapat menunjukan dimana pedang pusaka itu berada. - Sukesi tersenyum.

Antawati tidak menyahut. Wajahnya merah padam, tan-da hatinya mendongkol banget. la seperti lagi berusaha menguasai diri.

Akhirnya mau mengalah. Menegas :

- Katakan di mana? -

- Di tangan guru Pitrang yang kebetulan masih paman guru ayahnya. -

- Kau maksudkan Ki Ageng Telaga Warih? -

- Benar. - - Hm, itulah dongeng yang sudah menjenuhkan. Kukira kaupun belum mengetahui dengan past! apakah dia masih hidup atau sudah mati. Baiklah, sekarang begin! saja. Di manakah beradanya Pitrang? Suruh dia keluar menemui aku! -

- Hm ! - dengus Wigagu. - Apakah dia budakmu sampai perlu men dengarkan perintahmu? -

Kali ini Antawati tidak dapat bersabar lagi. Berseru nyaring :

- Baiklah, kalian semua mempermainkan aku. Hai Sukesi dan Wigagu ! Kalian tidak bisa memutuskan karena harus menunggu persetujuan paman-paman gurumu dan nenek tua bangka itu.

Masakan aku tidak bisa berbuat begitu? Ka-takanlah, aku mau menerima alasanmu. Tetapi masalah ini biarlah paman-paman guruku pula yang memutuskan. -

Setelah berseru demikian, tiba-tiba ia melepaskan se-suatu yang meledak tinggi di udara. Itulah tanda sandinya yang istimewa.

Tanda sandinya tidak hanya memancarkan cahaya saja, tetapi diikuti pula oleh suara ledakan yang menembus kesunyian alam. Semua yang menyaksikan, tercekat hatinya. Juga Gemak Ideran yang sudah mengira akan terjadi sesuatu pertempuran ikutterkejut. Sebab iatahu apa arti tanda sandi itu. Itulah tanda sandi mencari bantuan seperti yang pernah dilakukan tatkala mengharapkan perto-longan Diah Windu Rini. Hanya saja, kali ini tentunya jauh lebih hebat. la mengenal kekuatan anak-buah Cing Cing Goling yang rata-rata berkepandaian tinggi, karena ma-sing- masing sudah memiliki dasar llmu Sakti Batu Panas. Apalagi paman-paman guru Antawati yang dipanggil da-tang. Memikir demikian, diam-diam ia menelan dua butir pel istimewa pemberian Rawayani dengan sekaligus.

Sewaktu semua orang dalam keadaan tegang, tiba-tiba terdengar suara Sukesi berkata kepada Niken Anggana :

- Anakku ! Mereka semua mengancam jiwamu. Apakah tngkau tidak dapat mempertahankan diri? -

- Dengan apa? - sahut Niken Anggana dengan suara lemah.

- Ayahmu seorang ahli pedang nomor satu di jaman ini. Mustahil dia tidak mewariskan sejurus dua jurus ilmu saktinya kepadamu. -

- Benar, akan tetapi ayah melarang untuk menggunakannya. Sebab selain belum mahir, aku dapat membunuh orang. Ayah tidak mengijinkan aku menjadi seorang pembunuh.-

Mendengar kata-kata Niken Anggana, Sukesi tersenyum. Katanya setengah mengejek :

- Benarkah ayahmu sebaik itu? Sekiranya demikian, tentunya tidak akan membunuh guruku. -

- Dalam hal ini, aku tidak tahu. - sahut Niken Anggana. - Baiklah, kau terima pedangmu kembali I - Sukesi memutuskan..- Coba aku ingin melihat bagaimana caramu mempertahankan diri.

-

Berkata demikian ia mengangsurkan sebilah pedang kepada Niken Anggana. Selagi demikian, ia berseru kepada Antawati :

- Antawati! Di antara kita tidak pernah terjadi suatu permusuhan apa pun. Kau menghendaki pedang Sangga Bu-wana. Terus terang saja, aku tidak dapat memenuhi tuntutanmu. Agar kita masing-masing tiada yang merasa berhutang budi, cobalah tangkap kembali puteri Haria Giri ini ! -

Mendengar seruan Sukesi, Gemak Ideran tertawa terba-hak- bahak. Karena ia menggunakan tenaga istimewa nya, suara tertawanya meraung menumbuk dinding-dinding gunung.

Memang semenjak ia mendengar ketera ngan Niken Anggana mengenai llmu warisan ayahnya, di dalam hati ia tidak percaya.

Selama ini, belum pernah ia melihat Niken Anggana menunjukkan ilmu pedang warisan ayahnya. Seumpama benarpun, ia menyangsikan kesanggupan Niken Anggana. la menilai kepandaian Niken Anggana masih sangat terbatas. Maka demi menyelamatkan jiwa Niken Anggana yang harus dilindungi dan dicintainya, ia harus berani tampil ke depan untuk mewakili. la tidak perlu takut terhadap semua jago-jago Cing Cing Goling.

Kecuali dirinya sudah dilindungi pel istimewa Rawayani yang dapat menolak gempuran racun llmu Sakti Batu Panas, himpunan tena-ga saktinya pada saat itu sudah bertambah sekian kali lipat. Menurut Rawayani, berkat pel istimewa itu ia dapat berkelahi satu hari penuh tanpa merasa lelah Dan ia percaya benar keterangan Rawayani, karena sebentar tadi ia sudah membuktikan khasiatnya.

- Hai bangsat! - bentak Antawati yang semenjak tadi sudah tersulut rasa geram padanya. - Mengapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu? -

- Aku tertawa dan aku tertawalah. Apakah aku harus minta permisi dulu kepadamu? Apakah ada undang-undang yang melarang orang tertawa? Lagi pula aku tidak mentertawakan engkau. Tetapi kepada mereka yang menga ku diri sebagai anak- murid pendekar Sondong Landeyan dan sekalian saudara- seperguruannya. Hm, tak pernah kusangka mereka takut mat! dengan berlindung di belakang khotbah-khotbahnya yang sok suci. -

- Apa? - bentak Wigagu yang berdiri di belakang Sukesi.

- Kau takut bentrok dengan gerombolan bangsat Cing Cing Goling, bukan? - Gemak Ideran meludah ketanah.

Lalu berpaling kepada ketujuh saudara-seperguruan Sondong Landeyan.

- Nan, paman paman sekalian dan bibi Dandang Wutah. Terbuktilah sudah, keponakan murid kalian telah meruntuhkan pamor paman Sondong Landeyan dengan cara menjual-belikan seorang dara yang sama sekali tidak berdosa. Coba aku ingin mendengar kata-kata paman sekalian -

Sekalian saudara-seperguruan Sondong Landeyan nampak gelisah. Wajahnya suram, tanda hati mereka masy-gul. Sondong Gunung melesat ke depan mewakili sekalian saudara- seperguruannya. Namun sebelum sempat mem-buka mulutnya, Gemak Ideran mendahului :

- Menawan anak musuh demi membalas dendam, bukan perbuatan seorang satria sejati. Kalau memang paman mempunyai keberanian, carilah ayahnya ! Tuntutlah dendam kepadanya ! Nah, itu baru perbuatan seorang laki-laki sejati. -

Sondong Gunung melompat maju dengan maksud hendak membalas ejekan Gemak Ideran. Akan tetapi begitu mendengar kata-kata terakhir Gemak Ideran, ia tiba-tiba merasa kehilangan pegangan. Pada saat itu, Antawati yang sudah kehilangan kesabarannya terhadap Gemak Ideran, lantas saja melesat maju dengan membabatkan pedangnya.

- Paman sekaiian tak usah capai lelah. Biar aku yang membereskan. - serunya lantang.

- Ohooo... ? kau masih perlu mengambil-ambil hati biar mendapat sokongan untuk memperoleh pedang Sangga Buwana? Janqan mimpi! - Gemak Ideran membentak sambil mengibaskan goloknya. Trang !

Suatu benturan tidak bisa terelakkan lagi. Tetapi benturan itu sendiri, mengejutkan sekalian yang hadir. Tiba-tiba saja pedang Antawati tergempur dan.terpental tinggi di udara. Antawati terdorong mundur sampai empat langkah dengan tubuh bergoyangan. Jelas sekali, hatinya penasaran. Dengan muka merah padam, ia mengayunkan tangannya sambil menggertak :

- Kau berani menerima pukulanku? -

- Mengapa tidak? - sahut Gemak Ideran sambil menga-lihkan goloknya ke tangan kiri.

Gemak Ideran tahu, Antawati tentu sudah membekal llmu Sakti Batu Panas melebihi sekalian anak-buahnya. Se-tidak-tidaknya sudah mencapai tingkat tiga atau empat. Te-tapi ia tidak takut, karena mengandal kepada keterangan Rawayani. Sebat luar biasa ia menyambut pukulan Antawati dengan tangan kanannya.

Bres !

Sekalian anak-buah Antawati memekik tertahan. Sebab tiba-tiba saja, Antawati terdorong mundur. Buru-buru empat lima orang menyambutnya agar tidak sampai terjengkang roboh. Beberapa saat lamanya, Antawati mengatur pernafasannya yang memburu. Lalu berkata penuh percaya kepada kemampuan diri sendiri : - Mundur! Dia sudah terpukul ! Sebentar lagi dia bakal mampus! Mari kita lihat tontonan yang bakal menarik hati. -

- Kau kira llmu Sakti Batu Panas bisa melukai diriku? Hm, hm... Hai paman sekalian ! Raman sekalian sudah mendengar ucapannya. Barangsiapa yang terkena pukulan llmu Sakti Batu Panas akan mampus seperti udang terpanggang. Betapa bahayanya dapat paman sekalian membayangkan. -

Sondong Jerowan yang menaruh perhatian terhadap llmu Sakti Batu Panas semenjak tadi, buru-buru berkata :

- Kalau benar-benar hebat, mengapa tidak dapat melukai dirimu?

-

Gemak Ideran tersenyum lebar. Sahutnya :

- Dia boleh berkata begitu, akan tetapi tidakkan mampu melukai diriku. -

Mendadak saja terdengar suara gemuruh memotong pembicaraan :

- Kenapa tidak? Akulah yang akan membuktikan. -Semua orang berpaling ke arah datangnya suara itu. Ternyata yang berkata bagaikan guruh tadi, seorang laki-laki berperawakan pendek yang mengenakan jubah pendeta. la melangkah memasuki gelanggang dengan diikuti oleh dua orang laki-laki berpakaian seragam prajurit Istana. - Paman ! - seru Antawati dengan gembira.

- Ah, kiranya engkau! - gumam Gemak Ideran. la jadi ter-ingat keterangan Rawayani. Pikirnya :

- Antawati memang gilnya dengan paman. Tentunya termasuk salah seorang andalan Cing Cing Goling. -

- Kau kenal aku? - bentak pendeta itu.

- Kenal. - sahut Gemak Ideran dengan sederhana.

- Siapa aku? -

- Pendeta gadungan. -

Orang yang mengenakan pendeta itu tertegun sejenak. Lalu tertawa terbahak-bahak. serunya :

- Bagus I Bagus ! Kau berani memakai istilah gadungan. Kau sendiri siapa? -

- Hmm... bila negara sedang kacau, di mana-mana akan muncul siluman-siluman seperti kau. Apanya yang mengherankan?

Bukankah kau salah seorang budak Cing Cing Goling yang takut mati? -

- Kau berkata apa? -

- Kalau kau bukan takut mati, tentu tidak sudi menjadi badut Cing Cing Goling. -

- Kurangajar! Siapa kau? Sebutkan namamu, sebelum kucabut nyawamu ! - bentak sang pendeta. - Selamanya aku datang dan pergi dengan dada yang jelas. Tidak seperti kau yang membadut menjadi pendeta gadungan. Kau kerabot Cing Cing Goling. Sekarang mengenakan jubah pendeta. Bukankah badut? Coba sebutkan namamu dulu, ka!au nyata- nyata masih mempunyai kehormatan diri. -

- Hm, kau manusia berkepala besar! Kau kira aku gentar menghadapi pendekar-pendekar picisan yang mengang-kat- angkat diri menjadi sekelompok orang yang sok? Inilah Blandaran. Mana namamu? -

Sebelum Gemak Ideran sempat menjawab, Sondong Jerowan maju dua langkah sambil melintangkan tongkatnya di depan dadanya. Membentak :

- Kau siapa berani mengacau disini? -

Blandaran berpaling kepada Sondong Jerowan. Lalu tertawa geli. Sahutnya :

- Eh, ternyata adik-seperguruan Sondong Landeyan sekumpulan manusia tuli. Bukankah engkau sudah mende-ngar sendiri? Aku Blandaran, adik-seperguruan pendekar besar Cing Cing Goling. Datang kemari untuk membawa kepala kalian. -

Sondong Jerowan seorang pendekar kawakan. la sudah banyak makan garam sehingga tidak mudah terpancing ucapan musuh. Tetapi tidak demikian halnya dengan Sondong Wido dan Sondong Muraji. Dengan berbareng mereka menerjang. Blandaran benar-benar angkuh dan som-bong. Sama sekali ia tidak menghiraukan datang nya serangan. Sambil meludah-ludah ke tanah, kedua tangannya bergerak. Tahu-tahu ia sudah dapat menangkaptangan kedua penyerangnya dan diangkatnya semudah mengangkat barang bawaan. Lalu dilemparkan balik.

Semua saudara-seperguruan Sondong Landeyan terpe-ranjat. Hanya beberapa orang saja yang tahu gerakan Blandaran.

Sederhana saja, namun Sondong Wido dan Sondong Muraji sudah tergentak balik sehingga terpaksa ber-jempalitan di tengah udara sebelum mereka menginjak tanah dengan selamat.

Padahal mereka berdua bukan jago murahan. Mereka termasuk saudara-seperguruan Sondong Landeyan yang namanya pernah menggetarkan dunia pada jamannya. Mengapa begitu mudah dikalahkan dalam satu gebrakan saja? Merekapun tentunya sudah cukup pe-ngalaman. Rata-rata usianya berada di atas limapuluh tahun.

Sondong Jerowan benar-benar tertekat hatinya. Sebab,segera ia mengenal gerakan Blandaran. Itulah salah satu jurus istimewa dari rumah perguruannya sendiri. Jangan lagi dengan mengerahkan tenaga, bahkan dengan sentuhan saja cukuplah membuat lawan bisa roboh terjengkang.

Pikir Sondong Jerowan di dalam hati: - Dari siapa dia memperoleh jurus istimewa itu? Apakah guru dahulu pernah mempunyai seorang murid diluar perguruan? - Pada detik itu pula, ia mencoba mengumpulkan ingatan nya yang sudah tua. Di antara saudara-seperguruan Sondong Landeyan, Sondong Jerowan amat mahir dengan ilmu istimewa itu. Kini ia menyaksikan betapa Blandaran jauh lebih mahir daripadanya.

Tiba-tiba suatu bayangan berkelebat di dalam benaknya. Terus saja ia tertawa melalui dadanya seraya berkata :

- Ah, Blandaran ...! Sekarang aku ingat semuanya. Bukankah kau dulu pelayan Ki Ageng Sendang Warih adik-seperguruan paman Telaga Warih? -

- Kalau benar bagaimana, kalau tidak bagaimana? - bantah Blandaran. Sendang Warih adalah guruku. Kenapa? Apakah ilmu ini hanya diwarisi Telaga Warih saja? -

Ki Ageng Telaga Warih dan Ki Ageng Sendang Warih dahulu merupakan dua momok yang pernah menggon cangkan dunia. Kedua-duanya sangat ditakuti orang. Tetapi kedua orang itu sama-sama gila dan tidak pernah hidup rukun. Akhirnya masing- masing menempuh jalannya sendiri.

Ki Ageng Sendang Warih bermukim di wilayah Bulukerta yang terletak di sebelah timur pinggang Gunung Lawu. Dia hidup sebagai warok dan ditakuti orang. Sepak-terjangnya tak ubah seperti Warok Surabangsat atau Warok Cadarma pada jaman Majapahit. Dan Blandaran adalah gemblaknya (baca : lawan homosex) sehingga mendapat warisan ilmu rumah perguruannya. Merasa aib di mata masyarakat, maka ia selalu mengenakan jubah pendeta dengan maksud untuk mengangkat diri berbareng membersihkan namanya. Sondong Jerowan menggunakan istilah pelayan. Sebenarnya jauh lebih sopan daripada istilah gemblak. Meskipun demikian, Blandaran perlu untuk mengaburkan bunyi perta-yaannya dengan kata-kata : kalau benar bagaimana, kalau tidak bagaimana.

- Blandaran ! - tegur Sondong Jerowan dengan tetap bersikap sopan. - Baiklah, kau boleh mengaku sebagai mu-rid paman Sendang Warih. Tentunya ilmu kepandaianmu cukup tinggi.

Tetapi apa sebab sudi menghamba kepada seorang iblis seperti Cing Cing Goling? Apakah karena kau takut mati? Atau karena kau kena ditaklukan? Kau merosotkan pamor perguruanmu ! -

Merah padam wajah Blandaran disemprot demikian. Namun ia tidak mau mengalah. Membalas membentak :

- Perkara itu, kau tidak perlu turut campur. Sekarang serahkan pedang itu ! Kalau tidak kau bakal mampus dalam sekejap mata saja. -

Nyai Dandang Wutah yang mengikuti percakapan itu, la-lu maju mendampingi Sondong Jerowan. Katanya :

- Blandaran ! Tentunya engkau masih mengenal diriku. - Blandaran mengerinyitkan dahi. Menyahut:

- Bukankah kau Dandang Wutah? - - Benar. - Nyai Dandang Wutah mengangguk. - Atas dasar apa engkau menghendaki pedang itu? -

- Pedang itu kena dirampas pamanku Telaga Warih. Bukankah aku mempunyai hak pula untuk memintanya? Nah, cepat serahkan I Lagi pula pedang itu hasil rampasan. Apa sih keberatannya? -

- Hasil rampasan? - kedua alis Nyai Dandang Wutah berdiri. - Pedang itu milik Sondong Landeyan. -

- Kentutmu! - maki Blandaran. - Pedang itu bukankah hasil rampasannya juga? -

- Tidak! Sama sekali tidak! - bantah Nyai Dandang Wutah. - Pedang itu milik istrinya. -

- Hohahaa... apakah pedang itu benar-benar milik istrinya? -

- Kalau bukan, tolong jelaskan ! -

Blandaran tidak segera menjawab. Karena tidak mau kalah pamor, buru-buru ia mengalihkan pembicaraan. Sahut-nya dengan bentakan mengguntur :

- Pendek kata kau serahkan atau tidak? -

- Apakah engkau hendak main paksa? - - Kalau kalian berdua bisa menerima sepuluh pukulanku saja, aku akan turun gunung. Dan semenjak itu, aku tidak akan mengurus masalah pedang berkepanjangan. -

Gemak Ideran yang memperhatikan pembicaraan mere-ka berseru memperingatkan :

- Bibi ! Paman ! Hati-hati ! Dia mengaku menjadi salah seorang adik-seperguruan Cing Cing Goling. Paling tidak, ia sudah menguasai Ilmu Batu Panas tingkat lima. Setiap pukulannya nampak sederhana. Akan tetapi memba wa hawa beracun ... .! -

- Bangsat kau dulu yang harus mampus. - maki Blandaran. Terus saja tangannya memukul ke samping. Akan tetapi Gemak

Ideran sama sekali tidak takut. la berani mengadu kekerasan. Tak

ampun lagi mereka berdua mengadu tenaga. Akibatnya, Blandaran tercengang. Sebab ia merasa dirinya kena tergeser dari tempatnya. Sebaliknya Gemak Ideran kelihatan tenang- tenang saja. Sama sekali pukulan maut-nya tidak membawa akibat sedikitpun.

- Ih! - hati Blandaran tercekat. - Anak ini murid siapa? Celaka kalau dia ikut me-ngacau.-

Dengan pikiran itu, ia berteriak kepada Sondong Jerowan dan Nyai Dandang Wutah : - Apakah kalian berdua benar-benar berani menerima sepuluh pukulanku? Biarlah orang-orangmu menyaksikan dengan jelas. -

Blandaran menyebut orang-orangmu, maksudnya jelas. Dia hanya menantang dua orang. Yang lain dilarang ikut serta. Tentu saja Sondong Jerowan dan Nyai Dandang Wutah yang sudah berpengalaman mengetahui belaka maksudnya.

- Legakan hatimu ! Anak itu bukan kerabat kami.

- Bagus! - seru Blandaran dengan gembira. Terus saja ia mendahului menerjang.

Hebat cara Blandaran menyerang. Dengan satu gerakan ia dapat menyerang Dandang Wutah dan Sondong Jerowan dengan berbareng. Dandang Wutah meskipun sudah berusia lanjut, ternyata masih gesit. Sambil menarik senjatanya berbentuk selendang Gadung Melati, ia melesat ke samping. Justru begitu, serangan Blandaran mengancam Sondong Jerowan sambil membentak :

- Serahkan pedang Sangga Buwana ! -

Sondong Jerowan dengan sebat membabat serangan Blandaran. Di antara keenam saudara-seperguruannya, agaknya dialah yang berkepandaian paling tinggi. Hanya saja usianya sudah lanjut, sehingga tenaganya jauh berkurang dibandingkan semasa mudanya. Meskipun demikian, babatan tongkatnya membawa kesiur angin. - Bagus! - seru Blandaran.

Dia tidak mencoba mengelak atau menangkis. Sebaliknya tangannya diayunkan seperti ditamparkan. Lalu dengan sedikit memiringkan tubuhnya ia membiarkan tongkat Sondong Jerowan lewat di sampmg-nya. Diluar dugaan Sondong Jerowan mendadaksaja dapat merubah babatannya dan berbalik menghajar pundak. He-bat hajarannya. Seketika itu juga terdengar suara bluk. Tetapi Blandaran sama sekali tidak tergeliat kesakitan. Sebaliknya tongkat Sondong Jerowan yang terpental ke samping seperti menggempur sasaran yang licin.

Blandaran ternyata sengaja menyerahkan pundaknya. Begitu terhajar, sebelah tangannya menampar ujung tongkat. Sondong Jerowan terkejut sampai tubuhnya ikut menyelonong ke depan. Sedang begitu, Blandaran masih melanjutkan serangannya. Kali ini dengan tangan kirinya. Sondong Jerowan terancam bahaya. la bakal kehilangan tongkatnya. Artinya ia tidak mempunyai senjata pelawa lagi. Tetapi ia tidak sempat berpikir berkepan jangan.

Satu-satunya jalan demi melindungi tubuhnya ia terpaksa merelakan tongkatnya. Tahu-tahu tubuhnya terpental mundur oleh suatu dorongan yang kuat luar biasa.

Sebenarnya, ilmu kepandaian Sondong Jerowan bukan lemah. la dapat melawan Blandaran dengan seimbang. Berarti akan dapat menahan sepuluh kali pukulan lawan. Akan tetapi usianyalah yang tidak mengijinkan. Kena dorongan tenaga Blandaran yang kuat luar biasa, ia terpental mundur hanya dalam satu gebrakan saja.

Meskipun demikian, sebagai seorang pendekar yang berpengalaman, masih saja ia dapat mempertahankan senjatanya. Sedetik tadi, ia merelakan tongkatnya. Tetapi begitu terdorong mundur ia meminjam tenaga lawan. Secepat kilat ia menyambar gagang tongkatnya dan terbawa mundur terpental.

Sebaliknya, Blandaran tentu saja tahu membaca keadaan lawan. Sengaja ia menyerahkan tongkat itu terbawa mundur. Akan tetapi berbareng dengan itu, ia melompat maju menghantam tubuh Sondong Jerowan yang roboh terbaniing di atas tanah.

- Jerowan ! Ternyata engkau harus belajar kembali mulai dan permulaan. - ejek Blandaran.

Selagi mengejek demikian, Selendang Gadung Melati Nyai Dandang Wutah berkesiur menghantam dirinya. Meskipun hanya berwujud selendang, akan tetapi sebenarnya sebuah pusaka istimewa yang jarang terdapat di dunia. Sebab selendang itu berlapiskan bajatipis. Blandaran menge-nal senjata andalan Nyai Dandang Wutah. Tidak berani ia membiarkan dirinya kena gebuk. Cepat ia menangkis serangan itu dengan tongkat rampasannya. Seketika itu juga terdengar suara mendengung memekakan telinga.

Ternyata Nyai Dandang Wutah kalah dalam hal mengadu ten^ga. Tangannya terasa nyeri dan kesemutan, sehingga tidak berani lagi melawan keras dengan keras. Tetapi hal itu bukan berarti dia merasa kalah. Dengan cepat ia sudah memberondong tiga kali serangan yang dilakukan beruntun.

Guru Sondong Landeyan bertujuh bernama Kyai Ujung Gunung. Karena terkenal sakti dan berhati lurus, dia disebut orang dengan gelar Ki Ageng Samper. Artinya Sempana yang benar benar, karena sewaktu masih muda bernama Sempana. Muridnya delapan orang. Masing-masing diberi ilmu kepandaian yang khas. Hanya Sondong Landeyan seorang yang berhasil mewarisi seluruh ilmu saktmya.

Nyai Dandang Wutah murid nomor dua sesudah Sondong Jerowan. Sedang Sondong Landeyan murid termuda. Tetapi ka- rena berbakat justru dialah yang terpandai di antara ketujuh saudara-seperguruarinya.

Pada jaman mudanya, semua murid Kyai Ujung Gunung disegani dan dihormati orang. Sebab selain berkepan daian tinggi, hati mereka jujur dan hidup sebagai warga yang sederhana.

Pemerintah, semenjak Raja Amang kurat IV menghargai kepandaian mereka, sampai Sondong Landeyan dipilih menjadi salah seorang pengawal nya. Tidak mengherankan, tiada seorang penjahatpun berani main coba-coba melawan mereka. Akan tetapi Blandaran tidak gentar menghadapi serangan berantai Nyai Dandang Wutah yang termasyur. Dengan gesit ia dapat mengelakan diri. Hati Dandang Wutah tercekat. Diam-diam ia mengagumi kepandaian lawan. Tetapi sebagai seorang pendekar yang sudah banyak makan garam, segera ia menguasai diri. Kalau tidak, ia akan dapat terbawa permainan lawan.