-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 15

Jilid 15

Melihat jumlah mereka, Gemak Ideran tidak gentar. Bahkan dengan semangat juang yang berkobar-kobar ia menerobos masuk ke dalam kota dan sempat membantu Niken Anggana yang bertempur melavvan gerombolan yang membunuh Pengurus Rumah Penginapan.

Khawatir akan kehilangan jejak orang bertopeng itu, Gemak Ideran melakukan pengejaran sampai bertemu dengan Jakun yang berjalan mengarah ke pesanggeralian. Inilah aneh, pikir Gemak Ideran. Apakah orang bertopeng tadi termasuk gerombolan yang muncul di rumah makan Pandaan? Dengan cepat ia memotong perjalanan Jakun.

Setelah memasukkan kudanya ke kandang ia balik kembali untuk menghadang. Dan bertempurlah ia dengan Jakun. Sengaja ia berpura-pura mundur masuk ke pesanggerahan. Maksudnya agar Diah Windu Rini sadar akan bahaya.Belum lagi Diah Windu Rini muncul Niken Anggaran sudah keburu tiba. Dengan dibantu Niken Anggana, Jakun terpaksa memanggil Endang Maliwis. Dan pada saat itu, barulah Diah Windu Rini turun tangan. Demikianlah tutur-kata Gemak Ideran kepada Diah Windu tentang berita dirampasnya Tombak Kyahi Pleret dan Baru Klinting yang diperolehnya dari Lorah Kedung Tirta. Diah Windu Rini mendengarkan dengan penuh perhatian. Selagi ia merenungkan semua peristiwa itu, Gemak Ideran berkata minta keterangan :

- Ayunda ! Jakun dan Endang Maliwis termasuk mereka yang berada di rumah makan Pandaan. Apa sebab ayunda tidak segera mengenalnya? -

Dengan mata berkilat Diah Windu Rini menyahut:

- Apakah kau kira hanya mereka berdua yang berada di halaman pesanggerahan? -

- Apa? - Gemak Ideran terkejut sampai beranjak dari kursinya.

- Masih ada seorang yang bersembunyi. Karena belum jelas, aku perlu berjaga-jaga. -

Orang yang bersembunyi di balik belukar, sebenarnya adalah si Bogel yang menyaksikan pertempuran mereka ber-tiga. Baik Gemak Ideran maupun Niken Anggana tidak mengetahui kehadirannya. Hanya Diah Windu Rini yang dapat menangkap pernafasannya. Dengan begitu tidak perlu dijelaskan, ilmu kepandaian Diah Windu Rini berada jauh di atas mereka berdua.

- Apakah orang itu masih ada di sini? - Gemak Ideran menegas. - Sekarang, mungkin sudah pergi. -

- Jadi jadi sewaktu kedua iblis itu kabur, dia masih berada di

halaman? -

Diah Windu Rini mengangguk sambil tertawa geli. Sahutnya :

- Dia sudah pernah merasakan sentilanku. Tentunya tidak akan berani main gila. -

Gemak Ideran tercengang. la berpaling kepada Niken Anggana untuk memperoleh kesan. Kepandaian Niken Anggana masih tergolong rendah dibandingkan dengan mereka berdua, namun ingatannya tajam. Tiba-tiba saja dia berkata:

- Tetapi mengapa Bogel kemari ? -

Diah Windu Rini tertawa sambil mengangkat pundak-nya. Katanya :

— Niken, kau cerdas dan ingatanmu tajam. Di kemudian hari rejekimu akan besar bila saja dapat memanfaatkan kecerdasanmu. -

Memperoleh pujian Diah Windu Rini, Niken Anggana menundukkan pandang dengan wajah kemerah-merahan. Katanya pelahan :

- Ah, aku hanya main tebak saja. - - Taruhkata begitu, setidak-tidaknya rasa nalurimu tajam juga. - Diah Windu Rini tetap memujinya. -Tentang pertanyaanmu apa sebab dia berada di sini, mungkin secara kebetulan saja ia melalui jalan besar dan kebetulan pula me-lihat peristiwa tadi. Ataukah dia bertemu lagi denganmu? -

- Ya. Mereka kuanjurkan agar cepat-cepat meninggalkan rumah penginapan. Bukankah dia mengaku asal dari Inderamayu?

Mungkin sekali dia dalam perjalanan pulang ke kampung. -

- Mungkin juga. Lalu, apakah kau masih ingin melanjutkan masuk ke Kartasura? Kau sendiri sudah pandai mengan-jurkan orang.

Bagaimana dengan dirimu sendiri ? - kata Diah Windu Rini. - Ayahmu seorang Kepala Pengawal raja. Tentunya pada saat ini dia berada di samping Sri Baginda. -

Niken Anggana berpikir sejenak. Wajahnya nampak bimbang. Tetapi sejenak kemudian muncullah sifat kekanak-kanakannya :

- Kalau begitu aku akan mendaki Gunung Lawu. Baangkali

ayah melalui jalan pegunungan . -

- Apa ? - Diah Windu Rini tercengang. la seperti tidak percaya kepada pendengarannya sendiri. -Di atas gunung engkau hendak mencari siapa ? Ayahmu ? -

Niken Anggana mengangkat kepalanya. Menyahut: - Ayunda mendengar cerita Ki Guncarita bukan ? - - Ya. Lalu ? -

- Aku akan mencari kakang Pitrang. Syukur bisa bertemu dengan paman Sondong Landeyan. - ujar Niken Anggana.

- Niken ! Kau berkata apa ? - Diah Windu Rini terheran-heran, - Itu kan cerita seorang dalang. Belum tentu benar. Anggap saja cerita buning ! -

- Tidak. - Niken Anggana menggelengkan kepalanya. -Aku rasa, ceritanya benar. Semua yang dikatakan dapat dipercaya. -

Diah Windu Rini terlongong sejenak. la sempat melihat Gemak Ideran mengedipkan matanya. Lantas saja ia bersedia mengalah. Mengalihkan pembicaraan :

- Baiklah tetapi malam ini belum tentu kita selamat. -

- Belum tentu selamat bagaimana ? - Gemak Ideran menegas.

Diah Windu Rini tidak menjawab. la merogoh sakunya dan mengeluarkan tiga pita berwarna merah. Katanya :

- Pakailah ! -

Setelah berkata demikian, ia membagi pita merah yang berjumlah tiga. Masing-masing memperoleh sehelai pita. Ujar Diah Windu Rini lagi : - Kenakan di lengan kirimu ! Usahakan jangan sampai terlepas ! -

- Memangnya kenapa ? — Gemak Ideran minta keterangan.

- Kenakanlah dulu. Nanti kujelaskan -

Dengan penuh tanda tanya, Gemak Ideran dan Niken Anggana mengenakan pita merah itu di lengan kirinya. Begitu pula Diah Windu Rini. Berkatalah gadis cantik itu :

- Ini bukan jimat atau berisikan mantera sakti. Tetapi semata-mata sebagai pengenal. Kau tahu sebabnya ? -

Gemak Ideran menggelengkan kepalanya. Niken Anggana hanya bersikap membungkam mulut. Akan tetapi pan-dang matanya penuh dengan pertanyaan. Dan berkatalah Diah Windu Rini :

- Mungkin sekali jam dua nanti, mereka akan datang memusuhi kita bertiga. Di antara mereka terdapat tokoh Gemak Ideran, Niken Anggana dan diriku. Teman-temannya mengenakan topeng palsu pula. -

- Apakah maksud ayunda gerombolan Jakun dan Endang Maliwis

? -

- Kalian tidak usah bertanya yang berbelit-belit. Niken, apakah engkau berani membunuh orang? -

- Membunuh ? - wajah Niken Anggana berubah. - Ya, kau harus berani melakukan. Kalau tidak kau bakal dibunuh, Sebab musuh yang sebentar lagi akan datang sangat kejam dan ganas. - sahut Diah Windu Rini dengan suara ditekan-tekan. - Secara kebetulan saja aku sempat mendengar percakapan mereka, sewaktu aku dalam perjalanan balik kemari. Ternyata mereka pernah mengadakan latihan menirukan lagak-lagu watak dan perangaiku di halaman ini sewaktu kita bertiga ke luar pesanggerahan. Mereka saling mengecam, karena permainan sandiwaranya masih kurang tepat. Sewaktu aku hendak mendengarkan pembicaraan mereka lebih Ianjut, aku melihat tanda sandi kita. Kau bukan yang melepaskan ? -

- Ya. - Gemak Ideran mengangguk.

- Karena engkau beberapa kali berhenti di tengah jalan, aku dapat mendahuluimu satu langkah. -

- Tetapi siapakah mereka yang menyaru kita? - potong Gemak Ideran. Sebab selanjutnya ia sudah mengetahui.

- Siapa mereka, tidak penting. - sahut Diah Windu Rini. - Yang jelas, mereka mengira kita bertiga membawa-bawa pedang Sangga Buwana -

- Ah ! Kalau begitu, mereka yang bersandiwara di Pandaan dulu. -

-Terkaanmu mungkin benar, mungkin salah. - Diah Windu Rini tersenyum kecil. - Itulah sebabnya, aku ber-

pura-pura mengalah terhadap Jakun dan Maliwis. Secara ke- betulan, kaupun mau mengalah juga. Dengan begitu, setidak- tidaknya kepandaian kita belum dapat diketahui dengan jelas. Agaknya Jakun dan Maliwis sengaja diperintahkan untuk menjajaki kepandaian kita. Namun, kita bertiga wajib berwaspada. Aku yakin, mereka dapat menyaru sebagai diri kita. Namun tidakkah pernah mengira, bahwa kita akan mengenakan tanda pengenal pita merah. Nah, kalian mengerti maksudku ? -

Sekarang Gemak Ideran dan Niken Anggana mengerti akan makna pita merah yang dikenakannya. Hanya saja tetap belum jelas, bagaimana caranya lawan menyaru dirinya. Tetapi mereka percaya tiap patah kata Diah Windu Rini. Selamanya, Diah Windu Rini tidak pernah bergurau.

- Sekarang masih ada waktu untuk beristirahat. - ujar Diah Windu Rini. - Sekali lagi kuperingatkan, kalian harus bertindak cepat.

Lengah sedikit, kalian bakal terbunuh. Niken, ingat-ingat kata- kataku ini! -

Niken Anggana mengangguk. la merenungi pita merah yang dikenakannya dengan berdiam diri. Agaknya Diah Windu Rini belum yakin benar padanya. Dengan menyenak nafas, ia berkata lagi:

- Kau beristirahat di dalam kamarku ! Kau hanya boleh keluar atas perintahku !-

Setelah berkata demikian, ia menyambar tangan Niken Anggana dan dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Kini tinggal Gemak Ideran seorang diri. Pikirannya penuh dengan berbagai teka-teki yang berseliweran tiada hentinya. Tentang makna Sangga Buwana ia merasa sudah cukup memperoleh penerangan dari ucapan Cing Cing Goling kepada Tambal Pitu dan Geringging. Apakah mereka kaki-tangan Cing Cing Goling? Kalau benar demikian, a langkah besar penga-ruh Cing Cing Goling terhadap orang-orang yang termasuk berkepandaian tinggi.

- Hm Ilmu Sakti Batu Panas ! - pikirnya di dalam hati sambil

berjalan memasuki kamarnya yang gelap gulita. Sebentar ia menyalakan pelita dan diletakkan di atas meja. Bam saja ia hendak duduk beristirahat melepaskan lelah, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar gerakan di luar jendela. Bum-bum ia memadamkan api. Lalu bergerak tanpa suara memipit dinding - Sst, keluar ! - terdengar bisikan dari luar jendela.

Gemak Ideran terhenyak sejenak la berbimbang-bimbang. Bisikan itu jelas keluar dari mulut seorang perempuan. Justru demikian, teringatlah dia kepada peringatan Diah Windu Rini. Bukankah di antara mereka ada yang menyaru sebagai Diah Windu Rini dan Niken Anggana? Selagi ber-bimbang-bimbang demikian, ia mendengar bisikan lagi :

- Aku berkata akan kemari. Sekarang aku kemari. Kenapa tidak cepat ke luar? -

Sekarang Gemak Ideran tidak ragu-ragu lagi. Itulah suara Rawayani. Siapa lagi kalau bukan dia? Sebab perjanjian itu hanya dia seorang yang mengetahui. Terus saja ia melompat ke luar jendela dan mengejar bayangan Rawayani yang mendahului Beberapa waktu lamanya mereka saling kejar mengejar. Setelah melampaui beberapa ladang belukar, baru-lah Rawayani menghentikan larinya dan berdiri menunggu di atas batu yang berada di dekat gundukan tanah .

- Mengapa engkau tidak mampu mengejarku? — tegur Rawayani sebagai pembuka kata.

Oleh teguran Rawayani, Gemak Ideran seperti tersadar dari mimpinya. la jadi heran sendiri. Ya, kenapa dia tidak dapat mengejarnya? Apakah karena mengalah atau sengaja mengikuti saja? Tetapi lepas dari itu semua, kenyataannya nafasnya terasa mulai memburu. Diam-diam hatinya tercekat. Namun teringat ia sedang berhadap-hadapan dengan manusia yang cerdik, tak mau ia mengalah. Sahutnya :

- Semenjak kemarin aku tidak beristirahat. Mungkin lelah. -

- Huh. -- Rawayani mendengus. -Janganlah engkau memutar lidah di hadapanku. Kau tidak sanggup mengejarku, karena sudah terkena hawa Ilmu Batu Panas. Kau tidak percaya? Hayo, kejarlah aku sekali lagi. -

Setelah berkata demikian, Rawayani benar-benar lari. Gemak Ideran jadi penasaran. Terus saja ia memburunya. Kali ini ia memusatkan seluruh perhatiannya dan mengerahkan tenaga saktinya. Rawayani nampak berada tiga langkah di depannya. Tetapi lambat-laun makin menjauh dan menjauh Ah, apakah ilmu kepandaiannya jauh berada di atasnya? Selagi berpikir demikian, Rawayani berhenti di tepi jalan simpang. Menegur lagi :

- Nafasmu memburu, bukan? Tenagamu makin terasa melemah. Lalu, bagaimana engkau akan sanggup melawan musuh- musuhmu yang bakal menyergapmu di pesanggerahan?-

Rasa terkejut seseorang yang disambar geledek, tidaklah sehebat Gemak Ideran Hati pemuda itu tiba-tiba saja ter- goncang. Sebab apa yang dikatakan Rawayani bukan omong kosong. Nafasnya memburu dan tenaganya serasa melemah. Namun di hadapan gadis itu, tidak mau ia memperlihatkan kelemahannya. Sahutnya :

- Seorang laki-laki masakan takut mati terpenggal mu-suh?- Rawayani bertepuk tangan sambil berkata :

- Bagus, bagus ! Justru kekerasan hatimu itulah yang menarik perhatianku. Itulah sebabnya engkau harus membantu diriku melaksanakan kewajiban menuntut dendam keluarga terhadap si jahanam Cing Cing Goling. -

Berkata demikian, Rawayani menghampiri Gemak Ideran. Matanya yang tajam luar biasa melihat sehelai pita yang melilit lengan pemuda itu. Dengan tersenyum ia seperti menyesali diri sendiri : - Tetapi kekerasan hati belum cukup untuk menyelesaikan suatu masalah. Akal dan pikiranmu harus kau gunakan. Apakah pita yang kau kenakan itu termasuk salah satu akalmu?-

Bukan main mendongkol hati Gemak Ideran. la merasa dirinya diperlakukan sebagai murid Sekolah Rendah. Cela-kanya belum lagi mulutnya sempat membuka, Rawayani berkata lagi :

— Sekiranya aku yang memimpin kawanan itu, paling-paling aku hanya mengenakan topeng penutup wajah agar susah diketahui. Apa perlu aku menyaru sebagai dirinya, sedangkan aku bakal berhadap-hadapan dengan orang yang akan kubunuh. Penyaruan itu sama sekali tiada gunanya lagi. Kecuali kalau ada saksi ketiga. Coba renungkan ! Seum-pania kini aku hendak membunuhmu, apa perlu aku menyaru sebagai dirimu ? -

- Hm. - Gemak Ideran mendengus. la sekarang mempunyai kesempatan untuk mendampratnya. - Hati manusia sukar diduga. Mungkin sekali penyaruan itu dimaksudkan untuk membuat hati yang dibunuh makin penasaran, sehingga ia bakal jadi setan gentayangan di alam baka. Lagi pula dari mana dan dari siapa kau tahu, bahwa mereka bakal menyaru sebagai kita bertiga? -

- Eh, bukankah aku yang memberi tahu dirimu, bahwa serombongan orang bertopeng bakal memusuhimu? -sahut Rawayani dengan cepat dan lancar. -Aku pulalah yang menuntun pahlawan memasuki perkampungan Cing Cing Go-ling dan membantu membebaskan kekasihmu - Mendengar kata-kata Rawayani, Gemak Ideran mati kutu. Wajahnya serasa panas, sewaktu Rawayani menggunakan istilah kekasih. Siapa lagi yang dimaksudkan, kalau bukan Niken Anggana. Sedang Diah Windu Rini yang disebutnya sebagai pahlawan, memang tidak salah. Bahkan tepat sekali. Memang ia menganggap Diah Windu Rini sebagai pahlawan-nya, karena berkepandaian sangat tinggi.

- Hm kau pandai berdusta. - ia tidak mau mengalah.

- Bagaimana mungkin ! Aku justru sedang mengikutimu. Bagaimana pada satu saat yang sama engkau bisa bertemu dengan ayunda Diah Windu Rini? -

— Apakah kau benar-benar bisa mengikuti diriku terus-menerus? Bukankah engkau dihadang dua orang yang mere cokimu? Pada saat itu, bukankah aku mempunyai kesempatan leluasa untuk berbuat apa saja? -

Gemak Ideran teringat pengalamannya kemarin lusa.

Memang ia kena dihadang Tabah dan Tabun yang membuat dirinya kehilangan pengamatannya terhadap Rawayani. Pa-da saat itu Rawayani memang dapat bertemu dengan Diah Windu Rini dan membimbingnya masuk ke perkampungan Cing Cing Goling.

- Sebenarnya hanya secara kebetulan saja aku bisa bertemu dengan pahlawanmu. Yang kukejar justru anak Cing Cing Goling. Dialah Antawati, adik Geringging, anak Cing Cing Goling. Dia seperti tokoh Mustakaweni dalam cerita pewayangan, karena dapat merubah diri seribu kali sehari. Itulah ilmuu kepandaiannya yang istimewa. Anak-buahnya mewarisi sebagian kepandaiannya. Karena itu, dia pulalah yang diutus ayahnya mencari Pedang Sangga Buwana. Tatkala aku menemukan jejaknya, kau justru sedang menguber-uber diriku. Untung aku mempunyai akal untuk merintangimu. Dan pada saat itu aku berhasil melacak kaki- tangannya. Mereka berkumpul di tengah hutan untuk mendengarkan pengarahan Antawati, karena di dalam suatu latihan untuk menyergap kalian bertiga, masih terdapat kelemahannya. Hm hebat pahlawanmu itu. Aku bisa melihat

semua yang hadir, akan tetapi aku tidak dapat melihat pahlawanmu sampai dia kabur karena melihat tanda sandimu mengejap di udara. Justru demikian, pahlawanmu kehilangan pengamatan yang penting. Sesung guhnya latihan mereka bukan hanya untuk mengelabui kalian, tetapi yang terpenting mengukur kepandaian pahlawanmu dan mempelajari watak dan pera- ngainya. Hebat, bukan? Memang Antawati secerdik setan ! -

Rawayani seperti menjawab keadaan hati Gemak Ideran. Meneruskan :

- Karena itu, sungguh tidak tepat kalian mengenakan pita. Justru memudahkan mereka menyambitkan senjata rahasianya -

Apa yang dikatakan Rawayani rasanya mendekati kenyataan. Akan tetapi Gemak Ideran tidak rela Diah Windu Rini kena kecam. Tentunya Diah Windu Rini mempunyai alasannya sendiri pula tentang pita merah yang dikenakannya. Lantas saja ia memotong :

- Apakah sudah cukup maksudmu membawaku ke-mari? Terima kasih. Aku akan.....-

- Hei, mau ke mana? -

- Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk mendengarkan kata- katamu. Lambat sedikit, malapetaka yang tidak kuharapkan akan mengancam setiap saat, Apalagi ayunda harus melindungi Niken.

-

- Siapa Niken? - tungkas Rawayani. - Ah ya, nama kekasihmu itu bukan? -

- Apakah engkau tidak dapat menutup mulutmu? -bentak Gemak Ideran penasaran.

- Kalau aku justru menghendaki ingin berbicara terus-menerus, kau bisa apa? -

Gemak Ideran merasa serba salah. Ucapan Rawayani tajam luar biasa dan menggemaskan. Tetapi entah apa sebab-nya, di dalam hati kecilnya ia ingin gadis itu berbicara terus. Akhirnya ia mengambil keputusan bersedia mengalah demi Diah Windu Rini dan Niken Anggana yang memerlukan ke-hadirannya. - Baiklah, tentunya engkau bermaksud baik. Sekarang, aku harus pergi dulu. - katanya mengalah.

- Hm, ingin jadi pahlawan, ya? - ejek Rawayani. - Pada saat ini, kau tidak mampu berbuat sesuatu. Bahkan akan menjadi perintang pahlawanmu. Pendek kata kau tidak beda dengan orang yang besar kemauannya tetapi tenaga kurang. Kau tak percaya? -

- Kenapa tidak dapat? - Gemak Ideran mendongkol.

- Kau dengarkan dulu keteranganku. - ujar Rawayani dengan mengulum senyum. - Masih ingatkah engkau, se-waktu aku ingin mengajakmu membalas dendam Cing Cing Goling. Tetapi tiba- tiba aku menyuruhmu melarikan diri. Kau tahu apa sebabnya? -

Gemak Ideran tertegun. Ya, memang hal itu pernah terlintas dalam pikirannya la hanya menilai, bahwa perangai Rawayani sukar ditebak. Temyata, dia mempunyai alasan-nya. Karena itu ia menggelengkan kepalanya oleh rasa ingin tahu.

- Pada waktu itu aku teringat, ilmu Batu Panas tidak hanya memiliki tenaga berhawa panas saja, tetapi mengan-dung zat-zat beracun. - Rawayani menerangkan. - Kekuatannya meliputi radius limabelas meter. Barangsiapa berada di sekitarnya kurang dari limabelas meter akan terkena akibatnya. Dan zat kimiawinya akan menjadi-jadi, manakala orang itu berada di tempat gelap berhawa dingin. Bukankah kita bersembunyi di dalam sebuah kamar tertutup? Maka satu-satunya jalan aku harus menyuruhmu meninggalkan tempat secepat mungkin. Tetapi aku sudah kasep beberapa detik, karena Cing Cing Goling sudah bertempur. Untung, dia belum sempat menggunakan Ilmu Batu Panas tingkat tujuh. Sekiranya begitu, di dunia ini tiada lagi yang dapat menolongmu. -

Gemak Ideran terkejut. Menilik tekanan ucapannya, Rawayani bersungguh-sungguh. Diam-diam ia mengerah kan himpunan tenaga saktinya. Ternyata tiada sesuatu yang mengganggu dirinya. Ah, jangan-jangan dia hanya ingin mempermamkan diriku, pikir Gemak Ideran. Karena itu ia jadi mendongkol.

Tungkasnya :

- Sebenarnya apa sih maksudmu membawaku kemari. Pesanggerahan pada saat ini justru sedang terancam bahaya.-

Rawayani tertawa. Beberapa waktu lamanya ia mengawaskan Gemak Ideran. Kemudian berkata :

- Jadi engkau tetap tidak mengerti? Baiklah, kalau begitu mari kita duduk menikmati malam gelap gulita. Bukankah engkau kalah bertaruh denganku? Kau berjanji akan selalu patuh padaku sampai tiga kali. Kau seorang satria, masakan mau mengingkari ..-

- Baiklah. - Gemak Ideran memotong. la merasa kuwalahan menghadapi kecerdikan Rawayani.

- Sekarang kita sudah cukup menikmati malam gelap gulita. Sayang, pikiranku sedang penuh sehingga perasaanku tidak dapat ikut serta menikmati sesuatu yang kau harapkan. Tak dapat lagi aku menemanimu. Nah biarlah aku balik ke pesanggerahan dulu. -

Setelah berkata demikian, benar-benar Gemak Ideran memutar tubuhnya hendak melangkahkan kakinya. Tepat pada saat itu, Rawayani berkata setengah berseru :

- Ideran ! Nanti dulu ! -

Gemak Tderan sudah akan melangkahkan kakinya. Mendengar seru Rawayani, ia batal sendiri diluar kehendaknya. Rawayani tertawa lagi. Katanya dengan nada menggoda :

- Ideran, memang aku sedang bercanda kepadamu. -

- Aku tahu, Sekarang, jangan kau halangi lagi kepergianku -

- Ah, ternyata otakmu tumpul. Sama sekali engkau tidak dapat menangkap maksudku. - sahut Rawayani dengan suara setengah membentak. - Sebentar tadi aku memang sedikit bercanda.

Tetapi kini aku bersungguh-sungguh. Se-bab ini mengenai suatu masalah yang penting sekali. -

Gemak Ideran berbimbang-birnbang. Pelahan-pelahan ia memutar tubuhnya dan kembali menatap wajah Rawayani. Meskipun malam gelap gulita, namun lambat-laun penglihatannya jadi terbiasa. Kini dapatlah ia menatap wajah Rawayani.

Meskipun masih samar-samar, namun raut wajahnya agaknya tiada celanya. Oleh kesan itu, ia mau bersabar lagi. Katanya dengan suara pelahan :

- Masalah penting? Apakah ada masalah yang melebihi masalah negara ? -

- Begitu ? Jiwamu termasuk masalah penting atau tidak ?- Gemak Ideran mendongkol kembali. Sahutnya tak sabaran lagi :

- Baiklah, meskipun muak, aku sudah patuh atas kehendakmu. Kini tinggal dua kali saja. -

- Hai ! Jangan buru-buru membuat perhitungan ! -tungkas Rawayani dengan tertawa. - Kali ini bukan bercanda lagi. Aku benar-benar bersungguh-sungguh. Kalau tidak percaya, coba bergeraklah berbareng menarik nafas ! Kau merasakan sesuatu di jalan darahmu atau tidak ? -

Mau tak mau Gemak Ideran patuh pada kehendak Rawayani berbareng ingin membuktikannya. Pelahan-lahan ia menghirup nafas dan ditahannya dalam perutnya. Kemudian ia bermaksud hendak menggerakkan tangan nya. Ternyata sama sekali ia tidak merasakan sesuatu yang tidak beres. Sekarang ia bermaksud melepaskan pukulan tenaga himpunan sambil hendak memaki Rawayani.

Tetapi mendadak saja ia merasakan sesuatu yang aneh. Rasa gatal timbul di pelbagai jalan darahnya. la terkejut bukan kepalang. Lengan yang sudah digerakkan menjadi kaku dan panas luar biasa. Panas itu menyengat ke seluruh tubuhnya. Hai, kenapa ? .

Rawayani seperti sudah dapat membaca keadaan hati-nya. Sambil bertolak pinggang ia berkata :

- Bagaimana tuan besar? Bukankah aku tidak bercanda lagi? Maka hitunganmu tidak berlaku. Kau tetap masih hutang tiga kali.

-

Pelahan-lahan Gemak Ideran menurunkan lengannya. la membungkam. Seperti mengomeli diri sendiri ia berkata setengah berblsik :

- Sungguh ! Tak kusangka llmu Batu Panas begini hebat. Cing Cing Goling sudah mencapai tingkat tujuh. Siapa yang bisa melawan kehebatannya? Apalagi kalau saling ber-hadapan. -

-.Jangan berkecil hati. Kau bersembunyi di dalam kamar yang berjarak kurang dari lima belas meter. Meskipun demikian, masih saja engkau tergerayang ilmu sakti itu. Artinya, himpunan tenaga saktimu masih lemah.- Rawayani menghibur. -Tetapi andaikata tenaga saktimu kelak akan mencapai tingkat kesempurnaan sesudah sepuluh atau limabelas tahun, itupun tidak ada gunanya. Sebab pada saat itu, kau tidak akan dapat menolong diri. -

- Maksudmu? - Gemak Ideran tak mengerti. - Pada saat ini hawa beracun Ilmu Batu Panas sudah mengeram dalam dirimu Untung saja, kau hanya tersambar hawanya.

Dibandingkan dengan himpunan tenaga saktimu kini, kadarnya belum dapat merusak jiwamu Akan tetapi bila kau biarkan mengeram sampai sepuluh atau limabelas tahun lagi, akibatnya jauh berlainan. Seperti kataku tadi, kau tidak akan dapat mengusirnya, meskipun andaikata himpunan tenaga saktimu sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Bukankah kakimu kini terasa ringan? -

Gemak Ideran mengangguk.

- Rasanya kau seperti tidak menginjak tanah, bukan? - Kembali lagi Gemak Ideran mengangguk.

- Nah, itulah dia ! - ujar Rawayani. - Syukur, engkau tidak bertempur secara langsung Karena itu, meskipun aku berhasil membuat Cing Cing Goling berkecil hati, namun ilmu saktinya sudah berhasil menggempur keenam lawannya. Mereka bakal mati dalam waktu pendek. Mungkin tidak sampai dua minggu lagi. Sebab hawa beracun Batu Panas mengenai jantungnya.

Sebaliknya engkau tidak. Dengan himpunan tenaga saktimu, kau akan dapat memusnahkan hawa beracun itu walaupun memerlukan waktu lama. Hawa beracun itu bisa kau tekan keluar sehingga tidak sampai menjamah jantung. Dengan begitu, engkau dapat menolong jiwamu. Akan tetapi tidak dapat menolong kedua kakimu. Kau bakal lumpuh. - Mendengar keterangan Rawayani, Gemak Ideran tercenung sejenak. Lalu tertawa pedih. Katanya setengah ber-seru :

-Wah aku bakal tersiksa setiap hati. Hidup begitu, apa sih enaknya. -

Setelah berkata demikian, ia memutar tubuhnya kembali dan melangkahkan kakinya. Pada saat itu timbul niat-nya hendak mengadu jiwa dengan gerombolan orang bertopeng yang menyerang pesanggerahan.

- Hei ! Kau mau ke mana? - seru Rawayani dengan perasaan heran.

- Secara tidak langsung, Cing Cing Goling sudah meluruskan jalan hidupku. Ayah-bundaku mati di medan laga Maka sudah sepantasnya pula aku mati dalam suatu pertempuran. Sebentar lagi aku akan membunuh orang-orang yang menyerang pesanggerahan sebanyak-banyaknya. -

Mendengar jawaban Gemak Ideran, Rawayani mendengus. Serunya :

- Apakah jiwamu tidak berharga lagi sehingga engkau akan bertempur sampai mati ? Apakah jiwamu seharga jiwa-jiwa mereka ? -

Mendengar kata-kata Rawayani, hati Gemak Ideran tercekat. Benarkah harga jiwanya senilai dengan gerombolan bertopeng itu ? Mungkin benar, mungkin pula tidak. Yang terasa, ia tidak rela. Dibandingkan dengan jiwa ayah-bunda-nya yang gugur di medan perang melawan Kompeni Belanda, masih terpaut jauh maknanya. Tiba-tiba suatu pikiran menusuk benaknya yang membuat hatinya berdebar-debar Pikirnya :

- Apakah dia bermaksud hendak menolong aku? Kalau dia sampai menolong diriku aku bakal berhutang budi pa-danya. Belum lagi membayar lunas janjiku, sudah terbelenggu lagi. -

Oleh pikiran itu, ia menghentikan langkahnya. Akan tetapi mulutnya membungkam Rupanya Rawayani dapat membaca hatinya. Dengan langkah pelahan gadis itu menghampirinya. Berkata dengan tertawa manis :

- Ideran ! Apakah aku boleh memohon sesuatu kepada-mu?-

- Memohon apa ? - Gemak Ideran tercengang - Sebentar atau lama, aku akan lumpuh. Ada yang dapat dilakukan oleh seorang yang lumpuh kedua kakinya ? -

- Seperti bunyi permintaanku pada fajarhari tadi. - sahut Rawayani. — Sudikah engkau membantu aku menuntut balas ? Hidupku tidakkan tenang, sebelum aku mencabut ji-wa Cing Cing Goling. -

- Aku bisa apa ? - Gemak Ideran tidak mengerti. - Dengarkan dulu kata-kataku ! - tungkas Rawayani. - Aku tidak mengerti Ilmu Sakti Batu Panas. Akan tetapi pada jaman ini, hanya aku seorang yang dapat mengobati seseorang yang terkena ilmu beracun itu. Aneh, bukan? Begini keterangannya. Ilmu Sakti Batu Panas itu milik keluargaku. Termuat dalam empat kitab. Cing Cing Goling mencuri tiga kitab. Tetapi kitab yang keempat berada di tanganku. Isinya tentang cara menolong orang yang terpukul hawa Batu Panas. Sekarang kepandaianku itu akan kutukarkan dengan kesanggupanmu Ringkasnya, kita saling

tukar-menukar. Engkau bersedia membantu aku menuntut balas dan aku akan mengobati lukamu. Bagaimana ? -

Gemak Ideran adalah seorang pemuda yang cerdas dan pandai berpikir. Dengan cepat ia dapat menebak apa yang tersirat di balik ucapan Rawayani. Katanya di dalam hati .

- Hm, betapa mungkin aku bisa membantunya menuntut balas terhadap Cing Cing Goling. Meskipun aku berlatih sampai sepuluh atau limabelas tahun lagi, tidakkan mampu. Dia pasti tahu. Tetapi apa sebab dia meminta diriku untuk membantunya? Bahkan dia menggunakan istilah memohon. Apakah dia bermaksud baik dan merendahkan diri? Agak-nya dia tahu, aku akan menolak uluran tangannya. Lalu ia mengajukan tawaran seolah-olah dirinya yang perlu perto-longanku. Dengan begitu, ia tetap menempatkan berada di atasnya. Bagus, memang. Tetapi kalau kuterima, bukankah aku berhutang budi kepadanya? - - Bagaimana ? - Rawayani mendesak setelah melihat Gemak Ideran tertegun-tegun. - Bukankah adil ? -

- Rawayani. - akhirnya Gemak Ideran membuka mulutnya. - Sebenarnya engkau mengharapkan apa dariku? -

- Oh, itukah yang kau tanyakan? - Rawayani menyahut dengan suara agak genit. - Jawabannya, mudah sekali. Itulah karena kesalahanmu sendiri. -

- Kesalahanku? -Gemak Ideran tercengang. - Dalam hal apa? -

- Karena engkau putera Adipati Sawunggaling. -

- Lalu kenapa ? -

— Terus terang saja, keluargaku pengagum ayah-bunda-mu. Ayah-bundamu gugur di medan perang menghadapi jumlah lawan yang tidak seimbang. Hal itu membuktikan kekerasan dan keteguhan hati. Dan kekerasan serta keteguhan hati itu pasti berada pula dalam dirimu. Tegasnya, aku membutuhkan kekerasan dan keteguhan hatimu. Jelas?-

- O, jadi engkau mengharapkan pengorbanan? Baik, aku bersedia berkorban bagimu. Kapan aku harus mati? -sahut Gemak Ideran dengan suara setengah menggeram.

Rawayani tercengang. Kemudian tertawa geli. Serunya : — Hei ! Hei ! Siapa yang menyuruhmu mati untukku ? Aku hanya mengharapkan engkau bersedia memban tuku. Baiklah, man kita berbicara yang jelas dulu ! Kau memang bersedia mati. Bila engkau mati di tangan Cing Cing Goling, bagimu sendiri tidak penting. Sebab niatmu ingin mati. Sebaliknya tidak demikian bagiku. Aku tetap belum dapat menuntut balas. Kematianmu sendiri belum berarti engkau sudah melunasi janjimu terhadapku. Karena engkau belum dapat mewujudkan menuntutkan dendamku. Bukankah aku memohon padamu agar engkau membantu diriku menuntut balas terhadap Cing Cing Goling ? —

Mau tak mau Gemak Ideran menghela nafas. la benar-benar merasa kuwalahan. Seperti orang berputus asa ia ber-kata :

— Baiklah. Sekarang apa kehendakmu? -Rawayani tertawa menang. Sahutnya gembira :

— Berarti engkau sudah menerima permohonanku, bukan? Nah, selanjutnya bisa diatur. -

— Bisa diatur bagaimana ? —

— Kau takut mati atau tidak? Kalau tidak takut mati, boleh melihat apa yang kubawa. Kalau takut mati, pejamkan matamu ! -

Panas hati Gemak Ideran. Baru ia hendak mendamprat-nya, mendadak ia melihat gerakan Rawayani yang aneh. Gadis itu merogoh sesuatu yang disembunyikan di bawah sebelah payudaranya. la mengeluarkan sebuah tas yang terbuat dari anyaman rumput . Sambil membuka tas rumputnya, ia berkata seraya tertawa :

— Dia akan jadi penurut asal masih merasakan kehangat-anku. Dasar laki-laki, sih. —

Dengan kedua jarinya, ia menarik seekor ular sebesar jari kelingking. Panjangnya kira-kira tigapuluh senti. Warnanya kuning mengkilat keemas-emasan. Di tengah malam gelap gulita binatang itu seperti membersitkan cahaya kemilau.

— Kau tidak takut, maka aku akan menerangkan. Po-koknya bisa dilawan dengan bisa. Racun harus pula dilawan dengan racun. Ingat-ingatlah hal itu ! Kau sudah kemasukan hawa berbisa atau hawa beracun Ilmu Batu Panas. Maka cara perlawanannya harus dengan bisa pula. Begitu pula, kau kini sudah merasakan tangan jahat Cing Cing Goling. Maka untuk membalasnya jangan sok baik hati soh berbelas kasihan. Bagaimana? Kau takut atau tidak melihat ularku yang berbisa ini ? —

Selagi Gemak Ideran hendak menjawab, tiba-tiba saja tangan Rawayani sudah bekerja dengan cepat. Ular berbisa yang berada di antara dua jarinya dipagutkannya di dahinya. Betapa beranipun seseorang ia akan mengedipkan kedua matanya begitu tersentuh gerakan tangan orang yang menerobos masuk di antara kedua matanya. Pada detik itu pula, Gemak Ideran hanya merasakan suatu sengatan yang panas luar biasa melebihi bara api.

Barangkali sepanas batu cap lembu yang merah marong yang diselomotkan. Hampir-hampir saja ia berteriak kaget. Syukur waktu itu teringatlah harga dirinya. Dengan mati-matian ia mengeratkan barisan gigi nya untuk menahan rasa sakit.

Ternyata Rawayani bekerja sangat sebat. Sebelas kali ia memagutkan ularnya ke tempat-tempat tertentu. Mulai dari dahi, sekitar leher dan tengkuknya. Rasa sakit yang menyengat Gemak Ideran tidak tertahankan. Di dalam hati Gemak Ideran sudah merasa kalah. Syukur tepat pada detik itu, Rawayani menghentikan gerakan tangannya. la memeriksa ularnya. Cahaya kemilau yang tadi membersit dari badan binatang berbisa itu mendadak buram. Rawayani membantingnya di atas tanah dan diinjaknya sampai berlumat.

— Inilah cara pengobatan yang luar biasa. - pikir Gemak Ideran di dalam hati. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. — Dia menggunakan ular berbisa. Tetapi mengapa aku patuh padanya?


Hebat pagutan ular berbisa itu. Kalau saja Rawayani ber-maksud jahat, Gemak Ideran sudah tewas tersengat bisa ularnya. Gemak Ideran mempunyai kesan sendiri terhadap Rawayani. Gadis itu seperti anak iblis.

Tangannya ganas dan tidak mengenal ampun terhadap lawannya. Tetapi sekali lagi ia bertanya kepada dirinya sendiri, apa dia percaya kepada-nya? Apakah karena ia takut mati akibat racun Ilmu Sakti Batas Panas? Lalu mengharapkan malaekat menolongnya melalui tangan gadis itu ? Gemak Ideran benar-benar tidak mengerti dirinya sendiri. Selagi ia berkutat menahan rasa sakit dan gejolak perasaannya yang merumun dalam benak dan rongga dadanya, Rawayani berkata .

— Bagus ! Kau percaya kepadaku. Sekarang, kuminta engkau menanggalkan bajumu ! —

Dengan berdiam diri, Gemak Ideran mematuhi perintah Rawayani tanpa membantah sedikitpun. Rawayani sendiri, merogohkan tangannya di dalam tas jeraminya. Kembali lagi ia menjepit seekor ular yang bercahaya kemilau. Lalu berkata menggoda :

- Eh ! Bagaimana kalau engkau tiba-tiba mati? Terus te-rang saja, inilah untuk yang pertama kalinya aku mengobati orang. —

Jelas sekali gadis itu sedang menggoda. Akan bukan mustahil pula berkata dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu berarti, bahwa Gemak Ideran berkedudukan tak beda sebagai kelinci percobaan. Memperoleh pikiran demikian, tiba-tiba saja Gemak Ideran dihinggapi rasa takut terhadap gadis itu. Benar-benar berkesan sebagai iblis yang luar biasa licin dan ganasnya. Tetapi karena sudah merasa terlanjur timbullah tekatnya. Kalau memang harus mati, biarlah mati. Di dunia ini tiada yang perlu disesalkan, kecuali ketololan-nya sendiri.

Cap, cap, cap ! Kembali lagi Rawayani memagutkan ularnya yang berbisa. Mula-mula di atas punggungnya. Lalu memutar ke dadanya. Karena gadis itu bekerja dengan sungguh-sungguh dan cepat luar biasa, ia mulai berkeringat pula. Dan keringatnya tercium oleh pernafasan Gemak Ideran. Itulah keringat khas seorang gadis. Namun karena terpagut oleh rasa sakit, tak dapat Gemak Ideran menikmatinya. Sebaliknya pula, tidak dapat membuang kesan penciumannya.

Sementara itu Rawayani sudah memagutkan sebelas kali. Begitu cahaya ularnya buram, segera ia membanting nya di atas tanah dan diinjaknya sampai berlumat. Gemak Ideran menggigil oleh rasa sakit yang luar biasa. la belum mati dan juga belum hidup.

Dirinya seolah-olah melayang-layang di antara bumi dan langit.

- Bagus ! Kau hebat juga ! - Rawayani berseru dengan tertawa gembira. - Sekarang tinggal seekor. Buka celanamu ! -

- Apa? Celanaku? - Gemak Ideran terkejut. - Tidak bisa ! Tidak bisa ! -

- Kenapa tidak bisa? ~ Rawayani heran. - Bukankah engkau mengenakan celana dalam? —

- Betul, tetapi terlalu minim. -

Rawayani tertegun sesaat. Lalu setengah membentak :

- Jangan rewel ! Buka celanamu ! Atau aku yang akan membukanya? -

Seumpama di sianghari, warna wajah Gemak Ideran akan nampak merah membara oleh rasa terkejut, malu dan Untung waktu itu malam gelap gulita. Meskipun demikian mukanya terasa panas. Apalagi mendengar niat Rawayani hendak memaksa membuka celananya. Daripada dibuka seorang gadis bukankah lebih baik dibukanya sendiri? Untung, dia seorang pemuda yang masih berhati bersih. Agaknya Rawayani demikian pula, sehingga tidak timbul pikiran yang bukan-bukan. Atau mungkin pula, karena rasa birahi Gemak Ideran tidak sempat berkembang oleh rasa sakit yang nyaris tak tertahankan. Sedang seluruh perhatian Ra- wayani terpusat pada cara pengobatannya.

Demikianlah akhirnya Gemak Ideran membuka celananya juga meskipun dengan hati berat dan malu. Begitu celananya jatuh di atas tanah, yang tertinggal hanya celana dalamnya yang minim. Tetapi Rawayani tidak membiarkan pikirannya berkembang lebih lanjut. Pada saat itu, ularnya yang ketiga dipagutkan lagi mulai dari paha bagian atas sampai ke tumit. Tiba-tiba Gemak Ideran merasa gatal luar biasa. Rasa gatal sengatan ribuan semut merah, tetapi yang timbul dari bagian dalam kulitnya. Bukan main hebat penderitaan pemuda itu.

Menahan rasa gatal lebih sulit daripada berjuang menahan rasa sakit.

Rupanya Rawayani mengerti apa yang terjadi dalam diri Gemak Ideran. Terus saja ia membantingnya di atas tanah dengan suatu tendangan tepat. Karena Gemak Ideran tidak bertenaga lagi, ia jatuh terkapar di atas tanah dengan sangat mudah. Dan begitu terkapar di atas tanah, Rawayani menindihnya. Ularnya dipagutkan lagi pada bagian bagian terten-tu. Setelah cahayanya buram, ia membantingnya di atas tanah dan diinjaknya sampai berlumat .

Selesailah sudah tugasnya mengobati Gemak Ideran yang terserang hawa beracun Ilmu Batu Panas. Nafasnya kini memburu. Dan ia membiarkan dirinya duduk di atas punggung Gemak Ideran untuk sekedar melepaskan lelah-nya. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri dan berkata kurang Lincar :

- Hanya jenis ular itulah satu-satunya yang dapat melawan racun Ilmu Batu Panas. Karena engkau hanya terkena hawanya saja, cukuplah dengan tiga ekor. Sekiranya sampai menyerang jantung, engkau harus menderita sekian kali lipat. -

Gemak Ideran membungkam. Sama sekali ia tidak membuka mulutnya. Andai kata dia bermaksud berbica rapun tidakkan berdaya lagi. Seluruh tenaganya seperti terlolosi. Tetapi pandangan mata dan pendengarannya tidak berkurang sedikitpun. Sekarang ia makin yakin, bahwa gadis itu bermaksud baik terhadapnya, meskipun hatinya kurang puas karena merasa diperlakukan sebagai anak kemarin sore.

— Itulah sebabnya aku menyatakan. bahwa pada jaman ini hanya aku seorang yang dapat menolong seseorang yang terpukul Ilmu Sakti Batu Panas. Sebab di seluruh dunia ini, hanya keluargaku yang memelihara jenis ular itu. Hai, kenapa engkau tengkurap saja, Duduklah bersemadi dan salurkan nafasmu untuk mendorong peredaran darahmu ! 

Rasa gatal itu memang luar biasa. Syukur hanya berlaku sekejap mata saja. Mungkin karena hawa beracun yang mengeram di dalam dirinya belum cukup kuat sehingga dapat terusir bisa ular dengan mudah. Meskipun demikian, tatkala Gemak Ideran mencoba duduk, seluruh tubuhnya menggigil tak ubah seorang kakek yang terkena penyakit berat dan se-dang mencoba menggerakkan anggauta badannya. Namun Gemak Ideran tidak mau kalah menghadapi kenyataan itu. Dengan mengeretak giginya, ia mengumpulkan segenap te-naganya. Lalu duduk bersila dan mencoba bersemadi.

- Hai ! - ia bergembira di dalam hatinya. Tiba-tiba saja pernafasannya terasa menjadi longgar dan nyaman. Terus saja ia mulai mengamati peredaran darahnya. Meskipun agak lambat tetapi terasa makin lancar. Akhirnya hawa panas yang sebentar tadi terasa mengganggu kedua kakinya tiada lagi. Terus saja ia bermaksud hendak berdiri. Tiba-tiba Rawayani membentak :

- Hai ! Jangan menggerakkan anggauta tubuhmu ! Kau mau mati? Pada saat ini, hawa racun Ilmu Batu Panas belum musnah benar-benar dari tubuhmu. Bersemadilah terus ! -

Oleh bentakan Rawayani, Gemak Ideran membatalkan niatnya. Kembali lagi ia memusatkan diri. Sebentar tadi ia sudah merasakan rasa nyaman. Tetapi kini justru sebaliknya. Peredaran darahnya jadi kacau balau seperti medan perang. Apakah akibat pertempuran antara racun Batu Panas melawan bisa ular? la tidak sempat untuk main tebak-tebakan. Yang terasa, nalurinya mengajak dirinya untuk bertahan sekuat mungkin.

- Hebatnya hawa beracun Batu Panas mempunyai sifat yang berubah-rubah. - Terdengar Rawayani berkhotbah. -Sebenarnya yang membuat dirimu terkena hawa beracun Batu Panas adalah gerakan perlawanan Tambal Pitu terhadap kedua lawannya.

Terutama sewaktu dia melawan Surajaya. Dia terpaksa menggunakan Ilmu Sakti Batu Panas tingkat lima. Hawa pukulannya sudah cukup membunuh lawan. Pada waktu itu kita masih saja bersembunyi di dalam kamar. Bukankah begitu?

Tetapi karena ilmu yang dimiliki Tambal Pitu berasal dari Cing Cing Goling, maka aku menyebutnya sebagai biang keladinya. Tidak salah, bukan? -

Gemak Ideran tidak berani membagi perhatian. Tetapi pendengarannya yang tidak kurang suatu apa tetap saja dapat menangkap setiap patah kata Rawayani. Gadis itu rupanya ingin memperbaiki kata-katanya dengan alasannya sendiri. la menyebut-nyebut Cing Cing Goling sebagai penyebabnya.

Mungkin dimaksudkan untuk lebih mengcsankan dirinya betapa berbahaya racun yang mengeram di dalam dirinya.

Kalau kini dikatakan akibat dari pukulan-pukulan Tambal Pitu yang menggunakan Ilmu Batu Panas tingkat lima, itupun tidak mengubah makna sebenarnya. Diapun menyaksikan betapa tangguh Tambal Pitu sewaktu melawan Tunggul Tuban dan Surajaya. Yang perlu diingat-ingat adalah perangai, sifat dan tabiat Rawayani. Ucapan dan kata-katanya bisa berubah setiap waktu. Suara hatinya membisiki, agar mulai saat itu ia harus berhati hati dan berwaspada terhadapnya. Baik mengenai tingkah lakunya mau pun ucapannya.

Tetapi justru dia memperoleh sikap batin demikian. Rawayani tidak berbicara lagi. Gadis itu tiba-tiba melangkah-kan kakinya. Pada langkahnya yang keempat ia membatik-kan tubuhnya dan berkata :

- Kau perlu mengjsi perutmu agar memperoleh tenaga.Kau tunggulah sebentar ! Aku sudah menyediakan. O ya kau

masili ingat di mana aku meluinatkan ularku, bukan ? Kalau kau sudah dapat bergerak, jangan sekali-kali melintasi. Sisa racunnya masih berbahaya sedangkan tubuhmu tidak memerlukan lagi.

Sisa racun baru menguap sirna, manakala kena cahaya matahari

-

Sebenarnya mendongkol hati Gemak Ideran. la merasa dirinya diancam oleh sangsi-sangsi terten tu. Tetapi karena tidak berani membagi perhatian, ia membiarkan Rawayani pergi meninggalkan dirinya di tengah ladang belukar. Kira-kira seperempat jam lagi, hilanglah semua goncangan yang terjadi dalam tubuhnya. Sedikit demi sedikit ia merasa mulai pulih sendiri. Hanya saja, tiba-tiba ia merasa agak mual seperti ingin berlontak. Celakanya rasa ingin berontak itu kurang kuat tenaga dorongnya, sehingga terasa hanya menyumpal bagaikan gumpalan hawa belaka. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk bcnaknya. Bukankah ia sudah terlalu lama mcninggalkan pesanggerahan? Celaka, pikirnya.

Memperoleh pikiran demikian, hatinya gelisah

luar biasa. la mencoba menggerakkan tangannya. Rasanya tiada halangannya. Hanya saja masih lemah. Lalu kedua ka kinya.

Juga tiada halangannya.

— Kalau begitu aku bisa kembali ke pesanggerahan, se-lagi dia tidak berada di sini. — pikirnya di dalam hati.

Pelahan-lahan ia berdiri dan mengenakan celananya. Lalu merapihkan diri. Terasa sekali betapa lunglai seluruh ang-gauta badannya. la jadi cemas sendiri. Dalam keadaan demi-kian, dapatkah ia bertempur membantu Diah Windu Rini dan Niken Angga? la berbimbang-bimbang. Tiba-tiba jiwa satrianya tidak mengijinkan. Pikirnya lagi di dalam hati :

- Mati bukan soal bagiku. Akan tetapi seorang satria tidak boleh mengecewakan orang yang sudah menolong diri-nya. Betapapun juga, aku sudah berhutang budi padanya. Biarlah aku menunggunya sampai dia kembali. Pada saat itu, aku akan mohon diri. -

Karena memperoleh pertimbangan demikian, ia memba-talkan niatnya meskipun hatinya gelisah bukan main. Untuk menenteramkan keadaan hatinya, ia duduk bersemadi kembali. Setengah jam kemudian, Rawayani datang kembali dengan menenteng sebuah keranjang. Seperti seorang isteri mengirimkan rantang makanan kepada suaminya yang bekerja di sawah, gadis itu lantas saja duduk tak jauh daripada Gemak Ideran. Dengan cekatan ia mengeluarkan dua bungkus nasi dan lauk-pauknya.

Katanya :

- Nih kubawakan sebotol minuman pula. Lauk pauk-nya terdiri dari ayam dan daging goreng. Kau harus memakannya habis, agar memperoleh tenagamu kembali. -

Gemak Ideran menerima angsuran bungkus nasi dan lauknya. la membukanya dan mencium bau sedap yang membuatnya perutnya terasa lapar. Terus saja ia mulai makan dan menggeragoti paha ayam. Rawayani ikut makan pula sambil berbicara. Katanya :

- Aku tahu, kau putera Adipati Sawunggaling. Tetapi engkau baru mengenal namaku Mungkin pula kau sempat mendengar nama ayahku. Cing Cing Goling menyebut diriku anak Dipayuda. Tetapi sesungguhnya tidak Aku puteri Kediri. Kakekku pernah menjabat sebagai Adipati Banda-wasa. Menurut kabar, kakeklah yang menyimpan pedang pusaka Sangga Buwana. -

- Menurut kabar, katamu? — Gemak Ideran menegas.

- Ya, karena waktu itu aku belum dilahirkan. — Rawayani menjawab sambil mengunyah nasinya.

- Kau berkata, guru Cing Cing Goling mencuri kitab Ilmu Sakti Batu Palias dari kakekmu. Benarkah itu? - - Benar. - - Rawayani menentangnya dengan pandang berkilat- kilat. -

- Guru Cing Cing Goling adalah pelayan kakek. Setelah kakek terbunuh, ayah pindah ke Kediri. Di kota itu, aku dilahirkan. -

- Apakah ayahmu seorang adipati pula? -

- Bukan. Ayah hanya seorang Bupati. Bupati Kediri untuk beberapa tahun lamanya. Sebab pada suatu hari Cing Cing Goling membunuhnya. Lalu aku dibawa Ibu mengungsi ke Kartasura. Di Ibukota itu aku dipungut sebagai anak Panglima Dipayuda. Sebenarnya hidup ibu sudah layak. Akan tetapi ibu tidak pernah melupakan dendamnya terhadap Cing Cing Goling yang merusak kebahagiaan hidup kami sekeluarga. Maka aku diwajibkan untuk menuntut dendam. Kau mau membantuku, bukan? -

Gemak Ideran berhenti mengunyah. la menatap wajah Rawayani yang bersembunyi di balik tirai malam. Namun ia masih ingat, wajah Rawayani sangat cantik. Sekarang ia mendengar riwayat keluarganya yang mengharukan. Tiba-tiba saja hatinya menjadi iba. Barangkali oleh rasa iba itu, tiba-tiba ia berkata :

- Aku akan menemanimu dan akan membantumu menuntut dendam keluargamu. -

Mendengar ucapan Gemak Ideran, Rawayani meletakkan bungkusan nasinya di atas pangkuannya. la membalas tatapan Gemak Ideran. Andaikata di sianghari Gemak Ideran akan melihat betapa cerah dan berbahagia pancaran wajahnya.

- Ideran ! Aku tahu hatimu mulia - katanya dengan tertawa manis luar biasa.

- Karena itu, biarlah kudongeng-kan. Meskipun aku dibesarkan di Kartasura, akan tetapi sanak keluarga ibu berada di Kediri.

Seringkali aku berada di Kediri. Bahkan pernah untuk beberapa bulan. Ayah ibu, jadi kakekku juga, berdiam di sekitar Goa Mangleng. Di sekitar goa itu, aku memelihara ular-ularku. Kau ingin tahu nama ularku yang istimewa tadi? Kakek menamakan Ular Locaya. Menurut kepercayaan penduduk itulah binatang piaraan Buta Locaya pada jaman Sri Apanji Jayabaya.

Barangsiapa kena pagutnya akan menjadi budak Buta Locaya seumur hidupnya.—

Mendengar kata-kata yang terakhir itu, hati Gemak Ideran tercekat. Apakah Rawayani sedang menyindirnya? Dia-pun sudah terpagut ular berbisa Locaya. Tadi menyatakan sanggup akan membantu menuntutkan dendam gadis itu.

Bukankah      dia      sudah      jadi      budaknya? Atau....atau sesungguhnya bisa ular berbahaya itu sudah

mengeram dalam diri-nya, sehingga mau tak mau ia harus menjadi budak Rawayani demi memperoleh obat pemunahnya? Memperoleh pikir-an demikian, darahnya bergolak hebat dan tiba- tiba hatinya jadi panas. - Kau telah merebut jiwaku. Maka sudah sepantasnya aku menjadi budakmu — ujarnya setengah bergumam.

Rawayani tertawa geli. Sahutnya :

- Kau sendiri Iho yang berkata. Bukan aku ! Kalau kau kuanggap budakku, mustahil aku sudi mengobatimu dengan tanganku sendiri. Tentunya hatimu kini ikut mengutuk Cing Cing Goling yang menjadi biang keladinya sampai engkau perlu menerima bantuanku. Tetapi aku tidak merasa membantumu atau menolongmu. Aku justru sedang mengadakan tukar-menukar jasa. Aku mengobatimu dan engkau membantuku kelak.

Dimanakah ada kata-kata budak atau bertujuan membuatmu menjadi budakku? Bahkan akulah yang memohonmu. -

Dibantah demikian rumunan pikiran yang memenuhi benak dan hatinya jadi buyar. Namun masih saja ia mencoba. Sambil melemparkan tulang paha ayam, ia berkata :

- Kau tahu, aku tidak berdaya menghadapi Cing Cing Goling. Bahkan berlawan-lawanan dengan Tambal Pitu, tidak mampu. Buktinya aku terkena hawa beracunnya tanpa kusadari Lalu kau mengharapkan aku membantumu. Meskipun kau menghendaki diriku untuk ikut membalaskan dendam, apa sin kebisaanku kalau bukan hanya untuk menjadi budakmu? -

- Tentu saja bukan malam ini, besok, lusa, sebulan lagi atau satu tahun lagi. Tetapi setelah engkau berkepandaian tinggi melebihi kepandaian Cing Cing Goling. - sahut Rawayani dengan cepat. - Nah, pada saat itulah engkau kumohon menuntutkan dendamku. -

Mendengar ucapan Rawayani, tak dikehendaki sendiri Gemak Ideran tertawa. Katanya dengan suara tawar :

— Rawayani, biarlah aku berbicara terus terang. Andai-kata aku berlatih duapuluh tahun lagi, kepandaianku tidak akan bisa menandingi kepandaian Cing Cing Goling. Sebab, seperti katamu tadi, kepandaian Cing Cing Goling maju pesat pula dalam waktu duapuluh tahun lagi. -

Rawayani tertawa. Sahutnya :

- Ilmu Sakti Batu Panas kau akui sebagai ilmu yang dahsyat, bukan? Memang duapuluh tahun lagi, kau tetap bukan tandingnya. Tetapi kau lupa, bahwa ilmu saktinya berasal dari keluargaku. -

- Oh ! Jadinya engkau mengharapkan aku mempelajari ilmu pemunahnya dari tanganmu? Kesana kemari, akhirnya aku toh akan menjadi budakmu, bukan? - Gemak Lderan mendongkol.

- Bukan ! Bukan ! - tungkas Rawayani. - Sudah pernah kukatakan padamu, kakck sendiri tidak kuasa melawan.Berarti keluarga kami tidak mempunyai ilmu pemunah-nya. —

- Lalu? - - Kau pernah mendengar nama Empu Kapakisan? Dia seorang sakti luar biasa yang hidup pada jaman Majapahit. Kau pernah pula mendengar kesaktian Pangeran Jayakusuma ? Ilmu saktinya berada jauh di atas kepandaian Cing Cing Goling. Artinya, di dunia ini masih terdapat ilmu kepandaian yang berada jauh di atas ilmu kepandaian Cing Cing Go-ling. Karena itu, engkau tidak perlu berkecil hati. -

- Baiklah. — potong Gemak Ideran. — Jadi aku kau suruh duduk melamunkan kesaktian-kesaktian orang jaman dulu?-

- Bukan ! Bukan begitu ! Tetapi pada suatu kali kau akan kuajak mencari ilmunya. -

- Maksudmu ilmu warisan Pangeran Jayakusuma atau Empu Kapakisan? —

- Juga bukan. Tetapi ilmu kepandaian seorang maha-sakti yang bermukim di atas puncak Gunung Lawu. Jika engkau sudah berhasil mewarisinya, kepandaian Cing Cing Goling tidak berarti lagi bagimu. Dia ibarat tembakau yang bisa kau pilin-pilin -

Gemak Ideran tertawa. Hatinya makin mendongkol. Sahutnya :

- Wah, tentunya dia seorang maha pendekar yang maha sakti. -

- Tentu saja. -

- Tentunya kau sudah tahu di mana dia berada. -

- Tentu saja. - - Kalau sudah tahu, mengapa mengajak diriku? Warisi-lah sendiri

! Apa perlu membagi rejeki kepadaku. - Rawayani tertawa. Katanya :

- Karena aku membutuhkan bantuanmu. -

- Dalam hal apa aku bisa membantumu? -

- Sebab tempatnya sangat sulit. Binatangpun tiada. Hanya seorang yang tabah, ulet dan keras hati sajalah yang ke- mungkinan besar bisa mencapai tempat itu. Dan orang itu haruslah engkau. -

- Kenapa aku? -

- Seperti kataku tadi, karena engkau putera Adipati Sawunggaling yang berhati jantan, berani, tabah dan keras hati. -

Gemak Ideran mengeluh. Tiba-tiba saja ia merasa sebal Dan tiba- tiba pula teringatlah ia kembali kepada ancaman orang-orang bertopeng yang akan menyerang pesanggerahan. Barangkali mungkin sudah terjadi. Terus saja ia berdiri dan melangkahkan kakinya.

- Hei, mau ke mana? -

Gemak Ideran menghentikan langkahnya. Menyahut :

- Oh ya, aku mohon diri. -

- Hei bukankah engkau sudah menyatakan sanggup hendak membantuku membalas dendam? -

- Janjiku akan kutepati. Tetapi satu bulan lagi aku baru bisa menyertaimu. -

- Kenapa satu bulan lagi? -

- Malam ini aku harus cepat-cepat balik ke pesanggerahan. -

- Kenapa satu bulan lagi? -

Gemak Ideran menyenak nafas. Menjawab :

- Taruhkata aku selamat, aku harus menyertai Niken pulang ke Kartasura. Eh tidak ! Mungkin sekali dia menghadang ayahnya di Gunung Lawu. -

- Lalu sekarang engkau hendak bertempur melawan orang-orang bertopeng? -

Gemak Ideran mengangguk seraya berkata :

- Sekarang aku mohon diri. -

Setelah berkata demikian, ia memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Rawayani berseru lantang:

- Aku melarangmu balik ke pesanggerahan. -

- Apa? — Gemak Ideran terperanjat.

Sama sekali tak diduganya Rawayani berkata demikian. Bukankah Diah Windu Rini dan Niken Anggana berada dalam bahaya? la memutar tubuhnya sedetik dua detik. Lalu balik kembali dan melanjutkan langkahnya yang sempat merandek.

Namun pada saat itu, suatu kesiur angin menghantam dirinya. la terkejut. Tangannya menangkis. Tetapi ternyata tiada tenaganya. Andaikatapun masih bertenaga, diapun tidak sempat mengelak. Sebab serangan itu datangnya secara mendadak dan luar bia-sa. Dan yang menyerang adalah orang yang sama sekali tak diduganya.

Dialah Rawayani yang sebentar tadi menolong dirinya. Gemak Ideran tidak sempat memekik. Penglihatannya gelap dengan mendadak. Setelah itu tak sadarkan diri. Sebab pukulan itu tepat mengenai ulu hatinya. Tatkala siuman Kembali, ternyatar ia menelungkupi tanah. Tirai malam tiada lagi. Sebagai gantinya ia merasa suatu kehangatan yang nyaman. Itulah cahaya matahari di pagi hari.

"Hei ! Pagi !" ia terkejut bukan kepalang. la mencoba-coba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Gerakan tangan Rawayani masih sempat terbayang. Gerakan tangan yang menghantam ulu hatinya.

"Mengapa aku be-lum mati? Apakah aku sedang bermimpi?"

Gugup ia merangkak bangun dan memandang alam sekitarnya. la menjumput tanah dan dimasukkan ke dalam mulutnya. la mengunyahnya sambil mencubit lengannya. Rasa inderanya masih bekerja baik. Berarti bukan mimpi. Segera ia menyemburkan gumpalan tanah yang dikunyah-nya. Lalu memeriksa sekelilingnya. la melihat segumpal darah hijau kehitam-hitaman. Darah siapa? Segera ia meng-usap mulutnya dengan lengan bajunya.

"Darah ! Jadi darahku?" ia terlongong.

la tidak percaya, akan tetapi lengannya membawa wa/na darah setelah diusapkan pada mulutnya, Sewaktu hendak mengulangi, mat any a melihat secarik kertas. la memungut-nya. Ternyata terdapat dua baris kalimat yang berbunyi:

"Berangkat bila gumpalan racun berdarah sudah terlontak. Satu bulan lagi aku akan mencarimu,"

Membaca bunyi kalimat itu, Gemak Ideran tertegun-tegun. Sekarang, mengertilah dia. Rupanya Rawayani tahu, dirinya belum bebas benar dari ancaman racun. Kemudian Rawayani menghantam ulu hatinya.

"Aku jatuh tak sadarkan diri. Pada waktu itu mungkin sekali aku melontakkan darah segar." la mencoba mengerti. "Bukan mustahil gumpalan racun ikut terlontak keluar."

Teringatlah dia, bahwa ia merasa mual ingin lontak saja sebelum Rawayani datang membawa bungkusan nasi dengan lauk- pauknya. Oleh suatu pembicaraan yang tegang rasa mualnya untuk sementara terlupakan. Rawayani rupanya memandang perlu untuk segera melontakkannya. Untuk membuktikan hal itu, Gemak Ideran menyedot nafas sepanjang-panjangnya. Ternyata rongga dadanya terasa longgar sekali dan nyaman. Bahkan ia merasa pulih kembali seperti sedia-kala. Justru demikian, teringatlah dia kepada Diah Windu Rini dan Niken Anggana.

"Aduh, celaka !" ia berseru kaget. Seketika itu juga, wajahnya memucat. "Kalau sampai terjadi apa-apa, aku akan bunuh diri. Ayunda Windu Rini! Niken ! Aku membuatmu kecewa "

Terus saja ia lari sekencang-kencangnya. Tiada lagi pikirannya terusik apa sebab dia dapat lari begitu kencang. Seluruh pikirannya terpusat pada rasa cemas yang menghantui. Dia harus dapat mencapai pesanggerahan secepat mungkin. Tetapi begitu pesanggerahan nampak di depan matanya, hati dan darahnya bergolak hebat.

Pesanggerahan itu nampak sunyi senyap tak ubah se-buah kuburan. Justru kesunyiannya itulah yang membuat bulu kuduk Gemak Ideran bergeridik. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung saja ia memasuki halamannya.

Lalu menerobos pintu penghubung. Tiba-tiba saja suatu penglihatan membuat langkah kakinya terhenjti. Dua belas orang yang mengenakan topeng mati berserakan. Di antara mereka terdapat dua orang yang dikenalnya. Merekalah si Jakun dan Endang Maliwis. Entah apa sebabnya, hatinya lega berbareng kebat-kebit.

"Mereka semua memang bukan lawan ayunda Diah Windu Rini. Tetapi benarkah mereka mati begitu mudah? Disini pun tiada tanda-tanda bekas pertempuran seru !" pikirnya. "Jangan- jangan "

la tidak menyelesaikan kata hatinya sendiri. Terus saja ia memasuki kamar Diah Windu Rini. Kamar itu lengang. Juga tidak terdapat barang bawaan Diah Windu Rini dan Niken Anggana. la tercengang. Suatu teka-teki yang semrawut membuat ia tertegun- tegun beberapa saat lamanya. Lalu lari-lah ia memeriksa kamarnya sendiri. Barang bavvaannya masih utuh tak tersentuh. Apa artinya ini semua?

Suatu ingatan membuatnya ia lari ke belakang. Ia mencari pelayan dan pengurus pesanggerahan. Ternyata mereka kedapatan mati tersungkur dengan mata terbelalak. Ah ! Siapa yang membunuh mereka? Sekarang ia lari lagi memeriksa kandang kuda. Ternyata kuda Diah Windu Rini, Niken Anggana dan kudanya sendiri mati pula.

"Kalau begitu " ia mengurungkan dugaannya sebelum

mengadakan penyelidikan yang cermat.-Maka dengan kepala berteka-teki ia menghampiri tiga ekor kuda yang mati melintang. Sama sekali binatang-binatang itu tidak terluka. Tubuhnya masih utuh. Hanya saja, matanya terbelalak seperti terkejut dan kesakitan. Sekarang ia tidak ragu-ragu lagi. Katanya di dalam hati

:

"Kalau begitu, mereka semua mati terkena racun atau terkena sesuatu yang hebat. Tetapi kalau benar demikian apa sebab tidak terdapat ayunda Windu Rini dan Niken Anggana di antara mereka? Masakan racun bisa pilih kasih?"

Memperoleh pikiran demikian, ia kini jadi penasaran. Kembali lagi ia mengamati mayat-mayat yang mati berserakan. Merekapun mati tanpa menderita luka. Ah ! Masakan mereka mati dicekik hantu? Tiba-tiba suatu bayangan ber-kelebat di dalam benaknya. Benarkah hasil pekerjaannya?

Untuk meyakinkan hatinya, ia memasuki kamarnya. Buntalan pakaiannya, uang dan senjatanya masih berada di tempatnya. Kemudian ia melihat sesuatu yang membuatnya meremang. Di atas meja terdapat bangkai ular yang mati berlumat.

"Rawayani!" tak terasa terloncatlah ucapannya.

Meskipun semalam ia tidak sempat melihat ular berbisa piaraan Rawayani, tetapi cara matinya membuat ia yakin. la menghampiri hendak memeriksanya. Di atas alas meja terdapat guratan huruf yang menambah keyakinannya. Begini bunyinya :

"Apa sih susahnya membunuh cecurut? Ingat satu bulan lagi. "

Begitu membaca tulisan itu, ia tertegun tak ubah sebuah boneka yang tidak pandai berbicara.

Siapa lagi yang menulis kalimat demikian, kalau bukan Rawayani

? Sebab perjanjian satu bulan itu, hanya dia seorang yang tahu. Tak terasa ia merenungi bangkai ular yang mati terlumat di atas meja. Ke-palanya dibiarkan utuh. Mungkin dimaksudkan sebagai suatu peringatan atau suatu pemberitahuan.

"Memang ular ini bisa membunuh sebelas orang sekaligus sebelum cahayanya buram. Dengan melepaskan dua ekor saja, sudah membuat duapuluh dua orang terenggut ji-wanya. Apakah ayunda Diah Windu Rini dan Niken Anggana mengalami nasib yang sama?" pikirnya kacau.

Sesaat kemudian hatinya penuh harap. Rawayani pernah menolong Diah Windu Rini dan Niken Anggana secara tak langsung. Kemungkinan besar, ularnya tidak dibiarkan me-magut mereka berdua.

"Ih ! Sebenarnya dia seorang iblis atau bidadari penolong?" ia berkomat-kamit.

Mendadak saja ia dihinggapi rasa takut luar biasa terhadap gadis itu. Padahal satu bulan lagi, ia akan bertemu dan bakal mengikuti kemauannya. Rasanya tiada faedahnya ia akan bersembunyi.

Rawayani toh pasti akan dapat menemukan. Hai, mengapa dunia ini mendadak saja terasa men-jadi sempit?

18. BATU KARANG DI ATAS GUNUNG - I

DENGAN MEMANGGUL bungkusan pakaiannya, Gemak Ideran meninggalkan pesanggerahan. la mengarah ke Barat Daya.

Kecuali menjauhi jalan besar, ia mempunyai alasannya sendiri. Sebenarnya hanya main untung-untungan, Diah Windu Rini dan Niken Anggana pasti melanjutkan per-jalanannya ke Kartasura. Mengingat kuda mereka mati ter-pagut ular Rawayani, tentunya belum jauh meninggalkan pesanggerahan.

Kecuali bila mereka membeli kuda baru. Lalu teringatlah dia, Niken Anggana akan menunggu ayahnya di lembah Gunung Lawu. Berdasarkan ingatannya itu, ia kini mulai memasuki lembah Gunung Lawu. Dalam hal ini ia merasa malu sendiri. Malu terhadap Rawayani. Sebab gerak-gerik gadis itu mengambah jalan yang pasti dan diperhitungkan. Sebaliknya, dirinya tidak. la tidak terlalu pasti. Bukan mustahil, Diah Windu Rini menolak memasuki lembah Gunung Lawu walaupun Niken Anggana menghendaki demikian.

Selain itu, ia sesungguhnya buta terhadap situasi yang sedang terjadi. Pemberontakan Sunan Garendi hanya didengarnya sepintas dari tutur-kata pedagang keliling Tameng di atas perahu. Sunan Garendi dibantu laskar Cina, pelarian dari Jakarta.

Mengapa demikian? Sebab antara tahun 1740— 1743 Kompeni Belanda bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat Cina di Jakarta. Mereka ditangkapi, disiksa, disembelih, dikejar-kejar dan dibuang ke Sri Langka.

Terdengarlah kabar an gin, mereka yang kena hukum buang sebenarnya mati diceburkan di tengah lautan. Demi menghadapi perlakuan Kompeni Belanda, masyarakat Cina (Tionghoa) bersatu-padu mengangkat senjata. Gubernur Valckenier memerintahkan pembinasaan.

Kampung Cina dibakar dan pada tahun 1740 ribuan orang Cina mati disembelih. Sudah begitu, harta-bendanya dirampok dan dirampas.

Tentu saja masyarakat Cina yang tersebar di beberapa kota pantai seperti Pekalongan, Rembang, Juwana, Cirebon, Semarang tidak tinggal diam. Mereka berontak dan mengepung Semarang.

Kebetulan sekali salah seorang putera Amangkurat IV yang bernama Garendi kurang puas terhadap perlakuan ayahandanya terhadapnya. Dengan membawa laskarnya ia berontak dan mundur sampai di Pekalongan. Lantas saja laskar Cina membantunya. Dengan demikian, tergabunglah laskar Jawa dan laskar Cina. Sebenarnya, tuju-an Laskar Cina melawan Kompeni Belanda. Karena pusar pemerintahan Kompeni Belanda berada di Semarang dan Kartasura, maka mereka menyerbu kota Semarang dan Kartasura pula .

Penyerbuan laskar gabungan Sunan Garendi mengalutkan pemerintahan Kartasura. Penduduk lari pontang-panting ke luar kota. Demikian pulalah orang-orang Istana. Banyak di antara mereka yang tertangkap dan terbunuh. Dan peristiwa itu mengejutkan seluruh penduduk wilayah kerajaan. Mereka ke luar jalanan dengan tujuan yang masih kacau-balau. Itulah sebabnya Gemak Ideran menjauhi lalu-lintas umum atau jalan-jalan besar yang dilalui laskar pemerintah.

Tetapi justru karena peristiwa itu pula, Gemak Ideran bertambah pengetahuannya. Dari tutur-kata orang ia mendengar kabar tentang kalutnya penduduk Ibu Kerajaan. Dari tutur-kata mereka pula, ia mendengar kabar Paku Buwana II dilarikan mengarah ke Selatan. Tujuannya ke Surabaya.

Tentunya harus melintasi lembah Gunung Lawu. Itulah sebabnya, hatinya bertambah mantap. la percaya pada suatu kali pasti akan dapat berternu dengan Diah Windu Rini dan Niken Anggana.

"Betapapun pandai Rawayani, dia bukan siluman dalam arti sebenarnya atau bidadari yang bermata dewa. Pastilah dia perlu bertanya-tanya dulu atau menyaring percakapan orang." ia berpikir di dalam hati.

Maka mulailah ia mencari keterangan tentang Diah Windu Rini dan Niken Anggana. Namun mereka semua tiada yang bisa memberinya petunjuk.

"Niken Anggana puteri Haria Giri seorang ahli pedang dan Komandan Pengawal Sri Baginda. Pastilah dia berada pula di lembah Gunung Lawu. Maka tepatlah dugaan Niken Anggana, bahwa ayahnya pasti melintasi lembah gunung Lawu." ia yakin. Begitu menyebut-nyebut Niken Anggana, wajah gadis yang sangat cantik itu terbayang kembali di telapak mata-nya. Dia lembut. Dia masih muda belia. Walaupun demikian, sikap hidupnya bersedia mengalah terhadap siapapun. Itulah sifat seorang Ibu Sejati yang menjadi idaman hatinya. Tiba-tiba teringatlah dia kepada cerita Ki dalang Gunacarita tentang pendekar Sondong Landeyan. Bukan mustahil pula, Niken Anggana mengarah ke permukiman.itu dengan alasannya sendiri.

Akan tetapi apakah Diah Windu Rini akan mengijinkannya ?

Dan begitu teringat akan watak dan sifat Diah Windu Rini, mendadak saja bayangan Rawayani muncul di depannya. Terus- terang saja, ia belum sempat melihat wajah dan perawakan Rawayani secara jelas. Dua kali ia berjumpa dan berdekatan.

Akan tetapi di malam hari.

Meskipun demikian kesannya sangat hebat di dalam perbendaharaan hatinya. Kecantikannya mungkin sebanding dengan Niken Anggana. Cara berpikirnya tidak berbeda jauh dengan Diah Windu Rini. Dengan begitu, peribadi Rawayani adalah gabungan antara peribadi Diah Windu Rini dan Niken Anggana.

Munculnya bayangan Rawayani di depan matanya, membuat hatinya risau kembali. Teringatlah dia akan sepak-terjangnya yang aneh dan menakutkan. Dan sebentar lagi dia bakal jadi budaknya. Mengapa tidak? Rawayani yang cerdik pastilah akan mencari dalih-dalih tertentu yang meng-ikatnya terus-menerus. Selain itu, ia jadi tidak mengerti akan dirinya sendiri. Setiap kali bertemu dengan Rawayani, tiba-tiba sikap hatinya jadi berubah. la jadi ikut-tkutan liar pula. Mengapa? Kenapa ? .

Karena tidak pandai menjawab masalahnya sendiri, ia jadi jengkel. Lalu uring-uringan. Akhirnya mengumbar gejolak hatinya. Tak terasa ia lantas menyanyi panjang dan pendek. Tiba-tiba ia mendengar beberapa penunggang kuda hendak melintasinya.

Agaknya mereka tertarik kepada pakaian yang dikenakannya, goloknya dan bungkusan pakaian yang dipanggulnya Mereka menoleh. Aneh ! Begitu melihat dirinya, mereka seperti terkejut. Terus. saja mereka mengabur-kan kudanya.

"Siapa mereka?" Gemak Ideran tertarik. la berpikir sejenak. Lalu berkata di dalam hati : "Pada jaman kalut ini, agaknya siapapun tidak dapat menetapkan siapa lawan dan siapa kawan. Aku menyandang senjata tajam. Tentunya mereka mengira aku salah seorang anggauta laskar lawannya. Entah siapa lawan mereka hanya mereka sendiri yang tahu."

Memang pada saat itu orang-orang gagah saling curiga- mencurigai. Kalau mau jujur sebenarnya dimulai semenjak jaman Amangkurat II tatkala pecah perang antara Untung Surapati melawan Belanda. Pangeran Puger, adik Amangkurat berpihak kepada Untung Surapati. Bahkan di kemudian hari mengangkat diri sebagai Raja Paku Buwana Pertama di Semarang. Itu terjadi, sewaktu Amangkurat Mas naik tahta. Dan saling curiga dan saling bermusuhan berlanjut pada jaman Amangkurat IV atau Sunan Prabu atau yang disebut pula Amangkurat Jawi.

Pada jaman pemerintahannya, muncullah Patih Danureja yang menggalang kelompok pendu-kungnya. Kini ditambah dengan kelompok-kelompok lain yang saling berebut kekuasaan Belum lagi teratasi, terjadilah peristiwa penyerbuan Laskar Sunan Garendi. Laskar penopang Kcrajaan pecah meajadi beberapa bagian.

Yang setia kepada pengganti Patih Danureja. Yang berpihak kepada Pangeran Mangkubumi. Yang sudi menghamba kepada Kompeni Belanda. Dan yang ikut Sunan Garendi. Mereka semua terdiri dari orang peribumi yang sama warna kulitnya, sama makan-minumnya, sama perangai dan sifat nya, sama sejarah hidupnya dan sama pakaiannya. Bisa dimengerti betapa sukar mereka membeda kan siapa lawan dan siapa kawan.

"Sebenarnya apa yang mereka kejar?" Gemak Ideran mencoba mengerti.

Justru dihinggapi pikiian demikian, ia jadi menyiasati dirinya sendiri. Kalau dipikir apa sih tujuan-nya sampai memasuki lembah Gunung Lawu. la anak Surabaya dan dibesarkan di pulau Madura.

Sekarang berada di wilayah pusat pemerintahan. Untuk apa ? Sampai disini ia tertawa seorang diri. Timbullah kesadarannya, bahwasanya orang ini bergerak dengan alasannya masing masing.Tak lama kemudian serombongan orang berkuda lewat di sisinya dengan tergesa-gesa. Mereka menga rah ke lembah gunung Eh, pikir pemuda itu. Tentunya merupakan mempunyai alasannya masing-masing Apakah karena Sri Baginda benar- benar melintasi lembah Gunung Lawu menuju ke Surabaya ?

Kalau mereka hamba sahaja raja, tak apalah. Tetapi kalau mereka justru orang-orang yang akan menggunakan kesempatan dalam suatu kesempitan wah lembah Gunung Lawu bakal

banjir darah.

Kira-kira menjelang sorehari, sampailah Gemak Ideran di pinggang gunung. la singgah di sebuah kedai nasi untuk mengisi perut. Kedai itu sepi-sepi saja. Hanya terdapat dua orang yang duduk menghirup minuman kopi. Gemak Ideran mencoba bertanya :

"Paman ! Aku harus pulang ke Kartasura. Rasanya tidak mungkin melalui jalan besar. Kalau melalui lembah gunung. harus ke mana?"

Kedua orang itu dan pemilik kedai saling bertukar pendapat. Rupanya mereka belum pernah ke Kartasura sehingga tidak tahu jalan. Tetapi kemudian berkatalah pemilik kedai:

" Dulu salah seorang pamanku pernah ke Karangpandan. Menurut paman, Karangpandan terletak di sebelah barat gunung. Menurut tutur-katanya, harus melalui Ngrambe lantas

Jamus lantas memutar ke barat laut sampai tiba di Kemuning ........ lantas eh selebihnya tak ingat lagi,ndoro.

Pendek kata kalau orang biasa tidak bakal berani Sebab selain hanya ada satu jalan setapak, banyak binatang buas dan begal. Apalagi masa kalut begini "

"Tetapi kenapa pamanmu berani melintasi jalan setapak itu?" Gemak Ideran menegas.

Pemilik kedai tertawa panjang. Lalu menjawab :

"Soalnya, gara-gara dirundung cinta. Kebetulan yang di-cintai anak orang Karangpandan. Kabar nya, orang tidak takut mati karena cinta."

Gemak Ideran tertawa. Kata-katanya beralasan meskipun diucapkan dengan bahasa yang sederha na Mendadak suatu ingatan menusuk benaknya. Karangpandan ! Dua kali orang itu menyebut nama Karangpandan. Apakah bukan nama dusun sahabatnya yang memberinya beberapa jurus ilmu sakti?

Teringat kepada sahabatnya itu, ia jadi teringat kepada keadaan dirinya. Hajar orang dari Jawa Tengah. Permukimannya berada di balik gunung. Tetapi suatu kali bertemu dengan dirinya di pulau Madura. Apa sih enaknya orang hidup merantau, demikianlah pikirannya waktu itu.

Tak pernah di-duganya, bahwa pada suatu kali diapun terpaksa merantau seorang diri. Sekarang ia justru berada di dekat permukim-annya. Dengan pikiran demikian, ia melanjutkan perjalanannya mendaki gunung. Dusun Ngrambe sudah berada di depan matanya. Tiba- tiba ia mendengar suara derap kuda yang datang dari arah Timur. Itulah jalan simpang menuju dusun-Jagaraga. Di tengah kesunyian alam, derap langkah kuda cepat menarik perhatian siapa saja, termasuk dirinya. Terus saja ia mendaki ketinggian dan duduk di atas batu.

Apa yang dilihatnya benar-benar membuat hatinya terkejut. Karena penunggang kudanya seorang gadis yang cantik sekali. Anehnya, ia seperti sudah mengenalnya. Rasanya tidak asing pula. Tetapi siapa? Seperti orang linglung ia mengawaskan gadis itu dengan mata tak berkedip.

Gadis itu mengenakan pakaian berwarna kuning muda. Potongannya modern seperti yang dikenakan nonik nonik pada jaman itu. Nonik adalah sebutan bagi gadis-gadis Belanda. Kain leher nya putih. Mengenakan topi lebar buatan Meksiko.

Bercelana panjang dengan membawa-bawa pedang pendek. Tangan kirinya menuntun seekor kuda berpelana lengkap.