-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 12

Jilid 12

- Orang yang mengirimkan surat. Awas, dia seorang perempuan yang kejam. -

- Siapa dia ? -

- Kukira, dialah yang mencuri pedang Niken dulu. -Gemak Ideran segera membedalkan kudanya dengan mengambil jalan simpang. Pada jaman dulu, seberang-menyeberang jalan penuh dengan belukar dan petak-petak hutan liar. Sclagi Gemak Ideran menerobos belukar, tiba-tiba dua orang menghadang dengan wajah beringas. Teriaknya lantang : - Kau bawa ke mana perempuan itu ? -

- Perempuan mana ? -

- Tentunya gadis itu ! Apa alasanmu kau menculiknya ? -Gemak Ideran makin terheran-heran.

Sedang dalam keadaan demikian, mereka menyerang dengan berbareng. Senjata mereka pedang panjang. Kelihatannya mereka hendak melampiaskan rasa penasaran dan dendamnya, sehingga lebih tepat bila dikatakan sedang kalap. Dan menghadapi orang kalap, tak mungkin ia bisa mengharapkan dapat berbicara dengan baik-baik. Maka terpaksalah ia menghunus goloknya dan menghantam balik serangan mereka berdua.

Setelah menangkis balik, Gemak Ideran meloncat turun dari kudanya sambil mengelak. Baru saja ia lolos dari serangan kalap, sebatang pedang yang datang dari samping menikam perutnya.

Gemak Ideran terkejut setengah mati. Syukur, masih sempat ia menghantamkan ujung goloknya sehingga benturan yang terjadi membersit suara nyaring.

- Tahan ! - seru Gemak Ideran. - Sebenarnya siapa kalian ? -

- Apakah perlu ? - bentak yang berperawakan gendut. Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Baiklah si kalap dan si gendut. Kalian boleh maju berbareng lagi. - - Bangsat! Meskipun aku gendut, namaku bukan gendut. Aku Pandegelang. -

- Nah, kan lebih bagus bila menyebutkan nama sendiri. Dan yang satu ? -

- Dia Gulung Tikar. - jawab Pandegelang.

- Eh, apakah mau bangkrut ? - ejek Gemak Ideran sambil tertawa lebar.

- Bangkrut ? Siapa yang bangkrut ? - bentak Gulung Tikar. - Belum tentu berarti bangkrut. Tetapi justru akan menggulung tikarmu dan perangaimu yang jahat. -

- Hai, apa salahku ? - teriak Gemak Ideran.

Gulung Tikar tidak sudi melayani pertanyaan Gemak Ideran. Dengan menggerung ia menikamkan pedangnya. Kalau tadi ia menyerang perut, kini mengarah ke dada dan dilanjutkan ke pinggang.

Pikir Gemak Ideran sambil menangkis : Ilmu pedangnya tidak jelek. Pastilah murid orang pandai. Hanya saja belum mahir.

Tiba-tiba saja ia merasa sayang. Lagipula ia merasa tidak bermusuhan dengan mereka. Maka ia tidak mau berkelahi dengan sungguh-sungguh. Setelah menangkis ia mengelak mundur dan maju. - Gulung ! - seru Pandeglang. - Sayang mengapa kurang tepat!

-

Gulung Tikar rupanya menyesali serangannya yang gagal. Segera ia merangsak kembali dengan dibantu pandeglang yang menerjang dari samping dan belakang.

Diserang demikian, lambat-laun Gemak Ideran merasa kuwalahan juga. Pikirnya, kalau tidak dilawan sungguh-sungguh, mereka tak mau sudah. Maka dengan menggetarkan goloknya, ia balik menyerang.

- Hai, hai! - seru si gendut Pandeglang. - Dia bisa menyerang juga. -

Panas kuping Gemak Ideran direndahkan lawannya. Timbullah niatnya hendak menghajarnya benar-benar. Terus saja ia membentak :

- Akan kulihat siapakah yang bakal jatuh tertungkrap seperti katak buduk. -

- Haha kau bisa ? - ejek Gulung Tikar. - Sebentar lagi kau

bakal gulung tikar habis-habisan. -

- Eh, benarkah itu ? - Gemak Ideran mendongkol. Terus saja ia mengangkat goloknya tinggi-tinggi dan dibenturkan kepada dua pedang Pandeglang dan Gulung Tikar. Pandegelang dan Gulung Tikar boleh merasa diri sudah menguasai ilmu pedangnya. Akan tetapi begitu terbenturgempur- an golok Gemak Ideran, telapak tangannya tergetar dan rasa nyeri menusuk sampai menembus jantungnya. Masih syukur, Gemak Ideran tidak berniat untuk mencelakakannya. Kalau tidak, mereka berdua menjadi lumpuh.

Gulung Tikar yang sudah terlanjut mengumbar mulutnya, kaget setengah mati. Sama sekali tak diduganya, bahwa lawannya yang masih berusia sangat muda bisa menggempur himpunan tenaganya. Padahal diapun masih dibantu Pandeglang. Tetapi dasar tinggi-hati, tidak sudi ia menyerah kalah. Masih saja dia berteriak kalap :

- Kepandaianmu toh tidak terpaut jauh dengan kepandaian kami berdua Pandegelang, majuuuuu ! -

Pandegelang berpikir demikian pula. la merasa hanya kalah setengah urat. Karena itu, lantas saja berkelahi membabi buia seperti kerbau gila. Mereka berdua kemudian menggunakan siasat maju mundur dengan bergantian. Bila Pandegelang menggempur, Gulung Tikar mundur. Dan sebaliknya bila Pandegelang mundur, Gulung Tikar melompat maju.

Menghadapi lawan yang maju mundur, lambat-laun Gemak Ideran mendongkol juga. Diam-diam ia mengerahkan tenaga saktinya yang belum pernah ia lakukan terhadap siapapun. la menunggu saatnya yang tepat. Begitu mereka sedang mundur dan maju, goloknya digempurkan dan kedua pedang lawannya terbang ke udara.

Pandegelang dan Gulung Tikar memekik tertahan. Berbareng dengan terbangnya pedangnya, terbang pula semangat tempurnya. Terus saja mereka kabur menyeberang semak- belukar tanpa menghiraukan senjatanya lagi.

- Hai nanti dulu ! Berilah keterangan padaku apa sebab kalian menuduh aku menculik scorang gadis ! - teriak Gemak Ideran sambil melompat tinggi melalui kepala mereka. Dan begitu men- darat di depan mereka, tangan kirinya memukul.

Hebat akibatnya. Tiba-tiba suatu kesiur angin yang membawa tenaga tiada nampak menghantam dada Pandegelang sehingga ia tergempur mundur. Cepat-cepat ia melindungi dirinya dengan dua telapak langannya. Terasa telapak tangannya tegetar sakit sekali. Dalam keadaan demikian, Gemak Ideran melompat maju dan menerkam punggungnya. Lalu di-lemparkan tinggi dan jatuh bergedubrakan mencium tanah.

Hebatnya lagi, sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah masih sempat membentur temannya. Keruan saja, Gulung Tikar ikut jatuh sungsang sumbel.

Sekarang mereka baru mengetahui, lawannya berkepandaian jauh di atas kepandaiannya. Tatkala mereka menyenakkan mata, golok Gemak Ideran disabetkan di udara. Dan kedua pedang mereka yang sedang turun deras terpotong menjadi dua bagian. Benar-benar mereka merasa takluk. Seumpama tubuh mereka yang kena sabetan golok bisa dibayangkan betapa ngerinya.

Gemak Ideran kemudian berdiri di belakangnya bagaikan Dewa Maut. Pada saat hendak membuka mulutnya, sekonyong- konyong terdengar suara siul melengking. Gemak Ideran nampak terkejut. Segera ia memutar tubuhnya dan menghampiri kudanya. Lalu membedalkannya ke arah datangnya suara siulan.

Sesungguhnya itulah suara siulan Diah Windu Rini yang memanggil dirinya.

- Ke mana saja ? - tegur Diah Windu Rini dengan wajah tak senang.

- Ayunda ! - sahut Gemak Ideran dengan suara gugup. Setelah menghentikan kudanya di samping Diah Windu Rini, menerus- kan : - Dua orang menghadang diriku. Mereka menuduh aku menculik seorang gadis. Benar-benar aneh ! Sayang pada saat aku dapat menguasai mereka, ayunda memanggilku. -

- Menculik seorang gadis katamu ? - dahi Diah Windu Rini berkerut-kerut. Beberapa waktu lamanya ia bermenung-menung. Lalu memutar kudanya seraya berkata : - Mari berangkat ! -

- Tetapi ayunda, sesungguhnya apa yang sudah terjadi ? -Diah Windu Rini tidak menyahut. Niken Anggana yang berada di sampingnya berkata :

- Kitapun sedang disesatkan oleh orang bertopeng. - - Siapa ? - Gemak Ideran terkejut sambil mengedut kendali kudanya.

- Menurut ayunda, itulah gadis yang pernah muncul di Pasuruan.

-

- Oh, - Gemak Ideran tercengang. Kini mulai terasa di dalam hatinya, bahwa perjalanan ke Kartasura tidaklah sesederhana orang pergi berpesiar. Dari tempat ke tempat ia menemukan peristiwa-peristiwa yang penuh teka-teki dan tanpa kejelasan apapun. Siapakah gadis yang muncul di rumah penginapan di Pasuruan ? Siapa pula yang membunuh puteri Adipati Malang ? Siapakah mereka yang kemarin mengkerubutnya di rumah makan

? Lalu atas perintah siapa, pedang Niken Anggana di-kembalikan

? Siapakah sebenarnya nenek Kalika, Lekong dan Seteluk ? Kemudian muncullah Gagak Seta. Apakah dia mempunyai kepentingan dalam hal ini ? Kini muncul lagi dua orang penghadang dan gadis bertopeng yang dulu muncul di rumah penginapan Pasuruan. Semuanya tidak jelas dan tidak terjawab.

- Niken ! Kau berkata disesatkan oleh seorang gadis bertopeng. Apa maksudmu ? - ia menegas dengan suara setengah berbisik kepada Niken Anggana.

- Orang bertopeng itu muncul di sana. - Niken Anggana menerangkan sambil menuding ke arah ketinggian. - Segera ayunda mengenal siapa dia. Lantas saja ayunda mengejarnya. Tetapi begitu kita tiba di sana, orang itu sudah beralih tempat di sana. - Kali ini Niken Anggana menunjuk suatu arah yang bertentangan. Dengan begitu mengabarkan bahwa gadis bertopeng itu dapat lari secepat angin. Mungkin sekali melebihi larinya seekor kuda jempolan. Padahal seberang-menyeberang adalah ladang semak-belukar. Betapapun pandai mengatur langkah kakinya, pasti akan terdengar nyata. Setidak-tidaknya penglihatan akan dapat menangkap gerakan dedaunan yang disentuhnya.

- Lalu ? - ia mencoba menegas lebih jauh lagi.

- Dengan gerakan kilat, ayunda memutar kudanya dan menyusulnya. Aku tertinggal jauh di belakang. Sekonyong- konyong ayunda membatalkan niatnya dan balik menghampiri diriku. Ayunda khawatir, orang itu sengaja memancing ayunda menjauhi diriku. Bila berhasil, aku pasti diculiknya, begitulah keterangan ayunda. Kakang Gemak Ideran, mengapa diriku diincar orang ? -

Niken Anggana mengakhin keterangannya dengan suara setengah mengeluh.

- Bukankah perkara pedang Sangga Buwana ? - Jawab Gemak Ideran tanpa berpikir lagi.

- Tetapi bukankah aku tidak memiliki pedang itu ? - Niken Anggana protes. - Kau boleh berkata begitu, adikku. Tetapi dapatkah pernyataanmu meyakinkan mereka yang ingin memiliki pedang Sangga Buwana ? -

Niken Anggana diam mengangguk. Gemak Ideran pada saat itu beralih kepada pengalamannya sendiri. la penasaran terhadap Pandegelang dan Gulung Tikar yang menuduh dirinya menculik seorang gadis. Barangkali rasa penasarannya tiada beda dengan Niken Anggana.

- Hm. ia menggeram di dalam hati. - Apa latar belakang penghadangan tadi bila kuhubungkan dengan munculnya seorang gadis bertopeng ? Aneh dan menjengkelkan ! -

Tetapi Niken Anggana yang berbudi halus segera dapat menguasai diri. la nampak acuh tak acuh. Sebaliknya Gemak Ideran malahan menjadi gelisah. Tak dikehendaki sendiri ia mengamati Diah Windu Rini yang berada duapuluh langkah di depan. Apakah gerangan yang sedang dipikirkan gadis galak dan angkuh itu ? Tentunya dia sedang disibukkan pula oleh muncul- nya gadis bertopeng.

- Gemak Ideran ! - Diah Windu Rini menghentikan kudanya. -Kau lindungi Niken ! Ambil jalan besar. Kurasa kau bisa tiba di Ngawi sebelum menjelang petang. -

- Ayunda hendak ke mana ? - Gemak Ideran heran. - Aku akan mengejar dia ! Ingin kutahu sampai dimana kepandaiannya. Hm .. -

Setelah berkata demikiari, ia melarikan kudanya. Sewaktu hampir menghilang di kelokan jalan simpang, ia berseru nyaring:

- Aku akan segera menyusul kalian ! Lihat atas ! Mega hitam mulai menutupi langit! -

Belum sempat Gemak Ideran mengiakan, Diah Windu Rini sudah menghilang dari pengamatan.

Mau tal mau pemuda itu menghela nafas. la tahu benar, Diah Windu Rini seorang gadis yang galak, tegas, teguh pendirian, angkuh seperti orang-orang Madura lainnya. Bila sudah menghendaki sesuatu susah sekali untuk dibujuk. Tak dikehendaki sendiri, Gemak Ideran men-dongak ke atas. Awan hitam makin lama makin tebal dan datang berarak-arak menutupi udara. Sebentar saja matahari tenggelam di baliknya. Dan seluruh persada bumi nampak muram suram.

- Niken, mari , Ayunda Diah Windu Rini mengharapkan kita dapat mencapai Ngawi menjelang petang. Kita harus berpacu dengan hujan yang mungkin turun dengan tiba-tiba. - ujar Gemak Ideran.

Niken Anggana segera melarikan kudanya diikuti Gemak Ideran dari belakang. Mereka berdua mengambil jalan besar. Suasana alam jadi sunyi sepi. Karena takut terhalang hujan, mereka berusaha mempercepat lari kudanya. Angin keras melanda dari seberang jalan, sehingga pakaian mereka berkibaran bagaikan kain terbelah beberapa potong.

Tatkala tiba di atas ketinggian, Wengker mulai kelihatan di depan matanya. Gemak Ideran berhenti sejenak memeriksa peta jalanan. Mulutnya berkomat-kamit seperti lagi menghitung sesuatu. Lalu berkata kepada NikenAnggana seraya memasukkan lipatan petanya ke dalam sakunya :

- Ayunda akan tiba di Ngawi menjelang petanghari. Bukankah dia berjanji hendak menyusul kita ? Karena itu kita jangan singgah ke Madiun. Kita mengambil jalan pintas. Ayo ! -

Niken Anggana seorang gadis penurut. Tanpa berkata sepatah katapun, ia mengikuti Gemak Ideran yang mengambil jalan pintas. Sebelum berngkat, Gemak Ideran menancapkan tanda sandi bagi Diah Wmdu Rini. Siapa tahu, Diah Wmdu Rini melalui jalan pintas pula.

Senjahari sudah mulai lewat. Gelap petang cepat sekali datangnya. Guntur berdentuman sambung-menyambung. Hujan rintik mulai turun dengan tamparan angin yang menyakitkan telinga dan pipi. Gemak Ideran dan Niken Anggana mencambuk kudanya.

- Cepat ! Di sana ada gardu. Kalau terpaksa, kita berteduh di situ.

- seru Gemak Ideran berteriak nyaring. Untung, kuda mereka termasuk kuda jempolan. Begitu kena cambuk, kedua binalang itu lari menubras-nubras bagaikan kalap. Dalam sekejap mata, gardu yangberdiri di tepi jalan sudah berada kira-kiraduapuluh langkah di depannya. Tetapi hujan belum deras benar. Maka Gemak Ideran memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Jauh di seberang jalan kelihatan beberapa perkampungan penduduk sambung-menyambung. Kesannya sunyi menyeram- kan. Barangkali sekelompok pedusunan yang sudah ditinggalkan penduduknya. Memang belasan tahun yang lalu, penduduk sekitar Madiun terus-menerus dilanda kancah peperangart Perang Untung Surapati. Perang Adipati Jayengrana Surabaya. Geger Sawunggaling. Lain disusul dengan perang anak- keturunan Adipati Jayengrana.

Dan akhir-akhir ini dilanjutkan dengan perang anak-keturunan Untung Surapati, perang Tuban dan ikut campurnya laskar Madura dan Bali yang memerangi Kompeni Belanda. Ini bclum termasuk perang saudara berebut kekuasaan antara pihak Kapatihan dan Kasunanan. Tidak mengherankan, penduduk yang tidak dapat hidup tenteram, mengungsi mening-galkan dusunnya untuk mencari permukiman baru.

Kota Sragen, Ngawi, Madiun dan Nganjuk, merupakan jalur perhubungan yang amat penting bagaikan urat nadi tubuh manusia. Siapa yang menguasai jalur perhubungan itu akan dapat disebut sebagai pihak calon pemenang dalam suatu pertempuran tertentu.

Sekarang hujan mulai turun benar-benar. Dengan cepat Gemak Ideran membawa Niken Anggana berteduh di sebuah rumah kosong. Sambil mengepriki pakaian yang nyaris basah, mereka duduk menghempaskan diri di atas sebuah balai-balai panjang.

- Perang macam apapun rupanya menyengsarakan penduduk. - ujar Niken Anggana sambil mengamat-amati ruang dalam. -Coba, apa sih milik penghuni rumah ini. Dua buah kursi, satu

meja panjang dan balai-balai ini. Kalau dijual belum tentu

laku setengah rupiah. (nilai uang pada jaman itu jauh melebihi nilai uang sekarang. Katakan saja satu rupiah banding sepuluh ribu rupiah) -

- Benar. - Gemak Ideran mengangguk. - Demi berjuang untuk memiliki uang satu sen dua sen, mereka mengungsikan diri. -

Niken Anggana menyenak nafas panjang. Lalu duduk merenungi alam di jauh sana. Angin mengamuk di luar rumah. Hujan jadi terhambat. Sebentar deras, sebentar pula reda. Tetapi puncak- puncak pohon pontang-panting diobrak-abrik arus angin yang datang pergi tak berketentuan.

- Niken ! Bagaimana menurut pendapatmu tentang Gagak Seta ?

- Gemak Ideran memecahkan kesunyian. Pertanyaan Gemak Ideran diluar dugaan, sehingga sempat mengejutkan hati Niken Anggana. Beberapa detik ia tertegun. Lalu menjawab :

- Pemuda itu berkepandaian tinggi. Aku yakin, ayunda belum tentu dapat menandingi. -

- Benar. - ujar Gemak Ideran. - Dalam suatu adu kepandaian, pengalaman berada di atas ilmu dan semangat. Agaknya diasudah memperhatikan kita semenjak kita belum tiba di rumah makan itu. Bukan mustahil semenjak kita menginap di Pasuruan.

-

- Masakan begitu ? - Niken Anggana tidak percaya. Kita berkuda dan dia beijalan kaki. Tlba-tiba saja dia sudah berada di antara kita. -

- Alasanmu masuk akal. Akan tetapi orang yang berkepandai-an tinggi susah ditebak gerak-gerik dan jalan pikirannya. -

Niken Anggana mengangguk. Berkata :

- Apakah dia juga menginginkan pedang Sangga Buwana ? -

- Itu kurangjelas bagiku. Bagaimana menurut pendapatmu ? -

- Hm . - Niken Anggana menarik nafas. - Sebenarnya

bagaimana sih riwayat pedang itu sampai ja^uh di tangan ayah ?

- Gemak Ideran tertawa. Katanya setengah menggoda :

- Kalau saja kita bertemu dengan seorang dalang yang pandai bercerita, tentunya kita akan memperoleh jawaban. -

- Ya. - sahut Niken Anggana cepat. - Baiklah, aku akan memanggil seorang dalang. Mudah-mudahan dalang itu dapat menceritakan Cerita Pedang Sangga Buwana. -

Gemak Ideran tertawa. Sahutnya :

- Kalau begitu, kita memanggil dalang wayang Krucil atau Golek. -

Niken Anggana tertawa. Pada jaman itu di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat beberapa macam dalang. Dalang Wayang kulit atau Purwa. Dia menguasai cerita perwayangan yangdiambil dari Mahabharata, Ramayana dan Serat Pakem setempat. Lalu dalang Krucil dan dalang Golek.

Dalang ini membawa cerita sejarah. Dalang Krucil dan Golek tcrkenal di antara penduduk dan termasuk macam dalang yang digemari. Sebaliknya orang-orang kota lebih senang menanggap dalang Wayang Kulit. Derajatnya lebih tinggi dibandingkan dalang-dalang wayang Krucil atau wayang Golek. Apalagi dalang yang tergolong Dalang Beber. Tidak mengherankan, orang kota akan dianggap, tidak berbudaya tinggi manakala menanggap dalang Krucil atau dalang Golek. Sekarang Niken Anggana akan memanggil seorang dalang Krucil atau dalang Golek. Artinya dia berani mengambil resiko akan ditertawakan para bangsawan dan keturunan bangsawan. Di dalam hati ia sudah memutuskan, tak apalah asalkan ki dalang dapat menceriterakan asal-usul pedang Sangga Buwana yang diperebutkan orang. Tetapi tiba-tiba suatu pertimbangan menusuk benaknya. Katanya :

- Bagaimana kalau aku memanggil dalang Wayang Beber saja?-

- Ha bagus ! - sahut Gemak Ideran dengan cepat. - Dalang beber tidak mcmerlukan seperangkat gamelan. Dia bisa datang tanpa kawan seorangpun. Kalaupun mau menambah semarak, paling- paling hanya perlu dibantu empat orang saja sebagai tukang gendang, tukang lagu, tukang gong dan seorang penyanyi.

Bagus, bagus ! Cukup dimasukkan dalam sebuah ruang tertutup dan kitapun tidak perlu memanggil penonton. -

Kedua mata Niken Anggana berseri-seri. la seperti menemukan suatu penyelesaian yang memuaskan. Tetapi di mana dia dapat menemukan seorang dalang Wayang Beber ? Kabarnya, dalang Wayang Beber hanya laku di daerah Pacitan. Selagi ia sibuk berpikir demikian, hujan telah reda. Udara mulai bersih kembali dan cahaya matahari merata dari arah barat. Angin yang meniup membawa hawa sejuk segar. Meskipun masih tajam, namun tidak mengerikan lagi.

- Kakang Gemak Ideran, apakah kita berangkat saja ? - - Ha, kau berani berjalan di bawah hujan gerimis ? - Gemak Ideran tidak percaya. - Lihat meskipun sudah reda dan cuaca jadi terang kembali, namun hujan masih gerimis. -

- Bukankah aku masih menyimpan pakaian kering di bawah pelana ? - Niken Anggana meyakinkan.

Gemak Ideran menimbang-nimbang sebentar. l-alu memutuskan :

- Baiklah, memang kita harus berjumpa dengan ayunda Windu Rini kembali sebelum petanghari tiba. -

Mereka menunggu beberapa waktu lagi, sampai hujan turun tipis sekali. Lalu menghampiri kudanya dan langsung saja melompat di atas punggungnya. Mereka tidak menghiraukan pelananya yang masih agak basah, meskipun kudanya tadi dibawa berteduh di bawah atap rumah samping. Suasana luar makin sunyi dan memedihkan. Tiada pemandangan yang menarik. Semuanya serba basah seperti mata seorang janda mcratapi suaminya yang mati muda.

Limabelas kilometer lagi, mereka melarikan kudanya dan hujan benar-benar berhenti. Seberang-menyeberang jalan kini rata tanah. Tiada petak hutan, tiada pula semak belukar.. Hanya beberapa rumah berdiri berderet sepanjang jalan. Kira-kira jam lima sore, sekonyong-konyong terdengar derap kuda. Empat orang penunggang kuda melarikan kudanya seakan-akan sedang menguber maling. Mereka saling kejar-mengejar dan melewati samping Gemak Ideran dan Niken Anggana tanpa menoleh. Gemak Ideran dan Niken Anggana pandai membawa diri. Sama sekali mereka tidak menaruh perhatian, meskipun demikian diam- diam masih sempat mengamati perawakan mereka berempat.

Keempat-empatnya mengenakan pakaian pedagang. Berwajah licin dan sopan. Sama sekali mereka tidak membekal senjata. Memang kota Ngawi merupakan urat nadi perdagangan. Bukan mustahil pedagang-pcdagang dari luar datang memasuki kota itu. Hanya saja yang menarik perhalian, apa sebab mereka melarikan kudanya begitu cepat ? Apakah karena takut ancaman hujan atau sedang mengejar waktu yang dijanjikan ?

Sedang Gemak Ideran dan Niken Anggana menyiasati mereka, terdengar lagi suara derap kuda. Kali ini lebih banyak lagi.

Semuanya duabelas orang. Pakaian yang dikenakan beraneka ragam. Ada yang menyandang sebagai pelancong, pegawai negeri dan preman. Gemak Ideran dan Niken Anggana sengaja memperlambat kudanya.

Mereka menepi dan membiarkan mereka melampauinya. Sekali lagi mereka berdua mengamat-amatinya. Juga kali ini tiada sesuatu yang dapat menimbulkan rasa curiga.

- Barangkali Ngawi merupakan kota perdagangan besar. - ujar Gemak Ideran setelah mereka melampauinya. - Menurut tutur- kata orang, waktu memegang peranan penting dalam dunia perdagangan. - Niken Anggana hanya mengangguk. la mendongak mengawaskan udara yang kembali menjadi suram. Nampak wajahnya membayangkan suatu keresahan. Barangkali karena Diah Windu Rini belum juga menyusul, sedangkan kota Ngawi sudah nampak di depan matanya.

- Kakang Gemak Ideran ! Kita menginap di mana ? - ia minta keterangan.

- Kabarnya banyak rumah penginapan di kota Ngawi. Kita tunggu saja keputusan ayunda Windu Rini. -

Justru Gemak Ideran mcnyebut nama Diah Windu Rini, tak terasa Niken Anggana menoleh. Samar-samar ia melihat bayang-an yang kurang jelas di kejauhan. Tetapi ia tidak ragu-ragu lagi.

Itulah ayundanya Diah Windu Rini yang melarikan kudanya secepal angin.

- Lihat! Ayunda Windu Rini! - seru Niken Anggana setengah bersorak.

Gemak Ideran memutar kudanya menghalang jalan. Dengan penuh perhatian ia mengawaskan cara Diah Windu Rini melari- kan kudanya. Kesannya dia bcrnafsu. Jadi tidak hanya sekedar menyusul dirinya dan Niken Anggana. Scbcnarnya jarak antara dirinya dan Diah Windu Rini kurang lebih empat ratus meter saja.akan tetapi dirasakan amat lama. Tetapi begitu Diah Windu Rini datang menghampiri, tidak sempat lagi ia membuka muiutnya. Sebab dengan tetap melarikan kudanya kencang- kencang Diah Windu Rini berseru :

- Cepat kejar mereka ! -

Seperti anak panah yang diluncurkan dari gendewanya, kuda Diah Windu Rini melintas dengan membawa angin bergulungan. Mengejar mereka ? Siapa ? Tentu saja tidak sempat lagi Gemak Ideran minta penjelasan. Terus saja ia berkata mengajak kepada Niken Anggana :

- Adik, mari ! -

Gemak Ideran menunggu sampai Niken Anggana melarikan kudanya. Kemudian ia menyusul dari belakang. Sementara itu rombongan yang melampauinya tadi, sudah tidak kelihatan lagi. Begitu tiba di batas kota, jejak mereka lenyap.

Diah Windu Rini rupanya masih penasaran. Dengan wajah tegang ia ubek-ubekan mencari jejak mereka. Namun benar- benar lenyap tak berbekas, padahal kota Ngawi luasnya terbatas. Menjengkelkan lagi, karena tiba-tiba hujan turun dengan deras- nya.

- Baiklah, mari kita mencari rumah penginapan dulu ! - Diah Windu Rini memutuskan.

- Sebenarnya siapa mereka ? - Gemak Ideran mempunyai kesempatan untuk rninta keterangan. - Nanti kuterangkan di penginapan. -

Demikianlah mereka bertiga tiba di Rumah Penginapan PANGAYOM dengan membawa rasa penasaran. Itulah sebab- nya, Diah Windu Rini berkesan menakutkan meskipun ber- peribadi agung dan cantik. Sudah begitu, rumah penginapan ternyata tidak dapat menyediakan tempat. Dengan demikian, tak dapat Diah Windu Rini memberi keterangan kepada Gemak Ideran tentang rombongan yang sedang dikejarnya.

Syukur, di ruang penginapan itu, mereka bertemu dengan ki Dalang Gunacarita, Kartamita, Lembu Tenar, Bogel dan lain- lainnya yang dapat meredakan rasa tegang. Apalagi secara kebetulan, Gunacarita ki dalang Wayang Beber dapat meriwayat- kan asal-usul pedang Sangga Buwana. Oleh rasa sukacita, Niken Anggana dan Gemak Ideran membayarnya dengan sangat mahal. Sayang, cerita Gunacarita belum tammat seluruhnya.

Namun Niken Anggana tidak kekurangan akal. la memanjari Gunacarita agar melanjutkan cerita tentang pendekar Sondong Landeyan dan Pitrang di pesanggrahan.

Keesokan harinya, Diah Windu Rini membawa Gemak Ideran dan Niken Anggana meninggalkan rumah penginapan dengan

tergesa-gesa. Sebenarnya, Niken Anggana masih enggan meninggalkan ki Gunacarita. la sudah memperoleh kenikmatan. Tetapi karena takut kepada Diah Windu Rini, terpaksa ia meninggalkan rumah penginapan dengan hati berat. Sampai sianghari, Diah Windu Rini membawa mereka berdua mencari jejak rombongan orang yang dikehendaki. Namun mereka benar-benar tidak meninggalkan bekas.

- Baiklah, mari kita jenguk pesanggrahan yang disediakan Adipati Madiun dulu. Setelah beristirahat, masakan kita tidak dapat melacaknya. -

- Sebenarnya siapakah mereka ? -

- Apakah kalian tidak memperhatikan sorot matanya ? -Gemak Ideran tercekat hatinya. Ah ya, mengapa dia tidak mempunyai pengamatan demikian ? Di dalam hati ia merasa makin takluk terhadap ketajaman mata Diah Windu Rini. Namun dengan berlagak dungu ia minta keterangan :

- Apakah mereka termasuk gerombolan yang mengincar pedang Sangga Buwana ? -

- Hm, paling tidak mereka orang-orang berkepandaian yang harus kita amati. Mereka menuju ke arah barat Kenapa ? -

Gemak Ideran tercenung. Diah Windu Rini ternyata tidak berkenan memberi keterangan yang jelas. Kata-katanya membawa teka-teki tanpa pemecahannya. Pikirnya di dalam hati :

- Taruhkata mereka gerombolan pendekar yang sedang mengadakan perjalanan ke barat, apa sih hubungannya dengan kepentingannya ? - Pada saat itu Niken Anggana berkata mengalihkan pem-bicaraan

:

- Ayunda lama sekali meninggalkan kita berdua. Apakah ayunda bertemu atau melihat gadis bertopeng pagi tadi ? -

Justru itulah sebabnya aku mengejar mereka. Aku yakin, ia berada dalam rombongan. Sekali ia pandai mengenakan topeng, tentunya pandai pula menyamar untuk mengelabui kita. -

Mendengar ucapan Diah Windu Rini, Gemak Ideran merasa agak jelas. Sekarang jelas ada hubungannya dengan gadis bertopeng yang mencuri pedang Niken Anggana dan dikembali-kan melalui Kalika, Lekong dan Seteluk.

Rumah pesanggrahan yang disediakan ternyata tidak menge- cewakan. Makan minum dan perbekalan lainnya sudah disedia- kan dengan lengkap. Karena semalam terpaksa bergadang di ruang rumah penginapan, kini mereka beristirahat benar-benar sampai menjelang petanghari. Dan setelah makan malam, Diah Windu Rini mengajak Gemak Ideran dan Niken Anggana melacak gadis bertopeng yang berada di antara rombongan kemarin sore.

- Gemak Ideran, Niken! Kali ini kita bertemu dengan seorang lawan yang cerdik dan ganas. Kalian tahu, dialah yang membunuh puteri Adipati Brahim. Aku yakin, dia bekerja bukan seorang diri. Kurasa rombongannya yang menyamar tadi adalah kawan-kawannya atau bawahannya. Menghadapi lawan demikian, kalian harus bertindak cepat, tegas dan tepat. Terutama engkau, Niken! Kau harus membunuh atau bakal terbunuh. - ujar Diah Windu Rini dengan sungguh-sungguh.

Niken Anggana mengangguk. Kemudian Diah Windu Rini membagi pelacakan menjadi tiga jurusan. Masing-masing membawa tanda sandi yang dapat berbunyi nyaring di udara dan menyala terang di tengah malam.

Sekali lagi Diah Windu Rini berkata mengesankan kepada Niken Anggana :

- Niken, hidup di luaran bukan seperti dalam istana. Apalagi bila engkau bertemu dengan orang-orang kasar. Bila kau gerecoki jangan layani. Tetapi kalau merasa mampu menghajarnya, ber- tindak lah dengan tegas ! Ingat ? -

- Ya. - Niken Anggana mengangguk.

Mereka bertiga kemudian meninggalkan pesanggrahan setelah malam hari tiba. Di tengah jalan mereka berpisah, mengambil jalannya masing-masing yang sudah ditentukan. Diah Windu Rini mengarah ke utara. Gemak Ideran ke selatan, sedang Niken Anggana letup mengambil jalan besar balik ke Ngawi.

Inilah untuk yang pertama kalinya, Niken Anggana berjalan seorang diri dalam arti yang sebenar nya. Perlahan-lahan ia melarikan kudanya memasuki kota. Menuruti kata hatinya, ingin ia singgah kembali ke Rumah Penginapan Pangayom untuk men- dengarkan cerita lanjutan ki dalang Gunacarita. Tetapi teringat pesan Diah Windu Rini tak berani melanggarnya. Dengan menguatkan hati ia berbelok ke persimpangan jalan dan menyu- suri tepi sungai Brantas.

Malam hari itu hujan tiada turun setetespun. Meskipun demikian udara gelap gulita. Awan hitam mengawang menutupi bulan sipit yang seharusnya kelihatan jelas dan persada bumi. Angin membawa hawa dingin dan dibawanya menyusup ke-seluruh penjuru alam. Bebcrapa buah perahu ditambatkan aman di tepian. Penghuninya sudah mengungsikan diri di bawah atap- atap perahu. Kadang-kadang terdengar suara orang menyanyi. Menyanyi sejadi-jadinya. Dan mendengar nyanyian itu, Niken Anggana menghentikan kudanya. Suatu pikiran menusuk benak- nya :

- Di dalam kota sesunyi ini, penunggang kuda akan menarik perhatian orang. Mengapa aku tidak mempunyai pikiran begini semenjak tadi. -

Memikir demikian segera ia melarikan kudanya. Suara derap kaki kuda terdengar nyata di tengah malamhari yang gelap gulita dan sunyi senyap. la menyadari hal itu. Maka ia balik memasuki jalan- jalan kota yang terdiri dan empat atau lima jalur saja. Berpura- puralah ia mengarah ke Rumah Penginapan Pangayom.

Tetapi kemudian memasuki halaman luas yang terletak di sebelah rumah penginapan. Cekatan ia turun ke tanah dan menambatkan kudanya di balik tiga batang pohon yang berdiri berjajar. Setelah itu, ia balik kembali ke arah sungai. la yakin, orang-orang yang dicari Diah Windu Rini pasti bersembunyi di tempat itu. Tidak mungkin mereka lenyap seperti kawanan siluman. Tidak mungkin pula menginap di rumah penginapan- rumah penginapan umum.

Niken Anggana sebenarnya seorang gadis yang cerdas. Budi pekertinya yang halus justru sering kali menjadi penunjuk jalan yang tepat. Kekurangannya dalam hal ini hanya pengalaman. la biasa hidup di tengah keluarga yang teratur. Baik ayah-bunda- nya, Adipati Cakraningrat maupun gurunya tidak membiarkan dia lepas dari pengamalan.

Sekarang dia harus bekerja seorang diri dalam tugas melacak gcrombolan yang dikehendaki Diah Windu Rini. Sebenarnya harus dilakukan dengan penuh selidik dan hati-hati. Bukan seperti seorang penyair yang datang pergi untuk memperoleh pcnglihatan yang manis.

Baru saja ia memasuki wilayah tepi sungai, dua orang laki-laki menegurnya :

- Hai nona. Kami mempunyai perahu kosong. Boleh digunakan untuk apa saja. -

Niken Anggana menghentikan langkahnya. Menegas :

- Digunakan bagaimana ? -

Dua orang yang berdiri di depannya saling memandang. Lalu tertawa perlahan : - Nanti sajalah tunggu pacarmu datang. Dia pasti tahu bagaimana caranya menggunakan perahu. Apalagi di tengah malam tiada bulan. Benar-benar semuanya akan berjalan lancar. -

Niken Anggana tergugu. Kedua alisnya berdiri. Bagaimana-pun juga ia seorang gadis yang memiliki naluri yang tiada beda dengan jenisnya. Terasa di dalam hatinya, kedua orang yang ber- diri di depannya bermaksud tidak baik. Hanya saja baginya kurang jelas apa makna tidak baik itu. Sebentar ia menatap mereka berdua. Lalu minta keterangan :

- Apakah kalian melihat serombongan pedagang ? -

- Pedagang ? Disini banyak sekali orang berdagang. Yang mana

? -

- Mereka menunggang kuda. -

- Menunggang kuda ? Di sini bukan tempat kuda. Kalau mereka yang bertenaga kuda, nah baru cocok. -

- Ih ! Kalian mengacau. - Niken Anggana memberengut. Kedua orang itu tertawa senang. Mereka merasa seperti bertemu dengan sebuah boncka yang dapal dipermainkannya dengan mudah.

Tetapi tatkala melihat sebilah pedang menghias di pinggang Niken Anggana, mereka membung kam dengan tiba-tiba. Salah seorang menegas dengan suara setengah berbisik : - Apakah nona seorang diri ? -

- He-e. Kenapa ? -

Orang itu berpaling kcpada temannya. Tiba-tiba saja tangan kanannya mcnyambar. Itulah gerakan yang sama sekali tak terduga. Dan melihal gerakan tangan yang mcnyambar dirinya, Niken Anggana hanya mcnggcscrkan sebelah kakinya.

- Sebenarnya kalian berdua ini mau apa ? -

Orang yang mcncoba menyambar pedang Niken Anggana terperanjat. Sama sekali tak diduganya, bahwa pemilik pedang itu ternyata memiliki gerakan yang gesit. Namun mengingat usianya yang masih muda, masih saja ia berani mencoba-coba. Sambil mengajak temannya untuk bekerja sama, ia berteriak :

- Rampas ! -

Temannya segera menerjang dari belakang. Sekarang tahulah Niken Anggana maksud mereka berdua. Ternyata pedangnya menerbitkan selera mereka untuk merampasnya. Sambil menggeserkan kakinya, ia berkata :

- Rupanya kalian penyamun ! -

Brus ! Kedua orang itu saling menggabruk dan terpental ke samping. Mereka mengaduh kesakitan. Lalu menerjang lagi dengan gemas. Tentu saja mereka bukan lawan Niken Anggana yang berarti. Meskipun Niken Anggana tidak membalas, gerakan kakinya cukup membuat pusing mereka.

Kemana saja mereka bergerak, selalu menumbuk udara kosong. Bahkan kerapkali saling menjegal dan menghantam. Akhirnya mereka berdua terkapar di atas tanah dengan nafas terengah- engah.

- Nah, cepat-cepat enyah dari sini ! Kalau sampai ketahuan kakakku, kalian lidak bakal diampuni. - ujar Niken Anggana dengan suara tctap sabar.

Mendcngar Niken Angaana menyebut-nyebut kakaknya, semangat hidup mereka serasa kubur. Dengan memaksa diri, mereka mcncoba berdiri tertatih-tatih. Bukan main rasa takut mereka.

Telapi pada saat itu terdcngar sescorang berkata ramah kcpada Niken Anggana :

- Apa paedahnya berbicara berkepanjangan dengan manusia- munusia picisan. Mereka perampok-perampok murahan yang tidak akan memperoleh kemajuan dalam hidupnya. -

Dia scorang pemuda yang mengenakan pakaian putih. Setelah berkata demikian, tangannya bergerak. Dan kedua perampok itu memekik tinggi lalu berkelojotan semacam cacing kepana san di atas penggorengan. Tidak lama kemudian, mereka mati dengan mata melotot. Jelas sekali, wajah mereka membayangkan rasa takut luar biasa.

Niken Anggana terkejut. Siapakah orang itu yang bertangan gapah. Dengan sikap waspada, ia berpaling kepadanya.

Menegor:

- Kenapa mereka harus kau bunuh ? -

- Ah, aku hanya menolong saja. - sahut orang itu dengan tertawa lebar.

- Menolong ? - Niken Anggana heran.

- Benar. Sebab orang semacam mereka tidak mempunyai tempat di dunia. Mereka tidak berhak hidup lagi. Sebab selama-nya mereka akan hidup sebagai perampok-perampok murahan. Dari pada memperpanjang penderitaan mereka, lebih baik kutolong agar lekas berangkat meninggal kan dunia. -

Wajar cara pemuda itu berbicara, sehingga Niken Anggana makin terheran-heran. Sebagai seorang wanita yang belum banyak makan garam, tak dapat ia memahami jalan pikirannya. la hanya merasa, dirinya sedang berhadapan dengan manusia kejam.

Teringat pengalamannya di Pandaan dulu, ia bersikap menunggu.

- Nona ! Engkau mencari siapa ? - pemuda itu berkata lagi. - Ah, aku bisa mencari sendiri. - sahut Niken Anggana. la merasa dirinya sudah licin dengan jawabannya itu. Bukankah berarti mengelakkan pertanyaan orang ?

Pemuda itu tertawa perlahan-lahan melalui hidungnya. Berkata :

- Nona, lain kali engkau harus menjawab begini. Siapa yang kucari ? Apakah engkau tahu siapa yang kucari ? Dengan jawaban demikian, setidak-tidaknya engkau memaksa aku untuk berfikir. -

Wajah Niken Anggana terasa panas mendengar pembetulan pemuda itu. Tak tahu ia, apakah harus berterima kasih atau membentaknya. Selagi berbimbang-bimbang demikian, pemuda itu melanjutkan kata-katanya :

- Gerombolan orang yang kau caro itu, tidak berada di sini.-

- Eh, kau tahu siapa yang kucari ? - Niken Anggana penuh harap. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Nah, nah jawabanmu salah lagi. Artinya engkau kena

jebakanku. -

- Kena jebakanmu ? Kapan ? -

- Bagaimana kalau kujawab, secara kebetulan aku tahu siapa yang kau cari. Coba, engkau akan menjawab bagaimana ? - Niken Anggana tertawa. Memang dia seorang gadis yang masih sangat polos. Merasa menumbuk jalan buntu, ia tertawa geli.

Namun masih ia mencoba :

- Di mana ? -

- Nah, salah lagi. - tegur pemuda itu. - Mestinya engkau harus berkata, siapa yang kau maksudkan secara kebetulan kau ketahui?"

- Ya memang begitu yang tepat. -

- Yang kau cari tentunya gerombolan yang gemar mengenakan topeng, bukan ? - pemuda itu tersenyum,

- Ya betul ! - Niken Anggana hampir melonjak gembira.

- Nah, kau boleh ikut aku ! -

Niken Anggana berbimbang-bimbang. Betapapun juga, sesungguhnya dia bukan seorang gadis yang tidak pandai berpikir. Kalau saja berbicara seperti kanak-kanak, karena berhati polos, mulia dan kurang pengalaman. Namun pada saat itu, suatu pikiran menusuk benaknya. Katanya :

- Kau terlalu semberono. Aku belum mengenal dirimu, masakan harus mengikutimu ? - - Haha ah apa perlu saling mengenal nama. Akupun tidak

minta keterangan siapa namamu. Yang penting adalah itikad. Aku bermaksud menolong dirimu. habis perkara. -

- Kalau begitu, silahkan engkau berjalan sendiri. -

- Oh, begitu ? - Pemuda itu tertegun sejenak. Lalu memutuskan :

- Kalau begitu, sampai di sini saja. -

Setelah berkata demikian, pemuda itu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan tempatnya. Niken Anggana mengikuti langkahnya dengan pandangan matanya sampai bayangannya lenyap di balik kegelapan malam.

Ia jadi bingung sendiri. Mengikutinya atau tidak memperdulikan lagi ? Tiba-tiba suatu perasaan rnenyuruh dirinya agar mengikutinya dengan diam-diam. Dan menuruti kata hatinya, ia benar-benar membayangi pemuda itu dari jarak agak jauh.

Tetapi mengikuti orang di tengah malamhari yang gelap gulita, tidaklah semudah yang dibayangkannya. Apalagi, kadangkala diseling dengan turunnya hujan di tempat-tempat tertentu . Maka satu-satunya harapan, ia harus bersabar menunggu datangnya fajarhari. Meskipun andaikata dirintangi hujan deraspun, penglihatan alam jauh lebih cerah.

Ternyata pemuda itu seperti mengerti diikutinya. Mula-mula ia berjalan lambat-lambat. Namun begitu tiba diluar kota, sekonyong-konyong lari kencang. Dan terpaksalah Niken Anggana mempercepat langkahnya pula. Setelah melintasi Deberapa ladang tak beipenghuni, dia memperlambat langkahnya seolah-olah sedang menunggu. Kemudian lari lagi. Kali ini sengaja hendak menguji kecepatan lari Niken Anggana.

Demikianlah terus-menerus sampai waktu terang tanah hampir tiba.

Dalam pada itu Gemak Ideran yang mengambil jalan lain sudah merasa kehilangan jejak gerombolan yang menggoda Diah Windu Rini. Perhatiannya kini beralih kepada Niken Anggana. Terhadap gadis belia itu, memang ia menaruh perhatian besar. Itulah sebabnya, segera ia memutar arah mengikuti jalan yang diambah Niken Anggana.

Sampai di tepi sungai, ia mendengar suara berisiknya belasan orang. Mereka mengerumuni dua mayat yang meringkuk seperti udang bakar. Bergegas ia turun dari kudanya dan ikut melihatnya. Masih sempat ia mendengar seseorang berkata :

- Siapa lagi kalau bukan dia. -

Setelah berkata demikian, orang itu cepat-cepat balik ke perahunya. Agaknya ia merasa kelepasan omong. Gemak Ideran seorang pemuda yang berbakat dan pandai melihat gelagat.

Segera ia mengikuti orang itu dan menghampiri. Menegas :

- Saudura, bolehkah aku tahu siapa yang kau maksudkan dengan dia ? - Orang itu yang usianya tidak terpaut jauh dengan Gemak Ideran, menoleh. Begilu melihat dandanan Gemak Ideran, wajahnya pucat lesi. Dengan suara agak menggeletar ia menjawab :

- Bukan aku yang bilang. Bukan aku ! Aku tidak tahu apa-apa. -

Gemak Ideran tersenyum menenteramkan. la tahu apa sebab orang itu mengelak dengan suara ketakutan. Pastilah diamengenal siapa pembunuhnya. Hanya saja dia sadar apa akibatnya. Maka dengan tetap tersenyum Gemak Ideran berkata membesarkan hati :

- Jangan takut ! Aku bukan polisi. Juga bukan orang pemerintahan. Aku pun datang dari jauh. Aku hanya minta keterangan agar dapat menjaga diri. -

Orang itu mengamati Gemak Ideran mulai dari ujung kaki sampai ke rambutnya. Melihat sikap Gemak Ideran, rasa takutnya turun tujuh bagian. Menyahut dengan hati-hati :

- Saudara datang dari mana dan akan ke mana ? -

- Aku datang dari Madura. Sedang mengadakan perjalanan ke Kartasura. -

- Perjalanan ke Kartasura ? - orang itu terbelalak.

- Mengapa ? - Gemak Ideran kini heran.

- Apakah saudara belum mendengar kabar ? -

- Kabar apa ? - Orang itu bercelingukan ke kiri dan ke kanan. Kemudian berkata dengan setengah berbisik :

- Mari ke perahuku saja ! -

Gemak Ideran tercengang. Sama sekali tak diduganya, bahwa orang itu begitu mudah percaya kepadanya. Mungkin sekali ia berhati polos atau sebenarnya mempunyai maksud tersembunyi. Maka dengan mengangguk ia mengikuti orang itu masuk ke dalam perahunya. Ternyata perahu itu kosong. Meskipun demikian ia tetap berwaspada.

- Saudara, namaku Tameng. Pekerjaan ku pedagang keliling. - kata orang itu mengaku bernama Tameng. - Karena pekerjaanku, banyak aku mendengar kabar angin. Aku tidak perlu menanyakan siapa namamu, demi keamananku sendiri. Mohon maaf bila tidak berkenan di hatimu. -

-Tidak, tidak. - sahut Gemak Ideran. - Kalau begitu aku justru akan merahasiakan pertemuan kita ini. Nah katakan padaku kabar apa yang pernah kau dengar! -

- Keadaan Kartasura, bukan ? -

- Ya.-

- Itulah gara-gara Ratu Sumanarsa. -

Syukur, Gemak Ideran pernah mendengar nama itu berkat cciita Ki dalang Gunacarita. walaupun demikian, hatinya sempat tercekat. Menegas : - Kau maksudkan salah seorang permaisuri Raja Amangkurat IV?-

- Hai, bagaimana. engkau tahu ? - Tameng tercengang.

- Ah, siapa yang tidak mengenal beliau. Sebab beliau adalah ibunda Arya Mangkunegara yang pernah berdiam di Blitar.

- Betul, betul! -Tamengselengah berseru. - Kalau begitu, kabar ini akan jadi lancar. Begini cerilanya. Pada suatu malam Ratu Sumanarsa bermimpi tentang Bulan Jatuh di atas lereng Gunung-Aku bilang diatas lereng, karena sebelum benar-benar jatuh tersangkut pada dahan batang Randu Alas. Itulah semacam pohon kapuk yang berbatang besar dan berdahan panjang.

Menurut bunyi mimpinya, penduduk tergoncang hebat melihat bulan jatuh itu. Hampir berbareng mereka berteriak-teriak : Bulan jatuh ! Bulan Jatuh ! Diantara mereka muncul seorang pangeran. Dialah Pangeran Mangkubumi atau Raden Mas Sujono, Dia datang dengan membawa sebatang galah. Dengan galah itu, ia menurun-kan bulan yang tersangkut di atas pohon Randu Alas dan dimakannya habis. Kemudian ia membuang bayangannya ke atas. Eh, bayangan itu ternyata sepertiga bagian bulan yang tergantung di udara. Raden Mas Said mengambilnya dan dimakannya. Bagaimana menurut pendapatmu ? -

- Menurut pendapatku ? - Gemak Ideran tercengang. Itulah pertanyaan yang sama sekali tak diduganya. Lalu melanjutkan sulit :

- Bukankah itu hanya sebuah mimpi indah ? - - Apakah bukan mimpi yang aneh ? -

- Aneh ? - Gemak Ideran tercengang. - Apanya yang aneh ? -

- Matahari, Bulan, Bintang, Gunung dan Samudera adalah lambang mimpi idaman tiap orang. Sekarang Ratu Ayu Sumanarsa bermimpi tentang bulan yang jatuh di lereng gunung. Jadi ada bulan berbareng gunung. Bukankah hebat dan aneh ? Anehnya, kenapa mimpi satu kali saj'a bisa merangkum dua lambang yang hebat! Padahal manusia di manapun tidak dapat menciptakan mimpi sendiri. Jadi, tentunya itulah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. - Tameng menerangkan alasannya dengan lancar.

Mendengar keterangan Tameng, diam-diam Gemak Ideran memuji dalam hati. Pikirnya, orang ini paling tidak memiliki suatu kepercayaan yang kokoh. Mungkin seorang penghayat llmu Kajawen. Memperoleh kesimpulan demikian berkatalah ia mengiringkan :

- Sebenarnya apakah yang kau maksudkan dengan lambang idaman orang ? -

- Sudah jelas ! - seru Tameng bersemangat. - Gunung,umpamanya, lambang keperkasaan, keteguhan, ketetapan, kekokohan, keluhuran. Samudera, lambang keagungan dan ilmu. Matahari, lambang kekuasaan. Begitu pula bulan. Sifatnya tidak hanya lembut, sejuk, nyaman dan menye nangkan saja, tetapi dicintai. Sedangkan bintang lambang rejeki, kebahagiaan, keberuntungan, jodoh, pangkat dan derajat Sekarang Ratu Ayu Sumanarsa bermimpi bulan jatuh di lereng gunung. Maknanya jelas! Yang dimimpikan makan bulan sampai habis, pastilah kelak akan menjadi seorang raja. Sedangkan Raden Mas Said demikian juga. Mungkin sekali bedanya hanya soal luasnya wilayah. -

- Eh, kau seperti peramal. - Gemak Ideran tertawa perlahan.

- Bukan begitu ! Aku bukan peramal. Aku hanya membaca Ilmu warisan para w a li dan para cerdik pandai semenjak jaman kuno. Bulan tidak beda dengan matahari adalah lambang kekuasaan tinggi. Kenyataannya, bukan aku saja yang percaya. Sekarang kekuatan laskar kerajaan terbelah. Dan biasanya siluman-siluman bertopeng akan muncul di mana-mana untuk menggunakan tiap kesempatan dalam tiap kesempitan. -

Mendengar Tameng menyebutkan siluman-siluman bertopeng, Gemak Ideran tercekat hatinya. Meskipun yang di maksudkan adalah semacam ibarat, akan tetapi ia mengalami dan melihat munculnya orang-orang bertopeng yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Namun dengan bersikap berpura-pura dungu ia minta keterangan :

- Apakah yang kau maksudkan orang yang membunuh dua orang tadi ? - - Hm, belum tentu. - jawab Tameng dengan membuang mukanya. Kemudian ia menuangkan air minum dalam mangkoknya.

Menawari : - Minum ? -

- Terima kasih. -

Tameng tidak berkata lagi. Perlahan-lahan ia meneguk air minumnya. Ternyata aduan bubuk kopi dengan gula merah. Lalu diletakkan perlahan-lahan di atas tikar yang menutupi alas perahu. Tiba-tiba berkata seperti seorang guru yang sedang menguji muridnya :

- Kau pernah mendengar seorang gembong bernama Cing Cing Goling ? -

- Cing Cing Goling ? - Gemak Ideran menegas. - Siapa dia ? -

- Haha kau belum kenal siapa dia, jangan coba-coba masuk ke

wilayah ini. -

- Kenapa ? -

- Sebab engkau membawa-bawa senjata. Ini bisa diartikan menantang kekuasaannya. Hayo coba terka ! Dia bangsa apa ? -

Gemak Ideran terdiam.Bunyi nama itu kedengarannya aneh seperti nama seorang asing. Mencoba-coba :

- Apakah orang Cina ? - Tameng tertawa terbahak-bahak. Sahutnya :

- Sama sekali bukan. -

- Tetapi bunyi namanya kedengarannya ..-

- Pernahkah engkau mendengar sebuah sungai bernama Cing Cing Goling ? - potong Tameng.

Gemak Ideran menggelengkan kepalanya. Dan dengan suara menang Tameng berkata lagi :

- Itulah sungai Serayu. -

- Maksudmu sungai Serayu di wilayah Banyumas ? -

- Benar. - Tameng mengangguk, - Pada waktu para Pandhawa berlomba dengan Kurawa menggali sebuah sungai, Kunti ikut membantu. Kunti adalah Ibu para Pandhawa. Melihat Bhimasena kehilangan semangat, ibunda Kunti menyingsingkan kainnya.

Maksudnya hendak ikut terjun dalam penggalian. Dan begitu melihat ibunya yang sangat dihormati dan dicintai akan ikut terjun menggali sungai, Bhimasena tidak rela. Seketika itu juga ia mengerahkan segenap tenaganya. Dengan semangat menyala- nyala, akhirnya Bhimasena dapat menyelesaikan pembuatan sungai seorang diri. Sungai itu lalu disebut orang dengan nama Cing Cing Goling. Artinya lambang kekuatan dahsyat. Sekarang di belahan utara Kota Ngawi ini terdapat seorang pendekar sakti yang menyematkan nama Cing Cing Goling. Artinya mencanangkan dirinya sebagai seorang pendekar yang memiliki kekuatan luar biasa besar. Sayang dia sangat kejam. Tak pernah ia mengampuni lawannya. Contohnya semua anak-buahnya berbuat begitu. Masing-masing diberi warisan ilmu Sakti Batu Panas setengah bagian. Dia sendiri sudah mencapai tujuh bagian. Bila sudah mencapai tingkatan kesembilan, di dunia ini tiada lagi yang dapat menandingi kesaktiannya. -

Gemak Ideran terlongong-longong mendengar keterangan Tameng yang begitu jelas dan mengesankan. Sebenarnya siapakah dia ? Namun mengingat sikapnya yang takut terhadap anak buah Cing Cing Goling, jelas dia tidak mempunyai kepandaian. Namun masih ia mencoba menjajagi :

- Apakah engkau tidak berani mengadakan perlawanan ? -

- Perlawanan ? Dengan berbekal apa aku berani mencoba-coba melawan anak buahnya ? Aku hanya seorang pedagang kecil.

Pedagang keliling yang menjajakan dagangan seadanya buat menyambung umur. -

Gemak Ideran memanggut-manggut. la mau mengerti. Minla keterangan lagi :

- Jadi dia bukan orang Cina ? -

- Bukan. Cuma dari mana asalnya, aku tidak tahu. Yang kuketahui, kabarnya mempunyai dua orang anak. Laki-laki dan perempuan. Masing-masing sudah mewarisi tiga bagian ilmu kepandaian ayahnya. Kalau anak-buahnya saja bisa membuat orang mati seperti udang terebus, apalagi mereka berdua yang sudah mewarisi Ilmu Batu Panas tingkat tiga. Karena ilu, kau harus berhati-hati. Janganlah mencoba-coba berani mencampuri apa saja yang mereka lakukan. -

Karena keterangan Tameng sudah dirasakan cukup, Gemak Ideran tidak perlu berlama-lama berada di atas perahunya. Segera ia memohon diri dan berjanji tidak pernah bertemu apalagi berbicara dengannya. Lalu ia melompat ke tepi dan mencari kudanya. Sebentar saja ia sudah meninggalkan sungai Brantas, memasuki jalan kota Ngawi.

Ia membiarkan kudanya berjalan sekehendaknya. Sepanjang jalan ia memikirkan semua keterangan Tameng. Suara Tameng seolah-olah mengiang-ngiang terus-menerus di dalam pendengar-annya.

Tiba-tiba suatu ingatan mengejutkan hatinya. Pikirnya di dalam hati :

- Orang itu mengaku bernama Tameng. Pekerjaannya pedagang keliling. Tetapi dia mengerti nama jenis ilmu sakti. Tidak mungkin ia tidak berkepandaian. -

Sampai disini ia seperti merasa memperoleh kesan tertentu. Namun apa itu, ia tidak jelas. Dan tak dikehendaki sendiri, ia menghela nafas panjang. Segera ia memusatkan pikirannya. Bukankah ia sedang berusaha melacak Niken Anggana ?

Teringat akan Niken Anggana timbullah pikirannya. Katanya di dalam hati: - Niken tertarik benar mendengar cerita dalang Gunacarita. Pastilah ia menggunakan kesempatan ini untuk berkunjung ke Penginapan. -

Akan tetapi rumah penginapan ternyata sunyi senyap. Karena itu ia melanjutkan pelacakan. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda. Eh, siapa yang menambatkan kudanya di tengah kebun ? Penuh curiga ia melompat turun dari kudanya. Begitu meng- hampiri, ia terkejut bukan main. Terloncatlah ucapannya setengah berseru :

- Hai ! Kuda Niken ! -

la berdiri tertegun seperti terpaku diatas tanah. Lalu melompat keatas kudanya dan lari balik ke tepi sungai. la yakin, pasti ada hubungannya dengan dua orang yang terbunuh. Dan begitu tiba di tepi sungai, mula-mula yang dicarinya adalah Tameng. Tetapi Tameng tidak kelihatan bersama perahunya.

Tiba-tiba saja jantungnya berdebaran. la seperti merasa menghadapi bahaya yang bersembunyi dalam kegelapan. Cepat ia lari menghampiri rumun orang. Tetapi dua mayat yang tadi terbujur di atas tanah, kini tiada ditempatnya. Dari tutur orang- orang yang masih berdiri di tepi sungai ia memperoleh keterangan :

- Mereka dibawa orang ke Kepala Kampung. - - Sebenarnya siapa sih yang membunuh mereka ? - seseorang berseru.

- Itulah akibat ulahnya sendiri. Mereka mencoba membegal seorang gadis. Lalu datang seorang pemuda yang membunuhnya. - Seorang perempuan setengah umur memberi keterangan.

Kali ini Gemak Jderan tidak mau berkepanjangan lagi. Segera ia dapat menyimpulkan. Pastilah Niken Anggana berurusan dengan si pembunuh. Tetapi mengapa sampai meninggalkan kudanya ? Apakah karena dia merasa dirinya ditolong pemuda itu?

- Ah ! Dengan kepandaiannya sendiri Niken bisa membunuh mereka tanpa bantuan siapapun. - Pikirnya di dalam hati.

Selagi demikian, terdengar seorang gadis berkata dengan suara merdu :

- Kau mencari dia ? -

- Pacarmu ? -

- Apakah kau tahu ? - Gemak Ideran tidak sabar lagi.

- Jawablah pertanyaanku dulu ! -

- Yang mana ? - Gemak Ideran mendongkol.

- Pacarmu atau bukan ? -

- Kalau benar bagaimana ? Kalau tidak bagaimana ? -

Waktu itu malam hari sangat pekat karena udara tertutup awan hitam. Tiada penerangan apapun di tepi sungai sehingga Gemak Ideran tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan tegas. Namun ia yakin, gadis itu seorang berpendidikan. Begitu mendengar kata-katanya, ia membalikkan badan sambil menyahut:

- Kalau begitu, cari sendiri ! -

Sekonyong-konyong gadis itu melesat dengan suatu kecepatan yang mengherankan. Dan menyak sikan kegesitan gadis itu, timbullah rasa curiga Gemak Ideran. Terus saja ia menambatkan kudanya asal jadi. Lalu mengejar gadis itu.

Mula-mula ia menyusur sungai. Tidak lama kemudian gadis itu melintasi ladang rumput yang bersemak belukar. Di tengah malam yang gelap gulita bayangannya susah terlihaL Namun Gemak Ideran tidak putas asa. Kali ini ia benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya. Dengan menajamkan pendengarannya, ia terus mengikuti dari jarak tertentu.

Tiba-tiba jauh di depannya, udara seperti tersekat sesuatu. Apa itu ? Ternyata petak pepohonan semacan hutan liar. Dan gadis itu lenyap begitu saja seperti siluman.

- Hm. - Gemak Ideran mendongkol. - Biarpun kau lari sampai ke ujung dunia, aku akan terus mengejarmu. -

Pada saat itu, sekonyong-konyong terdengar suara bentrokan senjata. Segera ia mempercepat larinya. Dengan penglihatannya yang tajam, ia melihat dua orang bersenjata pedang sedang mengepung seorang gadis yang berkerudung kain hi tarn. Siapa lagi kalau bukan gadis yang sedang dikejarnya. Gadis itu ternyata bersenjata galah baja tipis mirip sebuah cambuk yang dapat dikedutnya dan melencang kaku. Akan tetapi kedua orang yang mengepungnya dapat memagas dan mengutungkan sepertiga senjatanya dengan cepat.

Menyaksikan hal itu, hati Gemak Ideran girang. Sebentar saja ia pasti akan dapat menangkapnya. Hanya saja ia khawatir, gadis itu akan dibunuh oleh kedua orang yang mengepungnya. Maka ia melompat tinggi menghampiri dengan maksud hen-lak menangkap gadis itu hidup-hidup. Tetapi belum lagi tubuhnya mendarat di atas tanah, ia mendengar gadis itu berseru sambil menunjuk dirinya :

- Hai bukan aku ! Dialah yang membunuh kedua temanmu. Mengapa kalian menghadang diriku ? -

Kedua orang itu mendengar suara angin Gemak Ideran yang sedang melompat tinggi di udara. Mereka heran. Tetapi sejenak kemudian yang berdiri di sebelah kiri berteriak :

- Benar! Pembunuhnya seorang pemuda. Mari kita menuntut balas ! -

Pada detik itu tahulah Gemak Ideran apa sebab mereka berdua menuduh dirinya membunuh kedua orang temannya. Bukankah kedua temannya itu sedang berusaha membegal Niken Anggana, lalu datang seorang pemuda yang membunuhnya ? Begitulah tutur-kata orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu di tepi sungai.

- Celaka ! - pikirnya. Gadis itu ternyata licin dan licik. la pandai beipikir cepat selagi dirinya terdesak.

Mereka berdua benar-benar dapat dikelabui gadis itu. Dengan serentak mereka meninggalkannya dan kini berbalik menyerang Gemak Ideran. Dan pada saat itu, si gadis tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik. Secepat kilat ia meninggalkan gelanggang dan set&fitar saja menghilang di balik pepohonan.

Bukan main mendongkolnya Gemak Ideran. Saking mendongkolnya, ia tertawa. Lalu dilampiaskan kepada kedua orang yang datang mengeroyoknya. Bentaknya :

- Eh, kalian hendak menuntut balas ? Kepadaku ? Ah, kalian kena dikelabui siluman itu. Sekarang aku tidak mempunyai waktu untuk melayani kalian. -

Belum lagi gema suara Gemak Ideran lenyap dari pendengaran, kedua pedang mereka sudah menyambar dengan cepat.

Terpaksalah Gemak Ideran menghunus goloknya dan berbareng menya punya. Suatu benturan tidak dapat dielakkan lagi.

Trang ! Kedua orang itu ternyata kalah tenaga. Mereka berdua terhentak mundur setengah langkah. Meskipun demikian, mereka tidak mau tahu. Dengan berbareng pula mereka mengulangi serangan-nya. Kali ini mereka menggunakan tenaga gabungan. Gemak Ideran tidak berani mengadu kekerasan. la terpaksa mengelak dengan menggeserkan kakinya berbareng memiringkan tubuhnya. Tetapi dengan begiru, mereka berdua kini dapat menghampiri lebih dekat lagi, meskipun serangannya gagal mengenai sasaran.

Dua orang itu sebenarnya belum pernah mengenai Gemak Ideran. Mereka tadi hanya mendengar laporan, bahwa dua tcmannya mati terbunuh tak berkubur oleh seorang pemuda setclah bertengkar dengan seorang gadis. Karena itu mereka menerjang bagaikan dua ekor kerbau gila. Dan betapapun pandai seseorang, dia akan sempat kehilangan akal menghadapi orang yang sedang kalap.

- Tahan ! - bentaknya sambil mengelak, - Sebenarnya siapa kalian ? -

- Apakah engkau perlu mengenai namaku ? - orang yang berperawakan gagah balas membentak,

- Sewaktu engkau membunuh kedua temanku, apakah kau sempat menanyakan namanya ? -

- Siapa yang membunuh kedua temanmu ? - sahut Gemak Ideran dengan menyabarkan - Kalian salah faham. Aku justru sedang mengejar perempuan itu untuk memperoleh keterangan-nya, -

- Cuh ! Siapa sudi mendengarkan ocehanmu ? - Setelah membentak demikian, ia melompat menikam. Akan tetapi dengan gesit Gemak Ideran mundur ke samping. Kalau saja ia mau membalas, pedang itu dapat digempurnya runtuh.

- Tabun ! Masakan luput ? - temannya marah.

Kau hanya menonton saja. Bantu, dong ! - Tabun tersinggung. - Namamu Tabah, nyatanya kau tidak tabah, -

- Apanya yang tidak tabah ? - kawannya yang bernama tabah merah padam.

- Kau mau lari ngacir ? - ejek Tabun.

Tabah menggerung, Dengan memutar pedangnya ia menerjang. Ternyata ia menang setingkat bila dibandingkan dengan Tabun. Gemak Ideran sendiri tiada niat hendak melukainya. la mencoba mengelak. Akan tetapi karena kena kerubut, lambat-laun ia merasa kuwalahan juga. Apalagi pikirannya berada pada gadis berkerudung hitam yang kini sudah menghilang dibalik petak belukar yang rimbun.

Tabah dan Tabun bergembira melihat lawannya kuwalahan. Mereka merasa berada di atas angin. Maka dengan semangat berkobar-kobar, mereka menyerang terus-menerus. Pedang mereka berkelebatan bagaikan kilat menyambar-nyambar. Pikir Gemak Ideran : - Hm, agaknya mereka tidak dapat diajak berbicara baik-baik. Kalau aku mengalah terus-menerus, bukankah aku sendiri yang bakal celaka ? -

Dengan pikiran itu ia tertawa mendongkol. Serunya :

- Kalian benar-benar bangsa keledai yang goblok. Agaknya aku perlu merangket kalian. Awas ! -

Dikatakan sebagai keledai, Tabun dan Tabah tiada dapat menahan rasa marahnya. Muka mereka merah padam dan dada mereka serasa hendak meledak. Terus saja mereka mendamprat:

- Kau manusia jahanam yang tidak tahu malu. Kau hanya pandai membunuh orang yang tidak berdaya. Coba sekarang kau bisa apa ? -

- Hm, benarkah kalian hendak menuntut balas kepadaku ? Kalau begitu kaliah harus kubuat berjungkir-balik dulu. - bentak Gemak Ideran. Terus saja ia membalas menyerang. Kali ini ia bersungguh-sungguh.

Dengan membawa kesiur angin, goloknya menabas dan membabat.Tabun dan Tabah terkejut sekali. Sama sekali tak diduganya, bahwa Gemak Ideran sebenarnya memiliki himpunan tenaga yang melebihi tenaga gabungan mereka. Jelas sekali mereka tidak akan dapat menahan gempuran Gemak Ideran.

Tetapi mereka tidak takut. Pikir mereka: - Kepandaianmu bukankah tidak terpaut jauh denganku ? Hm.....

masakah kau bisa berbuat banyak. ..-

Meskipun bisa berpikir begitu, tetapi nyatanya mereka tidak berani menangkis sabetan golok Gemak Ideran. Berbareng mereka melompat mundur menjauhi, lalu memencar ke kiri dan ke kanan. Setelah mereka mulai melakukan siasat maju-mundur.

Diperlakukan demikian, mau tak mau Gemak Ideran jadi makin mendongkol. Kalau tidak dapat merobohkan mereka secepat- cepatnya, buruannya bakal hilang dari pengamatan.

Maka diam-diam ia menghimpun tenaga sakti pemberian Ki Hajar Karangpandan. Lalu menunggu saatnya yang tepat. Begitu Tabah menikam yang disusul dengan tusukan pedang Tabun, mendadak saja ia menyontekkan goloknya. Dan terbanglah kedua pedang Tabah dan Tabun.

Gemak Ideran tertawa panjang. Pada detik itu pula ia melesat melompati mereka dan bagaikan kilat ia menghilang di balik pagar pepohonan. Dari balik pohon ia berseru nyaring :

- Hai kalian berdua. Maaf, tak ada waktu aku bermain-main dengan kalian. Suatu kali aku akan datang mencarimu. Kali ini kalian berdua kuampuni. -

Tabah dan Tabun tidak hanya kehilangan pedangnya masing- masing, tetapi telapak tangan mereka tergetar nyeri. Beberapa saat lamanya mereka tertegun-tegun. Ilmu apakah yang sedang digunakan lawannya ? Dia hanya menyontek dari bawah. Dan tiba-tiba saja tangan mereka kehilangan tenaga. Kalau saja dia mempergunakan kesempatan itu untuk membabatkan goloknya,paslilah tubuh mereka pada saat itu sudah kutung menjadi dua bagian.

Seperli saling berjanji mereka mempunyai pendapat yang sama. Kalau begitu, bukan dia yang membunuh kedua saudara-nya dengan amat kejamnya.

Dalam pada itu Gemak Ideran sudah berada di tempat yang jauh sekali. Petak belukar itu sudah ia lampaui. Tentu saja gadis berkerudung hitam tiada lagi dapat tertangkap bayangannya.

Sejenak Gemak Ideran berpikir. Lalu menyulut tanda sandi dan dilepaskan di udara. Mudah-mudahan Diah Windu Rini sempat melihat. Sebenarnya Niken Anggana membekal tanda sandi juga yang dapat bersuara nyaring di udara manakala dilepaskan. Apa sebab dia tidak melepaskan tanda sandi itu ? Apakah dia tidak sempat atau masih dalam keadaan aman sejahtera ?

Gemak Ideran tak sempat berpikir berkepanjangan. Segera ia lari lagi secepat-cepatnya. Tetapi lambat-laun ia bingung sendiri. Ke mana ia harus mencari gadis berkerudung hitam tadi ? Kabur ke arah mana ? la mendongkol bukan main.

Dan kemendongkolannya dialamatkan kepada Tabah dan Tabun yang merintanginya. Oleh rasa mendongkol dan diricuhkan pula oleh rasa bingung, ia menghentikan langkahnya. Perlahan-lahan ia mengatur pernafasannya. Biasanya nafas yang berirama bisa menjernihkan pikirannya. Teringatlah dia kepada tutur-kata Tameng. Apakah gadis tadi bukan termasuk salah seorang anggauta keluarga Cing Cing Goling ?

- Cing Cing Goling mempunyai dua orang anak. Laki-laki dan perempuan. Kalau yang melakukan pembunuhan dan gadis yang mengenakan topeng tadi adalah anak Cing CLng Goling ,............

wah bakal hebat! - pikir Gemak Ideran dalam hati. - Tetapi kurasa tidak 'salah lagi. Ayunda Windu Rini memperingatkan bahwa musuh sangat licin dan ganas. Siapa lagi kalau bukan mereka ? Ah, biarlah kucari sarang Cing Cing Goling. -

Berpikir demikian segera ia mengarah ke Barat Laut. Tameng tadi menunjuk ke arah Barat Laut. Ternyata medan yang dilalui tidak mudah. Selain terhadang belukar dan ilalang, terdapat tiga atau empat kali kecil dan batu-batu tajam yang mencongakkan din di atas permukaan bumi. Meskipun demikian ia tidak sudi mundur.

Gemak Ideran putera Sawunggaling. Dari ayahnya sendiri ia menerima warisan ilmunya. Lalu digembleng oleh pendekar Warsaya yang melarikannya dari kejaran Kompeni Belanda. Dengan begitu, semenjak kanak-kanak ia sudah biasa hidup di tengah alam raya yang liar.

Dibawa berlari-larian sambil diajari ilmu-ilmu sakti yang harus dilatihnya setiap saat. Setelah dinyatakan lulus, pada suatu kali ia bertemu dengan Ki Hajar Karang-pandan. (catatan penulis : sebenarnya dia masih bemama Hajar. Untuk memudahkan ingatan, kita sebut namanya yang lengkap.) la menerima beberapa macam mantera sakti. Boleh digunakan bila dalam keadaan terjepit. Namun kekuatannya hanya satu kali pakai. Itulah sebabnya, ia tadi menunggu saatnya yang tepat.