Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 08

Jilid 08

- Kalau begitu, kitapun perlu mandi secepat-cepatnya. - ujar Kartamita.

Sebenarnya Bogel ingin mengajak Kartamita berbicara. Tetapi karena Kartamita menyatakan perlunya harus mandi secepat- cepatnya, ia mengurungkan niatnya. Segera ia balik kembali ke ka-marnya. Dan setelah mengunci kamar dengan buru-buru ia menyusul Gunacarita mandi.

Setengah jam kemudian, mereka berempat sudah siap untuk menyambut kedatangan Niken Anggana Sambil menunggu kedatangannya, mereka makan di ruang tengah agar tidak menimbul-kan rasa curiga pengurus Rumah Penginapan.

Setidak-tidaknya tidak akan mengundang dan menimbulkan pertanyaan apa sebab mereka berkumpul satu kamar lagi seperti kemarin.

Akantetapi setelah menunggu setengah jam lagi, Niken Anggana belum datang juga. Bogel yang selamanya paling tidak betah memendam keadaan hatinya, berkata berbisik kepada Kartamita :

- Aku bisa tersiksa mati kaku di sini. -

- Kenapa? - - Sebenarnya masih banyak yang harus kutanyakan kepadamu. Tetapi kita bukankah tidak boleh membicarakan apa yang pernah kita saksikan? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan mencari angin?-

- Alasannya? -

- Mencari makanan yang cocok. bukankah penginap bebas mencari makan minum yang cocok dengan selera masing- masing, meskipun di sini tersedia makanan dan minuman? -

Kartamita mempertimbangkan kata-kata Bogel. Lalu minta pendapat Lembu Tenar dan Gunacarita. Katanya :

- Bagaimana? Kalian ikut? -

- Tentu saja. - sahut Gunacarita dan Lembu Tenar seperti berebut.

- Bagus ! - seru Bogel girang karena usulnya diterima - Kalau begitu, Guna yang pamit kepada pengurus Rumah Penginapan. Bilang saja, kalau kita berempat akan berjalan-jalan sebentar. Ka- lau Niken Anggana datang mencari, suruhlah salah seorang menjemput kita. Jangan lupa uang imbalannya ! -

Uang memang kuasa seperti kekuasaan Jin Besar. Karena Gu- nacarita pandai membagi rejeki semuanya berjalan lancar.

Bahkan empat orang pelayan para penginap, sanggup menyusulnya dengan segera Bukankah kota Ngawi tidak begitu besar ? .

Demikianlah Gunacarita berempat ke luar Rumah Penginapan dengan berbareng seperti tatkala bersama-sama mencari ke- diaman Niken Anggana kemarin lusa Mereka berjalan dengan santai, meskipun tiada yang berani mulai berbicara.

Kota Ngawi pada waktu itu sebenarnya tidak lebih dan tidak kurang semacam desa persinggahan. Karena letaknya dekat sungai besar yang merupakan urat nadi perhubungan perdagangan, sering dikunjungi para pedagang.

Laskar kerajaan, polisi dan Kompeni Belanda melalui kota itu pula, bila mereka sedang melakukan perjalanan ke Madiun atau wilayah Jawa Timur lainnya Tidak mengherankan, pasar yang merupakan pusat perdagangan penuh sesak oleh orang yang sedang berbelanja Disinipun seringkali dikunjungi penjual-penjual obat keliling atau tukang sulap.

- Sebenarnya kita mau ke mana? - Gunacarita menegas kepada ketiga kawannya Dialah yang pertama kali membuka mulutnya, karena sesungguhnya hatinya mulai gelisah kembali.

- Apakah tidak baik kita membicarakan apa yang harus kulakukan sebentar lagi?-

Bogel tertawa serintasan. Lalu menyahut: - Bukankah sudah kita putuskan kemarin? -

- Jadi jadi pokoknya kalian tidak meninggalkan aku seorang

diri, bukan? -

- Pokoknya seperti yang sudah menjadi keputusan. - Bogel tidak sabar.

- Betul begitu kang Karta? - Gunacarita masih belum puas sehingga perlu menegas kepada Kartamita yang dianggapnya paling pandai di antara mereka .

Selagi Kartamita hendak menjawab, tiba-tiba terdengar orang berteriak-teriak sambil memukul gembreng :

- Kabar menggemparkan ! Kabar menggemparkan ! Hayo, hayo ! Siapa mau mendengar kabar ini? Mari saudara-saudara, tuan- tuan, nyonya-nyonya Tujuhpuluh kali lebih aku pernah datang

ke sini. Selamanya belum pernah berdusta. Semua obatku manjur. Tetapi kali ini aku membawa kabar yang lain daripada yang lain. Pokoknya kabar menggemparkan yang harus didengarkan orang banyak. -

Kartamita berempat memalingkan kepalanya. Mereka melihat seorang laki-laki tua dengan rambut rereyapan berteriak-teriak dengan memukuli gembreng. Tidak usah dijelaskan lagi, bahwa dia seorang penjual obat atau tukang sulap. Ternyata penggemarnya banyak sekali Sebentar saja, ia sudah terkepung rapat sehingga menarik perhatian Bogel.

- Guna! - ujar Bogel. - Mari kita melihat kabar apa yang akan di katakan. - - Tetapi kita bukankah harus membayar? -

- Kau sendiri tukang cerita yang mengharapkan bayaran. Masakan dia tidak boleh? Sekali-kali engkau perlu ikut menonton dan mendengarkan demi kemajuanmu sendiri. -

- Bukan begitu maksudku. Bukankah lebih baik kita membicarakan.....-

- Allaaa, sudahlah ! Apa lagi yang harus kita bicarakan? - Kartamita dan Lembu Tenar bersikap diam.

Namun mereka berdua tidak membantah. Maka Gunacarita akhirnya terpaksa mendengarkan ajakan Bogel demi kepentingannya sendiri. Kalau tidak begitu, mereka bisa meninggalkannya seorang diri berhadap-hadapan langsung dengan Diah Windu Rini bertiga. Celakalah ka-lau sampai begitu.

- Mari, mariii sebentar akan kita mulai. Siapa mau mende-

ngarkan kabar gembira? - terdengar orang tua rereyapan itu masih saja berteriak-teriak dengan bersemangat.

Bogel berempat melongokkan kepalanya. Di tengah lingkaran orang yang datang berkerumun nampak sebuah meja kecil. Lalu sebuah keranjang tertutup. Dan di samping meja duduk seorang perempuan bopeng bekas penyakit cacar. Sedang seorang bocah tanggung berdiri tegak di samping keranjang yang tertutup sambil membantu bunyi teriakan orang tua itu. Tentunya mereka berdua adalah pembantu-pembantunya. Setelah dirasakan cukup, orang tua itu meletakkan gembreng-nya di atas meja. Lalu dengan isyarat mata ia menyuruh si bocah tanggung berjalan berkeliling mengumpulkan derma, Beberapa penonton ada yang beringsur mundur agar tidak usah ikut mendermakan uangnya.

Tetapi banyak pula di antaranya yang melemparkan uang kecil di atas niru yang dibawa bocah tanggung itu. Se-waktu lewat di depan Kartamita, Bogel, Gunacarita dan Lembu Tenar ia agak terkejut, karena mereka berempat menjatuhkan jum-lah uang paling banyak dibandmgkan dengan lainnya. Wajahnya lantas saja kelihatan cerah. Terus saja ia memberi isyarat kepada orang tua yang berdiri tegak di tengah lingkaran sambil berteriak:

- Kakek, kukira sudah cukup untuk dimulai. -

- Bagus ! Bagus ! Taruh semua derma pemberian para derma- wan di atas meja agar dapat disaksikan dengan jelas ! - penntah orang tua itu.

Bocah tanggung itu segera melaksanakan perintahnya. Dan terdengarlah suara gemerincing uang tersontak di atas meja. Se- mentara itu, orang tua yang berambut rerejapan berseru nyaring:

- Tuan-tuan, nyonya-nyonya, kawan-kawan dan para sahabat. Aku bernama Ki Angkrek Barangkali di antara kalian sudah kenal namaku. Memang semenjak dulu aku bernama Angkrek.

Semenjak kecil. Semenjak bayi. Cuma setelah rembut mulai beruban, kutambah dengan sebutan Ki. Jadi lengkapnya berbunyi Ki Angkrek. Aku berasal dari Majenang. Letaknya di Jawa Barat.Jauuuuuuuh sekali dari sini. Dengan berjalan kaki belum

tentu satu bulan sampai. Meskipun begitu aku sering datang di Ngawi. Apa sebab saudara-saudara? Sebab Ngawi adalah tanah kelahiranku kedua. Betul, saudara. Ngawi adalah kota kelahiranku kedua. -

ia berhenti mengesankan.

- Di kota Ngawi ini aku tidur dan melepaskan lelah. Di kota Ngawi ini, aku makan dan minum semenjak jaman mudaku. Di sini pula aku mandi, kencing dan berak. Pendek kata luar dalamku sudah bersentuhan dengan kota Ngawi. Karena itu, kota Ngawi kukatakan sebagai tanah kelahiranku kedua. Betul atau tidak? -

- Betuuuuul ..- sahut penonton berbareng.

- Nah, biasanya aku datang dengan mambawa obat mujarab yang kuambil dari tengah hutan. Dari tengah ladang. Dari atas gunung atau dari tepi sungai. Untuk apa kulakukan ini semua? Demi ikut serta menjaga kesehatan saudara-saudara sekalian. Betul atau tidak? -

- Betuuuul ..- sahut penonton dengan berbareng lagi.

- Tetapi kali ini aku bukan datang untuk membawa obat-obat mujarab Atau datang dengan membawa batu-batu azimat yang hendak kupersembahkan kepada saudara-saudara. Sebaliknya aku membawa sesuatu yang amat berguna dan mengagumkan bagi saudara-saudara sekalian. Mengapa begitu? Sebab apa yang kubawa sekarang ini akan membuat perubahan besar bagi peribadi saudara-saudara sekalian. Apa yang kubawa itu?

Ituuuuu yang kusimpan rapih di dalam keranjang. Coba bawa

kemari ! -

Bocah tanggung yang menerima perintahnya segera membuka penutup keranjang. Kemudian mengeluarkan setumpuk helai se- macam kain tipis dari dalamnya. Setelah di letekkan di atas meja, Ki Angkrek memungut sehelai dan dikibas-kibaskannya di hada- pan penonton. Lalu berkata :

- Kain? Bukan. Kulit? Juga bukan. Lalu apa? -

Penonton jadi sirap . Mereka semua memasang telinga sambil mengamat-amati barang tipis yang berada di tangan Ki Angkrek. Kata Ki Angkrek menerangkan :

- Ini namanya topeng. Nanti dulu, dengarkan! Topeng ini bukan topeng sembarang topeng. Asalnya dari negeri jauh. Dari negeri Cina, dari negeri Siam, dari India, Konon, kabarnya dibuat dari lapisan pohon-pohon bergetah. (pohon karet) Terus terang saja, aku tidak tahu cara membuatnya. Tetapi dibuat sedemikian rupa sehingga bila menempel pada kulit orang, mendadak jadi kulit itu sendiri. Baiklah, barangkali keteranganku ini belum jelas. -

la berhenti sebentar dan memanggil perempuan bopeng yang duduk di samping meja. Serunya :

- Mirah ! - Perempuan yang berwajah buruk karena mukanya penuh dengan bekas penyakit cacar, berdiri dan menghampiri Ki Angkrek ogah- ogahan. la menundukkan kepalanya karena tidak tahan oleh pandang orang.

- Anakku, siapa namamu? - tanya Ki Angkrek seperti guru sedang menguji muridnya.

- Mirah, - jawab perempuan itu dengan masih menundukkan kepalanya.

- Kau dari mana? -

- Dari Jawa Barat. -

- Kenapa wajahmu kini rusak? -

Lama sekali Mirah tidak menjawab. Setelah menimbang-nim- bangsekian lamanya, ia membuka mulutnya :

- Menurut kata orang, akibat penyakit cacar. -

Ki Angkrek menghela nafas. Lalu berkata kepada hadirin :

- Mirah ini kuketemukan sewaktu dia berumur 14 tahun. Dia dibuang orang tuanya, karena dianggap anak sial. Ya memang

apa lagi yang bisa diharapkan anak yang berwajah buruk begini Tentunya .sukar mencari jodoh. Sekarang dia sudah berumur enambelas tahun. Tahun depan sudah jadi tujuhbelas tahun. Te- rus terang saja masa depannya gelap. - ujar Ki Angkrek.

Kemudian berkata kepada anak tanggung yang berdiri tidak jauh daripadanya:

- Ujang ! Bawalah Mirah ke dalam kios itu ! Dandani dan bawa kembali ke sini ! -

Ujang menggandeng tangan Mirah dan dibawa menyibakkan penonton. Setelah itu dibawanya memasuki sebuah kios tertutup yang berada di dalam pasar.

Hadirin menunggu dengan perasaan haru. Mereka terpengaruh oleh keterangan Ki Angkrek dan kenya-taannya. Memang, masa depan bagi Mirah sungguh gelap. Siapa-kah yang sudi menjadi suaminya. Bahkan dia bisa dijadikan paraga ejekan oleh kanak- kanak dan pemuda-pemuda tanggung.

- Hadirin yang terhormat! - terdengar Ki Angkrek berkata lagi. - Tetapi topeng yang bukan sembarang topeng ini, kelak akan menentukan hari depannya. Juga manakala di antara sanak keluarga hadirin ada yang menderita demikian. Harganya tidak mahal. Bahannya sangat tipis mirip ari yang tidak beda dengan warna kulit Di atas meja itu terdapat setumpuk topeng ajaib.

Tinggal mencocokkan dengan kulit leher saja. Yang terlalu kuning, ada juga. Yang terlalu hitam, juga ada. Pendek kata memenuhi warna kulit hadirin. - Ia berhenti menghampiri meja. Selagi demikian, penonton menyibak lagi. Muncullah sepasang laki-laki dan perempuan. yang perempuan, seorang gadis remaja yang cantik molek. Sedangkan yang laki-laki kira-kira berumur empatpuluh tahun. Ku-misnya tebal dan berjenggot rapih.

Pandang matanya berkilat-kilat.

- Hahaaa.....- Ki Angkrek menuding mereka berdua. Kemudian menhadap hadirin:

- Apakah hadirin tidak mengenal mereka? Lihatlah yang jelas ! Pakaiannya ! -

- Bukankah yang dikenakan gadis itu, pakaian Mirah? - seru salah seorang hadirin di antara penonton. Mungkin diapun termasuk salah seorang pembantunya.

- Betul! Pandang mata saudara sangat tajam. Dan yang pria? -Ki Angkrek kagum.

- Apakah Ujang, barangkali? - orang yang berseru sebentar

tadi ragu-ragu.

Ki Angkrek tertawa terbahak-bahak. Sambfl bersorak penuh kemenangan ia bertanya kepada hadirin :

- Dia Ujang atau bukan? -

Hadirin terdiam. Mereka ragu-ragu. Menilik pakaian yang dikenakan memang pakaian Ujang. Namun pakaian itu bukan pa- kaian istimewa yang tidak terbeli di pasar bebas. Jadi siapapun dapat mengenakan pakaian demikian.

- Hadirin sekalian. - Akhirnya Ki Angkrek berseru: - Memang, dia Ujang si anak tanggung tadi. Kalian tidak percaya? Hai Ujang, buka topengmu! -

Dengan cekatan pemuda yang berumur empatpuluh tahun itu menarik mukanya. Benar saja. Muka yang ditariknya, terlepas. Dan muncullah wajah Ujang dengan tertawa lebar. Hadirin kagum bukan main. Sekarang mereka mengarahkan pandangnya kepada gadis yang cantik menggiurkan .

- Apakah dia benar-benar Mirah? - Salah seorang penonton berbimbang-bimbang. Dia seorang perempuan yang sudah cukup dewasa.

- Betul, nak. - sahut Ki Angkrek meyakinkan. - Dia Mirah. -

- Bertopeng juga ? -

- Boleh dikatakan begitu. Sebab kalau mau ditempel untuk selama hidupnya akan melekat bagaikan kulit kita sendiri. Kalau hanya untuk keperluan sementara, jangan dilekatkan.

Coba bila topeng ajaib ini melekat terus di wajah Mirah,

bukankah lebih mudah untuk mencarikan jodohnya? Barangkali orang-orang Kartasura, bahkan putera-putera pangeran akan berkenan mengambilnya sebagai isteri. Setidak-tidaknya menjadi selirnya. - Hadirin terdiam beberapa waktu lamanya, lalu terdengar seseorang yang agak penasaran. Orang itu seorang laki-laki berumur lebih dari tigapuluh tahun. Teriaknya :

- Ki Angkrek, aku ingin melihat buktinya. Tolong, lepaskan topengnya agar kita semua yakin. -

- Bagus! - seru Ki Angkrek. - Mirah, lepaskan topeng wajahmu.-

Mirah kemudian melepaskan penutup mukanya dan wajahnya yang buruk muncul seperti aselinya. Menyaksikan hal itu, semua hadirin tercengang-cengang. Termasuk Kartamita, Bogel, Lembu Tenar dan Gunacarita. Alangkah jauh bedanya, manakala Mirah mengenakan topeng nya. Dia tidak hanya berwajah cantik saja, akan tetapi menggiurkan karena perawakan tubuhnya montok singsat Tiba-tiba Kartamita seperti tersadar. Dengan kedua tangannya ia menarik pundak Bogel dan lembu Tenar. Ujarnya setengah berbisik :

- Sekarang jadi jelas ! Hayo ! -

- Jelas tentang apa? -

- Tentang penglihatan kita di gedung kemarin malam. Kalau kalian ingin jelas, mari ikut aku ! -

Kartamita kemudian mendahului ke luar rumun penonton yang berjejal, sedang Bogel dan Lembu Tenar mengikuti dari belakang. Gunacarita yang merasa ditinggalkan, buru-buru mengejar mereka. Memang dalam hal ini, Gunacarita yang merasa berkepentingan langsung. Begitu tiba di jalan besar, segera ia minta keterangan dengan bernafsu :

- Yang jelas bagaimana ? Apa yang akan anda jelaskan ? -

- Hm, pendek saja keteranganku. - sahut Kartamita. - Kalau Mirah bisa mengenakan topeng pencantik diri, mengapa orang lain tidak bisa ? -

- Orang lain yang mana ? - Gunacarita menegas.

Bogel tertawa terbahak-bahak. Dasar ia orang kasar, terus saja mendamprat:

- Eh, ternyata kau ini orang tolol! Kukira setiap dalang pandai berpikir. Tahunya ..-

- Kang Bogel, kang Karta ! Aku memang orang tolol. Tolong jelaskan !- Gunacarita mengalah.

Tetapi, sebenarnya dia bukan orang tolol. Kalau tolol, tentunya tidak pandai mendalang. Hanya saja pada saat itu hatinya gelisah sehingga tidak pandai menggunakan pikirannya. Lain halnya bila dia seorang pendekar. Biasanya seorang pendekar malahan pandai berpikir, manakala merasa terpojok. - Guna ! Dalam perjalanan pulang, Wigagu, Sukesi dan Puruhita berpapasan dengan seorang Cina yang mengenakan jubah, bukan ? - ujar Kartamita setelah mendeham dua kali.

- Benar. Lalu apa hubungannya ? -

- Hai, kau jangan main balas bertanya! - semprot Bogel si kasar. - Bukankah engkau perlu keterangan kang Karta ? Kau tinggal menjawab saja semua pertanyaannya. Kalau betul, ya. Kalau tidak betul, bilang tidak. Kalau kang Karta perlu penjelasanmu, nah barulah kau cuap-cuap ! -

- Ya, ya ya .. - Gunacarita memanggut-manggut seperti burung

kaka-tua.

- Nah, begitu baru bagus ! - Bogel puas. Lalu kepada Kartamita : - Kang Karta, lanjutkan !-

Kartamita tidak segera menjawab. Dengan langkah tenang ia mendongak menjenguk udara. Lalu berkata kepada Gunacarita sambil meruntuhkan pandangnya :

- Kau ingat-ingat ucapan Ki Angkrek tentang dari mana topeng- topengnya dibuat. -

- Dari negeri Cina, Siam dan India, - sahut Gunacarita cepat Memang, seorang dalang biasanya mempunyai ingatan tajam. - Benar. Sekarang, Mirah yang berwajah buruk dapat disulap menjadi seorang gadis yang cantik menggiurkan. Benar atau tidak ? -

- Benar. -

- Berkat apa ? -

- Berkat topeng pencantik wajahnya. -

- Benar separoh. -

- Lho kok. ? -

- Harus ditambah polesan kulitnya yang sesuai dengan warna topeng yang dikenakannya. Umpa manya bagian leher, dada, lengan dan kaki harus dipoles rapih-rapih sehingga sesuai dengan warna topengnya. -

- Betul, betul, betul ..- Gunacarita membenarkan.

- Bagus ! - Kartamita puas. - Kemarin malam kita semua menyaksikan Diah Windu Rini mati terbunuh. Tetapi pagi ini kita melihat Diah Windu Rini hidup kembali dalam keadaan segar bugar. Apa pendapatmu ? -

- Yang mati kemarin malam bukan Diah Windu Rini. - Bogel mendahului. Dan mendengar kata-kata Bogel, baik Gunacarita maupun Lembu Tenar tercengang-cengang.

- Jadi.....jadi. kakang maksudkan ada orang lain mengenakan

topeng yang mirip wajah Diah Windu Rini ? - Gunacarita minta penjelasan dengan wajah berubah-rubah. - Benar. -

Gunacarita terlongong-longong. Lembu Tenar yang berjalan di sampingnya berkata dengan suaranya yang tenang :

- Kalau benar ada orang lain yang mengenakan topeng mirip wajah Diah Windu Rini, lalu apa maksudnya ? -

- Kalau itu yang kau pertanyakan, sudah berada di luar permasalahan kita. - ujar Kartamita, - Paling tidak, tentunya ada alasan-alasan tertentu. Alasan-alasan orang-orang pandai. Lebih baik, kita jangan ikut campur. -

Lembu Tenar, Bogel dan Gunacarita merenungkan ucapan Kartamita. Beberapa waktu kemudian mereka memanggut- manggutkan kepalanya tanda setuju. Tetapi di dalam hati mereka masing-masing terjadi suatu kesibukan yang hebat dan menyeramkan. Sebab mereka berempat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa orang-orang itu saling membunuh dengan amat kejamnya.

- Apakah kira-kira bukan soal memperebutkan pedang Sangga Buwana ? - Lembu Tenar main tebak.

- Itupun bukan mustahil. Sebaliknya bukan mustahil pula ada suatu masalah yang jauh lebih penting daripada pedang Sangga Buwana. -

- Umpamanya ? - Bogel menegas. Kartamita tidak segera menjawab. la menyulut rokok. Setelah disedot beberapa kali, asapnya ditebarkan ke udara. Menjawab :

- Apalagi yang melebihi masalah pedang Sangga Buwana, kalau bukan masalah negara ? Umpama saja perkara peralihan kekuasaan atau perebutan kekuasaan. Pendek kata, itu bukan percaturan hidup kita. Kita ini cuma rakyat kecil. Paling-paling hanya pandai menjadi penonton yang baik. Itupun harus kita lakukan dengan hati-hati dan cermat. Salah sedikit bisa jadi per- kara. Paling tidak kita bisa terlibat dan dilibatkan. Padahal kita tidak punya mobal untuk bisa dibuat berjudi. -

- Betul ! - Bogel dan Lembu Tenar menanggapi dengan serentak. Lalu Lembu Tenar melanjutkan :

- Kita rakyat kecil ini memang susah. Ikut ikutan, salah. Tidak ikut, salah pula. Rupanya memang sudah jadi nasib rakyat kecil.

Dalam hidupnya tidak pernah bisa merasa aman. Kadangkala merasa diperlakukan tidak adil. Ada rejeki besar, yang pandai yang memakan. Sebaliknya kalau ada keributan, kitalah yang dibawa-bawa. Sebenarnya apa sih maksud orang-orang besar itu

? -

- Supaya kalian menjadi kambing yang gampang dituntun atas kemauannya. - Bogel menimbrung dengan suaranya yang kasar.

Kartamita tertawa lebar. Kemudian melanjutkan menghisap rokoknya yang terasa nikmat. Agaknya dia merasa puas atau ada suatu pikiran yang masuk dalam benaknya. Selagi demikian, tiba- tiba terjadi suatu keributan yang datang dari arah punggungnya.

Dengan serentak Lembu Tenar, Bogel dan Gunacarita memaling- kan kepalanya. Mereka kaget berbareng heran, karena melihat penonton Ki Angkrek bubar berderai. Hai, kenapa ? Kartamita- pun ikut menoleh dan ia sempat melihat Ki Angkrek, Mirah dan Ujang tergesa-gesa mengemasi barang bawaannya. Sementara itu dalam pasar terdengar kesibukan luar biasa. Setelah mengamati sebentar, mulailah pendengarannya bekerja.

- Hai, apakah pendengaranku benar ? aku seperti mendengar suara kentung. -

Lembu Tenar, Bogel dan Gunacarita memasang telinganya. Benar saja. Di kejauhan terdengar kentung bertalu-talu. Sejenak kemudian disambung oleh suara kentung kedua, lalu disambung yang lain. Akhirnya suara kentung memasuki wilayah kota.

Seketika itu juga, mereka tersentak kaget.

- Ini kentung tanda bahaya ! - mereka berseru hampir berbareng.

Suasana kota jadi kacau balau. Orang-orang lari berserabutan dan saling menubruk. Yang datang dari arah kiri menerjang ke kanan, demikian sebaliknya. Lalu mulai disambung dengan suara hiruk-pikuk, jeritan dan tangan kanak-kanak.

- Ada apa sih ? - Gunacarila cemas. - Mari kita cepat pulang ke penginapan ! - perintah Kartamita. Dan tanpa menunggu persetujuan teman-temannya, ia men-dahului melangkahkan kakinya setengah berlari. Gunacarita, Bogel dan Lembu Tenar buru-buru mengikuti.

Tung tung tung tung tung..........Tung tung tung tung tung lima

kali tersendat-sendat. Itulah tanda raja pati.

Artinya ada pembunuhan. Bisa diartikan tanda bahaya pula. Tak mengherankan, semua yang mengerti menjadi kaget setengah mati. Sebab tanda kentung lima kali, pada dewasa itu sering terdengar akibat perang putera Jangrana melawan Pangeran Puger (Raja Paku Buwana I), yang terjadi beberapa tahun berselang. Yang belum faham, terseret oleh situasi yang dirasakan menye ramkan. Maka tidak mengherankan pula, bila kanak-kanak menangis ketakutan. Bahkan para remajapun demikian pula.

Sementara itu, Kartamita dan ketiga kawannya sudah tiba di depan rumah penginapan. Begitu hendak memasuki pintu pagar, terdengar suara derap kuda. Dengan berbareng mereka menoleh dan melihat Niken Anggana datang seorang diri dengan kudanya. Mana Gemak Ideran dan Diah Wmdu Rini ?

Mereka berpapasan di halaman rumah penginapan. Melihat Gunacarita berada di antara teman-temannya, Niken Anggana melompat ke tanah dengan cekatan. Dengan suaranya yang tetap manis, ia berkata kepada Gunacarita : - Paman ! Rupanya kurang tepat waktunya untuk dapat mendengarkan paman berkisah tentang pendekar besar Sondong Landeyan. -

- Maksud ndara jeng (nona yang mulia) ? -

- Kita batalkan saja. -

- Tetapi ndara jeng, panjar telah kuterima. - Gunacarita merasa salah.

- Anggap saja sebagai panjar lain waktu. - Niken Anggana tersenyum ramah.

Gunacarita nampak bingung. Padahal tadinya ia berharap mudah-mudahan batal saja. Justru kini batal benar-benar, ia jadi tak enak hati. la berpaling kepada ketiga temannya untuk minta pertimbangan. Belum lagi memperoleh kesan, Niken Anggana sudah berkata lagi:

- Paman, waktuku terlalu mendesak. Kalau kita selamat dan dapat bertemu kembali, bukankah bisa dibicarakan kembali ? Paman, perkenankan aku permisi dulu. -

Gunacarita seperti kehilangan akal. la terlongong-longong. Pada saat itu, Niken Anggana sudah melompat ke atas punggung kudanya kembali. Sambil menggentakkan kudanya ia berseru : - Paman ! Selamat jalan ! Hati-hati di jalan. Dalam keadaan begini, biasanya siluman muncul di sembarang tempat. -

Kuda Niken Anggana adalah kuda jempolan. Begitu kena gentak, lantas saja kabur melintasi pintu pagar dan lari bagaikan anak- panah terlepas dari gendewanya. Sebentar saja, Niken Anggana dan kudanya sudah menghilang di balik tikungan jalan yang mengarah ke barat. Lalu tinggal bayangan nya yang berkesan dalam benak Gunacarita, Kartamita, Bogel dan Lembu Tenar.

- Kang Karta ini bagaimana ? - Gunacarita tersadar dari

nanarnya.

- Ini bagaimana apa ? - bentak si kasar Bogel. - Sudan jelas, dia membatalkan niatnya. Bukankah suatu karunia besar bagi-mu ? Apalagi uangnya berada dalam sakumu. Hayo, rejeki bagi! -

- Tentang uang panjar ? Oh tentu, tentu, tentu. - Gunacarita

mengiakan dengan sungguh-sungguh. - Tetapi demi Tuhan, lalu kita bagaimana ? -

- Eh bertanya bagaimana sekali lagi. - tegor Bogel. - Bukankah kita masing-masing mempunyai anak isteri ? -

- Memang betul. -

- Sudah kita pulang ke rumah. Mau ke mana lagi ? -Gunacarita tercenung sejenak. Membuka mulutnya :

- Jadi jadi kita berpisah ? - - Tentu saja. Masakan mau menginap di sini sampai mampus ?-

Gunacarita termenung-menung. Lembu Tenar yang perasa menimbrung :

- Marilah kita bicarakan pelahan-lahan di kamar. Memang kita harus berpisah secepat-cepatnya. Tentu saja aku akan segera pulang ke Bojonegoro. Dan kau bagaimana, Bogel ? Apakah akan ke Indramayu juga ? -

- Habis mau ke mana lagi ? -

Lembu Tenar tidak segera memnggapi. Dengan langkah pelahan ia mengikuti Kartamita yang bergerak dari tempatnya masuk ke ruang rumah penginapan. Sementara itu, sudah semenjak tadi suasana rumah penginapan nampak sibuk. Para tamu berjubal di depan ruang pembaya ran untuk melunasi uang sewa Namun di antara mereka ada yang menggunakan kesempatan untuk kabur dari rumah penginapan tanpa membayar.

- Kang Karta ! Apakah anda segera meninggalkan rumah penginapan ? - Lembu Tenar menegas.

Kartamita mengangguk. Sama sekali ia tidak mengeluarkan suara. Tetapi begitu masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja mulut- nya mengoceh:

- Tentang pulang ke rumah tentu saja sudah menjadi kewajiban kita. Yang kupikirkan adalah suara kentung itu dan perilaku Niken Anggana yang nampak tergesa-gesa, bahkan agak gugup. Aku yakin, pasti bakal terjadi suatu peristiwa besar yang tidak terduga- duga sama sekali. -

- Kira-kira peristiwa apa ? - Lembu Tenar menyela.

- Kalau aku bisa menjawab, artinya sudah dapat menduga. -sahut Kartamita setengah menyesali. - Kau ingat-ingat saja ucapan Niken Anggana tadi. Di sembarang tempat bakal muncul siluman- siluman yang bisa membuat susah orang lain. -

- Maksudmu ? - Gunacarita minta penjelasan.

- Umpamanya penyamun, perampok atau gerombolan yang susah ditebak dari mana asalnya. Pendek kata seperti yang dialami Wigagu, Sukesi dan Puruhita sewaktu membawa Pitrang pulang kepertapaan. He, bukankah engkau bisa mengisahkan suasana yang keruh ?-

- Betul, betul! Tetapi itu kan cerita hafalan seorang dalang ? - Gunacarita mencoba meluruskan tanggapan orang terhadap dirinya.

- Tetapi pokoknya engkau bisa memahami, bukan ? -

- He-e. -

- Bagus ! Dan karena engkau membawa uang banyak, hati- hatilah disepanjang jalan. - Diingatkan perkara uang, Gunacarita melompat dan lari memasuki kamarnya. Beberapa~ saat kemudian ia balik kembali dengan membawa kantung uangnya. - Mari kita bagi rata, - ujarnya.

- He kok kaya uang rampokan. - tegur Kartamita.

- Bukan begitu, bukan begitu! Sewaktu aku susah, kalian

semua ikut perihatin. Kalau sekarang tidak kubagi rata, aku bukan manusia yang mempunyai jantung dan hati. Lagipula kalau

kalian biarkan aku membawa-bawa uang begini banyak, samalah halnya kalian membiarkan aku bunuh diri. - Gunacarita setengah memohon.

Dan tanpa menunggu persetujuan mereka, ia menyontakkan seluruh isi kantung. Lalu dibagi menjadi empat bagian. Katanya lagi:

- Kang Karta, kang Bogel dan kang Lembu Tenar terimalah.

Kalau ada selisihnya, mohon maaf sebesar-besamya. -

Bogel orang kasar. Tetapi siapakah yang tidak gemar uang ? Memperoleh bagian uang yang melebihi harapannya, kekasaran- nya lantas kendor. Sekarang ia bisa berkata dengan penuh pera- saan :

- Guna ! Sebenarnya aku hanya bergurau saja. Atau paling banter, aku hanya mengharapkan bagian uang panjarmu saja. Tetapi engkau terlalu baik hati sampai rela membagi seluruh milikmu. Apakah bisa dibenarkan ? -

- Ah, kang Bogel! Membawa-bawa uang begini banyak dalam suasana seperti sekarang ini, bukankah sama halnya dengan bunuh diri ? Maka tolonglah jiwaku ! Terimalah bagianmu.....-

- O begitu ? - Bogel berpura-pura perasa. - Kalau memang begitu kehendakmu, apa boleh buat. -

Gunacarita nampak lega hatinya. Pandang matanya berseri-sen. Segera ia mengangsurkan jumlah uang yang sudah terbagi kepada ketiga temannya. Begitu diterima, barulah ia memasukkan bagiannya sendiri ke dalam kantung uangnya.

- Simpan baik-baik ! Masukkan di balik bajumu ! - Bogel menasehati dengan hati gembira.

Gunacarita puas bukan main karena memperoleh perhatian. Memang dalam suasana yang kacau-balau dan penuh ancaman, siapapun akan cepat merasa berterima kasih bila memperoleh perhatian orang lain. Dengan tak dikehendaki sendiri ia membagi pandang kepada Kartamita dan Lembu Tenar untuk memperoleh kesan. Kedua orang itu tidak membuka mulutnya, meskipun wajahnya berkesan ramah.

- Kang Karta, apakah kita segera berangkat ? - Gunacarita minta pertimbangannya. - Kurasa lebih cepat lebih baik. - ujar Kartamita. - Siapa tahu keadaan kota makin bertambah buruk. -

- Apakah kang Karta menduga demikian ? -

- Dengar saja bunyi kentung tanda bahaya yang sambung- menyambung itu. -

Bunyi kentung yang bertalu-talu, memang mempunyai daya pengaruhnya sendiri. Semuanya tergantung kepada keadaan hati masing-masing. Yang kanak-kanak, tentunya segera menangis minta perlindungan. Yang setengah-tengah, malahan menjadi nanar. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Yang dianggap menjadi jagoan atau yang dituakan orang seperti para Kepala Kampung, Kepala dusun, Kepala dukuh paling sedikit wajib memperlihatkan kelebihannya.

Mereka harus memper-tahankan kewibawaan diri, meskipun hati mereka sebenarnya kebat-kebit. Sebaliknya yang berjiwa kesatria atau perajurit seperti terbangun panggilan hatinya. Tak ubah serigala mencium daging mereka melompat ke luar rumah untuk ikut serta menyumbangkan tenaga menenangkan penduduk.

Dan apabila bertemu pandang dengan gadis-gadis remaja, darahnya menggelagak (mendidih) seakan-akan ingin saja meletik ke garis depan untuk menantang perang. Hanya saja, siapa musuh mereka, kurang jelas. Kekacauan yang melanda penduduk kota Ngawi sebenarnya adalah permulaan perang Pacinan (perang Cina).

Laskar Cina yang berhimpun di Pekalongan menyerbu Kartasura. Laskar Cina yang dipimpin Raden Mas Garundi. Menurut kabar yang ditiupkan dari mulut ke mulut, dia adalah salah seorang putera Amangkurat IV. kelak dikenal sejarah dengan sebutan Sunan Kuning. Artinya keturunan Amangkurat IV dari puteri Cina yang di-permaisurikan baginda raja.

11. DIAH WINDU RINI

OLEH JUMLAH uang yang diterima, Kartamita, Lembu Tenar dan Bogel berkenan mengantarkan Gunacarita pulang ke Pacitan.

Empatbelas kilometer mereka mengarah ke tenggara.

Suasana pedusunan masih kelihatan tenang dan aman. Suara kentung yang bertalu terus-menerus di kota Ngawi, tidak dapat menembus petak hutan sehingga tidak mengusik kehidupan penduduk.

Dua kilometer lagi, Kartamita bertiga masih menyertai Gunacarita. Setelah yakin tiada siluman yang muncul di tengah jalan, Gunacarita berani melanjutkan perjalanannya seorang diri.

Mereka berpisah jalan dengan saling memeluk sebagai pernyataan ucapan selamat jalan yang mengharukan. Meskipun bukan teman dan bukan pula sahabat, namun pengalaman mereka berempat dalam beberapa hari yang lalu mempunyai ikatan batin yang mendalam.

Masing-masing merasa bagaikan saudara-kandung sendiri yang bersedia hidup senasib-sependeritaan.

Sekarang, Kartamita bertiga balik kembali ke Ngawi. Tetapi Sementara itu, matahari bersinar makin terik. Bogel yang ber- tempat tinggal jauh daripada mereka berdua ingin membeli kuda, akan tetapi Kartamita tidak menyetujui.

- Dalam suasana yang membawa teka-teki ini, lebih baik jangan menarik perhatianorang. - ujar Kartamita menasehati. -Kita jalan saja dengan santai. Kalau kemalaman di tengah jalan, bermalam saja di mana saja kita berada. -

- Maksudmu di tepi jalan ? - Bogel mencibirkan bibirnya.

- Ya. Lebih aman daripada bermalam di rumah penginapan. -

- Mengapa begitu ? - Lembu Tenar minta keterangan.

- Pendek kata dalam suasana begini, hindari berkumpul-kumpul. Lebih dari lima orang akan mengundang kecurigaan. Lebih dari sepuluh orang, jiwa kita bisa terancam. -

- Hm, masakan sampai begitu ? - Bogel tidak percaya. Tetapi ia mau menerima saran Kartamita agar melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Namun akibatnya, sewaktu tiba di pinggir kota, Matahari sudah condong ke barat Sorehari tiba dengan diam-diam. Tetapi suasana kota makin berkesan keruh. Suara derap kuda yang datang dan pergi, mendebarkan hati. Semua pintu rumah penduduk tertutup rapat Kartamita, Lembu Tenar dan Bogel merandek.

Mereka tak tahu harus berbuat apa untuk bisa menembus kota melintas ke barat Selagi kebingu ngan, mendadak mereka merasakan berkesiurnya angin di belakang punggung. Dengan kaget, mereka menengok dan melihat sesosok bayangan melompat tinggi dan hinggap di atas dinding sebuah rumah.

Orang itu berpaling kepada mereka bertiga sambil menuding ke arah belakang dinding dan kemudian menunjuk dadanya sendiri. Tentunya ia bermaksud memberitahukan sesuatu. Akan tetapi mereka bertiga tidak dapat menangkap maksudnya. Mereka hanya saling memandang dengan penuh pertanyaan.

- Siapa dia ? - Lembu Tenar ingin memperoleh keterangan.

- Bagaimana aku tahu ? - sahut Bogel. Kemudian kepada Kartamita : - Apakah kang Karta mengenal dia ? -

- Sama sekali tidak. - ujar Kartamita dengan sungguh-sungguh.

- Tetapi dia menunjuk ke suatu arah. Apakah.....apakah ia mau

bertanya tentang ..- - Tentang apa ? - Bogel bernafsu.

Kartamita berpikir sejenak. Lalu mencoba menebak :

- Kalau tidak salah, dia menuding ke arah rumah penginapan. Mungkin sekali dia bertanya apakah kita menginap di rumah penginapan itu. -

- Ah, kalau begitu apa yang terjadi di rumah penginapan ? - Lembu Tenar tercengang.

- Baiklah kita jangan main bertanya saja. Mari kita menjenguk rumah penginapan. - ajak Bogel dengan tak sabaran.

Dengan menyusur teritisan rumah, mereka berjalan dengan langkah panjang. Selagi mengitari dinding tembok itu, mereka mendengar suara hiruk-pikuk. Dengan hati-hati mereka mengintip dari sudut dinding yang menutupi penglihatan.

Sepasukan laskar yang mengenakan seragam hitam bergerak menge-pung rumah penginapan. Seseorang yang mengenakan topeng memberi aba-aba dari atas punggung kuda. Rumah penginapan kemudian dimasuki laskarnya dan menggeledah ruang dalam. Entah apa yang dicarinya.

Tetapi menyaksikan peristiwa itu, berbagai bayangan berkelebat dalam benak Kartamita. Teringatlah dia kepada kisah perjalanan Wigagu, Sukesi dan Puruhita sewaktu membawa Pitrang pulang ke pertapaan. Dan pada detik itu pula, teringatlah dia kepada topeng-topeng Ki Angkrek. Lalu kepada orang-orang yang bertempur di rumah pesanggrahan Niken Anggana. Tentunya mereka akan melakukan pembunuh-an. Tetapi pada detik itu pula, ia membantah pikirannya sendiri.

Sebab kalau mau membunuh, siapakah yang hendak mereka bunuh ?

Tetapi yang jelas, laskar itu bukan tentara kerajaan Dengan demikian telah terjadi suatu pemberon takan. Mereka berteriak- teriak tak keruan juntrungnya. Di antara teriakan mereka ter- dengar sebuah kalimat yang lengkap : "Anak melawan bapak. Rakyat melawan Raja !"

- Hm, apa maksud mereka ? - Bogel menggerendeng setengah mengomel.

- Sudah jelas mereka bukan manusia-manusia baik. Untung kita cepat-cepat meninggalkan rumah penginapan. Kalau tidak, kita bakal dimakan mereka. - ujar Lembu Tenar.

Kata-kata Lembu Tenar menyindir Bogel yang membandel dan kasar. Di dalam hati, ia jadi ikut membenarkan pendapat Kartamita. Karena itu, ia menutup mulut - Yang hebat adalah pesan Niken Anggana. - Kartarnita ber-kata.

- Dalam suasana begini akan banyak siluman muncul di mana- mana katanya. Benar, bukan ? -

Bogel dan Lembu Tenar memanggut-manggut seperti burung kakatua. Dengan wajah tegang mere ka mengawaskan laskar yang sedang mengobrak-abrik tata-atur rumah penginapan.

Sekarang mereka melihat pengurus rumah penginapan di gusur ke luar. la digebuki dan ditendang sehingga mengerang kesakitan.

- Ampun, ampun .- ia merintih memohon belas kasih. -

Kami cuma rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Kami rakyat kecil yang hidup cuma mencari makan. -

- Apa bedanya dengan binatang ? - bentak yang berada di atas kudanya.

- Sama.....sama.....memang kami golongan binatang      ..-

Laskar yang mendengar ucapan pengurus rumah penginapan tertawa bergegaran. Seru beberapa orang :

- Kau lembu, ya ? -

- Ya. -

- Kerbau, ya ? -

- Ya betul, aku kerbau .. -

- Kambing, ya ? -

- Ya betul, aku kambing. - - Kalau begitu pantas kita sembelih. -

- Eh, jangan ! Buat apa menyembelih aku ? Yang gemuk masih banyak. ..-

- Paling tidak buat korban. -

- Eh jangan, tuan-tuan besar. Aku Paimin, bukan Ismail anak Ibrahim. -

Orang-orang itu kemudian tertawa terbahak-bahak. Pemim- pinnya membentak :

- Dalam sakumu ada apa ? -

- Ada apa ? tidak ada apa-apa. -

- Dusta ! Ada uangnya, kan ? -

- Bukan! Bukan uang! Cuma sejumput tembakau. Kalau tidak percaya boleh tuanku menggeledah sendiri. -

Selagi demikian, tiba-tiba terdengar derap kuda yang lari kencang mendatangi Seluruh laskar terenggut perhatiannya. Mereka menoleh. Dan seorang gadis yang cantik manis tiba dengan membentak:

- Hai! Lepaskan ! -

Melihat kedatangan gadis itu, Kartamita bertiga terperanjat Tak terasa terloncatlah ucapannya :

- Celaka ! Mengapa Niken Anggana balik kembali ? - - Jangan-jangan dia balik kembali demi kita. - ujar Kartarnita menduga-duga.

- Demi kita bagaimana ? - Lembu Tenar minta keterangan.

- Mungkin sekali, dia memikirkan keselamatan kita la mengira, kita masih menginap di rumah penginapan. Lalu balik kembali untuk menyelamatkan kita. Jika benar, dia benar-benar seorang dewi yang baik hati. -

Selagi demikian, terdengar suara jeritan menyayatkan hati. Dua orang menikam pengurus rumah penginapaa Seketika itu juga, pengurus rumah penginapan bermandikan darah. la dibanting ke atas tanah dan dibiarkan mati terkapar seperti ayam terpotong.

Peristiwa pembunuhan itu teijadi sangat cepat Niken Anggana yang berbudi luhur sama sekali tidak menduga, bahwa laskar yang mengepung rumah penginapan akan bisa berbuat demikian di depan matanya.

Tetapi dengan demikian, kedudukan Niken Anggana menjadi jelas di depan mata Kartamita bertiga. la bukan golongan laskar penyerbu yang mengenakan seragam hitam.

Dengan cekatan, Niken Anggana mengayunkan tangannya. Itulah dua batang belati tajam yang menyambar bagaikan anak panah. Cap, cap! Kedua orang yang melakukan pembunuhan itu, mati terguling. Dan menyaksikan hal itu, orang bertopeng yang bercokol di atas kuda naik pitam. Dengan menggentakkan kuda-nya ia menyerang. Sekali lagi Niken Anggana mengayunkan sebatang pisau.

Tetapi orang bertopeng itu bukan orang sembarangan. Dengan . cekatan ia membungkukkan badannya dan menggelendot di sisi perut kudanya. Pisau yang terayun menyambar di atas kepalanya.Dan beberapa saat kemudian, kudanya yang tidak terkendalikan membentur kuda Niken Anggana.

Oleh benturan yang keras itu, Niken Anggana terlempar tinggi di udara namun dapat mendarat dengan amat manisnya. Pada detik itu pula, tangan kanannya sudah menggenggam pedang.

Sambil menerjang, tangan kirinya mengayunkan lagi senjata bidiknya. Suing! Sayang orang yang mengenakan topeng teraling perut kuda. Dengan begjtu yang menjadi korban justru kudanya Dan dengan meringkik kesakitan, kuda itu roboh terjengkang.

Sedang orang bertopeng itu sendiri dapat menyelamatkan diri dengan berjumpalitan di atas tanah.

- Bangsat! Kau siapa ? - makinya sambil menghunus pedangnya.

Niken Anggana tidak menyahut Dengan membungkam mulut, pedangnya membabat. Keruan saja orang bertopeng itu buru- buru menangkis. Trang ! Karena pedang Niken Anggana adalah pedang mustika, pedang orang bertopeng itu terbabat kutung.

Berbareng dengan peristiwa itu, laskarnya berseru-seru penasaran. Mereka tersibakkan oleh sesuatu yang mengejutkan. Bogel dan Kartamita melongokkan kepalanya. Di antara kerumun laskar berseragam hitam muncul seseorang yang mengamuk bagaikan banteng terluka. Dialah orang yang sebentar tadi hinggap di atas dinding rumah penginapan.

Orang itu bersenjata pedang pula berwarna hitam. Dengan satu gebrakan ia melukai beberapa laskar. Kemudian melompat maju sambil memberi tanda sandi agar Niken Anggana cepat-cepat mengundurkan diri.

- Mengapa ? - Niken Anggana bertanya sambil menikamkan pedangnya.

- Di barat masih ada peristiwa yang lebih hebat -

Niken Anggana terkejut Sesaat kemudian ia meletik dan hinggap di atas kudanya. Pedangnya berkelebat Dan sebelum masuk ke dalam sarungnya, ujungnya masih sempat menyerempet lengan orang bertopeng yang sebentar tadi diterjangnya.

Menyaksikan kegesitan Niken Anggana, Kartamita bertiga kagum bukan main. Diam-diam hati Bogel meringkas. Pikirnya, untung aku dapat membawa diri. Niken Anggana yang lembut saja dapat bergerak begitu gesit dan cekatan. Apalagi Diah Windu Rini.

Selagi berpikir demikian suasana medan pertempuran sudah berubah. Laskar berseragam korat-kariL Orang bertopeng yang kena dilukai Niken Anggana, mendahului melarikan diri. Dan melihat pemimpinnya melarikan diri, sisa laskarnya lantas ikut lari saling berlomba. Sebentar saja halaman rumah penginapan sunyi lengang. Yang terasa kini adalah penglihatan yang menyeramkan.

Kartamita, Bogel dan Lembu Tenar pernah menginap beberapa hari lamanya di rumah pengina pan. Meskipun bukan kawan atau sahabat pengurus rumah penginapan, setidak-tidak-nya mereka pernah mengenal dan bergaul. Sebab setiap kali berada di Ngawi, mereka menginap di rumah penginapan : PANGAYOM.

Sekarang mereka melihat pengurus rumah penginapan itu mati terkapar di depan rumah pengina pannya sendiri. Apa salahnya dan apa dosanya, kurang jelas.

Seperti berjanji mereka menghampirinya dengan bercelingukan. Lalu berdiri tegak bagaikan terpa ku di atas tanah. Mereka jadi teringat akan nasibnya sendiri. Sebab mereka merasa pula sebagai rakyat jelata yang tiada bedanya dengan pengurus rumah penginapan. Jadi sewaktu-waktu mereka bisa tertimpa nasib seperti dia. Dan melihat betapa pengurus rumah penginapan bermandikan darah, bulu kuduk mereka meremang dengan sen-dirinya.

Tiba-tiba suatu mgatan menusuk benak Kartamita. Buru-buru ia berkata kepada kedua kawannya :

- Bogel ! Lembu Tenar ! Kita tidak boleh terlalu lama berdiri di sini. Salah-salah kita bisa kena tuduh. Baik dari pihak pemberontak maupun dari pihak pemerintah. Mari kita mengikuti arah pergjnya Niken Anggana yang menuju ke barat! - Seperti orang disambar geledek, Lembu Tenar dan Bogel bergegas mengikuti kepergiannya Kartamita. Memang dalam hal berpikir, mereka merasa kalah dibandingkan dengan Kartamita. Sekonyong-konyong Kartamita membungkuk dan memungut sesuatu dari atas tanah.

- Apa ? - mereka berdua menegas dengan berbareng. Sambil berjalan Kartamita membuka sehelai kertas yang terlipat rapih. Lalu berseru setengah tertahan :

- Sepucuk surat. -

- Surat siapa ? Apakah begitu penting ? - Lembu Tenar menegas.

- Kita lihat dulu, - sahut Kartamita. Sekarang ia melangkah-kan kakinya setengah berlari. tiba-tiba berkata:

- Hai! Surat untuk Niken Anggana. Rupanya jatuh, sewaktu dia tadi berjumpalitan di udara dan hinggap di atas punggung kudanya. Eh, nanti dulu ada tanda tangannya. -

- Tanda tangan siapa ? -

- Tentunya yang mengirimkan surat - Bogel menimbrung. Sebaliknya Kartamita tidak segera menjawab. la menyimpang untuk memasuki halaman rumah penduduk. Berhenti sejenak di bawah rindang pohon, lalu berkata seperti kepada dirinya sendiri: - Ibu ah, mestinya ibu Niken Anggana Tanda tangannya kurang

jelas. -

- Sudahlah, sudahlah ! Seorang ibu berkirim surat kepada puterinya adalah wajar. Apa yang perlu kita permasalahkan ? - Bogel menggerutu.

Tetapi Kartamita tidak menghiraukannya. la membaca dengan sungguh-sungguh. Lembu Tenar yang buta huruf mendesak :

- Kalau kang Karta bisa membaca, bacalah untuk kami juga !-

- Oh, kalian ingin mendengarkan bunyi suratnya ? Sebenar-nya tidak baik kita membaca surat orang. Apalagi surat Niken Anggana yang kita hormati. Tetapi kalau kalian bernafsu ingin mendengar bunyinya surat ibunya, mari kita mencari tempat yang jauh dari pendengaran orang. -

Mereka bertiga kemudian berlari-larian ke luar kota mengarah ke barat Karena arah Bojonegoro berada di sebelah timur laut kota Ngawi, Lembu Tenar menyatakan keberatan kalau dibawa ke arah barat Usulnya:

- Bagaimana kalau kita baca di atas perahu ? -

- Perahu siapa ? - Bogel setengah mendamprat

- Perahuku. - - Eh, apakah engkau membawa perahu kemari ? -

- Tentu saja. Aku seorang pedagang kelontong yang selalu membawa perahuku mengarungi sungai Brantas. -

Kartamita mempertimbangkan usul Lembu Tenar. Akhirnya ia menyetujui. Maka mereka bertiga kemudian balik ke utara dan tiba di tepi kali Brantas. Perahu-perahu yang berlabuh di tepinya tinggal beberapa buah termasuk perahu Lembu Tenar.

- Tetapi rasanya kita tidak aman berlama-lama di sini. - ujar Kartamita. - Sebab perahu tidak beda dengan kuda, Sewaktu- waktu bisa dipergunakan untuk alat gerakan militer -

- Kalau begitu kita jalankan saja ! - ujar Lembu Tenar. -Kakang bisa mendarat di Padangan atau di mana saja yang anda senangi. -

Kartamita menyenak nafas. Lama ia berdiam diri. Akhirnya memutuskan :

- Sebenarnya kampung halamanku berada di timur. Tetapi biarlah aku menyertai kalian serintasan. Setelah membaca surat ini, aku harus mendarat -

- Itupun baik juga. - Lembu Tenar menetapkan. Kemudian ia mengayuh Perahunya ke tengah dan membiarkannya di bawa arus sungai. - Sekarang, bacalah! Eh, siapa tahu kita akan memperoleh keterangan tentang diri Niken Anggana dan kedua temannya lebih jelas lagi. Rupanya ketiga-tiganya bakal terlibat dalam kekacauan ini. -

Kartamita membuka surat ibu Niken Anggana yang terdiri dan beberapa helai. Lalu mulailah ia membaca :

- Anakku...............

Barangkali ibu ini termasuk manusia durhaka. Tetapi demi Tuhan, ibu tidak pemah menyeleweng meskipun perilaku ayahmu amat buruk. Anakku, kau benar-benar buah jantung hatiku yang kulahir kan dari rakhimku. Kunamakan engkau Anggana. Kau tahu maksud ibu ? Anggana adalah bahasa Kawi. Artinya sendiri.

Kuharapkan sebagai perwujudan dari keadaan hidup ibu yang menyendiri. Benar, anakku. Ibu hidup seorang diri, meskipun ibu berada di bawah perlindungan ayahmu. Rumah yang ibu tempati besar dan mentereng. Dahulu ibu mendambakan kehidupan begitu, karena jelek-jelek kakekmu pernah menjadi seorang bupati ..-

- Hai ! - potong Lembu Tenar. - Seperti Mulatsih, puteri seorang bupati yang gagal. -

Bogel menatap wajah Lembu Tenar dengan pandang keheranan. lapun segera diingatkan kisah ki dalang Gunacarita begitu mendengar Lembu Tenar menyebut-nyebut nama Mulatsih. Maka ia jadi bersemangat Kartamita kemudian melanjutkan : - Ayahmu biasa hidup dalam kalangan atas atau kalangan istana. Seseorang yang sudah mencapai kedudukan setinggi ayahmu, sudah tidak perlu lagi didampingi oleh seorang isteri yang setia dan berbakti. Perempuan-perempuan yang lebih cantik dan lebih muda daripada ibumu bersedia melayani ayahmu. Aku sekarang baru dapat merasakan penderitaan seorang pendekar yang pernah kusia-siakan cintanya ..-

- Hai! Benar-benar mirip dengan kisah Mulatsih ! - seru Bogel dan Lembu Tenar.

- Itulah sebabnya, sengaja engkau kukirimkan ke Madura. Apa sebab begitu, anakku. Yang pertama, aku tidak menghendaki anakku kelak ketularan cara hidup dara-dara dalam lingkungan istana. - Kartamita melanjutkan membaca. - Semenjak bayi kau hidup dalam lingkungan istana dengan segala kemewahannya. Maka engkau sama sekali tidak mengenal kesusahan dan pen- deritaan rakyat jelata. Semenjak kanak-kanak engkau terkurung dalam suatu suasana yang buruk. Bertemu dan bergaul dengan manusia-manusia rendah yang mempunyai kebiasaan menjilat.

Dalam pikirannya hanya terisi nafsu ingin hidup mewah dan mendambakan suatu kekuasaan. Aku dapat berkata demikian,karena aku mengalami sendiri. Akibatnya sungguh pahit

! Aku meninggal kan suatu kehidupan yang murni, Suatu kehidupan yang nyata dan yang sebenarnya. Karena terengut oleh belenggu ingin menuntut nilai lebih, aku meninggalkan seorang suami yang setia dan tulus, tetapi yang kuanggap menjenuhkan. Karena itu, sekali lagi kukatakan, engkau sengaja kujauhkan dari pengaruh lingkungan istana. Kabarnya engkau berguru kepada seorang pendekar besar. Siapakah dia, anakku ? Sebenarnya lebih tepat,bila engkau diasuh oleh orang itu. Dia mempunyai anak laki-laki Ingatlah pesan ibu ! Carilah anak laki- laki itu ! Dia adalah kakakmu. Di waktu kecil, ia kunamakan Pitrang. Entahlah sekarang.Mudah-mudahan dia masih hidup.

Sayang, tak dapat aku membawanya pulang ke istana. Ayahmu mempunyai pikiran yang menyeramkan .. -

sampai disini Kartamita melipat surat itu dengan wajah termangu- mangu. Tak usah dikatakan lagi. Tebakan dan dugaan kedua temannya benar-benar tepat.

- Pantas, ia bernafsu ingin mendengarkan Gunacarita mengisahkan riwayat pendekar besar Sondong Landeyan. - Ia berkomat-kamit seorang diri. - Kiranya Niken Anggena adalah puteri Mulatsih dengan Haria Giri. Ah, dia bakal bertemu dengan satu masalah yang sulit. Mungkin sudah menjadi lingkaran setan.

-

- Lingkaran setan hagaimana ? - Lembu Tenar minta penjelasannya.

- Haria Giri adalah musuh besar pendekar Sondong Landeyan.Dia tidak hanya merenggut isterinya saja, tetapi membunuhnya pula. Kalau saja Pitrang masih hidup, tentunya akan menuntut dendam. Apakah Niken Anggana mengijinkan ? Seorang ayah boleh jahat boleh keji. Akan tetapi ayah tetap seorang ayah. -

- Biarkan saja mereka saling bunuh ! - ujar Bogel. - Kalau hal itu sampai terjadi, ibunya biar tahu rasa .. -

Tak terasa Kartamita menghela nafas. Ucapan Bogel sama sekali tidak didengarkan. Lembu Tenar yang tidak cepat tanggap kemudian berkata seorang diri :

- Ah, kalau saja Gunacarita berada di antara kita, dia bisa mengisahkan dengan jelas apakah pendekar besar Sondong Landeyan benar-benar meninggal terjerumus di dalam jurang. -

- Dia senagia melompat ke dalam jurang. Tentu saja mati. - ujar Bogel. - dia boleh sakti melebihi manusia. Akan tetapi dia masih seorang manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging.

Buktinya dia masih dapat dilukai Surasekti dan kedua adik seperguruannya. -

- Apakah Pitrang ikut mati pula ? - Lembu Tenar emoh mèngalah.

- Nah inilah yang belum jelas. - Bogel mengakui. - Sekiranya sudah mati, mustahil ibunya tidak menyebutkannya. Sebab pada saat itu, dia sudah meninggalkan pertapaan setelah menyaksikan suaminya menceburkan diri dalam jurang. Ih ! Sekiranya bukan ibu Niken Anggana, ingin aku menyumpahinya, mengutuki dan memakinya. - Ketiga orang itu kemudian berdiam diri dengan pikirannya masing-masing. Alasan Bogel yang menyatakan Pitrang tentunya masih hidup adalah masuk akal.

Akan tetapi hal itu .masih merupakan sebuah teka-teki besar yang tidak bakal terjawab.

Sebab ki dalang Gunacarita sudah berada jauh di sebelah selatan Ngawi.

***

DENGAN KECEPATAN kilat, Niken Anggana melarikan kudanya menuju ke barat Pada saat itu, Bogelpun sedang dalam perjalanan pulang ke Indramayu. Waktu itu, sianghari sudah berganti malam. Bulan purnama muncul di tengah udara. Indah semarak menerangi bumi. Apalagi tiada awan segumpalpun yang menghalangi Dengan demikian keindahannya sangat sempurna.

Sebaliknya di atas bumi sendiri sedang berkecamuk suatu huru- hara yang mengejutkan.

Tentara Garundi sudah berhasil mengobrak-abrik Kartasura. Penghuni istana kalang-kabut Tidak terhitung lagi berapa jumlah puteri-puteri bangsawan yang dibawa lari laskar Garundi, diperkosa dan dibuang di tengah jalan.

Akibatnya banyak puteri-puteri bangsawan yang ditampung orang-orang dusun yang baik hati. Karena sudah merasa dirinya tidak murni lagi, puteri-puteri itu menyerah kepada nasib Akibatnya, kelak melahirkan putera-putera campuran. Yang dimaksudkan adalah anak-anak dusun berdarah bangsawan.

***********

halaman 17 datanya kurang baik , hasilnya seperti ini :

Bei Saginda sendiri adah meningpiken letana MartamfL Mahamys

®3ri¼n he timur, oleh pegóAn penged Perbytiwa ini ®aporkan pula kepuda V,0.C. Pusat (kompe i) ci jakarm,lúnaa Kompen] pendirl psenah dilenda malapelska onda tabun 1740, maka huru- hars ynns mensgonangkan minsgssum Mariaryta ®engppi rJonpn reuh rua comm,

7"WL"I 4WE' inn mz w = w - gry , .- . - y -

5ementara itu iksel stulsh hwad a di luar kota Npwl, Karenn ladl la ikut meumpare Pembu lemhti Tesw ømmvai huh di utafa, maka la harus norjsløn memmar '1bkula@a di jaina tsar F935 ßWIShbib415kan InhÞlinl48 41%m JtWO TTigah (%n JnWA Timur, malim hari sukh tibs, Spikyr bulan purnann twisinar coish di agkosiv schitygs 14 (tapal meelkmati e sw malam IPilgkipun lå b7]e4AD AgQstig ditt KimAirn wmtus meter men. deksti posergmhan yms dulo d!sobwnye sehnssi kodigme Nbkon Anegsg in menAmyr bentak an4mmaken. Huruhuru la melonent habelekans schaies poban yang tøunip heluka denen katung bordegupun, fa mondest siam pertempurn_n gem. Rehempn eat k miedkn, hontalmø4ectakoji morska tprdenaar jak Soorung takk laki ysng hersuem bergelom hensru :

19..IH f495 67WIWMs'rr v'ppp,wsv ~r-r- ,

Dulu, snghai kyk ontil sobel soo a g isondetuti mude yms le bependalso llrggi, Wobut im hukon main hebut ilmu Rolokplu.

Tatari skalans, mangene kau1:l! tolbl!!!-tillit sepolti spilig sakut konagebuk ? Hukba:,,,.Gemak klelan!Maleminikay %kalmsti di tangonku, -

150sel berdelw del ni ny llelu• i p 1 i4h he 1. a .lenpn pnaïuda ity Iptøp la I.crkrunn ha k teinadap penluku pcmuda itu la sopan ilan iøi sek all Nrkanung, nampsknva la herada dainm buhayn justm bn pikir itemikian la mendeneni suara (kmak Idordn langan!«h conkay terwsi m,a tertawn hn tr Kuluilah aku

*******

Begitu kau tiba, pada saat itu maut akan merenggut jiwamu. - Gemak Ideran muncul di halaman pesanggrahan yang luas. Di tengah halaman, ia berdiri tegak dan bersiaga bertempur.

Pada saat itu pula, muncullah orang berpakaian hitam lekam yang menge-nakan topeng hantu. la tertawa terbahak-bahak bagaikan guruh sambil berseru nyaring: - Huhaha baiklah kusebutkan namaku dulu agal kau mati

dengan hati puas. Akulah yang disebut olang dengan nama Jakun. Mana temanmu yang belsembunyi ? -

- Hm Jakun ? Pandai betul kau mengingusi orang. Suaramu

cadel. Coba ucapkan yang jelas : inrn ..-

- Bangsat! - Jakun memaki.

- Coba ucapkan rmrooopoo ..-

- Anjing kau !,-

- Haha kau mengenakan topeng siluman. Benar-benar tepat

Kau mengaku gagah perkasa, tetapi kenyataannya kau tidak berani memperlihatkan dadamu. Karena engkau adalah siluman yang tidak ada harganya. -

- Kulangajal! Mana bisssaaa ..-

- Coba ucapkan rnrrooooo Kau berani ? -

- Mengapa tidak ? - Jakun penasaran.

- Ucapkan ro !

- Ro, ro, ro ! -

- Lo, lo, lo ..- Gemak Ideran tertawa geli. Ujarnya :

- Nah, jelas bukan ? -

- Apa yang jelas ? -

- Coba ucapkan lagi: roda berputar berbunyi rat rot! -

- Loda belputal belbuhyi lat lot -

- Nah, jelas bukan ? -

- Apa yang jelas ? -

- Kau bukan orang Jawa. Bukan orang Sumatra! Bukan orang Kalimantan. Bukan orang Maluku. Bukan orang Lombok. Bukan orang Bali. Tetapi orang berkulit kuning. -

- Tapi namaku Jakun. Jakun tetap Jakun. Apa ada undang- undang yang melalang olang pake nama Jakun ? -

Gemak Ideran tertawa senang. Sahutnya :

- Ada yang melarang. -

- Siapa yang melalang ? -

- Leher. -

- Lehel ? Lehel siapa ? -

- Lehermu juga. -

- Kenapa lehelku melalang ? -

- Sebab Jakun bagian dari leher. Kau memakai nama itu tanpa permisinya. -

Jakun memaki dan menyumpah-nyumpah kalang kabut. Lalu membentak : - Mana temanmu yang belsembunyi ? Hayo suluh kelual! Pada jaman sekalang, tidak ada olang bisa mengelubut aku. Suluh dia kelual! Kalau main bokong-bokongan, Jakun tidak takut. -

Setelah membentak demikian, dengan gesit ia menubruk ke depan. Gemak Ideran mengelak sambil menghantam. Tetapi Jakun benar-benar manusia jempolan. Selain gesit, ia berani menangkis gempuran Gemak Ideran secara berhadapan.

Bogel yang bersembunyi di balik belukar dapat mengikuti pertandingan itu dengan jelas. Sebab selain bulan purnama bercahaya cerah, ia bersembunyi pada suatu tempat yang memberi-nya penglihatan luas. Akan tetapi sewaktu mendengar ucapan Jakun menyebut-nyebut tentang orang yang bersembunyi, hatinya berdebar-debar seolah-olah jantungnya nyaris rontok. Apakah iblis itu dapat menangkap bunyi pernafasannya ?

Selagi berpikir demikian, muncullah sesosok bayangan dari balik pohon. Ehalah Niken Anggana yang memasuki gelanggang

..............................................................................

pertempuran menangkis pedang dan golok Gemak Ideran dengan sekali gerak.

- Ih ! - Bogel terkejut. Pikirnya : - Celaka menghadapi Jakun

saja Gemak Ideran memerlukan bantuan Niken Anggana. Dikeroyok dua, Jakun hanya kalah seurat. Sekarang gundiknya membantu. Adduuuh mengapa tidak lari saja ? -

Pertempuran itu cepat sekali berubah. Kalau tadi Niken Anggana dan Gemak Ideran berada di atas angin, kini mulai tergempur mundur. Hanya beberapa saat saja, baik Niken Anggana maupun Gemak Ideran sudah tersengal-sengal nafasnya

- Ha ha ha .- perempuan iblis itu tertawa senang. - Hai

siluman, apakah aku perlu memperkenalkan namaku ? -

- Pellu pelluuu, bial meleka mati puas. - sahut Jakun. Dan tiba-

tiba saja ia mendahului :