-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 05

Jilid 05

Wajah, mereka semua berubah. Selagi demikian, masuklah pengurus Rumah Penginapan sambil berseru-seru : - Hai dengarkan Aku disuruh mengabarkan dan kalian disuruh menyebar luaskan Barang siapa yang ingin memiliki pedang Sangga Buwana harap berurusan dengan dia. -

- Dia siapa? - hampir berbareng mereka inenegas.

- Puteri cantik itu. -

- Diah Windu Rini? -

Pengurus Rumah Penginapan tidak menyahut. Seperti kanak-- kanak takut kena gebuk, ia memasuki kamar kerjanya. Dan suasana dalam ruang itu makin tegang. Mereka saling melemparkan pandang dengan kepala berteka-teki.

4 - MALAM BERBINTANG SATU

MUSIM HUJAN masih merata. Dan bila malamhari tiba, suasana alarn gelap-gulita. Di angkasa yang luas hanya nampak satu dua bintang bergetar malas. Angin membawa rasa sejuk dingin menyakitkan tubuh.

Suara gemeresak dan desah mahkota belukar mengusik kesenyapan. Malam-malam demikian, jarang sekali penduduk ke luar jalan. Tetapi Gunacarita sudah terlanjur sanggup mencari rumah Niken Anggana yang belum jelas letaknya.

Ini terjadi beberapa hari setelah peristiwa di rumah penginapan. Ia disertai Bogel, Kartamita dan Lembu Tenar, yang mempunyai kepentingan sendiri. Kepentingan ingin tahu, siapakah sebenarnya Diah Windu Rini, Gemak Ideran dan Niken Anggana. Dari arah barat berjalan satu rombongan orang Pula yang membawa obor berwarna biru. Melihat warna obor itu, Kartamita yang berpengalaman segera membawa Gunacarita, Bogel dan Lembu Tenar bersembunyi. bisiknya dengan wajah berubah hebat

- Jangan bergerak, jangan berisik ! Bahaya .. -

- Bahaya apa ? - Lembu Tenar minta keterangan.

- Jangan bertanya. Kau nanti tahu sendiri. -

Dengan mendekam, mereka bertiga berada di balik belukar yang tumbuh lebat di depan sebuah rumah gedung berhalaman luas. Sedang mereka memperhatikan rombongan yang datang dari arah barat, masuk pulalah tiga orang berpedang panjang dari ti- mur. Tiga orang itu mengenakan pakaian hitam dengan sulaman bunga merekah warna kuning emas.

Setelah memasuki halaman depan, mereka duduk di atas lantai seperti cara seseorang menghadap raja atau bupati. Rombongan sebelah kiri yang terdiri dari sebelas orang dipimpin oleh seorang laki-laki berperawakan ramping berpakaian hijau. Dan yang du- duk di sebelah kanan adalah tiga laki-laki berpakaian hitam dengan sulaman bunga merekah warna kuning emas.

Mereka saling menatap dengan wajah tegang.

Sebentar kemudian pintu besar yang menutup rumah gedung itu terbuka lebar. Keluarlah enam orang gadis berpakaian putih bersih. Di antara mereka adalah. Diah Windu Rini. - Siapa yang datang ? - tegur Diah Windu Rini dengan suara kering.

- Aku Srenggana, pemimpin rombongan anak-murid Mahesa Rekta.- jawab pemimpin rombongan sebelas orang.

- Dan kamu bertiga? - DiahWindu Rini beralih pandang kepada tiga orang yang mengenakan pakaian hitam bersulam bunga mekar warna kuning emas.

- Aku Lingsir, Puthut dan Wisada.-

- Kalian mau apa? -

- Mau bertemu Niken Anggana. - sahut mereka hampir berbareng.

- Hm. - Diah Windu Rini mendengus. - Apakah semudah mencari kakekmu? -

Mendengar serentetan pembicaraan mereka, darah ki dalang Gunacarita mendesir. Hatinya berde baran. Jantungnya berdegup. Ah, kalau begitu ia terlalu semberono. Memang, Niken Anggana tidak menghendaki dirinya datang ke rumahnya. Niken Anggana sendirilah nanti yang akan menjemputnya. tetapi uang enampuluh ringgit itu bukan jumlah yang sedikit. Upah untuk Kartamita dan Bogel yang sudi mengiringkan, masing-masing lima ringgit. Lembu Tenar tidak mengharapkan upah. Jadi masih sisa limapuluh ringgit. Artinya bisa dibuat menghidupi sampai ke anak cucunya.

Selagi ia hendak minta pertimbangan ketiga temannya, tiba-tiba di tengah udara melesat dua sosok bayangan dan turun bagai dua dewa di depan Diah Windu Rini.

- Siapa kalian? - bentak Diah Windu Rini.

Kedua orang itu tertawa lantang. Mereka mengenakan pakaian singsat berwama hitam. Biasanya orang yang mengenakan seragam hitam datang dari Jawa Timur.

Sahut yang berdiri di sebelah kiri :

- Kau berhadapan dengan Guntur dan Geludug.-

- Hm , kaupun berangan-angan ingin hertemu dengan Niken Anggana? -

- Buat apa? Perempuan yang melebihi kecantikannya, tidak ku- rang. - sahut Guntur dengan ketus.

- Lalu ? -

- Mana pedang Sangga Buwana? Pedang itu berasal dari Jawa Timur. Jadi harus kembali ke kandang nya.-

- Eh, enak saja engkau menggoyangkan lidahmu. - sahut Diah Windu Rini dengan sengit. - Dari mana asal-usul pedang itu, tiada seorangpun yang tahu. Yang jelas pedang itu sudah ada semenjak jaman Sri Wijaya.-

- Baik, nah serahkan padaku ! -

Selagi demikian, Lingsir dan Puthut melompat ke depan dengan pedang terhunus. Tanpa berkata apapun, mereka berdua maju menerjang. Yang berada di samping Diah Windu Rini menangkis dengan gesit. Dan pada detik itu pula Diah Windu Rini menabas- kan pedangnya. Terdengar suara tak ! Dan kedua pedang Lingsir dan Puthut terkutung menjadi dua bagian.

- Ah ! - hadirin berseru kaget.

Dengan berjumpalitan Lingsir dan Puthut mundur ke tempatnya semula. Guntur yang menyaksikan serangan kilat dan akibatnya, berseru mengandung suara penasaran :

- Kau pakai pedang Sangga Buwana? -

- Masakan sampai perlu menggunakan pedang pusaka itu hanya untuk menghadapi dua cecurut pasaran? - bentak Diah Windu Rini seraya melemparkan kutungan pedang yang dirampasnya.

Gunacarita, Kartamita dan Lembu Tenar yang menyaksikan perangai dan tingkah laku Diah Windu Rini jadi tambah tidak mengerti. Mereka tahu, Diah Windu Rini semenjak di Rumah Penginapan bersikap garang, angkuh dan sengit Malam inipun ia bahkan membuktikan kebisaanriya yang tinggi. Apakah latar belakangnya ? Benar-benarkah dia anak-keturunan Haria Giri ? Menilik pembicaraannya menyinggung-nyinggung nama pedang Sangga Buwana, setidak-tidaknya ia ikut terlibat di dalamnya.

Hanya saja kedudukannya kurang jelas. Apalagi bila dihubungkan dengan kedudukan Niken Anggana yang lemah lembut., ramah tamah dan menyenangkan. Dan gadis itu rupanya menjadi incaran para tetamu seolah-olah dialah yang justru menentukan masalahnya.

- Gunacarita. - bisik Kartamita, - Inilah kediaman Niken Anggana bertiga, Gedung besar berhalaman luas, tetapi mirip sebuah pesanggrahan. Apakah Haria Giri berdiarn di sini ? -

- Tentang itu tentang itu .... - Gunacarita berbimbang-bimbang.

- Menurut cerita, tempat tinggalnya susah dicari. Gurunya banyak. Sondong Landeyan sampai menjelajah hampir seluruh Jawa.-

- Oh, begitu? - dan Kartamita tidak berbicara lagi.

Sementara itu, Lingsir dan Puthut yang sudah kehilangan pedang tidak sudi menyerah kalah. dengan berbareng mereka berkata:

- Kalian mau minggir atau tidak? Kalau tidak, kami bisa masuk tanpa permisi lagi. -

- Apakah kalian bisa? - ejek Diah Windu Rini . Dengan suatu kecepatan yang susah dikatakan, Lingsir dan Pu- thut melesat terbang bagaikan bayangan memasuki ambang pintu yang terbuka lebar.

- Hai - seru Guntur dan Geludug terkejut. Tangkas amat -

Mereka semua kemudian ikut memasuki ambang pintu. Mula-- mula Diah Windu Rini dengan pembantu - pembantunya. Kemu- dian Wisada, Guntur, Geludug dan Srenggana. Setelah itu, anak buah mereka yang membawa obor berlari-larian ikut menyusul.

Suasana di batik pintu jadi terang benderang. Lingsir dan Puthut sudah mendarat di tanah dengan membawa senjata andalannya. Kali ini bukan sebilah pedang panjang. Akan tetapi masing-- masing dua batang pedang pendek yang terbuat dari baja mengkilat. Di depannya berdiri seorang laki-laki setengah umur berpakaian singsat, berkumis pendek dan berjenggot. Pandang matanya berkilat-kilat seolah-olah bisa menembus hati.

- Kamu mau bertemu siapa? - bentaknya dengan suara meng- geledeg.

- Siapa yang menyimpan pedang Sangga Buwana? - gertak Lingsir.

- Hm, lalui dulu bangkai Pulunggana -

Rupanya, Lingsir dan Puthut adalah dua pendekar yang tidak senagn berbicara berkepanjangan. Begitu ditantang Pulunggana, terus saja mereka menyerbu dengan berbareng. Mereka lantas bertempur dengan serunya. Sementara itu, Bogel yang mencari tempat persembunyiannya sendiri jadi penasaran. Memang ia orang kasar yang tidak dapat memendam keadaan hatinya. Ia mendengar suara pertempuran seru.

Segera ia uncul dari persembunyiannya dan menghampiri ambang pintu dengan berjingkit-jingkit Semua orang yang berada di halaman tengah sibuk dengan perhatiannya masing-masing.

Maka kedatangan Bogel sama sekali tidak dihiraukannya. Tetapi aneh adalah tingkah Bogel. Begitu menjengukkan kepalanya, ce- pat-cepat ia balik kembali seperti diuber hantu. Dengari suara tak jelas ia berkata kepada ketiga temannya :

- Celaka Mereka sudah mampus.-

- Siapa yang mati? - Lembu Tenar minta keterangan.

- Dua orang tadi yang terbang memasuki ambang pintu. -

- Eh, masakan begitu mudah ? Lembu Tenar tercengang. - Me- reka berkepandaian tinggi. Ketangkasannya melebihi setan.

Siapa yang bisa membunuhnya dengan mudah?-

- Orang itu Orang gagah perkasa yang berada di tengah hala- man. - Bogel memberi keterangan.

Memang pada saat itu, tidak lagi terdengar suara pertempuran! Lingsir dan Puthut mati terjengkang tertembus dua panah bor yang mungkin sekali mengandung bisa berbahaya.

Dengan tenang Pulunggana menyapu sekalian yang memasuki halaman dengan pandang matanya. Mula-mula kepada Srengga- na, Guntur, Geludug dan Wisada. Setelah itu kepada Diah Windu Rini dengan teman-temannya. Menilik kesannya, ia bersikap tidak bersahabat dengan Diah Windu Rini.

Diah Windu Rini Sendiri sedang memperhatikan mayat Lingsir dan Puthut yang tergolek di atas tanah. Dia tadi sempat terkejut menyaksikan ketangkasannya. Tetapi nyatanya mereka mati de- ngan mudah sekali. Hanya saja ia belum jelas, siapakah yang membunuhnya. Pulunggana memang gagah perkasa. Akan tetapi dia bertempur dengan tangan kosong. Apakah diam-diam ia melepaskan panah bor dari balik tengan bajunya ? Atau ada seseorang yang membantunya dengan diam-diam?

Guntur bergeser tempat menghampiri Geludug untuk minta pertimbangan. Katanya dengan berbisik :

- Bagaimana menurut pendapatmu? Kelihatannya dia terlalu hebat -

- Hm. - Geludug mendengus. - Apakah engkau hendak mem- biarkan pedang Sangga Buwana menjadi miliknya? -

Guntur berpikir sejenak. Menyahut :

- Guru kita, paman Surasekti menghendaki pedang itu kembali ketangannya. Guru tidak rela pedang itu jatuh ke tangan Haria Gi- ri. Apalagi dengan seenaknya saja diwariskan kepada keturunannya. -

- Apakah Niken Anggana anak HariaGiri? - - ltupun belum jelas. Akan tetapi menurut kabar di luaran, pedang Sangga Buwana berada di tangan nya. Kalau bukan anak-ke- turunannya betapa mungkin bisa berpindah tangan.-

- Hm. - Geludug memanggut. - Alasanmu masuk akal. Kalau begitu, mari kita mencoba mengadu untung, Apakah kau takut mati? -

- Mati? - Guntur tertawa terbahak-bahak. - Kalau aku takut mati, apa perlu sampai keluyuran di sini. Soalnya sekarang, kita mam- pu atau tidak menghadapi Pulunggana -

Selagi berkata demikian, Diah Windu Rini menimbrung :

- Hai, coba kemari Aku ingin berbicara kepada kalian berdua.-

Guntur dan Geludug saling pandang. Kemudian dengan ragu-- ragu mereka mendekat. Dalam jarak tiga langkah mereka meng- hentikan langkahnya untuk menjaga segala kemungkinan. Diah Windu Rini kemudian menggapai Geludug Berkata :

- Aku mernpunyai rahasia. Kau mau dengar atau tidak ? -

- Rahasia apa ? - sahut Geludug tak senang.

- Kalian ingin membawa pedang Sangga Buwana pulang, bukan' Memang, menurut sejarah pedang Sangga Buwana tadinya berada di Belambangan. Tetapi bukan berarti milik orang Belam- bangan. Meskipun demikian, kalau engkau mau mendengarkan atau tidak saranku? -

Geludug berbimbang-bimbang sejenak. Akhimya melangkah mau mengharnpiri. Diah Windu Rini kemudian membisikkan sesuatu ditelinganya.

- Nah, kau sampaikan kepada kawanmu Begitulah caranya agar kalian bisa pulang dengan membawa pedang Sangga Buwana. Hanya saja, kawanmu itu harus hati-hati dan berwaspada. -

Geludug tercengang beberapa detik. Lalu berputar menghadap Guntur. Setelah itu ia memberi isyarat agar mengikuti dirinya yang melangkah ke luar pintu. Tiba di halaman depan, Geludug menarik lengan Guntur dan dibawanya berlindung di bawah potion. Rupanya apa yang akan dibisikkan begitu rahasia, sehingga sedapat rnungkin jangan terlihat siapapun. Tetapi ia tidak tahu, bahwa di balik belukar bersembunyi empat orang.

Gunacarita„ Bogel, Kartamita dan Lembu Tenar yang mengawas kan gerak-geriknya dengan kepala berteka-teki.

- Kau mau berkata apa? - Guntur menegas.

Geludug menempelkan mulutnya kepada telinga Guntur. liba-tiba ia menjerit tinggi. Darah mengucur deras dari ulu hatinya. Dengan tangan menuding dan wajah penuh tanda tanya ia berteriak tertahan .

- Kau ... kau ..... mengapa kau ..... - Guntur mengulum senyum sambil memperlihatkan sebilah belati pendek di tangannya. Kemudian menyahut :

- Kau baru tahu sekarang, bukan? Kau lihat sendiri. ini badik Belambangan yang berlumuran bisa jahat. Jadi kau tahu sendiri. -

- Tapi ..... tapi mengapa kau berbuat begini ? -

Guntur tidak menjawab. Pada waktu itu Diah Windu Rini keluar pula dari pintu. Dengan langkah pelahan ia menghampiri Ge- ludug. Berkata dengan suara sayang :

- Biarlah aku yang menjelaskan agar engkau tidak mati penasaran. Kawanmu ini sengaja memancing di air keruh. Dia abdi yang setia yang ditugaskan apakah orang Belambangan masih bernafsu mencari pedang Sangga Buwana. Ternyata kau terpancing. Nah, selamat jalan.-

- Oh. - terdengar Geludug melepaskan ucapannya yang penghabisan. Lalu roboh terkapar di alas tanah seperti ayam terpotong. Pandang matanya tentunya melotot menatap udara karena hatinya benar-benar penasaran dan penuh dendam.

Guntur membungkuki. Badiknya yang berlumuran darah di- bersihkan dengan ujung baju Geludug yang sudah tidak bernyawa lagi. Sewaktu ia menegakkan badannya hendak memasukkan badiknya ke dalam sarungnya, tiba-tiba dadanya terasa sakit. Ia hanya melihat sebatang pedang berkelebat di depan matanya. Itulah pedang Diah Windu Rini yang menikam tepat di ulu hatinya pula.

- Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Maka kaupun boleh pergi. - ujar Diah Windu Rini.

Guntur menggerung oleh rasa sakit, penasaran, kaget, heran dan mendongkol. Dengan menguatkan diri ia melompat mundur untuk membebaskan diri dari ujung pedang yang menancap di da- danya.

Tetapi tentu saja Diah Windu Rini tidak sudi memberinya peluang. Diapun maju sambil menyodokkan pedangnya. Karena pedangnya tajam luar biasa, ujungnya menembus dada Guntur sampai di punggungnya.

Guntur roboh bermandikan darah. Dan pada saat itu, Diah Windu Rini mencabut pedangnya dan dimasukkan ke dalam sarungnya. Tenang saja sikapnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Tiga orang pembantunya yang terdiri dad puteri pula berdiri di belakangnya mengambil sikap siap tempur.

Dengan matinya Lingsir, Puthut, Geludug dan Guntur, kini tinggal Wisada dan Srenggana dengan orang-orangnya. Kedua orang itu jelas dari aliran lain, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Mereka kini muncul lagi di halaman depan. Sebentar mereka terlongong menyaksikan mayat Guntur dan Geludug. Lalu berpaling kepada Diah Windu Rini dengan mulut membungkam. - Bagaimana? - hardik Diah Windu Rini.

- Hm.- Srenggana tertawa melalui dadanya. - Rupanya, kaupun menaksir pedang pusaka itu. Kau bisa menjebak mereka, akan tetapi jangan bermimpi bisa berbuat semudah itu terhadapku.-

- O , begitu? - Diah Windu Rini tertawa geli. Lalu menatap Wisada.- Bagaimana dengan engkau ? -

Wisada tidak segera menjawab. Beberapa waktu lamanya ia menatap wajah Diah Windu Rini. Baik wajah dan perawakan gadis itu memang agung berwibawa. Akan tetapi berkesan mengerikan juga. Dia tidak hanya pandai menggertak orang. Tangannya gapah pula.

- Nona,- akhirnya Wisada membuka mulutnya. - Sebenamya engkau bisa dengan cara lain untuk menolong membebaskan ke- dua saudaramu dari cengkeraman Pulunggana, Tidak usah me- nyebar-luaskan perkara pedang Sangga Buwana sehingga menarik perhatian orang. Akibatnya rumah ini didatangi para pendekar dari sernua jurusan. Aku percaya, lambat-laun nona akan terlibat dalam suatu kesulitan lain. -

- Hm , masakan aku tidak tabu? - potong Diah Windu Rini dengan sengit.- Apakah kalian datang kernari bukan karena ingin memperoleh pedang pusaka itu?- - Memang. Aku tadi sudah mengatakan. Tetapi ..... -

- Kalau aku hanya membunyikan kentungan tanda bahaya, masakan kalian mau datang? -

Wisada berpikir sejenak. Menyahut :

- Baildah, anggap saja alasanmu benar. Tetapi mengapa nona justru merintangi untuk bisa maju bersama mengkerubut Pulung- gana ? -

- Apakah engkau tidak mengerti maksud baikku ? -

- Maksud baik yang mana ? - Wisada penasaran.

- Kalian begitu ceroboh. Kalian anggap Pulunggana secerpih tembakau yang bisa kalian pilin-pikin Dia sakti luar biasa. Maka sebelum mencoba-coba, kalian kuuji dulu. Kalau lulus, nah baru- lah mempunyai arti melawan dia. Lihatlah nasib Lingsir dan Pu- thut yang semberono itu !, Hanya dengan mengandal kan suatu kegesitan mereka berani menerjang masuk. Padahal hanya dengan sekali tabas, pedang mereka dapat kami kutungkan.

Akibatnya mereka seperti mencari matinya sendiri. Apakah kegesitan Pulunggana hanya bisa dilawan kegesitan semata ? Otak, akal dan perhitungan harus menjadi pegangan utama sebelum bertindak. Kalau kalian berani mengadu untung, silahkan

! -

Srenggana tertawa terbabak-bahak. Serunya : - Nona, engkau benar-benar pandai bemain sandiwara Setelah kini tinggal dua orang, kau persilahkan kami memasuki ruang dalam untuk bertempur melawan Pulunggana. Bukankah sama halnya engkau mengadu domba Guntur dan Geludug ? -

- Ah benar. - Wisada tersadar. - Sebenarnya apa sebab mereka bisa saling membunuh? -

- Saling membunuh ? - Diah Windu Rini tertawa lebar - Akulah yang membunuh Guntur. Sebenarnya aku bermaksud baik pula. Geludug kusuruh membisiki agar salah seorang mau mengalah. Rupanya Guntur terlalu serakah . Khawatir akan tidak kebagian rejeki ia membunuh Geludug selagi sedang rnembisikinya. Orang semacam dia harus kubunuh pula. -

-Eh, enak saja engkau mengarang centa. - Srenggana memben- tak dengan wajah penasaran. - Kami belum buta. nona. Guntur adalah kaki-tanganmu. Dia sengaja kau kirim ke Belambangan untuk membuat desas-desus perkara pedang Sangga Buwana, bukan ? Dan ia engkau bunuh untuk menghilangkan jejak. -

Sreng ! Diah Wmdu Rini menghunus pedangnya. Lau melompat maju seraya menghardik :

- Kau terlalu banyak mengetahui. Maka kedua-duanva harus kusingkirkan.-

- Hm, apakah mudah? - ejek Srenggana. Lalu memberi aba-aba kepada anak-buahnya : - Maju -

Sebelas orang anak buahnya berlari-larian dengan membawa obornya. Setelah mengepung rapat, obor mereka ditancapkannya di atas tanah. Dengan berbareng mereka menghunus senjatanya masing-masing yang terdiri dari kelewang, penggada, tongkat besi, tombak dan pedang.

Ketiga pembantu Diah Windu Rini tidak tinggal diam saja. Mereka beradu punggung, lalu maju dua langkah. Setelah maju dua langkah, seorang demi seorang mundur selangkah. Bila yang per- tama mundur, yang kedua maju. Lalu disusul yang ketiga dan pada saat itu pula yang kedua mundur dalam jurusan lain. Maka siapapun tahu, itulah jurus-jurus kerjasama yang rapih.

Kelihatannya seperti maju-mundurnya sekawanan penari, akan tetapi sesungguhnya menggenggam ancaman yang berbahaya. sebab dengan tiba-tiba saja, kelembutan itu bisa berubah dengan suatu kegesitan yang garang seperti gerakan majikannya.

Wisada untuk sementara tidak sudi melibatkan diri. Rupanya dia seorang pemuda yang berhati-hati. Ia membiarkan Srenggana dan anak-buahnya mengadu untung dan memutuskan untuk menjadi seorang penonton yang baik.

- Tujuh maju empat lari - perintah Srengana yang merupakan aba-aba sandi.

Tujuh orang lantas saja menedang sambil berteriak nyaring. Yang empat lari berputaran makin lama makin cepat. Karena itu, Diah Windu Rini di paksa pula untuk berputar mengikuti gerakan mereka.

Celakanya yang tujuh orang menyerang maju mundur sehingga merepotkan kedudukannya.Menyak sikan Diah Windu Rini dan ketiga pembantunya keripuhan, Srenggana kelihatan puas. Ia tertawa gelak. Lalu berseru - Nona ! Kau masih berani mengangkat kepala? -

Mendongkol hati Diah Windu Rini diejek demikian. Sekonyong- konyong ia melesat tinggi dan menyerang empat orang yang lari berputaran. Itulah serangan kilat diluar dugaan. Namun agaknya mereka sudah bersiaga menghadapi kemungkinan demikian, tiga orang ikut membantu. Sedang ketiga pembantu Diah Windu Rini cukup direpotkan empat orang dan Srenggana.

- Bagus!- seru Diah Windu - Kalian sebenarnya rombongan tetamu yang harus kusuguh minuman dan makanan dulu.-

- Siapa kesudian minum suguhan nenek-moyangmu. - bentak Srenggana.

- Ah ! Aku sudah berusaha seramah mungkin tetapi nampaknya, kalian tidak sudi menghargai keramahan orang. Baik. -

Berkata demikian ia menikam salah seorang yang maju mener- jang. Tangan kirinya bergerak pula menghantam iga-iga. Inilah serangan diluar dugaan orang itu lantas saja roboh terjengkang. Menyaksikan hal itu, Srenggana mendongkol. Namun diam-diam ia terkejut melihat kepandaian Diah Windu Rini yang dapat merobohkan seorang anak-buahnya yang sudah terlatih bertahun-tahun lama nya. Dengan cara yang sederhana. Dengan mengangkat tangannya ia memberi aba-aba untuk memba las

menyerang. Sembilan orang anak-buahnya menerjang dari empat penjuru.

- Mustahil engkau bisa melawan sepuluh orang - sera Sreng- gana.Dan iapun segera menggabungkan diri .

Diah Windu Rini dan ketiga pembantunya menangkis dengan berbareng.. Suatu benturan senjata memekakkan telinga. Akibat- nya para penyerbunya tergentak mundur. Srenggana kernbali ter- peranjat lagi. Pikimya, benarkah tenaga perempuan bisa mempu- nyai kekuatan begini hebat? Ia penasaran dan ingin mengadu tenaga melawan Diah Windu Rini.

- Mengalahkan mereka harus menangkap kepalanya dulu. - pikirnya.

Retapi lagi-lagi ia tertumbuk batu. Diah Windu Rini tidak sudi mengadu tenaga. Dengan sedikit menggeserkan letak kakinya, ia mengelak. Akibatnya diluar dugaan. Sebab Diah Windu Rini tidak membalas menyerang. Sebaliknya menikam seorang anak-buah- nya yang sama sekali tidak berjaga-jaga.

Cres ! Ujung pedang Diah Windu Rini menikarn bawah pundak. Yang kena tikam menjerit kaget. Tongkatnya terpental dari genggaman. Dan tepat pada saat itu salah seorang pernbantu Diah Windu Rini menendang tongkat dan balik memukul majikannya dengan telak. Tak ! Dan orang itu roboh terkapar tanpa ampun lagi.

Dua orang telah roboh. Srenggana tidak patah semangat. Ia terus merangsak layak orang hendak bunuh diri. Justru demikian, Dua orang roboh lagi. Dengan demikian anak-buahnya kini tinggal lima orang. Kini dia jadi kalap. tetapi dalam keadaan terjepit, biasanya seseorang menemukan jalan keluar.

Mengapa tidak menyerang pembantu-pembantunya Diah Windu Rini yang kepandaiannya tentunya tidak setinggi majikannya?

Memperoleh pikiran demikian, segera ia merobah cara berkelahinya.

Sekarang, ia menghadapi Diah Windu Rini seorang diri, sedang lima anak buahnya menerjang tiga orang pembantunya. Ternyata berhasil.

Salah seorang pembantu Diah Windu Rini tertikam roboh dan ma- ti terbanting di atas tanah.

- Kau berani membunuh pembantuku ? - bentak Diah Windu Rini.

- Apakah hanya engkau saja yang berhak membunuh orang? - balas Srenggana tidak kalah sengitnya.

Tiga orang berlawanan enam orang. Meskipun demikian kea- daannya tidak seimbang. Diah Windu Rini yang dibantu dua orang dayangnya berkelahi bagaikan bayangan. Lambat-laun Srenggana merasa kuwalahan. Selagi demikian, tiba-tiba Pulunggana muncul di ambang pintu. la mengamati mereka yang sedang berkelahi dengan menyungging senyum. Lalu duduk di atas lantai seperti seorang penonton wayang golek.

Bogel, Kartamita, Gunacarita dan Lembu Tenar memperhatikan orang itu dengan jantung berdebar-debar. Entah apa sebabnya, bulu kuduk mereka meremang. Terutama Bogel yang menyaksikan betapa mudah Pulunggana membunuh Lingsir dan Puthut dengan sekejap mata saja. Kalau orang itu sampai ikut masuk ke dalam gelanggang pertempuran, Srenggana dan sekalian anakbuahnya akan kehilangan nyawanya.

Wisada yang semenjak tadi menonton di luar gelanggang, tahu diri . Pelahan-lahan ia mengundurkan diri. Lalu lari terbirit-birit mengarah ke barat. Srenggana yang terlibat dalam suatu pertempuran antara mati dan hidup, mendongkol bukan main. Justru demikian cara bertempurnya jadi kacau. Dua orang pembantunya terluka. Syukur tidak membahayakan jiwanya. tetapi di pihak lawan, seorang dayang Diah Windu Rini terluka Pula. Bahkan kelihatan parah.

- Hm. - Pulunggana menggerutu. - Mengapa memanjakan lawan?

-

Tangannya bergerak dan belasan panah bor beracun menyabar secepat kilat. Pada saat itu pula terdengar suara teriakan menyayatkan hati. Srenggana dan sekalian anak buahnya mati terjengkang. Anehnya, juga kedua dayang Diah Windu Rini tidak luput dari ke- matian.

- Hai ! - bentak Diah Windu Rini dengan suara sengit. - kenapa kau bunuh sekalian dayangku ? -

Dengan pelahan-lahan Pulunggana berdiri. Ia tertawa melalui hidungnya. Lalu menjawab dengan suara di antara bunyi tertawa- nya :

- Kaupun sudah cukup melakukan perananmu. -

Tiga buah panah bor melesat bagaikan kejapan kilat Diah Windu Rini melompat tinggi sambil mena baskan pedangnya. Ia berhasil meruntuhkan dua buah, akan tetapi yang sebuah tepat menancap di tumitnya. Dengan memekik kesakitan ia turun ke tanah dengan beriumpalitan. Hebat puteri cantik jelita itu . Meskipun sudah terluka pedangnya masih saja dapat mengancam dada lawan .

Pulunggana memiringkan badannya sambil tertawa pelahan. Dan sebelum Diah Windu Rini sempat menarik pedangnya, ia roboh menubruk ke depan.

- Kau.... ! Kau ! - ia menudingkan pedangnya.

- Ah, mulutmu memang kelewat cerewet Nih, sekali lagi. - potong Pulunggana. Sebuah panah bornya melesat dan menghantam tenggorokan Diah Windu Rini dengan tepat . Kali ini, gadis itu ti- dak dapat lagi membuka mulutnya. Pelahan-lahan ia roboh tergo- lek di atas tanah dengan pandang mata penasaran.

Pulunggana menunggu sampai jiwa gadis itu melayang Kemudian dengan santai ia memasuki ambang pintu dan menutup daun pintunya dengan rapat. Suasana di halaman jadi sunyi mengerikan. Belasan mayat bertebaran bermandikan darah di bawah cahaya belasan obor yang sudah mulai buram.

Bogel yang beradat panas dan sedikit urakan,kali ini kehilangan keberaniannya. Wajahnya pucat lesi. Mulutnya terbungkam.

Bahkan kedua kakinya menggigil diluar kehendaknya sendiri. Apalagi Lembu Tenar. Ia merasa diri seperti terlolosi seluruh sendi tulangnya. Kartamita yang biasanya pandai berpikir kehilangan peribadinya. Ia merasa kehilangan akal. Tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Dan yang paling mengharukan adalah ki dalang gunacarita. Orang ini hanya pandai mendalang. Dia seorang seniman tulen. selama hidupnya belum pernah menyaksikan orang saling membunuh.tetapi di malam gelap gulita itu, ia menyaksikan tidak hanya seorang yang terbunuh. Melainkan belasan orang yang ter- diri dari laki-laki dan perempuan. Keruan saja ia sampai terkenceing-kencing. Akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri .

Sementara itu, waktu berjalan terus. Sekalian obor telah padam suasana malam tambah gelap pekat. Di udara hanya nampak sebuah bintang bergetar payah di antara barisan awan hitam yang berarak-arak. Angin sama sekali tidak meniup. Suasana sunyi menjadi hening. Hening yang menggeridikkan bulu roma. Sebab di depan rumah gedung itu berserakan mayat-mayat yang belum dikebumikan.

Akhirnya Kartamita dan Bogel dapat merebut kesadarannya kembali. Segera mereka meraba Lembu Tenar agar beralih tempat. Kemudian kepada Gunacarita. Tetapi ki dalang masih saja jatuh pingsan.

- Celaka - bisik Kartamita cemas.- Ayo kita bawa beramai-ramai. Kalau ketahuan, kita bakal kehilangan jiwa. -

Peringatan Kartamita tidak perlu diulangi lagi. Semua temannya sadar akan bahaya yang mengancam. Maka dengan memaksa diri, mereka menggotong gunacarita. Lembu Tenar dan Kartamita masing-masing mengangkat kakinya, sedang Bogel bagian pung- gung sampai kepala. Bau kencing yang teruar dari celananya yang basah kuyup tidak dihiraukan lagi.

Setelah kira-kira duaratus meter meninggalkan tempat, Bogel menegas :

- Mau dibawa ke mana ? -

- Jalan terus - ajak Kartamita. - Yang jelas, kita tidak bisa balik pulang ke penginapan. Kita mencari sebuah gubuk untuk istirahat.-

- Hm - nafas Bogel memburu. - Babi ini kenapa terkencing- - kencing? Hai, bangun ! - Gunacarta tidak terusik. Bahkan ia seperti orang mampus. Punggungnya yang terkatung-katung nyaris mengesek tanah, na- mun tetap saja ia kehilangan kesadarannya.

- Kita berhenti dulu ! - usul Bogel.

Dengan hati-hati mereka meletakkan Gunacarita di alas re- rumputan. Kemudian beristirahat melepaskan lelah. bukan main pengalaman sebentar tadi. Berbagai kesan bercampur aduk menjadi butiran-butiran perasaan yang tidak menentu. Karena itu, lama mereka berdiam diri. Kira-kira limapuluh meter di seberang jalan terdengar suara air bergemericik. Itulah suara arus anak sungai yang menumbuk-num buk batu-batu penghalangnya.

- Kartamita, sekarang kita ke mana? - Bogel minta pendapatnya. Itu berarti ia mengakui Kartamita yang pandai berpikir di antara mereka berempat.

- Kita tunggu dulu sampai Guna sadar kembali. - sahut Kartamita dengan suara kering. - Lalu kita kembali ke penginapan. Sete- rusnya kularang kalian membicarakan penglihatan malam ini, ka- lau masih sayang pada jiwa sendiri.-

Lembu Tenar menghela nafas. la mendongak ke udara mere- nungi bintang yang satu itu. Bintang yang bergelar sendirian. beberapa waktu kemudian ia meruntuhkan pandang. Mencoba minta pendapat teman-temannya . - Andaikata aku terpaksa atau dipaksa untuk berbicara perkara ini, apa yang harus kukatakan selain hanya menyaksikan peristiwa saling membunuh? Apa lagi? -

- Bagaimana kalau engkau dipaksa mengisahkan mula-mula kita mengenal Diah Windu Rini sampai sampai.... - ujar Bagel dengan suara bergemetar.

- Ya aku cuma bisa berkata, dia mati terbunuh. Yang mem-

bunuh orang bernama Pulunggana. - jawab Lembu Tenar sulit.

Bagel tidak puas dengan jawaban Lembu Tenar. akan tetapi apa yang membuatnya merasa tidak puas, ia tidak tahu sendiri.

Kartamita rupanya dapat membaca keadaan hatinya_ Katanya hati-hati :

- Aku tahu, kau ingin Lembu Tenar mengutarakan kesan hatinya perkara Diah Windu Rini, bukan ? -

- Benar, benar Aku mernang manusia yang tidak bisa menyimpan hati. - sahut Bagel cepat. - Sebenar nya bagaimana dia? -

- Kau maksudkan siapakah dia sebenarnya ? -

- Ya, ya, ya .. -

- Dengan sesungguhnya, akupun tidak tahu.- Kartamita menghela nafas setengah mengeluh. - Kita melihat suatu pertempuran.

Jelas sekali, kita semua menyaksikan. Akan tetapi anehnya, justru jadi tidak jelas. - - Tidak jelas bagaimana? -

- Kau bisa menjawab, siapa yang datang meluruk rumah Diah Wtndu Rini? - Kartamita menguji.

Bagel dan Lembu Tenar saling pandang. Lalu terlongong-- longong. Akhirnya mereka mengaku tidak mengerti.

- Tidak jelas, bukan? - Kartamita,rnenegas.

- Ya.- mereka menjawab berbareng.

- Apakah kalian yakin Pula, bahwa rumah itu adalah kediaman Diah Windu Rini ? -

Bagel dan Lembu Tenar menggelengkan kepalanya: Sejenak kernudian Lembu Tenar menjawab :

- Yang bisa menjelaskan kukira hanya Guna. Sebab Guna yang membawa kita kemari. -

Kartamita menimbang-nimbang sejenak. Lalu membenarkan. Katanya lagi :

- Pihak yang datang sudah jelas. Mereka mempunyai maksud tertentu. Yang satu ingin merebut pusaka pedang Sangga Buwana.Yang lain datang untuk bertemu dengan Niken Anggana. Ada lagi yang mengesankan, bahwa Niken Anggana Tertawan.

Tertawan oleh siapa ? - - Benar. Tertawan oleh Siapa ? - Lembu Tenar mengulang permasalahan itu. - Padahal, bukankah Niken Anggana setidak-- tidaknya termasuk keluarga Diah Windu Rini ? Ingat di penginap- an dulu Dia di bawa lari Diah Windu Rini. Dara yang cantik luar biasa itu tidak membantah. Jadi menurut akal sehat, Diah Windu Rini yang menawan Niken Anggana dengan maksud tertentu. -

- Tetapi mengapa dia membiarkan orang yang bernama Pulung- gana berada di dalam? - bantah Bogel.

- Akulah yang menyaksikan, bahwa orang itu berdiri tegak bagaikan patung di depan pintu masuk ruang dalam. Lalu dengan sekali menggerakkan tangan membunuh dua orang pendekar yang menerobos masuk ke dalam. -

- Lebih hebat lagi, Pulunggana kemudian membunuh Diah Windu Rini dengan sisa dayang-dayang nya. Siapakah yang bisa memecahkan teka-teki yang rumit ini ? - sambung Kartamita.

Bogel berpikir sebentar. Latu menjawab seperti diingatkan se- suatu :

- Eh, bukankah Diah Windu Rini berkata bahwa sebelum mereka bertanding melawan Pulunggana harus diujinya dulu? Maksudnya agar mereka tidak mati Kalau ditilik ucapannya, ia sendiri perlu teman untuk diajak mengkerubut Pulunggana. Jadi ia bermaksud baik. Tetapi mengapa dia tiba-tiba mengadu domba antara Guntur dan Geludug agar saling membunuh ? Setelah Guntur membunuh Geludug, dia sendiri yang membunuh Guntur. Ah, entahlah entahlah aku memang orang kasar yang tidak pandai

rnelihat yang jauh-jauh.-

- Bogel ! - tungkas Kartamita. - Kau tak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Aku sendiri tidak dapat menebak teka-teki yang rumit ini. Kita tunggu dulu penjelasan Gunacarita. Yang pertama, siapakah yang menyuruh dia datang ke rumah itu. Kedua, perihal pedang Sangga Buwana. Ketiga, bagaimana nasib pendekar Sondong Landeyan. Keempat , bagaimana Haria Giri dan Sekar Mulatsih. kelima, Pitrang anak Sondong landeyan dan Sekar Mulatsih masih hidup atau sudah mati? Setelah menjadi jelas, barulah kita kembali ke Rumah Penginapan di Ngawi. Kita perlu minta penjelasan, benar-benarkah Diah Windu Rini yang menyuruh dia menyebar luaskan perkara beradanya pedang Sangga Buwana? -

- Kartamita ! - Lembu Tenar menyela. - Pikiranmu benar-benar cemerlang. Aku takluk. Kau seperti bisa menyingkap tabirnya se- lembar demi selembar. Ya, kukira kita akan jadi jelas untuk dapat membaca peristiwa malam ini setelah memperoleh penjelasan Gunacarita. Cuma, babi ini masih saja kehilangan kesadarannya. Bagaimana kalau dia kita rendam di anak sungai itu ? Kalau tidak, sampai kapan kita menunggu dia siuman kembali. -

- Itu perkara mudah. - kartamita tidak setuju. - Yang penting,aku mengulangi peringatanku. Kita jangan membicarakan peristiwa malam ini kepada siapapun. Kalau tidak, kita bakal kehilangan jiwa. Alasanku begini. Kita ini sebenarnya sedang tercekam oleh suatu peristiwa yang layak berlaku dalam mimpi buruk atau khayal yang indah. Sebab kita melihat bermacam-macam kepandaian orang. Memang, di dunia ini banyak orang yang berkepandaian Tetapi kita cuma mendengar ceritanya dan bukan kenya- taannya. Dan malam ini kita melihat berbagai macam pendekar yang memperlihatkan kepandaiannya Selain tangkas menggunakan senjata, kaki dan tangannya, mereka bisa melesat bagaikan sosok baya ngan Menyaksikan penglihatan demikian, hati kita tergugu. Kita kagum luar biasa. Dan yang kedua kita ketakutan sewaktu melihat mereka saling membunuh. Harga jiwa manusia tidak meltebihi jiwa ayam potong. Apa lagi sikap orang yang bernama Pulunggana. Kalau dia bisa memperlakukan para pendekar demikian kejam, apalagi terhadap kita yang tidak mempunyai bobot hidup. Sebab kesaksian kita bisa dianggap membahayakan dirinya. Kecuali dia, masih ada satu orang lagi yang lolos. Dialah pendekar Wisada. Kita tidak tahu, dia manusia baik atau tidak. Yang jelas, dia mempunyai otak. Melihat musuhnya terlalu perkasa dengan diam-diam ia melarikan diri.

Artinya, ia berharap siapapun jangan mengetahui ke mana atau di mana dia bersembunyi. Bahkan dia berharap, semoga Pulunggana menganggap dirinya sudah mati di tangan Diah Windu Rini. Karena itu, bila kita membongkar rahasianya .... -

- Membongkar rahasianya? - seru Lembu Tenar menyangkal.

- Maksudku dengan tidak sengaja kita membicarakan dia yang lari meninggalkan gelanggang, kita bakal diancam bahaya maut dari dua jurusan. Yang pertama dari dia sendiri. Yang kedua dari orang yang menghendaki dia harus mati dan yang ingin menyim- pan atau merahasiakan peristiwa pembunu han sebentar tadi., Kahan mengerti ? -

- Mengerti.- Bogel dan Lembu Tenar mengangguk dengan ber- bareng.

- Karena itu, kita jangan membicarakan coal itu lagi. -

Kembali lagi dua orang itu mengangguk dengan sungguh-- sungguh. Tiba-tiba Gunacarita memperoleh Kesadarannya kembali. Seperti terhentak ia menegakkan badan dan hendak berseru nyaring.Cepat-cepat Kartamita membekap mulutnya.

- Ssst ! Jangan keras-keras Kau dengarkan saja keteranganku. Kita sudah berada di luar halaman rumah maut itu. -

Setelah berkata demikian pelahan-lahan Kartamita melepaskan bekapannya. Gunacarita lantas saja minta keterangan :

- Di mana kita sekarang ? -

- Di tengah hutan. Lihat sendiri -

- Aku mau berak. - ujar Gunacarita.

Bogel dan Lembu Tenar yang setengah rnendongkol menyahut hampir berbareng :

- Kau babi yang membuat kita susah saja. Kau sudah satu jam setengah mampus. Sudah begitu, bau kencingmu luar biasa.

Sekarang mau berak Pula. Sana ! Tuuu .... ada anak sungai - Dengan membungkuk-bungkuk Gunacarita turun ke sungai. Lalu berjongkok membuang hajatnya. Crot, crot, crot ! Tepak tepung. Suasana malam yang sunyi hening jadi agak ricuh. Trot, dut, tutuuuut brot !

- Buseeettt. ! Sudah berak kentutmu nerocos. - Maki Bogel

gemas.

- Biarkan dulu Biar lega dulu perutnya- Lembu Tenar mau mengerti - Siapa tahu pikirannya jadi jernih-

- Dia makan apa saja sih tadi ? - Bogel masih saja menggerutu. Sebab dialah yang merasa tersiksa karena harus mengangkat bagian kepala sampai punggungnya seorang diri.

- Daripada dia berak sepanjang jalan, bukanlah lebih baik nongkrong di situ ? -

- Ya betul. - akhirnya Bogel mengamini. Lalu berseru : - Hai Guna Celanamu cuci dulu Kau tadi makan jengkol, ya? Bau kencingmu kaya kentut kuda, -

Lembu Tenar dan Kartamita terpaksa menyabarkan diri me- nunggu Gunacarita melaksanakan permintaan Bogel. Mula-mula dengan setengah telanjang Gunacarita memeriksa celananya.

Karena gelap malam, ia terpaksa merabanya Benar, pipa celananya basah. Ia jadi heran. Minta penjelasan :

- Kapan aku kencing? - Lernbu Tenar dan Kartamita bisa memaidurni keadaan Guna- carita, Dia terkencing-kencing oleh rasa takut yang menyengat segenap perasaannya. Barangkali dilakukan diluar kesadarannya. Sebaliknya Bogel yang berperangai kasar menggerutu panjang- pendek. Sahutnya setengah memaki :

- Kau sunati saja anumu, biar tidak kencing di sembarang tempat.

-

Lambat-laun Gunacarita bisa mengingat apa yang sudah terjadi. Maka dengan berdiam diri, ia mencuci celananya bersih-bersih lalu diperasnya. sekuat tenaga. Karena tidak membawa pakaian lain, terpaksalah ia mengenakannya. Lalu dengan terbata-bata ia menghampiri ketiga temannya.

- Sungguh mati Maaf. sekali lagi maaf Selama hidupku belum

pernah menyaksikan peristiwa demikian. Aku....aku.... - ia berkata tergagap-gagap

- Sudahlah - tungkas Kartamita. - Semua orang termasuk kita ini pasti ketakutan setengah mati menyaksikan peristiwa yang mengerikan itu. Sebenarnya, siapakah yang menyuruh engkau datang ke rumah itu ? -

- Terus terang, tidak ada. - sahut Gunacarita dengan suara merasa salah.

- Tidak ada? - Kartamita dan Lembu Tenar menegas.

- Tidak ada. -

- Sumpah? - gertak si Bogel yang kasar.

- Sumpah. - - Berani bersumpah? - Bogel masih perlu yakin.

- Berani bersumpah.- sahut Gunacarita dengan suara tegas.

Mendengar lagu suara Gunacarita, Kartamita, Lembu Tenar dan Bogel mau percaya. Kartamita kemudian membawa Gunacarita berjalan. Lalu berkata seperti sedang membujuk anak kemarin sore :

- Lalu apa yang membuatmu datang ke rumah itu ? -

Gunacarita tidak segera menjawab. Setelah berdiam menimbang- nimbang akhirnya mengaku. Katanya

- Terus terang aku kemaruk uang.-

- Karena jumlah uang, maksudmu ? -

- Ya. Bukankah enampuluh ringgit jumlah yang tidak sedikit. Kalau hemat bisa kubuat penopang selama hidupku. Aku bisa beli sawah, ladang dan rumah. Kukira tidak sampai sepuluh ringgit. lainnya bisa kubelikan ternak, kebon kelapa pendek kata .... -

- Jadi hanya disebabkan jumlah uang itu? - potong Kartamita.

- He-e. Demi Tuhan ! Demi Malaikat ! Demi semuanya.- Gunacarita bersumpah. - Karena sudah tiga hari tidak ada kabar beritanya, aku mencoba-coba mencari keterangan di mana rumah Raden Ajeng Diah Windu Rini atau kediaman Raden Ajeng Niken Anggana, Pada suatu kali seseorang mernbawaku ke sini. Itulah sebuah gedung besar yang sebentar tadi kita kunjungi. Lalu aku membawa kalian. Apakah ada yang aneh ? -

- Siapa yang membawamu kemari ? - Kartamita minta penjelasan.

- Dia berkereta dan dengan ramah aku diperkenankan duduk di samping sais.-

- Apakah dia berdiam di rumah itu pula ? -

- Dia melanjutkan perjalanan ke Sukawati. (baca : Sragen ). -

Kartamita tidak berbicara lagi. Bogel dan Lembu Tenar kemudian berpesan peristiwa sebentar tadi jangan di bicarakan lagi. Pendek kata jangan sekali-kali disinggung-singgung. Sebab jiwa bisa jadi taruhan. Dan Gunacarita mau mengerti.

- Kau masih mengharapkan enampuluh ringgit itu lagi atau tidak?

- Bogel menegas.

- Biar disambar geledek, tidak lagi. - jawab Gunacarita dengan sungguh-sungguh. - Esok pagi aku mau melanjutkan perjalanan ke Kediri.-

- Bagus - Bogel setuju Lalu minta pendapat Kartamita : - Bagaimana pendapatmu? -

Sambil berjalan pelahan-lahan, Kartamita berkata kepada Gu- nacarita : - Sebenarnya, bagaimana riwayat pendekar besar Sondong Landeyan setelah berpisah dari Sekar Mulatsih? Apakah pedang Sangga Buwana masih berada di tangan Haria Giri? Bagaimana pula nasib Wigagu yang terluka dan Sukesi ? -

- Tentang mereka semua hanyalah kuketahui menurut tutur kata pakem pedalangan. Jadi aku tidak menyaksikan sendiri. - ujar Gunacarita.

- Tutur pedalangan bagaimana? - Bogel menegas.

- Artinya dari pakem pedalangan yang kuwarisi dari guruku.-

- Apa kata gurumu? - desak Bogel.

- Bukan aku pernah berkata satu bulan belum tentu selesai ? -

- Baiklah, ! -Kartamita menengahi. - Sebenarnya kami semua ini ingin memperoleh kejelasan latar belakang terjadinya peristiwa tadi. Mereka saling berbunuhan karena ingin memperebutkan pe- dang Sangga Buwana. Benarkah itu ? -

- Bagaimana aku tahu? -

Mendengar bunyi jawaban Gunacarita, Bogel hampir tidak sabar lagi. Syukur, Kartamita buru-buru mendahului. Ia memaklumi jalan pikiran Gunacarita. Dia hanya seorang dalang. Bukan saksi mata atau polisi yang bertugas melacak suatu peristiwa sampai tuntas. Maka dengan suara sabar dan mau mengalah, ia berkata :

- Baiklah, biarkan kita sendiri yang menggerayangi terjadinya peristiwa itu. Sekarang maukah engkau bercerita tentang sepak terjang pendekar Sondong Landeyan sebagai upah kita mengiringkan engkau sampai di sini ? Cerita apa sajalah, asalkan mengenai pendekar Sondong Landeyan dan Pitrang. -

Gunacarita berhenti melangkahkan kakinya. Beberapa waktu lamanya ia berdiri tegak bagaikan patung yang tidak pandai berbicara. Kartamita yang pandai berpikir tahu, bahwa Gunacarita sedang mengumpulkan daya ingatannya untuk meringkas rangkaian cerita yang tentunya panjang sekali. Kalau tidak mungkin barangkali dia sedang rnemilih bagian cerita yang mungkin jadi penerangan terjadinya peristiwa sebentar tadi.

Sebaliknya Bogel yang berperangai kasar tidak bisa memahami. Dengan setengah mendongkol ia mengancam :

- Kau jangan membuat kita jengkel. Lihat kau berada di tengah hutan. Kalau kita ;ari cerai-berai, kau bakal berjalan seorang diri.-

- Hei ! hei! Bukan begitu! bukan begitu ! - Gunacarita gugup. - Cerita itu mungkin sekali tidak cukup sate bulan. Sekarang kalian menghendaki aku mernilih sekian rangkaian cerita jadi sebuah cerita saja. Hayo katakan padaku dari mana aku harus mulai -

- Mana aku tahu? - Bogel tidak mau mengalah.

Gunacarita meruntuhkan pandang. Ia tahu, dirinya harus meluluskan permintaan Kartamita. Kalau tidak, dia bakal ditinggal seorang diri. Akhirnya ia berkata acak-acakan : - Baiklah ! Aku akan mulai sewaktu Pitrang sudah berurnur lima tahun saja. Singkatnya, pendekar Sondong Landeyan sudah hi- dup setengah pendekar. Ia menjauhi pergaulan. Dan Pitrang dia- suh oleh‘ Wigagu dan Sukesi yang sudah menjadi muridnya. -

- Ah Jadi mereka kemudian menjadi murid pendekar Sondong Landeyan? - Lembu Tenar berseru setengah bersyukur.

- Ya. Bukankah Wigagu pemuja Sondong Landeyan? Tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesem patan yang bagus. Setelah sembuh ia bersujud kepada Sondong Landeyan agar pendekar besar itu berkenan menerimanya sebagai murid. Sukesi demikian Pula. Karena Sondong Landeyan memerlukan tenaga mereka berdua untuk ikut serta menjaga Pitrang, ia menerima permintaan mereka dengan senang hati. Hanya dalam waktu kurang dari empat tahun, mereka memiliki kepandaian yang tinggi. Kemudian Sondong Landeyan menerima seorang murid baru lagi, Namanya Puruhita. Ketiga-tiganya menjadi ahli pedang dengan keahliannya masing-masing. Pada suatu hari, mereka bertiga disuruh menjem- put Pitrang pulang dari pertapaan Jalatunda. Di pertapaan itu ber- mukim paman guru Sondong Landeyan yang sakti luar biasa.

Pertapa itu bernama Ki Ageng Telaga Warih. Seorang pertapa yang aneh tabiatnya. Pada jaman mudanya ia banyak membunuh musuh-musuhnya. setelah berusia tujuhpuluh tahun ia bersembunyi di sebuali goa yang hanya diketahui oleh Sondong Landeyan dan ketiga muridnya. Tempat tinggalnya harus dirahasiakan. Dan Pitrang tinggal dalam pertapaan itu selama dua tahun untuk menerima ajaran-ajaran dasar. Nah, dari sini raja aku mulai. -

- Bagus Kartamita bertiga berseru berbareng. - Jadi usia Pitrang sudah Jadi tujuh tahun, bukan? -

- Ya,-

- Hayolah mulai ! - Bogel tidak sabar lagi.

- Tetapi sampai di mana aku harus berhenti ? -

- Sampai kita kembali ke Rumah Penginapan di Ngawi.-

- Setelah itu kita tidak boleh berbicara lagi. Kukira waktu belum lewat tengah malam. Usahakan begitu matahari terbit, cerita itu sudah selesai. Maksudku bagian yang akan kau ceritakan ini. -

Ki dalang Gunacarita mengangguk. Kemudian ia memperbaiki diri seperti gayanya tatkala bercerita di Rurnah Penginapan dulu.

Ia mendeham tiga kali. Mendongak udara yang gelap gulita Lalu mulai membuka mulutnya.

5 - TAMU YANG MENGEJUTKAN

SUNGGUH Semenjak Amangkurat IV naik tahta, di dalam negeri terasa terjadi perpecahan kekuasaan. Blok Raja, Blok Patih Danurejo dan Kompeni Belanda. Lalu disusul pecahnya para penguasa daerah yang jadi saling curiga dan saling mengamati. Pangeran Cakraningrat dari Madura, Adipati Jayaningrat di Pekalongan, Adipati Citrasoma Jepara, Arya Jayasentika Kudus dan Tumenggung Puspanagara Adipati Batang.

Masih ditambah lagi dengan permaisuri Ratu Pakubuwana dan selir-selirnya. Dan karena merasa bermusuhan, masing-masing membuat kekuasaan dan menyusun kekuatan secara diam-diam.

Orang-orang pandai, para pendekar dan dukun-dukun sakti dihimpun dan ikut memegang peranan. Bahkan begal-begal, perompak, maling dan bangsat tak terkecuali. Dan yang jadi korban tentunya rakyat jelata yang tidak tahu menahu .

Mereka saling memfitnah. Saling membunuh. Saling membegal. Saling menipu. Dan yang menjadi korban pertama adalah Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya dan Arya Mangkunagara Putera sulung Ratu Mas Ayu Sumarsa. Arya Mangkunegara di asingkan dan akhirnya meninggal di pengasingan pula. Dan kekuasaan Patih Danureja makin menjadi-jadi. Siapa yang tidak tunduk dan patuh padanya, disingkirkan atau hilang begitu saja dari peredaran hidup.

Dalam hal ini pendekar Sondong Landeyan adalah salah seorang yang terkena getahnya pula. Isterinya dilarikan orang. Pedang Sangga Buwana lenyap dari pinggangnya. Padahal dia seorang ahli pedang satu-satunya yang pantas menyoren pedang pusaka tersebut. Syukur, ia seorang pendekar yang berwatak sederhana dan tidak berambisi. Dilupakan semua kepedihan hatinya yang memukul dirinya dengan mendaki gunung lebih tinggi lagi agar dapat mengasuh Pitrang, anak satu-satunya, dengan aman damai.

Sebaliknya, pamannya yang bemama Ki Ageng TelagaWarih tidak demikian. Tanpa permisinya, ia turun gunung dan melakukan pencarian terhadap pedang Sangga Buwana Sekar Mulatsih boleh dirampok orang, akan tetapi di dunia ini hanya ada sebatang pedang pusaka yang pantos diperebutkan dengan darah dan jiwa.

Telaga Warih adalah seorang sakti yang mempunyai watak aneh Kecuali ilmu kepandaiannya sangat tinggi, orangnya rada-rada sinting. Apalagi dia sedang turun untuk mewakil balas dendam kemenakan-muridnya. Tangan dan kakinya jadi gapah. Siapa yang dicurigai dipaksa mengaku. Setelah menuruti kehendaknya lalu dibunuh. Dan yang dibunuh bukan pendekar-pendekar picisan.

Justru yang dipilih adalah para ketuanya. Paling tidak yang terma- suk tokohnya.Dia tidak Pandang bulu. Apakah mereka dari golongan pihak raja, kepatihan atau antek-antek kompeni.

Kadang ia membunuh tokoh-tokoh kepercayaan Adipati Cakraningrat, Jayaningrat,Citrasoma, Jayasentika atau Tumenggung Puspanegara. Karen itu adalah wajar, bila dia dimusuhi sekalian pendekar di seluruh dunia. Demikianlah setelah puas mengaduk-aduk tanpa ampun, ia bersembunyi di sebuah tempat terpencil di antara telaga yang ter- lindung. Ia membuat daerah kekuasaan limabelas kilometer keli- ling. Siapa saja yang berani memasuki wilayahnya, lantas saja di- bunuhnya. Dan di dunia ini hanya seorang saja yang diperkenan- kan masuk. Dialah Sondong Landeyan.

Tetapi Sondong Landeyan dulu hampir saja mengadu jiwa dengannya. Sebab kecuali dirinya, dia membawa Pitrang, Wigagu, Sukesi dan Puruhita. Untung pendekar edan itu bisa dibuatnya yakin. Dia datang semata-mata demi Pitrang. Dan ketiga muridnya ditinggalkan sebagai pengasuh si Pitrang.

- Baik. - ia memutuskan. - Bocah itu biar kumakannya di sini. Kau boleh mampus dulu ! -

Sondong Landeyan yang mengcnal watak dan perangai paman- gurunya, tidak bersakit hati. Ia bahkan merasa tenteram, karena Pitrang berada di sautu tempat yang asing dan rahasia. Hanya saja, Sondong Landeyan tidak tahu, bahwa para pendekar seluruh bumi Jawa sedang mencari paman gurunya itu demi membalaskan dendam jiwa pemimpin-pemimpinnya yang melayang tanpa

sebab yang jelas.

Tetapi dua tahun berpisah dan anak satu-satunya ternyata me- rupakan pengorbanan dan penderi taan sendiri. Akhirnya ia me- nyuruh ketiga muridnya menjemput si Pitrang. Dan pada hari itu juga, berangkatlah Wigagu, Sukesi dan Puruhita ke Jalatunda Se- telah bertemu dengan Ki Ageng Telaga Warih, orang tua itu berkata diluar dugaan. Katanya :

- Kalian mau bawa anak ini pulang ? -

- Ya. - sahut Wigagu bertiga .

- Kalau begitu antarkan aku dulu ke pulau Bawean. -

- Pulau Bawean? - mereka tercengang.

- Hm, apakah engkau mengharapkan aku marnpus? - bentak Te- laga Warih. Dan tiba-tiba saja ia menghunus sebilah pedang yang rnembersitkan cahaya menyilaukan. - Kau tahu pedang apa ini?

Inilah pedang Sangga Buwana. Karena pedang ini aku sudah membunuh ribuan orang. Sebaliknya karena pedang ini Pula, ma- nusia seluruh dunia akan mencari dimana tempatku berada. Dari- pada aku mati di tangan mereka, bukankah lebih baik aku menggorok leherku sendiri? -

- Ayah -

Mendengat suara Pitrang yang menyebut dirinya ayah, Telaga Warih tercengang. Seketika itu juga la meletakkan pedang Sangga Buwana di atas meja batu. Lalu memeluk Pitrang dengan erat .

- Anakku ! Ya benar, kau menyebut aku ayahmu. Memang aku ayahmu. - Dan ia membawa Pitrang berputar-putar seperti orang menandak- nandak. Menyaksikan adegan itu, Wigagu, Sukesi dan Puruhito sating pandang Namun mereka tidak berani mengganggu.

Memang siang-malam Pitrang berada di pelukan orang tua itu. Lambat-laun, si anak bisa menyesuaikan diri dan menganggap Ki Ageng Telaga Warih sebagai ayahnya pula. Meskipun demikian, mengingat kesaktian orang tua itu, timbul rasa cemas dalam hati Sukesi. Dengan memberanikan diri ia berseru :

- Eyang, jangan sampai melukai Pitrang -

- Nah, bagaimana? Kalian rnau mengantarkan aku ke Bawean atau tidak ? -

Tentu saja mereka tidak berani membantah. Dengan berdiam diri, mereka mengikuti Ki Ageng Telaga Warih yang melompat ke atas rakit. Pedang Sangga Buwana yang menjadi perebutan orang berada di pinggangnya. Karena Ki Ageng Telaga Warih seorang pendekar yang berpetawakan tinggi besar pedang itu menjadi penghias kegagahan tubuhnya yang tepat.

Perjalanan ke pulau Bawean tidak perlu diceritakan Setelah tiba, orang aneh itu terbang tinggi di atas permukaan taut dan mendarat di atas pantai bagaikan Dewa Maut.

Lalu berseru :

- Siapa yang berani ikut mendarat, kubunuh berangkatlah pulang

! - Pitrang menangis karena harus berpisah dengan orang tua yang mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya. anak itu berteriak- teriak :

- Ayah .... Ayah Ayah -

Sementara itu rakit sudah terbawa arus makin lama makin menjauhi pantai Bawean. Lambat-laun tubuh Ki Ageng Telaga Warih yang menyoren pedang Sangga Buwana di pinggangnya makin kecil dan kecil. Akhirnya lenyap dari penglihatan.

Tetapi Pitrang masih saja memusatkan penglihatannya ke arah pantai. Air matanya meleleh tiada berkeputusan. Syukur, di antara mereka terdapat seorang gadis yang memiliki naluri seorang ibu.

Dengan sabar dan telaten ia membujuk dan membesarkan hati si bocah. Sewaktu matahari condong kebarat, Pitrang tertidur oleh rasa capai di pangkuan Sukesi.

Berlayar di atas lautan yang luas, dengan sendirinya tidak dapat memilih arah yang tepat. Apalagi di waktu malam hari tiba. Me- reka hanya memasang layar. Tujuannya ke seberang pantai.

Hanya itu saja. Tetapi bakal tiba di pantai mana, mereka tidak tahu.

Setelah berlayar dua hari lamanya, akhirnya mereka memasuki suatu muara yang asing. Pada jaman itu, sungai berukuran sangat lebar. Kabarnya banyak perompak hidup di perairan demikian Namun Wigagu bertiga adalah murid Sondong Landeyan. Mereka tiada gentar menghadapi golongan perompak demikian. Meskipun demikian, mereka wajib berhati-hati dan waspada.

Sedang Wigagu dan Puruhita memusatkan perhatiannya kepada arah perjalanan, Sukesi menggunakan kesempatan untuk bergaul rapat dengan Pitrang. Di dalam hati sebenarnya sudah lama timbul suatu pertanyaan, apa sebab gurunya mengirimkan Pitrang menerima ajaran dasar kepada Ki Ageng Telaga Warih. Padahal kepandaian gurunya belum tentu kalah melawan kakek tua itu. Di- dorong oleh kein,ginan untuk mengetahui, pelahan-lahan ia mulai mengorek pengalaman Pitrang yang hidup.selama dua tahun ber- sama Ki Ageng Telaga Warih.

- Sebenarnya engkau diajar apa oleh ayah ayah-angicatmu? -

Sukesi minta keterangan.

Yang dimaksudkan dengan ayah-angkat adalah Ki Ageng Telaga Warih .

- Menghafal dan mendengarkan dongeng.- jawab Pitrang se- derhana.

- Hanya itu saja ? -

- Tetapi yang harus kuhafalkan sangat banyak. Macam do- ngengnyapun aneka ragam.-

- Dongeng apa saja ? -

- Dongeng manusia.Kata ayah-angkat, semua manusia itu jahat. Maka wajib dibunuh.-

- Wajib dibunuh ? - Sukesi tercengang dan hatinya tergetar. Ia mencoba mau mengerti. Menegas :

- Yang wajib dibunuh tentunya manusia jahat bukan? -

- Ya -

- Tetapi bagairnana caranya ayah-angkatmu membedakan antara manusia jahat dan tidak ? -

- Semua manusia jahat. - jawab Pitrang singkat

- Semua manusia jahat ? - Sukesi menirukan ucapan Pitrang sarnbil berpikir diarn-diam. - Apakah bibi ini manusia jahat atau tidak ? -

- Tentu saja, tidak.-sahut Pitrang tertawa geli.-Bibi orang baik.-

- Dan Paman itu ? Paman Wigagu dan paman Puruhita ? -

- Mereka juga manusia baik. -

- Mengapa engkau bisa berkata bahwa rnereka berdua orang baik ? -

- Bibi dan paman adalah manusia yang sudah kukenal. Seperti Ayah. Seperti ayah-angkat. Mereka semua orang baik. - Sukesi memanggut-manggut. Tahulah dia, bahwa Ki Ageng Telaga Warih mengajar Pitrang agar berwaspada terhadap

siapapun yang belum dikenaL akan tetapi ajaran demikian amat berbahaya dan bisa rnembuat orang pendek akal. Beberapa saat lamanya, Sukesi bermenung-menung. Lalu mengalihkan.pembicaraan :

- Memang kebanyakan orang bisa jadi jahat. Sekarang apa yang harus kau hafalkan selama dua tahun itu ? - - 0, banyak sekali. Banyak sekali. - sahut Pitrang.

- Apa saja ? -

Pitrang berpikir sebentar. Menjawab :

- Di antaianya tentang tenaga kosong dan tenaga kuat. Terhadap semua orang, aku harus bersikap begini. Tenaganya merintangi kulit dan buluku. Tetapi niatku sudah masuk kedalam tulangnya. Dua Langan saling bertahan. Hawa menembus. Yang di kiri berat, yang kanan kosong. Artinya yang kanan sudah pergi. Yang kanan berat, yang kiri kosong. Artinya yang kiri sudah pergi.-

Mendengar bunyi hafalan Pitrang, Sukesi terlongong-longong. Aneh, tetapi menarik. la jadi bernafsu untuk ikut menghafal lebih banyak lagi. Agar tidak kentara, pelahan-lahan ia memperbaiki le- tak duduknya. Lalu dengan tersenyum ia berkata lagi :

- Apa lagi ? -

- Hati dan badan. Lebih dulu gunakanlah hati untuk memerintah badan. Mengikuti orang lain berarti tidak mengikuti kemauannya sendiri. Kelak, badan bisa mengikuti kemauan hati. Tetapi ke- mauan hati yang tetap mengikuti kemauan orang. Mengikuti ke- mauan sendiri berarti berhenti, Mengikuti kemauan orang artinya hidup. Dengan mengikuti kemauan orang itu, bisa mengukur be- sar kecil tenaga orang itu. Juga bisa mengenal panjang dan pendeknya pernafasan orang. Dengan begitu, kita bisa leluasa maju dan mundur - Sukesi mengerutkan keningnya. Akhimya ia bergeleng kepala. Berkata di dalam hati :

- Tidak benar Tidak tepat ! Guru sering berkata, bila berhadapan dengan lawan, tempolah yang memegang peranan. Kita harus mendahului lawan sebelum dikuasai lawan. Kalau kita mengikuti kemauan lawan justru kita yang menjadi bulan-bulanan. Tidak tepat -

Selagi berpikir demikian, Pitrang tiba-tiba lari keburitan rakit, karena kedua pamannya sedang sibuk menepikannya. Sukesi melongokkan kepalanya. Sebuah perkampungan yang agak ramai tersembul di antara pepohonan dan belukar. Melihat tebingnya,agaknya menjadi tempat persinggahan orang-orang yang berlayar masuk ke pedalaman.

- Mari kita mencari perbekalan - ajak Wigagu.

Semuanya mendarat dan dengan santai memasuki perkam- pungan yang ternyata sibuk dikunjungi kaum pedagang. Dari pembicaraan orang, perkampungan itu disebut Majawarna. Kalau begitu hampir dekat Jalatunda, pikir Sukesi bertiga.

Sementara mereka masuk ke sebuah kedai, Pitrang ke luar jalan- an melihat lalu-lalang orang. Tiba-tiba ia tertarik kepada seorang tua yang sedang bermain dua bilah pedang pendek di tangannya. dua pedang pendek yang dilemparkan bergantian di udara. Pi- trang belum pernah melihat pertunju kan demikian. Sampai umur tujuh tahun, la hidup di atas pegunungan dan di pertapaan Ki Ageng Telaga Warih yang sunyi dan terasing dari pergaulan. Setapak demi setapak, Pitrang mendekati. la heran bukan main. Suatu kali orang itu melemparkan sebilah pedangnya tinggi di udara dan dibiarkan turun amat derasnya. Sewaktu hampir me- nancap di dadanya dengan tangkas ia menyongsongnya dengan pedangnya yang lain yang ditegakkan di atas dadanya. Kedua pedang pendek itu saling beradu ujung dan berdiri tegak seperti kena lem.

Pitrang ternganga-nganga.

- Kemari - °rang itu melambaikan tangannya sambil tertawa manis.

Tanpa berpikir panjang lagi, Pitrang Iari menghampiri, Orang itu kemudian membuka sebuah kantong seraya berkata :

- Di dalamnya terdapat bermacam-macam barang mainan. Kau boleh mengambil, tetapi jangan terlalu banyak lho -

Melihat keramahan orang, Pitrang membungkuk dan melon- gokkan kepalanya. Bertanya :

- Mainan apa sih ? -

Lihatlah sendiri Coba masukkan kepalamu Nah, kau bisa melihat dengan jelas.

- Pitrang melongokkan kepalanya lebih rendah lagi. Ternyata ti- dak melihat esuatu. Selagi ia hendak menarik kepalanya, secepat kilat orang itu justru menungkrap kepalanya Keruan saja Pitrang kaget dan memekik-mekik.

- Sst ! - dan orang itu membekap mulutnya.

Pekikan Pitrang sebenarnya sangat Iemah oleh lalu-lalang orang. Akan tetapi Wigagu, Sukesi dan Puruhita kini adalah murid Sondong Landeyan. Mereka sudah termasuk golongan ahli-ahli kelas satu yang memiliki pendengaran sangat tajam. Dengan se- rentak mereka melesat keluar kedai dan melihat Pitrang sudah di- tawan orang itu.

- Jangan begerak ! Berhenti ! Siapa yang berani maju selangkah lagi, jiwa anak ini akan kucabut.- bentak orang itu sambil meng- ancamkan sebilah pedang pendeknya di punggung Pitrang. la merobek baju Pitrang di bagian punggung dan menempelkan ujung pedangnya di atas kulitnya.

Sukesi marah bukan main. Tanpa memikir lagi, tangannya bergerak hendak melepaskan panah jarumnya. Buru-buru Wigagu membentak petahan :

- Jangan -

Wigagu tahu, pedang orang itu bukan pedang biasa. Pasti sudah dilumuri semacam racun yang mematikan. Andaikata Sukesi berhasil melepaskan jarumnya tepat pada sasarannya, orang itu masih sempat menggores kulit Pitrang. Mungkin dia mati terbu- nuh oleh jarum Sukesi. Akan tetapi Pitrang akan mengalami demikian pula. Sebab, orang itu tentunya tidak membawa obat pemunah racunnya .

- Saudara Mengapa engkau menawan seorang anak yang tidak berdosa ? - ia minta keterangan dengan suara tenang.

- Mundurlah delapan langkah dulu, sebelum aku menjawab.- sahut orang itu membentak.

Wigagu mengeluh di dalam hati. Mundur delapan langkah berarti makin jauh jaraknya dari Pitrang yang tertungkrap karung. Tetapi karena Pitrang menghadapi bahaya, tiada jalan lain kecuali menuruti kehendak orang itu. Segera ia memberi isyarat kepada Sulesi dan Puruhita untuk mundur. delapan langkah.

Dan oleh isyarat itu, mereka mundur delapan langkah dengan sekali gerak.

Menyaksikan kepandaian mereka, orang itu berubah wajahnya. Pikirnya di dalam hati : - Mereka bisa melesat mundur dengan satu kali gerakan. Apalagi kalau maju ke dpart. Oleh pertim- bangan itu ia membentak lagi :

- Mundur empat langkah Eh lima ! Eh, enam langkah lagi -

- Apakah tidak sepuluh langkah lagi? Puruhita mendongkol.-

- Kalian bisa melompat dengan cukup menjejak tanah ke belakang. Kalau maju, mungkin kalian bisa dua atau tiga kali se- jauh lompatan kalian ke belakang. - orang itu tertawa, - Karena itu, meskipun kalian kini berada empatbelas langkah jauhnya dari padaku, masih merupakan ancaman besar. -

Apa boleh buat. Memang masing-masing masih merasa mampu melesat cepat sejauh duapuluh langkah ke depan. Maka mereka terpaksa mundur lagi menuruti tuntutan orang itu.

- Nah, cukup bukan? -ujar Wigagu menahan diri,- Sekarang bolehkan aku mengenal namamu?-

- Ah, aku ini hanya berpangkat perajurit saja. Perajurit Cakra- ningrat. Namaku cukup kalian panggil Polan. -

Wigagu, Sukesi dan Puruhita mendongkol., Mereka tahu, nama itu bukan namanya sendiri. tetapi karéna dia sudah memperke- nalkan namanya, mereka memutuskan untuk memanggil si polan saja.

- Hai Polan ! - seru Sukesi dengan suara lantang. - Orang Madura yang bernama Polan biasanya tukang potong babi. Apakah kerjamu memang tukang potong babi ? -

Jelas sekali, Sukesi sedang mengejeknya habis-habisan. Siapa- pun tahu, orang Madura adalah rakyat pemeluk Agama Islam yang baik. Dan siapapun tahu, babi adalah salah satu jenis hewan yang diharamkan. Sekarang, Sukesi menuduhnya sebagaitukangpotong babi alias si jagal babi. Keruan saja, wajahnya merah padam karena rasa gusarnya. Tetapi sebelum ia sempat menyemprot, Sukesi berkata lantang lagi : - Hai jagal babi Awas Sekali engkau mengganggu sehelai rambut anakku, kau bakal kucincang hidup tidak matipun tidak. Kau tahu siapa aku? Akulah anak tunggal Telaga Warih. -

Mendengar Sukesi menyebut diri sebagai puteri Ki Ageng Telaga Warih, wajah Polan jadi pucat lesi. Beherapa saat lamanya ia berkutat untuk menguasai keadaan hatinya. Lalu berkata :

- Siapa engkau ? -

- Sukesi.-

- Hrn kau puteri Telaga Warih ? -

- Ya. Mengapa? - bentak Sukesi.

- Aku justru sedang berurusan dengan ayahmu.-

- Kau berani ? -