Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 02

Jilid 02

Suratama kemudian berseru kepada si pelayan yang tadi sibuk melayani dua orang pembesar negeri :

- Hai Bolehkah aku pinjam pisau dapurmu? -

- Boleh. - sahut pelayan itu yang segera lari ke dapur dan kembali lagi dengan membawa sebilah pisau dapur.

- Adik, namamu siapa? - Suratama menyambut pisau pembe- riannya. - Sagli -

- Orang mana ? -

- Orang sini saja. - sahut Sagli dengan menganggukkan kepalanya.

- Maksudku, asal kampungmu.-

- Oh, dari Wengker. -

- Orang Wengker biasanya bukan orang sembarangan.-

- Ah, tidak semuanya. - Sagli-membantah. - Kalau kakak dari Belambangan, ya?-

- Ya. - Suratama membenarkan dengan singkat Lalu berpaling kepada Pabean. Berkata dengan mengangkat kepalanya : - Pegang golokmu erat-erat Kau tidak sayang? -

- Sayang? Apa yang kusayangkan? - sahut Pabean dengan suara tinggi. - Bahkan engkaulah yang bakal kehilangan pusaka andalanmu.-

- Baik. Awas. ! - Suratama menggertak.

- Dengan mengerahkan tenaga, Suratama membabatkan pisau dapur yang digenggamnya. Trang !dan golok mustika itu benar- benar terkutung sebagian dan runtuh bergelontangan di atas lantai .

Semua orang bersorak-sorai dan bertepuk tangan gemuruh. Mereka memuji kesaktian Suratama yang benar-benar dapat me- motong golok mustika dengan sebilah pisau dapur. - Tirtanata, orang itu benar-benar memiliki keris sakti. - ujar Surengrana dengan berbisik. - Kalau tiada daya keris saktinya, betapa mungkin dia dapat memotong sebilah golok mustika hanya dengan pisau dapur? -

- Him - Tirtanata mendengus sambil mencibirkan bibirnya.

- Mungkin sekali kerisnya termasuk pusaka sakti. Akan tetapi belum jempolan. Belum terlalu hebat.Kurasa penilaianmu kurang tepat,- kata Surengrana. - Kau sendiri tadi melihat betapa tajam golok itu. Dengan sekali tebas, sebatang besi dapat dibuatnya kutung. Sekarang golok set4jam itu dapat pula dikutungkan dengan sebilah pisau dapur. Bukankah tidak masuk akal?

Bukankah mengherankan? Kalau bukan karena memperoleh daya sakti keris pusakanya .... -

Surengrana tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena tertimpa suara riuh tertawa Tirtanata.

Kemudian terdengar Tirtanata berkata nyaring :

- Soalnya, karena kakang Surengrana belum berpengalaman -

- Belum berpengalaman bagaimana? - Surengrana mendongkol.

- Belum berpengalaman melihat jenis dan macam pusaka-pusaka sakti. Maklurn hidup kakang Surengrana sebagian besar berada di luar istana. Tentunya kakang Surengrana belum pernah meli• hat tombak Kyahi Pleret yang dulu dapat menembus perisai baja Kapten Tack. Belum pernah pula melihat keris Tunggulmanik? Belum pernah mendengar pedang Sangga Buwana? sayang ! lihat aku .... -

- Ayah - potong Mulatsih. - Ayah perlu cepat-cepat beristirahat. Perjalanan kita masih jauh, iho ! -

Tirtanata tertawa terbahak-bahak. Katanya kepada Surengrana :

- Maaf, pada jaman sekarang ini anak pandai menilik orang tuanya.-

- Sebaliknya pada malam hari ini, benar-benar hatiku terbuka begitu mendengar keterangan adinda. Agaknya adinda pernah melihat kedua pusaka sakti itu.-

- Kau maksudkan pusaka yang tajamnya sepuluh kali lipat bila dibandingkan golok kampungan itu ? -

- He-e.-

- Benar. Selain kedua pusaka sakti itu, akupun sering melihat pedang atau golok yang tajamnya luar biasa. - ujar Tirtanata de- ngan mengangkat kepalanya.

- Adinda, tak kusangka engkaupun pandai bergurau. Adinda termasuk salah seorang pembesar negeri yang sernenjak dulu herkecimpung daLarn ketataprajaan, Masakan mempunyai perhatian terhadap senjata-senjata mustika? - Suratarna dan Pabean dengan sendirinya mendengar percaka- pan mereka berdua. Pabean yang merasa memiliki golok mustika tersinggung kehormatannya. Tiba-tiba ia bertetiak setengah kalap

:

- Ujung golokku terpangkas karena daya sakti keris sakti. Tetapi jangan dikira tidak dapat melawan ketajaman senjata macam apapun. Jika di dunia ini terdapat sebatang pedang yang dapat menebas kutung golokku ini, aku rela mempersembahkan kepalaku kepadanya. Memang siapapun mampu bermulut benar. Apakah yang menjadi seorang pembesar negeri hanya mereka berdua ? Kemenakanku seorang Adipati juga. Huh ! -

Mendengar kata-kata Pabean, semua orang memalingkan ke- palanya kepadanya. Eh, berani benar orang itu, pikir mereka. Ber- bareng dengan itu, Suratama membentak :

- Kaupun tukang membual Siapa kemenakanmu yang kau banggakan itu.-

- Jalak Seta, Adipati Tuban. - sahut Pabean cepat dan mantap.

Tirtanata marah bukan main mendengar ucapan Pabean yang kurang ajar itu. Wajahnya sebentar merah, sebentar pula pucat. Dengan serentak ia bangkit dari kursinya dan masuk ke dalarn denganlangkah lebar.

- Ayah ! - seru Mulatsih. Tetapi Tirtanata sedang mendongkol, geram, penasaran dan marah. Tentu saja ia tidak menggubris seruan anaknya.

Beberapa saat kemudian, ia kembali ke pendapa dengan membawa dua bilah pusaka. Di tangan kirinya, sebilah keris bersarung emas murni dengan hiasan intan permata. Di tangan kanannya, sebatang pedang panjang dengan sarung perak murni, berhulu emas yang diteretes berlian.

- Hei anak kampung Lihat yang jelas ini pusaka yang berharga atau tidak? - Teriaknya dengan wajah merah padam. - Mari kita adu! Jika pedangku ini tidak dapat menebas golokmu menjadi be- berapa bagian, kukutungkan kepalaku sendiri.-

- Ayah Seru Mulatsih setengah meratap. Mengapa ayah melayani mereka? -

Tirtanata seperti tersadar. la berputar arah hendak meluluskan permintaan puterinya. Tiba-tiba Pabean berteriak :

- Tuan bupati ! Kau benar-benar berani mempertaruhkan kelm- lamu? -

Ditantang demikian, terbakarlah hati Tirtanata. Dengan menatap wajah Pabean, is membentak :

- Aku seorang pembesar negeri. Sekali berkata satu akan tetap satu.- - Haa justru demikian, tidak berani aku menerima kepalamu.- Pabean mengejek. - Begini saja. Kalau kau gagal, serahkan gadismu yang cantik jelita itu . -

Mendengar ucapan Pabean yang kurangajar itu, orang-orang yang berada dalam pendapa itu terpecah menjadi dua bagian. Ada yang menegur, ada pula yang tertawa geli. Terutama Suratama dan Sagli. Sebaliknya kedua pipi Mulatsih merah membara oleh rasa malu. Pada saat itu pula, is berlari masuk ke dalam mengungsi di dalam kamar yang disediakan Kepala Kampung.

Perlahan-lahan Tirtahata menghunus pedang Sangga Buwana dari sarungnya. Baru saja terhunus separoh, suatu sinar hijau yang memancarkan hawa dingin berkeredep menyilaukan penglihatan. Dan setelah terhunus seluruhnya, sinar hijau itu berkeredep ti?da hentinya, sehingga siapapun susah membuka kedua matanya bulat-bulat.

- Kau tadi bilang apa? - bentak Tirtanata.

Pabean ternyata seorang pedagang kelontong yang berani me- nentang bahaya. Dengan tak mengenal takut, ia menjawab :

- Kalau pedangmu tidak maupu menebas golok mustikaku, kau hams mengambil diriku sebagai menantumu. Jelas? - - Hm...apalcah golokmu mampu melawan ketajaman pedang Sangga Buwana yang sudah termashur semenjak jaman Taruma- nagara? -

Mendengar Tirtanata menyebut nama pedang itu, wajah Pabean berubah , Hati-hati ia menghampiri dan mengamat-amati pedang pusaka itu. Begitu melihat dan menyaksikan daya perbawanya, berkatalah ia dengan suara mengalah :

- Ah, memang pedang hebat Kalau begitu, tak usah diadu lagi melawan golokku. -

Melihat tingkah laku Suratama, Pabean, Sagli, Surengrana dan si kusir yang diam-diam bersembunyi di belakang kerumun orang, Sondong Landeyan melayangkan pandang matanya kepada Tirtanata. Tiba-tiba saja ia jadi menaruh iba. pikimya - Benar- benarkah dia seorang pembesar sipil yang tidak mengenal tingkah-laku orang-brang yang bermaksud jahat? Masakah tidak dapat menebak kata hati mereka? Ah, apa perlu aku usilan?

Rasakan sendiri betapa enaknya dirimu bakal dimakan kepongahanmu sendiri. -

Siapapun yang memiliki kepandaian, pasti tertarik kepada senjata mustika. Dia menjunjung dan menghargai senjata mustika melebihi jiwanya sendiri. Sebenarnya Tirtanata harus tahu. Seba- liknya dia malahan memperlihatkan sebatang pedang Mustika yang tiada keduanya di dunia dengan terang-terangan. Tentu saja akan membuat mereka bermata gelap. Sebaliknya, dari mana Tirtanata memperoleh pedang Sangga Buwana itu? Dan bagaimana pula orang-orang itu mengetahui, bahwa dia membawa-bawa keris sakti dan pedang Sangga Buwana? Pabean, Surengrana, Sagli, Suratama dan kusir itu mulai beringsut mendekati. Sebenarnya lebih tepat bila dikatakan saling berdesakan untuk menghampiri.

Pandang matanya mengesankan keadaan hati yang tidak sabar. Tetapi agaknya masing-masing berdiri sendiri sendiri, sehingga tiada yang berani mulai turun tangan.

Karena diejek, hati Tirtanata menjadi panas dan penasaran. Tadi, ia bemiat hendak mengadu ketajaman pedangnya. Tetapi setelah melihat bahwa golok Pabean juga termasuk pusaka yang mahal harganya, ia nampak berbimbang-bimbang. Justru demikian, mereka semua jadi tahu bahwa Tirtanata tidak pandai menggunakan Pedangnya.

Memang sang pembesar itu berpikir di dalam Kati : - Kalau sampai rusak apalagi sampai rompal, bukankah sayang? - Memikir demikian, ia hendak menyarungkan pedangnya.

Sekonyong-konyong Surengrana berkata :

- Adik, sebenarnya dari mana kau peroleh pedang dan keris itu? - Tirtanata tersenyum manis. Hatinya terhibur. Lalu menjawab :

- Dengan sesungguhnya, kedua-duanya adalah milik Sri Baginda. Dulu pernah dihadiahkan kepada Pangeran Diponegoro, yang kemudian dilantik menjadi Sultan Heru Cakra oleh anak Adipati Surabaya. Setelah pemberontakkan padam, bukankah sudah se- mestinya harus kembali ke istana? -

Sekonyong-konyong dengan suatu kecepatan yang sulit dilu- kiskan, Surengrana menyambar pedang Sangga Buwana kemu- dian menabas golok Pabean tiga kali. Akibatnya, golok Pabean yang termasuk pusaka mustika pula, terpotong menjadi tiga ba- gian.

Suratama, Pabean, Sagli dan si kusir terperanjat sewaktu me- nyaksikan tingkah Surengrana. Tak dapat lagi mereka menyembunyikan kata hatinya. Mereka mengira, Surengrana mulai turun tangan. Tentu saja mereka tidak sudi ketinggalan. Dengan serempak mereka mengurung dan segera siap untuk saling berebut .

Surengrana ternyata pandai berpikir. Di antara mereka, memang hanya dia seorang yang dapat bebas berbicara dengan Tirtanata karena sesama pembesar negeri. Itulah pula sebabnya, ia dapat kesempatan menghunus pedang Sangga Buwana dari sarungnya. Namun meskipun dirinya kini bersenjata pedang pusaka, rasanya tidak akan menang bila dikerubut empat orang. Maka sambil tertawa ia mengangsurkan pedang Sangga Buwana kembali kepada pemiliknya.

- Adik, benar-benar luar biasa pedang ini. - Wajah Tirtanata berubah sambil menerima angsuran pedang. Tegornya :

- Hai ! Kau sungguh ceroboh dan semberono -

Setelah menyarungkan pedangnya, ia kembali ke kamarnya dan tidak menampakkan batang hidungnya lagi, Kelima orang itu sating memandang. Lalu kembali ke tempatnya masing-masing.

Sondong Landeyan dapat menebak maksud Surengrana yang terselubung. Ia ingin membuktikan, apakah pedang itu benar-be- nar pedang Sangga Buwana yang termashur semenjak jaman ratusan tahun yang lalu. Dengan tabasannya tadi, terbuktilah sudah bahwa pedang itu benar-benar pedang pusaka yang menjadi incaran setiap pendekar di seluruh tanah air. Golok Pabean bukan golok murahan. Meskipun demikian dapat terajang dengan mudah tak ubah sebatang pohon pisang.

- Hm, sekarang mereka berlima bakal saling membunuh. - Sondong Landeyan menggerendeng dalam hati.

Sondong Landeyan sebenarnya seorang satria sejati. Namun sebentar tadi ia sempat merasakan betapa tinggi hati Tirtanata. Karena itu tiada semangatnya untuk menginurkan tangannya. Lagipula apa keuntungannya? Orangnya kasar, puterinya memandang dirinya_sebagai orang dusun yang tak ada harganya untuk diajaknya berbicara. Kedua-duanya menyakitkan hatinya. Keesokan harinya, ia bangun waktu matahari sudah sepenggalah tingginya. Ttrtanata dan puterinya sudah berangkat Niscaya dengan kusirnya yang sebenarnya mempunyai maksud tersembunyi.

Surengrana, Sagli, Suratama dan Pabean tiada lagi ditempatnya. tak usah dijelaskan lagi, mereka tentunya tidak sudi kehilangan rnangsanya.

- Suratama, Pabean dan Sagli pantas menjadi begal, perampok atau mating. Akan tetapi mengapa Surengrana ikut-ikutan menjadi bangsat? Padahal is seorang pembesar negeri. Apakah setali tiga uang? pikirnya sambil menghampiri kudanya.

Rupanya kudanya sudah diberi makan salah seorang pembantu rumah tangga Kepala Kampung. Segera ia memberi upah, lalu melanjutkan perjalanan dengan tegar. Ia mengarah ke barat.

Hawa pegunungan dada terasa lagi. Tetapi karena alamnya terlindung oleh hutan lebat, udaranya sejuk juga. Kira-kira bedalan duapuluh kilometer, tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan memekik-mekik minta pertolongan. Siapa?

- Tolong ! Tolong ! -

Sondong Landeyan menggebrak kudanya. Binatang itu kaget setengah mati. Terus saja lari menubras-nubras menyeberang semak belukar yang tumbuh subur di seberang-menyeberang jalan. Sekarang, ia mengenal suara yang minta tolong itu. Dialah Mulatsih, Puteri Tirtanata yang cantik jelita. Darah Sondong Landeyan tersirap seketika itu juga. Bulukuduknya merernang. Dan entah apa sebabnya, kedua tangannya menggigil. Karen tidak sabar, ia melesat ke udara dan turun di atas tanah. Dan dengan memanjangkan kakinya, ia lari mengarah ke barat laut. Setelah menyeberang dua gundukan tanah, dari jauh ia melihat Tirtanata yang tergolek di atas tanah. Dia sudah menjadi mayat. Pedang Sangga Buwana dan Keris Tunggulmanik tergeletak di sampingnya. Namun tiada yang berani memungutnya. Mulatsih kemudian menelungkupi mayat ayahnyasambil meratap memilukan hati. Suratama melompat mendekati dan membekap mulutnya.

Sondong Landeyan seorang pendekar yang pandai berpikir. Meskipun darahnya bergolak, namun ia dapat mengendalikan diri. Cepat ia bersembunyi di balik batu untuk menyaksikan perkem- bangan peristiwa yang sedang berjalan di depan matanya.

Surengrana menghampiri Suratama. Berkata :

- Hai ! Yang kita perebutkan hanya dua benda. Sebilah keris dan sebatang pedang. Padahal kita berlima. Bagaimana cara kita membagi rejeki ini dengan adil ?-

- Tuan Adipati salah hitung. - sahut Suratama.

- Salah hitung bagairnana?

- Bukankah puteri secantik ini termasuk hitungan juga? -

- Ah benar - Sagli dan Pabean menimbrung. - Kalau begitu se- muanya ada tiga.- - Meskipun demikian, apa cukup? Ingat, kita berlima. Coba, bagaimana cara membaginya? masing-masing tidak dapat dibelah menjadi dua bagian. Baik pedang, keris dan gadis itu. -

- Lepaskan dulu puteri itu - teriak si kusir.

Suratama melepaskan bekapannya dan membiarkan Mulatsih menangisi ayahnya. Kemudian ia menghampiri lainnya sambil menegas :

- Nah, bagaimana sekarang? -

- Masakan semenjak tadi bagaimana-bagaimana, terus menerus?

- Pabean mendengus.

- Bagus ! Kau seorang pedagang, tentunya biasa membagi ba- rang. - si kusir tertawa.

Wajah Pabean merah padam. Meskipun dia memikul keranjang barang kelontong, bukan berarti seorang pedagang benar-benar. Karena itu ia balik bertanya dengan hati tak senang :

- Sadikun Meskipun sumber berita ini berasal darimu, tetapi jangan bermimpi aku merasa berhutang budi padamu. -

- Siapa yang mengharapkan balas budimu ? - bentak si kusir yang ternyata bernama Sadikun.

Sondong Landeyan sekarang jadi mengerti, siapakah yang mengirimkan kabar tentang dua pusaka sakti yang berada ditangan Tirtanata. Kalau dia perlu kawan, tentunya karena merasa tidak mampu merarnpas pusaka majikannya dengan terang-terangan.

Tegasnya, ia pinjam tangan orang lain. Tetapi setelah pusaka yang diincarnya berhasil terampas, ia jadi kerepotan sendiri lantaran mau tak mau harus bisa dibagi rata. Kalau tidak, dia bakal berhadapan dengan empat orang yang berkepandaiap tidak lebih rendah daripadanya.

- Sudahlah begini saja. - terdengar Sagli memutuskan. - Aku biasa hidup sebagai pelayan. Siapa yang membayar, dia yang makan. Demikian juga kali ini. Kita bertanding mengadu untung. Siapa yang kalah mundur. Yang menang yang dapat.-

- Tidak tepat.- tungkas Pabean. - Harus kita bagi sebagai peme- nang pertama, kedua dan ketiga. Pemenang pertama mendapat pedang pusaka Sangga Buwana. Pemenang kedua, keris Tunggulmanik. Pemenang ketiga, puteri cantik ini. Bagaimana? -

- Akur. - mereka menjawab dengan serentak.

- Apakah aku harus pula ikut bertanding? - Surengrana minta keterangan.

- Tentu saja.- sahut Suratama cepat - Kedudukanmu sebagai tuan Adipati jangan dibawa-bawa dalam hal ini. Kita masing-ma- sing ingin merampas pusaka sakti ini. Maka kedudukan kita sama rendah sama tinggi. - - Bagus ! - sambut Sagli.- Tetapi aku mempunyai usul. Karena dua orang di antara kita berlima pasti tidak kebagian rejeki, maka sebelum pertandingan dimulai, bagaimana kalau kita menciumi puteri itu dulu. -

Suratama, Sadikun dan Pabean mempertimbangkan usul Sagti memiringkan kepalanya. Lalu memanggut - manggut menyetujui. Terus saja mereka maju menerkam kedua lengan Mulatsih.

Sarnpai disini, Sondong Landeyan tidak dapat menguasai dirinya lagi. Baginya, kesucian wanita adalah lambang kesucian Tuhan sendiri. Itulah pula sebabnya, ia tidak mau menerima perlakuan raja terhadap Mas Ayu Surnarsa. Ia menganggap budi-pekerti raja adalah semacam orang makan tebu. Setelah berhasil menye- rap manisnya, dibuanglah sepahnya. Kelima orang inipun tidak menghargai kedudukan wanita pula. Terus saja ia melompat dan batik bath seraya membentak :

- Jahanam, lepas ! -

Munculnya Sondong Landeyan dari balik batu benar-benar bagaikan iblis bagi kelima orang itu. Dengan serentak mereka menegas :

- Siapa kau? -

Dasar pembawaan Sondong Landeyan tidak pandai berbicara. Apalagi pada saat itu, ia muak melihat kelima orang itu. Maka sambil mengibaskan tangannya, ia membentak : - Pergi -

Di antara mereka berlima, Suratama yang berwatak berangasan. Iapun tinggi hati dan merasa yang tersakti di antara mereka, karena mempunyai keris pusaka Canibuic Sekarang is digertak seseorang didepan mereka. Keruan saja, is jadi kalap. Sambil menghantam dada Sondong Landeyan, ia balik membentak :

- Kau sendiri yang pergi. Enyah -

Sondong Landeyan tidak gentar menghadapi hantaman Sura- tama yang semalam dapat mematahkan sebatang golok hanya dengan menggunakan pisau dapur. Bres ! Akibatnya, Suratama terbang ke udara dan jatuh terbanting di atas tanah berbatu.

Menyaksikan kesaktian Sondong Landeyan, Surengrana be- rempat terperanjat Gugup mereka berteriak berbarengan :

- Siapa kau? -

Sondong Landeyan tidak menggubris pertanyaan mereka. Terus saja ia menyerang Sadikun, si kusir yang menjadi biangkeladi perampokan itu. Rupanya, Pabean tidak membiarkan temannya berkelahi seorang diri. Segera ia mengambil dua batang tongkat dari keranjangnya, lalu membantu menggebah serangan Sondong Landeyan.

Baik Sadikun, Pabean, Sagli dan Surengrana memiliki kepan- daiarinya masing-masing. Sondong Landeyan sadar akan hal itu. Bila mereka sampai bergabung akan sulit dilawan. Maka sebelum mereka sempat bersatu-padu, dengan kecepatan kilat ia menggempur mereka berdua. Mula-mula ia menangkis senjata Sadikun yang berbentuk semacam cambuk. Tetapi sesungguhnya ekor ikan Pari yang terkenal sebagai sarana merontokkan semua macam ilmu kebal. Setelah itu ia menangkap senjata tongkat Pabean sambil menyodokkan sikunya yang tepat mengenai dada.

Brus ! Pabean terpental empat langkah, melontakkan darah segar. Dan pada saat itu pula terdengar jerit Sadikun yang tertendang telak , hebat tendangan Sondong Landeyan, sampai Sadikun terputar tujuh keliling bagaikan gangsing.

Suratama yang tadi terbanting di atas tanah berbatu, tidak berani mencoba-coba lagi. Tenaga Sondong Landeyan terlalu dahsyat baginya, sehingga daya sakti kerisnya tidak mempan memunah- kannya. Ia bangun tertatih-tatih dan bermaksud hendak melarikan diri. Namun Sondong Landeyan sudah keburu mencengkeram le- hernya. Tubuhnya di lemparkan ke udara. Kali ini dibarengi de- ngan pukulan dahsyat. Suratama menjerit setinggi langit Tubuh- nya terbanting untuk kedua kalinya. Tetapi kali ini ia tidak bernafas lagi.

Surengrana pandai melihat gelagat Buru-buru is menghampiri, lalu membungkuk-bungkuk hormat seraya berkata dengan suara gemetar : - Tuan, aku menyerah. Kita menyerah. Kami menyerah. Biarlah pedang Sangga Buwana dan keris sakti Tunggulmanik menjadi milik tuan.-

- Hm, apakah kedua benda itu milikku? Kembalikan kepada pemiliknya - bentak Sondong Landeyan.

- Apa? - Surengrana ternganga heran. Ia mengira, Sondong Landeyan ikut pula memperebutkan pusaka sakti itu.

- Masih kurang satu. Puteri cantik itu. - Sagli si pelayan menimbrung.

Mendengar gadis itu disebut-sebut lagi sebagai barang taruhan, meluaplah amarah Sondong Landeyan. Dengan sekali loncat ia menghampiri Sagli. Tangannya bergerak. Dan Sagli terpental tinggi dan jatuh menungging menghantam batu. Keruan saja kepalanya retak dan ia mati pada ssat itu juga.

Surengrana tambah bergemetaran menyaksikan kehebatan Sondong Landeyan. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksi- kan seseorang yang memiliki kesaktian demiluan mengerikan.

Sekarang ia tidak hanya membungkuk-bungkuk hormat, akan tetapi lantas saja duduk bersimpuh memohon belas kasih.

- Tuan sesungguhnya siapakah tuan? -

- Hm. - Sondong Landeyan menggeram. - Hampir saja aku kecoh. Kau memang seorang adipati. Tetapi adipati yang membelot ikut pemberontak. Bagaimana engkau masih bisa mengelabui bupati itu. Heran, sungguh mengherankan -

Surengrana tergugu. Dengan mulut makin ternganga-nganga ia mengamat-amati wajah Sondong Landeyan. Menegas dengan suara tak jelas :

- Sebenarnya tuan siapa? -

- Pantas saja engkau tidak kenal diriku lagi, karena sudah lama aku meninggalkan istana. -

Begitu Sondong Landeyan menyebut istana, pikiran Surengrana seperti terbuka. Serunya tertahan sambil mengucak-ucak mata- nya :

- Ah Aku lamur Aku buta Bukankah tuan pengawal Sri Baginda

yang termashur? -

- Hm dan kau diampuni karena mempersembahkan upeti

istimewa, ya? -

- Tidak. eh ya. - Surengrana menjawab dengan ragu-ragu.

Sebab ia khawatir Sondong Landeyan sedang memancing sikap setianya kepada raja. Karena itu buru-buru ia mengalihkan pembicaraan : - Aku memang tolol Sekarang aku bertemu dengan pengawal raja. Tentu saja kedua pusaka sakti itu harus kembali ke kan- dang. Tuan, terimalah kembali milik raja. -

Setelah berkata dernikian, dengan merangkak-rangkak, ia me- ngambil pedang Sangga Buwana dan keris Tunggulmanik yang tergeletak di samping mayat Tirtanata. Kemudian dengan me- rangkak-rangkak ia mempersembahkannya.

Sondong Landeyan berbimbang-bimbang sejenak. Ia menoleh kepada Mulatsih masih saja meratapi ayahnya. Menyaksikan hal itu, tak sampai hati ia mengganggunya Maka dengan kedua tangannya ia menerima angsuran pedang Sangga Buwana dan keris Tunggulmanik yang dipersembahkan Surengrana kepadanya dengan bersimpuh.

Sekonyong-konyong ia mendengar bunyi suara yang halus. - Serr Serr - Pada detik itu sadarlah ia apa arti bunyi itu.

- Penghianat laknat ! ia menggerung.

Surengrana mengelak dengan bergulingan sambil berteriak se- nyaring-nyaringnya :

- Sadikun Pabean Kuatkan hatimu. Dia sudah kena Paku Tagih Belambangan -

Mendengar Surengrana menyebut Paku Tagih Belambangan, Sondong Landeyan terperanjat. Ia ingat, bahwa Paku Tagih Be- lambangan sangat beracun. Siapa yang terkena paku beracun buatan Belambangan itu, akan mati kejang dalam beberapa jam saja.

Apalagi bila dibuat bergerak. Sebab racun itu akan segera naik ke jantung melalui aliran darah. Tetapi Surengrana tidak boleh di- biarkan lepas bebas menikmati kemenangannya. Tidak boleh pula diberi waktu untuk melawan dirinya. Mumpung masih bisa berbuat banyak ia harus membunuh nya. Memikir demikian, sambil menahan nafas ia melompat memburu. Dengan menjejakkan kakinya, ia melayang di udara dan jatuh tepat menindih Surengrana yang teng,ah bergulingan. Orang itu lantas saja kehilangan daya geraknya, rnirip sebuah patung terpantek memanjang di atas tanah.

Pabean dan Sadikun sebenamya sudah setengah mati. Namun begitu mendengar seruan Sureng rana bahwa lawannya sudah terkena Paku Tagih Belambangan, hati mereka girang dan bersyukur. Seketika itu juga, timbullah semangat hidupnya.

Dengan memaksa diri, mereka mengepung Sondong Landeyan dari jarak jauh.kali-kali Sadikun melecutkan cambuknya untuk memancing gerakan lawan

- Bagus ! Serang terus ! Jangan biarkan dia beristirahat. Dan kita tinggal menunggu saat mampusnya. - Teriak Pabean mengobar- kan semangat tempur temannya.

- Kau sendiri? - Sadikun mendongkol. Aku akan menunggu saatnya yang tepat. Kau jangan berkecil hati Senjatamu lebih panjang dan lebih menguntungkan daripada tongicatku. Namun lihatlah nanti Justru tongkatku ini yang seben- tar lagi akan mengakhiri hidupnya. Pabean tertawa teriphak-ba- hak.

Sondong Landeyan sadar akan bahaya yang mengancam jiwa- nya. Terlambat sedikit, dia bakal diserang dari dalam dan dari luar. Racun akan melumpuhkan semua kepandaiannya dan mereka berdua segera akan menghabisi jiwanya. Karena itu ia hams bertindak cepat. Segera ia mengumpul kan semangat juangnya.

Dengan menahan nafas, ia melesat menerjang. Gerakannya berada dugaan Pabean. Orang ini merasa seperti diterjang sesosok bayangan. la ketakutan setengah mati dan lari terbirit- birit.

Memang, melarikan diri adalah satu-satunya jaLan yang paling menguntungkan. Kecuali dirinya selamat, Sondong Landeyan akan mati diamuk racun yang jadi makin menghebat. Akan tetapi perhitungan yang bagus itupun, tidak berlaku bagi Sondong Lan- deyan. Bekas pengawal raja Amangkurat IV terlalu hebat baginya. Entah dengan ilmu apa, Sondong Landeyan dapat memukul lawan dari jarak jauh. Blang Suatu tenaga dahsyat menghantam punggung Pabean. dan orang itu mati dengan perut terbelah. Pada saat yang hampir berbareng, Sondong Landeyan melompat menyerang Sadikun. Karena terpepet, Sadikun terpaksa mela- kukan perlawanan. Cambuknya melejit menghantam pinggang.

Sondong Landeyan sama sekali tidak mengelak atau mencoba menyingkir.

Dengan tangannya yang perkasa ia menangkap ujung cambuk Sadikun dan ditariknya. Tentu saja Sadikun mempertahankan diri sebisa-bisanya. Akan tetapi sebentar tadi ia sudah tertendang telak sampai berputar tujuh keliling bagaikan gangsing.

Betapapun, tenaganya tidak utuh lagi. Sekarang ia mencoba mengadu tenaga dengan Sondong Landeyan yang termashur memiliki tenaga himpunan tak ubah Gajah Sena dalam cerita perwayangan.

Keruan saja, kulitnya terbeset dan cambuknya dengan mudah be- ralih majikan. Mati-matian ia memutar tubuhnya hendak melarikan diri. Sayang, Sondong Landeyan keburu melecutkan cambuk rampasannya.

Tar ! Tarr ! Dan Sadikun roboh di alas tanah tak berkutik lagi.

Setelah kedua lawannya mati, Sondong Landeyan berdiri angker bagaikan Dewa Maut. Sekarang kedua kakinya mulai kesemutan. Tahulah dia, racun mulai mengamuk. Karena terlalu menggunakan tenaga himpunan, kini tak dapat lagi ia memperta- hankan diri. liba-tiba saja ia jatuh terduduk. Pertempuran itu sempat membuat Mulatsih berhenti menangis. Meskipun singkat, namun pertem puran itu merupakan per- juangan mati hidup untuk kedua belah pihak. Kalau Sondong Lan- deyan kalah, jiwanya akan ikut terancam pula. Itulah sebabnya ia berharap agar pahlawannya menang.

Ternyata pendekar itu berhasil menumpas kelima lawannya. Hatinya bersyukur bukan main. Namur pada saat itu pula, ia terperanjat melihat Sondong Landeyan roboh. Terus saja ia menghampiri dan mencoba membangunkannya. Sayang, perawakan Sondong Landeyan tinggi perkasa. Berat badannya berada diluar batas kekuatannya sendiri.

Meskipun bagian bawah badan terasa mati kaku, pikiran Sondong Landeyan masih tetap jernih. Segera ia menuding Surengrana sambil berkata memerintah :

- Geledah badannya. Ambil obat penawar racun dan berikan padaku -

Mulatsih mendekati Surengrana yang sudah tidak bemafas lagi. Selma hidupnya, belum pernah ia merampas barang orang.

Apalagi sampai menggerayangi tubuh orang mati. Namun demi ikut membantu kesukaran pahlawannya, ia memaksa diri dan me- nemukan sebuah botol kecil tertutup rapat .

- Apakah ini? - ia mengacung-acungkan tangannya. Pada detik itu, pikiran Sondong Landeyan mulai semrawut. Dengan suara lemah ia menyahut terpatah-patah :

- Bawalah kemari....aku....aku.... harus. meminumnya. -

Mulatsih membuka penutup botol itu dan membawanya ke dekat mulut Sondong Lnadeyan seraya menegas :

- Apakah betul ini? Rupanya eh warnanya hijau. -

Dengan sisa tenaganya Sondong Landeyan menyarnbar botol itu dan disontakkan kedalam mulutnya. Lalu berkata :

- Bawalah pedang istana itu kemari -

Mulatsih kemudian memungut pedang Sangga Buwana dan keris Tunggulmanik. Syukur, ia tadi sempat mendengar percakapan Sondong Landeyan dan Surengrana sehingga tidak sangsi lagi akan maksud baik pendekar itu.

- Hunuslah pedang itu ! - perintah Sondong Landeyan.

Mulatsih terkejut. Pikirannya menebak-nebak. Apa maksud pendekar itu? Selagi berpikir demikian, terdengar lagi suara Son- dong Landeyan :

- Sekarang periksalah kelima bangsat itu Bila ada yang masih bernafas, potong lehernya ! - Itulah perintah yang sangat menyeramkan bagi Mulatsih yang berpekerti halus dan lemah lembut. Sahutnya dengan suara bergemetaran :

- A.aaku tak dapat mem ..... -

- Nona, aku terkena racun jahat. Dalam waktu enam jam, tidak boleh aku bergerak. Bila di antara mereka ada yang masih hidup, kita akan mati tanpa liang kubur. Karena itu, nona harus membu- nuh mereka yang masih hidup. -

Mulatsih mau mengerti keterangan Sondong Landeyan. Maka dengan memaksa diri ia memeriksa keadaan mereka berlima, Te- tapi alangkah berat langkah kaki nya. Tak dikehendaki sendiri, ke- dua kakinya menggigil.

- Masakan aku harus membunuhnya? - ia berkomat-kamit Dan tak dikehendaki sendiri, ia mulai berisak-isak karena hatinya terguncang.

Untung. Kelima-limanya sudah melayang jiwanya sehingga tidak perlu memotong leher mereka. Lalu dengan langkah ringan, la kembali kepada Sondong Landeyan. Melapor :

- Mereka sudah mati. -

Waktu itu Sondong Landeyan sudah memejamkan matanya untuk mengatur pernafasan dan aliran darahnya. Mendengar laporan Mulatsih ia nampak lega. Katanya dengan suara agak merdu : - Nona, apakah engkau dapat membawa kereta berkudamu seorang diri?-

- Apa maksudmu? - Mulatsih tidak mengerti.

- Bukankah engkau harus membawa jenazah ayahmu pulang? Bawalah pula pedang dan keris itu ! Setelah kelima bangsat itu mati, nona tidak perlu takut 1agi. Akupun demikian pula, sehingga tidak perlu meninggallun tempat . -

- Pulang? Pulang ke mana? - Mulatsih batik bertanya.

Mendengar ucapan Mulatsih, Sondong Landeyan heran sampai membuka kedua matanya. Sahutnya :

- Tentu saja pulang ke rumah orang tuamu.-

- Aku....aku ... aku tidak mempunyai rumah lagi.-

- Tidak mempunyai rumah bagaimana? - Sondong Landeyan makin heran. - Bukankah ibu masih berada di rumah?

- Ibu? Semenjak aku masih kanak-kanak, ibu sudah meninggal dunia.-

- Oh. - Sondong Landeyan terkejut, karena ia tidak mengira sama sekali. Maka cepat-cepat ia memperbaiki : - Kalau begitu, nona tadi dari mana dan mau ke mana? Kudengara yahmu disebut- sebut sebagai seorang bupati.-

- Itu... itu...cuma bohong-bohongan.- - Bohong-bohongan bagaimana? -

Setelah menelan obat penawar, otak Sondong Landeyan jernih kembali seperti sediakala. Asal saja tidak usah memaksa bergerak dengan menggunakan tenaga, untuk sementara racun itu tidak berbahaya lagi. Itulah sebabnya, dapatlah ia berbicara dengan tak usah mencemaskan akibatnya.

Mulatsih tidak segera menjawab. Wajahnya berubah-rubah. Akhimya terlongong-longong dengan kepala kosong. Sebentar ia melihat pedang Sangga Buwana dan keris sakti yang berada di tangannya. Lalu menatap wajah Sondong Landeyan dengan pan- dang minta dikasihani.

- Bohong-bohongan bagaimana? - Sondong Landeyan mendesak lagi.

- Ayahku bukan seorang bupati. Dia....dia paman Surengrana,

bukan pula seorang adipati.

- Surengrana seorang pemberontak. Apakah ayahmu begitu ju- ga? -

Mulatsih meruntuhkan pandang. Lalu memanggut pendek. Setelah itu berkata pelahan :

- Secara kebetulan, ayah memperoleh dua pusaka milik istana ini Ayah bermaksud mempersem bahkan kembali ke Kartasura.Tentunya agar memperoleh pengampunan, bukan? , Tidak hanya itu. Ayah berharap agar Sri Baginda berkenan mendudukkan ayah ke tempatnya semula sebagai seorang bupati seperti yang pernah diperoleh paman Surengrana.-

- Hm. - Sondong Landeyan mau mengerti. Setelah berdiam se- jenak ia minta keterangan :

- Apakah selama ini ayahmu berada di atas pegunungan? -

- Ditengah hutan. - Mulatsih membetulkan tebakan Sondong Landeyan.

Sondong Landeyan menundukkan kepalanya. Meskipun ia seorang pendekar yang gagah berani, tegas dan nyaring suaranya, akan tetapi sesungguhnya ia seorang perasa. Hatinya lembek dan cepat menaruh belas kasih terhadap sesama hidup. Apalagi menghadapi seorang gadis begitu cantik, lemah-lembut dan sedang ditimpa kemalangan. Sampai disitu hatinya tidak tega lagi untuk memaksa Mulatsih memberi keterangan lebih jelas lagi. la merasa cukup untuk mengira-ngira saja.

Pada jaman Sri Baginda Paku Buwana I, rupanya Tirtanata adalah seorang pembesar negeri. Mungkin sekali ia seorang bupati yang memerintah kabupaten wilayah Jawa Timur.

Kemudian terlibat dalam suatu pemberontakan. Akibatnya ia tergusur dari kediamannya dan terpaksa hidup terlunta-lunta dalam hutan. Tiba-tiba ia mendengar Mulatsih membuka mulutnya lagi seakan-akan menyambung tebakannya. - Ayah dulu seorang bupati yang memerintah sebagian wilayah Pasuruan. Aku sempat mengikuti hidup dalam pengembaraan selama lima tahun. Syukur, ayah cepat sadar. Salah seorang sahabat menolong ayah. Lalu kami hidup di bawah satu atap dengan sahabat ayah Beliau seorang bupati Ragajampi. Pada suatu hari, sahabat ayah itu memperoleh persemba han dua pusaka ini dari sekawanan pemberontak yang mohon perlindungannya. Inilah kesempatan yang bagus sekali bagi ayah untuk memperoleh kembali kedudukannya semula. Ayah berhasil membawa dua pusaka ini keluar dari kabupaten. Tetapi sampai disini ..... sampai disini...Oh, sungguh malang nasib ayah ..-

- Ah Kalau begitu, kita belum aman benar. - Sondong Landeyan seperti tersadarkan. - Niscaya sahabat ayahmu tidak akan tinggal diam. Beliau pasti mengirimkan orang-orang kepercayaan untuk merebut kedua pusaka itu kembali. -

Mendengar ucapan itu, wajah Mulatsih pucat pasi. Tiba-tiba saja sekujur badannya menggigil. Dan menyaksikan hal itu, hati Sondong Landeyan yang lembek tersentuh telak. Timbullah rasa pahla wannya untuk melindungi gadis yang malang itu.

- Sebenarnya, siapakah, namamu yang lengkap? - ia mencoba minta keterangan demi kata hatinya sendiri.

- Sekar Mulatsih. - jawab gadis itu. Sekar Mulatsih Alangkah sedap dan indah dalam pendengaran Sondong Landeyan. Lalu dengan wajah tenang dan dengan suara damai pula ia berkata :

- Asal saja aku dapat bergerak leluasa seperti sediakala, musuh berapapun jumlahnya, aku tidak takut. Bawalah kereta itu kemari. Kita mencari tempat peristirahatan yang layak. Untuk sementara biarlah jenazah ayahmu berada di tempatnya. Setelah aman sen- tausa, baru kita makamkan.-

- Mencari peristirahatan yang layak bagaimana? - Sekar Mutatsih terkejut. Kedua bibirnya bergetar lembut. Wajahnya berubah pucat.

- Aku memerlukan waktu empat jam untuk merawat lukaku. -

- Oh, begitu? - Sekar Mulatsih mau mengerti. Perlahan-lahan ia berpaling ke arah mayat ayahnya yang masih menelungkup di atas tanah. Kemudian kembali menatap wajah Sondong Landeyan.

Berkata dengan hati-hati : - Sebenarnya, belum pernah aku memegang kendali kuda.-

- Hm. - Sondong Landeyan kecewa. Beberapa detik ia mengamati wajah Sekar Mulatsih. Gadis yang cantik jelita itu, memang terlalu lembut dan lemah. Setelah memaklumi, ia memutuskan :

- Baiklah, kau cari seekor kuda clan tuntun kemari - Kali ini Sondong Landeyan memerintah dengan suara lantang sehingga mengejutkan hati gadis itu. Justru demikian, Sekar Mu- latsih tidak berani berayal lagi. Buru-buru ia mencari kuda penarik keretanya. Setelah memilih yang terbaik, segera ia menuntunnya ke hadapan Sondong Landeyan dan mengangsurkan kendali kuda.

Sondong Landeyan menerima angsuran tangannya dan untuk yang pertama kali itu ia bersentuhan dengan anggauta tubuh Sekar Mulatsih yang halus dan lembut.

- Minggir ! - perintahnya garang.

Setelah Sekar Mulatsih menepi, dengan menguatkan diri Son- dong Landeyan merangkak ke atas punggung kuda. Lalu meme- rintah lagi :

- Bawalah pedang dan kerismu -

Dengan kepala kosong, Sekar Mulatsih menurut raja semua perintah Sondong Landeyan. Kedua pusaka sakti itu kemudian di- persembahkan kepala pendekar yang berperangai kasar itu. Son- dong Landeyan menyisipkan kedua senjata itu ke pinggangnya.

Lalu dengan sebelah tangannya ia meengangkat tubuh Sekar Mulatsih ke atas punggung kuda yang tidak berpelana. Dan perlahan-lahan ia melarikan kuda tanpa pelana itu untuk mencan sebuah rumah kosong yang layak untuk ditempati. Syukur, akibat pemberontakan banyak rumah-rumah penduduk ditinggalkan pemiliknya.

Dengah begitu, Sondong Landeyan tidak perlu berputar-putar mencari rumah penginapan. Karena tiada orang lain kecuali Sekar Mulatsih, maia is membawa kudanya masuk ke ruang dalam sebuah rumah. Setelah menurunkan Sekar Mulatsih dengan hati-hAti di atas lantai, ia melompat ke atas sebuah balai- balai panjang. Lalu menggebah binatang itu ke luar rumah.

Sondong Landeyan memang seorang pendekar yang berke- pandaian tinggi. Himpunan tenaga saktinya kuat, sehingga ia dapat menahan diri. Tetapi begitu rebah di atas balai-balai, ia tak sadarkan diri. Sekar Mulatsih menghampiri dengan hati-hati. Ia merasa berhutang budi sangat besar. Diapun tidak mempunyai pelindung lagi. Dengan ikhlas is merawat penolongnya sampai siuman kern- ball.

Hati Sondong Landeyan yang keras mulai tersentuh. Ia jadi pe- rasa, kini. Hati-hati ia menegakkan badannya, lalu menggulung celananya. Hati-hati ia mencabut dua batang Paku Tagih Belam- bangan yang masih menancap di lututnya. Bekas lukanya mele- puh.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa racunnya masih meneram dan harus disedot keluar. Ia mencoba membungkuk, namun mulutnya tidak sampai. Diluar dugaan, tiba-tiba Sekar Mulatsih me- nempelkan mulutnya yang mungil pada lutut Sondong Landeyan dan menyedot semua darah yang beracun. - Hai - Sondong Landeyan terperanjat

Sekar Mulatsih tidak tahu, bahwa apa yang sedang dilakukannya itu membahayakan jiwa sendiri. Sebab racun Paku Tagih Be- lambangan itu akan bisa terserap masuk ke dalam kerongkongannya. Tetapi andaikata tahu, is sendiri sudah memutuskan hendak membalas budi penolongnya. Ia rela menyerahican jiwanya kepada pendekar dusun yang kasar itu.

Tak perduli apakah dia perampok, begat, penyamun atau bangsat yang setali tiga uang dengan lainnya. Dalam hati ia memutuskan pula, akan mengikuti Sondong Landeyan yang kecuali sudah menyelamatkan jiwanya, berhasil pula membalas dendam ayahnya terhadap kawanan penjahat yang membunuhnya.

Sondong Landeyan terharu bukan main menyaksikan pekerti Sekar Mulatsih. Pada mat itu is sadar, bahwa semenjak hari itu ia akan menjadi pelindung Sekar Mulatsih untuk selama hidupnya. Bertanggung jawab pula untuk membahagiakan. Bukankah Sekar Mulatsih tiada berayah-bunda lagi? Bahkan diapun tidak mempu- nyai tempat untuk pulang. Kemana lagi dia akan berlindung kalau bukan kepadanya? -

Enam jam kemudian, racun yang sempat mengeram dalam darah Sondong Landeyan tidak berbahaya lagi. Meskipun demikian, sebelah kakinya terasa kejang kaku. Maka pada keesokan harinya, terpaksalah ia menguatkan diri mencari kereta ayah Sekar Mulatsih dan dibawanya pulang kepondok. Di dalam kereta terdapat perbekalan-perbekalan yang sangat dibutuhkan. Kecuali pakaian Sekar Mulatsih, terdapat pula bahan makan-minum dan uang.

- Cukuplah untuk bekal hidup selama sepuluh hari. - katanya kepada Sekar Mulatsih.

Sekar Mulatsih tidur sekamar dengan Sondong Landeyan. Siang dan malam ia merawat Sondong Landeyan dengan saksama dan bersungguh-sungguh. Sementara itu, Sondong Landeyan dapat mencari beberapa orang penduduk yang dimintanya agar me- ngubur ayah Sekar Mulatsih dan kelima perampoknya. Akan teta- pi peristiwa itu sendiri, menggoncangkan hati Sekar Mulatsih yang lemah lembut. Seringkali ia mengigau dalam tidurnya.

Kadang memekik-mekik, kadang pula menangis sedih.

Sayang, Sondong Landeyan tidak pandai berbicara sehingga ti- dak mampu mencari kata-kata yang dapat membesarkan dan menghibur hati gadis malang itu. Meskipun demikian, setiap kali melihat Sekar Mulatsih berwajah muram, pandang matanya me- mancarkan rasa cinta-kasih yang tulus. Melihat pandang mata Sondong Landeyan, hati Sekar Mulatsih terhibur juga.

Sepuluh hari lamanya, Sondong Landeyan dan Sekar Mulatsih berada dalam rumah itu. Karena mempunyai uang cukup, Son- dong Landeyan dapat menggajih lima orang pekerja harian untuk membantu merapikan rumah dan sebagai pesuruh untuk mencarikan ramuan obat .Dan selama itu, hubungan hati antara Sondong Landeyan dan Sekar Mulatsih makin dekat . Sekarang Sekar Mulatsih mengadakan perbaikan-perbaikan tentang riwayat orang tuanya. Sebenar nya ayahnya dulu hanya berpangkat Mantri Pamongpraja. Daum pemberontak kemudian mengang katnya sebagai seorang bupati yang diberi kekuasaan memerintah Pasuruan. Keruan saja ayahnya girang bukari main. Tetapi kekuasaannya hanya benlangsung selama delapan tahun saja.

Namun sempat merubah sikap hidupnya yang menjadi tinggi hati, angkuh dan gemar menggertak orang.

- Pedang itu ! - kata Sekar Mulatsih menuding pedang Sangga Buwana yang tergantung di atas tempat tidur Sondong Landeyan. diperoleh ayah dari sekawanan orang yang mempersembah- kannya kepada bupati Ragajampi.

- Seterusnya seperti yang pernah kau jelaskan, bukan? - potong Sondong Landeyan.

- Benar. Hanya saja perlu kubetulkan bahwa dengan memper- sembahkan kedua pusaka ke duli baginda raja, ayah mengharap bisa diakui kedudukannya sebagai bupati.-

- Sebenarnya rencana yang bagus juga. - ujar Sondong Landeyan dengan suara rata. - Apakah engkau tahu asal-usul kedua pusaka itu? -

- Tidak. - jawab Sekar Mulatsih.

- Sondong Landeyan menghela nafas, Seperti kepada dirinya sendiri ia berkata :

- Yang membawa-bawa kedua pusaka itu, pasti seorang satria gagah perkasa. Pasti pula dia mati karena diracun orang. sebab dengan bersenjatakan pedang setajam itu, tidak mudah dia dikalahkan orang betapa saktipun. -

Pada hari kesebelas, seperti biasanya Sekar Mulatsih membawa semangkok obat ke dalam kamar.

Sondong Landeyan kini sudah agak dapat bergerak dengan leluasa. Hanya saja, sebelah kakinya belum pulih seperti sediakala. Selagi ia mengeringkan mangkok obat itu, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah beberapa orang.

- Mulatsih - katanya berbisik. - Tenangkan hatimu Kita sedang diintai beberapa orang. Pastilah mereka suruhan bupati Ragajampi. -

Sekar Mulatsih jadi berkecil hati. Teringat akan pengalamannya sepuluh hari yang lampau, tak dikehendaki sendiri sekujur ba- dannya bergemeteran.

- Sayang ! Mengapa mereka tidak sabar menunggu sampai dua hari lagi? Memang aku dapat menggerakkan sebelah kakiku yang masih kaku ini. Akan tetapi manakala yang datang orang-orang tangguh kurasa aku akan menghadapi kesukaran. Kalau kupaksa, mungkin sekali lukaku akan kambuh lagi. -

- Lalu aku bagaimana? - Sekar Mulatsih setengah menangis.

- Jangan pedulikan diriku Usahakan dirimu agar selamat - ujar Sondong Landeyan dengan suara berapi-api.

Sekonyong-konyong sepercik sinar putih menyambar ke dalam melalui celah jendela. Itulah sebilah belati yang menancap dengan tepat pada tiang rumah. Pada gagangnya terdapat secarik kertas Sekar Mulatsih memekik dan lari terbata-bata ke samping Sondong Landeyan.

Sondong Landeyan mengulurkan tangannya hendak mencabut belati itu. Akan tetapi tangannya tidak sampai. Dengan cekatan ia menghantamkan mangkok obat di tangannya ke tiang itu. Kena gempur tenaga saktinya, belati yang menancap itu terpental ke arahnya dan disambarnya cepat.

Sondong Landeyan kemudian membaca tulisan itu yang berada pada secarik kertas di gagang belati. Bunyinya pendek saja :

- Serahkan barang rampasanmu. Aku Surasekti. -

Sondong Landeyan tertawa pelahan melalui dadanya. Katanya kepada Sekar Mulatsih - Kau kenal Surasekti? Dialah seorang begal sakti yang malang melintang tiada tandingnya. Dia bermukim diwilayah Belambang- an. Dia pulalah guru bangsat Suratama yang mencoba - coba merampas pedang Sangga Buwana dan keris Kyahi Tunggulmanik -

Tepat pada saat itu terdengar seseorang berteriak nyaring :

- Hai Sondong Landeyan Kau kira tak ada salah seorang yang sempat tahu siapa dirimu? Aku Surapringga, sempat mendengar ucapan Surengrana. Kau sudah terluka. Mau hidup atau mampus

? -

Kemudian terdengar langkah beberapa orang mengepung rumah. Terdengar pula derap kuda yang lari semakin menjauh. Siapakah dia, pikir Sondong Landeyan. Ah, rupanya yang hendak merampas kedua pusaka sakti ini tidak hanya lima orang. Akan tetapi ada pula yang mengintai dan menguntit diriku.

- Hm.... - Sondong Landeyan menggeram. la Mencoba berdiri tegak. Akan tetapi sebelah kakinya yang masih kaku, benar-benar mengganggu. Pada detik itu ia menoleh ke arah pedang Sangga Buwana. Terus saja ia menyambar pedang pusaka itu dan menghunusnya.

3. LEPAS SANGKAR - I

SUNGGUH mengherankan Baru saja pedang Sangga Buwana terhunus sejengkal tangan, tiada lagi terdengar sesuatu di luar rumah. Keadaannya kembali sunyi senyap. Bahkan angin saja seakan-akan berhenti meniup. Kemana mereka perginya?

Sondong Landeyan menunggu sejenak, lalu memasukkan pedangnya yang terhunus setengah ke dalam sarungnya.

Pedang Sangga Buwana yang diperebutkan orang-orang pandai semenjak dahulu, disandarkan pada kursi yang berada di dekat balai-balai.

- Apakah mereka orang-orang pandai? - Sekar Mulatsih minta keterangan dengan berbisik.

Sondong Landeyan mengangguk.

- Mereka memang mencari kita? - Sekar Mulatsih menegas. Kembali lagi Sondong Landeyan mengangguk.

- Hm...mereka kabur setelah melihat betapa pandai engkau menirnpuk belati yang tertancap pada tiang rumah hanya dengan lemparan mangkok. - Sekar Mulatsih mencoba memancing pendapat orang dusun itu yang tidak pandai berbicara.

- Mereka hanya pengantar surat saja. - ujar Sondong Landeyan.

- Ah kebetulan - seru Sekar Mulatsih. Hatinya lega dan ber- gembira. Sekarang ia berani berbicara dengan wajar.

Katanya lagi - Mereka pasti akan melaporkan kebisaanmu kepada yang menyuruh. Dan mereka semua niscaya tidak akan berani main coba-coba melawan dirimu, karena engkau berkepandaian tinggi.-

- Hm. - Sondong Landeyan menggerendeng dalam dada. Mulutnya lalu membungkam lagi. Otaknya bekerja. Ia mengenal benar siapakah Surasekti. Kecuali dia, masih terdapat dua orang lagi. Itulah Surapringga dan Suratenung. Tiga sekawan itu merupakan begal tiada tandingnya semenjak jaman Pangeran Puger belum naik tahta. Mereka merajalela bagaikan raja-raja kecil yang memerintah wilayah Belambangan semenjak tahun 1700 hingga sekarang. - Sayang, lututku belum sembuh benar. - Ia mengeluh di dalam hati.

Diam-diam Sekar Mulatsih memperhatikan sikap Sondong Landeyan, sipendiam dan si acuh tak acuh. Baik wajah maupun bentuk badannya benar-benar asli orang dusun. Tetapi betapapun juga, dialah penolongnya. Ia merasa berhutang budi dan jiwa. Karena itu, ia memprihatinkan keadaan nya. Jangan- jangan musuh-musuh yang bakal datang itu berkepandaian tinggi dan susah dilawan. Memperoleh pikiran itu, berkatalah ia mencoba :

- Kakang, apakah tidak balk kita kabur saja sebelum mereka da- tang? Kita masih mempunyai kereta dan kuda penarik. -

Sondong Landeyan menggelengkan kepalanya. Sekar Mulatsih menunggu jawabannya. Tetapi pendekar dusun itu membungkam mulut. Gadis cantik itu tidak mengerti bahwa kabur bagi seorang pendekar besar seperti Sondong Landeyan, merupakan suatu perbuatan yang t a b u. Tetapi sikap diamnya, membuat gadis itu tidak dapat tidur nyenyak.

Semenjak dirinya merasa berhutang budi, ia mulai memikirkan keselamatan sang pemolong.

Biarpun penolongnya itu termasuk orang kasar. Sondong Landeyan memang tidak mempunyai sesuatu yang bisa menarik hatinya. Wajahnya tidak cakap. Tingkah-lakunya kaku. Suaranya kasar. Hampir-hampir tiada memiliki daya tarik lainnya, kecuali hatinya mulia. Meskipun bergaul dan tidur sekamar selama sepuluh hari sepuluh malam, namun tiada tanda-tandanya hendak berlaku kurang senonoh.

Sekar Mulatsih memperhatikan wajah Sondong Landeyan yang tertidur nyenyak .

Pikirnya di dalam hati , - Dialah talon suamiku. Sebab di dunia ini, hanya dia seorang yang pantas menjadi pelindungku. Bukankah lebih baik aku dicintai daripada mencintainya? Begitulah kata orang dulu. Sebab mencintai berarti harus berani berkorban.

Harus berani mempersembahkan apa yang dimiliki. Sebaliknya orang yang dicintai, tidak terlalu susah payah. Maka yang perlu kulakukan sekarang hanya membuat dia mencintai diriku. -

Keesokan harinya, Sekar Mulatsih mempersiapkan sanrapan pagi yang terdiri dari sepiring nasi dan lauk-pauk sederhana. Dengan manis ia meletakkannya di atas meja. Lalu duduk menjajari Sondong Landeyan. Akan tetapi wajah Sondong Landeyan sama sekali tidak berubah. Ia makan dan minum dengan berdiam diri. Sekar Mulatsih mencoba mengajaknya berbicara, namun pende- kar itu tetap saja mengunci mulutnya. Lama-kelamaan Sekar Mu- latsih merasa malu sendiri. Patung, manusia atau batu , pikirnya setengah mendongkol .

Kira-kira pukul delapan pagi, terdengar derap kuda. Sekar Mu- latsih membuka daun pintu rumah lebar-lebar. Tiga orang turun dari kudanya masing-masing. Pakaian mereka aneh. Masing-ma- sing mengenakan pakaian polos yang berbeda. Yang satu berpa- kaian hitam. Yang kedua dan yang ketiga, putih dan abu-abu.

Ketiga-tiganya berkumis tebal dan panjang. Pandang matanya berkilatkilat seolah-olah dapat menembus hati. Dengan langkah pasti, mereka memasuki halaman dan langsung menorah ke ambang pintu rumah.

Sekar Mulatsih mundur menjajari Sondong Landeyan yang tetap tidak bergerak dari kursinya.

Diam-diam ia mengerling kepada pahlawannya. Pendekar itu sama sekali tiada gentar. Pada saat itu, masuklah kelima pembantu rumah. Tiba-tiba berkatalah Sondong Landeyan :

- Kamu semua pulang -

Kelima orang itu menyiratkan pandang. Melihat kedatangan tiga tetamu yang berkesan menyeram kan, mereka seolah-olah tahu akan tanda bahaya. Maka buru-buru mereka meninggalkan rumah dan pulang ke rumahnya masing-masing dengan melompati pagar belakang.

- Mulatsih ! Kau takut? -

Mulatsih menggelengkan kepalanya, meskipun hatinya cemas luar biasa. Tetapi bagi Sondong Landeyan, anggukan itu berkesan manis dalam kalbunya. Itulah suatu bukti, bahwa gadis cantik jellta itu bersedia mati di sampingnya. Sekarang, ia memperhatikan ke tiga tetamunya yang istimewa. Wajah mereka mirip satu dan lainnya, sehingga susah dibedakan mana yang bernama Surasekti, Surapringga dan Suratenung. Menilik nama depan mereka menggunakan bunyi S u r a, tentunya mereka guru dan paman-guru Suratama. Mengingat Suratama berkepandaian tinggi, kepandaian mereka bertiga niscaya melebihi sekian kali lipaT

Langkah mereka bertiga sama sekali tidak berbunyi. Sangat ringan seolah-olah telapak kaki mereka tidak menginjak tanah. Selama hidup di luar istana, baru kali ini akan berhadapan dengan lawan yang tangguh. Tetapi semakin tangguh lawannya, semakin berkobar-kobar semangat tempurnya.

Tak dikehendaki sendiri, mendadak saja seluruh tulang- belulangnya berbunyi peratak-perotok. Itulah bunyi ilmu kebalnya yang bergerak melindungi sekujur badannya lantaran terdorong oleh semangat tempurnya.

Ketiga tetamunya berhenti dengan sikap santun di depan Son- dong Landeyan. Yang berada di tengah kemudian membungkuk hormat seraya berkata :

- Saudara Sondong Landeyan yang terhormat. Kita bertemu kembali. Aku, Surasekti. Di sebelah kiri dan kananku, Surapring- ga dan Suratenung.-

- Hm. - Sondong Landeyan membalas dengan suara hidungnya.

- Kita dulu pernah bertemu. Barangkali engkau masih terlalu muda untuk mengingat-ingat siapakah kami bertiga ini. Kami ber- tiga dulu adalah andalan Pangeran Jayapuspita (Nama lengkapnya Pangeran Surabaya Jayapuspita. Ada yang menyebutkan, dialah nama putera Adipati Surabaya, Jangrana.

Adapula yang menerangkan, dialah adik Adipati Jangrana.). Kau pengawal peribadi Pangeran Wangsa Taruna (Pada jaman mudanya, Amangkurat IV (Jawi) bernama RM. Wangsa Taruna atau Pangeran Adipati Anom Mangkunegara. Menurut sumber

V.0. C. Beliaulah yang disebut-sebut Pangeran Hangabehi.). Rupanya kita ditakdirkan bermusuhan denganmu sampai mati. Bagaimana? - ujar Surasekti tidak menghiraukan sikap Sondong Landeyan yang dingin.

- Aku tidak dapat berdiri. Maafkan - Sahut Sondong Landeyan pendek.

- Tak apalah. Kami tahu, kau menderita luka di lutut oleh pekerti salah seorang muridku yang gegabah. Sebenamya, tidak boleh kami mengganggumu. Akan tetapi, ini urusan besar bagi kami bertiga. Yang pertama, engkau telah.membunuh murid-murid ka- mi yang terbaik. Yang kedua, engkau melindungi pihak yang salah. Yang ketiga, Engkau mengangkangi dua pusaka sakti hasil jerih payah kami. Karena itu sekali lagi kami bertiga mohon maaf.

-

Sondong Landeyan hanya mengangguk.

- Kepandaian pendekar Sondong Landeyan sudah terkenal se- menjak jaman perang besar. Entah sudah berada jumlah orang-orang kita yang mati di ujung pedangmu. - ujar Surasekti lagi dengan nada setengah menggeram. - Karena itu, kami mengakui. Bila bertanding satu lawan satu, kami tiada dapat melawanmu. Maka maafkan, kami bertiga terpaksa dengan berbareng. Surapringga, Suratenung Di depan pendekar

Sondong Landeyan, kalian berdua tidak mempunyai tempat untuk berlagak. Kita bertiga maju bersama-sama ! -

- Baik. - sahut Surapringga dan Suratenung.

Surasekti, Surapringga dan Suratenung adalah tiga sekawan begat sakti yang bermukim di wilayah Belambangan. Meskipun cara mereka mencari nafkah amat aneh, namun mereka disegani orang.

Apalagi setelah diangkat Pangeran Jayapuspita menjadi tiga orang pengawal pribadinya. Bahkan dengan resmi diakui pemerintah pemberontak, sebagai mahaguru suatu perguruan yang mengajarkan ilmu jaya kawi jayan (Ilmu Jaya kawi jayan termasuk ilmu sakti, ilmu kekebalan ilmu tenung, ilmu guna-guna dsb.).

Jumlah muridnya tidak terhitung lagi. Semuanya menjadi perajurit yang menopang pemberontakan putera Adipati Jangrana. Setelah Sri Baginda Pakubuwana I berhasil menumpas pemberontakan pada tahun 1919, beberapa perwira istana dikirimkan untuk menangkap mereka bertiga.

Namun tidak berhasil. Bahkan banyak di antara para perwira raja meninggal dengan sia-sia. Sekarang, mereka bertiga hendak menyerang Sondong Landeyan bersama-sama. Dapat dibayangkan betapa berbahayanya. Ilmu kepandaian mereka, pasti makin bertambah setelah menghilang beberapa tahun dari percaturan orang.

Dalam pada itu, mereka bertiga sudah menarik senjatanya ma- sing-masing. Senjata andalan Surasekti berwujud ikat celana da- lam yang panjang, mirip senjata kaum Warok Ponorogo. orang Jawa menyebut nya dengan istilah kolor. senjata andalan Sura- pringga lain lagi. Berwujud rantai dengan ujung bola bergigi. Se- dangkan senjata Suratenung sebilah golok mengkilat yang memantul kan cahaya menyilaukan. Tak usah dikatakan lagi.

Senjata mereka masing-masing termasuk senjata mustika -dunia.

Selagi mereka bertiga mengambil tempatnya masing-masing untuk siap tempur, di luar rumah terdengar beberapa langkah orang. Merekalah penduduk desa yang datang menengok rumah Sondong Landeyan setelah mendengar tutur-kata lima pelayan Sondong Landeyan yang melarikan diri dengan melompat pagar halaman belakang. Tetapi begitu mereka melihat tiga tetamu itu menghunus senjatanya masing-masing seperti mendengar aba- aba mereka mundur ke luar jalanan dengan jantung berdebaran.

Hanya seorang saja yang masih tetap berada di tempatnya. Dia- lab Sekar Mulatsih. Bahwasanya seorang gadis yang lemah gemulai berani berdiri di tempatnya untuk menyaksikan suatu pertempuran yang akan mengancam jiwanya pula, membuat hati Sondong Landeyan yang keras bagaikan baja terharu bukan kepalang.

Pada saat itu, cinta-kasihnya yang bersemi lembut terasa syahdu membahagiakan. Timbullah semangat tempurnya demi melin- dungi gadis itu untuk selama-lamanya. Terus saja ia menyambar - pedang Sangga Buwana dan dihunusnya perlahan-lahan dari sa- rungnya.

Sring ! Terdengar suara lembut. Itulah suara sentuhan pedang Sangga Buwana yang menggeser melalui sarungnya. Dan kemu- dian suatu sinar menyilaukan berkeredepan sehingga mengejap- kan pandang mata Surasekti bertiga. Tak terasa mereka memuji :

- Benar-benar sebatang pedang yang pantas diperebutkan de- ngan darah dan jiwa. -

Dengan suatu teriakan nyaring, Surasekti mulai menyerang yang diikuti pula oleh dua saudara-seperguruannya. Ujung kolor, bola bergigi dan golok menghantam dari depan dan kiri-kanan. Sondong Landeyan melintangkan pedang Sangga Buwana tanpa bergerak. Dia menunggu saatnya yang tepat. Begitu ketiga senjata penyerangnya tiba di depan hidungya, dengan suatu kecepatan ki-lat pedang Sangga Buwana bergerak.

Surasekti, Surapringga dan Suratenung benar-benar tiga seka- wan begal yang berkepandaian tinggi. Diserang dengan menda- dak, masih sempat mereka membebaskan diri. Dengan gerakan yang aneh, mereka melesat mundur. Lalu menunggu. Meskipun hanya satu gebrakan, namun bahayanya bukan main. Mereka ta- hu, pedang Sangga Buwana tajam luar biasa. Seumpama tadi ka- sep setengah detik saja. senjata mereka masing-masing akan terkutung.

Di dalam hati mereka kaget bercampur heran. Mereka tahu pula, Sondong Landeyan seorang ahli pedang kenamaan. Namun tak pernah terlintas dalam benak mereka, bahwa orang itu memiliki kecepatan kilat. Lalu, mengapa hanya membabat selintasan saja? Mengapa pula tidak lantas menyusul dengan gerakan lanjutannya yang tentunya sama cepatnya? Mereka kini tahu, bahwa Sondong Landeyan benar-benar belum dapat menggunakan sebelah kakinya yang terkena bisa Paku Tagih Belambangan.

Memperoleh kesimpulan itu, mereka bertiga kemudian membalas menyerang. Gerakan kakinya hampir-hampir tidak terdengar.

Tata-kerjanya cepat luar biasa. Mereka menyerang dengan bergantian tiada hentinya. Sebaliknya cara perlawanan Sondong Landeyan aneh luar biasa. Pedang Sangga Buwana diletakkan melintang di atas kursi. sebagai gantinya, ia hanya menggunakan dua kepalan tangannya yang menghantam dengan himpunan tenaga sakti. Pukulan- pukulannya aneh dan sulit ditebak. Tetapi sebenarnya ia rugi dalam pertempuran sengit itu, karena tidak dapat menggunakan kedua kakinya.

Meskipun demikian, Surasekti bertiga tidak dapat menggunakan kelemahan lawannya. Mereka segan terhadap pedang Sangga Buwana. Karena itu, mereka hanya menyerang dari jarak jauh. Pada suatu kali Suratenung ingin menjajaki sampai dimana perlawanan Sondong Landeyan. Ia sengaja maju mendesak dengan mengobat-abitkan goloknya. Ternyata Sondong Landeyan tidak menggunakan pedang Sangga Buwana. Tangan kirinya hanya mengibas. Akibatnya suatu kesiur angin yang membawa tenaga luar biasa kuatnya mendorong Suratenung mundur sampai terbuncang nyaris menubruk daun pintu.

Andaikata Sondong Landeyan menggebahnya dengan pedang Sangga Buwana, entah apa akibatnya.

Ia jadi terlongong-longong sejenak kalau begitu, Sondong Landeyan tidak berniat membunuhnya. Mengapa? Apakah dia bermaksud mengampuni jiwanya? memperoleh pikiran demikian, segera ia berseru : - Sondong Landeyan, aku tahu engkau mengampuni jiwaku. Akan tetapi jangan berharap aku mengampunimu. Hutang jiwa harus kau bayar dengan jiwa juga. -

Sondong Landeyan tidak menjawab. Dia sedang berkutat me- lawan Surasekti dan Surapringga yang menyerang dengan berba- reng. Keruan saja Suratenung merasa tersinggung. Tanpa mempedulikan keselamatan diri, ia melompat maju. Pada saat itu, tiba-tiba tangan kiri Sondong Landeyan berkelebat. Surasekti dan Sumpringga memekik terkejut, karena melihat bahaya yang mengancam jiwa saudara seperguruannya. Dengan berbareng mereka menyambar kedua kaki Suratenung dan dibawanya mundur dengan jumpalitan.

- Hai, mengapa semberono? - mereka membentak dengan ber- bareng.

Suratenung baru saja terlepas dan maut. Nafasnya memburu. Dengan pandang tak mengerti, ia berpaling kepada kedua saudara seperguruannya. ujamya :

- Dia tidak bemiat membunuh kita.-

- Tidak berniat membunuh kita? - bentak Surasekti mendongkol.

- Kalau kau desak dengan cara demikian, siapapun akan terpak- sa menggunakan pukulan maut demi menolong jiwa sendiri. -

Suratenung mau mengerti, karena keterangan kakaknya seper- guruan masuk akal. - Mengapa engkau yakin dia tidak akan membunuhmu? - Sura- pringga menegas.

- Barangkali barangkali.... - Suratenung tergegap-gegap. Lalu

memperbaiki alasannya, - Dia seorang satria besar. Barangkali dalam hal ini dia merasa salah. Dia tidakkan menyangkal tuntutan kita. Memang dia berhutang jiwa dan pedang Sangga Buwana yang bukan miliknya. Satu-satunya alasan mengapa dia tidak menyerah saja, karena demi mempertahankan nama besarnya sendiri.-

- Hm alasanmu masuk akal juga. - Surapringga

menggerendeng. Lalu berpaling kepada Surasekti manta pendapatnya. Katanya - Bagaimana ?

- Bagaimana? Kalau menyerang, kita menyerang berbareng Kalau berdiri sendiri-sendiri, kita bakal mati tanpa liang kubur. Kalian mempunyai kepandaian apa sampai berani main coba- coba? Kau bisa apa? Kau sanggup? - Surasekti uring-uringan.

Surapringga dan Suratenung seperti tersadar. Sondong Lan- deyan tidak mungkin roboh melawan satu orang atau dua orang. Mereka bertiga hams menyerang bersama-sama seperti rencana- nya semula.

Dengan ketetapan itu, mereka bertiga mulai menyerang lagi. Tetapi Surasekti kini menggunakan akalnya. liba-tiba saja is menggulingkan diri di atas tanah menyerang kaki kursi. Tak ! Kaki kursi patah sebelah dan Sondong Landeyan yang duduk di atasnya, teroleng miring, pada saat itu, Surasekti meletik bangun dan membarengi kedua saudaranya menyerang dari depan.

Menggunakan akal demi merebut kemenangan adalah layak. Akan tetapi bagi Surasekti bersaudara yang terkenal sebagai mahaguru, perbuatannya amat tercela. Sondong Landeyan jadi mendongkol. Tidal( mau lagi is segan-segan. Dengan sekali bergerak, is menyambar pedang Sangga Buwana dan dibabatkan. Hebat aidbatnya. Ia dapat berbalik menyerang tiga sasaran sekaligus.

Mula-mula tangan kirinya menampar golok Suratenung. Dan pedangnya memotong rantai besi Surapringga sekaligus mengu- tungi kolor Surasekti yang bergerak mundur dengan mengguling- kan dirt Pada detik itu terdengar Suratenung mengaduh.

- Kau terluka? - Surasekti kaget bercampur rasa heran.

Suratenung tidak menjawab. Tetapi pundaknya mengalirkan darah. Mengapa dia bisa terluka? Padahal, Sondong Landeyan hanya menamparkan tangannya. Ternyata golok mustika Surate- nung rompal kena tamparan tangan Sondong Landeyan yang bertenaga sakti. Rompalan goloknya meletik dan menyerempet pundak majikannya.

- Hai - Surapringga setengah mengeluh. Ia tahu benar. Adiknya seperguruan itu tidak mempan senjata tajam. Ia hanya dapat dilukai oleh senjatanya sendiri. Hal itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi kenyataannya demikian. Mau tak mau, ia kagum luar biasa terhadap lawannya. Tak dikehendaki sendiri, hatinya meringkas.

- Kakang - terdengar suara Sekar Mulatsih dari tempatnya berdiri.

- Kau tidak apa-apa? -

Suara itu amat manis dalam pendengaran Sondong Landeyan. Inilah untuk yang pertama kalinya seseorang memprihatinkan di- rinya. Dan orang itu, seorang gadis yang cantik luar biasa. Ia me- nyahut dengan menggelengkan kepalanya. Pandangnya yang ga- rang tidak beralih dari ketiga lawannya. Dia perlu berwaspada ter- hadap lawannya yang licik itu.

Surasekti melompat menghampiri kedua saudaranya. Sejenak ia memeriksa luka Suratenung, lalu berpaling mengamati Sondong Landeyan. Kini, tak dapat lagi ia menggunakan senjatanya.

Senjata kolornya sudah terpangkas sebagian. Surapringga demi- kian pula. Tetapi melihat kedudukan lawannya tidak menguntung- kan, tak boleh ia menyia-nyiakan kesempatan itu. Berkata mencoba :

- Sondong Landeyan kepandaianmu tinggi sekali. Tetapi kami bertiga belum kau kalahkan. Sayang, kami tidak bersenjata 1agi. Sebaliknya senjatamu masih utuh, meskipun hanya senjata pinjaman. Huh ! Andaikata aku membawa senjata itu, kaupun bu- kan tandinganku. Sekarang begini saja. Mari kita mengadu kepandaian yang aseli ! Mari kita bertempur dengan tangan kosong. -

Sondong Landeyan tidak menjawab. Perlahan-lahan ia menya- rungkan pedang Sangga Buwana.

Menyaksikan hal itu, hati Surasekti lega luar biasa. Pancingannya temyata berhasil. Pikirnya di dalam hati : - Orang ini besar kepala. Bagus Kau akan merasakan akibatnya. -

Memang, sebenarnya Sondong Landeyan dapat menolak tan- tangan Surasekti. Akan tetapi ia merasa diri seorang pendekar yang berjalan di atas jalan lurus. Sebagai seorang pendekar yang berhati lurus pula, tidak boleh ia mau menang sendiri. Ketiga musuhnya sudah kehilangan senjata andalannya. Dengan mudah, mereka akan dapat ditumbangkannya. Namun arti kemenangan itu sendiri, rasanya kurang terhormat.

- Bagaimana? Kau berani mengadu kepalan? - Surasekti menegas

- Baik. Majulah - sahut Sondong Landeyan.

Dengan tenang ia meletakkan pedang Sangga Buwana di sampingnya.

Sebenarnya, semenjak tadi sebagian besar perlawanan Sondong Landeyan menggunakan pukulan-pukulan. Meskipun demikian, Surasekti bertiga yang bersenjata tidak dapat berbuat banyalc Apalagi kini tidak bersenjata sama sekali. Akan tetapi diam-diam Surasekti mempunyai rencananya sendiri. Tadi dia dapat mema- tahkan kaki kursi dengan cara menggulingkan diri. Apa halangan nya bila diulangi kembali.