-->

Bangau Sakti Jilid 46

 
Jilid 46

Setelah membaca huruf-huruf itu, Bee Kun Bu pun menarik nafas panjang, Semula ia mengira telah menemukan jalan ke luar, ternyata cuma berpindah ke penjara yang lain.

Namun biar bagaimanapun, penjara ini kelihatan lebih bagus daripada penjara Tulang Belulang Putih".

Dengan berpikir demikian, Bee Kun Bu memberanikan diri merangkak ke dalam, lalu bangkit berdiri

sementara belasan orang yang menyerupai mayat hidup itu tetap menatapnya, sama sekali tak bergeming. Bee Kun Bu merasa merinding ditatap terus-menerus dengan cara begitu,

Akhirnya ia terpaksa senyum dalam kegetiran dan ketegangan "Sebetulnya siapa kalian?" gumamnya dalam hati.

Seakan mendengar ucapan Bee Kun Bu, salah seorang yang hanya punya sebelah kaki dan tangan serta kulit muka yang hilang sebelah itu, tertawa gelak.

Tawanya itu sungguh menyeramkan Hal itu sangat mencengangkan Bee Kun Bu, apalagi ketika yang lain pun ikut mengeluarkan suara tawa yang menggiriskan

Bee Kun Bu termundur-mundur hingga punggungnya membentur dinding batu di belakangnya.

Belasan mayat hidup itu terus tertawa, Kian lama kian bertambah keras dan menyeramkan itu membuat Bee Kun Bu merasa tidak tahan

"Diam!" bentaknya dengan suara keras dan menggetarkan Sebab bentakan itu menggunakan Lweekang, suaranya terdengar sangat keras dan lantang, membuat suara tawa itu berhenti seketika.

Pada waktu bersamaan, salah satu mayat itu berteriak aneh sambil menerjang ke arah Bee Kun Bu. Begitu melihat serangan, Bee Kun Bu kaget karena gerakannya sungguh cepat. Tentu orang itu berkepandaian tinggi, pikirnya.

Tapi Bee Kun Bu tahu, belasan orang itu pasti tawanan Swat Lo Kongcu, Maka ia tidak ingin bertarung dengan mereka.

Ketika serangan itu sudah mendekap Bee Kun Bu segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk mengelak. Bersamaan dengan itu tampak beberapa orang mulai menyerangnya pula.

Bee Kun Bu tetap tidak balas menyerang, hanya mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk terus menghindar

Terlihat belasan sosok bayangan berkelebat ke sana ke mari, Tapi tiada satu pun yang mampu menyentuh pakaian Bee Kun Bu.

Pada waktu Bee Kun Bu berkelit ke sana ke mari dengan ilmu langkah ajaib, otaknya terus bekerja keras, Mereka semua berkepandaian cukup tinggi, namun kenapa bisa cacat seperti itu?

sesungguhnya tidak begitu sulit bagi Bee Kun Bu untuk merobohkan mereka. Namun ia tidak sampai hati melukai mereka.

"Di antara kalian, siapa yang mengerti apa yang kukatakan? Kuminta cepat berhentil Aku tahu kalian dicelakai Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To, lalu kenapa kalian malah menyerang aku?" seru Bee Kun Bu sambil terus berkelit dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

Seusai Bee Kun Bu berseru, salah seorang bersiul panjang. Yang lain segera mundur lalu berdiri diam, namun terus menatap Bee Kun Bu lekat-lekat Bee Kun Bu menarik nafas lega, sebab di antara mereka ada yang mengerti bahasa Han.

"Siapa engkau ?" tanya salah seorang yang sangat menyeramkan tidak punya tangan, Kulit mukanya terkupas semua, mirip sebuah tengkorak.

"Aku bernama Bee Kun Bu, murid partai Kun Lun!" sahut Bee Kun Bu memberitahukan.

"Mau apa engkau ke mari?" tanya orang itu lagi.

"Aku datang untuk menolong orang, tapi malah ditawan oleh Swat Lo Kongcu!" sahut Bee Kun Bu jujur

"Engkau datang dari penjara Tulang Belulang Putih, kenapa dirimu tidak mati atau terluka?"

"Karena aku telah mengerahkan Lweekang untuk melawan racun itu?" sahut Bee Kun Bu, "Bolehkah aku tahu siapa Anda?" tanyanya kemudian.

"Sebetulnya aku murid partai Hwa San. Tujuh tahun lalu aku tersesat di daerah Miauw ini, sehingga ditangkap oleh Swat Lo Kongcu, dan dipenjarakan di sini!"

"Ooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut "Apakah di sini ada jalan keluarnya?"

pertanyaan Bee Kun Bu membuat belasan orang itu tertawa aneh, sedangkan Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Kenapa kalian tertawa? Apa yang kalian tertawa-kan?" bentak Bee Kun Bu.

Malan keluarnya? Kalau ada jalan keluarnya, bagaimana mungkin kami terkurung di sini sampai sekian tahun lamanya?" sahut orang itu sambil tertawa seram. "Kini engkau telah sampai di sini, maka boleh tenang jadi mayat hidup di sini pula! He he he!"

Bee Kun Bu tertegun "Diam!" Dia kembali membentak dengan suara mengguntur

seketika juga mereka berhenti tertawa, Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam.

"Kalau tiada jalan ke luarnya, bagaimana kalian masuk ke mari? Orang harus berusaha, kenapa kalian begitu cepat putus asa?" tukasnya dengan geram.

Mereka tidak menyahut, melainkan menunjuk ke atas, Bee Kun Bu langsung mendongakkan kepala memandang ke atas, seketika juga ia terbelalak ternyata tempat itu berada di dasar sebuah sumur Mulut sumur yang di atas itu tampak cuma sebesar telapak tangan, Dapat dibayangkan betapa dalamnya sumur itu.

"Kalian datang dari atas?" tanya Bee Kun Bu dengan kening berkerut tajam.

"Di antaranya memang, namun ada pula yang seperti engkau!" jawab orang itu memberitahukan. "Kabur dari penjara Tulang Belulang Putih, justru malah terkurung di sini!"

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak, kemudian memandang dinding sumur itu. Ternyata dinding sumur itu telah berlumut, tentu teramat sulit untuk memanjat ke atas, "Oh ya, dari mana kalian memperoleh makanan?"

"Diturunkan dari atas dengan tali!"

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak memanjat ke atas dengan tali itu?" tanya Bee Kun Bu heran.

"He he he!" Orang itu tertawa terkekeh-kekeh, "Eng- kaupun ditakdirkan seperti kami, kenapa engkau masih menyebut "Kalian?" Lihatlah! Kebetulan ada makanan diturunkan dari atas, engkau boleh coba memanjat ke atas dengan tali itu!"

Bee Kun Bu memandang ke atas, Tampak seutas tali sedang diturunkan Ujung tali itu mengikat sebuah keranjang bambu. Setelah berjarak tiga depa, tali berhenti, Bee Kun Bu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja ia melesat ke atas sambil menjulurkan tangannya meraih tali.

Tangan Bee Kun Bu berhasil meraih tali, namun mendadak tali itu putus, Ternyata tali itu gampang putus, Hanya kuat menahan beban keranjang bambu, tidak kuat menahan beban yang seberat orang.

Bee Kun Bu jatuh bersama keranjang bambu, Ke-ranjang itu ternyata berisi berbagai macam makanan yang telah busuk dan basi.

Akan tetapi, belasan orang itu tanpa peduli, langsung menyantap dengan lahapnya, Bee Kun Bu cepat memalingkan wajah, tidak sampai hati menyaksikannya, Pada saat bersamaan, terdengarlah suara Swat Lo Kongcu di atas.

"Bee siauhiap! Tentunya engkau telah kabur dari penjara Tulang Belulang Putih itu, Kini pasti merasa puas sekali akan penjara Mayat Hidup ini! Beberapa hari lalu, telah mati salah seorang mayat hidup, Kebetulan engkau menggantikannya di situ!"

"Hei! perempuan jalang!" bentak Bee Kun Bu, "Engkau akan memperoleh ganjaran atas perbuatanmu sendiri!"

"He he he!" Swat Lo Kongcu tertawa, "Perlu engkau ketahui! Di penjara itu cuma terdapat sebuah jalan ke luar, juga hanya aku seorang yang mengetahui jalan itu! Kalau aku masih hidup, mungkin akan melepaskanmu di saat aku merasa senang! Apabila aku mati, engkaupun tidak bisa ke luar, dan selamanya jadi mayat hidup di situl"

sebetulnya Bee Kun Bu ingin mencaci maki Swat Lo Kongcu, namun apa yang diucapkan wanita itu membuat Bee Kun Bu terheran-heran, Sebab, tanpa sengaja Swat Lo Kongcu telah membocorkan, bahwa di situ terdapat sebuah jalan ke luar.

Seusai mengucapkan begitu, Swat Lo Kongcu pergi sambil tertawa terkekeh-kekeh. *****

Bab ke 39 - Berupaya Mencari jalan Ke luar

Bee Kun Bu menatap belasan orang itu, lama sekali "Kalian semua sudah dengar kan?"

"Dengar apa?" tanya salah seorang dari mereka.

"Perempuan jalang itu bilang, di dalam penjara ini terdapat sebuah jalan ke luar!" Bee Kun Bu memberi-tahukan.

Tidak salah!" Orang itu manggut-manggut Tapi cuma dia seorang yang tahu jalan ke luar ituI"

Tapi bukankah kita boleh coba mencari jalan ke luar itu?" tukas Bee Kun Bu.

"He he!" Orang itu tertawa, sama sekali tidak mengacuhkan apa yang dikatakan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tahu mereka menganggap perkataannya cuma merupakan suatu lelucon belaka, Sebab mereka telah hidup sekian tahun di tempat ini, tentunya telah berupaya meloloskan diri, namun tidak berhasil.

Oleh karena itu, Bee Kun Bu terdiam dengan rasa tereekam dan jengkel Sebelum tiba di daerah Miauw ini, ia tidak pereaya Swat Lo Kongcu begitu cerdik dan Uhay, Kini, barulah ia tahu Swat Lo Kongcu begitu cantik dan lihay, Pantas air muka Pek Hi Sin Kun, ketua partai Swan San tampak berubah ketika membicarakan wanita tersebut!

Bee Kun Bu terus berpikir sambil mendongakkan kepala memandang ke atas, Mulut sumur itu cuma sebesar telapak tangan, tentunya tidak mungkin memanjat ke atas.

Karena itu, ia mendekati dinding sumur, Segera diperiksanya dengan cermat sekali Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apapun, sebab dinding sumur itu sangat licin dan berlumut Setelah memeriksa ke sana ke mari, Bee Kun Bu pun tampak putus asa. Namun ia masih terus mengawasi dengan cermat dinding sumur yang agak tinggi

sementara belasan orang itu hanya diam sambil memandang Bee Kun Bu. Mendadak terdengar suara salah seorang dari mereka.

"Di sebelah sudut kiri terdapat sebuah batu yang agak menonjol ke atas!" Orang itu menunjuk ke arah batu yang agak menonjol

Bee Kun Bu segera menengok ke sana, Giranglah hatinya karena melihat sebuah batu yang agak menonjol di sudut kiri ia cepat-cepat mendekati batu itu, lalu menghimpun Lweekangnya guna mengangkat batu tersebut

Batu itu tampak terangkat sedikit, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi tempat tersebut

Bee Kun Bu tereengang, kemudian menengok ke sana ke mari, Tiba-tiba matanya bentrok dengan sebuah mutiara yang menempel pada dinding sumur itu, Ternyata mutiara itu khususnya untuk menerangi tempat tersebut

Tapi sungguh tinggi mutiara itu, Dari bawah sampai ke tempat mutiara itu berjarak hampir tujuh-delapan depa.

Bee Kun Bu menghimpun hawa murninya, kemudian melesat ke atas, ke tempat mutiara itu, Namun sebelum mencapai tempat itu, badannya sudah merosot ke bawah.

Cepat-cepatlah Bee Kun Bu menghimpun hawa murninya lagi, lalu memukul ke dinding, pukulannya itu membuat badannya melambung ke atas.

sedangkan belasan orang itu terus-menerus menatapnya, Mereka tidak yakin Bee Kun Bu mampu mencapai tempat mutiara itu.

Akan tetapi, di saat badannya melambung ke atas, Bee Kun Bu menggunakan jurus Ku Cu Hoan Sin (Burung Dara Membalikkan Badan), Seketika tubuhnya berjungkir balik ke atas.

Di saat bersamaan, Bee Kun Bu pun memukul ke arah dinding, Maksudnya, agar mutiara yang di atas tergoncang ke luar oleh pukulannya.

Plaaak! Mutiara itu betul-betul tergoncang ke luar dari dinding sumur

Bee Kun Bu bergerak cepat menyambut mutiara itu, kemudian buru-buru menghimpun hawa murni sambil kakinya menendang dinding, Secepat itu badannya melambung ke atas lagi.

Dengan cepat pula sebelah tangannya meraih tempat mutiara yang agak cekung ke dalam itu, sehingga badannya bergantung di situ.

sementara badannya bergantung, ia terus berpikir sedangkan belasan orang itu bersorak tanpa sadar kelihatannya mereka sangat kagum pada Bee Kun Bu.

Namun Bee Kun Bu malah tersenyum getir Kini ia memang telah bergantung di situ, tapi apa gunanya? Sebab, tidak mungkin dirinya bisa mencapai mulut sumur itu, Lagipula, tak lama badannya pasti merosot kebawah.

ia menengok ke sana ke mari, berharap ada suatu tempat yang agak menonjol untuk menaruh kakinya, Setelah menengok ke sana ke mari dengan penuh perhatian mendadak ia berseru girang.

Ternyata ia melihat seekor kadal merayap di dinding, kemudian menghilang menyusup ke dalam dinding sumur yang agak retak, Kalau Bee Kun Bu tidak melihat kadal itu, tentunya tidak bisa mengetahui dinding sumur yang agak retak itu.

Bee Kun Bu melesat ke atas, Kemudian tangannya menancap ke dalam dinding sumur yang retak sedikit itu. Akan tetapi, ia tahu tidak bisa bertahan lama di situ, karena kakinya tidak menginjak apapun, kecuali mengandalkan pada tenaga tangannya untuk bergantung di situ.

Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke bawah, Tampak belasan orang di dasar sumur itu menatapnya dengan penuh kekaguman setelah itu, Bee Kun Bu pun mulai memperhatikan dinding sumur ia berharap bisa menemukan dinding yang retak.

Sekian lama ia meneliti dengan seksama, Akhirnya ia melihat juga dinding di atas terdapat sedikit keretakan

Tapi ia tidak langsung melesat ke atas. Dikerutkan keningnya dengan tajam, seakan sedang berpikir Kalau ia berhasil meraih dinding yang retak itu, memang tidak masalah, tapi kalau gagal, tentunya ia akan celaka, Badannya pasti jatuh ke dasar sumur

Bee Kun Bu termangu-mangu bergantung di situ, Akhirnya ia mengambil keputusan untuk melesat ke atas, Dihimpunnya hawa murni, lalu melesat ke atasi Belasan orang yang di bawah menahan nafas semua, Namun Bee Kun Bu berhasil mencapai tempat itu, Tangannya telah menancap ke dalam dinding sumur yang retak itu, seketika belasan orang itu berteriak-teriak aneh, mirip sorak-sorai yang riuh gemuruh.

"Kalian tenang saja!" ujar Bee Kun Bu berjanji "Kalau aku berhasil ke luar, aku pasti menolong kalian juga!"

Bee Kun Bu mulai mencari dinding sumur yang retak, setelah itu ia mulai melesat ke atas lagi dengan cara yang sama, Semakin tinggi Bee Kun Bu semakin berhati-hati, Sebab, kalau badannya jatuh, pasti hancur remuk!

ia mendongakkan kepala memandang ke atas, Tujuh atau delapan depa lagi sudah bisa mencapai mulut sumur itu, Keadaan terang mulai dapat dilihatnya, Bee Kun Bu tetap dengan cara yang sama melesat ke atas.

Berselang beberapa saat kemudian, Bee Kun Bu telah berhasil mendekati mulut sumur itu. Namun mendadak keningnya berkerut Ternyata ia melihat seseorang bertubuh tinggi besar berdiri di pinggir mulut sumur Orang itu menatapnya.

Tangan orang itu menggenggam sebuah martil besar, diarahkan pada mulut sumur Kelihatannya sudah siap memukul apabila Bee Kun Bu naik ke mulut sumur

Menyaksikan itu, air muka Bee Kun Bu pun berubah. Kini telah mendekati mulut sumur itu, bagaimana mungkin ia akan mundur ke bawah. Lagipula kalau ia mundur, itu berarti dirinya akan jatuh.

Bee Kun Bu terus memutar otak, sebab jarak ke mulut sumur tinggal satu depa, sedangkan orang itu terus menatapnya tak berperasaan sama sekali.

Tiba-tiba timbul sedikit harapan dalam benak Bee Kun Bu, ternyata ia yakin orang itu tidak bisa bertahan lama terus menggenggam martil yang sangat berat Apa-bila tangan orang itu merasa ngilu, maka ia dapat memanfaatkan kesempatan untuk melesat ke atas.

Setelah mendapat pikiran demikian, hati Bee Kun Bu mulai lega, Dia mulai menghimpun tenaga dalamnya sambil menatap orang itu dengan mata tak berkedip, Sebab ia tahu, rasa ngilu di tangan orang itu cuma memakan waktu sekejap, Maka ia tidak boleh melepaskan kesempatan itu!

Bee Kun Bu terus menunggu, walau tidak begitu lama, ia merasa seperti sudah melewati waktu berjam-jam. sementara orang itu tetap berdiri di tepi mulut sumur, tak bergerak sama sekali, Mirip sebuah patung penghias pinggir sumur.

Bee Kun Bu harus menunggu dengan sabar Sejam telah berlalu, orang itu tampak mulai lelah, Giranglah Bee Kun Bu, dan cepat-cepat menghimpun hawa murninya

Tangan orang yang menggenggam martil besar itu mulai menurun sedikit itulah yang ditunggu-tunggu Bee Kun Bu.

Langsung saja tubuhnya melesat ke atas, Orang itu pun cepat-cepat mengangkat martil besar tersebut Dan pada saat orang itu mengangkat martil besarnya, Bee Kun Bu telah berhasil melesat ke atas, Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, tangannya langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah penjaga mulut sumur itu.

Kebetulan orang itu pun melancarkan serangan dengan martil besarnya, Cepat-cepat Bee Kun Bu menarik kembali pukulannya, sekaligus mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk berkelit Setelah itu, barulah Bee Kun Bu melancarkan pukulan lagi.

Blukk! Orang itu terpental jatuh.

Bee Kun Bu melesat ke arahnya secepat kilat, lalu menotok jalan darahnya, seketika orang itu tidak mampu bergerak lagi, Dari mulutnya tampak tersembur darah segar. Dan ternyata sesaat kemudian dia telah mati.

Bee Kun Bu tertegun Setelah memperhatikan dengan seksama, barulah Bee Kun Bu tahu, orang itu tertindih oleh martilnya yang amat besar.

Bee Kun Bu menarik nafas panjang, lalu menengok ke sana ke mari seketika juga ia terbelalak karena dirinya berada di sebuah ruang batu.

Tak ada pintu, yang tampak hanya berbagai macam lukisan bergantung di dinding ruang batu itu, Terlihat pula sebuah huruf "Hek" (Hitam) terukir di dinding batu, "Hek" apa? Bee Kun Bu tidak habis berpikir, kemudian ia menggeserkan sebuah lukisan yang di sisi huruf tersebut Muncul lagi huruf lain berbunyi demikian :

"Penjara Hitam Menunggu Kematian".

Setelah membaca huruf-huruf itu, Bee Kun Bu nyaris jatuh duduk seketika, Ternyata kini ia berada di dalam penjara lagi Swat Lo Kongcu pernah mengatakan ada tujuh macam penjara di Tok Sui Tong, Jadi ia harus melewati tujuh macam penjara itu, barulah bisa meloloskan diri! Saat ini ia baru sampai di penjara ke tiga, maka masih harus melewati beberapa penjara Iain. Bee Kun Bu berdiri termangu-mangu. Tempat itu disebut penjara "Hitam", agak tidak sesuai, sebab ruang batu itu tampak bergemerlapan

Kenapa ruang batu itu disebut "Penjara Hitam Menunggu Kematian?" padahal tiada suatu yang aneh di situ, Bee Kun Bu sungguh tidak habis berpikir

Orang yang tinggi besar itu berdiri di mulut sumur, berarti di tempat tersebut ada jalan ke Iuarnya! Oleh karena itu, Bee Kun Bu pun mulai memperhatikan ruang batu itu, bahkan mengetuk-ngetuk pula dengan jari tangan nya. Setelah itu, ia melancarkan sebuah pukulan ke arah dinding batu.

Taak! Sebuah batu kecil jatuh ke bawah, Muncullah sebuah lubang kecil di dinding batu itu, Bee Kun Bu memandangnya dengan perasaan heran Karena merasa heran, ia pun mengintip ke dalam melalui lubang kecil itu.

Gelap gulita di dalam, tidak tampak apa pun di sana. Bee Kun Bu mengerutkan kening, kemudian mulai memukul ke sana ke mari lagi.

Akan tetapi, hasilnya cuma membuat lubang-lubang kecil Hal itu membuat Bee Kun Bu sungguh tidak mengerti.

Bee Kun Bu menarik nafas panjang. Di saat bersamaan sayup-sayup ia mendengar semacam suara aneh.

Serr! Serrt!

Bee Kun Bu segera mempertajam pendengarannya dengan penuh perhatian Tak lama suara itu dirasakan muncul dari empat penjuru.

Betapa herannya Bee Kun Bu, sebab suara itu mirip suara binatang kecil sedang merayap, ia ingin tahu sebetulnya suara apa itu, maka mendekati salah sebuah !ubang, Mendadak ia terhenti, kaget Ternyata ia melihat begitu banyak semut putih sebesar jempol tangan merayap ke luar dari lubang-lubang kecil itu. Semut-semut putih itu terus merayap menuju mayat orang tinggi besar Dalam waktu sekejap, sekujur mayat itu telah dikerumuni semut-semut putih. sedangkan se-mut-semut putih lain masih terus merayap ke luar dari lubang-lubang kecil di dinding batu itu.

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu tergerak mundur dengan mata terbeliak lebar Semut-semut putih yang mengerumuni mayat itu mengeluarkan suara yang sangat anen Merinding Bee Kun Bu mendengarnya.

Ruang batu itu telah dipenuhi semut-semut putih dalam jumlah yang tak terhitung.

Bee Kun Bu tahu, tak lama lagi semut-semut putih itu akan merayap ke arahnya. Walau ia berkepandaian tinggi, tampaknya sulit menghadapi semut-semut putih yang jumlahnya laksaan itu.

Bee Kun Bu berdiri mematung di tempat Sama sekali ia tidak tahu harus berbuat apa! sementara semut-semut putih yang mengerumuni mayat itu mulai merayap turun Terbelalaklah Bee Kun Bu, karena mayat itu telah berubah jadi sosok tengkorak, Hanya dalam waktu singkatl

Semut-semut putih itu mulai merayap ke arah Bee Kun Bu.

Cepat-cepat dia mengibaskan tangannya memukul ke arah ribuan serangga berwarna putih itu, Me-

Bee Kun Bu berdiri mematung di tempat Sama sekali ia tidak tahu harus berbuat apal sementara semut-semutpun mengerumuni mayat itu mulai merayap turun. Terbelalak mata Bee Kun Bu, karena mayat itu telah berubah jadi sosok tengkorak Hanya dalam waktu singkat.

Memang banyak yang mati, tapi di antara mereka telah berhasil merayap ke badan nya.

Bukan main sakitnya ketika semut itu mulai menggigit Secepat kilat ia menepuki semut putih yang menggigit badannya, Akan tetapi, semut lain mulai merayap ke badannya lagi, membuat Bee Kun Bu berloncat-loncatan. Sudah sekian lama Bee Kun Bu berkecimpung di rimba persilatan, entah berapa banyak musuh tangguh yang dihadapinya, namun kali ini merasa kewalahan menghadapi binatang-binatang aneh itu.

sementara semut-semut putih mulai banyak menghinggapi badannya, betapa gugup dan paniknya Bee Kun Bu. Rasa nya ingin bunuh diri daripada mati digigit semut-semut putih itu. Di saat ia mulai putus asa, mendadak terdengar pula suara "Kreeek".

Muncul sebuah pintu di dinding batu, Bee Kun Bu girang bukan main, maka tanpa banyak berpikir lagi langsung saja ia melesat ke arah pintu itu.

Setelah melesat ke dalam pintu itu, Bee Kun Bu merasa ada sesuatu yang tak beres di situ. Tempat itu sangat gelap, Bahkan dirasakan badannya merosot ke bawah.

"Haaah...!" Bee Kun Bu menjerit kaget, karena badannya terus merosot ke bawah, Berselang beberapa saat kemudian, dirasakan badannya jatuh di atas suatu benda lunak. Sebelum ia tahu jelas benda apa itu, badannya telah dirangkul erat-erat oleh benda itu.

Bee Kun Bu berusaha meronta, namun sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari benda itu, sementara itu terdengarlah suara tawa Swat Lo Kongcu yang terkekeh- kekeh, menyusul tempat itu berubah terang.

Terlihat seorang Miauw membawa sebuah obor. Di sisi orang Miauw itu berdiri Swat Lo Kongcu yang tertawa terkekeh-kekeh tak henti-hentinya.

Saat ini, barulah Bee Kun Bu tahu dirinya terperangkap di dalam sebuah jalan yang dibuat dari semacam kawat

"He he!" Swat Lo Kongcu masih tertawa, "Bee siau-hiap! Kalau aku tidak membuka pintu itu, apa pula yang terjadi atas dirimu?" Bee Kun Bu diam saja, ia tahu Swat Lo Kongcu melepaskan dirinya dari ruang batu itu cuma ingin meng-hina, bukan bermaksud menolongnya

"Kenapa diam saja?" Swat Lo Kongcu tersenyum "Kini engkau sudah tahu akan kehebatanku?"

"Hh!" dengus Bee Kun Bu dingin "Apa hebatnya engkau?

Berani cuma menggunakan jebakan!"

"Kalau satu lawan satu, apakah engkau mampu me- lawan?" tantang Swat Lo Kongcu sambil tertawa cekikikan

"Engkau boleh coba!" sahut Bee Kun Bu, tanpa rasa gentar "Hm!" dengus Swat Lo Kongcu dingin "Engkau tidak perlu

mamanasi aku, agar melepaskan dirimu!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Aku menghendaki engkau mengerjakan sesuatu. Kalau berhasil, aku akan membiarkanmu membawa pergi Kun Lun Sam Cu!" ujar Swat Lo Kongcu.

"Aku harus mengerjakan apa?" tanya Bee Kun Bu cepat "Tahukah engkau, saat ini Lie Ceng Loan telah jatuh di

tanganku?" ujar Swat Lo Kongcu.

"Engkau...," Air muka Bee Kun Bu langsung berubah, "Engkau apakan dirinya? Hati-hati engkau!"

"Ha ha!" Swat Lo Kongcu tertawa terbahak-bahak. "Kini engkau telah terjaring di dalam jala, bagaimana

mungkin dapat meloloskan diri? Jadi jangan sok!" Bee Kun Bu terdiam

Swat Lo Kongcu tetap terus tertawa, Kemudian berkata dengan suara melengking nyaring.

"Lie Ceng Loan telah jatuh di tanganku, Aku mau apakan dirinya, itu urusanku! Engkau tidak bisa mencampurinya!"

"Engkau.,.!" Bee Kun Bu cemas sekali. Tenang!" Swat Lo Kongcu tersenyum "Saat ini aku belum bertindak pada dirinya! Hanya saja,.,."

"Kenapa?"

"Aku suruh dia mengabulkan satu hal, tapi dia tidak mau!" "Hal apa?"

"Hal itu,.,," sahut Swat Lo Kongcu perlahan "Apabila dia tidak menuruti kemauanku, maka engkau, dia, dan Kun Lun Sam Cu akan digerogoti semut-semut putih itu!"

"Sebetulnya hal apa itu?" tanya Bee Kun Bu penasaran sekali.

"Aku menghendakinya menikah dengan seseorang namun dia tidak mau!" jawab Swat Lo Kongcu memberitahukan

"Engkau sungguh tak tahu malu, bagaimana mungkin adik Loan mau menuruti kemauanmu itu?" bentak Bee Kun Bu, marah.

Swat Lo Kongcu tertawa licik dan dingin, membuat Bee Kun Bu jadi tertegun Namun tampak berubah tenang pula.

"Lie Ceng Loan memang tidak setuju, Oleh karena itu,.,,"

Swat Lo Kongcu tertawa licik lagi "Kenapa?"

"Aku menghendakimu menasihatinya, agar dia mau menuruti kemauanku!"

"Maaf!" ucap Bee Kun Bu. "Aku tidak akan melaksanakannya!"

"Apa?" Sepasang mata Swat Lo Kongcu menyorot bengis, "Aku akan mengulanginya sekali lagi!"

Bee Kun Bu diam saja.

sedangkan Swat Lo Kongcu mulai membuka mulut lagi dengan suara melengking-lengking. "Kalau engkau tidak bisa menasihatinya, kalian berdua dan Kun Lun Sam Cu pasti digerogoti semut-semut putih itu!"

Bee Kun Bu tetap diam.

"Apabila engkau berhasil menasihatinya... ,H ujar orang Miauw itu, "Engkau dan Kun Lun Sam Cu boleh meninggalkan tempat ini!"

"Memang benar begitu!" sambung Swat Lo Kongcu, mengangguk

"Kalian jangan bermimpi!" bentak Bee Kun Bu.

"Bee Kun Bu!" Swat Lo Kongcu tertawa dingin. "Eng-kau sudah lihat dengan jelas bagaimana keadaanmu seka-rang! Kalaupun Lie Ceng Loan tidak setuju, kamipun punya cara untuk menyiksa dan sekaligus menghinanya pula."

Bee Kun Bu merinding mendengar ucapan itu, sebab ia tahu bahwa Swat Lo Kongcu bisa bertindak sesuai dengan apa yang diancamnya, Oleh karena itu, mata Bee Kun Bu menjadi berkunang-kunang.

"Aku mendengar, para pendekar di Tionggoan sangat menghormati sang guru, Kini ke tiga gurumu mempunyai kesempatan untuk selamat, tapi engkau malah menghendaki ke tiga gurumu mati, Hm, apakah namamu akan dibiarkan busuk selamanya?" ujar Swat Lo Kongcu lagi, Sungguh tajam ucapan Swat Lo Kongcu, sehingga membuat hati Bee Kun Bu tertusuk-tusuk, Lagi pula iapun tahu, bahwa Lie Ceng Loan sangat mencintainya, tidak mungkin gadis itu bersedia menikah dengan lelaki lain.

Swat Lo Kongcu menginginkan Bee Kun Bu menasihati Lie Ceng Loan, agar gadis itu mau menikah dengan lelaki lain, Dapatkah Bee Kun Bu membuka mulut menasihati Lie Ceng Loan?

Akan tetapi, urusan tersebut justru menyangkut keselamatan Kun Lun Sam Cu. Apabila Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan nekat membunuh diri, tentunya Kun Lun Sam Cu akan ikut mati, Lalu harus bagaimana baiknya? Bee Kun Bu sungguh tidak dapat memecahkan persoalan tersebut

"Bagaimana?" tanya Swat Lo Kongcu sambil tertawa dingin, "Engkau sudah berpikir secara jernih?"

Kaii ini Bee Kun Bu benar-benar menghadapi jalan buntu, Tetapi kemudian, mendadak timbul pula sedikit harapan.

Ternyata ia teringat akan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Tay Cih Su, dan ratusan orang Miauw yang sedang membuat perahu, Mungkin tidak lama lagi mereka akan menyerbu ke pulau ini.

Teringat akan itu, ia pun harus mencari akal untuk mengulur waktu, sehingga ia terus berpikir

"Kalau aku pergi menasihatinya, dia pasti tidak akan dengar." ujar Bee Kun Bu setelah berpikir lama.

"Kalau kau yang pergi menasihatinya, bagaimana mungkin dia tidak mau dengar?" sahut Swat Lo Kongcu sambil tersenyum.

"Cara engkau berpikir berbeda dengan Lie Ceng Loan!" Bee Kun Bu menggeleng-geleng.

"Maukah engkau pergi menasihatinya?" bentak Swat Lo Kongcu sengit

"Aku bisa pergi menasihatinya, tapi engkau jangan terus mendesakku!" sahut Bee Kun Bu.

"Baik!" Swat Lo Kongcu manggut-manggut, "Aku beri kau waktu setengah jam untuk membujuknya."

"Apa?" Bee Kun Bu terbelalak "Cuma setengah jam?" "Ya." Swat Lo Kongcu mengangguk Tidak boleh lebih dari

setengah jam."

"Kalau begitu.,.," Bee Kun Bu menarik nafas, "Lebih baik aku tidak pergi membujuknya." "Baik," ujar Swat Lo Kongcu dingin, "Engkau tidak mau pergi membujuknya, aku pun tidak akan merepotkanmu lagi."

Setelah itu, Swat Lo Kongcu berbicara dengan orang Miauw itu, Bee Kun Bu mendengar, tapi tidak mengerti sama sekali.

Ketika Swat Lo Kongcu melangkah pergi seusai berbicara dengan orang Miauw itu, Bee Kun Bu rasanya ingin menahan malu memanggilnya, Akan tetapi, Swat Lo Kongcu mendadak berhenti kemudian cepat membalikkan badannya.

"Engkau membutuhkan waktu berapa?" tanyanya dingin. Di saat Swat Lo Kongcu bertanya begitu, giranglah Bee

Kun Bu.

"Tiga hari!"

"Omong kosong!" bentak Swat Lo Kongcu.

"Engkau harus tahu...," Bee Kun Bu memberitahukan. "Lie Ceng Loan berhati keras, maka aku harus perlahan-lahan membujuknya."

"Jangan banyak omong kosong!" tukas Swat Lo Kongcu sengit. "Pokoknya aku beri engkau waktu satu hari, Kalau besok engkau belum berhasil membujuknya, itu berarti kalian,.,," Swat Lo Kongcu berhenti dan lama sekali barulah dilanjutkan"...akan digerogoti semut-semut putih!"

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk

"Biar mereka berdua bertemu!" ujar Swat Lo Kongcu pada orang Miauw itu.

Setelah itu, Swat Lo Kongcu berjalan pergi. Orang Miauw itu segera berkata pada Bee Kun Bu.

"Bee siauhiap! Tentunya engkau telah mendengar itu." "Ng!" Bee Kun Bu manggut-manggut, pikirnya mengulur

waktu satu hari memang sudah lumayan. "Cepatlah lepaskan aku!" "Melepaskan engkau?" Orang Miauw itu tertawa licik, "Engkau sedang bermimpi di siang hari bo!ong, ya?"

"Bukankah tadi Swat Lo Kongcu berpesan padamu mempertemukan aku dengan Lie Ceng Loan?"

Tidak salah!"

"Kalau begitu, kenapa engkau masih belum melepaskan aku?"

"Swat Lo Kongcu cuma berpesan mempertemukan kalian berdua, namun tidak suruh aku melepaskanmu jangan coba cari kesempatan untuk meloloskan diri Iho! itu sama juga bermimpi Ha ha ha!"

Usai tertawa gelak, orang Miauw itu melesat ke atas sambil menjulurkan tangannya menurunkan jala.

Walau jala itu telah diturunkan, Bee Kun Bu tetap di dalam jala tersebut Ketika ia hendak meronta, tahu-tahu jala itu telah mengencang, membuat dirinya tak bisa bergerak sama sekali.

"Hei!" bentak Bee Kun Bu. "Apa yang engkau laku-kan?" "Siapa suruh engkau meronta barusan?" tanya orang

Miauw itu sambil tertawa Iicik.

Apa boleh buat, Bee Kun Bu terpaksa diam, Orang Miauw itu tertawa licik lagi, Kemudian diseret jalanya ke dalam.

Bee Kun Bu yang berada di dalam jala, berusaha setenang mungkin, sebab ia tidak ingin membuat Lie Ceng Loan cemas.

*****

Bab ke 40 - Mengatasi Ancaman

Meskipun Bee Kun Bu berada di dalam jala, ia tetap memperhatikan tempat yang dilalui itu. Agak gelap, sehingga ia tidak tahu dirinya berada di mana.

Kira-kira setengah jam kemudian Bee Kun Bu melihat tempat yang agak terang, Orang Miauw itu pun berhenti, lalu membuka sebuah pintu, Setelah pintu itu terbuka, langsung dia menendang Bee Kun Bu, sehingga bergelinding ke dalam, dan membentur dinding.

Bee Kun Bu menarik nafas, begitu tahu tempat itu merupakan sebuah ruang batu, Dilihatnya sebuah lampu minyak bergantung pada dinding.

Bee Kun Bu mulai menengok ke sana ke mari. Sesaat kemudian pintu ruang tertutup kembali Tiba-tiba ia melihat seseorang meringkuk di sudut Setelah memperhatikannya dengan seksama, ia pun berseru kaget, sebab mengetahui siapa orang itu.

"Adik Loan!"

Gadis itu meloncat bangun, Rambutnya tampak awut- awutan. sementara wajahnya juga pucat Merasa terharu dan gembira, Lie Ceng Loan meneteskan air mata.

"Kakak Bu.,.!" Lie Ceng Loan segera mendekatinya, lalu memeluk Bee Kun Bu erat-erat yang di dalam jala, Air matanya masih berderai-derai.

"Adik Loan...!W

"Kakak Bu?" Gadis itu terbelalak "Kenapa dirimu berada di dalam ja!a? Aku akan membukanya."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menggeleng kepala sambil tersenyum getir "Engkau tidak bisa membuka jala ini, Kalau bisa dibuka, mana mungkin mereka membawa aku ke sini agar engkau membuka jala ini?"

"Aaakh..." keluh Lie Ceng Loan sambil mengelus wajah Bee Kun Bu. "Kakak Bu, bisa berapa lama kita berkumpul?"

"Satu hari." "Setelah satu hari?" "Entahlah!" Bee Kun Bu menarik nafas, "Kalau akhirnya sangat menakutkan, bagaimana?" tanyanya dengan rasa gelisah dan cemas sekali.

"Aku tidak takut!" sahut Lie Ceng Loan sungguh-sungguh. Tidak takut?" Bee Kun Bu menatapnya dalam-dalam.

Lie Ceng Loan mengangguk "Tadi aku memang takut sekali, Aku menyangka tidak bisa bertemu engkau lagi."

"Oh?"

Tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi!" ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum, Namun air matanya tetap meleleh, "Karena.,, aku sudah bertemu denganmu!"

"Adik Loan, tahukah engkau kenapa aku dibawa ke mari?" tanya Bee Kun Bu setengah berbisik

"Aku. " Lie Ceng Loan menggeleng kepala, "~. tidak

tahu."

"Mereka menyuruhku. ," Bee Kun Bu menarik nafas

panjang.

"Mereka suruh engkau berbuat apa?" tanya Lie Ceng Loan tak mengerti.

"Aku disuruh agar membujukmu menikah dengan seorang Miauw."

"Kalau begitu.,.," Lie Ceng Loan mulai terisak-isak, "Mereka bermimpi."

"Mereka memang sedang bermimpi Namun kita justru memperoleh sedikit kesempatan, sehingga bisa bertemu di sini," ujar Bee Kun Bu. "Walau berada di dalam jala, aku bisa melihat engkau, dan engkau pun bisa melihat aku! Engkau gembira?"

"Kakak Bu, aku gembira sekali!" sahut Lie Ceng Loan sambil mengangguk "Adik Loan, sehari kemudian mereka tahu kenapa engkau tidak setuju, maka akan bertindak dengan cara keji terhadapmu?"

Air mata gadis itu terus meleleh, namun tampak tenang, "Pada waktu itu, kita akan mati bersama, jadi tidak usah takutkan hal itu!"

"Benar!" Bee Kun Bu manggut-manggut, tapi kemudian menarik nafas panjang.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menatapnya, "Kenapa engkau menarik nafas?"

"Alangkah bahagianya kita mati bersama, TapL." Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan, heran. "Guru-guru kita. "

"Aku mengerti maksudmu, Tapi kita sudah berusaha mati- matian!"

"Benar, Aku yakin guru-guru kita tidak akan mempersalahkan kita."

"Kalau begitu, bukankah kita bisa tenang?"

Bee Kun Bu tersenyum "Besok kita bersama akan meninggalkan dunia kotor ini. Kita akan menuju ke suatu tempat yang tenang dan damai."

"Kakak Bu.,.," Lie Ceng Loan mengelus wajah Bee Kun Bu dengan penuh cinta kasih.

Blam! Mendadak pintu ruang itu terbuka, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan langsung menoleh ke sana.

Tampak Swat Lo Kongcu dan orang Miauw itu berdiri di depan pintu.

"Engkau bilang satu hari, kok sudah ke mari?" tukas Bee Kun Bu yang terlihat gusar "Sudah satu hari." sahut Swat Lo Kongcu dingin.

"Aku tidak pereaya, bagaimana mungkin begitu ce-pat?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

Tidak salah, jadi masih ada waktu setengah jam." ujar Swat Lo Kongcu memberitahukan

"Kalau masih ada waktu setengah jam, kenapa kalian sudah ke mari?" tanya Bee Kun Bu merasa tidak senang.

"Aku ke mari guna mengingatkan engkau, bahwa tinggal setengah jam." ujar Swat Lo Kongcu dingin.

"Oh? Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Sampai waktunya baru dibicarakan

Wajah Swat Lo Kongcu kelihatan gusar sekali, Cepat ia membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Blam! Pintu itu tertutup kembali

"Kakak Bu, tinggal setengah jam lagi." ujar Lie Ceng Loan sambil menarik nafas panjang.

"Adik Loan!" bisik Bee Kun Bu. "Cobalah berpikir, barangkali ada jalan ke luar bagi kita!"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menggeleng kepala, "Di ruang ini sama sekali tiada jalan ke luar."

"Kalau begitu, kita harus menghimpun hawa murni!" ujar Bee Kun Bu berpesan sungguh-sungguh, "Nanti begitu Swat Lo Kongcu muncuI, kita memutuskan urat nadi masing-masing untuk mati bersama."

Lie Ceng Loan mengangguk setelah terdiam sesaat lamanya, Akan tetapi, mendadak gadis itu bangkit berdiri, lalu memeriksa dinding-dinding ruangan itu. Namun tetap tak diketemukan sesuatu.

"Sudahlah!" ujar Bee Kun Bu sambil menggeleng- gelengkan kepala, "Tidak perlu diperiksa lagi," Lie Ceng Loan segera mendekati Bee Kun Bu. Mereka saling memandang dengan mulut membungkam. Tapi secara diam-diam ke duanya mulai menghimpun hawa murni, tanpa merasa takut sedikit pun.

Mereka menunggu dan bersiap untuk memutuskan urat nadi masing-masing, Pintu ruang itu tetap belum terbuka, padahal sudah lewat setengah jam.

"Kakak Bu!" bisik Lie Ceng Loan, "Bukankah sudah lewat setengah jam?"

Bee Kun Bu mengangguk "Tapi, kenapa Swat Lo Kongcu belum muncul?"

"Mungkinkah dia pikir pereuma mendesak kita?" tukas Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Tidak mungkin." Bee Kun Bu menggeleng kepala.

"Kalau begitu, mungkinkah belum ada setengah jam?" tanya Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu menggeleng kepala lagi, "Entahlah.,,," jawabnya.

Ke duanya terus menunggu, Namun Swat Lo Kongcu tetap tidak muncul

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yakin, Swat Lo Kongcu pasti terhalang sesuatu, sehingga tidak muncul di ruang ini.

"Adik Loan,,.," Mendadak Bee Kun Bu teringat sesuatu, "Ketika aku diturunkan, aku masih bisa berdiri di dalam jala! Tapi orang Miauw itu menarik jala ini, membuatku tidak bisa berdiri lagi! Cobalah engkau periksa jala ini, di bagian mana orang Miauw itu menarik jala ini?

Lie Ceng Loan mengangguk Gadis itu mulai memeriksa dengan seksama, Tak lama kemudian, ia menemukan sesuatu pada jala itu. "Mungkinkah kawat ini?" "Cobalah engkau tarik!"

Lie Ceng Loan segera menarik kawat itu, seketika itu Bee Kun Bu berteriak kesakitan, ternyata jala itu mengecil lagi.

"Kakak Bu.,.," Kagetlah Lie Ceng Loan.

"Adik Loan, cobalah engkau merenggangkan kawat itu!" pinta Bee Kun- Bu, "Kalau engkau bisa merenggangkan kawat itu, mungkin aku bisa berdiri."

Lie Ceng Loan terus berupaya merenggangkan kawat sementara Bee Kun Bu pun merasa agak lega, tidak sesak nafas seperti tadi.

"Benar, benar!" bisiknya girang.

Lie Ceng Loan terus merenggangkan kawat itu hingga tak seberapa lama kemudian Bee Kun Bu sudah bisa bangkit berdiri.

"Kakak Bu!" Gadis itu girang bukan main, "Aku akan coba membuka kawat itu, siapa tahu engkau bisa bebas."

"Cobalah!" sahut Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan terus memeriksa jala itu, Akhirnya ia menemukan kawat lain, Dengan penuh harapan gadis itu coba membuka kawat tersebut Tak lama kemudian jala itu telah terbuka.

Bee Kun Bu bersiul panjang, sambil melesatkan tubuhnya ke luar dari dalam jala itu.

"Kakak Bu!" seru Lie Ceng Loan girang.

Bee Kun Bu mendekatinya. "Jangan bergirang dulu, sebab kita masih berada di dalam ruang ini!"

"Kakak Bu, kita harus tenang!" ujar Ue Ceng Loan berseri "Swat Lo Kongcu tidak akan ke mari." "Adik Loan!" Bee Kun Bu tereengang. "Kenapa engkau bilang wanita jalang itu tidak akan ke mari?"

"Aku pikir.,, sudah sekian lama dia tidak muncul, berarti dia tidak akan ke mari lagi!" sahut Lie Ceng Loan memberi alasan.

"Menurutku, dia pasti ke mari." ujar Bee Kun Bu terlihat kecemasannya, "Hanya saja saat ini dia terhalang sesuatu, maka belum tiba di sini,"

"Kakak Bu, aku ada satu dugaan. "

"Dugaan apa?"

"Pasti Kakak Pek dan lainnya telah menyerbu ke mari itu membuat Swat Lo Kongcu jadi kocar-kacir dan tak sempat datang ke mari." ujar Lie Ceng Loan sungguh-sungguh.

sebetulnya Bee Kun Bu pun telah menduga itu. Namun ketika Swat Lo Kongcu memasuki ruang itu, kelihatannya tenang-tenang saja, Mungkinkah mereka berdua bernasib mujur? Namun Bee Kun Bu agaknya tidak pereaya akan kemujuran tersebut

"Mungkin memang begitu." gumamnya.

"Kakak Bu!" Mendadak Lie Ceng Loan mengerutkan kening, "Sebaliknya aku malah gelisah."

"Kenapa engkau gelisah?" tanya Bee Kun Bu bingung. "Kalaupun Kakak Pek dan lainnya memperoleh

kemenangan, mereka sama sekali tidak tahu kita berada di mana, jadi bagaimana baiknya?" ujar Lie Ceng Loan balik bertanya, Gadis itu lalu menghela nafas panjang.

"Jangan terlalu gelisah, mereka pasti cari kita!" hibur Bee Kun Bu.

"Benart" Lie Ceng Loan manggut-manggut "Mereka pasti mencari kita, Aku akan coba pasang kuping, siapa tahu mereka menuju ke mari." Lie Ceng Loan mendekati pintu ruang itu, lalu pasang kuping mendengar dengan penuh perhatian Be-berapa saat kemudian, wajah gadis itu tampak berseri

"Kakak Bu, coba kau dengar! Tampaknya ada orang berjalan ke mari."

"Sungguh?"

"Sungguh!" Lie Ceng Loan mengangguk "Aku mendengar suara langka h."

"Adik Loan, tapi aku merasa curiga." bisik Bee Kun Bu. "Kalau Kakak Pek, tentunya mereka tidak tahu kita terkurung di sini, Dan mereka pasti akan berteriak-teriak memanggil kita."

"lya!" Lie Ceng Loan mengangguk

"Aku pikir yang ke mari itu bukan mereka, cepatlah kau berdiri di samping pintu, Kalau ada orang mendorong pintu ke dalam, ikuti dan jangan sampai tertihat oleh orang yang masuk itu." pesan Bee Kun Bu.

"Ya! Tapi bagaimana engkau?"

"Aku punya akal," sahut Bee Kun Bu, lalu mengambil jala itu dan berjalan mendekati pintu, "Siapa pun yang masuk, aku harus menjaringnya dengan jala ini."

"Bagaimana kalau yang masuk itu Kakak Pek dan Kakak Sie Bun?" tanya Lie Ceng Loan.

"Ya, kalau mereka, tentunya tidak akan terjaring olehku," sahut Bee Kun Bu memberitahukan. "Sebab mereka berkepandaian tinggi."

"Benar!" sahut Lie Ceng Loan sambil tertawa gem-bira, kemudian memberi isyarat "Ssst! Mereka sudah datang!"

Bee Kun Bu segera menggeser badan ke sisi pintu, wajahnya tampak tegang sekali Beberapa kali dia menarik nafas dalam dan bersiap-siap dengan jala di tangan. Beberapa saat kemudian, pintu ruang itu terdorong perlahan-lahan. Ternyata yang berjalan masuk dua orang berbadan tinggi besar dan pendek. Yang berbadan agak pendek mengeluarkan tawa dingin.

Baru berjalan tiga langkah, mendadak mereka berhenti karena tidak melihat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan di dalam, Sebab mereka berdua berdiri di sisi pintu, ke dua orang itu tidak melihat mereka.

Ke dua orang itu terkejut bukan main, Ketika ke duanya membalikkan badan, dengan cepat Bee Kun Bu pun melemparkan jala ke arah mereka.

Siapa ke dua orang itu, tidak lain Swat Lo Kongcu dan orang Miauw yang selalu mengikutinya.

Begitu jala menebar ke arah mereka, Swat Lo Kongcu berteriak aneh sambil mengayunkan tangannya.

Serrr! Serrr! Serrr! Tampak tiga titik cahaya meluncur ke arah Bee Kun Bu.

Ternyata Swat Lo Kongcu menyerangnya dengan senjata rahasia, sementara jala itu telah menimpa Swat Lo Kongcu dan orang Miauw, Karena kegirangan, Bee Kun Bu sama sekali tidak menduga akan serangan senjata rahasia itu.

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu ketika melihat senjata itu meluncur ke arahnya, Cepat-cepat ia menarik jala itu, kemudian mengelak dari senjata-senjata rahasia tersebut.

Salah sebuah senjata rahasia melewati kepalanya. Namun dua di antaranya telah mengenai bahu dan dada-nya.

Bee Kun Bu tidak merasa sakit, cuma merasa ngilu!

Tersentaklah Bee Kun Bu, sebab ia tahu senjata rahasia itu pasti mengandung racun Maka dengan cepat tangannya pun bergerak menotok jalan darahnya agar racun itu tidak menjalar ke jantung. sementara Lie Ceng Loan hanya melihat Bee Kun Bu berhasil menjaring mereka, Maka gadis itu bertepuk tangan sambil tertawa gembira.

"Bagus! Bagus! ini yang disebut senjata makan tuan."

Gadis itu sama sekali tidak tahu kalau Bee Kun Bu terkena senjata rahasia beracun, karena Bee Kun Budiam saja. Dan ketika ia menoleh ke arah Bee Kun Bu dilihatnya pemuda itu tampak bersandar pada dinding, Badannya tampak sempoyongan Hal itu membuat Lie Ceng Loan terkejut bukan main, Apalagi ketika melihat bahu dan bagian dada Bee Kun Bu berlumuran darah, gadis itu menjerit kaget

"Kakak Bu! Kenapa kau?"

"Aku tidak apa-apal" sahut Bee Kun Bu dengan senyum terpaksa, "Cuma terkena senjata rahasia!"

"Darahmu tampak berwarna kehitaman! Senjata rahasia itu pasti mengandung racun!" seru Lie Ceng Loan cemas.

Bee Kun Bu merasakan dadanya ngilu bukan main, Namun beruntung dia tadi bergerak cepat menotok jalan darahnya, kalau tidak tentu sekarang pasti sudah roboh.

"Senjata itu benar mengandung racun, tapi tidak apa-apa," ujar Bee Kun Bu.

Ketika Lie Ceng Loan segera mendekati Bee Kun Bu, terdengar suara tawa Swat Lo Kongcu bernada dingin

"Bee Kun Bu, cepatlah lepaskan aku!"

"Enak saja!" sahut Lie Ceng Loan Tidak gampang menjaring dirimu, Untuk apa me!epaskanmu?"

"Hm!" dengus Swat Lo Kongcu, "Racun yang mengidap di tubuh Bee Kun Bu, kalau tidak memperoleh obat penawar dariku, dalam waktu satu jam dia akan lumpuh. Tiga hari kemudian dia pasti mampus! Nah, cepatlah kalian lepaskan diriku, aku berjanji akan memberikannya obat penawar racun itu." "Kakak Bu.,.!" Lie Ceng Loan menatapnya, "Lepaskanlah dia!"

"Adik Loan! jangan pereaya ocehannya!" sahut Bee Kun Bu. "Biar bagaimana pun tidak boleh melepaskan-nya."

Bee Kun Bu memaksakan diri untuk menghimpun hawa murninya, lalu menarik jala itu, ia melihat Swat Lo Kongcu dan orang Miauw itu meringkuk di dalam, tak bisa bergerak sama sekali

"Adik Loan, balikkan badanmu!" perintah Bee Kun Bu mendadak

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan, heran

"Aku ingin membunuh orang," sahut Bee Kun Bu tegas. "Oh?" Lie Ceng Loan segera membalikkan badannya,

kemudian menutup telinga, agar tidak mendengar suara apa pun.

Ketika Bee Kun Bu mengatakan begitu, menggigillah sekujur badan Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu mengeluarkan suara dengusan dingin Kemudian perlahan-lahan ia mengangkat sebelah tangan nya, dan mendadak menghadap ke arah orang Miauw itu.

Mulut orang Miauw itu ternganga lebar, kelihatannya ingin mohon ampun Namun tangan Bee Kun Bu telah menghantam jalan darah Thian Ling Kai di ubun-ubun orang Miauw itu.

Plak!

Orang Miauw itu mati seketika tanpa mengeluarkan suara. Darah dan otaknya langsung muncrat ke pipi Swat Lo

Kongcu, membuat wajah wanita itu berubah menakutkan

"Bee Kun Bu! Engkau... engkau,.,," Suara Swat Lo Kongcu bergemetar. "Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Engkau bilang aku akan mampus tiga hari kemudian, tapi saat ini kalau kau banyak omong, nyawamu akan melayang saat ini,"

Swat Lo Kongcu langsung diam dengan mulut ternganga lebar, sementara Bee Kun Bu mulai mengangkat sebelah tangannya, lalu perlahan-lahan diturunkan diarahkan pada ubun-ubun Swat Lo Kongcu.

Seketika sekujur badan Swat Lo Kongcu menggigil seperti kedinginan wajahnya pun seketika berubah ketakutan sementara tangan Bee Kun Bu sudah berada di ubun-ubun Swat Lo Kongcu, Namun tidak mengerahkan tenaga.

"Aku bilang apa, engkau harus menuruti bentak Bee Kun

Bu.

"Ya! Ya!" sahut Swat Lo Kongcu, Wanita itu tidak berani

bersikap galak lagi, sebab telah menyaksikan kematian orang kepereayaannya itu.

"Beritahukanlah! Di mana Kun Lun Sam Cu?" bentak Bee Kun Bu bernada dingin

"Berada di sebuah gua," sahut Swat Lo Kongcu jujur

"Bawa aku ke sana!" bentak Bee Kun Bu lagi sambil menekan ubun-ubun Swat Lo Kongcu, membuat wanita itu ketakutan setengah mati

TapL., tapi mereka bertiga tidak waras. "

"Jangan banyak bicara! Cepat bawa kami ke sana!" "Lebih baik lepaskan aku dulu!"

"Jangan mimpi !

"Aaakh." Swat Lo Kongcu menarik nafas. "Keluar dari ruang ini, terus berjalan ke depan Dari situ belok ke kiri. "

Tidak perlu banyak omong sekarang!" sela Bee Kun Bu. "Sekarang bawa kami ke sana saja!" Lie Ceng Loan tampak membalikkan badan, Ketika melihat orang Miauw yang.tnati mengenaskan tak tertahan ia berseru kaget Lalu cepat mendekati Bee Kun Bu.

"Adik Loan, bantu aku menarik jala inil" pinta Bee Kun Bu. "Ya!" Gadis itu mengangguk lalu membantunya menyeret

jala, Beberapa langkah kemudian, Lie Ceng Loan berkata, "Kakak Bu, senjata rahasia itu. "

"Tidak apa-apa," sahut Bee Kun Bu. "Tenangkan saja hatimu!"

"Kalau engkau tidak melepaskan diriku, aku tidak akan memberimu obat penawar racun itu!" ancam Swat Lo Kongcu mendadak

Bee Kun Bu tertawa dingin "Aku akan memasukkanmu ke dalam ruang batu yang penuh semut putih itu. Aku ingin tahu engkau berikan aku obat penawar racun itu atau tidak!"

"Aku sungguh menyesal telah membiarkanmu lepas dari ruang batu itu," ujar Swat Lo Kongcu sengit

"Engkau melepaskan diriku bukan karena untuk menolong melainkan ingin menghinaku habis-habisan!" sahut Bee Kun Bu tak kalah sengit "Lagipula tentu kau tak menduga, hari ini dirimu akan terjaring di dalam jala,"

Swat Lo Kongcu terdiam

"Ei!" Lie Ceng Loan teringat sesuatu, "Pada waktu itu, engkau bilang akan menemui kami setengah jam kemudian, Kenapa begitu lama engkau baru muncul?" tanyanya karena merasa penasaran

Apabila Swat Lo Kongcu muncul tepat pada wak-tunya, mungkin saat ini Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sudah mati! Namun nada Lie Ceng Loan justru seakan mempersalahkannya tidak menepati waktu. Mendengar itu, Swat Lo Kongcu diam saja, sementara Lie Ceng Loan berkata lagi sambil tersenyum

"Kalau kau tak bersedia menjelaskan tak jadi soal, Tapi kami justru berterimakasih atas keterlambatanmu itu, sehingga Kakak Bu bisa bebas!"

Swat Lo Kongcu tetap diam.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di luar ruangan itu, seketika Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terbelalak begitu mengetahui kalau mereka berada di tempat yang menyerupai puncak. Di situ terlihat banyak orang Miauw berlalu-lalang dengan membawa busur dan panah.

Melihat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyeret Swat Lo Kongcu di dalam jala, orang-orang Miauw itu begitu terkejut Mereka segera mengepung ke dua muda-mudi itu.

"Cepat suruh mereka minggir!" bentak Bee Kun Bu, begitu gusar

Swat Lo Kongcu segera berbicara dengan bahasa Miauw, Meskipun tidak dapat memahami pereakapan itu, Bee Kun Bu bisa mendengar Swat Lo Kongcu menyebut nama Liat Pah To.

Bee Kun Bu tahu, Swat Lo Kongcu pasti menyuruh mereka pergi melapor pada orang tersebut Namun dia sama sekali tidak merasa gentar Kalaupun Liat Pah To datang ke mari, orang itu tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ada apa di sini?" tanya Bee Kun Bu.

Tay Cih Su sedang membuat beberapa perahu besar untuk menyerbu ke mari, Aku menghendaki mereka mati semua di telaga beracun itu. Lihatlah! Ratusan elang merah terus-menerus terbang di angkasa."

Bee Kun Bu mendongakkan kepala, Dilihatnya ratusan ekor elang merah terbang naik turun di angkasa. Bee Kun Bu mendengus. "Walau burung-burung elang merah bisa mengangkat batu, namun perahu-perahu itu tidak akan tenggelam tertimpa batu."

Swat Lo Kongcu hanya tersenyum dingin, Bee Kun Bu menatapnya tajam.

"Kun Lun Sam Cu berada di mana?"

"Belok ke kiri, terus berjalan ke depan melalui jalan kecil itu!" sahut Swat Lo Kongcu memberitahukan, "Nanti akan kau lihat pohon rindang, lalu menikung, Kun Lun Sam Cu berada di sana,"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang, Mereka berjalan berdasarkan petunjuk Swat Lo Kongcu sambil menyeret jala itu.

"Engkau terlambat ke ruang batu itu, Apakah karena menerima berita bahwa Tay Cih Su akan mengadakan penyerbuan secara besar-besaran, sehingga engkau harus mempersiapkan segala sesuatu?" tanya Bee Kun Bu.

"Kalau bukan karena itu, kalian berdua pasti sudah berubah jadi tulang belulang!" sahut Swat Lo Kongcu sengit

"ltu pertanda hari kematianmu telah dekat," ujar Bee Kun Bu sambil tertawa dingin.

"Oh, ya?" Swat Lo Kongcu tertawa terkekeh

Bersamaan dengan itu terdengar suara yang mengguntur, Bee Kun Bu berhenti, dan dengan cepat menengok ke belakang

Tampak Liat Pah To berlari ke arah mereka dengan membawa sebuah kapak besar, Bee Kun Bu tampak bersikap tenang, sebab Swat Lo Kongcu berada di tangan nya.

Tentunya Liat Pah To tidak berani bertindak kalau mengetahui hal itu. "Kau suruh agar Liat Pah To berdiri sejauh dua depa," perintah Bee Kun Bu melihat Liat Pah To yang semakin berang.

Bee Kun Bu menekan ubun-ubun Swat Lo Kongcu sambil mengerahkan tiga bagian Lweekangnya, membuat tubuh wanita itu tampak berkunang-kunang.

Mendapat tekanan begitu Swat Lo Kongcu tidak berani membantah ia langsung berseru pada Liat Pah To.

Lelaki berambut merah itu seketika berhenti sejauh dua depa, sepasang matanya menyorot bengis pada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Kebetulan Liat Pah To datangi dengus Bee Kun Bu dingin, "Cepatlah suruh dia pergi ambil obat penawar racun!" perintahnya pada Swat Lo Kongcu.

"Kalau obat penawar racun sampai di tanganmu, apakah aku masih punya harapan hidup?" sahut wanita itu sambil berusaha menahan tekanan tangan Bee Kun Bu.

HSelama ini aku tidak pernah berbohong pada siapa pun," ujar Bee Kun Bu. "Asal engkau suruh dia ambil obat penawar racun itu, dan setelah kami bertemu Kun Lun Sam Cu, aku akan membiarkanmu hidup! Kalau tidak, nyawamu melayang!"

sepasang mata Swat Lo Kongcu menyorot bengis, Namun wajah Bee Kun Bu tampak begitu dingin, membuat kebengisan sorotan mata Swat Lo Kongcu perlahan sirna, Sesaat kemudian wanita itu baru mengucapkan beberapa patah kata kepada Liat Pah To.

Liat Pah To mengerutkan kening, kemudian langsung berlari pergi.

"Dia sudah pergi ambil obat penawar racun Berhati-hatilah kalian, jangan sampai jatuh ke tanganku lagi!" ujar Swat Lo Kongcu memperingatkan "ltu tidak mungkin akan terjadi! Bukankah saat kematianmu pun telah dekat!" dengus Bee Kun Bu. "Kalau engkau mau bertobat, mungkin masih ada jalan hidup bagimu!"

Swat Lo Kongcu mendengus dingin, Terlihat wajahnya memperlihatkan kegeraman yang hebat

"Lebih baik engkau berdamai dengan Tay Cih Su, itu agar dia bersedia mengampunimu," ujar Bee Kun Bu sungguh- sungguh.

"Jangan banyak bacot!" bentak Swat Lo Kongcu, "Peduli apa kalian dengan urusan ini!"

"Kakak Bu, demi keselamatan kita, bukan?" sela Lie Ceng Loan yang terlihat ada kecemasan pada wajahnya.

Tay Cih Su bersama berapa ratus orang pun akan berubah menjadi tulang belulang putih," sahut Swat Lo Kongcu berkesan menakuti dan menggertak

Ucapan Swat Lo Kongcu yang begitu yakin, membuat hati Bee Kun Bu tersentak Apakah perempuan jalang ini telah mengatur sesuatu untuk menghadapi Tay Cih Su?

Ketika Bee Kun Bu sedang memikirkan tentang itu, muncullah Liat Pah To. Lelaki berambut merah itu berhenti beberapa depa di depannya, kemudian melempar sebuah botol kecil ke arah Bee Kun Bu. Dengan cepat ia langsung menangkap botol itu.

sebentar kemudian terdengar suara Swat Lo Kongcu menjelaskan mengenai obat itu.

"Sebutir untuk dimakan, sebutir lagi dipoleskan di tempat luka."

Bee Kun Bu melihat ke dalam botol kecil itu, Tampak dua butir obat Swat Lo Kongcu tentu berharap akan dilepaskan dari tawanan musuh. Sebab itu dirinya tak akan berani memberi obat palsu! Yakin kalau obat itu asli, Bee Kun Bu segera menelannya satu butir Yang lainnya dipoleskan pada bahu dan dadanya yang terluka oleh senjata rahasia tadi.

Tak lama kemudian, bagian-bagian yang terluka itu dirasakan sakit sekali, bahkan mengucurkan darah kehitaman Namun kemudian darah itu berubah merah dan mampat, Cepat-cepat Bee Kun Bu menepuk dada dan bahunya yang terluka.

Plak! Plak!

seketika senjata rahasia yang bersarang di bahu dan dadanya terlontar ke luar berjatuhan ke bawah, Bee Kun Bu merasa lega, wajahnya terlihat mulai memerah, segan

"Perintahkan Liat Pah To pergi, kita harus pergi ke tempat Kun Lun Sam Cu!" seru Bee Kun Bu kepada Swat Lo Kongcu yang masih terdiam menatapnya dengan kegeraman

Mendengar perintah Swat Lo Kongcu, Liat Pah To tampak enggan Karena itu, Swat Lo Kongcu terpaksa berseru lagi, membuat lelaki berambut merah itu pun pergi.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyeret jala menuju ke tempat Kun Lun Sam Cu. Tak lama kemudian, mereka melihat sebuah pohon rindang, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera membelok sambil terus menyeret jala, Setelah membelok, terlihatlah sebuah bukit kecil.

"Mereka bertiga berada di sana, cepatlah kalian melepaskan aku!" ujar Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan memandang ke arah bukit kecil itu. Tampak tiga orang duduk di atas rerumputan Dua lelaki dan satu wanita.

Tidak salah, mereka bertiga adalah Kun Lun Sam Cu! Akan tetapi, keadaan mereka terlihat sangat mengenaskan Menyaksikan hal itu Lie Ceng Loan menangis terisak-isak, dengan air mata berderai-derai. Lalu, mendadak ia berlari mendekati ke tiga orang itu. Mata Bee Kun Bu juga tampak menggenang, sementara itu Lie Ceng Loan sudah berada di hadapan ke tiga orang itu, bahkan langsung menjatuhkan diri berlutut Namun, anehnya tiga orang itu justru memandangi Lie Ceng Loan sambil tertawa bodoh.

Bee Kun Bu yang merasa cemas, terlihat menghela nafas, Namun kemudian cepat melesat menghampiri ke tiga orang yang terlihat seperti tidak waras itu. sementara Swat Lo Kongcu berteriak-teriak gusar sekali.

"Hei! Kalian telah bertemu Kun Lun Sam Cu, cepat lepaskan diriku!"

"Aku pasti melepaskanmu tapi tunggu sebentar lagi!" sahut Bee Kun Bu yang sudah berdiri di hadapan Kun Lun Sam Cu. Kemudian berkata pada Lie Ceng Loan, "Adik Loan, jangan terus menangis, kita harus bisa secepatnya menyadarkan mereka."

Bee Kun Bu mengeluarkan rerumputan berdaun tujuh, Dipetiknya tiga helai daun rumput itu lalu diserahkan pada Lie Ceng Loan.

Gadis itu menerimanya, lalu dimasukkan ke mulut Kun Lun Sam Cu.

persis seperti anak kecil diberi kembang gula, ke tiga orang itu mengunyah rumput Mata mereka tampak merem melek, lucu. persis orang-orang kurang waras.

sementara Swat Lo Kongcu terus berteriak, agar Bee Kun Bu melepaskan dirinya. Namun pemuda itu sama sekali tidak menghiraukannya.

Beberapa saat kemudian, Kun Lun Sam Cu tampak tertegun Setelah itu, mereka bertiga saling memandang lalu menoleh pada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Dengan perasaan canggung mereka pun menundukkan kepala, memandang diri masing-masing. Menyaksikan itu, Bee Kun Bu tahu Kun Lun Sam Cu mulai sadar, Cepat-cepatlah ia bertanya.

"Guru, Paman Guru! Bagaimana perasaan kalian?" Tempat apa ini? Kenapa kami berubah seperti ini?" tanya

Kun Lun Sam Cu keheranan

Bee Kun Bu menarik nafas lega, Ada siratan cahaya kegembiraan di wajahnya.

"Guru, paman guru! Tidak bisa bersama. Kita harus

segera meninggalkan tempat ini. Nanti aku akan menjelaskan semuanya."

Kun Lun Sam Cu saling memandang, mereka bertiga mengangguk hampir bersamaan

"Baik!"

Bee Kun Bu mendekati Swat Lo Kongcu yang berada di dalam jala, Dia menjulurkan tangannya menotok jalan darah wanita itu, lalu menendangnya ke semak-semak tak jauh dari situ, Setelah itu diajaknya Kun Lun Sam Cu meninggalkan tempat tersebut

*****

Bab ke 41 - Tay Cih Su jadi Korban di Telaga Beracun Setelah berjalan sekitar delapan mil, Bee Kun Bu

menemukan sebuah gua. Dia segera mengajak Kun Lun Sam

Cu dan Lie Ceng Loan memasukinya.

Sesudah duduk semua, Bee Kun Bu mulai menuturkan tentang semua kejadian yang dialami

Kun Lun Sam Cu mendengar dengan mata terbelalak Namun mereka yakin Bee Kun Bu tidak berdusta, Dengan sabar mereka mendengarnya.

Bee Kun Bu menghentikan ceritanya dengan tarikan nafas panjang. "Kakak Bu, lalu bagaimana caranya kita meninggalkan tempat ini?" tanya Lie Ceng Loan setelah mereka berdiam beberapa saat

"Ini. " Bee Kun Bu mengerutkan kening, ".,.memang

merupakan satu kesulitan besar!"

"Apakah tempat ini sangat berbahaya, sulit bagi kita untuk lolos?" tanya Kun Lun Sam Cu.

"Guru! Tempat ini disebut Tok Sui Tong, sebab dikelilingi telaga beracun," jawab Bee Kun Bu memberitahukan "Kalau terkena pereikan airnya saja, hh. , dalam waktu sekejap tubuh

kita berubah menjadi tulang-belu!ang."

"Oh?" Kun Lun Sam Cu mengerutkan kening, Ter-kejut agaknya mereka mendengar hal itu.

Tidak begitu gampang menolong Guru dan Paman guru, Namun yang lebih sulit ternyata untuk lepas dari sini." ujar Lie Ceng Loan bernada ke!uh-

Bee Kun Bu bangkit berdiri, tapi mulutnya terus bungkam. sedangkan Kun Lun Sam Cu yang baru sembuh itu sama sekali tidak punya gagasan apa pun. Sesaat ke lima orang itu terdiam. Suasana hening menyelimuti ruangan gua itu.

"Menurutku cuma ada satu jalan untuk meninggalkan tempat ini," ujar Bee Kun Bu memecah keheningan

"Jalan apa? Jelaskanlah!" pinta Kun Lun Sam Cu.

"Kita harus menunggu penyerbuan Pek Yun Hui, barulah kita boleh ke luar," sahut Bee Kun Bu.

"Sudah sekian lama kita berada di pulau ini, tapi selama itu tiada kabar berita tentang Kakak Pek, entah apa sebabnya?" tukas Lie Ceng Loan.

"Kakak Pek dan lainnya sedang membuat perahu, sehingga tidak mungkin mereka cepat ke mari!" Bee Kun Bu memberitahukan Kun Lun Sam Cu cuma saling memandang, sebab mereka bertiga tidak tahu apa yang dibicarakan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu memandang Kun Lun Sam Cu, kemudian tersenyum getir seraya berkata.

"Guru dan Paman guru tidak tahu, Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To telah menguasai daerah Miauw, Mereka berdua berkepandaian tinggi, lagipula orang lain tidak bisa datang di pulau ini!"

"Kenapa?" tanya Kun Lun Sam Cu, heran. Kening mereka tampak berkerut

"Mereka memelihara ratusan ekor elang merah yang di bawah perintah mereka berdua! Kalau ada perahu berlayar ke mari, burung-burung itu akan mengangkat batu menimpa perahu sampai tenggelam Semua orang yang di dalam perahu akan mati berubah menjadi tu!ang-belulang!"

"Sungguh tak dinyana kami bisa sampai di daerah Miauw ini, Entah bagaimana keadaan Bu Lim Tionggoan sekarang ini?" ujar salah seorang dari Kun Lun Sam Cu yang lelaki tua.

"Sudah lama kami meninggalkan Tionggoan, sehingga kami tidak tahu!" ujar Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan memandang ke luar lalu terlihat mendadak menghela nafas seperti hendak membuang gelisahnya

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menatapnya seraya ber-tanya, "Engkau memikirkan apa?"

"Aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Lie Ceng Loan, "Cuma teringat akan awan putih yang di puncak gunung Kun Lun."

Mendengar itu, Kun Lun Sam Cu menarik nafas lalu menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Loan, Biar bagaimana pun kita harus kembali ke sana, maka tidak usah memikirkan itu," ujar Bee Kun Bu. "Kakak Bu, setelah kita pulang ke gunung Kun Lun...," Lie Ceng Loan tidak melanjutkan kata-kata itu, Wajah gadis itu tampak berubah merah.

Bee Kun Bu memandangnya, Dia tidak tahu apa yang dipikirkan Lie Ceng Loan, sementara gadis itu malah menundukkan wajah dalam-dalam.

Kun Lun Sam Cu saling memandang, kemudian mereka bertiga tampak tersenyum-senyum.

"Kita tidak bisa terus-menerus menunggu di dalam gua ini," ujar Bee Kun Bu mendadak "Lebih baik kita ke luar melihat- lihat sejenak, siapa tahu Kakak Pek telah menyerbu pulau ini, jadi kita bisa membantu mereka."

"Benar!" Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka berlima lalu berjalan ke luar Bee Kun Bu berjalan di depan, Lie Ceng Loan terus mengikutinya.

Ke duanya baru saja tiba di luar gua, ketika melihat sosok bayangan berkelebat di semak-semak di depan gua.

"Kakak Bu, ada orang di sana," bisik Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu langsung melesat ke arah semak-semak itu, ia pun melihat sosok bayangan melesat pergi.

Bee Kun Bu bergerak cepat mengejarnya, Tak lama dia sudah berada di belakang orang itu, Dengan cepat dijulurkan tangannya mencengkeram bahu orang itu.

Orang itu cepat berkelit Akan tetapi, Bee Kun Bu langsung menyerangnya dengan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lam Sambil Tertawa).

Plak!

punggung orang itu terpukul, sehingga tersungkur dan tidak bangkit lagi. Bee Kun Bu mendekati orang itu, kemudian cepat merenggut leher bajunya, seketika Bee Kun Bu tertegun, melihat orang itu ternyata bukan suku Miauw.

"Siapa engkau?" tanya Bee Kun Bu heran.

Orang tua itu tetap diam dengan mata dipejamkan

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan telah menyusul ke situ, "Siapa orang ini?"

"Entahlah!" Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "Aku justru sedang bertanya padanya, tapi dia tidak mau menjawab."

Sesaat kemudian muncullah Kun Lun Sam Cu. Orang tua yang terpukul oleh Bee Kun Bu itu membuka mata-nya, memandang mereka berlima sambil menarik nafas, namun tidak berkata apapun.

"Bukankah ini daerah Miauw, kenapa ada orang Han di sini?" tanya Kun Lun Sam Cu heran, "Kun Bu, tanya baik-baik padanya, jangan bertindak sembarangan!"

"Guru!" Bee Kun Bu tersenyum "Orang ini sungguh mencurigakan Aku harus bertanya jelas padanya,"

"Nyawa kalian sudah berada di ujung tanduk, masih bisa tertawa?" ujar orangtua itu mendadak

"Apa?" gumam Bee Kun Bu. "Apa maksudmu?"

Orang tua itu diam, kemudian memejamkan matanya sambil tersenyum getir Hal itu jelas membuat Bee Kun Bu kian merasa penasaran sekali

"Cianpwee!" ujar Bee Kun Bu memberitabukan, "Kami bukan Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To! Di sini adalah daerah Miauw, engkau orang Han tapi muncul di daerah ini, tentu punya sebab! Bolehkah Cianpwee berterus terang tentang diri Cianpwee?"

Orang tua itu tampak tertegun ketika mendengar ucapan Bee Kun Bu. "Cianpwee adalah orang Han, tentunya sangat rindu akan Tionggoan, Bagaimana kita bersama meninggalkan tempat ini?" tanya LieCen^ Loan menyeIak.

Orang tua itu membuka matanya, lalu menarik nafas panjang sambil memandang langit Lama kemudian membuka mulut

"Siapa tidak rindu pada kampung halaman? Namun tempat setan ini, siapapun tidak akan mampu pergi. Menurutku, mengharapkan hal itu sama seperti mimpi di siang hari bolong."

"ltu belum tentu, Cianpwee," sanggah Bee Kun Bu.

Orang tua itu tertawa getir, kemudian menggeleng- gelengkan kepala.

"Sudah delapan tahun lebih aku berada di tempat ini.

Siang malam terus berpikir ingin lepas dari sini. Tapi... tetap tak bisa pergi, Kalian belum lama datang, lagipula tengah bermusuhan dengan Swat Lo Kongcu. jadi bagaimana kalian bisa meninggalkan tempat ini?"

"Cianpwee!" Bee Kun Bu tereenung sesaat "Sudah delapan tahun lebih Cianpwee berada di tempat ini, tetapi kenapa tidak dicelakai oleh Swat Lo Kongcu itu? sungguh mengherankan apa sebabnya?"

Air muka orangtua itu berubah seketika. Cepat-cepat ia menoleh ke sana ke mari, sepertinya takut diketahui orang lain.

"Kalian tidak perlu banyak bertanya padaku!" tukas orangtua itu dengan suara rendah, "Ada satu hal yang ingin kuminta pada kalian. "

Tentang apa?" tanya Bee Kun Bu. "Kita tidak saling mengenal, entah kalian sudi mengabulkan permohonanku tidak?" jawab orangtua itu dengan kening berkerut-kerut

"Cianpwee ingin bermohon apa pada kami?" "Sebetulnya kalian tidak punya harapan untuk

meninggalkan pulau ini!" ujar orangtua itu sambil tersenyum getir "Tapi aku berharap kalian bisa meninggalkan pulau ini! Apabila kalian pulang keTioriggoan, tolong beritahukan pada keluargaku, bahwa aku berada di daerah Miauw, Sebab kepala suku Miauw masih membutuhkan diriku, Jadi, diriku tetap aman."

"Kepala suku Miauw? Maksud Cianpwee siapa itu?" tanya Bee Kun Bu.

tentunya Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To," jawab orangtua itu memberi tahu kan.

"Kenapa mereka berdua membutuhkan diri Cianpwee?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya dalam-dalam.

Air muka orangtua itu berubah, kemudian mendadak berlari kabur dari situ, Bee Kun Bu ingin mengejamya, namun cepat dicegah oleh Kun Lun Sam Cu.

"Guru!" seru Bee Kun Bu. "Kenapa tidak membiarkan aku kejar orangtua itu?"

"Semula dia ingin menitip pesan pada kita, Tapi karena engkau bertanya tentang itu, maka dia kabur karena ketakutan Menurut kami, itu pasti ada sebabnya," sahut Kun Lun Sam Cu.

"Dia bilang Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To membutuhkan dirinya, entah orangtua itu punya kelebihan apa."

"Kepandaian orangtua itu tidak begitu tinggi," sela Lie Ceng Loan. "Benar!" Bee Kun Bu manggut-manggut "Oleh karena itu, dia pasti punya suatu kelebihan tertentu, maka Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To membutuhkan dirinya itu."

"Tapi kelihatannya. " Lie Ceng Loan mengerutkan kening.

H. dia tidak seperti orang yang punya keistimewaan."

"Oh ya!" Bee Kun Bu teringat sesuatu, "Tadi dia bilang nyawa kita sudah berada di ujung tanduk, apa maksudnya? Sebelum memberitahukan dia sudah kabur terbirit-birit. itu sungguh sayang sekali."

"Kita berada di Tok Sui Tong, sewaktu-waktu pasti ada bahaya, Mungkin itu maksudnya," sahut Kun Lun Sam Cu.

Bee Kun Bu berpikir sejenak, memang masuk akal apa yang dikatakan Kun Lun Sam Cu. Sesaat mereka berlima mulai menengok ke sana ke mari.

"Kita ingin tahu Kakak Pek sudah menyerbu ke mari atau belum, jadi kita harus melihat dari tempat yang tinggi," ujar Bee Kun Bu. "Di depan ada sebuah bukit, mari kita ke sana!"

"Baik," Lie Ceng Loan manggut-manggut, "Aku sudah sangat rindu pada Kakak pek."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tampak bimbang, "Setelah kita bertemu mereka, mungkin sudah berada di dunia iain,"

"Kakak Bu.,.," Mata Lie Ceng Loan mulai bersimbah air. "Adik Loan. " Bee Kun Bu terperanjat menyaksikan itu,

Cepat-cepat dia menghiburnya, "Aku cuma bergurau, kenapa kau jadi berduka ?"

"Kakak Bu.,.," Lie Ceng Loan menarik nafas, "Se-andainya kita bisa meninggalkan tempat ini, selamanya aku tidak mau berkecimpung di rimba persilatan lagi,"

Bee Kun Bu diam, Kemudian menoleh pada Kun Lun Sam Cu. sedangkan Kun Lun Sam Cu tidak bersuara, Kelihatannya mereka sependapat dengan apa yang dikatakan Lie Ceng Loan. Setelah saling membisu seperti itu, mereka berlima menuju ke bukit, Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah mendekati bukit tersebut

Tiba di puncak hari pun sudah senja, Mereka berlima berdiri di sana sambil memandang ke arah telaga beracun, tetap tampak tenang tapi kemerah-merahan.

"Heran," gumam Bee Kun Bu. "Kenapa sedemikian sepi?" "Bukankah lebih baik sepi?" sahut Lie Ceng Loan sambil

tersenyum.

"Memang sih." Bee Kun Bu manggut-manggut dan menambahkan, Tapi saat ini, Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To sudah tahu kita berada di sini, Bahkan mereka pun tahu Tay Cih Su sedang membuat perahu untuk menyerbu ke mari, Kenapa mereka kelihatan begitu tenang?" 

"Kalaupun mereka bersiap-siap, tentunya tidak mungkin di bukit ini," ujar Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu manggut-manggut, karena merasa masuk akal apa yang dikatakan Lie Ceng Loan. "Bagaimana kita cari tempat untuk bersembunyi ?"

"Swat Lo Kongcu telah terjungkal sekali di tanganmu, maka belum tentu dia akan segera menghadapi kita, jadi kita pun tidak perlu bersembunyi lagi," sahut Kun Lun Sam Cu.

Karena Kun Lun Sam Cu yang mengatakan begitu, Bee Kun Bu sama sekali tidak berani membantah

Mulailah ia memandang ke arah telaga beracun itu dengan penuh perhatian samar-samar dilihatnya sosok bayangan berkelebat di pinggir telaga.

Karena berjarak yang begitu jauh, Bee Kun Bu khawatir matanya salah melihat Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap, Mereka berlima khawatir akan terlihat orang, sehingga tidak berani menyalakan api.

sementara hari semakin gelap, sedangkan tempat tersebut sangat sepi sekali Sejak berada di daerah Miauw, Kun Lun Sam Cu sama sekali tidak tahu kenapa dalam keadaan tak waras, Kini walaupun ke tiganya telah sembuh, pikiran mereka masih agak menerawang.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berjalan ke tempat lain, lalu berdiri sambil memandang ke bawah.

Lie Ceng Loan menaruh kepalanya pada bahu Bee Kun Bu. Saat ini meskipun masih ada bahaya mengancam, gadis itu tetap merasa gembira dan bahagia bersama Bee Kun Bu, sehingga tanpa sadar ia terus memandangnya, "Kakak Bu!" tanya Lie Ceng Loan karena melihat Bee Kun Bu termenung "Engkau sedang memikirkan apa?"

"Kalau tidak salah, su,dah waktunya Kakak Pek menyerbu ke mari," ujar Bee Kun Bu memberitahukan "Akan tetapi, kenapa sampai malam ini masih tampak begitu sepi?"

"Apakah telah terjadi sesuatu di luar dugaan?" tanya Lie Ceng Loan.

"Menurut aku tidak," sahut Bee Kun Bu. "Kenapa engkau mengatakan begitu?"

"Kelihatan Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To hanya menguasai Tok Sui Tong ini. sementara Tay Cih Su masih menguasai begitu banyak orang Miauw yang rata-rata ingin membasmi Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To. Karena itu, aku yakin tidak akan terjadi sesuatu di luar dugaan," jawab Bee Kun Bu menjelaskan

"Kalau begitu, kenapa mereka belum menyerbu ke mari?"

Lie Ceng Loan kelihatan bingung

"Mungkin..." ucapan Bee Kun Bu terhenti sepasang matanya terus memandang ke arah telaga beracun itu, Ternyata ia melihat banyak cahaya lampu berker!ap-kerlip di permukaan telaga beracun itu.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menunjuk ke sana, "Apa itu?"

"Lampu-lampu yang di perahu," sahut Bee Kun Bu. "Kalau begitu, sudah pasti Kakak Pek mulai menyeberang

ke mari," ujar Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu manggut-manggut. "Guru, cepat ke mari!"

Kun Lun Sam Cu menyahut dan segera ke tempat itu. Mereka bertiga pun memandang ke arah telaga beracun sementara lampu-lampu tampak semakin jelas, tidak salah, itu adalah lampu-lampu yang di perahu, Kini sudah terlihat jelas beberapa buah perahu besar berlayar mendekati pulau tersebut

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu langsung bersiul panjang. Maksudnya ingin melesat pergi mencari Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To untuk membunuh mereka berdua, setelah itu baru bergabung dengan Pek Yun Hui.

Akan tetapi, di saat ia bersiul panjang, terdengar pula suara teriakan-teriakan aneh di puncak seberang, Sungguh menyeramkan suara teriakan-teriakan tersebut

Tertegun mereka berlima ketika mendengar suara itu, Wajah Lie Ceng Loan tampak pucat pias, "Suara apa itu?"

Ketika Bee Kun Bu baru mau membuka mulut menyahut ttba-tiba terdengar suara "Plak! Plak!" Menyusul dari puncak seberang tampak tujuh delapan ekor burung elang yang amat besar terbang menuju ke arah perahu-perahu itu.

Bee Kun Bu juga melihat, cakar-cakar burung elang besar itu mencengkeram batu-batu yang berukuran besar, Bee Kun Bu tampak tertawa. "Kakak Bu, Swat Lo Kongcu telah mengeluarkan elang- elang besar itu! Kok engkau malah tertawa?" Lie Ceng Loan menatapnya heran.

"Lihatlah perahu-perahu itu!" Bee Kun Bu menunjuk ke arah perahu-perahu itu.

"Bukankah semua perahu itu ditutupi dengan kulit sapi?"

Lie Ceng Loan memperhatikan semua perahu itu, Memang benar semua perahu itu ditutupi dengan kulit sapi, Jadi sulit bagi burung-burung itu menenggelamkan perahu-perahu di telaga.

"Kalau begitu...," ujar Lie Ceng Loan sambil tertawa, "Kenapa kita masih berdiri di sini? cepatlah kita turun membasmi penjahat-penjahat itu!"

"Kita berlima harus tetap berkumpul!" seru Kun Lun Sam Cu berpesan Tidak boleh berpencar."

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka berlima lalu melesat ke bawah menggunakan ilmu ginkang, Namun mendadak mereka berhenti, karena mendengar suara yang amat dahsyat

Bum!

Mereka berlima langsung memandang ke bawah, Ternyata salah seekor burung elang itu telah menjatuhkan batu yang dicengkeramannya ke perahu.

Setelah jatuh dikulit sapi yang menutupi perahu, batu itu pun terpental ke atas setinggi tiga depa, kemudian jatuh lagi dan meledak.

Sungguh di luar dugaan, batu itu ternyata dengan diisi bahan peledak, perahu hancur menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam telaga beracun. Suara teriakan dan jeritan kematian memecah suasana riuh itu.

"Celaka!" seru Bee Kun Bu setelah menyaksikan itu, "Ternyata Swat Lo Kongcu telah menyiapkan semua itu, Kakak Pek entah berada di perahu yang telah meledak itu tidak!"

Perahu-perahu lain melaju lebih cepat menuju ke tepi telaga, sementara burung-burung elang yang membawa obat peledak terus mengejar

Tak lama perahu-perahu itu mencapai tepi telaga. Tampak beberapa orang meloncat ke tepi telaga, Burung-burung elang itu juga telah menyusul, dan langsung menjatuhkan batu-batu peledak.

Bum! Bum! Bum! Bum.-.!

Semua perahu meledak dan terbakar seketika, Kun Lun Sam Cu, Bee Kun Bu, dan Lie Ceng Loan yang berdiri di atas bukit membungkam dengan mata terbelalak

"Kakak Bu...!" Lama sekali barulah Lie Ceng Loan membuka mulut "Apakah Kakak Pek dan Kakak Sie Bun berada di salah sebuah perahu yang meledak itu?"

"Entahlah!" Bee Kun Bu menggeleng kepala.

Lie Ceng Loan segera menoleh pada Kun Lun Sam Cu. Ke tiga orang itu cuma menundukkan kepala.

Lie Ceng Loan mulai menangis, "Mereka berdua mati begitu saja?"

"Adik Loan, jangan berduka!" ujar Bee Kun Bu menghiburnya.

"Ba... bagaimana mungkin aku tidak berduka?" Ue Ceng Loan terisak-isak dengan air mata berderai.

"Adik Loan. " Mata Bee Kun Bu pun sudah basah.

Menyaksikan itu, mulailah Lie Ceng Loan menangis gerung-gerungan, sedangkan Kun Lun Sam Cu masih tampak agak tenang. "Kalian jangan menangis!" ujar Kun Lun Sam Cu Serentak "Kita belum tahu jelas Pek Yun Hui mereka celaka atau tidak, jadi kalian tidak perlu terus menerus menangisi

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menghela nafas panjang, Gadis itu mulai berhenti menangis.

"Kelihatannya... memang sulit sekali bagi kita meninggalkan tempat ini. Sungguh tak disangka, Swat Lo Kongcu bisa menggunakan cara itu menghadapi me-reka.,,."

"Kakak Bu, Guru dan Paman guru!" ujar Lie Ceng Loan setelah berpikir sejenak "Aku.,, aku punya suatu ide!"

"lde apa?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya, "Katakan!"

"Swat Lo Kongcu menggunakan burung-burung elang, kalau kita bisa membunuh burung-burung itu, bukankah kita tidak perlu takut pada mereka lagi?"

Mendengar itu, Bee Kun Bu dan Kun Lun Sam Cu cuma tersenyum getir Harus diketahui, burung-burung elang itu terbang di angkasa, bagaimana mungkin dapat membunuh mereka? Lagipula sudah terlatih semua.

"Bagaimana?" tanya Lie Ceng Loan melihat mereka diam saja, "ldeku itu tidak bisa dipakai?"

"Bukan tidak bisa dipakai persoalannya kita tidak punya kemampuan untuk membunuh burung-burung itu!" sahut Bee Kun Bu sambil menarik nafas.

"Aku tahu ada satu orang punya kemampuan itu," ujar Lie Ceng Loan.

"Siapa?" tanya Bee Kun Bu.

"Kakak Siao Tiap," jawab Lie Ceng Loan.

"Adik Loan.,.," Bee Kun Bu menarik nafas lagi, "Pereuma engkau menyebutnya. " "Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan, heran.

"Sebab sejak dia meninggalkan gunung Kwat Cong San, sudah sekian lama kita tidak bertemu dia," jawab Bee Kun Bu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalaupun dia berada di sini, tetap sulit menghadapi burung-burung elang itu!" ujar Kun Lun Sam Cu.

"Kakak Siao Tiap memang tidak bisa terbang, tapi dia punya burung bangau sakti Dia pasti mampu menghadapi elang-elang itu!" ujar Lie Ceng Loan.

Apa yang dikatakan gadis itu memang masuk akal, Namun saat ini Na Siao Tiap berada di mana? Akhirnya Bee Kun Bu tersenyum getir.

"Adik Loan, apa yang engkau katakan memang masuk akal! Tapi kita harus ke mana mencari Na Siao Tiap?"

Lie Ceng Loan terdiam, lama sekali barulah membuka mulut bergumam.

"Kalau begitu, bukankah kita berada di sini menunggu mati?"

Tidak juga!" sahut Bee Kun Bu cepat "Engkau punya akal lain?"

"Burung-burung elang itu di bawah perintah orang, jadi kita tidak bisa menghadapi burung-burung itu," ujar Bee Kun Bu memberitahukan. "Oleh karena itu, yang harus kita hadapi justru pemilik burung-burung itu!"

"Benar." Kun Lun Sam Cu manggut-manggut Tapi kita tidak tahu siapa pemilik burung-burung itu," tambah Bee Kun Bu, menggeleng-gelengkan kepala, "Kalau bukan Swat Lo Kongcu, pasti Liat Pah To," sahut Kun Lun Sam Cu serentak

pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa dingin, kemudian menyusul pula suara wanita.

"Kami berada di sini, tidak memberi perintah pada burung- burung elang itu." Betapa terkejutnya Kun Lun Sam Cu, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mendengar suara itu, mereka berlima segera menoleh, Tampak puluhan orang membawa obor mendekati mereka, Yang memimpin orang-orang itu ternyata adalah Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To, "Kita harus saling bersandar!" bisik Bee Kun Bu. Mereka berlima langsung berdiri dengan saling menempelkan punggung, Swat Lo Kongcu tertawa dingin menyaksikan mereka.

"He he! Apakah kalian masih bisa meloloskan diri?" Bee Kun Bu bersiul panjang hendak melakukan penyerangan terhadap Swat Lo Kongcu, Kun Lun Sam Cu cepat-cepat menahannya.

"Guru.,.!" Bee Kun Bu tereengang, Hian Ceng Totiang cuma menggeleng kepala, membuat Bee Kun Bu pun terdiam di tempat

"Kalian berlima berdiri di sini, tentu sudah menyaksikan kejadian tadi." ujar Swat Lo Kongcu sambil tersenyum licik, "Aku ingin menyampaikan suatu kabar untuk kalian, sebab aku yakin kalian ingin mendengarnya

"Kabar apa?" tanya Bee Kun Bu dengan suara membentak "Hi hi hi!" Swat Lo Kongcu tertawa cekikikan "Tay Cih Su

yang ingin melawan kami itu, dia telah mati di telaga beracun

Bahkan telah berubah jadi tulang belulang pula." "Oh?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Di mana Kakak Pek?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Kakak Pek? Siapa dia?" Swat Lo Kongcu balik bertanya sambil tertawa terkekeh

"Dia adalah Pek Yun Hui." Lie Ceng Loan memberitahukan "Nasibnya lebih mujur, sebab perahunya tidak tertimpa

batu," sahut Swat Lo Kongcu memberitahukan Tapi kalau dia ingin melawan kami, itu berarti dia cari mati." Lie Ceng Loan menarik nafas lega, sedangkan Bee Kun Bu tertawa dingin.

"Swat Lo Kongcu! Apa maumu mengurung kami di sini?" tanya Bee Kun Bu.

"Kalian masih belum tahu?" Swat Lo Kongcu tertawa melengking. "Cepatlah kalian ikut kami ke bawah!"

"lkut kalian ke bawah memang tidak su!it," sahut Bee Kun Bu sambil tertawa ringan "Asal kalian mampu menangkap kami."

"Kenapa aku harus menangkap kalian?" Swat Lo Kongcu tersenyum licik.

Bee Kun Bu terkejut ketika mendengar Liat Pah To mendadak berteriak lantang dengan suara aneh, Semula menoleh dengan mata membelalak, Di sana tampak puluhan orang Miauw mendekati mereka dengan obor di tangan

Kun Lun Sam Cu, Bee Kun Bu, dan Lie Ceng Loan tetap berdiri dengan punggung saling menempel sementara puluhan orang Miauw itu sudah mendekat

Tiba-tiba mereka melempar obor-obor yang di tangan ke arah tempat Kun Lun Sam Cu, Bee Kun Bu, dan Lie Ceng Loan.

Dalam waktu sekejap, tempat itu sudah terbakar Hal itu membuat mereka berlima terkurung di dalam kobaran api.

"Cepat halau api itu dengan pukulan!" seru Kun Lun Sam Cu.

Bee Kun Bu segera melancarkan pukulan ke arah api yang berkobar Akan tetapi, pada saat bersamaan terdengar pula suara tawa aneh Swat Lo Kongcu.

orang-orang Miauw mulai melempar obor mereka ke tempat tersebut, sehingga membuat api bertambah berkobar Bee Kun Bu.dan kawan-kawannya merasa kepanasan. Wajah Lie Ceng Loan sudah merah padam dengan keringat terus mengucur deras.

"Kakak Bu, mari kita terjang ke luar!" seru gadis itu.

Bee Kun Bu tidak menyahut, melainkan memandang Kun Lun Sam Cu seakan minta pendapat

"Kami baru sembuh, maka daya pikir kami masih tidak begitu baik-" ujar Hian Ceng Totiang. "Lebih baik engkau saja yang ambil keputusan."

"Kalau begitu.,.," ujar Bee Kun Bu. "Murid mohon maaf!" "Urusan sudah sedemikian gawat, jangan memper-

masalahkan itu!" tandas Hian Ceng Totiang.

"Sementara ini kita tidak boleh menerjang keluar Sebab, kita tidak melihat jelas Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To berada di mana, jadi itu sangat membahayakan kita," ujar Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

"Api semakin berkobar dan membesar, bahkan mulai mendekati kita pula, Kalau tidak menerjang ke luar, kita akan mati terbakar di sini!" tukas Lie Ceng Loan.

Tiba-tiba Bee Kun Bu menghentakan kakinya melesat ke atas, Terkejutlah Lie Ceng Loan melihatnya.

"Kakak Bu! Apa yang kau perbuat?!"

"Melihat situasi di luar," sahut Bee Kun Bu yang telah melesat ke atas sambil menengok ke sana ke mati Di luar kepungan kobaran api terlihat seratus lebih orang Miauw berdiri dengan busur dan panah di tangan.

Meny aksi kan itu, betapa terkejutnya Bee Kun Bu. Cepat badannya pun meluncur kembali ke bawah.

"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Lie Ceng Loan yang tak sabaran, karena melihat air mukanya berubah hebat Kun Lun Sam Cu menatap heran wajah Bee Kun Bu. "Entah kapan telah muncul ratusan orang Miauw dengan busur dan panah di tangan," sahut Bee Kun Bu memberitahukan

"Haaah?" Wajah Lie Ceng Loan berubah pucat pias. "Kelihaiannya mereka sudah bersiap memanah kita," lanjut

Bee Kun Bu sambil menarik nafas.

"Kalau begitu...," Lie Ceng Loan mengerutkan ke-ning, "Bukankah kita tidak bisa menerjang ke luar?"

"Bagaimana mungkin tidak bisa menerjang ke luar?" sahut Bee Kun Bu. ia bersiul panjang lalu melangkah

pemuda itu melancarkan dua buah pukulan dengan menggunakan sembilan bagian Lweekangnya.

Brrr...! Api yang berkobar-kobar itu terbelah dua akibat pukulan jarak jauh yang dilancarkan Bee Kun Bu.

"Cepat ikut di belakangku!"

Bee Kun Bu melesat ke depan, Tampak Kun Lun Sam Cu segera menepuk bahu Lie Ceng Loan.

"Cepatlah engkau ikut dia!"

Dalam keadaan begini, Lie Ceng Loan tidak berani membantah, langsung melesat mengikuti Bee Kun Bu.

Kemudian segera Kun Lun Sam Cu melesat menyertai gadis itu.

Ketika Bee Kun Bu melesat ke depan, tampak tiga batang panah meluncur ke arahnya.

Serr! Serrr! Serrr!

Bee Kun Bu telah menduga akan hal itu, maka langsung saja menggerakkan tangannya memukul panah-panah itu sampai jatuh, Akan tetapi, lidah api di bawah justru menjilat kakinya. Hal itu membuat Bee Kun Bu tidak berani maju, melainkan meloncat mundur Begitu melihat Bee Kun Bu meloncat mundur, Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu ikut meloncat mundur

"Hi hi hi!" Swat Lo Kdngcu tertawa melengking. "Kalian berlima ingin menerjang ke luar? itu lebih sulit daripada naik ke langit Lebih baik kalian tunduk padaku untuk melawan Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun!"

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Engkau bermimpi di siang hari bolong!"

"Kalau begitu,.,." Swat Lo Kongcu tertawa melengking Iagi, "Engkau harus menyaksikan kehebatanku!"

Usai berkata begitu, mendadak Swat Lo Kongcu mengeluarkan pekikan aneh, seketika tampak tiga buah bola menggelinding ke arah mereka, tapi kemudian berhenti di hadapan mereka.

"Benda apa itu?" tanya Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu memandang dengan penuh perhatian benda yang ternyata menyerupai bola besi berukuran besar Dia tereengang kaget seketika itu pula timbul kecurigaannya.

Tanpa sadar ia mengayunkan kakinya menendang salah satu bola besi itu.

orang-orang Miauw yang berada di luar api berteriak-teriak aneh, Bee Kun Bu tidak mengerti Tapi ia tahu, orang-orang Miauw sangat ketakutan pada bola besi tersebut

"Adik Loan, Guru dan Paman guru!" seru Bee Kun Bu. "Lebih baik kita bersatu menerjang ke luar saja!"

"Di luar api masih ada ratusan orang Miauw yang bersenjata busur Kalau menerjang ke luar, kita akan menjadi sasaran panah." sahut Hian Ceng Totiang. "Biar murid yang membuka jalan," usul Bee Kun Bu dan menambahkan "Tapi Guru dan Paman guru harus melancarkan pukulan ke arah api yang di sisiku."

"Baik," Kun Lun Sam Cu mengangguk

*****

Bab ke 42 - Swat Lo Kongcu Ditawan Bee Kun Bu Lagi Setelah Kun Lun Sam Cu menyetujuinya, Bee Kun Bu

mengeluarkan siulan panjang sambil melesat Lalu dengan cepat dia melancarkan beberapa buah pukulan ke depan, membuat kobaran api terbelah dua, Bee Kun Bu tidak menyia- nyiakan kesempatan itu, ia terus melesat ke depan.

Akhirnya pemuda itu berhasil ke luar dari kurungan api, Namun baru saja mendarat, mendadak meluncur ke arahnya beberapa batang anak panah laksana kilat

Bee Kun Bu cepat-cepat menggerakkan sepasang kakinya menendang panah-panah itu, sementara Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu pun telah menyusul Mereka melancarkan pukulan ke arah panah-panah tersebut

Mereka berlima selamat sampai di luar api Namun mereka baru menarik nafas lega, mendadak terdengar suara ledakan keras mengejutkan

serentak mereka menoleh ke belakang Ternyata bola-bola besi itu pecah, Tampak asap hitam mengepul ke atas dari dalam bola-bola besi itu.

Kun Lun Sam Cu tertegun menyaksikan itu, sementara Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan melesat ke depan secepat kilat Tapi seketika ke tiganya tersentak kaget Pada saat tubuh mereka di udara, tereium bau aneh di hidung mereka.

Dalam sekejap saja Kun Lun Sam Cu merasakan matanya berkunang-kunang, Mereka bertiga cepat-cepat menutup pernafasan Namun terlambat Badan mereka terlihat mulai gontai sempoyongan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang telah melesat pergi mengetahui kalau telah ada sesuatu yang terjadi atas diri Kun Lun Cam Cu.

Tiba-tiba beberapa anak panah meluncur ke arah mereka. Bee Kun Bu segera menggerakkan sepasang tangannya,

memukul panah-panah tersebut sedangkan Lie Ceng Loan menoleh ke belakang, Dilihatnya Kun Lun Sam Cu telah terkapar di tanah.

"Guru! Guru.,.!" teriaknya, cemas dan panik.

Kun Lun Sam Cu tidak menyahut Ternyata mereka telah pingsan sementara itu api mulai mendekati ke tiganya.

"Kakak Bu!" teriak Lie Ceng Loan "Celaka! Lihat Paman guru dan Guru di sana...!"

Bee Kun Bu tengah sibuk menghalau panah-panah yang meluncur, ketika mendengar teriakan Lie Ceng Loan ia pun terpaksa berpaling ke belakang, Setelah Bee Kun Bu terpeklk kaget Ketlka dia menoleh ke belakang, aatu anak panah menghujam di bahunya, Raaa sakit dan ngl u yang hebat menyerang pada bahunya, seketika itu pula dia menyadari kalau ujung anak panah Ku diolesi racun terlebih dahulu disempatkan untuk melancarkan beberapa buah pukulan penghalau anak-anak panah itu. "Aaakh...!"

Bee Kun Bu terpekik kaget Ketika dia menoleh ke belakang, satu anak panah menghujam di bahunya, Rasa sakit dan ngilu yang hebat menyerang pada bahunya, seketika itu pula dia menyadari kalau ujung anak panah itu diolesi racun.

Bee Kun Bu berkertak gigi mencabut panah itu, lalu melesat ke arah Kun Lun Sam Cu. Saat itu Lie Ceng Loan telah berada di hadapan mereka bertiga.

Bersamaan dengan sampainya Bee Kun Bu di sisi Lie Ceng Loan, tampak sesosok bayangan berkelebat "Bee Kun Bu, namamu lelah menggetarkan empat penjuru!

Biar aku menghadapimu!" terdengar suara bentakan keras. seseorang melayang di hadapan Bee Kun Bu, Orang itu berambut merah dan mengenakan pakaian serba merah pula, Siapa orang itu? Tidak lain adalah Liat Pah To!

padahal sesungguhnya Bee Kun Bu sama sekali tidak gentar menghadapi Liat Pah To. Namun saat ini ia telah terluka, sedangkan Kun Lun Sam Cu masih terkapar di tanah dalam keadaan pingsan. sehingga membuatnya cemas sekali.

Kini Liat Pah To malah muncul di hadapannya, ketika Bee Kun Bu tidak mungkin melawannya, karena dalam keadaan terluka! Tapi biar bagaimana pun, ia harus melawannya.

Liat Pah To sudah mulai menyerang. Bee Kun Bu terpaksa menangkis dengan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Bertaburan), Karena telah terluka, Bee Kun Bu menggunakan tenaga lunak.

"Ha ha!" Liat Pah To tertawa gelak, Secepat kilat digerakkan telapak tangannya ke arah kepala Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tersentak kaget Pukulan dilancarkan-nya ke arah pinggang Liat Pah To. seharusnya lelaki berpakaian merah ini menjaga bagian pinggangnya Tapi tidak, Liat Pah To ternyata malah menyerang pula kepala Bee Kun Bu dengan telapak tangan yang penuh mengandung Lweekang, Apakah Liat Pah To memiliki ilmu kebal, sehingga membiarkan pinggangnya dipukul? Pikir Bee Kun Bu.

Karena tidak bisa menarik kembali pukulannya Bee Kun Bu terpaksa mengerahkan Lweekangnya pada pukulan tersebut

Plaaak! Pukulan Bee Kun Bu mengena pinggang Liat Pah

To.

Dengan cepat Bee Kun Bu meloncat mundur Un-tung dia

cepat meloncat mundur! Kalau tidak, kepalanya pasti telah hancur terpukul oleh telapak tangan Liat Pah To. Glaar...!

pukulan Liat Pah To jatuh di tempat kosong, hingga membuat tanah yang terkena berlubang.

Akan tetapi, ada yang mengherankan Walau telah terkena pukulan, Liat Pah To sama sekali tidak roboh.

Bukan main terkejutnya Bee Kun Bu. ia segera berbisik pada Lie Ceng Loan.

"Adik Loan, kita harus cepat mundur ke dalam lingkaran api!"

Lie Ceng Loan yang sedang berduka sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan Bee Kun Bu, Gadis itu terus menangis di hadapan Kun Lun Sam Cu yang pingsan itu.

sementara Liat Pah To mulai memburu Bee Kun Bu. Dapat dibayangkan betapa cemasnya pemuda itu. Namun dalam keadaan gawat begitu, mendadak timbul suatu ide dalam hatinya, yakni harus menangkap Swat Lo Kongcu.

kebetulan saat itu Swat Lo Kongcu sedang memberi perintah pada orang-orang Miauw mengurung mereka berlima. Tapi saat yang bersamaan pula Liat Pah To telah menyerangnya.

Bee Kun Bu segera berkelit sambil melesat ke depan, Tampaknya tak mungkin Liat Pah To membiarkannya kabur? ia terus mengejarnya. Akan tetapi, Bee Kun Bu cepat-cepat mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Tahu-tahu pemuda itu telah lenyap dari pandangan Liat Pah To. Dan ternyata dirinya telah berada di belakang orang itu.

Hal itu merupakan suatu kesempatan guna menyerang Liat Pah To, namun Bee Kun Bu tidak me-lakukannya, Sebab dipikirnya pereuma, Dia tahu Swat Lo Kongcu yang punya kuasa memerintah pada orang-orang Miuaw itu.

Karena itu, Bee Kun Bu cepat melesat ke arah Swat Lo Kongcu. sementara wanita itu sedang sibuk mengatur orang- orang Miauw, sehingga tidak tahu Bee Kun Bu melesat ke arahnya.

"Swat Lo Kongcu! Aku berada di belakangmu, pereuma engkau mengatur orang-orangmu mengurungku!" bentak Bee Kun Bu yang berdiri di belakang wanita itu.

Betapa terkejutnya Swat Lo Kongcu, ia kelihatan seperti tidak pereaya akan pendengarannya, Segeralah dibalikkan badannya, Ternyata benar, Bee Kun Bu berdiri di situ.

Bee Kun Bu pun dengan cepat bergerakmenotokkan "Hwa Kai Hiat" pada bagian dada Swat Lo Kongcu.

Akan tetapi, Swat Lo Kongcu masih mampu berkelip sebab wanita itu berkepandaian cukup tinggi.

Bee Kun Bu mengerahkan ilmu "Ngo Heng Mie Cong Pu", Dalarn waktu sekejap ia sudah berada di belakang Swat Lo Kongcu, secepat itu pula dia menjulurkan tangan menekan kepala lawan.

Swat Lo Kongcu ingin menjerit, tapi mendadak matanya dirasakan berkunang-kunang. Mulutnya kaku dan kelu, tak mampu menjerit.

"Ha ha!" Bee Kun Bu sambil tertawa mencengkeram urat nadi Swat Lo Kongcu, "Kini engkau terjatuh di tanganku lagi."

"Biar bagaimana pun, engkau tidak bisa meninggalkan tempat ini," dengus Swat Lo Kongcu sengit dengan wajah kehijau-hijauan karena begitu gusarnya.

"Racun apa yang kau gunakan, Katakan!" bentak Bee Kun Bu. Swat Lo Kongcu tak menjawab.

Bee Kun Bu mengerahkan sedikit tenaga mencengkeram urat nadi Swat Lo Kongcu, seketika wanita itu merasa sekujur badannya didera rasa sakit yang hebat

"Itu..., itu hanya racun biasa! Aku akan berikan kalian obat penawarnya.,." ujar Swat Lo Kongcu terbata-bata. "Engkau benar akan memberikan?"

Tapi,.,," Swat Lo Kongcu menatapnya, "Bahumu telah terkena racun, itu sungguh merepotkan!"

"Kenapa merepotkan?"

"Sebab harus aku yang turun tangan mengobatimu," ujar Swat Lo Kongcu memberitahukan "Lepaskan dulu diriku!"

"Engkau ingin macam-macam lagi?"

"Aku sudah berada di tanganmu, bagaimana mungkin aku macam-macam?" sahut Swat Lo Kongcu.

"Jangan kau pikirkan obat penawar!" ujar Bee Kun Bu, "Sekarang engkau harus perintahkan para anak buahmu mundur!"

"Apa,.,?" Wajah Swat Lo Kongcu berubah gusar Namun akhirnya ia berseru beberapa kali.

Orang-orang Miauw tampak bergerak mundur Dan saat yang bersamaan muncul Liat Pah To.

"Cepat mundur!" bentak Bee Kun Bu.

Liat Pah To tidak menghiraukannya, Bee Kun Bu terpaksa memperkeras cengkeramannya di urat nadi Swat Lo Kongcu, hingga wanita itu berteriak-teriak.

"Engkau mundur dulu! Dia... dia tidak berani membunuh aku, sebab masih membutuhkan tenagaku untuk mengobati bahunya yang terluka itu."

Liat Pah To langsung terdiam di tempat Bee Kun Bu memandang ke arah kobaran api, yang tampak sudah mulai padam. Namun terlihat Lie Ceng Loan justru tertangkap oleh dua orang Miauw.

"Cepat suruh mereka melepaskan Lie Ceng Loan!" bentak Bee Kun Bu. Swat Lo Kongcu tidak berani membantah, ia segera berseru pada ke dua orang Miauw, Begitu mendengar seruan Swat Lo Kongcu, kedua orang Miauwcepat-cepat melepaskan Lie Ceng Loan.

Gadis itu segera berlari ke arah Bee Kun Bu dengan air mata berderai.

"Kakak Bu, Guru dan Paman guru entah terkena racun apa, sekujur badan mereka mulai berubah hitam," ujarnya dengan wajah cemas.

"Jangan cemas!" sahut Bee Kun Bu. "Suruh saja Swat Lo Kongcu ambil obat penawarnya!"

Sebelum disuruh, Swat Lo Kongcu sudah berseru pada salah seorang Miauw, Segera orang itu mengeluarkan sebuah botol kecil sambil mendekati Kun Lun Sam Cu.

"Kalau engkau berani macam-macam, nyawamu akan melayang!" ancam Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

"Engkau boleh berlega hati," ujar Swat Lo Kongcu sambil tertawa dingin. "Nyawaku lebih berharga dari pada nyawa ke tiga orang itu."

Menyadari kalau ucapan Swat Lo Kongcu dirasa sebagai penghinaan, Bee Kun Bu ingin melampiaskan kegusarannya, Namun dibatalkannya, Matanya yang diliputi kobaran kemarahan hanya menatap tajam wajah wanita itu.

sementara Swat Lo Kongcu balas menatapnya sambil tersenyum manis, seketika hati Bee Kun Bu terasa berdebar. Tapi ia adalah lelaki sejati, tidak gampang terpikat oleh senyuman wanita berwajah cantik itu.

Setelah tersenyum manis, Swat Lo Kongcu menundukkan kepalanya, Bee Kun Bu mengerutkan kening, ia tidak tahu wanita itu punya rencana busuk apa lagi, Yang penting dia tidak akan melepaskannya!

Kemudian Bee Kun Bu menoleh pada Kun Lun Sam Cu, Di lihat nya orang Miauw itu mengeluarkan beberapa butir obat dari dalam botol kecil, lalu dimasukkan ke mulut Kun Lu Sam Cu.

Tak lama kemudian Kun Lun Sam Cu sudah bisa bergerak, pertanda mereka telah sadar Segeralah Lie Ceng Loan berlari ke arah mereka.

Kun Lun Sam Cu saling memandang, mereka bertiga sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.

"Guru, Paman guru"" Air mata gadis itu berderai lagi, "Bagaimana keadaan kalian?"

Kun Lun Sam Cu cuma menghela nafas, Diam-diam mereka bertiga telah mengambil keputusan, apabila bisa meninggalkan tempat tersebut, mereka bertiga akan mengundurkan diri dari rimba persilatan!

"Adik Loan, jangan berpencar dengan Guru dan Paman guru!" pesan Bee Kun Bu.

"Benar." Swat Lo Kongcu menyela sambil tertawa, "Kun Bu harus ikut aku!"

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan tak mengerti

"Aku harus mengobati lukanya itu," sahut Swat Lo Kongcu sambil tertawa cekikikan

"Apa?" Lie Ceng Loan terbelalak "Kakak Bu, engkau akan ikut dia?"

"Ya. Harus!" sambar Swat Lo Kongcu, "Kalau tidak, dia tidak bisa hidup sampai esok,"

"Kun Bu!" Hian Ceng Totiang pun jadi terkejut "Engkau terkena racun apa?"

"Aku terluka oleh panah beracun," jawab Bee Kun Bu sambil tersenyum getir

"Panah racun yang bagaimana?" tanya Hian Ceng Totiang cemas. "Entahlah." Bee Kun Bu menggeleng kepala, Tapi dia bilang harus dia yang turun tangan mengobatiku."

"Kakak Bu jangan pereaya omongannya!" ujar Ceng Loan memperingatkan "Dia,., dia pasti ingin memperdayamu."

"ltu bagi nyawanya, terserah pereaya atau tidak," sahut Swat Lo Kongcu sambil tertawa dingin

"Kakak Bu...!" Lie Ceng Loan mengerutkan kening.

"Kun Bu!" panggil Hian Ceng Totiang, "Pikirkan baik-baik tentang itu, jangan sampai tertipu!H

Bee Kun Bu mengangguk, lalu menatap Swat Lo Kongcu. "Membutuhkan waktu berapa lama mengobati lukaku itu?"

tanyanya.

"Cukup dua tiga jam saja," jawab Swat Lo Kongcu sambil tertawa.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan kian khawatir "Engkau tidak boleh pergi seorang diri bersama dia, lebih baik aku ikut!"

"Kalau ada orang lain ikut, lebih baik aku tidak mengobatimu!" ujar Swat Lo Kongcu pada Bee Kun Bu, dan kelihatan bersungguh-sungguh.

Bee Kun Bu tereengang mendengar itu, Kenapa Swat Lo Kongcu melarang Lie Ceng Loan ikut? Apakah dia punya suatu rencana busuk terhadap dirinya? Bee Kun Bu tak habis berpikir

"Adik Loan!" Bee Kun Bu memberi isyarat padanya, "Engkau tidak usah ikut!"

Tidak bisa!" Lie Ceng Loan menggeleng kepala, "Kalau tidak ikut, aku tidak bisa berlega hati," ujarnya dengan mata menatap wajah Bee Kun Bu.

"Adik Loan, ini cuma membutuhkan waktu dua tiga jam saja. jangan terlalu khawatir!" "Kakak Bu. " Air mata gadis itu mulai mele!eh. "Walau

cuma sekejap, aku tetap tidak bisa berlega hati."

"Kalau begitu. " ujar Swat Lo Kongcu setelah berpikir

sejenak, "Engkau boleh ikut, tapi hanya menunggu di luar ruangan Bagaimana?"

"Engkau melarang aku mendampinginya, Rupanya punya suatu rencana busuk terhadapnya?" tukas Lie Ceng Loan mendadak Hati gadis jelita ini tak sabaran

"Kalau pun aku punya rencana busuk, kalian tidak bisa apa-apa!" sahut Swat Lo Kongcu dingin

"Kenapa?" Lie Ceng Loan mengerutkan kening. "Sebab di kolong langit ini, hanya aku seorang yang

mampu memunahkan racun itu. Apabila kalian tidak menuruti perkataanku nyawanya sulit dipertahankan lagi,"

Lie Ceng Loan mulai terisak-isak "Kalau begitu. baiklah!"

"Ceng Loan!" seru Kun Lun Sam Cu serentak "Kami juga ikut."

"Baik." Lie Ceng Loan mengangguk.

"Sekarang harus ke mana?" tanya Bee Kun Bu pada Swat Lo Kongcu.

Terus menuruni bukit ini saja," jawab Swat Lo Kongcu, "Aku akan menunjuk jalan!"

"Kalau begitu, cepatlah engkau suruh orang-orang-mu mundur!" bentak Bee Kun Bu sengit

Swat Lo Kongcu berseru-seru beberapa kalL Namun apa yang diserukan tak dipahami oleh ke lima orang musuhnya itu, Yang jelas orang-orang Miauw yang mengurung mulai bubar, Bahkan tak lama kemudian mereka semua sudah tidak terlihat di tempat itu. "Swat Lo Kongcu!" Bee Kun Bu mengingatkannya, "Jangan coba macam-macam. Kalau aku mengerahkan tenaga, nyawamu akan melayang!"

Swat Lo Kongcu diam saja, Kelihatannya acuh tak acuh. "Ayoh, jalan!" bentak Bee Kun Bu.

Swat Lo Kongcu mengayunkan kakinya, sementara tangan Bee Kun Bu yang kiri tetap mencengkeram nadi-nya.

Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu mengikuti dari belakang. Beberapa saat kemudian, mereka berenam sudah tiba di kaki bukit

"Harus menuju ke mana?" tanya Bee Kun Bu. "Ke arah timur," jawab Swat Lo Kongcu dingin. "Tempat apa di sebelah timur itu?"

Tentunya tempat untuk mengobatimu," sahut Swat Lo Kongcu dan menambahkan "Kenapa banyak bertanya?"

Bee Kun Bu hanya bergumam tak jelas, sementara Swat Lo Kongcu telah berjalan ke arah timur, Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu terus mengikuti dari belakang Dalam hati, mereka yakin Swat Lo Kongcu pasti punya suatu rencana busuk.

Akan tetapi, luka di bahu Bee Kun Bu yang terkena panah beracun harus Swat Lo Kongcu yang mengobati-nya. Mau tidak mau mereka menuruti wanita itu.

Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu saling memandangi seakan saling memberitahu harus berhdti-hati.

Gadis itu terus mengikuti Bee Kun Bu. Kalau tertinggal beberapa langkah, Swat Lo Kongcu sudah berteriak menyuruhnya cepat ini terasa mengherankan sehingga membuat Kun Lun Sam Cu saling memandang dengan kening berkerut Setelah menempuh kira-kira tujuh mil, terlihatlah sebuah rimba bambu yang sangat indah, Di dalam rimba bambu itu, terdapat tiga bangunan rumah dibuat dari bambu.

"Apakah di tempat ini?" tanya Bee Kun Bu.

"Benar!" Swat Lo Kongcu mengangguk "Mereka berempat lebih baik menunggu di luar rimba bambu ini."

Tidak!" Lie Ceng Loan menggeleng kepala, "Tadi engkau bilang, kami boleh menunggu di luar ruangan, bukan di luar rimba bambu ini!"

"Kalau begitu, terserah engkau," sahut Swat Lo Kongcu sambil tersenyum sinis.

Lie Ceng Loan mengikuti Bee Kun Bu. Begitu pula Kun Lun Sam Cu, mengikuti gadis itu dari belakang, Tak seberapa lama, mereka sudah sampai di depan salah sebuah rumah bambu.

Kreck!

pintu rumah bambu itu terbuka, seseorang berjalan ke luar Bee Kun Bu tertegun Sebab, orang itu wanita berbadan

sangat pendek dengan tangan memegang sebatang toya.

Rambut wanita itu sudah putih semua, keningnya tampak banyak kerutan. Sulit menaksir usianya, Tampak sepasang matanya menyorot tajam, pertanda wanita itu memiliki Lweekang tinggi.

" Ada satu hal yang mengherankan, yakni tangannya terdapat sepasang laba-laba berwarna merah dan berbulu keemasan Sungguh menyeramkan sepasang binatang berkaki delapan itu.

Begitu melihat Swat Lo Kongcu, wanita itu langsung memberi hormat.

"Ada urusan apa Kongcu datang?" tanya wanita pendek

itu. "Apakah engkau tidak bisa melihat?" Swat Lo Kongcu balik bertanya.

"Oooh!" Wanita itu tertawa licik sambil manggut-manggut "Aku tahu."

Apa yang dibicarakan Swat Lo Kongcu dengan wanita itu, Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Kun Lun Sam Cu memang mengerti Akan tetapi, mereka berlima justru tidak paham akan arti dari pembicaraan itu.

"Engkau bilang di saat mengobati bahuku, tidak boleh ada orang lain, Kenapa di tempat ini justru ada orang ke tiga?" tanya Bee Kun Bu.

"Tenang saja!" ujar Swat Lo Kongcu..

Tenang?" Bee Kun Bu melotot "Bukankah tadi engkau bilang, racun itu akan bereaksi dalam waktu dua jam? sekarang engkau malah menyuruhku tenang."

"Karena itu,,.," Swat Lo Kongcu tertawa dingin, "Engkau harus menuruti semua pengaturanku."

Bee Kun Bu hanya bisa mendengus kesal

"Engkau mundur sampai di luar rimba bambu!" perintah Swat Lo Kongcu kepada wanita itu, Tapi aku pinjam sepasang laba-labamu!"

"Baik!" Wanita itu mengangguk

Yang mengherankan, setelah wanita itu menyahut, sepasang laba-laba di lengannya langsung meloncat ke lengan Swat Lo Kongcu, Terkejutlah Bee Kun Bu dengan mata terbelalak

"Untuk apa laba-laba itu?" tanya Bee Kun Bu keheranan dan tak mengerti

"lni urusanku Engkau tidak perlu banyak bertanya!" sahut Swat Lo Kongcu ketus. Bee Kun Bu terdiam dengan mata terpaku pada ke dua laba-laba di tangan Swat Lo Kongcu.

"Kita harus ke dalam rumah!"

Bee Kun Bu segera memberi isyarat pada Lie Ceng Loan, agar gadis itu menunggu di luar, Setelah itu, ia mengikuti Swat Lo Kongcu ke dalam rumah tersebut

Dari luar rumah bambu itu tampak biasa, Namun setelah masuk tampaklah ruangan yang sungguh luar biasa, Rumah bambu itu tidak berjendela, sehingga tampak agak gelap.

"Apakah harus dalam keadaan gelap begini mengobati lukaku itu?" tanya Bee Kun Bu yang mulai merasa curiga.

"Benar." Swat Lo Kongcu mengangguk "Nah, sekarang engkau boleh melepaskan aku, agar aku bisa bersiap-siap."

"Melepaskanmu?" Bee Kun Bu tertawa dingin, "Jangan bermimpi!"

"Kalau engkau tidak melepaskanku, bagaimana mungkin aku bisa mengobati lukamu itu?" ujar Swat Lo Kongcu sambil mengerutkan kening.

"Kalau begitu, bukankah engkau tidak bisa mengobati lukaku yang terkena panah beracun itu?" tanya Bee Kun Bu dingin

"Hm!" dengus Swat Lo Kongcu, "Jangan kira dapat mengendalikan diriku, lantaran engkau mencengkeram nadiku! padahal sesungguhnya, aku yang telah mengendalikan dirimu dengan racun itu."

Bee Kun Bu tertawa dingin, "Kalau begitu halnya, lebih baik kita ke luar untuk dibicarakan."

"Jangan cepat marah!" Swat Lo Kongcu tampak gugup, "Kita berunding baik-baik saja! Sudah sampai di sini, kenapa harus ke luar lagi?" Bee Kun Bu menggumam

"Engkau sudah begitu terkenal, kalau mati di daerah Miauw ini, sungguh sayang sekali!" ujar Swat Lo Kongcu sambil tertawa.

"Tidak perlu omong kosong!" bentak Bee Kun Bu. "Kalau bersedia mengobati lukaku, nyawamu masih bisa dipertahankan Tapi kalau tidak bersedia, aku pun punya cara meninggalkan Tok Sui Tong! Pertimbangkanlah baik-baik!"

"Baik!" Swat Lo Kongcu manggut-manggut, "Kalau begitu, cepatlah engkau ambilkan kayu api!"

"Ya!" Sebelum pergi, Bee Kun Bu tampak tersenyum getir sambil memandang Swat Lo Kongcu.

"Kenapa tidak segera pergi?" tanya Swat Lo Kongcu dingin.

"Engkau tahu sebelah tanganku mencengkeram nadimu sedangkan tangan yang sebelah lagi tidak bisa bergerak!"

"Hi hi!" Swat Lo Kongcu tertawa, tawanya itu kedengaran gembira sekali

"Nyawamu masih berada di tanganku, kenapa tertawa?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

Tanganmu yang kanan tidak bisa bergerak, itu pertanda racun sudah mulai bekerja, jika tidak segera diobati nyawamu sulit dipertahankan lagi!" ujar Swat Lo Kongcu memberitahukan sambil tertawa gembira.

Bee Kun Bu menarik nafas, tangannya yang kanan memang tidak bisa digerakkan Tentu Swat Lo Kongcu tidak main-main Akan tetapi, bagaimana mungkin ia melepaskan Swat Lo Kongcu? Bee Kun Bu terus berpikir, sehingga suasana seketika berubah hening.

"Kalau engkau belum mulai mengobatiku, aku pasti ke luar!" ujar Bee Kun Bu sambil mengerahkan tenaganya.

Maksudnya membuat menderita Swat Lo Kongcu. Namun sebaliknya, Swat Lo Kongcu malah tertawa.

"Jangan mengerahkan tenaga dalam, akan mempereepat jalan kematianmu!"

"Omong kosong!" bentak Bee Kun Bu, geram

"Engkau harus tahu, sepasang laba-laba di lenganku ini mengandung racuni Apabila engkau tergigit, nyawamu melayang!"

"Kalau aku mengerahkan tenaga, nyawamupun pasti melayang!" sahut Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

"Aku cuma wanita tak terkenal, sedangkan namamu telah menggemparkan empat penjuru. Kalau sampai mati bersama ku, sungguh disayangkan!"

Apa yang diucapkan Swat Lo Kongcu, memang tepat mengenai sasaran itu bukan disebabkan Bee Kun Bu memikirkan namanya, melainkan karena merasa tidak pantas harus mati bersama wanita jahat itu. Oleh karena itu, ia pun bertanya dengan suara dalam.

"Dalam keadaan begini, kalau aku melepaskanmu apakah engkau bersedia mengobati lukaku itu?"

"Pereaya atau tidak, terserah!" sahut Swat Lo Kong-cu. "Jadi engkau tidak perlu bertanya padaku!"

Bee Kun Bu terus berpikir ia tahu Swat Lo Kongcu wanita licik, maka tidak dapat dipereaya. Apabila ia melepaskannya, sama juga mencari mati sendiri

Namun kalau tidak melepaskannya, wanita ini tentu tak mau mengobati lukanya.

Sungguh membuat Bee Kun Bu serba salah dan tidak tahu harus mengambil keputusan apa.

"Urusan sekecil itu engkau tidak bisa memutuskannya ?H tukas Swat Lo Kongcu sambil tersenyum sinis, "ltu berarti engkau seorang pendekar yang tak berpendirian!" Tidak perlu memanasi hatiku!" bentak Bee Kun Bu. "Engkau harus tahu, saat ini aku masih punya kesempatan untuk membunuhmu duluan! Tapi sebelumnya, aku masih menghendakimu membawa guru-guruku dan Lie Ceng Loan meninggalkan Tok Sui Tong!" Dengan begitu Bee Kun Bu merasa kematiannya akan lebih berharga.

"Yaah!" Mendadak Swat Lo Kongcu menarik nafas. "Kalau begitu, aku akan menyalakan lampu dulu!"

"Cepatlah engkau menyalakan lampu!" ujar Bee Kun Bu bergirang dalam hati, sebab ia mengira Swat Lo Kongcu bersedia mengobati lukanya itu.

Di dalam rumah itu berubah agak terang, ternyata Swat Lo Kongcu telah menyalakan lampu minyak yang bergantung di pagar Karena itu, Bee Kun Bu pun bisa melihat jelas seisi rumah tersebut

"Kok cuma terdapat dua buah kursi dan sebuah meja?

Bagaimana engkau mengobati aku?" tanya Bee Kun Bu yang merasa heran.

"Cuma mengandalkan apa yang berada di lenganku!" sahut Swat Lo Kongcu sambil menunjuk sepasang laba-laba di lengannya.

"Apa?" Bee Kun Bu terkejut "Engkau bilang apa?" "lni yang disebut racun melawan racun!" ujar Swat Lo

Kongcu menjelaskan "Aku akan menggunakan sepasang laba- laba itu untuk menghisap racun di bahumu! Tidak akan lama, racun yang di bahumu itu pasti terhisap bersih!"

Apa yang dikatakan Swat Lo Kongcu memang masuk akal, namun Bee Kun Bu sama sekali tidak pereaya. Sebab sebelumnya Swat Lo Kongcu memberi tahukan, bahwa cuma dia seorang yang mampu mengeluarkan racun itu, Kenapa kini bilang harus menggunakan sepasang laba-laba beracun itu?

"Engkau jangan omong kosong!" bentak Bee Kun Bu gusar Tadi kau bilang, cuma engkau seorang yang dapat mengobatiku! Kenapa sekarang harus menggunakan sepasang laba-laba menghisap racun yang di bahuku? Bukankah engkau omong kosong?"

Air muka Swat Lo Kongcu agak berubah, "Aku bicara sesungguhnya, sama sekali tidak omong kosong."

"Kalau begitu, di mana wanita tadi?" tanya Bee Kun Bu dengan kening berkerut Hatinya semakin merasa curiga.

"Wanita tua itu cuma mewakiliku memelihara sepasang laba-laba ini," ujar Swat Lo Kongcu memberitahukan

Bee Kun Bu kurang pereaya. Ketika dirinya dalam keadaan bimbang, mendadak Swat Lo Kongcu menjulurkan tangan menyingkap lengan baju Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu menengok ke arah bahunya, Saat itu pula dia tersentak kaget.

Ternyata luka di bahunya telah membengkak bahkan kelihatan kehitam-hitaman.

"Bagaimana?" Swat Lo Kongcu menatapnya TerIu-kah aku turun tangan mengobati bahumu ?"

"Asal tahu saja, Kalau ingin berbuat macam-macam, nyawamu melayang di tanganku!" sahut Bee Kun Bu mengancam.

Swat Lo Kongcu cuma tertawa, kemudian mendadak menggerakkan lengannya, seketika tampak sepasang Iaba- laba itu mulai merayap turun, lalu meloncat ke bahu Bee Kun Bu yang terkena panah beracun, Binatang itu diam di situ.

"Kenapa sepasang laba-laba ini diam saja?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Sebelum ada persetujuan darimu, aku pun belum menyuruh sepasang laba-laba itu menghisap racun di bahumu," sahut Swat Lo Kongcu memberitahukan "Kalau begitu? Cepat suruh mereka bekerja!" ujar Bee Kun Bu tanpa banyak berpikir lagi.