Bangau Sakti Jilid 45

 
Jilid 45

Lelaki berambut merah itu mengerutkan kening dan wajahnya tampak agak berubah, Badannya tergetar oleh pukulan itu, sehingga melambung ke atas tiga depaan tinggi nya.

Kemudian ia berteriak aneh sambil melayang turun ke hadapan Bee Kun Bu sekaligus menggerakkan sepasang lengannya, Tampak bayangan-bayangan lengannya berkelebatan mengurung Bee Kun Bu. Bee Kun Bu tersentak menyaksikan serangan itu, ia sama sekali tidak menyangka kalau lelaki berambut merah itu berkepandaian begitu tinggi

Bee Kun Bu tidak berani menangkis serangan itu, melainkan segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar Dalam waktu sekejap ia sudah berada di belakang lelaki berambut merah itu.

Ketika menyerang Bee Kun Bu, lelaki berambut merah menggunakan ilmu andalannya, yakni Giam Ong Jiauw (Cakar Raja Akhirat), yang sulit dihindari oleh siapa pun.

Akan tetapi, kini Bee Kun Bu yang diserangnya justru hilang mendadak dari hadapannya, ini merupakan kejadian yang tak pernah dialaminya, maka tidak heran kalau orang berambut merah itu tampak terperangah.

padahal sesungguhnya, Bee Kun Bu berhati bijak, tidak mau sembarangan melukai orang, Namun tadi ia telah menyaksikan kekejaman lelaki berambut merah dan Swat Lo Kongcu.

Oleh karena itu, ketika berada di belakang lelaki berambut merah, ia langsung menjulurkan tangannya menyerang Leng Tay Hiat di punggung lelaki berambut merah.

Lelaki berambut merah sudah menduga akan adanya serangan itu, maka secepat kilat meloncat ke depan satu langkah, lalu mendadak membalikkan badannya sambil balas menyerang.

Bum! Terdengar suara benturan keras.

Bee Kun Bu terdorong ke belakang tiga langkah, sedangkan lelaki berambut merah, hanya satu langkah, itu membuat Bee Kun Bu terkejut bukan main, karena kepandaian lelaki berambut merah masih di atas ke- pandaiannya, Ketika Bee Kun Bu terdorong ke belakang, Swat Lo Kongcu menatapnya dengan mata bersinar aneh, Begitu pula binatang aneh berbulu keemasan itu, ia pun menatapnya dengan sorot mata tajam. Sungguh menyeramkan tatapan Swat Lo Kongcu dan binatang aneh berbulu emas itu, Bee Kun Bu tahu, Swat Lo Kongcu dan binatang aneh berbulu emas itu sedang menjaganya agar tidak kabur

Karena itu, Bee Kun Bu segera mengeluarkan Teng Thian Sin Cin. sementara lelaki berambut merah itu tertawa gelak ketika melihat Bee Kun Bu terdorong ke belakang beberapa langkah.

ia membentak keras sambil menyerang lagi, Bee Kun Bu sudah siap sebelum nya, maka ketika lelaki berambut merah menyerangnya, ia langsung mengayunkan senjata-nya, dan seketika tampak cahaya putih berkelebatan menyilaukan mata.

Lelaki berambut merah melihat cahaya putih berkelebat ke arahnya, tetapi sama sekali tidak dapat melihat senjata apa yang digunakan Bee Kun Bu.

LagipuIa Bee Kun Bu mengeluarkan jurus It Cih Teng Thian (Satu jari Menenangkan Langit), yaitu salah satu jurus dari ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat.

Lelaki berambut merah cepat-cepat menarik kembali serangannya, tetapi, telah terlambat

Ketika ia menarik kembali tangannya, Teng Thian Sin Cin telah menusuk telapak tangannya, Betapa gusarnya lelaki berambut merah, maka ia membentak keras sambil meloncat ke belakang.

Di saat itu, Swat Lo Kongcu bertepuk tangan tiga kali, seketika para gadis pemain musik dan penari segera mundur dari tempat itu.

Setelah berhasil melukai telapak tangan lelaki berambut merah, Bee Kun Bu tidak mau lama-Iama di situ, Tapi sebelum badannya bergerak, Swat Lo Kongcu telah berseru dengan suara nyaring. "Senjata yang luar biasa! Tinggalkan senjata itu, agar nyawamu diampuni! Kalau tidak, engkau pasti mati dengan tubuh tak utuh!"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Engkau sungguh bermulut besar!"

Sambil menyahut Bee Kun Bu memandang pada nya. Tampak sepasang mata Swat Lo Kongcu menyorot anch, sehingga membuat Bee Kun Bu nyaris terkulai

Kini Bee Kun Bu semakin yakin, bahwa Swat Lo Kongcu memiliki semacam ilmu sesat yang dapat membetot sukma orang.

Bee Kun Bu segera menghimpun hawa murninya, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Hi hi!"Swat Lo Kongcu tertawa cekikikan "Sungguh besar nyalimu, bukan cuma berani menerobos masuk daerah Miauw, bahkan berani pula melukai Liat Pah To, ketua suku Miauw!"

Liat Pah To? Nama tersebut membuat Bee Kun Bu tersentak kaget, dan sekaligus memandang lelaki berambut merah.

Lelaki berambut merah juga menatapnya dengan penuh kegusaran, namun tetap berdiri diam di tempat.

"Jadi engkau adalah Liat Pah To?" tanya Bee Kun Bu. Liat Pah To menggeram, lalu mendadak menyerang Bee

Kun Bu, tapi keburu dicegah oleh Swat Lo Kongcu.

Tunggu!"

Liat Pah To langsung diam di tempat, kelihatannya ia sangat menurut pada Swat Lo Kongcu.

"Sudah tahu kesalahanmu?" tanya Swat Lo Kongcu pada Bee Kun Bu. "Kalian berdua begitu sadis," sahut Bee Kun Bu. "Aku hanya ingin menolong gadis itu, tetapi kalian malah menyerangku, Jadi siapa yang bersalah?"

"Hm!" dengus Swat Lo Kongcu dingin.

"Oh ya!" Bee Kun Bu teringat sesuatu, "Aku ingin bertanya sesuatu padamu!"

"Engkau ingin menanyakan apa?" Swat Lo Kongcu tersenyum.

"Apakah ada dua lelaki dan satu wanita berada di Tok Sui Tong?" tanya Bee Kun Bu, yang dimaksudkannya adalah Kun Lun Sam Cu.

"Ada atau tidak, kau mau apa?" sahut Swat Lo Kongcu acuh tak acuh.

"Kenapa harus banyak bicara dengannya?" sela Liat Pah To tidak senang, lalu bersiap menyerang Bee Kun Bu.

"Maukah engkau diam?" Swat Lo Kongcu melotot "Baik, itu terserah engkau saja," sahut Liat Pah To, lalu

diam.

Bee Kun Bu tahu jelas kedudukan Liat Pah To, tapi setelah menyaksikan itu, ia sudah tahu bahwa Liat Pah To dikuasai Swat Lo Kongcu, Oleh karena itu, Bee Kun Bu lebih berhati- hati menghadapi Swat Lo Kongcu.

"Kalau ada, lepaskan mereka," ujar Bee Kun Bu.

"Oh?" Swat Lo Kongcu tertawa, "Apa hubunganmu dengan mereka?"

Tiada hubungan apa-apa!" sahut Bee Kun Bu terpaksa berdusta, agar Swat Lo Kongcu tidak mengetahui hubungannya dengan Kun Lun Sam Cu.

"Wuaht" Swat Lo Kongcu tertawa lebar, "Jelas engkau berbohong!" Wajah Bee Kun Bu langsung memerah, dan ia tidak tahu harus menyahut ap&, sedangkan Swat Lo Kongcu menatapnya tajam.

"Engkau datang ke mari tentu demi tiga orang itu, bukan?"

Tidak salah!" Bee Kun Bu mengangguk "Harap engkau sudi melepaskan mereka bertiga!"

"ltu gampang!" Swat Lo Kongcu sambil tertawa licik "Asal engkau bersedia meninggalkan senjata itu di sini!"

Betapa girangnya Bee Kun Bu, sebab Swat Lo Kongcu ingin menukar Kun Lun Sam Cu dengan senjata tersebut

"Baik!" Bee Kun Bu mengangguk, lalu melempar senjata itu ke arah Swat Lo Kongcu.

padahal saat ini, Bee Kun Bu mengandal Teng Thian Sin Cin mengalahkan Liat Pah To, namun senjata itu malah diberikan pada Swat Lo Kongcu, otomatis membuat dirinya dalam bahaya.

Karena Swat Lo Kongcu menyatakan akan melepaskan Kun Lun Sam Cu, asal Bee Kun Bu bersedia menyerahkan senjata itu padanya, maka karena girangnya Bee Kun Bu tidak berpikir panjang lagi, langsung menyerahkan Teng Thian Sin Cin pada Swat Lo Kongcu.

Ketika melihat Bee Kun Bu melemparkan senjata itu, dapat dibayangkan betapa girangnya Swat Lo Kongcu, ia menjulurkan tangannya untuk menerima senjata tersebut dengan wajah berseri, kemudian mendadak bersiul panjang.

Suara siulan itu membuat Bee Kun Bu tersentak sadar ia menyesal sekali menyerahkan senjata itu pada Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu in'gin merebut kembali senjata itu, tetapi Swat Lo Kongcu telah meloncat ke belakang beberapa depa.

"Aku sudah menyerahkan senjata itu, cepatlah lepaskan ke tiga orang itu!" ujar Bee Kun Bu. "Hi hi!" Swat Lo Kongcu tertawa cekikikan "Engkau telah tertipu!"

Bee Kun Bu gusar sekali, ia langsung menerjang ke arah Swat Lo Kongcu, tetapi Liat Pah To bergerak menghadang di hadapan Bee Kun Bu.

Karena tahu Liat Pah To berkepandaian jauh lebih tinggi dari padanya, maka Bee Kun Bu tidak berani mengadu pukulan dengannya, Ketika Liat Pah To menyerang Bee Kun Bu cuma mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, dan sekaligus mengejar Swat Lo Kongcu yang telah kabur dengan membawa senjata itu.

Mendadak Bee Kun Bu merasa ada desiran angin di belakangnya, ia tahu bahwa Liat Pah To telah menyerangnya lagi, Oleh karena itu, ia segera melesat ke depan, namun Liat Pah To tetap mengejarnya, sambil melancarkan pukulan- pukulan yang amat dahsyat

Bee Kun Bu cepat-cepat menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, dan berhasil mengelak pukulan-pukulan itu, bahkan sekaligus mengejar Swat Lo Kongcu, Akan tetapi, karena Liat Pah To bergerak cepat menyerang Bee Kun Bu, maka terpaksa lah Bee Kun Bu menghindar lagi dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

Liat Pah To mengejar Bee Kun Bu sambil me-nyerang, sedangkan Bee Kun Bu menghindar sambil mengejar Swat Lo Kongcu, Tak lama mereka sudah sampai di tikungan tebing, Setelah menikung, Bee Kun Bu melihat sebidang tanah datar di depan.

ia melesat ke arah tanah datar itu, Tiba-tiba terdengar suara tambur dari empat penjuru, Begitu mendengar suara tambur itu, Liat Pah To tertegun kemudian membalik dan meninggalkan tempat itu.

Bee Kun Bu terheran-heran ketika melihat Liat Pah To tidak mengejarnya lagi, Kemudian ia berhenti, dan suara tambur itu semakin mendekat Bee Kun Bu tidak tahu pertanda apa suara tambur itu, namun ia telah mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu, agar tidak menimbulkan urusan lain Akan tetapi ia masih merasa penasaran, karena senjatanya telah jatuh ke tangan Swat Lo Kongcu, dan karena itulah ia tetap berdiri diam di tempat

sementara suara tambur itu bertambah dekat Bee Kun Bu mendongakkan kepala untuk melihat, dan seketika juga ia terkejut bukan main.

Ternyata muncul ratusan ofang Miauw berpakaian aneh lalu mengurung tempat itu, dan tampak puluhan orang di antara mereka sedang memukul tambur Wajah mereka tampak berwarna hijau dan merah, sungguh menyeramkan

Walau Bee Kun Bu berkepandaian tinggi, namun tampak gentar juga hatinya ketika dikurung oleh ratusan orang Miauw,

Lagi pula ia tidak mau membunuh sembarangan "Kalian mau apa?" tanya Bee Kun Bu berteriak

Mereka terus maju dengan tombak di tangan, dan tanpa ada seorang pun di antara mereka yang menyahut pertanyaan Bee Kun Bu.

"Kalau kalian tidak mau bersuara, aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap kalian!" bentak Bee Kun Bu.

Begitu ia membentak, suara tambur itu berhenti, dan orang-orang Miauw itu pun berhenti di hadapan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tidak tahu apa tujuan mereka me-ngurungnya, maka ia membentak lagi.

" cepatlah kalian minggir, biar aku pergi!"

Akan tetapi, orang-orang itu tetap berdiri di tempat, dan menatap Bee Kun Bu dengan mata melotot

Bee Kun Bu gugup, sebab ia telah kehilangan jejak Swat Lo Kongcu, bahkan terpisah pula dengan Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, ia ingin bergerak meninggalkan tempat itu, namun orang-orang Miauw itu ikut bergerak menghadang.

Bee Kun Bu merasa tidak tega melukai orang-orang Miauw itu, maka ia terpaksa berdiri diam di tempat Pada saat itu pun orang-orang Miauw tersebut tidak bergerak lagi.

Mereka sama-sama diam hampir setengah jam. Ke-mudian terdengar lagi suara tambur di kejauhan, yang makin lama makin mendekat, membuat wajah orang-orang Miauw yang mengurung Bee Kun Bu berubah serius.

orang-orang Miauw tersebut langsung minggir, dan ketika itu juga tampak seseorang berpakaian warna-wami berjalan masuk.

Bee Kun Bu memandang ke arah orang berpakaian warna- warni, namun orang itu telah berada di depannya, Sungguh cepat dan aneh gerakannya.

*****

Bab ke 34 - Orang Berpakaian Aneh Mohon Bantuan

Bee Kun Bu terkejut, lalu menatap orang itu dengan penuh perhatian Orang itu berusia lima puluhan wajahnya berwarna- warni pula, dan tangannya memakai kerincingan tembaga.

Setelah berada di hadapan Bee Kun Bu, orang itu menggerakkan lengannya, sehingga kerincingan itu terus berbunyi

Bee Kun Bu tertegun Swat Lo Kongcu memiliki ilmu sesat melalui matanya, Mungkinkah orang ini memiliki semacam ilmu sesat pula melalui kerincingannya? pikir Bee Kun Bu dan cepat-cepat menghimpun hawa murninya

Mendadak orang itu berloncat-loncatan mengelilingi Bee Kun Bu sambil mengangkat tangannya, dan kerin-cingannya terus berbunyi Tentunya membuat Bee Kun Bu terheran- heran, namun ia tetap diam saja Hampir setengah jam orang itu berloncat-loncatan mengelilingi Bee Kun Bu, dan kerincingannya pun terus berbunyi, tetapi tidak tampak ada keanehan apa pun.

itu membuat Bee Kun Bu semakin tereengang Ke-mudian menengok ke sekelilingnya. Sungguh mengherankan wajah orang-orang Miauw yang mengurung Bee Kun Bu tadi, tampak begitu gembira.

Berselang beberapa saat kemudian, orang itu berhenti berloncat-loncatan, lalu mendadak menjatuhkan diri berlutut di hadapan Bee Kun Bu. Begitu pula ratusan orang Miauw itu.

Kejadian yang tak terduga itu membuat Bee Kun Bu terbelalak dengan mulut ternganga lebar

"Kalian mau apa?" tanya Bee Kun Bu menggunakan Lweekangnya, maka suaranya terdengar jelas dan lantang

Orang berpakaian warna-warni itu bangkit berdiri, kemudian berteriak dengan bahasa Miauw, namun ratusan orang Miauw yang berlutut itu sama sekali tidak

berani bergerak

"Kami mohon Tuan mengerjakan sesuatu!" sahut orang berpakaian aneh dengan bahasa Han.

"Asal aku bisa mengerjakannya, aku pasti membantu kalian," ujar Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

Orang berpakaian aneh membalikkan badannya, lalu berkata pada ratusan orang Miauw itu dengan bahasa mereka.

seketika terdengarlah suara tepuk sorak yang riuh gemuruh, dan karena itulah Bee Kun Bu lalu berkata.

"Kalian menghendaki aku mengerjakan apa, harap beritahukan padaku!"

Tidak leluasa kita bicara di sini, lebih baik Tuan ikut kami," sahut orang berpakaian aneh. "lkut kalian ke mana?" tanya Bee Kun Bu dengan kening berkerut

Sikap Bee Kun Bu yang kurang senang itu membuat semua orang Miauw jadi cemas, bahkan suasana pun berubah hening sekali

Karena itu, Bee Kun Bu yakin bahwa pasti ada sesuatu yang sangat penting, namun entah dapat dikenakannya atau tidak. ia ingin menolak tapi merasa tidak tega.

Tidak begitu jauh," Orang berpakaian aneh menunjuk ke depan, "Di depan itu."

Bee Kun Bu berpikir, lama sekali barulah manggut- manggut

"Baiklah, aku ikut kalian ke sana!"

"Bagus! Bagus!" Orang berpakaian aneh tertawa gembira, kemudian mengibaskan tangannya ke arah orang-orang Miauw, seketika juga orang Miauw itu bangkit berdiri sambil bertepuk sorak.

Orang berpakaian aneh berjalan duIuan, dan Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang, sedangkan ratusan orang Miauw mengiringi mereka berdua sambil berteriak-teriak dan memukul tambur

Kini Bee Kun Bu pereaya, bahwa orang berpakaian aneh itu adalah pemimpin ratusan orang Miauw tersebut

"Sebetulnya engkau Tongcu mana?" tanya Bee Kun Bu. "Aku bukan Tongcu," sahut orang berpakaian aneh dengan

air muka berubah

Bee Kun Bu tertegun ia memang tidak tahu jelas tentang suku Miauw itu. Kalau orang berpakaian aneh bukan Tongcu, bagaimana mungkin bisa memimpin begitu banyak orang?

Ketika Bee Kun Bu sedang berpikir, orang berpakaian aneh menunjuk ke depan seraya ber-kata.

"Sudah sampai," Bee Kun Bu memandang ke depan, Tampak olehnya sebuah lembah yang agak gelap, Orang berpakaian aneh berjalan melalui lembah itu, dan Bee Kun Bu tetap mengikutinya dari belakang.

Ke luar dari lembah itu, terbentanglah dataran yang luas, dan di sana tampak rumah-rumah orang Miauw, Begitu tiba di tempat itu, orang-orang Miauw tersebut berhenti berteriak dan memukul tambur, lalu bubar

Kemudian orang berpakaian aneh mengajak Bee Kun Bu ke salah satu rumah yang ada di situ, Setelah duduk, barulah orang berpakaian aneh itu berkata.

"Kami suku Miauw, kalau tidak memperoleh bantuanmu mungkin akan habis."

"Eh?" Bee Kun Bu terperangah, "SebetuInya siapa engkau, kenapa begitu memastikan aku mampu menolong suku Miauw?"

"Aaaakh,,.!" Orang berpakaian aneh menarik nafas panjang. "SebetuInya aku adalah Tay Cih Su (Dukun) dari Cit Tong Tongcu di daerah Miauw ini,"

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak, namun ia tahu bahwa orang- orang Miauw memang mempereayai tahyul, maka kedudukan Tay Cin Su sangat tinggi, Akan tetapi kenapa ia tinggal di rumah gubuk ini? itu membuat Bee Kun Bu tidak habis berpikir.

"Akan tetapi..." lanjut Tay Cih Su, "Kini Tok Sui Tongcu dan Liat Pah To bergabung untuk menundukkan Tongcu-tongcu lain, Kemudian mereka pun sembarangan membunuh, sehingga sekarang cuma tersisa enam ratus orang yang ikut aku tinggal di sini, Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu takut akan kekuatan setan iblisku, maka mereka berdua tidak berani datang ke mari mencelakaiku

Begitu mendengar apa yang dikatakan Tay Cih Su, hampir saja Bee Kun Bu tertawa geli, Tapi memang ada benarnya juga apa yang dikatakan Tay Cih Su itu, sebab tadi ketika Liat Pah To mengejar Bee Kun Bu, begitu mendengar suara tambur, langsung pergi begitu saja, itu membuktikan bahwa Liat Pah To takut terhadap dukun tersebut

Padahal sesungguhnya, Tay Cih Su itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat, namun ia seorang Dukun Sakti df. daerah Miauw, sedangkan Liat Pah To juga orang Miauw, maka pereaya bahwa Tay Cih Su itu memiliki ilmu-ilmu gaib yang amat sakti, karena itu, ia pun merasa takut pada Tay Cih Su itu.

"Akan tetapi.,." lanjut Tay Cih Su sambil menarik nafas panjang, "Kami pun tidak bisa melenyapkan dia dan Swat Lo Kongcu itu, sebab kepandaian mereka berdua sangat tinggi, Bahkan kami telah mengorbankan lebih dari dua ratus orang."

"Aku. ," Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam.

"Dengarkan dulu!" potong Tay Cih Su cepat, sebetulnya Bee Kun Bu ingin memberitahukan bahwa dirinya juga tidak mampu menandingi Liat Pah To, namun sebelum dicetuskannya telah dipotong oleh Tay Cih Su. "Kepandaian Liat Pah To memang tinggi sekali, dan tiada seorang pun yang dapat mendekati nya."

SIAM HOK S!N CIM Jttld 5 89

"Terus terang," Bee Kun Bu tersenyum getir, "Aku juga tidak mampu melawan Liat Pah To."

"Kalau engkau bersedia menolong laksaan nyawa orang Miauw, janganlah menolak dengan suatu alasan!" ujar Tay Cih Su sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Lagipula tadi engkau telah mengabuIkannya."

"Aku. " Wajah Bee Kun Bu agak kemerah-merahan.

"Aku,., aku berkata sesungguhnya, itu bukan suatu alasan."

"Tapi ada orang melihat tanganmu dapat mengeluarkan kilat melukai telapak tangan Liat Pah To hingga berdarah, itu pasti benar kan?" Tay Cih Su menatapnya. "Apa?" Bee Kun Bu terbelalak Tanganku bisa mengeluarkan kilat?"

"Benar." Tay Cih Su manggut-manggut, "Lagipula aku tadi telah mengerahkan ilmu gaib menyerangmu bahkan juga telah kesurupan jin sehingga bedoncat-loncatan di hadapanmu, tapi.,, engkau tidak terpengaruh sama sekali, itu pertanda engkau memang dewa dari kahyangan."

penjelasan Tay Cih" Su membuat Bee Kun Bu ternganga mu!utnya, Yang dimaksudkan kilat itu tentunya adalah Teng Thian Sin Cin, yang telah menusuk telapak tangan Liat Pah To. Kebetulan ada orang Miauw me-nyaksikannya, sehingga mengira tangan Bee Kun Bu bisa mengeluarkan kilat

Oleh karena itu, Tay Cih Su bersama beberapa ratus orang Miauw mengundang Bee Kun Bu ke tempat ini.

Kalau belum kehilangan Teng Thian Sin Cin, Bee Kun Bu pasti akan membasmi Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu, Namun kini, senjata itu telah hi!ang, tentunya ia tidak mampu melawan Liat Pah To lagi.

Tay Cih Su! Maukah engkau mendengar beberapa patah kataku ?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya.

"Tentu! Tentu!" Tay Cih Su manggut-manggut

"Apa yang engkau katakan tadi tidaklah begitu benar Yang benar, aku memang memiliki sebuah benda pu-saka." ujar Bee Kun Bu memberitahukan "Benda pusaka itu berhasil melukai telapak tangan Liat Pah To. Namun sekarang... benda pusaka itu tidak berada di tanganku lagi."

Tay Cih Su kelihatan tidak begitu pereaya, maka Bee Kun Bu cepat-cepat menjelaskan

"Benda pusaka itu adalah Teng Thian Sin Cin. Aku terpedaya oleh Swat Lo Kongcu, dan kini dia telah membawanya kabur"

"Be... benarkah itu?" tanya Tay Cih Su dengan air muka berubah. "Benar!" Bee Kun Bu mengangguk "Lantaran perbuatan Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu sangat sadis, maka aku bertarung dengan mereka. Kalau Teng Thian Sin Cin masih berada di tanganku, kalian tidak perlu bermohon, aku pasti membasmi mereka berdua."

"Aaakh...r Tay Cih Su menarik nafas panjang, "Ben-cana di daerah Miauw, kapan akan berhenti?"

Bee Kun Bu diam ia pun turut berduka dalam hal tersebut Berselang sesaat ia berkata sungguh-sungguh.

Tay Cih Su tidak usah putus asa!"

"Apa kah engkau punya cara lain untuk membunuh Liat Pah To?" tanya Tay Cih Su penuh harap.

Terus terang, aku datang di daerah Miauw tidak seorang diri," jawab Bee Kun Bu memberi tahu kan. "Ma-sih ada dua temanku, yang kepandaiannya jauh di atasku, dan kalau kami bertiga bergabung. "

Mendengar tentang itu, wajah Tay Cih Su tampak berseri dan segera bertanya dengan nada gembira.

"Di mana ke dua temanmu itu?"

"Aku kehilangan jejak mereka, maka bertemu Liat Pah To." "ltu tidak apa-apa," ujar Tay Cih Su. "Aku akan mengutus

beberapa orang untuk mencari mereka."

"Ng!" Bee Kun Bu manggut-manggut "Mereka berdua sepasang lelaki dan wanita, usia mereka masih muda dan wanita itu sangat cantik, Tidak sulit mengenali merekah

Tay Cih Su mengangguk, lalu berjalan ke tuar.

Bee Kun Bu duduk seorang diri di situ, tetapi tak seberapa lama kemudian Tay Cih Su sudah kembali lagi.

"Aku sudah mengutus tiga puluh orang untuk pergi mencari mereka," Tay Cih Su memberitahukan "Asal mereka berdua masih berada di daerah Miauw ini, tentunya tidak sulit menemukan mereka."

"Asal bisa menemukan mereka, kita mempunyai harapan untuk membasmi Liat Pah To dan Swat Lo Kong-cu," ujar Bee Kun Bu dan menambahkan "Terus terang, tiga orang familiku terkurung di Tok Sui Tong, maka aku harus menolong mereka."

"Kalau begitu, beristirahatlah engkau di sini!" ujar Tay Cih Su mengusulkan

"Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu. ia memang harus menunggu Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, sebab kalau bergerak seorang diri, itu sungguh membahayakan

Setelah Tay Cih Su meninggalkan gubuk itu, Bee Kun Bu memandang ke luar, ternyata hari sudah mulai gelap, Tampak obor-obor menyala di sekitar tempat tersebut, dan orang- orang Miauw pun berkumpul di situ.

Bee Kun Bu bangkit berdiri, dan menutup pintu lalu berjalan ke dalam untuk beristirahat Mungkin ia terlalu lelah, karena tidak pernan berisiiranat dalam beberapa hari ini, maka begitu menyentuh tempat tidur, tidurnya pun langsung pu!as.

Sinar mentari menerobos ke dalam gubuk itu, membuat Bee Kun Bu terjaga dari tidurnya. Ternyata hari " sudah siang, Bee Kun Bu merasa segar karena tidurnya sangat nyenyak, tapi mendadak ia merasa aneh pada badannya.

ia segera memandang badannya, Betapa terkejut dan gusarnya, ternyata sekujur badannya tidak bisa bergerak sama sekali, karena telah diikat kencang dengan semacam tali.

Bee Kun Bu cepat-cepat menghimpun hawa mur-ninya, namun begitu menghimpun hawa murninya, sekujur badannya malah terasa sakit sekali.

Kini ia baru sadar, bahwa dirinya telah kehilangan kepandaiannya, tentunya ada orang meracuninya semalam. Tay Cih Su! Tay Cih Su!" teriak Bee Kun Bu.

pintu terbuka, dan dua orang berjalan masuk mendekati tempat tidur, Begitu melihat dua orang itu, terkejut lah Bee Kun Bu, sebab seorang di antara mereka ternyata Co Hiong yang berhati jahat, kejam dan licik itu, sedangkan yang seorang lagi justru Tay Cih Su.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Apa kabar, saudara Bee?"

"Apakah ini rencanamu?" tanya Bee Kun Bu.

"Mana berani aku berbuat begitu!" sahut Co Hiong sambil tersenyum "lni adalah rencana Tay Cih Su!"

Tay Cih Su!" bentak Bee Kun Bu. "Kuktra engkau orang baik, tidak tahunya justru malah penjahat!"

"jangan mempersalahkan aku!" sahut Tay Cih Su dengan air muka agak berubah, "Bukankah engkau yang bilang, ingin menemukan ke dua temanmu?"

"Benar! Di mana mereka berdua?" tanya Bee Kun Bu. pertanyaan ini membuat Tay Cih Su tertegun. sementara

Bee Kun Bu sangat gusar dan membentak lagi.

"Ayo bilang!"

" Bukankah ini?" Tay Cih Su menunjuk Co Hiong. "Phui! Engkau kusuruh mencari sepasang lelaki dan

wanita!" sahut Bee Kun Bu.

"Benar Memang masih ada seorang nona sedang beristirahat Tay Cih Su memberitahukan.

Bee Kun Bu tahu bahwa Tay Cih Su telah salah mencari orang, maka ia tidak mempedulikan yang seorang itu lagi. "Kalau begitu, cepat lepaskan aku! Kenapa badanku sedemikian lemah, aku diberi racun apa hingga jadi begini?" tanya Bee Kun Bu.

"Kami cuma menaruh racun di hidungmu agar tersedot maka engkau menjadi lemah," sahut Tay Cih Su. "Kata temanmu ini, engkau memang berasal dari kahyangan Asal engkau kembali ke wujud semula, pasti mampu mengalahkan Liat Pah To."

"Hm!" dengus Bee Kun Bu/"Kenapa engkau pereaya omong kosong itu?"

Tay Cih Su menjulurkan tangannya menepuk bahu Co Hiong, seraya berkata sungguh-sungguh.

"Aku pereaya omonganmu, Dia harus ditaruh di atas tumpukan kayu yang menyala, agar kembali ke wujud aslinya, sehingga mampu membasmi Liat Pah To!" Tay Cih Su berkata sambil menunjuk ke depan.

Bee Kun Bu pun memandang ke sana, Bukan main terkejutnya karena melihat setumpukan kayu yang tingginya hampir tiga meter, dan tampak puluhan orang Miauw duduk mengelilingi tumpukan kayu itu dengan obor di tangan

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu mulai mengucurkan keringat dingin, kemudian memandang Co Hiong seraya berkata.

"Sungguh jahat rencanamu!H

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Saudara Bee, engkau harus ingat! Sebagai seorang pendekar, haruslah menolong sesama manusia! Liat Pah To begitu jahat dan berlaku sewenang- wenang di daerah Miauw ini, tentunya engkau bersedia turun tangan menolong kan?"

"Setelah aku dibakar mati, jadi bisa menolong?" tanya Bee Kun Bu gusar

"Ha ha!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak "Saudara Bee, jangan menolak! Engkau berasal dari kahyangan, bagaimana mungkin api dapat membakarmu? Setelah engkau dibakar, maka engkau akan kembali ke wujud aslimu, dan dapat membasmi Liat Pah To yang jahat itu!"

Apa yang dikatakan Co Hiong, membuat Tay Cih Su terus manggut-manggut dengan wajah berseru

Betapa jahatnya hati Co Hiong, itu memang sungguh di luar dugaan siapa pun. ia tahu bahwa Tay Cih Su dan para pengikutnya sangat mempereayai tahyul, maka ia menggunakan ketahyu!an untuk membohongi Tay Cih Su, bahwa Bee Kun Bu memang benar berasal dari kahyangan, yang harus dibakar agar kembali ke wujud aslinya, sehingga mampu membasmi Liat Pah To.

Tay Cih Su pereaya, namun sesungguhnya Co Hiong ingin meminjam tangan Tay Cih Su untuk membunuh Bee Kun Bu.

Tay Cih Su!" Bee Kun Bu tertegun "Engkau mempereayai omongannya?"

"Benar," sahut Tay Cih Su sambil mengangguk Bee Kun Bu terdiam, sama sekali tidak tahu harus

bagaimana menyadarkan Tay Cih Su, si Dukun Sakti itu.

Mendadak Co Hiong maju selangkah, sambil memandang Bee Kun Bu dan tersenyum manis, Bee Kun Bu tersentak, sebab melihat senyuman ciri khas Co Hiong di saat timbul nafsu membunuhnya.

Tidak salah, Co Hiong menjulurkan tangannya untuk menekan Hu Keng Hiat, sekaligus mengerahkan Lwee- kangnya, dan seketika seluruh jalan darah Bee Kun Bu telah tertutup.

"Saudara Bee!" Wajah Co Hiong tetap tampak berseri seakan sedang menghadapi teman dekat "Sudah lama aku tidak melihat engkau kembali ke wujud aslimu, Kini sudah saatnya, janganlah engkau menolak lagi!"

Bee Kun Bu tidak mampu bersuara, karena seluruh jalan darahnya telah tertutup. "Kalau engkau diam, berarti engkau setuju," ujar Co Hiong sambil tersenyum, "Saudara Bee, engkau setuju atau tidak dirimu dibakar, agar bisa kembali ke wujud aslimu dan sekaligus membasmi Liat Pah To demi suku Miauw?"

Tentunya Bee Kun Bu tidak bisa bersuara, Kemudian Co Hiong tertawa gembira sambil menoleh.

"Tay Cih Su! Sudah beres, dia sudah setuju."

Walau berdiri di belakang Co Hiong, Tay Cih Su sama sekali tidak tahu kalau Co Hiong telah menutup seluruh jalan darah Bee Kun Bu. Karena Bee Kun Bu diam saja, maka ia mengira bahwa Bee Kun Bu telah setuju, sehingga wajahnya tampak gembira sekali.

Tay Cih Su membalikkan badannya memandang ke luar, lalu berseru sekeras-kerasnya, seketika juga puluhan orang Miauw yang mengelilingi tumpukan kayu tersebut langsung bertepuk sorak, dan sekaligus memukul tambur

Tak lama muncullah empat orang Miauw, yang kemudian menggotong Bee Kun Bu ke luar, Bee Kun Bu tidak bisa bergerak, karena seluruh jalan darahnya telah tertutup.

Ke empat orang Miauw itu menaruh Bee Kun Bu di atas tumpukan kayu, Setelah ditaruh di atas tumpukan kayu, Bee Kun Bu tidak dapat melihat apa yang akan terjadi di bawah, cuma dapat mendengar saja

Tay Cih Su terus berteriak sedangkan suara tambur itu semakin keras, dan kadang-kadang terdengar pula suara tawa Co Hiong yang sangat keras.

Bee Kun Bu sendiri tahu, apabila tumpukan kayu itu dinyalakan, dirinya pasti mati terbakar, namun bagaimana mungkin ia dapat meloloskan diri?

ia cuma menatap langit sambil menarik nafas pan-jang, tetapi kemudian terdengar suara seorang gadis.

"Co Hiong! Mereka sedang berbuat apa?" Begitu mendengar suara itu, bergejolaklah hati Bee Kun Bu. Namun sayang sekali, ia tidak bisa bersuara sedikit pun. Ternyata suara itu suara Lie Ceng Loan.

"Di atas tumpukan kayu itu terdapat seseorang, dan kata orang-orang Miauw di sini, orang itu jelmaan dewa," sahut Co Hiong sambil tertawa, "Maka kalau dibakar, orang itu dapat terbang ke langit"

"Omong kosong, aku tidak pereayai ujar Lie Ceng Loan. "Engkau tidak pereaya, terserah! Tapi orang-orang Miauw

justru pereaya," sahut Co Hiong dan tertawa lagi.

"Siapa orang yang di atas tumpukan kayu itu?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Entahlah! Aku pun tidak tahu," jawab Co Hiong.

Sungguh kasihan sekali gadis itu! Bagaimana mungkin ia akan menyangka bahwa orang yang siap dibakar itu Bee Kun Bu. orang-orang yang diutus Tay Cih Su untuk mencari Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, ternyata telah salah mencari orang, Yang mereka ketemukan malah Co Hiong yang bersama Lie Ceng Loan, Begitu sampai di tempat tersebut, gadis itu langsung beristirahat maka sama sekali tidak tahu kalau Bee Kun Bu juga berada di tempat itu. ia terjaga dari tidurnya karena suara tambur itu.

Lagi pula Co Hiong tidak akan memberitahukannya, bahwa orang itu Bee Kun Bu. Sebab entah sudah berapa kali Co Hiong ingin membunuhnya, tapi tidak pernah berhasil

Kali ini, Co Hiong yakin bahwa dirinya akan berhasil, sehingga ketika berbicara dengan Lie Ceng Loan, ia sengaja mengeraskan suaranya agar didengar Bee Kun Bu, maksudnya untuk menyiksa hati Bee Kun Bu.

Memang tidaksalah, Hati Bee Kun Bu tersiksa sekali, bahkan sangat berduka, karena Lie Ceng Loan tidak tahu bahwa orang yang akan dibakar itu dirinya, ia ingin berteriak sekeras-keras nya, namun tak mampu mengeluarkan suara sama sekali.

Tidak bisa!" ujar Lie Ceng Loan mendadak "Maksudmu?" tanya Co Hiong heran.

"Aku tidak akan membiarkan mereka membakar tumpukan kayu itu!" sahut Lie Ceng Loan.

"Lho?" Co Hiong mengerutkan kening, "Kenapa?" "Kalau tumpukan kayu itu dibakar, orang itu pasti akan

mati terbakar! Omong kosong jelmaan dewa segala!

Kita tidak boleh membiarkan orang itu dibakar hidup- hidup!"

"Nona Lie!" ujar Co Hiong, "ltu urusan orang-orang Miauw, kita tidak boleh turut campur!"

"Saudara Co!" Lie Ceng Loan menatapnya tajam. "Apa maksudmu berkata begitu?"

Mendengar pereakapan itu, hati Bee Kun Bu agak girang dan mempunyai sedikit harapan, Asal Lie Ceng Loan mau mendekati tempat itu, tentii bisa melihat orang yang akan dibakar itu Bee Kun Bu.

"Nona Lie!" ujar Co Hiong, "ltu adalah kepereayaan suku Miauw di sini, sedangkan tujuan kita datang ke mari adalah mencari Kun Lun Sam Cu. Kalau kita bersalah terhadap mereka, sudah pasti mereka tidak akan bersedia membantu kita mencari Kun Lun Sam Cu."

Lie Ceng Loan diam, seandainya gadis itu mencampuri urusan yang tiada sangkut pautnya, otomatis akan menggagalkan tujuan semulanya menolong Kun Lun Sam Cu. Oleh karena itu, ia pun terus diam saja.

*****

Bab ke 35 - Lie Ceng Loan menolong Bee Kun Bu Dalam Kobaran Api Mendadak Tay Cih Su berteriak sekeras-kerasnya, puluhan orang Miauw itu segera bangkit berdiri, dan sekaligus berloncat-loncatan mengelilingi tumpukan kayu, dan tambur pun terus berbunyi, sedangkan Tay Cih Su berkomat-kamit seakan sedang membaca mantera.

Tak seberapa lama kemudian, tampak belasan orang Miauw itu telah mulai menyundut tumpukan kayu itu dengan api obor.

Betapa gembiranya Co Hiong, sehingga tertawa panjang dua ka!i. Lie Ceng Loan menatapnya sambil mengerutkan kening.

"Kenapa engkau tertawa?" tanyanya.

"Aku tertawa karena... orang-orang Miauw itu amat bodoh," sahut Co Hiong, ia masih tidak mau memberitahukan pada Lie Ceng Loan, bahwa orang itu adalah Bee Kun Bu, sebab Bee Kun Bu belum mati terbakar

"Engkau tahu mereka begitu bodoh, kenapa engkau tidak menghalangi perbuatan mereka?" tanya Lie Ceng Loan tidak senang.

Co Hiong khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan lantaran pertanyaan tersebut maka ia segera mengalihkan pembicaraan

"Nona Lie, aku sudah mendapat kabar dari Tay Cih Su tentang Kun Lun Sam Cu, Mari engkau ikut aku!"

"Sungguh?" tanya Lie Ceng Loan girang.

"Tentu sungguh," sahut Co Hiong sambil tersenyum "Aku tidak membohongimu."

"Mereka berada di mana?" tanya Lie Ceng Loan lagi. "Di Tok Sui Tong," sahut Co Hiong singkat

"Di Tok Sui Tong?" Lie Ceng Loan mengerutkan kening, "Kalau begitu, di mana Tok Sui Tong itu?" "Aku sudah tahu, jadi engkau ikut aku saja," Co Hiong tampak serius.

Gadis itu memandang ke arah tumpukan kayu itu lagi, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Kita cuma menatap orang itu mati terbakar, tapi tidak turun tangan menolongnya, aku... aku tidak bisa tenang seumur hidup."

"Peduli amat dengan orang itu," sahut Co Hiong. "Apakah engkau tidak memikirkan guru dan paman

gurumu lagi?"

sesungguhnya Lie Ceng Loan sangat memikirkan Kun Lun Sam Cu, maka ingin segera sampai di Tok Sui Tong. Akan tetapi, hati gadis itu memang bajik. Di depan matanya ada orang bakal mati dibakar, maka ia merasa tidak sampai hati meninggalkan tempat itu.

otomatis menyebabkan Co Hiong jadi gugup. Na-mun ia tidak berani begitu mendesaknya, khawatir akan ketahuan sedangkan Lie Ceng Loan terus memandang ke arah tumpukan kayu yang mulai terbakar dengan kening berkerut- kerut, Kemudian gadis itu pun memandang Tay Cih Su, yang kebetulan telah berhenti berloncat-loncatan

Pada waktu bersamaan, mendadak Lie Ceng Loan melesat ke arah Tay Cih Su. Betapa terkejutnya Co Hiong.

"Nona Lie!" serunya, "Mau apa engkau ke sana?"

Lie Ceng Loan tidak menghiraukan seruan Co Hiong, malah terus mendekati Tay Cih Su itu.

"Tay Cih Su! Siapa orang yang di atas tumpukan kayu itu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Eh?" Tay Cih Su tertegun "Bukankah dia teman-mu?"

Lie Ceng Loan terperangah, sedangkan Co Hiong telah sampai di situ, dan cepat-cepat berteriak "Nona Lie! Kalau kita terlambat, tidak bisa bertemu Kun Lun Sam Cu lagi!"

Tay Cih Su bilang, orang yang di atas tumpukan kayu itu temanku. Bukankah menggelikan sekali?" ujar Lie Ceng Loan memberitahukan

"Memang menggelikan," sahut Co Hiong sambil tertawa. "Ayolah, mari kita pergi!"

Lie Ceng Loan masih ingin menanyakan sesuatu, tetapi Co Hiong telah membentak Tay Cih Su.

"Tunggu apalagi, Tay Cih Su?"

Tay Cih Su mengangguk sambil mengibaskan tangan nya. seketika tampak belasan obor yang menyala dilempar ke arah tumpukan kayu, Dalam waktu sekejap, api pun mulai berkobar di tumpukan kayu itu.

"Saudara Cof" Lie Ceng Loan tampak tertegun "Siapa sebenarnya orang yang di atas tumpukan kayu itu? Aku belum melihat jelas. "

"Kalaupun engkau melihat jelas juga pereuma," sahut Co Hiong.

"Kenapa pereuma?" tanya Lie Ceng Loan.

"Ratusan orang Miauw itu masih primitif, mereka sama sekali tidak tahu aturan, Engkau ingin menghalangi perbuatan mereka, tentunya pereuma, Sebab mereka berjumlah ratusan orang, sedangkan kita hanya berdua."

"Walaupun begitu, kita harus menolong orang itu." tandas Lie Ceng Loan.

sementara api semakin berkobar ke atas, dan asap pun mengebul menutupi tubuh Bee Kun Bu.

Dadanya terasa sesak dan sakit karena asap, Bahkan ia pun telah melihat lidah api mulai mendekati tubuhnya, sehingga tubuhnya merasa panas dan keringatnya pun terus mengucur deras.

Betapa gugup dan paniknya Bee Kun Bu. ia berusaha mati-matian menghimpun hawa murninya untuk membebaskan seluruh jalan darahnya yang tertutup itu, tetapi tetap tidak berhasil Sebab Co Hiong menggunakan ilmu Sam Im Sin Ni untuk menutup seluruh jalan darahnya, lagi pula kondisi badan Bee Kun Bu masih lemah lantaran menyedot semacam racun.

Perlahan-Iahan lidah api mulai menjilat tubuh Bee Kun Bu. Walau merasa sakit sekali, Bee Kun Bu sama sekali tidak bisa menjerit Kelihatannya, tidak lama lagi ia akan mati terbakar

Berselang sesaat, ia sudah tidak mendengar suara apa pun lagi, dan orang-orang Miauw yang mengelilingi tempat itu mendadak berteriak

sementara Lie Ceng Loan masih berdebat dengan Co Hiong, Ketika mendengar suara teriakan, mereka berhenti berdebat lalu memandang ke arah tumpukan kayu yang terbakar itu.

Tampak orang-orang Miauw melangkah ke belakang Ternyata api sudah berkobar tinggi sekali, dan tumpukan kayu setinggi tiga meter itu kelihatan hampir roboh.

Co Hiong cepat-cepat meloncat ke belakang, tetapi Lie Ceng Loan masih tetap berdiri di tempat

"Nona Lie, cepat mundur!" teriak Co Hiong.

Ketika Co Hiong berteriak, tumpukan kayu itu ro-boh. Maka tubuh Bee Kun Bu langsung merosot ke dalam kobaran api, Lie Ceng Loan melihat sosok tubuh merosot ke dalam kobaran api, tetapi sama sekali tidak melihat jelas siapa orang itu.

Tiba-tiba Lie Ceng Loan bersiul panjang, lalu melesat ke kobaran api itu tanpa banyak berpikir lagi.

Ratusan orang Miauw, termasuk Tay Cih Su dan Co Hiong terkejut bukan main, ketika melihat Lie Ceng Loan melesat ke dalam kobaran api itu, Tiada seorang pun yang dapat mencegahnya, sebab tubuh Lie Ceng Loan telah melesat bagaikan kilat

Lidah-lidah api menjilat tubuhnya, tapi gadis itu sama sekali tidak merasakannya, Saat ini, ia masih tidak tahu bahwa orang yang akan ditolongnya itu Bee Kun Bu.

Ia menempuh bahaya menolong orang itu, hanya terdorong oleh rasa kemanusiaan saja.

Lie Ceng Loan menyambar tubuh Bee Kun Bu, kemudian dilemparkannya ke luar. Karena ia mengerahkan tenaganya, maka tubuhnya sendiri merosot ke bawah.

Betapa terkejutnya gadis itu. ia cgpat-cepat menghimpun hawa murninya agar tubuhnya melambung ke atas, lalu berjungkir balik meninggalkan kobaran api.

Setelah sepasang kakinya menginjak tanah, barulah ia menarik nafas lega sambil memandang ke depan, Tampak orang yang ditolongnya itu tergeletak beberapa meter di hadapannya.

Lie Ceng Loan masih belum melihat jelas siapa orang itu.

Namun ia bersyukur dalam hati karena telah berhasil menyelamatkan nyawa orang tersebut

Lie Ceng Loan melangkah mendekati orang itu, kemudian membungkukkan badannya dan menepuk bahu orang itu seraya berkata.

"Cepatlah engkau kabur, kalau tidak mereka pasti.,.," ucapan gadis itu terhenti mendadak Ternyata ia telah melihat jelas orang tersebut yang tidak lain Bee Kun Bu.

Semula Lie Ceng Loan masih mengira bahwa matanya salah lihat Namun setelah memperhatikan dengan seksama, meledaklah tangisnya, karena yang dilihatnya itu memang benar Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!" serunya sambil mendekap di dada Bee Kun

Bu. Lie Ceng Loan menangis bukan karena berduka, melainkan saking gembiranya karena teringat akan dirinya yang menempuh bahaya untuk menolong orang tersebut, yang tidak lain Bee Kun Bu. Apa yang akan terjadi seandainya ia tadi tidak menempuh bahaya ,jtu? Bukankah Bee Kun Bu akan mati terbakar?

Bee Kun Bu sendiri pun tidak menyangka, kalau yang menolong dirinya justru Lie Ceng Loan, Dapat dibayangkan betapa girangnya dan terkejutnya pemuda itu.

sementara Lie Ceng Loan masih menangis mendekap di dadanya, sama sekali tidak tahu kalau jalan darah Bee Kun Bu telah ditotok orang.

Berselang sesaat, barulah Lie Ceng Loan tersentak, karena melihat Bee Kun Bu diam saja, Semula ia mengira Bee Kun Bu telah mati, maka ia langsung menatap wajah Bee Kun Bu.

sepasang mata Bee Kun Bu terbeliak menatap Lie Ceng Loan, namun mulutnya sama sekali tidak bersuara. Kini gadis itu tersadar, tahu kalau jalan darah Bee Kun Bu ditotok orang.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tertawa dengan air mata masih berderai, "Aku sungguh bodoh!"

Gadis itu segera membebaskan jalan darah Bee Kun Bu yang tertotok sedangkan racun yang melemahkan tubuh Bee Kun Bu, telah punah di saat tumpukan kayu yang berkobar itu roboh.

Oleh karena itu, setelah jalan darahnya yang tertotok itu bebas, Bee Kun Bu langsung meloncat bangun, pada waktu bersamaan, mereka berdua merasa ada sesuatu yang aneh di sekitar mereka, Ternyata tempat itu telah berubah menjadi sunyi, Kemudian mereka menengok ke sana ke mari.

Tumpukan kayu itu telah habis terbakar, hanya tampak bara di situ. sedangkan ratusan orang Miauw mengelilingi mereka, dan yang berdiri paling dekat dengan mereka adalah Tay Cih Su.

Semua orang Miauw, itu terus menatap Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, tapi tiada seorang pun yang bersuara, sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak tahu, entah sudah berapa lama orang-orang itu mengelilingi mereka.

"Aaaakh.J" Bee Kun Bu menarik nafas panjang dan bertanya, "Di mana Co Hiong?"

"Orang itu jahat sekali," sahut Lie Ceng Loan. "Dia tahu engkau yang dibakar, tapi tidak mau memberitahukan padaku, Untung aku tidak pereaya omongan-nya."

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Dia bukan cuma tahu, bahkan dia pula yang mengusulkan agar aku dibakar."

"Oh?" Lie Ceng Loan mengerutkan kening lalu me-noleh, tetapi tidak melihat Co Hiong.

Bee Kun Bu tahu, Co Hiong pasti sudah kabur ia menarik nafas dalam-dalam sambil menatap Tay Cih Su dengan wajah dingin.

Tay Cih Su! Kini engkau sudah harus tahu, bahwa engkau telah tertipu," ujar Bee Kun Bu.

Tidak," Tay Cih Su menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa masih tidak?" tanya Bee Kun Bu dengan kening

berkerut

"Kalau bukan karena Nona ini, saat ini engkau pasti berubah jadi dewa dan pasti menolong kami membasmi Liat Pah To itu," sahut Tay Cih Su.

Tay Cih Su. " Bee Kun Bu memandangnya dengan

terbelalak "Kalau begitu, engkau masih ingin membakar aku?"

Tay Cih Su maju dua langkah, kemudian mendadak menjatuhkan diri berlutut di hadapan mereka berdua, itu sangat mengejutkan Bee Kun Bu dan Ue Ceng Loan. "Eh? Engkau mau apalagi?" tanya Bee Kun Bu heran.

Tay Cih Su tidak menyahut, malah ratusan orang Miauw itu pun segera ikut berlutut, dan sekaligus menyembah di hadapan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Kalian mau bicara apa, bicaralah!" ujar Bee Kun Bu. "Nona ini pasti Sang Dewi dari kahyangan nyatanya tadi

melayang ke kobaran api, tapi tidak terbakar sama sekali,"

sahut Tay Cih Su.

"JadL,." Air muka Bee Kun Bu langsung berubah, "Kalian juga ingin membakarnya?"

"Kami tidak berani," ujar Tay Cih Su.

"Kalau begitu, kalian menghendaki apa?" tanya Bee Kun Bu dengan kening berkerut

"Kami hanya ingin bermohon pada Sang Dewi, agar sudi membantu kami membasmi Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu," jawab Tay Cih Su sambil membenturkan kepalanya di tanah.

"Ngl" Bee Kun Bu manggut-manggut Tay Cih Su, kami pasti membantu kalian, Tetapi kalian jangan ter-buru-buru, pokoknya kami sudah mengabulkan permintaan kalian."

Terimakasiht" ucap Tay Cih Su sambil bangkit berdiri Tay Cih Su, mari kita berunding dulu!" ujar Bee Kun Bu.

"Bagaimana cara menuju Tok Sui Tong dan bagaimana

kekuatan Liat Pah To serta Swat Lo Kongcu di sana."

"Kakak Bu! Siapa sih Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Dua penjahat di daerah Miauw ini," sahut Bee Kun Bu memberitahukan. "Guru kita bertiga terkurung di Tok Sui Tong itu, sedangkan Swat Lo Kongcu telah menipu senjata Teng Thian Sin Cin."

"Apakah kepandaian mereka tinggi sekali?" tanya Lie Ceng Loan. "Ya." Bee Kun Bu mengangguk Tapi Kakak Pek dan Saudara Sie Bun sudah datang ke mari. Kita berempat dan ditambah ratusan orang Miauw di sini, mungkin bisa melawan mereka."

"Kalau begitu, mari kita berangkat ke Tok Sui Tong sekarang saja!" ujar Lie Ceng Loan, "Untuk apa berunding lagi?"

"Tay Cih Su! Tolong bawa kami ke Tok Sui Tong itu!" ujar Bee Kun Bu pada Tay Cih Su itu.

"Baik," Tay Cih Su mengangguk "Walau mereka berdua sangat kejam, tapi masih tidak berani membunuhku

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan heran.

"Sebab aku bisa kesurupan jin dan lain sebagainya," sahut Tay Cih Su sungguh-sungguh.

"Oh?" Lie Ceng Loan tertawa geli

"Kenapa engkau tertawa? Kalau aku tidak memiliki kepandaian gaib itu, mungkin diriku sudah lama mati di tangan Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu," ujar Tay Cih Su.

Bee Kun Bu khawatir Tay Cih Su itu akan ter-singgung, maka ia segera memberi isyarat pada Lie Ceng Loan, agar gadis itu diam.

Lie Ceng Loan meleletkan lidahnya, dan tidak berani bersuara lagi. Tak seberapa lama kemudian, mereka bertiga ke luar dari lembah itu, dan barulah Tay Cih Su menarik nafas panfang.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menoleh ke arah Tay Cih Su, dan Dukun Sakti itu segera berkata memberitahukan

"Dua tahun lalu aku telah memimpin orang-orang untuk menyerang Tok Sui Tong, tapi hampir separuh orang-orang yang kupimpin itu mati di tangan Tok Sui Tong. Sebab tempat itu sangat berbahaya, maka sulit untuk memperoleh kemenangan di sana." "Bagaimana situasi tempat itu?" tanya Bee Kun Bu.

"Sulit dijelaskan." Tay Cih Su menggelengkan kepala. "Nanti sampai di sana engkau akan mengetahuinya."

Bee Kun Bu tidak banyak bertanya lagi, dan terus mengikuti Tay Cih Su itu, Tak terasa, hari pun sudah mulai senja.

Mereka telah melewati beberapa buah bukit, dan beberapa saat kemudian sampailah di atas sebuah puncak.

"Kalian berdua sudah melihat?" tanya Tay Cih Su sambil menunjuk ke bawah.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan memandang ke bawah, Di sana tampak sebuah telaga yang amat besar.

Sungguh indah telaga itu, apalagi tertimpa sinar matahari senja, permukaan telaga itu tampak kemerah-merahan.

Di tengah-tengah telaga itu, terdapat sebuah pulau yang penuh ditumbuhi pepohonan dan rumput-rumput hijau. Di pulau itu tampak sebuah gunung dan rumah-rumah batu.

"Apakah itu Tok Sui Tong?" tanya Bee Kun Bu.

"Benar." Tay Cih Su mengangguk sambil menarik nafas.H sebetulnya pulau itu berpenghuni hampir sepuluh ribu orang, Namun beberapa tahun lalu, Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu mengusir mereka dan banyak di antara mereka yang tidak mau pergi, ditenggelamkan di telaga itu."

"Sungguh kejam mereka berdua!" Lie Ceng Loan menggeleng-gelengkan kepala.

" "Kalian lihat, rumah batu yang berada di puncak gunung itu adalah tempat tinggal Liat Pah To bersama Swat" Lo Kongcu, Di tempat itu juga terdapat penjaga yang mengawasi telaga, Kalau ada apa-apa di permukaan telaga itu, mereka pasti mengetahuinya." Su. "ltu tidak perlu kita takuti," ujar Lie Ceng Loan.

"Ada sesuatu yang tidak diketahui DewL." sahut Tay Cih

"Hi hi!" Lie Ceng Loan tertawa cekikikan karena Tay Cih Su memanggilnya Dewi, Tay Cih Su melanjutkan tanpa menghiraukan suara tawanya.

"Swat Lo Kongcu memelihara ratusan ekor burung buas, yaitu burung elang merah yang sangat besar dan buas, sepasang cakar elang merah itu mampu mengangkat batu besar Kalau ada perahu menuju pulau itu, maka burung- burung elang merah mengangkat batu dan ditimpakan pada perahu tersebut."

"Apakah tiada seorang yang mahir berenang menuju pulau itu?" tanya Bee Kun Bu mendadak

Tempat itu disebut Tok Sui Tong. " Tay Cih Su tersenyum

getir

Terkejutlah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, sehingga mereka berdua bertanya serentak

"Apakah air telaga itu beracun?" "Ya." Tay Cih Su mengangguk

"Telaga itu begitu besar, bagaimana mungkin airnya beracun?" Bee Kun Bu kurang pereaya.

"Air telaga itu.-." Tay Cih Su memberitahukan. "Kami menamai Tho Hoa Sui (Air Bunga Persik)."

Bee Kun Bu memandang ke arah telaga itu lagi. Walau hari sudah mulai gelap, namun permukaan telaga itu masih tampak kemerah-merahan bagaikan warna buah persile Ternyata warna itu bukan karena tertimpa oleh sinar matahari senja, melainkan memang begitu warna air telaga tersebut

"Air telaga itu bersumber pada sebuah air terjun di dalam sebuah lembah." Tay Cih Su menjelaskan "Di dalam lembah itu tumbuh pohon persik liar yang buahnya mengandung racun, sedangkan air terjun itu mengalir melewati lembah tersebut menuju telaga, otomatis air telaga jadi beracun, Kalian lihat, bukankah tampak tulang belulang di pinggir telaga itu?"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan memandang ke pinggir telaga itu, Di situ tidak tumbuh pohon maupun rumput apa pun, hanya terlihat tulang belulang binatang, Mungkin binatang-binatang di sana meminum air telaga itu, akhirnya mati keracunan di situ.

"Kalau begitu, apabila perahu terbalik, bukankah orang di dalam perahu pasti mati?" ujar Lie Ceng Loan.

"Benar." Tay Cih Su mengangguk "Oleh karena itu, kami mohon bantuan Dewi,"

Mendengar itu, Lie Ceng Loan tersenyum getir sambil memandang Bee Kun Bu. Mereka berdua tahu, bahwa tidak gampang menolong Kun Lun Sam Cu yang terkurung di Tok Sui Tong itu.

"Bagaimana kalau kita ke sana di malam hari?" tanya Bee Kun Bu mendadak

"ltu tidak bisa sama sekali," sahut Tay Cih Su sambil menggelengkan kepala.

"Kenapa?" Bee Kun Bu menatapnya

"Sebab di malam hari, ratusan elang merah terus-menerus terbang di atas telaga itu. " Ketika Tay Cih Su berkata sampai

di sini, mendadak terdengar suara pekikan yang tak menyedapkan telinga, Tay Cih Su segera menunjuk ke depan, "Lihatlah!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan memandang ke arah yang ditunjuk Tay Cih Su. Tampak ratusan elang merah terbang kian ke mari di atas telaga, dan sepasang cakar burung- burung itu pun mencengkeram batu yang berukuran cukup besar, bersiap menimpa apabila ada perahu berlayar di telaga itu. "Kakak Bu!" Lie Ceng Loan mengerutkan kening. "Bagaimana baiknya?"

Bee Kun Bu berpikir lama sekali barulah berkata kepada Tay Cih Su.

"Engkau boleh pulang sekarang, tapi utuslah orang- orangmu mencari ke dua temankut Kali ini jangan sampai salah lagi!" pesan Bee Kun Bu. "Ke dua temanku itu bernama Pek Yun Jlui dan Sie Bun Yun, Kalau menemukan mereka, tolong suruh mereka ke mari, kami tunggu mereka di sini."

"Ya." Tay Cih Su mengangguk, lalu meninggalkan Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!" ujar Lie Ceng Loan, "Kita merobohkan partai Thian Liong, Kim Hun Tokouw di Pit Sia Kiong dan Kai Thian Kauw, kita meraih kemenangan dalam keadaan krisis, Tapi kali ini,.,."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menatapnya. "Bagaimana kali ini?"

"Kali ini tujuan kita justru ingin menolong guru bertiga.,." jawab Lie Ceng Loan dengan air mata mulai berderai, "Namun kelihatannya tiada harapan, sebab kita sama sekali tidak mampu mendekati pulau itu."

Bee Kun Bu terdiam, karena apa yang dikatakan Lie Ceng Loan memang berdasarkan kenyataan, lama sekali barulah ia membuka mulut

"Adik Loan, aku yakin pasti ada jalan, Engkau jangan terlampau cemas!"

"Jalan apa?" tanya Lie Ceng Loan sambil menatapnya, "Lebih baik kita tunggu Kakak Pek dan Saudara Sie Bun ke mari saja," sahut Bee Kun Bu. "Sekarang mari kita beristirahat!"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menarik nafas. "Aku tidak bisa tidur." Karena Lie Ceng Loan tidak mau tidur, maka Bee Kun Bu tetap berdiri di sisi gadis itu, dan mereka berdua terus- menerus memandang ke arah telaga.

Telaga itu tampak begitu indah, Airnya pun tenang kemerah-merahan, Kalau mereka berdua tidak tahu, bagaimana mungkin pereaya bahwa air telaga itu mengandung racun ?

"Kakak Bu!" tanya Lie Ceng Loan, "Menurutmu apa yang sedang dialami guru bertiga di pulau itu?"

"Adik Loan, itu tidak perlu diceniaskan," sahut Bee Kun Bu. "Kakak Bu, guru bertiga pasti sedang disiksa!" ujar Lie

Ceng Loan sambil memandangnya, "Kenapa engkau tidak

merasa cemas ?"

"Adik Loan, apakah engkau lupa? Guru bertiga masih dalam keadaan tidak waras.,.,"

"ltu lebih celaka." Air mata gadis itu mulai meleleh. sesungguhnya Bee Kun Bu sangat cemas dan berduka

dalam hati, tapi tidak diperlihatkan di hadapan Lie Ceng Loan. itu agar tidak membuat gadis tersebut bertambah sedih.

"Karena guru bertiga dalam keadaan tidak waras, maka tidak merasakan apa-apa," ujar Bee Kun Bu dengan suara rendah.

"Aaakh...!" Lie Ceng Loan menarik nafas, kemudian mendadak berjalan ke bawah.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu terkejut "Engkau mau ke mana?" TOau ke telaga itu melihat-lihat," sahut Lie Ceng Loan.

Tunggu!" seru Bee Kun Bu. "Aku akan menemanimu ke sanaPV

***** Bab ke 36 - Menyeberang Telaga Beracun Dengan Pakaian Aneh!

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terus berjalan menuju telaga itu, dan tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tepi nya. seketika itu juga Lie Ceng Loan terbelalak ternyata gadis itu melihat begitu banyak tulang belulang yang berserakan di tepi telaga tersebut, otomatis membuatnya merinding.

Lie Ceng Loan segera menggenggam tangan Bee Kun Bu erat-erat Mereka berdua berdiri di tepi telaga, Memang indah sekali telaga itu, Mendadak tampak sosok bayangan berkelebat ke tepi telaga, Ternyata seekor rusa yang ingin minum.

"Hei! Rusa kecil, jangan minum! Air itu beracun!" seru Lie Ceng Loan.

Seruan Lie Ceng Loan membuat rusa itu terkejut, dan langsung meloncat, tapi ujung lidahnya telah menyentuh air telaga.

Rusa itu meloncat pergi, namun kemudian terkulai Lie Ceng Loan segera melesat ke arah rusa itu, Kaki belakang rusa tersebut masih bergerak sedikit, namun kemudian tak bergerak lagi, Ternyata rusa itu telah mati.

Lie Ceng Ldan berdiri tertegun di sisi rusa, sedangkan Bee Kun Bu sudah menyusul gadis itu lalu berdiri di sampingnya.

"Adik Loan, kita harus menjauh!" bisik Bee Kun Bu. "Kalau kita kurang berhati-hati dan sampai terkena pereikan air telaga itu, tentunya kita akan celaka."

Gadis itu mengangguk lalu bersama Bee Kun Bu menjauhi telaga beracun itu, Kemudian mereka berdua berdiri sejenak di situ, Berselang sesaat, mereka kembali ke atas karena khawatir Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun telah menyusul ke sana. Begitu sampai di tempat itu, mereka berdua duduk di bawah pohon rindang, Lie Ceng Loan bersandar di dada Bee Kun Bu, sedangkan Bee Kun Bu bersandar pada pohon tersebut.

Tak seberapa lama, gadis itu tertidur pulas, Setelah Lie Ceng Loan tertidur pulas, tak lama Bee Kun Bu pun ikut pulas.

Ketika mereka terjaga, hari sudah pagi Wajah Lie Ceng Loan tampak segar dan cerah, ia memandang Bee Kun Bu seraya berkata.

"Kakak Bu, nyenyakkah tidurmu?"

"Nyenyak sekali." Bee Kun Bu mengangguk "Bagai-nana tidurmu?" tanyanya.

"Juga nyenyak seka!i. "

Mendadak terdengar suara menyelak, Ternyata suara Pek Yun Hui yang berasal dari balik sebuah batu besar

"Karena kalian sedang tidur begitu nyenyak, maka kami tidak mau mengganggu kalian ketika kami sampai di sini."

"Kakak Pek!" seru Lie Ceng Loan girang.

Kemudian muncul dua sosok bayangan dari balik batu besar itu, yang tidak lain Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun.

"Kapan kalian berdua sampai di sini?" tanya Bee Kun Bu. "Ketika kami sampai di sini, kalian berdua dalam keadaan

pulas." sahut Sie Bun Yun.

Tiba-tiba Lie Ceng Loan teringat akan dirinya yang tertidur dalam pangkuan Bee Kun Bu. seketika juga wajahnya memerah, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui memandangnya sambil tersenyum, sehingga membuat wajah gadis itu bertambah merah.

"Kakak Pek! Tahukah kalian urusan sangat serius?" ujar 8ee Kun Bu mendadak "Bahkan juga genting sekali." "Kami tidak tahu sama sekali," sahut Sie Bun Yun. "Setelah berpisah denganmu, kami kehilangan jalan, Akhirnya kami bertemu beberapa orang Miauw, Orang itu mengatakan bahwa kalian menunggu kami di sini. sebetulnya urusan apa yang sangat serius dan genting sekali?"

"Aaakh. " Bee Kun Bu menarik nafas panjang "Panjang

sekali kalau dituturkan,"

"Tidak apa-apa," ujar Pek Yun Hui dan yakin pasti ada sesuatu yang amat penting. Tuturkan perlahan-lahan agar kita berempat bisa berunding bersama!"

Bee Kun Bu segera menutur tentang dirinya bertemu Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu, juga mengenai Teng Thian Sin Cin yang ditipu oleh Swat Lo Kongcu itu dan lain sebagainya.

Setelah mendengar penuturan Bee Kun Bu, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui memandang ke bawah yaitu ke arah telaga beracun, permukaan telaga beracun itu tampak begitu tenang, indah dan kemerah-merahan. Kening Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui berkerut-kerut begitu melihatnya.

"Kakak Pek!H ujar Lie Ceng Loan terisak, "Bagai-mana menurutmu? Apakah kita tiada harapan sama sekali?"

Pek Yun Hui diam saja, namun Sie Bun Yun yang menyahut

"Nona Lie jangan putus asal Di dunia ini tiada urusan yang tak dapat diselesaikan."

"Kakak Sie Bun, kalau begitu bagaimana cara kita ke Tok Sui Tong itu?" tanya Lie Ceng Loan.

"InL. belum terpikirkan sementara ini," jawab Sie Bun Yun sambil menarik nafas.

"Kakak Sie Bun, aku tahu tiada jalan untuk menolong guru- guruku. Engkau mengatakan begitu tadi hanya untuk menghibur hatiku saja," ujar Lie Ceng Loan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Adik Loan!" Pek Yun Hui memegang bahunya, "Ja-ngan berduka! Engkau mempereayai kata-kataku, kan?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Kalau begitu, engkau tenang saja!" Pek Yun Hui menepuk bahunya.

"Kakak Pek!" Lie Ceng Loan menunjuk pulau yang ada di tengah-tengah telaga itu. "Guru-guruku berada di pulau itu, bagaimana mungkin aku bisa tenang?"

"Adik Loan, bagaimana bahayanya istana Pit Sia Kiong dan markas Kai Thian Kauw di dalam perut gunung?

Bukankah kami tetap dapat meloloskan diri?"

Lie Ceng Loan tidak berkomentar apa pun, hanya menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

sedangkan Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mulai berunding, Setelah berunding beberapa saat lamanya, Sie Bun Yun berkata.

"Kita boleh mencoba membuat sebuah perahu dan satu orang-orangan dari rumput, lalu kita dorong ke telaga beracun itu, kita lihat bagaimana akibatnya."

"Ngmmm!" Pek Yun Hui manggut-manggut. "Boleh kita coba cara itu."

Kemudian mereka berempat menuruni bukit menuju telaga beracun, Begitu sampai di sana, mereka langsung bergotong- royong membuat sebuah perahu, kemudian menaruh orang- orangan dari rumput ke dalam perahu itu.

Kemudian mereka berempat mendorong perahu tersebut ke telaga beracun.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Bee Kun Bu dan Ue Ceng Loan terus memandang perahu itu dengan penuh perhatian Namun mereka berempat tidak berani berdiri terlampau dekat dengan telaga beracun, melainkan di luar jarak tujuh delapan depa. sementara perahu itu terus terapung ke tengah telaga dengan tenangnya dan tidak terjadi suatu apa pun.

Ternyata Tay Cih Su itu cuma omong kosong!" ujar Bee Kun Bu.

"Belum tentu," sahut Pek Yun Hui memberitahukan Tadi aku mendengar suara aneh di pulau itu, mungkin sebentar lagi akan terjadi sesuatu."

Di antara mereka, memang Pek Yun Huilah yang berkepandaian pating tinggi, Maka pendengarannya pun sangat tajam, ia mengatakan tadi mendengar suara aneh di pulau itu, namun yang lain sama sekali tidak mendengarnya.

Bee Kun Bu tidak begitu pereaya, Namun tak lama suara aneh itu telah terdengar jelas, yaitu suara pekikan elang merah.

seketika juga, tampak bayangan merah bagaikan gumpalan awan melayang ke atas dari pulau itu, Burung- burung elang merah itu berjumlah ratusan ekor, dan sepasang cakar masing-masing mencengkeram sebuah batu yang cukup besar.

Begitu sampai di atas perahu, elang-elang merah itu menjatuhkan batu yang dicengkeramnya untuk menimpa perahu tersebut seketika perahu itu menjadi miring, bahkan kemudian hancur berantakan tertimpa batu.

Pek Yun Hui menarik nafas panjang, sedangkan Lie Ceng Loan mulai menangis terisak-isak.

Sie Bun Yun berjalan mondar-mandir dengan kening berkerut-kerut, berselang beberapa saat, mendadak ia seketika juga, tampak bayangan merah bagaikan gumpalan awan melayang ke atas dari pulau rtu, Burung-burung elang merah itu berjumlah ratusan ekor, dan sepasang cakar masing-masing mencengkeram sebuah batu yang cukup besar BegKu sampai di atas perahu, eiang-elang merah itu menjatuhkan batu yang dicengkeramnya untuk menimpa perahu tersebut seketika perahu rtu menjadi mlrlng, bahkan kemudian hancur berantakan tertimpa batu, Bee Kun Bu terbelalak menyaksikan kejadian itu.

Ia bersorak girang.

"Aku punya akal!" serunya.

seketika enam pasang mata langsung mengarah padanya. "Akal apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Akal ini pasti dapat di laksanakan," sahut Sie Bun Yun. Tapi bukanberdasarkan kekuatan kita berempat, melainkan harus dibantu Tay Cih Su."

"Kalau begitu memang tidak masalah, sebab Tay Cih Su berharap bantuan kita, maka dia pun harus membantu kita pula," sahut Bee Kun Bu.

"Para anak buah Tay Cih Su, rata-rata terdiri dari kaum muda yang berbadan kekar, jadi kita dapat menyuruh untuk membuat sebuah perahu besar. Di atas perahu kita tutup dengan kulit sapi, dan di atasnya lagi dipasang jala." ujar Sie Bun Yun memberitahukan "Kalau burung-burung elang merah itu menimpa perahu kita dengan batu, perahu kita tidak akan rusak, sebab semua batu itu akan masuk ke jala, dan apabila jala itu bolong, masih ada kulit sapi yang dapat menampung batu-batu itu."

"Masuk akal," ujar Pek Yun Hui sambil tertawa gembira, "Jadi batu-batu itu tidak akan jatuh ke telaga, maka air telaga tidak akan muncrat."

"Kalau begitu, aku akan segera menggambar rangka perahu itu," ujar Sie Bun Yun sungguh-sungguh. "Agar orang- orang Miauw bisa cepat-cepat membuat perahu yang kita inginkan itu."

"Kakak Sie Bun, itu membutuhkan waktu berapa lama?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

pertanyaan gadis itu membuat Sie Bun Yun tertegun ia berpikir sejenak, setelah itu barulah menjawab "Orang-orang Miauw kurang ahli dalam hal pembuatan perahu, maka membutuhkan waktu kira-kira dua bulan, itu pun harus dikerjakan siang malam."

Mendengar itu, Lie Ceng Loan diam, tidak bersuara lagi, sedangkan Bee Kun Bu terus mengerutkan kening.

"Saudara Sie Bun, kenapa harus membutuhkan waktu begitu lama?" tanyanya.

"Sebab kita harus membuat sepuluh buah perahu besar."

Sie Bun Yun memberitahukan

"Apa?" Bee Kun Bu terbelalak "Kita'cuma berempat, kenapa harus membutuhkan sepuluh buah perahu?"

"Saudara Bee harus tahu, Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu pasti mempunyai anak buah di pulau itu. sedangkan kita cuma berempat, maka alangkah baiknya Tay Cih Su juga ikut menyerbu ke pulau itu bersama anak buahnya." Sie Bun Yun menjelaskan "Karena itu, kita membutuhkan sepuluh buah perahu besar."

Bee Kun Bu diam, Memang sudah tiada jalan lain, hanya saja cara itu terlampau memakan waktu, Apa boleh buat, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus bersabar

"Sekarang kita harus berangkat ke tempat Tay Cih Su," ujar Sie Bun Yun Kemudian mereka berempat berangkat ke tempat tinggal Tay Cih Su.

*****

Mereka berempat sudah tiba di lembah itu. Tay Cih Su dan orang-orang Miauw menyambut kedatangan mereka dengan tepuk sorak dan bef loncat-loncatan Sie Bun Yun segera membeberkan tentang rencana nya, dan Tay Cih Su menyetujuinya.

Karena itu, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui mulai sibuk, sebab mereka harus menyuruh orang-orang Miauw mencari rotan untuk membuat jala, bahkan harus berburu sapi liar di dalam hutan untuk diambil ku!itnya. sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan cuma melamun, terutama Lie Ceng Loan. Gadis itu duduk termenung di atas sebuah batu, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menghampirinya "Apa yang sedang engkau pikirkan?"

"Belum terpikirkan olehku, tetapi setelah terpikir-kan, aku pasti memberitahukan padamu," sahut Lie Ceng Loan.

Karena gadis itu menjawab begitu, Bee Kun Bu tidak mau mengganggu nya, ia berjalan pergi membaurkan diri dengan orang-orang Miauw membantu untuk mereka membikin jala.

Tujuh hari kemudian, mereka baru selesai membuat satu rangka perahu, Bee Kun Bu menarik nafas panjang, ia tidak tahu kapan bisa berangkat ke Tok Sui Tong.

"Kakak Bu!" Mendadak terdengar suara seruan Lie Ceng Loan. "Cepat ikut aku!"

"Ke mana?" tanya Bee Kun Bu. "Pergi melihat suatu benda, engkau pasti senang melihatnya," sahut Lie Ceng Loan.

"Benda apa?" tanya Bee Kun Bu sambil menghampiri gadis itu.

"Sssst!" Lie Ceng Loan memberi isyarat "Jangan sampai Kakak Pek mendengar!"

"Oh?" Bee Kun Bu terheran-heran, Kemudian ia mengikuti Lie Ceng Loan.

Tak seberapa lama kemudian mereka sudah sampai di depan sebuah gua, Gadis itu menggeserkan batu-batu di depan gua, lalu menyalakan obor dan berjalan ke dalam, Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang

Kira-kira beberapa depa, sudah tampak benda-benda hitam menumpuk di sudut gua. Entah benda apa itu? Lie Ceng Loan berhenti di situ, sedangkan Bee Kun Bu tampak tidak mengerti

"Adik Loan, sebetulnya engkau mengajakku ke mari melihat benda apa?" tanyanya heran.

"Benda-benda ini yang kumaksudkan," sahut Lie Ceng Loan sambil tertawa.

"Benda apa itu?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

Lie Ceng Loan membungkukkan badannya, lalu mengambil benda itu dan sekaligus diperlihatkan pada Bee Kun Bu, Ternyata dua stel pakaian aneh yang apabila dipakai seluruh badan pemakainya akan tertutup semua, Pada bagian atas pakaian itu tampak semacam kristal

Setelah melihat pakaian itu, Bee Kun Bu mengerti maksud tujuan Lie Ceng Loan.

"Engkau ingin berangkat ke Tok Sui Tong duluan?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya.

"Kakak Bu, setiap malam aku selalu bermimpi dan dalam mimpiku, aku melihat guru sedang disiksa, Maka aku,.,." Mata gadis itu mulai bersimbah air, "Aku sudah tidak sabar menunggu lagi."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menarik nafas, "Aku pun begitu." "Kakak Bu, kalau begitu mari kita berangkat ke Tok Sui

Tong!" ajak Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu tidak menyahut, melainkan memandang ke dua stel pakaian aneh itu, dan segeralah Lie Ceng Loan menjelaskan

"Seorangtua suku Miauw yang mengajarku Kalau mengenakan pakajan ini, kita tidak akan kemasukan air, dan aku telah mencobanya beberapa kali,"

"Apa?" Bee Kun Bu terkejut "Engkau telah mencoba pakaian ini di telaga beracun itu?" Tidak. Aku cuma mencobanya di sebuah telaga kecil," sahut Lie Ceng Loan dan menambahkan "Kata orangtua Miauw itu, pakaian ini dibuat dari semacam kulit yang tidak melekat air, lagi pula telah dipoles dengan berbagai macam minyak Kita masih bisa berenang seperti biasa di dalam air walau mengenakan pakaian ini."

"Adik Loan, lebih baik kita berunding dengan Kakak Pek dulu!" usul Bee Kun Bu.

"Aku telah berpikir, apabila berunding dengan me-reka, kita pasti tidak jadi berangkat ke Tok Sui Tong, sebab mereka pasti akan melarang. "

Tapi. " Bee Kun Bu berjalan mondar-mandir, lama sekali

barulah mengangguk "Baiklah, Kalaupun kita tidak berhasil menolong guru, tentunya kita masih bisa menyelidiki keadaan pulau itu."

Lie Ceng Loan manggut-manggut. Kemudian mereka berdua mengambil pakaian aneh itu, dan langsung meninggalkan gua tersebut.

sementara hari sudah mulai gelap, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui menyalakan obor, lalu membantu orang-orang Miauw membuat perahu, sama sekali tidak memperhatikan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

sedangkan mereka berdua sudah menuju ke telaga beracun itu, Berselang beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tiba di pinggir telaga, Ke duanya lalu mengenakan pakaian aneh itu.

Karena bagian atas memakai semacam kristal, maka setelah mengenakan pakaian itu, mereka berdua masih bisa melihat apa yang ada di sekitarnya, Kemudian ke duanya mencari batu yang cukup besar, Dengan membawa batu itu mereka berjalan ke telaga.

Ternyata batu itu untuk memberatkan badan mereka, agar bisa tenggelam Setelah badan mereka teng-gelam, batu itu dilepaskan Mereka berpegangan tangan sambil berenang di dalam air, memang luar biasa sekali pakaian aneh itu, sama sekali tidak kemasukan air.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terus berenang, Kira-kira satu jam kemudian, mereka sudah tiba di pulau itu. Dengan hati-hati sekali membuka pakaian aneh tersebut, dan disembunyikan di dalam sebuah gua. Kemudian ke duanya sama memperhatikan pulau.

Sunyi sekali, karena sudah larut malam. Mereka berdua melangkah dengan hati-hati sekali, Di pulau tampak hanya ada beberapa pepohonan

Ke duanya terus melangkah Berselang beberapa saat, mereka berada di sebidang tanah kosong. Ternyata mereka sudah berada di kaki bukit di pulau itu.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berhenti Sayup-sayup mereka mendengar suara musik di puncak, Mung-kin Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu sedang bersenang-senang di atas sana.

"Kakak Bu, bagaimana kalau kita pergi ke atas saja?" tanya Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu berpikir, mereka berdua menempuh bahaya ke mari. Tentunya harus naik ke bukit itu.

"Baik!" Bee Kun Bu mengangguk Tapi kita harus berhati- hati!"

Lie Ceng Loan manggut-manggut Kemudian mereka menuju ke atas melalui jalan kecil, Tentunya mereka pun tahu, jalan kecil yang menuju ke atas itu pasti ada penjaganya, Oleh karena itu, setelah beberapa depa kemudian, mereka tidak melalui jalan kecil itu lagi, melainkan memanjat tebing.

Karena sama-sama berkepandaian tinggi, tidak sulit bagi mereka untuk memanjat tebing, Tak beberapa lama, mereka sudah sampai di puncak, Tampak beberapa rumah batu yang sangat indah di situ. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bersembunyi di balik sebuah batu besar Terdengar suara musik mengalun ke luar dari salah sebuah rumah batu itu, Kecuali itu tidak terdengar suara lain.

Mereka berdua saling memandang, lalu manggut manggut dan bersama melesat ke sisi rumah batu itu, Suara musik itu semakin terdengar jelas, diiringi pula suara tawa lelaki dan wanita.

Perlahan-lahan Bee Kun Bu membuka jendela di rumah itu, Kemudian ia pun memandang ke dalam, Lie Ceng Loan juga ikut memandang ke dalam, seketika wajahnya berubah kemerah-merahan, dan langsung berpaling ke tempat lain.

sedangkan hati Bee Kun Bu sudah berdebar-debar tidak karuan begitu memandang ke dalam, Ternyata di dalam terdapat sebuah ruang besar yang sangat indah dan mewah, Beberapa gadis sedang bermain musik, Tampak Liat Pah To tidak mengenakan baju atas, bereumbu-cumbuan dengan Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu menoleh ke arah Lie Ceng Loan seraya memberi isyarat Gadis itu manggut-manggut, Latu ke duanya berendap-endap menuju ke sebuah pintu, De-ngan hati-hati sekali Bee Kun Bu mendorong pintu itu, Setelah terbuka ia memandang ke dalam, Hanya terdapat sebuah lorong tidak tampak ada orang di situ.

"Adik Loan, kira-kira engkau berfirasat di mana guru kita dikurung?" tanya Bee Kun Bu berbisik.

"Kakak Bu!" sahut Lie Ceng Loan, "Kalau engkau berhasil mendapat kembali TengThian Sin Cin, kita lebih leluasa bergerak!"

"Benar!" Bee Kun Bu mengangguk, Tapi entah disimpan di mana senjata itu?"

"Kita tangkap salah seorang untuk menanyakan itu, beres kan?" ujar Lie Ceng Loan. Bee Kun Bu manggut-manggut, Kemudian mereka berdua berbisik-bisik, Setelah itu barulah mereka menuju ke koridor, Sesampai di ujung, ke duanya membelok, Di situ cuma terdapat koridor lagi, tapi tidak terlihat seorang pun.

Mereka tetap mendengar suara musik, Tentunya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tahu, ujung koridor itu akan menembus ke ruang besar tempat Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu sedang bereumbu-cumbuan.

Mereka berdua mulai melangkah Begitu sampai di ujung koridor, terlihat sebuah pintu, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berhenti Berselang sesaat, tampak seorang gadis membawa sebuah nampan berjalan ke luar

Secepat kilat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bersembunyi, sedangkan gadis itu terus berjalan Mendadak Bee Kun Bu melesat ke arahnya, lalu dengan cepat menotok jalan darahnya, Lie Ceng Loan pun sudah menyusul. ia langsung memapah gadis itu pergi.

Setelah berada di luar, barulah Bee Kun Bu membuka jalan darah gadis itu. Dengan penuh ketakutan gadis itu menatap Bee Kun Bu.

"Engkau jangan takut!" ujar Lie Ceng Loan, "Kami tidak akan mencelakaimu!"

"Swat Lo Kongcu sedang bersenang-senang! Tahu-kah engkau di mana kamarnya?" tanya Bee Kun Bu.

Gadis Miauw itu terbelalak tapi tidak bersuara sama sekali

"Eh?" gumam Lie Ceng Loan, "Kenapa engkau diam saja?"

Gadis Miauw itu mulai bersuara, membuat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terbelalak Ternyata gadis Miauw itu menggunakan bahasanya, maka Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sama sekali tidak mengerti Mereka berdua saling memandang sambil tersenyum getir, soalnya mereka berdua ingin mengetahui sesuatu dari mulut gadis Miauw itu. Namun gadis Miauw itu tidak mengerti bahasa Han, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak mengerti bahasa Miauw, jadi mereka sama-sama membisu.

Timbul pula satu masalah lain, yakni gadis Miauw tersebut! Sebab Bee Kun IJu dan Lie Ceng Loan tidak akan membunuh gadis Miauw itu. Tapi kalau dilepaskan gadis Miauw itu pasti melapor pada Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu tak henti-hentinya menggerakkan jari tangannya di hadapan gadis Miauw, Tapi gadis Miauw tetap menggeleng dengan mata terbelalak lebar, Ke-lihatannya ia sama sekali tidak mengerti apa yang di-isyaratkan Bee Kun Bu.

"Yaah!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang. "Adik Loan, kita lepaskan dia saja!".

"Baik!" Lie Ceng Loan mengangguk.

Bee Kun Bu menepuk bahu gadis Miauw itu, kemudian mengibaskan tangannya agar gadis Miauw itu pergi.

Gadis Miauw itu tidak segera pergi, melainkan menatap Bee Kun Bu dengan kening berkerut-kerut.

Bee Kun Bu cepat-cepat menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk gadis Miauw itu, dan kemudian menggerakkan tangannya seakan menantang berkelahi

Gadis Miauw itu terus memperhatikan lama sekali barulah ia mengangguk Giranglah Bee Kun Bu. Setelah itu, ia pun menunjuk Lie Ceng Loan dan dirinya sendiri, lalu menunjuk mulut gadis Miauw itu dan menggoyang-goyangkan tangannya, Maksud Bee Kun Bu agar gadis itu jangan melaporkan apa-apa pada Swat Lo Kongcu.

Gadis Miauw itu tertegun, Mendadak ia melambai- lambaikan tangannya pada Bee Kun Bu. Tereengang Bee Kun Bu, sementara Lie Ceng Loan langsung berkata.

"Dia suruh kita ikut!"

"Adik Loan, kita tidak tahu bagaimana isi hatinya. " "Kalau dia berniat mencelakai kita, setelah kita lepaskan dia. Bukankah dia boleh melapor pada Swat Lo Kongcu?"

"Ngmm!" Bee Kun Bu manggut-manggut.

*****

Bab ke 37 - Menempuh Bahaya Mencari jarum Sakti

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengikuti gadis Miauw itu yang terus berjalan lalu berputar menuju ke belakang.

Ternyata di situ terdapat belasan rumah batu kecil Gadis itu berhenti di depan salah sebuah rumah batu kecil

ia membuka pintu rumah batu, kemudian melambaikan tangannya ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, agar mereka berdua ikut masuk.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang sejenak, setelah itu barulah mereka masuk.

Tampak dua orang wanita berusia tiga puluhan di bawah.

Begitu mendengar suara, mereka mendongakkan kepala, Ternyata mata mereka telah buta semua.

Gadis Miauw itu mendekati salah seorang wanita, lalu berbisik-bisik Kening wanita itu berkerut-kerut.

"Sungguh berani kalian berdua!" ujar wanita itu dengan bahasa Han.

Giranglah Bee Kun Bu, sebab wanita itu mengerti bahasa Han, bahkan juga tidak berniat jahat

"Kami memang tahu sangat berbahaya sekali!" sahut Bee Kun Bu.

"Kalau begitu, cepatlah kalian pergi!" Wanita itu mengibaskan tangannya agar Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera meninggalkan tempat itu.

"Tapi guru-guru kami terkurung di Tok Sui Tong!" Bee Kun Bu memberitahukan "Apakah dua lelaki dan satu wanita itu? Mereka semuanya tidak waras kan?" tanya wanita itu.

"Benar! Benar!" Bee Kun Bu gembira sekali, karena wanita itu tahu tentang Kun Lun Sam Cu. "Mereka bertiga berada di mana? Asal berhasil menolong mereka bertiga, kami pasti segera meninggalkan tempat ini!"

"Mereka bertiga berada di mana, aku pun tidak mengetahuinya!" sahut wanita itu sambil menggeleng- gelengkan kepala, "Kalian berdua dapat mencapai pulau ini, tapi tidak gampang membawa orang pergi dari sini!"

Tertegun Bee Kun Bu, sebab mereka cuma mempunyai dua stel pakaian aneh itu. Kalau pun berhasil mencari Kun Lun Sam Cu, akan sulit membawa mereka bertiga pergi, kecuali membasmi Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu terlebih dahulu.

"Sesungguhnya aku punya sebuah benda pusaka, tapi telah diambil Swat Lo Kongcu!" Bee Kun Bu memberitahukan sambil menarik nafas panjang.

"Benda pusaka yang mirip kilat?" tanya wanita itu. "Betul!" Bee Kun Bu mengangguk

"Kalau begitu, sulit bagimu untuk mendapat kembali benda pusaka itu!" ujar wanita itu sambil menggeleng-geleng.

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan keheranan

"Benda yang disayang Kongcu, pasti disimpan di ruang rahasia!" Wanita itu memberitahukan "Ruang rahasia itu tidak dijaga orang, tapi dijaga oleh semacam binatang aneh,.,." Berkata sampai di situ, wanita itu pun terisak-isak. "Binatang aneh itu khusus nya memakan mata orang!"

"Oh! Aku pernah melihat binatang aneh itu!" ujar Bee Kun

Bu.

"Maka aku bilang, sulit bagimu mendapat kembali benda pusaka itu!" Wanita itu menarik nafas. "Di mana ruang rahasia itu?" desak Bee Kun Bu mendadak

"Engkau tidak takut sepasang matamu akan ditatap binatang aneh itu?" Wanita itu balik bertanya.

"Tidak!" sahut Lie Ceng Loan "Di mana ruang rahasia itu?

Beritahukanlah pada kami!"

Wanita itu tertegun lama sekali, tidak menyahut melainkan cuma menarik nafas dalam-dalam.

"Beritahukanlah!" desak Bee Kun Bu. "Di mana ruang rahasia itu!"

"Ruang rahasia itu.,." ujar wanita itu perlahan-lahan "Sebetulnya aku bertugas memelihara binatang aneh itu, maka tentunya aku tahu di mana ruang rahasia itu!"

Wajah Bee Kun Bu tampak kegirangan

"Asal aku bisa mendapat kembali Teng Thian Sin Cin itu, aku pun mampu membasmi Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu itu!" ujarnya begitu yakin

Begitu mendengar apa yang dikatakan Bee Kun Bu, mendadak wanita itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Eh?" Merinding Lie Ceng Loan ketika mendengar suara tawa itu. "Kenapa engkau tertawa seram?"

"Aku khawatir sebelum kalian sampai di ruang rahasia itu, sudah akan buta seperti aku!" sahut wanita itu.

"Kalaupun kami harus buta, itu adalah urusan kami berdua, tiada kaitannya dengan engkau!" tandas Bee Kun Bu:

"Baik!" Wanita itupun berbicara dengan gadis Miauw.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka, sementara gadis Miauw itu manggut-manggut, wanita itu pun menoleh pada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Kalau memang kalian berdua tidak takut mati, ikutlah dia ke sana!" Wanita itu menunjuk gadis Miauw, Tapi dia tidak berani membawa kalian sampai dekat sekali, Begitu hampir dekat, dia harus segera pergi!"

Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu.

Gadis Miauw itu berjalan pergi. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan cepat-cepat mengikutinya dari belakang.

jalan yang dilalui berliku-liku, sehingga Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak dapat menghafal jalan-jalan yang dilalui itu.

Berselang beberapa saat kemudian, tiba-tiba gadis Miauw itu berhenti di tepi sungai kecil.

"Sudah sampai?" tanya Bee Kun Bu.

Wajah gadis Miauw itu pucat pias, tampak ketakutan sekali! ia menunjuk ke seberang, lalu membalikkan badannya meninggalkan tempat itu.

Lie Ceng Loan ingin menjulurkan tangannya menangkap gadis Miauw itu, tapi keburu dicegah oleh Bee Kun Bu.

"Dia akan mengajak kita ke tempat rahasia itu, kenapa di tengah jalan dia langsung pergi?" ujar Lie Ceng Loan dengan kening berkerut

"Jangan mempersalahkannya. Sebab wanita yang di rumah batu itu sudah bilang, kalau sudah mendekati tempat rahasia itu, maka gadis Miauw harus segera pergi!"

"Kalau begitu, kita sudah berada di tempat rahasia tersebut?" Lie Ceng Loan menengok ke sana ke mari.

"Tempat rahasia itu tidak berada di sini, melainkan di seberang sungai itu!" tukas Bee Kun Bu sambil menunjuk ke seberang.

"Oh?" Hati Lie Ceng Loan mulai tegang, sebab ia tadi melihat wajah gadis Miauw itu tampak ketakutan sekali, Hal itu membuat hatinya jadi tegang.

Binatang aneh itu memang lihay sekali, Bee Kun Bu sudah pernah menyaksikannya, Tapi biar bagaimana pun, ia harus mendapat kembali Teng Thian Sin Cin, meskipun harus berhadapan dengan binatang aneh.

sementara Lie Ceng Loan terus memandang ke seberang, Kalau sudah sampai di tempat rahasia itu, mendadak muncul binatang aneh itu menyerang Bee Kun Bu, maka gadis itu akan berusaha melindunginya, Biar dirinya sendiri yang terluka, asal Bee Kun Bu bisa selamat! Pikir Lie Ceng Loan, Setelah berpikir demikian, gadis itu tidak merasa takut lagi, sebaliknya malah merasa bahagia bisa berkorban demi Bee Kun Bu.

"Eh?" Bee Kun Bu menatapnya dengan heran, "Ke-napa wajahmu berseri-seri?"

"Kakak Bu.-." Lie Ceng Loan menatapnya dengan penuh cinta kasih.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu terbelalak "Kenapa tadi engkau tersenyum-senyum?"

"Aku sedang berpikir, apabila binatang aneh itu menyerangmu, aku pasti melindungimu agar bisa se-lamat!" sahut Lie Ceng Loan memberitahukan

"Adik Loan. " Bee Kun Bu tertegun, kemudian

menggenggam tangan gadis itu erat-erat. Lama sekali barulah bersuara, "Kita tidak seharusnya membuang waktu di sini!"

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk dengan wajah kemerah- merahan.

Mereka berdua lalu meloncat ke seberang sungai, berhenti di situ sambil menengok ke sana ke mari Tidak tampak sebuah rumah pun. Bee Kun Bu mengerutkan kening seraya berkata.

"Adik Loan, mari kita maju!"

"Kakak Bu, apakah gadis Miauw itu sembarangan menunjuk tempat ini?" tanya Lie Ceng Loan. Tidak mungkin!" sahut Bee Kun Bu, "Mereka kelihatan sangat mendendam pada Liat Pah To dan Swat Lo Kongcu, Tentunya tidak berniat jahat terhadap kita!"

"Kalau begitu.,." ucapan Lie Ceng Loan terputus, karena mendengar suara yang sangat aneh.

Begitu mendengar suara itu, wajah Bee Kun Bu langsung berubah.

"Jangan bersuara!" bisiknya.

Lie Ceng Loan langsung diam, Suara aneh itu berbunyi lagi beberapa kali, kemudian diam.

"Kakak Bu, suara apa itu?" tanya Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

"ltu suara binatang aneh!" Bee Kun Bu memberitahukan.

Lie Ceng Loan memandang ke tempat itu, ternyata sebuah rimba, ia pun mengerutkan kening.

"Apakah tempat rahasia itu berada di dalam rimba itu?" tanyanya.

"Mari kita ke dalam melihat-lihat!" ajak Bee Kun Bu.

Mereka berdua segera melesat ke dalam, lalu berhenti di situ dan Bee Kun Bu berbisik

"Adik Loan, engkau harus berhati-hati! Sebab gerakan binatang aneh itu laksana kilat cepatnya!"

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk Gadis itu segera menghunus pedangnya, sedangkan Bee Kun Bu mematahkan sebatang ranting untuk dijadikan senja ta.

Mulailah mereka berdua berjalan ke dalam, Baru berjalan belasan langkah, terdengar lagi suara aneh itu di depan, suaranya kedengaran jelas, pertanda binatang aneh itu tidak begitu jauh. Betapa tegangnya hati mereka berdua, tapi tetap melangkah maju, Bee Kun Bu melintangkan ranting di dada, sementara Lie Ceng Loan meluruskan pedangnya ke depan sambil berjalan di sisi Bee Kun Bu.

Setelah berjalan puluhan langkah, tampak sebidang tanah kosong di depan, namun tidak begitu luas.

Di tengah-tengah tanah kosong itu, terdapat sebuah batu besar. Batu besar itu berbentuk segi empat Hal itu membuat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tereengang, mereka berdiri tertegun.

Padahal tadi mereka mendengar suara binatang aneh itu berada di sekitar tempat ini. Namun setelah mereka berada di tempat ini, justru tidak tampak binatang aneh itu, Yang terlihat hanya sebuah batu besar

Di mana binatang aneh itu, dan di mana pula tempat rahasia penyimpan Teng Thian Sin Cin itu? Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang dengan kening berkerut- kerut, sebab merasa tidak habis berpikir

Akhirnya mereka beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. Mendadak terdengarlah suara binatang aneh itu, membuat ke duanya terkejut bukan main. Suara binatang aneh itu cuma kedengaran berjarak satu dua depa saja, Bukankah binatang aneh itu dapat bergerak secepat kilat, Dapat dibayangkan betapa bahayanya keadaan mereka berdua.

Oleh karena itu, Bee Kun Bu langsung menggerakkan ranting di tangannya untuk melindungi diri Lie Ceng Loan dan dirinya sendiri Akan tetapi, sama sekali tidak tampak binatang aneh itu muncul.

Terdengar lagi suara binatang aneh itu, namun kali ini Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak begitu ketakutan lagi. Sebab, suara binatang itu berasal dari bawah tanah, Karena itu, Bee Kun Bu berkesimpulan bahwa tempat rahasia itu berada di bawah tanah. Bee Kun Bu menarik Lie Ceng Loan ke batu besar itu, Suara binatang aneh pun tidak terdengar lagi.

Dengan penuh perhatian Bee Kun Bu memandang batu besar itu, Kemudian ia coba mendorong dan memutarkan batu tersebut

"Adik Loan! Ruang rahasia Swat Lo Kongcu yang menyimpan benda pusaka berada di bawah tanah, Batu besar ini pasti lubang masuk ke dalam!"

"Kalau begitu, aku akan bantu engkau mendorong batu besar ini!" sahut Lie Ceng Loan.

"Tidak boleh ceroboh! Sebab begitu batu besar ini terbuka, binatang aneh itu pasti meloncat ke luar!" "Jadi harus bagaimana?"

"Aku mendorong batu ini, engkau bersiap-siap! Apa-bila merasa ada sesuatu mencurigakan langsung saja engkau turun tangan, Lebih cepat lebih baik!"

Lie Ceng Loan tertegun, namun kemudian manggut- manggut Gadis itu pun bersiap-siap dengan serius.

sedangkan Bee Kun Bu mulai mendorong dengan sekuat tenaga, Akan tetapi, batu besar itu sama sekali tidak bergerak, membuat Bee Kun Bu terheran-heran.

Sebab tak masuk akal Bee Kun Bu tidak mampu mendorong batu itu, Dia mundur selangkah lalu memperhatikan batu itu, Dia manggut-manggut mengerti

"Kakak Bu, perlukah aku bantu mendorong batu itu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Kalau aku tidak mampu mendorongnya, maka pereuma engkau bantu!" sahut Bee Kun Bu. "Aku pikir, itu pasti ada suatu sebab-musababnya!"

Lie Ceng Loan mengerutkan kening.

Bee Kun Bu memeluk batu besar itu, Mendadak ia membentak keras sambil mengangkat batu tersebut Sungguh di luar dugaan, batu besar itu terangkat dan Bee Kun Bu segera melemparkannya.

Bum! Batu besar itu terlempar dua depa.

Tampak sebuah lubang di situ, Tiba-tiba dari dalam lubang itu berkelebat sosok bayangan hitam Lie Ceng Loan yang telah siap itu, secepat kilat mengayunkan pedangnya mengeluarkan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lam Sambil Tertawa) terarah pada bayangan hitam itu.

Setelah metempar batu besar itu, Bee Kun Bu pun jatuh duduk di bawah. Ketika meno!eh, ia melihat Lie Ceng Loan telah mengayunkan pedangnya mengarah ke depan, Namun kemudian ia menarik nafas lega, sebab sosok bayangan hitam itu bukan binatang aneh yang dimaksud, melainkan cuma merupakan seekor tikus hitam yang meloncat ke luar dari lubang itu, tikus hitam tersebut telah mati diujung pedang Lie Ceng Loan.

"liih!" Gadis itu tampak merinding, saat mengibaskan pedangnya agar tikus hitam yang telah mati itu lepas dari ujung pedangnya, "Kok ada tikus hitam yang begitu besar di dalam lubang itu?"

Bee Kun Bu tersenyum sambil bangkit berdiri

"Kakak Bu, kini kita telah menemukan jalan masuk itu, kenapa tidak segera masuk ke dalam?" tanya Lie Ceng Loan sambil memandanginya.

"Jangan terburu-buru!" sahut Bee Kun Bu. "Kita tunggu sebentar lagi!"

Lie Ceng Loan manggut-manggut Kemudian ke duanya mundur ke sebuah pohon, namun mata mereka tetap memandang lekat-lekat pada lubang itu, Tapi sungguh mengherankan di dalam lubang itu tak terdengar suara apa pun. "Heran!" gumam Bee Kun 8u. "Kita tadi mendengar suara binatang aneh di dalam, maka aku mengangkat batu itu!

Namun yang meloncat ke luar ternyata seekor tikus hitam!"

"Kakak Bu, binatang aneh itu pasti berada di dalam lubang itu!" tukas Lie Ceng Loan.

"Ng!" Bee Kun Bu manggut-manggut. Tadi aku melempar batu itu sehingga menimbulkan suara yang amat keras, mungkin Swat Lo Kongcu mendengar suara itu. Tapi kita harus bersabar menunggu!"

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka berdua berdiri menunggu di bawah pohon, Tapi walau sudah lewat satu jam lebih, tetap tiada gerakan suatu apapun.

sementara hari sudah semakin gelap, Bee Kun Bu mengerutkan kening sambil melangkah mendekati lubang itu dengan ranting di tangan. Lie Ceng Loan mengikutinya dari sisinya.

Mereka berdua berdiri di pinggir lubang, Terasa ada angin dingin menghembus ke luar dari lubang tersebut

Padahal Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berkepandaian tinggi Tentunya tidak takut pada angin dingin, Namun angin yang berhembus ke luar dari lubang sungguh dingin menusuk tulang, sehingga membuat mereka merinding.

"lh! Sungguh dingin!" ujar Lie Ceng Loan sambil merapat pada Bee Kun Bu.

"Adik Loan!" seru Bee Kun Bu. "Binatang aneh itu akan muncul mendadak, berhati-hatilah!"

Lie Ceng Loan mengangguk, sambil mengarahkan pedangnya pada lubang itu. Mereka berdua lalu memandang ke dalam, Gelap gulita lubang itu, sama sekali tidak tahu ada berapa kedalaman lubang itu. Terdengar pula suara deruan aneh, bagaikan suara rintihan orang yang sangat memilukan otomatis membuat bulu kuduk mereka terbangun, merinding

"Mari kita mundur dulu!" bisik Bee Kun Bu.

Mereka berdua mundur ke tempat semula, Kemu-dian membuat dua buah obor dan sekaligus dinyalakan, Setelah itu, mereka pergi ke lubang itu iagi.

Obor-obor di tangan didekatkan pada mulut lubang itu, Maksud mereka ingin tahu ada apa di dalam lubang tersebut Akan tetapi, obor-obor itu seketika padam terhembus angin dari dalam lubang.

Mereka tidak putus asa, langsung membuat obor yang lebih besar, Namun ketika obor yang lebih besar itu mendekati lubang, tetap juga padam terhembus oleh angin dingin.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang, Lama sekali barulah gadis itu membuka mulut

"Kakak Bu, biar aku yang masuk!"

Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "Pokoknya aku harus memikirkan suatu akat!"

Bee Kun Bu mengernyitkan kening, kelihatannya sedang berpikir keras, Sesaat kemudian, ia memandang obor yang telah padam di tangannya, seketika hatinya tergerak

"Hei, aku ada akal!" serunya.

"Akal apa?" tanya Lie Ceng Loan cepat

"Lihatlah!" Bee Kun Bu menaruh ujung obor ke mulut lubang, Tadi obor itu masih mengebulkan asap, tapi setelah terhembus angin dingin, asap itu buyar dan ujung obor itu tampak membara.

"Kakak Bu..." bingung Lie Ceng Loan.

"Api yang besar bagaimanapun pasti padam terhembus oleh angin dari dalam lubang itu!" ujar Bee Kun Bu menjelaskan "Kecuali kita menggunakan bara, tidak akan padam terhembus, Bahkan barangkali sebaliknya malah akan semakin menyala! Jadi kita bisa masuk ke dalam lubang, melihat-lihat keadaan di sana!"

"lde yang bagus!" sahut Lie Ceng Loan sambil tertawa gembira.

Ke duanya segera mencari dahan pohon yang agak besar, lalu dibakar ujungnya sampai membara. setelah itu, barulah mereka menuju ke lubang tersebut

Setelah berdiri di pinggir lubang, Bee Kun Bu menjulurkan dahan pohon yang telah membara itu ke mulut lubang tersebut Terhembus oleh angin dari dalam lubang, Benar, dahan pohon itu ternyata semakin menyala.

Tampak jelas lubang itu, Kedalamannya hampir tujuh depa, Di samping itu di dasarnya terdapat sebuah terowongan, Dari atas ke bawah, terdapat pula undakan batu.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang dengan wajah muram, Tadi mereka telah melempar ke dalam dahan-dahan pohon yang membara, sehingga bisa melihat jelas keadaan di dalamnya.

Akan tetapi mereka tidak bisa turun ke dalam, karena dasar lubang itu berserakan dengan bara yang menyala, Setelah bara itu padam, barulah mereka bisa turun, Namun di dalam lubang itu akan berubah gelap kembali

Di saat mereka saling memandang dengan wajah muram, mendadak terdengar suara pekikan binatang aneh yang kian mendekat

Bee Kun Bu segera menarik Lie Geng Loan, Pada waktu bersamaan tampak sosok bayangan hitam menerjang ke luar

Tak terlukiskan betapa cepatnya terjangan sosok bayangan hitam itu, Ketika Bee Kun Bu menarik Lie Ceng Loan mundur, ia pun memutar-mutarkan ranting yang di tangannya, Hingga tampak seperti sebuah payung untuk melindungi diri mereka berdua. Hal itu membuat binatang aneh yang menerjang ke arah mereka terpental jatuh berguling-gulingan lalu melesat pergi

Walau binatang aneh itu telah melesat pergi, Bee Kun Bu masih tetap memutar-mutarkan ranting di tangannya, Hatinya khawatir binatang aneh itu akan menyerang lagi Akan tetapi, sudah sekian lama ia terus memutar-mutarkan ranting, binatang aneh itu tetap tidak muncul

Karena itu, Bee Kun Bu berhenti Namun ia tetap terus berwaspada, dengan memasang pendengaran Sunyi tak terdengar suara apa pun.

"Mungkin binatang aneh itu telah kabur!" ujar Lie Ceng Loan.

"Ayoh! Kita harus menggunakan kesempatan ini untuk memasuki lubang itu!" ajak Bee Kun Bu.

Mereka segera mendekati lubang itu. Suasana di dalamnya sudah gelap karena bara yang mereka lempar ke dalam, juga sudah padam semua.

Dengan hati-hati sekali mereka menuruni undakan batu, Semakin ke bawah hembusan angin di situ semakin dingin, Membuat badan Lie Ceng Loan menggigil Namun gadis itu tetap bertahan agar tidak memecahkan perhatian Bee Kun Bu. Tampak ia cuma berkertak gigi

Tak lama mereka sudah sampai di dasar lubang, Kemudian bersama menuju terowongan yang mereka lihat dari atas tadi

Setelah berjalan puluhan langkah, tampak ada sedikit cahaya di depan. Mereka segera menuju ke sana. Ternyata di sana terdapat sebuah pinta Tampak pula sebuah mutiara di atas pintu itu mengeluarkan cahaya.

Bee Kun Bu mendorong pintu itu, kemudian mengawasi ke dalam, Tampak di depannya sebuah ruangan Namun tiada suatu benda pun tersimpan di situ, Yang ada hanya bayangan dua sosok orang duduk bersila di dalam. Bee Kun Bu tertegun Semula ia mengira ruang itu menyimpan semua benda pusaka, tapi ternyata kosong hanya tampak dua orang duduk bersila di situ tak bergerak sama sekali

Karena agak gelap, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak melihat jelas siapa ke dua orang itu, Sudah menjadi mayat atau masih hidup.

"Siapa di dalam?" tanya Bee Kun Bu.

Tiada sahutan Bee Kun Bu mengernyitkan kening, lalu maju dua langkah, Setelah Bee Kun Bu maju dua langkah, mendadak terdengar suara "Bum" Pintu itu tertutup dengan sendirinya, sedangkan Ue Ceng Loan masih berada di luar

"Adik Loan! Adik Loan!" seru Bee Kun Bu.

Sayup-sayup ia pun mendengar suara Lie Ceng Loan memanggil-manggil namanya, Bee Kun Bu segera berusaha membuka pintu itu, Mendadak pada waktu bersamaan terdengarlah suara wanita di belakangnya.

Tidak perlu mencemaskan nya, tentu ada orang yang akan mengurusinya!"

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu ketika mendengar suara wanita di belakangnya, Langsung saja ia melancarkan sebuah pukulan ke belakang, Setelah itu barulah membalikkan badannya, Namun tak tampak seorang pun di situ. Hanya gelap gulita karena pintu tertutup kembali

Bee Kun Bu memasang telinga dengan penuh perhatian Namun tidak terdengar suara apa pun lagi

"Siapa?" tanya Bee Kun Bu.

"Engkau mau cari siapa?" suara sahutan wanita balik bertanya

Saat itu Bee Kun Bu sudah kelihatan tenang, Lagi-pula ia pun sudah mengenali suara wanita itu. Ternyata suara Swat Lo Kongcu, Bee Kun Bu merasa tidak habis berpikir, kenapa mendadak Swat Lo Kongcu bisa berada di ruang bawah tanah ini?

Ternyata binatang aneh itu kabur ke tempat Swat Lo Kongcu, Karena itu, Swat Lo Kongcu pergi ke ruang bawah tanah ini melalui jalan rahasia, Ketika Bee Kun Bu mendorong pintu itu, terlihat dua orang duduk bersila tak bergerak di dalam, yang tak lain Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To!

*****

Bab ke 38 - Terkurung Dalam penjara Bawah Tanah Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Bee Kun Bu.

Namun pemuda itu masih dapat bersikap tenang.

Tidak salah! Aku sedang cari engkau!" ujar Bee Kun Bu dengan suara dalam.

"Ada urusan apa engkau mencariku?" tanya Swat Lo Kongcu sambit tertawa.

Ketika Bee Kun Bu hendak menyahut, terdengar pula suara lelaki yang bernada kasar

"Gelap begini, buat apa banyak bicara?"

"Mau membuat tempat ini terang, memang tidak sulit!" sahut Swat Lo Kongcu, Dan mendadak ruang itu berubah agak terang.

Yang membuat ruang itu berubah agak terang adalah Teng Thian Sin Cin", Senjata pusaka itu berada di tangan Swat Lo Kongcu, yang berdiri di sisinya tidak latn JLiat Pah To.

Lelaki berambut merah itu menatap Bee Kun Bu dengan penuh kegusaran KeIihatannya siap menyerang Bee Kun Bu.

Tunggu!" cegah Swat Lo Kongcu.

Liat Pah To segera mundur selangkah, sedangkan " Swat Lo Kongcu menatap Bee Kun Bu. "Beesiauhiap, beritahukanlah kenapa engkau datang ke daerah Miauw ini? sebetulnya karena apa?" tanya Swat Lo Kongcu.

"Engkau sudah tahu kok masih bertanya?" sahut Bee Kun Bu ketus.

"Aku tidak begitu jelas, maka berharap engkau sudi memberitahukan!" pinta Swat Lo Kongcu sambil tersenyum

"Baik!" Bee Kun Bu mengangguk dengan wajah gusar "Kun Lun Sam Cu adalah guru dan paman guruku, Mereka bertiga terkena racun di Mo Kui Ceh Yi, sehingga berubah tak waras! Aku ke mari untuk membawa mereka bertiga pergi!"

"Masih ada urusan yang lain?" tanya Swat Lo Kongcu lagi seraya tersenyum.

Teng Thian Sin Cin itu adalah senjata milikku, Harap engkau kembalikan padaku puIa!" jawab Bee Kun Bu memberitahukan

"Mungkin masih ada urusan lain, silakan jelaskan semua!" desak Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu tahu, bahwa Swat Lo Kongcu sengaja mengejeknya, namun ia tetap menyahut

"Adik seperguruanku kehilangan jejak di sini, kuminta engkau bersedia mempertemukan kami!"

"He he!" Swat Lo Kongcu tertawa terkekeh.

"Kenapa engkau tertawa?" tanya Bee Kun Bu gusar. "Padahal engkau memiliki nama cemerlang di rimba

persilatan Tionggoan, tapi ternyata tak lebih dari seorang yang tolol! Ya, kan?" sahut Swat Lo Kongcu sambil tertawa cekikikan

"Apa maksudmu?" "Bee Kun Bu berusaha tetap te-nang. "Engkau harus tahu!" ujar Swat Lo Kongcu, "Ke tiga orang

itu berada di Tok Sui Tong. Mau kulepaskan atau tidak adalah urusanku! Kalau aku merasa senang, mungkin akan membiarkan mereka bertiga tinggal di sini belasan tahun lamanya, Dan tentunya engkau tidak bisa berbuat apa-apa!"

Betapa gusarnya Bee Kun Bu mendengar itu, sepasang matanya langsung berapi-api.

"Mengenai Teng Thian Sin Cin, kini sudah berada di tanganku, berarti sudah menjadi milikku pula! Kalau engkau mampu, silakan merebut kembali!" tantang Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu ingin menyerang Swat Lo Kongcu, namun dibatalkannya karena ia belum tahu bagaimana keadaan Lie Ceng Loan, Terpaksa ia harus tetap bersabar

"Tentang Lie Ceng Loan itu.,.," ujar Swat Lo Kongcu melanjutkan "Engkau tidak perlu mencemaskannya, Se-bab, aku punya seorang keponakan yang berminat memperisteri gadis Han, mereka berdua merupakan pasangan yang serasi. "

Bee Kun Bu sudah tidak dapat bersabar Iagi. Sebelum Swat Lo Kongcu menyelesaikan ucapannya ia sudah membentak keras sambil menyerang dengan jurus Sam Yo Khai Tay (Tiga Pukulan Pembuka Tebing).

Swat Lo Kongcu sama sekali tidak bergerak, sebab Liat Pah To telah maju menyambut pukulan Bee Kun

Plaak! Benturan keras pun terjadi.

Bee Kun Bu dan Liat Pah To sama-sama terdorong dua langkah, Tentunya hal itu sangat mengejutkan Liat Pah To.

Saat Bee Kun Bu terdorong mundur ketika itu pula tampak berkelebat cahaya putih menerjang ke arahnya. Bee Kun Bu tahu, Swat Lo Kongcu telah menyerangnya dengan Teng Thian Sin Cin. Guguplah Bee Kun Bu. Namun mendadak ia mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar

Akan tetapi, bahunya tetap tertusuk oleh senjata itu! Kalau Bee Kun Bu terlambat mengerahkan ilmu langkah ajaib, dadanya pasti sudah tertembus Teng Thian Sin cin. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Bee Kun Bu. Sebab sejak Pek Yun Hui mengajarnya ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, selama itu ia tidak pernah terluka di saat mengerahkan ilmu tersebut

Tapi kali ini, walau telah mengerahkan ilmu itu untuk mengelak, bahunya tetap tertusuk oleh senjata lawan.

Bukan berarti Swat Lo Kongcu berkepandaian tinggi, melainkan karena lihay dalam Teng Thian Sin Cin. Oleh karena itu, boleh dikatakan diri Bee Kun Bu dalam keadaan yang sangat bahaya.

Swat Lo Kongcu tidak menyerang lagi. ia cuma menatap Bee Kun Bu sambil tersenyum dingin.

"Swat Lo Kongcu, kalau tidak menuruti perkataanku, engkau pasti menyesal setelah teman-temanku tiba di pulau ini!" bentak Bee Kun Bu.

"He he!" Swat Lo Kongcu tertawa, "Engkau laksana ikan di dalam jala, kok masih omong besar?"

"Engkau anggap aku omong besar?" Bee Kun Bu menatapnya, "Tahukah engkau, seluruh suku Miauw sangat membenci kalian berdua!"

Swat Lo Kongcu tertawa lagi, "ltu memang tidak salah, Tapi mereka bisa berbuat apa terhadap diriku? Tay Gh Su itu bergabung dengan Pek Yun Hui membuat perahu besar untuk menyerbu ke mati Engkau kira aku tidak mengetahuinya?"

Tertegun Bee Kun Bu. Tidak heran Swat Lo Kongcu dapat menjagoi daerah Miauw, ternyata wanita itu memang berotak cerdas, dan bisa pula memperhitungkan segala sesuatu dengan tepat

"Engkau sudah tahu tentang itu, maka cepat-cepatlah engkau bertobat!" ujar Bee Kun Bu sungguh-sungguh. "Kau kira aku tidak punya cara menghadapi mereka?" ejek Swat Lo Kongcu sambil tersenyum

Bee Kun Bu membungkam ia memang tidak tahu Swat Lo Kongcu punya cara apa untuk menghadapi penyerbuan itu.

Hal itu membuatnya terbungkam.

"Walau aku berada di daerah Miauw, aku tetap tahu jelas semua urusan dan kejadian di Tionggoan, Kalian itu mengandalkan pada Kui Goan Pit Cek malang melintang dalam rimba persilatan, meruntuhkan partai Thian Liong, memusnahkan istana Pit Sia Kiong sekaligus membunuh Kim Hun Tokouw Lam Kiong Siu dan lain sebagainya. "

"Engkau telah tahu semua itu, seharusnya engkau cepat- cepat bertobat!" tandas Bee Kun Bu.

"He he hel" Swat Lo Kongcu tertawa terkekeh-kekeh. "Engkau mentertawakan apa?" tanya Bee Kun Bu sambil

mengerutkan kening.

"Kalian memang berkepandaian tinggi, tapi. " Swat Lo

Kongcu menatapnya seraya melanjutkan ". kalian semua

akan berubah jadi tuiang-belulang di Tok Sui Tong!"

"Pada waktu itu, Lam Kiong Siu juga sependapat sepertimu!" sahut Bee Kun Bu.

"Hm!" dengus Swat Lo Kongcu dingin. "Lam Kiong Siu itu apa?"

Tertegun Bee Kun Bu mendengar itu, Mendadak Swat Lo Kongcu maju beberapa langkah seraya

membentak.

"Engkau akan berjalan sendiri atau dipaksa?!" "Ke mana?" tanya Bee Kun Bu.

"Engkau akan mengetahuinya nanti, tidak perlu banyak bertanya sekarang!" sahut Swat Lo Kongcu. Bu. Bersamaan itu Liat Pah To pun maju ke hadapan Bee Kun

Bee Kun Bu berpikir ketika menyaksikan keadaan begini, kalau ia melawan akhirnya dirinya pasti ditangkap. Daripada ditangkap lebih baik ikut mereka pergi saja, sehingga bisa mencari kesempatan untuk meloloskan diri!

"Baik, aku akan berjalan sendiri!"

"Engkau memang pintar!" Swat Lo Kongcu tertawa dingin "Berjalan ke depan!"

Swat Lo Kongcu mengarahkan Teng Thian Sin Cin pada Bee Kun Bu, membuat Bee Kun Bu memandang ke depan dan tertegun seketika.

Ternyata di depan hanya terdapat dinding batu, sama sekali tiada jalan Kenapa Swat Lo Kongcu menyuruhnya berjalan ke sana? pemuda itu tidak mau banyak bertanya, hanya terus berjalan ke depan. Hatinya merasa, Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To mengikutinya dari belakang.

Ketika sampai di dinding batu, baru saja Bee Kun Bu mau berhenti, mendadak dinding batu itu bergerak dan tampak sebuah pintu di situ.

Barulah Bee Kun Bu tahu, di ruang bawah tanah terdapat jalan rahasia, Bee Kun Bu terus berjalan, sambil merasa Teng Thian Sin Cin itu masih mengawasinya.

Di dalam pintu rahasia itu cuma terdapat sebuah terowongan yang berliku-liku, bahkan kadang-kadang turun naik.

Bee Kun Bu terus berjalan Berselang beberapa saat kemudian sudah sampai di ujung terowongan Di situ pun terdapat sebuah pintu.

Setelah mendekat, pintu itu langsung terbuka sendiri.

Seketika terdengar suara, Suara musik, Bee Kun Bu memandang ke dalam dengan mata terbelalak Ternyata itu ruangan tempat Liat Pah To bereumbu-cumbuan dengan Swat Lo Kongcu.

Bee Kun Bu melihat binatang aneh itu mendekam di sebuah tempat duduk. Kini Bee Kun Bu baru tahu kalau yang melapor pada Swat Lo Kongcu ternyata binatang aneh itu.

"Kenapa aku dibawa ke mari?" tanya Bee Kun Bu. Hatinya sangat cemas karena tidak melihat Lie Ceng Loan.

"Ada dua hal, engkau boleh pilih sendiri!" sahut Swat Lo Kongcu sambil tersenyum

"Hal apa?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Di dalam Tok Sui Tong terdapat tujuh buah penjara yang berbedak Swat Lo Kongcu memberitahukan "Siapa yang terkurung di dalam, boleh dikatakan sama seperti mati!"

"Hm...!" Bee Kun Bu tersenyum dingin.

"Sebaliknya di dalam Tok Sui Tong, juga terdapat tempat yang sangat menyenangkan!" lanjut Swat Lo Kongcu sambil tertawa, "Bahkan menyerupai sorga "

"Hra!" dengus Bee Kun Bu dingin.

"Kalau engkau tidak pereaya, lihatlah sendiri!" Swat Lo Kongcu bertepuk tangan tiga kali, Musik berhenti seketika, Sesaat kemudian muncul delapan anak gadis cantik jelita, musikpun mulai mengalun lagi, Delapan gadis itu berjalan lemah gemulai mengikuti irama musik, Mereka mengenakan pakaian yang sangat indah dan warna-warni.

Setelah itu, mulailah mereka menari Bee Kun Bu menyaksikan tarian yang sangat indah menakjubkan itu, Hal itu sempat membuatnya nyaris melupakan keadaan yang membahayakan dirinya.

Swat Lo Kongcu bertepuk tangan sekali Gadis-gadis penari itu pun segera mengundurkan diri.

"Engkau sudah lihat kan? Bukankah sangat menyenangkan?" gumam Swat Lo Kongcu sambil tertawa. "Tadi engkau suruh aku pilih, sebetulnya pilih apa?" tanya Bee Kun Bu mendadak dan dingin.

"Mau jadi tamu terhormat di sini atau mau meringkuk di dalam penjara? Pilih salah satu di antaranya!" sahut Swat Lo Kongcu.

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak.

Para gadis pemain musik langsung berhenti Mereka memandang Bee Kun Bu dengan penuh keheranan Sebab, belum pernah mereka menyaksikan ada orang yang begitu berani di hadapan Swat Lo Kongcu.

"Bagaimana keputusanmu?" tanya Swat Lo Kongcu dengan air muka berubah.

"Engkau wanita jalang yang tak tahu malu!" bentak Bee Kun Bu.

"Engkau betul-betul cari penyakit!" Swat Lo Kongcu menudingnya dengan gusar sekali, kemudian mendadak mundur beberapa langkah.

Bee Kun Bu tidak tahu Swat Lo Kongcu mau berbuat apa.

Namun setelah wanita itu mundur, barulah Bee Kun Bu melihat tangannya menekan dinding batu.

Bee Kun Bu ingin meloncat, tapi sudah terlambat karena badannya telah merosot ke bawah, Segeralah Bee Kun Bu menghimpun hawa murninya agar badannya melambung ke atas, Tapi di saat bersamaan, Liat Pah To melancarkan sebuah pukulan dahsyat menekan badan Bee Kun Bu.

Apa boleh buat! Bee Kun Bu terpaksa mengangkat sepasang tangannya untuk menangkis pukulan itu.

Plaaak! terdengar suara benturan

Badan Liat Pah To terpental ke atas, sedangkan badan Bee Kun Bu merosot lebih cepat, karena menangkis pukulan itu. Bum! Lubang di atas itu seketika tertutup, Tak lama sepasang kaki Bee Kun Bu menginjak dasar tempat itu, Karena gelap tak dapat melihat apa pun di dasar tempat tersebut

Bee Kun Bu berdiri cukup lama di situ, Kemudian tampak ia coba menengok ke sana ke mari, samar-samar dilihatnya cahaya yang kehijau-hijauan di tempat itu, Ternyata tulang belulang putih bertumpuk di situ, Tam-pak pula beberapa huruf terukir di dinding batu yakni "PENJARA TULANG BELULANG PUTIH".

Bee Kun Bu masih ingat, tadi Swat Lo Kongcu memberitahukan ada tujuh macam penjara di dalam Tok Sui Tong, Mungkin tempat ini merupakan salah satu dari tujuh macam penjara tersebut!

Setelah menyaksikan keadaan di situ, Bee Kun Bu mulai berusaha tenang. Terasa dingin sekali tempat ini, tapi tiada suatu keanehan.

Bee Kun Bu terus menyebarkan pandangannya. Kemudian ia pun coba mengetuk dinding-dinding batu. Tampak begitu keras pertanda dinding-dinding batu itu sangat tebal

Tanpa senjata pusaka, tentunya tidak bisa menghancurkan dinding-dinding batu itu. Bee Kun Bu menggeleng-geleng, lalu mendongakkan kepala memandang ke atas tempat ia jatuh tadi

Kalau dirinya terkurung beberapa hari di tempat itu, belum tentu akan mati kelaparan tapi yang jelas, Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To pasti akan meninggalkan ruang atas itu, jadi ia pun bisa coba memanjat ke atas.

setelah mengambil keputusan tersebut, Bee Kun Bu tidak begitu gugup dan panik lagi

Yang dicemaskannya justru diri Lie Ceng Loan, sebab ia sama sekali tidak tahu gadis itu berada di mana dan bagaimana keadaannya, Akhirnya ia duduk bersila untuk beristirahat sejenak Berselang sesaat, mendadak hidungnya mencium semacam bau busuk, sehingga membuatnya nyaris muntah seketika.

Terkejutlah Bee Kun Bu dan segera membuka mata-nya. ia bertambah terkejut dan cepat-cepat meloncat bangun, Ternyata tulang-belulang putih itu mengeluarkan asap putih.

Bau busuk itu berasal dari asap putih tersebut Lagi-pula asap putih itu telah mengepul beberapa meter, sekaligus memenuhi tempat tersebut Hal itu membuat Bee Kun Bu jadi susah bernafas.

"Uaaakh...!" Bee Kun Bu muntah.

Hatinya jadi terperanjat sekali Dia tahu Lweekang-nya sangat tinggi, namun tetap muntah tak terhindarkan setelah mencium bau itu, Cepat-cepat pemuda itu menghimpun hawa murninya untuk menghindari muntah lagi.

Akan tetapi, asap putih tampak mulai mengurung dirinya, sedangkan bau busuk itu semakin menusuk hi-dung.

Bee Kun Bu terus berusaha menghimpun hawa murninya untuk melawan Namun akhirnya dirinya jatuh pingsan di atas tumpukan tulang-belulang putih itu.

Entah berapa lama kemudian, Bee Kun Bu tampak tersadar Perlahan-lahan ia membuka matanya, asap yang tebal telah sirna dan bau busuk pun tak tereium lagi

Bee Kun Bu segera menarik nafas dalam-dalam. wajahnya sedikit demi sedikit berubah segar

Kreeek! Lantai di atas terbuka mendadak Tampak Swat Lo Kongcu berdiri di situ sambil tertawa dingin

"Bagaimana rasanya?" tanya Swat Lo Kongcu bernada dingin.

Bee Kun Bu sama sekali tidak menyahut Diam dengan mata menatap wanita itu.

"Di dalam penjara itu, semua orang mati keracunanl" Swat Lo Kongcu memberitahukan "Sebab tulang-belulang putih itu mengandung racuni itu racun tulang-belulang putih, setiap jam pasti akan menimbulkan suatu penderitaan! Nah, silakan menikmati kesenangan itul He he he"

Kreeek! Lantai atas tampak tertutup kembali

Bee Kun Bu duduk termangu di tempat ia tidak tahu harus berbuat apa! Apalagi setiap jam ia akan menderita, entah bagaimana rasanya penderitaan itu.

Lama sekali Bee Kun Bu duduk di situ, Kemudian menarik nafas panjang sambil bangkit berdiri

Kalau aku bisa meloloskan diri, bukankah tidak usah meninggal didalam penjara? pikirnya sambil memandang ke atas, Telinganya dipasang dengan penuh kewaspadaan

Tiada suara apapun di atas, Mungkin Swat Lo Kongcu dan Liat Pah To telah meninggalkan ruang atas itu.

Kemudian Bee Kun Bu memperhatikan tulisan yang terukir pada dinding, Setelah diperhatikan dengan cermat, ia melihat dinding batu tampak agak retak sedikit

Bee Kun Bu segera melesat ke dinding itu, Tangannya meraih batu yang agak menonjol, sehingga badannya bergantung di situ, Tangannya yang sebelah lagi meraba-raba tulisan Namun mendadak keningnya berkerut Dirasakan seketika ada hembusan angin ke dalam melalui salah sebuah huruf terukir itu, Hal itu membuat hatinya berdebar-debar girang, Ternyata itu merupakan jalan ke luar bagi dirinya, seketika terbangkitlah semangatnya

Bee Kun Bu mulai menyalurkan Lweekang pada tangan kanannya, kemudian mendorong huruf itu, sungguh di luar dugaan, huruf itu terdorong ke dalam dan wajah Bee Kun Bu pun tampak berseri

ia menyalurkan Lweekangnya ke tangan kanan, lalu mendorong lagi huruf itu, Kali ini ia menggunakan tenaga sepenuhnya, sehingga terlihat badannya kehilangan keseimbangan dan perlahan merosot ke bawah. Begitu badannya menyentuh tanah, tiba-tiba matanya terbelalak Ternyata tadi ia cuma mencurahkan perhatian pada huruf yang didorongnya itu, sama sekali tidak memperhatikan tempat lain. Tanpa diduga, di dinding batu lain telah muncul sebuah lubang, Bee Kun Bu masih tertegun menyaksikan lubang itu, Lama kemudian barulah ia mendekati lubang dan terus melihat ke dalamnya.

Bee Kun Bu baru mengetahui, bahwa huruf itu ternyata semacam alat membuka dinding batu yang di sebelah kanan Maka dapat dibayangkan betapa girangnya Bee Kun Bu setelah menemukan jalan ke luar itu.

Akan tetapi, lubang itu sangat gelap dan entah berapa dalam Terdengar pula suara hembusan angin Setelah didengar dengan penuh perhatian, merindinglah Bee Kun Bu! Sebab suara hembusan angin itu bagaikan suara rintihan orang yang sangat memilukan

Bee Kun Bu ragu, Dia masih belum mengambil keputusan untuk memasuki lubang tersebut Tadi ia girang bukan main, namun setelah mendengar suara hembusan angin yang menyeramkan itu, timbul pula rasa ragunya.

Cukup lama Bee Kun Bu berdiri dekat lubang itu. Dan akhirnya dia mengambil keputusan untuk memasuki-nya.

Perlahan-lahan ia merangkak ke dalam, mungkin akan sampai di suatu tempat yang lebih menyeramkan! Tapi apa boleh buat, tiada pilihan lain baginya, harus coba meloloskan diri melalui lubang tersebut

Begitu sampai di dalam, sekujur badannya merinding karena terhembus angin yang sangat dingin Padahal ia cuma merangkak beberapa depa ke depan, tapi badannya sudah mulai menggigil kedinginan Bee Kun Bu menarik nafas dalam- dalam, sambil terus mempereepat rangkakannya ke depan. Tak seberapa lama, suara deruan yang amat menyeramkan semakin terdengar jelas, Menyerupai suara rintihan orang yang sekarat

Bee Kun Bu sama sekali tidak mengerti, sebetulnya suara apa itu. Sebab suara itu mirip suara keluhan dan rintihan beberapa orang yang amat memilukan

Walau menyadari kalau dirinya berkepandaian tinggi, saat ini Bee Kun Bu merasa takut Sebab, suara itu mirip suara setan iblis di dalam neraka!

Bee Kun Bu terus merangkak ke depan, Ketika suara itu semakin jelas, Bee Kun Bu pun nyaris merangkak mundur kembali ke dalam penjara tulang-belulang putih.

ia berhenti dari merangkak Kemudian terlihat menghimpun hawa murninya dalam posisi merangkak Setelah itu Bee Kun Bu merasa tidak begitu kacau ketika mendengar suara-suara yang menyeramkan Tak lama ia mulai merangkak maju lagi, Berselang beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menyentuh suatu benda yang sangat dingin.

Karena terkejut Bee Kun Bu langsung merangkak mundur selangkah Lorong itu sangat gelap membuatnya tidak bisa melihat benda apa yang tersentuh tadi.

Sesudah hilang rasa kagetnya, ia menjulurkan tangan ke depan, untuk meraba-raba, Baru tahu sekarang kalau yang disentuhnya tadi sebuah pintu besi kecil

Bee Kun Bu menarik nafas lega, Lalu dia mengeluarkan batu dari dalam bajunya, Setelah digosok batu api itu menyala. Kini matanya melihat sebuah gembok di pintu besi itu.

Sesudah melihat jelas, Bee Kun Bu menyimpan batu api ke dalam bajunya, ia menjulurkan tangan menggenggam gembok, lalu ditariknya sekuat tenaga.

Braaak! Gembok itu tertarik copot Sebelum Bee Kun Bu menarik copot gembok, ia masih mendengar suara yang sangat menyeramkan tadi, Dan begitu gembok ditarik sampai copot, mendadak suara yang menyeramkan lenyap, tak terdengar lagi.

Bee Kun Bu tertegun ia sama sekali tidak tahu apa sebab musababnya suara yang menyeramkan itu terhenti mendadak Lama sekali barulah ia menjulurkan tangannya mendorong pintu besi. Seketika terdengarlah suara Krek! Kreeeek!

Tampak pula sedikit cahaya di dalam, Hal itu sangat menggembirakan Bee Kun Bu, maka ia pun menjulurkan kepala ke dalam, seketika sekujur badannya seperti tersengat strom, bergemetar lalu diam

Padahal entah sudah berapa puluh kali Bee Kun Bu menghadapi bahaya, juga sering menyaksikan hal-hal yang menyeramkan Namun kejadian barusan membuatnya merasa begitu ketakutan sebetulnya apa yang telah dilihatnya?

Meskipun Bee Kun Bu kini agak tenang, belum tentu ia akan merangkak maju, kemungkinan besar malah akan merangkak mundur.

Ternyata ketika Bee Kun Bu memandang ke dalam, di situ ternyata merupakan sebuah penjara. Tampak cahaya kehijau- hijauan, bahkan terlihat juga belasan orang duduk diam dengan mata menatap Bee Kun Bu.

Mereka terlihat tidak menyerupai manusia lagi, Semua sudah cacat, tangan dan kaki tidak utuh, Mata, hidung, mulut, dan telinga sudah tidak karuan bentuk dan rupanya.

Akan tetapi yang mengherankan mereka masih hi-dup! Lalu bagaimana mereka mempertahankan hidup seperti itu?

Mereka lebih tepat dikatakan menyerupai mayat hidup, Tatapan mereka kepada Bee Kun Bu menyiratkan rasa kebencian Tentu saja Bee Kun Bu heran bukan main, kenapa mereka menatapnya dengan cara begitu, Seakan memendam dendam kesumat Pemuda itu memandang ke atas, Ternyata di situ terukir beberapa huruf berbunyi demikian: "Penjara Mayat Hidup".