Bangau Sakti Jilid 44

 
Jilid 44

Kemudian Bee Kun Bu mendongakkan kepala memandang ke langit-langit gua. Tinggi gua itu tidak rata, ada yang setinggi tiga depa, dua depa dan ada pula yang dapat diraih dengan tangan.

Bee Kun Bu mulai memeriksa langit-langit gua yang paling tinggi, ia melesat ke atas, lalu bergantung di langit-langit dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan Teng Thian Sin Cin. Karena senjata itu memancarkan cahaya, maka Bee Kun Bu bisa melihat langit- langit gua itu dengan jelas.

Bee Kun Bu terus memeriksa di langit-langit gua, namun tetap tidak menemukan terowongan rahasia itu.

"Adik Kun Bu!" terdengar suara seruan Pek Yun Hui. "Engkau sedang berbuat apa?"

Ternyata Pek Yun Hui telah usai membantu Sie Bun Yun mendesak ke luar hawa racun tersebut Begitu mendengar seruan itu, Bee Kun Bu segera melayang turun seraya menyahut

"Kakak Pek, tadi ada salah seorang murid Hwa San Pay memberitahukan, bahwa di dalam gua ini terdapat sebuah terowongan rahasia, maka aku terus mencari terowongan rahasia itu."

"Oh, ya?" Pek Yun Hui tampak girang sekali.

TapL.," Bee Kun Bu tersenyum getir "Ya atau tidak, aku tidak berani memastikannya, sebab sejak tadi aku memeriksa ke sana ke mari, sama sekali belum menemukan apa-apa." "Dari pada kita duduk menunggu, memang lebih baik mencari terowongan rahasia itu," ujar Pek Yun Hui, "Benar ada atau tidak, tiada ruginya bagi kita mencari Adik Kun Bu, aku akan membantumu memeriksa langit-langit gua ini."

"Baik." Bee Kun Bu mengangguk

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mulai memeriksa langit- langit gua, Walau mereka berdua telah memeriksa seluruh langit-langit gua, tapi tidak menemukan apa-apa.

Bee Kun Bu melayang turun, lalu memandang beberapa orang yang sedang memeriksa permukaan dasar gua itu seraya bertanya.

"Apakah kalian menemukan sesuatu?"

Orang-orang itu menggelengkan kepala sambil tersenyum getir, dan Bee Kun Bu mulai tampak putus asa.

Pek Yun Hui melayang turun, lalu memandang Sie Bun Yun yang wajahnya mulai kemerah-merahan, Lega-lah hatinya, dan kemudian memandang Bee Kun Bu.

"Kupikir, mungkin murid Hwa San itu cuma omong kosong," ujarnya sambil menarik nafas.

"Kalau begitu, kita. " ucapan Bee Kun Bu diputuskan oleh

seruan seseorang.

"Bee siauhiap, Pek Lie Hiap! Di sini kedengarannya seperti kosong!"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui segera ke tempat itu.

Ternyata tempat itu agak tinggi, merupakan tempat duduk Kai Thian Kauw Cu dan wakil nya.

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui melihat seseorang berjongkok di situ, tangannya mengetuk permukaan tempat itu dengan sebuah batu, lalu menempelkan telinganya pada tempat itu.

"Nah! Kalian berdua coba dengar!" ujar orang itu, Bee Kun Bu memasang kuping, begitu pula Pek Yun Hui. Kemudian orang itu mengetuk lagi, Tidak salah, di bawah tempat itu memang kedengaran kosong, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui saling memandang, kemudian menempelkan telinga pada permukaan tempat itu.

Tak lama, wajah mereka tampak berubah serius. Ternyata mereka mendengar suara seperti arus air.

Bee Kun Bu bangkit berdiri, lalu memperhatikan tempat yang agak tinggi itu.

Tempat itu menyerupai atau berbentuk seperti sebuah batu yang menonjol dari bawah, dan tampak alami, Kalau benar itu mulut terowongan rahasia, memang sulit diduga, Setelah memperhatikan tempat itu, Bee Kun Bu mengeluarkan Teng Thian Sin Cin. Ditusukkannya senjata itu pada tempat tersebut sehingga menancap, Begitu senjata tersebut dicabutnya, muncratlah air ke atas bagaikan air mancur

"Mungkin di bawah tempat ini terdapat sebuah sungai yang sangat deras arusnya," ujar Pek Yun Hui.

"Kakak Pek!" sahut Bee Kun Bu. "Mungkin terowongan rahasia itu adalah sungai yang di bawah ini."

"Kalau pun benar. " Pek Yun Hui tersenyum getir "Kita

juga tidak akan dapat meloloskan diri dari sini." "Kenapa?" tanya Bee Kun Bu.

"Sebab lubang itu sangat keciI. " Pek Yun Hui menarik

nafas panjang.

"Aku akan membuat lubang itu jadi besar," ujar Bee Kun Bu. ia menusuk lagi, namun mendadak terdengar sebuah seruan.

"Bee siauhiap, celaka!"

Bee Kun Bu segera menoleh, seketika juga tertegun. Ternyata di tempat lain telah digenangi sedikit air. Karena Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui berada di tempat yang agak tinggi itu, maka tidak mengetahuinya.

"Adik Kun Bu, kita harus cepat cari akal untuk menutup lubang-iubang itu," ujar Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu segera mengambil batu untuk menutupi lubang-iubang itu, tapi air masih terus muncrat ke atas.

Sie Bun Yun yang duduk bersila itu membuka mata-nya.

Ketika melihat air itu, ia terkejut sekali.

"Apakah Co Hiong mengalirkan air ke gua ini?" tanyanya. "Bukan," sahut Pek Yun Hui. HAir itu muncrat dari bawah."

"Kupikir, apa yang dikatakan murid Hwa San itu adalah sungai di bawah itu, yang dapat tembus ke luar, itu yang kita harapkan, dan kita harus mencobanya," ujar Sie Bun Yun.

Pek Yun Hui mengibaskan tangannya ke arah batu yang menutupi lubang-iubang itu, dan seketika air pun muncrat ke atas.

Setelah menyaksikan itu, Sie Bun Yun bersorak girang. "Saudara Sie Bun, apa pula yang terpikirkan?" tanya Bee

Kun Bu.

Sie Bun Yun tidak menyahut, melainkan menjulurkan tangannya untuk meraih air yang muncrat itu, lalu ditarik kembali

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandang, Mereka berdua sama sekali tidak tahu kenapa Sie Bun Yun berbuat begitu?

"Kalian lihatlah!" ujar Sie Bun Yun. "Apa yang di tanganku?"

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu langsung memandang ke telapak tangan Sie Bun Yun. Ternyata di telapak tangan pemuda itu terdapat seekor ikan kecil. Di dalam air itu terdapat ikan, tentunya air itu mengalir dari luar, Nah, berarti kita telah menemukan jalan ke luar!" Sie Bun Yun memberitahukan dengan wajah berseru

Apa yang dikatakan Sie Bun Yun membuat semua orang ikut girang.

"Saudara Bee! pergunakan Teng Thian Sin itu untuk membuat lubang yang lebih besar!" lanjut Sie Bun Yun.

Bee Kun Bu mengangguk, lalu menggunakan Teng Thian Sin menusuk-nusuk tempat itu. Tak lama kemudian lubang itu menjadi lebar, dan pancaran air makin rendah, tetapi terus mengalir ke luar

"Saudara Bee!" tanya Sie Bun Yun, "Rasanya ada berapa tebal batu itu?"

Tidak sampai setengah meter," sahut Bee Kun Bu.

"Kalau begitu. " Sie Bun Yun tersenyum, "Kita mempunyai

harapan."

Sie Bun Yun mengarah pada para anggota Kai Thian Kauw, kemudian ujarnya dengan suara lantang.

"Kalian semua harus berdiri di tempat yang agak tinggi, dan apabila air itu menerjang ke luar, kalian tidak boleh panik!"

"Ya," sahut mereka semua, lalu berdiri di tempat yang agak tinggi.

"Adik Pek, Saudara Bee!" ujar Sie Bun Yun, "Kita bertiga melancarkan pukulan serentak untuk menghancurkan batu itu!"

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mengangguk Kemudian mereka bertiga berdiri sambil menghimpun Lweekang, setelah itu mereka melancarkan pukulan serentak ke arah batu tersebut

Bum! Seketika itu juga air dari bawah menerjang ke iuar, Terjangan air itu begitu dahsyat sehingga mereka bertiga terdorong ke belakang.

"Bagaimana sekarang?" tanya Bee Kun Bu. "Kita sama sekali tidak dapat mendekati lubang, karena terjangan air itu sangat kuat,"

"Itu. " Sie Bun Yun memandang Pek Yun Hui "Adik Pek,

di antara kita bertiga, kepandaianmu yang paling tinggi, cobalah engkau dekati lubang itu!"

Pek Yun Hui mengangguk, lalu menarik nafas dalanv dalam sekaligus menutup pernafasannya, selangkah demi selangkah didekatinya lubang besar itu. Akan tetapi terjangan air sungguh dahsyat sekali, maka Pek Yun Hui melangkah dengan ilmu pemberat badan.

Pakaian dan rambut Pek Yun Hui telah basah kuyup, ia terus melangkah, dan tak lama kemudian sampai di pinggir lubang itu. ia ingin terjun ke dalam lubang itu, tapi terhalang oleh terjangan air yang sangat dahsyat

Mendadak badan Pek Yun Hui terpental ke atas, terdorong oleh tenaga terjangan air. Tangannya langsung menggapai langit-langit gua sekaligus bergantung di situ, Setelah itu, barulah ia melayang turun.

sementara genangan air di dalam gua itu semakin tinggi, Para anggota Kai Thian Kauw sudah mulai terendam air. Bee Kun Bu merasa tidak tega menyaksikannya.

"Kalian semua boleh naik ke mari, jangan terus berendam di situ!" ujar Bee Kun Bu.

"Hm!" dengus Sie Bun Yun seraya berkata, "Mereka itu sering melakukan kejahatan, Saudara Bee tidak perlu menaruh belas kasihan pada mereka!"

"Mereka mau bertobat, maka kita harus memberi kesempatan pada mereka," ujar Bee Kun Bu sambil menarik nafas. "Kalian sudah dengar apa yang dikatakan Bee siau-hiap?" bentak Sie Bun Yun. "Ayoh! cepatlah kalian naik ke mari!"

Belasan orang itu mengangguk, lalu naik ke tempat Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun berdiri

Bee Kun Bu termangu-mangu memandang terjangan air itu. Berselang sesaat ia berseru mendadak

"Aku punya akal!"

"Akal apa?" tanya Sie Bun Yun cepat

"Kakak Pek bisa terpental tadi, itu disebabkan badannya kurang berat Kalau badannya diikat dengan batu, mungkin bisa tenggelam ke dalam dan mencari jalan keluarnya," jawab Bee Kun Bu menjelaskan

"Benar," sahut Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui, "Memang boleh dicoba."

"Kali ini biar aku saja," ujar Bee Kun Bu.

Tapi. " Sie 6un Yun ragu, sebab ia tahu itu cukup

berbahaya, justru karena berbahaya, maka Bee Kun Bu mau menempuhnya, agar tidak menyusahkan Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui.

"Tidak!" Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Biar aku saja!"

"Sudahlah!" Bee Kun Bu memandang mereka, Ten-tunya kalian tahu, itu cukup berbahaya, maka harus aku yang menempuhnya, Kalau salah satu di antara kalian yang menempuh bahaya itu, dan kemudian terjadi se-suatu, yang satu pasti berduka sekali, sedangkan aku, biarpun mati, tiada seorang pun akan merasa berduka,.,."

"Adik Kun Bu!" Pek Yun Hui tertegun "Apa maksudmu berkata begitu?"

"Adik Loan kena racun ular kilat hijau, tipis sekali harapannya untuk hidup, Kalau aku mati, tentunya kami akan bertemu di alam baka," sahut Bee Kun Bu sambil menarik nafas panjang.

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun saling memandang, sedangkan Bee Kun Bu memandang para anggota Kai Thian Kauw.

"Cepatlah kalian cari tali dan batu!" serunya.

Tampak beberapa orang langsung pergi mencari tali dan batu yang berukuran cukup besar, Setelah itu, mereka ikat batu itu di badan Bee Kun Bu.

Perlahan-lahan Bee Kun Bu melangkah ke lubang itu bagaikan robot, Ketika ia sudah dekat dengan lubang itu, Sie Bun Yun berteriak mengingatkannya.

"Saudara Bee! Apabila badanmu sudah tenggelam, engkau harus cepat-cepat membuka tali itu!"

"Adik Kun Bu, pereayalah! Adik Loan tidak akan mati!" sambung Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu manggut-manggut, kemudian ia melangkah maju lagi, namun terhalang oleh terjangan air. ia berkertak gigi dan melangkah maju setapak demi setapak, akhirnya mencapai juga pinggir lubang itu.

ia langsung terjun ke dalam lubang itu, dan membiarkan badannya tenggelam. Berselang sesaat, barulah ia membuka matanya, tetapi tak melihat apa pun, sebab keadaan di dalam lubang itu gelap sekali

Bee Kun Bu tahu, kini dirinya sudah berada di dalam sungai Segeralah ia membuka tali yang mengikat batu di badannya, lalu berenang di dalam air, Tak seberapa lama kemudian, ia melihat ada cahaya di depan.

Giranglah Bee Kun Bu, sehingga bertambah semangat dan terus berenang ke depan. Berselang sesaat, ia sudah semakin mendekati cahaya itu, Setelah itu, barulah ia muncul di permukaan air. Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam, lalu menengok ke sana ke mari Ternyata ia berada di dalam sebuah telaga yang di kelilingi gunung.

Segeralah ia berenang menepi Setelah sampai di tepi, ia naik, lalu duduk beristirahat di situ, Kini ia sudah berani memastikan, lubang di dalam gua itu merupakan jalan untuk meloloskan diri

Akan tetapi bagaimana cara ia kembali ke dalam gua untuk memberitahukan pada Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun?

Tentunya tidak bisa berenang ke tempat itu lagi

Bee Kun Bu terus berpikir, akhirnya mengambil keputusan untuk mencari pintu masuk gua itu, ia harus membuka semua pintu besi yang ada di dalam gua, agar Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan lainnya bisa selamat

Setelah mengambil keputusan itu, Bee Kun Bu menggenggam erat-erat Teng Thian Sin Cin sambil berjalan ke depan.

Tapi Bee Kun Bu tidak tahu persis di mana gua itu, sebab ketika ia dibawa ke sana dalam keadaan pingsan, Untung ia masih ingat bentuk gunung itu, ia lalu memandang ke depan, tampak sebuah gunung yang berbentuk seperti dalam ingatannya.

Segeralah ia menuju gunung tersebut setibanya di kaki gunung, tampak pula sebuah gua di situ. Bee Kun Bu mulai tegang, namun tetap menerobos ke dalam agak gelap di dalam gua itu.

Di saat ia ingin melangkah, tiba-tiba terdengar suara tawa dari dalam, ia cepat-cepat berhenti dan terkejut bukan main, sebab ia mengenali suara tawa itu, yang tidak lain adalah suara tawa Co Hiong.

"Kauw Cu boleh berlega hati." Suara Co Hiong, "Di pintu besi ke enam dan ke tujuh telah dipasang hawa beracun, Maka meskipun mereka bisa memboboI pintu itu dengan Teng Thian Sin Cin, tapi tidak akan terluput dari hawa beracun tersebut"

Suara itu berasal dari sebelah kiri Bee Kun Bu segera bersembunyi di tempat yang gelap.

"Co Hiong!" Suara Kai Thian Kauw Cu. "Engkau belum tahu, bahwa di dalam gua terdapat sebuah sungai di bawah tanah yang bisa menembus ke Iuar. Kalau mereka menghancurkan batu itu, pasti dapat meloloskan diri."

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Kalau mereka menghancurkan batu itu, otomatis air sungai akan mengalir masuk, dan mereka semua akan mati terendam, Lagi pula masih ada belasan orang yang terluka di sana, tidak mungkin mereka tega meninggalkan orang-orang yang terluka itu.

"Ngmmm!" Kai Thian Kauw Cu manggut-manggut "Hanya saja... apakah ke dua penjaga pintu itu dapat

dipereaya?" tanya Co Hiong mendadak

"Sudah lama ke dua orang itu ikut aku, dan mereka berdua setia sekali padaku." sahut Kai Thian Kauw Cu yakin.

"Hati manusia sulit diduga, kita harus mengawasi mereka!" ujar Co Hiong.

"Cukup engkau saja yang mengawasi mereka!" sahut Kai Thian Kauw Cu. "Engkau berjalan dari sini ke depan, ada sebuah batu bulat di sana, putar batu bulat itu, engkau akan sampai di ruang pengontrol."

Bee Kun Bu yang mencuri pembicaraan itu, girang bukan main ketika mendengar pembicaraan Kai Thian Kauw Cu.

Ketika ia ingin memutarkan badannya menuju tempat itu, tiba-tiba terdengar suara "Krek\ Tampak Co Hiong berjalan ke luar dari salah sebuah pintu batu, Cepat-cepat Bee Kun Bu bersembunyi lagi, sedangkan Co Hiong terus berjalan ke depan. sesungguhnya Bee Kun Bu sudah ingin menyerang Co Hiong, Namun karena ia tahu, Kai Thian Kauw Cu berada tak jauh dari situ, maka ia tidak berani bertindak sembarangan

Co Hiong sudah, berjalan agak jauh, tapi Bee Kun Bu sama sekali tidak merasa menyesal, sebab ia memang harus berhati-hati.

Setelah Co Hiong berada sejauh beberapa depa, barulah Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang

Co Hiong melangkah tidak tergesa-gesa. Maka gampang sekali Bee Kun Bu mengikutinya, namun ia sama sekali tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Tak lama kemudian, Co Hiong berhenti di sebuah pintu batu, Segeralah Bee Kun Bu bersembunyi

Co Hiong berdiri mematung di situ, Kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, Sepasang alisnya terangkat, kemudian memandang ke depan, Kebetulan Bee Kun Bu sudah bersembunyi maka Co Hiong tidak melihatnya.

Tiba-tiba Co Hiong mengetuk pintu batu itu, dan terdengarlah suara sahutan dari dalam.

"lni adalah tempat terlarang, siapa berani ke mari mengetuk pintu?"

"Sialan kalian!" sahut Co Hiong, "Aku Co Hiong!" Ternyata adalah.,,." Suara di dalam berubah ketakutan "...

wakil Kauw Cu, maaf! Kami tidak tahu kedatangan wakil Kauw Cu."

Tak lama pintu batu itu terbuka, dan Bee Kun Bu memandang ke dalam, Tampak banyak terdapat batu bulat di situ, sedangkan ke dua orang yang di dalam itu berusia enam puluhan, tetapi masih tampak gagah.

Co Hiong melangkah ke dalam, lalu pintu batu itu tertutup kembali Secepat kilat Bee Kun Bu melesat ke pintu batu itu, lalu pasang kuping. "Apakah ada yang mencurigakan ke mari?" tanya Co Hiong.

"Lapor pada wakil Kauw Cu, ini adalah tempat terlarang." jawab salah seorangtua itu, "Kalau tiada perintah dari Kauw Cu, siapa pun tidak berani ke mari."

"Kini aku sudah ke mari, kalian mau apa?" tanya Co Hiong mendadak

"Wakit Kauw Cu omong bereanda." Salah seorangtua itu tertawa.

Setelah mendengar pereakapan itu, Bee Kun Bu yakin, bahwa Co Hiong akan turun tangan jahat terhadap ke dua orangtua itu, ia lalu mengeluarkan Teng Thian Sin Cin, dan tangan kirinya mengetuk pintu batu itu.

"Siapa?" terdengar suara sahutan bertiga dari dalam. "Ada perintah dari Kauw Cu!" Bee Kun Bu menyerakkan

suaranya, "Wakil Kauw Cu dipanggil!"

"Aku baru saja berpisah dengan Kauw Cu, kenapa mendadak dipanggil?" tanya Co Hiong.

"Maaf, aku cuma diperintah begitu, tidak tahu apa sebabnya," sahut Bee Kun Bu dengan hati berdebar-debar.

"Hm!" dengus Co Hiong. "Bukakan pintu!"

Bee Kun Bu semakin tegang, ia meluruskan Teng Thian Sin Cin ke depan, Begitu pintu itu terbuka, Bee Kun Bu langsung maju selangkah sambil menuding dada Co Hiong dengan senjata itu.

Kejadian itu sungguh di luar dugaan Co Hiong, Sehingga ia tak dapat berkutik, tetapi masih sempat menyurut mundur dua langkah

Akan tetapi, Bee Kun Bu segera melangkah ke depan, maka Co Hiong tetap tidak bisa bergerak sama sekali, Lebih celaka lagi punggungnya telah membentur dinding di situ. "Co Hiong!" Bee Kun Bu tertawa dingin, "Engkau tidak sangka aku akan muncul mendadak di sini kan?"

Saat ini, dada Co Hiong masih di todong dengan Teng Thian Sin Cin. Bahkan senjata itu telah menembus bajunya, sehingga dadanya mengucurkan sedikit darah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin ia berani sembarangan bergerak? ia hanya berlaku setenangnya, kemudian ujarnya sambil tersenyum.

"Kukira siapa, tidak tahunya Saudara Bee!"

"Co Hiong!" Bee Kun Bu menatapnya dingin, "Pereuma engkau banyak omong!"

Usai berkata begitu, Bee Kun Bu mengibaskan tangannya agar pintu ruang batu itu tertutup kembali, lalu membentak ke dua orangtua penjaga tersebut

"Cepat bukakan ke tujuh pintu besi itu!"

Wajah ke dua orangtua itu tampak menghijau. Me-reka melangkah ke belakang sambil memandang Bee Kun Bu, namun tidak membuka ke tujuh pintu besi tersebut

Bee Kun Bu tahu jelas, walau kini ia telah menguasai Co Hiong, namun akan diketahui oleh orang kalau ia terlalu lama di situ, dan tentunya akan dilaporkan pada Kai Thian Kauw Cu. sedangkan Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun masih terkurung di dalam, apabila ia tidak bertindak cepat, kemungkinan besar Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun akan mati tergenang air.

"Hai! Kalian dengar tidak?" Bee Kun Bu mulai gugup, "Cepat buka ke tujuh pintu besi itut"

Akan tetapi, ke dua orangtua itu masih tetap tak bergerak "Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Apakah kalian bosan hidup?" "Silakan bunuh kami berdua!" sahut ke dua orangtua itu

serentak Bee Kun Bu tertegun ia sama sekali tidak menyangka kalau ke dua orangtua itu begitu setia terhadap Kai Thian Kauw Cu.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak "Kalau pun engkau membunuh kami bertiga, belum tentu akan dapat menolong Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun yang terkurung itu! Lagipula para anggota Kai Thian Kauw sangat setia pada Kauw Cu!"

Bee Kun Bu betul-betul tidak tahu harus berbuat apa.

Namun kemudian ia mendadak teringat sesuatu.

"Kalian berdua! Apakah kalian punya seorang famili di dalam Kai Thian Kauw?" tanya Bee Kun Bu pada ke dua orangtua itu. "Muka orang itu penuh bewok."

"Kalau benar kenapa?" sahut ke dua orangtua itu.

"Kalian begitu setia terhadap Kauw Cu, tapi dalam pandangan Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong, kalian tak ubahnya seperti semut," ujar Bee Kun Bu sambil menggeleng- gelengkan kepala.

"Hm!" dengus salah seorang dari ke dua orang itu.

Tahukah kalian, ada belasan anggota Kai Thian Kauw yang ikut terkurung di dalam? Bahkan mereka masih dalam keadaan terluka, dan famili kalian itu justru terkurung di situ juga!"

Wajah ke dua orang itu tampak mulai berubah setelah mendengar ucapan Bee Kun Bu, dan itu membuat Co Hiong terkejut sekali

"Saudara Bee!" ujarnya agar ke dua orangtua itu tidak terpengaruh oleh kata-kata Bee Kun Bu. "Engkau me-nasihati orang supaya tidak setia, bukankah engkau akan menjadi lelaki tidak sejati?"

"Co Hiong! Engkau berhati jahat, licik dan kejam! Kalau engkau masih banyak omong, aku tidak akan mengampunimu, dan segera membunuhmu!" sahut Bee Kun Bu dingin. Kali ini Bee Kun Bu kelihatan tidak main-main, maka Co Hiong tidak berani banyak omong lagi sedangkan ke dua orangtua itu masih tampak tertegun.

"Apakah omonganmu itu ada buktinya?" tanya salah seorangtua itu.

"Aku adalah Bee Kun Bu. Selama ini aku tidak " pernah berbicara bohong." sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum "Buka saja pintu besi itu, agar kalian tahu aku berbicara sesungguhnya atau berbohong!"

Ke dua orangtua itu saling memandang dan tampak serba salah dengan wajah muram, Namun mereka berdua tetap tidak bergerak sama sekali sementara Bee Kun Bu mendorong Teng Thian Sin Cin ke depan sedikit, dada Co Hiong terasa sakit sekali, dan ia pun segera berseru.

"Sabar, saudara Bee!"

"Kalau begitu, engkau harus memberitahukan ke dua orang itu, bahwa apa yang kukatakan tadi memang benar adanya!"

Ti... tidak salah," ujar Co Hiong sambil menahan sakit "Memang benar apa yang dikatakan Saudara Bee."

Ke dua penjaga itu terbelalak dan tertegun, Kemu-dian mereka berdua berteriak-teriak dengan penuh kegusaran

"Kauw Cu! Engkau begitu kejam, jangan memper-salahkan kami lagi!"

Mereka berdua segera mendekati salah satu batu bulat yang terdapat di situ, lalu memutarnya dan Bee Kun Bu pun menarik nafas lega.

"Co Hiong, kini engkau masih mau bilang apa?" Bee Kun Bu menatapnya tajam dan dingin.

"Saudara Bee, biar bagaimana pun engkau harus mengingat budi " Co Hiong menarik nafas panjang.

"Budi apa?" bentak Bee Kun Bu. "Lie Ceng Loan kena racun ular kilat hijau, aku yang telah menyelamatkannya dengan empedu ular kilat hijau, Maka secara tidak langsung aku telah menaruh budi padamu, Kini racun itu telah punah dari dalam tubuhnya, dia... terto!ong."

Betapa girangnya Bee Kun Bu mendengar ucapan itu, namun kemudian wajahnya mulai tampak gusar lagi

"Co Hiong, engkau pernah memberitahukan padaku, bahwa Lie Ceng Loan sudah mati, kenapa sekarang malah bilang dia tertolong, dan engkau yang menolongnya?"

Co Hiong mulai berkeringat dingin Sejak ia berkenalan dengan Bee Kun Bu, entah sudah berapa kali ia menipunya, maka kalau kini Bee Kun Bu tidak mempereayainya, itu memang wajar Akan tetapi, kali ini memang benar Co Hiong yang menolong Lie Ceng Loan, meskipun tidak setulus hati karena ia berniat jahat terhadap gadis tersebut

"Saudara Bee. " Co Hiong menarik nafas panjang,

"Memang benar aku yang menolongnya. saudara Bee akan mengetahui setelah kembali ke Kwat Cong San."

"Engkau sudah kerap kali menipuku, maka kali ini aku tidak akan mempereayaimu lagil sahut Bee Kun Bu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Saudara Bee. H Wajah Co Hiong sudah berubah kelabu,

"Kalau engkau belum tahu jelas urusan itu, namun sudah membunuh aku, engkau akan menyesal kelak,"

Bee Kun Bu tertegun ia menatap Co Hiong dengan tajam sekali dan berpikir tama dengan kening berkerut-kerut Apabila benar Co Hiong yang menyelamatkan Lie Ceng Loan, seharusnya Bee Kun Bu berterimakasih padanya, seandainya saat ini membunuhnya, bukankah akan menyesal kelak?

"Bagaimana kalau engkau masih menipuku?" tanya Bee Kun Bu.

"Bukankah kita akan bertemu kembali?" sahut Co Hiong, "Saat itu engkau boleh membunuhku." Bee Kun Bu menatapnya lama sekali, kemudian manggut- manggut Ketika melihat Bee Kun Bu manggut-manggut, legalah hati Co Hiong.

"Saudara Bee!" Co Hiong tersenyum "Apabila benar aku yang menolong Nona Lie, harus bagaimana engkau berterimakasih padaku?"

pertanyaan Co Hiong itu membuat Bee Kun Bu tertegun, ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

"Cobalah engkau katakan saja!" jawabnya kemudian "Saudara Bee, terus terang!" Co Hiong tersenyum lagi,

"Sebetulnya aku tidak menghendaki engkau berterimakasih padaku, cukup engkau mengembalikan Teng Thian Sin Cin padaku saja."

"Baik," Bee Kun Bu mengangguk "Kalau benar engkau yang menolong Ceng Loan, aku pasti mengembalikan senjata ini padamu."

"Saudara tidak akan suka ingkar janji?" tanya Co Hiong.

"Aku bukan orang yang ingkar janji," sahut Bee Kun Bu.

Setelah menyahut begitu, Bee Kun Bu menjulurkan tangan kirinya untuk menotok jalan darah Co Hiong.

seketika Co Hiong berdiri tak bergerak, sedangkan ke dua orangtua itu telah membuka semua pintu besi.

"Bee siauhiap! Semua pintu besi telah kami buka, Kalau Kauw Cu tahu, kita pasti mati di sini, Engkau harus segera pergi bersama kami," ujar salah seorang penjaga sungguh- sungguh.

"Tentu." Bee Kun Bu mengangguk, "Mari kita pergi!" Mereka bertiga segera meninggalkan ruang batu itu.

Terdengarlah suara air di dalam, rupanya air itu sudah mengalir ke luar begitu pintu-pintu besi itu di buka. Terdengar pula suara Kai Thian Kauw Cu menggeram, yang disusul oleh suara bentakan nyaring Pek Yun Hui.

Mendengar suara itu, Bee Kun Bu langsung melesat kesana, Setelah melewati beberapa tikungan, ia melihat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sedang bertarung melawan Kai Thian Kauw Cu.

Bee Kun Bu bersiul panjang sambil melesat, dan seketika tampak sinar putih berkelebatan

Begitu melihat kemunculan Bee Kun Bu, semangat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun terbangkit

Kai Thian Kauw Cu bertarung seimbang dengan Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, kini ditambah Bee Kun Bu, tentunya Kai Thian Kauw Cu kewalahan menghadapi mereka bertiga, Mendadak ia mengibaskan lengan jubahnya lalu melesat pergi.

Bee Kun Bu ingin mengejarnya, tapi Sie Bun Yun langsung mencegahnya seraya berkata.

"Jangan mengejarnya! Lebih baik kita tinggalkan tempat ini dulu!"

"Apakah mereka yang terkurung di dalam sudah ke luar semua?" tanya Bee Kun Bu.- ia masih memikirkan para anggota Kai Thian Kauw yang terkurung itu.

"Mereka sudah ke luar semua," sahut Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu manggut-manggut, Mereka bertiga lalu pergi, dan tak lama kemudian sudah berada di depan gua. Mereka bertiga sama sekali tidak berhenti, malah menggunakan ginkang melesat pergi secepat kilat.

Setelah menempuh perjalanan tujuh delapan mil, barulah mereka bertiga berhenti, Sie Bun Yun menarik nafas lega dan berkata.

"Saudara Bee, begitu lama engkau pergi, kami kira engkau sudah celaka di dalam air itu." "Begini.,.-" Bee Kun Bu menutur mengenai apa yang dialaminya setelah tenggelam di dalam air dan lain sebagai nya.

"Kenapa engkau tidak membunuh saja Co Hiong?" tanya Sie Bun Yun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau benar Co Hiong yang menyelamatkan nyawa adik Loan, bukankah secara tidak langsung aku telah berhutang budi padanya? Karena itu, aku pun merasa tidak tega membunuhnya," ujar Bee Kun Bu.

Tapi mengenai Teng Thian Sin Cin. " Sie Bun Yun

mengerutkan kening, "Biar bagaimana pun, engkau tidak boleh mengembalikannya."

"Kakak Yun!" Pek Yun Hui menatapnya, "Engkau masih belum tahu bagaimana sifat Bee Kun Bu, kalau dia sudah berjanji begitu, tidak mungkin akan mengingkarinya."

"Dia sering menipumu, Saudara Bee," ujar Sie Bun Yun. "Maka mengingkari janji terhadapnya juga tidak apa-apa."

"Saudara Sie Bun!" Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa berbuat begitu, karena aku tidak mau merendahkan diri sendiri."

"Sudahlah!" tandas Pek Yun Hui. "Kupikir, Co Hiong tidak mungkin berani datang di Kwat Cong San untuk meminta senjatanya itu, Kita tidak perlu memperdebatkan itu, lebih baik kita sekarang kembali ke Kwat Con San saja,"

Pek Yun Hui melirik Sie Bun Yun sambil memberi isyarat padanya, Sie Bun Yun tahu Pek Yun Hui melarangnya berdebat dengan Bee Kun Bu. Tapi kalau pun benar Co Hiong yang menolong Lie Ceng Loan, ia tetap akan mencegah Bee Kun Bu mengembalikan senjata itu pada Co Hiong dengan suatu akal.

Mereka bertiga langsung berangkat ke Kwat Cong San. sepanjang jalan Sie Bun Yun sama sekali tidak menyinggung soal pengembalian senjata tersebut, tapi ia mengasah-asah otak untuk mencegah Bee Kun Bu mengembalikan senjata itu pada Co Hiong.

*****

Bab ke 30 - Berangkat ke Daerah Suku Miauw

Dalam perjalanan menuju Kwat Cong San, mereka sama sekali tidak menemui halangan apa pun.

Pada hari ke dua, di saat hari mulai malam, mereka bertiga sudah memasuki gunung Kwat Cong San, dan langsung menuju gua Thian Kie.

Di dalam gua tersebut tampak agak terang, Hati Bee Kun Bu berdebar tegang, karena ia khawatir Co Hiong mendustainya. Padahal Lie Ceng Loan masih terbaring di tempat tidur

seandainya begitu, entah harus bagaimana baiknya, Sebab waktu Lie Ceng Loan cuma tinggal beberapa hari, berarti sudah tiada waktu bagi Bee Kun Bu mencari ular kilat hijau lagi.

Ketika hatinya berdebar-debar tegang, muncullah Na Hai Peng tetapi tidak tampak Lie Ceng Loan, Oleh karena itu seketika hatinya tenggelam entah ke mana.

"Guru!" tanya Pek Yun Hui. "Apakah adik Loan sudah sadar?"

Na Hai Peng tidak menyahut, melainkan menarik nafas panjang.

Tentunya membuat Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun seakan tersiram air dingin, dan Bee Kun Bu langsung mengucurkan air mata.

"Dia... dia sudah mati?" tanya Bee Kun Bu terisak dengan wajah pucat pias.

"Apa?" Na Hai Peng tertegun "Siapa bilang dia mati? Dia di tolong oleh Co Hiong." Betapa girangnya Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, namun juga merasa terkejut karena Co Hiong yang menolong Lie,Ceng Loan.

"Adik Loan! Adik Loan..." seru Bee Kun Bu.

Akan tetapi, tiada sahutan dari dalam gua Thian Kie, itu membuat Bee Kun Bu terheran-heran.

"Di mana adik Loan?" tanyanya.

Na Hai Peng menarik nafas lagi, itu sungguh mencengangkan Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, kenapa Na Hai Peng menarik nafas panjang ketika Bee Kun Bu menanyakan tentang Lie Ceng Loan?

"Ayah angkat? Apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Bee Kun Bu.

"Tadi siang Pek Ih Sin Kun, ketua partai Swat San datang ke mari. Dia memberitahukan bahwa melihat Kun Lun Sam Cu berada di Yun Lam daerah suku Miauw."

Hati Bee Kun Bu cemas mendengar itu, sebab Kun Lun Sam Cu masih dalam keadaan gila, dan kini berada di daerah Miauw yang masih primitif itu, Apa pula yang akan terjadi atas diri Kun Lun Sam Cu? Lalu Lie Ceng Loan....

"Guru! Apakah adik Loan sudah pergi?" tanya Pek Yun Hui.

"Setelah ketua partai Swat San memberitahukan, Ceng Loan langsung menangis dan bahkan. melesat pergi, Aku

segera menghadangnya tapi dia bilang harus pergi mencari Kun Lun Sam Cu. Kalau lidak, hatinya tidak bisa tenang." jawab Na Hai Peng sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan "Aku tidak bisa mencegahnya."

"Daerah Miauw begitu luas, tepatnya Kun Lun Sam Cu berada di mana?" tanya Bee Kun Bu. "Apakah ketua partai Swat San memberitahukan?" "Ketua partai Swat San memang memberitahukan." Na Hai Peng manggut-manggut. "Kun Lun Sam Cu berada di Tok Coa Tham (Telaga Ular Berbisa)."

"Kalau begitu, apakah guru-guruku telah mati?" tanya Bee Kun Bu dengan wajah muram.

"Mereka tidak mati, rramun keadaan mereka sungguh mengenaskan." Na Hai Peng menarik nafas panjang, "Karena itu, Lie Ceng Loan berduka sekali, sehingga langsung berangkat. "

Ketika Na Hai Peng berkata sampai di sini, Bee Kun Bu bangkit berdiri dengan wajah cemas.

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun tahu akan kecemasan-nya.

Tidak perlu cemas, tenang saja!"

Tapi guru. " sepasang mata Bee Kun Bu sudah basah.

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun menggenggam tangan-nya. "Legakanlah hatimu, kami pun tidak akan tinggal diam Lebih baik tunggu Na Locianpwee menyelesaikan penuturannya,"

"Saudara Sie Bun!" Bee Kun Bu memang tampak gelisah sekali "Lagipula menyangkut adik Loan, maka kita harus segera berangkat ke daerah Miauw!"

"Guru! Apa yang diceritakan ketua partai Swat San?" tanya Pek Yun Hui.

"Dia bilang, Telaga Ular Berbisa terletak di Tok Sui Tong (Gua Air Beracun), yaitu salah satu gua yang sangat berbahaya dari tujuh gua yang amat terkenal di daerah Miauw," jawab Na Hai Peng memberitahukan. "Tok Sui Tong Cu (Majikan Gua Air Beracun) dipanggil Swat Lo Kongcu (Putri Swat Lo)."

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun tertegun, kemudian mereka bertanya serentak dengan wajah penuh keheranan

Ternyata masih ada orang lain!" "Benar." Na Hai Peng mengangguk "Oh ya! Kalian belum pernah mendengar tentang tujuh gua itu?"

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu saling memandang. Mereka bertiga memang tidak pernah mendengar tentang ke tujuh gua itu, sebab mereka sama sekali tidak pernah ke sana, lagi pula daerah Miauw masih primitif, maka jarang ada orang ke sana.

Sie Bun Yun memang pernah mendengar tentang tujuh gua tersebut, tetapi waktu itu ia masih kecil, masih berada di Cui Cuk San Cung, dan kini sudah lupa sama seka!i.

"Guru, kami harus berangkat ke daerah Miauw, harap Guru menceritakan tentang keadaan daerah itu, agar kami bisa menjaga diri." ujar Pek Yun Hui.

"Terus terang, kaum Bu Lim Tionggoan boleh dikatakan hanya beberapa orang yang mengetahui tentang tujuh gua di daerah Miauw itu," Na Hai Peng memberitahukan "Aku mendengarnya ketika masih berada di istana."

"Oh!" Sie Bun Yun mengerutkan kening, "Kalau begitu sudah lama sekali?"

"Ya." Na Hai Peng mengangguk, kemudian menarik nafas panjang dan tampak termenung.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tahu Na Hai Peng sedang mengenang masa lalunya di istana bersama Cui Tiap, isterinya, sehingga wajah Na Hai Peng kelihatan muram Lama sekali barulah membuka mulut dengan mata bersimbah air.

"Dua puluh tahun silam, putri Lan Tay baru lahir..." tutur Na Hai Peng. "Kepala pengawal istana mengundang seorang pesilat tinggi dari daerah Miauw, Kami baru tahu tentang daerah Miauw dari pesilat tinggi itu. Ternyata ilmu silat aliran Miauw sangat aneh, lihay dan lain dari pada yang lain. Setiap gua dari tujuh gua itu terdapat pesilat tangguh." "Bagaimana ilmu pesilat yang datang dari daerah Miauw itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Pada waktu itu, kepandaian pesilat Miauw tersebut berada di atas kepandaianku," jawab Na Hai Peng memberitahukan "Kami berdua sudah jadi teman akrab, namun akhirnya kami berpisah di tengah malam."

"Na Locianpwee!" tanya Sie Bun Yun girang, "Apa-kah orang itu berkedudukan tinggi di daerah Miauw?"

"Kedudukannya di daerah itu memang tinggi," sahut Na Hai Peng sambil manggut-manggut, "Dia salah satu Tongcu (Pemimpin Gua) dari Tujuh Gua Keramat di daerah Miauw, dia dipanggil Ang Ngai Tongcu."

"Bagus kalau begitu," ujar Sie Bun Yun. "Bukankah akan beres kalau kami ke sana mencarinya?"

"Aku pun berpikir demikian, bahkan telah kuberitahukan pula pada Ceng Loan, tapi sudah sekian tahun, entah dia masih hidup atau sudah mati." Na Hai Peng menarik nafas.

"Seandainya dia mati, tentunya dia punya anak," ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "Ayahnya adalah teman baik guru, sudah pasti anak itu bersedia membantu kami."

"Mudah-mudahan begitu!" ujar Sie Bun Yun "Mengenai seluk beluk rimba persilatan daerah Miauw,

harap Locianpwee sudi menjelaskannya!" ujar Sie Bun Yun.

"Ngmm!" Na Hai Peng manggut-manggut, "Pada waktu itu, Ang Ngai Tongcu punya tujuh saudara seperguruan, guru mereka bernama Liat Pah To. Orang tersebut berkepandaian sangat tinggi, dan dianggap sebagai raja di daerah itu, namun berhati kejam."

Na Hai Peng berhenti menutur sambil memandang Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu, setelah itu barulah melanjutkan "Temanku itu bilang, Liat Pah To bermukim di tebing curam, dan jarang ke mana-mana, Kalau kalian sudah tiba di daerah Miauw itu, berupayalah agar tidak bertemu Liat Pah To."

"Guru!" Pek Yun Hui mengerutkan kening. Tadi guru bilang Kun Lun Sam Cu di kurung oleh Tok Sui Tongcu yang dipanggil Swat Lo Kongcu, itu apa gerangannya?"

"Aku pun tidak habis berpikir." Na Hai Peng menggeleng- gelengkan kepala, "Aku bilang begitu, sebab tiada seorang wanita pun di antara Cit Tong Tongcu (Pemimpin Tujuh Gua Keramat)."

"Ayah angkat!" tanya Bee Kun Bu mendadak "Kenapa ayah angkat tidak memberitahukan nama pesilat dari daerah Miauw itu pada kami?"

"Aku pun tidak tahu namanya," sahut Na Hai Peng. "Eh?" Pek Yun Hui tereengang "Bukankah Guru teman

akrabnya? Kenapa dia tidak memberitahukan namanya?"

"Justru karena kami sangat akrab, maka dia tidak mau memberitahukan namanya padaku," sahut Na Hai Peng sambil menarik nafas.

"Kok begitu?" tanya Pek Yun Hui.

"Dia bilang, kalau memberitahukan namanya pada-ku, itu akan membuat diriku dalam bahaya," jawab Na Hai Peng. "Dia meninggalkan daerah Miauw, rupanya juga terpaksa dan ada sesuatu yang terganje! dalam hatinya!"

"Locianpwee, bagaimana raut muka orang itu?" tanya Sie Bun Yun.

"Dia orang Miauw, berbadan tinggi besar dan di keningnya terdapat sebuah tanda bulan sabit," Na Hai Peng memberitahukan "Katanya, keluarganya turun temurun harus ada tanda tersebut di kening." "Kalau begitu, gampang bagi kami mencarinya," ujar Sie Bun Yun.

"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya Bee Kun Bu yang tidak sabaran

Pek Yun Hui ingin mengatakan sesuatu, tapi Na Hai Peng cepat-cepat memberi isyarat padanya, maka Pek Yun Hui mengatakan yang lain.

"Kakak Yun dan Adik Kun Bu boleh bersiap-siap, Aku pun harus bersiap-siap pula, Lalu kita langsung berangkat ke daerah Miauw."

Pek Yun Hui melangkah ke dalam gua Thian Kie, dan Na Hai Peng mengikutinya dari belakang.

"Guru!" bisik Pek Yun Hui. "Ada suatu urusan?"

"Anak Tay!" sahut Na Hai Peng dengan kening berkerut "Engkau harus lebih cermat Aku pun harus memberitahukan bahwa perjalanan menuju daerah Miauw sungguh berbahaya sekali."

"Aku sudah tahu itu, tapi masih kurang jelas akan situasi sebenarnya di daerah itu," ujar Pek Yun Hui.

"Setelah aku akrab dengan Ang Ngai Tongcu, maka aku sering memperhatikan gerak-geriknya. Kelihatannya dia seperti tereekam sesuatu, seakan ada suatu kejadian atau perubahan di daerah Miauw."

"Oh?"

"Di daerah Miauw masih terdapat banyak tempat yang belum pernah dijamah manusia, Tempat-tempat itu penuh dihuni ular berbisa dan binatang berbisa lainnya, sedangkan orang Miauw memang mahir menggunakan binatang berbisa, Maka kalau kalian kurang hati-hati, tentu bisa pergi tak bisa pulang lagi."

"Guru!" Pek Yun Hui tertegun, kemudian bertanya, "Apakah ketua Swat San tidak bilang apa-apa lagi?" "Ketika dia datang ke mari memberitahukan itu," kelihatannya masih menyimpan suatu rahasia." Na Hai Peng menarik nafas, "Lagi pula keningnya agak kehijau-hijauan, pertanda dia telah terkena racun, Dan juga kedengarannya kini Cit Tong yang di daerah Miauw, sudah tidak menuruti perintah Liat Pah To lagi, melainkan dibawah perintah Tok Sui Tongcu-Swat Lo Kong-cu. justru itulah yang sangat membingungkan-

Tampak Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu melangkah ke dalam, Karena itu Pek Yun Hui segera berkata pada Na Hai Peng.

"Guru! Aku ingin menanyakan sesuatu, harap guru cepat menjawab!"

"Engkau ingin bertanya tentang apa?" "Bagaimana dengan Kun Lun Sam Cu?"

"Tadi Bee Kun Bu berada di tempat, maka aku tidak mau mengatakannya, sebab akan membuatnya bertambah cemas. " ucapan Na Hai Peng terputus, karena Bee Kun Bu

telah berseru.

"Kakak Pek! Kami sudah siap berangkat!"

"Kalian berdua jalan duluan, Aku masih ingin berpesan sesuatu pada anak Tay!" sahut Na Hai Peng.

Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu memang merasa heran, tapi mereka berdua tidak berani bertanya apa pun, dan langsung melangkah ke luar

Ternyata Tok Sui Tongcu tahu kalau Kun Lun Sam Cu terkena racun, maka ingin mengeluarkan racun itu dan dicampur dengan racunnya, sehingga akan tereipta semacam racun yang sangat lihay luar biasa," ujar Na Hai Peng setelah Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu melangkah pergi, "Karena itulah, Kun Lun Sam Cu di kurung di dalam Tok Coa Tham.

Setiap hari ratusan ular berbisa menyedot darah mereka." "Kalau begitu. " Wajah Pek Yun Hui berubah, "Bu-kankah

Kun Lun Sam Cu pasti sudah mati?"

Tidak juga." Na Hai Peng menggelengkan kepala. "Sebab Swat Lo Kongcu terus mengontrol setiap hari, maka Kun Lun Sam Cu tidak akan mati digigit ular berbisa itu."

" Apakah adik Loan tahu tentang itu?" tanya Pek Yun Hui. "Ketika ketua Swat San baru mau memberitahukan aku

memberi isyarat padanya," jawab Na Hai Peng. "Oooh!" Pek Yun Hui menarik nafas lega.

"Anak Tay!" pesan Na Hai Peng. Tentang itu jangan sampai Kun Bu mengetahuinya."

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk

Mereka berdua lalu berjalan ke luar, sedangkan Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu sudah menunggu di sana.

"Guru! Kami berangkat!" ucap Pek Yun Hui lalu melesat ke arah Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu.

"Kakak Pek! Ayah angkatku bilang apa padamu?" tanya Bee Kun Bu.

Pada dasarnya Pek Yun Hui bukan gadis yang suka berbohong, namun kali ini terpaksa, itu sesuai dengan pesan Na Hai Peng, agar Bee Kun Bu tidak mengetahui keadaan Kun Lun Sam Cu.

"Guruku berpesan " sahut Pek Yun Hui sambil

memandang Sie Bun Yun, "Dalam perjalanan menuju daerah Miauw, kita harus mencari jejak Na Siao Tiap."

"Na Locianpwee memang berduka sekali atas kepergian Nona Na," sambung Sie Bun Yun yang tahu akan maksud Pek Yun Hui. "Karena itu, kita pun harus menaruh perhatian terhadap jejak Nona Na." sebetulnya Bee Kun Bu agak bereuriga akan perkataan Pek Yun Hui, tapi setelah Sie Bun Yun berkata begitu, ia pun pereaya.

"Benar." Bee Kun Bu manggut-manggut "Alangkah baiknya kalau kita bisa bertemu adik Siao Tiap, jadi kita bisa menunggang Hian Giok menuju daerah Miauw, itu dapat mempersingkat waktu."

Tapi tidak mungkin kita berempat menunggang Hian Giok," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum.

"Kalau bisa bertemu Nona Na, apa salahnya saudara Bee berangkat duluan dengan Nona Na?" ujar Sie Bun Yun.

Karena Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui mengalihkan pembicaraan pada Na Siao Tiap, maka Bee Kun Bu tidak bertanya tentang Kun Lun Sam Cu. Namun mendadak ia menarik nafas panjang.

"Entah bagaimana keadaan guru dan adik Loan, itu sungguh mencemaskan." Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala.

"ltu tidak perlu dicemaskan, Kalau kita sudah tiba di daerah Miauw, bukankah kita akan tahu jelas tentang keadaan mereka ?"

"Ya." Bee Kun Bu manggut-manggut, Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju daerah Miauw dengan perasaan tereekam.

Betapa gusarnya Co Hiong karena kehilangan Teng Thian Sin Cin, dan gagal bersama Kai Thian Kauw Cu membasmi sembilan partai besar di Tionggoan, Akan tetapi, ia yakin Bee Kun Bu pasti mengembalikan senjatanya itu, apabila sudah tahu Lie Ceng Loan ditolong olehnya.

Padahal sesungguhnya Co Hiong mengira, setelah memperoleh Teng Thian Sin Cin dan mempelajari ilmu silat dan Sam Im Sin Ni, dirinya pasti bisa malang melintang di rimba persilatan tanpa tanding.

Akan tetapi, justru di luar dugaannya sama sekali Oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk kembali ke Toan Hun Ya dulu, talu pergi mengambil Teng Thian Sin Cin, barulah berangkat ke Arabia bersama kakak seperguruan gurunya untuk memperdalam ilmunya, setelah itu, ia akan kembali ke Tionggoan benama para peiilat tinggi dari Arabia.

Co Hiong melakukan perjalanan dengan tergesa-pesa. Tak terasa hari pun sudah mulai malam. Mendadak ia mendengar suara derap kaki kuda di belakangnya, segeralah ia menyingkir ke samping dan sekaligus bersembunyi

Kuda itu berlari cepat Tampak seorang berpakaian putih berada di punggungnya, yang tidak lain adalah Pek Ih Sin Kun, ketua partai Swat San.

Begitu melihat orang itu adalah ketua partai Swat San, timbullah rasa dendam dalam hati Co Hiong, sebab partai Swat San juga mengambil bagian di Toan Hun Ya dalam melawan partai Thian Liong.

seketika juga Co Hiong menyerang dengan gelang emasnya, Namun gelang emas itu tidak di arahkan ke Pek Ih Sin Kun, melainkan ke kaki kuda.

Plak! Kuda itu terpukul gelang emas pada bagian kakinya, sehingga roboh seketika.

Pek Ih Sin Kun terpental ke depan dan jatuh duduk tak bergerak, membuat Co Hiong terheran-heran.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Co Hiong mendekatinya sambil menyerangnya dengan gelang emas.

Buuuk! Punggung Pek Ih Sin Kun terpukul, tapi Pek Ih Sin Kun tetap diam.

itu pertanda Pek Ih Sin Kun telah mati sebelum jatuh, Co Hiong tidak habis berpikir, siapa yang membunuh ketua partai Swat San itu? Co Hiong mengerutkan kening, lalu mendorong tubuh Pek Ih Sin Kun hingga roboh tertelentang Begitu tubuh Pek Ih Sin Kun tertelentang sepasang mata Co Hiong terbelalak

Ternyata ia melihat seekor ulat aneh bertaring merayap ke luar dari kening Peki Ih Sin Kun. Betapa terkejutnya Co Hiong, dan langsung mundur dua langkah sambil memperhatikan ulat aneh itu.

Co Hiong mengerutkan kening, sebab ia tidak pernah mendengar ada kaum Bu Lim yang menggunakan ulat aneh untuk membunuh orang. Ketika ia sedang ter-mangu-mangu, mendadak terdengar lagi suara derap kaki kuda, dan ia pun segera menoleh.

Tampak seekor kuda sedang berlari kencang, penunggangnya seorang gadis.

Co Hiong terus memperhatikan kuda yang semakin mendekat itu. Co Hiong terbelalak dan hatinya pun berdebar- debar tidak karuan.

Ternyata gadis itu adalah Lie Ceng Loan. Kenapa gadis itu memacu kudanya begitu cepat? Co Hiong tidak habis berpikir, Namun ia tidak berani menampakkan diri, karena khawatir kalau-kalau Na Siao Tiap mengikuti gadis itu.

Mendadak kuda itu berhenti, dan Lie Ceng Loan meloncat turun, sekaligus mendekati mayat Pek Ih Sin Kun.

"Pek Ih Sin Kun!" ujar Lie Ceng Loan. "Apakah engkau sudah mati? Kalau belum harap bersuaral"

Mendengar ucapan itu, Co Hiong nyaris tertawa geli, Ternyata Co Hiong telah bersembunyi ketika Lie Ceng Loan menghentikan kuda nya.

"Pek Ih Sin Kun! Engkau bilang guruku bertiga berada di Tok Sui Tong di daerah Miauw, namun Paman Na melarangmu melanjutkan Tentunya masih ada sesuatu yang engkau rahasiakan, Kini engkau sudah mati, aku harus bertanya pada siapa?" Setelah mendengar apa yang dikatakan Lie Ceng Loan, Co Hiong mengerti pula, ia yakin, ketua partai Swat San itu ke Kwat Cong San memberitahukan tentang jejak Kun Lun Sam Cu berada di daerah Miauw, maka Lie Ceng Loan berangkat ke sana.

Dapat dibayangkan betapa girangnya Co Hiong bertemu gadis itu.

Ketika Lie Ceng Loan menghampiri kudanya, barulah Co Hiong memunculkan diri sambil berseru.

"Nona Lie!"

Lie Ceng Loan terkejut sambil menoleh, Dilihatnya Co Hiong memandangnya sambil tersenyum manis.

"Nona Lie, aku nih! jangan takuti!" ujar Co Hiong.

Begitu melihat Co Hiong, kening Lie Ceng Loan berkerut "C6 Hiong!" bentaknya, "Engkau masih punya muka

denganku?"

"Nona Lie. " Co Hiong tertawa getir, "Sebetulnya aku

memang tidak ingin bertemu denganmu, tapi. "

"Kenapa?"

"Ketika Pek Ih Sin Kun hampir menarik nafas penghabisan dia memberitahukan padaku....

"Dia memberitahukan apa padamu?" tanya Lie Ceng Loan cepat.

"Yaah!" Co Hiong menarik nafas panjang, "Sudahlah!

Tidak perlu kuberitahukan padamu, Nona Lie, sampai jumpa!"

Co Hiong membalikkan badannya, kelihatannya ia ingin melangkah pergi, itu membuat Lie Ceng Loan gugup dan langsung berseru.

"Saudara Co, tunggul" "Ada petunjuk apa, Nona Lie?" sahut Co Hiong acuh tak acuh.

"Pek Ih Sin Kun bilang apa padamu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Bukankah tadi engkau bilang, aku sudah tidak punya muka bertemu denganmu? Nah, lebih baik aku pergi, Jadi engkau tidak perlu bertanya apa pun padaku!" sahut Co Hiong, "Sampai jumpa,.,."

"Bagaimana sih engkau?" Lie Ceng Loan bertambah gugup ketika melihat Co Hiong hendak melangkah pergi, "Engkau menghendaki bagaimana, baru bersedia memberitahukan padaku?"

"Nona Lie seorang gadis cerdas, tentunya tidak perlu kukatakan, bukan?" sahut Co Hiong.

"Kalau begitu. " Lie Ceng Loan berpikir sejenak,

kemudian melanjutkan "Kejadian dulu tidak akan ku-ungkit lagi, Asal engkau tidak jahat, aku pun tidak akan memandang rendah dirimu!"

Co Hiong merasa girang, dan wajahnya pun langsung cerah ceria begitu mendengar ucapan itu.

"Terimakasih, Nona Lie!" ucapnya.

"Sudahlah, jangan terus omong kosong!" tandas Lie Ceng Loan, "Beritahukan padaku, apa yang dikatakan Pek Ih Sin Kun?"

"Dia bilang.,.," Co Hiong berhenti mendadak sambil menatap Lie Ceng Loan, "Nona Lie, apakah cuma engkau seorang diri berangkat ke daerah Miauw?"

"Ya." Gadis itu mengangguk "Cuma aku seorang diri"

Co Hiong berlega hati, lalu ujarnya dengan suara rendah. "Pek Ih Sin Kun bilang, Kun Lun Sam Cu terkurung di TokSui Tong." Co Hiong mengatakan begitu, karena mendengar gumaman Lie Ceng Loan tadi.

"Benar." Lie Ceng Loan manggut-manggut Tok Sui Tongcu dipanggil Swat Lo Kongcu!"

Co Hiong sama sekali tidak tahu tentang itu, Kini Lie Ceng Loan memberitahukan, maka Co Hiong pura-pura mengerutkan kening.

"BetuL Swat Lo Kongcu itu sangat lihay, Kun Lun Sam Cu disiksa. "

Air muka Lie Ceng Loan langsung berubah, Bahkan air matanya pun sudah bereucuran ia langsung meloncat ke punggung kuda.

"Hei!" teriak Co Hiong, "Engkau mau ke mana?" "Ke daerah Miauw," sahut Lie Ceng Loan.

"Nona Lie! perkataanku masih belum selesai!" seru Co Hiong.

"Oh?" Gadis itu menatapnya.

"Nona Lie, daerah Miauw begitu jauh, tidak baik engkau berangkat ke sana seorang diri, Lagi pula daerah itu sangat berbahaya," ujar Co Hiong.

"Apa boleh buat!" sahut Lie Ceng Loan, "Biar bagaimana pun aku harus berangkat ke sana."

"Nona Lie, tadi engkau bilang tidak akan mengungkit kejadian yang telah berlalu, aku sangat berterimakasih padamu," ujar Co Hiong sambil tersenyum "Kebetulan aku tidak punya urusan lain, bagaimana kalau aku me-nyertaimu ke daerah Miauw?"

Tidak!" Lie Ceng Loan menggelengkan kepala, "Kata Kakak Pek dan Kakak Siao Tiap, engkau berhati jahat, licik dan sadis! Maka aku tidak mau melakukan perjalanan bersamamu!" "Nona Lie.,.," Co Hiong menarik nafas panjang, "Terus terang, Swat Lo Kongcu itu teman baikku, maka kalau aku menyertaimu dan bertemu dengannya, Kun Lun Sam Cu pasti dibebaskan."

Lie Ceng Loan menatapnya dalam-dalam, Kelihatannya gadis itu tidak begitu mempereayai omongan Co Hiong.

Co Hiong ditatap dengan demikian, malah jadi tertegun karena betapa indahnya sepasang mata gadis itu, sehingga mulut Co Hiong menganga lebar

"Eh?" Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan. "Kenapa engkau?"

"Oh!" Co Hiong tersentak "Sudah lama aku kenal dia, ketika itu partai Thian Liong masih berdiri."

"Dia dipanggil Swat Lo Kongcu, pasti cantik sekali orangnya," ujar Lie Ceng Loan.

"Tapi kalau dibandingkan dengan engkau, dia masih kalah cantik," sahut Co Hiong sambil tertawa.

"Engkau jangan suka omong yang bukan-bukan!" tandas Lie Ceng Loan dengan wajah memerah.

"Nona Lie, terus terang.,.," Co Hiong menatapnya dalam- dalam, "Aku memang sering bertemu gadis cantik, tapi tidak ada yang menyamai kecantikanmu."

"Sesungguhnya aku tidak begitu cantik, sebab masih banyak gadis lain yang cantik jelita, Sudahlah! jangan terus membicarakan ini!"

"Kalau begitu, bolehkah aku menyertaimu ke daerah Miauw?" tanya Co Hiong.

Lie Ceng Loan berpikir, ia memang tidak tahu di mana daerah Miauw, Kalau Co Hiong kenal orang di sana, bukankah kebetulan sekali? Kenapa harus melarangnya ikut ke daerah itu? Asal dirinya berhati-hati, tentunya Co Hiong tidak akan berani berbuat yang bukan-bukan terhadap dirinya. "Kalau engkau mau ikut, haruslah menuruti per-kataanku," ujar Lie Ceng Loan sungguh-sungguh.

Tentu," Co Hiong mengangguk

"Pertama engkau tidak boleh satu kuda bersamaku." Gadis itu memberitahukan.

sebetulnya Co Hiong justru ingin menunggang satu kuda dengan Lie Ceng Loan, tapi gadis itu mengatakan begitu, maka ia tertawa sambil manggut-manggut

"Baik! Baik!"

"Ke dua, aku harus melakukan perjalanan malam juga," "ltu memang harus." Co Hiong manggut-manggut lagi,

"Sebab kita harus selekasnya tiba di daerah itu."

"Ke tiga..." wajah Lie Ceng Loan agak memerah, "Engkau tidak boleh berlaku kurang ajar terhadapku seperti ketika berada di Kwat Cong San, Kalau engkau berlaku kurang ajar, lebih baik aku melakukan perjalanan seorang diri."

"Baik." Co Hiong tertawa, "Aku setuju."

"Kalau begitu, engkau boleh ikut aku." Lie Ceng Loan melarikan kudanya.

Co Hiong mengikuti dari belakang dengan menggunakan ginkang, Setelah tengah malam, Co Hiong berpura-pura kelelahan, dan nafasnya tampak memburu.

"Nona Lie.J" serunya, "Bolehkah perlahan sedikit?" "Aku harus lekas-lekas sampai di daerah itu, bagaimana

mungkin perlahan?"

"Aku,., aku tidak berani ikut menunggang kuda itu, biar... aku terus mengikutimu dari belakang sajal" itu merupakan ucapan untuk menarik rasa simpatik

Begitu mendengar ucapan itu, Lie Ceng Loan merasa tidak tega. Lagi pula ia masih harus mengandal pada Co Hiong setibanya di daerah tersebut "Begini," ujarnya kemudian, "Besok pagi engkau boleh membeli seekor kuda, malam ini engkau kuijinkan duduk di belakangku,"

Terimakasih!" ucap Co Hiong girang dan langsung meloncat ke belakang Lie Ceng Loan.

Gadis itu mengeluarkan sapu tangannya, ia membalikkan badannya, lalu menyeka keringat Co Hiong yang mengucur di keningnya, itu dilakukannya secara wajar, lagipula merupakan hal yang biasa.

Namun lain pula dengan Co Hiong, Ketika Lie Ceng Loan menyeka keringat di keningnya, ia menjulurkan tangannya memegang tangan gadis itu.

"Eh?" Lie Ceng Loan terkejut "Engkau mau berbuat apa?" Ti... tidak," Co Hiong menggelengkan kepala.

"Engkau memang jahat sekali!" Lie Ceng Loan cemberut. "Nona Lie, aku.,.,"

"Tidak usah banyak omong lagi!" sahut Lie Ceng Loan tidak senang, "Seka sendiri keringatmu itu!"

Usai berkata begitu, Lie Ceng Loan melempar sapu tangannya ke wajah Co Hiong, Kemudian ia tertawa geli karena sapu tangannya melekat pada wajah Co Hiong, sehingga tampak lucu sekali.

Setelah tertawa geli, Lie Ceng Loan melarikan kuda-nya. sedangkan Co Hiong seperti kehilangan sukma, sebab sapu tangan Lie Ceng Loan itu sangat wangi, membuat pikirannya terbang ke awang-awang.

Apabila dalam perjalanan menuju daerah Miauw, Co Hiong berlaku baik terhadap Lie Ceng Loan, bukankah gadis itu akan melupakan Bee Kun Bu? ini merupakan kesempatan emas baginya, Pvkir Co Hiong dengan wajah berseri-seri. Kemudian timbul pula suatu rencana, maka Co Hiong menyimpan sapu tangan itu, dan sekaligus berseru.

"Haah!"

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan heran.

"Sapu tanganmu itu.,." sahut Co Hiong, ",., tertiup angin!" "Biarkan sajalah!" Lie Ceng Loan tidak

mempermasalahkan sapu tangannya itu.

sebaliknya Co Hiong girang bukan main, bahkan ia sengaja menjulurkan kepalanya agar bisa menyentuh rambut gadis itu.

Hari berikutnya, Lie Ceng Loan berhenti di sebuah kota kecil, Co Hiong membeli seekor kuda dan ransum. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Dalam perjalanan, Co Hiong memperhitungkan waktu, Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun pasti sudah kembali ke Kwat Cong San. Begitu tahu Lie Ceng Loan berangkat ke daerah Miauw, mereka bertiga pasti segera menyusul jadi perjalanan mereka berselisih hampir satu hari

Apabila tersusul oleh mereka, Co Hiong pasti tidak bisa melakukan perjalanan lagi bersama Lie Ceng Loan, inilah yang dikhawatirkan Co Hiong.

Ketika hari mulai petang, mereka berdua tiba di sebuah kota yang cukup besar. Kemudian timbul pula suatu ide dalam hati Co Hiong.

"Nona Lie!" ujar Co Hiong sungguh-sungguh, "Untuk mencapai daerah Miauw kita masih harus melewati beberapa kota, Aku punya akal lebih cepat tiba di daerah itu."

"Akal apa?"

"Agar tiada halangan, alangkah baiknya kalau kita menyamar."

"Menyamar?" Lie Ceng Loan tereengang. "Ya " Co Hiong mengangguk "kita harus menyamar."

"Engkau akan menyamar sebagai wanita?" tanya Lie Ceng Loan sambil tertawa geli.

"Tidak," Co Hiong menggelengkan kepala, "Engkau-lah yang harus menyamar sebagai lelaki."

"Apa?" Lie Ceng, Loan terbelalak. "Aku.,, harus menyamar sebagai letaki?"

"Ya." Co Hiong manggut-manggut.

"Kakak Pek memang pernah menyamar sebagai Ie-laki, namun sungguh pantas dipandang Kalau aku yang menyamar sebagai lelaki, mungkin... jelek sekali Tidak mau ah!" Lie Ceng Loan menggelengkan kepala.

"Kalau engkau tidak mau menyamar sebagai lelaki, kita tidak bisa cepat sampai di daerah itu." Co Hiong menarik nafas.

"Kalau aku menyamar sebagai lelaki, lalu engkau harus menyamar sebagai apa?" tanya Lie Ceng Loan.

"Aku... akan menyamar sebagai orangtua. Engkau sebagai sastrawan yang menikmati keindahan alam, aku sebagai pelayan tua." jawab Co Hiong memberitahukan

Lie Ceng Loan berpikir lama sekali Memang masuk akal apa yang dikatakan Co Hiong, maka akhirnya ia setuju sesungguhnya Co Hiong menghendaki Lie Ceng Loan menyamar sebagai lelaki, itu untuk mengelabui pandangan Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun, dan agar mereka bertiga tidak bisa melacak jejak Co Hiong dan Lie Ceng Loan.

Mereka berdua memasuki sebuah rumah penginapan dan tak lama kemudian Lie Ceng Loan ke luar Ketika saling memandang, mereka berdua tertawa ge!i.

"Wuah!" seru Co Hiong, "Engkau tampan sekali setelah menyamar sebagai lelakil Aku yakin semua gadis pasti tergila- gila padamu!" "Saudara Col" Lie Ceng Loan menatapnya. "Engkaupun mirip seorangtua yang sudah loyo."

Mereka berdua tertawa lagi, kemudian meninggalkan rumah penginapan itu. Co Hiong tidak mengajak Lie Ceng Loan melewati jalan besar, melainkan melewati jalan kecil

Lie Ceng Loan tidak banyak bertanya, sebab ia mengira Co Hiong mengambil jalan pintas agar lebih cepat tiba di Miauw, padahal sesungguhnya, dengan menempuh jalan kecil itu mereka akan lebih lama tiba di daerah tersebut. Hanya saja gadis itu sama sekali tidak mengetahuinya.

Dalam perjalanan ini, Co Hiong memang bersikap baik dan sopan terhadap Lie Ceng Loan, itu agar Lie Ceng Loan dapat melupakan Bee Kun Bu, sedangkan gadis itu tidak tahu akan rencana Co Hiong, Apakah gadis itu akan terperangkap ke dalam rencana Co Hiong itu?

Bagian ke tiga puluh satu Menuju ke Tebing Merah sementara itu, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun

juga melakukan perjalanan siang malam menuju ke daerah Miauw, namun berselisih hampir satu hari dengan Lie Ceng Loan.

Setelah larut malam, barulah mereka bertiga tiba di tempat mayat Pek Ih Sin Kun terbujuk sedangkan kudanya pun telah mati lantaran kehabisan darah. Mereka bertiga tertegun ketika melihat mayat ketua partai Swat San itu, Sie Bun Yun mendekati mayat itu, dan sekaligus diperhatikannya dengan seksama.

"Dia mati karena terkena racun." ujarnya. "Tapi punggungnya kok terluka?" Pek Yun Hui

mengerutkan kening, "Apakah dia mati sebab punggungnya

terpukul?"

"Lihatlah luka di punggungnya itu!" Sie Bun Yun menunjuk luka itu. "Tidak mengeluarkan darah, lagi pula darahnya telah membeku sebelum terluka, itu berarti dia telah mati sebelum terluka."

"Kakak Yun, engkau bisa melihat senjata apa yang melukainya?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Sepertinya,., terhantam oleh semacam gelang," sahut Sie Bun Yun setelah memeriksa luka itu.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu terkejut, kemudian saling memandang dengan kening berkerut

"Co Hiong!" seru Bee Kun Bu tak tertahan "Mung-kinkah adik Loan bertemu dia?"

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun tersenyum "Engkau tidak perlu begitu gelisah, belum tentu senjata Co Hiong yang melukainya, dan juga belum tentu Nona Lie akan bertemu dia."

"Emmh!" Bee Kun Bu manggut-manggut

sedangkan Sie Bun Yun memperhatikan kening mayat Pek Ih Sin Kun

"Kita harus cepat mundur!" serunya mendadak

Sie Bun Yun meloncat ke belakang lalu memungut sebuah batu keciK Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu juga meloncat ke belakang.

"Kakak Yun!" Pek Yun Hui menatapnya heran. "Ada apa?" "Dia terkena semacam ulat beracun dan ulat itu masih

berada di dalam kening mayat Pek Ih Sin Kun," jawab Sie Bun

Yun memberitahukan "Kalau dilihat oleh orang dari golongan hitam, ulat itu pasti diambilnya untuk membunuh orang lagi."

"Kalau begitu, lebih baik kita kuburkan saja miiyl itu," usul Pek Yun Hui.

"Adik Pek!" Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala, "Apabila dikuburkan sekarang, tempat ini pasti akan tumbuh rumput beracun Maka aku harus membunuh ulat beracun itu dulu."

Sie Bun Yun mengayunkan tangannya, Batuyang di tangannya langsung meluncur ke arah kening mayat Pek Ih Sin Kun.

Cess! seketika juga darah hitam mengalir ke luar dari situ. "Ulat beracun itu telah mati." Sie Bun Yun menarik nafas

lega.

"Kalau begitu, mari kita pergi!" ajak Pek Yun Hui. "Kakak Pek jalan duluan!" sahut Bee Kun Bu. "Lho? Kenapa?" tanya Pek Yun Hui heran

"Dia yang memberi kabar pada ayah angkat, kini dia telah mati, maka aku harus menguburnya," ujar Bee Kun Bu.

"Mari kita kuburkan mayat itu!" sambung Sie Bun Yun.

Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu menggali sebuah lubang di dekat pohon, lalu mengubur mayat Pek Ih Sin Kun di situ, Setelah itu, barulah mereka bertiga melanjutkan perjalanan peristiwa itu membuat mereka tidak dapat menyusul Lie Ceng Loan.

Pada hari berikutnya, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bec Kun Bu sudah tiba di sebuah kota keciK Mereka bertanya ke sana ke mari tentang Lie Ceng Loan penduduk di kota itu memberitahukan bahwa kemarin memang ada sepasang muda-mudi melewati kota tersebut, mereka berdua mirip sepasang kekasih dan sangat tampan dan cantik.

Mendengar ucapan itu, mereka bertiga cuma tersenyum getir, sebab mereka tahu yang dimaksudkan sepasang kekasih itu adalah Co Hiong dan Ue Ceng Loan. Oleh karena itu, mereka langsung melanjutkan perjalanan dengan tergesa- gesa sekali Tak seberapa lama kemudian, mereka bertiga sudah tiba di sebuah kota yang cukup besar Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu bertanya ke sana ke mari lagi, namun kali ini mereka memperoleh informasi yang agak simpang siur, Ada yang bilang melihat sepasang muda-mudi itu, tapi ada pula yang bilang tidak melihat sama sekali

itu sungguh membingungkan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu. Namun mereka tetap mengejar sambil bertanya, Akan tetapi, tiada seorang pun melihat pasangan muda-mudi itu lagi.

Sie Bun Yun cukup berpengalaman dalam rimba persilatan, namun justru tidak dapat memecahkan persoalan tersebut

Memang! Karena Lie Ceng Loan dan Co Hiong telah menyamar, sedangkan Sie Bun Yun dan lainnya sama sekali tidak berpikir sampai ke situ.

Karena tiada jejak Lie Ceng Loan dan Co Hiong, Bee Kun Bu bertambah gugup dan panik, sehingga terus-menerus bergumam.

"Apakah adik Loan telah dicelakai oleh Co Hiong? Apakah adik Loan telah dicelakai oleh Co Hiong?"

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui terus-menerus meng- hibumya, padahal sesungguhnya, mereka berdua pun cemas sekali.

Mereka berdua pun yakin, bahwa saat ini Co Hiong masih belum mencelakai Lie Ceng Loan, Namun apabila terus bersama Co Hiong, tentunya gadis itu akan celaka, Setelah menempuh perjalanan belasan mil, mereka bertiga berhenti untuk berunding. Seusai berunding mereka memutuskan untuk berpencar mencari Lie Ceng Loan, Tiga hari kemudian, mereka bertiga akan bertemu di kota Lam Keng di propinsi Hokkian, Oleh karena itu, mereka bertiga lalu berpencar

Pek Yun Hui mengambil jalan besar, Sie Bun Yun membelok ke kanan, sedangkan Bee Kun Bu membelok ke kiri, Kali ini ia memacukan kudanya laksana kilat jalan kecil itu memang yang dilalui Lie Ceng Loan dan Co Hiong, Namun satu hal membuatnya bingung sekali, karena tiada seorang pun melihat pemuda tampan dan gadis cantile

Walau begitu, Bee Kun Bu masih tetap mengejar tanpa beristirahat sejenak pun. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menemukan jejak Lie Ceng Loan dan Co Hiong.

Tiga hari kemudian, ia sudah tiba di kota Lam Keng, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sudah menunggunya di gerbang kota tersebut Begitu menyaksikan air muka mereka berdua, Bee Kun Bu tahu bahwa mereka berdua pun tidak berhasil, seketika wajahnya berubah murung dan nyaris mengucurkan air mata.

"Saudara Bee, mungkinkah Nona Lie belum menuju daerah Miauw?" tanya Sie Bun Yun.

"Adik Loan pasti menuju daerah Miauw!" sahut Pek Yun Hui menyelak, "Sebab dia sudah tahu kalau Kun Lun Sam Cu berada di sana, tentunya tidak akan berangkat ke tempat lain,"

"Benar apa yang dikatakan Kakak Pek," ujar Bee Kun 6u. "Kalau begitu...." Sie Bun Yun mengerutkan kening. "... itu

sungguh mengherankan kita berpencar di tempat itu menuju

tiga buah jalan mengejar mereka! Namun sama sekali tiada jejak mereka, apakah mereka bisa terbang?"

"Mungkinkah mereka menunggang Hian Giok?" seru Bee Kun Bu tak tertahan

"Kalau benar, itu berarti telah bertemu Na Siao Tiap!" ujar Pek Yun Hui.

"Syukur kalau begitu!" Bee Kun Bu menarik nafas, Tapi kalau tidak. n

"Saudara Bee!" potong Sie Bun Yun. "Pereayalah! Nona Lie tidak akan dicelakai oleh orang jahat Kita terus menuju daerah Miauw, pasti bertemu dia,"

"Mudah-mudahan!" ucap Bee Kun Bu. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan lagi, Di saat mereka bertiga bertemu di kota Lam Keng, justru Ue Ceng Loan dan Co Hiong baru beberapa jam meninggalkan kota tersebut.

Co Hiong tidak berani berhenti di kota itu, karena khawatir akan tersusul oleh Pek Yun Hui dan lainnya. Setelah meninggalkan kota Lam Keng, Co Hiong mengajak Lie Ceng Loan menempuh jalan air. Oleh karena itu, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tidak dapat menyusul mereka berdua.

Setelah mendarat, Co Hiong mengajak Lie Ceng Loan menuju arah barat, barulah menuju daerah Miauw, jadi boleh dikatakan Co Hiong mengajak Lie Ceng Loan berputar Maka kini mereka berdua malah berada di belakang Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu

Setengah bulan kemudian, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mulai memasuki daerah-daerah yang sangat sepi, Beberapa hari kemudian, mereka bertiga sudah mendekati daerah Miauw.

Tampak gunung yang gundul, bahkan mereka bertiga pun melalui daerah gersang yang tiada tumbuhannya.

Ketika senja, mereka bertiga menyaksikan asap yang beraneka warna di kaki gunung, pemandangan itu belum pernah mereka saksikan selama ini. Bee Kun Bu sama sekali tidak memperhatikan pemandangan itu, sebab ia sangat mencemaskan Lie Ceng Loan.

Pada hari berikutnya, mereka bertiga mulai memasuki sebuah lembah, Ke luar dari lembah itu, terbelalaklah mereka, ternyata pemandangan di tempat itu mirip pemandangan di Kang Lam.

Akan tetapi, orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu berpakaian sangat aneh, Ketika mereka berjalan di tempat itu, semua orang memandang mereka bertiga dengan sinar mata aneh, tapi tiada seorang pun menghadang mereka. Setelah menempuh perjalanan setengah harian, pemandangan di depan mata mereka berubah, Yang tampak kali ini hanya tebing curam yang menju!ang, dan sebuah jalan kecil terapit di tengah-tengah.

Di tebing itu tampak terukir beberapa huruf yang sangat besar berbunyi Tujuh Gua Ke ramal Suku Miauw! Suku Lain Masuk Pasti Mati".

Setelah membaca huruf-huruf itu, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandang.

Di mulut jalan masuk, tampak berdiri dua orang Miauw berbadan tinggi besar dengan tombak di tangan, Ke dua orang itu memakai baju dari kulit macan.

Ketika Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu melangkah maju, ke dua orang itu langsung menghadang dengan tombak masing-masing.

"Apakah kalian mengerti bahasa kami?" tanya Sie Bun Yun.

Ke dua orang berpakaian kulit macan itu cuma melotot, sama sekali tidak bersuara maupun bergerak

Salah seorang berpakaian kulit macan menunjuk tulisan yang terukir pada dinding tebing, Sie Bun Yun manggut- manggut

"Kami ada urusan penting, ingin bertemu Ang Ngai Tongcu," ujar Sie Bun Yun memberitahukan

Ke dua orang berbaju kulit macan itu tidak mempedulikannya, Kelihatannya mereka berdua tidak mengerti apa yang dikatakan Sie Bun Yun.

"Kakak Yun! Bagaimana kalau kita menerjang ke dalam saja?" tanya Pek Yun Hui.

"Ke dua orang itu memang tidak dapat menahan kita," sahut Sie Bun Yun, "Namun bagaimana keadaan di dalam, kita sama sekali tidak mengetahuinya, maka lebih baik kita berlaku sopan saja."

pada waktu bersamaan, muncul seorang Miauw berusia lanjut dari dalam, Sie Bun Yun cepat-cepat memberi hormat padanya.

"Locianpwee, kami mohon bantuan!"

Orangtua itu memandang Sie Bun Yun, kemudian tanyanya dengan bahasa Han yang sangat lancar

"Ada urusan apa?"

"Kami ingin bertemu Ang Ngai Tongcu, apakah kami tidak boleh masuk ke dalam?" sahut Sie Bun Yun.

Air muka orangtua itu tampak terkejut, ia menatap mereka bertiga dengan penuh perhatian

"Kenapa Locianpwee diam saja?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Bagaimana kalian bisa kenal Ang Ngai Tongcu?" tanya orangtua itu setengah berbisik.

"Kami tidak kenal dia, tapi dia pernah memasuki Tionggoan dan berkenalan dengan seseorang maka orang itu menyuruh kami ke mari," jawab Sie Bun Yun merendahkan suaranya.

Ternyata yang kalian cari itu adalah " Air muka orangtua

itu tampak berubah dan tidak melanjutkan ucapannya. "Bagaimana?" tanya Pek Yun Hui.

"Kalian. " wajah orang itu telah berubah kelabu, "Kalian

cepatlah pergi!"

"Biar bagaimana pun, kami harus menemuinya," sahut Bee Kun Bu.

"Aku sudah tua, tidak akan membohongi kalian," ujar orangtua itu sengit sambil membanting kala "Kalau kalian masih tidak mau pergi, pasti celaka!" Usai berkata begitu, orangtua tersebut berjalan pergi, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu saling memandang dengan kening berkerut

"Orangtua itu omong apa, sungguh membingung-kan," ujar Sie Bun Yun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku pun tidak tahu," sahut Pek Yun Hui, "Mari kita menerjang ke dalam saja! Tidak perlu banyak berpikir lagi!"

"Baik," Sie Bun Yun mengangguk sambil memungut dua buah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah ke dua penjaga itu dan tepat mengenai jalan darah mereka berdua.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hut dan Bee Kun Bu langsung berjalan ke dalam, Tampak banyak sekali batu curam di situ.

Setelah menempuh perjalanan puluhan mil, mereka bertiga melihat sebuah tebing yang berwarna merah membara.

"ltu pasti Ang Ngai Tong (Tebing Merah)," ujar Sie Bun Yun.

"Benar." Pek Yun Hui manggut-manggut "Kini kita telah berada di daerah Miauw, harus menyelidiki orang-orang Tujuh Gua Keramat Namun kita harus menjaga jejak, jangan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"ltu tentu." Sie Bun Yun mengangguk

Mereka bertiga terus menelusuri jalan kecil itu. Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mereka bertiga telah tiba di sebuah puncak, lalu berdiri di situ sambil memandang ke depan.

Bukan main! Tebing Merah itu bertambah membara tertimpa matahari senja. Untuk mencapai tebing merah itu, mereka bertiga masih harus melewati sebuah puncak, dan mungkin larut malam baru bisa tiba di tempat itu.

Ketika hari mulai gelap, dan kabut pun mulai me-nebal, mereka beristirahat sambil mengisi perut "Kelihatannya kita harus menunggu sampai esok baru melakukan perjalanan lagi," ujar Sie Bun Yun.

"Kenapa kita harus menginap satu malam di sini?" tanya Bee Kun Bu tidak sabaran

"Lihatlah kabut yang agak kehijau-hijauan itu!" sahut Sie Bun Yun memberitahukan "Tentunya kabut itu mengandung semacam racun Lagipula sulit bagi kita melakukan perjalanan di malam hari yang penuh kabut"

"Aaakh.,.!" Bee Kun Bu menarik nafas.

"Kita sudah tiba di sini, jadi tidak perlu terburu-buru," ujar Pek Yun Hui seakan menghibur Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu menarik nafas lagi, Kemudian mereka bertiga mulai berunding harus bagaimana melanjutkan perjalanan esok hari, setiba di Ang Ngai Tong harus mengambil tindakan apa pula? Mereka bertiga terus berunding, tak terasa malam pun semakin larut

"Kita masih harus melanjutkan perjalanan esok, maka lebih baik kita tidur sejenak," ujar Sie Bun Yun mengusulkan

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mengangguk Ketika mereka bertiga baru mau tidur, mendadak terdengar suara Tang!

Tang! Tang!" di kaki gunung, kemudian terdengar pula suara seruan orang.

Karena sudah tengah malam, suara-suara itu terdengar jelas dan nyaring sekali, Kian lama suara itu kian mendekat tentunya membuat mereka bertiga terheran heran

"Mari kita bersembunyi!" bisik Sie Bun Yun.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mengangguk Mereka bertiga langsung meloncat ke atas sebuah pohon, bersembunyi di situ sambil mengintip.

Tak seberapa lama kemudian, terdengarlah suara langkah, kemudian muncul dua puluhan orang menembus kabut Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu melihat jelas semua orang itu. Mereka berbadan tinggi besar mengenakan baju kulit macan, dan membawa kampak.

Mereka semua adalah orang suku Miauw, Yang mengherankan, lengan mereka dipolesi minyak yang berwarna agak kuning, dan mulut mereka menggigit sebatang rumput hijau.

Mereka kelihatan tidak mengerti ilmu ginkang, tapi sungguh mahir memanjat gunung, Berselang sesaat orang- orang itu sudah berada di atas puncak, Mereka semua menengok ke sana ke mari, lalu salah seorang dari mereka mendadak berteriak

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu langsung mengarahkan pandangan ke orang itu. Tangan orang itu dijulurkan ke rerumputan di tempat itu, dan di rerumputan itu tampak ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Ketika itu juga belasan orang lainnya mengayunkan kampak ke arah rerumputan itu, Kemudian terdengarlah suara di situ, tetapi lalu diam Mereka segera membabati rerumputan itu, dan yang akhirnya mereka temukan ternyata seekor macan, namun macan itu telah mati berlumuran darah.

Orang-orang itu bersorak-sorak gembira sekali, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu terkejut menyaksikan itu. Kalau mereka bertiga bersuara berisik, pasti kampak-kampak itu akan melayang ke arah mereka.

Pada saat itu, terdengar suara langkah yang amat ringan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu langsung tahu, bahwa pendatang itu memiliki ilmu ginkang yang tinggi.

Tak lama muncullah seseorang yang juga berbadan tinggi besar, dan mulutnya juga menggigit sebatang rumput hijau, Begitu orang tersebut muncul, orang-orang yang datang duluan itu segera berdiri tegak di tempat Salah seorang dari mereka maju menghadap, lalu mengucapkan beberapa patah kata. Orang itu menengok ke sana ke mari, kemudian manggut-manggut

Ketika orang itu menengok ke sana ke mari, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu melihat jelas wajahnya. Mereka bertiga terbelalak ternyata wajah orang itu penuh kudis, sehingga tampak menyeramkan

Akan tetapi, di keningnya justru terdapat sebuah tanda yang menyerupai bulan sabit

Begitu melihat tanda itu, teringatlah Bee Kun Bu akan penuturan Na Hai Peng, maka seketika ia berseru tak tertahan

"Haaah..."

Belum juga suara seruannya berhenti, tampak dua puluhan kampak meluncur ke arah pohon tempat Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun bersembunyi

"Kalian cepat mundur!" ujar Pek Yun Hui cepat ia segera menghunus pedangnya, lalu dengan jurus Tiat Sih Heng Kang (Rantai Besi Melintang Sungai) ditangkisnya kampak-kampak itu.

Trang! Trang! Trangt Kampak-kampak itu tertangkis jatun Kemudian Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu segera meloncat turun.

orang-orang itu pun segera mengepung mereka bertiga dengan sikap mengancam, seakan siap menyerang

"Jangan menyerang kami!" seru Sie Bun Yun. "Kita semua adalah orang sendiri!"

Orang-orang itu berteriak-teriak tak henti-hentinya, Mendadak orang yang bertanda bulan sabit di keningnya membentak keras, dan diamlah orang-orang yang berteriak- teriak itu. Beberapa orang suku Miauw itu memungut kampak- kampak yang berserakan, kemudian menatap mereka bertiga dengan garang sekali.

"Siapa yang dengan kalian adalah orang sendiri?" tanya orang yang bertanda bulan sabit di keningnya itu dengan bahasa Han

Betapa girangnya Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu, karena orang itu mengerti bahasa Han.

"Apakah Anda Ang Ngai Tongcu?" tanya Sie Bun Yun. "Kalau benar kenapa?" Orang itu balik bertanya.

"Kalau benar syukurlah!" sahut Sie Bun Yun dan menambahkan "Apakah Anda masih ingat pada Na Hai Peng?"

"Na Hai Peng?" Orang itu mengerutkan kening. "Siapa dia?"

Kelihatannya orang itu tidak kenal nama tersebut, maka Sie Bun Yun cepat-cepat memberitahukan

"Bukankah Anda pernah datang di Tionggoan dan bekerja di istana sebagai pengawal di sana?"

Air muka orang itu tampak berubah, lalu menatap Sie Bun Yun tajam seraya bertanya.

Ternyata begitu, jadi kalian ada urusan apa?" Mendengar pertanyaan demikian, Pek Yun Hui, Sie Bun

Yun dan Bee Kun Bu yakin, orang itu sudah ingat akan masanya di istana, karena itu Bee Kun Bu segera berkata.

"Guru dan paman guruku terkurung di Tok Sui Tong, entah Anda bersedia membantu kami atau tidak dalam halimT

"Sebelum kami tiba di sini, apakah ada orang lain mendahului kami?" tanya Pek Yun Hui. Tidak. Orang itu menggelengkan kepala, "Kecuali kalian, tiada orang lain memasuki daerah Miauw ini, jadi kedatangan kalian untuk menolong orang yang terkurung di Tok Sui Tong?"

Ketika mendengar tiada orang lain datang ke mari, sekujur badan Bee Kun Bu menjadi dingin, Tetapi nada orang itu seakan bisa menolong Kun Lun Sam Cu, itu membuat Bee Kun Bu agak gembira.

"Kami datang ke mari memang ingin menolong merekah sahutnya.

"Kalau begitu, mari ikut aku!" ujar orang itu dengan sepasang biji mata berputar sejenak

Di antara mereka bertiga, Pek Yun Huilah yang paling cermat Ketika ia menyinggung tentang Na Hai Peng, orang itu tampak tertegun Kemudian Pek Yun Hui memberitahukan, orang itu cuma manggut-manggut tapi tidak tampak gembira Setelah itu, Pek Yun Hui pun melihat sepasang biji mata orang itu berputar, sepertinya mempunyai suatu rencana.

"Mau ke mana?" tanya Pek Yun Hui.

"Malam ini kalian ikut aku ke Ang Ngai Tong dulu," sahut orang itu memberitahukan. "Besok pagi aku akan menemani kalian ke Tok Sui Tong."

"Kalau begitu.M." Bee Kun Bu gembira sekalL "Aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih pada Anda."

Bee Kun Bu menjura pada orang itu, tetapi orang itu cuma menatap Bee Kun Bu dengan dingin, sama sekali tidak membalas hormat

Bee Kun Bu tidak begitu mempedulikan itu, tapi Sie Bun Yun sudah melihat adanya gelagat tidak beres, ia segera memandang Pek Yun Hui, kemudian bertanya pada orang itu.

"Bolehkah aku tahu nama Anda?" "Namaku Kee Phang," sahut orang itu. "Sungguh kuat ingatan Andal" ujar Pek Yun Hui sambil tersenyum. "Walau telah belasan tahun silam, tapi Anda masih ingat."

"Ya! Ya!" Orang itu manggut-manggut, setelah itu ia mengibaskan tangannya, agar orang-orangnya itu pergi duluan, "Nah, kalian boleh ikut aku."

"Kabut itu mengandung racun, tidak akan apa-apa?" tanya Sie Bun Yun.

"Kalian datang dari Tionggoan, tentunya berkepandaian tinggi," sahut orang itu dingin, "Kabut beracun itu tidak akan menjadi hambatan, sebab kalian bisa menutup pernafasan, maka tidak perlu takut kan?"

Sie Bun Yun masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi Pek Yun Hui segera memberi isyarat padanya, maka Sie Bun Yun langsung diam.

sedangkan Kee Phang telah mengayunkan kakinya berjalan ke depan, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang, namun mereka bertiga sengaja berjalan lamban.

Diam-diam Pek Yun Hui mengeluarkan rumput mujarab yang dibawanya, lalu memetik tiga helai daunnya, Sehelai daun itu dimasukkan ke dalam mulutnya, sisanya diberikan pada Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu. Mereka berdua pun memasukkannya ke dalam mulut

"Rumput ini dapat memunahkan hawa racun yang di Mo Kui Ceh Yi, tentunya juga bisa memunahkan racun lain/" bisik Pek Yun Hui.

"Ya." Sie Bun Yun manggut-manggut. "Oh ya! Apa-kah kalian berdua melihat sikap Kee Phang itu agak aneh?"

"Mungkin orang suku Miauw bersikap begitu," sahut Pek Yun Hui, "Kita bertindak sesuai dengan situasi saja."

Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengangguk setelah itu barulah mereka mempereepat langkah masing-masing. Ketika melalui kabut itu, mereka bertiga menutup pernafasan, bahkan juga bersiap-siap, sebab mereka khawatir akan muncul binatang berbisa.

Di saat itu, Kee Phang menyalakan sebuah lentera, Sungguh indah lentera itu, Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat datar, dan Kee Phang langsung mempereepat langkah nya.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu pun mempereepat langkah rnasing-masing. Kalau mereka ingin menyusul Kee Phang, memang tidak sutit, namun mereka cuma ingin mengikutinya dari belakang.

Kira-kira satu jam kemudian, Kee Phang memperlambat langkahnya, sebab kabut di tempat itu sangat tebal Berselang sesaat, Kee Phang menghentikan langkahnya.

"Sebentar lagi kita akan sampai," ujarnya sambil menunjuk ke depan.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu cuma manggut-manggut. Mereka bertiga tidak berani bersuara, karena di dalam mulut masing-masing terdapat daun rumput pemunah racun.

Badan Kee Phang bergerak melesat ke depan, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu juga mengikutinya.

Mereka bertiga terbelalak karena tempat itu agak terang kemerah-merahan.

Ternyata mereka sudah berada di atas tebing merah. Yang di sekitarnya terdapat banyak batu curam, Di sana tampak pula beberapa buah gua yang diterangi obor di dalamnya.

Kee Phang berjalan menuju salah satu gua yang paling besar Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengikutinya, tetapi berhenti di depan gua itu.

"Silakan masuk!" ucap Kee Phang. "Sekarang hari sudah hampir terang, apakah saudara Kee akan segera mengajak kami ke Tok Sui Tong?" tanya Pek Yun Hui.

"Tentu," sahut Kee Phang dan menambahkan "Na-mun perjalanan menuju Tok Sui Tong harus memakan waktu seharian, dan kalau hari belum begitu terang, sulit bagi kita melanjutkan perjalanan Maka alangkah baiknya kalian bertiga beristirahat dulu di dalam."

Memang masuk akal apa yang dikatakan Kee Phang, maka kecurigaan mereka bertiga mulai berkurang, lalu memasuki gua itu, Tampak beberapa gadis suku Miauw setengah telanjang, langsung berlutut begitu melihat Kee Phang melangkah ke dalam.

"Hamba menyambut Tongcu!" ucap gadis-gadis itu serentak

Kee Phang terus melangkah ke dalam tanpa memandang gadis-gadis itu. Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun terus mengikutinya, Sungguh besar gua itu, dan di dalamnya terdapat tujuh buah pintu batu.

Berselang beberapa saat kemudian, Kee Phang berhenti di depan sebuah pintu batu.

"Kee Tongcu!" Sie Bun Yun tersenyum, "Sungguh berdisiplin sekali di dalam daerah Miauw ini!"

"Biasa," sahut Kee Phang sambil tersenyum.

Kee Phang mendorong pintu batu itu, dan pintu batu itu terbuka perlahan-lahan, Dapat dibayangkan betapa tebalnya pintu batu tersebut

"Silakan masuk!" ucap Kee Phang.

Pek Yun Hui melongok ke dalam, Ruangan itu agak gelap, dan tidak tampak apa pun di dalam nya. seketika di dalam hati Pek Yun Hui timbul kecurigaan "ltu ruang apa?" tanyanya tanpa melangkah ke dalam.

"Masuklah, agar engkau mengetahuinya!" sahut Kee Phang dingin.

"Apa maksud Kee Tongcu?" Pek Yun Hui mengerutkan kening.

"Jangan banyak omong! Kalau ingin menolong Kun Lun Sam Cu, kalian bertiga harus menuruti perkataan-ku!" Kee Phang tampak tidak senang.

Setelah mendengar ucapan itu, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tidak banyak bicara lagi, Sie Bun Yun lalu melangkah memasuki ruangan itu, Hawa di dalam ruangan itu dingin sekali, sehingga sekujur badan Sie Bun Yun jadi merinding.

Sie Bun Yun tersentak Bagaimana mungkin ada penghuninya ruangan ini? Pikirnya.

Setelah berpikir demikian, Sie Bun Yun menolehkan kepalanya ke belakang Dilihatnya Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu sudah melangkah ke dalam, dan wajah mereka berdua pun kelihatan diliputi kecurigaan, kemudian menyusul pula Kee Phang.

Apa yang akan terjadi di dalam ruang batu itu? Benarkah Kee Phang atau Ang Ngai Tongcu itu berniat baik terhadap mereka bertiga?

*****

Bab ke 32 - Orang Aneh Terkurung di Dalam Ruang Batu Semula Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mulai

bereuriga, karena ruang batu itu agak gelap dan terasa ada

hembusan angin pula, Akan tetapi, kecurigaan mereka bertiga menjadi berkurang lantaran Kee Phang juga ikut masuk, kemudian menyalakan sebuah obor, sehingga ruang batu itu berubah agak terang. Kee Phang menutup pintu batu itu, lalu berjalan ke dalam lagi seraya berkata pada mereka bertiga.

"Mari ikut aku!"

Timbul lagi kecurigaan, namun mereka bertiga tetap mengikuti Kee Phang ke dalam, Ternyata di dalam ruang batu itu terdapat sebuah terowongan yang berliku-liku, dan Kee Phang terus berjalan ke dalam.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu terus mengikutinya dari belakang, Kira-kira setengah jam kemudian, Sie Bun Yun sudah mulai tidak sabaran.

"Kee Tongcu! Kapan kita berhenti?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

Pada waktu bersamaan, mendadak di depan mereka berubah gelap gulita, Mereka bertiga tertegun, dan tahu adanya gelagat ketidak beresan.

"jangan bergeraksembarangan!" pesan Sie Bun Yun.

Sie Bun Yun mengeluarkan semacam batu, lalu digosok- gosokkannya hingga memereikkan api. seketika mereka bertiga tampak melongo, karena Kee Phang sudah tidak berada di tempat itu.

Di tempat itu pun terdapat banyak terowongan, Pek Yun Hui mencoba menghitung, ternyata ada tujuh buah terowongan, Mana yang menuju ke luar, mereka sama sekali tidak mengetahuinya.

Kini mereka baru tahu, Kee Phang mengajak mereka ke tempat itu, agar mereka terkurung di situ.

"Ah!" Pek Yun Hui membanting kaki. "Aku yang bersalah!"

"Memangnya kenapa?" tanya Sie Bun Yun heran. "Pertama kali aku melihat dia, aku sudah bereuriga," sahut

Pek Yun Hui menjelaskan "Namun kenapa aku tidak berhati- hati terhadapnya." "Siapa yang tidak mencurigainya?" Sie Bun Yun menarik nafas panjang.

"Aku yang mendesaknya mengajak kita ke Tok Sui Tong, akhirnya malah terkurung di sini," Bee Kun Bu menggeleng- gelengkan kepala.

"Siidahlah, jangan saling menyalahkan diri sendiri!" tandas Sie Bun Yun. "ltu pereuma."

"Saudara Sie Bun, padamkan saja api itu!" ujar Bee Kun Bu. "Aku akan menggunakan Teng Thian Sin Cin untuk menerangi tempat ini."

Sie Bun Yun segera memadamkan api itu, sedangkan Bee Kun Bu mengeluarkan senjata tersebut, seketika juga berubah terang tempat itu.

Mereka bertiga mulai memperhatikan terowongan- terowongan itu, Sungguh mengherankan terowongan- terowongan mirip semua, sehingga membuat mereka tidak dapat membedakan mana terowongan yang mereka lalui tadi, Di saat bersamaan, terdengarlah suara Kee Phang bergema, tak tahu berasal dari mana suaranya itu.

"Kalian bertiga, tenang-tenanglah menunggu kematian di situ!"

"Kami dengan engkau tiada permusuhan!" bentak Bee Kun Bu. "Kenapa engkau mengurung kami di sini?"

"He he he!" Kee Phang tertawa terkekeh "Orang Han memasuki daerah Miauw harus mati!"

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa gelak, "Kalau begitu, engkau telah melupakan persahabatan dengan Na Hai Peng?"

"He he!" Kee Phang tertawa terkekeh lagi. "Engkau tidak perlu omong kosong di situ!"

"Aku tidak omong kosong!" sahut Sie Bun Yun. "He hc he!" Kee Phang terus tertawa, Suara tawanya terdengar makin lama makin mengecil, namun tetap bergema, Rupanya orang itu mulai melangkah pergi.

"Jangan pergi!" seru Pek Yun Hui.

Akan tetapi, suara Kee Phang sudah tidak kedengaran lagi, Pek Yun Hui malah tertawa, kemudian ujarnya lantang.

"Badai seperti apa pun pernah kita hadapi, maka tempat ini bagaimana mungkin dapat mengurung kita? ini sungguh menggelikan!"

Pada waktu bersamaan, sayup-sayup mereka mendengar suara helaan nafas. itu membuat Pek Yun Hui terkejut dan langsung membentak.

"Siapa?"

Tiada sahutan, hanya terdengar suara helaan nafas, maka Pek Yun Hui mengerutkan kening dan membentak lagi.

"Siapa? Kenapa tidak mau bersuara?" Tadi engkau bilang pernah menghadapi badai seperti apa pun, apakah engkau pernah menghadapi ruang batu yang menyesatkan?" Terdengar suara sahutan nada tua.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu saling memandang, dan ketika itu lagi suara helaan nafas, namun lalu diam.

"Engkau siapa?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku seperti kalian yang terkurung di dalam ruang batu ini," suara sahutan.

"Sudah berapa lama engkau dikurung di sini?" tanya Sie Bun Yun.

"Aku tidak tahu siang dan malam, maka tidak tahu sudah berapa lama aku dikurung di sini," sahut orang itu.

"Engkau bisa melihat kami?" tanya Bee Kun Bu. "Bisa, namun aku sulit melangkah ke sana," sahut orang itu memberitahukan "Di kolong langit terdapat tiga tempat yang menyesatkan yakni di gunung Tangkula, di pulau Sera dan di tempat ini. Siapa yang terkurung di tiga tempat tersebut jangan berharap bisa ke luar lagi, Aaakh! Aku masih. "

Suara itu berhenti mendadak, maka membuat Pek Yun Hui menjadi penasaran sekali.

"Lanjutkanlah!"

"Kalau dilanjutkan, sungguh menggelikan," sahut orang itu. "Kenapa menggelikan?" tanya Pek Yun Hui heran.

"Sebab aku masih terhitung majikan tempat ini," sahut orang itu.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tereengang ketika mendengar pengakuan orang itu.

"Apa maksudmu?" tanya Sie Bun Yun.

"Kalian masih tidak mengerti? sesungguhnya aku adalah Ang Ngai Tongcu." Orang itu menjelaskan "Nah, kalian sudah mengerti?"

"Hah?" Pek Yun Hui terperanjat "Jadi engkau pernah ke Tionggoan?"

"Benar," sahut orang itu.

"Kalau begitu, engkau pasti kenal seseorang di istana yang bernama Na Hai Peng. Engkau masih ingat?" tanya Pek Yun Hui.

"Na Hai Peng adalah teman akrabku, tentunya aku masih ingat," jawab orang itu.

"Kami telah salah cari orang," ujar Bee Kun Bu sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Ternyata Kee Phang bukan teman akrab Na Locianpwee."

"Kee Phang adalah keponakanku Beberapa tahun lalu, Tok Sui Tongcu-Swat Lo Kongcu ingin menguasai Tujuh Gua Keramat, maka membunuh para Tongcu yang lain, Kini Tujuh Gua Keramat di daerah Miauw telah dikuasai Swat Lo Kongcu." Orang itu memberitahukan.

"Aku dengar banyak orang berkepandaian tinggi di sini. Selain Liat Pah To, masih ada berapa orang berkepandaian tinggi di sini?" tanya Sie Bun Yun.

Orang itu hanya menarik nafas, sama sekali tidak menyahut

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu men-duga, dalam hal tersebut pasti terdapat suatu sebab-musabab, sehingga orang itu tidak mau menyahut

"Engkau adalah mantan Ang Ngai Tongcu, tetapi kenapa tidak tahu jalan ke luar yang ada di sini?" tanya Sie Bun Yun.

"Kee Phang mengurung aku di sini, dan telah mengubah semua terowongan di tempat ini, maka aku tidak tahu jalan ke luar," jawab orang itu.

"Kini kita semua terkurung di sini, maka harus bersatu hati," ujar Sfe Bun Yun. "Yang penting kita harus menyatukan diri du!u."

"Kalian ke mari ia h, di sini ini ada makanan!" Orang itu memberitahukan "Kalau pun kita tidak bisa ke luar, tetapi tidak akan mati kelaparan di sini,"

"Baik," sahut Sie Bun Yun.

Dari tadi Sie Bun Yun terus memperhatikan suara itu, sehingga ia dapat memastikan bahwa suara itu berasal dari terowongan yang sebelah kiri. ia lalu berjalan ke sana, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang

Setelah mereka melangkah beberapa depa, terdengar suara itu di sebelah kanan, maka Pek Yun Hui mengerutkan kening seraya berkata.

"Kakak Yun, rasanya tidak benar nih!" "Adik Pek!" ujar Sie Bun Yun menjelaskan "Suara di tempat ini pun akan menycsatkan, maka kita harus tahu arah suara itu, jadi tidak akan keliru!"

Sie Bun Yun terus berjalan ke dalam terowongan itu. Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu terus mengikutinya dari belakang tanpa banyak bicata, Setelah Klasan depa mereka melangkah, Sie Bun Yun beiseru.

"Kee Tongcu, harap panggil kami!"

Orang itu langsung bersuara, dan seketika bergema-lah suara itu, Namun Sie Bun Yun mendengar dengan jelas, suara itu berasal dari sebelah kiri.

Mereka bertiga segera menuju gua sebelah kiri, dan beberapa depa kemudian terdengarlah suara itu.

"Eh? Kok tiada cahaya? Kalian ya?"

"Benar," sahut Sie Bun Yun girang, "Oh ya! Tadi engkau melihat cahaya, bagaimana cahaya itu?"

"Sangat terang seperti kilat," sahut orang itu.

"Apakah cahaya itu bergerak-gerak?" tanya Sie Bun Yun sambil melirik Bee Kun Bu. Segeralah Bee Kun Bu mengeluarkan Teng Thian Sin Cin, dan sekaligus digerak- gerakkannya.

Tidak salah, Cahaya itu bergerak bagaikan kilat." sahut orang itu.

"Cahaya yang engkau lihat itu adalah tempat kami."

Sie Bun Yun memberitahukan. "Oh ya! Masih berapa jauh sampai ke tempatmu?"

"Aaakh...!" Orang itu menghela nafas, "Pereuma. " "Tidak

pereuma, sebab kita bisa berkumpul ujar Sie Bun Yun.

"Baiklah, Kalian boleh ke mari, tetapi ikutilah petunjukku!" sahut orang itu.

"Ya," sahut mereka bertiga serentak "Tujuh langkah ke kanan, maju sebelas langkah ke depan, belok ke kiri tiga langkah, mundur lagi tujuh langkah, kemudian belok ke kanan lima langkah." Orang itu memberi petunjuk "Setelah itu, kalian akan sampai di tempatku."

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengikuti petunjuk tersebut, lalu melihat sedikit cahaya di situ, Ternyata cahaya itu berasal dari langit-langit ruang batu, Tampak seorang lelaki tua bertubuh kurus kering duduk bersila di situ, Orang itu boleh dikatakan telanjang, sebab pakaiannya sudah tersobek tidak karuan

Tampak seorang lelaki tua bertubuh kurus kering duduk bersila di situ, Orang itu dikatakan telanjang, sebab pakaiannya sudah tersobek tidak karuan.

Mereka bertiga mendekatinya, Di sisi orangtua itu terdapat banyak makanan kering.

Terkejutlah mereka bertiga ketika orangtua itu mendongakkan kepala, Ternyata wajah orangtua itu kelabu, rambut awut-awutan, namun sepasang matanya bersinar tajam, Di keningnya terdapat sebuah tanda bulan sabit, sehingga kelihatan seperti siluman.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tertegun, Namun orangtua itu malah tertawa, sehingga wajahnya tampak lebih menyeramkan

"Wajahku sangat menakutkan, bukan?"

"Ka!au terkurung lama di sini, semua orang pun akan berubah menjadi begitu," sahut Sie Bun Yun sambil menarik nafas.

"Tadi kalian menyinggung nama Na Hai Peng. sebetulnya ada hubungan apa kalian dengannya?" tanya orangtua itu.

"Aku adalah muridnya," sahut Pek Yun Hui. "Aku adalah anak angkatnya." Bee Kun Bu mem- beritahukan.

"Ngmmml" Orangtua itu manggut-mangguL "Pada tahun itu, aku berangkat ke Tionggoan karena terdesak oleh orang, Ketika berpisah dengan Na Hai Peng, aku tidak langsung pulang di daerah Miauw ini, melainkan berkelana ke sana dan sekaligus memperdalam ilmu silatku, Setelah berkepandaian tinggi, barulah aku pulang, Akan tetapi, aku tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa-nyawa orang. Itu... mungkin sudah merupakan takdir."

"Sebetulnya apa yang telah terjadi?" tanya Pek Yun Hui. "Yaaah!" Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala,

Tiada hubungan dengan kalian, maka dituturkan juga pereuma."

"Engkau adalah teman baik guruku, maka ada kesulitan apa pun, kami pasti bersedia membantumu," ujar Pek Yun Hui sungguh-sungguh, "Jadi lebih baik tutur-kanlah!"

"Ha ha!" Orangtua itu tertawa gelak-

Karena orangtua itu cuma tertawa, maka membuat Pek Yun Hui penasaran dan agak gusar

"Kenapa tertawa?" tanya Pek Yun Hui kurang senang. Tentunya dia tertawa karena kita sudah terkurung di sini,

namun engkau masih bilang mau membantunya, Bukankah itu sangat menggelikan?" ujar Sie Bun Yun.

"Oh, ya?" Pek Yun Hui menatap orangtua itu.

"Ngmm!" Orangtua itu manggut-manggut, "Aku lihat, kalian bertiga memang berkepandaian tinggi Namun setelah kalian terkurung di sini, boleh dikatakan tiada harapan untuk ke luar lagi."

Bee Kun Bu memandang ke atas, kemudian mengerutkan kening seraya bertanya "Apakah Locianpwee tidak pernah berpikir menjebol langit- langit ruang batu ini?"

"Ha ha!" Orangtua itu tertawa, dan mendadak melesat ke atas sambil melancarkan dua buah pukulan.

Bukan main dahsyatnya pukutan-pukulan itu, sehingga membuat seluruh ruang batu itu tergoncang hebat. Setelah melancarkan pukulan-pukulannya, orangtua itu melayang turun lalu duduk bersila lagi.

"Kalian pasti sudah lihat, betapa dahsyatnya ke dua pukulanku Boleh dikatakan dapat menghancurkan batu yang mana pun, tetapi langit-langit ruang batu ini..." Orangtua itu menggeleng-gelengkan kepala.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu memandang ke atas, Ternyata langit-langit ruang batu itu tidak cacat sama sekali.

"Semua batu yang di dalam ruang ini, lain dari batu biasa." Orangtua itu menghela nafas, "Maka tidak dapat dihancurkan dengan pukulan dahsyat yang bagaimana pun."

Bee Kun Bu diam saja, namun tiba-tiba melesat ke atas sambil menggenggam Teng Thian Sin Cin dan diarahkan ke langit-langit ruang batu itu.

Craaak! Teng Thian Sin Cin itu menembus ke dalam langit- langit ruang batu tersebut

"Bagaimana?" tanya Bee Kun Bu, yang bergantung di langit-langit itu.

Orangtua itu tampak tertegun sambil memandang senjata yang di tangan Bee Kun Bu, kemudian sekujur badannya berbunyi pletak-pletuk.

"Eh?" Sie Bun Yun menatapnya heran, "Cianpwee kenapa?"

"Aku bisa ke luar Aku bisa ke luar!" sahut orangtua itu, ia merasa girang, tetapi kemudian menarik nafas panjang, "Apa gunanya aku ke luar? Aaakh! Aku tidak dapat menandingi guruku dan Swat Lo Kongcu, lagi pula masih ajia enam Tongcu pembantu mereka."

"Cianpwee. " Sie Bun Yun menatapnya lagi, namun tidak

tahu harus bagaimana menghiburnya, lalu mengarah pada Bee Kun Bu. "Saudara Bee! Kita bergantian menusuk langit- langit ruang batu ini dengan Teng Thian Sin Cin. Kalau langit- langit itu berlubang agak besar, kita tentu bisa ke luar."

"Ng!" Bee Kun Bu mengangguk dan mulai menusuk lagi, sementara Pek Yun Hui bertanya pada orangtua itu.

"Bolehkah kami tahu nama besar Cianpwee?"

"Pada tahun itu, aku tidak mau memberitahukan namaku pada Na Hai Peng, karena aku khawatir ada orang mendatangi daerah Miauwdan menyebut namaku," ujar orangtua itu.

"Kenapa Locianpwee mengkhawatirkan hal itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Sebab akan mencelakakan orang itu sendiri," sahut orangtua itu.

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut. "Apa sebabnya?" tanya Sie Bun Yun

"Kini aku beritahukan juga sudah tidak masalah," sahut orangtua dan melanjutkan "Namaku adalah Kee Khuang, murid tertua Liat Pah To, juga adalah Ang Ngai Tongcu."

"Apakah Tongcu lain juga murid Liat Pah To?" tanya Sie Bun Yun.

"Sesungguhnya kami suku Miauw tidak pernah ber-saing dengan suku lain," ujar Kee Khuang memberitahu-kan. Tujuan Tujuh Tongcu adalah menjaga keamanan suku Miauw, namun setelah muncul Swat Lo Kongcu, daerah Miauw pun menjadi kacau balau tidak karuan."

"Kenapa begitu?" tanya Pek Yun Hui heran. "Begitu Swat Lo Kongcu muncul, guruku terpikat olehnya," jawab Kee Khuang sambil menarik nafas, "Ke-cuali aku dan salah seorang Tongcu, yang lain telah terpikat oleh Swat Lo Kongcu."

"Kalau begitu, dia pasti cantik sekali," ujar Pek Yun Hui dan bertanya, "Swat Lo Kongcu datang dari mana?"

"Dia datang dari mana, tiada seorang pun menge- tahuinya," sahut Kee Khuang dan menambahkan "Ketika muncul, dia mengenakan semacam pakaian yang sangat tipis, berdiri tegak di Tebing Merah, Tujuh Tongcu dan para suku Miauw mengiranya bidadari yang baru turun dari kahyangan maka mereka langsung menyembah. "

Wajah Kee Khuang tampak murung sekalL Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun tidak mengganggunya, menunggu Kee Khuang melanjutkan penuturannya.

"Akan tetapi.,." lanjut Kee Khuang, "Siapa pun tidak tahu isi hatinya, yang ternyata begitu kejam dan jahat Dalam waktu sepuluh tahun, orang-orang Miauw sudah berkurang hampir separuh, banyak yang mati dan kabur, Beberapa tahun lagi, daerah Miauw ini mungkin akan berubah menjadi hutan belantara, sedangkan aku hanya seorang diri, bagaimana mungkin mampu melawannya?"

Usai melanjutkan sepasang mata Kee Khuang ber-simbah air, dan wajahnya tampak sedih sekali.

sementara Bee Kun Bu yang sedang menusuk Iangit-langit ruang batu itu, juga mendengar keluhan Kee Khuang.

"Apakah kepandaian Swat Lo Kongcu begitu tinggi, sehingga tiada seorang pun yang mampu menandinginya ?" tanyanya.

"Tidak juga," sahut Kee Khuang, "Tapi siapa yang bertemu dengannya, pasti akan terpikat begitu pula guruku, Mula-mula Swat Lo Kongcu membunuh Tok Sui Tongcu, lalu mengangkat dirinya sebagai Tok Sui Tongcu, Setelah itu, dia mendesakku agar meninggalkan daerah Miauw, Ketika aku pulang, semua Tongcu telah diganti orang lain, Bahkan guruku juga sudah tinggal bersama Swat Lo Kongcu sebagai suami isteri Oleh karena itu, siapa yang berani menentang Swat Lo Kongcu?"

"Cianpwee tidak perlu berduka!" ujar Sie Bun Yun. "Kalau kami bisa ke luar dari ruang batu ini, kami pasti pergi mencari Swat Lo, Kongcu untuk membuat perhitungan dan sekaligus menyelamatkan orang-orang Miauw."

"Bukan aku memandang rendah diri kalian. ," Kee

Khuang tersenyum getir "Kepandaian kalian. "

"Harap Cianpwee berlega hati!" ujar Pek Yun Hui sungguh- sungguh. "Walau kami bukan jago yang tanpa tanding, tapi selama ini belum ketemu orang yang mampu mengalahkan kami,"

"Aku pereaya." Kee Khuang tersenyum getir lagi, Tapi kalian tidak tahu, guruku adalah orang aneh di daerah Miauw ini Bukan cuma berkepandaian tinggi saja, namun juga mengendalikan binatang buas apa pun."

"Oh?" Pek Yun Hui tertegun "Mampu mengendalikan binatang buas apa pun?"

"Ya." Kee Khuang mengangguk "Ketika Swat Lo Kongcu bertindak semena-mena, kaum muda Miauw bangkit melawannya, Kaum muda itu berjumlah hampir seribu orang, namun kalian tahu bagaimana akhirnya?"

"Bagaimana?" tanya Bee Kun Bu. Walau sedang menusuk langiMangit ruang batu itu, namun ia pun memasang kuping mendengarkan penuturan Kee Khuang.

"Seratus orang lebih mati tergigit binatang beracun, tiga ratus orang lebih dimangsa binatang buas, dan sisanya mati terkena pukulan," jawab Kee Khuang dengan air mata meleleh.

"Haaah?" Sie Bun Yun terkejut "Oleh karena itu...." Kee Khuang menarik nafas. "... walau kita bisa ke luar, tetapi pereuma juga."

"Belum tentu," sahut Pek Yun Hui.

Mendadak tampak cahaya menerobos ke dalam Ternyata Bee Kun Bu telah berhasil melubangi langit-langit ruang ba u itu, bahkan telah melesat ke luar melalui lubang itu.

Betapa girangnya Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, sementara terdengar pula suara seruan Bee Kun Bu dari luar

Pek Yun Hui segera melesat ke luar melalui lubang 9 itu, kemudian melihat Bee Kun Bu sedang mengejar dua orang Miauw.

"Jangan mengejar mereka!" seru Pek Yun Hui

Bee Kun Bu menolehkan kepalanya, Ternyata Sie Bun Yun dan Kee Khuang pun sudah ke luar melalui lubang itu.

Bee Kun Bu segera memandang ke depan lagi, namun ke dua orang Miauw itu telah hilang.

"Kita baru ke luar sudah diketahui orang, maka lebih baik kita bersembunyi dulu, jangan terburu-buru memunculkan diri," ujar Kee Khuang.

"Kita harus bersembunyi di mana?" tanya Pek Yun Hui kepada orangtua itu.

"Kalian ikut akui Aku tahu ada suatu tempat yang dapat digunakan untuk bersembunyi ujar Kee Khuang.

"Kita tidak langsung ke Tok Sui Tong?" tanya Bee Kun Bu yang ingat akan Kun Lun Sam Cu terkurung di sana.

"Kita memang harus ke sana, tapi tidak bisa bum-buru," sahut Sie Bun Yun.

Tapi. " Hati Bee Kun Bu kacau balau, sebab ia masih

belum bertemu Lie Ceng Loan.

Tenang!" Sie Bun Yun menepuk bahunya. Kee Khuang telah mengayunkan kakinya, dan Bee Kun Bu sengaja berjalan di sisinya.

"Cianpwee, di mana Tok Sui Tong itu?" tanya Bee Kun Bu berbisik

"Di sebelah barat Tebing Merah terdapat air terjun." Kee Khuang memberitahukan Tok Sui Tong tidak jauh dari tebing itu."

Bee Kun Bu manggut-manggut

Kee Khuang terus berjalan, sehingga mereka berempat melewati sebuah bukit Ketika itu Bee Kun Bu mulai memperlambat langkahnya, dan tak lama ia sudah tertinggal beberapa depa.

Bahkan kemudian ia berhenti sambil menengok ke sana ke mari. Mendadak ia melesat pergi laksana kilat, dan dalam sekejap telah menempuh jarak beberapa mil Namun ketika ia baru mau mempereepat langkahnya, tiba-tiba terdengar Pek Yun Hui memanggilnya.

Suara Pek Yun Hui berhenti Bee Kun Bu memandang ke arah Tebing Merah di belakangnya, kemudian mengerahkan ginkangnya menuju tempat itu.

*****

Bab ke 33 - Menyelidiki Tok Sui Tong

Setelah hari mulai gelap, barulah Bee Kun Bu berhenti. Ketika itu terdengar suara hembusan angin yang men-deru- deru, dan terdengar pula suara binatang buas.

sebenarnya Bee Kun Bu tidak takut pada binatang buas, Namun kini ia telah tersesat di jalan, sebab di sekitar tempat itu penuh ditumbuhi rumput dan alang-alang yang sangat tinggi dan tidak tampak ada jalan.

Bee Kun Bu mulai menyesal akan tindakannya meninggalkan Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, Tadi maksudnya ingin menuju Tok Sui Tong, tapi saat ini malah tersesat di tempat tersebut

Akhirnya Bee Kun Bu mengambil arah barat, dan setelah menempuh sekitar delapan mil, sayup-sayup ia mendengar suara yang amat halus.

Segeralah Bee Kun Bu berhenti sambil mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian Karena suara itu semakin jelas, maka ia cepat-cepat mengeluarkan Teng Thian Sin Cin, dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan

Bee Kun Bu tereengang, sebab suara itu mirip semacam musik. ia mengerutkan kening, lalu berjalan ke tempat suara musik itu.

Tak lama ia sudah sampai di sebuah lembah. Ternyata suara musik tersebut mengalun dari dalam lembah itu, Bee Kun Bu langsung memasuki lembah tersebut lalu bersembunyi di balik sebuah batu besar sambil memandang ke depan.

Tampak sebidang tanah di sana, justru sungguh mengherankan tempat itu mirip sebuah taman bunga, dan tereium pula harum bunga yang sangat menyedapkan hidung, Karena tertarik akan keadaan tempat itu, maka Bee V^#N3u berjalan ke sana.

Mendadak ia terbelalak dan terpukau karena melihat beberapa gadis berpakaian tipis sedang bermain musik di situ, dan tampak pula beberapa gadis lain sedang menari-nari lemah gemulai

Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam menghimpun hawa murninya agar tidak terpengaruh oleh tarian-tarian yang cukup merangsang itu, Setelah menghimpun hawa murninya, ia jadi tenang, dan barulah memperhatikan mereka.

Detapan gadis menari dan delapan gadis duduk di tanah memainkan alat musik masing-masing, semuanya mengenakan pakaian ciri khas suku Miauw, Bee Kun Bu makin terbelalak karena melihat gadis-gadis yang bermain musik itu semuanya buta, namun wajahnya tampak cantik jelita.

Bee Kun Bu tidak habis berpikir, kenapa mata gadis-gadis itu bisa buta? Ketika ia sedang berpikir, mendadak terdengar suara dengusan dingin.

"Hmmm!" Kemudian disusul pula suara seruan dingin "Berhenti!"

Suara yang begitu dingin itu membuat sekujur badan Bee Kun Bu jadi merinding seketika, ia cepat-cepat menoleh.

Tampak dua orang duduk di atas batu hijau.

Ke dua orang itu lelaki dan wanita. Si lelaki berambut merah, hidungnya melengkung dan sepasang matanya agak kebiru-biruan, ia sedang menikmati arak.

sedangkan yang wanita berusia tiga puluhan, mengenakan pakaian serba putih, dan wajahnya sungguh cantik memikat

Di sisi lelaki itu mendekam seekor binatang aneh berbulu kuning, entah binatang apa itu?

Yang berseru dingin tadi adalah wanita tersebut Begitu ia berseru, para gadis yang bermain musik langsung berhenti Wajah mereka berubah kelabu, dan sekujur badan mereka menggigil

Begitu pula gadis-gadis yang menari. Mereka pun berhenti menari. Wajah mereka berubah pucat pias, dan kaki mereka gemetar

"Apakah engkau tidak melihat?" tanya wanita cantik itu. "Melihat apa?" sahut lelaki rambut merah.

"Ayunan langkah gadis ke tiga dari sebelah kiri itu salah," Wanita cantik itu memberitahukan.

Begitu wanita cantik itu mengatakan demikian, gadis ke tiga dari sebelah kiri tersebut langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. "Hamba memang salah selangkah ketika sedang me-nari, mohon Kongcu (Tuan Putri) mengampuni hamba!" ucap gadis itu.

Hati Bee Kun Bu tergerak ketika gadis itu memanggil Kongcu kepada wanita cantik tersebut

"Hm!" dengus wanita cantik itu dingin, "Mengam-punimu?"

Gadis itu diam di tempat sama sekali tidak berani mendongakkan kepalanya.

"Dongakkan kepalamu!" bentak wanita cantik itu. Gadis itu segera mendongakkan kepalanya.

"Aku akan mengampuni nyawamu, tapi tetap akan menghukummu," ujar wanita cantik itu sambil tersenyum.

"Mohon Kongcu meringankan hukuman hamba!H Suara gadis itu gemetar

"Baik." Wanita cantik itu manggut-manggut, lalu menepuk binatang aneh berbulu emas yang ada di sisi lelaki berambut merah.

Binatang aneh berbulu emas itu langsung bangkit berdiri Bee Kun Bu memandang ke arah binatang aneh berbulu emas, Binatang itu sebesar kucing, bentuknya mirip rase, tetapi moncongnya sangat lancip seperti paruh burung, Bee Kun Bu terheran-heran, sebab sama sekali tidak tahu binatang apa itu.

Ketika binatang aneh berbulu emas itu bangkit berdiri bulu di sekujur badannya ikut berdiri

"Manis!" Wanita cantik itu mengelus-elus binatang aneh berbulu emas seraya berkata lembut "Makanlah sepasang mata gadis yang berlutut itu!"

Binatang aneh berbulu emas mengangguk kemudian mendadak melesat ke arah gadis yang berlutut Ketika Bee Kun Bu mendengar apa yang dikatakan wanita cantik itu, betapa gusarnya dan ingin menolong gadis itu, Akan tetapi, binatang aneh berbulu emas itu sungguh cepat gerakkannya, Begitu tampak cahaya keemasan berkelebat, seketika juga terdengarlah suara jeritan gadis itu yang memilukan

"Aaaakh.,.!" sepasang matanya telah tereungkil oleh binatang aneh berbulu emas itu, dan sekaligus dilalapnya.

Belum pernah Bee Kun Bu menyaksikan kejadian yang begitu sadis, sehingga membuat kegusarannya me-muncak. ia langsung membentak sambil meloncat ke luar dari tempat persembunyiannya.

"Hai wanita berhati kejam, kenapa kau bertindak begitu kejam?"

Ketika melihat Bee Kun Bu, wanita cantik dan lelaki berambut merah itu tampak tertegun.

"Engkau siapa? Kenapa mencampuri urusanku?" tanya wanita cantik itu dingin.

"Engkau Swat Lo Kongcu, bukan?" Bee Kun Bu balik bertanya.

Wanita cantik itu tidak menyahut, hanya menatap Bee Kun Bu dengan tajam, sepasang matanya berbinar-binar penuh daya pikat Bee Kun Bu tahu bahwa wanita cantik itu memiliki semacam ilmu pembetot sukma, Oleh karena itu ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak berani beradu pandang dengan wanita cantik itu.

"Ternyata di luar daerah Miauw, juga ada yang mengetahui namakul" ujar wanita cantik itu yang tidak lain adalah Swat Lo Kongcu, "Orang marga Sen itu bilang apa padamu?"

Yang dimaksudkan orang marga Sen, tentunya adalah Pek Ih Sin Kun, ketua partai Swat San. Karena tidak tahu Pek Ih Sin Kun datang ke situ, maka Bee Kun Bu tidak mau membicarakan nya. "Nona itu cuma salah selangkah dalam menari, tetapi kenapa engkau begitu tega menghukumnya dengan cara sesadis itu?" ujar Bee Kun Bu bernada gusar

"Engkau bersimpati pada mereka?" tanya Swat Lo Kongcu dingin.

Tentu!" jawab Bee Kun Bu.

"Ha ha!" Swat Lo Kongcu tertawa, "Kalau engkau tidak muncul Ke tujuh gadis lain masih dapat diampuni! Tapi kini engkau bersimpati pada mereka, sehingga mereka bertujuh pun harus buta karenanya!"

"Engkau sungguh tak berperasaan!" bentak Bee Kun Bu dan langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah Swat Lo Kongcu.

sedangkan Swat Lo Kongcu yang duduk di atas batu hijau itu tak bergeraksama sekali Lelaki berambut merah tertawa aneh, lalu mengangkat tangannya untuk menangkis pukulan Bee Kun Bu.

Plaaak! Terdengar suara benturan.

Lelaki berambut merah tetap duduk tak bergeming, sedangkan Bee Kun Bu terdorong ke belakang satu langkah, Pada waktu bersamaan, Bee Kun Bu membentak keras dan melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah lelaki berambut merah.