Bangau Sakti Jilid 43

 
Jilid 43

Kenapa Co Hiong menyuruh Lie Ceng Loan menceritakan kejadian itu? Tidak lain berdasarkan apa yang diceritakan gadis itu, ia akan mengarang sebuah cerita bohong.

Lie Ceng Loan sama sekali tidak berpikir sampai ke situ, Maka ia segera menceritakan tentang kejadian itu secara jelas, dan seusai bereerita, gadis itu pun bertanya.

"Bagaimana Kakak Bu?"

"Dia,., dia,.,." Co Hiong bersikap misterius.

"Kenapa dia?" Wajah Lie Ceng Loan langsung berubah pucat pias, "Apakah dia sudah mati?"

"Mati sih tidak,"

"Oooh!" Lie Ceng Loan menarik nafas lega. "Aku kaget setengah mati."

"Tapi justru lebih menakutkan dari pada mati," ujar Co Hiong. "Lebih menakutkan dari pada mati?" Wajah Lie Ceng Loan berubah pucat lagi, "Maksudmu?"

"Engkau dengar penuturanku!" sahut Co Hiong,. "Ternyata engkau kena racun ular kilat hijau."

"ltu apa hubungannya dengan Kakak Bu?" tandas Lie Ceng Loan.

"Dia menganggap engkau sudah tidak bisa ditolong lagi, oleh karena itu. " Co Hiong sengaja tidak melanjutkan, itu

agar Lie Ceng Loan gugup.

"Saudara Co, bagaimana Kakak Bu, cepat katakan!" desak Lie Ceng Loan dan tampak gugup sekali.

"Dia,., dia,.,." Otak Co Hiong terus berputar untuk mengarang sebuah cerita bohong yang tepat untuk didengar gadis itu. "Nona Lie, kalau aku beritahukan, mungkin engkau tidak akan pereayai

"Sebetulnya ada apa?" Lie Ceng Loan mengerutkan kening.

"Aaakh. !" Co Hiong menarik nafas panjang, "Engkau

sungguh kenal orang tidak kenal isi hatinya, Kalau aku tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, aku pun tidak akan pereayai

"Apakah. apakah hati Kakak Bu telah berubah?" tanya Lie

Ceng Loan, tapi kemudian bergumam, "Tidak! itu tidak mungkin! Aku tidak boleh berpikir begitu!"

"Nona Lie, engkau memang berhati polos." Co Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudahlah! Engkau jangan terus omong kosong!" tegur Lie Ceng Loan.

"Baik!" Co Hiong manggut-manggut "Biar aku katakan Setelah Bee Kun Bu menganggapmu tidak dapat diobati lagi, semula dia memang tampak berduka sekali, Dia pun ingin bunuh diri, tetapi ternyata cuma sandiwara belaka."

"Jangan omong sembarangan!" bentak Lie Ceng Loan gusar.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Engkau tidak mau dengar ya sudahlah!"

"Aku mau dengar, lanjutkanlah desak Lie Ceng Loan. "Nona Lie!" Co Hiong tersenyum, "Aku tambahkan sepatah

kata, engkau memang cantik sekali!"

"Eh?" Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan. "Kenapa sih engkau?"

"Baik, aku lanjutkan." Wajah Co Hiong mulai serius, "Ketika itu, semua orang mengira bahwa dia benar-benar mau membunuh diri Namun tak disangka, pada hari ke tiga dia sudah mulai tertawa-tawa dengan wajah cerah ceria. "

"ltu tak mungkin!" potong Lie Ceng Loan tidak pereaya. "Nona Lie, dengarkan terus!" ujar Co Hiong dan

melanjutkan Ternyata dia mulai bermesra-mesraan dengan Na Siao Tiap."

Tidak mungkin! itu tidak mungkin. " Mata Lie Ceng Loan

sudah basah.

"Karena itu, Na Locianpwee dan Pek Lie Hiap pun gusar bukan main, Entah sudah berapa kali mereka menegur Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap, bahkan mereka pun bilang, kalau Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap mau saling mencinta, setelah engkau putus nafas pun tidak akan terlambat

"Kalau... nafasku sudah putus, dia pun tidak harus. " Lie

Ceng Loan menatap kosong ke depan.

"Akan tetapi, Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap sama sekali tidak mau dengar, dan mereka berdua malah menunggang burung bangau itu meninggalkan Kwat Cong San, dan menyatakan tidak akan kembali ke Tiong-goan lagi, sebab mereka ingin hidup sebagai suami isteri di seberang laut," Co Hiong memberitahukan sambil menarik nafas panjang.

"Mereka berdua... akan hidup sebagai suami isteri di seberang laut?" Sekujur badan Lie Ceng Loan tampak gemetar

"Benar." Co Hiong mengangguk "Bee Kun Bu memang licik. Selama itu dia cuma berpura-pura menjadi orang baik, Nah, bukankah itu lebih menakutkan dari pada dia mati?"

"Itu... itu ada baiknya juga," ujar Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

"Engkau bilang apa?" Co Hiong tertegun

"Kakak Siao Tiap memang mencintai Kakak Bu, dan kini mereka berdua sudah hidup sebagai suami isteri Bukankah itu baik sekali? Aku... aku mengucapkan selamat pada mereka berdua, dan semoga... semoga mereka terus hidup bahagia selama-lamanya!" ucap Lie Ceng Loan sambil tersenyum paksa.

Setelah itu, Lie Ceng Loan bangkit berdiri, lalu berjalan pergi perlahan-Iahan, Co Hiong mengikutinya dari belakang.

beberapa mil kemudian, Lie Ceng Loan berhenti, dan menoleh memandang Co Hiong seraya berkata.

"Saudara Co, aku... aku tidak begitu mempereayai omonganmu."

"Aaakh.,.!" Co Hiong menarik nafas panjang sambil tersenyum getir "Nona Lie, hanya Thian (Tuhan) yang mengetahui diriku."

Tapi dulu engkau sering membohongi orang, maka aku tidak begitu mempereayaimu," ujar Lie Ceng Loan.

Tapi kali ini aku tidak berbohong, dan ada buktinya," tandas Co Hiong.

"Apa buktinya?" "Cobalah engkau pikir, apabila Bee Kun Bu tidak berubah hatinya, kenapa dia tidak berusaha menolongmu

"Dia. " Lie Ceng Loan tertegun, "Seandainya dia tidak

mau menolongku, masih ada Paman Na dan Kakak Pek akan menolongku."

"Terus terang! Akuyang minta izin pada Na Locianpwee dan Pek Lie Hiap untuk membawamu pergi, agar aku bisa menolongmu Kalau Bee Kun Bu masih berada di sana, bagaimana mungkin mereka mengizinkan aku membawamu pergi?"

"Kalau begitu, bagaimana cara engkau menolongku?" tanya Lie Ceng Loan setelah tertegun beberapa saat

"Yaah!" Co Hiong menarik nafas, "Lebih baik engkau tidak bertanya tentang itu, lupakan saja!"

"Aku ingin mengetahuinya."

"Baiklah." Co Hiong menarik nafas lagi, "Aku akan memberitahukan. Demi menolongmu, aku masuk ke dalam sebuah telaga beracun untuk menangkap ular kilat hijau, sampai aku. aku nyaris mati di dalam telaga beracun itu,

setelah berhasil menangkap ular kilat hijau, aku mengambil empedunya dan kucampur dengan darahku untuk engkau minum, Karena itu, kini badanku masih lemah sekali."

"Saudara Co!" Lie Ceng Loan menatapnya dalam-dalam, "Kenapa engkau begitu baik terhadapku?"

"Nona Lie!" Co Hiong bergirang dalam hati sebab Lie Ceng Loan bertanya begitu, "Engkau adalah gadis baik, kecuali orang yang berhati binatang, siapa pun pasti berupaya menolongmu."

"Janganlah engkau mencaci Kakak Bu lagi!" tegur Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Eh?" Co Hiong menatapnya, "Nona Lie, apakah engkau masih tidak tahu bagaimana isi hati dan perasaanku terhadapmu?" Lie Ceng Loan tidak menyahut, melainkan mengayunkan kakinya berjalan pergi dengan kepala tertunduk

Co Hiong mengikutinya dari belakang, Mulut membungkam sambil berpikir Biar bagaimana ia membusuk-busukkan Bee Kun Bu, hati Lie Ceng Loan tetap mencintainya.

Oleh karena itu, timbullah rasa bencinya pada Lie Ceng Loan, Entah berapa kali ia ingin menusuk gadis itu dari belakang dengan senjatanya, namun ia masih ingin bersama nya, sehingga membuat Co Hiong membatalkan niat jahatnya itu.

Sementara Lie Ceng Loan terus berjalan ke depan, Co Hiong pun terus mengikutinya dari belakang

Berselang beberapa saat kemudian, Lie Ceng Loan membalikkan badannya memandang Co Hiong seraya bertanya.

"Kenapa engkau terus-menerus mengikutiku?"

"Aku khawatir engkau akan berduka setelah mengetahui hal yang sebenarnya, maka aku tidak mau meninggalkannya sahut Co Hiong.

"Aku sudah berpikir, dalam hatiku sama sekali tidak merasa berduka," ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum getir

"Benar." Co Hiong manggut-manggut girang, "Bee Kun Bu yang begitu busuk memang tidak perlu dikenang, Karena dulu engkau salah mencintainya, jadi kini engkau pun tidak merasa berduka,"

"Bukan begitu." Lie Ceng Loan menggelengkan ke-pa!a. "Kalau begitu kenapa?" Co Hiong mengerutkan kening.

"Aku tahu dia sangat mencintaiku Karena dia menganggapku pasti mati, sehingga dia pergi bersama Kakak Siao Tiap, Asal dia hidup bahagia bersama Kakak Siao Tiap, aku pun ikut bahagia, Karena itu, aku pun jadi tidak merasa berduka," sahut Lie Ceng Loan. "Nona Lie...." Mulut Co Hiong ternganga lebar "Engkau... engkau masih tetap mencintai Bee Kun Bu?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Orang semacam itu masih engkau cintai?" tanya Co Hiong lagi dan tampak penasaran sekali

"Tidak salah," Lie Ceng Loan manggut-manggut Selain penasaran, timbul pula rasa benci yang teramat

dalam ia telah berusaha mati-matian agar Lie Ceng Loan membenci Bee Kun Bu, tapi sia-sia semua itu, karena hati gadis itu sama sekali tidak terpengaruh Akan tetapi, Co Hiong adalah orang yang sangat licik dan banyak akal busuknya, Karena itu, ia tersenyum lembut sambil memandang Lie Ceng Loan, kemudian ujarnya.

"Nona Lie, kalau begitu bukankah engkau akan hidup seorang diri selamanya?"

"Benar." Lie Ceng Loan mengangguk "Asal aku selalu ingat pada Kakak Bu, aku pun sudah merasa puas."

"Oh?" Co Hiong maju ke hadapannya, lalu mendadak memeluknya erat-erat.

Lie Ceng Loan terkejut bukan main, Gadis itu tidak bisa meronta, sebab badannya masih lemah.

"Saudara Co, engkau... engkau mau berbuat apa?"

Co Hiong tidak menjawab, sebaliknya malah menarik Lie Ceng Loan ke atas sebuah batu besar

"Saudara Co!" bentak Lie Ceng Loan gusar, "Cepat lepaskan aku!"

"Nona Lie, engkau harus mendengar beberapa patah kataku!" sahut Co Hiong.

"Aku tidak mau dengar, cepat lepaskan aku!" teriak Lie Ceng Loan.

"Tenang!" Co Hiong tersenyum. "Lepaskan aku!" Lie Ceng Loan mencoba meronta, tapi justru membuatnya merasa lelah.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Nona Lie, tahukah engkau? Sejak pertama kali aku melihat mu, hatiku sudah jatuh cinta padamu, itu yang membuatku selalu teringat padamu, dan sama sekali tidak pernah lupa."

"Aku pernah dengar dari Kakak Giok Pin. Engkau pun pernah berkata demikian padanya," sahut Lie Ceng Loan.

"Hm!" dengus Co Hiong. "Bagaimana dia bisa dibandingkan denganmu?"

"Saudara Co!" Lie Ceng Loan mulai gugup, "Se-betu!nya engkau ingin bagaimana sih?"

"Nona Lie, engkau harus ingat! Aku menempuh bahaya demi menolong dirimu," sahut Co Hiong.

"Aku... aku sungguh berterima kasih padamu."

"Nona Lie, aku sedemikian mencintaimu, apakah hatimu sama sekali tidak tergerak?"

"Aku. " Wajah Lie Ceng Loan memerah, dan mendadak ia

meronta, lalu bangkit berdiri

Akan tetapi, mendadak ia merasa matanya ber-kunang- kunang, sehingga jatuh duduk kembali

"Kenapa engkau menyusahkan diri sendiri? Kini Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap sedang bermesra-mesraan di seberang laut, maka tidak ada salahnya kalau kita juga menjadi suami isteri di dalam lembah ini."

"Apa?" Lie Ceng Loan gusar sekali "Engkau bilang apa?" "Aku bilang...." Co Hiong tersenyum. ".-.lebih baik kita

menjadi suami isteri di lembah ini."

Mendengar ucapan itu, Lie Ceng Loan langsung kabur, tapi beberapa depa kemudian, ia terkulai Co Hiong sudah melesat di hadapannya, ia tidak memapah Lie Ceng Loan bangun hanya terus menatapnya.

"Nona Lie! Apa yang kukatakan itu, engkau setuju?" tanyanya dengan suara dalam.

"Tidak!" sahut Lie Ceng Loan membentak

"Kalau begitu. " Co Hiong tertawa panjang, Tahu-kah

engkau, saat ini engkau harus setuju?"

"Engkau. engkau.,.," Lie Ceng Loan menudingnya, Gadis

itu sudah tahu kalau Co Hiong berniat jahat terhadapnya. "Kenapa aku?" tanya Co Hiong lembut

Plak! Mendadak Lie Ceng Loan menamparnya.

"Nona Lie!" Co Hiong tersenyum manis ketika ditam-par. "Aku cukup sepadan dan serasi denganmu."

"Kalau engkau,., engkau berani menghinaku, aku. aku

pasti bunuh diri!" ancam Lie Ceng Loan.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Kita sudah mau menjadi suami isteri, bagaimana mungkin aku membiarkan engkau membunuh diri?"

"Engkau. " Ucapan Lie Ceng Loan terputus, karena

mendadak Co Hiong menotok jalan darahnya, dan seketika Lie Ceng Loan tidak dapat bergerak sama sekali.

Co Hiong tertawa gembira, kemudian membaringkan gadis itu dan terus-menerus memandangnya sambil tersenyum- senyum.

*****

Bab ke 25 - Merebut Kedudukan Wakil Kauw Cu

Bee Kun Bu yang dikurung di dalam ruang batu itu, sama sekali tidak tahu siang atau malam, Ruangan itu diterangi oleh sebuah mutiara yang memancarkan cahaya, ia tahu jelas, kali ini sulit bagi dirinya untuk meloloskan diri, bahkan boleh dikatakan tiada harapan, Karena iiapa yang akan tahu kala? Bee Kun Bu dikurung di dalam gua di dalam perut gunung itu? Tiada seorang pun yang tahu, lagi pula gua itu sangat rahasia dan terpencil

Akan tetapi, Bee Kun Bu tidak putus asa, ia terus-menerus menghimpun hawa murninya, agar jalan darahnya yang tertotok itu dapat dibebaskan sebetulnya itu tidak gampang, sebab yang menotok jalan darahnya adalah Kai Thian Kauw Cu, yang berkepandaian sangat tinggi, Lagi pula Kai Thian Kauw Cu menggunakan ilmu menotok yang sangat aneh.

Walau begitu, Bee Kun Bu tetap berusaha dan terus- menerus menghimpun hawa murninya.

Berselang beberapa saat kemudian, ia merasa hawa murninya mulai mengalir ke seluruh jalan darah di tu-buhnya, Tapi hawa murninya berhenti pada jalan darah yang tertotok, Oleh karena itu, ia harus mengulang menghimpun hawa murninya lagi.

Entah sudah berapa kali mengalami hal tersebut, namun hal itu tidak membuatnya putus asa. Setelah berulang sampai belasan kali, mendadak ia merasa mulai hangat pada tubuhnya bagian kiri, kemudian berubah menjadi panas, sepertinya ada api di bagian itu.

Terkejutlah Bee Kun Bu. ia cepat-cepat membuka matanya, dan menoleh ke kiri. Namun tidak tampak apa pun di situ, Hanya tampak dua orang berdiri di depan sana. Mungkin mereka penjaga ruang batu itu.

Bee Kun Bu tereengang dan tidak habis berpikir Pada waktu bersamaan mendadak ia merasa dingin pada bagian tubuhnya sebelah kanan.

Belum pernah Bee Kun Bu mengalami kejadian seperti ini, yakni sebelah tubuhnya panas, dan sebelahnya lagi dingin, Hal itu membuatnya tertegun, dan kemudian terkejut Kemudian keringatnya mulai mengucur dari sekujur badannya, ia tahu tadi terus-menerus menghimpun hawa murni, Mungkin karena itu tubuhnya menjadi begini, artinya dia akan cacat atau lumpuh selama-lamanya, Bagi orang yang belajar ilmu silat, itu disebut Cauw Hwee Jip Mo (Kehabisan Hawa Murni Kemasukan Angin Jahat).

Bee Kun Bu sama sekali tidak menyangka, ia menghimpun hawa murninya untuk membuka jalan darahnya yang tertotok itu, tidak tahunya malah terjadi begini.

Oleh karena itu, ia mencoba menyatukan hawa murninya, Akan tetapi, di bagian tubuhnya tadi malah terasa semakin panas dan dingin, sedangkan hawa murninya telah lepas kontrol, tidak bisa disatukan lagi.

Bagian tubuhnya sebelah kiri mulai mengepulkan uap putih, ia tetap berusaha mengendalikannya, namun tetap sia- sia.

Di saat bersamaan, ia pun mendengar suara tambur yang sangat keras, yang disusul oleh suara orang banyak yang agak berisik.

Bee Kun Bu tidak tahu apa yang telah terjadi di dalam gua itu. Berselang beberapa saat kemudian, ia mendengar suara orang bereakap-cakap di hadapannya, barulah ia membuka matanya.

Tampak dua orang berdiri di depan pintu ruang batu itu, yang ke duanya kelihatan terkejut melihat Bee Kun Bu.

Sebab saat ini, tubuh Bee Kun Bu memang tampak aneh, Sebelah tubuhnya mengeluarkan uap dingin, sebelahnya lagi mengeluarkan uap panas.

Ke dua orang itu saling memandang sejenak, kemudian yang berbadan gemuk berkata dengan nada dingin.

"Bee Kun Bu, tidak lama lagi engkau akan mati, kenapa masih melakukan hal-hal aneh itu?" "Ha ha!" Temannya yang berbadan kurus tertawa, "Entah sudah berapa kali engkau menghadapi bahaya, tapi setiap kali pasti bisa menyelamatkan diri! Kali ini, engkau harus terima nasib!"

"Untuk apa banyak bicara dengannya? Bukankah Kauw Cu sedang menunggunya?" Orang yang berbadan gemuk mengingatkan temannya.

"Ya."

Ke dua orang itu mendekati Bee Kun Bu, lalu memasungnya, Setelah itu, baru membawanya ke luar.

Bee Kun Bu hanya menarik nafas panjang, Matanya dipejamkan kelihatannya ia memang sudah pasrah.

Kedua orang itu membawa Bee Kun Bu pergi, Berselang sesaat, muncullah empat orang dan sekaligus menegur ke dua orang itu.

"Kenapa kalian berdua begitu larrta? Kauw Cu khawatir terjadi sesuatu, maka menyuruh kami berempat menjemput kalian."

"Sudah begini, bagaimana mungkin akan terjadi sesuatu lagi?" sahut ke dua orang itu sambil tertawa.

"Sebelum belati itu menembus dada orang ini, se-waktu- waktu masih bisa terjadi sesuatu di luar dugaan," ujar salah seorang yang baru muncul itu, "Kauw Cu yang berkepandaian begitu tinggi pun, masih tidak berani berlaku ceroboh, Apalagi kalian berdua, maka harus berhati-hati!"

Ke dua orang itu tampak kurang senang, tapi tidak berani mencetuskan apa-apa, Mereka lalu berjalan lagi dan setelah menempuh beberapa mil, terdengar lagi suara tambur

Tung! Tung! Tung! Tung!

Bee Kun Bu membuka matanya. Ternyata ia sudah berada di sebuah gua yang sangat besar, Gua itu diterangi dengan obor yang ditancap pada dinding-dindingnya. Tampak lebih dari seratus orang duduk di situ, tua muda, wanita dan lelaki, bahkan terlihat pula Hweeshio, biarawati dan pendeta Taosme.

Di situ tampak pula sebuah meja batu yang di belakangnya duduk dua orang, yakni Kai Thian Kauw Cu dan Tocu Pulau Kabut Hitam.

Di tengah-tengah meja batu itu terdapat sebuah panji kecil berbentuk segitiga, dan sebuah Hiolow (Tempat menancap hio) dengan ratusan batang hio yang masih menyala, seorang lelaki berwajah sadis berdiri di pinggir nya dengan tangan menggenggam sebilah golok besar yang berkilau-kilau.

Ke dua orang yang membawa Bee Kun Bu, langsung menuju meja batu itu, lalu menaruh Bee Kun Bu di situ, sementara tubuh Bee Kun Bu masih panas sebelah dan dingin sebelah, sehingga membuat dirinya tersiksa sekali.

Tung! Tung! Tung! Terdengar lagi suara tambur

seketika suasana di dalam gua besar itu menjadi hening, Hati Bee Kun Bu berdebar-debar tegang, karena ia tahu dirinya akan dijadikan tumbuk

Di saat itu pula Kai Thian Kauw Cu bangkit berdiri, dan sepasang matanya menyapu semua orang yang berkumpul di situ.

"Saudara-saudara!" ujarnya dengan suara tantang, "Mulai saat ini, aku mengumumkan secara resmi, bahwa Kai Thian Kauw Cu secara langsung memusuhi sembilan partai besar!"

Terdengarlah suara yang riuh gemuruh. Kai Thian Kauw Cu mengangkat sebelah tangannya, agar semua orang diam Setelah itu, ia pun menunjuk panji yang ada di hadapan Bee Kun Bu.

"ltu adalah panji Kai Thian Kauw! Siapa yang telah bergabung, tidak membedakan kedudukan semuanya harus mentaati panji itu!" Kai Thian Kauw Cu memberitahukan "Ya!" sahut para anggota serentak.

Tahukah kalian siapa orang itu?" Kai Thian Kauw Cu menunjuk Bee Kun Bu.

"Kenal!" sahut beberapa orang, "Dia bernama Bee Kun Bu, murid partai Kun Lun, namun punya hubungan baik dengan dua wanita Kwat Cong San!"

"Dia adalah musuh kita!" seru beberapa orang.

"Dia harus dibunuh!" Terdengar lagi seruan dari yang lain. "Tenang!" seru Kai Thian Kauw Cu lantang, seketika "

suasana menjadi hening kembali, dan Kai Thian Kauw Cu

melanjutkan ucapannya, "Memang tidak salah, dia adalah Bee Kun Bu dari partai Kun Lun!"

Berkata sampai di situ, Kai Thian Kauw Cu berhenti, namun wajahnya tampak penuh diliputi kegusaran

"Sebetulnya partai Kun Lun tiada permusuhan apa-apa dengan Kai Thian Kauw, Terutama kini Kun Lun Sam Cu sudah jadi gila, dan tidak ketahuan jejak mereka, maka secara tidak langsung partai Kun Lun telah musnah" ujar Kai Thian Kauw Cu memberitahukan

Bee Kun Bu sudah tahu bahwa Kun Lun Sam Cu gila, bahkan ia sedang mencari mereka, Akan tetapi, belum juga berhasil mencari Kun Lun Sam Cu, kini ia malah jatuh ke tangan Kai Thian Kauw Cu, dan saat ini Kai Thian Kauw Cu mengatakan, bahwa secara tidak langsung partai Kun Lun telah musnah, Dapat dibayangkan betapa sedih hatinya.

Tapi." lanjut Kai Thian Kauw Cu. ". Bee Kun Bu, dua

wanita Kwat Cong San dan Na Hai Peng, mempunyai hubungan yang baik seka!i. sedangkan Na Hai Peng mengandal pada Kui Goan Pit Cek menjagoi rimba persilatan menindas yang Iain. Maka mereka semua adalah musuh kita."

"Benar!" sahut para anggota Kai Thian Kauw serentak Mereka semua berasal dari golongan hitam, tentunya tidak membedakan yang benar maupun yang salah. "Dua wanita Kwat Cong San memang lihay, namun bukan berarti tiada tanding." ujar Kai Thian Kauw Cu dingin. "Aku pernah bergebrak beberapa jurus dengan Pek Yun Hui, dia masih bukan tandinganku

"Hidup Kai Thian Kauw Cu!" seru para anggota Kai Thian Kauw dengan penuh semangat "Hidup Kai Thian Kauw Cu..."

"Kalian jangan melihat orang itu telah dipasung tak bergerak sama sekali, Namun kepandaiannya tinggi se-kali, maka selain aku dan wakil Kauw Cu Tocu pulau Kabut Hitam, mungkin tiada seorang pun di dalam Kai Thian Kauw mampu melawannya," ujar Kai Thian Kauw Cu memberitahukan dan menambahkan dengan wajah bengis. "Malam ini, aku akan menggunakan darahnya untuk tumbal panji Kai Thian Kauw kita!"

seketika terdengar suara tepuk sorak yang gegap gempita, para anggota Kai Thian Kauw tampak gembira sekali.

Tung! Tung! Tung! Tambur berbunyi tiga kali. "Bawa belati itu!" seru Kai Thian Kauw Cu.

"Ya!" sahut seseorang dan langsung membawa sebuah nampan berisi sebilah belati yang berkilau-kilau, sesampainya di hadapan meja batu, ia berlutut sambil mengangkat nampan itu ke atas, "Belati sudah dibawa!"

"Bawa ke mari!" perintah Kai Thian Kauw Cu.

Orang itu segera bangun, dan membawa nampan berisi belati itu ke hadapan Kai Thian Kauw Cu.

Kai Thian Kauw Cu menjulurkan tangannya mengambil belati itu, kemudian mendadak melesat ke depan.

Blam! Kai Thian Kauw Cu memukul pasungan itu hingga hancur

Bee Kun Bu diam saja, ia memang tidak bisa bergerak lagi pula masih merasa panas dan dingin ke dua bagian tubuhnya, ia tahu, bahwa apabila tubuhnya sudah dingin semua atau panas semua, tanpa Kai Thian Kauw Cu turun tangan pun kemungkinan besar ia akan mati dengan sendirinya.

Setelah pasungan itu hancur, dan Bee Kun Bu terjatuh ke bawah, tampak Tocu Pulau Kabut Hitam bangkit berdiri, lalu mendekati meja batu, dan sekaligus me-maparkan panji itu di permukaannya.

Kai Thian Kauw Cu mengangkat tubuh Bee Kun Bu ke atas panji tersebut Kelihatannya dia ingin mencuci panji itu dengan darah Bee Kun Bu, sedangkan Bee Kun Bu cuma pasrah, terserah mereka mau diapakan dirinya.

Tung! Tung! Tung! Tung! Terdengar suara tambur.

Suara tambur itu membuat para anggota Kai Thian Kauw tampak berubah agak tegang, Wajah Kai Thian Kauw Cu serius, dan dia langsung berseru.

"Saudara-saudara sekalian! Ada senang sama dirasa, ada susah sama dipikuI!"

Para anggota Kai Thian Kauw pun ikut berseru berulang kali. Suara seruan mereka menggema di dalam gua besar itu.

Setelah itu, Kai Thian Kauw Cu mengangkat belati yang dipegangnya mengarah ke dada Bee Kun Bu. Kelihatannya Kauw Cu itu sudah siap menusuk dada Bee Kun Bu. pemuda itu memejamkan matanya, namun kemudian dibuka lagi sambil menatap Kai Thian Kauw Cu.

justru di saat bersamaan, terdengarlah suara siulan yang sangat panjang dan nyaring menusuk telinga, pertanda orang yang mengeluarkan siulan itu berkepandaian sangat tinggi

Kai Thian Kauw Cu dan wakilnya tertegun, begitu pula para anggotanya.

"Mendengar Kai Thian Kauw berambisi seperti partai Thian Liong ingin menumpas sembilan partai besar di Tionggoan berikut Kwat Cong San, maka aku datang ke mari!" Suara orang itu nyaring bukan main, sehingga Kai Thian Kauw Cu dan Tocu Pulau Kabut Hitam saling memandang. Wajah mereka pun tampak berubah, karena mereka tahu pendatang itu berkepandaian tinggi, namun masih muda.

"Sobat dari mana, silakan masuk!" sahut Kai Thian Kauw Cu.

"Ha ha!" Terdengar suara tawa yang gelak, "Aku adalah mantan wakil partai Thian Liong bernama Co Hiong, dan julukanku adalah Kini Hoan Ji Long! Kalau Kauw Cu merasa tidak senang atas kedatanganku aku akan mohon pamit!"

Kai Thian Kauw Cu tertegun mendengar nama dan julukan itu, sebab ia tidak pernah mendengarnya. Ketika mendengar orang itu adalah Co Hiong, hati Bee Kun Bu pun tersentak kaget.

ia dan Pek Yun Hui serta lainnya justru khawatir Kai Thian Kauw Cu, pulau Kabut Hitam dan Co Hiong akan bekerja sama, Kalau mereka bergabung, pasti akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan

Kini mereka bertiga justru telah bertemu di gua besar itu, Walau Bee Kun Bu dalam bahaya, namun ia masih memikirkan keselamatan rimba persilatan

"Ha ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, Ternyata Anda wakil Co! Kami senang sekali atas kedatanganmu silakan masuk menghadiri upacara ini!"

"Terimakasih!" Tampak sosok bayangan melesat ke dalam, lalu berdiri di tengah-tengah gua besar itu, Tidak salah, orang itu adalah Co Hiong yang kelihatan begitu gagah dan tampan

"Berhubung harus melanjutkan upacara, maka harap Anda bersedia menunggu sebentar!" ujar Kai Thian Kauw Cu.

Co Hiong manggut-manggut, lalu maju beberapa langkah sambil memandang ke arah meja batu yang menyerupai sebuah altar itu. Bagaimana Co Hiong bisa ke mari dan bagaimana nasib Lie Ceng Loan? Tentang itu akan diceritakan nanti, Saat ini Co Hiong tidak tahu Bee Kun Bu berada di tempat tersebut

Co Hiong hanya melihat seseorang terbaring di altar itu, tapi tidak melihat jelas wajahnya, hanya menganggapnya, orang itu akan dijadikan tambah

"Maaf!" ucap Co Hiong mendadak "Apakah upacara ini boleh ditunda sebentar?"

"Anda ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Kai Thian Kauw Cu sambil menatapnya tajam

"Kini aku sudah berada di sini, selanjutnya kita pasti jadi orang sendiri," sahut Co Hiong, "Maka Kauw Cu tidak perlu berlaku sungkan-sungkan! Terus terang, aku memang punya sedikit urusan dan harap Kauw Cu sudi memberi petunjuk!"

"Katakanlah!"

"Semua yang berkumpul ini tentunya para anggota Kai Thian Kauw, namun aku belum tahu siapa orang itu!" Yang dimaksudkan Co Hiong adalah Tocu Pulau Kabut Hitam.

sedangkan Tocu Pulau Kabut Hitam tahu bahwa dirinya yang dimaksudkan Co Hiong, itu membuatnya gusar sekali, sebab ucapan Co Hiong bernada memandang rendah padanya, Oleh karena itu, ia tertawa dingin beberapa kali.

"Orang itu adalah Tocu pulau Kabut Hitam, wakil Kai Thian Kauw Cu." Kai Thian Kauw Cu memberitahukan

"Oooh!" Co Hiong manggut-manggut, kemudian melesat ke arah Tocu pulau Kabut Hitam. Bukan main cepat dan indah gerakannya, sehingga para anggota Kai Thian Kauw mengeluarkan pujian

Setelah berhadapan dengan Tocu pulau Kabut Hitam, Co Hiong pun melihat jelas orang yang terbujur di atas altar itu, dan seketika juga ia tertawa.

"Saudara Bee, apa kabar?" "Co Hiong!" bentak Tocu Pulau Kabut Hitam mendadak "Di sini adalah tempat Kauw Cu, orang luar tidak boleh sampai di sini! Siapa yang berani ke mari, berarti musuh Kai Thian Kauw! Jadi apa maksudmu datang ke mari?"

"Oh, ya?" sahut Co Hiong acuh tak acuh.

"Hm!" dengus Tocu Pulau Kabut Hitam, "Karena engkau sama sekali tidak tahu tentang ini, maka engkau diampuni cepatlah engkau turun ke bawah, jangan melanggar peraturan di sini!"

"Sabar Tocu!" sahut Co Hiong, "Aku berdiri di sini justru ingin menyampaikan sesuatu."

"Kalau engkau masih omong kosong di sini, berarti engkau sengaja melanggar peraturan yang berlaku di sini!" bentak Tocu Pulau Kabut Hitam.

"Aku ingin bertanya." Co Hiong tersenyum "Bagai-mana engkau bisa duduk di sini sebagai wakil Kauw Cu?"

pertanyaan Co Hiong membuat wajah para anggota Kai Thian Kauw langsung berubah hebat, sebab pertanyaan itu bernada tantangan sedangkan wajah Tocu Pulau Kabut Hitam telah berubah kehijau-hijauan, sehingga membuat suasana menjadi tegang mencekam

"Saudara Co Hiong!" ujar Kai Thian Kauw Cu. ia kagum sekali akan keberaniannya, Tocu Pulau Kabut Hitam bukan orang biasa lho!"

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Kai Thian Kauw memiliki ambisi besar, kalau punya wakil Kauw Cu yang begitu macam, tentunya akan membuat ambisi itu jadi terbengkalai Saudara- saudara sekalian, apakah kalian pernah mendengar nama pulau Kabut Hitam?"

Pulau Kabut Hitam berada di seberang laut, tidak heran kalau kaum Bu Lim Tionggoan tidak pernah mendengar pulau tersebut, maka tampak puluhan orang menggeleng-gelengkan kepala. "Ha ha ha!" Tocu Pulau Kabut Hitam tertawa terkekeh, "Kelihatannya engkau ingin cari gara-gara denganku!"

Tidak salah!" sahut Co Hiong lantang.

"Saudara Co, kalau engkau mampu mengalahkannya, tentunya engkau pun boleh diangkat sebagai wakil Kauw Cu. Apa salahnya Kai Thian Kauw punya dua wakil Kauw Cu?" ujar Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa.

"Maafl" Co Hiong memandang Kai Thian Kauw Cu. "Kauw Cu, bolehkah aku mohon petunjuk beberapa jurus dari Tocu Pulau Kabut Hitam?"

Kedatangan Co Hiong di tempat ini memang mempunyai suatu rencana besar ia harus menyingkirkan Tocu Pulau Kabut Hitam itu, dan setelah berhasi'1, ia pun akan mencari akal untuk melenyapkan Kai Thian Kauw Cu, agar dirinya bisa jadi Kauw Cu.

Sikap Co Hiong memang agak meremehkan Tocu Pulau Kabut Hitam, namun sangat menghormati Kai Thian Kauw Cu, itu sungguh menyenangkan Kauw Cu tersebut

Kebetulan Kai Thian Kauw Cu mempunyai sedikit ganjelan hati terhadap Tocu Pulau Kabut Hitam, sebab mereka berdua pernah bertarung dan Tocu Pulau Kabut Hitam justru main curang.

"Tapi saat ini sedang diadakan upacara, maka kelihatannya kurang baik," ujar Kai Thian Kauw Cu.

seharusnya Kai Thian Kauw Cu berpihak pada Tocu Pulau Kabut Hitam, tapi malah berlaku begitu ramah pada Co Hiong, itu membuat Tocu Pulau Kabut Hitam jadi gusar bukan main.

"Kauw Cu tidak perlu mencegah, kedudukan wakil Kauw Cu masih belum diresmikan! Bagaimana mungkin melangsungkan upacara itu?"

"Benar," sahut Co Hiong cepat "Apa yang dikatakan Lim Tocu memang tepat." Kai Thian Kauw Cu sudah tahu bahwa Tocu Pulau Kabut Hitam kurang senang padanya, Akan tetapi, Co Hiong masih begitu muda, apakah dia mampu melawan Tocu Pulau Kabut Hitam itu? pikir Kai Thian Kauw Cu.

Namun Co Hiong berani menantangnya, tentunya memiliki kepandaian tinggi, Kalau tidak, bagaimana mungkin Co Hiong berani menantangnya?

Di saat Kai Thian Kauw Cu sedang berpikir, Tocu Pulau Kabut Hitam berpikir juga, Co Hiong masih begitu muda, sudah pasti bukan lawannya, Setelah menghamkannya, ia pun akan mencari kesempatan untuk bertarung dengan Kai Thian Kauw Cu.

"Kalau kalian berdua memang menghendaki begitu..." ujar Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa, Tentunya aku pun tidak akan melarang, namun kita semua adalah orang sendiri, jadi cukup saling menyentuh saja."

Usai berkata demikian, Kai Thian Kauw Cu mundur dari situ, lalu duduk di kursinya.

Sementara Tocu Pulau Kabut Hitam dan Co Hiong sudah berdiri berhadapan dalam jarak beberapa depa. Hening seketika suasana, para anggota Kai Thian Kauw pun mulai menahan nafas, Namun di antaranya ada pula yang berkasak- kusuk, dan tampak serius sekali.

"Bagaimana? Siapa yang akan menang?" "Tentunya Tocu Pulau Kabut Hitam." "Engkau punya uang?"

"Kalau punya uang kenapa?" "Mari kita bertaruh!"

"Boleh."

"Engkau pegang siapa?"" Tocu Pulau Kabut Hitam." "Kalau begitu, aku pasti kalah."

"Begini, kita bertaruh dengan cara lima lawan satu, Kalau Co Hiong kalah, engkau membayarku satu tael perak, tetapi apabila Co Hiong yang menang, aku membayarmu lima tael perak, Bagaimana?"

"Baiklah."

*****

Bab ke 26 - Keampuhan Senjata Pusaka

Tocu Pulau Kabut Hitam dan Co Hiong saling menatap, lama sekali barulah Tocu itu membuka mulut

"Bagaimana cara kita bertanding?" tanyanya dingin. "Bisa jadi wakil Kauw Cu, tentunya pandai menggunakan

berbagai macam senjata pula," sahut Co Hiong sambil tersenyum, "Maka kita tidak perlu menentukan harus dengan cara bagaimana."

"Baik." Tocu PuIau Kabut Hitam mengangguk "SiIa-kan!" "Silakan!" sahut Co Hiong.

sementara Kai Thian Kauw Cu memberi isyarat pada salah seorang, Orang itu mengangguk dan langsung menghampiri Bee Kun Bu, lalu membungkusnya dengan semacam kain.

Ternyata Kai Thian Kauw Cu masih khawatir Bee Kun Bu akan meloloskan diri, maka menyuruh orang itu membungkusnya dengan kain tersebut

sedangkan hawa murni di dalam tubuh Bee Kun Bu sedang bergejolak tidak karuan, bahkan rasa panas dan dingin itu masih berlangsung.

Setelah sekujur badannya dibungkus dengan kain, justru terjadi suatu keanehan, yakni hawa murninya yang tak terkendali itu mulai menyatu kembali, itu membuat Bee Kun Bu girang bukan main, sebab apabila hawa murninya bisa menyatu kembali, otomatis jalan darahnya yang ditotok oleh Kai Thian Kauw Cu akan terbuka.

itu merupakan suatu harapan bagi Bee Kun Bu, maka ia pun mulai menghimpun hawa murninya lagi.

Kai Thian Kauw Cu sama sekali tidak mengetahui hal itu, sebab perhatiannya sedang tereurah pada Tocu pulau Kabut Hitam dan Co Hiong yang sudah siap bertanding.

Setelah masing-masing mengucapkan "Silakan!" Mereka pun mundur beberapa depa, lalu berdiri tegak di tempat

Berselang sesaat, mereka berdua tampak maju dan mendadak Tocu Pulau Kabut Hitam membentak keras, sekaligus mendorongkan sepasang telapak tangannya ke arah dada Co Hiong.

Co Hiong tahu jelas, bahwa Tocu Pulau Kabut Hitam berkepandaian tinggi. kalau tidak, bagaimana mungkin bisa diangkat sebagai wakil Kauw Cu?

Ketika melihat Tocu Pulau Kabut Hitam menyerang dadanya, ia tahu maksudnya, yakni agar ia menangkis sehingga bisa beradu Lweekang.

sebetulnya Lweekang Co Hiong sudah maju pesat selama ia mempelajari kitab ilmu Silat Sam Im Sin Ni. Akan tetapi, ia masih khawatir tidak mampu menandingi Lweekang Tocu Pulau Kabut Hitam.

Oleh karena itu, Co Hiong tidak menangkis melainkan berkelit menghindari serangan itu, Namun mendadak ia balas menyerang dengan sebuah pukulan pula.

Bum! Terdengarlah suara benturan

Tocu Pulau Kabut Hitam sama sekali tidak bergeming sebaliknya Co Hiong terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.

"Ha ha!" Tocu pulau Kabut Hitam tertawa terbahak-babak. "Hebat juga kepandaianmu!" itu merupakan ucapan sindiran Co Hiong tidak tersinggung, malah tersenyum tapi mencaci dalam hati, jangan girang dulu, nanti akan tahu rasa! Ternyata tadi ia cuma menggunakan empat bagian Lweekangnya, lagi pula ia memang sengaja mundur, agar Tocu pulau Kabut Hitam meremehkannya, jadi ia mempunyai peluang yang baik untuk mengalahkannya.

Karena itu, Tocu Pulau Kabut Hitam boleh dikatakan telah terjebak, sebab ia mulai meremehkan Co Hiong.

Tiba-tiba Tocu Pulau Kabut Hitam melesat ke arah Co Hiong, bahkan sekaligus menyerangnya dengan pukulan- pukulan beruntun

Co Hiong tampak kewalahan, tak mampu balas me- nyerang, Semua orang sudah memastikan, tidak sampai sepuluh jurus Co Hiong pasti roboh, Tocu Pulau Kabut Hitam pun berpikir demikian

Karena itu, ia terus mempergencar serangannya, itu membuat Co Hiong tampak terdesak

Pada jurus ke sepuluh, terdengar suara tawa yang aneh, Badan Tocu Pulau Kabut Hitam melesat ke atas, kemudian mendadak melintang pula badannya sambil menyerang Co Hiong dari atas.

serangannya itu menggunakan delapan bagian Lweekangnya, maksudnya ingin merobohkan Co Hiong di jurus ke sepuluh ini.

kelihatannya Co Hiong memang tidak mampu berkelit lagi, begitu pula anggapan Tocu Pulau Kabut Hitam

Co Hiong berdiri tak bergerak, sepertinya terlalu ketakutan, sehingga tampak tak mampu berkelit sama sekali.

serangan itu sudah semakin mendekat Semua orang berani memastikan, bahwa Co Hiong pasti roboh, begitu pula pikir Kai Thian Kauw Cu. Akan tetapi, sekonyong-konyong justru telah terjadi hal yang sungguh diluar dugaan, Ternyata Co Hiong merendahkan badannya dan tiba-tiba tampak berkelebat cahaya yang sangat menyilaukan mata.

Pada saat itu, mata semua orang pun jadi silau, tidak dapat melihat apa yang telah terjadi Dan di saat bersamaan, terdengar pula suara teriakan aneh Tocu pulau Kabut Hitam, sedangkan Co Hiong tertawa nyaring, dan badan mereka tampak terpisah jauh.

Setelah ke dua orang itu terpisah, barulah semua orang dapat melihat dengan jelas, bahwa di tangan Co Hiong terdapat sebuah senjata aneh mirip sebatang jarum panjang yang gemerlapan memancarkan cahaya.

sepasang tangan Tocu Pulau Kabut Hitam telah berlumuran darah, Ternyata sepasang telapak tangannya telah berlubang.

Kenapa tadi Co Hiong bisa terdesak oleh serangan- serangan Tocu Pulau Kabut Hitam? Tidak lain karena ia cuma menggunakan enam bagian Lweekangnya, itu untuk memancing kelengahan Tocu Pulau Kabut Hitam.

Namun ketika Tocu Pulau Kabut Hitam menyerangnya dari atas, Co Hiong mulai menggunakan segenap tenaganya. Di saat sepasang telapak tangan Tocu Pulau Kabut Hitam hampir mengenai badannya, mendadak Co Hiong balas menyerang dengan senjatanya itu.

Co Hiong mengeluarkan jurus Siang Liong Jip Hai (Sepasang Naga Masuk Ke Laut), dengan sembilan bagian Lweekangnya.

Oleh karena itu, jangankan Tocu Pulau Kabut Hitam hanya menggunakan sepasang telapak tangan, Kalaupun menggunakan senjata, tetap juga akan tertembus oleh senjata pusaka milik Co Hiong. Tidak heran sepasang telapak tangan Tocu Pulau Kabut Hitam tertembus senjata pusaka itu.

Setelah mengeluarkan teriakan aneh, Tocu Pulau Kabut Hitam meloncat ke belakang, wajahnya kehijau-hijauan dan meringis menahan rasa sakit di telapak tangannya, sama sekali tidak mampu mengucapkan apa pun.

"Lim tocu!" Co Hiong tersenyum-senyum, "Kepandaianmu memang tinggi dan boleh menjagoi rimba persilatan! Namun masih tidak bisa engkau menjadi wakil Kauw Cu!"

Sungguh menyakitkan ucapannya itu, sehingga membuat kegusaran Tocu Pulau Kabut Hitam semakin memuncak ia berteriak aneh dan langsung menerjang ke arah Co Hiong.

Akan tetapi, mendadak berkelebat sosok bayangan merah ke hadapannya, yang ternyata Kai Thian Kauw Cu.

"Lim Tocu, kalah dan menang telah diketahui, kenapa engkau masih mau bertarung?" ujar Kai Thian Kauw Cu.

"Omong kosong!" bentak Tocu Pulau Kabut Hitam. "Siapa yang kalah?"

"Lim Tocu, sepasang telapak tanganmu..." sahut Kai Thian Kauw Cu dingin.

"lni cuma luka ringan, lagi pula aku terjebak oleh binatang itu!" ujar Tocu Pulau Kabut Hitam, "Maka itu tidak masuk hitungan!"

sebetulnya Co Hiong berharap Tocu Pulau Kabut Hitam jangan mundur, sebab sepasang telapak tangan Tocu itu telah berlubang tertembus oleh senjata pusakanya, jadi walau ia berkepandaian tinggi, juga sulit menggunakan senjata apa pun.

Selain itu, Co Hiong memang berniat melenyap-kannya, agar tidak menimbulkan urusan di kemudian hari, Ketika mendengar Tocu Pulau Kabut Hitam berkata begitu, ia pun segera berkata pada Kai Thian Kauw Cu. "Kauw Cu! Kalau Lim Tocu masih mau bertarung, harap Kauw Cu jangan melarang, siapa tahu dia dapat menebus kekalahannya tadi!"

Kai Thian Kauw Cu sudah melihat wajah Tocu Pulau Kabut Hitam penuh diliputi dendam, maka alangkah baiknya malam ini meminjam tangan Co Hiong untuk melenyapkannya, agar tiada kerepotan di kemudian hati

"Kalau begitu... baiklahT ujarnya sambil manggut-manggut Seusai berkata begitu, ia langsung melesat ke tempat

duduknya, sementara Tocu Pulau Kabut Hitam terus menatap

senjata di tangan Co Hiong.

"Lim Tocu, apakah senjataku ini sangat aneh?" tanya Co Hiong sambil tersenyum-senyum.

"Hm!" dengus Tocu Pulau Kabut Hitam.

"Senjata ini. " Co Hiong memberitahukan dengan dada

terangkat sedikit ".,, adalah senjata peninggalan seorang Cianpwee ratusan tahun lalu, yang dijuluki Sam Im Sin Ni, senjata ini adalah Teng Thian Sin Cin milik-nya!"

"Ha ha ha!" Mendadak Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, "Bagus! Bagus! Kai Thian Kauw berarti kepandaian setinggi langit, sedangkan senjatamu adalah Teng Thian Sin Cin, betuI-betul cocok dengan Kai Thian Kauw!"

Ucapan Kai Thian Kauw Cu, boleh dibilang secara terang- terangan memihak pada Co Hiong, itu membuat Tocu Pulau Kabut Hitam tertawa dingin.

"Sungguh sedap didengar nama senjata itu, tapi bagaimana kalau dibandingkan dengan Ceng Hai Siang Hoan senjataku?"

Ceng Hai Siang Hoan (Sepasang Gelang Menenang Laut).

Co Hiong mengerutkan kening, sebab tidak pernah mendengar senjata tersebut Mungkinkah juga merupakan senjata pusaka? Ketika Co Hiong sedang berpikir tiba-tiba Tocu Pulau Kabut Hitam menggerakkan sepasang lengannya. Ting! Ting! terdengar suara yang sangat nyaring menusuk telinga, Ternyata disepasang lengannya telah muncul sepasang gelang gemerlapan kehitam-hitaman, yang tentunya senjata pusaka pula.

Co Hiong terus menatap gelang itu, Semula ia memang terkejut, namun kemudian berlega hati, sebab sepasang gelang itu berukuran agak kecil Oleh karena itu, ia yakin Teng Thian Sin Cinnya mampu melawannya.

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Lim Tocu! Apakah sepasang gelang rongsokan itu dapat d i pergunakan ?"

"He he he!" Tocu Pulau Kabut Hitam tertawa terkekeh "Aku akan membuatmu tahu akan kelihayan sepasang gelang rongsokan ini!"

Setelah berkata demikian, ia pun mundur beberapa depa, lalu mendadak menggerakkan lengan kirinya, Gelang yang di lengan kirinya langsung meluncur laksana kilat, kemudian berputar-putar di atas mengeluarkan suara ngung-ngungan yang menusuk telinga.

Co Hiong sama sekali tidak melihat bagaimana kelihayan gelang itu, maka ia tertawa meremehkannya.

"Lim Tocu! Ternyata engkau pandai main sulap juga!"

Mendadak gelang itu berhenti di udara, dan sepasang mata Tocu Pulau Kabut Hitam terus menatapnya dengan tajam Berselang sesaat, gelang itu berputar-putar lagi, lalu sekonyong-konyong meluncur ke depan, Namun sungguh mengherankan, gelang itu tidak meluncur ke arah Co Hiong.

Akan tetapi, pada waktu bersamaan, Tocu Pulau Kabut Hitam menggerakkan lengan kanannya, Gelang yang di lengan kanannya langsung meluncur ke arah Co Hiong laksana kilat.

Begitu melihat gelang itu meluncur ke arahnya, Co Hiong cepat-cepat mengangkat senjatanya untuk menangis Perlu diketahui, Co Hiong juga mahir dalam hal senjata gelang, sebab senjata rahasianya justru berupa gelang emas.

Ketika Co Hiong mengangkat senjatanya, berkelebat pula cahaya putih yang dipancarkan senjata itu, Di saat senjatanya hampir menangkis gelang Tocu Pulau Kabut Hitam, mendadak gelang tersebut berputar ke depan, sehingga senjata Co Hiong menangkis tempat kosong.

sedangkan Tocu Pulau Kabut Hitam sudah melesat menyambut gelangnya, Co Hiong adalah orang yang sangat cerdik. Begitu menyaksikan itu, terkejut lah hati-nya, karena ia tahu, bahwa Tocu Pulau Kabut Hitam dapat mengendalikan ke dua gelang itu untuk menye-rangnya.

Ketika berpikir begitu, Co Hiong segera membungkukkan badannya karena tiba-tiba terdengar suara desiran di atas kepalanya, Untung dia bergerak cepat, sehingga hanya rambutnya yang tersambar sedangkan sepasang gelang itu masih terus berputar-putar di udara.

Barulah Co Hiong tahu akan kelihayan sepasang gelang itu, dan ia segera menegakkan badannya, justru ia bertambah terkejut, karena melihat Tocu Pulau Kabut Hitam telah menyambut salah satu gelangnya.

Namun tidak tampak gelang yang satunya, Entah hilang ke mana gelang itu, Tentunya membuat Co Hiong terheran- heran, bahkan juga terperanjat ia yakin gelang yang satunya itu akan muncul mendadak menyerangnya.

Oleh karena itu, ia segera mengayunkan senjatanya dengan jurus Toa Hai Mouw Cin (Mencari jarum di Laut) untuk melindungi diri, sehingga seluruh badannya tampak seakan memancarkan cahaya.

Ting! Ting! Terdengarlah suara benturan senjata.

Ternyata ketika ia mengeluarkan jurus itu untuk melindungi diri, sepasang gelang itu meluncur menyerangnya, Tapi tertangkis oleh senjatanya, sehingga ke dua gelang itu terpental Co Hiong menarik nafas lega. ia juga tidak mau menyia- nyiakan kesempatan tersebut, dan langsung balas menyerang.

justru di saat bersamaan, sepasang gelang itu meluncur kembali ke arahnya sambil berputar-putar tak henti-hentinya.

Co Hiong tidak tahu harus dengan cara apa memecahkan serangan itu, Akhirnya ia mengeluarkan jurus Toa Hai Cih Thau (Ombak Menderu di Laut) untuk menangkis.

Ting! Ting! Terdengar suara benturan senjata lagi.

Pada jurus ke lima, Co Hiong sudah tampak kewalahan menghadapi sepasang gelang itu, sebab sepasang gelang itu bisa muncul dan lenyap begitu mendadak Oleh karena itu, ia terpaksa mengeluarkan jurus Toa Hai Cih Thau (Ombak Menderu di Laut) dan jurus Toa Hai Mouw Cin (Mencari jarum di Laut) untuk melindungi diri.

Pada jurus berikutnya, mendadak hati Co Hiong tergerak ketika melihat sebuah gelang meluncur ke arahnya, sedangkan gelang yang lain masih berputar putar di udara, Kenapa tidak menggaet gelang yang satu itu, agar jatuh ke tangannya? Co Hiong berpikir dan sekaligus menggerakkan senjatanya ke arah gelang yang meluncur datang itu.

Tampak berkelebat cahaya putih, dan seketika senjatanya berhasil memasuki lubang gelang itu, Akan tetapi, gelang itu mendadak kembali berputar

Barulah Co Hiong tahu, bahwa dirinya telah terjebak oleh pemikirannya sendiri, sementara gelang yang disenjata Co Hiong itu berputar semakin kencang mengarah pada pergelangan tangannya.

Co Hiong tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali melepaskan senjatanya itu. Namun itu adalah senjata pusaka, maka bagaimana mungkin ia melepaskan begitu saja?

Ngung! Ngung! Ngung! Gelang itu sudah mulai memasuki tangannya. Setelah sampai di bahu, barulah gelang itu berhenti berputar Seketika juga Co Hiong berteriak-teriak aneh, dan keringatnya pun sudah mengucur deras dari ke-ningnya.

Ternyata daging yang di bahunya telah hancur, dan darahnya mengucur deras, walaupun begitu, Co Hiong tetap menggenggam senjatanya erat-erat sambil menyurut mundur

Begitu melihat serangannya berhasil, Tocu Pulau Kabut Hitam tertawa gelak, ia maju beberapa langkah dan sekaligus mengibaskan tangannya ke arah gelang yang masih berputar- putar di udara. seketika juga gelang itu meluncur ke arah Co Hiong.

Saat ini, bahu kanan Co Hiong telah terluka, bahkan terasa sakit sekali, sedangkan gelang yang satu itu telah meluncur ke arahnya.

Para anggota Kai Thian Kauw menganggap, kali ini Co Hiong pasti tidak bisa meloloskan diri dari serangan itu.

Akan tetapi, Co Hiong berkertak gigi sambil mengayunkan senjatanya ke arah gelang itu. Trang! senjatanya masuk ke gelang itu. itu sungguh di luar dugaan semua orang, sedangkan wajah Co Hiong meringis menahan sakit Namun mendadak ia menerjang ke arah Tocu Pulau Kabut Hitam bersama senjatanya itu.

serangannya yang mendadak dan di luar dugaan itu membuat Tocu Pulau Kabut Hitam tertegun, Namun begitu melihat cahaya putih menerjang ke arahnya, ia cepat-cepat meloncat ke belakang.

Ketika ia meloncat ke belakang, cahaya putih yang di hadapannya lenyap, Betapa terkejutnya Tocu Pulau Kabut Hitam, ia secepat kilat membalikkan badannya, tetapi terlambat sedikit

Cesss! Senjata Co Hiong menembus dadanya. "Aaaakh...!" jerit Tocu Pulau Kabut Hitam, ia langsung

roboh dan nyawanya pun melayang seketika. Ternyata ketika Co Hiong menerjang ke arah Tocu Pulau Kabut Hitam, ia yakin, Tocu itu akan meloncat mundur, maka ia berputar ke belakang Tocu Pulau Kabut Hitam laksana kilat, sekaligus menusuknya.

Ketika Tocu Pulau Kabut Hitam membalikkan badannya, ujung senjata Co Hiong sudah sampai di dadanya. Oleh karena itu ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berkelit, sehingga dadanya tertembus oleh senjata Co Hiong.

Setelah berhasil membunuh Tocu Pulau Kabut Hi-tam, giranglah Co Hiong tapi wajahnya pucat pias, lantaran bahunya telah banyak mengucurkan darah.

Tak lama kemudian terdengarlah suara riuh gemuruh dan tepuk sorak dari para anggota Kai Thian Kauw.

Kai Thian Kauw Cu bangkit berdiri, dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi obat bubuk, Sambil tersenyum ia mendekati Co Hiong, kemudian menaburkan obat bubuk itu di bahu Co Hiong yang terluka itu.

Memang mujarab sekali obat bubuk itu. seketika rasa sakit di bahu Co Hiong pun hilang.

"Terimakasih, Kauw Cu!" ucap Co Hiong sambil menjura. "Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa terbahak-bahak

"Engkau memang pendekar muda yang gagah berani, sungguh membuat orang kagumi Engkau ber-derajat jadi wakil Kauw Cu, hanya saja... lukamu itu akan meninggalkan bekas."

"Kauw Cu!" ujar Co Hiong, "ltu tidak jadi masalah." "Bagus!" Kai Thian KauwCu tertawa terbahak-bahak lagi.

"Engkau memang gagah berani!"

"Terimakasih atas pujian Kauw Cu!" ucap Co Hiong.

Kai Thian Kauw Cu menyobek ujung jubah merah-nya, lalu membalut luka di bahu Co Hiong, dengan kain sobekan itu.

Oleh karena itu para anggota Kai Thian Kauw tahu, bahwa secara tidak langsung Co Hiong telah diangkat sebagai wakil Kauw Cu. Seketika juga terdengar lagi suara tepuk sorak yang gegap gempita.

"Ayoh, cepat gotong mayat Tocu itu pergi!" seru Co Hiong lantang, "Setelah itu kita akan melanjutkan upacara yang tertunda tadi!"

Co Hiong baru diangkat jadi wakil Kauw Cu, namun sudah berani memberi perintah pada para anggota Kai Thian Kauw, sepertinya tidak memandang sebelah mata pada Kai Thian Kauw Cu.

Akan tetapi, Kai Thian Kauw Cu tidak merasa ter-singgung, sebaliknya menganggap Co Hiong mampu mengambil suatu intsiatif, maka ia bergirang dalam hati telah mendapat pembantu yang begitu pandai.

Tampak beberapa orang langsung menggotong mayat Tocu Pulau Kabut Hitam, Sungguh kasihan nasib Tocu itu. Mati-matian ia melatih ilmu silat puluhan tahun, dan dirinya pun bagaikan seorang raja di Pulau Kabut Hitam, Namun ia telah salah perhitungan yakni memasuki Tionggoan dengan tujuan ingin menguasai rimba persilatan di Tionggoan, justru tak disangka, nyawanya malah melayang di tangan Co Hiong.

Kai Thian Kauw Cu mengajak Co Hiong duduk di kursi, Setelah duduk Co Hiong tertawa gelak.

"Kauw Cu, Bee Kun Bu sering menentangku, Kejadi-an di Toan Hun Ya, dia pun ambil bagian, Bagaimana kalau aku yang mengatur upacara ini?" ujar Co Hiong sambil memandang Kai Thian Kauw Cu.

"lni..." Kai Thian Kauw Cu tampak ragu.

"Kalau Kauw Cu merasa keberatan, itu tidak apa-apa." ujar Co Hiong cepat.

"Seharusnya aku yang harus melaksanakan upacara ini, tapi kalau engkau ingin turun tangan, silakan!" ujar Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa. Bukan main girangnya hati Co Hiong, Namun para anggota Kai Thian Kauw malah jadi tertegun, Tadi Kai Thian Kauw Cu menyobek ujung jubahnya untuk membalut bahu Co Hiong, dan kini menyerahkan tugas upacara itu padanya, pertanda Kai Thian Kauw Cu mempereayai Co Hiong.

Di antaranya terdapat juga anggota yang berusia cukup tua. Mereka merasa tidak senang, namun mereka tetap membungkam.

Tampak dua orang membuka kain yang membungkus Bee Kun Bu. Melihat itu Co Hiong bangkit berdiri lalu mengambil belati dari atas altar, ia mendekati panji itu, lalu mendadak menjulurkan tangannya mencengkeram Bee Kun Bu.

Co Hiong tahu, Bee Kun Bu sudah terluka parah, tentunya tak bisa melawan lagi.

Akan tetapi, setelah Bee Kun Bu dibungkus dengan kain, hawa murninya terkumpul kembali Maka di saat Co Hiong sedang bertarung dengan Tocu Pulau Kabut Hitam, Bee Kun Bu mencoba menghimpun hawa murninya lagi, itu agar dapat membebaskan jalan darahnya yang tertotok itu, namun tidak berhasil

Di saat itu, Bee Kun Bu mendengar suara tawa Co Hiong, ia pun tahu Co Hiong telah berhasil membunuh Tocu pulau Kabut Hitam, itu membuat Bee Kun Bu terkejut sekali, sebab ia tahu jelas bagaimana kepandaian Tocu pulau Kabut Hitam.

Setelah Co Hiong berhasil membunuhnya, Bee Kun Bu yakin Kui Goan Pit Cek pasti sudah jatuh ke tangan Co Hiong.

Ketika melihat Co Hiong mendekatinya dengan membawa sebilah belati, Bee Kun Bu tahu bahwa Co Hiong mau turun tangan terhadapnya.

Bee Kun Bu tak bisa berbuat apa-apa, kecuali pasrah saja, Akan tetapi, ketika Co Hiong menjulurkan tangannya ingin mencengkeram Bee Kun Bu, mendadak dijalan darah Bee Kun Bu yang tertotok itu terbuka dengan sendi rinya. Bee Kun Bu tertegun dan bergirang dalam hati Namun di saat bersamaan Co Hiong telah mencengkeram bajunya.

Bee Kun Bu menatapnya, dan tiba-tiba sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, padahal sesung-guhnya, setelah mencengkeram baju Bee Kun Bu, Co Hiong pun ingin menusuk dadanya dengan belati itu.

Akan tetapi, ketika melihat sepasang mata Bee Kun Bu memancarkan cahaya yang begitu tajam, tertegunlah Co Hiong.

Ketika Co Hiong tertegun, Bee Kun Bu melancarkan sebuah pukulan kedadanya, Kalau orang lain, pasti akan terpukul Namun lain halnya dengan Co Hiong, ketika melihat sepasang mata Bee Kun Bu memancarkan cahaya tajam, ia sudah tahu ada sesuatu yang tak beres, Maka ketika Bee Kun Bu menggerakkan tangannya, Co Hiong pun segera menggerakkan tangannya yang mencengkeram baju Bee Kun Bu, sehingga membuat pukulan Bee Kun Bu terluput

sebaliknya badan Bee Kun Bu malah terlempar ke udara, Namun dengan ginkang yang tinggi, Bee Kun Bu berhasil melayang turun di tengah-tengah gua besar itu.

Kejadian yang mendadak itu, sungguh membuat semua orang terheran-heran, begitu pula Kai Thian Kauw Cu. Sebab mereka sama sekali tidak melihat jelas apa yang telah terjadi, melainkan mengira Co Hiong sengaja melempar Bee Kun Bu ke tengah-tengah gua besar itu.

"Co Hiong!" seru Kai Thian Kauw Cu tak tertanam "Engkau berbuat apa?"

Tiada kesempatan bagi Co Hiong untuk menjelaskan ia bersiul panjang sambil melesat ke arah Bee Kun Bu, Teng Thian Sin Cin pun dikeluarkannya.

Bee Kun Bu melihat cahaya putih menerjang ke arahnya, ia lalu teringat akan kematian Tocu Pulau Kabut Hitam, pasti mati di ujung senjata aneh tersebut Tanpa banyak berpikir lagi, Bee Kun Bu langsung menyambar sebilah pedang dari salah seorang anggota Kai Thian Kauw yang berdiri tertegun di dekatnya.

Trang! Bee Kun Bu menghunus pedang itu.

Akan tetapi, Bee Kun Bu tidak menangkis serangan Co Hiong, melainkan melesat pergi, maksudnya ingin kabur

Kejadian yang di luar dugaan itu, justru membuat Kai Thian Kauw Cu mengira bahwa Co Hiong sengaja menolong Bee Kun Bu. Tadi Co Hiong mencengkeram bajunya, di saat itulah Co Hiong membebaskan totokan di tubuh Bee Kun Bu. Pikir Kai Thian Kauw Cu. Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa gusarnya Kai Thian Kauw Cu.

"Cepat hadang dia!" seru Kai Thian Kauw Cu memberi perintah

seketika puluhan orang yang berdiri di luar langsung menghadang Bee Kun Bu. Tak ayal lagi Bee Kun Bu langsung mengayunkan pedangnya dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat. Tampak beberapa orang yang menghadang itu roboh, sehingga secara tidak langsung malah menghambat larinya.

sedangkan Co Hiong telah berhasil menyusutnya, dan ujung senjatanya mengarah pada punggungnya.

Bee Kun Bu mendengar ada desiran angin di be- lakangnya, maka segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Ketika ujung senjata Co Hiong sampai di punggungnya, mendadak Bee Kun Bu menghilang dari tempat itu.

Terkejutlah Co Hiong dan langsung membalikkan badannya sambil menggerakkan senjatanya, ia melihat badan Bee Kun Bu berkelebat ke sana ke mari menuju pintu gua.

Bee Kun Bu tidak berani menyerang Co Hiong, sebab ia tahu Lweekang Co Hiong lebih tinggi dari Lweekangnya. Oleh karena itu, setelah berhasil berkelit, ia langsung menuju pintu gua dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

Begitu hampir mencapai pintu gua, mendadak ia mendengar suara siulan panjang, menyusul tampak sosok bayangan merah melesat ke arahnya, Sosok bayangan itu ternyata Kai Thian Kauw Cu.

Bee Kun Bu langsung menyerang bayangan merah itu, Namun di saat bersamaan, ia merasa ada tenaga yang sangat kuat menerjang ke arahnya.

Bee Kun Bu tidak berani menangkis, ia hanya menggerakkan pedangnya untuk melindungi diri, dan sekaligus mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Dengan ilmu langkah ajaib itu ia berhasil berkelit, bahkan terus melesat ke arah pintu gua.

Akan tetapi, Kai Thian Kauw Cu pun bergerak cepat menghadang di depan pintu tersebut, Guguplah Bee Kun Bu, dan pada waktu bersamaan terdengar pula suara seruan Co Hiong.

"Semuanya cepat mundur!"

Mendengar seruan itu, Bee Kun Bu sudah tahu maksud Co Hiong, Karena tidak bisa maju, maka ia terpaksa mundur dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu yang amat aneh dan lihay itu, sehingga tidak gampang bagi Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong menyerangnya.

Sementara para anggota Kai Thian Kauw yang mengurung Bee Kun Bu pun sudah bubar, kini Bee Kun Bu dan Co Hiong sudah berdiri berhadapan

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Lumayan juga kepandaianmu Saudara Bee!"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Co Hiong! partai Thian Liong sangat berambisi untuk menguasai rimba persilatan tapi bagaimana akibatnya? seharusnya engkau bertobat, tapi ternyata tidak, malah semakin menggila! itu akan membuat dirimu celaka!"

Tidak salah omonganmu, namun itu urusan kelak kan?

Nah, urusan sekarang, justru engkau yang akan celaka du!uan!" sahut Co Hiong sambil tersenyum-se-nyum.

"Belum tentu!"

"Kalau begitu, mari kita bergebrak beberapa jurus!" tantang Co Hiong.

"Co Hiong! Luka di bahumu belum sembuh, engkau belum boleh bertarung!" ujar Kai Thian Kauw Cu.

"Kauw Cu boleh berlega hati!" sahut Co Hiong sambil tertawa, "Dia lolos dari tanganku, maka aku pun harus menangkapnya kembali Kalau aku tidak kuat me!awan-nya, barulah Kauw Cu turun tangan."

"Hati-hati!" pesan Kai Thian Kauw Cu.

Walau Kai Thian Kauw Cu memperbolehkan Co Hiong bertarung dengan Bee Kun Bu, tapi ia sendiri masih tetap berdiri di depan pintu gua.

Cemaslah hati Bee Kun Bu, sebab Kai Thian Kauw Cu berdiri di situ, bagaimana mungkin ia mampu meloloskan diri melalui pintu itu? sedangkan saat ini, ia harus melawan Co Hiong.

"Saudara Bee!" Co Hiong tertawa sinis. "Engkau ingin kabur? itu tidak gampang! Kalau pun engkau dapat meloloskan diri, juga tiada artinya bagi hidupmu!"

"Apa maksudmu?" tanya Bee Kun Bu. "Seharusnya engkau tahu!" sahut Co Hiong serius.

"Apakah...." Hati Bee Kun Bun tersentak ". Lie Ceng

Loan. "

Tidak salah!" Co Hiong manggut-manggut, "Dia sudah mati!" ini yang dikhawatirkan Bee Kun Bu, justru telah terjadi, otomatis membuatnya berdiri mematung di tem-pat, seperti kehilangan sukma.

Co Hiong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlahan- lahan ia mengangkat senjatanya, lalu menusuk tenggorokan Bee Kun Bu.

Setelah mengetahui Lie Ceng Loan sudah mati, Bee Kun Bu pun tampak linglung, jangankan senjata itu menusuk tenggorokannya, kalau pun langit runtuh, juga tidak akan dirasakannya.

Bukan main girangnya Co Hiong, sebab ia yakin tenggorokan Bee Kun Bu pasti tertembus senjatanya.

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring, dan tampak pula tiga titik cahaya meluncur secepat kilat ke arah senjata Co Hiong.

Trang! Trang! Trang!

Senjata itu terpukul miring, sehingga tenggorokan Bee Kun Bu terluput dari tusukan itu.

Barulah Bee Kun Bu tersentak sadar, namun masih tampak tertegun Kemudian ia mundur beberapa langkah sambil menoleh, Dilihatnya Co Hiong dan Kai Thian Kauw Cu sedang bertempur sengit dengan seseorang.

Karena masih memikirkan Lie Ceng Loan, maka Bee Kun Bun tidak melihat jelas siapa yang bertempur dengan Co Hiong dan Kai Thian Kauw Cu, lagi pula air matanya telah bereucuran

"Adik Loan! Adik Loan " Bee Kun Bu terus bergumam

pertarungan yang sangat sengit dan seru itu, sama sekali tidak menarik perhatiannya....

*****

Bab ke 27 - Muncul Na Siao Tiap Menolong Lie Ceng Loan Bagaimana Co Hiong bisa sampai di tempat Kai Thian Kauw? Apakah ia telah berhasil menodai Lie Ceng Loan yang ditotoknya itu? Ternyata setelah menotok gadis itu, Co Hiong tertawa-tawa, karena Lie Ceng Loan telah pingsan akibat totokannya.

Mendadak Co Hiong berhenti tertawa, sebab teringat dirinya masih berada di dalam gunung Kwat Cong San. ia khawatir suara tawanya itu akan menarik perhatian orang.

Kemudian ia memandang Lie Ceng Loan yang tergeletak pingsan, Walau dalam keadaan pingsan, namun gadis itu masih tampak cantik sekali.

Setelah memandang, Co Hiong berpikir seandainya ia sudah ada hubungan suami isteri dengan gadis itu, tentunya gadis itu harus bersamanya seumur hidup, Ke-tika berpikir sampai di situ, wajah Co Hiong berseri-seri.

ia membungkukkan badannya, lalu menjulurkan kepalanya, maksudnya ingin mencium Lie Ceng Loan. Namun ketika bibirnya hampir menyentuh bibir Lie Ceng Loan, mendadak terdengar suara bentakan seorang gadis.

"Co Hiong!"

Co Hiong tersentak dan segera meno!eh, Begitu menoleh pucatlah wajahnya.

Ternyata ia melihat seekor burung bangau yang sangat besar berdiri tegar tak jauh dari tempatnya, Tam-pak pula seorang gadis yang cantik jelita berdiri di sisi burung bangau itu.

Gadis itu adalah Na Siao Tiap yang sangat ditakuti-nya.

Tangan gadis itu menggendong sebuah piepa, dan menatapnya dengan mata berapi-api.

Padahal saat ini, Co Hiong sudah memiliki senjata pusaka peninggalan Sam In Sin Ni, bahkan telah mempelajari seluruh ilmu silat Sam Im Sin Ni. Kalau yang muncul itu Pek Yun Hui, mungkin ia tidak begitu terkejut dan takut Tetapi setelah dilihatnya yang muncul itu Na Siao Tiap, ia merasa takut sekali dan langsung menyurut mundur beberapa langkah.

sedangkan Na Siao Tiap tetap berdiri di tempat, dan memandang Lie Ceng Loan yang tergeletak itu.

"Engkau berbuat apa terhadap Ceng Loan?" tanyanya dingin.

"Aku. " Co Hiong tersenyum paksa. "Aku tidak berbuat

apa-apa, Dia kena racun ular, aku yang menolongnya."

"Hm!" dengus Na Siao Tiap, "Aku tidak begitu gampang mempereayaimu!"

"Nona Na! Kalau engkau tidak pereaya, boleh bertanya pada Nona Lie," sahut Co Hiong.

Badan Na Siao Tiap bergerak, gadis itu sudah berada di sisi Lie Ceng Loan, namun sepasang mata Na Siao Tiap tetap menatap Co Hiong dengan tajam.

Kebetulan Co Hiong ingin kabur, Tetapi badannya baru mau bergerak, Na Siao Tiap sudah membentak

"Jangan bergerak!"

seketika juga Co Hiong diam di tempat, Hatinya cemas sekali, sebab kalau pun ia bisa kabur, Na Siao Tiap tetap bisa mencarinya lantaran mempunyai burung Ba-ngau Sakti itu.

Oleh karena itu, ia sama sekali tidak berani bergerak.

Na Siao Tiap membungkukkan badannya, lalu memeriksa Lie Ceng Loan, sebetulnya Co Hiong ingin menggunakan kesempatan itu untuk menusuk Na Siao Tiap dengan senjatanya, tetapi ia berpikir, apabila dirinya tidak berhasil dengan sekali tusuk, nyawanya pula yang akan melayang, karena itu ia tetap bersabar

"Adik Loan!" panggil Na Siao Tiap setelah membebaskan totokan di badan gadis itu. Lie Ceng Loan membuka matanya dan tereengang ketika melihat Na Siao Tiap.

ia pun melihat Co Hiong berdiri di situ tak bergerak sama sekali.

"Kakak Siao Tiap, dia... dia,.,." Lie Ceng Loan menunjuk Co Hiong.

"Aku tahu, dia ingin berbuat yang bukan-bukan terhadap dirimu. Untung aku keburu ke mari, kalau tidak, engkau pasti sudah celaka." ujar Na Siao Tiap.

"Kakak Siao Tiap.,.," Lie Ceng Loan menarik nafas panjang, "Engkau dan Kakak Bu hidup bahagia di seberang laut, kenapa balik lagi?"

"Adik Loan." Na Siao Tiap kebingungan "Engkau bilang apa?"

Ternyata pada hari itu, Na Siao Tiap menunggang Hian Giok hanya berkeliling di sekitar gunung Kwat Cong San, lalu berhenti di dekat sebuah sungai ia duduk di situ ditemani Hian Giok, Karena mendengar suara tawa Co Hiong, maka ia ke tempat ini sehingga Lie Ceng Loan terlepas dari bahaya.

Ketika Na Siao Tiap balik bertanya begitu, Lie Ceng Loan tertegun seraya berkata.

"Kakak Siao Tiap, apakah engkau tidak pergi bersama Kakak Bu ke seberang laut?"

Na Siao Tiap langsung melotot ke arah Co Hiong, kemudian bertanya pada Lie Ceng Loan.

"Dia yang bilang begitu?" "Ya."

"Adik Loan, sejak hari itu aku masih belum bertemu Kun Bu."

"Kalau begitu. " Lie Ceng Loan tampak tertegun "Kenapa

dia tidak datang di gua Thian Kie meno!ongku?" "Eh?" Na Siao Tiap tereengang, "Engkau bilang apa?"

"Kakak Siao Tiap.,,." Lie Ceng Loan menutur tentang dirinya pingsan kena racun ular

"Kalau begitu, benarkah engkau di tolong oleh bajingan itu?" tanya Na Siao Tiap seusai mendengar penuturan Lie Ceng Loan.

"Aku pikir... benar."

"ltu memang benar," sela Co Hiong cepat

"Siapa yang menyuruhmu turut bicara?" bentak Na Siao Tiap.

Co Hiong langsung diam, sebetulnya yang ditakuti-nya adalah piepa yang di tangan Na Siao Tiap, Kalau ia dapat menghancurkan piepa itu, mungkin masih berani bertarung dengan Na Siao Tiap.

"Adik Loan, kondisi badanmu masih lemah, beristirahat dulu!" ujar Na Siao Tiap.

Usai berkata begitu, Na Siao Tiap lalu mendekati Co Hiong selangkah demi selangkah, kemudian membentak sambil menjulurkan tangannya.

"Cepat kembalikan Kui Goan Pit Cek itu!"

"Nona Na!" sahut Co Hiong cepat "Engkau telah salah paham, Kalau benar Kui Goan Pit Cek berada padaku, aku pasti langsung mengembalikannya pada-mu."

"Hm!" dengus Na Siao Tiap sambil menggerakkan jari tangannya.

Ting! Piepa itu berbunyi, dan seketika juga wajah Co Hiong pucat pias.

"Walau engkau memiliki Kui Goan Pit Cek, namun apakah tidak takut pada irama maut piepaku ini?" tanya Na Siao Tiap dingin. "Nona Na!" Co Hiong tersenyum getir, "Kui Goan Pit Cek itu benar-benar tak berada padaku."

"Walau engkau telah menolong Adik Loan, namun aku tidak akan melepaskanmu, kalau engkau tidak kembalikan Kui Goan Pit Cek itu padaku!" ujar Na Siao Tiap sambil menatapnya dingin.

Keringat dingin Co Hiong mulai mengucur Seandainya saat ini ia membawa kitab pusaka itu, pasti akan mengembalikannya pada Na Siao Tiap agar dirinya bisa selamat Akan tetapi, ia memang tidak membawanya.

"Nona Na, itu cuma isyu rimba persilatan, bahwa aku telah memperoleh Kui Goan Pit Cek, padahal tidak benar! Entah aku harus bagaimana memelaskannya."

"Hm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Kalau kitab pusaka itu tidak ada padamu, lalu apa yang engkau latih di Toan Hun Ya?"

Hati Co Hiong terkesiap mendengar pertanyaan itu. seketika juga ia tersadar kenapa dirinya difitnah memperoleh Kui Goan Pit Cek itu? pasti ketika ia sedang berlatih, Souw Hui Hong me nya ks ikan nya. Ketika gadis itu meninggalkan Yang Sim Am, tentunya memberitahukan pada Bee Kun Bu dan lainnya.

"ltu bukan Kui Goan Pit Cek," ujarnya memberitahukan. "Kalau bukan Kui Goan Pit Cek, lalu kitab apa?" tanya Na

Siao Tiap dengan kening berkerut

"ltu kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni yang kuperoleh di gunung Altai Taysan."

"Kecuali engkau memperlihatkan kitab itu padaku, kalau tidak, aku tetap tidak pereaya!

"Baik." Co Hiong mengeluarkan kitab itu dari dalam bajunya, lalu diperlihatkan pada Na Siao Tiap. Na Siao Tiap memperhatikannya. Kitab itu memang berisi ilmu silat yang aneh dan lihay, tapi tingkatannya masih di bawah Kui Goan Pit Cek.

"Nona Na, aku... aku sudah boleh pergi?" tanya Co Hiong setelah memasukkan kitab pusaka itu ke dalam bajunya.

"Tunggu!" sahut Na Siao Tiap karena teringat sesuatu. "Masih ada petunjuk apa, Nona Na?" tanya Co Hiong

sambil menarik nafas panjang.

"Aku ingin bertanya, Hari itu engkau dan Souw Peng Hai memasuki gua di dasar telaga kering, Lama sekali aku menjaga kalian di luar, tapi akhirnya engkau dapat meloloskan diri, sedangkan Souw Peng Hai kutemukan dalam keadaan sudah mati, Bagaimana kematiannya?"

Co Hiong sama sekali tidak menyangka kalau Na Siao Tiap akan menanyakan masalah itu, maka seketika juga ia terkejut bukan main.

"Aku... aku juga tidak tahu," sahutnya agak tergagap. "Co Hiong!" Na Siao Tiap menatapnya tajam, "Apa-kah

engkau yang membunuh Souw Peng Hai?"

"Nona Na!" Co Hiong berlaku setenang mungkin, "Jangan omong sembarangan sebab itu bukan urusan keeil!"

"Hm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Souw Peng Hai pun bukan orang baik, maka dia mati di tanganmu atau tidak, itu tiada urusan denganku! Tapi ada orang yang akan membuat perhitungan itu, maka hati-hatilah!"

Co Hiong tidak menyahut hanya tertawa.

"Engkau masih tidak mau enyah?" bentak Na Siao Tiap, "Karena engkau telah menolong Adik Loan, maka untuk kali ini aku metepaskanmu! Tapi engkau jangan bertemu aku lagi!"

Co Hiong menarik nafas lega, lalu melesat pergi bagaikan dikejar setan. "Adik Loan!" Na Siao Tiap memandangnya, "Engkau boleh pulang ke gua Thian Kie seorang diri."

"Bagaimana dengan Kakak Siao Tiap?" tanya Lie Ceng Loan.

Na Siao Tiap tertawa getir, dan matanya tampak basah, "Aku pergi ke mana pun engkau tidak perlu menghiraukanku,"

"Kakak Siao Tiap, kami semua sangat memikirkan-mu, maka lebih baik kita pulang bersama saja!" ajak Lie Ceng Loan.

"Adik Loan!" Na Siao Tiap menarik nafas, "Aku tidak akan pulang. Biar aku berduka, asal engkau bisa berbahagia bersama Kun Bu."

"Kakak Siao Tiap,.,." Lie Ceng Loan mulai menangis, "Tadi aku dengar dari Co Hiong, engkau dan Kakak Bu sudah berangkat ke seberang laut dan kalian... kalian hidup bahagia di sana, Semula aku sedih sekali, tapi kemudian aku justru ikut bahagia pula."

Na Siao Tiap tertegun setelah mendengar apa yang diucapkan Lie Ceng Loan, ia tahu bahwa gadis itu berhati suci murni, Kemudian ia menggapaikan tangannya memanggil Hian Giok, dan burung bangau itu segera men-dekatinya, Na Siao Tiap langsung meloncat ke atas punggung Hian Giok, dan tak lama kemudian burung bangau itu pun sudah terbang pergi, Guguplah Lie Ceng Loan dan berteriak-teriak.

"Kakak Siao Tiap! Kakak Siao Tiap. " Hanya terdengar

suara pekikan Hian Giok di udara, dan tak lama kemudian, burung bangau itu pun lenyap dari pandangan Lie Ceng Loan.

kemudian Lie Ceng Loan meninggalkan tempat itu menuju gua Thian Kie. Berselang beberapa saat kemudian, gadis itu sudah sampai di depan gua tersebut Begitu melihat Lie Ceng Loan pulang dalam keadaan sehat, betapa girangnya Na Hai Peng. "Anak Loan.,,." Na Hai Peng langsung memeluk dan membelainya.

"Paman Na!" Mata Lie Ceng Loan sudah basah.

"Engkau... engkau sudah sembuh?" tanya Na Hai Peng. "Ya." Lie Ceng Loan mengangguk, kemudian me-nutur

tentang semua kejadian yang dialaminya dengan jelas.

"Aaaakh.,.!" keluh Na Hai Peng ketika mendengar tentang Na Siao Tiap, Matanya pun mulai basah, "Anak Siao Tiap,.,." gumamnya.

Co Hiong meninggalkan gunung Kwat Cong San bagaikan dikejar setan, ia masih khawatir Na Siao Tiap akan mengejarnya, Setelah menempuh ratusan mil, barulah ia menarik nafas lega sambil memperlambat langkahnya Di saat itu, hari pun mulai gelap.

Akan tetapi, hati Co Hiong penasaran sekali, sebab entah sudah berapa kali di saat ia hampir dapat menodai Lie Ceng Loan, justru mendadak muncul orang meno-longnya, Apakah gadis itu ditakdirkan harus selamat dari tangannya, ataukah ia memang tak berjodoh dengan gadis itu? pikir Co Hiong kesal.

Karena masih merasa penasaran, maka ia pun masih berhasrat memiliki Lie Ceng Loan, ia terus berpikir sambil berjalan, entah harus dengan cara bagaimana agar gadis itu mencintainya? Sebab itu, muncullah seraut wajah yang cantik jelita di pelupuk matanya, yakni wajah Lie Ceng Loan.

"Sialan!" caci Co Hiong, "Kenapa wajah gadis itu terus muncul di depan mataku? Padahal masih banyak gadis lain yang cantik, tapi aku. "

Co Hiong terus berjalan dengan kepala tertunduk, namun otaknya terus berputar Mendadak ia teringat pada kakak seperguruan Souw Peng Hai. Maka ia mengambil keputusan mencari paman gurunya itu, tujuannya ingin mengikutinya ke Arabia. Kenapa Co Hiong mengambil keputusan itu? Tidak lain ia ingin belajar ilmu silat di sana, setelah itu, akan memfitnah bahwa Na Siao Tiap, Pek Yun Hui dan lainnya yang membunuh Souw Peng Hai, lalu membangun kembali partai Thian Liong.

Setelah berpikir demikian, ia menuju Toan Hun Ya, sebab ia yakin bahwa paman gurunya berada di sana.

Ketika hari mulai terang, tampak tiga ekor kuda berlari kencang, Walau masih begitu jauh, Co Hiong sudah melihat ke tiga penunggang kuda itu adalah pesilat-pesilat Bu Lim.

Akan tetapi, ia tidak memusingkan merekat sebab ia sedang berniat mencari paman gurunya, maka harus menghindari timbul urusan lain, Oleh karena itu, ketika ke tiga ekor kuda itu melewatinya, ia sama sekali tidak menengok

Mendadak ia mendengar suara derap kaki kuda itu berhenti ia tersentak dan segera menoleh ke belakang.

Ke tiga penunggang kuda itu pun memandang ke arahnya, seketika Co Hiong terheran-heran, karena merasa kenal pada ke tiga orang itu.

Ke tiga orang itu meloncat turun, lalu menghampiri Co Hiong yang sedang termangu-mangu.

"Saudara Co!" ujar ke tiga orang itu, "Apakah saudara Co tidak mengenal kami bertiga lagi?"

"Maaf!" sahut Co Hiong, "Aku memang sudah lupa, sebetulnya siapa kalian bertiga?"

"Saudara Co, kami bertiga adalah mantan anak buah Ouw Lam Peng, Sudah sekian tahun kita tidak bertemu, maka tidak heran kalau Saudara Co telah melupakan kami," ujar salah seorang dari mereka.

"Ooooh" Co Hiong manggut-manggut sambil tersenyum getir Ternyata kaitan adalah para anggota ekspedisi Thian Liong, Sejak partai Thian Liong roboh di Toan Hun Ya, kita semua pun bubar."

"Oh yat Bagaimana keadaan Saudara Co baru-baru ini?" "Aku baik-baik saja."

"Saudara Co!" ujar salah seorang dengan serius sekali "Kini sudah baik."

Co Hiong tereengang, karena tidak mengerti kenapa orang itu mengatakan begitu? Apakah ucapannya mengandung suatu maksud tertentu?

"Saudara!" tanya Co Hiong, "Apa yang baik?"

"Lho?" Orang itu heran, "Jadi Saudara Co masih belum tahu?"

"Aku memang tidak tahu apa-apa, cepatlah kalian beritahukan!" desak Co Hiong ingin mengetahuinya.

"Urusan itu harus kututurkan dari Mo Kui Ceh Yi. "

"Mo Kui Ceh Yi?" ternyata Co Hiong pernah mendengar tentang itu, "Apakah tiga iblis itu telah memasuki Tionggoan?"

Tidak," Orang itu memberitahukan. "Ke tiga iblis itu telah mati di tangan Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan teman-teman mereka."

"Kalau begitu, kenapa kalian katakan baik?" tanya Co Hiong.

Ternyata ke tiga iblis itu masih punya ayah. Namun puluhan tahun lalu ayah mereka meninggalkan Mo Kui Ceh Yi, lalu tinggal di suatu pulau untuk memperdalam ilmunya, dan kini ilmunya sudah tinggi sekali."

"Orang tua itu telah menyatakan akan memusuhi sembilan partai besar dan Kwat Cong San, maka ia mendirikan Kai Thian Kauw, Tujuan dan ambisi Kai Thian Kauw sama seperti Thian Liong Pay, maka para anggota partai Thian Liong yang telah bubar itu telah bergabung dengan Kai Thian Kauw, Malam ini ada upacara di markas Kai Thian Kauw, kenapa Saudara Co tidak ke sana?"

Betapa girangnya Co Hiong mendengar kabar itu, karena kini telah muncul seseorang yang berani menentang sembilan partai besar secara terang-terangan, bahkan berani pula memusuhi Kwat Cong San. Ber-hubung satuJiafuan, tentunya ia merasa girang sekali.

Lagi pu&jCo Hiong sangat berambisi, otomatis tidak mau di bawah perintah orang, Akan tetapi, akhirnya ia mengambil keputusan untuk pergi ke markas Kai Thian Kauw untuk melihat suasana di sana.

"Kalau begitu, kalian ajaklah aku ke sana!" ujar Co Hiong sungguh-sungguh, "Sebab aku pun ingin bergabung dengan Kai Thian Kauw."

"Saudara Co!" Ke tiga orang itu tertawa, "Kami tidak berderajat mengajak Saudara Co ke sana. Namun berdasarkan kepandaian Saudara Co, Kai Thian Kauw Cu pasti senang menerima kehadiranmu! Yang penting Saudara Co harus merebut kursi wakil Kauw Cu, dan kalau Saudara Co berhasil, janganlah melupakan kami!"

Tentu." Co Hiong tertawa, "Kalian adalah mantan anggota ekspedisi Thian Liong, tentunya aku harus mengangkat kalian apabila aku berhasil menjadi wakil Kauw Cu."

Terimakasih, Saudara Co!" ucap mereka bertiga dengan wajah berseri.

"Oh ya!" Salah seorang memberitahukan. "Sebetulnya Kauw Cu berminat menarik Pek Yun Hui sebagai wakil Kauw Cu.,.,"

"Oh?" Co Hiong terkejut "Apakah kepandaian Kai Thian Kauw Cu lebih tinggi dari Pek Yun Hui?"

"Benar. Karena Pek Yun Hui tidak mau, maka kini wakil Kauw Cu berada di tangan Tocu Pulau Kabut Hitam, yang bernama Lim Thian Tuk." "Oooh!" Co Hiong manggut-manggut, ia sudah punya suatu rencana, Souw Peng Hai yang sangat licik juga masih bisa mati di tangannya, apalagi Kai Thian Kauw Cu. Maka setelah berhasil merebut kursi wakil Kauw Cu, ia pun akan mencari akal untuk menghabiskan Kai Thian Kauw Cu, agar dirinya bisa menjadi Kauw Cu. "Kalau begitu, cepatlah kita berangkat ke sana,T : mana markas Kai Thian Kauw?"

"Kami dengar, Kauw Cu telah berhasil menangkap salah seorang dari sembilan partai besar, dan orang tersebut akan dijadikan tumbal dalam upacara itu." Salah orang memberitahukan

"Markas Kai Thian Kauw berada di dalam sebuah gua di perut gunung, Mari Saudara Co ikut kami ke sana!" sambung yang lain.

Di saat Co Hiong tiba di dalam gua besar di dalam perut gunung itu, kebetulan upacara baru mau dimulai Akhirnya Co Hiong berhasil membunuh Tocu Pulau Kabut Hitam.

Nah! Kini di dalam gua besar itu telah terjadi pertarungan yang sangat hebat, dan ternyata yang muncul menolong Bee Kun Bu adalah Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun.

*****

Bab ke 28 - Pertarungan di Markas Kai Thian Kauw Bagaimana Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun bisa sampai di

tempat tersebut? Ternyata ketika mereka sedang mencari Bee Kun Bu, kebetulan muncul beberapa orang dari golongan hitam, maka Pek Yun Hui menangkap mereka.

Memang sungguh kebetulan sekali, beberapa orang itu ternyata anggota KaiThian Kauw yang sedang menuju markas untuk menghadiri upacara itu. Bahkan orang-orang itu pun memberitahukan, bahwa KauwCu mereka telah menangkap salah seorang dari sembilan partai besar untuk dijadikan tumbal dalam upacara tersebut itu membuat Pek Yun Hui tersentak, karena menduga orang yang ditangkap itu, kemungkinan besar Bee Kun Bu, Pek Yun Hui memaksa mereka memberitahukan tempat markas Kai Thian Kauw, dan setelah mengetahui tempat tersebut, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun langsung berangkat ke sana.

Setelah memasuki gua besar itu, kebetulan Pek Yun Hui melihat Bee Kun Bu sedang dalam keadaan bahaya, Karena itu ia cepat-cepat menyambitkan senjata rahasianya, bahkan sekaligus melesat ke arah Co Hiong menggunakan ilmu pedang Sin Hap Kiam.

serangan yang mendadak itu membuat Co Hiong terpaksa meloncat ke belakang untuk menghindar sedangkan Sie Bun Yun pun menerjang ke dalam menghampiri Bee Kun Bu seraya memanggilnya.

"Saudara Bee!"

Akan tetapi, saat ini Bee Kun Bu telah kehilangan diri ia tidak tahu berada di mana dirinya dan siapa yang . memanggilnya, juga tidak memperhatikan keadaan di sekitar nya.

Sie Bun Yun tertegun ketika melihat Bee Kun Bu berdiri mematung, wajahnya pucat pias dan sepasang matanya mendelik ke depan.

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun segera menggenggam tangannya, dan betapa dinginnya tangan Bee Kun Bu.

Sie Bun Yun segera menariknya ke dalam pelukan-nya, namun Bee Kun Bu sama sekali tidak merasakannya, sebaliknya malah meronta.

"Adik Pek!" seru Sie Bun Yun. "Uhatlah! Saudara Bee entah kenapa?"

Pek Yun Hui segera melesat ke arah Bee Kun Bu. Akan tetapi, di saat bersamaan, terdengarlah suara siulan Kai Thian Kauw Cu yang amat panjang, dan suasana di dalam gua itu menjadi hening seketika.

"Ha ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, "Pek Lie Hiap, selamat datang!"

Pek Yun Hui tidak menyahut, melainkan malah memandang ke arah Bee Kun Bu. Tadi ia tidak jadi melesat ke arah Bee Kun Bu, sebab mendengar suara siulan Kai Thian Kauw Cu.

ia telah melihat ada yang tak beres dalam diri Bee Kun Bu, maka segera memberi isyarat pada Sie Bun Yun.

Sie Bun Yun tahu isyarat itu, maka segeralah ia memapah Bee Kun Bu, lalu melangkah ke belakang.

"Ha ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa lagi, "Kalian jangan harap bisa meninggalkan tempat ini!"

"Hm!" dengus Pek Yun Hui.

"Ha ha ha.,.!" Kai Thian Kauw Cu tertawa lagi, namun berhenti mendadak Ternyata ia telah mengangkat sebelah tangannya memberi tanda pada para anggota Kai Thian Kauw.

Bum! Bum! Pintu gua itu telah ditutup.

Pek Yun Hui memang berkepandaian tinggi. Namun kini wajahnya tampak agak pucat. ia merasa kepandaiannya masih di bawah Kai Thian Kauw Cu, sedangkan Sie Bun Yun belum tentu dapat melawan Co Hiong.

Apabila terjadi pertarungan siapa yang akan menolong Bee Kun Bu? Pikir Pek Yun Hui sambil mengerutkan kening, Setelah berpikir lama sekali, barulah ia memberi isyarat lagi pada Sie Bun Yun.

Sie Bun Yun mengangguk lalu segera mundur ke pintu gua yang telah tertutup rapat itu.

"Sobat!" seru Kai Thian Kauw Cu. "Pereuma engkau ke sana!" Sie Bun Yun tidak menghiraukan seruan Kai Thian Kauw Cu, bahkan langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah pintu gua.

Bum! Pintu gua itu sama sekali tidak bergerak

"Ha ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa terbahak-bahak, "Kalian sungguh tak tahu diri! Kalian berani menerobos ke mari, itu berarti kalian cari mati!"

Pek Yun Hui tidak menghiraukan Kai Thian Kauw Cu. ia melesat ke arah Sie Bun Yun yang memapah Bee Kun Bu, lalu mereka berdiri di dekat pintu gua. Men-dadak Pek Yun Hui menepuk punggung Bee Kun Bu, dan tepukannya itu membuat Bee Kun Bu tersentak kaget lalu sadar.

Begitu melihat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, air mata Bee Kun Bu meleleh karena berduka.

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun menarik nafas lega. Walau wajah Bee Kun Bu masih pucat, namun sudah tampak normal, Pek Yun Hui yakin Bee Kun Bu tidak terluka, hanya hatinya yang terpukul oleh sesuaiu, sehingga membuat dirinya menjadi begitu tadi.

"Kai Thian Kauw Cu!H ujar Pek Yun Hui. "Harap engkau membuka pintu gua, dan ijinkanlah kami pergt!"

"Pek Lie Hiap!" Kai Thian Kauw Cu tertawa, "Aku tidak akan mengijinkan!"

"Kalau begitu, engkau bersungguh-sungguh ingin memusuhi kami?" tanya Pek Yun Hui dengan suara dalam.

"Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, "Pek Lie Hiap, kini dirimu bagaikan burung dalam sangkar, maka lebih baik engkau menuruti perkataanku saja!"

Ngung! Pek Yun Hui menggerakkan pedangnya. "Sabar!" ujar Kai Thian Kauw Cu.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Ternyata engkau pe-nakut!" "Bagaimana situasi sekarang, tentunya Pek Lie Hiap bisa menyaksikannya!" sahut Kai Thian Kauw Cu, "Jadi engkau tidak perlu banyak bicara, pikirkanlah!"

Pek Yun Hui diam, sebab ia memang tahu jelas bagaimana situasi yang sedang dihadapinya.

"Kini hanya ada dua pilihan untuk Pek Lie Hiap!" Kau Thian Kauw Cu memberitahukan

"Bagaimana ke dua pilihan itu?" tanya Pek Yun Hui dingin. "Pilihan pertama, kalau kalian bertiga memusuhi Kai Thian

Kauw, maka kalian bertiga akan dijadikan tumbal dalam

upacara ini!" sahut Kai Thian Kauw Cu serius.

Tidak begitu gampang!" Pek Yun Hui tertawa dingin. "Gampang atau tidak, nanti kalian akan mengetahuinya!"

sela Co Hiong sambil tertawa terbahak-bahak "Kini lebih baik kalian dengar perkataan Kauw Cu!"

Pek Yun Hui langsung menatap tajam ke arah Co Hiong, Sie Bun Yun khawatir Pek Yun Hui akan segera menyerang Co Hiong, maka ia cepat-cepat berbisik

"Adik Pek, sabar! Kita dengar apa yang akan dikatakan Kai Thian Kauw Cu!"

Pek Yun Hui mengangguk, lalu memandang tempat lain, sama sekali tidak mau memandang Co Hiong.

"Pilihan ke dua, kalian berdua harus bersumpah berat untuk bergabung dengan Kai Thian Kauw! padahal Pek Lie Hiap boleh kuangkat sebagai wakil, tapi kedudukan tersebut telah kuserahkan pada Co Hiong, maka kalian berdua harus dibawah perintah Kauw Cu dan wakil Kauw Cu!"

"Lalu bagaimana dengan Bee Kun Bu?" tanya Pek Yun Hui.

"Kai Thian Kauw bermusuhan dengan sembilan partai besar, sedangkan Bee Kun Bu adalah murid partai Kun Lun, karena itu dia tidak boleh dilepaskan!" sahut Kai Thian Kauw Cu. "Harus dijadikan tumbal dalam upacara ini. Berhubung kalian berdua bukan murid sembilan partai besar, maka diampuni!"

Baru saja selesai Kai Thian Kauw Cu berbicara, Co Hiong menyambungnya dengan dingin.

"Kauw Cu telah mengampuni kalian berdua, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun! Kenapa kalian masih belum berlutut menyatakan terimakasih pada Kauw Cu?"

Ternyata ketika mendengar Kai Thian Kauw Cu mengajukan syarat tersebut, Co Hiong pun sangat khawatir mereka berdua akan setuju, maka cepat-cepat mengatakan begitu, agar mereka berdua menoIaknya.

"ltu adalah kebiasaanmu, Co Hiong! Tapi kami tidak akan menyetujuinya!" sahut Sie Bun Yun.

"Saudara Sie Bun!" Co Hiong tersenyum, "Ajal sudah di depan mata, kok masih keras hati?"

"Kalau kami bertiga mau dijadikan tumbal, kenapa cuma omong saja?" ujar Sie Bun Yun dingin.

Co Hiong mendekati Kai Thian Kauw Cu, kemudian berbisik-bisik di telinganya.

Semula tampak Kai Thian Kauw Cu menggelengkan kepala, namun kemudian manggut-manggut

"Baiklah!"

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sama sekali tidak tahu, apa yang dibisikkan Co Hiong.

"Kalian berdua begitu lancang menerobos ke dalam markas Kai Thian Kauw, seandainya kalian mati di sini, tentunya merasa penasaran sekali!" ujar Co Hiong sambil menatap Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun. "Oleh karena itu, Kauw Cu memberi sedikit kesempatan pada kalian. " "Kesempatan apa?" tanya Sie Bun .Yun cepat. "Bertarung satu lawan satu!" sahut Co Hiong singkat "Baik!" Sie Bun Yun mengangguk

"Lan Tay Kong Cu!" Co Hiong menudingnya, "Be-berapa tahun lalu, engkau sering memberi pelajaran padaku, maka kini aku masih ingin mohon pelajaran darimu!"

Pek Yun Hui tertegun ketika mendengar Co Hiong berani menantangnya secara terang-terangan, Semula ia mengira Kai Thian Kauw Cu yang ingin bertarung de-ngannya, tidak tahunya justru Co Hiong yang menantangnya bertarung, Oleh karena itu, ia merasa aneh dan yakin pula bahwa Kui Goan Pit Cek berada di tangan Co Hiong.

"Co Hiong!" Pek Yun Hui tersenyum dingin, "Su-dahkah engkau berpikir masak?"

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Pek Lie Hiap tidak usah mengkhawatirkanku! Ayolah, mari kita mulai!"

Pek Yun Hui manggut-manggut sambil meghimpun Lweekangnya, Maksudnya ingin menghabiskan Co Hiong dalam waktu singkat

"Hm!" dengusnya, lalu melangkah ke depan beberapa langkah. Ternyata ia telah mengambil keputusan untuk menggunakan ilmu pedang Sin Hap Kiam. sedangkan Kai Thian Kauw Cu telah mundur.

"Hati-hati!" bisik Kai Thian KauwCu pada Co Hiong. "Terimakasih atas perhatian Kauw Cu!" ucap Co Hiong. "Co Hiong!" bentak Pek Yun Hui. "Engkau sudah siap?"

"Silakan menyerang!" sahut Co Hiong, "Baik!" Pek Yun Hui mengangguk lalu bersiul panjang dan sekaligus menyerang ke arah Co Hiong dengan ilmu pedang Sin Hap Kiam, Badannya sudah tidak tampak Iagi, yang tampak hanya sinar pedangnya yang berkelebat an. Menyaksikan itu, terkejutlah Co Hiong, sebab ia sama sekali tidak menduga kalau Pek Yun Hui memiliki ilmu pedang yang begitu lihay dan dahsyat

Tanpa banyak pikir lagi, Co Hiong langsung meloncat ke belakang, bahkan saking gugupnya ia nyaris terjatuh.

Pek Yun Hui menghentikan serangannya, tetapi matanya menatap tajam ke arah Co Hiong, Co Hiong memandangnya dengan kening berkerut, lama sekali barulah membuka mu!ut.

"Sungguh lihay ilmu pedang Pek Lie Hiap!" "Senjata apa yang di tanganmu? Dari mana engkau

memperoleh senjata itu?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Senjata ini adalah Teng Thian Sin Cin!" sahut Co Hiong.

Begitu mendengar nama senjata itu, terkejutlah Pek Yun Hui, karena ia mengetahui senjata tersebut dari kitab pusaka Kui Goan Pit Cek, dan itu adalah senjata andalan Sam Im Sin Ni ratusan tahun silam, Kenapa senjata pusaka itu bisa jatuh ke tangan Co Hiong? Pek Yun Hui tidak habis berpikir

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, ternyata ia telah melihat air muka Pek Yun Hui yang berubah hebat itu, "Aku boleh menyimpan senjata ini, dan cukup dengan tangan kosong melawanmu!"

itu merupakan perkataan yang sangat menghina dan menyindir Tentunya Pek Yun Hui gusar sekali mendengar nya.

"Co Hiong! Teng Thian Sin Cin memang merupakan senjata pusaka, Tapi kalau engkau pergunakan untuk melakukan kejahatan, senjata itu akan berbalik menewas- kanmu!" ujarnya.

"Oh?" Co Hiong tertawa aneh, kemudian mendadak menyerang Pek Yun Hui dengan senjata itu.

Pek Yun Hui tidak berani menangkis, hanya mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar Begitu badannya bergerak, dalam waktu sekejap sudah berada di belakang Co Hiong, dan sekaligus menyerang punggungnya dengan jurus Tay Cui Can Pheng (Burung Merpati Mengembangkan Sayap).

Co Hiong sudah tahu akan adanya serangan itu, Maka ia langsung memutarkan senjatanya untuk menang-kis.

Trang! Suara benturan senjata.

Setelah menangkis, Co Hiong balas menyerang, dan seketika tampak cahaya putih berkelebatan menyilaukan mata.

Pek Yun Hui tidak berani menangkis senjata itu. ia menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar lalu balas menyerang lengan Co Hiong, Pada saat bersamaan Pek Yun Hui pun menyerangnya dengan senjata rahasia mengarah pada Leng Tay Hiat dan Noh Hu Hiat ditubuh Co Hiong.

Betapa terkejutnya Co Hiong. ia secepat kilat meloncat ke belakang, tetapi Pek Yun Hui telah menyerangnya dengan senjata rahasia, Cepat sekali Co Hiong menjatuhkan diri, sehingga senjata rahasia itu meleset dari sasarannya.

Namun ujung pedang Pek Yun Hui sudah dekat, maka Co Hiong terpaksa bergu!ing-gulingan menghindari pedang itu, Mendadak Co Hiong menggerakkan senjatanya dengan jurus Hai Tie Kuang Cin (Meraba jarum di Dasar Laut).

Pek Yun Hui tetap tidak berani menangkis senjata itu, ia langsung melesat ke belakang beberapa depa. Co Hiong menarik nafas lega sambil bangkit berdiri justru itu yang diharapkan Pek Yun Hui, sebab ia ingin menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu mendekati Co Hiong, sekaligus menyerang punggungnya.

Akan tetapi, Co Hiong justru sudah menduganya, maka ia cuma bangkit sedikit, sehingga Pek Yun Hui tidak bisa menggunakan ilmu langkah ajaib itu. "Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Co Hiong, apakah engkau ingin terus jongkok di situ?"

"Aku cuma merasa capek. Ka!au engkau berkepandaian tinggi, silakan menyerang!" sahut Co Hiong menantang, "Walau aku jongkok, masih mampu melawanmu!"

Pek Yun Hui menatapnya, kemudian melangkah maju beberapa langkah, Di saat bersamaan, sebelah tangan Co Hiong menekan pada tanah sambil menatap Pek Yun Hui dengan tajam.

Kemudian sepasang kaki Pek Yun Hui mulai bergerak Karena itu, badannya pun ikut bergerak berdasarkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Badan Pek Yun Hui terus berputar, dan makin lama makin cepat hingga hanya tampak bayangan nya.

Di saat itulah Co Hiong menyerangnya dengan tiga jurus beruntun. Pek Yun Hui memang menghendaki demikian.

Begitu Co Hiong mulai menyerang, Pek Yun Hui bersiul panjang, dan seketika bayangannya berubah jadi puluhan, begitu pula pedangnya yang mengarah bahu Co Hiong.

serangan itu begitu aneh dan dahsyat, maka tanpa banyak pikir lagi Co Hiong langsung mengayunkan senjatanya untuk menangkis

Trang! Terdengar suara benturan senjata yang sangat nyaring.

Pedang Pek Yun Hui patah, namun tenaganya yang amat dahsyat itu tetap menerjang ke arah Co Hiong.

Co Hiong terpental dan bahunya terasa sakit sekali, sehingga senjata di tangannya terlepas, Betapa terkejutnya Co Hiong, ia masih ingin meraih senjatanya, namun Pek Yun Hui sudah melesat ke hadapannya sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah senjata itu, sehingga membuat senjata itu melayang ke dinding gua. Setelah melancarkan pukulan itu, Pek Yun Hui memukul lagi ke arah dada Cd Hiong, bahkan sekaligus mengayunkan pedangnya yang sudah kutung itu.

Duk!

Serrt!

Dada Co Hiong terpukul dan bahunya telah tergores pedang, Setelah berhasil melukai Co Hiong, Pek Yun Hui bersiul panjang lagi sambil melesat Co Hiong tahu, Pek Yun Hui ingin mengambil Teng Thian Sin Cin yang menancap di dinding gua. Oleh karena itu, ia berseru.

"Kauw Cu!"

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui telah berhasil meraih ujung senjata tersebut Namun terdengar pula Kai Thian Kauw Cu membentak gusar dan sepasang lengannya bergerak, badannya pun meluncur ke arah Pek Yun Hui dan sekaligus mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

Pek Yun Hui terkejut bukan main, sebab ia merasa ada tenaga yang sangat kuat menerjang ke arahnya, ia tahu, Kai Thian Kauw Cu telah menyerangnya, Oleh karena itu, ia pun mengayunkan pedangnya yang kutung itu ke arah Kai Thian Kauw Cu, dan tangan kirinya pun melancarkan sebuah pukulan.

Kai Thian Kauw Cu berkelit, dan sekaligus mengibaskan lengan jubahnya ke arah pedang Pek Yun Hui. Akan tetapi, Pek Yun Hui sudah melesat pergi

Ketika Pek Yun Hui sedang bertarung dengan Kai Thian Kauw Cu, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tetap berdiri dekat pintu gua, sedangkan Bee Kun Bu masih terus-menerus mengucurkan air mata.

"Saudara Bee, kini kita bertiga dalam keadaan ba-haya, Kenapa engkau masih terus menangis ?" tegur Sie Bun Yun. "Apakah engkau takut mati?" "Saudara Sie Bun, ba... bagaimana mungkin aku takut mati?" sahut Bee Kun Bu.

"Kalau engkau tidak takut mati, kenapa masih me-nangis?" Sie Bun Yun mengerutkan kening.

"Aaakh...!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang, "Saudara Sie Bun, Adik Loan sudah mati kena racun ular, bagaimana mungkin aku tidak menangis?"

"Apa?" Sie Bun Yun tertegun, "Saudara Bee, engkau dengar dari siapa?"

"Co Hiong yang memberitahukan," sahut Bee Kun Bu. "Saudara Bee. " Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan

kepala, "Kami meninggalkan gua Thian Kie baru satu hari,

sedangkan Co Hiong lebih cepat tiba di sini, Ketika kami meninggalkan gua Thian Kie, Nona Lie masih dalam keadaan pingsan dan dijaga Na Locianpwee, lalu bagaimana mungkin Nona Lie mati? Co Hiong telah membohongi mu."

"Oh?" Bee Kun Bu tertegun ia yakin Sie Bun Yun tidak akan membohongi nya, justru ia telah tertipu oleh Co Hiong, Namun apabila tidak bisa menemukan ular kilat hijau, Lie Ceng Loan tetap akan mati, itu membuatnya berduka lagi.

Sie Bun Yun terus memperhatikan air mukanya yang berubah tak menentu, ia pun dapat menduga apa yang sedang dipikirkannya.

"Saudara Bee, menurutku. " ujar Sie Bun Yun. "Nona Lie

tidak bertampang pendek umur, maka aku yakin ia tidak akan mati, Oleh karena itu, lebih baik kita cari jalan agar bisa meninggalkan tempat ini."

Setelah mendengar ucapan itu, Bee Kun Bu tampak agak bersemangat lalu memandang ke arah Pek Yun Hui yang sedang bertarung, Kebetulan ia melihat Kai Thian Kauw Cu sedang melesat ke arah Pek Yun Hui. Karena itu, ia dan Sie Bun Yun langsung berseru serentak "Dasar tak tahu malu, Tadi bilang satu lawan satu, tapi sekarang malah dua lawan satu!"

Di saat mereka berseru, Pek Yun Hui pun melesat ke arah mereka, dan sebelum sepasang kakinya menginjak tanah, ia pun berteriak

"Cepat matikan obor!"

Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, ia langsung saja melancarkan sebuah pukulan ke arah obor-obor yang berada di situ, dan seketika obor-obor itu pun padam.

Sementara Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu juga mulai memadamkan obor-obor yang lain, sehingga tempat itu mulai berubah gelap, Di saat mereka memadamkan obor-obor itu, tidak sedikit anggota Kai Thian Kauw yang berusaha menghadang, namun semuanya terluka oleh tangan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu, sehingga membuat kapok yang lain.

Berselang beberapa saat kemudian, tempat itu telah berubah gelap gulita, sementara Co Hiong masih berupaya mengambil senjatanya yang tertancap di dinding gua, tapi selalu terhalang oleh pukulan Pek Yun Hui.

Di saat Pek Yun Hui ingin memadamkan obor yang terakhir, Co Hiong tertawa seraya berseru.

"Kauw Cu! jangan menyiarkannya memadamkan obor itu!"

Usai berseru, Co Hiong menyerang Pek Yun Hui dengan gelang emasnya. Pek Yun Hui tertawa dingin sambil melebarkan lengan bajunya, kemudian menangkis gelang emas itu.

Gelang emas itu tak bergerak, Pek Yun Hui segera menyimpannya ke dalam bajunya, Akan tetapi, Kai Thian Kauw Cu justru telah berdiri di hadapan obor yang terakhir itu. Apabila obor yang ada di dalam gua besar itu padam, maka sangat menguntungkan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu. Kemungkinan besar mereka bertiga masih dapat meloloskan diri dari tempat itu.

Namun obor yang terakhir itu telah dilindungi Kai Thian Kauw Cu. Karena itu mereka bertiga tidak berani mencoba memadamkan nya.

Setelah berdiri di hadapan obor itu, Kai Thian Kauw Cu mengibaskan lengan jubahnya ke arah Pek Yun Hui, membuat gadis itu harus mundur beberapa langkah, sedangkan Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun mendekati obor itu.

"Kalian semua, cepat kurung mereka!" teriak Kai Thian Kauw Cu memberi perintah.

seketika tampak puluhan orang langsung mengurung Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui memberi isyarat pada Sie Bun Yun, lalu langsung menyerang Kai Thian Kauw Cu beberapa jurus berturut-turut. Kai Thian Kauw Cu pun segera mengangkat sepasang lengan nya.

Plak! Plak! Plak! Terdengar tiga kali suara benturan.

Pek Yun Hui terdorong mundur Sie Bun Yun cepat-cepat melancarkan sebuah pukulan ke arah obor itu, tetapi Kai Thian KauwCu mengibaskan lengan jubahnya ke arah Sie Bun Yun, Bukan main! Kibasan itu membuat Sie Bun Yun terpental ke udara.

Mendadak badan Bee Kun Bu bergerak, tahu-tahu sudah berada di belakang Kai Thian Kauw Cu, dan langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah punggungnya

Tanpa membalikkan badan, Kai Thian Kauw Cu mengibaskan lengan jubahnya ke belakang, Setelah mengibaskan lengan jubahnya, barulah Kai Thian Kauw Cu tersadar, bahwa kibasannya itu justru mengarah obor yang ada di belakangnya. Bum! Obor itu terpental entah ke mana, sedangkan Bee Kun Bu sudah melesat ke arah Pek Yun Hui dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, dan seketika gelaptah tempat itu, bahkan suasanapun jadi hening sekali.

Craak! Tampak sedikit cahaya, namun kemudian disusul pula dengan suara jeritan.

Ternyata salah seorang anggota Kai Thian Kauw coba menyalakan api, tapi tewas seketika terserang senjata rahasia Pek Yun Hui.

Begitu Bee Kun Bu sampai di samping Pek Yun Hui, terdengarlah suara seruan Co Hiong yang lantang.

"Para anggota Kai Thian Kauw, harap jangan bergerak Siapa yang bergerak pasti di serang!"

Seusai Co Hiong berseru, terdengar suara desiran senjata rahasia menyerang ke arahnya.

Trang! Trangf senjata rahasia itu terpukul jatuh, Ternyata Pek Yun Hui yang menyerangnya.

sedangkan Bee Kun Bu tertegun setelah mendengar seruan Co Hiong, Kemudian ia mencoba berjalan beberapa langkah sambil merentangkan sepasang lengan-nya. Akan tetapi, tiada seorang pun berada di situ. padahal para anggota Kai Thian Kauw yang berada di dalam gua itu lebih dari seratus orang, Ternyata para anggota Kai Thian Kauw takut mati, maka mereka semua telah berdiri menyandar di dinding gua.

Keadaan di dalam gua besar itu memang gelap sekali, maka Bee Kun Bu merapatkan dirinya pada dinding gua sambil meraba-raba, Tiba-tiba ia merasa ada desiran angin di sisinya, Segeralah ia menjulurkan tangannya, dan betapa terkejutnya, karena tangannya telah memegang sebuah lengan yang cukup besar

Lengan itu pasti bukan lengan Pek Yun Hui atau Sie Bun Yun. Kalau begitu, tentunya lengan Kai Thian Kauw Cu, Bee Kun Bu terkejut sekali, namun sama sekali tidak berani bersuara.

Mendadak lengan itu bergerak, dan tangan Bee Kun Bu sudah dicengkeram. Tidak salah, orang itu memang Kai Thian Kauw Cu, tapi ia tidak tahu kalau yang dicengkeramnya itu Bee Kun Bu. sebaliknya ia malah mengira salah seorang anggotanya, maka segera didorongnya pergi.

Bee Kun Bu terdorong ke belakang beberapa langkah, dan barulah ia menarik nafas lega, Akan tetapi, ia justru menubruk seseorang, sehingga orang itu mengeluarkan suara kaget, kemudian menjerit dan roboh seketika.

Bee Kun Bu tahu, orang itu telah mati diserang Kai Thian Kauw Cu, sebab orang itu mengeluarkan suara kaget.

Setelah mendengar suara jeritan itu, barulah Kai Thian Kauw Cu tahu telah salah membunuh orang.

Dapat dibayangkan betapa gusarnya Kai Thian Kauw Cu. "Pek Yun Hui, engkau sungguh bukan lelaki sejati! Kenapa

main kucing-kucingan denganku?" bentaknya.

Yang mendengar suara bentakan, hampir saja mengeluarkan suara tertawa geli, sebab Pek Yun Hui bukan lelaki

"Eeeh,.,?" suara Kai Thian Kauw Cu. Ternyata ia baru tahu kalau dirinya telah salah ucap, Mendadak ia menyalakan api dengan batu, dan seketika itu juga terdengar suara Co Hiong.

"Hati-hati Kauw Cu!"

Tampak seseorang berdiri di belakang Kai Thian Kauw Cu, ialah Pek Yun Hui, Memang kebetulan sekali Pek Yun Hui berdiri di situ. Sebab tadi Kai Thian Kauw Cu menggeserkan badannya, lalu berhenti di depan Pek Yun Hui.

Begitu Kai Thian Kauw Cu menyalakan api, girang-lah Pek Yun Hui karena melihat Kai Thian Kauw Cu berdiri di hadapannya, ia langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah punggungnya.

Walau kepandaian Kai Thian Kauw Cu lebih tinggi, tapi dalam posisi begitu dekat dengan punggung menghadap Pek Yun Hui, tentunya sulit baginya untuk berkelit Co Hiong pun memperingatkannya, tetapi sudah terlambat

Buuuk! pukulan Pek Yun Hui telak mengenai punggung Kai Thian Kauw Cu, dan seketika juga terdengar suara teriakan aneh dari mulut Kauw Cu itu, Badannya terpental entah berapa depa. Api yang menyala itu pun padam, sehingga tempat itu berubah gelap kemba!L

Pada saat bersamaan, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun pun segera merapatkan diri pada Pek Yun Hui.

sementara masih terdengar suara Kai Thian Kauw Cu berteriak-teriak aneh, dan terdengar pula suara desiran pukulan, Ternyata Kai Thian Kauw Cu secara membabi buta melancarkan pukulan ke sekelilingnya.

"Adik Pek!" bisik Sie Bun Yun di telinga Pek Yun HuL "Pukulanmu itu pasti membuat Kai Thian Kauw Cu terluka parah."

"Jangan bersuara!" sahut Pek Yun Hui dengan suara rendah. "Dia tidak akan terluka dalam."

Sie Bun Yun diam. sementara masih terdengar suara desiran pukuIan, kemudian mendadak terdengar suara yang kalang kabut

"Aku Co Hiong, Kauw Cu jangan memukul!"

Kai Thian Kauw Cu berhenti memukul, sedangkan Co Hiong merapatkan dirinya pada Kai Thian Kauw Cu seraya berbisik

"Mari kita pergi!" Mereka berdua melesat ke tempat lain, lalu Co Hiong berbisik lagi dengan suara rendah.

"Kauw Cu, tidak apa-apa kita membuka pintu gua itu," "Jangan!" sahut Kai Thian Kauw Cu. "Mereka bertiga pasti

dapat meloloskan diri apabila pintu gua dibuka."

"Begini." usul Co Hiong, "Kita berdua menjaga di pintu gua, para anggota yang ke luar harus menyebut nama masing- masing. Kalau pun Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu dapat meloloskan diri, kita masih bisa mengurung Pek Yun Hui di dalam gua ini."

"Benar." Kai Thian Kauw Cu manggut-manggut "Ka-bar berita dalam rimba persilatan menyatakan bahwa engkau adalah orang yang banyak akal, itu memang tidak salah."

"Tapi aku masih harus mohon petunjuk dari Kauw Cu." ucap Co Hiong merendah.

Mereka berdua memang sudah berada di depan pintu gua, sedangkan Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu yang berdiri agak jauh itu, sama sekali tidak dengar apa yang mereka kasak-kusukkan.

Tapi mereka bertiga tahu, Co Hiong pasti sedang berunding dengan Kai Thian Kauw Cu.

"Adik Pek, Saudara Bee!" bisik Sie Bun Yun. "Apa-kah kalian bisa menerka, Co Hiong akan menggunakan rencana busuk apa terhadap kita?"

"Ku pikir untuk sekarang ini, Co Hiong masih belum punya rencana busuk apa pun," sahut Bee Kun Bu juga berbisik

Ketika mereka bertiga sedang berbisik-bisik, mendadak terdengar suara langkah ringan terus bergeser, maka seketika juga mereka berhenti berbisik

itulah suara langkah Co Hiong dan Kai Thian Kauw Cu, Ternyata mereka menuju pintu gua, Setelah itu, terdengar pula suara siulan Kai Thian Kauw Cu. Ketika mendengar suara siulan itu, Pek Yun Hui terkejut dan segera berbisik

"Sepertinya Kai Thian Kauw Cu berdiri di hadapan pintu gua."

"Mari kita ke sana!" ajak Sie Bun Yun.

Mereka bertiga bergandengan tangan menuju pintu gua, dan pada waktu bersamaan terdengarlah suara. Krek! Kreeek! Ternyata pintu gua itu mulai dibuka, Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong yang berdiri di depan pintu gua itu, telah bersiap- siap melancarkan pukulan apabila muncul orang yang mencurigakan

"Para anggota, dengarlah baik-baik!" seru Kai Thian Kauw Cu. "Kalian semua boleh ke luar satu persatu, tapi harus menyebut nama dan kedudukan! Bagi yang telah terluka, tidak boleh dipapah, harus berjalan sendiri!"

Setelah Kai Thian Kauw Cu berseru begitu, tak lama kemudian terdengarlah para anggota berjalan ke luar sambil menyebut nama dan kedudukan masing-masing. "Kakak Yun!" bisik Pek Yun Hui. "Kai Thian Kauw Cu menggunakan cara itu, kita harus bagaimana?"

itu memang merepotkan, sebab kita tidak tahu pasti nama para anggota dan kedudukan mereka, Kalau kita sembarangan menyebut, pasti Kai Thian Kauw Cu akan mengetahui sahut Sie Bun Yun.

"Kalau begitu, apakah kita harus diam di sini?" Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Tidak juga," ujar Bee Kun Bu mendadak "Engkau punya akal?" tanya Pek Yun Hui. "Co Hiong telah kehilangan Teng Thian Sin Cin, jadi kita bertiga cukup kuat menghadapinya dan Kai Thian Kauw Cu. sedangkan dia dan Kai Thian Kauw Cu pun tidak akan yakin dapat mengalahkan kita bertiga," sahut Bee Kun Bu menjelaskan "Maksudmu Kai Thian Kauw Cu ingin mengurung kita di dalam gua ini?" tanya Pek Yun Hui cepat "Benar," sahut Bee Kun Bu. "Oh yaf Di dalam gua ini banyak anggota Kai Thian Kauw yang terluka, Apakah yang terluka itu akan di-tinggal begitu saja?" tanya Sie Bun Yun.

"Tentu," sahut Bee Kun Bu lagi. "Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong berhati kejam, maka mereki akan melakukan apa pun."

"Kalau begitu, Kai Thian Kauw Cu memang berniat mengurung kita di dalam gua ini," Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Menurut aku, memang begitulah." Bee Kun Bu juga menarik nafas.

"ltu belum tentu," ujar Sie Bun Yun.

"Kakak Yun, kenapa engkau mengatakan begitu?" tanya Pek Yun Hui heran

Teng Thian Sin Cin berada di dalam gua ini, maka bagaimana mungkin Co Hiong tidak mengambilnya? Tidak mungkin dia akan membiarkan senjata pusaka itu jatuh ke tangan kita," sahut Sie Bun Yun.

"Mungkin Co Hiong tidak berpikir sampai ke situ," ujar Pek Yun Hui.

"Mari kita mundur dulu, setelah itu barulah berunding lagi!" Mereka bertiga berjalan mundur sambil bergandengan tangan.

Kira-kira setengah jam kemudian, suasana di dalam gua tersebut sudah berubah sepi.

"Apakah masih ada orang yang tertinggal di dalam gua?" Suara Kai Thian Kauw Cu.

Tiada sahutan, dan yang terdengar hanya suara ke-luhan dan rintihan Ternyata para anggota yang terluka itu masih belum meninggalkan gua tersebut Akan tetapi, Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong sama sekali tidak mempedulikan mereka, Berselang sesaat, ke dua orang itu tertawa gelak.

"Ha ha ha!" Kemudian terdengar suara seruan Kai Thian Kauw Cu. "Pek Yun Hui, kalian akan terkurung di sini! Nanti kami akan ke mari menengok kalian lagi!"

"Adik Pek!" bisik Sie Bun Yun. "Kinl laatnya kita menerjang ke luar!"

WJanganiH cegah Pek Yun Hui. "Kai Thfan Kauw Cu pasti sudah bersiap siaga, Kita pasti celaka apabila menerjang ke luar!"

"Kauw Cu! jangan tinggalkan kami..." seru para anggota Kai Thian Kauw yang terluka.

Tiada suara sahutan, Yang terdengar hanya suara pintu gua ditutup, yang kemudian disusuloleh suara tawa Kai Thian Kauw Cu dan Co Hiong yang kian menjauh....

*****

Bab ke 29 - Berupaya Meloloskan Diri Dari Gua

Setelah pintu gua itu tertutup, terdengarlah suara cacian para anggota Kai Thian Kauw yang terluka, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu diam saja, berselang sesaat, Pek Yun Hui mulai bersuara.

"Kita nyalakan sebuah obor, lihat bagaimana keadaan di dalam gua ini!"

Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu segera menyalakan beberapa buah obor, dan seketika gua itu jadi terang, Tampak belasan anggota Kai Thian Kauw tergeletak dalam keadaan luka berat Mereka semua memandang Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu dengan penun rasa takut

Pek Yun Hui mendekati mereka, Menggigillah mereka karena mengira Pek Yun Hui akan turun tangan membunuh mereka, Setelah berada di hadapan mereka, Pek Yun Hui tertawa dingin

"Kalian semua bergabung dengan Kai Thian Kauw, hanya karena ingin mengandal pada kepandaian Kauw Cu untuk memusuhi sembilan partai besar Namun di saat kalian terluka parah seperti ini, Kai Thian Kauw Cu malah meninggalkan kalian semua. jadi kini kalian tahu bagaimana hatinya, bukan?"

Para anggota Kai Thian Kauw yang terluka itu diam saja, Namun Pek Yun Hui tahu, saat ini mereka sangat membenci dan mendendam pada Kai Thian Kauw Cu.

"Kalian boleh berlega hati, kami tidak akan membunuh kalian, Namun kalian harus bertobat dan harus segera kembali ke jalan yang benar!" ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "Kalau pun kalian tidak terluka berat, kami juga tidak akan membunuh kalian, yang penting kalian harus bertobat!"

Betapa girang dan terharu para anggota Kai Thian Kauw, setelah mendengar apa yang dikatakan Pek Yun Hui, Mereka semua langsung bersorak sorai walau dalam keadaan luka berat.

"Di antara kalian, siapa yang tahu bagaimana cara ke luar dari gua ini?" tanya Pek Yun Hui.

"Pek Lie Hiap.,." sahut salah seorang dari mereka yang berusia agak tua. "SuIit untuk ke luar dari tempat ini."

"Kenapa?" tanya Sie Bun Yun.

"Sebab gua ini berada di dalam perut gunung, dan hanya ada satu jalan yang menuju ke mari," jawab orangtua itu menjelaskan "Sedangkan jalan itu ditutup dengan tujuh buah pintu besi yang sangat tebal Karena itu, kita sama sekali tiada harapan untuk meninggalkan tempat ini."

Tintu besi itu tidak bisa dibuka?" tanya Bee Kun Bu. "Yaah.,.!" Orangtua itu menarik nafas panjang, "Kai Thian

Kauw Cu punya dua orang kepereayaannya. Tanpa ada

perintah dari Kauw Cu, ke tujuh pintu itu tidak akan dibuka." Bec Kun Bu, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui tertegun Mereka saling memandang dengan kening berkerut-ke-rut, lama sekali barulah Sie Bun Yun membuka mulut

"Adik Pek, lebih baik kita ambil Teng Thian Sin Cin duIu!" "Punya senjata pusaka itu juga pereuma," sahut Pek Yun

Hui sambil tersenyum getir "Kita tidak bisa ke luar."

"Pek Lie Hiap.,." panggil salah seorang yang lain dengan suara lemah. "Aku... aku ingin bicara."

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu langsung memandang orang itu. Ternyata orang itu masih muda dan berwajah hitam

"Engkau mau bicara apa?" tanya Sie Bun Yun.

"Ke dua orang,., ke dua orang kepereayaan Kauw Cu itu ada!ah..." sahut orang itu terputus-putus,"... familiku, Kalau aku bisa bertemu mereka, mungkin... mungkin mereka akan membukakan pintu-pintu besi itu."

"Omong kosong!" bentak orangtua tadi.

"Jangan membentaknya!" tegur Pek Yun Hui. "Apakah kita punya akal untuk memberitahu ke dua orang itu?"

"Pek Lie Hiap, jangan dengar omongan nya!" ujar orangtua itu, "Ke dua orang itu berada di tempat hampir setengah mil dari sini, Bagaimana mungkin mereka itu akan ke mari?

Lagipula mereka tidak bernyali begitu besar untuk membukakan ke tujuh pintu besi itu."

"Kakak Pek!" ujar Bee Kun Bu sambil menarik nafas, "Kelihatannya Co Hiong memang ingin mengurung kita di sini sampai kita mati."

"Aku tidak pereaya!" teriak Sie Bun Yun.

Usai berteriak, Sie Bun Yun langsung melesat ke atas, Ternyata ia mengambil Teng Thian Sin Cin yang tertancap di dinding gua. Ke dua kakinya menginjak pada batu yang menonjol di dinding gua, kemudian melancarkan beberapa pukulan ke arah Teng Thian Sin Cin yang tertancap itu.

Bum! Bum! Bum! Batu yang hancur berhamburan, Ternyata Teng Thian Sin Cin itu menancap sampai ke da!am. Setelah batu-batu di sekitarnya hancur, barulah pangkal senjata itu menongol

Sie Bun Yun memegang pangkal senjata itu, lalu meloncat ke bawah sambil mencabut senjata tersebut

Craaak! Teng Thian Sin Cin telah tereabut dari dinding gua.

Setelah ke dua kaki Sie Bun Yun menginjak tanah, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu segera mendekatinya, dan memperhatikan senjata itu dengan seksama dan kagum.

"Co Hiong licik sekali, namun kali ini dia justru salah perhitungan," ujar Sie Bun Yun. "Aku tidak pereaya, kalau setelah memperoleh senjata ini, kita masih tidak mampu membuka pintu besi itu."

"Kakak Yun!" Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Jangan terlampau yakin!"

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa, "Melubangi sedikit demi sedikit, bukankah akhirnya akan jadi lubang besar?"

"Oh?" Pek Yun Hui menatapnya "Kalau begitu, bolehlah dicoba."

Mereka bertiga mendekati pintu gua, Sie Bun Yun mengangkat Teng Thian Sin Cin, lalu ditusukkan pada pintu gua itu sekuat-kuatnya.

Craak! pintu gua yang terbuat dari besi tebal itu langsung ber!ubang.

"Bagaimana?" Sie Bun Yun tertawa.

Melihat itu, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu merasa girang sekali, Sie Bun Yun mencabut senjata itu, lalu ditusukkannya lagi, Akan tetapi, mendadak wajahnya tampak berubah, dan sekujur badannya bergetar-getar lalu roboh.

Bukan main terkejutnya Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu.

Mereka berdua segera membungkukkan badan sambil memandang Sie Bun Yun.

"Kenapa?" tanya Pek Yun Hui.

"Cepat! Cepat tutup lubang kecil itu!" seru Sie Bun Yun. Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandang,

Kemudian Bee Kun Bu bertanya Iagi. "Memangnya kenapa?"

"Cepat tutup lubang itu, kalau tidak, kita pasti mati!" sahut Sie Bun Yun lagi.

Srrrt! Pek Yun Hui segera merobek ujung bajunya, kemudian menyumbat lubang kecil pada pintu itu.

"Jangan menghadap lubang kecil itu!" seru Sie Bun Yun. Pek Yun Hui mengangguk, lalu memiringkan ba-dannya,

setelah itu barulah menyumbat lubang kecil itu dengan

sobekan bajunya.

MAaaakh...!" Sie Bun Yun menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. "Kecerdasanku masih dibawah Co Hiong! Ternyata dia telah menduga kita akan memperoleh Teng Thian Sin Cin itu, lalu melubangi pintu gua dengan senjata tersebut, maka dia mengatur semacam hawa beracun di luar, apabila pintu gua itu berlubang, hawa beracun itu pasti menerobos masuk."

"Kalau begitu, bagaimana baiknya?" tanya Pek Yun Hui.

"Adik Pek, untung aku cepat menutup pernafasanku, jadi cuma terhisap sedikit hawa beracun itu. Dengan bantuanmu, hawa beracun yang kuhisap itu pasti dapat di desak ke luar," Pek Yun Hui menarik nafas lega, kemudian membantu Sie Bun Yun mendesak ke luar hawa racun yang ada di dalam tubuhnya.

Bee Kun Bu mengambil Teng Thian Sin Cin dari tangan Sie Bun Yun, lalu berjalan mondar-mandir dengan hati kacau balau, Bagaimana keadaan Lie Ceng Loan? Apabila tidak menemukan ular kilat hijau, Lie Ceng Loan jelas tidak akan tertolong, Lalu apa artinya ia hidup di duma.

Akhirnya ia menarik nafas panjang, kemudian duduk di atas sebuah batu dan menatap para anggota Kai Thian Kauw itu, Kelihatannya mereka semua menaruh harapan pada mereka bertiga.

"Kalian semua telah melihat, walau" kami memegang senjata pusaka itu, namun di luar telah dipasang hawa beracun, jadi kita semua sulit untuk meloloskan diri dari sini," ujar Bee Kun Bu pada para anggota Kai Thian Kauw.

"Bee siauhiap, kami sudah melihat itu," sahut orang-tua tadi.

"Di antara kalian, apakah benar tiada seorang pun yang tahu, ada atau tidak jalan lain di dalam gua ini?" tanya Bee Kun Bu.

Para anggota Kai Thian Kauw hanya saling me-mandang, sama sekali tidak mengeluarkan suara, Tiba-tiba mendadak terdengar suara yang sangat lemah, mirip suara rintihan.

"Bee.... Bee siauhiap. "

Bee Kun Bu segera memandang ke tempat suara itu, Tampak seseorang tergeletak di situ, Orang itu berusaha bangun, namun jatuh lagi.

Setelah melihat wajah orang itu, Bee Kun Bu merasa kenal, karena pernah melihatnya di Toan Hun Ya. Dia adalah salah seorang anggota dari sembilan partai besar "Bee.... Bee siauhiap, aku... aku adalah murid Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, partai Hwa San. Apakah... apakah Bee siauhiap masih ingat padaku?"

"Kalau begitu, engkau murid murtad," sahut Bee Kun Bu. "Sebab engkau telah bergabung dengan Kai Thian Kauw."

"Aku,., aku sangat menyesali namun... sudah ter-lambat." Orang itu menarik nafas panjang.

Bee Kun Bu mendekatinya, lalu memeriksa nadinya, Dia sudah lemah sekali dan kelihatannya sudah mendekati ajal.

"Ada urusan apa engkau memanggitku?" tanya Bee Kun

Bu.

"Aku,., aku pernah dipereayai Kauw Cu, Pada suatu hari

aku dengar dari Kauw Cu, bahwa di dalam gua ini terdapat., sebuah terowongan."

"Oh?" Bee Kun Bu girang bukan main. "Di mana terowongan itu?"

Akan tetapi, mendadak sepasang mata orang itu mendelik dan tenggorokannya mengeluarkan suara "Krok", namun masih mampu mengangkat sebelah tangannya ke atas.

Kelihatannya ia menunjuk terowongan tersebut, tapi begitu sebelah tangannya terangkat ingin menunjuk, mendadak turun kembali.

"Kawan. " Bee Kun Bu menggoyang-goyangkan bahunya,

tetapi orang itu sudah tak bernyawa lagi.

Bee Kun Bu memandang Pek Yun Hui, Ternyata gadis itu masih berusaha mendesak ke luar racun yang ada di tubuh Sie Bun Yun, Kemudian Bee Kun Bu memandang anggota Kai Thian Kauw yang lain, lalu berkata.

"Ka!ian semua pasti sudah mendengar apa yang dikatakan orang itu, bukan?"

Mereka semua mengangguk "Oleh karena itu, kita masih mempunyai harapan untuk meloloskan diri dari sini Jadi kalian jangan putus asa!"

Setelah Bee Kun Bu mengatakan begitu, para anggota Kai Thian Kauw mulai tampak bersemangat

"Kini kita sudah tahu, di dalam gua ini terdapat sebuah terowongan, hanya saja kita tidak tahu di mana terowongan itu, Tapi kalau kita cari dengan teliti, pasti akan ketemu, Maka sekarang kalian harus mengobati luka masing-masing, Apabila bisa menemukan terowongan itu, kita akan meloloskan diri bersama dari gua ini." ujar Bee Kun Bu.

Seusai berkata demikian, Bee Kun Bu mendekati pintu gua, lalu memeriksa dengan cermat, bahkan tangannya meraba-raba ke sana ke mari pada dinding gua pula.

Akan tetapi, walau sudah setengah jam lebih, ia masih belum menemukan terowongan yang dimaksud, Padahal setiap batu yang agak menonjol pada dinding gua telah diperiksanya dengan teliti.

Bee Kun Bu berdiri termangu-mangu. Berselang sesaat ia mulai memeriksa lagi, tetapi, tetap tidak menemukan terowongan rahasia itu, Bee Kun Bu mengerutkan kening, mungkinkah di dalam gua ini tidak terdapat terowongan rahasia? Orang itu mengatakan ada, mungkin cuma khayalan di saat mendekati ajal.

Namun itu tidak mungkin, Sebab orang itu masih mengenali Bee Kun Bu, jadi tidak mungkin orang itu omong ngawur Setelah berpikir demikian, Bee Kun Bu mulai memeriksa ke sana ke mari lagi.

Tapi dia tetap tidak menemukan sesuatu, Pada saat bersamaan, beberapa anggota Kai Thian Kauw yang sudah agak sembuh, mulai memeriksa ke sana ke mari, Boleh dikatakan seluruh gua itu telah mereka periksa, namun terowongan rahasia tetap tidak dapat ditemukan.

Bee Kun Bu berdiri mematung dengan kening ber-kerut- kerut, kelihatannya sedang berpikir keras. Semua dinding gua telah diperiksa, yang beIum... hanya langit-langit dan lantai gua. Berpikir di situ, Bee Kun Bu tampak bersemangat

"Kalian periksa lantai gua ini!" perintah Bee Kun Bu pada orang-orang yang masih memeriksa ke sana ke mari itu.