-->

Bangau Sakti Jilid 42

 
Jilid 42

Mencari Ular Kilat Hijau Setetah mereka meninggalkan Kwat Cong San, hari sudah mulai senja, Tak seberapa lama kemudian, mereka bertiga sudah tiba di kota kecil itu.

Akan tetapi, keadaan kota kecil itu tampak aneh sekali, Biasanya suasananya ramai, tapi hari ini begitu sepi, tidak terlihat seorang pun berada di jalan. Bahkan semua pintu rumah tertutup rapat, dan sesekali terdengar suara tangisan anak kecil di dalam rumah, Yang mengherankan yakni tidak terdengar suara gonggongan anjing.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu sudah sampai di depan sebuah rumah penginapan Pintu rumah penginapan itu pun tertutup rapat Sie Bun Yun menjulurkan tangannya untuk mengetuk pintu itu, namun tiada suara sahutan dari dalam TeYpaksalah Sie Bun Yun mengetuk lebih keras, namun tetap tiada suara sahutan

Kreeek! Pintu rumah di sebelah rumah penginapan itu terbuka, Tampak seorang tua menjulurkan kepalanya melongok ke luar Seketika mereka bertiga mengarahkan pandangan ke pada nya.

"Paman! Apa yang terjadi di kota ini?" tanya Sie Bun Yun.

Orang tua itu menggoyang-goyangkan tangannya sambil memandang mereka bertiga.

"Apakah kalian bertiga pelancong? Cepatlah kalian pergi!" "Benar." Sie Bun Yun" mengangguk "Kami ingin bermalam

di rumah penginapan ini, tapi pintu rumah penginapan ini tidak

dibuka."

"Semua penghuni rumah penginapan itu telah mati." Orang tua itu memberitahukan dengan suara gemetar

"Apa?" Sie Bun Yun terkejut "Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi di dalam penginapan ini?"

"Mereka semua mati kemarin malam Di kota ini telah muncul siluman." sahut orang tua itu memberitahukan dengan wajah pucat pias, "Berkelebat cahaya hijau, orang pasti mati dengan wajah menghijau, Dalam dua hari ini, sudah puluhan orang mati, Kalian cepatlah pergi, jangan sampai mati di kota inil"

ketika mendengar itu, Sie Bun Yun terkejut dan girang, Terkejut karena kematian penduduk kota kecil itu, dan girang lantaran tahu bahwa ular kilat hijau masih berada di kota kecil tersebut, Namun penduduk setempat malah mengira bahwa itu adalah siluman, maka tiada seorang pun berani ke luar dan pintu pun ditutup rapat.

"Paman!" Sie Bun Yun memberitahukan "Kami ke mari justru karena urusan ini."

"Apa?" Orang tua itu terbelalak "Apakah kalian sudah bosan hidup?"

Kalau Sie Bun Yun menjelaskan tentang ular kilat hijau, tentunya orang tua itu tidak akan mengerti Oleh karena itu ia berkata.

"Paman harus tahu, kami bertiga sangat mahir menangkap segala macam siluman, maka kami ke mari khususnya untuk membasmi siluman itu."

Orang tua itu tampak kurang pereaya, Namun ucapan Sie Bun Yun itu sangat keras, sehingga tetangga di situ pun mendengarnya, Mereka membuka pintu sedikit sambil melongok ke luar Tak lama kemudian, seluruh penduduk kota kecil itu pun mengetahui akan hal tersebut

Berselang beberapa saat kemudian, tampak dua orang tua berpakaian rapi menghampiri mereka bertiga, lalu menjura

"Sam Wie Hoatsu (Tiga Penakluk Siluman) datang dari mana?" tanya salah seorang tua itu.

"Kami bukan penakluk siluman, tapi kami bertiga mampu membasminya," sahut Sie Bun Yun.

"Oooh!" Ke dua orang tua itu manggut-manggut gembira, "Dalam dua hari, penduduk kota ini selalu was-was." "Kapan siluman itu muncul?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Setetah hari mulai gelap," jawab orang tua itu memberitahukan "Begitu tampak berkelebat cahaya hijau, seketika nyawa orang pun melayang-"

Saat ini, hari memang sudah mulai gelap, Pek Yun Hui memandang ke dua orang tua itu, kemudian mengerutkan kening seraya berkata.

"Harap Paman berdua sudi memberitahukan pada penduduk di sini, harus menutup pintu dan jendela, dan tidak boleh ke luar sama sekali."

"Ya." Ke dua orang itu berjalan pergi.

Tak lama kemudian terdengarlah suara "Blam! Blam!" Semua jendela rumah penduduk setempat sudah tertutup rapat

Tidak disangka sama sekali!" ujar Bee Kun Bu sambil menarik nafas, "Begitu tiba di kota kecil ini, justru kota kecil ini telah tertimpa musibah!"

Itu bukan kehendak kita, mau bilang apa." Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Mudah-mudahan ular kilat hijau itu masih ada di sini, jadi malam ini kita harus menangkapnya."

Tapi. " Bee Kun Bu mengerutkan kening, "Bagai-mana

cara kita menangkapnya?"

"Bagaimana kalau kita pakai jala?" tanya Pek Yun Hui sambil memandang Sie Bun Yun.

"Boleh juga pakai cara itu." Sie Bun Yun manggut-manggut Sie Bun Yun lalu mengetuk pintu rumah salah seorang

penduduk ia meminjam sebuah jala, Kebetulan orang itu punya sebuah jala yang tidak dipakai, maka diberikan padanya. Setelah itu, Sie Bun Yun juga mencari sebatang bambu yang agak pendek Maksudnya kalau ular kilat hijau tertangkap akan disimpan di dalam lubang bambu itu.

Mereka bertiga menunggu di depan sebuah kuil tua, namun Bee Kun Bu mengerutkan kening, kemudian berkata.

"Kalau kita menunggu di sini, tidak akan melihat ular itu muncul di tempat jauh, Maka alangkah baiknya kalau kita menunggu di atap kuil ini.

Benar." Sie Bun Yun manggut-manggut

Mereka bertiga segera meloncat ke atas atap kuil, dan menunggu di situ sambil menengok ke empat penjuru

sementara hari sudah semakin gelap, Hati mereka mulai tegang, mengharapkan kemunculan ular kilat hijau itu.

Akan tetapi, hingga larut malam, ular kilat hijau sama sekali tidak muncul

Setelah tengah malam, mereka bertiga bersiap-siap dan menghimpun Lweekang.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak terdengar suara suling melengking aneh di kejauhan Suara suling itu berasal dari pinggir kota.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu merinding dan tertegun ketika mendengar suara suling itu.

"Lihatlah itu!" seru Sie Bun Yun mendadak sambil menunjuk ke depan.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu segera memandang ke sana, Tampak berkelebat cahaya hijau menuju tempat suara suling, kemudian berhenti di tempat itu.

sementara suara suling itu terus melengking bagaikan suara pekikan setan iblis, bahkan sangat menusuk telinga.

Tampak cahaya hijau berputar-putar, sungguh indah dipandang dari kejauhan. Bu. "Mari kita pergi ke sana!" ajak Sie Bun Yun.

"Kenapa cahaya hijau itu terus berputar?" tanya Bee Kun

"Mungkin ada hubungannya dengan suara suling aneh itu," sahut Sie Bun Yun.

"Kalau begitu, sudah pasti orang itu yang meniup suling untuk menangkap ular kilat hijau." ujar Pek Yun Hui. "Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan sampai orang itu melihat kita!"

Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengangguk, lalu melesat ke tempat itu, sedangkan cahaya hijau masih terus berputar

Tak seberapa lama kemudian, mereka bertiga sudah sampai di tempat tersebut, dan berhenti dalam jarak belasan depa lalu bersembunyi di balik sebuah pohon.

Mereka melihat cahaya hijau masih terus berputar, tapi kian lama putaran nya kian bertambah lamban. Baru-lah mereka dapat melihat jelas bahwa ular kilat hijau memang aneh sekali bentuknya

panjang ular itu setengah meteran. Kepalanya berbentuk segi tiga lancip, badannya pipih dan cahaya hijau itu terpancar dari sisik-sisiknya.

Tak jauh dari tempat itu, tampak seseorang duduk di atas sebuah batu sedang meniup suling yang aneh pula bentuknya, mirip suling India, Siapa orang itu, tidak lain adalah orang yang pernah bertarung dengan Bee Kun Bu, atau pemilik ular kilat hijau.

"Cara bagaimana kita turun tangan menangkap ular itu?" tanya Bee Kun Bu berbisik.

"Bagaimana kalau kita tunggu sampai orang itu berhasil menangkapnya, barulah kita turun tangan terhadap orang itu?" Sie Bun Yun balik bertanya seakan mengusulkan "Tidak mungkin dia akan memberikan ular itu pada kita." Bee Kun Bu menggelengkan kepala.

"Aku dan Kakak Yun akan bereakap-cakap dengan dia, engkau boleh cari kesempatan untuk mencuri ular kilat hijau." ujar Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu berpikir sejenak sebetulnya itu merupakan perbuatan yang rendah, namun apa boleh buat Mereka harus menolong Lie Ceng Loan, maka ia mengangguk.

sementara suara suling semakin melengking tinggi, namun gerakan ular kilat hijau semakin lamban. Men-dadak orang itu berhenti meniup su!ingnya, dan membentak keras.

seketika juga ular kilat hijau berhenti berputar, tapi sekujur badannya tetap memancarkan cahaya hijau.

Setelah ular kilat hijau berhenti berputar, orang tersebut bangkit berdiri lalu selangkah demi selangkah mendekati ular kilat hijau dengan wajah serius.

Tiba-tiba ular kilat hijau mendongakkan kepalanya. Namun begitu orang tersebut meniup sulingnya tiga kali, ia langsung menunduk kembali Orang itu menarik nafas dalam-dalam, dan tampak keringat bereucuran di kening-nya.

Pada waktu bersamaan, Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun teringat suatu masalah, dan seketika juga Bee Kun Bu berbisik

"Ular kilat hijau sangat lihay, Bagaimana kalau orang itu menangkapnya lalu melepaskannya lagi untuk mencelakai kita?"

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui membungkam, lama sekali barulah Pek Yun Hui membuka mulut

"Mudah-mudahan dia tidak berani melepaskannya! Sebab kalau dilepaskan, sulit baginya untuk menangkap kembali."

Bee Kun Bu ingin mengatakan sesuatu, namun di saat bersamaan orang itu memandang ke tempat mereka bersembunyi Setelah itu, barulah ia memalingkan ke-palanya, dan dengan berhati-hati sekali melangkah maju.

Akan tetapi, begitu orang itu melangkah maju, ular kilat hijau mendongakkan kepala lagi, dan menjulurkan lidahnya yang kehijau-hijauan, bahkan menyemburkan racunnya.

Orang itu tampak tegang sekali ia cepat-cepat meniup sulingnya beberapa kali, dan karena itu ular kilat hijau menundukkan kepala kembali

Setelah berada jarak dua depaan, mendadak orang itu melesat maju sambil menontok ular kilat hijau dengan sulingnya. Pada waktu bersamaan, orang itu pun memandang ke tempat persembunyian mereka.

"Celaka!" seru Pek Yun Hui perlahan.

Baru juga Pek Yun Hui berseru, orang itu mengarahkan sulingnya ke tempat mereka.

seketika juga tampak cahaya hijau meluncur laksana kilat ke arah mereka, bukan main cepat nya!

Pek Yun Hui memang sudah tahu adanya gelagat tidak beres, namun tidak menduga kalau ular kilat hijau begitu cepat meluncur ke arah mereka, Maka ia segera melancarkan pukulan dengan segenap tenaganya ke arah cahaya hijau.

Angin pukulannya merontokkan dedaunan di tempat tersebut Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan itu.

Cahaya hijau terpental ke tempat semu!a, justru kepala ular kilat hijau mengarah ke orang itu, KeIihatan-nya ular kilat hijau sudah siap menyerang orang tersebut

Betapa terkejutnya orang itu, ia segera meniup sulingnya untuk menundukkan ular kilat hijau.

Setelah cahaya hijau terpental, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu menarik nafas lega. seandainya Pek Yun Hui terlambat melancarkan pukulan, kini mereka bertiga mungkin sudah tergeletak terkena racun ular kilat hijau.

sementara ular kilat hijau sudah diam di tempat, barulah orang itu bersuara.

"Sobat dari mana?" tanyanya dingin.

Pek Yun Hui memberi isyarat pada Bee Kun Bu, lalu menarik Sie Bun Yun ke luar dari tempat persembunyian mendekati orang itu, namun tidak berani terlampau dekat pada ular kilat hijau.

"Anda stapa? Kita tidak saling mengenal kenapa Anda ingin mencelakai kami dengan cahaya hijau itu? sebetulnya makhluk apa cahaya hijau itu?" tanya Pek Yun Hui.

Sebetulnya orang itu kenal nama Pek Yun Hui, namun tidak kenal orangnya, Maka ia tidak tahu kalau yang berdiri di hadapannya justru Pek Yun Hui.

"Mumpung kalian berdua masih belum terluka, kenapa masih belum mau pergi?" Orang itu menatap mereka dengan dingin sekali

"Anda ingin mencelakai kami tanpa cebab, dan kini malah memaksa kami pergi?" sahut Sie Bun Yun dingin

"Kalau tidak segera pergi, mungkin kalian akan tergeletak jadi mayat!" ujar orang itu dingin.

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun saling memberi isyarat, dan seketika Sie Bun Yun memegang jala yang diikatkan di pinggangnya.

"Omong kosong!" bentak Pek Yun Hui sambil menghunus pedangnya, sekaligus menyerang dada orang itu.

Orang itu mengeluarkan pekikan aneh, lalu meloncat mundur Ketika orang itu meloncat mundur, Pek Yun Hui melesat ke depan samlfft melancarkan tiga pukulan tangan kirinya, Pukulan itu disusul pula dengan sabetan-sabetan pedang, sehingga orang itu terkurung dalam pukulan dan sinar pedang, Menyaksikan kejadian itu, Sie Bun Yun tidak menyia- nyiakan keaempataa, ia langsung saja menjala ular kilat hijau.

Semua itu, hanya terjadi dalam waktu aefcejap. sementara orang itu telah berhasil beffcolit, bahkan juga balas menyerang Pek Yun Hui dengan suling anehnya.

"Berhenti!" bentak orang itu.

Bersamaan dengan terdengarnya bentakan orang itu, Sie Bun Yun berhasil menjala ular kilat hijau.

Bagaimana mungkin Pek Yun Hui berhenti sebaliknya ia malah menyerangnya dengan jurus Pek Hok Khai Peng (Bangau Putih Mengembangkan Sayap), pada waktu bersamaan, terdengar suara teriakan Sie Bun Yun.

"Haaah..."

Pek Yun Hui terkeiut, dan langsung meloncat mundur sambil memandang ke arah Sie Bun Yun dengan ekor matanya.

Tampak Sie Bun Yun terus melancarkan pukulan ke depan untuk membendung cahaya hijau yang meluncur ke arahnya.

Orang yang bertarung dengan Pek Yun Hui itu melangkah maju beberapa langkah. Namun baru fa mau meniup lulingnya, sekonyong-konyong cahaya hijau meluncur pergi bagaikan meteor, dan dalam sekejap cahaya itu ludah hilang dari pandangan

"Kakak Yunl" Pek Yun Hui mendekatinya "Engkau tidak apa-apa?" tanyanya.

Tidak apa-apa," sahut Sie Bun Yun.

"Kok engkau tidak berhasil menjala ular itu?" tanya Pek Yun HuT heran.

"Lihatlah!" Sie Bun Yun menunjuk jala itu.

Pek Yun Hui terkejut ketika melihat jala itu telah robek tidak karuan. "Hm!" dengus orang itu dingin, "Stsik ulat kilat hijau sangat tajam, bagaimana mungkin kalian berhasil menjala nya?"

Bee Kun Bu yang bersembunyi itu pun telah menyaksikan kejadian itu, Ketika melihat ular kilat hijau telah kabur, ia ke luar dari tempat persembunyiannya.

Begitu melihat Bee Kun Bu, air muka orang itu berubah, namun kemudian tertawa dingin seraya berkata.

"Kata orang kalian semua adalah pendekar-pendekar muda yang gagah berani, kelihatannya memang ada benarnya juga."

Terimakasih atas pujian Anda!" sahut Sie Bun Yun dingin.

"Kalian sudah tahu asal-usul ular ki!at hijau, tentunya juga tahu empedunya dapat memunahkan racunnya, bu-kan?" ujar orang itu, lalu mendadak tertawa gelak.

"Kenapa engkau tertawa ?" tanya Bee Kun Bu gusar "Aku mentertawakan usaha kalian itu akan sia-sia," sahut

orang itu dan masih tertawa.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu tertegun mendengamya, dan saling memandang.

"Kini ular kilat hijau telah kabur, kenapa kalian tidak pergi mengejarnya?" tanya orang itu sambil tertawa dingin

"Kami pasti akan pergi mengejarnya," sahut Bee Kun Bu. "Bagus! Bagus! Kalau begitu, silakan kalian cepat-cepat

pergi mengejarnya! Saat ini, dia sudah berada puluhan mil jauhnya, cepatlah kalian kejar! Kalau tidak, nyawa Lie Ceng Loan pasti akan melayang!" ujar orang itu sambil tertawa- tawa.

Bee Kun Bu sudah dalam keadaan kesal dan berduka, Maka ketika orang tersebut berkata begitu, tanpa banyak bicara lagi ia langsung menyerangnya dengan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Bertaburan), kemudian disusul lagi dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi Mulai Mengembang) dan jurus Ciau Ceh Lam Hai (Ombak Laut Selatan Menderu).

Orang itu tidak berkelit, dan segera menggerakkan suling anehnya untuk menangkis serangan-serangan Bee Kun Bu.

Trang! Trang! Trang! Tangkisannya membuat Bee Kun Bu terdorong ke belakang. Orang itu tidak mau menyerang, melainkan hanya menggerak-gerakkan ba-dannya.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tahu, bahwa orang itu ingin melesat pergi, maka secepat kilat mereka bertiga langsung menghadang dari tiga jurusan, sehingga orang itu terkurung di situ.

"Ha ha ha!" Orang itu tertawa gelak. Tidak sampai dua bulan aku berada di Tionggoan, sudah dengar bahwa kalian mengandal pada Kui Goan Pit Cek untuk malang melintang di rimba persilatan! Kini memang terbukti begitu!"

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Setelah partai Thian Liong roboh, memang banyak orang membenci kami!"

"ltu tidak juga!" Orang itu tertawa dingin, "Buktinya, aku sama-sama menginap dalam satu rumah penginapan dengan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, aku tidak cari gara-gara dengan mereka berdua, tapi sebaliknya mereka berdua malah mencuri barangku! itu kenapa?"

Wajah Bee Kun Bu langsung memerah dan mulutnya membungkam ketika mendengar ucapan orang itu.

"Eh?" Sie Bun Yun tertawa, "Anda sungguh tak tahu malu!" "Apa?" Orang itu tampak gusar sekali. "Siapa yang tak

tahu malu?"

"Tentunya Anda!" sahut Sie Bun Yun sambil me- nudingnya, "Engkau ingin membawa ular kilat hijau ke Kwat Cong San untuk mencelakai kami, untung saudara Bee dan Nona Lie mengetahuinya, maka mencuri kantong suteramu! Nah, bukankah Anda tak tahu malu?"

"Hm!" Orang itu cuma bisa mendengus.

Sie Bun Yun memandang Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu, Mereka bertiga lalu melangkah maju merapatkan diri mengurung orang itu.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu memiringkan pedang masing-masing ke bawah, KeUhatannya mereka sudah siap menyerang orang itu dengan jurus yang mematikan

Orang itu berkepandaian tinggi, maka begitu melihat cara mereka berdiri, ia sudah tahu bahwa apabila dirinya bergerak, mereka pasti menyerangnya dengan jurus-jurus yang mematikan Oleh karena ltu, ia tidak berani sembarangan bergerak, cuma memandang mereka dengan dingin sekali

"Kalian bertiga ingin mengeroyokku?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

"Kami bertiga memang mengandal pada ilmu Kui Ooan Plt Cek untuk malang melintang di rimba per-silatanl Kalaupun kami bertiga mengeroyokmu, itu juga tidak ipa-apa, sahut Sie Bun Yun sambil tertawa dingin.

Wajah orang itu langsung berubah, sedangkan Bee Kun Bu memandang Sie Bun Yun dengan tidak mengerti

"Saudara Sie Bun "

"Saudara Bee, aku mengerti maksudmu," potong Sie Bun Yun cepat.

Sie Bun Yun adalah murid Ku Ciok Sianjin, tergolong di antara sesat dan lurus, Maka tidak heran kalau pemuda itu berkelakuan agak kesesat-sesatan.

"Saudara Sie Bun.,,." Bee Kun Bu ingin mengatakan sesuatu, tapi keburu dicegah Pek Yun Hui.

"Adik Kun Bu, engkau diam saja!" Bee Kun Bu mengangguk ia sadar bahwa Sie Bun Yun berbuat begitu tentunya ada suatu sebab. Lagipula ia masih ingat keadaan Lie Ceng Loan yang sedang sekarat di gua Thian Kie. Karena itu, ia cuma menarik nafas panjang tanpa bersuara lagi.

"Sobat!" Sie Bun Yun tertawa dingin lagi. "Anda tidak perlu cemas!"

"Cemas apa?" Orang itu tertawa paksa.

"Aku tahu ilmu silat Anda berasal dari Arabia, amat lihay dan aneh. "

Ketika Sie Bun Yun berkata sampai di situ, air muka orang itu langsung berubah.

"Engkau,., engkau siapa? Kok tahu asal usulku?" tanyanya heran.

padahal mereka bertiga cuma menduga, Sie Bun Yun berkata begitu cuma untuk memancing, namun orang itu malah mengakuinya.

Tentunya kami tahu asal usulmu!" Sie Bun Yun sengaja tersenyum misterius, "Bukankah Anda ingin menuntut balas dendam Souw Peng Hai?"

"Kalau ya kenapa?" tanya orang itu dingin.

"Kalau benar, pertanda Anda adalah orang yang tak tahu kebenaran!" Sie Bun Yun menudingnya, "Apabila Anda ingin menuntut balas itu, pasti roboh di tangan sembilan partai besar!"

Kelihatannya kegusaran orang itu sudah memuncak ia mendadak menggerakkan suIing anehnya ke arah dada Sie Bun Yun.

Akan tetapi, di saat bersamaan, Pek Yun Hui membentak nyaring sambil menyerang punggungnya. sedangkan Sie Bun Yun sama sekali tidak bergerak, malah tersenyum-senyum sambil memandang orang itu. Karena mendengar ada desiran di belakangnya, maka orang itu langsung menggerakkan suling. anehnya ke belakang, namun Pek Yun Hui telah merubah jurusiiya.

Serrrt! Serrrt! Pakaian orang itu tersobek oleh ujung pedang Pek Yun Hui.

Orang itu berdiri tertegun di tempat, sedangkan Pek Yun Hui menyurut mundur sambil tersenyum dingin.

"Kalau engkau ingin bertempur dengan kami, malam ini engkau pasti jadi mayat di tempat init" ujar Sie Bun Yun sambil tersenyunv

"Hml" dengus orang itu.

"Tahukah engkau ilmu pedang apa yang paling Ii-hay?" tanya Sie Bun Yun mendadak

"llmu pedang Sin Hap Kiam!" sahut orang itu.

"Nona Pek ini telah mencapai tingkat itu, Mampukah engkau menangkis ilmu pedang itu?" tanya Sie Bun Yun sambil tersenyum-senyum.

"Belum tentu tidak mampu!" sahut orang itu dengan air muka berubah.

"Berarti engkau tidak berani memastikannya! Ya, kan?" Sie Bun Yun menatapnya.

Orang itu diam dan tampak tertegun.

"Mau apa kalian mengurung diriku?" tanyanya kemudian dengan kening berkerut

"Kami ingin menasihatimu dan sekaligus menghendaki bantuanmu!" sahut Sie Bun Yun.

"Oh? Ha ha!" Orang itu tertawa "Katakanlah!"

"Souw Peng Hai bisa roboh begitu, itu karena ulahnya sendiri!" ujar Sie Bun Yun perlahan. "Mengenai kematiannya di gunung Altai Taysan, itu masih merupakan suatu teka-teki!" "Engkau jangan omong kosong!" bentak orang itu.

"Apakah engkau menganggap kami yang membunuhnya

?" tanya Sie Bun Yun. "Tidak salah!" "Siapa?"

"Na Siao Tiap!"

"Engkau dengar dari siapa?"

"Aku dengar dari.-." ucapan orang itu berhenti mendadak "Lanjutkan!" desak Sie Bun Yun.

"Orang yang memberitahukan padaku itu, melarangku menyebut namanya, maka aku tidak mau melanggar janji!" lanjut orang itu.

Mungkinkah Souw Hui Hong? Pikir Sie Bun Yun. Kalau benar dia, kenapa harus melarang orang itu menyebut namanya? itu berarti bukan Souw Hui Hong.

Lalu siapa? Apakah. Co Hiong? Mengenai kematian

Souw Peng Hai, memang tiada seorang pun yang tahu, Namun karena Na Siao Tiap saat itu menjaga di depan gua Sam Im Sian Hu, otomatis dia menjadi tertuduh.

sedangkan Co Hiong memberitahukan pada orang itu, bahwa Na Siao Tiap yang membunuh Souw Peng Hai, tentunya ada kaitan pula dengan Co Hiong, Kini Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun telah berpikir sampai di situ.

"Sekalipun engkau tidak menyebutkan aku pun sudah tahu siapa orang itu!" ujar Sie Bun Yun.

"Oh?" Orang itu mengerutkan kening, "Bagaimana engkau bisa tahu?"

"Tentunya aku tahu!" sahut Sie Bun Yun serius. "Jangan membual! Coba katakan kalau kau tahu!" Orang itu melotot

"Ha ha!" Sie Bun Yun semakin yakin bahwa orang yang memberitahukan itu pasti Co Hiong, "Aku tidak perlu beritahukan! Kita cukup tahu dalam hati saja!"

"Cepat beritahukan!" desak orang itu.

"Baik!" Sie Bun Yun manggut-manggut, "Orang itu bernama Co Hiong!"

Setelah Sie Bun Yun menyebut nama tersebut, wajah orang itu tampak berubah.

"Bagaimana?" Sie Bun Yun tertawa, "Tidak salah kan?" "Hm!" dengus orang itu, "Tadi engkau masih kelihatan

ingin mengatakan sesuatu, katakanlah!"

"Kalau engkau tidak menyelidiki secara jelas tentang kematian Souw Peng Hai, sebaliknya malah mau berniat menuntut balas, itu akan berakibat fata! bagimu." ujar Sie Bun Yun sungguh-sungguh, "Mengenai kematian Souw Peng Hai dan ke mana pula Na Siao Tiap, hanya Lie Ceng Loan yang bisa menjelaskan padamu!"

"Sungguh?" Orang itu mengerutkan kening.

Tentunya sungguh!" sahut Sie Bun Yun sambil tertawa, "Engkau tidak bisa melawan kami, untuk apa aku membohongimu?"

"Oh?" Air muka orang itu terus berubah tak menentu, "Engkau masih ingin mengatakan apalagi?"

"Mungkin engkau belum tahu bagaimana perlakuan Lie Ceng Loan terhadap orang, bukan?" Sie Bun Yun menatapnya.

"Aku sudah mendengar, dia seorang gadis yang berhati polos dan bajik!" sahut orang itu. "ltulah sebabnya kami ingin minta bantuanmu!" ujar Sie Bun Yun, "Selamatkan nyawa Lie Ceng Loan, kami pasti berterimakasih padamu! Bahkan engkau pun akan mengetahui tentang kematian Souw Peng Hai!"

"Ular kilat hijau telah kabur, maka aku tidak bisa bantu apa-apa," sahut orang itu sambil menggelengkan kepala.

"Apakah engkau tidak membawa empedu ular itu?" tanya Sie Bun Yun.

"Engkau kira begitu gampang menangkap ular kilat hijau?" Orang itu tertawa dingin, "Kami tahu cara menangkap ular itu dari leluhur, tiga generasi menurun, cuma dapat menangkap dua ekor, jadi bagaimana mungkin aku membawa empedu ular itu?"

"Asal engkau bersedia membantu, kita boleh pergi mencari ular itu!" sela Pek Yun Hui. "Bukankah engkau tahu bagaimana cara menangkapnya?"

"Omong kosong!" Orang itu tertawa dingin, "Dia mati atau hidup ada urusan apa denganku?"

Tutup mulutmu!" bentak Bee Kun Bu gusar

"Maaf!" ucap orang itu. "Aku mau mohon diri, harap kalian minggir!"

"Eh?" Sie Bun Yun menatapnya, "Engkau mau pergi ke mana?"

"Aku mau pergi ke mana, itu urusanku, engkau tidak perlu tahu!" sahut orang itu dingin.

"Sekalipun engkau tidak bilang aku pun sudah tahu!" ujar Sie Bun Yun serius.

"Oh?" Orang itu mengerutkan kening, "Engkau tahu aku mau pergi ke mana?"

Tentunya mau pergi menangkap ular itu, bukan?" Sie Bun Yun tersenyum. "Kalian harus tahu, ular kilat hijau tidak bisa ditangkap lagi!" Orang itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh, ya?" Sie Bun Yun tersenyum, "Kalau begitu, engkau boleh pergi sekarang!"

"Saudara Sie Bun " Bee Kun Bu terbelalak

"Adik Kun Bu!" Pek Yun Hui menatapnya sambil memberi isyarat "Jangan banyak omong!"

Bee Kun Bu manggut-manggut Orang itu tertawa dingin beberapa kali, lalu melesat pergi.

"Saudara Sie Bun!" ujar Bee Kun Bu setelah orang itu pergi. "Dia sudah kabur, kita harus bagaimana?"

"Legakanlah hatimu!" sahut Sie Bun Yun mem- beritahukan, "Orang itu tidak kabur, melainkan pasti pergi menangkap ular kilat hijau."

Tapi. " Bee Kun Bu mengerutkan kening, "Tapi arah yang

ditujunya berlawanan dengan arah ular kilat hijau."

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun menepuk bahunya, "Engkau terlampau jujur, sama sekali tidak tahu akan kelicikan orang."

"Maksudmu?" Bee Kun Bu tidak mengerti

"Dia melesat ke arah lain, itu hanya untuk mengelabui kita." Sie Bun Yun menjelaskan Tapi nanti dia pasti membelok ke arah ular kilat hijau, Nah, kita me-nguntitnya, Tapi kali ini kita harus lebih berhati-hati, jangan sampai dia melihat kita, Setelah dia berhasil menangkap ular kilat hijau dan sudah dimasukkan ke dalam kantong suteranya, barulah kita cari akal untuk mencurinya!"

"Saudara Sie Bun " Bee Kun Bu menarik nafas, "Engkau

tidak usah menghiburku itu tipis sekali ke-mungkinannya."

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun tersenyum getir "Kita menuruti takdir saja!" Bee Kun Bu diam Kemudian mereka bertiga melesat pergi menuju arah ular kilat hijau dengan hati-hati sekali.

*****

Bab ke 21 - Mencuri Ular Kilat Hijau Bertemu Co Hiong Setelah matahari terbit, mereka bertiga sudah melakukan

perjalanan lima puluhan mil, lalu bersembunyi di balik sebuah pohon

Berselang beberapa saat kemudian, terdengar suara derap kaki kuda, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu segera menengok ke sana, Tampak seekor kuda sedang berlari cepat, dan tak lama kuda itu sudah melewati mereka bertiga, Yang menunggang kuda itu tidak lain adalah orang yang mereka tunggu.

Sesudah kuda itu berlari agak jauh, barulah mereka menguntit dari belakang, Hampir seharian mereka bertiga terus menguntit orang itu.

Kadang-kadang orang itu menghentikan kudanya, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu langsung bersembunyi Kalau kuda itu berlari lagi, barulah mereka bertiga menguntit dengan hati-hati sekali.

Setelah malam tiba, orang itu membelokkan kudanya ke arah lain, lalu berputar-putar di suatu tempat Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu dengan sabar menunggunya sampai hari mulai terang.

Orang itu tidur di atas pohon, sedangkan Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu bergilir beristirahat di tempat persembunyian

Orang itu tidur hampir seharian Ketika hari mulai gelap, barulah orang itu meloncat turun dari pohon, lalu memungut batu-batu kecil, Ternyata ia memburu kelinci hutan dengan batu-batu kecil itu. Setetah berhasil menyambit beberapa ekor, ia menyalakan api untuk menunggang kelinci-kelinci itu. Tak seberapa lama kemudian, sudah tereium bau yang amat sedap, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mengira, orang tersebut ingin menyantap kelinci panggang itu, namun ternyata tidak. Kelinci panggang itu dibungkusnya dan berangkatlah orang itu dengan menunggang kuda.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu menguntitnya lagi, Ketika sampai di sebuah lembah, orang tersebut menghentikan kudanya, Sungguh mengherankan ternyata tempat orang itu berputar-putar semalam

Orang itu meloncat turun dari punggung kuda lalu menambatkan kudanya di sebuah pohon, Setelah itu ia membawa kelinci panggangnya ke depan sebuah gua kecil.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mulai tegang ketika melihat ia berhenti di depan gua kecil tersebut

Orang itu menaruh kelinci panggang di depan gua kecil itu, dan tak lama kemudian, tampaklah cahaya hijau.

Begitu melihat cahaya itu, giranglah mereka bertiga, yang bersembunyi di balik sebuah batu besar Kali ini, mereka bertiga tidak berani bereakap-cakap lagi.

Orang itu melangkah ke belakang beberapa depa, sekaligus mengeluarkan suling anehnya, Ditiupnya suling aneh itu dan terdengarlah suaranya yang melengking- lengking.

Akan tetapi, tiada gerakan apa pun di dalam gua kecil itu, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandang. Di saat bersamaan orang itu berhenti meniup suling anehnya.

Segeralah mereka bertiga memandang ke arahnya, Tampak orang itu mengeluarkan sebuah kantong sutera, Dibukanya lebar-lebar mulut kantong sutera itu, lalu ditaruh di atas tanah. Kemudian ia mengeluarkan semacam bubuk lalu ditaburkan ke dalam kantong itu.

Orang tersebut duduk bersila, lalu meniup suling anehnya. Berselang beberapa saat, tampak cahaya hijau di dalam gua kecil, tak lama cahaya itu meluncur ke luar.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu mulai tegang menyaksikan cahaya itu, sedangkan kening orang itu mulai mengucurkan keringat, namun ia sama sekali tidak mengetahui akan keberadaan mereka bertiga.

Ketika melihat cahaya hijau meluncur ke luar, orang itu bangkit berdiri, dan tetap meniup sutingnya.

Cahaya hijau berhenti di hadapan kelinci panggang, lalu mengibaskan ekornya.

Plaak! Kelinci panggang itu hancur berserakan dan ular kilat hijau lalu merayap ke depan.

sementara air muka orang itu tampak tegang sekali, sepasang matanya terus menatap ular kilat hijau tanpa berkedip sama sekali, dan suara sulingnya itu pun masih terus melengking-lengking.

Gerakan ular kilat hijau sangat lamban, Kelihatannya ular itu sangat takut akan suara suling tersebut

Tak seberapa lama kemudian, ular kilat hijau merayap menuju arah orang tersebut Wajah orang itu tampak tegang, ia terus meniup sulingnya.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu melihat dengan jelas, keringat di kening orang itu mengucur lebih deras.

Mendadak ular kilat hijau meluncur ke arah orang tersebut, membuat mereka nyaris menjerit Ternyata orang itu memang sudah bersiap sebelumnya, Maka begitu cahaya hijau meluncur ke arahnya, suara sulingnya melengking lebih tinggi. Terlihat cahaya hijau itu menyurut mundur dan diam di tempat, lalu melingkar dengan kepala didongakkan ke atas.

Orang itu masih tampak tegang, Namun ular kilat hijau sudah dapat d i kendali kan nya. Maka Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu langsung menarik nafas lega. Mendadak suara suling itu melengking dengan nada lain, terdengar sangat lembut bagaikan suara rayuan, itu membuat ular kilat hijau seakan terbelai, kemudian merayap ke arah kantong sutera, dan masuk ke dalamnya.

Orang tersebut bergerak cepat mengikat ujung kantong sutera, setelah itu ia pun menarik nafas lega.

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandangi kemudian mendadak mereka bertiga melesat ke luar mendekati orang itu. Pek Yun Hui menggunakan ilmu pedang Sin Hap Kiam.

Betapa terkejutnya orang itu. Sebelah kakinya langsung bergerak menginjak kantong sutera itu, dan sekaligus membentak

"Siapa?"

"Sobat!" sahut Pek Yun Hui. "Yang melihat harus dapat bagian!"

"Hm!" dengus orang itu. "Omong kosong! Apa artinya yang melihat harus dapat bagian ?"

"He he!" Sie Bun Yun tertawa dingin, "Yang kau tangkap itu adalah ular kilat hijau, Kami telah me-nyaksikannya, maka harus mendapat bagiannya!"

"Ha ha ha!" Orang itu tertawa gelak, "Ternyata kalian bertiga lagi! Sungguh berani kalian bertiga terus me- nguntitku!"

"Ha ha ha!" Sie Bun Yun juga tertawa, "Kalau kami penakut, bagaimana mungkin sampai di sini?"

"Engkau tahu ular kilat hijau, itu berarti pengetahuanmu cukup luas!" Orang itu tertawa lagi. "Oleh karena itu, aku akan mengampuni nyawa kalian! Cepatlah kalian enyah dari sini!"

"He he!" Sie Bun Yun tertawa, "Kalau sudah memperoleh bagiannya, tentunya kami akan enyah dari sini!" "Oh?" Air muka orang itu berubah, "Kalau begitu, engkau memang ingin cari penyakit!"

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa gelak, lalu mendadak menggerakkan bambunya menyerang dada orang itu.

itu merupakan jurus yang amat lihay dan aneh, yaitu jurus andalan Ku Ciok Sianjin, Orang itu memang berkepandaian tinggi. Namun ia sama sekali tidak menduga kalau Sie Bun Yun mendadak menyerangnya, Karena itu, ia terpaksa meloncat mundur beberapa langkah. 

Sie Bun Yun sendiri tahu bahwa jurus tersebut tidak dapat melukai orang itu, namun setidaknya dapat mendesak mundur orang itu, jadi kaki orang itu tak lagi menginjak kantong sutera.

"Adik Pek, cepat turun tangan!" serunya.

Pek Yun Hui langsung menyerang orang itu dengan tiga jurus berturut-turut, yaitu Pek Hong Cauw Yang (Burung Phoenix Menyambut Mentari Pagi), Ciau Ceh Lam Hai (Ombak Laut Selatan Menderu) dan Cian Cih Pek Ciu (Ribuan Jari Ratusan Tangan).

Tampak sinar pedang berkelebatan mengurung orang itu, bahkan diiringi pula dengan suara yang menderu-deru.

SemuIa orang itu memang meremehkan mereka ber-tiga, sebab usia mereka bertiga masih begitu muda, Tapi setelah diserang oleh Sie Bun Yun, tersentaklah hatinya, apalagi ditambah serangan-serangan Pek Yun Hui, hatinya semakin terperanjat

Orang itu bersiul panjang, lalu sepasang lengannya bergerak, dan seketika juga tubuhnya melambung ke atas beberapa depa. Sungguh tinggi ilmu ginkang orang itu sehingga dapat mengelak serangan-serangan Pek Yun Hui. seandainya Pek Yun Hui menggunakan ilmu pedang Sin Hap Kiam menyerang orang itu ketika melambung, niseaya orang itu pasti mati.

Namun Pek Yun Hui tidak bertindak begitu, karena walau orang itu memusuhi mereka, namun hanya karena kematian Souw Peng Hai. Lagipula tujuan mereka hanya ingin mencuri ular kilat hijau, Maka seandainya membunuh orang itu, bukankah kejam sekali?

sementara oiang itu sudah melayang turun, Pek Yun

Hal 106/107 Hilang

hijau!" tukas orang itu dingin dengan wajah memerah karena gusar "Kalau kalian tidak mengembalikan ular kilat hijau itu. "

"Engkau mau bertarung dengan kami?" potong Sie Bun Yun dingin.

"Benar!" Orang itu menggenggam sulingnya erat-erat, kemudian mendadak menyerang Sie Bun Yun.

Serrr! Sie Bun Yun juga menggerakkan bambunya untuk menangkis serangan orang itu dengan jurus Ku Ciok Sen Hui (Bambu Tua Memancarkan Cahaya).

jurus yang dikeluarkan orang itu tertangkis, sehingga membuatnya bertambah gusar Kemudian ia memutar- mutarkan sulingnya secepat kilat, setelah itu menyerang ke arah Sie Bun Yun.

serangan itu sangat aneh, Pek Yun Hui khawatir Sie Bun Yun akan terluka oleh serangan aneh itu, maka ia segera menggerakkan pedangnya ke arah suling tersebut

Tampak sinar pedang berkelebat dan tak lama terdengarlah suara benturan dua senjata yang amat nyaring. Trang! Trang! Trang!

Orang itu terdorong ke belakang beberapa langkah, sedangkan Pek Yun Hui tetap berdiri tegak di tempat

"Walau engkau berada di Arabia, namun tentu tahu akan kitab pusaka Kui Goan Pit Cek, bukan?" ujar Pek Yun Hui dingin.

"Hm!" dengus orang itu.

"Barusan aku cuma menggunakan enam bagian Lweekangku, itu sudah membuatmu terhuyung-huyung beberapa langkah! seandainya aku menggunakan ilmu pedang yang tereantum di dalam kitab pusaka Kui Goan Pit Cek, apakah engkau mampu menangisnya?" ujar Pek Yun Hui sambil tersenyum dingin.

Kini orang itu sudah tahu jelas, bahwa dua wanita Kwat Cong San betul-betul berkepandaian tinggi, Oleh karena itu, ia terpaksa harus menekan hawa kegusaran-nya.

"Kalian jangan bergirang karena telah berhasil memperoleh ular kilat hijau!" ujar orang itu sambil tertawa dingin, "Kalau kalian kurang berhati-hati, sebaliknya malah akan mati terpagut ular itu! Nah, bukankah secara tidak langsung, aku sudah membalas dendam terhadap kalian?"

Terimakasih atas perhatianmu!" ucap Sie Bun Yun sambil tertawa menyengir

"Engkau mau enyah tidak?" bentak Pek Yun Hui mendadak

Orang itu berteriak-teriak aneh, lalu melesat pergi dengan membawa kegusaran yang tak terlampiaskan dan dalam sekejap sudah hilang dari pandangan

"Mari kita mengejar Saudara Bee!" ajak Sie Bun Yun. "Rendahkan suaramu!" tegur Pek Yun Hui. "Kalau orang

itu belum pergi jauh, bukankah akan mendengarnya ?" "Dia sudah kabur terbirit-birit, bagaimana mungkin kembali lagi?" sahut Sie Bun Yun sambil tertawa, "Dia sangat takut pada ilmu pedang Sin Hap Kiammu itu."

"Eh?" Wajah Pek Yun Hui kemerah-merahan, "Su-dah mulai pandai merayu ya?"

"Aku tidak merayu." Sie Bun Yun tersenyum. Mereka berdua lalu melesat mengejar Bee Kun Bu.

sebelumnya mereka sudah mengatur suatu rencana, apabila Bee Kun Bu berhasil mencuri ular kilat hijau, haruslah segera pulang ke Kwat Cong San, agar tidak mem-buang-buang waktu.

Oleh karena itu, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui pun menempuh jalan yang menuju ke Kwat Cong San.

Walau mereka sudah menempuh dua puluhan mil, tapi masih tidak tampak Bee Kun Bu. Oleh karena itu timbullah rasa heran dalam hati mereka.

"Adik Pek! Apakah Saudara Bee telah menemui sesuatu?" tanya Sie Bun Yun dengan wajah cemas.

"ltu.,,." Pek Yun Hui tersentak "Mungkin dia mati-matian mengerahkan ginkangnya, agar lekas-lekas sampai di Kwat Cong San, maka kita tertinggal jauh, Sampai di gua Thian Kie, kita pasti bertemu dia."

"Ngmmm!" Sie Bun Yun manggut-manggut, Mereka berdua segera mengerahkan ilmu ginkang menuju Kwat Cong San.

Kenapa Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui tidak bertemu Bee Kun Bu? Apa yang telah terjadi setelah Bee Kun Bu berhasil mencuri ular kilat hijau?

Setelah Bee Kun Bu berhasil mencuri kantong sutera yang berisi ular kilat hijau, dapat dibayangkan betapa girangnya hati Bee Kun Bu, karena nyawa Lie Ceng Loan akan tertolong dengan empedu ular tersebut Oleh karena itu, sesuai rencananya, ia langsung kembali ke Kwat Cong San, Setelah menempuh belasan mil, ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui sudah menyusulnya atau belum.

Namun karena Bee Kun Bu dengan mereka berdua berjarak kira-kira lima mil, tentunya Bee Kun Bu tidak melihat mereka, seandainya ia menunggu sejenak, kemungkinan besar akan bertemu dengan mereka.

Akan tetapi, Bee Kun Bu terlampau mencemaskan Lie Ceng Loan, maka tidak menunggu ia terus melakukan perjalanan menuju ke Kwat Cong San.

Mendadak terdengar suara tawa yang sangat merdu, yang disusul pula oleh suara yang dikenalnya

"Ha hal Saudara Bee, sudah sekian lama kita berpisah bagaimana keadaanmu? Apakah baik-baik saja?"

Bee Kun Bu terpaksa berhenti, lalu mendongakkan kepala memandang ke atas sebuah pohon, Tampak seseorang duduk di atas pohon itu sambil tersenyum-senyum, Siapa orang itu? Ternyata Co Hiong.

Begitu melihat Co Hi'ong, tersentaklah hati Bee Kun Bu, namun mulutnya tetap menyahut

"Aku baik-baik saja. Maaf, aku harus melanjutkan perjalanan!"

Co Hiong melayang turun dari pohon itu, Sungguh indah sekali gerakannya, sehingga tak tertahan Bee Kun Bu memujinya.

"Sungguh indah dan tinggi ilmu ginkangmu seka-rang!"

Terimakasih atas pujianmu!" ucap Co Hiong sambil tertawa gelak.

Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat sesuatu, dan langsung menatap Co Hiong seraya bertanya. "Saudara Co! Apakah Kui Goan Pit Cek berada padamu?"

pertanyaan Bee Kun Bu itu membuat Co Hiong tertegun, Namun ia teringat akan dirinya yang telah memperoleh kitab ilmu Silat Sam Im Sin Ni, mungkin kaum Bu Lim mengiranya telah memperoleh kitab Kui Goan Pit Cek.

"Saudara Bee, kenapa harus membicarakan tentang itu?" Co Hiong tersenyum, "Kita berdua berkenalan sudah setahun lebih, kemudian terjadi sedikit kesalah-pahaman di antara kita. Namun aku tetap menganggap Saudara Bee sebagai teman dekat Sudah sekian lama kita tidak bertemu, maka bagaimana kalau kita menutur pengalaman masing-masing?"

"Maaf! Aku ada urusan penting!" sahut Bee Kun Bu. "Ada urusan penting?" Co Hiong memandang kantong

sutera yang di tangan Bee Kun Bu. "Eh? Saudara Bee, engkau membawa apa?"

"Seekor ular yang sangat beracun," jawab Bee Kun Bu memberitahukan. ia adalah pemuda jujur, sama sekali tidak bisa berbohong, maka ia memberitahukan secara jujur

Co Hiong memang pernah bertemu dengan pemilik ular kilat hijau, Orang itu pun memberitahukan tentang ular tersebut Oleh karena itu, Co Hiong memfitnah Na Siao Tiap yang membunuh Souw Peng Hai, bahkan dibantu Pek Yun Hui dan lainnya, Akan tetapi, Co Hiong tidak pernah melihat ular tersebut, cuma pernah melihat kantong sutera itu.

Begitu Bee Kun Bu memberitahukan bahwa yang dibawanya adalah seekor ular yang sangat beracun. Co Hiong lalu berpikir ke sana.

"Oh? Ular itu pasti ular kilat hijau, bukan?" tanya Co Hiong dengan air muka berubah.

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk

"Saudara Bee. " Co Hiorfg menarik nafas panjang,

"Engkau masih mujur bertemu aku." "Maksudmu?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Harap saudara Bee ikut aku sebentar!" ajak Co Hiong,. "Kenapa aku harus mengikutimu?" Bee Kun Bu

mengerutkan kening, "Adik Loan sedang menunggu pertolonganku."

Hati Co Hiong langsung berdebar, tapi wajahnya justru tampak serius.

"Kalau begitu, engkau memang harus ikut aku. Kalau tidak, Nona Lie tidak akan tertolong," ujarnya, ia memang licik dan banyak akal busuknya.

Bee Kun Bu berpikir dan tertegun, orang itu adalah saudara seperguruan Souw Peng Hai, sedangkan Co Hiong adalah murid Souw Peng Hai, otomatis Co Hiong adalah murid keponakan orang itu, Mungkin Co Hiong tahu jejas tentang ular kilat hijau.

"Engkau mau mengajakku ke mana?" tanya Bee Kun Bu kemudian.

Tidak lewat dari satu mil," sahut Co Hiong ter-senyum. "Baik." Bee Kun Bu mengangguk "Kalau lewat satu mil,

aku akan pergi."

"Tentu." Co Hiong tertawa gelak.

Co Hiong memang berotak cerdas, namun disalah gunakannya. ia tadi melihat Bee Kun Bu menoleh ke belakang seakan menunggu orang, karena itu ia ingin memancing Bee Kun Bu ke tempat lain dengan sikap bersungguh-sungguh, sehingga Bee Kun Bu yang jujur itu mempereayainya.

Co Hiong melesat ke arah kiri, dan Bee Kun Bu mengikutinya, Tak sampai setengah mil, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sudah tiba di tempat itu. Kalau Bee Kun Bu tidak bertemu Co Hiong, sudah pasti akan bertemu mereka berdua.

Bee Kun Bu terus mengikuti Co Hiong, Namun ia merasa heran sekali, sebab ia telah mengerahkan gin-kangnya, tapi tidak bisa menyusul Co Hiong, Tak seberapa lama kemudian,

Co Hiong berhenti

"Engkau mau bicara apa padaku, bicaralahl" ujar Bee Kun Bu yang telah berhenti beberapa depa di belakangnya.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Saudara Bee, entah berapa waktu yang lalu aku bukan tandinganmu Kini aku yakin kepandaianku telah maju pesat, maka ingin mohon petunjuk padamu."

"Co Hiong!" bentak Bee Kun Bu gusar, "Engkau mengajakku ke mari cuma karena urusan ini?"

"Tentu tidale" Co Hiong tersenyum, "Sebab masih ada urusan lain yang berkaitan dengan ular kilat hijau, Namun aku harus mencoba kepandaianku denganmu, setelah itu barulah kuberitahukan tentang ular itu!"

"Maaf!" sahut Bee Kun Bu dingin, "Aku justru tidak mau bertarung denganmu."

"Kita tidak bertarung, hanya bergebrak beberapa jurus saja," ujar Co Hiong sambil tertawa.

"Lebih baik lain hari saja," sahut Bee Kun Bu sambil melesat pergi.

"Tunggu!" bentak Co Hiong sambil bergerak, dan tahu-tahu sudah berada di sisi Bee Kun Bu.

"Sebetulnya engkau menghendaki apa?" tanya Bee Kun Bu gusar

"Aku tidak menghendaki apa-apa, hanya ingin bergebrak beberapa jurus denganmu saja," sahut Co Hiong sambil tersenyum lembut

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Apakah engkau kira bisa menjadi seorang jago setelah mempelajari Kui Goan Pit Cek itu?"

"Saudara Bee!" Co Hiong tersenyum lagi. "Aku tidak berpikir begitu." "Kalau begitu, aku ingin segera pergi," ujar Bee Kun Bu.

"Saudara Bee!" Co Hiong menatapnya, "Engkau boleh menaruh kantong sutera yang berisi ular kilat hijau itu ke bawah. Aku tidak akan mengambilnya sebab aku mau mulai menyerang, agar ular itu tidak kabur."

"Engkau sungguh pandai berpikir." Bee Kun Bu menatapnya.

"Tentu." Co Hiong tertawa gelak "Karena engkau adalah teman dekatku, maka aku harus berpikir demi dirimu."

"Sudahlah, jangan banyak omong kosong!" Bee Kun Bu menaruh kantong sutera itu di atas sebuah batu, kemudian ujarnya pada Co Hiong, "Kita bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Harap Saudara Bee menghunus peda,ng!" sahut Co Hiong.

"Baiklah," Bee Kun Bu mengangguk sambil menghunus pedangnya, "Engkau pun harus menggunakan senjata!"

"Tentu." sahut Co Hiong.

ia tertawa panjang, Tangannya bergerak, tahu-tahu sudah menggenggam sebuah senjata yang berbentuk aneh mirip sebatang jarum.

"Eh?" Bee Kun Bu terperangah, "Senjata apa itu?"

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak "lni adalah senjata peninggalan Sam Im Sin Ni, yakni Teng Thian Sin Cin (Jarum Sakti Pengokoh Langit)."

"ltu adalah senjata pusaka, engkau harus berhati-hati menyimpannya." ujar Bee Kun Bu.

"Terimakasih atas perhatian Saudara Bee." ucap Co Hiong dan tertawa lagi. "Engkau pun harus ingat, di luar langit masih ada langit, di atas gunung masih ada gunung," ujar Bee Kun Bu mengingatkannya, "Jangan takabur!"

"Saudara Bee harus tahu, aku sudah punya peraturan sendiri," Co Hiong memberitahukan "SIapa yang berani mengincar senjataku lni, nanti mati di ujung senjataku ini pula."

"Sungguh bermulut beaar engkau I" Bee Kun Bu tertawa olngin.

"TIdak berani," lahut Co Hiong, lalu mendadak menggerakkan senjatanya

seketika juga Bee Kun Bu merasa matanya jadi sllau, sepertinya sedang menghadapi sinar matahari terik, sehingga membuatnya nyaris memejamkan matanya, setelah itu, ia pun menyurut mundur beberapa langkah.

"Ha hal" Co Hiong tertawa gelak, lalu menggerakkan senjatanya lagi mengarah pada tenggorokan Bee Kun Bu.

Sungguh aneh dan cepat gerakan itu, Bee Kun Bu cepat- cepat menangkis dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi Mulal Mengembang).

Trang! Terdengar suara benturan senjata yang memekakkan te!inga.

Bukan main terkejutnya Bee Kun Bu, sebab merasa telapak tangannya yang menggenggam pedang itu sakit sekali Karena itu, ia segera mengeluarkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu.

seketika ia hilang dari pandangan Co Hiong, dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya.

Co Hiong tahu, bahwa Bee Kun Bu telah mengeluarkan ilmu langkah ajaib itu, namun ilmu tersebut tidak tereantum dalam kitab ilmu Silat Sam Im Sin Ni. Oleh karena itu, Co Hiong tidak mampu memecahkan ilmu tersebut. "Hm!" dengus Co Hiong dingin, "Kenapa Saudara Bee jadi pengecut, tidak berani menghadapiku?"

Bee Kun Bu bergerak secepat kilat, dan tahu-tahu sudah berada di hadapan Co Hiong, Di saat bersamaan, Co Hiong menggerakkan senjatanya menyei ang Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu mengeluarkan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Bertaburan) untuk menangk!s. Akan tetapi, mendadak Co Hiong merubah jurusnya, bahkan terus- menerus menyerang Bee Kun Bu dengan jurus-jurus yang sangat lihay dan aneh.

Bee Kun Bu melayani jurus-jurus itu dengan ilmu pedang Hun Kong KJam Hoat, dan disertai dengan ilmu langkah ajalb, Tak terasa pertandingan mereka sudah melewati lima puluh Jurui, Walau Co Hiong tampak di atas angln, namun Bee Kun Bu masih tetap tenang.

Menyaksikan itu, timbullah kegusaran Co Hiong, Semula ia berpikir pasti dapat merobohkan Bee Kun Bu dalam waktu singkat, karena ia memiliki senjata pusaka, juga telah mempelajari semua ilmu silat Sam Im Sin Ni.

Akan tetapi, kini pertandingan telah melewati lima puluh jurus, ia hanya menang di atas angin, masih belum dapat merobohkannya, Bagaimana kalau bertemu Na Siao Tiap atau Pek Yun Hui? Tentunya ia akan celaka, pikirnya dan timbul pula niat jahatnya untuk membunuh Bee Kun Bu.

sedangkan Bee Kun Bu menggunakan jurus Kim Liong Cut Hai (Naga Emas Muncul Dari Laut) untuk menyerang tenggorokan Co Hiong.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak sambil menggerakkan senjatanya dengan jurus Toa Hai Mouw Cin (Mencari Jarum di Laut), yaitu jurus andalan Sam Im Sin Ni di masa silam.

Sekujur badan Co Hiong seakan memancarkan sinar, karena saking cepatnya ia menggerakkan senjatanya Sinar itu menyilaukan sehingga mata Bee Kun Bu nyaris tidak bisa dibuka, sedangkan badan Co Hiong seakan hilang, Yang tampak hanya cahaya senjatanya

Bee Kun Bu terkejut bukan main, lalu cepat-cepat mengeluarkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar

Akan tetapi, Co Hiong segera mengeluarkan jurus andalan ke dua, yakni Bit Li Coang Cin (Dalam Madu Tersimpan Jarum), Cahaya senjatanya berkelebatan menyilaukan mata, bahkan mengurung Bee Kun Bu, sehingga Bee Kun Bu tiada kesempatan mengeluarkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu lagi untuk menghindar

Karena itu, Bee Kun Bu terpaksa menghimpun Lweekangnya, kemudian memutarkan pedangnya dengan jurus Ban Can Hud Teng (Laksana Lampu Buddha Menyala) untuk menangkis serangan yang dilancarkan Co Hiong.

sebetulnya jurus itu dapat menghalau senjata Co Hiong, tapi ketika ia baru mau mengeluarkan jurus tersebut, mendadak cahaya yang di hadapannya telah hilang, Ternyata Co Hiong telah menarik serangannya, otomatis Bee Kun Bu menyerang tempat kosong, padahal ia telah menggunakan sembilan bagian Lweekangnya.

Pada waktu bersamaan, Co Hiong mengeluarkan jurus ke tiga, Ternyata Sam Im Sin Ni memiliki tiga jurus andalan, Kini Co Hiong mengeluarkan jurus ke tiga itu, Cin Cin Kian Hiat (Setiap jarum Tampak Darah), yaitu jurus yang paling lihay dan aneh, sebab jurus itu terdiri dari beberapa sabetan dan tusukan.

Bee Kun Bu menundukkan kepala, karena senjata itu mengarah pada kepalanya dan tadinya tusukan berubah menjadi sabetan, Bee Kun Bu sudah tidak sempat mengeluarkan Ngo Heng Mie Cong Pu lagi, sehingga terpaksa mengayunkan pedangnya menangkis senjata itu.

Trang! Terdengar suara benturan yang keras sekali. Taaak! pedang Bee Kun Bu patah, seketika Bee Kun Bu pun tahu bahwa Lweckang Co Hiong lebih tinggi dari padanya. Maka ia mengambil keputusan untuk kabur, sebab masih menyangkut nyawa Lie Ceng Loan.

Setelah mengambil keputusan tersebut, ia pun ingin melesat ke arah batu tempat ia menaruh kantong sutera nya.

Tapi Co Hiong terus-menerus menyerangnya, itulah sebabnya ia harus melayaninya dengan berhati-hati sekali, dan ternyata dengan pedang kutung itu ia masih bisa bertahan sampai belasan jurus.

Akan tetapi, justru membuatnya tiada kesempatan untuk kabur Tiba-tiba Bee Kun Bu melihat senjata di tangan Co Hiong berkelebatan memancarkan cahaya, lalu mengarah padanya.

Bee Kun Bu berupaya menangkis senjata itu, tapi mendadak terdengar suara tawa di belakangnya.

"Ha ha!"

Di saat bersamaan, Bee Kun Bu juga merasa Kit Cua Hiat, Thian Cong Hiat, Hun Hun Hiat dan beberapa jalan darah penting di punggungnya telah tertotok ujung senjata Co Hiong.

Bee Kun Bu terhuyung-huyung lalu terkulai, kebetulan agak dekat dengan batu tempat ia menaruh kantong sutera, Karena itu, ia berupaya meraih kantong itu.

Di saat itu, terdengar suara "Plak!". Ternyata senjata Co Hiong menghantam lengannya.

Saking sakitnya Bee Kun Bu nyaris pingsan seketika, sehingga tangannya tidak mampu meraih kantong sutera.

Sambil tertawa gelak Co Hiong menyambar kantong itu, kemudian menatap Bee Kun Bu seraya berkata.

"Apakah Saudara Bee masih tidak mau mengaku kalah?" Bee Kun Bu tidak menyahut, melainkan bangkit berdiri. Ketika melihat Bee Kun Bu masih mampu bangkit berdiri, air muka Co Hiong pun tampak berubah. Karena ia tadi telah berhasil menotok tujuh jalan darah penting di punggungnya, seharusnya Bee Kun Bu luka parah tak mampu bergerak saat ini. Namun nyatanya Bee Kun Bu masih mampu bangkit berdiri

Oleh karena itu, tanpa sadar Co Hiong menyurut mundur dua langkah, pada waktu bersamaan, Bee Kun Bu merasa matanya berkunang-kunang dan badan ber-goyang-goyang, akhirnya jatuh duduk di tanah.

Setelah melihat Bee Kun Bu jatuh duduk, Co Hiong tersenyum sambil menarik nafas Iega.

"Saudara Bee!" ujar Co Hiong dengan suara dalam, Tahukah engkau, sudah berapa lama aku menunggu saat- saat ini?"

"Kalau engkau ingin membunuhku, silakan turun tangan!" bentak Bee Kun Bu.

Co Hiong tertawa menyengir sambil menggoyang- goyangkan kantong sutera itu di hadapan Bee Kun Bu, kemudian duduk di hadapannya.

"Saudara Bee, kenapa engkau begitu tegang?" Co Hiong menatapnya sambil tersenyum.

Betapa gusarnya Bee Kun Bu, akhirnya ia memejamkan matanya tidak meladeni Co Hiong. Mendadak ia teringat bahwa ular kilat hijau yang di dalam kantong sutera itu, Kini sudah berada di tangan Co Hiong, sedangkan dirinya telah terluka, dan tanpa empedu ular kilat hijau, nyawa Lie Ceng Loan takkan tertolong.

Teringat akan itu, Bee Kun Bu menghela nafas panjang. Hatinya terasa sakit sekali sehingga tanpa sadar air matanya meleleh.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Orang bilang engkau adalah pendekar yang gagah, Namun buktinya engkau seperti banci, belum mati sudah begitu ketakutan sampai mengeluarkan air mata."

"Omong kosong!" bentak Bee Kun Bu sambil melotot "Aku punya urusan lain yang sangat mencemaskan hatiku, bukan dikarenakan takut mati!"

"Oh? Ha ha ha!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak "Benar! Benar! Sebab engkau merasa berat meninggalkan beberapa gadis yang cantik jelita! Na Siao Tiap, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan! Ha ha! Engkau sungguh romantis, sudah mendekat ajal masih memikirkan gadis-gadis itu!"

"Engkau. " Wajah Bee Kun Bu pucat pias saking

gusarnya.

"Kenapa aku? Bukankah aku cukup baik menemanimu di sini? Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak lagi. "Engkau pun harus mati dengan rasa bahagia, karena beberapa gadis itu akan berkabung untukmu!"

*****

Bab ke 22 - Muncul Seorang Wanita Muda Berpakaian Putih

Ketika Co Hiong sedang tertawa, Bee Kun Bu terus- menerus memandangnya, membuat Co Hiong tereengang

"Eh? Kenapa engkau memandangku dengan cara begitu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.

"Co Hiong, aku punya satu permintaan," sahut Bee Kun

Bu.

"Oh?" Co Hiong tertegun "Katakanlah apa per-

mintaanmu?"

"Sumoyku kena racun ular kilat hijau, hanya dapat dipunahkan dengan empedu ular kilat hijau puIa!" Bee Kun Bu memberitahukan "Kini dia masih dalam keadaan pingsan Engkau mau membunuhku tidak jadi masalah bagiku, tapi aku harap engkau bersedia mengantar ular kilat hijau itu ke gua Thian Kie untuk menolong Lie Ceng Loan!"

"Saudara Bee!" Co Hiong tertawa, "Bukankah itu merupakan permintaan yang berlebihan ?"

"Maksudmu?"

"Kini engkau sudah sekarat, apabila Lie Ceng Loan juga mati, bukankah kalian akan bertemu di alam baka? Nah, otomatis aku telah mempertemukan kalian!" ujar Co Hiong sambil tertawa terbahak-bahak

"Engkau. " Bee Kun Bu sama sekali tidak menyangka

kalau Co Hiong begitu tak berperasaan dan kejam Di saat ia hampir mati, Co Hiong masih terus-menerus menyakiti hatinya.

"Saudara Bee!" Co Hiong memandangnya dengan wajah berseri "Apabila kalian bertemu di alam baka, entah kalian masih saling mencinta tidak?"

Bee Kun Bu tidak menyahut ia hanya memejamkan matanya.

Co Hiong tertawa panjang, Ketika ia ingin membuka mulut mengatakan sesuatu, mendadak dari tempat yang tak begitu jauh, mengayun suara wanita yang dingin sekali.

"Asal saling mencinta dengan bersungguh-sungguh dan segenap hati bertemu di mana pun pasti saling mencinta!"

Ketika mendengar suara itu, Bee Kun Bu dan Co Hiong tampak tertegun dan Bee Kun Bu pun langsung membuka matanya.

Co Hiong segera bangkit berdiri Tampak sosok bayangan putih melayang-layang mendekati mereka.

Setelah agak mendekat, barulah Co Hiong dan Bee Kun Bu melihat jelas, Ternyata dia seorang wanita muda, berpakaian putih seperti biarawatL Sungguh cantik wanita muda itu, tapi wajahnya sedingin es. Siapa yang melihatnya pasti merasa dingin pula.

Bee Kun Bu dan Co Hiong mengenali wanita muda itu.

Siapa dia? Tidak lain adalah Liong Giok Pin yang telah diusir dari pintu perguruan partai Kun Lun.

"Suci (Kakak Seperguruan), cepat pergi!" seru Bee Kun Bu. Liong Giok Pin memandang Bee Kun Bu. "Kenapa aku harus pergi?" tanyanya.

Bee Kun Bu tahu jelas, kepandaian Liong Giok Pin masih di bawah kepandaiannya, Kini gadis itu muncul begitu mendadak, tentunya Co Hiong tidak akan melepaskannya, maka ia menyuruhnya cepat pergi

Ketika Liong Giok Pin bertanya begitu, Bee Kun Bu jadi melongo, sedangkan gadis itu tidak menghiraukan-nya, malah memandang Co Hiong.

Tatapan yang dingin dan penuh diliputi dendam itu, membuat Co Hiong berdebar-debar, Namun mengingat kepandaiannya sudah begitu tinggi, maka ia jadi tenang kembali

"Co Hiong!" tanya Liong Giok Pin setelah menatapnya lama sekali "Apakah engkau masih mengenalku?"

"Wuaah!" Co Hiong tertawa, "Satu malam jadi suami isteri, selamanya takkan terlupakan!"

Ucapan itu membuat sekujur badan Liong Giok Pin gemetar dan wajahnya yang dingin itu menjadi pucat pias saking gusarnya.

"Nona Liong!" Co Hiong tersenyum "Sudah lama kita tak bertemu, selama ini engkau ke mana?"

"Selama ini. M Wajah gadis itu tampak berseri "Aku selalu

teringat akan kebaikanmu Karena itu aku mencari suatu benda langka untukmu, Kebetulan kita bertemu di sini, jadi aku tidak usah mencarimu sampai ke ujung langit lagL"

Co Hiong tahu, bahwa Liong Giok sangat membencinya sampai ke tulang sumsum, maka ucapannya pun berbalik dari sesungguhnya, Namun Co Hiong yang licik itu, justru malah tertawa-tawa.

"Nona Liong, benda pusaka apa pun masih tidak bisa dibandingkan dengan dirimu. Alangkah baik engkau menghadiahkan dirimu untukku saja."

"Diriku sudah lama kuserahkan padamu, namun engkau justru telah menyia-nyiakannya," sahut Liong Giok Pin, kemudian tertawa terkekeh.

"Oh, ya?" Co Hiong tersenyum, "Maka kini dirimu tetap milikku."

"Tidak salah." Liong Giok Pin tertawa terkekeh lagi, lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil dari dalam baju-nya, entah apa isinya.

Bee Kun Bu memanfaatkan kesempatan sementara Co Hiong bereakap-cakap dengan Liong Giok Pin untuk menghimpun hawa murninya, otomatis membuat tenaga murninya pulih sedikit

"Eh?" Co Hiong memandang kantong kecil yang di tangan Liong Giok Pin. "Apa itu?"

"Bersusah payah aku mencari ini," sahut Liong Giok Pin sambil tersenyum, "Benda ini, entah engkau mau tidak?"

"Bagaimana mungkin aku menolak hadiah darimu?" Co Hiong tertawa gelak.

"Kalau begitu. " Liong Giok Pin tertawa terkekeh sambil

melempar kantong kecil itu ke arah Co Hiong, ". kuberikan

padamu!"

Mendadak kantong kecil itu terbuka di saat melayang ke arah Co Hiong. seketika berkelebat cahaya kuning, dan sekaligus mengeluarkan suara "Ngung!", Tampak seekor makhluk terbang, meluncur laksana kilat mengarah pada Co Hiong.

Co Hiong segera meloncat mundur, menggerakkan senjatanya Teng Thian Sin Cin untuk melindungi diri.

Ngung! Ngung! Makhluk terbang itu terus menerjang ke arah Co Hiong, Pada saat itu barulah Bee Kun Bu melihat dengan jelas makhluk terbang itu, ternyata seekor tawon sebesar kepalan tangan.

Tawon itu sangat beracun, dan baru sekali ini Bee Kun Bu menyaksikan tawon sebesar itu.

Co Hiong masih tetap menggerakkan senjatanya, namun wajahnya tampak terkejut sekali.

ia terus menggerakkan senjatanya, maksudnya ingin membunuh tawon beracun itu.

Akan tetapi, tawon beracun itu sungguh gesit Wa)au Co Hiong terus menerus menggerakkan senjatanya, tapi sama sekali tidak berhasil memukulnya, bahkan sebaliknya tawon beracun itu nyaris berhasil mendekatinya

Menyaksikan kejadian itu, Bee Kun Bu tahu bahwa tawon beracun itu sulit menyengat Co Hiong, namun Co Hiong pun sulit melepaskan diri dalam waktu singkat

Kini Bee Kun Bu sudah agak pulih, dan ini adalah kesempatan baginya untuk meloloskan diri, Akan tetapi, ular kilat hijau masih berada di tangan Co Hiong, bagaimana mungkin Bee Kun Bu meloloskan diri tanpa mengambil kantong sutera itu? Karena itu, Bee Kun Bu tidak jadi kabur

sementara wajah Co Hiong tampak cemas sekali Tiba-tiba ia membentak keras sambil melesat pergi, tapi tawon beracun itu langsung mengejarnya sambil mengeluarkan suara "Ngungl Ngung! Ngungt"

Ketika melihat Co Hiong melesat pergi, Bee Kun Bu langsung membentak keras. "Mau lari ke mana?"

Bee Kun Bun juga melesat ke arah Co Hiong, maksudnya ingin mengejarnya Akan tetapi, beberapa depa kemudian, merasa matanya berkunang-kunang sehingga jatuh duduk, itu dikarenakan luka dalamnya masih belum sembuh.

"He he he!" Liong Giok Pin tertawa aneh, "Engkau ingin menghindari tawon beracun itu? Tidak begitu gampang seperti engkau menghindarikul He he he. "

"Liong Suci, jangan tertawa! Cepat kejar dia!" seru Bee Kun Bu gugup ketika melihat Co Hiong melarikan diri.

"Aku sudah diusir dari pintu perguruan, kenapa engkau masih memanggilku kakak seperguruan ?" tanya gadis itu dengan air muka berubah.

"Cepat,., cepat kejar dia!" sahut Bee Kun Bu. Tiada waktu baginya untuk menghibur Liong Giok Pin yang telah diusir dari pintu perguruan.

"Kenapa aku harus mengejarnya?" tanya Liong Giok Pin heran.

"Aaakh.,.!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang, "Nyawa adik Loan berada di tangannya!"

Sejak diusir dari pintu perguruan, kemudian dttinggal oleh Co Hiong secara mentah-mentah, hatinya terus merasa sakit sekali, itu membuat sifatnya berubah aneh, Sejak itu ia tinggal di dalam hutan, sama sekali tidak mau bertemu siapa pun, bahkan amat membenci semua orang.

Kecuali seseorang yang sama sekali tidak dibencinya, malah sangat menyayanginya, Orang itu adalah Lie Ceng Loan yang berhati polos dan suci bersih.

Maka ketika mendengar Bee Kun Bu mengatakan begitu,

Liong Giok Pin tampak tertegun

"Apakah Adik Ceng Loan telah dicelakai bajingan itu?" tanyanya. Ti.. tidak! Adik Loan kena racun ular, Co Hiong,., membawa pergi kantong sutera yang berisi seekor ular kilat hijau, sedangkan hanya... hanya empedu ular itu yang dapat memunahkan racun di tubuh adik Loan, Kalau tidak nyawa adik Loan pasti melayang!"

Bee Kun Bu berbicara begitu banyak, sehingga hawa murninya mulai buyar membuat nafasnya mulai memburu.

"Engkau tunggu di sini, aku akan mengejarnya!"

"Suci, kepandaian Co Hiong bertambah tinggi, dan senjata yang di tangannya sangat lihay, maka Suci harus hati-hati!" pesan Bee Kun Bu.

Liong Giok Pin tidak menyahut, cuma tertawa aneh lalu melesat pergi laksana kilat

Bee Kun Bu berupaya bangun, maksudnya ingin ikut mengejar Co Hiong. Akan tetapi, sebelum ia berdiri tegak sudah jatuh kembalu Akhirnya setengah merangkak ia mendekati sebuah pohon, kemudian berdiri di situ dengan punggung menyandar pada pohon itu.

ia berpikir, seandainya Liong Giok Pin berhasil menyusul Co Hiong, namun belum tentu akan berhasil merebut kembali kantong sutera yang berisi ular kilat hijau itu, boleh dikatakan tipis sekali harapannya.

Di saat ia sedang berpikir, dadanya terasa sakit sekali, sepertinya ada orang memukutnya dengan martiL

"Aaaakh...!N keluh Bee Kun Bu dengan wajah meringis, "Adik I-oan! Adik Loan! Apakah benar ajalmu telah tiba?"

Seketika air matanya meleleh, kemudian merasa dadanya bertambah sakit dan....

"Uaaakh" Mulut Bee Kun Bu menyemburkan darah segar, dan matanya merasa gelap sekali.

Buuuk! ia jatuh di tanah dan pingsan seketika. Entah berapa lama kemudian, Bee Kun Bu mulai sedikit sadar, dan merasa dirinya seakan berada di hadapan mayat Lie Ceng Loan, juga merasa melihat Co Hiong sedang tertawa gelak. Apa yang ada di dalam pandangannya masih tampak begitu kacau.

Berselang beberapa saat, semua itu sirna, hanya tampak gelap gulita di sekelilingnya.

Perlahan-lahan ia membuka matanya, Namun walau matanya sudah terbuka, tetap gelap gulita di sekeliling-nya. Kemudian ia mencoba menghimpun hawa murninya, sehingga luka dalamnya terasa agak membaik

Bee Kun Bu segera bangun duduk, Barulah ia merasa dirinya berada di tempat yang lembut dan empuk, sepertinya berada di atas setumpukan rumput kering.

Kini Bee Kun Bu teringat kembali, pada waktu itu ia berdiri bersandar di sebuah pohon, tak lama ia memuntahkan darah dari mulutnya, lalu jatuh pingsan di situ.

Akan tetapi, saat ini ia berada di atas setumpukan rumput kering, lagipula tempat itu tidak mirip di dalam hutan, melainkan mirip sebuah gua, atau di dalam sebuah ruang batu.

Tentunya ia tahu, bahwa setelah pingsan tidak mungkin dirinya bisa berjalan ke tempat tersebut, pasti ada orang menolongnya.

"Kawan dari mana, harap memunculkan diri!" seru Bee Kun Bu, "Aku harus mengucapkan terimakasih!"

Walau Bee Kun Bu berseru berulang kati, tetap tiada sahutan, cuma terdengar suaranya yang berkumandang, Dari suaranya itu, ia tahu bahwa dirinya berada di dalam sebuah gua yang sangat besar

Bee Kun Bu bangkit berdiri, kemudian mengeluarkan dua buah batu kecil lalu digosok-gosoknya, Tak lama batu itu memancarkan api. Tidak salah, ia memang berada di dalam sebuah gua besar

Gua itu bersih sekali, Setelah menengok ke sana ke mari,

Bee Kun Bu berseru lagi

"Orang berkepandaian tinggi dari mana yang menolongku?

Harap memberitahukan agar aku dapat mengucapkan terimakasih!"

Setelah berseru, barulah Bee Kun Bu sadar bahwa di dalam gua itu tidak ada orang lain, sebab barusan ia sudah melihat jelas gua itu, jadi pereuma ia berseru.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan, Mendadak di hadapannya muncul sedikit sinar, dan tampak pula sosok bayangan. Sosok itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun bagaikan arwah gentayangan

Semu!a Bee Kun Bu memang terkejut sekali, tapi kemudian teringat akan kaum Bu Lim yang bersifat aneh, lagipula dirinya telah ditolong, kenapa harus merasa takut?

"Bukan aku yang menolongmu." Terdengar suara yang amat dingin.

"Anda muncul di sini, tentunya punya hubungan dengan orang yang menolongku, bukan?" tanya Bee Kun Bu sambil menjura memberi hormat pada orang itu.

"Benar, Aku sekarang mau mengajakmu pergi me- nemuinya." Orang itu memberitahukan.

"Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu.

Orang itu berjalan pergi, dan Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang, Bee Kun Bu tahu, bahwa orang itu tidak ke luar, melainkan ke dalam.

Saat ini, Bee Kun Bu masih memikirkan keadaan Lie Ceng Loan, sehingga timbul pula rasa cemas dalam hatinya, sedangkan orang itu masih terus berjalan ke dalam, Setelah melewati beberapa tikungan, Bee Kun Bu bertanya. "Kawan! ini tempat apa dan apakah masih jauh ke tempat orang yang menolongku itu?"

Orang itu tidak menyahut ia terus berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Karena orang itu tidak menyahut, Bee Kun Bu merasa tidak enak bertanya lagi. Orang itu tidak memaksanya pergi, melainkan ia yang mau pergi menemui orang yang telah menolongnya.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak tampak cahaya terang di depan, Tampak pula sebutir mutiara sebesar telor ayam menempel di dinding gua. Mutiara itulah yang memancarkan sinar, Kemudian ketika Bee Kun Bu melihat sebuah pintu tertutup rapat di ujung lorong, orang tersebut berkata.

"Orang yang menolongmu berada di dalam ruang itu, silakan masuk sendiri!"

Bee Kun Bu tereengang, lalu melangkah ke depan pintu, Setelah berpikir sejenak barulah ia mendorong pintu itu.

Pintu itu terbuka, tampak remang-remang didalamnya. itu pun sinar yang dipancarkan dari sebutir mutiara.

Bee Kun Bu melangkah ke dalam, Dilihatnya ada dua orang sedang duduk bersemedi. Ketika ia baru mau memberi hormat, justru mendadak ia menjadi tertegun dua orang sedang duduk bersamedi, Ketika ia baru mau memberi hormat, justru mendadak ia menjadi tertegun Ternyata di saat itu Bee Kun Bu sudah melihat jelas ke dua orang tersebut Mereka adalah Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk, yaitu Tocu Pulau Kabut Hitam.

Bee Kun Bu sama sekali tidak menyangka kalau akan bertemu ke dua orang itu di dalam gua tersebut. ia pun tahu bahwa yang menolongnya adalah ke dua orang itu. sementara Kai Thian Kauw Cu sudah membuka matanya, lalu memandang Bee Kun Bu seraya tertawa, "Bee siauhiap, orang hidup selalu bertemu." padahal Bee Kun Bu sudah menyaksikan ke dua orang itu terluka parah oleh senjata Pek Yun Hui. Namun saat ini suara Kai Thian Kauw Cu begitu lantang dan nyaring, pertanda lukanya itu telah sembuh.

Terimakasih atas pertolongan Kauw Cu!" ucap Bee Kun Bu sambil senyum paksa, "Maaf, aku mau mohon diri!"

"Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, "Bee siauhiap, tempat ini adalah gua aneh yang berada di dalam perut gunung. Kalau tiada orang yang menunjukkan jalan, siapa pun tidak bisa meloloskan diri dari sini."

"Kalau begitu Kauw Cu berniat mengurungku di sini, itu bertujuan apa?" tanya Bee Kun Bu.

"Kalau kami ingin mencelakaimu..." sela Lim Thian Tuk. "Mungkin engkau sudah jadi mayat."

"Benar!" Bee Kun Bu mengangguk "Karena itu, aku mengucapkan terimakasih pada kalian berdua, Tapi karena aku masih punya urusan penting, maka tidak bisa lama-Iama di sini."

"Bee siauhiap!" Kai Thian Kauw Cu tertawa terbahak- bahak. "Gara-gara kalian beberapa orang, sehingga membuat Kai Thian Kauw belum dapat mengerjakan sesuatu yang menggemparkan Bahkan sebaliknya malah diri kami berdua yang celaka, Tentunya engkau tahu, kenapa kami menolongmu itu bukan dikarenakan kami tidak menghendaki engkau tidak mati lho!"

"Kalau begitu. " Air muka Bee Kun Bu berubah, "Kalian

menghendaki apa?"

"Wa!au Kai Thian Kauw telah terhalang, namun tetap harus menjagoi rimba persilatan," sahut Kai Thian Kauw Cu, "Lusa malam, semua anggota Kai Thian Kauw akan berkumpul di luar, dan mereka semua akan bersumpah setia dengan darah, Karena itu, kami sangat membutuhkan dirimu."

"ltu urusan Kai Thian Kauw, kenapa dikaitkan dengan diriku?" tanya Bee Kun Bu heran. "Bee siauhiap!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak lagi, "Walau engkau masih muda, tapi sudah tersohor Lagipula engkau berasal dari Tionggoan, maka namamu tidak begitu dikenal di perbatasan maupun di seberang laut!"

"Lalu kenapa?"

"Kalau dirimu dijadikan tumbal dalam sumpah setia itu, tentunya akan membuat Kai Thian Kauw jadi jaya sekali," sahut Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa ter-bahak-bahak.

Mendengar ucapan itu, sekujur badan Bee Kun Bu jadi dingin. Kini barulah ia tahu kenapa ke dua orang itu menolongnya, tidak lain ingin menggunakan dirinya sebagai tumbal

Luka dalamnya belum sembuh benar, lagipula ke dua orang itu berkepandaian amat tinggi, maka boleh dikatakan tiada harapan baginya untuk meloloskan diri, itu membuatnya terus membungkam

"Dengan cara itu, jelas namamu akan semakin tersohor," ujar Kai Thian Kauw Cu dan tertawa gelak lagi.

"Tadi aku mengira, kalian menolongku dengan setulus hati, tidak tahunya kalian berniat yang begitu kejam terhadap diriku!" ujar Bee Kun Bu dingin.

"Kami justru ingin membuat namamu semakin terkenal.

Engkau harus berterimakasih pada kami lho," sahut Lim Thian Tuk sambil tersenyum sadis.

Kai Thian Kauw Cu juga ikut tertawa. Kemudian mengangkat sebelah tangannya, seketika muncul empat orang dengan membawa tali.

"lkat dia!" Kai Thian Kauw Cu menunjuk Bee Kun Bu. "Kurung dia di dalam ruang batu!"

"Ya!" sahut ke empat orang itu serentak, lalu mendekati Bee Kun Bu. MendadakBee Kun Bu melancarkan dua buah pukulan Walau luka dalamnya belum sembuh benar, namun ke dua pukulan itu cukup dahsyat Tampak terpental dua orang, itu membuat Lim Thian Tuk gusar sekali dan membentak

"Engkau masih berani bertingkah? Apakah harus dihajar dulu?"

Bee Kun Bu tidak menyahut, malah melesat pergi secepat kilat Akan tetapi, di saat bersamaan, merasa ada tenaga yang sangat dahsyat menghisap dirinya dari be-lakang, sehingga membuat badannya terhisap mundur

Bee Kun Bu berusaha menghimpun tenaga murninya untuk melawan, namun tenaga hisapan itu bertambah kuat, sehingga badannya terus terhisap ke belakang.

"Ha ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak.

Bee Kun Bu terkejut bukan main, sebab Leng Tay Hiatnya telah tereengkeram oleh tangan Kai Thian Kauw Cu. itu membuat sekujur badannya terasa sakit sekali dan lemas tak bertenaga

"Hm!" dengus Kai Thian Kauw Cu. "Bee siauhiap, lebih baik engkau terima nasib saja!"

Bee Kun Bu menoleh, ia tidak melihat Kai Thian Kauw Cu, hanya melihat Lim Thian Tuk yang sedang menatapnya dengan bengis sekali.

Akhirnya Bee Kun Bu menarik nafas panjang, Selain menerima nasib, apa yang dapat diperbuatnya?

"lkat dia!" Kai Thian Kauw Cu memberi perintah pada ke empat orang itu.

Kali ini Bee Kun Bu tidak melawan, membiarkan badannya diikat Setelah itu, ia digotong pergi, Terdengarlah suara tawa gelak Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk.

Bee Kun Bu digotong ke dalam sebuah lorong yang gelap, dan setelah belok sini belok sana, barulah Bee Kun Bu ditaruh ke bawah. "Tempat apa ini?" tanya Bee Kun Bu. "Sebetulnya mau kalian apakan diriku?"

"Tadi Kauw Cu bilang apa padamu?" Salah seorang dari mereka balik bertanya.

"Bee siauhiap, engkau memang harus menerima na-sib," sambung yang lain.

"Di sini adalah gua aneh, apabila engkau ingin melarikan diri, engkau pasti akan mati kelaparan atau mati terpagut ular beracun yang di dalam gua ini!" Salah seorang yang lain lagi memberitahukan

"Aaaakh...!" keluh Bee Kun Bu.

Setelah ke empat orang itu pergi, Bee Kun Bu mulai menghimpun hawa murninya, Setelah itu, barulah ia menengok ke sana ke mari, dan akhirnya menarik nafas panjang lagi.

Tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan Kai Thian Kauw Cu, yakni lusa malam dirinya baru akan dijadikan tumbal, berarti masih punya kesempatan bagi dirinya.

Kalau begitu, harus mencoba mengobati lukanya dengan cara menghimpun hawa murninya. Apabila ia bisa pulih enam tujuh bagian, bukankah pada waktu itu ia masih bisa mengadu nyawa dengan Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk?

Setelah berpikir demikian Bec Kun Bu terus-me-nerus menghimpun hawa murninya....

*****

Bab ke 23 - Terpedaya Oleh Rayuan Gombal

sementara Liong Giok Pin yang mengejar Co Hiong sudah menempuh perjalanan hampir tujuh mi1. Akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan jejaknya. ia tahu, tawon beracun yang dilepaskan nya itu, kalau mengejar sesuatu yang hidup, harus sampai dapat menyengat nya.

Oleh karena itu, Liong Giok Pin yakin bahwa Co Hiong tidak akan begitu gampang meloloskan diri dan masih dikejarnya.

Setelah menempuh beberapa mil lagi, mendadak ia mendengar suara "Ngung! Ngung!", Betapa girangnya Liong Giok Pin. ia langsung saja melesat ke tempat itu.

ia melihat cahaya putih berkelebatan Tampak pula tawon beracun itu melayang-layang di situ sambil mengeluarkan suara ngung-ngungan

Liong Giok Pin berhenti tak jauh dari tempat itu, dan Co Hiong sudah melihat kehadirannya.

Sejak dikejar-kejar tawon beracun itu, Co Hiong sama sekali tidak pernah berhenti memutar-mutarkan senjata nya. Namun demikian beberapa kali ia nyaris tersengat

Memang sungguh gesit sekali tawon beracun itu. ia mampu menghindari sambaran-sambaran senjata pusaka Co Hiong, Padahal Co Hiong banyak akalnya, tapi kali ini merasa kewalahan menghadapi tawon beracun itu.

Ketika melihat Liong Giok Pin, kegusarannya langsung memuncak Namun wajahnya tampak berseri-seri.

"Kakak Liong! Apakah engkau ingin menangkap kembali tawonmu ini?" serunya.

"Bagaimana mungkin aku akan menangkapnya kem-bali?" sahut Liong Giok Pin dingin "ltu memang khusus untuk mencabut nyawamu!"

"Oh?" Co Hiong tersenyum manis, "Kalau begitu, untuk apa engkau ke mari?" "Co Hiong! Engkau adalah orang yang telah berlumuran dosa!" bentak Liong Giok Pin, "Namun sebelum engkau mati, engkau masih boleh berbuat suatu kebaikan!"

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Kakak Liong telah salah paham padaku."

"Engkau tidak perlu banyak omong!" bentak Liong Giok Pin lagi.

"Kakak Liong!" senyuman Co Hiong semakin manis, "Engkau menghendaki aku berbuat kebaikan apa?"

"Cepat lemparkan kantong sutera itu padaku!" sahut Liong Giok Pin cepat

Co Hiong manggut-manggut, Kini ia sudah tahu apa sebabnya Liong Giok Pin mengejarnya, ternyata demi kantong sutera yang berisi ular kilat hijau itu.

"Kakak Liong, engkau harus tahu," ujar Co Hiong memberitahukan " Kantong sutera ini berisi ular yang sangat beracun Untuk apa engkau minta kantong ini?"

Tidak ada urusan denganmu!" sahut Liong Giok Pin sengit "Kalau engkau menghendaki agar aku melempar kantong

sutera ini padamu, itu,., gampang sekali." Co Hiong tertawa,

Tapi engkau harus menangkap kembali tawon beracun itu."

Air muka Liong Giok Pin langsung berubah, ia justru ingin membunuh Co Hiong dengan tawon beracun, tetapi sekarang Co Hiong menyuruhnya agar menangkap tawon itu kembali

"Kalaupun engkau tidak mau menangkapnya kembali aku pun tidak akan tersengat TapL.," "Kenapa?"

"Nyawa Lie Ceng Loan yang akan melayang."

Liong Giok Pin terkejut mendengar ucapan Co Hiong itu. Tadi Bee Kun Bu hanya memberitahukan bahwa Lie Ceng Loan kena racun ular, dan racun itu hanya dapat dipunahkan dengan empedu ular kilat hijau, Namun ia tidak memberitahukan bahwa Na Hai Peng telah menutup jalan darah Lie Ceng Loan, sehingga Lie Ceng Loan masih bisa bertahan sebu!an, Karena itu, Liong Giok Pin sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Lie Ceng Loan.

Ketika mendengar Cd Hiong berkata begitu, cemaslah hati Liong Giok Pin, dan mengkhawatirkan Co Hiong akan mencelakai Lie Ceng Loan.

Co Hiong memang sedang memutar-mutarkan sen- jatanya, tapi masih sempat melihat perubahan wajah Liong Giok Pin.

"Kakak Liong!" Co Hiong tertawa, "Terus terang, walau tawon beracun itu sangat lihay, tapi tidak sulit bagiku melenyapkannya."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak turun tangan melenyapkannya?" tanya Liong Giok Pin dingin.

"Aku lihat dia masih bermanfaat bagiku, maka aku ingin menangkapnya hidup-hidup." jawab Co Hiong.

Liong Giok Pin tersentak mendengar ucapan itu, sebab ia sudah melihat jelas, kepandaian Co Hiong memang sudah tinggi sekali, terutama senjata yang di tangannya itu, pasti sebuah senjata pusaka.

"Kalau aku menangkap kembali tawon beracun itu, apakah engkau akan menyerahkan kantong sutera itu padaku?" tanya Liong Giok Pin.

"Tentu." sahut Co Hiong cepat

sebetulnya Liong Giok Pin tidak begitu mempereayai Co Hiong, Namun demi nyawa Lie Ceng Loan, ia terpaksa harus mempereayainya.

"Hm!" dengus Liong Giok Pin dingin "Apabila engkau mengingkar janji, aku masih tetap bisa menghadapimu!"

Tentu! Tentu!" Co Hiong tertawa.

Liong Giok pin menatapnya sejenak, kemudian mengeluarkan sebuah kantong kecil dari dalam bajunya, Perlahan-lahan dibukanya kantong kecil itu, lalu dikibaskan dan seketika itu juga tampak semacam bubuk hijau berhambur ke luar dari dalamnya.

Begitu mencium bau bubuk itu, tawon beracun tersebut mendekat dan langsung masuk ke kantong kecil Kemudian Liong Giok Pin mengikat mulut kantong kecil itu seraya membentak

"Cepat serahkan kantong sutera itu!"

"Kakak Liong!" sahut Co Hiong yang telah me rencana sesuatu, "Kantong ini pasti kuberikan, namun ada satu hal yang harus kujelaskan lebih dulu kepadamu."

"Engkau jangan macam-macam!" bentak Liong Giok Pin lagi.

"Jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam," ujar Co Hiong sambil tersenyum.

"Kalau begitu, cepat lemparkan! Tidak perlu banyak bicara!" tandas Liong Giok Pin dingin.

"Kakak Liong!" Co Hiong menarik nafas dengan wajah muram. "Aku bersungguh-sungguh demi dirimu, kenapa sebaliknya engkau malah bersikap begitu terhadapku

Ucapan Co Hiong yang begitu lembut itu membuat Liong Giok Pin teringat kembali pada saat-saat yang indah bersamanya.

"Kakak Liong!" Co Hiong maju dua langkah sambil tersenyum lembut "Engkau bertambah cantik, tapi kenapa harus mengenakan pakaian biarawati?"

Liong Giok Pin diam saja. Kelihatannya ia mulai terpengaruh oleh kata-kata manis Co Hiong, dan hal itu membuat Co Hiong bergirang dalam hati. "Kakak Liong!" Co Hiong maju lagi dua langkah. "Aku berkata sesungguhnya engkau boleh pereaya boleh tidak, Namun cukup engkau mengetahuinya."

Liong Giok Pin memejamkan matanya, Sekujur badannya tampak gemetar, dan ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

"Kakak Liong!" Suara Co Hiong yang lembut menggetarkan kalbu itu mengalun lagi "Kalau engkau tidak pereaya, silakan cari informasi tentang diriku, pernahkah aku jatuh cinta pada gadis lain? Sesungguhnya, di dalam hatiku cuma ada engkau seorang."

"Benarkah kata-katamu itu?" tanya Liong Giok Pin dengan air mata berderai-derai.

sementara Co Hiong telah menyimpan kantong sutera itu ke dalam bajunya, dan betapa girangnya ketika ia mendengar pertanyaan gadis tersebut

"Tentu sungguh..." jawabnya, lalu mendadak bergerak cepat Tahu-tahu kantong kecil yang ada di tangan Liong Giok Pin telah berpindah ke tangan Co Hiong.

Liong Giok Pin yang telah kena rayuan gombal itu, sama sekali tidak bersiap, Maka ketika ia tersentak sadar, kantong kecil yang ada di tangannya telah lenyap.

"Co Hiong!" bentaknya sengit

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Ada urusan apa?"

Sekujur badan Liong Giok Pin menggigil, dan wajah pucat pias, sehingga mulutnya tak mampu bersuara.

Saat ini ia amat membenci pada dirinya sendiri, kenapa begitu gampang terpengaruh oleh rayuan Co Hiong yang biadab itu. sepasang matanya membara, dan sekonyong- konyong ia memekik keras sambil menyerang Co Hiong.

Setelah berhasil merebut kantong kecil yang berisi tawon beracun itu, Co Hiong tidak takut lagi terhadap Liong Giok Pin. Ketika melihat Liong Giok Pin menyerangnya, ia berkelit ke samping sambil tertawa, lalu batas menyerang dengan jurus Toa Hai Mouw Cin (Mencari jarum Di Laut).

Kebencian Liong Giok Pin terhadap Co Hiong telah memuncak Maka serangannya tadi menggunakan segenap tenaganya.

Karena Co Hiong berkelit, maka serangan gadis itu jatuh di tempat kosong, membuatnya tiada kesempatan untuk menghindari serangan balasan dari Co Hiong. Namun lantaran ia menggunakan segenap tenaganya, maka ketika serangannya itu jatuh di tempat kosong, badannya pun terus meluncur ke depan, sehingga terluput dari serangan balasan Co Hiong.

Begitu serangannya meleset Co Hiong segera menggerakkan senjatanya lagi menyerangnya dengan jurus ke dua.

Liong Giok Pin memekik aneh sambil membalikkan badannya, tetapi serangan Co Hiong itu telah tiba, maka tanpa banyak pikir lagi, ia langsung menjulurkan tangannya untuk mencengkeram senjata Co Hiong.

Kepandaian gadis itu memang di bawah Co Hiong, maka bagaimana mungkin ia bisa berhasil mencengkeram senjata Co Hiong? Bahkan karena Co Hiong mendadak menggeserkan senjatanya, maka ujung senjata itu malah mengarah pada urat nadi di pergelangan tangan Liong Giok Pin.

seketika itu juga Liong Giok Pin merasa lengannya ngiiu, Baru saja ia mau meloncat mundur, tiba-tiba Co Hiong sudah melesat ke arahnya.

Crasss! Ujung senjata itu telah menusuk bahunya hingga hampir tembus ke belakang, setelah berhasil menusuk bahu Liong Giok Pin, Co Hiong mengayunkan kakinya menendang.

Duuuk! Perut Liong Giok Pin tertendang. Bahu dan perut Liong Giok Pin telah terluka, maka bagaimana mungkin ia kuat lagi mengadakan perlawan-an? Liong Giok Pin menjerit perlahan ketika perutnya tertendang, Mendadak Co Hiong menyerang lagi, dengan tendangan yang jauh lebih dahsyat dari pada tendangan tadi.

Duuuk! Badan Liong Giok Pin terpental bagaikan layang- layang putus, kemudian jatuh duduk di tanah dan mulutnya menyemburkan darah segar.

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Kakak Liong, apakah engkau masih berani menentangku?"

HAku... aku akan mencincang dagingmu dan meng-hirup darahmu!" sahut Liong Giok Pin sambil berkertak

"Ha ha!" Co Hiong tertawa lagi, "Apa yang engkau katakan itu tidak mungkin terwujud!"

Co Hiong mulai mendekati Liong Giok Pin selangkah demi selangkah, dan senjatanya diarahkan pada dada Liong Giok Pin.

"Engkau ingin turun tangan membunuhku?" tanya Liong Giok Pin.

"Benar!" Mendadak wajah Co Hiong berubah bengis sekali, "ltu agar kelak engkau tidak bisa mencincang dagingku dan menghirup darahku!"

Liong Giok Pin memejamkan matanya. ia yakin Co Hiong pasti turun tangan membunuhnya. Di saat ujung senjata Co Hiong hampir menusuk dadanya, tiba-tiba terdengar suara langkah yang diiringi suara tawa terkekeh-kekeh.

Co Hiong tertegun, Kemudian ia menarik kembali senjatanya, kemudian melesat ke belakang sebuah pohon.

Tak lama muncullah tiga orang, dua lelaki dan satu wanita, Mereka berdandan seperti pendeta Taosme dan biarawati, Akan tetapi, pakaian mereka sudah kotor dan kumal, bahkan wajah mereka pun kotor tidak karuan. Co Hiong tereengang, sebab selama ini ia tidak pernah dengar ada tokoh seperti itu dalam rimba persilatan

Ketika Co Hiong sedang berpikir, ke tiga orang itu sudah sampai, Setelah melihat jelas, Co Hiong terbelalak, sebab ke tiga orang itu ternyata Kun Lun Sam Cu, yakni Tong Leng Tojin, Hian Ceng Totiang dan Giok Cin Cu.

Kun Lun Sam Cu sangat terkenal dalam rimba persilatan kedudukan mereka bertiga dalam rimba persilatan pun amat tinggi, Akan tetapi, kenapa kini mereka berubah jadi begini rupa? Ternyata Co Hiong sama sekali tidak tahu akan kejadian yang menimpa Kun Lun Sam Cu, maka ia jadi terperangah ketika menyaksikan mereka bertiga. Namun Co Hiong tidak berani sembarangan bertindak, karena Kun Lun Sam Cu berkepandaian tinggi.

Liong Giok Pin pun sudah melihat dengan jelas ke tiga orang itu. ia merasa malu dan menyesal, sehingga air matanya langsung me!eleh. "Guru!" panggilnya.

padahal saat itu, Kun Lun Sam Cu sudah melewatinya.

Ketika mendengar suara panggilan itu, mereka bertiga berhenti dan langsung membalikkan badan, memandang Liong Giok Pin sambil tertawa ha ha hi hi.

Liong Giok Pin tertegun perlu diketahui, sejak berpisah dengan Lie Ceng Loan, ia berangkat ke dalam hutan daerah suku Miauw, tujuannya hanya ingin menangkap tawon beracun itu. Tentang Mo Kui Ceh Yi, ia sama sekali tidak mengetahuinya

Saat ini, Kun Lun Sam Cu tidak mengenali Liong Giok Pin, maka hati mereka pun tidak merasakan apa-apa. Hanya saja mereka mendengar suara Liong Giok Pin, maka berhenti dan memandangnya sambil tertawa-tawa.

"Guru!" ucap Liong Giok Pin, "Giok Pin sudah tidak punya muka bertemu guru. " Kun Lun Sam Cu tetap tertawa aneh, sehingga membuat Liong Giok Pin dan Co Hiong yang bersembunyi itu, merasa ada keanehan pada diri Kun Lun Sam Cu.

Akan tetapi, tidak terpikirkan oleh Co Hiong, bahwa kini Kun Lun Sam Cu dalam keadaan gila, Kalau ini terpikirkan olehnya, mungkin Kun Lun Sam Cu pun akan mati di tangannya.

Sebaliknya Co Hiong malah menganggap Kun Lun Sam Cu telah mengetahui akan keberadaannya di tempat itu, sehingga berpura-pura bersikap aneh. Oleh karena itu, Co Hiong bertambah berhati-hati.

"Guru, bolehkah Giok Pin ikut kalian?" tanya Liong Giok Pin.

Kun Lun Sam Cu tidak memperlihatkan reaksi apa pun. itu membuat Liong Giok Pin bergirang dalam hati, karena mengira Kun Lun Sam Cu menerimanya, seketika juga Liong Giok Pin langsung berlari menghampiri Giok Cin Cu, lalu mendekap di dadanya.

"Guru!" panggilnya dengan air mata bereucuran

Giok Cin Cu menangkap lengan Liong Giok Pin, kemudian tertawa terkekeh dan mendadak melesat pergi dengan menarik Liong Giok Pin. Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang segera mengikutinya dari belakang.

Menyaksikan kejadian itu, tertegunlah Co Hiong, ia ingin mengejar mereka, namun dibatalkannya, sebab ia ingat Kun Lun Sam Cu muncul mendadak, mungkin masih ada orang lain menyusul Oleh karena itu ia membatalkan niatnya untuk mengejar mereka.

Lagi pula setelah Co Hiong meninggalkan Toan Hun Ya, sepanjang jalan ia mendengar tentang Kai Thian Kauw, hatinyapun tertarik, sesungguhnya ia masih ingin membangun kembali partai Thian Liong, Namun ketika mendengar Kai Thian Kauw begitu kuat, maka ia mengambil keputusan bergabung dengan Kai Thian Kauw tersebut untuk membasmi sembilan partai besar, setelah itu baru menyusun rencana lagi.

Setelah Kun Lun Sam Cu dan Liong Giok Pin sudah tidak tampak, barulah Co Hiong ke luar dari tempat persembunyiannya, Di saat itu pula ia teringat pada Bee Kun Bu yang belum sempat dibunuhnya, itu gara-gara dirinya dikejar-kejar oleh tawon beracun.

Co Hiong cepat-cepat pergi ke tempat Bee Kun Bu tergeletak sesampainya di tempat iiu, ia terbelalak karena tidak melihatnya, Co Hiong mencari ke sana ke mari, tetapi sama sekali tidak menemukan jejaknya.

Akhirnya ia meninggalkan tempat itu, tujuannya pergi ke Kwat Cong San, Ternyata ia sudah mempunyai suatu rencana tertentu.

Karena tidak bertemu Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun langsung menuju Kwat Cong San dengan hati tereekam.

Begitu mereka sampai di depan gua Thian Kie, pintu gua itu tertutup rapat, Pek Yun Hui segera berseru.

"Guru! Kun Bu sudah sampai belum?"

Pintu gua itu terbuka, Tampak Na Hai Peng berjalan ke luar dengan wajah muram. ia memandang Pek Yun Hui seraya balik bertanya.

"Engkau bilang apa?"

pertanyaan ini membuat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun terkejut bukan main, Sekujur badan mereka pun dingin seketika.

"Kenapa baru beberapa hari kalian sudah pulang?" tanya Na Hai Peng cemas, "Apa yang telah terjadi atas diri Kun Bu?"

"Dia.,, dia membawa ular kilat hijau ke mari, Apakah dia... dia belum sampai di sini?" sahut Sie Bun Yun dengan wajah memucat "Dia belum kembali." Na Hai Peng memberitahukan Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui saling memandang

Mulut mereka terus membungkam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"SebetuInya kalian telah menghadapi masalah apa? Kenapa kalian pergi bertiga, tetapi pulang hanya berdua? Mungkin anak Loan tidak bisa bertahan sampai satu bulan."

Ketika mendengar apa yang dikatakan Na Hai Peng, hati Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui semakin cemas.

"Kun Bu telah berhasil mencuri ular kilat hijau itu, tapi dia entah kemana?" jawab Pek Yun Hui.

"Apakah...." Air muka Na Hai Peng berubah, H... dia malah terpagut oleh ular kilat itu?"

"ltu tidak mungkin." Pek Yun Hui menggelengkan kepala. "Cepatlah kalian tuturkan apa yang telah terjadi!" desak Na

Hai Peng tambah tidak tenang.

Tak lama setelah meninggalkan Kwat Cong San, kami memperoleh jejak ular kilat hijau itu, Orang yang pernah bertarung denganku, ternyata kakak seperguruan Souw Peng Hai. " Tutur Pek Yun Hui sejelas-jelasnya.

"Kalau begitu.,." ujar Na Hai Peng seusai mendengar penuturan itu, ". Kun Bu pasti telah menemui sesuatu di

tengah jalan."

"ltu justru sangat mengherankan," ujar Sie Bun Yun, "Padahal tempat itu tidak begitu jauh dari Kwat Cong San, lagi pula Saudara Bee yang berangkat lebih dulu, baru kami menyusul Apabila bertemu musuh, tidak mungkin Saudara Bee tidak melawan!"

"Jangan-jangan. " Pek Yun Hui mengerutkan kening.

"Jangan-jangan apa?" tanya Sie Bun Yun. "Dia bertemu Siao Tiap," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum getir

Sie Bun Yun dan Na Hai Peng tertegun mendengar ucapan itu, dan lama sekali barulah Na Hai Peng berkata. "Menurut aku, dia tidak bertemu Siao Tiap."

"Kenapa Locianpwee mengatakan begitu?" tanya Sie Bun Yun.

"Aku tahu jelas sifat Siao Tiap," jawab Na Hai Peng sambil menghela nafas panjang, "Dia jatuh cinta pada Kun Bu, itu merupakan urusan yang sangat merepotkan, yang jelas dia tidak akan mencelakai Ceng Loan."

"Mungkinkah..." ujar Sie Bun Yun berpikir sejenak, "Sebelum Saudara Bee memberitahukan tentang keadaan Nona Lie, dia sudah mati di tangan Siao Tiap?"

"Sifat dan hati Siao Tiap memang keras sekali, namun dia tidak berhati begitu kejam," ujar Na Hai Peng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui terus berpikir, akhirnya mereka berdua pun sependapat dengan Na Hai Peng.

Akan tetapi, kalau Bee Kun Bu tidak bertemu Na Siao Tiap, lalu bertemu siapa?

Karena itu, mereka bertiga terus memperbincangkannya, akhirnya Na Hai Peng berkata.

"Kalian berdua, lebih baik pergi cari dia lagi!"

"Ya." sahut Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui serentak, lalu melesat pergi dengan menggunakan ginkang.

Ketika mereka berdua sampai di kaki gunung Kwat Cong San, tampak sosok bayangan melesat ke arah mereka, Sungguh cepat gerakannya, sehingga dalam waktu sekejap sudah sampai di tempat Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui berada.

Semula mereka berdua girang sekali, karena mengira bayangan itu adalah Bee Kun Bu.

Namun setelah bayangan itu mendekat, terbelalaklah mereka, bahkan tampak tertegun pula.

Bayangan itu ternyata Co Hiong, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui saling memandang, Mereka berdua yakin bahwa kemunculan Co Hiong kali ini pasti berhubungan dengan Bee Kun Bu.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa cerah, "Pek Lie Hiap, selamat bertemu!"

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Engkau mau pergi ke mana?" HHa ha!" Co Hiong tertawa lagi, "Memang tidak salah Pek

Lie Hiap yang sangat terkenal, aku mau pergi ke mana,

apakah harus melapor atau minta izin pada Pek Lie Hiap?"

"Apakah engkau bertemu Bee Kun Bu?" tanya Pek Yun Hui.

Co Hiong tersentak, tapi wajahnya tetap tampak biasa. "Tidak! Sudah lama aku tidak bertemu Saudara Bee." ia

tersenyum. "Dia berada di mana sekarang?" tanyanya.

"Adik Pek!" bisik Sie Bun Yun. "Dia tidak bertemu Saudara Bee, untuk apa kita banyak bicara dengan nya ?"

"Engkau pereaya apa yang dikatakannya?" sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum dingin.

"Adik Pek! Benarkah dia telah bertemu Saudara Bee?" Sie Bun Yun berbisik lagi.

"Aku yakin itu,M jawab Pek Yun Hui sambil menatap Co Hiong, ini memang kebetulan sekali."

"Apa yang kebetulan ?" tanya Co Hiong acuh tak acuh. "Kami justru sedang mencarimu," sahut Pek Yun Hui.

"Oh?" Co Hiong tertawa, "Ada urusan apa, katakan satu persatu! Aku memang lagi senggang, tetapi yang tidak sabaran malah kalian berdua."

"Maksudmu?" tanya Pek Yun Hui, karena ucapan Co Hiong mengandung suatu maksud tertentu.

"Kalian berdua berotak cerdas, tentunya tidak perlu kujelaskan," sahut Co Hiong.

Trang! Pek Yun Hui menghunus pedangnya, "Eng-kau ke mari pasti ingin ke gua Thian Kie! Ada rencana busuk apa engkau pergi ke sana?"

"Pek Lie Hiap sungguh pintar, Aku memang ingin pergi ke sana," sahut Co Hiong sambil tersenyum. tetapi sama sekali tidak punya rencana busuk, melainkan ingin menyelamatkan nyawa orang."

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun terkejut, sehingga mereka berdua saling memandang.

"Maksudmu nyawa siapa?" tanya Pek Yun Hui.

MHa ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Kalian berdua pasti tahu, kenapa masih berlariya?"

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui saling memandang lagi, kemudian dengan serentak melangkah maju mengurung Co Hiong.

"Kalau engkau tidak mau menjelaskan jangan harap bisa hidup!" bentak Pek Yun Hui.

"Kalau aku mati di sini, nyawa Lie Ceng Loan pun pasti melayang!" ujar Co Hiong dingin.

"Tadi engkau bilang tidak bertemu Saudara Bee, kenapa sekarang tahu Nona Lie kena racun? Jadi ular kilat hijau itu berada padamu?" tanya Sie Bun Yun. "Engkau tidak perlu banyak bertanya, aku pun tidak akan banyak bicara!" sahut Co Hiong sambil tertawa, "Tentunya aku punya akal untuk membuat Nona Lie tidak sampai mati."

"Apakah ular kilat hijau berada di tanganmu?" bentak Pek Yun Hui sambil menggerakkan pedangnya, sehingga pedang itu berkelebatan

"Pek Lie Hiap!" Co Hiong tertawa dingin, "Pereuma engkau bertanya, sebab aku tidak akan menjawab! Kalau kalian tidak menghendaki Nona Lie hidup, kita boleh bertarung di sini! Aku pun tidak akan takut pada kalian berdua! Namun kalau kalian ingin menolong Nona Lie, haruslah berbuat sesuai dengan apa yang akan kukatakan

"Engkau ingin menekan kami?" tanya Sie Bun Yun gusar "BoIeh juga dikatakan begitu!" Co Hiong tertawa gelak,

"Sebab mau tidak mau kalian harus menuruti perkataankuI"

"Bagaimana kami tahu kalau engkau dapat menolong Ceng Loan?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Kalian boleh tidak mempereayaiku!" sahut Co Hiong sambil tersenyum

"Adik Pek!" bisik Sie Bun Yun. "Biar kita menemaninya ke gua Thian Kie, tentu dia tidak berani macam-macam."

"Kalau begitu, Saudara Bee. "

MHa hal" Co Hiong tertawa lagi. "Kuberitahukan, Saudara Bee tidak bisa ke mari menolong Nona Lie!"

"Kenapa?" tanya Pek Yun Hui dengan air muka berubah. Co Hiong hanya tersenyum, tanpa menyahut

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun betul-betui kewalahan menghadapi Co Hiong yang licik itu. Karena itu, Pek Yun Hui terpaksa berkata.

"Mari ikut kami!" Co Hiong tertawa lebar, lalu mengikuti mereka menuju gua Thian Kie dengan wajah cerah ceria.

*****

Bab ke 24 - Lie Ceng Loan jatuh Ke tangan Penjahat

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah tiba di depan gua Thian Kie. Kebetulan Na Hai Peng berdiri di situ, Begitu melihat Co Hiong datang bersama Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, keningnya langsung berkerut

"Guru!" Pek Yun Hui memberitahukan "Co Hiong bilang dia mampu menolong Adik Loan,"

"Di mana Kun Bu?" tanya Na Hai Peng dengan suara dalam.

"Kami tidak tahu," jawab Pek Yun Hui dan menambahkan Tapi Co Hiong tahu,"

sepasang mata Na Hai Peng langsung menatap Co Hiong dengan tajam, lalu selangkah demi selangkah mendekatinya dengan wajah gusar

Co Hiong berusaha setenang mungkin Namun hatinya tetap berdebar-debar tegang, sebab yang dihadapinya adalah orang berkepandaian amat tinggi.

"Berada di mana Kun Bu sekarang?" bentak Na Hai Peng. "Na Locianpwee, aku datang ke mari khususnya untuk

menolong Nona Lie. Kalau Locianpwee tidak sudi menerima kehadiran ku, aku pun mau mohon pamit," ujar Co Hiong.

"Engkau tidak akan bisa lolos dari sini!" bentak Na Hai Peng gusar

"Kalau aku tidak bisa lolos, Nona Lie pun tidak bisa hidup!" sahut Co Hiong. Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui memberi isyarat pada Sie Bun Yun, Mereka berdua lalu mengambil posisi mengurung Co Hiong.

"Co Hiong!" bentak Sie Bun Yun, "Ular kilat hijau pasti berada di tanganmu, bukan?"

Tentu!" Co Hiong mengangguk "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa menolong Nona Lie?"

"Meskipun engkau telah memperoleh Kui Goan Pit Cek, apakah engkau yakin kami bertiga tidak mampu mengambil ular itu dari tanganmu?" Sie Bun Yun tertawa dingin

Mendengar ucapan Sie Bun Yun itu, Co Hiong cuma tertawa gelak.

"Kenapa engkau tertawa?" bentak Pek Yun Hui.

"Kalau ular kilat hijau berada di tanganku, tentunya kalian gampang sekali merebutnya! Akan tetapi, ular itu bergerak laksana kilat! Apabila kuIepaskan, kalian pasti tidak dapat mengejarnya!"

Apa yang dikatakan Co Hiong itu, membuat Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Sic Bun Yun tertegun Mereka bertiga tahu, Co Hiong memang berkata sesungguhnya.

"Bagaimana?" tanya Co Hiong sambil tertawa.

"Baik!" sahut Na Hai Peng, "Asal engkau dapat menolong Ceng Loan, masalah apa pun tidak akan di-ungkit sekarang!"

"Terimakasih!" ucap Co Hiong, "Tapi,.,." "Kenapa?" bentak Na Hai Peng.

HAku mempunyai syarat!" sahut Co Hiong singkat HApa syaratmu?" tanya Pek Yun Hui gusar.

"Lho?" Co Hiong tertawa dingin, "Kenapa Pek Lie Hiap harus gusar? Saat ini ular kilat hijau ada di tanganku, jelas engkau pun harus menuruti perkataanku!" Pek Yun Hui nyaris menyerang Co Hiong, Namun karena teringat akan Lie Ceng Loan, maka ia membatalkan niatnya, dan terpaksa harus bersabar

"Engkau mempunyai syarat apa? Cepat katakan!" desak Pek Yun Hui.

"Tahun itu di Toan Hun Ya, kalau bukan dikarenakan Lie Ceng Loan berhasil menyobok pakaian guru dengan pedangnya, lembilan partai besar dirimba per-illatan pasti sudah roboh di Toan Hun Ya. Lie Ceng Loan yang membuat partai Thian Liong hancur dan bubar, tidak seharusnya aku meno!ongnya, namun hubungan kami cukup baik. N

"Jangan omong kosong di sinil" bentak Pek Yun Hui. "Olen karena itu.,." lanjut Co Hiong tanpa menghiraukan

bentakan Pek Yun Hui. "Syaratku adalah kalian harus menyerahkannya padaku, biar aku yang membawanya meninggalkan Kwat Cong San."

Betapa gusarnya Na Hai Peng, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui, ketika mendengar syarat yang diajukan Co Hiong, sehingga membuat mereka bertiga langsung maju selangkah

Ternyata Co Hiong sudah menduga akan hal itu. Maka seusai berkata begitu, ia langsung mengeluarkan kantong sutera seraya membentak

"Siapa berani maju lagi, aku pasti melepaskan ular kilat hijau ini!"

Ancaman itu membuat Na Hai Peng, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui tidak bisa berbuat apa-apa.

"Bagaimana dengan syaratku itu?" tanya Co Hiong dengan dingin.

"Tidak bisa!" sahut Na Hai Peng.

"Katau tidak bisa, aku pun tidak bisa menolongnyaf" ujar Co Hiong serius. "Engkau ingin membawa pergi Nona Lie, sebetulnya mengandung maksud apa?" tanya Sie Bun Yun.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak "Kalian boleh berlega hati!

Aku akan berbuat jahat terhadap siapa pun, tapi tidak akan turun tangan jahat terhadap Nona Lie!

Kalau aku berniat jahat terhadapnya, tentunya sudah kuturun tangan di saat kami berangkat ke Pit Sia Kiong!"

"Kalau begitu, kenapa engkau harus membawanya pergi?" tanya Pek Yun Hui. "Bukankah engkau bisa menolongnya di sini?"

Terus terang, aku cuma ingin bicara dengan dia setelah dia siuman!" sahut Co Hiong sambil menarik nafas panjang, "Cuma itu tujuanku!"

"Aku tahu, engkau menghendaki Nona Lie tahu, bahwa engkau yang menolongnya bukan?" Sie Bun Yun menatapnya tajam.

"Benar!" Co Hiong manggut-manggut.

Na Hai Peng, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui mundur beberapa langkah, ternyata mereka bertiga mengadakan perundingan kilat.

"Bagaimana Guru?" tanya Pek Yun Hui, "Bolehkah kita mengabulkannya?"

Na Hai Pengdiam, namun terus berpikir, lama sekali barulah membuka mulut dengan wajah serius.

"Tidak bisa!" sahutnya sambil menggelengkan kepala, "Bagaimana mungkin kita membiarkan Co Hiong yang jahat itu membawa pergi Ceng Loan?"

"Menurutku tidak apa-apa," sela Sie Bun Yun. "Maksudmu?" tanya Na Hai Peng bernada gusar "Apakah

engkau tidak tahu betapa kejam dan liciknya hati Co Hiong?" "Cianpwee jangan gusar!" ujar Sie Bun Yun menjelaskan "Biar Nona Lie dibawanya pergi, aku dan Adik Pek akan menguntitnya dari belakang Kalau dia berani macam-macam terhadap Nona Lie, kami pasti muncu!."

"Mungkin dia pun telah berpikir ke situ," ujar Na Hai Peng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Guru!" sela Pek Yun Hui, "Memang ada benarnya apa yang dikatakan Kakak Yun, kecuali jalan ini, sudah tiada jalan lagi."

Na Hai Peng berpikir dengan kening berkerut-kerut, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Mudah-mudahan Ceng Loan bernasib mujur!" "Cianpwee boleh berlega hati, Menurutku, Nona Lie tidak

bernasib naas dan akan mati penasaran Hanya saja kemungkinan besar Co Hiong punya pikiran yang bukan- bukan terhadap Nona Lie. Akan tetapi dia tidak akan turun tangan jahat terhadap nya. Dia hanya ingin mengambil hati, dan sekaligus agar Nona Lie berhutang budi p ada nya, sehingga Nona Lie pun akan terkesan baik padanya," ujar Sie Bun Yun mengemukakan pendapat-nya.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Dia sedang bermimpi di siang hari bolong!"

Ketika mereka bertiga sedang berunding, Co Hiong melangkah mundur beberapa depa. Walau tidak mendengar apa yang mereka rundingkan, namun ia dapat menduga apa yang mereka rundingkan itu. Apabila mereka setuju menyerahkan Lie Ceng Loan padanya, tentunya ada orang yang akan menguntitnya.

Setelah berpikir begitu, Co Hiong tersenyum licik. Ternyata ia telah menyusun suatu rencana untuk menghadapi siapa yang menguntitnya. "Kalau begitu...W ujar Na Hai Peng telah mengambil keputusan "Kita kabulkan saja syaratnya itu."

Pek Yun Hui memandang Co Hiong, lalu ujarnya mengancam dengan suara dingin sekali

"Apabila engkau berani macam-macam terhadap Adik Loan, aku pasti tidak akan melepaskanmu!"

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, "Aku tahu itu!"

"Baik!" Pek Yun Hui menatapnya, kemudian masuk ke gua Thian Kie.

Berselang sesaat, Pek Yun Hui sudah kembali lagi dengan menggendong Lie Ceng Loan yang masih dalam keadaan pingsan.

Wajah Lie Ceng Loan kehijau-hijauan, nafas lemah sekali, sekilas tampak seakan sudah hampir mati.

Co Hiong memang jahat, licik dan berhati kejam. Namun terhadap Lie Ceng Loan, ia bersungguh-sungguh dan dengan segenap hati pula, Ketika menyaksikan keadaan Lie Ceng Loan yang sangat memprihatinkan, ia betul-betul terkejut dan langsung menghampirinya.

"Nona Lie! Nona Lie..." panggilnya lembut

"Pereuma engkau memanggilnya, dia tidak bisa dengar!" ujar Sie Bun Yun dingin.

"Baik!" Co Hiong manggut-manggut, "Kalian boleh menaruh Nona Lie di punggungku, aku pasti menyelamatkan nyawanya."

Pek Yun Hui segera menaruh Lie Ceng Loan di punggung Co Hiong. sedangkan Co Hiong diam saja. Setelah Lie Ceng Loan berada di punggungnya, ia langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah Co Hiong menikung, barulah Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui melesat pergi menguntitnya. sementara Co Hiong terus berlari tanpa menoleh ke belakang, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui terus menguntitnya.

Setelah menempuh perjalanan beberapa mil, mendadak Co Hiong tertawa gelak sambil mengibaskan tangannya ke belakang.

Di saat ia mengibaskan tangannya, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui melihat ada sebuah kantong kecil di tangannya, Tapi mereka berdua tidak melihat apa yang ada di dalamnya, hanya saja mereka mendengar suara "Ngung!"

Lalu tampak setitik sinar kuning terbang menerjang ke arah mereka.

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui terkejut sekali Mereka cepat-cepat meloncat ke samping, Ketika itu mereka melihat jelas bahwa yang terbang itu, ternyata seekor tawon yang sangat besar.

Setelah mereka berdua meloncat ke samping, tawon beracun itu justru memburu Sie Bun Yun laksana kilat

Sie Bun Yun langsung mengayunkan bambu yang dipegangnya untuk melindungi diri, Menyaksikan kejadian itu, Pek Yun Hui segera menghunus pedangnya sambil mendekati Sie Bun Yun.

"Adik Pek, engkau jangan menghiraukan aku!" seru Sie Bun Yun cemas, "Co Hiong mau kabur!"

Pek Yun Hui tersentak lalu cepat-cepat memandang ke arah Co Hiong, namun Co Hiong sudah tidak tampak.

"Kakak Yun, biar kubasmi tawon beracun itu dulu! Engkau cepat mundur!" ujar Pek Yun Hui.

" Ya!" Sie Bun Yun langsung menpergencar serangannya terhadap tawon beracun itu, kemudian meloncat mundur beberapa depa.

Terdengarlah suara bentakan nyaring, lalu tampak berkelebat sinar putih meluncur ke arah tawon beracun itu. Ternyata Pek Yun Hui menyerang tawon beracun itu dengan ilmu pedang Sin Hap Kiam.

Cesss! Tawon beracun itu sudah terpotong menjadi dua, sekaligus melayang turun.

"Mari cepat kita kejar!" ujar Pek Yun Hui.

"Ya." Sie Bun Yun mengangguk sambil melirik ke arah bangkai tawon beracun itu, "Sungguh lihay tawon beracun itu! Kalau aku tidak cepat-cepat mengeluarkan tiga jurus untuk melindungi diri, mungkin aku sudah tersengat."

"Sudahlah!" tandas Pek Yun Hui. Tidak perlu membicarakan itu, mari cepat kita kejar!"

Mereka berdua segera melesat pergi, Akan tetapi meskipun sudah mencari ke sana ke mari, namun sama sekali tidak melihat Co Hiong.

Betapa cemasnya hati mereka. Kini mereka baru sadar bahwa Co Hiong memang sudah siap menghadapi rencana mereka itu. Lie Ceng Loan yang dalam keadaan pingsan itu, boleh dikatakan telah jatuh ke tangan Co Hiong, sedangkan Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kakak Yun! Bagaimana baiknya?" tanya Pek Yui) Hui dengan kening berkerut

"Kita terpaksa berpencar." sahut Sie Bun Yun. "Baik," Pek Yun Hui mengangguk

Mereka berpencar di tempat itu. Pek Yun Hui menuju arah timur, Sie Bun Yun menuju arah barat

Namun mereka berdua tidak menduga, kalau Co Hiong berputar kembali memasuki gunung Kwat Cong San. Tak lama Co Hiong sudah sampai di sebuah lembah, lalu bersembunyi sambil mengintip, Tidak tampak ada orang mengejarnya, ia menarik nafas lega sambil tersenyum gembira. Setelah itu, ia menaruh Lie Ceng Loan ke bawah. Gadis itu masih dalam keadaan pingsan, tentunya tidak tahu apa yang telah terjadi.

Perlahan-lahan Co Hiong mengeluarkan kantong sutera dari dalam bajunya, ia menaruh kantong itu ke tanah lalu menghimpun Lweekangnya sampai sepuluh bagian, dan mendadak melancarkan sebuah pukulan ke arah kantong sutera itu.

Plaak!

Setelah itu, Co Hiong pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian Namun tidak terdengar suara apa pun di dalam kantong sutera itu, Walau begitu, hatinya tetap tereekam rasa tegang, Lagi pula ia tidak tahu apakah ular kilat hijau telah pingsan sebelum terpukul pukulannya itu.

seandainya utar kilat hijau belum pingsan terpukul, begitu kantong sutera itu dibuka, pasti akan kabur.

Memang tidak salah, Co Hiong bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan nyawa Lie Ceng Loan, ia tidak menghendaki gadis itu mati begitu saja.

Lama sekali ia mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi tetap tidak terdengar suara apa pun di dalam kantong sutera itu, Namun ia tetap tidak berani membuka kantong sutera itu, Setelah melancarkan sebuah pukulan lagi ke arah kantong sutera tersebut, barulah membukanya dengan hati- hati sekali. Tampak ular itu sudah tak bergerak lagi.

Wajah Co Hiong tampak berseri. Tanpa membuang waktu ia langsung mengeluarkan sebuah belati, kemudian menusuk kepala ular kilat hijau dengan Teng Thian Sin Cin. Ujung senjata itu menancap di kepala ular kilat hijau, bahkan tembus sampai ke tanah.

Ternyata ular kilat hijau itu belum mati meskipun telah terpukul dua kali, Ketika kepalanya tertancap senjata itu, ia langsung menyemburkan racunnya. Racun itu membuat rumput yang ada di sekitarnya menjadi layu semua, Setelah itu, kepalanya pun tembus ke dalam tanah, tapi ekornya masih mengibas ke sana ke mari.

Betapa terperanjatnya Co Hiong, ia cepat-cepat meloncat mundur Tak lama, ular itu pun diam, Akan tetapi, Co Hiong masih tidak berani mendekatinya.

Berselang beberapa saat, barulah ia berani mendekatinya sekaligus membedah perutnya, dan dengan hati-hati sekali mengeluarkan empedu nya. Kemudian dengan perlahan-lahan dimasukkannya empedu itu ke dalam mulut Lie Ceng Loan.

Setelah itu, ia membersihkan senjatanya dan mengambil bangkai ular kilat itu lalu dimasukkan ke dalam kantong sutera.

Co Hiong duduk di sisi Lie Ceng Loan, Walau sudah sekian lama ia duduk menunggu di situ, tapi gadis tersebut masih belum siuman.

itu membuat Co Hiong jadi cemas, sebab ia sudah memasukkan empedu ular kilat hijau itu ke dalam mulut Lie Ceng Loan, namun kenapa gadis itu masih belum siuman?

Sementara hari sudah mulai gelap, Tak seberapa lama bulan pun mulai memunculkan diri, dan sinarnya yang remang-remang menyorot ke arah wajah Lie Ceng Loan.

Co Hiong memandang wajah gadis itu, dan seketika juga terbelalak Ternyata wajah Lie Ceng Loan yang menghijau itu mulai mengalami perubahan Betapa girangnya Co Hiong, dan segeralah ia memanggil

"Nona Lie! Nona Lie...!"

Akan tetapi, Lie Ceng Loan tetap tidak bergerak Co Hiong menunggu dengan sabar, sedangkan wajah gadis itu mulai berubah putih, Kira-kira satu jam ke-mudian, mulut Lie Ceng Loan mulai mengeluarkan ke-luhan.

"Nona Lie!" panggil Co Hiong lagi. Perlahan-lahan Lie Ceng Loan membuka sepasang matanya, tapi ia masih tidak dapat melihat jelas apa pun yang ada di sekitarnya, namun mulutnya bergumam.

"Kakak Bu, engkau di sini?"

"Nona Lie!" Co Hiong menggenggam tangannya. "Aku Co Hiong,"

Suara Co Hiong cukup keras, tapi Lie Ceng Loan yang mendengar merasa jauh sekali, dan nama tersebut membuatnya tersentak ia ingin bangkit, tapi masih tidak bertenaga.

"Nona Lie, engkau kena racun ular," ujar Co Hiong memberitahukan "Aku lah yang menolongmu Engkau jangan bergerak dulu!"

"Engkau,., engkau menolongku?" "Ya."

"Di mana Kakak Bu?"

"Panjang sekali kalau dituturkan Oh ya, apakah engkau masih ingat bagaimana engkau pingsan?"

"lngat. Kakak Bu menyuruhku pergi mencuri kantong sutera, Aku berhasil dan.,." tutur Lie Ceng Loan."... aku lalu membukanya, Begitu tampak cahaya hijau, seketika aku tak sadarkan diri, Apakah baru terjadi tadi?"

Tadi?" Co Hiong menggeleng-gelengkan kepala, "Hingga saat ini sudah delapan hari."

"Apa?" Lie Ceng Loan terkejut, "Sudah delapan hari?

Selama itu aku dalam keadaan pingsan?"

"BetuI," sahut Co Hiong lembut "Selama delapan hari ini, aku selalu berada di sisimu, Syukurlah engkau sudah siuman sekarang!"

"Aku,., telah menyusahkanmu," ucap Lie Ceng Loan dan terharu sekali. Tidak apa-apa," sahut Co Hiong sambil tertawa gembira.

"Saudara Co!" ujar Lie Ceng Loan setelah berpikir sejenak, "Engkau memang orang aneh."

"Aku orang aneh?" Co Hiong terbelalak, "Memangnya kenapa?"

"Kadang-kadang engkau jahat sekali, tapi kadang-kadang baik sekali." sahut Lie Ceng Loan.

"Oh?" Co Hiong tersenyum getir "Biar bagaimana pun, aku bersungguh hati terhadapmu."

"Pereuma engkau bersungguh hati terhadapku," ujar Lie Ceng Loan sambil memandang ke langit "Sebab hatiku telah kuserahkan pada Kakak Bu. Dia... dia berada di mana?

Kenapa dia tidak berada di sisiku, sebaliknya malah engkau?"

"Nona Lie, ceritakan dulu apa yang telah terjadi!" Co Hiong menatapnya dengan mata tak berkedip.