-->

Bangau Sakti Jilid 41

 
Jilid 41

Suara tawa itu sangat mengejutkan Pek Yun Hui dan lainnya, bahkan juga mengejutkan para anggota Kai Thian Kauw.

"Sobat dari mana? Kenapa tidak memperlihatkan diri?" bentak Kai Thian Kauw Cu lantang.

sementara suara tawa panjang itu makin dekat Tak lama tampak tiga sosok bayangan berkelebat ke tempat itu. Yang paling depan berbadan tinggi besar, mengenakan jubah biru. Orang itu yang menyamar sebagai Na Hai Peng, sedangkan dua orang di belakangnya agak muda, mengenakan pakaian hitam

Begitu ke tiga orang itu sampai di tempat tersebut, tampak puluhan orang langsung mengepungnya.

"Jangan turun tangan!" bentak Kai Thian Kauw Cu pada puluhan orang itu.

Sementara ke tiga orang itu melangkah menuju batu besar tempat Kai Thian Kauw Cu berdiri, orang tinggi besar berjubah biru tertawa dingin.

"Sungguh besar omongan Kauw Cu!" ujarnya. "Jelaskan!" sahut Kai Thian Kauw Cu sambil

memperhatikan ke tiga orang tersebut.

"Kauw Cu amat berambisi aku kagum sekali!" ujar orang tinggi besar berjubah biru.

"Kenapa tadi engkau mengatakan aku omong besar?" tanya Kai Thian Kauw Cu sambil menatapnya tajam.

"Memang banyak orang berkepandaian tinggi dalam Kai Thian Kauw, maka tidak sulit membasmi partai Hwa San!" sahut orang tinggi besar berjubah biru.

Terimakasih" ucap Kai Thian Kauw Cu dengan suara dalam.

"Membasmi partai Kun Lun, juga bisa berhasil! "Ngmm!"

"Membasmi partai Swat San dan Cing Shia, juga boleh dilaksanakan!"

"Oh, ya?"

"Ha ha ha!" Orang tinggi besar berjubah biru tertawa gelak, "Kalaupun sembilan partai dapat dibasmi, tapi Kai Thian Kauw tetap tidak bisa berkuasa di rimba per-silatan!" "Kalau begitu,.," ujar Kai Thian Kauw Cu dingin, Tentunya harus mohon petunjuk darimu!"

"Apakah Kauw Cu lupa? Kegagalan partai Thian Liong justru dikarenakan dua wanita Kwat Cong San? Dua wanita Kwat Cong San itu, meskipun tiada partai, namun nama mereka sudah tersohor Lagi pula kepandaian mereka berdua jauh di atas ketua sembilan partai, Apakah Kauw Cu mampu mengalahkan mereka?"

Air muka Kai Thian Kauw Cu berubah, begitu pula para anggotanya, Kai Thian Kauw Cu diam, wajahnya telah menghijau.

"Seandainya dua wanita Kwat Cong San tidak masuk dalam hitungan, diriku pun sulit dihadapi ujar orang tinggi besar berjubah biru sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau siapa, harap beritahukan!" ujar Kai Thian Kauw Cu dengan wajah berubah.

"Apakah Kauw Cu pernah dengar, ada sebuah pulau yang tertutup kabut hitam disebut Hek Uh To (PuIau Kabut Hitam)?" tanya orang tinggi besar berjubah biru.

Mendengar pertanyaan itu, para anggota Kai Thian Kauw tampak terheran-heran, namun wajah Kai Thian Kauw Cu justru berubah.

"Oh!" seru Pek Yun Hui tak tertahan

"Kakak Pek tahu asal-usuI orang itu?" tanya Bee Kun Bu. "Aku tahu sedikit, tapi panjang kalau dituturkan," sahut Pek

Yun Hui, "Kini bukan saatnya menuturkan itu."

Bee Kun Bu, Sie Bun Yun dan Lie Ceng Loan tahu, bahwa saat ini hati Pek Yun Hui sedang tereekam. Mereka bertiga pun tahu, betapa tingginya kepandaian orang itu. Pek Yun Hui tidak mau menutur sekarang, tentunya ada sebabnya, maka mereka bertiga pun tidak mendesaknya. Ternyata engkau datang dari Pulau Kabut Hitam!" ujar Kai Thian Kauw Cu sambil manggut-manggut

"Aku adalah majikan Pulau Kabut Hitam, generasi ke tujuh belas." Orang tinggi besar berjubah biru memberitahukan

"Bolehkah aku tahu nama besar Tocu (Majikan Pulau)?" tanya Kai Thian Kauw Cu. "Bukankah Tocu marga Lim?"

"Ha ha!" Orang tinggi besar berjubah biru tertawa terbahak-bahak, "Kauw Cu sungguh berpengetahuan luas, tahu pula aku marga Lim!"

"Kaum Bu Lim memang jarang mendengar tentang Pulau Kabut Hitam, tapi aku justru pernah mendengarnya!" sahut Kai Thian Kauw Cu.

"Namaku Thian Tuk!" ujar orang tinggi besar berjubah biru dan menambahkan "Artinya hanya aku yang berkuasa di kolong Iangit!"

"Hm!" dengus Kai Thian Kauw Cu dingin "Sungguh besarmu!utmu!"

"Tidak berani!" sahut Lim Thian Tuk.

"Lim Tocu ke mari berniat baik atau jahat? Harap dijelaskan!" ujar Kai Thian Kauw Cu.

"Bagaimana kalau aku berniat jahat? Bagaimana pula kalau aku berniat baik?" tanya Lim Thian Tuk.

"Kalau berniat baik, harap bergabung dengan Kai Thian Kauw!" sahut Kai Thian Kauw Cu. "Kalau berniat jahat, itu tidak perlu kujelaskan lagi!"

"Ha ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa ge!ak- "Bagus! Bagus!" Seusai berkata "Bagus" dua kali, sepasang mata Lim Thian

Tuk pun memancarkan sinar tajam, kemudian bersiul panjang dan berseru.

"Para anggota Kai Thian Kauw memang berkepandaian tinggi, tentunya bisa mengerjakan sesuatu yang menggemparkan! Tapi aku tidak tahu, apa kedudukanku kalau aku bergabung?"

"Dalam Kai Thian Kauw, ada empat pemimpin sek-tor! Apabila Lim Tocu bergabung, sudah pasti berkedudukan di atas empat pemimpin sektor itu!" jawab Kai Thian Kauw Cu memberitahukan

Ketika Kai Thian Kauw Cu mengatakan begitu, wajah Ek Ceng, Im Hang Cok dan Ku Hut Leng Khong ludah tampak berubah

"Kelihatannya..." Lim Thian Tuk tertawa dingin, "Pemimpin- pemimpin sektor sudah tampak tidak senang lho!"

"Memang tidak senang, kenapa?" sahut Ku Hut Leng Khong membentak

"Ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa, "Sebelum Kauw Cu mengatur kedudukanku, ada baiknya kita bertanding dulu!"

"Baik!" sahut Ku Hut Leng Khong.

Begitu mengucapkan baik, Ku Hut Leng Khong pun bergerak dengan jurus Tok Tuk Thu Si (Laba-Iaba Menyemburkan Racun), yaitu salah satu jurus Tu Si Ciang (llmu Pukulan Laba-Laba) yang sangat lihay dan dahsyat Tampak sepasang telapak tangannya berkelebatan mengarah Lim Thian Tuk.

"Ku Hut Leng Khong cari malu sendiri!" ujar Pek Yun Hui ketika melihat Hweeshio itu menyerang Lim Thian Tuk.

Kepandaian Ku Hut Leng Khong masih di bawah Pek Yun Hui, sedangkan kepandaian Lim Thian Tuk justru di atas Pek Yun Hui, maka Pek Yun Hui berani mengatakan begitu.

sementara Lim Thian Tuk tetap berdiri di tempat sambil tersenyum, padahal pukulan Ku Hut Leng Khong telah mendekati badannya.

"Kenapa engkau diam saja?" bentak Ku Hut Leng Khong, "Tidak mau balas menyerang sama sekali?" "Ha ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa terbahak-bahak "Bagaimana aku perlu balas menyerang?"

Betapa gusarnya Ku Hut Leng Khong, ia langsung menyerang dada Lim Thian Tuk, Perlu diketahui pukulan yang dilancarkan Ku Hut Leng Khong adalah pukulan beracun, Kalau badan Lim Thian Tuk terpukul, nyawanya pasti melayang.

Ku Hut Leng Khong memang berpikir demikian, maka ia meneruskan serangannya ke arah dada Lim Thian Tuk.

Akan tetapi, ketika sepasang telapak tangan tinggal sejengkal menyentuh dada Lim Thian Tuk, mendadak sepasang telapak tangan Ku Hut Leng Khong berhenti, sepertinya tertahan oleh sesuatu.

sadarlah Ku Hut Leng Khong, bahwa Lim Thian Tuk memiliki semacam tenaga sakti pelindung badan, Maka pukulannya tidak mampu melukainya, sebaliknya kalau Lim Thian Tuk mengerahkan tenaga saktinya, dirinya yang akan terluka.

Betapa terkejutnya Ku Hut Leng Khong, Cepat-cepat ia meloncat mundur Akan tetapi, Lim Thian Tuk telah menjulurkan tangannya, sekaligus menepuk bahunya seraya tertawa.

"Taysu tidak perlu kaget!" ujarnya.

Begitu bahunya tertepuk, wajah Kuh Hut Leng Khong berubah. ia mengira Lim Thian Tuk telah turun tangan jahat terhadapnya. seketika juga ia meloncat mundur dan menghimpun hawa murninya, Namun ia tidak merasa apa- apa, Ku Hut Leng Khong tahu Lim Thian Tuk telah menaruh kasihan padanya, itu membuatnya berterimakasih dan terharu.

"Kepandaian Anda memang tinggi sekali, Aku kagum dan mengaku kalah!" ucapnya setulus hati.

"Sama-sama." sahut Lim Thian Tuk sambil tertawa. "Heran?" gumam Pek Yun Hui, ia tidak melihat jelas kejadian itu, Pukulan Ku Hut Leng Khong hampir mengenai dada Lim Thian Tuk, namun mendadak malah meloncat mundur, itu membuat Pek Yun Hui tidak mengerti

Tidak usah heran, adik Pek!" ujar Sie Bun Yun sambit tersenyum "Lim Thian Tuk tidak mau melukai Ku Hut Leng Khong, Engkau tidak melihat itu?"

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut "Kakak Yun, maksudmu Lim Thian Tuk berniat merebut kedudukan Kai Thian Kauw Cu, maka dia mengambil hati Ku Hut Leng Khong?"

"Adik Pek!" Sie Bun Yun tersenyum lagi, "Kita tonton saja." sementara Ek Ceng, Im Hang Cok dan Lan Si Tianglo

terkejut bukan main begitu mendengar ucapan Ku Hut Leng Khong, Kemudian Im Hang Cok menghampiri Lim Thian Tuk sambil menjura.

"Lim Tocu, aku yang tidak tahu ini mohon petunjuk!" ucapnya.

"Silakan melancarkan pukulan!" sahut Lim Thian Tuk.

Im Hang Cok tidak segera menyerangnya, melainkan berputar-putar mengelilingi Lim Thian Tuk. sedangkan Lim Thian Tuk cuma berdiri diam di tempat

Setelah berputar cukup lama, mendadak Im Hang Cok melancarkan pukulan Akan tetapi, sungguh mengherankan pukulan itu diarahkan ke luar, namun kemudian mengarah ke Lim Thian Tuk.

Bukan main anehnya ilmu pukulan tersebut, bahkan Lim Thian Tuk pun berseru memuji.

"llmu pukulan yang hebat"

Lim Thian Tuk juga mengangkat tangannya, Begitu tangannya terangkat, Im Hang Cok sudah merasa adanya suatu keanehan Memang sungguh di luar dugaan, karena lengannya telah dicengkeram oleh Lim Thian Tuk.

Betapa terkejutnya Im Hang Cok, sebab kalau Lim Thian Tuk mengerahkan tenaga dalamnya, tentunya nyawa Im Hang Cok me!ayang.

Tapi Lim Thian Tuk malah tertawa, kemudian melepaskan tangannya, Im Hang Cok langsung menyurut mundur, dan keringat dinginnya pun mengucur di punggungnya

"Sungguh hebat ilmu pukulanmu! Kini terbukalah mataku!" ujar Lim Thian Tuk sambil tersenyum

"Kepandaianku tidak ada seujung kukumu, aku betul-betul tidak tahu diri." ucap Im Hang Cok dan tertawa getir

"Jangan berkata begitu!" Lim Thian Tuk tertawa gelak.

Ku Hut Leng Khong dan Im Hang Cok dikalahkan oleh Lim Thian Tuk dalam satu jurus, Tentunya hal itu sangat mengejutkan semua orang. Ek Ceng dan Lan Si Tianglo saling memandang Mereka berdua sudah tidak berani maju lagi.

"Tadi Kauw Cu sudah bilang, kalau aku bergabung dengan Kai Thian Kauw, maka kedudukanku di atas empat pemimpin sekton Entah kedudukan apa itu?" tanya Lim Thian Tuk sambil tertawa.

"Kalau benar engkau mau bergabung, kedudukan wakil Kauw Cu untukmu," sahut Hut Kai Thian Kauw Cu sungguh- sungguh, ia memang girang sekali, sebab Lim Thian Tuk menyatakan bersedia bergabung dengan Kai Thian Kauw, "Apabila Lim Tocu bersedia menerima kedudukan itu, sudah pasti merupakan keberuntungan bagi Kai Thian Kauw,"

Ucapan Kai Thian Kauw Cu membuat para anggota Kai Thian Kauw bersorak penuh kegembiraan Akan tetapi, Lim Thian Tuk cuma tertawa.

"Kenapa Lim Tocu tertawa ?" tanya Kai Thian Kauw Cu yang mulai bereuriga. "Kalau kedudukanku sebagai wakil Kauw Cu, maka masih di bawahmu, bukan?" sahut Lim Thian Tuk.

"Oh?" Kai Thian Kauw Cu mengerutkan kening. "Apakah engkau ingin bertanding denganku?"

Tidak salah!" sahut Lim Thian Tuk sambil tertawa, "Kita berdua memang harus saling mengukur kepandaian masing- masing!"

"Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak, "Bagus! Bagus!

Setelah tahu kepandaian siapa yang lebih tinggi, lalu harus bagaimana?"

"Yang menang sebagai Kauw Cu, yang kalah sebagai wakil!" jawab Lim Thian Tuk menegaskan "Bagaimana?"

"Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa terbahak-bahak "Baik, aku setuju usulmu!"

*****

Bab ke 15 - Pertarungan Memperebutkan Kedudukan Ketika Lim Thian Tuk menyatakan ingin bertarung dengan

Kai Thian Kauw Cu, wajah para anggota yang berdiri di lapangan itu langsung berubah.

"Kalian mundurlah sedikit!" seru Kai Thian Kauw Cu.

Mereka segera mundur sedangkan Bee Kun Bu dan lainnya yang bersembunyi di pohon juga merasa tegang.

"Kakak Bu!" tanya Lie Ceng Loan, "Menurutmu, kedua penjahat itu siapa yang berkepandaian paling tinggi?"

"Sulit diduga," sahut Bee Kun Bu sambil memandang Pek Yun Hui, "Kakak Pek, bagaimana menurutmu?"

Pek Yun Hui pernah bertarung dengan kedua orang itu, namun kepandaiannya masih di bawah mereka. "Kepandaian mereka berdua di atasku, Siapa yang berkepandaian paling tinggi di antaranya, aku tidak tahu," jawab Pek Yun Hui.

Ketika mendengar itu, Bee Kun Bu terkejut, sebab kepandaian mereka berdua di atas Pek Yun Hui.

"Sungguh banyak orang aneh berkepandaian tinggi dalam rimba persilatan!" ujar Bee Kun Bu sambil menarik nafas.

"Jangan bersuara!" bisik Pek Yun Hui, "Mereka sudah mau bertarung."

Mereka berempat segera mencurahkan perhatian ke sana, Tampak Kai Thian Kauw Cu sudah melayang turun dari batu besar itu.

Begitu lamban baru menginjak tanah. Ternyata Kai Thian Kauw Cu memperlihatkan ilmu ginkang tingkat tinggi. Wajah Lim Thian Tuk tampak berubah, ketika menyaksikan ilmu ginkang Kai Thian Kauw Cu.

"Lim Tocu! Silakan muIai!" ujar Kai Thian Kauw Cu.

Padahal semu!a, Lim Thian Tuk menganggap tidak begitu sulit untuk merebut kedudukan Kauw Cu, sebab ia berkepandaian amat tinggi.

Akan tetapi, kini setelah menyaksikan ilmu ginkang Kai Thian Kauw Cu, ia pun yakin, bahwa Kai Thian Kauw Cu berkepandaian tinggi juga, jadi ingin memenangkannya, tidaklah begitu gampang.

"Ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa setelah berpikir sejenak, "Apakah kita masih perlu bertarung secara mati-matian?"

Mendengar ucapan itu Kai Thian Kauw Cu tertegun Namun kemudian ia pun mengerti maksud Lim Thian Tuk, bahwa kalau ingin memperlihatkan kepandaian tidak perlu saling menyerang

"Bagaimana caranya?" tanya Kai Thian Kauw Cu. Lim Thian Tuk menengok ke sana ke mari, lalu memandang ke arah batu besar tempat Kai Thian Kauw Cu berdiri tadi.

"Mari kita bertanding di atas batu besar itu!" ujar Lim Thian Tuk.

"Baikt" Kai Thian Kauw Cu mengangguk

Bee Kun Bu, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan kecewa sekali, sebab Lim Thian Tuk dan Kai Thian Kauw Cu tidak bertarung secara mati-matian.

"Ke dua orang itu tak bernyali sama sekali," ujar Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

"Nona Lie!" Sie Bun Yun tersenyum "Kemungkinan besar mereka akan bertarung mati-matian, tapi setelah ini."

"Mudah-mudahan begitu!" sahut Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui serentak.

sementara Lim Thian Tuk menyurut mundur beberapa langkah, sehingga dirinya dengan batu besar itu berjarak lima depaan.

"Lim Tocu, batu besar itu boleh dikatakan berakar di dalam tanah." ujar Kai Thian Kauw Cu memberitahukan "Bukan aku sengaja menaruh nya di situ."

"Oh!" Lim Thian Tuk manggut-manggut "Kalau kita bertanding di atas batu itu, tentunya batu itu akan rusak. Bukankah sayang sekali?"

"Benar." Kai Thian Kauw Cu mengangguk "Ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa gelak.

Setelah itu, sepasang lengannya bergerak mengarah pada batu besar itu, lalu sepasang telapak tangannya didorongkan ke sana.

Kai Thian Kauw Cu berdiri tak jauh, ia sama sekali tidak merasa ada angin pukulan ketika Lim Thian Tuk mendorongkan sepasang telapak tangannya, Akan tetapi berselang sesaat, terdengarlah suara seperti ledakan

Bum!

Kai Thian Kauw Cu merasa ada tenaga yang amat dahsyat ia cepat-cepat menghimpun Lweekangnya untuk melawan tenaga itu.

Kai Thian Kauw Cu tahu, bahwa tenaga yang amat dahsyat itu tidak mengarah pada dirinya, melainkan cuma menyambar sedikit saja, Betapa kagumnya terhadap Lim Thian Tuk. ia pun yakin bahwa masih banyak orang berkepandaian tinggi di Hek Uh To itu. Apabila Lim Thian Tuk bergabung dengan Kai Thian Kauw, otomatis Kai Thian Kauw akan bertambah kuat

Kalau dibandingkan dengan Pek Yun Hui, memang lebih baik Lim Thian Tuk yang jadi wakil Kauw Cu, karena kepandaian Lim Thian Tuk lebih tinggi dari Pek Yun Hui.

Oleh karena itu, Kai Thian Kauw Cu pun mengambil suatu keputusan sementara Lim Thian Tuk masih terus menjulurkan sepasang tangannya ke arah batu besar itu.

Tidak tampak ada kejadian apa pun. Tentunya para anggota Kai Thian Kauw mengerutkan kening, Berselang beberapa saat kemudian, terdengar suara seruan dari beberapa anggota Kai Thian Kauw.

"Haaah! Lihatlah itu!"

Ternyata permukaan tanah di hadapan Lim Thian Tuk, tampak menyembul ke atas perlahan-lahan.

Menyaksikan kejadian itu, Bee Kun Bu, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan yang bersembunyi di atas pohon, terkejut bukan main.

"Betapa tingginya Lweekang orang itu, Memang sungguh diluar dugaan!" ujar Pek Yun Hui sambil menarik nafas. "Kakak Pek! Apakah kepandaian orang itu lebih lihay dari Kakak Siao Tiap?" tanya Lie Ceng Loan.

"ltu belum tentu," sahut Pek Yun Hui, "Tapi batu besar itu sangat berat, lagi pula sudah berakar di dalam tanah, Orang itu ingin merobohkan batu besar tersebut, Lweekangnya pasti sudah mencapai tingkat tertinggi

"Benar." Sie Bun Yun manggut-mangguL "Orang itu menggunakan tenaga keras dan lunak, memang luar biasa sekali."

Pada waktu bersamaan, tampak Lim Thian Tuk menyurut mundur dua langkah, kemudian membentak keras sambil mendorongkan telapak tangannya.

Bum!

Batu yang begitu besar itu terangkat dan sekaligus terdorong roboh. Tanah di situ pun bersebaran ke mana- mana, dan seketika tampak sebuah lubang besar di sana.

"Ha ha!" Lim Thian Tuk tertawa, "lni baru ilmu cakar ayam, tidak begitu pantas dipertontonkan!"

"Di tempat ini cuma terdapat sebuah batu besar, dan kini sudah terdorong roboh, Lalu bagaimana aku harus mempertontonkan keburukanku?" tanya Kai Thian Kauw Cu dingin.

"ltu gampang," sahut Lim Thian Tuk, Tocu Pulau Kabut Hitam.

Lim Thian Tuk mendekati batu besar itu. ia menarik nafas dalam-dalam dan mendadak mengangkat sepasang tangannya, sekaligus didorongkan ke arah batu besar itu.

Bukan main! Batu besar itu terdorong ke dalam lubang itu lagi, bahkan juga berikut tanah-tanah yang berserakan itu.

Setelah itu, ia pun terus mendorongkan sepasang telapak tangannya ke sisi-sisi batu besar tersebut Tak lama, posisi batu besar itu sudah kembali seperti semula. "Engkau boleh berbuat seperti aku!" ujar Lim Thian Tuk.

Mendengar ucapan itu, Kai Thian Kauw Cu mencarinya dalam hati, sebab Lim Thian Tuk itu sangat licik, Ketika sepasang telapak tangannya terus mendorong, secara tidak langsung ia telah mengeraskan tanah di sekitar batu.

Tentang itu, semua orang tidak mengetahuinya, Jadi kalau Kai Thian Kauw Cu ingin berbuat seperti Tocu, tentunya harus memiliki Lweekang yang jauh lebih tinggi dari padanya.

Bagi yang tidak mengetahui, akan mengira bahwa Lim Thian Tuk telah mengalah pada Kai Thian Kauw Cu. Siapa pun akan menganggap lebih gampang mengangkat batu besar itu sekarang dari pada tadi.

"He he!" Kai Thian Kauw Cu tertawa dingin. "Lim Tocu telah merobohkan batu itu duluan, kini aku berbuat seperti itu, bukankah sangat menguntungkan diriku?"

itu belum tentu!" sahut Lim Thian Tuk sambil tertawa panjang.

Kai Thian Kauw Cu tidak banyak bicara lagi, ia mendekati batu besar itu lalu berdiri tegak di situ.

Mendadak jubah merahnya mengembung seperti balon, kemudian badannya dibungkukkan sedikit, dan sekaligus mendorong ke depan.

Dorongannya itu kelihatan tak bertenaga sama sekali Lim Thian Tuk juga merasa begitu dan merasa heran.

Akan tetapi, berselang sesaat, tanah di sekeliling batu besar itu tampak mengembung ke atas.

Setelah menyaksikan itu, barulah Lim Thian Tuk tahu, bahwa dorongan tadi tidak disertai Lweekang.

Ternyata Kai Thian Kauw Cu menyalurkan Lweekangnya ke sepasang kakinya, untuk menggemburkan tanah di sekeliling batu besar tersebut "Ha ha!" Kai Thian Kauw Cu tertawa gelak sambil mundur dua langkah, lalu membentak keras dan sekaligus mengibaskan lengan jubahnya.

Bum! Batu besar itu bergoyang-goyang, kemudian terangkat dan roboh. Kai Thian Kauw Cu mundur selangkah lagi, lalu mendadak sepasang telapak tangannya mendorong ke depan.

Buml Batu besar itu terdorong ke depan.

Air muka Lim Thian Tuk langsung berubah, tapi tetap tersenyum seraya berkata.

"Sungguh hebat Lweekangmu!"

"Selanjutnya kita masih mau bertanding ipa?" tanya Kai Thian Kauw Cu dengan dingin sekali

"Batu besar itu hancur sedikit, berarti kita serie," sahut Lim Thian Tuk sambil tersenyum.

sebenarnya yang menghancurkan pinggiran batu besar itu justru adalah Lim Thian Tuk. Akan tetapi, pada waktu itu, pinggiran batu besar tersebut masih tampak seperti biasa, Setelah Kai Thian Kauw Cu mendorong batu besar itu sampai terpental, barulah ketahuan kalau pinggiran batu itu hancur

Sungguh gusar Kai Thian Kauw Cu, sebab ia telah terjebak oleh kelicikan Lim Thian Tuk, Maka pertandingan babak pertama itu pun jadi serie.

"Maksud Lim Tocu babak pertama ini serie?" tanya Kai Thian Kauw Cu dingin.

Tidak salah!" Lim Thian Tuk mengangguk

"Baik! Bagaimana pertandingan babak ke dua?" tanya Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa dingin.

Tadi aku lihat ginkangmu amat tinggi Bagaimana kalau kita bertanding ginkang saja babak ke dua?" Lim Thian Tuk balik bertanya. "Baik!" Kai Thian Kauw Cu mengangguk Tapi bagaimana caranya?"

"Banyak caranya!" sahut Lim Thian Tuk. "Yang kita tandingkan adalah ilmu ginkang tingkat tertinggi, yakni hanya menghimpun hawa murni agar badan kita melambung ke atas, kemudian melayang turun harus dalam posisi yang sama!"

"Baik!" Kai Thian Kauw Cu manggut-manggut.

HSiapa di antara kalian yang membawa tali?" tanya Lim Thian Tuk kepada para anggota Kai Thian Kauw.

"Kami bawa!" sahut beberapa orang. "Bawa kemari!" seru Lim Thian Tuk.

Beberapa orang itu segera menyerahkan tali pada Lim Thian Tuk, Setelah menerima tali-tali itu, Lim Thian Tuk pun menyambungnya sehingga menjadi panjang hampir delapan depa. Tali yang sudah panjang itu ditaruh ke bawah, ia lalu memandang Kai Thian Kauw Cu seraya berkat a.

"Kita mempergunakan tali itu!"

"Ng!" Kai Thian Kauw Cu mengangguk "Silakan Lim Tocu duluan!"

"Baik!" Kai Thian Kauw Cu menjura.

ia membungkukkan badannya, Ujung tali itu diikatkan pada kaki kirinya, lalu mulai menghimpun hawa murninya.

Tak seberapa lama kemudian, sepasang kakinya masuk sedikit ke dalam tanah, sedangkan sekujur badannya berbunyi pletak-pletuk, Berselang sesaat, ia mengembangkan sepasang lengannya bagaikan sayap burung, seketika juga badannya melambung ke atas, dan tali itu pun terangkat

Badan Lim Thian Tuk melambung setinggi tigadepa, lalu berhenti sejenak Setelah itu badannya mulai melayang turun.

Salah seorang pengikutnya, segera menginjak tali yang di permukaan tanah, sementara badan Lim Thian Tuk terus melayang turun, kemudian sepasang kakinya tetap menginjak bekas kakinya yang di tanah dalam posisi tak berubah.

Orang yang menginjak tali itu tetap berdiri di situ, sedangkan Lim Thian Tuk membuka ujung tali yang diikatkan pada kaki nya.

"Sekarang giliranmu!" ujarnya kepada Kai Thian Kauw Cu sambil tersenyum.

Kini semua orang baru tahu, apa kegunaan tali tersebut, ternyata digunakan untuk mengukur tinggi.

"Sungguh hebat ginkang Lim Tocu!" sahut Kai Thian Kauw Cu.

Terimakasih atas pujianmu!" Lim Thian Tuk tersenyum Jagi.

"Berdasarkan kepandaian Lim Tocu, memang pantas menjadi wakil Kauw Cu." ujar Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa.

"Oh, ya?" Lim Thian Tuk juga tertawa, "Kalau engkau tidak berbuat seperti aku barusan, bagaimana mungkin aku akan merasa tunduk?"

"Emmh!" Kai Thian Kauw Cu manggut-manggut, lalu melangkah maju dan mengikatkan ujung tali itu pada kakinya.

Orang yang menginjak tali itu langsung menyingkir tapi sudah memberi tanda pada tali yang diinjaknya tadi.

Setelah mengikatkan ujung tali itu pada kakinya, Kai Thian Kauw Cu mulai menghimpun hawa murninya.

Mendadak ia bersiul panjang, dan seketika juga badannya melambung ke atas, setelah badannya melambung setinggi dua depa, tiba-tiba ia merasa sakit di kakinya, sepertinya tertusuk jarum, bahkan mulai merasa ngilu. Walau Kai Thian Kauw Cu berkepandaian amat tinggi, namun badannya sudah melambung ke atas, dan juga rasa ngilu itu membuatnya tidak bisa menghimpun hawa murninya

Di saat itu, barulah Kai Thian Kauw Cu tahu, bahwa Lim Thian Tuk telah melakukan sesuatu pada ujung tali itu, Ternyata memoleskan semacam racun.

Betapa gusarnya Kai Thian Kauw Cu. sedangkan tubuhnya telah merosot ke bawah, Begitu sepasang kakinya menginjak bekas kakinya, Lim Thian Tuk tertawa gelak seraya berkata.

"Kini sudah terbukti, bahwa kepandaian siapa yang lebih tinggi."

"Lim Tocu!" Kai Thian Kauw Cu tertawa aneh. "Kukira majikan Pulau Kabut Hitam adalah lelaki sejati, tidak tahunya begitu tak tahu malu!"

"Eh?" Wajah Lim Thian Tuk berubah "Di hadapan semua orang, engkau masih berani mencaci? Padahal engkau sudah kaiahl Oleh karena itu, mulai saat ini aku sebagai Kauw Cu, engkau wakilku! seandainya engkau merasa tidak senang, boleh segera angkat kaki dari sini! Kenapa malah mencaci orang?"

Betapa gusarnya Kai Thian Kauw Cu, sehingga sepasang matanya membara menatap Lim Thian Tuk.

"Um Tocu, aku sungguh menghargaimu, maka bersedia mengangkatmu sebagai wakil Tapi engkau begitu tak tahu malu, jadi pelayan di Kai Thian Kuaw pun tidak pantas!" ujar Kai Thian Kauw Cu dingin.

"Kalian empat pemimpin sektor!" seru Lim Thian Tuk. "Siapa yang benar dan salah, tentunya kalian telah menyaksikannya, bukan?"

Ke empat pemimpin sektor diam saja, sementara Kai Thian Kauw Cu sudah tidak bisa bersabar lagi Badannya bergerak dan sekaligus menyerang Lim Thian Tuk. Saat ini, ke empat pemimpin sektor dan para anggota, mulai berkasak-kusuk membicarakan masalah itu, Ada yang bilang, sudah kalah memang harus jadi wakil Ada pula yang mengatakan, bahwa Lim Thian Tuk bukan pendiri Kai Thian Kauw, maka dia tidak bisa menjadi Kauw Cu.

Dalam kasak-kusuk itu, justru tiada seorang pun yang membicarakan masalah kecurangan Lim Thian Tuk, sebab tiada seorang pun yang mengetahui hal itu.

Kai Thian Kauw Cu mendengar kasak-kusuk mereka, maka kegusarannya pun semakin memuncak

ia langsung menyerang Lim Thian Tuk dengan jurus Liat Su Thui San (Orang Gagah Mendorong Gunung).

Lim Thian Tuk berkelit, kemudian balas menyerang Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit

Kai Thian Kauw Cu membentak keras, lalu menyerang dengan tiga jurus beruntun, yakni Lang Hoa Cuk TTiian (Bunga Ombak Bergemerlapan Ke Langit), Yun Khai Kian Goat (Awan Buyar Bulan Tampak) dan Jit Kong Ban Cang (Sinar Matahari Laksaan Depa), Tiga jurus beruntun ini adalah ilmu andalan Kai Thian Kauw Cu.

Saat ini, ia dalam keadaan gusar, lagipula menggunakan delapan bagian Lweekangnya, Maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan-serangannya.

Lim Thian Tuk bersiul panjang, ia tidak mundur maupun berkelit, melainkan menangkis serangan-serangan itu.

Terdengarlah suara benturan yang sangat dahsyat, sehingga para anggota yang sedang menonton itu, langsung menyingkir jauh-jauh.

Setelah terjadi benturan itu, Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk pun mundur dua Iangkah. Kai Thian Kauw Cu tidak menunggu ia cepat-cepat menyerang lagi dengan dua buah pukulan. Lim Thian Tuk menangkis sekaligus balas menye-rang, Betapa serunya pertarungan itu, sehingga membuat para anggota Kai Thian Kauw menonton dengan mata terbelalak

Tak terasa, pertarungan mereka telah melewati tiga puluh jurus, Tampak bayangan mereka berkelebatan, sebentar dekat dan sebentar jauh, bahkan diiringi dengan suara benturan-benturan dahsyat yang memekakkan telinga.

"Kakak Pek! Bagaimana kalau kita memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kekacauan?" tanya Bee Kun Bu.

"Jangan dulu." " Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Kalau kita sekarang memunculkan diri, mereka berdua pasti berhenti bertarung."

"Benar." Sie Bun Yun manggut-manggut "KJni mereka berdua sedang bertarung mati-matian, sudah pasti dua- duanya akan terluka parah, Setelah mereka berdua terluka, barulah kita muncul."

Di saat, mereka bereakap-cakap, pertarungan Kai Thian Kauw Cu dengan Lim Thian Tuk pun mulai Iamban. Ternyata mereka berdua mulai saling menyerang dengan Lweekang, sehingga terdengar suara menderu-deru yang menusuk telinga.

"Bagaimana kalau kalian berdua berhenti bertarung?" seru Ek Ceng.

"Kalian berdua berkepandaian tinggi, kenapa harus bertarung mati-matian?" Im Hang Cok juga ikut berseru.

Mereka tahu, bahwa apabila pertarungan itu masih berlanjut, tentunya ke dua orang itu akan terluka parah.

Akan tetapi, saat ini mereka berdua telah mengerahkan seluruh Lweekang masing-masing, maka sulit untuk ditarik kembali, Siapa yang duluan menarik Lweekang-nya, pasti terluka parah. Maka ketika Ek Ceng dan Im Hang Cok berseru, ke dua orang itu tetap melanjutkan pertarungan

Betapa cemasnya Ek Ceng, Im Hang Cok, Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo menyaksikan pertarungan itu.

Ke dua pengikut Lim Thian Tuk juga tampak gelisah. Ke dua orang itu pun terus memperhatikan pertarungan tersebut dengan mata tak berkedip.

Lewat beberapa jurus kemudian, Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk saling mengadu pukulan lagi.

Bum! Buml

Mereka berdua mundur dua langkah, kemudian maju lagi dan saling menyerang mati-matian.

Mendadak dua pengikuti Lim Thian Tuk berteriak aneh, lalu menerjang ke depan, Akan tetapi, Ek Ceng segera melesat ke hadapan mereka, maka terjadilah pertarungan di silu.

sementara Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk terus mengerahkan Lweekang masing-masing. Kadang-kadang tampak Lim Thian Tuk terdesak, namun maju lagi dengan serangan dahsyat, Kai Thian Kauw Cu mundur selangkah, lalu maju sambil menyerang.

Dua pengikut yang bertarung dengan Ek Ceng, tiba-tiba memekik sambil meloncat mundur Namun Ek Ceng tidak mengejar mereka, maka pertarungan berhenti sampai di situ.

Tak seberapa lama kemudian, di ubun-ubun Kai Thian Kauw Cu dan Um Thian Tuk mengepul uap panas bagaikan kabut Makin lama makin menebal kabut itu menutupi badan masing-masing.

"Sudah saatnya kita muncul," ujar Sie Bun Yun. ia bersiul panjang, dan sekaligus melesat ke tempat itu. Bee Kun Bu juga bersiul panjang, lalu melesat ke sana seraya berseru sekeras-kerasnya.

"Murid partai Kun Lun berada di sini! Kalian tidak perlu ke gunung Kun Lun!"

Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan tidak tinggal diam di atas pohon. Mereka pun menghunus pedang sambil melesat ke tempat itu.

Kemunculan mereka berempat, sungguh di luar dugaan semua orang. Ketika melihat Sie Bun Yun, mereka cuma mengerutkan kening. Tapi begitu melihat Pek Yun Hui, seketika wajah mereka berubah, Ke empat pemimpin sektor terpaksa menyambut mereka.

Sie Bun Yun yang paling depan, disambut oleh iblis Kepala Putih Ek Ceng. Tanpa banyak bicara lagi, Sie Bun Yun langsung menyerangnya dengan jurus Hong Cueh Ciok Tung (Angin Berhembus Bambu Bergerak), serangan itu mengarah pada tiga jalan darah di dada Ek Ceng.

iblis Kepala Putih Ek Ceng berkelit, sekaligus mengeluarkan senjatanya, yang berupa sebatang potlot baja, itu pertanda ia sangat mahir ilmu menotok jalan darah.

Setelah mengeluarkan senjata itu, Ek Ceng mulai balas menyerang menotok jalan darah Sie Bun Yun.

Bee Kun Bu disambut Im Hang Cok. ia menyerang lawannya itu dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam. Tampak pedangnya berkelebatan mengarah Im Hang Cok.

Akan tetapi, Im Hang Cok sangat gesit Semua serangan Bee Kun Bu dapat dihindarinya dengan baik. Kemudian ia mengeluarkan cambuknya, dan pertarungan sengit pun berlangsung

sedangkan Pek Yun Hui disambut Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo, Ketika melihat ke dua Hwce-shio itu, Pek Yun Hui langsung membentak

"Kalian berdua ingin bertarung denganku?" Bentakan Pek Yun Hui membuat ke dua Hweeshio itu menyurut mundur beberapa langkah dengan air muka berubah.

"Kalian berdua cepat minggir!" bentak Pek Yun Hui lagi sambil menuding mereka dengan pedang.

Ke dua Hweeshio itu mundur lagi dua langkah, Kelihatannya mereka berdua sangat takut pada Pek Yun Hui.

"Kalian berdua adalah Hweeshio murid Sang Bud-dha, namun justru tidak mentaati ajaran Buddha! Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Kali ini aku masih mengampuni kalian! Kalau lain kali bertemu lagi, aku pasti tidak akan melepaskan kalian!"

Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo saling memandang. Mereka tahu, bahwa apabila mereka mundur sekarang, tentunya akan kehilangan kedudukan mereka sebagai pemimpin sektor, lagipula akan kehilangan muka di hadapan para anggota Kai Thian Kauw.

Oteh karena itu, mereka berdua saling memandang lagi, Ku Hut Leng Khong mengeluarkan Hudtim (Kebutan yang biasa dipakai kaum Buddhisme), sedangkan Lan Si Tianglo mengeluarkan tasbehnya.

"Kalian mau bertarung denganku?" tanya Pek Yun Hui dengan kening berkerut

"Maaf, Pek Lie Hiap!" sahut Ku Hut Leng Khong. "Kami sungguh terpaksa,"

"Baik!" Pek Yun Hui mengangguk

Pek Yun Hui menggerakkan pedangnya, ia menggunakan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lan Sambil Tertawa) menyerang ke dua Hweeshio itu.

Ketika Pek Yun Hui mulai menyerang, Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo berkelit, kemudian mendadak melesat serentak menyerang Lie Ceng Loan. Gadis itu terkejut sekali. ia langsung mengeluarkan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Ber-taburan) untuk melindungi diri.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Sungguh besar nyali kalian berdua!"

Pek Yun Hui segera melesat ke arah Lie Ceng Loan, lalu bersama gadis itu menyerang Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo.

Kacaulah tempat itu. para anggota Kai Thian Kauw Cu berteriak-teriak seakan memberi semangat pada ke empat pemimpin sektor, Di antaranya ada pula yang ikut membantu, Namun dia langsung terpental, karena itu, tiada yang berani membantu lagi.

Ketika Sie Bun Yun sedang bertarung dengan Ek Ceng, mendadak ke dua pengikut Lim Thian Tuk membaurkan diri dengan Ek Ceng menyerang Sie Bun Yun.

Ke dua orang itu juga berkepandaian tinggi, maka Sie Bun Yun jadi kewalahan menghadapi mereka bertiga.

sementara Pek Yun Hui bertarung sambil memandang ke arah Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk

Saat ini, sepasang telapak tangan mereka telah saling menempel Uap yang di ubun-ubun mereka sudah tidak tampak lagi, tapi sekujur badan mereka telah dibasahi keringat

Itu pertanda bahwa mereka berdua telah menghadapi saat-saat mati dan hidup, Menyaksikan keadaan itu, Pek Yun Hui bergirang dalam hati, Namun wajahnya langsung berubah ketika mengarah pada Sie Bun Yun. Sebab Sie Bun Yun berada di bawah angin menghadapi ke tiga orang tersebut

Tiba-tiba Pek Yun Hui bersiul panjang, kemudian pedangnya berkelebatan Ternyata ia mulai mengeluarkan ilmu pedang tingkat tinggi, yakni ilmu pedang Sin Hap Kiam. Tampak sinar pedangnya menyambar, dan seketika terdengar dua kali suara jeritan, Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo terpental dengan sekujur badan berlumuran darah.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui kemudian berkata pada Lie Ceng Loan. "Adik Loan, engkau pergi bantu Kun Bul"

"Ya." Lie Ceng Loan segera menghampiri Bee Kun Bu. "Kakak Bu, aku datang."

Mendengar suara seruan itu, Bee Kun Bu langsung bersemangat dan sekaligus menyerang Im Hang Cok dengan jurus Ciok Phoh Thian Keng (Batu Pecah Langit Kaget).

jurus tersebut membuat Im Hang Cok terdesak mundur dua langkah, Bee Kun Bu cepat-cepat menggeserkan badannya mendekati Lie Ceng Loan.

Ketika anak buah Im Hang Cok melihatnya di-keroyok dua, mereka maju serentak membantunya, dan pertarungan sengit pun terjadi!

Setelah berhasil melukai Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo, Pek Yun Hui membalikkan badannya.

"lblis Kepala Putih!" bentaknya, "Engkau sudah melihat keadaan Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo? Kalau aku tidak menaruh belas kasihan pada mereka, saat ini mereka sudah jadi mayat di bawah pedangku!"

iblis Kepala putih Ek Ceng terkejut Namun saat ini kalau dia mundur, bukankah akan kehilangan muka?

"Pek Lie Hiapt Engkau ingin menentang Kai Thian Kauw?" tanyannya dingin.

"Jangan omong kosong!" bentak Pek Yun Hui. Pedang Pek Yun Hui bergerak menyerang Ek Ceng.

Tangannya pun ikut bergerak Seketika terdengar suara "Ser! Ser!", ternyata Pek Yun Hui juga menyerang ke dua orang yang membantu Ek Ceng dengan senjata rahasia berupa mutiara.

"Aaakh! Aaaakh.,.!" terdengar dua kali jeritan, Ter-nyata ke dua orang itu roboh seketika.

Ciutlah nyali Ek Ceng menyaksikan kejadian itu sehingga menjadi lengah, jurus Ciok Yap Phiauw Ling (Daun Bambu Terbang Melayang) yang dikeluarkan Sie Bun Yun berhasil menotok Heng KJat Hiatnya, Tidak ampun lagi, Ek Ceng langsung roboh.

Sie Bun Yun tertawa panjang, lalu mengayunkan kakinya menendang Ek Ceng, iblis Kepala Putih itu terpental beberapa depa.

Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui memandang ke arah Bee Kun Bu yang dibantu Lie Ceng Loan. Mereka berdua sudah tampak di atas angin, sesungguhnya kalau para anggota Kai Thian Kauw maju semua, mereka berempat akan sulit menghadapi para anggota yang berjumlah seratus lebih itu. Akan tetapi, para anggota Kai Thian Kauw itu pun tidak mau mati konyol, maka mereka cuma berdiri diam di tempat.

sementara Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk yang sedang bertarung dengan Lweekang, sudah tahu akan keadaan itu, seandainya ke dua orang itu menarik kembali Lweekang masing-masing, tentunya Sie Bun Yun, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan akan celaka di tangan mereka.

Tapi ke dua orang itu, justru tidak berani menarik Lweekang masing-masing di saat itu, sebab khawatir pihak lawan akan menyerang dengan Lweekang, Oleh karena itu, mereka berdua tetap bertahan.

"Adik Pek!" ujar Sie Bun Yun. "Saat ini gampang sekali membereskan mereka itu."

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk "Tapi itu tidak perlu." "Kalau ke dua orang itu dibiarkan hidup, pasti akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan." Sie Bun Yun menatapnya. "Kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk menghabiskan mereka?"

"Aku punya akal." Pek Yun Hui tersenyum, Tidak perlu membunuh mereka, namun akan membuat mereka tidak bisa melakukan kejahatan lagi,"

"Adik Pek!" Sie Bun Yun agak terbelalak "Engkau ingin menasihati mereka?"

"Aku tidak ingin membunuh, tapi mereka pun tidak bisa dinasihati," sahut Pek Yun HuL

"Lalu. " Sie Bun Yun bingung, "Engkau akan bertindak

bagaimana terhadap mereka?"

"Nih!" Pek Yun Hui memperlihatkan senjata rahasianya . "Oooh!" Sie Bun Yun manggut-manggut mengerti.

sementara Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk masih terus mengerahkan Lweekang masing-masing. Di saat ini, ada satu jalan darah yang terbuka di tubuh mereka berdua, Apabila jalan darah itu ditotok, maka ke dua orang itu akan kehilangan tenaga murni masing-masing, artinya kepandaian mereka akan musnah.

Kalau ingin pulih, mereka harus merawat diri hingga dua puluh tahun lebih, bahkan juga harus dibantu dengan obat mujarab, itu pun tipis sekali harapannya.

"Kalau begitu, cepatlah engkau serang mereka dengan senjata rahasia itu!" desak Sie Bun Yun.

Pek Yun Hui mengangguk dan sekaligus menyentilkan jari tangannya, Senjata rahasia di tangannya langsung meluncur ke arah Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk. Betapa terkejutnya Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk, ketika mendengar desiran angin halus ke arah mereka. Mereka baru ingin menarik Lweekang masing-ma-sing, akan tetapi sudah terlambat Ke dua butir mutiara itu telah menghantam Khi Hai Hiat mereka, Pek Yun Hui menggunakan delapan bagian Lweekangnya ketika menyerang, maka ke dua butir mutiara itu menembus ke dalam jalan darah mereka.

Kai Thian KauwCu dan Lim Thian Tuk menggeram, Mereka ingin bangkit berdiri, namun tidak mampu, Tubuh mereka pun berbunyi

Krek! Krek! Krek!

Wajah mereka berubah pucat pias, kemudian terkulai Namun mereka masih sempat membentak

"Sungguh jahat engkau wanita jalang!"

Pek Yun Hui menghampiri ke dua orang itu, lalu menuding Lim Thian Tuk dengan pedangnya.

Um Thian Tuk mengira bahwa Pek Yun Hui ingin membunuhnya, maka wajahnya semakin pucat pias.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Lim Tocu, entah engkau dengar dari mana, bahwa guruku kena racun jadi gila, maka engkau menyamar sebagai gurukut Aku tidak akan membunuhmu, apakah aku termasuk wanita jahat?"

Lim Thian Tuk membungkam, sedangkan Pek Yun Hui mengarah pada Kai Thian Kauw Cu sambil tertawa dingin.

"Sembilan partai tiada permusuhan denganmu, tapi kenapa engkau malah berniat membasmi mereka? Kini engkau sudah jadi orang cacat, maka lebih baik mulai sekarang kalian berdua melewati hari-hari yang tenang saja!"

Usai berkata demikian, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun berjalan pergi Ketika menyaksikan Lim Thian Tuk dan Kai Thian Kauw Cu roboh, para anggota Kai Thian Kauw berdiri mematung di tempat

sedangkan Im Hang Cok juga sudah mundur, karena tahu pereuma melawan mereka, Di saat ia mundur justru ujung pedang Bee Kun Bu menusuk pahanya, seketika juga Im Hang Cok roboh dengan kaki berlumuran darah.

Bee Kun Bu menggerakkan pedangnya untuk menghabiskan nyawa Im Hang Cok, tapi Lie Ceng Loan segera mencegahnya.

"Kakak Bu, jangan membunuhnya! MuIai sekarang dia pasti tidak akan berani melakukan kejahatan lagi."

Bee Kun Bu manggut-manggut, lalu menuding Im Hang Cok dengan pedangnya seraya berkata.

Tahukah engkau, Nona Lie telah menyelamatkan nyawamu ?"

Terimakasih Nona Lie!" ucap Im Hang Cok, ia bangkit berdiri lalu dengan tertatih-tatih pergi meninggalkan tempat itu.

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sudah mendekati mereka berdua, Pek Yun Hui memandang dengan tajam semua orang yang ada di silu.

"Siapa yang masih ingin bertempur?" tanyanya lantang.

Mereka diam, tiada seorang pun yang berani bersuara. "Mumpung kalian masih belum banyak melakukan

kejahatan, maka alangkah baiknya mulai sekarang kalian kembali ke jalan yang benar!" ujar Pek Yun Hui. "Jangan terus tersesat lagi!"

Hening suasana di tempat itu. Para anggota Kai Thian Kauw saling memandang. Bee Kun Bu menarik nafas panjang, lalu berkata.

"Kakak Pek!" Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala, "Mereka tidak akan sadar, pereuma kakak Pek menasihati mereka."

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk "Mari kita pergi saja!" Mereka berempat meninggalkan tempat itu, Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah naik ke perahu.

"Kalau kita langsung memunculkan diri, tentunya Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk akan menghadapi kita. seandainya begitu, entah apa jadinya sekarang?" ujar Pek Yun Hui sambil mengayuh

"Kita pasti celaka," sahut Sie Bun Yun.

"Oh ya! Pada waktu itu. " Bee Kun Bu tersenyum, "Entah

siapa yang menarik lweekangnya lebih dulu?"

"Mungkin bersama-sama," sahut Pek Yun Hui. "Un-tung aku cepat menyerang mereka dengan senjata ra-hasia, kalau tidak, kemungkinan besar mereka berdua akan bersahabat untuk membasmi sembilan partai besar."

"Kini Kai Thian Kauw Cu dan Lim Thian Tuk sudah tidak bisa berkutik, namun masih ada satu masalah pen-ting," ujar Bee Kun Bu.

"Masalah apa?" tanya Pek Yun Hui. "Co Hiong," sahut Bee Kun Bu singkat

"Benar." Pek Yun Hui manggut-manggut.

"Kakak Pek, Kakak Siao Tiap berangkat duluan ke Kwat Cong San, apakah mungkin bertemu Co Hiong?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Mudah-mudahan tidak!" Pek Yun Hui tersenyum getir "Setelah kita tiba di Kwat Cong San dan mengetahui keadaan guru, kita pun harus segera berangkat ke Yang Sim Am di Toan Hun Ya."

"Benar." Sie Bun Yun mengangguk "Lebih baik kita melenyapkan nya sekarang, mumpung dia belum berhasil mempelajari Kui Goan Pit Cek.M

"Ng!" Pek Yun Hui mengangguk "Dia jahat sekali, pokoknya aku tidak akan bersimpati padanya," ujar Lie Ceng Loan.

"Kalau benar dia yang memperoleh Kui Goan Pit Cek, mungkin saat ini kepandaiannya sudah bertambah tinggi," ujar Pek Yun Hui dan teringat akan sesuatu, "Entah apa yang dilihat Nona Souw dan Adik Loan itu?"

"Tentunya semacam senjata pusaka," sahut Sie Bun Yun, "Kalau tidak, bagaimana mungkin memancarkan cahaya?"

"Benar." Pek Yun Hui manggut-manggut.

Tak seberapa lama kemudian, perahu itu sudah berlabuh Mereka berempat segera naik ke darat dan melanjutkan perjalanan menuju Kwat Cong San.

*****

Bab ke 16 - Na Hai Peng Telah Pulih Kun Lun Sam Cu Tiada jejak

Bee Kun Bu, Sie Bun Yun, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan terus melakukan perjalanan menuju Kwat Cong San, Pada hari ke tiga, mereka berempat sudah tiba di kaki gunung itu.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara pekikan Hian Giok yang amat nyaring, Mereka berempat segera mendongakkan kepala, tampak Hian Giok sedang terbang di angkasa.

Cepat-cepat Pek Yun Hui bersiul panjang memanggil burung bangau itu. Begitu mendengar suara siulan Pek Yun Hui, Hian Giok memeluk nyaring lagi sambil meluncur ke arah mereka.

"Hian Giok!" seru Lie Ceng Loan ketika melihat burung bangau itu hinggap di tanah, "Di mana kakak Siao Tiap? Apakah dia sudah bertemu Paman Na?"

Hian Giok manggut-manggut

"Syukurlah!" ucap Lie Ceng Loan dengan wajah berseri Kemudian ia merangkul leher burung bangau itu erat-erat. Mendadak Hian Giok mengembangkan sepasang sayapnya, lalu terbang ke atas, Lie Ceng Loan tidak bermaksud menunggang burung bangau itu, maka betapa terkejutnya ketika Hian Giok terbang ke atas, ia cepat-cepat naik ke punggungnya.

Menyaksikan itu, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu tertawa gelak.

"Adik Loan, siapa suruh engkau memanjakan Hian Giok?!" seru Pek Yun Hui.

"Aku tidak mem anj akan nya!" sahut Lie Ceng Loan, "Hian Giok sangat baik padaku, maka cuma mau bawa aku seorang diri!"

sementara Hian Giok terbang berputar sejenak di situ, lalu meluncur ke puncak Kwat Cong San.

"Guruku pasti berada di Kwat Cong San," ujar Pek Yun Hui sambil menarik nafas panjang, "Sungguh kasihan Giok Siauw Sian Cu dan Gin Tie Suseng, Mereka berdua mengira guruku kabur, akhirnya mereka dan Pang Siu Wie jadi korban."

"Aaakh. " Bee Kun Bu menarik nafas, sedangkan Sie Bun

Yun menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi bagusnya kita telah mengubur mereka ber-sama, jadi mereka tidak akan berpisah." ujar Sie Bun Yun dengan suara rendah, "Mereka mati bersama dan dikubur bersama pula, pertanda mereka saling mencinta dengan suci murni!"

Pek Yun Hui meliriknya, lalu berjalan memasuki Kwat Cong San. Sie Bun Yun dan Bee Kun Bu mengikutinya dari belakang Setelah itu, mereka bertiga mengerahkan ilmu ginkang.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah sampai di depan gua Thian Kie. Tampak Lie Ceng Loan berdiri di sisi Na Siao Tiap, sedangkan Na Hai Peng berdiri di sisi Hian Giok. Kelihatannya Na Hai Peng sudah pulih, sehingga sangat menggembirakan mereka bertiga.

Ketika melihat Pek Yun Hui, Na Siao Tiap segera menghampirinya. ia menyerahkan rumput berdaun tujuh kepada Pek Yun Hui seraya berkata.

"Aku cuma memberikan kepada ayah selembar daun itu, tak lama ayah pun pulih kesadarannya."

"Aaakh!" Na Hai Peng menarik nafas, HAku mengira setelah berhasil mempelajari Kui Goan Pit Cek, maka sudah tiada tanding di kolong langit! Siapa nyana justru terjungkal di Mo Kui Ceh Yi. Tempat itu harus di-musnahkan!"

"Guru, Apakah Siao Tiap tidak memberitahukan kepada guru?" tanya Pek Yun Hui heran.

"Memberitahukan apa?" tanya Na Hai Peng. "Mengenai Mo Kui Ceh Yi." Pek Yun Hui menatapnya,

"Siao Tiap tidak memberitahukan sama sekali ?"

"Anak itu,.,." Na Hai Peng menggeleng-gelengkan kepala, "Entah ada urusan apa terganjel dalam hatinya, Begitu kesadaranku pulih, dia pun terus-menerus menangis di hadapanku, namun tidak memberitahukan apa pun padaku,"

Apa yang dikatakan Na Hai Peng, membuat semua orang mengarah pada Na Siao Tiap.

Wajah Na Siao Tiap memang masih tampak pucat sepasang matanya agak bengkak, membuktikan beberapa hari ini dia terus menangis.

Begitu melihat semua orang mengarah padanya, Na Siao Tiap segera membalikkan badannya, dan sekaligus berjalan pergi. Kenapa Na Siao Tiap begitu? Hanya Pek Yun Hui yang mengetahui perasaan hatinya.

"Kakak Siao Tiap! Kakak Siao Tiap!" seru Lie Ceng Loan.

Namun Na Siao Tiap sama sekali tidak menghiraukan seruannya, dan terus berjalan pergi. Lie Ceng Loan segera berlari ke arahnya, Kian lama ke dua gadis itu pun kian menjauh.

Barulah Pek Yun Hui menutur tentang kejadian di Mo Kui Ceh Yi dan lain sebagai nya.

Akhirnya mereka baru tahu, bahwa Kun Lun Sam Cu entah hilang ke mana, Mendengar itu, mata Bee Kun Bu langsung basah.

"Kakak Pek!" ujar Bee Kun Bu. "Cukup engkau dan Siao Tiap yang pergi ke Yang Sim Am, aku dan adik Loan akan pergi mencari guru."

"Aku sependapat denganmu," sahut Pek Yun Hui. Memang ada baiknya Na Siao Tiap berpisah dengan Bee Kun Bu untuk sementara waktu, agar tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan "Dalam perjalanan ke Yang Sim Am, kami pun akan mencari Kun Lun Sam Cu."

Setelah berkata begitu, Pek Yun Hui menyerahkan rumput itu kepada Bee Kun Bu. Dengan hati-hati sekali Bee Kun Bu menyimpannya ke dalam baju.

"Kalau begitu. " ujar Na Hai Peng, Tunggu beberapa hari

saja!"

"Ayah angkat!" ujar Bee Kun Bu. "Kun Bu sungguh cemas sekali."

"Lebih baik berangkat esok saja!" usul Pek Yun Hui.

"Kenapa harus begitu cepat?" tanya Na Hai Peng.

Pek Yun Hui langsung membalikkan badannya menghadap Na Hai Peng, kemudian memberi isyarat

Setelah melihat isyarat itu, Na Hai Peng tidak banyak bicara lagi, namun mengarah pada Sie Bun Yun.

"Aku pernah bertemu beberapa kali dengan gurumu, Ku Ciok Sianjin, Bagaimana kabarnya sekarang? Apakan baik- baik saja?" tanya Na Hai Peng. "Sudah lama aku tidak bertemu guru," sahut Sie Bun Yun sambil menarik nafas. "Maka aku ingin pulang menengoknya."

"Kakak Yun.,.," Pek Yun Hui tersentak "Engkau mau pergi?"

"Adik Pek, sudah sekian tahun aku tidak bertemu guru, maka aku.,, aku harus menengoknya," jawab Sie Bun Yun.

"Kalau begitu.,.," Mata Pek Yun Hui mulai merah, "Bukankah kita akan berpisah?"

sebetulnya Na Hai Peng sama sekali tidak tahu bagaimana hubungan Pek Yun Hui dengan Sie Bun Yun.

Namun saat ini, setelah mendengar apa yang diucapkan Pek Yun Hui, tersadarlah Na Hai Peng akan hubungan mereka berdua.

"Adik Pek,.,." Sie Bun Yun menarik nafas.

"Kakak Yun, sesungguhnya aku pun harus mengunjungi gurumu," ujar Pek Yun Hui sambil menundukkan kepala.

Tapi urusan di Toan Hun Ya...?H

"Menurutku, cukup Nona Na seorang diri yang pergi ke sana, Dia pasti dapat memberesi urusan itu."

"Aku... aku akan mencoba berunding dengan Siao Tiap." "Adik Pek!" Sie Bun Yun tersenyum, "Aku yakin Nona Na

pasti setujui

"Benar," sela Bee Kun Bu sambil tertawa, "Mudah- mudahan kepergian kalian akan menambah dan memperdalam cinta kasih kalian!"

"Eh?" Wajah Pek Yun Hui memerah "Adik Kun Bu, engkau sungguh jahatt"

Pek Yun Hui segera berlari ke dalam gua Thian Kie, sedangkan Na Hai Peng tertawa gelak sambil menepuk bahu Sie Bun Yun. "Pek Yun Hui bersifat angkuh," ujar Na Hai Peng. "Aku justru khawatir dia seumur hidup tidak ketemu jodohnya, tidak tahunya sudah ketemu dan jantung hatinya yaitu engkau."

"Cianpwee mentertawakan ku ?" Wajah Sie Bun Yun juga memerah.

"Aku berkata sesungguhnya, tidak mentertawakannya ujar Na Hai Peng sambil tertawa gelak lagi

"Cianpwee. " Sie Bun Yun juga berlari ke dalam gua itu.

Na Hai Peng dan Bee Kun Bu tertawa terbahak-bahak Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada Lie Ceng Loan yang mengejar Na Siao Tiap.

Setelah melewati sebuah tikungan, barulah Na Siao Tiap memperlambat langkahnya.

"Kakak Siao Tiap! Kakak Siao Tiap. " Lie Ceng Loan

berlari menghampirinya.

Na Siao Tiap berhenti, lalu membalikkan badannya sambil memandang Lie Ceng Loan yang sedang meng-hampirinya.

Lie Ceng Loan terkejut, karena sepasang mata Na Siao Tiap tampak basah, ia menggenggam tangan Na Siao Tiap erat-erat.

"Kakak Siao Tiap, kenapa engkau tampak tidak gembira7 Maukah engkau memberitahukan padaku?" tanyanya.

"Pereuma aku memberi lah ukan," sahut Na Siao Tiap sambil menarik nafas.

"Benar," Lie Ceng Loan yang polos itu manggut-manggut "Kadang-kadang kalau hatiku merasa berduka, aku pun tidak bisa bicara, Tapi kini aku tidak akan berpisah dengan kakak Bu, maka hatiku tidak pernah berduka lagi."

Ucapan Lie Ceng Loan membuat air mata Na Siao Tiap meleleh, kemudian berlari pergi. "Kakak Siao Tiap! Kakak Siao Tiap!" seru Lie Ceng Loan sambil mengejarnya. "Aku telah salah omong ya? Engkau mempersalahkanku?"

Setelah berlari belasan depa, Na Siao Tiap berhenti, kemudian menyahut dengan suara rendah.

"Bagaimana mungkin aku menyalahkanmu? sebaliknya aku malah sangat kagum padamu."

"Kagum padaku?" Lie Ceng Loan terbelalak "Kakak Siao Tiap, aku gadis bodoh yang tak tahu apa-apa. Tiada yang perlu dikagumi."

"Adik Loan!" Na Siao Tiap menatapnya, "Engkau,., engkau selalu bersama Kun Bu."

"Eh?" Lie Ceng Loan tertegun "Bukankah Kakak Siao Tiap juga selalu bersama Kakak Kun Bu?"

"Aaakh.,.!" Na Siao Tiap menarik nafas, "Sudahlah! jangan membicarakan itu!"

Lie Ceng Loan terbelalak ia tidak mengerti kenapa Na Siao Tiap mendadak jadi begitu.

"Kakak Siao Tiap, janganlah berduka!" ujar Lie Ceng Loan, Sepasang matanya pun sudah mulai basah.

"Adik Loan, engkau sudah tahu, kan? Aku pun mencintai Kun Bu," ujar Na Siao Tiap perlahan.

"Aku tahu." Lie Ceng Loan manggut-manggut "Kakak Bu orang baik, maka banyak orang mencintainya."

"Adik Loan, dalam hatimu membenciku?" tanya Na Siao Tiap mendadak

"Membencimu?" Lie Ceng Loan tertegun dan tampak tereengang "Kenapa aku harus membencimu?"

"Adik Loan,.,." Na Siao Tiap menarik nafas, "Engkau sungguh baik." "Kakak Siao Tiap!" Lie Ceng Loan tersenyum, "Kenapa engkau hari ini? Aku... aku jadi bingung."

"Adik Loan, hatiku kacau sekali."

"Kacau kenapa?" Lie Ceng Loan menatapnya, "Kakak Siao Tiap, aku pun pernah begitu, tapi aku pasti mencurahkan pada seseorang, Kenapa engkau tidak mau mencurahkan padaku?"

Saat ini, hati Na Siao Tiap memang sedang kacau balau, mendadak ia mengibaskan tangannya, lalu melesat pergi.

"Kakak Siao Tiap! Kakak Siao Tiap!" seru Lie Ceng Loan memanggil nya.

"Adik Loan! Engkau jangan mengejarku!" seru Na Siao Tiap, "Aku ingin seorang diri, agar bisa berpikir dengan tenang, Lebih baik engkau pulang ke gua Thian Kie!"

Lie Ceng Loan tidak menyahut Gadis itu tetap berdiri tak bergerak, bahkan tidak mengerti perasaan Na Siao Tiap yang amat tersiksa itu.

Setelah Na Siao Tiap, lenyap dari pandangan, barulah Lie Ceng Loan kembali ke gua Thian Kie. Kebetulan di tengah jalan ia berpapasan dengan Bee Kun Bu.

"Kakak Bu, Kakak Siao Tiap bilang hatinya sedang kacau sekali, Dia ingin seorang diri berpikir secara tenang, Aku tidak mau mengganggunya, maka segera ke mari."

"Oh?" Kening Bee Kun Bu berkerut "Kenapa hatinya kacau?"

"Dia memberitahukan padaku, bahwa dia sangat mencintaimu Maka hatinya jadi kacau balau, Entah bagaimana baiknya? Kakak Bu, pergilah kau menengoknya sebentar!"

"Oh?" Bee Kun Bu tertegun, lama sekali barulah membuka mulut "Biarlah dia berpikir dengan tenang, pereuma aku pergi menengoknya."

"Kakak Bu, dia mencintaimu tentunya juga akan mendengar perkataanmu," ujar Lie Ceng Loan dan menambahkan "Kalau Kakak Bu pergi menengoknya, tentunya dia akan gembira sekali, Kakak Bu, cepatlah pergi menengoknya!"

"Adik Loan.,.," Bee Kun Bu mengerutkan kening, akhirnya berkata, "Kita harus segera pergi mencari guru, jangan banyak urusan,"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menggeleng-gelengkan kepala, "Kakak Siao Tiap tidak pernah bersalah padamu, maka kalau engkau mau pergi, haruslah berpamit pada-nya, agar hatinya tidak berduka."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menarik nafas, "Lebih baik jangan pergi menengoknya. "

"Eh?" Lie Ceng Loan terbelalak "Kakak Bu, Kakak Siao Tiap pasti sedang menunggumu."

"Adik Loan. "

"Ayolah!"

"Baiklah." Akhirnya Bee Kun Bu mengangguk "Mari kita ke sana!"

*****

Bab ke 17 - Badai Asmara Membuat Bee Kun Bu Nyaris Dibunuh

Lie Ceng Loan mengajak Bee Kun Bu ke tempat Na Siao Tiap. Sebelum sampai di tempat itu, mendadak terdengar suara seruan Na Siao Tiap.

"Bee Kun Bu!"

Bee Kun Bu tersentak dan segera menoleh, Dilihat-nya Na Siao Tiap berdiri di atas sebuah batu besar

"Siao Tiap!" ujar Bee Kun Bu memberitahukan. "Aku dan Adik Loan mau pergi cari guru!"

"Aku tahu," sahut Na Siao Tiap. "Aku amat mencemaskan guru, maka... harus berangkat sekarang!H Bee Kun Bu memberitahukan lagi

"Kun Bu!" Na Siao Tiap menatapnya, "Kemarilah sebentar, aku ingin menyampaikan beberapa patah kata padamu!"

sebetulnya Bee Kun Bu tidak mau menghampirinya, namun Na Siao Tiap sudah mengatakan begitu, maka ia merasa tidak enak kalau menolaknya.

Bee Kun Bu melesat ke atas batu besar itu, bahkan sekaligus menyuruh Lie Ceng Loan pergi

"Ada urusan apa, Siao Tiap?" tanya Bee Kun Bu.

"Kun Bu. " Na Siao Tiap menarik nafas, "Jangan berdiri

begitu jauh, mendekatlah!"

Bee Kun Bu melangkah maju ke hadapan Na Siao Tiap, Tampak wajah Na Siao Tiap muram sekali

Sungguh tidak tega Bee Kun Bu menyaksikan wajah gadis

itu.

"Siao Tiap, bagaimana perasaanmu, aku... aku sudah

tahu!" ujarnya dengan suara rendah. "Oh, ya?" Na Siao Tiap menatapnya.

Bee Kun Bu mengangguk

"Kalau begitu, bagaimana perasaanmu?" tanya Na Siao Tiap.

"Siao Tiap. " ujar Bee Kun Bu setelah berpikir lama sekali

"Aku sungguh merasa tidak enak terhadapmu Entah sudah berapa kali engkau menyelamatkan diriku, bahkan engkau pun telah mengajarku Iweekang tingkat tinggi, namun aku dan adik Loan. "

"Aku sudah tahu," sahut Na Siao Tiap dan ber-linanglah air matanya.

"Siao Tiap, jangan berduka. " "Aku sama sekali tidak berduka." Na Siao Tiap menggelengkan kepala, "Hanya saja aku berduka untuk adik Ceng Loan, Dia seorang gadis yang baik dan berhati po!os, tapi aku justru akan membuatnya menderita."

"Siao Tiap!" Bee Kun Bu terbelalak "Apa maksud-mu?"

Na Siao Tiap tidak menyahut, cuma menatapnya dengan penuh diliputi berbagai perasaan

"Kun Bu! Ketika ibuku masih hidup, pernah memberitahukan padaku, bahwa tiada seorang lelaki pun yang baik di kolong langit ini."

"Oh?"

"Oleh karena itu, ibuku memberitahukan lagi, bahwa aku tidak boleh mencintai lelaki mana pun."

"Siao Tiap. M

"Dengarkanlah!" potong Na Siao Tiap, "Tapi aku justru tidak mendengar perkataan almarhumah, Aaakh. ibu! Aku

malah jatuh cinta pada Bee Kun Bu! Ibu, aku pasti menuruti pesanmu, mencintai lelaki itu harus pula membunuhnya!"

"Siao Tiap,.,." Bee Kun Bu terkejut "Bibi Cui mengatakan begitu dalam keadaan marah, engkau anggap sungguh- sungguh?"

"Apa yang dikatakan almarhumah, sudah pasti ber-alasan," ujar Na Siao Tiap, "Kun Bu, engkau tidak akan menyalahkan aku kan?"

"Siao Tiap!" Bee Kun Bu tersenyum getir. "Kalau engkau memang sudak mengambil keputusan, silakan turun tangan!"

Na Siao Tiap berpaling memandang ke arah Lie Ceng Loan yang berdiri agak jauh itu. Kebetulah gadis itu pun memandang mereka berdua.

"Sesungguhnya aku tidak merasa berduka, hanya merasa bersalah pada adik Ceng Loan saja!" "Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Kalau engkau merasa tidak baik melanggar pesan almarhumah, cepatlah turun tangan rnembunuhku."

"Kun Bu!" Na Siao Tiap menatapnya dengan air mata berderai, "Engkau sungguh baik!"

Seusat berkata begitu, ia mengangkat piepanya sambil memejamkan mata, Setelah itu, jari tangannya mulai bergerak memainkan tali senar alat musik itu, dan sekaligus mengerahkan lweekangnya.

Ternyata Na Siao Tiap mulai memainkan irama Mi Hun Li Cin untuk membunuh Bee Kun Bu. Na Hai Peng bisa terluka parah oleh irama tersebut, apalagi Bee Kun Bu.

Tak seberapa lama kemudian, badan Bee Kun Bu sudah mulai bergoyang-goyang, tak kuat menahan sakit

sedangkan Lie Ceng Loan yang berdiri agak jauh itu, tampak terheran-heran ketika melihat itu, Gadis tersebut sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi, cuma melihat badan Bee Kun Bu terus bergoyang.

Tak seberapa lama kemudian, Bee Kun Bu roboh, tapi masih berusaha duduk.

"Kakak Bu! Kakak Bu,.,." teriak Lie Ceng Loan sambil berlari mendekati batu besar itu.

Dalam waktu sekejap, gadis itu sudah sampai di batu besar tersebuL ia mendongakkan kepala, melihat dari mulut Bee Kun Bu mengalir darah segar seketika air mata gadis itu meleleh.

"Kakak Siao Tiap!" serunya sambil menangis, "Cepat hentikan, kakak Bu sudah terlukal"

Suara seruan Lie Ceng Loan seakan tidak masuk ke telinga Na Siao Tiap, ia masih terus memainkan irama itu, Namun air matanya sudah meleleh, walau sepasang matanya masih terpejamkan "Kakak Siao Tiap!" Lie Ceng Loan berseru lagi dengan air mata berderai-derai. "Kalau tidak kau hentikan, Kakak Bu pasti mati!"

Akan tetapi, Na Siao Tiap diam saja.

"Kakak Siao Tiap. " Suara Lie Ceng Loan sudah berubah

serak.

"Adik Loan!" Perlahan-lahan Na Siao Tiap membuka matanya, "Aku sungguh bersalah terhadapmu."

seketika Lie Ceng Loan teringat akan apa yang diucapkan Na Siao Tiap di istana Pit Sia Kiong. Pada waktu itu mereka mengira Bee Kun Bu telah mati. Na Siao Tiap mengatakan untung Bee Kun Bu sudah mati, kalau tidak, ia pun tidak tahu harus bagaimana melaksanakan amanat almarhumah ibunya.

Saat ini, Na Siao Tiap sungguh melaksana kan nya. itu membuat Lie Ceng Loan cemas seka!i.

Gadis itu segera melesat ke atas batu besar itu, lalu berlutut di hadapan Na Siao Tiap dengan air mata berlinang- linang.

"Kakak Siao Tiap, aku bermohon padamu, aku bermohon padamu, Kalau Kakak Bu mati, aku. aku pun tidak bisa hidup

lagi."

"Kalau dia sudah mati, aku pun tidak mau hidup," sahut Na Siao Tiap terisak-isak.

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mau berhenti?" Lie Ceng Loan menatapnya dengan wajah pucat pias, "Kakak Siao Tiap, aku bermohon padamu, cepatlah hentikan itu!"

sebetulnya Na Siao Tiap juga tidak tega menyaksikan Lie Ceng Loan yang berlutut di hadapannya. Akan tetapi, apa yang ibunya pesankan itu terus-menerus mengiang di dalam te!inganya. Karena itu, ia pun mengeraskan hati untuk terus memainkan irama itu.

"Kakak Bu. " Lie Ceng Loan merangkak ke hadapannya. Saat ini, Bee Kun Bu sudah terluka.

sesungguhnya Bee Kun Bu mendengar suara Lie Ceng Loan, tapi saat ini ia sama sekali tidak mampu bersuara.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan merangkulnya "Kita mati bersama! Aku sudah berjanji tidak akan berpisah denganmu, Tungguhlah, aku pasti menyusul!

Lie Ceng Loan menangis sambil menghunus pedang-nya.

Kemudian ia memejamkan matanya, dan mendadak mengayunkan pedangnya ke arah lehernya sendiri

Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara bentakan nyaring di tempat tak jauh dari situ.

"Adik Loan, jangan!"

Serr! Tampak sebutir mutiara meluncur laksana kilat ke arah pedang itu.

Trang! Pedang itu terpukul miring.

Ternyata ketika Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun bereanda ria di dalam gua Thian Kie, tidak tampak Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap masuk, itu membuat Pek Yun Hui tereengang.

"Eeeh?" Na Hai Peng mendengar suara piepa, "Apa-kah ada musuh tangguh datang?"

Sernula Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun juga mengira begitu, Akan tetapi kemudian mereka juga mendengar suara Lie Ceng Loan yang begitu memilukan

Begitu mendengar suara itu, Pek Yun Hui sudah tahu bahwa ada sesuatu yang tak beres, maka secepat kilat ia melesat pergi

Sungguh kebetulan, ketika sampai di tempat itu, Pek Yun Hui melihat Lie Ceng Loan menghunus pedangnya Maka ia langsung memukul pedang itu dengan senjata rahasia. Lie Ceng Loan yang sudah mengayunkan pedangnya, mendadak merasa tangannya ngilu dan pedangnya pun terlepas dari tangannya.

Pada saat bersamaan, Pek Yun Hui melesat ke atas batu besar itu, Na Hai Peng dan Sie Bun Yun juga sudah sampai di situ. Begitu menyaksikan kejadian itu, Na Hai Peng sudah tahu apa yang terjadi

"Siao Tiap, apa yang engkau lakukan?" bentaknya. "Ayah. "

"Uaaaakh. " Bee Kun Bu menyemburkan darah segar dari

mulutnya.

sementara Lie Ceng Loan tampak seperti telah kehilangan sukma. Setelah Bee Kun Bu menyemburkan darah segar dari mulutnya, barulah gadis itu memeluknya erat-erat

"Kakak Bu. " panggilnya, ia pun merasa matanya gelap,

kemudian pingsan.

"Siao Tiap!" ujar Pek Yun Hui. "Engkau boleh mendengar kata-kata Bibi Cui, tetapi tidak boleh membuat adik Loan menderita!"

"Aku harus bagaimana? Harus bagaimana?" gumam Na Siao Tiap dengan air mata berderal

"Siao Tiap! Cepat hentikan!" bentak Na Hai Peng mengguntur.

Na Siao Tiap menarik nafas panjang, lalu menghentikan irama piepanya. Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Na Hai Peng langsung menarik nafas lega.

Pek Yun Hui mendekati Lie Ceng Loan, sekaligus menggendongnya, sedangkan Sie Bun Yun cepat-cepat menotok jalan darah Bee Kun Bu, agar darah tidak terus- menerus ke luar dari mulutnya. sementara Na Hai Peng dan Na Siao Tiap berdiri berhadapan. seketika juga Na Hai Peng teringat pada Cui Tiap, tak terasa air matanya pun meleleh.

"Siao Tiap...!" panggilnya.

Na Siao Tiap tidak menyahut, malah membalikkan badannya lalu melesat pergi

"Siao Tiap! Siao Tiap. " Na Hai Peng berseru

memanggilnya, Ketika ia ingin mengejarnya, justru Pek Yun Hui segera mencegah.

"Guru! jangan mengejarnya!"

Na Hai Peng menarik nafas, Di saat itu pula Na Siao Tiap telah hilang dari pandangan mereka.

Pek Yun Hui cepat-cepat mengurut nadi Lie Ceng Loan.

Tak lama gadis itu pun siuman.

"Kakak Pek!" Lie Ceng Loan mulai menangis, "Apa-kah Kakak Bu telah mati?"

"Adik Loan, Kun Bu cuma terluka," sahut Pek Yun Hui. "Jangan menduga yang bukan-bukan!"

Lie Ceng Loan menengok ke sana ke mari, barulah ia tahu kalau Na Hai Peng dan Sie Bun Yun sudah berada di situ.

Setelah itu, Lie Ceng Loan memandang pada Bee Kun Bu.

Wajah Bee Kun Bu pucat pias, sepasang mata masih dipejamkan dan nafasnya masih lemah sekali Ketika melihat Na Siao Tiap tidak berada di tempat, ia segera bertanya.

"Kakak Pek, di mana Kakak Siao Tiap? Kenapa. kenapa

dia berbuat begitu?"

"Kalau pun kujelaskan engkau tidak akan mengerti," jawab Pek Yun Hui.

"Kakak Pek, aku... aku takut. "

"Takut apa?" "Kali ini Kakak Siao Tiap pergi, Bagaimana lain kali kalau kalian tidak ada?"

pertanyaan tersebut membungkam Pek Yun Hui, termasuk Na Hai Peng dan Si Bun Yun. Mereka benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

Mereka tertegun lama sekali, akhirnya Sie Bun Yun menggendong Bee Kun Bu seraya berkata.

"Mari kita kembali ke gua Thian Kie dulu!"

Na Hai Peng mengangguk Pek Yun Hui memapah Lie Ceng Loan, dan mereka berlima kembali ke gua tersebut

Sesampai di gua itu, Bee Kun Bu masih belum sadar Na Hai Peng menyuruh Sie Bun Yun menaruhnya di tempat tidur batu, ia lalu mengerahkan hawa murninya ke tubuh Bee Kun Bu. Lie Ceng Loan berdiri diam di sisi tempat tidur batu itu.

Kira-kira setengah jam kemudian, barulah Bee Kun Bu membuka matanya perlahan-lahan.

"Kakak Bu!" panggil Lie Ceng Loan cepat

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tersenyum getir, "Apakah kita sudah berada di alam baka?"

"Anak Bu!" ujar Na Hai Peng. "Engkau terluka parah dan belum pulih, maka jangan banyak bicara! Beristira-hatlah!"

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

"Kakak Bu!" tanya Lie Ceng Loan, "Kenapa Kakak Siao Tiap ingin membunuhmu dengan irama itu?"

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang, "ltu karena dia mencintaiku,"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tampak terperangah, "Aku begitu mencintaimu, tapi sama sekali tidak berniat membunuhmu Kenapa kakak Siao Tiap justru ingin membunuhmu? Padahal ia juga sangat mencintaimu." "Adik Loan!" Bee Kun Bu menggeteng-gelengkan kepala, "Engkau salah, sesungguhnya Siao Tiap sama sekali tidak berniat membunuhku, ia cuma melaksanakan amanat almarhumah saja."

"Aku... aku sungguh tidak mengerti," ujar Lie Ceng Loan. "Adik Loan!" Pek Yun Hui menepuk bahunya, "Kun Bu

harus beristirahat mari kita ke luar du!u!"

"Kakak Pek, aku tidak mau meninggalkan kakak Bu.

Pokoknya aku tidak akan bicara dengannya, agar dia bisa beristirahat sahut Lie Ceng Loan.

Pek Yun Hui menarik nafas dalam-dalam, lalu berjalan ke luar diikuti Sie Bun Yun dan Na Hai Peng.

Lie Ceng Loan duduk di sisi tempat tidur batu, ia menggenggam tangan Bee Kun Bu, tak lama kemudian, Bee Kun Bu tertidur pulas.

Setelah Bee Kun Bu pu!as, Lie Ceng Loan me- nengkurapkan kepalanya di pinggir tempat tidur batu itu. Tak lama gadis itu pun tertidur pulas.

Keesokan harinya, Bee Kun Bu sudah tampak bersemangat kelihatannya sudah agak pulih.

Malam itu Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Na Hai Peng justru pergi mencari Na Siao Tiap, Akan tetapi, tidak menemukan jejaknya sama sekali.

Setelah Lie Ceng Loan mendusin, Pek Yun Hui segera memanggilnya dengan wajah serius.

"Adik Loan, engkau dan Bee Kun Bu cepat-cepat meninggalkan tempat ini," ujarnya berbisik

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan heran.

"Entah kapan Na Siao Tiap akan kembali ke mari, Hatinya sangat keras dan kalau tidak bisa menasihatinya, tentunya akan menimbulkan urusan lagi," jawab Pek Yun Hui menjelaskan

"Tapi. N Lie Ceng Loan mengerutkan kening, "Luka

Kakak Bu masih belum sembuh."

"ltu tidak apa-apa," ujar Pek Yun Hui. "Kalau engkau merawatnya dengan teliti, dalam tiga hari dia pasti akan sembuh,"

Lie Ceng Loan manggut-manggut Bee Kun Bu sudah bangun lalu menghampiri mereka seraya berkata.

"Apa yang dikatakan kakak Pek memang benar Padahal aku memang ingin cepat-cepat pergi mencari guru."

"Kalau begitu, kalian berdua harus segera berangkat," tegas Pek Yun Hui.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

Siang harinya, Na Hai Peng mengobati Bee Kun Bu lagi dengan lweekangnya, Setelah petang hari, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meninggalkan Kwat Cong San tanpa arah, Mereka berdua tidak tahu harus ke mana mencari Kun Lun Sam Cu yang tiada jejak itu.

Bagian ke delapan belas Kena Racun Aneh

Luka yang diderita Bee Kun Bu memang sudah sembuh enam bagian, itu sungguh menggembirakan Lie Ceng Loan, Ketika mereka sampai di jalan besar gadis itu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Kakak Bu, sebetulnya Kakak Siao Tiap tidak jahat Dia mencintaimu, tentunya tidak akan lagi membuatmu mati."

"Adik Loan!" tandas Bee Kun Bu. "Lebih baik jangan membicarakan ini."

"Kenapa?"

"Kalau dibicarakan pasti tiada akhirnya, maka untuk apa dibicarakan lagi?" "Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menarik nafas panjang, "Aku harap dalam perjalanan ini akan bertemu Kakak Siao Tiap."

"Apa?" Bee Kun Bu tertegun "Engkau bilang apa?

Berharap bertemu Siao Tiap lagi?" "Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tertawa getir "Kenapa engkau berharap bertemu dia tagi?"

"Kakak Bu, aku pikir Kakak Siao Tiap saat ini, pasti seorang diri dan sangat merana sekali," sahut Lie Ceng Loan. "Dia pasti kesepian dan berduka, Kalau kita bersama dia, tentunya dia akan gembira sekali."

"Adik Loan. " Bee Kun Bu berhenti, kemudian membelai

rambutnya. "Engkau memang seorang gadis yang amat baik sekali."

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan segera mendekap di dadanya. "AyoIah!" ujar Bee Kun Bu. "Mari kita melanjutkan

perjalanan!"

"Ng!" Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka berdua melanjutkan perjalanan Ketika hari mulai gelap, mereka sudah tiba di sebuah kota kecil, lalu mencari rumah penginapan

Walau mereka dalam satu kamar, tapi dengan ranjang terpisah Setelah melakukan perjalanan hampir seharian Bee Kun Bu merasa capek, Begitu badan menyentuh ranjang, tak lama ia sudah pulas.

Lie Ceng Loan malah tidak bisa tidur, ia bolak-balik di ranjang, akhirnya membalik mengarah pada Bee Kun Bu. Yang dikhawatirkan gadis itu, yakni Bee Kun Bu akan hilang mendadak

tentunya tidak mungkin, namun telah beberapa kali Lie Ceng Loan berpisah dengan Bee Kun Bu, sehingga timbul pula rasa khawatirnya, itu karena Lie Ceng Loan sangat mencintainya. Bee Kun Bu boleh dikatakan melebihi segaia- galanya.

Setelah tengah malam, rumah penginapan itu berubah sepi sekali tidak terdengar suara apa pun, kecuali sayup- sayup suara kentungan.

Ketika melihat Bee Kun Bu sudah begitu pulas, barulah Lie Ceng Loan berlega hati, wajahnya pun tampak berseri

Di saat gadis itu baru mau tidur, mendadak terdengar suara derap kaki kuda di jalan Lie Ceng Loan segera membuka matanya, Bee Kun Bu pun terjaga dari tidurnya lantaran keberisikan suara derap kaki kuda itu.

"Kakak Bu, perlukah kita ke luar melihat-lihat?" tanya Lie Ceng Loan

Tidak perlu," Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "ltu pasti kaum rimba persilatan Kita tidak usah cari urusan!"

Lie Ceng Loan bangun duduk, sedangkan suara derap kuda itu semakin dekat, lalu berhenti di depan rumah penginapan itu.

Tok! Tok! Tok!" Suara pintu diketuk Tak lama terdengar suara pelayan rumah penginapan

"Ya! Ya! Sabar!"

Blam! Pintu itu telah ditendang hingga terbuka.

Bee Kun Bu tersentak dan langsung meloncat bangun lalu membuka sedikit pintu kamarnya.

Lie Ceng Loan pun sudah turun dari ranjang, lalu bersama Bee Kun Bu mengintip ke luar. Mereka melihat seorang berdiri di pintu, sedangkan pelayan rumah penginapan berdiri melongo di dalam pintu.

"Kenapa tidak membukakan pintu?" bentak orang itu. "Maaf, agak terlambat!" sahut pelayan rumah penginapan

"Pintu ini telah tertendang rusak, ini bagai-mana?" "Hm!" dengus orang itu, "Berapa harga pintu ini?"

Pelayan rumah penginapan diam Orang itu mengeluarkan sebuah uang perak, lalu ditaruh di atas meja.

Krak! Uang perak itu masuk ke dalam meja.

Pelayan rumah penginapan terbelalak Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga terkejut

"Sungguh dalam lweekang orang itu!" bisik Lie Ceng Loan. "Jangan bersuara!" tegur Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan mengangguk Mereka berdua memperhatikan orang itu, berusia lima puluhan, berdandan seperti pelajar, agak kurus dan berhidung betet dengan sepasang mata bersinar tajam. Namun Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu tidak tahu siapa orang itu.

"Si... silakan masuk!" ucap pelayan sambil melirik uang perak itu.

Menyaksikan pelayan rumah penginapan yang mata duitan itu, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tersenyum geli.

Pelayan rumah penginapan membawa orang itu masuk dengan badan agak membungkuk Orang itu mengikutinya dari belakang, justru menuju tempat Bee Kun Bu. Bee Kun Bu terkejut, dan cepat-cepat menutup pintu kamarnya.

Setelah melewati kamar Bee Kun Bu, mereka menghentikan langkahnya, Kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka.

"Oh!" Suara orang itu, "Siapa yang tinggal di kamar sebelah kanan?"

"Pedagang dari luar kota," sahut pelayan. "Kamar sebelah kiri?" tanya orang itu lagi. "Sepasang suami isteri yang masih muda." Pelayan memberitahukan.

Mendengar itu, wajah Lie Ceng Loan langsung memerah sedangkan Bee Kun Bu tersenyum-senyum sambil meliriknya. Gadis itu segera mendekap di dada Bee Kun Bu, Di saat bersamaan, orang itu bertanya lagi.

"Masih berapa jauh dari sini ke gunung Kwat Cong San?" Apa yang ditanyakan orang itu kepada pelayan, membuat

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling me-mandang. "Kira-kira masih tujuh puluh mil," sahut pelayan.

"Ng! Engkau boleh pergi sekarang, dan jangan ke mari menggangguku!" ujar orang itu.

"Ya." Pelayan itu berjalan pergi.

Bee Kun Bu memadamkan lampu minyak Lie Ceng Loan tereengang.

"Eh? Kakak Bu.,,."

"Ssst!" Bee Kun Bu memberi isyarat agar gadis itu tidak bersuara, "Adik Loan, orang itu ingin pergi ke Kwat Cong San, entah ada urusan apa? Kita harus berhati-hati,"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "

Berselang beberapa saat kemudian, di dalam kamar orang itu terdengar suara yang amat lirih.

Plak! Plak! Setelah itu menyusul lagi suara lain, Serr! Serrr!

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera pasang kuping mendengarkan dengan penuh perhatian Akan tetapi, mereka berdua sama sekali tidak tahu suara apa itu.

sedangkan suara-suara itu masih terus berbunyi, tentunya sangat mengherankan Bee Kun Bu. Kemudian ia membuka jendela. "Kakak Bu! Apakah kita ke sana menyelidikinya ?" tanya Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk "Tapi aku seorang diri yang menyelidikinya, engkau menungguku di sini."

"Kakak Bu, lukamu itu masih belum pulih benar," ujar Lie Ceng Loan, "Kakak Pek bilang, aku harus merawatmu, tidak boleh membiarkanmu menempuh bahaya seorang diri."

"Baik." Bee Kun Bu tersenyum, "Mari kita ke sana melihat- Iihat sebentar!"

Bee Kun Bu meloncat ke luar dari jendela, Kemudian ia tertegun.

Ternyata daun jendela kamar orang itu terbuka, dan tampak cahaya yang berwarna-warm" di dalam kamar itu.

Lie Ceng Loan sudah meloncat ke luar Ketika menyaksikan cahaya itu, ia pun terkejut dan tertegun.

Pada waktu bersamaan, orang yang berdandan seperti pelajar tertawa dingin dua kali, menyusul suara gumamannya, namun tidak dapat didengar dengan jelas.

Bee Kun Bu menggandeng tangan Lie Ceng Loan, Mereka berdua berendap-endap menuju jendela kamar itu.

Setelah agak dekat dengan jendela itu, barulah mereka dapat mendengar dengan jelas apa yang digumamkan orang itu. Ternyata ia menyebut nama beberapa orang, termasuk dua wanita Kwat Cong San dan Kun Lun Sam Cu.

Hati Bee Kun Bu tersentak ia maju selangkah sekaligus memandang ke dalam melalui jendela itu.

Tampak orang itu duduk di kursi Di atas meja terdapat beberapa buah kantong sutera.

Lie Ceng Loan juga memandang ke dalam Kebe-tu!an orang itu sedang mengikat ujung kantong sutera tersebut Tampak ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam kantong itu, tetapi, entah binatang apa. Setelah mengikat ujung kantong sutera orang itu lalu tersenyum licik, Siapa pun yang menyaksikan senyumannya itu, pasti tahu kalau orang itu ada suatu rencana busuk dalam hatinya.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menahan nafas sambil memandang ke dalam, Orang itu bangkit berdiri, lalu mendadak membalikkan badannya menghadap ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu terkejut dan bertanya dalam hati, apakah orang itu telah mengetahui keberadaan mereka di situ?

Ketika ia baru mau menarik Lie Ceng Loan pergi, orang itu sudah tertawa panjang seraya membentak

"Sobat dari mana? Kenapa mengintip di jendela?" Bee Kun Bu bertambah terkejut, sebab dirinya dan Lie

Ceng Loan sama sekali tidak mengeluarkan suara, Tetapi

orang itu justru mengetahui keberadaan mereka di situ, Sungguh sangat tajam pendengaran orang itu! Kata Bee Kun Bu dalam hati.

Bee Kun Bu segera menarik Lie Cdng Loan pergi, Namun mereka berdua baru menggeserkan badan, terdengarlah suara desiran.

Serrr! Serrr!

Kalau Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terlambat menggeserkan badan, saat ini mereka sudah kena senjata rahasia itu.

Lie Ceng Loan meleletkan !idahnya, sedangkan Bee Kun Bu langsung menarik gadis itu melesat ke dalam kamar, sekaligus menutup daun jendela.

"Siapa di luar?" Terdengar suara bentakan, Orang itu pun melesat ke luar melalui jendela kamarnya.

Terdengar suara langkah yang amat cepat berputar-putar di luar "Adik Loan, di dalam kantong sutera itu pasti tersimpan sesuatu yang sangat penting, bahkan kelihatan berkaitan pula dengan diri kita, Aku akan memancingnya pergi, engkau harus berupaya mencuri kantong sutera itu!"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menatapnya, "Kita... kitt akan berpisah lagi?"

"ltu cuma sebentar" Bee Kun Bu tersenyum. Lie Ceng Loan mengangguk terpaksa.

"Setelah engkau berhasil mencuri kantong sutera itu, harus segera kembali ke kamar ini menungguku!" pesan Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menggenggam tangan-nya. "Aku... aku takut"

"Aku cuma pergi sebentar, lagi pula menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, tidak akan bertarung dengan orang itu," ujar Bee Kun Bu. "Aku pasti segera kembali, engkau tidak perlu takut."

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

Bee Kun Bu membuka pintu kamar, lalu melesat pergi, Tak lama kemudian, terdengarlah suara tawanya.

Lie Ceng Loan segera mengintip dari jendela, Tam-pak sosok bayangan berkelebat mengejar Bee Kun Bu. Dalam waktu sekejap, mereka sudah hilang di tempat gelap.

Barulah Lie Ceng Loan melesat ke luar menuju jendela kamar orang itu. Kantong sutera tersebut masih ada di atas meja, ia menjulurkan tangannya untuk mengambil kantong sutera itu, tapi yang di dalam kantong sutera itu mengeluarkan suara "Plak! Plak! Serrr! Serrr!"

Lie Ceng Loan tertegun sambil memandang kantong sutera itu, Apakah di dalam kantong sutera itu berisi makhluk hidup? pikirnya dan merasa heran. Lantaran merasa heran, ia pun ingin membuka ikatan kantong sutera tersebut, tapi teringat waktunya tidak begitu banyak, maka ia langsung menyambar kantong sutera itu, lalu melesat ke kamarnya melalui jendela.

Ia terus menunggu, namun Bee Kun Bu masih belum kembali, sedangkan yang ada di dalam kantong sutera itu terus mengeluarkan suara.

Lie Ceng Loan sungguh merasa heran, Akhirnya ia menyalakan lampu minyak, kemudian memandang kantong sutera itu, Lama sekali barulah ia menjulurkan tangannya membuka sedikit ikatan kantong sutera tersebut.

Seketika dari dalam kantong sutera itu terpancar cahaya yang warna-warni.

Terkejutlah Lie Ceng Loan, Cepat-cepat ia mengencangkan ikatan kantong sutera itu, dan cahaya warna- warni pun sirna.

Lie Ceng Loan duduk sambil memandang kantong sutera, ia sama sekali tidak tahu apa isi kantong sutera tersebut, Kini ia tidak berani membuka ikatan kantong sutera itu, ia terus menunggu Bee Kun Bu kembali.

Akan tetapi, sudah sekian lama ia menunggu, Bee Kun Bu tetap belum kembali, Lie Ceng Loan bangkit berdiri dan menghunus pedangnya, Kemudian dengan ujung pedangnya ia membuka ikatan kantong sutera itu.

Begitu kantong sutera itu terbuka, tampak cahaya menyorot ke luar Namun belum juga ia melihat jelas apa yang di dalam kantong sutera tersebut, mendadak terdengar suara "Ser! Ser!" dari dalam kantong sutera itu, Bahkan meluncur ke luar sesuatu dan menerjang ke arah Lie Ceng Loan.

Betapa terkejutnya gadis itu, ia langsung mengeluarkan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Bertaburan) untuk menangkis. Akan tetapi, sungguh cepat luncuran itu, sehingga hanya tampak cahaya hijau, Tahu-tahu Lie Ceng Loan telah mencium bau yang sangat aneh.

Gadis itu ingin berteriak, tapi merasa tenggorokannya tersumbat, sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.

Trangl pedangnya sudah terlepas dari tangannya, dan ia mulai pingsan.

Ketika Bee Kun Bu mengeluarkan suara tawa, orag itu langsung melesat keluar dari kamar dan mengejarnya, Setelah melihat orang itu melesat keluar, Bee Kun Bu mengerahkan ginkangnya melesat pergi, Orang itu terus mengejarya dan juga mengerahkan ginkang, Tak lama mereka sudah berada sejauh beberapa mil.

Bee Kun Bu masih belum pulih benar dari luka yang dideritanya, maka gerakannya agak lamban, sedangkan orang itu melesat secepat kilat, dan tak seberapa lama, sudah menyusul Bee Kun Bu.

"Siapa engkau, bocah?" bentak orang itu.

Bee Kun Bu tidak menyahut Orang itu mengangkat sebelah tangannya, kemudian terdengar suara "Bum!" Ternyata orang itu telah menyerang Bee Kun Bu dengan sebuah pukulan, dan badannya pun melesat ke depan.

Sungguh dahsyat sekali pukulan itu. Bee Kun Bu tidak mau menyambut, hanya berkelit menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (llmu Langkah Ajaib).

seketika juga Bee Kun Bu lenyap dari hadapan orang itu. Orang itu tertegun, dan secepat kilat membalikkan badannya.

Ketika orang itu membalikkan badannya, Bee Kun Bu segera mengerahkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu lagi melesat pergi.

Orang itu langsung melancarkan beberapa buah pukulan ke arah empat penjuru agar Bee Kun Bu tidak bisa melesat pergi, Akan tetapi, ilmu Ngo Heg Mie Cong Pu adalah ilmu dari Kui Goan Pit Cek, yang sangat lihay dan aneh.

Maka walau orang itu telah melancarkan beberapa buah pukulan ke arah empat penjuru, tapi Bee Kun Bu tetap bisa lolos dari pukulan-pukulan itu.

Tak terasa orang itu menyerang Bee Kun Bu hampir empat puluh jurus, namun menyentuh baju Bee Kun Bu pun tidak bisa, sedangkan Bee Kun Bu sudah melesat pergi.

"Hei! Sobat!" bentak orang itu, "Siapa kau sebenarnya? kenapa main kucing-kucingan?"

"Siapa pula dirimu?" Bee Kun Bu tertawa dingin.

"Ha ha!" Orang itu tertawa gelak. "Aku siapa, tiada urusan denganmu!"

"Sama-sama!" sahut Bee Kun Bu yang bersembunyi di balik sebuah batu besar

Orang itu melangkah maju, Ternyata ia sudah tahu Bee Kun Bu bersembunyi di situ.

"Kita tidak saling mengenal, kenapa engkau mengintip ke dalam kamarku?" tanya orang itu.

Ketika Bee Kun Bu baru mau menyahut, mendadak orang itu telah melancarkan serangan ke arah batu besar itu.

Sungguh hebat dan dahsyat orang itu!

Bee Kun Bu sudah siap untuk cepat-cepat melesat pergi, Namun pada waktu bersamaan, terdengarlah suara yang memekakkan telinga.

Buml Batu besar itu hancur berserakan ke mana-mana.

Begitu menyaksikan pukulan itu, Bee Kun Bu terkejut bukan main, Di saat itu pula ia teringat pada Lie Ceng Loan, pasti sudah berhasil mencuri kantong sutera itu.

Oleh karena itu, ia segera melesat pergi, kemudian bersembunyi di balik sebuah pohon. Orang itu tampak ingin mengejarnya, tapi keningnya berkerut seakan teringat sesuatu yang sangat penting.

ia bersiul aneh, lalu melesat pergi, Setelah orang itu melesat pergi, barulah Bee Kun Bu mengikutinya, Ketika sampai di depan rumah penginapan itu, Bee Kun Bu berhenti dan cepat-cepat bersembunyi

Teryata orang itu melesat ke luar lagi sambil bersiul aneh.

Bee Kun Bu tertawa dalam hati sambil melesat kedalam rumah penginapan itu.

Bee Kun Bu menuju jendela di kamarnya. ia melihat lampu minyak menyala, Sungguh berani Lie Ceng Loan menyalakan lampu minyak itu! Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala, lalu membuka daun jendela sambil memandang ke dalam.

Begitu memandang ke dalam kamar, seketika juga ia mematung di tempat Ternyata ia melihat Lie Ceng Loan duduk di kursi dengan kepala tertunduk, dan wajahnya tampak kehijau-hijauan.

Kantong sutera itu berada di atas meja, ikatannya terbuka tak terlihat apa pun di dalamnya.

"Adik Loan!" Serunya sambil melesat kedalam kamar melalui jendela.

Bee Kun Bu mengangkat kepala Lie Ceng Loan. Nafas gadis itu sangat lemah, dan sekujur badannya sedingin es.

seketika Bee Kun Bu tidak tahu harus berbuat apa, sebab ia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi

"Adik Loan! Adik Loan " panggilnya dengan air mata

berderai-derai

Mata Lie Ceng Loan tetap terpejam, dan wajahnyapun masih kehijau-hijauan. Walau Bee Kun Bu terus memanggilnya, namun gadis itu sama sekali tidak menyahut Bee Kun Bu menggendong Lie Ceng Loan ke tempat tidur Setelah membaringkannya, ia terus berpikir apa yang telah terjadi Kebetulah matanya bentrok dengan kantong sutera, Namun kantong itu telah kosong.

sedangkan saat ini, wajah Lie Ceng Loan semakin menghijau, Menyesallah Bee Kun Bu, kenapa tadi ia meninggalkannya.

Lie Ceng Loan jadi begini, itu gara-gara mencuri kantong sutera tersebut Kalau gadis itu terjadi apa-apa, kelihatannya Bee Kun Bu pun tidak bisa hidup.

Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat pada orang itu, Mung-kin orang itu dapat menolong Lie Ceng Loan.

Tanpa banyak pikir lagi, Bee Kun Bu langsung berjalan ke kamar orang itu, ia mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali

"Siapa?" Suara bentakan dari dalam. "Aku!" sahut Bee Kun Bu.

Orang itu mengenali suara Bee Kun Bu. sepasang telapak tangannya langsung mendorong ke arah pintu, seketika juga pintu itu terbuka.

Bee Kun Bu tertegun, karena melihat orang itu duduk di kursi dan tertawa dingin.

"Bocah busuk! Sungguh berani engkau memancingku meninggalkan kamar ini, lalu menyuruh orang lain mencuri kantong suteraku! sekarang engkau masih berani kemari menemuiku?"

Bee Kun Bu maju beberapa langkah, Matanya menatap orang itu seraya bertanya.

"Sebetulnya apa yang berada di dalam kantong sutera itu?"

"Kenapa engkau bertanya?" Orang itu bangkit berdiri "Sumoyku mengambil kantong suteramu itu, Setelah aku kembali, dia sudah pingsan dengan wajah menghijau," sahut Bee Kun Bu memberitahukan

"Kalau begitu   " Orang itu tampak terkejut "Di mana

kantong sutera itu?"

"lkatan kantong sutera itu telah terbuka, tidak terdapat apa pun di dalam," jawab Bee Kun Bu.

"Haah?" Orang itu jatuh duduk di kursi.

"Sebetulnya apa yang telah terjadi?" tanya Bee Kun Bu cemas.

"He he!" Orang itu tertawa terkekeh "Bocah busuk! itu adalah akibat perbuatanmu sendiri!"

"Biar bagaimanapun engkau harus menolong Su-moyku dulu!" ujar Bee Kun Bu.

"Menolong Sumoymu?" Orang itu tertawa terkekeh lagi. "Ya." Bee Kun Bu mengangguk

Orang itu tidak menyahut, melainkan cuma tertawa.

"Gerak-gerikmu mencurigakan, lagi pula menyebut nama kami pula!" Bee Kun Bu menatapnya, "Tentunya engkau bersedia menolong Sumoyku kan?"

"Aku menyebut nama kalian? Siapa sebenarya kalian berdua?" tanya orang itu sambil menatap Bee Kun Bu tajam.

"Aku adalah Bee Kun Bu, murid partai Kun Lun."

"Oh? Ternyata engkau adalah Bee Kun Bu yang sangat tersohor belum lama ini? Kalau begitu, gadis itu pasti Lie Ceng Loan, bukan?"

"Benar, Harap engkau,.,."

"Aku dengar.,.," Orang itu tersenyum. "Engkau saling mencintai dengan Sumoymu itu. Benar ya?"

"Benar," Bee Kun Bu mengangguk "Kalau begitu, engkau harus segera menyiapkan sebuah peti mati, seandainya engkau mau mati bersama Sumoymu itu, siapkanlah dua buah peti mati," ujar orang itu.

"Engkau,.,." Bee Kun Bumurai mengucurkan keringat dingin "Engkau bilang a'pa?"

"Aku bilang, dia pasti mati," sahut orang itu, "Maka engkau harus menyiapkan sebuah peti mati untuknya, tidak usah banyak bicara di sini,"

"Engkau.,, engkau tidak bersedia menolongnya?" tanya Bee Kun Bu cemas.

"Kalaupun aku bersedia menolongnya, itu juga pereuma!"

Orang itu tertawa dingin "Kenapa?"

Tahukah engkau aku siapa? Dan tahukah engkau apa yang berada di dalam kantong sutera itu? Bahkan juga kenapa aku menyebut nama kalian berdua ?"

Bee Kun Bu cuma menggeleng-gelengkan kepala, ia memang tidak tahu sama sekalL

"Ha ha!" Orang itu tertawa. "Kalau begitu, lebih baik engkau tidak tahu."

Bee Kun Bu tertegun, kemudian bertanya.

"Sebetulnya Sumoyku kena racun apa? Beritahukan-lah!" "Yah!" Orang itu menatapnya dingin "Kini aku pun tidak

perlu turun tangan menghajarmu lagi, sebab apabila Sumoymu mati, engkau pasti berduka sekali, kan? Ha ha ha!"

Usai berkata begitu, orang itu pun melesat pergi melalui jendela, Bee Kun Bu segera mengejarnya, tapi orang itu sudah tidak kelihatan Tak lama, terdengar suara ringkikan kuda, Bee Kun Bu tahu, bahwa orang itu sudah pergi.

Berbicara begitu lama, namun Bee Kun Bu masih tidak tahu siapa orang itu, akhirnya ia kembali ke kamar-nya. Lie Ceng Loan masih dalam keadaan pingsan. Bee Kun Bu menarik nafas panjang, bahkan dadanya terasa sakit sekali.

"Uaaakh!" Mulut Bee Kun Bu menyemburkan darah segar, Terkejutlah Bee Kun Bu dan berusaha agar tidak muntah darah lagi, Kalau muntah darah lagi, luka yang dideritanya pasti kambuh, sedangkan Lie Ceng Loan masih dalam keadaan pingsan. Karena itu, segeralah ia duduk bersila menghimpun hawa murninya.

*****

Bab ke 19 - Kembali Ke Kwat Cong San

Setelah menghimpun hawa murni, Bee Kun Bu merasa segar kembali, lalu menggendong Lie Ceng Loan pergi.

Tujuanuya kembali ke Kwat Cong San. ia berharap Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun masih berada di gunung itu, mungkin mereka bisa menolong Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu melakukan perjalanan siang malam. Namun setelah berjalan tiga puluh mil, ia sudah tidak tahan dan muntah darah lagi, Setelah muntah darah, ia merasa matanya berkunang-kunang.

Bee Kun Bu berkertak gigi, lalu melanjutkan perjalanan lagi, Kira-kira sepuluh mil kemudian, nafasnya sudah mulai memburu.

sedangkan Lie Ceng Loan yang ada di punggungnya masih belum sadar, bahkan sekarang wajahnya pun mulai dingin pula.

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu. ia tahu apabila terlambat tiba di Kwat Cong San, nyawa Lie Ceng Loan sulit tertolong. Maka ia harus melanjutkan perjalanan menuju Kwat Cong San, walau matanya berkunang-kunang.

sementara hari mulai terang, Di saat itu ia sudah melihat puncak gunung Kwat Cong San, Kira-kira satu jam lagi ia akan sampai di gua Thian Kie. Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam. ia berjalan selangkah demi selangkah Keringatnya terus mengucur membasahi pakaiannya.

Kira-kira dua mil lagi tiba di gua Thian Kie, Bee Kun Bu sudah tidak dapat bertahan Tubuhnya terkulai seketika dengan nafas memburu.

Di saat bersamaan, muncul seseorang di hadapannya, Orang itu tidak lain adalah orang yang menginap di sebelah kamar Bee Kun Bu, pemilik kantong sutera itu.

Bee Kun Bu memejamkan mata, Orang itu tertawa dingin sambit menatapnya.

"Sumoymu masih belum mati?" tanya orang itu.

"Kalau dia mati, engkau pun tidak bisa hidup!" sahut Bee Kun Bu sambil membuka matanya.

"Ha ha!" Orang itu tertawa, "Engkau ingin membalas dendamnya?"

"Kalau pun aku tidak menuntut balas, masih ada orang lain yang akan membalas dendamnya!" ujar Bee Kun Bun.

"Sebelum engkau ikut mati, aku ingin bertanya padamu!" Orang itu tersenyum dingin sambil melangkah maju.

"Engkau ingin bertanya apa?"

"Sebetulnya Souw Peng Hai mati di tangan siapa?"

Ternyata ini ditanyakan orang tersebut

"Souw Peng Hai berambisi menguasai rimba persilatan bahkan juga menimbulkan bencana di rimba persilatan, maka siapa pun ingin membunuhnya! PeduIi amat engkau dia mati di tangan siapa?" sahut Bee Kun Bu dingin

"Dia mati di gunung Altai Taysan Ketika itu tampak Na Siao Tiap berada di sana. Apakah Na Siao Tiap yang membunuhnya?"

"Aku tidak tahu." "Oh?" Orang itu langsung menendang Bee Kun Bu.

Duuuk! Dada Bee Kun Bu tertendang, sehingga membuatnya nyaris pingsan seketika.

Setelah menendang, orang itu pun masih ingin menginjak kepala Bee Kun Bu. Namun pada waktu bersamaan terdengarlah suara siulan panjang.

Bee Kun Bu mengenali siulan itu, yang tidak Iain adalah suara siulan Sie Bun Yun. ia langsung menarik nafas lega, tapi matanya terasa gelap dan ia pun pingsan

Entah berapa lama kemudian barulah telinganya menangkap suara pembicaraan orang itu. Temyata ia telah sadar dan perlahan-lahan membuka sepasang mata-nya. ia sudah berada di gua Thian Kie, dan Sie Bun Yun berdiri di hadapannya.

Bee Kun Bu mencoba bangun, namun sekujur badannya terasa sakit sekali.

Aduuuh! rintihnya.

"Saudara Bee, jangan bergerak dulu!" ujar Sie Bun Yun "Saudara Sie Bun, di mana Adik Loan?" tanya Bee Kun Bu. "Dia. " Wajah Sie Bun Yun tampak serius.

"Saudara Sie Bun!" Bee Kun Bu memegang tangannya. "Dia,., dia. "

"Dia masih dalam keadaan pingsan." Sie Bun Yun memberitahukan

"Oooh!" Bee Kun Bu menarik nafas lega, "Dia. dia masih

bernafas?"

"Masih." Sie Bun Yun tersenyum getir

"Dia. dia berada di mana? Aku.,, aku ingin pergi

menengoknya," ujar Bee Kun Bu sambil berusaha bangun. "Saudara Bee!" Sie Bun Yun menatapnya, "Engkau jangan bergerak, kini Na Locianpwee dan adik Pek sedang menolongnya, jadi pereuma engkau ke sana, lebih baik engkau tetap beristirahat di sini saja!"

"Apakah mereka sudah tahu kalau adik Loan kena racun apa?" tanya Bee Kun Bu sambil menarik nafas panjang.

"ltu sungguh mengherankan Aku, Na Locianpwee dan adik Pek sama sekali tidak tahu dia kena racun apa. Saudara Bee, sebetulnya kalian berdua telah bertemu siapa dan terjadi urusan apa pula?"

"Aku.-, kami.,.," Karena saking mencemaskan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu pingsan lagi.

Ketika sadar kembali, lampu minyak di dalam gua sudah dinyatakan Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun berdiri di sisi tempat tidurnya.

Telapak tangan Na Hai Peng menempel di dada Bee Kun Bu, membuat Bee Kun Bu merasa lebih nyaman

"Uaakh!" Mendadak Bee Kun Bu memuntahkan darah.

Setelah memuntahkan darah itu, Bee Kun Bu bisa bangun duduk, dan langsung bertanya.

"Bagaimana keadaan Adik Loan?"

Mereka bertiga tidak menyahut cuma saling memandang. "Apakah.,, apakah adik Loan sudah mati?" tanya Bee Kun

Bu dengan air mata bereucuran

"Dia masih bernafas, kenapa engkau bilang dia sudah mati?" sahut Pek Yun Hui, Walau berkata demikian, air mata Pek Yun Hui meleleh.

"Kakak Pek bilang dia masih bernafas, tapi kenapa Kakak Pek mengucurkan air mata?" tanya Bee Kun Bu cemas.

"Na Locianpwee telah menutup tiga puluh enam jalan darahnya." Sie Bun Yun memberitahukan. "Haah...!" Wajah Bee Kun Bu langsung memucat ia tahu dalam waktu satu bulan, apabila tak ditemukan obatnya, Ue Ceng Loan pasti akan mati.

"Engkau jangan berduka, Tuturkan dulu apa yang telah terjadi!" ujar Sie Bun Yun.

"Aku,., aku ingin pergi menengoknya dulu," sahut Bee Kun Bu. "Baiklah!" Pek Yun Hui mengangguk

Sie Bun Yun memapah Bee Kun Bu ke dalam sebuah ruang batu, Na Hai Peng dan Pek Yun Hui mengikuti dari belakang.

Begitu memasuki sebuah ruang batu, Bee Kun Bu langsung menangis, Tampak Lie Ceng Loan terbaring di tempat tidur batu, sepasang matanya terpejam, wajah menghijau menakutkan, boleh dikatakan mirip sosok mayat

"Adik Loan? Adik Loan!" jerit Bee Kun Bu, "Gara-gara aku, engkau jadi begini!"

Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun juga ikut menangis, Hampir setengah jam Bee Kun Bu me-nangis, Setelah itu barulah berhenti perlahan-lahan.

"Ayah angkat, apakah Adik Loan cuma menunggu mati saja?" tanya Bee Kun Bu sedih.

Tidak juga," sahut Na Hai Peng. "Namun kita harus tahu, sebetulnya Ceng Loan kena racun apa?"

"Saudara Bee, tahan rasa sedihmuI" ujar Sie Bun Yun.

Tuturkanlah apa yang telah terjadil"

"Pereuma aku menuturT" sahut Bee Kun Bu. "Kenapa?" tanya Sie Bun Yun.

Bee Kun Bu menarik nafas panjang, Pek Yun Hui memandangnya seraya berkata dengan suara rendah. "Biar Adik Loan berbaring di sini saja!"

"Benar." Sie Bun Yun manggut-manggut dan siap memapah Bee Kun Bu.

"Aku bisa berjalan sendiri," ujar Bee Kun Bu. ia memandang Lie Ceng Loan sejenak, setelah itu barulah berjalan pergi.

Setiba di ruang lain, barulah Bee Kun Bu membuka mulut sambil memandang Sie Bun Yun.

"Apakah Saudara Sie Bun bertemu orang itu?" "Orang itu?" Sie Bun Yun mengerutkan kening.

"Orang yang berdandan seperti pelajari Bee Kun Bu memberitahukan "Ketika engkau melihatku, dia pasti masih berada di situ."

"Ketika aku dan Adik Pek mau meninggalkan Kwat Cong San, kami melihat engkau dan Adik Loan, engkau pun sudah pingsan. Namun tiada seorang pun berada di situ," ujar Sie Bun Yun.

"Kalau begitu orang itu sudah pergi. "

"Adik Kun Bu, lebih baik engkau tuturkan saja kejadian itu!" desak Pek Yun Hui.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk lalu menutur tentang kejadian itu.

Setelah mendengar penuturan itu, Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun tampak tertegun, sebab tiada kaitannya dengan racun yang mengidap dalam tubuh Lie Ceng Loan.

Jadi Bee Kun Bu tidak tahu kapan Lie Ceng Loan pingsan dan kena racun apa. sedangkan kantong sutera itu dan pemiliknya kini sudah tiada jejaknya.

"Saudara Bee, di mana kantong sutera itu?" tanya Sie Bun Yun.

"Aku tidak mengambilnya," sahut Bee Kun Bu. "Mungkin berdasarkan kantong sutera tersebut, kita bisa selidik racun apa itu!" ujar Sie Bun Yun.

"ltu pun pereuma!" Na Hai Peng menggelengkan kepala. sementara Pek Yun Hui diam saja, namun keningnya terus

berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Adik Pek, apakah engkau punya pendapat lain?" tanya Sie Bun Yun.

"Aku pun tidak tahu adik Loan kena racun apa, namun aku justru memikirkan, orang itu tidak menanyakan apa pun, kecuali menanyakan Souw Peng Hai, Apakah dia punya hubungan dengan Souw Peng Hai?" jawab Pek Yun Hui.

"Menurut aku tidak mungkin." ujar Bee Kun Bu. "Sebab sebelum mati, Souw Peng Hai sama sekali tidak punya sanak famili, jadi setelah mati, siapa yang akan menuntut balas dendamnya?"

"ltu memang benar, tapi siapa guru Souw Peng Hai? Dari mana dia mempelajari kepandaian yang begitu tinggi ?" ujar Pek Yun Hui.

"Ngmm!" Sie Bun Yun manggut-manggut

"Masih ada dua hal, yang membuatku masih ber-curiga.,,." Pek Yun Hui mengerutkan kening.

"Hal apa?" Tanya Na Hai Peng, Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun serentak.

"Hal yang pertama yakni ilmu Kan Goan Cihnya. ilmu itu tidak tereatat dalam kitab pusaka Kui Goan Pit Cek. Entah berasal dari mana ilmu tersebut?"

"Menurut guruku, ilmu Kan Goan Cih itu berasal dari Arab.

Mungkin Souw Peng Hai pernah belajar ilmu silat di Arab?"

"Itu memang mungkin" Pek Yun Hui manggut-manggut dan melanjutkan "Hal ke dua yakni kuda sakti yang ditunggangi Co Hiong, Kuda sakti itu pemberian Souw Peng Hai, dan juga bukan berasal dari Tionggoan, tentunya berasal dari Arab pula, sedangkan orang itu. "

"Haaah!" seru Sie Bun Yun mendadak

Na Hai Peng, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui langsung mengarah padanya, Wajah Sie Bun Yun tampak pucat pias seperti kertas.

"Kakak Yun!" Pek Yun Hui terkejut "Kenapa eng-kau?" "Aku. aku tidak apa-apa," sahut Sie Bun Yun.

"Kakak Yun! Cepat beritahukan!" desak Pek Yun Hui.

"Adik Fek!" Sie Bun Yun tertawa getir "Biar aku berpikir sejenak!"

Sie Bun Yun mengerutkan kening sambil berpikir, sedangkan Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu menatapnya dengan tertegun Namun mereka bertiga tahu, bahwa sikap Sie Bun Yun yang aneh itu pasti ada sebab musababnya.

"Adik Pek, maksudmu orang itu datang dari Arab?" tanya Sie Bu'h Yun setelah berpikir lama sekali

"ltu memang mungkin," sahut Pek Yun Hui.

"Kalau begitu.,." sela Bee Kun Bu. ". dia punya hubungan

apa dengan Souw Peng Hai?"

"Orang itu mungkin adik seperguruannya," jawab Pek Yun Hui menduga.

"Kalau pun dia telah pulang ke Arab, aku harus mengejarnya sampai ke sana!" ujar Bee Kun Bu sambil berkertak gigi.

"Seandainya benar dia itu adik seperguruan Souw Peng Hai, dia pasti ke Toan Hun Ya," ujar Pek Yun Hui. "Kakak Pek! Mari kita ke sana!" Bee Kun Bu tampak tidak sabaran

"Saudara Bee!" Sie Bun Yun menggelengkan kepala, kemudian memberitahukan "Sebetulnya orang itu ingin membunuh kita semua, tapi karena perbuatanmu itu, maka cuma adik Loan yang terkena racun."

"Bagaimana engkau bisa tahu?" tanya Pek Yun Hui heran "Kantong sutera itu berisi. " Sie Bun Yun tidak

melanjutkan namun wajahnya tampak serius sekali. "Berisi apa?" tanya mereka serentak

"Aku pernah dengar dari guruku, bahwa ada beberapa jenis ulat, rumput, buah-buahan, ular dan binatang beracun lainnya," jawab Sie Bun Yun menjelaskan "Se-mua itu berjumlah tujuh ribu seratus dua puluh sembilan jenis,"

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak

"Yang paling beracun berasal dari Arabia," ujar Sie Bun Yun dengan kening berkerut

"Jenis binatang apa yang paling beracun?" tanya Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu serentak

"Sejenis ular yang berbentuk aneh, dan pipih pula seluruh badannya," jawab Sie Bun Yun memberitahukan

"Kalau begitu, apakah adik Loan. " Bee Kun Bu

menatapnya.

"Ular itu kalau gusar, seluruh badannya akan memancarkan cahaya hijau." Sie Bun Yun menjelaskan

"Ular itu sering muncul di gurun pasir Siapa pun melihat cahaya hijau berkelebat di gurun pasir, pasti tidak berani melanjutkan perjalanan."

"Oh?" Bee Kun Bu tersentak sebab yang berada di dalam kantong sutera itu juga memancarkan cahaya hijau, Mungkin Lie Ceng Loan digigit ular beracun tersebut "Kalau kena racun ular itu, apakah ada obat penawar-nya?"

"Saudara Bee, engkau dengar dulu penjelasanku tentang ular beracun itu!" sahut Sie Bun Yun dan melanjutkan "Ular beracun itu bergerak cepat sekali laksana kilat Mata kita tidak dapat menyaksikan gerakannya. Maka ular beracun itu dinamai San Tian Cing (UIar Kilat Hijau), Kalau ular beracun itu muncul dan kebetulan ada ratusan orang di situ, semuanya pasti terkena racun"

"Begitu lihay ular beracun itu?" Na Hai Peng terbelalak "Ya." Sie Bun Yun mengangguk "Orang itu pasti akan

mengantar kantong sutera ke mari, agar kita semua mati

terkena racun ular kilat hijau itu."

Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu menarik nafas, sedangkan Sie Bun Yun melanjutkan

Tentunya adik Loan tidak tahu itu, Lantaran merasa heran, maka ia membuka kantong sutera tersebut Ka-rena itu, ia tergigit ular kilat hijau yang di dalam kantong sutera itu."

"Itu...." Mata Bee Kun Bu mulai basah,"... itu gara-gara aku."

"Saudara Bee jangan mempersalahkan diri sendiri!" ujar Sie Bun Yunt dan menambahkan "Apabila orang tersebut membawa kantong suteranya ke mari, saat ini kita semua pasti sudah terkena racun ular kilat hijau itu."

"Pantas kita tidak tahu sebetulnya adik Loan terkena racun apat Ternyata racun ular yang berasal dari Arabia!" Ujar Pek Yun Hui sambil menarik nafas panjang.

"Saudara Sie Bunl" tanya Bee Kun Bu. "Apakah gurumu pernah bilang obat apa yang dapat memunahkan racun ular itu?"

Sie Bun Yun tidak menyahut, melainkan cuma menarik nafas panjang, itu sungguh membuat Bee Kun Bu bertambah cemas. "Saudara Sie Bun, cepat beritahukan!" desak Bee Kun Bu. "Asal dapat menolong adik Loan, ke ujung langit pun aku akan pergi."

"Kalau obat pemunah racun itu mudah diperoleh, tentunya bukan hanya urusanmu seorang. Akan tetapi, boleh dikatakan obat itu tidak dapat diperoleh," ujar Sie Bun Yun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Maksudmu?" Pek Yun Hui menatapnya.

"Guruku pernah bilang, siapa yang terkena racun ular kilat hijau, harus diobati pula dengan empedu ular tersebut" Sie Bun Yun memberi tahukan "Bahkan juga harus dicampur dengan arak, Obat apa pun tidak dapat memunahkan racun ular kilat hijau,"

"Kalau begitu, kita harus berangkat ke Arabia," ujar Na Hai Peng, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu serentak

Setelah mereka bertiga mengatakan begitu, wajah mereka pun tampak muram, karena dari Kwat Cong San menuju ke Arabia, itu paling sedikit akan memakan waktu empat bulanan

sedangkan Lie Ceng Loan cuma dapat bertahan satu bulan, lalu bagaimana keburu menolongnya?

"Aku sudah berpikir sampai di situ. Kalau menunggang Hian Giok, mungkin dalam waktu satu bulan sudah bisa kembali," ujar Sie Bun Yun "Tapi tidak gampang bagi kita mencari ular kilat hijau."

"Kalau begitu, kini masih ada waktu," ujar Pek Yun Hui. "Kakak Yun, engkau menunggang Hian Giok berangkat ke Arabia, kau dapatkan atau tidak ular itu, engkau harus kembali dalam waktu satu bulan!"

"Kakak Pek!" sela Bee Kun Bu. "Biar aku saja yang berangkat!"

Tidak!" Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Ma-sih ada urusan yang harus kita kerjakan." "Urusan apa?" tanya Bee Kun Bu.

"Kini masih ada seekor ular kilat hijau berada di Tionggoan, yakni yang kabur dari kantong sutera itu," jawab Pek Yun Hui.

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut mengerti Tapi ular kilat hijau bergerak laksana kilat, mungkin saat ini sudah berada di tempat yang ribuan mil jauhnya. "

"ltu belum tentu," sahut Pek Yun Hui.

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Siapa tahu ular kilat hijau masih berada di kota kecil itu, atau bahkan mungkin sudah datang di Kwat Cong San ini. Mari kita cari!"

"Anak Pek!" Na Hai Peng menarik nafas, "Luka yang diderita anak Bu masih belum pulih benar.,.,"

Sebelum Na Hai Peng menyelesaikan ucapannya, Pek Yun Hui segera memberi isyarat

Na Hai Peng mengerti, bahwa Pek Yun Hui tidak melarang Bee Kun Bu pergi mencari ular kilat hijau, itu agar dia tidak terlampau memikirkan keadaan Lie Ceng Loan.

"Kalau begitu.-" ujar Na Hai Peng, "Engkau harus menemani anak Bu!"

"Ya!" Pek Yun Hui mengangguk "Biar bagaimanapun dalam waktu satu bulan kami pasti kembali," ujamya.

"Kalian boleh berlega hati, aku berada di sini menjaga anak Loan." Na Hai Peng memberitahukan.

"Ayah angkat! Aku. aku.,,." Bee Kun Bu menghela nafas.

"Anak Bu!" Na Hai Peng tersenyum getir. "Mati dan hidup memang sudah ditakdirkan maka engkau tidak usah terlampau berduka!

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk dengan wajah muram "Ayolah! Mari kita berangkat sekarang!" ajak Pek Yun Hui dan menambahkan "Lebih cepat kita berangkat lebih baiic"

Mereka bertiga meninggalkan gua Thian Kie. setelah berada di luar, Pek Yun Hui segera bersiul panjang memanggil Hian Giok.

Akan tetapi, Hian Giok sama sekali tidak muncul Pek Yun Hui bersiul lagi berulang kali, namun burung bangau itu tetap tidak muncul

"Oooh!" Sie Bun Yun teringat sesuatu, "Mungkin Nona Na menunggang Hian Giok pergl"

"Kalau begitu, engkau pun tidak jadi berangkat ke Arabia," Pek Yun Hui menarik nafas.

pada waktu bersamaan, Na Hai Peng memunculkan diri, dan ketika melihat mereka bertiga berdiri termangu-mangu, ia pun segera bertanya.

"Ada apa?"

"Mungkin Adik Siao Tiap menunggang Hian Giok pergi Guru, kalau adik Siao Tiap pulang, tolong suruh dia ke Arabia!" sahut Pek Yun Hui dan berpesan

"Aku tahu." Na Hai Peng manggut-manggut

"Kakak Yun!" ujar Pek Yun Hui "Karena engkau tidak jadi pergi ke Arabia, maka alangkah baiknya ikut kami pergi ke kota kecil itu."

"Ya." Sie Bun Yun mengangguk

Mereka bertiga lalu berangkat, tapi tidak menggunakan ilmu ginkang, karena luka dalam Bee Kun Bu masih belum pulih benar.