Bangau Sakti Jilid 39

 
Jilid 39

Pek Yun Hui tidak menyahut, melainkan membalikkan badannya, lalu memberi isyarat pada Sie Bun Yun dan Lie Ceng Loan agar mereka turun, Setelah itu, barulah Pek Yun Hui menjawab Tee Ju Liong itu begitu menghormatimu tapi kenapa bukan dia sendiri yang menyambutmu tetapi malah menyuruh orang lainT"

"Mungkin tenaga murninya telah lenyap, maka tidak bisa bergerak," ujar Bee Kun Bu.

"Engkau sungguh polos!" Pek Yun Hui tersenyum "Kalau dia tidak bisa bergerak, kenapa masih menunggumu di halaman belakang?"

Bee Kun Bu terdiam, tidak tahu harus bilang apa. "Kalau begitu, lebih baik kita tidak usah masuk," ujarnya

kemudian dengan suara rendah.

"Kita justru harus masuk," sahut Pek Yun Hui. "Kita harus tahu dia ingin berbuat apa terhadap kita."

Bee Kun Bu mengangguk Mereka lalu mengikuti kedua orang itu ke dalam Setelah melewati ruangan besar, mereka melihat sebuah pintu.

Keluar dari pintu itu, mereka melewati sebuah jalan kecil, Di sisi jalan itu dihiasi dengan pohon bambu yang melambai- lambai lembut terhembus angin, sehingga tampak indah sekali.

sementara Bee Kun Bu, Pek Yun Hui, Sie Bun Yun dan Lie Ceng Loan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah tempat beristirahat yang ada di tengah-tengah telaga buatan Akan tetapi, tidak tampak Tee Ju Liong berada di situ.

"Majikan berada di dalam, harap kalian masuk saja!" ucap orang itu sambil menjura.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui, lalu mendadak mencengkeram lengan ofang itu. "Ada jebakan apa di sini? Ayoh, cepat bilang!" "Je... jebakan apa?" Wajah orang itu meringis.

"Kenapa kalian membawa kami ke mari?" tanya Sie Bun Yun membentak

"Kami... kami diutus majikan untuk menjemput kalian," sahut orang itu terputus-putus, "Entah apa sebabnya, kepandaian majikan kami lenyap begitu saja."

"Kalau kepandaiannya lenyap, kenapa dia berada di dalam tempat ini?" tanya Sie Bun Yun

Kami... kami sama sekali tidak tahu. Tuan, lepaskanlah kami!" Orang itu memohon.

Sie Bun Yun melihat mereka memang tidak berbohong maka lalu memandang Pek Yun Hui seraya berkata.

"Mari kita ke dalam saja!"

Pek Yun Hui mengangguk dan sekaligus menotok jalan darah orang itu. sedangkan Bee Kun Bu juga menotok jalan darah orang yang satu lagi, Dari tadi orang tersebut cuma berdiri tertegun

Sie Bun Yun mendorong pintu, Tiada suara apa pun di dalam, Kemudian ia melangkah ke dalam, diikuti Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan

Di dalam ruangan itu tidak tampak siapa pun, hanya terdapat sebuah meja dan lima buah kursi, Di atas meja itu sudah tersedia lima buah cangkir dan sebuah guci arak.

Mereka berempat saling memandang Pada waktu bersamaan terdengarlah suara yang serak.

"Apakah Bee siauhiap sudah datang? Maaf, aku tidak bisa menjemput kalian!" Mendadak dinding ruang itu terbuka, dan tampak seorang tua berjalan ke luar dengan menggunakan sebuah tongkat

Bee Kun Bu mengenalinya, Orang itu tidak lain adalah Tee Ju Liong. Memang mengherankan orang tua itu tampak tak bertenaga sama sekali, Kalau begitu, kepandaiannya sudah pasti lenyap.

Mereka berempat saling memandang dengan penuh keheranan Setelah itu Pek Yun Hui menyahut

Terimakasih atas undanganmu!"

"Aaakh...!" Tee Lu Jiong menarik nafas panjang, "Jangan mengucapkan begitu, Pek Lie Hiap! Kini aku sudah bukan kepala cabang ekspedisi Thian Liong lagi,"

"Kami masih ada urusan penting lain," ujar Pek Yun Hui. "Kenapa kepandaianmu bisa lenyap? Bolehkah kami tahu sebab musababnya?"

"Urusan ini sungguh panjang kalau dituturkan." Tee Ju Liong menghela nafas lagi, "Sebetu!nya yang mengundang kalian ke mari bukan aku. "

"Siapa yang undang kami ke mari?" Tanya mereka berempat serentak

"Sobat Tee!" ujar Bee Kun Bu kemudian. "Kami menganggapmu sebagai kawan, maka kami ke sini. Ke-napa engkau malah plintat-plintut sekarang? Kalau demi-kian, lebih baik kami mohon pamit saja."

Tunggu, Bee siauhiapt" ujar Tee Ju Liong. "Aku harus menjaga rahasia dirinya, Namun apabila sudah waktunya, dia pasti muncul."

"Oh?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Bee siauhiap!" Tee Ju Liong tertawa, "Kalau kalian berempat bergabung, mungkin tiada tanding di kolong langit ini, kenapa kini malah takut ada jebakan di sini?"

Ucapan tersebut membuat mereka berempat merasa tidak enak dalam hati, tapi tetap bereuriga akan sikap Tee Ju Liong yang misterius itu^

"Kami justru ingin melihat siapa orang itu." ujar Pek Yun Hui dingin. "Kafau begitu, mari ikut aku!" ajak Tee Ju Liong sambit berjalan ke pintu rahasia itu.

Mereka berempat mengikutinya dari betakang. Ke-luar dari pintu rahasia itu dan tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah taman yang amat indah, Empat pelayan langsung mempersilakan mereka duduk.

"Sebetulnya siapa orang itu?" tanya Lie Ceng Loan setelah duduk, "Kenapa harus begitu misterius sih?"

Sesungguhnya kalian sudah mengenalnya," sahut Tee Ju Liong, "Oh ya, siapa orang gagah ini?"

"Dia teman baik kami," jawab Pek Yun Hui. "Nama-nya Sie Bun Yun."

"Sobat Tee!" Sie Bun Yun menjura, "Kupikir sudah waktunya kita mengundang orang itu ke mari."

Tee Ju Liong segera memandang ke arah suatu tempat, dan di sana tampak sosok bayangan.

Mereka berempat pun memandang ke sana, Ter- belalaklah Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Mereka bertiga bukan terkejut, melainkan tertegun karena tidak menyangka kalau orang itu akan muncul di situ.

Keberadaannya di tempat ini sungguh membuat Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan terheran-heran dan tidak habis berpikir Sebab setahu mereka, gadis itu berada di kuil Yang Sim Am mendampingi ibunya, Tapi kenapa mendadak muncul di sini? Lagi pula kemunculannya tidak memakai pakaian biarawati, melainkan memakai pakaian hitam.

Begitu melihat gadis itu, Pek Yun Hui teringat pada Na Siao Tiap, karena kedua gadis itu pun mencintai Bee Kun Bu, Kini gadis itu muncul lagi, apakah akan menimbulkan badai asmara seperti du!u?

Perlahan-Iahan Souw Hui Hong berjalan ke arah mereka, Dari air mukanya dapat dilihat bahwa ia sedang menekan suatu gejolak dalam hatinya. "Nona souw!" ucap mereka serentak, "Selamat ber-temu!"

Souw Hui Hong tersenyum, lalu duduk dan memandang Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan seraya berkata.

"Selamat bertemu!"

"Kakak Hui Hong!" Lie Ceng Loan tertawa gembira. "Engkau mulai berkecimpung di rimba persilatan lagi ya?

Memang lebih baik engkau berpakaian begini dari pada harus

berpakaian biarawati."

"Adik Loan!" Souw Hui Hong menatapnya, "Sudah sekian lama kita tidak bertemu, tetapi engkau tetap mempesonakan Sungguh beruntung Tuan Bee punya kekasih yang begitu cantik jelita!"

Kini Pek Yun Hui sudah berlega hati, sebab di tempat ini bukan merupakan suatu jebakan, Tapi ia justru merasa heran dan bingung, kemunculan Souw Hui Hong dengan cara misterius, sebetulnya dikarenakan apa?

"ldih!" Lie Ceng Loan tertawa dengan wajah memerah "Kakak Hui Hong suka menggoda ah!"

"Aku tidak menggoda, tapi mengatakan yang se- sungguhnya." Souw Hui Hong tersenyum.

"Nona Souw!" Pek Yun Hui memandangnya dalam-dalam "Padahal engkau tinggal di Yang Sim Am di Toan Hun Ya, kenapa kini berada di sini?"

"Sudah setengah bulan aku meninggalkan Yang Sim Am," jawab Souw Hui Hong memberitahukan. "Aku pun sudah pergi ke gunung Kwat Cong San, tapi gua Thian Kie telah rusak berat, sedangkan kalian tidak ada di sana."

"Kakak Hui Hong!" Lie Ceng Loan memandangnya, "Engkau sama sekali tidak bertemu seorang pun di sana?" "Ya." Souw Hui Hong mengangguk "Aku terus menanyakan jejak kalian, namun tiada seorang pun menge- tahuinya. Tapi ada juga yang bilang bahwa kalian pergi ke istana Pit Sia Kiong dan lain sebagainya. Karena itu, aku tidak tahu harus ke mana mencari kalian." 

"Oh?" Lie Ceng Loan terbelalak

"Aku ke sana ke mari." lanjut Souw Hui Hong, "Kebetulan aku melihat kalian di kota Ceng Kang, maka aku pun ingat tempat ini, dan sekaligus mengundang kalian ke mari."

"Ternyata begitu!" ujar Sie Bun Yun, "Semula kami mengira kalau sobat Tee ingin menjebak kami."

"Aku khawatir kalian tidak mau ke mari, apabila tahu aku yang undang," Souw Hui Hong tersenyum. "Maka aku minta tolong pada paman Tee."

"Kalau kami tahu Kakak Souw yang undang, kami pasti lebih cepat ke mari," ujar Lie Ceng Loan.

"Oh?" Souw Hui Hong menatapnya. "Tentu." Lie Ceng Loan manggut-manggut.

"Nona Souw!" tanya Pek Yun Hui. "Sebetulnya ada urusan apa engkau mengundang kami ke mari?"

"Apakah kalian tahu?" Wajah Souw Hui Hong berubah serius, "Co Hiong, suhengku telah kembali ke Toan Hun Ya?"

"Aku tahu, Di tengah jalan aku pernah bertemu dengannya," sahut Lie Ceng Loan.

"Kalian tahu, dia ke Toan Hun Ya bukan untuk bertobat," ujar Souw Hui Hong dengan kening berkerut-kerut

"Apakah...." Pek Yun Hui tertegun "... dia berniat jahat lagi terhadapmu?"

"Tidak sih!" jawab Souw Hui Hong, "Hanya saja aku merasa heran. "

"Kenapa heran?" tanya Bee Kun Bu. "KeIihatannya... kitab pusaka Kui Goan Pit Cek berada di tangannya." Souw Hui Hong memberitahukan itu.

"Benarkah itu?" tanya Pek Yun Hui terkejut "Kelihatannya benarH kata Souw Hui Hong "Nona Souw, dari mana engkau mengetahuinya?" tanya Pek Yun Hui. "Maukah engkau menjelaskan?

Sebab kalau benar Kui Goan Pit Cek jatuh ke tangannya, itu sungguh membahayakan."

"Oleh karena itu, aku meninggalkan Yang Sim Ara untuk mencari kalian." ujar Souw Hui Hong dan melanjutkan "Sebulan lalu, dia pulang mendadak Tentunya sangat mengherankan ibu dan aku. ibu terpaksa me-nyambutnya, sedangkan aku tetap berada di ruang me-ditasi, setelah ibu menemuiku, barulah aku tahu ayahku telah mati."

"Benar Kami pun telah melihat mayat ayahmu." ujar Bee Kun Bu memberitahukan sambil menarik nafas.

"Dia. " Mata Souw Hui Hong sudah basah, "Dia bilang

ayahku mati di tangan Na Siao Tiap, Tuan Bee, apakah itu benar?"

"Bagaimana kematian ayahmu, aku sungguh tidak tahu," sahut Bee Kun Bu.

"Adik Loan!" Souw Hui Hong menatapnya, "Engkau pasti tahu, katakanlah padaku!"

Lie Ceng Loan terbelalak dan mulutnya terbungkam seketika, Segeralah Pek Yun Hui berkata.

"Nona Souw, ayahmu bersekongkol dengan para iblis luar perbatasan dengan maksud ingin menguasai rimba persiIatan. "

"Nona Pek!" potong Souw Hui Hong, Tidak perlu kau katakan lagi, aku sudah tahu, Aku justru ingin tahu jelas, siapa pembunuh ayahku." "Nona Souw!" Bee Kun Bu terkejut, "Biasanya engkau berhati lapang, kenapa kali ini jadi begini?"

"Kalian boleh berlega hati. Na Siao Tiap berkepandaian tinggi, maka kalaupun aku mendendamnya, itu cuma mendendam dalam hati saja."

"Nona Souw, engkau jangan mempereayai omongan Co Hiong," tandas Bee Kun Bu mengingatkan

"Maka. " Air mata Souw Hui Hong berderai-derai, "Aku

ingin mendengar jelas tentang itu, apakah omongannya boleh dipereayai atau tidak."

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu segera memandang Lie Ceng Loan, dan kemudian gadis itu langsung ber-kata.

"Kakak Hui Hong, aku sama sekali tidak tahu bagaimana kematian ayahmu."

"Tapi engkau pasti mengetahui sesuatu." Souw Hui Hong memandangnya dengan air mata bereucuran "Aku ingin mendengar sesuatu itu!"

Lie Ceng Loan mengerutkan kening berpikir kemudian menutur tentang dirinya dan Na Siao Tiap melihat Co Hiong menuju telaga kering, kemudian Na Siao Tiap menjaga di luar gua. Setelah itu, ia cuma melihat mayat Souw Peng Hai, sedangkan Na Siao Tiap dan Co Hiong entah hilang ke mana.

"Adik Loan!" Wajah Souw Hui Hong berubah hijau, "Terimakasih atas penuturanmu!"

"Siapa yang membunuh ayahmu, aku justru tidak tahu sama sekali," ujar Lie Ceng Loan.

"ltu sudah cukup, sebab apa yang engkau tuturkan, hampir sama seperti "apa yang dituturkan Co Hiong," sahut Souw Hui Hong.

"Co Hiong menuturkan apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Ha ha!" Souw Hui Hong tertawa tidak wajan "ltu tidak perlu kuberitahukan Lebih baik kita membicarakan urusan penting saja. Apakah Kui Goan Pit Cek berada pada kalian sekarang?"

Tidak, Na Siao Tiap justru telah kehilangan Kui Goan Pit Cek itu." sahut Pek Yun Hui.

"Kalau begitu..." seru Souw Hui Hong tak tertahan "ltu memang benar, Apa yang kulihat memang benar."

"Kakak Hui Hong!" Lie Ceng Loan kebingungan "Engkau melihat apa? Katakanlahi"

"Nona Souw, engkau melihat apa sehingga membuat engkau begitu emosi?" tanya Pek Yun Hui.

"SepuIuh hari setelah dia pulang, pada suatu malam telah terjadi urusan yang di luar dugaan Dalam sepuluh hari itu, aku sama sekali tidak bertemu dengannya, sehingga malam itu. "

Berkata sampai di situ, Souw Hui Hong memandang Bee Kun Bu sambil melanjutkan "Mendadak aku teringat akan kejadian- kejadian yang telah berlalu, karena itu, aku pun tidak bisa tidur Aku berjalan ke luar, dan tak seberapa jauh, aku melihat segulung sinar putih."

"Hah?" seru Lie Ceng Loan tak tertahan

"Adik Loan, kenapa engkau?" tanya Bee Kun Bu, karena gadis itu berseru begitu mendadak sehingga mengejutkan nya.

"Aku. " Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan "Ketika

aku mendengar Kakak Hui Hong mengatakan segulung cahaya putih, aku pun teringat setelah meninggalkan pegunungan Altai Taysan dan berpisah dengan Kakak Kun Bu hingga bertemu Co Hiong. Aku pun seakan pernah melihat cahaya itu."

"Heran!" Pek Yun Hui mengerutkan kening, "Se-betulnya segulung cahaya putih itu merupakan benda apa?" "Ketika itu aku pun merasa heran Selama itu di tempat tersebut sangat tenang dan damai, tidak pernah terjadi hal-hal yang aneh, justru gulungan cahaya putih bergerak-gerak seakan hidup, Bukankah amat meng-herankan?"

Semua orang menahan nafas sambil mendengarkan dengan penuh perhatian, karena sangat misterius apa yang diceritakan Souw Hui Hong.

Setelah melihat segulung cahaya putih itu, semula Souw Hui Hong memang terkejut dan tertegun, namun kemudian malah girang sekali.

Ternyata gadis itu yakin, gulungan cahaya putih itu adalah bayangan Bee Kun Bu, maka ia melangkah ke depan dan nyaris berseru.

Akan tetapi, mendadak ia berhcnti, sebab ia ingat Bee Kun Bu selalu berlaku terang-terangan. Kalupun ia ingin menemui Souw Hui Hong, tidak perlu melakukan hal aneh seperti itu.

Karena berpikir begitu, ia pun memperlambat langkahnya menuju tempat itu, dan sekaligus bersembunyi sambil mengintip.

Gulungan cahaya putih itu semakin tampak jelas, Ternyata adalah Co Hiong saudara seperguruannya, Be-tapa terkejutnya Souw Hui Hong, dan ia pun terus mengintip dengan penuh perhatian

Cahaya putih itu ternyata sebatang jarum yang menyerupai pedang panjang, hanya saja berbentuk bulat Kelihatannya Co Hiong sedang melatih semacam ilmu silat, sehingga senjata itu berkelebat-kelebat menimbulkan cahaya putih.

Tak seberapa lama kemudian, Co Hiong berhenti lalu mengeluarkan sebuah kitab dari dalam baju nya. Sebab berjarak agak jauh, Souw Hui Hong tidak dapat melihat kitab apa itu. Co Hiong terus membaca kitab tersebut, kemudian berlatih lagi dengan senjata yang berupa jarum panjang tersebut, Setelah itu, harus mendongakkan kepala sambil tertawa gelak.

"Sungguh hebat dan lihay ilmu silat Sam Im Sin Ni!" gumamnya, "Ha ha! Lewat setahun, aku pun tidak akan takut terhadap Pek Yun Hui lagi!"

Seusai bergumam, Co Hiong berjalan mondar-mandir di tempat itu seakan sedang memikirkan sesuatu dan bergumam lagi.

Tapi Na Siao Tiap gadis sialan itu, memang sulit dihadapi!

Hmmm!" Co Hiong tertawa dingin beberapa kali.

Berselang beberapa saat kemudian, dengan hati-hati sekali Co Hiong menyimpan senjata itu, kemudian badannya bergerak dan langsung tidak kelihatan lagi.

Seketika Souw Hui Hong berpikir, kedatangan Co Hiong ke kuil Yang Sim Am, bertujuan bukan untuk bertobat, melainkan menggunakan tempat yang sepi itu untuk meatih ilmu silat, setelah itu akan muncul di rimba persilatan lagi.

Namun Souw Hui Hong sama sekali tidak tahu, dari mana senjata yang menyerupai jarum itu, juga tidak tahu kitab apa yang ada di dalam baju Co Hiong.

selanjutnya beberapa malam Souw Hui Hong terus ke tempat itu mengintip Co Hiong berlatih, Pada malam ke empat, barulah ia terpikirkan bahwa kitab itu adalah Kui Goan Pit Cek.

Betapa terkejutnya setelah terpikirkan itu, tapi ia pun kebingungan bagaimana kitab pusaka itu bisa jatuh ke tangan Co Hiong.

Setelah berpikir semalaman, akhirnya ia mengambil keputusan untuk muncul di rimba persilatan lagi, tujuannya mencari Pek Yun Hui dan lainnya. Terlebih dahulu Souw Hui Hong berangkat ke gunung Kwat Cong San, ia melihat gua Thian Kie telah rusak berat, namun tidak tampak seorang pun di situ.

Setelah meninggalkan Kwat Cong San, Souw Hui Hong menuju selatan dan tiba di kota Ceng Kang, dan kebetulan melihat Pek Yun Hui dan lainnya.

Semua orang tertegun setelah mendengar penuturan itu, Lama sekali barulah Pek Yun Hui berkata.

"Kalau begitu, tentu benar Kui Goan Pit Cek itu berada di tangan Co Hiong."

"Aaakh..,!" Bee Kun Bu menarik nafas, "Akan terjadi bencana lagi dalam rimba persilatan!"

"Aku telah menyampaikan itu." Souw Hui Hong bangkit berdiri "Sekarang aku mohon diri."

"Kakak Hui Hong! Engkau tidak mau ikut kami mencari iblis-iblis itu?" tanya Lie Ceng Loan mendadak Souw Hui Hong tertegun, sebab ia tidak tahu tentang iblis-iblis yang dimaksudkan Lie Ceng Loan.

"Aku... aku lebih baik kembali ke kuil Yang Sim Am saja," sahut Souw Hui Hong. "Adik Loan, aku ucapkan semoga engkau bahagia selalu bersama Tuan Bec!"

Air matanya sudah meleleh, lalu melesat pergi laksana kilat Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui juga melesat ke arah Souw Hui Hong.

"Nona Pek!" seru Souw Hui Hong. "Jangan ikut aku!" "Nona Souw!" sahut Pek Yun Hui, "Aku ingin bicara sebentar denganmu."

Souw Hui Hong menoleh ke belakang, wajahnya tampak murung sekali dengan air mata berderai, kemudian ia mengangguk perlahan, Mereka berdua lalu berjalan pergL Tentunya sangat mengherankan Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun. "Kakak Bu, kenapa Kakak Pek menyusul Kakak Hui Hong?" tanya Lie Ceng Loan.

"Entahlah," Bee Kun Bu menggelengkan kepala, "Aku pun tidak tahu, Mungkin Kakak Pek ingin berbicara empat mata dengan Nona Souw."

"Ooooh!" Lie Ceng Loan manggut-manggut.

Setelah itu, mereka bertiga memandang Tee Ju Liong yang sejak tadi duduk diam seorang diri.

sementara Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong sudah berada di tempat sepi, Segeralah Pek Yun Hui menggenggam tangan Souw Hui Hong erat-erat seraya berkata.

"Nona Souw, aku tahu bagaimana perasaanmu."

"Nona Pek,.,." Badan Souw Hui Hong tergetar "Aku... aku tidak mengerti apa yang engkau maksudkan itu. Aku.,.,"

"Nona Souw!" Pek Yun Hui menarik nafas panjang, "Engkau mencari kami karena ingin memberitahukan tentang Co Hiong, tentunya engkau pun menganggap kami sebagai temanmu, kan?"

"Ya." Souw Hui Hong mengangguk

"lnilah!" Pek Yun Hui tersenyum lembut "Terus terang, aku sangat salut padamu, Terutama ketika engkau menolong Kun Bu. "

Mendengar ucapan itu, wajah Souw Hui Hong langsung berubah pucat pias, namun kemudian berubah kemerah- merahan.

"Engkau tidak usah merasa malu," ujar Pek Yun HuL "Seandainya Kun Bu tahu soal itu, dia pasti sangat berterimakasih padamu."

"Jadi. selama ini dia tidak tahu sama sekali?" tanya Souw

Hui Hong dengan suara bergemetar. "Aku pikir... kemungkinan besar dia tidak tahu."

"Kakak Pek! Aku mohon padamu jangan memberitahukan padanya!"

"Aku tahu jelas," jawab Souw Hui Hong sambil menarik nafas, "Aku mencintainya, namun aku pun tahu yang dia cintai bukanlah aku. Lagi pula aku sudah cacat, kalau dia tahu tentang itu, bukankah akan membuatnya jadi bersusah hati?"

"Nona Souw! Untuk sementara ini dia memang tidak perlu tahu tentang itu. Akan tetapi, kelak aku pasti mengatur yang paling baik untukmu."

"Kakak Pek! Hatiku telah tawar, maka engkau tidak perlu memikirkan kepentingan diriku lagi," tandas Souw Hui Hong.

"Engkau tidak usah membohongiku juga tidak usah membohongi dirimu sendiri. Sebab aku tahu, engkau sangat merindukannya setiap saat, Maka bagaimana mungkin hatimu bisa tawar?"

Souw Hui Hong terbungkam, karena Pek Yun Hui telah menerka jitu mengenai perasaannya.

"Nona Souw!" Pek Yun Hui menarik nafas, "Ke-adaanmu yang begini, aku pun telah merasakannya."

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong tertegun. "Engkau... engkau juga dikarenakan Bee Kun Bu?"

"Bukan!" Pek Yun Hui tersenyum, "Selama ini aku tidak pernah mencintai Kun Bu. Kelak kalau ada kesempatan aku pasti menuturkannya padamu, Oh ya! setelah engkau kembali ke Yang Sim Am, bersikaplah biasa, jangan memperlihatkan kecurigaanmu. Setelah urusan kami usai di Thai Ouw, kami berempat pasti datang di kuil Yang Sim Am untuk menemuimu

Usai berkata begitu, Pek Yun Hui melangkah pergi, Namun mendadak Souw Hui Hong memanggilnya.

"Kakak Pek! Tunggu!"

"Ada apa?" Pek Yun Hui berhenti "Kakak Pek, lebih baik jangan memberitahukan pada siapa pun tentang itu! Kalau adik Loan tahu, dia pasti berduka sekali," sahut Souw Hui Hong berpesan.

"Engkau tidak usah khawatir, sebab aku punya ide sendiri." sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum.

"Terimakasih, Kakak Pek!" ucap Souw Hui Hong dan tetap berdiri termangu di situ, Gadis itu terus berpikir, akhirnya ikut Pek Yun Hui kembali ke sana.

*****

Bab ke 6 - Suatu Kejadian Yang Tak Terpikirkan Mereka berdua telah sampai di tempat Bee Kun Bu, Lie

Ceng Loan, Sie Bun Yun, Tee Ju Liong dan lainnya, Akan

tetapi, mereka berdua terbelalak karena mereka semua sudah tidak ada di situ.

Bukankah itu sangat mengherankan? Padahal Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong ke tempat yang tak seberapa jauh dari situ, Bagaimana mungkin dalam waktu begitu cepat mereka telah menghilang tanpa jejak?

"Kun Bu, Adik Loan! Kalian di mana?" seru Pek Yun Hui. "Kakak Yun! Kakak Yun!"

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong terkejut "Apa gerangan yang telah terjadi?"

"Entahlah." Pek Yun Hui menggelengkan kepala. "Kok bisa jadi begini?" Souw Hui Hong mengerutkan

kening.

"Nona Souw!" tanya Pek Yun Hui serius. "Apakah di tempat ini masih ada orang berkepandaian tinggi?"

"Tidak ada, tapi mungkin... ada orang luar masuk ke sini," sahut Souw Hui Hong, "Heran, kita di tempat yang tak begitu jauh, kok sama sekali tidak mendengar suara apa pun?" "ltu tidak perlu dipikirkan, ayoh, cepat kita cari mereka!" ujar Pek Yun Hui.

Mereka mencari ke sana ke mari di tempat itu, namun tidak menemukan Bee Kun Bu maupun yang tainnya.

Pek Yun Hui tahu, bahwa ini urusan serius, sebab Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun berkepandaian tinggi, Apabila ada orang menyerang men-dadak, tentunya mereka pasti bersuara, Akan tetapi, mereka semua justru tidak bersuara sama sekali

Setelah berpikir sejenak, Pek Yun Hui menghunus pedangnya, lalu melesat pergi. Souw Hui Hong segera mengikutinya dari belakang.

Tak lama, mereka melihat dua sosok mayat, yakni mayat pelayan di rumah Tee Ju Liong, sepasang mata mereka melotot, sepertinya ketika belum mati, mereka menyaksikan sesuatu yang amat menyeramkan

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang, kemudian mereka berjalan ke dalam rumah Tee Ju Liong, Betapa terkejutnya mereka, karena di dalam rumah itu juga terdapat tiga puluhan mayat, yang semuanya anak buah Tee Ju Liong

"Kita harus cepat periksa di luar, mungkin musuh masih belum pergi jauh." ujar Pek Yun Hui.

Mereka berdua langsung melesat ke luar Tak lama mereka sudah sampai'di jalan besar Namun mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan

"Nona Souw, lebih baik engkau pulang ke kuil Yang Sim Am. Aku akan menangani urusan ini." ujar Pek Yun Hui.

"Kakak Pekt Alangkah baiknya kita bersama," sahut Souw Hui Hong.

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk "Mari kita kejar ke arah selatan!" "Kakak Pekl" Souw Hui Hong keheranan "Kenapa ke arah selatan?"

"ltu instingku," jawab Pek Yun Hui memberitahukan "Benar atau tidak, aku pun tidak mengetahuinya."

Souw Hui Hong tidak banyak bertanya lagi, Mereka berdua lalu mengejar ke arah selatan Tak seberapa lama kemudian mereka sudah sampai di luar pintu kota, Setelah berada di tempat sepi, barulah mereka mengerahkan ginkang.

Kira-kira sepuluh mil, Pek Yun Hui memperlambat langkahnya, barulah Souw Hui Hong dapat menyusulnya.

"Kakak Pek, kalau kita terus mengejar tanpa arah tujuan, bagaimana mungkin kita bisa mengejar musuh itu?" ujar Souw Hui Hong.

"Bukan tiada arah tujuan," sahut Pek Yun Hui sambil berhenti

"Kalau begitu, kita mau ke mana?" tanya Souw Hui Hong. "Ke Thai Ouw," jawab Pek Yun Hui.

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong heran "Engkau sudah tahu jejak musuh itu?"

"Nona Souw, apakah engkau tidak memperhatikan wajah- wajah mayat itu? Kelihatannya sebelum mati, mereka menyaksikan sesuatu yang amat menyeramkan"

"Benar." Souw Hui Hong mengangguk "Apakah itu... perbuatan Co Hiong?"

"Bukan Panjang sekali kalau dituturkan," sahut Pek Yun Hui, "Aku akan menuturkannya sambil berjalan."

Mereka langsung menuju Thai Ouw, Pek Yun Hui mulai menutur dari istana Pit Sia Kiong, kemudian tentang Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu yang mendadak menjadi tidak waras sampai dengan mengenai Mo Kui Ceh Yi itu. "Oh ya! Apa sebabnya Tee Ju Liong jadi begitu, engkau tahu sebab musababnya?" tanya Pek Yun Hui seusia menutur.

"Aku tidak tahu, Mungkinkah dia telah bertemu Maha iblis dan iblis Ke dua itu?"

"Dugaanku memang begitu," Pek Yun Hui manggut- manggut.

"Namun aku masih tidak paham, kenapa Bee Kun Bu dan lainnya hilang begitu saja? Kalaupun kedua iblis itu berkepandaian begitu tinggi, tentunya juga akan menimbulkan sedikit suara."

"Memang sulit memecahkan tentang itu." Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Lagi pula kita sama sekali tidak tahu ke mana ke empat orang itu."

Ketika Pek Yun Hui berkata sampai di situ, tiba-tiba wajah Souw Hui Hong berubah, dan langsung berhenti

"Kenapa engkau?" tanya Pek Yun Hui keheranan

"Kakak Pek, mereka berempat... apakah sudah n Suara

Souw Hui Hong gemetar.

"Nona Souw, maksudmu mereka berempat telah celaka, ditenggelamkan ke dalam telaga buatan itu?"

"Aku.j, aku memang berpikir begitu, tapi mudah-mudahan tidak!" sahut Souw Hui Hong dengan wajah pucat pias.

Pek Yun Hui tertegun, kemudian ujarnya perlahan "Menurut pendapatku. tidak akan begitu!"

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong menatapnya, "Yakin-kah itu?"

"Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun berkepandaian tinggi, Bagaimana mungkin ada orang mampu menenggelamkan mereka tanpa mengeluarkan suara sedikit pun?" sahut Pek Yun Hui. "Kakak Pek, tadi engkau bilang Na Locianpwee sudah jadi tidak waras, Kalau mereka berempat juga jadi tidak waras, bukankah,., gampang ditenggelamkan ke dalam telaga buatan itu?"

"Nona Souw!" Pek Yun Hui memegang tangannya. "Berapa kedalaman air di telaga buatan itu?"

"Kira-kira tiga depa."

"Nona Souw " Pek Yun Hui menarik nafas, "Kalau

dugaanmu tidak meleset, kita kembali ke sana juga per-cuma!"

"Aaakh. !" gumam Souw Hui Hong dengan air mata

bereucuran "Aku yang menyebabkan itu. "

"Nona Souw!" Pek Yun Hui menghiburnya, "ltu cuma dugaanmu, Kalau mereka benar sudah celaka, aku lebih bersedih dari padamu, Namun aku pereaya mereka tidak akan celaka."

"Kalau begitu, mereka berempat hilang ke mana?" tanya Souw Hui Hong dan timbul pula harapannya.

"Untuk sementara ini, kita memang sulit menemukan jawabannya." sahut Pek Yun Hui. Kupikir. yang datang bukan

cuma ke dua iblis itu, mungkin masih ada orang lain yang berkepandaian tinggi."

"Kenapa engkau berpikir begitu?"

"Terus terang, ke dua iblis itu hanya mengandal pada racun, sedangkan kepandaian mereka tidak begitu tinggi, Maka pasti ada orang lain yang berkepandaian tinggi muncul di situ."

"Apa yang engkau katakan memang masuk akal." Souw Hui Hong manggul-mangguL

"Oleh karena itu, kita harus secepatnya sampai di Thai Ouw, Setelah bertemu ke dua iblis itu, tentunya akan jernih pula urusan itu."

"Ya." Souw Hui Hong mengangguk Mereka berdua segera mengerahkan ginkang menuju ke Thai Ouw, tak seberapa lama kemudian, hari sudah mulai gelap, Akan tetapi, mereka berdua sama sekali tidak beristirahat dan terus melakukan perjalanan menuju Thai Ouw dengan mengerahkan ginkang.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak ter dengar suara semacam peluit di depan, kemudian di arah barat dan terdengar lagi di tempat lain, kedengarannya seperti semacam suara kode

Tak lama tampak dua sosok bayangan melesat da-tang. Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong memang tidak bermaksud menghindar maka mereka berdua berdiri di tempat

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan, kedua sosok bayangan itu berhenti di hadapan mereka, bahkan sekaligus memberi hormat seraya berkata.

"Kedatangan kalian berdua sungguh menggembirakan Kauw Cu (Ketua Agama), harap kalian berdua ikut karmT

Usai berkata begitu, kedua orang itu pun langsung melesat pergi, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang dengan penuh keheranan

"Hei! Kalian berdua harap tunggu!" seru Souw Hui Hong.

Kedua orang itu langsung berhenti Souw Hui Hong menatap mereka seraya bertanya.

"Siapa sebenarnya kalian berdua, dan apa pula itu KauwCu?"

Tadi Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong tidak begitu memperhatikan ke dua orang itu mengatakan begitu, Ternyata ke dua orang itu mengenakan pakaian hitam, wajah mereka tampak kehijau-hijauan tiada warna darah sama seka!i.

Ketika Souw Hui Hong bertanya begitu, ke dua orang baju hitam tampak terkejut "Bukankah kalian berdua ingin menghadiri pesta ulang tahun Kauw Cu?" tanya salah seorang berbaju hitam.

"Siapa Kauw Cu kalian, kami sama sekali tidak me-. ngetahuinya," sahut Pek Yun Hui, "Jadi bagaimana mungkin kami ingin menghadiri pesta ulang tahun Kauw Cu kalian?"

"Hm!" dengus Souw Hui Hong, "Kenapa kalian harus tahu siapa kami?"

Ke dua orang berbaju hitam saling memandang, kemudian menyerang ke arah Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong dengan kuku yang amat tajam, Gerakan mereka sungguh cepat.

Souw Hui Hong membentak nyaring, kemudian berkelit ke samping sambil mengayunkan kaki nya.

Pek Yun Hui juga berkelit ke samping, lalu secepat kilat menjulurkan tangannya untuk mencengkeram urat nadi orang berbaju hitam, Namun orang itu sangat gesit ia segera meloncat ke belakang, Akan tetapi Pek Yun Hui telah menyentilkan jarinya, dan seketika sebuah senjata rahasia berupa semacam mutiara meluncur ke arah orang berbaju hitam.

Memahg sungguh di luar dugaan, Walau diserang dengan senjata rahasia, tetapi orang baju hitam tersebut masih dapat menghindar Tapi jari tangan Pek Yun Hui menyentil lagi, dan meluncur lagi sebuah mutiara laksana kilat ke arahnya.

Kali ini orang berbaju hitam itu tidak mampu berkelit lagi, sebab senjata rahasia Pek Yun Hui telah mengenai Khi Hu Hiatnya.

Buk! Orang baju hitam itu jatuh gedebule

Temannya yang sedang bertarung dengan Souw Hui Hong terkejut sekali, dan langsung melesat ke arah orang baju hitam itu, sekaligus menyambarnya, Dalam waktu sekejap, orang baju hitam itu telah melesat beberapa depa, dan kemudian hilang dari pandangan Bukan main cepatnya gerakan orang baju hitam itu, padahal sebelah tangannya mengapit temannya, "Hm!" dengus Pek Yun Hui.

"Kakak Pek, siapa ke dua orang baju hitam itu?" tanya Souw Hui Hong.

"Entahlah." Pek Yun Hui menggelengkan kepala. "Yang jelas mereka pasti dari golongan sesat."

"Kita tidak perlu mempedulikan mereka?" Tanya Souw Hui Hong lagi

"Memang tidak perlu," sahut Pek Yun Hui.

Mereka berdua memang tidak begitu menaruh perhatian akan hal tersebut, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Akan tetapi, beberapa mil kemudian, mendadak terdengar suara di depan mereka, yakni semacam suara lonceng.

Tang! Tang! Tang! Tak lama muncul delapan orang menghadang di depan Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong.

Pek Yun Hui tidak mau meladeni mereka, dan segeralah melesat melewati delapan orang itu, Souw Hui Hong juga melesat mengikutinya.

"Harap kalian berdua berhenti!" seru salah seorang dari mereka.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong berhenti, lalu menatap mereka tajam seraya bertanya dingin, "Kenapa kalian menyuruh kami berhenti?" "Kauw Cu kami mengundang kalian," sahut orang itu sambil menjura.

"Kami masih ada urusan penting, maka tidak bisa membuang waktu." ujar Pek Yun Hui. Terimakasih atas undangan Kauw Cu kalian!"

Pek Yun Hui menarik Souw Hui Hong, kemudian melesat pergi tanpa berhenti sama sekali.

"Harap kalian berdua berhenti!" seru delapan orang itu serentak Namun di saat itu, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong sudah berlari belasan depa jauhnya, Kemudian mendadak terdengar lagi suara Tang! Tang! Tang!" Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong menoleh ke belakang, ternyata delapan orang itu telah hi!ang.

"Nona Souw, kelihatannya mereka bukan dari golongan sesat biasa." ujar Pek Yun Hui.

"Benar." Souw Hui Hong menambahkan "Entah tokoh lihay mana yang sudah lama menyepi, kini kembali muncul di rimba persilatan Jangan-jangan... itu perbuatan Maha iblis dan iblis Ke dua."

"Menurut pendapatku bukan!" Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Orang-orang dari Mo Kui Ceh Yi berpakaian putih semua, sedangkan mereka berpakaian hitam, Bagaimana asal-usul mereka dan berniat baik atau jahat, kita belum mengetahuinya, Maka lebih baik kita melanjutkan perjalanan saja."

Mereka berdua melanjutkan perjalanan Karena sudah dihadang dua kali oleh orang-orang baju hitam, maka kini mereka berhati-hati.

Kira-kira dua tiga mil mereka berjalan, mendadak terdengar suara "Syuuur", dan seketika tampak sesuatu meluncur ke atas, Sesaat kemudian terdengarlah suara ledakan dan bunga-bunga api pun bersebaran, sehingga tempat itu jadi terang, Ternyata yang meledak di udara itu semacam kembang api.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hongsudah bersiap-siap.

Mereka yakin tak lama lagi pasti akan muncul orang berbaju hitam menghadang mereka.

Tidak salah, tiba-tiba di hadapan mereka muncul tiga orang, Salah seorang dari mereka melangkah maju sekaligus menjura-pada Pek Yun Hui.

"Pek Lie Hiap, apa kabar selama ini?" tanya orang itu. Pek Yun Hui tereengan dan tertegun, karena orang itu mengenalinya, Setelah ditegasinya, ternyata adalah seorang biarawati.

Pek Yun Hui bertambah heran, begitu pula Souw Hui Hong, sebab mereka mengenali biarawati itu.

Ternyata biarawati itu adalah Tio Hui Suthay, tokoh tua dalam partai Gobi yang memiliki ilmu Kun Goan Khi Kang.

Sudah dua kalf Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong dihadang oleh orang-orang berbaju hitam. Gerak-gerik mereka sangat misterius, membuktikan bahwa mereka bukan dari golongan lurus.

Walau partai Gobi sangat angkuh, namun tetap partai lurus, Kenapa Tio Hui Suthay membaurkan diri dengan mereka? itulah yang membuat Pek Yun Hui dan Souw Hui Hbng tidak habis berpikir

"Aku baik-baik saja," jawab Pek Yun Hui. "Bagai-mana keadaan Suthay?"

"Pek Lie Hiap!" Tio Hui Suthay tersenyum, "Harap engkau sudi ikut aku menemui seseorang!"

Suthay memang tersenyum, tapi tampak agak licik sehingga Pek Yun Hui menduga, bahwa biarawati itu mempunyai maksud tidak baik

"Apakah Suthay ingin mengajak kami menemui Kauw Cu itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Pek Lie Hiap memang pintar Aku tidak perlu banyak bicara, engkau sudah dapat menduganya." sahut Tio Hui Suthay.

Pek Yun Hui bereuriga, kalau bukannya menyangkut Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun yang tidak ketahuan jejaknya, mungkin ia dan Souw Hui Hong akan ikut Tio Hui Suthay menemui Kauw Cu tersebut, ingin tahu ada apa sebenarnya. Namun karena urusan penting itu, Pek Yun Hui terpaksa menolak

"Maaf, Suthay! Kami masih ada urusan peniing, maka tidak bisa ikut Suthay pergi menemui Kauw Cu itu."

"Pek Lie Hiap!" Tio Hui Suthay masih tersenyum licik "Engkau mau ikut atau tidak terserah, sebab kepandaianku masih tidak mampu untuk memaksamu. Akan tetapi, ini menyangkut urusan yang teramat pen-ting, maka harap engkau mempertimbangkannya!"

Hati Pek Yun Hui tergerak ia maju selangkah sambil menatap Suthay dan bertanya.

"Apakah kini Suthay sudah tidak berada dalam partai Gobi lagi?"

"Kenapa Pek Lie Hiap malah ingin mencampuri urusan pribadiku?" Tio Hui Suthay balik bertanya.

"Kalau begitu, bolehkah aku tahu, siapa Kauw Cu itu?" "Pek Lie Hiap ikut aku saja! Tentunya akan mengetahui

nya."

"Bee Kun Bu dan lainnya hilang mendadak di tempat tinggal Tee Ju Liong, apa itu perbuatan kalian?" tanya Pek Yun Hui mendadak

Tio Hui Suthay diam.

sementara Souw Hui Hong sudah tidak sabaran lagi, ia langsung menyerang Tio Hui Suthay dengan sebuah puku!an.

Air muka Tio Hui Suthay berubah. Secepat kilat ia berkelit menghindari pukulan itu. sedangkan dua orang yang berdiri di belakang Tio Hui Suthay sudah melangkah maju, kelihatannya mereka berdua sudah siap bertarung.

"Kakak Pek!" Seru Souw Hui Hong. "Mari kita memberesi mereka bertiga!" "Pek Lie Hiap!" Ujar Tio Hui Suthay dingin "Kami sama sekali tidak berniat jahat! Kalau engkau tidak pereaya, jangan menyesali

"Omong kosong!" bentak Souw Hui Hong. Ketika ia baru mau menyerang Tio Hui Suthay, mendadak Pek Yun Hui mencegahnya.

"Nona Souw jangan bertindak sembarangan!" ujar Pek Yun Hui.

Souw Hui Hong tertegun, Gadis itu tidak mengerti kenapa Pek Yun Hui mencegahnya menyerang Tio Hui Suthay.

"Suthay!" Pek Yun Hui memandangnya. "Kauw Cu itu berada di mana? Apakah akan memakan waktu untuk kita ke sana?"

"Tidak sampai setengah jam kita akan tiba di sana." jawab Tio Hui Suthay memberitahukan "Sesampainya di sana, terserah bagaimana keputusan Pek Lie Hiap saja,"

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong terbelalak "Bagai-mana sih?

Engkau mau ikut mereka ke sana?"

"Nona Souw harus tahu!" bisik Pek Yun Hui. "Tio Hui Suthay ini bukan tokoh sembarangan Dia juga mau menyumbangkan tenaganya membantu Kauw Cu itu, tentunya ada sesuatu yang luar biasa. Siapa tahu kejadian aneh di tempat tinggal Tee Ju Liong, justru ada kaitannya dengan ini."

Souw Hui Hong diam. pada dasarnya ia memang sangat kagum pada Pek Yun Hui, maka ketika Pek Yun Hui mengatakan demikian, ia cuma diam, tidak berko-mentar apa pun.

"Tadi kami telah bertemu dua sobat berbaju hitam," ujar Pek Yun Hui. "Apakah hari ini Kauw Cu itu merayakan ulang tahunnya?"

"Benar, Namun setelah mengetahui Pek Lie Hiap berada di sini, dia segera menolak para tamu lain, jadi khusus nya cuma menunggu kedatangan Pek Lie Hiap," sahut Tio Hui Suthay memberitahukan

"Kalau begitu,., baik!ah. Harap Suthay menunjukkan jalan!" ujar Pek Yun Hui.

Tio Hui Suthay langsung mengibaskan tangannya, seketika ke dua orang itu segera melesat pergi Tio Hui Suthay juga melesat mengikuti mereka, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang sejenak, setelah itu barulah mengikuti di belakang Tio Hui Suthay.

"Kakak Pek!" bisik Souw Hui Hong, "Apakah itu bukan merupakan suatu jebakan bagi kita?"

"Kalau itu merupakan jebakan, kita pun tidak perlu takut," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum

"Heran! Entah siapa Kauw Cu itu?" ujar Souw Hui Hong seakan bergumam

"Kalau sudah bertemu, bukankah kita akan menge- tahuinya?" Pek Yun Hui tersenyum lagi.

Setelah beberapa mil kemudian, mereka melihat sebuah dusun kecik Pek Yun Hui tereengang, sebab tidak mungkin tokoh bu Lim akan tinggal di dusun kecil itu, terutama bagi orang yang berkedudukan sebagai Kauw Cu. Tak seberapa lama, mereka sudah hampir mendekati sebuah sungai

"Kakak Pek!" bisik Souw Hui Hong. "Mereka mengajak kita ke sungai!"

"Ng!" Pek Yun Hui mengangguk "Kita ikuti saja."

Tio Hui Suthay dan ke dua orang berbaju hitam berhenti di pinggir sungai, Setelah itu, Tio Hui Suthay bertepuk tangan tiga kali.

Berselang sesaat, muncullah sebuah rakit yang cukup besar, dan tampak belasan orang berbaju hitam berdiri di atas rakit itu dengan galah panjang di tangan. "Silakan kalian naik ke rakit itu!" ujarTio Hui Suthay, "Sebentar akan tiba di tempat (ujuan."

Pek Yun Hui memandang jauh ke depan, Tampak sesuatu menjulang tinggi di tengah-tengah sungai itu. Entah itu sebuah bukit atau pulau emas, sebab kelihatan gemerlapan tertimpa sinar rembuIan.

Pek Yun Hui berpikir, kini sudah sampai di sini, tidak mungkin mundur lagi, Karena itu, ia menarik Souw Hui Hong meloncat ke rakit itu.

Tio Hui Suthay dan kedua orang berbaju hitam itu pun menyusuI. Setelah mereka berada di atas rakit, Tio Hui Suthay bertepuk tangan lagi dua kali, seketika juga rakit itu melaju, Sungai itu memang lebar sekali, namun amat tenang, sama sekali tidak ada gelombang.

"Kakak Pek!" bisik Souw Hui Hong, "Rupanya itu bukit emas."

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk dan seraya berpesan dengan suara rendah. "Engkau harus ingat, jangan bertindak sembarangan, harus melihat situasi du!u!"

"Kakak Pek. " Souw Hui Hong menarik nafas, "Aku justru

ragu, haruskah kita ke mari? sedangkan Kun Bu dan lainnya,.,."

"Aku yakin mereka tidak akan terjadi sesuatu atas diri mereka," potong Pek Yun Hui yakin, Tentunya mereka pun telah menghadapi sesuatu yang aneh, maka tiada waktu untuk memberitahukan pada kita."

"Mereka tidak dalam bahaya?" Souw Hui Hong masih mengkhawatirkan mereka, terutama terhadap Bee Kun Bu.

"Aku cuma menduga," sahut Pek Yun Hui. "Mereka bertiga berkepandaian sangat tinggi, bagaimana mungkin begitu gampang roboh di tangan orang? Lagi pula siapa tahu kita akan memperoleh kabar berita mereka di tempat ini." sementara rakit itu telah merapat di pinggir daratan. Tio Hui Suthay dan lainnya sudah meloncat ke darat, hanya tinggal dua orang di rakit.

"Mari kita naik ke darat!" ajak Pek Yun Hui.

Souw Hui Hong mengangguk Mereka berdua lalu meloncat ke darat Tio Hui Suthay segera mengayunkan kakinya menuju ke depan.

Beberapa depa kemudian, Pek Yun Hui menengok ke belakang, tampak rakit itu telah melaju pergi.

Tio Hui Suthay melewati tempat yang penuh batu, Berselang beberapa saat, mereka sudah berada di depan sebuah goa, Tio Hui Suthay berhenti di depan gua itu yang tertutup oleh pintu batu.

Mendadak pintu batu itu terbuka, dan tampak dua anak kecil dengan rambut dikuncir ke atas berjalan ke tuan

"Apakah Pek Lie Hiap sudah datang? Kauw Cu sedang menunggu di dalam," ujar salah seorang anak kecil itu.

"Kauw Cu hanya ingin menemui ku seorang, atau harus bersama Nona Souw?" tanya Pek Yun Hui.

"Kauw Cu sudah berpesan, gadis yang bersama Pek Lie Hiap boleh ikut masuk," sahut anak itu.

"Ham!" dengus Souw Hui Hong dingin, Pek Yun Hui segera memberi isyarat padanya, agar jangan bertindak sembarangan.

Souw Hui Hong mengangguk Tio Hui Suthay meloncat mundur beberapa depa.

"Pek Lie Hiap, kalau memperoleh suatu keman-faatan perjalanan ini, jangan melupakan budiku lho!" ujar Tio Hui Suthay serius.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong tertegun mendengar ucapan itu. sementara salah seorang anak itu berkata. "Harap Pek Lie Hiap ikut kami ke dalam!"

Ke dua anak itu melangkah ke dalam, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong mengikuti mereka dari belakang.

Gua itu mirip sebuah lorong panjang, namun pada dindingnya terdapat beberapa buah pintu batu.

Setelah berjalan belasan depa, ke dua anak itu berhenti di depan salah satu pintu.

"Kauw Cu berada di dalam menunggu Pek Lie Hiap." Salah seorang anak itu memberitahukan kemudian mereka berdua mengundurkan diri dari situ.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang, sejenak kemudian, barulah Pek Yun Hui menjulurkan tangannya untuk mendorong pintu batu itu.

"Kakak Pek!" Souw Hui Hong mengingatkan "Hati-hati!"

Pek Yun Hui tersenyum, dan memperlihatkan dua buah mutiara yang di tangannya, Ternyata Pek Yun Hui telah menyiapkan senjata rahasia itu di tangan. Melihat itu Souw Hui Hong juga tersenyum.

Pek Yun Hui mendorong pintu batu itu, Pintu itu terkuak, kemudian mereka berdua melangkah ke daIam.

Ruangan itu tidak begitu luas, pada dindingnya terdapat banyak mutiara yang memancarkan cahaya sehingga menerangi ruangan itu, Tampakdi dalam ruangan itu seorang berjubah merah duduk di atas sebuah kursi batu yang menempel pada dinding, Dan tampak pula beberapa orang berbaju hitam duduk di atas sebuah bangku batu yang agak panjang.

Begitu Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong melangkah ke dalam, beberapa orang itu langsung bangkit berdiri

Pek Yun Hui memandang mereka, Dalam hatinya merasa heran, sebab dirinya mengenali dua tiga orang di antara mereka, yaitu Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tiangto dari partai Siauw Lim, Masih ada dua orang, salah seorang berambut putih dan seorang lagi agak muda mirip banci.

Orang yang berjubah merah duduk di kursi itu memakai kedok warna merah, membuat Pek Yun Hui semakin merasa heran.

Akan tetapi, Pek Yun Hui sama sekali tidak bisa menduga, kira-kira siapa orang berjubah merah itu.

Namun ia pun amat terkejut, sebab Ku Hut Leng Khiong dan Lan Si Tianglo merupakan tokoh tua dalam rimba persilatan yang sangat dihormati orang, sedangkan yang dua itu, walau tidak tahu asal-usul mereka, tapi tentunya mereka berdua tergolong tokoh luar biasa, Kalau bukan, bagaimana mungkin duduk bersama Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo?

"Maafi" ucap Pek Yun Hui kemudian, "Entah apa sebabnya Cianpwee mengundang kami ke mari?"

"Silakan duduk, Pek Lie Hiap!" sahut orang berjubah merah.

Di situ memang masih ada dua tempat duduk batu yang kosong, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang, setelah itu, barulah mereka duduk.

"Pek Lie Hiap! Menurutmu dalam rimba persilatan masa kini, siapa yang yang paling kuat?" tanya orang berjubah merah lagi.

pertanyaan tersebut membuat Pek Yun Hui tertegun beberapa saat lamanya, dan merasa heran kenapa orang berbaju merah itu bertanya demikian padanya?

Setelah partai Thian Liong jatuh.,." jawab Pek Yun Hui setelah berpikir sejenak "Tentunya sembilan partai besar yang paling kuat."

"Ha ha!" Orang berjubah merah tertawa gelak "Ha ha ha!" Pek Yun Hui terkejut ketika mendengar suara tawa itu, sebab mengandung Lweekang yang amat dalam, Siapa orang berjubah merah ini? Pek Yun Hui tidak habis berpikir

"Pandangan Pek Lie Hiap sangat dangkal," ujar orang berjubah merah.

"Bagaimana menurut Cianpwee, bolehkah memberitahukan padaku?" tanya Pek Yun Hui.

"Kalau berdasarkan ilmu silat, apa yang disebut sembilan partai besar itu, cuma merupakan tong kosong, Aku tidak omong menghina Iho!" sahut orang berjubah merah.

"Bolehkah Cianpwee menjelaskan?" tanya Pek Yun Hui, ia tidak menyangka kalau orang jubah merah berani berkata begitu.

"Betapa luasnya kolong langit ini, lagi pula terdapat banyak tokoh aneh yang berkepandaian tinggi," sahut orang berjubah merah, "Kalau berdasarkan ilmu silat, hanya pemilik Kui Goan Pit Cek, yaitu orang marga Na dan putrinya berikut Pe"k Lie Hiap yang berkepandaian tinggi, Lainnya adalah ilmu Tu Si Ciang (llmu pukulan Laba-laba) dan Pek Tong Ciang (llmu pukulan Seratus Racun), Di luar perbatasan dan seberang laut terdapat Lam Kiong Siu tapi sudah mati, Ku Ciok Sianjin dan Mo Kui Ceh Yi."

Usai berkata demikian, orang berjubah merah menatap Pek Yun Hui dalam-da!am.

Ketika orang berjubah merah menyinggung Mo Kui Ceh Yi, hati Pek Yun Hui tergerak

"Apakah Cianpwee tahu jelas tentang Mo Kui Ceh Yi?" tanyanya.

"Sedangkan aku sendirL." ujar orang jubah merah tidak menjawab pertanyaan Pek Yun Hui. "Juga boleh dibandingkan dengan mereka itu." "Oh?" Pek Yun Hui cuma manggut-manggut

"Pek Lie Hiap!" tanya orang berjubah merah mendadak "Bagaimana menurut pendapatmu mengenai Souw Peng Hai?"

pertanyaan tersebut membuat Pek Yun Hui mengarah Souw Hui Hong, sebab Souw Peng Hai adalah ayah Souw Hui Hong. Gadis itu cuma mengerutkan kening, Pek Yun Hui berpikir, kemudian berkata.

"llmu Kan Goan Cin Sin Kang Souw Peng Hai, memang tiada duanya di kolong langit Kalau dia tidak berambisi ingin menguasai rimba persilatan tentu kedudukannya sangat tinggi dalam rimba persilatan."

"Apa yang Pek Lie Hiap katakan, itu cuma benar separuh," sahut orang berjubah merah sambil tertawa.

"Maksud Cianpwee?"

"Souw Peng Hai memang bertekad menguasai rimba persilatan, maka mendirikan partai Thian Liong dan mengumpulkan semua pesilat rimba persilatan pula, Te- kadnya sungguh mengagumkan."

"Oh, ya?" Pek Yun Hui tampak acuh tak acuh.

"Maafl" ucap orang berjubah merah, "Nona Souw berada di sini, tetapi aku membicarakan ayahnya."

"Tidak apa-apa. Silakan Cianpwee membicarakannya!" ujar Souw Hui Hong dengan senyum paksa.

"Baik, aku akan melanjutkan." Orang berjubah merah manggut-manggut "Sayangnya Souw Peng Hai masih belum memiliki kepandaian tertinggi maka gagal mewujudkan ambisinya, Lagi pula dia cuma dibantu oleh orang yang tak berguna."

"Oh?" Pek Yun Hui tersenyum Tapi anak buahnya juga memiliki kepandaian tinggi." "Ha ha!" Orang berjubah merah tertawa. "ltu cuma merupakan kepandaian cakar ayam Mengenai racun, anak buah Souw Peng Hai hanya mengerti kulitnya ?aja."

"Apakah Cianpwee tidak omong kosong?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku tidak omong kosong," sahut orang berjubah merah. "Kalau begitu. H Pek Yun Hui teringat seseorang, "Masih

ada satu orang lagi, apakah orang itu boleh digo!ongkan sebagai orang luar biasa?"

"Siapa orang itu?"

"Tee Ju Liong." Pek Yun Hui memberitahukan

"Tec Ju Liong?" Orang berjubah merah itu tampak tertegun "Siapa orang itu?"

jawaban tersebut membuktikan bahwa hilangnya Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun tiada kaitannya dengan orang berjubah merah.

"Dia mantan kepala cabang ekspedisi Thian Liong."

"Pek Lie Hiep sedang omong bereanda!" Orang berjubah merah itu tertawa panjang, "Orang semacam itu cuma merupakan pesilat kelas rendah."

"Cianpwee!" Pek Yun Hui bangkit berdiri, "Kalau sudah tiada urusan lain, kami mau mohon diri, sebab kami masih punya urusan penting yang harus diselesaikan-

"Tunggu!" Orang berjubah merah menahannya, "Aku mengundang Pek Lie Hiap ke mari, tentunya punya urusan yang harus dirundingkan."

"Urusan apa?" tanya Pek Yun Hui sambil duduk kembali "Sejak kecil aku belajar ilmu silat Setelah aku berusia

empat puluh, aku mendirikan suatu aliran," jawab orang

berjubah merah memberitahukan "Oleh karena itu, aku pun punya ambisi seperti Souw Peng Hai." "Oh?" Pek Yun Hui terkejut "Apa hubungannya ambisi Cianpwee dengan kami?"

"Setahun yang lalu, aku mendirikan Kai Thian Kauw (Agama Langit), otomatis aku adalah Kauw Cu." ujar orang berjubah merah sambil tertawa. "Dalam setahun ini, sudah banyak orang berkepandaian tinggi bergabung dengan kami,

Tapi hingga kini aku masih belum mendapat seseorang yang bisa kuandalkan Pek Lie Hiap sudah sangat terkenal, lagi pula bukan berasal dari partai mana pun Kalau Pek Lie Hiap bersedia jadi wakil Kauw Cu, itu sungguh menggembirakan kami semua."

Pek Yun Hui baru tahu, kalau orang berjubah merah mengundangnya ke mari dikarenakan maksud tersebut

Terimakasih atas penghargaan Cianpwee terhadap diriku, namun itu merupakan hal yang tak mungkin"

"Kenapa tidak mungkin? Apakah Pek Lie Hiap menganggap kepandaianku masih tidak dapat menaklukkan orang lain?"

"Bagaimana kepandaian Cianpwee, aku sama sekali tidak mengetahuinya Yang kumaksudkan itu adalah ambisi Cianpwee, itu tak mungkin bisa terwujud."

"Apakah Pek Lie Hiap mengira Kai Thian Kauw kurang terkenal?" tanya orang berjubah merah bernada tidak senang.

"Aku tidak mengatakan begitu," sahut Pek Yun HuL

"Pek Lie Hiap harus tahu, bahwa mulai sekarang Kai Thian Kauw akan bergerak secara besar-besaran Tidak sampai setahun, Kai Thian Kauw pasti tersohor di kolong langit Pada waktu itu, Pek Lie Hiap pasti tahu, ambisiku pasti terwujud."

"Cianpwee punya ambisi itu, silakan mewujudkannya." ujar Pek Yun Hui dan menambahkan, Tapi tidak perlu menyeret kami ke dalamnya, Kami masih ada urusan penting, Maaf, kami harus mohon diri." Pek Yun Hui bangkit berdiri dan langsung menuju pintu, Akan tetapi, pada waktu bersamaan, Ku Hut Leng Khong dan Lan Si Tianglo sudah melesat ke arahnya, sekaligus menghadang di depannya.

"Apa maksud kalian menghadang di depanku?" tanya Pek Yun Hui sambil mengerutkan kening.

sementara orang berjubah merah pun sudah bangkit dari duduknya, lalu selangkah demi selangkah menghampiri Pek Yun Hui.

"Pek Lie Hiap!" ujarnya memberitahukan. "Lima orang di dalam ruangan ini adalah tokoh Bu Lim yang amat terkenal, namun mereka cuma merupakan wakil sektor, Kaiau engkau mau bergabung, kedudukan wakil Kauw Cu untukmu, itu merupakan suatu kebanggaan bagimu, kenapa malah ditoIak?"

"Pendirian orang berbeda," sahut Pek Yun Hui sing-kat. "Pek Lie Hiap!" Orang berjubah merah tertawa dingin,

"Apakah engkau tidak mau minum arak peng-hormatan?"

"Memang tidak mau!" Pek Yun Hui juga tertawa dingin.

Kini mereka berdua sudah saling menantang, Orang berjubah merah maju selangkah, kemudian mengibaskan tangannya, Seketika segulung angin pukulan yang amat dahsyat langsung mengarah pada Tay Meh Hiat di badan Pek Yun Hui.

jurus itu aneh bukan main, sebab orang jubah merah menggunakan lengan jubahnya sebagai senjata, bahkan penuh mengandung Lweekang.

"Bagus!" seru Pek Yun Hui. ia pun menjulurkan tangannya menyambar ujung jubah itu.

Akan tetapi, orang berjubah merah segera berkelip dan mendadak lengan jubahnya melembung bagaikan gumpalan awan merah mengarah Pek Yun Hui. Pek Yun Hui terkejut, sebab Lweekang orang berjubah merah itu amat luar biasa. Tak ayal lagi ia langsung mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

Bummml Terdengar suara benturan yang dahsyat sekali Pek Yun Hui terdorong mundur dua langkah, sedangkan

orang berjubah merah cuma terdorong selangkah, kemudian tertawa panjang.

"Pek Lie Hiap, aku berani mengangkat diriku sebagai Kauw Cu, tentunya tidak akan mengecewakan diri sendiri!" ujar orang berjubah merah.

"ltu urusan Cianpwee, tapi kenapa mendesakku harus jadi wakil Kauw Cu?" tanya Pek Yun Hui gusar.

"ltu dikarenakan engkau berkepandaian tinggi dan sudah terkenal, maka pilihanku jatuh padamu," sahut orang berjubah merah.

"Cianpwee tidak usah mengharapkan itu, sebab tidak mungkin! Kalau Cianpwee mau bertarung, itu pun belum tentu aku akan kalah. sebaliknya malah Cianpwee yang akan menyesali

sepasang mata orang berjubah merah menyorot ta-jam, kemudian menatap Pek Yun Hui dalam-dalam seraya berkata.

"Pek Lie Hiap pasti mengira aku orang sesat yang tak tahu aturan kan?"

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin.

"Kalau Pek Lie Hiap berpikir begitu, berarti Pek Lie Hiap telah salah!" ujar orang berjubah merah.

Kemudian orang berjubah merah melepaskan kedok di mukanya, Pek Yun Hui memang ingin melihat muka orang berjubah merah itu. Maka ketika kedok itu dilepas kan, Pek Yun Hui segera memandang mukanya. justru membuat Pek Yun Hui tertegun setelah menyaksikan muka orang jubah merah itu, bahkan tampak terbelalak pula.

"Pek Lie Hiap!" ujar orang berjubah merah, "Kalau aku berniat jahat terhadapmu, itu gampang sekali, namun aku tidak mau melakukan itu! Kalau bukannya dulu aku tidak mau berbuat jahat terhadap siapa pun, aku tidak akan meninggalkan tempat tinggal yang dulu itu."

Setelah orang berjubah merah itu melepaskan kedoknya, Pek Yun Hui dapat menduga siapa orang berjubah merah itu.

seandainya orang berjubah merah itu masih muda, wajahnya pasti tidak berbeda dengan Maha iblis dan iblis Ke dua. Karena itu, Pek Yun Hui yakin orang berjubah merah itu adalah ayah mereka.

Tidak salah! Orang jubah merah itu memang ayah tiga iblis tersebut, yang sudah lama meninggalkan Mo Kui Ceh Yi.

"Eh?" Orang berjubah merah tereengang, "Kenapa Pek Lie Hiap menatapku dengan cara begini? Apakah dulu Pek Lie Hiap pernah melihatku?"

"Aku tidak pernah bertemu Cianpwee, tapi justru telah bertemu putra-putri Cianpwee itu!" Pek Yun Hui memberitahukan.

"Apa?" Orang berjubah merah tampak terperanjat kemudian menarik nafas panjang sambil mengge!eng- gelengkan kepala, "Aaaakh...!"

"Cianpwee tidak menyangka kalau aku telah bertemu mereka kan?" Pek Yun Hui menatapnya lagi.

"Kini bagaimana mereka, aku juga sudah tidak bisa membayangkannya." ujar orang berjubah merah sambil menarik nafas lagi, "Naniun wajah mereka memang mirip wajahku, maka tidak heran kalau begitu Pek Lie Hiap menyaksikan wajahku, sudah tahu siapa aku ini." "Benar!" Pek Yun Hui mengangguk "Mereka memang hampir serupa dengan Cianpwee!"

"Entah di mana Pek Lie Hiap bertemu mereka?"

"Di Mo Kui Ceh Yi!" sahut Pek Yun Hui dingin. "Oh?" Orang berjubah merah tertawa gelak, "Tidak

disangka, Pek Lie Hiap juga bisa berdusta!" "Aku berdusta apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Yang bisa memasuki Mo Kui Ceh Yi, kecuali orang yang telah bergabung di sana! Kalau tidak, bagaimana mungkin dapat memasuki Mo Kui Ceh Yi dan bisa keluar dengan selamal?"

"Setelah Cianpwee bertemu dengan mereka, barulah Cianpwee tahu kalau aku lidak berdusta!"

"Oh?" Orang berjubah merah mengerutkan kening. "Cianpwee pereuma berada disini, sebab kedua putra

Cianpwee sedang ke Thai Ouw mencari Cianpwee |" ujar Pek Yun Hui memberitahukan

"Kenapa mereka ke Thai Ouw cari aku?" tanya orang jubah merah keheranan

"Ng!" Orang berjubah merah manggut-manggut, "Pek Lie Hiap, saat ini engkau tidak mau jadi wakil Kauw Cu, itu tidak apa-apa! Namun sebulan kemudian, aku ingin mohon petunjukmu!"

Pek Yun Hui lalui, kalau orang berjubah merah memberikannya waktu satu bulan untuk mempertimbangkan tentang ilu. ia pun tahu kalau orang berjubah merah itu tidak boleh diremehkan, tapi juga panas dalam hati.

"SebuIan kemudian, Cianpwee akan ke mana mencariku tanyanya dingin. "Manusia di mana pun akan bertemu, kenapa harus menentukan tempat?" sahut orang jubah merah sambil tertawa panjang.

"Kalau Cianpwee masih mendesakku jadi wakil Kauw Cu, pertemuan kita nanti pasti tidak menyenangkan0

"Tapi aku yakin pada waktu itu, engkau pasti bersedia menjadi wakil Kauw Cu." ujar orang berjubah merah itu sambil tersenyum.

Ketika Pek Yun Hui ingin mengatakan sesuatu, Souw Hui Hong telah menarik tangannya.

"Kakak Pek! Mari kita pergi!" ajaknya.

Pek Yun Hui mengangguk dan berpikir, itu adalah urusan sebulan yang akan datang. Siapa tahu gurunya telah pulih dan akan bertemu Na Siao Tiap pula, maka ia pun tidak akan takut menghadapi orang tua berjubah merah yang akan mendesaknya jadi wakil Kauw Cu.

"Kami mohon diri!" ucap Pek Yun Hui pada orang berjubah merah.

"Antar Pek Lie Hiap ke luar!" seru orang berjubah merah lantang.

Kemudian muncullah kedua anak yang rambut mereka dikuncir ke atas, lalu mengantar Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong ke luar.

Begitu keluar dari gua, tampak dua puluh empat pria berdiri di situ dengan sikap hormat

"Pek Lie Hiap mau ke mana, kami bersedia meng-antar." ujar mereka serentak

"Kami akan mengikuti arus, Kalau kusuruh berhenti, kalian harus berhenti," sahut Pek Yun Hui. "Ya." Mereka mengangguk lalu menuju tepi pantai Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong mengikuti mereka dari belakang.

"Kakak Pek! bisik Souw Hui Hong. "Kenapa harus mengikuti arus?"

Pek Yun Hui cuma tersenyum, kemudian menariknya menuju tepi sungai, Sete!ah naik ke atas rakit, tak lama rakit melaju mengikuti arus sungai itu, Ketika matahari mulai terbit, Pek Yun Hui menoleh ke belakang, pulau itu sudah tidak tampak lagi Kira-kira seratus mil kemudian, mendadak Pek Yun Hui berseru.

"Cepat berhenti di tepi sungai!"

orang-orang yang mengantar mereka berdua langsung mengangguk, Setelah rakit itu menepi, Pek Yun Hui menarik Souw Hui Hong melesat ke darat, dan rakit itu pun melaju pergi.

"Kita harus segera ke Thai Ouw." ujar Pek Yun Hui. "Ke Thai Ouw?" Souw Hui Hong tereengang "Apa-kah

hilangnya Bee Kun Bu dan lainnya ada hubungannya dengan ke dua iblis itu?"

"Belum bisa dipastikan," sahut Pek Yun Hui. "Yang jelas tiada hubungannya dengan Kai Thian Kauw, Namun orang berjubah merah itu pun pasti ke sana, maka kita harus sampai di sana lebih duIu."

"Ooh!" Souw Hui Hong manggut-manggut, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu.

Di saat hari mulai menjelang senja, mereka sudah melihat Thai Ouw yang amat indah itu, dan tak lama mereka sudah sampai di tepi telaga.

Akan tetapi, keadaan di tempat itu sepi sekali, tak tampak seorang pun, Mereka pun tidak tahu ke dua iblis itu berada di mana. Mereka berdiri di situ, Tak seberapa lama turunlah gerimis. Mereka berdua terpaksa berteduh di bawah sebuah pohon. Di saat itu tampak sebuah perahu kecil sedang melaju di tengah- tengah telaga itu, dan dua orang nelayan duduk di depan dan di belakang perahu tersebut

Souw Hui Hong segera melambai-lambaikan tangannya, Kebetulan ke dua nelayan mengarah ke sana, Ketika melihat ada dua gadis berdiri di bawah pohon, ke dua nelayan itu terbelalak, lalu cepat-cepat menepikan perahu mereka.

Setelah menepi, ke dua nelayan bertambah terbelalak saking kagumnya akan kecantikan Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong.

"Tuan!" seru Souw Hui Hong sambil mengeluarkan beberapa tael perak. "BoIehkah kami menyewa perahu itu? Uang perak ini untuk kalian beli arak."

Begitu melihat uang perak itu, ke dua nelayan merasa girang, sebab uang itu cukup untuk membeli dua buah perahu.

"Baik, Nona." sahut salah seorang nelayan.

Souw Hui Hong menyerahkan uang perak itu kepada nelayan tersebut Ke dua nelayan mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan perahu mereka.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong segera meloncat ke perahu itu, kemudian memakai topi rumput yang ditinggalkan ke dua nelayan, sementara hujanpun semakin deras.

Mereka berdua mengambil pengayuh, lalu mulailah mengayuh, dan perahu itu pun mulai meluncur

"Nona Souw!" ujar Pek Yun Hui sambil memandang telaga itu, "Begitu luas Thai Ouw ini, tidak gampang kita kitari dengan perahu ini!"

"Memang tidak salah." Souw Hui Hong tertawa. "Kupikir, kalau ke dua iblis dan orang berjubah merah itu mau ke mari, mungkin sejalan dengan kita, maka kita cukup berputar-putar di sini saja." "Berputar-putar di sini?" Pek Yun Hui terbelalak, " Ya." Souw Hui Hong mengangguk" Apabila mereka ke mari, kita pasti melihat mereka."

"Ng!" Pek Yun Hui manggut-manggut.

Hujan deras itu membuat mereka tidak dapat melihat jauh ke depan, sebab permukaan telaga itu sudah berkabut.

Berselang beberapa saat kemudian, Souw Hui Hong

yang duduk di sisi Pek Yun Hui langsung menyenggolnya, "Hati-hati, ada orang datang!" bisiknya,

"Oh?" Pek Yun Hui memandang ke darat, tampak dua sosok bayangan melesat ke pinggir telaga, Siapa ke dua sosok bayangan itu? Pek Yun Hui tidak tahu, karena belum dapat melihat jelas.

*****

Bab ke 7 - Membekuk Maha iblis dan iblis Ke Dua Ternyata ke dua sosok bayangan itu berhenti di pinggir

telaga, Pek Yun Hui sudah melihat jelas ke dua orang itu, ialah

Maha iblis dan iblis Ke dua.

"Hati-hati Nona Souw!" pesan Pek Yun Hui. "Ke dua orang itu Maha iblis dan iblis Ke dua."

"Heil Nelayanl Cepul ke maii!" seru salah seorang itu.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong segera mengayuh perahu itu ke tepi. Sebelum sampai di tepi, ke dua iblis itu sudah meloncat ke perahu.

Tuan-tuan mau pesiar ke mana?" tanya Pek Yun Hui dengan suara serak sambil menarik topi rumputnya yang lebar itu ke bawah untuk menutupi mukanya.

Tidak usah banyak tanya!" bentak Maha Iblis. Turuti saja perintahku!"

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang, kemudian mereka berdua pun mulai mengayuh "Adik!" ujar Maha iblis bernada gusar, "Jangan-jangan kita sudah tertipu oleh wanita sialan itu!"

"Hm!" dengus iblis Ke dua. Tidak salah, Sudah tiga hari kita sampai di sini dan bertanya ke sana ke mari, tapi tiada seorang pun yang tahu mengenai orang tua kita!" Setelah kita pulang ke Mo Kui Ceh Yi, aku akan menguliti ke tiga anak muda itu!"

Pek Yun Hui terheran-heran, sebab berdasarkan apa yang mereka katakan, pertanda mereka sama sekali tidak tahu kalau Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan dirinya sendiri sudah berhasil meloloskan diri, Kalau begitu, tentunya juga tiada hubungannya dengan hilangnya Bee Kun Bu dan lainnya.

"Tapi sangat mengherankan," ujar Maha iblis seakan bergumam "Kelihatannya wanita sialan itu tidak berdusta, Mungkin tempat tinggal orang tua kita amat ra-hasia, maka kita belum menemukannya."

"Bagaimana rahasia pun pasti ada orang melihatnya, namun tiada seorang pun melihat orang tua kita," sahut iblis Ke dua. "Kita juga bersalah, karena belum bertanya jelas sudah berangkat"

"Ketika ayah kita meninggalkan Mo Kui Ceh Yi, kita masih kecil." Maha iblis menarik nafas, "Entah ayah kita pernah pulang atau tidak, dan apakah dia sudah punya isteri?"

"Kalau dia punya isteri, itu berarti akan punya anak." ujar iblis Ke dua bernada terkejut "Mengenai Kui Goan Pit Cek, mungkin tidak akan sampai di tangan kita."

"Hm!" dengus Maha iblis dingin, "Kalau ayah tidak memberikan Kui Goan Pit Cek itu pada kita, maka kita pun tidak perlu memperdulikannya sebagai ayah kita lagil"

Kemudian mereka berdua berbisik-bisik, kelihatannya sedang merundingkan sesuatu dengan serius sekali, Setelah itu, mendadak Maha iblis membentak "Hei! Tahukah kalian ada seorang tua yang tinggal di Thai Ouw ini?"

"Orang tua yang tinggal di Thai Ouw ini?" Pek Yun Hui balik bertanya dan pura-pura merasa heran.

"Ya." Maha iblis mengangguk "Engkau tahu?"

"Wah! Banyak sekali orang tua yang tinggal di Thai Ouw ini, entah orang tua yang mana?" sahut Pek Yun Hui.

"Oooh!" Souw Hui liong bersikap seakan teringat sesuatu.

Suaranya juga dibikin serak

"Engkau tahu?" tanya iblis Ke dua cepat.

"Yang kalian maksudkan adalah Lo Sin Sian (Dewa Tua) itu?" Souw Hui Hong balik bertanya.

"Lo Sin Sian apa?" Maha iblis tereengang

"Kakekku pernah bereerita, bahwa di tengah-tengah telaga ini terdapat seorang Lo Sin Sian, Kalau tidak salah, tiga puluh tahun yang lalu Lo Sin Sian itu ke mari," ujar Souw Hui Hong memberitahukan.

"benar." sahut Maha iblis dan iblis Ke dua serentak, "Yang kami maksudkan memang Lo Sin Sian itu, Di mana tempat tinggalnya? Cepat katakan!"

"Lo Sin Sian tinggal di Thai Ouw Pek Hoa Ciu. Apakah kalian mau berobat ke sana?" tanya Souw Hui Hong.

"Kami ke sana bukan untuk berobat" sahut Maha iblis sengit "Cepat katakan di mana Thai Ouw Pek Hoa Ciu itu?

"Di tengah-tengah telaga ini." Souw Hui Hong menunjuk ke tengah telaga

"Cepat antar kami ke sana!" bentak Maha Iblis. "Ya." Souw Hui Hong mengangguk Souw Hui Hong dan Pek Yun Hui mulai mengayuh perahu itu ke tengah, Ketika mendengar pembicaraan mereka, Pek Yun Hui hampir tertawa geli.

Tak seberapa lama kemudian, tampak daratan di tengah- tengah telaga tersebut Souw Hui Hong dan Pek Yun Hui segera menepikan perahu itu.

"Sudah sampai." Souw Hui Hong memberitahukan. "Rapatkan perahu ini ke sana!" ujar iblis Ke dua dan

bertanya, "Kok begitu dekat?"

"Memang sudah sampai," sahut Souw Hui Hong. ia pun tersentak karena mengira iblis itu sudah tahu penyamarannya. "Kami tidak berani terlampau merapatkan perahu ke sana, sebab kalau Lui Sin Sian itu tidak senang kami akan ditiup hingga sakit kepala."

"Omong kosong!" bentak Maha Fblis, lalu bersama iblis Ke dua melesat ke daratan itu.

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui menyentilkan jari tengahnya, Ternyata ia telah menyerang mereka dengan mutiara.

Serangan yang mendadak itu membuat ke dua iblis tidak dapat berkelit Mereka berdua jatuh di tepi telaga, karena Hun Bun Hiat di punggung mereka terserang senjata rahasia Pek Yun Hui.

Ketika melihat Pek Yun Hui berhasil merobohkan ke dua iblis dengan senjata rahasia tersebut, Souw Hui Hong melesat ke tepi telaga, dan sekaligus menotok Tay Meh Hiat mereka.

Pek Yun Hui juga sudah meloncat ke tepi telaga, lalu menuding ke dua iblis itu seraya membentak

"lblis! Kalian masih kenal aku?"

sebetulnya ke dua iblis itu gusar bukan main ketika dirobohkan oleh senjata rahasia itu. Setelah Pek Yun Hui membentak, barulah mereka tahu siapa yang melakukan serangan gelap itu, dan betapa terkejutnya mereka ber-dua.

Sebab mereka tahu jelas, bahwa tenaga murni Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah lenyap, dan ke tiga- tiganya dikurung di dalam ruang batu, Bahkan iblis Ke tiga juga sudah pulang. Lalu cara bagaimana mereka meloloskan diri dan memulihkan tenaga murni yang telah lenyap itu?

Pek Yun Hui menatap mereka dan yakin pula bahwa hilangnya Bee Kun Bu serta lainnya tiada kaitannya dengan ke dua iblis itu, Akan tetapi, karena ke dua iblis itu telah banyak melakukan kejahatan, maka harus dilenyapkan

Namun setelah melenyapkan mereka, bagaimana dengan Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu? Siapa yang mampu menyembuhkan mereka?

"Kakak Pek!" ujar Souw Hui Hong yang telah menebak apa yang sedang dipikirkan Pek Yun Hui. "Mereka telah banyak melakukan kejahatan, lebih baik kita basmi!"

Usai berkata begitu, Siow Hui Hong langsung menyerang ke dua iblis itu dengan jurus Siang Liong Cut Hai (Sepasang Naga Keluar Dari Laut).

Pek Yun Hui terkejut ketika melihat Souw Hui Hong telah turun tangan, ia ingin mencegahnya tapi sudah terlambat, sebab Souw Hui Hong telah menggerakkan pedangnya.

Pedang itu berkelebat dan seketika darah pun muncrat! Ternyata telinga ke dua iblis itu telah lenyap, dan darah pun terus-mengucur

"Hm!"dengus SouwHui Hong dingin "Kalian berdua telah banyak melakukan kejahatan, jadi harus disiksa perlahan- lahan!"

Ketika mendengar Souw Hui Hong mengatakan begitu, Pek Yun Hui sudah tahu maksudnya.

"Benar." sahut Pek Yun Hui. "Mereka berdua harus disiksa perlahan-Iahan sampai mati!" Pek Yun Hui menggerakkan jari tangannya, dan seketika juga ke dua iblis itu menjerit-jerit.

"Kematian kalian sudah berada di depan mata, kenapa masih menjerit-jerit?" tanya Pek Yun Hui sambil menepuk bahu mereka.

"Hm!" dengus Maha Iblis, "Wanita busuk! Kalian jangan sampai jatuh ke tangan kami lagi!"

"Masih berani banyak omong?" bentak Souw Hui Hong, kemudian mendadak menggerakkan pedangnya untuk menggores leher Maha Iblis. Darah pun mengalir seketika dan membuat Maha iblis tidak berani bersuara lagi.

"Sudah cukup lama kami meninggalkan Mo Kui Ceh Yi, bahkan adik kalian itu pun sudah mampus!"

Begitu mendengar ucapan ilu, wajah ke dua iblis langsung berubah pucat pias, dan mata mereka pun menyorotkan sinar kebengisan

"Namun kalian masih punya sedikit harapan untuk hidup!" ujar Pek Yun Hui sambil menatap mereka tajam "ltu pun tergantung pada kalian berdua!"

"Maksudmu?" tanya Maha Iblis.

"Ada beberapa orang telah gila karena perbuatan kalian!

Kalau kalian bersedia memberitahukan bagaimana cara menyembuhkan mereka, aku pun akan melepaskan kalian!" sahut Pek Yun Hui.

"Engkau berkata sesungguhnya?" tanya Maha Iblis. "Tentu sungguh!" Pek Yun Hui mengangguk

"Baik, kalau begitu! Bebaskan dulu jalan darah kami yang tertotok!" ujar Maha Iblis.

"Sungguh pintar engkau!" Souw Hui Hong tertawa. "Kalau totokan itu belum dibebaskan, bagaimana kami bisa menyembuhkan mereka yang telah gila?" Maha iblis tertawa dingin

"Engkau cukup memberitahukan caranya sa|a! Biar kami yang menyembuhkan mereka!" ujar Pek Yun Hui.

"Kami tidak bisa memberitahukan!" tegas Maha Iblis.

"Oh, ya?" Souw Hui Hong tertawa dingin, "Keadaan kalian sudah begini, masih berani keras kepala?"

Gadis itu melintangkan pedangnya di tenggorokan Maha Iblis, Tergoreslah tenggorokan Maha iblis itu, dan darahnya pun mengalir

"Wanita jalang!" bentak Maha iblis mencacinya, "Mau bunuh silakan, aku tidak takut mati!"

"Membunuhmu sama juga mengotori tanganku!" ujar Souw Hui Hong dingin, "Biar engkau mati sendiri sajal"

Souw Hui Hong mengayunkan kakinya menendang Maha Iblis, seketika tubuh Maha iblis melayang ke telaga.

Byuuur! Badan Maha iblis itu jatuh di air, lalu tenggelam perlahan-lahan, Karena masih dalam keadaan tertotok, maka dia tidak bisa bergerak sama sekali.

"Sekarang giliranmu!" Pedang Souw Hui Hong menuding iblis Ke dua, "Engkau mau beritahukan atau tidak cara penyembuhan itu?"

"Aaakh!" iblis Ke dua menarik nafas lalu memberitahukan "Di Ko Kui Ceh Yi terdapat semacam rumput yang bisa memulihkan kesadaran orang-orang itu."

"Engkau membawa rumput itu?" tanya Souw Hui Hong cepat

"Ya." iblis Ke dua mengangguk "Aku membawa sebatang." "Sebatang rumput itu bisa menyembuhkan berapa orang?" tanya Pek Yun Hui. "Cepat katakan! Kalau tidak, nyawamu pasti melayang!"

"Sebatang rumput itu mempunyai tujuh helai daun, dan setiap helai dan daun bisa menyembuhkan satu orang." iblis Ke dua itu memberitahukan

"Kenapa pada punggung masing-masing orang gila itu ada semacam tanda?" tanya Pek Yun Hui mendadak.

"Itu. " Air muka iblis Ke dua tampak berubah, "ltu bekas

pukulan, tidak apa-apa, tidak akan mempengaruhi apa pun."

Pek Yun Hui tahu kalau iblis Ke dua itu berdusta.

Segeralah ia membentak sekaligus mengancam. "Engkau mau cari mati?"

"Memang begitu, Urusan sudah jadi begini bagaimana mungkin aku berdusta?" sahut iblis Ke dua sambil menarik nafas panjang.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, Kemudian ia menghunus pedangnya dan diarahkan pada tenggorokan iblis Ke dua.

"Engkau.,." Wajah iblis Ke dua pucat pias. "Engkau sudah berjanji tidak akan membunuhku kan?"

Pek Yun Hui tidak menyahut, melainkan mendadak menyobek lengan baju iblis Ke dua itu dengan ujung pedangnya.

Breeet! Lengan baju iblis Ke dua tersobek. Ternyata lengan iblis Ke dua diikat dengan sebuah kantong kulit kambing, sesuai dengan apa yang dikatakan Sie Bun Yun.

Pek Yun Hui mengambil kantong kulit kambing itu, lalu dilempar ke arah telaga dan sekaligus disambit nya dengan senjata rahasia.

Plok! Plok! Ke dua kantong kulit kambing itu tersobek, lalu jatuh ke telaga itu. Setelah itu, Pek Yun Hui memeriksa badan iblis Ke dua.

Memang terdapat sebuah kotak kecil di dalam bajunya.

Pek Yun Hui mengambil kotak itu membukanya. Di dalamnya berisi sebatang rumput yang berdaun tujuh helai Pek Yun Hui merasa girang, dan segera menutup kembali kotak itu lalu disimpan ke dalam bajunya.

Kini Pek Yun Hui telah memperoleh rumput itu, maka ia membebaskan totokan di badan iblis Ke dua. Setelah bebas dari totokan itu, mendadak iblis Ke dua menyerang Pek Yun Hui dengan sebuah pukulan dahsyat

Pek Yun Hui bersiul panjang, lalu melancarkan sebuah pukulan menyambut pukulan iblis Ke dua.

Plaaak! Terdengar suara benturan keras.

"Aaakh...!" jerit iblis Ke dua. Mulutnya menyemburkan darah segar Ternyata Pek Yun Hui menggunakan ilmu Toa Pan Yok Kian Kang untuk melancarkan pukulannya tadi.

Walau iblis Ke dua sudah terluka parah. Namun ia masih mampu melotot ke arah Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong, Setelah itu barulah ia melangkah pergi dengan tertatih tatih.

"Ha ha!" Souw Hui Hong tertawa, "Kini iblis itu baru tahu rasa!"

Pek Yun Hui juga tertawa, sebab dengan adanya rumput itu, gurunya dan Kun Lun Sam Cu pasti sembuh.

Akan tetapi, Pek Yun Hui tetap bingung dan cemas, sebetulnya Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun ke mana? Kenapa mereka sama sekali tiada meninggalkan jejak?"

"Nona Souw, kita terpaksa harus kembali ke kota Ceng Kang," ujar Pek Yun Hui

"Kembali ke Kota Ceng Kang?" Souw Hui Hong terbelalak "Memangnya kenapa?" "Kalau ingin mencari Bee Kun Bu dan lainnya, kita harus mulai dari kota itu,"

"Oooh! Souw Hui Hong manggut-manggut Mereka segera berangkat ke kota Ceng Kang, sementara hari sudah mulai gelap, Setelah tujuh delapan mil kemudian, mendadak Pek Yun Hui berhenti seraya berseru.

"Celaka!"

"Ada apa?" Souw Hui Hong terkejut, karena menyaksikan air muka Pek Yun Hui berubah hcbat.

"Kita tidak mempedulikan Maha iblis yang tenggelam di telaga itu. Dia memiliki Lweckang tinggi tentunya masih mampu menutup pernafasan," jawab Pek Yun Hui memberitahukan

"Apa yang kita takutkan? Dia sama sekali tidak bisa bergerak, maka pasti mati di dasar telaga itu," sahut Souw Hui Hong sambil menarik nafas lega.

Takut sih tidak, Cuma khawatir iblis Ke dua akan menolongnya setelah kita meninggalkan tempat itu," ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "Seandainya Maha iblis itu mati, namun iblis Ke dua itu masih hidup, tentunya dia akan melakukan serangan gelap terhadap kita, inilah yang kukhawatirkan."

"Kalau begitu. " Wajah Souw Hui Hong berubah. "Kita

harus segera kembali ke sana untuk melihat keadaan di sana."

"Ayoh, mari kita cepat ke sana!" sahut Pek Yun Hui Mereka berdua langsung mengerahkan ginkang kembali

ke Thai Ouw, Tak lama mereka sudah sampai di tempat itu Kini telaga itu tampak tenang sekali

Ketika Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong baru menarik nafas lega, mendadak di permukaan telaga tampak bergelembung-gelembung. Segeralah Pek Yun Hui menarik Souw Hui Hong bersembunyi

Di saat mereka bersembunyi dipermukaan telaga itu muncul dua orang, yang tidak lain adalah ke dua iblis itu.

Tak seberapa lama kemudian, ke dua iblis itu sudah naik ke darat, Tempat itu hanya beberapa depa dari tempat persembunyian Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong namun ke dua iblis itu sama sekali tidak tahu kalau ke dua gadis itu berada di dekat mereka.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong tampak tegang sekali Mereka berdua tidak berani melakukan serangan gelap, karena khawatir Maha iblis akan batas menyerang dengan racun pelenyap tenaga murni Mereka tetap diam sambil menahan nafas.

"Kakak!" ujar iblis Ke dua penuh kegusaran "Kali ini kita betul-betul dipecundangi orang!"

"Bagaimana cara engkau meloloskan diri?" tanya Maha Iblis.

"Kedua wanita sialan itu telah merusak kantong kulit kambing, bahkan mengambil rumput berdaun tujuh itu. Setelah itu, barulah menjelaskan totokan ditubuhku," jawab iblis Ke dua memberitahukan "Aku langsung menyerang, tapi malah terluka berat."

"He he!" Maha iblis tertawa aneh, "Jangan takuti Mereka sama sekali tidak menduga kalau engkau akan menolongku Kalau mereka melihat aku, pasti terperanjat Hmm! Apabila mereka berdua jatuh ditanganku, pasti kupermak mereka habis-habisan."

"Mereka harus kita siksa pelan-pelan, jangan langsung kita bunuh!" ujar iblis Ke dua dengan bengis.

"Mereka pasti belum pergi jauh, mari kita kejar mereka!" ajak Maha IbIis. "Kita memang harus mengejar mereka!" sahut iblis Ke dua penuh dendam "Mereka telah membunuh adik kita. "

"Apa?" Maha iblis terkejut bukan main, "Benarkah mereka telah membunuh adik kita?"

"Kedengarannya sih benar." iblis Ke dua mengangguk "Maka kita harus menuntut balas!"

"Memang harus." Maha iblis manggut-manggut Mereka berdua lalu meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka pergi, barulah Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong ke luar dari tempat persembunyian

"Akh!" Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Karena kecerobohan kita, akhirnya kita pun harus selalu berjaga-jaga."

"Yang penting, kita harus menghindari mereka," sahut Souw Hui Hong.

"Sewaktu-waktu kita pasti bertemu mereka." Pek Yun Hui menarik nafas, "Seharusnya kita bunuh mereka, jadi tidak ada masalah ini lagi!"

"Yang memiliki kantong kulit kambing itu cuma Maha Iblis, lagi pula racun yang di dalam kantong kambing itu tidak akan bertahan lama, maka kita tidak perlu begitu cemas, sekarang kita kembali ke kota Ceng Kang saja menyelidiki jejak Bee Kun Bu dan lainnya."

"Kalau kita berangkat sekarang, sungguh mem- bahayakan." sahut Pek Yun Hui sambil menggelengkan kepala.

"Kalau begitu. " Pikir Souw Hui Hong sejenak dan

melanjutkan "Kita melanjutkan perjalanan saja menggunakan perahu itu."

"Cuma itu jalan satu-satunya." Pek Yun Hui mengangguk "itu agar kita tidak berpapasan dengan ke dua iblis itu," Mereka berdua meloncat ke dalam perahu. Tak lama perahu itu pun mulai melaju mengikuti arus.

Kini Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong sudah tiba di pinggir Kota Ceng Kang, Mereka membeli dua ekor kuda, lalu menunggang kuda memasuki kota tersebut Akan tetapi, sepanjang jalan mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan sedangkan hari sudah terang.

Ketika mereka berada di luar kota itu, tampak Ku Hut Leng Khong menghampiri mereka, lalu menjura hormat

sebetulnya Pek Yun Hui dan Ku Hut Leng Khong saling bermusuhan, tapi ketika melihat Pek Yun Hui, laki-laki itu menjura hormat Maka Pek Yun Hui manggut-manggut dengan wajah dingin.

"Taysu!" tanya Souw Hui Hong mendadak "Apakah di dalam Kota Ceng Kang masih ada orang lain yang berkepandaian tinggi?"

"Tidak ada," jawab Ku Hut Leng Khong dan tampak tertegun

"Apakah Taysu pernah bertemu dengan orang berkepandaian tinggi kaum Bu Lim?" tanya Souw Hui Hong lagi.

"Wanita iblis yang malang melintang di rimba persilatan Giok Siauw Sian Cu itu telah bertarung denganku semalam." Ku Hut Leng Khong memberitahukan.

"Taysu bilang apa?" Pek Yun Hui tertegun, "Giok Siauw Sian Cu?"

Tidak salah," sahut Ku Hut Leng Khong, Pek Yun Hui tahu sudah terjadi sesuatu, karena sebelum meninggalkan gunung Kwat Cong San, ia telah berpesan pada Giok Siauw Sian Cu, Kim Eng Hauw dan Pang Siu Wie harus menjaga baik-baik Na Hai Peng serta Kun Lun Sam Cu.

Kini Giok Siauw Sian Cu malah muncul di kota ini, tentunya telah terjadi sesuatu di gunung Kwat Cong San. "Engkau bertemu dengannya di mana dan dia berada di mana sekarang?" tanya Pek Yun Hui sambil menatap Ku Hut Leng Khong.

"Aku bertemu dengannya di sebuah pekuburan yang tak jauh dari sini," jawab Ku Hut Leng Khong dan menambahkan "Tetapi aku tidak tahu dia berada di mana sekarang."

"Terimakasih," ucap Pek Yun Hui sambil melarikan kuda nya. "Nona Souw, cepat ikut aku!"

Souw Hui Hong segera mengikutinya, Namun ia terheran- heran sebab ia sama sekali tidak tahu tentang Giok Siauw Sian Cu yang menjaga Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu.

"Kakak Pek! Kenapa engkau begitu terburu-buru menuju tempat kuburan itu? Apakah Giok Siauw Sian Cu ada hubungannya dengan hilangnya Bee Kun Bu dan lainnya?" tanya Souw Hui Hong heran.

Tidak ada hubungan dengan mereka," jawab Pek Yun Hui memberitahukan "Tapi pasti telah terjadi sesuatu di gunung Kwat Cong San."

Kemudian Pek Yun Hui menutur tentang itu. Setelah mendengar penuturan itu, Souw Hui Hong malah bergumam.

"Entah Bee Kun Bu berada di mana? itu sungguh mencemaskan orang."

"Engkau tidak usah cemas!" Pek Yun Hui tersenyum getir, "Hilangnya mereka itu tiada sangkut pautnya dengan ke dua iblis itu, Maka Bee Kun Bu dan lainnya tidak akan celaka. Kita pun tidak tahu harus ke mana mencari mereka, Cemas pun tiada gunanya."

"Aaakh...!" keluh Souw Hui Hong dengan mata berkaca- kaca.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah memasuki sebuah rimba. Tampak sebuah kuburan yang amat besar di sana, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong meloncat turun dari punggung kuda, lalu mendekati kuburan itu, Ternyata itu adalah kuburan tua. Hembusan angin di tempat itu merindingkan Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong, namun tidak tampak apa pun.

*****

Bab ke 8 - Giok Siauw Sian Cu Menemui Ajalnya

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong saling memandang, Pek Yun Hui mengerutkan kening dan kemudian berteriak

"Apakah ada orang di sini?"

Pek Yun Hui berteriak berulang kali, tapi sama sekali tidak ada suara sahutan di tempat itu, Ketika Pek Yun Hui mau berteriak lagi, mendadak terdengar suara rintihan di belakang kuburan

"Siapa?" tanya Souw Hui Hong.

Pek Yun Hui juga sudah mendengar suara rintihan itu.

Secepat kilat melesat ke belakang kuburan. Souw Hui Hong juga melesat ke sana.

Setelah berada di belakang kuburan itu, hati Souw Hui Hong tersentak, karena melihat noda-noda darah, sedangkan Pek Yun Hui membungkukkan badannya di hadapan seorang wanita, Wajah wanita itu pucat pias, yang tidak lain adalah Giok Siauw Sian Cu.

Tangannya masih menggenggam suling giok, tapi cuma tinggal separuh, dan sepasang matanya telah redup.

Perlahan-lahan Souw Hui Hong mendekati mereka, dan tak lama barulah berkata.

"Bagaimana dia?"

"Lukanya sudah parah sekali," sahut Pek Yun Hui sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Aku telah mengerahkan Toa Pan Yok Hian Kang ke dalam tubuhnya, entah bermanfaat atau tidak," "Oh?" Souw Hui Hong terkejut

Berselang beberapa saat kemudian, bibir Giok Siauw Sian Cu mulai bergerak mengeluarkan suara rintihan

"Kakak Pek! Apakah dia dilukai oleh Hweeshio itu?" tanya Souw Hui Hong.

"Menurutku bukan." Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Ku Hut Leng Khong mengira aku akan bersedia jadi wakil Kauw Cu, maka dia sangat menghormatiku Apabila dia yang melukai Giok Siauw Sian Cu, tentunya dia tidak berani memberitahukan kepadaku tentang ini. Giok Siauw Sian Cu terluka sedemikian parah, sudah pasti ada sebab lain."

sementara setelah merintih lirih, mata Giok Siauw Sian Cu tampak agak bersinar, dan wajahnya mulai sedikit memerah.

Menyaksikan keadaan gadis itu, giranglah Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong. Namun kemudian mereka berdua mengerutkan kening, sebab wajah Giok Siauw Sian Cu semakin memerah, yang menandakan ajal Giok Siauw Sian Cu telah tiba.

Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong tampak berduka sekali, Mata mereka pun mulai basah.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Pek Yun Hui.

Giok Siauw Sian Cu menarik nafas panjang, Matanya memandang Pek Yun Hui dan menyahut terputus-putus.

"Aku tahu,., aku tahu sudah mau mati."

"Jangan omong sembarangan!" ujar Pek Yun Hui dengan air mata meleleh.

"Tay Kong Cu, engkau tidak usah... tidak usah menghiburku!"

"Giok Siauw Sian Cu! Kenapa engkau meninggalkan gunung Kwat Cong San? Bagaimana guru, Kun Lun Sam Cu dan lainnya?" "Telah... telah terjadi sesuau.,.," sahut Giok Siauw Sian Cu sambil memandang jauh ke depan, "Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan semua..."

Pek Yun Hui terkejut ketika mendengar Giok Siauw Sian Cu menyebut nama Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Tuturkanlah apa yang telah terjadi!" katanya sambil memegang bahu Giok Siauw Sian Cu.

"Aku... aku akan menuturkannya " Suara Giok Siauw

Sian Cu makin lemah, lalu menggenggam tangan Pek Yun Hui erat-erat seraya melanjutkan, "Tay Kong Cu, aku. aku telah

bersalah. bersalah terhadapmu."

"Jangan omong begitu, cepatlah engkau tuturkan kejadian itu!" ujar Pek Yun Hui gugup, sebab Giok Siauw Sian Cu ibarat merupakan lampu kehabisan minyak

"Aku. " Giok Siauw Sian Cu tidak melanjutkan, kepalanya

telah terkulai dan sepasang matanya mendelik

Ternyata Giok Siauw Sian Cu telah mati. Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong tertegun beberapa saat lamanya, Setelah itu, barulah Pek Yun Hui mengusap sepasang mata Giok Siauw Sian Cu agar terpejam.

Wanita yang malang melintang di rimba persilatan tak pernah menemukan lawan, kemudian bertemu Bee Kun Bu, sehingga timbul pula rasa cintanya, Akan tetapi, akhirnya justru mati di belakang kuburan tua.

"Aaakh!" Pek Yun Hui menarik nafas. "Kita tetap terlambat selangkah ke mari, sehingga kita tidak tahu apa yang lelah terjadi di gunung Kwat Cong San. Siapa yang membunuh Giok Siauw Sian Cu, kita pun tidak mengetahuinya, Belum juga kita mengungkap hilangnya Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Sie Bun Yun, kini malah timbul urusan lain lagi."

"Kakak Pek!" ujar Souw Hui Hong. "Sebelum menghembuskan nafas penghabisan kenapa Giok Siauw Sian Cu menggenggam tanganmu sambil mengatakan telah bersalah padamu?"

"Entahlah." Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Aku pun tidak mengerti, Namun dia juga menyinggung Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, tentunya mereka berkaitan dengan kejadian di gunung Kwat Cong San."

"Oh?" Souw Hui Hong mengerutkan kening. "Aaakh...!" Pek Yun Hui menarik nafas panjang, "Entah

apa yang telah terjadi di gunung Kwat Cong San? Kita sama sekali tidak mengetahuinya."

"Ketika aku pergi ke gunung Kwat Cong San, justru tidak menyelidiki tempat itu." ujar Souw Hui Hong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya!" Pek Yun Hui menatapnya. "Ketika engkau tiba di depan gua Thian Kie Cinjin, apakah engkau tidak bereuriga menyaksikan kehancuran gua itu?"

Tentunya aku bereuriga," sahut Souw Hui Hong.

"Apakah engkau tidak melihat ke sekitar tempat itu?" tanya Pek Yun Hui lagi.

"Ada." Souw Hui Hong mengangguk

"Engkau menemukan sesuatu di sana?"Pek Yun Hui tampak serius.

"Aku.,,." Souw Hui Hong berpikir keras.

"Kalau engkau melihat sesuatu yang mencurigakan, katakan saja! jangan ragu!" ujar Pek Yun Hui. "Siapa tahu kita akan menemukan titik terangnya."

"Setelah kupikirkan, hanya ada satu hal yang mencurigakan," sahut Souw Hui Hong.

"Hal apa?" "Ketika sampai di depan gua Thian Kie, aku merasa heran kenapa gua itu bisa hancur tidak karuan begitu? Oleh karena itu, aku memeriksa tempat-tempat di sekitarnya..." Souw Hui Hong memberitahukan "Kira-kira sepuluh mil ada sebuah lembah. "

"Kemudian bagaimana?" tanya Pek Yun Hui tegang. "Lembah itu terdapat banyak pohon, tapi-" Souw Hui Hong

mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Pohon-pohon di lembah itu tampak seperti ter-bakar."

"ltu pasti akibat dari panah api." ujar Pek Yun Hui tak tertahan

"Apa panah api itu?" tanya Souw Hui Hong heran. "Nanti akan kujelaskan sekarang lanjutkan dulu

penuturanmu!" sahut Pek Yun Hui.

"Karena itu. " Lanjut Souw Hui Hong, "Aku merasa heran

dan memasuki lembah itu Oh ya! Ada dua buah batu besar

di situ, yang kelihatannya telah retak, bahkan tampak ada bekas telapak tangan di batu itu."

Pek Yun Hui tahu, bahwa itu adalah lembah Cu Ngu.

Berarti sebelum Souw Hui Hong tiba di sana, sudah terjadi sesuatu, Namun tidak tahu apa yang telah terjadi.

"Engkau tidak melihat siapa pun di dalam lembah itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Tidak." Souw Hui Hong menggeleng kepala, "Tapi melihat sebuah sarung tangan kulit."

"Mungkinkah Mo Kui Ceh Yi mengutus orang ke sana lagi?" gumam Souw Hui Hong setelah mendengar Pek Yun Hui menjelaskan tentang panah api dan sarung tangan kulit milik Pang Siu Wie. "Setelah kami bertiga di kurung, kemungkinan besar tiga iblis itu mengutus orang ke gunung Kwat Cong San," ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "Tapi itu tidak mungkin, sebab tiga iblis itu telah berangkat ke Thai Ouw, Jangan-jangan telah muncul musuh tangguh lain di gunung Kwat Cong San."

Mereka berdua berpikir keras, namun tidak dapat memecahkan kejadian itu. Akhirnya mereka mengubur mayat Giok Siauw Sian Cu di bawah sebuah pohon dengan air mata berderai-derai.

Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara di belakang mereka, Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong terkejut dan segera meno)eh. "

"Pek Lie Hiap!" ternyata Ku Hut Leng Khong.

Begitu melihat Hweeshto itu, timbullah kecurigaan Pek Yun Hui. ia maju selangkah seraya bertanya.

"Apakah Taysu yang melukai Giok Siauw Sian Cu?" "Tidak," Ku Hut Leng Khong tampak tertegun "Aku tahu

kalau dia orangmu, maka bagaimana mungkin aku berani melukainya?"

"Kalau begitu, kenapa Taysu ke mari?" Pek Yun Hui menatapnya tajam.

"Maaf!" Ku Hut Leng Khong segera menjura, "Kauw Cu akan segera ke mari menemui Pek Lie Hiap!"

"Lho?" Pek Yun Hui heran, "Aku dengan dia sudah ada janji, bahwa sebulan kemudian baru bertemu, kenapa mendadak ingin menemuiku di sini?"

"Aku cuma melaksanakan perintah Harap Pek Lie Hiap jangan ke mana-mana! Apa sebabnya Kauw Cu ingin menemui Pek Lie Hiap di sini, aku sama sekali tidak mengetahuinya." Setelah mendengar Kai Thian Kauw Cu akan me- nemuinya di tempat ini, hati Pek Yun Hui tersentak, dan sekaligus mengambil keputusan

"Maaf! Aku masih ada urusan lain," ujar Pek Yun Hui sambil memberi isyarat pada Souw Hui Hong.

Gadis itu sudah tahu apa maksud Pek Yun Hui, maka segeralah ia menghunus pedangnya, dan langsung menyerang Ku Hut Leng Khong seraya membentak

"Cepat minggir!"

Ku Hut Leng Khong berkelit, namun Pek Yun Hui pun telah menyerangnya pula dengan pedang, itu membuat Ku Hut Leng Khong terpaksa meloncat ke samping, Pek Yun Hui dan Souw Hui Ho'ng pun langsung melesat pergi.

"Harap berhenti, Pek Lie Hiap!" teriak Ku Hut Leng Khong.

Begitu mendengar suara itu, Pek Yun hui merasakan adanya angin pukulan di belakangnya.

Pek Yun Hui tahu betapa lihaynya ilmu pukulan Pek Tok Ciang (Pukulan Seratus Racun) milik Ku Hut Leng Khong itu, karena khawatir Souw Hui Hong tidak dapat bertahan, maka ia pun segera mengibaskan tangannya ke arah Souw Hui Hong, agar gadis itu mundur ke samping. seketika juga Ku Hut Leng Khong meloncat mundur

"Engkau ingin bertarung denganku?" tanya Pek Yun Hui.

"Tidak berani," sahut Ku Hut Leng Khong sambil menjura. Pada waktu bersamaan, muncul tiga orang di belakang

Pek Yun Hui. Salah seorang dari mereka ialah Lan Sia Tiangle sedangkan yang dua orang lagi Pek Yun Hui belum mengenal, namun pernah melihat mereka di Pulau Emas.

Kemunculan mereka secara tidak langsung telah mengurung Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong. Pek Yun Hui memang tidak gentar menghadapi mereka. Tapi kalau menerjang ke luar, juga harus memakan waktu. "Kalau kalian tidak berani bertarung denganku kenapa mengurung kami di sini?" bentak Pek Yun Hui.

"Kami mengurung Pek Lie Hiap tidak bermaksud jahat, hanya ingin menunggu kemunculan Kauw Cu menemui Pek Lie Hiap," sahut mereka berempat serentak

"Aku sudah bilang tadi, bahwa kami masih punya urusan penting lain, Kalau kalian tidak menyingkir jangan menyalahkan jika aku bertindak terhadap kalian!" ujar Pek Yun Hui.

Mendadak Pek Yun Hui menggerakkan pedangnya menyerang empat orang itu. Mereka berempat terpaksa berkelit, Pek Yun Hui bersiul panjang, kemudian tampak sinar pedangnya berkelebatan Akan tetapi, kali ini ia tidak menyerang mereka, melainkan membentak sengit "Di antara kalian, siapa yang mampu menangkis seranganku?"

Ternyata barusan Pek Yun Hui memperlihatkan ilmu pedangnya, yaitu ilmu pedang tingkat tertinggi Setelah menyaksikan ilmu pedang itu, mereka berempat saling memandang dengan mulut membungkam.

Mereka tahu, apabila serangan itu di arahkan pada mereka, paling sedikit juga ada dua orang yang terluka. Lalu kenapa Pek Yun Hui tidak menyerang mereka? Tidak lain karena memikirkan Souw Hui Hong. Kalau ia menyerang mereka, tentunya salah seorang di antara mereka pasti menyerang Souw Hui Hong, dan tidak mungkin gadis itu mampu melawannya, Oleh karena itu, Pek Yun Hui cuma bergerak memperlihatkan ilmu pedangnya.

"Siapa di antara kalian berani menghadang kepergian kami, aku pasti turun tangan!" ujar Pek Yun Hui dingin.

Usai berkata begitu, Pek Yun Hui segera menarik Souw Hui Hong meninggalkan tempat itu, sehingga membuat mereka berempat jadi serba salah, Di saat bersamaan terdengarlah suara siulan panjang. Ketika mendengar suara siulan itu, Pek Yun Hui tertegun Tak lama muncullah sosok bayangan di hadapan kuburan kuno itu, yang tidak lain adalah Kai Thian Kauw Cu, kemudian bertambah lagi dua orang.

Begitu melihat dua orang itu, wajah Pek Yun Hui beruban.

Kenapa? Ternyata ke dua orang itu Maha iblis dan iblis Ke dua.

Hening seketika suasana di tempat itu, hanya terdengar suara desiran angin, Kemudian mendadak ke dua iblis itu membentak sambil melangkah maju, Namun seketika itu juga tampak bayangan merah menghadang di hadapan mereka.

Tunggu!" Ternyata Kai Thian Kauw Cu yang mencegah ke dua putranya maju.

"Kauw Cu!" ujar Pek Yun Hui. "Bukankah kita sudah berjanji, sebulan kemudian baru bertemu? Kok sekarang baru tiga hari Kauw Cu sudah ke mari menemuiku? Apa tujuan Kauw Cu?"

"Pek Lie Hiap!" Kai Thian Kauw Cu tertawa panjang, "Aku ke mari karena ada urusan lain."

"Urusan apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Berdasarkan apa yang dikatakan Pek Lie Hiap, Kui Goan Pit Cek berada padaku, Entah bagaimana Pek Lie Hiap menjelaskan?" sahut Kai Thian Kauw Cu sambil menatapnya tajam.

"Sebetulnya aku cuma omong kosong pada waktu itu." Pek Yun Hui tertawa, "Tak disangka justru ada orang mempereayai omonganku itu."

Wajah ke dua iblis itu langsung berubah kehijau-hijauan Kemarahan mereka sudah memuncak, hanya tunggu meledak saja.

"Hm!" dengus Kai Thian Kauw Cu. "Pek Lie Hiap, apakah benar putriku mati ditanganmu?" "Kejahatan mereka sudah melampaui batas, jadi bagaimana mungkin tidak benar?" sahut Pek Yun Hui dingin.

"Ayah!" desak ke dua iblis itu. "Kok belum mau turun tangan?"

"Sabar!" Wajah Kai Thian Kauw Cu sudah berubah tak sedap dipandang, "Kalian berdua mundur du!u!"

Ke dua iblis itu terpaksa mundur dengan wajah penuh kegusaran, Bahkan mereka berdua pun melotot pada Pek Yun Hui.

sedangkan Pek Yun Hui dan Souw Hui Hong sudah tahu, kalau diri mereka berdua dalam bahaya, Menghadapi salah satu iblis itu sudah kewalahan, apalagi harus menghadapi mereka semua.

"Pek Liel Hiap, engkau telah membunuh putriku di Mo Kui Ceh Yi, otomatis kita pun sudah jadi musuh." ujar Kai Thian Kauw Cu, tapi kemudian menambahkan "Tapi aku sangat menyukai orang berbakat Maka kalau engkau bersedia menjadi wakil Kauw Cu, semua itu dapat dihapuskan"

Sebelum Pek Yun Hui menyahut, ke dua iblis itu sudah mencak-mencak sambil berteriak-teriak.

"Ayah! itu mana boleh?"

"Kalian tahu apa?" bentak Kai Thian Kauw Cu.

Ke dua iblis itu diam, kemudian mundur beberapa langkah, dan berkasak-kusuk merundingkan sesuatu.

Karena berjarak agak jauh, maka Pek Yun Hui tidak dapat mendengar apa yang mereka rundingkan

"Pek I.ic Hiap! Bagaimana keputusanmu?" tanya Kai Thian Kauw Cu.

Saat ini, Pek Yun Hui betul-betul terdesak dan serba salah, Kalau ingin meloloskan diri, jelas amat sulit Namun seandainya ia mengabulkan permintaan Kai Thian Kauw Cu, tentunya ia pun akan aman. Akan tetapi, Kai Thian Kauw Cu justru berambisi ingin menguasai rimba persilatan seperti Souw Peng Hai. Lalu bagaimana mungkin dirinya terseret dalam hal ini?

Lagi pula Kai Thian KauwCu menghendaki Pek Yun Hui menjadi wakil ketua Kauw Cu itu karena Pek Yun Hui memiliki kepandaian tinggi, dan tahu pula seluk-beluk rimba persilatan Oleh sebab itu, tentunya sangat menguntungkan Kai Thian Kauw Cu dan bisa bergerak lebih luas, Setelah berpikir lama sekali, barulah Pek Yun Hui menjawab.

"Tidak bisa!"

"Pek Lie Hiap!" Air muka Kai Thian Kauw Cu berubah. "Engkau sudah berpikir matang?"

"Kakak Pek!" ujar Souw Hui Hong dengan suara rendah ketika melihat posisi Pek Yun Hui terjepit "Se-mentara ini lebih baik engkau menerima saja! itu tidak jadi masalah."

"Nona Souw!" Pek Yun Hui menarik nafas, "Tentang ini tidak boleh sembarang mengambil keputusan, sebab bukan urusan main-main."

"Kakak Pek, biar bagaimana pun kita harus mempergunakan siasat Kalau sekarang melawan mereka, kita pasti berada di bawah angin Lagi pula bagaimana mungkin Kakak Pek menyembuhkan Na Locianpee dan Kun Lun Sam Cu dengan rerumput itu?" ujar Souw Hui Hong mengingatkan

Kening Pek Yun Hui berkerut-kerut ia tampak serba sulit untuk mengambil suatu keputusan

"Pek Lie Hiap, bagaimana keputusanmu?" desak Kai Thian Kauw Cu.

Desakan ini membuat Pek Yun Hui mengambil suatu keputusan ia menoleh memandang Souw Hui Hong seraya berpesan

"Nona Souw! Begitu aku bergerak, engkau harus menerobos pergi!" Mendengar itu, Souw Hui Hong sudah tahu, bahwa itulah keputusan Pek Yun Hui yang tak dapat diganggu gugat lagi, maka ia pun manggut-manggut

"Kai Thian Kauw Cu, dengarkanlah baik-baik!" Pek Yun Hui memandang orang berjubah merah itu dalam-dalam

"Bagaimana?" tanya Kai Thian Kauw Cu cepat

"Aku tidak akan bergabung dengan kalian!" sahut Pek Yun Hui dan kemudian bersiul panjang.

Setelah itu, ia menyerang Kai Thian Kauw Cu dengan pedangnya, ia mengerahkan ilmu pedang tingkat tertinggi, yakni menyatukan diri dengan pedangnya, Tampak sinar putih berkelebatan mengarah pada Kai Thian Kauw Cu.

sedangkan Kai Thian Kauw Cu pun sudah bergerak ia bukan berkelit ke samping atau meloncat ke belakang, melainkan mendadak tangannya telah menggenggam sebilah pedang, sekaligus menangkis serangan Pek Yun Hui.

Trangt Terdengar suara benturan pedang yang amat memekakkan telinga, dan bunga api pun berpijar.

Setelah terjadi benturan pedang, mereka berdua sama- sama terdorong mundur

Betapa lihay dan dahsyatnya ilmu pedang Pek Yun Hui, Sejak gadis itu ^berkelana dalam rimba persilatan, untuk ke tiga kalinya ia mengeluarkan ilmu pedang Sin Hap Kjam ini.

Akan tetapi, ketika menyerang dengan ilmu pedang tersebut, mendadak ia melihat sosok bayangan bagaikan gumpalan awan merah di hadapannya, Bahkan merasakan adanya tenaga yang amat dahsyat menekan dirinya, Maka di saat terdengar suara benturan pedang, ia terdorong mundur dua langkah.

Betapa terperanjatnya Pek Yun Hui, Oleh karena itu, ia menyurut mundur lagi beberapa depa, kemudian menggerakkan pedangnya dan sekaligus mengeluarkan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lam Sambil Tertawa) menyerang Kai Thian Kauw Cu.

Kai Thian Kauw Cu bersiul panjang sambil memutarkan pedangnya, namun mendadak terdengar suara seruan.

"Ayah! Biar aku yang meringkusnya!" itu suara seruan Maha Iblis.

"Jangan turut campur!" bentak Kai Thian Kauw Cu.

"Aku harus menaklukkannya dengan kepandaianku sendiri

!

Ketika Maha iblis masih mau membuka mulut, iblis Kedua

sudah menariknya seraya berbisik "Lihatlah Kak!"

Maha iblis menoleh Ternyata Souw Hui Hong melesat pergi laksana kilat Melihat itu, Maha iblis dan iblis Kedua mendengus dingin.

"Hm! Hmm!" Mereka berdua lalu mengejar gadis itu.

Di saat Pek Yun Hui sedang bertarung dengan Kai Thian Kauw Cu, Souw Hui Hong melesat pergi, Karena semua orang mencurahkan perhatian menyaksikan pertarungan itu, maka tidak begitu memperhatikan gadis itu.

Kalau iblis Kedua tidak melihatnya, saat ini Souw Hui Hong pasti sudah aman. Maha iblis dan iblis Kedua sangat mendendam pada Souw Hui Hong, karena itu, mereka berdua langsung mengejarnya.

sedangkan Souw Hui Hong tahu, setelah ia melesat pergi, pasti ada orang mengejarnya, itu sebabnya tanpa menoleh ia terus melesat pergi, puluhan depa kemudian, ia mendengar suara desiran di belakangnya, disusul suara siulan aneh.

Souw Hui Hong terkejut bukan main, karena tahu bahwa itu suara siulan kedua iblis, Tak seberapa lama kemudian, kedua iblis telah melampauinya, dan menghadang di hadapannya.

Begitu melihat kedua iblis itu menghadang, Souw Hui Hong langsung menyerang mereka dengan pedang, Tampak Maha iblis mengibaskan lengannya, seketika juga Souw Hui Hong mencium bau pedas.

Gadis itu sudah mendengar tentang bau pedas itu dari Pek Yun Hui, ia ingin menutup pernafasannya, tapi sudah terlambat, maka tubuhnya lalu terkulai

sementara Pek Yun Hui dan Kai Thian Kauw Cu sudah bertarung dengan seru sekali Masing-masing mengeluarkan ilmu pedang andalan, sehingga yang tampak hanya bayangan putih berkelebatan

Mereka berdua bertarung sudah lebih dari tiga puluh jurus, Pek Yun Hui terus menyerang Kai Thian Kauw Cu dengan jurus-jurus ampuh, namun tiada satu jurus pun yang dapat merobohkan Kauw Cu itu.

Pek Yun Hui tahu, Kai Thian Kauw Cu mampu menangkis ilmu pedang Sin Hap Kiamnya, pertanda Kai Thian Kauw Cu berkepandaian tinggi sekali

Oleh karena itu, Pek Yun Hui mengambil keputusan untuk bertahan sambil mencari kesempatan untuk meloloskan diri

sementara Souw Hui Hong yang terkulai dan pingsan itu telah siuman. ia melihat ke dua iblis itu berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang.

Seketika juga hatinya terasa dingin Tangannya menekan tanah dengan maksud ingin melesat pergi, tetapi sekujur badannya tidak bertenaga sama sekali ia hanya mampu berdiri, tapi nyaris jatuh lagi

Ternyata Souw Hui Hong telah kehilangan tenaga murninya. Hal itu membuatnya terkejut dan gugup. Gadjs itu pun tahu kalau kini dirinya telah jatuh di tangan ke dua iblis itu. Dari pada dihina nanti, lebih baik membunuh diri, Pikirnya.

Karena itu, ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah lehernya, Tapi mendadak ke dua iblis itu tertawa terkekeh.

Maha iblis menggerakkan tangannya, seketika pedang di tangan Souw Hui Hong langsung terpental

"He he he!" Maha iblis tertawa terkekeh lagi, WPe- rempuan jalang! Ternyata engkau pun ada hari ini! jangan membunuh diri? Huh! Tidak begitu gampang!"

Wajah Souw Hui Hong pucat pias. ia ingin membunuh diri tetapi tiada kesempatan Apakah harus membiarkan dirinya dihina ke dua iblis itu? Lalu bagaimana pertarungan Pek Yun Hui dengan Kai Thian Kauw Cu?

*****

Bab ke 9 - Muncul Na Siao Tiap dan Bangau Sakti Souw Hui Hong memang tidak bertenaga sama sekali

untuk melawan sedangkan ke dua iblis itu telah mendekatinya selangkah demi selangkah, kemudian berhenti di hadapannya.

"Adik, mari kita kutungi telinganya dulu!" ujar Maha iblis sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Jangan!" sahut iblis Ke dua. "Lebih baik kita....

"Ha ha!" Maha iblis tertawa terbahak-bahak "Maksudmu?" "Dia cuma punya sebelah lengan Bagaimana kalau lengan

sebelahnya lagi kita kutungi agar dia tidak punya lengan sama

sekali? Kalau sudah begitu, pasti sedap dipandang." sahut iblis Ke dua.

"Benar! Benar!" Maha iblis tertawa terkekeh-kekeh, "Setelah itu, kita pun harus mengutungi ke dua kakinya."

"Tidak salah." iblis Ke dua manggut-manggut. "Kemudian barulah kita kutungi sepasang telinganya, Kita lihat dia akan jadi apa setelah itu?" "Bagus! Bagus!" Maha iblis tertawa gelak dan semakin mendekat pada Souw Hui Hong.

Bagaimana Souw Hui Hong menghadapi maut itu?

Ternyata gadis itu telah pasrah, ia lalu menoleh ke belakang. Tampak Pek Yun Hui masih bertarung dengan Kai Thian Kauw Cu. Souw Hui Hong tahu, kalau saat ini Pek Yun Hui mulai di bawah angin.

Semula ia masih berharap Pek Yun Hui akan me- nolongnya, Namun setelah menyaksikan itu, putuslah harapannya.

Ketika ia membalikkan kepalanya, dilihat ke dua iblis itu sudah dekat sekali dengan dirinya, Maka cepat-cepatlah ia menyurut mundur

"Hei!" ujar Maha iblis sambil tertawa sinis, "Engkau tidak bisa kabur!"

Dari pada mati tersiksa begitu, lebih baik mencoba membunuh diri lagi dengan cara membenturkan kepala ke pohon, Pikir Souw Hui Hong, Setelah berpikir demi-kian, gadis itu langsung menubruk ke arah pohon yang tak jauh dari situ.

Akan tetapi, yang ditubruknya itu justru bukan po-hon, melainkan badan Maha Iblis.

Ternyata ketika badan Souw Hui Hong bergerak, Maha iblis pun bergerak lebih cepat menghadang di hadapannya.

Maha iblis tertawa terkekeh-kekeh, kemudian mencengkeram bahu Souw Hui Hong sekaligus mengangkatnya, Betapa sakitnya cengkeraman itu, namun Souw Hui Hong sama sekali tidak menjerit, meskipun keringat telah mengucur di keningnya karena menahan rasa sakit

"He he!" Maha iblis tertawa terkekeh-kekeh lagi. "Adik, aku punya ide lagi." "lde apa, Kak?" tanya iblis Ke dua sambil tertawa, "Katakan, siapa tahu cocok dengan ideku."

Maha iblis mengendus-endus muka Souw Hui Hong, lama sekali barulah ia menjawab seraya tertawa.

"Adik! Sungguh harum mukanya, Walau dia Cuma punya sebelah lengan, tapi masih tetap tampak cantik, Bagaimana kalau kita menikmatinya dulu, setelah itu baru kita buat lebih cacat?"

"Ouh! ide yang bagus! Cocok dengan ideku pula," sahut iblis Ke dua sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Ketika mendengar itu, sukma Souw Hui Hong terasa terbang, ia ingin bermohon pada ke dua iblis itu agar membunuhnya, namun tahu itu merupakan hal yang tak mungkin.

pada waktu bersamaan, Souw Hui Hong merasakan adanya suatu keanehan, sebab cengkeraman Maha iblis tidak begitu menimbulkan rasa sakit Iagi. Kemudian ia melihat wajah Maha iblis meringis-ringis dan sepasang matanya pun mendelik-delik.

Setelah menyaksikan itu, giranglah Souw Hui Hong. ia yakin Maha iblis itu telah ditotok orang, Akan tetapi, tidak tampak siapa pun berada di situ, itu membuat Souw Hui Hong terheran-heran.

Namun kemudian timbullah dugaannya, bahwa orang yang menotok jalan darah Maha iblis itu pasti berada di atas pohon.

Segeralah ia mendongakkan kepala memandang pohon yang ada di hadapannya, Tidak salah! Tampak seseorang berada di atas pohon itu.

Siapa orang itu? Ternyata Na Siao Tiap, Begitu melihat Na Siao Tiap, hampir saja Souw Hui Hong bersorak kegirangan ia tahu, kehadiran Na Siao Tiap akan memberesi semua urusan itu, dan dirinya pun tertolong. sementara Maha iblis diam, Tentunya dia sangat mengherankan iblis Ke dua.

"Hei! Kak! Kenapa engkau diam saja?" serunya. sedangkan Souw Hui Hong segera meronta melepaskan

diri dari cengkeraman Maha Iblis, lalu mendadak

mengayunkan tangannya.

Plak! Plak! Plok! Souw Hui Hong menampar Maha iblis itu dengan sengit

iblis Ke dua terbelalak menyaksikan kakaknya di-tampar beberapa kali oleh Souw Hui Hong.

"Kak, engkau.,,." Ucapan iblis Ke dua terputus, sebab mendadak sesosok bayangan melesat ke arahnya.

Plak! Plak! Kali ini giliran iblis Ke dua yang kena tampan Keras sekali tamparan itu, membuat mata iblis Ke dua

berkunang-kunang, sehingga tak sempat menjerit

"Na Lie Hiap!" seru Souw Hui Hong ketika melihat Na Siao Tiap sudah melesat turun dari pohon, iblis itu bisa main sihir, jangan memberi kesempatan padanya!"

Buuuk! Na Siao Tiap langsung memukul dada iblis Ke dua.

Walau cuma menggunakan empat bagian tenaga dalamnya, tapi cukup membuat iblis Ke dua menyemburkan darah segar dari mulutnya, karena Na Siao Tiap menggunakan tenaga sakti Toa Pan Yok Hian Kang.

sementara badan iblis Ke dua itu pun terpental beberapa depa, bagaikan layang-layang putus.

Duuuk! iblis Ke dua jatuh duduk tak mampu bangun lagi.

Semua tulang bagian dadanya telah remuk.

"Kakak Pek!"seru Souw Hui Hong memberitahukan "Na Lie Hiap datang!" sementara Pek Yun Hui masih bertarung mati-matian dengan Kai Thian Kauw Cu, Ketika mendengar suara seruan itu, terbangkitlah semangatnya.

ia mulai menghimpun tenaga sakti Toa Pan Yok Hian Kang untuk menggunakan ilmu pedang Sin Hap Kiam.

"Siao Tiap, cepat ke mari!" serunya.

Itulah kelengahan Pek Yun Hui, Tidak seharusnya ia berseru di saat menghimpun tenaga sakti itu, sebab akan memberi kesempatan pada Kai Thian Kauw Cu.

Tangan Kai Thian Kauw Cu bergerak secepat kilat, tahu- tahu sudah mengarah pada jalan darah di tenggorokannya

Pek Yun Hui sudah tidak sempat berkelit Namun di saat itu mendadak ia menggunakan ilmu Ngo Heng Mi Cong Pu (llmu Langkah Ajaib), seketika juga badannya berkelebat lalu hilang dari pandangan Kai Thian Kauw Cu.

Pada waktu bersamaan, Na Siao Tiap juga melesat cepat laksana kilat ke hadapan orang berjubah merah itu.

Kai Thian Kauw Cu tertegun, sebab mendadak Pek Yun Hui berubah menjadi gadis lain, itu membuat mulutnya ternganga lebar

"Hei! Tua bangka!" bentak Na Siao Tiap nyaring, "Kenapa engkau bertarung dengan Kakak Pek?"

"Siao Tiap! Cepat robohkan dia! Aku punya urusan yang penting yang harus dibicarakan denganmu!" seru Pek Yun Hui yang telah berdiri tegak tak jauh dari tempat itu.

"Ya." sahut Na Siao Tiap, Mendadak badannya bergerak sambil mengayunkan tangannya.

Plak! Bahu Kai Thian Kauw Cu sudah terpukul Dapat dibayangkan betapa cepatnya gerakan Na Siao Tiap.

Setelah bahunya terpukul, Kai Thian Kauw Cu langsung menyurut mundur beberapa langkah dengan wajah muram, ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu mampu memukul bahunya begitu cepat sehingga membuatnya tak sempat berkelit

Tua bangka!" bentak Na Siao Tiap nyaring, "Engkau masih belum mau pergi? Kakak Pek ingin bicara denganku tahu?"

"Apakah engkau Na Siao Tiap?" tanya Kai Thian Kauw Cu. Tidak salah!" sahut Na Siao Tiap.

"Kalau begitu.  " Kai Thian Kauw Cu menatapnya "Aku

masih harus mengadu satu pukulan denganmu!"

"Cepatlah lancarkan pukulanmu, jangan membuang waktu!" sahut Na Siao Tiap sungguh-sungguh.

Kai Thian Kauw Cu membungkukkan badannya sedikit, lalu melancarkan sebuah pukulan seketika terdengar suara yang menderu-deru.

"Siao Tiap! Kepandaiannya masih di atasku, engkau harus berhati-hati!" \seru Pek Yun Hui mengingatkan

"Ya." sahut Na Siao Tiap sambil melancarkan sebuah pukulan.

Bumm! Terdengar suara benturan yang amat dahsyat bagaikan geledek, Bahkan pepohonan di sekitar tempat itu pun tergoncang, sehingga daun-daunnya berterbangan

Badan Kai Thian Kauw Cu bergoyang-goyang, Kelihatannya ia sedang bertahan agar tidak terhuyung ke belakang, namun akhirnya terhuyung juga tiga langkah ke belakang.

sedangkan badan Na Siao Tiap hanya bergoyang sebentar, dan tetap berdiri di tempaL

"Mari kita pergi!" seru Kai Thian Kauw Cu sambil melesat pergi.

Ku Hut Leng Khong, Lan Si Tianglo dan lainnya segera melesat pergi mengikuti Kai Thian Kauw Cu itu. Dalam waktu sekejap, mereka sudah hilang dari pandangan "Kakak Pek!" tanya Na Siao Tiap, "Sebetulnya siapa mereka?"

"Siao Tiap!" Pek Yun Hui menarik nafas panjang, "Panjang sekali kalau dituturkan."

kemudian Pek Yun Hui memandang ke arah Souw Hui Hong, ia melihat gadis itu memungut pedangnya lalu menusuk dada Maha Iblis.

"Nona Souw! Engkau tidak apa-apa kan?" tanya Pek Yun Hui.

Setelah menghabiskan nyawa Maha Iblis, Souw Hui Hong menolehkan kepala berpaling memandang Pek Yun Hui seraya menjawab.

"Kakak Pek! Tenaga murniku telah lenyap." Souw Hui Hong memberitahukan dengan wajah murung.

"ltu tidak apa-apa. Kalau bertemu Sie Bun Yun, engkau pasti sembuh." Pek Yun Hui tersenyum "Dia masih memiliki beberapa ekor ulat Thian Mo yang bisa memulihkan tenaga murnimu."

"Eh?" Na Siao Tiap terheran-heran "Kalian membicarakan apa sih?"