Bangau Sakti Jilid 38

 
Jilid 38

Tak seberapa lama kemudian, tampak belasan orang berbaju putih sudah sampai di tempat itu, dan kemudian berhenti

"Oh! semuanya sudah mati!" ujar salah seorang dari mereka sambil tertawa dingin.

"Heran!" sahut seorang lagi, "Tadi kelihatannya masih ada tiga orang yang hidup!"

"Omong kosong!" tegur temannya, "Matamu telah lamur barangkali! Sudahlah! Tidak perlu menghiraukan mayat-mayat ini, kita harus segera pulang!"

seketika itu juga mereka melesat pergi, Lie Ceng Loan ingin menaikkan badannya, tapi dicegah Pek Yun Hui.

"Adik Loan, jangan!"

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan.

"Hampir saja mereka melihat kita. Mungkin mereka akan kembali ke sini lagi!" sahut Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan langsung diam, Cukup lama mereka menunggu, tapi orang-orang berbaju putih itu tidak muncul lagi.

Barulah mereka bertiga naik ke atas, dan sekaligus membersihkan pakaian masing-masing. Tiba-tiba wajah Pek Yun Hui tampak berseri dan tangannya menunjuk ke depan seraya berkata. "Diantara mereka ada yang tidak begitu tinggi gin-kangnya, maka meninggalkan jejak. Kita bisa menguntit mereka dengan jejak itu."

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Pokoknya kita tidak boleh melepaskan para iblis itu."

"Kun Bu, kita ke sana bukan untuk memusuhi mereka," ujar Pek Yun Hui.

"Kalau begitu, untuk apa kita ke sana?" tanya Bee Kun Bu keheranan

"Berdasarkan apa yang dikatakan orang berbaju pu-tih, guru tidak waras karena perbuatan tiga iblis dari Mo Kui Ceh Yi. Kini tugas kita menyelidiki cara penyembuhan mereka, Setelah guru sadar, barulah kita membasmi para iblis itu sampai tuntas," jawab Pek Yun Hui menjelaskan

Bee Kun Bu manggut-manggut. "Kun Bu, kalau kita berhasil menyelinap ke dalam Mo Kui Ceh Yi, walau melihat apa pun, jangan sampai kita ketahuan, dan juga jangan bertarung dengan siapa pun," pesan Pek Yun Hui.

"Aku tahu." Bee Kun Bu mengangguk "Tapi. " Pek Yun

Hui menggeleng-gelengkan ke-pala, "Aku khawatir engkau akan lupa nanti."

"Kakak Pek!" Bee Kun Bu tersenyum, "Aku berjanji!" "Bagus," Pek Yun Hui tersenyum, "Ketika kita melakukan perjalanan kita melepaskan kedok itu, kini sudah saatnya kita memakainya."

Mereka bertiga langsung memakai kedok kulit manusia itu, lalu mengejar mengikuti jejak kaki tersebut

Kira-kira dua jam kemudian, muncullah beberapa orang berbaju putih di hadapan mereka, Begitu melihat kemunculan orang-orang berbaju putih itu, hati mereka pun tegang.

"Sudah pulang?" tanya beberapa orang berbaju putih itu. "Ng!" sahut Bee Kun Bu sekenanya, "Sudah." Usai menyahut, Bee Kun Bu terus melesat ke depan, Pek Yun Hui dan Lie Ceng "Loan mengikutinya dari belakang sambil menarik nafas lega, karena orang-orang berbaju putih itu tidak mencurigai mereka, Akan tetapi, mendadak salah seorang berbaju putih bertanya.

"Kenapa cuma kalian bertiga yang pulang? Apakah sudah mendapatkan Kui Goan Pit Cek itu?"

pertanyaan tersebut membuat Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan tertegun. Namun Pek Yun Hui, gadis yang cerdik itu segera menyahut

"Sulit dijelaskan, dan saat ini tidak leluasa membicarakan nya."

Orang itu maju beberapa langkah, kemudian membentak gusar

"Engkau nomor berapa?"

"Delapan puluh tujuh," sahut Pek Yun Hui.

"Hm!" dengus orang berbaju putih itu, lalu menyingkap ujung bajunya memperlihatkan sebuah medali yang tergantung dipinggangnya. "Lihatlah! Cepat berkata padaku!"

Pek Yun Hui melihat medali itu berukir nomor enam puluh dua, kini ia sudah agak mengerti dan tahu bahwa setiap orang berbaju putih pasti memiliki medali tersebut Nomor itu merupakan urutan kedudukan mereka di dalam Mo Kui Ceh Yi.

Karena merasa nomornya lebih tinggi, maka orang berbaju putih itu bersikap galak terhadap Pek Yun Hui, Seketika itu juga Pek Yun Hui menyenggol Bee Kun Bu. sedangkan Bee Kun Bu telah berpikir tentang itu. Karena itu, ia pun lalu menyingkap ujung bajunya memperlihatkan medalinya yang tergantung di pinggangnya seraya membentak

"Ribut apa?! Lihatlah ini! Begitu melihat medali itu, orang berbaju putih tersebut langsung menyurut beberapa langkah, sekaligus mengibaskan tangannya, Seketika belasan orang berbaju putih berseru, kemudian menyembah Bee Kun Bu tiga kali. setelah itu, barulah mereka pergi..

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menarik nafas lega. Namun Lie Ceng Loan tidak mengerti

"Kakak Bu! Kenapa mereka menyembah padamu?" tanyanya.

"Mungkin karena nomor yang ada dimedaliku," jawab Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan manggut-manggut

"Rupanya di dalam Mo Kui Ceh Yi, sangat ketat akan peraturan ini," ujar Pek Yun Hui. "Entah bertemu nomor berapa harus menjalankan penghormatan hesar ini. Ka-lau keliru, celakalah kita!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan diam saja, Berselang sesaat Lie Ceng Loan berkata.

"Kalau tahu itu, lebih baik aku pilih medali nomor tinggi saja, Jadi tidak usah pusing."

HKini pereuma kita memikirkan tentang itu." ujar Bee Kun Bu. "Oh ya! Orang berbaju putih itu mengungkit tentang Kui Goan Pit Cek, jangan-jangan... tiga iblis itu juga menginginkan kitab pusaka itu."

"Mungkin." Pek Yun Hui mengangguk Tapi kitab itu telah hilang dari tangan Na Siao Tiap, justru tidak tahu berada di mana kitab itu sekarang."

Mereka bertiga saling memandang, lalu melanjutkan perjalanan mengikuti jejak kaki itu.

Tak seberapa lama kemudian, mereka bertiga sudah mendekati gundukan-gundukan pasir yang menyerupai bukit Di situlah jejak kaki yang mereka ikuti itu hilang. Mereka tereengang, sebab tidak melihat Mo Kui Ceh Yi. Karena itu, mereka bertiga lalu mengitari tempat itu, Ketika kembali mereka ke tempat semula, tampak dua orang berbaju putih berdiri di situ, Ke dua orang itu kelihatan tertegun sambil memandang mereka bertiga.

Pek Yun Hui menyadari adanya gelagat yang tidak beres, ia pun menduga bahwa di tempat itu ada jalan rahasia untuk ke luar masuk Mo Kui Ceh Yi. Kalau tidak, bagaimana mungkin ke dua orang berbaju putih itu tiba-tiba muncul di situ! sedangkan mereka bertiga yang berputar-putar di situ seakan tidak tahu jalan, telah menimbulkan kecurigaan ke dua orang berbaju putih itu.

"Nomor dua puluh empat berada di sini!" ujar Pek Yun Hui sambil menunjuk Bee Kun Bu.

Ke dua orang baju putih tertegun, begitu mendengar ucapan Pek Yun Hui. Bee Kun Bu segera melangkah maju sambil memperlihatkan medalinya.

Setelah melihat medali Bee Kun Bu, ke dua orang baju putih itu segera berlutut

"Dia terluka, kalian harus segera pergi bersiap-siap." ujar Pek Yun Hui sekenanya. Bersiap-siap? Bersiap-siap apa? Pek Yun Hui tidak memberitahukan sebab cuma asal omong saja.

Maksudnya, apabila ke dua orang baju putih itu pergi, mereka bertiga bisa mengikuti mereka menyelinap ke dalam Mo Kui Ceh Yi.

Ke dua orang baju putih mengangguk lalu mendadak memerosotkan badan ke dalam pasir dan hilang begitu saja.

Setelah menyaksikan itu, Pek Yun Hui yakin bahwa di situ terdapat jalan rahasia.

"Mari kita coba!"

Mereka bertiga melangkah ke tempat dua orang berbaju putih tadi berdiri, kemudian menghimpun hawa murni sekaligus memberatkan badan masing-masing. seketika badan mereka mulai merosot ke bawah. Pandangan jadi gelap, mereka tidak tahu akan merosot sampai ke mana.

Pek Yun Hui adalah gadis pemberani namun saat ini hatinya kebat-kebit juga, Mereka merasa, ketika badan mereka merosot ke dalam, kaki mereka menginjak se-suatu, yang menyerupai papan.

Berselang beberapa saat kemudian, di depan mata mereka sudah jadi terang, dan terdengar pula suara "Plak", Ternyata kaki mereka telah menginjak dasar tempat itu.

Pek Yun Hui memandang ke depan, Tempat itu merupakan sebuah terowongan yang sangat panjang.

Pada dinding terowongan itu bergantung lampu minyak berbentuk aneh dan menyala remang-remang. Tak lama terdengar lagi suara "Plak" dua kali, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga telah menginjak dasar tempat itu.

Di dalam terowongan itu tampak dua orang berbaju putih yang tadi itu, Kelihatannya mereka sedang menyambut

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan melangkah ke dalam, namun tiada tegur sapa dari ke dua orang berbaju putih itu. Mereka bertiga terus berjalan.

Bukan main panjangnya terowongan tersebut setelah tiga puluhan mil kemudian, di hadapan mereka tampak terang sekali, Ternyata mereka sampai di mulut terowongan.

Ke luar dari terowongan itu, mereka bertiga tertegun, Ternyata di depan mulut terowongan itu terdapat sebuah lembah yang amat luas, Tentunya pemandangan itu amat mengherankan mereka bertiga. Bagaimana mungkin di dalam gurun pasir terdapat lembah? Ada lembah pasti ada gunung, namun di mana gunung itu?

Ketika mereka bertiga melakukan perjalanan di gurun pasir, memang samar-samar tampak sebuah bayangan gunung, Tapi terletak di mana gunung itu, mereka sama sekali tidak mengetahuinya.

Di dalam lembah ku juga terdapat bangunan-bangunan yang amat indah, mirip perumahan mewah, Tam-pak pula tiga buah gedung, yang di depannya tergantung sebuah papan berukir indah sekafi, bahkan terdapat beberapa huruf berwarna merah berbunyi "Mo Kui Ceh Yi" 

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tahu, bahwa kini mereka sudah berada di Mo Kui Ceh Yi. Hati mereka mulai tegang, namun tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka bertiga saling memandang. Setelah itu barulah mereka berjalan maju beberapa langkah, Ternyata ke tiga gedung itu amat tinggi, bertingkat-tingkat. Rumah-rumah itu memakai nomor pula, Ke dua orang berbaju putih yang menyambut mereka- tadi menuju ke rumah nomor dua puluh empat

"Kun Bu!" bisik Pek Yun Hui. "Cepat ikuti dia! jangan banyak bicara agar tidak dicurigai!"

"Aku pergi seorang diri?" tanya Bee Kun Bu.

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk "Rupanya setiap orang mempunyai tempat tinggal di sini, maka kau jangan sembarangan." ujarnya. Kemudian ia memandang Lie Ceng Loan, "Adik Loan, medalimu itu nomor sembilan puluh enam ya?" tanyanya.

"Ya!" Lie Ceng Loan mengangguk

"Engkau cari rumah yang bernomor sembilan puluh satu saja!" pesan Pek Yun Hui.

"Kakak Pek, aku... aku agak takut," ujar Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

"Jangan takut!" bisik Pek Yun Hui, "Bertindaklah sesuai situasi!" Lie Ceng Loan manggut-manggut, kemudian bersama Pek Yun Hui berjalan ke depan belasan depa, Di situ terdapat sebuah rumah bernomor sembilan puluh satu, berderetan dengan rumah bernomor delapan puluh tujuh.

"Lihatlah!" bisik Pek Yun Hui. "Aku berada tak jauh darimu, ada urusan apa, kita masih bisa saling memanggil

Lie Ceng Loan mengangguk, lalu berjalan ke rumah bernomor sembilan puluh satu, sedangkan Pek Yun Hui menuju rumah bernomor delapan puluh tujuh.

sementara Bee Kun Bu pun sudah sampai di rumah bernomor dua puluh empat Di depan pintu rumah itu tampak berdiri dua orang berbaju putih, Begitu melihat Bee Kun Bu, kedua orang itu segera membukakan pintu.

Tuan sudah pulang!" ujar ke dua orang berbaju putih itu serentak

Bee Kun Bu hanya manggut-manggut sambil memandang ke dalam. seketika tertegun, ternyata di dalam rumah itu amat indah dan mewah, Kini sadarlah Bee Kun Bu bahwa saat ini kedudukannya di dalam Mo Kui Ceh Yi amat tinggi.

Agar tidak mencurigakan ia berjalan ke dalam dengan langkah mantap, Setelah masuk, ia menoleh ke belakang. Tampak dua orang berbaju putih yang menjaga di luar itu tidak ikut masuk, Legalah hati Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu sudah sampai di ruang besar Mendadak muncul dua wanita muda, yang mengenakan gaun tipis, Badan mereka ramping dengan wajah putih bersih, namun ditutupi dengan kain cadar Ke dua pahanya yang putih mulus itu juga tampak jelas dan indah bukan main, kelihatan nya dua wanita itu bukan Bangsa Han.

Bee Kun Bu tertegun dan nyaris ke luar lagi, Sebaiknya kedua wanita itu malah mendekati nya.

"Tuan! Setelah berada di luar lantas melupakan kami ya?" ujar ke dua wanita itu dengan merdu. Ke dua wanita itu merangkul Bee Kun Bu. Keharuman tubuh mereka pun amat menusuk hidung, seketika itu juga Bee Kun Bu tidak tahu harus berbuat apa.

"Hi hi hi!" Ke dua wanita itu tertawa cekikikan "Tuan, adat Tuan sudah berubah baik."

Tergerak hati Bee Kun Bu. Karena ke dua wanita itu mengatakan begitu, ia pun menjadi tahu bahwa tingkah laku orang yang bernomor dua puluh empat itu amat berangasan Oleh karena itu ia lalu membentak

"Cepat pergi!"

Ke dua wanita itu terkejut, dan langsung melepaskan rangkulan mereka saking terkejutnya, sedangkan Bee Kun Bu segera melangkah ke tempat duduk, lalu duduk di situ.

Tak seberapa lama kemudian, mendadak terdengar suara musik. seketika muncul delapan anak gadis yang berpakaian sama seperti ke dua wanita itu. Di balik gaunnya yang tipis, paha mereka pun tampak langsing, putih dan mulus, sehingga Bee Kun pu seperti orang kehilangan sukma begitu melihatnya.

Empat orang diantara mereka memainkan alat musik, sedangkan yang lainnya membawa nampan emas, Setelah berada di hadapan Bee Kun Bu, gadis-gadis yang membawa nampan emas segera berlutut, empat gadis lain tetap memainkan alat musik masing-masing.

sementara ke dua wanita yang merangkul Bee Kun Bu tadi, sudah mulai menari mengikuti irama musik itu.

Bee Kun Bu adalah pemuda sejati, namun ketika menyaksikan tarian itu, hatinya pun berdebar-debar tidak karuan Cepat-cepat ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hati nya, lalu memandang ke arah ke empat nampan emas itu, Temyata empat nampan itu berisi berbagai makanan dan minuman Memang sudah lapar, maka tanpa bereuriga lagi ia mulai bersantap sambil membatin Ke tiga buah gedung bertingkat itu pasti tempat tinggal Maha Iblis, iblis Ke dua dan iblis Ke tiga, Medalinya bernomor dua puluh empat, jadi tinggal di rumah ini, dilayani ke dua wanita itu dan dihibur dengan para anak gadis itu pula, Lalu bagaimana dengan tiga iblis itu melewati hari-harinya? Tentunya menyamai seorang raja.

Bee Kun Bu bersantap sambil mencuri pandang delapan gadis itu, Mereka semua tampak murung, Tapi ketika Bee Kun Bu melihat mereka, segeralah mereka tersenyum manis.

Karena itu, Bee Kun Bu yakin, bahwa para gadis itu diculik lalu dibawa ke tempat ini.

Bee Kun Bu merasa tidak tega, ia mengibaskan tangannya seraya berkata.

"Kalian boleh mundur sekarang!"

Gadis-gadis itu mengangguk, kemudian cepat-cepat mengundurkan diri dari hadapan Bee Kun Bu. Kini di ruang besar itu tinggal Bee Kun Bu seorang diri, Temyata tadi ia juga menyuruh ke dua wanita itu pergi. Setelah tinggal seorang diri, barulah Bee Kun Bu menarik nafas lega.

Akan tetapi, mendadak pintu rumah itu terbuka, dan seketika tampak seorang berbaju putih berdiri di pintu sambil berseru.

"lblis panggil nomor dua puluh empat!"

Seruan itu membuat Bee Kun Bu berpikir, bahwa di dalam Mo Kui Ceh Yi ini tidak pakai nama, melainkan hanya memanggil nomor masing-masing saja, ia menyahut dan segera berjalan ke luar Orang berbaju putih itu membawa Bee Kun Bu ke salah satu gedung. Di depan pintu gedung itu pun tampak berdiri dua orang berbaju putih, Sekilas Bee Kun Bu sudah mengenali ke dua orang baju putih itu, yang tidak lain adalah Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan. Setelah berada di gedung itu, orang berbaju putih yang membawa Bee Kun Bu langsung pergi Segeralah Bee Kun Bu berbisik

"Adik Loan, Kakak Pek! Kalian tidak apa-apa kan? "Kakak Bu!" Giranglah Lie Ceng Loan, Ternyata engkau

masih bilang tidak apa-apa. Padahal ada seorang wanita yang berdandan tidak karuan malah mengaku isteriku"

Mendengar ucapan Lie Ceng Loan itu, Bee Kun Bu nyaris tertawa, Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui pun berbisik

"Jangan banyak bicara, sebentar kita akan bertemu iblis itu, Kita harus tahan dihina, bahkan juga harus menyembah padanya.

"Kakak Pek, ini.,,." Bee Kun Bu merasa tidak sudi menyembah iblis itu.

"Kini kita sudah berada di sarang iblis. Kalau kurang berhati-hati berarti maut bagi kita, Kita mati tidak jadi masalah, tapi siapa yang akan menolong guru kita?" tandas Pek Yun Hui serius.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

"Kakak Pek!" Ue Ceng Loan menatapnya, "Engkau seorang putri kaisar, haruskah menyembahnya juga?"

"Kita harus menolong guru, kenapa harus mempermasalahkan itu?" sahut Pek Yun Hui sambil menarik nafas panjang.

Ketika mereka sedang berbisik-bisik, pintu gedung itu terbuka. Tampak seorang berbaju putih berjalan ke luar, Orang berbaju putih itu berbadan tinggi dan sepasang matanya menyorot tajam, pertanda dia memiliki Lweekang yang tinggi.

Mereka bertiga menduga, bahwa orang berbaju putih itu pasti salah satu iblis di Mo Kui Ceh Yi ini. Oleh karena itu mereka tidak tahu harus bagaimana membuka mulut Namun orang berbaju putih itu justru membuka mulut lebih dahulu.

"Kalian bertiga, cepat perlihatkan medali masing-masing!" ujar orang berbaju putih itu.

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan segera menyerahkan medali tersebut pada orang berbaju putih itu. Orang baju putih itu pun segera memeriksa medali itu satu persatu, lalu dikembalikan pada mereka.

"Dapat bertemu Iblis, itu merupakan kebanggaan bagi kalian bertiga," ujar orang baju putih itu mem-beritahukan, "Maka kalian bertiga harus baik-baik menjawab setiap pertanyaan, jangan sampai salah! Karena iblis memiliki ilmu yang amat luar biasa, maka kalau kalian melihat hal-hal aneh, tidak perlu terkejut! Nah, sekarang ikutlah aku ke dalam!"

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan baru tahu, kalau orang baju putih itu bukan salah satu iblis Mo Kui Ceh Yi melainkan entah dia bernomor berapa.

Mereka bertiga mengikuti orang berbaju putih itu ke dalam,

Mendadak orang baju putih itu berhenti

"Di dalam ada sebuah ruang besar, dan tiga iblis berada di situ, Kalian langsung saja ke dalam!" ujar orang berbaju putih itu.

Bee Kun Bu berdiri paling depan, ia segera menjulurkan tangannya membuka pintu ruang itu, Bukan main beratnya pintu itu, ia menggunakan lima bagian Lweekangnya, barulah pintu itu terdorong

Setelah pintu itu terbuka, Bee Kun Bu memandang ke dalam. Ruang itu memang besar sekali, Di dalamnya terdapat tiga buah kursi, tapi tidak tampak seorang pun duduk di situ.

Lantai dan dindingnya terdiri dari batu hitam yang gemerlapan Di sudut ruangan itu terdapat empat buah lampu minyak yang menyala remang-remang, Sinar lampu itu kehijau-hijauan, sehingga membuat suasana di situ tampak menyeramkan

Bee Kun Bu maju dua langkah, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan juga mengikutinya, Namun tangan Lie Ceng Loan justru mendorong pintu itu agar tertutup kembali.

"Eh?" Orang berbaju putih itu yang mengeluarkan suara

ini.

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan mendengar

suara tersebut namun tidak tahu kenapa orang baju putih itu mengeluarkan suara "Eh", Tentunya mereka bertiga merasa heran

Setelah berada di dalam ruang yang sangat besar itu, mereka bertiga sama sekali tidak berani bersuara, hanya saling memandang saja. Pek Yun Hui memberi isyarat dengan tangan Seketika mereka bertiga lalu berdiri beradu punggung.

Tak seberapa lama kemudian, terdengar suara langkah yang amat berat dari dalam, dan seketika juga ruang itu jadi terang benderang.

Pek Yun Hui langsung menarik mereka berdua untuk berlutut Sebetulnya, mereka bertiga tidak sudi berlutut Tapi apa boleh buat!

"Menghadap Iblis!" ucap mereka bertiga serentak "Bangunlah!" Terdengar suara sahutan.

Ketika ruang itu berubah terang benderang, Pek Yun Hui khawatir gerak gerik mereka akan mencurigakan Maka iu segera menarik Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berlutut, otomatis dengan kepala tertunduk Karena itu, mereka bertiga sama sekali tidak melihat raut wajah iblis itu.

Kini mereka bertiga sudah bangkit berdiri dan memandang ke depan Seketika juga mereka bertiga melongo. Ternyata tiga buah kursi itu telah diduduki dua orang. Bagaimana raut wajah mereka, justru tidak dapat dilihat Karena tangan mereka memegang sebuah lempengan tembaga menutupi seluruh badan masing-masing, lempengan tembaga itu gemerlapan juga bergambar iblis yang menyeramkan Di atas gambar itu terdapat dua huruf yakni "Maha Iblis" "lblis Ke dua" iblis Ke tiga.

Mereka bertiga ternyata Tiga iblis Mo Kui Ceh Yi.

Berselang sesaat, Maha iblis berkata.

"Nomor Dua PuIuh Empat! Nomor Lima memerintahkan agar engkau membawa dua puluh orang pergi mengambil Kui Goan Pit Cek, kemudian dibantu lagi beberapa orang bukan? Kenapa cuma kalian bertiga yang pu!ang? Apakah kalian bertiga telah memperoleh kitab Pusaka itu?"

Pek Yun Hui segera menyenggol Bee Kun Bu. Segeralah Bee Kun Bu maju selangkah sambil menarik nafas dalam- dalam

"Lapor pada Maha Iblis, beberapa orang itu sadar mendadak, lalu menyerang kami," sahut Bee Kun Bu. "Kami bertiga bertempur mati-matian, akhirnya dapat meloloskan diri."

"Omong kosong" bentak Tiga iblis itu serentak

Begitu mendengar bentakan itu, teganglah Bee Kun Bu, tapi masih berani menyahut

"Tidak omong kosong."

"Hm!" dengus iblis Ke tiga, "Beberapa orang itu telah kena ilmu sihir kami bertiga, maka pasti mematuhi perintah kami!

Tanpa kami yang menyembuhkannya, bagaimana mungkin beberapa orang itu sadar mendadak?"

"Sepanjang jalan, mereka memang menuruti perintah Namun ketika tiba di depan gua Thian Kie, di Kwat Cong San, mendadak mereka tidak menurut perintah lagi." Bee Kun Bu memberitahukan sekenanya. Setelah Bee Kun Bu memberitahukan, lempengan tembaga yang di kiri kanan itu pun miring ke tengah, Rupanya Tiga iblis itu sedang membicarakan sesuatu. Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan langsung segera pasang kuping untuk mendengar Akan tetapi, ucapan mereka sama sekali tidak dapat didengar Tak lama kemudian, lempengan tembaga yang di kiri kanan itu berdiri tegak kembali

"Dua Puluh Empat!" ujar iblis Ke tiga dingin, "Cepatlah engkau panggil nomor lima ke mari!"

Bee Kun Bu mana tahu siapa nomor lima itu? Namun karena iblis ke tiga itu menyuruh demikian, maka ia pun mengangguk lalu membalikkan badannya dan berjalan ke tuan Setelah berada di luar, Bee Kun Bu segera berseru.

"Ada perintah dari Iblis, nomor lima harus cepat-cepat menghadapi.."

"Aku berada di sini, kenapa engkau berteriak-te-riak?" sahut orang berbaju putih yang berbadan tinggi

Ter kejut lah Bee Kun Bu dan nyaris minta maaf Kini ia baru tahu kalau orang berbaju putih itu bernomor lima.

Bee Kun Bu segera kembali ke dalam ruangan itu, dan orang baju putih nomor lima mengikutinya dari belakang.

Setelah berdiri di hadapan Tiga Iblis, orang berbaju putih nomor lima itu berlutut

"Nomor lima, entah apa sebabnya Nomor Dua Puluh Empat berdusta, Bawalah dia untuk diinterogasi!" perintah iblis Ke tiga.

Bee Kun Bu tertegun sedangkan orang berbaju putih nomor lima melapor

"Lapor pada Iblis! Ketika masuk, nomor sembilan Puluh Satu mendorong pintu, agar tertutup kembali, itu sungguh mencurigakan Maka dia harus diinterogasi juga."

itu terserah padamu." sahut iblis Ke tiga. Tiga iblis itu bangkit berdiri Badan mereka tetap tertutup lempengan tembaga, sehingga wajah mereka tetap tak terlihat Rupanya mereka mau meninggalkan ruang itu.

"Lapor Iblis!" ujar Pek Yun Hui cepat "Nomor Delapan Puluh Tujuh mau bicara."

"Engkau mau bicara apa?" tanya iblis Ke tiga.

Pek Yun Hui maju dua langkah ke samping orang berbaju putih nomor lima, Setelah itu barulah menjawab.

"Apa yang dikatakan Nomor Dua Puluh Empat memang benar."

"Oh?" iblis Ke tiga tertawa dingin. "Dia juga harus dibawa!" Ketika maju ke samping orang berbaju putih nomor lima,

Pek Yun Hui sudah bersiap, Apalagi Tiga iblis itu tidak mempereayai omongannya, maka ia akan langsung turun tangan terhadap orang berbaju putih nomor lima.

Begitu iblis Ke tiga perintahkan begitu, Pek Yun Hui bersiul panjang sambil merentangkan jari tangannya mencengkeram urat nadi si baju putih nomor lima.

Pek Yun Hui yakin pasti berhasil, akan tetapi sungguh di luar dugaan. Mendadak badan orang berbaju putih nomor lima bergerak, dan luputlah cengkeraman Pek Yun Hui.

Ketika mencengkeram tempat kosong, terkejutlah Pek Yun Hui, Namun ia masih sempat menyerang orang berbaju putih nomor lima dengan senjata rahasianya. sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan melihat Pek Yun Hui sudah turun tangan Mereka pun tidak ayal lagi, langsung menghunus pedang masing-masing sekaligus menyerang orang berbaju putih nomor lima itu dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi Mulai Mengembang).

kepandaian orang berbaju putih nomor lima memang tinggi sekali, Dia berhasil mengelak cengkeraman Pek Yun Hui dan ketika Pek Yun Hui menyerang dengan senjata rahasia, dia pun masih mampu menghindar Akan tetapi, di saat bersamaan ujung pedang Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah mengarah pada nya. Walau dia berkepandaian amat tinggi, namun sulit baginya untuk mengelak ke dua pedang itu.

Cess! Cess! Ke dua pedang itu telah menusuknya.

Setelah berhasil menusuk orang berbaj u putih nomor lima, Bee Kun Bu dan'Lie Ceng Loan menyurut mundur ke arah Pek Yun Hui. Mereka bertiga lalu berdiri beradu punggung

sedangkan orang berbaju putih nomor lima telah terkulai dengan badan berlumuran darah.

Begitu cepat kejadian itu, sehingga membuat tiga iblis itu tertegun dan lempengan tembaga mereka pun terlepas jatuh ke bawah.

"Cepat tutup pernafasan!" seru Pek Yun Hui, ia tahu kalau tiga iblis itu pasti turun tangan terhadap mereka, mungkin menggunakan racun. Maka ia menyuruh Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan agar menutup pernafasan.

Ketika lempengan tembaga itu jatuh, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengarahkan pandangan pada mereka, Begitu melihat wajah tiga iblis itu, merindinglah mereka bertiga, bahkan Lie Ceng Loan nyaris pingsan seketika.

itu karena wajah tiga iblis itu amat menyeramkan Maha iblis berkepala besar, dan botak, wajahnya putih kepucat- pucatan mirip sebuah tengkorak, sepasang bola matanya juga amat besar, berputar-putar dan menyorot tajam. Tampak pula lidahnya yang panjang menjulur ke luar

iblis Kedua berkepala lancip, Telinganya juga lancip panjang, Batang hidungnya tidak ada, hanya tampak sebuah lubang saja pada bagian hidungnya, bahkan mengucurkan darah. iblis Ke tiga berkepala segi empat Mulutnya amat kecil Begitu pula sepasang telinganya. sedangkan hidungnya justru besar sekali.

Nah! Bayangkan betapa seramnya Ke tiga iblis itu. Maka tidak heran kalau Lie Ceng Loan nyaris pingsan ketika menyaksikannya.

"Kalian... kalian manusia atau setan?" tanya Lie Ceng Loan dengan suara gemetar

"Kita cepat mundur!" seru Pek Yun Hui sambil melesat ke arah pintu. Maksudnya ingin membuka pintu ruangan itu.

Akan tetapi, mendadak ia mendengar suara tawa dingin di belakangnya, Begitu menoleh, terkejutlah Pek Yun Hui.

Ternyata mendadak muncul tiga orang berbaju putih, Mereka bertiga tidak memakai kedok, namun wajah mereka sudah amat menakutkan.

Langsung saja Pek Yun Hui menyerang mereka dengan pedang, Ke tiga orang berbaju putih berkelit Barulah Pek Yun Hui membuka pintu, tapi pintu itu sama sekali tidak bisa dibuka, Pek Yun Hui tahu, kalau keadaan saat itu sudah gawat, maka ia bersiul panjang lalu berseru.

"Cepat turun tangan!"

Pek Yun Hui melesat ke arah tiga iblis, dengan mengerahkan ilmu pedang yang amat lihay dan dahsyat, yakni pedang menyatu dengan badan.

Begitu melihat Pek Yun Hui menyerang ke tiga iblis, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan pun tidak diam, Mereka berdua pun menyerang tiga orang berbaju putih. Baru menyerang dua jurus, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sudah mendengar suara Trang! Trang! Trang!"

Mereka berdua segera meno!eh. Tampak badan Pek Yun Hui melayang turun, sedangkan ke tiga iblis itu hanya menyurut mundur setengah langkah, Ternyata serangan Pek Yun Hui telah tertangkis oleh lempengan tembaga itu. Pek Yun Hui terkejut sekali, karena tiga iblis itu mampu menangkis jurus pedangnya, Bahkan Lweekang mereka bertiga masih di atasnya, Tapi mungkin Lweekang ke tiga iblis itu masih di bawah Na Hai Peng. Lalu bagaimana mungkin ke tiga iblis itu dapat menundukkan Na Hai Peng? itu pasti ada sebab musababnya, pikir Pek Yun HuL

Ketika badan Pek Yun Hui melayang turun, kebetulan mengarah pada ke tiga orang berbaju putih, ia pun sekaligus menyerang mereka bertiga, Pada saat itu, ke tiga orang berbaju putih sedang bertarung dengan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, jadi bagaimana mungkin mengelak serangan Pek Yun Hui yang mendadak itu? Seketika terdengar suara jeritan, Ternyata salah seorang berbaju putih sudah terkulai dengan badan berlumuran darah.

Setelah itu, Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan berdiri beradu punggung.

"Siapa sebenarnya kalian bertiga?" tanya Maha iblis. "Kami algojo pengejar nyawa kalian!" sahut Pek Yun Hui

membentak

"He he he!" iblis ke tiga tertawa seram, Belum juga suara tawanya hilang, mendadak di depan mereka telah berubah gelap.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut bukan main. Namun sebelum itu, Pek Yun Hui telah menyuruh mereka menutup pernafasan.

Akan tetapi, walau mereka bertiga telah menutup pernafasan, masih tetap mencium bau yang amat pedas, Seketika mereka bertiga merasa berputar-putar seakan mabuk dan tak lama mereka bertiga pun pingsan.

Ketika siuman, mereka bertiga berpikir, apakah kini mereka sudah tidak waras seperti Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu? Kalau diri mereka sudah jadi begitu, bagaimana mungkin masih bisa berpikir sedemikian jernih? ini membuat mereka bertiga berlega hati

Setelah itu, mereka menengok ke sana ke mari. Ternyata mereka masih tetap berada di ruangan besar itu, hanya kini mereka telah diikat di pilar dengan rantai besi.

Lie Ceng Loan mendapatkan Bee Kun Bu berada di sisinya, Kedoknya telah dilepaskan ia lalu menoleh ke arah Pek Yun Hui, kedoknya juga telah dilepaskan "Kakak Bu!" Lie Ceng Loan mulai terisak-isak.

"Kita... kita harus bagaimana baiknya?"

"Adik Loan!" ujar Pek Yun Hui. "Urusan sudah jadi begini, apa gunanya takut lagi?"

"Aku,., aku tidak takut," sahut Lie Ceng Loan. "Hanya saja... aku teringat pada guru, Mungkin mereka akan gila selamanya."

"Aaaakh!" Bee Kun Bu menarik nafas. "Heran! Kenapa kita belum gila?"

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. Tentunya tiga iblis itu ingin menanyakan sesuatu pada kita."

Seusai Pek Yun Hui berkata begitu, muncullah tiga iblis itu dengan membawa lempengan tembaga, Mereka bertiga duduk menghadap Pek Yun Hui bertiga.

Kali ini lempengan tembaga itu tidak menutupi badan mereka, melainkan di taruh di samping. Mendadak Pek Yun Hui mengayunkan tangannya melancarkan pukulan jarak jauh ke arah tiga iblis itu. Ternyata tangan Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak diikat, hanya badan mereka yang diikat dengan rantai besi.

Akan tetapi, ketika Pek Yun Hui melancarkan pukulan jarak jauh itu, ia merasa tenaga murninya telah sirna, Maka pukulan itu tak mengandung tenaga sama sekali, itu pertanda kepandaiannya telah musnah. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga merasa begitu, sedangkan tiga iblis itu tertawa dingin.

"Kakak sulung, Kakak ke dua!" ujar iblis Ke tiga sambil tersenyum seram. "Ke dua gadis itu sungguh cantik sekali, Kalian berdua boleh seorang satu."

Maha iblis dan iblis Ke dua manggut-manggut, kemudian tertawa terkekeh-kekeh sambil berkata.

"Wajah bocah itu amat tampan, dia memang cocok untukmu."

Sesungguhnya Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sama sekali tidak tahu kalau tiga iblis itu wanita atau lelaki, Setelah mendengar pembicaraan mereka barusan, tahulah bahwa Maha iblis dan iblis Ke dua adalah lelaki, sedangkan iblis Ke tiga adalah wanita.

Namun Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengucurkan keringat dingin ketika mendengar itu.

Sebab kini mereka bertiga sudah tidak bertenaga, bahkan mau membunuh diri pun tidak mampu, Lalu apakah mereka bertiga harus dipermainkan oleh tiga iblis tersebut ?

"Mau bunuh silakan, mau membuat kami jadi gila juga tidak apa-apa!" bentak Pek Yun Hui sengit "Jangan banyak omong kosong lagi!"

Maha iblis tertawa seram, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan Pek Yun Hui.

Ketika Maha iblis itu berdiri di hadapannya, Pek Yun Hui langsung mengayunkan kakinya menendang. Walau berhasil menendang badan Maha iblis, tapi sebaliknya malah kakinya yang merasa sakit sekali.

"Ouuuh!" Maha iblis menjulurkan tangannya untuk meraba- raba dagu Pek Yun Hui seraya berkata, "Bidadari yang baru turun dari khayangan, kenapa engkau marah-marah?" Begitu dagunya diraba Maha Iblis, Pek Yun Hui nyaris pingsan seketika, Tiba-tiba ia teringat akan apa yang dikatakan Gin Tie Suseng, bahwa Kuang Ti Taysu bilang, tiga iblis itu tidak dapat dilawan dengan tenaga atau kekuatan manusia, Kini Pek Yun Hui baru pereaya. sementara iblis Ke dua pun sudah menghampiri Lie Ceng Loan Gadis itu langsung menangis dengan air mata berderai-derai.

"Jangan! jangan sentuh aku! Kakak Bu! Kakak Bu...!n

"Hi hi!" iblis Ke dua itu tertawa geli, justru bertambah seram "Gadis manis merasa malu, gadis manis merasa malu!"

"He he!" iblis Ke tiga tertawa cekikikan, merdu tapi menyeramkan "Wajah Kakak berdua amat menyeramkan lebih baik lepaskan saja kedok itu!"

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan tertegun Mereka bertiga sama sekali tidak menyangka kalau tiga iblis itu memakai kedok

"Adik! Wajahmu juga amat menyeramkan bocah tampan itu tidak akan menyukaimu lho!" sahut iblis Ke dua sambil tertawa.

"Hm!" dengus iblis Ke tiga, "Dia tidak suka?"

Maha iblis dan iblis Ke dua mengangkat tangan masing- masing, lalu melepaskan kedok mereka.

Setelah kedok mereka terbuka, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan memandang pada wajah mereka, Tidak begitu jelek wajah mereka, Satu sama lain agak mirip pertanda mereka berdua memang saudara kandung, Usia mereka sekitar lima puluhan

sementara Pek Yun Hui terus berpikir, bagaimana cara meloloskan diri.

Setelah melihat mereka berdua melepaskan kedok, Pek Yun Hui berseru.

"Eh? Kun Bu, mereka berdua mirip seseorang!" Bee Kun Bu tereengang Kenapa Pek Yun Hui berseru begitu? Lagi pula ia pun tidak tahu kalau ke dua iblis itu mirip siapa. Namun Pek Yun Hui berseru begitu, tentunya punya maksud.

"Betul." sahutnya.

"Oh?" Ke dua iblis itu tertegun "Kami mirip siapa?"

"He he!" iblis Ke tiga tertawa sambil mendekati Bee Kun Bu. "Jangan kau dengarkan omong kosong mereka!"

Ketika melihat ke dua iblis itu tertegun, hati Pek Yun Hui tergerak ia tidak menyahut, melainkan cuma menarik nafas panjang.

"Ayoh! Cepat bilang kami mirip siapa?" desak Maha Iblis. "Kenapa aku harus bilang?" Pek Yun Hui balik bertanya.

"Kalian bertiga sungguh berani menyelinap ke dalam Mo Kui Ceh Yi ini. Orang-orang di sini tidak punya nama semua, Aku pun tidak perlu tanya nama kalian!" ujar Maha iblis sambil tertawa dingin "Tapi aku ingin ber-tanya, ke mana nomor dua puluh empat dan lainnya?"

"Mereka sudah menunggu kalian di alam baka!" sahut Bee Kun Bu.

"Aku sudah menduga itu!" Maha iblis tertawa seram, "Kalau begitu, ke mana beberapa orang yang telah gila itu?"

"Mereka sudah pulih!" sahut Bee Kun Bu.

"Ha ha!" Maha iblis tertawa, "Engkau tidak bisa membohongi kami, Di kolong langit ini, selain kami bertiga, tiada seorang pun yang mampu memulihkan kesadaran mereka!"

"Tahukah kalian, kitab Kui Goan Pit Cek men-cantumkan segalanya!" ujar Bee Kun Bu memberitahukan

"Oh?" Maha iblis tertawa lagi. "Kalaupun Thian Kle cinjin dan Sam Im Sin Ni hidup lagi juga tiada gunanya!" Bee Kun Bu menarik nafas dingin Kalau begitu, tentunya ayah angkat dan gurunya akan gila selama-lamanya. Walau berpikir demikian, namun ia diam saja.

Maha iblis mengibaskan tangannya, lalu kembali ke tempat duduk. Begitu pula dua iblis lainnya.

"Mo Kui Ceh Yi adalah tempat yang amat menyenangkan." ujar Maha Iblis. "Kalau kalian bertiga bersedia tinggal di sini, sudah pasti akan hidup senang selama-lamanya. Tapi kalau kalian ingin mencari gara-gara di sini, tentunya kalian bertiga akan disiksa."

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan diam saja.

Maha iblis itu terus menatap mereka dengan dingin dan tajam, seakan menunggu jawaban mereka.

"Kini kitab Kui Goan Pit Cek itu berada di mana? Kalian bertiga tahu?" tanya Maha iblis mendadak

"Tentu tahu!" sahut Pek Yun Hui cepat

Wajah Maha iblis tampak berseri "Cepat katakan di mana kitab Kui Goan Pit Cek itu?"

"Berada di tangan orang yang mirip kalian berdua!" sahut Pek Yun Hui.

Ke dua iblis itu tertegun.

"Siapa orang itu? Dia berada di mana?" tanyanya serentak "Orang itu telah berbudi pada kami, maka kami tidak bisa

memberitahukan!" jawab Pek Yun Hui menggunakan siasat

"Oh, ya?" Maha iblis itu tertawa seram. "Di dalam Mo Kui Ceh Yi ini, terdapat banyak alat penyiksa, Kalian bertiga tidak takut?"

"Kami sama sekali tidak takut!" sahut Bee Kun Bu. "Bagus! Bagus!" Maha iblis tertawa, "Kalau begitu, kalian

harus mencobanya!" Maha iblis bangkit berdiri Pek Yun Hui pun segera berkata. "Tunggu!"

"Engkau takut disiksa?"

Tidak takut, hanya saja kami sudah berada di dalam Mo Kui Ceh Yi ini, tentunya tidak bisa ke luar. Namun kami justru tidak bisa menjual diri nya!"

"Lalu kenapa?" tanya Maha Iblis.

"Kalau kami diijinkan berunding beberapa hari, mungkin kami akan memberitahukan! Bagaimana?" Pek Yun Hui balik bertanya.

Tiga iblis itu saling memandang, kemudian mereka bertiga pun berunding dengan suara rendah. Setelah itu, Maha iblis manggut-manggut

"Baiklah, Kalian boleh berunding satu hari!"

"Kalau begitu, lepaskan kami dulul" ujar Pek Yun Hui

"Kakak sulung!" seru iblis Ke tiga, "ltu tidak boleh!"

"Takut apa? Bagaimana mungkin mereka bisa meloloskan diri?" sahut Maha iblis sambil menghampiri mereka.

ia membuka rantai yang diikat di pilar, tapi tidak membuka rantai yang masih melekat pada badan mereka, Segeralah Lie Ceng Loan mendekati Bee Kun Bu sambil menyeret rantai yang masih melekat dibadannya.

"Kakak Bu,.,." Gadis itu mendekap di dadanya. sementara tiga iblis itu telah mengangkat lempengan

tembaga, lalu meninggalkan ruang itu.

"Kakak Pek, ini kesempatan kita untuk membunuh diri," ujar Bee Kun Bu sungguh-sungguh. "Kun Bu!" Wajah Pek Yun Hui tampak murung sekali "Akhirnya kita memang harus menempuh jalan pendek ini, namun kini kita masih mempunyai waktu satu harl"

"Kakak Pek. " Bee Kun Bu menarik nafas panjang,

"Kepandaian kita musnah secara aneh, tentunya tidak bisa pulih dalam waktu satu hari. Bagaimana mungkin kita melawan mereka?"

"Kun Bu!". Pek Yun Hui merendahkan suaranya, "Aku tadi omong sembarangan bahwa ada orang mirip mereka, Air muka mereka tampak berubah, jangan-jangan mereka masih punya saudara di dunia ini."

"Kalau pun ada juga tiada gunanya," sahut Bee Kun Bu. "Kini kita tiada jalan lain untuk meloloskan diri, kecuali satu

jalan, yakni membunuh diri," ujar Pek Yun Hui. "ltu agar diri kita tidak dihina, adik Loan. Engkau harus ingat ucapanku ini."

"Kakak Pek! Aku pasti ingat." Lie Ceng Loan mengangguk dengan mata basah.

"Aaaakh.,.!" Bee Kun Bu menghela nafas panjang, ia tidak menyangka kalau nasib mereka bertiga akan berakhir begini, Apakah mereka bertiga akan membunuh diri di tempat itu?

Apa pula yang akan terjadi?

*****

Bab ke 2 - Pertolongan Misterius Memulihkan Kepandaian Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan duduk

termenung di ruangan besar itu. Kening mereka tampak

berkerut-kerut, dan wajah mereka pun tampak murung sekali, Sebab hingga saat ini, mereka bertiga masih belum mendapatkan cara untuk meloloskan diri.

"Kakak Pek!" ujar Lie Ceng Loan terisak-isak. "Lebih baik aku mati dari pada dihina."

"Kalian berdua harus ingat satu hal!" Tiba-tiba wajah Pek Yun Hui tampak serius. "Hal apa?" tanya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan serentak

"Seteiah aku bilang orang yang mirip mereka itu, mereka justru mengijinkan kita berunding satu hari, Nah, itu berarti orang tersebut sangat penting bagi merekah

Tidak salah." Bee Kun Bu manggut-manggut, "Ja-ngan- jangan ayah atau ibu mereka."

"Aku pun menduga begitu," sahut Pek Yun Hui. "Tapi kita pun harus ingat, ayah atau ibu, justru kita tidak boleh salah, Kalau kita salah berarti mereka akan tahu kalau kita cuma omong sembarangan otomatis diri kita pun akan celaka."

"Kakak Pek, kenapa engkau terus membicarakan ini?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Kita memang harus membicarakan ini," sahut Pek Yun Hui serius.

"Memangnya kenapa?" Lie Ceng Loan kebingungan "Sebab ini merupakan peluang bagi diri kita bisa hidup!"

ujar Pek Yun Hui.

"Kalau begitu, bukankah lebih baik kita mencoba menghimpun tenaga murni kita? Kalau tenaga murni kita bisa pulih, tentunya kita bisa meloloskan diri," usul Bee Kun Bu.

"Aku pun sudah memikirkan tentang ini, Tenaga murni kita bisa sirna begitu, sudah pasti kena semacam racun. Tiada obat pemunahnya, maka kepandaian kita tidak bisa pulih," sahut Pek Yun Hui.

"Aaakh...!" Bee Kun Bu menarik nafas.

"Kupikir orang itu, pasti ayah mereka." bisik Pek Yun Hui, "Ayah dan anak memang mirip, Ya, kan?"

Bee Kun Bu cuma manggut manggut. sedangkan Pek Yun Hui berpikir lagi, lama sekali barulah membuka mulut "Sayang sekali Siao Tiap tidak ada di sini, Kalau dia ada dan langsung memainkan irama Li Hun Mi Cin, mungkin tiga iblis itu tidak bisa macam-macam."

"Kini kita sudah terperangkap di sini, Siapa yang akan mengetahuinya?" Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala, "Kalau pun kakak Giok Siauw dan lainnya ke mari, mungkin kita sudah jadi mayat."

Pek Yun Hui bangkit berdiri, lalu menghampiri pintu ruang itu, sekaligus mencoba membuka nya. Namun pintu itu tak bergeming sedikit pun.

Akhirnya ia duduk kembali. sedangkan sang waktu terus berlalu, dan tak terasa telah lewat hampir empat

jam. Mendadak....

Krek! Pintu ruangan itu terbuka, Tampak seorang gadis Si Yi (Suku pedalaman Cina) yang mengenakan kain tipis dimukanya berjalan ke dalam.

Gadis itu membawa sebuah keranjang yang berisi berbagai buah-buahan dan makanan, lalu ditaruh nya ke bawah.

Ketika gadis itu mau pergi, tiba-tiba Bee Kun Bu menghampirinya sambil menyeret rantai besi yang masih melekat dibadannya.

"Hi hi!" Gadis itu tertawa cekikikan sambil menuding Bee Kun Bu. "Engkau bukan orang baik!"

"Di dalam Mo Kui Ceh Yi ini barulah tiada orang baik." sahut Bee Kun Bu.

Gadis itu tidak menyahut, dan langsung ke luar. Kemudian terdengar suara "Bum", pintu ruangan itu tertutup kembali

Walau keranjang itu berisi buah-buahan dan makanan yang amat lezat, namun saat ini bagaimana mungkin mereka bertiga mempunyai nafsu makan? Mungkin saking kesalnya, mendadak Bee Kun Bu menendang keranjang itu, sehingga isinya berserakan ke mana-mana.

"Kun Bu, pereuma kau melampiaskan kekesa!an. "

ucapan Pek Yun Hui berhenti secara tiba-tiba. sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga mengeluarkan suara.

"liih!"

Ternyata tampak secarik kertas menempel di sebuah piring, Mereka bertiga saling memandang, kemudian Pek Yun Hui maju mengambil kertas itu.

Ketika mereka bertiga baru mau membacanya, mendadak terdengar suara "Krek" mengejutkan mereka, segera lah Pek Yun Hui menyimpan kertas itu ke dalam bajunya.

Lama sekali pintu ruangan itu tidak terbuka, Setelah tidak terdengar suara apa pun lagi di luar, barulah Pek Yun Hui mengeluarkan kertas itu lalu dibaca bersama, "Jangan gugup, tunggu kabar berikutnya.

Kertas itu bertuliskan demikian Mereka bertiga tertegun seusai membaca surat itu, sebab tidak tahu apa maksud nya.

"Kakak Pek! Kakak Bu! Siapa yang menulis surat ini?" tanya Lie Ceng Loan.

Pek Yun Hui mengerutkan kening. ia terus-menerus memperhatikan kertas misterius itu sambil berpikir, lama sekali barulah menjawab

"Siapa pun penulisnya, tentunya bermaksud menolong kita."

"Kita berada di dalam Mo Kui Ceh Yi, bagaimana mungkin ada orang bersedia menolong kita?" Bee Kun Bu menggeleng- gelengkan kepala.

"Sulit dikatakan," ujar Pek Yun Hui. "Sekarang lebih baik kita menunggu perkembangan selanjutnya." "Kakak Pek!" Wajah Bee Kun Bu tampak murung sekali, "Kalau kita kehilangan kesempatan ini, mungkin ingin membunuh diri pun sudah tidak bisa lagi."

"Kun Bu! Aku bukan orang yang takut mati," sahut Pek Yun Hui. "Selagi punya harapan hidup, kenapa harus melepaskannya?"

Bee Kun Bu diam.

Mereka bertiga duduk termenung. Tak terasa waktu sehari itu pun hampir berlalu, namun mereka bertiga sama sekali tidak pernah memejamkan mata.

Di saat tiga iblis itu hampir muncul, mereka bertiga jadi tegang, Mendadak mereka mendengar suara langkah yang tergesa-gesa di luar, membuat hati mereka berdebar-debar.

Krekl Krek! Pintu terbuka, Yang berjalan ke dalam adalah seorang berbaju putih mengenakan kedok. sebelum berjalan ke dalam, orang berbaju putih itu menengok ke luar dulu, sikapnya itu sungguh misterius.

Pek Yun Hui tertegun. Ketika ia mau membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba orang berbaju putih itu melemparkan sebuah bungkusan ke arahnya.

Setelah itu, orang berbaju putih itu pun segera pergi dan sekaligus menutup kembali pintu ruangan itu.

"Kun Bu, Adik Loan! Kalian kenal orang itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Heran!" sahut mereka berdua serentak "Rasanya kenal bentuk badan orang itu."

Pek Yun Hui manggut-manggut, kemudian membuka bungkusan itu. seketika tereium bau yang tak sedap, Ternyata bungkusan itu berisi semacam binatang, yang menyerupai ulat, bahkan masih bergerak-gerak. Betapa terkejut dan jijiknya Pek Yun Hui, sehingga bungkusan itu terlepas dari tangannya, sedangkan ke tiga ekor ulat itu terhempas ke luar bergerak-gerak di lantai

"Kakak Bu! Cepat tendang ulat-ulat itu!" seru Lie Ceng Loan.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk sambil mendekati ulat-ulat itu, Ketika ia baru mau menendang, mendadak ia melihat secarik kertas di situ, "Kakak Pek, ada surat lagi."

"Oh?" Pek Yun Hui segera memungut surat itu, Kemudian mereka baca surat itu bersama-sama. Ternyata berbunyi demikian "Tidak gampang memperoleh ulat-ulat ini cepatlah kalian telan, jangan membuang waktuP.

Bagaimana mungkin mereka sudi menelannya? Tapi mereka yakin pasti ada sebab musababnya kenapa mereka bertiga disuruh menelan ulat itu oleh si penulis surat tersebut

Mereka bertiga berdiri termangu-mangu, Siapa pun tidak sudi menelan ulat itu, jangankan menelan, melihat pun sudah mau muntah rasanya.

"Kakak Bu! Aku... aku tidak bisa menelan ulat itu." ujar Lie Ceng Loan terputus-putus saking jijiknya.

"Kun Bu, Adik Loan!" Pek Yun Hui memandang mereka, "Orangyang ingin menolong kita ini, sudah pasti punya maksud tertentu Karena itu, biar bagaimana pun kita harus menurutinya."

"Apa?" Lie Ceng Loan terbelalak sambil menunjuk ulat-ulat yang bergerak-gerak di lantai itu, "Kakak Pek, engkau mau menelan ulat yang menjijikkan itu?"

"Kita boleh memejamkan mata dan menutup hidung, lalu menelannya," sahut Pek Yun Hui sungguh-sungguh.

"Kakak Pek!" Bee Kun Bu menatapnya, "Kenapa engkau begitu mempereayai orang itu?" Terus terang, aku sendiri pun tidak tahu apa sebabnya," sahut Pek Yun Hui sambil memandang ke atas, "Hanya saja,., rasanya aku amat kenal akan bentuk badan orang itu, tapi tidak ingat siapa dia. Lagi pula dia tidak akan berbuat jahat terhadap kita."

"Baik." Bee Kun Bu tampak nekad "Kalau Kakak Pek mengatakan begitu, aku yang akan menelan ulat itu lebih dulu."

Bee Kun Bu membungkukkan badannya, padahal dia memang sudah bertekad menelan ulat itu, namun ketika melihat ulat itu bergerak-gerak, timbullah rasa jijiknya, Apa yang akan terjadi setelah menelan ulat itu? Pikirnya, tapi bagaimana dirinya akan dihina oleh iblis Ke tiga itu? Bukankah ia sudah berniat membunuh diri? Apa salahnya menelan ulat itu?

Setelah berpikir demikian, Bee Kun Bu langsung memungut ulat itu, Ulat itu masih bergerak-gerak di jari tangannya, Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam, lalu mendadak membuka mulut menelan ulat itu.

Glek! Mata Bee Kun Bu mendelik-delik. Bukan terjadi sesuatu, melainkan ia masih merasa ulat itu bergerak-gerak di tenggorokannya.

Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara langkah. Pek Yun Hui yakin bahwa itu langkah tiga iblis, Maka ia cepat- cepat memungut ulat itu dan sekaligus ditelannya.

"Adik Loan, cepat!" seru Pek Yun Hui. "Aku. " Lie Ceng Loan masih tampak ragu.

"Adik Loan!" bisik Pek Yun Hui. "Waktu sudah mendesak sekali."

Lie Ceng Loan masih menggelengkan kepala, Tiba-tiba Pek Yun Hui memungut ulat itu, kemudian dimasukkan ke dalam mulut Lie Ceng Loan. "Akkkh...!" Lie Ceng Loan nyaris muntah, kalau Pek Yun Hui tidak menekan lehernya.

Glek! Ulat itu sudah masuk ke dalam tenggorokan Lie Ceng Loan.

sedangkan Bee Kun Bu segera memungut kertas bungkusan itu, kemudian dimasukkan ke dalam bajunya.

Pada waktu bersamaan, muncullah tiga iblis itu, Maha iblis dan iblis Ke dua tidak memakai kedok Namun iblis Ke tiga masih memakainya, maka tampak seram sekali

Tiga iblis itu memandang mereka dengan dingin, Setelah itu, barulah mereka duduk Akan tetapi, mendadak iblis Ke tiga bangkit berdiri sambil berendus-endus, kemudian memandang Maha iblis dan iblis Ke dua seraya bertanya.

"Eh? Apakah kalian mencium bau?"

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan memang sudah menelan ulat-ulat itu, tapi bau ulat-ulat itu masih belum hilang.

"Benar." Maha iblis mengangguk "Sepertinya bau Ulat iblis Langit."

"Bagaimana mungkin?" iblis Ke dua menggelengkan kepala, "Ulat iblis Langit tidak mungkin merayap sampai di sini."

Kini Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan baru tahu kalau ulat yang mereka telan itu adalah Ulat iblis Langit, tapi bagaimana khasiatnya, mereka bertiga sama sekali tidak mengetahuinya.

"Kakak!" ujar iblis Ke tiga, "Aku akan periksa tempat penyimpanan Ulat iblis Langit,"

"Adik, kenapa engkau begitu tegang?" tanya Maha Iblis. "Ketika memasuki ruang ini, aku sudah mencium bau ulat itu," sahut iblis Ke tiga dingin, "Maka harus memeriksa tempat penyimpanannya."

"Baiklah." Maha iblis mengangguk

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan baru tahu, kalau ulat tersebut pun amat penting bagi tiga iblis itu, Tentunya ulat itu mempunyai khasiat yang luar biasa, Karena itu, mereka bertiga merasa menyesal, kenapa tadi membuang begitu banyak waktu.

"Kami sudah selesai berunding," ujar Pek Yun Hui lantang. "Bagus!" Maha iblis manggut-manggut "Nah, katakan di

mana orang itu!"

"Aku cuma bisa memberitahukan kepadamu seorang saja," sahut Pek Yun Hui, "Sedangkan saudaramu harus menghadap ke arah dinding."

Pada waktu itu, iblis Ke tiga sudah mau berjalan pergi Namun ketika mendengar Pek Yun Hui mengatakan begitu, ia pun segera berhenti

"Kakak! Wanita jalang itu ingin memecah belahkan kita!" ujarnya.

Pek Yun Hui adalah Lan Tay Kong Cu, putri kaisar yang amat dihormati orang, Bahkan ketika berkecimpung di rimba persilatan, kaum rimba persilatan pun sangat menghormati nya. Namun kini dirinya dicaci sebagai wanita jalang, dapat dibayangkan betapa gusarnya, Tadi ia mengatakan begitu, tujuannya agar iblis Ke tiga itu jangan meninggalkan ruang tersebut

Kini tujuannya telah tereapai, kenapa harus mempermasalahkan cacian itu? pikirnya dan mulai tenang kembali

Akan tetapi, sungguh mengherankan! Walau kegusarannya sudah reda, namun rongga dadanya masih terasa panas. Pek Yun Hui tertegun, lalu melirik Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Wajah mereka berdua pun tampak agak aneh, Oleh karena itu, mencoba menghimpun hawa murninya. seketika ia merasa seluruh urat nadinya jadi panas, dan tenaga murninya pun terhimpun perlahan-lahan.

Betapa girangnya gadis itu. ia pun bertambah yakin bahwa ada teman dekat di dalam Mo Kui Ceh Yi ini, dan sadar pula ulat yang ditelan itu telah memunahkan racun yang mengidap di tubuhnya, Di saat ia sedang girang, terdengar suara bentakan Maha Iblis.

"Kalau engkau mau beritahukan beritahukanlah di hadapan kami bertiga! Kalau tidak,., hm!" dengus Maha iblis dengan mata menyorotkan sinar kebengisan

"Kalian bertiga ingin mendengar bersama, itu pun tidak apa-apa," ujar Pek Yun Hui serius.

"Cepat bilang!" bentak tiga iblis itu serentak "Jangan macam-macam!"

sebetulnya Pek Yun Hui cuma omong kosong, tapi tiga iblis itu menganggap serius. Tentunya mereka bertiga berminat sekali memiliki kitab Kui Goan Pit Cek tersebut Apabila Pek Yun Hui memberitahukan tentang orang yang dalam omong kosongnya itu ditambah sedikit bum-bu, mungkin tiga iblis tersebut akan meninggalkan Mo Kui Ceh Yi untuk mencari kitab Kui Goan Pit Cek. Jadi mereka bertiga mempunyai banyak kesempatan untuk meloloskan diri.

"Baik, kalian dengarlah!" ujar Pek Yun Hui lantang, "Orang tua itu tinggal dekat Thai Ouw."

Thai Ouw itu berada di tempat yang amat jauh. Kalau tiga iblis itu pergi ke sana, pulang pergi harus memakan waktu dua tiga bu!an, Bukankah dalam waktu itu mereka bertiga bisa mencari jalan untuk meloloskan diri?

Ketika Pek Yun Hui menyebut Thai Ouw itu, air muka Maha iblis dan iblis Ke dua tampak berubah, Bagaimana air muka iblis Ke tiga, tentunya tidak bisa dilihat, sebab masih memakai kedok yang menyeramkan itu.

Trang! Tiga buah lempengan tembaga menyatu, Ternyata tiga iblis itu mengadakan perundingan kilat

Pek Yun Hui menggunakan kesempatan itu untuk memberi isyarat pada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Begitu melihat isyarat itu, wajah mereka berdua pun berseri Bee Kun Bu mengangkat tangannya mengarah pada tiga iblis yang sedang berunding itu. Namun Pek Yun Hui langsung mencegahnya, Bahkan sekaligus memberi isyarat agar mereka mendengarkan perundingan tiga iblis itu.

Kini kepandaian mereka telah pulih, maka dapat mendengarnya, Bee Kun Bu dan lainnya langsung pasang kuping.

"Aku tidak pereaya," ujar iblis Ke tiga. "Bagaimana mungkin begitu kebetulan? Kalaupun ayah masih hidup, tak mungkin Kui Goan Pit Cek akan jatuh ke tangannya."

"Wanita itu begitu melihatku, langsung bilang aku mirip seseorang," sahut Maha Iblis. "ltu pasti ada sebab musababnya."

Kemudian tiga iblis itu merendahkan suara masing-masing, sehingga Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak dapat mendengar dengan jelas.

Namun cukup menggembirakan Pek Yun Hui, karena ia omong sembarangan tetapi malah benar bahwa tiga iblis itu masih mempunyai ayah.

Berselang beberapa saat kemudian, tiga lempengan tembaga itu berpisah lagi, dan seketika juga terdengar suara iblis Ke tiga yang amat dingin.

"Engkau tahu siapa orang itu? Cara bagaimana Kui Goan Pit Cek bisa jatuh ke tangannya?" "Sesungguhnya Kui Goan Pit Cek itu berada di dalam gua Thian Kie, pemiliknya adalah Na Hai Peng, Beliau adalah guruku, Ketika kami jalan-jalan di Thai Ouwl tiba-tiba muncul musuh besar kami," jawab Pek Yun Hui" mengarang cerita bohong.

"Sebenarnya guruku bisa menang melawan musuh itu, tapi guruku masih dalam keadaan berduka atas kematian isterinya, itulah yang membuatnya lengah sehingga terpukul oleh musuh itu, sedangkan musuhnya pun bertambah banyak Di saat nyawa kami terancam, muncullah seorang tua menolong kami."

"Hm!" dengus iblis Ke tiga. "ltu cuma cerita bohong!"

Pek Yun Hui tertegun seketika ia tidak tahu harus bagaimana menyahutnya, sedangkan iblis Ke tiga tertawa dingin.

"Kui Goan Pit Cek merupakan ilmu silat tanpa tanding di kolong lagit!" ujar iblis Ke tiga dan melanjutkan "Kalau kalian guru dan murid sungguh-sung-guh sudah mempelajari ilmu itu, bagaimana mungkin bisa kalah di tangan musuh? Bukankah engkau omong ko-song?"

Setelah mendengar apa yang dikatakan iblis Ke tiga, hati Pek Yun Hui malah menjadi tega.

"Kalau dituturkan memang agak memalukan." Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Kami guru dan murid kurang berbakat dan kurang cerdas, maka belum bisa mempelajari semua ilmu yang ada di dalam Kui Goan Pit Cek. Kalau berhasil, bagaimana mungkin saat ini kepandaianku bisa musnah begitu?"

Tiga iblis itu manggut-manggut Maha iblis menatapnya seraya berkata.

"Lanjutkan penuturanmu tadi!"

"Kami guru dan murid sangat berterimakasih atas pertolongan orang tua itu!" lanjut Pek Yun Hui dan bergirang dalam hati, sebab tiga iblis itu tampak mulai mempereayai cerita bohongnya, "Oleh karena itu, guruku meminjamkan Kui Goan Pit Cek pada orang tua itu untuk tiga tahun, hingga tahun ini sudah dua tahun,"

sementara Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan diam saja, Mereka berdua pun membatin Kalau kali ini menempuh bahaya menyelidiki Mo Kui Ceh Yi tersebut tidak bersama Pek Yun Hui, mungkin saat ini mereka berdua sudah jadi mayat.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan pun mengingat baik-baik apa yang diceritakan Pek Yun Hui, Siapa tahu tiga iblis akan bertanya pada mereka, jadi mereka pun dapat menjawabnya.

sedangkan tiga iblis itu saling memandang Setelah itu iblis Ke tiga bertanya dingin

"Engkau tahu nama orang tua itu?"

"Kami memang menanyakan nama beliau, tapi beliau tidak mau memberitahukan Hanya saja beliau berjanji pada kami, bahwa tiga tahun kemudian kami harus pergi mengambil kembali Kui Goan Pit Cek itu, Pada dasarnya orang tua itu sudah berkepandaian amat tinggi Kalau dalam dua tahun ini beliau telah mempelajari Kui Goan Pit Cek itu, otomatis kepandaiannya akan bertambah tinggi."

iblis Ke tiga diam, giliran Maha iblis berkata pada kedua saudaranya dengan suara rendah

"Adik, kita harus pergi menyelidikinya."

"Kalau kita meninggalkan Mo Kui Ceh Yi. " Mendadak

ucapan iblis Ke tiga itu berhenti

Pek Yun Hui cepat-cepat memberi isyarat kepada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, agar mereka memperlihatkan wajah murung.

"Kalau kita memerintahkan orang ke sana, akan menguntungkan orang lain pula," ujar Maha Iblis, "Sebab Kui Goan Pit Cek juga berisi ilmu istimewa untuk memecahkan ilmu sesat" "ltu akan kita rundingkan nanti," sela iblis Ke dua. "Sekarang kita kurung dulu mereka bertiga."

Usai berkata begitu, iblis Ke dua juga membunyikan lempengan tembaganya, dan tak lama kemudian terdengarlah suara di luar

"Maha iblis memanggil, ada pesan apa?" "Engkau boleh masuk," sahut Maha IbHs.

Pintu terbuka, Tampak seorang berbaju putih berjalan ke dalam, sedangkan Maha iblis langsung menunjuk Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan seraya berkata.

"Bawalah ke tiga orang itu ke penjara bawah tanah!" "Tapi. " Orang berbaju putih itu tampak ragu.

"Kepandaian mereka telah musnah, maka tidak mungkin akan melawan." Maha iblis memberitahukan.

Orang berbaju putih itu mengangguk, kemudian membentak pada Pek Yun Hui dan lainnya.

"Cepat jalan!"

Kening Bee Kun Bu berkerut kegusarannya nyaris meledak. Pek Yun Hui segera memberi isyarat padanya dan seketika Bee Kun Bu diam, Mereka bertiga men^ ikuti orang berbaju putih itu, Di saat berjalan, mereka sengaja memberatkan langkah agar tampak tak bertenaga.

Mereka bertiga sudah meninggalkan ruangan besar itu, dan terus mengikuti orang berbaju putih itu dari belakang, Setelah berputar ke sana ke mari, tahu-tahu mereka sudah berada di belakang gedung.

Di belakang gedung itu terdapat sebuah rumah batu, Tampak dua orang berbaju putih berdiri menjaga di depan pintu rumah itu, Orang berbaju putih yang membawa Pek Yun Hui bertiga ke sana, langsung membentak Kedua penjaga itu segera menyambutnya. "Ada perintah dari Maha Iblis, tiga iblis ini harus dikurung di ruang bawah tanah." Orang berbaju putih itu memberitahukan.

Kedua penjaga itu mengangguk lalu membuka pintu batu sekuat tenaga, Terdengarlah suara "Krek! Krek!" pintu batu itu pun terbuka.

"Masuk!" bentak ke dua penjaga itu.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan masuk, dan pintu batu itu ditutup kembali

Mereka bertiga mulai menengok ke sana ke mari. Cukup luas ruang di bawah tanah itu, bahkan juga sangat bersih.

"Kakak Pek!" bisik Bee Kun Bu. "Tenaga murni kita telah pulih, kenapa masih harus membiarkan mereka mengurung kita di sini?"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum, "Aku yakin bahwa tiga iblis itu sangat menginginkan Kui Goan Pit Cek. Oleh karena itu, mereka pasti akan meninggalkan Mo Kui Ceh Yi ini, Setelah mereka pergi, kita baru boleh meloloskan diri."

"Kakak Pek! Bagaimana seandainya tiga iblis itu tidak pergi?" tanya Lie Ceng Loan.

"Pereayalah!" sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum, "Mereka pasti pergi untuk mencari Kui Goan Pit Cek itu!"

"Kenapa Kakak begitu yakin?" tanya Bee Kun Bu keheranan

"Kun Bu!" Wajah Pek Yun Hui tampak kemerah-merahan.

Tentunya engkau masih ingat, tiga iblis itu akan memperlakukan kita bukan?"

Tentu ingat Mereka bilang kita bertiga sungguh cocok untuk mereka. " Bee Kun Bu tidak melanjutkan namun

wajahnya juga tampak kemerah-merahan.

Tidak salah," Pek Yun Hui manggut-manggut "Kini mereka mengurung kita di ruang bawah tanah ini berarti meskipun mereka belum mengambil keputusan untuk berangkat, namun mereka jelas sudah berniat begitu."

"Benar." Bee Kun Bu manggut-manggut "Apa yang dikatakan Kakak memang tidak salah!"

"Nah!" Pek Yun Hui tersenyum. "Sekarang mari kita mencoba menghimpun hawa murni!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengangguk Mereka bertiga lalu duduk bersila menghimpun hawa murni masing- masing, Tidak sampai dua jam, tenaga murni mereka sudah pulih kembali

Ketika mereka memasuki rumah batu ini, keadaan masih tampak agak terang, tapi kini sudah mulai gelap, Melalui sebuah lubang angin mereka dapat mengetahui bahwa ternyata hari sudah mulai malam.

Berselang beberapa saat kemudian, dari lubang angin itu melayang turun tiga buah bungkusan Bee Kun Bu memungut bungkusan itu, lalu dibukanya, Ternyata bungkusan itu berisi nasi putih.

Kini mereka sudah mempunyai harapan untuk meloloskan diri. Maka mereka talu menyantap nasi putih itu sekenyang- kenyangnya.

"Kakak Pek!" ujar Bee Kun Bu sesuai bersantap "Sebetulnya siapa yang menolong kita itu?"

"Aku justru masih memikirkan itu," sahut Pek Yun Hui. Tapi tidak ingat siapa dia."

"Dia pasti orang baik," sela Lie Ceng Loan. Tentu." Pek Yun Hui tersenyum

Pek Yun Hui bangkit berdiri, kemudian berjalan ke pintu batu sambil pasang kuping, Setelah itu, ia pun mencoba untuk mendorong pintu batu tersebut Namun pintu batu itu tak bergerak sedikit pun. Wajah gadis itu tampak cemas. ia memandang ke arah lubang angin itu, lalu melesat ke atas sambil memandang ke luar Di luar tampak dua orang berbaju putih berdiri dengan tangan memegang obor. Pek Yun Hui berpikir, apabila ia menyerang mereka dengan senjata rahasia, kedua orang berbaju putih itu pasti roboh.

Pek Yun Hui tetap tidak dapat membuka pintu batu itu, juga tidak tahu kalau tiga iblis itu sudah berangkat atau belum? Kemudian Pek Yun Hui melayang turun.

"Bagaimana?" tanya Bee Kun Bu. "Apakah sudah ada cara baik untuk meloloskan diri?"

"Kita harus bersabar menunggu satu hari lagi," sahut Pek Yun Hui. Tunggu tiga iblis itu berangkat dulu."

"Kakak Pek!" ujar Lie Ceng Loan. "Setelah tiga iblis itu pergi, apakah kita mampu melawan yang lain?"

"Tentu mampu." Pek Yun Hui mengangguk, "Sebetulnya kepandaian tiga iblis itu tidak berada di atas kita. Hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara mereka membuat guru dan Kun Lun Sam Cu jadi tidak waras begitu, Kalau dia sudah pergi, kita harus segera memusnahkan Mo Kui Ceh Yi ini."

"Bagus!" seru Lie Ceng Loan girang dan menambahkan "Kita pun dapat segera bertemu guru, dan selanjutnya memikirkan bagaimana cara menyembuhkan mereka!"

"Memang harus begitu." Pek Yun Hui manggut-manggut Malam harinya, mereka tidur agar lebih bersemangat.

Ketika mereka mendusin, wajah mereka tampak segar dan penuh semangat Tak lama kemudian, dari lubang angin itu melayang turun lagi tiga bungkusan nasi putih, Mereka langsung bersantap.

Setelah hari mulai gelap, Pek Yun Hui mengintip ke luar melalui lubang angin itu. Keadaan di luar tetap sama seperti semalam. Pek Yun Hui berpikir, mereka dikurung di rumah batu itu sudah sehari semalam. Tiga iblis itu tidak menyuruh orang untuk memanggil mereka, Rupanya tiga iblis itu sudah berangkat

padahal sesungguhnya, Pek Yun Hui masih ingin menunggu semalam !agi, Namun Bee Kun Bu sudah tampak tidak sabaran, Hal itu membuat Pek Yun Hui berpikir lagi, tidak ada salahnya kalau segera turun tangan.

"Sebentar kalau pintu batu itu terbuka, kalian berdua harus cepat-cepat turun tangan terhadap orang-orang berbaju putih itu!" ujar Pek Yun Hui berpesan, "Sekaligus menanggalkan pakaian dan kedok mereka, agar kita bisa keluar!"

"Bagaimana mungkin pintu batu itu akan terbuka?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Aku punya akal untuk menipu mereka," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum.

"Kakak Pek! Mereka berdua, sedangkan kita bertiga, Masih kurang pakaian putih dan kedok." ujar Lie Ceng Loan.

"ltu gampang," sahut Pek Yun Hui. "Setelah kita meninggalkan rumah batu itu, bukankah kita akan bertemu orang berbaju putih lagi?"

"Benar." Lie Ceng Loan manggut-manggut

Pek Yun Hui mendekati pintu batu itu, kemudian memukulnya tiga kali.

Bum! Bum! Bum!

"Ada apa?" tanya penjaga di luar.

"Cepat bawa kami menemui Maha Iblis!" sahut Pek Yun Hui.

"Sekarang sudah malam, besok pagi saja," ujar penjaga. "Kalau engkau tidak mau membawa kami menemui Maha Iblis, ada apa-apa kalian harus bertahggungjawab!" ancam Pek Yun Hui.

Hening sejenak di luar Tak lama kemudian terdengar lagi suara penjaga itu.

"Kalian kok macam-macam?"

"Kepandaian kami telah musnah, bagaimana mungkin kami macam-macam?" sahut Pek Yun Hui.

"Kalau begitu... baiklah."

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera meloncat ke samping kiri kanan pintu batu itu.

"Kakak Pek!" bisik Lie Ceng Loan, "Apakah tiga iblis itu masih belum berangkat?"

"Aku tidak berani memastikannya," sahut Pek Yun Hui, "Kalaupun mereka bertiga sudah berangkat, di dalam Mo Kui Ceh Yi ini tiada seorang yang menge-tahuinya."

"Benar." Bee Kun Bu manggut-manggut "Maka biar bagaimanapun kita harus menempuh bahaya."

Di saat mereka sedang berbisik-bisik, mendadak pintu batu itu berbunyi dan tampak bergerak, Tidak menunggu ke dua orang baju putih itu masuk, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan langsung menotok jalan darah mereka, sekaligus ditariknya ke dalam, Bee Kun Bu melepaskan kedok dan pakaian mereka, lalu diberikan pada Pek Yun Hui.

"Kalian berdua yang pakai dulu." ujar Pek Yun Hui. "Kakak Pek. "

"Cepat! Bukan saatnya untuk berlaku sungkan!" potong Pek Yun Hui. "Kini waktu sangat berharga!"

Bee Kun Bu mengangguk ia dan Lie Ceng Loan segera menyalin pakaian putih dan memakai kedok itu, kemudian mengambil medali mereka sekaligus digantungkan di pinggang

Mereka bertiga berjalan ke luar. Pek Yun Hui menutup pintu batu itu, kemudian berkata.

"Kalian berdua harus bersikap seolah-olah sedang membawaku ke luar!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengangguk Mereka bertiga lalu berjalan ke depan,.,, Tak lama kemudian, tampak tiga orang berbaju putih menghampiri mereka dengan membawa obor

"Siapa?" bentak salah seorang berbaju putih.

"Wanita ini mau menemui Maha Iblis, kami membawanya ke sana," sahut Bee Kun Bu.

Tiga orang berbaju putih mendekati mereka sambil mengangkat obor masing-masing. Maksud mereka ingin melihat jelas wajah Pek Yun Hui. Pada saat mereka bertiga mendekat, Pek Yun Hui berdehem memberi isyarat, dan seketika juga mereka bertiga langsung bergerak. Tanpa mampu menjerit ke tiga orang berbaju putih telah roboh tertotok

Mereka bertiga segera menyeret ke tiga orang berbaju putih itu ke sudut rumah batu, Bee Kun Bu melepaskan kedok dan pakaian salah seorang berbaju putih, sekaligus mengambil medalinya, dan diberikan Pek Yun Hui.

"Ke tiga orang ini lebih baik dimasukkan ke dalam rumah batu itu," ujar Pek Yun Hui setelah menyalin pakaian putih dan mengenakan kedok.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengangguk, lalu segera menyeret ke tiga orang berbaju putih itu ke rumah batu, Pek Yun Hui membuka pintu rumah itu, sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyeret ke tiga orang berbaju putih ke dalam. Pek Yun Hui menutup kembali pintu batu. Kemudian mereka bertiga berjalan lagi dengan obor di tangan.

Belum seberapa jauh berjalan, mereka bertemu dengan tiga orang berbaju putih lagi, namun mereka tidak saling menyapa.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga merasa tegang, sebab mereka sama sekali tidak tahu tiga iblis itu telah berangkat atau belum?

Berselang beberapa saat, mereka bertiga sudah sampai di depan gedung itu, Hati mereka pun kebat-kebit.

seandainya tiga iblis itu telah berangkat, tentunya mereka bertiga akan memporak-porandakan Mo Kui Ceh Yi ini, Akan tetapi, apabila tiga iblis itu masih berada di dalam Mo Kui Ceh Yi, mungkin mereka bertiga akan menghadapi suatu kekuatan misteri dari tiga iblis itu. Tentunya mereka bertiga tidak mampu melawan kekuatan tersebut, dan kemungkinan besar mereka akan tertangkap kembali, Lalu apakah orang berbaju putih misterius itu akan menolong mereka lagi?

Pek Yun Hui terus berpikir tentang ini. Bee Kun Bu memandangnya dan merasa heran, kenapa Pek Yun Hui mendadak tampak ragu.

"Kakak Pek! Apa yang sedang engkau pikirkan?" tanya Bee Kun Bu.

"Aku sedang memikirkan tiga iblis itu," jawab Pek Yun Hui. "Entah mereka bertiga masih berada di dalam gedung ini atau sudah berangkat?"

"Kakak Pek!" ujar Bee Kun Bu bernada tegas, "Kini kita sudah sampai di sini, maka tiga iblis itu ada atau tidak, kita harus masuki"

"Baiklah!" kata Pek Yun Hui.

*****

Bab ke 3 - Bertarung Dengan iblis ke Tiga Pek Yun Hui menyahut "Ya", lalu menjulurkan tangannya untuk membuka pintu gedung itu.

Pintu itu terbuka perlahan-lahan. Pek Yun Hui segera melesat ke dalam. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mengikutinya dari belakang.

Begitu memasuki gedung itu, Pek Yun Hui merasakan bahwa suasana di ruangan itu agak ber!ainan. Di sudut ruangan itu tampak barisan orang-orang berbaju putih, Mereka berdiri mematung dengan tangan menggenggam senjata yang berbentuk aneh.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tertegun menyaksikan keadaan itu, Namun kemudian mereka mendadak tersentak, karena mendengar suara "Bum".

Ternyata pintu ruangan itu telah ditutup.

"Begitu turun tangan harus merebut senjata mereka!" bisik Pek Yun Hui yang telah menyadari adanya gelagat tidak beres.

"Siapa kalian bertiga?" bentak salah seorang berbaju putih yang berbadan pendek.

"Kami bertiga ingin menemui Tiga Iblis," sahut Pek Yun Hui tenang, "Karena ada urusan penting."

Saat ini, Pek Yun Hui masih tidak bisa menduga, ada atau tidak tiga iblis tersebut Namun ketika menyaksikan suasana di ruangan itu, Pek Yun Hui yakin bahwa di tempat itu telah terjadi sesuatu.

"Hm!" dengus orang berbaju putih pendek, "Maha iblis tidak memanggil, tetapi kenapa kalian berani ke sini? itu berarti kalian bertiga harus mati!"

Setelah mendengar ucapan itu, Pek Yun Hui yakin bahwa tiga iblis itu tidak berada di dalam Mo Kui Ceh Yi ini

seketika Pek Yun Hui tertawa panjang, lalu mendadak badannya bergerak bagaikan angin puyuh. Ter-dengarlah suara jeritan, ternyata Pek Yun Hui telah berhasil merebut beberapa buah senjata dari tangan orang-orang berbaju putih.

Begitu melihat Pek Yun Hui bergerak, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan pun bergerak laksana kilat menyerang orang- orang berbaju putih.

"Aaakh,.,!" Terdengar suara jeritan, Ternyata dua orang berbaju putih telah roboh.

Karena orang-orang berbaju putih berjumlah puluhan, maka Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menggunakan pedang yang direbut dari tangan dua orang berbaju putih.

Lie Ceng Loan tidak tega membunuhi maka ia hanya menotok jalan darah orang berbaju putih.

Kejadian yang mendadak itu, membuat panik semua orang baju putih, sementara orang berbaju putih pendek bersiul panjang, lalu berseru.

"Nomor Empat mengundang Maha iblis!"

Begitu mendengar seruan itu, tertegunlah Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Mereka bertiga sama sekali tidak menyangka, bahwa tiga iblis itu masih berada di dalam gedung tersebut.

Setelah tertegun, Pek Yun Hui pun tersentak dan membatin. Kalau sekarang tidak melarikan diri, mungkin diri mereka akan tertangkap kembali, bahkan akan kehilangan kepandaian seperti kemarin dulu.

Setelah berpikir begitu, ia segera memberi isyarat kepada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, sekaligus menggerakkan pedangnya Hong Tek Ie (Hembusan Angin Semi) yang amat dahsyat itu pun menyerang orang berbaju putih nomor empat itu.

"Cepat mundur!" serunya.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan langsung memutar- mutarkan pedangnya menyerang orang-orang berbaju putih yang mendekati, kemudian melesat ke luar Setelah sampai di pintu, mereka berdua menoleh.

Ternyata Pek Yun Hui masih bertarung dengan orang berbaju putih nomor empat Ketika Pek Yun Hui ingin mundur, mendadak sebuah jala yang gemerlapan melayang ke arahnya.

"Kakak Pek!" seru Bee Kun Bu. "Cepat kabur!"

Pek Yun Hui segera melesat ke arah mereka, sedangkan jala itu melayang turun di tempat kosong.

Orang berbaju putih nomor empat dan lainnya segera mengejar Pek Yun Hui sudah menduga itu, maka tangannya bergerak menyerang mereka dengan senjata rahasia.

"Aaakh!"

"Aaaakh.

Terdengar suara jeritan, orang-orang baju putih yang mengejar langsung roboh. Hanya orang berbaju putih nomor empat yang berhasil menghindari senjata rahasia Pek Yun Hui yang berupa semacam mutiara.

Pek Yun Hui sudah sampai pintu, Bee Kun Bu menjulurkan tangannya ingin membuka pintu, namun pada waktu bersamaan, terdengarlah suara yang amat mengejutkan mereka bertiga.

Creng! Creng! Creng! itu adalah suara lempengan tembaga.

Bee Kun Bu segera menengok, tampak tiga orang berbaju putih muncul mendadak dengan membawa lempengan tembaga.

Setelah ke tiga orang berbaju putih muncul, heninglah suasana di dalam ruang itu, Orang berbaju putih nomor empat pun segera mundur. Siapa ke tiga orang berbaju putih itu? Mereka adalah Maha iblis, iblis Ke dua dan iblis Ke tiga.

Begitu melihat tiga iblis itu, dinginlah perasaan Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan. Semula mereka bertiga mengira bahwa tiga iblis itu tidak berada di dalam Mo Kui Ceh Yi ini, namun malah muncul di ruang tersebut

Walau tertegun, Bee Kun Bu masih tidak lupa membuka pintu, Akan tetapi, Maha iblis tertawa dingin.

"Masih ingin kabur?"

Bee Kun Bu tidak menghiraukannya, dan tetap membuka pintu, Namun sungguh di luar dugaan, pintu itu tak bergeming sedikit pun.

Pada waktu bersamaan, mendadak melompat ke luar seorang berbaju putih sambil tertawa gelak.

Ketika melihat orang berbaju putih itu, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bergirang dalam hati, karena mereka masih mengenalinya, tidak lain adalah orang berbaju putih yang memberi mereka ulat

"Siapa kalian bertiga?" bentak orang berbaju putih itu sambil menuding tiga iblis, "Sungguh berani kalian menyamar sebagai Tiga Iblis!"

ucapannya itu membuat semua orang tertegun, begitu pula Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Badan tiga iblis itu tampak tergetar, Pek Yun Hui paham, bahwa orang baju putih itu memberitahukannya secara tidak langsung bahwa tiga orang baju putih itu bukan Tiga Iblis.

Kalau begitu, tentunya tiga iblis asli telah meninggalkan Mo Kui Ceh Yi ini. Namun tiga iblis itu mengatur tiga orang kepereayaannya menyamar diri mereka bertiga

Karena itu, Pek Yun Hui langsung bersiul panjang, lalu menyerang tiga iblis itu. Tampak sinar putih berkelebat ke arah tiga orang baju putih yang menyamar sebagai Tiga Iblis. Orang baju putih nomor empat ingin menghadang, namun pada saat itu, orang baju putih yang pernah menolong Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, langsung melepaskan baju putih yang dipakainya, Ter-nyata ia mengenakan pakaian hijau, kemudian mendadak menyerang orang baju putih nomor empat

sementara Pek Yun Hui sudah melesat sampai ke hadapan tiga iblis, Maha iblis segera menangkis dengan lempengan tembaga.

Trang! Terdengar suara benturan Seketika lempengan tembaga itu melayang ke atas.

Tangan Pek Yun Hui bergerak cepat memukul dada orang baju putih itu, sedangkan pedangnya menowel mukanya, sehingga kedok itu terlepas.Tidaksalah! Orang baju putih itu bukan Maha Iblis.

"Aaakh!" jerit orang itu, Ternyata ia telah terpukul oleh tangan Pek Yun Hui, langsung roboh tak bangun lagi.

Pek Yun Hui tidak membuang waktu, secepat kilat menyerang dua orang berbaju putih yang lain dengan pedang.

iblis Ke dua dan iblis Ke tiga palsu itu tidak dapat menghindar sehingga mereka berdua tertusuk pedang Pek Yun Hui.

Setelah berhasil merobohkan Tiga iblis palsu, Pek Yun Hui pun menoleh, ia melihat orang berbaju hijau sedang bertempur dengan orang baju putih pendek.

sedangkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga bertempur seru dengan orang-orang baju putih, Keadaan di ruang itu sudah kacau balau, bahkan orang-orang berbaju putih mulai tampak panik.

"Mo Kui Ceh Yi hari ini akan musnah!" seru Pek Yun Hui nyaring, "Siapa yang masih ingin hidup, harus segera berhenti!" Pek Yun Hui berseru nyaring dengan menggunakan ilmu Toa Pan Yok Hian Kang sehingga suaranya bergema sampai ke mana-mana, Belum juga suara seruannya berhenti sudah tampak orang-orang berbaju putih yang belum terluka, langsung berhenti menyerang dan semuanya lalu berdiri dekat dinding.

Setelah berseru begitu dan melihat orang-orang berbaju putih sudah berhenti menyerang, Pek Yun Hui langsung melesat ke arah orang berbaju putih nomor empat, sekaligus menyerangnya.

Orang berbaju putih nomor empat sedang bertarung dengan orang baju hijau, Ketika melihat Pek Yun Hui menyerangnya ia cepat-cepat berkelit ke samping, Namun orang baju hijau mengibaskan lengan bajunya ke arah orang baju putih nomor empat, sedangkan Pek Yun Hui juga menyerangnya dengan pedang.

Bagaimana mungkin orang baju putih nomor empat berkelit lagi? seketika ia menjerit dan roboh dengan badan berlumuran darah.

Setelah berhasil melukai orang baju putih nomor empat, Pek Yun Hui pun segera melepaskan kedoknya, lalu berkata pada orang baju hijau.

"Maaf, meskipun tidak ingat Anda siapa, namun kami tidak akan melupakan budi pertolongan Anda!"

Orang baju hijau diam saja, tetapi sepasang matanya menyorot tajam menatap Pek Yun Hui, Orang itu masih mengenakan kedok, maka Pek Yun Hui sama sekali tidak mengenalinya.

Pek Yun Hui mengenali tatapan orang itu, namun tidak ingat di mana pernah menyaksi kan nya.

"Sebetulnya siapa Anda?" tanya nya.

Orang berbaju hijau itu tidak menyahut, melainkan cuma menarik nafas panjang, Pek Yun Hui tersentak, sebab ia mengenali suara tarikan nafas itu, Setelah menarik nafas panjang, orang berbaju hijau itu lalu melangkah pergi.

"Tunggu!" seru Pek Yun Hui. "Kami ingin memusnahkan Mo Kui Ceh Yi ini, harap Anda sudi menunjukkan jalan!"

Orang berbaju hijau berhenti Kelihatannya ia ingin bersuara, namun mendadak terdengar suara yang amat dingin di belakang Pek Yun Hui.

"Siapa ingin memusnahkan Mo Kui Ceh Yi? Sungguh omong besar!"

Pek Yun Hui terkejut, sebab setahunya sudah tiada orang berbaju putih yang berani melawan mereka, Na-mun kini justru ada suara yang begitu dingin di be-lakangnya.

Pek Yun Hui segera membalikkan badannya, ia tertegun seketika, karena di situ berdiri seorang wanita berbaju putih.

Wanita berbaju putih itu berusia tiga puluh limaan, wajahnya cantik, tapi tampak sesat.

Begitu melihat wanita berbaju putih, Pek Yun Hui bertambah terkejut, karena ia mengenali sorotannya, yang tidak lain adalah iblis Ke tiga.

Tidak salah, wanita berbaju putih itu memang iblis Ke tiga.

Tentang asal usul Tiga iblis Mo Kui Ceh Yi, nanti akan diceritakan iblis Ke tiga paling berhati-hati melakukan sesuatu, bahkan sangat seksama pu!a.

sebetulnya Tiga iblis itu sudah berangkat malam itu juga setelah mendengar apa yang diceritakan Pek Yun Hui. Mereka menuju Thai Ouw dengan tujuan mencari Kui Goan Pit Cek, Sebelum meninggalkan Mo Kui Ceh Yi, mereka sudah mengatur tiga orang kepereayaan menyamar diri mereka bertiga.

Akan tetapi, setelah ratusan mil kemudian, mendadak iblis Ke tiga teringat akan sesuatu, Walau sudah ada orang kepereayaan menyamar mereka bertiga, namun kalau terjadi suatu urusan, tentunya yang menyamar mereka itu tidak dapat mengatasinya.

Padahal di dalam Mo Kui Ceh Yi, puluhan tahun ini sama sekali tidak pernah terjadi apa pun, jadi dalam hal tersebut iblis Ke tiga boleh berlega hati, Akan tetapi baru-baru ini memang telah terjadi sesuatu, yakni kemunculan Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan di dalam Mo Kui Ceh Yi tersebut

Walau kepandaian mereka bertiga telah musnah, namun iblis Ke tiga merasa urusan itu masih belum beres. Oleh karena itu, iblis Ke tiga kembali ke Mo Kui Ceh Yi seorang diri.

Ketika baru tiba di Mo Kui Ceh Yi, ia melihat Pek Yun Hui, Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan orang berbaju hijau telah memperoleh kemenangan, bahkan terdengar pula ucapan Pek Yun Hui ingin memusnahkan Mo Kui Ceh Yi. Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa gusarnya iblis Ke tiga.

Pek Yun Hui tertegun ketika menyaksikan kemunculan wanita berbaju putih yang tidak lain adalah iblis Ke tiga, sedangkan wanita berbaju putih itu tertawa cekikikan menggetarkan sukma.

"Kalian sudah berniat memusnahkan Mo Kui Ceh Yi, kenapa masih belum turun tangan? Ayoh, cepatlah turun tangan!"

Pek Yun Hui memang terkejut sekali ketika melihat kemunculan iblis Ke tiga, Kalau berdasarkan kepandaian, mungkin ia masih akan menang, Akan tetapi berdasarkan apa yang dikatakan Gin Tie Suseng tentang pemberitahuan Kuang Ti Taysu sebelum nafasnya berhenti, bahwa Tiga iblis itu tidak dapat dilawan dengan kekuatan manusia, Buktinya Na Hai Peng, Kun Lun Sam Cu dan Pat Pie Sin Ong jadi tidak waras, bahkan dapat mereka kendalikan, lalu bagaimana dengan dirinya? Di saat Pek Yun Hui sedang berpikir, tiba-tiba terdengar suara bentakan Bee Kun Bu.

"Hei! perempuan jalang! Tentunya kami akan turun tangan!

Kenapa engkau begitu tidak sabar?"

Bee Kun Bu langsung menyerangnya dengan pedang, Pek Yun Hui terkejut, tetapi ia baru mau mencegah, wanita berbaju putih itu sudah tertawa dingin sambil mengibaskan lengan bajunya.

Kibasan lengan baju itu tampak tak bertenaga sama sekali, namun justru bagaikan angin puyuh, Di saat iblis Ke tiga mengibaskan lengan bajunya, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan juga mengarah ke sana, Mereka melihat badan Bee Kun Bu tergetar, dan serangannya pun tertangkis oleh kibasan lengan baju itu.

Kemudian terdengar lagi iblis Ke tiga tertawa aneh, dan mengibaskan lengan bajunya lagi, seketika badan Bee Kun Bu terhuyung-huyung, pedangnya terlepas dari tangan, dan akhirnya roboh.

Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan terkejut bukan main, Lie Ceng Loan segera melesat ke arah Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!" tanya Lie Ceng Loan, "Bagaimana ke- adaanmu?"

"Aku. " Bee Kun Bu berusaha bangkit berdiri "Aku.,, aku

juga tidak tahu."

Lie Ceng Loan menatap iblis Ke tiga, Ketika ia baru mau menyerang, mendadak iblis Ke tiga mengibaskan lengan bajunya, Lie Ceng Loan merasa hidungnya pedas, ia pernah mencium bau pedas ini ketika pertama kali menghadapi Tiga Iblis, Pada waktu itu, begitu mencium bau pedas tersebut, tenaga murninya langsung sirna entah ke mana.

Saat ini tereium lagi bau pedas itu, Lie Ceng Loan menyadari adanya gelagat yang tidak beres, Oleh karena itu ia segera menutup pernafasannya, tetapi sudah terlambat Gadis itu merasa dirinya berputar-putar, sepasang kaki tak bertenaga dan akhirnya terkulai

Betapa terkejutnya Pek Yun Hui ketika menyaksikan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah roboh.

Tanpa banyak pikir lagi ia langsung menggerakkan pedangnya, Namun ketika baru mau menyerang tahu-tahu iblis Ke tiga telah melesat ke arahnya.

Pek Yun Hui juga bergerak cepat ia meluruskan pedangnya ke depan mengarah pada iblis Ke tiga, Akan tetapi, mendadak hidungnya terasa pedas dan seketika tangannya menjadi lemas.

Trang! pedangnya terlepas dari tangannya.

Badannya juga mulai terkulai, namun ia masih sempat mengayunkan tangannya menyerang iblis Ke tiga dengan senjata rahasia.

iblis Ke tiga yakin ilmu sesatnya itu dapat melumpuhkan Pek Yun Hui. Karena itu ia tidak bersiap sama sekali, Senjata rahasia berupa mutiara itu telah mengenai Sin Tong Hiatnya, dan seketika juga ia terkulai bersama Pek Yun Hui.

Ketika melihat iblis Ke tiga terkulai, orang-orang berbaju putih berteriak-teriak.

Walau Pek Yun Hui berhasil melumpuhkan iblis Ke tiga dengan senjata rahasianya, tapi keadaan mereka bertiga tetap dalam bahaya.

Sebab mereka masih berada di dalam ruangan itu, Kalau ada salah seorang berbaju putih membebaskan totokan di badan iblis Ke tiga, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan pasti celaka, karena kini tenaga murni mereka bertiga telah musnah lagi.

Harapan satu-satunya bergantung pada orang berbaju hijau, mungkin orang baju hijau itu akan menolong mereka lagi. "Anda. Anda masih belum mau turun tangan?" seru Pek

Yun Hui, "Tidak takut orang baju putih akan membebaskan totokan di badan iblis Ke tiga?"

Di saat Pek Yun Hui bersuara, sudah tampak dua orang berbaju putih menghampiri iblis Ke tiga.

Ke dua orang berbaju putih itu memang ingin membebaskan totokan itu, Kalau iblis Ke tiga sudah bebas dari totokan tersebut, orang berbaju hijau pasti celaka.

Betapa gugupnya Pek Yun Hui, karena kedua orang berbaju putih itu sudah berada di hadapan iblis Ke tiga, Tapi mendadak tampak sosok bayangan melesat ke situ, dan sekaligus melancarkan dua pukulan.

"Aaakh. !" Kedua orang berbaju putih itu menjerit, dan

badan mereka pun terpental beberapa depa.

Pek Yun Hui menarik nafas lega, karena orang berbaju hijau telah turun tangan, sedangkan orang berbaju hijau tidak berhenti sampai di situ, ia menyambar sebilah pedang yang di lantai, sekaligus menyabet iblis Ke tiga.

Saat ini, iblis Ke tiga dalam keadaan tertotok Kalau-pun ia memiliki kekuatan ajaib, tetap juga tidak dapat menghindari sabetan pedang itu.

pada waktu bersamaan mendadak seorang berbaju putih melompat ke hadapan iblis Ke tiga, sehingga sabetan pedang itu mengenai tubuhnya.

"Aaakh!" jerit orang berbaju putih itu, pinggangnya telah berlumuran darah, namun berhasil menyelamatkan iblis Ke tiga.

Orang baju hijau itu tertegun, Di saat bersamaan tampak beberapa orang berbaju putih maju mengeroyok-nya dengan senjata. Orang baju hijau terpaksa bertempur dengan me-reka, otomatis kehilangan kesempatan untuk membunuh iblis Ke tiga.

sementara salah seorang berbaju putih sudah mendekati iblis Ke tiga, Melihat itu, Pek Yun Hui memaksa dirinya untuk maju sekaligus menyambar pedang yang di lantai, lalu mendadak meloncat ke arah iblis Ke tiga sambil meluruskan pedang yang di tangan.

Ketika ujung pedang itu hampir mencapai dada iblis Ke tiga, orang berbaju putih itu sudah berada di sisi iblis Ke tiga, langsung menangkis pedang itu dengan goloknya.

Trang! pedang Pek Yun Hui terpental lalu terguling-guling di lantai.

Orang berbaju putih itu menjulurkan tangannya untuk membebaskan totokan di tubuh iblis Ke tiga, Namun di saat itu pula orang berbaju hijau melesat ke arahnya sambil mengayunkan pedangnya

Crasss! Orang berbaju putih itu tertusuk dan mati seketika. sedangkan orang berbaju hijau juga bergerak cepat

Setelah membunuh orang berbaju putih itu, ia pun

menggerakkan pedangnya menangkis senjata-senjata yang mengarah punggungnya dengan senjata.

iblis Ke tiga tertolong lagi, sementara Pek Yun Hui yang tergu!ing-guling itu sempat mendongakkan kepalanya ia melihat empat orang berbaju putih sedang menghadang orang berbaju hijau mendekati iblis Ke tiga.

"Kawan!" seru Pek Yun Hui. "Tahan mereka!"

Crasss! Dada iblis Ke tiga tertembus pedang, sehingga darahnya mengucur deras, Kelihatannya ia sudah sulit untuk hidup lagi.

Keempat orang berbaju putih tertegun ketika melihat dada iblis Ke tiga telah tertembus pedang, Di saat mereka tertegun, orang berbaju hijau menyerang mereka secara mendadak Terdengar dua kali jeritan. Ternyata dua orang berbaju putih sudah roboh berlumuran darah. Kini cuma tersisa dua orang baju putih. Maka orang baju hijau tidak begitu kewalahan lagi menghadapi mereka berdua.

Tak lama, salah seorang berbaju putih itu roboh, dan yang satunya lagi langsung kabur Akan tetapi, orang berbaju hijau segera menyambitnya dengan pedang, Tam-pak sinar putih meluncur, dan terdengar suara jeritan, Orang baju putih itu tertembus pedang tersebut, dan roboh seketika dengan badan berlumuran darah.

Hening suasana di ruangan itu. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bangkit berdiri, Orang baju hijau berkata dengan suara serak, seakan tidak mau orang mengenali suara nya.

"Untung di sini adalah tempat tinggal Maha iblis, maka sebelum ada perintah, orang-orang berbaju putih yang di luar sana tidak berani masuk, Kaiian bertiga cepat ikut aku!"

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sangat berterima kasih pada orang berbaju hijau. Sebab kalau tiada orang baju hijau, mereka bertiga pasti sudah menjadi mayat.

Mereka bertiga dapat mendengar, bahwa orang berbaju hijau sengaja membuat serak suaranya agar mereka tidak mengenalinya.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang.

"Sudah beberapa kali Anda menyelamatkan kami, tetapi kenapa Anda masih tidak mau memperkenalkan diri?" tanya mereka serentak

Orang baju hijau tertawa nyaring dengan nada aneh, setelah itu barulah berkata dengan suara serak.

"Belum waktunya dan keadaan masih membahayakan kalian bertiga ikut aku saja!" Orang berbaju hijau membuka pintu sekaligus berjalan ke luar. Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera mengikutinya dari belakang.

Keluar dari pintu itu, tampak sebuah koridor yang amat gelap, Orang berbaju hijau terus berjalan, dan tak lama sudah sampai di ujung koridor itu.

"Kalian bertiga tunggu di sini, aku akan pergi berusaha mencari tiga ekor ulat untuk kalian!"

Ketika mendengar ucapan itu, wajah mereka bertiga berubah getir, sebab harus menelan ulat yang menjijikkan itu lagi, seketika itu juga perut Lie Ceng Loan langsung merasa mual.

"Aku berada di Mo Kui Ceh Yi ini tidak begitu lama, maka tidak tahu banyak Tapi aku tahu, apa yang disebut ilmu sihir itu, tidak lain adalah merupakan sejenis binatang amat beracun, yang sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata, Di Mo Kui Ceh Yi ini terdapat dua jenis binatang beracun, Salah satu jenis binatang itu membuat orang kehilangan tenaga murni, dan yang sejenis lagi membuat orang menjadi tidak waras," ujar orang berbaju hijau memberitahukan

"Ulat Thian Mo dapat memulihkan tenaga murni, lalu bagaimana cara memulihkan orang yang tidak waras ?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku justru tidak tahu itu." Orang berbaju hijau menggelengkan kepala.

Setelah itu, dia menekan sebuah tombol yang di dinding, dan tak lama muncullah sebuah pintu rahasia di dinding itu.

Orang berbaju hijau melesat ke da!am. Pek Yun Hui dan lainnya melongok ke dalam, ternyata di dalam merupakan sebuah ruang batu, Di sana duduk dua orang berbaju putih, Begitu melihat ada orang masuk, kedua orang berbaju putih itu langsung meloncat bangun. Sebelum kedua orang berbaju putih bersuara, orang berbaju hijau bergerak laksana kilat menotok jalan darah mereka, ia lalu melambaikan tangannya ke arah Pek Yun Hui dan lainnya agar mereka bertiga masuk.

Pek Yun Hui, Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu berjalan ke dalam, Tampak sebuah tempayan batu terletak di tengah- tengah ruangan itu, Mereka bertiga serentak memandang ke dalam tempayan batu itu, Di dalamnya terdapat belasan ulat Thian Mo bergerak-gerak dan berbau anyir yang menusuk hidung.

"Cepat!" Seru orang berbaju hijau, "ltu ulat Thian Mo. Kalau Maha iblis dan iblis Ke dua muncul, kita pasti mati dengan tubuh tak utuh."

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terpaksa menelan ulat itu masing-masing seekor. Walau merasa jijik dan ingin muntah, namun mereka bertiga harus menelannya, Kalau tidak, tenaga murni mereka tidak akan pulih.

setengah jam kemudian, tenaga murni mereka bertiga sudah pulih kembali, dan mereka menarik nafas lega.

sementara orang berbaju hijau mengambil semua ulat Thian Mo itu, kemudian dibungkusnya dengan kain dan dimasukkan ke dalam bajunya, Setelah itu, barulah ia mengajak mereka bertiga meninggalkan ruang batu tersebut

Mereka kembali ke ruang yang tadi, Mayat-mayat masih menggeletak di situ. Orang berbaju hijau melepaskan kedok tiga orang berbaju putih yang telah mati, lalu diserahkan kepada Pek Yun Hui, Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu.

"Cepat pakai kedok ini!" ujarnya memberitahukan. "Sekarang kita harus meninggalkan Mo Kui Ceh Yi ini!"

Ketika berbicara, orang berbaju hijau tetap menggunakan suara serak, Oleh karena itu Pek Yun Hui dan lainnya tetap tidak mengenali suaranya. "Kawan!" ujar Pek Yun Hui sambil memakai kedok. "Apakah kita pergi begini saja?"

Orang baju hijau tertegun. "Memangnya harus bagaimana?"

"Mumpung Maha iblis dan iblis Ke dua belum kembali, alangkah baiknya kita membakar habis Mo Kui Ceh Yi ini." sahut Pek Yun Hui.

"Benar," sela Bee Kun Bu.

Akan tetapi, orang berbaju hijau itu menggelengkan kepala seraya berkata sungguh-sungguh.

"Jangan! Kalau kita membakar tempat ini, kita akan membuang waktu, Kalau Maha iblis dan iblis Ke dua muncul mendadak, celakalah kita, LagipuIa di sini banyak terdapat orang-orang yang patut dikasihani Apabila kita membakar tempat ini, secara tidak langsung mereka pun akan jadi korban."

"Kalau begitu, kita harus membasmi Maha iblis dan iblis Ke dua, lalu menolong orang-orang yang patut dikasihani itu!" Ujar Lie Ceng Loan.

"Apa yang Nona Lie katakan memang benar," sahut orang berbaju hijau kelepasan.

"Kawan!" Pek Yun Hui langsung menatap orang berbaju hijau, "Engkau tahu dia marga Lie?"

Orang berbaju hijau tampak tertegun

"Sudahlah! Saat ini bukan untuk bereakap-cakap, mari kita pergi!" tandas nya kemudian dengan suara serak, lalu melesat ke depan.

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandang, Setelah itu, Bee Kun Bu berbisik

"Heran! Siapa orang itu, kok dia tahu marga Ceng Loan?" "Setelah kita keluar dari Mo Kui Ceh Yi, ini barulah kita bertanya padanya. sekarang kita harus segera mengikutinya."

Mereka bertiga lalu melesat pergi mengikuti orang berbaju hijau, sementara orang berbaju hijau terus berlari tanpa berhenti Sambil berlari, Pek Yun Hui berpikir keras, ia amat penasaran ingin mengetahui siapa orang berbaju hijau itu.

Oleh karena itu, ia terus mengamati bentuk tubuhnya dengan penuh perhatian

*****

Bab ke 4 - Pasangan Kekasih Bertemu Kembali

Setelah mengamati bentuk tubuh orang baju hijau dengan penuh perhatian, mendadak hati Pek Yun Hui tersentak dan seketika itu juga menghentikan larinya. Ternyata ia teringat pada seseorang yang pernah dikenalnya.

Tentunya sangat mengherankan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, karena mereka berdua sama sekali tidak tahu apa sebabnya Pek Yun Hui berhenti mendadak

Wajah Pek Yun Hui tampak berubah aneh sekali, namun juga penuh mengandung penderitaan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut, dan kemudian bertanya dengan serentak

"Kakak Pek! Kenapa engkau?" Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berhenti di sisinya.

Pek Yun Hui mendongakkan kepala, Sepasang matanya tampak basah, sehingga membuat Lie Ceng Loan bertambah terkejut

"Kakak Pek! Kenapa engkau menangis?"

"Adik Loan! Aku... aku tidak menangisi sahut Pek Yun Hui sambil memalingkan wajahnya.

"Kakak Pek bohong! Apakah Kakak Pek tidak mau baik lagi terhadapku?" tanya Lie Ceng Loan.

Pek Yun Hui tidak menyahut, melainkan memandang ke depan, Orang berbaju hijau itu pun sudah berhenti. "Adik Loan! Kita harus segera meninggalkan Mo Kui Ceh Yi ini." Pek Yun Hui mengalihkan pembicaraan sambil melesat ke depan.

Lie Ceng Loan terpaksa menurut ia pun melesat ke depan mengikuti Pek Yun Hui. Namun gadis itu, justru tidak tahu kenapa Pek Yun Hui berduka mendadak?

Bee Kun Bu terus berpikir, akhirnya memahami sedikit lalu memandang ke arah punggung orang baju hijau.

Diam-diam Bee Kun Bu menarik nafas, lalu melesat ke depan, Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah terowongan. Orang baju hijau berhenti seraya berkata.

"Kalian bertiga terus saja menuju ke depan, nanti kalian akan berdiri di atas sebuah papan yang akan secara otomatis mengangkat kalian bertiga ke atas, sampai muncul di permukaan gurun pasir."

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan diam saja. Mendadak orang baju hijau mendorong mereka ke depan, sehingga membuat mereka bertiga terdorong ke atas papan, seketika papan itu bergerak ke atas, sedangkan orang berbaju hijau telah melesat pergi, dan dalam waktu sekejap ia telah hilang dari pandangan mereka.

sementara Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus memejamkan mata, sebab ketika papan itu bergerak ke atas, pasir pun mulai berjatuhan

Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di atas, di permukaan gurun pasir

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan segera meloncat ke samping beberapa depa, agar tidak merosot ke bawah lagi bersama papan tersebut Tidak seberapa lama kemudian mereka melihat sosok bayang berdiri tak jauh dari tempat itu. "Sampai berjumpa nanti!" seru orang itu dan bersiap melesat pergi

"Kawan, tunggu!" teriak Bee Kun Bu ketika melihat orang itu mau melesat pergi. "Aku ingin bicara sebentar!"

"Tolong menolong dalam rimba persilatan memang wajar, maka saudara tidak perlu mengucapkan terima-kasih padaku," sahut orang itu.

"Aku bukan ingin mengucapkan terimakasih, melainkan membicarakan urusan lain," ujar Bee Kun Bu.

Orang itu tertegun, "Cepat bicaralah!" ujarnya.

Bee Kun Bu mendekati orang itu dengan wajah serius, Saat ini dia dan Pek Yun Hui sudah tahu siapa orang itu, Bahkan Pek Yun Hui tahu apa sebabnya Bee Kun Bu ingin bicara padanya.

Gadis itu ingin memanggil Bee Kun Bu, namun tak mampu mengeluarkan suara, sebab perasaannya sedang bergejolak dalam hati, juga merasa berduka sekali, sehingga tanpa sadar air matanya telah meleleh.

Lie Ceng Loan berada di sisinya, Ketika melihat Pek Yun Hui mengucurkan air mata, gadis itu pun tereengang. Kini mereka bertiga sudah tidak memakai kedok yang menyeramkan lagi, maka tampak wajah Pek Yun Hui agak memucat

"Kakak Pek kok menangis lagi?" tanya Lie Ceng Loan heran.

Pek Yun Hui diam saja.

sementara Bee Kun Bu sudah sampai di hadapan orang itu, ia menatapnya seraya memanggil

"Saudara Sie Bun!"

Begitu Bee Kun Bu memanggil demikian, badan orang itu tampak gemetar, seakan tergoncang hebat. Setelah itu, ia pun melesat pergi

Bee Kun Bu sudah menduga itu, maka secepatnya ia menjulurkan tangan menangkap lengan orang itu.

Saudara Sie Bunl Selama ini Kakak Pek tidak pernah melupakannya. Masa lalu kalian telah diceritakannya padaku, Hingga saat ini dia masih tetap mencintaimu Lalu apakah saudara begitu tega tidak mau menemui-nya?" ujar Bee Kun Bu.

Usai berkata begitu, Bee Kun Bu menjulurkan tangannya menyambar kedok di muka orang itu, dan orang itu diam saja.

Setelah kedok terbuka, tampak seraut wajah yang amat tampan Tidak salah, orang itu memang Sie Bun Yun yang pernah diceritakan Pek Yun Hui

Saat ini, Pek Yun Hui memandangnya dengan air mata berderai, sedangkan Sie Bun Yun memandangnya dengan tertegun, mereka berdua saling memandang tak bergerak sama sekali

Lie Ceng Loan yang tidak tahu apa-apa juga berdiri mematung di tempat sepasang matanya melirik Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun dengan penuh keheranan

Kemudian gadis itu memandang Bee Kun Bu. Ketika ia baru mau bertanya, Bee Kun Bu telah melesat ke arahnya.

"Adik Loan! Mari kita ke tempat yang agak jauh!" "Kenapa sih?" tanya Lie Ceng Loan kebingungan

"Kakak Pek ingin bicara sejenak dengan kawan itu, karena sudah sekian tahun mereka tidak bertemu," sahut Bee Kun Bu memberitahukan

Lie Ceng Loan berpikir, sedangkan Bee Kun Bu telah menariknya ke tempat yang agak jauh.

"Oooh!" Lie Ceng Loan manggut-manggut Telah terpikir sesuatu olehnya, sehingga matanya berbinar-binar "Kakak Bu, orang itu jantung hatinya Kakak Pek?" "Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Di antara Kakak Pek dan dia terdapat sedikit ada kesalahpahaman, dan karena itu mereka tidak bertemu sekian tahun."

"Kakak Bu!" Air mata Lie Ceng Loan sudah meleleh "Mudah-mudahan tidak ada kesalah pahaman lagi di antara mereka, dan takkan berpisah selama-lamanya!"

Bee Kun Bu mengangguk sambil memandang ke arah sana, Tampak Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun mulai saling mendekat

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menarik nafas lega melihat itu, Semula mereka berdua masih khawatir Sie Bun Yun akan pergi, namun ternyata hal itu tidak terjadi Bahkan kini mereka sudah saling mendekat dan saling berhadapan

"Saudara kecil, sudah lama... sudah lama kita tidak bertemu," ujar Sie Bun Yun terputus-putus.

Sie Bun Yun masih memangil Pek Yun Hui sebagai saudara kecil Hal itu membuat Pek Yun Hui terharu, sedih dan berbagai perasaan pun timbul seketika, sebab pemuda itu masih tampak begitu menaruh perhatian padanya.

Air mata Pek Yun Hui berderai, kemudian mendadak mendekap di dada Sie Bun Yun, dan isak tangisnya pun meledak seketika.

Sie Bun Yun tertegun, lalu perlahan-lahan menjulurkan tangannya untuk merangkul Pek Yun Hui seraya berkata.

"Saudara kecil,... Nona Pek... aku.,, aku sembarangan mempersalahkanmu."

"Sudah beberapa kali aku bilang padamu, sebetulnya aku seorang gadis," ujar Pek Yun Hui terisak-isak, Tapi, engkau malah tidak pereaya."

Pek Yun Hui mendongakkan kepalanya, ia memandang Sie Bun Yun dengan air mata bereucuran "Kalau aku pereaya, bagaimana mungkin... adik Hung mengantar nyawanya di dasar jurang!" ujar Sie Bun Yun sambil menarik nafas panjang.

"Kakak Yun.,,." Pek Yun Hui juga menarik nafas, "Apakah engkau masih membenciku dalam hati?"

"Ketika adik Hung baru mati. " Sie Bun Yun tersenyum

getir "Aku memang membencimu sampai ke tulang sumsum, namun kemudian pikiranku makin terbuka. Di gunung Taysan engkau menutur tentang kita pada saudara Bee dan Giok Siauw Sian Cu, aku juga berada di situ sehingga pikiranku semakin terbuka dan tidak membencimu lagi, sebab kuanggap semua itu merupakan takdir."

Pek Yun Hui menarik nafas lega, inilah yang diharapkan nya selama dua tahun itu.

Tapi adik Hung mati gara-garaku, itulah membuatku selalu merasa berdosa," ujar Pek Yun Hui sambil menggeleng- gelengkan kepala.

"Sudah kukatakan, bahwa semua itu merupakan takdir." Sie Bun Yun menarik nafas panjang, "Di antara kita bertiga tidak ada yang bersalah dalam hal itu."

"Kakak Yun!" Pek Yun Hui menatapnya da!am-dalam, "Kini engkau sudah tahu perasaanku?"

"Aku sudah tahu kalau engkau adalah Lan Tay Kong Cu, aku.,,." Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala, "Aku.,, sungguh tidak berani memikirkan itu."

"Pokoknya aku tidak akan kembali ke istana," ujar Pek Yun Hui tegas sambil membanting kaki, "Kita sama-sama kaum rimba persilatan. "

"Adik Pek!" Sie Bun Yun tersenyum sambil mengecup pipinya, "Engkau jangan marah!" Ketika Sie Bun Yun mengecup pipinya, seketika juga hati Pek Yun Hui berbunga-bunga, pipinya pun langsung memerah indah, kemudian memeluknya erat-erat.

Betapa gembiranya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyaksikan keadaan itu dan segera menghampiri mereka

"Hi hi!" Lie Ceng Loan tertawa geli "Kakak Pek, tadi aku bertanya kenapa engkau menangis, namun engkau tidak mau mengaku, jahat sekali ya!"

"Adik Loan!" Pek Yun Hui langsung melepaskan pe!ukannya. "Kalau engkau masih omong yang bukan-bukan, aku tidak menghiraukanmu lho!"

"Kakak Pek!" Lie Ceng Loan menggenggam tangan-nya. "Aku tidak berani omong yang bukan-bukan tagi."

"Saudara Sie Bun!" Bee Kun Bu menjura padanya, "Sejak Kakak Pek menuturkan tentang dirimu aku pun amat kagum dan salut, Akan tetapi, setelah saudara menghilang di gunung Taysan, kenapa bisa muncul di Mo Kui Ceh Yi?"

"Saudara Bee, aku tidak bisa dibandingkan dengan-mu," ujar Sie Bun Yun merendah

"Kalian berdua sudah usai bereakap-cakap belum?" sela Lie Ceng Loan.

"Nona Lie, kita memang belum saling kenal," sahut Sie Bun Yun. Tapi engkau begitu mesra terhadap saudara Bee, maka aku pun tahu kalau engkau Nona Lie."

"Kakak Sie Bun, sungguh pandai bicara." Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan.

Sie Bun Yun tersenyum.

"Saudara Sie Bun, ketika engkau mengantar ulat Thian Mo pada kami, pada waktu itu kami pun merasa kenal pada mu. Namun sama sekali tidak menyangka kalau orang berbaju putih itu ternyata dirimu." ujar Bee Kun Bu. "Oh ya! Kenapa Saudara bisa bergabung dengan Mo Kui Ceh Yi?" "Sungguh panjang kalau dituturkan," sahut Sie Bun Yun. Tempat ini masih dekat dengan Mo Kui Ceh Yi, lebih baik kita meninggalkan tempat ini dulu."

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk

Mereka berempat lalu melesat pergi, Setelah hari mulai terang, mereka sudah berada di padang rumput, Kebetulan di sana terdapat sebuah telaga. Mereka berempat lalu duduk di pinggir telaga itu.

Tampak ikan berenang di permukaan telaga, Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui segera mengambil ranting pohon, kemudian dipatah-patahkan dan sekaligus menyambit ikan- ikan itu. Tak seberapa lama, mereka berdua telah berhasil menyambit belasan ekor.

Bee Kun Bu dan Sie Bun Yun menyalakan api, ikan-ikan itu pun dibakar Setelah itu, mereka menyantap ikan-ikan bakar itu dengan lahapnya.

"Saudara Sie Bun!" ujar Bee Kun Bu sesuai me-nyantap, "Tuturkanlah kenapa Saudara berada di Mo Kui Ceh Yi itu!"

"Terus terang, beberapa tahun lalu, aku sudah mendengar guru mengatakan, bahwa di antara Giok Bun Kwan dan Si Yi terdapat gurun pasir yang amat luas. Di tengah-tengah gurun pasir itu, terdapat orang-orang aneh yang berkepandaian tinggi, namun mereka sama sekali tidak berhubungan dengan dunia luar Tempat tinggal mereka disebut Mo Kui Ceh Yi (Perbatasan Setan Iblis), Guru pun menceritakan tentang Mo Kui Ceh Yi berikut orang-orang aneh itu, Ternyata guru pernah berada di Mo Kui Ceh Yi hampir setengah tahun, bahkan dapat keluar dengan selamat pula."

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan merasa girang sekali mendengar itu. Sebab mereka bertiga akan mengetahui tentang Tiga iblis Mo Kui Ceh Yi. "Saudara Sie Bun!" desak Bee Kun Bu. "Cepatlah ceritakan!"

"Kalau diceritakan, sungguh panjang sekali," sahut Sie Bun Yun. "ltu tidak apa-apa," ujar Pek Yun HuL "Kami memang ingin mengetahui jelas tentang Mo Kui Ceh Yi itu."

"Seratus tahun yang lalu, ada kaum pedagang perhiasan bangsa Han. Mereka mengundang seorang pesilat Bu Lim untuk mengawal barang-barang dagangan mereka ke daerah Si Yi. Pesilat itu memang sangat terkenal, justru musufinya pun banyak-" Sie Bun Yun berhenti sejenak, lalu melanjutkan "Ketika mau berangkat, pesilat itu tahu kalau akan mengarungi gurun pasir Kalau musuh tahu dan menyerangnya, tentunya ia tidak bisa melawan karena cuma seorang diri, Karena itu, sebelum berangkat, ia menitipkan anak isteri nya secara diam- diam ke rumah mertuanya, Setelah itu, barulah ia berangkat! Akan te-tapi, kemudian ia berputar lagi ke rumah mertuanya menjemput anak isteri nya, lalu bergabung lagi dengan pedagang-pedagang perhiasan itu di Giok Bun Kwan. "

"Kemudian bagaimana?" tanya Lie Ceng Loan

"Walau mereka sekeluarga berangkat secara rahasia, tapi diketahui musuh-musuhnya juga," jawab Sie Bun Yun melanjutkan "Ketika mereka tiba di sebuah lembah, yang kini adalah Mo Kui Ceh Yi itu, musuh-musuh itu pun berhasil mengejar mereka."

"Jadi terjadi pertarungan dahsyat?" tanya Bee Kun Bu.

Tidak salah." Sie Bun Yun mengangguk "Musuh-musuh itu berjumlah tujuh orang yang berkepandaian tinggi. Maka mereka suami isteri bertempur mati-matian di lembah itu, dua lawan tujuh, pertempuran itu berlangsung hingga sehari semalam Walau sudah sama-sama teriuka, tapi pertempuran itu masih tetap berlanjut dengan sengit, Akhirnya mereka semua mati di dekat tebing. "

"Bagaimana dengan anak mereka?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Ketika pertempuran dimulai, anak itu langsung bersembunyi jawab Sie Bun Yun melanjutkan "Pada waktu itu, anak tersebut baru berusia dua belas tahun Salah seorang musuh itu adalah seorang wanita iblis, yang suaminya mati di tangan pesilat itu,

Wanita iblis itu mempunyai seorang putri yang baru berusia delapan tahun, juga dibawa serta ketika mengejar pesilat itu. Setelah sembilan orang itu mati, mereka berdua muncul dan sekaligus menangis sedih, Meskipun orang tua mereka saling bermusuhan tapi dalam hati mereka berdua tiada rasa permusuhan Kedua anak kecil itu tidak pernah meninggalkan Tionggoan, maka tidak tahu diri mereka berada di mana."

"Kasihan!" ujar Lie Ceng Loan dan bertanya, "Kemudian bagaimana dengan kedua anak kecil itu?"

"Kedua anak kecil itu berjalan tanpa arah tujuan." jawab Sie Bun Yun dan melanjutkan lagi, "Akhirnya mereka berdua menetap di lembah itu, Setelah dewasa mereka hidup sebagai suami isteri dan dikaruniai seorang putra."

"Oh! Mereka pasti hidup bahagia sekali!" ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum

"Benar." Sie Bun Yun manggut-manggut, "Mereka sekeluarga memang hidup bahagia sekali, Akan tetapi, pada suatu hari mendadak putra mereka jadi gila."

"Hah?" Lie Ceng Loan terbelalak, dan matanya pun langsung bersimbah air, "Kemudian bagaimana? Apakah putra mereka akan sembuh?"

"Mereka berdua sangat cinta dan sayang pada putranya, Maka begitu melihat putra mereka gila mendadak, mereka berdua berduka sekali, Akhirnya mereka berpikir harus pergi mencari tabib. Namun mereka tidak bisa keluar dari tempat itu, karena tempat itu dikelilingi tebing curam. Untung mereka sejak kecil sudah belajar ilmu silat, karena itu, mereka berlaku nekad memanjat tebing curam. Tapi..."

"Tapi kenapa?" tanya Lie Ceng Loan cemas. "Mereka berdua tetap tidak bisa keluar, sebab tidak berhasil memanjat tebing curam itu," jawab Sie Bun Yun. "Tentunya mereka berdua cemas sekali, Beberapa hari kemudian, terjadilah hal yang mengherankan karena anak itu sembuh mendadak, Kedua orang tuanya sangat heran, maka bertanya pada anak itu, Barulah mereka tahu bahwa anak mereka di suatu tempat mencium semacam bau, sehingga jadi gila, Bagaimana anak itu bisa sembuh sendiri, anak itu pun merasa heran.

Oleh karena itu, kedua orang tuanya tahu bahwa di tempat itu pasti terdapat binatang beracun, Maka mereka mengajak anak itu pergi ke tempat "tersebut, Tempat itu merupakan sebuah gua. Mereka berdua tidak berani langsung masuk, melainkan menangkap seekor kelinci, lalu dilempar ke dalam goa itu, Tak lama kelinci itu pun berubah gila, Mereka berdua terus menyelidik Akhirnya mereka baru tahu bahwa di dalam goa itu terdapat semacam hawa, Siapa pun yang mencium hawa itu, akan menjadi gila, Mereka pun menemukan gua lain. Dari dalam gua itu tersebar bau pedas, Siapa pun mencium bau itu, akan kehilangan tenaga murni,"

Bee Kun Bu manggut-manggut, "Setelah itu apa yang diperbuat mereka berdua?"

"Mereka berpikir ingin mengambil hawa dan bau itu, Dengan cara tertentu akhirnya mereka berhasil juga mengambilnya," Sie Bun Yun melanjutkan. "Akhirnya mereka berdua pun berpikir membuat sebuah terowohg-an yang bisa menembus ke luar

Dua puluh tahun kemudian, barulah mereka berhasil membuat terowongan itu, Kemudian mereka pun menjadi suami istert, Setelah kedua orang tua itu meninggal, wanita iblis itu semakin menggila dan mengganas, Namun masih untung ia hanya bergerak di sekitar gurun pasir saja, Maha Iblis, iblis Ke dua dan Ke tiga adalah putra putri wanita iblis itu."

itu sungguh di luar dugaan!" ujar Pek Yun Hui. " Wanita iblis itu menamakan tempat tersebut sebagai Mo Kui Ceh Yi/" tambah Sie Bun Yun, "Sedangkan kekuatan Mo Kui Ceh Yi kian hari kian meningkat, bahkan wanita iblis itu pun tahu bagaimana cara memunahkan kedua jenis racun itu."

"Obat apa yang dapat menyembuhkan orang gila karena racun itu?" tanya Pek Yun Hui mendadak.

"Guruku tidak tahu itu, sedangkan aku sendiri pun tidak berhasil menyelidikinya," jawab Sie Bun Yun sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa gurumu datang di Mo Kui Ceh Yi itu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Guruku mendengar desas-desus tentang Mo Kui Ceh Yi, maka beliau pergi ke sana untuk menyelidiki sebetulnya tempat apa Mo Kui Ceh Yi itu," jawab Sie Bun Yun memberitahukan. "Lagi pula teman guruku telah bergabung di sana, dan mengajak guruku untuk bergabung dengan Mo Kui Ceh Yi.

Guruku tergolong sesat dan lurus, karena itu guruku pun bergabung dengan nomor yang cukup tinggi, Kemudian guruku baru tahu kalau tindakan mereka itu sangat kejam. Namun guruku sendiri tidak mampu melawan mereka, sehingga akhirnya kabur Setelah itu, guruku pun langsung mengganti nama dan menjuluki dirinya sebagai Ku Ciok Sianjin."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut

"Setelah aku terluka di gunung Taysan, karena tidak mau bertemu adik Pek, maka aku pun meninggalkan gunung Taysan menuju ke gurun pasir Si Yi. Kebetulan aku melihat beberapa orang berbaju putih sedang ber-cakap-cakap, Kemudian aku menghampiri mereka, dan memberitahukan bahwa diriku juga dari golongan sesat Aku bertarung melawan kaum lurus sehingga terluka parah dan tiada tempat berteduh Sebab itu mereka membawaku ke tempat Mo Kui Ceh Yi. Pada waktu itu, aku dalam keadaan putus asa, sehingga ingin mengorbankan nyawaku demi memusnahkan Mo Kui Ceh Yi itu, Tapi setelah aku berada di sana, barulah aku tahu betapa lihaynya Tiga iblis itu. Bahkan aku pun melihat Na Locianpwee dan Kun Lun Sam Cu menjadi gila hanya karena kena kibasan lengan baju Maha Iblis, Memang lihay sekali hawa beracun itu, Walau kita sudah menutup pernafasan, tetap kena juga."

"Pantas guruku dan Kun Lun Sam Cu jadi gila!" ujar Pek Yun Hui manggut-manggut

"Sebetulnya hawa yang bisa membuat orang gila dan bau pedas yang bisa melenyapkan tenaga murni orang itu berasal dari binatang atau tumbuh-tumbuhan?" tanya Bee Kun Bu.

"Mungkin berasal dari semacam binatang," jawab Sie Bun Yun menjelaskan "Hawa dan bau pedas itu ditampung di dalam kantong kulit kambing, Namun sayangnya aku sama sekali tidak tahu obat penawar hawa yang membuat orang gila itu, Setelah aku bergabung dengan Mo Kui Ceh Yi, aku menjadi tahu bahwa Tiga iblis itu menginginkan Kui Goan Pit Cek.

Lagi pula mereka memang berniat menguasai rimba persilatan Tionggoan, maka mereka mengutus orang- orangnya pergi ke Tiong-goan untuk mencuri Kui Goan Pit Cek. Aku pun ingin kabur untuk menyampaikan berita ini pada kalian, tapi kalian justru telah menyelinap ke dalam Mo Kui Ceh Yi."

"Atas pertolongan Saudara, kami sungguh berterima- kasih!" ucap Bee Kun Bu.

"Kalau saudara Bee mengucapkan demikian, kita malah akan merasa asing," sahut Sie Bun Yun sambil tertawa.

"Maaf, saudara Sie Bun!" Bee Kun Bu tersenyum. "Heran!" ujar Pek Yun Hui setelah berpikir sejenak

"Apakah benar Tiga iblis itu masih mempunyai ayah? Tapi kenapa ayah mereka tidak berada di Mo Kui Ceh Yi?" "Eh?" Sie Bun Yun tampak tereengang "Bagaimana Nona bisa tahu itu?"

"Begitu. ," Tutur Pek Yun Hui tentang omong kosongnya

itu, sebaliknya malah benar adanya.

Sie Bun Yun manggut-manggut sambil tersenyum "Aku justru masih merasa heran, kenapa Tiga iblis mendadak meninggalkan Mo Kui Ceh Yi, ternyata karena akalmu!"

"Engkau tahu tentang ayah mereka?" tanya Pek Yun Hui. "Sebenarnya ayah mereka sudah lama meninggalkan Mo

Kui Ceh Yi, hingga kini tidak pernah pulang, Mereka sudah

mati atau masih hidup tiada seorang pun mengetahui nya," jawab Sie Bun Yun. .

"Kalau begitu. " ujar Pek Yun Hui. "Maha iblis dan iblis Ke

dua pasti berangkat ke Thai Ouw."

"Benar." Sie Bun Yun mengangguk "Mereka berdua masih tidak tahu iblis Ke tiga sudah mati. Maka alangkah baiknya kalau kita juga berangkat ke Thai Ouw menyusul mereka."

"Kita semua bukan tawan mereka, untuk apa kita menyusul ke sana?" tanya Pek Yun Hui.

"Kupikir mereka melakukan perjalanan jauh, tentunya hanya membawa sedikit racun itu. Kalau kita dapat membuat mereka menghabiskan racun itu, bukankah kita akan bisa mengalahkan mereka?" sahut Sie Bun Yun.

"Benar." Lie Ceng Loan tertawa sambil bertepuk-tepuk tangan "ltulah akal yang jitu, Ayohf Mari kita berangkatl"

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk

Mereka berempat langsung pergi ke Giok Bun Kwan, Namun tidak beristirahat di situ, hanya membeli makanan kering, lalu melanjutkan perjalanan lagi menuju Thai Ouw.,.

Setelah tiba di daerah Ho Lam, mereka berempat sama sekali tidak mendengar berita tentang Maha iblis dan iblis Ke dua. Oleh karena itu mereka merasa heran, Karena tidak mungkin ke dua iblis itu tidak menanyakan jalan pada orang, sedangkan ke dua iblis itu tidak pernah memasuki Tionggoan. Bagaimana mungkin mereka tahu jalan menuju Thai Ouw?

Tentunya mereka sepanjang jalan harus bertanya pada orang.

Sebab itu, mereka berempat merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun tetap menuju ke Thai Ouw.

Hari itu, mereka berempat sudah menyeberang Tiang Kang (Cang Ciang) menuju Kang Lam. kebetulan saat itu musim semi, maka betapa indahnya daerah Kang Lam itu, Kang Lam memang tersohor akan panorama dan wanita cantiknya. Kaum wanita di daerah Kang Lam sangat lembut dan ramah tamah serta cantik jelita, Hawa udara di sana pun menyegarkan di musim semi.

Malam harinya, mereka berempat menginap di kuil Kim San Si, Hari berikutnya mereka berempat sudah melanjutkan perjalanan lagu Kemudian mereka tiba di kota Ceng Kang dan sekaligus membeli empat ekor kuda.

Kini mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda, Setelah meninggalkan kota Ceng Kang kira-kira belasan mil kemudian, mereka mendengar suara derap kaki kuda di belakang.

Mereka berempat segera menoleh, tampak dua ekor kuda berlari kencang ke arah depan. Agar tidak menghalangi kuda- kuda itu, maka mereka berempat menghentikan kuda masing- masing di pinggir jalan.

Akan tetapi, kedua ekor kuda itu mendadak berhenti dan salah seorang langsung meloncat turun sambil menjura ke arah mereka.

"Maaf" ucap orang itu lalu bertanya, "Yang mana Bee siauhiap?"

Bee Kun Bu tertegun Orang itu menanyakan dirinya, namun ia tidak kenal mereka, Karena sikap orang itu sangat sopan, Bee Kun Bu pun menyahut "Aku Bee Kun Bu. Siapa kalian berdua?"

"Kami anak buah Tee Ju Liong, Hari ini kami memperoleh berita bahwa ada empat orang akan melewati tempat ini.

Salah seorang mirip Bee siauhiap, maka Tee Ju Liong mengutus kami ke mari untuk mengundang Bee siauhiap ke tempat tinggalnya."

Barulah Bee Kun Bu tahu kalau orang itu anak buah Tee Ju Liong, yaitu kepala cabang ekspedisi Thian Liong.

Terhadap Tee Ju Liong, Bee Kun Bu memang terkesan baik. Walau Tee Ju Liong adalah kepala cabang ekspedisi Thian Liong, namun ia orang jujur dan bersih dari segala kejahatan

Kalau tiada urusan penting, Bee Kun Bu pasti mampir di tempat tinggal Tee Ju Liong, Namun berhubung kini harus melanjutkan perjalanan ke Thai Ouw, maka ia terpaksa menolak

"Terimakasih atas undangan Tee Ju Liong, tapi aku sedang punya urusan penting, maka lain kali saja aku akan mengunjunginya."

"Bee siauhiap!" bisik salah seorang itu. Tee Ju Liong, bilang baru-baru ini dia menemukan suatu urusan aneh, dan harus diberitahukan pada Bee siauhiap."

Hati Bee Kun Bu tergerak mendengar ucapan orang itu.

Pek Yun Hui pun segera bertanya pada kedua orang itu "Kalau begitu, kenapa dia tidak datang ke sini?"

"Justru dikarenakan urusan aneh itu M Kedua orang itu

memberi hormat pada Pek Yun Hui. "Mendadak tenaga murninya lenyap, maka dia tidak bisa ke mari, sehingga harus mengutus kami."

Sie Bun Yun, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tertegun mendengar ucapan itu, dan mereka saling memandang. "Dia berada di mana, harap kalian berdua harus menunjukkan jalan!" ujar Bee Kun Bu.

"Mari ikut kami!" Orang itu meloncat ke punggung kuda, Mereka lalu kembali ke kota Ceng Kang lagi.

Tak lama mereka sudah memasuki kota tersebut, kemudian mengambil arah timur Setelah melewati beberapa tikungan, sampailah mereka di suatu tempat yang agak sepi, dan melihat sebuah rumah besar di situ.

Mereka menuju ke rumah tersebut dan berhenti di depan pintu, Sesaat kemudian muncullah seseorang menyambut mereka.

"Bee siauhiap sudah datang?" tanya orang itu.

"Sudah, Majikan berada di mana?" sahut salah seorang utusan.

"Majikan berada di halaman belakang sedang menunggu Bee siauhiap." Orang itu memberitahukan

Kedua orang utusan itu segera meloncat turun dari punggung kuda, lalu menjura pada Bee Kun Bu seraya berkata.

"Harap kalian berempat turun, silakan ke halaman belakang menemui majikan kami!"

Bee Kun Bu langsung meloncat turun, begitu pula yang lainnya, Pek Yun Hui segera berbisik

"Kun Bu, menurut pendapatmu, apakah ini merupakan suatu jebakan bagi kita?"

"Suatu jebakan?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.