Bangau Sakti Jilid 36

 
Jilid 36

Co Hiong berkelit ke samping, sehingga serangan Souw Peng Hai meleset lagi, Souw Peng Hai menggeram, kemudian terkulai dengan wajah pucat pias berlumuran darah.

"Aaaakh.,.!" keluh Souw Peng Hai dengan nafas memburu dan melemah, "Kenapa... kenapa engkau tega turun tangan jahat terhadapku? Kenapa.,.?"

Terus terang," sahut Co Hiong sambil tersenyum manis, "Aku sendiri pun tidak tahu."

Betapa bencinya Souw Peng Hai. Dari kecil ia merawat sekaligus membimbing Co Hiong dengan ilmu silat tinggi, menyayangi dan memanjakannya. Namun tidak sangka sama sekali, hari ini ia akan mati di tangan murid kesayangannya itu. Ketika Co Hiong bertindak jahat terhadap orang lain, ia memang gembira sekali, tidak menduga kalau dirinya sendiri juga akan mengalami hal yang serupa.

"Aaakh...!" Souw Peng Hai menghela nafas, "Aku... aku tidak akan mati penasaran Aku yang membesarkanmu juga membimbingmu! Yaaaah! Kini.,., kini aku cuma punya satu permintaan, harap engkau mengabulkannya !"

"Permintaan apa?" Co Hiong tertawa lebar "Beritahukanlah!" "Setelah aku mati... janganlah engkau turun tangan jahat terhadap anak isteriku!"

"Anak isterimu?" Co Hiong tersenyum manis.

"Anak Hiong. " Suara Souw Peng Hai makin lemah.

"Aku. aku menyayangimu dari kecil hingga kini, kabulkanlah

permintaanku ini!" .

"Guru!" Co Hiong tertawa panjang. "Bukankah Guru selalu memberi nasihat padaku, bahwa membabat rumput harus sampai ke akar-akarnya?"

"Engkau.,, engkau. H Souw Peng Hai berusaha

menyerang Co Hiong dengan tenaga terakhirnya.

Akan tetapi Co Hiong pun mengayunkan tangannya menyambitkan beberapa jarum sakti ke arah tenggorokan Souw Peng Hai.

Cess! Cessss! Tenggorokan Souw Peng Hai tertembus jarum-jarum sakti.

"Engkau. " Souw Peng Hai terkulai Gleeek!

Nafasnya putus seketika, ia mati dengan mata melotot, seakan amat penasaran sekali, sebab Co Hiong masih mau turun tangan jahat terhadap anak isterinya yang ada di kuil Yang Sim Am.

Siapa akan menyangka kalau akhirnya Souw Peng Hai mati di tangan murid kesayangannya sendiri Kalau ia hidup tenang di kuil Yang Sim Arn bersama anak isterinya, tentu tidak akan mati begitu mengenaskan. Mungkin itu merupakan hukuman bagi dirinya.

Setelah melihat Souw Peng Hai mati, Co Hiong sama sekali tidak merasa berduka, sebaliknya wajahnya malah tampak berseri-serl Dulu orang aneh di dalam gua yang menurunkan ilmu silat tinggi padanya, juga dibunuhnya, Maka kini membunuh Souw Peng Hai, itu boleh dikatakan merupakan hal biasa baginya. Co Hiong mendekati mayat Souw Peng Hai, Ternyata ia mengambil sesuatu dari dalam baju sang guru, lalu menendang mayatnya ke sudut gua.

Sambil bersiuI-siu! Co Hiong mendekati pagoda batu yang telah roboh itu. Mendadak ia berseru girang, karena pintu ke tujuh telah terbuka, ia segera menjulurkan tangannya merogoh ke dalam.

Co Hiong merasa tangannya menyentuh sebuah benda, lalu dikeluarkannya benda itu cepat-cepat, Ternyata sebuah kotak kecil Kotak tersebut tertutup rapat, namun di bagian tutupnya terdapat sebuah lubang kecil

Co Hiong bersorak dalam hati ia segera mengeluarkan dua potong Pit Giok Cak, lalu dimasukkannya ke lubang kotak.

Kreeek! Kotak itu terbuka.

Co Hiong melihat isinya, wajahnya tampak girang sekali, bahkan ia sempat berjingkrak-jingkrak sejenak

Ternyata kotak itu berisi sebuah kitab tipis sebesar telapak tangan, Di atas kitab tersebut terdapat beberapa baris tulisan, Co Hiong segera membacanya ternyata tulisan itu berbunyi:

Sudah lama mendengar tentang Thian Kie Cinjin di gunung Kwat Cong San berkepandaian amat tinggi Aku merasa tidak puas dan mengambil keputusan untuk bertarung dengannya.

Di dalam kitab tipis ini memuat seluruh kepandaianku Kalau aku kalah bertarung, siapa yang berjodoh memperoleh kitab ilmu silatku, haruslah belajar dengan tekun, agar bisa bertarung dengan Thian Kie cinjin lagi demi menebus kekalahanku.

Seandainya Thian Kie Cinjin sudah tiada, harus cari muridnya untuk bertarung, Kalahkan mereka dalam tiga jurus, agar mereka tahu kepandaianku tiada duanya di kolong Langit!

Tiada tanda tangan di situ, Namun itu pasti tulisan Sam Im Sin Ni. Walau Sam Im Sin Ni berkepandaian amat tinggi, tapi hatinya sempit sekali, Kalau tidak, bagaimana mungkin ia menulis begitu dan meninggalkan seluruh kepandaiannya di dalam kitab tipis tersebut

Akan tetapi, memang sungguh di luar dugaan, Dia bertarung dengan Thian Kie Cinjin hingga beberapa hari beberapa malam, tiada yang kalah dan yang menang, bahkan akhirnya sama-sama terluka.

Setelah terluka, mereka berdua bersepakat untuk menciptakan suatu ilmu silat, yakni Kui Goan Pit Cek, yang kemudian amat menggemparkan rimba persilatan, dan menimbulkan banjir darah.

Sam Im Sin Ni sama sekali tidak menduga, kalau kitab tipis yang memuat seluruh kepandaiannya, justru akan jatuh ke tangan orang yang berhati licik dan amat jahat.

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, kemudian mengambil kitab tipis itu dan membukanya selembar demi selembar

Dulu Co Hiong pernah belajar sedikit mengenai ilmu silat Sam Im Sin Ni. ia merasa ilmu silat itu amat tinggi, Kini setelah membaca kitab tipis itu, barulah ia tahu, itu cuma merupakan kulit kepandaian Sam Im Sin Ni

Co Hiong yakin, tiga tahun kemudian setelah mempelajari semua ilmu silat yang ada di dalam kitab tipis itu, ia pasti berubah menjadi pesilat tanpa tanding di rimba persilatan Dua wanita Kwat Cong San juga tidak dalam matanya.

"Ha ha ha.,.!" Co Hiong tertawa terus saking girang-nya. Pada waktu bersamaan terdengarlah suara Na Siao Tiap di luar gua.

"Co Hiong! Kalau engkau tidak keluar, selamanya engkau akan berada di dalam gua ini! janganlah engkau bergirang!"

Begitu mendengar suara Na Siao Tiap, tergetarlah sekujur badan Co Hiong, bahkan kotak yang berisi kitab tipis itu pun terlepas dari tangannya. Bagaimana Co Hiong tidak gembira? Kini ia telah memperoleh jarum sakti, kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni dan panji Partai Thian Liong, maka tidak heran kalau ia terus- terusan tertawa.

Namun begitu suara Na Siao Tiap mengalun ke dalam, Co Hiong menjadi terkejut sekali, ia tahu, Na Siao Tiap pasti terus menjaga di luar gua. Bagaimana mungkin ia bisa keluar? otomatis ia akan mati kelaparan dan kehausan di dalam gua.

seandainya begitu, pereuma ia memperoleh jarum sakti, kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni dan panji itu. Berpikir sampai di sini, wajah Co Hiong berubah menjadi murung.

Tapi ia banyak akal, tentunya tidak akan putus asa. ia terus mencari akal agar bisa meninggalkan gua tersebut Semula ia mengambil keputusan untuk mempelajari ilmu yang tereantum di dalam kitab tipis itu beberapa hari, lalu keluar bertarung dengan Na Siao Tiap, Namun kemudian keputusan itu dibatalkannya, karena ia tahu Na Siao Tiap telah mempelajari Kui Goan Pit Cek, sudah pasti dirinya masih belum mampu melawan Na Siao Tiap.

Co Hiong berjalan ke sana ke mari mencari jalan ke luar di dalam gua, namun tidak menemukannya, sehingga keringat dinginnya mulai mengucur

"Co Hiong!" Terdengar lagi suara Na Siao Tiap, "Engkau dan gurumu telah banyak melakukan kejahatan Engkau tidak menyangka kalau hari ini akan terkurung di dalam gua kan?"

Ketika mendengar ucapan Na Siao Tiap, hati Co Hiong tergerak, karena gadis itu masih tidak tahu kalau Souw Peng Hai telah mati di tangannya, Mungkin ke adaan ini bisa memanfaatkan agar dirinya dapat lolos Pikir Co Hiong.

Setelah berpikir demikian, Co Hiong manggut-mang-gut seakan sudah mengambil suatu keputusan ia talu menggenggam jarum sakti, dan memanggui mayat Souw Peng Hai. Setelah Panji Thian Liong dan kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni disimpan baik-baik di dalam bajunya barulah Co Hiong melangkah menuju pintu batu.

"Nona Na!" ujar Co Hiong sambil tertawa gelak, "Engkau masih menjaga di depan gua?"

Ketika mendengar suara Co Hiong, Na Siao Tiap tertegun, ia tidak menyangka kalau Co Hiong masih berani bersuara.

Tentu!" sahut Na Siao Tiap, "Kalau engkau tidak mau mati kelaparan di dalam gua, cepatlah ke luar agar bisa mati di tanganku!"

"He he!" Co Hiong tertawa terkekeh-kekeh. "Nona Na, engkau akan sia-sia menunggu di situ!"

"Kenapa?" Suara Na Siao Tiap bernada heran.

Co Hiong girang karena Na Siao Tiap bertanya demikian, ia memang menghendaki pertanyaan tersebut

"Aku telah menemukan sebuah jalan rahasia, Maka aku ke mari memberitahukan, agar engkau terus menjaga di situ!" sahut Co Hiong, "Jangan ke mana-mana!"

Usai berkata begitu, Co Hiong tertawa gelak sambil mengecilkan suaranya, sehingga kedengarannya seakan-akan semakin jauh.

Na Siao Tiap tertegun seketika, ia mengira Co Hiong mulai pergi meninggalkan gua melalui jalan rahasia.

Kalau Co Hiong telah menemukan jalan rahasia untuk meninggalkan gua itu, apa gunanya ia terus menjaga di situ? Pikir Na Siao Tiap, Akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu.

Na Siao Tiap melesat pergi, tapi mendadak berhenti sambil mengerutkan kening, ia tahu jelas bahwa Co Hiong amat licik dan banyak akal busuk, Kalau dia telah menemukan jalan rahasia, kenapa tidak langsung pergi, tapi malah memberitahukan padanya dulu? itu pasti ada sebab musababnya. Setelah berpikir begitu, Na Siao Tiap langsung bersembunyi di balik sebuah batu.

sementara Co Hiong yang berada di dalam gua juga sudah berhenti tertawa, kemudian memasang kuping mendengar keadaan di luar dengan penuh perhatian Tidak ada suara Na Siao Tiap lagi.

Seandainya saat ini yang menjaga di luar bukan Na Siao Tiap, melainkan Lie Ceng Loan atau Bee Kun Bu, Co Hiong pasti sudah ke luar, Sebab Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu gampang ditipu.

Akan tetapi, sekarang Na Siao Tiap yang menjaganya.

Gadis itu berkepandaian tinggi dan sulit ditipu, Oleh karena itu tidak heran kalau Co Hiong ciut nyali nya.

Walau tiada suara apa pun di luar, namun Co Hiong masih tidak berani menggeserkan batu yang mengganjel pintu batu, ia tetap menunggu dengan sabar agar dapat memastikan Na Siao Tiap sudah pergi.

Na Siao Tiap yang bersembunyi di balik batu pun tetap diam, dan terus menunggu, Sehingga Na Siao Tiap mengira Co Hiong telah pergi melalui jalan rahasia.

itu membuat Na Siao Tiap berpikir kalau Co Hiong dapat meloloskan diri, memang sungguh sayang sekali, Tapi ia pun ragu akan keberadaan Co Hiong di dalam gua, Karena itu, timbullah suatu ide dalam benaknya, Alangkah baiknya menaruh piepanya di depan gua, Kalau Co Hiong melihat alat musiknya itu, tentunya ia tidak berani meninggalkan gua, karena mengira Na Siao Tiap masih berada di situ, Apabila Co Hiong sudah pergi melalui jalan rahasta, bukankah dia bisa pergi men carinya?

Na Siao Tiap menganggap idenya itu sangat tepat, maka ia ke luar dari tempat persembunyian nya, lalu menaruh piepanya di depan gua.

Ketika baru mau melesat pergi, mendadak ia mendengar suara "Krek" di pintu batu itu, Hati Na Siao Tiap tersentak sambil melesat pergi, sehingga tidak sempat mengambil piepanya.

Gadis itu girang sekali, karena mengetahui Co Hiong masih belum meninggalkan gua, Tadi dia cuma omong kosong untuk menipunya.

Na Siao Tiap bersembunyi di balik sebuah batu, sedangkan pintu batu itu sudah terbuka sedikit Tak lama kemudian tampak sebuah kepala menjulur ke luar, Ke-pala itu menengok ke sana ke mari, tetapi lalu masuk lagi.

Berselang beberapa saat, kepala itu menjulur ke luar lagi, lalu tampak sosok bayangan melesat ke luar.

"Mau kabur ke mana?" bentak Na Siao Tiap sambil melancarkan pukulan ke arah sosok bayangan

pukulannya disertai dengan Toa Pan Yok Sin Kang, Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan tersebut

Bumm! Orang itu terpukul jatuh menghantam sebuah batu.

Na Siao Tiap segera melesat ke arahnya, Orang itu ternyata Souw Peng Hai, Tenggorokan dan sekujur badan Souw Peng Hai berlumuran darah, Keadaan itu membuktikan bahwa kematiannya bukan karena pukulan Na Siao Tiap, Maka tidak heran kalau gadis itu sangat kebingungan

Mendadak Na Siao Tiap tersentak sadar, bahwa dirinya telah tertipu. Gadis itu segera menoleh, tampak sosok bayangan sedang melesat ke atas, Na Siao Tiap tahu, itu pasti Co Hiong, tidak mungkin orang lain.

Oleh karena itu, tanpa menghiraukan piepanya lagi, ia langsung melesat menggunakan ginkang mengejar Co Hiong, Ginkang Na Siao Tiap masih di atas Co Hiong, maka dalam waktu sekejap, Na Siao Tiap sudah hampir menyusulnya.

Serrt! Serrrt! Serrrt! Co Hiong terus melesat ke atas. Tak seberapa lama kemudian, mereka berdua sudah berada di atas, Co Hiong terus melesat pergi, dan Na Siao Tiap tetap mengejarnya, Tiba-tiba Na Siao Tiap mengerahkan ilmu ginkang Ling Khong Sih Tou (Terbang Di Angkasa) mengarah pada punggung Co Hiong sambil menjulurkan tangan nya.

Tiba-tiba Co Hiong berkelit ke samping sambil mengayunkan tangannya, Tampak cahaya keemasan meluncur ke arah Na Siao Tiap.

Walau gadis itu berkepandaian tinggi, tapi tidak tahu benda apa yang meluncur ke arahnya, ia cuma tahu dari tangan Co Hiong dan merasa ada sedikit hawa dingin.

Na Siao Tiap terkejut, kemudian secepat kilat meloncat mundur Ketika ia meloncat mundur, barulah melihat jelas bahwa benda itu ternyata jarum sakti.

ia pun segera memandang ke arah Co Hiong. Ter-nyata tangan Co Hiong telah menggenggam sebatang jarum emas sepanjang pedang, hanya saja bentuknya bulat menyerupai jarum biasa.

Pada saat Na Siao Tiap memandang ke arahnya, disaat itu pula Co Hiong melesat pergi.

Na Siao Tiap tertawa dingin. Tiba-tiba Co Hiong mengayunkan tangannya, Tampak tiga buah gelang emas meluncur ke arah Na Siao Tiap, Gadis itu segera mengibaskan lengan bajunya, Ke tiga buah gelang emas terpukul jatuh. Na Siao Tiap langsung melesat sekaligus menendang ke tiga buah gelang emas yang jatuh itu. Ke tiga buah gelang emas meluncur secepat kilat ke arah Co Hiong yang sedang melesat pergi.

Co Hiong sudah mendengar suara senjatanya sendiri, maka tanpa menoleh ia menyambitkan jarum saktinya ke arah gelang emas.

Trang! Trang! Trang! Ke tiga gelang emas terpukul kesamping. Ketika menendang ke tiga buah gelang emas Na Siao Tiap mengerahkan seluruh tenaganya. Maka walau berhasil menangkis ke tiga buah gelang emas itu, tangan Co Hiong pun merasa ngilu, otomatis membuat langkahnya jadi Iamban.

Tepat di saat bersamaan, terdengar suara bentakan Na Siao Tiap yang amat nyaring, Co Hiong tahu, bahwa Na Siao Tiap sudah mendekat, sehingga membuatnya nyaris putus asa.

Mendadak terdengar ringkikan kuda yang amat nya-ring, Begitu mendengar suara ringkikan kuda Co Hiong menjadi bersemangat ia melesat lebih cepat ke arah suara ringkikan kuda itu.

sementara Na Siao Tiap masih tertinggal beberapa depa, Namun gadis itu segera mengerahkan ilmu ginkang Ling Khong Sih Tou (Terbang Di Angkasa), Pada waktu hersamaan, ia melihat sosok bayangan berlari laksana terbang menuju ke arah Co Hiong, itulah Ciak Hun Tui Hong Sin Kou (Kuda Sakti) milik Co Hiong.

Ketika melihat kuda sakti hati Na Siao Tiap gusar bukan main, Ketika kuda sakti mendekat, Na Siao Tiap langsung melancarkan sebuah pukulan ke arahnya.

Di saat pukulan itu hampir mengena badannya tiba-tiba kuda sakti meringkik keras sambil meloncat ke samping, Bukan main, ternyata kuda sakti dapat mengelak pukulan Na Siao Tiap.

justru pada saat hersamaan, Co Hiong melesat ke atas kuda sakti, Begitu melihat Co Hiong berada di punggung kuda sakti, Na Siao Tiap tahu, bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengejarnya Iagi. Maka seketika juga ia melancarkan beberapa pukulan ke arah kuda Co Hiong, Akan tetapi, pukulan-pukulannya menghantam tempat kosong, karena kuda sakti telah melesat pergi laksana kilat Tiba-tiba Na Siao Tiap bersiul panjang beberapa kali, ternyata Na Siao Tiap memanggil Hian Giok. KebetuIan Hian Giok sedang terbang di angkasa mencari Na Siao Tiap, Begitu mendengar suara siulan itu, Hian Giok menyahut dengan pekikan keras sambil meluncur ke arah Na Siao Tiap.

Sebelum Hian Giok hinggap di tanah, Na Siao Tiap sudah melesat ke punggungnya, dan Hian Giok langsung terbang ke atas.

Na Siao Tiap memandang ke bawah, hanya tampak hutan rimba dan lembah, tidak tampak kuda sakti, Pada hal Hian Giok terbang ke arahnya, itu cuma memakan waktu sedikit, bagaimana mungkin kuda sakti itu telah lari begitu jauh?

Gadis itu penasaran sekali, ia lalu menepuk leher Hian Giok beberapa kali, agar Hian Giok terbang berputar-putar di sekitar tempat tersebut Hian Giok me nurut, lalu berputar-putar di atas sekitar tempat itu.

Tak seberapa lama kemudian, Na Siao Tiap melihat sosok bayangakan melesat cepat ke arah Timur. Tidak salah lagi, itulah kuda sakti milik Co Hiong, Sebab tampak pula sosok bayangan di atas punggungnya.

Na Siao Tiap girang bukan main. ia lalu menepuk leher Hian Giok sekali, Hian Giok langsung meluncur kt arah kuda sakti yang sedang berlari laksana kilat

"Cepat kejar!" Seru Na Siao Tiap sambil menunjuk ke arah kuda sakti itu.

Hian Giok memekik keras, lalu terbang secepatnya ke arah kuda sakti yang sedang lari kencang.

Berselang beberapa saat kemudian, Hian Giok telah berhasil menyusul kuda sakti, Namun kuda itu memasuki sebuah rimba, sehingga luput dari pandangan Na Siao Tiap.

Hian Giok tidak bisa turun, karena rimba itu penuh pepohonan. "Cepat terbang ke atas! Cepaat!" seru Na Siao Tiap.

Hian Giok langsung terbang ke atas, Na Siao Tiap memandang ke bawah, tak lama tampaklah kuda sakti di sebelah barat, tetap tampak sosok bayangan di atas punggung kuda.

"Kejar!" seru Na Siao Tiap.

Hian Giok terbang secepatnya mengejar kuda sakti, Na Siao Tiap tampak gembira, sebab kuda sakti telah ke luar dari rimba, Kuda sakti terus lari laksana kilat Hian Giok pun terbang secepat kilat mengejarnya.

Tak seberapa lama kemudian, Hian Giok berhasil mendekati kuda sakti, sekaligus menukik ke bawah, Kuda sakti meringkik keras, sedangkan Hian Giok memekik mengguntur lalu mencengkeram sosok yang ada di punggung kuda sakti, Sosok itu terjatuh ke bawah, Giranglah hati Na Siao Tiap.

Akan tetapi, kuda sakti masih terus berlari laksana kilat Na Siao Tiap menyadari adanya gelagat tidak beres, Sebab tidak mungkin kuda sakti meninggalkan majikannya. Meskipun demikian, Na Siao Tiap tetap meloncat turun.

Ketika melihat sosok itu, wajah Na Siao Tiap tampak gusar sekali, sebab yang terjatuh ternyata pakaian Co Hiong yang diganjel dahan pohon, Na Siao Tiap tidak menyangka kalau Co Hiong dapat menipu nya dengan cara itu.

Co Hiong tidak bersama kuda sakti, tentunya tidak bisa pergi jauh, Pikir Na Siao Tiap, ia segera meloncat ke punggung Hian Giok, maksudnya ingin mencari Co Hiong. Walau Hian Giok sudah berputar-putar di sekitar tempat itu, namun sama sekali tidak tampak bayangan Co Hiong.

Memang sulit mencarinya, sebab Co Hiong bisa bersembunyi di suatu tempat yang tak dapat dilihat dari atas.

Karena tidak menemukan Co Hiong, akhirnya Na Siao Tiap menyuruh Hian Giok turun ke dasar telaga kering. sesampainya di tempat itu, ia mengambil pie-panya, lalu memasuki gua Sam Im Sian Hu, namun di dalam gua sudah tidak ada apa-apa lagi.

Na Siao Tiap mengambil keputusan, bahwa akan terus mencari Co Hiong, Di saat itu pula ia teringat akan Lie Ceng Loan, dan tidak tahu Lie Ceng Loan sudah ke mari belum?

Setelah berpikir begitu, Na Siao Tiap segera kembali ke istana Pit Sia Kiong untuk menemui Lie Ceng Loan, sesampainya di reruntuhan istana tersebut, ia tidak melihat gadis itu.

Na Siao Tiap tereengang dan khawatir Lie Ceng Loan berkeluyuran ke dalam rimba akan bertemu Co Hiong, Karena itu, ia segera pergi mencari gadis itu bersama Hian Giok, Na Siao Tiap tidak tahu, kalau saat ini Lie Ceng Loan berada di sebuah gua.,..

Bagian ke lima puluh tiga Cinta Membara

Setelah mendengar suara Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu, Lie Ceng Loan berjalan memasuki gua itu perlahan-lahan. Tak seberapa lama kemudian, suara Kim Hun Tokouw terdengar makin jelas.

"Biar bagaimanapun, kita tetap akan hidup dan mati bersama!" suara Kim Hun Tokouw dan setelah itu terdengar pula suara tawa terkekeh-kekeh.

Begitu mendengar suara itu, Lie Ceng Loan tahu sudah semakin mendekat pada Kim Hun Tokouw, ia maju lagi beberapa depa, tampaklah sinar remang-remang.

Lie Ceng Loan langsung berhenti sepasang matanya mengarah ke depan, melihat sebuah lampu minyak berada di atas sebuah batu besar. Selain lampu minyak, ia pun melihat seseorang berbaring di atas batu itu, punggung orang itu menghadap ke depan, mukanya menghadap ke dalam.

Oleh karena itu, Lie Ceng Loan tidak tahu siapa orang itu, Lagipula lampu minyak itu menyala remang-remang, Namun ia yakin, bahwa orang itu lelaki Kim Hun Tokouw berdiri di hadapan orang itu, wajahnya masih bernoda darah dan di keningnya terdapat bekas luka.

Betapa menakutkan wajahnya tersorot sinar yang remang- remang. Padahal Kim Hun Tokouw tergolong wanita cantik.

Namun saat ini wajahnya telah menyerupai setan iblis, Diam- diam Lie Ceng Loan menarik nafas panjang.

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa lagi, "Engkau menghadapku dengan punggungmu Bisakah selamanya tidak melihat diriku? He he! Aku tidak mau tahu engkau cinta atau benci padaku, tapi yang jelas seumur hidup engkau akan berhadapan denganku, tidak bisa bersama Lie Ceng Loan lagi!"

Lie Ceng Loan tereengang, Kenapa mendadak Kim Hun Tokouw menyinggung namanya? Lagipula ia tidak tahu siapa orang yang berbaring itu, kenapa Kim Hun Tokouw mengatakan orang itu tidak bisa bersamanya lagi? Lie Ceng Loan sungguh tidak habis berpikir

Mendadak orang itu membalikkan badannya menghadap Kim Hun Tokouw dan kebetulan juga menghadap Lie Ceng Loan.

Wa!au remang-remang, namun Lie Ceng Loan masih dapat melihat jelas muka orang itu. seketika juga ia terbelalak dengan mulut ternganga lebar, dan sekujur badannya menjadi panas dingin.

Ternyata yang terbaring itu seorang pemuda yang amat tampan, hanya saja wajahnya tampak muram sekali, Lie Ceng Loan mengenalinya. Pemuda itu ternyata Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu? Bukankah Lie Ceng Loan telah menyaksikannya mati dibakar di dalam ruang kaca? Tapi kini kok masih hidup? itu membuat hati gadis tersebut terkejut dan girang, ia berdiri tertegun di tempat tanpa mengeluarkan suara. "Hm!" dengus Bee Kun Bu dingin, "Lam Kiong Siu, kini engkau telah berubah jadi begini, itu sungguh karena dosamu sendiri!" ujarnya.

Begitu mendengar suara Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan tidak dapat menahan tangisnya, bahkan langsung menerjang ke arah Bee Kun Bu.

Tangisnya amat mengejutkan Kim Hun Tokouw dan Bee Kun Bu, Kim Hun Tokouw segera menoleh. ia seperti kehilangan sukma ketika melihat Lie Ceng Loan menerjang ke arah Bee Kun Bu.

Saat ini, dalam hati Lie Ceng Loan cuma ada Bee Kun Bu. Walau Kim Hun Tokouw berdiri di dekatnya, namun gadis itu kelihatan tidak merasa akan keberadaannya.

Air muka Kim Hun Tokouw langsung berubah, ia mengelak ke samping, Kemudian sambil tertawa dingin, ia menyentilkan jari tengahnya, Tampak tiga batang jarum halus meluncur ke arah Lie Ceng Loan.

sedangkan Lie Ceng Loan yang sudah berada di depan batu besar tempat Bee Kun Bu terbaring itu, sama sekali tidak mengetahui kalau punggungnya telah menjadi sasaran tiga batang jarum halus, sementara Kim Hun Tokouw masih tertawa dingin.

Bagaimana Bee Kun Bu masih hidup? Padahal Lie Ceng Loan telah menyaksikan kematiannya yang amat mengenaskan, yakni dibakar hidup-hidup di atas tungku sampai mati. Akan tetapi, kenapa saat ini ia justru berbaring di batu itu? Ternyata ada sebab musababnya. 

Setelah Bee Kun Bu ditangkap dan dikurung, tak lama muncullah gadis berbaju hijau yang diperalat Co Hiong, Gadis berbaju hijau itu menyuruh Bee Kun Bu menulis sepucuk surat untuk Lie Ceng Loan, sesuai dengan pesan Co Hiong. Bee Kun Bu mengira gadis berbaju hijau itu sebaik gadis berbaju hijau yang pernah menolongnya, maka tanpa bereuriga ia pun menulis.

Setelah gadis itu pergi dengan membawa surat tersebut tak lama muncullah gadis berbaju hijau lain sambil tertawa- tawa.

Tuan Bee, Kiong Cu mengundangmu," ujarnya.

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Aku sudah ditangkap dan dikurung di sini, kenapa masih harus mengucapkan "Undang" padaku?"

Tuan Bee!" Gadis berbaju hijau tertawa cekikikan, "Jangan marah-marah, setelah bertemu Kiong Cu, engkau pasti tidak marah-marah lagi."

"Jangan banyak omong kosong di sini!" bentak Bee Kun Bu gusar

Tuh!" Gadis berbaju hijau tertawa cekikikan lagi, "Ayolah!

Kiong Cu sedang menunggumu."

sepasang kaki Bee Kun Bu masih tidak bertenaga, karena itu dia diam saja.

Gadis berbaju hijau tersenyum ia membuka pintu kurungan lalu bertepuk tangan tiga kali. Tak !ama muncullah dua gadis berbaju hijau lain, kemudian menggotong Bee Kun Bu pergi.

Bee Kun Bu merasa heran, kenapa Kim Hun Tokouw menyuruh gadis-gadis itu membawanya menemui Kim Hun Tokouw itu? Tentang Bee Kun Bu dibawa pergi, juga diketahui Kuang Ti Taysu, Gin Tie Suseng dan Giok Siauw Sian Cu.

Akan tetapi, setelah Bee Kun Bu dibawa pergi, justru tidak kembali ke dalam penjara itu lagi, Apa yang dialami Bee Kun Bu, mereka bertiga sama sekali tidak menge~ tahuinya.

Ketika Kun Bu dibawa pergi, Kun Bu ingin melancarkan pukulan terhadap gadis-gadis itu. Namun mengingat akan budi pertolongan salah seorang gadis berbaju hijau yang telah mengorbankan nyawanya, maka Bee Kun Bu merasa tidak tega turun tangan jahat terhadap gadis-gadis itu. LagipuIa mereka menuruti perin-tah, jadi apa gunanya membunuh mereka yang tak ber-salah?

Oleh karena itu, Bee Kun Bu membatalkan niatnya, sedangkan gadis-gadis itu terus menggotongnya, Tak lama kemudian sudah sampai di depan sebuah kamar Salah seorang gadis membuka pintu kamar itu, lalu menggotong Bee Kun Bu ke dalam.

Begitu digotong ke dalam, Bee Kun Bu mencium bau harum, Kamar itu amat indah dan mewah, Tentunya kamar wanita.

"Tempat apa ini?" tanya Bee Kun Bu heran, "Kenapa kalian membawaku ke mari?"

Ke tiga gadis berbaju hijau tertawa cekikikan Salah seorang diantara mereka memandang Bee Kun Bu seraya menyahut

"Nanti engkau akan mengetahuinya, Kenapa begitu gugup sih?"

Bee Kun Bu diam.

Ke tiga gadis itu memapahnya ke tempat duduk. Setelah duduk Bee Kun Bu menghimpun Lweekangnya, bersiap-siap menghadapi serangan gelap dari Kim Hun Tokouw.

Berselang beberapa saat kemudian, Bee Kun Bu mendengar suara tawa di balik dinding.

"Hihi! selamat Kiong Cu!"

"Omong sembarangan!" suara Kim Hun Tokouw.

Bee Kun Bu mengenali, bahwa itu suara Kim Hun Tokouw- Lam Kiong Siu. Maka ia lalu menoleh ke arah dinding itu, Ketika ia menoleh, dinding itu bergerak Seorang wanita duduk di situ dengan mata berbinar-binar memandang Bee Kun Bu. senyuman manis pun menghias bibirnya yang tipis. Bee Kun Bu nyaris tidak mengenali, sebab wanita itu cantik sekali, ternyata Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu.

Kim Hun Tokouw memang tergolong wanita yang cantik jelita, Sudah beberapa kali Bee Kun Bu berhadapan dengannya, namun setiap kali berhadapan, Kim Hun Tokouw selalu memperlihatkan wajah dingin yang tak berperasaan

Akan tetapi, saat ini wajah wanita itu terus berseri dengan mata berbinar-binar, sehingga Bee Kun Bu nyaris tidak mengenalinya. Lagipula kali ini Kim Hun Tokouw mengenakan pakaian yang amat indah, tidak seperti biasanya memakai pakaian rahib wanita.

Sesaat kemudian, Kim Hun Tokouw melangkah ke dalam kamar tersebut, dan pintu rahasia itu pun tertutup sendiri Begitu melihat Kim Hun Tokouw, Bee Kun Bu langsung bertanya.

"Mau apa engkau menyuruhku ke mari?"

Kim Hun Tokouw tersenyum malu-malu, lalu duduk di hadapan Bee Kun Bu dengan sikap lemah lembut

"Kun Bu!" sahutnya sambil tersenyum manis, "Aku tidak akan turun tangan jahat terhadapmu tidak usah tegang,"

Menyaksikan sikap Kim Hun Tokouw, Bee Kun Bu yakin dia tidak akan turun tangan jahat Namun ia merasa heran dalam hati, kenapa sikap Kim Hun Tokouw saat ini lain dari biasanya.

"Kun Bu!" Kim Hun Tokouw menatapnya dengan mata berbinar-binar, Kemudian wanita itu menundukkan kepala seraya berkata dengan suara rendah, "Engkau harus tahu, istana ini bagaikan benteng emas, siapa pun tidak dapat menghancurkannya,"

"ltu belum tentu," sahut Bee Kun Bu dingin.

"Kun Bu.,.," Sahutan yang dingin itu tidak membuat Kim Hun Tokouw gusar, cuma mengerutkan kening saja, "Bersediakah engkau,., tinggal selamanya di istana ini?" "Apa?!" Bee Kun Bu tertegun dan tampak tidak mengerti. "Kenapa aku harus tinggal selamanya di istana ini?"

pertanyaan Bee Kun Bu membuat wajah Kim Hun Tokouw kemerah-merahan.

"Untuk mendampingiku." sahutnya.

"Mendampingimu?" Bee Kun Bu terbelalak dan merasa geli dalam hati.

"Ya." Kim Hun Tokouw mengangguk "Aku rela menyerahkan kedudukanku di sini untukmu, asal engkau bersedia. "

"Ha ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak sebelum Kim Hun Tokouw menyelesaikan ucapannya.

"Kun Bu!" Kim Hun Tokouw heran, "Kenapa engkau tertawa?"

"Aku mentertawakan dirimu yang tak tahu malu," sahut Bee Kun Bu. "Engkau sungguh bermimpi di siang hari bolong!"

Ucapan Bee Kun Bu membuat wajah Kim Hun Tokouw langsung berubah, ia adalah majikan istana Pit Sia Kiong, Kedudukannya sangat tinggi dalam rimba persilatan luar perbatasan maupun di seberang laut Lagi pula wajahnya amat cantik jelita sehingga banyak kaum Bu Lim berkepandaian tinggi ingin mempersuntingnya, Namun mereka satu persatu ditolaknya mentah-mentah. Bahkan banyak diantara mereka yang bukan hanya di-tolak, melainkan langsung dibunuh.

Akan tetapi, sejak melihat Bee Kun Bu, cintanya mulai membara dalam hati, ia yakin Bee Kun Bu pasti bersedia memperisterinya, sebab ia sangat cantik dan juga majikan istana Pit Sia Kiong, Tapi tak disangka, Bee Kun Bu justru langsung menolaknya.

itu sungguh memalukan dan menimbulkan kemarahan Kim Hun Tokouw. "Engkau.,,." Kim Hun Tokouw bangkit berdiri sambil menudingnya, "Engkau sudah mempertimbangkannya?"

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa, "Lam Kiong Siu, engkau tidak perlu bertanya lagi! Urusan ini tidak perlu kupertimbangkan!"

"Kun Bu!" Kim Hun Tokouw merasa malu bereampur gusar "Apakah aku tidak sepadan denganrnu, katakanlah! "

"Engkau memang cantik dan juga majikan istana Pit Sia Kiong ini!" sahut Bee Kun Bu. "Bagi pria lain, tentunya mereka ingin mempersuntingmu! Tapi bagiku tidak! Aku tidak akan bersama wanita jalang seperti mu!"

"Apa?" Wajah Kim Hun Tokouw menghijau, "Aku tahu. "

"Engkau tahu apa?"

"Aku tahu engkau sudah punya kekasih, kan?" "Tidak salah!"

"Siapa dia?"

"Tidak jadi masalah kuberitahukan padamu, dia Lie Ceng Loan sumoyku!" Bee Kun Bu memberitahukan dengan jujur

"Dia. dia sebanding dengan diriku?" tanya Kim Hun

Tokouw dengan kening berkerut

"Engkau tuh apa? Bagaimana mungkin dibandingkan dengan sumoyku itu!" sahut Bee Kun Bu sambil tertawa.

"Oh?" Kim Hun Tokouw mundur beberapa langkah, kemudian ujarnya dingin, "Mungkin sekarang engkau belum berpikir matang. Engkau pun harus tahu posisimu sekarang, bahkan nyawamu pun berada di tanganku! Kalau engkau tidak menurut padaku, sehingga aku gusar. " 

Sebelum Kim Hun Tokouw menyelesaikan ucapan nya, Bee Kun Bu sudah melancarkan dua pukulan seraya membentak

"Cepat antar aku kembali ke penjara!" Kim Hun Tokouw berkelit Angin pukulan Bee Kun Bu menghantam sebuah pot bunga hingga hancur berantakan

"Hm!" dengus Kim Hun Tokouw dingin. "Engkau harus berpikir baik-baik, besok aku akan ke mari menengokmu !"

Kim Hun Tokouw meninggalkan kamar itu melalui pintu rahasia, sedangkan Bee Kun Bu termangu-mangu, bahkan merasa geli karena Kim Hun Tokouw memaksanya untuk mendampinginya seumur hidup, Bukankah itu suatu lelucon?

Bee Kun Bu justru tidak tahu, kalau Kim Hun Tokouw sungguh-sungguh telah jatuh cinta padanya, Kalau tidak, bagaimana mungkin ia begitu sabar menerima penghinaan itu?

Setelah berpikir lama sekali, akhirnya Bee Kun Bu menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Beberapa hari, tetap ada gadis berbaju hijau mengantar makanan padanya, Namun tidak membawanya kembali ke dalam penjara. Dalam beberapa hari itu, Bee Kun Bu terus mencoba menghimpun tenaga murninya.

Hari ini ketika Bee Kun Bu menghimpun tenaga murninya, mendadak Yong Cuah Hiat di telapak kakinya terasa panas. Giranglah hatinya, Berselang beberapa saat kemudian, rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

Oleh karena itu, ia terus menghimpun tenaga murninya, Tak seberapa lama kemudian, ia sudah bisa bangkit berdiri Namun di saat bersamaan, pintu rahasia kamar itu terbuka, Kim Hun Tokouw melangkah ke dalam dengan wajah yang masih tampak kesal

"Hm!" dengus Bee Kun Bu begitu melihatnya, "Mau apa engkau ke mari lagi?"

"Aku ke mari untuk memberitahukan kabar gem-bira," sahut Kim Hun Tokouw sambil tersenyum

"Kabar gembira apa?" tanya Bee Kun Bu heran. "Dua wanita Kwat Cong San telah ke mari." Kim Hun Tokouw memberitahukan dengan wajah berseri

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gembira, "Kalau begitu, tamatlah riwayatmu!"

"Oh?" Kim Hun Tokouw tertawa dingin "Engkau telah salah duga! Memang ada yang akan tamat ri-wayatnya, namun bukan diriku, melainkan dua wanita gunung Kwat Cong San itu!"

"Omong kosong!" bentak Bee Kun Bu.

"Hi hi hi!" Kim Hun Tokouw tertawa nyaring, "Aku tidak omong kosong! Buat apa aku harus omong kosong? Terus terang, mereka berdua telah terkurung di ruang api! Tidak lama lagi mereka berdua akan terbakar hangus!"

Guguplah Bee Kun Bu, karena mimik wajah Kim Hun Tokouw tampak sungguh sungguh. Saat ini ke dua kaki Bee Kun Bu sudah bisa bergerak, maka ia segera menerjang ke arah pintu, sedangkan Kim Hun Tokouw cuma tertawa

Begitu sampai di pintu, Bee Kun Bu mengangkat tangannya, siap menghancurkan pintu itu.

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh ke ke h. Bum! Bee Kun Bu memukul pintu itu.

Akan tetapi, pintu itu sama sekali tidak bergeming, Ternyata pintu tersebut dibuat dari baja, Bee Kun Bu tertegun, kemudian membalikkan badannya.

"Kun Bu! pereuma engkau membuang tenagamu!" ujar Kim Hun Tokouw dan menambahkan "Engkau perlu mengetahuinya, ini kamarku, Dinding dan pintu kamar m ini dibuat dari baja, Bagaimana mungkin engkau meninggalkan kamar ini?"

Betapa gusarnya Bee Kun Bu. ia langsung menyambar sebuah pedang yang tergantung di dinding. Trang! ia menghunus pedang itu sambil membentak "Lam Kiong Siu, hati-hatilah!"

"Tunggu!" seru Kim Hun Tokouw mendadak

Bee Kun Bu telah memutarkan pedangnya dengan gerakan Pat Hong Hong Ih (Hujan Angin Deiapan Penjuru), salah satu jurus dari ilmu pedang Tui Hun Cap Ji Kiam, yaitu ilmu pedang andalan partai Kun Lun. Namun Bee Kun Bu tidak menyerang, sebab mendengar suara seruan Kim Hun Tokouw.

"Engkau masih mau omong apa?" tanyanya dingin.

HKun Bu!" Kim Hun Tokouw tersenyum "Engkau seorang pendekar yang gagah, maka harus berpikir jauh, istana Pit Sia Kiong ini bisa menguasai rimba persilatan engkau harus merasa bangga!"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu, lalu menyerang Kim Hun Tokouw dengan jurus Pat Hong Hong Ih (Hujan Angin Deiapan Penjuru).

pedang itu berkelebatan mengarah pada Kim Hun Tokouw, Tangan Lam Kiong Siu pun bergerak, seketika juga selendangnya melayang menangkis pedang Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu maju selangkah sekaligus menyerang beruntun dengan jurus Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit), Coan Hun Cai Goat (Me nembus Awan Memetik Bu(an) dan jurus Yun Uh Kim Kong (Cahaya Emas Kabut Awan).

Serangan itu tidak membuat Kim Hun Tokouw gugup. ia segera berkelit sambil meloncat ke belakang dan tertawa dingin

"Kun Bu!" ujarnya, "Masih ada kabar gembira yang belum kusampaikan padamu!" "Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Siapa mau dengar omong kosongmu!"

"Kalau aku omong kosong, biar aku mati disambar geledek." sahut Kim Hun Tokouw sungguh-sungguh.

Hati Bee Kun Bu tersentak ia tidak menyangka kalau Kim Hun Tokouw berani bersumpah begitu.

"ltu urusan apa?" tanyanya dengan kening berkerut Kim Hun Tokouw tidak segera menyahut, malah

memandang Bee Kun Bu sambil tersenyum dan tampak serius.

"Aku dengar Na Siao Tiap memberitahukan pada Pek Yun Hui, bahwa sebenarnya dia datang bersama Lie Ceng Loan sumoymu itu. "

"Kenapa dia?" tanya Bee Kun Bu penuh perhatian "He he!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh "Me-reka

berdua bertemu Co Hiong."

"Haaah?" Bee Kun Bu terkejut "Kemudian bagai-mana?" "Kemudian bagaimana?" Kim Hun Tokouw tertawa,

"Kekasihmu itu. kabur bersama Co Hiong."

"Jangan omong sembarangan!" bentak Bee Kun Bu.

Bagaimana mungkin ia pereaya tentang itu? Lalu memutarkan pedangnya siap menyerang Kim Hun Tokouw.

"Kun Bu, tadi aku sudah bersumpah berat Engkau masih mengira aku berbohong?" ujar Kim Hun Tokouw dan menambahkan, "Co Hiong dan Lie Ceng Loan naik kuda sakti,

Na Siao Tiap tidak mampu mengejar merekah

"Lam Kiong Siu!" Bee Kun Bu tertawa dingin Ter-serah engkau mau omong apa, pokoknya aku tidak pereayai"

Apa yang dikatakan Kim Hun Tokouw, itu berdasarkan apa yang didengarnya dari pembicaraan Na Siao Tiap dengan Pek Yun Hui di ruang api. "Engkau tidak pereaya terserah, namun engkau boleh lihat saja nanti," ujar Kim Hun Tokouw dingin.

Tunggu!" bentak Bee Kun Bu ketika melihat Kim Hun Tokouw mau meninggalkan kamar itu, lalu mendadak menyerangnya.

Akan tetapi, Kim Hun Tokouw telah melesat ke dalam pintu rahasia, dan pintu rahasia itu pun tertutup kembali

Trang! Pedang Bee Kun Bu menusuk pintu rahasia itu.

Bukan main gusarnya Bee Kun Bu. Dengan pedang itu ia mengamuk di dalam kamar, namun tetap tidak bisa ke luar.

Kim Hun Tokouw juga gusar sekali ia memasuki ruang pengontrol jebakan, lalu menggerakkan jebakan yang ada di dalam ruang api. ia ingin membakar Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui melampiaskan kegusaran dalam hatinya.

Akan tetapi, Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui menggunakan ilmu To Im Cih Yang (Menyambut Dengan Keras Mendorong Dengan Lunak), Dengan ilmu tersebut mereka berdua berhasil memindahkan api yang berkobar-kobar itu untuk membakar dinding di dalam ruang tersebut Tentang ini telah diceritakan di atas.

Berselang beberapa saat kemudian, Kim Hun Tokouw kembali ke kamar itu lagi dengan suatu rencana busuk. Begitu memasuki kamar itu, ia tertawa dan ber-kata.

"Ha ha! Kun Bu, Lie Ceng Loan sudah ke mari." "Dia berada di mana?" tanya Bee Kun Bu cepat

"Kenapa engkau begitu menaruh perhatian pada-nya?" Kim Hun Tokouw tertawa dingin, "Dia memang telah mencintai Co Hiong, maka tidak mau denganmu lagi."

"Tuduhan yang keji!" Wajah Bee Kun Bu merah padam saking gusarnya.

"Tuduhan keji?" Kim Hun Tokouw tertawa, "Dia yang mengatakan begitu Iho!" Bee Kun Bu tertegun, sebab Kim Hun Tokouw tampak begitu serius. Berselang sesaat mendadak Bee Kun Bu berteriak

"ltu tidak mungkin sama sekali!"

"Jangan emosi!" Kim Hun Tokouw tersenyum, "Seandainya dia mengatakan begitu atau menulis surat menyatakan begitu pula, lalu bagaimana engkau?"

"Seandainya memang begitu, engkau menghendaki aku bagaimana, aku pasti menurut saja," sahut Bee Kun Bu.

"Sungguh?" Wajah Kim Hun Tokouw berseri

"Aku tidak pernah bohong!" sahut Bee Kun Bu tegas. "Baik." Kim Hun Tokouw manggut-manggut, ia

membalikkan badannya meninggalkan kamar itu.

Dengan wajah cerah ceria ia memasuki ruang kaca, lalu menyiapkan sebuah tungku dan mengambil pakaian Bee Kun Bu. Setelah itu ia pun mengambil sebuah boneka kayu, Pakaian Bee Kun Bu dipakaikan pada boneka kayu itu, Wajah boneka kayu itu pun dirias mirip wajah Bee Kun Bu, kemudian digantung di atas tungku yang telah dinyalakan.

Setelah beres, Kim Hun Tokouw membawa Lie Ceng Loan ke sebuah ruang yang dapat melihat ruang kaca itu, sekaligus memaksanya untuk mengucapkan beberapa patah kata.

Ternyata Bee Kun Bu yang dilihat Lie Ceng Loan cuma sebuah boneka kayu, Akan tetapi, walau Kim Hun Tokouw terus mendesak Lie Ceng Loan untuk mengatakan tidak cinta pada Bee Kun Bu, gadis itu tetap tidak mau mengucapkannya.

Akhirnya saking gusarnya, Kim Hun Tokouw menyuruh murid-muridnya membakar boneka kayu itu, Maka Lie Ceng Loan mengira Bee Kun Bu telah mati dibakar

Kim Hun Tokouw amat penasaran ia menuju sebuah ruangan yang terdapat sebuah lubang rahasia, Dari lubang itu ia mengintip ke dalam kamarnya sendiri ia melihat Bee Kun Bu berjalan mondar-mandir sambil bergumam dengan wajah gusar.

"Omong kosong! Semua itu omong kosong!"

Setelah mendengar gumaman itu, kening Kim Hun Tokouw berkerut ia tahu bahwa Bee Kun Bu kini sudah pulih, Bee Kun Bu berada di dalam kamar itu, siapa pun tidak mengetahuinya, harus meracuninya agar tidak bersiaga seperti orang biasa, bukankah dia tidak bisa kabur dan berkeras hati lagi? Pikir Kim Hun Tokouw.

Semakin mengintip, cintanya terhadap Bee Kun Bu semakin menggebu-gebu, ia lalu menekan sebuah tombol seketika juga nampak asap kuning menyembur ke luar dari sudut-sudut kamar.

Bee Kun Bu yang ada di dalam kamar terkejut bukan main. ia segeralah mengibaskan lengan bajunya ke arah asap kuning itu, Namun bagaimana mungkin dapat menghalau asap kuning itu dengan kibasan lengan bajunya? Sebab tiada jendela di situ, lagi pula asap kuning itu makin banyak memenuhi kamar tersebut

Lama kelamaan, Bee Kun Bu merasa matanya berkunang- kunang dan pusing sekali Akhirnya ia terkulai dengan sekujur badan tak bertenaga.

Setelah melihat Bee Kun Bu terkulai, Kim Hun Tokouw menelan obat anti racun, lalu memasuki kamar itu melalui pintu rahasia.

Sambil tersenyum-senyum Kim Hun Tokouw memapah Bee Kun Bu ke tempat tidur sementara asap kuning itu mulai membuyar

"Kun Bu!" ujarnya lembut "Aku terpaksa bertindak demikian terhadapmu."

"Engkau..." tanya Bee Kun Bu lemah, "Engkau menggunakan racun apa?" "Racun yang tidak akan mematikanmu," sahut Kim Hun Tokouw sambil menatapnya. "Bagaimana mungkin aku tega membunuhmu? itu merupakan racun pelenyap tenaga, agar engkau tidak kemana-mana."

"Lam Kiong Siu!" Bee Kun Bu menudingnya. Namun tangannya terkulai karena tidak bertenaga "Engkau.,, engkau wanita yang paling tidak tahu malu di dunia!"

"Oh, ya?" Kim Hun Tokouw tersenyum, sama sekali tidak gusar "Tentunya engkau merasa heran, kenapa aku tidak mengajakmu menemui Lie Ceng Loan kan?"

"Engkau amat busuk! Aku tidak perlu merasa heran akan itu!" sahut Bee Kun Bu ketus.

"Kun Bu!" Wajah Kim Hun Tokouw berubah hijau, namun kemudian berubah lembut lagi "Engkau harus tahu, siapa yang berani menentangku, pasti mati di istana Pit Sia Kiong, Engkau sudah memikirkan itu?"

Ketika Bee Kun Bu mau menyahut, mendadak terdengar suara arus air yang amat deras, Setelah itu terdengar pula suara suling Giok Siauw Sian Cu dan Gin Tie Suseng yang amat memilukan

Bee Kun Bu tahu, saat ini Kim Hun Tokouw telah menggerakkan suatu jebakan untuk membunuh mereka.

Tutup mulutmu!" bentaknya gusar.

"Nyawa mereka semua..." ujar Kim Hun Tokouw perlahan "Saat ini berada di tanganmu."

Bee Kun Bu mengerti, apabila ia tidak menuruti kemauan Kim Hun Tokouw, semua orang yang terjebak itu pasti mati Kalau ia menuruti kemauannya, mereka semua pasti dilepaskan

"Lam Kiong Siu!" Bee Kun Bu berkertak gigi. "Kalau mereka celaka, aku pasti menuntut balas padamu!" Bee Kun Bu ingin bangkit, tapi tidak bertenaga sama sekali Karena itu, ia menatap Kim Hun Tokouw dengan mata berapi- api.

"Kun Bu!" Kim Hun Tokouw tersenyum "Lebih baik engkau beristirahat saja."

Bee Kun Bu diam Pada waktu bersamaan sayup-sayup Bee Kun Bu mendengar suara bentakan yang amat dikenalnya yakni suara bentakan Kun Lun Sam Cu. Kim Hun Tokouw segera meninggalkan kamar itu, namun tak lama ia sudah kembali dengan wajah berhijau-hijauan tak sedap dipandang.

"Hm!" dengus Kim Hun Tokouw, "Ada seorang tua berjubah biru, siapa orang itu?"

Begitu mendengar itu, Bee Kun Bu girang sekali Sikap Kim Hun Tokouw yang panik, membuktikan ia telah terjungkal di tangan orang berbaju biru itu, Bagaimana mungkin Bee Kun Bu tidak kenal orang itu?

Orang berbaju biru itu Na Hai Peng, ayah angkatnya.

Karena itu, Bee Kun Bu tertawa gembira.

"Engkau mentertawakan apa?" tanya Kim Hun Tokouw gusar

"Lam Kiong Siu!" Bee Kun Bu memberitahukan "Orang berbaju biru itu Na Hai Peng, ayah Na Siao Tiap! Kini dia telah ke mari, berarti habislah riwayat-mu!"

Kim Hun Tokouw tertegun dengan wajah berubah, diam tak bergerak sama sekali

Semula ia mengira bahwa dengan kekuatan istana Pit Sia Kiong, dapat menundukkan seluruh kaum Bu Lim di Tionggoan Akan tetapi, kini cuma muncul Na Hai Peng seorang diri, ia sudah kalang kabut tidak karuan

Betapa terkejutnya Kim Hun Tokouw karena mengetahui adanya gelagat tidak beres. Ia segera mengintip ke luar melalui sebuah lubang rahasia, karena saat itu juga mendengar suara yang amat dahsyat Bahkan istana Pit Sia Kiong mulai berguncang.

Setelah mengintip ke luar, wajahnya langsung berubah Lagi pula banyak lukisan yang bergantung di dalam kamar itu mulai berjatuhan Di luar pun terdengar suara hiruk pikuk, para muridnya juga menjerit-jerit ketakutan.

Wajah Kim Hun Tokouw berubah kehijau-hijauan ia membalikkan badannya sekaligus menyambar Bee Kun Bu, lalu cepat-cepat pergi melalui pintu rahasia.

Setelah meninggalkan istana Pit Sia Kiong, ia berpaling memandang ke arah istananya itu, Begitu memandang, wajahnya langsung berubah pucat dan nyaris pingsan seketika.

Ternyata istana Pit Sia Kiong kesayangannya itu telah digenangi air, bahkan mulai roboh pula.

Kim Hun Tokouw melesat pergi menuju sebuah lembah, lalu membawa Bee Kun Bu ke dalam sebuah gua kristal ia membaringkan Bee Kun Bu di atas batu besar kemudian menyalakan lampu minyak

Setelah itu, ia berjalan ke mulut gua lalu berdiri di situ sambil memandang ke arah tebing yang ada di seberang Tampak beberapa orang berada di sana, Kim Hun Tokouw mengenali orang-orang itu, Mereka adalah musuh-musuhnya. Namun Souw Peng Hai dan Co Hiong tidak tampak di sana.

Tiba-tiba ia tersentak Ternyata ia teringat akan sesuatu, Karena buru-buru membawa Bee Kun Bu meninggalkan istana, sehingga lupa mengambil dua potong Pit Giok Caknya.

Larut malam, barulah ia kembali ke istana Pit Sia Kiong yang telah runtuh itu untuk mencari Pit Giok Cak tersebut justru sama sekali ia tidak menyangka, kalau Pit Giok Cak telah diambil Co Hiong bersama Souw Peng Hal

Betapa gusarnya ketika Kim Hun Tokouw melihat lubang rahasia yang ada dipitar itu telah terbuka. Pit Giok Cak yang di dalamnya pun telah hilang, ia yakin bahwa Pit Giok Cak itu telah dicuri orang.

Kim Hun Tokouw meninggalkan tempat itu, Namun baru berjalan beberapa langkah, ia melihat ular piaraan-nya melingkar di situ, Sungguh di luar dugaannya, ular yang amat beracun itu masih hidup. ia lalu membawa ular itu pergi Di saat itu ia mendengar tangis seorang. Kim Hun Tokouw tereengang lalu melangkah ke arah datangnya sumber suara, Tidak disangka sama sekali kalau yang menangis itu Lie Ceng Loan, Tentang ini telah diceritakan, jadi tidak perlu diulang kembali.

Kim Hun Tokouw tidak menduga, kalau Ue Ceng Loan akan menyusul sampai ke gua kristal itu, maka ia langsung menyambitnya dengan jarum beracun.

******

Bab ke 54 - Lie Ceng Loan Kena Senjata Rahasia Beracun Lie Ceng Loan yang sedang menubruk ke arah Bee Kun

Bu, sama sekali tidak menyadari adanya senjata rahasia meluncur ke arahnya, Setelah berdiri di hadapan Bee Kun Bu yang berbaring di batu besar itu, barulah ia merasa punggungnya amat ngilu, seakan tersengat sesuatu.

Setelah merasakan itu, ia tahu kalau punggungnya telah kena semacam senjata rahasia, Tapi ia tidak menghiraukan itu, melainkan menggenggam tangan Bee Kun Bu sambil menangis.

"Kakak Bu! Kakak Bu,.,." Air mata Lie Ceng Loan berderai, kemudian ia mendekap di badan Bee Kun Bu.

"Adik Loan. " Betapa girangnya Bee Kun Bu melihat

kemunculan Lie Ceng Loan, "Jangan menangis, hati-hati terhadap musuh!"

"Kakak Bu, aku tidak menghiraukan siapa pun," sahut Lie Ceng Loan dengan air mata berlinang-Iinang. "Kakak Bu, engkau masih hidup kan? Kakak Bu! Tahukah engkau betapa sedihnya hatiku? Kakak Bu, wajahmu pucat pias, sakit ya?"

Bee Kun Bu terus menggenggam tangan gadis itu erat-erat kemudian menoleh ke arah Kim Hun Tokouw, Wanita itu berdiri diam di tempat sepasang matanya bersinar-sinar itu membuat Bee Kun Bu terheran-heran, kenapa Kim Hun Tokouw tidak memanfaatkan kesempatan ini menyerang mereka?

Setelah memandang Kim Hun Tokouw, Bee Kun Bu memandang Lie Ceng Loan yang mendekap di dadanya, ia melihat tiga batang jarum halus menancap di punggung gadis itu.

"Adik Loan.,.," Bee Kun Bu terkejut bukan main, "Engkau... engkau telah kena senjata rahasia beracun-"

Di saat bersamaan, terdengarlah Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh-kekeh, lalu berkata.

"Bukankah kalian saling mencinta? Kini dia telah kena senjata rahasia yang amat beracun!"

"Engkau. " Bee Kun Bu menatapnya dengan mata berapi-

api.

"Hanya ada satu cara untuk menolongnya!" ujar Kim Hun Tokoiftv sambil tertawa nyaring, "Bee Kun Bu" Engkau sudi menolongnya apa tidak?"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu dingin, "Engkau jangan coba- coba memikirkan yang bukan-bukan!"

"Kakak Bu, dia mau apa?" tanya Lie Ceng Loan. "Adik Loan!" Bee Kun Bu tersenyum. "Dia ingin

memisahkan kita."

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menatapnya dengan mata basah, "Engkau tidak akan menurut padanya kan?"

"Tentu." Bee Kun Bu mengangguk "Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tersenyum manis, "Cintaku padamu tidak sia-sia."

"Emmh!" Bee Kun Bu membelainya, lalu memandang ke arah Kim Hun Tokouw, "Lam Kiong Siu, untuk apa engkau melakukan kejahatan lagi? Cepatlah engkau beri kan obat pemunah racun!"

"He he he!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh kekeh. "Dia telah kena racun aneh, dalam waktu setengah jam, kalau ada orang bersedia menyedot racun itu, dia masih bisa tertolong! Lewat setengah jam, sudah tidak bisa ditolong lagi! Engkau sangat mencintainya, sedotlah racun itu!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tertegun mendengar ucapan itu.

"Kakak Bu, engkau tidak usah menyedot racun itu!" ujar Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu tersenyum, lalu menjulurkan tangannya untuk mencabut tiga batang jarum yang menancap di punggung Lie Ceng Loan. Saat ini, badan Bee Kun Bu tidak bisa bergerak, begitu pula Lie Ceng Loan. Gadis itu tahu kalau Bee Kun Bu mau menyedot racun yang ada di punggungnya, Maka mulailah ia menangis dengan air mata bereucuran

"Kakak Bu!" ujarnya dengan suara gemetar "Engkau jangan menyedot, biar aku mati keracunan!"

"Adik Loan!" sahut Bee Kun Bu sungguh-sungguh, "Jangan berkata begitu, aku harus cepat menyedot racun itu."

"He he." Kim Hun Tokouw tertawa dingin, "Cepatlah!

Mumpung masih ada waktu, lewat setengah jam pasti mati!"

Bee Kun Bu tidak meladeni Kim Hun Tokouw, ia membuka baju Lie Ceng Loan bagian punggung, Tampak tiga buah lubang kecil berwarna hitam di situ.

Tanpa berpikir lagi, Bee Kun Bu langsung menundukkan kepala, lalu dengan mulut menempel di punggung yang kena jarum beracun itu, ia menyedot sekuat tenaga. "Kakak Bu! Engkau. " Lie Ceng Loan menangis sedih, -"

Bee Kun Bu tidak menyahut ia terus menyedot dan merasa ada cairan yang pahit di mulutnya ia ingin menyemburkan cairan pahit itu, namun malah tertelan

"Adik Loan, engkau jangan bergerak!" ujarnya lembut "Aku sudah menyedot sampai habis racun itu."

"Kakak Bu, jangan..~" Air mati Lie Ceng Loan berderai. "Sudah tanggung." ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum

"Cairan racun telah tertelan, jadi harus terus menyedot."

"Kakak Bu! Kalau engkau mati, aku pun tidak akan hidup." Lie Ceng Loan terisak-isak.

"Adik Loan, kalau begitu bukankah pereuma aku menyedot racun itu?" Bee Kun Bu menarik nafas panjang.

"Kakak Bu.."

"Jangan bergerak!" ujar Bee Kun Bu dan mulai menyedot Iagi. setelah itu ia memandang Kim Hun Tokouw seraya berkata, "Lam Kkmg Siu! Engkau kira aku tidak berani berkorban demi Sumoyku kan? Ternyata engkau salah duga!"

Kim Hun Tokouw melihat racun itu telah tersedot oleh Bee Kun Bu, timbullah rasa benci dan cemburu dalam hatinya

"Hm!" dengusnya dingin. Tapi engkau pasti mati!"

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak "Walau aku harus mati, namun aku telah menolong gadis yang amat kucintai! Hatimu pasti merasa kesal sekali kan?"

Wajah Kim Hun Tokouw menghijau. Kemudian ia melesat ke arah batu besar itu. Kini racun yang ada di punggung Lie Ceng Loan telah punah disedot Bee Kun Bu. Maka ketika Kim Hun Tokouw melesat ke batu besar, Lie Ceng Loan pun menerjang ke arah Kim Hun Tokouw.  Akan tetapi, Kim Hun Tokouw cepat berkelit ke samping dengan maksud ingin menyerang Bee Kun Bu. Bagaimana mungkin Lie Ceng Loan membiarkannya? Bee Kun Bu telah berkorban demi menolong dirinya, kini malah kena racun itu.

Karena itu, Ue Ceng Loan langsung menyerang Kim Hun Tokouw dengan Liu Yun Ciang Hoat (llmu pukulan Awan Terbang), Kim Hun Tokouw meloncat mundur sambil menggerakkan tangan seketika itu juga tampak sehelai selendang melayang ke arah Lie Ceng Loan.

Terjadilah pertarungan di dalam gua itu, Hati Bee Kun Bu cemas sekali menyaksikan pertarungan itu, sebab Lie Ceng Loan tampak di bawah angin.

Tak terasa mereka bertarung sudah melewati tiga puluh jurus, Bee Kun Bu semakin cemas.

Tiba-tiba badan Kim Hun Tokouw berputar sambil menjulurkan jari telunjuknya mengarah ke dada Lie Ceng Loan.

"Haaht" jerit Bee Kun Bu, Tanpa sadar sepasang tangannya menekan batu itu, maksudnya ingin melesat menolong Lie Ceng Loan. Namun kemudian ia menarik nafas panjang, karena ingat akan badannya yang tak bertenaga

Akan tetapi, terjadilah hal yang di luar dugaan Begitu sepasang tangannya menekan batu, badannya pun melesat ke atas, seakan tidak pernah kena racun sama sekali.

Betapa girangnya Bee Kun Bu. ia tidak mau memikirkan kenapa bisa terjadi begitu, karena segera harus menolong Lie Ceng Loan dari serangan Kim Hun To-kouw, ia segera melancarkan dua pukulan ke arah wanita itu.

Di saat itu, Kim Hun Tokouw girang bukan main, sebab serangannya itu akan berhasil melukai Lie Ceng Loan, Namun di saat bersamaan, ia merasa ada angin pukulan di atas kepalanya. Segeralah ia mendongakkan kepala, Tampak Bee Kun Bu sedang melesat ke arahnya dengan pukulan dahsyat Dapat dibayangkan, betapa kagetnya Kim Hun Tokouw.

Buuuk! Lie Ceng Loan berhasil memukul dadanya. "Aaakh!" jerit Kim Hun Tokouw termundur beberapa

langkah.

Pada waktu bersamaan, pukulan Bee Kun Bu telah sampai pula, sedangkan Kim Hun Tokouw telah terluka oleh pukulan Lie Ceng Loan, sehingga membuat dirinya sudah tidak mampu berkelit lagi. Ketika melihat pukulan Bee Kun Bu mengarah padanya, ia pun langsung berteriak

"Biar aku mati di tanganmu saja!"

Kim Hun Tokouw tidak menangkis maupun mengelak, sebaliknya malah memajukan badannya untuk menerima pukulan itu.

sebenarnya Bee Kun Bu merasa tidak tega membunuh Kim Hun Tokouw, Namun Kim Hup Tokouw malah memajukan badannya begitu cepat, sehingga Bee Kun Bu tidak keburu menarik kembali pukulannya.

, "3uk! Buk! Dada dan perut Kim Hun Tokouw terpukul "Aaaakh.,.!" jerit Kim Hun Tokouw, Badannya melayang

bagaikan layang-layang putus lalu jatuh.

"Kakak Bu..." Lie Ceng Loan langsung mendekatinya.

Apakah aku sedang bermimpi?"

Bee Kun Bu merangkulnya, Lie Ceng Loan mendongakkan kepala memandang wajah Bee Kun Bu. Sungguh mengherankan, wajah Bee Kun Bu tampak bersinar-sinar dan kemerah-merahan.

Sedangkan Bee Kun Bu sendiri pun merasa dirinya seakan dalam mimpi, sebab sudah dua kati kena racun, namun kini malah jadi segar Mereka berdua saling memandang Kemudian Bee Kun Bu coba menghimpun hawa murninya, Tidak terjadi suatu halangan apa pun, sehingga membuat dirinya ter-heran-heran.

"Adik Loan!" gumamnya dengan suara rendah, Tidak dalam mimpi kan?"

"Memang tidak," sahut Lie Ceng Loan, "Engkau telah menyedot racun itu, tapi kok tidak apa-apa?"

"Adik Loan!" Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala, "Apa sebabnya bisa begini, aku sendiri pun tidak tahu."

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan bersungguh-sungguh, "Aku sudah tahu. "

Tahu apa?"

"Aku tahu.,,." Wajah Lie Ceng Loan agak memerah. "Mungkin kita berdua saling mencinta secara suci mumi, maka Thian (Tuhan) merasa kasihan pada kita."

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tersenyum.

"Kakak Bu.,." Ketika Lie Ceng Loan ingin mengatakan sesuatu, terdengarlah suara rintihan Kim Hun Tokouw.

Mereka berdua segera menghampiri nya. Kim Hun Tokouw menggeletak di tanah dengan mulut berdarah, Kelihatannya ia telah luka parah, Ketika melihat mereka berdua menghampirinya, Kim Hun Tokouw berteriak dengan mata berapi-api.

"Bee Kun Bu! sebetulnya engkau sudah kena racun asap kuning, kemudian engkau menyedot racun di punggung Sumoymu, Ke dua racun itu berlawanan, sehingga nyawamu tertolong!"

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak

"Bee Kun Bu, aku aku senang mati di tanganmu," ujar

Kim Hun Tokouw lemah sekali "Sudikah,., sudikah engkau memelukku agar aku bisa pergi dengan tenang dan damai?" Bee Kun Bu mengerutkan kening, Lie Ceng Loan memandang Kim Hun Tokouw yang sudah sekarat, timbullah rasa ibanya.

"Kakak Bu, peluklah dia!" ujar Lie Ceng Loan. "Aku. " Bee Kun Bu ragu.

"Kakak Bu, peluklah dia agar dia bisa pergi dengan tenang!" desak Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu mengangguk dan mendekati Kim Hun Tokouw, lalu memeluknya sesuai dengan permintaan wanita itu.

"Kun Bu. " suara Kim Hun Tokouw makin lemah, "Selama

ini, aku... aku tidak pernah jatuh cinta., kecuali padamu, Tapi...

aku bersalah karena terlampau. cem-buru, Kun Bu

maafkanlah aku!"

Bee Kun Bu manggut-manggut Kim Hun Tokouw tersenyum, namun tiba-tiba sepasang matanya mendelik dan kepalanya terkulai di tangan Bee Kun Bu.

"Lam Kiong Siu!" panggil Bee Kun Bu.

Kim Hun Tokouw diam, Ternyata nafasnya telah putus, Namun wajahnya tampak berseri, seakan merasa senang mati dalam pelukan Bee Kun Bu.

"Kakak Bu, dia telah mati," ujar Lie Ceng Loan dan menambahkan "Mari kita kubur dia di dalam gua ini!"

Bee Kun Bu mengangguk Mereka berdua lalu mengubur mayat Kim Hun Tokouw, Setetah itu Bee Kun Bu menarik nafas panjang.

"Kalau tidak bersekongkol dengan Souw Peng Hai, tentunya dia tidak akan mati," ujar Bee Kun Bu sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Apabila dia tidak berambisi ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan, dia pun tidak akan mengalami semua ini, padahal dia sudah hidup tenang di dalam istana Pit Sia Kiong,.,."

"ltu juga gara-gara Souw Peng Hai!" ujar Lie Ceng Loan, "Kakak Bu, mari kita pergi!"

"Oh ya! Adik Loan, bagaimana engkau bisa ke istana Pit Sia Kiong?" tanya Bee Kun Bu mendadak

Lie Ceng Loan segera menutur, Gadis itu pun memberitahukan bahwa telah kehilangan jejak Na Siao Tiap.

"Adik Loan, engkau tidak mau meninggalkan tempat ini karena mencintaiku Lalu kenapa pula Na Siao Tiap tidak mau pergi?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Kakak Siao Tiap tidak mau pergi juga karena mencintaimu." Lie Ceng Loan memberitahukan sambil tersenyum.

"Apa?" Bee Kun Bu tersentak "Adik Loan, jangan bereanda!"

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tersenyum lagi, "Aku sama sekali tidak bereanda."

"Adik Loan. "

"Kakak Bu!" Mendadak Lie Ceng Loan menarik nafas, "Aku.,, aku justru mencemaskan satu hal."

"Hal apa?"

"Kakak Siao Tiap bilang, kalau engkau tidak mati, dia pasti menuruti amanat almarhumah ibunya, yakni harus membunuhmu dengan irama Mi Hun Li Cin."

"Itu. " Bee Kun Bu terbelalak "Kenapa?"

"Karena dia telah mencintaimu," jawab Lie Ceng Loan, "Kakak Bu, aku pikir tidak akan begitu kan?"

Mendengar itu, Bee Kun Bu amat terkejut dalam hati, namun ia tersenyum seraya menyahut agar Lie Ceng Loan tidak merasa cemas. "ltu memang tidak mungkin."

Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu berjalan sambil bereakap- cakap, Tak terasa mereka sudah sampai di telaga besar yang kini menyerupai sebuah lembah.

"Kakak Bu mengatakan demikian, legalah hatiku ujar Lie Ceng Loan, "Aku pikir, kalau mencintai se seorang tentunya berharap dia tidak akan mati, bagaimana mungkin harus membunuhnya?"

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk "Adik Loan, apakah Siao Tiap berada di bawah ?"

"Aku sudah ke bawah, namun dia tidak ada," jawab Lie Ceng Loan. "Mari kita ke bawah melihat-lihat!"

Mereka berdua lalu turun ke bawah, akan tetapi kali ini bukan cuma Na Siao Tiap yang tidak ada. Bahkan piepanya pun sudah tidak kelihatan Yang tempak adalah mayat Souw Peng Hai yang tergeletak kaku di situ Setelah menyaksikan mayat itu, Bee Kun Bu menengok ke pintu batu yang terbuka dan di atasnya berukir tulisan "Sam Im Sian Hu itu membuat Bee Kun Bu terkejut sekali.

Sebab Bee Kun Bu telah mendengar penuturan dan Miauw Muk Jin Mo-Ciu Lin tentang kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni yang tersimpan di dalam gua, harus dibuka dengan Pit Giok Cak.

"Mau apa Siao Tiap berada di sini?" tanya Bee Kun Bu. "Kami berdua melihat sosok bayangan yang mirip Co

Hiong memasuki gua itu, maka Kakak Siao Tiap menjaga di sini." Lie Ceng Loan memberitahukan.

"Oh?" Bee Kun Bu bertambah terkejut Apabila kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni jatuh di tangan Co Hiong, pasti celaka.

"Kakak Bu, mari kita ke dalam gua melihat-lihat!" ajak Lie Ceng Loan. Bee Kun Bu mengangguk Mereka berdua memasuki gua Sam Im Sian Hu, namun tidak menemukan apa pun.

Kemudian mereka ke luar lagi, Karena Na Siao Tiap tidak kembali, mereka lalu meninggalkan tempat itu.

"Mungkin Kakak Siao Tiap tahu engkau belum mati, maka pulang ke gunung Kwat Cong San," ujar Lie Ceng Loan.

"Memang mungkin." Bee Kun Bu manggut-mang-gut. "Adik Loan, kita harus pergi, jangan membiarkan Kakak Pek dan guruku berduka karena mengira aku telah mati."

"Benar." Lie Ceng Loan mengangguk dan memberitahukan "Ketika mendengar engkau telah mati, mulut Toa Supek langsung menyemburkan darah se-gar."

"Oh?" Bee Kun Bu menarik nafas panjang.

Setelah itu, mereka berdua mengerahkan ginkang meninggalkan pegunungan Altai Taysan.

Keesokan malamnya, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah berada di luar pegunungan tersebut

Tiga hari kemudian, barulah mereka bertemu pada pedagang di luar perbatasan Mereka membeli dua ekor kuda. Dengan menunggang kuda mereka melanjutkan perjalanan

Lima hari kemudian mereka sudah berada di sekitar Giok Bun Kwan, Tempat itu hanya tampak gurun pasir yang amat luas, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan memburu waktu, maka mereka memacu kuda masing-masing di gurun pasir itu.

Setelah petang hari, mendadak mereka mendengar suara pertempuran di depan Segeralah mereka menghentikan kuda masing-masing, lalu memandang ke de-pan.

Tampak beberapa sosok bayangan sedang bertarung dengan sengit Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bukan orang usil yang suka mencampuri urusan orang lain. Mereka tidak menghiraukan pertarungan itu, dan melanjutkan perjalanan Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara siulan di tempat pertarungan Begitu mendengar suara siulan, tertegunlah mereka berdua.

Toa Supek!" seru Lie Ceng Loan.

"Tidak salah!" sahut Bee Kun Bu. "Memang guru!"

Mereka serentak memandang ke depan lagi Tampak tiga sosok bayangan melesat ke atas, Kemudian menyusul lagi tiga sosok bayangan juga melesat ke atas.

Walau jarak masih begitu jauh, namun Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan dapat melihat dengan jelas tiga sosok bayangan itu adalah Kun Lun Sam Cu, yang kelihatannya berusaha melarikan diri Dalam waktu sekejap, mereka sudah tidak kelihatan lagi tertutup pasir yang berterbangan

Bee Kun Bu menyesal sekali Kemudian ia menarik nafas panjang, sebab ia tahu tidak mungkin dapat mengejar mereka.

"Kakak Bu, siapa orang itu? Kok guru bertiga masih tidak mampu menandinginya?" tanya Lie Ceng Loan heran

Bee Kun Bu mengarah pada orang itu, Tampak sosok yang tinggi besar sedang mengibaskan lengan bajunya, membuat pasir di tempat itu berterbangan ke mana-mana, Dapat dibayangkan betapa dalamnya Lweekang orang itu, Namun mereka berdua tidak dapat melihat jelas orang.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tampak tereengang "llmu silat orang itu... kelihatan mirip ilmu silat Kakak Siao Tiap yang ada di dalam kitab Kui Goan Pit Cek."

Bee Kun Bu juga mengetahui Setahunya, yang telah mempelajari kitab Kui Goan Pit Cek cuma ada empat orang, yakni dirinya sendiri Pek Yun Hui, Na Siao Tiap dan Na Hai Peng. Bagaimana mungkin salah seorang itu bertempur dengan Kun Lun Sam Cu?

Berselang beberapa saat kemudian, orang itu berteriak- teriak. Begitu mendengar suara teriakannya, Lie Ceng Loan segera berkata terkejut "Eh? Kakak Bu! itu ayah Na Siao Tiap, Na Lo-cianpwee!"

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Dia Ayah angkatku, kenapa dia berada di sini?"

"Kakak Bu! Mari kita lihat!" ajak Lie Ceng Loan. "Baik."

Mereka berdua lalu melarikan kuda masing-masing ke depan, Setelah agak mendekat, terlihat jelas orang itu memang Na Hai Peng, bahkan masih tampak seorang lagi tergeletak di situ, tidak lain Pek lh Sin Kun-Sen Lui, ketua partai Swat San, yang kelihatannya telah terluka parah.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut ketika memperhatikan Na Hai Peng tampak terkejut sekali.

Ketika melihat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan berada di situ, Na Hai Peng berhenti dan menatap mereka dengan sorotan tajam. Kenapa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terkejut menyaksikannya? Ternyata Na Hai Peng tampak kacau. Rambutnya awut-awutan dengan wajah menyeringai menakutkan.

Belum pernah Bee Kun Bu menyaksikan Na Hai Peng bersikap demikian Maka tidak heran kalau ia terkejut bukan main.

"Ayah angkat!" panggil Bee Kun Bu sambil meloncat turun dari kudanya, kemudian maju dua langkah, "Apakah ayah angkat baik-baik saja?"

sementara itu Lie Ceng Loan pun meloncat turun dari kudanya, namun tidak berani melangkah maju.

Na Hai Peng memandang Bee Kun Bu dengan sinar mata aneh, seakan tidak mengenalinya.

"Bocah! Engkau siapa?" tanyanya bernada aneh.

Bee Kun Bu sama sekali tidak menyangka, kalau Na Hai Peng akan mengajukan pertanyaan tersebut padanya, Seketika ia terperangah dan tidak tahu bagaimana menjawab nya.

Lie Ceng Loan melesat ke sisi Bee Kun Bu, lalu berkata dengan nyaring.

"Paman Na! ini Kakak Bu. Apakah Paman tidak kenal lagi?"

"Hm!" dengus Na Hai Peng, "Apa itu kakak Bu atau adik Bu? Ayoh, cepat pergi!"

Na Hai Peng mengibaskan lengan j ubahnya, betapa dahsyatnya kibasan itu, membuat pasir di sekitarnya berterbangan ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

Mereka berdua segera meloncat mundur, tapi masih tersambar oleh pasir-pasir itu.

"Ha ha ha!" Na Hai Peng tertawa aneh, "Lumayan juga gerakan kalian! Cepatlah kalian enyah dari sini!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tereengang dan cemas, karena tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri Na Hai Peng, tentunya juga membuat mereka amat penasaran

Mereka berdua saling memandang, kemudian maju lagi mendekati Na Hai Peng, Begitu melihat mereka mendekat lagi, Na Hai Peng tertawa aneh dan membentak keras.

" Ayoh, kabur lagi!"

Na Hai Peng menjulurkan tangannya mengarah pada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, maksudnya ingin mencengkeram mereka berdua.

jangankan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak siap, kalaupun mereka siap juga belum tentu dapat menghindari serangan itu, Tahu-tahu baju bagian dada mereka telah dicengkeram

Lie Ceng Loan menjerit kaget sedangkan Na Hai Peng tertawa gelak dengan nada aneh, lalu mendadak menggerakkan tangannya, Seketika Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan melayang ke atas beberapa depa tingginya .

"Adik Loan!" seru Bee Kun Bu. "Cepat himpun hawa murni!"

Lie Ceng Loan segera menarik nafas dalam-dalam untuk menghimpun hawa murninya. sedangkan Bee Kun Bu berjungkir balik turun ke bawah, Begitu pula Lie Ceng Loan, kalau tadi ia tidak menghimpun hawa murninya, pasti akan jatuh terbanting.

"Kakak Bu! Paman Na sudah tidak sayang kita lagi, mari kita pergi!" ujar Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu menyadari saat ini Na Hai Peng tidak waras hingga tidak mengenali mereka lagi, itu pasti ada sebab musababnya.

seandainya mereka tidak pergi, tentunya akan celaka di tangan Na Hai Peng, Akan tetapi, bagaimana mungkin Bee Kun Bu meninggalkan Na Hai Peng seorang diri di gurun pasir itu?

"Adik Loan! Ayah angkatku tampak tidak waras, itu pasti ada sebab musababnya, Bagaimana kita boleh pergi?"

"Kalau begitu. " Wajah Lie Ceng Loan sudah berubah

pucat "Kita harus bagaimana?"

"Engkau agak menjauh, aku akan mendekatinya untuk bertanya!" sahut Bee Kun Bu.

"Kakak Bu! Mari kita bersama mendekatinya!" ujar Lie Ceng Loan.

"Tapi-." Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menatapnya. "Adik Loan. " Bee Kun Bu menarik nafas, lalu

memandang Na Hai Peng. Na Hai Peng tidak menghiraukan mereka, malah duduk sambil memandang Pek Ih Sin Kun-Sen Lui yang tergeletak itu, kemudian tersenyum-senyum aneh.

Menyaksikan itu, tergeraklah hati Bee Kun Bu. ia lalu memandang Lie Ceng Loan seraya berbisik

"Adik Loan! Pek Ih Sin Kun terluka parah, itu pasti dilukai ayah angkatku, Apa yang telah terjadi, dia pasti mengetahuinya!"

"Betul!" Lie Ceng Loan mengangguk

"Kita tangkap dia!" ujar Bee Kun Bu dengan suara rendah, "Agar kita bisa bertanya padanya."

"Baik!" Lie Ceng Loan mengangguk lagi.

Mereka berdua segera melesat ke arah Pek Ih Sin Kun, akan tetapi pada waktu bersamaan, terdengar suara - bentakan Na Hai Peng.

"Cepat enyah!"

Bee Kun Bu menoleh, Dilihatnya Na Hai Peng memandangnya dengan mata melotot, gusar Cepat-cepat Bee Kun Bu memberi isyarat pada Lie Ceng Loan, agar gadis itu membawa pergi Pek Ih Sin Kun. Setelah itu, ia berkata pada Na Hai Peng.

"Ayah angkat tidak enak badan ya?"

"Siapa yang tidak enak badan?" Na Hai Peng balik bertanya dengan mata melotot "Engkau belum mau pergi?"

"Ayah angkat. "

Belum juga Bee Kun Bu menyelesaikan ucapannya, Na Hai Peng sudah mengayunkan tangannya melancarkan sebuah pukulan.

Bee Kun Bu tidak berani menangkis, hanya bergerak cepat meloncat mundur sambil melirik ke arah Lie Ceng Loan, sedangkan Lie Ceng Loan telah meninggalkan tempat itu dengan memondong Pek Ih Sin Kun. Tampak gadis itu sedang melambai-lambaikan tangannya pada Bee Kun Bu.

Segeralah Bee Kun Bu melesat ke sana, kemudian menoleh melihat Na Hai Peng, yang masih tetap duduk di situ....

ttagian ke lima puluh lima

kejadian Aneh Yang Membingungkan

Bfe Kun Bu mendekati Pek Ih Sin Kun yang duduk di sisi I.ie Ceng Loan.

"Soh H Sin! Apa gerangan yang telah terjadi?" tanyanya. "Kalian. kalian cepat pergi!" sahut Pek Ih Sin Kun. "Orang

itu telah gila."

"Dia ayah angkatku, kenapa engkau bilang dia telah gila?"

Bee Kun Bu keheranan

"Apa gerangan yang telah terjadi. " Pek Ih Sin Kun

menarik nafas, "Aku pun tidak begitu jelas."

"Beritahukanlah apa yang kau ketahui!" ujar Bee Kun Bu ingin mengtahuinya.

"Setelah meyaksikan istana Pit Sia Kiong musnah tergenang air, kami meninggalkan pegunungan Altai Taysan Di tengah jalan aku bertemu dengan Kun Lun Sam Cu, lalu kami melakukan perjalanan bersama kembali ke Tionggoan. "

tutur Pek Ih Sin Kun, namun tidak dilanjutkan karena nafasnya mulai memburu.

"Kalau begitu, kenapa bertarung dengan ayah angkatku?" tanya Bee Kun Bu.

"Terus terang, kami semua tidak mati di istana Pit Sia Kiong, itu berkat pertolongannya," jawab Pek Ih Sin Kun melanjutkan "Ketika kami berempat melewati gurun pasir, tiba- tiba tampak seseorang berdiri di atas gundukan di tengah pedang pasir," "Benar, Kakak Bu." Sela Lie Ceng Loan "Kita juga melewati tempat itu."

"Adik Loan jangan menyelak, biar sobat Sin melanjutkan!" tegur Bee Kun Bu halus.

Lie Ceng Loan tersenyum lalu diam sedangkan Pek Ih Sin Kun segera melanjutkan

"Pada waktu itu, kami berempat merasa heran Siapa yang berdiri di situ? Kalau terjadi badai, bukankah orang itu tidak bisa kabur? Karena merasa heran, maka kami mendekatinya, ternyata Tuan Na Hai Peng!"

"Apakah pada waktu itu dia sudah giia?" tanya LR Ceng Loan tak tertahan

"Adik Loan, Lweekang ayah angkatku amat dalam Bagaimana mungkin dia bisa giia?" sahut Bee Kun Bu

"Pada waktu itu, dia memang tidak gila," lanjut Pek Ih Sin Kun. "Hanya saja cfia terus berdiri mematung di situ, wajahnya pucat pias, Tentunya membuat kami terheran-heran dan sekaligus bertanya padanya kenapa berdiri di situ, Kami mendengar dia bergumam.,.,"

"Dia bergumam apa?" tanya Lie Ceng Loan.

"Dia bergumam Mo Kui Ceh Yi (perbatasan Setan Iblis), dan terus bergumam begitu, Maka membuat kami bertambah heran, Kemudian mendadak dia melesat pergi, Kami pun mengejarnya sampai di sini, Dia membentak gusar talu menyerang kami, Aku kena pukulannya hingga terluka, sedangkan Kun Lun Sam Cu langsung kabur."

Menutur sampai di sini, wajah Pek Ih Sin Kun makin pucat pias, Ketika Bee Kun Bu mendengar Kun Lun Sam Cu langsung kabur, wajahnya tampak tidak senang.

"Guru dan Susiokku pergi, tentu ada sebab mu-sababnya," ujarnya.

"Hm!" dengus Pek Ih Sin Kun, "Sebab musabab apa?" "Sobat Sin! Engkau ketua partai Swat san, pasti sudah berpengalaman luas, Aku ingin bertanya apa artinya Mo Kui Ceh Yi?"

"Kami berempat justru tidak tahu apa artinya Mo Kui Ceh Yi," sahut Pek Ih Sin Kun sambil menggelengkan kepala.

Bee Kun Bu terus berpikir, tapi tetap juga tidak mengerti sama sekali tentang sebab musabab Na Hai Peng berubah jadi begitu, itu sungguh membingungkan

"Sobat Sin! Engkau sudah terluka parah, apakah masih kuat menunggang kuda meninggalkan gurun pasir ini?" tanya Bee Kun Bu mendadak

"Mungkin masih kuat," sahut Pek Ih Sin Kun.

"Kalau begitu, aku akan berikan seekor kuda kepadamu," ujar Bee Kun Bu dan menambahkan "Aku harap engkau jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang ayah angkatku!"

"Ya." Pek Ih Sin Kun mengangguk dengan rasa terimakasih, karena Bee Kun Bu bersedia memberikannya seekor kuda.

Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu sambil memapah Pek Ih Sin Kun ke punggung kuda.

"Bee Siauhiap, aku mengingatkan kalian, lebih baik menjauhi Na Hai Peng. Sebab dia sudah tidak waras, dan kepandaiannya amat tinggi. "

Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu. "Kami tahu itu."

"Kalau begitu, aku mohon pamit!" Pek Ih Sin Kun menepuk badan kuda, dan seketika kuda itu berlari pergi

"Adik Loan!" ujar Bee Kun Bu dengan kening berkerut "Ayah angkatku jadi begitu, aku yakin pasti ada kaitannya dengan Mo Kui Ceh Yi."

"Benar." Ue Ceng Loan mengangguk Tapi itu merupakan tempat apa?" "Kita memang tidak tahu, namun mungkin guru kita mengetahuinya," ujar Bee Kun Bu, "Adik Loan, mari kita kembali ke tempat tonjolan gurun pasir itu untuk me!ihat-lihat, siapa tahu kita akan menemukan sesuatu di sana."

"Baik," Lie Ceng Loan menurut

Mereka meloncat ke punggung kuda. Lie Ceng Loan duduk di belakang merangkul Bee Kun Bu erat-erat sedangkan Na Hai Peng masih duduk di situ tak bergerak sama sekali.

Kuda yang ditunggangi mereka berdua mulai berlari ke tempat itu. Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah melihat tonjolan-tonjolan pasir itu.

Yang mengherankan adalah tampak seseorang berdiri di situ tak bergerak sama sekali, persis seperti keadaan Na Hai Peng yang dituturkan Pek Ih Sin Kun.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sudah mendekat tempat itu. Ternyata orang itu Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San.

Mereka terheran-heran ketika melihat Tu Wee Seng berdiri mematung di tempat itu. Segeralah mereka meloncat turun dari punggung kuda sambil memandang ke tempat itu. sementara Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng tetap berdiri tak bergerak Tangannya menggenggam toya bambu.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menengok wajahnya, terkejut lah mereka karena menyaksikan wajah Tu Wee Seng seperti mayat

"Pat Pie Sin Ong! Kenapa engkau berdiri di situ?" tanya Bee Kun Bu sekeras-kerasnya.

Perlahan-lahan Tu Wee Seng menoleh, kemudian mendadak berteriak-teriak.

"Mo Kui Ceh Yi! Mo Kui Ceh Yi. "

"Apa itu Mo Kui Ceh Yi?" tanya Bee Kun Bu cepat "Mo Kui Ceh Yi! Mo Kui Ceh Yi. " Tu Wee Seng terus

berteriak begitu, lalu mendadak menggerakkan toya bambunya menyerang Bee Kun Bu.

Ketika tangan Tu Wee Seng bergerak, Bee Kun Bu sudah menduga orang itu akan menyerangnya, Maka ia langsung meloncat mundur

Karena tidak berhasil menyerang Bee Kun Bu, Tu Wee Seng lalu mengayunkan toya bambunya ke arah Lie Ceng Loan.

"Engkau sudah gila ya?" tanya Lie Ceng Loan sambil berkelit

Tu Wee Seng tertawa aneh lalu menyerang Lie Ceng Loan lagi.

"Adik Loan, cepat menghindari seru Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan cepat-cepat meloncat mundur, sedangkan Bee Kun Bu telah bergerak dengan jurus Hang Yun Liu Sui (Awan Bergerak Arus Mengalir), Jurus tersebut diarahkan pada toya bambu Tu Wee Seng, dan toya bambu itu berhasil dicengkeramnya, Kemudian Bee Kun Bu mengerahkan Lweekangnya.

Plak! Toya bambu itu patah.

Tu Wee Seng berteriak aneh, dan langsung menyerang Bee Kun Bu dengan toya bambunya yang tinggal separuh.

Tu Wee Seng!" bentak Bee Kun Bu sambil berkelit "Kenapa engkau?"

Tu Wee Seng tampak seakan tidak mendengar suara bentakan Bee Kun Bu. ia terus menyerang dengan hebat sekali, Namun kemudian mendadak ia berhenti, lalu tertawa aneh persis seperti keadaan Na Hai Peng.

"Adik Loan, serang dia dari belakang!" seru Bee Kun Bu. Lie Ceng Loan mengangguk, kemudian menyerang Tu

Wee Seng dari belakang dengan tangan kosong, Ketika Tu Wee Seng ingin menangkis serangan Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu bergerak cepat menotok jalan darah di bahu nya.

Tu Wee Seng terkulai tak bisa bergerak, tapi terus- menerus berteriak-teriak aneh.

HPat Pie Sin Ong! Apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Bee Kun Bu.

Tu Wee Seng tidak menyahut, melainkan terus-menerus berteriak aneh dengan wajah berubah merah, Tiba-tiba ia melesat pergi menuju arah selatan, Dalam waktu sekejap ia sudah hilang dari pandangan Ternyata ia berhasil membebaskan totokan itu dengan Lweekang-nya sendiri.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tertegun, kenapa Na Hai Peng dan Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng berteriak-teriak "Mo Kui Ceh Yi" (Perbatasan Setan Iblis)? itu sungguh membingungkan Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan.

"Adik Loan!" ujar Bee Kun Bu berpesan, "Mari kita melihat- lihat gundukan-gundukan pasir itu!"

"Ya." sahut Lie Ceng Loan.

Mereka berdua mulai mengitari tonjolan-tonjolan pasir itu, kemudian kembali ke tempat semula, Begitu mereka kembali ke tempat semula, wajah mereka tampak terkejut

Ternyata di tempat Tu Wee Seng berdiri tadi tampak tiga orang berdiri mematung di situ, Siapa ke tiga orang itu? Tidak lain adalah Kun Lun Sam Cu!

"Guru!" teriak Bee Kun Bu memanggil mereka. "Guru! Supek. " Lie Ceng Loan juga berteriak.

Kun Lun Sam Cu tetap berdiri tak bergerak, Bee Kun Bu segera memberi isyarat agar Lie Ceng Loan berhenti, Karena Bee Kun Bu telah melihat keadaan mereka bertiga persis seperti Na Hai Peng dan Tu Wee Seng.

"Guru!" Bee Kun Bu maju selangkah "Murid.,.," "Mo Kui Ceh Yi! Mo Kui Ceh Yi!" teriak Kun Lun Sam Cu serentak.

"Guru!" Lie Ceng Loan cemassekali, "Apa yang telah terjadi?"

"Mo Kui Ceh Yi! Mo Kui Ceh Yi!" teriak Kun Lun Sam Cu lagi, lalu mendadak melesat pergi.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan pun melesat mengikuti Kun Lun Sam Cu, Mereka khawatir Kun Lun Sam Cu akan mengalami suatu kecelakaan.

"Guru!" Bee Kun Bu telah berhasil menyusul mereka, "Kalian telah mengalami kejadian apa?"

Hian Ceng Tqtiang tidak menyahut, melainkan langsung menyerang Bee Kun Bu dengan jurus Ciak Ciu Poh Liong (Tangan Kosong Menangkap Naga), yaitu jurus andalan partai Kun Lun.

Bee Kun Bu tidak mau menangkis, hanya meloncat mundur Hian Ceng Totiang membentak, namun tidak menyerang lagi, "Cepat enyah!"

Bee Kun Bu merasa cemas dan kebingungan sedangkan Lie Ceng Loan sudah menangis sedih dengan air mata bereucuran

"Hei! Bocah perempuan!" bentak Giok Cin Cu mendadak "Kenapa engkau menangis ?"

"Guru!" sahut Lie Ceng Loan terisak-isak, "Kenapa Guru tidak mengenali anak Loan lagi?"

Wajah Giok Cin Cu tampak gusar, dan tiba-tiba menghunus pedangnya, Bee Kun Bu terkejut, lalu cepat-cepat menarik Lie Ceng Loan mundur

"Ha ha!" Giok Cin Cu tertawa, kelihatannya ia amat gembira dapat menakuti Lie Ceng Loan

Saat ini, air muka Kun Lun Sam Cu tampak aneh sekali, boleh dikatakan menyeringai dan boleh dikatakan meringis. Setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mundur, Kun Lun Sam Cu berteriak aneh sambil melesat pergi.

Tadi karena buru-buru mengejar Kun Lun Sam Cu, Bee Kun Bu tidak mempedulikan kudanya lagi, Begitu melihat Kun Lun Sam Cu melesat pergi, Bee Kun Bu segera menarik Lie Ceng Loan mengejar mereka, Tapi kali ini mereka mengejar dengan hati-hati sekali, bahkan menjaga jarak.

Mereka berdua mengejar di belakang Kun Lun Sam Cu hampir seharian Ketika hari mulai gelap, barulah mereka ke luar dari gurun pasir itu, Akan tetapi, Kun Lun Sam Cu masih terus melesat kd( depan laksana kilat

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sudah tahu kalau Kun Lun Sam Cu tidak waras, Maka mereka tidak berani mendekat Setelah larut malam, mereka sampai di jalan raya Giok Bun Kwan

Kun Lun Sam Cu memperlambat langkah, tapi md-reka tampak sempoyongan seperti mabuk, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan juga memperlambat langkah serta tetap berhati- hati.

Berselang beberapa saat kemudian berkelebat sosok bayangan hitam ke hadapan Kun Lun Sam Cu, lalu berdiri di situ.

"Kalian bertiga. "

Sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya Giok Cin Cu telah menyerangnya dengan jurus Ku Hoa Chun Ie (Bunga Di Hujan Musim Semi).

"Bagus!" Orang itu berteriak aneh sambil meloncat ke belakang, Kemudian tangannya bergerak, dan seketika juga telah menggenggam sebatang tongkat pendek, Tong-kat pendek itu berkelebatan menyerang ke arah Giok Cin Cu.

Giok Cin Cu juga tidak diam ia langsung menyambut serangan itu dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat. Kini Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah melihat jelas siapa orang yang bertarung dengan Giok Cin Cu. Orang itu ternyata Sin Goari Tong, ketua partai Khong Tong.

sedangkan Hian Ceng Totiang dan Tong Leng Tojin bersorak-sorak sambil bertepuk tangan, Mereka berdua tampak gembira sekali menyaksikan pertarungan itu.

Bee Kun Bu mengerutkan kening, lalu meloncat ke luar ke sisi Sin Goan Tong seraya berseru.

"Sobat Sin harap berhenti!"

Saat ini, Sin Goan Tong juga menyadari akan kelihayan Kun Lun Sam Cu, tidak seperti biasanya.

Padahal ia memang sudah mau berhenti bertarung dengan Giok Cin Cu, tapi Giok Cin Cu justru terus-menerus menyerangnya dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat, sehingga membuatnya tiada kesempatan untuk mundur Ketika mendengar suara seruan Bee Kun Bu, gusarlah Sin Goan Tong.

"Dia tidak berhenti aku yang berhenti, bukankah nyawaku akan melayang di bawah pedangnya?"

Masuk akal apa yang dikatakan Sin Goan Tong. Karena itu Bee Kun Bu menyerang Giok Cin Cu. Terkejutlah Giok Cin Cu. ia bersiul aneh sambil menyurut mundur, lalu berdiri tak bergerak

Sin Goan Tong menarik nafas lega. ia memandang Bee Kun Bu seraya bertanya dengan heran.

"Apa gerangan yang telah terjadi? Kenapa mereka bertiga?"

"Aku justru masih pusing karena urusan ini," sahut Bee Kun Bu sambil menarik nafas, "Sobat Sin, tahukah engkau apa artinya Mo Kui Ceh Yi?"

"Entahlah." Sin Goan Tong menggelengkan kepala, "Aku tidak pernah mendengarnya." Bee Kun Bu memandang Kun Lun Sam Cu dan berpikir, kalau mereka bertiga kembali ke Tionggoan dalam keadaan begini, entah akan menimbulkan urusan apa lagi? Setelah berpikir demikian, Bee Kun Bu bertanya pada Sin Goan Tong.

"Sobat Sin mau ke mana?"

"Aku mau ke istana Pit Sia Kiong," jawab Sin Goan Tong memberitahukan.

Tidak usah ke sana lagi." ujar Bee Kun Bu. "Pit Sia Kiong telah musnah, dan Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu pun telah tewas."

"Oh?" Sin Goan Tong terbelalak "Bolehkah engkau menuturkannya?"

"Maaf!" ucap Bee Kun Bu. "Saat ini aku sedang pusing." Bee Kun Bu mendekati Kun Lun Sam Cu, namun Kun Lun

Sam Cu sama sekali tidak bergerak Secepat kilat Bee Kun Bu

menotok jalan darah mereka.

"Hei!" seru Sin Goan Tong kaget, "Bocah, engkau mau berbuat apa?"

"Sulit dijelaskan dengan sepatah dua patah kata." Bee Kun Bu menarik nafas panjang. "Guru bertiga kini seakan tidak waras, aku sama sekali tidak tahu sebab musabab-nya. Oleh karena itu, aku terpaksa menotok jalan darah mereka,"

"Heran?" Sin Goan Tong terperangah, "Mereka bertiga berkepandaian tinggi, kenapa bisa jadi begini?"

"Bukan cuma mereka bertiga, bahkan Na Hai Peng pun begitu." Bee Kun Bu memberitahukan.

HHaaah...!" Sin Goan Tong terkejut bukan main, sebab ia tahu betapa tingginya kepandaian Na Hai Peng.

Di saat bersamaan, terdengarlah suara tawa panjang dari tempat jauh kian mendekat Tak lama tampaklah sosok bayangan melesat ke tempat itu, cepatnya laksana kilat, Siapa orang itu, tidak lain Na Hai Peng. Tempat Sin Goan Tong berdiri, justru menghalangi Na Hai Peng, sedangkan Na Hai Peng terus melesat, betapa kagetnya Sin Goan Tong, ingin menghindar sudah tidak keburu lagi.

Badan Na Hai Peng melewati sisi Sin Goan Tong, tapi mendadak Sin Goan Tong merasa badannya melambung ke atas enam depaan, ternyata Sin Goan Tong tersambar oleh angin dari lengan jubah Na Hai Peng. sedangkan Na Hai Peng tidak berhenti, terus melesat ke depan.

Kepandaian Sin Goan Tong memang tidak rendah, Namun dibandingkan dengan Na Hai Peng, masih berada jauh di bawah, Maka tidak heran kalau badannya melambung ke atas ketika tersambar angin lengan jubah Na Hai Peng yang lewat di sisinya.

Betapa terkejutnya Sin Goan Tong, Tapi ia masih bisa berlaku tenang saat badannya melambung ke atas, ia menarik nafas dalam-dalam sambil berjungkir balik turun ke bawah.

Setelah sepasang kakinya menginjak tanah, bayangan Na Hai Peng telah lenyap dari pandangan Sin Goan Tong berdiri dengan mulut ternganga lebar, tak mampu mengucapkan apa pun.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang menyaksikan keadaan itu juga tertegun, Na Hai Peng berkepandaian begitu tinggi, namun kini berubah tidak waras, Siapayang mampu menundukkannya? Kalau Kun Lun Sam Cu dan Tu Wee Seng, itu masih bisa cari akal untuk mengatasinya .

Sin Goan Tong yang berdiri dengan mulut ternganga itu, lalu memandang Bee Kun Bu seraya bertanya.

"Bee Siauhiap, sebetulnya apa yang telah terjadi?" "Aaakh.,.!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang, "Aku tadi

sudah bilang, bukan cuma Na Locianpwee, namun Pat Pie Sin

Ong-Tu Wee Seng juga begitu, itu pasti ada sebab musababnya, sedangkan aku cuma tahu mereka mengucapkan "Mo Kui Ceh Yi", apa gerangan yang telah terjadi, aku sama sekali tidak tahu,"

"Mo Kui Ceh Yi! Mo Kui Ceh Yi,,.?" gumam Sin Goan Tong.

"Sobat Sin, engkau tahu apa artinya?" tanya Bee Kun Bu cepat

"Kedengarannya seperti nama suatu tempat, namun aku tidak tahu tempat apa itu." sahut Sin Goan Tong sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu berpamit, "Bee siauhiap, sampai jumpa!"

Sin Goan Tong melesat pergi Karena Sin Goan Tong juga tidak tahu tentang Mo Kui Ceh Yi, maka Bee Kun Bu tidak menahannya.

Setelah Sin Goan Tong pergi, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan saling memandangi sama sekali tidak tahu harus berbuat apa?

Urusan begitu aneh, membuat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak habis berpikir, akhirnya Bee Kun Bu menghela nafas.

"Adik Loan, arah yang ditempuh ayah angkat adalah Giok Bun Kwan, Kalau dia sampai di Tionggoan dan tetap begitu, bukankah akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan? Aku pikir lebih baik kita berusaha mengejarnya."

"Kalau begitu. " Lie Ceng Loan menunjuk Kun Lun Sam

Cu yang menggeletak di tanah. "Bagaimana dengan guru dan Supek?"

"Engkau tunggu di sini sebentar, pasti ada kaum pedagang lewat di sini. Engkau berusaha membeli atau meminjam sebuah kereta kuda pada mereka, lalu membawa guru ke gunung Kwat Cong San menemui Kakak Pek! Bagaimana?"

"Kakak Bu.,,." Air mata Lie Ceng Loan sudah berlinang, "Itu.,, bukankah kita akan berpisah lagi?" "Adik Loan!" Bee Kun Bu menggenggam tangan gadis itu. "Kalau aku tidak berhasil mengejar ayah angkat, tentu akan ke gunung Kwat Cong San untuk menemuimu jadi engkau tidak usah berduka!"

"Kakak Bu, aku... aku sungguh takut sekali." Lie Ceng Loan menatapnya.

"Apa yang engkau takutkan?" tanya Bee Kun Bu heran. "Kakak Bu.,,." Lie Ceng Loan langsung mendekap di dada

Bee Kun Bu. "Saat itu ketika kita berpisah, engkau juga mengatakan kita akan bertemu. Tapi akhirnya aku malah hampir tidak bisa bertemu denganmu."

sebetulnya Bee Kun Bu juga merasa berat meninggalkan Lie Ceng Loan, Namun teringat akan keadaan Na Hai Peng yang begitu macam, kalau tiba di Tionggoan pasti akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan

Apa gerangan yang akan terjadi, ia sama sekali tidak tahu.

Apabila ia tidak berusaha mengejar Na Hai Peng, mungkin nama Na Hai Peng akan rusak selamanya, itu tidak boleh terjadi.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu membela inya, "Engkau jangan bodoh! Bukankah aku baik-baik saja berdiri di hadapanmu?"

"Kakak Bu, betapa sedihnya hatiku ketika aku mengira bahwa engkau telah mati, Maka,., maka aku tidak ingin tersiksa lagi seperti ketika itu," ujar Lie Ceng Loan dengan air mata berderai.

"Adik Loan!" Bee Kun Bu tersenyum paksa, "Saat itu karena perbuatan Kim Hun Tokouw, jangankan aku, kakak Pek dan Siao Tiap pun nyaris celaka, Kini kita sudah hampir tiba di Tionggoan, bagaimana mungkin hal itu akan terjadi lagi!"

"Kakak Bu, aku,., aku sungguh khawatir" "Apa yang engkau khawatirkan?" "Paman Na bisa bertarung dengan guru dan Supek, pertanda paman Na memang sudah tidak waras, Kalau engkau mengejarnya, sedangkan Paman Na tidak mengenal mu lagi, apa pula yang akan terjadi?"

Yang paling dikhawatirkan Bee Kun Bu memang masalah tersebut Kini Lie Ceng Loan telah mengemukakan nya. Maka Bee Kun Bu tertegun, lama sekali barulah menjawab

"Aku pikir tidak akan begitu." "Kakak Bu. " Lie Ceng Loan

menarik nafas. "Kalau engkau berkeras mau pergi, aku tidak bisa mencegahmu, Tapi. kenapa kita harus sedemikian cepat

berpisah ?"

Tentunya tidak akan sedemikian cepat," sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum.

Lie Ceng Loan menatapnya dalam-dalam. Kemudian mereka memapah Kun Lun Sam Cu ke pinggir jalan dan menunggu di situ, Tak lama muncullah serombongan pedagang dengan belasan kereta kuda, itu adalah kaum pedagang di perbatasan

Segeralah Bee Kun Bu menghampiri mereka, Salah seorang tua berjenggot memandangnya seraya bertanya dengan bahasa Han.

"Ada urusan apa, Tuan?"

"Maafl" ucap Bee Kun Bu sopan, "Guru-guruku menderita penyakit aneh, maka aku ingin berunding dengan Tuan!"

"Berunding apa?"

"Kami ingin membeli sebuah kereta kuda agar bisa pulang ke kampung halaman. Apakah Tuan sudi membantu kami?"

Orang tua berjenggot itu memandang Kun Lun Sam Cu sejenak, kemudian baru berkata.

"Eh? Air muka mereka tampak aneh, tapi bukan mengidap suatu penyakit!"

Tuan!" Bee Kun Bu menarik nafas, "Sulit dijelaskan.

Namun kelihatannya Tuan mengerti ilmu pengobatan Sudikah Tuan mengobati mereka bertiga?" "Baiklah." Orang tua berjenggot itu mengangguk

Terimakasih, Tuan!" ucap Bee Kun Bu girang sekali Orang tua berjenggot segera berseru pada orang-

orangnya, sedangkan Lie Ceng Loan tidak mendengar pereakapan mereka.

"Kakak Bu, engkau bicara apa dengan orang tua itu?" tanyanya heran.

Tenang, Adik Loan!" sahut Bee Kun Bu. ia juga terkejut ketika mendengar suara seruan orang tua berjenggot yang mengandung Lweekang.

Setelah orang tua berjenggot itu berseru, wajah orang- orangnya mendadak tampak tegang, Bee Kun Bu ingin tahu apa yang dikatakan orang tua berjenggot pada orang- orangnya, namun ia sama sekali tidak mengerti

"Kakak Bu, orang tua itu omong apa?" tanya Lie Ceng Loan.

"Aku pun tidak mengerti," sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum "Orang tua itu berbicara dengan bahasa suku-nya."

Berselang beberapa saat kemudian, orang tua berjenggot telah usai berbicara. Orang-orangnya segera mundur bersama kereta kuda mereka.

Tuan!" Bee Kun Bu keheranan "ltu kenapa?"

Tenang, itu cuma menjaga diri," sahut orang tua berjenggot sambil tersenyum.

"Aku tidak mengerti maksud Tuan, Mereka bertiga adalah guru-guruku, Bagaimana mungkin akan turun tangan jahat terhadap kalian?" ujar Bee Kun Bu.

Orang tua berjenggot bergumam, tapi menggunakan bahasa sukunya, maka Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sama sekali tidak mengerti Ketika orang-orang itu mundur, justru menyisakan sebuah kereta kuda, sementara orang tua berjenggot dengan gesit meloncat turun dari kereta kuda.

ia mendekati Kun Lun Sam Cu, lalu berhenti di hadapan mereka dalam jarak beberapa depa, Dengan penuh perhatian orang tua berjenggot menatap Kun Lun Sam Cu, kemudian air mukanya tampak berubah.

"Engkau harus berkata sesungguhnya padaku, bagaimana penyakit mereka bertiga?" ujar orang tua berjenggot

"Mereka bertiga tidak waras, hingga masing-masing tidak mengenali dirinya sendiri," jawab Bee Kun Bu.

"Haaah!" seru orang tua berjenggot kaget Tuan. " Bee Kun Bu tereengang.

Akan tetapi, mendadak orang tua berjenggot itu melesat ke hadapan Kun Lun Sam Cu, kemudian memutarkan badannya ke belakang Tong Leng Tojin dan Hiang Ceng Totiang, sekaligus mencengkeram punggung mereka berdua.

Bee Kun Bu terkejut ia ingin mencegah perbuatan orang tua berjenggot, tapi sudah terlambat

Serrt! Serrrt! Suara sobekan baju di punggung Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang.

Orang tua berjenggot memandang punggung mereka berdua, wajahnya berubah langsung dan menyurut mundur beberapa langkah.

Sikap orang tua berjenggot seakan telah melihat sesuatu di punggung Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang, Ketika Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan ingin bertanya, orang tua berjenggot telah mengibaskan tangannya seraya berkata.

"Kereta kuda itu kuberikan pada kalian, baik-baiklah kalian berdua menjaga diri!"

Usai berkata begitu, orang tua berjenggot segera kembali ke kereta kudanya dan berteriak tiga kali. Apa yang diteriakkannya, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan sama sekali tidak mengerti, karena orang tua berjenggot menggunakan bahasa sukunya.

Walau tidak mengerti, namun Bee Kun Bu dapat menduga bahwa orang tua berjenggot itu telah mengidap penyakit seperti Na Hai Peng dan Kun Lun Sam Cu, terbukti dari teriakkannya yang menyebut Mo Kui Ceh Yi.

Setelah orang tua berjenggot berteriak, orang-orang-nya juga berseru kaget dengan wajah berubah, Mereka lalu melanjutkan perjalanan hanya tersisa sebuah kereta kuda di situ.

"Tuan!" seru Bee Kun Bu, "Sebetulnya apa yang telah terjadi?"

Orang tua berjenggot tidak menyahut, cuma menjura ke arah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan dan terus melanjutkan perjalanan

Begitu cepat keberangkatan mereka, Tak lama rombongan pedagang itu sudah tak tampak lagi.

Menghadapi kejadian itu, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan cuma berdiri termangu-mangu di tempat Mereka tidak mengerti kenapa rombongan itu pergi begitu saja.

"Kakdk Bu, sebetulnya mereka telah melihat apa?" tanya Lie Ceng Loan heran.

"Aku pun tidak tahu," sahut Bee Kun Bu sambil melangkah ke belakang Kun Lun Sam Cu, karena orang tua berjenggot merobek baju di punggung mereka, Sedangkan Lie Ceng Loan mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua sudah berdiri di belakang Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang, Ternyata di punggung mereka, tepatnya di Leng Tay Hiat terdapat sebuah tanda hijau sebesar telapak tangan. Tanda itu tampak samar, bahkan tidak tampak kalau dilihat sepintas lalu.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan maju selangkah, lalu memperhatikan tanda hijau itu. Ternyata tanda itu mirip setan iblis sedang menyeringai tampak sungguh menakut kan.

Mereka berdua tereengang sebab tanda hijau itu sepertinya tumbuh dari dalam, bukan dilukis atau diukir dari luar. Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak mengerti kenapa punggung Kun Lun Sam Cu bisa begitu, Akhirnya Bee Kun Bu menutup kembali punggung mereka.

"Adik Loan!" ujar Bee Kun Bu kemudian, "Kini sudah ada kereta kuda, kita harus kembali pada rencana se-mula."

"Baik." Lie Ceng Loan mengangguk

Mereka berdua memapah Kun Lun Sam Cu ke dalam kereta kuda, Bee Kun Bu duduk di depan memegang tali kendali kuda, Tak lama kemudian, kereta kuda itu pun mulai meluncur ke depan memasuki Giok Bun Kwan.

Ketika hari mulai malam, kereta kuda itu telah sampai di ujung jalan, Bee Kun Bu menghentikan kereta kuda dan meloncat turun, ia lalu bertanya pada pelayan kedai teh yang ada di situ tentang Na Hai Peng, Pelayan itu mengatakan melihat orang tersebut melewati tempat itu menuju arah timur

Bee Kun Bu mengucapkan terimakasih lalu kembali menghampiri Lie Ceng Loan, ia memandang gadis itu seraya berkata.

"Ayah angkat berjalan menuju ke arah timur sedangkan untuk mencapai gunung Kwat Cong San, engkau harus menempuh arah selatan, Oleh karena itu, kita terpaksa berpisah di sini!"

"Kakak Bu,.,." Lie Ceng Loan mulai mengucurkan air mata. "Adik Loan, hati-hatiah engkau dalam perjalanan!" pesan

Bee Kun Bu dan menambahkan, "Aku telah menotok jalan darah ke tiga guru kita, Sebelum engkau bertemu Kakak Pek, janganlah engkau membebaskan totokan mereka!"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk sesungguhnya masih banyak yang akan dikatakan gadis itu. Namun tenggorokannya tersumbat lantaran timbulnya duka di dalam hatinya, sehingga ia cuma bisa terisak-isak menahan rasa dukanya.

Mereka berhadapan lama sekalL Berselang beberapa saat kemudian, barulah Bee Kun Bu mendongakkan kepala seraya berkata.

"Adik Loan, aku harus pergi."

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan menatapnya dengan air mata berderai-derai, "Engkau harus hati-hati dan baik-baik menjaga diri!"

"Adik Loan!" Bee Kun Bu membelai rambutnya. "Engkau pun harus baik-baik menjaga diri!"

Mereka saling memandang, Bee Kun Bu tahu betapa tingginya ilmu ginkang Na Hai Peng, maka kalau tidak cepat- cepat mengejarnya, tentu akan ketinggalan semakin jauh.

Oleh karena itu, Bee Kun Bu mengeraskan hatinya, ia membalikkan badannya kemudian melesat pergi.

Lie Ceng Loan memandang punggung Bee Kun Bu dengan wajah murung, Tak lama pemuda itu telah lenyap dari pandangannya, Dapat dibayangkan, betapa sedihnya hati gadis itu. Namun ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju gunung Kwat Cong San. sementara bulan pun mulai menampakkan diri di langit....

******

Bab ke 56 - Bertemu Orang Aneh Yang menyeramkan

Di bawah sinar rembulan, Lie Ceng Loan terus melakukan perjalanan Ketika larut malam, ia melihat kuda yang menarik kereta itu telah lelah sekali, Oleh karena itu ia lalu menghentikan perjalanannya.

Walau jalan di tempat itu cukup besar, namun suasananya amat sunyi sepi Di pinggir jalan itu cuma terdapat batu-batu yang berserakan

Lie Ceng Loan meloncat turun, lalu membuka pintu kereta sekaligus memandang ke da!am. seketika juga ia tampak tertegun

Ternyata ia melihat Kun Lun Sam Cu duduk bersandar Padahal seingatnya ia dan Bee Kun Bu membaringkan mereka di dalam kereta, kenapa sekarang duduk bersandar?

Karena merasa heran, Lie Ceng Loan menjulurkan kepalanya melongok ke dalam Pada waktu bersamaan, ia mendengar suara tawa di belakangnya.

Lie Ceng Loan terkejut dan segera menoleh ke belakang, Tampak seorang berwajah tampan berdiri di belakangnya, yakni Co Hiong.

"Saudara Co!" Lie Ceng Loan terperanjat Ternyata engkau!"

"Nona Lie!" Co Hiong tersenyum manis, "Dasar jodoh, kita bertemu di sini lagi, ini sungguh di luar dugaan."

Lie Ceng Loan adalah gadis yang polos dan berhati bajik, Maka terhadap Co Hiong, ia tidak begitu men-dendamnya.

LagipuIa ia masih mengira bahwa Co Hiong pernah berusaha menolong Bee Kun Bu. Padahal sesungguhnya, itu cuma merupakan rencana busuk Co Hiong.

"Saudara Co, Kakak Siao Tiap mencarimu Engkau tidak bertemu dengannya?" tanya Lie Ceng Loan

Air muka Co Hiong langsung beruban Matanya pun melirik ke sana ke mari. Kemudian ia tertawa karena tidak melihat siapa pun berada di tempat itu. "Nona Lie, Na Siao Tiap memang tidak bertemu denganku." sahutnya.

"Ke tiga guruku sekarang duduk bersandar, apakah itu perbuatanmu?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Ya." Co Hiong mengangguk dan memberitahukan "Aku bersembunyi di kolong kereta, tentunya kalian tidak dapat melihat diriku."

sesungguhnya Lie Ceng Loan juga merasa heran, kenapa Co Hiong muncul mendadak di tempat itu.

"Maaf! Aku harus melanjutkan perjalanan." ujarnya dingin "Nona Lie!" Co Hiong tertawa, "Engkau begitu mencintai

saudara Bee, tapi dia tidak mempedulikanmu."

"Jangan omong kosong di sini!" bentak Lie Ceng Loan gusar

"Nona Lie, aku tidak omong kosong, Dia pergi meningga!kanmu, bukankah pertanda dia tidak mempedulikanmu lagi?" ujar Co Hiong sambil menggeleng- gelengkan kepala.

"Ayah angkatnya mengalami sesuatu, maka dia pergi mengejar ayah angkatnya, bukan tidak mempedulikanku."

"Apa? Engkau bilang apa?" Wajah Co Hiong tampak terkejut Ternyata ia sama sekali tidak tahu tentang apa yang telah menimpa diri Na Hai Peng maupun Kun Lun Sam Cu.

"Ayah angkat Bee Kun Bu dan ke tiga guruku.,." tutur Lie Ceng Loan sejeIas-jelasnya.

Co Hiong terheran-heran mendengar penuturan Lie Ceng Loan.

"Engkau tahu apa artinya Mo Kui Ceh Yi?" tanya Lie Ceng Loan sambil menatapnya.

"Aku tidak tahu, bahkan mendengar pun tak pernah," sahut Co Hiong sungguh-sungguh. Padahal kemunculan Co Hiong, sebenarnya membawa suatu niat jahat terhadap Lie Ceng Loan. Tapi ia berpikir lebih jauh. Kini ia telah memperoleh kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni, sedangkan kepandaian Lie Ceng Loan juga tidak rendah, seandainya ia menimbulkan suatu masalah di sini, tentunya tidak akan menguntungkan dirinya, Karena itu, timbullah suatu ide dalam hatinya.

"Nona Lie! Engkau pergilah! Mulai sekarang kita tidak akan bertemu lagi!" ujar Co Hiong sambil menarik nafas, Ternyata ia ingin memperalat gadis itu untuk menyiarkan tentang apa yang dikatakannya barusan.

"Lho? Kenapa?" Heran Lie Ceng Loan.

"Guruku telah mati, maka aku harus berkumpul dengan isteri guruku dan Sumoyku, Jadi... aku ingin hidup tenang melewati hari-hariku."

"Oh?" Lie Ceng Loan manggut-manggut "Bagus kalau engkau bisa begitu."

"Nona Lie!" Co Hiong menjura, "Sampai jumpa!"

Co Hiong melesat pergi, Kalau Co Hiong tidak berpikir begitu tadi, mungkin saat ini Lie Ceng Loan sudah dalam bahaya, Namun ternyata Co Hiong lebih mementingkan kitab ilmu silat Sam Im Sin Ni.

Setelah Co Hiong melesat pergi, Lie Ceng Loan masuk ke dalam kereta, ia memeriksa nadi Kun Lun Sam Cu. Ternyata nadi mereka berdenyut cepat dan aneh, tapi tidak ada tanda- tanda terluka.

Lie Ceng Loan tidak habis berpikir Kemudian ia kembali ke tempat duduk lalu melanjutkan perjalanan

Tak terasa delapan hari telah berlalu, Dalam hari-hari itu ia terus memikirkan Bee Kun Bu. ia tidak berani membebaskan totokan di tubuh Kun Lun Sam Cu. Karena badan Kun Lun Sam Cu tidak bisa bergerak, maka ia harus menyuap mereka dengan buah-buahan dan makanan lainnya.

Meskipun ia berdiri di hadapan Kun Lun Sam Cu, tapi mereka bertiga sama sekali tidak mengenalinya, Sungguh duka hatinya menyaksikan itu.

Hari ini ketika sedang melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ia mendengar suara "Ngung! Ngung!" di belakangnya.

Suara itu amat aneh dan sangat menyeramkan Lie Ceng Loan merinding mendengar suara itu, Kemudian ia menoleh ke belakang, tapi tidak melihat apapun. padahal suara itu sudah makin dekat

Tak seberapa lama kemudian, kereta kuda itu menikung, pada saat itu terdengar pula suara derap kaki kuda yang amat cepat Suara ngung-ngungan itu pun terdengar makin jelas membisingkan telinganya.

"Sebal!" seru Lie Ceng Loan dalam hati.

Tampak dua ekor kuda berlari laksana kilat di belakang kereta kuda Lie Ceng Loan, Gadis itu menoleh ke belakang, Ke dua ekor kuda itu sudah makin mendekat dan tampak dua orang menunggang kuda-kuda itu.

karena ke dua ekor kuda itu berlari begitu cepat, Lie Ceng Loan segera menghentikan kereta kudanya 4i pinggir jalan, untuk memberi kesempatan ke dua ekor kuda itu berla!u.

Setelah itu ia memandang ke arah ke dua penunggang kuda itu.

Ke dua orang itu mengenakan pakaian serba putih, Ketika melihat wajah ke dua orang itu, Lie Ceng Loan menjerit kaget

"Haaah.,.

Ternyata ke dua orang itu mengenakan kedok kulit manusia, yang menyeramkan Kedok itu menyerupai muka setan iblis yang bertaring panjang. Lie Ceng Loan mengerutkan kening, ia merasa pernah menyaksikan muka setan iblis tersebut itulah yang membuatnya tereengang.

Akhirnya ia teringat juga, Tanda hijau di punggung Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang persis seperti kedok itu.

Hati Lie Ceng Loan tersentak Kalau saat ini masih bersama Bee Kun Bu, tentu ia tidak akan merasa terkejut maupun takut Tapi saat ini, ia cuma seorang diri, Kalau ada apa-apa, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Ke dua orang itu menghentikan kuda masing-masing, sekaligus memandang ke arah Lie Ceng Loan, Gadis itu merasa bahwa sorotan mata mereka aneh sekali, bahkan juga melihat semacam terompet yang dibuat dari tulang putih bergantung di dada mereka, Ternyata suara ngung-ngungan tadi suara terompet tersebut

Lie Ceng Loan berpikir, bahwa tidak lama lagi akan tiba di gunung Kwat Cong San, jadi tidak mau banyak urusan

Oleh karena itu, ia menggerakkan tali kendali kuda, Tak lama kereta kuda itu pun mulai meluncur Di saat bersamaan, salah seorang penunggang kuda itu menjulurkan tangannya untuk memegang pinggiran kereta, Bukan main kuatnya tenaga orang itu, seketika juga kereta kuda itu tidak bisa bergerak

"Lie Ceng Loan terkejut menyaksikan tenaga orang itu, tapi juga amat gusan

"Ei! Engkau mau apa?" tanyanya.

Orang itu menatap Lie Ceng Loan dengan mata mendelik, sehingga membuatnya merinding seketika.

"Kenapa kalian tidak membiarkan aku pergi?" tanyanya kemudian

Orang yang memegang pinggiran kereta tertawa dingin Menyusul terdengar pula suara "Krek", kayu di pinggiran kereta itu telah patah, sehingga kereta itu menjadi miring, Lie Ceng Loan nyaris terjatuh, untung ia masih sempat meloncat ke atas.

Di saat itu pula ia teringat pada Kun Lun Sam Cu yang tak bisa bergerak di dalam kereta, ia cepat-cepat menghunus pedangnya sambil melayang turun

Akan tetapi, ia sudah terlambat karena orang itu telah membuka pintu kereta, dan tampak Kun Lun Sam Cu tergelinding ke luar.

Lie Ceng Loan tidak tahu siapa ke dua orang itu, Namun ia yakin bahwa kedatangan mereka karena Kun Lun Sam Cu.

Ketika melihat Kun Lun Sam Cu tergelinding ke luar, cemaslah hati gadis itu.

"Jangan ganggu mereka!"

pedangnya bergerak, jurus Siauw Cih Thian Lam pun dikeluarkannya untuk menyerang orang itu.

Bukan main cepatnya gerakan pedang Lie Ceng Loan, Di saat ujung pedang itu hampir menusuk bahu orang tersebut mendadak orang itu bersiul aneh sambil melesat ke atas beberapa depa, sehingga pedang Lie Ceng Loan menyerang tempat kosong.

Lie Ceng Loan terkejut sekali ketika menyaksikan gerakan orang itu, ia lalu bergerak cepat ke hadapan Kun Lun Sam Cu.

Orang yang melesat ke atas itu tertawa panjang sambil melayang turun, Temannya segera memberi isyarat Mereka berdua lalu mengangkat terompet yang bergantung di dada, kemudian meniupnya tiga kali.

Ngung! Ngung! Ngung!

Suara itu sangat menusuk telinga dan menggetarkan hati. Lie Ceng Loan mengira mereka mengerahkan semacam ilmu. Maka ia segera menghimpun hawa murninya agar dirinya tidak terpengaruh Suara itu memang kedengaran amat lihay, tapi Lie Ceng Loan tidak merasakan apa-apa, otomatis membuatnya terheran-heran. Di saat itu pula ke dua orang tersebut meniup terompet lagi tiga kali, Tiba-tiba Lie Ceng Loan merasa ada desiran angin yang.amat dahsyat di belakangnya. itu sungguh di luar dugaannya.

Di hadapannya hanya ada dua musuh, tetapi kenapa masih ada serangan gelap di belakangnya? sedangkan Kun Lun Sam Cu masih dalam keadaan tertotok tidak bisa bergerak

Lie Ceng Loan ingin berkelit namun sudah terlambat sebab punggungnya telah kena pukulan

Buuuk!

Untung Lweekangnya sudah mengalami banyak kemajuan Sebelum punggungnya terhantam pukulan itu, ia telah menghimpun tenaga murni untuk melindungi d iri nya.

Pukulan itu membuat Lie Ceng Loan terhuyung-huyung ke depan, bahkan nyaris terjatuh

Pada waktu bersamaan, ia pun melancarkan serangan Coan Yun Cai Goat (Menembus Awan Memetik Bulan) ke arah orang berbaju putih yang berdiri di hadapannya. Orang itu meloncat mundur Lie Ceng Loan menggunakan kesempatan itu untuk menoleh ke belakang.

Begitu menoleh, Lie Ceng Loan nyaris jatuh duduk seketika, Ternyata di situ berdiri tiga orang, yakni Kun Lun Sam Cu. sementara Hian Ceng Totiang sedang menurunkan tangannya.

itu membuktikan bahwa orang yang melancarkan serangan gelap itu Hian Ceng Totiang, sedangkan wajah mereka tampak aneh sekali, Meringis dan menyeringai Lie Ceng Loan tidak mengerti, kenapa mereka bisa bergerak? Padahal tubuh mereka telah ditotok oleh Bee Kun Bu.

Toa Supek, Ji Supek, Suhu!" panggil nya kaget

Walau Lie Ceng Loan telah memanggil mereka bertiga, tapi ke tiga orang itu tetap berdiri mematung di tempat

sedangkan ke dua orang berbaju putih berteriak aneh, kemudian secepat kilat melancarkan serangan ke arah Lie Ceng Loan.

Lie Ceng Loan merasa ada angin pukulan di be-lakangnya, Maka ia segera menggerakkan pedangnya mengeluarkan jurus Ciok Phoh Thian Keng (Batu Pecah Langit Kaget), pedangnya berkelebatan menghadang serangan ke dua orang berbaju putih.

Setelah mengeluarkan jurus itu, tangan kirinya pun bergerak ke arah bahu salah seorang berbaju putih, itulah pukulan tangan kosong yang diajarkan Liong Giok Pin berdasarkan buku catatan silat Sam Im Sin Ni.

pukulan tangan kosong itu berhasil menghantam jalan darah di bahu orang berbaju putih tersebut

Orang berbaju putih itu menjerit-jerit sambit meloncat mundur Lengannya sudah tidak bisa bergerak lagi.

Orang berbaju putih yang satu lagi juga meloncat mundur kemudian mereka berdua bersiul aneh terus-menerus.

Setelah berhasil dengan pukulan itu, Lie Ceng Loan tampak bersemangat sekali, Badannya bergerak ke depan.

Namun di saat badannya bergerak, ke dua orang berbaju putih kembali meniup terompet Suara ngung-ngungan pun terdengar lagi, seketika itu juga berkelebat tiga sosok bayangan ke arah Lie Ceng Loan dan langsung mengurungnya, Tiga sosok bayangan itu ternyata Kun Lun Sam Cu. "Guru, anak Loan. "

Belum juga gadis itu usai mengucap, Giok Cin Cu sudah menggerakkan pedangnya menyerang dengan jurus Hun Hoa Soh Liu (Dahan Bergoyang Bunga Ber-taburan).

sebetulnya Lie Ceng Loan tidak mau bertarung dengan gurunya, namun jurus itu amat mendesaknya, sehingga ia terpaksa menangkis dengan jurus yang sama.

Trang! Ke dua pedang itu beradu dan masing-masing mundur selangkah Di saat itu, Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang juga sudah menyerangnya.

Lie Ceng Loan terkejut dan juga berduka, ia tahu jelas Kun Lun Sam Cu adalah tokoh tua yang gagah dan lurus, Tidak mungkin mereka akan turun tangan terhadap dirinya, Namun kini mereka menyerangnya, itu pertanda mereka sudah tidak waras lagi.

Gadis itu pun tahu, kalau ia terus-menerus bertarung dengan Kun Lun Sam Cu, akhirnya pasti sama-sama celaka, Oleh karena itu, ketika Tong Leng Toj in dan Mian Ceng Totiang menyerangnya, ia cuma meloncat mundur menghindari serangan-serangan mereka.

Akan tetapi, muncul lagi serangan dari betakang, Tanpa menghiraukan serangan itu, Lie Ceng Loan melesat ke arah ke dua orang berbaju putih seraya membentak

"Kalian berdua sedang berbuat apa?"

Kemudian disusul pula dengan serangan beruntun dari tiga jurus Hun Kong Kiam Hoat, yakni jurus Ciok Phoh Thian Keng (Batu Pecah Langit Kaget), Uh Cian Yun Sou (Kabut Sirna Awan Buyar) dan jurus Ih Hong Hong Siauw (Angin Puyuh Berdesir).

Ke tiga jurus ilmu pedang itu menciptakan puluhan bayangan pedang mengarah pada ke dua orang berbaju putih, sehingga mereka berdua terdesak mundur Pada jurus ke tiga, terdengarlah suara jeritan aneh dari orang berbaju putih yang terluka bahunya tadi Ternyata bahunya tertusuk lagi oleh pedang itu.

Lie Ceng Loan tidak berhenti sampai di situ, ia masih menyerang mereka dengan jurus-jurus ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat, Akan tetapi, ke dua orang berbaju putih itu mendadak melesat ke atas punggung kuda masing-masing, lalu meniup terompet aneh itu tiga kali.

Gadis itu ingin mengejar mereka, namun mendadak Kun Lun Sam Cu memekik aneh, sedangkan ke dua orang berbaju putih telah melarikan kuda masing-masing, Kun Lun Sam Cu pun melesat mengikuti mereka, kejadian itu sungguh mengejutkan Lie Ceng Loan. kemudian secepat kilat ia memutuskan tali kereta dengan pedangnya, lalu meloncat ke atas punggung kuda dan menepuk badan kuda itu.

Kuda itu meringkik dan langsung berlari kencang ke arah ke dua orang berbaju putih, Padahal Lie Ceng Loan tahu kalau Kun Lun Sam Cu telah dikendalikan oleh ke dua orang berbaju putih itu. kalau ia berhasil menyusul mereka, mungkin dirinya yang bakal celaka.

Tapi mengingat Bee Kun Bu yang menyerahkan Kun Lun Sam Cu padanya untuk dibawa ke gunung Kwat Cong San, maka ia harus bertanggung jawab tentang itu. sesungguhnya kini kepandaian Lie Ceng Loan telah berada di atas Kun Lun Sam Cu, sebab mendapat petunjuk dari Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap.

Berhubung rasa tanggung jawabnya terhadap Bee Kun Bu, maka ia mengambil keputusan untuk mengejar Kun Lun Sam Cu.

Lewat lima enam mil kemudian, Lie Ceng Loan melihat Kun Lun Sam Cu berlari-lari mengikuti ke dua orang berbaju putih yang menunggang kuda, Namun gadis itu masih tertinggal jauh, sehingga ia berteriak-teriak memanggil Kun Lun Sam Cu. Akan tetapi, Kun Lun Sam Cu tetap berlari mengikuti ke dua orang berbaju putih, Ketika hari mulai senja, Kun Lun Sam Cu dan ke dua orang berbaju putih memasuki sebuah rimba.

Lie Ceng Loan girang, karena kuda tidak bisa berlari cepat di dalam rimba, maka gadis itu meninggalkan kudanya, lalu mengejar mereka menggunakan ilmu gin-kang, Tapi mendadak ia mendengar suara siulan tiga kali di dalam rimba. Tak lama muncullah tiga orang yang langsung menyerang Lie Ceng Loan dengan golok.

Gadis itu terkejut bukan main. ia menggerakkan pedangnya secepat kilat menangkis ke tiga golok itu.

Trang! Trang! Trang!

Walau ia berhasil mematahkan serangan-serangan itu, namun keringat dinginnya mengucur

Ke tiga orang itu bersiul aneh lagi lalu dengan serentak menyerang Lie Ceng Loan. Padahal Lie Ceng Loan ingin lekas-lekas mengejar Kun Lun Sam Cu, tapi tiga orang berilmu golok aneh itu menghadangnya, sehingga tidak dapat melepaskan diri dan terpaksa ber-tarung. Tak terasa pertarungan mereka telah melewati tiga puluh jurus lebih, Namun Lie Ceng Loan belum melihat jelas wajah ke tiga orang itu, sebab begitu muncul, ke tiga orang itu langsung menyerangnya, sehingga Lie Ceng Loan harus menangkis dan berkelit

Mereka terus bertarung sampai hari sudah mulai gelap, pertarungan sudah melewati lima puluh jurus lebih, namun Lie Ceng Loan tidak bisa menerka berasal dari golongan mana ilmu golok mereka.

Semakin bertarung, Lie Ceng Loan semakin di atas angin, dan barulah bisa melihat wajah mereka, Ternyata mereka juga mengenakan kedok kulit manusia, dan berpakaian serba putih. Lie Ceng Loan menarik nafas lega, sebab mereka bertiga segolongan dengan ke dua orang berbaju putih, yang menunggang kuda tadi, Asal bisa mengalahkan mereka bertiga, tentunya bisa memaksa mereka untuk memberitahukan golongan mereka dan ke mana perginya Kun Lun Sam Cu.

Karena berpikir demikian, Lie Ceng Loan lebih bersemangat dan langsung menggerakkan pedangnya secepat kilat, Orang berbaju putih yang di hadapan Lie Ceng Loan meloncat mundur, namun terpeleset jatuh.

Lie Ceng Loan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Laksana kilat ia menyerang orang berbaju putih yang terjatuh Tapi di saat bersamaan, berkelebat pula sinar golok ke arahnya, Ternyata ke dua orang baju putih lainnya menyerangnya dari arah kiri dan kanan. 

Lie Ceng Loan jadi batal menyerang orang baju putih yang terjatuh itu. ia terpaksa mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan-serangan tersebut dengan jurus Pat Hong Hong Ih (Hujan Angin Delapan Penjuru).

Trang! Trang! Ke dua golok itu tertangkis, bahkan sekaligus membuat ke dua orang berbaju putih itu terpental mundur beberapa langkah.

Lie Ceng Loan memutarkan badannya, maksudnya ingin menyerang orang berbaju putih yang terjatuh tadi Namun di saat bersamaan, orang baju putih itu telah mengayunkan goloknya ke leher Lie Ceng Loan, Ternyata ia tadi cuma berpura-pura jatuh, agar Lie Ceng Loan lengah pada nya.

Memang tidak salah, Lie Ceng Loan sama sekali tidak menyangka. Maka betapa terkejutnya gadis itu. Lagi pula golok itu telah mengarah lehernya, Sungguh bahaya dirinya di saat ini.

Bagaimana cara Lie Ceng Loan menghindar? Tiada jalan lain kecuali menarik dirinya ke belakang. sedangkan ujung golok itu melewati leher Lie Ceng Loan cuma berjarak setengah jengkal seandainya gadis itu terlambat menarik dirinya ke belakang, saat ini lehernya pasti sudah putus.

Setelah menarik menyurut ke belakang, dan ketika golok itu melewati lehernya, ia pun menerobos maju sambil menjulurkan tangan kirinya. itulah jurus tangan kosong Sam Im Sin Ni.

Orang berbaju putih itu tertegun, karena goloknya tidak dapat menebas leher Lie Ceng Loan, bahkan gadis itu balas menyerangnya dengan tangan kosong.

Karena tertegun, maka orang berbaju putih itu tidak sempat berkelit lagi, sehingga jalan darah di lengannya tertotok oleh jari Lie Ceng Loan.

Kreek! Mungkin lengan orang berbaju putih itu telah patah, ia terhuyung-huyung ke belakang lalu jatuh.

Lie Ceng Loan langsung melesat ke arahnya, kemudian mencengkeram nadinya, Maksud gadis itu ingin bertanya padanya di mana Kun Lun Sam Cu. Ketika ia baru mau membuka mulut bertanya, ke dua orang berbaju putih yang terpental tadi telah menyerangnya

Lie Ceng Loan terpaksa melepaskan cengkeramannya di nadi orang berbaju putih, yang satu itu, lalu berkelit ke samping.

Tapi ke dua orang itu telah mundur Salah seorang segera melesat ke arah temannya yang terluka, langsung memapahnya dan sekaligus melesat ke dalam rimba, Begitu pula orang berbaju putih yang lain, juga melesat ke dalam rimba.