Bangau Sakti Jilid 34

 
Jilid 34

"Anak Hiong. " Souw Peng Hai menarik nafas, "Masih

luas di kolong langit, tentunya ada tempat untuk kita berteduh."

"Guru telah terluka hingga sedemikian macam, kenapa Kim Hun Tokouw mau melepaskan Guru?" tanya Co Hiong heran.

"Dia memang sudah mau turun tangan membunuh guru, namun mendadak lonceng di istana Pit Sia Kiong berbunyi, maka dia segera kembali ke sana." Souw Peng Hai memberitahukan.

"Mungkinkah. Na Siao Tiap sudah datang?" Co Hiong

tampak tersentak

"Hm!" dengus Souw Peng Hai dingin, "Biar dia musnahkan istana itu!"

Co Hiong mengerutkan kening, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, sedangkan Souw Peng Hai menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk dan menghimpun hawa murninya, Tak lama ia sudah tampak agak bersemangat "Anak Hiong! sebetulnya siapa orang aneh di dalam gua itu?" tanyanya sambil memandang muridnya itu.

"Panjang kalau dituturkan," sahut Co Hiong.

"Apa yang engkau alami di dalam gua, tuturkanlah pada guru!" ujar Souw Peng Hai.

Co Hiong mengangguk, lalu mulai menutur.

Co Hiong mengaku dirinya Bee Kun Bu, melangkah ke dalam gua dengan hati kebat-kebit dan merasa takut sekali.

Akan tetapi, ia tetap memberanikan diri untuk terus melangkah ke dalam, Setelah melangkah masuk beberapa depa, ia berhenti seraya berkata.

"Cianpwee, aku sudah memasuki gua ini!"

Tiba-tiba berkelebat sosok bayangan ke hadapannya, Bayangan itu tinggi kurus dan begitu cepat tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, bagaikan arwah penasaran

Co Hiong terkejut Ketika ia baru mau membuka mulut, mendadak merasa bahunya sakit sekali, ternyata bahunya telah dicengkeram orang.

"Cianpwee. "

Baru mengucapkan kata tersebut, badannya telah terangkat dan melayang, Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab ia sama sekali tidak mampu melawan atau mengerahkan Lweekangnya.

Tak lama ia sudah sampai di ruang batu yang suasananya remang-remang. Di ruang batu itu terdapat meja dan tempat duduk yang dibikin dari batu pula, Bahkan tampak sebuah lampu minyak menyala remang-remang di atas meja batu itu.

Tiba-tiba Co Hiong terbelalak, ternyata matanya melihat dua orang berdiri di situ, yakni dua anak gadis yang dilemparkannya tadi Kedua gadis itu masih hidup, Sungguh di luar dugaan karena orang aneh di dalam gua tidak menghisap darah mereka. Hanya saja mereka berdua berdiri seperti patung, Begitu melihat Co Hiong, salah satu gadis itu langsung memperlihatkan wajah sinis.

Co Hiong menoleh melihat orang aneh itu, bukan main kagetnya setelah melihat orang aneh tersebut.

Rambut orang aneh itu putih dan panjang hampir menyentuh tanah, Separuh wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang itu, cuma tampak sepasang matanya yang menyorot tajam.

"Cianpwee menyuruhku masuk ada urusan apa?" tanya Co Hiong.

Orang aneh itu menatap Co Hiong, tapi tidak ber-suara, Tatapan yang begitu tajam membuat sekujur badan Co Hiong langsung merinding, Orang aneh itu mendorong sebuah pintu batu. Setelah pintu batu itu terbuka, terdengarlah suara rintihan anak gadis.

"Kakak Bu! Kakak Bu, engkau di mana?"

Co Hiong mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Lie Ceng Loan. Semula ia mengira gadis itu telah mati di tangan orang aneh, tapi ternyata tidak, itu membuatnya tertegun dan tidak habis berpikir

Orang aneh memandang ke dalam ruang itu, kemudian menarik nafas panjang, lalu membalikkan badannya sambil menggerakkan tangannya memanggil Co Hiong, Sungguh menyeramkan, sebab kuku jari tangan orang aneh itu panjang- panjang semua.

Co Hiong menarik nafas dalam-dalam menenangkan hati, lalu menghampiri orang aneh dan tampak terheran-heran pula, Karena merasa dingin sekali ketika mendekati orang aneh itu, maka Co Hiong teringat akan kata-kata Souw Peng Hai, bahwa orang aneh itu melatih semacam ilmu yang mengandung hawa dingin.

Co Hiong memasuki ruang batu itu, ia melihat Lie Ceng Loan duduk di atas sebuah batu. Hati Co Hiong langsung tersentak saking terpesona akan kecantikan Lie Ceng Loan, bahkan terpukau pula, Kalau di dalam gua itu tidak ada orang aneh, mungkin gadis itu telah menjadi miliknya.

"Nona Lie! Nona Lie!" panggil Co Hiong sambil mendekatinya.

Wajah Lie Ceng Loan berseri dan tersenyum manis, sehingga sepasang matanya berbinar-binar indah.

"Kakak Bu, engkau sudah selamat?"

"Ceng Loan!" Co Hiong menggenggam tangannya seraya bertanya lembut, "Kenapa engkau?"

"Kaka Bu, hatiku merasa lega karena engkau sela mat," ujar Lie Ceng Loan sambil menarik nafas dalam-dalam.

"Cianpwee!" Co Hiong berpaling memandang orang aneh itu, "Nona Lie kenapa? Apakah dia terluka?"

Orang aneh itu cuma menarik nafas, ia tidak menyahut dan bahkan membalikkan badannya.

Co Hiong diam, ia tidak berani banyak bertanya, khawatir akan menimbulkan kegusaran orang aneh itu.

ia memandang Lie Ceng Loan dengan penuh perhatian ternyata di kening gadis itu terdapat luka bekas goresan, itu membuatnya terkejut dan tertegun.

Bagian ke empat puluh tiga Menutur kejadian Masa Lalu sementara Lie Ceng Loan terus memandang ke depan,

Mulutnya terus bergumam dengan suara rendah.

"Kakak Bu, Co Hiong bilang engkau ditangkap di istana Pit Sia Kiong, Aku... aku cemas sekali, Kakak Bu. Setelah engkau meninggalkan Gunung Kwat Cong San, tahukah engkau, aku sangat merindukanmu!" Hati Co Hiong terasa panas sekali begitu mendengar gumaman Lie Ceng Loan. Sebab gumaman itu merupakan curahan hati gadis itu kepada Bee Kun Bu.

"Kakak Bu!" Lie Ceng Loan tersenyum. "Akhirnya engkau kembali di sisiku."

Usai berkata, gadis itu menggenggam tangan Co Hiong erat-erat, sehingga membuat pikiran Co Hiong menerawang.

Co Hiong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung mencium pipi Lie Ceng Loan, Gadis itu tersenyum manis, namun mendadak terbelalak

"Siapa engkau? Siapa engkau? Engkau bukan Kakak Bu!

Aku mau Kakak Bu!" teriaknya.

Co Hiong terkejut sedangkan orang aneh itu men-dengus, Mendadak Co Hiong merasa bahunya sakit sekali, ternyata orang aneh itu telah mencengkeramnya

"Engkau siapa?" bentak orang aneh itu. "Aku,., aku. " Co Hiong tergagap.

"Ayoh jawab!" bentak orang aneh itu lagi. "Engkau siapa?"

"Cianpwee, harap. harap dengar dulu!" Co Hiong bersikap

setenang mungkin, padahal ia amat ketakutan Dasar Co Hiong berhati licik. Seketika timbul pula suatu akal dalam benaknya, "Dengarkan dulu penjelasanku. "

"Hmm!" dengus orang aneh itu dingin, lalu mengeraskan cengkeramannya.

"Aduuuh! Aduuuuh!" jerit Co Hiong kesakitan

"Co Hiong!" bentak Lie Ceng Loan "Di mana Kakak Bu? Di mana dia?"

"Cianpwee, aku. aku mengaku diriku Bee Kun Bu, itu

demi kebaikan Nona Lie," ujar Co Hiong sambil menahan sakit.

"Engkau siapa?" "Aku... aku teman baik Nona Lie." Co Hiong menjawab demikian, karena melihat sikap orang aneh itu menyayangi Lie Ceng Loan

"Di mana Bee Kun Bu?"

"Bee Kun Bu ditangkap Kim Hun Tokouw, lalu dikurung di dalam istana Pit Sia Kiong." Co Hiong memberitahukan

Orang aneh itu tampak tertegun, lalu memandang Lie Ceng Loan yang kebetulan juga sedang memandang-nya. Maka tersiratlah rasa ketakutan di wajah gadis itu.

"Nona Lie.,.," Orang aneh itu menarik nafas panjang, "Jangan begitu takut padaku!"

"Engkau cepat pergi! jangan mendekatiku, aku takuti" seru Lie Ceng Loan "Engkau bukan manusia! Bagaimana mungkin manusia menghisap darah manusia"/"

"Nona Lie. " Orang aneh itu menarik nafas panjang lagi,

"Sudah puluhan tahun aku melatih ilmu Kiu Tok Im Han Kang (llmu Hawa Dingin Sembilan Racun), Sudah amat dalam ilmu yang kulatih itu, maka di dalam tubuhku penuh mengandung hawa dingin Ketika engkau memasuki gua, kebetulan hawa dingin di dalam tubuhku sedang bergejolak, Karena tiada lain obatnya kecuali darah hangat, sehingga secara tidak langsung aku telah melakukan suatu kesalahan terhadapmu."

"Phui! Siapa pereaya omonganmu? Ayoh, cepat enyah dari sini!" hardik Lie Ceng Loan

"Nona Lie, aku cuma menghisap sebagian darahmu, tapi tadi aku telah menggantinya dengan darah ular, Walau engkau akan mengalami rasa panas yang luar biasa, namun justru sangat bermanfaat bagi tubuhmu." Orang aneh itu memberitahukan

"Omong kosong! Aku tidak pereaya omonganmu, lebih baik engkau cepat enyah dari sini!" bentak Lie Ceng Loan.

Orang aneh itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan mondar-mandir di ruang batu itu. Semula Co Hiong amat mengkhawatirkan Lie Ceng Loan yang membentak-bentak orang aneh itu. Namun ketika melihat orang aneh itu cuma menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala, hatinya merasa lega.

Akan tetapi, Co Hiong merasa heran, kenapa orang aneh itu cuma menghisap sebagian darah Lie Ceng Loan? Dan kenapa kemudian menolongnya lagi dengan darah ular? Co Hiong betul-betul tidak habis berpikir

"Nona Lie, kini engkau telah sadar, Maka aku ingin menanyakan seseorang padamu," ujar orang aneh itu. "Apakah engkau sudi memberitahukan?"

"Engkau mau menanyakan siapa?" tanya Lie Ceng Loan. "Dua puluh tahun lampau, di daerah Kang Lam muncul

seorang pendekar bermarga Lie," jawab orang aneh itu melanjutkan "Julukannya adalah Gin Kiam Kim Pian (Pedang Perak Cambuk Emas). "

Mendengar itu, Lie Ceng Loan langsung duduk tegak, sepasang matanya terbelalak dan mulutnya ternganga lebar.

"Engkau menanyakan Gin Kiam Kim Pian?" Lie Ceng Loan menatapnya.

"Tidak salah." Orang aneh itu mengangguk "Aku memang ingin menanyakan Gin Kiam Kim Pian-Lie Kwi Cee!"

"Gin Kiam Kim Pian-Lie Kwi Cee.,." gumam Lie Ceng Loan dengan wajah menyiratkan keterkejutan "Kenapa engkau menanyakan orang itu?"

"Aaakh. " Orang aneh itu menarik nafas panjang, "Aku

berhutang budi padanya, hingga kini masih tiada kesempatan untuk membalasnya, maka aku menanyakan nya."

"Dia... dia...." Air mata Lie Ceng Loan mulai bereucuran "...

dia sudah mati."

Mendengar jawaban Lie Ceng Loan, orang aneh itu tampak terkejut, lalu menyingkapkan ke atas rambutnya yang menutupi wajahnya itu. Ternyata wajah orang aneh itu masih tampak tampan. Namun yang menyeramkan wajahnya, adalah codet di keningnya, Siapa yang menyaksikan bekas luka itu, pasti terkesan takut

Lie Ceng Loan terbelalak, kenapa wajah yang cukup tampan itu terdapat bekas luka? Di saat gadis itu sedang berpikir, orang aneh itu meraba-raba codet di keningnya.

Ternyata dia sudah mati, tidak tahu mati di tangan siapa?" gumam orang aneh itu.

"Dia mati di tangan Kiok Goan Hoat, Aku.,, aku telah membalas dendamnya itu." Lie Ceng Loan memberitahukan

"Kalau begitu, engkau putrinya?" Orang aneh itu menatapnya dalam-dalam.

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "Lie Kwi Cee adalah ayahku, tapi.,, bagaimana raut wajahnya, aku tidak begitu jelas, sebab ketika dia mati, aku masih kecil."

"Lie Kwi Cee adalah pendekar besar yang gagah dan tampan Tangan kanannya pedang perak dan tangan kirinya cambuk emas, Walau usianya masih muda, kepandaiannya sangat tinggi Kiok Goan Hoat itu apa? Sama sekali bukan lawannya, Aaakh. " Orang aneh itu menarik nafas sambil

mengusap-usap codet di keningnya dan melanjutkan, "Nona Lie, bekas luka di keningku ini adalah pemberian ayahmu."

Sete!ah orang aneh itu mengatakan begitu, terkejut-lah Lie Ceng Loan dan Co Hiong.

Semula Co Hiong mengira orang aneh itu teman baik ayah Lie Ceng Loan, karena itu ia bergirang dalam hati, sedangkan Lie Ceng Loan telah terkesan baik padanya, maka ia yakin orang aneh itu pasti membantunya menundukkan Kim Hun Tokouw.

Tapi setelah mendengar orang aneh itu mengatakan begitu, merindinglah sekujur badannya, sebab ayah Lie Ceng Loan telah mati, tentunya orang aneh itu akan menuntut balas terhadap gadis tersebut

"Cianpwee!" seru Co Hiong, "Nona Lie tidak tahu apa-apa, Cianpwee tidak boleh. "

Co Hiong belum menyelesaikan ucapannya, orang aneh itu telah mengibaskan tangannya ke arah Co Hiong, menimbulkan hawa yang amat dingin menerjang ke arah-nya. Ketika Co Hiong baru ingin melawan hawa dingin itu telah menerjang dirinya, sehingga membuatnya ter-mundur dan menggigil kedinginan ia sama sekali tidak mampu mengerahkan Lweekangnya, akhirnya jatuh duduk.

"Hati-hati Nona Lie!" Co Hiong memperingatkannya.

Terimakasih, Saudara Co!" sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum getir. "Walau dia musuh almarhum ayahku, aku tidak takut!"

Setelah menjatuhkan Co Hiong, orang aneh itu justru tidak turun tangan terhadap Lie Ceng Loan, bahkan kemudian malah bergumam.

"Kening kananku tergores pedang peraknya dan kening kiriku tersabet cambuk emasnya, Aaakh! Sungguh hebat kepandaian pendekar Lie. Dia sudah mati, tentunya kepandaiannya yang sangat hebat itu tidak diwariskan pada siapa pun. Sungguh sayang sekali!"

Orang aneh itu menarik nafas panjang, sedangkan Lie Ceng Loan dan Co Hiong cuma mendengarkan dengan penuh perhatian

"Kepandaiannya lebih tinggi dariku.,." lanjut orang aneh itu. "Walau aku sudah terluka, tapi masih sempat membalasnya dengan sebuah pukulan, setelah itu barulah aku kabur Aku tidak tahu dia terpukul atau tidak, tapi dia justru mati di tangan Ciok Goan Hoat, Kalau begitu berarti dia telah terpukul oleh pukulanku yang mengandung hawa dingin, sehingga memunahkan separuh ke-pandaiannya, Ha ha ha,.,!" Ternyata kematian ayahku disebabkan pukulanmu itu!" ujar Lie Ceng Loan.

"Mungkin begitu," sahut orang aneh itu. Lie Ceng Loan membentak nyaring, tangannya menekan batu yang didudukinya, sehingga badannya melayang turun.

Gadis itu masuk ke gua bersama Co Hiong, Setelah obor padam, ia merasa sekujur badannya tidak bisa bergerak, dan tiba-tiba lehernya terasa sakit sekali ia lalu menoleh dan melihat orang aneh itu sedang menghisap darahnya melalui gigitan di lehernya.

Betapa takutnya Lie Ceng Loan, namun tidak punya tenaga untuk meronta, akhirnya ia pun pingsan.

Entah berapa lama kemudian, barulah ia siuman dan merasa sekujur badannya panas sekali, sepertinya dirinya sedang dibakar, itu membuatnya mengoceh tidak karuan.

Di saat Co Hiong memasuki gua itu, Lie Ceng Loan baru mulai sadar Kini tangannya menekan batu itu, justru membuatnya terkejut dan tertegun

Ternyata tadi ia menekan batu itu, maksudnya cuma ingin turun, Namun malah membuat tubuhnya melambung ke atas, sehingga nyaris membentur langit-langit gua itu. Setelah itu, barulah melayang turun.

Lie Ceng Loan tahu jelas, ginkangnya masih belum begitu tinggi, tapi kenapa mendadak ia memiliki ginkang yang begitu tinggi? Gadis itu tidak habis berpikir Namun tidak punya waktu untuk memikirkan itu, sebab ia sudah membentak

"Ayahku mati karena pukulanmu! Terimalah pukulanku!" Lie Ceng Loan menyerang orang aneh itu dengan jurus Yun Liong Phun Uh (Naga Menyemburkan Kabut).

Co Hiong terkejut sekali ketika melihat Lie Ceng Loan menyerang orang aneh itu, sedangkan dirinya masih bukan tandingannya, apalagi gadis itu? "Nona Lie, cepat berhenti!" serunya cepat "Ada masalah apa pun, bicarakan dengan baik-baik saja!"

Akan tetapi sudah terlambat, Lie Ceng Loan telah melancarkan pukulannya.

Plaaak! Bahu orang aneh itu terpukul

Badan orang aneh itu tampak bergoyang-goyang, kemudian jatuh duduk.

Kejadian itu, sungguh di luar dugaan Lie Ceng Loan sendiri maupun Co Hiong, Mereka berdua tahu, orang aneh itu sama sekali tidak menangkis, bahkan juga tidak mengerahkan Lweekangnya, maka ia terpukul sampai jatuh duduk.

"Eh?" Lie Ceng Loan bingung. "Kenapa engkau tidak membalas?"

Orang aneh itu bangkit berdiri perlahan-lahan, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Nona Lie, jangan kata membalas, kalau aku mengerahkan Kiu Tok Im Han Kang, saat ini engkau pasti sudah terluka."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mau mengerahkan Lweekang itu untuk melukai diriku?" tanya Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Engkau harus dengar penuturan ku sampai habis," sahut orang aneh itu lalu melanjutkan penuturannya. "Pada waktu itu, aku kabur dengan wajah berlumuran darah, tentunya aku amat mendendam pada Lie Kwi Cee. Akan tetapi, setibanya di rumah, aku justru sangat berterima kasih padanya."

"Lho?" Lie Ceng Loan heran, "Kenapa begitu?" "Setibaku di rumah, barulah aku tahu dia telah menolong

seluruh keluargaku Aku punya seorang musuh besar, yaitu Ngo Tok Siu (Manusia Lima Racun) Mo Lun. " Ketika orang

aneh itu menutur sampai di sini, Co Hiong dan Lie Ceng Loan pun berteriak kaget "Haaah.  ?" "Nona Lie, engkau kenal Ngo Tok Siu-Mo Lun?" tanya orang aneh itu.

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "Dia terpukul oleh Kakak Siao Tiap sehingga menjadi gila, kini entah di mana dia?"

"Oh?" Orang aneh itu tampak kurang pereaya. "Nona Lie, Mo Lun berkepandaian sangat tinggi, mungkin... engkau salah dengar"

"Aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, bagaimana mungkin salah?" sahut Lie Ceng Loan. "Dia bergabung dengan partai Thian Liong, di Toan Hun Ya, lalu terpukul oleh kakak Siao Tiap!"

"Nona Siao Tiap itu siapa?"

"Kepandaian Kakak Siao Tiap amat tinggi," ujar Lie Ceng Loan sambil tersenyum. "Tiada seorang pun yang mampu melawannya."

"Oh?" Orang aneh itu menarik nafas panjang, "Sudah dua puluh tahun aku tidak pernah keluar dari gua ini, maka agak asing terhadap kaum Bu Lim."

"Selama itu Cianpwee tidak pernah meninggalkan tempat ini?" tanya Co Hiong mendadak

Co Hiong pernah datang di gua tersebut Pada waktu itu, ia sama sekali tidak melihat seorang pun di dalam gua ini, maka ia berani membawa Lie Ceng Loan ke dalam gua tersebut Karena orang aneh itu mengatakan, tidak pernah meninggalkan gua, otomatis membuat Co Hiong tereengang dan mengajukan pertanyaan itu.

Ketika Co Hiong bertanya begitu, air muka orang aneh itu mendadak berubah, kelihatannya seperti rahasianya terbongkar

Setelah itu, ia menatap Co Hiong dengan sorotan tajam dan dingin, lalu membentak keras. "Memang begitu!"

"Ya. Ya, aku... aku cuma sekedar bertanya saja." ujar Co Hiong cepat dengan perasaan takut

"Ngo Tok Siu-Mo Lun datang di rumahku selagi aku tidak berada di rumah, Ternyata dia ingin membunuh anak isteriku yang tidak mengerti ilmu silat Kebetulan pendekar Lie lewat Padahal pada waktu itu pendekar Lie dengan aku sudah bermusuhan Namun dia justru menolong anak isteriku Aaaakh!

Setelah itu, aku bertemu dengannya, Kalau dia mengungkat tentang itu, bagaimana mungkin aku akan bertempur dengan dia? Tapi dia bukan orang yang suka berbangga diri karena telah menoiong. Oleh karena itu, dia diam saja sehingga kami bertarung, wajahku terfuka, dia pun terkena pukulanku

"Engkau memang jahat sekali!" ujar Lie Ceng Loan.

Tidak salah," sahut orang aneh itu mengaku, "Aku memang jahat, aku memang binatang!"

Karena orang aneh itu mengaku begitu, maka Lie Ceng Loan merasa tidak tega terus mempersalahkannya.

"Sudahlah! jangan mempersalahkan diri sendiri!" ujar Lie Ceng Loan.

"Nona Lie!" Orang aneh itu menatapnya, "Engkau memang mirip pendekar Lie, bahkan berjiwa besar dan berhati lapang."

"Kalau begitu, kenapa engkau bisa tinggal di dalam gua ini?" tanya Lie Ceng Loan mendadak

"Pada waktu itu, aku menyesal sekali Aku tidak tahu kalau pukulanku akan melukainya atau tidak? Kalaupun aku pergi mencarinya juga pereuma, sebab aku belum mampu mengobatinya," jawab orang aneh itu memberi-tahukan, "Oleh karena itu, aku bersumpah dalam hati, harus memperdalam ilmuku itu. Setelah aku berhasil memperdalam ilmuku, barulah aku pergi untuk mengobatinya!" "Cianpwee!" sela Co Hiong, "Kalau tidak salah, Cianpwee adalah Kiu Tok Sian Ong (Dewa Sembilan Racun) Bun Thian Pah."

"Kok engkau tahu?" tanya orang aneh itu, "Cianpwee menitip anak isteri pada orang, lalu seorang diri berangkat ke seberang laut untuk belajar ilmu silat tinggi, semua kaum Bu Lim tahu itu," jawab Co Hiong, ia pun merasa terkejut karena orang aneh itu ternyata Kiu Tok Sian Ong-Bun Thian Pah.

Yang lebih mengejutkan yakni orang aneh itu masih kalah di tangan Lie Kwi Cee. Padahal Kiu Tok Sian Ong sangat terkenal, lagi pula kakak seperguruan Ngo Tok Siu-Mo Lun.

"Aku tidak berangkat ke seberang laut, melainkan berangkat ke luar perbatasan," ujar Kiu Tok Sian Ong, " Karena aku memperoleh berita, bahwa di dalam sebuah gua di Gunung Taysan (Altai), terdapat sebuah Han Giok (Giok Dingin) yang sangat bermanfaat bagi ilmu Kiu Tok Im Hang Kangku, Karena itu, aku berangkat ke mari Lantaran terburu- buru memperdalam ilmuku itu, akhirnya diriku menjadi rusak. Beberapa tahun yang lalu, barulah aku berhasil menembus urat nadiku. Tak di-sangka, sudah dua puluh tahun dan putri pendekar Lie pun sudah sedemikian besar!"

"Guruku bilang, ayahku terjebak oleh rencana busuk Kiok Goan Hoat, akhirnya mati di tangan mereka," ujar Lie Ceng Loan menjelaskan "Sepertinya tiada hubungannya dengan pukulan Cianpwee!"

"Oh?" Kiu Tok Sian Ong tertegun "Biar bagaimana-pun, aku tetap merasa bersalah terhadap almarhum ayah-mu."

Co Hiong dan Lie Ceng Loan diam saja, Berselang sesaat Kiu Tok Sian Ong berkata lagi

"Nona Lie, sebetulnya siapa Bee Kun Bu?"

"Dia...." Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan. "... dia kakak seperguruanku!" "Oooh, aku mengerti" Kiu Tok Sian Ong manggut-manggut, kemudian memandang Co Hiong seraya berkata, Tadi engkau begitu berani mengaku sebagai Bee Kun Bu. sesungguhnya aku harus membunuhmu, tapi mengingat engkau teman Nona Lie, maka aku mengampunimu, cepatlah engkau pergi melapor pada Lam Kiong Siu, suruh dia bawa Bee Kun Bu ke mari menemui ku!"

"Lo Siang Ong!" Lie Ceng Loan girang bukan main. "Apakah Lam Kiong Siu akan menuruti perkataan Cian- pwee?"

"Nona Lie, engkau boleh berlega hati," sahut Kiu Tok Sian Ong, "Kalau Lam Kiong Siu tidak mau mendengar kataku, aku pasti menerjang ke istana Pit Sia Kiong untuk menolong kakak seperguruanmu."

Saat ini, Co Hiong tidak tahu bahwa Souw Peng Hai dan Lam Kiong Siu sudah berada di lembah, bahkan mereka telah bertarung mati-matian. Maka begitu mendengar Kiu Tok Sian Ong menyuruhnya pergi melapor pada Lam Kiong Siu, Co Hiong terkejut Sebab ia masih ingat, ketika ia menyinggung orang aneh itu, wajah Lam Kiong Siu langsung berubah.

Kelihatannya, Lam Kiong Siu pernah mengalami sesuatu di tangan Kiu Tok Sian Ong, Kalau tidak, bagaimana mungkin Lam Kiong Siu tampak agak segan terhadapnya ?

Setelah berpikir sejenak, Co Hiong memandang Kiu Tok Sian Ong, lalu memberi isyarat dengan tangannya.

"Kalau mau bicara, bicaralah!" bentak Kiu Tok Sian Ong, "Jangan seperti orang gagu, kelihatannya engkau bukan orang baik-baik!"

"Lo Siang Ong, Co Hiong bukan orang jahat." Lie Ceng Loan membelanya.

"Hm!" dengus Kiu Tok Sian Ong, "Nona Lie, engkau berhati bajik, bagaimana mungkin tahu kelicikan hati orang?" Co Hiong gusar sekali dalam hati, namun wajahnya justru malah tersenyum-senyum.

"Cianpwee benar, Hanya saja tadi ada sedikit pembicaraan yang tidak boleh didengar Nona Lie, maka aku memberi isyarat dengan tangan, tapi Cianpwee malah salah paham," ujar Co Hiong sungguh-sungguh.

"Pembicaraan apa yang tidak boleh kudengar?" tanya Lie Ceng Loan.

Co Hiong tidak menyahut, melainkan bersikap serba salah. "Katakanlah," desak Lie Ceng Loan. "Apakah berkaitan

dengan Kakak Bu?"

Co Hiong diam saja, itu membuat Lie Ceng Loan makin penasaran

"Katakan saja!" desak Lie Ceng Loan lagi, "Kalau Kakak Bu sudah celaka, paling juga aku akan menemaninya mati."

"Nona Lie. " Co Hiong menarik nafas panjang. "Terus

terang, Saudara Bee. "

"Kakak Bu kenapa?" tanya Lie Ceng Loan dengan wajah berubah.

"Dia,., dia telah. "

"Dia sudah mati?" Air mata Lie Ceng Loan langsung mele!eh.

Co Hiong tidak menyahut, hanya manggut-manggut

Lie Ceng Loan tertegun, air matanya terus berderai dan berdiri seperti patung, kemudian mendadak tersenyum seraya bergumam.

"Kakak Bu, kita hidup selalu berpisah, Kini kita sudah mati, jadi bisa berkumpul selama-lamanya." "Eh?" Kiu Tok Sian Ong tertegun, "Nona Lie, engkau masih segar bugar, kenapa malah bilang sudah mati?"

"Kakak Bu sudah mati, dia akan kesepian seorang diri di sana, maka aku harus menyertainya." sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum sedih.

"Nona Lie!" ujar Kiu Tok Sian Ong, "Jangan cari mati, di dunia ini masih banyak pemuda lain."

"Memang masih banyak pemuda !ain, namun aku cuma mencintai Kakak Bu seorang saja," ujar Lie Ceng Loan dengan air mata bereucuran

wajahnya mulai berubah pucat, kemudian berubah merah, setelah itu mulai berubah kelabu.

Menyaksikan itu, Kiu Tok Sian Ong langsung membentak lalu mendekatinya. Dicengkeramnya urat nadi gadis itu, agar hawa murninya tidak buyar

"Bagaimana engkau bisa tahu itu?" tanya Kiu Tok . Sian Ong pada Co Hiong.

"Aku berada di luar istana, kebetulan mencuri dengar pembicaraan para peiayan."

"Phui! itu mungkin cuma isu saja!" ujar Kiu Tok Sian Ong, "Nona Lie, engkau jangan begitu bodoh!"

"Lo Sian 0ng. H Timbullah harapan dalam hati Lie Ceng

Loan, "Aku mau ke istana Pit Sia Kiong!"

"Nona Lie, aku telah menerima budi dari almarhum ayahmu, hingga kini masih belum terbalas, Kalau engkau mau ke istana Pit Sia Kiong, aku pasti mendampingimu Tapi hai)us menunggu malam dulu."

"Harus menunggu malam ?" tanya Lie Ceng Loan, "Kenapa?"

"Engkau jangan bertanya, pokoknya kalau hari sudah malam, kita berangkat ke sana," sahut Kiu Tok Sian Ong. "Baiklah." Lie Ceng Loan mengangguk

"Sekarang engkau boleh pergi," ujar Kiu Tok Sian Ong pada Co Hiong. "Selidiki jejak Bee Kun Bu, apakah benar dia sudah celaka?"

padahal Co Hiong ingin mengajak Lie Ceng Loan pergi bersama, tapi ia tidak mampu melawan Kiu Tok Sian Ong, maka terpaksa menurut dan langsung meninggalkan gua itu, Begitu keluar dari gua itu, ia bertemu Souw Peng Hai.

"Ternyata orang aneh itu Kiu Tok Sian Ong-Bun Thian Pah," ujar Souw Peng Hai seusai mendengar penuturan Co Hiong, "Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Mo Lun, maka Mo Lun merasa iri padanya, akhirnya mereka berdua bermusuhan."

"Guru!" Co Hiong tertawa, "Nanti malam kita akan menyaksikan tontonan yang sangat menarik."

"Ng!" Souw Peng Hai manggut-manggut "Tadi lonceng di istana Pit Sia Kiong berbunyi, bagaimana kalau kita ke sana melihat-lihat?"

"Apakah Guru masih kuat bertahan?"

"Bagaimana mungkin guru tidak kuat bertahan?" Souw Peng Hai tertawa gelak, "Ayolah, mari kita kesana!"

Bagian ke empat puluh empat Kehilangan Kitab Pusaka Ketika Souw Peng Hai dan Co Hiong tiba di depan istana

Pit Sia Kiong, hari sudah senja, Mereka berdua bersembunyi di belakang sebuah pohon, lalu memandang ke arah istana.

Tampak seorang gadis cantik jelita berdiri dekat pintu istana Pit Sia Kiong, Gadis itu Na Siao Tiap, tangannya membawa sebuah Piepa (Alat Musik Kuno Cina yang mirip gitar).

"Hah?" Co Hiong terkejut "Guru, ternyata benar Na Siao Tiap yang datang!" "Anak Hiong!" Souw Peng Hai juga terkejut "Kita jangan memperlihatkan diri."

Tampak Na Siao Tiap mulai tidak sabaran berdiri di situ. "Hci! Kalau kalian tidak membuka pintu, aku tidak akan

bertindak sungkan-sungkan lagi!" bentaknya keras.

Akan tetapi, pintu istana itu tetap tertutup rapat, bahkan tiada sahutan di dalam.

"Kim Hun Tokouw!" seru Na Siao Tiap nyaring, "Pintu ini tidak dapat menghadangku!"

"Anak Hiong!" ujar Souw Peng Hai pada Co Hiong. "Lam Kiong Siu telah terluka oleh Kan Goan Cihku, mungkin dia tidak berani ke luar menyambut musuhnya itu."

"Dia tidak berani ke luar, tapi Na Siao Tiap pasti menerjang ke dalam," sahut Co Hiong sambil tertawa dingin.

"Menurutmu, seandainya dia menerjang ke dalam, apakah mampu memusnahkan istana Pit Sia Kiong?"

"Pek Yun Hui masih tidak mampu memusnahkan istana itu, apa lagi Na Siao Tiap,"

Ketika mereka berdua sedang bereakap-cakap di belakang pohon, Na Siao Tiap yang berdiri di depan pintu istana Pit Sia Kiong mundur beberapa langkah, kemudian mendorongkan sepasang tangannya ke arah pintu itu.

Bum! Pintu itu terbuka.

Na Siao Tiap melangkah ke dalam, Tentunya akan terjadi pertarungan hebat di dalam istana Pit Sia Kiong.

Bagaimana cara dan kenapa Na Siao Tiap pergi ke istana Pit Sia Kiong? Ketika Lie Ceng Loan dibawa pergi oleh Co Hiong, bukankah Na Siao Tiap kembali ke gua Thian Kie cinjin? Kok sekarang malah berada di istana Pit Sia Kiong?

Ternyata ketika Na Siao Tiap duduk di depan gua Thian Kie Cinjin dengan pikiran kacau, mendadak muncul seekor kuda berlari kencang menuju ke tempat tersebut Akan tetapi, Na Siao Tiap sama sekali tidak mendengar suara derap kaki kuda itu, sebab pikirannya sedang kacau.

Kuda itu berhenti tampak jelas dua orang duduk di punggung kuda, Salah seorang berdandan seperti pelajar berusia empat puluhan, sedangkan yang seorang lagi sudah tua, hanya punya sebelah tangan dan kaki.

Siapa mereka? Ternyata Wang Han Siang dan Mo Lun yang kini telah sembuh dari penyakit gilanya.

"Haah?" Mo Lun terkejut sekali ketika melihat Na Siao Tiap, "Saudara Wang, kita harus cepat pergi,"

"Tenang!" sahut Wang Hang Siang, "Kelihatannya dia tidak mengetahui keberadaan kita di sini."

"Kalau dia tahu, bukankah kita akan celaka?" ujar Mo Lun. ia memang sangat takut pada Na Siao Tiap, sebab ia pernah terpukul oleh gadis itu, sehingga membuat urat syarafnya terganggu semua hampir setengah tahun lebih, Maka ketika melihat Na Siao Tiap, ia langsung ketakutan setengah mati

"Saudara Mo!" Wajah Wang Han Siang menyiratkan hawa membunuh "Gadis itu kelihatan tereekam suatu masalah, Bagaimana kalau kita melakukan serangan gelap kepadanya? Siapa tahu Kui Goan Pit Cek berada padanya."

Wang Han Siang berkata sampai di situ, mendadak Na Siao Tiap mendongakkan kepala nya, kebetulan mengarah pada ke dua orang itu.

Akan tetapi, Na Siao Tiap diam saja, hanya kemudian menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya lagi.

Wang Han Siang dan Mo Lun saling memandang, lalu turun dari punggung kuda. Mereka berdua berendap-endap mendekati Na Siao Tiap, lalu secepat kilat bersembunyi di belakang sebuah pohon. "Ibu..." gumam Na Siao Tiap, "lbu melarangku mencintai lelaki yang mana pun, tapi kenapa mengajarku ilmu silat?

Apakah aku harus membunuh lelaki yang kucintai?"

Usai bergumam, Na Siao Tiap mengeluarkan sebuah kitab Kui Goan Pit Cek.

Begitu melihat kitab pusaka itu, hati Wang Han Siang dan Mo Lun langsung berdebar-debar tidak karuan

Kitab pusaka itu peninggalan Thian Kie Cinjin ratusan tahun lampau, yang telah menimbulkan banjir darah dalam rimba persilatan Ketika Na Siao Tiap mengeluarkan kitab pusaka itu, Wang Han Siang dan Mo Lun terkejut dan berdebar-debar.

Tampak Na Siao Tiap seperti ingin memusnahkan kitab pusaka tersebut

Menyaksikan itu, jantung Wang Han Siang dan Mo Lun hampir meloncat ke luar seketika, Na Siao Tiap menarik nafas dan bergumam lagi.

"Kui Goan Pit Cek! Kalau aku tidak mempelajari semua ilmu silat yang tereantum di dalamnya, tentu aku boleh mencintai....

Bergumam sampai di situ, mendadak wajah gadis itu tampak kemerah-merahan, kemudian melanjutkan ucapan- nya.

"Apa gunanya aku menghendaki engkau ke mari?"

Na Siao Tiap menaruh kitab Kui Goan Pit Cek itu di atas tanah, lalu sekuat tenaga menginjak kitab pusaka itu.

Padahal kitab pusaka itu amat diidamkam setiap kaum Bu Lim, tapi saat ini Na Siao Tiap malah menganggapnya sebagai kitab rongsokan

sementara Wang Han Siang dan Mo Lun terus menatap kitab pusaka itu, Tiba-tiba Wang Han Siang menulis beberapa huruf di permukaan tanah, "Saudara Mo, engkau memancingnya pergi, aku akan mengambil kitab Kui Goan Piteekau,"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tertegun, kemudian menulis. "Kita bertemu di mana?" Ternyata ia khawatir Wang Han Siang akan kabur bersama kitab Kui Goan Pit Cek.

Wang Han Siang berhati licik, ketika melihat Ngo Tok Siu- Mo Lun menulis begitu, timbullah rasa tidak senang dalam hatinya, Kalau aku tidak berupaya mengobatimu, mungkin kini engkau telah mati, ujarnya dalam hati, Kini malah tidak mempereayai dirinya,

Walau ia sangat mendongkol dalam hati, namun tidak diperlihatkan pada wajahnya. Setelah itu ia pun menulis Setelah mendapatkan kitab pusaka itu, kita bertemu di menara tua di sebelah barat, kira-kira lima enam mil dari sini

Ngo Tok Siu-Mo Lun tampak serba salah, tapi menulis juga, "Aku sudah cacat begini, kurang leluasa bergerak!

Bagaimana kalau Saudara Wang saja yang memancingnya pergi, lalu aku yang ambil kitab pusaka itu T

sebetulnya Wang Han Siang berniat jahat Apabila telah mendapatkan kitab itu ia akan kabur jauh-jauh, dan tidak akan ke menara itu menemui Mo Lun.

Ketika melihat Mo Lun menulis begitu, ia tertegun, sementara Na Siao Tiap menengadahkan kepalanya memandang langit, kitab Kui Goan Pit Cek masih menggeletak di atas tanah.

Wang Han Siang tahu jelas, seandainya Na Siao Tiap memungut kitab pusaka itu, sulitlah merebutnya, Walau mereka berdua melawan Na Siao Tiap seorang diri, tapi tetap bukan tandingannya.

Oleh karena itu, Wang Han Siang segera menulis lagi, Apakah Saudara Mo tidak mempereayaiku? Mo Lun tersenyum licik dan menulis, Kakiku tinggal sebelah, berjalan pun susah, sungguh sulit bagiku memenuhi keinginanmu

Wang Han Siang berpikir sejenak ia sudah punya suatu rencana di dalam benaknya, maka ia pun mengangguk seraya berbisik

"Baiklah."

Betapa girangnya Ngo Tok Siu-Mo Lun, sehingga membuatnya lupa daratan. Tiba-tiba Wang Han Siang bergerak aneh, kelihatannya menancapkan sesuatu di tanah, lalu melesat pergi.

Ngo Tok Siu-Mo Lun terus menatap kitab Kui Goan Pit Cek yang masih tergeletak di atas tanah itu dengan mata tak berkedip. Apabila Wang Han Siang muncul memancing Na Siao Tiap pergi, ia akan segera mengambilnya lalu kabur

sementara Wang Han Siang terus mendekati Na Siao Tiap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. sedangkan Mo Lun sudah siap melesat ke luar untuk mengambil kitab itu, Akan tetapi mendadak....

Bummm! Terdengar suara ledakan di sisi Ngo Tok Siu-Mo Lun.

Begitu cepat kejadian itu, membuat Mo Lun terkejut bukan main, Sesaat ia sudah tahu, dan langsung mencaci.

"Dasar binatang.,.,"

"Siapa?" bentak Na Siao Tiap, dan sekaligus melesat ke arah Mo Lun.

Betapa takutnya Mo Lun, ia tidak menyangka kalau Wang Han Siang begitu licik. Na Siao Tiap melesat ke arahnya, berarti kesempatan bagi Wang Han Siang untuk mengambil kitab pusaka itu, dan sebaliknya dirinya malah akan mati di tangan Na Siao Tiap, seketika juga timbul niat jahatnya terhadap Wang Han Siang, maka ia cepat-cepat berseru.

"Nona Na, cepat lihat itu.,,."

Ternyata engkau!" sahut Na Siao Tiap sambil mengayunkan tangannya.

Plaak! Ploook! Muka Mo Lun sudah tertampar dua kali, sehingga membuat matanya berkunang-kunang dan nyaris jatuh.

Namun ia masih sempat melirik ke arah kitab Kui Goan Pit Cek Ternyata Wang Han Siang telah mengambilnya dan langsung melesat pergi.

"Lihat itu!" seru Mo Lun sambil menunjuk ke depan.

Setelah menampar Mo Lun, Na Siao Tiap merasa ada desiran angin di belakangnya Begitu Mo Lun berseru, Na Siao Tiap langsung melesat ke arah yang ditunjuk Mo Lun.

Akan tetapi, Wang Han Siang telah melesat pergi beberapa depa, Na Siao Tiap mendengus dingin, kemudian mendadak menyentilkan jari tengahnya, Tampak cahaya putih meluncur laksana kilat ke arah Wang Han Siang.

Wang Han Siang sudah tahu akan serangan itu, maka segeralah ia mengerahkan Lweekangnya melindungi punggungnya.

Taaak! Cahaya itu telah menghantam Hong Bun Hiat di bahu Wang Han Siang.

Ternyata Na Siao Tiap menyerangnya dengan sebutir mutiara putih, dan seketika juga Wang Han Siang jatuh duduk tak bergerak lagi.

"Di mana Kui Goan Pit Cek itu?" bentak Na Siao Tiap sambil melesat ke hadapan Wang Han Siang.

Wang Han Siang diam saja, Na Siao Tiap berpaling memandang Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya membentak. "Engkau jangan kabur!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun sudah tahu akan kelihayan Na Siao Tiap, maka ia tidak berani kabur Lagi pula yang mengambil Kui Goan Pit Cek itu Wang Han Siang.

Duuuk! Na Siao Tiap menendang Wang Han Siang. "Aaakh.,." keluh Wang Han Siang. "Kui Goan Pit Cek? Apa

Kui Goan Pit Cek itu?"

"Kitab yang ingin kuhancurkan itu!" sahut Na Siao Tiap dingin.

"Aku tidak melihat kitab itu." ujar Wang Han Siang.

Na Siao Tiap tertegun, ia menatap Wang Han Siang tajam seraya berkata sungguh-sungguh.

Terus terang, kitab Kui Goan Pit Cek itu merupakan barang pembawa bencana! Maka aku ingin menghancurkannya! cepatlah kembalikan kitab itu!"

"Nona Na, aku tahu engkau berkepandaian tinggi!

Bagaimana mungkin aku berani bermain-main dengan-mu? Aku... aku sungguh tidak melihat kitab itu!"

"Oh?" Na Siao Tiap mengerutkan kening, lalu melambaikan tangannya seraya membentak "Mo Lun, ke marilah engkau!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun tidak berani membantah ia cepat- cepat mendekati Na Siao Tiap dengan sikap takut-takut.

"Hei!" Na Siao Tiap menudingnya, "Apakah engkau melihat dia mengambil kitab Kui Goan Pit Cek itu?"

sebetulnya Ngo Tok Siu-Mo Lun dan Wang Han Siang punya iiulmugan yang akiau, kalau tidak, bagaimana mungkin Wang Han Siang mau berupaya mengobati Mo Lun ketika urat syarafnya terganggu?

Akan tetapi, kitab Kui Goan Pit Cek itu telah membuat mereka berdua melupakan hubungan yang akrab itu. "Saudara Wang!" ujar Ngo Tok Siu-Mo Lun sambil tertawa dingin, "Nona Na sudah tahu, kenapa engkau masih berbohong? cepatlah engkau kembalikan pada Nona Na, itu baru benar!"

"Ha ha!" Wang Han Siang tertawa, "Nona Na, kalau aku mati di tanganmu, itu berarti kepandaianku masih rendah! Tapi engkau menuduh ku telah mengambil kitab Kui Goan Pit Cek, mati pun aku masih penasaran!"

"Kalau begitu. " Kening Na Siao Tiap berkerut "Di mana

kitab pusakaku itu?"

"Tadi aku memang telah melesat ke arah kitab pusaka itu, namun aku belum sempat mengambilnya, mendadak meluncur sebuah batu ke arah kitab pusaka itu, sehingga membuat kitab pusaka itu meluncur beberapa depa, Aku tahu diriku telah dijadikan kambing hitam, maka aku berusaha kabur, tapi tertangkap Nona Na!"

"Hm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Engkau anggap aku baru berusia tiga tahun? Gampang dibohongi?"

"Nona Na!" ujar Wang Han Siang, "Aku masih berada di sini, silakan menggeledah badanku!"

Na Siao Tiap memang membenci kitab Kui Goan Pit Cek, namun ia tahu jelas, apabila kitab pusaka itu beredar di Kang Ouw, pasti akan menimbulkan bencana lagi, dan darah pun pasti mengalir

Kalau Wang Han Siang menyuruhnya menggeledah, itu bagaimana mungkin? Sebab ia seorang gadis, Oleh karena itu, ia memandang Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya berkata.

"Geledahlah badannya!"

Apa yang dikatakan Wang Han Siang tadi, Mo Lun tidak begitu pereaya, Bagaimana mungkin ada orang lain mengambil kitab pusaka itu? Wang Han Siang sangat licik, dia mengatakan begitu tentunya punya alasan, Kebetu!an Na Siao Tiap menyuruhnya menggeledah Wang Han Siang, memang itu yang diinginkannya.

Mo Lun mendekati Wang Han Siang, namun secara diam- diam ia telah menyiapkan sebatang jarum beracun di tangannya.

Setelah berada di hadapan Wang Han Siang, mendadak Mo Lun menusuk Hwa Kai Hiat di dadanya dengan jarum beracun itu.

"Haah?" Wang Han Siang terkejut bukan main, "Sau-dara Mo, bagus sekali kelakuanmu!"

"He he!" Ngo Tok Siu-Mo Lun tertawa, "Saudara Wang, panah pemberi isyaratmu itu juga bagus sekali!"

"Aku mati pasti jadi arwah penasaran menuntut balas padamu!" Wang Han Siang menyumpah

"Jangan khawatir!" Ngo Tok Siu-Mo Lun tertawa dingin, "Dalam waktu tiga atau lima tahun, engkau tidak akan menghadap Giam Lo Ong (Raja Akhirat)!"

Begitu mendengar ucapan Mo Lun, sekujur badan Wang Han Siang menggigil Karena ia tahu Ngo Tok Siu-Mo Lun telah menggunakan racun yang bereaksi lamban, Siapa terkena racun itu, tidak mati namun akan mengalami penderitaan yang amat hebat

"Bagus! Bagus!" Wang Han Siang tertawa sedih.

Yang tidak sabaran adalah Na Siao Tiap, ia menatap Ngo Tok Siu-Mo Lun seraya membentak

"Cepat geledah dia!"

Ngo Tok Siu-Mo Lun segera menggeledah Wang Hang Siang, tapi sama sekali tidak menemukan kitab Kui Goan Pit Cele Saat ini, Ngo Tok Siu-Mo Lun juga tereengang, Sebab kitab pusaka itu tidak berukuran kecil yang dapat ditelan ke dalam mulut Yang jelas Wang Han Siang telah mendapat kitab pusaka itu, tapi kenapa tidak berada padanya? Perlahan-lahan ia membalikkan badannya, sekaligus memandang Na Siao Tiap.

"Nona Na, kitab Kui Goan Pit Cek tidak berada padanya," katanya.

"Aku tidak peduli!" sahut Na Siao Tiap, "Pokoknya aku harus mendapat kembali kitab pusaka itu dari kalian!"

Na Siao Tiap memainkan tali senar piepa beberapa kali, itu adalah irama Mi Hun Li Cin (Menyesatkan pikiran Mengusir Roh), ilmu yang terdapat di dalam kitab Kui Goan Pit Cek.

Walau Na Siao Tiap cuma memainkan sejenak, Ngo Tok Siu-Mo Lun dan Wang Han Siang sudah merasa sukma mereka terbetot ke luar, Betapa terkejutnya Mo Lun.

"Nona Na, itu bukan urusanku! Saudara Wang, engkau harus berkata sejujurnya!"

"Tadi aku sudah berkata sejujurnya!" sahut Wang Han Siang sambil berkertak gigi.

"Kalau kalian tidak menyerahkan kitab Kui Goan Pit Cek, maka aku akan memperdengarkan irama piepa ini!" ujar Na Siao Tiap mengancam.

"Nona Na, itu tiada kaitannya dengan diriku!" Wajah Ngo Tok Siu-Mo Lun sudah pucat pias.

"Hm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Engkau bersama dia, tentunya juga berniat jahat! Kalian kaum lelaki memang jahat semua!"

"Nona Na!" sahut Wang Han Siang mendadak "Kalaupun kami berdua mati, kitab Kui Goan Pit Cek tetap berada di tangan orang lain! Kenapa Nona Na tidak pergi mengejar orang ilu?" Na Siao Tiap tertegun, Di saat menghadapi kematian, Wang Han Siang masih mengatakan begitu, mungkinkah dia berkata sesungguhnya?

Na Siao Tiap tampak bimbang, Pada waktu bersamaan tampak tiga sosok bayangan melesat ke tempat itu. Tak lama ke tiga sosok bayangan itu sudah berada di hadapan Na Siao Tiap, Sungguh di luar dugaan, bayangan itu ternyata Kun Lun Sam Cu yang terkenal itu, Tong Leng Tojin, Giok Cin Cu dan Hian Ceng Totiang.

"Oh, Nona Na!" Giok Cin Cu menatapnya Ternyata engkau berada di sini!"

"Kun Lun Sam Cu!" Na Siao Tiap segera memberi hormat "Aku dan adik Ceng Loan mau berangkat ke istana Pit Sia Kiong,"

"Oh?" Giok Cin Cu mengerutkan kening. "Di mana Ceng Loan?"

Wajah Na Siao Tiap langsung berubah merah, sebab Lie Ceng Loan telah dibawa pergi oleh Co Hiong dengan menunggang kuda. ia merasa malu menuturkannya, maka diam saja.

"Engkau. f" Giok Cin Cu menudingnya, Ternyata rahib

wanita itu telah menduga yang bukan-bukan atas diri Na Siao Tiap.

Tenang Sumoy!" ujar Tong Leng Tojin yang sudah menerka apa yang dipikirkan adik seperguruannya itu. "Kalau ada masalah bicaralah baik-baik!"

Na Siao Tiap seorang gadis cerdik, maka ketika menyaksikan sikap Giok Cin Cu begitu, ia dapat menduga bahwa rahib wanita itu telah mengira dirinya melakukan sesuatu terhadap Lie Ceng Loan, untuk merebut cinta Bee Kun Bu. "Adik Ceng Loan yang mau ikut Co Hiong pergi, apakah aku bisa disalahkan?" ujar Na Siao Tiap dengan nada tidak senang.

"Co Hiong?" Air muka Kun Lun Sam Cu langsung berubah. "Ya." Na Siao Tiap mengangguk.

"Kenapa Ceng Loan ikut Co Hiong pergi?" tanya Giok Cin Cu.

"Panjang sekali kalau dituturkan." Na Siao Tiap menarik nafas dan menambahkan, "Kui Goan Pit Cekku telah hilang, aku harus mencarinya dulu."

"Apa?" Kun Lun Sam Cu bertambah terkejut "Ba-gaimana kitab Kui Goan Pit Cek hilang?"

"Berada di tangan mereka." jawab Na Siao Tiap sambil menunjuk Wang Han Siang dan Ngo Tok Siu-Mo Lun.

Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang segera mendekati Wang Han Siang, kemudian Tong Leng Tojin membentak

"Di mana kitab Kui Goan Pit Cek?"

Wang Han Siang tertawa dingin, Matanya menatap mereka sambil tertawa dingin dan menyahut

"Dalam situasi begini, kalau aku mengambil kitab pusaka itu, apakah masih berani tidak mengembalikan pada Nona Na?"

Tong Leng Tojin dan Hian Ceng Totiang segera memandang Na Siao Tiap.

"Aku berdiri melamun di sini, salah seorang diantara mereka memancingku pergi yang seorang lagi langsung mengambil kitab Kui Goan Pit Cek itu, tapi aku berhasil menangkap mereka." ujar Na Siao Tiap memberitahukan.

Mendengar itu, Kun Lun Sam Cu tampak ter-cengang. "Kitab Kui Goan Pit Cek berada di tangan Nona Na, cara

bagaimana mereka mengambil nya ?" tanya Giok Cin Cu. "Kutaruh kitab itu di tanah lalu kuinjak-injak." ujar Na Siao Tiap.

Kun Lun Sam Cu saling memandang dengan heran, kemudian Giok Cin Cu bertanya.

"ltu apa sebabnya?"

"Karena. " Wajah Na Siao Tiap tampak kemerah-merahan

dan melanjutkan "Memang begitulah!"

"Kini mereka telah tertangkap, apakah di badan mereka tidak terdapat kitab Kui Goan Pit Cek itu?" tanya Tong Leng Tojin.

"Coba jelaskan!" Na Siao Tiap menuding Wang Han Siang.

Wang Han Siang segera mengulangi apa yang dikatakannya tadi, Setelah mendengar itu, Kun Lun Sam Cu berpikir keras, lama sekali barulah Giok Cin Cu membuka mulut

"Nona Na! seandainya pada waktu itu masih ada dua orang bersembunyi di sini berhadapan, salah seorang menggunakan batu menimpuk kitab Kui Goan Pit Cek itu agar meluncur ke tangan temannya, bukankah itu masuk akal?"

"Siapa yang berkepandaian begitu tinggi?" tanya Na Siao Tiap.

"Souw Peng Hai memiliki ilmu Kan Goan Cih. Eng-kau bilang Co Hiong ke mari, mungkin Souw Peng Hai bersembunyi di sini pula," jawab Tong Leng Tojin.

"Kalau begitu, kitab Kui Goan Pit Cek itu sudah jatuh ke tangan Souw Peng Hai?" tanya Na Siao Tiap.

"ltu cuma dugaanku," jawab Tong Leng Tojin.

sementara Giok Cin Cu memandang Wang Han Siang dan Ngo Tok Siu-Mo Lun dengan wajah gusar "Kedua orang ini, biar bagaimanapun tidak boleh dilepaskan!" ujarnya sengit, lalu mengangkat sebelah tangannya siap memukul Wang Han Siang.

Di saat bersamaan, Wang Han Siang justru tertawa gelak sambil menatap Giok Cin Cu.

"Kenapa engkau tertawa?" tanya Giok Cin Cu membentak "Kami berdua ingin berangkat ke istana Pit Sia Kiong untuk

menasihati Souw Peng Hai "

"Mau menasihatinya apa?"

"Mau menasihatinya agar tidak memusuhi sembilan partai besar," sahut Wang Han Siang dan menambahkan, "Kini kami berdua tidak bisa melawan, Ka!au engkau ingin membunuh kami, silakan turun tangan!"

Giok Cin Cu tertegun, lalu menurunkan tangannya. Karena ucapan Wang Han Siang barusan bernada mau bertobat, maka Giok Cin Cu membatalkan niat untuk membunuhnya, Apalagi Wang Han Siang tidak akan melawan, bagaimana mungkin Giok Cin Cu akan turun tangan membunuhnya? itulah kelicikan Wang Han Siang.

"Nona Na!" ujar Hian Ceng Totiang, "Lie Ceng Loan pergi bersama Co Hiong, Souw Peng Hai pun pasti bersama mereka, Bagaimana kalau kita kejar mereka sekarang?"

"Pereuma!" Na Siao Tiap menarik nafas, "Kuda Co Hiong larinya laksana kilat, tidak mungkin kita dapat mengejarnya."

"Oh?" Hian Ceng Totiang tertegun, "Kalau begitu, mari kita berangkat ke istana Pit Sia Kiong!"

"Apakah kalian bertiga pereaya Wang Han Siang berkata sesungguhnya?" tanya Na Siao Tiap.

Kun Lun Sam Cu tersentak Mereka bertiga tahu jelas bagaimana liciknya Wang Han Siang.

Akan tetapi, di badan mereka berdua tidak terdapat kitab Kui Goan Pit Cek, lalu hilang ke mana kitab pusaka itu? Bagaimana mungkin mereka berdua punya waktu menyembunyikan kitab pusaka itu?

"Menurut pendapatku, mereka berdua memang tidak mendapatkan kitab Kui Goan Pit Cek itu!" ujar Tong Leng Tojin.

"Kalau begitu, pasti sudah diambil Souw Peng Hai," sahut Na Siao Tiap dan langsung berseru. "Mari berangkat !tt

Na Siao Tiap segera melesat pergi. Tong Leng Tojin, Giok Cin Cu dan Hian Ceng Totiang mengikuti Na Siao Tiap, namun Hian Ceng Totiang masih sempat berpesan pada Wang Han Siang dan Mo Lun.

"Harap kalian berdua sungguh-sungguh bertobat!" sebetulnya Kun Lun Sam Cu tidak begitu memusingkan kitab Kui Goan Pit Cek yang hilang itu. Yang mereka pusingkan adalah Lie Ceng Loan yang ikut Co Hiong pergi, maka mereka ingin segera tiba di istana Pit Sia Kiong.

Setelah Na Siao Tiap dan Kun Lun Sam Cu pergi, barulah Wang han Siang dan Ngo Tok Siu-Mo Lun menarik nafas lega.

"He he he!" Mo Lun tertawa terkekeh-kekeh, "Untung mereka menduga Souw Peng Hai, jadi pergi begitu saja,"

Wang Han Siang tersentak mendengar itu, namun wajahnya tampak tertegun.

"Saudara Mo, aku tidak mengerti apa maksudmu?" "He he!" Mo Lun tertawa lagi "Engkau cuma bisa

membohongi mereka!"

"Oh!" Wang Han Siang menatapnya. "Tadi engkau menusuk dadaku dengan jarum beracun, itu karena tidak mempereayaiku kan?"

"Betul." Mo Lun manggut-manggut.

"Engkau kira kitab Kui Goan Pit Cek berada pada-ku?" tanya Wang Han Siang sambil mengerutkan kening. Mo Lun tampak tertegun, Pada waktu itu ia melihat Wang Han Siang melesat ke arah kitab Kui Goan Pit Cek, namun mendadak Na Siao Tiap menampamya dua kali, sehingga matanya berkunang-kunang dan tidak melihat apa-apa lagi Setelah itu, barulah ia melihat Wang Han Siang melesat pergi.

ia tidak melihat Wan Han Siang mengambil kitab Kui Goan Pit Cek, Yang amat penting itu malah terlewat dari matanya, gara-gara ditampar Na Siao Tiap.

"Saudara Mo!" ujar Wang Han Siang. "Jangan karena kitab Kui Goan Pit Cek, sehingga kita putus hubungan! Cepat berilah aku obat pemunah racuni"

"Oh?" Mo Lun tertawa dingin, "Kalau begitu, apa yang engkau katakan tadi benar?"

Tong Leng Tojin bereuriga pada Souw Peng Hai, aku pikir mungkin juga begitu," sahut Wang Han Siang.

Mendadak Ngo Tok Siu-Mo Lun mengayunkan ta-ngannya, Wang Han Siang ingin berkelit, namun sudah terlambat ia telah terluka dalam, dan dadanya telah ditusuk dengan jarum beracun, Bagaimana mungkin ia bisa berkelit?

Plaaak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. "Aduuuh!" jerit Wang Han Siang kesakitan. "Mo Lun!

Apakah engkau sudah lupa, bagaimana cara aku mengobati

syarafmu yang terganggu itu?"

"Setelah panah pemberi isyarat itu meletus dan meluncur ke atas di sisiku, aku telah memikirkan semua itu," sahut Mo Lun.

Wang Han Siang mengerti apa maksud Mo Lun. itu berarti budi kebaikannya telah habis sampai di situ.

"Kalaupun itu adalah kesalahanku kenapa saat ini engkau bersikap demikian terhadapku?" tanya Wang Han Siang sambil menarik nafas. "Karena engkau ingin membohongi orang." "Membohongi siapa ?"

"Membohongi aku."

"Bagaimana mungkin aku membohongimu?" "Seandainya Souw Peng Hai yang mengambil kitab

pusaka itu, bagaimana mungkin dia tidak memunculkan diri menemui kita?" sahut Mo Lun sambil tersenyum dingin.

"Apakah mungkin... orang lain yang mengambil kitab pusaka itu?" ujar Wang Han Siang.

"He he!" Ngo Tok Siu-Mo Lun tertawa aneh, "Sau-dara Wang, aku pikir tidak bisa lama engkau menyimpan kitab pusaka itu!"

"Apa maksudmu?" Wang Han Siang mengerutkan kening. "Maksudku. " Mendadak Mo Lun menjulurkan tangannya

menotok jaian darah Khi Hu Hiat di tubuh Wang Han Siang.

Setelah itu, Ngo Tok Siu-Mo Lun mulai mencari kitab Kui Goan Pit Cekdi sekitar tempat itu, Akan tetapi tidak menemukannya, Akhirnya ia melihat sebuah batu besar tempat Na Siao Tiap duduk tadi.

"Mungkinkah di situ?" gumam Ngo Tok Siu-Mo Lun sambil memperhatikan air muka Wang Han Siang.

Sebelum Mo Lun memperhatikan air muka Wang Han Siang, air muka Wan Han Siang memang berubaru Namun setelah Mo Lun meno!eh, justru wajah Mo Lun yang tampak gusar sekali.

Walau Wang Han Siang tampak gusar Mo Lun tetap mendekati batu itu, lalu mencari Kui Goan Pit Cek di sekitarnya, namun tetap tidak menemukannya, ia penasaran sekali, lalu mencoba mendorong batu itu, namun batu itu tidak bergeming, Bahkan di tempat itu tidak tampak adanya tanda- tanda atau bekas apa pun. "Baiklah," ujar Mo Lun. "Mari kita lihat siapa yang lebih lihay di antara kita berdua! Aku yakin suatu hari nanti engkau akan memberitahukan padaku, namun mungkin sudah terlambat pada waktu itu."

"Hmm!" dengus Wang Han Siang sambil membuang muka, "Mungkin kelak engkau yang akan menyesal!"

"Aku akan menyesal?" Mo Lun tertawa, "Jangan lupa, dadamu telah tertusuk jarum beracun!"

sebetulnya hilang ke mana kitab Kui Goan Pit Cek itu? Siapa yang mengambilnya? Tentang ini akan diceritakan nanti.

******

Bab ke 45 - Terkurung di Ruang Api

Na Siao Tiap melesat pergi laksana kilat Walau Kun Lun Sam Cu telah mengerahkan ginkang masing-masing, namun sama sekali tidak mampu menyusul gadis itu, sebaliknya malah makin tertinggal jauh.

Dua hari kemudian, Na Siao Tiap sudah tiba di pegunungan Altai dan mulai memasuki kawasan gunung Taysan.

Ketika ia sampai di depan istana Pit Sia Kiong, hari mulai senja. Di saat itu pula Souw Peng Hai dan Kim Hun Tokouw sedang bertarung mati-matian.

Setelah mengetahui pendatang itu adalah salah seorang wanita Kwat Cong San, seketika juga para murid Kim Hun Tokouw membunyikan lonceng tanda bahaya untuk memanggilnya pulang.

Karena itu, Kim Hun Tokouw terpaksa harus kembali ke istana, maka nyawa Souw Peng Hai pun tertolong.

Kim Hun Tokouw sudah memasuki istana Pit Sia Kiong melalui jalan rahasia, tapi ia tidak berani menyambut kedatangan Na Siao Tiap, karena ia telah terluka dalam. sementara Na Siao Tiap yang telah melangkah ke-dalam istana Pit Sia Kiong terbelalak sebab menyaksikan ruang yang amat besar, indah dan mewah, dan bergemerlapan bagaikan kristal

"Lam Kiong Siu!" seru Na Siao Tiap setelah mengagumi ruang itu. "Apakah Souw Peng Hai berada di sini?"

Kim Hun Tokouw yang bersembunyi di ruang rahasia tersentak hatinya, sebab Na Siao Tiap langsung menanyakan Souw Peng Hai.

"Mau apa engkau menanyakan Souw Peng Hai?" sahutnya dingin.

Suara Kim Hun Tokouw terdengar agak lantang, Ternyata ia telah makan obat mujarab, sehingga luka dalamnya mulai membaile

"Siapa engkau?" tanya Na Siao Tiap, Gadis itu merasa heran, karena mendengar suara tapi tidak terlihat orangnya.

"Aku majikan istana Pit Sia Kiong, ada urusan apa engkau mencari Souw Peng Hai?"

"Dia telah mencuri kitab Kui Goan Pit Cekku, cepat suruh dia ke luar menemuiku!"

Kim Hun Tokouw tertegun Sesaat kemudian ia tertawa gelak seraya berkata.

"Aku dengar dua wanita Kwat Cong San memiliki kepandaian yang amal tinggi, ternyata itu cuma omong kosong!"

"Jangan banyak omong!" bentak Na Siao Tiap gusar "Cepat suruh Souw Peng Hai ke luar!"

"He he!" Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu tertawa dingin lagi. "Engkau perlu tahu, Pek Yun Hui telah terkurung di dalam formasi lima unsur, hingga hari ini dia masih tidak dapat meloloskan diri, mungkin beberapa hari lagi dia akan mati kelaparan!" Na Siao Tiap terkejut Ternyata benar Pek Yun Hui terkurung di dalam istana Pit Sia Kiong ini.

"Hei!" bentak Na Siao Tiap. "Cepat bebaskan dia!" "He he! Berdasarkan apa engkau berani menyuruhku

membebaskan Pek Yun Hui?" tanya Kim Hun Tokouw sambil

tertawa mengejek

"Berdasarkan kepandaian!"sahut Na Siao Tiap cepat "Berdasarkan kepandaian?" Kim Hun Tokouw tertawa

mengejek lagi, "Kitab Kui Goan Pit Cekmu bisa dicuri Souw Peng Hai, sedangkan Souw Peng Hai telah menderita kekalahan di tanganku, bahkan lengannya pun telah putus!"

"Kim Hun Tokouw, engkau tidak perlu menakuti aku!" ujar Na Siao Tiap, "Cepatlah bebaskan Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan suruh Souw Peng Hai keluar!"

"Oh, ya?"

"Dan juga.,." tambah Na Siao Tiap, "Co Hiong telah menculik Lie Ceftg Loan, maka engkau pun harus menyerahkan Co Hiong padaku!"

"Hei! Na Siao Tiap! Engkau terlampau banyak bi-cara, engkau sudah tahu mereka berdua di dalam istana ini, kenapa tidak engkau cari sendiri?"

Ucapan yang bernada menantang itu membuat Na Siao Tiap gusar bukan main.

"Baik!" sahutnya cepat.

Na Siao Tiap tidak peduli apa pun, langsung menerjang ke dalam, Akan tetapi gadis itu terperangah, karena di ruang itu tidak terdapat pintu.

"Lam Kiong Siu! Engkau cuma merupakan seekor kura- kura yang menyembunyikan kepala!" seru Na Siao Tiap, Tapi aku tetap akan menerjang ke dalam!" "He he he! Batk! Namun,., aku yakin engkau cuma omong kosong!" sahut Kim Hun Tokouw memanasi hati gadis itu.

"Lihat saja!" ujar Na Siao Tiap sengit, lalu memulai melancarkan pukulan ke arah dinding ruangan.

"Bum! Bum! Bummmm!"

Karena memukul ke sana ke mari dengan tidak karuan, kebetulan sekali memukul suatu tempat para murid Lam Kiong Siu bersembunyi seketika juga gadis-gadis itu berhambur ke luar.

Begitu melihat ada orang berhambur ke luar, Na Siao Tiap segera menggerakkan tangannya menangkap salah seorang dari mereka.

"Cepat bilang, di mana Lam Kiong Siu?" bentak Na Siao Tiap pada gadis itu.

"DL,." Gadis itu menunjuk ke salah sebuah pintu rahasia, lalu pingsan.

Na Siao Tiap menaruh gadis itu ke bawah, lalu menggerakkan sebelah tangannya membentuk sebuah lingkaran, itu adalah ilmu To Im Cih Yang (Menyambut Dengan Keras Mendorong Dengan Lunak), mengarah ke pintu rahasia tersebut

"Kreeek!" Pintu rahasia itu terbuka.

Na Siao Tiap tertawa panjang, dan segera menerobos ke dalam, Setelah berada di dalam, ia tereengang karena dirinya telah berada di sebuah ruangan yang sangat besar

Mendadak muncul beberapa gadis, masing-masing membawa sebuah pipa tembaga, Kemunculan mereka membuat Na Siao Tiap mengerutkan kening. pada waktu bersamaan, gadis-gadis itu meniup pipa tembaga dan dari masing-masing pipa tembaga itu tersembur keluar asap kemerah-merahan. Na Siao Tiap pernah mendengar tentang asap beracun itu, maka ia langsung tertawa panjang sambil mengibaskan lengan bajunya. Ternyata ia mengerahkan ilmu Hian Men It Goan Kang Khi (Hawa Murni Hian Men).

Asap beracun itu langsung terhembus berbalik ke arah para gadis tersebut Mereka terkejut dan ingin meloncat mundur, namun sudah terlambat sebab asap beracun itu telah menyerang mereka, Tanpa mengeluarkan suara, mereka terkulai semua.

Na Siao Tiap tertegun menyaksikan itu, Di saat ia tertegun, mendadak ruang itu berubah gelap. Karena khawatir Lam Kiong Siu akan melakukan serangan gelap, maka Na Siao Tiap segera melancarkan dua pukulan untuk melindungi diri, lalu meloncat mundur.

Na Siao Tiap berseru kaget, ternyata kakinya menginjak tempat kosong. seketika juga ia mengerahkan ginkangnya Ling Khong Sih Tou (Terbang di Angkasa), sehingga badannya langsung melambung ke atas. Namun ketika ia baru mau melesat ke samping, tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Adik Siao Tiap, engkaukah yang datang?"

Begitu mendengar suara itu, hati Na Siao Tiap girang dan segera menyahut

"Kakak Pek! Engkau berada di mana?" Na Siao Tiap membiarkan badannya merosot ke bawah.

"Aku di sini," jawab Pek Yun Hui.

"Kakak Pek. " Sete!ah kakinya menginjak lantai, Nn Siao

Tiap mendekati tempat Pek Yun Hui bersuara. "Engkau datang seorang diri?" tanya Pek Yun Hui.

"Ya," sahut Na Siao Tiap. Kemudian air matanya meleleh, karena teringat akan keselamatan Bee Kun Bu serta Lie Ceng Loan yang dibawa pergi Co Hiong. Begitu gadis itu melangkah ke dalam sebuah ruangan, melihat Pek Yun Hui duduk bersila di situ dengan wajah serius. "Kakak Pek. "

"Jangan masuk!" cegah Pek Yun Hui.

Namun sudah terlambat, karena Na Siao Tiap telah melangkah ke dalam.

"Kakak Pek!" serunya.

"Kreeek!" pintu ruang itu tertutup kembali, sehingga Na Siao Tiap juga terkurung di dalam ruang api.

"Adik Siao Tiap. " Pek Yun Hui bangkit berdiri sambil

memegang bahu Na Siao Tiap. Pek Yun Hui tereengang sebab melihat air mata adik seperguruannya itu meleleh, "Engkau. "

"Kakak Pek!" Air mata Na Siao Tiap berderai.

"Adik Siao Tiap, kenapa engkau menangis?" tanya Pek Yun Hui

"Kakak Pek, hatiku.,, hatiku berduka sekali," jawab Na Siao Tiap terisak-isak.

"Adik Siao Tiap!" Pek Yun Hui menatapnya, kemudian manggut-manggut seraya bertanya lembut "Apa-kah dalam hatimu telah mencintai seseorang?"

"Ya." Na Siao Tiap mengangguk

"Oooh!" Pek Yun Hui tertawa paksa. "Siapa orang yang engkau cintai? BoIehkah aku tahu?"

"Kakak Pek, dia... dia ada!ah. " Na Siao Tiap menarik

nafas dalam-dalam sambil memberitahukan". Bee Kun Bu!"

Pek Yun Hui telah menduga itu, maka ia sudah tidak " kaget lagi, hanya saja merasa khawatir

"Adik Siao Tiap! Engkau. " Pek Yun Hui justru tidak tahu

harus mengatakan apa. "Kakak Pek, apakah Bee Kun Bu tidak berharga untuk dicintai?" tanya Na Siao Tiap mendadak.

"Bee Kun Bu seorang pemuda yang gagah, tampan, jujur dan berbudi luhur tentunya berharga untuk di-cintai," sahut Pek Yun Hui sambil menarik nafas.

"Kakak Pek!" Na Siao Tiap menatapnya, "Apakah engkau juga mencintainya dalam hati?"

"Siao Tiap. " Pek Yun Hui tertegun "Kita sudah bagaikan

kakak beradik kandung, maka tiada yang perlu dirahasiakan Aku memang pernah berpikir begitu, tapi aku masih dapat mengendalikan diri."

"Kakak Pek, aku pun telah berpikir berulang kali, harus mengendalikan diri, Karena aku mencintai se-seorang, di dunia aku akan kehilangan seseorang yang amat baik, Namun... aku tidak mampu mengendalikan diri, aku. aku

telah mencintainya," ujar Na Siao Tiap dengan air mata berderai~derai.

"Adik Siao Tiap!" Pek Yun Hui menatapnya dengan heran. "Kenapa di dunia engkau akan kehilangan seseorang yang amat baik?

"Sebab almarhumah telah memberi amanat padaku, kalau aku telah mencintai seseorang, maka aku pun harus memperdengarkan irama Mi Hun Li Cin padanya." Na Siao Tiap memberitahukan

"Maksudmu?" Pek Yun Hui tidak mengerti

"Aku harus membunuh orang yang kucintai itu." Na Siao Tiap menjelaskan ibuku telah meninggal, maka aku harus mentaati amanatnya-"

"Siao Tiap!" Pek Yun Hui menarik nafas, "Apakah engkau tega membunuh Bee Kun Bu?"

"Kakak Pek, itu apa boleh buat." Na Siao Tiap menggeleng-gelengkan kepala, "Setelah membunuhnya, aku akan bunuh diri mendampinginya." Pek Yun Hui terdiam, ia tahu bahwa itu merupakan urusan yang amat serius, Kalau itu terjadi, Lie Ceng Loan pun pasti mati, mungkin juga Souw Hui Hong akan bunuh diri pu!a, Sebab gadis-gadis itu, telah terjerat dalam jaringan asmara.

"Kakak Pek!" tanya Na Siao Tiap mendadak memecahkan keheningan "Apakah Bee Kun Bu juga terkurung di dalam istana ini?"

"Aku telah menolongnya keluar dari sini," jawab Pek Yun Hui memberitahukan ia memang tidak tahu kemunculan Souw Peng Hai dan Co Hiong, karena ia sudah berangkat ke istana Pit Sia Kiong, maka ia menjawab begitu.

"Haah?" Na Siao Tiap terkejut bukan main "Kalau begitu, adik Loan telah terjebak!"

"Siao Tiap!" Pek Yun Hui tereengang, "Kenapa engkau mengatakan adik Loan terjebak?"

"Terjebak oleh Co Hiong!" Na Siao Tiap memberitahukan "Apa?" Pek Yun Hui terperanjat dan tertegun "Apa yang

telah terjadi, cepatlah ceritakan!"

Na Siao Tiap segera menceritakan tentang Co Hiong ke gunung Kwat Cong San menemui Lie Ceng Loan

Pek Yun Hui diam saja setelah mendengar itu, sebab sama sekali tidak menduga akan kejadian tersebut, bahkan kitab Kui Goan Pit Cek pun telah hilang.

"Kakak Pek, kini Bee Kun Bu berada di mana?" tanya Na Siao Tiap.

"Dia berada di sebuah lembah bersama Giok Siauw Sian Cu." Pek Yun Hui memberitahukan

Begitu mendengar Bee Kun Bu bersama Giok Siauw Sian Cu, seketika di dalam hati Na Siao Tiap terganjel sesuatu, yaitu rasa cemburu.

"Kakak Pek! Ayohlah! Kita harus segera meninggalkan ruang ini!" ajak Na Siao Tiap, "Mau apa tetap berada di sini?" "Siao Tiap!" Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak gampang kita meninggalkan ruang ini."

"Lho? Kenapa?" tanya Na Siao Tiap, "Kenapa Kakak mengatakan begitu?"

"Engkau harus tahu. " Pek Yun Hui menunjuk ke sana ke

mari. "Kini kita terkurung di dalam ruang api yang dilengkapi dengan formasi Ngo Heng Tin, maka sulit bagi kita meninggalkan ruangan ini."

"Lalu apa gunanya kita terus berdiam diri?"

"Kalau kita diam, tentu tidak akan terjadi apa-apa." "Bagaimana kalau kita terus terkurung di sini?" Na Siao

Tiap mengerutkan kening, "Sampai kapan kita akan terkurung

di sini?"

"Entahlah." Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Aku tidak mengetahuinya

"Kakak Pek, seandainya formasi Ngo Heng Tin itu bergerak, apa pula yang akan terjadi?" tanya Na Siao Tiap.

"Kalau formasi Ngo Heng Tin itu bergerak, kemungkinan besar ruangan ini akan menjadi lautan api," jawab Pek Yun Hui memberitahukan.

"Oh?" Air muka Na Siao Tiap berubah, kemudian ujarnya setelah berpikir sejenak "Seandainya ruangan ini menjadi lautan api, mungkin kita masih dapat meng-halaunya dengan angin pukufan."

"Aku pun telah berpikir begitu, dengan tenagaku seorang diri, memang masih mampu berlahan, Tapi lama kelamaan tentu akan kehilangan banyak hawa murni, lalu harus bagaimana sesudah itu?"

"Kakak Pek!" Mendadak Na Siao Tiap tersenyum. "Kita sungguh bodoh!"

"Maksudmu?" "Pintu rahasia itu " Na Siao Tiap menunjuk ke arah pintu

rahasia tersebuL "Dengan tenaga kita berdua, bagaimana mungkin tidak mampu membuka pintu itu?"

Usai berkata begitu, Na Siao Tiap langsung mengerahkan Lweekangnya memukul pintu itu.

"Siao Tiap, jangan bertindak sembarangan!" cegah Pek Yun Hui dengan wajah berubah.

Akan tetapi, Na Siao Tiap telah melancarkan pukulannya ke arah pintu itu, dan terdengarlah suara yang memekakkan telinga.

Bummm!

Pintu rahasia tersebut tampak tergoncang. Kalau dihantam terus-terusan dengan pukulan yang mengandung Lweekang, niseaya pintu rahasia itu akan terbuka.

Na Siao Tiap tampak gembira, dan segera melancarkan sebuah pukulan lagi.

Bummm!

Pada waktu bersamaan, muncullah beberapa lubang di dinding, sekaligus mengeluarkan suara yang amat memekakkan telinga, Terkejutlah Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui.

Ternyata di saat itu pula mereka berdua merasa panas sekali, seakan dipanggang di atas api yang berkobar-kobar.

"Siao Tiap, engkau telah menggerakkan formasi Ngo Heng Tin dengan pukuIan-pukulanmu, mungkin api akan segera menyala, Cepat bersiap-siaplah!" ujar Pek Yun Hui.

"Ya." Na Siao Tiap mengangguk sementara lubang-lubang itu terus mengeluarkan4 hawa yang amat panas, disertai pula dengan suara gemuruh Tak lama tampaklah api yang menyala menerobos dari lubang itu ke ruangan tersebut "Kakak Pek!" ujar Na Siao Tiap terkejut "Sungguh lihay jebakan di sini!"

"Tidak salah." Pek Yun Hui manggut-manggut "Ka-lau tidak, bagaimana mungkin Lam Kiong Siu berani memusuhi kaum Bu Lim di Tionggoan?"

"Kakak Pek. " Na Siao Tiap tampak menyesal, "Aku

bersalah karena memukul sembarangan Apakah engkau menyalahkan aku?"

"Tentu tidak," Pek Yun Hui tersenyum "Adik Siao Tiap, engkau tidak perlu berkata begitu."

"Kakak Pek. " Na Siao Tiap menarik nafas panjang,

"Mungkin tidak lama lagi kita akan mati terbakar di ruangan ini."

Pek Yun Hui juga menarik nafas, kemudian mulai mengibaskan lengan bajunya ke arah lubang-lubang itu, begitu pula Na Siao Tiap, maksud mereka agar api itu tidak menerobos ke dalam ruangan tersebut

"Kakak Pek, aku ingin bertanya padamu." ujar Na Siao Tiap mendadak.

"Engkau mau bertanya apa, tanyalah!" sahut Na Siao Tiap. ia merasa heran dan tidak dapat menduga apa yang akan ditanyakan Na Siao Tiap.

"Aku mencintai Bee Kun Bu, menurut Kakak apakah dia tahu?" ternyata ini yang ditanyakan Na Siao Tiap.

Diam-diam Pek Yun Hui menarik nafas, Dalam keadaan yang begini gawat, Na Siao Tiap masih tidak melupakan Bee Kun Bu. Dapat dibayangkan, betapa cintanya pada pemuda tersebut Lalu kelak harus bagaimana membereskan jaringan asmara ini?

"Dia tahu atau tidak, bagaimana mungkin aku bisa menerkanya?" sahut Pek Yun Hui. "Kakak Pek,.,." Na Siao Tiap ingin mengatakan se-suatu, namun tiba-tiba segulung api dari lubang itu menerjang ke arahnya.

Bum! Na Siao Tiap langsung mengayunkan tangan-nya, dan timbullah angin yang amat kencang berhembus ke arah api itu, membuat api itu padam seketika.

Akan tetapi, Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui sudah tampak lelah sekali, sebab setiap saat pasti ada api menyembur ke arah mereka melalui lubang-lubang itu, bahkan pakaian mereka pun telah terbakar sana sini.

"Kakak Pek, aku punya suatu ide," ujar Na Siao Tiap serius.

"Apa idemu?"

"Kalau terus-menerus begini, kita akan kehabisan tenaga, Bagaimana kalau kita mengerahkan ilmu To Im Cih Yang untuk mendorong api itu agar membakar dinding sampai roboh?"

"Benar." Wajah Pek Yun Hui tampak gembira, "Ke-napa dari tadi aku tidak memikirkan cara ini?"

"Kakak Pek, mari kita mulai!" ujar Na Siao Tiap, Ketika segulung api mengarah padanya, ia segera mengerahkan ilmu To Im Cih Yang, dan api itu pun terdorong ke arah dinding.

Begitu pula Pek Yun Hui, ketika ada segulung api mengarah padanya, ia pun langsung mendorong api itu kearah dinding dengan ilmu To Im Cih Yang, Tak seberapa lama kemudian, terdengarlah suara "Krek! Krek!"

"Kakak Pek!" Na Siao Tiap tertawa, "Lam Kiong Siu kira dapat mengurung kita di sini selamanya, tidak tahunya kita punya cara untuk ke luar dari sini,"

"Adik Siao Tiap, kita masih menghadapi tiga rintangan." Pek Yun Hui memberitahukan dengan wajah serius. "Jangankan cuma tiga rintangan, tiga puluh rintangan pun pasti ku terjang semuanya," sahut Na Siao Tiap tidak takut sama sekali.

Krek! Krek! Dinding yang terbakar itu terus berbunyi. "Tidak lama lagi, dinding itu pasti roboh," ujar Pek Yun Hui.

Tidak salah apa yang dikatakannya, berselang sesaat, robohlah dinding tersebut seketika juga Na Siao Tiap melesat ke luar melalui dinding yang telah roboh itu. Pek Yun Hui pun segera melesat ke luar menyusulnya

Keluar dari ruangan itu, mereka berdua berada di dalam ruangan lain, pintu di ruangan itu terbuka sedikit, tampak sedikit cahaya di dalamnya.

"Lam Kiong Siu!" seru Na Siao Tiap. "Masih ada jebakan apa, cepatlah perlihatkan pada kami!"

"Kalian berdua, terjanglah terus ke depan!" Ter-dengar suara sahutan Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu.

"Hmm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Kalau engkau tidak berani memperlihatkan diri, kami pasti dapat memaksamu memperlihatkan diri! Bisa berapa lama engkau bertahan di dalam istana ini?"

"He he he!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh-kekeh. "Kalian berdua pasti tidak bisa ke luar!"

"Jangan omong besar! Engkau adalah kura-kura yang menyembunyikan kepala!" Caci Na Siao Tiap sambil mendekati pintu terali itu. Pek Yun Hui mengikutinya dari belakang.

Setelah masuk ke dalam, Na Siao Tiap mengerutkan kening, karena tempat itu menyerupai sebuah kamar, semua dindingnya terdiri dari baja putih yang mengeluarkan hawa dingin.

Di tengah-tengah kamar itu terdapat sebuah batu besar berbentuk segi empat panjang, mirip sebuah tempat tidur Di atas bergantung sebuah kapak tajam, tidak terdapat benda lain lagi.

"Eh?" Na Siao Tiap berpaling "Kakak Pek, kok engkau tidak masuk?"

Ternyata Pek Yun Hui berdiri di luar pintu terali itu. Ketika ia baru mau menyahut tiba-tiba pintu terali itu bergerak seakan mau tutup kembali.

Terkejutlah Pek Yun Hui. ia segera menahan pintu terali itu agar tidak tertutup, Akan tetapi, pintu terali itu masih terus bergerak, padahal Pek Yun Hui telah mengerahkan Lweekangnya untuk menahan.

"Adik Siao Tiap! cepatlah engkau ke luar!" serunya.

Kalau pintu terali itu tertutup, berarti Na Siao Tiap akan berpisah dengan Pek Yun Hui.

"Kakak Pek,.,." Na Siao Tiap ingin mengatakan sesuatu "Cepat!" seru Pek Yun Hui cemas, Kelihatannya ia sudah

tidak kuat menahan pintu terali itu lagi.

"Ya," sahut Na Siao Tiap, Ketika ia baru mau melangkah mendadak kapak yang bergantung di atas itu pun berayun ke arahnya.

"Hati-hati!" seru Pek Yun Hui. "Kapak itu "

Na Siao Tiap sudah mendengar suara desiran di belakangnya, maka secepat kilat ia berkelit

Siung! Kapak itu melewati kepala Na Siao Tiap, Karena itu, ia tidak keburu keluar Sebab pintu terali itu telah tertutup, Pek Yun Hui terpaksa berseru dari luar.

"Engkau harus berhati-hati!" "Ya," sahut Na Siao Tiap. "Adik Siao Tiap!" pesan Pek Yun Hui, "Engkau jangan menyentuh apa pun yang ada di dalam kamar itu!"

"Kalau begitu, kapan aku boleh menerjang ke luar?" tanya Na Siao Tiap.

"Adik Siao Tiap. " Suara Pek Yun Hui makin kecil,

kemudian tak terdengar sama sekali.

"Kakak Pek! Kakak Pek.  !" seru Na Siao Tiap berulang

kali, tapi sudah tiada sahutan lagi.

"Na Siao Tiap!" Terdengar suara Kim Hun Tokouw yang dingin, "Tadi engkau telah omong besar, kenapa sekarang malah tampak ketakutan?"

"Siapa bilang aku ketakutan?" sahut Na Siao Tiap. "Adik Siao Tiap!" Terdengar lagi suara Pek Yun Hui.

"Jangan emosi, dia memang sengaja memancingmu!" "Kakak Pek. "

Ting! Tang! Ting. Terdengar suara benturan benda

keras, itu membuat Pek Yun Hui terperanjat dan tertegun

"Pek Yun Hui!" Suara Kim Hun Tokouw. "Dirimu sendiri sudah dalam bahaya, jangan memikirkan orang lain! Lihatlah belakangmu!"

Pek Yun Hui tidak segera menoleh ke belakang, sebab khawatir Kim Hun Tokouw sedang menjebaknya, Namun kemudian ia mencium bau yang amat aneh, itu memaksanya untuk menoleh.

Begitu menoleh ke belakang, terbelalaklah Pek Yun Hui. Ternyata ia melihat ratusan ekor ular beracun berbaris di situ sambil menyemburkan racun.

Pek Yun Hui telah kehilangan pedangnya, maka terpaksa menggunakan sarung pedang sebagai senjata, ia lalu melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding. "He he he!" Suara tawa Kim Hun Tokouw, "Pek Yun Hui!

Tahukah engkau ular jenis apa itu?"

Seorang gadis berbaju hijau menggeletak di tanah.

Ternyata mutiara yang disentil Pek Yun Hui tepat mengenai jalan darah di tubuh gadis itu.

Bagian ke empat puluh enam

Lie Ceng Loan Berlemu Kim Hun Tokouw

Pek Yun Hui tidak berniat membunuh gadis berbaju hijau itu. Karena ia masih ingat akan salah seorang gadis yang mengorbankan nyawanya demi menolong Bee Kun Bu. itu berarti masih ada orang baik di dalam istana Pit Sia Kiong.

"Engkau tidak usah takut," ujar Pek Yun Hui setelah membebaskan jalan darah gadis itu.

Gadis berbaju hijau itu mendongakkan kepala, Begitu melihat Pek Yun Hui yang sedemikian anggun, seketika ia menundukkan kepala.

"Lam Kiong Siu berada di mana?" tanya Pek Yun Hui. "Aku dengar... dia berada di ruang pengontrol jebakan,"

jawab gadis berbaju hijau itu. "Bawa kami ke ruang itu!"

"Lie Hiap (Pendekar Wanita), kami semua tidak tahu di mana ruangan itu. Hanya majikan istana seorang yang tahu."

jawaban gadis berbaju hijau itu mencemaskan hati Pek Yun Hui. Sebab kalau tidak bertemu Lam Kiong Siu, sulitlah baginya untuk menolong Na Siao Tiap. Lam Kiong Siu berada di mana, tiada seorang pun yang tahu.

"Kakak Bu? Di mana Kakak Bu?" tanya Lie Ceng Loan. "Kakak Bu?" gadis berbaju hijau itu tereengang. "Kakak Bu

adalah Bee Kun Bu." Lie Ceng Loan memberitahukan.

"Oh, Bee Kun Bu! Dia dikurung di ruang bawah tanah," ujar gadis berbaju hijau itu. "Apa?!" Pek Yun Hui terperanjat ia mencengkeram tangan gadis berbaju hijau itu. "Kapan dia ke mari?"

"Sudah dua tiga hari, Majikan istana yang menangkapnya, Bahkan ada seorang wanita. "

"Siapa wanita itu?" "Giok Siauw Sian Cu."

"Cepatlah bawa kami pergi menemuinya!" ujar Pek Yun Hui mendesak gadis berbaju hijau itu.

"He he!" Mendadak Kiu Tok Sian Ong tertawa dingin.

Tngatya! Engkau jangan macam-macam!"

"Aku. " Gadis berbaju hijau itu tampak takut sekali kepada

Kiu Tok Sian Ong, "Aku tidak berani. "

"Siauw Lan!" Terdengar suara gadis lain di tempat yang agak jauh, "Engkau berani membantu orang luar, apakah tidak takut kalau Kiong Cu akan menghukummu?"

"Aaakh. " keluh gadis berbaju hijau itu dengan wajah pucat

pias. "KaIian. kalian ampunilah aku!"

"Kami cuma menghendaki agar engkau membawa kami pergi menemui Bee Kun Bu," ujar Lie Ceng Loan, "ltu bukan urusan besar, kan?"

"Tapi aku. " Wajah gadis berbaju hijau itu bertambah

pucat, Kini ia berada di tangan mereka, Kalau ia membawa mereka pergi menemui Bee Kun Bu, Lam Kiong Siu pasti menghukumnya dengan cara yang sadis, itulah yang membuatnya ketakutan sekali sehingga ping-san.

"Kakak Pek, Lo Sian Ong!" Lie Ceng Loan menghela nafas, "Kita jangan mendesaknya lagi, kasihan! Lebih baik kita cari sendiri saja, agar dia tidak dihukum majikannya."

"Sungguh baik hati Nona Lie." Puji Kiu Tok Sian Ong dan menambahkan "Tiada duanya di kolong lagit." "Lo Sian Ong!" Pek Yun Hui tersenyum. "Pujian Lo Siang Ong memang tepat, Adik Ceng Loan amat baik sehingga orang jahat pun dianggapnya orang baik pula."

"Kakak Pek!" Lie Ceng Loan tertawa, "Aku tahu yang engkau maksudkan Co Hiong, kan?"

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk Setelah itu mereka bertiga lalu melesat ke depan.

Kira-kira tiga puluh depa kemudian, ke tiga orang itu sudah sampai di ujung dan sekaligus memandang ke depan. Di sana gelap gulita tidak tampak apa pun. Namun di sebelah kiri dan kanan tampak sedikit cahaya.

Kiu Tok Sian Ong menengok ke kiri dan ke kanan, lalu menggerakkan tangannya, Ternyata ia menyambit-kan senjata rahasia ke dua arah itu.

Tak! Tak! Dua buah senjata itu jatuh di lantai. "Mari kita ke sana!" ujar Kiu Tok Sian Ong sambil

menunjuk tempat yang ada cahayanya.

"Lo Sian Ong!" sahut Pek Yun Hui. "Mungkinkah tempat yang bereahaya itu merupakan suatu jebakan bagi kita?"

"Ha ha!" Kiu Tok Sian Ong tertawa gelak, "Per-mainan Lam Kiong Siu cuma permainan anak-anak. Julukanku Kiu Tok (Sembilan Racun), Kalau dia menggunakan racun, berarti dia telah bertemu leluhurnya."

Pek Yun Hui tersenyum Kalau Lam Kiong Siu menggunakan racun, tentu Kiu Tok Sian Ong dapat menghadapinya. Akan tetapi, apabila Lam Kiong Siu menggunakan selain racun, Kiu Tok Sian Ong pasti akan kerepotan

itu tidakdiutarakan Pek Yun Hui, sebab saat ini tidak baik untuk berdebat Lagi pula Kiu Tok Sian Ong tergolong tingkatan tua, maka biar bagaimanapun ia harus menghormatinya.

"Baik." Pek Yun Hui manggut-manggut

Mereka bertiga menuju tempat yang bereahaya ttu. Setelah beberapa depa kemudian, Kiu Tok Sian Ong memungut senjata rahasia yang disambitkannya tadi.

sementara Pek Yun Hui memandang ke depan, masih tidak tampak ujungnya, Maka tidak heran kalau ia mengerutkan kening.

"Kakak Pek!" ujar Lie Ceng Loan heran. Tempat yang kita lalui mirip sebuah lorong, tapi kenapa tidak ada ujungnya?"

"Adik Loan,..." Pek Yun Hui meno!ehkan kepalanya ke belakang, gadis itu tampak tertegun dan terkejut "Celaka!"

Kiu Tok Sian Ong dan Lie Ceng Loan juga menoleh ke belakang, Mereka berdua pun tampak tertegun

Ketika mereka bertiga memasuki tempat ini, sama sekali tidak menoleh ke belakang, Saat ini mereka menoleh ke belakang, justru melihat kabut kekuning-ku-ningan, Sungguh mengherankan, kabut itu tidak bergerak Entah kabut apa itu?

"Eh?" Lie Ceng Loan tereengang "Permainan apa lagi itu?" Lie Ceng Loan mendekati kabut itu. Terkejutlah Pek Yun

Hui dan segera berseru.

"Adik Loan, jangan ke sana!"

Namun sudah terlambat Lie Ceng Loan telah masuk ke kabut tersebut bahkan tidak tampak bayangannya lagi.

"Adik Loan!" seru Pek Yun Hui cepat "Engkau harus di'am! Kalau engkau bergerak tidak akan bertemu Kakak Bumu lagi!"

Pek Yun Hui tahu, bahwa Lie Ceng Loan pasti menuruti perkataannya, Tapi kalau ditambah dengan nama Bee Kun Bu, gadis itu pasti tidak berani bergerak "Kakak Pek, aku tidak akan. " Lie Ceng Loan ingin

menyahut "Aku tidak akan bergerak", namun mendadak ia menjerit kaget "Akh! Kakak Pek, ada orang me-nyerangku!"

Terkejutlah Pek Yun Hui. ia segera berseru agar Lie Ceng Loan bergerak

"Adik Loan, kalau ada orang menyerangmu engkau boleh bergerak membalasnya!"

Hanya terdengar suara Lie Ceng Loan, sama sekali tidak mendengar suara apa pun. Karena itu, Pek Yun Hui bersiap menerjang ke arah kabut tersebut Tapi pada waktu bersamaan, kabut itu bergerak ke arahnya.

Dalam waktu sekejap, Pek Yun Hui telah terkurung kabut tebal yang warnanya kekuning-kuningan itu, seketika Pek Yun Hui merasa matanya gelap, tidak dapat melihat apa pun.

ia segera menoleh ke belakang, namun tidak tampak Kiu Tok Sian Ong, sebab terhalang kabut tebal itu.

"Lo Sian Ong!" tanya Pek Yun Hui, "Bagaimana keadaanmu?"

"Nona Pek!" sahut Kiu Tok Sian Ong memberitahukan "Kita telah terkurung di dalam formasi kabut Engkau jangan bergerak, aku akan coba mendekatimu!"

"Ya!" sahut Pek Yun Hui, Ternyata dugaannya tadi tidak salah, Tempat ini merupakan suatu jebakan bagi mereka. Namun ia tidak menyalahkan Kiu Tok Sian Ong, Kemudian ia berseru bertanya pada Lie Ceng Loan, "Adik Loan, masih ada orang menyerangmu?"

"Tidak. Hah? Hei! Siapa engkau?" bentak Lie Ceng Loan.

"Adik Loan. " Pek Yun Hui terkejui. Namun sudah tidak

terdengar suara Lie Ceng Loan Iagi.

Di saat itu puIa, Pek Yun Hui merasa ada desiran angin di belakangnya, ia segera menoleh, namun tidak melihat apa pun. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera melancarkan sebuah pukulan

Betapa dahsyatnya pukulan Pek Yun Hui. pukulannya mampu mencapai jarak jauh, tapi terhalang oleh kabut tebal, sehingga kedahsyatannya jadi berkurang.

"Nona Pek!" Suara Kiu Tok Sian Ong, "Kabut kuning ini bukan kabut biasa, engkau jangan sembarangan melancarkan pukulan!"

Pek Yun Hui tahu bahwa Kiu Tok Sian Ong berpengalaman maka ia pun tidak melancarkan pukulan lagi. Akan tetapi, Pek Yun Hui merasa heran, sebab tadi Kiu Tok Sian Ong bilang mau mendekatinya, tapi kenapa saat ini suaranya malah agak jauh?

"Lo Sian Ong berada di mana?" tanya Pek Yun Hui.

" Aku sedang mendekatimu," sahut Kiu Tok Sian Ong, Sungguh mengherankan, suara orang itu bertambah jauh.

Kini sadarlah Pek Yun Hui, bahwa formasi kabut kuning ini memang sungguh lihay.

"Lo Sian 0ng. " sebetulnya Pek Yun Hui ingin

mengingatkannya jangan terpengaruh oleh kabut kuning, namun di saat bersamaan meluncur empat buah belati ke arahnya. Yang mengejutkan Pek Yun Hui adalah ke empat buah belati itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Padahal gadis itu berkepandaian begitu tinggi, namun masih tidak mendengar suara desiran senjata itu.

Kini Pek Yun Hui tidak memegang senjata apa pun.

Pedang yang tadi dipegangnya telah dikembalikan kepada Lie Ceng Loan Karena itu ia terpaksa membungkukkan badannya.

Ke empat senjata itu melewati kepalanya, Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui menyentilkan jari telunjuknya ke arah senjata-senjata itu.

Trang! Trang! Trang! Tiga buah belati terpukul ke atas, Pek Yun Hui cepat-cepat menjulurkan tangannya untuk menangkap belati yang meluncur terakhir lalu disimpan di dalam bajunya.

"Adik Loan!" Pek Yun Hui teringat pada gadis itu. "Adik Loan, engkau berada di mana?"

Pek Yun Hui berteriak lantang, tetapi tiada suara sahutan Lie Ceng Loan. Cemaslah hatinya ia langsung melesat ke depan Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia berhenti

Namun sungguh mengherankan ia masih berada di dalam kabut kuning tebal itu. Pek Yun Hui tertegun Tadi ia ingin mengingatkan Kiu Tok Sian Ong, namun kenapa sekarang dirinya malah bertindak ceroboh begitu?

Pek Yun Hui tidak dapat melihat apa pun. Bahkan tidak tahu dirinya berada di mana, Gadis itu berusaha tenang dan mengingat kembali tempat yang dilaluinya tadi, sepertinya ia berada di suatu tempat yang tiada ujungnya.

Gadis itu terus berpikir Setelah itu ia mengarah ke kiri beberapa depa, lalu berputar ke kanan lagi, Namun memang mengherankan, ia berjalan ke mana pun tetap tidak menemukan dinding ruangan

Dirinya seakan berada di sebuah padang pasir yang tiada batasnya, Akhirnya ia berhenti untuk menunggu perkembangan selanjutnya.

Bagaimana dan di mana Lie Ceng Loan? Ketika memasuki kabut kuning itu, Lie Ceng Loan menyadari adanya gelagat yang tak beres, Gadis itu membalikkan badannya, tapi sudah tidak melihat Pek Yun Hui dan Kiu Tok Sian Ong, karena tertutup oleh kabut kuning yang amat tebal

Pada waktu bersamaan, Lie Ceng Loan mendengar suara Pek Yun Hui yang menyuruhnya jangan bergcrak, Maka ia tidak berani bergerak sama sekali

Di saat itu, mendadak meluncur empat buah belati ke arah Lie Ceng Loan Untung gadis itu bergerak cepat menghindar kalau tidak badannya pasti sudah tertancap senjata tajam tersebut

Karena itu, Lie Ceng Loan langsung menghunus pedangnya untuk berjaga-jaga. Tiba-tiba ia mendengar suara wanita.

"Engkau ingin bertemu Bee Kun Bu?"

Lie Ceng Loan terperanjat dan segera menoleh, namun tidak melihat apa pun di belakangnya, Oleh karena itu, ia siap menggerakkan pedangnya, Akan tetapi ia teringat bahwa suara tadi menyebut nama Bee Kun Bu. itulah yang membuatnya tidak jadi menggerakkan pedangnya.

"Kalau engkau ingin bertemu Bee Kun Bu, janganlah bersuara!" Terdengar lagi suara wanita itu dan menambahkan "Cepat ikut aku!"

"Engkau berada di mana?" tanya Lie Ceng Loan dengan suara rendah.

Tiada sahutan, namun mendadak muncul sebuah belati yang mengkilap mengarah Lie Ceng Loan.

"Haah...?"

"Jangan takut!" bisik wanita itu, "Peganglah ujung belati ini, ikuti ke mana aku pergi!"

Lie Ceng Loan tertegun Demi bertemu Bee Kun Bu, bahaya apa pun harus ditempuh, pikirnya, Kemudian dengan dua jarinya ia menjepit belati itu.

Belati itu mulai bergerak Lie Ceng Loan mengikuti gerakan belati itu ke mana saja, ia merasa melewati beberapa tikungan Berselang beberapa saat kemudian, tiba-tiba di hadapannya berubah menjadi gelap sekali Kabut kuning itu pun sudah tidak kelihatan lagi Namun Lie Ceng Loan justru melihat seorang wanita menggenggam belati tersebut Begitu melihat wanita itu, ia pun langsung bertanya.

"Kakak! Di mana Kakak Bu?" Sebelum wanita itu menjawab, mendadak berkelebat sosok bayangan Dalam sekejap mata sosok bayangan itu sudah berada di hadapan mereka.

"Kiong Cu (Majikan Istana)!" panggil wanita itu dengan hormat

Ketika mendengar wanita itu memanggil "Kiong Cu", Lie Ceng Loan segera melepaskan jari tangannya yang menyepit ujung belati itu, kemudian mendadak menyerang wanita yang baru muncul dengan jurus Coan Yun Cai Goat (Menembus Awan Memetik Bulan).

Jurus tersebut adalah ilmu pedang partai Kun Lun yang disebut Tui Hun Cap Ji Kiam (Dua Belas jurus Mengejar Setan). Setelah mengeluarkan jurus itu, sisa sebelas jurus itu pun digerakkan secara beruntun pula, Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya serangan-se-rangan itu.

Kenapa Lie Ceng Loan menyerang wanita yang baru muncul itu begitu dahsyat? Ternyata ia telah mengetahui, bahwa wanita tersebut Lam Kiong Siu.

"Hm!" dengus Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu dingin kemudian bertanya pada wanita itu, "Benarkah gadis ini bernama Lie Ceng Loan?"

"Aku memang Lie Ceng Loan!" sahut gadis itu cepai dan bertanya, "Di mana Kakak Bu?"

Ketika menyahut, serangan-serangannya juga telah mengarah pada Kim Hun Tokouw.

Begitu melihat serangan-serangannya itu, Kim Hun Tokouw cuma tersenyum dingin, lalu berkelit ke samping, sedangkan Lie Ceng Loan lalu berhenti menyerang.

Kim Hun Tokouw menatapnya tajam, kemudian melangkah maju mendekati Lie Ceng Loan.

"Engkau jangan maju lagi!" bentak Lie Ceng Loan sengit "Engkau bukan orang baik, kalau maju lagi, aku pasti menyerangmu!" "He he!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin, lalu menghentikan langkahnya, Namun matanya menatap tajam ke arah Lie Ceng Loan.

Lie Ceng Loan juga memandang Kim Hun Tokouw dengan penuh perhatian Karena tempat itu amat gelap, maka tadi ia tidak melihat jelas dirinya, Kini jarak mereka cukup dekat, maka Lie Ceng Loan dapat melihatnya agak jelas.

Setelah melihat Kim Hun Tokouw, Lie Ceng Loan merasa heran, karena tidak menyangka kalau wanita itu begitu cantik, sementara Kim Hun Tokouw juga menatapnya dengan penuh perhatian Berselang sesaat ia tersenyum dingin seraya berkata.

"Aku kira engkau secantik bidadari, tidak tahunya masih berbau pupur!"

Mendengar ucapan itu, Lie Ceng Loan sama sekali tidak tersinggung maupun gusar, melainkan malah ter-tawa.

"Kakak Lam Kiong, engkaulah yang secantik bidadari sesungguhnya Lie Ceng Loan berkata setulus hati, tapi Kim Hun Tokouw mengira gadis itu menyindirnya.

"Hm!" dengusnya, wajahnya berubah kemerah-merahan. "Kakak Lam Kiong!" tanya Lie Ceng Loan, "Di mana Kakak

Bu?"

"Engkau menanyakan Bee Kun Bu?" Kim Hun Tokouw balik bertanya.

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "Di mana Kakak Buku?" "Kakak Bumu?" Kening Kim Hun Tokouw mengerut, "Dia

milikmu?"

"Dia kakak seperguruan ku, maka aku selalu memanggilnya begitu. Memangnya kenapa?" Lie Ceng Loan tampak kebingungan "Oh?" Kim Hun Tokouw tertawa, "Engkau sangat mencintainya dalam hati, kan?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk "Kakak Lam Kiong, cepatlah lepaskan dia!"

"Lie Ceng Loan!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin, "Engkau begitu mencintainya, tentu bersedia melakukan apa pun demi dia, kan?"

"Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Bagus." ujar Kim Hun Tokouw sepatah demi sepatah "Kini Bee Kun Bu berada di tanganku, Mati hidupnya juga berada di tanganku, Kalau engkau tidak menghendakinya mati, maka engkau harus menuruti kata-kataku."

"Engkau... engkau mau menyuruhku melakukan apa?" tanya Lie Ceng Loan cemas dan tergagap.

"Engkau harus menulis sepucuk surat, yang isinya mengatakan bahwa engkau sudah punya kekasih baru, karena itu engkau tidak mencintainya lagi," sahut Kim Hun Tokouw.

Lie Ceng Loan menggigit bibir Matanya menatap tajam ke arah Kim Hun Tokouw seraya berkata keras.

"Aku tidak mau menuruti perintahmu!"

"Oh?" Kim Hun Tokouw tertawa, "Kalau begitu, Bee Kun Bu pasti mati lantaran sahutanmu yang tegas itu."

Wajah Lie Ceng Loan berubah pucat Gadis itu tampak gugup, panik dan cemas sekali Kemudian mendadak ia menyerang Kim Hun Tokouw dengan pedang-nya. ia mengeluarkan jurus Coan Yun Cai Goat (Me-nembus Awan Memetik Bulan).

Kim Hun Tokouw tertawa dingin sambil mundur Tiba-tiba tangannya bergerak dan seketika di tangannya telah bertambah sehelai selendang, bahkan sekaligus melayang cepat ke arah pedang Lie Ceng Loan. Dalam waktu sekejap, pertarungan mereka sudah melewati beberapa jurus. Lie Ceng Loan menyerang Kim Hun Tokouw dengan ilmu pedang Tui Hun Cap Ji Kiam. Namun tangan kirinya juga ikut menyerang dengan jurus-jurus aneh, yakni ilmu tangan kosong dari buku catatan Sam Im Sin Ni, yang diajarkan Liong Giok Pin padanya.

Ketika" melihat Lie Ceng Loan, Kim Hun Tokouw menganggapnya sebagai anak gadis yang masih berbau pupur Namun kini amat terkejut, karena tidak menyangka kalau gadis itu memiliki kepandaian begitu tinggi

"Lam Kiong Siu!" bentak Lie Ceng Loan. "Kakak Pek dan Kakak Siao Tiap telah menyerang ke dalam istana Pit Sia Kiong ini, bahkan Kiu Tok Sian Ong pun telah datangi Cepatlah bebaskan Kakak Bu, aku akan menyuruh mereka jangan menyusahkanmu!"

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin, "Na Siao Tiap telah terkurung di ruang besi, sedangkan Pek Yun Hui dan setan tua itu pun telah terkurung di formasi kabut kuning!

Engkau pikir mereka akan ke mari menolongmu? Huh! jangan mengimpikan itu!"

"Oh?" Lie Ceng Loan memperhebat serangannya. "Tunggu!"t)entak Kim Hun Tokouw sambil meloncat

mundur

Lie Ceng Loan berhenti menyerangnya, namun pedangnya tetap diluruskan ke depan.

"Apakah engkau bersedia membebaskan Kakak Bu?" tanyanya.

"Engkau ikut aku ke dalam, aku akan memperlihatkan sesuatu kepadamu," sahut Kim Hun Tokouw serius.

"Cepat bawa aku ke sana!" Lie Ceng Loan girang sekali ia mengira Kim Hun Tokouw akan membebaskan Bee Kun Bu.

Kim Hun Tokouw tertawa dingin, Mendadak ia melesat ke dalam dan diikuti Lie Ceng Loan dari belakang. Setelah melewati beberapa tikungan, tiba-tiba Lie Ceng Loan terbelalak, karena dirinya sudah berada di sebuah ruangan berdinding kristal

Lie Ceng Loan menengok ke sana ke mari, namun tidak tampak Bee Kun Bu berada di situ, Keningnya langsung berkerut

"Di mana Kakak Bu?" tanyanya.

"Kenapa engkau begitu tegang?" sahut Kim Hun Tokouw, Kemudian ia menggerakkan selendangnya mengarah ke sebuah tombol rahasia.

Kreeeek! Dinding kristal itu terbuka.

Lie Ceng Loan memandang ke sana, wajahnya tampak berubah dan berseru seperti orang kehilangan sukma.

"Kakak Bu! Kakak Bu. "

Ternyata Lie Ceng Loan melihat seseorang digantung di atas, Tampak sebuah tungku yang menyala di bawahnya, Kepala orang itu tertunduk, rambutnya menutupi mukanya, Walau tidak menyaksikan wajahnya, namun Lie Ceng Loan mengenali, bahwa orang itu Bee Kun Bu. 

Betapa sakit dan sedihnya hati gadis itu melihat Bee Kun Bu sedang dipanggang di atas tungku, Lidah api dari dalam tungku itu terus menjilat kaki nya.

Mana tahan Lie Ceng Loan menyaksikan keadaan itu. ia langsung menerjang ke sana, Akan tetapL..

Buk! Badannya membentur sesuatu, sehingga membuatnya jatuh duduk.

Sungguh di luar dugaan, ternyata tempat itu dilapisi semacam kaca anti pecah, Lie Ceng Loan tidak melihat kaca itu, maka tadi ia langsung menerjang.

Lie Ceng Loan segera bangkit berdiri, lalu menyerang kaca itu dengan pedangnya. Trang! Trang! Trang.,.!

Waiau Lie Ceng Loan telah menyerang dengan sepenuh tenaga, tapi kaca itu sama sekali tidak pecah, sebaliknya tangan gadis itu yang terasa sakit sekali.

"Lam Kiong Siu!" bentak Lie Ceng Loan sengit, "Cepat buka kaca ini!"

Kim Hun Tokouw cuma tersenyum dingin, Lie Ceng Loan memandang ke arah Bee Kun Bu lagi.

"Kakak Bu! Kakak Bu! Apakah engkau bisa melihat aku?" serunya.

Akan tetapi, Bee Kun Bu tidak bergerak sama sekalL Betapa cemas dan sedihnya hati Lie Ceng Loan, Men-dadak ia merasa dadanya bergejolak.

"Uaaakh. " MuIutnya menyemburkan darah segar,

kemudian ia pun terkulai.

sedangkan Kim Hun Tokouw cuma tersenyum di-ngin. ia memandang Lie Ceng Loan yang terkulai itu seraya berkata.

"Engkau harus melakukan apa yang kukatakan tadi!" "Lam Kiong Siu. " sahut Lie Ceng Loan !emah, "Engkau.,,

engkau tidak akan membakarnya sampai mati kan?"

Kim Hun Tokouw tidak menyahut Kemudian ia bertepuk tangan beberapa kali, lalu muncullah beberapa gadis di dalam ruang kaca itu. Kim Hun Tokouw memberi isyarat dengan tangannya, seketika juga gadis-gadis itu menambah bahan bakar ke dalam tungku tersebut

"Aaaakh.,." keluh Lie Ceng Loan. Gadis itu nyaris pingsan karena api yang ada di dalam tungku itu bertambah besar.

"Bagaimana?" tanya Kim Hun Tokouw dingin "Apa-kah engkau masih tidak mau menuruti apa yang kukatakan tadi? Kalau aku memberi isyarat lagi, mereka pasti segera menurunkan tali itu!"

"TJdak!" teriak Lie Ceng Loan, Mendadak ia melesat ke arah Kim Hun Tokouw sambil menyerangnya dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi Mulai Mengembang), Kemudian jurus itu berubah menjadi jurus Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit). Serangan itu mengarah ke kepala Kim Hun Tokouw.

Lie Ceng Loan dalam keadaan emosi dan nekad karena menyaksikan keadaan Bee Kun Bu yang me ngenaskan itu. Maka tak mengherankan kalau serangan nya sangat dahsyat

Namun lawannya Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu. yang berkepandaian tinggi, bahkan juga sangat berpengalaman Tentu tidak gampang bagi Lie Ceng Loan untuk membunuhnya hanya dengan jurus-jurus itu.

Namun tiba-tiba terjadi sesuatu yang sungguh mengejutkan, Ternyata ujung pedang Lie Ceng Loan berhasil membabat rambut Kim Hun Tokouw, Kalau Kim Hun Tokouw terlambat menundukkan kepalanya, mungkin saat ini kepalanya telah menggelinding di lantai.

Lie Ceng Loan tidak berhenti di situ, Gadis itu masih melanjutkan serangannya, ia mengerahkan ilmu pedang yang diajarkan Liong Giok Pin.

Betapa terkejutnya Kim Hun Tokouw, ia bergerak cepat menghindari serangan lawan, kemudian mendadak balas menyerang dengan selendangnya mengarah ke dada Lie Ceng Loan.

Pada waktu bersamaan, tiba-tiba pedang Lie Ceng Loan berputar membentuk dua buah lingkaran, lalu ujungnya mengarah ke tenggorokan Kim Hun Tokouw.

Terkejutlah Kim Hun Tokouw, sebab andaikata selendangnya berhasil melukai lawan, tenggorokannya pun pasti berlubang akibat tusukan pedang, Lagi pula saat ini Lie Ceng Loan telah nekad tanpa menghiraukan nyawanya sendiri Walau ujung selendang Kim Hun Tokouw sudah dekat dengan dadanya, namun ia tetap melanjutkan serangannya.

*****

Bab ke 47 - Api Membakar Bee Kun Bu Menghanguskan Hati Kekasih

Menyaksikan Lie Ceng Loan begitu nekad, terperanjat-lah Kim Hun Tokouw, ia tidak mau mati konyot, maka secepat kilat meloncat mundur dua langkah sambil me-nyentakkan selendangnya. Ujung selendang itu langsung membalik membelit pedang Lie Ceng Loan, Namuft pedang Lie Ceng Loan tetap menyabet bahu Kim Hun Tokouw.

Creet!

Di saat bersamaan, ujung selendang Kim Hun Tokouw berputar ke arah dada Lie Ceng Loan, Tak terelak lagi, ujung selendang itu menghantam sasarannya.

"Aaakh!" jerit Lie Ceng Loan, Badannya terhuyung-huyung ke belakang beberapa Iangkah.

Meskipun telah terhuyung-huyung dan dadanya sudah terhantam oleh selendang lawan, namun Lie Ceng Loan masih dapat bertahan

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin. "Lihatlah ke sana!"

Lie Ceng Loan segera memandang ke dalam ruang kaca, Ternyata punggung Bee Kun Bu telah ditindih dengan beberapa batang besi yang membara, sehingga mengeluarkan asap.

"Aaaakh. " Wajah Lie Ceng Loan pucat pias me-

nyaksikannya, Kemudian ia menatap Kim Hun Tokouw dengan mata berapi-api.

"Kalau engkau tidak mau menuruti apa yang kukatakan tadi, Bee Kun Bu pasti mati terbakar!" ujar Kim Hun Tokouw dingin "Kalau aku menulis,.," sahut Lie Ceng Loan dengan air mata berderai-derai, "Dia... dia pun tidak akan pereaya!"

"Oh?" Kim Hun Tokouw tertawa, "Engkau boleh bicara dengannya sekarang!"

"Ruangan itu dilapisi kaca, bagaimana mungkin dia dapat mendengar suaraku?" ujar Lie Ceng Loan.

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin "Aku punya cara agar dia dapat mendengar suaramu!"

"Aku... aku harus bilang apa padanya?" tanya Lie Ceng Loan, yang pipinya telah basah karena air matanya terus bereucuran

"Bilang saja engkau sudah punya kekasih baru, maka tidak mencintainya lagi!" sahut Kim Hun Tokouw.

"Dia... dia tidak akan pereaya, sebab.,, sebab aku tidak punya teman pria lain!" Lie Ceng Loan memberitahukan

"Gampang!" Kim Hun Tokouw tertawa, "Engkau bilang saja telah mencintai Co Hiong! Jadi engkau tidak mempedulikannya lagi. Kalau pun bertemu, engkau pasti tidak akan meladeninya!"

"Kapan aku harus bilang begitu?" tanya Lie Ceng Loan dengan hati tersayat

"Sekarang!"

"Aku.,, aku... mencintai. " Berkata sampai di situ,

mendadak Lie Ceng Loan berteriak sekeras-kerasnya. "Kakak Bu, aku cuma mencintai dirimu seorang! AJcu tidak akan mencintai orang lain!"

"Dasar gadis sialan!" Caci Kim Hun Tokouw, ia langsung mengibaskan tangannya memberi isyarat pada murid- muridnya yang ada di dalam ruang kaca itu.

seketika juga tubuh Bee Kun Bu yang tergantung itu merosot ke bawah", Lidah api yang ada di dalam tungku itu pun mulai membakar tubuh Bee Kun Bu. "Aaaakh..." keluh Lie Ceng Loan.

"Kalau engkau tidak bilang seperti yang kukatakan, Bee Kun Bu pasti segera hangus!" ujar Kim Hun Tokouw dingin.

Lie Ceng Loan memejamkan matanya, ia sudah tidak tega menyaksikan keadaan Bee Kun Bu.

"Engkau masih belum mau bilang begitu?" bentak Kim Hun Tokouw.

"Aku.,, aku sungguh mencintai Bee Kun Bu," ujar Lie Ceng Loan lemah dengan air mata bereucuran "Dia... dia pun tahu itu. Kenapa engkau,., engkau memaksaku harus bilang tidak mencintainya? Engkau ingin membuat hatinya berduka ?

Kalau pun aku bilang begitu, dia pasti tidak akan pereaya."

Karena Lie Ceng Loan bertanya begitu, mendadak wajah Kim Hun Tokouw tampak kemerah-merahan. Na-mun kemudian berubah penuh diliputi hawa membunuh

"Bagus! Bagus! Engkau begitu keras hati tidak mau bilang begitu! Saksikanlah Kakak Bumu itu akan ba-gaimana!" ujarnya lalu tertawa terkekeh-kekeh.

Kim Hun Tokouw memberi isyarat lagi, lalu tubuh Bee Kun Bu merosot ke bawah tepat di atas tungku.

Lie Ceng Loan memandang ke dalam ruang kaca. Gadis itu tampak tertegun ia berdiri seperti patung, Matanya terbelalak lebar, namun tidak menangis lagi.

"Ha ha ha!" Kim Hun Tokouw tertawa seperti orang gila, Di saat itulah mulut Lie Ceng Loan menyemburkan darah segar Gadis itu lalu membalikkan badannya.

Kim Hun Tokouw terus tertawa, Kelihatannya ia merasa gembira, Lie Ceng Loan menarik nafas da!am-dalam, ternyata ia menghimpun Lweekangnya, Tiba-tiba ia menggerakkan pedangnya menusuk ke arah Kim Hun Tokouw yang masih tertawa gelak itu. Walau Lie Ceng Loan telah menghimpun Lweekangnya, namun hawa murninya telah terganggu, maka Lwee-kangnya tidak begitu dahsyat lagi.

Kim Hun Tokouw menyentakkan selendangnya, seketika juga ujung selendang yang mengandung tenaga lunak itu menghantam tubuh Lie Ceng Loan, Gadis itu terpental beberapa depa bersama pedangnya, kebetulan mengarah ke ruang kaca, sehingga melihat tubuh Bee Kun Bu yang sudah tak bergerak sama sekali

"Kakak Bu! Kakak Bu,.,!" jerit Lie Ceng Loan memilukan Siapa yang mendengar suara jeritannya, pasti akan mengucurkan air mata.

Akan tetapi, Kim Hun Tokouw malah terus tertawa terkekeh-kekeh, Di saat bersamaan, terdengarlah suara yang membetot sukma.

Tring! Trinng! Ternyata suara piepa.

Kim Hun Tokouw segera menoleh. Tampak seorang gadis berbadan langsing dan cantik jelita berdiri di situ, Ke dua tangan gadis itu memeluk sebuah piepa.

Siapa gadis itu? Tidak lain Na Siao Tiap, Begitu melihatnya, Kim Hun Tokouw terkejut bukan main, ia sama sekali tidak menyangka kalau Na Siao Tiap akan berhasil keluar dari ruang besi, Tadi getaran piepa itu nyaris membuatnya terkulai Oleh karena itu ia menyadari bahwa Na Siao Tiap bukan tandingannya, Secepat kilat ia melesat ke arah dinding.

Kreeek! Dinding itu terbuka, Kim Hun Tokouw langsung melesat ke dalam, Kemudian dinding itu cepat sekali tertutup kembali

"Hm!" dengus Na Siao Tiap dingin, "Dasar pengecut, melihat aku langsung kabur!" Begitu melihat Na Siao Tiap, hati Lie Ceng Loan bertambah sedih, karena kemunculannya telah terlambat yakni setelah Bee Kun Bu mati terbakar.

Padahal meskipun Na Siao Tiap tidak muncul terlambat tetap juga tiada gunanya, sebab ia pun tidak mampu memecahkan dinding kaca.

"Eeeh?" Na Siao Tiap baru melihat Lie Ceng Loan, "Adik Loan, kenapa engkau.,.?"

"Kakak Siao Tiap. " Air mata Lie Ceng Loan ber-derai,

"Kakak Bu,.,."

"Kakak Bu kenapa?" tanya Na Siao Tiap cemas. "Dia. " Lie Ceng Loan menunjuk ke dalam ruang kaca,

"Kakak Bu telah dibakar mati oleh Kim Hun Tokouw." "Haaaah?" Wajah Na Siao Tiap pucat pias.

Tadi ia memang memandang ke dalam ruang kaca, tampak sebuah tungku dan sosok tubuh di atasnya, Namun ia tidak menyangka sama sekali kalau sosok yang tergantung di atas tungku itu Bee Kun Bu.

"Kakak Bu! Aku aku yang menyebabkan kematian-mu,"

gumam Lie Ceng Loan sambil menangis sedih. "Tapi...

bagaimana mungkin aku bilang tidak mencintai-mu?"

Gumaman Lie Ceng Loan membuat Na Siao Tiap tereengang, Sebab gadis itu tidak tahu apa yang telah terjadi di situ, Namun ia telah menyaksikan sosok tubuh yang tergantung di atas tungku itu ternyata Bee Kun Bu. Air matanya pun langsung meleleh

Lie Ceng Loan menatapnya, kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan, dan sekaligus mendekati dinding kaca.

Namun ia jatuh duduk lagi di depan kaca dinding tersebut

"Kakak Bu, kini" engkau telah mati. Aku pernah bilang, apabila engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi, sungguh!" ujarnya bernada tenang. Tiba-tiba Lie Ceng Loan tersenyum, lalu mendadak mengayunkan pedangnya ke lehernya sendiri.

Betapa terkejutnya Na Siao Tiap, Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena berdiri agak jauh. sedangkan pedang itu sudah mendekat ke leher Lie Ceng Loan, Namun meskipun dalam keadaan gugup, jari Na Siao Tiap masih sempat memetik tali senar piepanya.

Cring! Cring! Cring.,.! bunyinya.

Sungguh dahsyat suara getaran piepa tersebut Seketika juga tangan Lie Ceng Loan menjadi lemas dan pedangnya pun langsung ter!epas.

Trang! Pedang itu jatuh ke lantai, Barulah Na Siao Tiap menarik nafas lega, dan cepat-cepat melesat ke sisi Lie Ceng Loan.

"Adik Loan! Kenapa engkau berbuat itu?"

"Kakak Siao Tiap. " Lie Ceng Loan mulai menangis sedih,

"Kakak Bu sudah mati, maka aku tidak mau hidup lagi, Kenapa engkau menghalangiku? Aku. "

"Adik Loan!" Na Siao Tiap memegang bahunya, padahal hati Na Siao Tiap juga berduka sekali, "Aku pernah dengar dari Kakak Pek, bahwa Bee Kun Bu pernah mengalami luka parah, yang nyaris menyebab-kannya mati. Pada waktu itu, engkau rela mendampinginya ke dalam kuburan, Benarkah itu?"

"Benar." Lie Ceng Loan mengangguk

"Karena itu, engkau tidak perlu bunuh diri," ujar Na Siao Tiap, "Setelah kita membalaskan dendamnya, kita membuat sebuah kuburan besar untuk Bee Kun Bu, lalu kita berdua menemaninya di dalam kuburan itu selama-lamanya."

"Kakak Siao Tiap...." Lie Ceng Loan tertegun "Engkau...

engkau juga ingin menemaninya di dalam ku-buran?" "Ya." Na Siao Tiap mengangguk dengan air mata bereucuran "Aku... aku juga sangat mencintainya."

Lie Ceng Loan adalah gadis yang berhati suci murni.

Ketika mendengar Na Siao Tiap mengaku mencintai Bee Kun Bu, hatinya sama sekali tidak panas maupun merasa cemburu, bahkan segera menggenggam tangan Na Siao Tiap erat-erat seraya berkata.

"Kakak Siao Tiap, sungguh sayang sekali, Kakak Bu tidak tahu kalau engkau juga mencintainya."

Na Siao Tiap menghela nafas dan membatin, "Oh, ibu! Kjni orang yang kucintai telah mati, jadi aku tidak perlu memperdengarkan irama piepa padanya, sebab dia tidak akan mendengarnya."

"Kakak Siao Tiap!" ujar Lie Ceng Loan lagi, "Aku... aku sebetulnya tidak ingin membunuh siapa pun, namun Kakak Bu dibakar mati oleh Kim Hun Tokouw, maka aku... aku harus membunuhnya."

Na Siao Tiap mengangguk namun mendadak ia melihat Lie Ceng Loan terkulai Segeralah ia menahannya. Ternyata Lie Ceng Loan telah pingsan dengan wajah pucat pias, nafasnya pun sangat lemah.

Betapa terkejutnya Na Siao Tiap, ia cepat-cepat memegang punggung Lie Ceng Loan sambil mengerahkan Lweekangnya.

Tak seberapa lama kemudian, Lie Ceng Loan siuman dan membuka matanya perlahan-Iahan.

"Kakak Siao Tiap.,." ujarnya lemah. "Aku telah terluka parah, mungkin tidak dapat membalaskan dendam Kakak Bu lagi."

"Adik Loan!" Na Siao Tiap membelainya sambil berkata lembut "Aku akan menyalurkan hawa murniku ke dalam tubuhmu, agar lukamu segera membaiki "Kalau begitu, bukankah Kakak Siao Tiap akan kehilangan hawa murni?" ujar Lie Ceng Loan.

"Adik Loan!" Na Siao Tiap tersenyum getir "Kita sama- sama bernasib malang, maka engkau jangan berkata begitu."

Lie Ceng Loan diam, kemudian memejamkan matanya.

Na Siao Tiap menaruh Lie Ceng Loan ke bawah, Setelah itu ia duduk menghadap punggung Lie Ceng Loan. Sepasang tangannya ditempelkan pada punggung gadis itu.

MuIailah Na Siao Tiap menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Lie Ceng Loan. setengah jam kemudian, wajah Lie Ceng Loan sudah tidak begitu pucat lagi

"Kakak Siao Tiap!" Lie Ceng Loan memberitahukan "Aku sudah merasa membaik, engkau tidak usah menyalurkan hawa murni lagi ke tubuhku."

Na Siao Tiap mengangguk sambil melepaskan tangannya yang menempel di punggung Lie Ceng Loan, lalu bangkit berdiri, begitu pula Lie Ceng Loan dan memang tampak sudah membaik.

Mereka berdiri menghadap dinding kaca, Ke duanya saling memandang sejenak, kemudian mendadak Na Siao Tiap mengayunkan tangannya melancarkan beberapa pukulan ke arah dinding kaca itu, Namun dinding kaca itu sama sekali tidak pecah.

Tiba-tiba Lie Ceng Loan teringat sesuatu, lalu ber-kata. "Kakak Siao Tiap!" ia memberitahukan "Tadi aku melihat

Lam Kiong Siu melancarkan pukulan ke tempat itu."

Lie Ceng Loan juga menunjuk ke dinding kristal tempat Kim Hun Tokouw memukul ke sana tadi, Na Siao Tiap memandang dinding kristal itu. ia manggul-manggut lalu segera memukul ke arah tersebut, dan terdengarlah suara "Kreeek". Dinding kristal itu bergerak, lalu tampak dinding kaca, Akan tetapi, mereka berdua justru terbelalak di dalam ruang kaca itu tidak kelihatan tungku maupun Bee Kun Bu lagi.

"Aaaakh.,.!" keluh Na Siao Tiap, "Kalau Kakak Pek berada di sini, dia pasti bisa membuka dinding kaca ini."

"Kakak Pek terkurung di dalam formasi kabut kuning." Lie Ceng Loan memberitahukan.

"Apa?" Na Siao Tiap tertegun "Engkau bertemu dia?" "Ya." Lie Ceng Loan mengangguk

"Di mana engkau bertemu dia?" tanya Na Siao Tiap lagi.

"Di ruang itu. " Lie Ceng Loan memberitahukan "Penuh

kabut kuning yang tebal, sehingga tidak dapat melihat apa pun di sana."

"Adik Loan!" Ujar Na Siao Tiap. "Aku punya akal untuk mencarinya. Mari kita ke sana!"

"Kabut kuning itu sangat tebal, bagaimana mungkin kita mencarinya?" Lie Ceng Loan menggelengkan kepala.

"Begini! Engkau ajak aku ke tempat itu!" desak Na Siao Tiap.

"Baik." Lie Ceng Loan mengangguk sambil mengayunkan kakinya, Na Siao Tiap mengikutinya dari be-lakang.

Tak seberapa lama kemudian, mereka melihat kabut kuning yang tebal itu.

"Adik Loan, cepat berhenti!" ujar Na Siao Tiap.

Lie Ceng Loan berhentL Na Siao Tiap lalu menarik ujung lengan baju luarnya, Benang yang tertarik keluar dari lengan baju itu dipegangnya erat-erat.

"Pegang baju luarku ini!" ujar Na Siao Tiap sambil menyodorkan baju luarnya kepada Lie Ceng Loan. "Engkau tunggu di sini, aku akan memasuki tempat itu, kemudian keluar lagi bersama benang yang kupegang ini." " Akal yangbagus." Lie Ceng Loan manggut-manggut.

Na Siao Tiap mulai melangkah ke dalam kabut kuning itu, Dalam waktu sekejap ia sudah tidak kelihatan iagi.

Lie Ceng Loan berdiri di situ, Air matanya meleleh karena teringat kematian kekasihnya yang begitu mengenaskan

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak ia melihat di ujung kiri berkelebat dua sosok bayangan Lie Ceng Loan tertegun dan langsung membentak.

"Siapa?"

Salah seorang menoleh ke arahnya, lalu tiba-tiba melesat ke arahnya pula, Lie Ceng Loan segera meluruskan pedangnya, agar orang itu tidak mendekati dirinya.

Orang itu berhenti di hadapan Lie Ceng Loan sambil tersenyum senyum, ternyata Co Hiong.

Setelah melihat yang datang itu Co Hiong, Lie Ceng Loan menarik nafas lega.

"Saudara Co! Engkau juga ke mari?" tanya Lie Ceng Loan.

Co Hiong dan Souw Peng Hai, sebetulnya bersembunyi di luar istana Pit Sia Kiong. Ketika mereka berdua melihat Na Siao Tiap memasuki istana tersebut, tak lama hari mulai gelap. Berselang beberapa saat kemudian, mereka pun melihat Kiu Tok Sian Ong bersama Lie Ceng Loan memasuki istana itu juga.

Co Hiong dan dan Souw Peng Hai tetap bersembunyi Mereka yakin bahwa di istana itu telah terjadi pertarungan hebat, Karena itu mereka pun berunding, dan bersepakat untuk memasuki istana itu.

Co Hiong dan Souw Peng Hai telah menduga, bahwa di dalam istana itu terdapat banyak jebakan, Oleh karena itu, mereka tidak berani berjalan ke sana ke mari, Namun akhirnya mereka pun kehilangan arah, Untung Co Hiong melihat sebuah jalan Mereka segera melesat ke sana dan melihat Lie Ceng Loan.

"Nona Li!" Co Hiong tertawa manis sambil menatapnya. ia tertegun ketika menyaksikan wajah Lie Ceng Loan pucat dan pipinya masih basah oleh air mata, "Apa yang telah terjadi?" tanyanya.

"Kakak Bu, dia.,." sahut Lie Ceng Loan terisak-isak. "Kenapa dia?" tanya Co Hiong heran.

"Dia... dia telah mati." Air mata Lie Ceng Loan mulai berderai.