Bangau Sakti Jilid 33

 
Jilid 33

Saat ini Giok Siauw Sian Cu sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan, namun ia masih memandang Bee Kun Bu sambil tersenyum getir

"Kakak akan berpisah selamanya denganmu," ujar-nya. "Co Hiong!" seru Bee Kun Bu. "Engkau jangan turun

tangan jahat terhadap Giok Siauw Sian Cu!"

Co Hiong tidak menyahut, melainkan tersenyum sambil menusuk dada Giok Siauw Sian Cu dengan pe-dangnya, dan seketika darah pun mengucur deras.

Bee Kun Bu tahu akan kesadisan Co Hiong, Ke-lihatannya Co Hiong tidak ingin membunuh Giok Siauw Sian Cu dengan segera, melainkan akan menyiksanya perlahan-Iahan. Saking gusarnya ia langsung melesat ke arah Co Hiong.

Akan tetapi, Souw Peng Hai menyerangnya laksana kilat dengan jurus Hun Lang Liak Liu (Memisahkan Ombak Dan Arus), Pada waktu bersamaan, Giok Siauw Sian Cu pun berseru.

"Adik! jangan kau hiraukan aku!"

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gelak sambil menekan pedangnya yang masih menancap di dada Giok Siauw Sian Cu.

Namun pada waktu bersamaan, terdengar suara desiran lirih dan tampak dua titik sinar putih meluncur ke arah Co Hiong.

Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab dua titik sinar putih merupakan dua buah senjata rahasia mengarah pada Thian Tu Hiat di tenggorokannya dan Yang Suk Hiat di lengannya

Co Hiong sama sekali tidak menyangka, kalau di saat ini mendadak ada senjata rahasia meluncur ke arahnya laksana kilat cepatnya, ia segeralah menundukkan ke-palanya, dan senjata rahasia itu pun lewat di atas ram-butnya, ia masih sempat melihat senjata itu, ternyata cuma berupa sepotong bambu kering.

pada waktu bersamaan, ia pun merasa lengannya sakit dan ngilu, sehingga pedangnya terlepas, Ketika Co Hiong menekan pedangnya, Giok Siauw Sian Cu memejamkan matanya menunggu mati. Setelah mendengar suara pedang jatuh, ia pun membuka matanya dan melihat Co Hiong mencak-mencak.

"Siapa yang berani melakukan serangan gelap? kenapa masih bersembunyi?" teriak Co Hiong.

Mendadak muncul seseorang Bee Kun-Bu, Giok Siauw Sian Cu, Souw Peng Hai dan Co Hiong terbelalak melihatnya.

Ternyata orang itu berambut panjang awut-awutan, mukanya penuh bewok, pakaiannya usang sobek di sana-sini, dan tangannya memegang sebatang bambu kering, ia berjalan seperti orang yang sudah tua, justru tidak sesuai dengan usianya.

Giok Siauw Sian Cu dan Bee Kun Bu saling me-mandang, Setelah tertegun sejenak, mereka tahu siapa orang itu.

Akan tetapi, Souw Peng Hai dan Co Hiong sama sekali tidak mengenalnya. Tiba-tiba Souw Peng Hai menatap bambu kering itu, lalu berkata.

"Apakah Anda murid Ku Ciok Sianjin dari Pulau Thao Khong To di luar utara? Kalau benar, berarti kita bukan orang luar."

Walau Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu telah mendengar tentang Sie Bun Yun, namun mereka berdua tidak tahu Sie Bun Yun berasal dari perguruan mana. Kini Souw Peng Hai mengatakan begitu, membuat Bee Kun Bu teringat akan apa yang diceritakan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw tentang iblis di seberang laut, yakni Ku Ciok Sianjin majikan Pulau Thao Khong To yang di laut utara, Sungguh di luar dugaan, ternyata Sie Bun Yun adalah murid Ku Ciok Sianjin yang berkepandaian amat tinggi itu.

sementara orang itu tampak seakan tersentak, kemudian mendongakkan kepala sambil tertawa serak serta mengibaskan tangannya agar Souw Peng Hai dan Co Hiong menyingkir

Bagaimana mungkin Souw Peng,Hai dan Co Hiong mau menyingkir? Karena saat ini merupakan kesempatan baik untuk membunuh Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu. Co Hiong memungut pedangnya, kemudian tertawa dingin.

"Anda kira kami akan menurut?" ujarnya ketus.

Orang itu melototi Co Hiong, lalu mendadak menggerakkan bambu keringnya, seketika berkelebat bayangan bambu kering itu mengarah pada tiga jalan darah di badan Co Hiong.

Melihat serangan orang itu, Co Hiong mundur selangkah sekaligus menangkisnya.

"Bagus!" bentaknya.

Akan tetapi, begitu pedang Co Hiong bergerak, bambu kering itu pun ikut bergerak dengan aneh sekalL Co Hiong terkej ut. ia ingin menarik pedangnya tapi sudah tidak keburu. Ternyata ujung bambu kering itu telah berhasil menotok jalan darah di lengannya, sehingga pedang yang dipegangnya terlepas, jatuh.

Orang itu mundur selangkah sekaligus menggerakkan bambu keringnya ke arah pedang Co Hiong yang jatuh itu, lalu diayunkan ke arah Co Hiong seraya membentak

"Pergi!"

Pedang itu melayang ke arahnya, namun Co Hiong tidak menyambutnya, melainkan menundukkan kepala dan mendadak balas menyerang dengan tangan kosong., itu mengeluarkan jurus yang dipelajarinya dari buku catatan Sam Im Sin Ni.

"Hati-hati!" seru Bee Kun Bu.

Akan tetapi, orang itu membentak gusar, lalu berkelit secepat kilat dengan gerakan yang amat aneh.

Co Hiong menyerang tempat kosong, itu membuatnya tereengang karena tidak menyangka kalau orang itu mampu mengelak serangannya, Kegusarannya memuncak dan kembali menyerang dengan jurus San Ngai Peng Te (Gunung Curam Tanah Longsor).

"Hati-hati Anak Hiong!" pesan Souw Peng Hai. "Jangan meremehkan lawan!"

Tiba-tiba orang itu memutar bambu keringnya membentuk lingkaran Sungguh di luar dugaan, gerakan ini justru mampu mematahkan serangan Co Hiong, Ke-mudian orang itu kembali menyerang

Co Hiong segera meloncat mundur Kini ia tidak berani meremehkan orang itu lagi, sebab orang itu memiliki ilmu silat yang amat tinggi dan aneh, Ketika Co Hiong meloncat mundur, bambu kering orang itu berkelebatan mengarah sekujur badannya.

itu membuat Co Hiong terkejut sekali dan gugup, namun masih sempat mengayunkan kakinya menendang, lalu secepat kilat meloncat ke samping.

"Hei!" seru Souw Peng Hai. "Kawan! sambutlah seranganku!"

Souw Peng Hai langsung menyerang orang itu mengarah pada kepalanya, namun orang itu mengayunkan bambu keringnya untuk menangkis.

"Plaak!" Terdengar suara benturan toya dengan bambu kering. Setelah terjadi benturan, Souw Peng Hai terkejut karena bambu kering itu mengeluarkan tenaga lunak yang mampu membuyarkan tenaganya.

Mereka berdua berdiri diam, Tiba-tiba Souw Peng Hai membentak keras, ternyata ia mengerahkan lweekangnya lagi, Orang itu juga mengerahkan Lweekangnya, sehingga mereka mengadu Lweekang dan akibatnya ma-sing-masing mundur selangkah

Souw Peng Hai berlega hati, sebab ia yakin bahwa lawannya itu bukan Ku Ciok Sianjin. Maka mendadak ia mengangkat tangan kirinya menyerang orang itu dengan Kan, Goan Cih. itu perbuatan curang yang tak terpuji Sebab mereka sedang mengadu Lweekang, namun Souw Peng Hai menyerang orang itu dengan Kan Goan Cih. Bagaimana mungkin orang itu menjaga serangan ter-sebut?

Orang itu berteriak aneh, ternyata dadanya telah terserang Kan Goan Cih itu, Namun orang itu masih bisa melesat pergi dengan membawa luka di dada, Souw Peng Hai pun tertegun Orang itu telah terluka oleh Kan Goan Cih, tapi masih mampu kabur.

Souw Peng Hai tidak mengejarnya, melainkan membalikkan badannya, Saat ini, Giok Siauw Sian Cu sudah terluka parah. ia sedang merangkak mendekati Bee Kun Bu, lalu menggenggam tangannya erat-erat sambil tersenyum.

Bee Kun Bu tahu bagaimana perasaannya saat ini, dan tahu pula banyak perkataan yang akan diucapkan Giok Siauw Sian Cu, tapi tersumbat di tenggorokan tidak bisa mengeluarkannya.

Giok Siauw Sian Cu memang bernama busuk di rimba persilatan Namun terhadap Bee Kun Bu baik sekali, bahkan mencintainya tanpa berubah dalam keadaan apa pun. Giok Siauw Sian Cu pun tahu, cintanya cuma sepihak, tapi ia merasa puas sebab Bee Kun Bu cukup baik terhadapnya, ia pun merasa bahagia sekali bisa mati bersama Bee Kun Bu. Bee Kun Bu memandangnya, tak terasa air matanya meleleh. Di saat mereka saling memandangi Co Hiong tertawa gelak.

"Ha ha! Apakah kalian berdua sudah puas mengucurkan air mata? Aku sudah mau turun tangan menghabiskan kalian!"

Bee Kun Bu mendongakkan kepala, Tampak Co Hiong berdiri di hadapan mereka, sedangkan Souw Peng Hai berdiri di belakang muridnya itu.

Kalau ingin melawan, tentunya sudah bukan lawan mereka. Tapi Bee Kun Bu justru merasa penasaran mati di tangan mereka, Saat ini ia cuma berharap kemunculan Pek Yun Hui.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa lagi. "Saudara Bee, sejak kita berkenalan, aku cukup baik terhadapmu! Hanya saja engkau tidak memandang sebelah mata padaku hingga kini, maka jangan menyalahkan kalau aku turun tangan jahat terhadapmu!"

"Phui! Engkau adalah orang yang paling tak tahu malu di dunia, jahat dan amat licik pula! jangan memanggilku saudara!" sahut Bee Kun Bu.

"Hm!" dengus Co Hiong dan langsung menyerangnya dengan pedang.

Bee Kun Bu terpaksa berguling lalu balas menyerang dengan jurus Ciak Ciu Poh Uong (Tangan Kosong Menangkap Naga).

Co Hiong memiringkan pedangnya ke arah bahu Giok Siauw Sian Cu. Bahu Giok Siauw Sian Cu tergores, namun wanita itu sama sekali tidak menjerit, cuma menghela nafas panjang.

"Co Hiong, kekejamanmu tidak akan bertahan lama!" "Oh, ya?" Co Hiong tertawa. ia tidak ingin segera

membunuh Giok Siauw Sian Cu, melainkan ingin me- nyiksanya perlahan-lahan, setelah itu barulah mem-bunuhnya, "Kenapa kekejamanku tidak bisa berlaku lama?"

"Tahukah engkau Pek Yun Hui sudah berada di sini?" sahut Giok Siauw Sian Cu sambil tersenyum

Ketika Giok Siauw Sian Cu mengatakan demikian, Co Hiong memang tampak terkejut Namun kemudian malah tertawa terbahak-bahak, begitu pula Souw Peng Hai.

"Kalian berharap Pek Yun Hui ke mari menolong kalian?" tanya Co Hiong.

"Asal dia ke mari, kalian berdua pasti kabur terbirit-birit!" sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Hah! Hah! Sungguh sayang sekali, sebab dia tidak akan ke mari!" ujar Co Hiong sambil tertawa, "Dia dan bangau sialan itu, begitu memasuki istana Pit Sia Kiong, sudah ditangkap Kim HunTokouw! Dia terkurung dalam formasi Ngo Heng Tin di ruang api, dan mungkin kini dia telah terbakar hangus!"

Bukan main cemasnya Bee Kun Bu. ia yakin Co Hiong tidak berbohong, karena Co Hiong tampak begitu tenang, begitu pula Souw Peng Hai.

"Kalian berdua mau meninggalkan pesan terakhir?" Tanya Co Hiong sambil tertawa lebar

"Hm!" dengus Giok Siauw Sian Cu dingin "Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap pasti ke mari, dan istana Pit Sia Kiong pasti musnah!"

"Oh?" Co Hiong tersenyum "Kapan mereka akan ke mari?" "Sudah berangkat ke mari, mungkin tidak lama lagi akan

tiba di sini!" sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Bagus! Bagus sekali!" Co Hiong tertawa gelak, "Aku akan menyambut kedatangan mereka, dan memberitahukan pada Nona Lie bahwa Bee Kun Bu bermesra-mesraan di sini dengan Giok Siauw Sian Cu! Nah, engkau harus berterima kasih padaku, sebab aku akan memberitahukan pada Nona Lie yang cantik manis itu!"

"Binatang engkau!" bentak Bee Kun Bu gusar, sekaligus melancarkan pukulan ke arah Co Hiong.

Dalam keadaan gusar, Bee Kun Bu mengeluarkan jurus Ciak Ciu Poh Liong (Tangan Kosong Menangkap Naga) dan jurus Hui Pok Liu Sui (Air Terjun Arus Mengalir).

Kedua pukulan itu menimbulkan angin yang men-deru- deru, dahsyat sekali karena Bee Kun Bu melancarkannya dalam keadaan gusar, Co Hiong ingin menangkis serangan itu dengan pedangnya, tapi angin pukulan itu telah menyambarnya membuat badannya bergoyang sehingga nyaris jatuh.

Co Hiong terkejut sekali dan cepat-cepat meloncat mundur Bee Kun Bu tidak bisa menyerang lagi, lantaran sepasang kakinya tidak bisa bergerak, tapi ia masih melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Co Hiong.

Pada waktu bersamaan, Souw Peng Hai pun mengayunkan toya kepala naga ke arah Bee Kun Bu dengan jurus Sin Liong Kian Souh (Naga Sakti Memperlihatkan Kepala), Saat ini Bee Kun Bu sedang melancarkan pukulan jarak jauh, sama sekali tidak menyangka kalau Souw Peng Hai akan melakukan serangan gelap terhadap dirinya.

Betapa cemasnya Giok Siauw Sian Cu menyaksikan itu, sebab nyawa Bee Kun Bu berada di ujung tanduk. Karena itu, ia lalu berbuat nekad, Tangannya menekan tanah, maksudnya ingin melesat ke arah Bee Kun Bu untuk menangkis toya itu, ia pun tahu, tangkisannya itu akan merenggut nyawanya, Namun ia sama sekali tidak menghiraukan itu, yang penting harus menyelamatkan nyawa Bee Kun Bu mati pun rela rasanya, Ketika tangannya baru menekan tanah, tiba-tiba terdengar suara bentakan

"Berhenti, Souw Peng Hai!" Di saat bersamaan, meluncur bayangan berbentuk panjang kehijau-hijauan, ternyata sehelai selendang hijau.

"Serrrt!" Ujung selendang itu melilit ujung toya Souw Peng Hai.

Bukan main gusarnya Souw Peng Hai. ia langsung mengerahkan Lweekangnya agar toya itu dapat menghantam kepala Bee Kun Bu.

Akan tetapi, selendang itu mengeluarkan tenaga lunak, terus menahan ujung toya Souw Peng Hai.

"Guru! Kim Hun Tokouw yang datangiM seru Co Hiong memberitahukan

Souw Peng Hai segera menoleh. Tidak salah, memang Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu yang datang, sepasang mata perempuan itu menatap Souw Peng Hai dan memancarkan sinar dingin

"Hm!" dengus Souw Peng Hai tidak senang, "Apa artinya ini?"

"Muridmu yang bilang, kalau membunuh Bee Kun Bu berarti akan kehilangan kitab Kui Goan Pit Cek! Kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhnya?"

Ucapan Kim Hun Tokouw sungguh menggusarkan Souw Peng Hai, ia mantan ketua partai Thian Liong, namun kini justru harus tunduk pada majikan istana Pit Sia Kiong, itu membuat hatinya mulai berontak.

"Guru!" Co Hiong yang licik itu memberi isyarat padanya, "Apa yang dikatakan Kim Hun Tokouw memang benar, sementara ini tidak perlu membunuh Bee Kun Bu! Bukankah masih ada kesempatan lain?"

Souw Peng Hai terpaksa menekan hawa kegusaran-nya. Kini ia bernaung di bawah istana Pit Sia Kiong, tentu harus bersabar. Oleh karena itu ia pun segera mundur beberapa Iangkah. Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu menarik kembali selendangnya, lalu bertepuk tangan tiga kail Tak lama muncullah empat gadis dari tempat gelap.

"Bawa mereka ke dalam istana!" Kim Hun Tokouw memberi perintah

Keempat gadis itu segera mendekati mereka berdua Bee Kun Bu sudah siap melancarkan pukulan, namun Giok Siauw Sian Cu cepat-cepat berbisik

"Jangan, Adik!"

"Kakak, apakah harus membiarkan diri kita ditang kap?" tanya Bee Kun Bu dengan suara rendah.

"Selagi gunung masih menghijau, jangan khawatir tiada kayu bakar!" sahut Giok Siauw Sian Cu dan me nambahkan, "Apa gunanya melawan sekarang?"

Bee Kun Bu manggut-manggut sedangkan ke empat gadis itu telah menotok jalan darah mereka, kemudian membawa mereka pergi.

"Souw Peng Hai!" ujar Kim Hun Tokouw dingin. "Dengan tenaga istana Pit Sia Kiong, melawan sembilan partai besar Tionggoan sungguh tidak gampang, maka jangan bertindak ceroboh tanpa suatu perhitungan matang!"

Souw Peng Hai tidak menyahut, melainkan cuma tertawa gelak, kemudian bersama Co Hiong melesat ke istana Pit Sia Kiong, Kim Hun Tokouw memandang punggung mereka sambil tertawa dingin.

Bagian ke tiga puluh sembilan Menyusun Suatu Rencana Busuk

Souw Peng Hai dan Co Hiong sudah berada di dalam kamar istana Pit Sia Kiong, Souw Peng Hai berjalan mondar- mandir di dalam kamar itu dengan wajah penuh kegusaran

"Guru!" Co Hiong malah tersenyum menyengir seraya berkata, "Kita memang sangat tertekan oleh rahib wanita sialan itu, namun cuma untuk sementara waktu saja, Lagi pula kini Pek Yun Hui telah terkurung dalam formasi Ngo Heng Tin di ruang api, dia pasti mati hangus.H

"Tapi wanita bedebah itu sungguh licik, sama sekali tidak mau memberitahukan di mana ruang api itu," sahut Souw Peng Hai.

"Guru, ketika kita ke mari, bukankah dia sudah bilang pada kita, bahwa banyak jebakan di dalam istana ini? Yang paling lihay adalah formasi Ngo Heng di ruang api, Cuma dia seorang yang tahu itu, termasuk kelihayan formasi tersebut."

"Ng!" Souw Peng Hai manggut-manggut.

"Guru!" Co Hiong tertawa, "Sembilan partai besar di Tionggoan tidak akan begitu cepat kemari, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk pergi setengah bulan!"

"Engkau mau ke mana?" tanya Souw Peng Hai heran. "Aku mau ke Gunung Kwat Cong San." Co Hiong

memberitahukan. "Alangkah baiknya kalau bisa bertemu Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap di tengah jalan."

"Eh?" Air muka Souw Peng Hai berubah, "Anak Hiong, Na Siao Tiap itu. "

"Guru tidak usah khawatir!" Co Hiong tersenyum "Kepandaian Na Siao Tiap memang di atasku, tapi kecerdasannya tidak bisa menyamaiku, Aku punya akal agair mereka berdua tidak bisa tiba di istana PitSia Kiong."

"Oh?" Souw Peng Hai tertawa. ia memang tahu akan kecerdasan murid kesayangannya itu. "Anak Hiong, itu amat membahayakan dirimu, lebih baik engkau jangan pergi!"

"Guru!" Co Hiong merendahkan suaranya, "Kalau tidak memasuki sarang macan, bagaimana bisa menangkap anak macan?"

"Itu. " Souw Peng Hai tampak ragu. "Guru!" Co Hiong menambahkan "Mereka berdua melakukan perjalanan jauh, sudah pasti membawa serta Kui Goan Pit Cek. Kalau kita bisa memperoleh Kui Goan Pit Cek itu, tentu tidak perlu minta bantuan Kim Hun Tokouw lagi untuk menghadapi sembilan partai besar, Lewat dua tahun, siapa bisa melawan kita?"

"Ngmm!" Souw Peng Hai manggut-manggut dan tergerak pula hatinya "Kalau begitu, engkau harus berhati hati!"

"Aku akan melakukan perjalanan siang malam, namun Guru harus ingat! jangan ribut dengan Kim Hun Tokouw, itu akan membahayakan posisi Guru!" pesan Co Hiong sungguh- sungguh.

"Benar." Souw Peng Hai mengangguk ia senang sekali mempunyai murid yang begitu menaruh perhatian padanya.

Kenapa Co Hiong berani berangkat ke Gunung Kwat Cong San padahal ia tahu jelas kepandaian Na Siao Tiap jauh di atas kepandaiannya? Memang tidak salah ia mengemukakan alasan itu pada Souw Peng Hai, Namun di samping itu, ia punya urusan pribadi, maka ingin menggunakan kesempatan ini untuk merayu Lie Ceng Loan.

Ternyata Co Hiong sangat tertarik akan kecantikan gadis itu, Siang maliwi wajah gadis yang cantik jelita itu terus muncul di pelupuk matanya, Karena itu, ia mau menempuh bahaya pergi ke Gunung Kwat Cong San demi merayu gadis tersebut

Ketika Co Hiong meninggalkan kamarnya, mendadak muncul seorang gadis berbaju hijau yang cukup cantik, Begitu melihat gadis itu, wajah Co Hiong berseri dan tersenyum manis.

Co Hiong memang tergo!ong pemuda tampan, maka senyumannya dapat membetot sukma gadis yang mana pun. Karena senyuman itu, maka Liong Giok Pin, kakak seperguruan Bee Kun Bu menyerahkan keperawanannya pada Co Hiong.

"Kakak!" panggil Co Hiong lembut "Engkau tidak perlu begitu banyak peradaban!" sahut gadis berbaju hijau itu sambil tertawa merdu dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Kakak,..." Co Hiong mengembangkan senyum memikat. "Ada apa?" tanya gadis berbaju hijau yang memang sudah

lama terpikat oleh Co Hiong.

"Bolehkah aku tahu, Bee Kun Bu dikurung di mana?" "Engkau tidak usah bertanya, sebab Kiong Cu melarang kami menyinggung masalah itu!"

"Kakak tidak sudi beritahukan padaku?" "Engkau menghendaki aku melakukan apa pun aku bersedia, kecuali urusan ini. Aku tidak bisa apa-apa."

"Kakak!" Co Hiong menggenggam tangan gadis itu erat- erat. Wajah gadis berbaju hijau itu langsung tampak kemerah- merahan. "Aku memang ingin mohon bantuan-mu."

"Katakanlah!" sahut gadis berbaju hijau itu dengan suara rendah.

"Engkau tidak memberitahukan di mana Bee Kun Bu dikurung, itu tidak apa-apa. Asal engkau mau ke sana seorang diri dengan membawa kertas dan pit (Potlot), bilang padanya bahwa ada seorang nona bernama Lei Ceng Loan sudah tiba di luar istana Pit Sia Kiong, kebetulan bertemu denganmu, Dia tidak pereaya Bee Kun Bu berada di dalam istana Pit Sia Kiong, maka menghendaki Bee Kun Bu menulis sepucuk surat untuk dia yang isinya berbunyi minta bantuan."

"ltu gampang," sahut gadis berbaju hijau, "Tapi setelah aku berhasil harus bagaimana engkau berterima-kasih padaku?"

"Aku. " Co Hiong pura-pura memandangnya dengan

penuh cinta kasih, "Tidak akan melupakanmu selama- lamanya!"

"Siapa tahu kelak engkau akan mengingkar janji," ujar gadis berbaju hijau itu sambil tertawa cekikikan "Kakak!" Co Hiong tampak bersungguh-sungguh. "Kalau engkau menganggapku sebagai orang semacam itu, engkau pun tidak usah melakukan itu."

"Tuh! Engkau kok cepat tersinggung?" Gadis berbaju hijau itu cepat-cepat memegang lengan Co Hiong sambil tersenyum lembut.

"Kakak! Aku tunggu di sini," ujar Co Hiong dan berpesan, "Jangan lupa bunyi isi surat itu!"

"Ya." Gadis berbaju hijau itu mengangguk, lalu melangkah pergi dengan wajah berseri-seri.

Setelah gadis berbaju hijau itu melangkah pergi, Co Hiong berjalan mondar-mandir di situ dengan perasaan tegang, sebab surat itu merupakan langkah awal dari rencana nya.

Dengan adanya surat itu, ditambah rayuannya, ia yakin Lie Ceng Loan pasti dapat ditipunya secara gampang

Kira-kira setengah jam kemudian, ia melihat gadis berbaju hijau itu menghampirinya dengan wajah cerah ceria.

"Kakak!" Co Hiong segera mendekatinya. "Bagai-mana?" "Tidak berhasil," sahut gadis berbaju hijau itu sambil

menggelengkan kepala, "Dia tidak mau tulis."

"Aaakh..." keluh Co Hiong, "Apakah engkau menuruti petunjukku memberitahukannya. "

"Hi hi!" Mendadak gadis berbaju hijau itu tertawa geli. "Kakak!" Co Hiong merangkulnya, "Jangan membuat aku

tegang!"

"Nih!" Gadis berbaju hijau itu memperlihatkan sepucuk surat di tangannya, "Aku telah berhasil."

"Terimakasih!" ucap Co Hiong sambil menyambar surat itu, lalu mendadak melesat pergi. Gadis berbaju hijau itu terus memanggilnya, tapi Co Hiong sama sekali tidak menghiraukannya, Tak lama ia sudah berada di luar istana Pit Sia Kiong. Di bawah sinar rembulan, mulailah ia membaca surat tersebut

Adik Ceng Loan:

Aku berada di istana Pit Sia Kiong. Siapa pun yang membawa suratku ini, harap engkau ikut dia ke mari!

Bee Kun Bu

"Ha ha ha!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak setelah membaca surat itu. ia yakin rencananya pasti akan berhasil, maka tidak heran kalau ia begitu gembira.

Pek Yun Hui yang berangkat ke istana Pit Sia Kiong merasa lega hati, sebab kepandaian Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu tidak punah, cuma sepasang kaki mereka saja yang tidak bisa bergerak, lagi pula ada Hian Giok menjaga mereka.

Ketika ia tiba di depan istana Pit Sia Kiong, tiba-tiba terdengar suara pekikan Hian Giok. Pek Yun Hui tertegun ia segera bersiul dan Hian Giok pun melayang turun.

"Hian Giok!" tanya Pek Yun Hui cemas. "Apakah mereka telah terjadi sesuatu?"

Hian Giok mengeluarkan suara panjang, Mendengar suara itu Pek Yun Hui berlega hati.

"Bagus juga engkau datang, Kita akan memasuki istana ini melalui atas," ujar Pek Yun Hui dan langsung meloncat ke punggung Bangau Sakti.

Hian Giok segera mengembangkan sayapnya terbang ke atas, Sebelum Hian Giok turun di halaman istana Pit Sia Kiong, para penjaga di situ telah melihatnya, dan langsung berlari ke dalam untuk melapor Setelah menerima laporan itu, Kim Hun Tokouw suruh mereka mundur semua, ia seorang diri lalu memasuki sebuah ruang rahasia yang merupakan tempat pusat pengontrol semua jebakan yang ada di dalam istana tersebut

sementara Hian Giok sudah turun, Pek Yun Hui merasa heran karena tidak melihat seorang pun di situ, ia dapat menduga bahwa, Kim Hun Tokouw pasti sudah mengatur suatu jebakan untuk dirinya.

"Lam Kiong Siu!" seru Pek Yun Hui. "Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu sebetulnya mengidap racun apa? cepatlah engkau serahkan obat pemunahnya!"

"Pek Yun Hui!" Terdengar suara sahutan Kim Hun Tokouw, namun tidak tampak orangnya. "Silakan masuk untuk mengambilnya tidak perlu berteriak-teriakdi luar!"

Pek Yun Hui tertawa dingin, Walau tahu banyak jebakan, tapi ia tetap melangkah ke dalam, Hian Giok mengikutinya dari belakang, Tak lama ia sudah sampai di depan pintu.

"Blam!" Pek Yun Hui menghantam pintu itu dengan sebuah pukulan, dan seketika juga pintu itu berlubang Pek Yun Hui memandang ke dalam, di sana tampak sebuah ruang besar, Kim Hun Tokouw duduk di kursi dekat dinding.

Begitu melihat Kim Hun Tokouw duduk di situ, Pek Yun Hui berlega hati dan melangkah ke dalam.

"Hai mana obat pemunah racun itu?" tanya Pek Yun Hui.

Kim Hun Tokouw duduk diam dengan wajah dingin, sama sekali tidak menyahut pertanyaan Pek Yun Hui.

Air muka Pek Yun Hui berubah, matanya menatap KJm Hun Tokouw tak kalah dingin seraya berkata.

"Engkau berani menantang sembilan partai besar di Tionggoan, bagaimana kalau kita bertarung mempertaruhkan obat pemunah racun itu?" tantang Pek Yun Hui.

Kim Hun Tokouw tetap duduk diam, sama sekali tidak bergerak sedikit pun, Menyaksikan itu, Pek Yun Hui tahu ada sesuatu yang tak beres. ia segeralah mundur dua langkah sambil memperhatikan Kim Hun Tokouw, Ternyata itu cuma sebuah boneka yang mirip Kim Hun Tokouw.

Ketika mengetahui itu cuma sebuah boneka, Pek Yun Hui menyadari dirinya telah terjebak ia ingin mundur tapi sudah terlambat, karena mendadak ruangan itu berubah gelap, bahkan tempat ia berdiri pun berputar cepat sekali.

Pek Yun Hui terkejut, lalu cepat-cepat melesat ke atas, Akan tetapi akhirnya jatuh ke bawah juga dan masih mendengar suara pekikan Hian Giok, Setelah itu, sama sekali tidak mendengar suara apa-apa lagi, Setelah sepasang kakinya telah menginjak lantai, Pek Yun Hui menengok ke sekitar tempat itu, kemudian tertawa seraya berkata.

"Menjebak diriku di ruang bawah tanah ini, apakah tidak merasa malu?"

Pek Yun Hui menghunus pedangnya, ia melihat ke depan dipasang beberapa buah lampu minyak yang bersinar

remang-remang. Di atas setiap lampu bertuliskan Kim (Emas), Muk (Pohon), Sui (Air), Hwee (Api) dan Tou (Tanah).

Setelah membaca ke lima huruf itu, hati Pek Yun Hui terkejut, sebab ke lima buah lampu itu menandakan formasi lima unsur, Dengan penuh perhatian Pek Yun Hui mengamati ke depan, di sana hening tiada suara apa pun.

"Krek! Krek,.,." Mendadak di bawah masing-masing lampu minyak itu muncul lubang berbentuk bulat

Pek Yun Hui memandang ke dalam lubang-lubang itu, di sana gelap gulita tidak tampak apa-apa dan berapa dalamnya pun tidak dapat diketahui

"Hmm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Lam Kiong Siu! Di tempat ini telah disiapkan Ngo Heng Tin (Barisan Lima Unsur), kenapa belum digerakkan?"

"Pek Yun Hui!" Terdengar suara Lam Kiong Siu bergema, "Kalau engkau mampu memecahkan Ngo Heng Tinku ini, aku bersedia mengaku kalah padamu!" "Engkau tidak akan ingkar janji?" "Tentu tidak!"

"Baik!" Pek Yun Hui melintangkan pedangnya, lalu selangkah demi selangkah mendekati ke lima buah lubang itu.

Akan tetapi, Ngo Heng Tin itu masih belum ber-gerak, sedangkan di dalam lubang-lubang itu pun tidak terdengar suara apa-apa.

Pek Yun Hui berdiri tertegun di hadapan lubang-lubang itu, lalu berpikir keras, Ngo Heng Tin merupakan suatu formasi aneh, maka harus berhati-hati, Sebelum memasuki istana Pit Sia Kiong, ia membawa beberapa buah batu kerikil Dikeluarkannya batu kerikil itu, lalu disambitkan nya ke dalam lima buah lubang itu.

"Serrrt! Serrrt. "

Batu-batu kerikil itu meluncur ke dalam lubang, lama sekali barulah mendengar suara jatuhnya batu kerikil itu.

Pek Yun Hui tampak terkejut, ia tidak menyangka kalau ke lima buah lubang itu begitu daiam. keningnya berkerut, kemudian dengan pedang di tangan ia menerobos ke dalam salah sebuah lubang itu.

Badannya terus meluncur di dalam lubang itu, berselang sesaat ia sudah berada di sebuah ruangan. Begitu badannya berada di ruangan itu, mendadak lubang itu tertutup kembali

Pek Yun Hui memperhatian ruangan tersebut, luasnya cuma beberapa depa saja. Namun sungguh aneh ruangan itu, ternyata semua dinding dilukis dengan pepohonan warna hijau, dan di lantainya tampak lima buah balok menancap.

Setelah menyaksikn semua itu, Pek Yun Hui segera menghimpun Hud Men Hian Thian Khi Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) untuk melindungi diri, lalu me-nyabet salah sebuah balok itu dengan pedangnya. Akan tetapi, tiba-tiba balok itu bergerak dan kemudian terus berputar cepat tak henti-hentinya, Tak lama ke empat balok lainnya ikut berputar, bahkan pepohon yang dilukis di dinding juga mulai bergerak, dan seketika timbullah suara hiruk pikuk yang amat membisingkan telinga.

Pek Yun Hui berdiri tenang di tempat sekonyong-konyong salah sebuah balok itu menghantam dirinya.

"Bagus!" seru Pek Yun Hui sambil melancarkan sebuah pukuIan.

"BIaaam!" Balok itu hancur berkeping-keping, dan ke empat balok lainnya langsung berhenti berputar.

Pek Yun Hui tampak gembira, ia terus melancarkan pukulan-pukulannya ke arah ke empat balok itu Akan tetapi, mendadak ke empat balok itu bergerak cepat menghantam dirinya, Pek Yun Hui cepat-cepat berkelit ia merasa heran, kenapa ke empat balok itu tidak hancur?

Ternyata ke empat balok itu dibikin dari baja, Balok yang pertama memang dibikin dari kayu, itu untuk memancing agar Pek Yun Hui melancarkan pukulan.

Walau Pek Yun Hui berkelit, tapi tetap terkurung di dalam balok baja itu. Betapa terkejutnya Pek Yun Hui. Namun dalam keadaan gugup ia masih sempat mengerahkan ginkangnya meloncat ke atas.

Begitu badannya melesat, ke atas ke empat balok baja itu saling bertabrakan.

"Bum! Bum! Bum " Keempat balok baja itu roboh semua.

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui sudah melayang turun. Menyaksikan kejadian itu, ia pun ter-. belalak sambil menarik nafas lega, seandainya badannya terhantam balok baja itu, tentunya akan terluka parah.

Pek Yun Hui telah kehilangan pandangan Ruangan itu seperti musnah dari pandangannya, Begitu kakinya melangkah maju, tahu-tahu dirinya telah melewati rintangan itu.

"Kreeek!" Tiba-tiba dinding batu itu terbuka, Tanpa banyak pikir lagi Pek Yun Hui langsung menerobos ke dalam.

Begitu masuk, matanya berkunang-kunang seketika, maka cepat-cepat ia berdiri diam, lalu memperhatikan ruangan itu, Ternyata pada dinding ruangan itu dipasang puluhan lampu minyak, sedangkan di lantai juga dipasang lima buah obor yang menyala terang.

Menyaksikan keadaan itu, Pek Yun Hui pun tidak berani bertindak sembarangan ia khawatir, kalau salah bertindak dirinya pasti hangus di dalam ruangan tersebut Untuk sementara ia cuma berusaha mencari jalan keluarnya, tidak berani sembarangan melancarkan pukulan.

Oleh karena itu, ia tetap terkurung di dalam ruang api itu.

Beberapa hari kemudian, Co Hiong sudah tiba di Gunung Kwat Cong San, ia menunggang kuda memasuki gunung itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang amat merdu.

"Hi hi! Adik, kenapa wajahmu selalu tampak tegang?" "Kakak Siao Tiap, bagaimana aku tidak tegang?"

Terdengar suara sahutan. "Aku ingin cepat-cepat dengan- nya!"

"Adik! jangan khawatir, dia sudah menjadi milikmu, siapa akan merebutnya?" Terdengar suara tawa lagi.

"Kakak Siao Tiap! Kenapa engkau selalu menggoda-ku?"

Begitu mendengar pereakapan itu, Co Hiong merasa girang, ia memandang ke atas, tampak dua orang gadis sedang berjalan santai di atas batu besar ia mengenali ke dua gadis itu, tidak lain adalah Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan.

"Hei!" serunya, "Nona kecil! Hati-hati, jangan main di situ!

Kalau jatuh badan kalian pasti remuk!" Mendengar suara teriakan tersebut ke dua gadis itu lalu meloncat turun ke hadapan Co Hiong.

"Eh?" Co Hiong pura-pura terkejut "Ternyata kalian berdua!"

"Engkau?" Lie Ceng Loan masih mengenalinya. "Bu- kankah engkau teman Kakak Bu yang jahat itu?"

"Aaaakh!" Co Hiong menepuk keningnya sendiri "Syukurlah! Akhirnya aku bertemu kalian berdua juga!"

"Kakak Siao Tiap!" Lie Ceng Loan menarik tangan Na Siao Tiap. "Orang itu jahat sekali Entah sudah berapa kali dia menyebabkan Kakak Bu nyaris terbunuh, Ayo, mari kita cepat pergi!"

"Hm!" dengus Na Siao Tiap sambil menatap Co Hiong, "Cepatlah engkau enyah dari sini!"

"Kalian..."

"Aku menyuruhmu enyah!" bentak Na Siao Tiap sambil menggerakkan tangan nya.

"Plak! Plak!" Pipi Co Hiong sudah kena tampar dua kail Co Hiong tidak merasa sakit, cuma terkejut, sebab begitu cepat gerakan Na Siao Tiap.

"Bagus! Bagus!" Lie Ceng Loan tertawa gembira sambil bertepuk-tepuk tangan.

Setelah Na Siao Tiap mundur, barulah Co Hiong mengangkat sebelah tangannya mengusap pipinya, Be-tapa gusarnya Co Hiong, tapi ia justru malah tersenyum-senyum.

"Baiklah! Aku akan pergi!" ujarnya lalu meloncat ke punggung kuda, dan kuda itu pun langsung berlari pergi.

Na Siao Tiap memandang punggung Co Hiong sambil tersenyum dingin, namun kemudian menarik nafas panjang

"Adik, beberapa hari ini hatiku terasa kacau, maka aku jadi marah-marah." Na Siao Tiap memberitahukan. "Kakak Siao Tiap! Aku pun begitu, Mungkin aku terlampau merindukan Kakak Bu. Tentunya Kakak Siao Tiap juga merindukannya, maka hati Kakak jadi kacau," ujar Lie Ceng Loan.

Na Siao Tiap tertegun mendengar ucapan Lie Ceng Loan, sebetulnya Lie Ceng Loan mengucapkan begitu tiada maksud apa-apa, tapi yang mendengarnya justru merasa ada apa- apanya. Pada waktu yang bersamaan tiba-tiba terdengar suara gumaman Co Hiong. Ternyata ia kembali ke tempat itu lagi.

"Saudara Bee! Saudara Bee! Setengah mati aku mencari mereka, tapi mereka malah mengusirku! Yaaah! Apa boleh buat! Aku tidak bisa membantumu dalam tugas ini!"

"Hei!" bentak Lie Ceng Loan. "Engkau bilang apa?"

Co Hiong tidak meladeninya, malah melarikan kudanya ke depan, sedangkan mata Lie Ceng Loan sudah bersimbah air.

"Kakak Siao Tiap, orang itu demi Kakak Bu ke mari cari kita, Kakak Bu pasti menitip pesan padanya." ujar Lie Ceng Loan.

"Berhenti!" Na Siao Tiap langsung membentak.

Ketika mendengar suara bentakan itu, giranglah hati Co Hiong dan membattn. Walau kalian berkepandaian tinggi, tapi otak kalian berada di dengkul, Co Hiong segera menghentikan kudanya.

"Cepat ke mari!" bentak Na Siao Tiap lagi.

Co Hiong memutarkan kudanya, kemudian kuda itu pun berjalan ke hadapan ke dua gadis itu, Sebelum kuda itu mendekat, Lie Ceng Loan sudah melesat ke sana.

"Barusan... barusan engkau bilang apa?" tanya gadis itu. "Tadi Nona Na menamparku dua kali dan menyuruhku pergi, Kini engkau memanggilku sebetulnya ada apa?" sahut Co Hiong.

"Tadi engkau bilang apa? Kakak Bu kenapa?" tanya Lie Ceng Loan cemas.

"Adik!" sela Na Siao Tiap, "Jangan terjebak, bagaimana mungkin Kakak Kun Bu akan menitip pesan pada orang yang begini macam?"

Lie Ceng Loan tertegun, dan wajahnya mulai tidak begitu tegang lagi, Kemudian ia menundukkan kepala seraya bergumam.

"Kakak Siao Tiap benar, orang itu jahat sekali, tak mungkin kakak Bu akan menitip pesan padanya."

sedangkan Co Hiong terus memandang Lie Ceng Loan.

Tampaknya hatinya semakin tertarik pada gadis itu. Hm! Dengusnya dalam hati. Gadis itu begitu mencintai Bee Kun Bu, dan Bee Kun Bu pun amat men-cintainya. Bagus! Kalau aku berhasil menodai gadis itu, Bee Kun Bu pasti akan mati muntah darah!

"Saudara Bee,.," gumamnya sambil menarik nafas panjang, "Aku sudah bilang, mereka tidak akan pereaya."

Lie Ceng Loan tertegun ketika mendengar gumaman itu. ia segera memandang Na Siao Tiap, Padahal se-sungguhnya, Hati Na Siao Tiap pun sudah kacau.

"Apakah benar Kun Bu ada menitip pesan padamu?" tanyanya kemudian pada Co Hiong.

Co Hiong segera mengeluarkan surat yang dibawa-nya, lalu memandang mereka berdua seraya menyahut

"Kalau Nona Na masih tidak pereaya, silakan baca surat ini!" Mendadak Na Siao Tiap menjulurkan tangannya, seketika juga Co Hiong merasa ada tenaga yang amat kuat menghisap surat yang di tangannya.

"Serrr!" Surat itu sudah berpindah Ke tangan Na Siao Tiap. Bukan main terkejutnya Co Hiong, sungguh hebat

Lweekang gadis itu! Lagi pula gadis itu sulit ditipu, karena itu harus berhati-hati.

Ternyata Na Siao Tiap mengeluarkan ilmu Toa Pan4 Yok Hian Kang. Setelah surat itu berada di tangannya, ia pun segera membukanya.

"Haah!" seru Lie Ceng Loan, "Tidak salah, itu memang tulisan Kakak Bu!"

"Kakak Kun Bu yang menulis surat ini padamu, Dia dalam bahaya dan hanya teringat padamu seorang diri," ujar Na Siao Tiap, wajahnya pun sudah berubah.

Nada dan mimik wajah Na Siao Tiap tidak terlepas dari mata Co Hiong, itu membuatnya tertegun dan menyadari bahwa gadis itu pun mencintai Bee Kun Bu. Kalau begitu, aku harus memperalatnya juga! pikir Co Hiong sambil tertawa dalam hati.

"Wuaaakh!" Lie Ceng Loan sudah menangis, "Kakak Siao Tiap, Kakak Bu telah ditangkap orang, dia menghendaki kita pergi menolongnya."

"Heran?" Na Siao Tiap mengerutkan kening, "Dia bersama Kakak Pek, siapa yang mampu melawan me reka?"

"Kakak Siao Tiap, ini memang benar tulisan Kakak Bu," ujar Lie Ceng Loan dengan air mata bereucuran

"Saudara Bee dan Nona Pek tertangkap di dalam istana Pit Sia Kiong," sela Co Hiong memberitahukan

Na Siao Tiap menatapnya tajam dan dingin. Hati Co Hiong tersentak sebab sorotan mata Na Siao Tiap yang begitu tajam dan dingin itu seakan menembus ke dalam hatinya, sehingga membuat hati Co Hiong berdebar debar tegang.

"Bukankah engkau bersekongkol dengan Kim Hun Tokouw, namun kenapa engkau bersedia membawa surat Kun Bu ke mari?" tanya Na Siao Tiap.

"Nona Na. " Co Hiong tertawa getir "Panjang sekali kalau

dituturkan Agar tidak membuang waktu, harap Nona Lie segera ikut aku ke sana!"

"Adik Loan!" ujar Na Siao Tiap, "Aku akan pergi bersamamu."

"Kuda cuma seekor," sahut Co Hiong cepat, "Nona Lie, cepatlah naik ke punggung kuda!"

Lie Ceng Loan tahu jelas bahwa Co Hiong bukan orang baik, tapi Bee Kun Bu sedang menunggu ke-datangannya, maka gadis itu ingin segera ke sana tanpa memikirkan resiko.

Oleh karena itu, begitu Co Hiong mengatakan begitu, ia pun langsung melesat ke atas punggung kuda, sedangkan pada waktu itu, Co Hiong sudah berada di atas punggung kuda itu.

"Kakak Siao Tiap, ayo naik!" seru Lie Ceng Loan. "Baik," sahut Na Siao Tiap.

Akan tetapi, pada waktu bersamaan Co Hiong menepuk badan kuda itu sehingga kuda itu langsung berlari kencang.

Di saat itu, Na Siao Tiap melesat, tapi kuda itu telah berlari pergi, Na Siao Tiap bersiul sambil mengerahkan ginkangnya melesat ke depan Lie Ceng Loan segera menjulurkan tangannya.

"Kakak Siao Tiap!" serunya, "Cepat sambar tanganku!"

Na Siao Tiap langsung menjulurkan tangannya ingin menyambar tangan Lie Ceng Loan, namun kuda itu melesat cepat. Perlu diketahui, kuda Co Hiong itu kuda jempolan larinya laksana kilat, Karena itu, Na Siao Tiap menyambar angin

Menyaksikan itu, Na Siao Tiap menarik nafas dalam- dalam, dan sekaligus mengerahkan ginkangnya, Tapi kuda itu bertambah kencang larinya, maka Na Siao Tiap tetap ketinggalan di belakang walau sudah mengerahkan ginkangnya.

"Hei!" bentak Lie Ceng Loan, "Kenapa engkau tidak mau menunggu Kakak Siao Tiap?"

"Saudara Bee sedang menunggumu, maka aku harus memburu waktu," sahut Co Hiong.

Lie Ceng Loan menoleh ke belakang, melihat Na Siao Tiap tertinggal belasan depa.

"Kakak Siao Tiap!" teriak Lie Ceng Loan, "Ayoh, cepat!"

Saat itii, Na Siao Tiap telah mengerahkan ginkangnya semaksimalnya, Akan tetapi, ia tetap tertinggal belasan depa di belakang kuda itu.

"Kalau engkau tidak berhenti, lain kali jangan bertemu denganku!" teriak Na Siao Tiap gusar

"Cepat tunggu dia!" ujar Lie Ceng Loan pada Co Hiong. Co Hiong menoleh ke belakang, Ketika melihat Na Siao

Tiap tertinggal agak jauh, legalah, hatinya dan tertawa panjang.

"Saudara Bee sedang menunggu, kita mana boleh membuang waktu, lagi pula dia cuma menghendaki engkau pergi seorang diri," ujarnya dan sekaligus menepuk badan kuda, sehingga larinya bertambah kencang.

Lie Ceng Loan adalah gadis polos, sama sekali tidak tahu akan kelicikan Co Hiong. LagipuIa Co Hiong pandai berakting, mengambil hati orang, merayu dan lain se bagainya. ******

Bab ke 40 - Terjebak Dalam Rencana Busuk sementara Na Siao Tiap masih terus mengerahkan

ginkangnya untuk mengejar kuda itu. ia yakin Co Hiong berniat tidak baik dalam hati.

Biar bagaimanapun Bee Kun Bu dalam bahaya, tidak mungkin tiada waktu sesaat bagi Co Hiong untuk menghentikan kudanya.

Apakah lantaran waktu yang sesaat itu, akan menyebabkan diri Bee Kun Bu mengalami suatu bahaya besar?

itu pasti tidak mungkin, Oleh karena itu Na Siao Tiap berkesimpulan bahwa Co Hiong cuma mencari alasan untuk memisahkannya dengan Lie Ceng Loan.

Setelah berkesimpulan demikian, kegusaran Na Siao Tiap memuncak, dan seketika teringat pula akan kata-kata ibunya, bahwa tiada seorang pun lelaki yang baik di kolong langit ini.

Teringat akan kata-kata itu, ia langsung mengerahkan ilmu Toa Pan Yok Hiang Kang, dan mendadak badannya melesat bagaikan terbang.

Dalam waktu sekejap, Na Siao Tiap telah berhasil menyusul kuda itu, dan langsung menyambar ekornya.

Betapa terkejutnya Co Hiong, ia segera menoleh dan kebetulan melihat tangan Na Siao Tiap sedang menyambar ekor kudanya, Kalau ekor kudanya itu tersambar itu berarti semua rencananya akan berantakan

Di saat bersamaan, Co Hiong menggerakkan lengan-nya, Tiga buah gelang emas yang di lengannya langsung meluncur ke arah Na Siao Tiap laksana kilat

Badan Na Siao Tiap masih melayang di udara, maka tidak bisa berkelit maupun meloncat menghindar sedangkan ke tiga buah gelang emas itu telah meluncur ke arahnya. Mendadak Na Siao Tiap membuka mulutnya menggigit salah satu gelang emas itu, lalu mengerahkan Lwee-kangnya menyemburkan gelang emas yang di mulutnya ke arah gelang emas lain yang meluncur datang itu.

Cring! Cring....

Gelang emas itu menghantam ke dua gelang emas yang meluncur datang. Akibatnya ke tiga gelang emas itu berjatuhan.

pada saat bersamaan, Na Siao Tiap melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah Co Hiong, sekaligus menyambar ekor kuda itu.

Sungguh terkejut Co Hiong, tapi ia masih berhasil mengelak pukulan jarak jauh itu. Namun Na Siao Tiap telah berhasil menyambar ekor kuda itu. Cepat-cepat Co Hiong mencabut pedangnya, dan secepat kilat menyabet ke arah ekor kuda itu.

Srrrt! Ekor kuda itu tersabet putus.

Untung Na Siao Tiap berkepandaian tinggi, kalau tidak, ia pasti terluka, Gadis itu cepat-cepat bangkit berdiri, tapi kuda itu telah lari belasan depa.

"Adik Loan! Engkau harus berhati-hati, jangan mempereayai omongannya!" ujar Na Siao Tiap dengan ilmu penyampai suara.

"Aku tahu, Kakak Siao Tiap," sahut Lie Ceng Loan yang juga menggunakan ilmu penyampai suara.

Setelah Lie Ceng Loan menyahut demikian, kuda itu sudah tidak kelihatan lagi, Bukan main gusarnya Na Siao Tiap, namun tidak bisa berbuat apa-apa hanya berdiri tertegun di tempat

Tiba-tiba Na Siao Tiap teringat sesuatu, bahwa Bee Kun Bu cuma menghendaki Lie Ceng Loan pergi seorang diri, sama sekali tidak menyuruhnya ikut, itu membuat hati Na Siao Tiap berduka dan air matanya pun meleleh tanpa disadarinya Lama sekali barulah ia kembali ke gua Thian Kie. Setelah tiba di gua itu, ia mengambil piepie (Alat musik kuno Cina mirip gitar), lalu ke luar dan kemudian duduk di atas sebuah batu.

Mulailah ia memainkan alat musik itu, Tak seberapa lama kemudian, air matanya berderai-derai.

"lbu! Oooh, ibu!" gumamnya sambil terisak-isak. "Aku telah mencintainya, aku... aku harus bagaimana? Ibu, beritahukanlah padaku!"

Walau ibunya sudah meninggal, namun Na Siao Tiap masih tetap ingat pada almarhumah, terutama kata-katanya, "Kaum lelaki di kolong langit, tiada satu pun yang baik, Di saat engkau jatuh cinta pada seseorang lelaki, haruslah engkau membunuhnya."

Teringat akan kata-kata itu, Na Siao Tiap mulai menangis sedih, Gadis itu memang telah jatuh cinta pada Bee Kun Bu, lalu haruskah ia membunuhnya sesuai amanat almarhumahnya? Ternyata inilah yang mencekam hatinya.

sementara kuda yang ditunggangi Co Hiong dan Lie Ceng Loan terus berlari, Walau mungkin Na Siao Tiap telah memperingatkannya, Lie Ceng Loan tetap pereaya Bee Kun Bu dalam bahaya, sehingga membuatnya ingin cepat-cepat sampai di tempat Bee Kun Bu dikurung.

"Sebetulnya Kakak Bu dikurung di mana?" tanya Lie Ceng Loan.

Co Hiong diam saja. Lie Ceng Loan penasaran dan bertanya berulang kali, tapi Co Hiong tetap diam.

"Trang!" Pedang Co Hiong jatuh ke bawah, sedangkan badannya bergoyang-goyang.

"Eh? Kenapa engkau?" tanya Lie Ceng Loan heran.

Co Hiong tetap tidak menyahut, hanya mengeluarkan suara rintihan. Lie Ceng Loan bertambah heran dan segera memandangnya Terbelalaklah gadis itu, ternyata mulut Co Hiong mengeluarkan darah segan

Lie Ceng Loan merasa tidak tega menyaksikan keadaan Co Hiong. ia segera menarik tali kendali kuda, dan kuda itu pun berhenti

Lie Ceng Loan meloncat turun, kemudian menurunkan Co Hiong dari punggung kuda sekaligus menaruhnya ke bawah.

Co Hiong masih merintih Lie Ceng Loan memandang wajahnya namun saat ini wajah yang tampan itu tampak pucat pias, dan keningnya mengucurkan keringat

"Engkau terluka dalam, kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Lie Ceng Loan sambil mengerutkan kening.

"Kalau aku... aku bilang, akan menghambat perjalanan kita," sahut Co Hiong dengan mata terpejam. Ke-lihatannya ia amat menderita karena luka dalamnya itu.

Kali ini Co Hiong memang tidak berpura-pura. Siapa yang melihatnya pasti tahu bahwa ia mengalami luka dalam yang cukup parah.

Ternyata engkau begitu baik terhadapku"

Co Hiong tidak menyahut, cuma mengge!eng-ge-lengkan kepala sambil menghela nafas panjang, Setelah itu, tubuhnya pun bergemetan

"Kenapa engkau?" tanya Lie Ceng Loan bernada cemas.

Gadis itu memang terharu, tapi tidak disertai perasaan apa pun terhadap Co Hiong.

Karena itu, Lie Ceng Loan membungkukkan badan nya, maksudnya ingin melihat jelas di mana luka itu.

Mata Co Hiongyang terpejam itu mendadak terbuka, ternyata ia mencium keharuman badan Lie Ceng Loan. Setelah membuka matanya, ia terbelalak karena melihat Lie Ceng Loan yang cantik jelita itu berada dihadapannya.

Co Hiong tidak mengeluarkan suara apa pun, cuma memandangnya dengan mata terbelalak Ketika mengetahui Co Hiong memandangnya dengan cara begitu, wajah Lie Ceng Loan berubah kemerah-merahan.

"Kenapa engkau " Lie Ceng Loan mendorongnya,

Kebetulan tangan gadis itu tepat mengenai dada Co Hiong yang terluka.

"Aaakh. " Jerit Co Hiong kesakitan lalu pingsan.

Kenapa Co Hiong bisa terluka? Ternyata ketika ia menyabet ekor kuda dengan pedang nya, mendadak Na Siao Tiap juga melancarkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah dadanya.

Dada Co Hiong terpukul, namun ia berkertak gigi bertahan, dan tetap menyabet ekor kuda itu dengan pedangnya.

ia berhasil menyabet putus ekor kuda itu, dan Na Siao Tiap terhempas jatuh ke bawah.

sedangkan kuda itu terus berlari, maka Co Hiong tetap bertahan tapi akhirnya mulutnya menyemburkan darah segar

Memang sudah lama Co Hiong jatuh hati pada Lie Ceng Loan, maka ketika gadis itu mendekatinya dan membungkukkan badan, iapun membuka matanya lantaran mencium keharuman badan gadis itu. otomatis ia memandang gadis itu dengan mata terbelalak

Lie Ceng Loan tersentak karena tatapan Co Hiong sehingga langsung mendorongnya dan tanpa sengaja justru telah mendorong bagian dada Co Hiong yang terluka, Saking sakitnya Co Hiong pingsan.

Gadis itu menyesal karena telah mendorongnya, Namun tak lama kemudian, Co Hiong sudah sadar Ketika melihat Lie Ceng Loan memandangnya dengan penuh perhatian, Co Hiong girang bukan main, ia yakin bahwa gadis itu mulai menaruh perhatian padanya, Oleh karena itu wajahnya tampak memerah saking girangnya.

sebaliknya Lie Ceng Loan malah terperanjat ia pernah mendengar dari Ngo Kong Taysu, bahwa apabila seseorang terluka dalam, wajahnya pucat pias tidak jadi masalah, asal jangan berubah memerah, itu pertanda sulit ditolong lagi.

Kini ia menyaksikan wajah Co Hiong memerah, tentu membuatnya terperanjat sekali, Gadis itu tidak tahu, kalau wajah Co Hiong memerah lantaran saking girangnya karena rencananya berjalan lancar

"Bagaimana rasamu?" tanya Lie Ceng Loan sambil memegang tangannya.

Begitu Lie Ceng Loan memegang tangannya, seketika juga pikiran Co Hiong seakan melayang ke sorga.

"Nona Lie, lukaku... lukaku sudah parah sekali," sahut Co Hiong lemah, "Mungkin,., mungkin aku sudah tidak kuat lagi menemanimu melanjutkan perjalanan."

"Co Hiong. " hati Lie Ceng Loan pilu, "Beritahu-kanlah,

Kakak Bu berada di mana?"

Co Hiong menarik nafas panjang, matanya memandang Lie Ceng Loan seraya berkata.

"Nona Lie, kita harus memburu waktu, mari kita berangkat saja!" Co Hiong memang licik. ia memang terluka, namun berpura-pura terluka parah sekali, bahkan mengelak pertanyaan Lie Ceng Loan.

"Engkau telah terluka sedemikian parah, bagaimana mungkin melanjutkan perjalanan?" Lie Ceng Loan iba kasihan padanya.

"Nona Lie.-." Co Hiong menghela nafas dengan wajah murung, "Saudara Bee telah menganggapku sebagai teman baiknya, maka mempereayaiku membawamu ke sana, jangan karena lukaku ini sehingga menter-lantarkan urusan besarnya!" Ucapan Co Hiong membuat Lie Ceng Loan semakin terharu, ia memandangnya seraya berkata lembut

"Co Hiong, ternyata engkau orang baik. Dulu aku sering mencaci maki dirimu, aku harap engkau sudi memaafkanku!"

Giranglah hati Co Hiong mendengar itu, tapi wajahnya justru bertambah murung dan tak henti-hentinya menarik nafas.

"Nona Lie, urusan yang telah berlalu jangan diungkit kembali! Setelah aku bertemu denganmu, terjadilah suatu perubahan."

"Lho?" Lie Ceng Loan heran, "Kenapa begitu?"

"Nona Lie!" Co Hiong menatapnya dalam-dalam, "Hatimu amat terang dan bersih, siapa yang melihatmu, pasti akan berubah seperti diriku."

"Oh?" Lie Ceng Loan tersenyum. "Aku tak me-nyangka, engkau pandai berbicara."

Co Hiong tersentak Oleh karena itu tidak berani terlampau cepat merayu nya, harus membuat gadis itu perlahan-lahan masuk ke dalam rencananya, Co Hiong diam, kemudian mulai merintih lagi.

"Co Hiong!" Lie Ceng Loan mengerutkan kening, "Sebetumya bagaimana keadaan lukamu?"

"Nona Lie,.,." Co Hiong menarik nafas yang panjang sekali, "Kalau engkau sudi membantuku, aku pereaya setengah hari lukaku pasti sembuh!"

"Aku pasti sudi membantumu," sahut Lie Ceng Loan cepat "Sobeklah sedikit baju atasku!" ujar Co Hiong melanjutkan

"Ambillah beberapa butir obat di dalam bajuku, kemudian hancurkan dan poleskan di dadaku!"

"Tadi aku mendorongmu tanpa sengaja, engkau sudah pingsan. Apakah sekarang engkau tidak takut sakit lagi?" tanya Lie Ceng Loan. "Tentu sakit!" Co Hiong menarik nafas, "Tapi ada Nona Lie berada di sisiku, itu akan membuatku merasa baik."

"Eh?" Wajah Lie Ceng Loan kemerah-merahan. "Jangan omong sembarangan!"

Co Hiong tertawa lalu diam, sedangkan Lie Ceng Loan mulai melaksanakan permintaan Co Hiong barusan.

"Berikan aku dua butir obat itu!" ujar Co Hiong.

"Nih!" Lie Ceng Loan segera memberikan nya. "Aduh!" jerit Co Hiong ketika menjulurkan tangan

mengambil obat tersebut

"Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan. "Tanganmu sakit ya?" "Ng!" Co Hiong mengangguk "Nona Lie, tolong masukkan

ke dua butir itu ke dalam mu!utku!"

Lie Ceng Loan mengerutkan kening, tapi akhirnya melakukannya juga, dan seketika juga hati Co Hiong berbunga-bunga.

"Terimakasih!" ucapnya dan menambahkan "Seka-rang tolong buka bajuku, hancurkan beberapa butir obat itu, lalu gosokkan di dadaku!"

"Itu.  " Lie Ceng Loan ragu melakukannya tapi ia masih

ingat harus segera berangkat menolong Bee Kun Bu, maka ia pun melakukannya.

Ketika Lie Ceng Loan mulai menggosok-gosok dada Co Hiong dengan obat yang telah dihancurkan itu, mata Co Hiong langsung merem melek menikmati gosokan yang amat lembut

"Nona Lie. " Mendadak Co Hiong memegang lengan

gadis itu seraya berkata, "Engkau sedemikian baik terhadapku, pokoknya aku tidak akan lupakan!" "Jangan banyak bicara!" sahut Lie Ceng Loan yang teiah usai menggosok dadanya, "Lebih baik engkau beristirahat sejenak!"

Tiba-tiba Co Hiong menjulurkan lehernya, Lie Ceng Loan tertegun dan di saat itu pula Co Hiong mengecup keningnya.

itu sungguh di luar dugaan Lie Ceng Loan. Gadis itu dan Bee Kun Bu memang saling mencinta, namun mereka berdua selalu saling menjaga, tidak pernah Bee Kun Bu mengecup keningnya.

Akan tetapi, saat ini Co Hiong berani mengecup keningnya, itu menyebabkan nya jatuh duduk, tidak tahu harus marah atau. Yang jelas hatinya terus berdebar-debar seakan

meloncat ke luar.

"Engkau... engkau. " Akhirnya Lie Ceng Loan me-

nudingnya, "Apa maksudmu berbuat demikian?"

"Nona Lie. " Co Hiong tahu gadis itu pasti bertanya

begitu, maka ia sudah siap menjawabnya,". aku sendiripun

tidak tahu kenapa berbuat begitu, hanya saja. mungkin

luapan cinta kasih."

Wajah Lie Ceng Loan bertambah merah, Gadis itu segera memalingkan mukanya seraya menegur Co Hiong.

"Kalau engkau masih begini, aku akan marah."

Ucapan Lie Ceng Loan tersebut justru membuat Co Hiong semakin girang, karena kalau seorang gadis bilang akan marah, itu pasti tidak akan marah.

"Nona Lie, aku tidak berani begitu lagi, Aku mohon maaf...

aduuh!" jerit Co Hiong mendadak

"Engkau memang " Lie Ceng Loan memandangnya

sambil melotot

Sikap Lie Ceng Loan membuat Co Hiong bertambah girang, karena yakin gadis itu mulai tertarik padanya, berarti mulai melangkah ke dalam perangkap rencana-nya. "Nona Lie, bersediakah engkau jadi temanku?" tanya Co Hiong mendadak.

"Engkau teman Kakak Bu, tentunya kita juga teman, Kenapa engkau harus bertanya begitu?" sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum.

Ketika Lie Ceng Loan menyebut nama Bee Kun Bu, timbullah rasa gusar dalam hati Co Hiong.

Akan tetapi, wajahnya justru tidak memperlihatkan kegusaran, kemudian ia memejamkan matanya, sementara hari sudah mulai senja, berselang beberapa saat, Co Hiong membuka matanya dan berkata.

"Nona Lie, mari kita melanjutkan perjalanan! Tolong papah aku ke atas punggung kuda!"

Lie Ceng Loan memang ingin segera berangkat, maka tanpa banyak berpikir lagi langsung memapah Co Hiong ke atas kuda.

Sesungguhnya, Co Hiong sudah bisa naik sendiri ke atas punggung kuda itu, sebab ia pernah mempelajari cara pengobatan dengan Lweekang dari buku catatan Sam Im Sin Ni, ditambah obat itu amat manjur, membuat luka dalamnya agak membaik.

Namun ia memang ingin menyentuh badan Lie Ceng Loan, karena itu ia menyuruh gadis itu memapahnya ke atas punggung kuda.

Setelah Co Hiong duduk, Lie Ceng Loan segera meloncat ke atas punggung kuda itu, di depannya Co Hiong, Co Hiong memegang tali kendali kuda. Begitu melihat Lie Ceng Loan sudah duduk, ia menepuk badan kuda, dan kuda itu langsung berlari kencang.

Kuda itu bernama Cui Hong Sin Kou (Kuda Sakti pengejar Angin), dapat dibayangkan betapa cepat larinya. Mereka menuju arah utara, yakni ke arah Kota Si Shia. sepanjang jalan Lie Ceng Loan terus bertanya di mana Bee Kun Bu, tapi Co Hiong tetap tidak menyahut

Karena kuda itu menuju ke arah Si Shia, maka Lie Ceng Loan tidak banyak bertanya lagi, Sebab sebelum muncul Co Hiong, Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap memang sudah punya rencana mau berangkat ke Si Shia untuk mencari Bee Kun Bu.

Gadis itu girang sekali karena kuda itu dapat berlari begitu cepat Namun kalau ia menunggang Hian Giok, mungkin akan lebih cepat lagi, Ternyata mendadak Lie Ceng Loan teringat pada Bangau Sakti, Tentunya ia teringat pula pada Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu berangkat bersama ke Si Shia sekian lama. Hati Lie Ceng Loan tersiksa sekali karena terus memikirkan dan merindukan Bee Kun Bu.

seandainya Bee Kun Bu dalam bahaya, bukankah dia bersama Pek Yun Hui? Kenapa Pek Yun Hui tidak menolongnya? Pikir Lie Ceng Loan dan langsung bertanya pada Co Hiong.

"Eh! Aku mau tanya, di mana Kakak Pek?"

"Dia sudah tertangkap, kenapa engkau menanyakan nya

?" Co Hiong tampak tidak senang, namun Lie Ceng Loan tidak mengetahuinya.

"Bagaimana sih engkau? Kakak Pek telah menganggapku sebagai adiknya, kenapa aku tidak boleh me-nanyakannya?"

"Hm!" dengus Co Hiong dingin, "Dia menganggapmu sebagai adiknya? Mungkin engkau saja yang menganggapnya sebagai kakak."

"Benar," sahut Lie Ceng Loan, "Aku memang menganggapnya sebagai kakak."

"Nona Lie. " Co Hiong menarik nafas panjang. "Engkau terlampau po!os, sama sekali tidak tahu kelicikan orang,"

"Eh?" Wajah Lie Ceng Loan berubah, "Engkau menimbulkan suatu masalah di antara aku dengan Kakak Pek?"

Co Hiong terkejut ia mengira gampang menghasut-nya, namun ternyata tidak, Karena itu, cepat-cepat ia berkata.

"Nona Lie, engkau jangan begitu cepat menuduhku, aku sama sekali tidak berniat menghasutmu."

"Kalau begitu, aku yang bersalah," ujar Lie Ceng Loan.

Setelah itu Lie Ceng Loan diam, Gadis itu tidak habis berpikir, Pek Yun Hui berkepandaian tinggi, kenapa bisa ditangkap orang? Karena tidak habis berpikir, ia bertanya pada Co Hiong.

"Kakak Pek berkepandaian amat tinggi, cara bagaimana dia ditangkap?" Lie Ceng Loan menambahkan "Benarkah Kim Hun Tokouw begitu lihay?"

"Nona Lie!" Co Hiong tertawa, "Pereuma aku menjawab." "Kenapa?" tanya Lie Ceng Loan.

"Kalau aku jawab. " Co Hiong menggeleng-gelengkan

kepala, "Engkau pasti akan mengatakan aku memecah belahkan hubungan kalian."

"Oh?" Lie Ceng Loan tertawa, "Engkau masih ingat akan ucapanku tadi!"

"Aku selalu berlaku setulus hati terhadapmu, sebaliknya engkau menuduhku begitu, tentu aku selalu ingat," sahut Co Hiong.

"Kalau begitu, aku minta maafl" ucap Lie Ceng Loan yang amat polos itu, "Beritahukanlah kepadaku cara bagaimana Kakak Pek ditangkap!" "Aku tidak bisa memberitahukan."

"Aku sudah minta maaf, kenapa engkau masih tidak mau memberitahukan?"

Co Hiong tetap menggeleng-gelengkan kepala, itu membuat Lie Ceng Loan penasaran dan bereuriga.

"Tadi engkau bilang berlaku tulus hati terhadapku, namun kenapa engkau tidak mau menutur kejadian itu padaku?

Jangan-jangan engkau ingin membohongiku!"

MHa ha!" Co Hiong tertawa, "Nona Lie, aku tidak mau memberitahukan itu demi kebaikanmu."

"Kalau engkau tidak mau memberitahukan aku tidak akan menghiraukanmu lagi, sungguh!"

"Nona Lie, aku ingin bertanya, benarkah engkau begitu mencintai Bee Kun Bu?" Tanya Co Hiong mendadak

"Ya," jawab Lie Ceng Loan dengan wajah agak kemerah- merahan.

"Kalau begitu, aku malah tidak mengerti akan satu hal," ujar Co Hiong seakan tampak bingung.

"Mengenai hal apa?" tanya Lie Ceng Loan.

Saat ini Co Hiong memang sengaja mengada-ada, untuk menarik perhatian gadis itu, dan agar gadis itu mempereayainya.

"Hal yang tidak kumengerti yakni engkau mencintai Bee Kun Bu, tapi justru membiarkannya bersama Pek Yun Hui melakukan perjalanan yang begitu jauh," tanya Co Hiong. "ltu disebabkan apa?"

"Paman Na yang menyuruh mereka berangkat ber-sama, apa sebabnya aku tidak tahu," sahut Lie Ceng Loan.

"Engkau bisa berlega hati?" "Kenapa tidak?" "Maksudku. " Co Hiong mulai menimbulkan suatu

kekeruhan untuk mengacaukan hati Lie Ceng Loan.

"Apakah engkau tidak khawatir Bee Kun Bu akan mencintai Pek Yun Hui, atau Pek Yun Hui akan mencintai Bee Kun Bu?"

"Aku tahu itu tidak akan terjadi," sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum

jawaban itu membuat Co Hiong tertegun lama sekali, kenapa hasutannya yang begitu panas sama sekali tidak membakar hati gadis itu? Kemudian ia menarik nafas panjang seraya berkata.

"Begitu mereka berdua memasuki istana Pit Sia Kiong, tak lama mereka berdua pun ditangkap. " Co Hiong mulai

mengarang cerita bohong, "Setelah Bee Kun Bu ditangkap dan dikurung di dalam sebuah gua, kebetulan aku melihat dia, maka secara diam-diam aku pergi menengoknya, Nah, dia yang menyerahkan suratnya padaku untuk disampaikan padamu."

"Kalau begitu, kita sekarang menuju ke gua itu?" "Ya," Co Hiong mengangguk

"Di mana gua itu?"

"Di dalam sebuah lembah," sahut Co Hiong, Hatinya mulai girang, karena Lie Ceng Loan mulai mempereayainya.

Oleh karena itu, Lie Ceng Loan berada dalam ba-haya, sebab sudah mendekati mulut srigaia.

sementara kuda itu terus berlari kencang tak henti- hentinya, dan tak lama hari sudah malam, Tiba-tiba Co Hiong menyentak tali kendali kuda, dan seketika juga kuda itu berlari lamban.

"Sudah hampir sampai di lembah itu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Belum," sahut Co Hiong memberitahukan "Masih jauh lembah itu?"

Tidak begitu jauh, mungkin larut malam baru bisa sampai." "Aaakh. " Lie Ceng Loan menarik nafas, "Entah

bagaimana cemasnya hati Kakak Bu!"

"Nona Lie, sungguh beruntung Saudara Bee punya kekasih seperti engkau!" ujar Co Hiong sambil tertawa, tapi hatinya justru sangat panas sekali.

Lie Ceng Loan diam, hanya wajahnya yang tampak kemerah-merahan. Gadis itu sama sekali tidak berfirasat buruk, padahal dirinya sudah berada dalam bahaya.

Setelah larut malam, kuda itu mulai memasuki sebuah lembah yang banyak tebing curam Memang tidak salah, istana Pit Sia Kiong berada di dalam lembah tersebut

Akan tetapi, Co Hiong tidak menuju ke arah istana itu, melainkan menuju ke arah yang berlawanan Sudah lama Co Hiong tinggal di dalam istana Pit Sia Kiong, tentunya ia punya banyak kesempatan menjelajahi Gu-nung Taysan, maka ia tahu di dalam lembah ini terdapat sebuah gua yang sangat bersih mirip rumah batu, Entah siapa yang pernah menghuni gua itu.

Co Hiong membawa Lie Ceng Loan ke dalam gua tersebut Gadis itu tidak pernah ke istana Pit Sia Kiong, lagipula tidak menduga kalau Co Hiong punya suatu rencana busuk terhadap dirinya.

Oleh karena itu, Co Hiong membawanya ke mana, ia cuma menurut dan berharap akan segera bertemu Bee Kun Bu.

Malam ini, kebetulan bulan bersinar terang, sehingga mempermudah kuda itu mengayunkan kakinya, Men-dadak kuda itu melompat, ternyata melewati sebuah batu yang cukup besar dan tinggi.

"Hah?" Lie Ceng Loan terkejut dan amat kagum pada kuda itu, "Kudamu ini hebat sekali!" "Kalau engkau suka, aku pasti menghadiahkan pada-mu," sahut Co Hiong sambil tertawa.

"Aku tidak mau." Lie Ceng Loan menggelengkan kepala, "Aku pernah mendengar dari Kakak Bu, bahwa engkau ingin menghadiahkan kuda ini pada Kakak Hui Hong. Karena itu, janganlah engkau sembarangan menghadiahkan pada orang lain!"

Co Hiong sama sekali tidak tahu, kalau gadis itu mengetahui hal tersebut maka seketika juga wajahnya jadi memerah.

"Hui Hong Sumoy sudah menjadi rahib wanita, dia sudah tidak menginginkan kuda ini." Co Hiong memberitahukan

"Mungkin dikemudian hari dia mau kuda ini, engkau harus simpan kuda ini untuk dia," ujar Lie Ceng Loan sungguh- sungguh.

"Benar." Co Hiong manggut-manggut

Tak seberapa lama kemudian, kuda itu mulai memasuki sebuah rimba, Tampak kabut tebal meneyelimuti rimba itu, Akan tetapi, kuda itu masih terus berjalan ke depan

Berselang beberapa saat, mendadak kuda itu berhenti Lie Ceng Loan menengok ke sana ke mari, ternyata tempat itu dikelilingi tebing curam

"Di sini?" tanya Lie Ceng Loan

"Ssst!" Co Hiong memberi isyarat, agar Lie Ceng Loan bertambah mempereayainya, "Jangan berisik, mungkin tempat ini telah dijaga orang berkepandaian tinggi."

Lie Ceng Loan langsung diam, tapi kemudian berpikir Barusan ia sudah bersuara, kalau terdengar orang, bukankah pereuma ia diam sekarang? Maka ia tertawa seraya bertanya.

"Kakak Bu berada di sini?" Co Hiong memandang ke arah sebuah gua, lalu menunjuk gua itu dan berbisik dengan serius.

"Dia dikurung di dalam gua itu."

"Oh?" Lie Ceng Loan memandang ke arah gua itu.

Mereka berdua turun dari punggung kuda. Co Hiong tidak tampak lelah, ternyata lukanya sudah membaik.

Setelah sepasang kakinya menginjak tanah, Lie Ceng Loan langsung menghunus pedangnya, lalu mengikuti Co Hiong menuju gua tersebut

Sampai di depan gua, Co Hiong yang sudah tahu tiada seorang pun di dalam gua itu, justru pura-pura bersikap hati- hati, bahkan bersembunyi dulu, Lie Ceng Loan terus mengikuti dengan waspada.

Co Hiong mengayunkan tangannya ke arah gua, ternyata ia menyambitkan dua buah senjata rahasia ke dalam gua itu.

ia melakukan itu cuma untuk menyakinkan Lie Ceng Loan, Ketika ia baru mau mengucapkan "Eh. kok tidak ada orang di dalam?" justru tidak terdengar suara Iun-curan serta jatuhnya senjata rahasia itu.

itu membuat Co Hiong tidak habis berpikir dan tertegun, kenapa bisa begitu?

Ketika ia baru melongok ke dalam gua, tiba-tiba terdengar lagi suara senjata rahasia yang disambitkannya tadi.

Ser! Ser!

Namun kali ini ke dua buah senjata rahasia itu malah meluncur ke luar Co Hiong baru mau melongok ke dalam, Namun begitu mendengar suara itu ia lalu cepat-cepat menyingkir.

Setelah Co Hiong menyingkir ke dua buah senjata rahasia itu menghantam sebuah batu yang ada di depan gua, sehingga mengeluarkan pereikan bunga api. Co Hiong terkejut Melihat bunga api yang terpereik dari batu itu dapat diketahui orang yang menyambitkan senjata rahasia itu memiliki Lweekang yang sangat tinggi, Co Hiong juga terheran-heran, sebab setahunya, gua itu tak ada penghuninya, namun tidak tahunya....

"Siapa di dalam gua?" bentaknya, "Kenapa tidak memperlihatkan diri?"

"Kakak Bu! Kakak Bu!" seru Lie Ceng Loan. "Aku sudah datang, engkau tidak usah takuti"

Padahal sesungguhnya, kepandaian Bee Kun Bu masih jauh di atas Lie Ceng Loan, namun gadis itu berseru begitu. Bukankah amat menggelikan? Akan tetapi, Lie Ceng Loan sama sekali tidak menyadari hal itu, sebab ia sedang mencemaskan keadaaan Bee Kun Bu yang amat dicintainya itu.

Suara mereka mendengung ke dalam gua, namun tidak terdengar suara sahutan.

itu sungguh mencengangkan Co Hiong, kemudian ia memberi isyarat agar Lie Ceng Loan mendekatinya, dan gadis itu pun menurut

"Nona Lie!" bisik Co Hiong setelah Lie Ceng Loan berada di sampingnya, "Engkau jaga di sini, aku akan menerjang ke dalam gua!"

"Engkau menerjang ke dalam dengan cara demikian, apakah tidak akan membahayakan dirimu?" tanya Lie Ceng Loan.

"Nona Lie!" Co Hiong tertawa, "Karena engkau ingin cepat- cepat bertemu saudara Bee, maka aku harus menempuh bahaya demi dirimu."

"Oh?" Lie Ceng Loan tertegun, "Cukup baik engkau, tapi lukamu belum sembuh benar, labih baik aku yang menerjang ke dalam." "Begini saja," usul Co Hiong, "Kita menerjang ke dalam bersama."

"Baiklah." Lie Ceng Loan mengangguk

Co Hiong menghunus pedangnya lalu berteriak. "Siapa di dalam?"

"Cepat lepaskan Kakak Bu!" sambung Lie Ceng Loan, "Kalau tidak, kami akan menerjang ke dalam!"

Walau mereka berdua berteriak, namun tetap tiada sahutan dari dalam gua.

"Nona Lie, cepat buatkan sebuah obor!" bisik Co Hiong.

"Ya." Lie Ceng Loan segera membuat sebuah obor Sedang Co Hiong memandang ke dalam gua, gelap gulita

tidak tampak apa pun. Tak lama Lie Ceng Loan sudah membawa sebuah obor yang menyala, Co Hiong segera mengambil obor itu, lalu bersama Lie Ceng Loan melangkah ke dalam gua.

Beberapa depa kemudian, Co Hiong merasa me-rinding, ia pernah memasuki gua ini, namun pada waktu itu ia tidak punya perasaan demikian Co Hiong menyesal, kenapa ia membawa gadis itu ke mari? Di dalam gua itu terdapat orang lain, apa alasannya nanti?

Co Hiong sangat licik dan banyak akal, tapi kali ini justru kehabisan akal, ia melangklah ke dalam sambil mengerutkan kening.

Akan tetapi, di dalam gua itu tetap sunyi senyap, tiada suara apa pun, Kalau tadi senjata rahasianya tidak disambitkan ke luar, tentunya ia tidak akan menyangka ada orang di dalam gua itu.

"Kelihatannya agak tidak beres." bisik Lie Ceng Loan. Co Hiong berhenti, kemudian tanyanya heran.

"Apa yang tidak beres?" "Apa yang tidak beres?"

"Tiada suara orang di dalam gua ini, Tadi aku berteriak dan Kakak Bu pasti dengar suaraku, Tapi.,.," Mata Lie Ceng Loan mulai bersimbah air,"... kenapa dia tidak menyahut?"

"Entahlah!" Co Hiong menggelengkan kepala, "Lebih baik kita berhati-hati!"

"Kakak Bu. " Ketika Lie Ceng Loan ingin mengatakan

sesuatu, tiba-tiba ia melihat sosok bayangan berkelebat di tikungan gua itu, "Ada orang!

Ketika Lie Ceng Loan berseru begitu, Co Hiong langsung memandang ke depan, dan masih sempat melihat bayangan itu berkelebat

Co Hiong tertegun, Pada waktu bersamaan terdengarlah suara hiruk pikuk. Ternyata dua buah batu besar meluncur ke arah mereka dari dalam, Lie Ceng Loan cepat-cepat berkelit

"Hei!" serunya, "Hati-hati, Saudara Co!"

Co Hiong ingin berkelit, namun sudah tidak keburu lagi, sebab luncuran batu itu sangat cepat Apa boleh buat ia terpaksa menangkis batu itu dengan pedangnya.

Trang! Tampak bunga api berpijar.

Co Hiong memang berhasil menangkis batu itu dengan pedangnya, namun bahu kirinya tetap tersenggol batu itu. ia kesakitan sehingga obor di tangannya terlepas dan padam, gua itu menjadi gelap gulita.

Sebelum obor itu padam, Lie Ceng Loan sudah meloncat ke luar, Ketika gua itu berubah gelap, Lie Ceng Loan berseru.

"Saudara Co, engkau tidak apa-apa?"

Bahu Co Hiong masih terasa sakit ia pun tahu bahwa di dalam gua terdapat orang yang berkepandaian tinggi, namun orang itu musuh atau kawan tidak diketahuinya, maka bagaimana mungkin ia berani bersuara? Lagjpula gua itu telah berubah gelap gulita. Disaat bersamaan, Lie Ceng Loan merasa ada suara desiran di sampingnya, Ternyata bertambah seseorang disitu.

Lie Ceng Loan mengira bahwa orang itu Co Hiong, maka ia segera berkata bernada girang.

Ternyata engkau tidak apa-apa! Kenapa tidak ber-suara?"

Co Hiong tereengang, kenapa Lie Ceng Loan tahu dirinya tidak apa-apa? Ketika ia baru mau membuka mulut, terdengar lagi gadis itu berkata.

"Saudara Co, kalau engkau masih begini, aku akan marah!"

Co Hiong mendengar itu tertegun ia masih ingat akan ucapan demikian, berarti ada orang lain berada di s isi nya.

Betapa terkejutnya Co Hiong, sebab orang itu bisa keluar tanpa suara sedikit pun.

"Nona Lie! Hati-hati, itu bukan aku!" seru Co Hiong memperingatkan Lie Ceng Loan.

Lie Ceng Loan mengira bahwa orang yang di sisinya adalah Co Hiong, maka setelah mendengar suara seruan itu, ia pun tersentak kaget.

"Siapa engkau?" tanyanya sambil cepat-cepat munduk Ketika mundur, Lie Ceng Loan merasa ada angin yang

amat kuat menerjang ke arahnya, bahkan terasa amat dingin

pula.

Kalau Lie Ceng Loan tidak terus-menerus melatih diri di gua Thian Kie Cinjin bersama Na Siao Tiap, mungkin telah terluka oleh angin pukulan itu.

Begitu merasa ada angin pukulan, Lie Ceng Loan segera meloncat mundur selangkah, lalu memandang ke depan.

Tampak sosok bayangan hitam tinggi kurus menerjang ke arahnya, bahkan juga melancarkan pukulan yang menimbulkan angin dingin. Begitu cepat serangan-nya, sehingga Lie Ceng Loan tidak sempat berkelit

"Aaaakh. " Gadis itu merasa ada hawa yang amat dingin

menerobos ke dalam tubuhnya, dan tubuhnya pun langsung menggigil.

Lie Ceng Loan masih sempat meloncat ke samping, namun bayangan tinggi kurus itu pun menerjang ke arahnya lagi.

Tanpa banyak berpikir, Lie Ceng Loan segera menggerakkan tangannya mengeluarkan jurus Pat Hong Hong Ih (Hujan Angin Delapan Penjuru).

jurus tersebut sangat lihay dan cepat, maka tampak pedang Lie Ceng Loan berkelebatan mengarah pada bayangan itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan, pedangnya tidak menyentuh apa pun di hadapannya, sebaliknya ia malah merasa ada angin dingin menerjang dirinya dari belakang.

Guguplah Lie Ceng Loan, justru di saat bersamaan mendadak ia teringat akan ilmu yang diajarkan Bee Kun Bu, yaitu ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Dikerahkannya ilmu itu, dan kemudian ia pun berhasil menghindari.

Lie Ceng Loan sempat melihat bayangan itu seakan tertegun, ia terus mengerahkan ilmu itu sambil balas menyerang dengan jurus Chun Yun Cak Can (Awan Musim Semi MuIai Mengembang).

jurus pedang itu sungguh cepat, apalagi ditambah dengan ilmu Ngo Heng Mte Cong Pu, maka pedang itu bergerak laksana kilat

Casss! Pedang Lie Ceng Loan berhasil menusuk punggung orang itu.

Gadis itu tidak bermaksud membunuh, maka setelah berhasil menusuk punggung orang itu, ia pun segera mencabut pedangnya seraya membentak "Siapa engkau?" Di saat Lie Ceng Loan membentak mendadak orang itu menggerakkan tangannya mengarah pada pedang itu, "Eh?" Lie Ceng Loan terperanjat "Engkau mau cari mati ya?"

Lie Ceng Loan tahu betapa tajamnya pedang itu. Kalau orang tersebut berhasil mencengkeram pedangnya, jari tangan orang itu pasti putus.

Orang itu sama sekali tidak menghiraukan itu, jari tangannya telah berhasil mencengkeram pedang Lie Ceng Loan, Lie Ceng Loan gusar sekali, Tadi ia bermaksud baik, tapi orang itu sama sekali tidak meng-hiraukannya. Oleh karena itu, ia segera menggetarkan pedangnya, dan sekaligus mengeluarkan jurus Sin Liong Cip Hian (Naga Sakti Muncul Mendadak).

Akan tetapi, jurus itu tidak membuat orang tersebut melepaskan pedang Lie Ceng Loan, bahkan kemudian mendadak ia mengayunkan tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan ke arah gadis itu.

Lie Ceng Loan tertegun ia meloncat mundur sambil menarik pedangnya, tapi pedangnya tak bergerak dari tangan orang itu. otomatis membuat badannya tidak bisa mundur Betapa terkejutnya Lie Ceng Loan, karena angin pukulan yang amat dingin itu telah menghajar lengannya.

seketika juga Lie Ceng Loan merasa ada hawa dingin menerobos ke dalam tubuhnya, sehingga membuatnya menggigil dan pedang itu pun terlepas dari tangannya.

Kini orang itu pula yang memegang ujung pedang Lie Ceng Loan, Kemudian mendadak ia meluruskan pedang itu ke arah dada Lie Ceng Loan. Gerakan yang mendadak itu membuat Lie Ceng Loan tidak bisa berkelit lagi pula saat ini ia sedang merasa dingin sekali sekujur badannya.

Ujung gagang pedang itu berhasil menotok Khi Hu Hiat di dada Lie Ceng Loan, dan seketika juga gadis itu merasa hawa murninya tersumbat "Saudara Co. " Lie Ceng Loan ingin memanggil Co Hiong,

namun tubuhnya sudah terkulai dan tak mampu mengeluarkan suara lagi, Orang itu segera memapah Lie Ceng Loan, lalu melesat ke depan.

Walau sudah bertarung beberapa jurus dengan Lie Ceng Loan, tapi orang itu sama sekali tidak mengeluarkan suara, bahkan seakan tidak pernah mengeluarkan nafas-nya, mirip arwah gentayangan

Co Hiong sudah tahu Lie Ceng Loan bertempur dengan orang itu, ia ingin turun tangan membantu, namun dibatalkannya karena tahu orang aneh dalam gua itu berkepandaian tinggi.

Setelah Lie Ceng Loan memanggil "Saudara Co", lalu tiada suara lagi, Co Hiong yakin gadis itu telah ditangkap orang aneh dalam gua.

itu membuatnya tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah menerjang ke dalam gua atau segera meninggalkan gua itu? Karena orang aneh itu membawa Lie Ceng Loan melesat ke dalam gua.

Co Hiong belum tahu siapa orang aneh dalam gua, sehingga membuatnya ragu mengambil suatu keputusan Akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan gua itu, dan tidak mau melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya.

Tapi ia tahu Lie Ceng Loan berada di tangan orang aneh itu, otomatis ia tidak bisa berlega hati.

Setahun yang lalu, Co Hiong sudah bertemu Lie Ceng Loan, Pada waktu itu ia merasa dirinya seakan telah menemukan sesuatu yang amat berharga, maka berniat untuk memilikinya.

Sifat Co Hiong selain licik, jahat dan banyak akal busuk, juga sangat egois, Jadi di dalam hatinya sama sekali tiada perasaan maupun cinta kasih, Yang dianggapnya cinta, tidak lain cuma memuaskan hawa nafsu birahi belaka, Karena itu, ia membawa Lie Ceng Loan ke gua itu, hanya ingin menodai nya.

Kini Lie Ceng Loan jatuh datangan orang aneh itu, Co Hiong merasa gusar sekali Gusar bukan karena orang aneh menangkap Lie Ceng Loan, melainkan sebab miliknya telah direbut orang.

Co Hiong terus berpikir, akhirnya ia mengambil keputusan untuk meninggalkan gua itu kembali ke istana Pit Sia Kiong, ia ingin bertanya pada Kim Hun Tokouw tentang orang aneh dalam gua itu, Setelah mengambil keputusan tersebut, ia pun berendap-endap meninggalkan gua itu.

Co Hiong sudah sampai di istana Pit Sia Kiong, Ketika berjalan menuju kamarnya, ia melihat Souw Peng Hai, gurunya sedang duduk menghimpun hawa murni

"Guru!" panggilnya.

Souw Peng Hai membuka matanya, Begitu melihat Co Hiong, wajahnya tampak berseri

"Oh, Co Hiong! Engkau sudah pulang, bagaimana hasil perjalananmu itu?" tanya Souw Peng Hai.

"Aku sudah bertemu Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan," jawab Co Hiong memberitahukan "Mereka berdua sedang menuju ke mari."

"Oh?"

"Guru! Bagaimana keadaan di sini selama aku berpergian?"

"Biasa saja, Sejak engkau pergi, aku pun tidak pernah bertemu Kim Hun Tokouw."

Souw Peng Hai sudah menyaksikan air muka Co Hiong agak gugup, Biasanya Co Hiong menghadapi sesuatu dengan tenang, tapi kali ini kenapa tampak gugup?

"Anak Hiong!" Souw Peng Hai menatapnya "Engkau telah mengalami kejadian apa?" "Aku telah bertemu Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan," jawab Co Hiong merendahkan suaranya.

"Apakah engkau telah terluka di tangan mereka?" tanya Souw Peng Hai dengan air muka berubah.

"Aku memang telah terluka, tapi berhasil membawa Lie Ceng Loan ke mari, hanya. "

"Kenapa?" Souw Peng Hai tampak tegang.

"Setelah memasuki sebuah lembah di GunungTaysan ini, Lie Ceng Loan justru ditangkap orang." Co Hiong memberitahukan

"Apa?" Souw Peng Hai terperangah, "Mungkinkah perbuatan Kim Hun Tokouw?"

"Maka aku ingin pergi bertanya padanya." "Kalau begitu, mari kita pergi menemuinya!" "Baik."

Mereka berdua segera meninggalkan kamar itu. Ketika sampai di koridor, terdengarlah suara tawa cekikikan Mereka berdua tahu, itu suara tawa para pelayan istana Pit Sia Kiong, Mendadak terdengar pula suara teguran.

"Kalian jangan terus tertawa, beberapa hari ini Kiong Cu tampak kesal dan sering marah-marah tidak karuan! Hati- hatilah kalian!"

Suara tawa itu langsung berhenti, berselang sesaat terdengar lagi suara pembicaraan

"Coba kalian pikir, aneh apa tidak urusan itu?"

Mendengar itu, Co Hiong segera berhenti sambil memberi isyarat pada gurunya.

Souw Peng Hai mengangguk, lalu melesat ke pojok koridor, begitu pula Co Hiong, Ternyata mereka berdua ingin mencuri dengar pembicaraan para pelayan itu, sesungguhnya tindakan itu tidak pantas bagi Souw Peng Hai, namun ia sangat licik, maka tidak mempedutikannya.

Memang cocok guru dan murid itu, sama-sama licik, jahat dan sama-sama banyak akal busuk. Oleh karena itu, mereka berdua dapat bekerja sama secara baik.

"Maksudmu urusan apa?"

"Biasanya Kiong Cu amat dingin dan jarang marah-marah.

Tapi kini sering marah-marah, bukankah aneh sekali?"

"Tentu karena Pek Yun Hui! Walau telah terkurung dalam ruang api, namun dia masih selamat Mungkin karena itu, maka majikan kita sering marah-marah!"

"Hm!" Terdengar suara dengusan "Justru bukan karena Pek Yun Hui."

"Kalau begitu karena apa?"

"ltu.,.," pelayan yang menjawab itu merendahkan suaranya,"... karena Bee Kun Bu."

Begitu mendengar itu, Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak tertegun Mereka berdua saling memandang sejenak dan terus mendengarkan dengan penuh perhatian

"Engkau jangan omong sembarangan! Kalau omongan-mu sampai ke telinga majikan, engkau pasti celaka."

"Aku berkata sesungguhnya, penjara di istana ini telah mengurung begitu banyak orang. Namun pernahkah kita melihat Kiong Cu pergi menengok para tahanan? Kali ini justru luarbiasa, satu hari entah berapa kali Kiong Cu pergi menengok Bee Kun Bu."

"Guru!" ujar Co Hiong dengan suara rendah, "Pantas wanita jalang itu melarang kita membunuh Bee Kun Bu, ternyata ada maksud tertentu dibalik itu." "Betul." Souw Peng Hai mengangguk sambil tersenyum "ltu ada baiknya."

"Kenapa?" tanya Co Hiong.

"Seandainya jatuh hati pada Bee Kun Bu, Lam Kiong Siu pasti menyingkirkan saingannya, Kebetulan ke dua wanita Kwat Cong San itu musuh besar kita, Nah, bukankah kita cuma tinggal duduk menonton mereka ber-tempur?" jawab Souw Peng Hai menjelaskan

"Tidak salah." Co Hiong manggut-mangguL

Seusai mereka berdua berbicara, tampak pula beberapa gadis muncul di koridor itu, Segeralah Co Hiong melesat ke luar ke hadapan sambil tersenyum-senyum

"Kakak-kakaksekalian!" ujarnya lembut "Kami ingin bertemu Kiong Cu kalian, ada urusan penting yang harus kami rundingkan dengannya, harap kakak-kakak sudi melapor padanya!"

"Kalau kalian berdua tiada urusan yang penting sekali, lebih baik jangan menemui Kiong Cu!" sahut salah seorang pelayan

jawaban itu amat menggusarkan Souw Peng Hai. Namun ketika ia baru mau melampiaskan kegusarannya,

Co Hiong sudah berkata lagi.

"Kakak, kami memang punya urusan penting, tolong beritahukan pada Kiong Cu kalian, bahwa kami telah bertemu Na Siao Tiap, Kiong Cu kalian pasti mau menemui kami."

"Kalau begitu... baiklah! Kami akan memberitahukan pada Kiong Cu," ujar pelayan itu. "Kalian berdua boleh ikut kami."

Beberapa pelayan itu melangkah ke dalam, Souw Peng Hai dan Co Hiong mengikuti mereka dari belakang.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu, Souw Peng Hai dan Co Hiong tahu, bahwa di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan yang dindingnya dilapisi kaca, itu boleh dikatakan ruang rapat, sebab sudah beberapa kali mereka berdua memasuki ruangan itu untuk merundingkan sesuatu dengan Kim Hun Tokouw- Lam Kiong Siu.

Salah seorang pelayan mendekati pintu itu, lalu mengetuk perlahan dua kali, Dari dalam langsung terdengar suara bentakan

"Kalian cepat enyah! siapapun tidak boleh masuk!" itu adalah suara Kim Hun Tokouw.

"Kiong Cu!" Pelayan itu memberitahukan "Souw Peng Hai dan muridnya ingin bertemu, karena ada urusan penting."

"Aku tidak ingin bertemu siapa pun lain hari saja!" sahut Kim Hun Tokouw dari dalam ruang itu.

pelayan itu menoleh memandang Souw Peng Hai dan Co Hiong lalu menggeleng-geleng kepala, pertanda Kiong Cu tidak mau menemui mereka.

Souw Peng Hai tampak gusar sekali, dan mendadak memukul lantai dengan tongkatnya.

Bummm!

"Kim Hun Tokouw!" serunya lantang. "Na Siao Tiap sudah menuju ke mari, Dia adalah salah seorang wanita Kwat Cong San. Anak Hiong bertemu dia di tengah jalan Wanita itu berkepandaian tinggi, maka kita harus berunding tentang itu."

"Kalau begitu, kalian berdua boleh masuk," sahut Kim Hun Tokouw.

Co Hiong membuka pintu itu. Tampak Kim Hun Tokouw duduk di kursi dengan kening berkerut-kerut, sepertinya sedang memikirkan suatu masalah. Ketika melihat Co Hiong dan Souw Peng Hai melangkah masuk, ia masih tampak malas-malasan, cuma manggut-manggut ke arah mereka.

"Kalian duduklah!" ucapnya setelah Souw Peng Hai dan Co Hiong berada di hadapannya. Souw Peng Hai dan Co Hiong mengangguk, lalu duduk di hadapan Kim Hun Tokouw.

"Kapan Na Siao Tiap itu akan sampai di sini?" tanya Kim Hun Tokouw.

"Mungkin dalam satu dua hari ini," jawab Co Hiong dan menambahkan "Walau dia sampai di Gunung Taysan ini, belum tentu dia dapat menemukan istana Pit Sia Kiong."

"Kalau pun menemukan juga tidak apa-apa," ujar Kim Hun Tokouw, "Bukankah Pek Yun Hui yang amat terkenal itu telah terkurung di sini?"

Ucapan Kim Hun Tokouw bernada menyindir Souw Peng Hai yang tampak ketakutan itu membuat wajah Souw Peng Hai langsung memerah, sedangkan Co Hiong cuma tersenyum-senyum

"Tidak salah apa yang Tokouw katakan." ujar Co Hiong. "Tunggu dia ke mari baru kita bicarakan," sahut Kim Hun

Tokouw sambil tertawa hambar.

itu berarti Kim Hun Tokouw mengusir mereka ber-dua.

Mendengar itu Co Hiong tertawa, sekaligus memberitahukan

"Di tengah jalan, selain bertemu Na Siao Tiap, aku pun bertemu Lie Ceng Loan. "

"Lie Ceng Loan? Siapa gadis itu?" tanya Kim Hun Tokouw. "Dia Sumoy Bee Kun Bu," jawab Co Hiong sambil

memperhatikan air muka Kim Hun Tokouw.

"Oh!" Air muka Kim Hun Tokouw tampak berubah, "Gadis yang amat mencintai Bee Kun Bu itu?"

"Betul." Co Hiong mengangguk "Aku telah menangkap gadis itu, dan sekaligus membawanya ke mari."

"Cepat bawa dia ke mari, aku ingin lihat macam apa gadis itu, kenapa Bee Kun Bu begitu mencintainya?" Co Hiong tertawa dingin dalam hati, kemudian memberitahukan

"Ketika sampai di gunung Taysan ini, ia justru diculik orang."

"Apa?" Kening Kim Hun Tokouw berkerut "Siapa yang begitu berani berbuat semaunya di gunung Taysan ini?"

"Aku justru ingin bertanya pada Tokouw, siapa orang itu?"

Co Hiong tersenyum getir

"Apakah bukan orang istana Pit Sia Kiong?" tanya Kim Hun Tokouw.

"Bukan." Co Hiong memberitahukan "Tapi aku tidak melihat jelas raut wajahnya."

"Di mana orang itu?" "Di dalam gua."

Semula Kim Hun Tokouw tampak malas-malasan dan duduk bersandar, namun ketika Co Hiong memberitahukan bahwa orang itu ada di dalam gua, ia langsung duduk tegak seraya bertanya.

"Gua mana?"

Begitu menyaksikan Kim Hun Tokouw yang tampak serius, tereenganglah Co Hiong. Sebab selama ia tinggal di istana Pit Sia Kiong, belum pernah menyaksikan Kim Hun Tokouw begitu serius, Karena itu, Co Hiong jadi tertegun sehingga tidak menjawabnya.

"Gua yang mana?" tanya Kim Hun Tokouw lagi.

"Di dalam sebuah lembah yang banyak tebing curam, juga terdapat kabut yang sangat tebal." Co Hiong memberitahukan

Setelah mendengar itu, wajah Kim Hun Tokouw langsung berubah, dan mendadak ia bangkit berdiri sambil mengibaskan tangannya, Terdengarlah suara hiruk pikuk, sebab semua cangkir dan teko yang ada di atas meja jatuh pecah berantakan

"Ketika kalian berdua ke mari, aku pun menegaskan janganlah kalian berkeliaran sembarangan di gunung Taysan ini, Kenapa kalian masih ke lembah itu? Dan cara bagaimana kalian memasuki gua itu?" bentak Kim Hun Tokouw gusar, wajahnya pun berubah merah padam

"Omong kosong!" sahut Souw Peng Hai. "Kenapa kami tidak boleh jalan-jalan di gunung Taysan ini? kalaupun terjadi sesuatu, itu tanggung jawab kami berdua!"

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa dingin "Tang-gung jawab kalian berdua? Kalau kalian memang bertanggung jawab, kenapa harus bersembunyi di istana Pit Sia Kiongku ini?"

"Dasar perempuan jalang!" bentak Souw Peng Hai. "Engkau berani memandang rendah diriku?"

Memang sudah lama Souw Peng Hai menyimpan kekesalan di dalam hati, namun saat ini justru meledak, bahkan langsung menyerang Kim Hun Tokouw dengan toyanya, ia mengeluarkan jurus Huan Thian To Hai (Membalikkan Langit Menggali Laut).

"Hei!" bentak Kim Hun Tokouw, "Souw tua, engkau ingin cari mampus ya?"

Kim Hun Tokouw menggerakkan lengannya, dan seketika juga melayang sehelai selendang melilit ujung toya Souw Peng Hai.

Yang paling kalut adalah Co Hiong. Begitu melihat ke dua orang itu bertempur, ia cepat-cepat menyingkir seraya berteriak-teriak.

"Kim Hun Tokouw, Guru! Urusan berada di depan mata, kenapa kalian berdua malah bertempur?"

Kim Hun Tokouw dan Souw Peng Hai sama sekali tidak mendengarkan suara teriakan Co Hiong, dan masih terus bertarung, Beberapa jurus kemudian, selendang Kim Hun Tokouw berhasil melilit ujung toya Souw Peng Hai. Terjadilah adu tarik-menarik yang disertai Lwee-kang.

Souw Peng Hai mengerahkan tenaga keras, sedangkan Kim Hun Tokouw mengerahkan tenaga lunak.

"Hiyaaaat!" teriak Souw Peng Hai. "Eiiit!" teriak Kim Hun Tokouw.

Mereka mengerahkan Lweekang masing-masing, sehingga lilitan selendang di ujung toya itu terlepas, dan menyebabkan Souw Peng Hai dan Kim Hun Tokouw mundur beberapa langkah.

Melihat mereka berdua telah terpisah beberapa langkah, Co Hiong segera maju dan berdiri di tengah-tengah mereka.

"Kim Hun Tokouw, adat guruku memang begitu, mohon Kim Hun Tokouw sudi memaafkannya!" ucap Co Hiong sambil memberi isyarat pada gurunya agar segera pergi meninggalkan tempat itu.

"He he!" Souw Peng Hai tertawa dingin, "Anak Hiong, mari kita pergi!"

"Mau pergi?" ujar Kim Hun Tokouw dingin, "Tidak begitu gampang!"

"Engkau boleh coba!" tantang Souw Peng Hai.

Co Hiong melihat mereka berdua mau bertempur lagi, kacaulah hatinya, ia memang membenci Kim Hun Tokouw, namun ia pun tahu akan keadaan, Kalau saat ini terjadi lagi pertempuran, itu berarti mencari penyakit.

"Guru!" ujarnya dengan suara dalam, "Sudahlah, jangan ribut lagi! Kalau guru dan Kim Hun Tokouw bermusuhan, pihak lainlah yang akan beruntung."

"Co Hiong, engkau telah menimbulkan bencana! Kenapa masih mau meleraikan pertempuran ini?" ujar Kim Hun Tokouw dingin. "Apa?" tertegun Co Hiong, "Aku telah menimbulkan bencana?"

"Hmm!" dengus Kim Hun Tokouw dingin, "Nanti engkau akan mengetahuinya, bahkan aku pun terbawa-bawa pula!"

Co Hiong mengerutkan kening, ia tahu yang Kim Hun Tokouw maksudkan adalah orang aneh dalam gua itu.

"Apakah berkaitan dengan gua itu? Tapi aku justru telah membuat suatu jasa untukmu," sahut Co Hiong.

"Jasa?" Kim Hun Tokouw melotot "Engkau telah menimbulkan bencana, kok masih bilang membuat suatu jasa?"

Co Hiong tertawa panjang, lalu menjawabnya.

"Aku menculik Lie Ceng Loan ke mari, namun akhirnya jatuh ke tangan orang aneh dalam gua, Nah, Kim Hun Tokouw, cobalah berpikir! Aku telah menimbulkan bencana atau telah berbuat suatu jasa?"

Kim Hun Tokouw tampak tertegun, ia melangkah mundur kemudian duduk di kursinya, Kelihatannya ia terus berpikir

"Benar, Apa yang engkau katakan memang masuk akal," ujarnya sambil tertawa.

"Ha ha!" Co Hiong juga tertawa, "Kim Hun Tokouw, bagaimana mungkin aku akan menimbulkan suatu bencana untukmu?"

"Sekarang kalian boleh pergi, kalau ada urusan pen-ting, aku pasti memanggil kalian," ujar Kim Hun Tokouw sambil mengibaskan tangannya, agar mereka berdua segera meninggalkan ruang itu.

Co Hiong memandang gurunya sambil memberi isyarat lalu ujarnya dengan suara rendah.

"Guru, mari kita pergi!" "Apakah kita masih bisa tinggal di istana Pit Sia Kiong ini?" sahut Souw Peng Hai dengan suara keras.

"Guru!" Co Hiong tertawa, "lni cuma salah penger-tian, kenapa harus disimpan dalam hati? Kini Kim Hun Tokouw sudah paham, pasti berlaku baik pada kita, Tentunya guru juga mengerti kan?"

"Hm!" dengus Souw Peng Hai, lalu meninggalkan ruang itu bersama Co Hiong, Setelah berada di luar, Souw Peng Hai berbisik "Anak Hiong, ucapanmu tadi mengandung arti apa sehingga dapat meredakan kegusaran wanita jalang itu?"

"Guru!" Co Hiong tertawa, "Wanita jalang itu menaruh minat pada Bee Kun Bu, sedangkan aku secara tidak langsung telah membantunya menghabiskan Lie Ceng Loan, itu sangat menyenangkan hatinya."

"Oooh!" Souw Peng Hai manggut-manggut, "Oh ya, sebetulnya siapa orang aneh di dalam gua itu?"

"Aku justru tidak tahu sama sekali, Guru, Bagaimana kalau kita pergi menyelidikinya?" usul Co Hiong.

"Anak Hiong, rasanya tidak baik kita menimbulkan masalah lain lagi," sahut Souw Peng Hai tidak setuju.

"Guru! Kita sudah ribut dengan Kim Hun Tokouw, kalau ingin melawannya, kita harus ke gua itu."

"Maksudmu orang aneh di dalam gua itu akan membantu kita melawan Kim Hun Tokouw?"

"Benar."

"Kalau begitu, kita harus ke gua itu?"

"Lebih cepat lebih baik, Kita berangkat sekarang saja." "Ngmm!" Souw Peng Hai manggut-manggut "Baik-tah.

Mari kita ke sana sekarang agar tidak membuang waktu!"

Bagian ke empat puluh dua Menyelidiki Gua Souw Peng Hai dan Co Hiong meninggalkan istana Pit Sia Kiong, menuju gua di lembah kabut

Lima enam mil kemudian, Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak mengerutkan kening, ternyata mendadak mereka mendengar suara orang di belakang mereka.

"Ayoh cepat! Kiong Cu sudah pesan, kita harus segera sampai di sana! Kenapa kalian berjalan begitu lamban?" Suara gadis.

Souw Peng Hai dan Co Hiong tertegun, Mereka segera menoleh ke belakang, tampak empat gadis berbaju hijau menggotong sebuah keranjang besar Tampak pula seorang wanita berjalan di belakang mereka, wanita itu mirip Cap Kouw.

"Kita bersembunyi du!u!" bisik Souw Peng Hai.

Mereka berdua langsung melesat ke belakang sebuah pohon. sedangkan ke empat gadis dan wanita itu berjalan tergesa-gesa, sama sekali tidak tahu ada dua orang bersembunyi di belakang pohon.

Setelah mereka berjalan belasan depa, barulah Souw Peng Hai dan Co Hiong muncul

"Guru, mari kita ikuti mereka!" ajak Co Hiong. "Ng!" Souw Peng Hai mengangguk

Mereka berdua lalu menguntit gadis-gadis itu dengan ilmu peringan tubuh, agar tidak menimbulkan suara, Tak seberapa lama kemudian, wajah Co Hiong tampak terheran-heran.

"Guru, kelihatannya mereka menuju gua itu," bisik Co Hiong.

"Kelihatannya memang begitu." Souw Peng Hai mengangguk

Mereka berbicara dengan suara rendah, namun Cap Kouw itu tampak seakan mendengar suara mereka, dan langsung berhenti Souw Peng Hai dan Co Hiong tentunya tidak takut terhadap Cap Kouw itu, apa lagi dalam keadaan begini Namun mereka berdua ingin tahu apa yang akan dilakukan orang- orang istana Pit Sia Kiong itu, maka tidak mau menimbulkan urusan.

Ketika Cap Kouw berhenti Souw Peng Hai dan Co Hiong cepat-cepat melesat ke belakang pohon untuk bersembunyi

"Siapa kalian?" bentak Cap Kouw.

Co Hiong meleletkan lidahnya ia tidak menyangka wanita itu begitu lihay pendengarannya.

Seusai membentak, Cap Kouw maju beberapa depa sambil menengok ke sana ke mari Karena tidak melihat apa- apa ia lalu bergumam

"Eh? Apakah aku salah dengar?"

Cap Kouw mengerutkan kening, berselang sesaat barulah melangkah pergi dengan wajah penuh keheranan

Setelah Cap Kouw pergi jauh, Souw Peng Hai dan Co Hiong keluar, lalu menguntit mereka lagi Kali ini mereka berdua lebih berhati-hati, agar Cap Kouw tidak mendengar suara langkah mereka.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang penuh kabut tebal Gadis-gadis itu dan Cap Kouw terus berjalan menerobos kabut tebal itu, sedangkan Souw Peng Hai dan Co Hiong terus menguntit mereka.

Cap Kouw dan ke empat gadis itu berhenti di samping gua.

Air muka mereka tampak tegang sekali Begitu Cap Kouw memberi isyarat, ke empat gadis segera menaruh keranjang yang mereka pikul itu ke bawah, lalu mundur belasan depa.

"Lo Sian Ong (Dewa Tua), kami membawa makanan ke mari!" seru Cap Kouw, "Kali ini kami membawa makanan istimewa, harap Lo Sian Ong sudi menerima-nya!" Seusai Cap Kouw berseru begitu, terdengarlah suara "Bum! Bum! Bum!" tiga kali di dalam gua.

Ketika mendengar suara itu, air muka Cap Kouw tampak berubah, dan tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Souw Peng hai dan Co Hiong tahu bahwa kepandaian Cap Kouw melebihi kepandaian Kim Hun Tokouw, Namun saat ini Cap Kouw tampak agak ketakutan, itu membuat Souw Peng Hai dan Co Hiong terheran-heran.

"Guru, Cap Kouw memanggil Lo Sian Ong pada orang aneh di dalam gua, apakah guru tahu siapa Lo Sian Ong itu?" tanya Co Hiong dengan suara rendah.

"Guru tidak tahu," sahut Souw Peng Hai sambil menggelengkan kepala.

Co Hiong masih ingat Ketika ia terluka di dekat Kuil Toa Ciok Sie. Dirinya justru terhisap oleh tenaga orang aneh di dalam gua, namun kemudian memperoleh ilmu silat Sam Im Sin Ni dari buku catatan peninggalan Sam Im Sin Ni tersebut Siapa orang aneh di dalam gua itu, tiada seorang pun yang tahu, maka ketika gurunya bilang tidak kenal siapa Lo Sian Ong itu, Co Hiong pun tidak merasa heran lagi.

"Lo Sian Ong!" Terdengar suara seruan Cap Kouw, "Kiong Cu kami tahu engkau sangat gusar, maka ia berjanji akan menangkap bocah itu untuk dibawa ke mari, agar Lo Sian Ong menghisap darahnya! Kini Kiong Cu masih membiarkannya hidup, namun beberapa hari. "

Mendengar sampai di situ, Co Hiong terkejut bukan main, ia tahu bocah yang dimaksudkan Cap Kouw itu adalah dirinya, Tentunya Cap Kouw tidak bicara main-main.

Sungguh licik Kim Hun Tokouw itu, kelicikannya melebihi Co Hiong! pikir pemuda itu dan bersyukur telah mendengar ucapan Cap Kouw. Yang paling mengejutkan Co Hiong, yakni orang aneh dalam gua punya kebiasaan menghisap darah orang, Apakah orang aneh dalam gua itu iblis penghisap darah?

Tiba-tiba hatinya tersentak Lie Ceng Loan telah jatuh ke tangan orang aneh itu, mungkinkah darah gadis itu telah dihisap oleh orang aneh tersebut? Berpikir sampai di situ, Co Hiong pun merinding.

"Anak Hiong!" bisik Souw Peng Hai mendadak "Orang aneh yang ada di dalam gua itu, pasti mengidap semacam racun yang bersifat dingin, Racun itu belum punah dari tubuhnya, maka ia harus menghisap darah orang untuk menghangatkan badannya, Tapi mungkin juga dia sedang melatih semacam ilmu, karena itu, dia membutuhkan darah segar."

"Guru! Kalau begitu Lie Ceng Loan "

"Lie Ceng Loan telah jatuh di tangannya, tentunya sulit hidup lagi," sahut Souw Peng Hai.

Co Hiong diam saja, ia tidak berani memperlihatkan reaksi apa pun di hadapan gurunya.

sementara Cap Kouw mengibaskan tangannya, ke empat gadis itu segera mendekati keranjang itu, kemudian membuka tutupnya.

seketika juga tampak dua ekor ular yang amat besar merayap ke Iuar. Mendadak dua gadis berbaju hijau mencengkeram kepala ke dua ekor ular itu, Kedua ekor ular itu meronta, sehingga ke dua gadis itu harus mengerahkan tenaganya untuk memegang ular-ular tersebut

Akan tetapi, ke dua gadis itu tampak kewalahan Ternyata ke dua ekor ular tersebut memiliki tenaga besar Dua gadis berbaju hijau lain langsung maju, maksud mereka ingin membantu.

Namun ketika mereka baru mendekati, salah seekor ular itu telah mengibaskan ekornya menghantam bahu salah seorang gadis tersebut Gadis itu tidak sempat berkelit, bahunya terhajar oleh ekor ular itu sehingga badannya terpental beberapa depa.

Buuuk! Gadis itu jatuh duduk.

Gadis yang satu lagi ingin mundur, tapi Cap Kouw sudah membentak sambil melesat ke arah keranjang.

"Jangan mundur!" Cap Kouw menjulurkan tangannya menangkap ekor ular itu.

Mereka membawa ular itu ke depan gua, lalu dilemparkan ke dalam, Begitu pula ular yang satu lagi, juga dilemparkan ke dalam gua tersebut Setelah itu, mereka mundur sambil menarik nafas lega.

Sesss! Sessss! Terdengar suara seperti orang menghisap sesuatu. Berselang beberapa saat kemudian, tampak melayang ke luar sesuatu dari dalam gua.

Souw Peng Hai dan Co Hiong yang bersembunyi di belakang pohon segera menegaskan, ternyata ular besar yang dilempar ke dalam tadi.

Kini ular besar itu tampak lemah sekali, nafas nya pun sudah empas-empis seakan sudah hampir mati. Di leher ular itu terdapat bekas gigitan, berarti orang aneh di dalam gua telah menggigit leher ular itu untuk menghisap darah nya.

Souw Peng Hai dan Co Hiong terkejut sekali menyaksikan itu, sebab tenaga ular itu amat besar, namun orang aneh di dalam gua mampu menggigit lehernya, sekaligus menghisap darahnya pula, itu membuktikan bahwa orang aneh di dalam gua memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Co Hiong memandang gurunya sambil tertawa, ia menunjuk Cap Kouw lalu menggerakkan tangannya memberi kode pada gurunya.

"Memang begitu." Souw Peng Hai manggut-manggut Tak lama kemudian, ular itu mati. Cap Kouw dan beberapa gadis itu segera meninggalkan tempat tersebut

Sebelum Cap Kouw menerobos ke luar kabut tebal itu, mendadak ia merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, ia ingin berkelit tapi sudah tidak keburu.

Ternyata Souw Peng Hai menyerangnya dengan ilmu Kan Goan Cih, dan seketika juga Cap Kouw merasa dadanya sakit sekali, Matanya pun berkunang-kunang dengan badan sempoyongan dan akhirnya terkulai

Kejadiannya begitu cepat, sehingga beberapa gadis itu terheran-heran tidak tahu apa yang telah terjadi Pada saat bersamaan, Souw Peng Hai meloncat ke luar dari balik batu, dan langsung menyerang gadis-gadis itu dengan jurus Liong Bun Sam Cok (Pintu Naga Buka Tiga Kali).

Gadis-gadis itu memang berkepandaian cukup tinggi, namun tetap tidak mampu melawan Souw Peng Hai. jurus itu telah menotok jalan darah gadis-gadis itu, sehingga mereka tidak bisa bergerak sama sekali.

Co Hiong memunculkan diri, lalu membawa salah satu gadis itu ke depan gua.

"Lo Sian Ong, kami pun membawa makanan yang lebih lezat dari pada makanan tadi!" serunya.

Usai berseru, Co Hiong lalu membuka jalan darah gadis itu, Gadis itu memandang Co Hiong seraya berkata.

"Co Hiong, engkau masih ingat padaku?"

Co Hiong menundukkan kepala memandang gadis itu, Co Hiong tertegun, karena gadis itu pernah membantunya menyuruh Bee Kun Bu menulis sepucuk surat untuk Lie Ceng Loan. "Oooh!" Co Hiong tertawa manis, "Ternyata engkau! Tentu aku masih ingat, kalau tidak, bagaimana mungkin aku akan mengantarmu ke dalam gua duluan?"

"Engkau binatang!" Caci gadis itu dan menyumpah "Aku mati pasti jadi arwah penasaran untuk menuntut balas padamu!"

"Oh, ya?" Co Hiong tersenyum lebih manis lagi, bahkan tangannya menowel pipi gadis itu, kemudian mendadak melempar gadis itu ke dalam gua. "Lo Sian Ong, nikmatilah perlahan-Iahan! Masih ada tiga lagi!"

Betapa kejam dan sadisnya hati Co Hiong. ia me nunggu orang aneh di dalam gua melempar keluar mayat gadis itu, setelah itu ia pun akan melempar gadis lain ke dalam gua tersebut

sementara Souw Peng Hai juga tersenyum-senyum. Guru dan murid itu memang sama berhati kejam serta sadis, Kemudian Souw Peng Hai memandang Cap Kouw yang masih tergeletak di tanah, Wanita itu telah terluka parah, dan sudah pasrah menunggu mati.

Souw Peng Hai tahu bahwa Cap Kouw sudah tidak mampu kabur, maka tidak begitu mem pe rhat ikan nya, malah melesat ke sisi Co Hiong.

"Anak Hiong, bagaimana keadaan?" tanyanya berbisik "Orang aneh dalam gua memang penghisap darah, maka

kalau kita melempar ke dalam beberapa anak gadis, tentunya

dia akan terkesan baik pada kita," sahut Co Hiong sambil tersenyum.

"Menurut pandangan guru, orang aneh itu bisa begitu cepat menghisap darah ular itu, pertanda tidak mengidap semacam racun, melainkan sedang melatih semacam ilmu," ujar Souw Peng Hai dan menambahkan "Kalau dia bersedia membantu kita, sudah pasti sangat menguntungkan kita." Co Hiong tertawa gembira, Akan tetapi, di dalam gua masih tidak terdengar suara apa pun.

itu membuat Souw Peng Hai dan Co Hiong terheran heran, sebab tadi ular yang dilemparkan Cap Kouw, begitu cepat dilempar keluar lagi, Namun kenapa kali ini begitu lama?

Di saat mereka termangu, mendadak terdengar suara yang amat keras di dalam gua, menyusul melayang ke luar sebuah batu yang amat besar mengarah pada mereka berdua, Co Hiong langsung berkelit

Buuuk! Batu itu jatuh di hadapan mereka.

Souw Peng Hai dan Co Hiong saling memandang, Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa maksudnya.

Setelah itu, mereka memandang ke arah batu tersebut Ternyata di batu itu terukir beberapa huruf.

Mereka berdua segera melesat ke arah batu itu, lalu membaca huruf-huruf tersebut "Masih mau", begitu bunyi huruf yang terukir pada batu itu.

Souw Peng Hai tampak terkejut Yang mengejutkannya bukan huruf-huruf itu, melainkan ukirannya yang cuma menggunakan jari tangan, Souw Peng Hai memiliki ilmu Kan Goan Cih yang amat luar biasa, tapi ilmu jari telunjuknya orang aneh di dalam gua itu juga amat luar biasa, melebihi ilmu Kan Goan Cih tersebut

"Guru!" Wajah Co Hiong tampak berseri "Dia masih mau!" "Lemparkan saja gadis-gadis itu ke dalam!" sahut Souw

Peng Hai.

Co Hiong segera membawa gadis lain yang tertotok, lalu dilemparkannya ke dalam gua itu. Tak seberapa lama, terdengarlah suara di dalam gua.

"Diantara kalian, siapa yang bernama Bee Kun Bu?" Souw Peng Hai dan Co Hiong tampak tertegun, bahkan merasa heran, karena orang aneh dalam gua mengetahui nama tersebut

"Aku!" sahut Co Hiong setelah berpikir sejenak

"Anak Hiong!" Souw Peng Hai terperanjat "Kenapa engkau mengaku Bee Kun Bu?"

"Saat ini aku tidak bisa mengemukakan alasan apapun, tapi menurut aku, pasti ada sebab musababnya orang aneh itu bertanya begitu," sahut Co Hiong.

" Engkau boleh masuk, aku tidak akan membunuh-mu," ujar orang aneh di dalam gua.

Co Hiong tertegun ia tidak tahu harus masuk ke dalam atau tidak? Souw Peng Hai tahu akan keraguan muridnya, maka segera berbisik

"Anak Hiong, jangan menempuh bahaya!" Co Hiong justru malah tersenyum, kelihatannya ia telah mengambil suatu keputusan

"Guru, tanpa memasuki gua macan, bagaimana mungkin mendapat anaknya?" sahut Co Hiong serius, "Kalau aku mati di dalam gua, harap Guru baik-baik menjaga diri, dan berhati- hati terhadap Kim Hun Tokouw!"

"Anak Hiong. " Souw Peng Hai terharu mendengar

ucapan muridnya itu. "Guru sudah tua, suatu hari nanti pasti mati, Engkau masih muda, kelak harus memimpin partai Thian Liong, oleh karena itu, engkau harus berhati-hati!" "Ya, Guru." Co Hiong mengangguk, namun tertawa dingin dalam hati. seandainya partai Thian Liong bisa bangun lagi, ia pun akan mencari jalan untuk membunuh Souw Peng Hai, agar dirinya bisa jadi pemimpin

"Anak Hiong, ingat ya! Engkau harus berhati-hati!" pesan Souw Peng Hai lagi, ia sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan muridnya itu. Co Hiong mengangguk lagi, lalu melangkah me masuki gua itu seraya berseru.

"Lo Sian Ong, aku Bee Kun Bu masuk ke dalam!" sedangkan Souw Peng Hai menunggu di luar dengan hati kebat-kebit, Rasanya ingin sekali menerjang ke dalam gua untuk melindungi murid kesayangannya itu.

Namun ia tetap bersabar Walau sudah cukup lama Co Hiong masuk ke dalam gua, tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun

"Haaaah...?" Tiba-tiba ada suara anak gadis di belakang Souw Peng Hai, "Cepat pergi lapor pada Kiong Cu, bahwa di sini telah terjadi sesuatu!"

Tampak dua gadis melesat pergi, Souw Peng Hai tahu bahwa ke dua gadis itu diutus Kim Hun Tokouw ke tempat tersebut, maka bagaimana mungkin ia membiarkan mereka meninggalkan tempat itu?

Souw Peng Hai membentak keras, kemudian mendadak mengayunkan toyanya, seketika juga toyanya meluncur cepat ke arah ke dua gadis itu.

Kedua gadis itu sudah mendengar suara desiran toya tersebut, maka cepat-cepat mereka berkelit

Akan tetapi, salah satu gadis itu terlambat, toya itu meluncur ke punggungnya.

Cesss! Toya itu menancap di punggung gadis tersebut, bahkan tembus ke dadanya.

HAaaakh. " jerit gadis itu lalu terkulai, dan nyawanya pun

melayang seketika.

sedangkan gadis yang satu lagi sudah berhasil menerobos ke dalam kabut tebal. pada waktu bersamaan, Souw Peng Hai pun melesat ke tempat itu laksana kilat cepatnya, dan sekaligus menyambar toyanya yang menancap di badan gadis itu.

Souw Peng Hai yakin bahwa gadis yang satu itu belum kabur jauh, maka segeralah ia memutarkan toyanya dengan jurus Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuafn Prajurit).

Toya Souw Peng Hai mengeluarkan suara menderu-deru, membuyarkan kabut tebal itu. Kalau gadis itu berada dalam jarak beberapa depa, pasti sudah tersambar angin pukulan toya itu.

Akan tetapi, Souw Peng Hai tidak mendengar suara apa pun. ia penasaran sekali, dan langsung menerjang ke depan, Walau sudah melewati kabut tebal itu, tapi matanya tidak melihat siapa pun berada di situ.

Souw Peng Hai tertegun, sesungguhnya ia tidak takut pada Kim Hun Tokouw, namun kalau Kim Hun Tokouw tahu bahwa itu adalah perbuatan mereka guru dan murid, tentunya Kim Hun Tokouw tidak akan menyudahi urusan itu begitu saja.

Apabila ia berhasil membunuh para gadis yang diluluskan itu, paling juga Kim Hun Tokouw cuma bereuriga, sebaliknya kalau gadis yang satu itu berhasil kabur dan melapor pada Kim Hun Tokouw, tentunya urusan akan jadi lain.

seandainya satu lawan satu, Souw Peng Hai sama sekali tidak akan merasa gentar sedikit pun. Akan tetapi, di dalam istana Pit Sia Kiong masih terdapat banyak gadis lain yang berkepandaian tinggi. seandainya mereka mengeroyok Souw Peng Hai pasti kewalahan

Karena tidak melihat gadis yang kabur itu, Souw Peng Hai tampak gusar sekali, ia menghimpun Lweekangnya, lalu memukul ke sana ke mari agar gadis itu muncul dari tempat persembunyian nya.

Gadis yang kabur itu memang cerdik, setelah tahu temannya mati tertembus toya Souw Peng Hai, ia yakin Souw Peng Hai pasti mengejarnya, Karena itu, ia tidak lari ke depan, melainkan memutarkan badannya bersembunyi di belakang sebuah batu besar, sedangkan Souw Peng Hai mengiranya kabur ke depan, maka terus mengejar ke depan.

sementara Souw Peng Hai masih terus memukul ke sana ke mari, tapi tidak memperoleh hasil apa pun. Sebab tetap tidak tampak, gadis yang dicari nya. Tiba-tiba ia teringat akan murid kesayangannya yang memasuki gua, ia harus segera kembali ke sana, Ketika ia baru memutarkan badannya, terdengarlah suara bentakan yang amat dingin.

"Souw tua, sungguh bagus perbuatanmu!" Ternyata suara Kim Hun Tokouw.

Souw Peng Hai terkejut ia tidak menyangka Kim Hun Tokouw akan muncul di situ, pertarungan pasti tidak dapat dielakkan lagi, maka Souw Peng Hai langsung menyerang ke belakang dengan jurus Sing Goat Kiauw Hui (Bintang Dan Bulan Memancarkan Cahaya).

Toyanya mengarah pada Kim Hun Tokouw, tapi mendadak jurus itu telah berubah dengan jurus Thian Peng Te Liak (Langit Runtuh Bumi Terbelah).

Tampak toya Souw Peng Hai berkelebatan ke arah Kim Hun Tokouw, Bukan main cepat dan dahsyatnya serangan itu.

Kim Hun Tokouw sama sekali tidak menyangka Souw Peng Hai akan menyerangnya begitu mendadak, namun ia masih sempat meloncat ke belakang, Delapan gadis yang berdiri di belakang Kim Hun Tokouw, kelihatannya sudah tahu Kim Hun Tokouw akan meloncat ke belakang, maka mereka pun meloncat ke belakang dengan serentak

Bukan main gusarnya Souw Peng Hai, sebab barusan ia telah menyerang Kim Hun Tokouw dengan Lweekang sepenuhnya, namun wanita itu masih mampu menghindar dengan cara meloncat ke belakang.

Sebelum kaki Kim Hun Tokouw menginjak tanah, Souw Peng Hai menggerakkan toyanya, menyerang lagi dengan jurus Cang Hong Kin Thian (Pelangi Melintang Di Ujung Langit), lalu menyusul lagi dengan jurus Liong Cuah Phun Cu (Naga Menyembur Mutiara), Kedua jurus itu jauh lebih lihay dan dahsyat dari pada jurus-jurus tadi, Bahkan tangan kiri Souw Peng Hai pun sudah siap melancarkan serangan dengan ilmu Kan Goan Cih.

Mendadak Souw Peng Hai membentak keras, lalu mengangkat tangan kirinya, ternyata ia telah menyerang dengan ilmu tersebut

sementara Kim Hun Tokouw pun sudah menggerakkan selendangnya menangkis toya itu. Ketika Souw Peng Hai membentak keras, Kim Hun Tokouw tertawa dingin sambil menyentakkan selendangnya.

sedangkan Souw Peng Hai telah melancarkan ilmu Kan Goan Cih, Kim Hun Tokouw terkejut dan cepat-cepat meloncat mundur

Akan tetapi, angin pukulan Kan Goan Cih itu lebih cepat lagi menerjang ke arahnya, Meskipun kedahsyatan pukulan Kan Goan Cih itu sudah agak berkurang, namun dada Kim Hun Tokouw tidak terluput dari pukulan tersebut

Wanita itu segera menghimpun Lweekangnya untuk melindungi dadanya, namun tetap terpental sehingga nyaris roboh.

Kim Hun Tokouw adalah majikan istana Pit Sia Kiong yang selama ini sama sekali tidak pernah di pecundang orang.

Namun kali ini justru dipecundang oleh Souw Peng Hai. Dapat dibayangkan, betapa gusarnya wanita itu.

Setelah berhasil dengan ilmu Kan Goan Cih itu, Souw Peng Hai tertawa gelak, sedangkan Kim Hun Tokouw tertawa dingin sambil mengerahkan Lweekangnya. justru di saat bersamaan, Souw Peng Hai menyerang lagi dengan jurus Siang Liong Cioh Cu (Sepasang Naga Merebut Mutiara), tangan kirinya pun melancarkan ilmu Kan Goan Cih. sebetulnya ilmu tersebut sangat menguras tenaga, Maka kalau tidak perlu sekali ia tidak akan mengeluarkan ilmu itu.

Namun kali ini yang dihadapinya adalah Kim Hun Tokouw, ia mengeluarkan ilmu tersebut untuk melukai Kim Hun Tokouw, lalu memaksanya memberitahukan semua rahasia yang berkaitan dengan istana Pit Sia Kiong. Ternyata Souw Peng Hai ingin menguasai istana itu.

Saat ini, Kim Hun Tokouw memang telah terluka oleh pukulan Kan Goan Cih. Untung ia memiliki Lwee-kang yang amat dalam, kalau tidak, mungkin ia sudah tak dapat bertahan.

Ketika melihat Souw Peng Hai menyerangnya dengan ilmu itu lagi, Kim Hun Tokouw bersiul, seketika juga delapan gadis yang berdiri di belakangnya maju serentak.

Souw Peng Hai tertawa aneh, lalu membagi angin pukulan itu ke arah delapan gadis tersebut Terdengarlah suara jeritan, ternyata gadis-gadis itu telah terkena angin pukulan tersebut

Kesempatan itu tidak disia-siakan Souw Peng Hai. ia segera maju sambil mengayunkan toyanya, maksudnya ingin menghabiskan mereka, kemudian baru membunuh Kim Hun Tokouw.

Akan tetapi, tiba-tiba delapan gadis itu mengeluarkan suatu benda yang bergemerlapan mirip pipa tembaga.

Souw Peng Hai terkejut ia cepat-cepat memutarkan toyanya untuk melindungi dirinya.

"Phuh! Phuh. "

Tampak semacam kabut warna keemas-emasan tersembur ke luar dari pipa tembaga itu, mengarah pada Souw Peng Hai.

sementara Souw Peng Hai terus memutar-mutarkan toyanya untuk melindungi dirinya, sekaligus membuyarkan asap itu. Akan tetapi, asap itu sama sekali tidak buyar, sebaliknya malah terus meliuk-liuk mengarah pada dirinya.

Menyaksikan itu, terkejutlah Souw Peng Hai. Sudah sekian lama ia tinggal di istana Pit Sia Kiong, namun selama itu tidak pernah melihat Kim Hun Tokouw menggunakan asap beracun itu.

Seuw Peng Hai segera meloncat mundur, tapi mendadak Kim Hun Tokouw menggerakkan selendangnya yang membuat asap tersebut langsung mengurungnya.

Apa boleh buat, Souw Peng Hai terpaksa memutar- mutarkan toyanya lagi, namun ia masih sempat mendengar suara tawa yang amat dingin. Ternyata Kim Hun Tokouw juga menggerakkan selendangnya, sehingga asap itu terus mengurung Souw Peng Hai.

"Souw tua!" ujar Kim Hun Tokouw dingin, "Engkau akan terkubur di sini!"

"Hm!" dengus Souw Peng Hai. "Siapa yang akan terkubur di sini, itu masih belum tahu."

"Engkau telah menyedot racun Cui Meng Kim Hun (Racun Bubuk Emas pengejar Nyawa)! Dalam waktu dua jam, tubuhmu pasti mencair!"

Souw Peng Hai terkejut, tapi masih tidak begitu pereaya akan kelihayan racun bubuk emas itu.

"Engkau tidak usah khawatir!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh, "Walau engkau terkubur di sini, setiap tahun aku pasti kemari menyembayangimu!"

Mendengar itu, Souw Peng Hai langsung menutup pernafasannya, Akan tetapi, itu justru membuat dadanya terasa sakit sekali, bahkan amat panas pula seperti terbakar

"Pokoknya aku tidak pereaya racun itu begitu lihay!" ujar Souw Peng Hai. Kemudian ia mengeluarkan sebilah pisau, lalu membabat lengan kirinya sampai putus, Kenapa Souw Peng Hai melakukan itu? Tidak lain agar racun itu mengalir ke luar bersama darahnya, "Ha ha, apakah kini aku masih akan mati?"

Kim Hun Tokouw tertegun, ia tidak menyangka Souw Peng Hai akan memunahkan racun itu dengan cara demikian

"Souw tua!" sahutnya kemudian sambil tertawa dingin "Biar bagaimanapun, hari ini engkau pasti mati!"

"Belum tentu!" seru Souw Peng Hai lalu mendadak menyerang Kim Hun Tokouw dengan pisaunya, ia mengeluarkan jurus Can Liong Jip Hai (Naga Masuk Ke-dalam Laut).

Kim Hun Tokouw tidak berani meremehkan serangan itu, dan cepat-cepat menangkis dengan selendangnya, Terjadi lagi pertarungan yang amat seru, namun tak seberapa lama kemudian, Souw Peng Hai merasa matanya mulai gelap, ia mengeluh dalam hati, tidak menyangka dirinya akan menemui ajal di Gunung Taysan ini.

Di saat Souw Peng Hai sedang menunggu mati, mendadak terdengar bunyi lonceng di tempat yang amat jauh, Begitu mendengar suara lonceng itu, Kim Hun Tokouw pun langsung melesat pergi tanpa menghiraukan Souw Peng Hai lagi.

Souw Peng Hai menarik nafas lega, Sungguh di luar dugaan, nyawanya telah diselamatkan oleh suara lonceng itu, ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu di istana Pit Sia Kiong, Kalau tidak, bagaimana mungkin Kim Hun Tokouw langsung melesat pergi meninggalkannya?

Memang harus diakui, bahwa Souw Peng Hai sangat tegar dan keras hati, Walau lengan kirinya telah putus dan banyak mengucurkan darah, namun ia masih kuat bertahan.

Keadaannya sudah begini, tapi ia masih teringat akan murid kesayangannya yang memasuki gua. Cepat-cepat-lah ia kembali karena menguatirkan keselamatan Co Hiong.

Setelah mendekati gua itu, ia melihat Co Hiong menerobos ke luar dari dalam gua, legalah hati Souw Peng Hai. "Anak Hiong!" panggilnya girang.

Co Hiong berhenti, dan begitu menyaksikan keadaan gurunya, ia tertegun.

"Guru.,, kok jadi begini?"

Souw Peng Hai menarik nafas panjang, kemudian tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Guru telah bertarung dengan Kim Hun Tokouw, Karena menyedot racun bubuk emas, maka guru terpaksa menebas putus lengan kiri, itu agar racun bisa ke luar."

"Haah?" Co Hiong terperanjat "Kalau begitu, kini kita sudah tiada tempat untuk berteduh lagi."