Bangau Sakti Jilid 32

 
Jilid 32

Pek Yun Hui mengge!eng-gelengkan kepala, sedangkan Ling Hung menarik nafas panjang sambil membuang ranting itu. Sie Bun Yun membagi obat itu pada Ling Hung, tapi gadis itu tidak mau meminumnya, Sie Bun Yun terus membujuknya, akhirnya Ling Hung mau juga meminum obat itu, itu adalah obat buatan Na Hai Peng yang sangat manjur Setelah minum obat itu, tak lama mereka berdua pun tampak bersemangat dan segan

Pek Yun Hui berdiri termangu-mangu sambil memandang mereka, berselang sesaat barulah ia meninggalkan mereka, Tiba-tiba Ling Hung mengerutkan kening, ternyata ia merasa kenal orang berpakaian hitam itu.

"Kakak Yun!" serunya.

Pek Yun Hui tersentak dan nyaris menghentikan langkahnya, namun ia mengeraskan hatinya, dan terus melangkah.

"Aaaakh. " Keluh Ling Hung, "Kakak Yun telah mati, biar

aku memanggilnya, tidak mungkin dia akan menyahut."

"Adik Hung!" ujar Sie Bun Yun cepat, "Engkau sudah tahu dia tidak akan menyahut, kenapa barusan engkau masih memanggilnya?"

"Orang berpakaian hitam itu.,,." Ling Hung menarik nafas panjang, "Bentuk badannya mirip Kakak Yun, maka aku memanggilnya."

Setelah mendengar itu, Sie Bun Yun diam sambil berpikir keras. ia masih ingat, ketika Pek Yun Hui membawanya ke gunung Kwat Cong San, kesehatan Pek Yun Hui pun mulai pulih.

Seandainya dia amat berduka lantaran kehilangan jejak Sie Bun Yun, tidak mungkin akan membuatnya mati secara mendadak Apabila dia bunuh diri, tentunya meninggalkan pesan, Tetapi kematiannya....

Sie Bun Yun menengok makam itu, sama sekali tidak bisa menemukan sebab musabab kematian Pek Yun Hui. "Adik Hung!" ujarnya kemudian, "Hari sudah malam, mari kita ke dalam gua Thian Kie saja!"

"Ya." Ling Hung mengangguk "Kakak misan, engkau tadi mengatakan bahwa dendam ayahku belum terbalas Kalau kelak aku sudah berhasil membalas dendam ayah-ku, engkau jangan mencegahku lagi ya!"

"Kita bicarakan saja kelak," sahut Sie Bun Yun.

"Aku sudah mengambil keputusan itu, maka sampai waktu itu engkau jangan menasihatiku lagi!" tegas Ling Hung.

Sie Bun Yun diam, Mereka berdua lalu menuju gua Thian Kie, sementara Pek Yun Hui tetap berpakaian hitam dan kepalanya pun tetap ditutup dengan kain hitam, ia menyambut mereka dengan tingkah seperti orang gagu dan tuli.

Akan tetapi, Sie Bun Yun terus memperhatikannya. Pek Yun Hui adalah gadis yang sangat cerdas, ia tahu kalau Sie Bun Yun sudah mulai bereuriga terhadap dirinya, maka ia lalu bergerak-gerik seperti orang tolol puIa.

Betapa dukanya hati Pek Yun Hui, namun tetap ingin mencurahkan isi hatinya kepada orang yang amat di-cintainya.

Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui meninggalkan gua Thian Kie. Tak lama Sie Bun Yun pun ke luar, itu setelah Ling Hung tidur Ternyata ia menuju ke makam Pek Yun Hui.

Sie Bun Yun berdiri termangu-mangu di depan makam itu, rupanya memikirkan penyebab kematian Pek Yun Hui.

Tiba-tiba terdengarlah suara helaan nafas ringan di tempat yang tak jauh dari situ, Walau sangat ringan, namun Sie Bun Yun mendengar dengan jelas dan merinding seketika, ia yakin itu adalah suara helaan nafas Pek Yun Hui.

otomatis membuat otak Sie Bun Yun terus berputar akhirnya ia yakin Pek Yun Hui tidak mati. Dengan adanya keyakinan itu, timbul pula rasa bencinya terhadap Pek Yun Hui, karena ia menganggap Pek Yun Hui mempermainkan Ling Hung, ia ingin membentak, tapi kemudian dibatalkannya.

Berendap-endap ia menuju tempat suara helaan nafas itu, dan setelah menikung ia melihat sosok bayangan hitam berdiri di situ.

Orang itu sedang memandang rembuIan, punggungnya menghadap Sie Bun Yun dan masih mengeluarkan suara helaan nafas.

sepasang mata Sie Bun Yun membara, pertanda kegusarannya telah memuncak ia langsung melesat ke arah Pek Yun Hui sambil membentak keras.

"Saudara kecil, bagus sekali perbuatanmu!"

Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, ia sama sekali tidak menyangka Sie Bun Yun akan muncul di tempat ini, sehingga membuatnya tertegun.

sedangkan Sie Bun Yun mendekatinya selangkah demi selangkah Wajah kehijauan-hijauan dan menatap Pek Yun Hui dengan mata berapi-api.

"Bagus!" ujar Sie Bun Yun sambil berhenti "Bagus sekali perbuatanmu!"

Pek Yun Hui menyesal dalam hati, kenapa ia tidak mau cepat-cepat meninggalkan gua Thian Kie, sebaliknya malah berdiri di tempat itu sambil menghela nafas pan-jang, akhirnya Sie Bun Yun memunculkan diri di situ.

Ketika menyaksikan sikap Sie Bun Yun yang begitu emosi, tanpa sadar ia mengucurkan air mata. Padahal sesungguhnya ia bermaksud baik, Kalau Ling Hung menganggapnya telah mati, otomatis cinta kasihnya akan dialihkan pada Sie Bun Yun. Akan tetapi justru di luar dugaannya makam palsu itu akan menimbulkan kejadian lain.

"Engkau masih merasa malu sehingga mengucurkan air mata?" bentak Sie Bun Yun tertawa dingin. "Engkau tahu aku merasa malu?" tanya Pek Yun Hui tenang.

"Hm!" dengus Sie Bun Yun dingin. "Engkau membuat makam palsu, itu menyebabkan adik Hung nyaris membunuh diri! Kini dia sangat berduka karena mengira engkau telah mati! Engkau,., engkau sungguh bukan manusia!"

Sie Bun Yun terus mencacinya, sedangkan air mata Pek Yun Hui terus mengucur

"Phui!" Sie Bun Yun meludahi Pek Yun Hui. "Aku memang telah salah memandang dirimu, bahkan menganggapmu sebagai teman baik,"

"Saudara Bun Yun. " Suara Pek Yun Hui terisak-isak dan

mundur selangkah pula, "Engkau... engkau. "

"Siapa yang menyuruhmu memanggilku saudara? Engkau adalah binatang!" Sie Bun Yun menudingnya dengan tangan bergemetar.

"Uaaakh. " Pek Yun Hui menangis keras, lalu melesat

pergi.

Hati Pek Yun Hui berduka sekali, bahkan merasa sakit karena dirinya telah diludahi Sie Bun Yun yang amat dicintainya itu, Karena itu, ia terus berlari dan berlari meninggalkan tempat itu sejauh mungkin. Walau ia sudah berlari pergi, semua cacian Sie Bun Yun masih mengiang di dalam telinganya, akhirnya ia menutup telinganya sambil berlari dan menangis tersedu-sedu.

******

Ketika Pek Yun Hui melesat pergi, Sie Bun Yun justru berdiri termangu-mangu di tempat itu. Setelah itu, di saat ia baru mau mengejar Pek Yun Hui, mendadak ia mendengar suara Ling Hung di belakangnya.

"Kakak misan! Barusan engkau bicara dengan siapa?" Sie Bun Yun segera membalikkan badannya, ia melihat Ling Hung sedang berjalan mendekatinya, seketika juga kacau hatinya, ia tidak tahu harus berterus terang pada Ling Hung atau harus merahasiakan itu.

Kalau ia merahasiakan tentang itu, walau hati Ling Hung berduka, tapi masih tetap menyimpan kenangan manis.

Ketika Sie Bun Yun tidak tahu harus mengambil keputusan apa, Ling Hung sudah berdiri di sisinya, wajahnya menengadah memandang rembulan yang remang-remang.

"Kakak misan, aku tadi seperti mendengar engkau bicara dengan seseorang, siapa orang itu?" tanya Ling Hung.

Sie Bun Yun bukanlah pemuda yang pandai ber-bohong, karena itu ia jadi tertegun ditanya demikian oleh Ling Hung, Sesaat kemudian, mendadak ia menggenggam tangan Ling Hung erat-erat seraya berkata.

"Adik Hung, kalau aku beritahukan engkau... engkau jangan berduka ya!"

"Kakak misan!" Ling Hung tersenyum sedih dan matanya bersimbah air. "Apalagi yang dapat membuat hatiku duka?"

"Adik Hung, aku tadi berbicara dengan. Pek Yun Hui."

Sie Bun Yun memberitahukan. "Apa?" Ling Hung terbelalak

"Aku tadi berbicara dengan Pek Yun Hui," ujar Sie Bun Yun mengulanginya.

"Kakak misan.,.," Air muka Ling Hung berubah, "Apakah itu adalah arwahnya?"

"Bukan." Sie Bun Yun menggelengkan kepala, "Adik Hung, dia.,, dia sesungguhnya tidak mati."

"Kakak misan jangan membohongiku!" Air mata Ling Hung mulai meleleh. "Orang yang membohongi dirimu itu adalah dia!" sahut Sie Bun Yun dengan suara mengguntur "Dia ingin menghindarimu maka membuat sebuah makam palsu, agar engkau tidak memikirkannya lagi!"

Setelah mendengar itu, sekujur badan Ling Hung bergemetar, kemudian mengibaskan tangannya agar tidak digenggam Sie Bun Yun. ia mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias, dan bibirnya terus bergemetar.

"Dia... dia ke mana sekarang?" tanyanya.

"Aku mencaci makinya, maka ia merasa malu dan langsung pergi," sahut Sie Bun Yun.

"Kakak misan, katakan padaku, dia pergi ke mana?" ujar Ling Hung mendesak

"Adik Hung. " Sie Bun Yun menarik nafas panjang sambil

menunjuk ke depan, "Dia lari ke arah sana."

Begitu mendengar jawaban itu, Ling Hung langsung melesat ke sana. Sie Bun Yun terkejut lalu berteriak. "Adik Hung, engkau mau ke mana?" "Aku mau bertanya padanya," sahut Ling Hung, Sie Bun Yun menyesal sekali karena berterus terang. ia tahu hati Ling Hung bertambah berduka mengetahui hal itu. Kini ia pergi menyusul Pek Yun Hui, bertemu Pek Yun Hui atau tidak, pasti akan terjadi sesuatu atas dirinya.

Oleh karena itu, Sie Bun Yun segera melesat pergi mengikuti Ling Hung. Mereka berdua terus berlari, dan kira- kira setengah jam kemudian, ke duanya sudah sampai di sebuah puncak gunung. Mereka tidak lagi bisa melanjutkan perjalanan, karena di hadapan mereka menganga lebar sebuah jurang.

Sie Bun Yun baru mau berteriak menyuruh Ling Hung berhenti, gadis itu justru telah berhenti di tepi jurang tersebut Di saat itu, Sie Bun Yun melihat Pek Yun Hui duduk dan sedang menangis sedih di atas sebuah pohon di pinggir jurang itu.

"Kakak Yun! Kakak Yun!" panggil Ling Hung lembut

Akan tetapi, Pek Yun Hui tampak seakan tidak mendengar, dan masih terus menangis sedih.

"Kakak Yun! Aku sudah datang, engkau tidak dengar?"

Suara Ling Hung bertambah lembut

"Adik Hung sudah datang!" bentak Sie Bun Yun. "Engkau masih berpura-pura dan macam-macam?"

Pek Yun Hui meloncat turun dari pohon itu, lalu berdiri di pinggir jurang sambil memandang mereka berdua.

"Kenapa kalian masih ke mari mencariku?" tanya Pek Yun Hui dengan air mata berderai.

"Kakak Yun.." Ling Hung tertegun

"Jangan panggil aku Kakak Yun lagi!" potong Pek Yun Hui cepat "Aku orang rendah, tidak pantas saling menyebut saudara dengan kalian! sebetulnya kalian berdua merupakan pasangan yang serasi! Sudahlah, kalian jangan mendekatiku lagi, anggaplah aku sudah mati!"

Ling Hung termundur beberapa langkah sambil memandang Pek Yun Hui dengan mata terbelalak, kemudian ujarnya dengan suara rendah.

"Kakak Yun! Aku... aku cuma mencintaimu. "

"Aku justru tidak bisa menerima cintamu!" sahut Pek Yun Hui. "Kenapa kalian tidak mempereayaiku?"

"Pek Yun Hui! Tutup mulutmu!" bentak Sie Bun Yun mendadak sambil mendekatinya.

"Engkau adalah orang yang paling bodoh di kolong langit!" Pek Yun Hui menudingnya. "Tidak salah!" sahut Sie Bun Yun. "Engkau adalah binatang, tapi aku masih menganggapmu sebagai teman baikku, aku memang bodoh sekali!"

Usai berkata begitu, tiba-tiba Sie Bun Yun menyerangnya dengan sebuah pukulan.

Pek Yun Hui melihat pujaan hatinya menyerangnya dengan tidak berperasaan sekali, seketika juga hatinya terasa remuk. Maka ia tidak mau mengelak pukulan itu.

"Duuuk!" Dada Pek Yun Hui terpukul membuat badannya agak sempoyongan

"Ayoh! Pukul lagi!" teriak Pek Yun Hui. "Pukul aku sampai mati, agar kegusaranmu terlampiaskan!"

Sie Bun Yun maju selangkah, lalu memukul Pek Yun Hui lagi dengan jurus Cok Lang Thauw Thian (Ombak Menderu Ke Langit).

sedangkan Pek Yun Hui tetap berdiri dengan tangan di bawah, sama sekali tidak berniat menangkis maupun mengelak pukulan itu. Ketika pukulan itu hampir me ngenai tubuh Pek Yun Hui, tiba-tiba Sie Bun Yun menarik kembali pukulannya seraya membentak

"Kenapa engkau tidak mau menangkis pukulanku?" "Ha ha!" Pek Yun Hui tertawa, "Kenapa aku harus menangkis?"

"Plak! Plak!" Sie Bun Yun menamparnya dan menghardik "Menamparmu pun telah mengotori tanganku!"

Pek Yun Hui adalah Lan Tay Kong Cu, putri kaisar yang diagungkan, Sejak kecil ia amat dihormati siapa pun, dan tiada seorang pun berani bicara keras dengan dirinya, apalagi mencacinya.

Namun kini, dirinya justru dicaci maki habis-habisan oleh pujaan hatinya, bahkan ditamparnya pula, Maka dapat dibayangkan, betapa terpukulnya batin Pek Yun Hui, wajahnya pucat pias, ia mundur beberapa langkah seraya berkata. "Bagus! Tidak salah engkau memukul dan menamparku pula! Ha ha! Ha ha ha. " Pek Yun Hui tertawa gelak dengan

air mata berderai-derai.

Tertegunlah Sie Bun Yun menyaksikan sikap Pek Yun Hui. sedangkan gadis itu memang sudah mengambil keputusan untuk menyudahi urusan tersebut

"Memang tidak salah!" ujarnya kemudian dengan tegas, "Aku tidak mencintai Ling Hung, apakah itu tidak boleh?"

"Kakak Yun. " Wajah Ling Hung langsung berubah,

"Kalian tidak perlu mencariku lagi, sampai di sini kita

berpisah!" lanjut Pek Yun Hui, "Ha ha! Bukankah baik sekali?"

Pek Yun Hui tertawa gelak, lalu mendadak melesat pergi. Ling Hung ingin mengejarnya, tapi malah jatuh duduk, Namun Sie Bun Yun segera memapahnya bangun.

"Adik Hung, dia begitu macam, kenapa engkau masih ingin mengejarnya?" Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.

Wajah Ling Hung pucat pias, Bibirnya bergemetar tak mampu mengeluarkan suara sedikit pun dan sepasang matanya telah berubah redup.

Sie Bun Yun terkejut bukan main. Cepat-cepat ia memeriksa nadinya, ternyata denyut nadinya tidak teratur sama sekali Kalau terus begitu, Ling Hung pasti akan mati mendadak

"Adik Hung!" Sie Bun Yun amat cemas, gugup dan panik, "Jangan begini, ingatlah masih ada dendam ayahmu yang belum terbalas!"

Wajah Ling Hung yang pucat pias itu berubah merah padam, kemudian berubah kehijau-hijauan dan badannya mulai menggigil seperti kedinginan Sie Bun Yun segera memegang Leng Tay Hiat di tubuh Ling Hung, lalu mengerahkan Lweekangnya, agar keadaan gadis itu bisa kembali normal.

Akan tetapi, wajah Ling Hung yang kehijau-hijauan itu berubah merah padam lagi. Sie Bun Yun tahu, apabila wajah Ling Hung yang merah padam itu berubah pucat pias, maka nyawa gadis itu sulit tertolong lagi.

Betapa cemasnya Sie Bun Yun, ia terus mengerahkan Lweekangnya untuk melindungi diri Ling Hung. Kemudian mendadak ia mendongakkan kepalanya memandang ke atas sambil berteriak-teriak.

"Pek Yun Hui! Pek Yun Hui! Kalau Ling Hung terjadi sesuatu, itu berarti kita telah terikat oleh suatu dendam yang amat dalam!"

"Kakak... Kakak misan!" Sekujur badan Ling Hung bergemetaran, "Engkau... engkau jangan-jangan menyusahkannya...!"

"Krek! Krek!" Sie Bun Yun berkertak gigi, "Engkau sedemikian mencintainya, sebaliknya dia malah tidak punya perasaan terhadapmu "Engkau... engkau masih membelanya?"

"Dia... dia tidak mencintaiku, tapi... aku tetap men- cintainya," sahut Ling Hung dengan suara Iemah.

Usai menyahut begitu, wajah Ling Hung mulai berubah pucat dan sekujur badannya mulai menggigil lagi. Wajah Sie Bun Yun pun telah berubah amat tak sedap dipandang, sebab saat ini menyangkut rrnti hidupnya Ling Hung. justru pada saat yang sangat genting itu, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Sedang berbuat apa kalian berdua di situ?" Sie Bun Yun menoleh, tampak seorang wanita berusia empat puluhan mendekati mereka tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.

Wanita itu kelihatan anggun sekali, Walau berjalan santai, tapi dalam waktu sekejap sudah di hadapan mereka, Tertegunlah Sie Bun Yun, ia yakin bahwa wanita itu berkepandaian amat tinggi, karena itu timbullah suatu harapan dalam hatinya.

"Mohon Cianpwee sudi memberi pertolongan!" ujar Sie Bun Yun.

Wanita itu memandang Ling Hung, kemudian melototi Sie Bun Yun, dan mendadak menjulurkan tangannya mendorong Sie Bun Yun.

Tangan wanita itu tidak menyentuh badan Sie Bun Yun, Namun pemuda itu telah merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, dan seketika juga ia terpental jatuh duduk di tanah.

Sie Bun Yun terkejut bukan main, namun wanita itu justru sudah mulai memberi pertolongan pada Ling Hung, itu membuat Sie Bun Yun tidak habis berpikir, sebetulnya wanita itu bermaksud baik atau jahat

"Cianpwee!" Sie Bun Yun mendekatinya. "Cepat enyah!" bentak wanita itu dingin. "Cianpwee.,,." Sie Bun Yun kebingungan

"Aku menyuruhmu cepat enyah!" bentak wanita itu sambil mengibaskan tangannya, dan seketika juga Sie Bun Yun terpental beberapa depa jauh.

Begitu jatuh duduk lagi, Sie Bun Yun bertambah tidak mengerti, karena ia melihat wanita itu sedang menolong Ling Hung, tapi kenapa dia begitu galak terhadapnya ?

ia pun melihat wajah Ling Hung mulai berubah kemerah- merahan dan nafasnya tidak memburu seperti tadi lagi Berdasarkan itu, dapat diketahui betapa dalamnya Lweekang wanita itu.

"Cianpwee, bagaimana keadaan adik misanku?" tanya Sie Bun Yun, namun ia tidak berani mendekati wanita itu lagi. "Batinnya terpukul hebat, sehingga merusak hawa murninya, bahkan juga telah menggetarkan nadi dan menyumbat peredaran darah di jantungnya, Kalau engkau tidak segera enyah, aku tidak akan mengampunimu," sahut wanita itu dingin.

Setelah mendengar wanita itu mengucapkan demikian tahulah Sie Bun Yun bahwa wanita itu telah salah paham terhadap dirinya.

"Cianpwee. " Sie Bun Yun tertawa getir, "Dia berduka

sampai begitu bukan karena diriku!" "Oh, ya?" Kening wanita itu berkerut

"Benar, Cianpwee." Sie Bun Yun mengangguk "Dia adalah adik misanku, Dia mencintai pemuda lain, tapi pemuda itu justru tidak mencintainya, maka hatinya berduka sampai begitu macam."

"Hm!" dengus wanita itu, "Kaum lelaki di kolong langit, tiada satu pun yang baik!"

"Cianpwee. " Sie Bun Yun terbelalak, sebab ucapan

wanita itu bernada membenci kaum lelaki, Tentunya hati wanita itu pernah dilukai kaum lelaki pula, kalau tidak, bagaimana mungkin ia mengucapkan begitu?

"Lukanya amat parah, namun aku cuma mampu menyalurkan Lweekangku, agar nyawanya dapat dipertahankan tidak bisa menyembuhkannya, Kelihatannya...

engkau sangat mencintainya, bukan?" "Ya," jawab Sie Bun Yun hormat

"Jangan cuma menjawab di mulut saja!" Wanita itu menatapnya dingin.

"Cianpwee!" ujar Sie Bun Yun sungguh-sungguh, "Cianpwee telah salah menilai diriku."

Mendadak wanita itu melesat ke arah Sie Bun Yun, dan tahu-tahu telah mencengkeram urat nadinya, Betapa terkejutnya Sie Bun Yun, namun sebelum ia membuka mulut, wanita itu sudah berkata.

"Seandainya engkau memperoleh kitab pusaka Kui Goan Pit Cek yang diidamkan setiap kaum Bu Lim, apakah engkau akan meninggalkan nona kecil ini karena kitab pusaka itu?"

pertanyaan tersebut membuat Sie Bun Yun ter-heran- heran. Mungkinkah wanita itu sudah tahu Cong Cin To berada pada dirinya? Pikirnya.

Tentunya Sie Bun Yun tidak tahu, bahwa Kui Goan Pit Cek itu telah diambil orang, bahkan sudah ada empat orang mempelajari ilmu silat yang tereantum di dalam kitab pusaka tersebut, yang salah satunya adalah wanita itu.

Semua kaum Bu Lim amat mengidamkan kitab pusaka Kui Goan Pit Cek tersebut, namun wanita itu justru sangat membenci kitab pusaka itu. Gara-gara Kui Goan Pit Cek itu, suaminya pun seperti mabuk terhadap kitab pusaka tersebut, sehingga melupakan isterinya.

Siapa wanita itu? Tidak lain adalah isteri Na Hai Peng bernama Cui Tiap karena suaminya terus tenggelam dalam Kui Goan Pit Cek, maka wanita itu mencuri kitab pusaka tersebut lalu kabur

Na Hai Peng terus mencari isterinya, tapi tidak pernah berhasil dan sama sekali tiada kabar berita tentang isterinya lagi.

Karena penasaran suaminya begitu menggilai Kui Goan Pit Cek, wanita itu pun ingin tahu, sebetulnya kitab pusaka itu memiliki kekuatan apa, sehingga suaminya bisa berubah jadi begitu, Karena itu, setelah meninggalkan gunung Kwat Cong San, wanita itu pun mulai mempelajari isi kitab pusaka tersebut padahal ia cuma merupakan wanita biasa, namun setelah mempelajari isi Kui Goan Pit Cek, ia pun berubah menjadi wanita yang berkepandaian amat tinggi.

Pada waktu itu, putrinya bernama Na Siao Tiap sudah berumur empat belas tahun, Wanita itu amat membenci Na Hai Peng, maka berangkat ke gunung Kwat Cong San dengan maksud ingin membunuhnya, namun justru tidak bertemu.

Ketika wanita itu melihat Sie Bun Yun diam saja, maka mengiranya seperti suaminya pula. Asal memperoleh Kui Goan Pit Cek, sudah tidak menghiraukan cinta kasih lagi.

"Hm!" dengusnya dingin sambil mengibaskan tangan bajunya. itu membuat Sie Bun Yun terpental beberapa langkah, "Majikan gua Thian Kie berada di mana?"

Sie Bun Yun tidak tahu siapa guru Pek Yun Hui, iagi pula wanita itu bertanya mendadak, maka Sie Bun Yun mengiranya menanyakan Pek Yun Hui.

"Dia merasa malu karena tidak punya perasaan terhadap adik misanku, maka dia kabur." jawab Sie Bun Yun memberitahukan namun wanita itu justru mengira orang yang dimaksudkan adalah Na Hai Peng, suaminya, Oleh karena itu tidak heran wajahnya langsung berubah

"Engkau bilang dia... dia mencintai adik misanmu?" tanya Cui Tiap dan bertambah benci pada suaminya.

"Dia memang pernah bersikap seakan mencintai adik misanku, tapi kemudian bilang tidak bisa mencintainya."

"He he he!" Cui Tiap tertawa terkekeh-kekeh. "Ten-tunya dia tidak bisa mencintai adik misanmu, sebab dia sudah punya anak isteri."

Mereka berbicara tanpa menjelaskan Sie Bun Yun mengatakan Pek Yun Hui, sedangkan Cui Tiap mengatakan Na Hai Peng, suaminya, Karena itu kesalah-pahaman pun bertambah dalam

Ling Hung yang mendengar itu, nyaris pingsan se-ketika, Gadis itu menganggap Pek Yun Hui telah menipu cinta kasihnya. Cui Tiap menatap mereka yang tampak tertegun, lama sekali barulah membuka mulut memberitahukan

"Bocah! Kalau luka adik misanmu tidak diobati dengan Swat Ing (Rerumput Obat) yang tumbuh di puncak gunung Thian San Utara, mungkin adik misanmu tidak bisa hidup lama."

"Mohon petunjuk Cianpwee," ucap Sie Bun Yun cepat "Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swat San,

cuma tumbuh di tepi telaga di puncak gunung Thian San Utara, Kalau engkau mencintai adik misanmu itu, haruslah engkau menempuh bahaya demi adik misanmu itu!"

"Cianpwee, aku akan melakukan itu," sahut Sie Bun Yun sungguh-sungguh.

"Hm!" dengus Cui Tiap dingin, lalu melesat meninggalkan tempat itu.

Sie Bun Yun terperanjat menyaksikan itu, karena wanita itu memiliki ginkang yang begitu tinggi Setelah wanita itu lenyap dari pandangannya, barulah ia mendekati Ling Hung.

"Adik Hung! Bagaimana rasamu sekarang?" tanyanya lembut.

"Agak membaik," Ling Hung menarik nafas panjang. "Tapi masih merasa tak bertenaga sama sekali."

"Adik Hung, Cianpwee tadi bilang, hanya Swat Ing yang dapat menyembuhkan lukamu. "

"Kakak misan!" potong Ling Hung, "Engkau tidak perlu menempuh bahaya ke puncak gunung Thian San Utara demi diriku, Terus terang, aku sudah tiada gairah hidup, Apa artinya aku hidup di dunia. "

"Adik Hung!" ujar Sie Bun Yun serius. "Bagaimana dengan dendam ayahmu?"

"Kakak misan!" Ling Hung menarik nafas, "Aku pernah mendengar dari almarhum, bahwa ketua partai Swat San bernama Sen Lui, julukannya adalah Pek Ih Sin Kun (Si Sakti Baju Putih) berkepandaian tinggi sekali, lagi pula bersifat aneh. sedangkan Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swat San, bagaimana mungkin engkau akan mendapatkannya?"

"Adik Hung, demi dirimu, aku bersedia menempuh bahaya apa pun," sahut Sie Bun Yun dengan tekad yang bulat.

"Kakak misan, apa gunanya engkau menempuh bahaya demi seorang gadis yang tidak mencintaimu?" tanya Ling Hung sambil tersenyum getir.

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa, "Adik Hung, jangan lupa, aku tetap mencintaimu."

"Kakak misan. " Ling Hung memejam matanya.

Sie Bun Yun segera memapahnya kembali ke dalam gua Thian Kie. Ketika tidur, Ling Hung masih mengigau memanggil-manggil Kakak Yun....

******

Bab ke 36 - Bertarung di Puncak Swat San Demi Kekasih Setelah menyamar, Sie Bun Yun dan Ling Hung segera

meninggalkan gua Thian Kie. Begitu sampai di jalan, Sie Bun

Yun membeli sebuah kereta kuda, Mereka berdua lalu berangkat ke Swat San, Sie Bun Yun dan Ling Hung menyamar, itu demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan, sebab Sie Bun Yun menyimpan Cong Cin To yang diincar setiap kaum Bu Lim.

Dalam perjalanan menuju gunung Salju, memang tidak pernah terjadi suatu apa pun. Namun mereka sama sekali tidak tahu, sejak mereka meninggalkan gunung Kwat Cong San, Pek Yun Hui pun terus mengikuti mereka.

Banyak kaum Bu Lim yang mengetahui jejak Sie Bun Yun, tapi dipukul mundur oleh Pek Yun Hui. itu di luar sepengetahuan Sie Bun Yun maupun Ling Hung. Dari gunung Kwat Cong San menuju gunung Thian San Ulara, jaraknya boleh dikatakan puluhan ribu mil, maka harus memakan waktu dua bulanan, Setelah ke luar ditri kawasan Giok Bun Koan, barulah tiba di Kota Si Shia.

Hari itu Sie Bun Yun memandang ke depan, sudah tampak gunung Thian San menjulang tinggi di depan mata.

Akhirnya mereka tiba juga di kaki gunung tersebut

Akan tetapi begitu melihat ke atas, kaki mereka langsung merasa ngilu, Ternyata di gunung itu cuma terdapat salju yang memutih, pantas disebut gunung salju, Mau mendaki ke atas sudah sulit, apalagi harus bertarung dengan Pek Ih Sin Kun- Sen Lui dan jago lainnya.

Kereta kuda terus mendaki, Sehari kemudian baru tiba di pinggang gunung itu, sedangkan puncaknya masih tertutup awan. Ling Hung menarik nafas panjang setelah memandang ke atas.

"Kakak misan, lebih baik kita pulang saja, tidak usah ke atas gunung!" ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Adik Hung!" sahut Sie Bun Yun. "Biar bagaimanapun, kesehatanmu harus pulih seperti semula."

"Tapi. " Ling Hung menggeleng-gelengkan kepala Belum

seberapa lama mereka melakukan perjalanan

ke atas, hari sudah gelap dan rembulan pun mulai bersinar remang-remang.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak muncul dua orang menghadang mereka.

"Aku punya urusan penting!" ujar Sie Bun Vui hormat "lngin menemui ketua kalian!"

Akan tetapi, ke dua orang itu tidak menyahut sama sekali, melainkan berdiri mematung di tempat. Sie Bun Yun mengerutkan kening, sebab cara mereka berdiri agak aneh, kelihatan mengambil posisi M akan rnenyerang, Sie Bun Yun meloncat turun dari kerei kuda, lalu mendekati ke dua orang itu. Ternyata jalar darah mereka berdua telah ditotok orang.

"Adik Hung!" Sie Bun Yun memberitahukan "Munt kin partai Swat San telah terjadi sesuatu, Kalau ku membantu mereka, urusan kita akan lebih lancar

Ling Hung mengangguk Sie Bun Yun segera membuka jalan darah mereka yang tertotok itu, dan seketika uga ke dua orang itu sudah bisa bergerak

"Bocah!" bentak salah seorang, "Kalian datang di Swat San mau cari gara-gara ya?"

Kedua orang itu langsung melancarkan pukulan ke arah Sie Bun Yun.

"Ka!ian berdua jangan salah paham!" ujar Sie Bun v un sambil meloncat mundur

"Hm!" dengus ke dua orang itu dan menyerang lagi.

Sie Bun Yun terus mundur, namun ke dua orang itu terus menyerangnya, itu membuat Sie Bun Yun mulai naik darah. ia batas menyerang dengan jurus Siang Lang Thauw Thian (Sepasang Gelombang Menembus Langit).

Kedua orang itu berkepandaian biasa, lagi pula tadi dan tertotok jalan darahnya, maka gerakan mereka sudah tidak begitu lincah, seketika juga mereka berdua tertotok oleh Sie Bun Yun.

Setelah berhasil menotok ke dua orang itu, Sie Bun v un segera mendekati kereta kudanya.

"Adik Hung, kita tidak mungkin ke atas dengan kereta kuda, Mari kita berjalan kaki saja!" ujar Sie Bun "v'un dan sekaligus memapah Ling Hung turun, lalu melanjutkan perjalanan sambil memapah Ling Hung. justru sungguh mengherankan, sepanjang menuju ke mncak, Sie Bun Yun dan Ling Hung melihat banyak "rang telah tertotok jalan darahnya, Oleh karena itu nereka berdua tidak mendapat halangan apa pun.

"Adik Hung!" Sie Bun Yun menunjuk ke atas, "Tidak ima lagi kita akan sampai ke puncak gunung itu."

Ling Hung tidak menyahut, cuma tersenyum getir, karena ia tahu Sie Bun Yun sudah capek sekali, namun masih menghiburnya, Sie Bun Yun tetap memapah gadis itu. tetapi mulai sulit mendaki, sebab harus melalui salju yang sudah membeku. Kalau tidak memapah Ling Hung, mungkin tiada kesulitan bagi Sie Bun Yun untuk mendaki

Ketika mereka mendaki dengan susah payah, sayup-sayup terdengar bentakan dan suara beradunya senjata tajam.

Sejenak kemudian, suara itu sudah tidak terdengar lagi

Sie Bun Yun terus mendaki sambil memapah Ling Hung. Padahal udara di tempat itu dingin sekali, tapi kening Sie Bun Yun malah mengucurkan keringat Dapat diketahui, betapa beratnya mendaki gunung salju itu sambil memapah Ling Hung.

Tak seberapa lama kemudian, mereka melihat puluhan orang berdiri mematung. Ternyata jalan darah mereka telah tertotok. Rupanya ada orang yang merintis duluan untuk mereka, itu membuat Sie Bun Yun tidak habis berpikir, siapa yang menempuh bahaya membantunya? Mungkinkah kebetulan ada orang lain mendatangi partai Swat San untuk menuntut balas, sehingga secara tidak langsung telah membantunya? Sie Bun Yun berpikir sambil mendaki, kemudian mendongakkan kepala, dan seketika juga ia tampak tertegun

Ternyata di atas tampak tebing salju yang membeku, amat licin sehingga sulit sekali untuk didaki, sepanjang jalan ia terus menghibur Ling Hung, namun sekarang ia yang kelihatan putus asa, karena tidak mungkin bagi mereka mendaki tebing salju beku itu. Sie Bun Yun duduk, tak henti-hentinya ia menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala, Ling Hung memandangnya, kemudian tersenyum getir seraya bertanya.

"Kakak misan, aku tahu engkau telah berupaya se- maksimal mungkin demi diriku, Seumur hidup aku sangat berterimakasih padamu, kini,., engkau tidak perlu cemas karena diriku."

"Adik Hung. " Sie Bun Yun memandang tebing salju beku

itu. "Engkau tunggu di sini, aku seorang diri akan naik ke atas!"

"Kakak misan, saat ini aku sama sekali tidak bertenaga, Kalau ada musuh ke mari, bukankah kita akan lebih celaka?"

"Adik Hung!" Sie Bun Yun menarik nafas, "Biar bagaimanapun aku harus memperoleh Swat Ing itu untukmu."

"Kakak misan!" Ling Hung tersenyum, "Aku tahu sifatmu, apa yang kau pikir pasti kau laksanakan Namun sekarang.,, aku sudah hampir mati."

"Adik Hung!" Sie Bun Yun menatapnya. "Apakah engkau masih memikirkan bocah keparat itu?"

Ling Hung menundukkan kepala, lama sekali barulah menyahut dengan suara rendah.

"Tidak salah apa yang engkau katakan, sebab aku...

sungguh mencintainya."

Sie Bun Yun langsung diam. Di saat itulah terdengar suara pertarungan di atas tebing salju beku itu.

Sie Bun Yun tereengang dan segera memandang ke atas, ia melihat tiga orang sedang bertempur dengan seru sekali di atas tebing salju beku itu.

Dua orang mengenakan pakaian putih seperti yang dilihatnya sepanjang jalan, sedangkan seorang lagi memakai mantel bulu rase dan memakai topi bulu rase pula yang hampir menutupi mukanya. Orang tersebut bersenjata sebilah pedang panjang. Walau melawan dua orang itu, namun ia masih berada di atas angin.

Sie Bun Yun tahu, orang itulah yang merobohkan orang- orang di sepanjang jalan, Tiba-tiba orang itu membentak keras sambil mengeluarkan jurus ilmu pedang yang amat aneh, sehingga ke dua orang lawannya tertotok jalan darah masing- masing.

Setelah menotok jalan darah ke dua orang itu, orang tersebut melesat pergi, Sie Bun Yun tertegun menyaksi- kannya, mendadak terdengar suara Ling Hung.

"Kakak misan, cepat ke mari!"

"Ada apa?" tanya Sie Bun Yun sambil mendekati Ling Hung.

"Lihallah!" Ling Hung menunjuk ke arah tebing salju beku, "Apa itu?"

Sie Bun Yun langsung memandang ke arah yang ditunjuk Ling Hung. ia tampak tertegun tapi kemudian tampak girang sekali.

"Terimakasih atas bantuan Anda!" serunya lantang.

Ternyata dari atas tebing salju beku merosot turun seutas tali, itulah yang amat menggembirakan Sie Bun Yun. Dengan adanya tali tersebut, tidak sulit bagi Sie Bun Yun mendaki tebing salju beku itu walau harus menggendong Ling Hung.

Sie Bun Yun pun yakin, bahwa orang bermantel bulu rase yang memberi bantuan padanya, maka ia sangat berterimakasih pada orang itu.

Akan tetapi, di atas tebing itu tiada sahutan sama sekali, Sie Bun Yun segera menggendong Ling Hung dengan punggungnya, lalu mendekati tali itu, Setelah memegang tali tersebut, Sie Bun Yun beipesan.

"Adik Hung, rangkuI leherku erat-erat!" "Ya," sahut Ling Hung lalu merangkul leher Sie Bun Yun erat-erat.

Dengan menggendong Ling Hung, Sie Bun Yun memanjat dengan bantuan tali Sie Bun Yun mulai memanjat ke atas dengan bantuan tali itu. Tak seberapa lama kemudian, berhasil lah ia mencapai di atas tebing salju beku itu.

Kemudian ia menarik nafas lega seraya berkata dengan gembira.

"Adik Hung! Kalau bisa memperoleh Swat Ing itu, kita harus berterimakasih pada orang itu Iho!"

"Siapa orang itu? Apakah Kakak misan melihat je-las?" tanya Ling Hung.

"Tidak." Sie Bun Yun menggelengkan kepala, Mereka duduk beristirahat sambil mengisi perut dengan makanan kering yang dibawanya, Tak jauh dari tempat mereka duduk, tampak dua orang yang berpakaian putih berdiri seperti patung, Ternyata jalan darah ke dua orang itu telah tertotok oleh orang yang memberi bantuan pada Sie Bun Yun.

Di saat Sie Bun Yun dan Ling Hung sedang mengisi perut, mendadak ke dua orang berpakaian putih itu bergerak dan saling memandang memberi isyarat, namun kemudian ke duanya kembali mematung lagi.

Kalau Sie Bun Yun melihat, tentu akan tahu bahwa ke dua orang berpakaian putih itu memiliki Lweekang yang cukup dalam, karena mampu mengerahkan Lweekang untuk membebaskan totokan pada tubuhnya.

Akan tetapi, Sie Bun Yun dan Ling Hung justru duduk membelakangi mereka, maka tidak mengetahuinya.

Berselang beberapa saat, ke dua orang berpakaian putih mulai bergerak mendekati Sie Bun Yun dan Ling Hung.

Mereka sudah bergeser tiga langkah, namun Sie Bun Yun dan Ling Hung sama sekali tidak mengetahuinya. Kedua orang berpakaian putih saling memandang lagi, kemudian mengangguk dan siap melancarkan serangan, Namun karena Ling Hung menoleh ke belakang, maka seketika juga orang berpakaian putih langsung berdiri mematung lagi.

"Eeeh?" Ling Hung tereengang, "Kakak misan, apakah jalan darah ke dua orang itu tidak tertotok?"

Sie Bun Yun segera menoleh ke belakang, Begitu melihat ke dua orang itu berdiri mematung, ia tertawa seraya berkata.

"Kalau jalan darah mereka tidak tertotok, bagaimana mungkin mereka berdiri seperti patung di situ?"

"TapL.," Ling Hung mengerutkan kening,"... tadi ke dua orang itu berdiri agak jauh, sekarang kok begitu dekat?"

"Mungkin engkau salah ingat," ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum.

Meskipun bereuriga, namun karena Sie Bun Yun mengatakan begitu, maka Ling Hung tidak banyak bicara lagi, dan mereka mulai mengisi perut lagi.

Pada waktu bersamaan, ke dua orang berpakaian putih bergerak melancarkan pukulan ke arah Sie Bun Yun dan Ling Hung, Begitu mendengar suara desiran angin di belakang, Sie Bun Yun sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres, Terkejutlah ia karena Ling Hung tidak bertenaga untuk melawan, tentunya akan terluka parah oleh pukulan itu, Tanpa banyak berpikir lagi Sie Bun Yun langsung mendorong gadis itu tanpa menghiraukan diri senilirL

Ling Hung terdorong beberapa depa, namun tidak mengalami cidera apa pun. Di saat itulah terdengar suara "Plak!", bahu Sie Bun Yun lelah terhantam oleh pukulan.

Badan Sie Bun Yun tampak sempoyongan, tapi masih sempat balas menyerang dengan jurus Siang Lang Thauw Thian (Sepasang Gelombang Menembus Langit). Jurus tersebut amat istimewa dan aneh, bahkan ke dua jari tangan Sie Bun Yun berhasil menotok dada lawan, Kedua orang berpakaian putih itu sama sekali tidak menyangka Sie Bun Yun akan melancarkan serangan balasan.

Kedua orang berpakaian putih terkejut bukan main, lalu bergerak cepat meloncat mundur beberapa depa.

"Aku dengan kalian tiada permusuhan!" bentak Sie Bun Yun. "Kenapa kalian melancarkan serangan gelap terhadap kami?"

"He he he!" Kedua orang berpakaian putih tertawa terkekeh, "Kalian berani mendatangi tempat larangan Swat San, masih banyak bacot?"

"Kami. "

"Hm!" dengus orang berpakaian putih yang berbadan pendek, "Kenapa kalian tidak secara terang-terangan mengunjungi Swat San?"

"Kami memang secara terang-terangan!" sahut Sit Bun Yun. "Hanya saja sepanjang jalan, orang-orang dan pihak kalian telah tertotok semua!"

"Jangan omong kosong di hadapan kami!" bentak orang berpakaian putih yang berbadan jangkung.

"Aku punya urusan ingin menemui ketua kalian, kenapa kalian malah menghadang di sini?" Air muka Sie Bun Yun mulai berubah.

"Ha ha!" Kedua orang berpakaian putih tertawa, "Kalian ingin bertemu ketua kami?"

"Ya!" Sie Bun Yun mengangguk

"Baik, kami akan membawa kalian pergi menemui-nya!" ujar orang berpakaian putih yang berbadan pendek sambil terkekeh-kekeh.

"Kalau begitu. " Sie Bun Yun ingin mengucapkan

terimakasih. 22 BANGAU SAKTI BAGIAN DUA Jitid 7

Akan tetapi, ke dua orang itu justru melancarkan serangan mendadak Betapa gusarnya Sie Bun Yun. ia membentak keras dan langsung balas menyerang secepat kilat, Dalam waktu sekejap, mereka sudah bertarung tiga jurus.

Pada jurus ke empat, Sie Bun Yun mengeluarkan jurus andalannya, sehingga membuat ke dua orang lawannya terdesak mundur beberapa langkah.

Di saat bersamaan, Sie Bun Yun mengeluarkan bambu keringnya, dan sekaligus digerakkannya dengan jurus Lang Hoa Tiam Tiam (Bunga Ombak Bertaburan). Tampak berkelebatan bayangan bambu kering mengarah kepala ke dua orang berpakaian putih, namun secepat kilat ke dua orang berpakaian itu meloncat mundur

"Bocah, jurus-jurus ilmu silatmu sangat aneh, tentu kalian teman orang itu!" bentak salah seorang.

Partai Swat San tergolong salah satu partai besar dalam rimba persilatan, namun kenapa para murid tersebut sedemikian tak tahu aturan? Sie Bun Yun justru tidak tahu, partai Swat San memang angkuh, lagipula ke dua orang itu telah dipecundang duluan, sehingga kegusaran mereka dilampiaskan pada Sie Bun Yun.

"Kakak misan! Kakak misan. " Terdengar suara panggilan

Ling Hung yang bergemetaran.

Sie Bun Yun segera berpaling dan terkejutlah se-ketika, ternyata ia melihat ke dua orang aneh berdiri di dekat Ling Hung. Kedua orang aneh itu berbadan tinggi kurus bagaikan mayat hidup, memakai jubah putih dan kelihaian sudah siap menyergap Ling Hung.

"Ada urusan apa, bicaralah denganku!" bentak Sie Bun Yun sambil melesat ke arah mereka, sekaligus mengeluarkan jurus Heng Soh Thian Lam (Menyapu Thian Lam Cara Melintang).

Serangan itu mengarah pada jalan darah di tubuh ke dua orang aneh tersebut, dan cepat bukan main, Namun Sie Bun Yun mana tahu, kalau ke dua orang aneh itu adalah orang kepereayaan Pek Ih Sin Kun-Sen Lui. Tentunya ke dua orang aneh itu pun berkepandaian tinggi.

Salah seorang aneh itu mengibaskan lengan jubah-nya. seketika juga bambu kering itu tertangkis oleh tenaga yang amat kuat Kalau Sie Bun Yun tidak memiliki Lweekang yang lumayan bambu kering itu pasti sudah terlepas dari tangannya.

"Sert! Sert.,." Sie Bun Yun cepat-cepat menggerakkan bambu keringnya membentuk beberapa lingkaran dan langsung menyerang ke dua orang aneh itu.

Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara desiran senjata di belakangnya, Tiada waktu bagi Sie Bun Yun untuk membalikkan badannya menangkis senjata itu, maka ia mempereepat gerakannya mengarah ke depan "Plak!" Senjata yang di belakangnya menghantam salju beku.

Sedangkan Sie Bun Yun terus meluncur ke arah ke dua orang aneh itu, Kedua orang aneh itu berteriak, ternyata salah seorang dari mereka telah tertotok oleh ujung bambu kering Sie Bun Yun. sedangkan yang satu lagi justru melesat ke arah Ling Hung, Gadis itu sama sekali tidak mampu mengadakan perlawanan ia tertangkap dan dibawa pergi oleh orang aneh itu.

Sie Bun Yun cemas. ia membentak keras sambil melesat mengejar orang aneh itu. Tapi pada waktu bersamaan, para murid partai Swat San bermunculan me-ngepungnya.

"Adik Hung!" teriak Sie Bun Yun. "Adik Hung. " "Kakak

misan!" Sayup-sayup terdengar suara sahutan Ling Hung. "Kakak misan cepat ke mari.,.!" Sie Bun Yun bersiul panjang, ia memutar bambu keringnya, lalu menerjang ke depan dan lolos dari kepungan Ketika sepasang kakinya baru menginjak tanah muncullah empat orang menghadang di depannya.

"Hm!" dengus Sie Bun Yun sambil menggerakkan bambu keringnya menghalau mereka, kemudian mendadak melesat ke depan mengejar orang aneh itu yang ^ membawa Ling Hung.

sementara orang aneh yang tertotok itu sudah bisa bergerak, Ternyata ia mengerahkan Lweekangnya untuk membebaskan totokan itu, ia berleriak aneh, lalu mengerahkan ginkang mengejar Sie Bun Yun.

sedangkan Sie Bun Yun yang mengejar orang aneh yang membawa Ling Hung sudah semakin dekat Akan tetapi, mendadak orang aneh itu melesat dengan cepat Ternyata ia mengerahkan ginkangnya, maka dalam sekejap Sie Bun Yun sudah tertinggal jauh.

Betapa cemasnya Sie Bun Yun. ia pun mengerahkan ginkangnya untuk mengejar orang aneh itu. Namun mendadak terdengar suara bentakan di belakangnya, ternyata orang aneh yang tadi tertotok sudah mendekat pada Sie Bun Yun.

"Kami ke mari tanpa berniat jahat, kenapa kalian menyambut tamu dengan cara demikian?" tanya Sie Bun Yun menghardik

Orang aneh yang di belakang Sie Bun Yun tidak menyahut melainkan langsung menyerangnya dengan sebuah pukulan

Sie Bun Yun gusar sekali, Mendadak ia membalikkan badannya, dan sekaligus menggerakkan bambu keringnya, Tangan kirinya pun diayunkan untuk menyambut pukulan tersebut

"Bumm!" Terdengar suara benturan. Sie Bun Yun terdorong ke belakang beberapa langkah, sedangkan orang aneh itu pun terpental beberapa depa. itu berarti Lweekang Sie Bun Yun masih di atas orang aneh itu.

Sebelum orang aneh itu berdiri tegak, Sie Bun Yun langsung menyerangnya dengan tiga jurus beruntun, yakni jurus Yun Ing Si San (Awan Dan Asap Berhamburan), Can Cui Put Fuk (Hancur Remuk Tak Tersusun) dan Lian Cu Sam Huat (Mutiara Bergemerlapan Tiga Kali). 

Orang aneh itu tidak dapat berkelit ia tertotok jatuh ke tanah di jurus ke tiga, Sie Bun Yun tidak membuang waktu, ia langsung mengejar orang aneh yang membawa Ling Hung.

Akan tetapi, orang aneh itu sudah semakin jauh, sulit dikejarnya lagi. Sie Bun Yun tidak putus asa. ia terus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar orang aneh itu.

Ketika hampir di puncak gunung, Sie Bun Yun melihat seseorang muncul di sisi orang aneh itu. Orang yang baru muncul itu memegang sebilah pedang panjang, dan langsung menusuk orang aneh itu.

Karena jaraknya agak jauh, Sie Bun Yun tidak dapat melihat jelas wajah orang itu. Yang jelas orang itu memakai mantel dan topi bulu rase Sie Bun Yun tahu, orang itu yang memberi bantuan padanya dengan seutas tali di tebing salju beku.

Orang aneh itu terhadang. Sie Bun Yun mengerahkan ginkangnya lagi melesat ke tempat itu.

Tlak!" Punggung orang aneh itu terpukul oleh orang bermantel bulu rase, dan seketika juga orang aneh itu jatuh duduk.

Pada waktu bersamaan, Sie Bun Yun sudah melesat sampai di situ. ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, bambu kering itu langsung diayunkannya ke punggung orang aneh itu dengan jurus Lang Hoa Tiam Tiam (Bunga Ombak Bertaburan). "Tak!" Punggung orang aneh itu telah tertotok ujung bambu kering itu, sehingga tidak mampu bangun lagi.

Sie Bun Yun cepat-cepat mendekati Ling Hung yang sudah terlepas dari tangan orang aneh itu, Ling Hung cuma mengalami ketakutan saja, tidak mengalami luka sedikit pun.

Setelah mengetahui Ling Hung tidak terluka, Sie Bun Yun lalu menoleh ke arah orang yang telah berka!i-kali membanlunya. Tapi orang itu sudah tidak tampak lagi.

"Terimakasih atas bantuan Anda, tapi kenapa Anda tidak mau memperlihatkan diri bertemu denganku?" ujar Sie Bun Yun.

Tiada sahutan, Sie Bun Yun tidak habis berpikir, kemudian memandang Ling Hung seraya bertanya.

"Adik Hung, engkau melihat jelas orang itu?"

"Aku tidak melihat jelas wajahnya," jawab Ling Hung. "Orang itu sangat misterius, muncul dan pergi begitu

mendadak." Sie Bun Yun menarik nafas, Di saat itu terdengar

pula suara langkah mendekati mereka.

"Kakak misan, kita harus bagaimana?" tanya Ling Hung cemas.

"Tentunya kita harus maju terus!" sahut Sie Bun Yun dan menambahkan "Aku pantang mundur dan menye-rah!"

Sie Bun Yun memapah Ling Hung melanjutkan perjalanan Namun sungguh mengherankan sepanjang alan tiada halangan apa pun.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah mencapai puncak gunung salju tersebut Di puncak itu memang terdapat sebuah telaga yang airnya amat jernih bagaikan permukaan kaca. Di pinggir telaga itu terdapat sebuah rumah batu. Sie Bun Yun memapah Ling Hung menuju ke rumah batu itu.

Ketika mereka sampai di depan rumah batu itu, terdengar suara-suara bentakan di belakang mereka, dan tak lama kemudian muncullah puluhan orang. Sie Bun Yun menyadari, bahwa ia seorang diri tidak mungkin mampu melawan mereka yang berjumlah puluhan orang, maka ia segera berseru.

"Pek Ih Sin Kun Sen Locianpwee! Apakah Locian-pwee berada di dalam rumah batu ini?"

sementara puluhan orang itu sudah semakin mendekap wajah mereka penuh diliputi kegusaran

"Kalian semua jangan bergerak!" Terdengar suara mengalun keluar dari rumah batu itu.

Puluhan orang langsung berdiri diam di tempat, bahkan tidak berani mengeluarkan suara lagi.

Pintu rumah batu itu terbuka, tampak seorang tua berpakaian putih dan berbadan pendek berdiri di situ, sepasang matanya menyorot tajam menatap Sie Bun Yun.

"Apakah Cianpwce adalah Pek Ih Sin Kun, ketua partai Swal San?" tanya Sie Bun Yun sambil memberi hormat

"Tidak salah." Orang tua itu manggut-manggut

"Aku datang ke mari punya suatu permohonan, entah Cianpwee sudi mengabulkan entah tidak?" ujar Sie Bun Yun.

"Hm!" dengus orang tua itu, "Engkau ingin bermohon apa padaku, anak muda?" tanyanya.

"Adik misanku luka parah, maka aku bermohon. "

Sebelum Sie Bun Yun menyelesaikan ucapannya, orang tua itu sudah tertawa gelak.

"Engkau ingin minta Swat Ing kan?" tanyanya kemudian "Betul, Mohon Cianpwee mengabulkan!" sahut Sie Bun

Yun. "Siapa pun yang ingin minta Swat Ing, harus berlutut setiap tiga langkah dari kaki gunung menuju ke mari, barulah aku memberikannya. Tapi engkau tidak berbuat begilu, bahkan telah melukai murid-muridku! Bukankah engkau sedang mengimpikan Swat Ing itu?" bentak Pek Ih Sin Kun.

"Cianpwee!" Sie Bun Yun memberitahukan "Kalau aku tidak memperoleh Swat Ing itu, nyawa adik misanku tak akan tertolong iagi."

"Ha ha!" Pek Ih Sin Kun tertawa gelak, "ltu ada urusan apa dengan diriku?"

"Cianpwee!" Sie Bun Yun tetap bersabar, itu demi Ling Hung, "Aku mohon maaf telah melukai murid-murid Cianpwee!"

"He he!" Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh, "Bocah, beritahukan namamu!"

"Namaku Sie Bun Yun," sahutnya jujur.

"Oooh!" Pek Ih Sin Kun menatapnya tajam "Belum lama ini, tersiar kabar berita bahwa Cong Cin To berada di tangan Sie Bun Yun, Apakah engkau Sie Bun Yun vang dikabarkan itu?"

Sie Bun Yun terkejut ia tidak menyangka kabar berita itu juga sudah sampai di telinga Pek Ih Sin Kun. Karena Pek Ih Sin Kun menanyakan itu, maka Sie Bun Yun jadi serba salah dan diam seketika.

"Kalau benar, aku mau menukarnya dengan Swat Ing," ujar Pek Ih Sin Kun, "Bagaimana? Engkau setuju?"

"Setuju," sahut Sie Bun Yun.

Betapa terharunya hati Ling Hung, sebab Sie Bun Yun menyahut tanpa berpikir lagi.

"Kakak misan, Cong Cin To. " "Ha ha ha!" Sie Bun Yun tertawa, "Yang penting lukamu sembuh, karena nyawamu lebih berharga dari pada Cong Cin To itu."

"Kakak misan. " Ling Hung menarik nafas.

"Cianpwee!" ujar Sie Bun Yun pada Pek Ih Sin Kun. "Harap Cianpwee mengeluarkan Swat Ing itu untuk mengobati adik misanku!"

"Gampang!" Pek Ih Sin Kun tertawa terbahak-bahak, "Tapi. di mana Cong Cin To itu?"

"Bagaimana mungkin aku membawa Cong Cin To itu di badan? Apakah Cianpwee tidak mempereayaiku?" Sie Bun Yun mengerutkan kening.

"Emmh!" Pek Ih Sin Kun manggut-mangguL "ltu sulit dikatakan, lebih baik adik misanmu ditinggal di sini, engkau pergi mengambil Cong Cin To itu, tentu aku akan mengobatinya dengan Swat Ing."

"Cianpwee!" Sie Bun Yun tampak gusar "Aku pergi dan kembali lagi harus memakan waktu berbulan-bulan, bagaimana mungkin adik misanku dapat bertahan begitu lama?"

"Bocah!" Wajah Pek Ih Sin Kun berubah, "Engkau kok tidak tahu aturan?"

"Cianpwee mengobati adik misanku du!u!" ujar Sie Bun Yun, "Aku pasti membawa Cong Cin To ke mari, Tidak mungkin aku membohongi Cianpwee."

Pek Ih Sin Kun memberi isyarat pada dua orang muridnya, kemudian memberi perintah

"Tangkap gadis itu!"

Kedua orang itu langsung menyergap Ling Hung, Sie Bun Yun bergerak cepat mengayunkan bambu keringnya ke arah ke dua orang itu. Akan tetapi, pada waktu bersamaan Pek Ih Sin Kun mengibaskan lengan bajunya ke arah Sie Bun Yun. seketika juga Sie Bun Yun terdorong mundur beberapa langkah.

Kedua orang itu berhasil menangkap Ling Hung, dan langsung membawanya ke dalam rumah batu itu.

Sie Bun Yun segera melesat, namun Pek Ih Sin Kun sudah berdiri menghadang di hadapannya, pemuda itu menyadari bahwa dirinya bukan lawan Pek Ih Sin Kun. Namun ia sudah nekad, Tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, ia langsung menyerang Pek Ih Sin Kun.

"He he!" Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh. "Dengan kepandaian yang belum seberapa itu engkau ingin melawanku?"

Pek Ih Sin Kun mengibaskan lengan bajunya, Sie Bun Yun merasa ada segulung tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya, Ketika ia baru mau meloncat mundur, dirinya telah tersambar oleh lengan baju Pek Ih Sin Kun. Bahkan tangan kiri Pek Ih Sin Kun pun sudah mengarah bahunya.

Pada saat bahu Sie Bun Yun hampir tereengkeram oleh tangan Pek Ih Sin Kun, di saat itu pula terdengar dua kali suara jeritan di dalam rumah batu, Tak lama tampak dua orang berlari ke luar dengan bahu berlumuran darah, Mereka berdua yang menangkap Ling Hung tadi.

Menyaksikan itu, terkejutlah Pek Ih Sin Kun. sedangkan ke dua orang itu terkulai dihadapannya seraya memberitahukan

"Ketua, Swat Ing telah hilang." ujarnya.

Pek Ih Sin Kun langsung mengibaskan lengan bajunya ke arah Sie Bun Yun, membuat pemuda itu terpental beberapa depa.

"Siapa pencuri itu?" tanya Pek Ih Sin Kun. Kedua orang itu menunjuk ke arah rumah batu, Namun ketika baru mau membuka mulut, tiba-tiba terdengarlah suara "Bum! Bum!", tampak dua buah benda melayang ke luar dari dalam rumah batu itu mengarah pada Pek Ih Sin Kun.

Pek Ih Sin Kun membentak keras sambil melancarkan pukulan ke arah benda-benda itu.

"Braak! Braaak!" Kedua benda itu hancur, ternyata dua buah kursi.

Pek Ih Sin-Kun tertegun ia yakin, bahwa pencuri itu masih berada di dalam rumah batu.

Swat Ing merupakan rumput pusaka partai Swan San, bagaimana mungkin Pek Ih Sin Kun membiarkan pencuri itu kabur? Maka ia segera melancarkan dua buah pukulan ke dalam rumah batu itu.

Terdengar suara hiruk pikuk di dalam rumah batu, ternyata pukulan itu menghancurkan barang-barang yang ada di dalam rumah batu, tapi justru tidak terdengar suara orang.

Pek Ih Sin Kun tertegun, kemudian membentak

"Siapa engkau? Kenapa tidak berani memunculkan diri"?"

Tiada sahutan di dalam rumah batu itu, Pek Ih Sin Kun mendengus dingin dan tetap berdiri di situ.

Iayakin pencuri itu juga membawa kabur Ling Hung, Sebab ia melihat ada sebuah lubang di dinding rumah batu, sedangkan Ling Hung tidak tampak di situ, Dapat dibayangkan betapa gusarnya Pek Ih Sin Kun. ia mendadak bersiul panjang lalu melesat ke dalam, sedangkan para muridnya segera berlari ke belakang rumah batu.

Ternyata siulan panjang itu merupakan isyarat, agar mereka berlari ke belakang rumah batu, Pek Ih Sin Kun memang cerdik, ia tidak mau terpancing pergi meninggalkan rumah batu itu, sebaliknya malah melesat ke dalam, dan sekaligus menyuruh para muridnya mengepung ke belakang rumah batu itu. Ketika melihat Pek Ih Sin Kun melesat ke dalam rumah itu, Sie Bun Yun pun mengkhawatirkan si pencuri itu.

Akan tetapi, terdengarlah suara teriakan anch, dan tak lama kemudian muncullah Pek Ih Sin Kun dengan wajah menghijau.

Sie Bun Yun bergirang dalam hati, karena yakin si pencuri itu adalah orang yang membantunya secara diam-diam, dan tentu sudah membawa pergi Ling Hung, Ka-rena itu, ia segera melesat pergi.

"Mau kabur ke mana, bocah?" bentak Pek Ih Sin Kun dan langsung melesat ke arah Sie Bun Yun.

Sie Bun Yun tahu akan kelihayan Pek Ih Sin Kun, Secepat kilat ia menangkap salah seorang yang ada di situ, lalu dilemparkannya ke arah Pek Ih Sin Kun.

Terpaksalah Pek Ih Sin Kun berkelit, karena tidak mau melukai muridnya sendiri, Di saat itulah Sie Bun Yun mengerahkan ginkangnya melesat pergi laksana kilat.

Akan tetapi, Pek Ih Sin Kun sudah melesat ke arahnya, bahkan sekaligus melancarkan pukulan.

Sie Bun Yun berkelit, dan pukulan itu menghantam tempat kosong, itu membuat Pek Ih Sin Kun bertambah gusar.

pada waktu bersamaan, puluhan orang yang mengejar di belakang tampak kacau balau, Ternyata mendadak muncul seseorang yang memakai mantel dan topi bulu rase menyerang mereka, Setiap pedang orang itu berkelebat, pasti ada orang roboh tertotok Untung orang itu tidak turun tangan jahat, maka mereka cuma tertotok saja.

Pek Ih Sin Kun yang sedang mengejar Sie Bun Yun langsung menoleh ke belakang, Betapa gusarnya ketika melihat para muridnya telah roboh. Kini ia tidak menghiraukan Sie Bun Yun iagi, melainkan melesat ke arah orang itu.

"Siapa engkau?" bentak Pek Ih Sin Kun. Orang itu tidak menyahut, melainkan langsung menyerangnya dengan pedang, Pek Ih Sin Kun adalah seorang ketua partai yang berkepandaian tinggi Namun tampak terkejut sekali ketika melihat serangan itu. Sebab pedang itu kelihatan bergerak perlahan, tapi justru amat aneh gerakannya

Pek Ih Sin Kun tidak menyambut serangan itu, melainkan meloncat mundur dan mendadak menyentilkan jari tengahnya, itu adalah ilmu Tan Ci Kong Im (Jari Sakti Hawa Dingin).

Sudah puluhan tahun Pek Ih Sin Kun melatih ilmu tersebut Maka dapat dibayangkan betapa lihay dan dahsyatnya sentilan jari tengahnya itu, Kalau pedang itu tersentil pasti palah, Oleh karena itu Pek Ih Sin Kun yakin, bahwa serangannya pasti berhasil

Akan tetapi, setelah menyentilkan jari tengahnya, ia terbelalak karena orang itu telah hilang dari hadapannya.

"Haah?"Sie Bun Yun juga terkejut "Kawan! Engkau adalah. "

Orang itu segera memberi isyarat agar Sie Bun Yun pergi Tepat di saat itu Pek Ih Sin Kun juga memutarkan badannya.

"Ya." Sie Bun Yun langsung melesat pergi Hanya saja ia tidak melihat jelas wajah orang itu, karena tertutup oleh topi bulu rase.

Bukan main gusarnya Pek Ih Sin Kun. Sepasang matanya memancarkan sinar yang berapi-api.

"Cepat ambilkan toya penakluk iblisku!" serunya.

Segera ada orang menyahut "Ya". sedangkan orang itu tidak memberi kesempatan pada Pek Ih Sih Kun, dan langsung menyerangnya dengan tiga jurus beruntun.

pedang orang itu berkelebatan mengarahnya, Pek Ih Sin Kun tidak mampu mematahkan jurus-jurus tersebut sehingga terpaksa meloncat mundur Walau berhasil meloncat mundur, lengan baju tetap tersabet putus oleh pedang itu, Betapa terkejutnya Pek Ih Sin Kun, lalu tanpa sadar ia pun berseru.

"Sungguh lihay ilmu pedang itu!"

Siapa orang bermantel dan bertopi bulu rase itu? Tidak lain adalah Lan Tay Kong Cu-Pek Yun Hui.

Sepanjang jalan ia terus-menerus melindungi Sie Bun Yun dan Ling Hung, namun ke dua orang itu sama sekali tidak mengetahuinya. Pek Yun Hui sudah menduga, sampai di puncak gunung salju itu, pasti akan terjadi pertarungan hebat sebab Pek Ih Sin Kun memiliki kepandaian tinggi, Karena itu, dalam perjalanan ia terus melatih diri, meskipun di saat itu hatinya masih berduka.

Pek Yun Hui memang cerdas, Setelah melatih diri ia dapat memahami keistimewaan semua ilmu silat yang ada di dalam Kui Goan Pit Cek, maka dalam waktu dua bulan ini, kepandaiannya terus meningkat

Tiga jurus beruntun yang dilancarkannya tadi adalah ilmu pedang Hui Liong Sam Sek yang dipelajarinya dari Kui Goan Pit Cek. Sudah tahunan ia mempelajari ilmu pedang tersebut namun kini baru dapat memahami keistimewaannya. Pek Ih Sin Kun yang berkepandaian tinggi masih tidak mampu mematahkan jurus-jurus ilmu pedang itu. ia terpaksa meloncat mundur tapi lengan bajunya tetap tersabet kutung oleh pedang Pek Yun Hui.

Setelah meloncat mundur, tampak dua orang menggotong sebuah toya baja yang disebut toya penakluk iblis mendekatinya.

Pek Ih Sin Kun menyambar toyanya itu, lalu diputar- putarkan dan kemudian membentak keras sambil menyerang dengan jurus Kim Kong Nuh Muk (Mata Kim Kong Memancarkan Kemarahan). Toya itu mengeluarkan suara menderu-deru mengarah Pek Yun Hui. Pek Yun Hui sama sekali tidak berniat bertarung, maka ia mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, tahu-tahu sudah berada di belakang Pek Ih Sin Kun.

Pek Ih Sin Kun terbelalak, sebab mendadak Pek Yun Hui menghilang dari hadapannya ilmu apa itu? Tanyanya dalam hati, Di saat itu, ia mendengar suara para muridnya di belakangnya, ia segera membalikkan badannya, melihat para muridnya yang berjumlah puluhan sedang mengurung Pek Yun Hui.

Walau sudah terkurung, Pek Yun Hui masih bisa loIos, Pek Ih Sin Kun gusar bukan main, ia segera melesat laksana kilat mengejar Pek Yun Hui.

Akan tetapi, Pek Yun Hui telah melesat pergi dengan mengerahkan ginkangnya, Pek Ih Sin Kun penasaran sekali, ia pun mengerahkan ginkangnya mengejar Pek Yun Hui.

Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui sudah sampai di tepi tebing salju beku. Kalau ia masih mau kabur, haruslah meloncat ke bawah.

Setelah mengejar sampai di situ, Pek Ih Sin Kun tampak gembira sekali, sebab Pek Yun Hui sudah tidak bisa kabur lagi.

"Pencuri sialan!" bentak Pek Ih Sin Kun. "Engkau mau kabur ke mana? Ayoh, cepat kembalikan Swat Ing itu! Aku akan mengampuni nyawamu!"

Pek Yun Hui membalikkan badan, Pek Ih Sin Kun sudah siap menyerangnya dengan toya penakluk iblis, namun mendadak, terdengar suara seruan merdu di be-lakangnya.

"Aku telah memakan habis Swat Ing itu, bagaimana mungkin bisa kau minta kembali?"

Pek Ih Sin Kun tertegun dan segera menoleh. Tam-pak Ling Hung bersama Sie Bun Yun. Wajah gadis itu tampak kemerah-merahan, itu pertanda ia memang telah memakan Swat Ing tersebut Kegusaran Pek Ih Sin Kun memuncak, wajahnya tampak kehijau-hijauan dan membentak keras.

"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"

Pek Ih Sin Kun mengayunkan toyanya sehingga menimbulkan suara yang menderu-deru, dan dengan jurus Peng Hun Ciu Sek (Meratakan Musim Salju) menyerang mereka berdua.

Sie Bun Yun dan Ling Hung sudah siap sejak tadi, Sebelum toya itu mendekat, mereka berdua menyingkir ke samping, Toya Pek Ih Sin Kun menghantam salju beku, sehingga salju itu hancur berkeping-keping.

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui pun menyerang Pek Ih Sin Kun dengan pedangnya, sekaligus memberi isyarat pada Sie Bun Yun dan Ling Hung agar mereka mundur.

Tadi ketika Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu, Sie Bun Yun mengenali ilmu tersebut Namun ia sama sekali tidak menduga, kalau orang yang membantunya secara diam-diam itu Pek Yun Hui yang amat dibencinya.

Sie Bun Yun dan Ling Hung segera mundur ke tepi tebing, Ternyata tali itu masih berada di situ. Akan tetapi, mereka berdua tidak segera turun, malah tetap berdiri di situ,"

"Kawan, kami bisa pergi dengan aman, tapi bagaimana denganmu?" tanya Sie Bun Yun.

Ketika melihat mereka berdua masih belum mau pergi, cemaslah hati Pek Yun Hui. Tidak perlu kau hiraukan diriku!" sahutnya cepat.

ia menekan suaranya sehingga terdengar serak, Ilu agar mereka berdua tidak mengenalinya.

Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, kemudian Sie Bun Yun memandang Pek Yun Hui seraya berkata.

"Baiklah! Terimakasih atas bantuan Anda! selamanya kami tidak akan melupakan!" Pek Yun Hui berduka mendengar ucapan itu dan tak terasa air matanya pun telah meleleh.

sementara Sie Bun Yun dan Ling Hung sudah merosot ke bawah dengan tali itu, dan tak lama mereka berdua sudah sampai di bawah.

Pek Yun Hui menarik nafas lega dan mulai mundur ke situ, Namun Pek Ih Sin Kun tidak membiarkannya. ia segera menyerang gadis itu dengan toya nya.

Segeralah Pek Yun Hui berkelit, dan sekaligus balas menyerang dengan tiga jurus beruntun, Serangan itu membuat Pek Ih Sin Kun terpaksa meloncat mundur beberapa depa.

Di saat itu pula Pek Yun Hui memegang tali itu, lalu segera merosot ke bawah. Akan tetapi, Pek Ih Sin Kun membentak dan sekaligus melesat ke arah tali itu sambil tertawa gelak.

"Ha ha!" Mendadak ia mengayunkan toya menghantam tali

itu.

Betapa kagetnya Sie Bun Yun dan Ling Hung

menyaksikannya, sebab Pek Yun Hui masih bergantung di tali itu, sedangkan jarak ke bawah masih belasan depa.

Mendadak kaki Pek Yun Hui menendang pinggiran tebing, seketika juga badannya melambung ke atas sekaligus menggerakkan pedangnya ke arah Pek Ih Sin Kun.

sementara Pek Ih Sin Kun cuma mencurahkan perhatiannya pada tali itu, maka tidak menduga kalau badan Pek Yun Hui akan melambung ke atas sekaligus me- nyerangnya, Begilu mengetahui serangan itu, Pek Ih Sin Kun sudah tidak keburu menangkis maupun berkelit, sebah toyanya diarahkan pada tali itu.

"Blammm!" Toya Pek Ih Sin Kun menghantam tali. "Cess!" Bahunya tertusuk pedang dan darahnya langsung

mengucur Tapi Pek Ih Sin Kun masih sempat mengibaskan

tangannya, itu membuat sepasang kaki Pek Yun Hui menginjak tempat kosong, sehingga badannya langsung merosot ke bawah.

Perlu diketahui, pada waktu itu Lweekang Pek Yun Hui masih belum begitu dalam, maka ketika merosot ke bawah ia sama sekali tidak mampu mengerahkan ginkangnya.

"Haah...?" Sie Bun Yun dan Ling Hung menjerit kaget.

"Buuuuk!" Pek Yun Hui jatuh duduk di dasar tebing, Kakinya terasa sakit bukan main, ternyata tulangnya telah patah.

Sie Bun Yun dan Ling Hung segera mendekatinya, tapi mendadak Pek Yun Hui membentak serak sambil mengangkat pedangnya.

"Pergi!"

Sie Bun Yun dan Ling Hung terpaksa berhenti Sie Bun Yun tampak tereengang.

"Bagaimana lukamu, kawan?" tanya Sie Bun Yun.

Pek Yun Hui ingin bangkit berdiri, namun kaki kirinya terasa sakit sekali, terpaksa duduk kembafi.

"Kawan!" ujar Sie Bun Yun cemas. "Mungkin kakimu telah patah, Anda sudah berkali-kali menolong kami, biarlah kami menolong Anda sekali!"

Pek Yun Hui tidak menyahut hanya menuding mereka dengan pedang, Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, Ling Hung segera memberi isyarat lalu berkata pada Pek Yun Hui.

"Kawan, engkau menghendaki kami pergi? Baiklah, kami akan segera pergi!"

Sie Bun Yun dan Ling Hung melangkah pergi. Na-mun beberapa depa kemudian, mereka berdua bersembunyi di balik sebuah batu besar "Kakak misan!" bisik Ling Hung. "Orang itu aneh sekali."

"Ya." Sie Bun Yun mengangguk "Memang dia aneh sekali, Kakinya sudah terluka, tapi tidak mau kita tolong."

"Pek Ih Sin Kun tidak mungkin berhenti sampai di situ. Dia pasti mengejar orang itu, maka lebih baik kita menunggu di sini saja."

"Ng!" Sie Bun Yun mengangguk lagi, "Adik Hung, bagaimana cara orang itu menolongmu?"

"Ketika aku dibawa ke dalam rumah batu itu, ternyata dia sudah berada di dalam, dan langsung menyerang ke dua orang yang membawaku Kedua orang itu terluka dan segera berlari ke Iuar. Orang itu pun menyambitkan dua buah kursi ke luar, lalu mendadak memasukkan sesuatu yang dingin ke dalam mulutku, Dia pun berpesan padaku agar bersembunyi di sudut, setelah itu dia menghantam dinding rumah batu itu sampai berlubang, ia langsung menerobos ke luar, dan tak lama engkau masuk dan kita berdua mengikuti Pek Ih Sin Kun itu sampai di tebing salju."

"Adik Hung!" Sie Bun Yun tertawa, "Kalau begitu, engkau sama sekali tidak melihat bagaimana raut wajah-nya?"

"Aku bertanya beberapa kali padanya, dia tidak menyahul." Ling Hung memberitahukan "Aku ingin melihat wajahnya, tapi dia selalu memalingkan kepalanya, agar aku tidak bisa melihat wajahnya,"

"Heran!" Sie Bun Yun mengerutkan kening, "Gc-rakannya tadi justru mirip.,."

sebetulnya Sie Bun Yun ingin mengatakan mirip Pek Yun Hui, tapi karena khawatir Ling Hung akan berduka lagi, maka ia tidak melanjutkan

"Kakak misan!" Ling Hung menatapnya heran. "Kok tidak dilanjutkan?"

"Aku... aku. " Wajah Sie Bun Yun memerah. "Katakanlah!" desak Ling Hung, "Orang itu mirip siapa?"

"Gorakan orang itu mirip gerakan.,., Pek Yun Hui." Sie Bun Yun terpaksa memberitahukan

Begitu mendengar nama tersebul, wajah Ling Hung berubah seketika.

Pada waktu itu, Sie Bun Yun mendengar suara di atas tebing, ia cepat-cepat menengok, tampak seutas tali merosot ke bawah.

"Adik Hung, lihatlah!"

Ling Hung mendongakkan kepala, Tampak Pek Ih Sin Kun sedang menuruni tebing itu dengan tali, Bahunya yang terluka telah dibalut, tampak pula dua orang aneh yang berbadan tinggi kurus mengikutinya.

"Celaka!" bisik Ling Hung. "Orang itu sudah terluka kakinya dan tidak bisa berjalan, Pasti dia akan celaka di tangan Pek Ih Sin Kun!"

Mendadak Sie Bun Yun tertawa gelak, kemudian meloncat ke atas batu itu sambil berseru.

"Sobat! Walau engkau tidak menghendaki bantuan kami, tapi kami telah menerima budi pertolonganmu Bagaimana mungkin kami pergi begitu saja?"

Ketika melihat Pek Ih Sin Kun merosot turun, Pek Yun Hui sudah terkejut Lebih-lebih ketika mendengar suara seruan Sie Bun Yun. ia amat kagum akan kegagahan dan rasa so!ider Sie Bun Yun, hanya saja pemuda itu telah salah paham terhadap Pek Yun Hui.

Timbul lagi rasa duka dalam hati Pek Yun Hui. ia tidak tahu harus bagaimana menjernihkan kesa!ah-pahaman itu.

sementara Sie Bun Yun yang berdiri di atas batu besar itu, tiba-tiba membungkukkan badannya mengambil sebuah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah tali itu.

"Taak!" Tali putus tersambit batu tersebut Pek Ih Sin Kun berteriak kaget, sedangkan badannya sudah meluncur ke bawah dengan cepat sekali.

Akan telapi, ia sama sekali tidak mengalami cidera sedikit pun, Begitu sampai di bawah, ia langsung menyerang Pek Yun Hui dengan toyanya menggunakan jurus Tak Hai Peng Mo (Menginjak Laut Membasmi Iblis).

Kaki kiri Pek Yun Hui telah patah, itu membuatnya tidak bisa bergerak, sedangkan toya Pek Ih Sin Kun sudah mengarah pada dirinya. Cepat-cepal tangannya menekan tanah, dan seketika juga badannya melesat pergi.

"Braaak!" Toya Pek Ih Sin Kun menghantam tanah sehingga berlubang

Sie Bun Yun terkejut bukan main melihat itu, ia membentak keras sambil menggerakkan bambu kering-nya menyerang Pek Ih Sin Kun. Ling Hung pun tak tinggal diam. ia pun menyerang Pek Ih Sin Kun dengan trisulanya.

Pek Ih Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh menyambut serangan-serangan itu, lalu juga balas menyerang, Ter-jadilah pertarungan seru diantara mereka bertiga, Walau dua lawan satu, namun lama kelamaan Sie Bun Yun dan Ling Hung berada di bawah angin.

Pada saat itu, mendadak berkelebat sosok bayangan, ternyata seorang wanita berusia empat puluhan yang tampak anggun, Cara bagaimana wanita itu muncul, Pek Ih Sin Kun pun tidak melihat jelas.

Pek Yun Hui mengenali wanita itu, tidak lain adalah Cui Tiap dan ia pun hampir memanggilnya.

"Hei, bocah!" seru Cui Tiap nyaring, "Engkau sudah ke mari! Bagaimana? Sudah mendapatkan Swat Ing itu apa belum?"

"Sudah," sahut Sie Bun Yun sambil menangkis serangan Pek Ih Sin Kun. "Berhenti!" bentak Cui Tiap mendadak "Hm!" dengus Pek Ih Sin Kun. padahal ia sudah tahu bahwa wanita itu berkepandaian tinggi, Namun karena kebenciannya terhadap ke tiga orang itu sudah dalam, maka ia masih terus menyerang.

Sie Bun Yun dan Ling Hung terdesak mundur, sedangkan wajah Cui Tiap sudah berubah dingin sekali. "Aku sudah menyuruh berhenti, kenapa engkau masih menyerang mereka?" tanya Cui Tiap seakan tidak menganggap Pek Ih Sin Kun sebagai ketua partai Swat San.

"Hei!" bentak Pek Ih Sin Kun gusar, "Perempuan sialan!

Engkau tuh apa?"

Pek Ih Sin Kun langsung menyerangnya dengan jurus Kim Kong Nuh Muk (Mata Kim Kong Memancarkan Kemarahan).

Cui Tiap tertawa dingin, ia tetap berdiri di situ tak bergeming sama sekali, Namun mendadak ia mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan, Pek Ih Sin Kun merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjangnya, sehingga membuat dirinya terpental

Pek Ih Sin Kun tergolong orang yang berkepandaian linggi, namun masih terpental oleh tenaga itu. Tidak heran, Pek Ih Sin Kun tampak begitu terkejut Yang paling gembira adalah Sie Bun Yun dan Ling Hung. Selelah bisa berdiri tegak, barulah Pek Ih Sin Kun bertanya.

"Siapa engkau?"

"Tidak boleh tahu aku siapa! sahut Cui Tiap sambil tertawa dingin.

Pek Ih Sin Kun tahu bahwa wanita itu berkepandaian amat tinggi, maka ia terpaksa berlaku sabar sambil menekan hawa kegusarannya.

"Hmm!" dengus Cui Tiap dan membentak "Kalian berdua masih belum mau meninggalkan tempat ini, mau tunggu apalagi?" "Cianpwec!" Sie Bun Yun segera memberi hormat. "Orang itu telah berkali-kali membantu kami, Kini kakinya telah terluka, bagaimana mungkin kami meninggalkan nya ?"

"Oh?" Cui Tiap segera melesat ke arah Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui mendongakkan kepala, lalu berkata dengan suara rendah, agar Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak mendengarnya.

"Cui Ie (Bibi Cui), aku! jangan bersuara!"

"Eh? Kong. " Cui Tiap ingin memanggil Pek Yun Hui Kong

Cu (Putri kaisar, namun keburu dipotong Pek Yun Hui).

"Jangan bersuara, cepat suruh ke dua orang itu pergi!"

Cui Tiap mengangguk dan membalikkan badannya memandang Sie Bun Yun dan Ling Hung seraya berkata.

"Kalian berdua boleh pergi! Orangilu adalah urusan-ku!" Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, kemudian

Sie Bun Yun menjura pada Pek Yun Hui.

"Terimakasih atas bantuan Anda! selamanya aku Sie Bun Yun tidak akan melupakannya."

Pek Yun Hui diam saja. Sie Bun Yun langsung mengajak Ling Hung pergi.

Setelah mereka berdua pergi, Cui Tiap langsung menatap Pek Ih Sin Kun dengan tajam dan dingin.

"Engkau masih belum mau kembali ke atas gunung, ingin cari penyakit di sini ya?"

Pek Ih Sin Kun adalah seorang ketua partai Swat Sa"n yang amat tersohor Bagaimana mungkin ia menerima penghinaan ini? wajahnya telah berubah hijau, kemudian melangkah maju.

"Hmm!" dengus Cui Tiap dingin, lalu mendadak badannya melesat ke depan sambil menjulurkan tangan-nya. "PIak! Plak!" Pipi Pek Ih Sin Kun sudah ditampar dua kali.

Sungguh mengherankan! Pek Ih Sin Kun sama sekali tidak dapat berkelit.

Tamparan itu membuat Pek Ih Sin Kun tersadar, bahwa dirinya bukan lawan wanita itu, maka ia pun buru-buru meninggalkan tempat itu.

Bagian ke tiga puluh tujuh

Hati Remuk Mengambil jalan Pendek

Setelah Pek Ih Sin Kun pergi, tak tertahan lagi Pek Yun Hui memanggil Cui Tiap sambil menangis sedih dengan air mata berderai-derai.

"Bibi Cui. "

"Kong Cu!" Cui Tiap mendekati Pek Yun Hui. Ditepuknya bahu Pek Yun Hui, dan tak lama Pek Yun Hui pun berhenti menangis, Cui Tiap menyeka air mata gadis itu seraya berkata, "Engkau menyamar anak lelaki memang mirip sekali, tapi kok menangis sedih begitu, tidak merasa malu ya?"

"Bibi Cui!" Wajah Pek Yun Hui memerah "Aku sangat berduka dalam hati."

"Kong Cu!" Cui Tiap menarik nafas panjang. "Siapa yang telah menghinamu, beritahukanlah."

Pek Yun Hui diam saja, sebab tidak tahu apa yang harus diceritakannya.

"Bibi Cui, tidak ada orang menghinaku," sahutnya sambil menggelengkan kepala.

"Kong Cu. " Cui Tiap manggut-manggut "Aku mengerti,

engkau pasti telah jatuh cinta pada seseorang kan?"

Pek Yun Hui diam lagi, Namun wajahnya sudah memerah dan menundukkan kepala, Cui Tiap menatapnya, lalu menarik nafas panjang. "Kong Cu, di kolong langit ini tiada lelaki yang baik. Aku sudah beritahukan pada adik Siao Tiapmu setiap hari."

"Bibi Cui, di mana adik Siao Tiap?" tanya Pek Yun Hui cepat

"Dia berada di tempat yang jauh sekali," jawab Cui Tiap. "Bibi Cui! sebetulnya kalian tinggal di mana? Sudah lama

guru mencari kalian, tapi tidak pernah menemukan kalian."

"Hm!" dengus Cui Tiap dingin, "Apakah dia masih ingat pada kami ibu dan anak?"

"Bibi Cui..." Pek Yun Hui tertegun.

"Kong Cu!" ujar Cui Tiap mendadak "Kalau engkau mencintai seseorang dalam halimu, jalan yang paling baik ialah membunuhnya."

"Ti... tidak!" Pek Yun Hui tersentak "... aku tidak jatuh cinta pada siapa pun."

"Kong Cu!" Cui Tiap menggeleng-gelengkan kepala, "Engkau tidak perlu membohongiku apakah aku tidak bisa melihatnya?"

Pek Yun Hui diam lagi.

"Kong Cu! Bagaimana dia terhadapmu?" tanya Cui Tiap. "Aaaakh..." keluh Pek Yun Hui. "Dia... dia pasti

membenciku sampai ke tulang sumsum."

"Oh?" Cui Tiap tereengang.

"Dia... dia telah menamparku dua kali." Pek Yun Hui memberitahukan dengan air mata meleleh.

"Kurang ajar!" Air muka Cui Tiap langsung berubah, "Aku harus membunuhnya! Cepat beritahukan siapa dia?"

"Dia...." Pek Yun Hui menarik nafas panjang. "Dia... dia sudah mati." Pek Yun Hui tahu sifat Cui Tiap, apa yang diucapkannya pasti dilakukannya pu!a, Ketika Sie Bun Yun pergi bersama Ling Hung, ia pun menganggap pemuda pujaan hatinya itu telah mati.

Cui Tiap tertegun Namun ketika melihat air muka Pek Yun Hui, ia tahu Pek Yun Hui tidak berkata sesungguhnya.

"Kong Cu!" ujarnya mengalihkan pembicaraan "Kaki kirimu telah patah, biar aku menyambungkannya du!u."

"Baik." Pek Yun Hui mengangguk ia memang sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya.

Cui Tiap menotok beberapa jalan darah di kaki kiri Pek Yun Hui, lalu mulai menyambung tulangnya yang patah.

Setelah itu ia menyobek baju luarnya kemudian dibalutnya kaki Pek Yun Hui dengan kain sobekan itu.

Setelah tulang kaki yang patah itu tersambung, rasa sakitnya pun sudah berkurang, sehingga Pek Yun Hui tampak agak bersemangaL

"Bibi Cui! Bagaimana Bibi Cui ke mari?" tanya Pek YunHui. "Aku ke mari demi pemuda dan anak gadis itu," jawab Cui

Tiap memberitahukan

"Oh?" Pek Yun Hui terkejut "Bibi Cui kenal mereka berdua?"

"Tidak kenal." Cui Tiap menggelengkan kepala, Pek Yun Hui menarik nafas lega. Walau ia seorang putri kaisar, namun ia sangat menghormati Cui Tiap, Kalau Cui Tiap tahu dirinya punya hubungan dengan Sie Bun Yun dan Ling Hung, mungkin Cui Tiap akan mempersalahkannya, itulah yang membuatnya tidak berani menceritakan tentang hubungan tersebut itu justru kesalahan Pek Yun Hui, seandainya ia menceritakan kemungkinan besar Cui Tiap dapat membantunya menyelesaikan urusan itu. "Oh ya!" Pek Yun Hui tampak tereengang, "Bibi Cui tidak kenal mereka, tapi kok demi mereka?"

"Yaaah!" Cui Tiap menarik nafas panjang, "Aku lihat pemuda itu punya cinta kasih yang suci murni, maka aku ke mari melihat-!ihat apakah dia bersungguh hati terhadap gadis itu? Mereka ke mari atas petunjukku."

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut. "Pemuda itu memang punya cinta kasih yang amat dalam terhadap gadis itu, tapi... gadis itu justru tiada cinta kasih terhadap-nya."

"Oh?" Cui Tiap tertegun "Urusan di kolong langit, memang begitulah!"

Pek Yun Hui diam, namun menarik nafas panjang karena ingat akan dirinya sendiri.

"Kong Cu!" Cui Tiap memberitahukan "Engkau cukup beristirahat beberapa hari saja, kakimu pasti sembuh!"

"Bibi Cui. " Pek Yun Hui melihat Cui Tiap sudah mau

pergi, "Jangan pergi dulu!"

"Kong Cu! Aku harus pergi!" ujar Cui Tiap.

"Bibi Cui! Ajaklah aku pergi menemui adik Siao Tiap!" "Tidak!" Cui Tiap menggelengkan kepala, "Kelak engkau

pasti punya kesempatan untuk menemuinya, Kong Cu, kepandaianmu memang tinggi, namun di dalam rimba persilatan banyak kelicikan Terutama kaum lelaki, tiada satu pun boleh dicintai."

"Bibi Cui mengatakan demikian, apakah benar?" tanya Pek Yun Hui sambil bangkit berdiri.

"Tidak salah! Memang begitu!" sahut Cui Tiap, "Tiada satu pun kaum lelaki, yang baik."

Pek Yun Hui diam. Sejak kecil ia selalu bersama Cui Tiap, maka apa yang dikatakannya, Pek Yun Hui pasti menurut Akan tetapi, Cui Tiap mengatakan bahwa tiada satu pun kaum lelaki yang baik, ia justru tidak sependapat.

Sebab ia tahu jelas, Sie Bun Yun adalah lelaki baik, penuh perasaan dan cinta kasih, bahkan juga begitu lembut terhadap Ling Hung. Karena itu, ia yakin Sie Bun Yun adalah lelaki baik, maka tidak salah ia mencintainya.

"Kong Cu! Aku mau pergi, baik-baiklah engkau menjaga diri!" pesan Cui Tiap dan badannya pun berkelebat pergi.

"Bibi Cui! Bibi CuL." seru Pek Yun Hui memanggilnya, Namun Cui Tiap sudah lenyap dari pandangannya, Sungguh tinggi ginkang wanita itu.

Pek Yun Hui berdiri termangu-mangu. Mendadak timbullah perasaan hampa dalam hatinya, Saat ini cuma tinggal Pek Yun Hui seorang diri, Sie Bun Yun pergi bersama Ling Hung, sedangkan Cui Tiap pun sudah pergi, Kini ia seorang diri sehingga hatinya merasa hampa.

"Bibi Cui! Bibi Cui." teriak Pek Yun Hui sekeras-kerasnya sehingga suaranya bergema di pegunungan iiu. Tiada sahutan Pek Yun Hui menganggap tiada seorang pun mendengar suara teriakanmu

Padahal sesungguhnya, ada dua orang mendengar suara teriakannya, yaitu Sie Bun Yun dan Ling Mung.

"Kakak misan!" Ling Hung tampak tertegun. "Dengarlah suara teriakan itu, sepertinya suara siapa?"

Sie Bun Yun segera mendengar dengan penuh perhatian seketika juga keningnya berkerut, ia tahu itu adalah suara Pek Yun Hui.

"Entahlah!" Sie Bun Yun justru pura-pura tidak tahu, karena khawatir kalau memberitahukan, hati Ling Hung pasti berduka lagu "Suara itu amat asing bagiku, lagi pula sangat jauh." Ling Hung berdiri mematung. Ternyata ia sedang mendengarkan suara itu dengan penuh perhatian Ber-selang sesaat wajahnya tampak berseru

"Kakak misan, itu adalah suara Kakak Yun. Aku mengenali suaranya itu," ujarnya gembira.

"Oh, ya?" Wajah Sie Bun Yun agak memerah, karena ia tidak pernah berbohong, tapi barusan telah berbohong pada Ling Hung.

"Kakak misan!" Ling Hung menggenggam tangan Sie Bun Yun erat-erat. "Kini aku sudah tahu, orang yang membantu kita secara diam-diam pasti Kakak Yun."

"Dia?" Sie Bun Yun tertegun ia memang sudah bereuriga karena ilmu silat orang yang membantunya mirip ilmu silat Pek Yun Hui. "Dia membuat makam palsu menghindarimu, tapi kenapa dia masih membantu kita?"

"Kakak misan, engkau pasti sudah salah paham akan perlakuannya terhadap orang, Aku harus menemuinya, mari kita pergi mencarinya!" ujar Ling Hung dan langsung menarik Sie Bun Yun pergi mencari Pek Yun Hui.

******

Ling Hung dan Sie Bun Yun kembali ke tempat dekat tebing salju beku. Mereka berdua tahu bahwa kaki Pek Yun Hui sudah patah, tidak mungkin akan pergi jauh dari tempat itu.

Wajah Ling Hung cerah ceria tampak gembira sekali, sebab sebentar lagi akan bertemu Pek Yun Hui.

Sie Bun Yun tetap mengikutinya dari belakang, dan tak lama mereka sudah sampai di tempat tersebut Dari jauh Ling Hung sudah melihat Pek Yun Hui duduk di situ, Hatinya mulai berdebar-debar tegang, karena khawatir orang itu bukan Pek Yun Hui yang dirindukannya. otomatis langkah kakinya jadi lamban. sebaliknya Sie Bun Yun malah mempereepat langkahnya, ia berjalan di samping Ling Hung, sementara Ling Hung sudah tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri, Entah gembira atau berduka, yang jelas air matanya sudah meleleh Setelah kira-kira tiga depa di hadapan Pek Yun Hui, Ling Hung memanggil dengan suara terisak.

"Kakak Yun! Engkau Kakak Yun kan?" Padahal Pek Yun Hui ingin pergi, tapi kakinya masih belum sembuh, maka tidak bisa meninggalkan tempat itu. Betapa kacaunya perasaan Pek Yun Hui, ia memandang ke tempat lain dengan mulut membungkam.

Karena Pek Yun Hui tidak menyahut, Ling Hung maju beberapa langkah seraya bertanya dengan lembut

"Kakak Yun! Engkau... Kakak Yun kan?"

"Cepat enyah!" sahut Pek Yun Hui membentak kasar Ling Hung tertegun, karena suara Pek Yun Hui bernada serak. padahal suara teriakan yang didengarnya tadi suara Pek Yun Hui, namun kenapa sekarang berubah serak?

"Kalau begitu, engkau siapa?" tanya Ling Hung penasaran "Masih belum mau enyah?" bentak Pek Yun Hui dan tetap

bernada serak. ia tahu apabila mereka berdua tahu dirinya

adalah Pek Yun Hui, urusan pun akan bertambah kacau dan kusut, karena itu ia mengeraskan hati untuk tidak mau mengaku.

Mendadak Pek Yun Hui memungut dua buah batu kecil, lalu disambitkannya ke arah Ling Hung dan Sie Bun Yun.

Ling Hung sedang merindukan Pek Yun Hui, maka tidak tahu kalau batu itu menyambar ke arahnya.

Untung Sie Bun Yun bergerak cepat mengibaskan tangannya memukul jatuh ke dua buah batu kecil itu. "Adik Hung, sudahlah! Tidak usah banyak bertanya padanya lagi!" ujar Sie Bun Yun.

"Kakak misan! Kalau belum tahu jelas dia Kakak Yun atau bukan, aku tidak akan meninggalkan tempat ini," sahut Ling Hung.

"Tentunya kita harus tahu jelas tentang itu," ujar Sie Bun Yun.

"Tapi. " Ling Hung menggeleng-gelengkan kepala, "Dia

tidak mau bertatap muka dengan kita, kita harus bagaimana?"

Sie Bun Yun memang sudah bereuriga, sebab Pek Yun Hui selalu menghadap mereka dengan punggung-nya. pemuda itu memberi isyarat pada Ling Hung, lalu berkata pada Pek Yun Hui.

"Kawan! Aku tidak perduli engkau Pek Yun Hui atau bukan, tetapi aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa orang yang rendah dan tak berperasaan di kolong langit adalah orang yang tidak kenal cinta kasih."

Mendengar ucapan Sie Bun Yun, hati Pek Yun Hui merasa sakit sekali, bagaikan tersayat sembilu.

"Aku adalah penolong kaiian. Aku menyuruh kalian pergi kok kalian tidak mau dengar?" bentak Pek Yun Hui dengan suara serak.

Sie Bun Yun dan Ling Hung saling memandang, Wajah Ling Hung tampak murung sekali, kemudian ujarnya putus harapan.

"Kakak misan, mungkin kita telah salah mengenali orang." "Tidak," sahut Sie Bun Yun.

"Kakak misan. " Ling Hung kebingungan

Sie Bun Yun mengayunkan kakinya ke depan. Pek Yun Hui tersentak karena langkah Sie Bun Yun mendekatinya, ia ingin segera kabur, namun kakinya masih terasa sakit, membuatnya tidak bisa beranjak dari situ. "Aduuh!" jeritnya tanpa sadar sebab kakinya yang patah itu terasa sakit seka!i.

"Kakak Yun!" panggil Ling Hung cepat sambil melesat ke arahnya, ia mengenali itu adalah suara Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui terperanjat ketika melihat Ling Hung melesat ke arahnya, ia segera membalikkan badannya sambil memukul, itu adalah gerakan refleknya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat pukulan itu. Ketika ia sadar bahwa yang melesat ke arahnya adalah Ling Hung, namun sudah tidak keburu menarik kembali pukulannya.

"Jangan begitu kejam!" Sie Bun Yun membentak keras dan secepat kilat melancarkan sebuah pukulan ke arah Pek Yun Hui.

"Bummm!" Suara pukulan beradu.

"Aaakh. " Pek Yun Hui menjerit dan terdorong mundur

beberapa langkah, itu disebabkan kakinya patah, maka tidak kuat menahan pukulan Sie Bun Yun.

"Hmm!" dengus Sie Bun Yun. Ternyata benar eng-kau!" "Kenapa kalau aku?" sahut Pek Yun Hui sambil berkertak

gigi.

"Adik Hung terluka dalam gara-gara engkau, kenapa kemudian engkau pula yang berpura-pura jadi orang baik?" bentak Sie Bun Yun.

"Jadi engkau mau apa?" tanya Pek Yun Hui dengan wajah kehijau-hijauan Ternyata ia tersinggung oleh ucapan Sie Bun Yun

"Aku tahu engkau cuma mau mempermainkan adik Hung, maka biar bagaimana pun aku tidak akan me!e-paskanmu!" sahut Sie Bun Yun melotot

Pek Yun Hui langsung duduk, lalu memejamkan sepasang matanya seraya berkata.

"Kalau begitu, bunuhlah aku dengan sekali pukul!" Sie Bun Yun tertegun ia sama sekali tidak menyangka Pek Yun Hui akan berkata begitu.

"Kakak misan, jangan!" seru Ling Hung cepat "Hm!" dengus Sie Bun Yun.

"Kakak Yun!" Ling Hung menatapnya. "Apakah engkau tidak mencintaiku?"

Sie Bun Yun berdiri dengan tangan di dada, kelihatannya sudah siap melancarkan pukulan

"Dia berani mengatakan tidak cinta?" sahutnya.

Padahal Pek Yun Hui ingin menjelaskan pada Ling Hung, Namun ketika melihat sikap dan sahutan Sie Bun Yun, hatinya merasa tertusuk sekali.

"Tidak cinta!" katanya.

Suara itu tidak begitu keras, namun Ling Hung yang mendengarnya, bagaikan sebuah martil besar menghantam hatinya hingga remuk, Gadis itu termundur-mundur beberapa langkah, Wajah pucat pias dan air matanya berderai-derai, lalu mendadak membuka mulutnya sambil tertawa gelak.

Suara tawanya itu begitu memilukan bahkan terdengar amat sedih, sehingga membuat merinding siapa yang mendengarnya.

"Adik Hung. " Cepat-cepat Sie Bun Yun mendekati-nya.

"Kenapa engkau? janganlah engkau berduka, pemuda yang begitu macam. "

"Jangan perdulikan aku!" bentak Ling Hung.

Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan melesat pergi sambil tertawa menyeramkan Sie Bun Yun tertegun, kemudian ia pun melesat pergi mengejar gadis itu.

Pek Yun Hui duduk termangu-mangu, Hatinya menyesal sekali telah mencetuskan perkataan itu. ia ingin menarik kembali perkataan itu, tapi sudah tidak keburu lagi, ia menengadahkan kepalanya memandang langit, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa?

Berselang beberapa saat kemudian, hari pun mulai gelap, Perlahan-lahan Pek Yun Hui bangkit berdiri, ternyata kakinya yang patah itu sudah tidak begitu sakit lagi, Gadis itu mulai mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah ke depan.

Walau agak terpincang-pincang, ia terus berjalan, dan tak terasa ia sudah berjalan hampir empat li.

Pek Yun Hui sama sekali tidak beristirahat, terus berjalan sambil memikirkan kembali semua kejadian yang telah dialaminya

Tak terasa hari sudah mulai terang. Ketika sampai di sebuah tikungan, ia melihat Sie Bun Yun sedang berdiri mematung di pinggir jurang.

selangkah demi selangkah Pek Yun Hui mendekati-nya, Setelah berjarak beberapa depa, barulah Pek Yun Hui berhenti. ia berdiri di situ tanpa bergerak sama sekali.

Sie Bun Yun berdiri membelakangi Pek Yun Hui. ia tidak membalikkan badannya, sedangkan Pek Yun Hui pun berdiri tak bergerak

Entah berapa lama kemudian, matahari sudah berada di atas kepala mereka, Akan tetapi, mereka berdua tetap berdiri mematung, tidak pernah ada yang bergerak sama sekali.

Tiba-tiba Pek Yun Hui mengernyitkan kening, ternyata matanya melihat ada sesuatu di tangan Sie Bun Yun yang melambai-lambai terhembus angin.

Pek Yun Hui tereengang, karena setelah diperhatikannya dengan seksama, barang yang ada di tangan Sie Bun Yun itu ternyata sobekan lengan baju Ling Hung.

Sie Bun Yun berdiri mematung dan tertegun di tepi jurang, apakah Ling Hung jatuh ke dalam jurang itu? "Saudara Bun Yun!" panggil Pek Yun Hui sambil maju beberapa langkah.

Badan Sie Bun Yun tergetar sedikit, kemudian gumamnya dengan suara rendah dan bergemetar.

"Dia jatuh ke bawah, tidak! Dia terjun ke bawah!"

Mendengar itu, air mata Pek Yun Hui langsung me!eleh. ia mendekati tepi jurang, lalu memandang ke dalam, Apa yang dilihatnya? Ternyata hanya kabut tebal menyelimuti jurang yang amat dalam ilu.

Kalau Ling Hung terjun ke bawah, jangankan bisa hidup, mungkin mayatnya pun sulit diketemukan, sebab jurang itu ribuan depa dalamnya.

Sie Bun Yun tampak tidak mengetahui akan ke-beradaan Pek Yun Hui di situ, itu karena kedukaannya telah memuncak ia menggenggam sobekan lengan baju Ling Hung, berdiri mematung sehari semalam di pinggir jurang tidak bergerak sama sekali.

"Dia sudah terjun ke bawah! Dia sudah terjun ke bawah!" gumamnya Iagi.

Pek Yun Hui memandangnya. Tampak sepasang mata pemuda itu telah berubah redup. Kemudian Pek Yun Hui mendekatinya, tapi Sie Bun Yun tetap tidak tahu akan kehadiran gadis itu.

"Saudara Bun Yun!" panggil Pek Yun Hui dengan suara rendah.

Sie Bun Yun tetap tidak bergerak sepasang matanya terus memandang ke bawah jurang, dan bibirnya ber-gerak-gerak.

"Dia sudah terjun ke bawah! Dia sudah terjun ke bawah!" "Saudara Bun Yun!" Pek Yun Hui menarik nafas, "Dia

sudah terjun ke bawah, tapi engkau harus jaga diri baik-baik!" "Betul." sahut Sie Bun Yun mendadak sambil manggut- manggut. "Secara tidak langsung dia dibunuh orang, maka aku harus membalaskan dendamnya!"

Pek Yun Hui merinding mendengar ucapan itu. Nada suara Sie Bun Yun memang penuh mengandung dendam yang teramat dalam, ia mundur selangkah Tanpa sengaja kakinya menendang sebuah batu, dan batu itu menggelinding ke bawah jurang.

Sie Bun Yun memandang batu yang menggelinding ke bawah, dan setelah batu itu tidak kelihatan lagi, barulah ia menoleh memandang Pek Yun Hui.

Begitu melihat Pek Yun Hui, sekujur badan Sie Bun Yun bergetar, seakan melihat ular yang paling beracun.

"Engkau! Engkau yang membunuhnya!" teriaknya aneh. "Saudara Bun Yun. "

"Ha ha ha!" Sie Bun Yun tertawa gelak, "Engkau telah membunuhnya! Adik Hung, engkau bilang engkau tidak membencinya, tapi aku membencinya sampai ke-tulang sumsum! Aku akan merobek dadanya untuk melihat hatinya!"

Sie Bun Yun mendekati Pek Yun Hui selangkah demi selangkah dengan wajah diliputi hawa membunuh. itu sungguh mengejutkan Pek Yun Hui.

Akan tetapi, Pek Yun Hui sama sekali tidak mundur, ia tetap berdiri di tempat tak bergerak sedikit pun.

Hati Pek Yun Hui juga berduka sekali, Ketika menyaksikan air muka Sie Bun Yun, ia tahu kalau Sie Bun Yun tidak membalas dendam Ling Hung, hatinya pasti akan menderita seumur hidup.

Walau Pek Yun Hui tidak pernah mencurahkan isi hatinya pada Sie Bun Yun, namun cintanya terhadap pemuda itu telah mendalam sekali, Maka ia ingin me menuhi harapannya. Setelah agak dekat, Sie Bun Yun menghentikan langkahnya lalu memandang Pek Yun Hui dengan penuh dendam, Pek Yun Hui juga memandangnya, tapi penuh mengandung cinta kasih.

Kelihatannya Pek Yun Hui rela mati di tangan Sie Bun Yun, bahkan akan merasa bahagia sekali apabila bisa mati di tangannya.

keadaannya persis seperti ketika Ling Hung terjun ke bawah jurang, penuh cinta kasih dan sama sekali tidak membenci maupun mendendam pada Pek Yun Hui Bukan main, itulah kekuatan cinta!

"Saudara Bun Yun!" ujar Pek Yun Hui dengan suara rendah, "Tahukah engkau, bahwa selama ini engkau telah salah paham padaku?"

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa, Tidak salah! Selama ini aku memang salah paham terhadapmu!"

"Saudara Bun Yun, kalau begitu,.,." Pek Yun Hui tampak gembira sekali, Akan tetapi Sie Bun Yun justru tertawa gelak lagi, dan tawanya agak aneh.

"Ketika aku bertemu denganmu, aku menganggapmu pemuda baik! Kemudian kukira engkau pun punya cinta kasih, Bahkan aku pun mengira engkau tidak berani membunuh orang, tapi, ha ha! Aku telah salah melihat mu!"

Sie Bun Yun berkertak gigi dan sekujur badannya gemetar Mendadak ia melancarkan pukulan yang penuh mengandung Lweekang, Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulannya itu.

Akan tetapi, pukulannya itu bukan diarahkan pada Pek Yun Hui, melainkan menghantam ke atas.

"Bummm!" Badan Sie Bun Yun bergoyang-goyang, akhirnya jatuh ke bawah. Pek Yun Hui terkejut bukan main, ia langsung meloncat ke arah Sie Bun Yun, lalu membungkukkan badannya sambil menjulurkan tangannya menangkap lengan Sie Bun Yun. Saat ini nyawa Sie Bun Yun memang berada di ujung tanduk, sebab ia bergantung di pinggir jurang, Ketika melihat Pek Yun Hui menjulurkan tangannya, ia pun menjulurkan tangannya menangkap tangan Pek Yun Hui.

Kedua tangan mereka saling berpegangan erat-erat, tapi badan Sie Bun Yun telah merosot ke bawah, maka cuma mengandalkan tangan Pek Yun Hui. karena badannya merosot, otomatis badan Pek Yun Hui pun tertarik sehingga jatuh di pinggir jurang itu.

Pek Yun Hui terperanjat bukan main, namun sebelah tangannya masih sempat meraih batu yang menonjol di tempat itu, maka masih bisa menahan Sie Bun Yun agar tidak jatuh ke dalam jurang.

Kemudian ditariknya Sie Bun Yun ke atas, Dengan tenaga tarikan itu, Sie Bun Yun langsung meloncat ke atas.

Setelah berada di atas, mendadak ia mendorong Pek Yun Hui sehingga merosot ke bawah, Namun sebelah tangan Pek Yun Hui masih memegang batu yang menonjol itu, maka tidak sampai jatuh ke bawah.

Pek Yun Hui tertegun, ia tahu saat ini Sie Bun Yun ingin membalas dendam kematian Ling Hung.

"Saudara Bun Yun, aku mati tidak jadi masalah, Namun engkau pun akan ikut masuk ke dalam jurang," ujar Pek Yun Hui cemas, Ternyata sebelah tangan Pek Yun Hui masih memegang lengan Sie Bun Yun.

"He he he!" Sie Bun Yun tertawa terkekeh-kekeh seperti orang gila, "Bukankah itu kehendakmu?"

"Saudara Bun Yun. " Air mata Pek Yun Hui mulai meleleh,

"Tahukah engkau? Di dunia ini ada seseorang yang amat mencintaimu yakni aku." "Apa?" Sie Bun Yun tertegun "Engkau bilang apa?"

"Aku sudah pernah memberitahukan kepadamu, bahwa aku seorang gadis, Hanya saja selama ini rambutku digunting pendek, dan menyamar sebagai lelaki, Engkau tidak tahu dan tidak mempereayaiku," sahut Pek Yun Hui memberitahukan

"Engkau... engkau. " Bibir Sie Bun Yun gemetar, tidak

mampu melanjutkan sebab air matanya sudah ber-derai-derai, Saat ini barulah Pek Yun Hui mencurahkan isi hatinya.

"Saudara Bun Yun, ketika pertama kali bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta, Tapi engkau malah memanggilku saudara kecil, sehingga aku tidak bisa bilang apa-apa, dan selalu kusimpan dalam hati,"

"Kalau begitu. " Kening Sie Bun Yun berkerut-kerut

"Kenapa engkau tidak memberitahukan pada adik Hung?"

"Semula aku tidak menyangka Ling Hung akan mencintaiku,.,." Pek Yun Hui menarik nafas panjang, "Kemudian di saat Paman Ling mau menarik nafas penghabisan beliau berpesan padaku agar baik-baik menjaga- nya. Paman Ling pun mengira aku lelaki, Pada waktu itu sudah tiada kesempatan bagiku menjelaskan dan kalau aku tidak mengabulkan permintaan Paman Ling, beliau pasti mati penasaran sekali, Aku... aku. "

Pek Yun Hui terisak-isak, air matanya terus mengucur deras, kemudian melanjutkan ucapannya.

"Saudara Bun Yun, apakah dalam hatimu masih membenciku? Masih membenciku?"

"Benci!" sahut Sie Bun Yun tanpa berpikir lagi.

"Saudara Bun Yun. " Pek Yun Hui menarik nafas panjang,

"Kalau begitu, lepaskanlah tanganmu agar aku jatuh ke bawah! Aku rela mati di tangan orang yang kucintai."

"Engkau tahu aku membencimu, tapi kenapa tadi engkau mau menolongku?" tanya Sie Bun Yun. "Saudara Bun Yun!" Pek Yun Hui tersenyum, "Engkau orang yang amat kucintai, bagaimana mungkin aku tidak menolongmu?"

"Engkau. " Kening Sie Bun Yun berkerut

Mendadak Pek Yun Hui melepaskan tangannya yang memegang batu menonjol itu, kemudian meronta agar terlepas dari tangan Sie Bun Yun, Akan tetapi, Sie Bun Yun justru memegang tangannya erat-erat.

Hati Pek Yun Hui tersentak, Apakah ingin mati di tangan Sie Bun Yun juga tidak boleh? Tanyanya dalam hati, Tiba-tiba Sie Bun Yun menariknya sekuat tenaga, sehingga Pek Yun Hui tertarik ke atas, lalu bangkit berdiri

"Saudara Bun Yun, engkau amat membenciku, kenapa malah menolongku?" tanyanya heran.

"Saudara kecil eh! Nona Pek!" Sie Bun Yun berdiri di

hadapannya, namun kemudian menarik nafas panjang, lalu melesat pergi.

"Saudara Bun Yun! Saudara Bun Yun.J" teriak Pek Yun Hui memanggilnya.

Akan tetapi, Sie Bun Yun terus berlari tanpa menoleh lagi, dan tak lama dia pun lenyap dari pandangan Pek Yun Hui.

Hening seketika, Pek Yun Hui mulai menangis sedih dengan air mata berlinang-linang....

itulah kejadian masa lalu Pek Yun Hui yang diceritakan pada Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu. Usai menceritakan, air mata Pek Yun Hui pun meleleh.

Bagian ke tiga puluh delapan Muncul Co Hiong dan Souw Peng Hai

Setelah mendengar cerita yang amat menyedihkan itu, Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu pun mengucurkan air mata, Kemudian Bee Kun Bu memandang Pek Yun Hui seraya bertanya. "Kakak Pek, kemudian bagaimana?"

"Kemudian. " Pek Yun Hui menengadahkan kepalanya

memandang langit sambil menarik nafas panjang, "Aku tidak bertemu mereka lagi, sedangkan aku kembali ke gua Thian Kie. Selama itu aku tidak pernah ke mana-mana, akhirnya aku dengar Cong Cin To itu jatuh ketangan murid partai Kun Lun. Barulah aku teringat pada Sie Bun Yun yang tidak ketahuan jejaknya, karena itu aku menerjunkan diri ke dalam rimba persilatan lagi."

"Aku tahu.,." sela Giok Siauw Sian Cu dengan suara rendah, "Di tempat ini, engkau menemukan jejaknya,"

Bee Kun Bu segera memandang Giok Siauw Sian Cu, kelihatannya sama sekali tidak mengerti Giok Siauw Sian Cu cuma tersenyum.

"Adik, engkau bilang Kakak Pek hilang mendadak, dipikirkan pasti tahu!" ujarnya.

"Kakak Pek! Betulkah begitu?" tanya Bee Kun Bu. "Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Setelah berpisah

denganmu dan saudara Kim, aku mulai memeriksa gunung ini bersama Hian Giok, Mendadak aku melihat seseorang berdiri mematung di puncak gunung, Pakaian orang itu sudah usang dan sobek sana sini. Tangannya menggenggam sepotong kain yang telah usang pula, Aku tertegun melihat orang itu, dan segera menyuruh Hian Giok turun ke bawah. Aku melihat rambut orang itu panjang terurai sampai ke bahu, dan mukanya penuh bewok, Tapi aku tetap mengenalinya bahwa orang itu Sie Bun Yun. Aku melangkah maju sambil memanggilnya, Dia mengenali suaraku dan langsung kabur, aku segera mengejar nya."

"Lalu bagaimana?" tanya Bee Kun Bu.

"Aku khawatir engkau dan saudara Kim akan cemas tidak mengetahui jejakku, maka aku melepaskan baju luarku, sekaligus menggantungnya di dahan pohon, agar kalian mengetahui nya."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut "Kakak Pek, setelah melihat baju luarmu itu, aku mengira... engkau telah celaka di tangan Lam Kiong Siu." "

"Oh?" Pek Yun Hui tertegun "Pada waktu itu hatiku sedang kacau, tidak memikirkan akibat itu."

"Kakak Pek. " Bee Kun Bu menatapnya dalam-dalam,

"Kalau begitu, engkau belum dapat mengejarnya?"

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Setelah kukejar sampai di sini, dia pun hilang entah ke mana, Aku terus berteriak memanggilnya, tapi tiada sahutan sama sekali."

Pek Yun Hui bangkit berdiri, kemudian berjalan mondar- mandir dengan kepala tertunduk.

Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu saling me-mandang, lalu menarik nafas panjang sambil mengge!eng-gelengkan kepala.

Takdir mempermainkan nasib Pek Yun Hui, ataukah nasib yang mempermainkan dirinya? Siapa akan me-nyangka, Pek Yun Hui yang begitu cantik jelita dan anggun itu, justru mengalami kejadian yang amat menyedihkan orang yang amat dicintainya, malah sangat membenci dan mendendam padanya.

"Kakak Pek, dalam dua tahun ini walau engkau tidak menemukan saudara Sie tapi engkau masih bisa melewati hari-hari itu, kenapa sekarang malah berduka?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti

"Dalam dua tahun itu. " Pek Yun Hui tertawa getir "Tiada

sehari pun aku melupakannya, hanya saja terus kusimpan dalam hati, tidak pernah mencurahkan Namun sekarang...

aaakh. "

Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak melanjutkan lagi, dan air mata pun mulai meleleh. Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam lalu bangkit berdiri, tapi sepasang kakinya terasa ngilu seakan tidak merasa apa-apa, bahkan tiada tenaga.

ia sudah tahu ada yang tidak beres, namun agar tidak membuat Pek Yun Hui cemas, maka ia tidak mem- beritahukannya.

"Kakak Pek!"

"Ng!" Pek Yun Hui memandangnya, "Ada apa?"

"Kakak Pek, sejak kita berkenalan, aku menganggapmu bagaikan dewi dari kahyangan, dan amat memujamu. Namun sungguh di luar dugaan, dalam hatimu menyimpan suatu kejadian yang sangat menyedihkan." Bee Kun Bu berhenti sejenak, setelah itu barulah melanjutkan "Engkau sangat cerdas, padahal tidak perlu aku banyak bicara, Kini Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu yang di istana Pit Sia Kiong, akan menimbulkan bencana di rimba persilatan Apakah karena hati kakak berduka, sehingga tidak mau mempedulikannya?"

"Kun Bu!" ujar Pek Yun Hui setelah tertegun beberapa saat lamanya. "Apa yang engkau katakan memang benar Aku tidak boleh karena ini sehingga menelantarkan urusan besar Kun Bu, apabila kelak engkau juga mengalami hal yang serupa denganku, janganlah melupakan apa yang engkau ucapkan sekarang ini."

Bee Kun Bu tersentak ia yakin tidak mungkin Pek Yun Hui akan berpesan begitu tanpa ada sebab mu-sababnya.

Seketika timbullah beberapa bayangan anak gadis dalam benaknya, Lie Ceng Loan dan Na Siao Tiap yang misterius itu....

Itu merupakan lautan asmara, kelak harus bagaimana menenangkannya? Berpikir sampai di sini, Bee Kun Bu menarik nafas panjang.

Saat ini, Giok Siauw Sian Cu juga tampak termenung, ia malang melintang di rimba persilatan sekian tahun, sehingga kaum Bu Lim menyebut "Wanita Iblis", ia tidak pernah jatuh cinta pada lelaki yang mana pun Ketua partai Khong Tong Sin Goan Tong mati-matian me-ngejarnya, namun Giok Siauw Sian Cu sama sekali tidak menghiraukannya, sebaliknya benang cinta kasihnya malah ditujukan pada Bee Kun Bu.

Kini ia tahu jelas, biar bagaimanapun Bee Kun Bu tidak mungkin akan mencintainya. Oleh karena itu, hatinya jadi hampa.

Tiga orang saling berhadapan Tiada seorang pun yang membuka mulut, mereka bertiga tampak seperti bisu.

"Eeei!" Giok Siauw Sian Cu tertawa terpaksa, "Kita terus begitu bukan cara yang baik. Kita harus kembali ke istana Pit Sia Kiong untuk menolong orang!"

Wajah Pek Yun Hui yang tampak murung itu ber-angsur- angsur hilang, ternyata hatinya tergerak oleh perkataan Bee Kun Bu tadi. Memang, kejadian masa lalu itu harus dilupakan, karena tiada gunanya terus disimpan dalam hati.

"Kalian berdua sudah bisa bergerak?" tanya Pek Yun Hui. "Heran!" Giok Siauw Sian Cu mengerutkan kening.

"Kenapa sepasang kakiku tidak bisa bergerak?"

"Oh?" Pek Yun Hui terkejut "Kun Bu, bagaimana sepasang kakimu? Apakah bisa bergerak?"

"Sama juga," jawab Bee Kun Bu. "Sama sekali tidak bisa bergerak, sepertinya telah lumpuh."

"Sungguh mengherankan, sudah lewat sekian jam kok kalian belum pulih?" Pek Yun Hui tereengang

Mereka bertiga mendongakkan kepala melihat ke langit, ternyata hari sudah sore. Pek Yun Hui bersiul panjang, tak lama terdengarlah suara pekikan Hian Giok, Si Bangau Sakti, Hian Giok itu terbang laksana kilat ke arah Pek Yun Hui.

Dalam waktu sekejap, Bangau Sakti sudah melayang turun di sisi majikannya. "Kalian berdua dan Hian Giok beristirahat di sini, aku akan.ke istana Pit Sia Kiong untuk menyelidikinya."

"Kakak Pek, engkau pergi seorang diri, apakah tidak khawatir akan terjadi sesuatu?" tanya Bee Kun Bu penuh perhatian

"Kun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum. "Sejak kapan engkau berubah menjadi nenek-nenek cerewet?"

Wajah Bee Kun Bu agak memerah. ia tidak banyak bicara lagi, hanya memandang Pek Yun Hui yang melesat pergi sambil menghela nafas, kemudian menoleh.

"Kakak, dia pergi ke Pit Sia Kiong seorang diri, aku sungguh tidak bisa berlega hati," ujar Bee Kun Bu pada Giok Siauw Sian Cu.

"ltu apa boleh buat!" Giok Siauw Sian Cu tertawa gctir, "Kita sama sekali tidak bisa membantunya."

Bee Kun Bu mendongakkan kepala memandang Hian Giok. Bulu burung itu gemerlapan tertimpa sinar matahari senja. Tiba-tiba hati Bee Kun Bu tergerak

"Kakak! Kita memang tidak bisa membantu Kakak Pek, tapi Hian Giok bisa membantunya."

"Adik!" Giok Siauw Sian Cu menggeleng-gelengkan kepala, "Engkau jangan banyak urusan! Bagaimana sifat Nona Pek, tentunya engkau telah mengetahuinya, Dia sengaja menyuruh Hian Giok beristirahat di sini, sebetulnya untuk menjaga kita, Kalau engkau menyuruh Hian Giok pergi membantunya, sudah pasti dia akan menyalahkanmu."

"Kakak!" Bee Kun Bu berkeras, "Aku lebih mau disalahkan daripada akan terjadi sesuatu atas dirinya."

"Adik,.,."

"Hian Giok! Hian Giok!" ujar Bee Kun Bu dengan suara lantang. "Majikanmu Lan Tay Kong Cu pergi ke istana Pit Sia Kiong seorang diri, mungkin akan terjadi sesuatu, kenapa engkau tidak pergi membantunya?"

Hian Giok adalah Bangau Sakti, Usianya sudah ratusan tahun dan sudah mengerti bahasa manusia, Ke-tika mendengar apa yang dikatakan Bee Kun Bu, ia pun mengeluarkan suara seperti keluhan.

"Hian Giok!" ujar Bee Kun Bu Iagi. "Engkau tidak usah khawatir Majikanmu tidak akan menyalahkanmu Paling juga menyalahkan diriku, Lebih baik engkau segera pergi membantunya!"

"Uaaakh!" Hian Giok manggut-manggut, kemudian mengembangkan sepasang sayapnya dan langsung terbang ke atas. Kjan lama kian cepat Bangau Sakti terbang, akhirnya lenyap dari pandangan Bee Kun Bu.

"Adik!" Giok Siauw Sian Cu menggeleng-gelengkan kepala, "Apakah engkau sama sekali tidak menghiraukan diri sendiri?"

"Kakak!" Bee Kun Bu tertawa, "Kita berdua, sedangkan dia seorang diri, tentunya kita yang lebih baik dari pada dia!"

Setelah mendengar ucapan itu, wajah Giok Siauw Sian Cu berseri manis tampak gembira sekali

Wajah Bee Kun Bu pun tampak memerah, ia tidak menyangka akan salah ucap.

"Kakak, maksudku kita..." ujar Bee Kun Bu membetulkan ucapannya.

"Adik!" potong Giok Siauw Sian Cu dengan mimik sendu, "Engkau tidak perlu menjelaskan, kakak sudah tahu itu."

Diam-diam Bee Kun Bu menarik nafas, Saat ini hari sudah mulai geiap. Tak seberapa lama kemudian, segala apa pun sudah tidak kelihatan lagi.

"Adik!" ujar Giok Siauw Sian Cu. "Di dalam gelap gulita, kalaupun tiada musuh ke mari, mungkin akan muncul binatang berbisa, maka kita harus duduk ber dekatan untuk berjaga- jaga."

Usai berkata, Giok Siauw Sian Cu langsung meng- gesekan badannya merapat pada badan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu ingin menghindar, tapi sudah tidak keburu, Lagi pula kalau ia menghindar, tentu akan me lukai hati Giok Siauw Sian Cu. Oleh karena itu ia membiarkan badan Giok Siauw Sian Cu merapat pada badan nya.

Berselang beberapa saat kemudian, rembulan mulai bersinar remang-remang, Namun tampak jelas wajah Giok Siauw Sian Cu yang kemerah-merahan. itu membuat hati Bee Kun Bu jadi kacau dan berdebar-debar.

"Adik!" tanya Giok Siauw Sian Cu lembut "Engkau sedang memikirkan apa?"

pertanyaan itu membuat hatinya tergerak ia segera menjawab dengan nada mantap.

"Aku sedang memikirkan adik Ceng Loan."

Air muka Giok Siauw Sian Cu langsung berubah, kemudian ia pun menghela nafas panjang.

"Aku tahu, saat ini adik Ceng Loan pun sedang memikirkanmu."

Bee Kun Bu tersenyum getir Tepat pada saat bersamaan terdengarlah suara tawa tak jauh dari situ.

"Ha ha!"

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, sebab terdengar pula suara orang.

"Saudara Bee, sungguh beruntung engkau ada wanita cantik dalam pelukanmu! Di tempat jauh pun masih ada gadis cantik merindukanmu! Ha ha! Engkau sungguh beruntung!" Di malam yang begitu hening, suara orang itu terdengar jelas sekali, itu sungguh mengejutkan Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.

"Siapa? Kenapa menyindir orang?" bentak Bee Kun Bu. "Ha ha!" Terdengar suara tawa lagi. Tak lama kemudian

muncullah seseorang dari belakang sebuah batu besar.

Orang itu berwajah tampan, rambutnya dihiasi dengan sebuah gelang emas, Lengannya juga memakai tiga buah gelang emas yang berkilau-kilau, sepasang matanya bersinar tajam, hidung mancung dan bibirnya tipis, Ke-tampanannya hampir menyerupai anak gadis, dan ter-senyum-senyum manis pu!a. Siapa dia? Tidak lain adalah Kim Hoan Ji Long-Co Hiong.

Setahu Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, Souw Peng Hai dan Co Hiong masih berada di istana Pit Sia Kiong, Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Co Hiong akan muncul di lembah ini.

Bee Kun Bu tahu jelas bagaimana watak Co Hiong, maka secara diam-diam ia menyikut Giok Siauw Sian Cu, agar bersiap-siap.

Walau Bee Kun Bu menyikut Giok Siauw Sian Cu secara diam-diam, namun itu pun tidak terlepas dari mata Co Hiong.

"Apakah saudara Bee menganggap diriku ular ber-bisa?" tanya Co Hiong sambil tertawa.

"Hm!" dengus Bee Kun Bu dingin.

"Engkau lebih berbisa dari pada ular berbisa yang manapun!" bentak Giok Siauw Sian Cu.

"Oh?" Co Hiong tertawa, "Giok Siauw Sian Cu cukup ternama dalam rimba persilatan, namun tidak bernama baik."

Co Hiong tersenyum-senyum seusai berkata begitu, Kelihatannya ia tidak tersinggung oleh ucapan Giok Siauw Sian Cu tadi Tapi Bee Kun Bu tahu jelas sifatnya, Kalau dia tersenyum dan kelihatan lemah Iembut, itu pertanda dalam hatinya telah timbul nafsu membunuh.

"Saudara Co, engkau mau apa sekarang?" tanya Bee Kun Bu membentak

"Ha ha!" Co Hiong tertawa gelak, Tidak seharusnya aku merusak urusan baik kalian barusan."

Sahut Co Hiong menyindir seketika juga wajah Bee Kun Bu berubah memerah, sedangkan Giok Siauw Sian Cu gusar bukan main, ia membentak sambil menggerakkan suling Gioknya, menyerang Co Hiong dengan jurus Heng Toan Mu San (Melintang Membelah Gunung Mu San).

itu merupakan jurus andalan Giok Siauw Sian Cu, yang amat dahsyat dan lihay. Akan tetapi, saat ini sepasang kakinya tidak bisa bergerak, maka ia menyerang Co Hiong dalam keadaan duduk.

Co Hiong bersiul panjang, lalu berkelit sambil meloncat mundur dan memandang Giok Siauw Sian Cu seraya berkata.

"Giok Siauw Sian Cu! Kalaupun aku telah merusak urusan baik kalian itu, namun tidak akan memberitahukan pada siapa pun! Juga tidak akan memberitahukan pada Lie Ceng Loan, Sumoy Bee Kun Bu itu! Kenapa engkau jadi marah-marah tidak karuan?"

Hati Bee Kun Bu tersentak mendengar itu, ia dan Giok Siauw Sian Cu duduk berdampingan di lembah ini, sama sekali tidak punya pikiran yang bukan-bukan. Tapi seandainya Co Hiong menambah bumbu sedikit, dan tersiar sampai ke telinga Lie Ceng Loan, mungkin akan timbul suatu badai."

"Co Hiong!" ujar Bee Kun Bu dengan wajah memerah, "Engkau jangan omong sembarangan!"

"Saudara Bee!" Co Hiong tersenyum, "Kalau tidak menghendaki orang tahu, janganlah berbuat!" Co Hiong bicara semakin tidak karuan, itu membuat kegusaran Bee Kun Bu memuncak.

"Tutup mulutmu!" bentak Bee Kun Bu.

"Kalau cuma aku seorang yang menutup mulut. " Co

Hiong tersenyum licik. "ltu pereuma, sebab masih ada mulut lain yang akan menyebarkannya!"

Saking gusarnya, Bee Kun Bu tidak mampu mengucapkan apa pun. sedangkan Giok Siauw Sian Cu juga telah gusar bukan main, wajahnya tampak merah padam, "Kalian berdua tidak perlu khawatir. " Co Hiong tertawa lagi "Apa yang harus

kalian khawatirkan?" "Kenapa?" tanya Giok Siauw Sian Cu. "Cring! Cring! Cring!" Co Hiong menggerakkan ke tiga buah gelang emasnya, lalu memandang mereka sambil tersenyum manis.

"Kalian berdua amat cerdas, tentunya tahu kan?" "Aku tidak tahu maksudmu!" sahut Bee Kun Bu. "Ha ha!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak. "Saudara Bee, bagaimana mungkin engkau tidak tahu?" "JadL.," Bee Kun Bu mengernyitkan kening, "Cring! Cring! Cring!" Co Hiong menggerakkan ke tiga buah gelang emasnya lagi, lalu ujarnya sambil tersenyum lebar

"Kalau ke tiga buah gelang emasku melayang ke arah kalian, bukankah kalian berdua akan beres? Nah, apa yang perlu kalian khawatirkan lagi?"

Kini Bee Kun Bu baru tahu akan maksud Co Hiong, Ternyata Co Hiong ingin membunuh mereka berdua.

"Co Hiong!" Bee Kun Bu tertawa dingin, "Engkau kira begitu gampang membunuh kami berdua?"

"Oh, ya?" Co Hiong maju selangkah, kemudian menghunus pedangnya, dan sekaligus menyerang dada Bee Kun Bu dengan jurus Siauw Cih Thian Lam (Menunjuk Thian Lam Sambil Tertawa), jurus itu bergerak laksana kilat mengarah dada Bee Kun Bu. Tangan Bee Kun Bu tidak memegang senjata apa pun, maka ia terpaksa berguling untuk mengelak serangan itu sambil sekaligus melancarkan sebuah pukulan. itu adalah jurus Ciak Ciu Poh Liong (Tangan Kosong Menangkap Naga), salah satu jurus dari Thian Kang Ciang Hoat (llmu Pukulan Thian Kang), jurus tersebut khususnya melawan senjata.

Co Hiong malah tertawa gelak dan mendadak mundur beberapa langkah, lalu menggerakkan lengannya.

"Cring! Cring! Cring!" Tiga buah gelang emas yang di lengannya langsung meluncur ke arah Bee Kun Bu.

Di saat bersamaan, Co Hiong pun melancarkan serangan dengan pedangnya, ia mengeluarkan tiga jurus beruntun mengarah pada Giok Siauw Sian Cu.

Bee Kun Bu juga melihat serangan-serangan itu mengarah pada Giok Siauw Sian Cu, namun tidak bisa menolongnya, sebab ia pun harus menghadapi luncuran tiga buah gelang emas itu. Segeralah ia melancarkan sebuah pukulan ke arah ke tiga buah gelang emas yang sedang meluncur laksana kilat itu.

"Trang! Trang! Trang!" Ketiga gelang emas itu terpukul jatuh menghantam sebuah batu sampai hancur

Setelah memukul jatuh ke tiga gelang emas itu, Bee Kun Bu berpaling ke arah Giok Siauw Sian Cu, dan seketika juga ia terkejut bukan main.

Ternyata Giok Siauw Sian Cu telah terkurung oleh pedang Co Hiong, Sungguh berbahaya keadaan Giok Siauw Sian Cu.

"Jangan begitu kejam!" bentak Bee Kun Bu.

Setelah membentak, Bee Kun Bu langsung menekankan tangan kirinya ke tanah dan seketika juga badannya meluncur ke arah Co Hiong. tangan kanannya melancarkan pukulan dengan jurus Yun Ciong Phun Uh (Naga Menyemburkan Kabut), Pukulan tersebut mengarah pada kepala Co Hiong, Kalau Co Hiong berkelip Giok Siauw Sian Cu akan tertolong. Akan tetapi, pada waktu bersamaan terdengar suara tawa di belakang Bee Kun Bu.

Begitu mendengar suara tawa itu, Bee Kun Bu sudah tahu bahwa yang tertawa itu Souw Peng Hai. itu membuat Bee Kun Bu tertegun, sehingga pukulan yang diIancar-kannya itu jadi lamban, Namun ia tahu jelas, kalau Giok Siauw Sian Cu dalam bahaya, maka tidak menghiraukan diri sendiri ia tetap melanjutkan serangannya, Di saat itu pula terdengar suara Souw Peng Hai mengguntur, "Jangan khawatir anak Hiong!" Souw Peng Hai juga melancarkan sebuah pukulan ke punggung Bee Kun Bu. Pukulan itu penuh mengandung Lweekang yang amat dahsyat, sehingga menimbulkan suara menderu-deru.

Bee Kun Bu pun tahu, itu adalah Kan Goan Cih Sin Kang (Tenaga Sakti Kan Goan), Tapi ia sama sekali tidak mempedu!ikan pukulan itu, tetap melanjutkan pukulannya ke arah Co Hiong.

"PIaaak!" Bahu Co Hiong terpukul Padahal di saat itu, pedang Co Hiong sudah hampir melukai Giok Siauw Sian Cu, namun karena bahunya terpukul sehingga membuat dirinya sempoyongan maka Giok Siauw Sian Cu terluput dari pedang Co Hiong.

Bee Kun Bu pun terpukul oleh Kan Goan Cih Sin Kang. Namun ia kuat bertahan, karena terlindung oleh kulit ular pusaka yang dipakainya

Begitu terluput dari pedang Co Hiong, Giok Siauw Sian Cu segera menyerang Co Hiong dengan su!ing peraknya, ia mengeluarkan jurus Ap San Ciauw Hai (Menekan Gunung Mengaduk Laut) dan jurus Thian Gwa lai Yun (Awan Datang Dari Luar Langit).

Kedua serangan itu membuat Co Hiong terdesak mundur Giok Siauw Sian Cu tidak berhenti sampai di situ, ia masih menyerangnya dengan jurus Kong Ciak Kay Peng (Merak Mengembangkan Sayap), ujung suling giok mengarah Poh Tiauw Hiat di paha Co Hiong. Co Hiong tidak gugup, dan langsung meloncat mundur beberapa langkah, sementara Souw Peng Hai memandang Bee Kun Bu dengan mata terbelalak

"Bocah! Sudah beberapa kali engkau dapat menahan Kan Goan Cih Sin Kangku, coba engkau sambut toyaku!"

Souw Peng Hai memutar toya kepala naga, lalu mendadak menyerang Bee Kun Bu mengarah pada kepalanya, itu jurus Hun Lang liak liu (Memisahkan Ombak Dan Arus).

Betapa dalamnya Lweekang Souw Peng Hai, Kalau sepasang kaki Bee Kun Bu tidak lumpuh dan ada senjata di tangan untuk menangkis serangan toya itu, memang tidak masalah.

Akan tetapi, kini Bee Kun Bu cuma dengan tangan kosong, lagi pula sepasang kakinya tidak bisa bergerak, Harus bagaimana menghindari serangan toya itu? Tiada cara lain kecuali harus bergulingan di tanah.

Ketika melihat Bee Kun Bu bergulingan Souw Peng Hai segera merubah jurus dengan jurus Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit).

Bee Kun Bu merasa ada tenaga yang amat dahsyat mengarah pada dirinya, Namun tiada kesempatan baginya untuk berkelit Iagi. Maka di saat berguiingan, ia pun menghimpun Lweekangnya, kemudian membentak sambil melancarkan sebuah pukulan ke arah toya Souw Peng Hai.

Menyaksikan itu, Souw Peng Hai juga mengerahkan lweekangnya pada toyanya.

"Bummm!" Pukulan Bee Kun Bu tepat mengena toya Souw Peng Hai.

Tapi tangannya merasa sakit sekali, ternyata ada tenaga yang amat dahsyat menerjang ke arahnya melalu toya. Bee Kun Bu terpental beberapa depa, sedangkar Souw Peng Hai terhuyung-huyurfg ke belakang. Dengan tangan kosong Bee Kun Bu dapat menangkis toya itu, betul-betul membuat Souw Peng Hai terkejut bukan main, jangankan Souw Peng Hai, Bee Kun Bu sendiri pun merasa heran karena tidak menyangka ia sanggup menangkis serangan toya itu dengan tangan kosong.

Souw Peng Hai tertegun lama sekali, lalu membatin sepasang kakinya tidak bisa bergerak, tapi masih begitu hebat seandainya sepasang kakinya bisa bergerak, mung kin aku bukan tandingannya, Kalau saat ini tidak meng habiskannya, mau tunggu kapan lagi?

Berpikir sampai di sini, Souw Peng Hai mengambil keputusan untuk membunuh Bee Kun Bu, ia melangkah maju mendekati Bee Kun Bu yang duduk di atas tanah. kelihatannya sudah siap menyerangnya.

sementara Giok Siauw Sian Cu masih mati-matian bertarung dengan Co Hiong, apa yang terjadi barusan tidak terlepas dari matanya.

"Souw Peng Hai!"bentaknya, "Engkau juga tergoIong ketua dari salah satu partai, tapi kenapa begitu tidak tahu malu menyerang orang yang tak berdaya?"

"Guru!" seru Co Hiong, "Jangan menghiraukan wa nita iblis ini!"

"Hm!" Dengus Souw Peng Hai, lalu mendadak meng angkat tangan kirinya, dan sekaligus menyentilkan jari telunjuknya.

"Kakak cepat berkelit!" teriak Bee Kun Bu.

Bagaimana mungkin Giok Siauw Sian Cu bisa ber kelit, sebab Co Hiong sedang menyerangnya dengan dahsyat sekali

"Aaaakh!" Jerit Giok Siauw Sian Cu. Ternyata dadanya telah terserang Kan Goan Cih yang dilancarkan Souw Peng Hai, seketika dari mulutnya mengalir darah segar, pertanda Giok Siauw Sian Cu telah terluka dalam. "Ha ha ha!" Co Hiong tertawa gembira ketika melihat gurunya berhasil melukai Giok Siauw Sian Cu. ia maju selangkah memandangnya sambil tersenyum manis.