Bangau Sakti Jilid 31

 
Jilid 31

"Kalau engkau menghendaki dia tidak mati, harus mendengar perkataanku!" bisik Tu Wee Seng,

Ling Hung memandang ke dalam kamar itu, kebetulan melihat Pek Yun Hui mengayunkan pedangnya memutuskan tali yang mengikat Sie Bun Yun. ia pun berlega hati menyaksikannya.

Setelah Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui mulai bertarung dengan Wang Han Siang mereka bertiga lalu menyelinap ke belakang, dan sekaligus menyalakan api di sana,

Padahal sesungguhnya, Tu Wee Seng ingin menggunakan api untuk memecahkan perhatian Wang Han Siang, Tak terduga sama seka li, begitu api menyala, para anak buah markas cabang ekspedisi Thian Liong pun bermunculan, maka terpaksalah mereka melukai para anak buah itu.

Di saat bersamaan, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui telah berhasil mengalahkan Wang Han Siang, Oleh karena itu timbullah suatu rencana baru dalam hati Tu Wee Seng, yaitu menyuruh Ling Hung berteriak begitu untuk mengejutkan Wang Han Siang agar dia tidak menyuruh para anak buahnya mengejar, Maka dengan aman mereka berlima dapat meninggalkan tempat itu.

Mereka berlima terus mengerahkan ginkang, dan tak lama sudah berada di luar Kota Thai Chouw, Tapi Tu Wee Seng tidak berhenti, masih terus mengerahkan ginkangnya, sehingga yang lain harus mengikutinya.

Berselang beberapa saat kemudian, mereka berlima sudah sampai di tepi sebuah sungai, tanpa membuang waktu mereka langsung meloncat ke dalam perahu yang di situ, Thu It Kang segera menyuruh pemilik perahu mengayuh sekuat tenaga, dalam waktu sekejap perahu itu sudah mulai melaju.

Tu Wee Seng yakin Wang Han Siang akan melakukan pengejaran, tapi ia pun pereaya Wang Han Siang tidak akan menduga mereka mengambil jalan air. Maka ia duduk tenang menghadap Sie Bun Yun.

"Sie Bun Yun, kini engkau telah meloloskan diri," ujarnya.

Sebetulnya Sie Bun Yun memang sangat berterima-kasih pada Tu Wee Seng, namun ia sudah mengetahui, bahwa Thu It Kang yang membakar Cui Cuk San Cung.

"Lalu kenapa?" sahutnya dingin.

"Sebelum pergi menolongmu, aku dan adik misanmu berikut teman baikmu ini, telah mengadakan suatu per- janjian."

"Perjanjian apa?"

"Setelah berhasil menolongmu, engkau harus memperlihatkan Cong Cin To itu padaku," Tu Wee Seng memberitahukan.

"Omong kosong!" sahut Sie Bun Yun.

"Saudara Bun Yun, pada waktu itu aku memang telah mengabulkannya," sela Pek Yun Hui.

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun mengerutkan kening. "Bagaimana engkau boleh mengabulkan itu?"

Ditegur demikian, hati Pek Yun Hui merasa ter-singgung, sehingga nyaris menangis seketika,

Melihat Pek Yun Hui begitu, hati Ling Hung merasa sakit sekali, maka tanpa sungkan-sungkan lagi ia menegur Sie Bun Yun.

"Kakak misan! Kenapa engkau berlaku begitu kasar terhadap Kakak Yun? Bukankah kalian teman baik? Kok engkau tega menyentaknya?"

Sie Bun Yun tertegun ketika mendengar Ling Hung menyebut "Kakak Yun" pada Pek Yun Hui.

"Adik misan, engkau panggil dia apa?" tanyanya dengan heran, "Aku memanggilnya Kakak Yun, apakah salah itu?" sahut Ling Hung dan balik bertanyaj

Mendadak Sie Bun Yun barigkit berdiri dengan wajah menghijau, tapi kemudian kembali duduk. Itu pertanda hatinya telah terpukul hebat.

Ia begitu mencintai Ling Hung, tapi kini ia dapat melihat Ling Hung begitu dingin dan acuh tak acuh terhadapnya, sebaliknya malah begitu mesra terhadap Pek Yun Hui.

Pemuda itu sama sekali tidak menduga Pek Yun Hui sebetulnya seorang gadis, tentunya tidak bisa mencintai Ling Hung.

Ia mengira, ketika dirinya diculik, Pek Yun Hui justru merebut cinta tersebut, sehingga membuat Ling Hung menjauhinya.

"He he he!" Sie Bun Yun tertawa aneh. "Saudara kecil, bagus! Bagus sekali-.!"

"Saudara Bun Yun!" sahut Pek Yun Hui tenang, "Legakanlah hatimu, aku bukan orang semacam itu."

"Masih bilang begitu?" Sie Bun Yun melotot

"Eh?" Ling Hung terheran-heran, "Kalian membicarakan apa?"

Pek Yun Hui ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan identitasnya, maka ia berkata dengan mata agak bersimbah air.

"Adik Hung, Saudara Bun Yun mengira aku mencintaimu padahal aku,., aku... aku. " Berkata sampai di sini, Pek Yun

Hui melihat wajah Ling Hung telah berubah pucat, dan air matanya meleleh,

"Kakak Yun, kalau begitu engkau sama sekali tidak mencintaiku?"

"Bukan, Aku. " Hati Pek Yun Hui kacau balau, Yang

paling tidak sabaran adalah Tu Wee Seng, "Hei! Hubungan kalian yang tidak karuan itu, lebih baik diselesaikan nanti saja! sekarang kita membicarakan Cong Cin To itu, di mana barang itu?" bentaknya,

"Ada urusan apa denganmu?" sahut Sie Bun Yun membentak pula.

"Bagus!" Tu Wee Seng mulai marah, "Mati-matian aku menyelamatkanmu, bahkan juga telah mengikat permusuhan dengan partai Thian Liong! Apakah hanya dengan sahutanmu itu dapat menyudahinya?"

"Dasar tak tahu diri!" sambung Thu It Kang sambil melangkah maju ke hadapan Sie Bun Yun, kemudian mendadak menyerangnya dengan sebuah pukulan

Sie Bun Yun menyambut pukulan itu dan timbullah pertarungan

Ling Hung sama sekali tidak mengacuhkan pertarungan itu. ia menatap Pek Yun Hui dengan mata redup seraya bertanya.

"Kakak Yun, betulkah engkau tidak mencintaiku?"

Pek Yun Hui merasa iba padanya, ia menarik nafas panjang dan menjawab perlahan

"Aku tentu mencintaimu."

"Syukurlah!" ucap Ling Hung sambil menarik nafas Iega. "Kakak Yun, kalau engkau menjawab tidak mencintaiku maka aku akan segera bunuh diri di sini."

"Adik Hung, tapi aku... aku. "

Ketika Pek Yun Hui berkata sampai di situ, mendadak ia mendengar suara bentakan Sie Bun Yun.

"Berhenti!" Pemuda itu meloncat mundur, lalu memandang Pek Yun Hui dengan wajah penuh diliputi kegusaran "Saudara kecil!" Tersentak Pek Yun Hui dibentak demikian lebih-lebih ketika menyaksikan wajah pemuda itu

"Saudara Bun Yun, engkau telah salah paham terhadapku!" serunya dengan nada berduka.

"Saudara kecil!" Tiba-tiba Sie Bun Yun menarik nafas dalam-dalam, kemudian ujarnya menegaskan "Aku tidak menghendakimu melakukan suatu kesalahan terhadap adik misanku!"

Setelah menegaskan sampai di sini, wajah Sie Bun Yun berubah pucat pias tapi masih melanjutkan perlu diketahui, pemuda itu telah terluka dalam

"Adik Hung! Aku mengucapkan selamat padamu yang telah mendapatkan. kekasih yang begitu baik. "

Air mata Sie Bun Yun berderai, kemudian mendadak terkulai. Ternyata ia ingin berkorban demi Ling Hung, padahal sesungguhnya ia sangat mencintai gadis tersebut

Kini yang serba salah adalah Pek Yun Hui. sesungguhnya ia mencintai Sie Bun Yun sedangkan Sie Bun Yun justru sangat mencintai Ling Hung, sebaliknya Ling Hung malah mencintainya, namun dirinya juga seorang gadis, Entah harus bagaimana membereskan masalah yang tidak karuan ini?

Begitu Sie Bun Yun jatuh pingsan, hati Pek Yun Hui seakan remuk dan merasa dirinya tenggelam entah ke mana?

Tiba-tiba ia merasa matanya gelap, dan apa yang diucapkan Sie Bun Yun terus mengiang di dalam telinganya, sehingga membuat air mukanya berubah tak sedap dipandang.

Sekonyong-koyong ia merasa ada sebuah tangan halus memegang bahunya, terdengar pula suara yang amat lembut

"Kakak Yun, kenapa engkau? Kok diam saja?" itu suara Ling Hung, akan tetapi mendadak Pek Yun Hui mengibaskan tangannya sekuat tenaga, sehingga membuat Ling Hung terdorong beberapa langkah.

"Saudara Sie Bun!" teriaknya sambil mengarah pada pemuda itu. "Engkau telah salah paham terhadapku!"

Ternyata Sie Bun Yun telah sadar dari pingsannya, Kebetulan ia melihat Pek Yun Hui mengibaskan tangannya mendorong Ling Hung, maka hatinya bertambah duka.

"Saudara kecil!" bentaknya mengguntur. "Engkau.,, engkau bersikap begitu terhadap adik Hung?"

"Saudara Bun Yun. " Air mata Pek Yun Hui meleleh

"Walau Ling Hung mencintaiku tapi aku... aku. "

Tutup mulutmu!" bentak Sie Bun Yun lagi.

sementara Ling Hung terhuyung-huyung ke belakang, lalu berdiri dengan wajah pucat pias, dan air matanya mulai berderai-derai

"Adik Hung begitu mencintaimu, apakah engkau tidak mengetahuinya? Saudara kecil!" Sie Bun Yun menarik nafas panjang.

"Aku tahu." Pek Yun Hui manggut-manggut.

"ltulah! padahal aku sangat mencintai adik Hung, namun dia malah mencintaimu, oleh karena itu mulai sekarang aku serahkan dia padamu, Tapi kenapa engkau tadi mendorongnya? Apakah engkau cuma ingin mempermainkannya ?" tanya Sie Bun Yun dengan wajah mu- rung.

"Saudara Bun Yun, aku akan memapahmu bangun, Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu," ujar Pek Yun Hui lembut

"Tidak usah!" sahut Sie Bun Yun membentak dan berusaha bangun, tapi terkulai lagi. Secepat kilat Pek Yun Hui menahannya agar tidak terkulai itu membuat Sie Bun Yun bersandar pada dirinya, sehingga menyebabkan hati Pek Yun Hui ber-debar-debar tidak karuan.

Sie Bun Yun meraih sebuah kursi, lalu duduk dengan nafas memburu, kemudian memandang Pek Yun Hui seraya berkata.

"Engkau mau menyampaikan apa, cepatlah!" Ketika Pek Yun Hui baru mau membuka mulut, mendadak terdengar suara seruan Ling Hung yang bernada putus asa.

"Kakak Yun!"

Pek Yun Hui segera menoleh memandang Ling Hung, Gadis itu melangkah perlahan dengan air mata terus berderai.

"Kakak Yun, apa kesalahanku sehingga engkau begitu tega mendorongku ?" ujarnya.

"Bukan. " Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepala.

Ling Hung terus menatapnya dengan mata menyorotkan sinar aneh, lalu tertawa.

"Kakak Yun, legalah hatiku, Aku tadi mengira engkau sengaja mendorongku, maka aku pun ingin bunuh diri," ujar Ling Hung.

"Adik Hung, dengarkanlah!" Pek Yun Hui mengeraskan hati.

"Kakak Yun, katakanlah! Aku pasti dengar dan menurut seandainya engkau bilang tidak mencintaiku, aku pun tidak akan membencimu Sungguh!" ujar Ling Hung sambil tersenyum.

"Adik Hung, aku bukan tidak mencintaimu, melainkan aku. " Baru berkata sampai di sini, air muka Ling Hung telah

berubah.

"Melainkan apa?" tanya gadis itu. "Saudara kecil!" bentak Sie Bun Yun. "Kalau engkau berani menebuskan kata-kata yang menyakitkan hati adik Hung, aku pasti tidak akan melepaskanmu!"

"Aaaakh.,." keluh Pek Yun Hui, lalu melangkah ke depan perahu.

"Kakak Yun!" Ling Hung segera menyusulnya.

Pek Yun Hui berdiri di tempat sambil memandang arus sungai yang terus mengalir pemandangan itu membuat hatinya seperti tersayat

"Kakak Yun, perkataanmu barusan masih belum usai," ujar Ling Hung yang berdiri di sisinya.

Pek Yun Hui menoleh, tampak wajah Ling Hung pucat pias seperti kertas, dan sekujur badannya bergemetar.

"Adik Hung, apakah engkau tidak tahu Sie Bun Yun amat mencintaimu?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku tahu itu," sahut Ling Hung.

"Karena engkau tidak mencintainya, maka dia begitu berduka," ujar Pek Yun Hui sambil menatapnya. "Apakah hatimu sama sekali tidak tergerak?"

"Kakak Yun!" Ling Hung menarik nafas panjang, "Aku merasa bersalah terhadapnya, Namun aku cuma seorang diri dan memiliki sebuah hati, sedangkan hatiku telah mencintaimu."

Pek Yun Hui diam, dan di saat itu terdengarlah suara tawa Sie Bun Yun yang memilukan hati.

"Saudara kecil!" ujarnya pula, "Walau adik Hung tidak mencintaiku, aku tetap tidak menyalahkannya, lagi puIa... cinta tidak bisa dipaksa."

Yang paling kesal di saat itu adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ia menyaksikan adegan itu seakan sedang menonton opera, ia bangkit berdiri menghampiri Pek Yun Hui dengan membawa toya bambunya.

"Urusan kalian yang tidak karuan itu, sudah usai belum?" tanyanya dingin.

"Bukankah sudah usai?" sahut Sie Bun Yun sepatah demi sepatah.

"Kakak misan A Yun!" ucap Ling Hung sambil bersandar di badan Pek Yun Hui. "Aku memang bersalah terhadapmu."

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa, "Adik Hung, jangan kau ungkit lagi masalah itu!"

Pek Yun Hui malah tertegun. Kalau urusan ini masih berlanjut, akan semakin sulit menyelesaikannya, Namun kalau ia memberitahukan tentang identitas dirinya se-karang, ia khawatir Ling Hung akan bunuh diri saking malu nya.

Di saat Pek Yun Hui sedang termenung, mendadak terdengar suara deru arus sungai, bahkan terdengar pula suara terompet.

"Kalian cepat masuk!" bentak Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng.

Karena hatinya sedang kesal, maka ketika mendengar suara bentakan itu, Pek Yun Hui menyahut dingin.

"Kenapa kami harus menurut padamu?"

"Bocah sialan!" Caci To Pie Kim Kong-Thu It Kang. "Kakak seperguruan adalah ketua partai Hwa San, tentunya kalian harus menurut padanya!"

"Phui!" Ling Hung meludah, "Siapa berani menghina Kakak Yunku?"

"Gadis bedebah. "

"Kalian jangan ribut, cepat lihat!" Tu Wee Seng menunjuk ke depan. Air muka Tu Wee Seng membuat mereka tertegun, sebab Tu Wee Seng berkepandaian tinggi, namun saat ini justru tampak gugup, Bukankah sungguh mengherankan7

Ternyata tampak hampir dua puluh orang berenang mendekati perahu tersebut Mereka jelas sangat ahli dalam air, bahkan tangan mereka juga memegang semacam senjata.

"Hm!" dengus Pat Pie Sin Ong Tu Wee Seng. "Memang Kim Coa Suseng-Wang Han Siang tidak bernama kosong, dia bisa menduga kita mengambil jalan air."

"Suheng, apakah mereka orang-orang ekspedisi Thian Liong?" tanya Thu It Kang.

"Tidak salah," sahut Tu Wee Seng dan menambahkan "Mereka mahir berenang dan membawa semacam alat, tentu mereka ingin menenggelamkan perahu ini. Maka kalau di antara kita masih ada yang ribut, kita pasti celaka."

Hati Pek Yun Hui dan Ling Hung kebat-kebit menyaksikan itu. sedangkan Tu Wee Seng sudah mengeluarkan senjata rahasianya, begitu pula Thu It Kang.

Tampak tiga orang berenang mendekati perahu, seketika juga Thu It Kang mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasianya.

Ketiga orang itu tahu akan kelihayan senjata rahasia itu.

Maka mereka segera nyelam, Berselang beberapa saat kemudian, ke tiga orang itu timbul lagi, Akan tetapi pada waktu bersamaan, Tu Wee Seng mengayunkan tangannya melepaskan senjata rahasianya dengan sepenuh tenaga.

Dua orang tidak keburu menyelam, maka tenggelam selama-Iamanya, sedangkan salah seorang yang keburu menyelam itu muncul di tempat lain lalu mendadak mengeluarkan siulan aneh.

Begitu mendengar suara siulan itu, belasan orang yang sedang berenang mendekati perahu itu langsung menyela m. Tu Wee Seng dan Thu It Kang terus menunggu, tapi mereka tidak timbul lagi, entah menghilang ke mana.

"Suheng, bagaimana baiknya?" tanya Thu It Kang. "Hm!" dengus Tu Wee Seng dingin, lalu memandang Sie

Bun Yun seraya membentak, "Bocah! Di mana Cong Cin To

itu?"

"Kenapa aku harus bilang?" sahut Sie Bun Yun ketus.

Demi Cong Cin To itu, Tu Wee Seng telah bermusuhan dengan partai Thian Liong, tapi akhirnya tetap tidak mengetahui barang itu berada di mana, Sudah puluhan tahun ia berkecimpung di rimba persilatan dan selama itu tidak pernah mengalami hal seperti ini. Maka begitu mendengar jawaban Sie Bun Yun yang ketus itu, amarahnya langsung memuncak

"Bocah, apakah engkau mau cari mati?" bentaknya mengguntur, lalu mendadak menyerangnya dengan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir di Gunung Taysan).

Sie Bun Yun mana punya tenaga untuk menangkis serangan itu? Namun pada saat bersamaan, Pek Yun Hui pun membentak.

"Jangan bergerak!"

Tu Wee Seng berhenti menyerang Sie Bun Yun, lalu membalikkan badannya memandang Pek Yun Hui

"Bocah, engkau telah ingkar janji, masih mau omong apalagi?" bentak Tu Wee Seng.

Pek Yun Hui memang telah berjanji, apabila Tu Wee Seng berhasil menyelamatkan Sie Bun Yun, ia akan menyuruh pemuda tersebut memperlihatkan Cong Cin To itu pada Tu Wee Seng.

Kenapa Pek Yun Hui berani berjanji begitu, sebab ia tahu bahwa Cong Cin To itu sama sekali tiada gunanya, karena kitab pusaka Kui Goan Pit Cek telah berada di tangan Na Hai Peng, gurunya.

Dibentak begitu, Pek Yun Hui membungkam, sedangkan Tu Wee Seng mulai menyerang Sie Bun Yun lagi.

Pek Yun Hui dan Ling Hung saling memandang, kemudian mereka berdua melesat ke arah Sie Bun Yun, Pek Yun Hui tidak membuang waktu, langsung menyerang Tu Wee Seng dengan gerakan Hui Pok Liu Cua (Air Terjun Kembali Ke Suraber), lalu disusul lagi dengan gerakan Kim Liong Sam Hiang (Naga Emas Muncul Tiga Kali), Kedua gerakan itu berasal dari Kui Goan Pit Cek, maka sangat aneh dan dahsyat

Ling Hung yang berdiri di samping Sie Bun Yun, terus mengawasi Thu It Kang. Tiba-tiba orang itu membentak dan sekaligus menyerang punggung Pek Yun Hui, tentunya tidak terlepas dari mata Ling Hung. Gadis itu segera menyerangnya dengan trisulanya mengeluarkan jurus Cun Thauw Coh Hoat (Rerumput Mulai Tumbuh Di Musim Semi).

sementara Tu Wee Seng tahu ilmu pedang Pek Yun Hui sangat aneh dan lihay, maka ia pun berhati-hati menghadapinya, Akan tetapi, ruangan dalam perahu itu tidak begitu luas, sehingga membuat Tu Wee Seng agak kurang leluasa berkelit

Karena itu, Tu Wee Seng segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu jurus yang amat dahsyat dan aneh pula, Tahu-tahu toya bambu Tu Wee Seng telah menekan pedang Pek Yun Hui. Ternyata Tu Wee Seng melancarkan jurus Hui Hong Soh Liu (Angin Puyuh Menyapu Pohon), bahkan juga disertai Lweekang, maka seketika Pek Yun Hui merasa pedangnya menjadi berat sekali.

"Ha ha!" Tu Wee Seng tertawa gelak sambil maju selangkah

Pek Yun Hui ingin mengangkat pedangnya, tapi tidak bisa dan malah terdesak mundur Di saat itu pula Tu Wee Seng menyerang lagi dengan jurus Sin Liong Sam Hiang (Naga Sakti Muncul Tiga Kali), mengarah pada dada Pek Yun Hui.

Sungguh aneh jurus tersebut sehingga Pek Yun Hui tidak bisa berkelit, dan terpaksalah menangkis dengan pedangnya, Walau Pek Yun Hui menangkisnya, namun ujung toya bambu itu tetap meluncur ke arah dada Pek Yun Hui.

Tu Wee Seng yakin, dada Pek Yun Hui pasti ber-lubang, karena itu ia pun tertawa gelak, Di saat begitu kritis, mendadak Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu (llmu Langkah Ajaib). Pada waktu bersamaan terdengarlah suara ledakan.

"Bummm!" Perahu itu pun bergoyang-goyang.

Di saat itulah Pek Yun Hui berhasil berkelit menyelamatkan diri dari serangan Tu Wee Seng, Namun sesaat kemudian terdengar lagi suara ledakan.

"Bummm! Bummmm!"

Tak lama air pun menerobos masuk, Kini sadarlah mereka bahwa orang-orang yang berenang tadi mulai melubangi dasar perahu, Pek Yun Hui dan Tu Wee Seng langsung berhenti bertarung. Namun dalam waktu se-kejap, air sudah mulai menggenang di dalam perahu dan perahu itu pun mulai miring.

Tu Wee Seng bersiul panjang, lalu melesat ke luar Thu It Kang pun melesat ke luar mengikuti kakak seperguruannya itu.

"Adik Hung, cepat ke luar!" seru Pek Yun Hui dan berkata pada Sie Bun Yunyang berdiri seperti kehilangan sukma, "Saudara Bun Yun, kapal sudah hampir teng-gelam, cepatlah keluar!"

"Saudara kecil!" sahut Sie Bun Yun sambil tertawa getir. "Lukaku belum sembuh, lebih baik engkau menjaga adik Hung saja!" "Saudara Bun Yun, kalau engkau mati, aku pun tidak mau hidup lagi," ucap Pek Yun Hui tanpa sadar.

Sie Bun Yun tertegun mendengar ucapan itu, Namun belum juga ia sempat berpikir, air sudah menggenang setinggi lutut.

Pek Yun Hui bergerak cepat menarik lengan Sie Bun Yun dan lengan Ling Hung lalu melesat keluar Sampai di luar, Pek Yun Hui melihat Tu Wee Seng melempar sebuah papan ke sungai, lalu secepat kilat melompat ke papan itu diikuti Thu It Kang. Pada waktu bersamaan, tampak beberapa orang berenang mendekati papan itu, tapi terpukul mundur oleh senjata Tu Wee Seng.

"Orang yang penting itu masih berada di perahu, kita lepaskan saja ke dua orang itu!" Terdengar suara seruan. Seketika juga belasan orang yang sedang berenang itu berbalik menuju perahu, sementara perahu itu terus tenggelam. Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun walau sudah berada di atas perahu, namun tak lama air pun mulai menggenang di situ.

sedangkan belasan orang itu cuma diam di permukaan air, mungkin menunggu perahu itu tenggelam, barulah turun tangan menangkap mereka bertiga.

Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun memang tidak bisa berenang, maka wajah Pek Yun Hui pun tampak cemas. sebaliknya Ling Hung malah bersandar pada badannya, sama sekali tidak tampak cemas, gugup maupun panik.

Pek Yun Hui menarik nafas panjang, ia terus memandang sungai itu dan tampak putus asa. Di saat itulah mendadak terdengar suara seruan.

"Kalian bertiga jangan khawatir aku datang!" Me-nyusul tampak pula sebuah perahu kecil melaju mendekati perahu yang hampir tenggelam itu.

Sungguh luar biasa, sebab perahu kecil itu mampu melawan arus yang begitu deras, Setelah agak mendekat, barulah tampak seseorang berdiri di atas perahu kecil itu, Orang itu masih muda dan sepasang tangannya memegang sepasang pengayuh.

Melihat perahu kecil itu mendekati perahu yang hampir tenggelam, belasan orang yang ada di permukaan air pun berenang ke arah perahu kecil itu, Orang yang berdiri di atas perahu kecil langsung memukul mereka dengan sepasang pengayuhnya.

"Ha ha! Pereuma kalian ingin coba melubangi perahuku ini, sebab perahuku ini dilapisi baja! Hei, kalian bertiga cepatlah melompat ke mari!"

Betapa girangnya Pek Yun Hui. ia langsung melempar Sie Bun Yun ke perahu kecil itu, Orang yang di atas perahu kecil terebut segera menyambutnya, dan cepat-cepat menaruhnya ke bawah.

Setelah itu, barulah Pek Yun Hui dan Ling Hung meloncat ke perahu kecil tersebut Akan tetapi, tiba-tiba tampak beberapa buah benda melayang ke arah mereka berdua, Ternyata belasan orang itu menyambitnya dengan senjata.

Pek Yun Hui dan Ling Hung tidak bisa berkelit, karena badan mereka sedang melayang ke arah perahu kecil itu.

Orang yang di atas perahu itu menggeram, lalu mengayunkan sepasang pengayuhnya memukul jatuh benda- benda itu, Maka Pek Yun Hui dan Ling Hung dapat mencapai perahu kecil tersebut dengan selamat

Setelah kaki mereka menginjak perahu kecil itu, orang tersebut pun langsung mengayuh, dan seketika perahu kecil itu meluncur dengan cepat

"Hei!" teriak salah seorang yang masih berenang, "Siapa engkau berani menentang partai Thian Liong? Cepat tinggalkan namamu!" "Ha ha!" Orang yang di atas perahu tertawa gelak, "Namaku Sim Beng Cong, julukanku Hek Sat Ciu (Si Hitam Tangan Algojo).

Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong terus mengayuh perahunya, Tak lama belasan orang yang berenang itu sudah tidak kelihatan lagi, Pek Yun Hui menarik nafas lega, ia memandang Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong seraya berkata.

"Sim Hiapsu (Pendekar Sim), terimakasih atas pertolonganmu !"

Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong diam saja, ia terus mengayuh sehingga perahu kecil itu terus melaju.

Karena orang itu diam saja, maka Pek Yun Hui, Ling Hung dan Sie Bun Yun mulai memperhatikannya, Orang tersebut berusia tiga pu!uhan, wajahnya agak kehitam-hitaman, tapi tampak gagah, Akan tetapi, keningnya justru terus berkerut, seakan sedang memikirkan suatu urusan penting.

Orang itu tetap diam dan mereka bertiga pun tidak membuka suara, Berselang beberapa saat kemudian, Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong menghentikan perahunya ke tepi, lalu berkata

"Kalian bertiga naik dulu, aku ingin bicara dengan kalian." Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke darat,

menyusul Ling Hung dan kemudian barulah Sim Beng Cong, Mereka berempat berjalan memasuki sebuah Iem-bah, kemudian mereka pun duduk di atas sebuah batu besar

sementara Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong tetap tidak bersuara, namun mendadak berlutut di hadapan mereka bertiga.

Pek Yun Hui, Sie Bun Yun serta Ling Hung terkejut dan heran, lalu bangkit berdiri. "Kenapa Sim hiapsu berlaku demikian?" tanya Pek Yun Hui dan menambahkan "Engkau adalah tuan penolong kami, tapi kenapa sebaliknya engkau malah bersikap demikian pada kami?"

"Maaf!" ucap Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong, "Yang mana yang bernama Sie Bun Yun?"

"Aku," sahut Sie Bun Yun cepat.

seketika juga Hek Sat Ciu-Sim Beng Cong berlutut ke hadapannya. Sie Bun Yun ingin mengangkatnya ba-ngun, tapi tidak bertenaga.

"Saudara Sim, ada petunjuk apa?" tanya Sie Bun Yun. "Aaakh. " Sim Beng Cong menarik nafas panjang,

"Sebenarnya aku bernama Sim Cong, hanya kutambah "Beng" di tengah, Aku adalah murid Kun Lun, guruku bernama Hian Ceng Totiang."

Hian Ceng Totiang adalah kakak seperguruan ketua partai Kun Lun, yang namanya amat terkenal di rimba persilatan, namun Pek Yun Hui sama sekali tidak me-ngetahuinya.

"Oooh!" Sie Bun Yun dan Ling Hung mengeluarkan suara

ini.

"Sebulan lalu. " Sim Cong memberitahukan "Tanpa

sengaja aku melukai beberapa murid partai Siauw Lim, karena itu aku diusir dari pintu perguruan."

Sie Bun Yun dan Ling Hung terbelalak karena murid dari partai mana pun, kalau diusir dari perguruan, itu akan dianggap sampah dalam rimba persilatan

"Aaakh. " Sim Cong menarik nafas lagi dan melanjutkan

"Guru akan menerimaku lagi, namun itu harus atas bantuan

Saudara Sie Bun Yun."

"Kok begitu?" Sie Bun Yun bingung, "Aku tidak kenal dan tidak pernah bertemu gurumu, bahkan guruku pun tiada hubungan dengan gurumu, bagaimana mungkin aku dapat membantumu?"

"Selain Saudara Sie Bun Yun, tiada orang lain yang bisa membantuku diterima kembali ke partai Kun Lun."

"ltu pasti ada sebabnya," sela Pek Yun Hui. "Beritahukanlah! Kalau Saudara Bun Yun bisa membantu, dia pasti membantumu."

"Guruku bilang, setelah aku memperoleh Cong Cin To, barulah guruku akan menerima diriku lagi," ujar Sim Cong memberitahukan.

Setelah mendengar itu, wajah Sie Bun Yun langsung tampak berubah, dan keningnya pun berkerut-kerut

"Setelah meninggalkan gunung Kun Lun, aku pun mulai mencari kabar berita tentang Cong Cin To itu." Sim Cong memberitahukan "Belum lama ini, aku justru mendengar kabar bahwa Saudara Sie Bun Yun yang memperoleh Cong Cin To tersebut Aku tahu, tidak semestinya aku bermohon, tapi harap Saudara Sie Bun Yun sudi membantuku dalam hal ini!"

Pek Yun Hui pereaya apa yang dikatakan Sim Cong, lagi pula dia tadi telah menolong mereka bertiga, kalau tidak, mungkin sekarang mereka bertiga sudah terjatuh ke tangan ekspedisi Thian Liong, Oleh karena itu, ia berharap Sie Bun Yun sudi membantunya, itu pun karena ia tahu jelas gurunya yang telah mendapatkan kitab pusaka Kui Goan Pit Cek, jadi Cong Cin To tersebut sudah tiada gunanya.

"Saudara Sim!" Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala, "ltu cuma kabar burung saja."

"Kalau begitu. " Sim Cong tampak kecewa, "Saudara Sie

belum memperoleh Cong Cin To itu?"

"Benar." Sie Bun Yun memandang ke tempat lain, "ltu cuma isyu dalam rimba persilatan saja."

"Kalau begitu, Kim Coa Suseng-Wang Han Siang dan Yap Yong Ceng terkena isyu itu sehingga membumi hanguskan Cui Cuk San Cung?" tanya Sim Cong, yang kelihatannya kurang pereaya akan apa yang dikatakan Sie Bun Yun.

"Saudara Sim!" Sie Bun Yun tersenyum hambar "Alangkah baiknya engkau cari di tempat lain saja, sebab Cong Cin To sungguh tidak berada di tanganku!"

"Aaakh.-" keluh Sim Cong, "Mudah-mudahan Saudara Sie tidak membohongiku sebab ada orang mengatakan bahwa Saudara Sie tidak sudi membantuku?"

"Saudara Sim!" Wajah Sie Bun Yun berubah, "Mak-sudmu aku telah membohongimu kan?"

Sim Cong tertawa sedih, lalu memandang Sie Bun Yun seraya berkata.

"Berita itu tidak mungkin cuma merupakan isyu belaka. "

"Saudara Bun Yun!" sela Pek Yun Hui mendadak "Kalau tidak memperoleh Cong Cin To itu, Saudara Sim tidak bisa diterima kembali sebagai murid partai Kun Lun, Kalau benar. "

"Saudara kecil, engkau pun tidak mempereayaiku?" Sie Bun Yun menatapnya dengan kening berkerut

Pek Yun Hui membungkam seketika, sedangkan Sim Cong malah tertawa.

"Kalian berdua tidak usah berdebat, aku pun tidak akan memaksa orang, Kalau Saudara Sie tidak sudi membahtuku, yah! Sudahlah! Aku akan menerima nasib," katanya.

"Saudara Sim, harap dengar baik-baik!" ujar Sie Bun Yun serius, "Aku sungguh tidak pernah melihat apa yang disebut Cong Cin To. "

"Kalau begitu, siapa yang pernah melihat barangitu?" Terdengar suara sahutan di dalam lembah ilu.

"Siapa?" Pek Yun Hui tertegun "Aku adalah aku!" Suara sahutan yang agak menyeramkan.

"Siapa engkau?" tanya Ling Hung gusar "He he!" Terdengar suara tawa aneh. "Kalian segera akan mengetahuinya!"

Pek Yun Hui baru mulai berkecimpung di rimba persilatan Ling Hung cuma bergerak di sekitar Cui Cuk San Cung, sama sekali tidak pernah mengembara ke mana-mana, sedangkan Sie Bun Yun baru pulang dari seberang laut Oleh karena itu mereka bertiga tidak dapat menduga siapa orang itu.

Bagian ke tiga puluh tiga Kena Racun ular

Yang tampak serius sekali adalah Sim Cong, Keningnya berkerut-kerut dan wajahnya tampak tegang.

"Kita semua harus berhati-hati!" pesan nya.

"He he he!" Suara tawa aneh itu terdengar lagi dan disusul oleh suara mendesis-desis.

Mereka berempat segera menundukkan kepala, tampak dua ekor ular beracun sedang merayap ke luar.

Sungguh aneh ular beracun itu. Badannya panjang agak gepeng, dari kepala sampai ke ujung ekor terdapat garis yang memancarkan cahaya kekuning-kuningan.

"Haaah..." teriak Ling Hung ketika melihat ular-ular itu. "Jangan takut dan jangan bergerak sembarangan!" ujar

Pek Yun Hili dengan suara rendah.

Walau berkata demikian, namun dalam hati Pek Yun Hui juga merasa takut dan jijik, sementara ke dua ekor ular itu terus merayap ke arah mereka, dan sesekali mendongakkan kepalanya.

Yang paling mengejutkan adalah rerumputan yang dilalui ke dua ekor ular tersebut Rumput-rumput itu langsung berubah kuning layu, itu dapat diketahui betapa beracunnya ular-ular tersebut

Setelah berada beberapa depa di hadapan mereka, ke dua ekor ular itu berhenti merayap, lalu melingkar dengan kepala mendongak ke atas.

"He he he!" Terdengar lagi suara tawa aneh, Tak lama muncullah seorang tua berjubah abu-abu. Badan orang tua itu kurus kering, tetapi sepasang matanya menyorotkan sinar ganas, Tangannya membawa sebatang tongkat pipa besi.

Begitu muncul, orang tua aneh itu pun mengeluarkan siulan panjang yang melengking-lengking, dan seketika juga ke dua ekor ular itu merayap ke arahnya.

"Sssst! Ssssst!" Kedua ekor ular itu mendesis-desis, Salah seekor langsung masuk ke pipa besi, dan yang seekor lagi melilit di pipa besi itu.

Sementara Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Ling Hung dan Sim Cong diam saja, sedangkan orang tua aneh itu mengamati mereka berempat, lalu menuding Sim Cong dengan pipa besinya seraya membentak.

"Murid Kun Lun yang telah diusir dari perguruan, tentunya tahu nama besarku! Kenapa masih belum menyingkir ?"

Hek Sat Ciu-Sim Cong tertawa dingin, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajah orang tua aneh itu langsung berubah.

"Engkau mau menyingkir tidak?" bentak orang tua aneh itu lagi, "lngin cari penyakit?"

Usai membentak, dia langsung menyerang Sim Cong dengan pipa besinya dengan jurus Cang Coa Thuh Sing (Ular Menyemburkan Racun), sedangkan ular yang melilit di pipa besi itu juga menjulurkan lidahnya ke arah Sim Cong.

Sim Cong cepat-cepat berkelit menghindari serangan itu. Pek Yun Hui yang berdiri di sisinya tampak gusar sekali, dan menghardik keras. "Engkau sudah tua kok tidak tahu aturan? Dia teman kami, kenapa engkau begitu muncul langsung menyuruhnya menyingkir?"

"He he he!" Orang tua aneh itu tertawa terkekeh-kekeh, "Bocah! Mungkin engkau sudah bosan hidup!"

"Siapa engkau?" tanya Pek Yun Hui membentak. "He he he!" Orang tua aneh itu tertawa terkekeh lagi,

"Namaku Tan Piauw, julukanku Coa Siu (Si Kakek Ular)!"

Begitu mendengar nama dan julukan tersebut, terkejutlah Sie Bun Yun, Ling Yun dan Sim Cong, Namun Pek Yun Hui sama sekali tidak merasa terkejut, karena tidak pernah mendengar nama maupun julukan itu.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui. "Dari julukannya sudah dapat diketahui bahwa engkau bukan orang baik baik! Mau apa engkau muncul di sini?"

"Kalau kalian berempat masih ingin hidup, cepatlah serahkan Cong Cin To itu padaku!" sahut Tan Piauw, Si Kakek Ular.

"Cong Cin To itu tidak berada pada saudara Sie Bun Yun, engkau telah salah cari orang!" ujar Pek Yun Hui dan menambahkan "ltu cuma isyu dalam rimba persilatan!"

"Sekarang memang tidak ada padanya, tapi setelah ular beracunku menggigitnya, dia pasti menyerahkan barang itu padaku!" Tan Piauw, Si Kakek Ular tertawa dingin.

"Berdasarkan apa engkau akan menyuruh ular beracun itu menggigitnya?" tanya Pek Yun Hui dengan kening berkerut.

"Berdasarkan dia memiliki Cong Cin To, lagi pula dia pun tidak mampu melawanku!" sahut Tan Piauw, Si Kakek Ular sambil tertawa melengking.

"Oh?" Pek Yun Hui sudah tidak dapat bersabar lagi. ia segera menghunus pedangnya, dan sekaligus menyerang Si Kakek Ular itu dengan jurus Sin Liong Tiau Bwe (Naga Sakti Melepaskan Ekor).

Ketika melihat Pek Yun Hui menyerang Si Kakek Ular, Ling Hung tidak tinggal diam. ia langsung menggerakkan senjatanya ikut menyerang Si Kakek Ular dengan gerakan Cui Cuk Yauw Ih (Bambu Hijau Menggoyang).

"Hati-hati kalian berdua!" seru Sim Cong memperingatkan mereka.

"He he!" Si Kakek Ular tertawa dan secepat kilat menggerakkan pipa besinya untuk menangkis dan menyerang.

Setelah lewat tiga jurus, Ling Hung sudah terdesak Pek Yun Hui memang memiliki ilmu pedang aneh dan lihay, tapi Lweekangnya masih dangkal, sehingga sulit baginya untuk mendesak Si Kakek Ular.

Sim Cong mengerutkan kening menyaksikan pertarungan itu. ia mengayunkan pengayuhnya, dan dikeluarkannya jurus Heng Tiau Tuh Kang (Melintang Menycberang Sungai) untuk menyerang Si Kakek Ular. "Bagus!" teriak Si Kakek Ular sambil tertawa ter-kekeh-kekeh, lalu menggetarkan pipa besinya, seketika juga ular beracun yang melilit di ujung pipa besi itu menjulur menggigit lengan Sim Cong.

Betapa terkejutnya Sim Cong, ia cepat-cepat meloncat mundur, namun ular beracun itu masih tetap mengarah pada lengannya.

Untung Ling Hung berdiri di samping Sim Cong, Gadis itu segera memukul pipa besi itu dengan senjata-nya, sehingga pipa besi itu terpukul agak miring, dan ular beracun itu pun tidak berhasil menggigit lengan Sim Cong.

Namun ular beracun itu sungguh lihay, ia tetap menjulurkan kepalanya dan menggigit. Karena pipa besi itu agak miring, gigitan ular beracun itu meleset, hanya lengan baju Sim Cong yang tergigit robek. Sim Cong bergerak cepat mencabut belatinya dan secepat kilat menyabet lengan bajunya.

"Serrrt!" Lengan bajunya kutung jatuh ke bawah berikut ular beracun itu.

Cukup lama Sim Cong berkecimpung dalam rimba persilatan, maka tahu kalau ular itu amat beracun, siapa tergigit pasti mati dalam beberapa saat saja. Barusan ia boleh dikatakan lolos dari kematian

Sim Cong segera meloncat mundur dengan wajah pucat pias, namun Ling Hung masih berdiri di tempat Ketika melihat ular beracun itu jatuh di tanah, ia maju selangkah sambil mengayunkan senjatanya ke arah ular beracun itu.

sementara Pek Yun Hui dan Si Kakek Ular masih bertarung dengan seru, tetapi belum ketahuan siapa yang akan kalah dan menang.

Senjata Ling Hung yang diayunkan itu terus mengarah pada ular beracun yang melingkar di permukaan tanah.

"Jangan!" seru Sim Cong dan Sie Bun Yun serentak Akan tetapi, Ling Hung sudah tidak keburu menarik

kembali senjatanya, maka trisulanya menghantam badan ular beracun tersebut

Pada waktu bersamaan, tampak seseorang menerjang ke arah Ling Hung, dan sekaligus mendorongnya sekuat tenaga.

Ling Hung tidak melihat jelas siapa yang mendorongnya, hanya melihat ular itu mendadak melesat ke arahnya laksana kilat Kini gadis itu baru tahu akan kelihayan ular beracun tersebut seketika juga ia menggunakan tenaga dorongan itu meloncat ke samping, Barulah ia tahu bahwa yang mendorongnya itu adalah Sie Bun Yun dengan maksud menolongnya. Karena Ling Hung meloncat pergi, Sie Bun Yunlah yang menjadi sasaran ular beracun itu. Ternyata ular beracun itu telah melesat ke arahnya.

"Hati-hati kakak misan!" seru Ling Hung.

Sie Bun Yun mundur selangkah, lalu menggerakkan bambu yang di tangannya dengan jurus Man Thian Sing Hui (Bintang Berkerlap-Kerlip Di Langit).

"Kieekl" Bambu yang di tangan Sie Bun Yun tergigit ular beracun itu.

Sie Bun Yun bergerak cepat Diayunkannya bambu itu pada batu, maksudnya ingin membunuh ular beracun itu dengan bambunya, Akan tetapi, ular beracun itu sama sekali tidak terluka.

"Saudara Sie, biar aku saja!" seru Sim Cong.

Sie Bun Yun tahu maksud Sim Cong. ia menekan ular beracun itu di atas batu, sedangkan Sim Cong mengangkat pengayuhnya yang amat berat itu, lalu menghantam kepala ular beracun tersebut

"Braaak!" Kepala ular beracun itu remuk dan batu itu pun hancur Bagaimana mungkin ular beracun itu bernyawa lagi?

Tan Piauw, Si Kakek Ular memang berkepandaian tinggi, Namun Pek Yun Hui memiliki ilmu pedang aneh, sehingga membuat Si Kakek Ular itu tiada kesempatan untuk menolong ularnya, Begitu melihat ularnya terbunuh gusarlah Si Kakek Ular, ia memekik keras dan langsung menyerang Pek Yun Hui bertubi-tubi.

Pek Yun Hui tidak berani menyambut serangan-serangan itu, melainkan mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, sehingga pukulan Si Kakek Ular membentur tempat kosong.

Si Kakek Ular tampak tertegun sedangkan Pek Yun Hui sudah berada di belakangnya, dan pedangnya pun bergerak menyerang punggung Si Kakek Ular. Pek Yun Hui mengeluarkan jurus Jit Goat Cih Seng (Matahari Bulan Muncul Bersama).

Ketika Si Kakek Ular baru mau membalikkan badannya untuk menangkis serangan itu, Sim Cong dan Ling Hung sudah menyerangnya dengan senjata masing-ma-sing.

Betapa pun tingginya kepandaian Si Kakek Ular, namun sulit juga berkelit ia memekik keras dan badannya melambung ke atas, bahkan sekaligus menyerang Sim Cong dengan jurus Tok Coa Cut Tong (Ular Beracun Keluar Gua).

Sim Cong secepat kilat mengayunkan pengayuhnya menangkis serangan itu, dan pada waktu bersamaan, trisula Ling Hung pun telah menghantam kaki Si Kakek Ular.

"Aaakh!" jerit Tan Piauw, Si Kakek Ular, Tubuhnya terpental beberapa depa. Sepasang matanya menyorot ganas, mulutnya mengeluarkan suara aneh, dan wajah tampak menyeramkan Pada saat bersamaan, terdengarlah suara tawa di dalam rimba.

"Ha ha hal Coa Siu, engkau terhitung tokoh tua dalam Bu Lim, tetapi masih mau bertarung dengan kaum muda!

Akhirnya engkau pula yang rugi, salah seekor ular beracun itu sudah mampus, bahkan kakimu pun terhan-tam senjata!

Apakah engkau masih ingin bertarung lagi?" "Siapa?" bentak Tan Piauw, Si Kakek Ular gusar, Serrt! Serrrt! Tampak dua orang melesat ke luar dari dalam rimba. Kedua orang itu berusia lima puluhan

Begitu melihat ke dua orang itu, terkejutlah Pek Yun Hui, Sie Bun Yun, Sim Cong dan Ling Hung.

Ternyata ke dua orang itu bertampang aneh. Salah seorang berwajah segi empat, matanya berbentuk segi tiga dan yang paling menyeramkan adalah wajahnya punya dua warna, sebelah kiri hitam, sebelah kanan putih, Yang satu lagi berwajah pucat pias, seakan tak berdarah sama sekali, mirip orang yang telah mati beberapa tahun Ke dua orang itu memakai jubah putih dengan kaki te!anjang. Sungguh menyeramkan ke dua orang itu, Pek Yun Hui melihat orang- orang aneh bermunculan Kalau terus berada di tempat itu, pasti akan muncul orang lagi, sedangkan Sie Bun Yun dalam keadaan luka, masih belum sempat beristirahat Pikirnya.

Oleh karena itu, hatinya semakin cemas, Kemudian ia memandang Ling Hung sambil memberi isyarat, dan Ling Hung manggut-manggut Mereka berdua mendekati Sie Bun Yun, lalu menariknya pergi.

Akan tetapi, di saat itu pula ke dua orang aneh itu secepat kilat melesat ke hadapan mereka.

"Hm! Hm!" Orang yang bermuka hitam putih itu tertawa dingin "Kalian tidak boleh kabur!"

"Setelah kami menghajar Si Kakek Ular itu, kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada kalian!" sambung orang aneh berwajah pucat

Pek Yun Hui tahu, mereka berdua pasti ingin menanyakan tentang Cong Cin To, maka seketika juga keningnya berkerut sedangkan Ling Hung malah ter-senyum, sepertinya teringat sesuatu yang menggelikan

Tentunya membuat Pek Yun Hui tereengang, Ketika ia baru mau membuka mulut bertanya, Ling Hung justru telah mendahuluinya bertanya pada ke dua orang aneh itu.

"Bukankah kalian ingin bertanya tentang semacam gambar?"

"Betul." Wajah ke dua orang aneh itu tampak berseru "Gambar itu disebut Cong Cin To kan?" tanya Ling Hung

lagi.

"Tidak salah," sahut ke dua orang aneh itu serentak sambil tertawa gembira, "Bocah perempuan! Tahukah engkau berada di mana Cong Cin To itu?"

"Tahu." Ling Hung mengangguk, Pek Yun Hui yang tersentak "Di mana barang itu?" tanya orang aneh yang berwajah putih hitam.

"Cong Cin To. " Ling Hung menunjuk Tan Piauw, Si

Kakek Ular.". pada orang tua jelek itu, tanyakan saja

padanya!"

"Omong kosong!" bentak Tan Piauw, Si Kakek Ular Kini Pek Yun Hui baru tahu, ternyata Ling Hung ingin

menimpakan bahaya pada Si Kakek UIar. Maka ia pun menyambung sambil tertawa.

"Tidak salah, Dia telah merebut Cong Cin To itu."

Kedua orang aneh itu tertegun, Dengan serentak mereka memandang pada Si Kakek Ular, dan seketika Si Kakek Ular tertawa dingin.

"Kang Lam Siang Koai (Sepasang Orang Aneh Kang Lam)!

Kalian bukan anak kecil, pereaya itu?"

Kedua orang aneh itu saling memandang, Yang berwajah hitam putih mendadak menggerakkan tangannya, seperti main sulap, tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang Pan Koan Pit (Pensil kuno Cina).

Setelah Pan Koat Pit itu berada di tangannya, ia langsung membentak keras sambil menyerang Si Kakek Ular dengan j urus Ciauw Meng Hu Kip (Burung Berkicau Rase Kabur), Ujung Pan Koan Pit mengarah Ih Bun Hiat di tubuh Si Kakek Ular.

Si Kakek Ular berteriak-teriak aneh dan secepat kilat berkelit, lalu membentak keras.

"lm Yang Pan Koan (Hakim Banci) Cih Tay Hui! Apakah engkau mau cari gara-gara denganku?"

"He he he!" Im Yang Pan Koan-Cih Tay Hui tertawa terkekeh-kekeh, "Tidak salah!" ia langsung menyerang, kali ini ia mengeluarkan jurus Im Khi Sim Sim (Hawa Dingin Meremang).

Si Kakek Ular tidak diam, ia menangkis lalu batas menyerang dan terjadilah pertarungan seru, Begitu cepat pertarungan itu, sehingga tak terasa sudah melewati delapan jurus, sedangkan Kou Hun Bu Siang (Setan Pembetot Arwah)- Hu Teng Hai, teman Im Yang Pan Koan menghampiri Pek Yun Hui dan lainnya sambil tersenyum-senyum.

Keempat orang itu tahu bahwa Hu Teng Hai berniat tak baik, maka mereka segera mundur.

"Kalian bertiga cepat mundur!" kata Sim Cong yang berdiri di paling depan.

"Saudara Sim!" sahut Pek Yun Hui. "Bagaimana mungkin membiarkan engkau seorang diri menghadapi-nya?"

Pek Yun Hui langsung menyerang dengan pedang-nya.

Begitu melihat Pek Yun Hui mulai menyerang, Ling Hung pun menggerakkan senjatanya, begitu pula Sim Cong dengan pengayuhnya.

Boleh dikatakan mereka bertiga menyerang dalam waktu bersamaan, Walau Hu Teng Hai berkepandaian tinggi, namun kewalahan juga menghadapi serangan-serangan itu, Segeralah ia meloncat mundur, tapi Sie Bun Yun justru telah menyerang di belakangnya dengan bambu, mengeluarkan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga Salju Beterbangan) mengarah Hun Bun dan Ik Bun Hiat di punggungnya.

Kou Hun Bu Siang-Hu Teng Hai berkelit, namun tidak keburu sehingga Ik Bun Hiat di punggung tertotok ujung bambu Sie Bun Yun, dan seketika juga ia merasa punggungnya sakit dan ngilu lalu tidak bisa bergerak

sebetulnya Kou Hun Bu Siang-Hu Teng Hai berkepandaian tinggi, tetapi karena diserang mendadak oleh empat orang dari empat arah, maka tiada waktu baginya untuk mengembangkan kepandaiannya. jalan darah Ik Bun Hiat di punggungnya telah ter-totok, sedangkan Cih Tay Hui masih bertarung dengan Si Kakek Ular. Mereka berempat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, langsung melesat ke dalam rimba.

Tak seberapa lama kemudian, mereka berempat sudah keluar dari rimba tersebut, namun masih tetap melesat ke depan. Setelah beberapa li, barulah mereka berhenti

Sim Cong memandang Sie Bun Yun beberapa saat lamanya, kemudian menarik nafas panjang dan mendadak melesat pergi.

"Dia sungguh solider terhadap orang," ujar Pek Yun Hui sambil memandang punggung Sim Cong.

"Tidak salah," sambung Ling Hung, "Kakak misan, apakah benar Cong Cin To itu tidak berada padamu? Lantaran Cong Cin To itu, ayahku mati dan Cui Cuk San Cung pun terbakar musnah. "

Berkata sampai di sini, air mata Ling Hung mulai meleleh, Sie Bun Yun cuma menatapnya, sama sekali tidak menyahut

Pek Yun Hui sangat cerdas, maka ketika menyaksikan sikap Sie Bun Yun, ia pun segera berkata dengan suara dalam

"Saudara Bun Yun, Cong Cin To itu berada padamu kan?" "Saudara keciL,." Sie Bun Yun terkejut "Diam! Kalau

terdengar orang, kita pasti celakai"

"Kakak misan, di sini tidak ada orang lain, Bagaimana mungkin akan didengar oleh orang lain?"

"Aaaakh. " Sie Bun Yun menarik nafas panjang dan

memberitahukan "Dalam perjalanan, aku sangat berhati-hati menjaga jejak, tapi rahasia itu akhirnya bocor juga, sehingga menimbulkan bencana dalam Bu Lim."

"Saudara Sie, kalau tahu Cong Cin To itu berada padamu, aku pasti menganjurkan agar engkau memberikannya pada Sim Cong saja," ujar Pek Yun Hui sambil menggeleng- gelengkan kepala.

"Kenapa?" tanya Sie Bun Yun heran.

"Setahuku. " Pek Yun Hui tersenyum "Kui Goan Pit Cek

telah diambil orang."

Mendengar itu, Sie Bun Yun tampak kecewa dan putus asa, tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"ltu tidak mungkin, Kalau benar Kui Goan Pit Cek itu telah diambil orang, kenapa tiada seorang Bu Lim pun yang tahu?"

"Saudara Bun Yun!" Pek Yun Hui tersenyum, "Eng-kau harus mempereayaiku aku tidak membohongimu." "Kakak misan!" sela Ling Hung, "Disimpan di mana Cong Cin To itu? Bolehkah aku melihatnya?"

Sie Bun Yun tampak serba salah, lama sekali barulah ia berkata dengan suara rendah.

"Adik Hung, Cong Cin To itu kusimpan di suatu tempat yang amat rahasia, sesungguhnya aku menunggu seusai ayahmu merayakan ulang tahunnya, aku akan pergi ke Kwat Cong San bersama ayahmu mencari Kui Goan Pil Cek.

Namun. "

"Kakak misan, sebetulnya Cong Cin To itu kau simpan di mana?" desak Ling Hung ingin mengetahuinya.

"Aku simpan di. " Sebelum usai ucapannya, mendadak

wajahnya berubah merah padam, sekujur badannya menggigil kemudian wajahnya berubah lagi menjadi pucat pias, dan keringatnya pun mengucur

"Saudara Bun Yun!" Pek Yun Hui terkejut "Kenapa engkau?"

"Aaakh. " keluh Sie Bun Yun dengan bibir ber-gemetar,

"Aku... aku kena racun ular itu, Adik Hung. " Pek Yun Hui tereengang, Bagaimana mungkin di saat ini Sie Bun Yun tergigit ular berbisa? Pikirnya.

"Saudara Bun Yun. " Pek Yun Hui menatapnya.

"Kalian lihatlah!" Sie Bun Yun memperlihatkan telapak tangannya.

Pek Yun Hui dan Ling Hung segera memandang telapak tangan Sie Bun Yun, yang tampak kehitanv hitaman.

"Kakak misan,. " Ling Hung kebingungan

"Tak diduga begitu hebat racun ular itu!" Sie Bun Yun menarik nafas.

"Kakak misan, bagaimana engkau bisa kena racun ular itu?" tanya Ling Hung heran.

"Ular beracun itu menggigit bambu yang di tanganku, Ketika ular itu mau mati, mungkin menyemburkan racunnya. Aku tidak tahu dan tetap menggenggam bambu itu, maka...

aku kena racun ular itu." Sie Bun Yun memberitahukan

"Saudara Bun Yun, akan bagaimana setelah kena racun ular itu?" tanya Pek Yun Hui cemas.

"Tiada obatnya," sahut Sie Bun Yun singkat.

Pek Yun Hui tertegun karena sahutan Sie Bun Yun itu bagaikan geledek menyambar hatinya.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin. " gumam Pek Yun Hui

dengan air mata berlinang-Iinang.

"Adik Hung!" panggil Sie Bun Yun lemah dan wajahnya semakin pucat pias, "Aku akan memberitahukan padamu, kusimpan di mana Cong Cin To itu."

"Kakak misan. " Air mata Ling Hung juga sudah meleleh.

"Cong Cin To itu merupakan benda pembawa bencana, Ka!au bukan karena itu, bagaimana mungkin engkau kena racun ular?" Sie Bun Yun menarik nafas panjang, sedangkan Pek Yun Hui terus berpikir, harus dengan cara bagaimana menyelamatkan nyawa pujaan hatinya itu? ia tidak menghendaki Sie Bun Yun mati karena racun ular itu, Akhirnya terpikir juga satu jalan, yakni membawa Sie Bun Yun ke gua Thian Kie Cinjin di Kwat Cong San, sebab ia yakin gurunya mampu menolong pemuda itu.

"Saudara Bun Yun, guruku berkepandaian amat tinggi, tinggal di Kwat Cong San, Aku akan membawamu menemui beliau untuk mengobatimu," ujar Pek Yun Hui memberitahukan.

"Siapa gurumu?" tanya Sie Bun Yun. "Guruku bernama. " Pek Yun Hui terpaksa

memberitahukan sebab menyangkut nyawanya, "Guruku bernama Na Hai Peng."

Kening Sie Bun Yun berkerut karena sama sekali tidak pernah mendengar nama tersebut Na Hai Peng adalah pengawal istana, maka jarang bergerak dalam rimba persilatan Lagi pula beberapa tahun belakangan ini, Na Hai Peng cuma tenggelam dalam ilmu silat Kui Goan Pit Cek sehingga tiada seorang Bu Lim pun yang mengetahuinya.

"Belum tentu gurumu dapat menolongku." Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala.

"Biar bagaimana pun, aku harus membawamu ke sana," desak Pek Yun Hui.

"Yaah. " Sie Bun Yun menarik nafas panjang, "Mungkin

sebelum tiba di gunung Kwat Cong San, aku sudah mati."

Ucapan Sie Bun Yun itu bagaikan sembilu menyayat hati Pek Yun Hui, Tiba-tiba Pek Yun Hui teringat sesuatu, yakni di dalam kitab Kui Goan Pit Cek tereantum juga semacam ilmu pengobatan darurat.

ilmu itu disebut Hong Kwat Hu Khi Hoat (Menutup jalan darah dengan hawa murni), Yaitu dengan Lweekang menutup tujuh puluh dua jalan darah di tubuh orang yang kena racun, agar racun tidak menyerang ke jantung orang tersebut untuk sementara.

Akan tetapi, orang yang menyalurkan Lweekang itu, akan kehilangan hawa murninya sehingga membuatnya menderita.

Pada waktu itu Lweekang Pek Yun Hui masih dang-kal, maka tidak bisa melakukannya, Namun Sie Bun Yun adalah orang yang amat dicintainya, jadi ia pun bersedia berkorban

"Saudara Bun Yun!" ujarnya setelah mengambil keputusan "Aku punya cara agar racun ular itu tidak menjalar atau menyerang jantungmu dalam beberapa hari ini."

"Aku pun pernah dengar cara tersebut, tapi Lwee-kangmu masih dangkal Kalau engkau melakukan cara itu, mungkin engkau akan mati kehabisan hawa mur-nimu," sahut Sie Bun Yun.

Ling Hung yang berdiri di situ, tertegun mendengarnya. "Kakak Yun, betulkah begitu?" tanyanya dengan cemas. "Mungkin," jawab Pek Yun Hui sambil tersenyum getir

"Kalau begitu. " Air mata Ling Hung berderal "Menolong

orang lebih penting, engkau boleh melakukannya.

"Adik Hung!" Pek Yun Hui merasa girang, "Engkau tidak akan berduka?"

"Tentunya aku berduka dalam hati, namun itu demi menolong kakak misanku, Bagaimana mungkin aku men- cegahmu yang ingin menolongnya? Kalau benar engkau akan mati kehabisan hawa murni, aku pun pasti membawa kakak misan ke Kwat Cong San, setelah itu aku pasti mati bersamamu," ujar Ling Hung sungguh-sungguh.

Mati bersama sang kekasih, itu memang sangat ba-hagia, Pikir Ling Hung sehingga mengambil keputusan tersebut.

Pek Yun Hui tertegun ia memandang Ling Hung seraya berpikir seandainya dirinya lelaki betapa bahagianya mendapat cinta Ling Hung yang sedemikian dalam dan tuIus. Akan tetapi, dirinya justru seorang gadis juga, itu membuat pikirannya bertambah kacau, akhirnya tidak mau memikirkan itu lagi.

"Saudara kecil, engkau tidak perlu melakukan itu," ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum

"Kenapa?" tanya Pek Yun Hui heran

"Aku cuma seorang diri lagi pula apa yang dikatakan adik Hung pasti dilaksanakannya, jangan karena diriku, kalian berdua yang jadi korban," jawab Sie Bun Yun memberitahukan

"Saudara Bun Yun, legakanlah hatimu!" sahut Pek Yun Hui, "Aku punya akal, maka Adik Hung tak akan mati bersamaku."

Ternyata Pek Yun Hui telah mengambil suatu keputusan apabila ia akan mati kehabisan hawa murni, di saat itu pula ia akan membeberkan mengenai dirinya.

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun tertawa gagah, "Engkau jangan memandang rendah diriku, Adik Hung berani berkorban demi cintanya, maka aku pun tidak akan membiarkan nyawamu menukar dengan nyawaku."

Ucapan Sie Bun Yun membuat Pek Yun Hui membatin Adik Hung berani berkorban apakah aku tidak? Aku justru sudah tidak memikirkan nyawaku sendiri

Usai membatin, Pek Yun Hui menghimpun Lwee-kangnya, lalu menggerakkan jari telunjuknya yang penuh mengandung hawa murninya mengarah pada Thian Tu Hiat di tenggorokan Sie Bun Yun.

Setelah racun itu bereaksi tubuh Sie Bun Yun tidak bisa bergerak lagi, Ketika jari telunjuk mengarah pada tenggorokan nya, iapun berseru. "Saudara Ke. " Sie Bun Yun tidak bisa melanjutkan

ucapannya, karena Thian Tu Hiat di tenggorokannya telah tertotok

Menyusul adalah Yu Kut Hiat, Dalam waktu sekejap, Pek Yun Hui sudah menotok dua puluh satu jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, namun nafasnya sudah mulai memburu.

Mukanya memerah dan tampak susah ber-nafas, sebab setiap kali menolok, ia pun harus menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Sie Bun Yun, itu membuatnya mulai kehabisan hawa murni.

Pek Yun Hui tahu, apabila ia berhenti sekarang, mereka berdua pasti celaka, maka ia terus melanjutkan menotok jalan darah Sie Bun Yun. Setelah menotok Jin Tiok dan Yauw Ih Hi'at, Pek Yun Hui sudah merasa berkunang-kunang, wajahnya bertambah merah seperti api.

Akan tetapi, setelah mulai menotok jalan darah di tubuh Sie Bun Yun lagi, wajahnya yang semula memerah seperti api, berangsur-angsur berubah pucat pias, keringat dingin pun mengucur membasahi bajunya.

Pek Yun Hui melirik ke arah Ling Hung, yang duduk tenang di atas sebuah batu besar Namun Pek Yun Hui tahu, hati gadis itu amat berduka dan menderita sekali, hanya saja gadis itu tidak berani bersuara sama sekali.

"Kakak Yun!" ujar Ling Hung karena melihat Pek Yun Hui meliriknya, "Jangan memikirkan diriku! Kalau hawa murnimu buyar, sulit dihimpun kembali lagi."

Pek Yun Hui mengangguk dan mulai menotok jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, sehingga kini tinggal dua belas jalan darah, maka menurutnya akan berhasil

Akan tetapi, di saat ini hawa dan tenaga murni Pek Yun Hui telah hilang separuh. sesungguhnya dengan Lweekangnya yang masih dangkal itu, ia sama sekali tidak boleh melakukan Hong Kwat Hu Khi pada Sie Bun Yun, sebab akan merusak hawa dan tenaga murninya sendiri Karena itu, saat ini wajahnya telah berubah kelabu dan keringat dinginnya terus mengucur, bahkan badannya pun mulai sempoyongan seakan mau jatuh.

Pek Yun Hui berkertak gigi, dan jari telunjuknya mulai bergerak lagi, Biar bagaimana pun ia akan me- nyelesaikannya.

ia sendiri tidak tahu, kekuatan apa yang mendorongnya melakukan itu, Mungkin tatapan mata Sie Bun Yun yang sejuk itu, mungkin juga cintanya yang menggebu-gebu memberi kekuatan padanya.

"Saudara keciL." panggil Sie Bun Yun.

Kini Pek Yun Hui telah menotok tujuh puluh dua jalan darah di tubuh Sie Bun Yun, Ketika Sie Bun Yun memanggilnya, ia tersenyum manis, kemudian jatuh du-duk.

Ling Hung bangkit berdiri, lalu mendekati Pek Yun Hui dengan air mata berderai-derai sambil memanggilnya

"Kakak Yun! Kakak Yun,.,."

Wajah Pek Yun Hui pucat pias, telinganya sama sekali tak mendengar suara panggilan itu, Ling Hung menengadahkan kepala memandang langit, mulutnya bergumam.

"Kakak Yun! Kakak Yun. "

"Adik Hung!" Sie Bun Yun memanggilnya.

Ling Hung menundukkan kepala dan menyahut "Kakak Yun sudah mati, aku akan mengantarmu ke

gunung Kwat Cong San!"

"Adik Hung, saudara keciI. tidak mati," ujar Sie Bun Yun

sambil tersenyum getir

"Kakak misan, jangan membohongiku!" Ling Hung terisak- isak. "Kalau Kakak Yun tidak mati, kenapa wajahnya begitu pucat pias? Aku memanggilnya, kenapa dia tidak mendengar?" "Adik Hung! Untuk apa aku membohongimu?" Sie Bun Yun menarik nafas panjang sekali Entah bagaimana rasanya ketika melihat Ling Hung bersikap demikian terhadap Pek Yun Hui, padahal ia amat mencintai Ling Hung, "Dia memang benar belum mati, cuma pingsan."

Ling Hung memandang Pek Yun Hui, kemudian membungkukkan badannya, dan sekaligus meraba keningnya.

"Kakak misan, dia memang pingsan. Ka!au pun sadar, dia pasti tidak bisa hidup lama."

Sie Bun Yun memandang ke langit, lalu menarik nafas panjang. padahal ia sangat membenci Pek Yun Hui, tapi saat ini, ia merasa amat berterimakasih padanya, Berselang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui membuka matanya perlahan-lahan, sadar dari pingsannya. 

"Saudara Bun Yun!" ujar Pek Yun Hui begitu membuka matanya, "Engkau merasa hawa racun ular itu ditahan?"

"Ya." Sie Bun Yun mengangguk

"Kalau begitu. " Pek Yun Hui tersenyum. "Mari kita

berangkat ke gunung Kwat Cong San!"

Ling Hung ingin memapahnya bangun, namun Pek Yun Hui menggelengkan kepala seraya berkata.

"Adik Hung, lebih baik engkau menjaga saudara Bun Yun dulu!"

Ling Hung tertegun mendengar itu, hatinya seperti tersayat pisau, Tapi ia tetap menurut pada Pek Yun Hui, dan segeralah memapah Sie Bun Yun.

Mereka mulai berjalan, Pek Yun Hui menggunakan pedangnya sebagai tongkat, namun sepuluh depa kemudian, nafasnya sudah memburu. "Kakak Yun!" ujar Ling Hung sambil menurunkan Sie Bun Yun dari punggungnya, "Kalau kita berangkat dengan cara demikian, tidak akan bisa mencapai gunung Kwat Cong San."

"Benar." Pek Yun Hui mengangguk "Biar kami di sini, engkau pergi cari sebuah kereta kuda, barulah kita bisa mencapai Kwat Cong San."

"Kakak Yun!" Ling Hung menatapnya dalam-dalam. "Engkau bilang gurumu itu berkepandaian amat tinggi,

apakah beliau juga mampu memulihkan Lweekangmu?"

"Yang penting kita harus sampai di Kwat Cong San, guruku pasti punya akal untuk memulihkan Lweekang-ku," sahut Pek Yun Hui.

"Kalau begitu. " Ling Hung tersenyum, "Syukurlah!"

Gadis itu memandang Pek Yun Hui sejenak, kemudian pergi mencari kereta kuda.

Pada saat ini, Sie Bun Yun dan Pek Yun Hui dalam kondisi lemah, mereka duduk di bawah pohon rindang.

"Saudara keciI. " Sie Bun Yun mulai membuka mulut.

"Kenapa engkau menyusahkan diri sendiri?"

"Saudara Bun Yun!" Pek Yun Hui tersenyum, "Kini hatiku malah merasa gembira sekali."

"Saudara keciL." Sie Bun Yun menarik nafas pan-jang, "Di atas perahu itu, aku sudah melihat dengan jelas, yang Ling Hung cintai adalah dirimu bukan diriku, Ka-rena itu, hatiku berduka sekali, Maka.,, aku pun menyalahkan dan sekaligus membencimu."

"Saudara Bun Yun! Engkau. " Mata Pek Yun Hui

bersimbah air. "Saudara kecil, dengarlah! Kini aku sudah tahu per- lakuanmu terhadap orang, Saudara kecil, apakah engkau akan membuat adik Hung hidup bahagia selama-lamanya?"

Pek Yun Hui diam saja.

"Saudara kecil! Engkau tidak tahu bahwa aku tetap mencintai adik Hung walau dia tidak mencintaiku Asal engkau bisa membahagiakannya, aku pun turut gembira."

"Saudara Bun Yun.. Pek Yun Hui menarik nafas panjang. "Semua itu gara-gara kesalahanku."

"Siapa pun tidak bersalah dalam hal ini," sahut Sie Bun Yun.

"Saudra Bun Yun. " Pek Yun Hui memberanikan diri untuk

menyatakan sesuatu, "Engkau tidak tahu, bahwa sesungguhnya aku tidak bisa mencintai adik Hung."

Begitu mendengar apa yang dikatakan Pek Yuri Hui, seketika juga wajah Sie Bun Yun berubah, lama sekali barulah membuka mulut

"Saudara kecil! Walau engkau telah berbudi padaku, tapi kalau engkau mempermainkan adik Hung, aku tetap akan memandangmu sebagai musuh."

"Sebetulnya bukan aku tidak mencintainya, hanya saja. "

Pek Yun Hui menarik nafas panjang. "Kenapa?" tanya Sie Bun Yun dingin.

"Aku. aku tidak bisa mencintainya, harap engkau dapat

memaklumi kesulitanku!" Pek Yun Hui menundukkan kepala.

"Saudara kecil!" tegas Sie Bun Yun. "Kalau engkau berniat mempermainkan adik Hung, aku tidak akan melepaskanmu!"

"Saudara Bun Yun, aku. "

"Apakah engkau sudah punya tunangan?" "Sesungguhnya aku. " Pek Yun Hui berhenti mendadak Bagian ke tiga puluh empat

Menghadapi Musuh Dalam kondisi Lemah

Kenapa Pek Yun Hui tidak melanjutkan ucapannya?

Karena ketika ia baru mau memberitahukan tentang dirinya, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Heran, seharusnya mereka berada di sini!"

Bukan main terkejutnya Pek Yun Hui, sebab di saat ini ia dan Sie Bun Yun dalam kondisi lemah, tiba-tiba terdengar suara yang mencurigakan

"Apakah Si Kakek Ular sengaja menjebak kita?" terdengar lagi suara sahutan.

Ketika mendengar suara itu, Pek Yun Hui semakin terkejut Karena ia mengenali suara itu, yang tidak lain suara Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang.

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun saling memandang, mereka berdua tampak tegang karena suara itu semakin dekat

Berselang sesaat suara itu mulai menjauh dan Pek Yun Hui pun menarik nafas lega, justru pada waktu bersamaan, terdengarlah suara derap kuda yang menarik kereta.

"Suheng!" Terdengar suara seruan Thu It Kang. "Ada orang ke mari!"

"Kita bersembunyi dulu, lihat siapa yang datang," sahut Tu Wee Seng.

Pek Yun Hui memandang ke depan, tampak sebuah kereta kuda berhenti di situ, kemudian melompat turun seseorang, yang tidak lain adalah Ling Hung, Kelihatannya gadis itu sama sekali tidak tahu keberadan Tu Wee Seng dan Thu It Kang di tempat itu.

"Kakak Yun! Kakak Yun!" seru Ling Hung gembira. Pek Yun Hui serba salah, menyahut salah, tidak menyahut pun salah, Di saat ia merasa serba salah, mendadak tampak dua sosok bayangan melesat ke arah Ling Hung secepat kilat

Ling Hung terkejut dan cepat-cepat mengayunkan senjatanya, Kemudian terdengar suara tawa dingin, senjata Ling Hung telah tertangkis oleh toya bambu.

Betapa kagetnya Ling Hung, namun kemudian malah tertawa dan memandang ke dua orang itu seraya berkata.

"Ternyata kalian berdua lagi!"

"Tidak salah!" Sahut Tu Wee Seng sambil tertawa gelak, "Engkau mau ke mana?"

"Lho?" Ling Hung tersenyum. "Aku mau ke mana adalah urusanku, kenapa engkau turut campur?"

sebetulnya Ling Hung cemas bukan main, namun ia tetap berlaku tenang dan berusaha mengalihkan perhatian ke dua orang itu.

"Hm!" dengus Tu Wee Seng, "Apakah mereka berdua telah terluka, maka menyuruhmu pergi mencari kereta kuda?"

"Ha ha!" Ling Hung tertawa, "Mereka berdua ter-luka?" "Apakah tidak?" Tu Wee Seng tertawa licik.

"Dugaanmu salah, Bagaimana mungkin mereka ter-luka?" sahut Ling Hung setenang mungkin.

"Suheng!" sela Thu It Kang, "Tidak perlu terlalu banyak bicara dengannya! ia pasti tahu berada di mana ke dua orang itu. Suruh saja dia mengajak kita ke sana!"

"Hei!" bentak Tu Wee Seng pada Ling Hung, "Engkau dengar tidak?"

"Kalau ingin menyuruhku untuk mengajak kalian ke sana, itu memang gampang! Tapi kalian berdua jangan begitu galak!" Ling Hung tersenyum, "Ayoh, mari ikut aku!" Mendengar sampai di sini, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun sudah tahu maksud tujuan gadis itu.

Ternyata Ling Hung akan mengajak ke dua orang itu ke tempat lain, ia bermaksud agar Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun dapat meloloskan diri, namun bagaimana dirinya setelah itu?"

"Tunggu!" seru Tu Wee Seng. "Engkau mau ke mana?" "Lho?" Ling Hung pura-pura heran, "Bukankah kalian

menyuruhku untuk mengajak kalian ke tempat mereka ?"

"Engkau tidak perlu macam-macam, mereka berdua pasti berada di dalam rimba ini!" Tu Wee Seng tertawa. "Ketika turun dari kereta itu, engkau berseru memanggil siapa?"

"Wuah!" Ling Hung tertawa, "Engkau sudah tua, tapi masih cerdas, Kami memang sudah berjanji bertemu di sini, namun kalau mereka berdua tidak ada di sini, kami akan bertemu di depan sana."

"Oh?" Tu Wee Seng tertegun "Kalau begitu, ajaklah kami ke sana!"

"Ohya!" Ling Hung teringat sesuatu, "Apakah kalian tidak akan tenang aku meninggalkan kereta kuda di sini?"

Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun terharu sekali, sebab ucapannya itu justru ditujukan pada mereka berdua.

sementara Ling Hung telah mengajak Tu Wee Seng dan Thu It Kang pergi, Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Walau adik Hung telah meninggalkan kereta kuda itu untuk kita, namun kita tetap tidak bisa meninggalkan tempat ini. Aaakh... sia-sialah maksud baiknya!"

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun menatapnya tajam, "Kalau engkau mempermainkan dirinya, engkau betul-betul bukan manusia!"

"Kalau aku berniat mempermainkannya, biar aku mati mengenaskan!" sahut Pek Yun Hui. "Kalau begitu. " Sie Bun Yun mengerutkan kening.

"Kenapa engkau tadi bilang tidak bisa mencintainya?

"Karena. " Pek Yun Hui menarik nafas dalam-dalam lalu

memberitahukan. "Tahukah engkau, bahwa sesungguhnya aku seorang gadis?"

Pek Yun Hui memberanikan diri untuk memberitahukan tentang itu, sebab ia mengira bahwa setelah itu, semua urusan akan beres. Akan tetapi, justru tidak segampang apa yang dibayangkan nya.

Ketika mendengar itu, Sie Bun Yun tampak tertegun Namun kemudian mendadak ia tertawa keras, kelihatannya ia amat gusar

"Saudara Bun Yun, kenapa engkau tertawa?" tanya Pek Yun Hui.

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun menatapnya dengan penuh kegusaran "Caramu berbohong, masih kurang tepat!"

"Oh?" Pek Yun Hui tertegun "Maksudmu?"

"Engkau ingin menggunakan alasan ini untuk menolak cinta adik Hung!" sahut Sie Bun Yun dan menegaskan "Kalau adik Hung terjadi apa-apa, aku tidak akan begitu gampang melepaskanmu!"

Padahal Pek Yun Hui memberitahukan secara jujur, tapi sebaliknya Sie Bun Yun malah mengiranya berbohong dan tidak pereaya sama sekali.

"Saudara Bun Yun. "

"Ssst!" Sie Bun Yun memberi isyarat sekaligus berbisik "Ada orang menuju ke mari!"

Pek Yun Hui mengintip ke depan, tampak Hek Sat Ciu-Sim Cong sedang berjalan dengan wajah murung, Begitu melihat orang itu, giranglah Pek Yun Hui.

"Saudara Sim!" panggilnya. Sim Cong langsung berhenti ia tampak tertegun dan menengok ke sana ke mari mencari arah suara tadi

"Saudara Sim, kami berada di balik pohon." Pek Yun Hui memberitahukan Sim Cong segera mendekati pohon itu, Begitu melihat Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun, ia pun berteriak kaget

"Haaah? Kalian berdua terluka?"

"Panjang sekali kalau dituturkan," sahut Pek Yun Hui. "Saudara Sim, sudikah engkau menolong kami satu kali lagi?"

"Tentu." Sim Cong mengangguk

Pek Yun Hui menunjuk ke dapan ke arah kereta kuda itu, kemudian ujarnya dengan suara rendah.

"Sebetu!nya Ling Hung yang membawa kereta kuda itu ke mari. Kami ingin berangkat ke gunung Kwat Cong San dengan kereta kuda itu. Saudara Sim, tolong bawa kereta kuda itu ke mari!"

"Saudara Pek!" sahut Sim Cong mengusulkan "ltu agak repot, lebih baik aku memapah saudara Sie dan menuntunmu ke sana, itu akan menghemat waktu.

"Betul" Pek Yun Hui mengangguk

Sim Cong segera memapah Sie Bun Yun, dan sekaligus menuntun Pek Yun Hui, lalu berjalan menuju kereta kuda itu.

Tak lama mereka sudah sampai di situ, Sim Cong memapah Sie Bun Yun ke dalam kereta diikuti Pek Yun Hui, Sim Cong duduk di depan kemudian menyentakkan tali kendali Kuda itu meringkik keras, kemudian berlari kencang meninggalkan rimba itu.

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun menatap Pek Yun Hui. "Bagaimana adik Hung"." Kenapa engkau sama sekali tidak memperdulikannya?"

"Saudara Bun Yun!" sahut Pek Yun Hui, "Aku bukan orang semacam itu. Kalau pun kita ingin mempedu!i-kannya sekarang, tenaga kita tidak mengizinkan. Lagi pula sebelum menemukan kita, Tu Wee Seng dan Thu It Kang pasti tidak akan berbuat jahat terhadapnya."

Sie Bun Yun menarik nafas panjang, sementara kereta itu terus melaju. Hening suasana di dalam kereta, Pek Yun Hui dan Sie Bun Yun membungkam.

sesungguhnya saat ini Pek Yun Hui sudah mati, sebab ia telah banyak kehilangan hawa dan tenaga mur-ninya, Namun ia justru tidak mati, bukankah sangat mengherankan?

Tidak perlu heran, karena sejak kecil Pek Yun Hui mempelajari Toa Pan Yok Hian Kang (llmu Gaib Mem-bikin Diri Menjadi Kebal), ilmu tersebut yang me!in-dunginya, maka setelah beristirahat satu hari satu malam. hawa dan tenaga murni Pek Yun Hui suda pulih tiga bagian.

Pek Yun Hui memandang ke luar, Legalah hatinya karena matanya telah melihat gunung Kwat Cong San. sementara kereta kuda itu terus melaju menuju gunung tersebut, namun Sie Bun Yun masih tetap membungkam.

Ketika petang hari, kereta kuda itu sudah mulai memasuki kawasan gunung Kwat Cong San. Akhirnya mereka sampailah di jalan setapak, dan kereta kuda itu terpaksa berhenti

"Sudah tiba di Kwat Cong San," ujar Sim Cong sambil meloncat turun.

Pek Yun Hui juga turun, Di saat itulah terdengar suara pekikan di atas kepala mereka. Ternyata tampak seekor burung bangau besar terbang di angkat

"Saudara Sim, terimakasih atas bantuanmu!" ucap Pek Yun Hui.

"Sama-sama," sahut Hek Sat Ciu-Sim Cong. "Saudara Sim!" Pek Yun Hui menatapnya, "Apa yang

engkau pikirkan itu, aku pasti tidak akan membuatmu kecewa." "Oh?" Wajah Sim Cong berseri, "Sungguhkah itu?"

"Sudah dua kali engkau menyelamatkan kami, tentunya aku tidak akan membohongimu," jawab Pek Yun Hui.

"Ohya! Apakah kalian masih membutuhkan bantuan-ku?" tanya Sim Cong yang melihat burung bangau itu terbang semakin rendah.

"Terimakasih!" sahut Pek Yun Hui. "Kita pasti berjumpa lagi."

"Kalau begitu, aku mohon diri." Sim Cong meloncat ke tempat duduk kereta kuda itu, kemudian menyen-takkan tali kuda seraya berseru, "Sampai jumpa!"

Kereta kuda itu mulai melaju meninggalkan gunung Kwat Cong San. Burung bangau itu memekik keras lagi, lalu melayang turun.

Pek Yun Hui segera memeluk leher burung itu, ia meninggalkan gua Thian Kie Cinjin cuma satu bu!an, Namun dalam sebulan ini, ia telah mengalami berbagai kejadian.

Si Bangau Sakti yang amat cerdas itu cepat-cepat menekuk kaki nya. Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke punggung Bangau Sakti, lalu ia pun meloncat ke atas, dan sekaligus menepuk leher Bangau Sakti.

Seketika juga Bangau Sakti mengembangkan sayapnya terbang ke atas, Sie Bun Yun terkejut dan bertanya.

"Saudara kecil, ini burung piaraanmu?" "Betul." Pek Yun Hui mengangguk

Bangau Sakti itu terus terbang. Berselang beberapa saat kemudian, Bangau Sakti itu pun terbang turun di depan gua Thian Kie Cinjin.

"Guru! Guru! Aku sudah pu!ang!" seru Pek Yun Hui. Akan tetapi, pintu gua itu tetap tertutup rapat Pek Yun Hui segera meloncat turun dari punggung Bangau Sakti, lalu berlari ke pintu gua. Ketika baru mau mendorong pintu gua itu, ia melihat secarik kertas di atas sebuah batu di depan itu, Pek Yun Hui mengambil kertas itu, dan sekaligus membacanya.

Aku meninggalkan gua, kapan pulang tidak dapat dipastikan, harap engkau baik-baik menjaga diri

itu adalah tulisan Na Hai Peng. Begitu membaca tulisan tersebut, sekujur badan Pek Yun Hui menjadi dingin seketika.

Cepat-cepat ia berlari menghampiri Bangau Sakti, Ketika melihat wajah Pek Yun Hui yang kacau balau itu, Sie Bun Yun bertanya.

"Saudara kecil, apa yang terjadi?"

"Guruku tidak berada di dalam gua," sahut Pek Yun Hui memberitahukan

Sie Bun Yun tertegun, kemudian meloncat turun dari punggung Bangau Sakti.

"Saudara kecil, tidak usah berduka! kalau pun gurumu ada, belum tentu juga dapat mengobatiku." ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Pek Yun Hui diam. Berselang sesaat ia memandang Bangau Sakti seraya bertanya.

"Hian Giok! Guru ke mana? Tahukah engkau dan dapatkah pergi mencarinya segera?"

Bangau Sakti mengeluarkan suara, kemudian langsung terbang ke atas dan berputar ke sana ke mari, lalu turun lagi.

Pek Yun Hui tahu, bahwa burung itu tidak tahu gurunya pergi ke mana, maka seketika wajah Pek Yun Hui berubah murung sekali.

"Saudara Bun Yun, Hong Kwat Hu Khi itu bisa bertahan sampai tujuh hari. Kini masih ada waktu satu hari, aku akan pergi mencari guru bersama Hian Giok. Kalau tidak menemukan guru, aku pun pasti pulang ke mari," ujar Pek Yun Hui.

"Tenaga murnimu masih belum pulih, bagaimana mungkin engkau akan pergi mencari gurumu? Lebih baik beristirahatlah! Setelah pulih carilah adik Hung, tidak usah menghiraukan diriku!" sahut Sie Bun Yun.

"Saudara Bun Yun, lebih baik aku papah engkau ke dalam gua dulu," suara Pek Yun Hui terisak.

Pek Yun Hui segera memapah Sie Bun Yun ke dalam gua Thian Kie Cinjin, kemudian membaringkannya di atas sebuah batu.

"Saudara Bun Yun, kalau engkau masih tidak per-caya, aku akan memperlihatkan diriku yang sebenarnya," ujar Pek Yun Hui setelah membaringkannya

Sie Bun Yun tampak mulai bereuriga, sebab sikap Pek Yun Hui saat ini persis seperti sikap seorang gadis.

"Benarkah engkau seorang gadis?" tanyanya masih kurang pereaya.

"Kalau engkau masih kurang pereaya, sebentar lagi engkau akan tahu." Pek Yun Hui melangkah ke dalam.

Di saat Pek Yun Hui melangkah ke dalam, di saat itu pula berkelebat sosok bayangan memasuki Goan Thian Kie ini.

Pek Yun Hui tersentak, karena ia mendengar suara pekikan Bangau Sakti, pertanda ada orang memasuki gua. Pek Yun Hui yang belum menyalin pakaian wanila, segera menghunus pedangnya dan langsung melesat ke luar

Tidak tampak Sie Bun Yun terbaring di atas batu, Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, sehingga merasa matanya berkunang-kunang dan nyaris pingsan seketika.

Mendadak ia mendengar lagi suara pekikan burung-nya. Laksana kilat Pek Yun Hui melesat ke luar meninggalkan gua itu. Ia melihat burungnya terbang ke atas, dan rontok pula tiga helai bulunya, Menyaksikan itu, Pek Yun Hui bertambah terkejut Sebab Bangau Sakti adalah burung piaraan Thian Kie Cinjin, usianya sudah ratusan tahun dan memiliki tenaga yang amat dahsyat

Akan tetapi, kini burung itu malah terpukul hingga bulunya rontok tiga heiai, Dapat dibayangkan, betapa hebatnya kepandaian pendatang itu.

Walau kondisi badan Pek Yun Hui masih lemah, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk mengejar pendatang itu.

Pek Yun Hui melihat orang itu memakai jubah kuning, dalam sekejap sudah hilang di sebuah tikungan, Dalam keadaan gugup, Pek Yun Hui masih sempat bersiul panjang memanggil Bangau Sakti.

Begitu mendengar suara siulan Pek Yun Hui, Bangau Sakti langsung terbang ke arahnya dan sekaligus menukik ke bawah.

Pek Yun Hui segera meloncat ke atas punggung Bangau Sakti, Ditepuknya leher burung itu, dan burung tersebut pun segera terbang ke arah orang itu.

Setelah tiba di tempat itu, Bangau Sakti terbang turun.

Pada waktu bersamaan, tampak beberapa benda meluncur ke arah Bangau SaktL Pek Yun Hui tahu bahwa itu semacam senjata rahasia, Walau ia memegang pedang, tapi tidak bisa menangkis senjata-senjata rahasia itu.

Bangau Sakti itu segera mengibaskan sepasang sa- yapnya. Senjata-senjata rahasia itu terpukul jatuh, tapi Bangau Sakti sendiri kehilangan beberapa helai bulunya.

"Siapa itu?" bentak Pek Yun Hui. "Harap tinggalkan namamu!"

Tiada sahutan, Pek Yun Hui segera meloncat turun dari punggung Bangau Sakti, ia pun terbelalak karena melihat senjata rahasia yang jatuh itu cuma berupa bambu kecil sebesar dan sepanjang jari kelingking.

Pek Yun Hui tertegun, tapi mendadak ia teringat sesuatu, "Ku Ciok" (Bambu kering)! Apakah orang berjubah kuning itu musuh Sie Bun Yun? Tanya Pek Yun Hui dalam hati, Tapi bukankah Sie Bun Yun juga memakai bambu kering sebagai senjata, ada hubungan apa di antara mereka? Berpikir sampai di sini, ia pun mulai mengejar lagi.

Akan tetapi, orang berjubah kuning itu sudah tiada jejaknya, Pek Yun Hui berhenti, lalu menarik nafas panjang sambit menggeleng-gelengkan kepala, Tiba-tiba ia terbelalak ternyata ia melihat ada tulisan di permukaan tanah.

Guru membawaku pergi, harap saudara kecil tidak perlu cemas, Seusai membaca itu, Pek Yun Hui berdiri termangu- mangu di tempat, lalu memandang jauh ke depan sambil berkeluh.

"Saudara Bun Yun, engkau pergi begitu saja?"

Kini Pek Yun Hui merasa hatinya hampa, lagi pula Sie Bun Yun masih tidak mempereayai dirinya adalah seorang gadis, Entah berapa lama kemudian, barulah Pek Yun Hui kembali ke gua Thian Kie.

Sehari lewat sehari, tak terasa sepuluh hari telah berialu, Dalam sepuluh hari ini, Pek Yun Hui selalu berdiri di atas sebuah batu yang tinggi besar sambil memandang ke depan.

Ia berharap, Sie Bun Yun akan muncul mendadak di situ, Akan tetapi, hingga kini sudah sepuluh hari, pemuda pujaan hatinya itu sama sekali tidak muncul

Keesokan hari nya, ia berpesan pada Bangau Sakti agar hati-hati menjaga gua Thian Kie. Setelah itu, Pek Yun Hui segera meninggalkan gua itu dan tetap mengenakan pakaian lelaki Kini Pek Yun Hui telah meninggalkan gunung Kwat Cong San. ia berdiri di pinggir jalan di mana ketika itu ia melihat gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong melalui jalan tersebut

Pek Yun Hui menarik nafas panjang, lalu melanjutkan perjalanannya.

Kini ia sudah tiba di sebuah kota yang pernah dihampirinya sebulan yang Iatu. Sesudah tersenyum getir, diayun kan nya kakinya lagi meninggalkan kota itu, Tak lama ia sudah sampai di tempat ia pernah bertarung dengan dua orang piauwsu ekspedisi Thian Liong, kemudian muncul Sie Bun Yun yang selalu tertawa riang gembira, Akan tetapi kini....

Pek Yun Hui menghela nafas dan berpikir, apakah guru Sie Bun Yun akan berhasil memunahkan racun ular yang mengidap di dalam tubuh Sie Bun Yun? seandainya tidak berhasil itu berartl...

Pek Yun Hui tidak berani berpikir lagi, lalu duduk di bawah sebuah pohon rindang sambil memejamkan matanya.

"Saudara Bun Yun, kenapa engkau tidak memper- cayaiku?" gumamnya.

Lama sekali Pek Yun Hui memejamkan matanya, berselang sesaat mendadak ia mendengar suara bentakan dingin.

"Sudah boleh engkau membuka mata!"

Pek Yun Hui terkejut bukan main, karena suara bentakan itu begitu dekat Segeralah ia membuka matanya dan melihat seorang berdandan seperti pelajar berdiri di hadapannya.

Siapa orang itu? Ternyata Kim Coa Suseng-Wang Han Siang, kepala piauwsu bendera kuning markas cabang ekspedisi Thian Liong.

Pek Yun Hui ingin menghindar, namun sudah tidak keburu, karena merasa ada tenaga yang amat dahsyat menerjang dadanya. "jangan bergerak!" bentak Wang Han Siang dingin. "Kalau berani bergerak, aku tidak akan berlaku sungkan terhadapmu!"

Ternyata ujung kipas Wang Han Siang telah menyentuh Hua Kai Hiat di dada Pek Yun Hui. Apabila Wang Han Siang mengerahkan Lweekangnya, Pek Yun Hui pasti terluka dalam seketika.

"Engkau mau apa?" tanya Pek Yun Hui sambil mengernyitkan kening.

"Ha ha!" Wang Han Siang tertawa, "Aku kira setelah kaitan lolos, tidak akan berjumpa lagi! Siapa tahu, kita justru bertemu di sini!"

Perlu diketahui, selama sepuluh hari itu, Pek Yun Hui pun memperdalam ilmu silatnya di gua Thian Kie, terutama ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, boleh dikatakan sudah mahir sekali Karena itu, timbullah suatu akal dan ia pun tertawa.

"Setelah bertemu denganku, engkau mau bagai-mana?" tanyanya.

"Aku. " Sebelum Wang Han Siang menyelesaikan

sahutannya, mendadak badan Pek Yun Hui sudah bergeser ke samping sejauh tiga depa. Seketika juga Wang Han Siang terbelalak menyaksikannya, begitu pula Pek Yun Hui, ia sendiri pun tidak menyangka bisa begitu.

Akan tetapi, tiba-tiba Wang Han Siang menyerangnya dengan kipas menggunakan jurus yang mematikan

Dapat dibayangkan betapa lihay dan dahsyatnya serangan itu. Namun ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu jauh lebih hebat, Karena mendadak Pek Yun Hui telah hilang sehingga kipas itu menghantam sebuah pohon.

"Braaak!" pohon itu roboh terpukul kipas Wang Han Siang. Begitu Pek Yun Hui hilang dari hadapannya, Wang Han

Siang semakin terkejut, dan cepat-cepat membalikkan

badannya. Tampak Pek Yun Hui berdiri tersenyum-senyum di situ, Wang Han Siang tertawa dingin dan langsung menyerang, Pek Yun Hui mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar, sebab ia tahu dirinya masih bukan tandingan Wang Han Siang, Setelah menghindar, ia melesat pergi.

Bagaimana mungkin Wang Han Siang membiarkan-nya? ia pun melesat mengejar Pek Yun Hui, Karena kian lama kian mendekat, maka Pek Yun Hui terpaksa harus melawannya.

Tiba-tiba ia membalikkan badannya, lalu secepat kilat menyerang Wang Han Siang dengan tiga jurus beruntun Yakni jurus Hui Liong Sam Sek (Tiga Gerakan Naga Sakti).

Serangan-serangan itu amat dahsyat dan aneh, sehingga Wang Han Siang terpaksa mengerahkan ginkang Pat Pu Teng Khong (Delapan Langkah Meloncat Ke Angkasa) untuk menghindari serangan-serangan itu.

"Kenapa engkau masih mengejarku?" bentak Pek Yun Hui.

Wang Han Siang tidak menyahut, melainkan langsung menggerakkan kipasnya menyerang Pek Yun Hui. itu adalah jurus Wua Ti Fan Yun (Membalikkan Awan Di Bawah Pergelangan).

Karena amat membenci Pek Yun Hui, maka tangan kirinya juga ikut menyerang dengan jurus Ling Coa Thuh Sing (Ular Sakti Menyemburkan Racun), Wang Han Siang menyerang dengan sepenuh tenaga, maka betapa dahsyatnya ke dua serangan itu.

Pek Yun Hui tahu akan kedahsyatan ke dua serangan itu, maka ia tidak menangkis melainkan mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar

"Hm!" dengus Wang Han Siang dingin ketika melihat Pek Yun Hui mengerahkan ilmu itu lagi. Laksana kilat ia menyerang lagi dengan jurus Hwee Yam Sung Thian (Api Berkobar Membakar Langit). Pek Yun Hui tertawa, lalu menghindar lagi dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Ketika badan Pek Yun Hui bergerak, Wang Han Siang melancarkan sebuah pukulan ke arah Pek Yun Hui. itu adalah jurus Hui Coa Pik Khong (Ular Terbang Menembus Angkasa), yakni jurus andalan Wang Han Siang, Akan tetapi, Pek Yun Hui tetap bisa menghindar dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Perlu diketahui, ilmu tersebut ciptaan Sam Im Sin Ni bersama Thian Kie Cinjin ratusan tahun lalu, Betapa hebat dan aneh ilmu tersebut, tentunya dapat dibayangkan

Setelah menghindar, mendadak Pek Yun Hui balas menyerang dengan jurus Ih Ong Soh Kang (Nelayan Menyebarkan Jala), pedangnya mengarah pada pergelangan tangan Wang Han Siang.

Wang Han Siang cepat-cepat berkelit, namun ujung pedang Pek Yun Hui berhasil menggores pergelangan tangannya, ia telah malang melintang sekian tahun dalam rimba persilatan dan selama itu tidak pernah mengalami hal seperti ini. Bahkan Souw Peng Hai, yakni ketua partai Thian Liong yang memiliki ilmu Kan Goan Cih pun masih merasa kagum akan kepandaiannya.

Akan tetapi, ia malah terjungkal dua kali di tangan Pek Yun Hui, bahkan pergelangan tangannya pun ter-gores, Betapa gusarnya Wang Han Siang, wajahnya langsung menghijau.

Mendadak Wang Han Siang memeluk keras, lalu laksana kilat menyerang Pek Yun Hui.

sementara Pek Yun Hui justru berdiri tertegun, karena tidak menyangka bahwa dirinya akan berhasil melukai lengan Wang Han Siang.

Ketika mendengar suara pekikan itu, tersentaklah Pek Yun Hui. Begitu melihat Wang Han Siang menyerangnya begitu nekad, tanpa banyak pikir lagi ia pun meluruskan pedangnya melesat ke arah Wang Han Siang, Tampak berkelebat sinar putih mengarah pada Wang Han Siang yang sedang menyerang, Ternyata Pek Yun Hui telah mengeluarkan ilmu Sen Kiam Hap (Badan Menyatu Dengan Pedang).

Wang Han Siang yang sedang menyerang itu terkejut bukan main, sebab ia pernah merasakan kedahsyatan ilmu pedang itu. seketika juga ia ingin mundur, tapi hawa dingin pedang itu telah mengarah padanya.

Apa boleh buat Wang Han Siang terpaksa merubah jurusnya untuk menangkis serangan Pek Yun Hui.

Akan tetapi, jurusnya itu sama sekali tidak dapat membendung. Secepat kilat Wang Han Siang menggeserkan badannya, namun pedang lawan telah menusuk bahu-nya.

Wang Han Siang segera meloncat mundur, bahkan segera kabur dari tempat itu.

"Ha ha!" Pek Yun Hui tertawa gembira, karena telah berhasil menusuk bahu Wang Han Siang, dan orang itu pun kabur terbirit-birit.

Setelah suara tawanya lenyap, mendadak Pek Yun Hui mendengar suara seorang gadis yang amat dikenalnya.

Pek Yun Hui segera melesat ke belakang pohon, kemudian memandang ke arah suara itu. seketika itu juga ia tertegun, ternyata ia melihat Ling Hung yang terus tertawa cekikikan Di hadapan gadis itu berdiri dua orang yaitu Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng dan To Pie Kim Kong-Thu It Kang yang ke duanya tampak bengis.

"Bocah perempuan!" bentak Tu Wee Seng sambil menjulurkan tangannya mengarah Leng Tay Hiat di kepala Ling Hung. "Sudah cukup apa belum engkau tertawa?"

Ling Hung tetap tidak menyahut, malah masih ter-tawa, sehingga membuat wajah Tu Wee Seng menghijau saking mendongkolnya.

"Kalau aku mengerahkan sedikit tenaga, nyawamu pasti melayang!" bentaknya. Pek Yun Hui yang mengintip itu terkejut bukan main, Kalau ia melesat ke luar menolong gadis itu, pasti tidak keburu dan sebaliknya akan kesulitan bagi dirinya sendiri sedangkan Ling Hung menarik nafas panjang, dan memandang Tu Wee Seng.

"Cepatlah turun tangan!" ujarnya.

"Bocah perempuan!"Tu Wee Seng tertawa terkekeh-kekeh. "Benarkah engkau tidak takut mati?"

"Mungkin Kakak Yunku telah mati, maka aku ingin segera menyusulnya!" Ling Hung menarik nafas panjang lagi. "Apabila engkau turun tangan membunuhku, itu memang yang kukehcndaki! Kalau tidak, aku tetap akan cari mati!"

Pek Yun Hui tersentak ia tidak menyangka Ling Hung akan sungguh-sungguh mati demi dirinya, itu karena cinta, lantaran dirinya mengenakan pakaian lelaki, Biar bagaimanapun aku harus menolongnya, Pek Yun Hui membatin Namun ia pun yakin, Tu Wee Seng tidak akan membunuhnya, itu cuma menakuti gadis tersebut saja.

"Hm!" dengus Tu Wee Seng dingin. "Kalau engkau tidak bilang Cong Cin To itu disimpan di mana, jangan harap engkau bisa mati!"

"Kalau begitu, Kakak Yunku terpaksa harus menungguku beberapa hari lagi di perjalanan alam baka!" ujar Ling Hung sambil menarik nafas.

Walau Pek Yun Hui seorang gadis, namun mengucurkan air mata juga ketika mendengar Ling Hung mengucapkan begitu, dan hatinya amat tersentuh

"Hm!" dengus Tu Wee Seng lagi "Engkau harus diberi sedikit pelajaran! Kalau tidak, engkau terlampau keras kepala! Sutee, cepat gantung dia!" ujarnya dingin.

"Ya," sahut Thu It Kang dan selangkah demi selangkah mendekati Ling Hung, lalu menjulurkan tangannya mencengkeram urat nadi gadis itu. Ling Hung memang tidak bisa melawan, namun tangannya masih bisa bergerak, dan langsung mengayun ke arah muka Thu It Kang.

Plaaak!

Tamparan itu keras sekali, sehingga membuat pipi Thu It Kang berbekas telapak tangan Ling Hung.

"Aduuuh!" jerit Thu ItKang kesakitan dan tertegun, kemudian mendadak mengayunkan tangannya ke arah dada gadis itu sekuat tenaga.

Kalau dada Ling Hung terpuku!, tidak mati pun pasti terluka parah, Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Pek Yun Hui yang mengintip itu. ia harus menolongnya, namun ketika baru mau melesat ke luar, di saat itu pula terdengar suara "Serrrt", menyusul suara jeritan Thu U Kang seperti babi dipotong.

Pek Yun Hui terbelalak dan memandang dengan penuh perhatian seketika juga wajahnya tampak berseri dan hatinya girang bukan main.

Tangan kiri Thu It Kang memegang lengan kanan-nya. wajahnya pucat pias, keringatnya mengucur deras dan tampak menderita sekali.

sedangkan Tu Wee Seng menggenggam toya bam-bunya erat-erat, berdiri di sisi Thu It Kang dengan wajah gusar, Di hadapannya berdiri seorang tua dan seorang pemuda, Begitu melihat pemuda itu, Ling Hung memanfaatkan kesempatan Ketika Thu It Kang menjerit kesakitan, dan Tu Wee Seng menatap orang tua tersebut, ia langsung berlari mendekati pemuda itu.

Siapa pemuda tersebut? Tidak lain adalah Sie Bun Yun yang amat dirindukan Pek Yun Hui. Ketika menyaksikan wajah Sie Bun Yun yang bersemangat itu, legalah hati Pek Yun Hui, itu pertanda racun ular yang mengidap di tubuhnya telah punah sama sekali. Rasanya ingin sekali keluar dari tempat persembunyiannya untuk menemui Sie Bun Yun, namun muncul pula suatu rencana, maka ia harus menahan diri, dan terus mengintip ke arah mereka.

"Adik Hung!" Sie Bun Yun tertawa gelak, "Tam-paranmu tepat sekali mengenai pipinya, cuma sayang masih kurang keras!"

"Kakak misan!" tanya Ling Hung cepat "Di mana Kakak Yunku? Apakah dia masih hidup?"

pertanyaan tersebut membuat wajah Sie Bun Yun berubah agak kelabu, Lagi pula Ling Hung tidak merasa gembira akan kemunculannya, begitu membuka mulut langsung menanyakan tentang Pek Yun Hui.

Ketika melihat Sie Bun Yun diam, Ling Hung justru mengira telah terjadi sesuatu atas diri Pek Yun Hui, maka seketika juga air matanya berderai dan bibirnya ber-gemetar.

"Kakak misan! Bagaimana keadaan Kakak Yun, beritahukanlah padaku!" desak Ling Hung sambil menatapnya.

"Adik Hung, ketika aku meninggalkannya, dia tidak apa- apa," jawab Sie Bun Yun memberi tahukan. "Tapi hawa dan tenaga murninya masih belum pu!ih."

"Kalau begitu. " Ling Hung tampak cemas sekali.

"Adik Hung!" Sie Bun Yun tersenyum "Aku akan memberitahukan sebuah lelucon padamu."

"Kakak misan, aku. " Ling Hung sangat mencemaskan

keadaan Pek Yun Hui, sebaliknya Sie Bun Yun malah ingin memberitahukannya suatu lelucon, itu membuat gadis tersebut tidak habis berpikir "Lelucon apa?"

"Pek Yun Hui bilang, dia adalah seorang gadis juga." Sie Bun Yun memberitahukan "Apa?" Ling Hung tertegun, kemudian tertawa ge!i. "Omong kosong! Tak mungkin dia seorang gadis! Bagaimana keadaannya?"

"Entahlah!" Sie Bun Yun menggelengkan kepala, "Adik Hung, lebih baik engkau segera memberi hormat pada guruku!"

Ling Hung segera memberi hormat pada orang tua jubah kuning, lalu memanggilnya "Locianpwee", setelah itu ia berkata pada Sie Bun Yun.

"Kakak misan, Kakak Yun tinggal di mana, ajak aku ke sana menengoknya!"

Pek Yun Hui tertegun, karena Ling Hung ingin menemuinya, Padahal tadi gadis itu mengiranya telah mati, tapi kini sudah tahu dirinya belum mati dan sama sekali tidak pereaya kalau dirinya seorang gadis. Harus bagaimana menyelesaikan urusan ini? Pek Yun Hui mengernyitkan kening sambil berpikir ia yakin Sie Bun Yun pasti membawa Ling Hung ke gua Thian Kie tempat tinggalnya, maka timbullah suatu rencana dalam hatinya.

sementara Thu It Kang masih menjerit-jerit kesakitan Ternyata ketika ia mengayunkan tangannya memukul dada Ling Hung, mendadak meluncur sepotong bambu kecil menghantam tangannya, seketika itu juga dua jari tangannya putus, darahnya mengucur dan merasa sakit sekali

Betapa gusarnya Tu Wee Seng, namun ketika melihat pendatang itu, ia pun terheran-heran. ia ketua partai Hwa San yang terkemuka di rimba persilatan, kaum pesilat yang tiada partai boleh dikatakan dikenalnya semua, Akan tetapi, ia tidak kenal orang tua jubah kuning itu.

Walau dalam keadaan gusar, Tu Wee Seng tidak berani bertindak sembarangan ia hanya berdiri diam sambil mendengarkan pembicaraan ke dua muda-mudi itu.

Berselang beberapa saat kemudian, ia memandang orang tua jubah kuning itu seraya berkata. "Maaf, bolehkah aku tahu siapa engkau?" "Hm!" dengus orang tua berjubah kuning.

"Partai Hwa San tiada permusuhan denganmu, kenapa engkau langsung melukai tangan adik seper-guruanku?"

"Siapa engkau?" tanya orang tua berjubah kuning membentak

"Guru!" sahut Sie Bun Yun memberitahukan. "Dia adalah Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng, ketua partai Hwa San-"

"Orang semacam dia berderajat jadi ketua partai? Apakah kaum Bu Lim di Tionggoan telah begitu merosot ?" ujar orang tua berjubah kuning sambil tertawa dingin.

Sungguh menghina ucapan orang tua jubah kuning itu, bahkan memandang rendah pada Tu Wee Seng selaku ketua partai Hwa San.

"Bagus!" Ling Hung bertepuk tangan sambil tertawa gembira, Selama belasan hari ini ia terus menyimpan rasa kesalnya terhadap ke dua orang itu dalam hati, kini dilampiaskannya, "Ucapan Cianpwee memang tidak sa-lah!"

"Hei!" bentak Tu Wee Seng pada orang tua berjubah kuning, Kelihatannya ia sudah tidak bisa bersabar dan menahan diri lagi, "Cepat beritahukan, siapa engkau?"

"Phui!" Orang tua berjubah kuning meludah, "Apa-kah engkau berderajat untuk mengetahui namaku?"

Kedudukan Tu Wee Seng amat tinggi dalam rimba persilatan, tapi kini justru dihina habis-habisan oleh orang tua berjubah kuning. Oleh karena itu kegusarannya me-muncak, dan tanpa banyak pikir lagi langsung menyerangnya dengan toya bambu, Bayangan toya bambu berkelebatan mengarah pada orang tua berjubah kuning, Ternyata Tu Wee Seng mengeluarkan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir di Gunung Taysan), yakni jurus andalannya. "Ha ha!" Orang berjubah kuning tertawa gelak, dan mendadak badannya bergerak laksana kilat menerobos bayangan-bayangan toya bambu itu.

Terkejutlah Tu Wee Seng, dan secepat kilat meloncat mundur beberapa depa. Ternyata ia khawatir orang tua berjubah kuning akan menyerangnya mendadak

Akan tetapi, orang tua berjubah kuning itu tidak menyerang Tu Wee Seng, melainkan memandang Sie Bun Yun seraya bertanya.

"Anak Yun, orang itu ketua partai Hwa San?"

Kelihatannya orang tua berjubah kuning itu kurang pereaya, lantaran menganggap kepandaian Tu Wee Seng masih rendah, Walau orang tua berjubah kuning itu amat meremehkannya, Tu Wee Seng tidak berani menyerang lagi, hanya melintangkan toya bambunya, sebab gerakan orang berjubah kuning itu sangat aneh.

Padahal Tu Wee Seng juga berkepandaian tinggi Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa menjabat sebagai ketua partai Hwa San? Namun ketika ia melancarkan jurus Taysan To Liu (Air Mengalir Di Gunung Taysan), yakni jurus andalannya yang amat ampuh itu, orang jubah kuning itu mampu menerobos serangannya, maka ia terkejut bukan kepalang.

"Tidak salah," sahut Sie Bun Yun. "Dia memang ketua partai Hwa San yang amat tersohor itu."

Ucapan "Amat tersohor itu", diucapkan Sie Bun Yun dengan nada menyindir, maka seketika juga wajah Tu Wee Seng memerah saking gusarnya, Namun ia memang licik, tidak melampiaskan kegusarannya malah tertawa panjang.

"Dia masih berani tertawa," ujar orang berjubah kuning sambil tertawa dingin, "Semula aku mengira dia orang tak bernama." Tu Wee Seng sudah tak dapat mengendalikan diri lagi, sebab orang berjubah kuning itu terus-menerus menghinanya.

"Engkau punya kepandaian apa, sehingga berani bermulut besar?" ujarnya dingin.

"Beranikah engkau bermulut besar?" Orang berjubah kuning balik bertanya sambil menatapnya tajam.

"Aku berani mohon petunjuk!" sahut Pat Pie Sin Ong-Tu Wee Seng.

"Cianpwee!" sela Ling Hung mendadak "Orang itu jahat sekali, harap Cianpwee jangan melepaskannya!"

"Nona kecil!" Orang berjubah kuning itu memandang Ling Hung sambil tersenyum, "Walau jarang membunuh, namun aku bukan orang baik-baik. Memang ada baiknya aku memberi sedikit pelajaran pada orang itu."

"Bagus!" Ling Hung tertawa gembira, "Dia harus diberi pelajaran, agar tidak sok. Dia cuma berani berhadapan dengan anak kecil."

Mereka berdua bereakap-cakap seakan tidak memandang sebelah mata pada Tu Wee Seng, itu membuat nafas Tu Wee Seng memburu saking gusarnya.

"Engkau boleh mulai!" ujar Tu Wee Seng dingin.

Orang berjubah kuning memandang toya bambu di tangan Tu Wee Seng, lalu manggut-manggut.

"Sunguh kebetu!an, senjatamu berupa toya bambu, senjataku pun berupa sebatang tongkat bambu kering!" katanya.

Tergerak hati Tu Wee Seng mendengar ucapan orang itu. sepertinya ia pernah mendengar tentang seseorang yang menggunakan bambu kering sebagai senjata, namun ia justru lupa di saat ini. "Bambu bertemu bambu memang adil!" ujarnya sambil tersenyum, sebab ia yakin tongkat bambu kering orang berjubah kuning itu tidak akan selihay toya bambunya.

Tangan orang berjubah kuning bergerak, tahu-tahu sudah menggenggam sebalang bambu kering tapi masih berwarna hijau.

Begitu melihat bambu kering itu, Tu Wee Seng tampak bersemangat karena toya bambunya lebih panjang dan lebih besar dari bambu kering di tangan orang berjubah kuning.

Memang bambu kering di tangan orang berjubah kuning itu agak pendek dan kecil, mirip mainan anak-anak, itu yang membesarkan hati Tu Wee Seng.

"Hm!" dengus orang berjubah kuning, "Hati-hatilah!"

Tangan orang berjubah kuning bergerak, ternyata ia Sudah mulai menyerang dengan jurus Kim Kong Coh Kiam (Kim Kong Menciptakan Pedang). seketika juga bambu kering itu berkelebatan mengarah pada Tu Wee Seng.

Secepat kilat Tu Wee Seng berkelit, dan sekaligus balas menyerang dada orang berjubah kuning mengarah pada Sien Kie Hiat.

Sungguh mengherankan orang tua berjubah kuning itu cuma diam, Namun ketika ujung toya bambu itu mendekat pada dadanya, barulah ia menggerakkan bambu keringnya menangkis toya bambu itu.

Bambu kering kecil itu tampak tiada tenaga sama sekali, itu membuat Tu Wee Seng berpikir bahwa mereka berdua tiada permusuhan, dan lagi pula cuma sekedar bertanding, jadi cukup saling menyentuh dengan ujung bambu saja, tidak perlu mengadu nyawa, Karena berpikir begitu, maka ia cuma ingin mematahkan bambu kering di tangan orang tua berjubah kuning itu.

Segeralah digerakkannya toya bambunya dengan jurus Han Goat Can Poh (BuIan Dingin Ombak Menderu). jurus ini penuh mengandung tenaga, maksudnya ingin memukul patah bambu kering itu.

Akan tetapi, orang tua berjubah kuning itu tetap menangkis dengan bambu keringnya sehingga Tu Wee Seng bergirang dalam hati, dan yakin bambu kering itu pasti patah terpukul toya bambunya.

"Plaaak!" Kedua bambu itu berada

Sungguh di luar dugaan, bambu kering itu tidak patah, malah mengeluarkan tenaga lunak yang amat dahsyat

Begitu merasa adanya tenaga itu, Tu Wee Seng menyadari adanya gelagat tidak beres, Cepat-cepat ditariknya toya bambunya, namun terlambat

"Ha ha!" Orang tua berjubah kuning tertawa, Lengan kanannya tampak bergerak sedikit Tu Wee Seng merasa tenaga lunak itu bertambah dahsyat menerjang ke arah-nya, maka agar tidak diterjang tenaga itu, ia mengangkat toya bambunya dan sekaligus menggeserkan badannya.

justru pada waktu bersamaan, ujung bambu kering itu mengarah pada dadanya, itu membuat Tu Wee Seng terkejut bukan main, Maka demi menyelamatkan diri dari serangan tersebut ia terpaksa menggunakan senjata ra-hasianya, dan seketika juga ia mengayunkan tangan kirinya.

Tampak tiga buah senjata rahasia meluncur ke arah orang tua berjubah kuning, akan tetapi, terdengarlah suara "Plak!

Plak! Plak!" ternyata tiga buah senjata rahasia itu telah terpukul oleh bambu kering, dan terpental laksana kilat berbalik mengarah pada Tu Wee Seng.

Betapa terkejutnya Tu Wee Seng, sebab bisa jadi senjata makan tuan. Tu Wee Seng langsung meloncat pergi menghindari senjata rahasianya sendiri

Namun sungguh di luar dugaan, orang tua berjubah kuning itu pun bergerak, Sungguh aneh, cepat dan lincah gerakan itu, Sebelum Tu Wee Seng menaruh kakinya di bawah, ujung bambu kering itu telah mendahuluinya menotok Noh Hu Hiat di ubun-ubunnya. itu adalah jalan darah yang amat penting, kalau tertotok Tu Wee Seng pasti akan mengalami gegar otak.

Maka dapat dibayangkan, betapa terperanjatnya Tu Wee Seng. Secepat kilat ia mengayunkan toya bambu nya ke atas untuk menangkis bambu kering itu, dengan menggunakan jurus Hui Hong Soh Liu (Angin puyuh Menyapu Pohon).

Akan tetapi, toya bambu Tu Wee Seng justru menangkis tempat kosong, Ternyata orang tua berjubah kuning tadi cuma mengeluarkan jurus tipuan, dan ketika Tu Wee Seng menggerakkan toya bambunya menangkis, bambu kering itu pun bergerak cepat menotok Siauw Yauw Hiat

seketika juga Tu Wee Seng merasa Siauw Yauw Hiatnya tergetar, dan terus-menerus tertawa ge!ak.

Setelah berhasil menotok jalan darah itu, orang tua berjubah kuning tidak menyerang lagi, melainkan meloncat mundur

sedangkan Tu Wee Seng terus tertawa dengan wajah kehijau-hijauan, dan keringatnya terus mengucur di ke- ningnya.

"Aku telah menotok Siauw Yauw Hiatmu!" ujar orang tua berjubah kuning dingin, "Engkau akan terus tertawa, satu jam kemudian baru bisa berhenti! Asal engkau mau merawat diri selama beberapa hari, tentunya tidak akan terjadi apa-apa!

Tapi kalau engkau masih bertempur dengan orang lain, berarti engkau cari celaka!"

Ketika melihat kakak seperguruan dipecundang orang tua berjubah kuning, Thu It Kang ingin menyc-rangnya, tapi Tu Wee Seng segera memberi isyarat padanya agar dia membawanya pergi dari tempat itu.

Thu It Kang langsung melesat ke arah Tu Wee Seng, lalu memapahnya dan langsung membawanya pergi. "Hi hi!" Ling Hung tertawa gembira, "Bagus! Bagus! Biar dia tertawa terus sampai mampus! Siapa suruh dia begitu jahat!"

Orang tua berjubah kuning selalu serius, tapi ketika mendengar suara tawa dan ucapan Ling Hung, ia pun ikut tersenyum".

"Nona kecil! Orang itu berkepandaian tinggi, lain kali kalau bertemu dengannya, engkau harus berhati-hati!" pesan orang tua berjubah kuning.

"Cianpwee!" Mendadak Ling Hung mengucurkan air maia, "Dia pembunuh ayahku, kalau aku tidak bisa me-lawannya, bagaimana mungkin menuntut bal.as dendam ayahku?

Cianpwee, bolehkah aku jadi muridmu?"

Setelah berkata demikian, Ling Hung menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua berjubah kuning itu.

Namun orang tua berjubah kuning itu mengibaskan lengan bajunya, dan seketika juga Ling Hung terangkat bangun.

"Aku tidak gampang menerima murid, Engkau berbakat dan bertulang bagus, tidak sulit berguru pada orang yang berkepandaian tinggi," ujarnya. "Engkau tidak perlu bermohon padaku."

"Cianpwee. " Ling Hung masih ingin bermohon, namun

Sie Bun Yun cepat-cepat berkata.

"Adik Hung, guruku telah menolak, maka engkau tidak perlu bermohon lagi,"

karena Sie Bun Yun mengatakan begitu, berarti oiang tua berjubah kuning itu bersilat aneh, pereuma ia bermohon lagi, maka ia pun diam.

"Tak terduga sama sekali, mendadak aku memasuki Tionggoan, justru malah menyelamatkan nyawamu," ujar orang tua berjubah kuning pada Sie Bun Yun. "Sekarang aku mau pulang, sesudah beres urusanmu di Tionggoan, lebih baik engkau kembali ke pulau saja! jangan terus di Tionggoan, itu akan menimbulkan banyak urusan."

Setelah berkata demikian, orang tua berjubah kuning melesat pergi, dan dalam waktu sekejap sudah lenyap dari pandangan Ling Hung.

"Kakakmisan!" Gadis itu kagum dan tertegun "Guru-mu berkepandaian begitu tinggi, tapi justru tidak mau menerimaku sebagai muridnya, sedangkan kini aku sudah tidak punya famili.."

Berkata sampai di sini, air mata Ling Hung meleleh Iagi. Sie Bun Yun menarik nafas panjang, lalu mendekatinya dan sekaligus membelai-belai rambutnya.

"Adik Hung, guru sudah bilang tadi, kelak engkau akan bertemu guru yang berkepandaian tinggi, tenanglah!" ujar Sie Bun Yun lembut.

"Ya." Ling Hung mengangguk "Ohya, Kakak misan, cepatlah temani aku pergi ke Kwat Cong San!"

"Baik." Sie Bun Yun tidak menolak, namun ia sangat berduka dalam hati, sebab Ling Hung cuma memikirkan Pek Yun Hui, sama sekali tidak memikirkannya, Walau demikian, ia tetap bersikap sewajar mungkin.

******

Bab ke 35 - Makam Palsu Menimbulkan Masalah Lain Dalam perjalanan menuju gunung Kwat Cong San, Sie

Bun Yun terus membungkam dengan wajah murung, ia amat

mencintai Ling Hung, tapi adik misannya ini justru mencintai Pek Yun Hui, justru mereka berdua masih tidak pereaya, sebetulnya Pek Yun Hui seorang gadis.

"Kakak misan!" Ling Hung meliriknya. "Apakah engkau sangat membenciku dalam hati?"

Tidak." Sie Bun Yun menggelengkan kepala, "Aku sama sekali tidak membencimu, sungguh!" "Kakak misan. " Ling Hung menarik nafas panjang, " Aku

tahu, engkau selama ini sangat merindukanku, Tapi aku justru rindu pada Kakak Yun, tentunya engkau mengerti kan?"

Sie Bun Yun segera memandang ke tempat lain, sepasang matanya telah basah, kemudian sahutnya agak terisak.

"Adik Hung, jangan kau ungkit masalah itu lagi! Asal engkau bisa hidup bahagia bersama Pek Yun Hui selamanya, aku pun merasa gembira sekali!"

"Kakak misan!" Ling Hung tersenyum, "Engkau baik sekali."

Ling Hung mencetuskan dengan setulus hati. Sie Bun Yun pun tahu, maka ia manggutfmanggut dan merasa dirinya tidak punya jodoh dengan adik misannya ini, Kemudian ia menyeka air matanya yang meleleh tanpa terasa itu seraya berkata.

"Adik Hung, kita adalah saudara misan, boleh dikatakan seperti saudara kandung. "

"BetuL" Ling Hung mengangguk "Oh ya! Kakak misan, aku punya suatu permintaan, mohon engkau sudi mengabulkannya!"

"Apa permintaanmu, beritahukanlah!" Sie Bun Yun tersenyum.

"Kakak misan, aku mohon agar engkau jangan membenci Kakak Yun!" ujar Ling Hung memberitahukan permintaannya.

Sie Bun Yun tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu barulah menyahut dengan suara rendah.

"Adik Hung, asal Pek Yun Hui baik terhadapmu, aku pasti tidak akan membencinya. ," Sie Bun Yun berhenti berkata,

berselang sesaat barulah melanjutkan "Asal-usul orang itu tidak jelas, lagi pula. kelihatannya sedang mencari

kesempatan untuk menghindarimu. " "Engkau salah, Kakak misan!" sahut Ling Hung cepat "Menurutku, Kakak Yun bukanlah orang yang tak berperasaan.

"Alangkah baiknya kalau pandanganku salah, Tapi asal dia berlaku sedikit tidak baik terhadapmu, aku pun tidak gampang me lepas kan nya. Adik misan, dia bilang dirinya adalah seorang gadis, bukankah itu lucu sekali?"

"Memang lucu." Ling Hung tertawa, "Dia cuma bereanda dengan Kakak misan, apakah engkau menganggap serius?"

Sie Bun Yun berpikirsejenak, kemudian tertawa geli, dan yakin Pek Yun Hui cuma bereanda.

Kini mereka telah memasuki kawasan gunung Kwat Cong San. Ketika mendekati gua Thian Kie, tempat tinggal Pek Yun Hui, Sie Bun Yun menghentikan langkahnya.

"Adik Yun, dia tinggal di dalam gua itu. Aku... aku tidak mau ke sana."

Setelah mengetahui Pek Yun Hui tinggal di dalam gua itu, Ling Hung pun bersorak girang dalam hati, Apa yang diucapkan Sie Bun Yun barusan, ia sama sekali tidak memperhatikan nya.

"Ng!" sahutnya dan langsung melesat ke arah gua tersebut Menyaksikan itu, Sie Bun Yun berduka dalam hati lagi dan

berdiri termangu-mangu di situ, Berselang beberapa saat kemudian, ketika ia baru mau meninggalkan tempat itu, mendadak ia mendengar suara jeritan Ling Hung yang sangat memilukan hati.

"Duuuk!" Suara seakan orang jatuh mendadak. "Adik Hung! Adik Hung!" seru Sie Bun Yun tertegun

"Kenapa engkau?"

Sie Bun Yun segera melesat ke tempat itu, Barusan Ling Hung menjerit, itu pertanda gadis tersebut telah mengalami sesuatu, maka betapa cemasnya Sie Bun Yun, Walau Ling Hung tidak mencintainya, ia tetap mencintainya dengan sepenuh jiwa raganya.

Setelah sampai di tempat itu, Sie Bun Yun melihat Ling Hung menggeletak di hadapan sebuah makam Gadis itu tidak bergerak sama sekali, ternyata telah pingsan

Sie Bun Yun segera mengangkat Ling Hung. ia sama sekali tidak membaca tulisan yang ada di batu nisan, sebab ia amat mengkhawat irkan Ling Hung yang wajahnya telah pucat pias, Cepat-cepat Sie Bun Yun mengurut beberapa jalan darahnya, Tak lama gadis itu mulai siuman, dan sekaligus mengeluarkan suara keluhan

"Aaaakh. "

"Adik Hung, siapa yang melancarkan serangan gelap terhadapmu?" tanya Sie Bun Yun cepat

Begitu siuman, air mata Ling Hung meleleh dan sekujur badannya bergemetar.

"Adik Hung! Beritahukanlah! Siapa yang memukul-mu?" tanya Sie Bun Yun dan merasa sakit menyaksikan Ling Hung.

"Kakak Yun! Kakak Yun, dia... dia. " sahut Ling Hung

sambil menangis sedih.

"Dia?" Sie Bun Yun terkejut "Dia apakan dirimu?"

Ling Hung terus menangis sedih, kemudian dengan tangan bergemetar ia menunjuk makam itu seraya berkata dengan air mata berderai-derai.

"Kakak Yun... dia. dia sudah mati."

"Apa?" Sie Bun Yun tertegun, "ltu bagaimana mung kin?" "Lihatlah sendiri!" Ling Hung menunjuk nisan tersebut

suaranya telah berubah serak lantaran terlalu menahan rasa

sedihnya. Sie Bun Yun menoleh memandang nisan makam itu, seketika juga ia terbelalak ternyata nisan itu bertulisan demikian.

MAKAM PEK YUN HUI.

Sesudah membaca tulisan itu, Sie Bun Yun tertegun entah berapa saat lamanya, kemudian menarik nafas seraya bergumam.

"Heran, ketika membawaku ke mari, dia tampak semakin sehat Bagaimana mungkin bisa mati menda-dak?"

"Demi engkau!" Ling Hung menatap Sie Bun Yun. "ltu gara-gara demi engkau, akhirnya dia pula yang mati!"

Sie Bun Yun termangu-mangu. Kematian Pek Yun Hui juga membuat duka hatinya, Kini ucapan Ling Hung itu, bagaikan sebuah pisau menusuk ke dalam hatinya.

"Ha ha ha!" Mendadak Sie Bun Yun tertawa seperti orang gila, Tidak salah! Memang demi diriku, kalau bukan karena demi menyelamatkan diriku, bagaimana mungkin dia akan mati? Aku,., akulah penyebab kematiannya!"

Setelah menyaksikan makam dan tulisan yang ada di nisan tersebut, Ling Hung dan Sie Bun Yun menganggap Pek Yun Hui telah mati.

Padahal sesungguhnya, di saat itu Pek Yun Hui justru bersembunyi di sebuah gua lain yang tak jauh dari situ. Di depan gua itu ditumbuhi rerumputan liar, sehingga Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak melihat gua tersebut.

Ketika menyaksikan keadaan mereka berdua, sedihlah hati Pek Yun Hui dan rasanya ingin sekali keluar menemui mereka, Namun ia tahu, apabila ia keluar menemui mereka, urusannya dengan Ling Hung pasti tidak akan beres.

Oleh karena itu, Pek Yun Hui mengeraskan hatinya untuk tetap bersembunyi di dalam gua itu. sementara Ling Hung terus memandang Sie Bun Yun, lalu mendadak melompat bangun seraya berseru-seru.

"Kakak Yun! Kakak Yun, tunggulah aku! Aku akan menyusulmu. "

Tiba-tiba Ling Hung menubruk batu nisan itu. Pek Yun Hui sama sekali tidak menyangka Ling Hung akan berbuat senekad itu, Padahal sebelumnya, Ling Hung sering mengatakan, apabila Pek Yun Hui mati, ia pun tidak akan hidup lagi.

Pek Yun Hui mengira itu cuma omongan di mulut saja, tidak tahunya Ling Hung sungguh-sungguh me-lakukannya.

Saat ini kalau Pek Yun Hui melesat ke luar, tetap juga tidak keburu menolong gadis tersebut.

sedangkan Sie Bun Yun, sejak kecil sudah bersama Ling Hung, maka ia tahu jelas gerak-gerik maupun tingkah lakunya. Ketika Ling Hung memandang batu nisan itu, hatinya sudah tersentak dan di saat Ling Hung menggerakkan badannya, ia pun langsung berseru.

"Jangan, Adik Hung!"

Akan tetapi, Ling Hungsudah meloncat ke arah batu nisan itu, Sie Bun Yun cepat-cepat menyambarnya, tapi cuma berhasil menyambar ujung bajunya.

Serrt! Ujung baju Ling Hung tersobek.

Terkejutlah Sie Bun Yun, kemudian laksana kilat melesat ke batu nisan itu mendahului Ling Hung, ia melesat dengan mengerahkan ginkangnya, Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, badan Ling Hung sudah sampai di situ.

Kalau kepala Ling Hung terbentur batu nisan itu, niseaya gadis itu akan mati seketika, Namun saat ini Sie Bun Yun sudah berdiri di situ, maka kepala Ling Hung cuma menubruk dadanya. "Duuuk!" Dada Sie Bun Yun terbentur kepala Ling Hung, sehingga tergetar keras, tak lama mulutnya mengalir darah segar

Setelah menubruk dada Sie Bun Yun, Ling Hung berdiri sambil memandangnya sambil berkata.

"Kenapa engkau berbuat demikian?"

"Adik Hung!" Sie Bun Yun tersenyum getir "Engkau tidak boleh mati."

Pek Yun Hui yang bersembunyi di dalam gua tampak berduka sekali, apalagi ketika melihat Sie Bun Yun terluka dalam

"Kakak misan!" Ling Hung terisak-isak. "Aku sudah bilang, kalau tiada Kakak Yun, aku pun tidak bisa hidup lagi."

Sie Bun Yun menarik nafas panjang, matanya menatap Ling Hung dalam-dalam seraya berkata.

"Adik Hung, dendam ayahmu belum terbalas, bagaimana mungkin engkau mati? Engkau mati karena cinta, sehingga tidak membalas dendam ayahmu, bukankah akan ditertawakan orang?"

"Kakak misan, engkau telah salah omong." "Kok aku salah omong?"

"Kepandaianku masih rendah, maka kalau mau balas dendam haruslah belajar ilmu silat lagi. Namun Kakak Yun sudah mati, jadi bagaimana mungkin aku bisa belajar ilmu silat tingkat tinggi? Kakak misan, aku sungguh tidak mau hidup lagi."

"Aaakh. " Sie Bun Yun menarik nafas panjang, "Adik

Hung, engkau pun pernah menasihatiku agar tidak berduka kan?"

"Ya." Ling Hung mengangguk "Adik Hung, aku seperti dirimu kehilangan kekasih, tapi aku masih tetap hidup, kenapa engkau tidak?"

"Kakak misan, Kakak Yun telah mati. " Ling Hung tampak

sempoyongan mau jatuh.

Sie Bun Yun segera menahannya agar tidak jatuh, tapi ia sendiri telah terluka dalam, maka tidak kuat menahannya, dan akhirnya mereka jatuh bersama.

"Adik Hung!" ujar Sie Bun Yun sambil menggenggam tangannya. "Biar bagaimana pun engkau tidak boleh mati."

Ling Hung tak menyahut, hanya menangis sedih dengan air mata berderai-derai, Air mata Sie Bun Yun pun sudah meleleh. Begitu pula Pek Yun Hui yang bersembunyi di dalam gua, ia terisak-isak sedih.

Entah berapa lama kemudian, hari pun sudah mulai geiap, Ling Hung tetap duduk di samping batu nisan itu, sedangkan Sie Bun Yun berdiri tak bergerak di samping Ling Hung.

Di bawah sinar rembulan, Pek Yun Hui melihat mereka berdua diam saja, ia yakin Sie Bun Yun berhasil membujuk Ling Hung, agar tidak membunuh diri

Mulai sekarang hati Ling Hung akan terus berduka, tapi Pek Yun Hui pereaya, lama kelamaan hati Ling Hung yang berduka itu pasti akan terobati oleh cinta kasih Sie Bun Yun yang teramat dalam ilu.

Memang agak tak berperasaan Pek Yun Hui membuat makam palsu itu, tapi tiada cara lain untuk menyelesaikan urusan tersebut, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri ?

Perlahan-lahan Pek Yun Hui meninggalkan gua itu, kemudian memasuki gua Thian Kie. ia menyalin pakaiannya dengan pakaian hitam, dan kepalanya pun ditutupi dengan kain hitam pula, sehingga dirinya mirip seorang ninja.

Diambilnya beberapa butir obat, dan sekaligus menjinjing sebuah keranjang yang berisi makanan menuju makam palsu itu. Karena masih tereekam rasa duka, maka Sie Bun Yun dan Ling Hung tidak mengetahui kehadiran Pek Yun Hui.

Setelah dekat, barulah mereka berdua terperanjat sambil menoleh. Melihat sosok bayangan hitam itu, Sie Bun Yun langsung membentak

"Siapa?"

Setelah mendekati ke dua orang itu, hati Pek Yun Hui menjadi kacau balau, ingin rasanya ia memeluk Sie Bun Yun dan menangis sepuas-puasnya.

Akan tetapi, ia tidak berbuat begitu, melainkan menahan dukanya dalam hati, ia menaruh keranjang itu ke bawah, lalu memberi isyarat dengan tangan seakan dirinya bisu.

"Akh! Aaakh!"

Melihat orang itu tidak berniat jahat, Sie Bun Yun merasa lega.

"Apakah engkau orang dari gua Thian Kie?" tanya-nya.

Pek Yun Hui diam saja seakan tidak mendengar pertanyaan Sie Bun Yun.

"Bagaimana Kakak Yun mati?" tanya Ling Hung.

Pek Yun Hui tetap diam. ia mengeluarkan obat yang dibawanya, dan diserahkannya pada Sie Bun Yun.

"Adik Hung!" ujar Sie Bun Yun pada Ling Hung, "Pereuma engkau bertanya padanya, Dia orang gagu dan tuIi, tidak mendengar pertanyaan kita,"

"Aku harus bertanya padanya," tandas Ling Hung, Gadis itu mengambil sebatang ranting, kemudian menulis di tanah, "Kenapa Kakak Yun bisa mati?"