Bangau Sakti Jilid 28

 
Jilid 28

Bee Kun Bu memang berhati luhur, maka ia masih berupaya menasihati Kim Hun Tokouw.

"Kim Hun Tokouw, betapa tenang dan damainya engkau hidup di dalam istana ini, kenapa harus terpengaruh oleh Souw Peng Hai?" ujarnya.

"Ha ha!" Kim Hun Tokouw tertawa, "Omong kosong! Siapa yang dapat mempengaruhiku? itu adalah atas kemauanku sendiri!" "Bagaimana engkau dibandingkan dengan Souw Peng Hai? Bukankah akhirnya dia akan hancur di Toan Hun Ya?"

"Aku sudah mendengar penuturannya, kalau pada waktu itu dia tidak berbelas kasihan, mungkin kini sembilan partai besar cuma tinggal nama!"

"Kalau begitu, engkau telah mengambil keputusan itu?" "Tidak salah!" Kim Hun Tokouw manggut-manggut. "Aku

sudah mengutus dua puluh orang berangkat ke Tionggoan mendatangi kesembilan partai besar, termasuk Kwat Cong San untuk mengantar kartu undangan, Aku mengundang sembilan partai besar dan Kwat Cong San ke mari untuk menikmati keindahan bulan purnama, tahun depan Pek Gwee Cap Ngo (Tanggal lima belas bulan delapan)."

"Oh?" Bee Kun Bu mengerutkan kening.

"Ha ha!" Kim Hun Tokouw tertawa lagi, Tahun depan Pek Gwee Cap Ngo, dapat diketahui siapa yang berkepandaian tinggi di kolong langit!"

"Yah!" Bee Kun Bu menarik nafas panjang, "Kalau engkau memang menghendaki begitu, aku pun tidak bisa banyak bicara lagi!"

"Oh ya!" Kim Hun Tokouw menatapnya tajam. "Eng-kau datang ke mari, bukankah berniat menghancurkan istana ini?"

"Ha ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Aku memang berniat demikian!"

"Oh, ya?" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh "ltu boleh dikesampingkan dulu, sekarang engkau beritahukan urusan ke tiga itu!H

"Urusan ke tiga, aku cuma mewakili seseorang!" ujar Bee Kun Bu memberitahukan "Dengan semacam benda untuk menukar obat penawar racun Thao Ning Poh Kut San!"

"Oh?" Sepasang mata Kini Hun Tokouw tampak berbinar dan bertanya, "Benda apa itu?" Padahalsesungguhnya, Kim Hun Tokouwsudah tahu Bee Kun Bu membawa sepotong Pit Giok Cak yang diimpi- impikannya, ia mengetahui tentang itu atas pemberitahuan dari Cap Kouw, maka Kim Hun Tokouw mengundangnya ke mari. Kalau tidak, bagaimana mungkin Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng begitu gampang memasuki istana Pit Sia Kiong ini?

"Benda itu adalah sepotong Pit Giok Cak!" sahut Bee Kun

Bu.

"Engkau bawa benda itu?" tanya Kim Hun Tokouw dengan

wajah berseri

"Bawa!" Bee Kun Bu mengangguk.

"Aku bersedia menukar!" ujar Kim Hun Tokouw dan menambahkan, Tapi engkau harus memperlihatkan dulu Pit Giok Cak itu!"

Bee Kun Bu tidak menyangka, bahwa begitu lancar menyelesaikan urusan tersebut, maka ia segera merogoh ke dalam bajunya, kemudian mengeluarkan Pit Giok Cak.

Ketika Pit Giok Cak itu berada di tangannya, mendadak ia merasa adanya segulung tenaga menckannya.

Begitu merasa adanya tenaga tersebut, Bee Kun Bu pun tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, Namun sudah tiada kesempatan baginya untuk menyambut tenaga tersebut, maka ia menggerakkan badannya dengan Ngo Heng Mi Cong Pu untuk menghindari tenaga itu.

Ketika ia mengerahkan ilmu tersebut, pada waktu bersamaan tampak sosok bayangan berkelebat ke ha- dapannya, yang tidak lain Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu.

ilmu Ngo Heng Mi Cong Pu (Langkah Ajaib) adalah ilmu ciptaan Thian Kie Cinjin, tentunya sangat aneh dan luar biasa, sehingga dapat menghindari serangan gelap dari Kim Hun Tokouw. "Hmm!" dengus Bee Kun Bu dingin, "Engkau majikan istana Pit Sia Kiong, tapi justru pengecut!"

serangan itu tidak membawakan hasil apa-apa, maka wajahnya yang tampak dingin itu berubah agak kemerah- merahan.

Kim Hun Tokouw bersifat angkuh, namun apa yang diucapkan Bee Kun Bu, membuatnya jadi membisu.

Padahal Kim Hun Tokouw telah menyanggupi akan menukar Pit Giok Cak itu dengan obat penawar racun, tentunya tidak akan turun tangan untuk merebut Pit Giok Cak tersebut.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa Pit Giok Cak tersebut merupakan benda pusaka, yang selalu diincar para pesilat luar perbatasan maupun seberang laut. Lagi pula Kim Hun Tokouw cuma memiliki sepotong, sedangkan yang sepotong lagi tiada kabar ceritanya Oleh karena itu, ketika melihat yang sepotong itu berada di tangan Bee Kun Bu, tak tertahan langsung menerjangnya.

Dengan wajah kemerah-merahan Kim Hun Tokouw kembali ke tempat duduknya, dan setelah duduk ia pun berseru.

"Cepat bawa ke mari obat penawar racun Thao Ning Poh Kut San!"

sebetulnya Bee Kun Bu sudah mau melampiaskan kegusarannya, tapi dibatalkannya karena mendengar suara seruan itu.

Tak lama muncullah seorang gadis menyerahkan sebuah botol porselin kecil kepada Kim Hun Tokouw.

"Bee Kun Bu, obat penawar racun yang ada di dalam botol porselin itu, cukup dimakan separuh saja, dan sisanya kuhadiahkan kepadamu," ujar Kim Hun Tokouw.

"Terimakasih Tokouw!" ucap Bee Kun Bu. Kim Hun Tokouw tersenyum, lalu ia mengambil botol porselin itu.

WBee Kun Bu, terimalah!" serunya kemudian

Botol porselin itu melayang ke arah Bee Kun Bu, Sungguh menakjubkan, padahal Kim Hun Tokouw sama sekali tidak menggerakkan tangannya, tetapi tahu-tahu botol porselin itu telah meluncur ke arah Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tahu, bahwa Kim Hun Tokouw ingin menguji Lweekangnya, maka ia pun megerahkan lweekangnya untuk menyambut botol porselin tersebut.

sementara botol porselin itu terus meluncur, sepertinya dikendalikan orang, Ketika botol porselin kecil itu hampir sampai di hadapan Bee Kun Bu, mendadak Bee Kun Bu menjulurkan tangannya mencengkeram botol porselin itu.

Begitu berhasil mencengkeram nya, Bee Kun Bu pun merasa ada tenaga yang sangat dahsyat menerjang ke arahnya.

ia memang sudah siap dan langsung memberatkan tubuhnya, agar tidak terdorong oleh tenaga itu. Tiba-tiba tenaga itu sirna entah ke mana, Ketika Bee Kun Bu merasa heran, sekonyong-konyong menerjang lagi tenaga yang amat dahsyat ke arahnya

Meskipun Bee Kun Bu telah memberatkan tubuhnya, tapi masih terdorong mundur selangkah, maka membuat mukanya memerah.

"Sungguh hebat Lweekangmu!" puji Bee Kun Bu. "Engkau datang dari Tionggoan, tentunya telah banyak

melihat!" sahut Kim Hun Tokouw sambil tersenyum, "Maka engkau tidak perlu memujiku!"

Bee Kun Bu membuka tutup botol porselin itu, lalu mengendusnya, Tereium bau asam yang amat menusuk hidung, dan seketika juga kepalanya merasa pusing. "Hm!" dengus Kim Hun Tokouw dingin, "Aku berikan padamu, tentunya tidak akan palsu! Obat penawar racun itu, pada dasarnya merupakan racuni Kalau engkau mengendus lagi, engkau pula yang akan keracunan!"

Bee Kun Bu cepat-cepat menutup botol itu kembali, kemudian di simpan di dalam bajunya.

"Sambutlah!" serunya kemudian

Pit Giok Cak yang ada di tangan Bee Kun Bu meluncur ke arah Kim Hun Tokouw, Karena wanita itu telah mempermalukannya, maka kini ia pun ingin membalas.

Ia melempar Pit Giok Cak itu ke arah Kim Hun Tokouw, menggunakan cara yang diajarkan Pek Yun Hui menyambit jarum Toan Meng Cin.

Begitu melihat luncuran Pit Giok Cak, hati Kim Hun Tokouw terkesiap namun segera menjulurkan sepasang jari tangannya untuk menerima benda itu. Memang ber-hasil, akan tetapi...

Terjadilah sesuatu keanehan, ternyata Pit Giok Cak itu berhasil lolos dari dua jari tangannya dan meluncur ke arah bahunya, Secepat kilat Kim Hun Tokouw mengibaskan lengan bajunya.

Serrt! Lengan baju Kim Hun Tokouw berlubang.

Kim Hun Tokouw tertegun, karena sebelah lengan bajunya berlubang, barulah ia dapat menyambut Pit Giok Cak itu, sehingga tak tertahan ia pun memuji.

"Engkau sungguh hebat!"

Terimakasih!" sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum, sebab ia telah berhasil membalasnya.

"Bee Kun Bu! sebetulnya aku berniat minta pelajaranmu!" ujar Kim Hun Tokouw, Yang dimaksudkan "Minta pelajaran yakni bertanding, "Tapi kini aku punya urusan lain, sehingga harus dibatalkan!" ""Oh?" Bee Kun Bu menatapnya. "Antar tamu!" seru Kim Hun Tokouw.

seketika muncullah dua belas gadis, dan mereka langsung berlutut di hadapan Kim Hun Tokouw seraya berkata serentak.

"Kiong Cu, kami berjumlah enam belas orang dan telah bersumpah sehidup semati, Kini empat saudari kami dilukai orang ini, mohon Kiong Cu mengijinkan kami menuntut balas!"

Padahal Bee Kun Bu sudah siap meninggalkan istana tersebut, tapi justru muncul dua belas gadis ingin metuntut balas padanya.

"Setelah kalian mengantarnya sampai di luar istana, kalian mau bagaimana itu terserah," sahut Kim Hun Tokouw.

"Terimakasih, Kiong Cu!" ucap mereka serentak.

Namun mendadak Kim Hun Tokouw memandang Bee Kun Bu, lama sekali barulah membuka mulut.

"Bee Kun Bu berkepandaian tinggi, kalian harus hati-hati!" ujarnya memperingatkan mereka.

"Ya." Mereka mengangguk

Bee Kun Bu membatin, terhadap Kim Hun Tokouw pun. aku tidak merasa takut, apa lagi terhadap kalian!

"Oh ya!" Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat sesuatu, "Harap Kim Hun Tokouw sudi melepaskan Gin Tie Suseng, agar bisa pergi bersamaku!"

Mendengar itu, tiba-tiba wajah Kim Hun Tokouw berubah dingin, bahkan tampak penuh diliputi hawa membunuh.

"Dia?" dengus Kim Hun Tokouw, "Dia berani kurang ajar terhadapku, maka tidak bisa diampuni! Engkau tidak usah menunggunya lagi!"

"Kim Hun Tokouw!" sahut Bee Kun Bu lantang, "Kalau engkau tidak melepaskannya, aku pun tidak akan meninggalkan tempat ini!" "Aku yang memberi keputusan di sini, lebih baik engkau jangan cari penyakit di tempat ini!" ujar Kim Hun Tokouw sambil tertawa dingin.

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, "Teman baikku hilang di istana ini, bagaimana mungkin aku akan pergi tanpa dia? Engkau anggap diriku ini apa?"

"Aku masih ingat akan kebaikanmu membawa sepotong Pit Giok Cak ke mari, maka aku pun terus nerriberi muka padamu! Namun kalau engkau masih tidak tahu diri, mungkin engkau pun tidak bisa lolos!"

"Aku harus menolong teman, kenapa dikatakan tidak bisa lolos?" Bee Kun Bu maju selangkah

"Baik! Kalau begitu, engkau boleh mencoba melawan ke dua belas pelayanku itu!" bentak Kim Hun Tokouw, "Kalian dua belas pelayan, boleh bertarung dengannya sekarang!"

Usai membentak, Kim Hun Tokouw pun ingin beranjak dari tempat duduknya, Melihat itu, gusarlah Bee Kun Bu.

"Jangan pergi dulu!" bentaknya sambil melesat ke arah Kim Hun Tokouw.

Akan tetapi, di saat itu pula berkelebat bayangan menghadang di hadapannya, seketika juga Bee Kun Bu menggerakkan sepasang lengannya, ternyata ia telah mengeluarkan jurus Tay Tiau Cian Uh (Rajawali Me-ngibaskan Sayap), yakni merupakan ilmu yang terdapat dalam kitab Kui Goan Pit Cek.

Terdengar beberapa suara jeritan, tampak empat gadis telah terpental jatuh, Akan tetapi, pada waktu bersamaan, Kim Hun Tokouw pun telah hilang. Bee Kun Bu sama sekali tidak menduga itu, tapi ia yakin bahwa di ruang tersebut pasti banyak jebakannya atau pintu rahasia.

"Lam Kiong Siu!" teriak Bee Kun Bu gusar "Kalau engkau tidak melepaskan Gin Tie Suseng, hati-hati aku akan memusnahkan Pit Sia Kiong ini!" "Bee Kun Bu!" Terdengar suara sahutan Kim Hun Tokouw- Lam Kiong Siu, namun tidak tahu berasal dari mana suara sahutan itu, "Silakan kalau engkau mampu! Tapi aku telah mengabulkan mengantarmu ke luar dari istana ini, kapan engkau mau pergi, beritahukanlah! Walau para pelayanku telah membencimu sampai ke tulang sumsum, akan tetapi, mereka masih tidak berani membangkang perintahku!"

Ketika Kim Hun Tokouw menyahut, Bee Kun Bu terus memperhatikan ruangan itu, Selain pintu masuk, disitu tidak terdapat juga pintu lain, Suara sahutan Kim Hun Tokouw kedengaran cukup jauh, pertanda dia berada di suatu terowongan rahasia.

sementara dua belas gadis itu justru memandangnya sambil tersenyum Mereka merupakan gadis yang cantik jclita, maka ketika tersenyum kecantikan mereka pun bertambah, bagaikan bunga yang baru mekar

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu juga berpikir Padahal mereka amat membencinya, tetapi kini malah tersenyum- senyum sambil memandangnya, tentunya ada sesuatu di balik itu. Karena itu, Bee Kun Bu bertambah waspada, dan yakin mereka pasti punya suatu akal busuk. 

"Kalian boleh maju semua!" ujar Bee Kun Bu. "Tuan!" sahut salah seorang gadis sambil tersenyum.

"Engkau tadi kenapa begitu garang, begitu turun tangan

langsung melukai empat saudari kami? Bolehkah kami tahu sebabnya?"

"Karena pada saat itu, aku tereekam rasa cemas dan panik, mengira Nona Pek telah kalian lukai!" jawab Bee Kun Bu jujur

jawaban Bee Kun Bu membuat gadis-gadis itu tertawa cekikikan Suara tawa itu membuat Bee Kun Bu agak berlega hati, sebab kelihatannya gadis-gadis itu tidak begitu memusuhinya lagi, Maka ketika gadis-gadis itu maju selangkah, Bee Kun Bu tidak begitu menanggapi-nya.

"Kalau begitu. " Terdengar lagi suara yang mengalun

merdu. "Engkau bukan sengaja ingin melukai orang kan?" "Benar!" Bee Kun Bu mengangguk dan bertanya. "Bagaimana keadaan luka mereka sekarang?"

Gadis-gadis itu maju selangkah lagi, mereka setianya tersenyum manis seakan menghadapi teman lama.

"Luka mereka tidak begitu berat," sahut gadis-gadis itu serentak Kemudian mereka memutarkan badan, sehingga baju yang mereka pakai itu terbuka sedikit, dan tampak bayangan dalam yang amat indah.

Bee Kun Bu tidak berani lihat, namun justru telah melihat lantaran dirinya telah dikelilingi mereki Bee Kun Bu tidak habis berpikir, kenapa mereka bersikap demikian? Padahal mereka ingin bertarung, kenapa mendadak berubah jadi sedemikian lemah lembut? Bee Kun Bu tampak tersentak sadar karenanya.

"Terimakasih atas perhatianmu pada mereka!" ucap gadis- gadis itu serentak sambil tersenyum manis.

Akan tetapi, pada waktu bersamaan, gadis-gadis itu serentak menggerakkan selendang masing-masing, kemudian dua belas helai selendang itu meluncur ke arah Bee Kun Bu dengan penuh mengandung tenaga lunak.

Untung Bee Kun Bu telah tersentak sadar tadi, kalau tidak, niseaya saat ini ia pasti celaka terkena serangan yang tak terduga itu.

Ketika dua belas helai selendang itu meliuk-liuk hampir mengenai badannya, ia pun menggerakkan pedangnya laksana kilat, dikeluarkannya jurus Khi Hohg Cuan Siau (Burung Phoenix Menari), menyusul adalah jurus Guat Hong Khuang siau (Angin Topan Menderu) dan terakhir jurus Ban Hong Cut Cau (Selaksa Tawon Keluar Sarang). jurus terakhir itu membuat dua belas gadis itu men-jerit, kemudian meloncat mundur serentak

Bee Kun Bu berdiri tegak di tempat, diluruskannya pedangnya ke bawah sambil memandang mereka.

"Lam Kiong Siu berada di mana? cepatlah kalian bawa aku pergi menemuinya!" bentaknya.

Dua belas gadis itu tidak menyahut, tetapi mendadak mereka berputar-putar mengitari Bee Kun Bu, lalu menyerang serentak dengan selendang masing-masing.

Tadi Bee Kun Bu menangkis serangan-serangan itu dengan Hun Kong Ktam Hoat, justru dapat mematahkan "serangan-serangan mereka, maka saat ini Bee Kun Bu tetap menggunakan ilmu pedang tersebut melayani mereka.

Kenapa tadi gadis-gadis itu tersenyum-senyum memandang Bee Kun Bu? Ternyata mereka ingin memikat- nya agar perhatiannya terpecahkan Pada dasarnya mereka memang memiliki Kiu Im Cha Li Tin Hoat (Ilmu Formasi Gadis Suci), Tadi mereka memang telah mengerahkan ilmu tersebut, namun kekuatannya tidak begitu hebat, sebab berkurang empat gadis yang terluka itu.

sementara pertarungan semakin seru dan tak terasa pertarungan mereka sudah melewati tiga puluh jurus, Pedang Bee Kun Bu berkelebat kian ke mari, namun pihak lawan berjumlah dua belas orang, lagi pula mereka menggunakan selendang yang bersifat lembut, yang ditambah dengan Lweekang, Maka selendang-selendang itu berubah menjadi senjata yang amat luar biasa.

Entah sudah berapa kali selendang-selendang itu melilit pedang Bee Kun Bu, dan Bee Kun Bu menggetarkan pedangnya untuk memutuskan selendang-selendang itu, tapi sia-sia, sebaliknya pedangnya malah nyaris terlepas dari tangannya.

Apa boleh bual, Bee Kun Bu terpaksa harus mengeluarkan ilmu andalannya, Mendadak ia membentak keras sambil memutar badan dan menggerakkan lengan kirinya, Ternyata ia menggunakan jurus To Im Cih Yang (Menyambut Dengan Keras Mendorong Dengan Lunak).

Ternyata Bee Kun Bu menyambut serangan-serangan dengan pedang, tapi lengan kirinya mendorong ke arah empat gadis yang menyerang dari sebelah kirinya, Empat gadis itu sampai membentur empat gadis lain. seketika juga Bee Kun Bu menggerakkan pedangnya dengan jurus Yun Liong Phun Uh (Naga di Awan Menyemburkan Kabut).

Terdengar dua kali jeritan, ternyata pedangnya telah melukai bahu dua gadis, sehingga formasi mereka menjadi kacau balau.

Bee Kun Bu meloncat mundur, tetapi tiba-tiba pada dinding batu di belakangnya muncul sebuah pintu dan keluar sosok bayangan.

Orang yang baru melesat ke luar dari pintu rahasia itu tidak lain adalah Cap Kouw, Agak terkejut juga Bee Kun Bu melihat wanita itu. Cap Kouw adalah adik seperguruan Kim Hun Tokouw-Lam KiongSiu, tentunya kepandaiannya pun tidak selisih begitu jauh dengan Kim Hun Tokouw.

ia pasti melihat dua belas gadis itu tidak mampu melawan Bee Kun Bu, maka segera memunculkan diri untuk membantu Setelah Cap Kouw mendekat, Bee Kun Bu pun membentak

"Di mana Kim Hun Tokouw?"

"Kiong Cu telah memerintahmu pergi, namun engkau masih berada di sini! Apakah engkau ingin cari mati di sini?" sahut Cap Kouw dingin.

Bee Kun Bu memandang dinding yang terbuka tadi, ternyata dinding itu pun bereahaya dan dibikin dari batu pualam.

Kalau tadi tidak melihat Cap Kouw ke luar dari situ, ia pun tidak akan pereaya bahwa di situ terdapat pintu rahasia. Dua belas gadis itu dan kini ditambah Cap Kouw, pasti diperintah Kim Hun Tokouw. Kalau tidak mencari Kim Hun Tokouw, lalu untuk apa harus bertarung lama-lama dengan mereka? Berpikir sampai di sini, Bee Kun Bu lalu mengambil suatu keputusan ia menggerakkan pedangnya, dan langsung menyerang Cap Kouw.

"Bagus!" seru Cap Kouw sambil tertawa, dan segera menangkis serangan Bee Kun Bu, dengan jurus Hung Hui Ming Ming (Angsa Terbang Gelap-Gelap).

Akan tetapi, jurus yang dikeluarkan Bee Kun Bu tadi cuma merupakan jurus tipuan, Begitu Cap Kouw me-nangkis, Bee Kun Bu telah mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu (Langkah Ajaib), dan seketika juga sudah berada di belakang Cap Kouw.

Begitu berada di belakang Cap Kouw, pedang Bee Kun Bu pun bergerak menyerang punggung wanita itu dengan jurus Lang Cien Liu Sah (Ombak Menderu Pasir Mengalir).

Setelah Cap Kouw menangkis serangan Bee Kun Bu dengan jurus Hung Hui Ming-Ming mendadak Bee Kun Bu menghilang dari hadapannya, Namun pada waktu bersamaan, ia mendengar suara desiran di belakangnya yang amat dingin.

Dapat dibayangkan, betapa terkejutnya Cap Kouw, maka secepat kilat ia melesat ke depan beberapa depa.

Bee Kun Bu memang tidak berniat bertempur de-ngannya, maka ia tidak memburunya, sebaliknya Bee Kun Bu malah melesat ke arah dinding pualam tempat Cap Kouw keluar tadi, lalu mengerahkan Hian Bun It Goan Kang Khi (Tenaga Dalam Hian Bun), dan tangan kirinya menghantam dinding pualam itu.

Maksud Bee Kun Bu ingin membuka pintu rahasia tersebut dengan pukuIannya, ia ingin mencari Kim Hun Tokouw dan terlebih dahulu menolong Gin Tie Suseng, setelah itu barulah pergi mencari Pek Yun Hui. Bee Kun Bu pun tahu, bahwa apabila ia telah membuka pintu rahasia, bahaya pun pasti mengancam dirinya. Namun demi menolong teman, haruslah menempuh bahaya.

*****

Bab ke 24 - Menolong pendekar Demi Membalas Budi Sebelum telapak tangan Bee Kun Bu menyentuh dinding

pualam itu, mendadak pintu rahasia tersebut pun terbuka

sendiri Oleh karena itu, tenaga pukulan Bee Kun Bu pun menerobos ke dalam, sehingga membuat dirinya terbetot ke dalam pula.

Keadaan di dalam ruangan itu gelap gulita, Bee Kun Bu menyadari adanya gelagat yang tidak beres, maka lalu mengerahkan ginkangnya untuk meloncat mundur Namun belum lagi Bee Kun Bu sampai di luar, pintu itu sudah tertutup kembali

Bee Kun Bu menghimpun tenaga dalamnya, lalu menghantam pintu rahasia tersebut, tapi pintu rahasia itu sama sekali tidak bergerak.

Saat ini Bee Kun Bu berada di mana, ia sendiri pun tidak tahu, karena tempat itu gelap sekali Bee Kun Bu tertegun, karena terdengar lagi suara Kim Hun Tokouw.

"Bee Kun Bu! Kalau engkau mau pergi sekarang, aku tetap menepati janji!"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu. "Lam Kiong Siu, kalau engkau tidak melepaskan Gin Tie Suseng, aku tidak akan menyudahi sampai di sini!"

"He he he!" Terdengar suara Kim Hun Tokouw yang terkekeh "Kim Eng Hauw telah terkena racun, dan tujuh hari kemudian dia pasti mati! Engkau boleh mencarinya di dalam Pit Sia Kiong ini, tetapi lewat tujuh hari dia pasti mati, maka engkau pun tidak perlu memikirkannya lagi! Namun kalau dalam tujuh hari engkau bisa menemukannya, aku pasti berikan obat penawarnya, dan sekaligus melepaskan kalian berdua!"

"Lam Kiong Siu! Lam Kiong Siu. "

Bee Kun Bu berteriak berulang kali, tapi tiada sahutan lagi Setelah itu, ia pun mulai mengayunkan kaki-nya. Kira-kira sepuluh depa kemudian, terdapat sebuah tikungan, dan ia pun menikung.

Tak lama setelah menikung, di depan tampak ada cahaya, Segeralah Bee Kun Bu melesat ke sana, dan tak lama ia sudah berada di sebuah ruangan kristal

Ruangan itu cuma beberapa depa luasnya, namun dinding-dindingnya terbuat dari kristal Dinding-dinding itu memantulkan bayangan Bee Kun Bu, sehingga tampak beberapa Bee Kun Bu berada di ruangan tersebut!"

Bee Kun Bu berputar-putar di situ, namun tidak menemukan jalan keluar, jadi boleh dikatakan ia telah terkurung di dalam ruangan kristal itu.

Sejak memasuki ruang kristal Bee Kun Bu pun mencoba menghitung waktu, mungkin sudah ada sehari semalam ia berada di ruangan itu.

Da!am waktu sehari semalam itu, ia terus mencari jalan ke luar, tetapi berputar-putar tetap di situ-situ juga. itu sungguh membuatnya tereengang.

Akhirnya ia merasa lelah, bahkan merasa lapar Maklum dalam waktu sehari semalam itu, ia terus-menerus berputar- putar ke sana ke mari, tapi tetap kembali ke tempat semula.

Kalau ia terkurung tujuh hari di ruangan kristal ini, bukankah Gin Tie Suseng sudah mati? Karena berpikir demikian, ia pun segera melesat ke sana ke mari lagi. Tiba- tiba ia melihat sebuah kamar yang mirip kamar baca, sehingga membuatnya terheran-heran.

ia berdiri termangu-mangu di depan kamar itu. Mendadak pintu kamar baca itu terbuka, tampak seorang gadis berdiri di situ. Tangannya membawa sebuah nampan warna emas, ada semangkok nasi, sayur dan seguci arak di atasnya.

Bee Kun Bu memang dalam keadaan lapar, maka ketika melihatnya otomatis membuatnya bertambah lapar.

"Kiong Cu (Majikan Istana) tahu bahwa Tuan sudah lapar, karena sehari semalam terus berputar ke sana ke mari, Maka aku diperintahkan membawa makanan ke mari untuk Tuan, harap Tuan berlega hati menyantap-nya!" ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.

Bee Kun Bu betul-betul salah tingkah, sebab semua gerak- geriknya di dalam ruang kristal sudah berada dalam pengawasan Kim Hun Tokouw, Bagaimana cara dan dari mana ia melihat gerak-geriknya? Bee Kun Bu tidak habis berpikir

"Jangan melamun, Tuan!" Gadis itu tertawa ge!i. "Makanlah dulu!"

"Taruhlah!" sahut Bee Kun Bu.

Padahal ia bisa menangkap gadis itu untuk memaksanya menunjukkan jalan ke tempat Kim Hun Tokouw, namun Bee Kun Bu tidak mau bertindak begitu, berhubung yang dihadapinya adalah anak gadis. Kalau ia bertindak begitu, tentunya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Gadis tersebut menaruh nampan ke atas meja, kemudian menuang secangkir arak.

Tidak usah tuangkan arak!" cegah Bee Kun Bu. "Aku tidak biasa minum arak."

Tuan!" Gadis itu tersenyum, "Kenapa Tuan tidak mau menangkapku, lalu memaksaku menunjukkan jalan?"

"Bagaimana mungkin aku akan berbuat begitu?" sahut Bee Kun Bu. "Tuan!" Gadis itu menarik nafas panjang, "Tuan dan Co Hiong sama-sama datang dari Tionggoan, tapi Tuan lebih baik dari padanya."

Ucapan gadis itu membuat Bee Kun Bu tertarik, maka ia lalu mengamati gadis tersebut Bee Kun Bu merasa agak kenal pada gadis itu, namun bukan salah seorang dari dua belas pelayan Kim Hun Tokouw.

"Co Hiong berada di mana sekarang?" tanya Bee Kun Bu. "Aku tidak boleh bilang," sahut gadis itu, "Kalau aku bilang,

Tuan pun tidak akan dapat mencarinya."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut, lalu duduk dan mulai menyantap.

Berselang beberapa saat kemudian, gadis itu berkata lagi dengan suara rendah.

"Apakah Tuan tidak mau keluar kalau hendak menolong teman Tuan itu?"

pertanyaan gadis itu membuat hati Bee Kun Bu tergerak.

Mungkinkah gadis itu bermaksud baik? Pikir-nya. "Tidak salah," jawab Bee Kun Bu.

"Tuan!" bisik gadis itu serius, "Kalau Tuan ingin menolong orang itu, haruslah mempereayai omonganku."

"Berdasarkan apa aku harus mempereayai omongan-mu?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya.

"Tuan! Aku sangat berterima kasih padamu, karena pedangmu itu tidak menusuk diriku," jawab gadis itu memberitahukan. "Kebetulan Kiong Cu perintahkan aku mengantar makanan ke mari, maka aku pun siap menempuh bahaya untuk memberitahukan tempat terkurungnya Kim Eng Hauw. Setelah menolongnya, Tuan pun boleh mendesak Kiong Cu untuk minta obat penawar racun."

Bee Kun Bu tertegun dan terus menatap gadis itu. Barulah ia ingat bahwa ketika ia bersama Gin Tie Suseng menaiki undakan tangga batu, gadis itu menyerangnya, Tapi Bee Kun Bu berhasil merebut pedangnya, dan sekaligus menusuknya, Namun ketika melihat wajah gadis itu memelas dengan mata bersimbah air, Bee Kun Bu segera menarik kembali pedangnya, justru sungguh di luar dugaan, saat ini gadis tersebut malah ingin membalas budinya itu. Tentunya hal itu amat menggirangkan hati Bee Kun Bu. Akan tetapi, kemudian ia justru menggeleng kepala.

"Terimakasih atas maksud baik Nona, tetapi aku tidak membutuhkan bantuanmu," ujar Bee Kun Bu sungguh- sungguh.

"Tuan harus tahu, melepaskan kesempatan ini berarti Tuan tidak alam dapat menemukan Kim Eng Hauw," sahut gadis itu.

"Aku sangat berterimakasih dan mempereayaimu tapi tidak bisa menerima bantuanmu," tandas Bee Kun Bu.

"Kenapa?" tanya gadis itu heran Tentunya engkau tahu bagaimana silat Kim Hun Tokouw," jawab Bee Kun Bu sambil tersenyum hambar

"Setelah engkau membantuku, dia pasti tahu dan apa yang akan terjadi pada dirimu?"

"Tuan. " Air mata gadis itu mulai berlinang. "Asal aku bisa

membantu, mati pun rela."

Bee Kun Bu tertegun, kemudian barulah ia tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya, maka ia segera berkata sungguh-sungguh.

"Engkau semakin mendesak, maka aku pun semakin tidak mau menyeretmu ke dalam bahaya, cepatlah engkau pergi!"

"Tuan!" Gadis itu tertawa sedih. "Terus terang, meskipun Tuan tidak mau kubantu, aku pun tetap akan mati,"

"Lho?" Bee Kun Bu terbelalak "Kenapa?"

"Tuan! Aku tahu Tuan adalah lelaki sejati, tentu tidak sudi menerima bantuanku, Oleh karena itu, sebelum aku datang ke mari, aku sudah menelan racun Tiga jam kemudian aku pasti mati, itu agar tidak disiksa oleh Kiong Cu." Gadis itu memberitahukan

"Eh? Nona. " Bee Kun Bu melongo, "Kenapa Nona

melakukan itu?"

"Aku tahu.,.," Air mata gadis itu terus mengalir "Gadis semacam diriku, Tuan pasti tidak akan pandang sebelah mata padaku, Hanya saja,., aku harap, setelah aku mati, Tuan akan ingat padaku, aku pun merasa puas."

Bee Kun Bu terharu, Gadis itu tahu tidak mungkin dirinya akan dicintai Bee Kun Bu tapi tetap mau berkorban itu sungguh membuat Bee Kun Bu terharu.

Karena itu, tanpa sadar Bee Kun Bu pun langsung menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

Gadis itu segera bersandar di badan Bee Kun Bu sambil tersenyum manis.

"Namaku Siauw Yun, Tuan akan ingat selalu nama-ku?" ujarnya perlahan

"Siauw Yun, selamanya aku tidak akan melupakanmu," jawab Bee Kun Bu. "Cepatlah engkau makan obat penawar racun, jangan menempuh jalan pendek!"

"Tuan. " Siauw Yun tersenyum lagi dan tampak bahagia

sekali, "Racun yang kutelan tiada obat penawarnya

"Aaaakh-.!" keluh Bee Kun Bu. "Engkau terlampau nekad!" "Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin Tuan akan

menerima bantuanku?" Siauw Yun menatapnya dengan penuh cinta kasih.

"Siauw Yun!" Bee Kun Bu semakin terharu, "Selama- lamanya aku pasti selalu ingat padamu."

"Terimakasih!" ucap Siauw Yun sambil mengangkat nampan yang ada di atas meja. "Kun Bu, mari ikut aku, kalau ada orang menghadang, bunuh saja!" Bee Kun Bu mengangguk lalu mengikuti Siauw Yun dari belakang, Walau amat gelap tempat yang mereka lalui, namun Siauw Yun bisa berjalan seperti biasa.

Berselang beberapa saat, tampak muncul seseorang menghadang dan seketika juga Siauw Yun berkata.

"Aku nih!"

Sebelum penghadang itu mengeluarkan suara, Bee Kun Bu sudah turun tangan menotoknya.

Siauw Yun segera berjalan lagi, dan Bee Kun Bu tetap mengikutinya dari belakang, Tak seberapa lama, kembali muncul penghadang, Bee Kun Bu bergerak cepat menotok orang itu.

Kira-kira setengah jarn kemudian, Siauw Yun berhenti di depan sebuah gua dan ujarnya dengan suara rendah.

"Kun Bu, Kim Eng Hauw dikurung di ruang bawah tanah di dalam gua ini. Setelah bertemu dengannya, engkau pun boleh mengeluarkan suara mendesak Kiong Cu memberikan obat penawaran racun."

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk

"Kun Bu. " Siauw Yun menatapnya sambil tersenyum

sedih. "Kita akan berpisah selama-lamanya."

"Siauw Yun.,.." Hati Bee Kun Bu terasa seperti tersayat Tiba-tiba Siauw Yun menjulurkan tangannya yang

bergemetar, lalu mengusap muka Bee Kun Bu. Setelah itu, mendadak gadis itu melesat pergi.

Bee Kun Bu berdiri termenung di depan gua, lama sekali barulah menarik nafas dan berjanji dalam hati bahwa ia akan menyiarkan berita bahwa di dalam Pit Sia Kiong masih terdapat orang yang baik. Setelah berjanji demikian dalam hati, Bee Kun Bu melangkah ke dalam gua itu. Tidak begitu dalam gua tersebut, namun terdapat undakan tangga batu yang menuju ke bawah.

Bee Kun Bu berjalan turun, dan tak lama ia sudah menginjak tanah datar, bahkan mendengar suara rintihan

"Saudara Kim! Saudara Kim!" panggil Bee Kun Bu. "Saudara Bee. " Suara sahutan yang amat lemah.

"Apakah. apakah kita bertemu di alam baka?"

Bee Kun Bu segera melesat ke depan, setelah melewati sebuah tikungan ia melihat Gin Tie Suseng dikurung di dalam sebuah kerangkeng.

Wajah Gin Tie Suseng pucat dan kekuning-kuning-an. Tubuhnya kurus sekali, padahal baru sehari semalam ia berada di tempat itu.

Cepat-cepat Bee Kun Bu mendekati kerangkeng itu.

Ditariknya gembok pintu kerangkeng itu kuat-kuat sehingga terlepas, lalu segera membuka pintunya.

"Saudara Kim. " Bee Kun Bu memegang bahunya,

"Bagaimana keadaanmu?"

"Mungkin. mungkin aku sudah mau mati," sahut Gin Tie

Suseng lemah.

Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat akan pesan Siauw Yun, segeralah ia bersiul panjang, Sebelum suara siulan-nya hilang, terdengarlah suara Kim Hun Tokouw yang bernada dingin.

"Apakah engkau ingin keluar dari istana ini?"

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak "Aku kira istana Pit Sia Kiong ini merupakan sarang macan, tidak tahunya cuma merupakan sarang tikus, Aku sudah menemukan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw, namun Kim Hun Tokouw yang sangat terkenal itu cuma berani meracuni orang." "Bee Kun Bu!" Terdengar suara tawa Kim Hun Tokouw, "Aku tak menyangka engkau pun bisa ber-bohong.,,."

Berkata sampai di sini mendadak berhenti, kemudian mengeluarkan suara kaget, dan seakan tidak pereaya.

"Eeeeh? Ternyata benar engkau telah menemukan Kim Eng Hauw yang terkurung di ruang bawah tanah!"

Mendengar itu, Bee Kun Bu pun tereengang, karena nada Kim Hun Tokouw tadi sepertinya tidak tahu bahwa Bee Kun Bu berada di ruang bawah tanah, namun kemudian kenapa dia bisa (ahu? Sungguh mengherankan

"Meskipun engkau berkepandaian tinggi, tapi aku yakin engkau tidak mampu menemukan ruang bawah tanah itu. Kecuali... ada orang membantumu secara diam-diam, barulah engkau bisa menemukan tempat itu." Suara Kim Hun Tokouw mengalun datang lagi.

"Lam Kiong Siu!" bentak Bee Kun Bu. "Apa yang engkau cetuskan kemarin, apakah masih berlaku?"

"Hm!" dengus Kim Hun Tokouw, "Di Pit Sia Kiong ini telah muncul murid pengkhianat, aku harus bilang apalagi? Engkau tunggu sebentar, aku akan menyuruh orang ke sana membawa kalian keluar!"

Bee Kun Bu girang sekali, karena Kim Hun Tokouw masih menepati janjinya, Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara lain bernada dingin.

"Kim Hun Tokouw, kalau engkau menghendaki kitab kui Goan Pit Cek, janganlah engkau melepaskan orang itu!"

Bee Kun Bu mengenali suara itu, tidak lain adalah suara Co Hiong, Kalau Kim Hun Tokouw menurut pada perkataan Co Hiong, ia dan Gin Tie Suseng pasti celaka di istana Pit Sia Kiong itu.

"Co Hiong!" bentaknya gusar "Apakah engkau ingin melaksanakan akal busuk lagi?" sekonyong-konyong terdengar suara "Bumm", seketika juga terang benderang di tempat itu, bahkan dinding ruang bawah tanah itu pun bergerak Bee Kun Bu memandang ke luar, ternyata di luar sana merupakan sebuah ruangan.

Yang duduk di situ adalah Kim Hun Tokouw, di ke dua sisinya juga terdapat dua buah kursi, Yang duduk di kursi itu adalah Souw Peng Hai dan Co Hiong, Di belakang Kim Hun Tokouw berdiri dua belas anak gadis yakni para pelayannya.

Bee Kun Bu memapah Gin Tie Suseng menuju ruang itu, kemudian dinding ruang bawah tanah pun tertutup kembali

"Saudara Bee!" Co Hiong menatapnya sambil tersenyum- senyum. "Apa kabar? Aku sungguh rindu padamu."

"Hm!" dengus Bee Kun Bu, lalu memandang Kim Hun Tokouw sambil tersenyum "Lam Kiong Siu, mana obat penawar racun itu? Cepat berikan!"

Kim Hun Tokouw tidak menyahut, sebaliknya malah bangkit berdiri dan sekaligus menyentak seketika juga tampak sinar keemas-emasan menyerupai kabut mengarah pada Bee Kun Bu dengan cepat sekali.

Bee Kun Bu sedang memapah Gin Tie Suseng, maka tidak bisa bergerak cepat untuk berkelit Akan tetapi, kabut yang bersinar keemas-emasan itu justru meluncur ke dalam mulut Kim Eng Hauw.

"Lam Kiong Siu! Engkau..."

"Bee Kun Bu!" potong Kim Hun Tokouw dingin, "Aku telah menyentil obat penawar racun ke dalam mulut Kim Eng Hauw, Racun yang mengidap didalam tubuhnya akan segera punah, Akan tetapi dalam waktu setahun, dia tidak boleh mengerahkan Lweekangnya, Kalau dia berani mencoba mengerahkan Lweekangnya, semua urat nadinya akan putus dan dia pun akan mati, Oleh karena itu, engkau harus baik- baik merawatnya. Bee Kun Bu pereaya apa yang diucapkan Kim Hun Tokouw, maka ia pun mengambil keputusan untuk mengantar Gin Tie Suseng pulang ke Tay Pah San.

"Kalau begitu.,." ujar Co Hiong pada Kim Hun Tokouw sambil mengerutkan kening, "Tokouw ingin melepaskan mereka berdua?"

Tadi engkau bilang, kalau aku menghendaki kitab Kui Goan Pit Cek, tidak boleh melepaskannya, itu apa maksudmu?" tanya Kim Hun Tokouw dingin.

"Ha ha!" Co Hiong tertawa, "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, kini berada di tangan dua orang gadis yang di Kwat Cong San, yaitu Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui. Tiada seorang pun mampu menandingi kepandaian ke dua gadis itu."

"Oh, ya?" Air muka Kim Hun Tokouw tampak berubah

Co Hiong memang licik. ia sengaja memanasi hati Kim Hun Tokouw, tujuannya adalah meminjam tangan Kim Hun Tokouw untuk membunuh orang.

"ltu memang benar."

"Kalau begitu, kenapa?" Kim Hun Tokouw menatapnya tajam.

Co Hiong mengarah pada Bee Kun Bu, setelah itu ia pun tersenyum-senyum. Namun ketika Co Hiong mau membuka mulut Bee Kun Bu sudah membentak

"Kalian berdua telah diberi kesempatan untuk bertobat di Toan Hun Ya, namun kalian bukannya bertobat, kini malah menimbulkan ber bagai urusan, kelihatannya kalian memang ingin cari mati!"

Wajah Souw Peng Hai langsung berubah, kemudian mengangkat sebelah tangannya, kelihatannya ia ingin menyerang Bee Kun Bu dengan ilmu Kan Goan Cihnya. "Guru tidak perlu turun tangan," cegah Co Hiong serius. "Seusai aku bicara dengan Kim Hun Tokouw, Bee Kun Bu pasti dilepaskannya.

"Ng!" Souw Peng Hai menurunkan tangannya.

"Kedua gadis di Kwat Cong San.,." ujar Co Hiong pada Kim Hun Tokouw dan melanjutkan "... sama-sama telah jatuh hati pada pemuda itu. Kalau Tokouw menahan dia di sini, lalu mengutus orang ke Kwat Cong San mengantar surat, bukankah ke dua gadis itu akan membawa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ke mari untuk dilukai dengan Bee Kun Bu?"

Betapa gusarnya Bee Kun Bu, sebab Co Hiong menggunakan akal busuk itu untuk memaksa Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui menyerahkan Kui Goan Pit Cek pada Kim Hun Tokouw. Walau gusar, namun Bee Kun Bu berlega dalam hati, rupanya mereka masih tidak tahu Pek Yun Hui sudah berada di Taysan ini. itu berarti Pek Yun Hui tidak mengalami sesuatu yang di luar dugaan, Tapi kenapa dia kehilangan jejak? Bee Kun Bu tidak mengerti

*****

Bab ke 25 - Penyerangan Mendadak

Sementara Kim Hun Tokouw diam saja, Co Hiong menatapnya dan yakin Kim Hun Tokouw tertarik akan usulnya itu, maka ia pun segera berkata lagi.

"Kalau Kui Goan Pit Cek sudah berada di istana Pit Sia Kiong, tentu tidak perlu mengkhawatirkan orang-orang dari sembilan partai besar Kalau mereka tidak ke mari, kami pun akan bergabung dengan Tokouw membasmi mereka. Nah, bukankah kita akan menguasai Bu Lim di Tionggoan? Pit Sia Kiong dan partai Thian Liong bergabung akan menjadi Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan)."

"Co Hiong!" Kim Hun Tokouw menatapnya tajam. "Yang akan menjadi Bu Lim Beng Cu itu Pit Sia Kiong atau Partai Thian Liong?" Co Hiong tidak menyangka Kim Hun Tokouw akan bertanya begitu, maka diam-diam ia mencacinya. Sialan Lam Kiong Siu, jangan sok! Walau mencaci dalam hati, namun wajah Co Hiong tetap tampak tersenyum.

"Tentu Pit Sia Kiong."

"Oh, ya?" Kim Hun Tokouw menatapnya tajam. "Itu sudah pasti." Co Hiong tertawa gelak.

"Bee Kun Bu!" ujar Kim Hun Tokouw pada pemuda tersebut "Kalau begitu, engkau terpaksa harus tinggal di sini untuk beberapa hari."

"Lam Kiong Siu!" bentak Bee Kun Bu gusar "Engkau tidak menepati janji, aku harus bertindak!"

"Baik!" sahut Kim Hun Tokouw.

Bee Kun Bu menengok ke sana ke mari, tampak di ruangan itu hanya terdapat dinding batu, sama sekali tiada jalan untuk keluar Kalau pun ada, itu merupakan pintu rahasia.

Setelah menengok ke sana ke mari, Bee Kun Bu segera mengapit Gin Tie Suseng, kemudian mendadak menggerakkan pedangnya menyerang ke arah Kim Hun Tokouw Lam Kiong Siu.

Kim Hun Tokouw sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya, hanya mengibaskan selendangnya untuk menangkis serangan itu.

"Lam Kiong Siu!" ujar Souw Peng Hai. "Biar aku yang melayaninya!"

Souw Peng Hai bangkit berdiri, tangan kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga, sedangkan jari tengah tangan kanannya menyentil ke arah Bee Kun Bu. Ternyata Souw Peng Hai mengeluarkan ilmu Kan Goan Cihnya.

Pada waktu itu, Bee Kun Bu mencurahkan perhatiannya terhadap Kim Hun Tokouw, maka tidak menjaga serangan tersebut Tahu-tahu dadanya sudah diterjang tenaga yang amat dahsyat

Bee Kun Bu terpental beberapa langkah membentur dinding batu, seketika juga ia merasa matanya ber-kunang- kunang, tetapi masih bisa dengan cepat mengatur pernafasannya.

"Souw Peng Hai! Engkau terhitung mantan ketua suatu partai!" bentak Bee Kun Bu seusai mengatur pernafasannya. "Tapi kenapa tidak tahu malu melakukan serangan gelap ?"

Souw Peng Hai tampak terkejut, karena dada Bee Kun Bu telah terpukul oleh ilmu Kan Goan Cihnya, bahkan juga telah terpental, namun kenapa dia sama sekali tidak terluka? Souw Peng Hai tidak habis berpikir justru Souw Peng Hai tidak tahu, kalau Bee Kun Bu memakai kulit ular yang tahan bacok di dadanya, otomatis mengurangi tenaga pukulan Kan Goan Cih tersebut Oleh karena itu, Bee Kun Bu dapat bertahan dari sisa tenaga itu. Kalau ia tidak memakai kulit ular tersebut, saat ini pasti telah terluka parah.

"Hebat! Hebat! Kepandaian Saudara Bee sungguh hebat, aku sangat kagum, sehingga tertarik untuk minta pelajaran beberapa jurus!" seru Co Hiong dan langsung mencabut pedang gelang emasnya, kemudian menyerang Bee Kun Bu dengan jurus berantai, yakni Hei Seh Pin Lou (Menerobos Ke Dalam Laut), Yueh Pan Hong Yen (Asap Ditengah Malam) dan Thian Kang Lo Cieh (Bu-rung Beterbangan).

Tampak sinar pedang berkelebat ke arah Bee Kun Bu, Saat ini Bee Kun Bu masih mengapit Gin Tie Suseng di bawah ketiaknya, sehingga menghambat gcrakannya, Apa boleh buat, Bee Kun Bu terpaksa menangkis serangan-serangan itu.

Trang! Terdengar suara benturan keras.

Co Hiong termundur selangkah, sedangkan Bee Kun Bu masih berdiri di tempat, ternyata ia bersandar pada dinding.

Sungguh luar biasa, Bee Kun Bu telah melayani tiga orang yang berkepandaian tinggi, bahkan tadi dadanya telah terkena pukulan Kun Goan Cih, tapi justru masih tampak seperti biasa, tiada tanda-tanda terluka oleh pukulan tersebut.

Menyaksikan itu, Kim Hun Tokouw mengerutkan kening dan membantin, "Kalau aku ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan, pemuda itu tidak boleh dibiarkan hidup!", setelah membatin ia pun berkata.

"Kalian berdua adalah tamu PitSia Kiong! Jadi kalian berdua tidak perlu turun tangan, pokoknya dia tidak bisa meninggalkan Pit Sia Kiong ini!"

Semula Bee Kun Bu menganggap Kim Hun Tokouw walau sesat, tapi masih merupakan orang yang akan menepati janji. Akan tetapi, setelah mengalami ini, barulah ia tahu bagaimana sifat dan watak wanita itu.

"Lam Kiong Siu!" bentaknya gusar "Kalau aku berada di sini, engkau pun tidak bisa tenang!"

Mendadak Bee Kun Bu menyerang Kim Hun To-kouw, ia mengeluarkan jurus Ku Hoa Cun Ih (Bunga Ku Dimusim Semi), tampak pedangnya memancarkan sinar yang bergemerlapan

"Bee Kun Bu!" hardik Kim Hun Tokouw, "Engkau ingin cari mati!"

Kim Hun Tokouw segera mengibaskan selendang-nya.

Kibasan itu tidak bisa dianggap remeh, sebab itu adalah jurus Pit Yun Cian Cang (Gumpalan Awan Merintang).

Selendang itu tampak bagaikan ombak menyerang Bec Kun Bu. Sungguh aneh dan penuh mengandung tenaga lunak. Bee Kun Bu kurang berhati-hati, sehingga nyaris terserang oleh selendang itu. Betapa terkejutnya Bec Kun Bu, ia segera menghimpun tenaga dalamnya, dan sekaligus disalurkan pada pedangnya, Ketika ia baru mau melancarkan serangan, tiba- tiba lonceng kecil yang bergantung di ruang itu berbunyi

"Ting Tang Ting Tang!" Begitu mendengar suara lonceng kecil itu berbunyi, air muka Kim Hun Tokouw tampak berubah.

"Souw Peng Hai! Entah siapa yang bernyali begitu besar berani mengacau di Pit Sia Kiong!"

Souw Peng Hai dan Co Hiong memandang Kim Hun Tokouw, lalu menjura, setelah itu Co Hiong pun berkata pada Bee Kun Bu sambil tersenyum.

"Saudara Bee, nanti aku akan ke mari menengokmu!" Usai berkata begitu, ia mundur ke dinding bersama Souw

Peng Hai. Entah dengan cara bagaimana mereka membuka

dinding itu, tahu-tahu dinding itu sudah terbuka dan mereka berdua pun segera masuk. Kemudian dinding itu langsung tertutup kembali

Ketika mendengar Kim Hun Tokouw mengatakan bahwa ada orang mengacau di Pit Sia Kiong, Bee Kun Bu girang sekali dan yakin orang itu pasti Pek Yun Hui. Kalau tidak, bagaimana mungkin para anak buah Kim Hun Tokouw melapor padanya dengan cara yang seunik itu, yakni membunyikan lonceng kecil yang bergantung di ruang itu.

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa. "Engkau kira Pit Sia Kiongmu ini dibuat dari tembok baja, maka tiada seorang pun mampu menerjang ke mari? Buktinya sudah ada orang mengacau di sini!"

"Hm!" dengus Kim Hun Tokouw, "Engkau jangan salah duga, pendatang itu memang sudah memasuki lembah, namun tidak gampang bagi dia memasuki istana Pit Sia Kiong ini! Maukah engkau lihat siapa pendatang itu?"

"Bagaimana cara melihatnya?" tanya Bee Kun Bu dan merasa heran.

"Tentunya punya cara istimewa," sahut Kim Hun Tokouw bangga, "Engkau kira orang Tionggoan mampu membangun istana seperti ini?" Kim Hun Tokouw menarik ke atas gordyn di belakangnya, tampak sebuah kaca besar di situ, Sungguh aneh kaca itu karena dipasang semacam pipa yang amat panjang, entah tembus ke mana pipa itu, Kim Hun Tokouw memandang kaca itu, seketika wajahnya berubah bengis.

"Ternyata wanita jalang itu!"

Bee Kun Bu tereengang mendengar cacian tersebut, maka ia pun memandang ke kaca itu. Terlihatlah pemandangan di luar istana Pit Sia Kiong yaitu undakan tangga yang menuju pintu istana tersebut, bahkan juga tampak seorang wanita yakni Giok Siauw Sian Cu yang sedang bertarung dengan para pelayan Kim Hun Tokouw.

"Apakah wanita jalang itu salah satu dari dua wanita di gunung Kwat Cong San?" tanya Kim Hun Tokouw mendadak.

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa, "Dua wanita Kwat Cong San berkepandaian sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kepandaian wanita itu!"

"Oh? Kalau begitu, siapa wanita itu?"

"Wanita itu adalah " Mendadak Bee Kun Bu menyerang

Kim Hun Tokouw tiga jurus beruntun, yaitu jurus Ciak Ciu Puh Uong (Tangan Kosong Menangkap Naga), Phang Hoa Soh Liu (Bunga-bunga Bertaburan) dan Yun Liong Phun Uh (Naga Menyemburkan Kabut).

Bukan main dahsyatnya serangan-serangan itu, Kim Hun Tokouw tidak menyangka Bee Kun Bu akan menyerangnya secara mendadak, maka ia terpaksa menghindar ke samping, sedangkan Bee Kun Bu justru berhadapan dengan kaca itu, dan secepat kilat mengeluarkan jurus Ciok Phoh Thian Keng (Batu Pecah Langit Kaget), sekaligus menghantam kaca itu.

Braaak! Kaca itu pecah berantakan

"Engkau berani merusak kaca itu?" bentak Kim Hun Tokouw dengan wajah kehijau-hijauan saking gusarnya. Bee Kun Bu tidak menyahut, melainkan langsung menggetarkan pedangnya, Tampak sinar berkelebatan mengarah pada Kim Hun Tokouw dari tiga jurusan, itu adalah gerakan Cun Yun Ciat Can (Awan Berkembang).

Kim Hun Tokouw memutarkan badannya laksana kilat, sambil menggetarkan selendangnya untuk menangkis serangan Bee Kun Bu, kemudian melesat kesamping.

Ketika melihat Kim Hun Tokouw melesat ke sam-ping, Bee Kun Bu yakin dugaannya tidak meleset, yakni Kim Hun Tokouw ingin pergi melihat keadaan di luar Pit Sia Kiong.

Karena itu, Bee Kun Bu pun mengikutinya, Pada waktu bersamaan, dinding di tempat itu terbuka, dan Kim Hun Tokouw langsung masuk ke dalanr Se ketika juga Bee Kun Bu mengerahkan ginkangnya melesat ke arah dinding itu dan berhasil masuk.

Kim Hun Tokouw terus melesat ke depan. ia tahu Bee Kun Bu mengikutinya, maka tanpa membalikkan badannya maupun meno!eh, ia langsung menyerang ke belakang mengeluarkan jurus Pit Lang Cong Cong (Onv bak Terus Menderu).

Selendang yang digunakannya bergerak bagaikan ombak, dan penuh bertenaga mengarah pada tangan Bee Kun Bu.

Perlu dikelahui, saat ini Bee Kun Bu masih tetap mengepit Gin Tie Suseng di bawah ketiaknya, Kalau tidak mengapit Gin Tie Suseng di bawah ketiaknya, tentunya dengan gampang ia dapat menghindari serangan itu.

jalan satu-satunya harus meloncat ke belakang, itu berarti ia akan kembali ke ruangan tadi, dan tiada kesempatan lagi baginya untuk keluar

Tiba-tiba Bee Kun Bu menyalurkan Lweekangnya ke tangan kanannya yang menggenggam pedang, Dilemparkannya pedang itu ke arah punggung Kim Hun To- kouw, dan seketika terdengarlah suara yang menderu-deru. Setelah pedang itu meluncur, tangannya pun memukul ke depan dengan jurus Hui Pa Cong Ceng (Gembreng Terbang Menubruk Lonceng), yakni salah satu jurus dari ilmu Cap Pek Lo Han Ciang (Delapan jurus Pukulan Arhat), ilmu andalan Ngo Khong Taysu, Dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya ilmu pukulan itu.

Benar! Pukulan itu dapat menangkis serangan selendang tersebut, sedangkan pedang yang meluncur laksana kilat itu dapat dihindari Kim Hun Tokouw, Ternyata wanita itu menggunakan jurus Cing Yun Toh Toh (Awan Bergumpal- gumpal). Setelah menghindari pedang itu, Kim Hun Tokouw menatap Bee Kun Bu dengan mata berapi-api.

"Baiklah! Mari kita bertarung di sini!" "Silakan maju!" tantang Bee Kun Bu.

Ketika Kim Hun Tokouw baru mau menyerang Bee Kun Bu, tiba-tiba terdengar suara lelaki di luar, Suara itu parau tapi sangat menusuk telinga.

"Wanita siluman Pit Sia Kiong, kenapa tidak keluar menyambut tamu?"

Begitu mendengar suara itu, Kim Hun Tokouw tampak lersentak, sedangkan Bee Kun Bu cuma tereengang sebab tadi Bee Kun Bu melihat Giok Siauw Sian Cu dan kaca, tiada orang lain, tapi kenapa malah ada suara lelaki yang begitu parau? Apakah masih ada orang lain yang datang di Pit Sia Kiong ini?

Berdasarkan suara itu, dapat diketahui betapa tingginya Lweekang orang tersebut, tapi Bee Kun Bu sama sekali tidak mengenali suara itu.

Mendadak Kim Hun Tokouw melesat ke depan, diikuti oleh Bee Kun Bu. Berselang beberapa saat ke-mudian, sekonyong- konyong tampak terang di tempat itu, ternyata pintu rahasia terbuka. Kim Hun Tokouw segera mengerahkan ginkangnya melesat ke luar, tapi sambil memukul ke belakang, tujuannya menghalangi Bee Kun Bu keluar Tentunya Bee Kun Bu tahu, ketika Kim Hun Tokouw melesat keluar dengan ginkang, ia sudah menduga akan hal tersebut, Oleh karena itu, ia pun memukul ke depan.

Kim Hun Tokouw memang cerdik, ia menggunakan tenaga pukulan Bee Kun Bu agar dirinya melesat lebih cepat, sedangkan Bee Kun Bu malah tertahan di dalam, sedangkan pintu rahasia itu pun mulai tutup.

Bee Kun Bu bersiul panjang sambil mengerahkan ginkangnya, lalu terdengarlah suara "Serrrt", Ternyata meskipun masih mengapit Gin Tie Suseng, tapi Bee Kun Bu tetap berhasil melesat ke luar.

Akan tetapi, ujung bajunya justru terjepit oleh pintu rahasia yang sudah tertutup itu.

Berrrt! Sobeklah ujung baju Bee Kun Bu.

Ternyata kini ia telah berada di ruangan yang amal besar Tampak Kim Hun Tokouw duduk di kursi batu pualam, tampak pula dua belas pelayannya sedang bertempur melawan Giok Siauw Sian Cu, Di sebelah kiri, terlihat Cap Kouw dengan wajah beringas sedang bertarung dengan seorang Hweeshio tua.

Tampak aneh Hweeshio itu, karena kepalanya yang gundul licin itu agak menonjol ke atas, muka merah dan hidungnya mancung, namun sepasang matanya bersinar tajam, dan dapat diketahui juga bahwa dia bukan orang Tionggoan.

"Berhenti!" bentak Kim Hun Tokouw mendadak

Dua belas pelayannya langsung meloncat mundur, begitu pula Cap Kouw, Hweeshio tua dan Giok Siauw Sian Cu.

"Eh?" Giok Siauw Sian Cu baru melihat Bee Kun Bu. "Adik Bee, ternyata benar engkau berada di sini!" "Kakak!" sahut Bee Kun Bu. "Apa kabar?"

Di saat mereka berdua sedang tutur sapa, di saat itu pula terdengar suara bentakan keras, Hweeshio tua yang bersenjata martil tembaga langsung menyerang Bee Kun Bu dengan gerakan Heng Sau Cian Kun (Menyapu Ribuan Prajurit).

Bee Kun Bu sama sekali tidak menduga akan serangan itu, ia tidak pernah bertemu dan tidak kenal Hweeshio itu, tapi kenapa dia menyerang Bee Kun Bu secara begitu mendadak?

Memang sudah tiada kesempatan bagi Bee Kun Bu untuk menangkis, tetapi pada waktu bersamaan, terdengar pula suara bentakan Giok Siauw Sian Cu.

"Keledai gunduI! Sudah gilakah kau?"

sementara Bee Kun Bu walau gugup, tapi ia masih mempunyai sedikit waktu untuk mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu. seketika ia lolos dari serangan, sedangkan martil tembaga itu menyapu tempat kosong.

Belum juga kaki Bee Kun Bu menginjak lantai, Hweeshio itu sudah menyerang lagi dengan ganas.

Bee Kun Bu terpaksa mengerahkan ginkangnya meloncat mundur beberapa depa, Betapa gusarnya Bee Kun Bu, ia segera menyerahkan Gin Tic Suseng pada Giok Siauw Sian Cu seraya berkata.

"Kakak! Dia teman baikku, tolong jaga dia sebentar!" Setelah menyerahkan Gin Tie Suseng pada Giok Siauw

Sian Cu, Bee Kun Bu memutarkan badannya, sambil memukul ke arah pinggang Hweeshio tua itu. Namun sebelah tangannya justru mengarah pada Thian Sing Hiat di lengan kiri Hweeshio tua tersebut

itu adalah jurus Thian Ceh Te Jui (Langit Getar Bumi Gerak), salah satu jurus dari Kui Goan Pit Cek, yang hebat dan amat aneh gerakannya, Dengan kelabakan Hweeshio tua itu berkelit, akhirnya meloncat mundur, kemudian menatap Bee Kun Bu dalam-dalam seraya bertanya lantang.

"Siapakah kau? Kenapa engkau bilang muridku adalah teman baikmu?"

Begitu mendengar pertanyaan Hweeshio tua itu, Bee Kun Bu sudah tahu siapa dia, ternyata adalah Kuang Ti Taysu dari Kuil Ceh Yun Si di gunung Tay Pah San.

Kuang Ti Taysu memang berkepandaian tinggi, namun orangnya amat kasar dan boleh dikatakan Hweeshio sinting.

"Sudah lama aku kenal murid Taysu, kami adalah teman baik," jawab Bee Kun Bu sambil tersenyum.

"Kalau begitu, bukan engkau yang melukai muridku!" ujar Kuang Ti Taysu parau, "Aku keliru mempersalahkanmu!"

"Jangan berkata begitu!" Bee Kun Bu tersenyum lagi, Dia yakin Hweeshio itu adalah orang baik, karena berani mengaku salah di hadapan orang banyak.

"Adik Bee!" sela Giok Siauw Sian Cu. "Hwecshio keparat itu telah menyerangmu dua kali, maka jangan begitu gampang memaafkannya!"

"Kakak! Taysu itu sangat mencemaskan muridnya, Karena aku mengepit muridnya itu, maka ia mengira aku yang melukai murid kesayangannya, Kita jangan mempersalahkannya," sahut Bee Kun Bu.

"Ha ha ha!" Kuang Ti Taysu tertawa gelak, "Bagus! Aku Hweeshio tua bersedia jadi temanmu."

Bee Kun Bu nyaris tertawa geli, karena Kuang Ti Taysu belum tahu namanya, namun sudah bersedia jadi temannya, Bukankah itu sangat menggelikan?

"Guru!" ujar Gin Tie Suseng lemah. "Saudara Bee berbudi luhur dan solider terhadap teman. Kalau bukan demi murid, dia sudah meninggalkan Pit Sia Kiong ini." "Anak Hauw, apakah Lam Kiong Siu yang melukaimu?" tanya Kuang Ti Taysu mendadak.

"Tidak salah," sahut Kim Hun Tokouw yang duduk di kursi batu pualam.

"Engkau memang wanita iblis!" bentak Kuang Ti Taysu, lalu menyerang Kim Hun Tokouw dengan martil tembaganya, menggunakan jurus Te Teng Tong Nam (Bumi Roboh Ke Timur Selatan).

Betapa dahsyatnya serangan itu, sebab penuh mengandung tenaga, Akan tetapi, Kim Hun Tokouw cepat- cepat menggerakkan selendangnya, Tampak selendang itu melayang bergelombang-gelombang penuh mengandung tenaga lunak ke arah senjata Kuang Ti Taysu, lalu melilit senjata tersebut

Kuang Ti Taysu membentak keras menarik senjata-nya. Perlu diketahui Kuang Ti Taysu berasal dari India, sejak kecil sudah jadi Hweeshio, namun sifat dan wataknya begitu kasar, maka diusir oleh gurunva.

Sejak itu ia mulai berkelana dan entah sudah berapa banyak kuil yang ia masuki, tapi tidak pernah bisa bertahan lama sebab selalu diusir lantaran silat dan wataknya yang kasar itu.

Akhirnya ia memasuki perbatasan Han (Cina), dan tanpa sengaja menemukan Kuil Ceh Yun Si yang sudah tua.

Sungguh di luar dugaannya, di dalam kuil itu ia menemukan sebuah kitab pelajaran silat peninggalan Tatmo (Darmo), Mulailah ia belajar dengan tekun, dan sepuluh tahun kemudian, barulah ia berhasil mempelajari habis kitab tersebut, sehingga dirinya memiliki kepandaian tinggL Karena itu, ia pun menetap di Kuil Ceh Yun Si di gunung Tay Pah San.

Kim Hun Tokouw mempertahankan selendangnya ketika Kuang Ti Taysu menarik, selendang itu bukan selendang biasa, sebab selendang tersebut terbuat dari semacam bahan yang istimewa, Kalau tidak, pasti sudah putus terbetot oleh tenaga Kuang Ti Taysu yang amat kuat itu.

"Kurang ajar!" bentak Kuang Ti Taysu, "Aku sudah ke mari, tapi engkau masih duduk diam di tempati Ayoh, cepat bangun!"

Kuang Ti Taysu membetot lagi sekuat tenaga, tapi Kim Hun Tokouw tetap mempertahankan selendangnya, Oleh karena itu, terjadilah adu Lweekang, Kuang Ti Taysu memiliki Lweekang keras, sedangkan Kim Hun Tokouw memiliki Lweekang lunak, dua macam Lweekang itu memang berlawanan

Biar bagaimanapun Kim Hun Tokouw adalah wa-nita, maka lama kelamaan ia mulai merasa nafasnya sesak, Walau demikian, ia tetap mempertahankan selendang dan posisi duduknya.

Tiba-liba Kuang Ti Taysu membentak keras sambil menambah tenaganya, Selendang yang lembut itu pun berubah keras, akhirnya Kim Hun Tokouw terangkat ke atas dari tempat duduknya.

"Ha ha ha!" Kuang Ti Taysu tertawa gelak.

Akan tetapi, pada waktu bersamaan Kim Hun Tokouw pun bersalto ke arah Kuang Ti Taysu, bahkan sekaligus menyerangnya.

Ketika melihat Kim Hun Tokouw sudah terangkat ke atas, Kuang Ti Taysu sudah merasa puas, ia orang kasar dan polos, sama sekali tidak punya akal busuk, Karena itu, ia tidak menyangka kalau Kim Hun Tokouw akan menyerangnya begitu mendadak

Lagi pula Kim Hun Tokouw menyerangnya dengan Pit Sau Ciang (Pukulan Beracun), tampak kelabakan Kuang Ti Taysu berkelit Mendadak Kuang Ti Taysu menyambitkan senjatanya ke arah Kim Hun Tokouw, agar dia tidak melancarkan serangan Iagi. Benar! Sebab Kim Hun Tokouw terpaksa meloncat ke samping menghindari senjata aneh itu.

Blammm! Senjata itu menghantam dinding, dan seketika itu juga dinding itu hancur

sedangkan Kuang Ti Taysu dapat menyelamatkan diri, akan tetapi mendadak selendang itu melayang ke arahnya lagi. Betapa gusarnya Kuang Ti Taysu, ia membentak keras sambil melancarkan sebuah puku!an.

Kim Hun Tokouw berkelit dan tampak gusar bukan main, ia pun tidak habis berpikir, bagaimana cara Giok Siauw Sian Cu dan Kuang Ti Taysu memasuki Pit Sia Kiong.

Tiba-tiba Kim Hun Tokouw bersiul panjang, yang membuat Kuang Ti Taysu me!ongo.

"Lam Kiong Siu, pereuma engkau pergunakan akal busuk, itu tiada gunanya!" bentaknya mengguntur

Sebelum suara siulan Kim Hun Tokouw hilang, mendadak ruangan itu berubah gelap, tentunya membuat Kuang Ti Taysu tereengang.

"Hati-hati Taysu!" seru Bee Kun Bu memperingat-kannya. "Rahib wanita itu sangat licik!"

sementara ruangan itu bertambah gelap, sedangkan Kim Hun Tokouw sudah tidak kelihatan lagi, itu membuat Kuang Ti Taysu berseru-seru.

"Hei! Wanita jalang, mau menggunakan akal busuk apa lagi?"

Walau Kuang Ti Taysu berseru berulang kali, namun tetap tiada sahutan, Bee Kun Bu segera mendekatinya, lalu berkata serius.

"Taysu! Kita harus berdiri dengan punggung menghadap punggng, hati-hati menghadapi segala kemung-kinan."

"Betul," Kuang Ti Taysu mengangguk Giok Siauw Sian Cu juga menghampiri mereka, kemudian ia menyerahkan Gin Tie Suseng pada Kuang Ti Taysu.

"Keledai gundul! jaga muridmu ini!" ujarnya. "Dasar wanita sialan!" Caci Kuang Ti Taysu sambil

menerima Gin Tie Suseng, sedangkan Giok Siauw Sian Cu

cuma tertawa.

Julukannya adalah Gin Tie Suseng, tentunya mahir menggunakan suling perak kan? Setelah keluar dari sini, aku harus minta pelajarannya," ujar Giok Siauw Sian Cu sungguh- sungguh.

"Ha ha!" Kuang Ti Taysu tertawa gelak, "Muridku adalah Gin Tie Suseng, engkau adalah Giok Siauw Sian Cu! Wuah! Kalian berdua memang merupakan pasangan yang cocok!"

"Phui!" Giok Siauw Sian Cu meludah. "Engkau adalah seorang Hweeshio, kok boleh berkata begiiu?"

"Ha ha!" Kuang Ti Taysu tertawa terbahak-bahak. "Yang penting di dalam hatiku terdapat Buddha, maka aku tidak mau berpura-pura jadi Hweshio yang cuma tampak suci. Karena itu, aku mau kata apa langsung mencetuskannya, bahkan juga tidak pantang makanan."

Padahal saat ini sedang menghadapi bahaya, tapi Kuang Ti Taysu masih terus bergurau, itu membuat kening Bee Kun Bu berkerut

"Sudahlah Taysu!" ujar Bee Kun Bu. "Jangan terus bergurau, kita masih dalam bahaya,"

"Justru itu harus bergurau, agar tidak terlampau tegang," sahut Kuang Ti Taysu dan tertawa lagi.

"Kakak!" Bee Kun Bu mengarah pada Giok Siauw Sian Cu. "Di dalam Pit Sia Kiong ini banyak terdapat jebakan-jebakan yang sulit diduga, lagi pula Kim Hun Tokouw sangat licik, Ditambah Souw Peng Hai dan Co Hiong, maka kita tidak boleh bertindak ceroboh." "Adik Bee!" Giok Siauw Sian Cu tersenyum "Aku tahu itu, tapi kini kita sudah terkurung di sini, jadi kita pun tidak perlu panik,"

"Benar." Bee Kun Bu mengangguk "Ohya, kok Ka-kak bisa ke mari?"

"Panjang sekali kalau dituturkan." Giok Siauw Sian Cu menarik nafas panjang, "Aku ke mari lantaran didesak oleh adik Ceng Loanmu itu."

"Kakak. " Bee Kun Bu terperanjat "Dia gadis polos dan

tahu diri, bagaimana mungkin dia mendesakmu?"

"Tuuuh!" Giok Siauw Sian Cu tersenyum. "Aku belum menjelekkannya, engkau sudah tampak tidak senang, Dasar. "

"Kakak. " Muka Bee Kun Bu memerah, "Jangan

bereanda!"

"Adik Bee!" Giok Siauw Sian Cu menarik nafas, "Bagaimana mungkin aku bereanda denganmu? Sejak engkau pergi, dalam waktu dua bulan adik Ceng Loan tampak biasa dan baik-baik saja, Namun dua bulan ke-mudian, dia pun berubah. "

"Berubah bagaimana?" tanya Bee Kun Bu cemas.

"Setiap hari berdiri di depan gua seperti kehilangan sukma, bahkan sering bergumam pula," jawab Giok Siauw Sian Cu.

"Dia bergumam apa?"

"Dia bergumam "Kakak Kun Bu sudah mau pulang, Kakak Kun Bu sudah mau pulang", dia sering bergumam begitu, sedangkan Na Siao Tiap, walau terus diam saja, tapi hatinya justru telah mengikutimu pergi, Akhirnya adik Loanmu mendesakku pergi mencarimu." Giok Siauw Sian Cu memberitahukan Bee Kun Bu memang tahu, Lie Ceng Loan pasti merindukannya, karena sudah lama ia meninggalkan gua Thian Kie Cinjin, Yang membuatnya kacau, yaitu Na Siao Tiap, sebab gadis itu pun merindukannya.

"He he he!" Tiba-tiba terdengar suara tawa yang terkekeh, itu suara tawa Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu.

seketika juga mereka berempat merasa tegang, setelah suara tawa itu hilang, hening pula suasana di ruangan tersebut, namun tetap gelap gulita.

Bee Kun Bu yakin, Kim Hun Tokouw pasti punya suatu rencana busuk untuk menghadapi mereka berempat maka ia selalu waspada, Berselang beberapa saat kemudian, mendadak Kuang Ti Taysu berteriak keras.

"Lam Kiong Siu! Kalau engkau punya akal busuk, cepatlah pergunakan! jangan cuma menyembunyikan diri!"

sementara Giok Siauw Sian Cu diam saja, Wanila itu sangat berpengalaman dibandingkan yang lain, Kelika ruangan itu berubah gelap, ia sudah tahu ada sesuatu yang tak beres, Dengan kekuatan mereka berempat, memang sulit untuk menerjang ke luar, Oleh karena itu, ia pun memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkan diri.

"Hei! Keledai gundul! jangan terus berteriak-teriak!" tegur Giok Siauw Sian Cu.

"Kenapa aku tidak boleh berteriak?" Kuang Ti Taysu penasaran "Aku berteriak agar dia mau keluar bertarung dengan kita."

"Huh! Dasar keledai gundul yang tak punya otak!" Caci Giok Siauw Sian Cu dan melanjutkan "Dia mundur karena merasa tidak kuat melawan kita, bagaimana mungkin dia mau keluar lagi?"

Saat ini yang paling cemas adalah Bee Kun Bu, sebab ia masih ingat akan Pek Yun Hui yang kehilangan jejak itu. Ketika melihat mereka berdua berdebat, ia pun menarik nafas seraya berkata.

"Kalian berdua jangan terus-menerus berdebat alangkah baiknya kita berunding harus dengan cara apa menerjang ke luar."

"Benar." Kuang Ti Taysu tertawa.

Hweeshio tua itu langsung mengepit Gin Tic Suseng, kemudian memungut senjatanya dan melangkah menuju pintu. Ketika ruangan itu berubah gelap, pintu di tempat itu pun tertutup.

Akan tetapi, ingatan Kuang Ti Taysu sangat kuat, Hweeshio tua itu masih ingat berada di arah mana pintu tersebut

Begitu Kuang Ti Taysu berjalan ke dinding tempat pintu iiu, Bee Kun Bu pun langsung mengikutinya Namun mendadak ada sebuah tangan lembut menarik-nva. tentunya amat mencengangkan Bee Kun Bu.

"Kakak. "

Ternyata yang menariknya Giok Siauw Sian Cu, dan cepat-cepat wanita itu berbisik.

"Adik Bee, kalau pintu itu dapat diterjang, cukup keledai gundul itu seorang diri saja, seandainya tidak bisa terbuka, kenapa engkau harus ikut menempuh bahaya?"

Bee Kun Bu mengerutkan kening, Mereka sama-sama terkurung di ruangan ini, maka kalau ada bahaya juga harus menghadapinya bersama, itu yang dikehendaki Bee Kun Bu.

Pada waktu bersamaan, Kuang Ti Taysu sudah mengayunkan senjatanya ke dinding sekuat tenaga sambil membentak

"Walau ini dinding baja, aku pun harus menghancur- kannya!"

Blammm! Terdengar suara benturan keras. Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu berdiri agak jauh dari situ, sama sekali tidak tahu bagaimana hasil hantaman itu.

Mereka berdua pun tidak bisa melihat dengan jelas, sebab ruangan itu sangat gelap.

Tak lama kemudian suara benturan itu sirna, tetapi tidak terdengar suara Kuang Ti Taysu, Tersentaklah hati Bee Kun Bu dan ia pun langsung bertanya.

"Taysu berada di mana? Taysu. "

Tiada sahutan, maka Bee Kun Bu jadi cemas sekali, lalu bertanya pada Giok Siauw Sian Cu.

"Kak! Apa yang terjadi atas diri Taysu itu?" "Adik Bee!" jawab Giok Siauw Sian Cu tenang,

"Kelihatannya keledai gundul itu memang telah terjadi sesuatu, sebab banyak jebakan di dalam Pil Sia Kiong ini."

"TapL, bukankah Taysu dan Gin Tie Suseng belum meninggalkan ruangan ini?"

Bee Kun Bu ingin melangkah ke dinding itu, tapi Giok Siauw Sian Cu segera menarik langannya, bahkan kemudian memeluknya, sehingga amat mengejutkan Bee Kun Bu.

"Eh? Kakak kenapa. ?"

"Hi hi!" Giok Siauw Sian Cu tertawa, "Adik Bee, engkau masih muda dan tampan seka!i. Entah berapa banyak anak gadis yang jatuh hati padamu? sedangkan aku tidak mendapat tempat di dalam hatimu, Tapi bisa mati bersamamu, itu sungguh menggembirakan."

Bee Kun Bu terheran-heran, ia tidak mengerti kenapa Giok Siauw Sian Cu mengeluarkan ucapan yang bernada putus asa?

"Kak!" Bee Kun Bu mendorongnya perlahan, "Jangan berpikir begitu!"

Setelah mengetahui Kuang Ti Taysu dan muridnya hilang begitu saja, maka Giok Siauw Sian Cu pun yakin mereka berdua tidak akan bisa meninggalkan Pit Sia Kiong ini. Oleh karena itu ia pun tertawa ringan.

"Adik Bee, aku memang harus gembira," sahutnya.

Bee Kun Bu tidak tahu harus bagaimana, sebab ia tahu bagaimana perasaan Giok Siauw Sian Cu terhadapnya itu membuatnya diam saja.

"Adik Bee!" ujar Giok Siauw Sian Cu lembut "Apa-kah engkau masih ingat ketika kita ke cabang Partai Thian Liong, di tengah jalan kita terjebak di dalam telaga lumpur sehingga nyawa kita nyaris melayang? Engkau masih ingat tentang itu?"

"lngat." Bee Kun Bu mengangguk "Pada waktu itu, kakaklah yang menolong diriku."

"Adik Bee. " Giok Siauw Sian Cu menarik nafas panjang,

"Kali ini kakak tidak bisa menolong dirimu lagi." Bee Kun Bu diam saja.

"Adik Bee, kakak bisa mati bersamamu, itu sungguh menggembirakan hatiku, Kalau engkau tidak pereaya, aku akan meniupkan sebuah lagu untukmu, dengar."

Bagaimana mungkin Bee Kun Bu saat ini akan menikmati suara suling Giok Siauw Sian Cu? Sebelum ia menyahut, Giok Siauw Sian Cu sudah mulai meniup sulingnya.

Mula-mula suara suling itu memang bernada gem-bira, namun berselang sesaat, berubah sedih memilukan hati.

Tanpa sadar air mata Bee Kun Bu pun berIinang-linang, lama sekali barulah ia berkata.

"Sudahlah Kak, jangan kau tiup lagi suling itu!"

Giok Siauw Sian Cu berhenti lalu menarik nafas panjang dan berkata perlahan-lahan.

"Adik Bee, kalau engkau menyuruhku meniup iagi, aku pun sudah tidak sanggup lagi." Suara Giok Siauw Sian Cu agak serak. Bee Kun Bu tahu bahwa saat ini hati Giok Siauw Sian Cu amat berduka.

"Kak, kita tidak bisa diam saja," ujar Bee Kun Bu. "Kita harus memikirkan jalan keluarnya."

"Adik Bee!" sahut Giok Siauw Sian Cu. "Diamlah kau di sini, aku akan coba menerjang!"

"Kak!" Bee Kun Bu tertawa, "Hingga saat ini Kakak masih tidak tahu bagaimana perlakuanku terhadap orang?"

"Aku tahu, namun tidak menghendakimu ikut menempuh bahaya," sahut Giok Siauw Sian Cu.

"Kak, aku tahu maksud baikmu, tapi ada bahaya harus kita hadapi bersama," ujar Bee Kun Bu.

Giok Siauw Sian Cu diam saja, tapi mendadak ia melesat pergi, Betapa terkejutnya Bee Kun Bu, ia cepat-cepat menyambar tangan Giok Siauw Sian Cu, namun tak berhasil

"Kakak! Kakak.,.!" teriaknya.

Akan tetapi, tidak terdengar suara sahutan sama seka!i. Bee Kun Bu tertegun, kemudian mengayunkan pedangnya dengan gerakan kilat melesat pergi. Tiba-tiba ia mencium semacam bau wangi aneh. Bee Kun Bu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres, maka cepat-cepatlah menutup pernafasannya, dan sekaligus memutar pedangnya dengan tiga jurus beruntun mengarah ke kiri dan ke kanan, lalu menerjang ke depan.

Namun tadi ia sudah terlambat menutup pernafasannya, sehingga tersedot juga bau wangi aneh itu. Pada gerakan ke tiga, ia sudah merasa sekujur badannya tidak bertenaga, Setelah itu ia pun terkulai dan merasa mengantuk sekali, Kini ia baru tahu, apa yang dialaminya pasti seperti apa yang dialami Kuang Ti Taysu, Gin Tie Suseng dan Giok Siauw Sian Cu.

Sudah tiada waktu baginya yang berpikir, sebab ia telah tertidur, sedangkan ruangan itu tetap gelap gulita. *****

Bab ke 26 - Pek Yun Hui Muncul

Ruangan tersebut masih tetap gelap, bahkan sunyi senyap, tak terdengar suara apa pun. Namun sesekali justru terdengar suara dengkuran, Tak seberapa lama kemudian terdengarlah suara tawa yang terbahak-bahak, yaitu suara tawa Souw Peng Hai.

"Lam Kiong Siu! Engkau memang sungguh hebat!" Terdengar pula suaranya.

"Jangan terlampau memuji!" sahut Kim Hun Tokouw dingin.

Kraaak! Terdengar suara dinding bergerak.

Kim Hun Tokouw, Souw Peng Hai dan Co Hiong melangkah memasuki ruangan yang masih gelap gulita itu. Mendadak Kim Hun Tokouw mengayunkan tangannya ke atas mengarah pada lampu kristal yang bergantung di situ.

Seketika juga lampu tersebut menyala, membuat ruangan itu jadi terang benderang, Tampak empat orang tergeletak di lantai Mereka adalah Kuang Ti Taysu, Gin Tie Suseng, Giok Siauw Sian Cu dan Bee Kun Bu. Keempat orang itu kelihatannya tidur pulas, Menyaksi-kan keadaan itu, wajah Souw Peng Hai langsung berseri, sedangkan Co Hiong tertawa gembira sambil mendekati Bee Kun Bu.

"Saudara Bee, engkau dalam tidur menuju ke alam baka, Aku sungguh merasa iri padamu," ujar Co Hiong sambil menghunus pedangnya, lalu menusuk tenggorokan Bee Kun Bu.

Saat ini, Bee Kun Bu sama sekali tidak bisa bergerak dan dalam keadaan tak sadar, bagaimana mungkin ber-kelit?

Ketika Co Hiong menusuk, berarti nyawa Bee Kun Bu berada di ujung tanduk, Namun mendadak Co Hiong malah tertawa gelak sambil menghentikan pedangnya. "Saudara Bee, engkau begitu tampan, pantas banyak anak gadis tergila-gilapadamu! Haha! Aku menghendaki adik Loanmu tahu kalau engkau akan berubah jadi apa!"

Co Hiong menggerakkan pedangnya, Tampak pedang itu membentuk belasan bulatan mengarah pada wajah Bee Kun Bu.

itu adalah jurus Lian HoanKiuSiau(SembilanKunei Beruntun), Kalau wajah Bee Kun Bu terkena serangan tersebut, tentu tidak akan menyerupai wajah manusia lagi.

Souw Peng Hai mengerutkan kening menyaksikan tindakan murid kesayangannya itu, ia memang sangat membenci Bee Kun Bu, maka tidak mencegah perbuatan Co Hiong.

"Berhenti, Co Hiong!" bentak Kim Hun Tokouw dingin.

Co Hiong tertegun mendengar suara bentakan itu, lalu menghentikan pedangnya.

Mereka berdua guru dan murid mengunjungi gunung Taysan (Altai), tidak lain bertujuan meminjam tangan Kim Hun Tokouw untuk membasmi sembilan partai besar di Tionggoan, berikut orang-orang di Kwat Cong San.

Oieh karena itu, mereka masih tidak berani melakukan suatu kesalahan terhadap Kim Hun Tokouw.

"Nanti engkau akan tahu rasa!" ujar Co Hiong dalam hati.

Akan tetapi, wajahnya justru berseri ia membalikkan badannya seraya berkata pada Kim Hun Tokouw.

"Apakah Tokouw khawatir Sumoynya akan berduka menyaksikannya maka menyuruhku jangan merusak wajahnya ?"

"Engkau cukup berhenti!" sahut Kim Hun Tokouw dingin, "Tidak perlu banyak bertanya!"

Betapa gusarnya Co Hiong, tapi wajahnya justru bertambah berseri menawan hati, Ketika ia baru mau membuka muIut, Souw Peng Hai telah mendahuluinya, sebab ia tahu apabila muridnya terus beidebat dengan Kim Hun Tokouw, pasti akan menimbulkan hal-hai yang tak enak.

"Anak Hiong jangan banyak bicara Tokouw sudah punya rencana, janganlah engkau merusak :encanjnya!" ujar Souw Peng Hai.

"Ya, Guru," jawab Co Hiong sambil leisenyum, lalu mundur ke sisi Souw Peng Hai. sedangkan Kim Hun Tokouw sudah duduk di kursi batu pualam.

"Mereka berempat sudah terkena Kiu Tian Hiang (Semacam obat tidur)," ujar Kim Hun Tokouw memberitahukan, "Tiga jam kemudian, mereka berempat akan sadar Maka sebelumnya mereka harus dikurung di ruang rahasia, lalu tiupkan Cien Meh San (Racun Pelemah Tubuh) ke dalam hidung mereka, jadi kalau pun sadar, mereka tetap tidak bisa bergerak sama sekali."

"Ooooh!" Souw Peng Hai manggut-manggut.

Kim Hun Tokouw bertepuk tangan tiga kali, dan tak lama tampaklah delapan anak gadis memunculkan diri.

"Gotong mereka ke ruang rahasia!" perintah Kim Hun Tokouw.

"Ya," sahut delapan gadis itu serentak, Ketika mereka baru mau menggotong ke empat orang itu, mendadak muncul dua gadis dengan sikap gugup.

"Kiong Cu!" Lapor ke dua gadis itu, "Di luar ada seseorang ingin bertemu Kiong Cu."

Kim Hun Tokouw mengibaskan tangannya, delapan gadis itu langsung pergi, Setelah delapan gadis itu pergi, barulah Kiong Cu itu bertanya.

"Siapa orang itu?" "Dia. " Ketika dua gadis itu baru mau menjawab,

mendadak berkelebat sosok bayangan memasuki ruangan itu.

Cepatnya laksana kilat, sehingga tidak bisa dilihat jelas, Setelah sosok bayangan itu melesat ke dalam, tampak pula dua buah benda meluncur secepat kilat ke arah Kim Hun Tokouw.

Saking cepatnya membual Kim Hun Tokouw tidak bisa melihat benda apa itu, Karena benda itu mengarah padanya, maka tanpa berpikir lagi ia langsung melancarkan sebuah pukulan pada ke dua benda yang meluncur datang itu.

"Aaaakh. " Terdengar suara jeritan yang memilukan,

ternyata jeritan dua orang lelaki, penjaga di terowongan rahasia, Kedua penjaga itu telah mati dengan tubuh tidak utuh terkena pukulan Kim Hun Tokouw.

Seketika juga Souw Peng Hai dan Co Hiong tahu bahwa tempat itu telah kedatangan musuh yang tangguh, Co Hiong segera mengibaskan tangannya, tampak tiga buah gelang emas meluncur ke arah bayangan itu.

Trang! Trang! Trang! Terdengar suara benturan, tiga buah gelang emas itu terpental jatuh.

"Sambut seranganku!" bentak Souw Peng Hai sambil menyerang ke arah bayangan itu dengan tongkat berkepala naga, Yang dikeluarkannya adalah jurus San Peng Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak).

Saat ini, pendatang itu telah berada di sisi Bec Kun Bu yang menggeletak di tantai, Tampak sinar pedang berkelebat menangkis serangan Souw Peng Hai, dan seketika juga terdengar suara senjata beradu, Souw Peng Hai dan pendatang itu masing-masing mundur selangkah

Tersentak hati Souw Peng Hai, karena orang itu mampu menyambut serangannya yang sangat dahsyat Souw Peng Hai segera menegasi orang itu, ternyata seorang gadis cantik jelita, namun wajahnya penuh diliputi kegusaran Siapa gadis itu? Tidak lain adalah Pek Yun Hui.

Setelah termundur selangkah Pek Yun Hui pun mengeluarkan suara siulan panjang. Sebelum suara siulannya hilang, sudah tampak sosok bayangan yang amat besar meluncur ke dalam.

Bukan main cepatnya, bahkan sekaligus mencengkeram Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, kemudian meluncur keluar lagi secepat kilat.

Pada waktu bersamaan, Pek Yun Hui juga membentak ringan sambil menggerakkan pedangnya, Tampak sinar pedang berkelebatan mengelilingi badannya, lalu mendadak meluncur pergi

"Gampang datang sulit pergi!" bentak Kim Hun Tokouw. Seketika juga muncul delapan gadis menghadang di pinlu,

Tangan mereka memegang sebatang besi kosong.

Ketika delapan gadis itu muncul Pek Yun Hui sudah melesat sampai di pintu, Terdengarlah dua kali jeritan, tampak dua gadis terkulai bermandikan darah.

Yang mencengkeram Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu adalah Hian Giok, si Bangau Sakti, Hian Giok mengibaskan sepasang sayapnya, seketika juga dua gadis terpental Hian Giok lalu meluncur pergi, begitu pula Pek Yun Hui. Dalam waktu sekejap, mereka sudah meninggalkan Pit Sia Kiong.

Kim Hun Tokouw bangkit berdiri, tapi kemudian kembali duduk sambil tertawa, Dipandangnya Souw Peng Hai seraya bertanya.

"Gadis yang barusan datang itu adalah salah satu wanita dari gunung Kwat Cong San?"

"Betul." Souw Peng Hai mengangguk "Dia adalah Pek Yun Hui!" Pek Yun Hui datang dan pergi secara mendadak, bahkan juga berhasil membawa pergi Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu, sekaligus melukai beberapa pelayan Kim Hun Tokouw, Ilu pertanda dia berkepandaian tinggi selalu

"Oooh!" Kim Hun Tokouw manggut-manggut. "Ternyata dia Pek Yun Hui!"

sementara Co Hiong pergi memungut tiga buah gelang emasnya, Kim Hun Tokouw menatapnya seraya berkata.

"Apa yang pernah kau katakan, memang benar se-kali." "Maksud Tokouw?" tanya Co Hiong sambil tersenyum.

"He he!" Kim Hun Tokouw tertawa terkekeh "Pek Yun Hui memang berkepandaian amat tinggi, namun dia tidak berakal panjang, Tidak sampai tiga hari, dia pasti membawa Bee Kun Bu ke mari."

"Oh?" Souw Peng Hai tereengang, "Kenapa bisa begitu?" "ltu karenanya aku membiarkan dia pergi, tapi nanti dia ke

mari lagi, Dia akan tahu kelihayan Pit Sia Kiong ini," sahut Kim

Hun Tokouw.

"Kenapa Tokouw mengatakan Pek Yun Hui akan membawa Bee Kun Bu ke mari tiga hari kemudian?" tanya Co Hiong mendadak

"Apakah orang luar bisa tahu kelihayan Pit Sia Kiong?" sahut Kim Hun Tokouw seakan tidak mau memberitahukan secara terus terang.

Souw Peng Hai dan Co Hiong saling memandang, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"Kiu Tian Hiang (Obat Tidur) itu dibikin dari sembilan jenis racun. Siapa yang terkena Kiu Tian Hiang itu, pasti tak sadarkan diri." ujar Kim Hun Tokouw sambil tersenyum

"Bukankah tadi Tokouwsudah bilang, bahwa tiga jam kemudian mereka akan tersadar?" tanya Co Hiong. "Tidak salah, tiga jam kemudian mereka akan ter-sadar," jawab Kim Hun Tokouw menjelaskan "Akan tetapi, sepasang kaki mereka tetap tidak bisa bergerak, kecuali makan obat penawar racun dariku." .

"Oooh!" Souw Peng Hai tampak gembira sekali.

"Kalau begitu, Pek Yun Hui pasti akan ke mari minta obat tersebut kan?"

"Kalau tidak, Bee Kun Bu pasti lumpuh seumur hidup," sahut Kim Hun Tokouw sambil tersenyum, "Bagus!" seru Co Hiong sambil tertawa girang, Kim Hun Tokouw bertepuk tangan tiga kali, lalu muncullah beberapa anak gadis. Kim Hun Tokouw segera perintahkan mereka menggotong Kuang Ti Taysu dan Gin Tie Suseng ke ruang rahasia.

Pek Yun Hui dan Bangau Sakti telah berada di sebuah lembah. Begitu Pek Yun Hui bersiul, Hian Giok segera berhenti terbang dan turun ke bawah, Setelah itu, dengan hati- hati sekali menaruh Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu ke bawah.

Tak seberapa lama kemudian, muncullah seorang gadis dengan langkah sempoyongan, dan wajahnya tampak pucat pias.

"Nona Pek. " Gadis itu menggenggam tangan Pek Yun

Hui erat-erat. "Akhirnya Kun Bu tertolong juga. Tapi... dia. dia

sudah terkena racun Kiu Tian Hiang. "

"Siauw Yun, akan bagaimana setelah terkena racun itu?" tanya Pek Yun Hui.

Ternyata gadis itu Siauw Yun. Dia yang menunjukkan jalan untuk menolong Gin Tie Suseng yang terkui ung di ruang bawah ianah.

Gadis itu tahu, bahwa Kim Hun Tokouw pasti membunuhnya, maka ia menelan racun, Akan tetapi, betapa terkejutnya Siauw Yun ketika tahu Bee Kun Bu sudah tertangkap dan akan ditukar dengan kitab Kui Goan Pit Cek milik dua wanita di Kwat Cong San.

Siauw Yun sudah tahu Pek Yun Hui berada di Taysan, maka timbullah niatnya mencarinya untuk menolong Bee Kun Bu. Akan tetapi, Taysan sedemikian luas, gadis itu harus mencari ke mana?

Namun demi keselamatan Bee Kun Bu, Siauw Yun pun bertekad mencari Pek Yun Hui. Oleh karena itu, ia segera meninggalkan Pit Sia Kiong, sebab kebetulan Kim Hun Tokouw menyuruhnya pergi mengurusi sesuatu, maka ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari Pek Yun HuL

ia pun tahu bahwa nyawanya cuma tinggal tiga jam. Kalau dalam waktu tiga jam tidak menemukan Pek Yun Hui, ia pasti mati dan Bee Kun Bu pun tidak dapat diselamatkan

Akhirnya ia sampai di sebuah lembah, Tampak seorang gadis berbaju putih duduk di atas batu sambil melamun Begitu melihat gadis itu, Siauw Yun bersorak kegirangan dalam hati,, karena ia yakin bahwa gadis baju putih itu adalah Pek Yun Hui.

"Nona.,.!" serunya sambil menghampiri gadis berbaju putih itu, "Apakah Nona marga Pek?"

Gadis berbaju putih itu menoleh. Tampak air matanya meleleh membasahi pipinya yang putih mulus.

"Apakah Kakak adalah Pek Yun Hui?" tanya Siauw Yun. "Betu!." Gadis berbaju putih itu mengangguk "Aku adalah

Pek Yun Hui."

"Syukurlah Kakak adalah Pek Yun Hui!" Siauw Yun langsung menggenggam tangannya eral-erat, "Kakak Pek, Bee siauhiap terjebak di dalam Pit Sia Kiong, Kakak harus segera pergi menolongnya!"

"Engkau bilang apa? Engkau bilang siapa?" tanya Pek Yun Hui cepat "Bee siauhiap adalah Bee Kun Bu, dia terjebak di dalam Pit Sia Kiong, Aku bernama Siauw Yun. Kakak Pek, cepatlah pergi menolongnya! Dari sini menuju ke utara, setelah melewati jalan kecil yang penuh batu tajam Kakak Pek pasti sudah sampai."

Pek Yun Hui tidak banyak bertanya lagi, ia langsung bersiul panjang, dan seketika juga terdengar pekikan yang amat keras, yaitu suara pekikan Hian Giok.

Ternyata Pek Yun Hui menunggang Hian Giok itu menuju ke Pit Sia Kiong, Setelah itu ia pun berhasil menolong Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu.

Kini Siauw Yun mengatakan bahwa Bee Kun Bu terkena racun Kiu Tian Hiang, maka cemaslah hati Pek Yun Hui.

"Siauw Yun!" Pek Yun Hui memegangnya, karena Siauw Yun hampir terkulai

"Tiga jam kemudian, Bee siauhiap... akan sadar Tapi. "

Mendadak kepala Siauw Yun terkulai Gadis yang penuh cinta kasih murni itu telah mati, namun wajahnya tampak berseri Mungkin ia sangat girang di saat terakhir masih dapat melihat Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui memandang mayat Siauw Yun dengan mata basah, Siauw Yun cuma bilang tiga jam kemudian Bee Kun Bu akan sadar, tapi tidak keburu memberitahukan tentang yang lain, maka Pek Yun Hui tid,ik mengetahuinya.

Kemalian Siauw Yun juga sangat mengherankan Pek Yun Hui, kenapa gadis itu mati mendadak? Ternyata Pek Yun Hui sama sekali tidak tahu bahwa Siauw Yun telah menelan racun.

Pek Yun Hui menggali sebuah lubang dengan pedangnya, kemudian mengubur mayat Siauw Yun di situ.

Setelah itu ia duduk sambil menunggu Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu sadar

Saat ini, hari sudah mulai menjelang senja, pemandangan di lembah itu sangat indah, tapi Pek Yun Hui tidak menikmati keindahan alam di sekitarnya, melainkan terus duduk melamun dengan wajah murung, Kelihatannya Pek Yun Hui berduka sekali dalam hati. ia berduka bukan karena memikirkan keadaan Bee Kun Bu atau Giok Siauw Cu, sebab ia sudah tahu, tiga jam kemudian mereka akan sadar Kalau begitu, kenapa Pek Yun Hui tampak begitu berduka?

Ternyata ada suatu kenangan yang membuatnya berduka, Namun tiada seorang pun tahu dalam hatinya tersimpan suatu kenangan apa.

sementara hari pun sudah mulai gelap, tak seberapa lama kemudian, bulan pun mulai menampakkan diri, sehingga lembah itu kelihatan agak terang. sedangkan Pek Yun Hui tetap duduk di situ tak bergerak sama sekali.

Tampak dua baris air mata mengalir turun dari matanya, saat ini hati Pek Yun Hui tereekam rasa duka yang tak terhingga.

Tidak sampai tiga jam, Bee Kun Bu sudah tersadar itu karena racun yang disedotnya tidak begitu banyak, maka lebih cepat tersadar dari pada Giok Siauw Sian Cu.

Setelah sadar ia sama sekali tidak merasa tersiksa, hanya saja merasa sekujur badannya tak bertenaga. Dan ia pun terbelalak sebab dirinya berada di dalam lembah itu.

"Eh'" gumamnya heran. "Kok aku bisa berada di lembah ini?"

Kemudian ia pun ingat apa yang telah terjadi atas dirinya di dalam istana Pit Sia Kiong, Setelah itu ia bangun duduk, dan di saat itulah ia melihat Pek Yun Hui. Betapa girangnya Bee Kun Bu.

"Kakak Pek! Kakak Pek! Kakak Pek!" panggilnya sampai beberapa kail Ketika menyaksikan Pek Yun Hui duduk melamun dengan air mata berderai, hati Bee Kun Bu merasa berduka sekali. Ia mengira Pek Yun Hui mengucurkan air mata lantaran mengkhawatirkan dirinya yang tak sadarkan diri, maka ia pun bergumam dalam hati.

"Bee Kun Bu! Bee Kun Bu! Beberapa gadis penuh cinta kasih terhadapmu, harus bagaimana engkau terhadap mereka kelak ?" Akhirnya ia menarik nafas pan-jang, lalu berkata pada Pek Yun Hui dengan suara rendah, "Kakak Pek, apakah Kakak Pek yang menolongku dari Pit Sia Kjong?"

Akan tetapi, Pek Yun Hui diam saja. Tentunya hal itu mencengangkan Bee Kun Bu dan bertanya-tanya dalam hati, sekarang aku sudah sadar Kalau dia mengkhawatirkan diriku, pasti bergirang setelah aku sadar Tapi kenapa dia diam saja seakan tidak mendengar suaraku? Apakah di dalam hatinya terganjel suatu masalah lain?

Tiba-tiba Bee Kun Bu teringat sesuatu, yakni Pek Yun Hui mendadak kehilangan jejak di gunung Taysan ini. Apakah ada kaitannya dengan kedukaannya ini?

Bee Kun Bu pun masih ingat, bahwa setelah bertemu Pek Yun Hui di gunung Kwat Cong San, kemudian mereka pun menjadi teman baik. Namun Pek Yun Hui begitu mislerius. ia cuma tahu bahwa Pek Yun Hui adalah Lan Tay Kong Cu, putri kaisar yang dibawa pergi oleh Na Hai Peng dari istana ke Kwat Cong San.

Setelah Pek Yun Hui berada di Kwat Cong San dan apa yang terjadi, Bee Kun Bu sama sekali tidak tahu.

sementara Pek Yun Hui masih tetap duduk mematung dengan air mata berderai-derai, sedangkan Bee Kun Bu terus memandangnya dengan mata terbelalak

Berselang beberapa saat kemudian, Giok Siauw Sian Cu pun tersadar dan langsung bangun duduk, Ketika melihat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui duduk mematung sambil melamun, tereenganglah Giok Siauw Sian Cu. "Adik Bee, Nona Pek! Kenapa kalian?" tanyanya heran.

Suara yang agak keras itu membuat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui tersentak, dan seketika juga Bee Kun Bu bertanya pada Pek Yun Hui.

"Kakak Pek kenapa terus duduk melamun?"

Pek Yun Hui segera menyeka air matanya, setelah itu barulah menyahut dengan suara rendah.

"Oh! Kalian berdua sudah sadari"

"Kakak Pek tahu kami akan sadar?" tanya Bee Kun Bu. "Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Siauw Yun yang

memberitahukan."

"Siauw Yun?" kini giliran Giok Siauw Sian Cu yang kebingungan "Siapa Siauw Yun itu?"

"Panjang sekali kalau dituturkan," jawab Bee Kun Bu. "Ohya! Apakah Kakak Pek yang menolong kami keluar dari Pit Sia Kiong?"

"BetuI." Pek Yun Hui manggut-manggut, lalu menceritakan tentang Siauw Yun yang mencarinya, berikut bagaimana cara ia ke Pit Sia Kiong menolong mereka, Setelah itu ia pun bertanya pada Giok Siauw Sian Cu. "Kenapa engkau juga ke mari?"

"Yah!" Giok Siauw Sian Cu tertawa sambil menggeleng- gelengkan kepala. "Adik Ceng Loan terus ribut mau cari kakak Kun Bu-nya. maka aku ke mari cari Bee Kun Bu demi adik Ceng Loan."

"Ooooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut, kemudian menarik nafas panjang, "Kun Bu, aku minta maaf karena tidak dapat menolong Gin Tie Suseng dan Hweeshio tua itu. Ohya, siapa Hweeshio tua itu?"

"Hweeshio tua itu adalah Kuang Ti Taysu dari Kuil Ceh Yun Si di gunung Tay Pah San." Bee Kun Bu memberitahukan "Guru Gin Tie Suseng." "Kalau begitu, kita tidak perlu mencemaskan Gin Tie Suseng," ujar Pek Yun Hui.

"Kakak, kenapa kita tidak perlu mencemaskan Gin Tie Suseng?" tanya Bee Kun Bu heran

"Kim Hun Tokouw-Lam Kiong Siu berniat memusuhi kaum Bu Lim di Tionggoan, tentunya dia ingin menarik tenaga Kuang Ti Taysu, lagi pula kemungkinan besar akan membujuk Ku Ciok Sianjin untuk membantunya, otomatis dia tidak akan turun tangan jahat terhadap Kuang Ti Taysu dan muridnya."

Memang masuk akal apa yang dikatakan Pek Yun Hui.

Oleh karena itu Bee Kun Bu pun manggut-manggut.

"Ohya!" Bee Kun Bu teringat sesuatu dan langsung bertanya, "Ketika itu Kakak pergi ke mana? Aku dan Gin Tie Suseng melihat Hian Giok meluncur di sebuah Iem-bah, lalu kami berdua segera memburu ke sana dan melihat baju luarmu menyangkut di dahan pohon Maka aku kira Kakak Pek telah mengalami kecelakaan, sehingga kami menerjang ke Pit Sia Kiong."

"Begitu gampang pihak Pit Sia Kiong ingin mencelakaiku?" dengus Pek Yun Hui, namun kemudian menarik nafas panjang dengan wajah murung.

Bee Kun Bu dan Giok Siauw Sian Cu saling memandang. Mereka tahu bahwa Pek Yun Hui sedang berduka dalam hati.

"Kakak Pek!" tanya Bee Kun Bu. "Siauw Yun berada di mana sekarang?"

"Siauw Yun adalah pelayan di Pit Sia Kiong, bagaimana engkau bisa mengenalnya?" Pek Yun Hui balik bertanya.

"Dia memang pelayan Kim Hun Tokouw.,." jawab Bee Kun Bu menutur tentang semua itu.

"Oooh!" Pek Yun Hui manggut-manggut "Ternyata begitu! Setelah aku berhasil membawa kalian ke mari, tak lama dia pun mati keracunan." "Aaakh...!" keluh Bee Kun Bu.

"Siauw Yun mati demi cinta, aku salut padanya," sela Giok Siauw Sian Cu sambil menarik nafas panjang.

"Mati demi cinta! Mati demi cinta..." gumam Pek Yun Hui berulang kali, kemudian meleleh lagi air matanya.

"Kakak Pek!" Bee Kun Bu menggenggam tangannya erat- erat. "Kalau ada urusan dalam hati, kenapa harus terus- menerus disimpan? Bukankah itu akan membuat Kakak berduka selalu?"

"Kejadian masa lalu itu, sudah beberapa tahun kusimpan dalam hati," sahut Pek Yun Hui. "Biarlah terus disimpan dalam hati saja."

"ltu tidak baik, Kak," ujar Bee Kun Bu. "Curahkan saja agar Kakak tidak begitu tertekan."

"Nona Pek, aku akan meniup suling," sambung Giok Siauw Sian Cu. "ltu akan membuatmu mencurahkan kedukaan tersebut."

Giok Siauw Sian Cu tidak menunggu persetujuan dari Pek Yun Hui, langsung saja ia meniup sulingnya membawakan sebuah lagu sedih.

"Aaaakh...!" Pek Yun Hui menarik nafas panjang, "Baiklah, Aku akan menceritakan kejadian masa laluku itu."

*****

Bab ke 27 - Kejadian Masa Lalu Pek Yun Hui

Dua tahun sebelum bertemu Bee Kun Bu, Pek Yun Hui masih merupakan gadis remaja berusia enam belasan ia ikut Na Hai Peng tinggal di gua Thian Kie Cinjin di gunung Kwat Cong San mempelajari ilmu silat yang ada di dalam kitab Kui Goan Pit Cek. Gadis itu pun melewati hari-hari yang penuh ketenangan Pek Yun Hui dibesarkan dalam istana dan tubuh pun sangat lemah. Begitu keluar dari istana, ia amat tertarik akan dunia luar, maka tidak heran kalau gadis itu senang bermain, sehingga agak menghambat kemajuan ilmu silatnya.

Na Hai Peng memang gurunya, namun juga budak-nya, maka tidak heran kalau hubungan mereka guru dan murid agak luar biasa, Na Hai Peng sangat menurut pada Pek Yun Hui, bahkan ia pun tahu bahwa tubuh Pek Yun Hui sangat lemah, tapi memiliki kecerdasan yang luar biasa.

Oleh karena itu, Na Hai Peng mengambil keputusan untuk menggembleng gadis itu, namun tidak begitu memaksanya untuk melatih diri.

Hari itu kebetulan mulai musim semi, hawa udara pun berubah sejuk menyegarkan Tampak bunga-bunga liar memekar indah di sekitar gunung Kwat Cong San Hari itu Pek Yun Hui mengenakan pakaian lelaki, sehingga membual dirinya menyerupai pemuda yang sangat tampan.

Tangannya membawa sebuah kipas, dan terus berjalan sambil menikmati keindahan panorama Kwat Cong San.

Tanpa sadar sepasang kaki membawa dirinya menuju kaki gunung tersebut

Di kaki gunung Kwat Cong San terdapat sebuah jalan, Pek Yun Hui memandang orang-orang yang mendorong gerobak berlalu-lalang di jalan itu. Ternyata tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah desa kecil, Tampak asap putih membumbung ke atas, mungkin kaum wanita di desa itu sedang memasak.

Menyaksikan itu, hati Pek Yun Hui tertarik Sebab sejak tinggal di gua Thian Kie Cinjin di Kwat Cong San ini, gadis itu sama sekali tidak pernah ke desa tersebut Di saat itu pula timbul niatnya untuk mengembara di Kang Ouw mencari pengalaman Oleh karena itu, ia pun segera kembali ke gua Thian Kie Cinjin.

"Guru! Guru!" panggil Pek Yun Hui begitu sampai di dalam gua, dan sekaligus mendekap di dada Na Hai Peng, "Guru. " "Ada apa?" tanya Na Hai Peng sambil membelainya.

"Guru! Kalau aku beritahukan, Guru harus mengabulkan!" jawab Pek Yun Hui manja.

"Belum tentu," sahut Na Hai Peng dan menggelengkan kepala.

"Kalau Guru tidak mengabulkan, aku akan mengambek."

Pek Yun Hui cemberut

"Eh? Kong Cu! sebetulnya ada apa? Beritahukanlah dulu!" Na Hai Peng menatapnya dalam-dalam.

"Guru! Aku ingin mencari pengalaman di Kang Ouw, sekaligus mencari bibi Cui." Pek Yun Hui memberitahukan.

"Apa?" Na Hai Peng terbelalak, "Itu tidak boleh sama sekali."

"Kenapa?"

"Kong Cu harus tahu, betapa bahayanya Kang Ouw, lagi pula kedudukanmu amat istimewa, bagaimana mungkin mengembara di Kang Ouw?"

"Guru!" Pek Yun Hui tertawa. "Kalau di dalam istana tiada bahaya, bagaimana mungkin Guru akan membawaku keluar dari sana?"

Na Hai Peng tertegun, bahkan membungkam seketika juga.

"Guru!" Pek Yun Hui tersenyum "Ilmu silatku sekarang sudah lumayan, tentunya tidak akan terus menyendiri di gua Thian Kie ini kan? Kalau Guru tidak mengabulkan, aku akan pergi secara diam-diam."

"Kong Cu!" ujar Na Hai Peng setelah berpikir sejenak "Engkau memang harus mencari pengalaman di rimba persilatan, tapi harus ingat dua hal."

"Hal apa?" Pek Yun Hui girang sekali, karena Na Hai Peng mengizinkannya mengembara di Kang Ouw. "Engkau mengenakan pakaian lelaki, justru tidak mirip anak gadis." Na Hai Peng menatapnya dengan penuh perhatian "Maka selanjutnya engkau harus terus mengenakan pakaian lelaki, Oleh karena itu, siapa pun tidak akan tahu engkau adalah anak gadis, jadi dapat menutup rahasia dirimu sebagai Lan Tay Kong Cu."

"Guru! Aku memang tidak mau jadi Lan Tay Kong Cu, maka tidak akan beritahukan kepada siapa pun."

"Hal ke dua yakni menyangkut ilmu silatmu," ujar Na Hai Peng serius, "Walau belum mencapai pada tingkat lertinggi, tapi jurus-jurusnya amat aneh, Karena itu, janganlah engkau membocorkan sumber ilmu silatmu. dan tidak boleh menyebut namaku juga!"

"Memangnya kenapa?" tanya Pek Yun Hui heran. "Engkau masih belum tahu, bahwa semua ilmu silatku berasal dari kitab Kui Goan Pit Cek. Kini kitab itu berada di tangan bibi Cuimu, Namun kaum Bu Lim justru tidak tahu itu, Lagi pula kitab tersebut merupakan benda pusaka yang diincar kaum Bu Lim. Kalau engkau membocorkan rahasia itu, berarti engkau dalam bahaya."

"Wuah!" Pek Yun Hui meleletkan lidahnya "Begitu luar biasa, pokoknya aku tidak akan membocorkan rahasia tersebut."

"Walau engkau berjanji begitu, aku tetap tidak bisa berlega hati," ujar Na Hai Peng.

"Guru, aku tidak akan menimbulkan masalah di rimba persilatan. Setahun atau setengah tahun, aku pasti pulang."

"Kalau begitu. " Na Hai Peng menarik nafas dalam-dalam,

"Baiklah, Aku mengabulkannya."

"Terimakasih, Guru!" Pek Yun Hui berjingkrakan saking gembiranya, "Aku akan berangkat esok."

"Boleh." Na Hai Peng mengangguk dan berpesan, "Tapi engkau tidak boleh bertarung dengan siapa pun." "Ya." Pek Vun Hui mengangguk

Pek Yun Hui telah meninggalkan gua Thian Kie Cinjin, ia berdiri di pinggir jalan sambil menengok ke sana ke mari, karena tidak tahu harus menuju ke mana.

Akhirnya ia mengambil arah utara. Tak seberapa lama kemudian, ia melihat tiga buah gerobak ekspedisi Beberapa orang berteriak-teriak, tampak dua orang piauwsu (Pengawal barang ekspedisi) berjalan di belakang gerobak-gerobak itu.

Setelah mereka lewat, Pek Yun Hui mengambil keputusan untuk mengikuti di belakang mereka.

Berselang beberapa saat kemudian, mendadak ke dua piauwsu itu menoleh ke belakang memandang Pek Yun Hui, lalu berbisik-bisik.

Pek Yun Hui baru memasuki rimba persilatan, tentunya tidak mengerti apa-apa. Ketika ke dua piauwsu itu memandangnya, gadis itu tersipu mengira ke dua piauwsu itu sudah tahu akan penyamarannya sebagai pemuda.

Karena itu, ia pun memperlambat langkahnya, dan berpaling ke arah lain berpura-pura menikmati keindahan alam.

Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa itu justru menimbulkan kecurigaan ke dua piauwsu tersebut Salah seorang piauwsu itu melotot, lalu mengeluarkan sebuah panji kecil.

Panji kecil tersebut bersulam seekor naga emas. Piauwsu itu menancapkan panji tersebut ke atas gerobak, agar Pek Yun Hui tahu bahwa mereka dari ekspedisi Thian Liong.

Pemimpin ekspedisi Thian Liong adalah Souw Peng Hai dijuluki Hai Thian It Siu. ia mendirikan ekspedisi tersebut dengan tujuan tertentu, yakni mengumpulkan para pesilat Bu Lim yang tiada partai agar bergabung, Setelah memiliki kekuatan, maka akan bertarung dengan sembilan partai besar Souw Peng Hai merupakan orang yang sangat licik, sama sekali tidak memberitahukan pada siapa pun tentang tujuannya itu, sebab tidak menghendaki sembilan partai besar mengetahuinya.

Oleh karena itu, setelah mendirikan Thian Liong Pang (Partai Thian Liong) dan ekspedisi Thian Liong, ia pun mulai menarik para pesilat uniuk bergabung, sesudah banyak pesilat Bu Lim bergabung, mulailah ia membuka cabang ekspedisi Thian Liong di daerah lain.

Walau pesilat dari golongan sesal atau dari golongan hitam, Souw Peng Hai tetap menerimanya. !felas membuat Partai Thian Liong semakin kokoh dan ekspedisi Thian Liong pun bertambah meluas ke mana-mana, Oleh karena itu, ekspedisi tersebut sampai ke mana, tiada penjahat yang berani mengganggu nya.

Akan tetapi, Pek Yun Hui yang baru hari itu menginjak ke dalam rimba persilatan, sama sekali tidak tahu tentang itu, Tentunya merasa heran akan gerak-gerik ke dua piauwsu tersebut, apa lagi ketika menyaksikan panji yang amat indah itu sehingga hatinya pun semakin tertarik.

Gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong terus maju, sedangkan Pek Yun Hui juga terus mengikuti dari belakang.

Berselang beberapa saat kemudian, sampailah di sebuah kota yang cukup besar dan ramai, yaitu kota Ling Hai.

Keindahan kota tersebut justru membuat Pek Yun Hui lupa mengikuti ekspedisi itu.

Pek Yun Hui membeli seekor kuda jempolan, lalu menunggang kuda itu menuju ke rumah makan. ia menyerahkan kudanya pada pelayan, kemudian sambil tersenyum ia memasuki rumah makan itu.

Begitu masuk, Pek Yun Hui melihat ke dua piauwsu itu duduk di sudut kiri sambil meneguk arak. Kedua piauwsu itu juga melihat Pek Yun Hui yang mereka anggap sebagai pemuda berbaju hijau. itu suatu kebetu!an, tapi ke dua piauwsu itu malah mengira bahwa Pek Yun Hui sengaja menguntit mereka, Olomatis ke dua piauwsu itu pun meraba gagang golok masing-masing.

Pek Yun Hui tersenyum lembut, namun senyumannya justru telah mengejutkan ke dua piauwsu ilu. kemudian kedua piauwsu itu berbisik-bisik.

"Saudara Wang, kelihatannya pemuda itu memang menguntit kita."

"Aku pun sedang bereuriga," sahut temannya dengan suara rendah, "Tapi siapa yang begitu berani mengusik ekspedisi Thian Liong?"

sementara Pek Yun Hui sudah duduk, salah seorang piauwsu itu meliriknya dan berbisik lagi pada temannya.

"Sulit dikatakan, sebab hanya dalam beberapa tahun, ekspedisi Thian Liong sudah berkembang pesat, tentunya ada orang tertentu merasa tidak senang, Karena itu, mereka ingin coba-coba cari gara-gara dengan kita. saudara Wang, dapatkah engkau melihat pemuda berbaju putih hijau itu berasal dari mana?"

Temannya menggelengkan kepala, lalu melirik Pek Yun Hui sejenak, setelah itu ujarnya perlahan

"Entahlah, Siapa pemuda berbaju hijau itu memang sulit diduga. Namun dia tampak begitu lemah lembut, yang pasti dia punya asal-usul yang luar biasa."

"Kalau begitu, nanti kita harus berhati-hati dalam perjalanan Alangkah baiknya tidak terjadi sesuatu."

Mereka berdua lalu berbisik-bisik, sepertinya sedang merundingkan sesuatu yang amat penting. Seusai menyantap, mereka berdua segera meninggalkan rumah makan tersebut

Pek Yun Hui masih bersantap, Berselang sesaat barulah ia meninggalkan rumah makan itu menunggang kudanya ke luar kota, Memang sungguh di luar dugaan, ia mengambil jalan yang searah dengan ke dua piauwsu ilu. Begitu sampai di luar kota, Pek Yun Hui pun menyusul mereka dan sekaligus tersenyum pu!a.

kedua piauwsu itu memang lelah bereuriga, tapi Pek Yun Hui tidak tahu sama sekali, dan terus memacu kudanya, Kira- kira sepuluh li kemudian, ia berhenti dan duduk di sebuah batu di dekat sebuah rimba.

Mungkin udara agak panas, maka Pek Yun Hui mengeluarkan kipasnya untuk mengipas dirinya, Tak seberapa lama ia duduk di situ, muncullah gerobak-gerobak ekspedisi Thian Liong.

Ketika melihat pemuda berbaju hijau duduk di atas batu, ke dua piauwsu yang telah bereuriga itu mengira Pek Yun Hui sengaja menghadang mereka, Mereka berdua saling memandang, salah seorang segera berteriak Seketika juga gerobak-gerobak itu berhenti

Kedua piauwsu itu meloncat turun dari kuda masing- masing, lalu mendekati Pek Yun Hui sambil menjura.

"Kawan, bolehkah kami tahu namamu?" tanya salah seorang piauwsu.

"Namaku Pek Yun Hui," sahutnya karena melihat ke dua piauwsu itu bersikap ramah.

Pek Yun Hui? Kedua piauwsu itu mengernyitkan kening, sebab mereka tidak pernah mendengar nama tersebut di rimba persilatan

"Kawan!" Salah seorang piauwsu menatapnya. "Ke-napa engkau menghadang kami ke sini?"

"Eh?" Pek Yun Hui terheran-heran. "Siapa yang menghadang kalian?"

Air muka ke dua piauwsu tampak berubah, karena mengira Pek Yun Hui sedang menyindir mereka, Padahal sesungguhnya, gadis itu memang berkata sebenarnya, sama sekali tidak menyindir ke dua piauwsu itu. "Kawan! Tahukah engkau tentang ekspedisi Thian Liong?" tanya salah seorang piauwsu itu dengan suara dalam.

"Tidak lahu." Pek Yun Hui menggelengkan kepala.

Pek Yun Hui baru meninggalkan gunung Kwat Cong San, mungkin belum ada satu hari, tentunya tidak tahu tentang ekspedisi tersebut ia menjawab sesungguhnya, tapi ke dua piauwsu itu justru menganggapnya menghina ekspedisi Thian Liong yang telah kesohor itu.

Trang! Salah seorang piauwsu itu mencabut golok kepala setan, kemudian tersenyum dingin seraya berkata.

"Kawan! Engkau sungguh berani mengusik ekspedisi Thian Liong, aku mohon petunjuk beberapa jurus!"

Pek Yun Hui semakin tereengang, lagi pula ia tidak mengerti apa yang dikatakan piauwsu itu.

"Kenapa engkau ingin mohon petunjuk beberapa jurus, aku tidak mengerti," ujar Pek Yun Hui.

Piauwsu itu semakin gusar, ia mengira pemuda berbaju hijau itu sengaja menghinanya.

"Nah, dengar baik-baik! Aku ingin bertarung de-nganmu!" bentaknya.

"Oh?" Pek Yun Hui tampak girang sekali, ia memang ingin mencoba kepandaiannya, karena selama ini ia cuma berlatih dengan gurunya, kini ada orang mengajaknya bertarung, tentunya ia merasa girang sekali.

"Baiklah!" sahutnya sambil bangkit berdiri

"Hmmm!" dengus piauwsu itu, lalu meluruskan goloknya ke depan.

Mendadak Pek Yun Hui memutar badannya, tahu-tahu tangannya telah menggenggam sebilah pedang yang mengeluarkan hawa dingin. Kedua piauwsu itu tertegun, sebab gerakan Pek Yun Hui barusan sangat indah dan cepat, sehingga membuat ke dua piauwsu itu meiongo.

"Sungguh indah dan laksana kilat gerakan barusan!" Mendadak terdengar suara orang mernujinya.

Pek Yun Hui mendongakkan kepala, tampak seorang pemuda berusia sembilan belasan duduk di dahan pohon sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

pemuda itu tampan sekali, sepasang matanya pun bersinar terang, Ketika mengetahui pemuda itu yang mengeluarkan suara memuji, giranglah hati Pek Yun Hui tapi tampak tersipu pula, sehingga wajahnya berubah agak kemerah-merahan dan terus memandang pemuda itu.

Yang terkejut adalah ke dua piauwsu itu, ternyata mereka mengira pemuda itu adalah teman pemuda baju hijau yang akan mereka hadapi, Oleh karena itu, piauwsu yang bersenjata golok langsung menyerang Pek Yun Hui dengan jurus Yah Hwee Sauh Thian (Api Berkobar Membakar Langit).

"Hei! Saudara kecil, hati-hati!" seru pemuda itu.

Pek Yun Hui langsung menoleh, namun golok itu sudah mengarah ke dadanya, Betapa terkejutnya Pek Yun Hui, secepat kilat ia meloncat mundur sambil menggerakkan pedangnya mengeluarkan jurus Goan Yah Cing Coh (Rerumputan di Padang Liar).

Trang! Terdengar suara benturan senjata tajam, bunga api pun berpijar.

Pek Yun Hui dan piauwsu, masing-masing mundur beberapa langkah, Mereka sama sekali tiada permusuhan apa pun. Tadi piauwsu itu mengajaknya bertarung, dikira-nya cuma sekedar bertanding Tapi kini, piauwsu itu kelihatan malah ingin membunuhnya.

"Hei!" bentak Pek Yun Hui. "Kenapa engkau melancarkan serangan gelap?" Piauwsu itu tidak menyahut, malah menyerang Pek Yun Hui lagi, Pek Yun Hui segera berkelit, bukan main cepatnya gerakan itu, ternyata ia menggunakan ilmu Ngo Heng Mic Cong Pu (llmu Langkah Ajaib), pada waktu itu, ia masih belum begitu mahir, Namun cukup mengejutkan lawan sehingga tampak tertegun

"Hi hi!" Pek Yun Hui tertawa geli di belakangnya, kemudian mendadak ia menotok punggung piauwsu itu dengan ujung sarung pedangnya.

Piauwsu itu terkejut, tetapi ketika baru mau berkelit, Tay Meh Hiat di pinggangnya telah tertotok, seketika juga piauwsu itu berdiri seperti patung di tempat, bahkan tangannya masih menggenggam goloknya.

Pek Yun Hui segera meloncat mundur beberapa depa.

Begitu melihat keadaan piauwsu itu, tak tertahan Pek Yun Hui langsung tertawa geli lagi.

Terdengar pula suara tawa di pohon, ternyata pemuda yang duduk di dahan pohon juga ikut tertawa.

Begitu mendengar suara tawa pemuda itu, Pek Yun Hui pun tahu dia adalah pemuda periang, dan tanpa sadar kepalanya menoleh ke arah pemuda itu lagi

sementara piauwsu yang satu lagi gusar bukan main, ketika melihat temannya dipermainkan pemuda baju hijau itu, maka tanpa mengeluarkan suara sedikit pun ia mendekati Pek Yun Hui yang sedang memandang ke atas.

sedangkan Pek Yun Hui juga merasa heran pada dirinya sendiri, kenapa begitu terkesan baik terhadap pemuda itu.

Kebetulan pemuda itu juga memandangnya, sehingga dua pasang mata beradu dan hati Pek Yun Hui pun semakin tertarik.

Oleh karena itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, Piauwsu yang mendekatinya itu berkepandaian lebih tinggi dari piauwsu tadi. Serrrl! Piauwsu itu mengayunkan goloknya, setelah itu barulah membentak "Lihal go!ok!"

Pek Yun Hui terkejut, tapi masih sempat meloncat ke depan, Piauwsu itu memburunya dengan gerakan Sing Goat Kiau Hui (Bulan Dan Bintang Memancarkan Cahaya), Akan tetapi, Pek Yun Hui pun langsung mengerahkan Ngo Heng Mie Cong Pu untuk menghindar Tampak badan Pek Yun Hui berkelebat laksana kilat, dan seketika juga sudah menghilang dari hadapan piauw-su itu. Pada waktu bersamaan, berkelebat pula sosok bayangan lain, ternyata pemuda itu, Tangannya menggenggam sebatang ranting, justru telah menekan golok piauwsu itu.

Wajah piauwsu itu merah padam, lalu mengerahkan tenaganya untuk mengangkat go!oknya, namun tidak berhasil Ketika melihat pemuda itu berkepandaian ting-gi, Pek Yun Hui pun girang bukan main.

"Ekspedisi Thian Liong sudah cukup terkenal, tapi kenapa kalian berdua yang sudah ada umur malah bertempur dengan anak kecil?" tanya pemuda itu membentak keras.

Begitu mendengar pemuda itu mengatakan Pek Yun Hui adalah anak kecil, seketika juga ia mendengus dan sekaligus berseru.

"Hei! Apakah engkau kakek-kakek?"

Pemuda itu tertawa gelak, kemudian mendadak menggerakkan ranting membentuk sebuah lingkaran Golok piauwsu itu juga ikut bergerak membentuk sebuah lingkaran pu!a.

"Ha ha!" Pemuda itu tertawa lalu membentak "Lepaskan golokmu!"

Golok itu terlepas dari tangan piauwsu, sehingga piauwsu itu termundur dengan wajah berubah. "Bedebah! Tinggalkan. " Piauwsu itu ingin mengucap

"Tinggalkan namamu", namun sebelum usai mengucapkan itu, ranting di tangan pemuda itu pun sudah bergerak secepat kilat menotok Pit Keng Hial piauw.su itu, dan seketika juga piauwsu itu berdiri mematung di tempat.

"Saudara kecil!H ujar pemuda itu pada Pek Yun Hui sambil tersenyum, "Sungguh besar nyalimu, berani bertarung dengan orang-orang ekspedisi Thian Liong! Apakah engkau tidak tahu, bahwa kepala piauwsu bendera putih bernama Yap Yong Ceng dengan julukan Cu Bo Sin Tan berada di Sih Tong?"

"Aku memang ingin cari gara-gara, kenapa engkau yang kalut?" sahut Pek Yun Hui.

Sahutan yang kasar itu tidak membuat pemuda itu gusar, sebaliknya malah tertawa. Pek Yun Hui pula yang jadi gusar, sehingga melototinya.

"Kenapa tertawa?" tanyanya ketus.

"Wuah!" Pemuda itu tertawa lagi, "Jangan-jangan engkau darah tinggi!"

Mendadak pemuda itu melangkah maju, lalu menggerakkan rantingnya membentuk beberapa buah lingkaran kecil, langsung mengarah muka Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui sama sekali tidak menyangka pemuda itu akan menyerangnya, otomatis membuatnya terkejut sekali, dan sudah tiada kesempatan baginya untuk berkelit Di saat muka Pek Yun Hui akan tergores oleh ranting itu, tiba-tiba pemuda tersebut tertawa sambil meloncat mundur

Pek Yun Hui tertegun. Setelah pemuda itu meloncat mundur, barulah ia tahu kalau pemuda itu cuma ingin menakutinya saja, seketika juga darahnya naik, dan secepat kilat menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

"Eeceh! Celaka!" teriak pemuda itu sambil tertawa, "Saudara kecil betul-betul sudah marah! Celaka! Celaka. " Walau sudah berulang kali diserangnya, tapi pemuda itu tetap dapat berkelip lagi pula Pek Yun Hui tidak bermaksud melukainya, maka memperhitungkan setiap serangannya, Akan tetapi, sudah menyerangnya tujuh kali, masih tidak dapat menyentuh ujung baju pemuda itu. Dapat dibayangkan betapa penasarannya Pek Yun Hui.

"Coba sambut lagi tiga seranganku!" bentak Pek Yun Hui. ia menyerang pemuda itu tiga kali beruntun mengeluarkan

jurus-jurus yang dipelajarinya dari Kui Goan Pit Cek, yakni jurus Jit Cut Tong Hong (Matahari Terbit di Timur), Giok Touw Sia Sen (Kelinci Meloncat Miring) dan Kim Ciauw Si Cen (Burung Emas Tenggelam Di Barat).

pemuda itu terus berkelit, akan tetapi jurus ke tiga itu membuatnya tidak dapat berkelit lagi. sedangkan pedang Pek Yun Hui justru mengarah ke dada pemuda itu.

Pek Yun Hui terkejut bukan main. ia ingin menghentikan pedangnya, tapi sudah tidak keburu dan yakin dada pemuda itu akan terluka oleh pedangnya.

Disaat yang amat kritis, mendadak pemuda itu menggerakkan rantingnya menyabet pedang Pek Yun Hui.

Plak!

Pek Yun Hui merasa ada tenaga yang amal besar menangkis pedangnya, Walau demikian, baju bagian dada pemuda itu telah terkoyak juga oleh pedang Pek Yun Hui.

Gadis itu segera meloncat mundur, kemudian tanyanya cemas dan penuh perhatian

"Bagaimana? Apakah dadamu terluka7" "Untung tidak!" sahut pemuda itu sambil tertawa.

"Engkau juga sih!" Pek Yun Hui menyalahkannya, "Mendesak orang turun tangan."

"Oh?" pemuda itu menatapnya. "Kalau engkau terluka, entah bagaimana baiknya?" gumam Pek Yun Hui dan tersentak, kenapa ia begitu menaruh perhatian padanya? Wajah Pek Yun Hui langsung memerah.

"Eh? Saudara kecil!" Pemuda itu tampak tereengang, "Kenapa engkau? Kok seperti anak gadis saja?"

"Aku. " Pek Yun Hui agak tergagap, "Aku khawatir akan

melukaimu, itu kan tidak baik."

"Dadaku hampir tertusuk oleh pedangmu," ujar pemuda itu. "Saudara kecil, ilmu pedangmu sangat luar biasa, Entah siapa gurumu?"

"Maaf!" sahut Pek Yun Hui. "Guruku melarangku menyebut namanya."

"Kalau begitu sama," ujar pemuda itu sambil menarik nafas, "Guruku pun melarangku memberitahukan namanya pada siapa pun!"

"Oh!" Pek Yun Hui gembira. "Baguslah kalau begitu! Kita pun tidak usah saling bertanya asal-usul."

"Benar." pemuda itu mengangguk, lalu maju ke hadapan Pek Yun Hui, dan sekaligus memegang bahunya.

Pek Yun Hui ingin mengelak, tapi mendadak ia ingat akan dirinya yang menyamar sebagai anak lelaki, maka ia membiarkan pemuda itu memegang bahunya. Akan tetapi, hatinya justru berdebar-debar tidak karuan.

"Saudara kecil!" ujar pemuda itu. "Aku kagum padamu, sebab engkau berani melawan orang-orang ekspedisi Thian Liong itu. Nah, bagaimana kalau kita jadi ieman".""

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk. "Namaku Sie Bun Yun, namamu?" "Namaku Pek Yun Hui."

"Bagus! Bagus!" Sie Bun Yun tertawa gembira, "Nama kita sama-sama ada Yunnya!" Mendengar itu, wajah Pek Yun Hui tampak memerah, itu membuat Sie Bun Yun terheran-heran, tapi kemudian tertawa gelak.

"Saudara kecil! Kenapa engkau begitu pemalu? Aku omong sedikit wajahmu sudah memerah! Dasar "

"Dasar apa?" Pek Yun Hui cemberut "Siapa yang seperti mukamu begitu tebal sih?"

"Eh?" Sie Bun Yun menatapnya sambil menggaruk-garuk kepala, "Kok anak lelaki bisa cemberut? Jangan-jangan engkau terlampau dimanjakan!"

"Omong sembarangan!"

"Ohya! Saudara kecil mau ke mana?"

"Entahlah." Pek Yun Hui menggelengkan kepala, "Kemana pun boleh."

"Kalau begitu, kebetulan aku akan ke Cui Cuk San Cung (Perkampungan Cui Cuk) di kaki gunung Thian Muk San. Aku ke sana untuk menemui pamanku, dua hari lagi beliau akan merayakan ulang tahunnya ke enam puluh, Bagaimana kalau engkau ikut aku ke sana?"

"ltu.-" Pek Yun Hui tampak ragu.

"Engkau pasti mau kan?" Sie Bun Yun tertawa, lalu mendadak menarik Pek Yun Hui menuju ke tempat kudanya ditambah

Setelah berada di sisi kuda itu, tiba-tiba Sie Bun Yun merangkul pinggangnya, dan sekaligus mengangkatnya ke punggung kuda.

"Eeeeh?" Wajah Pek Yun Hui memerah. ia telah duduk di atas punggung kudanya. Sambil tersenyum, Sie Bun Yun pun meloncat ke punggung kuda lain, lalu memandang Pek Yun Hui seraya berseru.

"Ayohlah! Mari berangkat kok malah melamun?"

Pek Yun Hui mengangguk Ternyata tadi ia masih memikirkan pemuda itu merangkul pinggangnya, itulah yang membuat jantungnya nyaris copot ""

Bagian ke dua puluh delapan perkampungan Cui Cuk San Cung

Dalam perjalanan menuju perkampungan Cui Cuk, tak henti-hentinya Sie Bun Yun menceritakan tentang rimba persilatan Pek Yun Hui mendengarkan dengan penuh perhatian dan semakin tertarik pada Sie Bun Yun. Sarnbil bereerita, Sie Bun Yun selalu tertawa-tawa dengan wajah berseri Memang tidak salah, pemuda itu memang pe-riang.

Kira-kira dua jam kemudian, mereka sudah tiba di kaki gunung Thian Muk San, dan mulai memasuki Cui Cuk San Cung. justru sungguh mengherankan karena tempat tersebut ditumbuhi bambu hijau, Tiba-tiba Sie Bun Yun menarik nafas.

"Saudara kecil, sejak kecil aku tidak punya orang tua, paman yang membesarkanku, beliau adalah adik a!mar- humah ibuku, Setelah berusia dua belas tahun, aku ikut guru pergi, Enam tahun kemudian yakni hari ini, aku baru kembali di sini, dan tempat ini kelihatan tidak berubah sama sekali."

"ltu tentu." Pek Yun Hui tersenyum "Dalam enam tahun, bagaimana ada perubahan?"

Sie Bun Yun tertawa misterius, dan Pek Yun Hui menatapnya heran.

"Kenapa engkau tertawa?" tanyanya.

"Aku tahu, Cui Cuk San Cung ini memang tidak berubah, namun ada seseorang justru telah berubah."

"Maksudmu?" Pek Yun Hui merasa bingung. "Ketika aku meninggalkan Cui Cuk San Cung ini, adik misan perempuanku baru berusia sebelas tahun, Kini dia sudah berusia tujuh belas tahun, Dalam kurun waktu enam tahun, bukankah dia telah berubah?" jawab Sie Bun Yun memberitahukan "Dia pasti sudah besar sekarang."

Begitu mendengar itu, timbullah perasaan aneh dalam hati Pek Yun Hui, lagi pula ketika Sie Bun Yun menyinggung adik misan perempuannya, wajahnya pun tampak berseri-seri.

"Oooh!" Pek Yun Hui tersenyum hambar

"Enam tahun lalu ketika aku mau pergi, dia.,, dia menangis tersedu-sedu," ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum "Pada waktu itu, dia cuma merupakan gadis cilik yang masih ingusan, entah bagaimana dia kini?"

Semakin mendengar, hati Pek Yun Hui pun semakin tertusuk, maka ia berpaling ke tempat lain.

"Saudara kecil!" Sie Bun Yun tersenyum "Engkau pun akan bertemu dengannya."

"Oh?" sesungguhnya di saat itu, Pek Yun Hui hampir menangis, tapi ia masih berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir

Serrrt! Serrrrt! Mendadak di rimba bambu itu muncul dua orang lelaki, mereka menjura sambil berkata.

"Tamu harap memberitahukan nama, agar kami pergi melapor!"

"Ha ha!" Sie Bun Yun tertawa gelak, "Ei! Tan I.o Sam. sungguhkah engkau tidak mengenaliku !agi?"

Yang dipanggil Tan Lo Sam itu terkejut lalu menatap Sie Bun Yun dengan penuh perhatian

"Hah? A Yun! Engkau sudah pulang! Nona amat rindu padamu! Ayoh, cepat masuki Cepat masuk!" serunya girang.

"Di mana piauw moyku (Adik misan perempuan)?" tanya Sie Bun Yun sambil tertawa gembira. "Beberapa hari banyak tamu ke mari, maka nona sedang sibuk, A Yun akan tahu setelah masuk ke dalam."

Wajah Sie Bun Yun masih berseri-seri, lalu meloncat turun, dan segera melesat ke dalam sejauh tiga depa, Mendadak ia berhenti sambil membalikkan badannya lalu memandang Pek Yun Hui seraya berkata.

"Saudara kecil, mari ikut aku!"

Pek Yun Hui melihat dia begitu girang ketika mendengar tentang piauw moynya, bahkan nyaris melupakannya pula, Betapa dukanya dalam hati, karena itu sahutnya dingin.

"Engkau masuk duluan, aku akan segera menyusul." "Saudara kecil! Di Cui Cuk San Cung kita tidak begitu

gampang masuk," ujar Sie Bun Yun sambil tersenyum. "Cepatlah ikut aku ke dalam!"

Hati Pek Yun Hui sedang kesal, maka ketika mendengar itu ia pun amat penasaran, dan ujarnya kelus.

"Aku justru ingin masuk seorang diri. Engkau tidak usah perduli."

"Wuah!" Sie Bun Yun menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau mulai naik darah lagi! Baiklah, aku masuk du!uan."

Sie Bun Yun melesat ke dalam, tak lama ia sudah tidak kelihatan lagi, Begitu melihat dia sungguh tidak memperdulikannya, hati Pek Yun Hui semakin berduka, lalu masuk ke dalam dengan menunggang kudanya, Akan tetapi, mendadak muncul beberapa orang menghadang-nya.

"Harap siauhiap turun dari kuda!" ujar salah seorang.

Pek Yun Hui yang sedang mendongkol itu, justru tiada tempat untuk melampiaskannya, kebetulan muncul beberapa orang itu menghadang, maka seketika juga ia melampiaskannya.