Bangau Sakti Jilid 25

 
Jilid 25

Ketika mendengar nama Pek Yun Hui, seketika juga Ling Coa Hong Tok-Oey Hue tertegun, namun senyuman tetap menghias wajahnya, Kemudian ia menatap Pek Yun Hui dengan penuh perhatian sambil berkata.

"Souw Peng Hai memiliki ilmu Kan Goan Cih yang amat hebat, tapi Nona mampu mengalahkannya, itu pertanda Nona berkepandaian amat tinggi! Namun Nona masih begitu muda, bagaimana mungkin Nona ini adalah Pek Yun Hui? Saudara Kim jangan bohong!""

Mendadak hati Gin Tie Suseng tergerak, karena melihat Ling Coa Hong Tok tidak pereaya Pek Yun Hui berada di depan mata. Maka ia pun ingin memanasi hatinya agar dibekuk Pek Yun Hui. Ketika Gin Tie Suseng baru mau membuka mulut, sudah didahului oleh Pek Yun Hui.

"Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Harus bagaimana engkau baru pereaya bahwa aku adalah Pek Yun Hui?"

Ling Coa Hong Tok tertawa ringan, lalu menyahut dengan suara lembut

"Kalau engkau menghendaki aku pereaya, itu tidak su!it!

Asal engkau mampu menyambut tiga jurus seranganku!"

Betapa gusarnya Bee Kun Bu ketika melihat Ling Coa Hong Tok menantang Pek Yun Hui, maka ia segera menyeIak.

"Engkau tidak perlu bertanding dengan Kakak Pek! Kalau engkau berkepandaian tinggi, tentunya dapat me-ngalahkanku dengan tiga jurus! Aku pun akan segera meninggalkan tempat ini!"

"Sungguhkah begitu?" tanya Ling Coa Hong Tok sambil tersenyum lembut sikapnya begitu, bagaimana mungkin orang pereaya dia berhati kejam?

"Aku tidak pernah mengingkari janji!" sahut Bee Kun Bu. "Menghadapi orang semacam itu, tidak perlu Saudara Bee

turun tangan, biar aku saja yang menyambut tiga jurus

serangannya!" sela Gin Tie Suseng mendadak.

"Bagus, bagus!" Ling Coa Hong Tok tertawa, "Saudara Kim memiliki ilmu Tui Hong Sim Tie yang berjumlah seratus delapan jurus, sudah berani bersikap jumawa di hadapanku? Kalau hari ini aku tidak minta pelajaran darimu, mungkin engkau tidak akan merasa puas! Setelah aku mengalahkanmu, barulah aku minta petunjuk pada mereka!" Usai berkata begitu, mendadak Ling Coa Hong Tok pun langsung menyerang Gin Tie Suseng.

Gin Tie Suseng sama sekali tidak menyangka Ling Coa Hong Tok akan menyerangnya langsung, maka ia tampak gugup, namun masih sempat mengayunkan suling peraknya untuk menangkis serangan itu.

Akan tetapi, tepat pada waktu bersamaan, Gin Tie Suseng juga mencium semacam bau yang aneh.

"Celaka!" serunya dalam hati, kemudian terkulai Ternyata Gin Tie Suseng telah terkena racun, sehingga membuat sekujur badannya tak bertenaga sama sekali.

Ketika melihat Gin Tie Suseng roboh, Bee Kun Bu tahu bahwa dia terkena racun, maka ia membentak dan langsung menghantam Ling Coa Hong Tok dengan pukulan

Kepandaian Ling Coa Hong To masih dibawah Kiu Tok Ciu, tentunya ia bukan tandingan Bee Kun Bu. Begitu merasa angin pukulan yang amat dahsyat, Ling Coa Hong Tok tidak berani menyambut, melainkan ce-pat-cepat berkelit

pukulan Bee Kun Bu dilancarkan dalam keadaan gusar, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan itu. Ling Coa Hong Tok memang berhasil berkelit, tapi angin pukulan itu mengarah pada sebuah batu yang ada di belakang Ling Coa Hong Tok.

Blamm! Batu itu hancur berkeping-keping.

Menyaksikan itu, Ling Coa Hong Tok pun mengucurkan keringat dingin, dan pereaya bahwa mereka memang benar Pek Yun Hui serta Bee Kun Bu.

"Kalau bertarung hanya mengandal pada ilmu silat, tentunya aku bukan tandingan mereka, lebih baik kugunakan racun," ujar Ling Coa Hong Tok dalam hati, setelah itu, ia segera memasukkan tangannya ke dalam bajunya, Apabila Bee Kun Bu mengejarnya, ia akan menggunakan racun. Setelah menyerang Ling Coa Hong To, Bee Kun Bu tidak mengejarnya, melainkan mendekati Gin Tie Su-seng. Wajah Gin Tie Suseng pucat pias, keringatnya pun terus mengucur, dan sekujur badan juga tidak bisa bergerak

Ketika melihat Bee Kun Bu sedang memperhatikan Gin Tie Suseng, Ling Coa Hong Tok pun tertawa gelak, lalu mendadak meloncat ke atas, maksudnya ingin menyerang Bee Kun Bu dengan racun.

Saat itu Bee Kun Bu tidak siap, Meskipun ia dapat menangkis serangan itu, tapi pasti terkena racun tersebut

sementara itu, Pek Yun Hui terus-menerus mengawasi gerak-gerik Ling Coa Hong Tok, Ketika melihatnya meloncat ke atas, Pek Yun Hui sudah menduga apa yang akan dilakukan Ling Coa Hong Tok, maka ia segera membentak

"Lihat serangan!" Pek Yun Hui melancarkan sebuah pukulan ke atas.

pukulan yang dilancarkan Pek Yun Hui memang aneh.

Pukulan itu tidak di arahkan pada Ling Coa Hong Tok, melainkan diarahkan pada tempat Bee Kun Bu di mana Ling Coa Hong Tok melancarkan serangan be-racunnya.

Betapa terkejutnya Ling Coa Hong Tok, namun pukulan itu tidak di arahkan pada dirinya, maka ia tetap melanjutkan serangannya pada Bee Kun Bu.

Namun pukulan yang dilancarkan Pek Yun Hui memang aneh, ternyata gadis itu melancarkan pukulan untuk melindungi Bee Kun Bu dari serangan Ling Coa Hong Tok, sehingga membuat racun yang ditaburkan Ling Coa Hong Tok meleset arah, bahkan Ling Coa HoangTok sendiri pun terpental jatuh,

Memang sungguh diluar dugaan, sebab racun itu berbalik ke arah Ling Coa Hong Tok, Untung sebelumnya Ling Coa Hong To telah menyiapkan obat pemunahnya di dalam mulutnya, maka ketika racun itu berbalik menyerang dirinya sendiri, ia pun segera menelan obat pemunah itu. Bee Kun Bu sudah tahu kejadian itu, ia amat gusar dan membalikkan badannya, Tapi ketika ia baru mau mengejar Ling Coa Hong Tok, Pek Yun Hui buru-buru mencegahnya.

"Kun Bu, tidak usah kau kejar! Lebih baik kita periksa luka Gin Tie Suseng itu! Lima Setan Swat Ling San sangat licik, kalau tidak ada Gin Tie Suseng menyertai kita, mungkin kita akan celaka!"

"Kalian berani menginjak Swat Ling San ini, maka jangan mempersalahkanku berlaku kejam pada kalian!" ujar Ling Coa Hong Tok dingin.

Setelah itu, ia pun melesat pergi sambil bersiul panjang bergema ke empat penjuru.

Pek Yun Hui tidak mengejarnya. Iasegera mendekati Gin Tie Suseng yang tergeletak di tanah, kemudian mengeluarkan sebutir obat

"Kita tidak tahu dia terkena racun jenis apa, sementara ini sulit mengobati nya," ujar Pek Yun Hui. "Engkau memasukkan obat ini ke dalam mulutnya, lalu membantunya dengan iweekangmu agar racun itu tidak menjalar! Kita pun harus berhati-hati, sebab Ling Coa Hong Tok itu sangat licik!"

Bee Kun Bu mengangguk kemudian memasukkan obat itu ke dalam mulut Gin Tie Suseng. Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara yang mendesis-desis. "Hati-hati!" pesan Pek Yun Hui. HItu suara ular!" "Oh?" Bee Kun Bu mengernyitkan kening.

*****

Bab ke 12 - Barisan Ular-Ular Beracun

Suara mendesis-desis itu semakin dekat dan tak seberapa lama tampak ribuan ular beracun merayap ke arah me-reka. Betapa terkejutnya Bee Kun Bu menyaksikan kemunculan ular-ular berbisa itu, kening pun berkerut-kerut.

"Kak! Ular-ular berbisa itu merayap ke mari, harus bagaimana kita?" tanya Bee Kun Bu. "Begini!" jawab Pek Yun Hui. "Kita berdiri dengan punggung menghadap punggung, kalau ular-ular berbisa itu mendekat, kita hantam saja dengan pukulan!"

"Ya." Bee Kun Bu segera membalikkan badannya.

Ketika ular-ular berbisa itu sudah dekat, mereka berdua pun langsung melancarkan pukulan, dan beberapa ekor ular berbisa itu hancur remuk seketika.

Akan tetapi, ular-ular yang lain sama sekali tidak merasa takut, tetap merayap ke arah mereka sambil menjulurkan lidahnya, bahkan kini dengan posisi mengurung mereka bertiga.

Pek Yun Hui yang berkepandaian tinggi, namun saat itu tampak agak panik menghadapi barisan ular-ular berbisa itu, Bee Kun Bu tampak gugup sekali, Yang sama sekali tidak gugup dan panik adalah Gin Tie Suseng. Kenapa begitu?

Ternyata ia dalam keadaan pingsan.

sementara barisan ular-ular berbisa yang ribuan banyaknya semakin mendekat, mendadak Pek Yun Hui bersiul panjang dan nyaring, suara siu!annya menembus rimba dan angkasa.

Tak seberapa lama, tampak sosok bayangan meluncur datang di angkasa bagaikan meteor, lalu menukik ke bawah ke arah mereka, itu adalah Bangau Sakti, burung itu menukik sambil memekik keras mengejutkan ular-ular berbisa itu. seketika ular-ular berbisa itu diam dengan kepala mendongakkan ke atas sambil menjulurkan lidah, burung bangau memang sangat ditakuti ular sementara Bangau Sakti itu sudah mulai mematuk ular-ular beracun, Tampak sudah puluhan ular berbisa ter-patuk mati Tak lama kemudian Bangau Sakti itu pun turun di sisi Pek Yun Hui.

"Kun Bu, Gin Tie Suseng pernah bilang, bahwa Ling Coa Hong Tok mahir memerintahkan tawon beracun juga, maka kita harus segera meninggalkan tempat itu!" ujar Pek Yun HuL Bee Kun Bu mengangguk dan segera memapah Gin Tie Suseng ke atas punggung Bangau Sakti, kemudian ia pun naik ke punggung Bangau Sakti itu.

Setelah Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng duduk di atas punggung Bangau Sakti, segera Pek Yun Hui meloncat ke situ.

Ketika Bangau Sakti mengembangkan sayapnya, belasan ekor ular berbisa langsung menyerang, Bee Kun Bu dengan cepat mengayunkan tangannya, Ternyata dia menyerang dengan jarum Toh Meng Cin yang tepat mengenai kepala ular- ular berbisa itu dan mati seketika.

"Kun Bu, dengar!" ujar Pek Yun Hui. Tawon-tawon berbisa telah terbang kemari!"

Bee Kun Bu menelengkan kepala, Saat itu terdengarlah suara berdengungan di angkasa, seiring dengan datangnya segu!ungan bayangan hitam meluncur ke arah mereka.

Pek Yun Hui langsung menepuk Bangau Sakti, seketika juga burung itu pun terbang ke atas, Akan tetapi, ribuan tawon berbisa itu langsung memburu dengan kecepatan kilat

"Kun Bu, lancarkan pukulan jarak jauh untuk menghalau mereka! Usir mereka, cepat," ujar Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu segera melancarkan pukulan jarak jauhnya membuat tawon-tawon berbisa berhamburan ke segala arah, puluhan tawon tewas seketika, Namun tawon-tawon lain tetap mengurung mereka, sehingga Pek Yun Hui terus melancarkan pukulan jarak jauhnya, Tampak ratusan ekor tawon berjatuhan terhantam pukulan tersebut

Akan tetapi, ribuan tawon-tawon berbisa masih tetap terbang mendekati mereka, sementara Bee Kun Bu sibuk melancarkan pukulan jarak jauh, Bangau Sakti terus terbang, meskipun binatang-binatang berbisa itu terus mengejar, tanpa rasa takut sama sekali. Oleh karena itu, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui pun harus melindungi Bangau Sakti.

"Celaka!" seru Bee Kun Bu yang mulai panik, "Ta-won- tawon berbisa itu menyerang Bangau Sakti dari bawah.

Pek Yun Hui memandang ke bawah, dilihatnya sebagian tawon-tawon berbisa itu mulai menyerang Bangau Sakti dari bawah, Karena Pek Yun Hui duduk di atas punggung Bangau Sakti, sulit baginya untuk melancarkan pukulan jarak jauh ke bawah, Pada saat krisis itu, mendadak Gin Tie Suseng tersadar dari pingsan. Ketika menyaksikan hal itu, ia pun segera berseru.

Tawon-tawon berbisa itu tidak bisa terbang tinggi, cepat perintahkan burung ini terbang ke atas, itu dapat menghindar dari kejaran tawon-tawon berbisa itu!"

Mendengar itu, Pek Yun Hui segera menepuk leher Bangau Sakti tiga kali, Setelah memekik keras, burung itu terbang ke atas secepat kilat

Tawon-tawon berbisa itu masih mengejar, tapi sudah ketinggalan Pek Yun Hui menarik nafas lega, meskipun wajahnya tampak cemas.

"Tadi Bangau Sakti memekik seperti rintihan, mungkin sudah tersengat tawon berbisa itu!"

"Benar!" sahut Bee Kun Bu. "Tapi, Bangau Sakti tidak kuat membawa kita bertiga, lebih baik cari tempat yang aman untuk turun!"

Sebelum Pek Yun Hui menjawab, burung itu sudah meluncur ke bawah dengan gerakan yang tampak sedikit goyah.

Pek Yun Hui memandang ke bawah, ternyata sebuah puncak gunung, Sayup-sayup terdengar pula suara air terjun, Pek Yun Hui segera menepuk leher Bangau Sakti dua kali, Burung tersebut langsung meluncur ke arah suara air terjun, Meskipun dengan gerakan miring dan tampak goyah, akhirnya mendarat juga di situ.

Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng terpental dekat air terjun, sedangkan Pek Yun Hui masih berada di atas punggung Bangau SaktL

Begitu Pek Yun Hui meloncat turun, burung itu segera terkulai Terdengar dari paruhnya ada suara rintihan, seakan menahan rasa sakit di tubuhnya.

Cepat-cepat Pek Yun Hui mengeluarkan sebutir obat, lalu dimasukkan ke dalam mulut burung itu, Wa-

taupun telah diberi obat, burung itu tetap belum bisa bergerak.

Tiba-tiba hati Pek Yun Hui tergerak ketika mendengar suara air terjun, Racun tawon bersifat panas, sedangkan di puncak gunung ini amat dingin, terutama air terjun itu, Kalau dicoba direndam di air terjun, bukankah burung itu akan merasa enakan? Pikir Pek Yun Hui, lalu membawa Bangau Sakti itu ke tempat air terjun.

Akan tetapi, Bangau Sakti tampaknya tak mau turun ke air terjun itu, padahal Pek Yun Hui telah mendorongnya berulang kali, Hal itu membuat Pek Yun Hui tak habis pikir, Heran dia, Dan belum habis rasa ke-heranannya, mendadak terdengar suara tawa di dalam lembah di balik air terjun itu.

Pek Yun Hui terperanjat Hatinya sungguh tak menduga di tempat yang sunyi dan amat dingin ini terdengar ada suara orang, Mungkinkah orang itu salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San? Pikir Pek Yun Hui.

"Siapa yang tertawa?" bentak Pek Yun Hui, "Harap segera keluar! Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku bertindak kurang ajar!"

Bee Kun Bu yang sedang memperhatikan luka Gin Tie Suseng, terkejut begitu mendengar bentakan Pek Yun Hui, ia segera menghimpun lweekangnya untuk menjaga segala kemungkinan

Walau Pek Yun Hui sudah membentak, tiada sahutan dari balik air terjun, kecuali hanya jatuhnya air dari tebing tinggi itu.

"Kak! Bagaimana mungkin ada orang di balik air terjun itu? Kalau ada, itu pasti ada jalan lain memasuki tempat itu!" ujar Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui terus menatap air terjun itu, lama sekali,

Keningnya berkerut tajam

"Orang itu bersembunyi di balik air terjun Tidak diragukan Mungkin dia salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San! Mengenal jalan keluar masuknya. "

Pek Yun Hui tidak melanjutkan Dia pun sependapat dengan Bee Kun Bu, pasti ada jalan lain menuju ke balik air terjun itu.

Begitu melihat Pek Yun Hui sependapat, Bee Kun Bu segera meloncat ke atas sebuah batu di dekat air terjun itu. Setelah berdiri di atas batu, ia langsung menengok ke sana ke mari, juga mengawasi air terjun itu.

Sesaat kemudian dia mengetahui Air terjun itu ternyata berbeda dengan air terjun biasa, Di balik air terjun tampak terdapat sebuah batu besar yang menonjol keluar juga terdapat sebuah lubang besar, mirip gua. Kalau tidak melihat dengan tajam tentunya tidak jelas keadaan lubang itu.

"Kak! Di situ memang terdapat sebuah lubang mirip gua!" seru Bee Kun Bu memberitahukan

Begitu mendengar seruan Bee Kun Bu, Pek Yun Hui segera melesat mendekat Dia berdiri di sisi Bee Kun Bu, lalu memandang tempat itu dengan penuh perhatian

"Kalau kita tidak berdiri di atas batu ini, pasti tidak bisa melihat lubang di balik batu besar itu!" ujar Pek Yun Hui. "Sebab, batu besar itu berada di balik air terjun! seandainya ada orang tinggal di silu, kita harus berhati-hati. Dia tadi tidak menyahut!"

Bersamaan dengan itu terdengar lagi suara tawa, Suaranya kering dan sepertinya berasal dari orang berusia tua. Kemudian terdengar pula sahutan.

"Mendadak datang di bawah pohon siong, tidur di atas batu! Di dalam lembah tiada kalender, tidak tahu kini sudah tahun apa? Mendengar pembicaraan kalian, tentunya kalian adalah orang yang berkepandaian tinggi!

Maaf, aku orang tua tidak leluasa berjalan kuharap kalian berdua masuk ke mari untuk bereakap-cakap!"

Bee Kun Bu tertegun ketika mendengar suara sahutan itu.

Hatinya yakin orang itu berkepandaian tinggi.

"Kak! Orang itu mengatakan tidak leluasa berjalan itu pasti ada sebabnya, Bagaimana jika aku yang masuk ke sana untuk melihat? Kalau diriku terjadi sesuatu diluar dugaan, barulah kakak menerjang ke dalam!"

Pek Yun Hui mengangguk, namun terdengar lagi suara dari dalam gua yang di balik air terjun itu.

"Lima Setan tidak perlu khawatir, kini aku sudah mengambil keputusan tidak akan keluar dari gua ini, kalian tidak perlu berkasak-kusuk untuk mencelakaiku!"

Mendengar itu, kening Pek Yun Hui pun berkerut Kemudian dia berbisik kepada Bee Kun Bu.

"Kun Bu, orang itu sepertinya tiada hubungan dengan Lima Setan Swat Ling San! Namun biar bagaimana engkau harus berhati-hati!"

Bee Kun Bu mengangguk, kemudian melesat ke arah batu besar itu sambil menghimpun Iweekangnya, setelah itu baru melesat ke dalam gua. ia melihat seorang tua duduk di situ. Kurus kering dan rambutnya amat panjang melewati bahu. Bee Kun Bu ingin memberi hormat namun orang tua itu mendadak menghentakkan sepasang telapak tangannya ke arah Bee Kun Bu, menimbulkan suara menderu-deru.

Bee Kun Bu yang sudah siap, cepat menjulurkan sepasang tangannya ke arah orang tua itu. Ternyata Bee Kun Bu menyambut serangan orang tua yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Setelah menyambut serangan itu, Bee Kun Bu baru tahu, tenaga dalamnya lebih tinggi dari yangdimiliki orang tua itu.

"Aku tidak sejalan dengan Lima Setan Swat Ling San!" ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum hambar "Kenapa Cianpwee langsung menyerangku, tak sabar menunggu kuberitahukan maksud tujuanku ke mari?"

Orang tua itu tampak terkejut "Kalau engkau tidak sejalan dengan Lima Setan Swat Ling San, kenapa memasuki Swat Ling San ini? seandainya engkau ingin merebut benda pusakaku, ketahuilah, itu hanya mimpi di siang hari bolong!"

Bee Kun Bu tidak kenal orang tua itu. Namun yakin kalau orang tua ini bermusuhan dengan Lima Setan Swat Ling San, maka ia berlega hati.

"Aku datang dari Tionggoan, murid partai Kun Lun! Kedatanganku di Swat Ling San ini, justru karena ingin memusnahkan sarang Lima Setan itu! Karena mendengar suara tawa Cianpwee, maka aku memberanikan diri masuk ke mari! Harap Cianpwee sudi memaafkan ke-lancanganku!"

Orang tua itu diam saja, tapi terus memandang Bee Kun Bu dengan mata terbelalak

Pada waktu bersamaan, terdengar suara desiran, ternyata Pek Yun Hui melesat ke dalam, lalu berdiri di sisi Bee Kun Bu. itu membuat mulut orang tua itu ternganga lebar, karena tidak menyangka akan kemunculan gadis cantik itu. "lni Pek Yun Hui!" ujar Bee Kun Bu memperkenalkan "Kami datang dari gunung Kwat Cong San!"

"Aaaakh...!H Tiba-tiba orang tua itu menarik nafas panjang, "Aku pun berasal dari Tionggoan, Namun kini sudah belasan tahun berada di sini! Aku mengira selamanya tidak akan bertemu orang Tionggoan lagi, tidak tahunya justru bertemu kalian, ini barangkali jodoh kita! Karena itu, aku ingin menasihati kalian!"

Melihat kalau orang tua itu tiada niat jahat, Pek Yun Hui menarik nafas lega, Namun ia merasa heran, kenapa orang tua itu tetap duduk, sama sekali tidak mau bangkit berdiri Kenapa begitu?

"Cianpwee punya nasihat apa? Silakan katakan...!" pinta Pek Yun Hui.

Mendadak sekujur badan orang tua itu bergeme-taran,

Lama sekali barulah ia membuka mulut

"Tadi saudara kecil itu bilang, kedatangan kalian ingin memusnahkan sarang Lima Setan Swat Ling San. itu tidak mungkin! Lebih baik kalian berdua segera kembali ke Tionggoan saja! Karena Swat Ling San ini merupakan tempat yang amat berbahaya, terutama Ling Coa Hong Tok yang menggunakan racun! Entah sudah berapa banyak pendekar Tionggoan mati di tangannya, Kalau tidak memiliki obat pemunah racun, mungkin kini aku cuma tinggal tulang- belulang saja! Karena itu, alangkah baiknya kalian berdua cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan kembali ke Tionggoan!"

Ketika mendengar orang tua itu memiliki obat pemunah racun, hati Bee Kun Bu pun tergerak

"Aku memang sudah bertemu Ling Coa Hong Tok itu. Temanku dan burung bangau terluka oleh racun, sudikah Cianpwee mengobati mereka?" tanya Bee Kun Bu.

"Jadi, kalian berdua telah bertarungdengan Ling Coa Hong Tok?" Terbelalak orang tua itu. "Tapi kalian masih bisa hidup?" "Kalau kami sudah mati, bagaimana mungkin berada di sini?" sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum. "Kalau Cianpwee memiliki obat pemunah racun, sudikah kiranya Cianpwee mengobati teman kami dan burung bangauku itu?"

"Kalau begitu. " Orang tua itu memandang Pek Yun Hui.

"Bawalah orang itu dan burung bangaumu ke mari! Aku tidak bisa keluar, sebab punggungku dikunci dengan rantai besi!"

Kini Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu baru mengerti, kenapa orang tua itu tidak mau bangkit berdiri Ternyata punggungnya dikunci dengan rantai besi.

"BaiklahV ujar Bee Kun Bu. "Aku akan membawa teman kami ke mari!"

"Harus cepat!" Orang tua itu memberitahukan. "Sia-pa yang terkena racun tawon, lewat dua jam pasti mati!" Bee Kun Bu melirik Pek Yun Hui sejenak, setelah itu barulah melesat keluar, Pek Yun Hui segera meng-ikutinya. Begitu sampai di luar, Bee Kun Bu berkata pada Pek Yun Hui.

"Orang tua itu agak aneh, benar atau tidak dia memiliki obat pemunah racun itu, kita tidak mengetahuinya. Harap Kakak yang memutuskannya!"

Pek Yun Hui memandang Bangau Sakti yang terus merintih, membuat hatinya merasa seperti teriris.

"Kun Bu, daripada Gin Tie Suseng dan Bangau Sakti ini mati secara mengenaskan, alangkah baiknya kita pasrah pada orang tua itu untuk mengobati mereka. "

"Kalau begitu, cepatlah kita bawa mereka ke dalam gua!" sahut Bee Kun Bu dan langsung membawa Gin Tie Suseng ke dalam gua itu.

Pek Yun Hui tak ragu lagi, ia cepat-cepat membawa burung itu ke dalam gua.

"Bawa mereka ke mari!" ujar orang tua itu ketika melihat mereka masuk gua, "Aku tidak bisa bergerak. " Bee Kun Bu tidak banyak pikir lagi, langsung membawa Gin Tie Suseng ke hadapan orang tua itu.

"Ngmmm!" Orang tua itu manggut-manggut setelah memperhatikan Gin Tie Suseng yang dibaringkan di hadapannya. "Dia terkena racun aneh, tapi... bukan racun tawon, mungkin orang itu tidak akan sadar dalam beberapa hari."

"Benar!" Bee Kun Bu mengangguk Temanku ini bukan terkena racun tawon, mohon Cianpwee segera menolongnya!"

Orang tua itu tampak mengeluarkan dua butir obat dari dalam baju nya.

"Aku tidak bisa bergerak, apalagi untuk mengerahkan tenaga dalam, Engkau masukkan dua butir obat ini ke dalam mulutnya, Setelah itu engkau pun harus mengerahkan Iweekangmu untuk membuka semua jalan darahnya guna mendesak keluar racun yang bersarang di dalam tubuhnya!"

"Ya!" Bee Kun Bu memasukkan dua butir obat itu ke mulut Gin Tie Suseng, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung kawannya itu.

"Setelah racun itu terdesak keluar, dia pasti selamat!" ujar orang tua itu pada Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu yakin pada orang tua itu, ia segera mengerahkan lweekangnya ke dalam tubuh Gin Tie Suseng melalui punggungnya, Berseteng beberapa saat kemudian, mendadak Gin Tie Suseng membuka mulutnya.

"Uaaakh!" ia memuntahkan darah hitam.

"Kini racun itu telah muntah keluar!" ujar orang tua itu, "Sungguh hebat Iweekangmu, Saudara kecil! Sekarang engkau melancarkan semua jalan darahnya dengan Iweekangmu, sejam kemudian dia pasti bisa bergerak Setelah memuntahkan racun itu, Gin Tie Suseng tersadar, meski masih belum bisa bergerak, Tiba-tiba ia merasa ada semacam hawa hangat mengalir ke dalam tubuhnya, ia merasa nyaman sekali, kemudian ia pun coba mengerahkan lweekangnya, seketika juga ia merasa tubuhnya hangat sekali.

Berselang beberapa saat, Bee Kun Bu menarik kembali lweekangnya, Orang tua itu memandang dengan penuh kekaguman

"Sungguh hebat lweekangmu!" ujar orang tua itu. "Kalau engkau ke mari dua tahun lalu, mungkin bisa menolongku keluar dari gua ini, namun kini telah ter-lambat. "

"Cianpwee tidak usah putus asa, Iweekang kakak Pek jauh lebih tinggi dariku, mungkin kami berdua bisa menolong Cianpwee!" ujar Bee Kun Bu sungguh-sungguh.

"Saudara kecil, aku berterimakasih atas niat baikmu! Tapi sudah ter!ambat. " Orang tua itu menarik nafas panjang,

"Yang penting kini, bawalah burung itu kemari!"

Pek Yun Hui segera membawa Bangau Sakti itu ke hadapan orang tua itu, kemudian memberitahukan.

"Burung ini mengerti bahasa orang, lagi pula amat kuat!

Silakan Cianpwee mengobatinya!"

Orang tua itu memandang Bangau Sakti dengan penuh perhatian, lalu menarik nafas panjang.

"lni adalah Bangau Sakti, hanya sayang dia sudah terkena racun tawon!" ujar orang tua itu, "Saudara kecil, tolong ambilkan batu yang di sudut kiri itu, dan di-nyalakan!"

Bee Kun Bu lertegun, tapi ia tetap melangkah ke sudut kiri untuk mengambil batu kecil itu yang mirip batu bara, Setelah mengambil batu kecil itu, keningnya pun berkerut

"Saudara kecil!" Orang tua itu tertawa, "Jangan meremehkan batu kecil itu, Lima Setan Swat Ling San yang membawa batu kecil itu ke mari. Mereka ingin memaksaku menyerahkan obat pemunah racuni Tapi aku tetap tolak, kemudian kusimpan batu kecil itu! Tidak disangka, kalau batu kecil itu bisa dipergunakan untuk mengobati Bangau Sakti ini!"

Bee Kun Bu tereengang mendengarnya.

"Saudara kecil, tolong bakar batu kecil itu!" ujar orang tua

itu.

Bee Kun Bu menurut dan segera membakar batu kecil itu,

tak lama batu kecil pun menyala.

"Taruh di atas batu itu!" Orang tua tersebut menunjuk ke arah sebuah batu.

Bee Kun Bu menurut tagi, sedangkan orang tua itu tertawa, sambil memandang Pek Yun Hui. "Nona tidak perlu cemas, Bangau Sakti ini pasti sembuh!"

"Terimakasih, Cianpwee!" ucap Pek Yun Hui.

"Nah! sekarang engkau bawa batu kecil yang masih menyala itu ke mari!" perintah orang tua itu pada Bee Kun Bu. "Di situ terdapat dua batang besi, jepit batu kecil itu dan bawa ke mari!"

Bee Kun Bu mengangguk, ia mengambil dua batang besi itu, lalu menjepit batu kecil yang masih menyala, dibawa ke hadapan orang tua tersebut

"Taruh ke bawah!" ujar orang tua itu.

Bee Kun Bu menaruh batu kecil itu ke bawah, sedangkan orang tua itu segera memungutnya, Kemudian batu kecil yang masih menyala itu ditempelkan pada luka yang di badan Bangau Sakti.

Bangau Sakti itu memekik perlahan, kelihatannya sedang menahan rasa sakit Namun kemudian diam seakan tidak merasa sakit lagi

"Bagus!" Orang tua itu tertawa, "Kau bisa menahan sakiti Tak lama lagi kau pasti sembuh!" "Aaakh!" sahut Bangau Sakti itu dengan suara lemah, Berselang beberapa saat, batu kecil itu padam, Si orang tua melempar batu kecil ke sudut kiri, setelah itu mengeluarkan dua butir obat "Nona! Tolong masukkan obat ini ke dalam mulut Bangau Sakti itu!" ujar orang tua tersebut pada Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui segera menerima obat itu, dan langsung dimasukkan ke mulut burung tersebut

Beberapa saat kemudian, Bangau Sakti sudah bisa bergerak Betapa girangnya Pek Yun Hui. seketika itu juga ia teringat sesuatu.

"Berkat pertolongan Cianpwee, maka Bangau Sakti bisa sembuh! Karena itu, kami pun bersedia menolong Cianpwee meninggalkan tempat ini!"

"Jalan darah kematianku telah ditotok. Kalau aku berani mengerahkan lweekang, maka jiwaku pasti mati! Terimakasih atas kesediaan Nona untuk menoIongku...!" Tiba-tiba terlintas suatu pikiran dalam benak Bee Kun Bu. Karena itu, ia pun mengerahkan Iweekangnya, dan mendadak menghantam ke arah rantai yang di belakang punggung orang tua itu.

"Braaak!" Rantai itu putus seketika. Namun orang tua itu pun berteriak kaget, lalu diam tidak berani bersuara lagi, Tampak wajah pun pucat pias, "Maaf, Cianpwee!" ucap Bee Kun Bu. "Aku ingin menolong Cianpwee, maka memutuskan rantai itu!"

Terimakasih atas niat baik Saudara kecil!" sahut orang tua itu sambil menarik nafas panjang, "Tapi kita terlambat bertemu, walau rantai ini sudah putus, tapi itu juga pereuma! Mumpung aku masih bernafas, maka akan kuceritakan kenapa aku dikurung di dalam gua ini!" "Harap Cianpwee berlega hati. Kalau kami tidak mampu menolong Cianpwee keluar dari tempat ini, kami pun akan mewakili Cianpwee menuntut balas pada Lima Setan Swat Ling San itu!" ujar Pek Yun Hui. "Terimakasih!" Orang tua itu tersenyum dan mulai menutur, "Aku tidak sangka kalian berdua akan muncul di tempat ini, Padahal, sebelumnya aku sudah tidak berani memikirkan tentang balas dendam! Namun kini... aku telah menyaksikan Saudara kecil mengerahkan Iweekangnya, Aku yakin kalian berdua memiliki kepandaian yang amat tinggi. Mungkin kalian berdua dapat menuntut balas dendamku ini!"

"BoIehkah Cianpwee menjelaskan, kenapa Cianpwee mengatakan tidak bisa keluar dari gua ini?" tanya Pek Yun Hui karena melihat sikap orang tua itu berubah aneh.

"Karena Lima Setan itu telah mematahkan tulang punggungku bahkan juga mematahkan kedua tulang betisku pu!a! Maka walau rantai itu telah putus, aku tetap tidak bisa berdiri maupun bergerak!" Orang tua itu memberitahukan sambil tersenyum getir

"Sungguh kejam Lima Setan itu!" ujar Bee Kun Bu. "Setelah itu..." lanjut orang tua tersebut "Lima Setan

menotok jalan darah kematianku, karena tadi aku berseru kaget, jalan darah kematianku tergerak, tidak lama lagi ajalku pasti tiba! Mumpung masih ada sedikit waktu, aku akan menutur semua itu!"

Berkala sampai di situ, wajah si orang tua semakin pucat Keringat juga terus mengucur deras.

"Lebih baik Cianpwee beristirahat sejenak!" ujar Bee Kun Bu merasa tidak tega menyaksikannya, "Aku akan coba menolong Cianpwee dengan lweekangku!"

"Pereuma!" Orang tua itu menggeleng-geleng kepala, "Tapi kalau Saudara kecil ingin coba, itu boleh saja!"

Bee Kun Bu mengangguk, tapi kemudian memandang Pek Yun Hui seakan minta pendapatnya.

"Engkau berniat baik, siapa tahu akan membawakan hasil yang baik pu!a!" ujar Pek Yun Hui. "Engkau boleh coba mengobati Cianpwee itu dengan tenaga dalammu!" "Baiklah!" Bee Kun Bu mengangguk, lalu duduk di belakang orang tua itu. "Cianpwee, bersiaplah! Aku akan segera mengerahkan lweekangku!"

Bee Kun Bu menaruh sepasang telapak tangannya di punggung orang tua itu, lalu mulai mengerahkan Iweekangnya, Tak lama ubun-ubun Bee Kun Bu mulai mengepulkan asap putih seperti kabut.

Wajah orang tua itu terus berubah merah dan pucat Ternyata Bee Kun Bu berusaha menembus jalan darah kematian orang tua itu dengan lweekangnya. Apabila jalan darah tertembus, nyawa orang tua itu pun terto!ong.

Akan tetapi, berulang kali Bee Kun Bu berupaya, tetap tidak mampu menembus jalan darah kematian itu.

"Sungguh dalam Iweekangtnu, Saudara kecil! Kalau engkau datang dua tahun lalu, nyawaku pasti terto!ong. Kini... sudah terlambat!" ujar orang tua itu sambil menarik nafas panjang.

Bee Kun Bu menarik kembali Iweekangnya, ia meng- geleng-geleng kepala seraya berkata.

"Kepandaianku terbatas, aku,., tidak mampu menolong Cianpwee.,."

"Jangan berkata begitu!" Orang tua itu tersenyum "Saudara kecil memiliki lweekang yang begitu hebat, bolehkah aku tahu siapa gurumu?"

"Aku murid Hian Ceng Totiang, apakah Cianpwee kenal guruku?" jawab Bee Kun Bu.

"Aku pernah bertemu Kun Lun Sam Cu sekali, akan ietapi. " Orang tua itu mengerutkan kening, Lwee-kangmu

sepertinya. bukan berasal dari perguruanmu sebab agak

aneh. Mungkin engkau belajar dari orang lain! Ya, kan?" Bee Kun Bu tidak segera menyahut, melainkan mengarah pada Pek Yun Hui. Orang itu merasa heran, namun tidak banyak bertanya, dia hanya tersenyum seraya berkata.

"Berhubung engkau memiliki kepandaian yang begitu tinggi, aku ingin menanyakan seseorang, Entah engkau sudi memberitahukan atau tidak?"

"Cianpwee ingin menanyakan tentang siapa?" tanya Bee Kun Bu.

"Sudah dua puluh tahun aku tidak bertemu orang itu. Entah Saudara kecil kenal dia atau tidak?" Orang tua itu menarik nafas.

"Cianpwee. " Tiba-tiba mata Bee Kun Bu berbinar.

"Apakah Cianpwee ingin menanyakan tentang Tabib Sakti Sao Kong Gie?"

"Benar! Benar!" Wajah orang tua itu langsung berseri "Kalau begitu, Saudara kecil pasti kenal dia!"

"Aku memang pernah bertemu beliau!" ujar Bee Kun Bu dan sekaligus menutur tentang kejadian itu.

"Kalau begitu, apa yang telah terjadi di kuil Toa Ciok Si adalah gara-garaku!" ujar orang tua itu.

"Kok, gara-gara Cianpwee?" Bee Kun Bu tampak keheranan

"Aku adalah paman guru Sao Kong Gie.,." Orang tua itu memberitahukan dan melanjutkan "Buah ajaib yang di kuil Toa Ciok Si itu merupakan buah langka, Namun sayangnya, aku lupa memberitahukan pada Sao Kong Gie, bahwa para Hweeshio di kuil itu memiliki kepandaian tinggi, sehingga menimbulkan kejadian itu!"

"Cianpwee, aku sama sekali tidak mengerti!" ujar Bee Kun

Bu.

"Pada waktu itu, aku menerima amanat dari saudara

seperguruanku maka berangkat ke Swat Ling San untuk mencari obat yang dapat memunahkan racun yang dimiliki Ling Coa Hong Tok. Tapi aku malah tertangkap dan dikurung di sini sampai sebelas tahun lamanya." Orang tua itu menjelaskan

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut, "Di dalam kuil Toa Ciok Si terdapat tiga tetua, yaitu Ku Hut Leng Kong, Sin Hut Leng Yan dan Leng Hai.-." "ltu.,." Bee Kun Bu tampak bingung lagi, "Apa yang Saudara kecil ceritakan tadi adalah kejadian belakangan, yang kuceritakan akan kejadian antara Sao Kong Gie dengan Kuil Toa Ciok Si!" Orang tua itu memberitahukan.

Bee Kun Bu diam. Orang tua itu melanjutkan sedangkan Pek Yun Hui mendengar dengan penuh per-hatian.

"Kejadian itu justru berkaitan dengan rimba persilatan kini, tentunya berhubungan pula dengan kalian berdua dan diriku yang terkurung di sini!"

"Ooooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut

"Sudah sebelas tahun aku dikurung di sim\ Tidak disangka akan bertemu kalian berdua..."

"Cianpwee!" ujar Bee Kun Bu bersungguh-sungguh. "Kami berdua nanti pasti akan mewakili Cianpwee untuk menuntut balas pada Lima Setan itu!"

"Terima kasih!" ucap orang tua itu sambil tersenyum, namun kemudian wajahnya mulai berubah pucat pias.

"Cianpwee.,." Bee Kun Bu terkejut

"Saudara kecil, aku tidak bisa hidup lagi, sebab seluruh urat nadiku telah putus, Saudara kecil,.. namaku adalah Ku Cu Cen. Harap kalian berdua membasmi Lima Setan Swat Ling San itu!" ujar orang tua itu lemah, penuh harap.

"Kami berjanji!" sahut Bee Kun Bu. "Kami berdua akan membasmi Lima Setan Swat Ling San itu!" Terima kasih, Saudara kecil.,.!" Suara orang tua itu semakin lemah, "Siang Cing Koan adalah markas Lima Setan itu, namun kalian berdua harus berhati-hati. H

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk

"Saudara kecil,. " Orang tua itu merogoh ke dalam

bajunya, ia mengeluarkan sebuah botol porselin, kemudian diberikan pada Bee Kun Bu. "Di dalam botol ini berisi obat pemunah racun, simpanlah baik-baik!"

Bee Kun Bu segera menjulurkan tangannya menerima botol itu, Dan pada waktu bersamaan, orang tua itu terjatuh miring.

"Cianpwee. !" Bee Kun Bu ingin memapahnya, namun

orang tua itu malah menggeleng kepala. "Balaskan dendamku ini.,.!" ujarnya lirih.

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk dan berusaha menolong orang tua itu dengan tenaga dalamnya.

"Pereuma, Kun Bu!" ujar Pek Yun Hui sambil menggeleng- gelengkan kepala, "Nafasnya sudah putus!"

"Haah.,.?" Bee Kun Bu tertegun ia memandang orang tua itu, ternyata orang tua itu sudah mati. "Sungguh kasihan orang tua inL.!"

"Kun Bu, Bangau Sakti sudah sembuh!" Pek Yun Hui memandangnya. "Cobalah engkau periksa Gin Tie Su-seng, apakah dia sudah sembuh!"

Bee Kun Bu segera mendekati Gin Tie Suseng, Ketika melihat Bee Kun Bu mendekatinya, Gin Tie Suseng tertawa getir

"Kalau tiada kalian berdua, nyawaku pasti sudah melayang. Aku. berhutang budi pada kalian berdua."

"Yang mengobatimu adalah Ku Cu Cen Cianpwee!" sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum, "Aku cuma membantu dengan tenaga dalam saja!" "Saudara Bee..." Gin Tie Suseng terharu.

"Saudara Kim, cobalah engkau mengerahkan lwee- kangmu, apakah racun itu telah punah semua?" ujar Bee Kun Bu.

Gin Tie Suseng langsung mengerahkan Iweekangnya, setelah itu wajahnya tampak berseri

"Saudara kecil, aku sudah sembuh!" ujarnya memberitahukan "Aku harus berterima kasih pada Cianpwee itu!"

"Ku Cianpwee sudah meninggal!" jawab Bee Kun Bu sambil menarik nafas.

"Aaakh...!" keluh Gin Tie Suseng, "Aku... harus membalas dendam pada Lima Setan Swat Ling San!"

"Saudara Kim! Kita harus meninggalkan gua ini!" Ujar Pek Yun HuL "Kun Bu, mari kita pergi!"

Pek Yun Hui, Bee Kun Bu, Gin Tie Suseng dan Bangau Sakti telah keluar dari gua yangdi balik air terjun, Namun mereka masih berdiri di situ sambil memandang ke arah gua, Tiba-tiba mereka mendengar suara tawa yang amat panjang, tak lama muncullah seseorang dari balik sebuah batu besar, ternyata Tan Cun Goan, salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San.

Ketika pertama kali bertemu Tan Cun Goan, Bee Kun Bu terkesan baik padanya, Namun setelah tahu berbagai kejahatan yang dilakukan Lima Setan tersebut, dan menganiaya Ku Cu Cen, orang tua yang dirantai di dalam gua di balik air terjun, maka kesan yang baik itu pun pupus dalam benaknya.

"Apa kabar setelah berpisah di sungai itu?" tanya Tan Cun Goan sambil tersenyum, "Sungguh beruntung kita bertemu di sini lagi!"

"Ketika itu.,." sahut Bee Kun Bu dingin, "Aku kira Cianpwee seorang pendekar dari luar perbatasan, tak tahunya justru salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San! Kini kami sudah berada di Swat Ling San ini, dan juga telah menghancurkan gua yang mengurung Ku Cu Cen, engkau mau bagaimana sekarang?"

Begitu menyaksikan sikap Bee Kun Bu, air muka Tan Cun Goan berubah, bahkan amat gusar, namun masih dapat menekan kegusarannya, dan menyahut sambil tersenyum.

"Saudara bersikap demikian, apakah telah lupa akan pertemuan kita di sungai itu? Lagi pula kenapa Saudara tidak bertanya, siapa yang mengurung Ku Cu Cen di dalam gua itu? Saudara cuma mendengar, lalu langsung mempersalahkan orang lain?"

Gin Tie Suseng diam, sama sekali tidak ikut campur, karena pembicaraan mereka berdua menyangkut sedikit urusan pribadi, namun mendadak terdengar suara tawa dingin, ternyata suara tawa Pek Yun Hui.

"Lima Setan Swat Ling San bernama busuk, bahkan menyuruh aliran sesat lain untuk menyerbu ke Tiong-goan! Kami ke mari justru ingin memusnahkan sarang setan ib!is, kebetulan bertemu Ku Cu Cen di dalam gua, maka kami pun tahu jelas bagaimana perbuatan kalian berlima! Mengingat engkau pernah menasihati kami, kini kami pun menasihatimu agar mau bertobat! Kalau ti-dak. " Pek Yun Hui menatapnya

tajam.

"Ketika bertemu di sungai itu, aku sama sekali tidak tahu bahwa engkau salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San, maka aku pun terkesan baik padamu!" ujar Bee Kun Bu. "Kini aku sudah tahu dan kebetulan kita bertemu di sini, silakan melancarkan serangan!"

"Eh?" Tan Cun Goan tersenyum, "Saudara Bee ingin bertarung denganku?"

"Ya!" Bee Kun Bu mengangguk "Aku berani ke mari, tentunya berani pula bertarung denganmu!" Tan Cun Goan menatap Bee Kun dalam-dalam, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata.

"Aku kebetulan lewat di sini, sama sekali tiada niat bertarung denganmu, Saudara Bee! Kini kalian telah memasuki Swat Ling San, selanjutnya kita adalah musuh atau kawan, itu tergantung dari keputusan Saudara Bee!" ujar Tan Cun Goan melanjutkan "Mungkin orang-orang di Siang Cing Koan di puncak gunung Swat Ling San bernama busuk, tapi mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi! Nona Pek dan Saudara Bee memang telah menggemparkan rimba persilatan Tionggoan, namun sulit melawan orang banyak! Selama ini aliran Swat Ling San jarang berhubungan dengan dunia luar, dan ber-prinsip orang tidak menggangguku, aku pun tidak akan mengganggu orang! Kita pernah bertemu di sungai itu pertanda kita berjodoh Oleh karena itu sekali lagi ku-nasihati kalian, cepatlah meninggalkan tempat ini, jangan menempuh bahaya! Hari ini cukup kubicara sampai di sini, kelak bertemu harus lihat situasi barulah memutus-kannya!"

Usai berkata begitu, Tan Cun Goan memandang mereka bertiga, lalu membalikkan badannya meninggalkan tempat itu. Bee Kun Bu mengernyitkan kening, lalu melesat ke arah Tan Cun Goan seraya membentak

"Tidak gampang engkau pergi begitu saja!" Bee Kun Bu menyerang punggung Tan Cun Goan.

Tan Cun Goan tampak berjalan santai, tapi sesungguhnya telah siap, sebab telah menduga bahwa Bee Kun Bu akan menyerangnya, Segeralah ia memutarkan badan-nya, sekaligus berkelit dan melancarkan serangan ke arah dada Bee Kun Bu.

"Hati-hati, Saudara Bee!" serunya.

Bee Kun tidak menduga akan serangan itu, namun masih sempat menghindar lalu mencengkeram tangan Tan Cun Goan. Akan tetapi, entah dengan jurus apa Tan Cun Goan mengelak, sehingga cengkeraman Bee Kun Bu tidak mengenai sasaran.

Setelah itu, Tan Cun Goan terus menyerang Bee Kun Bu, sasaran serangannya bagian dada Bee Kun Bu. Sibuklah Bee Kun Bu berkelit ke sana ke mari, tapi sepasang tangan Tan Cun Goan tetap bergerak mengarah pada dadanya.

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu menghadapi se-rangan- serangan itu, Karena terdesak, maka ia segera menghimpun Lweekangnya, lalu mendorong ke arah Tan Cun Goan.

"Ha ha!" Tan Cun Goan tertawa gelak, ia pun mendorongkan sepasang telapak tangannya ke arah Bee Kun Bu, dan terdengarlah suara benturan keras.

Tan Cun Goan terdorong mundur satu depa, sedangkan Bee Kun Bu termundur lima langkah, Bee Kun Bu tampak penasaran dan kemudian menyerang lagi. Tan Cun Goan tertawa hambar Kali ini ia tidak menyambut serangan yang dilancarkan Bee Kun Bu, melainkan meloncat menghindar

Ketika menyerang, Bee Kun Bu menggunakan sembilan bagian tenaga dalamnya. Karena Tan Cun Goan mengelak, serangan itu mengarah pada sebuah pohon.

Pohon itu roboh dan daunnya rontok semua, Tan Cun Goan tertegun menyaksikan itu.

"Saudara Bee, sungguh dalam Lweekangmu!" ujar Tan Cun Goan sambil tertawa gelak. "Walau engkau memiliki Lweekang yang dalam, pukulanmu sulit melukai orang!

Engkau bersiap-siaplah, aku pun akan menyerangmu dengan sebuah pukulan!"

Tan Cun Goan segera melancarkan serangannya. Bee Kun Bu cepat-cepat menghimpun Lweekangnya untuk menyambut pukulan itu. Akan tetapi, tiba-tiba Tan Cun Goan tertawa terbahak-bahak. itu membuat Bee Kun Bu tidak mengerti, kenapa Tan Cun Goan menyerang sambil tertawa? Oleh karena itu, ia menatap Tan Cun Goan. "Mengingat kita pernah bertemu di sungai itu, maka aku terus-menerus menasihati kalian jangan memasuki Swat Ling San ini! Tapi kalian sama sekali tidak mau dengar! Lagi pula di antara kita tiada dendam, tentunya aku pun tidak akan menycrangmu, harap Saudara Bec berlega hati!" ujar Tan Cun Goan, lalu memandang sebuah pohon siong yang tak jauh dari situ, "Saudara Bec, perhatikanlah Aku akan melancarkan pukulan!"

Tan Cun Goan melancarkan sebuah pukulan Pu-kulan itu tidak diarahkan pada Bec Kun Bu, melainkan pada sebuah pohon siong, Sungguh mengherankan pukulan itu sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Akan tetapi, justru telah terjadi hal yang amat mengejutkan Pohon siong yang terkena pukulan itu, semua daunnya berubah kuning dan layu seperti pohon mali.

Menyaksikan itu, Bee Kun Bu terbelalak dengan mulut ternganga lebar, tidak menyangka kalau Tan Cun Goan memiliki pukulan beracun

"Saudara Bee!" Tan Cun Goan tertawa hambar

"Niatmu hanya ingin mencari Souw Peng Hai, tapi malah memasuki Swat Ling San! Sudah berulang kali aku me- nasihatimu, namun engkau tidak mau dengar sama sekali! Maka aku memperlihatkan kedahsyatan Im Sat Kang (llmu Hawa Dingin)ku, Padahal ilmuku paling rendah di antara lima saudara seperguruan Suhengku, Kwa Ih Kang berkepandaian di atasku, Aku bicara sejujurnya dan sampai di sini saja! selanjutnya kita masih merupakan kawan atau lawan, itu sutit dikatakan!"

Setelah berkata begitu, Tan Cun Goan menarik nafas panjang, lalu melangkah pergi.

Bee Kun Bu masih berdiri termangu-mangu di tem-pat, setelah Tan Cun Goan hilang dari pandangannya, barulah ia tersentak sadar dan membalikkan badannya seraya berkata pada Pek Yun Hui. "Kakak, pukulan Tan Cun Goan itu amat beracun entah pukulan apa itu?"

"Di dalam Toa Ciok Si di gunung Cie Lian San, aku terluka oleh racun dingin Thai Im Khi Kang yang dilancarkan Sin Hut Leng Yan, mungkin engkau masih ingat pukulan yang dilancarkan Tan Cun Goan, walau bukan Thai Im Khi Kang, tapi masih satu sumber dengan ilmu Sin Hut Leng Yan Kalau dugaanku tidak meleset, guru Lima Setan itu pasti ada hubungan dengan kuil Toa Ciok Si. Ketika engkau bertarung dengan Tan Cun Goan di sungai itu, dia sudah ingin melancarkan pukulan tersebut tapi justru keburu kucegah," sahut Pek Yun Hui bernada dingin

"Oh?" Be Kun Bu mengerutkan kening, kemudian mengarah pada Gin Tie Suseng, "Tadi Tan Cun Goan bilang, yang mengepalai Lima Setan adalah Kwa Ih Kang, kenapa saudara Kim bilang adalah Lam Thian Sat-Cong Cin?"

"Apa yang dia bilang, tentunya tidak salah." ujar Gin Tie Suseng, "Apa yang kukatakan juga ada benarnya, hanya saja masih terselip sesuatu yang belum kujelaskan."

Terselip suatu apa?" Be Kun Bu heran.

"Walau suku Miau tidak berhubungan dengan Tiong-goan, namun suku Miau justru menyukai peradaban Tionggoan," ujar Gin Tie Suseng sambil tersenyum, "Ke-tika baru belajar ilmu silat, Lam Thian It Sat sudah mengagumi peradapan orang Han, maka ia memberi nama Kwa Ih Kang pada dirinya sendirL Keempat saudara seperguruannya tahu akan hal itu, lalu menyebut nama tersebut pada orang luar. Lam Thian It San menggunakan nama orang Han, itu agar tidak dipandang rendah oleh orang-orang Tionggoan."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut Ternyata begitu!"

Kini Pek Yun Hui sudah berlega hati, karena Bangau Sakti telah sembuh. Ketika Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng sedang bereakap-cakap, Pek Yun Hui malah mengelus leher Bangau Sakti, kemudian menepuk lehernya agar terbang, Ternyata Pek Yun Hui ingin tahu apakah burung tersebut sudah bisa terbang atau belum.

seketika juga burung itu mengembangkan sepasang sayapnya, lalu terbang ke atas sambil memekik keras seakan gembira sekali. Akan tetapi, mendadak burung itu meluncur pergi sejauh tiga mil, dan turun di tempat itu.

Menyaksikan burung itu turun, hati Pek Yun Hui tergerak dan segera berseru.

"Kun Bu, agak aneh sikap Bangau Sakli! Mungkin melihat sesuatu, maka turun di tempat itu! Lukanya baru sembuh otomatis tenaganya belum pulih benar, maka kita harus segera menyusul ke sana!"

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk.

Tunggu!" cegah Gin Tie Suseng, "Swat Ling San ini penuh batu curam dan berliku-liku. Kita tidak mudah menuju tempat itu, lebih baik kita menuju tempat itu dari tiga jurusan."

Pek Yun Hui memandang jauh ke depan, memang penuh batu curam yang tidak mudah dilalui orang.

"Kun Bu, engkau menuju tempat itu dari kiri, aku melalui kanan!" seru Pek Yun Hui dan sekaligus melesat pergi Bee Kun Bu pun segera pergi melalui arah kiri, sedangkan Gin Tie Suseng berdiri termangu-mangu di tempat

Bagian ke tiga belas Wanita Baju Ungu

Di Swat Ling San ini memang banyak batu curam dan lembah, sulit bagi orang biasa melaluinya. Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng memiliki kepandaian tinggi, maka tidak begitu sulit bagi mereka melaluinya.

Tak seberapa lama kemudian, Bee Kun Bu sudah sampai di depan sebuah lembah yang amat sunyi ia memandang ke dalam lembah itu, tampak sebidang tanah yangditumbuhi rerumputan dan bunga-bunga liar, namun tidak tampak Bangau Sakli.

Padahal tadi Bee Kun Bu melihat burung itu turun di tempat tersebut, itu tidak meragukan, Setelah berpikir sejenak, ia lalu mengerahkan ginkangnya memasuki lembah itu.

sesampainya di dalam lembah, ia pun meloncat ke atas sebuah batu, dan menengok ke sana ke mari Tiba-tiba sepasang matanya terbelalak, ternyata ia melihat burung itu sedang bertempur dengan seorang wanita berbaju ungu.

Wanita berbaju ungu itu memiliki ginkang tinggi, ilmu silatnya pun tampak aneh sekaH, Yang membahayakan adalah tempat mereka bertarung, sebab wanita dan burung itu berada di pinggir jurang.

Bangau Sakti terus mendesak wanita berbaju ungu ke pinggir jurang, kelihatannya burung itu ingin membuat wanita berbaju ungu itu jatuh ke jurang, Mendadak wanita berbaju ungu itu mencabut sebilah pedang pendek Berkilau-kitau pedang pendek itu tersorot sinar matahari

Setelah mencabut pedang pendek, wanita berbaju ungu itu tampak bersemangat dan langsung balas menyerang Bangau Sakti dengan sengit Burung itu melesat ke atas menghindari serangan-iSerangan tersebut, kemudian menukik ke bawah menyerang wanita berbaju ungu, Namun wanita berbaju ungu itu memutar-mutarkan pedang pendeknya, lalu melesat ke atas ingin membunuh Bangau Sakti

Betapa terkejutnya Bee Kun Bu menyaksikan itu, dan tahu Bangau Sakti dalam bahaya. ia juga tahu bahwa Bangau Sakti adalah burung kesayangan Pek Yun Hui, maka segeralah ia membentak

"Jangan melukai burung itu!" Bee Kun Bu melesat ke tempat itu menggunakan ginkangnya, yakni Ling Khong Sih Tou (Terbang di angkasa), Dalam waktu sekejap ia sudah sampai di tempat tersebut Wanita baju ungu pun berhenti menyerang Bangau Sakti itu, sebaliknya malah langsung membentak Bee Kun Bu.

"Kukira siapa, ternyata engkau majikan binatang itu! Aku sama sekali tidak mengenalmu, kenapa engkau menyuruh binatang itu menghalangi perjalananku bahkan menyerangku?"

Bee Kun Bu agak terbelalak karena wanita berbaju ungu itu masih muda, berusia dua puluh limaan, wajahnya cantik, tapi penuh mengandung hawa sesat.

"ltu di luar dugaan dan telah salah paham, Nona pun tidak terluka oleh burung itu!" ujar Bee Kun Bu. ia tidak berani memandang wanita itu. "Di sini aku minta maafi"

"Oh?" Wanita berbaju ungu tertawa nyaring. "Engkau telah bersalah, maka urusan ini tidak bisa disudahi begini saja!"

"Nona mau bagaimana?" tanya Bee Kun Bu dingin. "Eeeh?" Wanita berbaju ungu tertawa nyaring lagi,

"Engkau sangat tampan dan tampak lemah lembut, tapi

kenapa cepat marah? Baiklah! Karena engkau majikan burung sialan itu, maka engkau harus suruh binatang itu turun, aku akan menusuknya satu kali agar reda kegusaranku!"

"Ha ha!" Bee Kun Bu tertawa gelak, kemudian sahutnya dingin, "Hian Giok telah mengganggu Nona, tapi aku telah minta maaf pada Nona! jadi jangan terlampau mendesak orang! Kalau aku tidak mau menyuruh Hian Giok turun, engkau mau apa?"

"Hian Giok? Siapa dia?" tanya wanita berbaju ungu. "Hian Giok adalah nama burung bangau itu!" Bee Kun Bu

memberitahukan.

"Begitu indah namanya, namun jelek sekali tam-pangnya!" Wanita berbaju ungu tertawa, "Engkau bisa piara burung bangau yang begitu besar, tentunya juga memiliki kepandaian tinggi! Oleh karena itu, aku ingin mencoba kepandaianmu!" Kemudian mendadak wanita berbaju ungu itu menyerang Bee Kun Bu dengan jari tangannya, kelihatannya ia ingin mencengkeram lengan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu memang sudah siap, maka begitu melihat wanita berbaju ungu menyerangnya, maka ia pun segera menangkis secepat kilaL

Tapi wanita berbaju ungu itu segera menarik kembali serangannya, sekaligus menyerang dengan tendangan Sungguh cepat tendangannya, bahkan terarah pada dua jalan darah di dada Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu tidak menyangka akan serangan itu, maka ia terkejut bukan main dan cepat-cepat meloncat mundur Tapi tampak bayangan ungu berkelebat ternyata wanita berbaju ungu telah menyerangnya lagi, Berpuluh pasang bayangan tangan mengarah pada Bee Kun Bu.

Pukulan aneh itu membuat Bee Kun Bu gugup, maka tanpa banyak pikir lagi ia langsung meloncat ke belakang justru pada waktu bersamaan, ia mendengar suara tawa cekikikan

Ternyata wanita berbaju ungu itu berdiri di tempat ia menggunakan pukulan itu untuk mempermainkan Bee Kun Bu, dan tidak bersungguh-sungguh menyerangnya.

Dapat dibayangkan betapa penasarannya Bee Kun Bu, namun ia juga kagum akan kepandaian wanita berbaju ungu yang amat aneh itu.

"Nona memang berkepandaian tinggi, aku kagum sekali," ujar Bee Kun Bu dan menambahkan, "Mari kita bertanding lagi! Harap Nona menyerang dengan ber-sungguh-sungguh, agar aku bisa melayani Nona sebagaimana mestinya!"

Akan tetapi, wanita berbaju ungu itu justru tidak menyerangnya, melainkan memandangnya dengan penuh perhatian, sebelum membuka mulut ia sudah tersenyum duluan. "Engkau telah merasakan tiga jurus seranganku, kok hatimu masih belum tunduk?"

Bee Kun Bu tahu, kalau wanita berbaju ungu menyerangnya dengan sungguh-sungguh menggunakan ketiga jurus itu, dirinya sudah terjungkal itu justru membuatnya penasaran sekali.

"Walau Nona telah menyerangku tiga jurus, tapi aku tidak terluka kan?" sahut Bee Kun Bu dingin, "ltu bagaimana mungkin membuat hatiku tunduk?"

"Oh?" Wanita berbaju ungu menatapnya tajam, kemudian tanyanya membentak, "Lalu harus bagaimana engkau baru mau tunduk?"

Bee Kun Bu tertawa terbahak-bahak. "Kalau Nona dapat melukaiku, barulah aku tunduk!" sahutnya lantang.

Wajah wanita berbaju ungu itu memerah, kelihatannya gusar sekali, namun kemudian malah tertawa seraya berkata merdu.

"Engkau sama sekali tidak tahu aturan, Kita tidak pernah bertemu dan tiada permusuhan di antara kita kenapa engkau ingin mengadu nyawa denganku?"

"Aku. "

"Baiklah!" potong wanita berbaju ungu. "Karena engkau masih penasaran dan ingin bertanding denganku, maka aku akan melayanimu!"

"Bagus!" sahut Bee Kun Bu cepat

"Kita bertanding ginkang saja!" ujar wanita berbaju ungu sambil menunjuk ke sebuah puncak gunung yang jauhnya lima puluhan mit, "Kita mulai dari sini, siapa yang sampai duluan di puncak gunung itu, dialah yang menang!

Bagaimana? Engkau berani bertanding ilmu peringan tubuh denganku?" "Baiklah!" Bee Kun Bu mengangguk

"Bagus!" Wanita berbaju ungu tertawa gembira, "Kalau aku berseru mulai, itu berarti kita harus mengerahkan ginkang masing-masing untuk mencapai puncak gunung itu!"

"Aku sudah siap!" sahut Bee Kun Bu. "Mulai!" seru wanita berbaju ungu.

seketika tampak dua sosok bayangan berkelebat

"Walau engkau memiliki ginkang tinggi, tapi pasti tidak bisa menandingi Ling Khong Sih Tou, ginkang yang kumiliki Sekarang aku mengalah selangkah dulu, nanti baru kukejar!" kata Bee Kun Bu dalam hati.

Bee Kun Bu benar-benar memperlambat selangkah sedangkan wanita berbaju ungu itu justru mempereepat langkahnya, sehingga melesat dengan cepat Rupanya ia sudah tahu apa yang ada di dalam benak Bee Kun Bu, maka ia tersenyum.

Ketika melihat wanita berbaju ungu itu mempereepat langkahnya, Bee Kun Bu tertawa, Berselang sesaat, barulah ia mengerahkan ginkangnya.

Ada satu hal yang cukup mengejutkan Bee Kun Bu, yakni wanita berbaju ungu itu tampak santai sekali, tapi justru larinya amat cepat otomatis membuat Bee Kun Bu membatin.

"Sungguh tinggi ginkang wanita itu, aku tidak boleh meremehkannya!"

seketika juga Bee Kun Bu mengerahkan ilmu ginkangnya sampai delapan bagian, namun lawannya tetap tampak santai dan jarak di antara mereka pun tidak berubah, Padahal Bee Kun Bu telah mati-matian mengejarnya dengan maksud melampauinya.

Semakin mendekat puncak gunung itu, semakin banyak batu curam, Oleh karena itu mereka berdua harus memperlambat ginkang masing-masing. Akhirnya mereka sampai di tempat yang tiada rumput sama sekali, hanya terdapat batu curam

Wanita berbaju ungu berhenti, matanya menatap Bee Kun Bu sambil tersenyum.

"Sungguh berbahaya curam-curam di sini, sulit bagi kita untuk mencapai puncak gunung itu, Lagi pula,., engkau pun sudah tampak capek, lebih baik kita berhenti di sini," katanya.

sebetulnya Bee Kun Bu juga berpikir ingin berhenti di tempat ini, namun ucapan wanita baju ungu itu bernada menyindir Maka tidak heran kalau ia jadi gusar

"Ginkang Nona sangat tinggi, aku kagum sekali," ujarnya dingin, "Walau di sini banyak curam, kalau Nona masih mau menuju puncak gunung itu, aku pasti menyertaimu!"

Karena dalam keadaan gusar, maka Bee Kun Bu melotot ketika berbicara, sehingga membuat wanita berbaju ungu itu tertawa geli.

"Aku mengajakmu bertanding ginkang, sesungguhnya tiada maksud jahat, tapi kenapa wajahmu begitu dingin dan ketus dalam berbicara? Kalau engkau masih berniat bertanding, baiklah! Lihat siapa yang sampai duluan di puncak gunung itu!"

"Bagus!" sahut Bee Kun Bu. "ltu yang kukehendaki!" "Ayohlah!" seru wanita berbaju ungu, lalu mengerahkan

ginkangnya. Begitu ringan badan wanita berbaju ungu itu, bagaikan kupu-kupu sedang terbang di atas bunga, itu membuat Bee Kun Bu tertegun dan segera mengerahkan ginkangnya.

Wanita berbaju ungu itu berhenti di sebuah batu, kemudian memandang ke bawah seakan menunggu Bee Kun Bu.

"Batu-batu di sini memang tajam, namun kalau engkau perhatikan dengan seksama, gampang sekali menginjaknya!" ujar wanita berbaju ungu bermaksud baik. Akan tetapi, di saat ini Bee Kun Bu sedang kesal padanya, maka tidak heran kalau ia menyahut dengan ketus.

"Nona tidak perlu memberi petunjuk padaku! Walau kepandaianku tidak begitu tinggi, masih tidak memandang sebelah mata pada curam-curam ini!"

"Oh?" Wanita berbaju ungu tertawa cekikikan

Bee Kun Bu semakin kesal ketika mendengar suara tawa itu, oleh karena itu ia pun berpikir

"Aku harus mengerahkan ginkangku, agar dia tidak memandang rendah padaku," ujarnya dalam hati.

seketika juga Bee Kun Bu mengerahkan semua ilmu yang diajarkan Na Hai Peng berdasarkan kitab aneh Kui Goat Pit Cek. ia menghimpun Lweekangnya, lalu melesat ke arah puncak gunung itu dengan ilmu Ling Khong Sih Tou.

Menyaksikan itu, air muka wanita berbaju ungu itu langsung berubah, dan segera mengerahkan ginkangnya.

Pada waktu bersamaan, ia melihat Bee Kun Bu menginjak salah sebuah batu tajam, badannya tampak bergoyang seakan kehilangan keseimbangan

"Hati-hati!" seru wanita berbaju ungu.

Ternyata Bee Kun Bu cuma ingin mempermainkannya, Maka ia sengaja berbuat begitu, karena mendadak Bee Kun Bu berjumpalitan

"Sungguh hebat ginkangnya!" puji wanita berbaju ungu dalam hati, kemudian ujarnya dalam hati, "Kalau begitu, aku pun harus memperlihatkan ginkangku agar dia tidak sombong!"

Wanita berbaju ungu menghimpun Lweekangnya, setelah itu badannya langsung melesat ke arah puncak gunung itu.

Bee Kun Bu tertawa dingin, ia memandang wanita berbaju ungu yang melesat ke arah puncak gunung itu seraya berkata dalam hati. "Biar bagaimanapun aku harus mendahuluinya mencapai puncak gunung itu!"

Bee Kun Bu menarik nafas dalam-dalam menghimpun Lweekangnya, lalu mengerahkan ginkangnya.

Tampak dua sosok bayangan berkelebat menuju puncak gunung, bahkan saling menyusul Tak seberapa lama kemudian, mereka berdua sudah mencapai puncak gunung itu, namun Bee Kun Bu tetap terlambat selangkah

"Hi hi hi!" Wanita berbaju ungu itu tertawa nyaring, "Pakaianmu itu membuktikan bahwa engkau bukan orang Siang Cing Koan di Swat Ling San ini! sebetulnya engkau dari mana? Katakan sejujurnya, kalau tidak, jangan mempersalahkanku bertindak kasar padamu!"

Lantaran telah berkali-kali wanita berbaju ungu itu mempermainkannya, maka pemuda itu kesal bukan main padanya.

"Sebelumnya kita tidak pernah bertemu, untuk apa engkau ingin tahu siapa diriku?" sahut Bee Kun Bu ketus dan dingin, "Memang Hian Giok mengganggumu, tapi aku sudah minta maaf padamu! Kalau aku tidak mau memberitahukan siapa diriku, apakah Nona akan bertarung denganku?"

"Engkau tidak pereaya aku akan bertarung dengan-mu?" tanya wanita berbaju ungu sambil tersenyum hambar.

"Hm!" dengus Bee Kun Bu dingin, "Aku bersedia melayani Nona dengan tangan kosong!"

"Oh?" Wanita berbaju ungu itu tertawa merdu, "Tadi kita sudah bergebrak tiga jurus, tapi engkau masih tidak mau tunduk! sekarang aku akan bertanding beberapa jurus lagi denganmu! Karena engkau bilang dengan tangan kosong, maka aku pun tidak akan menggunakan senjata! Namun aku akan mendesakmu hingga menghunus pedang! Kalau tidak, itu berarti aku kalah! Bagaimana?" Betapa tersinggungnya hati Bee Kun Bu setelah mendengar ucapan wanita berbaju ungu itu, sehingga kegusarannya memuncak, Bee Kun Bu tertawa panjang, kemudian ujarnya dingin.

"Baik! Kalau begitu, silakan Nona melancarkan serangan!" Wanita berbaju ungu itu tetap berdiri sambil tersenyum,

kelihatannya tiada maksud menyerang duluan.

Bee Kun Bu tidak mengerti, ia memandang wanita berbaju ungu itu seraya bertanya dengan heran.

"Kenapa Nona masih belum melancarkan serangan?" "Bukankah tadi engkau bilang, kepandaianmu belum

begitu tinggi? Kalau aku menyerang duluan, berarti engkau

pasti kalah! Nah, engkau boleh menyerang duluan!" sahut wanita berbaju ungu.

"Baik!ah! Harap Nona berhati-hati!" Bee Kun Bu langsung menyerang bahu wanita berbaju ungu itu, mengarah pada jalan darah yang ada di situ.

Wanita berbaju ungu tertawa nyaring, sekaligus berkelit dan balas menyerang ke arah perut Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu terkejut, lagi pula telah dipermainkan oleh lawannya! Maka kali ini ia sangat berhati-hati menghadapinya, Seketika juga ia menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (llmu Langkah Ajaib).

Setelah menggunakan ilmu tersebut, Bee Kun Bu dapat menghindari serangan lawan.

Wanita baju ungu itu telah menyerang Bee Kun Bu lima jurus, namun sama sekali tidak dapat menyentuh pakaiannya, itu membuat wajahnya berubah, kemudian mendadak ia menggerakkan sepasang tangannya secepat kilat, tampak berpuluh pasang tangan mengarah pada Bee Kun Bu. Wanita berbaju ungu itu pun terus memperhatikan langkah Bee Kun Bu. Setelah menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, dan dapat menghindari serangan-serangan lawan, Bee Kun Bu pun bertambah semangat.

"Sungguh hebat ilmu ini!" ujar Bee Kun Bu dalam hati. "Biar aku tetap menghindar dengan ilmu ini, lama kelamaan engkau pasti capek, barulah aku menyerang!" Ternyata Bee Kun Bu ingin menguras tenaga lawan dengan ilmu tersebut, sehingga tak terasa tiga puluh jurus telah lewat, itu membuat wanita baju ungu itu terkejut bukan main.

"Aku telah menyerangnya terus-menerus hingga tiga puluh jurus, namun dia tetap bisa menghindar Kenapa dia tidak balas menyerang? Mungkin dia ingin menguras tenagaku. Aku harus berhati-hati dan mencari kesempatan untuk merebut kemenangan!" ujar wanita berbaju ungu itu dalam hati. "Dandanannya menandakan dia datang dari Tionggoan, mungkin dia ke mari ingin cari gara-gara dengan pihak Swat Ling San. sedangkan aku justru diundang oleh Lima Setan Swat Ling San untuk bergabung! Aku harus menghabisi pemuda ini, agar Lima Setan Swat Ling San tidak meremehkan perguruanku! Dia menggunakan ilmu aneh untuk menghindari serangan-seranganku, maka aku pun harus cari akal menghadapinya!"

Tiba-tiba wanita berbaju ungu itu memperlambat serangannya, tapi kadang-kadang bergerak secepat kilat.

Melihat itu, Bee Kun Bu bergirang dalam hati, ia tahu bahwa wanita berbaju ungu itu agak kewalahan menghadapi Ngo Heng Mi Co Punya, sehingga ia tetap ingin menguras tenaga wanita berbaju ungu itu.

Akan tetapi, wanita baju ungu itu justru menyerang sambil memancing Bee Kun ke tempat yang banyak batu runcing, bahkan pura-pura kehabisan tenaga dengan nafas ngos- ngosan.

Betapa girangnya Bee Kun Bu, ia pun mulai menyerang, sehingga membuat wanita berbaju, ungu bergirang dalam hati. Wanita berbaju ungu itu termundur-mundur, kelihatannya ia mulai terdesak oleh serangan yang dilancarkan Bee Kun Bu. Tiba-tiba badannya sempoyongan seakan mau jatuh, Bee Kun Bu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan langsung menyerangnya.

Namun mendadak wanita berbaju ungu itu berkelit, dan sekaligus mengayunkan kakinya menendang Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu sama sekali tidak menyangka kalau wanita berbaju ungu itu akan melakukan serangan tersebut ia amat terkejut dan berusaha menghindar tapi terlambat, karena ia merasa badannya sudah tidak bisa bergerak lagi.

"Kaum Bu Lim Tionggoan terlampau menghina orang! Swat Ling San terpisah begitu jauh dengan Tionggoan dan tiada hubungan, engkau justru ke mari cari gara-gara! Kalau engkau beruntung bisa hidup kembali ke Tionggoan, sebarkan berita pada seluruh kaum Bu Lim di sana, bahwa siapa berani memasuki Swat Ling San, dia pasti mati!"

Usai berkata begitu, wanita berbaju ungu itu tertawa panjang, lalu melesat pergi.

sementara Bee Kun Bu malah jatuh kejurang yang dalamnya puluhan depa, ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab badannya sama sekali tidak bisa bergerak.

"Matilah aku!" keluhnya sambil memejamkan mata untuk menunggu mati, Mendadak ia merasa badannya terapung ke atas, Karena merasa heran, ia pun membuka matanya.

Ternyata bajunya telah tereengkeram cakar Bangau Sakti, lalu dibawanya terbang ke atas, Berselang beberapa saat kemudian, Bangau Sakti menurunkannya di suatu tempat, dan seketika juga ia mendengar suara Pek Yun Hui.

"Engkau terluka?"

Bee Kun Bu ingin bangkit berdiri, tapi di saat itu juga merasa sepasang kakinya sakit sekali, sehingga terkulai "Kun Bu. " Pek Yun Hui tampak cemas.

"Aku. aku tertotok oleh siluman wanita itu." Bee Kun Bu

memberitahukan." ilmu totokannya sangat aneh, berbeda dengan ilmu totokan biasa."

"llmu totokan luar perbatasan memang aneh, berbeda dengan ilmu totokan di Tionggoan," ujar Gin Tie Suseng, "Saudara Bee coba menghimpun hawa murni, dan coba rasakan bagian mana yang tertotok! Mungkin aku bisa tahu cara membebaskannya."

Bee Kun Bu mengangguk, lalu menghimpun hawa murninya, dan seketika juga ia merasa ujung kakinya sakit sekali.

"Saudara Kim, ujung kakiku sakit sekali," Bee Kun Bu memberitahukan "Hawa murniku tidak bisa menembus ke situ."

"Ngmm!" Gin Tie Suseng manggut-manggut "Un-tung orang itu menotok tidak begitu keras, Kalau dia menggunakan tenaga sepenuhnya, kaki saudara Bee pasti sudah !umpuh, Harap Saudara Bee tahan sakit sejenak, aku akan membebaskan totokan itu!"

Gin Tie Suseng mulai membebaskan totokan itu, seketika kening Bee Kun Bu berkerut-kerut, kelihatannya sedang menahan sakit, sementara Gin Tie Suseng terus menotok beberapa jalan darah di kaki Bee Kun Bu, kemudian mengurut kaki nya.

"Sekarang saudara Bee harus menggunakan hawa murni untuk menembus sampai ke ujung kaki, sesaat kemudian Saudara Bee pasti bisa jalan," ujar Gin Tie Suseng sambil tersenyum

Bee Kun Bu segera menarik nafas dalam-dalam untuk menghimpun hawa murni, Berselang sesaat, ia sudah bisa bangkit berdiri. Pek Yun Hui menarik nafas lega, lalu memandang Bee Kun Bu seraya berkata memberitahukan

"Ketika Hian Giok memekik memberi tanda, aku sudah tahu kalau terjadi sesualu, maka aku segera menyusul ke lembah itu, namun tidak melihat siapa pun, Setelah itu, aku melihat Hian Giok menurunkanmu di sini, maka segeralah aku ke mari bersama Gin Tie Suseng, sebetulnya engkau bertemu siapa, harap engkau beri-tahukan!"

Bee Kun Bu menarik nafas panjang, lalu meng-geleng- gelengkan kepala seraya menjawab.

"Aku tidak kenal wanita itu, Dia mengenakan baju ungu dan bersenjata sebilah pedang pendek, Walau aku sudah bertarung dengannya, tapi dia tidak memberitahukan namanya."

Ketika Bee Kun Bu mengatakan begitu, air muka Gin Tie Suseng tampak berubah, kemudian ujarnya bernada terkejut

"Apakah wanita itu adalah dia? Kalau benar dia, kita ke Siang Cing Koan pun pasti mendapat rintangan."

Pek Yun Hui sudah melihat air muka Gin Tie Suseng berubah, justru membuatnya tidak mengerti, maka terus menatapnya.

"Aku ingin bertanya, apakah kalian berdua pernah dengar tentang Thao Khong To (PuIau Iblis) di seberang laut?" tanya Gin Tie Suseng mendadak

"Hian Ceng Totiang guruku pernah menceritakan tentang pulau itu, namun tidak begitu jelas, Apakah... wanita itu datang dari Thao Khong To itu?" sahut Bee Kun Bu.

"Aku tidak melihat wanita itu, namun Saudara Bee bilang wanita itu menggunakan pedang pendek, dan mengenakan baju ungu. Maka aku menduga ia pasti datang dari pulau itu," ujar Gin Tie Suseng.

"Saudara Kim tahu siapa wanita itu?" tanya Bee Kun Bu. "Dia mungkin. Cih Miauw Nio," jawab Gin Tie Suseng

agak ragu.

"Wanita itu benar Cih Miauw Nio atau bukan, alangkah baiknya Saudara Kim sudi menceritakan tentang Cih Miauw Nio itu," ujar Pek Yun Hui, karena melihat wajah Gin Tic Suseng tampak serius dan agak luar biasa.

"Dia berkepandaian amat tinggi, namun berhati ja-hat," ujar Gin Tie Suseng memberitahukan "Di seberang laut sana, dia sangat terkenal Ka!au dia ke mari untuk membantu Lima Setan Swat Ling San, maka kita pun akan repot jadinya menuju Siang Cing Koan, markas aliran Swat Ling San itu, bahkan mungkin kita pun akan celaka di sana."

Bee Kun Bu melihat Gin Tie Suseng begitu takut pada Cih Miauw Nio, maka ia pun tak habis berpikir dan tidak mengerti.

"Tentunya wanita itu berasal dari aliran sesat, saudara Kim tiada hubungan dengannya, kenapa kelihatan begitu takut?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Dia melakukan sesuatu hanya berdasarkan ke-mauannya, sesungguhnya dia berasal dari aliran yang tidak lurus dan tidak sesat, namun sifatnya sangat aneh dan sulit diketahui jejaknya, Oleh karena itu, kalau dia membantu pihak Swat Ling San, kita pun akan menghadapi rintangan berat," jawab Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw.

"Sebetulnya Cih Miauw Nio itu murid siapa?" tanya Pek Yun Hui mendadak.

"Murid ketua Thao Khong To kini bernama Kiang Ih Thian, yang berjuluk Ku Ciok Sianjin." Gin Tie Suseng memberitahukan

"Apakah kepandaiannya masih di atas Lima Setan Swat Ling San?" tanya Bee Kun Bu. "Akusudah bertarung dengannya, kelihatannya dia memiliki kepandaian yang jauh di atas Lima Setan Swat Ling San." "Benar." Gin Tie Suseng mengangguk "Mungkin hanya Lam Thian It Sat-Kwa Ih Kang yang mampu menandingi kepandaian wanita itu, sedangkan Tan Cun Goan bukan tandingannya."

"Saudara Kim!" Pek Yun Hui menatapnya, "Per-nahkah engkau bertemu Cih Miauw Nio itu?"

seketika juga wajah Gin Tie Suseng tampak kemerah- merahan, kemudian ujarnya dengan suara rendah.

"Aku memang pernah sekali bertemu dengannya, jadi aku memuji kepandaiannya berdasarkan kenyataan."

Bee Kun Bu tampak curiga, karena ia melihat wajah Gin Tie Suseng tadi kemerah-merahan, tentunya ada suatu rahasia di antara Gin Tie Suseng dengan Cih Miauw Nio itu, tapi Bee Kun Bu tidak berani bertanya apa pun.

"Aku harap kalian berdua jangan terpengaruh oleh pujianku pada wanita itu!" tambah Gin Tie Suseng, "Kita sudah memasuki Swat Ling San, dan tidak sampai ratusan mil, kita akan menghadapi tiga rintangan, barulah bisa sampai di Siang Cing Koan. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"

"Aku setuju," sahut Bee Kun Bu. Tapi... entah bagaimana pendapat Kakak Pek?"

"Tentunya aku pun setujui Pek Yun Hui mengangguk

"Kalau begitu, mari kita berangkat!" ujar Gin Tie Suseng, lalu mengerahkan ginkangnya, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui juga segera mengerahkan ginkang mengikuti Gin Tie Suseng, Tampak tiga sosok bayangan berkelebat meninggalkan tempat itu.

*****

Bab ke 14 - Bertarung dengan Ciak Bin Sat Sin

Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw sudah memasuki sebuah lembah, Tiba-tiba Gin Tie Suseng berhenti dan menengok ke sana ke mari, lama sekali barulah membalikkan badannya seraya berkata pada Bee Kun Bu.

"Dari sini terus ke depan, adalah puncak gunung Swat Ling San. Tiga rintangan itu mungkin akan dimulai dari sini. Orang luar sulit melewati rintangan-rintangan itu. Aku jalan duluan, Saudara Bee ikut di belakangku dan bersiap-siap, kalau-kalau diriku terjadi sesuatu, harap Saudara Bee segera menolongku dari belakang!"

"Saudara Kim tidak usah khawatir, aku pasti melindungimu dari belakang," sahut Bee Kun Bu.

Gin Tie Suseng mulai melangkah, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengikuti dari belakang, Di tempat tersebut banyak terdapat batu-batu yang amat tajam, bahkan sangat membahayakan orang yang melewatinya.

Gin Tie Suseng melangkah dengan hati-hati. Setelah melewati beberapa tikungan, ia berhenti sambil berseru.

"Saudara Bee, lihatlah!"

Bee Kun Bu segera memandang ke depan, ternyata di balik tikungan itu terdapat sebuah telaga, yang airnya jernih sekali, sehingga dasar telaga itu tampak jelas, Akan tetapi, telaga itu justru menghalangi perjalanan mereka.

"Kita terpaksa mengambil jalan lain menuju ke depan, Kalau tak ada perahu tentunya kita tidak bisa menyeberangi telaga ini," ujar Gin Tie Suseng.

Pek Yun Hui terus memperhatikan telaga yang cukup luas itu, kemudian ujarnya sungguh-sungguh.

"Kalau kita mengambil jalan lain, itu sangat menyita waktu, Maka lebih baik kita menginjak permukaan air untuk menyeberang ke sana."

"Benar! Tapi. Lima Setan Swat Ling San sangat licik.

Agar kita tidak masuk ke perangkap mereka, sebaiknya aku yang coba menyeberang duluan," sahut Bee Kun Bu. Karena tidak menghendaki Pek Yun Hui mencegah-nya, maka ia pun langsung melesat ke arah telaga itu dengan mengerahkan ginkangnya, Tak seberapa lama, ia sudah sampai di seberang sana, Setelah mengamati tempat itu, ia pun segera kembali

"Kak!" ujarnya pada Pek Yun Hui. "Tidak begitu luas telaga ini, hanya saja airnya dingin sekaii, Ketika aku melewatinya, terasa ada hawa yang amat dingin, tapi tiada jebakan apa pun."

"Ginkang Saudara Bee memang tinggi," sela Gin Tie Suseng, "Maka bisa menginjak permukaan air menyeberang ke sana, Tapi... aku tidak memiliki ginkang setinggi itu, lalu harus bagaimana?"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum. ia sudah mendapat akal agar Gin Tie Suseng bisa menyeberang, "Kunv pulkan ranting- ranting kering, bantu dia menyeberangi"

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk dan segera mengumpulkan ranting-ranting kering, ia sudah tahu maksud Pek Yun Hui, kemudian berkata pada Gin Tie Suseng. "Saudara Kim boleh ikut aku menyeberang, Aku akan melempar ranting-ranting kering ke permukaan telaga, Saudara injak ranting-ranting itu untuk menye-berang!"

"Kalau begitu, silakan Saudara Bee menyeberang duluan!" Gin Tie Suseng sudah tahu akan cara itu.

Bee Kun Bu membawa ranting-ranting kering itu, lalu mengerahkan ginkangnya melesat ke permukaan telaga, Setelah itu ia pun melempar sebatang ranting ke permukaan air.

"Saudara Kim, silakan lompat!" seru Bee Kun Bu.

Gin Tie Suseng segera melompat ke permukaan telaga menginjak ranting itu. Dengan cara begitu Bee Kun Bu membantu Gin Tie Suseng menyeberang, akhirnya sampai juga di seberang sana. Betapa kagumnya Gin Tie Suseng akan ginkang Bee Kun Bu, karena Bee Kun Bu mampu menyeberang dengan menginjak permukaan air telaga, Dapat dibayangkan betapa tingginya ginkang yang dimiliki Bee Kun Bu.

Setelah mereka berdua berhasil mencapai seberang sana, barulah Pek Yun Hui mengerahkan ginkangnya untuk menyeberang, Hanya sekejap ia telah sampai di seberang.

Padahal Gin Tie Suseng ingin melihat bagaimana cara Pek Yun Hui menyeberang, akan tetapi, sebelum ia melihat jelas Pek Yun Hui sudah sampai di sisi Bee Kun Bu. ia benar-benar kagum pada Pek Yun Hui itu.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, akan tetapi pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa dingin dan muncul belasan sosok bayangan.

Ternyata belasan lelaki berbadan kekar Salah seorang di antara mereka memakai baju kuning, mukanya merah hitam dan bertelinga besar, sedangkan belasan lelaki itu memakai baju kelabu, dan tangan masing-masing menggenggam senjata.

Begitu melihat kemunculan mereka, Gin Tie Suseng sudah tahu siapa orang berbaju kuning itu, Dia tidak lain Ciak Bin Sat Sin-Sang Yang, salah seorang dari Lima Setan Swat Ling San.

"Saudara Bee hati-hati!" bisik Gin Tie Suseng, "Dia Ciak Bin Sat Sin-Sang Yang, Walau orangnya angin-anginan, tapi kepandaiannya sangat tinggi."

Ketika Bec Kun Bu ingin membuka muIut, Ciak Bin Sat Sin itu sudah tertawa aneh sambil memandang mereka bertiga.

"Kalian siapa? Kok berani memasuki Swat Ling San ini? Apakah sudah tidak ingin hidup lagi?" tanya Ciak Bin Sat Sin.

"Aku Bee Kun Bu!" sahut pendekar kita dingin, "Murid partai Kun Lun. Karena Souw Peng Hai berambisi ingin menguasai rimba persilatan, maka dia bergabung dengan para setan iblis luar perbatasan dan seberang laut untuk menimbulkan bencana di rimba persilatan Tiong-goan! Oleh karena itu, kami ke mari untuk menangkapnya Kalau Anda tahu diri, cepatlah serahkan dia pada kami!"

"Oh?" Ciak Bin Sat Sin menatap Bee Kun Bu dalam-dalam, Ternyata engkau Bee Kun Bu yang telah menggemparkan Toan Hun Ya (Jurang pemutus Roh)! Sudah lama kudengar nama besarmu, hari ini sungguh beruntung kita bertemu di sini! Maka aku ingin mohon petunjuk beberapa jurus darimu!

Kalau engkau mampu mengalahkan diriku, aku pasti menyampaikan perkataanmu tadi pada saudara seperguruanku! seandainya engkau kalah, engkau harus segera menggelinding pergi dari sini!"

"Baiklah!" sahut Bee Kun Bu.

Tunggu!" cegah Gin Tie Suseng, "Biar aku yang bertarung duluan dengannya! Kalau aku tidak kuat me-lawannya, barulah Saudara Bee turun tangan!"

Bee Kun Bu tahu maksud baik Gin Tie Suseng, Kalau dia yang bertarung duluan, Bee Kun Bu bisa menyaksikan kepandaian Ciak Bin Sat Sin itu.

"Aku harap Saudara Kim berhali-hati!" pesan Bee Kun Bu. "Ya." Gin Tie Suseng mengangguk sambil mencabut su!ing

peraknya lalu menghampiri Ciak Bin Sat Sin seraya bertanya, "Saudara Sang, masih kenalkah engkau denganku ?"

Ketika Gin Tie Suseng mendekati Ciak Bin Sat Sin, orang itu pun segera mundur, karena khawatir Gin Tie Suseng akan menyerangnya mendadak Numun setelah mengenali Gin Tie Suseng, ia pun amat gusar dan membentak

"Kim Eng Hauw, kuil Ceh Yun Si dan Siang Cing Koan masih punya sedikit hubungan, bahkan saudara seperguruanku pun mengundang kalian ke mari untuk merundingkan sesuatu! Tapi kini engkau malah bersekongkol dengan kaum Bu Lim Tionggoan! Engkau sungguh tak tahu malu! Karena itu, engkau harus mampus hari ini!"

"Souw Peng Hai ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan, kalian ingin bergabung dengannya untuk menimbulkan bencana di rimba persilatan Tionggoan, maka aku harus menghentikan kalian! Engkau tidak perlu banyak omong, cepat hunus senjatamu!" sahut Gin Tie Suseng sambil tertawa dingin.

Setelah berkata begitu, Gin Tie Suseng pun menyerang Ciak Bin Sat Sin dengan jurus Sin Liong Hian Sou (Naga Sakti Memperlihatkan Kepala), dan diarahkan pada dada Ciak Bin Sat Sin.

Tangan Ciak Bin Sat Sin tidak memegang senjata apa pun. Ketika Gin Tie Suseng menyerangnya dengan su!ing perak, ia segera meloncat mundur sambil menyambar sebilah pedang aneh dari salah seorang berbaju kelabu, lalu menangkis serangan Gin Tie Suseng dengan jurus Ciau Tah Kim Ceng (Memukul Lonceng Emas).

Trang! Terdengar suara benturan senjata, bunga api pun berpijar.

Tangkisan Ciok Bin Sat Sin membuat Gin Tie Suseng termundur beberapa langkah, Ciak Bin Sat Sin menyerangnya lagi, kali ini ia menggunakan jurus Cauw Ceh Lam Hai (Ombak Laut Selatan Menderu), Tampak sinar pedang aneh itu berkelebat-kelebat mengarah pada Gin Tie Suseng, bahkan terdengar pula suara menderu-deru, Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya jurus itu.

Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw adalah murid kesayangan Kuang Ti Taysu di kuil Ceh Yun Si Tay Pah San, tentunya juga memiliki kepandaian tinggi, ketika melihat Ciak Bin Sat Sin menyerangnya begitu ganas, seakan ingin merenggut nyawanya dalam satu jurus, timbullah kegusarannya. Gin Tie Suseng membentak keras, suling peraknya pun berkelebat-kelebat mengeluarkan suara "Ngung-ngung", mengarah pada lengan Ciak Bin Sat Sin.

Akan tetapi, Ciak Bin Sat Sin segera merubah jurus-nya dengan jurus Kim Sia Cih Cong Poh (lkan Emas Menembus Ombak).

Mereka berdua, yang satu adalah murid kesayangan Kuang Ti Taysu, yang satu lagi adalah salah seorang di antara Lima Setan Swat Ling San. Masing-masing memiliki ilmu andaian, sehingga mereka mulai bertarung dengan sengit sekali.

sementara Bee Kun Bu terus menyaksikan pertarungan mereka dengan penuh perhatian, bahkan juga memperhatikan pedang aneh yang digenggam Ciak Bin Sat Sin. Pedang itu memang berbentuk aneh, ujungnya terbelah dua mirip kaitan.

"Kak! Orang itu menggunakan pedang aneh. Bagai-mana menurut pendapatmu?" tanya Bee Kun Bu pada Pek Yun Hui.

"Pedang aneh dibuat dari semacam baja hitam, maka memancarkan cahaya hitam yang menyilaukan mata, pedang aneh itu amat tajam dan dapat membelah batu, bahkan kelihatan telah direndam dengan racun, Terluka oleh pedang itu pasti mati, oleh karena itu, kaum Bu Lim tidak menggunakan senjata itu, hanya para setan iblis luar perbatasan dan seberang laut yang menggunakannya. Kini Ciak Bin Sat Sin menggunakan senjata itu menghadapi Gin Tic Suseng, itu sungguh membahayakannya."

Pek Yun Hui memberitahukan.

"Oh?" Bee Kun Bu segera memperhatikan pertarungan itu. Telah terjadi perubahan dalam pertarungan itu, karena Gin

Tie Suseng mulai terdesak mundur, tapi masih mampu menghindari serangan-serangan Ciak Bin Sat Sin. Mendadak Gin Tie Suseng membentak keras, lalu secepat kilat melancarkan serangan yang amat dahsyat ke arah Ciak Bin Sat sin.

Melihat serangan itu, Ciak Bin Sat Sin tertawa dingin, dan sekaligus berkeliL Ketika Ciak Bin Sat Sin berkelit, Gin Tie Suseng melancarkan serangan lagi.

Ciak Bin Sat Sin tidak menangkis, melainkan meloncat mundur seketika juga tangan kiri Gin Tie Suseng melakukan serangan ke arah dada Ciak Bin Sat Sin. serangan tersebut merupakan sebuah pukulan yang penuh mengandung Lweekang, Tiada kesempatan bagi Ciak Bin Sat Sin berkelit, maka terpaksa menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya.

Biam! Terdengar suara benturan dan masing-masing mundur dua langkah.

Ciak Bin Sat Sin tampak terkejut Selama ini ia tidak pernah bertemu lawan tangguh, tapi hari ini bertemu Gin Tic Suseng yang merupakan lawan berat baginya.

"Cukup lihay ilmu silat Tay Pah San, Kalau hari ini aku tidak mengeluarkan ilmu andaian, mungkin sulit memenangkan pertarungan ini, Apa boleh buat, aku harus melukainya!" ujar Ciak Bin Sat Sin dalam hati. "Kalau kelak bertemu Kuang Ti Taysu, aku pun akan memberitahukan bahwa muridnya telah bersekongkol dengan kaum Bu Lim Tionggoan mengacau di Swat Ling San!"

Oleh karena itu, tiba-tiba di wajahnya tersirat hawa membunuh, tampaknya ingin membunuh Gin Tie Suseng. ia lalu menyerang Gin Tie Suseng dengan dahsyat sekali menggunakan pedang aneh itu.

Seketika juga pedang aneh itu mengeluarkan hawa dingin, lalu diterbangkannya ke arah Gin Tie Suseng.

"Celaka!" seru Gin Tie Suseng dalam hati." Ia segera mengayunkan suling peraknya untuk menangkis pedang aneh yang meluncur ke arahnya. Tepat pada saat bersamaan, mendadak Ciak Bin Sat Sin melancarkan pukulan.

Betapa terkejutnya Gin Tie Suseng, namun ia masih sempat melepaskan suling peraknya, dan sekaligus menangkis pukulan itu dengan sepasang tangannya.

Blammm! Terdengar suara benturan dahsyaL

Gin Tie Suseng terpental beberapa depa, sedangkan Ciak Bin Sat Sin terdorong mundur beberapa langkah.

sementara delapan orang berbaju kelabu saling memandang dan memberi isyarat lalu dengan serentak menyerang ke arah Gin Tie Suseng dari delapan penjuru, Serangan yang tak terduga itu membuat Gin Tie Suseng gugup, karena tak ada kesempatan baginya untuk berkelit

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui berdiri beberapa depa dari tempat pertarungan itu. Ketika melihat delapan orang berbaju kelabu itu menyerang mendadak ke arah Gin Tie Suseng, Bee Kun Bu segera melesat ke sana, Tentunya tidak bisa sekaligus menangkis serangan delapan orang berbaju kelabu, maka ia menggunakan jarum Toh Meng Cin. Seketika juga delapan orang berbaju kelabu itu menjerit dan roboh.

Gin Tie Suseng tidak menyangka akan kejadian itu, begitu pula Ciak Bin Sat Sin, maka tidak heran kalau mereka berdua jadi tertegun. Setelah itu, mereka berduapun segera mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi, tiba-tiba Gin Tie Suseng menyerangnya, Walau belum siap, namun Ciak Bin Sat Sin masih sempat menangkis, hanya saja tubuhnya terpental beberapa depa, sedangkan Gin Tie Suseng terdorong ke belakang beberapa langkah.

itu membuat Ciak Bin Sat Sin gusar sekali, apalagi setelah melihat para anak buahnya roboh semua, sehingga kegusarannya pun memuncak. "Apakah engkau tidak malu melancarkan serangan gelap?" bentak Ciak Bin Sat Sin berang, "Kalian berani memasuki Swat Ling San, tentunya sudah punya nama besar, tapi kenapa melakukan serangan gelap! Sunggun tak tahu malu kalian! Ayohlah! Mari kita bertarung mati-matian!"

"Siapa yang lebih dulu melakukan serangan gelap?" sahut Gin Tie Suseng dingin, "Para anak buahmu yang menyerangku duIuan, lalu temanku bertindak menolongku apakah itu salah? Lima Setan Swat Ling San memang bernama busuk! Kami ke mari justru ingin membasmi kalian!"

"Sungguh tajam muIutmu!" bentak Ciak Bin Sat Sin, "Kalau hari ini tidak bisa melukaimu, aku bersumpah tidak mau jadi orang lain!"

"Hati-hati!" sahut Gin Tic Suseng menyindir "Kalau aku sudah naik darah, engkau pasti mampus!"

"Baik!" Ciak Bin Sat Sin tertawa gelak, "Mari kita bertarung sampai ada yang mampus salah satu di antara kita!"

Ciak Bin Sat Sin menyambar pedang aneh itu, lalu menyerang Gin Tie Suseng secepat kilat dengan jurus Ciau Tah Kian Ceng (Memukul Lonceng Emas).

Gin Tie Suseng tidak menangkis, melainkan meloncat mundur beberapa depa sambil berseru.

"Aku sudah mencoba kepandaianmu ternyata cuma begitu! Maka aku akan membiarkanmu menyerangku tiga jurus du!u!"

sebetulnya kepandaian Ciak Bin Sat Sin masih di atas Gin Tie Suseng, Maka ketika mendengar ucapan itu, darahnya langsung mendidih.

"Bagus! Bagus! Aku akan menyerangmu duluan tiga jurus, berhati-hatilah!" bentak Ciak Bin Sat Sin sengit

Ciak Bin Sat Sin langsung menyerang Gin Tie Suseng dengan jurus Lang Cien Liu Sah (Ombak Menderu Pasir Bereeceran). Gin Tie Suseng berkelit, namun Ciak Bin Sat Sin telah merubah jurusnya dengan jurus Ciau Tah Kim Ceng. itu membuat Gin Tie Suseng terpaksa menghindar sambil membatin, Sungguh tinggi kepandaian Ciak Bin Sat Sin, aku harus berhati-hati menghadapinya

"Ha ha!" Kemudian Gin Tie Suseng tertawa, "Engkau sudah menyerangku dua jurus, masih ada satu jurus lagi! Silakan engkau menyerang!"

Betapa gusarnya Ciak Bin Sat Sin. Selama ini ia tidak pernah dipermainkan orang, tapi hari ini dipermainkan oleh Gin Tie Suseng, maka seketika juga ia menyerang dengan dahsyat sekalL

Gin Tie Suseng cepat-cepat berkelit ke samping, talu mendadak balas menyerang dengan jurus andalannya, Akan letapi, pada waktu bersamaan, Ciak Bin Sat Sin merubah jurusnya dengan jurus Seh Hong Cing Coh (Angin Menghembus Rerumputan).

"Aaakh!" jerit Gin Tie Suseng dan terpental, ternyata ia telah terkena serangan itu.

Ciak Bin Sat Sin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Badannya langsung melesat sambil mengayunkan pedang anehnya, Gin Tie Suseng masih berusaha menghindar namun kakinya tidak bisa luput sehingga tergores pedang aneh itu, darah segar pun langsung mengucur dari lukanya.

Walau sudah terluka, Gin Tie Suseng masih dapat meloncat sambil menyerang lawan dengan dua jarinya.

Ciak Bin Sat Sin tertawa dingin, dan sekaligus mengibaskan lengannya, itu membuat Gin Tie Suseng terpelanting jatuh di tanah, kemudian sekujur badannya sudah tidak bisa bergerak lagi.

"Hm!" dengus Ciak Bin Sat Sin dingin, "Engkau adalah murid kesayangan Kuang Ti Taysu, tapi ternyata kepandaianmu tak seberapa! sekarang engkau mau bilang apa lagi?" "Tidak perlu banyak bacot!" bentak Gin Tie Suseng, "Kalau engkau mau membunuhku, bunuhlah sekarang!"

"Engkau kira aku tidak berani membunuhmu?" Ciak Bin Sat Sin melotot sambil tersenyum dingin.

Mendadak Ciak Bin Sat Sin mengangkat pedang anehnya, kemudian diarahkan ke dada Gin Tie Suseng, kelihatannya ingin menyambitkan pedang anehnya itu menembusi dada Gin Tie Suseng.

Akan tetapi, ketika ia baru mau menyambitkan pedang anehnya, mendadak merasa lengannya yang menggenggam pedang aneh itu sakit sekali, sehingga tidak mampu menyambit

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat kehadapannya, yang ternyata Bee Kun Bu.

"Jangan kau lukai dia!" bentaknya.

Ciak Bin Sat Sin sudah tahu kalau lengannya terkena serangan gelap, maka ketika Bee Kun Bu berkelebat ke hadapannya, ia pun langsung meloncat mundur beberapa depa, sementara Bee Kun Bu segera mendekati Gin Tie Suseng, kemudian bertanya cemas.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Salah satu jalan darahku tertotok, aku tidak mampu menghimpun tenaga dalamku," sahut Gin Tie Suseng sambil tersenyum getir

"Orang itu telah kulukai dengan jarum Toan Meng Cin.

Saudara Kim boleh beristirahat sejenak, setelah aku merobohkan orang itu, barulah aku mengobati lukamu," ujar Bee Kun Bu.

Sedangkan Ciak Bin Sat Sin segera memeriksa lengannya, tampak ada dua titik merah. ia tahu bahwa lengannya terluka oleh semacam senjata rahasia, Untung Bee Kun Bu tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, maka luka di lengan Ciak Bin Sat Sin tidak begitu parah, seandainya Bee Kun Bu menggunakan tenaga sepenuhnya, jarum Toan Meng Cin pasti mengikuti peredaran darah dan akan menembus ke jantung Ciak Bin Sat Sin.

"Ciak Bin Sat Sin!" ujar Bee Kun Bu dingin. "Engkau telah terluka oleh jarum Toan Meng Cin! Tidak sampai satu jam, jarum itu akan menembus ke jantungmu, dan engkau pasti mampus! sekarang engkau mau bilang apa lagi?"

"Hm!" dengus Ciak Bin Sat Sin. "Engkau bukan pendekar sejati, cuma berani melancarkan serangan ge-lap! Aku memang telah terluka oleh jarummu itu, dan tidak bisa lagi melayanimu! Sampai jumpa!"

Ciak Bin Sat Sin segera melesat pergi, Bee Kun Bu tidak mengejarnya, hanya berseru dingin.

"Siang Cing Koan masih jauh dari sini, engkau tak punya waktu untuk pergi melapor!"

Usai berseru, Bee Kun Bu lalu mendekati Gin Tie Suseng, kemudian tanyanya dengan suara rendah.

"Saudara Kim, apakah engkau sudah mencoba menghimpun hawa murnimu?"

"Ng!" Gin Tie Suseng mengangguk

"Ciak Bin Sat Sin telah terluka oleh jarum Toan Meng Cin.

Meskipun ginkangnya tinggi, dia tidak akan bisa mencapai Siang Cing Koan, dan di tengah jalan dia pasti sudah mati." Bee Kun Bu memberitahukan. "Kalau kita ke sana, pasti menemukan mayatnya."

"Walau Ciak Bin Sat Sin menyerangku secara ganas, namun dengan diam-diam aku telah mengerahkan Lwee-kang untuk melindungi diri, maka racun yang ada di pedang aneh itu tidak bisa menembus peredaran darahku. Ohya, Saudara Bee bilang Ciak Bin Sat Sin tidak bisa pergi jauh, kenapa tidak mengejarnya sekarang?" "Baiklah! Aku akan mengcjarnya," ujar Bee Kun Bu.

"Kun Bu!" sela Pek Yun Hui sambil tersenyum, "Kalau engkau ingin mengikuti Ciak Bin Sat Sin ke Siang Cing Koan, itu memang tidak salah, Tapi kalau engkau mengira Ciak Bin Sat Sin tidak bisa pergi jauh, itu keliru."

"Dia telah terkena jarum Toan Meng Cin, apakah dia memiliki semacam Lweekang pelindung badan?" tanya Bee Kun Bu hcran. "Maka lengannya tidak terluka terkena jarum itu?"

"Orang yang berkepandaian tinggi mana pun, kalau terkena jarum itu pasti mati, apa lagi Ciak Bin Sat Sin," sahut Pek Yun Hui. "Yang jelas dia tidak memiliki semacam Lweekang pelindung badnn."

"Kalau begitu, apakah jarumku itu meleset?" tanya Bee Kun Bu.

"Tidak me!eset, hanya saja ketika menyambitkan jarum itu, mungkin engkau tergesa-gesa sehingga tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Bee Kun Bu tersenyum.

"Entahlah." Bee Kun Bu menggelengkan kepala. "Karena aku mengkhawatirkan Gin Tie Suseng, aku pun

langsung menyambitkan jarum itu ke lengan Ciak Bin Sat Sin. Menggunakan tenaga sepenuhnya atau tidak, aku tidak tahu jelas."

"Berhubung engkau terburu-buru ingin menolong Saudara Kiin, maka engkau pun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya ketika menyambit. Oleh karena itu, jarum itu tidak menembus ke dalam lengannya, bagaimana mungkin dia akan mati?" Pek Yun Hui tersenyum lagi-

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut dengan wajah kemerah-merahan. "Sayang sekali begitu! Kini Ciak Bin Sat Sin telah pergi, mungkin menuju Siang Cing Koan, bukankah baik sekali kalau kita mengejarnya sekarang?" "Memang baik, tapL,." Pek Yun Hui menggeleng- gelengkan kepala, "Kita tidak dapat menyusulnya, sebab dia pasti melewati jalan yang sulit kila tempuh. Lagi pula apa yang engkau katakan barusan, mungkin sudah masuk ke dalam telinganya. sedangkan Saudara Kim masih dalam keadaan terluka, maka lebih baik kita berangkat nanti saja."

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk, lalu berkata kepada Gin Tie Suseng, "Harap Saudara Kim beristirahat sejenak, kemudian barulah kita berangkat ke Siang Cing Koan!"

Gin Tie Suseng segera beristirahat Berselang sesaat ia memandang Bee Kun Bu seraya berkata.

"Ginkangku agak rendah, bagaimana mungkin aku mengikuti kalian?"

"Begini," ujar Pek Yun Hui mengusulkan "Sebaiknya kita berpencar cari Ciak Bin Sat Sin, sesudah itu barulah kita ke Siang Cing Koan, Bagaimana menurut pendapat kalian?"

"Baik," sahut Bee Kun Bu cepat

Mereka bertiga lalu berpencar Bee Kun Bu langsung melesat ke arah di mana Ciak Bin Sat Sin pergi tadi dengan mengerahkan ginkangnya.

Bee Kun Bu terus mengerahkan ginkangnya melesat ke d\pan. Berselang beberapa saat kemudian, ia berhenti menengok ke sana ke mari, ternyata ia sudah berada di lembah yang penuh batu aneh.

Setelah menyebarkan pandangannya, Bee Kun Bu mengayunkan kakinya, tapi tidak menggunakan ginkang, Di lembah itu tidak terdengar suara apa pun, kecuali suara desiran angin gunung.

Tiba-tiba Bee Kun Bu melihat ada jalan setapak, ia mengerutkan kening, kemudian melangkah ke dalam mengikuti jalan setapak itu, Setelah melewati sebuah tikungan, ia melihat sosok tengkorak manusia di pinggir jalan setapak itu. Bee Kun Bu memperhatikan sosok tengkorak itu, kemudian yakin tengkorak itu dulunya orang yang berkepandaian tinggi, tapi terbunuh di tempat tersebut

Diam-diam Bee Kun Bu menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dalam Tiba-tiba terdengar suara tawa yang amat menusuk telinga dan berkumandang di dalam lembah.

Ketika mendengar suara tawa itu, Bee Kun Bu tahu bahwa orang yang tertawa itu memiliki Lwee kang tinggi.

"Anda siapa?" seru Bee Kun Bu. "Kenapa tidak berani memperlihatkan diri?"

Mendadak berkelebat sosok bayangan di hadapannya sejauh sepuluh depaan. Bee Kun Bu cuma melihat sosok bayangan itu memakai baju kuning, tapi tidak melihat jelas wajahnya. Karena secara tiba-tiba orang itu melesat ke dalam rimba, seketika juga Bee Kun Bu berseru.

"Aku sudah melihat dirimu, kenapa masih bersembunyi ke dalam rimba?"

Orang berbaju kuning itu tak menyahut, tapi justru terdengar suara tawa dingin di belakangnya, Bee Kun Bu segera melesat ke arah suara tawa itu, ternyata di balik sebuah batu besar

Ketika Bee Kun Bu melesat ke sana, di belakangnya terdengar lagi suara tawa panjang, itu membuat Bee Kun Bu berhenti sambil menoleh ke belakang, Yang tertawa panjang itu tidak lain adalah Ling Coa Hong Tok-Oey Hue.

Betapa gusarnya Bee Kun Bu, karena Ling Coa Hong Tok telah mempermainkannya, seketika juga ia melesat ke arah orang itu, Pada waktu bersamaan, terdengar lagi suara seruan dingin.

"Bee Kun Bu, kini engkau telah memasuki tempat bahaya, engkau masih berani banyak bertingkah?" Bee Kun Bu memutarkan badannya, maksudnya ingin melesat ke arah suara seruan itu, namun Ling Coa Hong Tok membentak.

"Bee Kun Bu, Swat Ling San ini bukan tempat injakanmu!

Kalau engkau tahu diri, cepatlah pergi! Kalau tidak, jangan mempersalahkan kalau aku menyebarkan Hong Tok (Tawon Beracun)! Bangau Saktimu tidak berada di sini, maka engkau tidak akan mampu menghalau Hong Tok itu!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening, kemudian mendadak melesat ke arah Ling Coa Hong Tok dengan ilmu ginkang Ling Khong Sih Tou. Sebelum kakinya menginjak tanah, ia pun langsung menyerang dengan tangan kosong yang penuh mengandung Lweekang

Setelah itu, ia pun melesat dengan ginkang Ling Kong Sih Tou dan sekaligus melancarkan pukulan tangan kosong ke arah seruan dingin tadi. Tampak sosok bayangan berkelebat ternyata Kiu Tok Ciu-Liu Bwee.

"Aku kira siapa, tidak tahunya kalian berdua!" ujar Bee Kun Bu sambil tertawa dingin.

Kiu Tok Ciu tidak menyahut, melainkan mendekati Ling Coa Hong Tok seraya bertanya.

"Bagaimana luka di lengan Ji Suheng?"

"Lengannya terkena senjata rahasia, tapi tidak apa-apa," sahut Ling Coa Hong Tok memberitahukan "Mung-kin dia sudah sampai di Siang Cing Koan."

Kiu Tok Ciu tampak berlega hati, lalu mengarah pada Bee Kun Bu seraya berkata.

"Engkau mampu keluar dari formasi itu, pertanda mengerti tentang Ngo Heng, Kiu Kiong dan Pat Kwa! Pada waktu itu, aku masih tidak sampai hati melukaimu! Tapi... sekarang engkau akan merasakan tanganku yang keji!"

"Aku tidak begitu mengerti tentang Ngo Heng, Kiu Kiong dan Pat Kwa!" sahut Bee Kun Bu sambil tertawa dingin, "Tapi beberapa ranting kering itu masih tidak dapat mengurung diriku! Kini engkau ingin bertarung denganku, tentunya aku akan melayanimu! cepatlah hunus senjatamu, mari kita bertanding!"

Kiu Tok Ciu tersenyum, lalu melepaskan senjatanya yang terlilit di pinggangnya. Ketika melihat senjata itu, hati Bee Kun Butergerak, sebab senjata itu mirip cambuk, entah dibikin dari apa karena memancarkan cahaya putih.

Setelah melihat senjata itu, Bee Kun Bu segera melancarkan pukulan tangan kosong ke arah Kiu Tok Ciu.

Kiu Tok Ciu tahu bahwa Bee Kun Bu memiliki Lweekang tinggi, maka ia tidak menyambut pukulan itu, melainkan cepat berkelit meloncat ke samping, Bee Kun Bu melancarkan pukulan lagi, tapi mendadak Ling Coa Hong Tok membentak, dan sekaligus menyerang Bee Kun Bu dari belakang.

serangan itu membuat Bee Kun Bu terpaksa berkelit ke samping, sehingga tidak sempat menyerang Kiu Tok Ciu. Di saat Bee Kun Bu berkelit, di saat itu pula Kiu Tok Ciu melancarkan serangan dengan cambuknya, Tam-pak bayangan hitam meliuk-Iiuk mengarah pada bagian belakang kepala Bee Kun Bu.

Secepat kilat Bee Kun Bu memutarkan badannya menghindari serangan cambuk itu, bahkan sekaligus menjulurkan tangannya menotok jalan darah di lengan wanita itu.

itu merupakan gerakan yang amat aneh. Diam-diam Kiu Tok Ciu memujinya dalam hati dan cepa(-cepat meloncat ke belakang.

"Adik ke lima!" seru Kiu Tok Ciu pada Ling Coa Hong Tok. "Kita bergabung menyerangnya!"

Ling Coa Hong Tok-Oey Hue adalah pakar racun dan selalu menggunakan racun, namun kepandaiannya masih di bawah Kiu Tok Ciu. Ketika mendengar seruan wanita itu, iapun segera melancarkan serangan ke arah Bee Kun Bu. sementara Bee Kun Bu sudah siap, bahkan telah menyiapkan segenggam jarum Toan Meng Cin di tangannya, Akan tetapi, itu tidak terlepas dari mata Kiu Tok Ciu yang tajam.

"Adik ke lima, hati-hati! Tangannya menggenggam senjata rahasia, mungkin kakak kedua dilukainya dengan senjata rahasia itu!

Ling Coa Hong Tok langsung meloncat mundur, kemudian menghunus pedangnya yang mengeluarkan hawa dingin, dan mendadak menyerang Bee Kun Bu dengan pedang itu.

Bee Kun Bu cepat-cepat berkelit, lalu memandang mereka berdua sambil berkata dalam hati.

"Kalau satu lawan satu, mereka berdua memang bukan lawanku, Tapi mereka berdua bergabung, maka amat merepotkanku, jadi harus secepat mungkin merobohkan Ling Coa HongTokdulu, barulah merobohkan Kiu Tok Ciu."

Setelah berkata dalam hati, ia lebih mencurahkan perhatiannya pada Ling Coa Hong Tok, kebetulan orang itu menyerangnya lagi, Bee Kun Bu menundukkan ba-dannya, kemudian secepat kilat menjulurkan tangannya mengarah pada lengan Ling Coa Hong Tok, ternyata Bee Kun Bu ingin merebut pedang itu.

Akan tetapi, Ling Coa Hong Tok cepat-cepat menarik pedangnya, sekaligus memutarkannya sambil mundur beberapa langkah, lalu melesat ke dalam rimba.

Bagaimana mungkin Bee Kun Bu membiarkannya kabur?

Maka ia segera melesat ke dalam rimba menggunakan ginkang. Tapi di dalam rimba itu banyak terdapat pepohon, sehingga membuatnya sulit mengerahkan gin-kangnya.

"Hm!" dengus Bee Kun Bu dingin, "Pokoknya hari ini aku harus dapat menangkap kalian berdua!" Bee Kun Bu melesat ke dalam, sedangkan Ling Coa Hong Tok terus berlari-lari di dalam rimba itu, sebentar melesat ke kiri, sebentar melesat ke kanan.

Kiu Tok Gu pun sudah melesat ke dalam rimba itu. Ketika melihat Bee Kun Bu terus mengejar Ling Coa Hong Tok, ia segera berseru.

"Adik ke lima, cepatlah engkau ke puncak gunung, aku akan menghadangnya di sini!"

"Mau kabur ke mana?" bentak Bee Kun Bu.

"Bee Kun Bu!" bentak Kiu Tok Ciu. "Lihat senjata rahasia!" padahal di saat itu perhatian Bee Kun Bu sedang tereurah

pada Ling Coa Hong Tok, Ketika mendengar suara bentakan

itu, ia pun terkejut sekali dan tidak berani mengambil risiko. Maka dibiarkannya Ling Coa Hong Tok melesat pergi, sedangkan dirinya berkelit kesamping, lalu memutarkan badannya dan menatap Kiu Tok Ciu-Liu Bwee.

Kiu Tok Ciu malah tersenyum-senyum, ternyata ia cuma menggertak, sama sekali tidak menyerang Bee Kun Bu dengan senjata rahasia, Akan tetapi mendadak ia mengayunkan tangannya mulai melancarkan serangan ke arah Bee Kun Bu.

Karena banyak pepohon di tempat itu, Bee Kun Bu tidak leluasa mengerahkan ginkangnya, sehingga terpaksa melancarkan pukulan jarak jauh untuk menyambut serangan Kiu Tok Ciu.

Ketika melihat Bee Kun Bu melancarkan pukulan jarak jauh, Kiu Tok Ciu segera meloncat ke samping, Nnmun Bec Kun Bu melancarkan pukulan jarak jauh lagi, Kali ini Kiu Tok Ciu tiada kesempatan untuk berkelit, maka terpaksalah ia menyambut pukulan jarak jauh rtu.

Blammm! Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Ranting-ranting pohon siong yang ada di silu pun patah semua terhembus angin pukulan mereka. Betapa terkejutnya Kiu Tok Ciu setelah menyambut pukulan itu. Belum lagi rasa kejutnya hilang, Bee Kun Bu sudah melancarkan pukulan lagi.

Apa boleh buat! Kiu Tok Ciu terpaksa menyambut pukulan tersebut, namun ternyata hanya pura-pura. ia menjulurkan sepasang tangannya lalu menjatuhkan diri bergulingan menghindari pukulan itu.

Blamm! Sebuah batu besar hancur terkena pukulan Bee Kun Bu.

itu membuat Kiu Tok Ciu semakin terkejut dan segera mencari akal untuk meloloskan diri.

"Sungguh dahsyat pukulannya, maka aku harus melawannya dengan jarak dekat, jadi dia sulit melancarkan pukulan." katanya dalam hati.

sementara Bee Kun Bu justru melancarkan pukulan lagi, Akan tetapi, sungguh mengherankan pukulan itu tidak diarahkan pada Kiu Tok Ciu, melainkan pada beberapa pohon yang ada di belakang wanita itu.

Blammm! Pohon-pohon itu roboh seketika.

SemuIa Kiu Tok Ciu tidak mengerti perbuatan Bee Kun Bu, tetapi setelah Bee Kun Bu merobohkan pohon-pohon itu, barulah ia tahu apa maksud Bee Kun Bu.

Lantaran di tempat itu banyak pepohon, menyebabkan Bee Kun Bu sulit mengerahkan kepandaiannya, maka terpaksalah ia merobohkan pepohonan tersebut.

"Hebat sekali pukulannya!" ujar Kiu Tok Ciu dalam hali, "Kalau aku sekarang tidak menyerangnya mungkin sulit untuk meloloskan diri!"

Kiu Tok Ciu berteriak nyaring, kemudian mengayunkan tangan kirinya menyerang kepala Bee Kun Bu. Di saat itu, Bee Kun Bu sedang menghantam semua pohon di sekitarnya, dan tak menyangka Kiu Tok Ciu akan menyerangnya

Cepat-cepat ia mengerahkan Lwekangnya, meloncat ke samping dan sekaligus balas menyerang dengan jurus Kim U Tau Cuang Poh (lkan Melawan Arus).

Kiu Tok Ciu memang berotak cerdas, ia tidak mau menyambut serangan itu, melainkan melesat ke dalam seraya berseru.

"Pukulanmu memang hebat, tapi aku tidak mau melayanimu! Kalau engkau berani, mari ikut aku ke dalam rimba ini!"

"Engkau masih ingin kabur?" bentak Bee Kun Bu, lalu melesat ke arah Kiu Tok Ciu yang banyak pepohonan kemudian melancarkan sebuah pukulan

Kiu Tok Ciu memang merasa gentar terhadap pukulan Bee Kun Bu, maka ketika Bee Kun Bu melesat ke arahnya sambil melancarkan pukulan wanita itu pun segera meloncat ke belakang pohon.

Blam! Pohon itu roboh terkena pukulan Bee Kun Bu.

Secepat kilat Kiu Tok Ciu meloncat ke belakang pohon lain, Bee Kun Bu mengejarnya, tetapi di tempat itu banyak pepohonan sehingga menyulitkan Bee Kun Bu untuk mengerahkan ginkangnya.

"Hi hi hi!" Kiu Tok Ciu tertawa cekikikan, "Kenapa engkau begitu takut pada pohon? Kalau begitu, kenapa engkau berani memasuki Swat Ling San ini?"

Bee Kun Bu gusar sekali, tapi tidak bisa berbuat banyak karena Kiu Tok Ciu selalu meloncat ke belakang pohon.

"Ribuan pepohonan di rimba ini, pereuma aku terus- menerus melancarkan pukulan, apalagi dia tidak mau menghadapiku, Lebih baik aku mengikutinya ke dalam rimba, setelah itu barulah aku turun tangan menang-kapnya," ujar Bee Kun Bu dalam hati, kemudian ia tertawa dingin. "Kenapa engkau tertawa dingin?" tanya Kiu Tok Ciu yang bersembunyi di balik pohon.

"Pokoknya aku akan mengejarmu! Pohon-pohon di sini tidak dapat menghalangiku!" sahut Bee Kun Bu. "Engkau tidak akan bisa kabur!"

"Kalau begitu, kejarlah aku!" Tantang Kiu Tok Ciu.

Bee Kun Bu segera melesat ke arah Kiu Tok Ciu, namun wanita itu cepat-cepat melesat pergi. Bee Kun Bu terus mengejarnya, akan tetapi sesaat kemudian, ia telah kehilangan jejak Kiu Tok Ciu.

"Heran?" gumam Bee Kun Bu. "Dia bersembunyi di mana?"

Bee Kun Bu menengok kian ke mari, tapi tetap tidak tampak bayangan Kiu Tok Ciu, Karena penasaran, Bee Kun Bu berputar-putar di situ mencarinya.

Setelah itu, ia pun meloncat ke atas pohon, lalu memandang ke empat penjuru, tampak Kiu Tok Ciu sedang berlari.

Tanpa banyak pikir lagi, Bee Kun Bu langsung mengejarnya, Berselang beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah menembus rimba itu, Namun Kiu Tok Ciu terus berlari menuju sebuah puncak gunung.

Bee Kun Bu memandang puncak gunung itu, tampak sebagian tertutup oleh gumpalan awan, dan di lerengnya penuh batu tajam dan curam yang sangat berbahaya.

sementara Kiu Tok Ciu masih terus berlari sambil meloncat menuju puncak gunung itu, Tanpa membuang waktu, Bee Kun Bu pun segera mengerahkan ginkangnya mengejar nya.

Namun mendadak Bee Kun Bu berhenti, lalu memandang ke atas, Di atas sana memang banyak batu tajam, tapi tidak sulit bagi Bee Kun Bu mendakinya dengan ilmu ginkang, Ada satu hal yang membuat Bee Kun Bu merasa khawatir yakni seandainya ada jebakan di sana, karena dari tadi ia tidak melihat Ling Coa Hong Tok.

Bee Kun Bu tampak ragu mengejar Kiu Tok Ciu. Namun tujuannya memasuki Swat Ling San ini justru ingin membasmi Lima Setan Swat Ling San. Maka bagaimana mungkin ia berhenti sampai di situ? Bukankah itu sangat memalukan dirinya? Oleh karena itu, Bee Kun Bu langsung melesat ke atas, lalu berdiri di sebuah batu besar sambil menengok ke sana ke mari.

"Mungkin Kiu Tok Ciu dan Ling Coa Hong Tok bersembunyi di puncak gunung ini, aku harus naik ke puncak, pasti dapat menemukan mereka," gumam Bee Kun Bu, lalu mengerahkan ginkangnya Ling Khong Sih Tou melesat ke atas.

*****

Bab ke 15 - Jatuh ke jurang Tertolong, Oleh Wanita Tua Aneh

Bee Kun Bu terus melesat ke atas, lalu berhenti di atas sebuah batu besar, kemudian memandang ke sekitarnya.

"Sungguh aneh tempat ini!" ujarnya sambil mengerutkan kening, "Kiu Tok Ciu sangat licik dan banyak akal busuk, aku harus berhati-hati agar tidak terjebak oleh-nya."

Pada waktu bersamaan, Bee Kun Bu mendengar suara aneh, dan makin lama makin terdengar jelas suara aneh itu.

Ia terperanjat dan menoleh seketika juga air mukanya berubah, ternyata melihat ribuan ular berbisa dan ribuan tawon beracun berada di gunung itu. Ribuan ular berbisa itu merayap ke arahnya, begitu pula ribuan tawon beracun itu terbang ke arahnya.

Menyaksikan itu, hati Bee Kun Bu berdebar-debar tegang, Tanpa banyak pikir lagi, ia langsung mengerahkan ginkangnya melesat ke atas menuju puncak gunung itu. Ketika hampir mencapai puncak gunung itu, ribuan tawon beracun yang semula terbang begitu cepat, saat ini tampak agak perlahan Bee Kun Bu bergirang dalam hati, dan secepat kilat melesat ke atas lagi.

Akan tetapi, ketika ia melesat ke atas, mendadak merasa ada semacam tenaga yang sangat dahsyat mengarah padanya, Bee Kun Bu tidak bisa mengelak, karena badannya sedang melambung ke atas. Oleh karena itu, ia terpaksa menghimpun Lweekangnya sambil mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

Blamm! Terdengar suara benturan

Bee Kun Bu terpental dua depa. Pada saat terpental ia malah sempat melihat orang yang menyerangnya, yang tidak lain adalah Kiu Tok Ciu-Liu Bwee dan Ling Coa Hong Tok-Oey Hue.

sementara Kiu Tok Ciu-Liu Bwee juga jatuh duduk dan dari mulutnya mengalir darah segar sedangkan Ling Coa Hong Tok cuma terpental beberapa langkah, ternyata mereka terkena pukulan Bee Kun Bu.

jarak Kiu Tok Ciu agak dekat, maka lukanya cukup parah sampai memuntahkan darah segar.

Bee Kun Bu yang terpental dua depa itu pun dalam keadaan gawat, karena badannya justru menuju ke mulut jurang yang ternganga lebar, yang dalamnya hampir mencapai ribuan depa.

"Aaaakh.,.!" keluh Bee Kun Bu dalam hati ketika badannya meluncur ke dalam jurang itu, "Aku tak menyangka, nyawaku akan melayang di tempat ini!"

Bee Kun Bu memejamkan sepasang matanya, kelihatannya ia sudah pasrah, Luncuran badannya begitu cepat sehingga angin berdesir-desir di telinganya, ia yakin, dirinya pasti remuk di dasar jurang. Berselang beberapa saat kemudian, mendadak ia merasa badannya tergetar, rupanya ada segulung angin berhembus ke arahnya, Ketika ia baru mau membuka matanya, tahu-tahu badannya telah jatuh ke dalam sebuah telaga kecil

Begitu jatuh ke dalam air, pikiran Bee Kun Bu jadi jernih, dan cepat-cepat ia merentangkan sepasang tangannya, lalu menekan ke bawah sambil mengerahkan ilmu Ling Khong Sih Tou. ia langsung melesat ke atas, lalu menarik nafasnya dalam-dalam, dan segera meloncat ke pinggir telaga.

SeteIah sepasang kakinya menginjak pinggir telaga, ia pun menarik nafas lega seraya bergumam.

"Nyawaku masih panjang, Untung aku jatuh ke dalam telaga ini dan mengerti ilmu Ling Khong Sih Tou! Kalau tidak, nyawaku pasti sudah melayang!"

Usai bergumam, tiba-tiba wajahnya tampak berubah, ternyata ia mendengar suara tawa aneh bernada tua.

"Engkau jangan merasa beruntung!" Terdengar pula suara yang amat dingin, "Kalau aku tidak mendorong badanmu, mungkin badanmu sudah remuk sekarang! Engkau tidak mengucapkan terimakasih padaku, malah bergumam nyawamu masih panjang, dan mengerti ilmu Ling Khong Sih Tou! Sungguh keterlaluan dan tak tahu diri!"

Bee Kun Bu terbelalak ia sama sekali tidak menyangka bahwa di dasar jurang ini terdapat orang, Segeralah ia menengok kian ke mari, tampak ada sebuah gua di situ, dan di depan gua itu terdapat batu yang tajam-tajam.

Menyaksikan itu, merindinglah sekujur badan Bee Kun Bu.

Kalau menghantam batu tajam itu, badannya pasti remuk.

"Pantas tadi aku merasa ada segulung angin berhembus pada diriku, sehingga badanku terdorong ke telaga! Kalau begitu, pasti orang di dalam gua itu yang menolongku," ujarnya dalam hati. Bee Kun Bu menatap gua itu, tampak sebuah pelita dan seorang wanita duduk bersila di situ.

Tidak terlihat jelas bagaimana raut wajah wanita itu, karena sinar pelita itu tak begitu terang, Bee Kun Bu mendekati gua itu, lalu memberi hormat kepada wanita itu seraya berkata.

"Aku terkena serangan gelap di puncak gunung, maka terjatuh ke dalam jurang ini. Terimakasih atas pertolongan Cianpwee yang telah menyelamatkan nyawaku!"

Wanita itu tetap duduk bersila, sama sekali tidak membalas hormat pada Bee Kun Bu. Mendadak ia malah tertawa terkekeh-kekeh, yang suaranya amat menusuk telinga dan menyeramkan sehingga membuat Bee Kun Bu termangu dan tertegun

"Engkau tidak perlu mengucapkan terimakasih pada-ku!" ujar wanita itu, "Terus terang, biasanya aku paling tidak senang ada orang hidup di sini, lagi pula aku tidak kenal denganmu! Engkau akan jatuh mati atau hidup, itu tiada hubungan dengan diriku, Akan tetapi, engkau justru beruntung! Maka memperoleh pertolonganku Oleh karena itu engkau pun tidak perlu mengucapkan terimakasih padaku!"

"Kalau begitu, aku mohon diri!" ucap Bee Kun Bu yang tidak mau mengganggu wanita tua itu, "Budi pertolongan Cianpwee kuingat selalu, lain kali aku pasti membalas budi pertolongan ini."

Ketika Bee Kun Bu baru mau pergi, tiba-tiba wanita tua itu berseru memanggitnya.

Tunggu! Aku ingin bicara sebentar!"

Bee Kun Bu terpaksa tidak jadi pergi. Walau ia tidak begitu menyukai wanita tua itu, namun tetap bersikap hormat padanya, karena masih ingat akan budi pertolongannya.

"Cianpwee ingin bicara apa? Bicaralah!" ujar Bee Kun Bu. Sekilas wajah wanita tua itu tampak berseri, kemudian manggut-manggut seraya berkata.

"Nada suaramu agak angkuh, Aku memang ingin bermohon sesuatu, tapi, belum tentu engkau mampu melaksanakannya."

"Cianpwee telah menyelamatkan nyawaku, maka apa yang Cianpwee mohonkan, aku pasti melaksanakannya meskipun harus mempertaruhkan nyawaku," sahut Bee Kun Bu

sungguh-sungguh.

Wanita tua itu terus menatap Bee Kun Bu dengan tajam, kemudian mendadak menyerang dengan sebuah pukulan

Walau tidak siap, namun secara reflek Bee Kun Bu bergerak cepat dengan jurus Kim Tan Soh Liong (Mem- belenggu Naga Di Aula Emas), jurus itu khusus untuk mencengkeram urat nadi wanita tua tersebut

Akan tetapi, pada waktu bersamaan wanita tua itu menarik kembali serangannya, lalu secepat kilat menyerang kepala Bee Kun Bu.

Setelah melewati beberapa jurus, Bee Kun Bu tahu bahwa wanita tua itu memiliki ilmu silat aneh. Kendatipun wanita tua itu tetap duduk, Bee Kun Bu masih tidak mampu mengalahkannya, sebaliknya Bee Kun Bu malah terdesak mundur

Tak terasa pertarungan sudah lewat dua puluh jurus lebih, membuat Bee Kun Bu semakin terkejut, sebab sama sekali tidak tahu pukulan apa yang dilancarkan wanita tua itu.

Bee Kun Bu berpikir, kalau ia tidak mengeluarkan ilmu andalannya, pasti sulit baginya untuk meloloskan diri dari gua ini. Oleh karena itu, mulailah ia mengeluarkan ilmu andalannya. puluhan jurus telah lewat, tapi sungguh mengherankan wanita tua itu masih tetap dalam posisi duduk bersi'Ia, membuat Bee Kun Bu penasaran sekali.

"Engkau tidak mampu melawanku dengan tangan kosong, cepatlah gunakan senjata!" bentak wanita tua itu.

Bee Kun Bu memang berniat menggunakan senjata, tapi merasa tidak enak, sekarang wanita tua itu me-nyuruhnya, maka ia segera mencabut pedangnya yang terikat di punggungnya.

Trang! Bee Kun Bu sudah menggenggam pedangnya, pedang itu adalah Cing Teng Po Kiam (Pedang Pusaka Sinar Hijau). Pedang pusaka itu memancarkan sinar kehijau-hijauan, yang dapat menerangi gua itu.

Tiba-tiba Bee Kun Bu terbelalak sekarang iri b^ru dapat melihat jelas wajah wanita tua itu, Ternyata wanita tua itu berwajah buruk seka!i, duduk di atas tumpukan rumput kering. Rambutnya panjang terurai lewat bahu, kuku-kuku jari tangannya panjang bukan main, bahkan buta sebelah matanya.

Menyaksikan wanita tua itu, sekujur badan Bee Kun Bu langsung merinding, karena selama ini ia tidak pernah melihat wanita tua yang begitu macam.

Rupanya wanita tua itu tahu apa yang dipikirkan Bee Kun Bu, maka ia pun tertawa terkekeh-kekeh.

"Setelah engkau melihat jelas wajahku, apakah merasa takut?" tanya wanita tua itu dan masih tertawa terkekeh-kekeh.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk "Aku sama sekali tidak menyangka wajah Cianpwee begitu macam!"

"Empat puluh tahun lalu, aku merupakan wanita yang cantik jelita, kini jadi begini macam, tentunya ada sebab musababnya," ujar wanita tua itu dan menambahkan "Sekarang jangan membicarakan itu, cobalah sambut beberapa jurusku!" Wanita tua itu langsung menyerang Bee Kun Bu dengan tangan kosong, dan Bee Kun Bu segera menyambut serangan itu dengan pedang pusakanya, Akan tetapi, wanita tua itu tetap menyerang dengan tangan kosong, maka seketika juga Bee Kun Bu membatin.

"Aku menggunakan pedang pusaka, sedangkan wanita tua itu cuma menggunakan sepasang tangannya, Kalaupun aku menang harus merasa malu, Lagi pula dia telah menyelamatkan nyawaku, bagaimana mungkin aku tega melukainya? Aku harus berbelas kasihan padanya."

Oleh karena itu, walau ia telah mengerahkan ilmu pedang andalannya, tapi justru cuma ingin mendesak wanita tua itu

Wajah wanita tua itu berubah, rupanya ia sudah tahu maksud Bee Kun Bu.

"Engkau bersenjata pusaka, tapi seranganmu malah tidak karuan! Kalau engkau adalah muridku, sudah kutendang i.tii pintu perguruan!" bentaknya.

Sambil membentak, wanita tua itu pun menyerang Bee Kun- Bu dengan sengit sekali. itu membuat Bee Kun Bu tidak berani berlaku sungkan-sungkan lagi, tapi kemudian ia malah menarik nafas panjang seraya berkata.

"Cianpwee telah menyelamatkan nyawaku, maka bagaimana mungkin aku berlaku kurang ajar? Kalau Cian- pwee terus-menerus mendesakku, aku pun terpaksa berlaku kurang ajar terhadap Cianpwee."

"Hmm!" dengus wanita tua itu dingin, "Walau engkau menyerangku dengan ilmu pedang andalanmu, belum tentu mampu mengalahkan sepasang tanganku! Kenapa engkau harus berlaku sungkan-sungkan?"

"Baiklah! Maaf.,." ucap Bee Kun Bu dan mulai menyerang wanita tua itu dengan sungguh-s unggun. seketika juga pedang pusakanya berkelebatan mengarah pada wanita tua itu. Wanita tua itu tertawa dingin, disambutnya serangan Bee Kun Bu dengan jurus Lan Hoa Soh Hoat (Menyebarkan Bunga Lan Menotok jalan Darah), kemudian ditambah lagi dengan jurus Coh Meh Liak Kut (Mencengkeram Urat Nadi Menghancurkan TuIang).

Kedua jurus itu sungguh dahsyat, maka tidak heran kalau Bee Kun Bu jadi terkejut Cepat-cepat ia berkelit, dan sekaligus menyerang dengan jurus ilmu pedang andalannya.

Serangan itu membuat wajah wanita tua itu berseri, kemudian ia pun menangkis sambil berkata.

"Engkau menyerangku dengan jurus ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat, apakah engkau murid Kun Lun Sam Cu?"

Bee Kun Bu merasa kagum karena ia cuma menggunakan satu jurus ilmu pedang tersebut wanita tua itu sudah dapat mengenali ilmu pedang itu.

"Benar," jawab Bee Kun Bu. "Aku memang murid partai Kun Lun. Apakah Cianpwee kenal guruku?"

"Aku kenal gurumu, namun tidak pernah bertemu!" Sahut wanita tua itu sambil tersenyum, "Akupun yakin, engkau merupakan murid pewaris!"

"Kalau begitu.,." ujar Bee Kun Bu. "Bagaimana kalau kita berhenti bertarung?"

"Hm!" dengus wanita tua itu dingin, "Aku dan gurumu tiada hubungan, lagi pula pertarungan ini hanya mencoba kepandaianmu! Terus terang, itu punya tujuan tertentu! Kalau engkau mampu mengalahkanku, aku akan bermohon sesuatu padamu! Kalau engkau tidak mampu mengalahkanku, mungkin engkau sulit keluar dari gua ini! Nah, pikirkanlah baik- baik!"

Mendadak wanita tua itu menyerang Bee Kun Bu lagi, Seketika Bee Kun Bu pun berpikir Dia berkata begitu dan aku harus mengalahkannya tapi dia memiliki ilmu silat aneh, sulit bagiku untuk mengalahkannya ini harus bagaimana? Di saat Bee Kun Bu sedang berpikir, wanita tua itu pun menyerangnya bertubi-tubi, Bee Kun Bu terpaksa mengayunkan pedang pusakanya untuk menangkis, mereka bertarung dengan sengit, Mendadak Bee Kun Bu terpental beberapa langkah.

"He he he!" Wanita tua itu tertawa terkekeh, "DuIu aku dengar Kun Lun Sam Cu berkepandaian tinggi, namun murid mereka justru merupakan gentong nasi, itu sungguh tak berguna sama sekali!"

Muka Bee Kun Bu langsung panas mendengar sindiran itu, maka ia pun tertawa dingin.

"Partai Kun Lun adalah partai terkemuka di Tiong-goan, sedangkan aku cuma merupakan murid yang tak berguna, maka Cianpwee tidak usah menyinggung partai Kun Lun." sahut Bee Kun Bu.

"Dulu aku mengira Kun Lun Sam Cu merupakan jago yang tiada tanding di Tionggoan, sehingga aku ingin ke Tionggoan untuk mencoba kepandaian mereka. Tapi terhalang sesuatu, maka aku tidak jadi ke sana," ujar wanita tua itu sambil tertawa, "Kepandaianmu cukup tinggi, namun tidak begitu luar biasa, Tentunya Kun Lun Sam Cu pun begitu."

Ucapan wanita tua itu sangat menggusarkan Bee Kun Bu, sebab secara tidak langsung telah menghina perguruannya, Oleh karena itu tidak heran Bee Kun Bu mulai menyerangnya dengan sungguh-sungguh.

Wanita tua itu tetap melayani Bee Kun Bu dengan tangan kosong, Tak terasa pertarungan sudah lewat sepuluh jurus, Saat ini wanita tua itu tampak agak kewalahan menghadapi serangan-serangan Bee Kun Bu, karena Bee Kun Bu menyerangnya dengan jurus-jurus andalannya, lagi pula dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, sekonyong-konyong wanita tua itu melancarkan sebuah pukulan yang sangat dahsyat, disertai dengan Lweckang puIa.

Bee Kun Bu tidak berani menangkis pukulan itu, melainkan meloncat ke belakang, lalu mengerahkan ilmu ginkang Ling Khong Sih Tou. Begitu cepat dan melayang turun ke belakang wanita tua itu, sekaligus menotok jalan darah di punggungnya.

Namun sungguh mengejutkan tiba-tiba punggung wanita tua itu mengeras bagaikan baja, dan ia tetap duduk dalam posisi semula dan tertawa panjang.

"Bagus! Bagus! Ternyata murid partai Kun Lun tidak bernama kosong! Aku telah kalah di tanganmu, harap duduk di hadapanku untuk bereakap-cakap!" ujar wanita tua itu.

sesungguhnya di saat itu, Bee Kun Bu masih terheran- heran, tapi setelah mendengar ucapan wanita tua itu, ia pun berlega hati, Cepat-cepat ia melangkah ke hadapan wanita tua itu, sedang wanita tua itu terus menatapnya dengan penuh perhatian, kemudian ujarnya lembut

"Engkau berkepandaian tinggi, aku kagum sekali!

Duduklah! Aku ingin membicarakan sesuatu!"

Bee Kun Bu menurut, lalu duduk di hadapannya, ia masih merasa hcran, kenapa wanita itu bersifat begitu aneh, tapi sekarang ia yakin bahwa wanita tua itu tidak berniat jahat kepadanya.

Mendadak wanita tua itu menarik nafas panjang, seakan ingin mengeluarkan semua ganjelan dalam hatinya.

"Cianpwee seorang diri tinggal di gua ini, apakah ada sebab musababnya?" tanya Bee Kun Bu.

"Sang waktu berlalu begitu cepat, tak terasa aku tinggal di sini sudah belasan tahun. Hari ini bisa bertemu denganmu, ini memang merupakan suatu jodoh," sahut wanita tua itu.

"Cianpwee memiliki Lwekang yang begitu tinggi, kenapa malah terkurung di dalam gua ini?" "Lihatlah ini!" Wanita tua itu menunjuk sepasang kakinya.

Bee Kun Bu segera memandang kaki wanita tua itu.

Seketika juga ia merinding, ternyata sepasang kaki wanita tua itu amat kecil dan kurus tak berdaging sama sekali.

"Sepasang kaki Cianpwee.?"

"Pernahkah engkau dengar Thoa Ning Poh Kut San (Obat Bubuk Penyusut TuIang)?" tanya wanita tua itu.

"Tidak pernah dengar, tapi tahu macam obat bubuk Hua Kut Siau Goan San." Bee Kun Bu memberitahukan

"Hua Kut Siau Goan San dan Thoa Ning Poh Kut San itu hampir sama," ujar wanita tua itu. "Engkau tahu tentang obat bubuk itu, apakah tahu obat bubuk itu sangat beracun?"

Tahu." Bee Kun Bu mengangguk, karena ia sendiri pernah menelan racun tersebut "Obat bubuk itu memang sangat beracun, siapa yang menelannya pasti akan kehilangan kesadaran, bahkan hawa murninya akan rusak hingga mati."

"Benar." Wanita tua itu mengangguk "Namun Thoa Ning Poh Kut San lebih beracun,"

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak "Bolehkah Cianpwee menjelaskan nya ?"

Tentunya engkau merasa heran, kenapa aku sama sekali tidak bangkit berdiri, kan?" sahut wanita tua itu, "Apakah karena racun itu?"

Tidak salah, Karena badanku mengidap racun itu, maka aku tidak bisa jalan, bahkan tidak boleh tertimpa sinar matahari dan bulan Kalau tertimpa sinar matahari dan bulan, dalam waktu dua puluh empat jam, aku pasti mati mencair Oleh karena itu, aku terpaksa tinggal di dalam gua ini, juga dengan cara mengerahkan Lweckang untuk mendesak keluar racun itu."

"Apakah racun itu sudah terdesak keluar?" "Engkau telah menyaksikan keadaanku, kok tidak tahu racun itu sudah terdesak keluar atau belum?" Wanita tua itu tampak gusar sekali, "Malah bertanya pula!"

Bee Kun Bu langsung diam, kemudian menundukkan kepala, Wanita tua itu menatapnya, lalu menarik nafas panjang.

"Aaakh...!" wajahnya tampak murung sekali "Sudah belasan tahun aku berupaya mendesak keluar racun yang ada di dalam tubuhku, namun hingga kini masih tidak berhasil, hanya bisa menahan sinar matahari dan sinar bulan saja, Mungkin tidak sampai setahun lagi, sepasang kakiku akan mencair. "

"Apakah tiada cara pengobatan lain?" tanya Bee Kun Bu mendadak

Tidak ada," jawab wanita tua itu, "Kelihatannya aku memang harus mati di dalam gua ini."

"Cianpwee, bolehkah aku tahu siapa yang meracuni Cianpwee ?

"Yaah!" Wanita tua itu menggeleng-gelengkan kepala, "Yang meracuniku justru muridku sendiri."

"Hah?" Kening Bee Kun Bu berkerut "ltu murid durhaka!

Harap Cianpwee memberitahukan namanya, aku pasti mewakili Cianpwee untuk membunuhnya!"

"Pereuma." "Kenapa pereuma?"

"Karena ketika meracuniku, muridku itu pun terkena pukulanku." Wanita tua itu memberitahukan "Dia mati seketika, hingga kini sudah belasan tahun."

"Mungkin tidak begitu sederhana urusan itu, aku yakin pasti masih ada sebab musabab lain," ujar Bee Kun Bu.

Wanita itu diam, namun sebelah matanya menatap Bee Kun Bu dengan tajam sekali, Bee Kun Bu sudah tahu bahwa wanita itu bersifat aneh, maka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, ia segera menjelaskan

HAku cuma menaruh perhatian kejadian Cianpwee yang telah lampau itu, sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Cianpwee Aku mohon maaf!"

"ltu memang merupakan urusan yang sangat penting.

Kalaupun engkau tidak bertanya, aku pun akan memberitahukan itu berhubung aku ingin mohon bantuanmu, maka harus memberitahukan," sahut wanita tua itu serius.

Apa yang dikatakannya sungguh di luar dugaan Bee Kun Bu. Karena tahu dia bersifat aneh, maka Bee Kun Bu tidak banyak bicara lagi, hanya berharap wanita tua itu menutur tentang kejadian itu saja.

Wanita tua itu justru terus memandang Bee Kun Bu, kemudian menarik nafas panjang, dan merogoh ke dalam bajunya mengambil sesuatu, Tak lama ia pun mengeluarkan sebuah benda yang bergemerlapan

"Walau engkau murid Kun Lun Sam Cu dan ber- kepandaian tinggi, namun pasti tidak pernah bergerak di luar perbatasan maupun di seberang laut," ujar wanita tua itu sambil memperlihatkan benda tersebut "Maka tentunya engkau pun tidak kenal benda ini."

Bee Kun Bu memandang benda itu, mirip jarum juga mirip tusuk konde, tapi sudah patah maka tiada ujungnya, Pada pangkal benda itu terdapat dua butir mutiara yang memancarkan sinar, otomatis membuat gua itu bertambah terang, Walau sudah patah, namun merupakan benda yang sangat berharga, itu dapat diketahui dari kedua butir mutiara itu.

"Aku sama sekali tidak tahu riwayat benda ini, bolehkah Cianpwee menjelaskannya?" tanya Bee Kun Bu. "Terus terang, benda ini sangat berharga," sahut wanita tua itu sambil tertawa aneh, "Sebab benda itu menyangkut suatu rahasia baik di luar perbatasan maupun di seberang laut, maka para pesilat sangat menginginkan benda ini. justru itu, timbullah berbagai kejadian aneh pula."

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak

"Tentang rahasia itu, aku tidak perlu menjelaskan," ujar wanita tua itu melanjutkan, "Kalau punya jodoh, kelak pasti mengetahuinya, Yang harus kujelaskan yakni gara-gara benda ini, aku pula yang diracuni oleh murid kesayanganku sendiri, sehingga harus tinggal di dalam gua ini belasan tahun Setelah tinggal di dalam gua ini, aku pun menyadari akan takdir dan sebab akibat Oleh karena itu, aku ingin menghadiahkan benda ini padamu, anggaplah sebagai benda kenang-kenangan dariku!"

"Cianpwee, aku yakin benda itu merupakan suatu benda pusaka, maka aku tidak berani menerimanya," tolak Bee Kun Bu.

"Ngmm!" Wanita tua itu manggut-manggut, "Engkau pemuda sejati, gara-gara benda ini, belasan tahun aku tidak melihat matahari Akan tetapi, aku menghadiahkan benda ini padamu, tentunya punya maksud tertentu!"

"Maaf! Cianpwee punya maksud apa?"