Bangau Sakti Jilid 24

 
Jilid 24

"Saudara Bee tidak tahu, nona Pek selalu bertindak secara terang-terangan, itu membuatku kagum dan salut, maka aku melanggar perintah memperingatkan Nona Pek, agar Nona Pek tidak menempuh bahaya," jawab Tan Cun Goan.

"Terimakasih atas perhatian Cianpwee!" ucap Pek Yun Hui. "Namun Cianpwee tidak menjelaskan tentang bahaya itu, bagaimana mungkin dapat mencegah niatku?"

"Kalian berdua menuju Swat Ling San, sama sekali tidak bersiap untuk menghadapi suatu jebakan, Lagi pula ilmu silat Swat Ling San tidak semuanya bersumber dari partai Bu Tong, Walau kalian berdua berkepandaian tinggi, sulit menghadapi keroyokan."

"Maksud baik Cianpwee kuterima dalam hati, mengenai ilmu silat, apakah Cianpwee bersedia memberi petunjuk padaku?" tanya Pek Yun Hui mendadak, secara tidak langsung menantang orang tua itu.

"Nona Pek...." Tan Cun Goan tersenyum hambar"... memang berkepandaian tinggi, maka aku pun tidak berani memberi petunjuk, Namun aku akan memberi petunjuk beberapa jurus pada saudara Bee, agar dia tahu ilmu silat Swat Ling San tidak bersumber dari partai Bu Tong."

Usai berkata begitu, Tan Cun Goan pun melesat ke arah sungai, kemudian berdiri di permukaan air. Dapat dibayangkan, betapa tingginya ginkang orang tua itu.

"Kepandaian orang itu sangat anch, engkau harus berhati- hati!" pesan Pek Yun Hui.

"Ya." Bee Kun Bu mengangguk lalu mengerahkan ginkangnya Ling Khong Sih Tou (Terbang di Angkasa) melayang ke sungai berdiri di hadapan Tan Cun Goan.

"Saudara Bee, sungguh hebat ilmu ginkangmu!" puji T:m Cun Goan. "Mohon petunjuk Cianpwee!" sahut Bee Kun Bu merendah. "Baiklah." Tan Cun Goan tertawa. "Lihat serangan!"

Orang tua itu mendorongkan sepasang telapak tangannya, Kelihatannya sangat sederhana sekali, namun sesungguhnya penuh mengandung lweekang, Kemudian mendadak berubah berpuluh pasang telapak tangan menyerang ke arah Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu memang sudah siap dan berhati-hati, ia langsung berkelit dengan Ling Khong Sih Tou, ilmu ginkang yang amat hebat itu.

Menyaksikan itu, Tan Cun Goan pun membatin "Engkau memiliki ginkang tinggi, tapi belum tentu dapat menghindari Loan Yun Thui Swat (Awan kacau dorong salju), ilmu tangan kosongku."

Akan tetapi, justru mendadak Bee Kun Bu balas menyerangnya dengan jurus Cie Im To Yang (Menyam-but dan mendorong), itu adalah jurus yang amat ampuh dan aneh.

Tan Cun Goan menyerang Bee Kun Bu dengan iweekang, Bee Kun Bu menyambut lweekang itu, dan sekaligus mendorongnya ke samping, itu membuat permukaan air sungai muncrat ke atas dan bergelombang, Betapa dahsyatnya lweekang Tan Cu Goan dapat dibayangkan

"Bagus!" seru Tan Cu Goan memuji, "Saudara Bee, engkau memang hebat!"

"Cianpwee memiliki lweekang yang amat dalam, aku kagum sekali!" sahut Bee Kun Bu.

"Ha ha ha!" Tan Cu Goan tertawa gelak, "Aku baru memasuki daratan tengah, sudah cukup banyak orang yang kutemui, namun mereka semuanya cuma merupakan tong kosong, hanya Saudara Bee yang berisi, Aku senang sekali, mari kita bertanding beberapa jurus lagi!"  "Silakan!" sahut Bee Kun Bu.

Kini Tan Cun Goan sudah tahu bahwa Bee Kun Bu memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka ia pun tidak sungkan-sungkan mengeluarkan ilmu andalannya. Orang tua itu menyerang Bee Kun Bu dengan jurus-jurus am-puh, namun Bee Kun Bu segera berkelit dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (Gerak langkah lima unsur).

Maka walau Tan Cun Goan menyerangnya bertubi-tubi, Bee Kun Bu dapat berkelit dengan mudah sehingga membuat orang tua itu kagum bukan main.

Akan tetapi, kemudian jurus-jurus Tan Cun Goan pun semakin aneh, entah jurus apa yang dipergunakan orang tua itu, sedangkan Bee Kun Bu berkelit mengandal pada ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu saja. itu membuat Tan Cun Goan menjadi penasaran seka!i, dan mengira Bee Kun Bu meremehkannya, karena pendekar kita itu sama sekali tidak balas menyerang.

"Hm!" dengus Tan Cun Goan dalam hati "Engkau memang berkepandaian tinggi, namun tidak akan lolos dari jurus- jurusku! Kalau aku tidak bisa memukulmu sampai tenggelam, engkau pasti semakin meremehkanku!"

padahal sesungguhnya, Bee Kun Bu sama sekali tidak meremehkannya, melainkan sedang memperhatikan jurus- jurus aneh yang dipergunakan orang tua itu.

sementara Tan Cun Goan sudah mulai menyerangnya dengan berbagai ilmu simpanan, tapi tetap tidak bisa menyentuh ujung baju Bee Kun Bu.

"Hebat! Hebat!" puji Tan Cun Goan. "Ti Tu Ciang hoat (llmu pukulan laba-laba) ku sama sekali tidak mampu merobohkanmu, kini aku terpaksa menyerangmu dengan lweekang!"

"Cianpwee terlampau mengalah, Kalau Cianpwee ingin menyerangku dengan iweekang, aku pun bersedia menyambutnya!" sahut Bee Kun Bu. "Hati-hati!" Tan Cun Goan memperingatkannya, kemudian menyerangnya dengan Ti Tu Ciang Hoat yang belum usai dikeluarkannya tadi, Namun kali ini disertai dengan lweekang yang amat dahsyat

Bee Kun Bu meloncat mundur, lalu menatap Tan Cun Goan dengan tajam. sikapnya itu seakan tidak memandang sebelah mata pada orang tua itu.

"Saudara Bee!" Tan Cun Goan juga menatapnya tajam, "Kali ini engkau harus berhati-hati, aku akan menyerangmu dengan lweekang, lihat serangan!"

Perlahan-lahan orang tua itu mendorongkan sepasang telapak tangannya, tampak begitu sederhana, namun sesungguhnya penuh mengandung lweekang, Sebab angin pukulannya membuat permukaan air sungai bergelombang, perahu yang ditumpangi Pek Yun Hui pun bergoyang-goyang.

"Sungguh dahsyat lweekang Cianpwee, aku ingin mencobanya!" ujar Bee Kun Bu yang juga mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

"Bagus!" seru Tan Cun Goan, lalu mendadak menggerakkan sepasang tangannya, Ternyata ia ingin menyerang Bee Kun Bu dengan lweekang yang sepenuhnya.

Pada waktu bersamaan, terdengar suara bentakan nyaring, sekaligus tampak sosok bayangan putih berkelebat Pek Yun Hui sudah berada di sisi Bee Kun Bu.

"Jangan mengadu lweekang! Sebab lweekang Kun Bu masih belum sempurna! Lagi pula ini pertandingan persahabatan kenapa harus mengadu nyawa? Sudahlah! pertandingan ini tidak perlu dilanjutkan lagi!"

Bee Kun Bu tidak tahu kenapa Pek Yun Hui men-cegah, maka ia pun memandang Tan Cun Goan, Orang tua itu tetap berdiri tegak di permukaan air sungai, tidak memperlihatkan sikap aneh. itu membuat Bee Kun Bu tidak habis berpikir, tapi ia pun tidak mau bertanya, melainkan cuma berdiri diam di permukaan air, sementara Tan Cun Goan seakan baru tersadar, sepasang matanya terbelalak lebar sambil memandang Pek Yun Hui, kemudian menarik nafas panjang.

"Aaakh... cuma mempertaruhkan nama kosong be!a-ka! itu yang akan menimbulkan suatu bencana! Sekali lagi ku peringatkan lebih baik kalian kembali! jangan menuju Swat Ling San, sebab ilmu silat Swat Ling San lain dari yang lain Lagi pula itu menyangkut urusan rimba persilatan kenapa kalian berdua harus merepotkan diri sendiri?"

"Setiap orang punya tekad sendiri, itu tidak dapat dipaksa." sahut Pek Yun Hui, "Terimakasih atas maksud baik Cianpwee, kami tidak akan melupakannya, Menge-nai pergi ke Swat Ling San atau tidak, saat ini belum dapat dipastikan."

"Aku telah melanggar hukum perguruan itu adalah demi kalian berdua," ujar Tan Cun Goan sambil menggeleng- gelengkan kepala, ^pembicaraanku sampai di sini, kelak kita akan jadi musuh atau kawan, itu pun tidak dapat dipastikan Nah, sampai jumpa!"

Orang tua itu langsung melesat pergi. Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui juga melompat ke perahu.

"Kakak! Kenapa orng tua itu pergi begitu saja, Tadi ketika dia mau menyerangku dengan lweekang, dan aku sudah siap menyambutnya, kenapa Kakak mencegah?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti

Pek Yun Hui tidak menyahut, cuma menarik nafas, Bee Kun Bu segera mendekatinya.

"Kakak, apakah aku telah bersalah? Kenapa Kakak diam saja?" tanya Bee Kun Bu cemas.

Pek Yun Hui duduk, sepasang matanya memandang ke arah Yang Khim yang ada di atas meja, kemudian menarik nafas panjang lagi.

"Pada waktu gurumu menceritakan para iblis seberang laut itu, wajahnya tampak serius dan agak berubah, Ketika itu aku masih kurang pereaya akan kehebatan kepandaian para iblis itu, Namun setelah menyaksikan kepandaian Tan Cun Goan malam ini, barulah aku per-caya. Hanya orang tua itu seorang diri, kita sudah sulit menghadapinya, Kalau kita ke Swat Ling San, bukankah kita mengantar diri ke mulut macan?"

"Kakak!" Bee Kun Bu tertawa, "Aku dan orang tua itu masih belum tahu siapa yang menang dan yang kalah, kenapa mendadak Kakak jadi begitu cemas?"

Pek Yun Hui menatapnya tajam, lalu ujarnya sungguh- sungguh dan tampak sangat serius.

"Engkau harus tahu, bahwa di luar langit masih ada langit Misalnya mengenai orang tua itu, dia berkepandaian amat tinggi dan ilmu silatnya agak aneh. Walau Iweekangmu seimbang dengan lweekangnya, namun engkau masih kalah pengalaman."

"Oh?" Bee Kun Bu menatapnya sambil duduk. "Aku telah memperhatikan ilmu silatnya, namun ilmu silatnya tampak tidak begitu aneh, kenapa Kakak katakan ilmu silatnya agak aneh?"

"Aku ingin bertanya, ketika aku bertarung dengan padri iblis di kuil Tay Ciok Si, engkau menyaksikannya?"

"Ya."

"Apakah engkau masih ingat, secara diam-diam Leng Yan Hweeshio mengerahkan ilmu Thai Im Khi Kangyang mengandung racun dingin itu?"

"lngat Tapi... aku justru tidak menyaksikan keanehan Hweeshio itu, Harap Kakak menjelaskan!"

ilmu T"hai Im Khi kang itu memang amat beracun, siapa yang terkena ilmu itu pasti mati kedinginan, lagi pula ketika lawan mengerahkan ilmu tersebut, sulit sekali menjaganya."

"Kalau begitu, orang tua itu juga memiliki ilmu itu?" tanya Bee Kun Bu bernada kaget "Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Kalau dia menyerangmu dengan ilmu itu, tentunya salah satu di antara kalian akan tewas, Lalu untuk apa kalian harus mengadu nyawa ?"

"Aku. " Bee Kun Bu menundukkan kepala.

"Walau berasal dari sarang iblis, namun orang tua itu tidak jahat Bagaimana keempat saudaranya, kita tidak mengetahuinya," ujar Pek Yun Hui. "Yang jelas mereka berempat pasti memiliki ilmu beracun, Apabila kita bertemu mereka, kita harus bagaimana?"

Bee Kun Bu membungkam, sedangkan Pek Yun Hui memandang ke tepi sungai.

"Pohon-pohon song itu membuat aku teringat se-suatu!" serunya tiba-tiba.

"Kakak teringat apa?" tanya Bee Kun Bu.

"Walau ilmu Thai Im Kang Khi amat beracun, kita masih bisa menjaga diri," sahut Pek Yun Hui dengan wajah berseri.

"Oh?" Bee Kun Bu menatapnya tidak mengerti "Maksud Kakak?"

"Bukankah engkau masih ingat ketika aku mempergunakan jarum Toh Meng Sin Cin, aku yakin senjata rahasia tersebut dapat memecahkan ilmu Thai Im Khie Kang itu. Maka akan kuwariskan padamu, kalau kelak aku kembali ke istana, itu merupakan ilmu kenang-kenangan dariku."

"Terimakasih, Kakak!" ucap Bee Kun Bu. "Jadi. kakak

sudah mengambil keputusan untuk kembali ke isiana?"

Pek Yun Hui diam saja, sedangkan wajah Bee Kun Bu tampak murung, seakan merasa berat berpisah dengan Pek Yun Hui kelak

HKun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum ia tahu apa yang dipikirkan Bee Kun Bu, maka segera membicarakan ilmu silat untuk mengalihkan perhatiannya, "Berdasarkan apa yang tereantum dalam kitab Kui Goan Pit Cek, semakin halus suatu senjata rahasia semakin membahayakan jarum Toh Meng Sin Cin merupakan senjata rahasia yang amat halus, jarum itu dapat menembus jalan darah orang, siapa yang terkena senjata rahasia itu, dalam tujuh langkah pasti mati."

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak

"Senjata rahasia itu pun dapat merusak hawa murni orang," Pek Yun Hui menjelaskan dengan menambahkan "Aku lihat kepandaianmu sudah mencapai tingkat tinggi, maka tidak sulit bagimu untuk mempelajari senjata rahasia tersebut."

"Kalau begitu, harap Kakak memberitahukan teori- teorinya!" ujar Bee Kun Bu sambil tersenyum

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk ia memberitahukan teori-teori menggunakan jarum itu, lalu mengerluarkan beberapa batang, sekaligus memperlihatkan pada Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu memperhatikan jarum-jarum itu dengan cermat Sungguh halus dan kecil senjata rahasia tersebut dan dibuat dari emas murni.

"Siapa pembuat senjata rahasia ini?" tanyanya heran. "Pembuatnya adalah Sam Im Sin Ni, maka dicantumkan

juga di dalam kitab Kui Goat Pit Cek." Pek Yun Hui memberitahukan. "Guruku memperoleh semua senjata rahasia ini, kemudian juga menundukkan Bangau Sakti, Akan tetapi, guruku sama sekali tidak pernah menggunakannya.

"Kalau begitu, siapa yang mengajar Kakak mempergunakan senjata rahasia ini?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Guruku!" jawab Pek Yun Hui. "Guruku menjelaskan teori- teori penggunaan senjata rahasia ini dan aku yang sering mempraktekkannya."

"Ooooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut "Pantas Kakak begitu mahir mempergunakannya!" "Sebelumnya aku masih ragu mewariskan padamu, tapi setelah kupertimbangkan cukup lama, aku memutuskan untuk mewariskan padamu, agar engkau dapat menjaga diri dengan senjata rahasia ini."

"Terimakasih, Kak!"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum Tak terasa hari pun sudah mulai terang, jadi untuk sementara ini kita tidak usah ke Swat Ling San, lebih baik kita berangkat ke Toan Hun Ya untuk menemui Nona Souw Hui Hong. Dalam perjalanan ke sana, engkau pun harus berlatih menggunakan jarum itu.

Siapa tahu ada gunanya bagimu ketika sampai di Swat Ling San."

Setelah hari terang, mereka pun sudah memasuki kawasan Su Coan. sementara Bee Kun Bu terus berlatih dan mulai mahir menggunakan senjata rahasia tersebut

"Kun Bu!" Pek Yun Hui mendekatinya sambil ter-senyum, "Mari kita makan siang, setelah itu kita pun harus meninggalkan perahu ini!"

Bee Kun Bu mengangguk Usai makan siang, Bee Kun Bu memberikan beberapa puluh tael perak kepada tukang perahu.

"Terimakasih, Tuan!" ucap tukang perahu dengan wajah berseru

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui meloncat ke tepi sungai, lalu melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, Bee Kun Bu masih terus berlatih menggunakan senjata rahasia ini....

Mereka berdua sudah tiba di Toan Hun Ya (Jurang Pemutus Roh). Bee Kun Bu menengok ke sana ke mari, sebaliknya Pek Yun Hui malah terus memandang kuil Yang Siam Am, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Walau kita adalah musuh Souw Peng Hai, tapi justru kawan baik Souw Peng Hai Hui Hong. Kali ini kita ke mari dengan maksud ingin menengoknya, maka kita langsung ke Kuil Yang Sim Am saja."

"Ketika kejadian di sini, Nyonya Souw Peng Hai telah menyaksikan semua, dia bermohon pada kita agar melepaskan suaminya, kita pun mengabulkan Kini kita mengunjungi putrinya, apakah dia akan tetap menutup pintu kuil tidak meladeni kita?" ujar Bee Kun Bu.

"lsteri Souw Peng Hai jadi rahib sudah hampir tiga puluh tahun, tentunya tidak akan bertindak begitu," sahut Pek Yun Hui sambil tersenyum

"Kalau begitu, mari kita ke kuil itu!" ajak Bee Kun Bu.

Mereka berdua lalu menuju Kuil Yang Sim Am, dan tak tama mereka sudah sampai di depan kuil tersebut Tak seberapa lama mereka berdiridi situ, mendadak pintu kuil itu terbuka, tampak seorang berdiri di situ sambil memandang Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui.

"Apakah kalian berdua tersesat jalan dan tidak bisa meninggalkan tempat ini?" tanya orang tua itu.

"lni Nona Pek dan aku Bee Kun Bu," jawab pendekar kita, "Kami sengaja ke mari untuk mengunjungi Nona Souw Hui Hong, mohon diberitahukan padanya!"

"Maafl" Orang tua itu tampak serba salah, "Sejak Nona Souw memasuki Kuil Yang Sim Am ini, dia pun tidak mau menemui siapa pun. Tuan mau pesan apa, aku akan menyampaikannya."

"Kami datang dari gunung Kwat Cong San dan punya sedikit hubungan dengan Nona Souw, harap melapor ke dalam, Nona Souw pasti sudi menemui kami." ujar Pek Yun Hui ramah.

"Aaakh!" Orang tua itu menarik nafas panjang, "Nona tidak tahu, dalam sebulan ini, Nona Souw terus menyendiri di dalam kamar dan jarang makan, Apa sebabnya, aku sama sekali tidak mengetahuinya, maka aku pun tidak V berani melapor padanya."

"Kalau begitu, tolong beritahukan pada Nyonya Souw Peng Hai, bahwa kami berdua ingin menemuinya," ujar Pek Yun Hui.

"Nyonya mau menemui kalian atau tidak, aku tidak berani memastikan," sahut orang tua itu. "Silakan masuk, aku akan segera melapor pada Nyonya."

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui melangkah ke dalam, Orang tua itu pun segera mempersilakan mereka duduk.

"Silakan duduk, aku ke dalam melapor pada Nyonya!" Orang tua itu masuk ke dalam.

"Terimakasih!" ucap Bee Kun Bu.

Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara yang ramah, yaitu suara Nyonya Souw Peng Hai.

"Tamu jauh dari mana? Ada urusan apa mengunjungi Kuil Yang Sim Am?"

"Kami ke mari ingin menemui Nona Souw Hui Hong, namun telah mengganggu ketenangan Nyonya," ucap Pek Yun Hui.

"Oooh!" Nyonya Souw Peng Hai tersenyum lembut, "Kita pernah bertemu di depan Toan Hun Ya, jangan mengungkit kejadian yang telah berlalu itu! Kalian berdua ke mari ingin menemui Hui Hong, sebetulnya ada urusan apa?"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui diam saja, Nyonya Souw Peng Hai memandang mereka, kemudian tersenyum lagi seraya berkata.

"Mungkin kalian berdua teman baik Hui Hong, tapi sebulan yang lalu, Hui Hong memasuki ruang tobat, dan sejak itu dia tidak pernah keluar, bahkan tidak mau menemuiku, jadi aku harap kalian memakluminya!" "Ketika Nona Souw Hui Hong memasuki ruang tobat, apakah dia memperlihatkan sikap aneh?" tanya Pek Yun Hui mendadak

"Sikapnya memang agak aneh, itu karena ia melihat ayahnya mengajak Co Hiong pergi di tengah malam itu terjadi dua bulan yang lalu, namun Hui Hong memasuki ruang tobat itu baru sebulan yang lalu," Nyonya Souw Peng Hai memberitahukan

"Kakak, kita sudah kenal baik dengan Nona Souw Hui Hong, bagaimana kalau kita mohon pada Nyonya Souw mengajak kita ke ruang tobat untuk menemuinya?" tanya Bee Kun Bu mendadak pada Pek Yun Hui.

"Entah Nyonya Souw Peng Hai setuju atau tidak?" sahut Pek Yun Hui sambil memandang nyonya itu.

"Kelihatannya kalian berdua sangat rindu pada Hui Hong, maka aku pun akan mengantar kalian ke ruang tobat menengoknya," ujar Nyonya Souw Peng Hai.

"Terimakasih!" ucap Pek Yun Hui.

"Mari ikut aku ke dalam!" ujar Nyonya Souw Peng Hai lalu melangkah ke dalam.

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengikutinya dari belakang, tak tama mereka sudah sampai di depan ruang tobat itu.

Nyonya Souw Peng Hai menunjuk beberapa ruang yang ada di situ, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata.

"Suamiku bertekad berkecimpung di rimba persilatan Tiga puluh tahun yang lampau aku sudah lihat masa depannya penuh bahaya, maka aku menyuruh orang membangun ruang tobat untuknya, Tahun kemarin dia nyaris mati di Toan Hun Ya ini, oleh karena itu, aku pun tampil untuk menasihatinya, Dia ikut aku kemari, namun tak lama kemudian, timbullah niatnya untuk memunculkan diri di rimba persilatan lagi. Aku terus menasihatinya, tapi dia justru marah besar, akhirnya meninggalkan kuil ini. Sejak itu kuanggap sudah putus hubungan kami sebagai suami isteri. Aaaakh, semua itu mungkin merupakan takdir!"

"Nyonya tidak usah cemas, kini Nyonya masih punya putri, kami akan berusaha menasihatinya," ujar Pek Yun Hui.

"Anak Hong!" seru Nyonya Souw Peng Hai, "Kenapa engkau masih belum keluar? Nona Pek dan Bee Kun Bu ke mari mengunjungimu, cepatlah engkau membuka pintu!"

Akan tetapi, pintu ruang itu tidak terbuka, bahkan tidak terdengar suara apapun, seakan ruang tobat itu tiada penghuninya.

Menyaksikan itu, Pek Yun Hui pun mengernyitkan kening sambil berpikir Jangan-jangan Souw Hui Hong menggunakan ruang tobat ini sebagai lameng, namun orangnya justru....

Mendadak Pek Yun Hui mendengar suara langkah di dalam ruang tobat itu menuju pintu, namun diam begitu sampai di pintu, Berseiang beberapa saat kemudian, Pek Yun Hui pun mendengar suara helaan nafas panjang.

"Nona Souw, kita berpisah hampir setahun, apa kabar selama ini? Hari ini aku dan Bee Kun Bu berkunjung ke mari, ingin bereakap-cakap dengan Nona Souw, maka harap Nona Souw membuka pintu!" ujar Pek Yun Hui, Akan tetapi, kini malah tidak terdengar suara apa pun di dalam ruang tobat itu, sehingga air mata Nyonya Souw Peng Hai pun berderai.

"Anak Hong, apakah engkau sudah tidak perduli ibumu lagi?" tanya Nyonya Souw Peng Hai terisak-isak. Walau Nyonya Souw Peng Hai terisak-isak, tetap tidak terdengar suara apa pun di dalam ruang tobat itu, "Nona Souw, ibumu sudah tua, kenapa engkau begitu tega tidak mau menemui ibumu?" seru Bee Kun Bu dan menambahkan, "Aku dan Kakak Pek ke mari mengun-jungimu, setelah itu kami akan berangkat ke seberang laut selanjutnya kita mungkin tidak akan bertemu kem-ba!i, maka kita sekarang harus bertemu."

Akan tetapi, tetap tiada suara di dalam ruang tobat itu. Pek Yun Hui terus memandang pintu ruang tersebut Timbul pula kecurigaannya, jangan-jangan yang di dalam ruang tobat itu bukan Souw Hui Hong, melainkan pelayan kepereayaannya, sedangkan Souw Hui Hong....

"Kalau Nona Souw tidak mau keluar, aku akan menerjang ke dalam!" seru Pek Yun Hui.

Turun hujan gerimis menimbulkan kemurungan, tampak sinar terang menyinari hati,.,." Terdengar suara sahutan, itu adalah suara Souw Hui Hong.

Pek Yun Hui tertegun, Ternyata Souw Hui Hong memang berada di dalam ruang tobat, Pek Yun Hui memikirkan arti ucapan itu, akhirnya mengerti juga.

"Baiklah," ujarnya kemudian "Setiap orang punya tekad sendiri Engkau telah mengambil keputusan itu, aku pun tidak akan memaksamu Tadi Bee Kun Bu telah mengatakan, bahwa dia akan berangkat ke seberang laut, kelihatannya sekarang dan selanjutnya sulit bertemu lagi, Nona Souw, baik-baiklah engkau menjaga diri!"

Tiada sahutan lagi dari dalam ruang tobat itu, Pek Yun Hui termangu beberapa saat lamanya, lalu berkata pada Nyonya Souw Peng Hai.

"Nona Souw sudah mengambil keputusan tidak akan menemui siapa pun. Tapi dia adalah putri nyonya, tentunya akan menemui Nyonya pula," ucapan Pek Yun Hui secara tidak langsung ditujukan pada Souw Hui Hong.

"Nona Pek.-." Nyonya Souw Peng Hai menatapnya, "Kini sudah malam, alangkah baiknya kalian berdua menginap di sini!"

"Terimakasih, Nyonya!"sahut Pek Yun Hui, "ltuakan merepotkan Nyonya, maka lebih baik kami mohon diri sekarang."

"Nona Pek, aku tahu kalian berdua kawan baik putriku, aku sungguh girang akan kunjungan kalian, Sudah puluhan tahun aku tidak mencurahkan isi hatiku, kini sudah saatnya aku mencurahkannya, Karena kini sudah malam, aku harap kalian berdua sudi menginap di sini, agar aku bisa menceritakan asal-usuI Souw Peng Hai, mungkin bermanfaat bagi kalian berdua kelak."

Padahal Pek Yun Hui sudah mau mengajak Bee Kun Bu, tapi ketika mendengar Nyonya Souw Peng Hai berkata begitu, ia pun tertarik dan sekaligus memandang Bee Kun Bu.

"Kalau begitu. " Bee Kun Bu pun tertarik "Alangkah

baiknya kita menginap di sini."

Nyonya Souw Peng Hai tampak girang sekali, lalu mengajak mereka ke ruang tengah, dan menyuruh pembantu menyuguhkan teh.

"Silakan minum!" ucap Nyonya Souw Peng Hai.

Terimakasih!" sahut Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu serentak, kemudian meneguk teh yang amat harum itu.

Setelah meneguk teh itu, Nyonya Souw Peng Hai tampak tereenung, seakan sedang mengenang masa lampaunya.

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu saling memandang, mereka berdua sama sekali tidak berani mengeluarkan suara, sebab yakin sebentar lagi Nonya Souw Peng Hai akan menuturkan tentang asal-usul suaminya.

*****

Bab ke 8 - Menutur Asal Usul

Walau pun cukup lama Nonya Souw Peng Hai diam, Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu tetap tidak berani bersuara, Berselang beberapa saat kemudian, Nyonya Souw Peng Hai menarik nafas panjang seraya berkata.

"Menurut asal-usul Souw Peng Hai itu harus dimulai dari diriku. Sebab Souw Peng Hai adalah Tuan penoIong-ku. Tapi kalau tiada bantuan dari keluargaku, dia pun tidak akan berkepandaian tinggi, Beberapa puluh tahun ini, dia memang tergila-gila pada ilmu silat, dan sering melakukan perbuatan yang tak terpuji, bahkan berhati jahat dan keji, tega membunuh orang tua dan guru."

Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu pernah bertarung dengan Souw Peng Hai, dia memang memiliki kepandaian tinggi dan lweekangnya pun amat dalam, maka mereka berdua merasa kagum pada nya. Tapi kini Nyonya Souw Peng Hai mengatakan, bahwa Souw Peng Hai adalah pembunuh orang, itu sungguh di luar dugaan dan rasa kagum pun sirna.

"Setelah menjadi ketua partai Thian Liong, dia bukan Souw Peng Hai yang dulu lagi," ujar Nyonya Souw Peng Hai melanjutkan "Kalau kututurkan asal-usulnya, mungkin kalian berdua tidak akan pereayai

"Nyonya, apa salahnya dia berhasil mempelajari ilmu silat tingkat tinggi?" tanya Bee Kun Bu.

pertanyaan Bee Kun Bu membuat Nyonya Souw Peng Hai tertawa nyaring lama sekali, Berselang beberapa saat kemudian, ujarnya bernada gusar

"Kalian berdua harus tahu, Souw Peng Hai berasal dari keluarga pemotong hewan, tentunya kalian berdua tidak pereaya, kan?"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui saling memandang, kelihatannya mereka berdua memang kurang pereaya.

"Tiga puluh tahun yang lampau, aku masih merupakan gadis yang riang gembira." lanjut Nyonya Souw Peng Hai. "Kakekku tinggal di Kang Shi. Beliau adalah pen-siunan pejabat tinggi kerajaan, maka kami tergolong keluarga yang kaya raya, ibuku sering belajar ajaran Buddha, oleh karena itu aku pun diajarkan ajaran Buddha pula, Ketika aku berusia empat belas tahun, mendadak ibuku jatuh sakit, ibuku mengidap semacam penyakit aneh, Sudah banyak tabib terkenal mengobatinya, tapi ibuku masih tidak sembuh, bahkan semakin parah, Aku tahu ibuku sering pergi sembahyang di Kuil Pho Tuh Si sebelum menderita sakit. Kuil itu berada di gunung Pat Kwa San, di pinggir kota, Berhubung aku tidak boleh ke mana-mana, maka aku minta bantuan pada salah seorang pelayan untuk menemaniku pergi sembahyang di kuil itu, agar ibuku lekas sembuh dari penyakit nya. Akan tetapi, karena itu aku nyaris kehilangan nyawaku, juga berkenalan dengan Souw Peng Hai."

"Di tengah jalan Nyonya mengalami sesuatu?" tanya Bee Kun Bu.

"Ketika pulang sembahyang, di tengah jalan terjadi hujan deras," jawab Nyonya Souw Peng Hai. "Maka kusuruh pemikul tandu berhenti di depan sebuah kuil !ua. Siapa sangka di dalam kuil tua itu terdapat beberapa penyamun yang sedang berteduh. Begitu melihat pakaianku dari bahan sutera, para penyamun itu tahu bahwa aku berasal dari keluarga yang kaya raya, Mereka langsung menangkap kami dan di bawa ke puncak gunung."

"Keluarga Nyonya tidak mengetahui akan kejadian itu?" tanya Bee Kun Bu.

"Sebelum hari menjelang malam, keluargaku sudah tahu, maka segera mencari kami, namun tidak menemukan jejak kami," jawab Nyonya Souw Peng Hai. "Setelah itu, para penyamun baru tahu bahwa aku dari keluarga berpangkat, itu membuat mereka takut Salah seorang dari mereka ingin membunuhku, tapi dicegah oleh temannya dan mengemukakan usul untuk meninggalkan gunung itu.

Secara diam-diam para penyamun itu kabur meninggalkan aku. Betapa takutnya aku ketika itu, sebab aku baru berusia empat belas tahun, tidak heran aku terus-menerus menangis di tempat itu, Kebetulan hari itu, Souw Peng Hai dipukuli majikannya, maka dia kabur ke puncak gunung itu, Begitu mendengar suara tangisanku, dia pun menghampiriku dan sekaligus membawaku pergi."

"Pertolongan Souw Peng Hai memang merupakan suatu budi, namun bukankah boleh memberikannya imbalan berupa uang? Kenapa malah Nyonya kawin dengannya?" "Pada waktu itu, kakekku amat mencemaskan diriku, maka mengumumkan bahwa siapa yang dapat menolongku aku akan dinikahkan padanya, Begitu kakekku melihat aku pulang dengan pakaian tersobek sana-sini, aku pun disuruh menikah dengan Souw Peng Hai." Nyonya Souw Peng Hai menarik nafas panjang.

"Heran?" gumam Bee Kun Bu. "Padahal Nyonya marga Souw, dia juga marga Souw, kenapa boleh menikah?"

"Di kampung halamanku, tiada pantangan tersebut, bahkan kakekku gembira sekali ketika mengetahui dia juga marga Souw, Kemudian kakekku juga mengundang guru ke rumah untuk mengajari Souw Peng Hai membaca dan menulis, namun dia tidak begitu tertarik pada kesusastraan, melainkan lebih hobi belajar ilmu silat Oleh karena itu, kakekku mengundang guru silat untuk mengajari nya ilmu silat, Setelah kakekku meninggal, dia pun mulai macam- macam."

"Nyonya, kapan dia membunuh ayahnya?" tanya Bee Kun Bu mendadak

"Sebelum menikah denganku, dia yang berterus terang padaku," jawab Nyonya Souw Peng Hai. "Ketika kakekku meninggal, di dalam keluarga kami terjadi kekacauan lantaran para paman berebut harta warisan, Dia berkata padaku, ilmu silatnya belum tinggi, maka tidak mampu mengatasi masalah itu, dan ingin meninggalkan rumah untuk pergi cari guru yang berkepandaian tinggi, Setelah berhasil mempelajari ilmu silat tinggi, barulah dia akan pu!ang."

"Apakah niatnya itu tereapai?" tanya Pek Yun Hui. "Pada waktu itu aku pun bertanya demikian dalam hati,

namun tidak melarangnya pergi, Dia cuma berpamit padaku, di malam hari dia pun meninggalkan rumah, Begitu dia meninggalkan rumah, tak terasa sudah lima tahun, Dalam kurun waktu itu sama sekali tidak ada kabar beritanya, Para pamanku sudah tidak sabar menunggu, akhirnya mereka membagi-bagikan harta kekayaan kakek. ibuku yang masih menderita sakit, langsung mati Karena aku cuma tinggal seorang diri, para paman cuma membagikanku sebuah rumah.

Aku hidup merana dan kesepian di rumah tersebut, siapa tahu di saat hujan deras, mendadak Souw Peng Hai pulang, Betapa girangnya hatiku, lupa akan semua penderitaan, langsung bereakap-cakap dengannya, dan sekaligus bertanya padanya, kemana selama lima tahun itu. "

"Pada waktu itu, apakah dia berhasil berguru pada orang yang berkepandaian tinggi?" tanya Pek Yun Hui.

"Memang berhasil." Nyonya Souw Peng Hai mengangguk "Ternyata ketika meninggalkan rumah, tanpa sengaja menuju ke Goan (Daratan Tinggi), Di sebuah gunung dia bertemu seorang tua buta yang berkepandaian amat tinggi, namun orang tua buta itu suku Miau (Suku pedalaman). Suku Miau memang tidak cocok dengan bangsa Han yang di Tionggoan, maka orang tua buta yang tinggal di dalam gua itu menolak, ketika Souw Peng Hai ingin berguru padanya, Souw Peng Hai amat cerdik, dia tetap ikut orang tua buta itu di dalam gua, sekaligus mengurusi segala keperluannya termasuk memasak juga, Oleh karena itu, orang tua buta tersebut pun mewariskan ilmu Kan Goan Cih padanya,"

"Tak terduga sama sekali, bahwa ilmu Kan Goan Cih yang amat lihay itu adalah ilmu suku Miau," ujar Pek Yun Hui.

"Souw Peng Hai belajar ilmu silat pada orang buta itu, tentunya tidak mungkin dia akan membunuh gurunya itu. Apakah kemudian terjadi suatu kesalahpahaman?" tanya Bee Kun Bu.

"Padahal aku pun tidak tahu tentang itu," jawab Nyonya Souw Peng Hai melanjutkan, "Ketika melihat keadaanku begitu macam, dia pun bertanya padaku apa yang terjadi, dan aku menjelaskannya, Setelah mendengar apa yang telah terjadi, dia marah sekali, dan juga menyuruhku membuat perhitungan dengan para pamanku.

Aku melihat wajahnya penuh mengandung hawa membunuh, maka aku pun berusaha menenangkan dan menasihatinya, Di saat itulah dia memberitahukan bahwa dia yang membunuh ayahnya, karena ayahnya ribut dengan ibunya, Dia pulang juga karena telah membunuh gurunya itu, maka aku sangat terkejut dan bertanya padanya kenapa membunuh gurunya itu?"

"Dia memberi tahu kan ?" tanya Bee Kun Bu.

"Tidak." Nyonya Souw Peng Hai menggelengkan kepala sambil melanjutkan, "Sebelum kejadian di Toan Hun Ya, barulah aku mengerti, ternyata dia ingin jadi pesilat nomor wahid di kolong langit, maka membunuh gurunya itu."

"Kok begitu?" tanya Pek Yun Hui heran.

"Tanpa sengaja dia mengatakan sendiri, selama ber-tahun- tahun ia belajar ilmu silat pada orang tua buta itu. Semula dia mengira ilmu silatnya sudah tinggi, namun gurunya justru menggelengkan kepala, kemudian mengeluarkan sebuah lukisan dan mengatakan, kalau dia ingin menjagoi rimba persilatan harus mengajak gurunya pergi mencari kitab aneh Kui Goan Pit Cek, peninggalan Thian Ki Cinjin dan Sam Im Sin Ni. Kalau berhasil mempelajari kitab aneh Kui Goan Pit Cek, barulah bisa menjagoi rimba persilatan."

"ltu mengherankan," ujar Bee Kun Bu. "Ternyata semula lukisan penyimpan kitab aneh Kui Goan Pit Cek berada di tangan orang tua buta suku Miau itu, tapi kenapa bisa jatuh di tangan saudara seperguruanku?"

"Entahlah." Nyonya Souw Peng Hai menggelengkan kepala, "Setelah orang tua buta itu memberitahukan masalah itu, timbullah niat jahat dalam hati Souw Peng Hai untuk mengambil lukisan tersebut Maka di tengah malam, dia membunuh orang tua buta itu, kemudian mengambil lukisan tersebut dan pergi mencari kitab aneh Kui Goan Pit Cek. Hampir setahun dia cari ke sana ke mari, tapi tidak menemukannya, Dia gusar sekali dan akhirnya pulang."

"Kalau begitu, lukisan itu palsu?" Bee Kun Bu bingung "Mungkin palsu," sahut Pek Yun Hui lalu bertanya pada

Nyonya Souw Peng Hai. "Kemudian bagaimana?"

"Kemudian. " Nyonya Souw Peng Hai menarik nafas

panjang, "Dia mengajakku berkelana dalam rimba persilatan Akan tetapi, akhirnya aku sadar akan perbuatannya maka aku pun mengambil keputusan untuk jadi rahib."

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui terus mendengarkan, sedangkan Nyonya Souw Peng Hai pun melanjutkan

"Ternyata dia telah membunuh para pamanku, oleh karena itu, aku terpaksa mengikutinya," Nyonya Souw Peng Hai menarik nafas, "Dia sering membunuh orang, itu membuat diriku takut sekali, tapi aku masih berusaha menasihatinya.

Dia menurut dan sekaligus bersumpah tidak akan membunuh orang lagi, namun dia justru mendirikan partai Thian Liong, juga membuka ekspedisi Thian Liong. "

Nyonya Souw Peng Hai berhenti sejenak, ia memandang Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui, lalu melanjutkan.

"Ekspedisi Thian Liong kian hari kian bertambah maju. Banyak kaum persilatan datang bergabung, otomatis partai Thian Liong mulai mengembangkan sayap-nya. Karena dia telah membunuh para pamanku, maka masih merasa khawatir akan ditangkap, oleh karena itu, dia memilih Toan Hun Ya sebagai markas pusat, sekaligus untuk menyembunyikan diri. Namun, hatinya masih ingin menjagoi rimba persilatan, sehingga dia terus berpikir untuk memperoleh kitab aneh Kui Goan Pit Cek. Aku tahu dia sudah tidak bisa berubah baik, akhirnya aku membangun Kuil Yang Sim Am ini dan siang malam aku berdoa demi menebus dosanya."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut. "Di depan Toan Hun Ya, dia dikalahkan oleh Nona Pek. Aku menyaksikan kejadian itu, maka memunculkan diri untuk memohon pengampunan Kemudian aku mengajaknya kemari, agar dia sadar dan mau bertobat Tapi siapa sangka. "

Nyonya Souw Peng Hai menggeleng-gelengkan kepala, "Dia justru telah membohongi Nona Pek dengan sumpah palsunya."

"Kenapa dia dikatakan telah membohongiku?" tanya Pek Yun Hui.

"Souw Peng Hai menurut Nona, yaitu membubarkan partai Thian Liong dan ikut aku ke mari. Tapi sesungguhnya, dia cuma mengikuti situasi saja. Aku tahu itu, maka aku berusaha menasihatinya. Namun dia amat gusar dan langsung meninggalkan tempat ini. Aku yang berdosa, sebab bermohon pada kalian mengampuninya, Dia diampuni, namun. justru

akan menimbulkan bencana lagi di rimba persilatan," Nyonya Souw Peng Hai menarik nafas panjang.

"Nyonya jangan mempersalahkan diri sendiri," ujar Pek Yun Hui. "Lagi pula kami masih mampu menghadapinya, harap Nyonya jangan mengkhawatirkan masalah itu!"

"Nona Pek. H Nyonya Souw Peng Hai menatapnya.

"Hubungan kami memang telah putus, maka aku pun tidak tahu urusannya lagi. Namun mengingat kami merupakan suami isteri yang telah puluhan tahun, aku pun ingin bermohon pada Nona Pek, entah dikabulkan atau tidak permohonanku?"

"Nyonya ingin bermohon apa?" tanya Pek Yun Hui. "Aku mohon. " jawab Nyonya Souw Peng Hai dengan

mata bersimba air. "Kalau kalian bertemu Souw Peng Hai,

janganlah membunuhnya."

"Baiklah." Pek Yun Hui mengangguk "Kami pasti mengampuni nyawanya." "Terimakasih, Nona Pek!" ucap Nyonya Souw Peng Hai dan menambahkan "Sekarang sudah dini hari, harap kalian berdua beristirahat

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk

Nyonya Souw Peng Hai ke kamarnya, sedangkan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui ke kamar tamu, Mereka berdua duduk bersemadi untuk beristirahat berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah tampak bersemangat dan sama- sama membuka mata.

"Kakak!" Bee Kun Bu menatapnya seraya bertanya, "Souw Peng Hai tidak berada di sini, bagaimana rencana Kakak?"

"Lebih baik kita ke Swal Ling San," sahut Pek Yun Hui. "Itu. " Bec Kun Bu mengangguk "Baiklah."

Tak lama, pembantu di kuil itu pun mengantarkan sarapan pagi. Setelah bersantap, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui pergi menemui Nyonya Souw Peng Hai untuk berpamit.

"Baiklah." Nyonya Souw Peng Hai mengangguk "Aku harap kalian berhati-hati!"

"Se!amat tinggal, Nyonya!" ucap Pek Yun Hui. "Selamat jalan!" sahut Nyonya Souw Peng Hai dengan

mata bersimba air. "Kalau urusan kalian sudah beres, berkunjunglah lagi ke mari!"

"Ya." Pek Yun Hui mengangguk "Sampai jumpa, Nyonya !"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengerahkan ginkang meninggalkan tempat itu. Ketika sampai di sebuah rimba Pek Yun Hui melihat sosok bayangan berkelebat

"Siapa di situ?" bentak Pek Yun Hui. "Cepat keluar!" Tiada sahutan, hanya terdengar suara hembusan angin.

Pek Yun Hui penasaran, kemudian berkata pada Bee Kun Bu.

"Tidak mungkin aku salah lihat, Mari kita berpencar cari orang itu!" "Ya." Bee Kun Bu segera melesat ke arah rimba bambu, Pek Yun Hui malah diam di tempat, ia mengecilkan kening seraya berkata.

"Kalau masih tidak mau memperlihatkan diri, aku akan bertindak!"

Tetap tiada sahutan, Pek Yun Hui lalu melesat ke rimba bambu itu menyusul Bee Kun Bu. Pada waktu bersamaan, terdengar pula suara seruan wanita.

"Tunggu, Kakak Pek!"

Pek Yun Hui tertegun. ia merasa kenal dan tidak asing akan suara seruan itu.

"Engkau siapa? Kenapa memanggilku Kakak Pek?

Beritahukan namamu!"

Tiada sahutan di dalam rimba bambu, Bee Kun Bu telah mendengar suara seruan tadi, tapi tidak tampak orangnya, sehingga membuatnya terheran-heran.

"Kalau engkau masih tidak menyahut, aku akan ke dalam rimba bambu menangkapmu!" bentak Pek Yun Hui lagi.

Mendadak terdengar suara tangisan di dalam rimba bambu, Ketika mendengar suara tangisan itu, hati Bee Kun Bu pun tersentak

"Kakak! Dia adalah Nona Souw Hui Hong!" Bee Kun Bu memberitahukan ia sudah mengenali suara tangisan itu.

"Oh?" Pek Yun Hui tereengang dan membatin semalam dia tidak mau bertemu kenapa hari ini malah menyusul kemari? Apakah dia punya kesulitan semalam? Seteiah membatin, ia pun berkata, "Nona Souw, engkau berminat bertemu dengan kami, kenapa tidak mau menandakan diri? Bagaimana kalau kami yang ke dalam rimba bambu bereakap- cakap denganmu?"

"Kakak Pek jangan ke mari! Aku memang ingin menyampaikan sesuatu, namun merasa malu terhadap teman, Kalau Kakak Pek berkeras mau ke dalam rimba bambu ini, lebih baik aku pulang," sahut Souw Hui Hong.

"Kalau begitu.,, baiklah! Aku tidak akan ke dalam rimba bambu, Engkau ingin menyampaikan apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Sema!am Kakak Pek mengunjungiku, aku merasa tidak enak dalam hatt, Kedua orang tuaku ribut, akhirnya ayahku meninggalkan Kuil Yang Sim Am, itu karena aku minta tolong kepada Hian Ceng Totiang untuk memberitahukan kepadamu tentang rencana ayahku. Oleh karena itu aku lalu mengambil keputusan untuk menghadap tembok sepuluh tahun di dalam ruang Tobat", Namun Kakak Pek justru mengunjungiku, itu membuat hatiku terharu sekali, Sehingga... aku meninggalkan ruang tobat untuk menemui kalian di sini."

"Kenapa engkau harus menghadap tembok sepuluh tahun di ruang tobat? Kalau pun engkau tidak minta tolong pada Hian Ceng Totiang tentang rencana ayahmu, kaum Bu Lim pun akan mengetahui rencana ayahmu, Maka engkau jangan merasa berdosa terhadap ayahmu!"

"Kakak Pek. " Souw Hui Hong menarik nafas pan-jang,

"Kita jangan membicarakan masalah ini, sebab di dalam hatiku terdapat suatu urusan, maka aku ke mari. "

"Kalau begitu, beritahukanlah!" ujar Pek Yun Hui. "Ayahku bersifat aneh. Kali ini kemunculannya di rimba

persilatan tentu akan minta bantuan pada beberapa iblis seberang laut Suatu hari nanti Kakak Pek pasti berhadapan dengan ayahku, maka aku mohon Kakak Pek sudi mengalah pada ayahku. "

"Nona Souw tidak perlu khawatir dalam hal ini. ibumu pun telah berpesan padaku semalam, agar bersedia mengampuni nyawa ayahmu, maka kami tidak membunuh ayahmu!" ujar Bee Kun Bu. "Nona Souw, kalau kami bertemu ayahmu, kami pasti berusaha menasihatinya, seandainya kami bertarung, aku pun tidak akan membunuhnya," sambung Pek Yun Hui berjanji.

"Terimakasih, Kakak Pek!" ucap Souw Hui Hong, kemudian menarik nafas panjang seraya berkata, "Masih ada satu urusan, yakni mengenai saudara angkatku Co Hiong, Dia berhati licik dan kejam, namun ayahku justru amat menyayanginya, Aku khawatir ayahku akan diperalatnya kelak, aku mohon pada kalian agar memperhatikan hal tersebut!"

"Aku sudah tahu bagaimana hatinya, begitu pula Kun Bu, maka pasti memperhatikan hal itu," sahut Pek Yun Hui.

"Kalau kalian bertemu Co Hiong, lebih baik dibunuh agar tidak menimbulkan bencana dalam rimba persilatan kelak, sebab dia lebih jahat daripada ayahku," ujar Souw Hui Hong.

"Co Hiong memang penuh dosa, maka walau Souw tidak berpesan begitu, aku pun pasti membunuhnya," sahut Pek Yun Hui yang memang sangat membenci para penjahat "Aku pasti membunuhnya."

"Apa yang tersimpan dalam hatiku, kini telah di-keluarkan," ujar Souw Hui Hong, "Kita pun akan ber-pisah, semoga kalian berdua selalu sehat wal'afiat, sampai jumpa!"

Tampak sosok bayangan berkelabat meninggalkan rimba bambu itu. Pek Yun Hui dan Bee Kun yakin, bayangan itu adalah Souw Hui Hong, Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu dengan mulut membungkam.

*****

Bab ke 9 - Memasuki Gunung Swat Ling San

Dalam perjalanan menuju Gunung Swat Ling San, Bee Kun Bu terus-menerus berlatih senjata rahasia Toh Meng Sin Cin, sedangkan Pek Yun Hui terus diam dengan wajah muram. "Dari Toan Hun Ya sampai di sini, kenapa Kakak diam saja?" tanya Bee Kun Bu sambil menatapnya "Apa-kah ada sesuatu terganjel dalam hati Kakak?"

"Padahai sesungguhnya, Souw Hui Hong adalah gadis yang cantik jelita, bahkan juga seorang putri kesayangan Souw Peng Hai, dia mau apa pun bisa, Tapi. " Pek Yun Hui

duduk di bawah pohon.". kini dia malah jadi begitu, maka aku

pun sangat prihatin melihatnya."

Bee Kun Bu cuma menarik nafas panjang. Pemuda itu tahu bahwa tidak lama lagi ia pun akan berpisah dengan Pek Yun Hui, sebab Pek Yun Hui akan kembali ke istana, itu yang membuatnya menarik nafas panjang.

Apa yang ada di dalam benak Bee Kun Bu, Pek Yun Hui dapat menduganya, ia menatapnya dalam-dalam seraya berkata dengan wajah serius.

"Kita sedang menuju Swat Ling San, itu pun membuat diriku jadi was-was."

"Kakak berkepandaian tinggi, kenapa harus was-was?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti

"Walau aku memiliki kepandaian tinggi, namun di atas gunung masih ada langit, bahkan di luar langit pun masih ada langit Seperti halnya dengan Tan Cun Goan, bukankah dia memiliki kepandaian tinggi? Apalagi ke-empat saudaranya, tentunya juga memiliki kepandaian yang amat tinggi, Oleh karena itu, kita harus berhati-hati memasuki Swat Ling San."

"Ya. " Bee Kun Bu mengangguk "Kakak Pek, mari kita

berangkat!"

"Baiklah!" Pek Yun Hui bangkit berdiri, mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Swat Ling San.

Beberapa hari kemudian, mereka sudah sampai di depan gunung tersebut Pek Yun Hui memandang ke depan, kemudian pesannya dengan suara rendah.

"Hati-hati! Kita sudah sampai di Swat Ling San." "Ya." Bee Kun Bu mengangguk

Di saat yang bersamaan, terdengarlah suara siulan yang amat nyaring di dalam lembah, Suara itu bergema sampai ke mana-mana, itu membuktikan betapa tingginya Iweekang orang yang mengeluarkan suara siulan itu.

"Mari kita bersembunyi di atas pohon! Kita belum tahu tujuannya ke mari," ujar Pek Yun Hui, "Setelah kita melihat orangnya, barulah kita pikir harus bagaimana."

Pek Yun Hui langsung meloncat ke atas dahan pohon, Bee Kun Bu segera menyusut Begitu kaki mereka menginjak dahan pohon, tampak pula dua sosok bayangan berkelebat ke arah mereka.

Tak seberapa lama, kedua sosok bayangan itu sudah berada di tempat Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui bersembunyi di atas pohon. Salah satu adalah seorang Hwee-shio berjubah merah, badannya tinggi besar sedangkan yang satunya lagi berbadan sedang dan berdandan seperti pelajar

"Suheng memang gagah perkasa, Sudah sampai di depan Swat Ling San, tapi tidak memberi tanda, malah terus mengerahkan ginkang, itu apa sebabnya?" tanya orang berdandan seperti pelajar

Hweeshio jubah merah tertawa terbahak-bahak, suara tawanya tajam sekali, kemudian sahutnya.

"Lima Selan Gunung Swat Ling San ini amal sok, di tempat ini menyusun suatu formasi, itu untuk menguji kepandaian kila, Aku telah melihat formasi itu, maka mengajakmu ke mari untuk berunding."

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui yang bersembunyi di atas pohon, melihat jelas kedua orang itu yang merupakan seorang Hweeshio dan seorang berdandan pelajar, sehingga membuat mereka tertegun.

"Lima Setan gunung Swat Ling San mengundang kita ke mari, tentunya berkaitan dengan partai Kun Lun dan Khong Tong di Toa Ciok Si di Gunung Cie Lian San. Mereka mengundang kita untuk membantu mereka, maka seharusnya menyambut kedatangan kita dengan cara hormat," ujar Hweeshio berjubah merah.

"Kwa Ih Kang, kepala lima setan itu berilmu tinggi, lagi pula jarang berhubungan dengan dunia luar, sifatnya pun amat aneh, Suheng pasti sudah tahu tentang itu, maka jangan karena urusan kecil merusak hubungan kita dengan mereka," sahut orang berdandan pelajar sambil tersenyum

Ketika mendengar mereka di undang ke gunung Swat Ling San ini, Pek Yun Hui segera pasang kuping mendengarkan pembicaraan mereka.

"Hm!" dengus Hweeshio berjubah merah, "Kwa Ih Kang tidak muncul menyambut kita, itu masih tidak jadi masalah, Tapi mereka malah menyusun suatu formasi untuk menyambut kita, Aku tidak pernah dihina sedemikian rupa, oleh karena itu, niatku untuk membantu mereka pun jadi pupus, Lagi pula kaum Bu Lim di daratan lengah tiada dendam dan bermusuhan dengan kita, kenapa kita harus melibatkan diri? Lebih baik kita meninggalkan gunung ini, agar bisa hidup tenang.

Suheng jangan gusar dulu! Para Hweeshio di Toa Ciok Si rata-rata memiliki kepandaian tinggi, Pada waktu itu muncul partai Kun Lun dan Khong Tong yang hanya terdiri dari tujuh lelaki dan dua wanita, namun mereka justru mampu memporak-porandakan kuil itu, bahkan juga melukai para Hweeshio di sana, Kejadian itu amat menggemparkan rimba persilatan Aku sudah lama ingin menemui orang yang berkepandaian tinggi di daratan tengah, ini adalah kesempatanku, Lima Setan gunung Swat Ling San mengundang kita untuk membantu mereka, tentunya mereka pun telah merencanakan sesuatu, Kita harus tahu apa rencana mereka, maka kita harus ke sana, Lagi pula kita sudah sampai ke gunung Swat Ling San ini." "Sutee dijuluki Gin Tie Suseng (Pelajar SuIing Pe-rak), ternyata memang berotak cerdas," ujar Hweeshio jubah merah, "Aku sangat kesal akan keangkuhan Lima Setan itu, sepertinya mereka sama sekali tidak memandang sebelah mata pada kita."

"Bukankah Suheng pernah belajar ilmu formasi? Nah, Suheng harus bisa menghancurkan formasi itu," ujar Gin Tie Suseng sambil tersenyum "lni adalah kesempatan Suheng untuk memperlihatkan ilmu itu, agar Lima Setan itu tidak meremehkan kita."

"Ha ha!" Hweeshio jubah merah tertawa gelak, "For-masi itu tampak sangat sederhana, namun di dalamnya justru terdapat banyak jebakan maut. Tapi tadi engkau mengatakan begitu, apa boleh buat aku akan menemanimu ke sana."

Mereka berdua berbisik-bisik seakan merundingkan sesuatu, setelah itu mereka pun melesat ke tempat formasi tersebut Dalam waktu sekejap, mereka berdua telah hilang dari pandangan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui.

Setelah kedua orang itu pergi, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui segera meloncat turun.

"Kebetulan sekali," ujar Pek Yun Hui sambil tersenyum "Kita tidak tahu jalan memasuki Swat Ling San, kini ada orang yang menunjukkan jalan, Mari kita ikuti mereka untuk melihat formasi itu!"

Bee Kun Bu mengangguk, mereka langsung mengerahkan ginkang menuju ke arah Gin Tie Suseng dan Hweeshio jubah merah.

Tak seberapa lama, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui telah tiba di lereng gunung tersebut, tapi mendadak terdengar suara bentakan keras, Pek Yun Hui segera menarik Bee Kun Bu bersembunyi di balik sebuah batu, kemudian mereka mengintip ke arah suara bentakan tadi.

Tampak sebidang tanah yang ditumbuhi rerumputan, namun di tengah-tengah kelihatan aneh, sepertinya diatur orang. Hweeshio jubah merah berdiri di situ dikelilingi sekelompok singa dan macan. Binatang-binatang itu tampak garang dan ganas dan sekonyong-konyong menerkam Hweeshio berjubah merah.

Hweeshio jubah merah itu tertawa panjang, lalu menyerang binatang-binatang itu dengan pukulan tangan kosong, Beberapa ekor singa dan macan terpental jatuh dan meraung keras, Singa dan macan lain segera menerkam Hweeshio jubah merah itu, namun Hweeshio jubah merah itu cuma tertawa, kemudian mengibas-ngibaskan lengan bajunya ke arah binatang-binatang itu, Hebat dan dahsyat bukan main kibasan lengan jubah itu, membuat singa dan macan tersebut terpelanting dan mati seketika.

"Hebat sekali pukulan itu!" puji Bee Kun Bu yang menyaksikan itu.

Pek Yun Hui cuma tersenyum dingin, sedangkan Bee Kun Bu terus memandang dengan penuh perhatian

Di tempat itu jadi hening, Hweeshio jubah mereha kelihatan seakan tidak pernah terjadi apa-apa, namun sepasang matanya menatap tajam pada singa dan macan yang siap menerkamnya. Tiba-tiba binatang-binatang itu meraung keras siap menerkam. Seketika juga wajah Hweeshio jubah merah berubah bengis.

"Berhenti, Suseng!" seru Gin Tie Suseng yang berdiri di belakang Hweeshio berjuhah merah itu, karena ia melihat wajah saudara seperguruannya penuh diliputi hawa membunuh.

Akan tetapi, Hweeshio jubah merah itu tidak mendengar seruan adik seperguruannya, ia sudah melancarkan pukulannya, Pada waktu bersamaan, Gin Tie Suseng menggerakkan dua jari tangannya ke arah Hweeshio jubah merah.

Hweeshio jubah merah itu terpaksa berkelit, sekaligus menarik kembali pukulannya kemudian ia memandang Gin Tie Suseng sambil mengerutkan kening, sedangkan Gin Tie Suseng memandang ke arah sebuah batu besar seraya berkata.

"Binatang-binatang di Swat Ling San ini memang luar biasa, Kami telah menerima pelajaran itu, Kami berdua menerima undangan untuk ke mari, namun tiada seorang pun yang muncul menyambut kami, sehingga menimbulkan kesalahpahaman ini. ini adalah Suhengku Ang Ie Lohan, aku sendiri adalah Gin Tie Suseng KJm Eng Hauw. Kami berdua datang dari gunung Tay Pah San, harap dilaporkan pada pemimpin Swat Ling San!"

Ternyata yang bersembunyi di balik batu besar itu adalah Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui. Mereka berdua terkejut bukan main, karena Gin Tie Suseng itu telah mengetahui akan keberadaan mereka di balik batu itu, bahkan mengira mereka adalah orang Swat Ling San yang tidak mau memunculkan diri, Karena itu, Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui terpaksa muncul

Gin Tie Suseng tertegun ketika melihat kemunculan mereka, terutama menyaksikan kecantikan Pek Yun Hui, seketika juga mata Gin Tie Suseng berbinar.

"Di sini adalah wilayah Swat Ling San yang terlarang Kalian berdua siapa dan kenapa berada di sini?" tanya Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw menatap mereka tajam.

"Kolong langit adalah milik orang-orang di kolong langit pula, kenapa Anda mengatakan bahwa Swat Ling San ini tempat terlarang?" sahut Pek Yun Hui dingin, "Kami berdua kebetulan melintas wilayah ini, kenapa Anda harus menanyakan nama kami?"

Walau Pek Yun Hui menyahut dengan dingin, Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw justru tersenyum ramah, ia sudah terkesan baik pada Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui.

Lain halnya dengan Ang Ih Lohan (Hweeshio jubah Merah), ia masih dalam keadaan kesal dan gusar, maka ketika melihat kemunculan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui, kekesalan dan kegusarannya dilampiaskan pada mereka, ia melotot sambit membentak keras.

"Gadis sialan! Kok mulutmu begitu ketus? Sungguh tak tahu tingginya langit sehingga berani menyahut begitu ketus! Ayoh! cepatlah kalian berdua meninggalkan tempat ini!"

Pek Yun Hui dicaci sebagai "Gadis sialan", dapat dibayangkan betapa gusamya, seketika juga ia tertawa dingin dengan mata berapi-api.

Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw adalah murid kedua Kuang Ti Taysu yang bermukim di gunung Tay Pah San. ia berkepandaian tinggi dan berotak cerdas, Ketika melihat kemunculan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui, ia sudah tahu bahwa mereka berdua berkepandaian tinggi. Tadi Pek Yun Hui bersikap dingin dan menyahut secara ketus, tapi ia tetap saban

"Kalian berdua berani menyelinap di Swat Ling San ini, tentunya kalian berdua memiliki kepandaian tinggi," ujarnya sambil tersenyum. "Kami berdua adalah murid Kuang Ti Taysu di gunung Tay Pah San, mohon tanya kalian berdua dari perguruan mana? Mungkin kita bukan orang luar. "

"Kalian boleh berlega hali, kami berasal dari daratan tengah, sama sekali tiada hubungan dengan para iblis luar perbatasan maupun seberang laut," sahut Pek Yun Hui dengan wajah dingin.

Begitu mendengar Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui berasal dari Tionggoan seketika juga air muka Hweeshio jubah merah berubah, lalu tertawa panjang sambil membentak

"Ternyata kalian berdua dari daratan tengah, pantas begitu tak tahu aturan! Kwa Ih Kang, kepala Lima Setan Swat Ling San mengundang kami, justru minta bantuan pada kami untuk membasmi kalian dari rimba persilatan daratan tengah! Maka kami harus mengantar kalian ke sorga, sekaligus sebagai upeti untuk Kwa Ih Kang, setan tua itu!" Usai berata begitu, Hweeshio jubah merah siap melancarkan serangan ke arah Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui, Akan tetapi Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw segera mencegahnya.

"Suheng jangan cepat bertindak, biar aku bertanya pada mereka!"

Sungguh mengherankan, Hweeshio jubah merah menurut, padahal ia dalam kegusaran dan juga ia adalah kakak seperguruan, tapi begitu menurut pada Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw. ia tidak jadi menyerang, melainkan berdiri diam di tempat

"Apa yang dikatakan Nona memang benar," ujar Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw dengan wajah serius, "Kita berpisah oleh tembok, maka tiada hubungan, Namun mengenai ilmu silat, itu berasal dari satu sumber, maka kita dibagi daratan tengah, luar perbatasan maupun seberang laut, Agar tidak terjadi salah paham di antara kita, lebih baik Nona memberitahukan perguruan Nona!"

"Kuberitahukan!" sahut Pek Yun Hui dingin, "Kalian masih belum berderajat menanyakan perguruanku!"

Hweeshio jubah merah tampak gusar sekali, sedangkan Gin Tie Suseng cuma terkejut akan sikap Pek Yun Hui yang tak bersahabat itu dan membatin. Nona itu bersikap begitu dingin dan ketus ucapannya, namun malah memperlihatkan keanggunannya.

Mendadak terdengar suara pekikan di angkasa, Tak lama tampak sosok bayangan meluncur ke arah mereka bagaikan meteor, Ternyata adalah Bangau Sakti, lalu melayang turun di belakang Pek Yun Hui.

Ketika melihat Bangau Sakti, hati Gin Tie Suseng pun bergerak.

"Ooooh, Nona adalah Pek Yun Hui yang amat tersohor itu! Yang itu pasti Bee Kun Bu, murid kesayangan Kun Lun Sam Cu." katanya sambil tersenyum. Ketika berangkat ke Swat Ling San, Pek Yun Hui sama sekali tidak memberi tanda pada Bangau Sakti agar mengikutinya, namun Bangau Sakti yang memiliki panca indera keenam sudah tahu Pek Yun Hui berangkat ke Swat Ling San, maka segera terbang menyusuInya, Kemunculan Bangau Sakti justru membuat Gin Tie Suseng mengetahui identitasnya, Pek Yun Hui pun tertawa dingin.

"Kini engkau sudah tahu siapa diriku, apakah masih ingin menghalangi kami?"

"Nona mampu menundukkan semua Hweeshio yang ada di Kuil Toa Ciok Si, dapat pula merebut kura Ban Lian Hwee Kwi, di Toan Hun Ya menundukkan Souw Peng Hai ketua Thian Liong, Oleh karena itu nama Nona tersohor sampai luar perbatasan dan seberang Iaut. Aku Kim Eng Hauw juga amat kagum, tak terduga kita bertemu di Swat Ling San ini. Selama belasan tahun aku belajar ilmu silat di Tay Pah San, selama itu tidak pernah berkunjung ke Tionggoan, Lagi pula aku amat senang bertemu orang yang berkepandaian tinggi, oleh karena itu aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mohon petunjuk pada Nona," ujar Gin Tie Suseng sambil tersenyum.

"Engkau ingin bertarung denganku?" tanya Pek Yun Hui hambar.

"Aku tidak berani bertarung dengan Nona," sahut Gin Tie Suseng dan mulai tersenyum dingin, "Hanya ingin mohon petunjuk."

Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw yang telah berlaku sabar itu mulai naik darah, lantaran sikap Pek Yun Hui yang amat dingin dan ketus ucapannya. Perlu diketahui Kim Eng Hauw adalah murid kesayangan Kuang Ti Taysu yang bermukim di gunung Tay Pah San, Gurunya berkepandaian amat tinggi, karena itu, Gin Tie Suseng pun harus menjaga nama.

Kim Eng Hauw sudah menghimpun Iweekangnya, siap untuk menyerang Pek Yun Hui, sementara ketika Hweeshio jubah merah tahu gadis itu adalah Pek Yun Hui, ia pun tertegun karena tidak menyangka Pek Yun Hui begitu cantik jelita, sehingga membuatnya terbengong-bengong.

"Sutee mundur saja," ujarnya mencegah, "Biar aku duluan mencoba kepandaian orang Tionggoan!"

Hweeshio jubah merah memiliki lweekangyang amat tinggi, Ketika melihat Pek Yun Hui masih begitu muda, maka ia ingin menundukkan Pek Yun Hui dengan lweekangnya

Gin Tie Suseng mengangguk ia ingin menyaksikan kepandaian Pek Yun Hui, maka segeralah ia melangkah mundur sedangkan Hweeshio jubah merah melangkah maju, kemudian menyerang Pek Yun Hui dengan ilmu Lohan Cian Hoat (PukuIan Arhat), ia mengeluarkan jurus Ciok Phua Thian Cing (Batu Hancur Langit Ter-kejut), itu merupakan pukulan yang penuh mengandung Iweekang.

Ketika Pek Yun Hui ingin menyambut serangannya, mendadak Bee Kun Bu membentak

"Hweeshio jangan kurang ajar! Biar aku yang menyambut pukulanmu!"

Tangan kiri Bee Kun Bu bergerak membentuk sebuah lingkaran, kemudian tangan kanannya mendorong ke depan ke arah Hweeshio jubah merah. jurus yang dilancarkan Bee Kun Bu adalah jurus Li Kiau Puh Thian (Gadis Cantik menggapai langit), jurus yang dari kitab Kui Goan Pit Cek.

jurus tersebut mematahkan serangan Hweeshio jubah merah, sekaligus menyerangnya, Hweeshio jubah merah merasa ada tenaga yang amat dahsyat mengarah pada dirinya, seketika juga ia mengerahkan lweekangnya menangkis.

Terdengar suara benturan yang memekakan telinga, Badan Bee Kun Bu bergoyang-goyang, sedangkan Hweeshio jubah merah termundur tiga langkah. Betapa gusarnya Hweeshio itu, sepasang matanya membara dan membalin. Kalau aku tidak mampu menun- dukkanmu, bagaimana mungkin aku bertarung dengan Pek Yun Hui. Dalam rimba persilatan cuma tersiar akan kelihayan Pek Yun Hui, tidak tersiar mengenai Bee Kun Bu. Oleh karena itu Hweeshio itu pun tidak tahu bagaimana kepandaian Bee Kun Bu.

Setelah termundur tiga langkah, kesempatan ini pun dimanfaatkan Hweeshio jubah merah untuk menghimpun Iweekangnya, lalu menyerang Bee Kun Bu tiga jurus.

Betapa dahsyatnya tiga jurus serangan itu. Angin pukulannya berderu-deru membuat rerumputan di sekitar tempat itu tereabut dedaunan yang di pohon pun rontok beterbangan

Ketiga jurus serangan itu membuat Bee Kun Bu agak gugup, sebab sejak ia berhasil mempelajari kitab aneh Kui Goan Pit Cek, belum pernah berhadapan dengan lawan yang berkepandaian tinggi, Walau gugup, Bee Kun Bu masih sempat melompat mundur ia berteriak keras sambil mengeluarkan ilmu Ling Khong Sih Tou (Terbang di Angkasa), badannya melesat ke atas, kemudian ia menukik sekaligus menyerang dengan jurus Giok Kiauw Yang Koan (Gadis cantik memandang ke bawah).

Ketika Bee Kun Bu melompat mundur, Hweeshio jubah merah girang bukan main, Namun mendadak Bee Kun Bu menghilang dari hadapannya, tahu-tahu sudah berada di atas dan menyerang kepalanya.

Hweeshio itu terkejut ia tidak menyangka bahwa Bee Kun Bu memiliki kepandaian begitu tinggi, sementara Bee Kun Bu telah merubah jurusnya dengan jurus Lan Hoa Sauw Hoat (Bunga Lan menyebar), salah satu jurus dari ilmu menotok jalan darah jarak jauh.

Ketika melihat Bee Kun Bu menggerakkan lima jarinya, Gin Tie Suseng terkejut sekali, karena ia tahu itu adalah ilmu yang amat lihay. "Awas Suheng!" seru Gin Tie Suseng, "Dia menggunakan Tan Cih Sin Kang (llmu Jari Sakti), Begitu mendengar seruan Gin Tie Suseng, Hweeshio jubah merah pun melompat ke samping secepat kilat, Namun tetap terlambat, sebab jalan darah Meh Hai Hoat di bahunya telah tertotok sehingga terasa ngilu seketika.

Gin Tie Suseng tahu bahwa itu ilmu jari sakti, Tentunya Hweeshio jubah merah pun tahu, tapi karena ia terlampau meremehkan Bee Kun Bu, maka jadi lengah.

Hweeshio jubah merah terpental kena totokan itu. Di saat bersamaan ia pun mengerahkan hawa murninya untuk membebaskan totokan tersebut dan tak lama lengannya sudah tidak sakit lagi.

"Hmm!" dengus Hweeshio jubah merah, "Pantas engkau begitu sombong, ternyata berkepandaian tinggi juga! Baiklah! Hari ini aku bisa bertemu orang yang berkepandaian tinggi, itu merupakan suatu kesempatan untuk bertarung! Aku ingin tahu, berapa tinggi kepandaian-mu!"

Setelah berkata begitu, Hweeshio jubah merah pun menyerang Bee Kun Bu dengan ilmu pukulan Kui In Sin Ciang (Pukulan sakti bayangan setan), yaitu ilmu andalannya yang telah dipelajarinya lebih dari tiga puluh tahun, ia mengeluarkan ilmu tersebut, karena mengetahui bahwa Bee Kun Bu mahir ilmu jari saktL

ilmu pukulan bayangan setan memang lain dari yang lain, sebab tangan bergerak, kaki pun ikut bergerak miring ke kiri ke kanan dan badan juga ikut sempoyongan seperti orang mabuk, mirip ilmu Delapan Dewa Mabuk.

Ketika diserang dengan ilmu aneh ilu, Bee Kun Bu sama sekali tidak bergeming Namun pada saat serangan itu mendekati, ia segera mengeluarkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (Langkah ajaib).

Mendadak Bee Kun Bu berubah sosok bayangan berkelebat ke sana ke mari. Melihat itu, Hweeshio jubah merah penasaran sekali, dan menyerang Bee Kun Bu bertubi- tubi.

Tak terasa sudah lewat tiga jurus, tiba-tiba hati Bee Kun Bu tergerak dan membatin Ngo Heng Mie Cong Pu ini memang hebat dan aneh, tapi hanya untuk berkelit. Tadi susah beradu lweekang dengannya, sepertinya se-imbang, Kalau terus-menerus berkelit dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu, kapan akan berakhir pertarungan itu?

Berpikir sampai di sini, sepasang mata Bee Kun Bu pun menyorot tajam memperhatikan ilmu pukulan Hweeshio jubah merah itu, padahal Bee Kun Bu telah berhasil mempelajari semua ilmu Kui Goan Pit Cek, hanya saja belum pernah berhadapan dengan lawan yang tangguh, maka kurang berpengalaman

Saat ini ia memperhatikan ilmu pukulan lawan sambil berkelit dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu. Tak terasa dua puluh jurus telah berlalu. Dalam dua puluh jurus ini, Hweeshio jubah merah menyerangnya dengan sepenuh tenaga, namun Bee Kun Bu tetap dapat berkelit Semula Hweeshio itu mengira bahwa dirinya dapat mengalahkan Bee Kun Bu dalam sepuluh jurus dengan ilmu pukulan bayangan setan, Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya, Bee Kun Bu masih dapat bertahan, bahkan kini sudah lebih dari dua puluh jurus.

Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa penasaran dan gusarnya Hweeshio jubah merah itu, ia mengerahkan lweekangnya sampai pada puncaknya, kemudian menyerang Bee Kun Bu dengan maksud sekali pukul meroboh kan nya.

Ketika melihat serangan itu, Bee Kun Bu tidak gugup, sebaliknya malah tampak girang, Ternyata ia ingin meminjam tenaga lawan untuk menggempur lawan.

Karena itu, secara diam-diam Bee Kun Bu mengerahkan ilmu Hian Men It Goan Kang Khi (Tenaga dahsyat melumpuhkan lawan), ia menyambut pukulan Hweeshio tersebut, lalu mendorong ke depan ke arah Hweeshio itu. Blam! Terdengar seperti suara ledakan

Hweeshio jubah merah itu terpental sejauh lima depa, kemudian jatuh dengan kepala di bawah.

"Uaaakh!" ia memuntahkan darah segar, wajahnya pun tampak pucat pias.

Gin Tie Suseng segera melesat ke hadapan Hweeshio jubah merah dan membangunkannya agar bisa duduk.

"Bagaimana luka Suheng?" tanyanya cemas.

Hweeshio jubah merah cuma tersenyum getir, kemudian memejamkan matanya untuk beristirahat

Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw gusar bukan main, ia membalikkan badannya memandang Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui.

"llmu silat di Tionggoan memang hebat! Aku ingin mohon petunjuk, namun kali ini harus menggunakan senjata!" seru Gin Tie Suseng.

Senjata Gin Tie Suseng berupa sebatang suling perak Dengan senjata tersebut ia tidak pernah bertemu lawan tangguh, boleh dikatakan selama belasan tahun ia tak terkalahkan terutama ilmu Tui Hong Gin Tie (Suling perak pengejar angin) yang berjumlah seratus delapan jurus itu.

justru sungguh di luar dugaannya, Hweeshio jubah merah, kakak seperguruannya itu malah terjungkal di tangan Bee Kun Bu dalam tidak lebih dari enam puluh jurus, Oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk bertarung dengan senjata andalannya tersebut

"Kita tidak bermusuhan, kenapa Anda terus mendesakku bertarung dengan senjata?" tanya Bee Kun Bu sambil menghunus pedangnya. Gin Tie Suheng tertawa panjang, Suara taw,inya bergema di pegunungan Swat Ling San ini, sehingga membuat burung- burung beterbangan saking lerkejut-nya.

"Aku amat kagum pada Nona Pek yang berkepandaian tinggi, maka ingin mohon petunjuk! Tapi tidak disangka Anda justru melukai Suhengku, itu membuktikan Anda berhati jahat! Oleh karena itu, aku pun ingin mohon petunjuk dari Anda dengan menggunakan senjata!"

"Hm!" dengus Bee Kun Bu sambil tertawa dingin, "Kami berdua kebetulan melintas di daerah ini, namun Anda!ah yang mendesak kami bertarung, kenapa sekarang malah mempersalahkanku? Kakak seperguruan-mu terluka di tanganku, itu berarti kepandaiannya masih rendah! Kalau Anda ingin bertarung dengan senjata, lebih baik dipertimbangkan lagi!"

"Anda tidak perlu omong kosong! Setelah mampu mengalahkanku, tidak akan terlambat untuk omong besar!" sahut Gin Tie Suseng. "AyoIah! Mari kita bertarung!"

"Bagaimana seandainya aku mampu mengalahkan Anda?" tanya Bee Kun Bu sambil tersenyum.

"Kalau Anda mampu mengalahkan senjataku ini, kami pasti meninggalkan tempat ini dan tidak akan memasuki daerah Tionggoan lagi!" sahut Gin Tie Suseng dengan wajah merah padam menahan kegusarannya, karena Bee Kun Bu bersikap seakan tidak memandang sebelah mata padanya.

"ltu terlampau berat bagi Anda!" ujar Bee Kun Bu. "Kalau begitu, engkau menghendaki bagaimana?" tanya

Gin Tie Suseng gusar

"Masih ratusan mil menuju puncak Swat Ling San, seandainya aku menang, bagaimana kalau Anda menunjukkan jalan ke puncak Swat Ling San itu?" Bee Kun Bu tersenyum-senyum sambil menatapnya. "Baiklah! Sekarang... lihat serangan!" bentak Gin Tie Suseng dan menyerangnya.

Gin Tie Suseng mengayunkan suling peraknya, dan seketika juga terdengar semacam suara yang amat nyaring menusuk telinga.

Bee Kun Bu segera menyambut serangan itu dengan ilmu pedang Tui Hun Cap Ji Sek (Dua belas jurus ilmu pedang pengejar roh), ia mengeluarkan jurus Thian Kang Lo Mo (lblis langit mencabut roh), kemudian berubah dengan jurus Ben Liu Jip Hai (Selaksa arus mengalir ke laut), Mulailah mereka bertarung dengan sengit, dan masing-masing ingin merobohkan lawannya.

Walau Gin Tie Suseng berasal dari perguruan sesat, hatinya justru masih lurus, maka ia tidak bertarung dengan cara curang, Hanya saja ia amat angkuh, itu disebabkan selama belasan tahun tidak pernah bertemu lawan yang tangguh, Saat ini telah bertarung beberapa jurus melawan Bee Kun Bu, itu membuatnya amat terkejut dan menyesal, kenapa tadi ia berjanji begitu pada Bee Kun Bu. Oleh karena itu, ia mulai bertarung dengan hati-hati, bahkan menyerang dengan jurus-jurus maut.

sementara Bee Kun Bu bertarung sambil berpikir, ia yakin Gin Tie Suseng bukan orang jahat. ia mau masuk ke perguruan sesat tentunya punya suatu kesulitan, Alangkah baiknya dengan pertarungan ini, membuatnya kembali ke jalan yang lurus.

Walau mereka sedang berpikir, namun tetap saling menyerang dengan sengit. Karena Gin Tie Suseng berpikir harus menang, maka ia menyerang dengan hcbat.

Bee Kun Bu menggunakan ilmu pedang ajaran Hian Ceng Totiang, itu cuma ingin memancing Gin Tie Suseng agar mengerahkan ilmu andalannya, Kini Gin Tie Suseng sudah mulai mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Tui Hong Gin Tie (Suling Perak pengejar Angin) yang berjumlah seratus delapan jurus itu. Menyaksikan serangan-serangan tersebut, Bee Kun Bu mulai menangkis dan menyerang dengan ilmu pedang ajaran Na Hai Peng yang berdasarkan Kui Goan Pit Cek. itu adalah ilmu pedang andalan Thian Ki Cinjin, berbeda dengan ilmu pedang biasa.

Sebelum melancarkan serangan balasan dengan ilmu pedang tersebut, Bee Kun Bu memekik keras, lalu menggerakkan pedangnya yang kemudian berubah seperti pelangi.

Sungguh terkejut Gin Tie Suseng, ia cepat-cepat memutarkan badannya, setelah itu ia pun menyerang dengan jurus Sam Sing Pan Goat (Tiga Bintang Mengarah Pada BuIan).

Suling peraknya berubah menjadi tiga batang dan mengarah pada jalan darah di tubuh Bee Kun Bu. Melihat serangan itu, Bee Kun Bu tertawa panjang sambil melesat ke atas dengan ilmu ginkang Ling Khong Sih Tou (Ter-bang di Angkasa).

Betapa terkejutnya Gin Tie Suseng, sebab mendadak Bee Kun Bu telah menghilang dari hadapannya, Namun ia tahu Bee Kun Bu berada di atas, tanpa melihat lagi ia langsung menyerang ke atas dengan jurus Lang Cien Liu Sah (Ombak Memindahkan Pasir), Pada waktu bersama-an, Gin Tie Suseng juga ingin menggunakan senjata rahasianya untuk merobohkan Bee Kun Bu, sebab dalam pertarungan itu, tiada janji tidak boleh menggunakan senjata rahasia.

Akan tetapi, mendadak pedang Bee Kun Bu berubah seperti sebuah payung. Ternyata ia menyerang ke bawah dengan jurus Sian Li Khai Cah (Bidadari membuka Payung), Sungguh cepat serangan itu, sehingga membuat Gin Tie Suseng tiada kesempatan untuk mengeluarkan senjata rahasianya.

Trang! Terdengarsuara benturan keras, bahkan tampak pula bunga api berpijar, ternyata pedang Bee Kun Bu telah beradu dengan suling perak itu. Tangan Bee Kun Bu bergerak cepat mengarah pada suling perak tersebut, seketika juga suling perak itu berpindah ke tangan Bee Kun Bu.

Kejadian itu membuat wajah Gin Tie Suseng berubah muram, kemudian menarik nafas panjang.

"Sudahlah! Anda memang berkepandaian amat tinggi aku... aku mengaku kalah, kini pereuma aku hidup lagi!" ujarnya dan mendadak mengangkat sebelah tangannya mengarah pada kepalanya sendiri.

"Saudara Kim Jangan!" teriak Bee Kun Bu tertegun, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula Pek Yun Hui.

Akan tetapi, tiba-tiba sosok bayangan merangkulnya, sehingga membuat Gin Tie Suseng terjatuh, Ternyata yang merangkul Gin Tie Suseng itu Hweeshio jubah merah, Memang kebetulan, Gin Tie Suseng berdiri dekat Hweeshio itu. Ketika Bee Kun Bu berteriak "Saudara Kim jangan!", tanpa banyak pikir lagi Hweeshio jubah merah langsung merangkulnya erat-erat.

"Sutee tidak boleh bunuh diri, kalah atau menang dalam suatu pertarungan sudah merupakan hal biasa! Kenapa Sulee harus bunuh diri?" tegur Hweeshio jubah merah.

Maklum! Selama belasan tahun, Gin Tie Suseng tidak pernah mengalami kekalahan, kali ini ia justru roboh di tangan Bee Kun Bu yang masih muda, otomatis membuatnya kehilangan muka dan nama, maka ia pun nekad untuk menghabiskan nyawanya sendiri Namun malah ditolong oleh kakak seperguruannya sendiri, saking sedih atas kekalahan, sepasang mata Gin Tie Suseng pun bersimbah air.

Bee Kun Bu yang sudah tenang itu, segera menghampiri Gin Tie Suseng, kemudian ujarnya sopan dan hormat.

"Saudara Kim jangan kecewa, di atas gunung masih ada gunung, di luar langit masih ada langit Kita cuma merupakan kunang-kunang dalam hal ilmu silat Walau Saudara Kim kalah di tanganku, tapi bagaimana mungkin aku mengalahkan orang lain yang berkepandaian tinggi? Kita tidak usah melihat jauh, yang dekat saja yaitu ilmu silat yang dimiliki Kakak Pek, aku sama sekali bukan tandingannya. Aku tahu Saudara Kim bukan orang jahat, ingin rasanya aku bersahabat dengan Saudara, Hanya saja,., entah Saudara Kim sudi bersahabat denganku?"

Apa yang diucapkan Bee Kun Bu berdasarkan ketulusan hatinya, itu membuat Gin Tie Suseng tertegun dan menatapnya terbelalak

"Suheng, jangan terus merangkulku lagi!" ujar Gin Tie Suseng pada saudara seperguruannya, "Selama ini aku bagaikan katak dalam sumur, itu menyebabkan diriku jadi angkuh. Kini setelah mendengar apa yang diucapkan Saudara Bee, barulah terbuka mataku, sekaligus membuat diriku merasa malu pula."

Usai berkata begitu, Gin Tie Suseng menundukkan kepala, sepertinya dalam hatinya terdapat suatu kesulitan

itu tidak terlepas dari mata Bee Kun Bu, karena itu ia pun segera berkata sambil tersenyum

"Terus terang, aku dan Kakak Pek ke mari memang ingin menyelidiki Lima Setan Swat Ling San ini. Sebelum kita bertarung, ada suatu janji, Saudara Kim tidak usah memikirkan itu, aku membataIkannya. Sete!ah urusanku di Swat Ling San ini beres, aku pasti ke Tay Pah San untuk mengunjungi Saudara Kim."

Gin Tie Suseng terdiam, matanya memandang jauh ke depan, lama sekali barulah membuka mulut

"Aku sudah kalah di bawah pedangmu, bagaimana mungkin aku ingkar janji? Hubunganku dengan Lima Setan itu pun tidak begitu akrab, Tapi aku tahu mereka berniat tidak baik, yaitu ingin menguasai rimba persilatan di Tionggoan, Oleh karena itu, aku justru ingin mendekati mereka untuk mengetahui hal yang sebenarnya, Tentang itu, aku pun telah mengambil keputusan akan mengajakmu dan Nona Pek memasuki Swat Ling San ini, harap jangan dito!ak!"

"Itu. " Bee Kun Bu tampak ragu.

"Suheng!" ujar Gin Tie Suseng pada saudara se- perguruannya, "Urusan ini aku yang memutuskan, walau tiada hubungannya dengan perguruan kita, namun kelak Lima Setan itu pasti mendendam pada gunung Tay Pah San. Aku sudah mengambil keputusan bersama Saudara Bee dan Nona Pek untuk memasuki Swat Ling San ini, maka lebih baik Suheng segera meninggalkan tempat ini, agar tidak tersangkut dalam urusan ini!"

Setelah dilukai Bee Kun Bu, Hweeshio jubah merah mendendam sekali pada pemuda itu, tapi setelah menyaksikan kegagahan dan rasa solider Bee Kun Bu, rasa dendamnya pun lenyap seketika, Bahkan timbul rasa hormatnya pada Bee Kun Bu, sehingga ia langsung tertawa gelak seraya berkata.

"Sutee, kita ke mari bersama, kalau ada bahaya juga harus kita hadapi bersama, Oleh karena itu, aku pun harus menyertaimu memasuki Swat Ling San ini," sahut Hweeshio jubah merah.

"Suheng.-." Gin Tie Suseng menarik nafas panjang, "Suheng adalah pewaris utama guru kita, walau tidak mewakili perguruan Tay Pah San, tapi ada hubungan dengan guru. Aku memasuki Swat Ling San ini bersama Saudara Bee dan Nona Pek, itu adalah secara pribadi, tidak berkaitan dengan perguruan Namun lain halnya dengan Suheng, maka Suheng harus berpikir panjang dan lebih baik segera kembali ke gunung Tay Pah San!"

sementara Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui cuma diam, mereka tidak turut campur, sebab kedua orang itu berbicara berkaitan dengan perguruan mereka. "Sutee. " Hweeshio jubah merah menggeleng-gelengkan

kepala, "Kalau itu adalah keputusan Sutee, aku pun jadi serba salah."

"Aku tahu Suheng amat menyayangiku, tapi kali ini menyangkut Suheng dengan perguruan, maka harap Suheng maklum!" ujar Gin Tie Suseng, "Kita berpisah di sini, mohon Suheng meninggalkan tempat ini!"

"Sutee, kapan kita bertemu kembali?" tanya Hweeshio jubah merah.

"Kepandaian Lima Setan Swat Ling San ini amat tinggi, walaupun ada Saudara Bee dan Nona Pek men-dampingiku, aku pun tidak berani menjamin bisa pulang ke gunung Tay Pah San. Kapan kita bertemu kembali, aku tidak berani memastikannya, semoga kita masih bisa bertemu kembali!" jawab Gin Tie Suseng.

"Berhasil atau gagal, itu sudah merupakan takdir," Hweeshio jubah merah. "Menurut aku, engkau masih bisa pulang dengan selamat Karena itu, haruslah ada janji kapan kita bertemu!"

"Kalau begitu.  " jawab Gin Tie Suseng setelah berpikir

sejenak, "Setelah bunga di Tay Pah San memekar, aku pasti kemba!i."

"Baiklah." Hweeshio jubah merah manggut-manggut, kemudian memberi hormat pada Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui seraya berkata, "Kalian berdua memiliki kepandaian yang amat luar biasa, tentunya tiada masalah memasuki Swat Ling San ini, namun aku mohon kalian berdua sudi menjaga adik seperguruanku ini!"

"Siansu harap berlega hati!" ujar Pek Yun Hui. "Gin Tie Suseng juga berkepandaian tinggi, lagi pula kami pergi bersama, tentunya harus saling melindungi pula!"

"Terimakasih, Nona Pek!" ucap Hweeshio jubah merah, lalu memandang adik seperguruannya, "Sutee, sampai jumpa!" Setelah mengucapkan "Sampai jumpa", Hweeshio jubah merah itu pun melesat pergi.

"Kami merepotkan Saudara KJm untuk menunjukkan jalan.

Kami tidak pernah ke mari, jadi sama sekali tidak tahu harus melalui jalan mana menuju ke dalam, sebelumnya kami ucapkan banyak-banyak terimakasih pada Saudara Kim!" ujar Bee Kun Bu. "Sekali lagi kami ucapkan terimakasih!"

"Kalau begitu, aku pun yakin kalian berdua tidak tahu tentang Lima Setan Gunung Swat Ling San?" tanya Gin Tie Suseng.

"BetuI." Bee Kun Bu mengangguk "Kami sama sekali tidak tahu tentang mereka berlima."

"Kalau begitu, aku akan menceritakan sambil memasuki Swat Ling San ini," ujar Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw, "Mari ikut aku ke dalam!"

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengangguk, lalu mengikuti Gin Tie Suseng memasuki Swat Ling San tersebut

*****

Bab ke 10 - Menceritakan Tentang Lima Setan Swat Ling San

Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengetahui Swat Ling San tersebut dari Hian Ceng Totiang, diceritakannya bahwa golongan sesat yang bermukim di Swat Ling San adalah murid ketua partai Bu Tong generasi ke sebelas bernama Cing Ko Hong, namun Hian Ceng Totiang juga tidak tahu begitu jeias, maka Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui cuma tahu golongan sesat tersebut didirikan Cing Ko Hong.

"Kami pernah bertemu salah satu setan Swat Ling San bernama Tan Cun Goan," ujar Bee Kun Bu memberitahukan "Oh, dia!" sahut Gin Tie Suseng, "Dia nomor tiga." "Kami ingin tahu jelas tentang Lima Setan itu, bolehkah Saudara Kim mencerit akan nya ?" tanya Bee Kun Bu.

"Tentu bo!eh." Gin Tie Suseng mengangguk "Mari kita duduk sebentar, aku akan menceritakannya!"

"Baiklah." Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui mengangguk mereka bertiga lalu duduk di bawah pohon.

Tentunya kalian tahu bahwa golongan Swat Ling San masih ada kaitannya dengan pertai Bu Tong.,." ujar Gin Tie Suseng.

"Tentang itu, guru Kun Bu memang pernah mencerit akannya," sahut Pek Yun Hui, "Namun Hian Ceng Totiang cuma tahu Cing Ko Hong itu, bagaimana Swat Ling San sekarang, Hian Ceng Totiang sama sekali tidak tahu jelas."

"Kun Lun Sam Cu tinggal di gunung Bu Tong, jauh dari sini tentunya tidak akan tahu jelas mengenai Swat Ling San ini," kata Gin Tie Suseng, "Namun aku sudah hampir dua puluh tahun bermukim di luar perbatasan lagi pula aku adalah murid ke dua Kuang Ti Taysu di Tay Pah San, maka tahu jelas mengenai Swat Ling San ini."

"Kalau begitu, aku harap Saudara Kim menceritakannya!" desak Pek Yun Hui yang ingin segera tahu tentang itu.

"Kaum rimba persilatan tidak pernah saling mengalah dalam hal ilmu silat, sehingga selalu menimbulkan dendam dan kebencian, Pendiri golongan sesat Swat Ling San memang Cing Ko Hong, Pada masa itu dia cuma gusar, maka meninggalkan gunung Bu Tong," Gin Tie Suseng menarik nafas dan melanjutkan "Siapa tahu justru menimbulkan suatu bencana bagi partai Bu Tong, bahkan melibatkan seorang gadis yang amat cantik, sehingga menimbulkan dendam asmara yang membara, Kita masih belum lahir, jadi tidak mengalami itu." "Kalau begitu, tentang dendam asmara yang membara itu ditimbulkan para murid partai Bu Tong sendiri?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku akan menceritakannya, harap Nona Pek bersabar mendengarnya!" Gin Tie Suseng tersenyum dan melanjutkan "Ternyata Cing Ko Hong meninggalkan gunung Bu Tong dengan penasaran, akhirnya sampai di Swat Ling San ini, kemudian mati-matian memperdalam ilmu silatnya, Tak terasa sepuluh tahun telah berlalu, Cing Ko Hong pun berhasil memperdalam ilmu silatnya, Oleh karena itu, ia kembali ke gunung Bu Tong untuk menantang ketua Bu Tong bertanding. "

Gin Tie Suseng menarik nafas panjang, setelah itu barulah melanjutkan ucapannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tantangan itu diterima ketua partai Bu Tong, Beliau pergi ke puncak Cit Sing Hong menemui Cing Ko Hong.

Sebelum bertanding, ketua partai Bu Tong masih berusaha menasihatinya, namun sia-sia."

"Tentunya Cing Ko Hong tidak mau menyudahi begitu saja?" tanya Bee Kun Bu.

"Walau sudah cukup lama bermukim di Swat Ling San, Cing Ko Hong tetap adalah orang Tionggoan," jawab Gin Tie Suseng, "Karena itu, dia cuma bilang minta petunjuk pada ketua partai Bu Tong itu."

"Kalau begitu, ketua partai Bu Tong itu pun tidak bisa menolak lagi." ujar Bee Kun Bu.

"Benar." Gin Tie Suseng mengangguk "Ketua partai Bu Tong itu memang tidak bisa menolak lagi, maka terjadilah pertandingan di puncak Cit Sing Hong (Puncak Tujuh Bintang). justru karena pertandingan itu, maka Cing Ko Hong mendirikan aliran Swat Ling San."

"Apakah ketua partai Bu Tong kalah?" tanya Bee Kun Bu. "Ketua partai Bu Tong tidak kalah, sebaliknya malah memenangkan pertandingan itu, Cing Ko Hong meninggalkan Cit Sing Hong dengan penasaran dan menahan rasa malu.-" lanjut Gin Tie Suseng, "Ternyata mereka bertanding dua hari satu malam, Cing Ko Hong amat penasaran sehingga timbul niat jahatnya untuk membunuh ketua partai Bu Tong itu, Lantaran niat jahatnya, akhirnya malah dia yang terluka parah, Dia kembali ke Swat Ling San, dan sejak itu tidak pernah ke Tionggoan lagi."

"Kenapa Cing Ko Hong terluka parah?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Sebelumnya ketua partai Bu Tong sudah menasihatinya, tapi Cing Ko Hong menganggap sebagai angin lalu, dia sama sekali tidak tahu ketua partai Bu Tong memiliki insting tajam!"

"Kalau begitu, kenapa mereka harus bertanding sampai dua hari satu malam?" tanya Bee Kun Bu tidak mengerti

"Ketua partai Bu Tong tahu, kalau tidak bertanding, Cing Ko Hong pasti tidak mau menyudahi urusan itu," jawab Gin Tie Suseng, "Seandainya pada waktu itu Cing Ko Hong sadar dan mau kembali pada partai Bu Tong, tentunya dia tidak akan mengalami hal yang mengenaskan itu."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut mengerti "Jadi ketua partai Bu Tong sengaja bertanding sampai dua hari satu malam itu, agar Cing Ko Hong tidak merasa penasaran ?"

"Kira-kira begituIah." Cing Ko Hong menarik nafas panjang, "Sesungguhnya ketua partai Bu Tong masih berusaha menyadarkan dalam pertandingan itu."

"Oh?" Bee Kun Bu menggeleng-gelengkan kepala. "Dalam dua hari satu malam, Cing Ko Hong mati-matian

menyerang ketua partai Bu Tong, namun ketua partai Bu Tong itu justru tampak tenang sekali, Karena Cing Ko Hong berniat membunuh sehingga menggusarkan ketua itu. " "Kemudian bagaimana?" tanya Pek Yun Hui.

"Karena gusar, maka ketua partai Bu Tong pun mengeluarkan ilmu andalannya, itu membuat Cing Ko Hong roboh terkena pukulan yang dilancarkannya." jawab Gin Tie Suseng, "Untung ketua itu cuma menggunakan delapan bagian Iwcekangnya, nyawa Cing Ko Hong tidak melayang."

"Ketua partai Bu Tong itu sungguh berhati pe-nyayang," ujar Pek Yun Hui.

"Tapi ketika roboh, Cing Ko Hong malah melakukan sesuatu yang amat memalukan, itu sangat menggusarkan ketua partai Bu Tong," kata Gin Tie Suseng sambil menggeleng-gelengkan kepa!a.

"Lho?" Bee Kun Bu terheran-heran, "Cing Ko Hong telah roboh, apa pula yang dapat dilakukannya?"

Ternyata menyerang ketua partai Bu Tong secara gdap, dengan menggunakan sepasang kakinya menendang alat vitai ketua itu." Gin Tie Suseng memberitahukan "Dapat dibayangkan betapa gusarnya ketua partai Bu Tong! Oleh karena itu, ketua tersebut membentak keras, lalu menotok jalan darah di kaki Cing Ko Hong, Setelah itu ketua partai Bu Tong pun mengatakan bahwa dia harus merawat sepasang kakinya, kalau tidak sepasang kakinya niseaya akan lumpuh, Ketua itu juga menyuruhnya agar segera meninggalkan puncak Cit Sing Hong,"

"Oooh!" Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui menarik nafas panjang.

"Sepasang kaki Cing Ko Hong telah terluka parah, maka dia segera meninggalkan tempat itu, Setengah bulan kemudian, Cing Ko Hong sudah tidak bisa berjalan, dan amat mendendam pada partai Bu Tong, Dia mendirikan aliran Swat Ling San dan menerima murid, Dia pun menyuruh para muridnya bersumpah, kelak harus menuntut balas pada partai Bu Tong, Tenlang itu, kaum Bu Lim sama sekali tidak mengetahuinya, sebab ketua partai Bu Tong tidak menyiarkannya."

"Tapi tentunya tidak bisa mengelabui para kaum Bu Lim, kan?" tanya Bee Kun Bu.

"Ternyata ketua partai Bu Tong sudah tahu tujuan Cing Ko Hong, maka sebelum meninggal, beliau pun meninggalkan sepucuk surat wasiat, agar para murid Bu Tong jangan bertindak terlampau keras terhadap aliran Swat Ling San.

Sebab biar bagaimana pun, Cing Ko Hong tetap mantan murid partai Bu Tong."

Setelah ketua partai Bu Tong itu meninggal, apa pula yang terjadi?" tanya Pek Yun Hui.

"Para murid partai Bu Tong cuma mentaati pesan itu, Namun para murid Cing Ko Hong setiap generasi pergi menuntut balas pada partai Bu Tong. Hal itu terjadi hingga tiga generasi, namun setelah itu terjadi pula suatu perubahan di Swat Ling San." jawab Gin Tie Suseng.

"Perubahan apa?" tanya Bee Kun Bu. "Apakah berkaitan dengan dendam asmara yang membara itu?"

"Tidak salaH, namun itu adalah kejadian berikutnya," Gin Tie Suseng menarik nafas, "Pada generasi ke tiga, di saat itu yang menjadi ketua aliran Swat Ling San adalah Kao Ku. Dia memiliki kepandaian yang amat tinggi, tapi punya kelemahan. "

"Apa kelemahannya?" tanya Bee Kun Bu. "Kelemahannya adalah. " Gin Tie Suseng tersenyum

"Amat menyukai wanita cantik, Dia pula yang merubah

peraturan aliran Swat Ling San, akhirnya menerima seorang murid wanita yang cantik jelita, itu membuat tiga saudara seperguruannya merasa tidak senang, karena telah melanggar peraturan yang ditetapkan Cing Ko Hong, pendiri aliran Swat Ling San. Oleh karena itu, ketiga saudara seperguruannya pun meninggalkan Swat Ling San dengan penasaran." "Kalau begitu, apakah Kao Ku masih menerima murid lain?" tanya Bee Kun Bu yang amat tertarik akan cerita itu.

Tidak," jawab Gin Tie Suseng, "Kao Ku cuma menerima murid wanita itu saja, Murid wanita itu bernama Khouw Miauw Nio. itu kejadian seratus tahun yang lampau, Dia memang cantik dan berhasil mempelajari semua ilmu yang diturunkan Kao Ku, gurunya itu. Karena para paman gurunya menentang, maka dia tekun sekali memperdalam ilmu silatnya, dan akhirnya berhasil Oleh karena itu, ketua partai Bu Tong masa itu, yaitu Cing Hong Tojin, sama sekali tidak mampu menunduk-kannya."

"Kalau begitu, Cing Hong Tojin pasti kalah di tangan Khouw Miauw Nio itu, kenapa tidak tersiar dalam rimba persilatan?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Aku akan menutur sejelas-jelasnya," sahut Gin Tie Suseng sambil tersenyum "Berhubung tiada seorang pun yang membawa kemenangan dari partai Bu Tong, maka hati Khouw Miauw Nio pun tergerak, sehingga dia seorang diri berangkat ke gunung Bu Tong."

"Apakah dia juga menimbulkan bencana dalam rimba persilatan Tionggoan?" tanya Bee Kun Bu.

"Bagaimana isi hati Khouw Miauw Nio ketika itu, mungkin tiada seorang pun mengetahuinya. Namun dia justru membantai para penjahat di Tionggoan, sehingga sangat mengharumkan namanya, Sejak itu pula Khouw Miauw Nio menghilang, sama sekali tidak pernah memunculkan diri lagi."

"Kenapa begitu?" tanya Pek Yun Hui.

"Ternyata dalam perantauannya selama dua tahun di Tionggoan, Khouw Miauw Nio pernah bertemu Cing Hong Tojin, yakni ketika dia sedang membunuh para penjahat, kebetulan muncul Cing Hong Tojin mem-bantunya. Walau Cing Hong Tojin adalah pendeta Taosme, tapi dia justru amat tampan, Begitu melihat Cing Hong Tojin, Khouw Miauw Nio pun tertarik dan langsung berkenalan dengannya, Tentunya Cing Hong Tojin pun menanyakan tentang perguruan Khouw Miauw Nio, tapi Khouw Miauw Nio tidak berani berterus terang, hanya memberitahukan ingin berkunjung ke gunung Bu Tong. Cing Hong Tojin adalah ketua partai Bu Tong, tentunya menolak sehingga menimbulkan kegusaran Khouw Miauw Nio, dan langsung pergi, Siapa tahu ketika berada di puncak Cit Sing Hong, yang muncul justru Cing Hong Tojin, Barulah Khouw Miauw Nio tahu bahwa dia adalah ketua partai Bu Tong, itu membuatnya salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana baiknya."

"Kalau begitu, Khouw Miauw Nio itu pasti sudah jatuh hati pada Cing Hong Tojin!" kata Pek Yun Hui.

"Justru karena itu, urusan dendam pun dapat di-sudahi begitu saja," ujar Gin Tie Suseng.

"Khouw Miauw Nio ingin menuntut balas, barulah dia berangkat ke Tionggoan. Bagaimana mungkin dia menyudahi dendam itu begitu saja!" tanya Bee Kun Bu heran.

"Ketika melihat Cing Hong Tojin adalah orang yang dicarinya, juga pujaan hatinya, Khouw Miauw Nio tersiksa sekali, Tapi dia telah menerima budi kebaikan gurunya, tentunya harus menuntut balas, Karena itu, mendadak wajahnya pun berubah dingin. " Gin Tie Suseng melanjutkan

"Cing Hong Tojin adalah ketua partai Bu Tong, ketika mengetahui akan hal itu, dia masih dapat berlaku tenang, Akhirnya mereka berdua bertarung di puncak Cit Sing Hong itu, dan Cing Hong Tojin kalah, Kalau Khouw Miauw Nio ingin membunuhnya, itu gampang sekali, Namun Khouw Miauw Nio justru tidak membunuhnya, malah segera meninggalkan puncak itu dan pulang ke Swat Ling San, Setelah pulang, Khouw Miauw Nio pun melarang para murid aliran Swat Ling San memasuki daerah Tionggoan, maka dendam itu pun usai sampai di situ."

"Bagaimana Cing Hong Tojin setelah dikalahkan Khouw Miauw Nio itu?" tanya Bee Kun Bu. "Kalau urusan itu usai sampai di situ, tentunya tidak aneh," sahut Gin Tie Suseng sambil menarik nafas. "Lalu dari mana munculnya dendam asmara yang membara itu?"

"Jadi masih ada kelanjutannya?" Bee Kun Bu terbelalak Tidak salah." Gin Tie Suseng mengangguk "Cing

HongTojin merasa malu atas kekalahannya, maka begitu kembali ke Sam Cing Koan, dia pun segera mengumpulkan para adik seperguruannya untuk menyerahkan jabatannya. Setelah itu, dia pun membunuh diri."

"Gara-gara Khouw Miauw Nio itu?" Bee Kun Bu menarik nafas.

"Kematian Cing Hong Tojin tersebar sampai di luar perbatasan, itu sungguh di luar dugaan Khow Miauw Nio, akhirnya dia pun jadi rahib dan tidak pernah meninggalkan Swat Ling San," ujar Gin Tie Suseng.

sementara Pek Yun Hui cuma mendengarkan dengan penuh perhatian, sama sekali tidak bertanya apa pun.

"Dendam antara partai Bu Tong dengan aliran Swat Ling San pun usai sampai di situ, sebetulnya itu merupakan hal yang baik sekali," lanjut Gin Tie Suseng, "Akan tetapi, sejak Khouw Miauw Nio jadi rahib, para muridnya pun mulai bertindak semau mereka, lama kelamaan aliran Swat Ling San berubah menjadi aliran sesat hingga sekarang di tangan Lima Setan itu. "

Ketika Gin Tie Suseng bereerita sampai di situ, mendadak Pek Yun Hui melesat ke arah sebuah pohon siong, dan sekaligus melancarkan pukulan seraya membentak

"Siapa bersembunyi di situ mencuri dengar pembicaraan kami?"

Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng pun segera mengarah pada tempat itu, Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara tawa dingin, lalu muncul beberapa orang dari balik pohon siong itu setelah Pek Yun Hui melancarkan pukulannya. "Tay Pah San dengan kami aliran Swat Ling San, boleh dikatakan satu aliran!" ujar salah seorang yang rambutnya sudah memutih semua, "Namun Gin Tie Suseng justru membuka rahasia aliran Swat Ling San, itu sungguh di luar dugaan!"

Bee Kun Bu memandang orang itu, ternyata orang itu berbadan agak pendek dan berusia sekitar lima pu-luhan, sepasang matanya menyorot tajam membuktikan ia memiliki Iweekang tinggi ia pun mengenakan pakaian aneh, Tampak pula delapan orang mengikutinya, yang semuanya mengenakan pakaian warna abu-abu. Mereka semuanya berbadan tinggi besar, masing-masing menggenggam golok kepala setan.

"Kuil Ceh Yun Si yang di gunung Tay Pah San, sama sekali tidak ada hubungan dengan aliran Swat Ling San!" sahut Gin Tie Suseng sambil tertawa dingin, "Aku ke mari atas kemauan sendiri, tiada kaitannya dengan guruku! Kalian Lima Setan telah terpengaruh oleh Hweeshio dari kuil Toa Ciok Si, maka ingin menimbulkan bencana dalam rimba persilatan Tionggoan, Oleh karena itu para pendekar rimba persilatan berhak membasmi kalian!"

Orang pendek itu tertawa terkekeh-kekeh ketika mendengar ucapan Gin Tie Suseng-Kim Eng Hauw, ia maju selangkah dan mendadak menyerang Gin Tie Suseng seraya membentak

"Sudah lama aku ingin bertarung dengan Kuang Ti Taysu!

Kini muncul muridnya, maka aku ingin mencoba kepandaiannya!"

Ketika orang tua pendek itu maju selangkah, Gin Tie Suseng pun sudah siap, Maka ketika diserang secara mendadak, ia segera meloncat ke belakang menghindari serangan itu.

Orang tua pendek itu tertawa panjang, lalu melesat ke arah Gin Tie Suseng, dan sekaligus menyerangnya lagi. Begitu melihat serangan itu, Gin Tie Suseng pun tertawa dingin, dan secepat kilat ia mengeluarkan suling peraknya dan menangkis serangan itu.

Serangan orang tua pendek itu tertangkis, sehingga ia menjadi gusar sekali. Tiba-tiba badannya meluncur ke atas, sekaligus melancarkan pukulan ke arah Gin Tie Suseng.

Gin Tie Suseng segera meloncat ke samping, lalu mendadak balas menyerang dengan pukulan dahsyat

Mulailah mereka bertarung dengan seru sekali, dan masing-masing mengeluarkan jurus-jurus andalan. sementara Pek Yun Hui cuma menonton dengan wajah dingin, begitu pula Bee Kun Bu, ia menonton sambil mengerutkan kening, sebab yakin Gin Tie Suseng bukan tandingan orang tua pendek itu.

Gin Tie Suseng dan orang tua pendek itu masih saling menyerang dengan ilmu andalan masing-masing. Mendadak orang tua pendek itu membentak keras, kemudian menyerang Gin Tie Suseng sepenuh tenaga, lalu meloncat mundur delapan depa.

"Hmm!" dengusnya dingin. "Kepandaian Tay Pah Sah cuma begitu! Kaiau kalian bertiga tertarik, silakan menerobos ke dalam Swat Ling San, aku masih harus pergi meronda!"

Orang tua pendek itu mengibaskan tangannya, seketika juga delapan orang berpakaian abu-abu langsung berdiri dibelakangnya.

"Engkau berani mengajak orang lain ke mari, untung masih belum memasuki tempat penjagaanku!" Orang tua pendek menuding Gin Tie Suseng, "Kalau engkau sudah memasuki tempat itu, aku pasti membunuhmu! Aku masih menghormati Kuang Ti Taysu, maka alangkah baiknya engkau segera meninggalkan tempat ini! Tapi kalau engkau berani masuk, jangan mempersalahkanku kalau aku bertindak keji terhadapmu!" "Hm!" dengus Gin Tie Suseng dingin, kemudian mendadak menyerang orang tua pendek itu.

Akan tetapi, orang tua pendek itu cuma tertawa dingin, lalu melesat ke belakang pohon siong, Gin Tie Suseng terkejut Walau ia menyerang orang tua pendek itu secara mendadak, namun orang tua pendek itu masih dapat berkelit itulah yang membuat Gin Tie Suseng berdiri termangu di tempat

Bee Kun Bu segera melesat ke pohon siong, lalu berhenti di situ sambil memandang ke belakang pohon siong itu, dan seketika juga ia terbelalak

Ternyata di belakang pohon siong itu terdapat sebidang tanah yang ditumbuhi berbagai macam bunga, Sungguh semarak tempat itu, namun tidak tampak bayangan orang tua pendek itu beserta delapan orang yang menyertainya.

Heran! Gumam Bee Kun Bu dalam hatL Kenapa di tempat ini banyak tumbuh bunga yang beraneka warna? Jangan- jangan itu semacam formasi! ia harus bertanya pada Kakak Pek. Sebelum Bee Kun Bu membuka mulut bertanya, Pek Yun Hui telah mendahuluinya memberitahukan

"Lima Setan Swat Ling San memang tidak bernama kosong, lihatlah apa yang bergantung di pohon siong ini!"

Bee Kun Bu segera mendongakkan kepala, tampak sebuah papan bertulisan bergantung di pohon siong tersebut

SIAPA YANG MEMASUKI SWAT LING SAN PASTI MATI

Ternyata papan itu bertuliskan demikian Pada waktu bersamaan, Gin Tie Suseng justru memukul ke arah pohon siong itu. pukulannya merontokkan daun-daun pohon siong, itu membuat Bee Kun Bu terheran-heran.

Pek Yun Hui tahu, bahwa Gin Tie Suseng masih kesal pada orang tua pendek itu, maka kekesalannya dilampiaskannya pada pohon siong tersebut "Letak bunga-bunga itu kelihatan aneh, sepertinya berbentuk suatu formasi yang berdasarkan Kiu Kiong Pat Kwa. Saudara Kim barusan memukul pohon siong ini, apakah berniat memasuki tempat itu?" tanya Bee Kun Bu.

"Lima Setan Swat Ling San telah menghina guruku, maka aku sangat kesal sehingga tak dapat menguasai diri memukul pohon siong ini," sahut Gin Tie Suseng, "Aku tidak paham akan formasi Kiu Kiong Pat Kwa. Saudara seperguruan mengerti, tapi dia sudah pergi sekarang kita harus bagaimana?"

"Saudara Kim tidak usah cemas!" Bee Kun Bu ter-senyum. "Kakak Pek mengerti tentang itu, maka formasi itu tidak akan menyulitkan kita."

"Kalau begitu, harap Nona Pek memecahkan formasi itu!

Lalu kita menuju ke tempat Lima Setan itu," ujar Gin Tie Suseng.

"Kakak Pek!" sambung Bee Kun Bu. "Tempat itu merupakan mulut menuju tempat Lima Setan Swat Ling San. Aku dan Saudara Kim tidak paham akan formasi tersebut, harap Kakak Pek sudi menunjukkan jalan!"

Pek Yun Hui tersenyum, lalu segera memandang ke arah tempat itu, Berselang beberapa saat, ia pun berkata.

"Engkau pernah memasuki ruang bawah tanah di gua Thian Ki Cinjin, bahkan juga menolong Hian Ceng Totiang yang terkurung di dalam formasi bunga persik, Formasi bunga yang ada di tempat ini, tidak berbeda jauh dengan formasi bunga persik itu," ujar Pek Yun Hui.

"Oh?" Bee Kun Bu maju beberapa langkah dan memperhatikan formasi bunga itu dengan cermat, namun tidak melihat bagaimana keanehan formasi tersebut

"Bagaimana?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku masih tidak paham akan formasi itu." Bee Kun Bu menggeleng-getengkan kepala. "Memang sulit menjelaskan tentang Kiu Kiong Pa Kwa, namun engkau harus ingat pada formasi bunga persik itu," ujar Pek Yun Hui. "Setelah engkau ingat, otomatis engkau pun dapat memecahkan formasi bunga tersebut"

"Aku sudah memperhatikan formasi itu dengan cermat, namun masih belum menyelami perubahannya! padahal aku masih ingat pada formasi bunga persik," sahut Bee Kun Bu dengan kening berkerut

"Kalau begitu, engkau ikut aku memasuki formasi bunga itu!" ajak Pek Yun Hui sambil mengayunkan kakinya.

Bee Kun Bu segera mengikuti Pek Yun Hui, Ketika melihat Bee Kun Bu melangkah, Gin Tie Suseng pun tidak mau ketinggalan, langsung mengikuti di be!akang-nya, namun kemudian malah membelok ke arah Iain. Ternyata ia ingin mencoba formasi bunga tersebut

Kurang lebih sepuluh langkah kemudian, mendadak, ia melihat pemandangan di situ telah berubah, Tidak tampak tanaman bunga, melainkan rerumputan dan sa-yup-sayup terdengar pula suara musik.

Gin Tie Suseng kebingungan, ia menengok ke sana ke mari, tidak tampak bayangan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui, namun ia justru mendengar suara bentakan Bee Kun Bu.

"Hati-hati Saudara Kim, jangan bergerak sembarang-an!" "Saudara Bee!" sahut Gin Tie Suseng. "Aku,., aku

mengantuk sekali, rasanya ingin tidur,.,."

Gin Tie Suseng terkulai di atas rerumputan, tapi mendadak di rerumputan itu muncul lima buah golok yang amat tajam, sehingga badan Gin Tie Suseng tertusuk dan darah segar pun langsung mengucur

Sungguh mengherankan, Gin Tie Suseng tidak mampu bangkit berdiri, dan terbaring di atas goIok-golok itu.

"Celaka!" seru Bee Kun Bu. "Kakak Pek, Saudara Kim telah terjebak formasi bunga, mungkin dia terluka!" "Hm!" dengus Pek Yun Hui dingin, "Siapa suruh dia tidak mau mengikutimu dari belakang, malah membelok ke arah lain, dia yang cari penyakit!"

"Kakak Pek, dia bukan orang jahat, cepatlah tolong dia!" ujar Bee Kun Bu.

"Engkau harus tetap berdiri di sini, jangan bergeser selangkah pun!" pesan Pek Yun Hui. "Aku akan pergi menolongnya."

"Terimakasih, Kak!" ucap Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui menarik nafas, kemudian mengayunkan kakinya ke kiri, ke kanan dan ke depan, kemudian menghilang dari pandangan Bee Kun Bu. itu sungguh mengejutkan Bee Kun Bu.

Setelah Pek Yun Hui tidak kelihatan, tiba-tiba terdengarlah suara yang amat anch, maka cepat-cepat Bee Kun Bu menghimpun hawa murninya, sekonyong-konyong ia merasa ada segulung angin mengarah padanya, secepat kilat ia pun mengibaskan tangannya untuk me-nangkis.

Blamm! terdengar suara benturan keras.

Bee Kun Bu segera menengok, tapi tidak tampak siapa pun berada di situ, Walau ia telah diserang, tapi sama sekali tidak berani menggeserkan kakinya.

Berselang beberapa saat, mendadak muncul Pek Yun Hui sambil memapah Gin Tie Suseng, ternyata sepasang kaki Gin Tie Suseng tertusuk golok, darahpun masih mengucur

"Aduh! Sakit sekali!" Gin Tie Suseng merintih

Bee Kun Bu segera merobek ujung lengan baju Gin Tie Suseng, kemudian membalut lukanya.

"Banyak jebakan di dalam formasi bunga ini, cepat ikut aku meninggalkan tempat ini!" ujar Pek Yun Hui. Bee Kun Bu segera memapah Gin Tie Suseng, Pek Yun Hui mengayunkan kakinya diikuti Bee Kun Bu dari belakang sambil memapah Gin Tie Suseng.

"Lima Setan Swat Ling San memang berkepandaian luar biasa, mampu menyusun formasi yang amat hebat Untung kita sudah keluar dari formasi tersebut!" ucap Pek Yun Hui. "Kun Bu, cepat taruh Gin Tie Suseng ke bawah, periksa bagaimana keadaan lukanya!"

Ucapan Pek Yun Hui membuat Bee Kun Bu tersentak ia menengok kian ke mari, ternyata saat ini ia telah berada di luar formasi bunga itu. Segeralah ia menaruh Gin Tie Suseng ke bawah, lalu memeriksa luka di kaki Gin Tie Suseng.

KebetuIan Gin Tie Suseng membuka matanya, Ketika melihat Bee Kun Bu, ia pun menarik nafas panjang.

"Aku yang cari penyakit, ingin mencoba kelihayan formasi bunga itu, akhirnya jadi terluka," ujar Gin Tie Suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Saudara Kim harus tahu, formasi itu berdasarkan Kiu Kiong Pat Kwa, maka di dalamnya terdapat sesuatu yang akan menimbulkan halusinasi kita." Bee Kun Bu tersenyum, "Untung Saudara Kim sudah tertoIong, sekarang bagaimana rasanya luka di kaki i(u?"

"Heran!" sahut Gin Tie Suseng, "Kenapa tadi ketika tertusuk, aku sama sekali tidak merasa sakit?"

"Sebab pikiranmu telah terpengaruh oleh formasi bunga itu," ujar Pek Yun Hui. "Maka engkau tidak merasa sakit."

"Sungguh lihay formasi bunga itu!" Gin Tie Suseng menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan, "Kini aku tidak berani meremehkan Lima Setan Swat Ling San lagi."

"Saudara Kim sudah tidak merasa sakit lagi?" tanya Bee Kun Bu.

"Sudah tidak sakit lagi," sahut Gin Tie Suseng sambil tersenyum getir "Kalau begitu. " Bee Kun Bu menatapnya, "Bagai-mana

kalau Saudara Kim melanjutkan penuturan tentang Lima Setan Swat Ling San yang diputuskan oleh kemunculan orang tua pendek itu?"

"Baiklah." Gin Tie Suseng mengangguk "Lima Setan Swat Ling San memang amat terkenal.,,."

"Amat terkenal?" Bee Kun Bu bingung, "Mereka berlima hidup menyendiri di Swat Ling San ini, bagaimana mungkin mereka terkenal?"

"Membicarakan Lima Setan Swat Ling San, aku pun teringat akan sumpah Lima Setan itu lima belas tahun yang lampau," jawab Gin Tie Suseng melanjutkan "Kalau sumpah itu mereka laksanakan, bukan cuma partai Bu Tong, namun delapan partai besar lainnya pun pasti mengalami bencana."

"Lho? Bukankah dendam antara partai Bu Tong dengan aliran Swat Ling San telah usai, setelah Khouw Miauw Nio itu jadi rahib? Kok Saudara Kim malah mengatakan lain?" Bee Kun Bu heran "Lagi pula kenapa mereka bersumpah lima belas tahun yang lampau?"

"Berhubung Cing Hong Tojin membunuh diri, maka timbul pula masalah lain di partai Bu Tong, sebab Cing Hong Tojin punya seorang murid kesayangan Ternyata tanpa setahu siapa pun, dia telah menyaksikan pertarungan gurunya dengan Khouw Miauw Nio itu, bahkan juga mendengar pembicaraan mereka, maka dia tahu bahwa Khouw Niauw Nio berasal dari Swat Ling San, Oleh karena itu, murid Cing Hong Tojin itu pun memberitahukan pada ketua yang baru, Kalau dia memberitahukan secara jujur, mungkin tidak akan menimbulkan suatu masalah."

"Murid Cing Hong Tojin itu menimbulkan masalah apa?" tanya Pek Yun Hui.

"Murid itu membela gurunya, maka tidak menceritakan tentang jaringan asmara tersebut, hanya bilang Khouw Miauw Nio ingin menuntut balas, Maka demi menjaga nama baik perguruan akhirnya Cing Hong Tojin membunuh diri," jawab Gin Tie Suseng, "OIeh karena itu, para murid partai Bu Tong amat mendendam pada aliran Swat Ling San."

"Jadi terjadi balas membalas lagi?" tanya Bee Kun Bu. "Generasi yang selanjutnya, justru menyusun suatu

rencana jahat," jawab Gin Tie Suseng sambil menggeleng- gelengkan kepaia, "Demi memperkuat aliran Swat Ling San, maka ketua itu mulai berhubungan dengan suku Miau, dan sekaligus mempelajari ilmu ilmu suku itu pula, Setelah itu, mereka pun mengadakan hubungan dengan pihak Toa Ciok Si."

"Kalau begitu, Lima Setan Swat Ling San bukan orang Tionggoan, tapi Tan Cun Goan itu justru orang Tionggoan, Orang tua pendek itu pun kelihatan orang Tionggoan pula, Kok bisa begitu?" Bee Kun Bu tidak habis berpikir "Dapatkah Saudara Kim menjelaskannya?"

Tan Cun Goan memang orang Han, sedangkan orang tua pendek itu adalah orang Miau, Mereka berlima hanya Tan Cun Goan yang orang Han, sedangkan yang lain orang Miau."

"Kenapa Tan Cun Goan boleh berguru di Swat Ling San?" tanya Bee Kun Bu.

itu karena aliran tersebut punya satu peraturan, yakni harus ada orang Han." Gin Tie Suseng memberitahukan.

"Saudara Kim mengatakan orang tua pendek itu adalah orang Miau, kenapa dia berdandan seperti orang Han?" tanya Bee Kun Bu Iagi.

"Sebab aliran Swat San masih menjalankan adat orang Han, maka mereka juga mengenakan pakaian orang Han," jawab Gin Tie Suseng dan menjelaskan "Mereka berlima disebut Lima Setan Swat Ling San, namun sesungguhnya mereka masih punya julukan lain."

"Oh?" Bee Kun Bu terbelalak "Apa julukan mereka berlima?" "Julukan mereka adalah Siang Sat (Sepasang Algojo), Siang Tok (Sepasang Racun) dan It Khek (Satu Tamu). Siang Sat adalah saudara tertua dan kedua, mereka berdua dipanggil Lam Thian It Sat-Cong Cin dan Ciak Bin Sat Sin. It Khek adalah Tan Cun Goan, Siang Tok adalah adik perempuan seperguruan Kiu Tok Ciu (Tangan sembilan Racun) Liu Bwee dan orang tua pendek itu adalah Ling Coa Hong Tok (Ular Beracun) Oey Hue." Gin Tie Suseng menambahkan "Lima Setan itu berhati jahat dan kejam.

Sepuluh tahun yang !ampau, hanya karena urusan kecil, mereka berlima membantai sebuah kampung suku Miau yang berjumlah seribu orang lebih, anak kecil dan bayi pun dibantai habis, Nanun Tan Cun Goat tidak ikut membantai orang-orang Miau itu, maka ia memperoleh julukan It Khek (Satu Tamu), sedangkan yang lain memperoleh julukan Siang Sat dan Siang Tok-"

"Sungguh kejam mereka!" Bee Kun Bu menggeleng- gelengkan kepala, "Mereka harus dibasmi. "

Ucapan Bee Kun Bu terputus, ternyata diputuskan oleh suara tawa yang sangat nyaring. Tak lama melayang turun seseorang wanita yang berparas cantik, tapi penuh mengandung hawa sesat "

*****

Bab ke 11 - Muncul Lawan Tangguh

Wanita cantik itu berdiri di hadapan Gin Tie Suseng, lalu menudingnya seraya berkata.

"Aku kira siapa, tidak tahunya Gin Tie Suseng dari gunung Tay Pah San! Aku pernah bertemu denganmu beberapa kali, namun engkau justru menceritakan tentang kami, kok engkau begitu banyak mulut?"

Ketika wanita itu menuding, justru telah melancarkan semacam ilmu ke arah Gin Tie Suseng.

Begitu melihat wanita itu menuding, Gin Tie Suseng pun segera melompat ke belakang dengan air muka berubah, Walau ia bergerak begitu cepat, bahunya masih terkena serangan itu, sehingga merasa ngilu di bahunya.

"Kiu Tok Ciu!" bentak Gin Tie Suseng, "Engkau sungguh kejam, datang-datang sudah melancarkan serangan gelap yang ganas!"

Ternyata wanita itu adalah Kiu Tok Ciu-Liu Bwee, Ketika melihat Gin Tie Suseng begitu gusar, ia pun tertawa cekikikan

"Sesungguhnya.,." ujarnya Kiu Tok Ciu-Liu Bwee genit "....

Tay Pah San dan Swat Ling San masih punya sedikit hubungan, kenapa engkau tidak mau mendekati-ku?"

Usai berkata begitu, mendadak Kiu Tok Ciu menggerakkan jari telunjuknya itu adalah serangan mendadak, Namun tjin Tie Suseng sudah siap, ia membentak keras sambil mengayunkan suting peraknya untuk menangkis serangan itu.

sementara Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui cuma menonton, mereka berdua tahu, tangkisan itu merupakan jurus yang mematikan

Akan tetapi, Kiu Tok Ciu tidak merasa takut atau gentar, sebaliknya malah tertawa nyaring seraya berkata.

"Baiklah! Mari kita berduel!"

Kiu Tok Ciu segera melancarkan serangan yang bertubi- tubi, itu sungguh mengejutkan Gin Tie Suseng, Setelah berkelit ke sana ke mari, ia pun mulai menyerang dengan jurus-jurus andalannya.

serangannya itu dapat dihindari oleh Kiu Tok Ciu dengan mudah, bahkan langsung balas menyerang.

"Sungguh hebat kepandaian Kiu Tok Ciu ini," ujar Gin Tie Suseng dalam hati. "Aku harus bertarung dengan hati-hati, kalau tidak, sulit bagiku untuk meloloskan diri." Oleh karena itu, Gin Tie Suseng segera mengeluarkan jurus Sih Ku le Kih (Burung Merpati Memindahkan Ranting). "Hi hi!" Kiu Tok Ciu tertawa cekikikan "Cukup lumayan kepandaianmu!"

Kiu Tok Ciu meloncat ke samping, setelah itu secara tiba- tiba ia memutarkan badannya, dan sekaligus menyerang Gin Tie Suseng dengan pukulan tangan kosong.

"Celaka!" seru Bee Kun Bu yang menyaksikan serangan itu, Pemuda itu tahu bahwa Gin Tie Suseng tidak mampu menyambut serangan yang dilancarkan Kiu Tok Ciu, maka tanpa banyak pikir lagi ia segera melesat ke arah Gin Tie Suseng seraya berkata, "Saudara Kim, aku membantumu!"

Ketika mendengar seruan Bee Kun Bu, Kiu Tok Ciu pun langsung menyerangnya, Bee Kun Bu segera mengibaskan tangannya, seketika juga Kiu Tok Ciu terpental lima langkah.

"Eeeeh?" Kiu Tok Ciu terkejut bukan main, ia menatap Bee Kun Bu dengan mata terbelalak, tapi kemudian malah tertawa cekikikan "Hi hi hi! Engkau amat tampan dan masih muda, lebih baik engkau segera meninggalkan tempat ini! jangan ikut mereka, itu amat membahayakan dirimu! Kakak merasa kasihan padamu, tapi kalau engkau tidak mau dengar nasihatku, masih bikin kacau di sini, kakak pasti menangkapmu dan membawamu ke Siang Ciang Koan untuk jadi pelayanku."

"Diam!" bentak Bee Kun Bu gusar, lalu menyerang Kiu Tok Ciu dengan tangan kosong.

KiuTokeiu terkejut, ia tidak menyangka bahwa Bee Kun Bu memiliki kepandaian yang begitu tinggi, tidak heran ia tertegun.

"Ei! Bolehkah aku tahu namamu? Kenapa engkau begitu garang?" tanya Kiu Tok Ciu sambil berkelit

"Aku adalah Bee Kun Bu, maka hari ini aku harus memberi pelajaran padamu!" sahut Bee Kun Bu dan menyerang Kiu Tok Ciu lagi. "Oooh!" Kiu Tok Ciu tertawa merdu, "Ternyata engkau adalah Bee Kun Bu, sungguh beruntung kita bertemu di sini! pukulanmu cukup lumayan, kakak akan melayanimu beberapa jurus!"

Kiu Tok Ciu berkelip namun kali ini ia justru batas menyerang dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah jalan darah di pergelangan tangan Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu membentak keras, ia melesat ke atas, kemudian menukik ke bawah sambit melancarkan serangannya pada Kiu Tok Ciu.

Begitu melihat serangan itu, Kiu Tok Ciu pun membentak nyaring, lalu menjulurkan sepasang tangannya menyambut serangan Bee Kun Bu.

Blamm! Terdengar suara benturan keras.

Bee Kun Bu dan Kiu Tok Ciu sama-sama terpental sehingga mereka jatuh duduk, namun Bee Kun Bu segera bangkit berdiri sebaliknya Kiu Tok Ciu masih duduk di tempat, berselang beberapa saat, barulah wanita itu mampu bangkit berdiri.

Kiu Tok Ciu menatap Bee Kun Bu dalam-dalam, dalam hati ia amat kagum pada Bee Kun Bu, tapi juga merasa penasaran, Oleh karena itu, ia pun mulai menyerang Bee Kun Bu lagi.

Bee Kun Bu menyambut serangan itu dengan ilmu pukulan yang terdapat di kitab Kui Goan Pit Cek, tentunya hebat bukan main.

"Sungguh hebat anak muda itu!" ujar Kiu Tok Ciu dalam hali, "Kalau aku kalah di tangannya, tentunya amat memalukan! Lebih baik aku menghindari

Kiu Tok Ciu langsung meloncat menghindar, akan tetapi, Bee Kun Bu justru bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Kiu Tok Ciu. Begitu cepat sehingga Kiu Tok Ciu tidak mampu berkelit, tahu-tahu pergelangan tangannya telah dicengkeram Bee Kun Bu.

Setelah berhasil mencengkeram pergelangan tangan Kiu Tok Ciu, namun Bee Kun Bu pun segera melepaskan tangannya, sekaligus mendorongnya.

Wanita itu terdorong mundur beberapa langkah, tidak melakukan serangan lagi, sebaliknya malah tertawa merdu.

"Bee Kun Bu, engkau memang berkepandaian tinggi, pertarungan kita cukup sampai di sini. Kalau engkau tertarik, engkau boleh ke Siang Cing Koan mencariku Sampai jumpa!"

Kiu Tok Ciu melesat pergi, tapi Bec Kun Bu segera membentak dan sekaligus mengejarnya.

"Mau kabur ke mana Kiu Tok Ciu?"

Kiu Tok Ciu Liu Bwee tidak menyangka Bee Kun Bu tidak terkesan baik padanya, Ketika melihat Bee Kun Bu mengejarnya, wajahnya langsung berubah, namun wanita itu tidak gugup dan segera melesat ke pohon siong.

Bee Kun Bu sama sekali tidak menduga bahwa Kiu Tok Ciu akan meloncat ke pohon siong, otomatis membuatnya tidak bisa mengembangkan ginkangnya.

"Kiu Tok Ciu, meskipun engkau kabur ke ujung langit, aku pasti menangkapmu juga!" seru Bee Kun Bu di bawah pohon siong itu.

"Hi hi hi!" Kiu Tok Ciu Liu Bwee tertawa cekikikan "Adik kecil, engkau ingin menangkapku? Rasanya tidak begitu gampang!"

Suara tawa yang cekikikan itu membuat Bee Kun Bu kesal, dan merasa dirinya terhina oleh wanita itu, Men-dadak ia membentak keras sekaligus mengerahkan ginkangnya meloncat ke pohon siong itu. Kiu Tok Ciu Liu Bwee sudah siap, begitu melihat Bee Kun Bu meloncat, ia pun segera mematahkan beberapa batang ranting pohon siong, lalu meloncat ke pohon siong lain.

Di pohon siong itu, ia mematahkan beberapa batang ranting lagi, Semua ranting itu tidak dibuang, melainkan dikepit di bawah ketiaknya, sepasang matanya justru terus memandang Bee Kun Bu yang di pohon siong lain.

Bee Kun Bu pun merasa heran menyaksikannya, Sebelum Bee Kun Bu meloncat ke pohon siong itu, Kiu Tok Ciu sudah meloncat ke pohon siong lain lagi, itu membuat Bee Kun Bu salah pengertian, menduga Kiu Tok Ciu Liu Bwee mengajaknya mengadu ilmu ginkang, Seketika juga Bee Kun Bu tertawa dingin, dan langsung meloncat ke arah pohon siong di mana Kiu Tok Ciu berdiri di silu sambil tersenyum- senyum.

Kiu Tokeiu Liu Bwee pun segera meloncat ke pohon siong lain, begitulah mereka main loncat-loncatan di atas pohon siong ke pohon siong lain.

"Adik kecil!" Kiu Tok Ciu tertawa nyaring. "Pereuma kita loncat-Ioncat di atas pohon, lebih baik turun untuk bertarung lagi!"

"Baik," sahut Bee Kun Bu.

"Kalau begitu, Kakak akan meloncat turun!" seru Kiu Tok Ciu Liu Bwee, kemudian meloncat ke bawah.

Bee Kun Bu sudah tahu bahwa Kiu Tok Ciu banyak akal, maka ia memperhatikan tempat Kiu Tok Ciu meloncat turun, barulah ia melompat ke situ.

Ketika melihat Bee Kun Bu melompat turun, Kiu Tok Ciu segera menancap sebatang ranting pohon, lalu meloncat ke tempat lain sambil menyambit Bee Kun Bu dengan ranting pohon siong pula. Bee Kun Bu terkejut, ia tidak menyangka Kiu Tok Ciu akan menggunakan ranting pohon itu sebagai senjata rahasia, dan segera berkelit

pada saat Bee Kun Bu berkelit, Kiu Tok Ciu pun bergerak cepat menancapkan semua ranting pohon siong ke tanah, Bee Kun Bu berdiri terheran-heran di tempat, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dilakukan Kiu Tok Ciu Liu Bwee.

sementara Pek Yun Hui yang terus mengamati mereka, mendadak keningnya berkerut dan segera berseri

"Kun Bu, jangan masuk ke dalam ranting-ranting itu!"

Namun terlambat, ternyata Bee Kun Bu sudah meloncat ke situ, Begitu sepasang kakinya menginjak bumi, seketika juga ia terbelalak karena tempat itu telah berubah jadi rimba belantara, sedangkan Kiu Tok Ciu Liu Bwee menghilang entah ke mana.

Bee Kun Bu berdiri terbengong-bengong di situ, merasa dirinya berada di dalam rimba belantara yang amat sepi, Saat ini ia baru sadar, bahwa dirinya telah terkurung di dalam formasi aneh ini.

"Adik yang baik, engkau tunggu saja di situ!" Ter-dengar suara Kiu Tok Ciu Liu Bwee, "Nanti malam aku akan ke mari menengokmu."

sedangkan Pek Yun Hui tampak gugup ketika melihat Bee Kun Bu meloncat ke dalam formasi itu, namun sudah tidak keburu mencegahnya, ia cepat-cepat mendekati Kiu Tok Ciu Liu Bwee, dan mendadak memukulnya dengan pukulan jarak jauh.

Kiu Tok Ciu memang berotak cerdas, ternyata itu telah dalam perhitungannya, maka ia menggunakan tenaga pukulan yang dilancarkan Pek Yun Hui untuk meloncat ke belakang, kemudian melesat ke dalam rimba.

Pek Yun Hui tidak menyangka itu, dan tidak mengejar Kiu Tok Ciu, sebab wanita itu telah hilang di dalam rimba, ia amat mengkhawatirkan Bee Kun Bu yang terkurung di dalam formasi itu, dan memperhatikan formasi itu dengan cermat

Namun ada satu hal di luar dugaan, yaitu ketika Bee Kun Bu meloncat ke dalam formasi itu, Gin Tie Suseng pun mendengar suara seruan Pek Yun Hui. Oleh karena itu, ia pun langsung meloncat ke dalam formasi itu dengan maksud ingin menarik Bee Kun Bu keluar

Akan tetapi, setelah berada di dalam formasi itu, Gin Tie Suseng pun terbelalak, karena tidak melihat Bee Kun Bu, yang tampak di situ adalah rimba belantara, ia segera mengayunkan kakinya, maksudnya ingin mencari Bee Kun Bu. Tapi ia malah terus-menerus berputar-putar di tempat lain, tidak melihat Bee Kun Bu dan tidak melihat jalan ke luar.

sementara Pek Yun Hui yang berada di luar formasi itu, justru dapat melihat Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng, mereka berdua tampak kebingungan, bahkan juga berlari ke sana ke mari

perlu diketahui, sejak kecil Pek Yun Hui sudah mempelajari unsur Ngo Heng, Kiu Kiong dan Pat Kwa, setelah memperhatikan formasi itu, iapun amat kagum pada Kiu Tok Ciu Liu Bwee.

"Hanya dengan ranting pohon siong, Kiu Tok Ciu mampu membentuk formasi ini, dia memang luar biasa!" gumam Pek Yun Hui, "Kalau aku menghancurkan formasi ini dengan pukulan, otomatis akan melukai orang yang terkurung di dalamnya."

Pek Yun Hui terus memperhatikan formasi tersebut sambil berjalan mengelilingi formasi itu, Saat ini ia melihat Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng tampak panik sekali, pakaian mereka pun telah basah oleh keringat

Pek Yun Hui tahu, kalau ia tidak segera turun tangan menolong mereka, tak seberapa lama mereka pasti celaka. Oleh karena itu, ia cepat-cepat melangkah berdasarkan unsur Ngo Heng, Kui Kiong dan Pat Kwa, lalu membentak sambil mendorongkan sepasang tangannya ke depan.

"Naik!"

Bee Kun Bu dan Gin Tie Suseng yang berada di dalam formasi, tiba-tiba merasa ada segulung tenaga yang amat kuat mengangkat mereka, Karena sudah mendengar suara bentakan Pek Yun Hui, mereka berdua pun tidak berani melawan tenaga itu, membiarkan badan mereka terangkat ke atas.

Pada waktu bersamaan, mereka pun merasa badan mereka terdorong oleh suatu tenaga yang sangat dahsyat, badan mereka terpental dan kemudian jatuh duduk di tanah.

Pek Yun Hui menarik nafas lega ketika melihat mereka sudah keluar dari formasi itu.

"Sungguh jahat Kiu Tok Ciu, dia berani mengu-rungku dengan formasi setan itu! Aku bersumpah akan memusnahkan markas mereka!" ujar Bee Kun Bu dengan penuh kegusaran

"Lima Setan Swat Ling San memang lihay, bahkan mengerti berbagai macam formasi, Kalau tidak ada Nona Pek menolong kita, mungkin kita sudah celaka di dalam formasi itu," sahut Gin Tie Suseng.

"ltu adalah formasi yang mengelabui pandangan dan menyesatkan pikiran," ujar Pek Yun Hui sambil tersenyum dan menambahkan "Formasi itu berdasarkan unsur Ngo Heng, Kui Kiong dan Pat Kwa, kalian akan terus berlari-lari di dalamnya, akhirnya akan mati kehabisan nafas."

"Nona Pek, formasi itu harus dihancurkan agar tidak mencelakai orang lain." ujar Gin Tie Suseng mengusulkan

"Baik." Pek Yun Hui mengangguk "Saudara Kim boleh segera turun tangan menghancurkan formasi itu." Bee Kun Bu melihat wajah Pek Yun Hui agak serius, maka ia pun tahu bahwa tidak begitu gampang menghancurkan formasi itu. Biar Gin Tie Suseng mencoba menghancurkannya, kalau dia tidak mampu, barulah aku turun tangan membantunya. Ujar Bee Kun Bu dalam hati. 

Gin Tie Suseng sama sekali tidak mengerti tentang ilmu Ngo Heng, Kiu Tok Ciu dan Pat Kwa, maka ia langsung menghantam formasi itu dengan su!ing peraknya sekuat tenaga.

Namun sungguh mengherankan, walaupun Gin Tie Suseng menghantam sekuat tenaga dengan suling perak-nya, puluhan batang ranting pohon siong itu sama sekali tidak rusak, masih tetap di tempat.

Gin Tie Suseng terheran-heran, sedangkan Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui cuma melihatnya saja. itu membuat Gin Tie Suseng jadi malu, sehingga timbul pula ke-gusarannya terhadap ranting-ranting pohon siong itu.

ia menghimpun tenaga dalamnya, lalu membentak keras sambil memukul ke arah ranting-ranting pohon siong itu. Akan tetapi, ranting-ranting pohon siong itu masih tetap berdiri tegak di situ.

"Saudara Kim!" ujar Bee Kun Bu sambil tertawa. "Formasi itu sangat aneh, jangan membuang tenaga

secara sia-sia! Biar aku coba apakah dapat menghancurkan

formasi itu."

Gin Tie Suseng segera mundur dengan nafas memburu, ternyata ia telah banyak menghamburkan tenaganya.

Bee Kun Bu mendekati lalu memandang formasi itu dengan penuh perhatian Tadi Gin Tie Suseng telah menghantamnya sekuat tenaga, tapi tiada hasilnya, maka Bee Kun Bu tidak mau sembarangan memukul formasi tersebut, ia yakin pasti ada cara lain untuk menghancurkannya. Lama sekali Bee Kun Bu memperhatikan formasi itu, kemudian ia duduk bersila di depannya, Setelah itu ia memukul sebatang ranting pohon siong itu dengan pukulan jarak jauh. Betapa dahsyatnya pukulan Bee Kun Bu, tapi ranting pohon siong itu sama sekali tidak ber-geming, itu sungguh mengherankan dan membuat Bee Kun Bu tidak habis berpikir Padahal pukulannya itu dapat menghancurkan batu.

"Kakak Pek!" Bee Kun Bu menggeleng-gclengkan kepala, "Aku dan Saudara Kim tidak mampu menghancurkan formasi ini, harap Kakak yang turun tangan menghancurkannya!"

"Kun Bu!" Pek Yun Hui tersenyum, ia menunjuk ranting pohon siong yang ke sebelas itu. "Coba!ah merobohkan ranting itu!"

Bee Kun Bu segera mengarah pada ranting tersebut, lalu melancarkan pukulan jarak jauh pada ranting itu.

Braak! Ranting itu terpukul hancur

"Nah!" Pek Yun Hui tertawa kecil "Kini engkau boleh memukul ranting yang lain!"

Bee Kun Bu menurut, lalu segera melancarkan pukulan jarak jauh ke arahranling-raniing itu, seketika juga semua ranting itu terpukul hancur beterbangan kemana-mana.

"Yang menyebabkan keanehan formasi itu adalah ranting yang ke sebelas," ujar Pek Yun Hui menjelaskan. "Setelah ranting ke sebelas itu dihancurkan, maka formasi itu pun tidak dapat berfungsi lagi."

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut.

"Aku ke mari justru ingin menyelidiki keadaan Swat Ling San ini, tapi tidak menduga akan adanya formasi-formasi aneh, maka kalau tidak didampingi Nona Pek, mungkin aku sudah celaka di dalam formasi aneh itu," ujar Gin Tie Suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kini Lima Setan Swat Ling San sudah tahu akan kehadiran kita, jadi kita tidak boleh lama-lama di sini, harus segera melanjutkan perjalanan," sambung Bee Kun Bu.

"Lima Setan Swat Ling San memang berkepandaian tinggi, namun sejak dahulu kala hingga kini, kesesatan tidak bisa memenangkan kebenaran," ujar Pek Yun Hui. "Mereka sudah tahu kehadiran kita di Swat Ling San ini, lagi pula kita pun telah membulatkan tekad untuk masuk ke dalam, Nah, alangkah baiknya kita cari tempat yang tenang, agar Saudara Kim bisa menjelaskan tentang Lima Setan itu, jadi kita pun bisa bersiap-siap untuk masuk ke dalam."

"Sebetulnya tadi aku ingin menjelaskan tentang me-reka, tapi terganggu oleh kemunculan Kiu Tok Ciu, Baiklah! Kita cari tempat tenang untuk beristirahat dan aku pun akan menjelaskan tentang mereka."

Mereka mulai berjalan ke dalam, Pek Yun Hui memandang jauh ke depan, tampak sebuah gunung yang amat tinggi, dan puncaknya tertutup oleh awan.

"Mungkin itu adalah puncak gunung Swat Ling San," ujar Pek Yun Hui.

"Benar," sahut Gin Tie Suseng. "Namun markas aliran Swat Ling San justru tidak berada di puncak itu. Kata orang, hingga kini tiada seorang pun yang mampu mendaki sampai ke puncak gunung itu!"

"Kalau begitu, markas aliran Swat Ling San berada di mana?" tanya Bee Kun 6u mendadak.

"Berada sepuluh mil dari puncak gunung itu." Gin Tie Suseng memberitahukan.

"Oooh!" Bee Kun Bu manggut-manggut sambil menunjuk ke depan yang penuh batu. "Mari kita duduk beristirahat sejenak di tempat itu! Kita duduk di atas batu besar agar bisa melihat ke empat penjuru, kalau ada orang datang, kita pun dapat melihatnya." "BetuI." Pek Yun Hui mengangguk "Mari kita ke sana!"

Mereka bertiga menuju tempat itu, kemudian duduk di sebuah batu besar. Setetah duduk di atas sebuah batu besar, mereka pun dapat melihat ke sekeliling dengan jelas sekali.

"Udara Swat Ling San ini sangat dingin, Kita belum sampai di puncaknya sudah merasa dingin, apalagi sampai di sana," ujar Gin Tie Suseng.

"Oh ya!" Bee Kun Bu teringat sesuatu, "Saudara Kim, jelaskan lagi tentang Lima Setan Swat Ling San itu!"

"Ketua aliran Swat Ling San adalah Lam Thian It Sat-Cong Cin, namun yang berhak penuh justru Kiu Tok Ciu-Liu Bwee," ujar Gin Tie Suseng memberitahukan "ltu karena mengandung suatu rahasia,"

"Rahasia apa?" tanya Bee Kun Bu heran, "Kenapa wanita itu yang berhak penuh?"

"Lima Setan Swat Ling San, hanya satu orang Han bernama Tan Cun Goan, dia nomor tiga dan dipanggil Tamu Baju Hijau, yang lain semuanya adalah orang Miau, yang masih agak primitif."

"Kami pernah bertemu Tan Cun Goan. Dia kelihatan bukan orang sesat, kenapa bisa masuk ke perguruan Swat Ling San?" tanya Bee Kun Bu.

"Sesungguhnya, aliran Swat Ling San sering memasuki daerah Tionggoan itu, bukan karena ingin menuntut batas pada partai Bu Tong, melainkan mencari anak yang berbakat untuk dijadikan murid," ujar Gin Tie Suseng. "Pada waktu itu, di Swat Ling San sudah ada dua murid suku Miau yang sangat berbakat, Kedua murid itu adalah Lam Thian It Sat-Cong Cin dan Ciak Bin Sat Sin-Sang Yang.

SebuIan kemudian, di kaki gunung Swat Ling San muncul sepasang muda-mudi. Pemuda itu adalah Tan Cun Goan, sedangkan pemudi itu adakah Kiu Tok Ciu-Liu Bwee, Mereka tidak mirip sepasang kekasih, juga tidak mirip kakak beradik, Kemunculan mereka sangat mengejutkan, maka tak lama muncullah Lam Thian It Sat dan Ciak Bin Sat Sin. Mereka berdua bertarung dengan muda-mudi itu, namun tidak mampu mengalahkan mereka, Oleh karena itu, ketua Swat Ling San masa itu segera turun tangan, barulah dapat menundukkan Tan Cun Goan dan Liu Bwee, akhirnya berguru pada ketua Swat Ling San."

"Kalau begitu, kenapa Kiu Tok Ciu-Liu Bwee yang lebih berhak dari pada semua saudara seperguruannya?" tanya Bee Kun Bu heran.

"Ternyata Tan Cun Goan adalah murid seorang aneh di seberang laut. Ketika mulai berkelana, ia bertemu Liu Bwee, gadis suku Miau itu sangat canlik. Tidak heran Tan Cun Goan tertarik padanya, Namun sungguh di luar dugaan, Liu Bwee juga memiliki kepandaian tinggi, maka mereka bertanding dan tiada yang kalah maupun menang, Setelah itu Liu Bwee mengusulkan ke suatu tempat sepi untuk mengadu tenaga dalam tanpa sengaja mereka berdua memasuki Swat Ling San, dan akhirnya malah berguru pada ketua Swat Ling San."

"Pantas ilmu silat Tan Cun Goan beraneka ragam, ternyata sebelumnya dia sudah punya guru lain!" ujar Bee Kun Bu. "Kernudian bagaimana?"

"Setelah menerima empat murid ilu, ketua Swat Ling San girang bukan main, ia pun membimbing keempat muridnya dengan sepenuh hati, tidak mau bertemu siapa pun, sebab ia cuma mencurahkan perhatiannya pada ke empat muridnya itu. justru sungguh di luar dugaan, telah terjadi sesuatu, karena ketua itu menerima seorang murid baru lagi, yaitu Ling Goa Hong Tok-Oey Hue."

"Itu memang aneh!" Bee Kun Bu tertawa. "Tentunya masih ada hal-hal yang di luar dugaan kan?"

"Dugaan Saudara Bee memang tidak salah." Gin Tie Suseng tersenyum. "Saudara Bee berotak cerdas, aku kagum padamu." "Aku cuma sembarangan menduga." sahut Bee Kun Bu merendah. "Maka alangkah baiknya Saudara Kim melanjutkan."

"Padahal waktu itu, ketua Swat Ling San telah menutup diri, tujuannya cuma ingin membimbing ke empat muridnya ilu, Tapi tiga bulan kemudian, muncul seorang pemuda suku Miauw, Pemuda itu terus berlutut di Siang Cing Koan (Tempat Aliran Swat Ling San Bersem-bahyangan), tiga hari tiga malam pemuda itu terus berlutut di situ, Oleh karena itu, ketua Swat Ling San menyuruh Kiu Tok Ciu-Liu Bwee keluar menemui pemuda ilu. Ternyata pemuda itu ingin berguru pada ketua Swat Ling San, kalau tidak diterima, dia akan terus berlutut di situ."

Ketika mendengar sampai di situ, Pek Yun Hui memandang Bee Kun Bu sambil tersenyum Bee Kun Bu tereengang, ia tidak tahu kenapa Pek Yun Hui memandangnya sambil tersenyum

"Karena hati pemuda itu begitu keras dan teguh, apakah akhirnya ketua Swat Ling San menerimanya?" tanya Bee Kun Bu pada Gin Tie Suseng.

"Kalau begitu sederhana, aku pun tidak akan men- ceritakannya," sahut Gin Tie Suseng, "Ketua Swat Ling San sama sekali tidak tergerak hatinya, malah menyuruh Kiu Tok Ciu-Liu Bwee mengusirnya. Kalau pemuda Miau itu tidak mau menurut, haruslah menggunakan kekerasan Demikian pesan ketua Swat Ling San pada Kiu Tok Ciu-Liu Bwee. Akan tetapi, Kiu Tok Ciu-Liu Bwee malah belum kembali walau sudah dua jam, oleh karena itu, ketua Swat Ling San pun menyuruh Tan Cun Goan, Lam Thian It Sat dan Ciak Bin Sat Sin pergi me nyusul nya. Tapi mereka bertiga pun tidak segera kembali, sehingga ketua Swat Ling San terpaksa keluar, akhirnya menerima pemuda Miau itu juga."

"Kenapa bisa jadi begitu?" tanya Bee Kun Bu. "Ternyata ke empat muridnya juga ikut berlutut di Siang Cing Koan, agar guru mereka menerima pemuda Miau itu," sahut Gin Tie Suseng.

"Pemuda Miau itu tidak punya hubungan dengan ke empat murid ketua Swat Ling San, cara bagaimana dia membuat ke empat orang itu mau membantunya, agar ketua Swat Ling San bersedia menerimanya?" tanya Pek Yun Hui mendadak.

"Itu memang ada suatu sebab musababnya, akan dijelaskan nanti," jawab Gin Tie Suseng, "Ketika melihat ke empat muridnya juga ikut berlutut, itu sungguh diluar dugaan ketua Swat Ling San. Kemudian ketua Swat Ling San tertawa gelak, dan menerima pemuda Miau itu sebagai murid."

"Aku jadi bingung," ujar Bee Kun Bu tidak mengerti "Bolehkah Saudara Kim menjelaskan?"

Ternyata Ling Coa Hong Tok-Oey Hue dan Kiu Tok Ciu-Liu Bwee adalah teman sejak kecil." Gin Tie Suseng menjelaskan "Karena Kiu Tok Ciu-Liu Bwee hilang begitu lama, maka Oey Hue itu terus mencarinya, akhirnya dia mendapat kabar bahwa Kiu Tok Ciu-Liu Bwee berada di Gunung Swat Ling San, dia pun ke gunung tersebut"

Ternyata begitu!" Bee Kun Bu manggut-manggut dan bertanya, "Apakah masih terjadi hal-hal yang di luar dugaan?"

"Sejak Liu Bwee berada di Gunung Swat Ling San..." lanjut Gin Tie Suseng sambil tersenyum "Bukan cuma Tan Cun Goan yang jatuh hati padanya, bahkan Lam Thian It Sat dan Ciak Bin Sat Sin pun menaruh hati padanya, Oleh karena itu, ketika Kiu Tok Ciu-Liu Bwee berlutut di Siang Cing Koan, ke tiga kakak seperguruannya juga ikut berlutut, bermohon pada ketua Swat Ling San agar menerima Oey Hue sebagai murid."

"Mereka bertiga saling merebut hati Kiu Tok Ciu-Liu Bwee, lalu bagaimana Liu Bwee itu? Dia memilih siapa?" tanya Bee Kun Bu sambil tersenyum "Perlu diketahui, sebelum berguru pada ketua Swat Ling San, Oey Hue sudah mengerti berbagai macam racun," ujar Gin Tie Suseng.

"Kalau begitu, dia pasti memiliki kepandaian yang beracun?" tanya Bee Kun.

"Benar." Gin Tie Suseng mengangguk "Kini dia adalah pakar racun. Setelah ketua Swat Ling San meninggal, maka Swat Ling San pun jadi terkenal itu disebabkan kepandaian mereka berlima amat tinggi, sedangkan Kiu Tok Ciu-Liu Bwee ahli dalam hal formasi, Ling Coa Hong Tok pakar racun dan hatinya pun amat kejam, dia bisa tertawa sambil membunuh orang, Oleh karena itu, Swat Ling San pun jadi terkenal sampai di luar perbatasan, bahkan juga sampai ke seberang laut."

Ketika Bee Kun Bu baru mau membuka mulut bertanya, tiba-tiba Gin Tie Suseng berseru.

"Saudara Bee, hati-hati!"

Tanpa ayal lagi Bee Kun Bu langsung meloncat ke atas dan pada waktu bersamaan, menyambar datang suatu benda ke arah batu besar itu. Begitu jatuh ke bawah, benda itu pun mengepulkan asap dan mengeluarkan bau busuk yang amat menusuk hidung.

Di saat itu pula, terdengar suara tawa ringan, tak lama muncullah seseorang dari balik batu yang lain.

Bee Kun Bu memandang orang itu, sepasang matanya tampak terbelalak ternyata ia heran akan pakaian orang itu yang warna-warnL Usianya dua puluh lebih, namun suara tawanya justru bernada tua.

"Ha ha ha!" Orang itu masih tertawa sambil memandang Gin Tie Suseng, "Ceh Yun Si di Tay Pah San dan Swat Ling San ingin bahu-membahu, tidak tahunya murid Kuang Ti Taysu malah membocorkan rahasia pribadi pihak Swat Ling San, itu sungguh di luar dugaan! Aku memang pakar racun, bagaimana kalau kita bertanding dalam hal racun?"

Gin Tie Suseng cuma tersenyum dingin, tidak menjawab malah memandang Pek Yun Hui dan Bee Kun seraya berkat a.

"Orang ini adalah Ling Coa Hong Tok-Oey Hue, sekujur badannya penuh racun dan mahir pula memerintah ular berbisa serta tawon berbisa, Hatinya sangat licik, harap kalian berdua berhati-hati terhadapnya!"

Meskipun Gin Tie Suseng tidak meladeninya, Ling Coa Hong Tok-Oey Hue masih tampak tersenyum-se-nyum.

"Saudara Kim begitu memuji diriku, aku sangat ber- terimakasih padamu!" ucap Ling Coa Hong Tok-Oey Hue, "Saudara Kim berkunjung ke mari, kami tidak menyambut sebagaimana mestinya, harap Saudara Kim memaafkan kami! Tapi,., Saudara Kim membocorkan rahasia pribadi kami, apakah itu demi menarik perhatian orang lain?"

"Lima Setan Swat Ling San memang sudah bernama busuk, bahkan kini menyuruh para iblis seberang laut bergabung untuk menimbulkan bencana di rimba persilatan Tionggoan!" sahut Gin Tie Suseng, "Nona ini adalah Pek Yun Hui yang telah mengalahkan Souw Peng Hai di Toan Hun Ya, pemuda itu adalah Bee Kun Bu! Kami ke mari justru ingin memusnahkan Siang Cing Koan di puncak gunung Swat Ling San, kebetulan Saudara Oey memunculkan diri! Mengingat kita pernah bertemu, maka aku pun menasihatimu agar kembali ke jalan yang benar!"