Bangau Sakti Jilid 18

 
Jilid 18

berhenti sejenak, lalu meneruskan:

"Sebetulnya aku sudah lama menyimpan pedangku, dan tidak sudi tahu menahu tentang perisliwa-peristiwa di kalangan Bu Lim, Sudah hampir dua puluh tahun aku bertapa di pegunungan Tiam Cong San, dan sudah lama aku tak ingin mencari nama lagi di kalangan Bu Lim, Jika kau sudi mencari kitab-kitab tersebut bersama-sama, setelah kita berhasil memper-olehnya, aku akan bakar kitab-kitab itu di hadapanmu, Dengan demikian kita dapat mencegah jago silat yang manapun memiliki lagi kitab-kitab itu."

Bee Kun Bu berpikir sebentar, lalu menjawab: "Aku pereaya akan kata-katamu. Tapi sayang, aku sebagai murid partai Kun Lun tak dapat membantu kau, Jika kau masih juga ingin mencarinya, kau dapat melakukan sen-diri. "

Sia Yun Hong tersenyum dan berkata lagi: "Aku melihat dengan kepala mata sendiri bahwa kau telah diusir oleh partai Kun Lun, kini kau tidak terikat lagi dengan partai itu. Di samping itu, bukankah aku telah menjelaskan maksudku untuk membakar kitab-kitab itu? jika kau masih juga menolak, aku terpaksa. " Dengan kesempatan itu ia meloncat maju dan menusuk Bee Kun Bu. Tusukan itu dilakukan dengan tiba-tiba dan secepat kilat, di luar dugaannya Bee Kun Bu. Namun Bee Kun Bu masih dapat menarik Lie Ceng Loan ke samping sambil mengegosi tusukan tersebut Lalu dengan jurus In Bu Kim Kong (Sinar terang memancar di awan) ia putar pedangnya melindungi Lie Ceng Loan sambil melindungi dirinya sendiri,

Tapi betapapun lihaynya ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam, Bee Kun Bu kalah tenaga daripada Sia Yun Hong.

Tang! Dua pedang beradu, dan terlepaslah pedangnya Bee Kun Bu dari cekalannyal Lalu Sia Yun Hong meloncat maju dan mencekal pergelangan tangannya Lie Ceng Loan, sedangkan pedang di tangan kanannya menusuk tiga kali beruntun ke dadanya Bee Kun Bu dengan jurus Sam Seng Tui Gwat atau "Tiga bintang mengejar bulan",

Dengan ilmu langkah ajaib Ngo Heng Bi Cong Pu, Bee Kun Bu berkelit diri dari ketiga totokan pedang itu, dan mengangkat tinju menjotos punggungnya Sia Yun Hong, Tapi Sia Yun Hong sudah siap, ia menyabet jotosannya Bee Kun Bu, lalu loncat ke samping sambil membetot Lie Ceng Loan,

Lie Ceng Loan telah tereekal tangannya, karena ia terperanjat ketika menyaksikan pedangnya Bee Kun Bu terlepas dari cekalannya, dan Sia Yun Hong yang lihay lebih lihay daripada mereka berdua telah berhasil mencekal pergelangan tangannya secepat kilat Lalu ia loncat ke samping sambil membetot Lie Ceng Loan,

Demikianlah pertarungan itu berlangsung dengan seru sekali tanpa ada orang yang terluka, karena maksudnya Sia Yun Hong hanya menangkap Lic Ong Loan untuk dijadikan sandera dan kemudian memaksa Bee Kun Bu.

"Lepaskan Sumoyku!" Bee Kun Bu mengancam.

Sia Yun Hong yang telah berkali-kali gagal menangkap Bee Kun Bu, sudah mulai mengagumi ilmu silatnya, dan ia pun tak berani melawan dengan acuh tak acuh lgi, ia mengumpulkan tenaga dalamnya, siap menyambut jotosannya Bee Kun Bu.

Betul saja Bee Kun Bu menjotos, Sia Yun Hong tidak mengegos, Dengan ilmu Lui Kang Kong Kie Hu Sin (ilmu tenaga dalam menjaga tubuh) ia menerima jotosan tersebut dengan bahunya, sambil terus memegang erat-erat pergelangan tangannya Lie Ceng Loan, Lalu ia meng-ancam: "Jika kau masih menyerang aku, aku terpaksa menotok jalan darah Sumoymu untuk melumpuhkan seluruh tubuhnya!"

"Hm," geram Bee Kun Bu dengan gusar "Mustahil seorang pemimpin partai silat yang terkenal berbuat demikian keji terhadap seorang perempuan yang masih muda dan Icmah, jika peristiwa ini aku umbarkan, di manakah kau dapat menaruh mukamu?"

Sia Yun Hong tertawa bergelak-gelak, dan men-jawab: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek besar sekali hubungannya dengan nasib partai-partai silat di kalangan Bu Lim. Soal muka dan sebagainya aku dapat kesam-pingkan." Sambil berkata- kata, ia mencekal makin keras pergelangan tangannya Lie Ceng Loan sehingga gadis itu meringis kesakitan Namun Lie Ceng Loan tidak menjerit ia menahan sakit sampai keringat membasahi pa-kaiannya,

Melihat penderitaan itu, Bee Kun Bu sangat pilu hatinya, ia mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya, siap melabrak Sia Yun Hong dengan nekad,

Sia Yun Hong telah menduga Lie Ceng Loan akan minta perto)ongannya Bee Kun Bu. ia tidak perhitungkan bahwa gadis itu rela berkorban untuk Bee Kun Bu itu, Makin keras ia mencekal, makin keras kepala si gadis menahan sakitnya. Sia Yun Hong hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga lagi untuk membikin remuk tulang di pergelangan tangan iiu: namun Lie Ceng Loan tetap bertahan

Tiba-tiba dengan suara yang lemah lembut, penuh dengan kerelaan hati, Lie Ceng Loan berkata kepada Bee Kun Bu: "Bu Koko, kau dapat berlalu dari sini seorang diri. Tojin ini lebih lihay daripadamu Kau tak dapat mengalahkan dia. Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek adalah miliknya Na Cici, kita tentu tak dapat membantu orang lain pergi mencari kitab-kitab tersebut Selama dua bulan ini, aku telah banyak berpikir... akan tetapi aku tak memperoleh kesempatan untuk memberitahukan Koko. "

Bee Kun Bu membentak untuk mencegah Lie Ceng Loan mengeluarkan isi hatinya, ia cabut pedangnya dan berkata dengan suara yang keras: "Jika kita harus mati, kita akan mati bersama-sama!" Lalu ia menyerang Sia Yun Hong.

Sia Yun Hong menangkis tusukan tersebut, dan melangkah mundur dua tindak untuk menusukkan ujung pedangnya di dadanya Lie Ceng Loan. ia mengancam: "Jika kau menyerang lagi, aku terpaksa menusuk mati Sumoymu!

Baru saja Bee Kun Bu ingin menyerang lagi, tetapi setelah mendengar ancaman itu, ia segera tarik kembali pedangnya, Tiba-tiba Lie Ceng Loan menjerit: "Bu Koko, jangan pereaya ancaman Tojin yang licik ini, sedikitpun aku tak takut mati. n

ia menyeka air matanya dengan tangan kirinya, lalu meneruskan: Tojin ini busuk sekali, jika dia yang memiliki kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan telah berlatih, dia pasti akan melakukan banyak perbuatan yang keji! Dia tahu bahwa Bu Koko akan melakukan apa saja untuk membela aku dan dia akan paksa Bu Koko membantu dia mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. "

"Siapa bilang aku menipu dia!" kata Sia Yun Hong dengan marah. Lalu ia tekan pedangnya sedikit sehingga menusuk pakaiannya dan juga tubuhnya Lie Ceng Loan sehingga keluar darah menodakan pakaiannya,

Totiang, jangan teruskan tusukanmu!" seru Bee Kun Bu. "Bu Koko!" kata Lie Ceng Loan, "Biasanya aku selalu turut

perkataan Koko, Kini aku mohon Koko turuti perkataanku!" Hancurlah hatinya Bee Kun Bu mendengar permintaan gadis itu, ia menjawab: "Sebutlah!"

"Tojin yang licik ini ingin mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek," kata Lie Ceng Loan, "Akan tetapi dia takut menjumpai Pek Cici dan Na Cici, Oleh karena itu dia hendak paksa kau membantu dia mencarinya, Jika kau menolak, dia akan mengancam membunuh aku. Jika dia menjumpai Pek Cici atau Na cici, dia akan mengancam membunuh mati Bu Koko, karena aku yakin bahwa Pek Cici, maupun Na Cici akan mengalah untuk menolong Bu Koko, Dengan tipu muslihatnya yang keji itu, dia akan memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

Harus kita ingat, Pek Cici sangat baik terhadap kita, Aku kira jika kita mati, dia akan bebas dari kekhawatirannya, Maka aku minta Bu Koko lekas-lekas berlalu dari tempat ini, dan jangan gubris ancamannya!" ia mengakhiri permintaannya dengan senyuman yang penuh dengan kasih sayang, lalu dengan wajah yang tenang ia menanti nasib-nya.

Meskipun Bee Kun Bu melihat bahwa Lie Ceng Loan tak takut mati dan rela berkorban untuk orang-orang yang dicintainya, namun ia tak tega menuruti kehendak nya. ia berdiri terpaku, ia tak berdaya!

kesempatan ini digunakan oleh Sia Yun Hong untuk mengancam lagi: "Aku sudah lama tidak membunuh orang, sekarang aku memperlihatkan kepadamu! Aku tidak pereaya bahwa Sumoymu tidak takut mati!"

Lalu ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk meremukkan tulang di pergelangan tangannya gadis itu. Tapi setelah melihat wajah yang tenang dari gadis itu, ia terperanjat Tiba-tiba ia melepaskan cengkeramannya, dan loncat mundur tiga langkah sambil berkata: "Hayo, kalian enyah dari sini! Aku Sia Yun Hong tak akan membunuh seorang yang masih muda! Lekas enyahlah!"

Bee Kun Bu loncat ke sampingnya Lie Ceng Loan, dan mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat seraya berkata: "Bu Totiang hari ini, aku Bee Kun Bu tak akan lupakan!"

Memang Sia Yun Hong sudah mulai lunak hatinya ketika mendengar kata-kata Lie Ceng Loan, dan ia sangat malu terhadap maksud dan perbuatannya ketika melihat wajah yang tenang dan tak takut mati dari Lie Ceng Loan,

Gadis itu mengawasi Sia Yun Hong sejenak, lalu menanyai "Ha! Kau tidak membunuh mati aku??.,., Totiang ternyata masih berperikemanusiaan!"

Kata-kata itu bagaikan pisau yang menusuk hatinya Sia Yun Hong, ia sangat malu, ia membalikkan tubuh dan lari pergi!

"Terima kasih atas pertolongan Totiang terhadap Bu Koko!" tersenyum Lie Ceng Loan,

Bee Kun Bu berkesempatan memandang gadis yang rela berkorban untuknya, Dalam pandangannya, gadis itu sederajat dengan seorang dewi, ia merasa malu akan perbuatannya yang lampau, yang membuat gadis itu menderita,

"Bu Koko," kata Lie Ceng Loan, "Suhu dan kedua Supek berlalu dengan berjalan perlahan-lahan, akan tetapi Totiang itu berlalu dengan berlari pesat sekali!"

Kata-kata itu membikin Bee Kun Bu berpikir akan nasibnya Liong Giok Pin, dan ia menyatakan pikirannya itu: "Loan Moi, aku sedang memikirkan akan nasibnya Liong Cici, Mari kita pergi cari dia!" Dengan kedua mata terbelalak, Lie Ceng Loan menanyai "Di manakah kita mencarinya?"

Bee Kun Bu tak dapat menjawabnya, ia menundukkan kepalanya berpikir Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, ia menghela napas sebelumnya berkata: "Betul, kemanakah aku harus pergi? Aku telah diusir keluar dari partai Kun Lun. Dunia ini meski besar dan luas aku tak melihat ruang yang dapat menempatkan diriku. M "Bu Koko," kala Lie Ceng Loan dengan nada menghibur "Liong Cici adalah seorang yang baik, Jika dia lelah mengetahui sebab musababnya, dia tak akan memper- salahkan kau. Ketika aku menderita sakit di pegunungan Kun Lun, Liong Cicilah yang merawati aku, Kita harus membalas budinya itu!"

Bee Kun Bu terharu mendengar penjelasan tersebut yang penuh dengan budi kasih,

ia berpikir "Jika Co Hiong tidak mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek di kamar Thian Kie Hu ketika aku sedang menderita sakit, aku tentu tak mengalami peris-tiwa-peristiwa yang mengakibatkan pengusiran aku keluar partai Bu kan kah Liong Giok Pin lari keluar karena tertarik oleh Co Hiong?" ia membanting kakinya menyatakan kegusaran nya terhadap manusia yang hina dan keji itu. Lalu ia menjadi reda kembali ketika berpikir bahwa Co Hiong telah jatuh ke dalam jurang membawa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan mungkin telah binasa. ia menggeleng-gelengkan kepalanya,

Kemudian di pegunungan yang sunyi senyap itu terdengar suara seruling yang memilukan hati sehingga membikin suasana menjadi makin suram dan seram,

Sejenak kemudian Bee Kun Bu berdiri tegak dan berseru: "Mengapa dia datang ke pegunungan ini?"

Lie Ceng Loanjuga menjadi heran mendengar seruan itu. ia ingin menanya, ketika dari jauh datang menghampiri seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam sambil meniup seruIing, wajahnya pucat pasi, Lie Ceng Loan pernah melihat wanita itu ketika Bee Kun Bu menderita sakit di dalam goa, dan iapun segera mengena!inya. Hanya di sebelah pipinya ada tanda bekas bacokan, Wanita itu adalah Giok Siu Sian Cu,

SeteIah tiba di hadapan Bee Kun Bu, wanita itu berhenti meniup seruIingnya, ia pandang Lie Ceng Loan, lalu memandang Bee Kun Bu. ia hanya tersenyum tidak menanya, Bee Kun Bu masih belum hilang kebingungannya.

Peristiwa-peristiwa yang lampau kembali lagi. ia tak dapat mengerti mengapa jago silat wanita yang terkenal sebagai iblis ini juga tetah jatuh hati kepada nya,

Melihat kedua orang tidak bicara, Lie Ceng Loan menghampiri Giok Siu Sian Cu dan berkata: "Cici, kita berjumpa lagi di sini."

Giok Siu Sian Cu menghela napas, lalu menjawab: "Loan Moi, kau dapat hidup, karena Bu Koko telah dapat dicari olehmu, dan kau tak akan menderita penyakit pikiran lagi!"

Tahun yang lalu, Lie Ceng Loan telah menderita sakit hebat di puncak Kim Teng Hong di pegunungan Kun Lun karena merindui Bee Kun Bu, dan Giok Siu Sian Cu pernah menerobos masuk ke daerah pegunungan Kun Lun untuk memenuhi janji mengadu silat melawan Hian Ceng Tojin,

Ucapan itu tidak menyinggung perasaannya Lie Ceng Loan. ia menjawab dengan wajan "Betu!, Bu Koko seorang yang baik, Apakah kau juga menyukai aku?"

pertanyaan itu membikin Bee Kun Bu terkejut Ketika itu matahari sudah terbenam, Angin meniup sepoi-sepoi, dan dalam suasana demikian, Lie Ceng Loan yang mengenakan pakaian putih nampaknya seperti satu bidadari

Giok Siu Sian Cu yang mengenakan pakaian serba hitam, sebaliknya menimbulkan kesan yang sedih,

Bee Kun Bu telah melihat bekas bacokan di pipinya wanita itu, ia ingat akan peristiwa wanita itu menolong jiwanya sehingga terluka,

"Hengtee, kau tentu merasa heran mengapa menjumpai aku di sini?" kata Giok Siu Sian Cu.

"Jika aku sampai saat ini masih hidup, aku tak lupa bahwa kaulah yang pernah menolongjiwaku," jawab Bee Kun Bu.

Tanpa pertolonganmu mungkin aku sudah dibunuh mati oleh Co Hiong!" Giok Siu Sian Cu tersenyum dan berkata: "Hengtee, kau jangan sebut-sebut peristiwa itu, tetapi mengapa kau tak dapat melupakan aku?"

pertanyaan itu membikin Bee Kun Bu tereengang, ia tak dapat berkata-kata, ia menundukkan kepalanya, seolah-olah seorang yang menerima salah,

"Sudahlah, jika kau tak dapat menjawabnya, Aku akan meniup sebuah lagu untuk kau," kata Giok Siu Sian Cu. Lalu ia meniup serulingnya, Lagu yang ia tiup adalah suatu lagu yang memilukan hati, Baru saja Bee Kun Bu mendengar nada seruling yang makin nyaring itu, ia menutupi kedua kupingnya dan berlari pergi. Lagu seruling itu adalah lagu yang Giok Siu Sian Cu pernah tiup untuknya ketika ia menderita luka parah dan berada di sampingnya wanita itu yang merawatinya dengan tekun, Maksud daripada wanita itu ialah untuk menimbulkan kembali perasaan kasih sayangnya Bee Kun Bu ter-hadapnya,

Giok Siu Sian Cu berhenti meniup, dan memanggil: "Hengtee! Jika kau tak sudi mendengar lagi, akupun berhenti meniupnya!"

peristiwa yang terjadi di hadapannya membikin Lie Ceng Loan bingung, ia yang hatinya sangat polos tak dapat melihat hubungan antara Bu Koko dan wanita itu. Ketika Bee Kun Bu lari, ia mengejar dan menangkapnya, Giok Siu Sian Cu merasa cemburu melihat kekasihnya di dalam pelukan Lie Ceng Loan. ia menjadi gelisah, tapi Lie Ceng Loan berkata dengan ramah: "Cici, rupanya Bu Koko tak tahan mendengar lagu yang sedih, Bukankah lebih baik jika Cici meniup lagu yang gembira?"

Kata-kala itu menginsyafkan Giok Siu Sian Cu akan kekeliruannya. ia merasa akan perbuatan maupun mak- sudnya, ia menghampiri dan mengusap-usap rambutnya.

Lie Ceng Loan seraya berkata: "Maaf! Karena aku masih bersedih hati, maka aku selalu meniup lagu-lagu yang sedih. Di kemudian hari, mungkin kau juga akan menaruh simpati terhadap orang-orang yang bersedih hatL,." Kata-kata tersebut masih tetap ditujukan kepada Bee Kun Bu yang masih membungkam terus,

"Hengtee," kata Giok Siu Sian Cu kepada Bee Kun Bu, "Lebih baik kau lupakan aku demi kepentinganmu sendiri!"

perkataan yang merupakan suatu teguran atau sindiran itu tak dapat diterima oleh Bee Kun Bu yang berbudi luhur Dengan gusar ia menjawab: "Siocia! Aku Bee Kun Bu tak akan melupakan budi luhur siapapun!"

Dengan senyuman yang menggiurkan Giok Siu Sian Cu berkata lagi: "Masih ingatkah kau lagu apa yang aku tiup ketika kau menderita luka parah dan dirawat oleh-ku?"

"Ketika itu aku masih separuh sadar, namun aku tak akan lupa lagu yang kau tiup untuk aku. justru mendengar lagu itu, aku merasa sedih kembali!"

"Ketika kau masih di dalam goa, aku telah pergi ke puncak Ngo Houw Leng dan menjumpai Hian Ceng Totiang, guru dan Lie Sumoy untuk minta pertolongan Pada ketika itu, aku tak mengetahui kau telah ditolong orang Iain. Aku kira kau telah tewas di dasar sungai setelah kau dilempar ke dalam sungai itu oleh Co Hiong. "

ia berhenti sejenak mengawasi sikapnya Lie Ceng Loan, lalu meneruskan: "Aku merasa girang kau ter-to)ong. Tapi jika aku ingat pada saat kau di dalam goa dengan pakaian berlumuran darah, aku sering-sering lerkenang akan. H ia

sukar mengakhiri ucapannya

"Cici," kata Lie Ceng Loan, "Aku sekarang ingat akan peristiwa ketika kau juga terluka, Kau duduk bersandar di suatu batu dengan pakaian berlumuran darah, Toa Supek menolong membebaskan jalan-jatan darahmu, dan kau pernah mengatakan bahwa pertolongan itu terlambat Tapi Bu Koko yang dilempar ke dalam sungai ternyata telah ditolong oleh Pek CicL Sayang aku tak berkesempatan memberitahukan hal ini kepadamu." "Loan Moi, sudahlah," mohon Bee Kun Bu, "Peris-tiwa lampau yang memilukan hati itu lebih baik jangan ditimbul- timbulkan kembali!"

"Betul," kata Giok Siu Sian Cu, Tapi peristiwa itu takkan terlupakan Seperti impian Ya, peristiwa itu seperti impian belaka! Aku tidak mengetahui kau ter-tolong, Setelah aku sembuh, aku kembali ke sungai itu dengan maksud mencari mayatmu agar aku dapat menguburnya dengan seksama, Tentu saja aku gagal mencari mayatmu. Kemudian aku mencari keterangan dan mengetahui kau telah dibawa ke pegunungan Koat Cong San untuk diobati Oleh karena itu aku datang ke sini, Tapi aku sekarang seolah-olah tidak diingini. "

Ucapan yang menusuk hatinya itu membikin Bee Kun Bu berpikir: "GiokSiu Sian Cu terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai seorang iblis wanita, Aku tak sangka diapun mempunyai perasaan yang halus, Aku sukar melepaskan diri dari jaringnya, Jika aku betindak salah, aku khawatir dia akan berdendam terhadapku Aku yakin aku tak dapat melawan." Lalu dengan sabar ia berkata: "Siocia, hari sudah ma!am. Kita harus lekas-lekas berlalu dari tempat ini. Aku mohon berpisah di sini!" Lalu ia menyeret tangannya Lie Ceng Loan dan berjalan ke lain jurusan

Dengan satu loncatan GiokSiu Sian Cu menghadang di depan mereka. ia mengancam: "Hengtee, kau ingin berlalu begitu saja? Urusan kita belum beres."

Bee Kun Bu gentar melihat wajahnya yang beringas, Tapi Lie Ceng Loan berkata sambil tersenyum: "Jika kau tak mengijinkan kami berlalu, kaupun boleh turut kami bersama - sama."

sebetulnya Giok Siu Sian Cu ingin menghantam gadis itu yang ia anggap sebagai saingannya yang terbesar tetapi setelah melihat sikapnya yang ramah dan mengetahui keluhuran budinya, ia tak sampai hati meng-hantamnya. Lalu ia menanya: "Loan Moi, aku ingin kau berpisah dari Bu Kokomu, apakah kau setuju?" Seperti halilintar di tengah hari, Lie Ceng Loan terperanjat mendengar pertanyaan itu. ia terpaku dan menjadi bisul

Bee Kun Bu menjadi gusar, dan dengan tak terasa ia memegang gagang pedangnya, siap membela Sumoynya,

justru pada saat itu yang tegang itu, di malam yang sunyi senyap itu terdengar suara orang meraung. Mereka menoleh ke jurusan suara tersebut, dan di bawah sinarnya rembulan, mereka tampak seorang Hweeshio yang berpakaian jubah abu-abu dan memegang sebuah periuk tembaga tengah mendatangi ke arah mereka,

Ketika tiba di hadapan mereka, Hweeshio itu membungkukkan tubuh memberi hormat seraya menegur "Kalian baik-baik saja!"

"Toa Suhu!" kata Giok Siu Sian Cu, "Aku tidak menduga menjumpai kau di sini. Mengapa kau tidak kembali ke pegunungan Ngo Bi San! Urusan apakah yang menahan kau di sini?"

Tio Ceng Taysu menyengir "O Mi To Hut!" pujinya, "Mungkin kau masih ingat bahwa di pegunungan Ngo Bi San aku telah mengatakan aku tak segan membunuh lagi!"

Bee Kun Bu terkejut mendengar kata-kata itu. Ia mengerti mengapa Hweeshio ini ingin membunuh, perselisihan apakah yang membuatnya dia demikian ne-kadnya, ia ingin menanya, tetapi Giok Siu Sian Cu bicara lagi: "Di pegunungan Ngo Bi San, aku telah dijotos sekali olehmu, itu aku tak lupa, Kebetulan sekali kita berjumpa lagi di sini, dan aku memperoleh kesempatan menghajar hutang jotosan itu!"

Segera terlihat Tong Pun Hweeshio mengumpulkan tenaga dalamnya siap sedia bertempur melawan musuhnya, Bee Kun Bu yakin bahwa pertempuran tak dapat dihindar-kan lagi ia ingat ketika di pegunungan Ngo Bi San, karena Giok Siu Sian Cu ingin melindungi ia, wanita itu kena pukulan Tio Hui, ^!eski Tio Hui pun kena disodok oleh serulingnya, akan tetapi Giok Siu Sian Cu kena dipukul punggungnya oleh Tio Ceng sehingga muntah darah.

Bee Kun Bu bermaksud meredakan mereka dengan minta Tio Ceng Hweeshio memandang kepadanya sebagai orang dari partai Kun Lun yang pernah menolong Ngo Bi, tetapi ia ingat lagi bahwa ia telah diusir oleh partai Kun Lun. ia tak dapat mencapai maksudnya itu,

Kegelisahannya Bee Kun Bu telah diperhatikan oleh Tio Ceng, dan ia berkata: "Aku sangat menghormati Hian Ceng Totiang, dan aku tak sudi menyakiti hati kalian berdua, Kau ajaklah Sumoymu pergi dari sini! Aku tak berurusan dengan kau!"

Bee Kun Bu terkejut, iapun merasa heran tereampur girang, Untuk sementara waktu ia tak dapat menjawab, Lie Ceng Loan yang tak memikirkan akibalnya, men-jawab: "Jika Toa Supek dan Ji Supek masih dapat memaafkan mungkin Bu Koko dan aku sudah kembali ke pegunungan Kun Lun, dan tidak perlu kami berdiam lama di sini. "

"Ha!" kata Tong Pun Hweeshio dengan heran, "Apakah partai Kun Lun mengusir dua muridnya yang baik?"

Bee Kun Bu merasa sedih dan ma!u, ia cabut pedangnya dan ingin menyerang, Tapi Giok Siu Sian Cu membentak: "Hengtee, tahan! ini adalah urusanku, Hu-tang jotosan itu akulah yang harus membikin Hweeshio ini yang membayarnya Ucapan itu ia barengi dengan satu sodokan secepat kilat ke dadanya Tong Pun Hwee-shio.

Tapi periuk tembaga Tong Pun Hweeshio sudah siap menahan sodokan seruling maut itu dengan jurus Tay San Ap Teng (Gunung Tay San menahan taufan), dan mendorong ke tubuhnya Giok Siu Sian Cu, Periuk tembaga yang berat itu ditambah dengan dorongan tak dapat ditahan oleh Giok Siu Sian Cu. Dengan menjejakkan kedua kakinya, ia loncat ke atas, melalui di atas kepalanya si Hweeshio, dan menyodok lagi punggung lawannya dengan seruling batu Gioknya. Tapi Hweeshio itu bukan lawan yang ringan, Secepat kilat ia berbalik dan menahan lagi sodokan itu dengan periuk tembaganya, Giok Siu Sian Cu tidak menyodok satu kali, Setelah sodokan pertama gagal, ia menyodok lagi beruntun tiga kali!

Tiba-tiba Tong Pun Hweeshio menggeram, dan ia meloncat ke kiri dan ke kanan seolah-olah ia sedang berlari- Iari dengan periuk tembaganya, sinar yang memancar dari periuk tembaga itu di bawah sinar rembulan menyilaukan mata! Terdengarlah suara gaduh beradunya seruling dan periuk tembaga itu. Selama beberapa puluh jurus mereka bertempur dengan seru sehingga sukar dilihat mana sebetulnya lebih lihay ilmu silatnya!

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan menyaksikan pertempuran kedua jago silat itu dengan penuh perhatian

"Ah, sekarang adalah kesempatan baik bagiku untuk melepaskan diri dari jaring si wanita iblis itu. Tapi dia pernah menolong jiwaku, Jika dia tak menolongnya, mungkin aku telah menjadi abu. Aku tak dapat berlalu setelah melihat dia berada dalam bahaya!"

Lie Ceng Loan menyentuh lengannya Bee Kun Bu dan berbisik: "Bu Koko, Giok Siu Sian Cu itu rupanya bukan seorang yang baik, Tidak perlu kita bantu, Hayo, kita berlalu!"

Bee Kun Bu tidak menjawab, ia gelisah sekali ia tak dapat berlalu begitu saja, Tapi Lie Ceng Loan menyeret padanya, ia terpaksa mengikuti

Tapi satu bayangan hitam tiba-tiba berada di depan mereka, "Hengtee!" tegUjp bayangan hitam itu. "Kau tak dapat melarikan diri! Apakah kau tidak merasa malu akan perbuatanmu yang tidak layak itu?"

Lie Ceng Loan yang belum mengetahui seda!am-dalamnya hubungan antara Bu Kokonya dan wanita itu menjawab dengan suatu senyuman terpaksa: "Cici, kau tak dapat mempersa!ahkan Bu Koko. AkuIah yang menyeret dia berlalu dari sini!"

Ketika itu Tong Pun Hweeshio juga sudah datang menghampiri dan menegur lagi: "Hei, Liehiap! Bukankah kau hendak memaksa aku membayar hutang jotosan?"

"Aku tidak lari, aku hanya khawatir kedua orang ini melarikan diri,"jawab GiokSiu Sian Cu, "Akutidakgcntar melawan kau!"

Bee Kun Bu tak dapat diam lagi ia berkata: "Siocia lelah menolong jiwaku, Budi itu aku tak akan lupakan. Tetapi apa maksudmu menahan aku?"

Giok Siu Sian Cu tidak berani menyatakan apa yang dikandung di dalam hatinya di depan Tong Pun Hweeshio dan Lie Ceng Loan. ia hanya mengawasi Bec Kun Bu dengan kedua mata terbelalak

"Hei, Liehiap! Jika kau tidak mu!ai, aku yang akan mulai menyerang!" bentak Tong Pun Hweeshio.

Giok Siu Sian Cu habis sabar ia membentak kembali: "Hweeshio gadungan! Apakah kiramu aku takut kepada-mu?" Lalu secepat kilat ia menyerang Hweeshio itu dengan jurus Bwee Hua Sam Long (Tiga patukan burung ke atas bunga Bwee), dan terlihat serulingnya menotok kepala, lalu dada dan perutnya si Hweeshio sehingga Hweeshio itu menjadi kelabakan! Sodokan-sodokan yang dilancarkan secepat kilat itu dan bertubi-tubi itu sukar dijaga, dan Tong Pun Hweeshio harus menangisnya dengan jurus Pang In Tok Jit (Awan gelap menutupi matahari),

justru pada saat Tong Pun Hweeshio terdesak itu, dari satu jurusan datang berlari-Iari seorang Nikouw setengah tua.

Nikouw itu adalah Tio Hui, Sumoynya Tong Pun Hweeshio,

Bee Kun Bu merasa heran mengapa Tio Hui juga belum berlalu dari pegunungan Koat Cong San, dan dengan pedang terhunus ia menjaga Tio Hui seraya membentak: "Unluk maksud apakah kau datang kembali ke sini?" Tio Hui tidak menjawab, ia hanya mengawasi Bee Kun Bu dengan perasaan jemu dan kebencian

Tong Pun Hweeshio setelah berlalu dari pegunungan Koat Cong San masih tak dapat melupakan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, maka ia kembali pula dengan maksud berusaha mencari lagi kitab-kitab ajaib itu di dalam jurang,

Tio Hui telah melihat hubungan yang erat diantara Bee Kun Bu dan Souw Hui Hong, maupun hubungan diantara Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui. Maka setelah ia berlalu dari puncak Pek Yun Siat, ia telah melihat bahwa Bee Kun Bu dan ketiga pemimpin partai Kun Lun masih berada di pegunungan Koat Cong San. Dengan diam-diam iapun kembali dengan harapan ia bisa dapat mendengar sesuatu dari pereakapan mereka. ia tidak menduga dapat menjumpai Tio Ceng, Suhengnya, sedang bertempur melawan Giok Siu Sian Cu.

Lie Ceng Loan berkata kepada Bee Kun Bu: "Bu Koko, mungkin kembalinya Nikouw ini karena hendak membantui Suhengnya, tapi aku kira Giok Siu Sian Cu masih dapat memberi hajaran kepada mereka!"

Bee Kun Bu tidak menjawabnya, ia hanya mengawasi gerak-geriknya Tio Hui yang ketika itu ingat akan terbunuhnya seorang muridnya Tio Pan oleh Bee Kun Bu. Dengan penuh kebencian Tio Hui tiba-tiba menusuk Bee Kun Bu dengan jurus Pek Hong Koan Jit (pelangi putih mencari surya),

Tusukan pedang yang sekonyong-konyong itu mengejutkan semua orang yang melihatnya, dan mungkin Bee Kun Bu tertusuk jika ia tidak lekas-lekas menggunakan ilmu langkah ajaib Ngo Heng Bi Cong Pu. Secepat kilat ia sudah berada di belakangnya Tio Hui yang menusuk angin!

-ooo0ooo-

Dengan berat hati mengusir saudari seperguruan Tio Hui melihat bahwa ia segera dapat menusuk lawan- nya, tetapi lawan tersebut meloncat secepat kilat, dan ia merasa hembusan angin di belakangnya, ia segera menoleh ke belakang dan tampak Bee Kun Bu sudah berada di belakangnya siap menusuk punggungnya, ia terkejut, ia lekas- lekas berkelit dan menangkis dengan pedangnya, Bee Kun Bu menginsyafi bahwa untuk melawan Tio Hui, ia harus menggunakan langkah ajaib Ngo Heng Bi Cong Pu, karena ilmu pedang rahib wanita itu sedikit lebih tinggi dari padanya.

Perubahan-perubahan dari kelitan-kelitan dan egos-an- egosan ilmu langkah ajaib itu membingungkan Tio Hui. ia tidak mengetahui lagi dengan cara apa ia harus gunakan untuk menyerang lawannya,

Giok Siu Sian Cu, yang pernah kena dijotos oleh Tio Hui, ketika mereka bertempur di pegunungan Ngo Bie San, kini memperoleh kesempatan untuk membalas, ia berseru: "Hengtee, aku datang membantu!" Dan ia meloncat menyerang Tio Hui!

Tong Pun Hweeshio terkejut melihat Sumoynya diserang. ia meloncat dan dengan periuk tembaganya ia tangkis sodokan serulingnya Giok Siu Sian Cu, lalu ia meloncat menerkam Ue Ceng Loan. ia pikir jika ia dapat menyergap Lie Ceng Loan, ia dapat mengancam Bee Kun Bu dan melepaskan Sumoynya melawan Giok Siu Sian Cu. Tetapi Lie Ceng Loan yang pernah ditipu oleh Sia Yun Hong telah waspada dan siap sedia. ia meloncat mundur ketika diterkam oleh Tong Pun Hweeshio dan menjerit: "Bu Koko!"

Bee Kun Bu menjadi murka, ia meloncat menghadapi Tong Pun Hweeshio seraya membentak: "Hei! Apa-kah sebagai salah satu pemimpin partai silat Ngo Bie yang terkenal, kau tidak malu menerkam seorang gadis?"

Teguran itu betul-betul membikin Tong Pun Hweeshio menjadi malu, tetapi dalam keadaan yang terdesak itu, ia harus bertempur dengan Bee Kun Bu yang segera menyerang dengan pedangnya, Lie Ceng Loan juga sudah mencabut pedangnya dan bersama-sama Bee Kun Bu memberikan perlawanan kepada si Hweeshio!

Meskipun Tong Pun Hweeshio lebih kuat daripada mereka, akan tetapi ia harus mengeluarkan semua kepandaiannya untuk melawan sepasang pemuda-pemudi itu.

Di pihak Giok Siu Sian Cu yang sudah bertekad membalas dendamnya terlihat ia menyerang dan mendesak lawannya dengan jurus Mo In Cap Pwee Cao (Mencakar awan dengan delapan belas jurus),

Sedianya Tio Hui datang untuk menyerang Bee Kun Bu untuk dipaksanya memberitahukan rahasia tentang Souw Hui Hong, Tetapi di luar dugaannya ia telah ketemu Giok Siu Sian Cu. ia mengetahui bahwa ia tak dapat melawan lagi, pikirnya lebih baik ia mencari jalan untuk melarikan diri,

Dan kembalinya Tong Pun Hweeshio dengan maksud mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek di dalam jurang, Tetapi ia telah menjumpai ketiga lawan itu, iapun sukar melaksanakan maksudnya, Untuk keselamatannya sendiri, ia pikir lebih baik lekas-lekas berlalu. Maka ia membentak: "Aku ada urusan lain yang penting, kini aku tidak mempunyai waktu melawan kalian berdua!"

Tio Hui pun berseru: "Giok Siu Sian Cu! Jika kau ingin membalas jotosan yang telah aku persen kepadamu, aku mengundang kau datang ke pegunungan Ngo Bie San!" Lalu dengan satu loncatan ia mengikuti Tong Pun Hweeshio lari dari tempat tersebut

Tapi Giok Siu Sian Cu segera mengejarnya. Bee Kun Bu hanya mengawasi mereka berlari-Iari. Lie Ceng Loan membetot tangannya dan berkata: "Bu Koko, mari kita berlalu dari tempat ini!" Ketika itu Bee Kun Bu baru sadar bahwa ia memperoleh kesempatan untuk melepaskan diri dari gangguan Giok Siu Sian Cu, maka tanpa menyahut lagi iapun mengikuti Sumoynya berIalu. Meskipun mereka berlari-Iari sambil berpegangan langan, namun pikiran mereka masing-masing berlainan, Lie Ceng Loan merasa gembira dapat berlalu, sedangkan Bee Kun Bu masih tetap gelisah. Ketika mereka tiba di suatu lembah yang agak sempit, Bee Kun Bu melepaskan pegangannya Lie Ceng Loan seraya berkata: "Sumoy aku minta kau berjalan di belakang."

Lalu dengan tidak menunggu jawaban Lie Ceng Loan, ia berjalan lebih dahulu menuju ke suatu gua. Mereka terus masuk ke dalam gua yang gelap, Agaknya Bee Kun Bu telah mengetahui jalan di dalam gua itu, ia dapat berjalan dengan cepat, diikuti terus oleh Sumoynya,

sebetulnya Ue Ceng Loan ingin menanya ke mana mereka akan pergi, akan tetapi ia khawatir mengganggu Suhengnyaj maka tak jadilah ia menanya,

Lalu dari ujung gua terlihat sinar rembulan, Lie Ceng Loan berlari lebih cepat untuk dapat berjalan ber-damping- dampingan dengan Suhengnya, ia terkejut ketika ia melihat kedua matanya Bee Kun Bu berlinangkan air mata, ia peluk Bee Kun Bu dan menanya: "Bu Koko, mengapa kau bersedih hati?" ia teringat akan penderitaan yang lampau - penderitaan jiwa maupun raga, tetapi kesemuanya itu tertolong oleh Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu tersenyum, tapi dengan rupa yang sedih. "Loan Moi, aku mempunyai suatu urusan yang sukar aku

ucapkan, Tetapi sekarang aku akan menceritakan kepadamuj dan setelah kau mendengarnya, kau akan melihat bahwa aku ini bukannya seorang yang sempurna, banyak sekali perbuatan-perbuatanku yang dapat membikin kau muak dan jemu, Mungkin juga kau akan membenci aku setelah kau mengetahuinya!"

Melihat sikap dan nada yang sungguh-sungguh ketika BeeiKun Bu memberitahukan isi hati nya. Lie Ceng Loan hanya tersenyum dan berkata: "Bu Koko, apakah Koko kira aku tidak mengctahui! Apakah Koko masih ragu-ragu terhadap kasih sayangku terhadap Koko? Sudahlah, Koko tak usah menceritakan. Aku hanya ingin Koko tetap mencintai aku!"

Bee Kun Bu menarik napas, lalu sambil menunjuk ke arah kamar batu di depannya, ia berkata: "Apakah kau melihat kamar batu itu?"

Lie Ceng Loan dapat lihat kamar batu di dalam gua itu, dan ia menjawab: "Mengapa kau menanya? Mari kita periksa?"

Bee Kun Bu menuntun Lie Ceng Loan jalan menuju kamar batu itu, dan Lie Ceng Loan mengikuti tanpa banyak bertanya lagi,

"Setelah kita mencari Liong Cici, aku akan bicara lagi!" kata Bee Kun Bu. Lalu iapun masuk ke dalam kamar batu di dalam gua itu, Tetapi ia menjadi terperanjat ketika ia menemui kamar batu itu kosong. "Kemana Liong Giok Pin telah pergi?" pikirnya, sikapnya ini membikin Lie Ceng Loan menanya: "Bu Koko, apa lagi yang kau pikirkan?"

Bee Kun Bu tidak menjawabnya. ia banting satu kakinya dan bicara seorang diri dengan gusar: "Tentu jahanam itu telah membunuh mati Liong Cici, lalu membawa mayatnya ke tempat lain!"

"Siapakah orang yang membunuhnya?" tanya Lie Ceng Loan dengan heran,

"Co Hiong, manusia kejam itu." jawab Bee Kun Bu. "Dia telah menotok jalan darahnya Liong Cici, dan menyembunyikannya di kamar batu di dalam gua ini. jahanam itu pun juga telah paksa aku makan bubuk racun Hua Kut Siauw Goan San " ia berhenti sejenak, lalu ia tarik dan

menyeret tangannya Lie Ceng Loan s^aya berkata: "Mari kita keluar!"

"Aku kira Co Hiong itu kawan baikmu Koko, Aku tidak menduga dia demikian jahalnya!" kata Lie Ceng Loan. Tapi," kata Bee Kun Bu, "Sebentar lagi kaupun akan mengetahui bahwa Bu Kokomu ini juga seorang yang jahat!"

Suasana di luar gua diterangi oleh sinar rembulan Bee Kun Bu mengajak Sumoynya duduk di atas rumput, lalu ia memulai penuturannya: "Loan Sumoy, sekarang aku akan menceritakan kepadamu suatu hal yang aku sukar ucapkan, Aku harap setelah kau mendengarnya, kau segera pergi mencari Pek Cici, dan minta kepadanya agar kau dapat dibawa oleh bangau saktinya kembali ke pegunungan Kun Lun. "

Dengan tersenyum Lie Ceng Loan menjawab: "Suhu pernah mengatakan kepadaku bahwa aku dapat kembali ke pegunungan Kun Lun kapan saja aku suka. Namun aku lebih suka mendampingi Koko. "

Sambil menundukkan kepalanya seolah-olah mere-nung, Bee Kun Bu tersenyum.

"Meskipun aku telah diusir oleh Susiok, tetapi di dalam hatiku aku masih merasa sebagai murid dari partai Kun Lun. Sumoy adalah seorang gadis yang berwatak luhur, berhati murni dan berbudi kasih, sebetulnya aku tak pantas memberitahukan kepadamu soal-soal yang mesum ini. Tetapi jika aku tidak menerangkannya, kau tentu selalu menganggap aku seorang yang baik, dengan demikian aku menjerumuskan kau yang tidak bersalah atau berdosa!"

"Bu Koko," kata Lie Ceng Loan dengan khidmat, "Aku tak akan menyesal mendengar apa yang kau akan ucapkan, Aku rela berkorban untukmu, Menyesal aku tidak seperti Pek Cici yang memiliki ilmu silat tinggi dan kepandaian menolong dan mengobati orang, Telah ber-kali-kali Pek Cici menolong jiwamu dan juga jiwaku!"

Tiba-tiba Bee Kun Bu menanya, suaranya keras: "Sumoy, apakah kau masih sukai aku?" Dengan kedua mata terbelalak Lie Ceng Loan berbalik menanya: "Apakah Bu Koko masih juga menyangsikan akan cintaku?"

"Ha! Ha! Ha!" Bee Kun Bu tertawa seperti orang gila, Tetapi aku tidak cinta kepadamu! Lebih cepat kau berlalu lebih baik! Dan aku tak ingin melihat kau lagi!"

Seperti halilintar di tengah hari Lie Ceng Loan terpaku mendengar kata-kata yang pahit getir itu, Segera air matanya mengucur dengan derasnya, dan dengan tersedu-sedu ia berkata: "Tak,., tak perduli betapa hebat aku dibenci... aku tetap akan mengikuti Koko. "

jawaban tersebut menyayat jantungnya Bee Kun Bu. ia merasa berbuat kejam melukai Sumoynya, Tetapi demi kepentingan gadis itu ia membentak lagi: "Hayo enyah!"

Lie Ceng Loan berbalik dan mulai berjalan pergi,

Berkali-kali Bee Kun Bu ingin memanggil kembali, namun perkataannya selalu tertahan di tenggorokannya, ia menahan penderitaan batinnya sampai Lie Ceng Loan tak kelihatan lagi!

"Tapi aku harus menjaga keselamatan di sepanjang jalan sampai ia menjumpai Pek Yun Hui!" pikirnya, Lalu ia mengikuti dari belakang tanpa diketahui oleh Lie Ceng Loan. Hatinya sangat sedih melihat gadis itu berjalan sendirian entah kemana!

Na Siao Tiap rela menurunkan ilmu silatnya kepada Bee Kun Bu

Entah beberapa lama Lie Ceng Loan berjalan, ketika ia tiba di bawah sebuah pohon cemara yang besar, ia berhenti dan dudukdi atas rumput sambil bersandardi pohon itu. ia pejamkan kedua matanya dan coba tidur.

Dari jarak lebih kurang dua tombak jauhnya Bee Kun Bu memperhatikan gerak-geriknya Lie Ceng Loan, ia merasa gelisah sekali ketika melihat gadis itu duduk tidur sambil bersandar di pohon cemara. ia khawatir di dalam pegunungan tersebut gadis itu dapat diserang binatang buas atau ular berbisa, Dengan kekhawatiran tersebut, ia terpaksa mendekati dengan maksud menjagal gadis itu.

Sejenak kemudian dalam tidurnya gadis itu berseru: "Bu Koko, betul-betul kau tidak sudi melihat aku lagi?"

Bee Kun Bu terkejut, ia lekas loncat sedikit lebih jauh agar tak ketahuan, ia bersembunyi di balik sebuah pohon besar Tapi Lie Ceng Loan tidak bangun, hanya sedang mengigau dengan mengucapkan kata-kata tadi dalam tidurnya!

Kemudian Bee Kun Bu di atas pohon cemara, dan dari cabang-cabang pohon itu ia dapat mengawasi gerak-geriknya Lie Ceng Loan, ia sedang memikiri dengan cara apa ia dapat mengantar Sumoynya ke kamar Thian Kie Cok Hu dari Pek Yun Hui.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang berlari-Iari menghampiri. sejenak kemudian, di bawah sinarnya bu-lan, ia dapat melihat bahwa orang yang mendatangi itu adalah Liong Giok Pin yang ia berusaha mencarinya dengan hampa,

Dari atas pohon ia dapat melihat dan mendengar segala sesuatu, ia tampak Liong Giok Pin menghampiri Lie Ceng Loan dan mengawasi gadis yang tidur nyenyak itu lalu menyentuh dan menegur "Loan Sumoy! Loan Sumoy!"

Lie Ceng Loan terbangun dan membuka matanya dengan terperanjat lalu ia tersenyum dan menyahut: "Ai! Pin Cici, karena kau telah menukar pakaian, hampir saja aku tak dapat mengenal kau!"

Liong Giok Pin lalu duduk di sampingnya dan mulai bicara: "Aku kelak akan menukar pakaian lagi dengan mengenakan jubah seorang rahib wanita, Tapi... mengapa kau seorang diri di lembah gunung yang sunyi sepi ini? Di manakah Bee Sutee...?" "Bu Koko tak sudi melihat aku lagi! Dia telah mengusir aku!

Dan karena aku tidak ingin membikin dia marah, aku hanya menuruti kehendaknya menyuruh aku meninggalkan dia!" jawab Lie Ceng Loan,

Dengan perasaan heran Liong Giok Pin menanya pula: "Bee Sutee adalah seorang yang berbudi, Dia lebih suka menderita daripada menyusahkan orang lain, Tapi mengapa dia tidak ingin melihat kau lagi?"

Dengan senyuman yang sedih Lie Ceng Loan menjawab pula: "Akupun tidak mengetahui sebab musabab-nya. Dia menyuruh aku berlalu, Aku hanya menuruti kehendaknya, karena aku tidak mau melukakan hatinya!"

"Ha!" kata Liong Giok Pin, "Memang kebanyakan pria tak dapat dipereayai Mungkin dia telah jatuh cinta kepada Pek Cicimu!"

Kata-kata itu seperti juga sebilah pisau belati telah menusuk hatinya Bee Kun Bu yang dapat mendengarnya cukup tegas,

Lie Ceng Loan menggelengkan kepalanya, "Pek Cici seorang yang baik, dan kita tak dapat

membusuki ia."

"Kau betul-betul satu malaikat," seru Liong Giok Pin. "Kamu masih dapat mengampuni orang yang merampas kekasihmu. "

Lie Ceng Loan menubruk Liong Giok Pin dan sambil menangis terisak-isak ia berkata: "Meskipun Bu Koko tak sudi melihat aku lagi, aku tetap memikiri dan mencintai padanya. "

"Sekarang dia ada di mana? Mari antarkan aku menjumpai dia, Aku harus menasehatkan padanya?" kata Liong Giok Pin. "Apakah tabiat Bu Kokomu itu sudah berubah?"

Sambil menyeka air matanya, Lie Ceng Loan men-jawab: "Bu Koko sangat baik,., tetapi dia telah diusir oleh Supek." "Apa?" seru Liong Giok Pin dengan terkejut "Me-ngapa dia diusir?"

"Halnya aku tidak mengetahui jelas," kata Lie Ceng Loan, "Aku hanya mengetahui bahwa Pek Cici telah bertengkar dengan Supek, dan di dalam murkanya itu, Bu Koko telah diusir oleh Supek!"

"Apakah kau masih ingin mencari Bee Sutee?" tanya Liong Giok Pin.

"Bu Koko tidak ingin melihat aku lagi," jawab Lie Ceng Loan, "Jika aku mencari dia, aku hanya akan menimbulkan kegusarannya."

Liong Giok Pin berpikir, lalu berkata: "Baiklah kau ikuti aku.

Kita pergi ke suatu tempat yang terpencil, di sana kita bersama-sama mempelajari catatan-catatan dari kitab Thian Ki Cin Jin yang aku telah peroIeh, Setelah kau dapat pelajari dan berlatih masak, kau dapat mencari Bee Sutee untuk membikin perhitungan terhadapnya!"

Dengan membelalakkan mata Lie Ceng Loan berkata: "Aku mempelajari ilmu silat untuk memukul Bu Koko? Tidak! Tidak!"

"Baiklah," kata Liong Giok Pin menghibur, "Jika kau sudah lebih pandai, kau membantu Bu Kokomu."

"Juga tak mungkin," kata Lie Ceng Loan. "Dia sudah tak sudi melihat aku pula bagaimanakah aku dapat membantu dia? Sudahlah... Cici pergi sendiri menjumpai dia. Aku tak ingin belajar silat lagi."

"Loan Moi, apakah telah terjadi pereideraan antara kalian berdua?" tanya Liong Giok Pin.

Tidak.! Liong Cici, tadi ia mencari kau di gua itu.,.," "Mengapa kau kelihatannya lesu?" "Aku sangat mengantuk, aku ingin tidur," lalu iapun tidur pula yang dalam tempo sekejap saja telah tertidur dengan nyenyaknya,

Harus diketahui bahwa ia yang berhati suci murni dan luhur wataknya telah berpikir banyak setelah Bee Kun Bu diusir keluar dari partai, dan dengan terus menerus berpikir, ia tak tahan akan keletihan otak maupun tubuhnya. Maka akhirnya ia tertidur karena ke-letihannya itu,

Sia-sia Liong Giok Pin berusaha membanguninya.

Bee Kun Bu yang bersembunyi di sebuah pohon besar telah menyaksikan dan mendengar pembicaraan kedua orang itu, hatinya dirasakan hancur melihat keadaannya Lie Ceng Loan. ia ingin meloncat turun dari pohon dan menyatakan penyesalannya terhadap Lie Ceng Loan.

Sambil mengawasi Lie Ceng Loan yang sedang tidur nyenyak itu. Liong Giok Pin berkata dalam hati: "Aku tak dapat membiarkan urusan ini. Aku telah melukai halinya."

Tiba-tiba terdengar Lie Ceng Loan berseru dari ngi- gaunya: "Bu Koko, bangau putih yang kau tangkap bagus sekali, sama bagusnya seperti bangaunya Pek CicL.."

Liong Giok Pin menotok suatu jalan darahnya Lie Ceng Loan, lalu mengangkat dan membawanya pergi entah kemana. Mereka menghilang di tempat yang gelap, Bee Kun Bu loncat turun dari pohon setelah memperhatikan keadaan sekitarnya, talu berjalan maju.

Angin gunung meniup sepoi-sepoi. Bee Kun Bu berjalan tanpa tujuan, ia jalan ke mulut gua yang tidak jauh dari lembah itu. ia berusaha keras melupakan penderitaannya Lie Ceng Loan, ia berjalan masuk dan menuju ke dalam kamar batu di mana ia berbaring untuk beristirahat dan merancangkan jalan yang ia harus tempuh seterusnya, Akhirnya tanpa terasa iapun tertidur Entah berapa lama ia telah tidur dengan nyenyaknya, akan kemudian ketika bangun ia merasa tubuhnya menjadi hangat, dan hidungnya membaui harumnya arak.

ia buka matanya dan melihat empat bujang perempuan yang mengenakan pakaian serba putih, Segera ia mengenali bahwa mereka itu adalah bujang-bujangnya Na Siao Tiap.

Dan segera terdengar suaranya Na Siao Tiap yang berkata: "Kau sudah bangunkah? Lekas-lekas kerahkan tenaga dalammu, kau segera menjadi segar dan kuat lagi!"

Tetapi Bee Kun Bu masih bingung, pikirnya mengapa mereka ketahui ia berada di dalam kamar di dalam gua itu,

"Apakah kau tidak mengerti atau mendengar perkataanku Mengapa kau tidak mengerahkan tenaga da-lammu? Jika kau dapat lakukan itu dengan baik sehingga seluruh jalan-jalan darahmu menjadi bebas, maka usaha itu akan bermanfaat sekali bagimu!" seru Na Siao Tiap,

Bee Kun Bu segera mengerahkan tenaga dalamnya dan betul saja ia merasakan tubuhnya lebih kuat dan segar Kemudian ia bangun dan menghadapi Na Siao Tiap siapa berkata sambil tersenyum: "Aku sangat letih, Biar-lah aku beristirahat sejenak, setelah itu aku akan ber-cakap-cakap dengan kau!"

Bee Kun Bu terkejut ia tidak mengerti mengapa gadis itu menjadi !etih. Tapi ia mengangguk dan berkata:

"Baiklah! Mungkin keletihanmu karena menolong aku, aku menyesal sekali, dan aku menghaturkan diperbanyak terima kasih,"

Na Siao Tiap tersenyum, lalu ia merebahkan diri dan memejamkan kedua matanya untuk beristirahat dijaga oleh keempat bujangnya, Me!ihat wajah yang cantik jelita dari gadis itu, Bee Kun Bu tergiur hatinya, ia !ekas-Iekas memalingkan muka untuk membikin tenang pikirannya,

Selang beberapa saat kemudian Na Siao Tiap membuka kedua matanya, dan sambil duduk menghadapi Bee Kun Bu ia berkata: "Aku sudah tidak letih lagL sekarang kita dapat bereakap-cakap!"

Sambil menundukkan kepalanya Bee Kun Bu menyahut "Aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Siocia, sekarang aku minta diri. " Lalu ia berbalik dan

berjalan keluar,

"Kau hendak pergi ke mana?" tanya Na Siao Tiap dengan heran.

Bee Kun Bu menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke belakang dan menjawab: "Aku hendak pulang menjumpai ayah bundaku, Kemudian aku akan. " ia tidak meneruskan

kata-katanya, ia hanya menarik napas lalu berjalan lagi,

"Bee Siangkong, tunggu du!u! Aku ada sedikit omongan." kata Na Siao Tiap,

Bee Kun Bu berhenti dan menoleh ke belakang lagi. ia melihat Na Siao Tiap sedang menghampiri "Apakah kau membenci aku?" tanya gadis itu ketika berada di sampingnya.

"Tidak! Dia tak membenci kau! Dia mempunyai banyak musuh yang mengacaukan pikirannya!" terdengar jawabannya seorang wanita, dan Bee Kun Bu segera mengenali bahwa wanita itu adalah Pek Yun Hui yang dalam sekejap saja sudah berada di sampingnya!

Bee Kun Bu mundur dua langkah, dan sambil merangkap tangan menghaturkan hormat, ia berseru: "Pek Siocia!"

"Mengapa kau masih bersusah hati? Apakah karena kau telah diusir oleh Susiokmu?" tanya Pek Yun Hui.

"Ha! Apakah kau juga telah menyaksikan ketika aku diusir?" tanya Bee Kun Bu dengan terperanjaL "Tidak," jawab Pek Yun Hui, "Aku hanya menduga, setelah aku mengetahui watak Susiokmu, yang sangat keras itu.

Karena aku telah menolong partai Kun Lun beberapa kali, terutama menolong kau, dia menjadi tidak senang, tapi dia tidak berani marah terhadapku, dia hanya mencurigai kau, Tetapi kesalahanmu tidak seberapa be-sar, maka dia hanya mengusir kau dari partai Kun Lun, tidak menghukum mati."

"Apakah Pek Siocia sengaja membikin Susiokku marah dan mengusir aku?" tanya Bee Kun Bu.

"Tidak! Ketika aku bertengkar dengan Susiokmu, aku telah membuatnya gusar terhadap kau. Aku tidak sangka dia sampai mengusir kau," jawab Pek Yun Hui.

"Jika seorang murid diusir oleh gurunya, itulah suatu hal yang sangat memalukan Soal ini tak dapat dipandang remeh," kata Bee Kun Bu.

"Tentang hal itu kau jangan buat pikiran, Nanti pada pertengahan bulan delapan lain tahun, partai Thian Liong lelah mengundang semua jago-jago silat dari kesembilan partai silat untuk mengadu silat Partai silat Thian Liong lelah membikin persiapan selama dua puluh tahun untuk maksud tersebut

Menurut pandanganku pertarungan pada waktu itu akan merupakan suatu pertempuran yang merusak dan menyedihkan Jago-jago silat dari kesembilan partai silat akan sukar berlalu dari daerah sebelah utara propinsi Kwiciu, Harus diketahui bahwa jago jago silat dari partai Thian Liong memiliki ilmu silat luar biasa dan cerdik pula, yang kesemuanya itu diperoleh partai Thian Liong adalah karena. "

Bee Kun Bu mendengari uraian gadis yang hanya baru berusia dua puluh tahun lebih itu dengan penuh kekaguman, karena disamping memiliki ilmu silat yang sakti, pun sangat berpengalaman dan sangat luas penge-tahuannya,

Tiap-tiap pemimpin partai Thian Liong dan cabang- cabangnya itu dapat menandingi tiap-tiap pemimpin dari kesembilan partai silat lawannya. Souw Peng Hai yang menjadi ketua umum partai itu memiliki ilmu Kan Goan Cit (Jari Sakti) yang tak dapat digempur oleh siapapun dari kesembilan partai lawannya. " Pek Yun Hui meneruskan

Dengan tak dapat menahan napsunya, Bee Kun Bu memotong: "Jika demikian, maka pertarungan itu hanya akan membikin semua partai silat lawannya menderita kekalahan!"

"Segala sesuatu yang belum terjadi sukar ditafsirkan," kala Pek Yun Hui, "Hanya menurut pandanganku jika satu lawan satu, maka tidak seorang lawan dapat menandingi Souw Peng Hai. Meskipun dia telah berusia lanjut, namun tenaganya kuat sekali, aku belum pernah dapatkan orang yang sekuat dia.

Tetapi, menurut kabar, untuk menghadapi partai Thian Liong, partai-partai silat Siauw Lim dan Bu tong juga telah membikin persiapan selama sepuluh tahun lebih, Terutama ilmu silat Siauw Lim yang terkenal itu,

Di dalam kuil Siauw Lim Si, mereka mempunyai kitab ilmu silat Tat Mo Gie Lit Keng yang tidak kalah hebatnya daripada kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Hanya kitab Tat Mo Gie Lit Keng itu tertulis dalam bahasa Urdu, yang bagi kebanyakan orang sukar dibaca, Sayang sekali di dalam beberapa ratus tahun sedemikian banyaknya Hweeshio-hweeshio di kuil Siauw Lim Si itu belum ada yang dapat membaca kitab tersebut

Maka kitab sakti itu hanya disimpan saja, Apabila diantara orang-orang partai Siauw Lim dapat membaca catatan-catatan itu, dan berlatih menurut petunjuk-petunjuk yang tertera dalam kitab itu, maka akibatnya tentu akan menjadi berlainan sekali!"

Seperti orang dungu Bee Kun Bu mendengari uraian itu, dan tak terhingga kekagumannya terhadap gadis yang berpengetahuan demikian luasnya,

"Orang-orangnya partai silat Thian Liong dapat dikatakan tersebar di mana-mana dan terdiri dari segala macam sifat dan watak. Tiap-tiap gerak-gerik dari kesembilan partai silat akan diketahui oleh mereka, pertarungan pada pertengahan bulan delapan lain tahun tidak akan berakhir dengan kalah atau menang. Misalnya partai Thian Liong yang menang, maka pertarungan antara partai-partai silat akan berakhir Tetapi jika partai Thian Liong yang kalah, mereka akan berusaha dengan segala tipu muslihat untuk membikin pembalasan!" ia berhenti dan merenung sejenak, lalu sambil menghadapi Bee Kun Bu menanya: "Apakah kau masih berniat kembali ke partai Kun Lun?"

Bee Kun Bu tak dapat segara menjawab ia berpikir, dan setelah menghela napas ia menjawab: "Sekarang aku telah menjadi seorang yang tak berguna, aku bermaksud hendak pulang menengoki ayah bundaku, kemudian aku akan mengasingkan diri dan tinggal berdiam di tempat yang terpencil, melupakan segala sesuatu dan hidup seperti seekor binatang di hutan!"

Pek Yun Hui tersenyum dan menanyai "Apakah kau telah pikir masak-masak? Kau telah menceburkan diri ke dalam olahan air kalangan Kang-ouw, dan juga telah menyebarkan budi kasih, maupun dendam benci, kau tak dapat membebaskan diri lagi meski bagaimana keraspun keinginanmu untuk menjauhkan diri: tak mudah kau dapat melupakan peristiwa-peristiwa yang lampau. "

"Jika mereka masih juga mau mencari aku, aku rela dibunuh mereka," kata Bee Kun Bu yang terus menghela napas. "Aku anggap jiwaku sudah tak berarti lagL,."

Dengan nada agak memperingatkan Pek Yun Hui berkata: "Kau telah dipelihara, dididik dan dilatih oleh gurumu selama dua belas tahun, apakah kau dapat melupakan budi gurumu yang besar itu? Lagi pula, apakah kau dapat membiarkan Lie Sumoymu yang mencintai kau dengan seluruh jiwa raganya?

Di samping itu, masih ada banyak orang yang tak sudi melihat kau bertindak demikian Souw Hui Hong misalnya: meskipun keras wataknya, tetapi dia telah menaruh simpati terhadapmu Dia telah menolong kau dari racun Hua Kut Siauw Goan San dengan melupakan kedudukan maupun nama baik ayahnya.

Apakah kau dapat melupakan budi kasihnya itu? Kini, karena kau, dia telah kehilangan sebelah lengannya dan menjadi seorang cacat, dan terpaksa menjadi seorang rahib wanita. Aku yakin selama hidupnya, dia tak akan melupakan kau! Bila kau menyakiti lagi hatinya, dia tentu akan membunuh diri. Akibatnya??? Souw Peng Hai tentu akan menjadi murka dan mencari kau. Mungkin juga kau tak dapat menjumpai kedua orang tuamu lagi!"

Alasan yang diberikan Pek Yun Hui itu telah membuka kedua matanya Bee Kun Bu. Agak lama ia berdiri terpesona. Akhirnya ia hanya dapat berkata: "Tapi urus-an-urusan yang sulit dan rumit ini telah membikin aku menempuh jalan buntu, Tak tahu aku sekarang harus berbuat apa!"

Pek Yun Hui tersenyum, lalu berkata: Terhadap kesemuanya itu aku telah merancangkannya untuk kau. Hanya aku khawatir kau tak sudi mendengarnya."

"Aku suka menuruti petunjuk Cici jika petunjuk itu beralasan," jawab Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui memandang Na Siao Tiap sejenak, lalu berkata: "Aku telah membicarakan soalmu dengan Tiap Moi mengatakan bahwa kau berbakat dalam ilmu silat, dia rela menurunkan semua kepandaian ilmu silatnya kepadamu, undangan partai Thian Liong masih mempunyai waktu hampir setahun lamanya, jika kau sudi menuruti petunjukku kau dapat belajar dari Tiap MoL

Aku yakin setelah kau berlatih dan belajar dengan sungguh tunggu h, kau kelak dapat menandingi jago silat yang manapun Kau harus ketahui, bahwa tenaga dalamnya Tiap Moi telah sempurna betuh Dia dapat melatih tenaga dalammu jika kau berhasil, maka tenagamu akan bertambah berlipat ganda, Kau telah menanam benih kasih maupun dendam, dan kau tak dapat membebaskan diri dari jaring atau ikatan kasih atau dendam itu. Jalan yang terbaik bagimu ialah berlatih dan memperdalam ilmu silatmu, agar pada suatu hari kau dapat menjagoi di kalangan Bu Lim untuk membalas dendam atau membalas budi kasih,

Mungkin juga pada waktu ilu, kau dapat membayar dosa- dosamu untuk diterima kembali oleh partai Kun Lun. Tentang Loan Moi, diapun memiliki bakat dalam ilmu silau Jika dia berhasil memperoleh guru, diapun dapat memperdalam ilmu silatnya, Soalmu itu kini tak dapat menjadi beres dengan maksudmu untuk mengasingkan atau membunuh diri-W ia berhenti untuk memperhatikan sikap-sikapnya Bee Kun Bu, lalu meneruskan

"Cobalah kau pikir masak-masak, apakah kata-kataku ini beralasan?"

Bee Kun Bu menundukkan kepala berpikir agak lama sebelumnya ia dapat menjawab "Perhatian dan kasih sayang Cici terhadapku besar sekali, aku tak dapat membalas budimu itu. "

"Kau tak usah berpikir yang bukan-bukan," kata Na Siao Tiap memotong, "Aku rela mengajarkan dan menurunkan semua kepandaian silatku kepadamu, Pek Cici akan mengajarkan kau ilmu silat pedang dan puku!an, dan akupun akan mewariskan kau kepandaianku dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Kita bertiga akan bersama-sama mempelajari jurus- jurus silat dari catatan-catatan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku yakin kita akan berhasil

Lalu ia pejamkan kedua matanya, dan sambil kedua tangan diangkat ke atas ia berkata di dalam hatinya: "lbu! Bee Siangkong adalah seorang yang baik! Aku rela mengajarkan dia ilmu silat Dia adalah kekasihnya Lie Ceng Loan, dan aku tidak mencintai dia!"

Sikap itu membikin Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui terperanjat Lalu Pek Yun Hui menegur: Tiap Moi, Bee Siangkong telah setuju, dan siap menghadapi pertarungan nanti pada pertengahan bulan delapan lain tahun, Untuk mengejar waktu, lebih baik kita segera memu!ai-nya. Kau harus ingat, berhasil atau gagalnya usaha kita ini bersandar atas dirimu seorang!"

Na Siao Tiap membuka matanya, dan berkata: "Baik-lah, mari sekarang kita mulai!"

Lalu Pek Yun Hui menanya Bee Kun Bu: "Ketika kau diusir dari partai Kun Lun, bagaimanakah sikapnya Lie Sumoymu?"

"Dia menyertai aku, dia tak sudi mengikuti Suhu dan Susiokku kembali ke pegunungan Kun Lun!" jawab Bee Kun Bu.

"Mengapa sekarang dia tidak ada bersama kau?" tanya Pek Yun Hui.

-ooo0ooo-

Pang Siu Wie terpaksa menggunakan pasir beracunnya

pertanyaan tersebut bagaikan sebilah pisau tajam menusuk hatinya Bee Kun Bu. Tak terasa air matanya mengucur keluar "la membantingkan sebilah kakinya dan berseru dengan gemas: "Aku ini betul-betul seorang kejam! Dia yang demikian murah hati dan tak bersalah, aku tak seharusnya mengusir padanya, Aku tak pantas berdiri sejajar dengan seorang malaikat..."

Pek Yun Hui terkejut mukanya segera manjadi pucat: "Ha! Kau mengusir dia?! Apakah kau tidak pikir akan akibatnya jika dia ditinggalkan seorang diri?"

Lalu dengan suara terputus-putus Bee Kun Bu menuturkan halnya bagaimana ia telah mengusir Lie Ceng Loan.

"Loan Moi betul-betul seperti malaikat!" kata Pek Yun Hui. "Dia sudah dijaga oleh Liong Giok Pin, kau tak usah pikirkan lagi, Kau harus tinggal dengan tenang di kamar Thian Ki Ciok Huku. Tiap Moi akan mengajarkan kau mempertebal tenaga dalammu, Selama itu, aku akan berusaha mencari Loan Moi. Semoga aku berhasil dapat mencari padanya, dan aku bawa dia ke tempatku dan minta Tiap Moi mengajarkan ilmu silat kepadanya, De-ngan demikian nanti pada pertengahan bulan delapan lain tahun, kau dapat tambah satu pembantu yang berkepandaian tinggi."

Tiap-tiap kata-kata yang penuh dengan kasih sayang dan untuk kepentingannya membuat Bee Kun Bu sangat terharu, ia hanya dapat menghela napas seraya berseru: "Budi Cici aku betul-betul tak dapat membalas, Aku sangat beruntung sekali dapat menjumpai dan mengenal Cici "

Pek Yun Hui menggoyang-goyangkan tangannya: "Sudahlah, jangan kau sebut-sebut tentang budi pula, Aku merasa gembira sekali kalau dapat berbuat sesuatu untuk- mu!"

Tetapi pandangan maupun kata kata Cici seperti seorang nabi. Aku. M Bee Kun Bu tak dapat meneruskan kata-

katanya, sehingga Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui tersenyum

"Lalu kau ingin mengutarakan apa lagi?" tanya Pek Yun HuL

"Sudahlah," kata Na Siao Tiap, "Cici tak usah memaksa dia bicara lagi, Aku yakin dia senantiasa menuruti petunjuk Cici."

"Belum tentu," kata Pek Yun Hui,

"Betulkah?" tanya Na Siao Tiap sambil menoleh dan memandang Bee Kun Bu.

"Tiap Siocia telah menebak jitu," jawab Bee Kun Bu, "Aku akan senantiasa menuruti petunjuk Pek Cici!"

Pek Yun Hui tersenyum, dan setelah memperhatikan keadaan di sekitarnya, ia berkata: "Sudah lama kita belum mengisi perut Mari kita pulang ke kamar Thian Kie Ciok Hu, biarlah Tiap Moi membuat hidangan-hidangan yang lezat untuk didaharnya bersama!"

"Mungkin masakanku tidak disukai oleh Bee Siang Kong!" kata Na Siao Tiap sambil tersenyum, "Tiap Moi, kau jangan merendahkan diri lagi. Aku sudah lapar! Mari kita berangkat sekarang!" kata Pek Yun Hui sambil membetot tangannya Na Siao Tiap, Bee Kun Bu mengikuti mereka dengan penuh pikiran, ia memikirkan kerelaan Na Siao Tiap mengajarkan ia ilmu-ilmu silat dari catatan-catatan kitab Kui Goan Pit Cek, juga kerelaannya Pek Yun Hui mengajarkan ia ilmu silat pedang dan ilmu pukulan untuk kelak dipertunjukkan bahwa tidak pereuma ia menjadi seorang murid dari partai silat Kun Lun di markas besarnya partai Thian Liong di sebelah utara propinsi Kwiciu pada pertengahan bulan delapan lain tahun, jika ia berhasil, pikirnya, mungkin ia dapat kembali terima oleh guru dan Susioknya. Dengan pikiran itu ia merasa sedikit reda, dan berpengharapan terhadap masa depannya!

Demikianlah mereka jalan menuju ke kamar Thian Kie Ciok Hu, masing-masing dengan harapan yang berlainan

Ketika mereka hampir tiba di kamar Thian Kie Ciok Hu, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang memilukan hati, Bee Kun Bu terkejut mendengar suara tersebut, dan ia berhenti! Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap yang berjalan di depan diikuti oleh keempal bujangnya, juga berhenti Mereka terperanjat melihat perubahan wajahnya Bee Kun Bu. "Apakah suaranya Giok Siu Sian Cu? Mengapa wanita itu datang ke sini?" kata Pek Yun Hui seorang diri,

"Bee Siang Kong! Hayo kita jalan terus!" seru Na Siao Tiap,

Bec Kun Bu seolah-olah tidak menghiraukan seruan itu, karena suara jeritan tersebut didengarnya makin lama makin dekat, Dan sejenak kemudian tampaklah seorang wanita yang berpakaian serba hilam datang menghampiri sambil meniup serulingnya,

Datangnya Giok Siu Sian Cu membikin semua mereka menjadi heran, Na Siao Tiap yang belum pernah melihat Giok Siu Sian Cu terus mengawasi gerak-geriknya, Ketika Giok Siu Sian Cu berjalan dekat sekali, ia memandang kepada Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap sejenak, lalu berkata kepada Bee Kun Bu: "Hengtee, ketika aku tidak berhasil mengejar Tio Hui, aku segera kembali mencari kau. Aku tidak menduga dapat menjumpai kau di sini!"

Bee Kun Bu tak dapat menjawab, ia menjadi gelisah, "Hengtee, di manakah Loan Sumoymu!" tanya Giok Siu

Sian Cu.

Bee Kun Bu tetap membungkam dan mundur beberapa langkah sambil menundukkan kepatanya,

Tiba-tiba Giok Siu Sian Cu loncat menerkam, tapi secepat kilat keempat bujangnya Na Siao Tiap meloncat menjaga Bee Kun Bu setelah memperoleh isyarat dari majikannya!

Giok Siu Sian Cu tak dapat mencapai maksudnya, sambil memandang Na Siao Tiap ia menanya: "Siocia, apakah maksudmu ini?"

Ditanya demikian, Na Siao Tiap pun menjadi gugup, ia bertindak menghampiri dan membungkukkan tubuh memberi hormat seraya berkata: "Jika Siocia ada urusan terhadap Bee Siang Kong, lebih baik kita bersama-sama pergi ke kamar Thian Kie Ciok Hu untuk membicarakan-nya."

Setelah melihat Pek Yun Hui, Giok Siu Sian Cu menjawab: "Sebetulnya pergi mengunjungi kamar Thian Kie Ciok Hu adalah baik jugaj akan tetapi urusanku ini tak dapat orang lain turut campur Atas undanganmu itu aku dapat menghaturkan terima kasih."

Dengan nada yang gusar Pek Yun Hui berkata: "Jika kau menolak datang ke kamar Thian Kie Ciok Hu, aku minta kau segera berlalu dari pegunungan Koat Cong San ini!"

Giok Siu Sian Cu yang terkenal sebagai seorang jago silat kenamaan belum pernah dihina sedemikian rupa. Dengan mengejek ia menjawab: "Pegunungan Koat Cong San ini bukannya milikmu, Aku dapat datang atau berlalu sesukaku, kau tak dapat melarang atau mencegahnya!" Lalu ia siap menyerang Tapi Bee Kun Bu berseru: "Aku tak akan lupa budimu yang pernah menolong jiwa ku, tapi jika Siocia terus- menerus mengikuti aku, aku tidak dapat melayani!"

"Hengtee," kata Giok Siu Sian Cu, "Aku ingin mengetahui kau hendak pergi ke mana?"

sebetulnya Bee Kun Bu hendak pergi ke kamar Thian Kie Ciok Hu untuk belajar silat dari Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui menurut petunjuk-petunjuk dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, tetapi ia tak sudi memberitahukan hal tersebut, bahkan ia tidak menjawabnya,

Kegelisahan itu telah dilihat oleh Giok Siu Sian Cu, ia berkata lagi: "Hengtee, aku datang untuk suatu permintaan Apakah kau dapat mengabulkan?"

"Jika permintaanmu itu beralasan, aku tentu dapat menyanggupinya!" jawab Bee Kun Bu.

"Aku ingin menyertai kau keluar dari pegunungan Koat Cong San ini mencari Lie Sumoymu!" kata Giok Siu Sian Cu yang segera membetot tangannya Bee Kun Bu. Betotan itu dilakukan secepat kilat sehingga Bee Kun Bu tidak berkesempatan menghindarkan diri,

Giok Siu Sian Cu mengawasi semua orang di sekitar-nya, lalu ia berkata: "Jika kalian tidak suka aku berdiam di pegunungan Koat Cong San ini, sekarangpun aku hendak berlalu bersama-sama Bee Siang Kong, aku tidak mengganggu kalian lagi!" Sambil berkata-kata ia memijat jalan darah di tangannya Bee Kun Bu sehingga keringat membasahi tubuhnya.

"Mari sekarang kita pergi mencari Lie Sumoymu!" katanya lalu ia membetot tangannya Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui meloncat ke atas dan melayang seperti seekor burung akan kemudian turun di depan mereka! Giok Siu Sian Cu terkejut, dan ia menegur "Pek Siocia, apakah artinya ini?!" Dan teguran itu ia barengi dengan satu sodokan serutingnya.

Pek Yun Hui mengegos, lalu mengirim satu jotosan ke dada lawannya, sebetulnya Giok Siu Sian Cu segera dapat menggunakan jurus Mo In Cap Pwee Cao menangkis dan menyerang lawannya, akan tetapi dengan satu tangan mencekal pergelangan tangannya Bee Kun Bu, ia tak dapat melakukan jurusnya yang lihay itu. ia hanya dapat menangkis jotosan lawan dengan seruling-nya. Hembusan angin dari sabetan seruling itu men-dampas lawannya ke belakang, lalu ia menyerang dengan sodokan bertubi-tubi sambil menyeret Bee Kun Bu.

Na Siao Tiap menyaksikan pertempuran itu segera melihat bahwa ia harus membebaskan Bee Kun Bu dari cekalannya Giok Siu Sian Cu. Lalu ia meloncat ke atas kepalanya Giok Siu Sian Cu dan mengirim satu jotosan,

Giok Siu Sian Cu yang baru saja berhasil mendesak mundur Pek Yun Hui harus cepat-cepat menangkis jotosan ilu. Segera terdengar hembusan angin dari beradunya jotosan dan tangkisan, dan terlihat Giok Siu Sian Cu terdorong mundur selagi Na Siao Tiap melonjak makin tinggi dengan jurus Shin Hong Teng Kong (Burung Hong sakti terbang ke langit) untuk kemudian turun di belakangnya Giok Siu Sian Cu!

Beium lagi Giok Siu Sian Cu berdiri jejak, ketika Pek Yun Hui maju ke sebelah kanannya dan melancarkan jotosan pula. Dalam kedudukan yang terdesak itu, ia terpaksa membuat Bee Kun Bu sebagai perisai Pek Yun Hui terpaksa lekas-lekas menarik kembali jotosannya.

Kesempatan itu digunakan Giok Siu Sian Cu untuk melarikan diri sambil menyeret-nyeret Bee Kun Bu, Tapi ketika Pang Sui Wie telah keburu datang dengan kantong kulit menjangan yang berisi pasir beracun, ia dapat menyambit Giok Siu Sian Cu dengan pasir beracunnya, akan tetapi ia khawatir melukakan juga kepada Bee Kun Bu, Keadaan yang membikin Pek Yun Hui, Na Siao Tiap dan Pang Sui Wie sukar bertindak itu digunakan oleh Giok Siu Sian Cu untuk mengancam, ia membentak: "Jika kalian masih juga menyerang aku, aku terpaksa memijit putus pergelangan tangannya Bee Kun Bu!" Ketika itu juga terlihat Bee Kun Bu meringis kesakitan, dan keringatnya mengucur menahan sakiti

Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap tidak tega melihat penderitaan Bee Kun Bu, dan Pek Yun Hui yang telah mengetahui kekejamannya iblis wanita itu terpaksa ber-kata: "Giok Siu Sian Cu, jangan menyiksa Bee Siang Kong. Kau boleh berlalu!"

Giok Siu Sian Cu menyengir, dan tanpa berkata-kata lagi ia tarik tangannya Bee Kun Bu dan berlalu,

Na Siao Tiap hanya mengawasi mereka berlalu, dan ia mengeluh: "Pek Cici, apakah kita membiarkan iblis wanita itu membawa Bee Siang Kong begitu saja?"

Dengan cemas Pek Yun Hui menahan amarahnya, ia tidak menjawab, ia mendongak dan bersiul Sejenak kemudian bangau saktinya terlihat terbang mendatangi dan turun di sampingnya,

"Tiap Moi," kata ia, "Hayo, kita menaiki bangau ini!" Lalu ia naik ke atas punggung bangau itu dituruti oleh Na Siao Tiap.

Bangau sakti itu yang telah berusia seribu tahun lebih dan bertubuh besar dapat membawa kedua gadis itu. Betapapun cepatnya Giok Siu Sian Cu lari, dia masih dapat dikejarnya, Dalam waktu sekejap saja bangau sakti tersebut sudah berada di atas kepalanya Giok Siu Sian Cu.

Rupanya bangau sakti itu telah paham akan maksud majikannya ia berbunyi lama dan nyaring, Bunyi bangau itu membikin Giok Siu Sian Cu terperanjat ia mendongak dan melihat Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap menunggangi bangau itu, Ketika bangau itu terbang rendah, Pek Yun Hui segera meloncat turun, diturut oleh Na Siao Tiap, "Untuk melayani satu Pek Yun Hui saja, aku sudah terdesak Aku tak dapat melawan mereka berdua!" pikir Giok Siu Sian Cu, lalu ia betot tangannya Bee Kun Bu untuk dijadikan perisai pula, Betotan itu hebat sekali, Bee Kun Bu menjerit kesakitan Satu pijatan lagi saja mungkin lengannya itu bisa putus!

"Hei!" bentak Giok Siu Sian Cu. "Jika kalian masih juga merintangi aku, aku tak dapat menjamin lagi jiwanya Bee Kun Bu."

"Kau yang terkenal sebagai pendekar wanita, tidak malukah berbuat sekeji ini? Apakah perbuatanmu ini tidak melanggar perbuatan yang lazim dari kalangan Kang-ouw?"

Teguran itu menusuk hatinya Giok Siu Sian Cu, ia insyaf bahwa perbuatannya itu betul-betul keji, ia tak dapat menjawabnya,

Dengan tersenyum Na Siao Tiap menanya Bee Kun Bu: "Bee Siang Kong, apakah kau telah dianiaya?"

"Tidak," jawab Bee Kun Bu sambil meringis, "Aku hanya merasa sakit dicekal keras olehnya, Terima kasih atas pertolongan ini."

Lalu di luar dugaan semua, Giok Siu Sian Cu berkata: "Hengtee, kau boleh tinggal bersama-sama kedua wanita

yang cantik ini di pegunungan Koat Cong San. Kelak, jika ada kesempatan, aku akan datang pula mencari kau!" Kata- katanya itu belum lagi habis diucapkan, ia telah melepas cekalannya dan hendak meloncat keluar dari kepungan untuk turun dari pegunungan Koat Cong San itu.

Pek Yun Hui berkata dengan suara keras: "Giok Siu Sian Cu! janganlah kau anggap aku takut dengan ancamanmu itu!" Lalu ia menjotos ke arah Giok Siu Sian Cu siapa harus lekas- lekas menangkis dengan seruling-nya. Baru saja mereka hendak bertempur ketika terlihat mendatangi dua orang dari lereng gunung!

Dengan kedua matanya yang tajam, Pek Yun Hui segera dapat mengenali bahwa kedua orang itu adalah Si Tian Houw dan saudara angkatnya, Ciu Kong Liang!

Sambil berlari-lari menghampiri Si Tian Houw bersemi "Pek Siocia, kita beruntung sekali berjumpa pula!"

Tetapi Pek Yun Hui menjawab dengan ejekannya: "Si Tian Houw, aku tidak menduga dapat menjumpai kalian di sini!

Maksud apakah sebenarnya kalian datang lagi ke pegunungan Koat Cong San?"

Dengan gusar Si Tian Houw menjawab: "Pegunung-an Koat Cong San ini bukan milikmu! Apakah kami tidak boleh datang ke sini?"

Ketika Pek Yun Hui berada di puncak Ngo Houw Leng untuk menangkap kura sakti Ban Lian Hwee Kwi, karena ia harus menolong jiwanya Bee Kun Bu, ia terpaksa menelan hinaan dan menuruti petunjuknya Si Tian Houw, Kini ia berjumpa lagi dengan manusia yang keji itu, ia merasa girang untuk membalas dendamnya, ia berkata: "Jika kalian tidak menjelaskan maksud kedatanganmu ke pegunungan Koat Cong San ini, kalian jangan harap dapat keluar dengan mudah!"

"Umpama kami tidak menjelaskan maksud kami, apa yang kau dapat perbuat terhadap kami?" jawab Si Tian Houw yang tidak senang dipandang remeh oleh seorang gadis.

"Jika kalian tidak sudi menjelaskan terserah! Tetapi aku merasa heran, kalian berani datang ke sini, tapi tak berani menjelaskan maksud kedatanganmu! Bukankah ini ganjil sekali?"

Tiap-tiap kata-kata itu sangat menusuk hatinya Si Tian Houw, dan ia tak sabar lagi, ia ingin menyerang, Lalu Ciu Kong Liang bertindak maju dan berkata, suaranya agak keras: "Kita tidak mempunyai dendam terhadap satu sama lain, Ucapan Pek Siocia tadi sebetulnya keterlaluan!"

Pek Yun Hui tidak menjawab, ia hanya mengawasi gerak- gerik mereka.

"Aku sangat tidak beruntung!" pikir Si Tian Houw, Baru saja kita dapat lolos dari orang-orangnya partai Thian Liong, sekarang bertemu Liehiap-Liehtap ini sebetulnya kita bermaksud mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, jika kita berhasil menemukannya, kita akan mempelajari dan berlatih ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab mujizat itu agar dapat memberikan hajaran yang setimpal kepada Souw Peng Hai! Kita betuI-betul sial!" Baru saja ia ingin berlalu, ketika terlihat seorang meloncat di hadapannya seraya menegur: "Hei! Si Tian Houw, apakah kau masih mengenali aku?"

Teguran itu mengejutkan pada nya. Dengan kedua mata terbelalak ia tampak Kui Pang Sui Wie berdiri di hadapannya dengan sikap mengancam. ia hanya berseru: "Pang Siocia, aku beruntung menjumpai kau!"

"Hm!" Pang Sui Wie mengeluarkan suara di hidung.

"Kita masih ada urusan yang harus dibereskan Hari ini kita dapat membereskan perhitungan itu!" Lalu dengan kantong pasir beracunnya ia siap menyerang,

Pek Yun Hui segera insyaf bahwa Pang Sui Wie betuI- betul akan melaksanakan niatnya membalas dendang maka iapun mundur beberapa langkah seraya berkata: "Pang Siocia, kau dapat membereskan urusanmu itu sendiri, aku tidak campur tangan!"

Terima kasih," kata Pang Sui Wie. "Aku pasti membereskan urusan ini sekarang juga! Wajahku menjadi begini jeleknya karena dia!"

Si Tian Houw bersikap waspada, tetapi ia tak tahu harus berbuat apa! Dengan menunggangi bangau sakti pergi ke lembah yang berbahaya

Dalam saat yang tegang itu, Ciu Kong Liang lekas-lekas loncat maju dan berdiri di depannya Si Tian Houw, ia berkata: "Pang Sui Wie, kau berani melawan kami karena kau sekarang mempunyai kawan, Kau kira dengan pasir beracunmu itu, kau dapat berbuat sesukamu! Bagiku, pasir itu tidak terhitung lihay!"

Bukan main marahnya Pang Sui Wie, ia membentak: "Ciu Kong Liang! Urusan ini kau tak dapat turut campuri Lebih baik kau diam!" Lalu ia meloncat dan menerkam Si Tian Houw siapa harus lekas-Ickas mengegos dan siap melawan dengan pedangnya, Tapi Pang Sui Wie lelah menyambitnya dengan pasir beracunnya, Dengan kedua tinjunya Si Tian Houw berusaha menjotos keluar sehingga hembusan angin dari kedua tinjunya itu dapat mendampar mundur pasir beracun itu,

Pang Sui Wie yang telah bertekad membalas dendam lalu melepaskan anak panah beracun belirang, Secepat kilat Sia Yun Hong mencabut pedangnya dan menangkis anak panah itu. Trang! Anak panah itu tertangkis jatuh di tanah sambil mengeluarkan asap belirangyang beracun dan membakar rumput di sekitarnya! Di dalam sekejap saja mereka semua diselubungi oleh asap belirang itu.

Setelah berhasil menangkis anak panah, Si Tian Houw menusuk Pang Sui Wie tiga kali beruntun dengan jurus "Ouw Liong Cu Tong" (Naga hitam keluar dari gua) sehingga Pang Sui Wie terpaksa mundur, Dengan me-ngertek gigi, Pang Sui Wie menyerang lagi, Tapi Ciu Kong Liang datang menangkis jotosan nya.

Kepandaian Pang Sui Wie memang lebih rendah daripada Si Tian Houw, Dengan bantuan Ciu Kong Liang, Pang Sui Wie tak dapat menggempur lawan nya.

Na Siao Tiap telah melihat kedudukannya Pang Sui Wie, Bagaikan kilat cepatnya, ia meloncat dan mengirim jotosan, Kedua lawan itu terpaksa mundur Giok Siu Sian Cu yang berdiri terpesona menyaksikan pertempuran antara jago-jago silat itu telah lupa akan dirinya, dan kesempatan ini digunakan oleh Pek Yun Hui untuk menjagai Bee Kun Bu. Dan ketika Giok Siu Sian Cu ingin menerkam Bee Kun Bu lagi, Bee Kun Bu sudah sadar untuk melakukan ilmu Ngo Heng Bi Cong punya mengegosi dan mengelaki segala serangan, Meski Giok Siu Sian Cu telah menyerang dengan sodokan serulingnya berkali-kali, akan tetapi tiap-tiap serangannya tidak menemui sasaran lagi sehingga ia merasa heran akan ilmu lawannya itu!

Pek Yun Hui merasa tidak perlu datang membantui, karena dengan Ngo Heng Bi Cong Pu saja Bee Kun Bu sudah dapat menolong dirinya dari segala serangan,

Ketika itu pertempuran telah berlangsung dengan serunya, Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang tak dapat menandingi Na Siao Tiap, dan untuk keselamatan jiwa-nya, mereka lari menuju ke luar lembah

Pang Sui Wie masih penasaran ia mengejar dan siap menyambit mereka dengan pasir beracunnya lagi, Tetapi secepat kilat Na Siao Tiap telah meloncat dan berdiri di depan kedua lawan itu. Pang Sui Wie tak dapat menyambit dengan pasir beracun nya!

Dengan mengejek Na Siao Tiap berkata: "Kalian tak usah terburu-buru lari, Aku tidak ingin menganiaya kalian Aku hanya ingin kalian menjawab pertanyaan Pek Cici, Kalian datang ke sini dengan maksud apa?"

Dengan wajah yang pucat kedua orang itu berdiri gemetaran, dan mereka lebih ketakutan lagi ketika melihat Pek Yun Hui datang menghampiri Kesempatan ini digunakan oleh Pang Sui Wie untuk menghadapi Si Tian Houw, Dengan tertawa seperti orang gila Pang Sui Wie mengancam Si Tian Houw,

"Pang Cici," hibur Pek Yun Hui, "Kau tak usah terlalu sedih hati! Tetapi Pang Sui Wie terus tertawa, lalu menjotos, Si Tian Houw mengegosi jotosan maut itu, dan Ciu Kong Liang yang khawatir pasir beracun dilontarkan lagi, segera menjotos pundaknya Pang Sui Wie. Pang Sui Wie tak dapat mengegos lagi, tapi Pek Yun Hui secepat kilat menggeprak tinju itu dan menghindarkan padanya dari jotosan yang dahsyat itu!

Ciu Kong Liang insyaf bahwa ia tak dapat melawan Pek Yun Hui, ia mundur beberapa langkah,

"Hei! Ciu Kong Liang!" kata Pek Yun Hui, "Aku dan kalian tidak mempunyai dendam, aku tidak bermaksud menganiaya kalian, Apakah kedatanganmu ini dengan maksud mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang jatuh ke dalam jurang bersama-sama Co Hiong?"

Ciu Kong Liang tak dapat menyangkal lagi, ia mengangguk "Selainnya kalian berdua, apakah ada juga orang-

orangnya partai Thian Liong yang datang kembali dengan maksud itu?" tanya Pek Yun Hui.

Lalu Ciu Kong Liang menuturkan maksudnya, dan Pek Yun Hui agar mereka dapat mempelajari ilmu silat sebagai modal untuk membalas dendam terhadap Souw Peng Hai, musuh besarnya,

Setelah mengetahui maksudnya, Pek Yun Hui berkata dengan ramah tamah: "Jika kalian berlalu dari pegunungan Koat Cong San ini, akupun tak akan menaruh dendam terhadap kalian!"

Ciu Kong Uang, merasa lega hatinya dengan anjuran itu, dan baru saja ia ingin mengajak Si Tian Houw berlalu, ketika Pang Sui Wie lekas-Iekas mencegahnya, Kesem-patan itu segera digunakan oleh mereka untuk lekas-Iekas berlalu, Pang Sui Wie masih juga ingin mengejarT tapi Pek Yun Hui menasehatkan: "Sudahlah, Mereka dengan diam-diam telah datang kembali ke pegunungan Koat Cong San dengan maksud mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. jika perbuatan mereka itu diketahui oleh orang-orangnya partai Thian Liong, mereka pasti akan dibasmi oleh orang-orangnya partai Thian Liong, Maka menurut pendapatku, kau tak usah mengejar mereka lagi-"

Nasehat yang beralasan itu dapat diterima oleh Pang Sui Wie, ia tidak mengejar Iagi.

Di lain pihak Bee Kun Bu dan Giok Siu Sian Cu, masih terus bertempur, dan ketika Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang telah berlalu, mereka berhenti bertempur

"Hengtee," kata Giok Siu Sian Cu, "Kali ini aku lepas kau. Tetapi lain kali jika kita berjumpa lagi, kau takdapat lolos lagi!" Lalu iapun berlalu dengan satu loncatan entah kemana!

Dengan memandang Bee Kun Bu, Pek Yun Hui memikiri hubungan antara Giok Siu Sian Cu dan pemuda itu, Ketika itu hujan mulai turun, dan Na Siao Tiap mengajak cicinya berlalu,

Kedua gadis itu berjalan paling depan diikuti oleh Bee Kun Bu dan lain-lainnya. Di sepanjang jalan Bee Kun Bu diajak bereakap-cakap oleh keempat bujang perempuannya Na Siao Tiap, akan tetapi Bee Kun Bu hanya tersenyum saja,

Di sepanjang jalan Pek Yun Hui berpikir "Aku suka merasa sukar membereskan hubungan-hu bunga n nya terhadap Souw Hui Hong dan Lie Ceng Loan, Kini ternyata bahwa Giok Siu Sian Cu pun tergila-gila terhadapnya, Mungkin juga Na Siao Tiap telah jatuh hati padanya-"

Sikap tersebut juga diperhatikan oleh Na Siao Tiap,

"Pek Cici, apakah yang kau sedang pikiri?" tanya gadis itu.

Seperti orang yang tersadar dari tidurnya, Pek Yun Hui menjawabnya dengan terkejut: "Oh! Tidak apa-apa!"

"Cici," kata Na Siao Tiap, "Aku tahu apa yang kau sedang pikirkan,"

"Coba sebut apa yang aku sedang pikirkan," kata Pek Yun Hui dengan tersenyum, "Tapi Cici tak usah khawatir bahwa aku akan membikin Cici bersedih hatL." kata Na Siao Tiap, "Sekarang aku tidak mau sebut apa yang sedang dipikir oleh Cici,"

Demikianlah mereka berjalan sambil bereakap-ca-kap, kemudian mereka tiba di kamar Thian Kie Ciok Hu. Ketika itu juga terdengar suaranya bangau sakti yang terbang turun dan berdiri di sampingnya Pek Yun Hui, Lalu Pek Yun Hui berkata kepada Na Siao Tiap:."Tiap Moi, mari kau ikut aku!"

"Apakah aku dapat ikut juga?" tanya Bee Kun Bu,

Na Siao Tiap mendahului Pek Yun Hui menjawab: "Baik, kita pergi bersama-sama!"

"Apakah Cici ingin menghadapi orang-orang yang akan berusaha pergi ke jurang untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?" tanya Bee Kun Bu.

"Betul!" jawab Pek Yun Hui, "Bangau ini memberitahukan aku bahwa mereka tidak menghiraukan per-ingatanku, Mereka telah datang kembali pula, Oieh karena itu, dengan bantuannya Tiap Moi, aku ingin membasmi mereka!"

"Aku yakin bahwa ilmu silatku tidak lihay, tetapi akupun ingin membantu...H kata Bee Kun Bu berterus terang.

"Baiklah," kata Na Siao Tiap, "Aku dapat menjaga kau jika kau terdesak,"

Pek Yun Hui tertawa dan berkata: "Baiklah, mari kita berangkat sekarang, Kalian berdua dapat menunggangi bangau sakti ini dan terbang ke dalam jurang yang berbahaya itu. jika kalian menjumpai orang-orang yang berada di dalam jurang itu, tidak perduli siapapun, kalian harus basmi mereka, dan aku akan mencegat lari keluarnya mereka."

Dengan tersenyum manis Na Siao Tiap mengangguk, lalu ia loncat ke atas punggungnya bangau dan memanggil Bee Kun Bij untuk menunggangi bangau itu di belakang-nya.

Dengan menghadapi Pang Sui Wie, Pek Yun Hui memberi perintahnya: "Setelah kami pergi, mungkin ada orang datang ke kamar Thian Kie Ciok Hu. sebelumnya kami kembali, kau tidak boleh membuka pintu melawan orang atau orang-orang yang datang menyerbu Kau harus menjaga di dalam kamar, dan jaga baik-baik jangan sampai ada orang dapat masuk ke dalam kamar!"

Pang Sui Wie menundukkan kepala seraya menjawab: "Aku akan mentaati perintah itu!"

Lalu Pek Yun Hui menyuruh Na Siao Tiap segera berangkat sedangkan ia sendiripun berlalu dengan cepat, meninggalkan Pang Sui Wie dan keempat bujang perempuannya Na Siao Tiap!

Dengan cepat sekali bangau sakti itu telah membawa Na Siao Tiap dan Bee Kun Bu ke atas jurang yang diselubungi oleh kabut

Tiba-tiba Na Siao Tiap menanya: "Bee Siang Kong, kau memikirkan apa?"

Bee Kun Bu tak dapat segera menjawab, karena sebetulnya ia sedang memikiri nasibnya yang selalu diganggu oleh wanita-wanita yang cantik jelita dan muda belia. Lie Ceng Loan, Pek Yun Hui, Souw Hui Hong, Giok Siu Sian Cu dan sekarang Na Siao Tiap. ia insyaf dan yakin bahwa mereka semua telah jatuh hati ter-hadapnya, dan karena merekalah, ia selalu mengalami kesulitan Lalu ia menjawab: "Aku sedang memikiri Loan Sumoyku, Dia selalu gemar menunggangi bangau ini, dan jika dia dapat menungganginya, dia pasti merasa girang dan senang!"

"Lie Sumoymu itu sangat cantik, semua orang suka dan bersimpati terhadapnya, Pek Cici sayang dia, akupun sayang dia," kala Na Siao Tiap,

"Betul."

"Apakah kau pun sayang Lie Sumoymu?" "Terhadap saudari seperguruanku, aku harus sayang dan menjagal dia."

"Apakah kau juga sayang Pek Cici?"

"Pek Cici memiliki ilmu silat yang tinggi, berpengetahuan luas, Berwatak luhur dan pemurah hati, siapapun yang mengenal dia, akan menghormati dan menyayangi padanya."

"Apakah kau membenci aku?"

"Dahulu aku pernah bermusuhan terhadapmu tetapi itulah karena salah paham, Tetapi kemudian berulang kali kau telah menolong jiwaku, dan budi kasihmu ini aku tak akan lupa, Bagaimanakah kau bilang aku membenci kau? Ha! Ha! Ha...!"

ia menjawab semua pertanyaan itu dengan memalingkan muka ke Iain jurusan ia tak berani memandangi gadis itu.

Lalu bangau itu berbunyi nyaring dan terbang turun ke bawah jurang yang berbahaya dan dalam itu. Bee Kun Bu memperhatikan keadaan di sekitar jurang itu, dan mengenali bahwa ke dalam jurang itulah Co Hiong yang keji dan kejam telah tergelincir

Tiba-tiba Na Siau Tiap menanya lagi: "Jika di kaki jurang kita menjumpai Suhu dan Susiokmu, apakah kita juga harus mentaati pesan Pek Cici dan membasmi mereka ?n

Bee Kun Bu terkejut dan ia menjawab: "Suhu dan Susiokku adalah orang-orang yang agung dan luhur Mereka tak akan berbuat yang demikian itu."

"Ya, jika mereka tidak pergi ke dalam jurang, itu memang baik sekali, Tetapi... jika mereka pergi, kita harus berbuat apa terhadap mereka????"

Bee Kun Bu menjadi gugup, ia tak dapat segera menjawabnya,

Kemudian bangau itu turun dan berdiri di atas satu batu gunung yang besar Na Siao Tiap loncat turun, Bee Kun Bu memperhatikan bahwa dari punggung bangau ke atas tanah jauhnya lebih dari dua tombak, akan tetapi Na Siao Tiap dapat meloncat turun dengan mudah sekali ia merasa kagum. iapun terpaksa menuruti meloncat turun,

sekonyong-konyong Na Siao Tiap bersem: "Lekas-lekas tutup kedua matamu! Anggap saja kau tidak melihat mereka!"

-ooo0ooo-

Bertempur merebut kitab-kitab KuI Goan Pit Cek

Bee Kun Bu terperanjat dan menanya: "Mengapa aku harus memejamkan mata?"

"Suhu dan kedua susiokmu telah datang!" menjelaskan Na Siao Tiap.

Bee Kun Bu melihat di sekitamya, dan dari belokan lereng gunung itu betul-betul melihat tiga bayangan orang yang jalan berbaris, Karena jaraknya agak jauh, ia tak dapat melihat tegas ketiga orang itu, Hanya tertampak ketiga orang tersebut berjubah, dan ia sangat khawatir jika ketiga orang itu betul- betul Suhu dan kedua Susiok-nya.

"Mari kita bersembunyi di belakang batu yang besar itu!" seru Na Siao Tiap, Saran tersebut dapat disetujui oleh Bee Kun Bu, karena ia tak ingin terlihat oleh Suhu dan Susioknya,

Lalu Na Siao Tiap meloncat ke atas batu, dan sambil menepuk-nepuk bangau yang berdiri di atas batu ia berkata: "Aku dan Bee Siang Kong bersembunyi di belakang batu, Kau boleh pergi terbang!"

Agaknya bangau itu sangat mengerti, dia segera terbang pergi, Na Siao Tiap meloncat turun lagi dan bersembunyi di belakang batu bersama-sama Bee Kun Bu.

Suara tindakan kaki dari ketiga orang itu makin lama makin dekat terdengarnya, Bee Kun Bu berusaha mengintip dari belakang batu, dan alangkah terkejutnya ia menyaksikan dengan kepala mata sendiri bahwa ketiga orang itu benar- benar ketiga pemimpin dari partai silat Kun Lun, Ketika itu mereka sedang merundingkan se-suatu, dan tidak memperhatikan jika di balik batu yang besar, Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap sedang bersembunyi.

Batu yang besar itu terletak tepat di kaki jurang, rumput dan alang-alang tumbuh di sekitarnya sehingga merupakan suatu tempat yang baik sekali untuk bersembunyi Hanya batu tersebut terlalu dekat dinding jurang, dan bagi dua orang rupanya agak sempit Bee Kun Bu terpaksa berdiri rapat-rapat dengan Na Siao Tiap yang merasa nikmat berada di sampingnya Bee Kun Bu dengan memejamkan kedua matanya,

Dalam suasana yang sunyi senyap itu terdengar oleh mereka seorang berkata: "Di balik batu yang besar itu kita dapat bersembunyi Bee Kun Bu terkejut, karena suara itu adalah suara gurunya yang pernah memelihara, mendidik dan mengajarkan ilmu silat selama dua belas tahun kepadanya! "Apakah yang aku harus berbuat jika Su.mu datang ke sini?" pikirnya,

Belum lagi hilang terkejutnya ketika terdengar suara orang tertawa gelak-gelak seraya berseru: Tidak diduga ketiga Tojin telah tiba di sini lebih dulu, Rupanya aku terbelakang sedetik!"

Suara tersebut dikenal betul oleh Bee Kun Bu, karena orang itu adalah Tu Wee Seng, pemimpin partai silat Hua San.

Terdengar Tong Leng Tojin berkata: "Meskipun kami telah datang lebih dulu, akan tetapi Tu-heng juga tidak datang terlambat Kami belum melakukan apapun di sini!"

"Partai Hua San dan partai Kun Lun sebetulnya harus berserikat," kata Tu Wee Seng. "Jika ketiga Tojin rela menunjukkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang telah dapat dteari, aku tentu merahasiakan hal ini. "

Lalu terdengar seorang berseru sambil berlari-Iari: "Aha! Rupanya kalian telah datang lebih dulu, aku hanya harap aku tidak di!upakan.... Suara itu adalah suaranya Sia Yun Hong, dan Bee Kun Bu berkata di dalam hatinya: "Celaka! Tu Wee Seng dan Sia Yun Hong telah menyangka Suhu dan kedua Susiokku berhasil mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek! Mungkin mereka akan bertempur karena salah paham itu!"

Wajah yang cemas itu telah dilihat oleh Na Siao Tiap yang segera menanyai "Kita harus berbuat apa sekarang? Rupanya Tu Wee Seng maupun Sia Yun Hong menduga Suhu dan susiokmu telah memiliki kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening, lalu menjawab, suaranya rendah: "Untuk sementara waktu kita dapat berdiam di sini dan memperhatikan perkembangannya lebih lanjut!"

Na Siao Tiap tersenyum dan memejamkan kedua matanya lagi.

Lalu terdengar lagi Tu Wee Seng berkata: "Menurut pandanganku, tempat ini adalah tempat jatuhnya Co Hiong, Mungkin ketiga Tojin telah menjumpai mayat-nya!"

Giok Cin Cu menjawab: "Kami hanya sedetik lebih dulu tiba di tempat ini. t"

"Kami ingin memeriksa!" seru Sia Yun Hong, dan terdengar lagi suara kakinya orang berlari-lari.

Bee Kun Bu mengintip dan tampak beberapa orang itu sedang memeriksa keadaan diantara rumput dan alang-alang,

"Tidak salah, ini darah manusia!" seru Tu Wee Seng setelah ia mencium tanah yang ia periksa, Lalu ia menghadapi ketiga pemimpin partai Kun Lun dan berkata: "Buktinya sudah terang, Ketiga Tojin tak dapat menyangkal lagi!"

"Tu-heng anggap kami ini orang-orang macam apa?" berkata Tong Leng Tojin sambil tertawa, "Pereayalah, bahwa kami tidak melihat mayatnya Co Hiong atau kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Kami tak akan berdusta!"

Tu Wee Seng mengawasi Sia Yun Hong dan menanyai "Bagaimanakah pendapat Sia-heng?" Sia Yun Hong memperhatikan keadaan di sekitarnya, lalu menjawab: "Menurut pandanganku lebih baik ketiga Tojin mengeluarkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, lalu dibagi menjadi tiga bagian, yakni untuk partai Kun Lun, partai Hua San dan partai Tian Cong, Karena, kitab-kitab tersebut telah diperoleh oleh partai Kun Lun, maka partai Kun Lunlah berhak memilih paling dulu dari ketiga kitab termaksud, Tiga tahun kemudian aku dari Tu-heng akan membawa kitab-kitab lainnya pergi ke kuil San Ceng Kiong di puncak Kim Teng Hong di pegunungan Kun Lunj dan setelah kami tukar membaca, k^i akan mengembalikan kitab-kitab itu kepada partai Kun Lun."

"Usul itu baik sekali!" seru Tu Wee Seng sambil menepuk tangan, "Dan bagaimanakah pendapat ketiga pemimpin Kun Lun?"

Tong Leng Tojin tak tahan sabar lagi. ia cabut pedangnya dan mengancam: "Kalian rupanya masih juga tidak pereaya keterangan kami. Lagi sekali aku katakan bahwa kami belum mencari dapat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu. jika kalian masih juga tidak pereaya, terserahlah!"

Sia Yun Hong tersenyum, dan berkata: "Baik! Rupa-nya kalian ingin kami merebut kitab-kitab tersebut dengan kekerasan Aku hanya ingin mengetahui apakah ketiga Tojin melawan aku sendiri, atau satu lawan satu? Jika dikehendaki aku dan Tu-heng akan melawan kalian bertiga!"

Tong Leng Tojin membentak: "Sia-heng, kau tak usah banyak bicara, aku siap melawan kau!"

Sia Yun Hong pun lantas mencabut pedangnya siap bertempur, dan berkata: "Pedang ini tidak mempunyai mata, mungkin juga salah satu dari kita akan terluka atau tewas dalam pertempuran Nah! Kau boleh mulai menyerang!"

Kata-kata yang kasar itu membikin gusar Hian Ceng Tojin, dan ia telah mengetahui bahwa ilmu silat pedang Sia Yun Hong lihay sekali. Jika Tong Leng Tojin kalah, maka jatuhlah pamornya partai Kun Lun, karena Tong Leng Tojin memegang pemimpin partai, Maka ia cabut pedangnya dan mencegah suteenya dengan berkata: "Su-tee memegang pemimpin partai, soal ini kau serahkan kepadaku!"

Lalu secepat kilat ia menyabet Sia Yun Hong dengan pedangnya!

Tapi Sia Yun Hong telah siap sedia, dan iapun beranggapan urusan ini harus dibereskan lekas-lekas, Jika orangorangnya partai Thian Liong telah datang, maka Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap juga tentu akan datangi dan ia tak dapat menghadapi banyak lawan, Maka sabetan pedangnya Hian Ceng Tojin ia tangkis dengan pedangnya yang dikerahkan dengan tenaga dalam! Terdengar dua senjata beradu dengan memuncratkan lelatu api, dan dua-duanya terdampar mundur beberapa langkah.

Dengan cepat Sia Yun Hong sudah loncat menyerang lagi dengan jurus Tiang Hong Keng Thian (Pelangi melintasi angkasa), dan terlihat pedangnya menyabet pinggangnya Hian Ceng Tojin.

Hian Ceng Tojin harus meloncat mundur lagi mengelaki sabetan pedang maut itu, dan maju menyerang dengan jurus Wa Hun Keng Wie (Sinar Surya membuyarkan uap) dengan memutar-mutar pedangnya, salah satu jurus yang lihay dari ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam Hoat khas dari partai Kun Lun, dan jurus itu adalah untuk melindungi diri dari serangan sambit mencari lowongan untuk menyerang lawan.

Pada satu ketika pedangnya itu beradu hebat sekali dengan pedangnya Sia Vun Hong, demikian kerasnya sehingga pedang itu putus! Hian Ceng Tojin terus melancarkan jurus Wa Hun Keng Wie untuk melindungi dirinya, dan demikianlah pertarungan berjalan dengan serunya selama tiga puluh jurus,

"Berhenti!" berteriak Tu Wee Seng, dan Sia Yun Hong meloncat ke belakang sambil menarik pulang pedangnya, begitu pun Hian Ceng Tojin berhenti tidak menyerang lawannya, Dengan khidmat Tu Wee Seng berkata: "Pada pertengahan bulan delapan lain tahun, kita semua harus pergi ke markas besarnya partai Thian Liong di sebelah utara propinsi Kwiciu, Kini jika dua macan saling bertempur bukankah kita akan kehilangan satu macan untuk menggempur partai Thian Liong? Sekarang kita anggap saja pertempuran ini seri! sembilan partai harus berserikat menggempur partai Thian Liong, dan kita bertindak salah jika kita saling cakar sekarang!"

Sia Yun Hong terperanjat mendengar penjelasan Tu Wee Seng. ia kira Tu Wee Seng tentu membantu ia untuk memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dari tangannya ketiga pemimpim partai Kun Lun itu. ia yakin bahwa tanpa bantuannya Tu Wee Seng, ia tak dapat melawan ketiga pemimpin partai Kun Lun itu. ia menjadi gusar, dan ia menegur: "Tu-heng! Apakah artinya ini? Jika kau juga ingin membantu mereka, aku tidak berkeberatan?"

Tu Wee Seng tersenyum, dan menjelaskan "Sia-heng, janganlah kau salah mengcrti," kata ia. "Maksudku ialah untuk memperingatkan janji kita terhadap partai Thian Liong, Jika kita dapat berserikat, bukankah tenaga kita akan lebih kuat untuk menggempur partai Thian Liong? Coba pikir, apakah manfaatnya jika kita saling cakar sekarang?" Ketika itu kedua matanya melirik ke arah batu besar yang penuh rumput dan alang-alang itu, yang tergoyang-goyang dan mencurigakan

Sia Yun Hong juga menoleh ke arah batu yang besar itu, dan iapun rupanya mengerti akan maksud kawannya, Lalu Hian Ceng Tojin berkata kepada mereka: "Sia-heng, Tu-heng, kalian masih juga mencurigai kami telah menemui mayatnya Co Hiong, dan memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Tu- heng menyangkanya kami menyembunyikan mayat dan kitab- kitab tersebut di belakang batu yang besar itu, Aku persilahkan kalian pergi memeriksanya!" Tu Wee Seng agak kemalu-maluan, karena Hian Ceng Tojin telah dapat membaca isi hatinya, Dengan tertawa gelak- gelak ia berkata: "Tojin betul-betul mempunyai mata yang tajam Jika diijinkan, kami akan periksa di belakang batu yang besar itu."

Baru saja ia berjalan menghampiri batu itu, tiba-tiba dari balik batu tersebut berjalan keluar seorang gadis yang mengenakan pakaian putih dan berselendang biru,

Bukan main terkejutnya Tu Wee Seng menampak munculnya Na Siao Tiap itu, ia lekas-lekas mundur lagi! Munculnya Na Siao Tiap bukan saja mengejutkan Tu Wee Seng, juga Sia Yun Hongdan ketiga pemimpin partai Kun Lun tak terkecuali

Tanpa menegur lagi, Na Siao Tiap meloncat dan menyerang Tu Wee Seng, Lekas-lekas Tu Wee Seng melindungi dirinya dengan toya bambunya dengan jurus Om Im Pik Gwat (Awan hitam menutupi bulan), Tapi Na Siao Tiap terus melancarkan jotosan-jotosannya yang dapat merobohkan tembok,

Meskipun Tu Wee Seng berusaha keras melindungi diri, akan tetapi ia tak luput menerima beberapa jotosan sehingga mukanya menjadi bengkak dan matang biru, Ketiga pemimpin partai Kun Lun dan Sia Yun Hong tidak datang membantu Mereka berdiri menyaksikan ilmu silat yang luar biasa dari seorang gadis yang masih sangat muda usianya, Mereka semuanya sebagai jago-jago silat yang sudah berpengalaman dan lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw, mereka insyaf akan kehebatan jotosan-jotosan yang dilancarkan Na Siao Tiap itu.

Tiba-tiba Tu Wee Seng menjerit keras sekali, dan ia mengambil beberapa biji besi ke arah Na Siao Tiap sambit melarikan diri ke arah lain dari kaki jurang yang dalam dan berbahaya itu!

Gema jeritannya terdengar seperti jeritan setan yang membikin bulu roma bangun berdiri! Hanya dengan kebutan selendangnya, Na Siao Tiap berhasil menyanv pok semua biji- biji besi jatuh di tanah! Lalu secepat kilat ia pungut satu biji besi yang segera disambitkan ke arah Sia Yun Hong. jurus itu adalah jurus To Im Kiat Yo (Menggunakan tenaga lawan menyerang musuh) yang sering digunakan oleh Pek Yun Hui, dan serangan demikian sukar ditangkis, karena tak terduga semula.

Sia Yun Hong yang memiliki ilmu silat yang tinggi dan banyak pengalaman tidak berani menangkis biji besi itu, karena ia yakin, bahwa sambitan itu dikerahkan dengan tenaga dalam yang besar tiada tandingan! ia lekas-lekas loncat ke samping,

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Na Siao Tiap, "Mengapa Tu Wee Seng lari! Dan sekarang aku akan memberi hajaran kepada kau!" Baru saja ia hendak menyerang pu!a, tiba-tiba ia ingat akan ketiga pemimpin partai Kun Lun yang ia hormati ia menjadi serba salah, Pek Cici telah perintahkan padanya untuk membasmi segala orang yang ia jumpai di kaki jurang, dan kini ia harus membasmi ketiga pemimpin partai Kun Lun yang ia hormati itu. Pada saat itu ia hanya dapat tersenyum terhadap ketiga pemimpin partai Kun Lun itu,

Lalu secepat kilat ia meloncat menyerang Sia Yun Hong! Ketiga pemimpin partai Kun Lun tak berani bergerak, Mereka yakin bahwa Na Siao Tiap itu memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada mereka bertiga. Merekapun sangat khawatir bahwa gadis itu menganggapnya mereka datang untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

-ooo0ooo-

Kipas besi memperlihatkan kelihayannya

Ketika Sia Yun Hong memperhatikan lagi, entah dengan ilmu apa, ia telah melihat Na Siao Tiap sudah berdiri jejak beberapa langkah di sampingnya, maka ia harus segera putar pedangnya untuk melindungi dirinya, Dengan satu sodokan tangan kirinya yang dikerahkan dengan tenaga dalam, Na Siao Tiap berusaha memukul lawannya, Sia Yun Hong terkejut, ia meloncat ke belakang setombak jauhnya, Tetapi Na Siao Tiap dengan gesit terus mengejarnya dan secepat kilat menjotos pipi kanan lawannya,

"Pipi kiri belum kuhajar!" seru Na Siao Tiap, dan secepat kilat menjotos pipi kiri lawannya,

Betapapun cepatnya Sia Yun Hong berdaya mengegosi jotosan itu, namun tak luput jotosan yang kedua kali itu, mampir juga di pipi kirinya, Kepalanya menjadi pusing, dan ia memuntahkan darah!

pertempuran tersebut disaksikan oleh ketiga pemimpin partai Kun Lun dengan perasaan kagum, Cara-caranya Na Siao Tiap menyerang dan memukul kedua pipinya Sia Yun Hong itu mereka belum pernah lihat sebelum nya. Dari lima orang itu, sudah dua yang telah dihajar Mungkin akan menjadi gilirannya mereka untuk dihajar Mereka tak dapat melarikan diri. Mereka hanya saling mengawasi dalam keadaan yang serba sulit itu.

La!u terdengar Sia Yun Hong berseru: "Sudahlah!" dan ia segera lari pergi,

Dengan senyuman terpaksa Tong Leng Tojin berkata kepada Hian Ceng Tojin dan Giok Cin Cu: "Kita sebagai pemimpin partai Kun Lun tak dapat dihina! Kita harus menggempur dia. jika kita bertiga masih juga tak dapat menandinginya, kita tak ada muka lagi untuk menjumpai jago- jago silat lainnya!"

Dengan pedang terhunus Hian Ceng Tojin menjawab "Kau dan Sumoy saksikan aku yang akan menggempur dia lebih duIu!"

Sambil tertawa Na Siao Tiap berkata: "Lebih baik kalian bertiga berlalu dari sini, Aku tak bermaksud menghajar kalian."

Ketiga pemimpin partai Kun Lun tak dapat segera menyahut sejenak kemudian, dengan mengayun pedangnya Tong Leng Tojin berkata: "Kami sungkan untuk minta ampuni siocia dapat menyerang kami, Silahkah!" Lalu ia meloncat maju dan menusuk Na Siao Tiap!

Dengan lincah sekali Na Siao Tiap mengegosi tusukan maut itu seraya berseru: "Sabar! Kapankah kalian minta ampun? Aku sendiri yang sungkan bertempur melawan kalian!"

Na Siao Tiap mencelat ke atas untuk menghindarkan sabetan pedang, ia melayang-Iayang di udara seolah-olah seekor kupu-kupu.

Tetapi Tong Leng Tojin dengan jurus Heng Toan Bo San (Menyabet pinggang iblis) menyapu pinggang gadis itu dengan pedangnya seraya membentak "Siapa-kah yang menyuruh kau bermurah hati?"

Na Siao Tiap mencelat ke atas untuk menghindarkan sabetan pedang, ia melayang-Iayang di udara seolah-olah seekor kupu-kupu.

"llmu meringankan tubuh sedemikian rupa belum pernah aku menyaksikannya," pikir Hian Ceng Tojin, dan ia lalu berkata kepada Sutee dan Sumoynya: "Sudahlah! Hayo kita berlalu dari sini!"

Giok Cin Cu segera ikut berlalu, Tong Leng Tojin terpaksa mengikuti berlalu juga.

Setelah mereka berlalu, Na Siao Tiap baru turun ke tanah dan berseru: "Baik-baik jalan! Jika kalian menjumpai Pek Ciciku, katakan saja bahwa Bee Siang Kong memohon kalian datang ke sini untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cekku, Aku yakin dia tak akan menjadi gusar."

Bukan main terperanjatnya Bee Kun Bu mendengar ucapan itu.

"Celaka! Mengapa dia mengatakan demikian?" katanya di dalam hati, Betul saja ketiga pemimpin partai Kun Lun itu berhenti setelah mendengar anjuran tersebut Mereka berbalik, dan dengan wajah yang cemas Hian Ceng Tojin menanyai "Di manakah Bee Kun Bu sekarang?"

Sedianya Na Siao Tiap mengatakan demikian dengan maksud baik, ia khawatir jika ketiga pemimpin itu menjumpai Pek Yun Hui, mereka akan dihajar oleh gadis itu, yang telah bertekad menghajar siapapun yang datang ke lembah itu, Tetapi di luar dugaannya, anjurannya itu telah berakibat sebaliknya. Karena melihat Hian Ceng Tojin menjadi gusar, iapun menjadi murka pula. ia membentak: "Mengapa kalian demikian gusarnya? Jika aku tidak memandang Bee Siang Kong, kalian tak luput dari hajaranku!"

Hian Ceng Tojin melirik ke arah Tong Leng Tojin yang sudah sudah menjadi sangat gusar "Gadis ini sangat lihay ilmu silatnya, Aku yakin kita bertiga tak dapat menggempur dia.

Jika aku tidak bersikap sabar kali ini, kami pasti menjumpai bahaya yang lebih besar-besar," pikirnya, lalu dengan senyum yang dipaksa ia berkata kepada Na Siao Tiap: "Kami menanya di manakah Bee Kun Bu sekarang berada karena kami ingin bicara ke-padanya."

jawaban itu meredakan kegusaran Na Siao Tiap yang setelah menghela napas berkata dengan khidmat: "Bee Siang Kong adalah seorang yang luhur budi pekertinya. Tetapi kalian telah dengan kejam mengusirnya sehingga dia ingin membunuh diri di pegunungan ini. "

Memang sebetulnya Hian Ceng Tojin tidak berdaya untuk mencegah pengusiran Bee Kun Bu dari partai Kun Lun, karena ia telah menyerahkan urusan partai kepada Suteenya, ia yang telah memelihara, mendidik dan mencintai muridnya itu selama dua belas tahun, telah mengetahui betul bahwa muridnya itu adalah seorang yang setia, jujur, luhur dan berbudi Maka ketika mendengar muridnya itu ingin membunuh diri karena telah diusir, ia tak tahan lagi menyatakan kecemasannya. "... beruntung sekali dia dapat ditolong oleh Pek Ciciku, dan dirawat di kamar Thian Kie Ciok Hu," meneruskan Na Siao Tiap,

"Apakah Siocia telah menjumpai juga seorang gadis mengenakan pakaian putih yang berjalan bersama-sama dia?" tanya Hian Ceng Tojin.

"Apakah gadis itu bernama Lie Ceng Loan?" tanya Na Siao Tiap.

"Betul," jawab Hian Ceng Tojin.

"Aku tidak menjumpai dia. Tetapi aku yakin dia tak menjumpai haJ-hal yang tak diinginkan karena dia adalah seorang gadis yang berbudi Tuhan selalu melindungi padanya!" kata Na Siao Tiap,

Hian Ceng Tojin masih juga merasa khawatir akan keselamatannya Lie Ceng Loan. Bagaimana ia harus menjawabnya bila ia menjumpai kawan karibnya, Ngo Kong Taysu, dan ia tak dapat memberitahukan di mana Lie Ceng Loan sekarang berada. ia menghela napas, lalu sambil menghadapi Giok Cin Cu ia menanyai "Sumoy, apakah kau membawa barang pusaka dari orang tuanya Loan Jie?"

Dengan perasaan heran Giok Cin Cu berbalik menanyai "Mengapa? Apakah Toako juga ingin mengusir Loan Jie keluar dari partai Kun Lun?"

Sambil menundukkan kepala Hian Ceng Tojin ber-kata: "Lain tahun kesembilan partai silat akan mengadu silat melawan partai Thian Liong, Pihak manakah yang akan menang sukar diramalkan, Ngo Kong Taysu telah menyerahkan Loan Jie kepada kita dengan maksud mempergunakan tenaga partai Kun Lun kita untuk membalas dendang Menurut pendapatku, tenaga kita tak akan dapat melaksanakan maksud Ngo Kong Taysu itu. Lebih baik kita serahkan barang pusaka orang tuanya Loan Jie kepada Na Siocia untuk diserahkan lebih jauh kepadanya pernyataan tersebut penuh artinya, karena Giok Cin Cu telah mengetahui bahwa Toakonya itu berpemandangan luas, ia tak membantah lagi, ia segera keluarkan barang pusaka peninggalan orang tuanya Lie Ceng Loan dari saku di d ada nya, dan sambil menyerahkan barang tersebut ia berkata: "Barang pusaka ini masih utuh."

Setelah menerima barang itu, Hian Ceng Tojin jalan menghampiri Na Siao Tiap dan berkata dengan khidmat: "Aku mempunyai satu urusan yang hendak memohon pertolongan Siocia, Apakah Siocia sudi menolongnya?" Na Siao Tiap memandang sejenak, lalu menyahut: "Urusan apakah?"

"Benda di dalam bungkusan ini adalah barang pusaka peninggalan orang tuanya Lie Ceng Loan. Aku mohon Siocia menyerahkan barang ini kepadanya!" jawab Hian Ceng Tojin,

"Aku tak tahu dia sekarang ada di mana," kata Na Siao Tiap, "Kemanakah aku harus mencarinya?"

"Meskipun barang ini penting," kata Hian Ceng Tojin, "Tetapi Siocia tak usah repot untuk segera menyerahkan kepadanya, Jika Siocia kebetulan menjumpai dia, sudi sekiranya berikan kepadanya."

"Bagaimanakah jika aku serahkan kepada Bee suhengnya

?" tanya Na Siao Tiap,

"Begitupun baik!" jawabnya kemudian, Sambil tersenyum Na Siao Tiap menyambuti barang itu dan terus dimasukkan ke dalam saku di dadanya,

Giok Cin Cu segera mengerti akan maksud suhengnya yang hendak mempergunakan tenaganya Pek Yun Hui dan Na Siao Tiap untuk membantu Lie Ceng Loan membalas dendam,

Tong Leng Tojin hanya berdiri menyaksikan ia merasa heran mengapa suhengnya segera melupakan permusuhan terhadap gadis itu, Na Siao Tiap yang sebetulnya tidak bermaksud bermusuhan terhadap ketiga pemimpin partai Kun Lun itu demi kepentingannya Bee Kun Bu, lalu mengangkat kedua tangannya memberikan hormat seraya berkata: "Ketiga angkatan tua dapat bertalu dari sini. Maaf jika aku tak mengantar!"

Ketiga pemimpin partai Kun Lun mengerti bahwa Na Siao Tiap menghendaki mereka lekas-lekas meninggalkan lembah itu, maka setelah mengucapkan terima kasih, merekapun segera ber!alu.

Na Siao Tiap mengawasi ketiga orang itu berlalu sampai tak kelihatan Iagi. Lalu ia berseru: "Bee Siang Kong! Keluar. Mereka sudah berlalu!"

Tetapi tiada suara jawaban, ia merasa heran. ia lari menghampiri batu yang besar di mana Bee Kun Bu sedang tersembunyi ia menyingkap daun-daun semak belukar, dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang tua yang berjubah dan bersenjata kipas besi sedang mencekal lehernya Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu sudah tak berdaya, Rupanya ia telah ditotok jalan darahnya, wajahnya pucat pasi, Orang yang mencekal lehernya Bee Kun Bu adalah Ong Han Siong, pemimpin cabang bendera kuning dari partai silat Thian Liong!

Sambil berdiri diam Na Siao Tiap mengasah otaknya berusaha mencari akal untuk menolong Bee Kun Bu. ia dapat segera menerkam Ong Han Siong dan membunuhnya jika mau, akan tetapi dalam keadaan itu, iapun dapat memaksa Ong Han Siong membunuh Bee Kun Bu!

ia menjadi gelisah melihat keadaannya Bee Kun Bu yang sudah memejamkan matanya seo!ah-oleh menerima nasib,

"Mundur!" bentak Ong Han Siong, "Atau aku segera menghabisi jiwanya!"

Ong Han Siong yang sangat berpengalaman di kalangan Kang-ouw telah berhasil mencekal Bee Kun Bu untuk dijadikan sandera, dan betul saja Na Siao Tiap mundur beberapa langkah setelah digertak, "Kau jangan lukakan dia!" kata Na Siao Tiap. "Jika ada urusan, kita dapat berdamai."

Ong Han Siong yang sangat merasa khawatir jika ia diserang tiba-tiba oleh Na Siao Tiap, telah mengumpulkan tenaga dalamnya siap sedia menghadapi segala sesuatu sambil mencekal lehernya Bee Kun Bu dengan tangan kirinya, dan memegang kipas besi di tangan ka-nannya, Setelah menampak Na Siao Tiap sangat cemas akan keselamatan Bee Kun Bu, ia merasa girang, Dengan sikap yang sengaja dibikin tegang, ia berkata: "Jika kau menghendaki dia tak terluka, aku dapat mengabulkan permintaanmu Tetapi " ia

sengaja menahan harga untuk melihat akibatnya, karena ia khawatir jika permintaannya terasa terlalu berat lagi bagi si gadis itu,

"Sebutlah permintaanmu itu!" kata Na Siao Tiap dengan bernafsu.

"Aku minta kau serahkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek untuk ditukar dengan jiwanya!" kata Ong Han Siong,

"Tetapi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu telah dibawa oleh orang partai Thian Liong yang bernama Co Hiong dan yang telah jatuh tergelincir ke dalam lembah yang dalam ini!

Tentang hal itu kau sendiripun telah me-nyaksikannya! sekarang kitab-kitab tersebut tidak berada di tanganku!" jawab Na Siao Tiap,

"Tetapi kau jangan harap aku lepaskan orang ini tanpa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu!" kata Ong Han Siong mengancam,

"Aku telah memberitahukan kau dengan sejujurnya!" kata Na Siao Tiap dengan beringas,

Ong Han Siong berpikir sejenak, lalu berkata: "Kau dapat menukar jiwanya dengan ilmu-ilmu silat yang telah tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu!"

Na Siao Tiap terperanjat dan menanya: "Cara bagaimanakah kita menukarnya?" "Pada dewasa ini ada beberapa jago silat yang paham akan ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab itu! Kau harus beritahukan kepadaku, jangan kau ber-dusta, karena akupun telah mengetahui sedikit!" kata Ong Han Siong.

"Baik," jawab Na Siao Tiap. Tetapi kau harus lepaskan dahulu cekalan mu pada lehernya dia."

Ong Han Siong melepaskan cekalannya, akan tetapi kipas besinya sudah siap untuk memukul mati bila perlu,

Lalu Na Siao Tiap berkata pula: "Menurut pengetahuanku pada dewasa ini hanya ada tiga orang yang paham akan ilmu- ilmu silat di dalam kitab-kitab tersebut!

"Hm. " Ong Han Siong mengeluarkan suara di hidung

"Mustahil hanya tiga orang?"

"Sebetulnya ada empat orang," kata Na Siao Tiap, "Tetapi ibuku telah meninggal dunia, maka kini tertinggal tiga orang saja!"

"Baik! Sebutlah nama-nama dari ketiga orang itu," Ong Han Siong menuntut

"Yang ke satu adalah ayahku, yang ke dua adalah aku sendiri dan yang ke tiga adalah Pek Ciciku!" kata Na Siao Tiap.

Asmara lelah mempersu!it urusan

Setelah mendengar keterangan itu, Ong Han Siong berpikir sejenak, lalu ia menanya: "Sekarang ayahmu berada di mana?"

"Kemana dia telah pergi akupun tidak mengetahui nya. Kau tentu tak dapat menjumpai dia," jawab Na Siao Tiap.

Lalu Ong Han Siong mengancam lagi dengan lagak seolah-olah ia mau pukul Bee Kun Bu dengan kipas besinya: "Aku akan menukar jiwanya dengan ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!" "Aku tak mengerti maksudmu dengan cara bagaimana harus ditukarnya!"

Ong Han Siong tersenyum, lalu berkata: "Aku yakin kau dapat melakukannya dengan cara, ke satu: Kau harus menulis semua catatan-catatan yang terdapat di dalam Kui Goan Pit Cek itu, Ke dua: Kau harus membunuh mati semua orang yang telah memahami ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab tersebut!"

permintaan yang berat dan yang bukan-bukan itu membikin Na Siao Tiap sangat marah. ia membentak: "Sudahlah! jangan banyak bicara lagi. Aku sekarang memejamkan kedua mataku, kau boleh bunuh mati aku, dan kemudian kau dapat membunuh mati dia!" Lalu ia betul-betul memejamkan kedua matanya,

Ong Han Siong tertawa gelak-gelak dan berkata: "Ha! Ha! Ha! Kau tak dapat menipu aku. Aku ini bukan anak kemarin dulu!"

Na Siao Tiap membuka lagi matanya dan mengejek: "Hm! Kau takut aku menipu padamu? jika aku menghendakinya, tak mungkin kau dapat lari dari sini! Aku hanya segan melihat kau mati konyol!"

Ancaman si gadis itu memperingatkan Ong Han Siong akan hajaran yang gadis itu telah berikan kepada Sia Yun Hong, ia terkejut, dan ia insyaf bahwa permintaannya melampaui batas.

Dengan tersenyum si gadis berkata lagi: "Aku menghendaki kau membunuh mati aku, karena aku tak dapat melaksanakan permintaanmu dan aku tak tega melihat dia terbunuh oleh kipas besimu!"

Kata-kata itu telah membikin Ong Han Siong mengetahui bahwa betapa besar cintanya gadis itu terhadap Bee Kun Bu. Dia rela berkorban untuk pemuda itu. Dan ia mempergunakan perasaan si gadis itu untuk melaksanakan maksudnya. ia berkata: "Jika kau mati, kau tidak akan melihat bagaimana dia mati,

Aku akan membebaskan totokanku agar dia menjadi sadar untuk merasakan sakit yang dia akan rasai dari hajaran- hajaran yang aku segera akan lancarkan bilamana kau tidak memenuhi permintaanku Hayo! Apakah kau berjanji melaksanakan permintaanku?"

Dengan mata yang beringas Na Siao Tiap menatap wajahnya Ong Han Siong, Kemudian ia berkata: "Aku dapat menulis semua catatan-catatan tentang ilmu silat dari kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu, tetapi aku tak dapat membunuh ayahku dan Pek Ciciku! Hm! Kau betu)-betul kejam! sebetulnya kau tak berkesempatan membebaskan totokannya dan membikin dia sadari Awas! jika kau melukai atau membunuh mati dia, aku segera mematahkan semua sambungan-sambungan tulang yang berjumlah tiga ratus enam puluh lima di dalam tubuhmu, dan kau akan rasai betapa sakitnya itu!"

Tetapi Ong Han Siong yang berpengalaman itu tak mudah digertak ia berkata: "Kau boleh coba-coba...! Aku ingin menyaksikannya ," Lalu ia mengangkat kipas besinya

hendak mengetok kepalanya Bee Kun Bu, tiba-tiba ia merasakan pergelangan tangannya yang memegang kipas besi itu dicekal orang, dan hembusan angin menerjang dadanya!

Segera ia merasakan lengan kanannya itu menjadi lumpuh, dan secepat kilat ia meloncat ke belakang untuk mengegosi serangan di d ada nya. Tetapi betapapun lihay silatnya dan seribu satu macam akalnya, ia rupanya tak dapat menghindari serangan di dadanya itu, Namun ia masih berkesempatan mencekal tubuhnya Bee Kun Bu dengan tangan kirinya dan menyeretnya ketika ia meloncat ke belakang,

Ketika itu terdengar suara seorang wanita yang mengejek: "Kau ingin belajar ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!? Kau harus menangkis serangan Gie Sing Cwan Tao (Memindahkan bintang di langit) ini!"

Ong Han Siong hanya berhasil menyeret Bee Kun Bu, tapi kipas besinya telah terlepas dari cekalan tangan kanannya, Secepat kilat Bee Kun Bu pun dirampas oleh lawannya, Dengan lengan kiri dan kedua kaki yang masih bebas, sambil menjerit ia menyerang dengan jurus Sin Lui Hia Kit (Geledek menyamber dari langit) dengan seluruh tenaga dalamnya,

Untung baginya bahwa lawannya hanya bermaksud menolong Bee Kun Bu, serangannya itu hanya diegosi saja!

Ong Han Siong menyerang angin, dan ketika ia berbalik, ia tampak bahwa lawannya tak lain daripada Pek Yun Huilah yang telah datang menolong Bee Kun Bu yang masih juga belum sadarkan diri dari totokan, Seperti seekor banteng yang mengamuk, ia menerkam lagi! Tiba-tiba terlihat Na Siao Tiap meloncat dan mengirim jotosan dengan jurus-jurus Gie San Tin Hai (Memindahkan gunung dan membalikkan samudera), Ong Han Siong tak berani menangkis jotosan maut itu, ia lekas-lekas menahan diri. Akan tetapi hembusan angin dari jurus Gie San Tin Hai itu sudah cukup untuk merobohkan ia! ia terdampar ke belakang dan jatuh duduk di tanah dengan muka yang pucat dan seluruh tubuh basah dengan peluhnya!

Sambil berpaling kepada Pek Yun Hui, Na Siao Tiap menanyai "Cici, apakah aku harus bunuh mati dia?"

Ketika itu Pek Yun Hui sedang berusaha membebaskan dan menolong Bee Kun Bu dari totokan, dan tanpa menoleh lagi, ia menjawab: "Bunuh dia dengan kipas besinya!"

Na Siao Tiap pungut kipas besinya Ong Han Siong, dan datang menghampiri sambil berkata: "Tadi kau mengancam hendak membunuh mati Bee Siang Kong dengan kipas besimu ini. sekarang aku akan membunuh mati kau dengan kipas besi ini juga!"

Ong Han Siong yang sudah tak berdaya, itu dengan kedua mata terbelalak menunggu mati! Tetapi dengan sikap seorang ksatria ia berkata: "Segala pelajaran atau ilmu di dunia ini tak terbatas, kita tak dapat mempelajari semuanya, Dalam hal ilmu silat, kau lebih unggul daripada aku. sekarang aku kalah, akupun tak menyesal jika harus dibunuh mati!"

Kata-kata yang diucapkan dengan tenang itu membikin Na Siao Tiap cemas, dan ia menanyai "Di samping ilmu silat, apakah kau kira kau lebih unggul dalam kepandaian lain- lainnya daripadaku?"

Dengan tenang Ong Han Siong menjawab: Tentang ilmu silat, aku Ong Han Siong hanya mengerti sedikit saja, akan tetapi tentang ilmu pengobatan dan ilmu falak, aku telah mempelajarinya dengan tekun dan telah mencurahkan banyak tenaga dan pikiran, Jika kau tidak pereaya, kau dapat menyaksikan dengan kepala mata sendiri nanti pada pertengahan bulan delapan ketika para jago silat akan bertemu untuk mengadu silat, Kau akan menyaksikan cara aku mengatur siasat, dan akupun dapat meramalkan nasibnya dari tiap-tiap jago silat sebagai akibat dari pertandingan silat tersebut!" Lalu ia tertawa gelak-gelak seolah-olah ia yakin benar akan akibat keterangannya itu.

sementara itu, Pek Yun Hui telah berhasil menolong dan menyadarkan Bee Kun Bu, dan iapun telah mendengar keterangan Ong Han Siong, ia mengejek: "0rang-orang yang paham akan ilmu pengobatan dan ilmu falak banyak sekali jumlahnya di kalangan Bu Lim, kau tak usah menyombongkan diri!"

Ong Han Siong bangkit sambil membentak: "Sia-pakah mereka yang lihay dalam ilmu-ilmu itu? Sebutlah nama orang- orangnya!" Tetapi ia jatuh lagi karena hajaran dari Na Siao Tiap tadi,

Sambil berdiri menghadapi Ong Han Siong, Na Siao Tiap yang belum pernah membunuh orang tidak sampai hati memukul lawannya dengan kipas besi itu, ia memejamkan kedua matanya, lalu mengangkat kipas besi tersebut untuk memukul kepalanya Ong Han Siong, Tiba-tiba Bee Kun Bu berseru: "Jangan bunuh dia mati!"

Na Siao Tiap terkejut dan menahan turunnya tangannya, ia menoleh ke belakang sambil menanyai "Apa-kah kau ingin memberi ampun kepadanya? Apakah kau tidak mengetahui betapa kejamnya dia terhadapmu? Jika Pek Cici tidak keburu datang menolong, akupun dipaksa olehnya berkorban untuk kau!"

"Ha!" tanya Bee Kun Bu dengan terperanjat "Apa-kah kau tak dapat melawan dia?"

Segera wajahnya Na Siao Tiap menjadi merah, ia tak dapat menjawabnya, Pek Yun Hui tersenyum dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Aku melihat kau makin lama makin ganjil Bangsat itu telah menerkam kau untuk dijadikan sandera untuk memaksa Tiap Moi menulis semua ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sehingga Tiap Moi terpaksa mengalah. "

Sekonyong-konyong Na Siao Tiap berseru: "Cici!"

Pek Yun Hui menangguhkan kata-katanya, dan berbalik menanya Na Siao Tiap: "Mengapa? Apakah aku salah bicara? sebetulnya jika kau ingin menolong, kau bisa berhasil menolongnya, karena aku yakin bahwa bangsat itu tidak bermaksud membunuh "

"Siapa bilang aku tak bermaksud membunuh?" Ong Han Siong memotong. "Jika sedikit saja dia bergerak, Bee Kun Bu pasti mati dari ketokan kipas besiku!"

Tetapi, setelah membunuh mati dia, kau tak dapat lolos dari tanganku, kaupun pasti mati!" bentak Pek Yun Hui.

"Ha! Ha! Ha!" Ong Han Siong tertawa, "Orang yang berani datang ke dalam lembah ini untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu tak memikirkan tentang meloloskan diri!"

Bee Kun Bu menghela napas dan berkata: "Dia pernah menolong aku di pegunungan Ngo Bie San ketika aku berada di kuil Ban Hut Teng, dan karena itu aku masih berhutang budi kepadanya. Aku mohon kalian membebaskan dia."

Pek Yun Hui berpikir sejenak

"Baiklah, Kita bebaskan dia!" katanya kemudian

Na Siao Tiap menanya: " Apakah kita tidak mau mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

"Aku pernah mencarinya, akan tetapi selainnya melihat bekas darah, aku tak menemui kitab-kitab tersebut maupun mayatnya Co Hiong," jawab Pek Yun Hui.

"Di dasar lembah yang dalam ini," kata Na Siao Tiap. "Mungkin mayatnya Co Hiong telah dimakan binatang

buas, Cici tak mungkin dapat melihat bekas-bekasnya."

"Aku hanya harap demikian Lebih baik kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu berada di dalam perutnya binatang buas," kata Pek Yun Hui.

Lalu Na Siao Tiap lempar kipas besi di sampingnya Ong Han Siong dan membentak: "Apakah kau telah mendengarnya? Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sudah berada di dalam perut macan?"

Ong Han Siong yang masih merasa kesakitan dari hajarannya Na Siao Tiap, dan menganggap dirinya sudah sampai pada ajalnya, masih tetap bersikap ksatria dan tak gentar jika ia dibunuh, ia duduk memulihkan tenaganya dan berusaha meringankan sakit di dalam tubuhnya,

Lalu Pek Yun Hui bersiul, dan dalam beberapa detik saja terlihat seekor bangau putih yang besar terbang datang menghampiri dengan cepat, sebelumnya ia ber-!alu, ia berkata kepada Na Siao Tiap: "Kalian berdua dapat menunggangi bangau ini, dan aku akan jalan melalui jalan tadi, Kita akan bertemu lagi di kamar Thian Kie Ciok Hu!" Lalu iapun ber!a!u. Tetapi Na Siao Tiap menahannya dan berkata: "Cici dan Bee Siang Kong dapat menunggangi bangau ini, karena aku ingin menguji ilmu mendaki jurang yang curam ini." Pek Yun Hui mengawasi dan meneliti jurang yang curam itu, dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata: "jurang yang curam ini sangat berbahaya dan licin, aku khawatir sukar di mendaki Lebih baik kau kembali dengan menunggangi bangau saja!"

"Bagaimana jika kita bertiga menunggangi bangau itu? Aku dapat meringankan tubuhku," kata Na Siao Tiap.

"Baiklah," jawab Pek Yun Hui, Tapi jika bangau ini tak dapat menahan beban seberat kita, mungkin kita bertiga akan jatuh dan binasa semua."

Lalu bertiga mereka menunggangi bangau yang besar itu yang segera membuka kedua sayapnya dan membawa ketiga orang itu terbang ke atas, meninggalkan Ong Han Siong sendirian di dasar jurang yang curam itu.

Bee Kun Bu yang diapit oleh kedua gadis itu tiba-tiba berkata: "Jika Lie Sumoy juga berada bersama-sama kita, aku yakin dia akan merasa gembira sekali."

"Kau jangan terlampau khawatir Aku akan berdaya mencari dia," kata Na Siao Tiap,

Entah berapa lama mereka dibawa terbang oleh bangau sakti itu di angkasa, melalui awan-awan dan puncak-puncak gunung, Tiba-tiba bangau itu berbunyi dan terbang turun, Ketika Bee Kun Bu memperhatikan lagi, bangau itu telah tiba di atas tanah, tepat di puncak di mana kamar Thian Kie Ciok Hu terletak

"Hayo kita turun, dan kita dapat makan dulu, karena aku sudah lapar," kata Pek Yun Hui.

"Jika tadi kita jatuh dari atas, aku pasti sudah menjadi mayat, dan dapat menjumpai ibuku di tanah baka!" kata Na Siao Tiap.

Tiap Moi!" kata Pek Yun Hui, "Aku yakin ibumu tak sudi kau mati, Aku pereayadia senantiasa melindungi kau!" Tiba-tiba air matanya Na Siao Tiap mengalir keluar, entah mengapa ia menjadi sedih hati

Bee Kun Bu yang telah mendengar dan menyaksikan hal itu hanya dapat berdiri tertegun, Kemudian iapun menjadi sedih juga. Na Siao Tiap menghampiri dan menegur kepadanya: "Aku hanya mengenangkan ibuku, janganlah kau turut berduka."

-ooo0ooo-

Jaring asmara menjerat mangsanya

Bee Kun Bu yang sangat berhutang budi terhadap kedua gadis itu tak dapat bersikap acuh tak acuh, ia berkata dengan hati yang gugup: "Tetapi... tetapL." ia tak dapat mengutarakan isi hatinya,

"Sudahlah, kau tak usah meneruskan kata-katamu," kata Na Siao Tiap. "Mari kita pergi ke kamar untuk makan!"

Bee Kun Bu hanya dapat mengikuti berjalan di belakang kedua gadis itu menuju ke kamar Thian Kie Ciok Hu.

Pang Sui Wie yang disuruh menjaga kamar itu segera datang menyambut dengan gembira,

Na Siao Tiap pegang tangannya Bee Kun Bu dan berkata: "Apa yang aku telah katakan kepadamu tadi kau tak usah buat pikiran. " Lalu ia lari keluar dari kamar

Pek Yun Hui yang memperhatikan sikapnya Na Siao Tiap berkata kepada Bee Kun Bu: "Rupanya Tiap Moi sudah banyak berubah sekarang, Dia tak membenci kau lagi."

Bee Kun Bu mengangguk dan menjawab: "Betul! Aku khawatir akan perubahan sikap yang begitu tegas!"

"Akupun khawatir untuk kepentingannya," kata Pek Yun Hui. "Aku minta kau senantiasa bersikap ramah terhadapnya dan berada di sampingnya sebanyak mungkin. " "Tetapi, tetapi... aku harus berbuat apakah ter-hadapnya?" tanya Bee Kun Bu.

"Aku sudah memperhatikan sikapnya dan juga sikapmu Hubungan antara kalian berdua sudah mendalam, dan aku hanya khawatir satu kekeliruan atau salah paham dapat mencelakakan kalian berdua," kata Pek Yun Hui.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan "Sebetulnya dan dengan sejujurnya, akupun telah jatuh cinta kepadamu Dahulu aku berpendapat bahwa jika aku tak bisa memperoleh kau sebagai suamiku, aku tak akan hidup bahagia, Namun akhirnya aku dapat mengatasi kekeliruan itu, Aku tak pereaya bahwa diantara laki-laki dan perempuan, kebahagiaan hanya timbul bila mereka menjadi suami isteri, Aku sendiri sedang menguji, Berhasil atau gagal, akupun tak dapat meramalkan sekarang, Namun aku masih berusaha keras, Apakah kau juga dapat berbuat demikian?

Bee Kun Bu terkejut mendengar pengakuan yang jujur dan terus terang itu. ia tak dapat menjawab, ia harus mengakui bahwa iapun telah jatuh cinta terhadap gadis yang mu!ia, luhur berbudi serta gagah itu, Tetapi iapun sangat mencintai Sumoynya, Lie Ceng Loan,

Tiba-tiba ia ditegur "Bee Siang Kong, Pek Cici sangat menaruh perhatian terhadapmu apakah kau tidak mempunyai perasaan?"

Seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya, Bee Kun Bu membelalakkan matanya lebar-lebar dan melihat Na Siao Tiap seperti Sumoynya yang sangat polos dan jujur ia merasa malu terhadap dirinya sendiri, karena ia anggap bahwa imannya kurang kuat untuk mencegah segala godaan. ia merasa berdosa, karena menurut ang-gapannya, telah membikin Souw Hui Hong kehilangan satu lengannya dan harus berkorban seumur hidupnya menjadi seorang rahib, Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanannya, dan baru saja ia hendak memukul kepalanya sendiri, tiba-tiba lengannya ditepuk oleh Na Siao Tiap, Pek Yun Hui membentak: "Bee Siang Kong, mengapa kau berbuat demikian? Apakah kau kira dengan membunuh diri kau dapat membereskan segala sesuatu? Kau harus bersikap berani menghadapi semua itu, membereskannya dengan semestinya! itulah baru satu laki-laki sejati!"

wajahnya Bee Kun Bu menjadi merah, ia menundukkan kepalanya menerima salah, Ketika ia mengangkat kepalanya lagi, ia berkata: "Pek Cici, kau terlalu baik terhadapku Budi sebesar itu, aku khawatir aku tak dapat membalasnya,.,."

Na Siao Tiap memotong pembicaraannya: "Bee Siang Kong, jika kau telah mengetahui bahwa Pek Cici sangat baik terhadapmu, kau harus hidup, jangan mencari mati! Selama kau tinggal berdiam di sini, aku rela mengajarkan kau ilmu- ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, agar kau dapat membereskan segala sesuatu nanti pada pertengahan bulan delapan tahun depan di markas besarnya partai silat Thian Liong. "

Belum lagi pembicaraan itu selesai ketika mereka dibikin terkejut oleh suara gaduh yang rupanya tidak jauh dari tempat mereka, Kemudian terlihat berkelebatnya bayangan tiga orang berlari-lari masuk ke dalam gua.

Pang Sui Wie segera lari mengejar, dan Pek Yun Hui segera mengetahui, bahwa ketiga orang tersebut telah berada di luar guanya, Karena ia khawatir Pang Sui Wie tak dapat menahan ketiga orang itu, Pek Yun Hui mengajak Na Siao Tiap pergi mengejar,

"Biarlah aku jalan dulu," jawab Na Siao Tiap, dan segera diikuti oleh Pek Yun Hui yang meninggalkan Bee Kun Bu berdiri terpaku di belakang!

Setelah lenyap kebingungannya, Bee Kun Bu lari mengejar Suara gaduh tadi makin nyata terdengarnya, karena di luar

gua Pang Sui Wie tengah melawan Sia Yun Hong dengan

pedangnya dan Tu Wee Seng dengan toya bambunya. Pang Sui Wie sedang mencari kesempatan untuk menyambit lawan- lawannya dengan pasir beracun, karena ia sangat sibuk mengegosi atau mengelit senjata-senjata kedua lawannya, Tepat pada waktu yang sangat berbahaya bagi Pang Sui Wie, Na Siao Tiap telah tiba sambil membentak:

"Kalian berdua hentikanlah penyerangan-mu! Apakah kalian tidak malu mengerubuti seorang wanita? Di manakah kalian harus buang muka bila hal ini diketahui oleh jago-jago silat lainnya?"

Sia Yun Hong dan Tu Wee Seng terpaksa berhenti menyerang dan mereka sangat terkejut ketika dibentak oleh Na Siao Tiap. Mereka menjadi makin takut lagi ketika melihat Pek Yun Hui pun datang juga, Mereka tak lupa akan hajaran yang mereka terima dari gadis itu. Tetapi dengan kesempatan itu, mereka tiba-tiba menyerang Na Siao Tiap yang tak bersenjata! Mereka menyerang dengan menggunakan seluruh kepandaiannya karena mereka bermaksud membalas dendam dan mencuci malu,

Secepat kilat Na Siao Tiap menjotoskan sepasang tinjunya, hembusan anginnya sudah cukup mendampar kedua jago silat itu, Seolah-olah digulung ombak, mereka terdampar dan jatuh terguling tujuh-delapan langkah ke belakang!

"Jika kalian masih juga menyerang, aku terpaksa menghajar kalian lagi!" Na Siao Tiap mengancam.

Pang Sui Wie hendak menyambit mereka dengan pasir beracunnya, tetapi Na Siao Tiap mencegah: "Pang Siocia, jangan sambit mereka! Kita ingin lihat apa yang mereka akan perbuat!"

Dengan senyuman terpaksa, Sia Yun Hong berkata kepada Tu Wee Seng: "Tu-heng, apakah kita harus berlalu dari pegunungan Koat Cong San ini setelah dihina serupa ini?"

"Aku lebih suka mati jika aku tak berhasil mencari kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu! Aku rela binasa di sini!" seru Tu Wee Seng sambil bangun berdiri Pek Yun Hui tampil ke muka dan berkata: "Jika kalian tak sudi keluar dari pegunungan Koat Cong San ini, apakah kalian bermaksud bertempur dengan kami?" ia berdiri tegak menghadapi mereka!

Mau tidak mau, mereka menjadi gentar Dengan menghadapi satu Na Siao Tiap saja, mereka sudah tak sanggup: bagaimanakah mereka dapat menghadapi Pek Yun Hui seorang lagi? Untuk sementara waktu mereka berdiri terpaku dan membisu, Lalu Pek Yun Hui menegur lagi: "Sebetulnya kalian kembali pula ke sini dengan maksud apakah?"

Tu Wee Seng yang sudah kenyang makan garam di kalangan Kang-ouw masih juga dapat menjawab: "Pek Siocia, pegunungan Koat Cong San ini bukan milikmu, Apakah kami tidak boleh datang ke sini? Lagi pula kini telah banyak jago- jago silat yang dapat berkumpul di sekitar pegunungan ini, dan maksud mereka itu semuanya untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Menurut pandanganku, kalian berdua sukar melawan semua jago-jago silat itu!"

"Kau pandai bicara," kata Pek Yun Hui. "Betul kami tak dapat melawan semua jago-jago silat, tetapi kami dapat memberi hajaran kepada kalian berdua."

"Pek Siocia," kata Tu Wee Seng, "Kau ternyata salah paham, sebetulnya kedatanganku bersama Sia-heng dengan maksud membantu kalian berdua mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, kau tentunya telah yakin betapa besar artinya kitab-kitab tersebut bagi para jago silat. "

Na Siao Tiap yang dibesarkan di lembah Pek Hua Kiok dan lama tinggal di pegunungan, tidak berpengalaman dan tidak mengetahui seluk beluknya kalangan Kang-ouw. jawaban Tu Wee Seng itu tidak dimengerti olehnya, dan ia menanyai "Bukankah kembalinya kalian ini untuk mencari dan memiliki kitab-kitab itu?" "Ha! Ha! Ha!" Tu Wee Seng tertawa, "Na Siocia, maksudku ialah jangan sampai kitab-kitab tersebut terjatuh ke dalam tangannya partai Thian Liong. Dapat digambarkan betapa besar bahayanya jika orang-orang partai Thian Liong dapat memiliki kitab-kitab itu, mereka akan membuat kita tak ada tempat untuk berdiri lagi di kalangan Kang-ouw!"

"Tiap Moi, jangan pereaya obrolannya! Aku yakin bahwa mereka itu akan berbuat seperti dikatakan me-reka, Mereka ingin memiliki kitab-kitab tersebut!" kata Pek Yun Hui.

"Pek Siocia!" bentak Tu Wee Seng, "Jika kau tidak pereaya, lantas kau mau apa?"

Pang Sui Wie segera loncat dan siap menyerang si kakek itu, tetapi Na Siao Tiap pun mencegah sambil berkata: "Mereka belum dapat dibasmi sekarang! Kalau mau, aku dapat membinasakan mereka dengan hanya kedua tanganku, pasir beracunmu itu kau simpan dahulu untuk maksud lain."

Ancaman itu membikin kedua orang itu cemas, tetapi mereka sudah tiada jalan keluar lagi, Sedianya mereka datang kembali ke gua itu dengan maksud membokong Na Siao Tiap, tetapi maksud mereka yang busuk itu telah diketahui oleh Pang Sui Wie. Ketika itu mereka hanya menanti nasib saja,

Tetapi Na Siao Tiap yang belum pernah membunuh orang masih berkata: "Aku tidak mau membunuh kalian, sekarang kalian enyahlah dari pegunungan Koat Cong San, dan janganlah berpikir datang kembali mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek pula!"

Nasehat itu menggirangkan Tu Wee Seng dan kawannya, Mereka sengaja berdebat untuk mengulur waktu dengan harapan jago-jago silat lainnya datang ke situ, Kini, setelah mereka disuruh lekas-lekas enyah, mereka menyahut: "Baik! Baik! Kami berlalu! Tetapi kami akan berjumpa pula lain waktu!" Lalu mereka lari pergi dari mulut gua itu! Na Siao Tiap, Pek Yun Hui, Bee Kun Bu dan Pang Sui Wie tidak mengejar mereka dan balik kembali ke kamar Thian Kie Ciok Hu.

Na Siao Tiap segera pergi ke dapur untuk membuat hidangan-hidangan, dibantu oleh Pang Sui Wie. Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu kembali ke kamar Thian Kie Ciok Hu.

"Pek Cici selalu berpemandangan luas. Tiap-tiap tindakan telah diperhitungkan betuL Aku merasa ka-gum.-." kata Bee Kun Bu.

Pek Yun ,Hui tersenyum. "Sudahlah! jangan kau memuji- muji aku. Masih banyak urusan yang aku tak dapat membereskannya dengan seksama, Tentang urusanku sendiri, aku dapat mengurusnya, Tapi Tiap Moi yang baru keluar dari pegunungan dan yang hanya mengenal ibunya dan keempat bujang perempuannya, jarang sekali berurusan dengan orang lain. Mula-mula aku lihat dia mirip Loan Moi yang jujur, wajar, berbudi dan luhur, tidak mendendam, dan mudah merasa puas. sebetulnya sifat dan wataknya jauh berlainan jika kau berada di sampingnya, dia senantiasa gembira. "

Tetapi, tetapi aku tidak pernah melukai hatinya!" kata Bee Kun Bu.

"Betul!" Pek Yun Hui mengangguk lalu meneruskan. "Kau sebetulnya tak dapat terlalu dipersalahkan jika dia terlampau memperhatikan kau. Dan banyak peristiwa-peristiwa buruk yang kau dapat hindarkan Misalnya, aku telah berulang kali memperingatkan kau terhadap Co Hiong yang busuk dan keji itu, tetapi kau hanya pereaya omongannya yang manis, Aku terpaksa menanti tibanya saat kau dapat melihat dengan mata kepala sendiri betapa kejam dan jahatnya manusia keji itu, dan hampir saja kau menjadi korban,

Nah, sekarang kau sudah mengetahui kebusukannya, aku kira saatnya telah tiba untuk memberitahukan soal Lie Sumoymu, Lie Sumoymu itu yang juga pereaya Co Hiong seorang baik karena ia anggap Co Hiong adalah kawanmu, telah menyerahkan seluruh jiwa raganya ke dalam tangan manusia jahanam itu. " "Apa!" seru Bee Kun Bu dengan

terperanjat "Sabar," hibur Pek Yun Hui, "Sampai sekarangpun Lie Sumoymu masih suci murni dan belum diganggu oleh manusia jahanam itu. Ketika Co Hiong hendak memperkosanya, mungkin aku dituntun oleh Tuhan, aku kebetulan tiba dan telah berhasil menotok urat punggungnya,

Totokan itu sebetulnya kejam dan keji dan lambat laun dia akan binasa karenanya, Aku terpaksa melakukan itu, karena manusia itu terlampau keji dan hina, Tetapi di luar dugaanku, entah siapa yang menolong membebaskan totokan maut itu, dan ketika aku menjumpai dia lagi, dia telah memiliki ilmu silat yang lebih !ihay, yang mirip dengan ilmu-ilmu silatnya San Im Shin Ni dari pegunungan Altai, Aku yakin betul dia telah mempelajari ilmu-ilmu silat yang lihay itu. AL. jika orang semacam dia itu dapat hidup lama di dunia ini, tentu banyak sekali orang yang akan menjadi korban atau mangsanya...

"Bukankah dia telah dihajar dan jatuh tergelincir ke dalam jurang? Apakah dia belum binasa?" tanya Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui menarik napas panjang menyatakan kekecewaannya, dan berkata: "Aku telah menghajar dia, akan tetapi dia sendiri yang menjatuhkan diri ke dalam jurang, Dia telah menduganya bahwa aku pasti membunuh mati dia, dan kesempatan satu-satunya untuk lolos ialah menjatuhkan tubuhnya, dengan harapan dapat menolong diri menjambret cabang-cabang pohong yang tumbuh di lereng jurang, Ia...

mungkin juga dia belum mati Yang kita ketahui hanya bekas- bekas darah di dalam jurang."

ia berhenti sejenak merenungkan yang lampau itu, lalu melanjutkan pula: "Sudahlah! peristiwa ini kita tak usah pikiri untuk sementara waktu, Jika dia masih hidup, aku pasti akan mencarinya untuk membikin perhitungan yang penting sekarang ini adalah urusannya Tiap Moi yang telah terjerat oleh jaring asmara dan yang ber-sangkut paut dengan Lie Sumoymu." Bee Kun Bu mengerutkan kening dan menanyai "Dan apa yang aku harus perbuat? Pada dewasa ini, ilmu silatnya tak ada taranya, Dia selalu mendengar dan menuruti perkataan Cici, aku kira Cicilah yang harus menasehatkan dia."

"Betul," kata Pek Yun Hui, Tetapi kau tidak mengetahui betul-betul hatinya seorang gadis, Aku dapat menasehatkan dia dalam urusan-urusan ia iri, tetapi tak dapat berbuat apa- apa dalam urusan asmara, Dia dan Lie Sumoymu sangat berlainan sifat dan wataknya, Lie Su-moymu tak dapat berbuat sesuatu yang dapat menyakiti hati orang lain, Misalnya kau yang tak membalas cintanya, dia hanya akan menyiksa diri sendiri dan rela mati tanpa berbuat sesuatu.

Akan tetapi Tiap Moi akan tak bersikap demikian ia dapat berbaik hati, dan juga berlaku kejam Menurut pendapatku, dia hanya dapat mendengari nasehat Guruku atau ayahnya, dan ibunya jika masih hidup, Jika aku sekarang menasehatkan pada nya, aku khawatir dia menjadi salah paham, dan berbalik merasa cemburu terhadap aku. Jika terjadi demikian, kau dapat bayangkan akibatnya yang kita tak ingini.

Dia seorang yang sangat pintar dan cerdas, dan orang yang demikian mudah salah paham, Co Hiong adalah seorang yang keji dan rendah, Dengan pengalamannya di kalangan Kang-ouw dia dapat melakukan banyak kejahatan, akan tetapi aku pereaya dia tidak sepintar Tiap Moi. Ya, di dalam beberapa hari ini perilakunya telah berubah hebat sekali itulah yang membuat aku cemas!"

"Bukankah lebih baik aku berlalu dari sini dan tidak menjumpai dia lagi?" usul Bee Kun Bu.

"Hm...W sahut Pek Yun Hui, "Dunia yang luas ini mungkin tak ada tempat untuk kau bersembunyi Dia pasti dapat mencari kau."

"Menurut pendapat Cici, aku tak akan luput dari kejarannya?" kata Bee Kun Bu. "Untuk kebaikan semua pihak yang bersangkutan apakah yang aku harus buat? jalan yang terbaik ialah aku membunuh diri Setelah aku meninggal dunia, semua orang akan bersedih hati untuk sementara waktu, dan seterusnya aku akan tedupa. Tetapi aku tidak membikin mereka saling benci Aku tak takut mati untuk kepentingan semua!"

Dengan senyuman yang pahit getir, Pek Yun Hui berkata: "Pengorbanan itu memang dapat dipuji Tetapi orang yang membunuh diri dianggapnya sebagai pengecut Dia tak berani menghadapi kesulitan dan tak berani mencari jalan untuk membereskan kesulitan itu. Bukankah kau masih harus membalas budinya banyak orang?"

Kata-kata yang pedas getir itu membikin Bee Kun Bu menundukkan kepalanya karena terlampau malu, dan Pek Yun Hui segera insyaf bahwa kata-katanya telah menusuk hati orang, Dengan tersenyum dan nada yang halus ia berkata lagi: "Kau pikir dengan kematianmu kau dapat membikin beres semua urusan, Tetapi hal yang sebenarnya dengan matinya kau, kau akan menghancurkan hatinya Lie Sumoymu, juga Souw Siocia yang pernah berkorban untukmu, Maka janganlah kau meikiri soal membunuh diri lagi. Pereayalah, aku senantiasa berdaya menolong kau membereskan segala se-suatu!"

"Pek CicL." kata Bee Kun Bu, dan ia tak dapat meneruskan karena terlampau terharu.

"Mengapa?" tanya Pek Yun Hui. "Bukankah aku juga mempunyai perasaan? Aku akan membantu kau menjadi seorang jago silat untuk mengangkat nama partai Suhu dan Susiokmu, dan membereskan semua kesulitan-kesulitanmu, Tetapi aku mempunyai satu syarat, yakni kau harus turut apa yang aku katakan!"

Bee Kun Bu menatap wajahnya Pek Yun Hui dan berkata: "Cici! Kau demikian sayang kepadaku, jika aku masih tidak mau turut kata-kata Cici, aku ini bukannya manusia lagi!"

-ooo0ooo-

Bee Kun Bu mempelajari ilmu silat yang sakti "Kau tak usah bersumpah," kata Pek Yun Hui, "Sekarang yang penting ialah kita harus menjaga Tiap Moi. Dalam masa remajanya, perasaannya mudah tersinggung. Dia baru saja bereampur gaul dengan banyak orang, dia mudah salah paham, Tiap-tiap hal yang menusuk hatinya akan berakibat hebat sekali. Dari itu kita harus menyesuaikan diri untuk menyenangkan dia. Kau akan berada di sampingnya agak tama, selama itu kau dapat belajar ilmu silat daripadanya, Tetapi kau mungkin juga bisa terjerumus dalam jurang asmara, Dari itu, aku berpesan supaya kau bertindak hati- hati dan selalu mencari kesempatan membikin dia insyaf akan segala tindak tanduknya yang keliru. "

"Pek Cici, tentang ini aku masih kurang jelas. " kata Bee

Kun Bu.

Pek Yun Hui tersenyum, lalu ia menjelaskan lebih lanjut: "Lie Sumoymu sangat mencintai kau, harus dijaga jangan membikin dia mati mereras. Souw Hui Hong telah berkorban untuk menolong kau di hadapannya jago-jago silat dari kelima partai silat yang ternama sehingga dia menjadi seorang yang bereacad, Apakah kau akan melupakannya, Ya, nasi sudah menjadi bubur, dan kau tak dapat merubah lagi-lagi Lie Ceng Loan yang berjiwa besar, dia rela menjadi isteri kedua atau ketiga, asal saja kau tetap mencintainya. "

"Cici, kata-katamu itu agaknya di luar garis," protes Bee Kun Bu. "Cici dapat tetap berhati suci murni terhadap orang lain, akupun dapat berbuat seperti Cici!"

Pek Yun Hui tersenyum, seraya berkata: "Aku tahu kau menghormati dan mungkin juga mencintai aku. Nah, dengarlah, aku beri kau petunjuk bagaimana kau harus memperlakukan Tiap Moi. Asalkan kau dapat menuruti petunjuk-petunjukku, aku jamin hasilnya akan memuas-kan!"

"Aku yakin aku dapat membereskan urusanku terhadap Lie Sumoy dan Souw Siocia. Tetapi Tiap Moi, aku khawatir aku akan gagal Jika Cici dapat memberi petunjuk, aku sangat berterima kasih." Tiba-tiba Bee Kun Bu ingat kepada Giok Siu Sian Cu yang telah mencuri buah Sie Can Ko untuk menolong jiwanya, ia menjadi bengong.

Pek Yun Hui tak dapat membaca isi hati orang, ia berkat a: "Kau jangan banyak pusing lagi! Kau akan tinggal bersama- sama Tiap Moi agak lama, kau harus selalu melayani dia agar dia dapat kesimpulan bahwa kau adalah seorang pria yang dapat dipereayai

Tetapi jika aku berbuat demikian, bukankah akan mempersulit urusan?" kata Bee Kun Bu,

"Tidak," jawab Pek Yun Hui, "Aku telah memikir lama dan aku telah mengetahui betul sifat dan wataknya, Dia sangat pintar dan cerdas, Di dalam dunia ini agaknya tidak ada hal yang dia tak dapat lakukan. Tetapi ada hal-hal yang dia tak dapat lakukan karena dia sudi me-lakukannya, Jika kau memperhatikan padanya, dia akan berdaya menolong kau, dengan demikian kau akan menjadi kawan karibnya.

Namun antara asmara dan setia kawan sangat kecil perbedaannya, karenanya kau harus senantiasa bersikap seperti kakak terhadap adiknya, jangan sekali-kali menimbulkan asmara terhadapnya, Dapatkah kau tahan menghadapi seorang gadis yang cantik jelita tanpa jatuh cinta terhadapnya? Apakah imanmu cukup teguh?"

"Ini... ini, jika aku sudah bersedia, aku yakin aku dapat menghadapinya!" jawab Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui tersenyum, dan berkata pula: "Baiklah, Untuk sementara ini, kau berbuat sebagaimana petunjukku sewaktu- waktu aku akan memberi petunjuk lagi. Nah, sekarang kita pergi ke kamar dapur menengok Tiap Moi apakah dia sudah selesai menyediakan santapan." Lalu ia bangun dan berjalan ke kamar dapur

"Bolehkah aku membantumu?" seru Pek Yun Hui. "Boleh saja," jawab Na Siao Tiap. "Hari ini kita harus makan hidangan-hidangan yang lezat, dan juga minum arak yang harum."