Bangau Sakti Jilid 15

 
Jilid 15

Sambil menundukkan kepala dan menarik napas, Teng Lee berkata: "Aku hanya khawatir jika siasat kita ini gagal, dan kita tak dapat melawan orang-orangnya partai Thian Liong, kita semuanya akan menderita luka parah atau binasa!"

Tu Wee Seng tertawa bahak-bahak dan menghibur "Teng- heng, jangan khawatir Aku telah merancangkan bahwa jika kita menggempur orang-orangnya partai Thian Liong yang terpencar, kita pasti dapat menaklukkan mereka, Jika mereka semuanya datang menggempur kita berbarengan kita bakar gunung ini agar semuanya binasa!"

Bee Kun Bu dan Co Hiong yang mencuri dengar pereakapan mereka kemudian tak dapat mendengar lagi karena mereka mulai bicara dengan bisik-bisik, Lalu terdengar terang Tu Wee Seng berseru: "Baiklah! Kita laksanakan siasat itu, Aku hanya membikin Teng-heng banyak susah!"

Tidak, tidak," kata Teng Lee, Teng-heng dan Hia Tojin sangat baik hati terhadapku, dan aku merasa terhormat dapat memberi bantuan."

Setelah mereka dapat kesetujuan satu sama lain, ketiganya mereka lalu keluar dari goa itu,

Sejenak kemudian, Co Hiong berjalan keluar per-lahan- lahan dan menyelidiki keadaan diluar kamar batu, Setelah yakin ketiga orang itu sudah berlatu, ia keluar dari kamar, diikuti oleh Bee Kun Bu. Sambil mengerutkan keningnya Bee Kun Bu menanyai "Co-heng, mereka membicarakan tentang partai silat Thian Liongmu. "

"Hm! Apakah Bee Heng mencurigai aku dikirim oleh partai Thian Liong untuk mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?" kata Co Hiong.

"Sama sekali tidak." jawab Bee Kun Bu. "Tetapi mengapa partai silat Thian Liong mengirim banyak orang ke pegunungan Koat Cong San ini?"

"Menurut pereakapan mereka tadi rupanya partai Thian Liongku telah mengirim orang ke puncak Pek Yun Siat ini," kata Co Hiong seorang diri.

"Apakah Co-heng tak tahu menahu?" tanya Bee Kun Bu. "Aku datang dari jauh terutama untuk menengoki kau,"

jawabnya Co Hiong dengan tenang.

Bee Kun Bu menjadi merah mukanya dan ia berkata: "Aku berterima kasih atas perhatianmu ini. Tetapi akupun heran mengapa Co Heng mengetahui aku dibawa ke puncak Pek Yun Siat?"

Sambil tersenyum Co Hiong berkata: "Kami dari partai silat Thian Liong mempunyai banyak "kampungdan mata", jangankan jejak Bee Heng, jejak dari tiap-tiap pemimpin partai silat pun diketahui oleh kami!"

Meski hatinya Bee Kun Bu mereda, tetapi ia masih juga menaruh curiga terhadap Co Hiong. ia tak menanya Iagi.

Kemudian Co Hiong berkata lagi: "Ketiga orang itu adalah jago-jago silat yang lihai dan sebagai pemimpin-pemimpin mereka tak akan sembarangan omong, Jika mereka katakan orang-orang partai Thian Liong telah disebar di pegunungan ini aku yakin dan pereaya akan kebenarannya, Aku sebagai salah satu pemimpin partai Tian Liong tak dapat tinggal diam. Bee-heng adalah orang diluar partai Thian Liong. Lebih baik Bee-heng kembali ke Pek Yun Siat, dan jangan turut campur." "Co-heng yang tak menghiraukan perjalanan jauh telah datang menengoki aku. Kini Co-heng sedang menghadapi rintangan mustahil aku dapat tinggal diam? Hanya sayang dan aku sangat menyesal bahwa orang yang hendak dicari oleh partai Thian Liong adalah penolongku... dan Pek Siocia itu selalu menolong aku. Budi kasihnya tak terhingga,"

Co Hiong memotong pembicaraan Bee Kun Bu. Katanya: "Bee-heng, akupun tidak minta bantuan atau pertolonganmu Tapi aku ada satu pertanyaan, dan aku minta Bee-heng..."

"Sebutkanlah," kata Bee Kun Bu.

"Barusan Tu Wee Seng dan kawan-kawannya telah membicarakan sesuaiu, dan kau sudah mendengarnya," berkata Co Hiong, "siasat mereka untuk menggempur partai kami kejam sekali, bukan?"

Bee Kun Bu mengangguk.

"Jika aku tidak dengar siasat itu," meneruskan Co Hiong, "mungkin dalam pertempuran yang akan terjadi, kami partai Thian Liong akan menderita luka atau binasa yang hebat sekali, Mereka bertempur untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Tapi apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek berada di puncak Pek Yun Siat? Ai! Kitab-kitab itu sudah makan entah berapa banyak kor-ban..." ia berhenti sejenak, lalu menanya: "Apakah kau ketahui bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen itu benar berada di puncak Pek Yun Siat?"

Bee Kun Bu yang luhur budi pekertinya dan jujur, menjawab: "Aku pernah melihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, tapi aku tak tahu apakah yang tulen atau yang palsu."

"ltu dia," kata Co Hiong, Tu Wee Seng dan kawan- kawannya Kui telah datang kesini karena memperoleh kabar bahwa Kui Goa Pit Cek yang tulen ada di sini. Aku minta kau lekas-lekas kembali beristirahat karena kau baru sembuh, dan juga karena aku tak sudi menyeret-nyeret kau ke dalam kesukaran atau bahaya." Bee Kun Bu juga ingin lekas-lekas kembali dan memberitahukan semua ini kepada Pek Yun Hui. Agar diadapat membikin persiapan Musuh yang akan dihadapi adalah jago-jago silat yang tinggi sekali ilmu silatnya, ia mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat, dan sambil berlalu ia berkata: "Ya, lebih baik aku kembali

Co Hiong mengawasi Bee Kun Bu berlalu, Pikir hati busuknya: "jalan yang sempit di antara dua lereng gunung itu sangat gelap, Jika aku buntuti dia dari belakang, aku dapat memukul dia mati dengan satu pukulan, kemudian aku lemparkan mayatnya ke bawah jurang, Akupun akan terluput dari segala tuduhan, Lie Ceng Loan tentu menganggap dia terbunuh oleh musuh!"

Dengan maksud yang busuk itu, dengan diam-diam ia membuntuti Bee Kun Bu. Tapi tiba-tiba Bee Kun Bu berhenti dan berbalik, rupanya ada sesuatu yang ia ingin beritahukan kepada Co Hiong.

Co Hiong terjebak! Tetapi Co Hiong yang busuk dan penuh tipu muslihatnya itu berlagak tersenyum dan bersemi "Akupun hendak pergi memberitahukan orang-orang dari partai silat Thian Liong!"

Sedianya Bee Kun ku hendak memberitahukan Co Hiong satu urusan, akan tetapi melihat Co Hiong tergesa-gesa seolah-olah betul ingin memberitahukan orang-orang dari partai Thian Liong tentang bahaya yang mengancam, iapun tidak memanggil lagi,

Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia lekas-lekas pulang ke puncak Pek Yun Siat, Ketika ia tiba didekat puncak Pek Yun Siat, seluruh tubuhnya basah kuyup dengan keringatnya, ia duduk di rumput untuk beristirahat dan ketika ia bangun ingin meneruskan perjalanannyua, tiba-tiba ia merasa berkelebat bayangan orang, Orang itu adalah Pek Yun Hui.

Dengan suaranya yang agak cemas, Pek Yun Hui menegur "Kau baru sembuh, dan harus beristirahat Apakah kau tidak sayang dirimu Bee Kun Bu tidak segera menjawab, ia pandang gadis yang telah berulang kali menolong jiwanya itu, ia hanya tersenyum. Baru saja ia hendak membuka mulut, terdengar orang berseru: "Dia disini! Dia disini."

Segera empat bujang Na Siao Tiap lari mengurung Bee Kun Bu. Pek Yun Hui menjadi marah melihat sikap empat bujang yang beringas itu, ia membentak: "Hai! Urusan apakah ini?!"

Seorang bujang yang agak tinggi tubuhnya menjawab sambil membungkukan tubuh: "Kami dapat perintah dari Na siocia untuk cari laki-laki yang jahat ini, dan kami telah mencarinya dimana-mana agak lama.,."

Pek Yun Hui yang mengetahui bahwa keempat bujangnya gadis itu selalu jujur menanya lagi: "Untuk apakah Na Siocia mencari dia?"

Sambil menuding Bee Kun Bu, bujang itu berkata: "Orang laki-laki yang jahat ini telah mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!"

Bee Kun Bu terkejut dan ia berseru: "Apa? Aku mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?!"

Keempat bujang itu mengawasi Bee Kun Bu dengan sikap menghina.

Bee Kun Bu coba membela diri, tetapi Pek Yun Hui mencegah, dan ia menanyai "Sekarang Na Siocia ada dimana?"

"Entah. Setelah kami diberitahukan tentang ilmu Ngo Heng Mie Cong (Langkah ajaib) dia segera pergi mencari seorang diri,"

-ooo0ooo-

Angin Taufan timbul lagi di pegunungan Koat Cong San Pek Yun Hui berpikir sejenak, lalu berkata: "Pergilah kalian cari Na Siocia dan beritahukan padanya bahwa aku ingin menjumpai dia."

Tapi keempat bujang itu saling pandang memandang tidak bergerak

Pek Yun Hui membentak "Hei! Aku ingin kalian segera pergi mencari Na Siocia, apakah kalian tidak dengar?"

Lalu bujang yang tertinggi tubuhnya menjawab: "Na Siocia telah memesannya, jika kami sudah dapat cari orang yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, kami harus segera tangkap dan ikat padanya untuk dibawa kepada Na Siocia."

Melihat sikap yang membandel dari keempat bujang itu, Pek Yun Hui menjadi makin gusar, mukanya menjadi merah.

Menampakkan Pek Yun Hui gusar, sambil menghela napas Bee Kun Bu berkata: "Sabarlah, Cici. Urusan ini kita tak dapat mempersalahkan mereka yang telah diperintahkan oleh majikannya, tentu saja mereka tidak berani menyimpang dari perintah."

Keempat bujang itu merasa senang dibela oleh Bee Kun Bu. Harus diingat bahwa mereka itu selalu tinggal berdiam di pegunungan mereka tak mengerti tentang urusan diluar, Segala perasaannya yang timbul segera terlihat pada wajahnya,

Pek Yun Hui berpikir: Tak mungkin Bee Kun Bu mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Tapi Na Siao Tiap tentu tak berani berdusta, Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu sangat hebat daya tariknya." Lalu ia berkata kepada Bee Kun Bu: "Sebe!um kitab-kitab itu diperoleh kembali, aku kawatir soal ini sukar dijelaskan kepada Na Siao Tiap."

Tapi aku harus pergi kutemui dia untuk menjelaskannya.,." jawab Bee Kun Bu, lalu ia memberitahukan soal lain: "Cici, tadi aku bersama-sama Co Hiong telah pergi ke suatu goa yang jauhnya beberapa belas lie dari sini. Di dalam kamar batu di goa itu, aku telah mendapat dengar bahwa banyak jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw telah datang ke pegunungan Koat Cong San, bahkan ke puncak Pek Yun SiaL Aku khawatir pada saat ini sudah ada banyak musuh yang bersembunyi di sekitar daerah ini. Lagipula mereka yang datang adalah jago- jago silat yang lihay sekali ilmu silatnya, Oleh karena itu, aku mohon, Cici membikin persiapan untuk menghadapi mereka."

"Aku telah menduga bahwa para jago silat dari kesembilan partai silat dan dari silat Thian Liong akan datang kesini." berkata Pek Yun Hui. "Hanya aku tak menduga demikian cepatnya, Ketika Na Siao Tiap berada di dalam perjalanan kesini, rahasia tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah tersiar, dan ketika itu dia sendiri tidak menginsyafi bahwa ia memiliki ilmu silat yang amat tinggi, siapapun tak akan dapat menggempur dia. Diapun tak pikir bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang dimiliki akan membikin para jago silat buat perebutan Oleh karena itu dia tidak simpan baik-baik kitab- kitab tersebut. Keempat bujangnya meskipun pandai ilmu silat, tetapi tak berpengalaman, mereka mudah tertipu, jika guruku tidak lekas-lekas turun tangan, aku khawatir kitab-kitab tersebut jika betul dicuri orang lain, akan sukar direbut kembali!"

Lalu Pek Yun Hui berkata lagi kepada keempat bujang itu: "Ayo, kita berangkat menjumpai Na Siocia!"

Bee Kun Bu tak segera berjalan Sambil ge!eng-geleng kepalanya ia berkata: "KJni musuh-musuh kita sedang bersembunyi di sekitar kita. Cici seorang diri meski telah memiliki ilmu silat yang tinggi mungkin sukar menghadapi mereka, sebaiknya Cici membikin persiapan dulu sebelum kita berangkat!"

Baru saja Pek Yun Hui ingin menyahut, Bee Kun Bu sudah meneruskan lagi: "Aku tahu bahwa Cici ingin pergi bersama- sama aku, karena kau khawatir aku diserang oleh Na Siao Tiap, Tetapi jika Cici menyertai aku, dia akan makin mencurigai aku, dan mungkin juga makin benci terhadap aku. Tentang ilmu silat, dia jauh lebih pandai daripada aku, dia dapat memukul aku silat, aku mati. Di hadapan Cici, dia tak berani menyerang aku, Namun, aku tak takut menghadapi dia, karena aku tak bersalah Aku tidak mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Ceknya, Kini, yang penting jalan menghadapi musuh-musuh yang sudah mengurung puncak Pek Yun Hui ini."

Pek Yun Hui menghela napas dan berkata: "Betul, tetapi soal ini kau tak usah khawatir Aku hanya khawatir terhadap Na Siao Tiap, Jika dia terus mentaati pesan ibunya, ia tentu dengar dan turuti kehendakku Jika tidak, aku tak dapat melawan dia, karena ilmu silatnya lebih tinggi daripada ilmu silatku.,."

"ltu juga sebabnya." kata Bee Kun Bu, "Lebih baik aku sendiri yang menjumpai pada nya."

"Baiklah," kata Pek Yun Hui, Tetapi kau harus selalu mengalah."

"Dia telah menolong jiwaku," jawab Bee Kun Bu, "Asalkan dia tak terlalu menghina aku, aku tentu

mengalah."

Pek Yun Hui masih juga memperingatkan: "Meskipun demikian, sebaiknya kau mengalah."

Dengan khidmat Bee Kun Bu berkata: "Seorang laki-laki lebih rela dibunuh mati daripada dihina, Soal mati atau hidup, bagiku adalah soal kedua, Aku lebih suka mati sebagai ksatria, daripada hidup dihina orang."

Pek Yun Hui yang biasanya angkuh dan keras tabiatnya, ketika itu menjadi lunak. Dengan lemah lembut ia berkata: "Kau jangan hanya mementingkan diri sendiri Umpama kau mati, kau tak mengetahui apa-apa lagi, tapi bagaimana dengan Sumoymu, Lie Ceng Loan? semenjak kau terluka, dia senantiasa memikiri kau selalu, jika kau mati, diapun rela akan ikut mati juga!" Bee Kun Bu tersenyum, dan berkata: "Cici tak usah terlalu khawatir karena aku, Aku yakin bahwa Na Siao Tiap tidak akan segera menyerang aku sebelum mendengar keteranganku LagipuIa dia tentu akan memandang kepada Cici, Aku berjanji akan bertindak hati-hati untuk mencegah dia menjadi gusar."

"Jika kau dapat berbuat demikian, akupun tidak khawatir lagi," kata Pek Yun Hui, "Meskipun Na Siocia benci kau, tetapi dia adalah seorang yang baik-baik, dan dia tak akan sembarangan menyerang kau tanpa alasan, Yang membuat aku khawatir ialah sikapmu yang tinggi, Jika kau telah berjanji mengalah, tenteramlah hatiku, Selama dua puluh hari Sumoymu Lie Ceng Loan siang hari malam menjagai aku, Oleh karena itu, kau harus ingat dan perhatikan juga padanya...M

justru pada saat itu, dari jauh terdengar suara gemuruh dari lembah.

"Mungkin musuh-musuh kita sudah dekat." tegur Bee Kun Bu, "Cici harus membikin persiapan!"

"Baiklah," jawab Pek Yun Hui, "Setelah kau menjumpai Na Siocia, kau lekas - lekas kembali." lalu ia berlalu.

Bee Kun Bu mengawasi penolongnya pergi, kemudian sambil menghadapi keempat bujangnya Na Siocia ia berkata: "Na Siocia ada dimana? Mari kita pergi menjumpai dia!"

Tanpa jawab keempat bujang itu menggiring Bee Kun Bu pergi mencari Na Siao Tiap.

Mereka berjalan dengan cepat, dan setelah melalui satu pengko!an lereng gunung, mereka tiba disuatu tegalan dimana terdapat dua pohon cemara yang besar Di atas satu dahan pohon cemara itu, Na Siao Tiap duduk sambil memegangi Kimnya dan memandangi langit dengan awan-awan yang berubah-ubah bentuk, setelah mendengar suara ada orang mendatangi, ia menoleh ke arah keempat bujangnya yang sedang menggiring Bee Kun Bu. ia loncat turun, dan seorang bujang maju ke depan dan berkata: "Na Siocia, laki-laki jahat itu mau mengikuti kami dengan rela dan kami tak usah mengikat dia."

Dengan tenang Bee Kun Bu menjawab: "Siocia, aku sangat berterima kasih kepada Siocia, karena Siocia telah menolong jiwaku, Tapi perkenankanlah aku bertanya, dosa apakah yang aku telah perbuat sehingga harus dibentak atau dihukum?

Dengan menyengir Na Siao Tiap berkata: "Kau telah curi kitab-kitab Kui Goan Pit Cekku! Apakah itu bukan dosa?!"

Bee Kun Bu tetap berlaku tenang, ia berkata: "Selain di atas perahu, aku pernah melihat kitab-kitab tersebut, aku belum pernah melihatnya lagi, jika aku mencuri kitab-kitab itu, aku, Bee Kun Bu, tak dapat terima."

Na Siao Tiap makin gusar, ia membentak dengan suara yang lebih keras: "Dikamarnya Pek Cici, hanya ada kita bertiga, jika bukannya kau yang mencuri, siapa lagi?"

Bee Kun Bu mulai ingat dan insyaf mengapa Na Siao Tiap mencurigai ia. Ketika ia dan Co Hiong berlalu dari kamar itu, Co Hiong berlagak kembali ke kamar untuk mengambil sapu tangan, Maka ia menanya Na Siao Tiap: "Na Siocia, apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu ditaruh di dalam kamar dimana Siocia mengobati aku?"

Mendengar ucapan bahwa ia mengobati Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menjadi merah mukanya, ia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.

Dengan memukul telapak tangannya sendiri, Bee Kun Bu berkata seorang diri dengan sangat geregetnya: "Tidak salah lagi tentu dia yang mencurinya!"

"Siapa? Siapa?" menanya Na Siao Tiap dengan terperanjat. "Aku tidak mencurigai Pek Cici!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin memberitahukan tentang gerak geriknya Co Hiong, Tetapi karena ia hanya menduga tanpa bukti, ia sungkan sembarangan menuduh orang, ia menjadi bisu!

Na Siao Tiap yang masih terperanjat berkata: "Pek Cici adalah keturunan ningrat, Tak mungkin dia mau mencuri kitab- kitab Kui Goan Pit Cekku, Kau betul-betul seorang jahat Pek Cici demikian baiknya terhadapmu, tetapi kau mencurigai dia yang mencurinya, Hm! Jika tidak ada Pek Cici, kau akan binasa ditanganku, Aku tahu kau ingin merenggangkan kami berdua agar saling ber-tarung! Tetapi aku tidak bodoh, Aku dapat segera melihat tipu musIihatmu!"

Dengan khidmat Bee Kun Bu berkata: "Betul aku telah menduga ada orang yang mencuri kitab-kitab tersebut, tetapi sebelumnya ada bukti, aku sungkan sembarangan menuduh orang itu. Jika Siocia bertanya kepadaku, aku minta siocia memberikan aku tempo tiga hari, dan aku berjanji di dalam tiga hari menyelidiki pencurinya."

Na Siao Tiap mengejek: "Jangan kau kira aku dungu memberikan kau tempo tiga hari untuk melarikan diri!

Kemudian kau mencari satu tempat yang terpencil untuk belajar dari kitab-kitab tersebut Jika kau lari, bagaimana aku harus mencari kau di dunia yang luas ini?"

"O, jadinya Siocia masih juga menuduh aku yang mencurinya?" tanya Bee Kun Bu.

"Jika bukan kau yang mencurinya, siapa lagi?" kata Na Siao Tiap, "Didalam kamar hanya kita bertiga dan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu berada didalam kamar Ketika aku hendak mengambilnya, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu sudah lenyap, dan kau juga tak berada di kamar... Tentu karena aku melihat di kamar tidak ada orang lain, lalu kau curi kitab-kitab itu dan pergi ke suatu tempat yang tersembunyi dan menyimpan

kitab-kitab itu disitu..."

"Ketika kami menjumpai dia, ia berada sama-sama Pek Siocia." kata salah satu bujangnya. Na Siao Tiap melotot dan membentak: "Pek Siocia tidak mengetahui bahwa dia seorang yang jahat.,."

Bee Kun Bu membela diri: "Siocia selalu menuduh aku sebagai pencurinya, sehingga aku tak berkesempatan membela diri, jiwaku Siocia yang to!ong. Nah, apabila Siocia masih anggap aku pencurinya, Siocia dapat mengambil kembali jiwaku ini."

Na Siao Tiap menjadi agak lunak dan ia berkata: "Meskipun kau bukannya seorang yang baik, tetapi aku yakin kau adalah sahabatnya Pek Cici, aku karena memandang Pek Cici, aku sungkan mengambil jiwamu.,." ia berhenti sejenak, lalu sambil menghela napas ia melanjutkan "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu adalah barang peninggalan ibuku. Lagi pula kitab-kitab itu berisi ilmu-ilmu silat yang luar biasa, Jika kitab- kitab itu jatuh di tangan orang yang baik, kita tak usah khawatir Tapi jika jatuh di tangan orang yang jahat dan kejam maka banyak korban akan terjadi."

Dengan tersenyum Bee Kun Bu berkata: "Jika kau masih saja anggap aku yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cekmu, dan kau khawatir aku telah pelajari isinya untuk melakukan banyak kejahatan di kalangan Bu Lim, ada jalan untuk mencegah aku berbuat sewenang-wenang."

"Jalan apakah?" tanya Na Siao Tiap.

Dengan tenang Bee Kun Bu menjelaskan "Kau memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, Kau dapat memukul mati kepadaku dan kau segera dapat menghilangkan kecemasan atau kekhawatiranmu."

"Aku pun memang mempunyai pikiran demikian." kata Na Siao Tiap, "tapi setelah aku pukul mati, Pek Cici tentu tak dapat mengampuni aku!"

"Bagaimana jika aku membunuh diri? Bukankah Pek Siocia tak akan menyalahkan kau?" kata Bee Kun Bu. Lalu ia berbalik dan berlalu, diikuti oleh keempat bu-jangnya Na Siao Tiap, Setelah ia berjalan lebih kurang lima puluh langkah ia berhenti, dan sambil mengawasi keempat bujang itu ia berkata: "Keempat Siocia aku minta kalian berdiri sedikit jauh. Aku khawatir darahku membikin noda kalian!"

Keempat bujang itu mundur dan berdiri agak jauh. Bee Kun Bu berdiri tegak, matanya memandang ke atas langit, dan ia merasa seolah-olah jantungnya tertusuk oleh ujung pedang yang tajam. ia ingat akan kasih sayang ibu-ayahnya, dan budi kasih gurunya yang telah mendidik ia selama dua belas tahun, ia berpikir "Hari ini aku harus menghabiskan jiwaku untuk kesalahan atau dosanya orang Iain..." Lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya, dan mengangkat tinju kanannya untuk memukul dadanya sendiri

Justru pada saat ia angkat tinjunya, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan: "Bu Koko! Bu Koko!" ia tahan maksudnya dan menoleh ke atas jurang didepan-nya, dan melihat Lie Ceng Loan berlari-lari turun dari jurang itu.

Lie Ceng Loan sudah tak menghiraukan segala bahaya atau keselamatan dirinya sendiri, ia lari turun di jurang itu secepat kilat, ia menubruk dan memeluk Bee Kun Bu.

Keempat bujang yang berdiri tidak jauh juga tak mencegah nya.

Baru saja Bee Kun Bu ingat akan perbuatannya yang nekat, ketika terdengar olehnya suara yang ramah: "Me-ngapa kau harus membunuh diri sehingga Loan moi-moi ketakutan setengah mati?"

Suara itu tak asing bagi Bee Kun Bu. ia menoleh kebelakangnya Lie Ceng Loan, dan betul saja ia melihat Souw Hui Hong, puterinya Souw Peng Hai. Gadis itu berpakaian serba putih,

Bee Kun Bu terperanjat dan ia berpikir "Siapakah yang meninggal dunia sehingga dia memakai baju putih (berbela sungkawa)?"

Ketika itu sudah hilang kekhawatirannya Lie Ceng Loan, ia berbalik, dan sambil menarik tangannya Souw Hui Hong ia menanya: "Hong Cici, bila kau datang ke pegunungan Koat Cong San? Sudah lama kita tak berjumpa!"

Souw Hui Hong memegang tangannya Li Ceng Loan erat- erat dan menanya: "Urusan apakah membikin dia mengambil jalan yang nekat sampai mesti membunuh diri?" Ketika ia mengatakan demikian ia mengawasi keadaan disekitarnya.

Sambil geleng-gelengkan kepalanya, Li Ceng Loan menjawab: "Akupun tidak mengetahui, Na Siocia telah mengatakan bahwa Bu Koko mencuri barangnya.,."

Meskipun Na Siao Tiap masih menyatakan gusarnya dengan wajahnya yang beringas, tetapi ia tak berkata sepatah kata. ia berbalik dan berlalu, Keempat bujang itu tak berani berlalu sebelum dapat perintah dari majikannya, Sejenak kemudian, setelah membelok disuatu lereng gunung Na Siao Tiap tak kelihatan lagi,

Keempat bujang itu tetap mengurung Bee Kun Bu. Tak lama kemudian terdengar suara dari petikan Kim yang nyaring keempat bujang itu segera berlalu setelah mendengar suara petikan Kim itu. sebelumnya mereka berlalu, seorang bujang yang terkecil berkata kepada Bee Kun Bu: "Siocia kami telah pandang Lie Siocia, dan dia memberikan kau kesempatan selama tiga hari untuk menyelidiki Nah, kini kau bebas.-"

Mereka berlalu dengan cepat sekali, Bee Kun Bu memperhatikan bahwa cara keempat bujang itu berlalu lebih cepat daripada biasanya ia tampak, merasa heran mengapa dalam jangka waktu yang singkat mereka telah dapat memahami ilmu meringankan tubuh,

Tetapi ia tak mengetahui bahwa setelah Na Hai Peng memberikan puterinya makan Leng Tan (pil mujarab) dari Ban Lian Hwee Kui (kura sakti), Na Hai Peng telah memberikan air dari daging kura sakti itu kepada keempat bujang itu, air dari kura sakti itu bukan saja menambah kekuatan bahkan menambah kelincahan tubuh, Lagi pula Na Siao Tiap telah mengajarkan tidak sedikit ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Dalam keadaan terperanjat itu Bee Kun Bu telah lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan dua gadis,

Tiba-tiba ia dengar orang membeset-beset kain. ia menoleh dan melihat Souw Hui Hong sedang membeset-beset kain ikatan kepalanya, lalu dilemparkannya di tanah!

Lie Ceng Loan menanyai "Hong Cici, apakah yang kau lakukan?"

Dengan senyuman terpaksa Souw Hui Hong men-jawab: "Sebetulnya aku memakai putih (berbela sungkawa) untuk satu orang, Tapi ternyata orang itu masih segar bugar, Maka aku tak usah berbelasungkawa lagi."

Lie Ceng Loan hanya tertawa, tetapi ia tidak mengetahui siapa gerangan yang dimaksud Souw Hui Hong.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa gelak-gelak, Bee Kun Bu menarik Lie Ceng Loan dan bertindak mundur tiga langkah ia mengawasi dan melihat Co Hiong sedang loncat turun dari satu pohon cemara.

Souw Hui Hong juga sudah cabut pedangnya siap bertempur Ketika ia melihat yang datang adalah Co Hiong, ia masukkan lagi pedangnya ke dalam sarungnya dan menegur "Ha! Aku kira siapa, Kau telah membikin kami semua kaget. Sudah lama aku tak melihat kau. Kau kemana? Ayah telah memberi perintah kepada semua cabang-cabang untuk mencari kau."

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab: "Kita telah berpisah agak lama, dan banyak kisah aku harus beritahukan kepadamu Bagaimana kau dan Suhu baik-baik saja?"

"Ayahpun dalam sehat," kata Souw Hui Hong, semenjak ia berpisah dari Co Hiong di pegunungan Ci Lian San, ia tak pernah berjumpa lagi. Ketika itu Co Hiong telah dihajar oleh Pek Yun Hui sehingga menderita luka di dalam tubuh dan dia akan mati jika Hian Ceng Tojin tidak menolong membebaskan totokan dijalan darahnya, Setelah ditolong, dia tidak mengatakan terima kasih kepada Hian Ceng Tojin. Dia cemplak kuda ajaibnya untuk kemudian ditolong lagi oleh Kok Gie Taysu, Satu tahun telah lewat, Souw Hui Hong anggap Co Hiong telah meninggal dunia, ia tak menduga bahwa ia berjumpa lagi di pegunungan Koat Cong San, ia sebetulnya ingin menanyakan kisah semenjak mereka terpisah di pegunungan Ci Lian San, akan tetapi dihadapannya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, ia tak berani banyak menanya,

Sambil tertawa Co Hiong menanyai "Apakah markas besar partai Thian Liong kita di sebelah utara propinsi Kwiciu tidak terjadi apa-apa?"

"Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Si di pegunungan Ci Lian San pernah datang ke markas besar kita di propinsi Kwiciu, dan telah berusaha melabrak kita, Tapi mereka telah kita hajar babak belur.,." jawab Souw Hui Hong,

Co Hiong memotong dan menanya: "Apakah Su-bo (istri guru) pun baik-baik saja?"

"lbu baik-baik saja. Tiap-tiap hari dia tekun membaca kitab suci dan sungkan menemui orang. Kini akupun tidak diperkenankan mengganggu dia!"

"Suhu dan Su-bo kedua-duanya sehat walafiat," kata Co Hiong, "Sebetulnya kau ini memakai putih (ber-belasungkawa) untuk siapakah?"

"Siapa bilang aku berbelasungkawa?" membentak Souw Hui Hong,

Co Hiong tertawa gelak-gelak, tapi ia tak mendesak. Dengan menghadapi Bee Kun Bu ia berkata: "Bee-heng,

mengapa kau tidak sayang diri, Barusan aku lihat kau hendak

membunuh diri, Jika kau mati demikian, kau mati konyol!"

"Siocia yang barusan berlalu pernah menolong jiwaku, karenanya aku tidak dapat bertempur melawan dia. Tapi aku pun tidak ingin dihina, jalan satu-satunya ialah aku membunuh diri."

Co Hiong yang hatinya kejam dan busuk itu berpikir: "Sayang! Mengapa kedua gadis ini kebetulan datang ke sini? Jika mereka datang terlambat sedikit, aku dapat memukul mati kepada Bee Kun Bu, dan orang lain anggap dia mati membunuh diri!"

"Siocia itu menuduh aku mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek-nya dan untuk membuktikan bahwa aku tidak mencuri, hanya dengan jalan membunuh diri aku dapat meyakinkan dia!" kata Bee Kun Bu melanjutkan penuturannya.

Sebetulnya Co Hiong sudah lama bersembunyi di atas salah satu pohon cemara dan telah mendengar pereakapan antara Bee Kun Bu dan Na Siao Tiap. iapun telah simpan baik-baik kotak batu Giok yang berisi kitab Kui Goan Pit Cek itu. Dengan keyakinan bahwa tak ada orang yang mengetahui perbuatan kejinya, ia berkata dengan tenang: "Mengapa dia begitu teledor terhadap kitab-kitab yang berharga itu? ini terang-terangan dia menghina kau jika dia menuduh kau yang mencurinya!"

Tapi dia adalah seorang gadis yang jujur, dan ia tak akan berdusta jika dia mengatakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri." kata Bee Kun Bu,

Dengan berlagak kaget, Co Hiong berkata: "Ha, jika demikian, kitab-kitab itu betul-betul kau yang curi!" Kata-kata Co Hiong yang licin itu membikin Bee Kun Bu bingung, karena ia baru saja ingin menanya apakah Co Hiong pernah melihat kitab-kitab itu.

Sikapnya yang palsu itu dapat menutup matanya Lie Ceng Loan yang masih hijau, tetapi tak dapat menutupi matanya Souw Hui Hong yang berpengalaman

Dengan suara yang tegas Souw Hui Hong berkata kepada Co Hiong, "Bee Siangkong adalah seorang yang luhur dan jujur, Jika dia kata tidak mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, dia tidak berdusta!"

Dengan menyengir Co Hiong berkata: "Dia tidak berdusta, jadinya siapakah orangnya yang mencuri kitab-kitab itu?"

"Aku kira kau juga tidak dapat mencurinya." kata Souw Hui Hong.

Co Hiong tertawa dan berkata: "Bee-heng kini telah datang berkumpul dan bersembunyi banyak jago-jago silat di sekitar pegunungan ini. Betul Na Siocia memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi dia tak berpengalaman Apakah tak mungkin dia telah tertipu, dan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu dicuri oleh orang lain?"

Baru saja Bee Kun Bu hendak berkata, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki. Mereka semuanya menoleh ke jurusan suara itu, dan melihat dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar memikul satu joli (tandu) dengan dua batang bambu, dan lari mendatangi dengan cepat sekali Ternyata sekali kedua laki-laki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang lihay.

Souw Hui Hong berseru: "Mo siok-siok (Paman Mo) juga sudah datang kesini?" Baru saja ucapannya selesai, segera datang banyak orang ke tempat itu.

Di dalam tandu itu Bee Kun Bu melihat seorang kakek, berkaki satu berpakaian baju biru, rambutnya yang agak kuning jarang sekali dan diikat di atas kepalanya merupakan satu sanggul kecil, Mukanya berwarna kuning licin seperti lilin, Kedua matanya yang celong kelihatan bersinar

Co Hiong dan Souw Hui Hong membungkukkan tubuh menghaturkan hormat di hadapan kakek di dalam tandu itu. Lalu sikakek mendehem dan berkata: "Kalian berdua sudah tiba dulu, apakah kalian sudah tahu di sekitar puncak Pek Yun Siat ini sudah datang banyak musuh?"

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab: "Angkatan muda dengan tak di sengaja telah mendengar tentang kabar itu.

Partai silat Hua San, Siat San dan Tiam Cong telah bergabung untuk menghadapi partai silat Thian Liong kita. Mereka telah turun tangan, dan berhasrat di dalam jangka waktu setengah hari dan satu malam membasmi orang-orang yang partai kita kirim untuk mengintai

Sikakek berkaki satu mendehem, dan berkata: "Hm! orang- orang dari kesembilan partai silat itu makin hari makin bertingkah Aku hari ini datang untuk kasih mereka lihat.,." Lalu sikakek mempertunjukkan sikap bahwa ia seolah-olah dapat membasmi musuh-musuhnya dengan mudah.

"Jika ketiga partai Hua San, Siat San, dan Tiam Cong bergabung, maka tenaga mereka tak dapat dipandang rendah," kata Co Hiong, "Mungkin Mo Lo Touw Piauw (Pemimpin partai) seorang diri tak dapat melawan mereka, Apakah Suhuku juga sudah datang?"

Sikakek tertawa bahak-bahak dan menyahut: "Semenjak aku menggabungkan diri ke dalam partai silat Thian Liong, aku selalu tinggal terpencil selama dua puluh tahun ini. Apakah para jago-jago silat di kalangan Bu Lim sudah lupakan aku.,." Ketika itu matanya mengawasi sesuatu dihadapannya, ia membentak: "Hei! siapakah yang mengintip, dan tak berani keluar di belakang batu karang itu!"

Lalu meloncat keluar sambil tertawa gelak-gelak Tu Wee Seng pemimpin partai Hua San. Dengan toya bam-bunya, Tu Wee Seng berdiri tegak di atas batu karang mengawasi si kakek berkaki satu.

Tiba-tiba, dari dalam tandu, si kakek berkaki satu mengebatkan lengan bajunya, dan melayang keluar untuk menyerang Tu Wee Seng,

Bee Kun Bu yang menyaksikan itu terpesona, pikir-nya: "Kakek ini betul-betul lihay matanya, Dia dapat melihat musuh, dan dia dapat keluar seolah-olah terbang di udara untuk menyerang musuh, Apakah dia tidak mengetahui bahwa Tu Wee Seng si lengan delapan itu adalah satu lawan yang lihay sekali ilmu silatnya? Bagaimanakah dia dapat melawan dengan hanya berkaki satu...?" -ooo0ooo-

Souw Hui Hong menjumpai Bee Kun Bu di tengah malam Selagi Bee Kun Bu berpikir, si kakek telah turun di atas

batu karang hanya tiga empat kaki jauhnya dari Tu Wee Seng, Dan diluar dugaannya Bee Kun Bu maupun Tu Wee Seng. Si kakek meloncat ke atas lagi dan mundur tiga depa lebih, Lalu sambil tertawa dia menegur: "Hei! Tu Wee Seng! Apakah kau masih ingat kepada si tua bangka ini?"

Bee Kun Bu terperanjat ketika mendengar si kakek itu menegur Tu Wee Seng. ia berpikir Tu Wee Seng adalah seorang pemimpin partai silat yang terkenal, dan para jago silat di kalangan Kang-ouw selalu menghormatinya, Meskipun seorang musuh tak akan memanggilnya secara demikian."

Terdengar Tu Wee Seng berkata: "Jangankan Moi-heng baru kehilangan satu betis dan satu lengan, meskipun kau sudah terbakar jadi abu, aku masih mengenal kau!"

"Aku telah kehilangan satu betis dan satu lengan, tetapi aku yakin aku masih dapat melawan..." Belum lagi ucapannya habis, tiba-tiba dengan satu betis si kakek meloncat dan menyerang Tu Wee Seng dengan satu jotosan,

Caranya si kakek mengirim jotosan membuat Bee Kun Bu sangat takjub, karena jotosan itu dilancarkan dengan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, ia telah menjumpai tidak sedikit lawan yang lihay, akan tetapi ia belum pernah menyaksikan jotosan yang dilancarkan demikian rupa,

Betul saja Tu Wee Seng tidak berani menangkis jotosan itu. ia mengegoskan diri dengan melompat ke samping, La!u ia menegur: "Mo-heng selama dua puluh tahun kita tidak berjumpa, mengapa sekali bertemu lalu bertarung?"

Si kakek mengejek: "Aku si tua bangka keluar lagi dari tempat pertapaan dan terjun ke dalam kalangan Kang-ouw karena ingin mengetahui kepandaian para jago silat dari kesembilan partai yang terkenaL." Dan secepat kilat ia meloncat lagi kedepannya Tu Wee Seng untuk menyerang dengan jotosannya yang bertubi-tubi.

Entah kenapa Tu Wee Seng tidak berani menangkis, Sambil tertawa ia lekas-lekas meloncat mundur mengelakkan jotosan jotosan itu. Lagi-lagi ia berkata: "Mes-kipun Mo-heng seorang yang cacat, akan tetapi ilmu silatmu sudah banyak maju, Aku tidak sudi bertempur melawan kau." Lalu ia berbalik dan lari dengan pesat

Si kakek tidak mengejar ia hanya tertawa gelak-gelak mengawasi Tu Wee Seng yang melarikan diri, Lalu dengan suatu gerak tubuh, ia meloncat dihadapannya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan. Dengan wajah yang beringas ia menanyai "Hei! Kalian anak kemarin dulu ini, muridmu rid dari partai silat manakah?"

Bee Kun Bu maju ke depan setindak dengan maksud melindungi Lie Ceng Loan. Sambil mengerahkan tenaga dalam ia ingin menjawab, tetapi tiba-tiba Souw Hui Hong telah loncat didepannya menghadapi si kakek. Dengan mementang kedua lengannya dia berkata: "Mo Siok-siok (Paman Mo), jangan melukai mereka! Mereka adalah kawan -kawanku,

"Hm! Jika mereka kawan-kawanmu, aku dapat memberi ampun!" jawab si kakek, Lalu dengan mengebutkan lengan bajunya ia meloncat dan duduk kembali di dalam tandu nya.

Si kakek itu sangat ramah terhadap Souw Hui Hong, dan sebelumnya berlalu, ia masih berkata kepada Souw Hui Hong: "Aku masih ada urusan penting, Kini kita telah dikurung oleh banyak musuh. Kau harus waspada!"

"Mo Siok-siok, harap jangan menjadi cemas karena aku," jawab Souw Hui Hong, "Jika aku betuI-betuI menjumpai musuh yang lihay, aku akan meledakkan bom api untuk minta perlolonganmu!"

Si kakek hanya tersenyum, lalu ia ingin berlalu, Tetapi Co Hiong seolah-olah terbang loncat di depan tandu dan berkata: "Mo Lao-piauw-tou (Pemimpin partai Mo), mohon berhenti sebentar Angkatan mudah ada sedikit omongan, Tu Wee Seng adalah seorang pemimpin partai silat yang terkenal, akan tetapi dia mempunyai tipu muslihat yang dapat menjebak kita, Tadi dia berlalu tanpa membikin perlawanan, aku yakin dengan sikapnya itu dia tengah melaksanakan tipu- muslihatnya, Menurut dugaanku, mungkin dia sedang minta bantuannya partai silat Tiam Cong dan partai silat Siat San untuk bersama-sama menggempur Mo Lao-piauw-tou. Aku mohon diperkenankan menyertai kau agar akupun dapat membantu bila perlu!"

Si kakek menjawab dengan tenang: "Sebetulnya seumur hidupku, aku belum pernah minta bantuannya orang lain.

Tetapi jika Co Piauw-su (rekan dari markas Co) mempunyai maksud demikian, aku tak dapat menolak!"

Harus diketahui bahwa Co Hiong memegang jabatan penting di dalam partai silat Thian Liong, langsung di-bawah Souw Peng Hai, dan kedudukannya lebih tinggi daripada para pemimpin cabang bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam, Meskipun si kakek tidak suka menerima bantuannya, akan tetapi karena kedudukannya Co Hiong hampir setaraf dengan Souw Peng Hai, ia terpaksa menerima tawaran tersebut

"Pemimpin-pemimpin cabang partai silat kita sekarang belum tiba semua. Oleh karena itu Mao Lao-piauw-tou dapat memberi pimpinan untuk menghadapi musuh, Di dalam beberapa hari ini, aku telah memperoleh kabar bahwa musuh telah memasang perangkap, dan jika aku dapat mendampingi Mo Lao-piauw-tou, aku dapat memberi saran jika perlu." kata Co Hiong,

Mendengar alasan itu, si kakek tersenyum,

"Aku perlu petunjuk-petunjuk karena aku sudah menjadi asing terhadap perubahan-perubahan selama dua puluh tahun ini," kata si kakek itu, Kemudian ia perintahkan kedua penggotong tandu mengangkat tandu dan berlalu. Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu: "Bee-heng, kau dapat bereakap-cakap dengan Sumoyku, jika aku telah menjumpai orang yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku tentu memberitahukan kepadamu." Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia lari mengikuti si kakek.

Dengan kepala mata sendiri Bee Kun Bu menyaksikan betapa lihaynya Co Hiong meloncat, ia terperanjat Pikirnya: "Co Hiong itu merupakan teka-teki bagiku, Meskipun aku telah mengenal agak !ama, tetapi aku masih juga tidak mengetahui betul wataknya.,."

ia dibikin sadar dari lamunannya oleh seruan Souw Hui Hong: "Hanya dalam jangka waktu setahun lebih, ilmu silatnya sudah maju pesat sekali!"

"Menurut pandanganku suhengmu itu masih memiliki ilmu silat yang lebih lihay Iagi..." kata Bee Kun Bu. Souw Hui Hong menjawab: "Kami menjadi besar dan belajar ilmu silat bersama-sama. Tentang kepandaian silatnya aku tahu betuK Tetapi kini, aku telah menyaksikan kemajuannya, aku belum mengetahui cara bagaimana ia berlatih."

Sambil tersenyum Bee Kun Bu berkata: "Pemimpin dari partai silat Thian Liong segera akan tiba disini, Aku yakin Souw Siocia masih banyak urusan, Aku dan Loan-moi mohon minta diri." Lalu ia tarik tangannya Lie Ceng Loan dan berlalu.

Menampak sikapnya Bee Kun Bu yang dingin itu, Souw Hui Hong menjadi sedih. Dengan tak terasa air matanya mengucur keluar ia membanting kaki seraya berseru: "Apakah kau tidak ingin mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Seruan itu didengar Bee Kun Bu yang segera berhenti dan berbalik Dengan kedua mata terbelalak Bee Kun Bu menanyai "Souw Siocia, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu erat sekali hubungannya dengan mati-hi-dupku, dan juga bersangkut paut dengan banyak orang lain, Aku minta Souw Siocia tidak pandang remeh soal itu!" "Siapakah yang bermain-main dengan urusan yang penting itu?" jawab Souw Hui Hong, "Apa yang aku ucapkan barusan1 keluar dari hati yang iklas, Aku tidak main-main!"

Bee Kun Bu tertarik perhatiannya. ia lepas pegangan tangannya kepada Lie Ceng Loan dan menghampiri Souw Hui Hong. ia menanya dengan sungguh-sungguh: "Apakah Souw Siocia mengetahui dimana kitab-kitab Kui Goaki Pit Cek itu disembunyikannya?"

Dengan agak mengejek Souw Hui Hong menjawab: "Hm! Jika kau memerlukan bantuanku, kau menjadi ramah. Tetapi apabila soalnya sudah beres, kau segera berubah menjadi dingin seperti es lagi!"

Bee Kun Bu tersenyum, lalu berkata: "Aku yakin bahwa aku belum pernah menyinggung perasaan Siocia, Tetapi aku harus memperhatikan juga bahwa kita adalah dari partai ,silat yang berlainan Souw Siocia adalah puteri kesayangan Souw Cong-piauw-tou dari partai silat Thian Liong yang terkenal, dan Siocia sendiri terkenal sebagai seorang Li-hiap (jago silat wanita) yang sangat dimalui. Aku dari partai silat Kun Lun senantiasa terikat dengan peraturan-peraturan yang keras, Jika aku terlalu akrab terhadap Siocia, aku khawatir aku mencemarkan nama Siocia..."

Souw Hui Hong tertawa gelak-gelak dan menjawab: "O! Kau takut orang lain mencela? Tapi bagaimanakah

kata orang lain jika kau demikian akrabnya terhadap

Sumoymu sendiri?"

"lni lain soalnya, Kami adalah dari satu partai silat Kun Lun, dan aku yakin orang lain tak akan mencelanya," jawab Bee Kun Bu.

"Baik!" kata Souw Hui Hong. "Bagaimanakah hubunganmu dengan Pek Siocia? Dia bukannya saudari seperguruanmu, tetapi kau telah datang ke tempatnya di puncak Pek Yun Siat ini!" "Aku berhutang budi terhadap Pek Siocia," kata Bee Kun Bu, "Pek Siocia telah menolong jiwaku... Lagi pula antara aku dan Pek Siocia masih ada banyak soal yang aku tak dapat jelaskan kepadamu Terhadap Pek Siocia, aku selalu menghormatinya lebih dari itu tidak, Jika orang berpendapat lain, akupun tak dapat mencegahnya."

Lalu dengan wajah yang sedih Souw Hui Hong menanya dengan bernapsu: "Mustahil kau tidak menghiraukan pertolongan-pertolongan atau bantuan-ban-tuanku terhadapmu???" Air matanya mengucur semakin deras.

Lie Ceng Loan menghampiri Souw Hui Hong seraya menghibur: "Bu Koko adalah yang berbudi luhur, jika dia pernah menyinggung Cici, aku yakin perbuatannya itu tidak disengaja, Aku minta Cici tidak buat pikiran."

Dalam kesedihannya itu Souw Hui Hong merangkul Lie Ceng Loan dan menangis di atas bahunya dengan tersedu- sedu,

Bee Kun Bu pun terharu, dan untuk sementara waktu ia berdiri terpaku sebagai patung!

"Aku tak dapat menyalahkan Bu Kokomu..." kata Souw Hui Hong sambil menangis, "semua... semua ini... adalah... kesalahanku sendiri!"

Tetapi Cicipun tidak salah.,." Lie Ceng Loan meng- hiburnya,

Dengan senyuman yang dipaksa Souw Hui Hong berkata: "Urusan ini kita bicarakan nanti Aku sekarang harus lekas- lekas menolong Bu Kokomu mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek karena jika terlambat, aku akan tak berdaya mencarinya lagi!" Lalu ia lari menyusul si kakek dan Co Hiong. Tetapi Bee Kun Bu mengejar dan menahan padanya, "Souw Siocia, dimana kau hendak mencarinya ? Aku akan menyertai kau untuk mencari-nya."

"Aku bukannya akan bertempur melawan musuh, Kau tak perlu menyertai aku!" berkata Souw Hui Hong, ia berpikir sejenak, lalu meneruskan: "Ayahku telah memanggil semua pemimpin-pemimpin cabang untuk berkumpul di puncak Pek Yun Siat ini, dan maksudnya ialah untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. sekarang telah tiba beberapa jago-jago silat dari partai Thian Liong-ku, tetapi jago-jago silat yang tingkat atas belum tiba, Ayahku bersama-sama pemimpin-pemimpin cabang bendera lain-lainnya mungkin akan tiba malam ini, Kelima pemimpin-pemimpin dari partai Thian Liongku semuanya memiliki ilmu silat yang tinggi, terutama pemimpin pemimpin dari bendera kuning dan biru. Jika kau menjumpai mereka, paling baik jangan melawan."

"Si kakek yang berbetis dan berlengan satu tadi bukankah jago silat dari partai Thian Liong?" tanya Bee Kun Bu.

"Dia adalah pemimpin cabang bendera biru," meneruskan Souw Hui Hong, "Jangan kira dengan satu betis dan satu lengan dia itu satu lawan yang enteng. ilmu silatnya lihay sekali. Hanya ayahku yang mengetahui akan kepandaiannya ketika dia turut menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong-ku, Selama sepuluh tahun lebih, pimpinan cabang bendera biru agaknya menjadi lowong, dan banyak sekali jago-jago silat yang menginginkan jabatan tersebut, akan tetapi selalu ditolak oleh ayahku, dan tidak seorang yang mengetahui bahwa pemimpin bendera biru itu masih ada.

Pada kira-kira dua tahun berselang, ayahku telah memanggil berkumpul semua pemimpin-pemimpin cabang serta para jago silat dari masing-masing cabang ke suatu rapat Si kakek yang bereacat itu juga hadir Ketika itu akupun mendampingi ayahku, dan aku telah diperkenalkan kepada semua pemimpin-pemimpin dan jago-jago silat dari partai Thian Liong, dan aku baru mengetahui bahwa si kakek itu telah menggabungkan diri semenjak dibentuknya partai Thian Liong, Karena dia telah dianiaya orang sehingga kehilangan satu betis dan satu lengannya, dia segera pergi bertapa di suatu pegunungan yang terletak di dekat markas besar partai Thian Liong untuk menyembuhkan luka-lukanya, sebab itu maka dia telah tidak muncul muncul hampir dua puluh tahun, Oleh karena itu para silat di kalangan Kang-ouw telah lupa akan dia. Tapi aku melihat bahwa pemimpin-pemimpin cabang lain semuanya menghormati si kakek itu, dan aku yakin ilmu silatnya lebih tinggi daripada mereka. Kemudian dari ayahku aku mengetahui bahwa dia memiliki ilmu silat Im Hian Bo Po (llmu tenaga dalam yang ampuh). Dan aku minta kau jangan coba melawan dia!"

Bee Kun Bu mendengarkannya dengan perhatian sambil di dalam hatinya berpikir "Betul! Tu Wee Seng yang lihay juga gentar terhadap si kakek itu..." Lalu ia berkata: Terima kasih untuk peringatanmu. jika aku menjumpai si kakek itu, aku tentu bersikap waspada.,"

Sambil tersenyum Souw Hui Hong berkata: "Jika kau sudi memperhatikan omonganku, legalah hatiku, Nah. kau dan Sumoymu lekas-lekas pulang, Malam ini kira-kira jam dua kita dapat berjumpa lagi disini." Lalu ia berbalik dan lari mengejar si kakek dan Co Hiong,

Bee Kun Bu berdiri mengawasi Souw Hui Hong berlari-lari mengejar kawan-kawannya, Lalu ia berpaling kepada Lie Ceng Loan seraya berkata: "Mari kita pulang!"

Lie Ceng Loan mengangguk dan tersenyum, dan sambil berpegangan tangan mereka berjalan pulang,

Ketika mereka tiba di jalan yang menuju ke atas puncak Pek Yun Siat, mereka jumpai seorang laki laki yang berjubah abu-abu tengah mengintai-intai ke arah Iembah. Bee Kun Bu segera mengenali bahwa orang itu adalah orang yang pernah bertempur melawan ia diluar kota Yaociu, Hanya kini orang itu menyelubungkan mukanya dengan sutera jarang yang berwarna hijau.

Namun bekas bacokan di pipi kirinya masih terlihat Mungkin juga sutera yang jarang itu untuk menutupi cacat di pipinya. Ketika melihat Bee Kun Bu, orang itu segera datang menghampiri sambil berkata: "Aku disuruh menyambut kaliandisini. Pada waktu ini disekitar puncak Pek Yun Siat ini telah bersembunyi banyak musuh, Kamu seharusnya jangan berkeliaran disini. Ayo ikut aku puIang!"

Mendengar ucapan itu, Bee Kun Bu mengerti bahwa Pek Yun Hui tidak memberitahukan orang itu alasan mengapa ia keluar dari goa. Maka ia talu menjawabnya: "Kami juga tengah berjalan pulang!"

sebetulnya orang itu adalah bekas pengawal istana yang ditawan oleh Na Hai Peng untuk menjaga Pek Yun Hui di puncak Pek Yun Siat, dan bernama Tan Poa. Semenjak ia tinggal dipuncak Pek Yun Siat, ia telah dapat banyak pelajaran ilmu silat dari Na Hai Peng dan Pek Yun Hui, karena itu ia juga dapat bertempur melawan segala jago-jago silat kelas satu di kalangan Kang-ouw.

Setelah mereka tiba di goa, mereka terus masuk ke dalam kamar batu, Kamar batu itu sebetulnya tidak ada namanya, Tetapi Pek Yun Hui telah berikan nama Tian Ki Cong Hi demi peringatan Tian Ki Ctn Jin yang pernah menggemparkan kalangan Bu Lim pada tiga ratus tahun yang lalu.

Setibanya di kamar, Pang Siu Wie telah menunggu diluar, Sambil tersenyum ia berkata: "Pek Siocia dan Na Siocia sedang berunding di dalam kamar Ayo, kalian masuk ke dalam!"

Bee Kun Bu memperhatikan bahwa Pang Siu Wie masih terus memegangi kantongnya yang terbuat dari kulit menjangan yang berisikan pasir beracun, dan tangan kirinya memegang satu golok yang dua kaki panjangnya, ia berpikir "Dengan dia ditugaskan sebagai penjaga, sukar sekali musuh dapat menerobos masuki

Bau harum menusuk hidung ketika mereka masuk ke dalam kamar, Pek Yun Hui mengenakan baju hijau muda dan celana panjang yang berwarna hijau tua, bertali pinggang putih dan mengikat rambutnya erat-erat. wajahnya sangat keren dan cemas, Na Siao Tiap duduk menghadapi Pek Yun Hui. iapun mengikat kepala, berpakaian putih, Ketika melihat Bee Kun Bu, ia segera melengos!

Bee Kun Bu merasa sakit sekali hatinya diperlakukan demikian tapi ia bersabar dan menelan kemendong-ko!annya, ia sangat tersinggung, dan ia lekas-lekas keluar dari kamar itu. Tetapi keempat bujangnya Na Siao Tiap mengejarnya. Xa berdiri siap sedia menjaga diri, Keempat bujang itu segera lari menjaga pintu,

Lie Ceng Loan yang tak mengetahui persoalannya segera menanya: "Bu Koko, apakah kita perlu menerjang keluar?"

Belum lagi Bee Kun Bu menjawab Pek Yun Hui berkata kepada Na Siao Tiap: Tiap Moi-moi mengapa kau masih terus memperlakukan dia demikian? Apakah sudah pasti kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dia yang curi?"

"Meskipun belum pasti dia yang curi, akan tetapi dia telah berjanji mencari kitab-kitab itu di dalam tempo tiga hari." berkata Na Siao Tiap, "Dan karena aku pandang Cici dan Lie Moi-moi, aku telah lepas dia. Selama dia masih berada di puncak Pek Yun Siat aku masih dapat mengawasi dia. Jika dia kabur aku akan tak berdaya mencari dia lagi!"

Pek Yun Hui menghampiri Bee Kun Bu dan menanya dengan ramah: "Jika kau tidak mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, mengapa kau berjanji mencarinya di dalam tempo tiga hari?"

"Na Siocia terus menuduh aku yang mencuri kitab-kitab tersebut, dan memaksa aku mengembalikan Aku berhutang budi terhadapnya, karena dia telah menolong jiwaku, Aku tak dapat segera mengembalikan kitab-kitabnya, dan akupun sungkan melawan dia, maka terpaksa aku berjanji demikian Aku tidak menduga Lie Sumoy juga datang mencari aku.,."

Tapi jika betul kau tidak mencurinya, kau hanya perlu menjelaskan Kau tidak dapat sembarangan berjanji kata Pek Yun Hui. "Jika aku berjanji mencari kitab-kitab itu dalam tempo tiga hari, akupun berjanji dengan keyakinan Na Siocia kitab-kitab itu dia taruh di dalam kamarnya, orang-orang yang pernah masuk disamping Cici dan aku, masih ada seorang yang aku curiga!" kata Bee Kun Bu.

" Apakah orang itu Co Hiong?" tanya Pek Yun Hui. "Aku curigai ia, tetapi aku belum dapat membuktikan"

jawab Bee Kun Bu.

Dengan gemas Pek Yun Hui berseru: "Betul dia! Tidak orang lain, pasti dia! Aku sekarang juga akan pergi mencari dia!"

"Malam ini jam dua, Souw Hui Hong berjanji menjumpai aku di atas puncak Pek Yun Siat," berkata Bee Kun Bu, "dan dia menyanggupi mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu kepadaku!"

"Tapi Co Hiong yang pintar busuk itu tidak dapat di pereaya, diapun tak akan rela mengembalikan kitab-kitab itu!" kata Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu menarik napas panjang, lalu menundukkan kepalanya, ia agaknya kehilangan akal.

Melihat Pek Yun Hui membela Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menepuk tangan sekali, dan segera keempat bujang-nya datang berdiri di belakang ia.

Sambil memandang ke arah Na Siao Tiap, Bee Kun Bu berkata lagi: "Na Siocia masih juga mencurigai aku. Salah faham ini sukar dijelaskan ke padanya. Aku harus mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dan kembalikan kepadanya Jika usahaku ini berhasil, aku dan Lie Sumoy akan segera kembali kepegunungan Kun Lun."

"Kau harus ketahui bahwa di sekitar pegunungan ini telah bersembunyi banyak musuh. Kau tak dapat berlalu tanpa rintangan Meskipun Na Moi-moi masih mencurigai kau, akan tetapi aku yakin lambat laut dia dapat insyafakan kesalahannya. Malam ini aku akan menyertai kau menjumpai Souw Hui Hong. Aku ingin melihat apakah dia betul-betuI berniat mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu. Nah, sekarang kau dapat beristirahat di dalam kamar di sebelah barat." kata Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu tak berani menolak, iapun lekas-lekas masuk ke dalam kamar yang ditunjuk itu.

Sambil menghadapi Lie Ceng Loan, Pek Yun Hui berkata: "Kau juga tentu letih, kau dapat beristirahat di dalam kamarku."

Lie Ceng Loan tidak segera berlalu, ia menanya: "Mengapa Na Cici masih juga membenci Bu Koko?"

Pek Yun Hui tersenyum, lalu dengan ramah ia menjelaskan "Dia telah terlalu dipengaruhi ibunya yang menganggap semua orang laki-laki tidak ada yang baik, Tereurinya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu hanya menambah kecurigaannya terhadap orang laki-laki. Tapi kelak aku yakin dia akan insyafl"

Lie Ceng Loan juga tersenyum dan ia berkata: "Cici sangat bijaksana, Aku pun yakin bahwa Na Cici akan melihat keketiruannya kelak,"

"Kau jangan khawatir Jika aku masih ada, Bu Koko-mu tak akan dibiarkan menderita lagi," kata Pek Yun Hui. Lalu ia panggil Tan Pao dan menyuruhnya memberitahukan kepada Pang Siu Wie untuk menjaga mulut goa dengan waspada.

"Jika musuh tidak masuk ke kamar Tian Kie Ciok Hu, aku tak akan pedulikan musuh-musuh itu, Biarlah mereka setelah saling bunuh membunuh dulu baru dapat mencari kita di dalam kamar Tian Kie Ciok Hu!" kata Pek Yun Hui kepada Lie Ceng Loan.

Tan Pao tidak perlu diberitahukan dua kali, ia segera lari dan bersama-sama Pang Siu Wie menjaga mulut goa. Entah kapan terdengar suara siulan yang panjang di sekitar puncak Pek Yun Siat, tetapi Tan Pao dan kawan- kawannya telah dipesan bahwa jika musuh tidak datang menyerang kamar Tian Kie Ciok Hu, mereka jangan memperdutikannya. Mereka berdiri diam di tempatnya,

Meskipun suara siulan itu terdengar berulang kali, akan tetapi mereka tak melihat musuh yang mendatangi

Ketika hampir jam dua malam, Bee Kun Bu keluar dengan membawa pedangnya, Setelah beristirahat, iapun merasa segar sekali Pang Siu Wie yang telah diberi petunjuk oleh Pek Yun Hui tidak menghalangi ia berlalu.

Malam itu cuaca agak gelap, karena awan hitam menutupi bulan, Angin gunung meniup-niup daun-daun pohon, Bee Kun Bu melihat keadaan di sekitarnya, tetapi ia tidak tampak Pek Yun Hui menyertai ia. Dengan ilmu meringankan tubuh ia berlari-!ari menuju ke tempat dimana ia berjanji menjumpai Souw Hui Hong. Karena ia selalu memikirkan akan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang akan dikembalikan, maka ia berlari dengan pesat sekali, dan segera tiba di tempat yang dijanjikan

Malam yang gelap gulita itu menyukarkan Bee Kun Bu melihat keadaan di sekitarnya meskipun hanya dua depa jauhnya, ia menunggu tidak lama ketika mendengar suara orang berlari-lari, Lalu terdengar suara yang gembira menegur ia: "Aku tidak menduga kau betul-betul datangi.

Bee Kun Bu yang sudah tidak sabar itu lalu menanya tanpa melihat orangnya lagi: "Souw Siocia, apakah sudah dapat mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Ketika itu Souw Hui Hong hanya berdiri terpisah beberapa kaki jauhnya dari Bee Kun Bu. ia menyahut, "Meskipun hari ini aku belum berhasil mencari kitab-kitab itu akan tetapi besok tentu aku akan berhasil mencarinya, Walau bagaimanapun, aku tak akan gagal di dalam tempo tiga hari."

Bee Kun Bu menjadi kecewa, ia berkata: "Sebetulnya aku tidak memaksa Siocia untuk mencari kitab-kitab itu. Aku menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan Siocia, Hawa di atas puncak ini sangat dingin, dan Siocia tak harus berdiam lama-lama di sini, Lagi pula sebagai salah satu pemimpin partai silat Thian Liong, Siocia tentu masih mempunyai banyak urusan yang harus dibereskan Aku tidak berani membikin Siocia berabe lagi, dan aku minta diri!" Lalu iapun lari pergi

Souw Hui Hong sangat tersinggung akan sikapnya Bee Kun Bu yang adem itu. ia mengejar dan mencekal pundaknya Bee Kun Bu.

Cengkeraman gadis itu diluar dugaannya Bee Kun Bu, dan ia tidak menjaga, sehingga jalan darahnya di-pundaknya tersumbat ia berhenti dan berbalik Dengan tersenyum ia menanyai "Souw Siocia, mengapa kau harus menotok jalan darahku?"

Souw Hui Hong yang masih merasa gusar membentak Hm! Aku belum pernah menyinggung kau, tapi mengapa kau perlakuan aku demikian rupa?"

Bee Kun Bu terperanjat dan menanya: "Souw Siocia, kapan aku pernah menyinggung kau, dan kapan aku bersikap tak perdulikan terhadap Siocia?"

Souw Hui Hong berbalik terperanjat, karena ia tak dapat berpikir kapan Bee Kun Bu pernah menyinggung padanya. ia berdiri bengong,

Lalu Bee Kun Bu menghibur: "Partai silat Thian Liong sekarang sangat kuat, dan aku dari partai silat Kun Lun, meskipun tidak mempunyai dendam terhadap partai silat Thian Liong, akan tetapi karena keadaan, aku tak dapat turut campur urusan partai silat Thian Liong, Souw Siocia yang telah berlaku baik terhadap aku, dan yang telah berulang kali membantu aku, budi yang maha besar ini aku tak akan lupakan Bila aku ada kesempatan aku pasti membalasnya."

Sambil bicara Bee Kun Bu berusaha membebaskan jalan darahnya yang tersumbat dipundaknya dengan menggunakan tenaga dalam nya. Souw Hui Hong yang mendengar penjelasan yang ikhlas itu, air matanya tak tahan lagi keluar mengucur. ia berkata: "Disebelah barat propinsi Sucoan kau pernah menolong jiwaku, dan dengan demikian kau telah membalas budiku, Aku tidak seharusnya menyalahkan kau! aku harus menyalahkan diri sendiri..." Lalu iapun berbalik dan berlari pergi entah kemana!

Bee Kun Bu tertegun melihat sikap yang ganjil dari Souw Hui Hong, Tiba-tiba terdengar lagi suara orang memaki dibarengi dengan suara tertawa dan mengejek Suara tersebut makin lama makin dekat. Ketika kilat berkeredep, dari tempat jauh Bee Kun Bu dapat melihat si kakek berbetis dan berlengan satu duduk didalam tandu yang digotong oleh dua orang, dia dicegat Tu Wee Seng dan satu orang yang bertubuh kecil dan pendek, berjubah putih, bertali pinggang merah dan berjenggot seperti jenggotnya kambing gunung, Yang berjubah putih itu adalah Teng Lee, pemimpin partai silat Siat San.

Ketika Bee Kun Bu dan Co Hiong berada di dalam kamar goa, ia pernah mendengar bahwa pemtmpin-pe-mimpin ketiga partai silat Hua San, Siat San, Tiam Cong telah bermufakat berserikat untuk menggempur partai silat Thian Liong. Tapi ketika itu ia berada di dalam kamar, dan tak dapat melihat wajahnya Teng Lee, Dalam cuaca yang gelap itu ia merasa bahwa banyak orang sudah berada disekitarnya.

Tiba-tiba suara guntur mendobrak suasana yang sunyi tetapi seram itu! justru pada saat itu, Bee Kun Bu disentuh pundaknya oleh Pek Yun Hui dari betakang, Pek Yun Hui berbisik "Jangan bersuara, ikut aku bersembunyi Pada dewasa ini aku telah lihat banyak sekali jago-jago silat disekitar kita, Ayo, kita bersembunyi dan menonton mereka bertempur!"

Dengan matanya yang luar biasa awas Pek Yun Hui dapat melihat dengan tegas segala apa dimalam yang gelap itu, ia tarik tangannya Bee Kun Bu, dan jalan ke sebuah pohon cemara yang besar Kemudian dengan tenaga dalam ia meloncat ke satu dahan yang kuat sambil menarik Bee Kun Bu. Di atas dahan pohon itu mereka duduk bersembunyi di balik daun-daun pohon yang lebat,

Sebentar-sebentar mereka mendengar suara gaduh dari mereka yang bertempur dan suara orang menjerit karena menderita luka parah,

Ketika Bee Kun Bu sedang mendengarkan suara-suara itu tiba-tiba ia mendengar Pek Yun Hui yang duduk di sampingnya menyodok tinjunya ke belakang.

Lalu ia mendengar suara cabang pohon yang diinjak dan suara tersentuhnya daun-daun. Co Hiong telah da-tang, dan ia berkata: "Hei, kalian berdua juga datang ke sini? Kita harus waspada, karena jika orang tahu kita berada di atas pohon ini kita tak dapat menonton lagi."

Baru saja Pek Yun Hui ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawanya Tu Wee Seng yang berkata: "Hei, kakek Mo!

Kau sekarang telah terkurung! Hanya jika kau dapat terbang ke atas langit, kau baru dapat meloloskan diri! Demi kepentinganmu sendiri, kau lebih baik bunuh diri saja daripada harus dibunuh kami!"

Si kakek menjawab sambil mengejek: "Apakah kau kira kau menipu aku dengan tipu muslihatnya? Ha! Ha! Aku hanya khawatir kau tak dapat keluar dari lembah ini!"

Lalu terdengar suara orang yang menjerit-jerit, memaki dan suara pertempuran yang hebat.

Dengan suara yang gaduh itu Pek Yun Hui mengirim jotosan dengan tangan kirinya ke tempat dimana Co Hiong bersembunyi dengan menggunakan tenaga dalam Tian Kong Cit Shing Kong, Tetapi jotosan itu sangat mengecewakan Pek Yun Hui. Co Hiong tidak kelihatan mengegos, dan juga tidak menangkis, Hanya daun-daun pohon jatuh berserakan!

Setelah keheranannya lenyap, ia mengerahkan tenaga dalamnya lagi sambil berpikir "Bagaimanapun kelicikanmu, jika malam ini kau tidak mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, kau jangan harap dapat hidup!"

Terdengar Co Hiong berkata, suaranya rendah: "Rupanya di sekitar tempat ini sudah datang banyak jago-jago silat, Siocia jangan sembarangan menyerang orang lain! Barusan jika tidak karena suara yang gaduh di sekitar kita, mungkin seranganmu itu dapat menerbitkan onar!"

Pek Yun Hui berpikir "Hai! Manusia ini betul-betul licik!" Lalu ia menegur: "Aku tidak pedu!i keadaan di sekitar ini. Kau jangan pikir dapat melarikan diri!"

"Kau tak usah khawatir Meskipun kau biarkan aku melarikan diri, akupun tak dapat lari sekarang," jawabnya Co Hiong, agak mengejek

sebetulnya ketika Pek Yun Hui terheran-heran mengapa serangannya tak berhasil, Co Hiong telah meloncat ke atas dahan pohon dimana Bee Kun Bu duduk, dan dengan demikian Bee Kun Bu duduk di antara Co Hiong di sebelah kanan dan Pek Yun Hui di sebelah kiri. Oleh karena itu Pek Yun Hui tak dapat menyerang Co Hiong lagi.

Setelah kilat berkeredep dan guntur menderu-deru dengan hebat, maka turunlah hujan yang besar sekali, dan mereka tetap duduk di atas dahan pohon,

Apakah hujan telah menghentikan pertempuran atau kedua belah pihak tengah mengatur siasat, entahlah, Tetapi selama setengah jam tidak terdengar suara pertempuran lagi.

Setelah hujan berhenti, langit menjadi agak terang dengan keluarnya bulan, Selama setengah jam itu, Pek Yun Hui menganjurkan Bee Kun Bu mengumpulkan tenaga dalamnya,

-ooo0ooo-

Si Kakek melawan dua jago-jago silat

Karena terangnya sinarnya bulan, maka terlihat banyak orang di sekitar pohon cemara itu, bahkan terlihat juga tujuh- delapan orang yang bersenjata tengah siap sedia, Ketika tadi hujan turun dengan derasnya, kedua belah pihak telah memanggil kumpul orang-orangnya.

Lalu terdengar Tu Wee Seng tertawa gelak-gelak sambil berkata: "Hei, Kakek Mo! Barusan hujan besar sekali, Mengapa kau tidak melarikan diri? Kini kau tak dapat melarikan diri lagi," Lalu dengan mengangkat toya bambunya ia berkata kepada Teng Lee: "Teng-heng, si kakek yang cacat itu adalah Mo Lun, dengan julukan Ngo Tok Sauw (lblis beracun) yang pernah menggemparkan kalangan Kang-ouw dahulu, Dua puluh tahun berselang, aku dan kawan-kawan dari partai silat Siau Lim dan partai silat Bu Tong pernah berserikat menggempur dia.

Meskipun dia terluka, dia masih berhasil melarikan diri dari kepungan kami. Selama dua puluh tahun ini, dia mengasingkan diri, kiraku dia sudah mati, Dia memiliki banyak senjata rahasia, terutama senjata Siat-Ciam (Jarum beracun) yang dapat dilepaskannya beberapa puluh sekaligus, Maka kita harus waspada menggempur dia!"

Mo Lun hanya menyengir mendengar penjelasan Tu Wee Seng kepada kawannya Lalu ia mengancam: "Siat-bi-ciam tidak lihay, Malam ini kalian dapat merasai Ngo Tok Shin Ciang (Tinju maut beracun) yang aku telah dapat pelajari!"

Tu Wee Seng berkata lagi kepada Teng Lee: "Aku tidak menduga bahwa si kakek ini juga datang membantu partai silat TianLiong. Jika kita tidak basmi dia sekarang, dikemudian hari kita sukar mencari tempat yang bebas dari kekhawatiran!"

Dengan tenang Teng Lee menjawab: "Ditempat pertapaanku, akupun pernah dengar julukan Ngo tok Sauw itu. Malam ini aku beruntung bisa menguji silat, Nah, Tu-heng kau gempur dia dulu, dan aku akan menggempur di dalam taraf kedua!"

"Ha! Menggempur si kakek ini tidak dapat kita mentaati peraturan Kang-ouw..." kata Tu Wee Seng, Belum lagi habis Tu Wee Seng bicara, tiba-tiba Mo Lun meloncat keluar dari tandunya dan menjotos Tu Wee Seng dengan tinju kanan nya.

Tu Wee Seng menjerit dan lekas-lekas menangkis jotosan itu dengan toya bambunya, lalu menyapu kepala lawannya, Mo pun loncat kebelakang menghindarkan diri dari sapuan toya bambu itu, lalu melonjak ke atas untuk menyergap lawannya dari atas,

Tu Wee Seng angkat toya bambunya melindungi kepalanya lalu meloncat mundur dua tindak untuk me- ngemplang si kakek bila dia turun ke tanah, Tetapi belum lagi si kakek menginjak tanah, dengan satu geprakan ke arah tubuhnya Tu Wee Seng, ia dapat meloncat ke belakang lagi dan jatuh berdiri di atas satu kakinya, Geprakan itu hebat sekali, Tu Wee Seng terkejut ia lekas-lekas mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan semangat nya.

Mo Lun mengejek "Hei! Tu Wee Seng, cobalah terima jotosan lagi!" Lalu secepat kilat ia meloncat dan menjotos lawan nya.

Tu Wee Seng pada dua puluh tahun yang lalu telah bersama-sama seorang jago silat dari partai Siauw Lim dan seorang jago silat dari partai Bu Tong menggempur Mo Lun, bahkan dapat melukainya, Ketika itu ia yakin bahwa ia tak dapat melawan Mo Lun seorang diri, Kini ia diserang dengan jotosan lagi, ia tidak berani menangkis, ia mengegos, lalu mengemplang berkali-kali lima kali dengan toya bambunya, Lima kemplangan itu merupakan keistimewaan dari jurus-jurus Hut Mo Cong (llmu toya iblis) dan berhasil menggagalkan jotosan-jotosan nya Mo Lun.

Teng Lee yang menonton pertempuran itu merasa heran mengapa Tu Wee Seng selalu terdesak ia berpikir: "Bukankah Tu Wee Seng itu pemimpin dari partai silat Hua San yang terkenal? Mengapa dia tidak berani menyerang terus? Apakah dia jeri?" Tetapi ketika ia melihat Tu Wee Seng menyerang dengan jurus-jurus Hut Mo Congnya, ia berpendapat lain, "Jurus-jurus Hut Mo cong itu betul-betul lihay!" Lalu iapun keluar membantu dengan menjotos punggungnya Mo Lun dari belakang dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Hembusan angin dari jotosan itu seolah-olah angin taufan yang menyapu ombak.

Tu Wee Seng merasa girang, melihat Teng Lee datang membantu, ia segera menyerang lagi lawannya, Satu sodokan yang hebat ditujukan ke dadanya Mo Lun.

Mo Lun yang disodok dadanya dari depan dan dijotos punggungnya dari belakang, ditambah pula dengan keadaan tubuhnya yang cacat, rupanya tak berdaya meng-egosi serangan-serangan itu. Tapi sambil menyengir, ia lekas-lekas menjatuhkan diri, dengan demikian jotosan dari belakang maupun sodokan dari depan terhindar! Tu Wee Seng tarik kembali toya bambunya lalu dengan jurus Kim Cian Teng Hai atau jarum emas menenteramkan lautan, ia tusuk Mo Lun yang berharap di tanah.

Tapi jotosannya Teng Lee yang dikerahkan dengan seluruh tenaga dalam nya, setelah menjotos angin, rupanya tak dapat ditahan dan ia terjerunuk ke depan! Tu Wee Seng yang ingin menusuk lawannya dengan jurus Kim Cian Teng Hai terpikir menggunakan lengan kirinya menangkis jotosan Teng Lee dan dengan tangan kanannya ia menusuk Mo Lun. jotosan yang ditangkis oleh Tu Wee Seng telah membikin kedua belah pihak terpental sedikit, karena jotosan maupun tangkisan dikerahkan dengan tenaga yang besar sekali, justru pada saat itu, Mo Lun dapat kesempatan untuk bangkit dan melonjak ke atas untuK jatuh beberapa depa jauhnya dari mereka.

Tu Wee Seng terkejut, ia berpikir "Hai! Si kakek ini hanya dengan satu kaki dan satu lengan dapat melawan aku berdua Teng Lee. Aku harus lebih waspada." Lalu ia ambil satu kantong besi dari kantongnya, sebetulnya setelah gagal menjotos Mo Lun. Teng Lee ingin mengejar dan menyerang lagi. Tetapi ketika ia melihat Tu Wee Seng tidak mengejar, ia menjadi curiga, ia berpikir di kalangan Kang-ouw, Tu Wee Seng terkenal sangat licik, Apakah dia ingin menggunakan aku untuk bertarung mati-matian melawan Mo Lun, sedangkan dia sendiri menonton?"

Tu Wee Seng yang melihat sikapnya Teng Lee segera dapat menebak isi hatinya, ia memperingatkan: Teng Lee kita jangan bertempur melawan dia dengan semberono, Hati-hati terhadap Siat Bi Ciamnya..."

Belum habis kata-kata itu diucapkan tiba-tiba sambil tertawa gelak-gelak Mo Lun meloncat maju dan menjotos Tu Wee Seng lagi!

Dengan menjatuhkan diri, Mo Lun berhasil menghindari kedua serangan itu.

justru pada saat itu dari tempat yang tidak jauh berkelebat keluar suatu benda yang mengkilap dari semak belukar, dan menyambar kearah Mo Lun, dan terdengar suara orang berseru: "Tu-heng! Teng-heng! Lekas-lekas mundur! jangan tangkis Ngo Tok Ciangnya!"

Tu Wee Seng segera mencelat ke atas sampai tiga depa tinggi nya f dan dari atas ia menyambit dengan kan-cing besinya sambil turun menerkam dengan jurus Cong Eng Ki Yan atau Burung Garuda Menerkam Burung Walet, Tetapi dengan tenang Mo Lun tangkap senjata rahasia yang menyambar dari semak-semak dan yang merupakan satu pisau be!ati, dan dengan pisau belati iiu. Mo Lun terus menyerangnya dan dalam keadaan terdesak Tu Wee Seng melancarkan Hut Mo Cangnya dan berhasil mengemplang terpental pisau belati di tangannya Mo Lun.

Bee Kun Bu yang menonton sambil tersenyum merasa kagum menyaksikan pertempuran itu yangdilakukan dengan ilmu silat yang lihay, ia memandang kepada Pek Yun Hui yang segera berkata: "Ya, mereka semua adalah jago-jago silat yang memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya, Sabar saja, mungkin kita masih dapat menyaksikan pertempuran yang lebih hebat."

Pada saat itu sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa gelak-gelak, demikian nyaringnya sehingga menggetarkan Bee Kun Bu menoleh ke bawah lagi dan di bawah sinarnya bulan ia dapat melihat Souw Peng Hai, pemimpin dari partai silat Thian Liong datang menghampiri diikuti oleh Ouw Lam Peng, pemimpin cabang bendera merah, Yap Eng Ceng, pemimpin cabang bendera putih, dan keempat iblis yang selalu mendampingi Souw Peng Hai.

Ketika itu Teng Lee dan Tu Wee Seng juga telah melihat bahwa orang-orang dari partai Thian Liong telah menjadi lebih banyak daripada pihaknya. Dengan satu isyarat dari Tu Wee Seng, Teng Lee meloncat berdiri disamping Tu Wee Seng, menghadapi Souw Peng HaL

Dengan mengejek Souw Peng Hai membentak "Aku menjadi heran mengapa partai Tian Liong sering-sering harus bertempur melawan partai Hua San dan partai Siat San!"

"Mungkin dunia ini sempit, maka kita sering-sering berjumpa!" jawab Tu Wee Seng.

"Mungkin juga," kata Souw Peng Hai, "dan untuk membereskan semua ini, aku mempunyai usu!, sebetulnya partai Thian Liong kami kelak akan mengundang para jago silat dari kesembilan partai di kalangan Bu Lim untuk mengadu silat: tetapi partai Hua San dan partai Siat San rupanya selalu bermusuhan terhadap kami. Oleh karena itu, malam ini kita dapat mendahului pertemuan tersebut, dan mengadu silat sekarang!"

sebelumnya Tu Wee Seng atau Teng Lee menjawab, terdengar satu suara yang nyaring menjawab sambil mengejek, "Aku telah mendengar nama Souw Cong Piauw Tou yang terkenal, dan aku selalu mengaguminya! Tetapi malam ini aku telah menjumpai sendiri dan melihat dengan kepala mata sendiri watak Souw Peng Piauw Touw dan aku menjadi kecewa. Yang terkenal bijaksana itu hanya seorang yang tergila-gila dengan nama, Ha! Ha! apakah Souw Cong Piauw Touw anggap malam ini dapat menaklukkan kami? Belum tentu!"

Souw Peng Hai menoleh ke arah orang itu, dan melihat dari semak belukar berjalan keluar seorang pendeta yang berusia setengah abad, bersenjata pedang, berjubah, brewokan dan seram wajahnya, pada waktu itu ia tak dapat mengenali pendeta itu, dan ia ingin menanya, Tetapi Yap Eng Ceng berkata, suaranya keras: "Di kalangan Kang-ouw telah tersiar kabar bahwa Sia Totiang yang memimpin partai Tiam Cong telah pergi bertapa di pegunungan Tiam Ciong San, dan selama dua puluh tahun ini tidak terdengar lagi, Tapi malam ini kita beruntung dapat bertemu disini!"

Sia Yun Hong tertawa dan berkata: "Yap-heng adalah satu jago silat yang termashur, tetapi bagaimana dapat menggabungkan diri dengan partai Thian Liong, dan rela diperintah orang lain? Aku betul-betul menjadi kecewa!"

Ejekan tersebut sangat menyakiti hatinya Yap Eng Ceng, dan dalam hatinya ia memaki: "Bangsat! Sebentar lagi kau rasai hadiahku!" Telapi dengan wajah tersenyum ia menjawab: "Sia-heng selalu bersikap congkak, dan selalu menganggap partai Tiam Cong yang paling jempol di antara kesembilan partai silat lainnya, Aku harus menggabungkan diri jika tidak ingin diperlakukan se-wenang-wenang oleh partai silat yang lain."

Sia Yun Hong mengejek lagi: "Oh! jadinya Yap-heng betul- betul rela bernaung di bawah perlindungan orang lain-.?"

Bukan main pedasnya ejekan tersebut hingga Yap Eng Ceng menjadi merah sekali mukanya. Baru saja ia ingin menyerang ketika sia Yun Hong bicara terhadap Souw Peng Hai: "Aku sangat mengagumi cara Souw Cong-piauw-louw menakluki para jago silat.,." "Sia Totiang pandai bicara, tetapi tiap-tiap perkataan menusuk hati orang lain." kata Souw Peng Hai. "Malam ini kita dapat bertemu, dan kesempatan ini dapat kita gunakan untuk mengadu silat, karena aku ingin mengetahui kelihayan silat Tiam Cong yang tekenal!"

Sia Yun Hong tidak menjawab ia mengawasi kawan- kawannya dengan maksud agar mereka siap sedia untuk bertempur Latu ia berkata: "Jika demikian kehendak Souw Cong-piauw-touw, akupun tak dapat menolak.

Tetapi kita harus bertempur dengan perjanjian Jika aku kalah melawan toya Souw Cong-piauw-touw, aku segera berlalu dari pegunungan Koat Cong San.,."

Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak dan berkata: "Jika aku si tua bangka kalah melawan pedang Sia To-tiang, aku segera bubarkan partai Thian Liong, dan aku akan pergi bertapa disuatu pegunungan dengan syarat bahwa aku tak keluar lagi selama Sia Totiang masih hidup!"

"Nah, itulah syaratnya!" kata Sia Yung hong, "Silah-kan Souw Cong-piauw-touw mulai du!u!"

Baru saja Souw Peng Hai ingin menyerang dengan toyanya, tapi Ouw Lam peng membentak: "Cong-piauw-touw! Sabar!"

Souw Peng Hai menanya: "Apa yang dibuat sabar lagi?"

Ouw Lam Peng berkata: "Cong-piauw-touw adalah pemimpin kita, Biarlah aku yang memberi hajaran kepada pendeta yang congkak ilu."

Souw Peng Hai berpikir "Maksud kita ialah mencari kitab- kitab Kui Goan Pit Cek. Sia Yun Hong mungkin tidak mudah dikalahkan, dan mungkin aku harus menghamburkan banyak waktu mengalahkan dia." Lalu ia mengawasi Mo Lun.

Mo Lun mengerti maksudnya Souw Peng Hai. De-ngan sekali loncat ia berdiri diatas satu kaki didampingi Souw Peng Hai. ia berkata: "Souw Cong-piauw-touw dapat melaksanakan kehendaknya Ouw-heng, Urusan ini aku dapat bereskan bersama-sama Ouw Lam Peng!"

Lalu Ouw Lam Peng angkat kedua arit bajanya dan maju menentang Sia Yun Hong: "Aku siap menguji kepandaian Sia Totiang!"

"Ha! Ha! Aku khawatir kau tak dapat menahan tiga tusukan pedangku!" kata Sia Yun Hong, mengejek

Ouw Lam Peng yang terkenal di kalangan Kang-ouw dan yang dapat menggunakan kedua arit bajanya dengan lihay sekali, bahkan dapat dikatakan tak ada tandingannya dan telah membunuh atau melakukkan banyak jago-jago silat, menjadi murka sekali diejek demikian Baru saja ia ingin menyerang, tiba-tiba ia ingat dan berpikir "Mungkin dia sengaja membikin aku marah sehingga aku tak dapat mengendalikan semua pikiran dan semangat karena ke- gusaranku, Aku harus waspada melawan bangsat ini!" Lalu ia mundur tiga langkah dan berkata dengan senyuman terpaksa: "Sia Totiang adalah pemimpin suqtu partai silat yang terkenal, sedangkan aku. Ouw Lam Peqg, hanya seorang pemimpin kecil yang tak terkenal jika aku kalah, aku tidak terlalu ma!u.

Telapi jika kau kalah melawan aku, apakah kau masih ada muka menjadi pemimpin lagi?"

Dengan tenang Sia Yun hong menjawab: "kita jangan tarik urat lagi! Kau cobai tiga tusukan pedangku!" Lalu dengan pedang terhunus ia berdiri tegak mengawasi lawan nya.

Ouw Lam Peng juga berdiri siap sedia dengan satu arit baja menjaga atas, dan arit baja lainnya menjaga bagian bawah, ia menantang: "Silahkan mulai!"

"Kau boleh menyerang dulu agar kau tidak penasaran jika kalah!" kata Sia Yun Hong yang terus mengejeknya,

"Ha! Ha! Mengapa seorang pemimpin tak dapat dipegang omongannya?" berkata Ouw Lam Peng. "Barusan kau mengatakan akan menusuk aku, tetapi sekarang kau menyuruh aku menyerang lebih dulu... Ha! Ha! Betul-betuI lucu! Jika aku tidak ingin menyerang, kau boleh berdiri terus menghadapi aku sampai delapan atau sepuluh hari."

Sebetulnya kedua belah pihak ingin mengulur waktu untuk mencari kesempatan baik melancarkan pukulan yang mematikan

Ketika itu Souw Peng Hai telah memimpin Yap Eng Ceng dan keempat iblis berlalu dari tempat tersebut

Mo Lun telah berdiri menjagal Tu Wee Seng dan Teng Lee sambil mengumpulkan tenaga dalamnya, dan Tu Wee Seng dan Teng Lee juga sedang mencari siasat membasmi lawan- lawannya.

seperempat jam telah berlalu dalam suasana tegang itu. Tu Wee Seng tiba-tiba mengawasi keadaan di se-kitarnya, dan mengetahui bahwa tempat dimana mereka berada telah dikurung oleh orang-orangnya partai silat Tian Liong, ia berkata kepada Mo Lun: "Hei! Kakek Mo! Jika kau tidak bubarkan orang-orangmu, aku terpaksa membunuh mereka semua!"

Mo Lun tertawa dan berkata: "Hm! Tu Wee Seng! Apakah kau kira kau dapat lolos dari sini?"

"Jangan omong besar!" kata Tu Wee Seng, "Meski-pun kau kurung aku dengan tembok baja, aku masih dapat loIos!" Lalu ia serang Mo Lun dengan toya bambunya,

Mo Lun meloncat ke belakang menghindari serangan ilu, lalu ia batas mengirim jotosannya,

Tu Wee Seng sudah berniat menangkis jotosan itu.

Seteiah serangan toyanya gagal, dengan lengan kirinya ia menangkis jotosannya Mo Lun sambil menjerit Tang-kisan itu dikerahkan dengan seluruh tenaga dalamnya dan dapat merobohkan gunung, dan ketika itu berhasil menangkis jotosannya Mo Lun. Mo Lun tersenyum, lalu mengirim lagi jotosannya. Kali ini jotosannya lebih menghebat! Tu Wee Seng segera merasa bahwa jika ia menangisnya lagi, mungkin tinjunya akan menjadi remuk! ia Ickas-lekas loncat ke samping mengegos dari jotosan maut itu!

Tetapi Mo Lun mengancam sambil tertawa: "Hei! Tu Wee Seng! Rasai jotosan Ngo Tok Ciangku ini!" Terlihat tubuhnya condong ke depan ketika jotosan itu ia kirim dengan tenaga Ju Lek Tonya, Tenaga dalam lunak tetapi dahsyat

Baru saja Tu Wee Seng hendak mengegos lagi, tiba-tiba terdengar Teng Lee loncat menerkam Mo Lun dari belakang!

Meskipun Mo Lun memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, ia terpaksa berbalik menangkis terkaman dari belakang yang curang itu, dan membatalkan maksudnya menjotos Tu Wee Seng, ia melonjak ke atas,

jotosan yang dikerahkan dengan tenaga Ju Lek To berlainan daripada jotosan-jotosanyangdilancarkan oleh para jago silau Kelihatannya lunak, akan tetapi hembusan anginnya saja dapat menumbangkan sebuah pohon, jika jotosan itu ditangkis, maka orang yang menangkisnya akan terluka atau terbunuh, Untung bagi Tu Wee Seng, Teng Lee telah datang menolong dari belaka ng.

Setelah Mo Lun jatuh lagi di tanah, ia harus menghadapi dua lawan yang lihay, Berkali-kali ia melancarkan Ngo Tok Ciangnya, tapi selalu gagal ia menginsyafi bahwa ia tak dapat menaklukkan lawa n-1 awan nya, maka ia lalu mundur

Dipihak Tu Wee Seng dan Teng Lee juga boleh dikatakan mereka beruntung nyaris dari kebinasaaa sebetulnya Tu Wee Seng telah merencanakan untuk memancing semua jago-jago silat dari partai Thian Liong ke jalan yang menuju ke goa batu, Lalu jalan ke goa itu ditutup dengan batu-batu gunung yang besar, dan dari atas lereng gunung ia akan melemparkan daun-daun kering yang dibakar kepada musuh-musuhnya.

Akan tetapi pihak partai Thian Liong lebih pintar ia dan kawan- kawannya dipancing datang ke tempat tersebut di atas untuk dikurung dan menghadapi lawan-lawan yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi seperti Mo Lun,

Setelah berhasil menolong Tu Wee Seng dari jotosannya Mo Lun, Teng Lee terus menatap Mo Lun yang setelah meloncat mundur memejamkan matanya seolah-olah sedang mengumpulkan atau memulihkan tenaga dalamnya, Segera ia mengetahui bahwa Mo Lun itu telah terluka karena telah terdampar oleh hembusan angin tinjunya, ia berkata kepada Tu Wee Seng: Tu-heng, si kakek itu betul-betul lihay, Kita harus lekas-lekas bereskan dia selagi dia menderita luka!"

"Maksudmu serupa maksudku," jawab Tu Wee Seng, lalu sekonyong-konyong ia menjerit dan datang menyerang Mo Lun: "Hei! Kakek Mo, rasai toya bambuku ini!" serangannya itu dilancarkan dengan jurus Hiap San Cauw atau Sungai Deras menerjang Ke Laut,

Tapi Mo Lun hanya menyengir, dan dengan mengejutkan lengan bajunya ia elaki toya bambu lawannya,

Tu Wee Seng mengemplang lagi, justru gerak itu yang dikehendaki oleh Mo Lun. ia mengegos dari kemplangan itu, lalu loncat ke belakang lawannya untuk menjotos punggungnya, Gerak itu semua dilakukan secepat kilat Tu Wee Seng keburu mengelakkan diri, segera mengirim jotosannya ke punggung Mo Lun.

Mo Lun juga insaf bahwa ia harus singkirkan jotosannya Teng Lee, tetapi ia sungkan melepas kesempatan memukul Tu Wee Seng, ia loncat tiga langkah ke samping, tetapi meneruskan jotosannya.

Tu Wee Seng yang tidak pereuma menjadi pemimpin partai silat Hua San, dalam keadaan yang terdesak itu masih dapat menjejakkan kedua kakinya untuk meloncat ke atas menghindari tinju Ngo Tok Ciangnya Mo Lun. Namun, jika Teng Lee tak lekas-Iekas membantu, ia pasti telah menjadi mayat! Tu Wee Seng baru merasa dirinya selamat ketika ia jatuh lagi ke tanah beberapa depa jauhnya dari Mo Lun.

Mo Lun juga terpengaruh oleh hembusan angin dari tinjunya Teng Lee, ia merasa seluruh tubuhnya menjadi panas. Baru saja ia ingin pejamkan matanya untuk memulihkan tenaganya ketika Teng Lee datang menyerang lagi, dan Tu Wee Seng pun loncat mengemp!ang dengan toya bambunya,

Sambil tertawa gelak-gelak Mo Lun melonjak ke atas menghindarkan diri dari kedua serangan berbareng dari kedua lawannya, lalu dengan hanya satu lengan dan satu kaki ia melawan selama dua puluh jurus lebih.

Teng Lee tak dapat melawan terus, dan ia mundur teratur Tu Wee Seng mengetahui bahwa Teng Lee hanya mundur untuk beristirahat sebentar, untuk kemudian dengan sepenuh tenaga akan menggempur lawannya lagi, Maka ia putar dan mengayun toya bambunya dengan jurus-jurus dari partai Hua San.

sebetulnya Mo Lun kalah tenaga melawan kedua musuh itu, akan tetapi dengan ilmu meringankan tubuhnya dan tinjunya Ngo Tok Ciangnya ia dapat membikin kedua lawannya bingung Ketika melihat Teng Lee mundur teratur, ia menjadi girang dan ia memperoleh kesempatan untuk melancarkan tinju Ngo Tok Ciangnya lebih gencar lagi, Tetapi sebagaimana telah dituturkan Tu Wee Seng telah memutarkan dan ayun toya bambunya demikian lihaynya seolah-olah ombak menerjang ke pantai dengan tak mengenal kasihan!

Sejenak kemudian Teng Lee datang lagi sambil menjerit.

Dengan kedua tinjunya ia menerkam Mo Lun. justru pada saat itu terdengar suara jeritan dan terlihat berkelebatnya senjata-senjata tajam. Sia Yun Hongdan Ouw Lam Peng juga sudah mulai bertarung dengan sengitnya,

Mo Lun yang licin dan lincah telah insaf bahwa ia tak dapat melawan terus kedua lawannya itu, ia melonjak lagi ke atas untuk menghindari serangan-serangan dari depan dan belakang lagi, dan Mo Lun terpaksa lekas-lekas loncat ke belakang pu!a,

Kemudian terlihat Teng Lee tiba-tiba tertahan oleh suatu tenaga ketika ia sedang mengejar, dan talu seluruh tubuhnya bergemetaran, karena Mo Lun sudah loncat ke belakang lima depa jauhnya sambil mengirim jotosan ke arah Teng Lee, TixWee Seng yang menyaksikan semua itu mengerti bahwa kedua belah pihak telah menggunakan tenaga dalam mengirim jotosan-jotosannya dan hembusan angin dari kedua jotosan tersebut telah beradu, maka kedua belah pihak telah terluka, ia yang berwatak licik merasa gembira melihat akan kesudahannya,

Kemudian terlihat Teng Lee memejamkan kedua matanya, tangan kanannya meraba-raba dada dan tangan kiri meraba- raba perutnya, berdiri diam menghadapi Mo Lun yang juga telah terluka tetapi masih dapat berdiri di atas satu kaki sambil mengawasi kedua lawannya dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka-lukanya

Tu Wee Seng loncat mendekati Teng Lee dan menanyai "Teng-heng kau terluka? Perlu aku membantu?"

Teng Lee memejamkan kedua matanya dan meng-geleng- gelengkan kepala, "Sayang ketika ini aku berhawa n. jika tidak, dengan sekali pukul saja, aku dapat memukul Teng Lee mati dan partai Siat San akan turut terkubur!"

Ia terperanjat lagi ketika mengingat bahwa ia sendiri sedang menghadapi banyak musuh, Maka ia menghibur "Teng-heng, tenanglah! Biarlah aku membunuh mati Mo Lun dulu!" Lalu ia loncat menerkam Mo Lun yang sedang memulihkan tenaga dan berusaha menyembuhkan Iuka-luka di dalam tubuhnya. Toya bambunya menyodok Mo Lun untuk menotok jalan darah di dadanya!

Mo Lun menyengir, dan secepat kilat ia mengibaskan lengan kanannya, dan segera bergeredep berpuluh-ptiluh sinar datang menyambar Tu Wee Seng, Tu Wee Seng terkejut Lekas-Iekas ia putar toya bambunya dan meloncat ke atas lagi untuk menghindarkan diri dari

jarum-jarum beracun itu.

Ketika itu orang-orangnya partai TKan liong juga sudah keluar dari tempat sembunyinya, dan terlihat lima-enam orang yang bertubuh tinggi besar mendatangi dengan senjata terhunus!

Tu Wee Seng setelah nyaris dari Siat Bi Ciam (jarum-jarum beracun) segera berpikir "Ai! Hampir saja aku binasa oleh jarum beracunnya si kakek itu. Mengapa aku bisa lupa kepada senjata rahasianya?" Dan ketika ia melihat banyak orang berlari-lari mendatangi, ia segera keluarkan kancing-kancing besinya dan melontarkan lima biji ke arah orang-orang yang tengah mendatangi itu.

Harus diketahui bahwa kancing-kancing besinya Tu Wee Seng juga merupakan senjata rahasia yang sangat dimalui, Bukan saja cepat dilontarkannya, bahkan juga jarang sekali meleset Segera terdengar jeritan orang yang kena senjata rahasia itu untuk kemudian jatuh ter!uka. Mo Lun menyaksikan lihaynya senjata rahasia Tu Wee Seng itu. Dengan tak menghiraukan luka-lukanya ia meloncat dan menerkam Tu Wee Seng sambil melepaskan jarum-jarum beracunnya.

Tu Wee Seng terpaksa loncat ke samping sambil melepaskan kancing-kancing besinya.

Jarum beracun bentrok dengan kancing besi dengan mengeluarkan sinar terang! Terlihat juga tiga kancing-kancing besi terus menyerang kedua mata dan dahinya Mo Lun yang sangat bernapsu sekali ingin segera membunuh Tu Wee Seng dengan Siat Bi Ciamnya!

-ooo0ooo-

Tiga partai silat besar menghajar partai Thian Liong Dengan cepat Mo Lun mengerahkan tenaga dalamnya dan

dengan lengan bajunya ia kebut jatuh tiga kancing-kancing besi yang datang menyerang Karena Mo Lun belum dapat memulihkan tenaga dalamnya, kebutan yang ia lakukan itu telah melukai hebat beberapa bagian di dalam tubuhnya, ia jatuh di tanah dengan napas sengal-sengal.

Tu Wee Seng yang telah loncat mundur dua depa lebih untuk menghindarkan diri dari jarum-jarum beracun tiba-tiba mendengar hembusan angin,

Ouw Lam Peng yang sedang bertempur dengan Sia Yun Hong dapat melihat Mo Lun jatuh, Untuk menolong kawannya, ia menyerang Sia Yun Hong bertubi-tubi dan mendesak lawannya mundur, lalu ia sambit Tu Wee Seng dengan arit baja di tangan kanannya, Tapi secepat kilat pedangnya Sia Yun Hong sudah menyambar ke depan dadanya, ia tak dapat mengegoskan diri lagi, maka ia menjatuhkan diri di tanah dan menangkis pedangnya Sia Yun Hong berhasil mengores dadanya sepanjang seratus cm, dan darah mengalir keluar

Dengan tak menghiraukan lukanya itu Ouw Lam Peng segera bangun dan menyerang dengan beringas dengan arit bajanya.

Sia Yun Hong berdiri jejak, dan dengan pedangnya ia tangkis semua serangan-serangan,

Harus diketahui bahwa arit bajanya Ouw Lam Peng luar biasa kerasnya, dan pedangnya Sia Yun Hong tak dapat terus menerus menangkis tanpa menjadi rompang,

Tiba-tiba Sia Yun Hong tertawa keras dan membentak "Ouw Lam Peng! sekarang kau sambutlah serangan pedangku!" Lalu ia robah jurus-jurusnya dan menyerang dengan cepat dan hebat sehingga Ouw Lam Peng harus meloncat ke kiri dan ke kanan mengelit atau mengegosi tusukan-tusukan atau bacokan-bacokan pedang itu.

sebetulnya Sia Yun Hong belum lagi mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaian nya. ia hanya ingin menguji sampai di mana kelihayan lawannya, Barulah sekarang ia menyerang dengan jurus-jurus Thian Kan Hong Lee (Angin Topan dan Geledek Maut) yang meliputi tujuh puluh dua langkah atau siasat Tentu saja Ouw Lam Peng tak dapat melawan lagi,

Ketika itu, Co Hiong, yang menonton sambil bersembunyi di atas pohon juga telah melihat Ouw Lam Peng berada dalam bahaya, apabila ia tidak turun menolong, mungkin Ouw Lam Peng tak dapat bertahan lagi, Tetapi iapun khawatir kalau Pek Yun Hui pun turut campur Untuk sementara waktu ia masih ragu-ragu.

Tiba-tiba Ouw Lam Peng menjerit keras, dan segera orang-orangnya partai Thian Liong yang bersembunyi di semak belukar lari keluar dengan senjata terhunus!

Arit bajanya Ouw Lam Peng yang dilontarkan untuk menyerang Tu Wee Seng telah dipukul jatuh oleh toya bambunya Tu Wee Seng sehingga ia terhindar dari bahaya maut!

Ketika itu orang-orangnya partai Thian Liong sudah datang membantu, Dengan tertawa gelak-gelak Tu Wee Seng mengancam: "Hai! Gundal-gundal dari partai Thian Liong!

Yang tidak takut mati boleh maju!" Lalu ia lontarkan senjata rahasianya lagi, dan segera terdengar suara orang menjerit kesakitan terkena kancing- kancing besinya, Da!am sekejapan saja beberapa belas orangnya partai Thian Liong telah runtuh,

Co Hiong tak dapat tahan sabar lagi melihat kekalahan jika partai-partai Hua San, Tiam Cong, dan Siat San berserikat di pihaknya itu, ia berkata kepada Bee Kun Bu: "Bee Heng..., jika partai-partai Hua San, Tiam Cong dan Siat San berserikat mengalahkan partai Thian Liong, mungkin mereka pun akan menggempur kalian. "

Pek Yun Hui menjawab dengan mengejek: "Kau tak usah pasang perangkap lagi, Jika ketika partai itu telah mengalahkan partai Thian Liong, maka akibatnya bahkan bermanfaat bagi kami. " Co Hiong yang licin berkata dengan tenang: "Apakah kau mengetahui bahwa semua jago-jago silat yang datang ke pegunungan Kwat Cong San ini bermaksud merebut kitab- kitab Kui Goan Pit Cek. "

"Kau tak usah bicara pura-pura!" bentak Pek Yun Hui. "Untuk membikin mereka menggempur kalian, cukup

dengan hanya sepatah kata bahwa kalianlah yang menyimpan

kitab-kitab itu!" kata Co Hiong, "Oleh karena itu, aku minta kalian pikir-pikir lagi, karena aku mengetahui bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ada di dalam tangannya Na Siocia, Jika aku memberitahukan pada jago silat yang telah datang ke pegunungan Kwat Cong San ini bahwa Na Siocia yang simpan kitab-kitab itu, mereka tentu menyerbu kalian, bukan?"

"Orang ini betul-betul hatinya busuk, Jika dia laksanakan siasatnya, maka para jago silat tentu menggempur pihakku, sedangkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah dia curi dan disembunyikannya, Jika malam ini aku tidak merampasnya, mungkin sukar dirampas kembali dikemudian hari." Lalu ia berkata: "Apa yang kau ingin-kan?"

"Aku ingin turun membantu kawan-kawanku, dan aku minta kalian berdua tidak turut campur," kata Co Hiong,

"Aku dapat memenuhi permintaanmu, tapi kau harus mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dulu, Jika tidak, kau jangan harap dapat hidup sampai besok!"

Co Hiong tidak segera menjawab, ia berpikir: "Jika aku tidak mengaku bahwa aku yang mencuri kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, dia tentu merintangi aku. Baik aku minta mereka membantu Ouw Lam Peng dan Mo Lun, aku dapat menggempur mereka berdua." Lalu sambil tersenyum ia berkata: "Aku belum pernah lihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Hanya di kamarnya Na Siocia, aku telah mengambil satu kotak dari batu Giok, Jika kau memaksa aku mengembalikan kitab- kitab Kui Goan Pit Cek, di mana aku harus mencarinya? Bee Kun Bu menjadi panas, ia menyindir "Jika demikian, kau datang bukannya bermaksud menengoki aku yang menderita sakit tetapi untuk mencuri!" Diam-diam ia sesali dirinya sendiri mengingat betapa baiknya ia terhadap Co Hiong, tetapi Co Hiong mengkhinati padanya.

Jika aku mengetahui bahwa kotak tersebut berisi kitab- kitab Kui Goan Pit Cek, aku tentu tidak serahkan kotak itu kepada partaiku." kata Co Hiong.

Pek Yun Hui membentak: "Hm! Masih saja berbelit-belit!" "Jika kau tidak pereaya, kau boleh suruh bahwa Bee-heng

menggeledah badanku. " kata Co Hiong, "Nanti setelah aku

tolong mereka, aku pasti mencari orang yang membawa kotak itu."

"Apakah janjimu dapat dipereaya?" "Seorang laki-laki tak akan mengingkari janjinya!" jawab Co Hiong.

Setelah melihat Bee Kun Bu setuju menerima usul Co Hiong, Pek Yun Hui berkata: "lngat! Malam ini jika kau tidak mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, kau jangan harap dapat lolos!"

Co Hiong tidak menyahut lagi, ia bersiul keras sambil meloncat turun dari pohon dengan pedang terhunus, Dengan tangan kirinya ia lontarkan jarum-jarum beracun ke arah Tu Wee Seng, dan dengan pedang di tangan kanannya ia tahan pedangnya Sia Yun Hong.

Ouw Lam Peng yang sudah menunggu ajalnya, tiba-tiba merasa hembusan angin dari pedang yang menahan pedangnya Sia Yun Hong, dan segera mendengar Co Hiong berkata: "Ouw piauw Touw, harap mundur dan beristirahat Bangsat ini biarlah aku yang memberi ha-jaran!" iapun segera menyerang kepada Sia Yun Hong, Serangan-serangan yang dilakukan Co Hiong selalu dengan jurus-jurus yang ia dapat pelajari dari buku catatannya San Im Shin Ni. Sia Yun Hong terpaksa melangkah mundur "Ha! ilmu silatnya seorang pemimpin partai hanya begitu saja? Nah, coba terima serangan-seranganku lagi!" kata Co Hiong mengejek,

pada saati itu Tu Wee Seng telah berhasil menghindari jarum-jarum beracunnya Co Hiong telah menghampiri Sia Yun Hong, dan ia berbisik: "Pemuda ini hebat sekali ilmu silatnya, Sia Totiang harus waspada!"

Sia Yun Hong yang berangasan menjadi semakin murka setelah diperingatkan demikian ia berkata: Teng-heng tak usah khawatir! Aku dapat membasmi anak kemarin dulu ini. "

Lalu ia menyerang Co Hiong dengan jurus Thian Kan Hong Lee,

Tetapi Co Hiong bukannya Co Hiong dahulu haii ia telah dapat belajar banyak dari kitab catatannya Sam Im Shin Ni. Maka dengan mudah ia dapat mengelaki serangan -serangan 1 awan nya.

Tu Wee Seng yang menyaksikan caranya Co Hiong menghindar dari serangan-serangan itu menjadi terperanjat ia berpikir: "Lihay betul pemuda itu. Agaknya maksudku untuk membasmi Ouw Lam Peng dan Mo Lun malam ini tak akan terkabul!" ia melihat ke sekitar nya, dan menyaksikan bahwa ia telah dikurung oleh orang-orangnya partai Thian Liong,

Keadaan itu tidak menguntungkan baginya, ia khawatir kalau-kalau Co Hiong berhasil mengalahkan Sia Yun Hong atau Ouw Lam Peng menyambit lagi dengan arit bajanya, ia lekas-lekas mengambil kancing-kancing besi nya. ia tampak Mo Lun masih memejamkan matanya untuk memulihkan tenaga dalamnya dan menyembuhkan luka~lukanya. ia juga lihat Teng Lee sedang dikurung oleh orang-orangnya partai Thian Liong,

terdengar Co Hiong mengejek: "Hei! Kalian telah berunding di dekat goa, maksud kalian itu tak akan terkabul Lagi pula dengan ilmu silat yang kalian punyai aku yakin kalian tak akan berhasi1. " Ejekan itu ia teruskan dengan satu tusukan

secepat kilat kepada Sia Yun Hong. Sia Yun Hong yang telah melukai pemuda itu dengan jurus-jurus Tian Kan Hong Leenya menjadi lebih was-pada, ia tak berani menangkis tusukan itu. ia lekas-lekas loncat mundur beberapa "langkah! ia dapat meloncat dengan menggunakan seluruh tenaga dalamnya,

Ouw Lam Peng telah membalut luka-lukanya, dan bersedia melontarkan arit-arit bajanya Iagi. Tiba-tiba terdengar siulan yang keras dan nyaring, Di bawah sinar bulan terlihat dua sosok tubuh berlari-lari mendatangi dan dalam sekejap saja kedua orang itu telah tiba di sampingnya Ouw Lam Peng.

Kedua orang itu adalah pemimpin cabang bendera kuning dari partai Thian Liong, Oug Han Siong, dan pemimpim cabang bendera hitam, Kiok Goan Hoat. Dengan datangnya mereka berdua, maka kelima pemimpin dari cabang- cabang partai Thian Liong telah tiba semuanya.

Setelah melihat Tu Wee Seng maka Ong Han Siong menegur: Teng Heng, sudah lama kita tak berjumpa! Apakah kau masih mengenal aku?"

Meskipun hatinya berdebar-debar namun Tu Wee Seng menjawab juga dengan tersenyum: "Ong Heng, kau baik-baik saja! Ya, sudah 10 tahun kita tidak berjumpa,"

Sambil tersenyum Ong Han Siong berkata: "Aku telah mendengar tentang kepandaian melontarkan kancing-kancing besi dari Tu Heng, aku sangat beruntung sekarang akan datang menyaksikannya. " Tiba-tiba ia menbentak: "Malam

ini banyak orang-orang partai Thian Liong kami binasa karena kancing- kancing besimu, apakah betul?"

Melihat gelagat demikian Tu Wee Seng tidak berani sembarangan bertindak

"Ong Heng, bagaimana dan apa yang kau akan perbuat jika kau dikerubuti oleh orang banyak?" balik tanya Tu Wee Seng. "Jika kau takut melawan banyak orang, kau dapat bertarung melawan aku sendiri!" jawab Ong Han Siong,

"Betul" berkata Tu Wee Seng dengan gembira, "Tetapi kita harus bertarung dengan syarat!"

Ong Han Siong mengawasi Sia Yun Hong dan Teng Lee, lalu ia berkata: "Jika aku kalah melawan kau, bukan saja aku lepas kau, juga Sia Totiang dan Teng Lee dapat keluar dari sini dengan di kawal oleh orang-orang partai Thian Liong. "

Sia Yun Hong yang tidak kenal Ong Han Siong menjadi murka. ia membentak "Kau tidak usah lepas kami, Kami dapat membebaskan diri sendiri!" Lalu ia lompat menusuk Ong Han Siong.

Kiok Goan Hoat pun segera loncat mencegat sambil menjotos, Sia Yun Hong segera merasa ia tertahan, dan ia berhenti, Untuk Kiok Goan Hoat tidak mengirim jotosannya lagi. jotosan pertama hanya untuk menahan Sia Yun Hong dengan hembusan angin tinjunya.

Harus diketahui bahwa Kiok Goan Hoat dengan julukan Kai Pi Ciangnya (Tinju yang dapat menggempur gunung karang) sangat dimalui sekali di kalangan Kang-ouw. Biasanya ia melepaskan tinjunya berturut-turut, jotosan pertama menahan musuh, dan jotosan berikut menghajar musuh,

Lalu Ong Han Siong mengejek: "Hei! Totiang itu sebetulnya manusia macam apa? Kami dengan baik hati ingin membebaskannya, tetapi dia datang menyerang dengan membabi-buta!"

Sia Yun Hong yang karena sangat napsunya me nyerang sehingga ia tak dapat mengegosi jotosan Kiok Goan Hoat telah menderita agak payah, ia tidak men jawab tetapi berusaha memulihkan semangatnya,

"Ong-heng bicara tanpa pikir, Apakah kau tak per nah mendengar bahwa Sia Yun Hong adalah pemimpin partai silat Tiam Cong! Jika kau tidak pernah men-dengarnya, orang dapat berkata bahwa kau seperti seekor kodok di dalam sumur!" jawab Tu Wee Seng,

Teguran tersebut membikin Ong Han Siong merasa malu, dan ia berkata: "Aku pernah mendengar dan mengetahui pemimpin-pemimpin dan partai-partai silat Siauw Lim, Bu Tong, Kun Lun, Ngo Bi dan Hua San, tetapi pemimpin dari partai-partai silat lainnya, aku tidak mengetahuinya. "

Dengan lekas Sia Yun Hong berhasil memulihkan semangat dan tenaganya, dan ia mengejek: Teng Heng orang yang congkak itu mungkin juga seorang pemimpin cabang partai Thian Liong, bukan?"

Tu Wee Seng tertawa gelak-gelak dan berkata: "Ha! Ha! Ternyata kedua pihak belum saling kenal-mengenal? Baiklah aku memperkenalkan"

Tetapi Ong Han Siong menyindir "Terima kasih. Tapi aku tak sudi berkenalan dengan jago silat yang luar biasa pandainya itu!"

Sia Yun Hong balas mengejek: "Aku telah berkecimpung di kalangan Kang-ouw lebih daripada dua puluh tahun, tetapi belum pernah menemui jago silat yang demikian kasarnya!"

Tu Wee Seng menjadi cemas, karena ia yakin kedua belah pihak sudah menjadi panas. ia khawatir juga jika terjadi pertempuran lagi, ia tak dapat me lawan nya. ia lekas-lekas berkata: "Sia Totiang, aku telah berjanji bertarung melawan Ong Piauw Touw, Jika aku kalah, Sia Totiang masih dapat giliran untuk melawannya."

Setelah diserang oleh Co Hiong. Sia Yun Hong sudah mulai gelisah, ia yakin bahwa pihak lawan menjadi lebih kuat dengan bertambah jumlannya, Untuk mencari jalan sebaik- baiknya, ia terpaksa bersikap sabar ia berkata:

"Jika Tu-heng bermaksud demikian, aku turut saja, Tetapi dengan ilmu Hut Mo Cong (llmu Toya Membasmi iblis) itu, aku yakin Tu Heng dapat menunaikan janji." Lalu Tu Wee Seng angkat toya bambunya dan sambil menghadap Ong Han Siong ia menantang: "Ong Piauw Touw! Boleh mulai menyerang, dan malam ini kita bertanding sampai ada yang kalah!"

Ong Han Siong tersenyum dan sambil mengangkat kedua lengannya ia berkata: "Aku hanya menggunakan kedua tanganku ini!"

Lalu Tu Wee Seng maju dan mengemplang dengan toya bambunya tetapi Ong Han Siong telah mengegos ke samping untuk mengirim kedua tinjunya berbareng ke punggung I awan nya. Tu Wee Seng mengelit dan jotosan-jotosan itu memukul angin,

Ong Han Siong menggeram keras sambil loncat mundur delapan kaki lalu dengan menggenjot sekuat tenaga ia loncat maju menerkam Tu Wee Seng. Ter-kaman itu dilakukan secepat kilat Namun Tu Wee Seng masih dapat menghindarinya dengan loncat ke samping untuk mengemplang lagi dua kali beruntun

Sia Yun Hong yang menyaksikan cara Ong Han Siong bertarung dengan hanya kedua tangan tanpa senjata menjadi kagum, ia berkata seorang diri: "Tidak heran jika di dalam waktu dua puluh tahun saja partai silatThian Liong telah menjadi termasyur di kalangan Kang-ouw, karena mempunyai banyak sekali jago-jago silat."

Lalu terdengar Tu Wee Seng membentak: "Ong Piauw Touw! Jaga toyaku ini!" dan ia menyerang dengan jurus Hut Mo Congnya,

Di bawah sinar bulan itu, Ong Han Siong ber!oncat-loncat mengelaki sodokan atau sabetan toya lawannya sambil mencari lowongan untuk mengirim jotosan-jotosan,

Demikian kedua jago silat bertempur selama dua puluh jurus lebih, dan belum juga terlihat pihak mana yang akan kalah karena kedua-keduanya memiliki ilmu silat yang maha tinggi Setelah pertempuran berlangsung lima puluh jurus, rupanya jurus-jurus Hut Mo Cong dari Tu Wee Seng yang terdiri dari delapan puluh satu langkah hanya ketinggalan sembilan langkah lagi. Kalah atau menang bergantung atas sembilan langkah itu. Tu Wee Seng bertindak mundur tiga kaki, siap menyerang lagi.

Ong Han Siong melihat sikap lawannya menjadi lebih waspada, ia menanti serangan lawannya yang menyodok maju dengan terputar-putar sehingga sukar diduga arahnya !

Meskipun Ong Han Siong memiliki ilmu silat yang lihay pada saat itu ia terperanjat, ia tak dapat menduga sodokan itu akan menyerang bagian mana dari tubuhnya, Tapi setelah toya itu dekat sekali, secepat kilat ia minggir dan dengan tangan kanannya ia berusaha merampas toya lawannya,

justru gerak tersebut yang dikehendaki Tu Wee Seng.

Setelah Ong Han Siong berhasil menjambret ujung toya nya, ia tekan toyanya itu ke bawah untuk disodokkan lagi dengan tenaga yang hebat sekali ke bagian perut Iawannya.

Ong Han Siong terkejut ia memegang erat-erat ujung toya itu, dan menekan sekuat tenaga sambil meng-egoskan tubuhnya, Tapi Tu Wee Seng, setelah gagal menyodok, lalu membetot toyanya untuk mengemplang kepala lawan nya. jurus itu adalah jurus Hui Hong Pik Jit atau Burung Hong Menutupi Surya.

Kemplangan yang dahsyat itu cepat sekali dan Ong Han Siong tidak keburu meloncat mundur ia hanya menyondongkan tubuhnya sedikit ke belakang, lalu menangkis dan mendorong toya y lawannya ke depan. Namun, toya itu berhasil mengemplang betisnya, Kemplangan yang telah didorong itu tidak hebat, dan Ong Han Siong masih dapat mengirim tinjunya ke betis kanannya Tu Wee Seng,

Kedua-duanya meloncat mundur setelah masing-masing kena kemplangan dan pukulan dan rupanya kedua pihak terpengaruh oleh kemplangan dan pukulan tersebut Sambil tersenyum Tu Wee Seng menanyai "Ong Piauw Touw kena dikempIang, apakah ini terhitung seri?"

Ong Han Siong mengejek: "Hh! Kita harus bertarung lagi untuk menentukan siapa yang kalah!"

Tu Wee Seng menjadi gusar dan ia memperingatkan "Ong Piauw Touw adalah seorang pemimpin, mustahil hendak mengingkari janji?!"

Ketika mereka berjanji Co Hiong telah mendengar semuanya, ia telah mengetahui ilmu silatnya Ong Han Siong, dan juga ilmu silat toyanya Tu Wee Seng, Maka ia campur bicara: "Sebetulnya jika satu kemplangan telah dibalas dengan satu pukulan harus terhitung seri, jika dipandang dari sudut lain, orang yang bertarung dengan tanpa senjata melawan orang yang bersenjata harus dikagumi

Mendengar pembelaan itu. Tu Wee Seng ingin membentak Tetapi didahului Teng Lee yang membentak: Tu-heng mengapa mau tarik urat terhadap anak kemarin dulu ini? Kita sudah masuk perangkap, Ayo, kita lekas-lekas berlalu!" perkataan itu ia barengi dengan dua jotosan ke depan. Dan segera dua orang menjerit dan jatuh ke tanah memuntahkan darah. Kedua orang itu adalah orang-orangnya partai Thian Liong yang mengurung Teng Lee.

"Perkataannya Teng-heng betul." berkata Sia Yun Hong, "Jika kita terus bertempur di sini kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sudah di jalan keluar, dan dua orang-orangnya partai ITiian Liong tertusuk mati!

Tu Wee Seng juga menjerit dan memutar-mutarkan toya bambunya membuka jalan dan lari mengikuti Sia Yun Hong, Dengan demikian mereka dapat berdiri berkumpul menghadapi lawan-lawannya, Lalu Sia Yun Hong berkata: "Aku membuka jalan Tu-heng di belakang dan Teng-heng dapat mengikuti di tengah!" Lalu ia menyabet dengan pedangnya ke kiri dan ke kanan membuka jalan, Tetapi Co Hiong segera meloncat dan mencegat mereka, Sia Yun Hong menusuk dengan jurus Siauw Jit Thian Lam atau Telunjuk Sakti Menusuk ke Selatan, Co Hiong mengegos, Tetapi tusukan Sia Yun Hong segera berubah menjadi menyabet dengan jurus Hie Ang San Bong atau Nelayan Menebar Jaring, Co Hiong tangkis sabetan itu dengan pedangnya,

Sebetulnya tusukannya Sia Yun Hong yang pertama hanya untuk memancing lawan. Setelah sabetannya di-tangkis, ia menjadi girang, ia tarik pedangnya dan menusuk secepat kilat bertubi-tubi tiga kali, dan tiga tusukan itu dikerahkan dengan ilmu Thian Kan Hong Lee dan hanya terlihat pedangnya berkeredep-keredep di bawah sinarnya bulan dengan menerbitkan hembusan angin yang santar sekali,

Co Hiong harus putar pedangnya menangkis tu-sukan- tusukan itu, dan segera terdengar suara kedua pedang beradu, Co Hiong kalah tenaga daripada Sia Yun Hong, dan pedangnya terlepas dari cekalannya, dan ia merasa lengannya menjadi lumpuh, Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Sia Yun Hong yang secepat kilat menusuk dadanya Co Hiong dengan jurus Pek In Cut Cu atau Awan Putih dari Sisi Gunung.

Co Hiong tidak keburu mengegos dan juga tak dapat meloncat ke belakang, Pada saat itu ia gunakan ilmu Yu Hie Gek Long atau ikan Berenang Melawan Ombak dengan mengibarkan lengan kirinya dan ia lolos keluar dari tusukan pedang lawannya, ilmu tersebut adalah ajaran dari Kok Gie Hweeshio, dan sukar dihadapi Sia Yun Hong terkejut menyaksikan lawannya masih dapat lolos dari tusukan- tusukan mautnya, dan pada saat itu juga Co Hiong sudah berada di sampingnya memijat lengan kanannya yang memegang pedang, Tapi secepat kilat, Sia Yun Hong berbalik dan menggeprak pundaknya Co Hiong,

Co Hiong menjerit, seluruh tubuhnya tergetar dan ia terdampar. Sia Yun Hong mengejar untuk menusuk lagi! Tiba-tiba satu bentakan sekeras geledek terdengar dibarengi dengan menyambarnya kaitan besi ke pedangnya Sia Yun Hong, "Tang!" suara pedangnya Sia Yun Hong mendengung terbentur kaitan besi, Ong Han Siong dengan ilmu Pat Po Teng Kong atau Delapan Langkah Melonjak ke langit telah berhasil menyeret Co Hiong ke samping, Demikianlah Co Hiong terhindar dari tusukan maut pedangnya Sia Yun Hong!

Kemudian ternyata Kiok Goan Hoat yang telah melontarkan kaitan besinya menahan tusukan pedangnya Sia Yun Hong, dan ia sendiri telah loncat ke depan mencegat lawan-lawannya,

Tu Wee Seng terpaksa melepaskan kancing-kancing besinya membuka jalan sambil berseru: Teng-heng! Ayo lekas enyah. Kita harus mencegat Souw Peng Hai."

Sia Yun Hong, setelah mengumpulkan semangatnya, dan berhasil menghalaukan kaitan besinya Kiok Goan Hoat, juga membuka jalan lagi sambil memutar-mutarkan pedangnya, lalu dengan ilmu Hui Yan Cwan In atau Burung Walet Terbang Melalui Awan, ia loncat dan lari mengejar Tu Wee Seng dan Teng Lee. Beberapa orang-orangnya partai Tian Liong coba mencegat nya, tetapi semuanya tak dapat menahan ia, bahkan empat orang lagi dibunuh mati olehnya,

Meskipun banyak orang-orangnya partai Thian Liong telah dibinasakan oleh mereka bertiga, namun pemimpin- pemimpinnya tak berdaya, karena Mo Lun sedang memulihkan tenaga nya, Ong Han Siong sedang membebaskan jalan darahnya Co Hiong yang telah digeprak pundaknya oleh Sia Yun Hong, dan Ouw Lam Peng juga masih menderita luka, Hanya Kiok Goan Hoat yang masih bebas, dan ia sendiri tak dapat melawan mereka bertiga, Oleh karena itu mereka dapat lolos dari kepungan, setelah mereka berhasil membunuh dan melukai lebih kurang tiga puluh orang-orangnya partai Thian Liong. Lalu Ouw Lam Peng dan Kiok Goan Hoat menyuruh orang- orangnya menggotong kawan-kawannya yang luka dan mengubur yang tewas dengan seksama,

ilmu Mie Cong Pu (Langkah Ajaib) mempesona pada jago silat

Ouw Lam Peng dan Kiok Goan Hoat menghampiri Ong Han Siong, yang dengan wajah penuh kekhawatiran, tengah menolong Co Hiong,

Rupanya Co Hiong menderita luka parah. ia pejamkan kedua matanya, dan wajah pucat pasi Lalu Ouw Lam Peng berkata: "Malam ini dia telah menolong kita dengan ilmu silatnya yang luar biasa, Aku yakin ilmu silat itu dia dapati bukan dari Souw Cong Piauw Touw. "

Tiba-tiba Ong Han Siong bangun dan dengan cemas berkata: "Dia menderita luka parah, dan aku tak dapat mencari di mana letak lukanya, Aku kira hanya Souw Cong Piauw Touw dapat menolongnya dengan ilmu Kan Goat Cit Sin Kongnya (Jari sakti)."

"Apakah dia terluka parah?" tanya Ouw Lam Peng dengan heran.

"Betul!" jawab Ong Han Siong, "Meskipun dia berusaha membebaskan jalan-jalan darahnya yang tersumbat dengan mengerahkan tenaga dalamnya, tetapi hampa. "

Kiok Goan Hoat berkata dengan kedua matanya membelalak: "Lukanya itu betul-betul mengherankan!"

Ong Han Siong menjelaskan "Biasanya jika dia dipukul pundaknya, maka bagian tersebut menjadi luka atau patah tulangnya, dan bagian-bagian lain tak akan terluka, Tetapi setelah aku berusaha menolongnya dengan membebaskan beberapa jalan-jalan darahnya yang penting, dia masih tetap tak berdaya. "

Pada saat itu Co Hiong membuka kedua matanya dan berkata, suaranya lemah: "Ong Piauw Touw tak usah khawatir Aku tak perlu disembuhkan oleh Suhu-ku. Aku sendiri dapat menyembuhkannya." Lalu ia memejamkan matanya pula.

Di dalam beberapa bulan belakangan ini Co Hiong telah mempelajari dan memahami banyak ilmu-ilmu dari kitab catatannya San Im Shin Ni. Dalam keadaan sadar ia dapat menggunakan ilmu-ilmu yang ia telah pahami, dan ia hanya memerlukan waktu untuk melaksanakan cara pengobatan dari kitab San Im Shin Ni setelah selang seperempat jam terlihat wajahnya menjadi merah kembali, dan sejenak kemudian ia pun dapat berdiri lagi.

Sambil tersenyum ia berkata: "Aku barusan kena ke- geprak dan beberapa jalan-jalan darahku tersumbat tetapi aku telah berhasil menyembuhkan luka-luka itu. Kita harus lekas- lekas mencari Suhuku, karena mereka dari partai silat Hua San, Siat San dan Tiam Cong tentu tidak puas dan akan segera memanggil orang-orangnya untuk membikin pembalasan!"

"Betul!" kata Ong Han Siong, "Akupun khawatir mereka akan mengajak juga jago-jago silat dari partai lain untuk menggempur kita, Kita harus lekas-lekas pergi mencari Souw Cong Piauw Touw!"

Sambil berjalan Mo Lun berkata: Teng Lee telah menyambuti tinju Ngo Tok Ciangku dengan kedua tinju-nya. Aku yakin, jika tenaga dalamku berhasil merembes ke dalam tubuhnya, dia akan menderita hebat dari akibat Ngo Tok Ciangku itu!"

"Ngo Tok Ciang dari Mo-heng dapat dikatakan tak ada taranya di kalangan Bu Um. Teng Lee tak akan luput dari nasib yang buruk itu," kata Ong Hon Siong memuji, "Hanya sayang sekali ketika dia menerima Ngo Tok Ciangku," kata Mo Lun, "Aku telah menghamburkan banyak tenaga setelah bertarung beberapa puluh jurus, Lain kali jika aku menghadapi dia lagi, aku akan me-lancarkannya dengan seluruh tenaga."

Ketika Co Hiong ingat akan Pek Yun Hui dan Bee Kun Bu, ia mendesak: "Ayo kita harus lekas-lekas mencari Suhuku!" Tetapi dari belakang satu batu gunung yang besar terdengar suara yang memperingatkan "Orang-orang dari partai silat Hua San, Siat San dan Tiam Cong telah kabur Menurut perjanjian, kami juga tidak turut campur Barang yang kau curi harus dikembalikan!"

Ouw Lam Peng, Ong Han Siong, Kiok Goan Hoat dan Mo Lun semuanya berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara itu, dan mereka segera tampak seorang gadis berpakaian hitam datang menghampiri tanpa bersenjata.

Pemimpin-pemimpin cabang bendera merah, kuning, biru dan hitam dari partai Thian Liong itu semuanya sudah sering menjumpai musuh-musuh yang lihay, akan tetapi ketika mereka mengawasi gadis itu, mereka semuanya terpesona, Gadis itu ialah Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui hanya mengawasi Co Hiong yang mengerti maksudnya, dan setelah sudah dekat sekali, ia menegur Co Hiong: "Seorang ksatria dan laki-laki sejati tak akan mengingkari janji! Hei! Bagaimana perjanjiannya

Co Hiong berlagak seperti orang yang tak bersalah dan berbalik menanyai "Siocia, kapan aku pernah salah janji?"

Dengan marah Pek Yun Hui membentak "Kau telah berjanji bahwa jika orang-orang dari partai Hua San, Tiam Cong dan Siat San berlalu, kau akan mengembalikan kotak batu Giok kepadaku, Mengapa kau tidak memenuhi janjimu itu?"

Ouw Lam Peng yang khawatir Co Hiong diserang karena baru saja sembuh dari luka-lukanya segera loncat di depan Co Hiong untuk menjaganya.

Pek Yun Hui menegur: "Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan kau! Ayo, minggir!"

Tetapi Ouw Lam Peng berkepala batu, ia berdiri tetap di depan Co Hiong, Ong Han Siong juga menghampiri dengan perasaan heran, Sambil tersenyum ia menanyai "Mohon tanya siapakah Siocia ini? Sudikah Siocia memberitahukan agar kami dapat membereskan soal ini?"

Pek Yun Hui berpikir "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek adalah benda yang dibuat perebutan oleh para jago silat di kalangan Bu Lim. jika aku beritahukan terus terang, mungkin Co Hiong tak akan mengembalikannya." Lalu dengan suara yang agak keras ia menjawab: "Dia telah curi sebuah kotak batu Giok, dan dia berjanji akan mengembalikannya. Tetapi sekarang dia mengingkari janji, dan ingin ngeloyor!"

Ong Han Siong yang yang tidak mengetahui seluk beluknya lalu berkata kepada Co Hiong: "Sebuah kotak batu Giok tidak sangat berharga, Co Piaw-su, ayo lekas kembalikan!"

Tetapi Co Hiong yang busuk itu masih juga berusaha menyelimuti pokok soalnya, ia berkata: Tentang janjiku mengembalikan kotak itu, aku ingat bukannya terhadap Siocia."

Pek Yun Hui menjadi lebih murka dan ia membentak lagi: "Kau boleh bicara membelit-belit, Malam ini apabila kau tidak mengembalikan kotak itu, kau jangan harap dapat lolos!"

Ketika itu Bee Kun Bu juga meloncat keluar dari belakang batu dan berkata: "Maksud Co-heng tentu telah berjanji terhadap aku? Aku ada di sini."

Co Hiong lalu ambil sebuah kotak dari kantong di dadanya dan dilemparkannya kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Bee-heng, coba periksa kotak itu!"

Bee Kun Bu menyambutnya dan segera memeriksa-nya, karena ia khawatir tertipu lagu

Harus diketahui bahwa Bee Kun Bu sebenarnya adalah seorang yang cerdasj tetapi oleh karena ia berbudi luhur, ia tak dapat lupakan pertolongannya Co Hiong terhadap Lie Ceng Loan ketika mereka mulai berkenalan dan ia selalu berhasrat membalas budi kasih itu, Setelah Pek Yun Hui menjelaskan kebusukannya Co Hiong, ia terpaksa bersikap waspada terhadap manusia yang pintar tetapi busuk itu.

Betul saja ketika ia membuka kotak itu, Co Hiong segera berubah wajahnya, Tetapi karena Pek Yun Hui berdiri di sampingnya, ia tak berani bergerak Ternyata kotak itu kosong! Bukan main marahnya Bee Kun Bu. ia mengejek: "Semenjak aku berkenalan dengan kau, aku senantiasa bersikap jujur, tetapi ternyata kau selalu mempermainkan aku!"

Co Hiong masih juga berlagak dungu, jawabnya: "Bee- heng, aku tak mengerti maksudmu."

"Kotak itu kosong!" bentak Bee Kun Bu, "Kau sudah ambil isinya, dan mengembalikan sebuah kotak kosong! Apakah ini bukannya mempermainkan aku?"

"Aku hanya mengambil kotak ini. Apa isinya akupun tak mengetahui, karena aku belum pernah membukanya." jawab Co Hiong, menyangkal

Pek Yun Hui hanya menyengir, dan ia mengawasi Bee Kun Bu karena ingin melihat apa yang Bee Kun Bu akan perbuat.

Setelah menarik napas, Bee Kun Bu berkata: "Aku selalu yakin kau seorang yang jujur, dan aku senantiasa bersikap jujur terhadapmu isi daripada kotak itu sangat erat hubungannya terhadap mati dan hidupku, Dan sekali lagi, aku mohon kau ingat akan hubungan kita dan mengembalikan isinya juga!"

Keempat pemimpin-pemimpin cabang partai Thian Liong yang telah menyaksikan sikap yang sungguh-sungguh dari Bee Kun Bu mulai menaruh curiga terhadap Co Hiong, dan empat pasang mata ditujukan kepadanya, Ong Han Siong menegur "Co Piaw-su. " Tetapi Co Hiong telah tertawa gelak-

gelak dan berkata: "Ha, apakah kalian tidak pereaya omonganku?" Melihat Co Hiong yang terus memungkirinya. Bee Kun Bu menjadi marah sekali, dan ia membentak: "Dalam persahabatan kita selalu menghargai kepereayaan Kata- katamu ini membuktikan bahwa kau tidak menghargai persahabatan dan telah berkhianat/

Sambil menyengir Co Hiong menjawab: "Aku berjanji mengembalikan kotak, dan aku telah mengembalikannya, Apakah itu salah janji?"

Jawaban tersebut sukar dibantah, dan untuk sementara waktu Bee Kun Bu menjadi bungkam

Kesempatan itu digunakan dengan baik sekali oleh Co Hiong yang berbalik menanya, "Sebetulnya di dalam kotak itu berisikan benda apa?"

Pek Yun Hui berkata kepada Bee Kun Bu: "lni dia yang kau anggap saudara angkat yang baik! Sekarang kau dapat menyaksikan sendiri kepalsuannya!"

Dengan mengawasi Co Hiong, Bee Kun Bu berkata dengan gusar: "Kau selalu coba pungkir, Aku tidak menduga seorang laki-laki yang memiliki ilmu silat yang tinggi demikian palsu dan khianat!"

Pek Yun Hui pun membentak: "Hai! Bangsat! Jika tidak mengembalikan isinya kotak ini, kau harus bayar dengan jiwamu!"

Meskipun mereka bertiga telah bertengkar agak lama, akan tetapi tidak seorangpun yang menyebut-nyebut tentang Kui Goan Pin Cek, sehingga keempat pemimpin-pemimpin cabang partai Thian Liong itu menjadi bingung, sebetulnya benda apakah yang diartikan di dalam kotak itu.

Co Hiong masih juga berlagak dungu dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Bee-heng anggap aku khianat, tetapi sebetulnya aku belum pernah membuka kotak itu dan tidak mengetahui isinya, Bagaimanakah dapat aku mengembalikan barang yang tidak ada?" Selagi Bee Kun Bu hendak berkata, Pek Yun Hui membentak lagi: "Manusia busuk kau! Aku tak dapat ditipu lagi olehmu, Jika malam ini kau tidak mengembalikan barang yang kau curi itu, kau harus bayar dengan jiwamu!"

Co Hiong terus berlagak pilon, katanya: "Pek Siocia kata barang, sebetulnya barang apa?"

Seumur hidupnya Pek Yun Hui belum pernah dipermainkan demikian, ia menjadi murka sekali, ia segera mengumpulkan tenaga dalamnya siap menyerang,

Tiba-tiba Kiok Goan Hoat menanyai "Apakah isi dari kotak itu kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Pada satu tahun berselang, ia pernah pergi ke pegunungan Koat Cong San bersama-sama Souw Peng Hai, dan pernah turut memperebutkan kitab-kitab tersebut yang ditaruh di dalam kotak dari batu Giok, Hanya ketika itu yang direbut adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang pa!su.

Setelah melihat kotak yang dipegangi Bee Kun Bu, ia teringat akan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, Oleh karena itu, ia menanya demikian, Dan pertanyaan itu membikin semua orang menjadi terperanjat karena masing'masing sangat ingin memiliki kitab-kitab yang ajaib itu,

Lalu Ouw Lam Peng menanya: "Kiok Piauw Touw mungkin tidak salah tebak, Tahun yang lalu Hian Ceng Totiang juga pernah memperlihatkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu dan ditaruhnya di dalam kotak serupa itu."

Ong Han Siong yang berwatak satria lalu mengawasi Co Hiong, Dan Mo Lun menanya Co Hiong: "Co Piaw-su dari manakah kau dapati kotak itu? Apakah soal itu telah dilaporkan kepada Souw Cong Piauw Touw?"

Co Hiong yang mengetahui kerasnya peraturan partai Thian Liong menjadi cemas karena ia telah melanggar peraturan partai, Tetapi karena ia seorang yang cerdik dan licik ia segera menjawabnya: "Aku belum berjumpa dengan Cong piauw-tauw, dan belum mengetahui isi daripada kotak itu. Aku belum sempat memberitahukan kepada Cong piauw- tauw."

Jawaban yang dibuat-buat itu terlihat bukan saja oleh Pek Yun Hui, bahkan oleh keempat pemimpin cabang partai Thian Liong.

Lalu Ong Han Siong berkata kepada Bee Kun Bu: "Kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu sangat berharga, dan karena kitab- kitab itu, banyak jago-jago silat telah menjadi korban karena memperebutkan kitab-kitab itu, jika kau sembarangan menuduh orang, kau harus bertanggung jawab atas semua akibatnya!"

Bee Kun Bu telah merasa bahwa meskipun ia tidak sebut- sebut tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, pertempuran tak dapat dielakkan lagi, maka ia menjawab: "Pikirlah oleh kalian, mustahil seorang jago silat seperti Co Hiong ingin mencuri hanya satu kotak batu Giok! Meskipun anak kecil tak akan pereaya bahwa Co Hiong mencuri hanya satu kotak yang kosong tak berisi. Kotak itu berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!"

Co Hiong berkata: "Jika Bee-heng masih juga mendesak akupun tak dapat membuktikan sekarang terserah kepada Bee-heng!"

Harus diketahui bahwa Co Hiong telah pandai ilmu silatnya daripada Bee Kun Bu. ia hanya jeri terhadap Pek Yun Hui, Maka ia sengaja menantang Bee Kun Bu.

Betul saja jawaban itu membikin Bee Kun Bu menjadi murka, ia menjawab: "Jika kau ingin melawan aku, aku siap meladeni!" Lalu ia cabut pedangnya,

Co Hiong berkata sambil tersenyum: "Kita pernah bersahabat dan kita bertarung hanya untuk memastikan kalah dan menang, dan tidak perlu sampai ada yang binasa, Jika aku kalah, aku akan mengembalikan kitab Kui Goan Pit Cek itu, Tetapi jika aku menang, bagaimana perhitungannya?" Pek Yun Hui mendahului menjawab: "Kau harus melawan aku dulu!"

Co Hiong berubah wajahnya dan ia bertindak mundur beberapa langkah sambil berkata: "Aku telah berjanji terhadap Bee-heng. Pek siocia jika ingin melawan aku, kita bertarung setelah pertarunganku melawan Bee-heng,"

Bee Kun Bu loncat maju dan berkata kepada Pek Yun Hui: "Pek Siocia aku minta kau mundur Biarlah aku yang membereskan soal ini."

Pek Yun Hui berbisik: Tapi ilmu silatnya lihay, Rupanya dari partai San Im Shin Ni dari pegunungan Thay San, Aku khawatir kau tak dapat menandinginya!"

Bee Kun Bu menjawab sambil tersenyum: "Aku rela binasa untuk membereskan soal ini. Jika aku gugur, aku minta Cici antarkan Lie Ceng Loan kembali ke pegunungan Kun Lun, dan mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek untuk dikembalikan kepada pemiliknya yang sejati."

Pek Yun Hui yang mengetahui wataknya Bee Kun Bu dan melihat ketekatannya tidak dapat mencegah lagi, ia memperingatkan "Kau harus waspada, Kau harus gunakan jurus-jurus Coa Cauw Ing Hoan (Ular Ngeloyor dan Garuda Terjun) dan Ngo Heng Seng Khe (Lima Langkah Mencari Lowongan)."

Dengan tenang Bee Kun Bu menjawab: "Jika aku kalah melawan Co Hiong, aku rela menggorok leher sendiri membunuh diri!" jawaban itu membikin Pek Yun Hui terperanjat dan cemas. Co Hiong yang dapat mendengar ucapan itu juga tertawa dan berkata: "Bee-heng, mengapa kau mesti bersumpah demikian? Kita hanya menguji silat, dan tidak perlu demikian nekatnya."

Tetapi ucapan Bee Kun Bu itu keluar dari isi hatinya yang tulus, dan ia telah bertekad mengambil kembali kitab-kitab Kui Goan Pit Cek untuk diserahkan kepada pemiliknya, Na Siao Tiap, Sebagai seorang murid partai Kun Lun, ia akan bersikap ksatria dan luhur demi nama partai Kun Lun, dan dalam pertempuran melawan Co Hiong, ia mempertaruhkan jiwanya!

Co Hiong lalu bertindak maju dan menantang: "Bee-heng kau dapat segera mulai menyerang!"

Bee Kun Bu tidak menjawab ia menusuk Co Hiong dengan pedangnya,

Co Hiong mengelit dengan mudah, sambil berkata: "Aku akan menerima serangan-seranganmu tiga kali dan tidak membalas, Tetapi seterusnya.,.,"

Bee Kun Bu tidak memperdulikan ucapan itu, ia menyerang lagi dengan hebat dengan jurus-jurus khas ilmu silat pedang Kun Lun,

Tetapi Co Hiong yang jauh lebih pandai hanya tersenyum dan dapat menghindari serangan-serangannya dengan mudah, Lalu ia memperingatkan "Bee-heng jaga hati-hati! Aku mulai menyerang!" Lalu satu tusukan dengan jurus To Hoan Im Yang atau Membalikkan Awan ia lancarkan dengan penuh tenaga.

Bee Kun Bu terkejut, dan lekas-lekas mundur lima Iangkah. Belum lagi ia berdiri jejak ketika pedangnya Co Hiong menyambar lagi ke dadanya, ia tak keburu meng-egos, dan ia harus menangkis dengan pedangnya, Trang!" terdengar suara kedua pedang itu beradu! Co Hiong tertawa dan berkata: "Bee Heng coba sambut tiga seranganku lagi!" dan ia terus melancarkan serangan-serangannya dengan jurus-jurus Hai Ti Cin Lo (Menyerok Mutiara dari dasar laut), Ya Poa Hong Yen (Menghalau Tawon di tengah malam) dan Thian Bong Lo Ciok (Memasang jaring menangkap burung),

Bee Kun Bu segera merasa ia dikurung oleh pedangnya Co Hiong, seolah-olah tak ada lowongan untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan itu, ia tidak menangkis dengan pedangnya, ia hanya menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu yang ia dapat pelajari dari Pek Yun Hui, dan berhasil lolos dari ketiga serangan-serangan yang dilancarkan dengan hebatnya itu, Gerak yang luar biasa itu membikin Co Hiong terheran-heran, Lekas-lekas ia loncat mundur tiga tindak, dan menanya: "Bee-heng! ilmu apakah yang kau gunakan untuk meloloskan diri dari tusukan- tusukanku?"

Bee Kun Bu terus membungkam, bahkan ia menyerang kembali.

Kiok Goan Hoat yang menyaksikan pertempuran itu berkata kepada Ouw Lam Peng: "Coba kau lihat cara Si-Bee itu meloloskan diri! Aku khawatir Co Piauw-su tak mudah menangi dia!"

Pada saat itu Co Hiong membentak: "Jika Bee-heng tidak ingin berhenti bertarung aku terpaksa menghajar lebih dahsyat lagi,.,!" dan ia menusuk pula kepada Bee Kun Bu, Kali ini ia berusaha menusuk kepalanya, Dan tusukan itu adalah jurus yang ia dapat pahami dari kita catatannya San Im Shin Ni, Kelihatannya hanya satu tusukan, Tetapi setelah dekat sasarannya, tusukan itu berubah menjadi tiga tusukan bertubi- tubi, Bee Kun Bu sukar mengegos atau berkelit

Tetapi di luar dugaan semua orang yang menyaksikan, ketika ujung pedang sudah dekat sekali, tiba-tiba Bee Kun Bu berbalik, dan secepat kilat meloncat ke atas dan melalui di atas kepalanya Co Hiong untuk turun di belakang lawannya!

Lagi-lagi Co Hiong menusuk angin, dan ia lekas-lekas berbalik Bee Kun Bu lagi-lagi menggunakan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu, dan segera menusuk kembali, tetapi dapat diegosi oleh Co Hiong,

Setelah berkali-kali gagal Co Hiong tidak berani memandang enteng lagi kepada lawannya. ia loncat mundur beberapa depa dan berdiri tegak mengawasi lawan-nya, dengan maksud mencari kesempatan menyerang pu!a, Setelah melihat Ngo Heng Bi Cong Pu sudah cukup meladeni Co Hiong yang congkak dan busuk itu. Pek Yun Hui mulai tidak khawatir lagi.

Bee Kun Bu telah berhasil meloloskan diri dari serangan- serangan yang dahsyat ia berpikir "zBenar-benar aku tak dapat menduga wataknya, Tahun lalu, ketika aku bersama- sama dia melawan hweeshio-hwee-shio dari kuil Toa Ciok Si, ilmu silatnya tidak lebih tinggi daripada ilmu silatku, dan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam-ku (ilmu silat pedang mengusir roh dengan dua belas jurus) lebih baik daripada ilmu silat pedangnya, Tapi hanya dalam satu tahun, dia telah banyak maju, Aku betul-betul heran!"

Demikianlah kedua belah pihak saling mengawasi karena kedua-duanya merasa jeri untuk menyerang sembarangan Kemudian Co Hiong maju menghampiri Kali ini Bee Kun Bu tidak memberikan kesempatan lawannya menyerang lebih dulu, Dengan jurus Heng Hua Cun Ji atau Hujan Menghantam bunga mekar, ia putar-putar pedangnya sambil mendesak maju, jurus itu adalah salah satu jurus dari Cui Hun Cap Ji Kiam, dan Co Hiong tak dapat pandang remeh. ia harus menggunakan jurus Peng Hong Cang Ho atau Es Membekukan Sungai untuk melindungi diri.

Ketika itu terdengar suara kedua pedang beradu berkali- kali, dan memuncratkan lelatu api yang terlihat nyata di malam itu. Beradunya pedang mereka segera terlihat akibatnya, Co Hiong rupanya tidak merasa bahwa pergelangan tangannya yang memegang pedang mulai lumpuh, Tiba-tiba Co Hiong berseru: "Bee-heng awas!" Dalam pertarungan yang seri itu tiba-tiba ia menusuk Bee Kun Bu dengan jurus Shin Liong Cut In atau Naga Sakti Keluar dari Awan,

Tusukan tersebut sangat dahsyat Gagangnya tergetar dan pedangnya berkebat Hembusan angin tusukan itu terasa jauh,

Bee Kun Bu tidak berani menangkis, karena ia insyaf bahwa tangkisan nya hanya akan melumpuhkan tangan-nya. Lagi-lagi ia menggunakan Ngo Heng Bi Cong Pu, dan lagi-lagi ia luput dari tusukan maut itu!

Co Hiong sengaja menusuk demikian karena ia ingin mengetahui Bee Kun Bu menggunakan ilmu apakah untuk meloloskan diri. Tetapi ia hanya melihat Bee Kun Bu berbalik secepat kilat, dan dengan cepat pula Bee Kun Bu seolah-olah lenyap dari penglihatan nya, ia tidak mengetahui kelihayan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu itu!

Co Hiong tidak menanti serangan kembali dari lawannya, ia lekas-lekas meloncat mundur lima tindak, dan berkata sambil tersenyum: "Aku tidak menduga Bee-heng memiliki ilmu yang sakti,." talu secepat kilat ia menyerang lagi dengan jurus Gie Heng Hoan Wie atau Merubah Bentuk dan Menukar Tempat, Hanya terlihat bayangannya berkelebat dan berkeredepnya pedangnya yang menyerang Bee Kun Bu bertubi-tubi, jurus itu lagi-lagi dari kita catatannya San Im Shin Ni yang terkenal pada tiga ratus tahun berselang, dan yang bersama-sama Tian Ki Cin Jin telah menyusun ilmu-ilmu silat ajaib dan sakti ke dalam kitab-kitab yang terkenal dengan nama Kui Goan Pit Cek.

Meskipun Co Hiong telah berkata sebelumnya mereka mulai bertempur bahwa ia tak mau bertempur sampai ada yang tewas, tetapi dalam hatinya ia ingin membunuh mati Bee Kun Bu. Berulang- ulang ia mencoba membunuh Bee Kun Bu, namun maksudnya itu selalu gagal

Demikian kali ini ia bertekad untuk dapat membunuhnya Semula ia khawatir Pek Yun Hui akan membantu akan tetapi setelah mengingat bahwa iapun didampingi oleh Ouw Lam Peng, Ong Han Siong, Mo Lun dan Kiok Goan Hoat, ia yakin dapat menakluki Pek Yun Hui, Karena ia berkeputusan mengakhiri jiwanya Bee Kun Bu dengan menyerang menggunakan jurus-jurus yang ia telah pahami dari kitab catatan San Im Shin Ni.

-ooo0ooo-

Co Hiong berbuat curang Dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu (Langkah Ajaib) Bee Kun Bu berhasil mengelaki tusukan dari bacokannya Co Hiong sehingga semua yang menyaksikan ter-pesona,

Lalu dengan menggunakan ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam (ilmu silat pedang khas partai Kun Lun) ia mulai menyerang lagi sambil melindungi diri dengan jurus In Bu Kim Kong atau Awan dan Kabut Meliputi Surya,

Harus diketahui bahwa Ngo Heng Bi Cong Pu adalah jauh lebih lihay daripada ilmu Gie Heng Hoan Wie (ilmu merubah bentuk dan tempat) dari Co Hiongj dan bagaimana Co Hiong menyerangnya, ia tak berhasil melukai Bee Kun Bu.

Demikianlah pertempuran berlangsung beberapa puluh jurus, dan kedua belah pihak mengeluarkan semua keahliannya untuk menjatuhkan lawannya sehingga membikin keempat pemimpin-pemimpin cabang partai silat Thian Liong terpaku,

Tiba-liba pedangnya Bee Kun Bu menusuk punggungnya Co Hiong setelah dengan secepat kilat ia meloncat ke belakang lawannya, Tapi dengan gesitnya Co Hiong berbalik dan menangkis tusukan maut itu dengan jurus Tan Hong Liauw In atau Burung Hong Melalui Awan, ia terkejut dan merasa heran bahwa ia masih juga tak berhasil melukai lawannya, Tiap-tiap kali ia dapatkan tusukan atau bacokannya mengenai angin.

justru pada saat ia berpikir, ia mendengar Bee Kun Bu menjerit, dan ia merasa ujung pedangnya Bee Kun Bu sudah dekat kepada tengkuk lehernya, ia tak dapat menangkis tusukan itu. ia hanya dapat miringkan tubuhnya sedikit ke samping, lalu meloncat mundur satu depa lebih. Bee Kun Bu sudah siap menyerang lagi dengan wajah yang seram, dan dalam sekelebatan saja ujung pedangnya sudah menempel di atas dada lawannya ia hanya perlu mendorong sedikit lagi, maka berakhirlah riwayatnya Co Hiong,

Tapi Bee Kun Bu berkata: "Co Hiong, dahulu kau telah berlaku baik terhadap aku, dan budimu itu aku tak dapat lupakan. Aku hanya minta kau memegang janji dan mengembalikan kitab-kitab Ku Goan Pit Cek itu, dan kita se terus nya masih menjadi kawan yang baik!"

Dalam keadaan terdesak dan jiwanya terancam itu Co Hiong yang pintar busuk berkata: "Bee-heng telah bicara betul! Kita masih menjadi kawan yang baik Tentang apa isinya kotak itu, aku sebetulnya tidak mengetahui Hanya setelah aku mengambil kotak itu, aku pernah serahkan kepada orang lain. Akupun tidak mengetahui jika dia telah membuka kotak itu.

Tetapi kotak itu belum diberikan kepada orang ketiga, dan jika isinya betul kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku yakin kitab-kitab itu belum hilang, Oteh karena itu, aku minta Bee-heng ikut aku menemui orang yang menyimpannya."

Pek Yun Hui membentak "Hm! Lagi-lagi kau coba menipu kami!"

"Aku memberitahukan dengan sejujurnya, Tetapi jika Pek Siocia tidak pereaya, aku bisa berbuat apa?" jawab Co Hiong,

"Siapakah orang itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Orang itu dikenal oleh Bee-hengj hanya dia sungkan menemui kau."

Pek Yun Hui menjadi makin marah dan ia membentak: "Aku hendak mengikut untuk menemui orang itu!"

sebelumnya Co Hiong menjawab, Mo Lun berkata: "Co Piauw-su. Orang itu sekarang di mana? jika kau ingin pergi, kami semuanya pun akan turut pergi-"

"Bagus!" kata Ong Han Siong. "Kita semuanya pergi. Aku juga ingin lihat kitab-kitab ajaib itu!"

Tiba-tiba Pek Yun Hui menggerakkan tangannya, dan dua biji bola perak sebesar kacang tanah terbang ke udara, lalu sekejab kemudian terdengar dua orang menjerit dan segera jatuh di tanah. sebetulnya setelah melihat ilmu silat Bee Kun Bu, Ong Han Siong sudah menjadi kagum. Tetapi setelah melihat cara Pek Yun Hui melontarkan senjata rahasia-nya, ia makin kagum. ia berpikir "Gadis ini lihay sekali Dia pasti memiliki ilmu silat yang sangat tinggi Jika kita berhasil mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dengan pemimpin-pemimpin cabang bendera merah dan biru sudah terluka, kita sukar membawa kitab-kitab tersebut keluar dari pegunungan ini.

Lagi pula kita harus menghadapi Tu Wee Seng, Teng Lee dan Sia Yun Hong. Kita tak dapat mengharap bala bantuan lekas-Iekas datang. jalan yang terbaik ialah memberitahukan hal ini kepada Cong Piauw-tauw dulu, agar dia dapat siap sedia menggempur lawan jika perlu," maka ia telah memberi isyarat kepada dua orangnya berlalu,

Kedua orang yang telah disambit jatuh oleh biji bola perak tadi adalah orang-orangnya partai Thian liong yang dilihat oleh Pek Yun Hui hendak berlalu, Ong Han Siong menghampiri kedua orang itu untuk segera menjadi kaget ketika melihat bahwa mereka itu telah tertotok jalan darahnya sehingga tak sadar.

Ia segera mengetahui bahwa biji-biji tersebut dilontarkan oleh ilmu Bi Li Pa Shing Kong (llmu sakti menotok jalan darah) yang jarang terlihat di kalangan Kang-ouw. ia yang telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw juga jarang menjumpai jago silat yang memiliki ilmu yang sakti itu. ia lekas-lekas menolong membebaskan jalan-jalan darah yang tersumbat oleh totokannya Pek Yun Hui.

Dalam suasana yang tegang itu, Co Hiong tiba-tiba tertawa. Pek Yun Hui lekas-Iekas meloncat dan berdiri di sampingnya Co Hiong, ia membentak: "Apa yang kau tertawaj!? Bukankah dengan tertawa itu kau ingin mengirim isyarat kepada orang-orang dari partai Tian Liong? Hm!

Meskipun Souw Peng Hai berada di sini, dia tak dapat menolong kau!" Lalu Pek Yun Hui mengirim jotosannya, Co Hiong lekas-Iekas mengegos dan dengan pedangnya coba menyerang, Tetapi entah dengan ilmu apa, Pek Yun Hui kebat pedangnya Co Hiong ke samping dengan tangan kirinya, dan menusuk dadanya Co Hiong dengan satu telunjuk tangan kanannya.

Co Hiong terkejut, dan lekas-lekas menggunakan ilmu Gie Heng Hoan Wienya, dan berhasil mengelit tusukan telunjuk mautnya Pek Yun Hui.

Bee Kun Bu yang khawatir Pek Yun Hui akan membunuh mati Co Hiong segera loncat dan berdiri menjagai Co Hiong sambil berkata: "Cici, aku minta kau berhenti menyerang! jangan melukai dia!"

Pek Yun Hui yang senantiasa membantu dan membela Bee Kun Bu terpaksa berlaku sabar lagi.

Lalu Co Hiong berkata lagi: "Orang yang kita harus temui itu berwatak ganjil, dia sungkan menjumpai orang lain, Keempat Piauw-touw dapat menunggu di sini, aku akan mengajak Bee-heng menjumpai dia,.,."

"Jika dia berwatak ganjil, kamipun tidak perlu menjumpai dia," kata Mo Lun.

"Jika mereka berempat turut ikut serta," pikir Co Hiong, "Maka Pek Yun Hui tentu juga mengikut, Bee Kun Bu sudah dapat melawan aku, tetapi aku masih merasa ragu-ragu keempat Piauw-touw dapat melawan Pek Yun Hui. Yang penting ialah Pek Yun Hui jangan sampai merampas kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu."

Bee Kun Bu telah menduga siapa orang yang dimaksudkan itu, setelah ia yakin ia dapat melawan Co Hiong dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu, iapun tidak khawatir mengikuti Co Hiong seorang diri,

Ong Han Siong yang melihat Co Hiong diam saja, segera berkata: "Jika Co Piauw-su anggap kami tak usah turut, kamipun tidak hendak memaksanya."

Lalu Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu: "Mari kita berangkat sekarang!" "Baik!" jawab Bee Kun Bu, "Aku masih tetap pereaya janjimu!"

Pek Yun Hui menahan Bee Kun Bu dan berkata: "Kau harus waspada jangan sampai kena dianiaya lagi, karena kau telah berkali-kali dianiaya dia sehingga menderita luka-luka di dalam tubuh!"

Bee Kun Bu mengangguk, Co Hiong juga telah mendengar peringatan itu, ia hanya menyengir

Sambil berjalan Co Hiong berkata: "Apakah Bee-heng pereaya bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu disimpan oleh Sucimu?"

"Aku telah mengatakan tadi bahwa aku masih pereaya janjimu." jawab Bee Kun Bu.

Co Hiong menyengir dan terus berjalan

Ketika itu sudah hampir jam empat pagi, tetapi bulan masih berada di atas memancarkan sinarnya, Setelah mereka berjalan lebih kurang empat-lima lie, mereka tiba di suatu lembah, dan Co Hiong mulai berjalan makin perlahan

Bee Kun Bu tidak sabar melihat sikap Co Hiong itu, ia menegur "Co Hiong! Tidak lama lagi akan terang tanah, Ayo jalan lekas sedikit!"

Co Hiong yang busuk menjawab sambil tersenyum: "Apakah Bee-heng tidak memikiri Pek Cicimu?"

Bee Kun Bu tersinggung. "Pek Siocia adalah seorang yang luhur dan agung, aku minta kau jangan menyinggung padanya!" jawab Bee Kun Bu.

Co Hiong masih juga menyindir "O! Aku tidak boleh menyinggung dia!" katanya mengejek

"Soal ini lebih baik kita jangan membicarakannya, Kita lebih baik lekas-lekas menjumpai Liong Suciku!" kata Bee Kun Bu. Co Hiong terpaksa berjalan cepat lagi, dan diikuti terus oleh Bee Kun Bu.

"Dia mengajak aku ke tempat yang asing bagiku, Kini, bukan saja aku tidak melihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, tetapi aku juga belum tentu dapat melihat Liong Suctku. Jika dia melarikan diri, apakah yang aku harus perbuat?"

Ketika itu Co Hiong telah berbelok dan tidak kelihatan Bee Kun Bu mengejar dengan hati berdebar-debar. Ketika ia tiba di depannya semak-semak, ia ingat akan peringatannya Pek Yun Hui bahwa ia harus waspada terhadap Co Hiong yang busuk dan licin itu, ia cabut pedangnya dan bertindak maju, ia berjalan terus sampai di kaki suatu jurang yang curam, ia memandang ke sekitarnya dan dapatkan bahwa ia berada di suatu lembah yang dalam dikitari oleh jurang-jurang yang curam, ia berpikir: "Meskipun Co Hiong memiliki ilmu meringankan tubuh yang lihay, ia tak dapat mendaki jurang yang curam ini. Aku menunggu sampai terang tanah dan mencari dia lagi!"

Tak lama kemudian ia mendengar suara seorang wanita memanggil Dengan kedua matanya yang tajam, ia berusaha mencari arah di mana datangnya suara wanita itu, tetapi ia tak melihat apa-apa yang dapat menunjukkan sesuatu kepada nya. ia pasang kedua kupingnya dengan harapan dapat mendengar panggilan tadi untuk kedua kali nya.

Kemudian di tempat yang jauhnya sedepa lebih terdengar suara beberapa batu yang kecil membentur batu gunung yang besar Apakah batu-batu yang kecil itu telah gempur dan jatuh dari atas ke bawah? ia loncat maju ke suatu batu gunung yang besar yang sangat melekat ke pinggir kaki jurang, ia ingat akan peristiwa ketika ia bersama Co Hiong bersembunyi di dalam sebuah kamar batu di dalam goa yang mulutnya tertutup dengan batu gunung yang besar ia berpikir "Apakah di balik batu gunung ini adalah satu goa?" Baru saja ia ingin menggeser batu gunung yang besar itu, ketika ia mendengar suara tertawa dari tempat yang hanya beberapa depa jauhnya,

Bee Kun Bu mengenali bahwa suara tertawa itu adalah dari Co Hiong, dan baru saja ia ingin loncat menghampirinya, ia ingat akan pesannya Pek Yun Hui, Maka hanya berteriak: "Co Hiong, kau lari ke mana sehingga aku tak dapat mencarinya?"

Sambil tertawa Co Hiong jalan mendekati dan setelah berdiri berhadapan, ia berkata: "Bee-heng kotak batu Giok itu betul berisikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan aku telah minta kembali dari Sucimu!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening, lalu menanya: "Lembah yang sempit dan terkurung ini tidak luas. sebetulnya Suciku sekarang berada di mana?" ia menanya demikian karena barusan ia mendengar suaranya seorang wanita, ia khawatir Co Hiong telah menggunakan kekerasan untuk mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu dari Liong Giok Pin,

"Sebelumnya aku memperoleh persetujuan dari Suci-mu, aku tak berani mengajak kau menengoki dia." kata Co Hiong,

Bee Kun Bu melangkah mundur dua tindak, dan dengan heran ia menanya lagi: "Bukankah dia telah minta kau mencari aku? Mengapa sekarang dia tak sudi melihat aku?"

Melihat Bee Kun Bu bersikap waspada, maka maksudnya untuk membinasakannya gagal lagu ia menjawab: "Ya... orang perempuan memang aneh, pikirannya sering-sering berubah. Tetapi sekarang dia sudi melihat kau. Apakah kau masih juga hendak menemuinya?"

Bee Kun Bu berpikir "Pek Siocia masih menunggu, jika aku tidak lekas-lekas kembali, dia akan menjadi cemas, Lagipula aku khawatir dia harus menghadapi empat pemimpin- pemimpin cabang partai Thian Liong yang semuanya lihay ilmu silatnya, Paling baik aku lekas-lekas minta dan bawa kembali kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dari bangsat ini, untuk segera dikembalikan kepada pemiliknya, Na Siao Tiap, Dengan demikian urusan ini beres sudah, dan kemudian aku masih dapat menengoki Liong Giok Pin."

Setelah berkeputusan demikian, ia menjawab: "Jika aku menjumpai Liong Suci, aku tentu ada banyak omongan yang diucapkannya, Para Piauw-touw dari partai Tian Liong tentunya akan menjadi kesal menunggui kita, Lebih baik sekarang kau kembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu kepadaku agar aku dapat segera mengembalikan kepada pemiliknya, Kemudian dapat menemui Liong Suci bersama- sama kau."

Dari kantong di dadanya Co Hiong keluarkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek seraya berkata: "Karena Bee-heng sangat bernapsu, baiklah, aku kembalikan kitab-kitab ini."

Dalam suasana yang agak gelap itu. Bee Kun Bu melihat tiga kitab tersusun, dan di kulit muka dari kitab yang teratas ia juga lihat empat huruf KUI GOAN PIT CEK. Sambil menerima kitab-kitab itu, ia berkata dalam hatinya: "Kitab-kitab ini entah berisi ilmu-ilmu silat apa, dan selama tiga ratus tahun entah telah membinasakan berapa banyak jago-jago silat!"

"Bee-heng aku telah berjanji mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan sekarang aku mengembalikan kepada Bee-heng sendiri Aku telah memenuhi janji." kata Co Hiong sambil tersenyum,

"Di kalangan Bu Lim, kita harus mengutarakan kepereayaan, Aku senantiasa bersikap jujur terhadap Co Hiong, dan akupun minta Co Hiong dapat bersikap jujur terhadapku." kata Bee Kun Bu.

Co Hiong berpikir sejenak, lalu berkata: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu merupakan benda yang berharga sekali, dan pada dewasa ini, tidak seorang jago silat yang tidak ingin memi!ikinya. Aku minta Bee-heng jaga baik-baik, Jika di tengah jalan ada yang merampasnya, aku tidak bertanggung jawab lagi!" "Betapapun berharganya kitab-kitab ini, aku tak akan merampas miliknya orang Iain. "

Tiba-tiba Co Hiong mengangkat tangan kanannya, dan secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan kanannya Bee Kun Bu, dan tangan kirinya merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Setelah berhasil ia tertawa dan berkata: "Jika Bee-heng tidak ingin memilikinya, berikanlah kitab-kitab ini kepadaku, karena aku sangat mengaguminya!"

Bee Kun Bu terkejut, dan secepat kilat ia menjotos dengan tinju kirinya dengan ilmu Cit Sin Pok Liong atau Tangan Telanjang Menerkam Naga, dan berhasil menjotos pergelangan tangan kirinya Co Hiong, ia memaksa Co Hiong mengembalikan kitab-kitab itu,

Tetapi Co Hiong hanya tertawa, dan ia berkata: "Jika Bee- heng masih juga memaksa, jangan mempersalahkan aku lagi!" Lalu ia membalas menjotos lengannya Bee Kun Bu sehingga Bee Kun Bu merasa seluruh tubuhnya menjadi lumpuh, Pada saat itu Co Hiong simpan kembali kitab-kitab Kui Goan Pit Cek di kantong di dadanya sambil berkata: "Aku telah mengembalikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan aku telah memenuhi janji, Sekarang aku merampas dari kau, dan soalnya menjadi lain, bukan?"

Jotosan pembalasan itu dilakukan dengan tiba-tiba, dan jotosan itu dilancarkan menurut petunjuk dari kitab catatan San Im Shin Ni. Bee Kun Bu merasa seluruh tubuhnya lumpuh dan segera keringat keluar dari seluruh tubuhnya Dengan masgul ia berkata: "Kau menyerang aku dengan curang, itulah bukan perbuatannya satu laki-laki!"

"Ha! Ha! Ha!" jawab Co Hiong, "Seumur hidupku aku selalu menggunakan tipu muslihat dan jika bertempur dengan tipu muslihat orang tak dapat mengatakan curang, Cuma kau yang mengatakan demikian?"

Jawaban itu membikin Bee Kun Bu makin marah lagi. ia berkata: "Aku dapat dibunuh tapi tak dapat dihina!" Dengan kejam Co Hiong berkata: "Bee-heng, kau jangan banyak tingkah lagi Jika ada pesan, sebutlah, sebab aku segera akan mengakhiri riwayatmu!

Bee Kun Bu tertawa keras seperti orang hilang ingatan, dan berkata dengan suara keras: "Apakah kau kira aku takut kepada kematian? Ayo! Kau boleh segera membunuh mati kepadaku!"

"O, jadinya kau tidak ada pesan kepada siapapun?" mengejek Co Hiong,

"Jangan banyak bacot! Bangsat! Ayo, bunuh aku!" bentak Bee Kun Bu. Lalu ia pejamkan kedua matanya, menerima nasib,

Tetapi Co Hiong mengambil sebungkus bubuk obat, dan berkata: "Bee-heng, bukalah matamu, dan lihat sebungkus obat ini!"

Bee Kun Bu membuka kedua matanya, tetapi bukan untuk melihat benda yang diunjukkan, ia hanya membentak lagi: "Kau mempunyai pedang, Kau boleh membacok, memotong, menusuk aku sesukamu, dan aku tak akan menjerit!"