Bangau Sakti Jilid 14

 
Jilid 14

Lalu ia berlutut di hadapan kedua "patung" itu memberi hormat ia beristirahat sejenak, lalu ia mendaki batu yang besar dan melihat kotak dari batu Giok. Diperiksa-nya dengan teliti, dan di atas kotak tersebut tertulis delapan huruf yang berbunyi: "Pit Cek Cung Po, Cin Si Mok Sen (Kitab-kitab ini sangat berharga, Harus dijaga baik-baik). Kitab-kitab itulah yang dicari oleh para jago silat selama hampir tiga puluh ratus tahun, Kini ia, Na Hai Peng, yang menemuinya, ia yang menggemari sekali ilmu silat, dan yang telah mencurahkan semua perhatian dan semangatnya untuk memperdalam dan berlatih silat, sehingga lupa kepada Cui Tiap kawan hidupnya yang sangat mencintai ia, menjadi terharu bereampur girang sehingga seluruh tubuhnya gemetar! BetuI dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu ia tidak bermaksud menjagoi di kalangan Kang-ouw, tetapi kegembiraannya tak terhingga ketika ia menemukan kitab-kitab tersebut!

Dengan bernapsu ia buka kotak batu Giok itu, yang berisikan tiga kitab yang dengan kulit kain sutera yang masih utuh, disamping satu Leng Tan (Pil obat). Di bawah Leng Tan itu ada satu kertas putih dengan tulisan yang berbunyi: "Dihadiahkan kepada orang yang telah berhasil masuk ke ruangan ini."

Na Hai Peng yang telah tidak makan dan minum beberapa hari, setelah melihat Leng Tan itu, segera diambilnya dan ditelannya, ia segera merasakan bau harum di mulutnya, dan seluruh tubuhnya menjadi hangat, segar dan bersemangat seolah-olah mempunyai tenaga dari sembilan ekor banteng!

Sambil duduk di atas batu ia buka kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, Kitab-kitab itu melukiskan dan menjelaskan cara-cara orang belajar ilmu silat, ilmu-ilmu tenaga dalam maupun tenaga luar, ilmu menggunakan maupun mengelakkan senjata-senjata rahasia, ilmu memperkuat iman, menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh, serta ilmu-ilmu dan jurus-jurus yang dapat melumpuhkan lawan secara kilat dan ampuh.

Dengan singkat semuanya itu, yang berkenaan dengan ilmu silat, dan menyembuhkan luka-luka akibat dari pertempuran, dapat dipelajari dengan mudah dan cepat Lebih pula, segala ilmu silat tinju, menggunakan macam-macam senjata tajam atau senjata rahasia, ilmu menotok jalan-jalan darah dan membebaskannya, ilmu menawan lawan hidup- hidup atau mati, semuanya dijelaskan dengan terang dan jelas,

Na Hai Peng membaca semua itu dengan tekun dengan perasaan terharu dan kagum... dan bahagia, Ketika ia membaca sampai kepada kitab ketiga, yang berlainan isinya daripada kitab ke satu dan ke dua, ia menjadi agak bingung, karena isinya adalah jampe-jampe (mantera) dan sebagainya yang sukar dimengerti olehnya, Namun ia membacanya habis ke tiga kitab tersebut

Harus diketahui bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu disusun oleh Ti Kian Cin Jin bersama San Im Shi Ni setelah mereka dari lawan menjadi kawan, Disamping semua ilmu- ilmu silat, Ti Kian Cin Jin juga telah memberitahukan dan merundingkan ilmu Hian Men It Goan Kong Ki (Tenaga dalam dahsyat melumpuhkan lawan), dan San Im Shi Ni menjelaskan ilmu Hut Men Pan Yo San Kong (Tenaga luar ajaib untuk menggempur dan menghindari serangan-serangan dahsyat).

Kedua ilmu tersebut adalah modal istimewa mereka, dan setelah mereka mempelajari kedua ilmu istimewa tersebut, mereka insyaf bahwa jika orang dapat memiliki kedua ilmu istimewa tersebut, maka dia akan menjadi seorang jago silat yang sakti laksana seorang dewa atau dewi,

Ilmu Hian Men It Goan Koang Ki bahkan dapat meremajakan, menguatkan dan menyembuhkan Iuka-luka di dalam tubuh. Ilmu Hut Men Pan Yo San Kong dapat membunuh lawan hanya dengan satu semprotan hawa dari mulut!

Mereka terus mempelajari kedua ilmu luar biasa itu selama tiga hari dan tiga malam sambil berusaha menyembuhkan luka-luka yang diderita sebagai akibat pertempuran mereka.

Lalu sambil menunjuk ke kedua kitab Kui Goan Pit Cek yang telah selesai disusun itu, Ti Kian Cin Jin berkata sambil tersenyum: "Jika sebelumnya kita masuk ke dalam goa ini untuk menyusun kedua kitab ini, kau memberitahukan ilmu Hut Men Pan Yo San Kong kepadaku, mungkin aku dapat berhasil menyembuhkan luka-lukaku dengan dibantu oleh ilmu Hian Men It Goan Kong Ki dari aku. "

San Im Shi Ni menjawab sambil menghela napas: "Tidak ada gunanya kita bicarakan itu lagi, karena sudah terlambat Mungkin juga ini kehendaknya Tuhan, ilmu Hian Men It Goan Kong Kimu digabung dengan ilmu Hut Men Pan Yo San Kongku sebetulnya dapat membikin kita hidup lama, jika kedua ilmu ini tidak dicatat dan disusun di dalam kitab, maka kedua ilmu ini akan hilang, Menurut pendapatku tidak ada jahatnya jika kita, menyusun kedua ilmu itu di dalam kitab ke tiga."

Setelah memperoleh persetujuannya Ti Kian Cin Jin, maka mereka menyusun kedua ilmu ajaib tersebut di dalam kitab ke tiga dan kitab itu diberi nama Toa Pan Yo Hian Kong (llmu ajaib abadi), Setelah mereka selesai menyusun kitab ke tiga itu, mereka tak dapat hidup lebih lama lagi, Betul dengan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong itu mereka dapat menyembuhkan luka- lukanya, akan tetapi usaha menggunakan ilmu itu sudah terlambat.

Lalu Ti Kian Cin Jin menutup mulut goa dengan batu, dan San Im Shi Ni menaruh tiga Kui Goan Pit Cek itu di dalam kotak batu Giok bersama satu butir Leng Tan (pil ajaib), lalu kotak itu ditaruh di atas satu batu besar Kemudian dengan membakar hio mereka berdiri di atas dua batu di kedua samping batu yang besar menanti ajal mereka! Hio yang dibakar terbuat dari daun-daun ajaib, dan asap yang keluar dari hio itu dapat mengawal kan jenazah mereka, Daun-daun yang ajaib itu adalah hasil penyelidikan Ti Kian Cin Jin yang sengaja membawa dan ditanam di dekat puncak Pek Yun Siat,

Setelah Na Hai Peng membaca ketiga kitab Kui Goan Pit Cek itu, ia merasa dapat memahami semua ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab pertama dan ke dua, hanya kitab Toa Pan Yo Hian Kong yang ia belum paham betul, namun ia telah merasa bahagia sekali, dan air matanya mengucur keluar karenanya!

Dengan pil ajaib (Leng tan) yang ia telah telan, ia merasakan tubuhnya sehat segar, sedikitpun ia tak merasakan lapar,

Baru pada keesokan harinya ia merasa agak lapar, ia menghitung-hitung bahwa dua puluh hari telah berselang semenjak ia terjun masuk ke dalam sungai untuk menyelidiki keadaan di situ, Lalu dengan membawa kotak yang berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu ia keluar dari goa.

Kini pohon-pohon bunga yang menjadi daerah sesat tidak menjadi soal lagi baginya. Hanya bau busuk dari kedua mayatnya Ciu Ki dan Kang Cwan sukar ditahan. sebetulnya ia ingin mengubur dengan selayaknya kedua mayat itu, akan tetapi ketika ia berpikir caranya kedua perampok yang kejam itu membujuk ia terjun dulu, ia menjadi jemu akan perbuatannya, Dengan mudah ia dapat melalui daerah sesat itu, dan tiba di pinggir sungai Untung baginya rotan yang disambung untuk dijadikan tali masih ada. Dengan bantuan tali rotan itu, ia dapat keluar lagi ke atas sungai dengan selamat.

Kemudian ia pergi ke goa yang terletak di atas puncak Pek Yun Siat untuk mempelajari dan memahami semua ilmu-ilmu silat yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Goa Pek Yun Siat itu agak luas, terdiri dari beberapa kamar Satu angin anglo (dapur) baru dari Ti Kian Cin Jin masih ketinggalan di dalamnya, Dengan hasrat memperdalam ilmu silatnya, maka goa Pek Yun Siat itu ia jadikan tempat bertapanya.

Dengan cepat sekali sepuluh tahun telah berlalu, ilmu silatnya Na Hai Peng telah bertambah maju berlipat ganda, dengan bermacam-macam ilmu pukulan dan ilmu menggunakan senjata tajam yang tiada taranya di kolong langit, bahkan ilmu Hian Men It Goan Kong Ki pun ia dapat memahami banyak, Tetapi dalam waktu sepuluh tahun itu ia hanya baru memiliki kurang tiga atau empat persepuluh bagian dari kesemua ilmu yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu,

Pada suatu hari, ia mempunyai suatu pikiran nakal, ia membuat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek palsu dengan mengunakan kertas putih, ia kembali lagi ke dalam goa yang berada di perut gunung, dan menaruh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek palsu itu di atas batu besar di dalam goa tersebut Lalu ia taruh peta Cong Cin To di atas puncak Sao Sit Hong, tempat dimana Ti Kian Cin Jin dan San Im Shi Ni mengadu silat

"Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah mengambil entah berapa banyak korban diantara jago-jago silat selama beberapa ratus tahun, Jika peta Cong Cin To itu diketemukan orang, maka orang itu pasti datang ke goa di perut gunung untuk mengambil kitab-kitab palsu itu, maka berhenti lah para jago-jago silat mencarinya atau saling bertempur untuk memperoleh kitab-kitab itu.,." pikirnya Na Hai Peng. Dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek palsu itu ia hanya gambarkan macam-macam bi-natang, burung dan ikan dengan sembarangan saja,

Ketika ia sedang membawa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu itu ke dalam goa di perut gunung, tiba-tiba ia menjumpai seekor bangau yang besar berdiri di depan mulut goa. ia yakin bahwa ilmu silatnya mahir dan tinggi, ia memukul kan tinjunya tetapi bangau yang besar itu terbang ke atas secepat kilat menghindari tinjunya, dan terbang turun lagi menyapu ia!

Na Hai Peng lekas-lekas loncat mengegos sambil berusaha menangkapnya, Tetapi bangau itu rupanya sangat lincah dan cerdik, seolah-olah diapun pandai silat Dia berbunyi keras dan datang menyambar dari belakang,

Demikianlah Na Hai Peng bertempur melawan bangau itu dengan semua ilmu silat yang ia telah pelajari dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, akan tetapi ia masih juga tidak berhasil menangkap bangau itu.

Na Hai Peng terperanjat dan berpikir "Sepuluh tahun sebelumnya, ilmu silatku dapat menerkam harimau dan memukul mati singa, Tetapi sekarang setelah aku dapat memiliki banyak ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku tak mampu menangkap seekor bangau!"

Kemudian ia berlutut dan mengumpulkan tenaga dalamnya untuk melancarkan jotosan dengan tangan kirinya ke atas.

Bangau itu terdampar jauh sekali oleh angin dari jotosan nya, tetapi bangau itu segera datang menyambar lagi, Na Hai Peng menggunakan jurus Ciang Hong Pa Liong atau Burung Hong menerkam naga, dan ia berhasil mencekal kedua kakinya bangau itu!

Bangau itu berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia, karena tenaganya Na Hai Peng demikian besarnya seolah- olah dapat menahan sepasang banteng yang sedang mengamuk!

-ooo0ooo-

Dengan ilmu silat sakti, Na Hai Peng kembali ke istana "Bangau ini luar biasa! Apa maksudnya dia menyerang aku

demikian sengit nya ?" pikir Na Hai Peng.

Ketika ia melepaskan cekalannya, bangau itu tidak berusaha terbang pergi, Na Hai Peng dorong batu di mulut goa dan masuk ke dalam, ia taruh kotak-kotak yang berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek palsu di atas batu besar, dan jalan keluar lagi setelah melalui pohon-pohon bunga, Alangkah kagetnya ketika ia tiba di pinggir sungai, tali rotan yang ia gunakan tadi telah hilang! Bagaimanakah ia dapat keluar dari lembah yang sempit dan yang dilingkari oleh lereng-lereng gunung yang curam lagi licin itu? Meski ia berlatih lagi sepuluh tahun sekalipun ia tak akan berhasil keluar dari lembah tersebut

Dalam keadaan bingung itu, tiba-tiba ia merasa hembusan angin di belakangnya, ia menoleh dan melihat bangau yang besar itu sudah berdiri di belakangnya, "Bangau ini besar sekali tenaganya, Mungkin aku dapat tunggangi untuk membawa aku terbang keluar dari lembah ini!" pikirnya, Lalu ia tunggangi bangau itu siap lantas melonjorkan lehernya, dan setelah mementangkan kedua sayapnya, segera membawa Na Hai Peng terbang ke angkasa,

Bangau itu terbang tinggi menembusi segumpalan awan, dan kemudian ia terbang turun di atas suatu puncak.

Na Hai Peng turun dari punggung bangau itu dan melihat keadaan di sekitarnya, Ternyata ia berada di dekat goa Pek Yun Siatnya, Bukan main girangnya, karena ia anggap bangau itu telah tunduk dan takluk kepadanya. ia usap-usap bangau itu dengan penuh kasih sayang, Tetapi bangau itu mundur dan berbunyi seakan-akan merasa takut Na Hai Peng lalu melihat ada satu seruling bambu yang panjangnya lebih kurang sepuluh cm dan sebesar jempol tangan tergantung di lehernya bangau itu. ia pegang dan pijat seruling bambu itu, ia tidak pikir bahwa tenaganya sangat dahsyat, dan seruling bambu itu menjadi hancur, selembar kain sutera putih yang dilipat rapi jatuh keluar dari seruling bambu itu, ia pungut kain sutera itu, dan membaca tulisannya yang berbunyi:

"Bangau ini bernama Hian Giok. Dia adalah makhluk yang sakti dan telah berusia seribu tahun lebih, dapat menaklukkan naga. Siapa saja yang dapat menaklukkan-nya, akan menjadi majikannya." Terlihat tanda tangan dari Ti Kian Cin Jin, disertai juga cara menjinakkannya dan memeliharanya bangau itu.

Bukan main girangnya Na Hai Peng, karena dengan dibantu oleh bangau sakti itu, ia seolah-olah dapat terbang pergi kemana saja yang dikehendakinya,

Justru pada saat itu ia berpikir "Semenjak aku berlalu dari istana raja di ibukota sehingga kini sudah sepuluh tahun, Apakah kawan-kawan karibku masih ada? Dengan bangau sakti ini, aku dapat pergi ke sana dengan mudah, Aku dapat menemui kawan-kawan karibku dan juga Cui Tiap, kawan hidupku."

Dengan maksud itu, ia segera menunggangi bangau-nya dan menuju ke ibukota, Bangau sakti itu hanya perlu beristirahat satu kali, dan jarak yang jauh dari pegunungan Koat Cong San sampai ke ibukota di utara dapat ditempuh hanya dalam satu hari satu rnalam!

Karena ia sudah mengerti cara mengendalikannya bangau sakti itu, setelah ia perintahkan turun di dekat tempat tidak jauh dari istana, ia segera suruh bangau itu terbang ke atas, dan ia sendiri berjalan menuju ke istana raja,

Na Hai Peng yang telah tinggal lama di dalam istana telah paham betul seluk beluknya. Meskipun ia telah lama berlatih silat, tetapi ia lakukan segala sesuatu ada dorongan hatinya tanpa pikir, Dengan hati yang tabah ia jalan masuk ke dalam istana.

Tiba-tiba berkelebat dua bayangan, dan ia dibentak: "Siapa yang demikian besar nyalinya berani menerobos masuk ke dalam istana raja pada malam hari ini?" Bentakan itu dibarengi dengan sambitan dua senjata rahasia, yang berkelebatnya terbang menyertai ia.

Dengan cepat sekali Na Hai Peng tangkap senjata rahasia itu dan yang lainnya ia kebut dengan lengan bajunya sambil berteriak: "Siapakah kau yang berani menyambit aku dengan senjata rahasia itu dan yang lainnya? Apakah kau tak takut aku akan menghajar kalian?" Ketika ia masih menjadi orang kesayangan Kaisar Hauw Cong, dan menjadi pengawal peribadinya, Maka ia telah berkata-kata demikian

Dua pengawal keluar menghadapi ia dan menatapnya dengan beringas!

Na Hai Peng lupa bahwa ia telah tinggal memisahkan diri diatas puncak Pek Yun Siat selama sepuluh tahun dan kini pakaiannya sudah compang-camping, Lagipula rambutnya yang panjang beberapa kaki dan kumis serta janggutnya yang berewok telah membikin ia lebih mirip orang hutan daripada manusia,

Seorang pengawal mengejek: "Kakek yang gila ini mungkin mau merasai golokku!" Lalu ia membacok

"Kurang ajari Berani maki aku kakek gila!" bentaknya Na Hai Peng, sambil mengegoskan diri, dan satu jotosan dari tinju kanannya membikin pengawal itu jatuh tertiarap dengan tidak bernyawa!

pengawal yang lain menjadi ketakutan Dengan nekat ia menyerang dengan goloknya, Tetapi Na Hai Peng hanya loncat ke samping, dan tinju kirinya memukul muka lawannya, ia lupa bahwa tinjunya itu keras sekali Pukulan itu telah memukul hancur muka pengawal itu yang hanya menjerit sekali untuk jatuh menjadi mayat!

Na Hai Peng sendiri menjadi terperanjat menyaksikan jotosan-jotosannya yang membawa maut mengambil korban, ia berpikir Ai! Aku telah membunuh mati pengawal istana, apa bila ketahuan, aku akan dianggap seorang pemberontak dan hukumannya tidak akan berakhir jika belum sampai sembilan turunan. "

Banyak pembesar-pembesar tinggi atau menteri-menteri yang telah memberontak mendapat hukuman secara demikian dengan tak menghiraukan tua atau muda, laki atau perempuan justru pada saat ia memikirkan akan akibat dari perbuatannya itu, tiba-tiba ia merasa ada angin menyerang dari belakangnya, ia menoleh dan tampak tiga pengawal yang bertubuh tinggi besar telah mengurung ia dengan golok terhunus,

Pengawal yang di tengah membentak ia dengan mata melotot: "Kedua pengawal ini tentu kau yang bunuh!" tegurnya.

Dengan wajar Na Hai Peng menjawab: "Aku hanya menjotos sembarangan, aku tidak menduga telah memukul mati mereka."

pengawal itu mengawasi Na Hai Peng yang berpakaian compang-camping, rambut dan janggutnya panjang dan terurai-urai, menganggapnya Na Hai Peng seorang yang tidak beres pikiran, ia tidak pereaya jika tanpa senjata, Na Hai Peng dapat membunuh mati rekan-rekannya. ia membentak lagi: "Hei! Kau iblis dari mana berani bicara dengan mulut besar?

Apakah kau tidak tahu di sini tempat apa?"

Dengan tenang Na Hai Peng menjawab: "Aku tahu ini adalah pekarangan di dalam istana raja. "

"Dan apakah kau tidak tahu tidak sembarangan orang boleh masuk ke sini?" bentak si pengawal itu,

"Aku ingin menjumpai kaisar, maka aku datang ke sini." jawab Na Hai Peng,

Si pengawal menjadi gusar, ia lalu menusuk dengan ujung goloknya,

Ketika itu Na Hai Peng telah dapat memahami ilmu Hian Men It Goan Kong Ki. Dengan tanpa bergerak, ia membalas menyerang lawannya, pikirnya si pengawal bahwa dengan tusukannya itu Na Hai Peng akan dapat ditusuk mati, ia tidak duga bahwa ujung goloknya menjadi empuk seperti lilin ketika menyentuh tubuhnya Na Hai Peng, dan tangannya segera menjadi lumpuh, Goloknya segera jatuh dari cekalannya, Kedua pengawal yang lain juga merasa tubuhnya menjadi panas, dan terpaksa mundur dua tindak,

Na Hai Peng tertawa gelak-gelak, ia mengebutkan kedua lengan bajunya, dan kedua pengawal di kedua sampingnya itu terhempas jatuh terlentang dengan jiwa melayang! Dengan sekali loncat Na Hai Peng lari maju, Segera ia dengar ada orang yang mengejarnya pula dan ternyata seorang pengawal kepala,

sebetulnya ia tidak bermaksud membunuh mati siapapun, maka ia berusaha melarikan diri dan keluar dari istana agar ia dapat memanggil bangaunya untuk kembali ke pegunungan Koat Cong San. Dalam pikirannya yang kacau itu, ia telah tidak ingat lagi jalan untuk keluar, dan ia tersesat!

ia berhenti dan mengingat-ingat jalan keluar dalam suasana yang gelap itu, Berkat ilmu Hian Men It Goan Kong Ki yang ia dapat pelajari dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, penglihatan matanya jauh lebih terang di suasana yang gelap" itu, ia dapat lihat di tempat sedikit jauh beberapa bangunan yang bertingkat diantara pohon-pohon cemara, pada sepuluh tahun berselang bangunan-bangunan tersebut belum ada. ia berusaha mengingatkan segala bangunan-bangunan atau benda-benda ketika ia masih menjadi pengawal pribadi Kaisar Hauw Cong, tiba-tiba ia dengar suara bunyinya lonceng kuningan Suara lonceng itu tidak keras, tetapi mendengung lama sekali, segera disertai suara seruling bambu, dan dari jendela-jendela bangunan-bangunan yang bertingkat itu memancar keluar sinar lampu.,.,

ia ingat di masa ia menjadi pengawal istana, Tiap-tiap orang-orang yang telah menerobos masuk ke dalam pasti tak dapat keluar lagi, karena penjagaan yang keras dan jebakan- jebakan yang tersembunyi di tempat-tempat tertentu Tetapi dengan ilmu silatnya yang dapat dikatakan tiada bandingan, ia tidak takut akan tidak bisa keluar

"Aku sudah di sini, meskipun aku tidak dapat menjumpai kawan-kawan karibku, aku harus berusaha mencari Cui Tiap, Bangunan-bangunan yang bertingkat itu mungkin juga tempat kediaman selir-selir raja, dan mungkin juga Cui Tiap berada di salah satu bangunan-bangun-an itu.,." pikirnya.

Baru saja ia hendak melangkahkan kaki menuju ke bangunan bertingkat itu, tiba-tiba ia mendengar orang bicara "Jika kita terus mencari, kita akan terpaksa mencari di ruang yang terlarang, tetapi kita akan dipersalahkan."

Terdengar pula suara jawaban: Tetapi Lauw Kong Kong (Tuan besar Lauw) telah memerintahkan kita mencari dan menangkap orang yang telah menerobos masuk ke sini, kita tidak akan dipersalahkan jika kita berhasil menangkap bangsat itu,.,."

"Rupanya orang-orang itu sedang mencari aku, aku harus bersembunyi" pikir Na Hai Peng, lalu ia lari menuju ke hutan pohon-pohon cemara di depannya,

Tetapi ia tidak menduga bahwa orang-orang yang sedang mencari ia adalah jago-jago silat dari Lauw Kin, kasim (Thaykam = orang kebiri) kesayangan kaisar tetapi sangat kejam dan keji, Suara pakaiannya yang dihembus angin telah menarik perhatiannya orang-orangnya Lauw Kin, Dalam sekejap, tiga senjata tajam menyambar dari belakangnya, sambil membalik tubuh, Na Hai Peng me-ngebut dengan bajunya, dan dua golok segera terlempar jatuh, sedang orang yang ke tiga ia dapat hindarkan untuk terus didorong ke depan sehingga tubuhnya bertumbukan dengan pohon.

Kedua orang yang telah terlepas goloknya segera datang menyerang lagi, dan Na Hai Peng memperhatikan bahwa kedua orang itu, yang satu kurus tinggi, mukanya perok, kedua matanya seperti mata tikus, usianya lebih kurang enam puluh tahun, dan yang lain bertubuh tinggi besar, berusia kira- kira empat puluh tahun, siapa sedang menyerang ia dengan sebuah toya berkepala roda baja yang bergigi setelah goloknya terlepas,

Si kurus mengawasi Na Hai Peng, dan dengan tanpa bicara, tiba-tiba tangan kanannya menyambar mencakar seperti kukunya seekor burung elang, Dan kawannya yang bersenjatakan toya berkepala roda baja bergigi berbareng menyerang dengan menyodokkan senjatanya ke mukanya Na Hai Peng!

Na Hai Peng, yang telah memahami banyak ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, menjadi gembira karena ia memperoleh kesempatan untuk menguji keampuhan jurus- jurusnya, dan ia telah melupakan dosa dicap sebagai pemberontak Sambil tertawa gelak-gelak, tinju kanannya dari bawah memukul ke atas menghajar toya dengan jurus Liong Teng Kauw Tian ke atas atau Naga Melonjak ke udara, sedangkan tangan si kurus yang datang mencakar segera terlihat hasilnya.

Tinju kanannya telah memukul tangan lawan yang memegang toya sehingga senjata itu terpental, dan si kurus yang hendak menarik kembali cakarannya untuk loncat beberapa kaki, ia menjotos punggungnya dan tangan kanannya menolak jalan darah di lengannya si kurus.

Serangan-serangan yang secepat kilat itu tak dapat dihindarkan lagi oleh kedua lawannya yang ilmu silatnnya lihay itu, jotosan di punggung membikin si tubuh besar jatuh tertiarap dan pingsan, sedangkan totokan itu melumpuhkan seluruh tubuhnya si kurus, Lawan yang bertumbukan dengan pohon hanya dapat menjerit satu kali untuk rubuh ke tanah dengan memuntahkan darah dari mulutnya!

Ketika kedua orang itu dapat bangkit, Na Hai Peng sudah pergi entah kemana! Lawan yang bertubuh besar, sambil membersihkan tanah di mukanya berkata kepada kawannya: "Aku yang sudah lama berkecimpung dikalangan Kang-ouw, dan pernah menghadapi banyak lawan yang berat, belum pernah diperlakukan demikian oleh setan ini!"

Si kurus menyahut: "Meskipun istana ini dijaga keras, tetapi aku khawatir lebih banyak korban dibunuh olehnya sebelum dia dapat ditawan!" Na Hai Peng ketika itu sedang bersembunyi di semak- semak pohon bunga dan mengawasi gerak-geriknya mereka,

Ketika ia masih menjadi pengawal istana Kaisar Hauw Cong, ia mengetahui bahwa beberapa pengawal dipersenjatai dengan anak panah yang beracun, Setelah mendengar si kurus mengatakan istana tersebut dijaga keras, ia khawatir diserang dengan anak panah beracun, ia berkata seorang diri: "Dalam suasana yang gelap gulita ini, aku tak dapat segera melihat lawan dengan senjata anak panah beracun, Lebih baik aku bersembunyi di sini sejenak untuk mencari jalan yang aman untuk keluar. "

Sesaat kemudian ia dengar suara kaki orang berlari-lari. Mereka yang sedang mencari ia semuanya adalah jago-jago silat kenamaan, dan suara dari napasnya rupanya telah didengar oleh mereka, Karena ia sedang mengumpulkan tenaga dalamnya dengan sebentar-sebentar menyedot atau menarik napas panjang untuk disembur keluar dengan perlahan-lahan, Ketika ia mengangkat kepala dan melihat di sekitarnya, ia tampak bahwa ia sedang disoroti oleh sinar dari suatu lentera, ia tidak bergerak, karena ia belum selesai mengumpulkan tenaga dalamnya, Tiba-tiba satu golok datang menyambar! Ia tidak menangkis dengan tangannya, ia hanya membuka mulutnya, menangkap golok itu dengan gigitan giginya, ia terkejut ketika ia lihat golok itu mengeluarkan asap biru, itulah golok beracun!

Na Hai Peng segera rasakan kaki tangannya menjadi panas, dan ketika ia melihat ke depan lagi. Satu toya besi dan ujung garu berbareng menyerang ke mukanya, Dengan satu jeritan, ia loncat ke atas ia telah terluput dari sodokan toya besi dan garu tadi! ia jatuh turun ke tanah untuk menjotos punggungnya orang yang menyodok ia dengan garu, dan kaki kanannya menendang kepalanya orang yang menyodok ia dengan toya besi.

Belum lagi kakinya menginjak tanah ketika mendengar suara jeritan-jeritan yang mengerikan Orang yang menyodok dengan garu jatuh tersungkur memuntahkan darah, dan orang yang menyodok dengan toya besi hancur kepalanya, Mereka menjerit kesakitan satu kali, dan mati seketika! Na Hai Peng yang telah menggigit golok beracun, selagi berusaha mengeluarkan racun itu, merasakan bahwa betis kanannya dan lengan kirinya me!umpuh. ia merasa harus menghadapi seorang lawan yang bersenjata toya. Dengan memaksakan diri ia meloncat pula untuk merampas toya lawannya, Satu genta kan yang dibarengi dengan tendangan kaki kiri, lawannya ditendang remuk kepalanya sehingga otaknya berantakan!

Dalam keadaan separuh lumpuh ia masih dapat membunuh lawan-Iawannya dengan mudah dan cepat ia ambil toya dari lawannya dan lari menuju ke bangunan yang bertingkah

Meskipun di sekitarnya masih ada banyak pengawal, akan tetapi sebagian besar telah dibinasakan olehnya, Lagipula orang yang menyoroti ia dengan lentera telah dihajar mati, maka suasana menjadi gelap pula, Untuk sementara waktu, rupanya tidak ada orang yang berani mengejar lagi, sebetulnya mereka sedang siap sedia dengan senjata senjata rahasia yang segera akan dilontarkan nya. kesempatan itu digunakan olehnya untuk lari menuju ke bangunan yang bertingkat

Sejenak kemudian, karena suasana sunyi senyap, para pengawal mulai keluar dari tempat sembunyinya masing- masing untuk mencari lagi, atau mengangkat mayat - mayat kawan nya.

Na Hai Peng yang berlari-lari tiba-tiba merasa betis kirinya menjadi lemas, dan ia jatuh. Betis kanan dan lengan kirinya memang sudah menjadi lumpuh, Ketika itu ia baru memikir melarikan diri keluar dari pekarangan istana, Tetapi terlambat, karena ia tak dapat berbuat menurut kehendaknya dengan hanya satu lengan kanannya, ia menghela napas,

ia mendongak, dan melihat sekelompok pohon-pohon bambu mengelilingi satu bangunan yang bertingkah dan sinar lampu membikin tempat di sekitarnya menjadi terang, ia berpikir "Bangauku sangat cerdik dan cerdas, Mengapa aku tidak mau memanggilnya agar dia dapat membawa aku keluar dari sini?" pikirnya.

Lalu ia berusaha bersiul memanggil bangaunya, tetapi ia tak dapat lakukan itu, karena beberapa jalan-jalan darahnya telah tersumbat akibat racun golok, Dalam keadaan putus asa, ia keluarkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dari kantong bajunya, dan berkata seorang diri: "Kali ini rupanya aku tak dapat keluar dari sini, dan mungkin aku binasa, Kitab-kitab sakti ini akan dirampas oleh orang lain, lebih baik aku memusnahkannya!" ia berhenti sejenak dan menghela napas, Tetapi jika kitab-kitab sakti ini aku musnahkan, maka ilmu-ilmu silat yang disusun oleh Ti Kian Cin Jin dan San Im Shi Ni dengan jerih payah akan menjadi sia-sia belaka"

Demikianlah ia menjadi mundur maju tidak dapat mengambil ketetapan tentang memusnahkan kitab-kitab.

Sambil memegangi kitab-kitab itu, ia mengucurkan air mata Segera terdengar berlari-larinya suara kaki orang, ia yakin

bahwa para pengawal istana berusaha mengejar atau mencari

ia lagi, ia masukkan kembali kitab-kitab itu ke dalam kantong bajunya, dan berdaya mencapai bangunan bertingkat di depannya, Setelah ia tiba di bawah satu jendela dari bangunan itu, dengan sekali enjot, ia berhasil melonjak masuk ke dalam satu kamar, dan bersembunyi di kolong sebuah meja, Di luar terdengar suara melewatnya orang yang berlari- lari.

Ia bersembunyi di kolong meja itu dengan maksud mengambil keputusan apa yang ia harus perbuat dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Ceknya, Tetapi ketika ia keluarkan kitab-kitab itu, ia kebetulan membuka halaman yang menuturkan cara menyembuhkan luka-luka.

Penglihatannya yang tajam, dibantu dengan cahaya lampu di dalam kamar itu, memudahkan ia membaca dengan jelas, Dengan girang ia membaca halaman itu. Tiba-tiba ia dengar suara orang yang berseru di luar kamar: "Ban Swee (kaisar) telah datang!" Na Hai Peng terkejut. ia masukkan lagi kitab-kitabnya ke dalam kantong dan pindah bersembunyi di balik lemari buku, Baru saja ia bersembunyi, segera pintu kamar dibuka orang dan dua kasim (orang kebiri) memimpin masuk seorang muda dengan pakaian sutera tersulam dengan naga emas, memakai topi biasa, dan berusia lebih kurang dua puluh tahun, Di belakang pemuda itu mengikuti seorang kasim yang berjubah biru, wajahnya putih bersih,

Terdengar pemuda itu berkata sambil tertawa: "Gadis- gadis yang baru di kamar "Macan Tutul" semuanya cantik manis, akan tetapi mereka semuanya tolol, dan tak bisa menawan hati."

Kasim yang berjubah biru berkata sambil membungkukkan tubuh: "Hamba telah menyuruh orang mencari gadis-gadis yang cantik jelita, dan dalam beberapa hari lagi, gadis-gadis itu Ban Swee dapat nikmati."

Tetapi diantara gadis-gadis di kamar Macan Tutul, gadis yang bernama Cui Tiap itu betul-betul cantik, Hanya dia sangat dingin terhadap aku. Kini ia menjadi tak karuan, karena ia tak memperhatikan bersolek dan berdandan untuk memperindah dirinya, Mengapa dia itu?" tanya si pemuda,

Lalu terdengar suara tindakan kaki di luar, dan ketika pintu terbuka, Na Hai Peng dapat melihat dari tempat sembunyinya, dua selir istana sedang menggiring satu selir yang berpakaian hijau, ia terkejut menampak selir itu, karena selir itu adalah Cui Tiap selir yang diberikan kepadanya untuk kawan hidupnya oleh Kaisar Hauw Cong almarhum.

Terlihat olehnya Cui Tiap berlutut di hadapan pemuda itu sambil berseru: "Hamba Cui Tiap datang di hadapan Ban Swee." Si pemuda membentak: "Aku ini adalah seorang raja!

Mustahil aku lebih rendah daripada seorang pengawal istana? Jika kau tidak menuruti kehendakku, kau jangan menyesal menderita hukuman!"

Dengan sedih Cui Tiap berkata: "Junjungan almarhum telah serahkan hamba kepada pengawal istana bernama Na Hai Peng, dan hambat telah tinggal sebagai suami istri dengan dia. Tubuh hamba yang hina ini tentu tak pantas bagi Ban Swee lagi."

Si pemuda makin menjadi gusar, dan ia membentak dengan suara lebih keras: "Aku adalah kaisar dari satu negeri besar, siapakah yang berani menentang kehendakku

Dengan mengucurkan air mata dan suara yang memilukan hati, Cui Tiap menjawab: "Hamba telah menuruti perintah kaisar almarhum dan menyerahkan jiwa dan raga kepada pengawal istana Na Hai Peng, Hamba tak pantas menyerahkan tubuh yang telah noda kepada Ban Swee,.,."

Si pemuda atau kaisar Bu Cong, karena mengingat ayahnya, Hauw Cong, segera menjadi reda. ia berkata sambil tersenyum: "Gadis-gadis di dalam kamar Macan Tutul semuanya lebih cantik dari padamu, mereka berebut menjadi pilihanku!"

Kasim yang berjubah biru berkata: "Ban Swee tak usah dengar selir yang rendah ini. Urusan ini serahkan saja kepada hamba, Hamba jamin dia akan tunduk dan menuruti kehendak Ban Swee setelah aku beri hajaran di dalam tiga hari."

Kaisar Bu Cong mengangguk dan berkata: "Baiklah, Tetapi kau jangan terlampau bengis terhadapnya!" Lalu ia pun keluar dari kamar itu.

Setelah Kasim berjubah biru mengantar kaisar keluar dari kamar, ia kembali lagi dan memaki: "Hei! Cui Tiap! Kau betul- betul berkepala batu, dan berani menolak Ban Swee,.,." Lalu ia suruh satu kasim mengambil cambuk, Kasim itu lekas-lekas keluar mengambil cambuk, Setelah menerima cambuk, kasim berjubah biru memerintahkan dua selir menyumbat mulutnya Cui Tiap dengan sapu tangan, lalu ia mencambuknya, sehingga kulit yang putih halus itu luka- luka dan mengeluarkan darah, Kasihan Cui Tiap, seluruh tubuhnya terluka dan bermandikan darah, pakaiannya pecah robek dengan penuh noda darah.

Sungguh kejam perbuatannya kasim itu.

Na Hai Peng yang bersembunyi di balik lemari buku, dan menyaksikan penderitaannya wanita yang telah berkorban untuk ia itu, menjadi murka, tetapi baru saja ia. ingin bangkit dan menerkam kasim yang kejam itu, tiba-tiba ia merasa darah meluap di dadanya, Segera kedua matanya pudar dan ia jatuh pingsan....

Ketika si kakek bereerita sampai di sini, gadis berbaju sutera biru menjerit, dan dengan kedua mata berlinang, ia berkata: itulah ibuku, Ketika itu aku tak pandai ilmu silat Bagaimanakah dia dapat tahan siksaan itu. "

Lie Ceng Loan mengusap-usap rambutnya gadis itu lalu menghibur "Kasim berjubah biru itu betul-betul kejam, Nanti jika aku ketemukan dia, aku akan hajar dia sampai mampus!"

Pek Yun Hui juga mengucurkan air maka mendengar siksaan yang diderita oleh Cui Tiap, ia palingkan mukanya ke lain jurusan, mengenangkan peristiwa-peristiwa yang lampau.

Si kakek meneruskan kisahnya: "Karena aku telah menderita luka-luka parah, dan ketika melihat Cui Tiap disiksa, aku telah lupa akan luka-lukaku, dan ingin menolong sehingga aku jatuh pingsan, Ketika aku siuman kasim yang kejam itu telah berhenti mencambuki Cui Tiap, Aku mula-mula sangat cemas, karena aku khawatir Cui Tiap telah binasa, Aku mengawasi dari tempat persembunyianku dan menyaksikan seorang gadis kecil dengan dua kuncir dan mengenakan pakaian kuning memeluki tubuhnya Cui Tiap melindunginya, Kasim yang berjubah biru itu tidak berani mencambuki lagi, karena khawatir melukakan gadis kecil itu, Aku yakin bahwa gadis kecil itu adalah puterinya kaisar dari seorang selirnya.

Si gadis baju biru bersemi "Gadis kecil itu betul-betul baik, Kelak kemudian hari jika aku menjumpai dia, aku tentu menghaturkan terima kasihku karena dia telah menolong ibuku!"

Na Hai Peng (si kakek) berkata: Tiap Ji, gadis kecil itu adalah Lan Tai Kong Cu, dan dia sekarang berada di sampingmu!"

Si gadis baju biru mengawasi Pek Yun Hui dan berkata dengan khidmat: "Tadi ketika aku pertama kali melihat Cici, aku merasa seperti juga aku pernah melihatnya entah dimana, Setelah aku buka kain sutera putih, aku segera ingat bahwa ibuku di masa hidupnya sering-sering membuka kain sutera putih ini dan bersembahyang. ibuku selalu memesan kepadaku bahwa jika aku menjumpai gadis kecil yang terlukis di atas kain sutera putih ini, aku harus mendengar perintahnya, Cici... oh, Kong Cu, maaf, Terimalah salam hormatku ini." Lalu ia berlutut di hadapan Pek Yun Hui,

Pek Yun Hui lekas-lekas mengangkat bangun dan berkata: "Lan Tai Kong Cu sudah tak ada di dunia ini. yang ada ialah Pek Yun Hui, Dan kau boleh panggil aku Pek Cici. "

Tiba-tiba terdengar suara batuknya Na Hai Peng, yang segera meneruskan kisahnya:

"Setelah melihat Cui Tiap yang disiksa dan kemudian ditolong oleh Lan Tai Kong Cu, aku berhasrat ingin hidup untuk menolong Cui Tiap keluar dari istana yang baginya seperti juga neraka, Aku segera mengerahkan tenaga dalamku, dan dengan menurut petunjuk-petunjuk yang tertera di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek aku berusaha menyembuhkan luka-Iuka dan memulihkan tenaga dalamku, Untung bagiku mereka tidak ketahui aku bersembunyi di balik lemari buku di dalam kamar itu selama hampir tiga jam Pek Yun Hui memotong pembicaraannya dan menanyai "Setelah Suhu berhasil menyembuhkan luka-luka, Suhu segera pergi menolong Cui Tiap, betul tidak?"

Na Hai Peng mengangguk dan menjawab: "Betul! Dengan petunjuk-petunjuk yang tertulis di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, aku berhasil menyembuhkan iuka-lukaku dan tenagaku juga telah pulih kembali, Ketika itu kaisar Bu Cong dan Lan Tai Kong Cu masih di dalam kamar, dan aku terpaksa bersabar. "

"Betul, aku masih ingat, Setelah ayahku pergi, suhu loncat keluar dari tempat sembunyi, sehingga aku menjadi kaget setengah mati!" kata Pek Yun Hui.

"Kau bukannya kaget setengah mati." Na Hai Peng melanjutkan penuturannya, "Aku telah menotok jalan darahmu sehingga kau jatuh pingsan, karena aku khawatir dengan wajahku yang mirip seorang hutan, kau akan ketakutan melihatnya, Ketika itu Cui Tiap juga telah ketakutan melihat aku. Kemudian aku menjelaskan kepadanya siapa aku sebenarnya."

-ooo0ooo-

Dengan tekun berlatih ilmu silat

Na Hai Peng berhenti sejenak, ia tersenyum seolah-olah mengenangkan peristiwa yang menggiurkan hatinya, Lalu ia melanjutkan:

"Cui Tiap masih tetap mencintai aku. Dengan tak menghiraukan luka-lukanya, dia mendesak agar aku membawa dia keluar dari istana segera! Diapun memaksa aku membawa Kong Cu juga, Cui Tiap mengatakan bahwa semenjak ibu kandungmu meninggal dunia, dia yang memelihara kau, yang ia telah anggap sebagai anak kandungnya, Kaisar Bu Cong yang selalu pereaya Lauw Kin, kasim yang kejam dan keji itu, hanya tahu pelesir dan tidak mengurus negerinya dengan seksama. Segala urusan ia serahkan kepada Lauw Kin. setelah khawatir bahwa kau akan ditelantarkan oleh kaisar, dan mungkin juga dianiaya oleh Lauw Kin, maka dia mendesak membawa kau juga, Demikianlah aku bersembunyi di dalam kamar tersebut selama dua hari untuk menyembuhkan luka- lukaku dan luka-lukanya Cui Tiap sebelumnya aku membawa Cui Tiap dan kau lari di malam ke tiga, Lalu dengan menunggangi bangau, kita pergi ke pegunungan Koat Cong San dan tiba di Pek Yun Siat. "

ia berhenti dan menundukkan kepalanya, terlihat air matanya mengucur....

Gadis yang berpakaian sutera biru mendesak: "Kisah seterusnya bagaimana ?

Na Hai Peng, si kakek, seperti juga baru sadar dari tidurnya, meneruskan "Setelah Cui Tiap tiba di sini, dia hidup dengan bahagia, Tiap-tiap hari ia sibuk mengurus santapan, pakaian dan tempat tinggal kami. Karena aku khawatir dia hidup kesepian, akupun telah menangkap burung-burung, kelinci-kelinci dan menjangan untuk dia. pada suatu malam di waktu terang bulan aku ajak Cui Tiap dan Lan Tai Kong Cu naik ke satu puncak yang tinggi untuk menikmati malam terang bulan itu, pemandangan alam sangat indahnya. Tetapi sedikitpun aku tak dapat menikmatinya, karena pikiranku sedang kusut.

Si gadis berpakaian biru menanyai "Ayah dan ibu sangat cinta mencintai tetapi mengapa ibu bisa meninggalkan kau?"

Na Hai Peng menghela napas, lalu menjawab: "lni karena ayahmu yang tolol, yang tidak mengerti isi hati ibumu, Ai!

Semua kejadian ini karena kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan aku telah membikin ibumu marah

Gadis yang berpakaian sutera biru mendesak: "Kisah seterusnya bagaimana? sehingga ia meninggalkan aku!"

"Aku agak masih ingat, ketika Cui Tiap berlalu dari Pek Yun Siat, dengan air mata bereucuran ia pergi tanpa memesan apa-apa kepadaku Aku kira ia akan kembali pula, Tetapi ia telah pergi untuk tidak kembali!" kata Pek Yun Hui.

Na Hai Peng meneruskan kisah nya: "Malam itu ketika kita sedang menikmati terangnya bulan yang indah permai, Cui Tiap pun sangat gembira, Tetapi setelah kita kembali ke goa, tiba-tiba ia menjadi muram. Setelah aku mendesak apa sebab nya, ia memberitahukan bahwa Kim kesayangannya ia lupa bawa, masih ketinggalan di dalam istana, Lalu malam itu juga aku pergi ke utara dan masuk lagi ke dalam pekarangan istana di waktu malam hari.

Setelah aku berhasil mendapati Kim itu, aku segera kembali Pikirku aku akan dapat membikin ibumu senang, tetapi bahkan sebaliknya, ibumu telah memaki-maki aku. Dia kata aku tidak harus datang kembali ke istana dan membikin dia sangat khawatir sampai empat hari empat malam karena memikiri keselamatanku Aku pun menyesal akan perbuatanku yang sembrono itu, Tetapi pikirku bahwa hati wanita betuI- betul sukar diduga, Dengan susah payah dan menghadapi bahaya aku ambil alat musiknya, tetapi aku dimaki!

Seterusnya, ibumu sering-sering mainkan Kim itu, dan menyanyi menghibur aku, hidup dengan bahagia sekali, Beberapa bulan telah berselang dan ibumu pun telah mengandung,

Sebetulnya, menurut lazimnya aku harus bergembira. Tetapi aku yang berhati ilmu silat merasa bahwa beberapa jurus ilmu silat, yang tertera di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, aku tak dapat lakukan karena aku telah kehilangan tenaga laki-Iakiku. Aku yang tolol ini, dan yang tergila-gila akan ilmu silat, mulai membenci ibumu, Aku mulai menjauhkan diri dari ibumu, Aku tutup kamarku dengan satu batu besar agar ibumu tidak dapat mendekati aku, Berkali-kali ibumu mohon menjumpai aku, tetapi aku tidak menggubrisnya,

Berbulan-bulan aku tidak bicara terhadapnya atau melihat dia, Paling akhir dia mengatakan bahwa dia mengandung, dan kelak akan melahirkan, tetapi aku masih juga tidak menghiraukannya. jika aku pikir sekarang, aku tak dapat mempersalahkan ibumu mengapa dia sangat membenci aku. pada suatu hari aku keluar dari kamarku yang berlatih

silat, dan aku telah lupa menutup kamar itu dengan batu, Cui Tiap telah masuk ke dalam kamarku, dan membawa pergi kitab-kitab Kui Goan Pit Cekku, dengan meninggalkan Lan Tai Kong Cu di dalam kamar Bangauku pun tidak kelihatan Mula- mula aku kira dia akan kembali, Tetapi aku menunggu satu malam, dia tidak kembali, Aku menjadi gelisah, aku khawatir dia menjumpai bahaya, Lagi-pula Lan Tai Kong Cu menangis terus menerus menanyakan bila bibi Cui Tiap kembali."

Perlu dituturkan di sini bahwa semenjak kaisar Hauw Cong memberikan Cui Tiap kepada Nai Hai Peng untuk kawan hidupnya, dan mereka telah tinggal bersama-sama selama setahun lebih, akan tetapi selama itu mereka belum pernah menunaikan apa yang dinamakan "suami-istri", dan Cui Tiap yang masih hijau juga bersikap malu-malu tentang soal suami istri, Setelah Nai Hai Peng memperoleh peta Cong Cui To, ia telah kabur dari istana dengan tak memberitahukan siapapun untuk mencari kitab-kitab, ia telah pergi sepuluh tahun dan tidak kembali, Tetapi Cui Tiap tetap mencintai padanya, dan senantiasa menjaga, "kegadisannya..

Kemudian, setelah kaisar Hauw Cong wafat, kaisar Bu Cong ganti bertahta, Kaisar Bu Cong yang hanya tahu pelesir telah serahkan urusan negeri kepada seorang kasim yang khianat dan keji bernama Lauw Kin. Sebuah bangunan yang bertingkat telah dibikin untuk menyimpan selir-selir agar kaisar Bu Cong dapat melampiaskan napsu birahinya, Betul Cui Tiap seorang gadis yang cantik, tetapi setelah Nai Hai Peng pergi, ia lupa (atau tidak mau) bersolek atau merawat diri sehingga ia luput dari perhatiannya Bu Cong.

Untuk melewatkan waktu Cui Tiap senantiasa diam disuatu pundi di taman bunga, dan pundi itu adalah hadiah kaisar Hauw Cong almarhum kepada Nai Hai Peng. Kaisar Bu Cong yang muda dan tak berpengalaman telah dapat dipermainkan oleh Lauw Kin, yang bersama-sama kasim-kasim lainnya (bernama Bee Eng Seng, Ku Tai Yong, Gui Pin,Thio Yun, Koe Kit, Ko Hong, dan Lo: Siong terkenal sebagai delapan harimau) berusaha mencari gadis-gadis cantik untuk membikin Bu Congbuta matanya terhadap pemerintahan.

Ketika itu Cui Tiap mempunyai seorang kawan karib bernama Gipk Tai. Giok Tai memang eantik, maka ia sangat disayang oleh Bu Cong. Tetapi setelah Tnenjadi istrinya (gundiknya), selama beberapa bulan, ia ditelan-tarkan setelah mengandung enam bulan, Ketika ia melahirkan Bu Cong telah datang untuk melihat Tetapi Bu Cong menjadi kecewa ketika mengetahui bahwa bayi yang dilahirkan itu hanya bayi perempuan, dan bayi itu hanya diberi gelar Lan Tai Kong Cu. sedangkan ibunya lalu ditelantarkan. Giok Tai yang ditelantarkan itu, menjadi memelas, dan meninggal dunia dengan meninggalkan bayi yang baru berusia hampir satu bulan, Pada waktu hendak menutup mata, ia telah minta Cui Tiap merawat bayinya, dan telah diserahkan semua barang- barang beu harganya (hadiah dari kaisar Bu Cong) kepada Cui Tiap.

Demikianlah, Cui Tiap yang kehilangan suami, dapat melupakan sedikit akan kesedihan hatinya, dan menghibur diri dengan merawat Lan Tai Kong Cu.

Kaisar Bu Cong baru ingin melihat lagi Giok Taj setelah lewat dua tahun, Tetapi ia datang hanya dapat melihat Lan Tai Kong Cu didampingi Cui Tiap, Bu Cong tertarik oleh Cui Tiap. Tetapi Cui Tiap menolak dengan mengatakan bahwa tubuhnya s^dah noda. Berkali-kali Bu Cong ingin memperkosa ia, tetapi selalu dirintangi oleh Lan Tai Kong Cu yang menangis keras-keras jika Cui Tiap diganggu, sehingga Bu Cong yang masih mempunyai perasaan kasih sayang terhadap darah dagingnya, tak dapat berbuat apa-apa. Paling akhir, sebagaimana telah diceritakan Cui Tiap dicambuk oleh Lauw Kin, ,dan jika tidak ditolong oleh Lan Tai Kong Cu, mungkin juga sudah tewas oleh siksaan tersebut.

Menutur sampai djsini. Nai Hai Peng memukul dadanya dan berseru: "Na Haj Peng! Na Hai Peng! Karena aku, Cui Tiap telah menderita!"

Pek Yun Hui berkata "Jika ayahku masih ada, aku akan membujuk dia. jika Lauw Kin masih ada, aku tentu akan bunuh dia mati!"

Si gadis berbaju sutera biru menanya "Ayah mengapa tidak mencari ibu setelah dia pergi?"

Na Hai Peng meneruskan: "Aku sedang mengajarkan ilmu silat kepada Long Tai Kong Cu, aku tidak dapat pergi untuk mencari ibumu, Setelah Long Tai Kong Cu mahir ilmu silat, delapan tahun telah berlalu. Barulah pada waktu aku berkesempatan pergi untuk mencari Cui Tiap. Aku bersumpah bahwa aku tidak akan kembali ke puncak Pek Yun Siat jika aku tidak dapat cari Cui Tiap, dan rela mati diluar jika tidak menjumpai padanya, Tetapi ketika aku tunggangi bangau dan berlalu dari puncak Pek Yun Siat, aku segera ingat kepada Long Tai Kong Cu yang baru berusia tiga belas tahun, Bagaimanakah aku sampai hati meninggalkan dia seorang di atas puncak yang terpencil ini?

Aku menjadi gelisah lagi, Aku kembali untuk memikirkan jalan pemecahan yang terbaik, karena jika aku tinggalkan Long Tai Kong Cu sendirian, ibumu juga tak akan setuju, Setelah aku berpikir semalaman, aku dapatkan jalan pemecahannya. Aku segera pergi ke ibukota, Di istana aku menangkap seorang pengawal yang ilmu silatnya tinggi sekali, dan juga telah culik seorang selir yang termuda dari istana itu, Aku paksa kedua orang itu menjadi suami istri dan turut aku pergi ke puncak Pek Yun Siat.

Di Pek Yun Siat, aku menceritakan riwayat dari Long Tai Kong Cu, dan membujuk mereka bersumpah bahwa mereka akan terus tinggal di puncak Pek Yun melayani Long Tai Kong Cu yang akan mengajarkan mereka ilmu silatnya, tetapi juga jujur dan setia, Setelah aku merasa pasti bahwa mereka akan setia melayani Long Tai Kong Cu, aku baru merasa hatiku tenteram meninggalkannya untuk mencari Cui Tiap, Mula- mula aku ingin menunggangi bangau, tetapi aku ingat akan penderitaannya Cui Tiap karena aku, akupun rela menderita pula, Aku tinggalkan mereka bersama bangau di puncak Pek Yun Siat, dan berangkat mencari istri ku.

Aku telah berkelana ke utara, ke selatan, ke barat, maupun ke timur, mengunjungi banyak kota-kota, desa-desa, kuil-kuil, dan paling akhir aku tiba di lembah Pek Hua Kok di pegunungan Bing Soa..." ia berhenti dan melirik ke arah gadis yang berpakaian baju biru, "Ketika itu, kau baru berusia tiga belas atau empat belas tahun, dan kau sedang mengejar

kupu-kupu bersama empat gadis kecil lainnya, Karena wajahmu mirip sekali dengan ibumu, menampak kau itu, aku menjadi curiga, Aku mengetahui bahwa ibumu sangat membenci aku, jika aku terang-terangan minta bertemu padanya, dia pasti tidak sudi menemui aku.

Oleh karena itu, aku hanya bersembunyi dan menunggu sampai kau pulang untuk aku mengikutinya, Dengan demikian, aku mungkin dapat mengetahui tempat tinggal ibumu, Aku bermaksud masuk ke rumah ibumu dengan mendadak sehingga ia tak dapat mengelakkan aku lagi, jika betul- betul aku akan menemui Cui Tiap, aku akan berlutut dihadapannya dan minta ia memaafkan aku, Jika orang itu bukan ibumu, aku akan segera berlalu, Tetapi, siapa sangka, dengan tindakanku yang demikian itu, aku telah menjerumuskan dia masuk ke lubang kubur.,."

Pek Yun Hui bertanya: "Mungkin bibi Cui Tiap sedang berlatih silat Tetapi mengapa dengan ilmu-ilmu yang Suhu telah pelajari, Suhu tak berhasil menolong dia?"

Na Hai Peng menghela napas dan meneruskan: "Ilmu-ilmu yang tereatat didalam kitab-kitab Kui Goan Pi Cek itu sangat banyak, ilmu silat yang sedang diyakini oleh Cui Tiap adalah ilmu Toa Pan Yo Hian Kong (llmu Silat Ajaib), ialah gabungan dari ilmu silat Hian Men It Goan Kong Ki (Tenaga Dalam Dahsyat yang melumpuhkan Lawan) dari Tian Ko Cin Jin dan ilmu silat Pan Yo San Kong (Tenaga Luar Ajaib yang menggempur dan mengegoskan serangan-serangan dahsyat) dari San Im Shin Ni. ilmu silat ini jika sudah dipelajari sampai mahir, maka tiada seorang lawan yang dapat luput dari kebinasaan

Mungkin juga Cui Tiap telah mengetahui bahwa tanpa ilmu silat Toa Pan To Hian Kong itu, dia tak dapat menaklukkan aku, Tetapi dia pelajari ilmu itu tanpa dasar-dasar yang kuat, dia belum mahir mengendalikan peredaran darahnya atau menahan hawa dalamnya. Ketika aku menerobos masuk kedalam rumahnya, dan melihat padanya, justru ia sedang berlatih ilmu iba Pan Yo Hitfn itu. Aku yang telah pengeni dia selama sepuluh tahun lebih, dan berkelana mencarinya lima tahun lebih, alangkah girangnya menjumpai dia. Dengan kegirangan seperti orang yang dapatkan kembali mustika yang hilang, aku tubruk dan rangkul padanya sambil memanggil nama-nya!

Tetapi aku tidak duga bahwa perbuatanku itu telah membahayakan jiwanya, ia buka kedua matanya lebar-lebar dan segera memuntahkan dari mulutnya, Dia jatuh pingson, Kejadian itu membuat aku terpaku, dan untuk beberapa saat aku merangkul dia seperti satu patung! Lalu dengan semua kepandaianku aku berusaha menolong dia. Tetapi setelah setengah jam dia belum juga sadar Aku menjadi gelisah sekali, tiba-tiba dia buka matanya dan setelah melihat aku, dia memaki: "Hm! Kau takut aku menjadi mahir berlatih Toa Pan To Hian Kong, dari kau tak akan menjadi jago silat nomor wahid dikolong langit... maka kau berusaha mencari aku.,." Lalu dia jatuh pingsan lagi.

kemudian dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek di sampingku, aku berusaha menyembuhkan menurut pe-tunjuk- petunjuk yang tereatat di dalam kitab-kitab itu. Dan pada halaman terakhir aku membaca: Bila orang gagal atau diganggu diwaktu melatih ilmu Toa Pan Ya Hian Kong, maka orang itu akan jatuh pingsan karena jalart-jalan darahnya dan urat-urat sarafnya akan menjadi kaku, Orang itu akan tewas setelah satu tahun, Untuk menolongnya hanya ada satu jalan, Orartg itu harus makan Leng Tan (pil mujijat) di dalam tubuhnya Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti), dan binatang ini berada di pegunungan Ngo Bi San,., dan seterusnya tidak ada tulisan lagi,

Mungkin juga Tian Ki Cin Jin dan San Im Shin Ni Pada ketika itu sudah tak tahan menulisnya lagi Dalam keadaan putus asa dan sedih hati itu, aku ingin memusnahkan kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu, tetapi aku sayangi jerih payahnya Tian Ki Cin Jin dan San Im Shin Ni yang menyusun kitab-kitab itu, sebetulnya aku ingin berdiam di situ untuk menjelaskan sesuatu ke-padanya, dan kemudian pergi mencari Ban Lian Hwe Kwi, Tetapi ketika aku ingat dia sangat membenci kepadaku aku khawatir dia akan menolak pertolonganku

Maka aku taruh kembali kitab-kitab sakti itu dan berlalu dari tempat kediamannya untuk menuju ke pegunungan Ngo Bi San mencari Ban Lian Hwe Kwi, pegunungan Ngo Bi San sangat luas dan banyak sekali puncak-puncak dan lembah- lembahnya. Setelah aku mencari selama setengah tahun, aku masih juga seperti orang mencari jarum di dasar laut yang luas.,.,

Aku sangat khawatir keadaannya Cui Tiap, yang mungkin bertambah hebat selama waktu satu tahun itu, Maka aku kembali lagi ke lembah Pek Hua Kok di pegunungan Bin Soa. Aku tak berani langsung pergi menemuinya, aku hanya bersembunyi di dekat tempat kediamannya, Tetapi, setelah aku mengintainya sehari dan semalam aku tak tampak dia.

Keesokan harinya aku menerobos masuk, ternyata tempat itu sudah kosong- Apakah dia telah meninggal dunia atau pindah kelain tempat?"

Gadis berbaju biru berkata: "Kami telah pindah ke hutan di belakang lembah Pek Hua Kok. ibu mengatakan bahwa orang yang dia sangat benci telah ketahui tempat kediamannya, dan untuk menghindarkan gangguannya, kami harus pindah, ibu melarang aku keluar dari hutan, Aku tidak menduganya bahwa orang yang ibu sangat benci itu adalah ayahku sendiri"

Na Hai Peng menghela napas dan melanjutkan kisah-nya: "Aku menjadi nekat, dan ingin membunuh diri Tetapi setelah melihat beberapa barang di dalam rumah itu, aku yakin bahwa Cui Tiap hanya berpindah tempat Lalu aku pergi lagi ke pegunungan Ngo Bi San untuk mencari Ban Lian Hwe Kwi Tetapi setelah setengah tahun aku mencarinya, masih juga aku tak berhasil dapatkan kura sakti itu, Aku tidak menduga bahwa aku akan gagal mencarinya dalam jangka waktu satu tahun!"

Gadis berbaju sutera biru berkata sambil menangisi "Waktu ibu meninggal dunia, dia memesan nya, jika aku sudah besar, aku harus segera bunuh laki-laki yang aku cintai, dan menganjurkan agar aku rajin berlatih ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan setelah dapat menghafalkan semua, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu harus dibakar musnah, Lalu ia pesan aku pergi ke Koat Cong San mencari ayah untuk dibinasakan Oh, ibu! Mengapa kau suruh aku membunuh mati ayahku sendiri?" Lalu ia bangun dan bermondar-mandir seolah-olah hendak menenangkan kegelisahan nya.

Pek Yun Hui menghampiri dan menghiburnya. Ke-tika itu Na Hai Peng sedang memejamkan kedua matanya melakukan penyembuhan luka-luka di dalam tubuhnya, dan ia tak memperhatikan gerak gerik puterinya,

Lie Ceng Loan yang belum pernah mendengarkan kisah yang memilukan hati itu tak tahan mengucurkan air matanya,

Si gadis berteriak-teriak: "lbu! Ibu! Aku tak dapat membunuh ayahku! Akupun tak dapat melupakan pesan ibu! Aku harus berbuat apa sekarang?" lalu ia mengeluarkan pisau belati hendak tancapkan ke dadanya sendiri

Pek Yun Hui yang mendampinginya selalu memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Maka ketika gadis itu hendak menancapkan pisau belati ke atas dadanya, Pek Yun Hui secepat kilat segera merampasnya sambil membentak "Lepaskan pisau itu!"

Si gadis lalu mengawasi Pek Yun Hui dan berkata dengan suara sedih.: "lbuku juga pesan bahwa aku harus mendengar dan turut perintahmu!"

Pek Yun Hui mengusap-usap rambutnya gadis itu dan sambil mengawasi ia berkata, dengan suara yang sabar: "Bibi Cui Tiap adalah seperti ibu kandungku sendiri, karena dialah yang memelihara aku. Suhu telah banyak mempersakiti bibi Cui Tiap, akan tetapi Suhu telah insaf akan kekeliruannya, dan telah disiksa oleh penyesalannya selama sepuluh tahun lebih, jika bibi Cui Tiap tidak mati, aku yakin sekarang dia tentu akan mau tinggal bersama-sama Suhu dengan hidup bahagia di puncak Pek Yun Siat itu.

Gadis itu setelah dibikin insaf lalu mencari ayahnya, ia berseru: "Kemana ayah pergi? Ayah menderita luka parah!"

Na Hai Peng yang mendapat luka parah telah berhasil bertahan dengan ilmunya yang tinggi itu. ia telah berlalu tanpa diketahui oleh siapapun!

Pek Yun Hui menjadi gelisah, karena ia datang mencari gurunya terutama untuk menolong Bee Kun Bu. Lalu ia berlari- lari menuju ke jurang di depannya sambil memanggil-manggil: "Suhu! Suhu."

Tidak ada suara jawaban, hanya bangau putih yang segera terbang turun menghampiri ia. ia berpikir: "Lie Ceng Loan sangat polos, dia tak dapat mengurut urusan besar. Dan puteri dari Suhu yang telah tinggal lama di lembah Pek Hua Kok tidak mempunyai pengalaman Sam Sou Lo Shi (Pang Siu Wie) dengan pengalamannya aku masih belum dapat mempereayai nya. jika aku tidak bertindak maka bahaya- bahaya yang mengancam tak dapat dihindarkan, dan Bee Kun Bu tak dapat ditolong..." Maka ia lalu turun kembali dan menghampiri gadis itu dan berkata: "Suhu memiliki ilmu sakti. Meskipun dia menderita luka parah, dia dapat menolong dirinya, Aku yakin Suhu pergi untuk beristirahat dan memulihkan tenaganya, Bibi Cui Tiap mempunyai hanya seorang anak dan kau harus hidup untuk berbuat sesuatu sebagai jasa yang dapat menyenangkan padanya. Moi-moi, siapakah namamu?"

Si gadis berbaju sutera biru menyeka air matanya, dan menjawab: "Aku bernama Siao Tiap, Kong Cu dari turunan ningrat, tidak harus panggil aku Moi-moi (adik)."

"Janganlah kau berkata demikian," kata Pek Yun Hui, "Aku dipelihara oleh bibi Cui Tiap yang aku pandang seperti ibu kandungku Maka sangat pantas jika kau menjadi adikku, bukan? Loan Tai Kong Cu sudah tidak ada di dunia ini. Yang ada hanya Pek Yun Hui, Cicimu!"

Na Siao Tiap agaknya masih bimbang dan ragu-ragu, tetapi Pek Yun Hui tarik tangannya, dan mereka menghampiri Bee Kun Bu, Pek Yun Hui meraba dadanya, lalu mengerutkan kening dan kedua matanya berlinang.

Tiba-tiba Na Siao Tiap berseru: "Cici, aku kenal pemuda ini! Dia bernama Bee Kun Bu!"

Pek Yun Hui terperanjat dan menanyai "Kau mengenal dia dimana? Bagaimanakah kau tahu juga namanya ? "

"Ketika aku berlalu dari lembah Pek Hua Kok, aku berjumpa dia di atas perahu, ilmu silatnya baik sekali, Empat bujangku tak mampu melawan dia seorang. Kemudian aku mainkan lagi Bi Cin Li Hun (Menghamburkan sukma) dengan alat musikku, dan lagu itu adalah dari catatan kitab Kui Goan Pit Cek, dan dia segera terluka hebat setelah mendengarnya..." Seterusnya Na Siao Tiap menuturkan peristiwa diatas perahu yang belajar disungai Bin Kang."

"Jika kau telah menghafalkan semua catatan di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, apakah kau dapat juga untuk mengobatinya?" tanya Pek Yun Hui. Na Siao Tiap berpikir sejenak lalu ia menjawab: "Di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah tereatat banyak cara-cara menyembuhkan luka-luka, tetapi harus dilakukan oleh orang yang mahir ilmu silatnya, Aku tak faham ilmu silat, aku tak dapat membebaskan jalan-jalan darahnya."

Dengan terperanjat Pek Yun Hui menanyai "Ha! Kau tak pandai ilmu silat?"

"Aku tak akan berdusta terhadap Cici," jawab Na Siao Tiap, "Aku pernah diajarkan ibu tentang ilmu menenangkan semangat, dan mainkan Kim menurut lagu-lagu yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek."

"Apakah namanya ilmu itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Aku hanya menurut cara ibu berlatih, dan setelah aku menghafalkan betul catatan-catatan Kui Goan Pit Cek, aku baru mengetahui bahwa ilmu yang aku dapat fahami Toa Pan Yo Hian Kong." kata Na Siao Tiap,

Pek Yun Hui yang telah dapat belajar banyak ilmu dari gurunya, Na Hai Peng, namun ia belum perah lihat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan ia tak mengetahui bahwa ilmu Toa Pan Yo Hian Kong adalah ilmu yang paling dasyat dari semua ilmu yang tereatat di dalam kitab Kui Goan Pit Cek.

Dengan bersenyum ia berkata: "Moi-moi telah dapat menghafalkan semua ilmu-ilmu dari kitab Kui Goan Pit Cek, dan dari kecil mendampingi bibi Cui Tiap, Jika Moi- moi bilang tidak bisa silat siapa yang dapat pereaya? Caramu mengegos dari cengkramanku tadi saja sudah membikin aku tunduk, Ha! Ha! Ha!"

Sambil menarik napas Na Siao Tiap berkata: "Aku tak berani berdusta terhadap Cici, ibuku hanya mengajarkan ilmu silat kepada empat bujangku itu. Aku sering-sering mohon ibu mengajarkannya, tetapi ibu mengatakan bahwa meskipun aku pandai silat, aku tak dapat membalas dendam terhadap orang yang aku paling benci. ibuku hanya menyuruh aku duduk diam empat jam sehari, dan setelah aku berusia sembilan tahun, jangka waktu berduduk diam itu diperpanjang, Sepuluh tahun lebih aku diajarkan duduk diam, sedangkan keempat bujangku itu makin hari makin lihay ilmu silatnya,

Aku kagumi mereka yang dapat meloncat seperti menjangan, dan menerkam seperti hari mau. Lagi-lagi aku minta diajarkan silat, tetapi ibu menjadi murka sehingga dia menangis tersedu-sedu, Aku tak berani minta lagi, Aku hanya berlatih duduk diam. Kemudian ibu mengajarkan aku mainkan lagu-lagu yang tereatat di beberapa halaman kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan suruh aku menghapalkan semua catatan di dalam kitab-kitab itu.,." ia berhenti sejenak, lalu meneruskan, "tetapi ibu pesan juga bahwa jika aku dapat mengendalikan urat saraf yang bekerja dan urat sarat yang menahan, aku dapat mempelajari semua ilmu-ilmu silat dengan mudah,

Tapi pada suatu hari yang tak di sangka-sangka, ketika ibu sedang berlatih ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, ayah telah menerjang masuk dan membahayakan jiwanya ibu, dan selang satu tahun kemudian, ibu meninggalkan aku untuk se!ama-lamanya. Betul aku telah dapat mengendalikan kedua urat saraf itu, tetapi aku tak mengetahui cara berlatih ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

Mengingat pesan ibuku, aku berlalu dari lembah Pek Hua Kok untuk pergi ke puncak Pek Yun Siat Aku tidak menduga bahwa di perjalanan aku menjumpai beberapa orang- orang jahat yang ingin merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, keempat bujangkulah yang melawan mereka, karena aku tak pandai silat Ketika itu, kebetulan aku ketemu ayah yang ketika itu aku tidak mengenalinya, dia segera membantu aku membasmi semua perampok-perampok itu, Memang aku belum pernah jumpa dan kenal kepada ayah, tambahan pula ayah bereat kan muka, Tetapi aku telah memberitahukan maksud sejatiku..."

Pek Yun Hui menarik napas panjang dan berkata: "Betul, aku kira setelah Suhu merampas Ban Lian Hwe Kwi dari puncak Ngo Hauw Leng, dia segera datang ke lembah Pek Hua Kok mencari kau. Meskipun dia telah megetahui bahwa bibi Cui Tiap telah mali, dia masih berharapan dapat menolong bibi Cui Tiap dengan Leng Tan dari Ban Lian Hwe Kwi itu.

Suhu tiba di Pek Hua Kok, tapi kau telah berangkat menuju ke puncak Pek Yun Siat, dan ia menjumpai kau waktu kau diserang oleh perampok-perampok..."

"Cici betul-betul cerdas," kata Na Siao Tiap, "Tafsiran Cici semuanya cocok. Setelah perampok-perampok dihajar babak belur, ayah bilang bahwa dia tinggal di pegunungan Koat Cong San tidak jauh dari puncak Pek Yun Siat, dan dia sudah menyertai aku pergi ke pegunungan Koat Cong San. Di sepanjang jalan dia se-nantiasa memperhatikan aku. Aku yang sedari kecil dibesarkan di lembah Pek Hua Kok, selainnya ibu dan keempat bujangku, tidak mengenal orang, Dia perlakukan aku baik sekali, tetapi aku masih tidak menduga kepada ayah, Dia tidak bersihkan cat yang dipuIaskan dimukanya.

Ketika sudah tiba di pegunungan Koat Cong San, dia kata bahwa esok harinya dia akan ajak aku menemui orang yang menyakiti hatinya ibu. Dia ambil Leng Tan dari dalam tubuhnya Ban Lian Hwe Kwi dan berikan itu untuk aku makan, Setelah aku makan aku merasa seluruh tubuhku menjadi panas dan sakit sekali sehingga aku menjadi curiga, Empat bujangku juga mengira aku relah diracuni, mereka segera menyerang ayah,

Tetapi keempat bujang itu tak berdaya menghadapi ayahku, Aku jatuh pingsan, dan entah berapa lama aku tertidur Ketika aku buka kedua mataku, tampak ayah duduk disampingku, dan berkata dengan penuh kasih sayang: "Jangan takut Pil dari kura sakti itu suka diperolehnya dan adalah obat yang sakit sekali." Lalu dia pergi untuk datang lagi diwaktu petang, Dia mengatakan bahwa orang yang menyakiti hati ibuku sudah tahu aku datang untuk membalas dendam dan besok aku boleh menemui kepadanya, Pada keesokan harinya, aku dan empat bujangku pergi ke tempat yang ditunjuk itu. Betul saja aku tampak seorang kakek berjubah sedang duduk di atas rumput Aku keluarkan gambar yang telah dilukis oleh ibuku, dan benar bahwa kakek itu serupa dengan orang yang terlukis dalam gambar Aku segera mainkan lagu "Hiam Hao Sim" Apabila pada waktu itu jika Cici tidak keburu datang, mungkin aku telah betul-betul membunuh ayahku dengan lagu ajaib yang aku mainkan itu...H

Pek Yun Hui terperanjat Dan berkata: "Akupun telah dipengaruhi oleh lagu ajaib itu, Tetapi aku tidak menduga bahwa lagu ajaib itu kau dapat pelajari dari kitab Kui Goan Pit Cek."

Lagu Him Im Hao Sim dan Bi Cin Li Hun adalah sebahagian diantara catatan tetang ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan kedua lagu itu betul-betul hebat dapat membinasakan lawan dengan pertama mengacaukan urat- urat sarafnya.,." jelaskan Na Siao Tiap, "Mungkin Bee Kun Bu sudah binasa jika aku kejam ketika berada di atas perahu, dan mungkin juga ayahku telah mati, jika Cici tidak buru-buru datang merintanginya... Unlung dan aku merasa bersyukur sekali Cici keburu datang..."

-ooo0ooo-

Ilmu menyembuhkan luka-Iuka menurut petunjuk-petunjuk Kui Goan Pit Cek

Tiba-tiba Pek Yun Hui berjingkrak, dan menanyai "Moi-moi setelah Suhu potong kura sakti itu untuk diambil pil nya, dimanakah Suhu taruh sisanya ?"

Dengan menggelengkan kepala Na Siao Tiap men-jawab: "Aku tidak tahu, karena waktu itu aku telah jatuh pingsan!"

Pek Yun Hui mengawasi Bee Kun Bu, lalu berpaling kepada Na Siao Tiap dan berkata: "Moi-moi, apakah kau sudi membantu aku?"

"Cici sebut sajalah, aku pasti membantu!" kata Na Siao Tiap dengan sungguh-sungguh, "Aku minta pinjam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek untuk mencari cara atau petunjuk tentang penyembuhan luka-luka guna menolong Bee Kun Bu" kata Pek Yun Hui.

Na Siao Tiap tersenyum, ia berbalik dan jalan menghampiri seorang bujangnya, Dari bujang itu ia ambil satu kotak yang dibuat dari batu Giok, lalu diberikan nya kepada Pek Yun Hui seraya berkata: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek berada di dalam kotak itu. Cici dapat periksa sendiri."

Dengan terharu Pek Yun Hui menyambut kotak itu. ia buka dan melihat tiga kitab dengan huruf KUI GOAN PIT CEK di atas tiap-tiap kulit buku. Segera ia mencari halaman-halaman yang melukiskan cara menyembuhkan tulang patah, melampiaskan peredaran darah, membebaskan jalan-jalan darah yang mampet, memunahkan racun di dalam tubuh, membangkitkan semangat menenangkan urat-urat saraf dan sebagainya.

Dan semuanya itu harus dilakukan semuanya j ia tak tahu apakah ia harus bergirang atau bersedih hati, karena semua cara-cara itu dapat menyembuhkan luka-lukanya Bee Kun Bu, ia masukkan kitab-kitab itu ke dalam kotak dan dikembalikan kepada Na Siao Tiap serta berkata: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ini patut dibuat perebutan oleh para jago silat."

Lalu ia duduk bersila untuk melakukan penyembuhan dengan jalan menenangkan urat-urat saraf untuk menolong Bee Kun Bu yang berbaring terlentang di atas rumput ia memejamkan kedua matanya, dan mulai menggosok gosok kedua tinjunya...

Lie Ceng Loan, Na Siao Tiap, Pang Siu Wie dan keempat bujangnya Na Siao Tiap berdiri diam mengawasi Pek Yun Hui.Sejenak kemudian mereka tampak wajahnya Pek Yun Hui menjadi merah, dan tiba-tiba membuka matanya dan menotok dadanya Bee Kun Bu dengan tinju kanannya, setelah itu Pek Yun Hui membalikkan tubuhnya Bee Kun Bu dan menotok punggungnya dengan tinju kirinya, lalu ia mengawasi menantikan akibat usahanya, dan sekonyong-konyong ia berseru: "Loan moi, Bu Koko mati!"

Lie Ceng Loan menjadi kaget, ia tubruk dan memeluk tubuhnya Bee Kun Bu yang diam tak berkutik nafasnya pun berhenti dan matanya mendelik Semua orang yang menyaksikan menjadi terpaku Lie Ceng Loan tidak menangis tetapi hatinya ia rasakan hancur ia yang selalu khawatir keselamatan dan jiwanya Bee Kun Bu boleh dikatakan

berhari-hari tidak pernah tidur Ketika ia kira Bee Kun Bu betul- betul telah mati, iapun tak ingin hidup lagi.

Keringat membasah di seluruh tubuhnya Pek Yun Hui, karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menolong mengobati Bee Kun Bu. Bukan main menyesalnya ketika ia melihat usahanya gagah

Na Siao Tiap mengingat cara-cara menyembuhkan luka- luka yang tereatat di dalam kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. ia telah menghafalkan betul semua catatan-catatan dan tidak satu huruf terluput dari ingatannya.

Entah berapa lama mereka semua diam terpaku, Lalu dengan penuh kasih sayang, Pek Yun Hui menegur Lie Ceng Loan: "Loan-Moi kau bangunlah, Mari kita angkat Bee Kun Bu ke dalam kamar di dalam goa, dan aku akan mencari daya upaya untuk menolong dia."

Tetapi Lie Ceng Loan diam saja, Tiba-tiba terdengar suaranya bangau, yang tak !ama kemudian segera terbang mrun. Na Siao Tiap menjambret kedua kakinya bangau itn. Bangau itu terkejut dan terbang naik pula, membawa Na Siao Tiap yang bergelantungan memegangi kedua kakinya, Semua orang terperanjat melihat perbuatan yang ganjil itu. Pek Yun Hui yang khawatir akan keselamatannya Na Siao Tiap segera loncat mengejar, Baru saja kedua tangannya hendak menjambret kedua kaki bangaunya, ia merasa kedua tangannya terhempas, dan ia segera jatuh kembali ke tanah, Sejenak kemudian terlihat juga Na Siao Tiap turun dengan tenang ke atas tanah, ia menghampiri Pek Yun Hui dan berkata: "Aku telah dapat ingat cara menolong Bee Kun Bu, tetapi tentang hasilnya aku belum dapat memastikan."

Pek Yun Hui yang telah menyaksikan dengan kepala mata sendiri cara Na Siao Tiap menjambret kedua kaki bangau, lalu mendampar ia segera mengetahui bahwa Na Siao Tiap itu yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong telah memiliki ilmu yang dahsyat, hanya Na Siao Tiap tidak mengetahuinya, karena belum pernah dipraktekkan, Dengan bernapsu ia menanya: "Cara bagaimana, coba lekas-lekas bilang!"

"Barusan aku pikir akan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, aku ingat akan petunjuk yang berbunyi: jika terlampau penuh akan menjadi luber. Jika urat-urat saraf yang bekerja dan yang menahan dapat dibebaskan maka yang luber dapat menambal yang kurang,.," kata Na Siao Tiap.

Segera kedua pipinya menjadi merah dan Pek Yun Hui mengerti bahwa Na Siao Tiap sedang mengerahkan tenaga dalamnya.

Sebetulnya orang yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong tersebut dapat menyembuhkan luka-luka apapun dengan tenaga dalamnya. Na Siao Tiap yang telah memahami ilmu itu tidak insyaf akan kepandaiannya sendiri, karena belum pernah ia praktekkan sendiri, Dan setelah menyaksikan usaha yang gagal dari penolong ibunya, timbullah pikirannya untuk membalas budi.

Pek Yun Hui mendesak: "Moi-moi, tetapi cara bagaimana kita membebaskan kedua urat-urat sarafnya itu?"

"Setelah dia menderita luka parah, dia masih bisa bertahan demikian lamanya, Aku yakin bagian-bagian tubuhnya belum rusak. Jika kita dapat mengirim tenaga dalam kita ke dalam tubuhnya agar ia dapat mengerahkan tenaga itu untuk menyembuhkan luka-lukanya, maka kedua urat sarafnya itu dapat bebas, dan diapun tertolong." jawab Na Siao Tiap, Pek Yun Hui geleng-geleng kepalanya dan berkata: "Aku telah mengerahkan seluruh tenaga dalamku untuk dikirim ke dalam tubuhnya, tetapi aku masih tidak berhasil, dia tetap tak sadarkan diri. "

"Jika luka-lukanya Bee Kun Bu tidak parah, cara Cici yang demikian itu memang akan berhasil tetapi terhadap luka yang parah, usaha Cici sebaiknya hanya menyumbat jalan-jalan darahnya sehingga dia seolah-olah sudah mati!"

"Tetapi caraku tadi toh menuruti apa yang tertera di dalam kitab itu dengan mengalirkan tenaga dalamku ke dalam tubuhnya.,." bantah Pek Yun Hui.

"Betul! Tetapi Cici menyalurkannya dengan meniup mulutnya," kata Na Siao Tiap.

Pek Yun Hui menjadi merah mukanya karena merasa malu harus menempelkan mulutnya kepada mulutnya seorang pria, dan ia berkata: "Aku tak peduli apa orang akan kata, asalkan aku dapat menolongnya!"

Dengan kedua mata terbelalak Na Siao Tiap menanya: "Apakah Cici menyukai dia?"

Mendengar pertanyaan itu Pek Yun Hui merasa canggung, tetapi ia harus menjawabnya, Maka ia lalu mengangguk dan berkata: "Betul, Dia orang baik.-" sebetulnya ia ingin menjelaskan mengapa ia menyukai pemuda itu, tetapi dalam keadaan terdesak itu, ia harus lekas-lekas menolong jiwanya Bee Kun Bu.

Na Siao Tiap juga tidak menanya lagi. ia berlutut dan mulutnya berkemak-kemik sambil memejamkan kedua matanya, Lalu ia berkata kepada Pek Yun Hui. "Barusan aku telah memberitahukan ibu bahwa aku harus tolong pemuda ini! Aku menolong dia, karena Cici menyukai padanya, Untuk menolong dia, harus orang yang paham ilmu Toa Pan Yo Hian Kong."

Pek Yun Hui berdiri mengawasi Na Siao Tiap, ia berpikir "Dia dapat menghafaikan semua catatan-catat an dari kitab Kui Goan Pit Cek, dan telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, Tidak salah jika Suhuku pernah memperingatkan aku jangan melawan dia jika aku tidak ingin binasa. ia mengawasi terus dengan perasaan kagum,

"Apakah yang Cici sedang pikirkan," tegur Na Siao Tiap, "Aku telah berjanji akan menolong dia, Cici jangan kecil hati!"

Ketika itu Pek Yun Hui juga memperhatikan bahwa mukanya Na Siao Tiap menjadi merah sekali, dan ia menanya, "Kau mengapa nampaknya gugup?"

"Aku khawatir.,." jawab Na Siao Tiap,

"Apa yang membuat kau khawatir?" tanya Pek Yun Hui. Dengan suara rendah Na Siao Tiap menjelaskan "Mungkin

Cici tidak mengetahui bahwa pemuda itu sudah habis semangatnya karena telah menderita luka agak lama. Untuk menolong dia, aku harus menggunakan semangatku sendiri selama tiga hari tiga malam..."

Dengan air mata berlinang Pek Yun Hui melihat Bee Kun Bu yang masih terus dipeluki oleh Lie Ceng Loan, Lalu dengan suara memohon ia berkata kepada Na Siap Tiap: "Moi-moi, aku minta kau pandang aku. Tolonglan dia!"

"lbuku pernah pesan bahwa aku harus turut perintah Cici, karenanya aku pasti akan menolongnya!"

Lalu Pek Yun Hui menotok jalan darahnya Lie Ceng Loan, dan gadis itu segera berjengit dan bangun untuk segera berkata: "Pek Cici, setelah kita kubur jenazahnya, aku minta Cici membunuh mati orang yang menganiaya dia..."

"Janganlah kau memikir yang bukan-bukan" berkata Pek Yun Hui, "Bu Kokomu masih dapat ditolong."

Dengan berjingkrak Lie Ceng Loan berseru: "Aku tahu Pek Cici memang seorang yang sakti, Pek Cici dapat menghidupkan orang yang sudah mati!" Pek Yun Hui lalu angkat Bee Kun Bu untuk di-pindahkan ke dalam ruang di dalam gua batu, ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Aku sendiri tidak dapat menolong dia, tetapi Na Moi-moi itu yang akan menolongnya!"

Lie Ceng Loan menjadi terperanjat, dan ia menatap Na Siao Tiap, lalu menghampiri dan menghaturkan terima kasih,

Pek Yun Hui angkat Bee Kun Bu dan dipanggulnya di atas pundaknya, diikuti oleh Na Siao Tiap, Lie Ceng Loan dan lain- lainnya masuk ke dalam goa batu, Pang Siu Wie yang berjalan paling belakang selalu nengok kiri dan kanan ia yang telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw merasa curiga ketika bangaunya Pek Yun Hui terbang menghampirkan. ia tidak merasa bahwa ia curiga oleh bangau putih itu.

Tidak lama kemudian mereka tiba di dalam goanya Pek Yun Hui setelah mereka melalui satu tegalan berumput Goa tersebut terletak di lereng gunung kira-kira seratus depa tingginya dari kaki gunung, tetapi Pek Yun Hui dapat memanggil Bee Kun Bu dengan tanpa ke-sukaran,

Pek Yun Hui lalu taruh Bee Kun Bu di ruang yang ia biasa gunakan sebagai kamar tidur Lalu sambil tersenyum ia berkata kepada Na Siao Tiap: "Moi-moi, dia telah menderita terlampau lama, Kita jangan menunda lebih lama lagi, Sebutlah apa-apa yang kita perlukan."

"Sebetulnya aku tak usah minta bantuan orang lain, hanya ada suatu hal aku minta Cici menyanggupkannya."

Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata: "Sebutlah, apapun aku akan menyanggupkannya."

Dengan suara yang tetap dan bersungguh-sungguh Na Siao Tiap berkata: "Di dalam kamar ini, aku harus menemani dia selama tiga hari dan tiga malam. Lagi pula usaha menyembuhkan dia masih mendatangkan beberapa kesulitan Tetapi demi untuk membalas budi Cici, aku akan melakukannya Oleh karena itu, aku minta Cici, menemani aku di dalam kamar ini selama tiga hari tiga malam untuk menyaksikan Apabila dia setelah ditolong timbul niatan busuknya terhadapku, aku terpaksa harus menusuk dia mati, dan aku minta Cici bisa maafkan perbuatanku dan Cici tak boleh mencegah aku menikam dia mati, Jika permintaan ini Cici dapat menyanggupinya, aku segera menolong, Jika tidak..."

Pek Yun Hui tidak segera menjawab ia berpikir "Bagaimanakah aku dapat ketahui dia mempunyai niatan busuk?" Lalu ia menjawab: "Sepanjang pengetahuanku dia adalah seorang pemuda yang luhur dan sopan, Kita hanya dapat mengetahui dia mempunyai niatan busuk jika dia berbuat yang dalam pandangan kita melanggar kesusilaan!"

"ltulah yang aku artikan," kata Na Siao Tiap.

"O! Jika dia berbuat demikian, kau boleh lantas bunuh dia!" kata Pek Yun Hui, "Bukan saja aku dapat memaafkan nya, bahkan mungkin juga aku akan membantu kau membunuh dia!"

Lalu Na Siao Tiap keluarkan sebuah pisau belati dari sakunya seraya berkata: "Cici, jika aku terpaksa harus membunuh dia, aku minta kau jangan datang menolong, karena aku khawatir aku tak dapat mengendalikan diri dan melawan Cici!"

Melihat sikapnya Na Siao Tiap yang sungguh-sungguh itu, Pek Yun Hui menjadi sedikit heran. ia telah mengetahui bahwa Na Siao Tiap adalah seorang gadis yang lemah lembut dan luhur wataknya, lebih kurang sama seperti Lie Ceng Loan, Maka sikap dan suara yang berlainan itu membikin Pek Yun Hui merasa sedikit heran, ia mengawasi mukanya keempat bujangnya gadis itu, tetapi ia tak bisa melihat sesuatu yang menyelami isi hatinya Na Siao Tiap, Keempat bujang itupun menunjukkan perasaan cemas atas sikap majikannya.

Sebetulnya Na Siao Tiap dan Lie Ceng Loan tak dapat dikatakan serupa wataknya, Na Siao Tiap masih polos dan berotak tajam, cerdas dan tangkas jujur hati, tak pernah mencurigai orang lain. Meskipun ia lama tinggal terpencil di lembah Pek Hua Kok dan tak mengetahui kejadian-kejadian di luar, tetapi setelah ia keluar dari tempat bertapanya, ia senantiasa memperhatikan gerak-gerik orang lain dan besar curiganya.

Lalu Na Siao Tiap dan Pek Yun Hui masuk ke dalam kamar di mana Bee Kun Bu telah diletakkan Na Siao Tiap memesan keempat bujangnya: "Aku dan Pek Cici akan berada di dalam kamar ini untuk menolong mengobati pemuda itu.

Selama tiga hari dan tiga malam aku harus mencurahkan semua semangat dan tenagaku dalam usaha pengobatan itu, kalian tak boleh mengganggu!" Lalu bersama-sama Pek Yun Hui ia masuk ke dalam,

sebetulnya goa tersebut adalah tempatnya Tian Ki Cin Jin bertapa, Goa itu luas sekali dan mempunyai lima kamar, kamar yang paling belakang digunakan sebagai kamar dapur

Pek Yun Hui berkata kepada Na Siao Tiap: "Moi-moi tunggu sebentar Aku hendak pergi ke dapur menyediakan sedikit sarapan dulu." Lalu ia pun ke kamar paling belakang,

Ketika ia tiba di kamar dapur, ia melihat bahwa tempat Tan Pao dan istrinya, Hiong Yun (pengawal istana dan selir raja yang Na Hai Peng paksa, datang tinggal ke puncak Pek Yun Siat untuk menjaga Pek Yun Hui)

Kedua-duanya menggeletak di lantai ia memeriksanya.

Ternyata mereka telah ditotok jalan darahnya,

Mereka telah dibikin pusing dan luka karena mendengar lagu "Hian Im Hao Sim" yang dimainkan oleh Na Siao Tiap, untuk kemudian ditotok jalan-jalan darahnya.

Pek Yun Hui berusaha membebaskan totokan itu, dan sesaat kemudian mereka telah sadar kembali Mereka bangkit, dan setelah melihat Pek Yun Hui, mereka berlutut dihadapannya. Pek Yun Hui menegur: "Apa yang telah terjadi di sini?" tanya Pek Yun Hui.

"Pada dua hari berselang Na Loya (Tuan besar Na) ada ajak satu gadis berpakaian sutera biru kesini.,, Hamba. "

Pek Yun Hui goyang-goyang tangannya dan berkata: "Sudahlah, aku sudah mengetahui Kalian lekas-lekas menyediakan sarapan, dan bawa ke depan, karena aku menerima beberapa tanrn jangan lambat!" lalu iapun lari ke depan lagi,

Sebelum ia masuk ke dalam kamarnya, ia telah pesan sesuatu kepada Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie.

Dengan cepat Tan Pao dan Hiong Yun menyiapkan sarapan, dan mereka menjadi terperanjat melihat demikian banyak orang telah datang ke goa itu,

Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan yang sudah merasa lapar segera makan sarapan itu, lalu yang lain-lainpun turut

Pek Yun Hui mengambil banyak kue dan buah-buahan ke dalam kamarnya, Lalu ia tutup pintu kamar, ia berkata kepada Na Siao Tiap: "Moi-moi apakah kau tidak makan dulu sebelumnya kau menolong mengobati dia?"

"Aku tidak merasa lapar, karena hatiku bimbang." jawab Na Siao Tiap, "Jika Cici sudah lapar, makanlah dulu!"

Pek Yun Hui juga tak dapat makan karena ia selalu khawatir akan keadaannya Bee Kun Bu. ia hanya makan satu kue dan minum secangkir teh.

Na Siao Tiap duduk di atas sehelai tikar di atas lantai dengan dua tangannya memegang lututnya, Matanya menatap kedepan, seolah-olah ia tak menghiraukan soal mengobati Bee Kun Bu.

Melihat sikapnya yang acuh tak acuh Pek Yun Hui tak sabar lagi. ia menegur: "Siao Tiap Moi-moi, mengapa kau masih belum memulai, Aku khawatir jika ditunda, dia tak dapat ditolong lagi! Dengan tenang dan pelahan Na Siao Tiap bangun dan menghampiri Pek Yun Hui. ia berkata dengan suaranya yang rendah sekali: "Aku telah menyanggupi mengobati dia, aku tentu akan menolongnya!"

Pek Yun Hui masih tak puas dengan jawaban itu, ia menegur lagi: "Mengapa kau mundur maju lagi?"

Na Siao Tiap menghampiri Bee Kun Bu dan mengangkat tubuhnya seraya berkata: "Sebetulnya aku tidak boleh mengobati dia, Tetapi aku telah berjanji kepada Cici untuk menolong dia, aku tak harus menyesal!"

Pek Yun Hui tak berkata-kata lagi, ia khawatir menyinggung perasaannya Na Siao Tiap, Dalam keadaan terdesak itu ia harus mengalah ia duduk diam mengawasi cara-cara Na Siao Tiap menolong Bee Kun Bu.

Ia menyaksikan Bee Kun Bu dibaringkan terlentang di atas tempat tidur, sedangkan seluruh tubuhnya Na Siao Tiap terlihat gemetar tak henti nya. Dengan mata terbelalak ia menyaksikan sikapnya Na Siao Tiap, seolah-olah orang yang sedang diserang demam panas. 

Ia bangun menghampiri Na Siao Tiap dan berkata dengan suara yang lemah lembut "Siao Tiap Moi-moi, untuk aku, kau harus menderita demikian hebatnya, Aku sangat berterima kasih."

Na Siao Tiap tidak menyahut ia pejamkan kedua matanya, Hanya dari celah-celah kulit matanya molos keluar air matanya, yang bagaikan mutiara sebutir-se-butir, ia berkata: "Sebentar ketika aku kerahkan tenaga dalamku, seluruh semangatku akan berkumpul Aku minta Cici jangan mengganggu atau menyentuh tubuhku!"

Lalu ia duduk bersila di pinggir tempat tidur, dan tangan kirinya ditaruh di atas batang hidungnya Bee Kun Bu, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggangnya Bee Kun Bu. ia memejamkan kedua matanya untuk mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Ternyata ia telah berhasil mengerahkan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu karena keringatnya mulai terasa ke tenggorokan dada sampai ke pusarnya.

Lalu ia letakkan Bee Kun Bu terlentang di atas tempat tidur untuk dipijat-pijat kaki tangannya, Demikianlah semua bagian- bagian penting di dalam tubuhnya Bee Kun Bu telah dapat dipulihkan olehnya dengan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, dan darahnya mulai beredar dengan wajar diseluruh tubuh-nya.

Pek Yun Hui juga memperhatikan bahwa kaki tangannya Bee Kun Bu tidak kaku lagi, kelihatan segar dan bergerak- gerak, Sejenak kemudian keringatpun mulai keluar dari pembuluh-pembuluh pada kaki tangannya, Bukan main girangnya Pek Yun Hui menyaksikan perubahan yang ajaib itu!

Malam itu Pek Yun Hui dapat tidur nyenyak di dalam kamar itu, Satu hari dan satu malam telah lewat, akan tetapi Bee Kun Bu masih belum sadarkan diri, dan Na Siao Tiap yang telah mengerahkan banyak tenaga dan semangat, nampaknya sangat letih sekali

Pada malam kedua, ketika Pek Yun Hui menyalakan lilin di atas meja, tiba-tiba ia mendengar Na Siao Tiap menguap, ia menoleh, dan melihat Na Siao Tiap yang harus tidur di samping Bee Kun Bu mengulurkan tangan kanannya meraba badannya Bee Kun Bu, lalu ia tersenyum dan berkata: "Cici, tenaganya disemua bagian tubuhnya sudah pulih, Malam ini aku dapat membebaskan semua jalan-jalan darahnya yang tersumbat."

Pek Yun Hui menghampiri dan sambil tersenyum ia berkata: "Semua ini karena pertolongan Moi-moi. Aku yakin nanti jika dia mengetahui bahwa kau yang telah menolong jiwanya, dia pasti akan berterima kasih kepadamu!"

"Aku sebetulnya menolong dia karena ingin membalas budi Cici." kata Na Siao Tiap, Lalu ia duduk bersila untuk memulai mengerahkan tenaga dalamnya pula, sebentar saja segera terlihat wajahnya menjadi merah, dan seluruh tubuhnya mengeluarkan uap.

Pek Yun Hui merasa kagum melihat caranya gadis itu mengumpulkan tenaga dalamnya, dan ia yakin hanya orang yang telah memahami ilmu Toa Pan Yo Hian Kong dapat melakukan itu. Mungkin Suhunya pun tak dapat menandinginya dalam ilmu Toa Pan Yo Hian Kong itu, pikirnya,

Terlihat pula uap yang keluar dari tubuhnya Na Siao Tiap makin lama makin tebal, dan setelah seperempat jam kemudian seluruh kamar itu telah diliputi uap yang keluar dari tubuhnya gadis itu. Tiba-liba ia letakkan kedua tinjunya di atas dadanya Bee Kun Bu, dan lalu secepat kilat menotok jalan- jalan darah di bagian dada itu, tetapi kedua tinjunya tidak diangkat ia tetap tempelkan tinjunya di atas dadanya Bee Kun Bu untuk secepat kilat menotok pula yang diulanginya sampai enam kali, dengan demikian berhasil membebaskan dua belas jalan-jalan darah yang terpenting di seluruh tubuhnya Bee Kun Bu.

Yang aneh ialah, tiap-tiap kali ia menotok dengan kedua tinjunya, uap di dalam ruang itu agak berkurang ia baru mengulangi totokannya setelah uap berkumpul lagi,

Malam itu, Pek Yun Hui tidak tidur ia terus memperhatikan cara Na Siao Tiap menyembuhkan Bee Kun Bu dengan perasaan kagum, Berkali-kali ia ingin menghampiri tempat tidurnya Bee Kun Bu untuk melihat keadaannya dari dekat, tetapi berkali-kali juga ia batalkan niatnya, karena khawatir mengganggu Na Siao Tiap,

Kira-kira sejam kemudian setelah Na Siao Tiap berhasil membebaskan jalan-jalan darah yang terpenting di seluruh tubuhnya Bee Kun Bu, tiba-tiba ia berseru: "Pak Cici, dengan tenaga ajaibku aku telah berhasil membebaskan dua belas jalan-jalan darahnya yang penting, dan juga menyembuhkan luka-luka yang terus menyerang perkakas-perkakas di dalam tubuhnya. Dia harus beristirahat sebentar, dan aku akan menyembuhkan urat-urat sarafnya untuk membikin ia sadar!"

-ooo0ooo-

NA SIO TIAP BERHASIL MENOLONG BEE KUN BU

Pek Yun Hui bertindak perlanan-lanan menghampiri tempat tidur dan menanya sambil tersenyum: "Siao Tiap Moi- moi, bolehkah aku memeriksa denyutan jantungnya sekarang?"

"Boleh. Tapi karena darahnya baru saja beredar, lebih baik dia tidak banyak bergerak." jawab Na Siao Tiap.

Lalu Pek Yun Hui meraba dadanya Bee Kun Bu dengan tangan kanannya, Betul saja jantungnya mulai berdenyut lagi seperti biasa,

"Siao Tiap Moi-moi, terima kasih, Kau telah berhasil menolong jrwanya, Dia pasti akan berterima kasih ke- padamu.,." Pek Yun Hui berkata dengan girangnya

Tiba-tiba Na Siao Tiap memotong: "Aku tidak ingin dia menghaturkan terima kasih kepadaku Aku menolong dia karena memandang kepada Cici."

sebetulnya Pek Yun Hui masih ada banyak omongan, akan tetapi setelah melihat sikap Na Siao Tiap, ia hanya berkata: Tentu saja aku berterima kasih kepadamu."

Na Siao Tiap pejamkan kedua matanya, dan terlihat air matanya mengucur keluar ia berkata: "Sebelumnya ibuku menutup mata, dia telah memesan kepadaku bahwa aku jangan sayang seorang laki-laki, meskipun laki-laki itu seorang yang baik. Aku telah menolong dia, dan aku telah melanggar pesan ibuku, Oleh karena itu, setelah aku berhasil menyembuhkan dia, aku akan berpisah dari Cici untuk pergi kembali ke lembah Pek Hua Kok agar aku dapat menangis di depan kubur ibuku!"

Pek Yun Hui menghibur: Tapi ketika bibi Cui memberi pesan itu, ia sedang bersedih hati, sudah tentu pesannya itu tidak wajar Kau tak boleh anggap semuanya beralasan Moi- moi adalah seorang yang cerdas, Cobalah pikir masak-masak dengan otak yang dingin."

Na Siao Tiap belum menjawab, ketika di luar terdengar suara orang.

Pek Yun Hui segera loncat dan ingin buka pintu, tetapi Na Siao Tiap membentak: "Cici, jangan buka pintu!"

"Mengapa tidak boleh membuka pintu?" tanya Pek Yun Hui.

Na Siao Tiap mengawasi Bee Kun Bu dan sambil menarik napas ia berkata: "Luka-luka dalam tubuhnya baru saja sembuh, dan peredaran darahnya baru saja mulai lancar. Jika ada orang menerjang masuk ke dalam kamar ini, aku khawatir dia terkejut dan darahnya terhalang kembali sehingga jerih payah kita selama satu hari dan satu malam menjadi sia-sia belaka!" "Tapi jika ada musuh datang ke sini, aku terpaksa harus keluar membantu.!" kata Pek Yun Hui.

"Jika Cici membuka pintu dan Lie Ceng Loan datang masuk, dia hanya akan mempersulit usahaku untuk menyembuhkannya" Na Siao Tiap menjelaskan. Ketika itu terdengar suara yang jelas dari Lie Ceng Loan yang memanggil "Pek Cici, ada musuh datang ke lembah Pek Yun Siat!". Pek Yun Hui yang telah diperingatkan oleh Na Siao Tiap tidak berani membuka pintu dan keluar, ia hanya menjerit dari dalam kamar: "Bu Koko sedang dalam keadaan kritis, aku tak dapat keluar membantu menjaga musuh, Kau harus menjaga agar musuh itu tidak masuk ke dalam goa!" Lie Ceng Loan lari menjaga jalan masuk ke dalam goa.

Ketika Pek Yun Hui berbalik lagi, ia tampak Na Siao Tiap sedang membebaskan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu. Dan caranya berlainan sekali dengan cara yang ia pernah lakukan.

Na Siao Tiap menolong membebaskan urat-urat sarafnya Bee Kun Bu selama dua jam baru berhenti, terlihat tegas akan keletihannya. Menampak itu, Pek Yun Hui merasa kasihan. Tiba-tiba Na Siao Tiap mengambil pisau belati yang ia taruh di dekat bantal kepala ketika Bee Kun Bu mulai bergerak.

Pek Yun Hui terkejut dan lalu mendebati Na Siao Tiap, "Tiap-moi, apakah dia sudah sadar?" ia berbisik.

"Semua jalankan darah dan urat-urat sarafnya telah bebas.

Sebentar beberapa jam lagi aku akan membantu dia memulihkan tenaga dalamnya dan setetusnya ia dapat mengumpulkan tenaga dalamnya sendiri.

Mendengar kata-kata yang ramah dan sikap yang lunak itu, Pek Yun Hui seger mengerti bahwa dicekalnya pisau belati itu hanya sebagai tindakan pencegahan saja. Pek YunHui berkata "Tiap Moi-moay karena menolong dia, kau telah menjadi letih sekali."

Sambil tersenyum Na Siao Tiap menjawab: "Aku dapat menolong jiwanya berkat ilmu Toa Pan Yo Hian Kong (Ilmu tenaga dalam ajaib) yang aku telah dapat pelajarkan dari kitab-kitab Kui Goan Pie Cek."

Na Siao Tiap tersenyum: "Aku tahu maksud cici, cici takut aku akan melukai dia dengan pisau belati ini, betulkah?"

Pek Yun Hui yang selalu jujur hanya mengangguk. Ia berkata: "Kau telah menerka jitu, Aku khawatir kau masih saja ingin menunaikan pesan ibumu untuk membunuh mati segala laki-laki yang kau sayang!"

Na Siao Tiap tidak menjawab, ia duduk di pinggir tempat tidur Lalu Pek Yun Hui menggantikan ia memulihkan tenaga dalamnya Bee Kun Bu...

Sejenak kemudian Na Siao Tiap berkata: "Cici, setelah kau berhasil memulihkan tenaga dalamnya. kau harus segera angkat dia duduk."

Pek Yun Hui hanya mengangguk dan tersenyum. ia terus mengurut-urut tubuhnya Bee Kun Bu. Pada suatu ketika Bee Kun Bu membuka kedua matanya, dan Pek Yun Hui terkejut ia memberitahukan hal itu kepada Na Siao Tiap.

"Cici, dia sudah mulai sadar Ayo terus urut, dan aku membantu!" kata Na Siao Tiap.

Segera Pek Yun Hui merasa bahwa telapak tangannya Na Siao Tiap yang ditaruh di punggungnya sangat hangat, dan hawa yang hangat itu dirasakan seperti juga aliran listrik, Pek Yun Hui berpikir: "Tenaga dalam ajaibnya ini betul-betul hebat Mungkin gurukupun tak akan dapat menandinginya!"

Segera juga terlihat mukanya Bee Kun Bu, yang tadinya pucat perlahan-lahan menjadi merah, hidungnya bergerak, dadanya berdenyut-denyut lebih cepat, dan setelah menarik napas panjang, kedua matanya terbuka dan mengawasi Pek Yun Hui.

Na Siao Tiap berbisik: "Na, sekarang Cici harus membantu angkat dia agar dia dapat duduk!"

Belum lagi ucapannya selesai, Bee Kun Bu sudah mulai bergerak, dan kedua tangannya meronta-ronta, Mukanya sangat merah, agaknya ia hendak muntah-muntah.

Pek Yun Hui menjadi terpesona, tetapi Na Siao Tiap segera memegang erat-erat kedua bahunya Bee Kun Bu. Dengan kedua mata membelalak ia berkata: "Cici, dia telah tertolong. sebentar lagi dia akan sadar Tapi kita masih harus membantu dia mengerahkan tenaga dalamnya selama lebih kurang dua jam. Aku akan tahan dia jangan sampai dia meronta, dan Cici harus duduk di-sampingku mengawasi segala perubahan.."

Lalu dengan satu telapak tangan ia tahan Bee Kun Bu dan tangan lainnya mengambil pisau belatinya, ia melakukan segala pertolongan itu dengan tenang dan cerdas, sedangkan Pek Yun Hui yang menyaksikan segala perubahan-perubahan atas dirinya Bee Kun Bu menjadi agak gelisah. Bee Kun Bu tak dapat meronta lagi, ia memejamkan matanya lagi, tapi ia dapat bernapas dengan wajar seolah- olah seorang yang sedang tidur dengan nyenyak.

Demikian kedua gadis berusaha keras menolong jiwanya Bee Kun Bu, dan entah sudah berapa lama ketika terdengar lagi suara Lie Ceng Loan diluar kamar: "Meskipun kau sahabat karibnya Bu Koko, kau tak diperkenankan masuk!"

Terdengar jawaban yang mengejek: "Mengapa tidak boleh masuk?"

"Sebab di dalam kamar itu Pek Cici sedang sibuk menolong Bu Koko, Aku pun tak diperkenankan masuk ke dalam!"

Mendengar jawaban Lie Ceng Loan itu, Pek Yun Hui terperanjat.

Lalu terdengar Pang Siu Wie yang memperingatkannya: "Kamar itu adalah kamar majikanku, kau tak dapat masuk."

Mendengar suara Pang Siu Wie itu, kekhawatirannya Pek Yun Hui menjadi sedikit lega, ia berpikir: Pang Siu Wie mempunyai banyak pengalaman, dan telah mengetahui segala tipu muslihat dari banyak jago-jago silat Meskipun Co Hiong cerdik dia tak akan luput dari pengawas annya!

Terdengar lagi Lie Ceng Loan berkata: "Cici, janganlah perlakukan dia demikian Dia adalah sahabat Bu Koko."

Co Hiong tertawa gelak-gelak dan menanyai "Bu Kokomu dilukai oleh siapakah?"

Mendengar pertanyaan itu, Pek Yun Hui memaki di dalam hatinya: "Hm! kau betul-betul busuk dan cerdik..."

Ketika itu, tiba-tiba Na Siao Tiap memegang pisau belati di depan dadanya Bee Kun Bu seolah-olah hendak menikam, kedua matanya mengawasi Bee KunBu dengan beringas.

Dengan cemas Pek Yun Hui menanya: "Moi-moi, apakah dia telah berbuat tak sopan terhadaprnu?" "Tidak!" jawab Na Siao Tiap, "Dia akan lekas menjadi sadar. Dan jika dia melihat pisau belati terhunus ini, dia tentu menjadi kaget dan tak berani berbuat sesuatu yang tak sopan, bukan?"

Pek Yun Hui menarik napas lega dan berkata lagi, "Jika kau terpaksa menikam dia, sudilah memberitahukan aku!".

"Sebelum Na Siao Tiap menjawab, diluar terdengar lagi suaranya Co Hiong: "Jika Bee-Heng menderita luka parah, aku sebagai kawan karibnya, mengapa tidak boleh masuk?"

"Pek Yun Hui telah menebak bahwa Lie Ceng Loan yang jujur telah memberitahukan tentang lukanya Bee Kun Bu kepada Co Hiong, Harus diketahui bahwa ketika Pek Yun Hui menolong Bee Kun Bu di pegunungan Ngo Bi San dari tangannya Co Hiong yang ingin mengubur Bee-Kun Bu hidup- hidup, Pek Yun Hui tak pernah menceritakan hal itu kepada Lie Ceng Loan sehingga Lie Ceng Loan tidak mengetahui betapa kejamnya Co Hiong.

Terdengar lagi Lie Ceng Loan menarik napas lalu berkata: "Kau sebagai kawannya Bu Koko, tentu saja boleh menengoki keadaannya, tapi sekarang Bu Koko sedang diobati, dia tak dapat diganggu Pek Cici telah memberitahukan aku bahwa Bu Koko harus diobati selama tiga hari tiga malam. Jika kau ingin tengok dia, kau harus bersabar untuk menunggu tiga hari, Jika kau sekarang memaksa masuk, bukan saja kau dapat membahayakan Bu Koko, kau juga akan membikin gusar Pek Cici." Dengan terperanjat Co Hiong berseru: "Hah, Dia terluka demikian parah, masihkah dapat diobati?" Sambil tertawa Lie Ceng loan berkata, "Pek Ciciku memiliki ilmu yang sakti, dia dapat menyembuhkan dan menolong Bu Koko!"

"Rupanya Pang Siu Wie telah dapat menyelami akan kebusukan hatinya Co Hiong, maka ia berkata sambil mengejek, "Kau mengapa demikian dungu? Kau tak dapat mengerti penjelasan atau keterangan orang! Li Siocia telah menjelaskan bahwa Bee Kun Bu harus tenang Tidak boleh diganggu! Tapi kau masih juga mendesak minta masuk! jangankan di dalam kamar ada orang, meskipun tidak ada orangpun, kau tak berhak masuk ke dalam!"

Co Hiong yang kejam itu dan yakin bahwa ilmu silatnya tinggi menjawab sambil mengejek: "Ada apakah kau melarang aku masuk? Jika, aku memaksanya masuk juga, aku ingin lihat apa yang kau akan perbuat?!"

"Ha! Ha!" tertawa Pang Siu Wie, "Kau boleh rasai pasir beracunku dulu!"

Lie Ceng Loan yang menyaksikan kedua orang itu semakin bertegang, ia berusaha meredakannya "Kalian jangan berselisih di sini! Jika kau ingin tengok Bu Koko, kau harus tunggu dua hari lagi!"

Lalu terdengar tindakan kaki yang makin lama makin menjauh. Rupanya mereka telah berlalu dari luar kamar Pek Yun Hui yang telah mendengar bahwa Lie Ceng Loan minta Co Hiong tunggu dua hari lagi, berpikir "Ai! Lie Ceng Loan! Lie Ceng Loan! Mengapa kau tak dapat melihat bahwa Co Hiong itu adalah satu manusia yang kejam dan busuk? Dengan ilmu silatnya yang tinggi dia telah datang kesini, Dia pasti datang dengan maksud yang busuk, Kau minta dia menunggu di sini dua hari lagi, sama juga kau mengundang maut ke dalam rumah!"

Ketika itu Bee Kun Bu sudah duduk di atas tempat tidurnya dengan kedua matanya terbuka lebar, seolah-olah orang baru sadar dari pingsannya.

Dengan pisau belati terhunus di depan dadanya, Na Siao Tiap berkata kepadanya: Tenaga dalammu belum pulih, kami harus membantu kau mengerahkan itu. Ayo, kau lekas-lekas pejamkan matamu dan berusaha mengerahkan tenaga dalammu dengan bantuan kami, Jika kau dapat melakukan itu selama empat jam, kau akan sudah sembuh, dan semua tenaga dalammu pulih kembali Ucapan itu dikeluarkan dengan tegas, tetapi dengan nada yang mengancam Sikap itulah yang membikin Pek Yun Hui gelisah.

Setelah Bee Kun Bu membuka kedua matanya, ia mengawasi Na Siao Tiap yang berada dihadapannya, kemudian menatap Pek Yun Hui, ia tersenyum, dan baru saja ia ingin membuka mulutnya untuk bicara, lantas Na Siao Tiap mengancam ia untuk lekas-lekas memejamkan kedua matanya: "Ayo, tutup matamu jika tidak ingin mati! Mulailah kerahkan tenaga dalammu!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin bicara kepada Pek Yun Hui, tetapi ancaman Na Siao Tiap membikin ia tak berdaya, ia hanya pejamkan kedua matanya lagi, dan berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, setelah mendengar ancaman dan melihat pisau belati terhunus di dadanya.

Pek Yun Hui tidak sampai hati melihat Na Siao Tiap demikian galaknya terhadap Bee Kun Bu, ia berkata dengan bisik-bisik: Tiap Moi-moi, dia telah lama tak sadarkan diri.

Meskipun dia telah sadar, akan tetapi semangatnya belum kumpul. Kau terlampau galak terhadap dia..."

Setelah mendengar peringatan itu, Na Siao Tiap makin beringas, ia tekan pisau belatinya pada dadanya Bee Kun Bu sehingga keluar darah.

Pek Yun Hui berusaha pegang pergelangan tangannya Na Siao Tiap, tetapi Na Siao Tiap lebih cepat menarik kembali tangannya.

Ketika itu Bee Kun Bu telah memejamkan kedua matanya, dadanya berdenyut cepat, dan seluruh tubuhnya bergetar karena ia sedang menuruti petunjuk Na Siao Tiap mengerahkan tenaga dalamnya,

Lalu Na Siao Tiap duduk kembali di pinggir tempat tidur dan taruh lagi pisau belatinya di sisi bantal kepala nya. Sambil mengawasi Pek Yun Hui ia berkata: "Jika dia membuka mulut bicara atau terus memandangi kita, mungkin dia lupa mengerahkan tenaga dalamnya dan jalan-jalan darahnya akan menjadi mampet lagi, Dengan demikian jerih payah kita selama dua hari dua malam menjadi sia-sia belaka,"

Tetapi apakah artinya darah yang keluar karena tikaman?"

Sambil tersenyum Na Siao Tiap menjawab: "Aku sengaja menikamnya agar dia tidak berani membandel Luka itu pun tak ada artinya, aku harap Cici tidak buat pikiran."

Pek Yun Hui tidak menanya lagi, iapun duduk mengawasi perubahan yang sedang berlangsung di tubuhnya Bee Kun Bu.

Demikianlah kedua gadis itu menunggu dengan sabar sambil matanya terus mengawasi Bee Kun Bu, Setelah selang hampir satu jam, Na Siao Tiap mulai memijat tengkuk lehernya Bee Kun Bu, Segera Bee Kun Bu menarik napas panjang sebelum ia membuka matanya.

Tiba-tiba Bee Kun Bu bangun dan meloncat turun dari tempat tidurnya, Pek Yun Hui lekas-tekas menahannya sambil berkata: "Kau baru saja sembuh, kau tidak boleh bangun, itulah Na Siocia yang telah menolong kau. Ayo, lekas-lekas menghaturkan terima kasih kepada-nya!" Lalu ia tarik tangannya Bee Kun Bu dibawa ke-depannya Na Siao Tiap,

Tetapi Na Siao Tiap menghadapi Bee Kun Bu dengan beringas sambil memegangi pisau belatinya.

Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata: "Tiap Moi-moi, ketika bibi Cui masih hidup, dia sayang aku seperti anak kandungnya, Selama sepuluh tahun lebih ini aku senantiasa ingat akan kasih sayangnya, Bagaimanakah jika beberapa hari lagi kita bersama-sama pergi ke kuburannya, untuk menghaturkan terima kasihku di hadapan roh nya ?"

Na Siao Tiap taruh kembali pisau belati nya dan menundukkan kepala nya. Terlihat pula air matanya mengucur Lalu ia berlutut di hadapan Pek Yun Hui serta berkata: "Aku bersalah, dan aku rela dihukum oleh Kong Cu!" Lekas-lekas Pek Yun Hui mengangkat bangun, dan memeluknya sambil berkata: "lbumu seperti juga ibu kandungku, Seterusnya kita harus menjadi saudara kandung Aku lebih tua darimu, dan kau harus panggil aku Cici, Lagipula ayahmu adalah guruku, Seterusnya kau tak boleh panggil aku Kong Cu lagi, Aku adalah Cicimu!"

Lalu dengan mengawasi Bee Kun Bu ia membentak: "Hai! Kau mengapa diam saja? Dia sudah menolong jiwamu dengan telah mengeluarkan banyak tenaga, Kau masih juga belum menghaturkan terima kasih kepada-nya!"

Bee Kun Bu lalu berlutut di hadapan Na Siao Tiap seraya berkata: "Aku Bee Kun Bu menghaturkan banyak-banyak terima kasih karena Siocia telah menolong jiwaku!"

Tanpa mengawasi Bee Kun Bu, Na Siao Tiap menjawab "Aku menolong kau karena Pek Cici!"

Bee Kun Bu terperanjat mendengar jawaban itu, ia bangun dan jalan ke sudut kamar

Lalu Pek Yun Hui ajak Na Siao Tiap duduk di tempat tidur dan dengan ramah ia berkata: "Tiap moi, aku harap kau pandang aku, dan tidak menyesal karena kau telah menolong jiwanya. " sebetulnya ia ingin membela Bee Kun Bu tetapi

setelah melihat sikapnya Na Siao Tiap, ia tidak meneruskan.

Na Siao Tiap bangun dari tempat duduknya dan berkata: "Cici setelah dia dapat beristirahat sebentar, dia akan menjadi sembuh betul. Aku ingin keluar memerintahkan bujang- bujangku untuk membikin persiapan kembali ke lembah Pek Hua Kok."

Pek Yun Hui terperanjat mendengar ucapan itu. Sambil tersenyum ia berkata: "Tiap-moi, kini di lembah Pek Yun Siat telah datang banyak musuh. Aku hendak keluar memeriksanya. Kau boleh tunggu di dalam kamar ini mengajarkan Bee Kun Bu ilmu mengumpulkan semangat Na Siao Tiap menoleh kepada Bee Kun Bu yang sedang berdiri di suatu sudut kamar itu seperti seorang dungu, Melihat sikapnya itu, ia menjadi kasiham Lalu dengan ramah ia berkata: "Kau hanya perlu duduk beristirahat sebentar, segera kau akan menjadi sembuh betul sementara itu, kau harus mengerahkan tenaga dalammu untuk mengumpulkan semangatmu!"

Pek Yun Hui menghampiri Bee Kun Bu. "Ayo, kau turut melaksanakan petunjuk-petunjuknya. sebentar lagi aku akan ajak Lie Ceng Loan datang melihat kau."

Bee Kun Bu tersenyum, dan ia segera duduk di lantai melaksanakan petunjuk-petunjuknya Na Siao Tiap.

Sebetulnya Pek Yun Hui ingin suruh Bee Kun Bu duduk di atas tempat tidurnya, tetapi ia merasa malu mengatakan itu dihadapannya Na Siao Tiap, ia hanya menarik tangannya Na Siao Tiap untuk diajak keluar dari kamar itu bersama ia.

Dengan pertolongan Na Siao Tiap yang menggunakan ilmu Toa Pan Yo Hian Kong, Bee Kun Bu telah luput dari maut, Luka yang disebabkan perbuatan Co Hiong dengan ilmu Tai Ki Kongnya juga telah disembuhkan oleh ilmu Pun Sin Cin Ki (Tenaga ajaib dari semangat dalam) dari Na Siao Tiap.

Maka setelah ia beristirahat mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan semangat nya, ia telah sembuh betuL Baru saja ia membuka kedua matanya, ia dibikin kaget oleh berkelebatnya bayangan orang setelah pintu kamar ditendang terbuka, Lalu dihadapannya tampak Co Hiong yang berdiri dengan wajah berseri-seri.

Co Hiong menatap Bee Kun Bu, dan kemudian sambil tertawa ia berkata: "Bee Heng betul-betul beruntung, Aku tak menduga bisa bertemu lagi!"

Bee Kun Bu menarik napas panjang sambil bangun dari lantai, "Selama satu tahun belakangan ini, aku merasa seperti sudah seratus tahun, Aku telah menjumpai banyak sekali rintangan-rintangan, Jika aku pikir sekarang, aku seperti juga tengah bermimpi." ia berhenti, lalu menanya Co Hiong, "Co- heng, bukankah kita pernah berjumpa di pegunungan Ngo Bi San? Disitu aku ingat aku telah terluka,.," kata Bee Kun Bu.

Co Hiong yang pintar tetapi busuk lalu tersenyum dan berkata: "Betul! Betul! Ketika itu Bee-heng sedang ditawan oleh seorang wanita berpakaian hitam, Dan.., aku pernah bertarung melawan wanita itu."

"Wanita berpakaian hitam itu adalah Giok Siu Sian Cu yang terkenal di kalangan Kang-ouw, Co-heng mungkin bukan tandingannya." kata Bee Kun Bu.

Melihat bahwa Bee Kun Bu tidak menaruh curiga kepadanya, dan karena yakin bahwa Bee Kun Bu tidak ingat lagi tentang peristiwa-peristiwa setelah dia pingsan, maka jawabnya Co Hiong dengan berlagak: "Ya, akupun merasa malu tak dapat melawan seorang wanita yang telah terluka dan aku telah dipukul jatuh terjerumus ke dalam suatu telaga!"

"Giok Siu sian Cu sangat terkenal lihay ilmu silatnya, Jika Co-heng kalah melawan dia, Co-heng tak usah merasa malu!"

"Kalah atau menang bagiku tidak menjadi soal." kata Co Hiong, berkata dengan wajan

"Karena hendak menolong aku, Co-heng telah kecebur ke dalam telaga, Meskipun Co-heng tak berhasil menolongnya, akan tetapi aku sangat berterima kasih."

Co Hiong tersenyum, lalu berkata lagi: "Barusan Lie Sumoymu telah memberitahukan bahwa Bee-heng telah menderita luka parah, Aku hanya dapat menunggu di luar dengan hati cemas.,."

"Aku hanya perlu beristirahat sedikit lagi, dan kita segera boleh keluar mencari tempat untuk bereakap-cakap,.," kata Bee Kun Bu,

Selagi Co Hiong hendak berkata pula terdengar suaranya Pek Yun Hui diluar yang mengatakan "Hm! Orang yang berpakaian demikian, dan yang hatinya sangat buruk itu, Loan-moi lain kali jangan sembarangan beritahukan hal-hal yang sebenarnya. Kau harus hati-hati menghadapi manusia yang jahat itu.,."

Tapi dia adalah kawannya Bu Koko! Aku harus layani dia.,." terdengar kata-katanya Lie Ceng Loan,

Pereakapan kedua gadis itu makin lama makin dekat terdengarnya, Co Hiong lalu loncat dibelakangnya Bee Kun Bu, dan sambil mengangkat tinjunya ia berseru: "Bee-heng, biarlah aku menolong membebaskan jalan darahmu di punggung."

Baru saja ia ucapkan perkataan itu, lalu pintu terbuka, dan Pek Yun Hui lari masuk. ia terkejut melihat Co Hiong ingin menjotos punggungnya Bee Kun Bu.

Harus diketahui bahwa jalan darah dipunggung adalah satu dari kedua belas jalan-jalan darah yang sangat berbahaya, Satu jotosan yang jitu saja dapat membunuh mati Bee Kun Bu!

Melihat Pek Yun Hui terperanjat Co Hiong tertawa gelak- gelak dan berkata: "Bee-heng rupanya sudah sembuh, Hanya satu jotosan di punggung ini, maka kau akan sembuh betul!"

"Hm! Kau jangan berlagak!" bentak Pek Yun Hui. "Kau hanya pura-pura ingin menolong!"

Co Hiong mengawasi Pek Yun Hui yang sekarang telah mengenakan pakaian perempuan Co Hiong yang bermata keranjang tertarik oleh potongan tubuhnya yang langsing dan wajahnya yang cantik. Untuk sementara waktu Co Hiong telah lupa bahwa ia sedang menghadapi satu musuh yang sangat membenci padanya,

Dengan gerak yang sangat lincah Pek Yun Hui loncat ke sampingnya Co Hiong dengan maksud memukulnya, tetapi ketika melihat Co Hiong menekan punggungnya Bee Kun Bu, ia segera batalkan maksudnya, dan loncat mundur Iagi. Sambil mengejek Co Hiong berkata: "Satu jotosan di punggung ini dapat segera menyembuhkan Bee-heng! Maka itu, janganlah kau coba-coba mengganggu aku!"

Tinju yang ditekan di punggungnya membikin Bee Kun Bu merasa sakit ia lekas-Iekas mengerahkan tenaga dalamnya menahan sakit itu sambil memejamkan kedua matanya, dan sejenak kemudian ia baru merasa seluruh tubuhnya menjadi hangat, dan sakit tersebut mulai lenyap!

Pek Yun Hui pernah bertempur melawan Co Hiong dua kali, ia yakin bahwa ilmu silatnya Co Hiong lebih tinggi dari pada Bee Kun Bu. Kini tinjunya jahanam itu ditekan di punggung Bee Kun Bu. jika ia menyerang, Bee Kun Bu pasti dibunuh oleh Co Hiong, Karena kawatir akan jiwanya Bee Kun Bu, maka ia mengalah sambil berkata: "Jika kau tidak melukai dia, aku rela berunding dengan kau!"

Dengan kesempatan itu, Co Hiong berkata sambil tersenyum: "Ke satu, aku minta kau tidak mengorek-mengorek peristiwa yang lampau untuk menghindarkan salah faham!"

"Baik," jawab Pek Yun Hui, "tetapi sarat itu harus diberi batas tempo!"

"Ya, aku beri jangka waktu satu bulan." kata Co Hiong, "Dan ke dua, dalam jangka waktu satu bulan ini, kita tak boleh saling menyinggung!.

"Apakah kau tidak bermaksud berlalu dari sini?" tanya Pek Yun Hui,

"Betul!" jawab Co Hiong, "Aku bermaksud berdiam disini selama satu bulan, dan kita dapat bermain-main bersama- sama di sini selama satu bulan itu, bukan?"

Melihat sikapnya yang kurang ajar dan mendengar ejekannya Co Hiong itu, Pek Yun Hui menjadi gusar dan hendak memukulnya. Tetapi mengingat jiwanya Bee Kun Bu yang terancam. Pek Yun Hui terpaksa mengalah! "Baiklah!" jawabnya, Dengan tertawa gelak-gelak Co Hiong mengangkat tinjunya dan Bee Kun Bu pun segera merasa napasnya menjadi lega!

Harus diketahui bahwa Co Hiong sekarang sudah beda jauh sekali daripada Co Hiong dulu, sebelum dia dapat belajar dari Kok Gie Taysu yang dia telah bunuh mati dengan kejam.

Bee Kun Bu membuka kedua matanya, dan melihat Pek Yun Hui berdiri di dekat ia. Sambil tersenyum ia berkata: "Aku merasa aku sekarang betul-betul sembuh!"

-ooo0ooo-

Pang Siu Wie menjaga Co Hiong seorang diri

Sebelum Pek Yun Hui menjawab, Co Hiong telah berkata: "Luka-luka Bee-heng sudah sembuh betul Kau hanya perlu beristirahat beberapa hari saja, dan segera akan dapat menjadi jago lagi, Ha! Ha! Ha!"

Bee Kun Bu yang belum kumpul betul semangatnya, ketika Co Hiong menekan tinjunya di atas punggungnya, mengira Co Hiong telah membantu mengobati padanya, karena setelah tinju tersebut diangkat, ia segera merasa reda dan lega, Maka ia berkata: "Jika Co Hiong tak membantu, mungkin aku tidak demikian cepat sembuhnya, Terima kasih!"

Co Hiong menyengir "Aku hanya berbuat selayaknya sebagai seorang kawan."

Bee Kun Bu melanjutkan "Kali ini aku telah menderita luka parah, jika tidak ada Pek cici yang datang menolong, aku tak dapat hidup.".

"Kau harus berterima kasih kepada Na Siao Tiap, Tanpa dia yang menolong, aku tak berdaya, Kau berhutang jiwa terhadap Na Siocia." kata Yun Hui.

Bee Kun Bu ingat akan sikap yang dingin dari Na Siao Tiap, maka ia hanya menundukkan kepalanya. Untuk sementara waktu keadaan di dalam kamar itu sunyi senyap, Lalu Co Hiong mengejek lagi: "Nah, aku mewakili Bee Heng menghaturkan terima kasih atas pertolongan Pek Siocia!" iapun mengangkat kedua tangannya dan menyoja kepada Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui merasa jemu sekali melihat lagaknya manusia yang busuk itu. ia membentak: "Fui! janganlah kau berlagak Kelak jika ada kesempatan, aku akan memberitahukan perbuatan-perbuatan busukmu kepadanya."

Bentakan tersebut hanya dijawab dengan tertawa gelak- gelak.

Ketika itu Lie Ceng Loan juga sudah masuk ke dalam dan lari menubruk Bee Kun Bu seraya berseru: "Bu Koko, kau sudah sembuh?" selama hampir satu bulan ia selalu khawatir penderitaannya Bee Kun Bu. Maka ketika melihat Bee Kun Bu sudah sembuh, bukan main girangnya, ia duduk di samping Bee Kun Bu, dan air matanya mengucur deras sekali, ia pegangi kedua tangannya Bee Kun Bu sambil berkata: "Jika kau tidak sembuh dan tak dapat hidup, aku dan Pek cici akan menyertai kau bersama, dan kita masih juga dapat melihat kau setiap hari!"

Bee Kun Bu mengusap-usap rambutnya Lie Ceng Loan dan berkata sambil tersenyum: "Ai, aku telah membikin kau turut menderita juga!"

Lie Ceng Loan seka air matanya, lalu menjawab: "Aku tidak letih, tetapi Pek cici menjadi letih sekali, Untuk menolong kau, Pek cici harus bertarung melawan banyak musuh, Tanpa pertolongannya, mungkin kau sudah mati."

Co Hiong yang berdiri dekat mereka dan menyaksikan betapa mesranya Lie Ceng Loan melayani Bee Kun Bu merasa iri hati, Meskipun ia bermaksud membunuh mati Bee Kun Bu, tetapi wajahnya tetap tenang, Bee Kun Bu menoleh kepada Pek Yun Hui dan berkata: "Pek cici, kau telah berulang kali menolong aku. Aku khawatir aku tak dapat membalas budimu yang sebesar itu!"

Pek Yun Hui hanya tersenyum meskipun ada banyak perkataan yang ia ingin ucapkan.

"Tetapi Bee-heng menderita luka tidak pereuma, aku sebagai kawan karibnya..." Co Hiong mengejek.

Pek Yun Hui meneruskan: "Telat mencelakakan dia bukan?"

"Jika aku pandai, aku tentu berhasil menolong dia keluar dari pegunungan Ngo Bi San.,." kata Co Hiong.

"Jangan bilang "kawan" lagi!" bentak Pek Yun Hui. "Betul aku telah berjanji tak saling menyinggung selama satu bulan, tetapi kau harus hati-hati. jika kau berbuat sesuatu yang gila- gilaan di Pek Yun Siat ini kau jangan kira kau dapat keluar hidup-hidup dari pegunungan Koat Cong San ini!"

Co Hiong tetap menantang: "Aku hanya khawatir kau tak mampu membunuh mati aku!"

Bee Kun Bu merasa gelisah, dan ia berusaha meredakan: "Co-heng telah datang sebagai tamu, Pek Siocia, aku minta kau pandang aku, dan jangan terlampau beringas."

Pek Yun Hui menarik napas dan memperingatkan Bee Kun Bu: "Aku hanya minta kau berhati-hati terhadapnya, jangan sampai dianiaya lagi!"

Bee Kun Bu yang telah mengetahui wataknya Pek Yun Hui, setelah mendengar peringatan itu, lalu mengawasi Co Hiong,

Tetapi Co Hiong masih tetap tenang, dan sambil tersenyum ia berkata: "Aku dan Bee-heng tetap sahabat sebagaimana sediakala, Aku dengan tak menghiraukan perjalanan yang jauh telah datang menengoki kau. Tetapi Pek Siocia mengucapkan kata-kata yang menusuk hati, sebetulnya apa maksud nya ? Kita di kalangan Bu Lim selalu mentaati janji, bukan?" ia sengaja mengucapkan itu untuk mengejek Pek Yun Hui akan janjinya, dan untuk mencegah Pek Yun Hui membuka semua kebusukannya,

Lalu Pek Yun Hui tarik tangannya Lie Ceng Loan dan diajaknya keluar Di dekat pintu ia berbalik dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Kau harus berhati-hati. Paling baik kau jangan berlalu dari kamar!"

Bee Kun Bu memperhatikan sikap dan pesannya Pek Yun Hui yang sangat benci Co Hiong, dan iapun menjadi waspada.

Setelah kedua gadis itu berlalu, sambil tertawa Co Hiong berkata: "Bee-heng, kau tak usah khawatir terhadap aku." ia berhenti sejenak, lalu menanyai "Kamar ini sangat rapi. Kamar siapakah ini?"

Dengan perasaan malu Bee Kun Bu menjawab: "Aku telah menderita luka parah, dan telah dibawa ke dalam kamar ini.

Kamar ini adalah kamarnya Pek Siocia."

"Jika ia rela mengobati kau di dalam kamarnya, ia tentu telah jatuh hati terhadapmu.,." kata Co Hiong menyindir ia berhenti ketika ia melihat sebuah kotak dari batu giok di atas tempat tidur ia berpikir "Di dalam kotak itu pasti tersimpan barang yang berharga, Aku harus mencari akal mengambil.,."

Bee Kun Bu menjadi merah mukanya ketika Co Hiong mengatakan bahwa Pek Yun Hui telah jatuh hati kepadanya, tapi ia tak perhatikan matanya Co Hiong yang menatap kotak batu Giok, ia menjadi bisu sebentar, lalu ia menanya: "Co- heng, Suciku, Liok Giok Pin, sekarang ada dimanakah?"

Co Hiong telah siap dengan jawabannya: "Dia sedang bersembunyi diluar puncak Pek Yun Siat ini ia mengharapkan kau dapat menengoki dia.-." ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan lagak kecewa: Tapi mungkin ia tak mempunyai harapan itu.,." Bee Kun Bu mengerutkan kening. "Mengapa dia tak mempunyai harapan. Aku dapat segera pergi menengoki dia sekarang juga!" kata Bee Kun Bu kemudian

Dengan girangnya Co Hiong berkata: "Dengan melalui banyak rintangan dan bahaya aku datang menengok kau yang menderita luka parah dan maksud ke dua ialah, karena dia minta aku memberitahukan kepadamu bahwa dia ingin menjumpai kau untuk penghabisan kali."

Keterangan yang palsu itu segera terlihat hasilnya Bee Kun Bu nampaknya terperanjat dan menanya dengan perasaan heran: "Mengapa untuk penghabisan kali?"

Dengan menghela napas Co Hiong berlagak bersedih hati, "Betul untuk penghabisan kali, jika aku tidak mencegah ia telah membunuh diri!" jawabnya,

Bee Kun Bu yang kena diabui menjadi sedih. ia tundukkan kepalanya untuk berpikir Kemudian ia ber kata: "Liong Suci sangat sederhana, Aku minta kau perlakukan dia dengan kasih sayang."

"Sudah tentu! Kau tak usah mengatakannya pula Tetapi aku tak bisa selalu mencegah maksudnya untuk membunuh diri!" jawab Co Hiong pura-pura.

"Karena kau, dia telah melanggar peraturan partai Kun Lun, dan melarikan diri mengikuti kau." kata Bee Kun Bu. "Jika dia tidak tergila-gila kepadamu, dia tak akan melakukan perbuatan yang nekat itu."

"Karena dia melanggar peraturan partai Kun Lun dan melarikan diri, dia menjadi ketakutan selalu. Partai Kun Lun yang terkenal sebagai salah satu sembilan partai silat yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini, tentu tak akan memberi ampun kepadanya, Kau sebagai murid partai Kun Lun mungkin juga diperintahkan untuk menangkap dia!" berkata Co Hiong.

Bee Kun Bu berpikir "Jika aku diperintahkan oleh guru untuk menangkapnya, aku harus melakukannya.,." lalu ia berkata: "Jika guruku memerintahkan aku menangkapnya, aku tentu tak dapat menolak. Tetapi sampai sekarang aku belum diperintahkan untuk menangkapnya, Oleh karena itu, anggap saja aku tidak mengetahui urusan ini. Menurut pendapatku, lebih baik kau lekas-lekas bawa dia pergi!"

"Oh, jadinya kau tidak ingin melihat dia lagi?" tanya Co Hiong.

Teguran ini menggelisahkan hatinya Bee Kun Bu. ia menjawab: "Aku minta kau memberitahukan kepadanya bahwa karena satu alasan, aku tak dapat menengoki dia."

"Baiklah," jawab Co Hiong, "Aku akan beritahukan ini kepadanya sebelumnya ia menghabiskan jiwanya.,."

Ketika itu Lie Ceng Loan telah masuk lagi membawa makanan. ia taruh semua makanan itu didepannya Bee Kun Bu seraya berkata: "Semua makanan ini dibuat oleh Pek cici, dan dia pesan kau jangan makan terlampau kenyang- kenyang."

Lie Ceng Loan mengawasi Co Hiong sejenak, lalu berkata dengan wajan "Pek Cici kata bahwa kau adalah seorang yang jahat, dan aku harus waspada terhadap kau, Tetapi kau baik sekali terhadap Bu Koko, Jika aku tak bersikap ramah lerhadapmu, aku merasa tidak enak."

Co Hiong menyengir dan menjawab: "Mungkin Pek Cicimu mengatakan hal yang benar. Aku Co Hiong pun tidak suka orang mengatakan aku seorang baik!"

"Jika dia dapat menceritakan perbuatan-perbuatan busuk yang kau telah lakukan, aku baru pereaya perkataan nya.

Tetapi sehingga seorang, aku tak dapat melihat kebusukanmu." kata Lie Ceng Loan.

Sambil membereskan piring mangkok bekas Bee Kun Bu dahar, Lie Ceng Loan menjawab: "Pek Cici belum pernah berdusta, dan aku harus turuti pesannya!" Co Hiong tertawa terbahak-bahak dan berkata kepada Bee Kun Bu, "Hai! Bee-heng, persahabatan kita ini rupanya banyak durinya. Dan Sumoymu yang cantik jelita ini anggap aku sebagai seorang ular berbisa! Rupanya persahabatan kita putus sampai disini! Ha! Ha! Ha!"

Bee Kun Bu tidak menjawab, ia berpikir: "Kau telah membawa lari Liong Giok Pin. Kau tentu bukan orang yang baik. Tetapi kau pernah menolong aku, d,an aku harus ingat budimu." Lalu ia berkata sambil tersenyum: "Sumoyku itu sangat polos, aku harap Co-heng tidak taruh di dalam hati."

Lie Ceng Loan pun berkata: "Co-heng, jika aku bicara salah, aku minta maaf."

Melihat kasih sayang yang diberikan oleh Lie Ceng Loan kepada Bee Kun Bu, Co Hiong menjadi sangat iri hati, timbullah hatinya yang jahat untuk merenggangkan mereka, Dengan tersenyum ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Lie Siocia, kau jangan kecil hati, Meskipun kau maki, aku takkan menjadi gusar"

Lie Ceng Loan menjawab dengan senyumnya, lalu ia bawa bekas makanan Bee Kun Bu keluar dari kamar,

Kemudian Co Hiong berbisik: "Bee-heng, apakah kau benar-benar tidak sudi melihat Liong Giok Pin?"

Bee Kun Bu segera bangun dari tempat duduknya dan berseru: "Jika Liong suci ingin melihat aku, mari kita berangkat sekarang!"

"Aku yakin jika dia melihat kau, dia pasti akan menjadi gembira." kata Co Hiong, "Selama setengah bulan ini, dia senantiasa bermuram dan bersedih Sia-sia aku menghiburkannya,

Bee Kun Bu telah dibikin tergerak hatinya, "Ayo, kita berangkat sekarang juga!" katanya mendesak. Dengan berlagak alim, Co Hiong lalu berjalan keluar dari kamar itu, diikuti oleh Bee Kun Bu,

Baru saja mereka berjalan beberapa tindak, Co Hiong tiba- tiba berhenti dan berkata: "Harap Bee-heng turun di sini sebentar Sapu tanganku ketinggalan di dalam kamar."

Co Hiong lari dan masuk kembali ke dalam kamar Meskipun Bee Kun Bu menaruh curiga akan gerak-geriknya Co Hiong, akan tetapi ia tak dapat mengetahui maksud Co Hiong yang sebenarnya.

Tak lama kemudian, Co Hiong keluar dari dalam kamar dan menarik tangannya Bee Kun Bu untuk lekas-lekas berlalu.

Mereka berjalan belum jauh, terdengar Lie Ceng Loan memanggil: "Bu Koko kau berdua hendak pergi ke mana? Aku turuti

Bee Kun Bu menoleh ke belakang dan menjawab: "Aku dan Co Hiong angin pergi menengoki seseorang, dan segera akan kembali Kau jangan ikut!"

Tetapi Lie Ceng Loan sudah datang mengejar, dan ia berkata: "Bu Koko, kau baru saja sembuh, Jika kau menjadi letih, aku boleh menggendong kau pulang!

Co Hiong berkata sambil tersenyum: "Kau jangan khawatir Jika dia letih, aku akan gendong dia!"

Lie Ceng Loan ingin berkata lagi, akan tetapi ia membatalkan maksudnya.

Bee Kun Bu menegur: "Mengapa kau tidak menjawab?" "Jika aku menjawab, aku khawatir akan menyinggung Bu

Koko," jawab Lie Ceng Loan.

"Hm!" kata Bee Kun Bu, "Aku mengerti, kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tetapi di hadapan Co Hiong kau malu mengucapkannya, Sudahlah."

Lalu Lie Ceng Loan lari kembali dan Bee Kun Bu mengikuti Co Hiong berjalan terus. Setelah mereka keluar dari lembah dan tiba di suatu tikungan, tiba-tiba Pang Siu Wie loncat keluar dari belakang satu batu besar Mereka terkejut, dan berhenti sambil menegur: "Siapa...?"

Baru saja Co Hiong ingin menyerang, Bee Kun Bu menahan sambil berkata: "Co-heng, tahan! Dia adalah kawan kita!"

Ketika Bee Kun Bu berada di puncak Ngo Houw Leng di pegunungan Ngo Bi San, ia pernah menyaksikan Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan bersama-sama menahan serangan- serangan musuh, ia masih ingat karena mukanya Pang Siu Wie sangat je!ek.

Co Hiong terpaksa tidak menyerang, dan Pang Siu Wie memperoleh kesempatan untuk mengambil kantong pasir beracunnya, dan berdiri mengawasi Co Hiong. Sambil menghadapi Bee Kun Bu, ia berkata: "Bee Siang-kong, lebih baik kau kembali lagi dan beristirahat karena kau baru saja sembuh, Orang ini mengajak Siangkong keluar dengan maksud yang busuk!"

Bee Kun Bu mengerutkan kening seolah-olah berpikir tetapi Pang Siu Wie segera meneruskan sambil tersenyum: "Bee Siangkong jangan menaruh curiga terhadapku Aku datang atas perintah Pek Siocia dan aku telah menunggu di sini agak lama."

Co Hiong merasa tersinggung, ia berkata: "Aku adalah kawan karibnya Bee-heng, kau tak perlu turut campur urusan kami berdua..."

Pang Siu Wie, yang sudah diberitahukan oleh Pek Yun Hui bahwa Co Hiong yang busuk itu memiliki ilmu silat tinggi, lalu mundur dua langkah, dan sambil memegang kantong pasir beracunnya, ia mengancam: "Jika kau berani maju satu tindak lagi, kau akan rasai pasir beracunku ini!"

Co Hiong telah melihat kelincahan wanita yang jelek itu, dan dengan kantong pasir beracun di dalam tangan, wanita itu merupakan lawan yang berbahaya baginya, ia yakin ia tak mudah menghindarkan pasir beracun lawannya jika ia disambit Lalu dengan akal bulus ia menoleh ke belakang dan berkata kepada Bee Kun Bu,"Bee-heng, kau lekas-lekas kembali ke kamarmu, Kita berpisah di sini!"

"Tidak," jawab Bee Kun Bu, "Aku harus tengok Liong Suci!" sambil mundur lagi tiga langkah, Pang Siu Wie berkata: "Bee Siangkong, harap lekas-lekas mundur Dia bermaksud busuk!"

Maksud keji Co Hiong tak tereapai ia berlagak tertawa dan mengawasi Bee Kun Bu, lalu berkata: "Co-heng ini adalah kawanku, Aku minta Siocia memandang aku, dan kasih kami lewat."

Bee Kun Bu menjadi gusar, dan ia membentak: "Mengapa aku diperlakukan seperti anak kecil?!" Tapi kemudian ia berpikir: "Pek Siocia senantiasa menjagai aku, Tindakan yang dia ambil tentu ada manfaatnya bagiku, jika tidak ada rintangan, dia tak akan menyuruh wanita jelek ini mencegat aku.,."

Tiba-tiba Co Hiong tertawa gelak-gelak dan berkata: "Bee-heng, waktu ini sangat berharga, jika kita terus

menerus menarik urat disini, kita tak akan dapat menjumpai Liong Sucimu, Ayo kita menerjang saja, dan kemudian menjelaskan tindakan ini kepada Pek Siocia..." Belum lagi habis ucapannya, ia telah meloncat ke depan untuk menyerang Pang Siu Wie dengan jurus Ouw Liong Tiong Tian atau Naga Hitam Melonjak ke langit

Tapi Pang Siu Wie bukannya anak kemarin dulu, ia mengegos secepat kilat, lalu meloncat ke samping, ia menjerit "Bee Siangkong, aku minta kau minggir agar aku dapat menghajar manusia keji ini dengan leluasa!"

Co Hiong lekas-lekas pegangi tangannya Bee Kun Bu agar tidak terpisah, dan mengirim lagi tiga jotosan bertubi-tubi untuk membuka jalan, Dengan demikian Co Hiong dapat membuka jalan, dan ia lari sambil menyeret Bee Kun Bu. Pang Siu Wie mengejar, tetapi ia ditahan oleh suaranya Pek Yun Hui yang mendatangi:

"Jangan kejar! Lekas-lekas kembali Kini di sekitar puncak Pek Yun Siat telah bersembunyi banyak musuh, Bangauku telah dipukul luka oleh orang, dia tak dapat terbang lagi untuk melakukan pengintaian. Na Siocia dan Lie siocia belum berpengalaman Tan Pao dan Siong Yun aku telah suruh keluar membantui. Co Hiong itu tinggi sekali ilmu silat nya, kau tak dapat me-lawannya, Biarlah aku yang mengintai gerak- geriknya."

Baru saja Pang Siu Wie hendak menjawabnya, Pek Yun Hui telah loncat lagi entah kemana.

Melihat cara Pek Yun Hui meloncat, Pang Siu Wie sangat kagum. ia simpan kantong pasir beracunnya dan jalan kembali ke goa.

Sambil menyeret Bee Kun Bu, Co Hiong berlari-lari sampai lima Iie. Kemudian ia berjalan dan berkata sambil tersenyum: "Bee-heng, harap kau maafkan karena aku

Sambil lari Co Hiong menyeret Bee Kun Bu.

menyeret-nyeret kau. Jika aku tidak menerjang, mungkin kita masih juga tak dapat lewat."

Bee Kun Bu telah merasa bahwa ilmu silatnya Co Hiong jauh lebih maju daripada dulu iapun merasa heran, tetapi ia sungkan menanya, ia hanya mengangguk dan berkata: Tentu saja aku tak dapat mempersalahkan Co-Heng. Aku pun ingin lekas-lekas ke sebuah Liong Suciku!"

Sambil menunjuk ke sebuah pohon cemara yang tumbuh diatas sebuah puncak, Co Hiong berkata: "Dia sedang bersembunyi diatas puncak itu. Ayo kita lari lagi!"

Lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mendaki lereng gunung menuju ke atas puncak, Bee Kun Bu yang baru saja sembuh dari lukanya segera menjadi letih, dan terpaksa mereka berjalan lagi.

Ketika mereka tiba didekat sekelompok semak-semak Co Hiong berhenti, karena ia melihat ada sesuatu didalam semak belukar itu. Mereka menghampiri dan betul saja di dalam semak itu ada seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata golok sedang bertiarap.

Co Hiong mengenali bahwa orang itu adalah orangnya partai Thian Liong. ia loncat dan menyentuh orang itu dengan kaki kanannya, Tetapi ketika orang itu terbalik, ia menjadi terperanjat karena orang itu sudah menjadi mayat!

Bee Kun Bu juga melihat bahwa orang itu terluka, tetapi dari tubuhnya atau mulut dan hidungnya tidak kelihatan darah, Orang itu terbunuh karena bukan senjata tajam, akan tetapi dengan tenaga dalam lawannya!

Co Hiong memeriksa lagi sebentaran, lalu menendang kembali mayat itu ke dalam semak Sambil berpaling kepada Bee Kun Bu ia berkata: "Dia terbunuh oleh lawan yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa tingginya, Coba lihat, diluar tidak kelihatan bekas-bekas pukulan atau darah."

"Guruku pernah mengatakan bahwa, jika orang terluka sehingga tewas, tetapi tidak kelihatan bekas-bekas pukulan atau darah, dia tentu dibunuh mati oleh ilmu pukulan Bian Ciang (Pukulan kapas). Jago silat yang memiliki Bian Ciang itu tentu adalah seorang jago silat yang tinggi sekali ilmu silatnya, Mungkin dewasa ini telah datang banyak jago-jago silat ke puncak Pek Yun Siat?" kata Bee Kun Bu. Lalu ia memandang matanya ke sekitarnya,

Diantara jago-jago silat dari kesembilan partai yang terkenal dika)angan Bu Lim memang banyak yang memiliki ilmu tinju Bian Ciang. sebetulnya ilmu itu tidak berlainan daripada ilmu Judo, Misalnya ilmu tinju Im Kong Ciang (tinju angin puyuh) dari partai silat Kong Tong, ilmu tinju Ciok Yap Ciang (tinju sabetan bambu) dari partai silat Hua San dan sebagainya, Semuanya dapat memukul mati lawan tanpa bekas!

Lalu mereka meneruskan perjalanannya, Tidak lama kemudian mereka tiba diatas puncak dimana tumbuh banyak pohon disamping pohon cemara yang tinggi besar Baru saja Co Hiong ingin mendaki satu goa batu, ia mendengar suara benda beradu, dan ia berhenti Bee Kun Bu yang baru sembuh tidak mendengar suara itu. ia hanya mengawasi keadaan sekitarnya, dan ia tertegun ketika melihat dua mayat tergantung di cabang pohong ter-ombang-ambing dihembus angin!

Tiba-tiba Co Hiong meloncat ke atas untuk menjambret kedua mayat yang tergantung di cabang pohon itu. Hanya terlihat ia menjambret dan memeluk satu mayat dengan tangan kirinya, dan melempar ke bawah mayat yang lain dengan tangan kanannya sambil berseru: "Bee-heng, sanggapi mayat ini, jangan sampai dia jatuh hancur!"

Bee Kun Bu berhasil menyanggapi mayat yang dilemparkan itu, dan ia melihat bahwa kedua matanya mayat itu mencelot keluar, dan lidahnyapun melelet keluar Terang sekali orang itu telah menggantung diri! Setelah melepaskan mayat yang dipeluknya Co Hiong menghampiri Bee Kun Bu. ia berkata: "Dia telah ditotok jalan darahnya, lalu digantung di atas, Setelah itu baru dibebaskan totokannya, kelihatannya dia seperti juga menggantung diri. Hm! Orang yang melakukan ini pandai betuI!

"Menurut pendapat Co-heng, mereka ini sudah mati belum lama...

"Belum lama," jawab Co Hiong, "Aku yakin di sekitar puncak Pek Yun Siat ini segera akan terbit pertempuran yang dahsyat Mungkin juga kita sekarang telah dikurung oleh musuh! Ayo kita lekas-lekas berlalu, Liong Sucimu sedang menantikan kau!"

Bee Kun Bu hanya menurut saja dan berjalan di- belakangnya Co Hiong, Daerah dimana mereka berada sangat lebat dengan rumput dan pohon-pohon. Tetapi di atas puncak terlihat daerah yang tandus seluas beberapa depa persegi, Co Hiong membungkukkan tubuh dan menjemput tanah merah.

Merah, ia mencium-ciumnya lalu berjalan terus.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi. Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu: "Segera kita akan menjumpai Liong Sucimu."

Ketika itu Bee Kun Bu melihat sebuah kolam kecil, dan ia berkata: "Co-heng, mari kita berhenti sebentar untuk mencuci muka di kolam itu."

"Kolam ini dalam sekali, kita harus dapat loncat menyebranginya." lalu dengan enteng sekali Co Hiong meloncati kolam yang kecil itu.

Bee Kun Bu merasa kagum melihat ilmu meringankan tubuhnya Co Hiong yang meloncat dengan ilmu It Hok Ciong Thian atau Bangau Sakti Melonjak ke langit iapun menggunakan ilmu Hui Yan Liu Po atau Burung Walet Menyeberangi Ombak, dan dengan satu loncatan yang indah ia berhasil loncat menyeberangi kolam kecil itu,

Tiba-tiba Co Hiong membentak: "Siapakah yang berani menyerang aku dengan curang?" Lalu ia berbisik kepada Bee Kun Bu: "Bee-heng! Kita sedang diintai oleh musuh! Mari, lekas-lekas berlalu!" lalu iapun berlari ke depan.

Setelah mereka berlari-lari dan telah melewati beberapa pengkolan, mereka tiba di sebidang tegalan rum-put, dan di ujung tegalan rumput itu terlihat satu jalanan sempit di antara dua lereng gunung yang curam, Mereka lari masuk ke jalan kecil itu sampai kesatu batu karang, Tiba-tiba Co Hiong meloncati batu karang itu, dan ketika Bee Kun Bu menyusup Co Hiong sudah tak tampak lagi.

Dibalik batu karang yang besar itu terdapat satu mulut goa yang tingginya lebih kurang tiga kaki, Co Hiong tentu telah masuk ke dalam goa itu, pikir Bee Kun Bu. Maka iapun berjalan masuk ke dalam goa itu,

Co Hiong yang telah pergi menemui Bee Kun Bu di puncak Pek Yun Siat telah lupa membawa senjata,

Di dalam goa itu sangat gelap, dan jalannya sukar ditempuh Dengan pengalaman nya, akhirnya Bee Kun Bu berhasil menembusi jalan goa itu dan keluar lagi ke tempat yang terang, Disitu ia menyaksikan Co Hiong sedang berdiri sambil memegangi lingkaran-lingkaran emasnya seolah-olah penuh dengan pikiran.

Melihat sikapnya Co Hiong itu, Bee Kun Bu berpikir: "Goa ini adalah suatu tempat persembunyian yang baik sekali, jika mulut goa tadi ditutupi dengan semak-semak siapapun tak dapat mencari tempat persembunyian ini. Tetapi apakah yang sedang dipikiri Co Hiong itu? Bukankah aku diajak untuk melihat Liong Suciku? Ah, setelah aku terluka dan tak sadar hampir satu bulan, aku telah menjadi tolol!"

Ia ingin menegur Co Hiong, tetapi ia tak berani, karena dengan wataknya yang luhur dan agung, ia senantiasa tak suka menyinggung orang lain. ia lebih suka berkorban daripada menyusahkan orang lain.

-ooo0ooo-

Bee Kun Bu disangka mencuri Kui Goan Pit Cek Sebetulnya ujung daripada goa itu bukannya satu lembah,

tetapi sebidang tanah yang luasnya hanya lima depa persegi

dan dikitari oleh lereng gunung yang curam,

Bee Kun Bu menghampiri Co Hiong dan menanya: "Co- heng, Liong Suciku ada dimana?"

"Setelah aku mengantar dia sampai disini, aku segera pergi mencari kau. Aku berjanji bertemu disini..." jawab Co Hiong,

Dengan terperanjat Bee Kun Bu berseru: "Mengapa dia tidak ada disini?", "Mungkin dia telah tak sabar menunggu." jawab Co Hiong,

Bee Kun Bu masuk kembali ke dalam goa dan memeriksa satu kamar dari batu di dalam goa itu, tetapi ia hanya melihat rumput-rumput kering digunakan sebagai tempat tidur, seorang-o!ah baru saja ditiduri...

Dari luar Co Hiong berkata: "Mungkin dia telah menunggu terlampau lama, Karena merasa lapar, dia keluar mencari makanan, Ayo kita bersama-sama mencari dia!

Setelah melihat tiga mayat, Bee Kun Bu menjadi khawatir akan keselamatannya Liong Giok Pin, Atas ajakan nya Co Hiong untuk pergi mencari, ia lekas - lekas keluar dari kamar goa itu,

"Aku telah pesan dia untuk menunggu kedatangan kita disini, Jika dia tidak keluar mencari makanan, mungkin dia pergi ke puncak Pek Yun Siat mencari kita." kata Co Hiong,

"Aku khawatir dia menjumpai rintangan..." kata Bee Kun

Bu,

"Harap Bee-heng jangan terlampau khawatir," berkata Co

Hiong, "Dengan ilmu silatnya, aku yakin dia dapat menjaga diri Meskipun harus melawan seorang jago silat, dia masih dapat meninggalkan tanda-tanda, Coba lihat keadaan disni, bukankah tidak ada yang mencurigakan kita?"

Bee Kun Bu tersenyum dan berkata: "Aku terlampau khawatir akan keselamatannya, Lagipula aku ada sedikit omongan yang hendak diucapkan kepadamu,.,"

"Apakah itu? Sebutlah!" kata Co Hiong,

Setelah menarik napas, Bee Kun Bu memulai: "Sebetulnya Liong Suciku itu sangat disayang oleh Susiokku, tetapi mengapa ia berani melanggar peraturan partai silat kami dan melarikan diri? Co-heng yang telah menyertai dia tentu telah diberitahukan sebabnya mengapa dia melarikan diri, sebetulnya aku tak seharusnya mengatakan ini, karena sama juga menegur Co-heng..." Co Hiong terperanjat, tapi ia masih dapat terus bersandiwara, Dengan tenang ia berkata: "Apakah Bee-heng mencurigai aku yang membujuk dia kabur?"

Sambil menundukkan kepala Bee Kun Bu menjawab: "Meskipun aku mempunyai anggapan demikian, akupun tak dapat mempersalahkan Co-heng. Dia telah dididik semenjak kecil, dan ia harus mentaati peraturan partai silat Kun Lun!"

"Dengan demikian, Bee-heng pun mungkin sangat benci terhadap perbuatannya itu?" tanya Co Hiong,

Tidak! Meskipun aku tidak sudi melihat dia berbuat demikian, tetapi aku tidak membenci Bahkan aku akan berusaha minta Susiok mengampuni kepadanya." kata Bee Kun Bu, "Aku hanya khawatir aku tak berhasil Aku berniat minta Pek Susiokku agar supaya memberi ampun kepada Liong Suciku."

"Tetapi dalam soal ini kau harus tanya dia dulu, apakah dia mau kembali ke partai Kun Lun." kata Co Hiong, "Jika dia tidak ingin kembali, siapapun tak dapat memaksanya!"

Ucapan itu mengejutkan Bee Kun Bu. ia mulai insyaf bahwa Co Hiong tak menghiraukan keselamatannya Liong Giok Pin. ia tidak bicara lagi, tetapi Co Hiong meneruskan: "Selama aku menyertai dia, aku yakin aku tak berbuat sesuatu yang dapat dipersalahkan!"

sebetulnya Bee Kun Bu ingin menanya dengan maksud apa Co Hiong datang ke puncak Pek Yun Siat, akan tetapi setelah ia mulai melihat kebusukannya, ia batalkan maksudnya untuk menanya, ia hanya berkata: "Marilah kita pergi mencari Liong Giok Pin..."

Baru saja ucapannya selesai, mereka mendengar suara tindakan kaki orang. Co Hiong berbisik: "Lekas-lekas bersembunyi di dalam kamar batu!" lalu dengan membetot Bee Kun Bu ia meloncat masuk ke dalam kamar

Baru saja mereka bersembunyi orang itu telah masuk ke dalam goa. Orang itu berjubah, janggutnya putih dan bersenjatakan toya bambu, Dia adalah Tu Wee Seng, pemimpin partai silat Hua San.

Dibelakangnya tampak seorang pendeta, berusia lebih kurang lima puluh tahun, janggutnya hitam dan bersenjata pedang,

Terdengar Tu Wee Seng berkata sambil tertawa: "Tojin datang diwaktu yang tepat Aku telah bermufakat dengan pemimpin partai silat Siat San. jika Tojin pun mufakat, maka tenaga kita akan lebih kuat daripada partai silat Thian Liong, Kita tak peduli apakah berita tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu betul atau bohong, kita dapat menggunakan kesempatan ini membinasakan orang-orang yang dikirim oleh partai Thian Liong."

Si tojin menjawab: "Pendapat Tu Heng aku setuju, Di dalam beberapa tahun ini, partai silat Thian Liong senantiasa meluaskan pengaruhnya dan mendirikan ca-bang-cabang hampir disemua tempat Rupanya mereka ingin menyapu bersih partai-partai silat lainnya, dan menjagoi di kalangan Bu Lim. Akupun telah mendengar bahwa pemimpinnya, Souw Peng Hai siap mengundang jago-jago silat dari kesembilan partai datang ke markas besarnya di sebelah utara propinsi Kwiciu untuk mengadu silat Aku telah tinggal terpencil selama dua puluh tahun, aku tak sangka selama itu telah terjadi perubahan sebesar ini."

Sambil tertawa Tu Wee Seng berkata: "Tentang niatan mengundang jago-jago silat dari kesembilan partai mengadu silat pedang, akupun telah mendengarnya, karena para pemimpin cabang partai Thian Liong itu selalu mempropagandakan soal tersebut Aku yakin tiap-tiap jago silat yang aktif di kalangan Kang-ouw sudah mengetahuinya."

Mereka bereakap-cakap sambil berjalan dan segera berada di mulut kamar batu, Kamar yang kecil itu tak ada tempat untuk bersembunyi Bee Kun Bu melihat bahwa Co Hiong sedang mengumpulkan tenaga dalamnya siap sedia bertempur Bee Kun Bu pun menuruti kawannya mengumpulkan tenaga dalam.

Tiba-tiba terdengar Tu Wee Seng menegur dengan suara yang keras: "Siapa disitu?" dan teguran itu disambut dengan suara tertawa gelak-gelak.

Tu Wee Seng pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata: "Ha! Ha! Teng-heng datang tepat! Aku memperkenalkan Teng- heng kepada kawan karibku!"

Ketika itu Bee Kun Bu dan Co Hiong berdiri merapat di tembok kamar batu, mereka tak dapat melihat mukanya ketiga orang diluar itu. Tapt" mereka dapat mengetahui siapa mereka itu dengan mendengarkan per-ca kapan nya.

Terdengar Teng Lee berseru sambil tersenyum: "To-jin ini apakah bukannya pemimpin dari partai silat Tiam Cong yang terkenal sebagai Poan Thian Yen Hia Totiang (Pendeta yang dapat membalikkan langit)?"

Si tojin tertawa "Janganlah terlampau memuji Aku bernama Hia Yun Hong, tetapi kawan-kawan di kalangan Bu Lim menjuluki aku Poan Thian Yen. Apakah aku diperkenalkan dengan saudara Teng Lee dari partai Siat San dengan julukan Pek I Shin Kun (Dewa baju putih)?" kata tojin itu.

Teng Lee juga menjawab sambil tersenyum: "BetuI, dan kita adalah kawan karib, bukankah?"

"Ha! Ha! Ha!" kata Tu Wee Seng sambil tertawa, "Mengapa masing-masing merendahkan diri, Hia Totiang jarang berkelana di kalangan Kang-ouw semenjak memimpin partai silat Tiam Cong, Teng-heng juga jarang berkecimpung disebelah selatan dari sungai Yo-ciu. Te-tapi kali ini kita beruntung dapat berkumpul Sayang di tempat yang terpencil ini, kita tak dapat merayakan pertemuan ini!"

Hia Yun Hong berkata: "Aku sangat berterima kasih atas pelayanan Tu-heng. Aku dapat ke propinsi Ciatkiang kali ini karena aku mendapat kabar bahwa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dapat mengajar kita banyak ilmu-ilmu silat yang ajaib, Dan perlu untuk membikin perhitungan dengan Souw Peng Hai yang telah membikin malu kedua Sutee-ku!"

"Aku tak bermaksud memuji ilmu silatnya para jago dari partai.Thian Liong, Hia tojin dengan ilmu silat yang tinggi mungkin juga sukar menoblosi penjagaannya partai Thian Liong. Disamping orang-orangnya dengan bendera-bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam adalah orang-orang yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw. Jika Hia tojin datang sendiri menggempur mereka, sama juga masuk ke dalam goa macan. Selama hampir sepuluh tahun, partai silat Thian Liong berusaha menggempur dan membasmi kesembilan partai silat yang terkenal di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini. Jika Hia tojin masih juga berkeras seorang diri pergi menggempur mereka, berarti musuhnya partai Thian Liong berkurang satu, karena aku yakin Hia lojin akan terbunuh." kata Tu Wee Seng,

Pendapat Tu-heng tepat dengan pendapatku, dan aku minta Hia tojin mempertimbangkan." menyambung Teng Lee.

Hia Yen Hong berpikir sejenak, lalu ia menanyai "Menurut pendapat Tu-heng, aku harus bertindak bagaimana?"

Dengan perasaan puas Tu Wee Seng berkata: "Partai Thian Liong selalu bermusuhan terhadap kita, dan tipu muslihat mereka itu lihay, Mereka berusaha memecah belah partai-partai lain, dan kita tak dapat memperingatkan mereka dengan peraturan-peraturan Bu Lim..." ia berhenti sejenak, dan rupanya tak ingin meneruskan.

"Apakah Tu Heng ada sesuatu yang sukar diucapkan ?" mendesak Hia Yen Hong,

Tu Wee Seng tersenyum dan berkata: "Aku telah berunding dengan Teng-heng. Untuk menghadapi partai silat Tian Liong, kita tak usah menghiraukan peraturan Kang-ouw. Maka kita telah menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan semua orang-orang yang dikirim ke pegunungan Koateong San oleh partai Thian Liong!" Hia Yen Hong terperanjat mendengar penjelasan itu, dan ia menanya Teng Lee: "Bagaimana pendapat Teng-heng?"

Teng Lee menjadi cemas ditanyakan pendapatnya, tetapi sambil menyengir ia menjawab: "Aku sudah lama tinggal bertapa di puncak Cui-kiat-hong, dan jarang datang ke tanah datar Aku sendiri belum mempunyai keputusan Aku hanya turut saja, Mungkin Hia tojin mempunyai pendapat lain?"

"Selama dua puluh tahun aku tidak pernah berlari dari pegunungan Tiam Cong, oleh karenanya, aku asing terhadap perubahan-perubahan di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini. Aku hanya nurut pendapat kedua sau-dara." kata Hia Yen Hong,

Harus diketahui bahwa mereka ketiga-tiganya adalah pemimpin partai silat yang terkenal, dan masing-masing sungkan menyatakan maksudnya untuk menganiaya seorang lawan Dalam hatinya Teng Lee dan Hia Yen Hon^ setuju akan maksudnya Tu Wee Seng untuk membunuh mati semua orang-orangnya partai Thian Liong yang dikirim ke pegunungan Koat Cong San. Dan Tu Wee Seng sudah dapat baca isi hati kedua pemimpin itu, Dalam hatinya ia berkata: "Hm! Kalian berlagak menjadi orang yang luhur, sebetulnya kalian pun sama busuknya seperti aku!"

Namun ia berkata sambil tersenyum "Karena kedua saudara baru saja keluar dari tempat pertapaan, karenanya menjadi asing terhadap perubahan-perubahan di kalangan Kang-ouw pada dewasa ini, maka segala tindakan yang kita akan ambil untuk menghadapi partai Thian Liong dapat diserahkan kepadaku."

"Betul!" berkata Teng Lee dan Hia Yen Hong berbarengan "Jadinya kedua saudara pun setuju kita membunuh mati

orang-orangnya partai Thian Liong yang dikirim ke pegunungan Koat Cong San ini?" Tu Wee Seng menegasi,

"Betul! Kami setuju siasat ilu!" jawab Teng Lee dan Hia Yen Hong, Lalu Tu Wee Seng menjelaskan siasatnya: "Menurut pendapatku partai Thian Liong telah menyebarkan orang- orangnya di sekitar puncak Pek Yun Siat, tetapi sehingga kini mereka belum bergerak Dugaku mereka menunggu datangnya Souw Peng Hai dan pemimpin-pemimpin me-reka. jejakku telah diketahui oleh mereka, Oleh karena itu, aku terpaksa membinasakan beberapa orang-orangnya partai Thian Liong!"

"Orang-orangnya partaiThian Liongbanyak sekali." kata Teng Lee, "Jika hanya beberapa orang terbunuh, kita masih juga menjumpai rintangan!"

"Justru itulah yang aku sedang pikirkan!" kata Tu Wee Seng, "karena mereka berjumlah banyak, kita selalu terbelakang, Kita harus mencari daya untuk mendahului mereka dengan jalan membunuh orang-orangnya yang disebar untuk menjadi mata dan kuping-kuping peminv pin- pemimpin partai Thian Liong, Jika kita berhasil dalam usaha ini, kita sudah dapat mendahului pemimpin-pemimpin partai Thian Liong!"

Sambil tertawa Hia Yen hong berkata: "Bagus! Bagus!

Siasat itu bagus!"

Tu Wee Seng meneruskan: "Dan setelah membunuh mati orang-orangnya, dengan menggabungkan ketiga partai kita, kita membasmi pemimpin-pemimpinnya...!"

Teng Lee memotong pembicaraan "Pendapat Tu Heng meskipun bagus, tetapi kita harus ingat bahwa pemimpin- pemimpin partai Thian Liong bukannya anak kemarin dulu, Disamping memiliki ilmu silat yang tinggi, mereka semua berotaL Maka kita harus merancangkan dengan teliti sebelumnya kita laksanakan siasat itu!"

Tu Wee Seng tertawa dan berkata: "Cara Teng Heng berlainan daripada caraku, Jika kita dapat menjumpai pemimpin-pemimpinnya itu di satu lempat, kita sukar melawan mereka semua.,., Dan aku akan berusaha memencarkan pemimpin-pemimpin itu. Dalam usaha ini aku perlu bantuan Hia Tojin."

"Sebut saja apa yang aku harus lakukan," kata Hia Yen Hong.

Tu Wee Seng menanyai "Bagaimana pendapat kedua saudara tentang tempat kita yang sekarang ini?"

Teng Lee mengawasi keadaan di sekitarnya sebelumnya menyahut: "Tempat bersembunyi ini baik sekali!

Lalu Tu Wee Seng menjelaskan siasatnya: "Aku ingin menggabungkan tenaga dari ketiga partai silat kita untuk bersembunyi di dalam kamar batu itu. Kemudian kita pasang umpan agar pemimpin-pemimpin partai Thian Liong terpencar lalu Teng-heng dan Hia tojin berlagak bertempur merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek supaya dilihat oleh orang- orangnya partai Thian Liong. "

"Siasat yang bagus!" kata Hia Yen Hong, "Pemimpin- pemimpin partai Thian Liong setelah mengetahui tentang perebutan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu datang memburu secepat mungkin, dan mereka tak berkesempatan berunding lagi,., Tetapi manakah umpannya ?"

Dari dalam sakunya Tu Wee Seng keluarkan beberapa kitab yang pada kulitnya tertulis dengan nyata empat huruf "KUI GOAN PIT CEK," dan kitab-kitab tersebut ditaruh di dalam sebuah kotak dari batu Giok, Lalu ia berkata: "Hia Tojin khawatir tidak ada umpannya. inilah umpannya!" ia mempertunjukkan kotak batu Giok ini kepada Hia Yen Hong.

Meskipun mereka mengetahui bahwa kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, akan tetapi mereka tertarik juga oleh nama kitab-kitab itu yang banyak jago-jago silat ingin memilikinya,

"Pada tahun yang lalu, dengan kepala mata sendiri aku telah melihat Hian Ceng Tojin dari partai Kun Lun memperlihatkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, Aku juga sengaja membuat kitab-kitab yang palsu ini." kata Tu Wee Seng sambil dengan toya kayunya ia membalik-balikkan lembarannya.

Lembaran pertama menuturkan ilmu silat Tai Ki Kian, Tu Wee Seng berkata: "Meskipun kitab-kitab ini palsu, akan tetapi kitab-kitab ini didapatkan oleh orang yang gemar akan ilmu silat, kitab-kitab ini pasti bermanfaat Hanya jika jatuh di tangan Hia-heng dan Teng-heng, kitab-kitab ini sudah tentu tiada gunanya!" Lalu ia terus membalik-balikkan lembaran-lembaran kitab-kitab itu.

Sambil tertawa Hia Yen Hong berkata: "Meskipun kitab- kitab ini palsu, tetapi rupanya telah tereatat banyak jurus-jurus ilmu silat yang baik, Siapa tahu kelak beberapa puluh tahun kemudian, kitab-kitab ini akan juga dibuat perebutan oleh para jago silat angkatan muda? Ha! Ha! Ha!"

Teng Lee pun tertawa, ia berkata: "Kata-kata Hia-heng betuL Rupanya Tu-heng telah menggunakan banyak waktu untuk mengarang kitab-kitab tentang ilmu silat ini."

Tapi semua jurus-jurus ini adalah jurus-jurus biasa saja." jawab Tu Wee Seng, merendahkan diri,

Teng Lee lalu berkata: "Siasat ini betul baik, tapi jika orang-orangnya partai Thian Liong mengetahui bahwa kitab- kitab ini palsu, mereka tentu mengumpulkan orang-orangnya untuk mengejar dan menghajar kita, Lagi pula, jika kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen betul berada di dalam pegunungan Koat Cong San, mereka pasti telah memasang

jaring yang rapat agar orang tak dapat masuk atau meloloskan diri!"

"Kata-kata Teng-heng beralasan Kita bertempur untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang palsu, sedangkan orang yang bertempur merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tuIen, Bila demikian halnya, bukanlah kita berkorban untuk cuma-cuma saja?" menyambungkan Hia Tojin. "Tentang ini akupun telah pikir-kan." kata Tu Wee Seng, "Oleh karena itu, aku minta Hia-heng dan Teng-heng membantu Jika ketiga partai silat kita bergabung, partai silat yang manakah dapat menggempur kita? Selainnya partai Thian Liong yang masih juga dapat melawan, aku yakin tak ada partai silat lainnya berani menggempur kita, Misalnya, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek betul-betul ada di pegunungan ini, dengan ketiga partai kita yang bergabung, Kita dapat merebut kitab-kitab tersebut.