Bangau Sakti Jilid 13

 
Jilid 13

Tu Wee Seng hanya menyengir, tetapi tidak menjawab.

-ooo0ooo-

Para jago-jago silat bertempur untuk merebut Kura Sakti Kiok Goan Hoat yang melihat sikap yang congkak dari Tu

Wee Seng menjadi naik darah, ia bertindak maju dan membentak: Tu Heng! Kau betul-betul sombong! Apakah kau tuli, atau sengaja tidak sudi menjawab?"

Tu Wee Seng belum menjawab, To It Kang telah mendahuluinya: "Hei! Mengapa kau campur mulut?! Toakoku harus berpikir sebelumnya dia menjawab, Apa-kah kau kira hanya orang- orang dari partai Thian Liong dapat berbuat sesukanya?"

jawaban yang merupakan juga suatu tantangan itu tidak dapat diterima oleh Kiok Goan Hoat yang berangasan ia menerjang dan mengirim jotosannya,

To It Kang tidak mengegos, dengan cepat sekali kedua tangannya menjaga dadanya, lalu tangan kirinya menangkis jotosan itu, karena mereka menjotos dan menangkis dengan sekuat tenaga, maka angin yang keluar dari jotosan dan tangkisan itu telah menghembus tanah, Ketika Kiok Goan Hoat hendak menyerang lagi, Souw Peng Hai merintangi, ia berkata kepada Tu Wee Seng: Tu Heng dan To Heng telah datang tergesa-gesa ke puncak Ngo Houw Leng malam ini, sebetulnya ada urusan apakah?"

"Jika Souw Hai boleh datang ke sini, apakah kami tidak boleh datang?" jawabnya Tu Wee Seng. Souw Peng Hai tersenyum, dan berkata lagi: "Hanya aku merasa heran mengapa Tu Heng selalu membayangi jejak partai Thian Liong?"

"Souw Heng pandai bicara," kata Tu Wee Seng, "Souw Heng telah berhasil membujuk Si Tian Houw menjadi anggota partai Thian Liong dengan suatu maksud yang tersembunyi Tetapi kali ini Souw Heng tak dapat bergembira, karena keadaan sekarang ini lain daripada keadaan di pegunungan Kwat Cong San setahun berselang. Ketika itu orang-orangnya partai Thian Liong berjumlah banyak, Kali ini, banyak jago- jago silat dari kalangan Bu Lim telah datang ke pegunungan ini, Ha! Ha! Ha!"

Souw Peng Hai juga tertawa gelak-gelak dan berkata: "Sebetulnya hari untuk partai Thian Liong mengundang jago- jago silat dari kesembilan partai yang terkenal kelak akan tiba, Jika malam ini jago-jago silat dari kesembilan partai itu sudah datang ke sini, kita dapat menguji ilmu silat kita di tempat ini, bukan?" Sambil bicara ia mengawasi wajahnya Pek Yun Hui. Tetapi Pek Yun Hui tidak mengutarakan sikapnya, ia agaknya tidak menghiraukan mereka semua!

Tu Wee Seng berkata lagi: "Souw Heng mempunyai maksud mengundang para jago silat dari sembilan partai untuk mengadu silat? Partai Hoa San sangat gembira jika turut diundang, Tetapi kedatangan kami malam ini bukannya untuk menguji itm silat, hanya untuk menjumpai Si Tian Houw dan berunding dengan dia. Akan tetapi aku kuatir dia tak dapat menyetujui. "

Souw Peng Hai memotong pembicaraan itu dengan tegurannya: "Saudara Si telah menjadi anggota partai Thian Liong, dan aku berhak menanya urusan apakah Tu Heng ingin rundingkan dengan dia, dan aku dapat mempertimbangkan."

"Ai!" mengejek Tu Wee Seng. "Hm, kau betul-betul licin!" Tu Wee Seng mengejek "Bukankah kau dan orang-orang partai Thian Liong datang ke sini dengan maksud merampas Ban Lian Hwe Kwi?" "Betul!" jawab Souw Peng Hai. "Bukankah kau dan Suteemu pun bermaksud serupa juga?"

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Tu Wee Seng, "Maka mengapa kita harus bertarung mati-matian sekarang untuk orang lain yang memperoleh hasilnya?"

Souw Peng Hai berpikir sejenak, lalu menanyai "Apa-kah Tu Heng mempunyai pendapat yang baik untuk memecahkan persoalan memperebutkan Ban Lian Hwe Kwi?"

"Menurut pendapatku," jawab Tu Wee Seng, "Untuk sementara kita harus kesampingkan permusuhan kita, sekarang kita harus bersama-sama menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu."

"Dan setelah Ban Lian Hwe Kwi didapatkan, kita baru saling bertarung? Dan yang menang berhak memiliki kura sakti itu?" tegur Souw Peng Hai.

"Bukan demikian maksudku," kata Tu Wee Seng, "Kita bertarung untuk menguji ilmu silat kita dalam tiga..."

Ia belum habis menjelaskan tiba-tiba terdengar suara tertawa dan segera terlihat beberapa orang mendatangi

Souw Peng Hai menoleh dan melihat tiga orang. Orang yang di tengah bertubuh kecil dan pendek, berpakaian putih, tali pinggangnya berwarna merah, mukanya kurus perok, tetapi mulutnya luar biasa besarnya, matanya yang sipit berkesap-kesip, hidungnya pesek dan jenggotnya pulih serupa jenggot kambing gunung, Tetapi kedua orang yang berdiri di kiri dan kanannya bertubuh tinggi besar, pakaiannya serba putih, ikat pinggangnya merah, tetapi tidak berjenggot

Pek Yun Hui yang juga telah melihat ketiga orang itu berpikir: "Siapakah mereka ini? Mukanya sangat menyeramkan!"

Tetapi Tu Wee Seng setelah melihat mereka itu lantas berkata sambil tertawa gelak-gelak: "Aha, pemimpin partai silat Swat San juga telah datang mengajak kedua Suteenya! Souw Heng, lihatlah! Aku tidak berdusta!"

Souw Peng Hai tidak gentar ia mengawasi mereka, lalu mengejek: "Rupanya pertemuan malam ini akan menjadi ramai, Mungkin juga semua jago-jago silat dari kesembilan partai silat yang terkenal akan datangi berkumpul di puncak Ngo Houw Leng ini!" Lalu ia mengawasi Pek Yun Hui, tetapi sebetulnya ia menjadi agak gelisah, karena jika usahanya tertunda, ia kuatir usaha itu akan gagah

Lagi pula kabar tentang partai Thian Liqng akan mengundang semua jago-jago silat dari sembilan partai untuk mengadu ilmu silat telah lama tersiar, dan kabar itu dipandang oleh para jago jago silat sebagai tantangan, karenanya mereka menjadi mengambil sikap bermusuhan terhadap partai Thian Ljong. Jika betul-betul para jago-jago silat sembilan partai telah datang, ia tak dapat melawan mereka, karena hanya Kiok Goan Hoat dari bendera hitam yang telah datang, disamping empat iblis, Sao JCong Gie dan Si Tian Houw.

" Aku dapat gempur orang-orang dari partai Hoat San dan Swat San sekarang sebelumnya jago-jago silat dari lain-lain partai datang," pikir SouwJPeng Hai, "Tetapi aku kuatir Pek Yun Hui membantu raereka!"

Lalu si pendek, pemimpin partai silat Swat San, berkata ambil mengurut-urut jenggotnya: "Aku dan kedua Suteeku sudah lebih 10 tahun tidak datang ke daerah daeratan, tengah ini, dan tidak jelas akan perubahan perubahan pada dewasa ini. Tetapi aku pernah mendengar tentang berita partai Thian Liong akan mengundang semua jago-jago silat dari sembilan partai silat untuk mengadu silmu si!at..,. Ha! Ha! Ha! Orang yang mengundang itu betul-betul bernyali besar, dan aku kagum Aku yakin pertandingan itu akan hebat dan ramai daripada pertandingan di atas gunung Sao Sit Hong pada 300 tahun berse!ang. "

Kiok Goan Hoat yang berangasan menjawab: "Saudara Teng, lebih baik jangan sebut-sebut tentang adu silat di pegunungan Sao Sit Hong pada 300 tahun berselang. Meskipun aku tidak menyaksikan akan tetapi dari berita yang tersiar di kalangan Kang-ouw, hasil daripada pertandingan itu membuktikan bahwa partai silat Hoa San, Tiam Cong dan Kong Tong segera disisihkan hanya dalam babak pertama, Apakah partai Thian Liong akan mengundang partai Swat San atau tidak, ini juga masih belum dapat dipastikan Saudara Teng menyebut-nyebut pegunungan Sao Sit Hong dan sembilan partai silat lainnya sebetulnya bagi kami partai Thian Liong tidak ada artinya, karena dipandang mata kami, partai silat Swat San sudah tidak ada di kalangan Kang-ouw!"

Ejekan yang pedas itu bukan saja membikin orang-orang dari partai Swat San menjadi murka, bahwa orang-orang dari partai Hoa San juga tersinggung,

Lalu dua Sutee dari pemimpin partai Swat San bertindak maju satu langkah menghadapi Kiok Goan Hoat, agaknya hendak menyerang,

Kiok Goan Hoat segera mengumpulkan tenaga da-lamnya, siap bertempur melawan dua orang itu. Sao Kong Gie juga maju dan berdiri di sampingnya Kiok Goan Hoat, ia mengawasi kedua orang itu sejenak, lalu ia menjadi terkejut ia berpikir "Di dalam ilmu silat sering terjadi dua orang bersama- sama menyerang lawannya, atau yang satu menyerang dan yang lain menangkis, Misalnya empat iblis dari propinsi Sucoan yang bertempur dengan berempat menggunakan siasat penjagaan empat penjuru." Tetapi dua orang dari partai Swat San ini yang sedang mengumpulkan tenaga dalamnya rupanya akan menyerang atau bertempur dengan siasat lain. "

Tiba-tiba orang yang berdiri di sebelah kiri menyerang dengan jurus Tian Goa Lai In atau Awan Menghembus dari balik angkasa, Kiok Goan Hoat sudah siap, ia sambut tinju kanan lawannya itu dengan satu dongkrakan ke atas dengan lengan kirinya, Sao Kong Gie tidak bergerak, ia mengawasi lawan yang berdiri di sebelah kanan. Tetapi lawan itu juga tidak bergerak ia hanya berdiri menyaksikan saudara seperguruannya menyerang dan bertempur melawan Kiok Goan Hoat.

Pada saat itu, Pek Yun Hui, Sam Sou Lo Shi, Souw Per4 Hai, Tu Wee Seng, To It Kang, empat iblis dari propinsi Sucoan, dan pemimpin partai Swat San si pendek sudah mengurung kedua orang yang sedang bertarung, pertempuran makin lama makin hebat Kiok Goan Hoat sudah menggunakan semua tenaganya untuk menjatuhkan lawannya selekas mungkin, dan terlihat ia menyerang lawannya dengan kedua tinjunya bertubi-tubi, dan tiap-tiap jotosan atau pukulan

seolah-olah martil besi hebatnya, Lawannya rupanya hanya dapat menangkis atau berkelit, tetapi ia sedang menanti suatu lowongan untuk mengirim pukulan-mautnya. siasatnya itu dilihat oleh Pek Yun Hui, Souw Peng Hai dan Tu Wee Seng. Orang dari partai Swat San sedang menggunakan siasat meletihkan lawan, dan setelah pertempuran berjalan tiga puluh jurus, Kiok Goan Hoat kelihatan mulai letih.

Tu Wee Seng mengangkat toya bambunya dan berkata kepada pemimpin partai Swat San sambil tertawa: "Teng Heng, ilmu silat Suteemu banyak maju, Aku harus memberi selamat kepadamu!"

Si pendek menjawab sambil tersenyum: Tu Heng terlampau memuji!"

Tetapi.,.." Tu Wee Seng melanjutkan, "Aku pernah dengar bahwa kedua Suteemu itu biasanya bertarung bersama-sama, dan siasat itu selalu membawa hasil, Aku merasa sangat beruntung jika aku dapat menyaksikan mereka sekarang bertarung dengan siasat itu."

Dengan ketus si pendek menjawab: Tu Heng sangat cerdik, Kau mendesak kedua Suteeku bertarung sampai letih, dan kemudian kau yang rebut hasilnya!" Tu Wee Seng tidak berubah wajahnya, dan ia terus berkata: "Dugaan kau itu sangat menyinggung. Aku tak mempunyai maksud yang demikian kejinya.

Si Tian Houw mengawasi keadaan di sekitarnya, dan ia berkata kepada diri sendiri: "Ai, jika terus begini, usahaku akan menjadi gagal:"

Pek Yun Hui setelah mendengar ucapan si pendek, berpikir: "Ucapan si pendek itu betuL Tu Wee Seng menghendaki orang-orang lain bertarung sampai letih atau terbunuh, kemudian dia dapat mengambil hasilnya, jika dua orang saja bertarung demikian lamanya, sampai kapan baru akan selesai bila semua jago-jago silat ini bertempur? Apabiia penundaan terlampau lama, aku khawatir Bee Kun Bu akan terlambat dito!ong! Aku harus berusaha menghentikan pertempuran ini!"

Lalu dari dalam kantong bajunya ia ambil tiga biji besi kecil yang mirip telor burung. ia kerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang dan menghentikan kedua orang yang sedang bertarung itu, tiba-tiba si pendek membentak: "Berhenti!" dan ia loncat maju memisahkan Kedua orang itu terpental dua langkah ke belakang, Lalu dengan mengawasi Tu Wee Seng dan Souw Peng Hai.

Ia mengejek: "Pertempuran mereka mungkin makan banyak waktu, Lagi pula di sini bukannya tempat yang cocok untuk menguji ilmu silat Menurut pendapatku, pertarungan kali ini kita tangguhkan dulu, Aku yakin bahwa kalian telah datang ke sini bukannya untuk mengadu silat tapi maksud yang sebenarnya ialah untuk menangkap Ban Lian Hwe Kwi Bagaimanakah pendapat kalian jika kita pergi menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu dulu, dan kemudian kita bertempur lagi untuk menentukan siapa yang berhak memiliki Ban Lian Hwe Kwi itu?"

Selagi Souw Peng Hai berpikir, Tu Wee Seng telah menjawabnya: "Pendapatmu itu cocok dengan pendapat-ku. Setelah Ban Lian Hwe Kwi tertangkap, kita masih mempunyai banyak waktu untuk menguji ilmu silat kita, dan juga untuk menentukan Ban Lian Hwe Kwi itu milik siapa."

Souw Peng Hai tersenyum dan berkata: "Jika kedua saudara setuju diatur demikian aku juga tak dapat menolaknya, Akan tetapi Ban Lian Hwe Kwi itu adalah suatu binatang yang sangat ganjil, dan sukar ditangkapnya, Apakah kedua saudara dari partai Hua San dan Swat San ada jalan untuk menangkapnya?"

pertanyaan itu membikin kedua pemimpin partai Hua San dan Swat San tereengang, mereka tak dapat menjawab,

Ketika mereka semua menuju ke puncak Ngo Houw Leng, mereka telah mengambil keputusan untuk bersembunyi mengamat-amati atau mengintai gerak-gerik-nya Si Tian Houw, setelah kura sakti tersebut ditangkap oleh Si Tian Houw, mereka akan datang menyerang dan merampasnya, Tetapi setelah Souw Peng Hai berhasil membujuk Si Tian Houw menjadi anggota partai Tian Liong, siasat untuk memperoleh Ban Lian Hwe Kwi dari kedua partai Hua San dan Swat San itu dengan sendirinya berubah,

Melihat mengetahui mereka tidak menjawab, Souw Peng Hai tersenyum dan berkata: "Menurut pendapatku pada dewasa ini hanya seorang yang dapat menangkap kura sakti itu. Dia telah mempelajari menyelidiki dan memperhatikan jejak, gerak-gerik dan sifatnya kura itu selama lima belas tahun lebih. Orang itu ialah Si TianHouw, Jika kalian ingin menangkap Ban Lian Hwe Kwi, kalian harus lupakan kedudukan kalian sebagai pemimpin, untuk turut petunjuknya Si Tian Houw." ia berhenti, menanti jawaban,

Tu Wee Seng berkata, suaranya agak keras: "Souw Heng bicara dengan beralasan Tetapi aku masih ada satu usul.

Mendengar dan mentaati perintah Si Tian Houw tidak sukar, tetapi jangka waktunya harus dibatasi sampai kura sakti itu tertangkap, Setelah kura sakti tertangkap, tentang hak milik dari kura sakti itu, kita harus rundingkan sekarang juga untuk menghindarkan hal-hal yang kita tidak ingini!" Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak, "Tu Heng ada usul apakah? Aku si tua bangka tentu turul!" jawabnya, Tu Wee Seng tersenyum lebar karena merasa ia dihargai oleh pemimpin partai Thian Liong, dan ia melanjutkan "Menurut pendapatku setelah kura sakti itu tertangakp, kita taruh kura sakti itu di suatu tempat, dan kita semua akan bersuaha merebut nya. Orang yang berhasil merebutnya akan menjadi pemiliknya. H Lalu ia menghadapi si pendek dan menanyai

Teng Heng, bagaimana pendapatmu tentang usulku ini?

Si pendek tersenyum dan menjawab: "Usul Tu Heng bagus sekali, aku setujuiM

Souw Peng Hai berkata: "Jika demikian, kita dapat. M

Tiba-tiba Pek Yun Hui memotong pembicaraan mereka itu dan berkata: "Jika usul itu dilaksanakan berarti tiap-tiap orang berhak merebut kura sakti itu." Lalu ia mengawasi Si Tian Houw.

Si Tian Houw mengejek: "lngat, Pek Siocia, Kau masih harus mendengar perintahku lima hari lagi, Aku masih boleh perintah kau mengusir orang-orang dari partai Swat San dan Hoa San. "

"Jangan khawatir aku salah janji," jawab Pek Yun Hui dengan gemas. "Aku hanya ingin melihat bagaimanakah kau jaga dirimu setelah lima hari ini lewat!"

Ti Kian Su Seng tertawa mendengar jawaban itu, Lalu ia mengawasi Ju Wee Seng dan si pendek, pemimpin partai Siat San. Dengan bereemooh ia berkata kepada mereka: "Malam ini kedua pemimpin akan menuruti perintahku, Aku khawatir jika hal ini tersiar di kalangan Kang-ouw, nama dari kedua pemimpin akan tereemar!"

"Seorang yang bersifat jantan dapat bersikap lunak, dan juga dapat bersikap keras, Soal demikian bagi kami tak berarti," jawab Tu Wee Seng,

"Jadinya Tu Heng sudi mendengar perintahku?" mengejek Si Tian Houw, "Aku hanya menuruti kehendakmu untuk menangkap Ban I^ian Hwe Kwi/Setelah kura sakti itu tertangkap, kau menjaga, diri!" jawab Tu Wee Seng dengan ketus,

Sambil menghadapi Teng Lee (si pendek), Si Tian Houw menanya lagi dengan nada menyindir "Dan Teng Heng juga sudi mendengar perintahku?"

Teng Lee menjawab dengan menyengir "Kau jangan terlampau gembira sekarang. Setelah Ban Lian Hwe Kwi tertangkap, kau lihat saja!"

Si Tian Houw yang pintar dan busuk itu lalu me^ mandangkan matanya ke sekitarnya ia berkata kepada semua orang dengan suara yang kexas: "Sekarang sudah hampir jam dua, dan Ban Lian Hwe Kwi itu segera akan keluar dari Jobangnya, Tu Heng, kau boleh ajak saudara To It Kang menjaga di sebelah kiri dari lereng gunung!" Dengan sikap ragu-ragu Tu Wee Seng mengajak saudara angkatnya berlalu untuk menjaga di sebelah kiri dari lereng gunung, menuruti petunjuknya Ti Kian Su Seng.

Lalu Ti Kian Su Seng menghadapi Teng Lee dan memerintahkannya: "Teng Heng, kau harus bawa kedua Suteemu pergi menjaga di sebelah kanan dari lereng gunung ini!"

Teng Lee yang belum pernah diperintah orang lain, dan yang biasa memerintah orang merasa gusar mendapat perintah Si Tian Houw itu, ia menjawab: "Mengapa kau harus bicara demikian kasarnya? Kau hanya memberitahukan kami apa yang kami harus lakukan, tetapi jangan menyuruhnya seperti! seorang jenderal demikian kasar!" Lalu dengan mendongkolnya ajak kedua Sutenya berlalu untuk melaksanakan petunjuk Ti Kian Su Seng.

Setelah mereka berlalu, Si Tian Houw menjerit: "Hei kalian harus bertindak menurut petunjukku, jangan sekali-kali bertindak sendiri!" lalu ia berkata kepada Souw Peng Hai sambil tersenyum: "Kio Cu (Pemimpin), ayolah kita turun ke dalam lembah. Suhengku Ciu Kong Liang, sudah menunggu di bawah lembah.!"

Souw Peng Hai yang sudah mulai menaruh kepereayaan kepada Si Tian Houw menjawab: "Kali ini kau yang memimpin, Kau hanya katakan apa yang kami harus lakukan."

Si Tian Houw tersenyum, lalu memimpin rombongan itu turun ke dalam lembah, dan yang berjalan paling belakang adalah Pek Yun Hui dan Pang Siu Wie.

Di pihak Tu Wee Seng dan Teng Lee terpaksa menuruti petunjuknya Si Tian Houw terus berjalan dengan perasaan masgul, mereka bertekad bulat untuk membikin perhitungan setelah Ban Lian Hwe Kwi tertangkap.

Untuk membuyarkan kesepian Souw Peng Hai berkata kepada Si Tian Houw. "Tu Wee Seng dan Teng Lee, dua pemimpin dari dua partai silat yang terkenal telah menuruti petunjukmu jika hal ini tersiar di kalangan Kang-ouw, maka partai Thian Liong kita menjadi lebih dikagumi Hanya aku khawatir mereka akan membikin perhitungan terhadap kau."

Setelah menempuh dua-tiga lie, mereka harus turun ke satu lembah yang curam dan sempit Si Tian Houw yang jalan paling depan tiba-tiba loncat turun ke atas suatu birai yang hanya dua-tiga kaki lebarnya. Baru saja ia berdiri, ia merasa hembusan angin. ia menoleh dan melihat Tu Wee Seng dan To It Kang menghampiri dari sebelah kiri, dan Tu Wee Seng juga telah datang dari sebelah kanannya diikuti oleh kedua Suteenya, Mereka hanya terpisah dua kaki jauhnya, dan jika mereka ingin membunuh Si Tian Houw, mereka dapat lakukan dengan mudah sekali hanya satu pukulan atau satu totokan.

Si Tian Houw bergerak mundur setindak, memepet di lereng gunung, tetapi Teng Lee segera maju setindak dengan kedua jari tangan kanannya ditandaskan di punggungnya sambil membentak: "Ha! Si Tian Houw! Apakah yang kau hendak perbuat? Apakah kau mau mati sekarang?" sebelumnya Si Tian Houw membuka mulut, Tu Wee Seng telah menghampiri Teng Lee dan berbisik: Teng Heng, kita harus bertindak waspada! Apakah Teng Heng dan kedua Suteemu dapat melawan orang-orangnya partai Tian Liong jika kau bunuh mati dia? Kita sudah berjanji menuruti petunjuknya dan sebagai laki-laki, kita harus pegang janji kita itu! Ingat, maksud kita ialah memperoleh Ban Lian Hwe Kwi, Setelah itu terserah kepada Teng Heng!"

Teng Lee menjawab, suaranya rendah: Tu Heng yang memimpin partai Hua San, mustahil dapat menerima hinaan jahanam ini dengan sikap yang disengaja untuk mengejek kita? Aku, Teng Lee, sebetulnya tak dapat tahan lagi!"

Teng Heng, meskipun demikian, kau harus bersabar agar kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi!" Tu Wee Seng membujuk

Teng Lee segera bertindak mundur dua langkah, Pada saat itu Si Tian Houw berusaha loncat ke kiri untuk keluar dari kepungan, tetapi ia ditahan oleh toya bam-bunya Tu Wee Seng, dan segera dicengkeram oleh Teng Lee. Untuk menghindarkan Si Tian Houw dari cengkeraman mautnya Teng Lee, To It Kang menangkap dengan jurus Lan Kang Cai To atau Membendung Arus Sungai Yang Deras, Dengan kesempatan itu, Si Tian Houw loncat keluar tujuh-delapan kaki jauhnya,

Ketika itu Souw Peng Hai( Kiok Goan Hoat, Sao Kong Gie dan empat iblis sudah tiba dan menjagal Si Tian Houw, Mereka menjadi gusar karena Si Tian Houw diserang, dan jika Souw Peng Hai memberikan perintah, mereka semua akan menyerang, Tetapi Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak dan berkata:

Teng Heng, ilmu tinju-mu betul-betul lihay! Tetapi mengapa lekas-lekas menjadi gusar, dan tidak menaruh kepereayaan kepada orang lain sedikitpun? Bukankah Teng Heng telah berjanji menuruti petunjuk Si Tian Houw sebelumnya Ban Lian Hwe Kwi tertangkap?"

Teng Lee yang telah digeprak lengannya oleh To It Kang masih merasa sakit, dan jika ia tidak memiliki ilmu tenaga dalam, mungkin ia telah terjungkal seketika! Dengan geprakannya To It Kang, ia mulai insyaf bahwa ia menghadapi jago-jago silat yang tidak enteng, Dengan menahan amarah dan masgulnya ia menjawab: "Aku hanya memperingatkan dia jangan bertindak curang, Jika aku sungguh-sungguh hendak memukulnya, dia sudah menjadi mayat. Ia menoleh kepada To It Kang dan berkata. Tadi aku digeprak dengan seorang jago silat entah dengan jurus apa. Aku kagumi jago itu

To It Kang sendiri pun merasa terperanjat karena ia yakin ia hanya menggeprak lengan yang hendak mencengkeram Si Tian Houw, dan tidak bermaksud melukainya, ia pun merasa heran mengapa Teng Lee terdampar mundur, ia mengawasi Souw Peng Hai, tetapi Souw Peng Hai berkata. "Aku juga telah melihat bahwa Teng Heng terdampar mundur, tetapi itu bukannya perbuatanku!" Lalu ia menoleh mengawasi Pek Yun Hui.

Tu Wee Seng berkata untuk mempereepat usaha mereka menangkap Ban Lian Hwe Kwi. "Sekarang bukan waktunya untuk kit merebut jasa, jika kita terus menerus bertengkar, mungkin kura sakti itu tak dapat ditangkap. Si Tian Houw!

Ayo,pimpin kami ke tempat Ban Lian Hwe Kwi!"

Si Tian Houw yang nyaris dari cengkeram maut, lalu berjalan lagi, diikuti oleh semua orang. Setelah mereka berjalan dua lie jauhnya, ia berhenti dan bersiul dua kali.

Kemudian dari belokan sebelah kanan lereng gunung yang curam itu berjalan keluar Ciu Kong Liang.

Melihat Si Tuan Houw menghampiri Ciu Kong Liang dan berbisik: "Aku telah masuk menjadi anggota partai silat Thian Liong."

"Ha! Mengapa?" tanya Ciu Kong Liang. Sambil menghela napas Si Tian Houw menjelaskan. "Aku pun tidak mengetahui bagaimana rahasia tentang Ban Lian Hwe Kwi tersiar di kalangan Kang-ouw. Mereka yang mengikuti aku itu semuanya pemimpin-pemimpin dari partai silat yang terkenal pada dewasa ini dan memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Kita berdua tak dapat melawan mereka!

Di belakangku, di samping Souw Peng Hui dan Teng Lee dari partai Swat san. Jago-jago silat dari Hoa san dan Teng Lee dari partai Siat san. Jago-jago silat dartai silat lainnyapun mungkin sudah berada di pegunungan ini. Jika aku tidak masuk partai Thian Liong, kita Ti Kian Su seng tak dapat melawan mereka."

"Jadinya susah payah kita menjagai Ban Lian Hwe Kwi selama lima belas tahun sia-sia belaka?" kata Ciu Kong Liang dengan masgul.

"Tetapi sebelumnya aku menjadi anggota partai Thian Liong. Souw Peng Hai telah menjamin bahwa setelah kita tangkap Ban Lian Hwe Kwi, hak mengaturnya masih tetap di dalam tangan kita." Kata Si Tian Houw.

"Tetapi hati orang sukar diselami. Apakah kau kira urusan ini hanya dapat diatur begitu saja?" tegur Ciu Kong Liang.

Ucapan terakhir dari Ciu Kong Liang dapat didengar Souw Peng Hai yang segera berkata: "Aku telah hidup lebih dari setengah abad, tetapi aku belum pernah salah janji atau melanggar sumpah! Aku harap kau jangan ragu-ragu terhadap janjiku!"

"Betul!" kata Si Tian Houw kepada saudara angkatnya lagi. "Souw Cong Piauw Tou (Pemimpin partai) lebih hargai orang- orang yang berbakat daripada harta benda. Dia tak akan menilap kita." Lalu dengan air mata berlinang ia membujuk Ciu Kong Liang. "Kita berdua sudah menjadi saudara, bahkan melebihi saudara kandung. Aku pun minta kau menggabungkan diri menjadi anggota partai Thian Liong!" Ciu Kong Liang berpikir, rupanya sedang mempertimbangkan usul itu. Tetapi Souw Peng Hai berkata: "Aku si tua bangka pernah dengar Ciu Heng. Jika Ciu Heng suka menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong, aku segera memerintahkan semua cabang-cabang partai Thian Liong membikin pesta merayakan peristiwa yang menggembirakan ini!"

Kiok Goan Hoat menyambung: "Ciu Heng tak usah banyak pikir Banyak jago-jago silat yang sekarang tidak menggabungkan diri ke dalam suatu partai silat sering-sering diperlakukan sewenang- wenang oleh sembilan partai silat yang terkenal Souw Piawu Tou membentuk partai Thian Liong bukan dengan maksud mengangkat diri atau mencari nama, tetapi untuk membela jago-jago silat yang terombang-ambing. Ciu Heng yang telah lama berkecimpungan dikalangan Kang- ouw pasti telah mengalami perlakuan yang menjemukan itu, bukan?"

Ciu Kong Liang masih bersikap ragu-ragu. Souw Peng Hai berkata: "Jika Ciu Heng kini masih belum dapat mengambil keputusan, tunggu nanti setelah kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi, Ciu Heng dapat mempertimbangkan lagi untuk mengambil keputusan."

Ciu Kong Liang mengangguk dan menjawab: "Baiklah. sekarang yang penting ialah menangkap Ban Lian Hwe Kwi, Menurut pengalamanku selama lima belas tahun tahun, kura sakti itu sangat tajam perasaannya. Aku kuatir dia telah mendapat firasat, dan tak akan keluar!"

peringatannya itu berhasil menghentikan pereakapan, dan semua mata ditujukan kepada Ciu Kong Liang,

ia berdehem dua kalt, dan segera suasana menjadi sunyi senyap Iagi. Si Tian Houw yang mengetahui habis watak saudara angkatnya, dan karena kuatir orang lain salah paham, segera berkata kepada semua orang: "Karena saudara angkatku belum menjadi anggota Thian Liong, aku setelah memperoleh persetujuannya Souw PiauW Tou, dan juga kedua pemimpin partai Hua San dan Swat San, masih menjadi pemimpin dalam usaha menangkap Ban Lian Hwe Kwi!"

"Betul!" kata Souw Peng Hai. "Aku kira Tu Heng dan Teng Heng pun masih ingat janji untuk menuruti petunjuk Si Tian Houw!"

Kedua pemimpin partai itu tidak menjawabnya, Me-reka hanya mengawasi sikap Si Tian Houw terhadap Ciu Kong Liang,

Ciu Kong Liang cabut pedangnya dan dengan suara agak keras berkata: "Kalian boleh pereaya kepadaku, dan aku segera memimpin kalian ke lobang Ban Lian Hwe Kwi!"

Tu Wee Seng berkata: "Seorang laki-laki sekali keluarkan omongannya tidak akan ditarik kembali Dalam urusan menangkap Ban Lian Hwe Kwi ini, kau masih tetap menjadi pemimpin!"

Si Tian Houw menjenguk ke bawah dan berkata: "Menurut penyelidikanku selama beberapa hari belakangan ini, jago- jago silat yang telah datang ke pegunungan ini bukan terbatas dari orang-orangnya partai Hua San dan Swat San. Aku taksir sudah datang juga orang-orang dari lima partai silat lainnya, dan mereka mungkin sedang bersembunyi mengintai gerak- gerik dan jejakku, Mungkin juga mereka sudah pasang perangkap untuk menjebak aku dan merampas Ban Lian Hwe Kwi, Kita telah berjanji juga bahwa setelah Ban Lian Hwe Kwi ditangkap, kita harus mengadu ilmu silat untuk menetapkan hak milik dari kura sakti itu. Tetapi jika kita menjadi letih setelah bertarung bukankah usaha atau jerih payah kita sia-sia belaka?"

Tu Wee Seng mengerutkan kening dan berkata: "Ya, soal itu kita harus rundingkan

"Tidak usah!" Teng Lee memotong. "Perjanjian semula kita harus laksanakan, tak dapat dirubah!" Si Tian Houw naik darah, ia membentak: "Kau betul orang- orang yang tidak dapat pereaya orang! Jika mengetahui ada bahaya menunggu, mengapa kita harus bertindak semberono?"

"Kau mempunyai siasat apakah untuk menghindarkan bokongan?" tanya Teng Lee yang wataknya berangasan dan semberono.

"Menurut pendapatku." Kata Si Tian Houw. "Mengadu silat untuk menetapkan hak milik atas kura-kura sakti itu kita dapat undurkan beberapa hari. Sekarang kita semuanya harus berserikat untuk menghadapi musuh."

Tu Wee Seng dan Teng Lee mengetahui bahwa siasat itu hanya menguntungkan partai Thian Liong! Akan tetapi pada ketika itu mereka tidak mempunyai lain daya, dan siasatnya Si Tian Houw dapat dianggap yang terbaik pada ketika itu.

Mereka segera setujui usulnyaSi Tian Houw.

Dengan persetujuan kedua pemimpin itu. Ti Kian Suseng menjadi redaa, dan ia yakin dengan berserikat, musuh yang akan menyergap akan digempur. Ia tersenyum dan berkata: "Jika kedua pemimpin dapat melihat faedahnya siasatku, akupun berterima kasih."

Lau ia tegur Ciu Kong Liang. "Toako, apakah semua barang untuk menangkap Ban Lian Hwe Kwi telah disiapkan?"

"Semuanya sudah siap sedia!" jawab Ciu Kong Liang.

Si Tian Houw menghadapi Tu Wee Seng dan memberikan petunjuk: "Tu Heng, harap kau ajak Suteemu menjaga sebelah kiri. Lembah yang sempit dan curam ini meskipun sukar dicapai, akan tetapi aku khawatir kita diserang oleh para jago- jago silat dari partai lain!"

Tu Wee Seng segera mengajak To It Kang pergi ke sebelah kiri dari lereng gunung yang curam itu, dan berhenti lebih kurang lima belas depa jauhnya, ia berpikir "Lembah yang sempit dan curam ini dilingkari oleh semak belukar yang lebat sekali, Meskipun di waktu siang hari, kita tak dapat melihat orang yang bersembunyi diantara semak belukar ini. Untuk keselamatan lebih baik aku menyelidiki dulu!"

Lalu ia berbisik kepada To It Kang dan memberitahukan pendapatnya tentang semak belukar yang lebat itu, dan maksudnya untuk menyelidiki apakah ada orang lain yang sedang bersembunyi

-ooo0ooo-

Menangkap Kura Sakti dengan siasat yang cerdik Dengan cepat Teng Lee juga telah tiba di lembah yang

sempit itu. Meskipun ia telah berkali-kali diejek, akan tetapi ia

harus mentaati janjinya, "Jika kura sakti tidak melalui jalan ini, apa gunanya kita menyelidiki dan memeriksa tempat ini?" kata ia kepada Tu Wee Seng dengan suara keras.

"Betul juga! Mungkin Si Tian Houw sengaja mempersulit kita," kata Tu Wee Seng.

"Lembah yang sempit ini lebih dari sepuluh lie panjangnya." Si Tian Houw menjelaskan "Goa-goa di sepanjang lereng gunung yang curam jumlahnya banyak sekali dan sukar dihitung, Jika ada musuh yang bersembunyi di dalam goa-goa tersebut, kita pun sukar mengetahuinya.

Lagi pula tempat bersembunyi nya Ban Lian Hwe Kwi itu berpindah-pindah,

Dia hanya keluar tujuh atau delapan kali dalam setahun.

Aku telah mengintai di puncak Ngo Houw Leng ini selama lima belas tahun, dan setelah menyelidiki dengan tekun dan bersusah payah, aku baru saja mengetahui jalan yang suka dilalui dan tempat-tempat persembunyiannya, Oleh karena itu, aku minta kalian menuruti petunjukku, jangan mengambil tindakan sendiri!"

Teguran itu sukar ditelan oleh Tu Wee Seng dan Teng Lee. Sambil menyeringai Tu Wee Seng berkata: "Kami dari partai Hua San selalu menuruti petunjukmu Apa yang kami harus perbuat sekarang?" Si Tian Houw menyuruhnya ambil jalan ke jurusan selatan, Tu Wee Seng bersama To It Kang lalu menuju ke arah selatan. Tetapi ia ditahan lagi oleh Si Tian Houw yang berkata: "Tu Heng, berhenti! Aku masih ada pesan!"

Dengan mendongkol Tu Wee Seng berhentikan tindakannya dan di dalam hatinya ia memaki: "Anak sambel! Nanti jika kura sakti sudah tertangkap, kau akan rasai hajaranku!"

"Jika Ban Lian Hwe Kwi sudah keluar dari 1o-bangnya," kata Si Tian Houw. "Jangan coba-coba menangkap kura sakti itu, dan jangan membantu aku men-angkapnya, Tetapi kalian harus menjaga musuh yang akan menyerang kita, Setelah kura sakti itu tertangkap, aku tentu memberitahukan ka!ian. "

Lalu ia menoleh ke arah Teng Lee, dan memberi petunjuk: Teng Heng, harap bawa Suteemu menjaga di dekat tikungan, dan tahan siapa saja yang hendak melewati!"

Sete!ah Si Tian Houw berlalu untuk melaksanakan petunjuk-petunjuknya, tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara yang keras: "Ban Lian Hwe Kwi paling tekun akan suara teriak! Jika kalian menjumpai musuh, jangan men-jerit-jerit, dia mungkin akan lari bersembunyi lagi ke dalam lobangnya!"

Souw Peng Hai telah menyaksikan bagaimana cara Si Tian Houw mengatur siasat sehingga tiap-tiap orang tak dapat berkesempatan untuk bertindak sendiri, bahkan dapat menundukkan pemimpin-pemimpin partai Hua San dan Swat San.

Si Tian Houw pun berkata kepada Souw Peng Hai: "Ban Lian Hwe Kwi segera akan keluar, Lebih baik kita mencari tempat untuk bersembunyi ia segera memimpin semua orang itu ke suatu tempat Setelah berjalan satu iie lebih, mereka tiba di suatu pohon cemara yang tua. Si Tian Houw berhenti lalu berkata: "Souw piauw Tou, harap kau bersembunyi di dalam semak belukar di bawah pohon cemara itu agar Ban Lian Hwe Kwi tidak melihatnya dan menjadi takut karenanya!" Dengan tersenyum Souw Peng Hai bersembunyi di dalam semak belukar, diikuti oleh beberapa orang, sedangkan Pek Yun Hui dan Kiok Goan Hoat bersembunyi di belakang satu batu gunung yang besar,

Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang bersembunyi di semak bunga-bunga liar tepat di bawah pohon cemara itu.

Kelika itu sudah lewat jam dua belas tengah malam.

Suasana telah menjadi sunyi senyap, angin gunung sepoi- sepoi meniup dan kadang-kadang terdengar suara meraungnya binatang buas atau suara bersiulnya serangga- serangga dan sebagainya.

Kjra-kira seperempat jam kemudian, tiba-tiba terdengar teriaknya seekor kura yang nyaring dan seram sehingga membangunkan bulu roma!

Si Tian Houw berdiri tegak memperhatikan suara itu, ia berbisik kepada Ciu Kong Liang: "Mulutnya Ban Lian Hwe Kwi itu sangat beracun, Jika digigit olehnya, orang pasti mati, Kita harus hati-hati sekali menangkapnya !"

Belum lagi Ciu Kong Liang menyahut, segera terdengar suara meraungnya seekor serigala, tak lama kemudian tereium hawanya yang bau dari serigala itu. Lalu terdengar suara serombongan serigala berlarian, dan suara itu makin lama main dekat terdengarnya.

Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang segera cabut senjatanya, begitu pun Souw Peng Hai dan lain-Iainnya segera loncat ke atas cabang-cabang pohon cemara dan siap sedia bila diserang oleh serigala-serigaia itu.

Harus diketahui bahwa serombongan serigala-serigala itu sedang mencari mangsa untuk dimakannya, Tiap-tiap mangsa akan habis dimakan oleh serigala-serigala yang sangat lapar itu, Untung mereka tidak diketahui oleh serigala-serigala itu yang terus lari lewat.

Dengan perasaan sangat bersyukur Souw Peng Hai berkata sambil mengurut-urut jenggotnya: "Rombongan serigala itu terdiri tidak kurang daripada seratus ekor, jika kita diserang, aku yakin kulit dan tulang-tulang kita juga dimakan habis. Tetapi apakah mereka tidak melihat kita? Mengapa

mereka berlari terus?"

Si Tian Houw menghampiri dan berbisik: "Souw Piauw Tou, lekas-lekas bersembunyi Ban Lian Hwe Kwi telah kelihatan jejaknya!" Lalu ia pun lekas-lekas bersembunyi di dalam semak belukar

Souw Peng Hai, Pang Siu Wie, Pek Yun Hui, Sao Kong Gie dan lain-Iainnya juga berturut-turut bersembunyi di dalam semak belukar atau di belakang batu-batu gunung yang besar

Dengan kedua matanya yang tajam Pek Yun Hui tampak di sebelah timur, diantara dua lereng gunung, tiba-tiba menyorot keluar sinar merah yang berkelak-kelik, dan mendatangi tempat di mana mereka bersembunyi Sinar merah itu sangat lambat jalannya, baru hanya mendekati beberapa depa jauhnya setelah selang setengah jam.

Tetapi ketika sinar merah itu tinggal lagi lebih kurang sepuluh tombak jauhnya dari mereka, dari semak belukar dimana Si Tian Houw bersembunyi tiba-tiba ada api menyala, dan segera berkobar sehingga tempat di sekitar itu menjadi terang benderang!

"Rupanya Si Tian Houw sengaja menyalakan api untuk membikin terang tempat ini." Pang Siu Wie berbisik kepada Pek Yun Hui,

sekonyong-konyong terdengar suara "blas!" dan dua gundukan rumput-rumput kering terbakar tidak jauh dari tempat mereka sembunyi Dua gundukan rumput-rumput kering itu adalah persiapannya Si Tian Houw, dan menyala sangat terang,

Ketika itu sinar merah yang kelak-kelik itu terlihat berpindahan tidak hentinya, dan suara "blas! blas!" terdengar pula, dibarengi dengan menyalanya beberapa gundukan- gundukan rumput-rumput dan kayu-kayu kering sehingga dalam waktu beberapa detik saja, daerah seluas empat puluh atau lima puluh depa persegi menjadi terang benderang dikelilingi oleh nyatanya api yang ber-kobar-kobar,

Ban Lian Hwe Kwi segera terlihat nyata!

Dengan pedang terhunus, Si Tian Houw meloncat keluar menghampiri kura sakti itu, dan beberapa orang-orang lainnya juga telah loncat turut dari pohon menghampiri kura sakti itu!

Ternyata bahwa Ban Lian Hwe Kwi itu adalah seekor kura yang tidak lebih satu kaki panjangnya, Bedanya daripada kura-kura biasa, ialah seluruh tubuhnya bersinar merah!

Pek Yun Hui, Souw Peng Hai, Si Tian Houw dan lain- lainnya segera jalan dengan waspada mengurung Ban Lian Hwe Kwi itu, yang kepalanya sebentar-sebentar masuk ke dalam batoknya, tetapi kedua matanya yang bersinar laksana berlian mengawasi orang-orang di sekitarnya.

Si Tian Houw mengangkat satu batu sebesar tinju, lalu disambitnya kura sakti itu, TENG!" terdengar batu itu mengenai punggungnya tetapi batu yang sebesar tinju itu hancur! Rupanya kura sakti itu tidak menghiraukan serangan batu tadi, Dia menarik kepalanya ke dalam batoknya, dan kedua matanya mengawasi Si Tian Houw, lalu mendekatinya! Si Tian Houw terperanjat mukanya menjadi pucat Dengan pedang lerhunus, ia pun bertindak mundur perlahan-lahan!

Souw Peng Hai mengerutkan keningnya: "Kura yang demikian kecil memiliki tenaga yang ajaib, sehingga Si Tian Houw menjadi ketakutan!" pikirnya. Lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya dengan maksud menyerang kura sakti itu, sekonyong-konyong terlihat kura itu mengeluarkan kepalanya, dan sinar di seluruh tubuhnya menjadi bukan main merahnya, dan menyorot ke arah Si Tian Houw!

Si Tian Houw sudah siap sedia, ia egosi sorotan sinar merah itu, dan dengan jurus Kiauw Pa Kim Ceng atau Memukul Lonceng Emas, ia sabet sinar merah itu dengan pedangnya, Ketika itu api dari gundukan-gundukan rumput dan kayu kering sedang berkobar-kobar dan suasana menjadi terang seperti siang hari!

Terlihat pedangnya Si Tian Houw membentur sinar merah dan terlepas dari pegangannya, Si Tian Houw lekas-lekas loncat satu tombak jauhnya mengelakkan diri dari sinar merah itu!

Pek Yun Hui yang memperhatikan semua kejadian itu menjadi terpesona, ia memperhatikan bahwa bila kura sakti itu melonjorkan kepala nya, kepala itu dapat keluar dua kaki lebih, dan mulutnya dibuka untuk menggigit pedangnya Si Tian Houw, Semua itu dilakukan demikian cepatnya dan pedang itu terlepas seolah-olah terbentur sinar merah.

Kemudian terlihat dan terdengar kura sakti itu menggigit dan makan pedang bajanya Si Tian Houw dengan enaknya!

"Belum pernah aku melihat dan mendengar binatang yang memakan baja!" pikir Pek Yun Hui, keringat dinginnya mengucur di seluruh tubuhnya,

Souw Peng Hai pun berpikir "Batoknya keras melebihi baja, sinarnya dapat menyilaukan mata, dan giginya tajam dapat memotong baja, Ai! Dengan senjata apa binatang itu dapat digempurnya?"

Setelah Si Tian Houw berhasil mengegos, ia mendekati Souw Peng Hai dan berkata: "Souw Piauw Tou, kau lihat betapa lihaynya kura-kura itu, Giginya yang tajam, aku tidak takuti, tetapi aku takut jika dia menyemburkan keluar sinar merah yang beracun. Siapa saja yang kena sinar merah yang beracun itu, pasti mati, itulah yang aku takuti!"

Tetapi jika dia menyembur nanti, apakah kau tidak membikin persediaan untuk mengendalikan nya ?" tanya Souw Peng Hai,

Si Tian Houw berbisik dengan kedua matanya membelalak: "Aku tinggal di daerah Ngo Houw Leng ini sudah lima belas tahun, hanya baru tiga kali aku lihat Ban Lian Hwe Kwi itu. pada tahun yang lalu aku melihat dia menyemburkan sinar merahnya untuk membunuh seekor harimau yang besar dan beberapa ekor macan tutul! Aku telah mengetahui sinar merah yang beracun itu, tetapi baru kali ini aku tahu bahwa giginya dapat menghancurkan baja! Dan untuk itu, aku... aku... belum membikin persiapan.-." ia berhenti sebentar, lalu meneruskan

"Tetapi jika kita berhasil menangkap kura itu, kita tak dapat menghindari pertarungan melawan orang-orang nama partai Hua San dan Swat San. Menurut pendapatku, Tu Wee Seng dan Teng Lee adalah orang-orang yang cerdik, Aku khawatir mereka bergabung menggempur kita. sekarang lebih baik kita menggunakan kura sakti itu untuk membasmi mereka. Dengan demikian, bukan saja kita dapat mengurangi musuh-musuh kita di kemudian hari, bahkan dapat memiliki Ban Lian Hwe Kwi itu, Bagaimanakah pendapat Souw Piauw Tou?"

Souw Peng Hai berpikir sambil mengerutkan dahi-nya, lalu ia menjawab: "Aku setuju akalmu yang cerdik itu, Tetapi perbuatanmu itu melanggar peraturan Kang-ouw, kalau perbuatan kita itu tersiar, namun partai Thian Liong harus dibuang di dalam keranjang sampah!"

"Tetapi Souw Piauw Tou harus ingat Tu Wee Seng dan Teng Lee itu bukan orang yang baik," mendesak Si Tian Houw, suaranya rendah sekali. "Aku khawatir mereka mungkin akan bertindak terhadap kita dengan cara yang lebih kejam Iagi. Aku berpendapat bahwa mereka harus dibasmi du!u!"

"Akupun akui bahwa Tu Wee Seng dan Teng Lee itu adalah orang-orang yang paling busuk diantara pemimpin- pemimpin partai silat yang terkenal," berkata Souw Peng Hai. "Tetapi kita hanya perlu bertindak waspada mencegah mereka berbuat curang terhadap kita, Sebetulnya, kita dari partai Thian Liong tidak perlu takut kepada mereka, kita mampu membasmi mereka dengan jalan yang jujur!"

Si Tian Houw mengagumi kejantanannya Souw Peng Hai meskipun ia merasa masgul bahwa usulnya tak dapat diterima, "Souw Piauw Tou pantas dihormati Segala tindak tandukmu dilakukan dengan menurut peraturan dan jujur Aku sangat menghargainya..." kata Si Tian Houw memujinya,

sebetulnya ia bermaksud agar partai Thian Liong bertarung melawan partai Hua San dan partai Siat San, dan kemudian dengan bantuannya Pek Yun Hui dan Pang Siu Wie, ia akhirnya memiliki Ban Lian Hwe Kwi. Tetapi Souw Peng Hai yang berwatak ksatria tak dapat dibakar, tipu muslihatnya yang keji itu tak dapat ia laksanakan Untuk menutup malunya ia berbisik lagi: "Ya, kabut merah yang beracun itu hebat sekali, Manusia atau binatang yang menyentuhnya pasti binasa. semenjak aku menyaksikan dengan kepala mata sendiri bagaimana harimau dan macan tutul binasa seketika terkena kabut merahnya yang beracun itu, aku telah berusaha mencari daya upaya untuk menghadapi kabut merah itu. "

Sambil tersenyum, Souw Peng Hai memotong pembicaraannya Si Tian Houw: Tetapi kura-kura itu hanya satu kaki panjangnya, Meskipun dia dapat menyemburkan kabut beracun, akan tetapi dia tak dapat terus menerus menyembur yang akan menghabiskan kabut itu! Jika kita menyerang dia secara bergiliran aku yakin kita pasti akan berhasil memukul mati kura-kura itu, Hanya, jika sudah mati, apakah kura-kura itu masih juga tetap mujarab???"

"Mustika dari kura-kura itu terletak di dalam suatu biji Hwee Tan (pil api) yang berada di dalam ususnya, Aku khawatir jika kita pukul mati, Hwee Tan itu akan kurang mujarabnya atau kemukjizatannya. Aku telah mempunyai siasat untuk menangkap kura sakti itu hidup-hidup, tak tahu apakah siasatku ini bisa berhasil."

Pembicaraan mereka itu rupanya telah didengar oleh Sao Kong Gie, ia campur bicara: "Jika pil mujizatnya berada di dalam tubuhnya, kita harus berusaha membikin dia lelah, lambat laun binatang itu akan menjadi jinak dan menuruti kehendak kita." Si Tian Houw tersenyum. "Betul! Menurut penyelidikanku selama sepuluh tahun lebih, kita harus menangkapnya hidup- hidup dengan jalan meletihkan pada-nya. sekarang kita boleh mulai menggempur kura-kura itu untuk membikin dia letih."

Ketika itu pedang bajanya Si Tian Houw telah di-makan habis oleh kura sakti itu yang kemudian masukkan kepalanya ke dalam batoknya, tetapi sinar merah dari tubuhnya tetap berkelak-kelik.

Dengan terperanjat Si Tian Houw memperingatkan "Souw Piauw Tou, hati-hati! Kura itu akan menyerang lagi!" Lalu ia loncat mencari tempat berlindung, Souw Peng Hai, Sao Kong Gie dan lain-lainnya juga turut meloncat mencari tempat berlindung di belakang satu batu gunung yang besar.

Terdengar kura sakti itu berbunyi sambil kepalanya dikeluarkan dari batoknya, Lalu terlihat dia menyemburkan asap merah dari mulutnya, Rumput-rumput, ran-ting-ranting pohon dan apa saja yang tersembur asap merah itu segera terbakar

Si Tian Houw, yang pernah menyaksikan asap merah yang sangat beracun itu telah membinasakan harimau dan macan tutul, ia menjerit: "Saudara-saudara! Lekas menyingkir dari asap merah itu!" iapun lari secepat-cepat-nya.

Ciu Kong Liang yang telah menyediakan barang-barang keperluan yang disimpannya di sebuah peti kayu segera beritahukan bahwa peti kayu itu berada di bawah suatu pohon cemara di dekat tikungan lereng gunung. Si Tian Houw lah menuju ke peti kayu tersebut, dari dalam mana ia ambil satu stel pakaian terbuat dari karet yang segera dikenakannya, ia pun memakai kedok dan sarung tangan dari karet, Lalu ia jingkat satu guci yang berisi cuka keras, ia buka sumbatnya guci itu, dan jalan perlahan-lahan menghampiri kura sakti itu. Kura itu sedang menyemburkan kabut merahnya tetapi Si Tian Houw yang telah berpakaian baju karet yang luar biasa terus mendekati, tidak menghiraukan sinar merah maut itu!

Harus diketahui bahwa perbuatannya itu adalah per buatan yang nekat, dan banyak resikonya, Pakaian, kedok dan sarung tangan yang ia pakai adalah buatannya sendiri, setelah ia menyelidiki mempelajari dan mencoba keampuhannya, dan ia yakin bahwa perlengkapannya itu kebal terhadap kabut merah maut dari Ban Lian Hwe Kwi itu. Tetapi pereobaannya terhadap kura sakti itu, baru per tama kali ia Iakukan. Berhasil atau gagal ia belum dapat dipastikan!

Ciu Kong Liang sambit memegangi satu kotak dari batu Giok mengawasi gerak-gerik saudara angkatnya dengan cemas, bahkan semua orang yang menyaksikannya pun terpaku melihat perbuatan Si Tian Houw yang nekat itu.

Semua orang yakin bahwa hanya Si Tian Houw yang dapat berbuat demikian, karena dialah yang mengetahui betul sifat daripada Ban Lian Hwe Kwi itu Mereka yakin bahwa selainnya Si Tian Houw tiada seorang pun dari mereka yang dapat menangkap kura sakli itu!

Si Tian Houw sendiri pun tidak berani memastikan akan berhasilnya pereobaanya itu. Tetapi dengan keberanian yang luar biasa, dan dalam keadaan terdesak, ia telah menjadi nekat, Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan napas sambil jalan mendekati kura itu.

Tiba-tiba kura itu loncat menerkam dadanya Si Tian Houw, Meskipun Si Tian Houw melihat terkaman itu, akan tetapi karena ia membawa guci cuka yang berat dan mengenakan pakaian karet yang sangat menghambat gerak-geriknya, ia kena ditubruk dadanya dan terdorong mundur lima-enam kaki jauhnya sehingga ia jatuh terduduk

Ciu Kong Liang terkejut ia mejerit, dan loncat ingin meno1ongnya. Tetapi Sao Kong Gie menahan ia sambil membentak: "Jangan gegabah, Kau akan mati terbunuh kena kabut merah itu!" Ketika itu Pek Yun Hui telah keluarkan tiga biji besi sebesar telor burung, lalu ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolong Si Tian Houw,

Souw Peng Hai pun lelah pungut satu batu gunung sebesar tinju sipa sedia menimpuk kura sakti itu,

Si Tian Houw jatuh terduduk, tetapi guci cuka masih dipegang erat-erat.

Setelah menubruk jatuh Si Tian Houw, kura-kura itu berbunyi dan tidak menyerang lagi, ia berbalik dan coba lari,

Melihat hal itu, Si Tian Houw yakin bahwa kura-kura itu dapat dikendalikan Lekas-lekas ia bangun, dan lempar guci cuka itu ke atas tubuhnya kura-kura itu,

Segera terdengar guci itu pecah! Guci itu tidak mengenai sasarannya, tetapi membentur batu gunung sehingga batu itu hancur seketika, dan cuka keras di dalam guci keluar berhamburan dan bereipratan!

Kejadian yang ganjil segera tertampak, Kura-kura yang batoknya sekeras baja, mungkin lebih keras daripada baja, setelah kecipratan cuka keras itu, segera berhenti dan segera memasukkan kepalanya ke dalam batoknya, dan tidak bergerak lagi.

Bukan main girangnya Si Tian Houw, ia tidak menduga bahwa seguci cuka kerasnya itu demikian ampuhnya, ia menoleh ke belakang dan mengulap-ulapkan tangannya kepada Ciu Kong Liang.

Dengan memegang kotak dari batu Giok, Ciu Kong Liang loncat keluar dari balik pohon cemara dan lari menghampiri Si Tian Houw, Setelah menerima kotak batu Giok itu, Si Tian Houw suruh Ciu Kong Liang lekas-lekas lari kembali ke tempat persembunyiannya. Kemudian dengan kotak batu Giok di tangan ia jalan menghampiri kura sakti itu, dengan hatinya masih tetap merasa jeri, ia khawatir kura-kura itu menyerang lagi, Diluar dugaannya, kura-kura itu diam tak bergerak ia angkat kura itu dan dimasukkan ke dalam kotak batu Giok yang lalu ditutupnya, ia buka pakaian karetnya, kedok dan sarung tangannya, Setelah menarik napas lega, ia pun tertawa gelak-gelak, dan gema suara tertawanya itu menggema dan terdengar nyata beberapa lie jauhnya, Souw Peng Hai adalah orang yang pertama meloncat keluar dari tempat persembunyiannya. Tetapi ia belum lagi tiba, ketika hembusan angin yang dibarengi dengan berkelebatnya bayangan membikin ia terkejut, dan segera ia melihat Pek Yun Hui sudah berdiri di sampingnya Si Tian Houw,

Lalu Pek Yun Hui menegur Si Tian Houw: "Si Tian Houw, suhengku luka berat, dan jiwanya dapat diumpamakan sebutir telur di ujung tanduk, Kau telah berjanji kepadaku bahwa setelah Ban Lian Hwe Kwi tertangkap, terutama kau akan menyembuhkan penyakit Suhengku, Aku harap kau memenuhi janjimu!" katanya dengan suara yang saban

Si Tian Houw berhenti tertawa dan menjawabnya:

"Aku telah berjanji menyembuhkan Suhengmu, aku pasti memenuhi janjiku itu, Tetapi masih ada rintangan yang kita harus halaukan, Partai Hua San dan Swat San sedang menjaga jalan keluar kita dari lembah yang sempit ini. "

Belum lagi habis ucapannya Si Tian Houw itu, tiba-tiba terdengar suara orang mengejek, dan sejenak kemudian orang yang tertawa atau mengejek itu telah berdiri di depan mereka.

Pek Yun Hui melihat Tu Wee Seng dan Teng Lee telah berdiri di depan mereka sambil menyengir.

Si Tian Houw tertawa gelak-gelak lalu berkata: "KaIi-an adalah pemimpin dari partai yang terkenal, dan jika tidak mentaati janji, aku tidak lagi menganggapnya sebagai pemimpin yang jujur!" "Ha! Jika kami masih terus menerus menjaga di lereng gunung, kami tentu tidak mengetahui bahwa kura sakti telah tertangkap olehmu!" jawab Tu Wee Seng,

Souw Peng Hai membentak: "Apakah kau sudah lupa akan janjimu, dan ingin merampas kura-kura itu?"

Sambil mengawasi kotak batu Giok, Tu Wee Seng menjawab: "Tentangsoal menentukan hak milik atas Ban Lian Hwe Kwi, aku kira kita dapat laksanakan sekarang!"

Teng Lee menyokong usul itu dengan berkata: "Aku setujui Lebih baik kita mengadu silat sekarang untuk menentukan hak miliki Ban Lian Hwe Kwi itu!"

Pek Yun Hui menjadi marah mendengar kedua pemimpin yang tak mentaati janji itu, ia maju setindak sambil mengawasi Tu Wee Seng dan Teng Lee ia berkata dengan suara keras: "Jika kalian sudah bernapsu ingin bertarung sekarang, aku bersedia melayaninya, Nah! siapakah diantara kalian yang hendak maju lebih dulu?"

Matanya Tu Wee Seng dan Teng Lee dibuka besar-besar mengawasi gadis yang mengenakan pakaian laki-laki itu.

Mereka terperanjat melihat gadis yang muda itu berani menantang mereka.

Teng Lee yang berangasan lalu mengejek: "Siapakah kau?

Kau masih muda, tetapi kau berbesar mulut!"

Pek Yun Hui membentak: "Aku bukan mau bertarung dengan lidah! Dan kau tak perlu tahu aku siapa. Apakah kau yang mau maju melawan aku dulu? Segera silahkan!"

Teng Lee yang memikir bahwa ia adalah satu pemimpin partai silat Swat San yang terkenal tak dapat tahan ditantang secara demikian oleh seorang gadis yang dianggapnya masih kanak-kanak, Dengan mengerahkan tenaga dalamnya ia sudah siap untuk memukul mati Pek Yun Hui dengan satu pukulan. Dan Pek Yun Hui yang senantiasa memikirkan kesehatan Bee Kun Bu, telah ingin membasmi partai Hua San dan Swat San yang merintangi maksudnya, juga telah siap sedia dengan tenaga dalamnya

Ketika itu Si Tian Houw telah mengambil lagi kotak batu Giok yang berisi Ban Lian Hwe Kwi itu dan dipegangnya erat- erat, sedangkan Souw Peng Hai dan empat iblis menjagai di kiri kanannya,

Tu Wee Seng dengan toya bambunya di tangan selalu mengawasi gerak-geriknya Si Tian Houw.

Sam Sou Lo Shi juga telah keluar dari tempat berlindungnya menghampiri Pek Yun Hui. Setelah ia berdiri di belakangnya Pek Yun Hui, ia pun telah siap dengan kantong pasir beracun dan anak panah beracunnya untuk membantu Pek Yun Hui,

Di lain pihak Kiok Goan Hoat, Sao Kong Gie dan Ciu Kong Liang berdiri di belakang Souw Peng Hai siap menghadapi segala serangan Suasana menjadi sunyi pada saat segenting dan gawat itu.

Sekonyong-konyong Teng Lee tertawa keras, dan suaranya itu menulikan te|inga. Sejenak kemudian terdengar suara siulan yang panjang, dan suara itu makin tama makin dekat terdengarnya, Ketika bayangan berkelebat mereka melihat dua Suteenya Teng Lee berdiri di kiri dan kanannya Teng Lee.

Setelah kedua Suteenya datang, Teng Lee berhenti tertawa, dan dengan mata yang beringas mengawasi Pek Yun Hui.

Pang Siu Wie membentak: "Ha! Kau ingin mengerubuti gadis ini dengan tiga orang? Nah! Sekarang rasai pasirku du!u!"

Belum lagi kata-kata Pang Siu Wie habis diucapkan, kedua Suteenya Teng Lee berbareng sudah loncat menerkam Pek Yun Hui! Tetapi Pek Yun Hui sudah siap sedia, Begitu kedua orang itu bergerak, secepat kilat ia menggunakan Ngo Heng Bi Cong Pu-nya (Langkah Ajaib), ia lolos dari terkaman kedua lawan itu, lalu berbalik memukul

Kedua orang itu telah menggunakan siasat bertempur dengan menyerang berbareng, dan menjaga diri berbareng ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu dari Pek Yun Hui telah dapat mengacaukan mereka, Setelah mereka terkam angin, mereka kena dipukul, dan pukulan itu dahsyat sekali, karena Pek Yun Hui tidak mau buang waktu yang berharga untuk menolong Bee Kun Bu, Dan hasilnya pun segera tertampak. Kedua orang itu merasa seluruh tubuhnya sakit Tetapi seperti seekor kucing liar yang terdesak, mereka berbalik dan menyerang lagi dengan membabi buta,

Setelah Pek Yun Hui yakin bahwa ia telah melukai kedua lawannya itu, ia terus menyerang Teng Lee, dan saat itu kedua Suteenya Teng Lee yang telah kena dipukul berbalik menyerang. Dengan satu kelitan secepat kilat, kedua orang itu lagi-lagi menubruk angin dan jatuh tersungkur ke depan sambil memuntahkan darah!

Semua orang yang menyaksikan menjadi bengong terpaku melihat cara Pek Yun Hui menyerang, mengelit dan melukai kedua Suteenya Teng Lee.

Teng Lee, yang keburu mengelit ketika Pek Yun Hui menyerang, terpaksa loncat mundur satu depa, ia terkejut melihat kedua Suteenya memuntahkan darah, ia tidak segera menolong, tetapi ia kumpulkan semua tenaga dalamnya untuk memukul lawannya.

Baru saja Pek Yun Hui berdiri jejak di atas tanah, tiba-tiba Teng Lee menyerang dengan kedua tinju ke dadanya, seolah- olah ombak besar mendampar pantai!

Pek Yun Hui hanya menyengir, satu tindak kesamping, dan serangan Teng Lee memukul angin! Kemudian secepat kilat ia menyodok Tu Wee Seng yang sedang asyik menyaksikan pertarungan jurus yang digunakan Pek Yun Hui adalah jurus To Im Kiat Yo atau Menggunakan Tenaga Dalam untuk menyerang, Teng Lee lerjerunuk dengan tenaga dorongnya sendiri karena ia menyodok angin, dan Tu Wee Seng telah terdampar sedikit oleh hembusan angin tinjunya Teng Lee sebelumnya Pek Yun Hui menyodok mukanya, Hanya jago silat yang mahir betul dapat melancarkan jurus To Im Kiat Yo itu.

Tu Wee Seng yang telah berkecimpung berpuluh-pu!uh tahun di kalangan Kang-ouwdan telah bertempur melawan banyak jago-jago silat, belum pernah menyaksikan ilmu silat yang Pek Yun Hui lancarkan terhadap Teng Lee dan kedua Suteenya, dan kini terhadap ia. ia terkejut, tetapi ia cukup lincah untuk mengegosi sodokan mautnya Pek Yun Hui. Lalu dengan menjejakkan kedua kakinya ia melonjak ke atas untuk turun mengemplang Pek Yun Hui dengan toya bambunya!

"Sungguh lihay ilmu meringankan tubuh Tu Heng!" seru Kiok Goan Hoat ketika melihat Tu Wee Seng melonjak ke atas, dan tiap-tiap perkataannya itu didengar jelas oleh Tu Wee Seng.

Lagi-lagi Tu Wee Seng mengemplang angin, karena dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu, Pek Yun Hui seperti juga bayangan berkelebat-kelebat di sekitar dirinya Tu Wee Seng.

Setelah mengemplang angin, Tu Wee Seng mengawasi Kiok Goan Hoat, karena ia diejek, ia menegur: "Lebih baik Giok Heng jangan banyak bacot! Tetapi maju melawan aku!"

Kiok Goan Hoat tertawa gelak-gelak, dan baru saja ia hendak menyahutinya, terdengar suara orang yang merintih ia menoleh dan melihat diteranganya sinar api dari rumput dan kayu-kayu kering yang terbakar, kedua Suteenya Teng Lee yang tadi memuntahkan darah itu sedang'duduk sambil mengertak gigi kesakitan dan me-rintih-rintih! Mereka heran dan tidak mengerti dengan cara apakah Pek Yun Hui telah melukai kedua saudara seperguruan dari Teng Lee itu! Ketika mereka mencari Teng Lee, mereka melihat dia sedang bertempur melawan Pek Yun Hui dengan sengitnya. Terlihat pakaian hijaunya Pek Yun Hui ber-seliweran, dan serangan-serangannya yang secepat kilat. Teng Lee harus mengegos, mengelit dan menjaga diri dengan waspada sekali, Pek Yun Hui sedang mencari lowongan untuk memukul dan membinasakan Teng Lee, Pada saat pertempuran berjalan sedang serunya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang menusuk kuping! Pek Yun Hui juga dipaksa loncat mundur oleh jeritan itu.

Ia belum memperoleh kesempatan melihat apa yang telah terjadi ketika suara gaduh memusingkan kuping-nya, karena keempat iblis dari propinsi Sucoan, Ciu Kong Liang dan Si Tian Houw telah jatuh berturut-turut dan terguling di atas tanah!

Terlihat bayangan satu orang seolah-olah terbang melewati SiTian Houw, lalu loncat pergi membawa kotak batu Giok yang berisi Ban Lian Hwe Kwi!

Kejadian yang ganjil itu membikin Souw Peng Hai, Tu Wee Seng, Teng Lee dan lain-Iainnya bersama-sama mengejar orang yang loncat membawa kabur Ban Lian Hwe Kwi.

Pek Yun Hui juga telah lihat cara kotak batu Giok itu dibawa kabur, dan ia yakin bahwa orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, karena dia dapat lakukan di hadapan jago- jago silat yang termashur! Ketika ia ingat bahwa Ban Lian Hwe Kwi itu besar gunanya bagi jiwanya Bee Kun Bu, ia pun mengejar dengan ilmu Liu Sing Kan Gwat atau BintangSapu Mengejar Bulan, dan terlihat ia loncat sangat pesatnya sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang orang yang belum dikenal itu!

serangannya Pek Yun Hui dapat dijaga dengan kebutan lengan baju orang itu mendampar ia. jika ia menahannya, ia akan terluka di dalam tubuh, Maka dengan meredakan tenaga dalamnya ia menjatuhkan diri di atas tanah, dan tidak mengejar lagi! Tu Wee Seng, Souw Peng Hai dan lain-lainnya juga telah tiba di tempat di mana Pek Yun Hui menjatuhkan diri, Kemudian dengan menggenggam sepuluh butir biji besi kecil Tu Wee Seng mengejar terus, dan Souw Peng Hai juga mengejar sambil menyabet dengan toya besinya,

Harus diketahui bahwa biji-biji besi kecil yang dilontarkan oleh Tu Wee Seng selalu merupakan senjata rahasia yang ampuh, karena sukar terhindarkan oleh lawan dan sabetan toya besinya Souw Peng Hai yang dikerahkan dengan tenaga dalam Thian Kong Ki Kong (Tenaga ajaib) dapat menumbangkan pohon yang besar, Kedua pemimpin partai silat yang lihay melancarkan serangan-serangan berbareng, akan tetapi terlihat orang itu hanya melangkah ke samping untuk menghindari sabetan toyanya Souw Peng Hai dan mengebutkan lengan bajunya menghalau biji-biji besinya Tu Wee Seng.

Souw Peng Hai terheran-heran menyaksikan sa-betannya luput, dan orang itu berhenti berlari Terlihat bahwa orang itu mukanya telah di polos dengan cat dan rambutnya terurai Kedua matanya bersinar terang, De-ngan kotak batu Giok di dalam pelukan lengan kirinya, ia angkat tinju kanannya sambil tertawa.

ilmu silat yang sakti menundukkan para jago silat Dengan satu jeritan Souw Peng Hai mengirim jotosan ke

dadanya orang itu, dibarengi dengan sabetan toya besinya,

Dengan cepat sekali orang itu mencekal pergelangan tangan kirinya Souw Peng Hai sambil loncat menyingkir dari sabetan toya besi

Betul cekalan itu terlepas, akan tetapi Souw Peng Hai segera merasa lengannya menjadi lumpuh, ia berpikir "Ai! Caranya dia mencekal aku lihay sekali!"

Pada saat itu, orang itu mengirim satu jotosan kembali dan Souw Peng Hai harus Iekas-Iekas loncat mundur mengelakkannya sehingga ia bertubrukan dengan Tu Wee Seng yang baru tiba, Siasat tersebut sengaja di- lancarkanoIehorang itu untuk membikin kedua lawannya saling bertubrukan!

Tu Wee Seng terpaksa menyodok tubuhnya Souw Peng Hai yang juga berbalik menyodok kembali Tu Wee Seng, Dengan demikian mereka berdua hampir terluka dari sodokan masing-masing!

Tu Wee Seng berteriak: "Souw Heng! Lekas jaga orang yang membawa kabur Ban Lian Hwe Kwi!" ia loncat ke atas untuk menerkam orang itu yang sedang diserang pula oleh Pek Yun Hui.

Dengan tangan kanan saja orang itu melawan serangan- serangan dari Pek Yun Hui dan Tu Wee Seng, Pek Yun Hui telah menyerang dengan bermacam-macam ilmu silatnya, tetapi masih juga belum dapat mengalahkan orang itu, sedangkan Tu Wee Seng yang pintar cerdik, setelah terkamannya luput, hanya menonton di samping, menantikan lowongan untuk mengemplang mati orang itu. Meskipun serangan-serangan Pek Yun Hui dilancarkan dengan dahsyat dan berbahaya, akan tetapi dengan hanya satu tangan orang itu dapat menangkis, mengegos dan berkelit, dan kotak batu Giok yang berisi Ban Lian Hwe Kwi tidak terlepas dari pelukan tangan kirinya!

Kemudian Tu Wee Seng mengamuk ia ayun toya bambunya dengan beringas dan menyerang dengan nekat, Orang itu baru saja bertempur lebih kurang sepuluh jurus melawan Pek Yun Hui ketika Tu Wee Seng menyerang.

Rupanya ia menjadi marah, dan ia mengirim sebagai pembalasan tiga jotosan bertubi-tubi kepada Pek Yun Hui.

Ketika jotosan tersebut dilancarkan secepat kilat sehingga Pek Yun Hui juga harus lekas-lekas loncat mundur, dan justru pada saat itu, toya bambunya Tu Wee Seng sudah berada di atas kepalanya orang itu, Tetapi orang itu tidak mengegos, ia hanya tertawa dan mengangkat tangan kanannya merampas toya bambunya Tu Wee Seng, Satu kebutan, dan Tu Wee Seng seperti bola terpental keluar tanpa toya bambunya lagi!

Harus diketahui bahwa Tu Wee Seng sangat tinggi ilmu silatnya, tetapi toya bambunya dapat dirampas dan ia dibikin terpental dengan mudah oleh orang itu. Hal yang demikian ini merupakan suatu yang ganjil, sehingga semua jago-jago silat yang menyaksikan terpaku! Mereka seolah-olah berubah menjadi batu!

Tiba-tiba Pek Yun Hui berseru: "Suhu.,.!"dan lompat menubruk orang itu.

Orang itu berkata kepada Pek Yun Hui, suaranya lemah lembut: "llniu silatmu majunya pesat Tadi kau dapat menangkis serangan-seranganku, boleh juga, Te-tapi sekarang aku ada urusan penting, dan kita dapat berjumpa lagi lain kaIi. " Be!um lagi ucapannya selesai, ia telah loncat

ke atas entah kemana. Hanya terdengar Pek Yun Hui berseru: "Suhu! Suhu.,.!"

Sebagai jawaban hanya terdengar suara tertawanya, tetapi orangnya sudah tidak tertampak di dalam suasana yang sunyi senyap dan gelap gulita itu.

Pek Yun Hui yakin ia tak dapat mengejar gurunya, dan dengan perasaan sedih ia mengucurkan air mata. ia telah tunduk kepada Si Tian Houw karena ingin menolong Bee Kun Bu dengan Ban Lian Hwe Kwi. Tetapi Ban Lian Hwe Kwi itu tidak terduga telah dirampas lagi oleh orang lain, dan orang yang merampas nya adalah gurunya sendiri yang telah merawat dan mengajarkan ilmu silat kepadanya!

peristiwa peristiwa lampau terkenang kembali di dalam pikirannya. ia ingat betul betapa sayangnya gurunya terhadap ia. Baginya, gurunya itu dianggapnya seperti juga ibu kandungnya. Dahulu segala kehendaknya selalu dituruti oleh

gurunya, Mengapa sekarang tabiat gurunya berbeda? Urusan penting apakah yang gurunya sedang hadapi itu? Bukankah tanpa Ban Lian Hwe Kwi, Bee Kun Bu akan binasa karena lukanya? Semua pikiran itu mengaduk di dalam otaknya, ia berdiri sambil mengucurkan air mata, dan ia pun lupa ia berada di tempat apa!

Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ, ketika satu tangan memegang bahunya dan suara yang lemah lembut menegur padanya: "Ban Lian Hwe Kwi telah dirampas orang lain, Apa gunanya Siocia berdiam terus di sini? Fajar segera akan menyingsing. Lebih baik kita kembali."

Seperti juga orang yang baru tersadar dari mimpinya, Pek Yun Hui menoleh ke belakangan dan memadang keadaan di sekitarnya, ia tidak melihat lagi Tu Wee Seng dan lain-lainnya, Api dari gundukan rumput dan kayu kering juga sudah padam, Yang ketinggalan hanya hawa gunung yang dingin dan suasana yang sunyi senyap dan gelap guIitan, ia menarik napas panjang, dan menyeka air matanya,

Pang Siu Wie cekal tangan kanannya dan berkata: "Ayo, kita kembali."

"Apa gunanya aku kembali? Dan kemana aku harus pergi? Suhengku mungkin tak dapat hidup lagi!" jawab Pek Yun Hui,

"Mustahil selainnya Ban Lian Hwe Kwi, tidak ada obat atau cara lain untuk menolong Suhengmu?" kata Pang Siu Wie, menghibur

"Meskipun ada obat yang mujarab, namun tak mungkin kita segera dapat menemukannya, Dia tak akan dapat bertahan sampai dua hari lagi!" kata Pek Yun Hui,

Pang Siu Wie terkejut, dan ia berkata: "Ban Lian Hwe Kwi telah dibawa pergi oleh gurumu, Orang-orang dari partai Hua San dan Swat San telah berlalu, begitu juga Si Tian Houw telah mengajak orang-orang dari partai Thian Liong berlalu dari sini, Mereka semuanya tergesa-gesa, Aku kira tentu mereka masih akan menjalankan siasat lainnya lagi!"

Pek Yun Hui tersenyum, dan berkata: "Siasat apapun mereka akan laksanakan tidak ada gunanya bagi Su-hengku." Lalu ia pun perlahan-lahan berjalan Mereka keduanya berjalan menuju ke goa batu di mana Bee Kun Bu sedang berbaring dalam keadaan pingsan

Di mulut goa Pek Yun Hui berpaling kepada Pang Siu Wie, dan dengan khidmat ia berkata: "Aku sangat berterima kasih atas semua bantuanmu sebetulnya aku pun bermaksud memulihkan wajahmu yang cantik dengan Ban Lian Hwe- Kwi. Tetapi di luar dugaan kura sakti itu telah dibawa kabur oleh guruku, Dengan ilmu silatnya yang tinggi, aku tak dapat mengejar Budimu itu aku tak akan lupakan. Bila kelak aku berjumpa guruku, aku tentu mohon dia memulihkan wajahmu. "

Dengan senyuman yang menyatakan simpali, Pang Siu Wie berkata: "Selama dua puluh tahun aku tinggal terpencil atau bersembunyi di pegunungan aku dapat menyelami hati sejati Siocia, Pada dua puluh tahun berselang, ketika aku berkecimpungan di kalangan Kang-ouw, aku kira ilmu silatku luar biasa, dan aku selalu bertindak kejam terhadap lawanku, Oleh karena itu aku dapat julukan Sam Sou Lo Shi (Jebakan dari tiga penjuru), dan jarang sekali lawan yang luput dari ke- kejamanku.

Tapi semenjak Si Tian Houw merusak muka-ku, aku terpaksa tinggal bersembunyi di pegunungan Selama dua puluh tahun itu, aku bertekun mempelajari ilmu silat, membuat senjata rahasia dengan maksud untuk membalas dendam, juga menjagoi kembali di kalangan Kang-ouw, Tetapi setelah menyaksikan ilmu silat Siocia, aku insyaf bahwa ilmu silatku tak ada artinya, hanya senjata rahasiaku agak boleh juga. Dan setelah menyaksikan bagaimana Tu Wee Seng melontarkan biji besinya, aku malu terhadap diri sendiri, dan juga tak yakin apakah senjata rahasiaku berhasil digunakan melawan seorang jago silat, misalnya terhadap Tu Wee Seng, Oleh karena itu, aku mohon Siocia,.,."

"Apa kau ingin aku mengajarkan kau ilmu silat?" menyambung Pek Yun Hui. "Aku tidak mempunyai hasrat demikian Aku hanya mohon Siocia memperkenankan aku mendampingi Siocia, dan anggap aku sebagai pembantumu," kata Pang Siu Wie.

Pek Yun Hui geleng-geleng kepala dan berkata: "Kini aku sendiri tidak mengetahui harus berbuat apa. Aku mungkin tak dapat memperhatikan kau selalu.,.,"

Pang Siu Wie segera memotongnya: "Aku mengagumi ilmu silat Siocia, dan menghargai budi kasih Siocia, Meskipun ilmu silatku tak ada artinya, akan tetapi pengalamanku di kalangan Kang-ouw dapat bermanfaat bagi Siocia jika aku mendampingi Siocia, permintaanku dengan hati yang suci murni ini, aku mohon kau tidak meno!aknya."

Dengan tersenyum Pek Yun Hui berkata: "Jika kau betul- betuI bersungguh-sungguh, aku juga tak dapat menolak Hanya aku minta kau mentaati pesan atau perintahku dan jangan sekali-kali coba membantah!"

Dengan gembira Pang Siu Wie segera berlutut di hadapan Pek Yun Hui seraya berseru: "Aku diperkenankan mendampingi Siocia, Aku bersumpah akan mentaati pesan atau perintah Siocia, jika aku mengingkari nya aku akan dikutuk oleh Thian (Tuhan)!"

Pek Yun Hui lekas-lekas mengangkat bangun wanita itu. "Kau bangunlah Aku sudah mufakat, dan kau tak usah

bersumpah!" Lalu ia masuk ke dalam untuk melihat Bee Kun

Bu.

Ketika itu sudah jam empat pagi, tetapi lampu minyak masih menyala di dalam goa kamar itu. Lie Ceng Loan duduk mengawasi Bee Kun Bu yang masih juga belum sadar Meskipun Pek Yun Hui telah menghampiri dekat tempat tidur, agaknya Lie Ceng Loan tidak memperhatikan

Pek Yun Hui mengusap rambutnya seraya menegur "Loan Moi, Loan Moi,.,." Lie Ceng Loan terkejut, seolah-olah terbangun dari tidurnya, ia segera berdiri dan menanyai "Pek Cici, apakah Ban Lian Hwe Kwi berhasil ditangkap?"

Pek Yun Hui geleng-geleng kepalanya: "Kura sakti itu telah dibawa lari oleh orang lain!" jawabnya,

Lie Ceng Loan berseru: "O!" lalu memeluk Pek Yun Hui sambil meratap: "Ya, Tuhan! Apakah dia tidak tahu kita perlu akan kura sakti itu untuk menolong Bu Koko?"

"Orangyang membawa lari Ban Lian Hwe Kwi adalah guruku, dan aku tak dapat lawan dia, dan tak mampu mengejar nya.,." jawab Pek Yun Hui,

Sambil mengawasi Bee Kun Bu di atas tempat tidur, Lie Ceng Loan meratap: "Jika Ban Lian Hwe Kwi telah dibawa kabur orang, Bu Koko masih dapat hidup berapa lama...?H

"Mungkin dua hari," jawab Pek Yun Hui dengan terpaksa. Lalu Lie Ceng Loafi tarik Pek Yun Hui dan berkata: "Pek

Cici, duduk di sini, aku ada banyak omongan!"

Melihat sikapnya yang ganjil, Pek Yun Hui khawatir gadis itu terganggu lagi pikirannya, tetapi ia turuti kehendaknya dan duduk di pinggir tempat tidur,

Dengan kedua mata yang dibuka lebar-Iebar Lie Ceng Loan menanya: "Pek Cici, apakah kau betuI-betul sayang aku?"

Pek Yun Hui mengangguk, lalu Lie Ceng Loan berkata terus: "Bu Koko segera akan mati Meskipun kau bersedih hati, tetapi kau tak dapat menolong dia, Banyak urusannya kita kan telah tolong kerjakan jika ia meninggal dunia, aku akan pergi memberitahukan kematiannya kepada ayah bundanya di daerah pegunungan Biauw Leng di dekat kota Gak Yo, Mereka tinggal di sebuah rumah yang besar dan rumah itu bernama Cui Gwat San Chung!"

Pek Yun Hui tak tahan akan kesedihan hatinya, ia pun mengucurkan air mata. Lie Ceng Loan melanjutkan "Aku juga harus memberitahukan Suhu dan Supek, Jika mereka tahu, mereka pun tentu menangis sedih, Tetapi aku minta Cici yang memberitahukan belasungkawa ini kepada ibu ayahnya dan kepada Suhu dan Supekku, karena aku akan menunggui dia di sini dan menyertai dia. "

Pang Siu Wie membentak: "Apa? Kau ingin berdiam di dalam goa yang gelap ini menyertai dia mati?"

Lie Ceng Loan mengangguk, dan tersenyum dengan sedih.

Pang Siu Wie mengerutkan kening, dan membentak lagi: "Apakah kau sudah gila? Jika ia meninggal dunia, jenazahnya tak dapat ditaruh terus di dalam goa ini. Kita harus menguburkannya dengan seksama, Apakah kau juga ingin dikubur bersama-sama?"

Lie Ceng Loan mengangguk pula: "Aku pun mengetahui bahwa orang yang sudah mati harus dikubur Semalam aku telah pikir bahwa aku hendak minta Pek Cici memberitahukan kematiannya kepada ibu ayahnya dan guru serta paman gurunya, Aku menunggui dia di dalam goa ini setelah mulut goa ini ditutup dengan batu gunung yang besar, sebetulnya aku takut akan setan, tetapi aku tidak takut menyertai Bu Koko!"

Kata-katanya itu diucapkannya dengan tenang dan sungguh-sungguh hati,

Pang Siu Wie yang terkenal kejam dan telah membunuh mati banyak orang, menjadi terharu mendengar ucapan itu. Harus diketahui bahwa bila orang terlampau sedih hati, ia tak dapat mengucurkan air mata lagi, hanya jantungnya mengucurkan darah!

Pek Yun Hui bangun dari tempat duduknya dan berdiri membelakangi Lie Ceng Loan, Lie Ceng Loan bangun dan menegur: "Pek Cici, kau jangan menangis. pertama kali aku melihat Bu Koko luka parah, aku sangat bersedih hati, Tetapi aku mengetahui bahwa Pek Cici dapat menolong dia. Kini ternyata setelah Cici berusaha keras meno!ongnya, Bu Koko masih juga tak dapat sadarkan diri."

Pek Yun Hui tak dapat berkata-kata, karena ia tak tahu apa yang ia harus katakan, dan ia tak mempunyai alasan untuk menjawabnya,

Segera terdengar Lie Ceng Loan menghela napas panjang dan berseru: "Dulu aku masih hijau, segala hal apapun aku tak tahu, Aku dapat lihat bahwa Cici pun sangat sayang Bu Koko, Jika aku menemani Bu Koko, aku tak dapat menemani Cici, ini yang masih membikin aku ragu-ragu dan geIisah. "

Tiba-tiba Pek Yun Hui buka pakaian laki-Iakinya, lalu ia beset-beset menjadi beberapa keping, Sambif tertawa ia berkata kepfltia Lie Ceng Loan: "Mu!ai hari ini, aku tak akan mengenakan pakaian lagi, aku akan berpakaian dengan laki- laki wajar. an aku berusaha sekuat tenaga memperpanjang umurnya Bu Koko. Di dalam beberapa hari ini, selama dia masih bernapas, kita akan menemani dan menjagai dia. Jika dia telah meninggal, aku akan membawa kau ke satu tempat yang aman, lalu aku akan mencari dan mengejar orang yang telah melukai dia sehingga binasa, Setelah aku berhasil membalas dendam, akupun akan menyertai dia "

Pang Siu Wie terkejut dan dengan terperanjat ia menanya: "Ha! Apakah Pek Siocia pun ingin menyertai dia dikubur seperti halnya Li Siocia???"

"Betul!" jawab Pek Yun Hui. "Aku akan membangun satu tempat yang sentosa untuk Bu Koko, Li Moi-moi dan aku sendiri!"

"Kedua gadis ini betul-betul berbudi luhur dan berwatak agung, Mereka berani berkorban dan rela dikubur hidup- hidup!" pikir Pang Siu Wie, mengaguminya.

Kemudian Pek Yun Hui berkata kepada Pang Siu Wie: "Cobalah kau keluar dan lihat apakah sudah terang lanah?" Pang Siu Wie segera keluar, dan tak lama kemudian segera kembali lagi dengan jawabannya: "Cuaca masih gelap, Siocia telah bertempur melawan banyak musuh, dan masih letih, Lebih baik beristirahat sejenak!"

"Aku tidak letih. Aku minta kau menjaga di luar goa, dan jika aku tidak panggil, kau jangan masuk. Dan kau harus menjaga orang lain masuk. Jika ada orang yang menerobos masuk, kau boleh binasakan padanya dengan pasir beracunmu!"

Pang Siu Wie mengangguk, lalu berjalan keluar melaksanakan perintah ilu.

Pek Yun Hui lalu membateskan rambutnya yang terurai dan berkata kepada Lie Ceng Loan: "Loan Moi, kau juga pergi menjaga di luar goa, bersama-sama Pang Cici, aku akan berusaha mengobati Bu Koko.

Lie Ceng Loan mengangguk dan berkata: "Aku tahu, Cici ingin aku menjaga di luar jangan sampai ada orang yang mengganggu." Lalu dengan pedang terhunus, ia jalan keluar dan bersama Pang Siu Wie menjaga di mulut goa.

Pek Yun Hui dengan mengesampingkan bahwa dirinya seorang wanita dan Bee Kun Bu seorang pria, berusaha membebaskan tiga puluh enam jalan-ja!an darah dan urat-urat syaraf nya Bee Kun Bu.

ia buka dengan paksa giginya Bee Kun Bu yang terkancing, lalu dengan menempelkan bibirnya kepada bibir Bee Kun Bu ia meniup dengan ilmu Coan Ki Sut (ilmu menyambung napas), Cara pengobatan itu ia lakukan dengan mengorbankan banyak tenaga sekali, dan segera mukanya menjadi pucat pasi, tetapi segera terlihat hasi1nya. Bee Kun Bu kelihatan bergerak, jantungnya berdenyut lebih keras, air mukanya agak lebih merah, dan napasnya lebih lancar sebentar kemudian lagi terdengar Bee Kun Bu menarik napas, talu membuka kedua matanya. Ketika itu seluruh tubuhnya Pek Yun Hui telah basah dengan keringat, bahkan beberapa tetes keringatnya jatuh di mukanya Bee Kun Bu. Melihat Bee Kun Bu membuka mata, Pek Yun Hui berbisik: Tutup matamu dan jangan bicara, Aku sedang berusaha mengobati kau!"

Bee Kun Bu sudah mulai sadar, dan ia dapat mengerti petunjuknya Pek Yun Hui. Ia pejamkan kedua matanya.

Pek Yun Hui berbisik lagi: "Aku dan Loan Moi ingin kau hidup, dan aku harus berusaha keras menyembuhkan kau untuk mencegah Loan Moi menjadi putus asa.,,."

Bee Kun Bu sangat terharu mendengar ucapan itu, ia merasa sangat berat menerima budi sebesar itu, Kemudian ia muntah, dan yang keluar darah yang hitam! Tetapi setelah memuntahkan darah hitam itu, Bee Kun Bu merasa lebih reda dan enak, ia hanya merasa tak mempunyai tenaga untuk mengangkat tangan atau bangun,

"Bagaimana kau merasa sekarang? Lebih redakah?" tanya Pek Yun Hui. Tetapi kau tak usah menjawab dengan perkataan, cukup dengan mengangguk atau menggelengkan kepalamu."

Sikap yang penuh akan kasih sayang dan suara yang lemah lembut itu melunakkan hatinya Bee Kun Bu, dan ia hanya tersenyum dan mengangguk

Pek Yun Hui menyusuti darah di bibirnya Bee Kun Bu. Lalu ia berbisik lagi: "Kau harus hidup! Jika kau mati, Loan Moi akan.,,." ia tak dapat meneruskan kata-katanya, karena bukan saja Lie Ceng Loan akan menjadi nekat, tetapi ia juga akan mengambil jalan pendek mengakhiri jiwanya.

Bee Kun Bu terpaksa bicara: "Apakah gunanya kau menolong aku? Aku menderita hebat, jerih payahmu hanya akan menjadi sia-sia belaka! Namun, aku sangat berterima kasih. "

Pek Yun Hui menyahut: "Aku melakukan ini hanya untuk kau-" ia tak dapat meneruskan ia merasa kepalanya pusing, kedua matanya gelap, dan sejenak kemudian ia menjadi lemas sekali akan akhirnya jatuh tertiarap di atas tubuhnya Bee Kun Bu. Bee Kun Bu yang sudah sadar, mula-mula mengiranya Pek Yun Hui sedang mengurut dan memijat ia, akan tetapi ketika ia merasa bahwa tubuhnya Pek Yun Hui itu tidak bergerak dan dingin, ia terkejut Dengan sekuat tenaga ia coba singkirkan tubuhnya gadis itu sambil memanggil: "Pek Cici!

Pek Cici." Pada saat itu terdengar dari mulut goa suara orang bertengkar dan kemudian suara beradunya senjata.,.!

Untung Bee Kun Bu berhasil memijit urat nadinya Pek Yun Hui sehingga siuman kembali

Pek Yun Hui membuka kedua matanya dan sambil tersenyum ia berkata: "Aku telah pingsan! Tetapi kau jangan khawatir Aku hanya perlu beristirahat sebentar dan tenagaku akan pulih kembali.." Tiba-tiba ia terkejut, karena ia baru insyaf bahwa ia masih tertiarap di atas tubuhnya Bee Kun Bu.

Dengan perasaan malu ia lekas-lekas bangun.

"Cici telah pingsan karena menolong aku, dan aku berhasil pijit jalan darah Cici, Aku tak melakukan sesuatu yang tidak sopan,.," berkata Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui tersenyum dan berkata: "Aku tidak persalahkan kau, dan kau tak usah pikirkan akan hal itu," kata Pek Yun Hui, disertai senyumnya,

Ketika Pek Yun Hui mendengar suara gaduh di mulut goa, suara Pang Siu Wie dan senjata beradu, ia terperanjat! "Apakah Pang Siu Wie menghadapi musuh? Tetapi senjata rahasianya mungkin dia dapat menghalangi masuknya musuh itu," pikirnya. Lalu ia berkata kepada Bee Kun Bu: "Kau tak usah khawatir tentang kegaduhan di luar, Aku telah pasang orang untuk menjaga!"

Di bawah sinar lampu minyak, Bee Kun Bu tampak Pek Yun Hui lebih cantik, hanya wajahnya sangat pucat. ia menghela napas dan berkata: "Cici, rupanya kau juga terluka. " Kemudian ia ingat tentang Pek Yun Hui menolong

Susioknya, Giok Cin Cu, di rumah penginapan di Yaociu, ia segera dapat menduganya bahwa Pek Yun Hui menjadi pucat karena berusaha mengobati ia. Maka ia berkata lagi: HAku sekarang tahu, Cici menjadi letih dan pucat karena menolong aku. "

Pek Yun Hui menjawabnya sambil tersenyum: "Aku hanya perlu beristirahat sebentar, lalu segera tenagaku akan pulih kembali Kaulah yang harus beristirahat, dan jangan pusingi soal ini. " ia tak dapat menahan air matanya yang mengucur

"Cici jangan bersedih hati. Aku akan menuruti perintahmu!" kata Bee Kun Bu, lalu memejamkan kedua matanya.

Pek Yun Hui menjadi tenteram hatinya melihat Bee Kun Bu beristirahat lagi, dan iapun berusaha memulihkan tenaganya,

Ketika itu suara gaduh di luar goa makin hebat dan makin dekat terdengarnya, Bee Kun Bu pun dapat men-dengarnya, ia menjadi gelisah. ia menjadi cemas akan keselamatannya Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan, ia sebetulnya ingin bangun, tetapi baru saja ia mengangkat tubuh, ia segera merasa kepalanya pusing, dan ia jatuh pingsan lagi!

Ketika ia siuman, Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie sudah terdesak masuk ke dalam goa, dan sedang menjaga jalan masuk ke kamar di mana ia dan Pek Yun Hui berada,

Dengan sikap yang waspada dan kantong pasir beracun di tangan kanan, Pang Siu Wie mengawasi ke jurusan luar, Lie Ceng Loan lari menghampiri Pek Yun Hui, dan segera menjaga dengan pedang terhunus, ia tahu bahwa Pek Yun Hui sedang memulihkan tenaga setelah mengobati Bee Kun Bu. Segera terdengar suara orang mengancam: "Jika kalian masih bertarung dengan curang menggunakan pasir beracun, aku akan berbuat lebih kejam lagi!"

Bee Kun Bu tidak mengenali suara itu, dan tak mengetahui apa yang telah terjadi semenjak ia dibawa masuk ke dalam goa itu, ia insyaf bahwa ia tak dapat mengerahkan tenaga, karena ia dapat jatuh pingsan lagi, Dengan terpaksa ia berbaring, hanya kupingnya mendengarkan segala sesuatu di dalam goa itu, Kemudian terdengar ejeknya Pang Siu Wie: "Hm! Kalian datang dengan banyak orang, jika menang pun " melawan kami berdua, itu bukanlah lakunya seorang jantan! Siapa saja yang bertindak masuk, boleh rasai pasirku ini!"

Belum habis Pang Siu Wie mengucapkan kata-katanya, terlihat bayangan orang yang berusaha menerobos masuk, Pang Siu Wie menyambut dengan pasir beracun-nya. Segera terlihat asap tebal mengepul, diikuti oleh jeritnya seseorang yang memilukan hati. Orang itu kena pasir beracun!

jalan ke kamar itu sangat sempit, dan pasir beracun yang dilontarkan oleh Pang Siu Wie itu telah meliputi jalan itu sehingga tak dapat meluputkan diri, Belum lagi suara jeritan itu berhenti, Pang Siu Wie menyambit lagi dengan pasirnya sambil mengancam: "Ayo, siapa lagi berani menerobos masuk!"

Hanya suara makian dan kutukan terdengar dari luar goa, tetapi tiada seorangpun berani menerobos masuk lagi.

Setelah keadaan mulai mereda, Bee Kun Bu menanya Lie Ceng Loan: "Siapakah wanita itu yang menolong kita?"

Bukan main girangnya Lie Ceng Loan ditegur oleh Bee Kun Bu, dan ia menduga bahwa Bee Kun Bu akan sembuh. ia lepaskan pedangnya dan menghampiri sambil tersenyum, "Dia adalah kawannya Pek Cici," kata ia. "Dia telah menolong kita dengan senjata pasir beracunnya, Dia bernama Pang Siu Wie,"

Lalu ia panggil Pang Siu Wie dengan gembira: "Pang Cici, mari, Bu Koko ingin berkenalan dengan kau."

Pang Siu Wie segera menghampirinya, dan Bee Kun Bu terkejut melihat mukanya yang jelek itu. Namun ia tersenyum sebagai ganti menghaturkan hormat Pang Siu Wie balas tersenyum dan merasa gembira melihat keadaan Bee Kun Bu,

Tetapi baru saja ia ingin buka mulut menanya kesehatannya Bee Kun Bu, tiba-tiba terdengar suara yang mencurigakan dan merasa hembusan angin di belakangnya ia berbalik dan melepaskan anak panahnya ke arah mulut goa!

Ketika pasir telah jatuh ke tanah, dan ketika Pang Siu Wie dipanggil oleh Lie Ceng Loan, musuh telah menggunakan kesempatan itu nyelonong masuk, Panah beracun Pang Siu Wie mengenai dinding goa dan segera suara ledakan terdengar diikuti oleh asap yang mengepul tebal!

-ooo0ooo-

Pertempuran di dalam goa untuk membela diri

sebetulnya musuh yang berhasil nyolong masuk ke dalam adalah dua orang, dan mereka segera menghampiri tempat tidurnya Bee Kun Bu ketika perbuatan mereka dipergoki oleh Pang Siu Wie.

Panah yang dilepaskan tadi tidak mengenai sasaran, Pang Siu Wie tidak berani menyambitnya lagi dengan pasir beracunnya, khawatir mengenai Pek Yun Hui yang sedang memulihkan tenaga dalamnya, Secepat kilat ia kirim jotosan dengan tinju kirinya kepada musuh yang berada di sebelah kanan!

Tetapi musuh memiliki ilmu silat yang tinggi, jotosan nya Pang Siu Wie meninju angin, sedangkan ia sendiri telah terdampar oleh angin yang terbit dari gerak tubuh musuh itu.

Lie Ceng Loan, setelah pungut pedangnya, menyerang musuh yang Iain dengan tusukan-tusukannya yang bertubi- tubi. Tusukan itu dilancarkan cepat sekali dan berhasil mendesak mundur musuh beberapa langkah,

Musuh yang melawan Pang Siu Wie tidak berani menyerang, Dia hanya berusaha menangkis serangan- serangan atau mengegoskan diri, ia pun yakin bahwa Pang Siu Wie tidak akansembarangan menyambit dengan pasir beracunnya di dalam ruang yang sempit itu.

Bee Kun Bu dapat melihat bahwa orang yang melawan Pang Siu Wie adalah Kiok Goan Hoat, pemimpin bendera hitam dari partai silat Thian Liong.Ia terkejut, karena ia yakin bahwa Pang Siu Wie tak dapat me-lawannya, tetapi ia sendiripun dalam keadaan tak ber-daya, ia juga memperhatikan orang yang melawan Lie Ceng Loan, Orang itu berusia lebih dari lima puluh tahun, berjubah dan sebentar- sebentar melirik ke arah Pek Yun Hui, Betul Lie Ceng Loan dapat melawan orang tua itu selama sepuluh jurus, tetapi Bee Kun Bu yakin bahwa Lie Ceng Loan akan segera dapat dikalahkan orang tua itu yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya.

Hanya orang tua itu seolah-olah sengaja tidak bermaksud untuk melukainya.

Pek Yun Hui yang sedang mengumpulkan tenaga dan memulihkan semangatnya, masih juga duduk diam seolah- olah tak menghiraukan pertarungan yang sedang berlangsung itu. Berkali-kali Bee Kun Bu ingin memanggilnya agar memberikan bantuannya tetapi selalu ia batalkan maksudnya, karena khawatir mengganggu usahanya Pek Yun Hui yang sedang memulihkan tenaga itu.

Terlihat lagi olehnya Kiok Goan Hoat berdaya mencekal tangannya Pang Siu Wie yang memegang kantong pasir beracun, Kiok Goan Hoat lakukan itu dengan mengirim jotosan-jotosan bertubi-tubi dengan sekuat te-naga, Pang Siu Wie tak berani menangkis jotosan maut itu, ia terpaksa mundur dua langkah Kesempatan itu digunakan oleh Kiok Goan Hoat untuk memijit lengan yang memegang kantong pasir beracun. Beruntung Pang Siu Wie, yang pernah berkecimpung di kalangan Kang-ouw dan banyak pengalaman, cukup lincah untuk me-ngelit pijitan itu!

Di pihak Lie Ceng Loan, si kakek bertarung dengan sebentar-sebentar melirik ke arah Pek Yun Hui. Tetapi ketika melihat Pek Yun Hui masih tetap tidak bergerak meskipun Pang Siu Wie telah terdesak, ia pun mulai lancarkan serangan-serangannya dan mendesak terus Lie Ceng Loan sampai ke pinggir tempat tidurnya Bee Kun Bu. Bee Kun Bu paksakan diri membetot pakaiannya Pek Yun Hui yang sedang duduk di dekat ia, dan betotannya itu berhasil membangunkan gadis itu. Namun, Pek Yun Hui tidak bangkit untuk membantu pikirnya Bee Kun Bu: "Kali ini mungkin semua akan binasa, Aku pernah menjumpai banyak bahaya, dan pernah berkali-kali ditolong Tetapi kali ini, aku luka parah dan tak dapat berbuat sesuatu."

Di waktu ia sedang berpikir itu, ia lupa akan pertarungan yang sedang berlangsung, Tiba-tiba ia merasa hembusan angin yang dingin menyapu mukanya, ia menjadi sadar, dan menyaksikan bahwa hembusan angin itu adalah sabetan pedangnya Lie Ceng Loan yang berusaha menangkis sodokannya si kakek. Kemudian terlihat lagi pedangnya Lie Ceng Loan dikebut terlepas oleh lengan bajunya si kakek.

Seperti seekor kucing, gesitnya si kakek loncat menerkam Lie Ceng Loan sambil berkata: "Jangan takuti Aku tak akan melukai kau. "

Kesempatan itu digunakan oleh Lie Ceng Loan untuk menjotos mukanya si kakek dan tepat mengenai pipinya sehingga bengkak! Tapi si kakek berhasil menotok bahu kirinya Lie Ceng Loan yang dirasakannya sakit sekali,

Bee Kun Bu hanya bisa berseru: "Lie Sumoy.,." dan ia jatuh pingsan lagi!

Si kakek lalu angkat Lie Ceng Loan dengan maksud merebahkan gadis itu di tempat tidur, tiba-tiba hembusan angin membikin ia terkejut! Si kakek ambil pedangnya Lie Ceng Loan untuk menghadapi musuh yang datang menyerang padanya,

Lalu terdengarlah suara orang membentak, dan di kamar yang sempit itu tambah seorang Tojin (pendeta) yang berusia lanjut, berjubah dan bersenjata pedang yang lebih dari dua kaki panjangnya, Kedua matanya bersinar Dengan sekali loncat, Tojin itu tiba di depan Lie Ceng Loan. Si gadis buka kedua matanya, lalu berseru: Toa Supek! Semua bangsat- bangsat ini ingin membunuh Bu Koko! Aku dan Pang Cici telah melawan mereka!"

Sebetulnya pendeta tua itu adalah pemimpin partai silat Kun Lun, Hian Ceng Tojin, Dengan menjagai Lie Ceng Loan, pedang di tangan kanannya menusuk si kakek dengan jurus Kie Hong Teng Kiauw atau Burung Hong Menyerang Naga. Si kakek harus lekas-lekas menjatuhkan diri dan berguling-guling di ruang yang sempit itu, sebetulnya si kakek ingin menaruh Lie Ceng Loan di atas tempat tidur, lalu membawa kabur Bee Kun Bu. justru pada saat itu Hian Ceng Tojin datang, Dengan tenaga dalam ia tusuk pedangnya ke arah si kakek, dan hembusan angin yang terbit dari tusukan pedang itu di rasa i oleh si kakek,

"Hai! Ciu Kong Liang! Kau dan Si Tian Houw betul-betul busuk! Kau ingin membinasakan murid-mu-ridku, Katian rasakan pedangku!" bentak Hian Ceng Tojin.

Hian Ceng Tojin lalu menusuk Kiok Goan Hoat dengan jurus Shin Liong Cut Tong atau Naga Sakti keluar dari goa pertapaan Bukan main hebatnya tusukan pedang itu sehingga seluruh ruangan bergetar, dan Kiok Goan Hoat pasti binasa seketika jika ia tak lekas-lekas loncat ke samping! Lalu Hian Ceng Tojin ayun pedangnya dan loncat ke pinggir tempat tidur menjagal Bee Kun Bu dan Pek Yun Hui karena Ciu Kong Liang telah mengambil kesempatan itu untuk menyerang Bee Kun Bu atau Pek Yun Hui. Ciu Kong Liang lekas-lekas mengegos dan loncat ke samping!

Pang Siu Wie yang sedang bertempur dengan Kiok Goan Hoat ketika Hian Ceng Tojin menusuk dengan jurus Shin Liong Cut Tong tidak keburu minggir, sam-beran angin dari tusukan maut itu mendampar ia ke dinding goa sehingga ia menjadi pusing kepala dan kedua matanya berkunang- kunang,

Kiok Goan Hbat setelah berdiri jejak lagi segera mengawasi orang yang menusuk ia. Lalu dengan tertawa. Hian Ceng menusukkan pedangnya ke arah si kakek dengan menggunakan jurus burung Hong menyerang Naga.

ia berkata: "Kukira siapa, tak tahu Sam Ceng Koan Cu yang datang terimalah hormatku!" ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat

Hian Ceng Tojin membalas pemberian hormat itu.

"Kiok Heng apakah baik? Satu tahun telah lewat semenjak kita berjumpa di pegunungan Koat Cong San!"

Ketika itu Kiok Goan Hoat berpikir "Hian Ceng Tojin tiba- tiba muncul di pegunungan ini, mungkin juga ketiga pemimpin partai Kun Lun sama datang juga, Aku tak dapat melawan mereka, Lagi pula pasir beracunnya Pang Siu Wie dapat membinasakan aku. "

Menampak Kiok Goan Hoat diam saja, lalu Hian Ceng Tojin berkata pula: "Maksud apa kau berada di sini?" tanyanya, "Apakah ingin menguji silat partai Kun Lun?"

Seperti monyet kena terasi Kiok Goan Hoat menyengir dan menjawabnya: "Siapakah yang tidak mengetahui ilmu silatnya partai Kun Lun yang lihay? Aku tentu tak dapat melawan Sam Ceng Koan Cu." Lalu ia berjalan keluar dari kamar goa itu.

Ciu Kong Liang setelah melihat Kiok Goan Hoat keluar, ia hendak turut keluar juga, tetapi ia dicegat oleh Hian Ceng Tojin.

"Ciu Kong Liang, aku ada omongan yang hendak diucapkan kepadamu," kata Hian Ceng Tojin.

"Apakah kau ingin membalas dendam kepadaku?" tanya Ciu Kong Liang,

Dengan suara keras Hian Ceng Tojin berkata: "Aku dengan kau dan Si Tian Houw sebetulnya tidak seharusnya mempunyai dendam, Tetapi mengapa kalian berdua memasang jebakan mencelakakan aku? Soat ini, aku minta penjelasan!" ia berhenti sejenak, lalu mengejek: "Kau lihatlah pedang ini? Kau tentu mengenalinya! Karena kalian coba mencelakakan aku, maka aku telah memperoleh pedang sakti ini!" Melihat pedang itu, Ciu Kong Liang mundur dua langkah dengan terperanjat

Hian Ceng Tojin tertawa dan berkata pula: "Kau beritahukan Si Tian Houw, aku tak bermaksud membalas dendam, tetapi aku ingin mengetahui alasannya mengapa kalian ingin mencelakakan aku!"

Dengan masgul tereampur takut Ciu Kong Liang lekas- lekas jalan keluar dari kamar goa itu setelah Hian Ceng Tojin tidak menanya lagi, Hian Ceng Tojin tidak mengejar, ia hanya berbalik untuk memeriksa Bee Kun Bu setelah memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya,

Pada saat itu, Pek Yun Hui belum selesai memulihkan tenaga dan semangat nya, tetapi Bee Kun Bu telah ditolong oleh Lie Ceng Loan dan telah sadar kembali Ketika melihat Hian Ceng Tojin, ia berseru: "Suhu!" dan coba bangun untuk memberi hormat

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Hian Ceng Tojin berkata: "Melihat wajahmu saja aku mengetahui bahwa kau luka parah, Kau tak usah memberi hormat" ia pun melihat Pek Yun Hui dengan rambutnya yang panjang terurai, dan noda- noda darah di pakaiannya, ia terkejut dan berkata: "Jika kau dapat bicara, cobalah ceritakan peristiwa-peristiwa yang telah menimpa kalian."

Dengan susah payah Bee Kun Bu menceritakan peristiwa peristiwa yang telah terjadi, Mulai dari ia mengantar Pek Yun Hui kembali ke pegunungan Koat Cong San, ia meninggalkan surat kepada Pek Yun Hui sebelumnya ia berlalu, ia menjumpai Souw Hui Hong di perjalanan, pertempuran di pegunungan Ngo Bi San, ia membantu menolong Souw Hui Hong dan mengetahui jejak Suhunya, ia kembali lagi ke pegunungan Ngo Bi San, dan menyaksikan pertempuran beberapa pemimpin cabang partai Thian Liong yang pergi ke kuil Ban Hut Si membikin perhitungan terhadap Hweeshio- Hweeshio kuil tersebut.

Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie pun menceritakan bagaimana Pek Yun Hui berusaha menolong Bee Kun Bu, dan juga soal menangkap dan dirampasnya Ban Lian Hwe Kwi.

Setelah penuturan itu selesai, langit sudah terang, Hian Ceng Tojin lalu suruh mereka semua beristirahat

Setelah Lie Ceng Loan cukup beristirahat ia menanya Hian Ceng Tojin: Toa Supek, Pek Cici bilang dia akan membawa aku dan Bu Koko ke suatu tempat yang aman dan sentosa, dan aku akan terus mendampingi Bu Koko, dan tidak kembali lagi... karena aku yakin Bu Koko tak akan menjadi sembuh, dan Pek Cici juga tak mampu menyembuhkan dia!"

Hian Ceng Tojin terkejut dan menanya: "Apakah Pek Yun Hui juga tak mampu menyembuhkan dia?"

Bee Kun Bu membuka kedua matanya, dan berkata sambil tersenyum: "Teecu tidak takut mati. Teecu anggap kematian sebagai pulang asal Teecu merasa berat terhadap budi kasih Suhu dan lain-lainnya, dan Teecu tak dapat membalas jika Teecu mati. "

Hian Ceng Tojin membisu, ia tak menjawab

"Bu Koko, kau mati dengan hati harus merasa puas, karena aku akan terus mendampingimu Pek Cici juga pernah mengatakan bahwa jika dia telah membunuh mati orang yang mencelakakan kau, dia pun akan mendampingi kau.  M kata

Lie Ceng Loan dengan sungguh-sungguh,

Hian Ceng Tojin hanya berpendapat betapa polosnya gadis itu, tetapi ia tak mengerti mengapa Pek Yun Hui juga mengatakan itu kepada Lie Ceng Loan. Apakah perkataan itu semata-mata untuk menghibur Lie Ceng Loan?

Bee Kun Bu berseru dengan terperanjat "Apa? Apakah kalian ingin dikubur hidup-hidup bersama-sama aku. ??? Lie Ceng Loan mengangguk dan menjawabnya: "Betul! Setelah Bu Koko mati, kami akan menyertai Bu Koko, agar kita tetap dapat berkumpul selamanya."

Air mata Bee Kun Bu mengucur lagi mendengar jawaban itu, dan tiba-tiba ia menyemburkan darah dari mulutnya!

Lekas-lekas Lie Ceng Loan membersihkan darah itu dari mulutnya Bee Kun Bu, dan menguruti d ada nya. Hian Ceng Tojin juga berusaha menyadarkannya sambil berlkata: "Kau menderita luka parah, tetapi mengapa kau tidak jaga diri? Jika kau betul-betul mati, kau akan membikin banyak orang hancur hatinya. Misalnya, ayah bundamu yang telah menyerahkan kau kepadaku, Kau adalah putera yang tunggal. "

Bee Kun Bu hanya dapat menahan kesedihannya, dan insyaf bahwa perkataan gurunya itu betul, Ketika itu juga ia bertekad untuk hidup, agar ia dapat membalas budi kasih orang-orang yang telah menolong padanya, ia memejamkan matanya pula dan berusaha mengumpulkan semangat nya.

Hian Ceng Tojin berbisik kepada Lie Ceng Loan: "Loan Jie, kau jangan ganggu dia lagi, Biarkan dia beristirahat dan aku akan mencari daya upaya untuk menyembuhkan nya. Mari ikut aku keluar!"

Hian Ceng Tojin berjalan keluar dari goa itu diikuti oleh Lie Ceng Loan. Mereka berdiri di tempat yang agak jauh dari goa.

Di luar suasana sudah terang benderang, matahari bersorot dengan megahnya. Hian Ceng Tojin berdiri termenung, tiba-tiba Lie Ceng Loan berseru: Toa Supek, ada orang mendatangi

Hian Ceng Tojin menoleh ke bawah dan melihat ada orang sedang lari tergesa-gesa di bawah jurang itu, ia pun terperanjat

Lie Ceng Loan hanya dapat melihat bahwa orang yang mendatangi itu mengenakan pakaian serba hitam. Ketika orang itu sudah mendekati goa dimana Bee Kun Bu berada, Lie Ceng Loan baru melihat bahwa orang itu adalah seorang wanita dengan batu seruling Giok di tangan kanannya yang digunakan sebagai tongkat

Hian Ceng Tojin lalu betot tangannya Lie Ceng Loan, dan lari mengejar wanita berpakaian serba hitam itu.

Ketika mereka tiba, ternyata wanita itu sudah tak dapat berjalan lagi, Dia sedang duduk di atas satu batu gunung beristirahat Terlihat juga di batang lehernya yang putih halus bekas bacokan lebih kurang satu dim panjangnya dan pakaiannya bernoda darah, Mukanya pucat pasi dan napasnya tersengal-sengal

Hian Ceng Tojin berbisik kepada Lie Ceng Loan: "Kau totok jalan darahnya!"

Baru saja Lie Ceng Loan hendak menotok, tiba-tiba wanita itu menyapu tangan Lie Ceng Loan dengan seruling batu Gioknya. Hian Ceng Tojin dengan secepat kilat merampas serulingnya dan membentak: "Giok Siu Sian Cu! Kami sebetulnya ingin menolong kau, mengapa kau lalu hendak melukai kami!"

Perlahan-lahan Giok Siu Sian Cu bangun, dan mengawasi Hian Ceng Tojin agak lama sebelum ia menyahut

"Kau datang terlambat Dia (dimaksudkan Bee Kun Bu) telah diceburkan orang ke dalam telaga, Aku telah menyelam lama sekali untuk mencari nya, tetapi aku tak dapat ketemukan dia atau mayatnya pun, Mungkin mayatnya tenggelam ke dalam dasar telaga itu. Namun, aku akan berusaha mengangkat mayatnya bila aku sudah sembuh. "

Ketika ia melihat Lie Ceng Loan, ia berseru sambil menunjuk: "Dia telah dilukai oleh empat jago-jago dari partai Ngo Bi San, dan aku hampir diperkosa oleh satu pemuda yang berpakaian kuning dan membawa lingkaran-lingkaran emas, pemuda itu tampan rupa nya, akan tetapi jahat sekali ia pernah sebut namanya, tetapi aku tak ingat lagi. " Lie Ceng Loan menanya Hian Ceng Tojin: Toa Supek, wanita ini siapakah? Mengapa dia kenal Bu Koko?"

"Namanya yang betul jarang orang yang mengetahui," jawab Hian Ceng Tojin, "Tetapi dia terkenal dengan nama Giok Siu Sian Cu di kalangan Kang-ouw."

Lie Ceng Loan berpikir "Nama itu aku pernah dengar... entah dimana,"

Mereka berjalan perlahan-lahan kembali ke kamar di dalam goa, dan pada ketika itu, Pek Yun Hui telah selesai memulihkan tenaga dan semangatnya. ia sedang membereskan rambutnya yang terurai-urai, tetapi wanita yang mukanya jelek sudah tidak ada di dalam kamar itu,

Lie Ceng Loan lari menubruk Pek Yun Hui dan berkata: "Semalam aku bersama Pang Cici bertempur melawan beberapa musuh. jika Toa Supek tidak datang, mungkin aku dan Pang Cici dihajar babak belur!"

Pek Yun Hui mengawasi Hian Ceng Tojin dan tersenyum, Kemudian ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Mungkin kau telah melawan mereka dengan susah payah!"

20 BANGAU SAKTl - T.S.S. jilid 9

"Aku pernah melawan banyak musuh," kata Lie Ceng Loan, Tetapi pertempuran semalamlah yang paling ku- khawatirkan, karena aku selalu memikirkan keselamatannya Bu Koko dan kau. "

Sejenak kemudian Pang Siu Wie datang membawa air untuk mencuci noda darah di muka dan di rambutnya Pek Yun Hui. Kemudian ia memberi hormat kepada Hian Ceng Tojin sambil berkata: "Angkatan tua apakah kau baik? Syukur angkatan tua keburu datang menolong,"

Pek Yun Hui meneruskan: "Bee Kun Bu menderita luka berat Aku tidak mampu menyembuhkannya, Aku bermaksud membawa dia pergi ke pegunungan Koat Cong San untuk menemui guruku di puncak Pek Yun Siat, aku hendak memohon guruku menyembuhkan dia dengan Ban Lian Hwe Kwi."

"Pek Siocia demikian perlunya terhadap dia, aku sangat berterima kasih," jawab Hian Ceng Tojin, "Dan karena dia, Pek Siocia mengalami banyak kesulitan dan menghadapi banyak bahaya. "

"Harap angkatan tua tidak menyalahkan dia." memotong Pek Yun Hui. "Sebetulnya banyak urusan yang tiada sangkut pautnya dengan dia, Kini karena lukanya berat sekali, Kita jangan menunda-nuda dan berlaku lambat, kita harus lekas- lekas membawa dia."

"Apakah aku dapat turut?" tanya Hian Ceng Tojin,

"Jika angkatan tua ada urusan yang penting, harap jangan pusingi urusan ini. Dengan Loan Moi dan Pang Siocia aku yakin dapat mengurusnya dengan baik." Kata Pek Yun Hui.

Hian Ceng Tojin segera mengerti maksudnya Pek Yun Hui, maka ia berkata sambil tersenyum: "Jika demikian halnya, biarlah aku berlalu dari sini dulu.,,." ia bertindak, tetapi segera berhenti ia berbalik dan berkata lagi: "Ketika aku sedang bertempur melawan Giok Siu Sian Cu di suatu tempat di atas jurang yang curam, Souw Hui Hong, puteri kesayangannya pemimpin partai Thian Liong, Souw Peng Hai, memberitahukan kepadaku bahwa Bee Kun Bu telah tertawan di pegunungan Ngo Bi San oleh orang-orangnya partai Ngo Bi dan dia dipenjarakan di dalam kuil Ban Hut Si.

Maka aku segera berangkat ke pegunungan Ngo Bi San.

Tetapi ketika aku tiba di dekat puncak Ngo Houw Leng di waktu tengah malam buta, dengan kebetulan aku menemui Ciu Kong Liang dan Si Tian Houw sedang bereakap-cakap di atas suatu jurang, Karena ingin tahu, aku mendekatinya, dan mengetahui bahwa mereka sedang merundingkan soal menangkap Ban Lian Hwe Kwi. sebetulnya aku hanya ingin tahu, dan tidak berniat merebut Ban Lian Hwe Kwi. Akan tetapi aku dijebak oleh mereka!" "Si Tian Houw adalah seorang yang pintar dan busuk, Angkatan tua bagaimanakah dianiayanya?" tanya Pek Yun Hui.

"Dulu aku pernah jumpa dengan mereka, oleh karena itu aku telah kenal mengenai Si Tian Houw dengan wajah berseri- seri mengajak aku turut menggabungkan diri. Meskipun aku menolak dengan keras, aku masih juga kena dibujuk dan didesak dan akhirnya aku setuju, Lalu Si Tian Houw bawa aku ke tempat di mana kura sakti itu bersembunyi. Tetapi ketika aku berada di pinggir jurang yang curam, mereka bersama- sama menjoroki aku ke bawah jurang. Untung aku tidak terluka, bahkan aku memperoleh pedang wasiat ini." ia berhenti dan mempertunjukkan pedang wasiat itu, lalu meneruskan: "Pedang wasiat ini sangat luar biasa, harus digunakan oleh orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali Perkenankanlah aku dengan jalan ini memberikan pedang wasiat ini kepada Pek Siocia sebagai tanda terima kasihku !"

Pek Yun Hui mengawasi pedang wasiat itu, lalu sambil menggelengkan kepala ia berkata: "Pedang wasiat yang luar biasa ini, aku tak berani menerimanya, Aku minta angkatan tua menggunakannya sendiri Lagi pula aku tak berniat menjagoi di kalangan Kang-ouw, Dengan pedang wasiat ini didampingi dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun, aku yakin angkatan tua dapat membikin nama partai Kun Lun lekas menjadi termashur dan harum, Harap angkatan tua menyimpannya kembali.

Dalam keadaan itu, Hian Ceng Tojin terpaksa menyarungkan pedang wasiatnya, lalu memberi hormat dan berlalu

Pek Yun Hui tidak membuang waktu, segera ia bawa Bee Kun Bu menuju ke pegunungan Koat Cong San disertai oleh Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie.

sepanjang jalan Pek Yun Hui berusaha menolong Bee Kun Bu agar ia tidak pingsan, dan ia sangat khawatir Bee Kun Bu tewas dalam perjalanan sebelum dapat disembuhkan oleh gurunya. Tetapi ia tidak mengetahui bahwa Bee Kun Bu masih terus dapat bertahan karena telah makan pil mujarab dari gadis di dalam perahu ketika dia berlayar di sungai Bin Karig,

pada hari itu juga mereka tiba di kaki pegunungan Koat Cong San.

-ooo0ooo-

Menjumpai ayah kandungnya

Karena Pek Yun Hui telah paham akan jalan yang harus ditempuh, mereka dapat melalui lereng-lereng gunung, jalan- jalan sempit dan beberapa puncak yang curam dengan selamat, dan pada malam itu juga mereka tiba di atas puncak Pek Yun Siat

Meskipun sudah jam dua malam, akan tetapi bulan masih memancarkan sinarnya sehingga suasana malam di sekitarnya menggembirakan

Sambil menunjuk ke satu puncak gunung Pek Yun Hui berkata: "Setelah kita melalui puncak itu, kita segera tiba di puncak Pek Yun Siat. "

Lie Ceng Loan meraba dadanya Bee Kun Bu dan berseru: "Pek Cici, Bu Koko masih hidup, jantungnya masih berdenyut. "

Pek Yun Hui tersenyum dan berkata: "Aku hanya khawatir kalau-kalau guruku belum kembali."

Mereka meneruskan perjalanannya, tetapi hatinya Pek Yun Hui berdebar-debar, ia khawatir gurunya belum kembali Tetapi Lie Ceng Loan mempunyai pikiran lain, ia makin berpengharapan, karena ia yakin bahwa gurunya Pek Yun Hui pasti dapat menyembuhkan Bee Kun Bu.

Hanya satu soal yang membingungkan Pek Yun Hui. Menurut pengetahuannya, Bee Kun Bu tak akan dapat bertahan lebih dari sepuluh hari, akan tetapi sepuluh hari telah lewat, dan Bee Kun Bu masih bernapas. ia tidak ketahui bahwa Bee Kun Bu tertolong oleh pil mujarab dari si gadis di atas perahu di sungai Bin Kang, Pil mujarab yang disebut Pi Beng Hu Sim Tan (Menjamin jiwa memperkuat jantung) bukan saja berkhasiat memperpanjang umur, tetapi juga dapat menyembuhkan luka-luka yang diderita di dalam tubuh!

Pek Yun Hui yang senantiasa kuat imannya dalam hampir segala hal, kali ini menjadi lemah kepereayaannya terhadap kemampuannya sendiri Dengan terus terang ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Jika guruku belum kembali, apakah yang kita harus lakukan?"

Lie Ceng Loan tersenyum dan berkata sambil menghibur "Tidak apa. Kita dapat menunggu sampai Suhumu kembali. "

"Jejaknya Suhuku tidak menentu, ada kalanya dia pergi berbulan-bulan baru kembali." ia berhenti dan menjadi sangat cemas ketika ingat peristiwa di puncak Ngo Houw Leng. ia tak mengerti mengapa gurunya merampas Ban Lian Hwe Kwi dan memberitahukannya ada urusan penting, Tiba-tiba terdengar suara bangaunya, dan sejenak kemudian terlihat bangaunya itu terbang melayang di angkasa di bawah sinarnya rembulan Secepat kilat bangau itu terjun ke bawah dan berdiri di samping Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui menjadi gembira menjumpai bangaunya pula, karena ia tahu pasti, jika bangau ini kembali, Suhunya pun sudah kembali!

Bangau itu, disamping ia, hanya gurunya dapat menggunakan Ketika ia tidak menjumpai bangaunya, ia menjadi cemas. Kemudian, ia jumpai gurunya di pegunungan dekat puncak Ngo Houw Leng, ia yakin bahwa bangau itu dibawa oleh gurunya untuk suatu tugas, Kini ia jumpai bangaunya lagi, dan menurut keyakinannya, gurunya pun telah kembali, ia berseru: "Ayo! Kita lekas-lekas jalan, Suhuku telah kembali!" Mereka berlari-lari, dan dalam sekejap saja telah tiba di kaki puncak Pek Yun Siat,

Tiba-tiba terdengar oleh mereka suara getaran tali alat musik. Betul suara itu tidak terlalu nyaring, akan tetapi cukup membikin mereka terkejut Mereka berhenti Bangau itu segera berbunyi, dan terbang naik ke atas entah kemana!

Melihat peristiwa yang ganjil itu, Pek Yun Hui terperanjat dan merasa heran, Kemudian ia berseru:

"Loan Moi, lekas-lekas berlalu. Dan ia lari ke depan! Sikapnya yang ganjil itu membikin Lie Ceng Loan dan

Pang Siu Wie menjadi bingung, tetapi mereka pun turut berlari

Setelah berlari-lari selama seperempat jam, Pek Yun Hui berhenti dan serahkan Bee Kun Bu kepada Lie Ceng Loan untuk digendong, Lalu ia loncat ke depan secepat kilat dan berusaha menubruk sesuatu!

Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie mengawasi dan segera menyaksikan bahwa di semak belukar di depan mereka tampak duduk seorang kakek, berjenggot dan berjubah hijau, Di samping kakek itu, lebih kurang sedepa jauhnya, duduk bersila seorang gadis berpakaian sutera biru, dan memegang sebuah alat musik. Di belakang gadis itu duduk berderet-deret empat gadis, telanjang kaki dan berpakaian baju kurung berwarna biru pula,

Dengan kedua mata berlinang, dan gitar di pangkuannya, gadis yang berpakaian sutera biru itu memetik tali alat musiknya dengan wajah yang suram dan sedih menghadapi si kakek yang sedang duduk sangat tenangnya....

Pek Yun Hui menubruk si kakek, dan dengan suara terharu ia bersemi "Suhu! Suhu! Aku telah kembali. "

Si kakek melotot dan membentak: "Apa gunanya kau kembali sekarang? Ayo, lekas lekas enyah!" ia mengusir Pek Yun Hui dengan menghalaukan Pek Yun Hui dengan tangan nya. Si gadis yang berpakaian sutera biru memetik tali alat musiknya tiga kali....

Tiba-tiba Lie Ceng Loan merasa kedua lengannya menjadi lemas, dan sejenak kemudian Bee Kun Bu yang sedang digendongnya terjatuh di tanah! Pang Siu Wie bertindak tiga langkah segera berhenti Pek Yun Hui hanya menjadi gelisah....

Syukur si gadis tidak memetiknya terus dan ketiga orang itu pun tidak dipengaruhi pula oleh nada yang terdengar keluar dari tali alat musik itu!

Lie Ceng Loan lekas-lekas angkat Bee Kun Bu sambil berkata: "Suara yang sangat memilukan hati!"

Lalu si kakek membentak lagi dengan kedua matanya melotot: "Ayo, lekas enyah! Jika tidak, mungkin terlambat Aku telah terluka parah!"

Pek Yun Hui menampak sikap gurunya sangat luar biasa dan wajahnya pucat sekali, dan ia yakin bahwa gurunya betul- betul terluka, ia lalu loncat menerkam gadis yang berpakaian sutera biru itu.

Tetapi gadis itu tidak bergerak, hanya keempat gadis yang duduk di belakangnya segera bangkit menghalau serangan,

Pek Yun Hui telah menyerang dengan jurus Gie San Tin Hai atau Tenaga yang dapat merobohkan gunung dan membalikkan lautan, tetapi keempat gadis itu, setelah mengegoskan serangan itu, batas menyerang dengan ber- bareng, sehingga delapan tinju berbareng menyerang Pek Yun Hui.

Pang Siu Wie yang melihat empat orang menyerang satu orang menjadi panas, ia menjerit dan menerjang maju siap sedia dengan kantong pasir beracunnya,

Si kakek memperingatkan "Pek Ji, lekas-lekas berhenti Dia adalah saudaramu, kau tak dapat melawan dia!" Setelah mendengar kata-kata gurunya, dan setelah menangkis semua serangan-serangan, Pek Yun Hui berhasil loncat keluar dari kepungan keempat gadis itu, Mereka pun tidak mengejar, tetapi segera berdiri di depan gadis yang berpakaian sutera biru itu,

Pang Siu Wie yang sudah siap menyambit dengan pasir beracunnya segera berhenti setelah mendengar peringatan si kakek, ia pun loncat berdiri di belakangnya Pek Yun Hui.

Lalu si gadis berbaju sutera biru bangun dan menghampiri si kakek melalui Pek Yun Hui dengan sikap yang tenang.

Sebetulnya, Pek Yun Hui hendak memukul gadis itu sampai mati ketika dia sedang melewat di depannya, Tetapi setelah melihat wajahnya, Pek Yun Hui terkejut, karena wajah itu agaknya ia pernah lihat, entah dimana.

Si gadis itu lalu berlutut di hadapan si kakek, dan alat musiknya masih tetap dipeluknya, Dengan suara rendah ia berkata kepada si kakek: "Lo Pek (paman tua), sebelumnya ibuku meninggal dunia, dia telah memberitahukan kepadaku bahwa aku harus datang ke pegunungan Koat Cong San mencari Lo Pek di puncak Pek Yun Siat, dan suruh aku dengan lagu Hian Im Hauw Sim (Tali ajaib menggetar menghancurkan jantung) membinasakan Lo Pek. sebetulnya aku tidak berniat melakukan ini, terutama karena Lo Pek berlaku baik terhadap aku dengan memberikan Hwee Tan (Pil api) dari Ban Lian Hwe Kwi untuk aku makan, ibuku juga pernah mengatakan bahwa orang yang telah makan Hwee Tan dari Ban Lian Hwe Kwi tidak bisa mati. Aku pereaya bahwa Ban Lian Hwe Kwi itu adalah suatu binatang yang ajaib sekalL,."

Setelah menghela napas, si kakek berkata dengan sedih sekali: "Kata-kata ibumu betul! Dia telah menderita karena perbuatanku Meskipun aku dibunuh dan kemudian dipotong berkeping-keping, aku rela, Hanya sayang sekali semasa hidupnya dia tak dapat membunuh aku... aku yang tak mengenal budi kasihnya.,.," Si gadis matanya membelalak setelah mendengar kata- kata kakek itu, dan ia menanya: "Ha! Apakah Lo Pek kenal ibuku???"

Si kakek menengadah mengawasi bulan, lalu ia menjawab: "Aku dan ibumu pernah berjumpa beberapa kali. "

Pek Yun Hui juga loncat berlutut di hadapan gurunya dan berkata: "Suhu kenal ibunya, tetapi mengapa tidak mau menerangkannya dengan jelas?"

ia belum bicara habis, tiba-tiba mereka semua dibikin terkejut oleh jeritannya yang sangat memilukan hati, dan semua mata ditujukan ke arah ia. Karena pada waktu itu Pek Yun Hui ingat akan Hwee Tan yang telah dimakan oleh si gadis berbaju sutera biru, ia yakin Bee Kun Bu tak dapat ditolong lagi,

Si kakek dan si gadis dibikin kaget sekali oleh jeritan Pek Yun Hui, begitu juga Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie.

Si kakek lalu bangun dan mengangkat kedua tangannya sambil terus berjalan cepat memutar dua kali untuk kemudian duduk di tempat asal

Pek Yun Hui menyaksikan cara jalan gurunya, dan mengetahui bahwa cara itu adalah untuk memulihkan tenaga dalam dan semangat ia berpikir "Apakah guruku betul-betul menderita luka di dalam tubuh? AJcu tak pereaya, karena dengan ilmu silatnya yang demikian tingginya, siapakah yang bisa melukai dia?"

Lalu si gadis berbaju sutera biru berkata lagi: "lbuku telah memesan aku untuk membinasakan kau. Semula kukira kau seorang yang jahat Tetapi dengan kepala mata sendiri aku menyaksikan bahwa kau seorang yang baik hati dan berbudi sebetulnya ibuku mempunyai dendam apakah terhadap kau sehingga kau harus dibinasakan ???-

Si kakek tertawa dan berkata: "Pada sekarang ini, hanya kau dan ibumu yang bisa membinasakan aku. ibumu telah meninggal dunia, dan sekarang hanya kau seorang yang dapat membinasakan aku. Jika kau tidak melaksanakan pesan ibumu akupun tak bisa mati!"

Tiba-tiba Pek Yun Hui rebut alat musiknya gadis itu, Tetapi gadis itu hanya mengawasi dan berkata: "Lebih baik kau hancurkan Kim itu, karena aku pun tak akan memetiknya lagi!"

Si kakek membentak: Apa?! Kau tidak mau melaksanakan pesan ibumu!? Nyatalah kau seorang puteri yang tak berbakti!"

Si gadis menangis tersedu-sedu dan berkata: "Te-tapi... kau terlampau baik terhadap aku,., jika aku membinasakan kau, aku akan menyesal seumur hidupku.,.,"

Tetapi ibumu telah menderita, dia telah memelihara kau dan mengajarkan kau cara-cara untuk membalas dendam. Jika kau tidak membinasakan aku untuk memenuhi pesan ibumu, mungkin kau tidak ada muka menemui dia di dunia baka.,." kata si kakek sambil tersenyum 

Tiba-tiba si gadis coba merebut kembali Kimnya dari tangannya Pek Yun Hui. Tetapi Pek Yun Hui lebih cepat mengegoskan diri.

Sambil bangun Pek Yun Hui mengancam: "Jika kau masih hendak merampas Kim ini, aku betul-betul akan menghancurkannya!"

Ketika itu keempat gadis berbareng menyergap Pek Yun Hui, Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan loncat mencegah.

"Berhenti!" si kakek membentak dan lengan kanannya memukul udara, tetapi hembusan angin dari jotosan itu telah mendampar Lie Ceng Loan, Pang Siu Wie dan keempat gadis sehingga mereka semuanya jatuh terlentang di tanah!

Pada saat itu Pek Yun Hui angkat gitar itu dan dengan sekuat tenaga ia lempar ke atas satu batu besar yang beberapa depa jauhnya dari ia. Tetapi si kakek mengebut lengan baju kirinya, dan dalam sekejap mata, Kim atau alat musik itu jatuh ke dalam tangannya untuk dilempar kepada si gadis berbaju sutera biru!

Pek Yun Hui telah lempar alat musik itu dengan sekuat tenaga, akan tetapi si kakek hanya bangkit dan mengebut lengan baju kirinya, dan Kim itu jatuh ke dalam tangannya untuk dilemparkan kembali kepada pemilik-nya. perbuatan atau kepandaian si kakek itu bukan saja menakjubkan Lie Ceng Loan dan Pang Siu Wie, bahkan Pek Yun Hui dan si gadis berbaju sutera biru!

Pek Yun Hui insyaf bahwa jika gadis itu memetik tali Kimnya, maka mereka semua akan menjadi lumpuh tak berdaya! Setelah semangatnya kumpul kembali, Pek Yun Hui menerkam si gadis lagi untuk merampas alat musik-nya. Lagi- Iagi si kakek merintangi, dan membentak: "Pek Ji, lepaskan tanganmu!"

Pek Yun Hui yang sudah masgul karena Hwee Tan telah dimakan oleh si gadis itu, dan kini dibentak oleh gurunya, menjadi nekat, ia berteriak: "Aku tak akan lepas meskipun Suhu pukul mati kepadaku!"

"Htn, apakah kau kira aku tidak berani memukul mati kepadamu?" seru si kakek dan tinju kirinya melayang, tetapi segera juga ditarik lagi, Pek Yun Hui sudah memejamkan kedua matanya menerima pukulan, tetapi si kakek terkenang akan hubungannya terhadap murid kesayangannya itu, ia terkenang ketika Pek Yun Hui masih kecil telah menyertai ia tinggal terpencil di atas puncak Pek Yun Siat, dan ia telah mengajarkan banyak ilmu silat kepadanya, Namun tinju itu mengenai juga pipinya Pek Yun Hui sehingga menjadi bengkak! ia bukan main menyesalnya atas perbuatannya yang bernapsu itu. ia geprak tanah dengan sekuat tenaga sambil berlutut, dan menundukkan kepalanya dengan air mata berlinang.

Dengan menahan sakit dan mengucurkan air mata Pek Yun Hui meratap: "Suhu,., meskipun Suhu ingin mati, aku minta suhu memberitahukan alasannya. " Lalu ia betot alat

musik itu dari tangannya si gadis,

Si gadis itu berkata dengan sikap memohon: "Kau jangan hancurkan Kim itu, yang menjadi pusaka peninggalan ibuku, Jika aku ingat akan ibuku, aku ingin memetik talinya dan mainkan beberapa lagu untuk roh-nya."

Si kakek juga berkata: "Pek Ji, sabar, janganlah kau hancurkan Kim itu!"

"Baik, tetapi Suhu harus memberitahukan rahasia yang terpendam dalam hati Suhu," kata Pek Yun Hui mengajukan syaratnya,

Si kakek berpikir, lalu menjawabnya: Tentang itu, aku harus mempertimbangkan dulu."

Rupanya si gadis itu terharu menampak sikap yang keras dari Pek Yun Hui karena sayang gurunya, "Menurut apa yang aku tahu, ibuku belum pernah berlalu dari lembah Pek Hua Kok. Cara bagaimanakah Lo Pek mempunyai hubungan dengan ibuku, aku sedikitpun tak mengetahui. " Kemudian ia

mengawasi Pek Yun Hui, dan segera ia keluarkan satu saputangan dari sutera putih, ia buka saputangan itu dan dibentangkan di atas rumput

Terlihat di atas sutera putih itu gambar dari satu anak perempuan yang berusia lebih kurang tiga-empat tahun, dengan dua kuncir, mengenakan baju sutera, dan di belakang anak itu berdiri seorang wanita yang cantik dan berusia lebih kurang dua tahun.

Melihat wajahnya anak perempuan dalam gambar itu mirip sekali dengan wajahnya sendiri Pek Yun Hui terperanjat dan berseru "O!"

Si kakek tak tahan mengucurkan air matanya ketika melihat lukisan di atas sapu tangan sutera putih itu, dan seluruh tubuhnya menggigil gemetar Gadis itu setelah mengawasi lagi air mukanya Pek Yun Hui, juga berseru: "Lan Tai Kong Cu! Lan Tai Kong Cu! (Puteri bunga tulip). "

Pek Yun Hui lebih terperanjat lagi ketika ia dipanggil dengan nama aslinya, Tiba-tiba si kakek bangkit, dan sambil membantingkan satu kaki di atas rumput ia berseru: "Aku ini berdosa! Sungguh berdosa! Selama sepuluh tahun lebih, aku terus. "

Pek Yun Hui menubruk si kakek dan menanya: "Suhu!

Suhu! Kau mengapa?"

Tetapi si kakek memukul dadanya dan menjerit: "Sudah! Sudahlah! Kalian anak kemarin dulu tidak tahu apa-apa. !"

Lalu ia memuntahkan darah, dan berjingkrak-jingkrak seperti orang yang tubuhnya terbakar pakaiannya basah kuyup dengan keringatnya, Kemudian ia duduk lagi di atas rumput dan berkata, suaranya terputus-putus: "Aku luka parah sekali, mungkin tak dapat hidup lama lagi.."

Si gadis berbaju sutera biru itu menghampiri dan menanya: "Lo Pek, apakah kau betul-betul luka parah. Bolehkah aku

menolong kau?"

Dengan sikap seorang ayah yang mencinta ia menjawab "Meskipun lukaku parah, akan tetapi aku masih sukar mati. Selama sepuluh tahun lebih ini, siang malam aku selalu memikir satu soal yang aku tak mengerti apa sebabnya, Tetapi sekarang aku mengerti. " ia berhenti sebentar dan

mengawasi Bee Kun Bu yang berbaring di atas rumput dalam keadaan tak sadarkan diri "Aku mengerti, hanya aku khawatir aku terlambat Apakah ibumu tidak ada pesan lainnya?"

Si gadis berbaju sutera biru berpikir sejenak dan menjawab: "Ada, ibu mengatakan kepadaku bahwa makhluk yang harus ditakuti di dunia ini bukanlah ular berbisa atau binatang buas. Jika aku menyukai seorang laki-laki aku lekas- lekas bunuh laki-laki itu! Demikian pesan ibuku!" "Kata-kata ibumu itu betul," berkata si kakek sambil menundukkan kepalanya, "Dia jika tidak mencintai aku, dia tak akan datang ke dalam pegunungan ini dan menderita dua puluh tahun lebih. Dia telah melupakan penghidupan yang mewah dan melalui banyak bahaya untuk kabur bersama- sama aku ke pegunungan Koat Cong San ini, dan tinggal terpencil di dalam goa batu,

Tiap-tiap hari tidak melihat orang, tetapi binatang liar dan ular berbisa yang menjadi tetangganya, Untuk apakah? itulah karena dia mencintai aku, Dia telah meninggalkan singgasana ratu, dan rela hidup sengsara bersama-sama aku, Ya, asmara itu nikmat, tetapi banyak durinya! Aku tak berdaya membikin dia berbahagia, dan hal ini yang menekan aku selama enam- tujuh tahun, sekarang setelah aku melihat pemuda yang terluka itu, aku menjadi insyaf, Aku belum pernah pukul ibumu atau memakinya meski sepatah katapun! Tetapi aku tak sampai hati melihat dia rela hidup terpencil, melupakan segala kesenangan dunia. "

Pek Yun Hui menegur "Suhu, kau sedang bicarakan tentang siapakah?"

Si kakek tersenyum dan meneruskan: "Sebetulnya aku tak sudi memberitahukan peristiwa yang lampau ini kepada kalian berdua, Tetapi aku khawatir Jika aku mati, kalian berdua tidak akan mengetahuinya, Mungkin juga

kalian tidak mengetahui tentang riwayatmu sendiri.." "Jika Lo Pek telah mengetahui dan kenal baik ibuku, Lo

Pek pasti telah hidup bersama-sama ibuku lama sekali.,." kata

si gadis itu,

"Ha! Apakah ibumu tidak memberitahukan kau siapa ayahmu?" tanya si kakek dengan perasaan heran.

"Tidak," jawab si gadis, "lbuku belum pernah memberitahukan aku siapa ayahku, Pada suatu hari aku menanya, dan dia menjadi gusar sekali, sebetulnya dia belum pernah maki aku, dia sangat mencintai aku, Tetapi ketika itu ia menjadi gusar sekali, dia kata bahwa ayahku adalah seorang yang busuk, dan melarang aku menyebut-nyebut hal itu lagi!"

Si kakek tertawa dan berkata: ibumu betul! Ayahmu sebetulnya seorang yang busuk dan jahat!"

Pek Yun Hui mendengari pereakapan itu dengan penuh perhatian dan sebentar-sebentar ia menoleh kepada lukisan di atas sapu tangan sutera putih itu, Lalu si kakek mengawasi Pek Yun Hui dan berkata dengan khidmat: Terlebih dulu aku minta Kong Cu (Puteri) mengampuni aku si tua bangka ini karena dosa pengkhianatanku, kemudian aku akan menceritakan kisah seterusnya. "

"Suhu ada omongan apa, katakanlah Melihat sikap dan lagak Suhu itu membikin aku makin gelisah," kata Pek Yun Hui.

"Na, dengarlah kalian berdua," si kakek memulai, "Semua orang telah mengetahui bahwa kaisar Bu Cong almarhum tidak mempunyai turunan, maka setelah beliau meninggal dunia, putera dari adiknya diangkat menjadi

SIAN HOK SIN CIN - T.S.S. jtikt 9 37

kaisar Mereka tidak mengetahui bahwa darah dagingnya kaisar Bu Cong sendiri yang dilahirkan oleh salah satu gundiknya dibawa lari oleh aku dan Cui Tiap ke dalam pegunungan. "

Pek Yun Hui tidak sabar mendengarkan kisah itu karena ia hanya memikir kesehatan atau jiwanya Bee Kun Bu. ia menegur: "Urusan orang-orang di istana raja tidak ada hubungannya dengan kami Lebih baik jangan di-ceritakan."

Si kakek tertawa dan berkata: "Justru kisah ini sangat bersangkut paut dan erat hubungannya dengan kau. Mungkin juga kau telah mengetahui sedikit, tetapi kau yang berwatak agung dan luhur selalu mempertahankan hubungan guru dan murid terhadap aku, dan aku pun tidak pernah membuka rahasia itu.

Di zaman mudaku, aku selalu berkelana mencari guru-guru silat yang pandai Setelah aku menjadi seorang ahli silat, dengan peran-taraan seorang saudara seperguruan aku beruntung menjadi satu angota barisan pengawal kaisar Hauw Cong aImarhum. " ia berhenti dan mengawasi gadis yang

berpakaian sutera biru, lalu melanjutkan "Ya, ,,.pada ketika itulah aku mengenal ibunya Siauw Tiap, dan ketika itu dia baru saja berusia lima belas tahun, Tetapi dia telah disegani oleh kaisar dan dimasukkan ke dalam istana menjadi gundiknya!"

Si gadis itu melotot dan menegur: "Kau kenal ibu-ku???" Si kakek mengangguk dan berkata: "Aku adalah ayahmu!

Karena ibumu sangat membenci aku, dia tak sudi memberitahukan ini kepadamu!H

Di bawah sinar bulan terlihat nyata si kakek dan si gadis mengucurkan air mata, karena terharu, Anak bertemu ayah!

Sebetulnya si kakek itu bernama Na Hai Peng, dan di zaman kerajaaan Beng Tiauw, dia adalah pengawal pribadi dari kaisar Hauw Cong, Dengan ilmu silatnya yang tinggi, dia sangat dipereaya oleh Kaisar Hauw Cong dan sering-sering menyertainya keluar masuk istana, Untuk jasanya, Kaisar Hauw Cong telah menghadiahkan kepadanya satu gundik yang bernama Cui Tiap (lbunya si gadis berpakain sutera biru).

Tetapi Na Hai Peng yang hanya gemar akan ilmu silat, tidak sudi berumah tangga, meskipun Cui Tiap itu seorang wanita yang muda dan cantik jelita, Sebagai suami istri, mereka hidup beberapa tahun, tetapi Na Hai Peng tidak menaruh kasih sayang kepada Cui Tiap yang rela berkorban untuk pria yang dia sangat cintai itu,

Pada suatu hari, Na Hai Peng berhasil menangkap seorang perampok besar yang telah menerobos masuk ke dalam istana di waktu malam, Dari badannya perampok besar itu, ia telah dapatkan kitab Kui Goan Pit Cek (kitab ilmu silat) itu, Setelah melihat peta itu, hatinya tergerak, dan ia yang senantiasa gemar akan ilmu silat, lalu mengambil keputusan mencari kitab Kui Goan Pit Cek itu. Pada suatu malam, tanpa diketahui orang, ia kabur dari istana.

Kaisar Hauw Cong yang sangat sayang kepadanya menjadi gelisah ketika mengetahui bahwa Na Hai Peng itu hilang. Diperintahkannya kedua orang menteri kepereayaannya untuk mencari Na Hai Peng, Kedua menteri tersebut lalu mengerahkan hampir semua jago-jago silat dan serdadu-serdadunya untuk mencari di semua tempat dan pelosok di dalam negeri tetapi usaha mereka hampa, karena Na Hai Peng tidak dapat diketemukan! Setelah lewat satu tahun barulah usaha mencari Na Hai Peng yang hilang itu mulai menjadi reda.

Meskipun Na Hai Peng memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, akan tetapi ia tak mempunyai pengalaman, karena setelah ia berhasil mempelajari ilmu silat, ia menjadi pengawal kaisar, dan jarang sekali bereampur gaul dengan para jago silat di kalangan Kang-ouw.

Berdasar atas peta asli Cong Cin To itu, ia telah menghamburkan waktu setengah tahun untuk tiba di tempat di mana kitab Kui Goan Pit Cek itu disembunyikan Peta itu hanya melukiskan tiga puncak gunung yang mengapit sebuah lembah curam, dimana banyak jalan yang berliku-liku dan pohon-pohon cemara tumbuh dengan suburnya, Tampak pula sebuah pohon cemara yang lebih tinggi daripada pohon-pohon lainnya dan daunnya yang rindang merupakan payung.

Sinar bulan memancar melalui daun-daun pohon itu ke atas sebuah sungai yang mengalir di bawah pohon itu.

Meskipun sungai itu tidak luas, tapi dalam dasarnya, ia tak dapat menafsirkan petunjuk-petunjuk di atas peta itu, namun ia sangat ulet Selama hampir satu bulan ia berusaha mencari tempat itu yang terletak di pegunungan Koat Cong San, dan akhirnya ia tiba di atas puncak Pek Yun Siat, tidak jauh dari air terjun yang mengalir dari puncak yang di tengah dari ketiga puncak yang ganjil itu.

Justru puncak Pek Yun Siat inilah tempat bertapanya Tian Ki Cin Jin (Jago silat sakti) atau disebut juga Giok Liong Cin Jin. Pada lebih kurang tiga ratus tahun yang lampau, Giok Liong Cin Jin. Pada lebih kurang tiga ratus tahun yang lampau Giok Liong Cin Jin dengan kedua tinjunya telah menaklukkan para jago silat, sehingga dia dapat julukan Thian He Bu Kong Tee It (Jago silat nomor satu di kolong langit), Nama itu telah menimbulkan iri hati seorang yang bertabiat ganjil Orang itu, meskipun seorang wanita, tetapi juga seorang rahib yang memiliki ilmu silat luar biasa.

Pada tahun ketiga setelah Giok Liong Cin Jin menaklukkan para jago silat di puncak Sao Sit Hong, rahib wanita itu, yang bernama San Im Shi Ni, dengan tidak menghiraukan tempat yang jauh telah datang dari pegunungan Altai di sebelah barat ke timur ia datang ke pegunungan Koat Cong San di propinsi Ciat-kang (Ze-kiang) hanya untuk mengadu silat kepada Giok Liong Cin Jin, Mulailah suatu pertempuran yang maha dahsyat di desa Ceng Yun Giam dekat pegunungan Koat Cong San itu. pertempuran itu berlangsung selama tiga hari tiga malam, dan telah lebih dari lima ribu jurus!

Namun, belum juga ada yang kalah atau yang menang! Pada hari ke empat, masing-masing menggunakan seluruh tenaga dalamnya, dan demikian dahsyatnya pertarungan tersebut sehingga kedua-duanya luka parah dan kedua- duanya kalah, Masing-masing mengetahui bahwa mereka tak akan lama lagi hidup dan dalam keadaan payah itu, mereka berbalik menjadi kawan. Mereka tidak mempunyai murid,

Bersama-sama mereka mengarang kemahiran dan kepandaian silatnya dan menjadikan tiga jilid buku, yang mereka simpan di dalam sebuah goa batu di pegunungan Koat Cong San dan buku-buku tersebut mereka namakan Kui Goan Pit Cek yang artinya sebagai berikut: Semua ilmu silat dari segala jurusan mengalir ke satu tempat dan tidak menyimpang dari tujuannya, setelah selesai menyusun tiga jilid buku itu, mereka menggambar sebuah peta yang disebut Cong Cin To, yang ditaruhnya di dalam sebuah kotak dari batu Giok, dan disembunyikan diantara dua jurang, Kemudian kedua orang yang aneh itu meninggal dunia di pegunungan Koat Cong San.

Maka Na Hai Peng setelah masuk ke dalam satu goa di atas puncak Pek Yun Siat telah melihat tanda-tanda bekas peninggalan Tian Ki Cin Jin atau Giok Liong Cin Jin itu. Hasrat untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu tak kunjung padam, karena tanda-tanda bekas itu membuktikan bahwa kitab ajaib itu ada.

Setelah beristirahat di dalam goa itu selama dua hari, ia kembali lagi ke dekat air terjun diantara ketiga puncak gunung seperti terlukis di dalam peta Cong Cin To. Tetapi setelah mundar-mandir selama dua hari, ia masih juga tidak berhasil menemukannya.

Pada hari ketiga ia menjumpai dua jago silat dari kalangan Bu Lim. Na Hai Peng yang sudah lama tidak menjumpai manusia merasa gembira menemui kedua orang itu, Setelah mereka bereakap-cakap, ia baru mengetahui bahwa kedua jago silat itu juga datang ke pegunungan Koat Cong San dengan hasrat mencari kitab Kui Goan Pit Cek, meskipun mereka tidak memiliki peta Cong Cin To yang diperlukan untuk mencari kitab Kui Goan Pit Cek itu, sebetulnya kedua orang itu datang ke pegunungan tersebut setelah mereka mendengar kabar tentang cerita yang telah menjadi umum di kalangan Kang-ouw.

-ooo0ooo- Terjebak

Kedua jago silat itu menceritakan bahwa setelah mereka berusaha selama setahun mencari tempat disembunyikan nya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, mereka hanya berhasil tiba di dekatnya daerah di mana ketiga puncak yang berdiri tegak merupakan sudut segi tiga dan air terjun yang mengalir dari puncak di tengah.

Na Hai Peng mendengarnya dengan penuh perhatian dan pikirnya: "Aku kira hanya aku seorang yang gemar akan ilmu silat, tetapi ternyata masih ada jago-jago silat yang berusaha keras mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, Aku memiliki peta Cong Cin To, tetapi aku belum berhasil mencari tempat disembunyikannya kitab-kitab itu. Mengapa aku tidak berusaha mencarinya ber-sama-sama kedua jago silat ini?"

ia insyaf bahwa karena ia telah tinggal lama di dalam istana raja, ia tak mengetahui banyak tentang peristiwa- peristiwa yang terjadi di kalangan Kang-ouw, dan ia pun tak dapat menyelami hati orang lain, Dengan tekad mencari kitab- kitab Kui Goan Pit Cek bersama-sama kedua jago silat itu, maka ia lalu keluarkan peta Cong Cin To dari kantong bajunya, dan segera mempelajari petunjuk-petunjuk yang tertera di atas peta itu bersama-sama.

Sebetulnya kedua jago silat itu adalah perampok besar Yang satu bernama Ciu Ki, dan yang lain bernama Kang Cwan, mereka terkenal sebagai Kim Leng Ji Houw (Dua harimau dari daerah Kim Leng) yang telah merampok dan melakukan kejahatan di daerah sebelah selatan sungai Yo-cu selama sepuluh tahun lebih, sehingga semua gubernur dari enam propinsi di sebelah selatan sungai Yo-cu itu berusaha keras menangkap mereka, Akan tetapi karena mereka memiliki ilmu silat yang tinggi, dan juga mempunyai banyak tempat-tempat sembunyi, mereka selalu luput dari penangkapan,

Kemudian pembesar pembesar dari enam propinsi itu berserikat, dan dengan bantuannya pemimpin-pemimpin partai silat di keenam propinsi tersebut mereka melakukan pengejaran Pada satu ketika, mereka terkepung, dan mereka harus melawan mati-matian. Meskipun terluka, lagi-lagi mereka berhasil lolos dari kepungan! Setelah menderita kekalahan dan luka-luka, "kedua harimau ini bertekad memperdalam ilmu silatnya agar dapat menjagoi di kalangan Kang-ouw, Mereka juga telah mendengar tentang kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang berisi banyak petunjuk-petunjuk tentang ilmu silat dan sebagainya Lalu mereka menuju ke pegunungan Koat Cong San. Setelah mereka berusaha mencari selama setengah tahun tanpa hasil, mereka menjadi kecewa,

Justru ketika mereka hendak berlalu dari pegunungan Koat Cong San, mereka menjumpai Na Hai Peng.

Setelah Ciu Ki dan Kang Cwan memeriksa petunjuk- petunjuk di atas peta Cong Cin To itu, harapan mereka timbul pula, Mereka saling pandang, dan kemudian tersenyum.

Harus diketahui bahwa "kedua harimau" ini, yang tak pernah berpisah selama sepuluh tahun lebih bersama melakukan kejahatan-kejahatan, boleh dikatakan sehati dan sepikiran. Dengan hanya satu senyuman atau kedipan mata, mereka segera dapat mengetahui pikiran atau keputusan masing-masing, Na Hai Peng yang kurang pengalaman tentu saja tidak mengetahui isyarat kedua perampok besar itu.

Lalu dengan menuruti petunjuk-petunjuk di atas peta Cong Cin To itu mereka menuju ke kaki ketiga puncak yang berdiri tegak dimana air terjun mengalir dari puncak yang di tengah- tengah. Ciu Ki membaca sajak yang tertera di atas peta dan yang berbunyi: "Pohon-pohon cemara menyaring sinar bulan, Di atas batu-batu air jernih beraliran."

Mereka betul-betul melihat pohon-pohon cemara yang tumbuh di dekat pinggir sungai yang banyak batu-batu di dasarnya, Sungai itu mengalir melalui sebuah batu yarfg besar dan mengalir masuk ke dalam sebuah goa. Batu besar itu rupanya belum pernah diganggu, Untuk menyelidiki lebih jauh, mereka berenang dan merayap naik ke atas batu yang besar itu,

"Batu besar ini rupanya sebagai kunci dari usaha kita. Kita harus menyelam dan menyelidiki apa adanya di balik batu yang besar ini. Kita harus mencari rotan yang kuat untuk dibuat menjadi tali" kata Ciu Ki.

Kang Cwan lalu berenang kembali ke darat, diikuti oleh Na Hai Peng dan Ciu Ki. Mereka mencari rotan yang kuat untuk dibuat tali, Kemudian Na Hai Peng dibujuk oleh mereka untuk menyelam lebih dulu, dengan tali rotan diikat erat-erat di pinggangnya, Na Hai Peng yang tidak mencurigai maksud busuk dari kedua perampok besar itu segera terjun ke dalam sungai dan menyelam,

Ciu" Ki dan Kang Cwan mengulur rotan itu, dan setelah diulur sampai dua ratus depa lebih, rupanya Na Hai Peng telah tiba di tempat tujuannya,

Ciu Ki tertawa gelak-gelak dan berkata kepada kawannya: "Si tolol itu mudah ditipu, Mungkin juga dia telah tiba di tempat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tersimpan Biarlah dia jadi pelopor dalam usaha kita, sebentar lagi kita juga turun menyelam dan merampas kitab-kitab itu dari tangannya!"

Sambil tersenyum Kang Cwan menjawab: "Menurut pendapatku, kita tidak usah turun menyelam, Biar saja kita menunggu di sini, Si tolol itu tentu akan kembali ke sini, bukan? Dan jika dia berhadapan dengan kita, kau boleh sengaja bertengkar dengan dia, dan aku yang nanti bunuh dia dengan satu bacokan, Ha! Ha! Ha!"

Demikianlah kedua perampok besar itu menunggu di pinggir sungai dengan perhitungan untuk merampas kitab- kitab Kui Goan Pit Cek dari tangannya Na Hai Peng. Tetapi sudah dua hari dua malam mereka menunggu Na Hai Peng belum juga nampak keluar!

Di hari ke tiga, Ciu Ki tak dapat bersabar lagi

"Kita tak dapat menunggu lebih lama lagi! Kita harus turun menyela m. Aku khawatir si tolol itu, setelah memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, tidak mau naik, atau menemui jalan lain dan keluar dari situ, Kita diselomoti!" katanya. Kang Cwan berpikir sejenak, dan sambil geleng-geleng kepala ia menjawab: "Tak mungkin. Menurut pendapatku, mungkin dia terluka atau binasa!"

Lalu Ciu Ki terjun ke dalam sungai itu dan menyelam untuk menyelidiki Tetapi sampai keesokan harinya, ia pun tidak kembali!

Kang Cwan juga tak dapat bersabar lagi. ia mengikat pinggangnya dengan tali rotan, pada lain ujungnya ia ikat di sebelah pohon, talu ia pun terjun ke dalam sungai dan menyela m.

Air yang mengalir masuk ke dalam goa itu sangat deras, tetapi dengan ilmu meringankan tubuh, Kang Cwan berhasil berenang menyelam masuk ke dalam goa yang luasnya lebih kurang dua depa, Rupanya batu besar yang terlihat di permukaan air menutupi mulut goa. Goa itu sangat gelap, tapi agak tinggi, Air yang mengalir deras hanya setinggi lima kaki, dan Kang Cwan dapat jalan di dalam air dengan kepalanya bebas tidak terendam. ia melihat bahwa ia dapat naik ke atas tebing-tebing di kedua sisi goa itu, ia segera meloncat naik ke atas tebing itu, dan berjalan dengan hati-hati menuju ke ujung goa, Betut saja makin jauh ia berjalan makin terang suasanal di dalam goa itu, ia mempereepat langkahnya, dan ketika ia tiba di luar, ia menjadi terpesona!

ia berseru: "Wahai indah benar pemandangan di sini) Aku bagaikan hidup di dunia lain! Siapa yang dapat.

Ciu KI terjun ke dalam sungai itu dan menyelam untuk menyelidiki, menduga bahwa dengan melalui goa yang menembusi kaki puncak gunung ini, orang dapat menjumpai tempat seindah ini!" ia berjalan terus sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya, Tempat itu merupakan suatu lembah yang luasnya lebih kurang satu bau ( kira - kira seperenam hektar) dan dilingkari oleh lereng-lereng gunung yang curam, Pohon-pohon dan rumput tumbuh dengan suburnya, rindang dan nyaman suasananya aman tenteram. ia berjalan terus dan tiba di suatu tegalan berumput dimana banyak tumbuh pohon- pohon bunga. ia terkejut ketika ia melihat Na Hai Peng sedang berusaha mencari jalan keluar dari pohon-pohon bunga itu!

Kang Cwan yang banyak pengalaman segera mengetahui bahwa Na Hai Peng dan Ciu Ki telah terjebak di dalam lingkaran jalan sesat pohon-pohon bunga di atas tegalan berumput itu!

Meskipun mereka tidak terpisah jauh, tetapi tampaknya kedua orang itu tak mengetahui atau melihat datangnya Kang Cwan, Tiba-tiba Kang Cwan merasa hembusan angin, Secepat kilat ia berbalik sambil mencabut pedangnya dan menebas dengan sekuat tenaga!

Seekor bangau yang sangat besar datang menyerang ia, dan bangau itu kena ditebas sayap kirinya dan mendapat sedikit luka. Dia makin beringas, Sambil berbunyi keras dia menyambar dengan kedua kakinya dan menyapu pedang di tangannya Kang Cwan yang lantas terlepas dari cekalan nya. Dalam keadaan bingung Kang Cwan loncat ke dalam pohon- pohon bunga. Segera ia merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya menjadi letih.

Ketika ia membuka matanya ia sudah tak tampak Na Hai Peng dan Ciu Ki! Harus diketahui bahwa di tempat itulah Ti Kian Cin Jin (atau Giok Liong Cin Jin) dan San Im Shi Ni bersama-sama mencatat semua ilmu-ilmu silat mereka untuk dijadikan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, setelah mereka bertempur dengan hebat selama lima ribu jurus lebih sehingga kedua-duanya sama kalah dengan mendapat luka-luka parah, yang akhirnya tempat itu, dimana diatur pohon-pohon bunga di atas tegalan berumput itu demikian rupa sehingga orang baru dapat masuk atau keluar dengan menggunakan ilmu Pat Kwa Ji Li Ngo Heng atau ilmu lima langkah melampau rintangan- rintangan dari delapan jurus, Tanpa ilmu itu, maka orang akan tersesat, kehilangan penglihatan dan pendengarannya !

Demikianlah Na Hai Peng, Ciu Ki dan Kang Cwan terjebak di dalam daerah sesat itu dengan menghadap maut kelaparan, sebetulnya mereka semua tak dapat luput dari mati kelaparan. Kecuali Na Hai Peng yang membawa bekal sedikit makanan kering, masih dapat bertahan, Tetapi Ciu Ki dan Kang Cwan telah jatuh pingsan setelah mengalamai kelaparan tiga hari.

Tujuh hari telah berselang, Na Hai Peng pun tak dapat bertahan lagi. ia sudah menjadi lemas, Ciu Ki dan Kang Cwan sudah menjadi mayat pada hari kemarinnya!

Ketika itu, ia pun tak mempunyai harapan untuk dapat keluar dari daerah sesat pohon-pohon bunga tersebut ia pejamkan kedua matanya, dan duduk diam di atas rumput.

Jika orang telah terdesak oleh penderitaan, biasanya orang itu tak dapat berpikir karena pikirannya sudah menjadi kacau, Na Hai Peng terduduk diam sambil menenangkan kembali penghidupannya dikala tinggal di dalam istana dengan segala sesuatu yang mewah, karena Kaisar Hauw Cong sangat menyayangi dan pereaya ia.

Namun ia yang gemar akan ilmu silat, telah mencurahkan semua perhatian bahkan semangatnya ke dalam usaha memperdalam ilmu silatnya. ia tak tertarik oleh ratusan selir- selir yang muda belia dan cantik jelita di dalam istana Kiasar Hauw Cong itu,

Baginya, semua setir-selir itu ia anggap boneka-boneka saja. sebetulnya ia dapat bersama-sama dengan salah satu selir yang cantik jelita itu, (sudah tentu dengan jalan sembunyi), kalau ia mau, tetapi ia senantiasa bersikap luhur dan suci, Meskipun Kaisar Hauw Cong telah menghadiahkan kepadanya seorang gadis yang cantik bernama Cui Tiap untuk kawan hidup nya, namun perhatiannya tetap dicurahkan kepada ilmu silat atau berlatih silat, dan tidak menghiraukan kawan hidupnya yang mencintainya dan yang rela berkorban untuknya,

Justru ketika ia mengenangkan akan usaha memperdalam ilmu silatnya, mendadak ia menjadi bersemangat lagi, dan bertekad untuk mencari jalan keluar dan mendapati kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!

"Jika Ti Kian Cin Jin dan San Im Shi Ni tidak ingin kitab- kitabnya dimiliki orang lain, mereka tentu tidak akan membuat peta Cong Cin To. Aku yakin peta itu juga memberi petunjuk untuk keluar dari daerah sesat ini." pikirnya. Lalu ia keluarkan peta itu dari dalam kantongnya, ia juga dapat meraba suatu benda di dalam kantongnya, Benda itu adalah sebutir mutiara sebesar buah lengkeng, ia ambil keluar juga mutiara itu, dan segera terlihat sinarnya yang memancar membikin terang tempat seluas beberapa meter persegi di sekitarnya,

Mutiara itu adalah salah satu mustika dari perbendaan istana raja, dan terkenal dengan nama "Ya Beng Cu" (Mutiara Bersinar di waktu malam). Mutiara itu adalah barang yang langka miliknya Kaisar Hauw Cong, Kisah daripada mutiara tersebut adalah sebagai berikut: Pada suatu malam, Kaisar Hauw Cong membaca buku cerita sambil berbaring di tempat tidurnya,

Tiba-tiba hembusan angin meniup padam lilin di atas meja yang berada di sisi tempat tidurnya, Mula-mula Kaisar Hauw Cong kira seorang kasim (thaykam) datang membawa hidangan untuknya, karena membuka pintu kamar sehingga angin meniup padam lilin, Tanpa menoleh lagi ia memaki: TEurang ajar.-.!" tapi tiba-tiba ia dengar suara orang mengejek ia bangkit dan tampak satu orang berdiri di belakangnya, dan orang itu dengan pisau belati terhunus mengancam ia untuk jangan berteriak

Orang yang mengancam itu bertubuh tinggi besar, mengenakan pakaian serba hitam, menutupi muka dengan kain hitam, dan hanya terlihat kedua matanya yang beringas, Orang itu mengambil mutiara "Ya Beng Cu" dari kotak batu- batu permata yang ditaruh di dalam laci meja, juga lukisan buah tangan pelukis kenamaan Gouw Tao Cu dari kerajaan Tong yang melukiskan "Para dewa dan dewi mengawal Tuhan", yang digantung di atas tembok dekat tempat tidur Kaisar Dalam keadaan demikian, meskipun ia seorang Kaisar yang maha kuasa, ia tak berani berteriak ia hanya duduk di atas tempat tidurnya dengan hati cemas,

justru di saat orang itu mengambil lukisan di atas tembok tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan nada yang teguh: "Ban Swee (Paduka Yang Mulia) jangan takut!", dan segera berkelebat sesosok tubuh loncat masuk dengan pedang terhunus! Dia adalah Na Hai Peng, perampok itu terkejut ketika Na Hai Peng loncat masuk siapa berhasil menendang tangannya yang mengandalkan pisau belati di punggungnya Kaisar Hauw Cong.

Pertempuran segera terjadi di dalam kamar itu. Na Hai Peng yang memiliki ilmu silat tinggi, dan yang bersumpah setia untuk melindungi kaisar menyerang dengan hebat, sehingga terlihat sinar pedangnya berkelebat-kelebat di dalam suasana yang gelap itu. Setelah pertarungan berlangsung dua puluh jurus, perampok itu kena ditotok jalan darahnya dan tertawan!

Kaisar Hauw Cong, yang telah menyaksikan dengan kepala mata sendiri cara Na Hai Peng menolong jiwanya dan menangkap perampok yang berani itu, merasa bersyukur dan gembira sekali, ia lalu menghadiahkan mutiara Ya Beng Cu kepada pahlawannya itu. Na Hai Peng menerima mustika itu dengan menghaturkan banyak terima kasih, Seterusnya mutiara itu ia taruh di dalam kantongnya,

Sebelum kabur dari istana untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, ia telah berpikir bahwa jika perlu, ia dapat jual mutiara itu dengan harga tinggi untuk biaya perjalanannya,

Demikianlah di bawah sinar yang memancar dari mutiara Ya Beng Cu itu, peta Cong Cin To dapat dilihat dengan nyata sekali, ia membaca lagi sajak yang tertera di atas peta itu, dan yang berbunyi:

Kembali dengan rahasia dari perjalanan, pedang sakti selalu membawa jasa baru, Pohon cemara menyaring sinar bulan, Air bening mengalir di atas batu, Di bawah sajak itu dilukiskan tiga puncak gunung yang mengapit sebuah lembah yang berliku-liku dan pohon-pohon cemara tumbuh dengan sangat suburnya, Tampak pula sebuah pohon cemara yang lebih tinggi daripada pohon-pohon cemara lainnya, daunnya yang rindang merupakan payung, Sinar bulan memancar melalui daun-daun pohon itu ke atas sebuah sungai yang mengalir di bawah pohon itu,

Peta Cong Cin To itu dilukis di atas kain sutera putih sangat nyatanya, dapat memberikan petunjuk kepada orang yang dapat menafsirkan lukisan itu, yang menunjukkan setelah orang dapat melalui goa dan daerah sesat pohon- pohon bunga, orang segera dapat tiba di tempat disimpannya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek.

Kemudian Na Hai Peng duduk memikirkan jalan keluar dari perangkap pohon-pohon bunga itu sambil timang-timang mutiara di tangannya.

sebetulnya mutiara Ya Beng Cu itu digosok menjadi satu butir batu permata dengan ukuran sembilan kali sembilan: ialah sembilan deret dari sembilan mata, Sinar yang dipancarkan dari sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu mata itu cocok betul dengan Pat Kwa Ji li Ngo Heng.

Na Hai Peng memperhatikan juga bahwa sinar Ya Beng Cu itu menunjukkan dengan jelas jalan-jalan berliku-liku di daerah sesat itu, yang harus ditempuh dengan bertindak lima langkah ke kiri, dan kemudian empat tindak ke kanan, ia berpikir "Jika aku tempuh jalan lima langkah ke kiri, kemudian empat langkah ke kanan, yang berjumlah sembilan langkah atau sembilan tindak, dan mengulangkan gerak itu sembilan kali, maka sembilan kali sembilan langkah itu menjadi cocok dengan jumlah sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu mata yang memancarkan sinar ke delapan puluh satu jurusan, Tidak ruginya jika aku mencobanya." Iapun telah coba menghitung jumlah dari pohon-pohon bunga dengan bantuan sinar mutiaranya, dan umlah itu ada sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu, ia terkejut ketika melihat Ciu Ki dan Kang Cwan menggeletak di atas rumput ia memanggil: "Ciu Heng! Kang Heng! Kalian pun datang ke sini dengan melalui goa?" Tetapi tiada jawaban, karena kedua orang itu sudah menjadi mayat Dan kedua mayat itu membikin ia lekas-lekas melaksanakan usaha pereobaan nya untuk dapat keluar dari daerah sesat itu,

Akhirnya ia berhasil juga keluar dan berada di atas lapangan berumput ia ikuti satu jalan kecil yang berakhir di suatu mulut goa.

Mulut dari goa itu ditutupi oleh dua buah batu gunung yang besar dan merupakan pintu, Dengan tenaga dalamnya, Na Hai Peng memukul ke arah batu-batu itu, dan segera terbukalah pintu goa tersebut ia menjenguk ke dalam dan tampaklah sebuah ruang seluas tiga kamar tidur biasa, Di dalam ruang itu tertampak satu batu gunung yang besar sekali, dan dua batu hijau yang lebih kecil di kedua sampingnya, Di atas kedua batu yang kecil itu ada dua jenazah yang sudah menjadi keras seperti batu,

"Betapa saktinya kedua orang ini! Mereka sudah meninggal dunia beratus-ratus tahun lamanya, akan tetapi jenazahnya tidak menjadi busuk atau berbau, bahkan telah menjadi keras seperti batu!" pikirnya Na Hai Peng.

Kedua jenazah itu yang boleh dikatakan sudah berubah menjadi patung dari batu adalah jenazahnya Ti Kian Cin Jin (pendeta laki-laki) dan San Im Shi Ni (rahib perempuan), Di atas batu yang besar terletak sebuah kotak dari batu Giok yang berukuran satu kaki kali satu kaki kali lima dim (atau tiga puluh cm kali tiga puluh cm kali lima belas cm). Di depan batu yang besar terdapat sebuah pedupaan dari batu yang berwarna putih, dan di dalam pedupaan itu masih terdapat abu hio (semacam menyan wangi) yang sangat harum baunya, Bau harum ini menyebar di udara dan menusuk hidung ketika pintu batu terbuka, "Pendeta laki-Iaki ini tentunya Ti Kian Cin Jin, dan rahib perempuan itu, San Im Shi Ni. Keduanya telah menulis ilmu- ilmu silat yang maha dahsyat dan dibuatnya menjadi kitab- kitab Kui Goan Pit Cek!"