Bangau Sakti Jilid 12

 
Jilid 12

Sebelum Co Hiong jatuh ke dalam telaga, ia masih dapat membalikkan tubuhnya sedikit untuk melontarkan lingkaran emasnya yang berhasil menebas sedikit pipinya Giok Siu Sian Cu, sehingga terluka dan mengucurkan darah, sebelumnya Giok Siu Sian Cu telah menderita luka, dan hanya tertolong dengan makan pil obat mustajab yang Bee Kun Bu berikan kepadanya. sekarang ia harus bertempur mati-matian melawan Co Hiong di dalam goa. Oleh karena itu setelah ia berusaha lari masuk ke dalam goa, ia segera merasakan kepalanya pusing dan kedua matanya menjadi gelap. Sejenak kemudian jatuh-lah ia tak sadarkan diri.

Ketika tengok kepala Bee Kun Bu yang jatuh ke dalam jurang bersama Co Hiong, Bee Kun Bu yang sudah pingsan dan hampir mati ketika kecebur ke dalam telaga dan minum air telaga yang dingin, ia lantas tersadar dari pingsan nya. ia yang besar di dalam kuil Sam Ceng Koan yang terletak di tepi sungai paham betul tentang sifatnya air. ia segera menggunakan kaki tangannya menepu dan menendang air untuk timbul dan berenang ke tepi,

Untung baginya karena telaga itu agak dalam dan tenang airnya, Co Hiong melihat Bee Kun Bu berusaha menolong dirinya, ia berpikir "Ai! jika aku tidak dipaksa terjun ke dalam telaga ini, dia pasti sudah menjadi mayat!" Tetapi sebagaimana layaknya orang yang busuk dan berhati plasu, ketika itu ia berseru sambil tertawa: "Bee Heng! pemandangan di sekitar telaga ini betul-betul permai, Jika orang tewas dan terbenam di dasar telaga ini, orang itu tentu mati dengan puas!"

Bee Kun Bu yang sedang berjuang menolong dirinya tidak dapat dengar kata-kata Co Hiong itu.

Co Hiong berenang mnghampiri Bee Kun Bu. ia sentuh pundaknya Bee Kun Bu dan berkata: "Bee Heng, ayo kita bertempur Aku pasti dapat mengakhiri pen-deritaanmu!" Lalu dengan tangan kanannya ia tepuk air dan ia terdampar ke tepi telaga, Baru saja ia bermaksud menyerang Bee Kun Bu dengan tinju kirinya ketika Bee Kun Bu hampir tiba di tepi, tiba- tiba ia dengar orang membentak dari belakangnya: "Hei, apa yang akan kau niat lakukan! Ayo, lekas tolong Sutee ke tepi!"

Co Hiong menoleh ke belakang, dan melihat Liong Giok Pin dengan pedang terhunus dan pakaian basah kuyup karena cipratan air, berdiri dengan kedua mata melotot

Co Hiong batalkan maksudnya. ia berenang menghampiri Bee Kun Bu dan membantunya berenang ke tepi Lalu, setelah mendarat, ia berkata kepada Liong Giok Pin sambil tersenyum: "Dia telah dijorokkan dari atas jurang ke dalam telaga ini. Aku telah berusaha menolong dia, Tetapi dia telah menderita luka-luka terlalu hebat, dan aku khawatir dia tak dapat ditolong!"

"Hm! Aku tak pereaya omonganmu!" Liong Giok Pin mengejek

Sebetulnya, ketika Co Hiong membantu Bee Kun Bu, ia telah menotok jalan darahnya Bee Kun Bu di punggungnya Totokan itu dilakukan dengan tenaga Tai Im Ki Kong (Tenaga dalam tersembunyi) dan sangat berbahaya, karena akibat totokan itu tak segera terlihat hasilnya, dan sukar terlihat bekas-bekasnya.

Liong Giok Pin segera menolong Bee Kun Bu jalan ke suatu tempat yang lebih sentosa, lalu menolong mengerahkan peredaran darahnya, sedangkan Co Hiong menonton sambil menyengir Meskipun Liong Giok Pin telah berusaha sekuat tenaga menolong Bee Kun Bu, akan tetapi Bee Kun Bu masih saja lemas dan tidak sadar betuL Kemudian ia menarik napas menyatakan bahwa ia telah kehabisan akal meno1ongnya. Dengan gemas ia membentak: "Kau betul-betul kejam! Kau hanya berdiri menonton! Ayo, lekas bikin sadar Suteeku!"

Co Hiong menggeleng-gelengkan kepalanya,

"Dia telah menderita luka parah, dan semua tenaga dalamnya telah kabur Mungkin dia tak dapat ditolong lagi-"

"Tetapi kita harus berusaha menolong! Mungkin dia masih dapat ditolong!" mendesak Liong Giok Pin.

Co Hiong menyengir dan berkata: "Rupanya kau sangat cemas akan kesehatan nya ?"

"Dia adalah Suteeku, sudah selayaknya aku harus memperhatikan keselamatan dan kesehatannya!" jawab Liong Giok Pin.

Co Hiong berjongkok dan meraba dadanya Bee Kun Bu. Kemudian dengan berlagak mengerutkan kening ia berkata: "Benar-benar dia tak dapat ditolong lagi, Kitaharus mencari tempat yang sentosa untuk mengubur dia." Ucapan tersebut membikin Liong Giok Pin sangat terkejut.

-ooo0ooo-

Bee Kun Bu dikubur hidup-hidup

Liong Giok Pin meraba dadanya Bee Kun Bu, dan merasa bahwa denyutan jantungnya lemah sekali, ia terharu dan menangis tersedu-sedu.

Co Hiong masih saja mengejek: "Apa gunanya kau menangis? Dia tetap tak dapat ditolong lagi meskipun kau menangis sampai mati!" Liong Giok Pin tidak menghiraukan ucapan itu. ia menangis sangat sedihnya seolah-olah ibu kandungnya meninggal dunia,

Co Hiong merasa pasti bahwa Bee Kun Bu tak dapat ditolong lagi, dan ia tidak mencegah Liong Giek Pin menangis, ia duduk di samping mengawasi Sejenak kemudian ia berkata sambil menarik napas: "Ai! Jika Lie Ceng Loan mendapat kabar yang buruk ini, dia pasti menangis terus sampai mati. "

Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia tertawa ge!ak- gelak, perbuatannya itu menyinggung Liong Giok Pin siap segera membentaknya: "Kau betul-betul orang Iaki-lalu mata keranjang! Kau selalu memikir Lie Ceng Loan! Meskipun Bee Kun Bu betul-betul mati, Lie Ceng Loan tidak akan sudi menjadi isterimu!"

"Apa kau kira dia mati pura-pura?" mengejek Co Hiong, "Dia sudah tak bernapas! Apa gunanya kau menangis lagi? Jika kau tak sudi berlalu, aku hendak pergi sendiri!" Lalu ia berdiri, dan berlalu,

Melihat Co Hiong menjadi gusar, Liong Giok Pin menjadi lunak, ia mengejar dan menjambret lengan kirinya seraya berkata: "Kemana kau hendak pergi?"

"Dunia ini sangat luas! Aku dapat pergi kemana saja yang aku suka!" jawab Co Hiong.

"Tunggu, Aku harus mengubur Bee Sutee dulu!" kata Liong Giok Pin.

Co Hiong teringat akan kebaikannya Bee Kun Bu terhadap ia dahulu, dan ia menjadi sedikit lunak. ia mengangguk.

"Baik! Aku akan membantu kau mengubur dia, dan kita cari satu batu gunung untuk bongpainya (batu nisan)." Lalu ia angkat tubuhnya Bee Kun Bu dan mencari tempat yang baik letaknya untuk menguburnya,

Mereka mencari satu tempat di sisi gunung di mana terlihat banyak sekali batu-batu koral sebesar telur dan berwarna agak putih, Lalu mereka mengumpulkan batu-batu koral itu dan membuat suatu lubang dari batu-batu tersebut yang panjangnya lebih kurang sembilan kaki dan tingginya lebih kurang enam kaki. Kemudian Co Hiong angkat lagi tubuhnya Bee Kun Bu untuk diletakkan ke dalam lubang itu.

Setelah Bee Kun Bu diletakkan di dalam lubang, sambil memandang wajahnya Bee Kun Bu, Co Hiong berseru: "Bee Heng, ketika kita mulai kenal satu sama lain, aku tidak menduga bahwa akulah yang harus mengubur jenazahmu dan membuat bongpainya!" Lalu ia loncat keluar dari lubang tersebut Tetapi Liong Giok Pin loncat ke dalam lubang dan memeluki tubuhnya Bee Kun Bu, dan alangkah kagetnya ketika ia mendengar bahwa jantungnya Bee Kun Bu masih berdenyut, meskipun denyutan itu sudah sangat lemah sekali!

Co Hiong membentak: "Ayo, lekas keluar dan bantu aku uruk lubang ini! Kemudian kita boleh segera berlalu dari sini!"

"Dia belum mati, Dia masih bernapas! Kita tidak boleh mengubur dia hidup-hidup!" jawab Liong Giok Pin.

"Dia tak akan hidup!" seru Co Hiong. "Kita kubur dia sekarang sama juga! Ayo, lekas keluar!"

Dengan serba salah Liong Giok Pin berkata: "Aku tidak sampai hati menyaksikan dia dikubur hidup-hidup. "

Co Hiong pungut dua batu koral kecil dan disambitkan ke satu besar batu di lereng gunung, Batu koral itu hancur Lalu ia loncat masuk ke dalam lubang dan angkat Liong Giok Pin keluar dari lubang sambil berkata dengan gusar: "Apakah kau ingin dikubur bersama-sama dia?"

Liong Giok Pin menjadi marah, dan membentaknya: "Dia masih hidup! Dia masih bernapas! Kita tidak boleh kubur dia hidup-hidup!" "Tidak perduli dia sudah mati atau belum, tetapi kita sudah membikin kuburan ini untuknya! Kita harus segera kubur dia!" jawab Co Hiong,

Tidak!" bantah Liong Giok Pin, "Dia masih hidup. Aku tidak perkenankan kau kubur dia!"

"Apakah kau bisa cegah aku mengubur pada nya ?" mengancam Co Hiong, lalu ia jemput lagi dua batu koral yang agak besar

jika batu itu disambitkan ke dalam lubang, Bee Kun Bu pasti mati benar-benar, pikir Liong Giok Pin, ia terkejut dan pukul dadanya Co Hiong,

Co Hiong mengegos, dan balas menendang lambungnya Liong Giok Pin.

Liong Giok Pin menangkis, hanya untuk menjaga tendangan itu dan tidak bermaksud melawan, Tetapi ia melihat bahwa Co Hiong sudah menjadi beringas, ia loncat turun ke dalam lubang dan mencabut pedangnya.

Betul saja Co Hiong menyambit ke tubuhnya Bee Kun Bu.

Liong Giok Pin tangkis satu batu dengan pedangnya, dan menangkap batu yang lain dengan tangan kirinya, Demikianlah Bee Kun Bu terhindar dari sambitan maut! Tetapi Co Hiong sudah loncat ke dalam lubang dan menegur Liong Giok Pin: "SebetuInya kau mau apa? Aku segera berlalu!"

Dengan berlinangkan air mata Liong Giok Pin men-jawab: "Kau pergilah! Aku akan menunggu di sini sampai dia menghembuskan napasnya yang penghabisan!"

"Ha! Jika demikian, kau harus menyertai dia dikubur bersama-sama! Aku tak sudi menunggu kau lagi!" kata Co Hiong, suaranya keras, ia pijat sikutnya Liong Giok Pin.

"Aduh!" menjerit Liong Giok Pin, dan pedangnya terlepas dari tangan nya!

Co Hiong hunus pedang itu dan sambil menyentuh dadanya Liong Giok Pin dengan ujung pedang ia mengancam: "Kalian berdua adalah saudara-saudari seperguruan. Kalian hidup sukar bersama-sama, tetapi jika dapat mati dan dikubur bersama, aku yakin kalian berdua akan menjadi puas. n Lalu

ia melirik ke atas tubuhnya Bee Kun Bu dan berkata: "Bee Heng, aku yakin aku tak berbuat keliru. Ketika kau hidup, kau hampir selalu didampingi oleh Lie Ceng Loan. Dan sekarang kau mati, aku mencari wanita yang cantik jelita untuk mendampingi kau. Ha! Ha! Mungkin kau akan berterima kasih kepadaku di akherat! Ha! Ha! Ha!"

Pijatan pada sikutnya tadi dirasakan Liong Giok Pin sangat sakit dan kemudian ia menjadi lemas, ia ingin melawan, tetapi ia tak berdaya. ia mengertak gigi dengan kedua mata melotot ia memaki: "Hm! Kau laki-laki kejam! Nanti rohnya Bee Sutee akan mengejar kau dimana saja kau berada! Dan jika aku

juga kau bunuh, akupun akan. "

Co Hiong menusukkan pedangnya sedikit, dan segera darah keluar dan menodakan pakaian Liong Giok Pin.

"Ai! Kau betul-betul manusia yang kejam! Kau membunuh seorang wanita yang tak berdaya!" Liong Giok Pin memaki setelah melihat darah menembus keluar pakaiannya dan merasa sakit dari tusukan ujung pedang lelaki jahanam itu!

Co Hiong menyengir dan berkata: "Nah, sekarang kau tahu betapa lihaynya aku! Dan aku segera akan kubur kalian berdua di dalam lubang ini! Tetapi aku akan membebaskan kau dari kematian jika kau berjanji akan membantu aku mengubur Suteemu!"

Dalam keadaan demikian Liong Giok Pin tak dapat berpikir ia hanya mengangguk, dan segera mulai menumbukkan batu- batu kolar ke atas tubuhnya Bee Kun Bu dengan hati yang hancur

Co Hiong tersenyum iblis, Lalu ia pun mulai menundukkan batu-batu kolar di atas tubuhnya Bee Kun Bu.

Air mata Liong Giok Pin terus mengucur membasahi pakaiannya, batu-batu kolar dan tubuhnya Bee Kun Bu.,, dan pekerjaan itu dilakukan dengan lambat sekali1 oleh Liong Giok Pin,

Pada ketika itu terdengar oleh mereka suara yang lemah lembut berkata: "Pek Cici lihatlah, betapa indahnya air terjun itu! Sayang Bu Koko tak ada di sini, ia pasti gembira melihat pemandangan yang sangat indah ini. Bilakah kita dapat menjumpai dia lagi!"

Liong Giok Pin terkejut ia kerahkan seluruh tenaganya yang masih ketinggalan, dan dengan nekat ia jotos dadanya Co Hiong sambil menjerit sekuat-kuatnya: "Loan Sumoy! Bu Kokomu. " ia tak dapat berteriak lagi, karena Co Hiong

setelah mengegosi jotosan telah memijat le-ngannya, Tetapi ketika Co Hiong hendak memukul, ia merasa samberan angin yang hebat di atas kepalanya,

ia lepaskan tangannya yang memijat dan membatalkan maksudnya untuk memukul Liong Giok Pin. ia mundur dua tindak menghindari serangan di atas kepalanya, ia menengadah dan melihat seorang pemuda berbaju hijau yang pernah melukai ia di pegunungan Kun Lun, ialah Pek Yun Hui.

Setelah mendengar jeritan Liong Giok Pin, dengan ilmu Pat Po Teng Kong atau Delapan langkah mendaki gunung Pek Yun Hui loncat turun ke dekat tumpukan batu-batu kolar itu. ia mengawasi Liong Giok Pin, lalu sambil mengawasi Co Hiong ia mengejek: "Hm! Aku kira siapa, Kau sedang berbuat apa di sini?"

Co Hiong insyaf akan kelihayannya Pek Yun Hui. ia pegangi Liong Giok Pin untuk menjaga dirinya, dan dengan pedang terhunus ia siap menghadapi serangan,

Pek Yun Hui loncat secepat kilat melewati Co Hiong sambil mengirim jotosan ke lengannya Co Hiong yang memegang pedang, Co Hiong mengegos sambil menyeret Liong Giok Pin sehingga wanita itu berada diantara ia dan Pek Yun Hui. Baru saja Pek Yun Hui hendak menyerang lawannya dengan menggunakan ilmu Tian Kong Cit atau Jari sakti menusuk baja, ia dapat melihat Bee Kun Bu yang sudah hampir dikubur dengan batu-batu kolar ia terkejut ia lupakan lawannya dan dengan sekali menyapu dengan kakinya, ia berhasil membubarkan semua batu-batu kolar yang hampir menutupi seluruh tubuhnya Bee Kun Bu. ia terkam dan peluk Bee Kun Bu dengan perasaan yang terharu,

Pek Yun Hui melompat secepat kilat melewati Co Hiong sambil mengirimkan jotosan ke lengan pemuda itu.

Lie Ceng Loan juga mengejar, dan ketika sudah datang dekat, ia iihat Pek Yun Hui sedang memeluki Bu Kokonya, ia pun terperanjat

Kesempatan itu digunakan oleh Co Hiong untuk lari sambil membetot Liong Giok Pin.

Kemudian Pek Yun Hui merebahkan Bee Kun Bu di tanah dan memeriksa denyutan jantungnya, Sejenak kemudian ia menjadi pucat, dan air matanya mengucur

Semenjak Lie Ceng Loan melihat Bee Kun Bu dalam keadaan pingsan, ia telah tertegun dan diam seperti patung tak dapat bergerak atau bicara, matanya mem-belalak mengawasi Pek Yun Hui yang sedang berdaya menolong Bu Kokonya, ia yakin bahwa Pek Yun Hui tentu akan menolong Bu Kokonya, tetapi ia menjadi cemas ketika menampak Pek Yun Hui mengucurkan air mata nya.

"Pek Cici, mengapa kau menangis? Apakah Bu Koko lukanya parah?" tanyanya cemas,

Pek Yun Hui menarik napas dan menjawab: "Dia tidak hanya luka parah, tetapi setelah luka, dia telah dianiaya oleh jahanam itu. Aku khawatir dia sukar ditolong!"

Lie Ceng Loan menjerit: "Ha! Apakah dia tak dapat ditolong!" "Sekarang sukar dipastikan," jawab Pek Yun Hui, "Kita cari suatu tempat yang tenang dan berusaha menolong dia."

Lie Ceng Loan tak tahan untuk tidak menangis, dengan hati hancur ia berkata: "Jika dia betul-betul tidak dapat ditolong, akupun tidak ingin hidup lagi."

Dengan perasaan simpati, Pek Yun Hui menghibur "Loan Moai, jika dia meninggal dunia, mengapa kau tidak ingin hidup?"

Lie Ceng Loan seka air matanya: "Sebab jika dia mati, aku tidak dapat melihat dia lagi, dan aku tentu terus menerus memikir dia sehingga aku tak dapat berlatih atau belajar silat, dunia menjadi hampa bagiku, Hidup demikian apa gunanya?" ia berhenti sejenak dan berbalik menanyai "Pek Cici, jika Bu Koko mati, bagaimanakah perasaan Cici?"

Pek Yun Hui menghela napas, "Jika dia betul-betul mati, akupun bersedih hatL." jawabnya,

"Dan apakah kau masih ingin hidup tanpa dia?" mendesak Lie Ceng Loan,

Pek Yun Hui terperanjat ditanya demikian tapi ia segera menjawab: "Aku harus hidup untuk membikin pembalasan untuknya dan aku akan mencari tempat yang indah untuk mengubur dia!"

"Pek Cici, kata-katamu betuI, Kita harus mencari tempat yang indah untuk mengubur dia agar burung-burung dapat bernyanyi untuknya dan bunga-bunga harum terhembus angin mengharumi suasana di kuburannya. Tetapi jika dia sudah

mati, kita tak dapat melihat dan mendengar dia lagi."

Pek Yun Hui tersenyum, lalu menggendong Bee Kun Bu ke suatu tempat untuk menolongnya, sedangkan Lie Ceng Loan mengikuti di belakangnya,

Tiba-tiba terdengar suara bangau putihnya Pek Yun Hui berbunyi, dan segera terlihat bangau itu terbang turun menghampiri majikannya. Pek Yun Hui tidak menegur bangaunya, dan bangau itu rupanya mengerti bahwa majikannya sedang bersedih hati, dan ia pun terbang perlahan-lahan mengikuti majikannya dari belakang,

Setelah mereka melalui beberapa lembah gunung, mereka tiba di suatu lembah yang sunyi. Pek Yun Hui letakkan Bee Kun Bu di atas rumput, dan sambil bersiul ia memberi isyarat kepada bangaunya, Bangau itu mengerti kehendak majikannya, dia pentang kedua sayapnya dan terbang tinggi berputaran di atas mereka seolah-olah mengintai lembah itu.

Lembah itu dilingkari di tiga sisi oleh gunung-gunung dan suasana di tempat itu sunyi senyap, Lalu sambil mengawasi Lie Ceng Loan, Pek Yun Hui berkata: "Loan Moi, untuk menolong Bu Kokomu, aku terpaksa melakukan cara pengobatan yang agak ganjil, Aku minta kau jangan heran atau kaget."

"Untuk menolong Bu Koko, aku rela berbuat apa-pun!" jawab Lie Ceng Loan dengan sungguh-sungguh.

Lalu Pek Yun Hui peluk Bee Kun Bu, dan dengan

perlahan-lahan ia menggunakan tenaga dalamnya meletakkan Bee Kun Bu lagi di atas rumput, ia tundukkan kepalanya, dan ketika bibirnya hampir menyentuh bibirnya Bee Kun Bu, mukanya menjadi merah karena ia merasa canggung, Tiba- tiba ia angkat kepalanya lagi.

"Pek Cici, apakah kau malu aku melihati? Baiklah, aku balik badan," kata Lie Ceng Loan,

Tidak! Loan Moi! Aku ingin bicara padamu!" kata Pek Yun Hui. "Kau orang-orang wanita tidak harus berpelukan dengan orang laki-laki. Aku sebetulnya ingin meniup mulutnya membantu dia bernapas, dan aku harus menempelkan bibirku kepada bibirnya, perbuatan itu aku malu lakukan, Tetapi hanya dengan jalan itu yang aku dapat lakukan untuk menolong jiwanya."

Lie Ceng Loan nampak wajahnya Bee Kun Bu sudah pucat sekali Air matanya mengucur lagi, dan dengan meratap ia berkata: "Pek Cici, jika Bu Koko mati, aku harus mati juga, Pek Cici... lolongan dia... aku tak dapat hidup tanpa dia.,,."

Seperti seorang ibu Pek Yun Hui menghibur "Aku ingin menolong, Tadi aku hanya merasa canggung. "

"Bu Koko baik sekali. Jika kau menolong dia, dia pasti sangat berterima kasih. Jika ia sudah sembuh, kita bertiga dapat bermain dan pesiar," kata Lie Ceng Loan,

Pek Yun Hui mengawasi wajahnya Bee Kun Bu, ia mengertak gigi, lalu dengan tahan ia menempelkan bibirnya kepada bibirnya Bee Kun Bu. Dengan lidahnya ia buka giginya Bee Kun Bu yang terkancing, lalu dengan tenaga Tian Kong Ki Lit atau tenaga dalam ajaib ia mengemposkan hawa yang hangat ke dalam tubuhnya Bee Kun Bu.

Sejenak kemudian Bee Kun Bu siuman, dan perlahan- lahan ia membuka kedua matanya, Ketika ia mengetahui bahwa ia sedang dipeluk dan dicium oleh Pek Yun Hui, ia mulai meronta-ronta melepaskan diri dari pelukan itu. Tetapi sia-sia, karena ia tak bertenaga.

Pek Yun Hui memeluk lebih erat lagi, dan dengan malu- malu ia berkata: "Seluruh tenaga dalammu telah hilang karena telah dianiaya oleh seorang yang kejam, Ayo lekas-lekas rebah kembali, jangan bicara, jangan bergerak, Aku hendak membebaskan jalan-jalan darahmu dan memijat urat-urat nadimu."

Dengan pandangan berterima kasih, Bee Kun Bu menuruti perintah penolongnya, dan pada ketika itu ia pun telah melihat Lie Ceng Loan, ia tersenyum sebelum ia memejamkan matanya dan rebah kembali.

Lie Ceng Loan menghampiri dan sambil berlutut di samping tubuhnya Bee Kun Bu ia menghibur "Bu Koko, tenanglah! Pek Cici sedang berusaha menolong jiwamu!" Pek Yun Hui tidak membuang-buang waktu, ia berusaha membebaskan semua jalan-jalan darahnya dan memijat urat- urat nadinya dengan ilmu Tian Kong Cit Kong atau ilmu jari sakti, Seluruh tubuhnya basah kuyup dengan keringat dan ia baru berhenti setelah lewat setengah jam.

Bee Kun Bu segera dapat bangun, dan sambil duduk di atas rumput ia mengawasi Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan. ia memperhatikan juga bahwa Pek Yun Hui sangat letih, Lie Ceng Loan menyekai keringatnya Pek Yun Hui dengan sapu tangannya seolah-olah seorang adik terhadap kakaknya, Mereka mirip sekali saudara sekandung cantik, ramah dan baik hati.

Bee Kun Bu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Pek Yun Hui telah dapat menolong ia dan juga Susioknya, ia tersenyum mengingat peristiwa-pe-ristiwa yang lampau.

Lie Ceng Loan menegur "Bu Koko, apa yang kau tertawai?"

Bee Kun Bu tidak menjawabnya, ia bangun dan jalan perlahan-lahan ke depan,

Lie Ceng Loan mengejar dan berseru: "Bu Koko! Apakah kau tidak mengenali aku dan Pek Cici?" ia loncat dan berdiri di depannya sambil berkata dengan sedih hati: "Bu Koko, mengapa Koko tidak memperhatikan aku!"

Bee Kun Bu mengawasi dengan terharu, tetapi ia terus jalan ke depan,

Lie Ceng Loan mengejar dan merangkulnya seperti seorang anak yang manja sambil memohon: "Bu Koko, aku selalu memikiri kau, tetapi kau sekarang tidak memperdulikan aku lagL." dan ia menangis tersedu-sedu,

Pek Yun Hui menghela napas dan berkata: "Loan Moi, jangan menangis. Dia bukannya tidak memperhatikan kau, ia sudah hilang ingatan!" Lie Ceng Loan terkejut dan berseru: "Ha! Bu Koko hilang ingatan? Aku tak pereaya, aku tak pereaya!"

Pek Yun Hui mengangguk dan berkata lagi: "Aku tidak dusta, Dia telah dianiaya oleh orang yang kejam, urat syaratnya telah terganggu Aku telah berhasil menolong jiwanya, Kita harus mencari tempat yang sunyi, tenang dan sentosa untuk dia beristirahat Kemudian aku akan berusaha memulihkan ingatannya lagi."

Bee Kun Bu hanya memerlukan istirahat untuk memulihkan pikirannya yang kalut setelah dianiaya oleh Co Hiong yang kejam itu. ia mengenali Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui, akan tetapi agak sukar baginya menyatakan perasaannya dalam keadaan seperti itu.

Lalu Pek Yun Hui menepuk suatu jalan darahnya Bee Kun Bu sambil menyuruh Lie Ceng Loan menahan tubuhnya Bee Kun Bu yang mau jatuh, ia berbisik: "Loan Moi, gendonglah ia, dan kita mencari tempat yang tenang dan sentosa untuk dia beristirahat

Mereka berjalan mencari tempat yang dimaksudkan Bee Kun Bu yang setelah ditepuk satu jalan darahnya telah menjadi tak berdaya seperti seorang bayi. ia digendong oleh Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui membantu di belakang, Mereka berjalan terus, dan entah sudah berapa jauh mereka telah jalan ketika mereka berhadapan dengan suatu puncak yang tinggi dan di-selubungi salju, Tiba-tiba Lie Ceng Loan berhenti dan berkata: "Pek Cici, kita berhenti dulu, Coba lihat! Mata-hari segera akan terbenam, sinarnya yang memancar di atas salju yang putih indah sekali kelihatannya, Aku gembira karena Pek Cici telah menolong jiwanya Bu Koko, dan aku yakin bahwa Cici dapat menyembuhkan pula urat syarafnya!"

Pek Yun Hui hanya tersenyum sebetulnya sambil jalan ia sedang memikir tentang cara untuk memulihkan urat syaratnya Bee Kun Bu itu yang sebegitu jauh belum berhasil Melihat Pek Yun Hui tidak menjawab, Lie Ceng Loan menanya lagi: "Pek Cici, aku mempunyai satu permintaan. Apakah Cici dapat kabulkan?"

"Permintaan apa?" tanya Pek Yun Hui sambil tersenyum "Asalkan yang aku dapat lakukan, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu."

"Jika Bu Koko tidak dapat hidup, kau akan membangun suatu kuburan yang indah untuk dia, bukan?" kata Lie Ceng Loan,

Pek Yun Hui mengangguk "Bukan saja aku akan membangun kuburan yang indah untuknya, bahkan mengejar orang yang telah menganiaya padanya, dan akan bunuh musuhnya itu."

"Aku minta kau bangun kuburan itu lebih besar supaya aku selamanya dapat tinggal bersama-sama Bu Koko."

Pek Yun Hui terperanjat "Apakah kau ingin dikubur hidup- hidup bersama dia?"

Lie Ceng Loan mengangguk

"Loan Moi, kau jangan melamun. Ayo, jalan terus! Hari akan lekas menjadi gelap, kita harus lekas-Iekas mencari tempat untuk meneduh!" Lalu ia betot Lie Ceng Loan berjalan terus,

Setelah mereka melalui lagi beberapa sisi gunung, hari sudah menjadi petang, Dengan kedua matanya yang tajam Pek Yun Hui coba melihat ke sekitarnya, ia dapat melihat beberapa rumah di kaki gunung di sebelah utara,

Lalu dengan ilmu Cian Po Hoat Su (langkah seribu) Pek Yun Hui betot Lie Ceng Loan yang menggendong Bee Kun Bu lari menuju ke sekelompok rumah-rumah itu. Mereka menuju ke satu rumah gubuk yang dibangun menempel di lereng gunung,

-ooo0ooo- Rumah gubuk itu dibangun sangat rapih dan besar Ruang tengah dengan delapan kamar besar letaknya

merupakan segi tiga, Seluruh kompleks dilingkari pagar bambu, dan pohon - pohon Liu tumbuh dengan suburnya di dalam pekarangan Pintu pagar terbuka separoh, dan mereka dapat melihat cahaya dari sinar lampu di dalam ruang tengah, sedangkan suasana gelap gulita meliputi kamar-kamar lin.

"Orang yang tinggal di tempat yang terpencil serupa ini tentunya bukan orang sembarangan," pikir Pek Yun Hui.

Mungkin suara sayap bangaunya Pek Yun Hui menarik perhatian penghuni rumah gubuk itu, dan sejenak kemudian tampak keluar seorang pelajar yang usianya lebih kurang empat puluh tahun, mengenakan baju biru dan mengikat kepalanya dengan kain biru pula, Sambil tersenyum orang itu berjalan menghampiri

Setelah mengawasi Pek Yun Hui, orang itu agaknya terkejut Setelah ia tenang kembali, ia mengawasi Lie Ceng Loan yang sedang menggendong Bee Kun Bu dan bangau yang masih terbang rendah di atas, Dengan tersenyum ia menanyai "Rupanya kedua tamu ini ingin mencari tempat penginapan?"

Pek Yun Hui mengangkat kedua tangannya memberi hormat "Kami bertiga karena terlampau menikmati pemandangan alam telah kemalaman. "

"Tetapi Siocia itu bukankah sedang menggendong orang yang terluka?" tanya pelajar itu,

Pek Yun Hui baru saja memikir akan jawabannya ketika Lie Ceng Loan telah mendahuluinya: "BetuL Bu Kokoku ini terluka parah. " ia ingin meneruskan, tetapi dipotong Pek Yun

Hui dengan kata-katanya: "Kami telah menemui musuh, dan Suheng kami ini telah terluka karena bertempur melawan musuh itu. Dan lukanya agak parah. Oieh karena itu kami tak dapat lekas-lekas keluar dari pegunungan ini." Sambil tersenyum pelajar itu berkata: "Jika kalian ingin menginap di sini untuk mengobati suhengmu yang terluka, aku rela menyediakan tempat Hanya di tempat yang terpencil ini, aku tak dapat menyediakan makanan atau minuman yang baik untuk para tamu." ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat pu!a.

Melihat gaya dan sikapnya pelajar itu, Pek Yun Hui mengetahui bahwa pelajar itu memiliki ilmu silat yang tinggi Dan dari nada suaranya, ia pun mengetahui bahwa pelajar itu sudah berpengalaman di kalangan Kang-ouw. Terhadap orang yang demikian, ia harus waspada, karena Lie Ceng Loan yang masih hijau gampang tertipu.

pelajar itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruang. Lalu ia berkata: "Silahkan duduk, aku akan memasang lampu."

Pek Yun Hui berbisik kepada Lie Ceng Loan setelah pelajar itu masuk ke dalam: "Loan Moi, meskipun orang ini bukannya orang jahat, akan tetapi kita harus waspada, dan janganlah coba menceritakan peristiwa yangsebenar-nya. "

ia belum habis bicara ketika pelajar itu keluar lagi dan berkata: "Maaf, kalian menunggu agak lama." Lalu dengan obor di tangan ia menyalakan lampu di atas meja, dan segera ruang itu menjadi terang,

Terlihat oleh Pek Yun Hui bahwa di dalam ruang itu, di samping meja, ada empat kursi bambu dan satu tempat tidur dari kayu komplit dengan bantal dan kasur-nya.

Lie Ceng Loan segera meletakkan Bee Kun Bu di atas tempat tidur tersebut, ia membuka sepatunya dan menutupinya dengan selimut.

Rupanya pelajar itu telah membaui harum dari tubuhnya Pek Yun Hui ketika ia jalan melewat pelajar itu tersenyum dan menghampiri pembaringan .

ia melihat dengan teliti keadaan Bee Kun Bu, lalu sambil geleng-geleng kepala ia berkata: "Suheng kalian ini lukanya parah, Mungkin sukar diobat!" ia mengawasi Li Ceng Loan, lalu Pek Yun Hui dengan wajah yang khidmat

Pek Yun Hui yang cerdik dan cerdas menjadi terharu mendengar pelajar itu mengutarakan pendapatnya tentang lukanya Bee Kun Bu, dan tak tertahan air matanya mengucur, sedangkan Li Ceng Loan menjadi bengong,

Sambil tersenyum pelajar itu kemudian berkata: "Suheng kalian meskipun parah lukanya, tetapi di kolong langit ini masih ada serupa obat yang dapat menyembuhkan dia.

Hanya. " ia berhenti dan tak meneruskan

"Obat apakah?" Li Ceng Loan mendesaknya

pelajar itu hanya mengawasi Li Ceng Loan dan Bee Kun Bu menjawab,

"Apakah yang Tuan artikan itu buah Sie Can Ko dari kuil Toa Ciok Sie di pegunungan Cie Lian San?" tanya Pek Yun Hui.

pelajar itu tertawa agak lama, lalu katanya: "Obat hanya dapat menyembuhkan penyakit yang tak berba-haya, Suheng kalian ini rupanya sudah menderita sakit yang hebat sekali."

Pek Yun Hui mendengar jawaban itu sangat menyinggung tetapi sambil menahan kedongkolannya ia berkata: "Meskipun lukanya suhengku parah, tetapi aku yakin masih dapat disembuhkan"

Pelajar itu hanya tersenyum, lalu ia berlalu.

Pek Yun Hui memeriksa lagi keadaan di dalam ruang itu, dan merasa bahwa ruang itu diliputi oleh suasana yang seram, tidak serupa tempat yang ditinggali oleh seorang pertapa, juga tidak menyerupai tempat persembunyiannya seorang penyamun, Gaya dan sikapnya pelajar itu membuktikan bahwa dia bukan jago silat pasaran, akan tetapi wajahnya sangat mencurigakan dan sukar ditebak, ia berusaha menyelami watak daripada pelajar itu, tetapi hampa, Kemudian ia berbisik kepada Lie Ceng Loan: "Keadaan di dalam rumah gubuk ini betul-betul sukar kita duga, Melihat perabotannya, aku dapat kesimpulan bahwa tempat ini tidak ditinggali oleh satu orang, Tetapi sehingga sekarang ini, kita belum dapat melihat orang lain, Dalam keadaan biasa, aku segera menyelidiki Tapi sekarang, karena Bu Koko menderita luka parah, aku tidak ingin menimbulkan kegaduhan Aku memperingatkan kau, segala makanan atau minuman dari sini kita jangan sembarangan makan atau minum. Kita tunggu sampai besok pagi untuk merundingkan tindakan yang kita harus tempuh."

semenjak Lie Ceng Loan kenal Pek Yun Hui, belum pernah ia tampak Pek Yun Hui demikian khawatirnya, ia mengangguk seraya berkata: "Aku turut pesan Cici."

Lalu Pek Yun Hui meniup padam lampu di atas meja, dan bersama Lie Ceng Loan coba tidur di atas tempat tidur itu,

Tiba-tiba, setelah mereka merebahkan diri lebih kurang seperempat jam lamanya, terdengar suara tindakan dan suara pelajar tadi yang berbisik: "PerIahan...M kata-kata seterusnya tidak terdengar

Pek Yun Hui terkejut ia duduk, Lie Ceng Loan juga belum tidur, dan ia pun duduk, Baru saja ia hendak membuka mulut menanya, Pek Yun Hui membekap mulutnya dan berbisik: "Ada orang di luar jangan bicara, Kau jagai Bu Koko. Aku keluar menyelidiki Lie Ceng Loan mengangguk ia sediakan pedangnya dan memakai sepatunya, lalu duduk menjaga di pinggir tempat tidur,

Sebelumnya pergi keluar Pek Yun Hui pesan Lie Ceng Loan lagi: "Loan Moi, meskipun pertempuran di luar hebat sekali, kau jangan keluar jika aku tidak memanggilnya." Lalu dengan hati-hati ia bertindak keluar melalui jendela.

Tidak jauh dari jendela itu terdapat satu pohon cemara yang tua dan tingginya melampaui sepuluh depa, Dengan satu enjotan Pek Yun Hui loncat dan berdiri di atas satu dahan dari pohon cemara itu. Dalam suasana yang gelap gulita ia dapat berdiri di atas tanpa terlihat ia dapat melihat pelajar itu tidak masuk ke dalam rumah gubuk, tetapi loncat ke arah satu pohon cemara yang besar, lalu loncat ke atas dahannya,

Pek Yun Hui menaksir bahwa dahan pohon yang agak tinggi itu paling sedikit lima depa tingginya, akan tetapi pelajar itu dapat loncat dan berdiri di atasnya dengan mudah sekali, Untuk menghindarkan penglihatan pelajar itu, ia loncat naik ke dahan yang lebih tinggi,

Baru saja ia berdiri di atas dahan tersebut, tiba-tiba ia mendengar dari sekelompok daun cemara yang agak lebat suara orang tertawa, dan ia tak dapat mengetahui siapakah orang yang tertawa itu karena berisiknya daun cemara yang tertiup angin,

ia menunggu dan memasang kupingnya, tetapi untuk sementara waktu ia tidak mendengar apa-apa. ia tidak sabar lagi dan ingin turun, tiba-tiba ucapan yang ganjil memecahkan kesunyian malam itu, Suara yang mengejek itu mengancam: "Jangan sembarangan bergerak! Kau telah berada dalam bidikan panah api dan pasir beracunku, jangan lari! Aku mau menanya kau!"

Orang itu mengancam sambil loncat ke atas satu dahan pohon cemara di mana Pek Yun Hui berada.

-ooo0ooo-

Souw Peng Hai menyerbu ke puncak Ngo Houw Leng Pek Yun Hui telah dapat melihat orang itu, sebetulnya ia

ingin berikan labrakan, Tetapi ketika ia ingat bahwa Bee Kun Bu tak berdaya, dan keadaan di dalam rumah gubuk maupun di sekitarnya masih merupakan suatu teka-teki baginya, dan ia tidak tahu apakah pelajar itu seorang musuh atau kawan, ia batalkan maksudnya, ia pikir lebih baik menghadapi orang itu dengan sikap yang waspada, Maka ia berkata: "Kau sebetulnya siapakah? Jika kau ingin menanya, mengapa kau bersembunyi?"

Pek Yun Hui masih saja melihat orang itu sembunyi diantara daun-daun cemara yang lebat, ia mendengar orang itu mengejek lagi: "Aku telah melihat cara kau meloncat ke atas pohon cemara ini, dan aku mengagumi kepandaian ilmu meringankan tubuhmu, Oleh karena itu, aku membikin pengecualian bagimu, Jika aku bermaksud jahat, kau sekarang sudah berada di akherat!"

Ancaman itu betul-betuI membikin Pek Yun Hui gusar sekali, Tapi ia ingat lagi keadaannya Bee Kun Bu, dan ia takut menyinggung. Sambil menahan amarahnya ia menjawab: "Jika demikian, aku sekarang turun dan ingin menghadapi Lalu ia loncat ke arah di mana orang itu berada,

Orang itu tidak bergerak atau coba menyerang, Pek Yun Hui loncat turun dan berdiri di atas satu dahan yang hanya tiga-empat kaki jauhnya dari dahan di mana orang itu berdiri ia singkap daun-daun yang lebat, dan alangkah setelah melihat Pek Yun HuI, orang yang jelek Ku menarik napas dan taruh kembali kantong pasir ke dalam satu kantong yang lebih besar dan dibuat dari kulit macan tutul.

kagetnya ketika di depannya ia melihat seorang wanita tua yang bukan main jeleknya, Rambutnya yang putih terurai di atas kedua pundaknya, pakaiannya yang berwarna hijau sudah kotor dan dekil, kedua bibirnya yang tebal terbalik keluar, lubang hidungnya yang pesek kelihatan seperti hangus babi, kedua matanya ju!ing dan tanpa alis mata, kedua pipinya yang kempot masih terlihat nyata bekas bacokan senjata tajam. Tangan kanannya memegang satu kantong dari kulit menjangan yang berisi pasir beracun, dan tangan kirinya memegang satu anak panah yang panjangnya lebih kurang lima belas cun.

Setelah melihat Pek Yuh Hui, orang yang jelek itu menarik napas dan taruh kembali kantong pasirnya ke dalam satu kantong yang lebih besar dan dibuat dari kulit macan tutul, dan anak panahnya ia masukkan ke dalam kantong kulit yang ia pancangkan di punggungnya.

Pek Yun Hui memulihkan ketegangannya, lalu orang jelek itu menegur: "Kau diam duduk di atas dahan itu. Aku ingin menanya kau!"

Pek Yun Hui turuti kehendaknya orang jelek itu dan duduk di atas dahan pohon menghadapi dia.

Orang itu membuka sarung tangan dari kulit menjangan terlihat bahwa kedua tangannya putih dan licin, dan jari-jari tangannya panjang dan )ancip, berlainan sekali dengan mukanya yang jelek, ia mengawasi Pek Yun Hui sejenak, lalu menoleh ke arah rumah gubuk. Pek Yun Hui juga menoleh ke arah rumah gubuk, dan ia terkejut, karena dari tempat di mana mereka berada, mereka dapat melihat segala kejadian di dalam rumah gubuk itu. ia yakin bahwa ketika ia loncat keluar dari jendela dan meloncat ke atas pohon telah diketahui oleh orang jelek itu.

Dengan menyengir si orang jelek itu berkata: "Se-telah melihat ilmu meringankan tubuhmu, aku segera mengetahui bahwa ilmu silatmu lihay sekali, Kau masih muda, tetapi telah memiliki ilmu silat yang demikian tingginya, aku sangat kagum. siapakah gurumu, Siocia?"

Pek Yun Hui terkejut karena wanita itu segera mengenali bahwa ia seorang wanita meskipun ia menyamar sebagai seorang pria. ia tersenyum dan menjawabnya: "Orang lain tidak mudah mengetahui bahwa aku ini menyamar sebagai seorang laki-laki, tetapi kau segera tahu."

"He! He! He!" si jelek itu menyengir dan berkata: "Sebetulnya jika orang sedikit lebih teliti melihat gerak- gerikmu, dan mendengar nada suaramu, orang segera dapat mengetahui bahwa kau seorang wanita, Mungkin orang yang baru keluar dari kandang ibunya tidak dapat membedakan Aku tak dapat diabui, dan juga kau tak dapat abui Ti Kian Su Seng (pelajar dengan pedang besi)." "Siapakah Ti Kian Su Seng itu?" tanya Pek Yun Hui.

"Ti Kian Su Seng?" kata si jelek itu, "Adalah pemilik rumah gubuk itu yang telah mempersilahkan kalian menginap di rumahnya, Coba lihat betapa sopan dan ramah sikapnya. julukan Ti Kian Su Seng itu tepat betul baginya, karena bukan saja ilmu silatnya tinggi, tetapi ia pun telah banyak baca buku....

Pek Yun Hui mengangguk dan berkata: "Betul.!"

Tetapi si jelek itu melotot dan membentak: "Apa betul? Kau jangan keliru, Kau lihat ia ramah dan sopan dan terpelajar dan kau kira dia orang yang baik hatinya, sebetulnya dia lebih busuk dan jahat daripada segala orang yang kau pernah kenal, karena dengan pengetahuan dari buku-buku, ia menjadi seorang yang pintar. dan busuk, dan akal tipunya beraneka

macam. " ia berludah menyatakan kebenciannya terhadap Ti

Kian Su Seng.

Pek Yun Hui hanya berkecimpungan di kalangan Kang- ouw selama hampir dua tahun, dan jejaknya kebanyakan di daerah selatan, ia tidak mengetahui tentang dendam diantara Ti Kian Su Seng dan si jelek itu. Maka mendengar Ti Kian Su Seng dicaci maki oleh si jelek, tak dapat menyalakan apa-apa.

"Peristiwa ini terjadi beberapa puluh tahun berselang," si jelek melanjutkan "Ketika Ti Kian Su Seng sedang terkenalnya di kalangan Kang-ouw, kau mungkin masih bayi!" ia menengadah ke atas dan menarik napas panjang.

Untung bagi Pek Yun Hui yang telah menjumpai si jelek itu, karena tadinya ia masih ragu-ragu terhadap watak pelajar itu, ia pun mendapat tahu bahwa diantara Ti Kian Su Seng dan si jelek itu telah terbit perselisihan yang membikin mereka saling benci membenci ia yang selalu khawatirkan kesehatan dan keselamatannya Bee Kun Bu tadinya masih belum dapat lihat watak sejati dari pelajar itu.

Dan sekarang ia menjadi ragu-ragu, apakah ia harus membantu si jelek melawan Ti Kian Su Seng atau sebaliknya membantu Ti Kian Su Seng melawan si jelek. Untuk mengetahui lebih jelas ia mendesak: "Apa-kah angkatan tua panggil aku hanya untuk memberitahukan aku ini saja?"

Ketika itu si jelek sedang mengenangkan peristiwa- peristiwa yang lampau dan ia terkejut ketika ditanya lagi, ia meneruskan "Ti Kian Su Seng itu tampan rupanya, tetapi sangat jahat hatinya dia adalah satu iblis... aku ini telah menjadi korban di tangannya!"

"Apakah kau bersembunyi di pohon ini hanya menanti kesempatan untuk membikin pembalasan?" tanya Pek Yun Hui.

Si jelek menjawab dengan tenang: "Jika aku ingin melakukan pembalasan hanya untuk membikin puas hati-ku, tidak perlu aku bersembunyi di atas pohon dan menderita kedinginan!"

"Untuk apa kau bersembunyi?" mendesak Pek Yun Hui. Si jelek tidak menjawab, sebaliknya ia balas menanya:

"Apakah kau sudi membantu aku atau tidak?"

Pek Yun Hui mengerutkan kening sejenak, lalu ia berkata: "Aku harus mengetahui dulu pokok soalnya!"

Dengan nada yang agak keras si jelek memulai kisahnya: "Di dekat puncak Ngo Houw Leng (Harimau Mendekam) ini ada terpendam dua mustika, sebab itu membikin Ti Kian Su Seng membangun rumah dan tinggal berdiam di sini dengan maksud menjagal kedua mustika itu. Dia telah tinggal di sini sudah lima belas tahun, dia bukannya sedang bertapa di sini."

"Sebetulnya mustika apakah itu?" tanya Pek Yun Hui, "Sehingga Ti Kian Su Seng rela tinggal berdiam selama lima belas tahun, dan angkatan tua rela tinggal menderita kedinginan dan keanginan di atas pohon?"

Si jelek memikir sejenak, lalu berkata: "Kedua mustika itu sangat berharga, Tetapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Jika kau suka membantu aku, aku akan menjelaskan kepadamu, Jika kau tidak mau membantu aku, akupun tidak memaksanya."

Pek Yun Hui menjadi semakin ingin mengetahui, ia mendesak: "Kau harus memberitahukan dulu sebetulnya merupakan benda apa mustika itu, barulah aku dapat mempertimbangkan sebelum aku mengambil keputusan."

Si jelek tertawa dan berkata: "Hm! Aku hanya me-nanya apakah kau suka membantu atau tidak. Aku Sam Sou Lo Shi tidak perlu menerima syarat!"

Pek Yun Hui jug tersinggung, ia berkata: "Kau jangan minta bantuanku, dan kau yang berkeras kepala, Sudahlah, sampai di sini saja!" Lalu ia berbalik dan loncat ke atas dahan laiiL

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa gelak-gelak yang rupanya datang dari rumah gubuk. Pek Yun Hui terkejut, dan ia segera ingat kata-katanya Sam Sou Lo Shi (si jelek) yang mengatakan bahwa Ti Kian Su Seng itu adalah seorang yang jahat, dan ia khawatirkan keselamatannya Bee Kun Bu yang terluka parah dan Lie Ceng Loan yang masih hijau. Keringat dingin mengucur keluar di seluruh tubuhnya, Lalu secepat kilat dengan ilmu Sian Hok Yu Cui atau Bangau Sakti Bermain di Dalam Air, dari dahan yang tujuh-delapan depa tingginya itu ia terjun ke bawah untuk lari ke rumah gubuk, Seperti seekor menjangan ia loncat masuk ke dalam rumah melalui jendela tadi.

Lampu di atas meja memancarkan sinar di dalam kamar itu, segala sesuatu terlihat nyata, ia hanya melihat Ti Kian Su Seng berdiri di dekat meja sambil tersenyum dan obor di tangannya belum padam Tetapi di atas pembaringan yang sudah kusut itu ia tidak tampak lagi Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan,

"Siocia sangat gesit, Aku ingin mengetahui siapakah guru Siocia," kata Ti Kian Su Seng, tenang, Pek Yun Hui yang menjadi gelisah karena lenyapnya Bee Kun Bu berbalik menanyai "Apakah kau yang dipanggil Ti Kian Su Seng?"

Si pelajar itu terperanjat tetapi ia segera menjawab nya: "Betul, Tetapi kau siapa?"

"Kau tak usah menanya aku siapa Suheng dan Sumoyku di mana?" Lalu ia kerahkan tenaga dalamnya, siap menyerang,

Ti Kian Su Seng sambil tertawa gelak-gelak berkata: "Mereka untuk sementara waktu dikirim ke tempat yang aman, dan kau tak usah khawatir mereka, Aku Si Tian Houw tidak akan mencelakai orang yang luka parah atau satu gadis yang muda belia. Jika kau tidak pereaya, aku dapat antar kau untuk tengok merekah

Pek Yun Hui setelah mendengar kata-kata yang sungguh- sungguh itu menjadi curiga akan penuturannya Sam Sou Lo Shi tentang Si Tian Houw alias Ti Kian Su Seng ini.

Si Tian Houw melihat bahwa Pek Yun Hui tidak pereaya omongannya, ia berkata setelah menarik napas: "Jika aku mengetahui bahwa malam ini akan terjadi urusan, aku tentu tidak memperkenankan kalian menginap di sini, Aku mempunyai satu saudara angkat yang baru turun dari gunung, Menurut saudara angkatku itu, beberapa musuh besar kami telah mengetahui tempat persembunyian kami, mereka telah mengambil keputusan akan datang menyerang.

Jika malam ini mereka tidak datang, mereka pasti datang besok, dan pertempuran hebat tak dapat dihindarkan lagi, suhengmu terluka parah, dia tak dapat menghadapi musuh- musuh kami yang ilmu silatnya sangat tinggi itu. Diantara mereka terdapat seorang yang kejam sekali. Mereka menggunakan senjata rahasianya yang beracun. Demi keselamatan Suheng dan Sumoymu, aku terpaksa memindahkan mereka ke suatu tempat yang aman. Dan aku yakin Siocia dapat mengerti."

penjelasan yang masuk di akal itu membikin Pek Yun Hui mundur maju, Apakah ia harus pereaya atau tidak? Jika ia tadi tidak mendengar dari Sam Sou Lo Shi tentang kekejamannya Ti Kian Su Seng itu, ia tentu akan segara diajak ke tempat Suheng dan Sumoynya, Maka ia hanya berkata: "Hm! Kau katakan musuh-musuh lama akan datang membikin pembalasan itu semuanya cerita bikinan Kau tinggal di puncak Ngo Houw Leng ini hanya karena ingin menjaga dua mustika. "

Si Tian Houw segera menjadi gusar ia membentak: "Kau sebetulnya siapa? Lekas katakan!"

Sikap itu membuka matanya Pek Yun Hui. ia yakin bahwa kata-katanya Sam Sou Lo Shi itu tidak dusta. "Kau tak perlu mengetahui namaku. " Belum lagi ucapannya selesai, tiba-

tiba terdengar suara siulan yang panjang mendatangi.

Hembusan anginnya terasa sehingga api lampu tergoyang- goyang, Sekejap mata saja di dalam kamar itu muncul seorang tua berjubah abu-abu.

Pek Yun Hui menjadi gusar, dan ia membentak: "Hm!

Kamu semuanya ada berapa orang, Ayo, semuanya ke-luar!"

Ti Kian Su Seng meniup padam lampu dan kamar itu menjadi gelap gulita.

Pek Yun Hui khawatir Ti Kian Su Seng kabur dalam keadaan yang gelap gulita itu. ia kirim tinju kirinya ke depan.

Baru saja tinju itu dilancarkan tiba-tiba terdengar suara benda membentur jendela. itulah suara Ti Kian Su Seng yang loncat keluar,

Ketika tinju kirinya Pek Yun Hui menjotos keluar, Ti Kian Su Seng mengegos dan mengirim senjata tajamnya yang juga dapat diegoskan oleh Pek Yun Hui, lalu ia loncat keluar jendela ketika Pek Yun Hui hendak menyerangnya lagi. Pek Yun Hui juga meloncat keluar dan mengejar Segera benda-benda terbang berkilau-kilauan ke arah ia. jika bukannya Pek Yun Hui, benda-benda itu pasti telah melukai mangsanya, Pek Yun Hui makin gemas, dan ternyata akan kekejamannya Ti Kian Su Seng itu yang menggunakan senjata rahasianya untuk lekas-lekas membinasakan lawannya,

Setelah nyaris dari senjata beracun yang berhenti mengejar ia pungut satu benda itu yang ternyata adalah jarum-jarum besi yang beracun, Ketika ia mendongak Iagi, ia lihat tiga orang yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata datang menghampiri

Ti Kian Su Seng dan orang tua berjubah abu-abu tidak bersenjata. Mereka berdiri di tempat gelap menonton ketiga orang yang bersenjata datang menghampiri Pek Yun Hui, Ketiga orang itu semuanya sudah berusia di atas empat puluh tahun, Di dalam keadaan gelap gulita itu senjata mereka masih terlihat berkilau-kilau,

Pek Yun Hui berpikir "Semua orang ini sebetulnya menghendaki apa? Dan mereka begitu sabar memandang aku, tetapi aku tidak sabar lagi melihat sikap mereka yang kurang ajar itu."

sekonyong-konyong ia loncat dan menerkam Ti Kian Su Seng. Terkaman itu dilakukan secepat kilat, dan dalam sekejapan saja ia sudah berada di samping lawannya, Tetapi Ti Kian Su Seng bukannya lawan yang remeh. ia masih dapat mengegos, dan dengan jurus Tui Po Cu Lan atau Mendorong ombak mendobrak perahu ia dapat mencegah terkaman lawannya,

"Hei! Berhenti menyerang aku!" seru Ti Kian Su Seng, Tunggu aku menggempur musuhku di depan ini, nanti aku bawa kau menemui Suheng dan Sumoymu!"

"Jika kau ingin mengantarkan aku, antarlah sekarang. Aku tak pereaya omonganmu!" Lalu kedua tinjunya dikirim lagi ke dada dan kepala lawannya, serangan dua tinju itu hebat bukan main, Ti Kian Su Seng telah mengetahui bahwa ilmu silat lawannya tinggi sekali Tetapi ia tidak menduga bahwa lawannya itu memiliki ilmu Thian Kong Kie Kong (tenaga dalam ajaib), Untuk menyelamatkan jiwanya, ia terpaksa loncat mundur tujuh langkah,

Pek Yun Hui mengejar dan dengan jurus Lang Pa Ciauw Ciok atau Ombak mendampar batu karang, ia mencegat mundurnya Ti Kian Su Seng, dan dengan jurus In Siauw Ngo Gak atau Awan menyelubungi lima puncak, tinju kanannya menggerayangi kepala lawannya.

Ti Kian Su Seng telah berkecimpungan di kalangan Kang- ouw beberapa puluh tahun, dan telah menjumpai banyak jago- jago silat, tetapi ia belum pernah menjumpai lawan selihay Pek Yun Hui yang setiap serangannya cepat dan hebat sukar diegosi, ia terpaksa menangkis serangan-serangan itu.

Si orang tua berjubah abu-abu mula-mula tidak memandang Pek Yun Hui, tetapi setelah melihat bahwa Ti Kian Su Seng keteter, ia pun terkejut Ketika kawannya sedang diserang dengan jurus In Siauw Ngo Gak, ia loncat maju dan dengan kedua tinjunya ia menangkis serangan ilu. Tangkisan itu ia lakukan dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Ti Kian Su Seng juga telah menangkis dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Tetapi ketika itu Pek Yun Hui segera ingat bahwa jika ia bunuh mati Ti Kian Su Seng dengan jurus In Siauw Ngo Gak itu, ia tidak akan mengetahui dimana Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan ditawan, Pada saat itu ia tarik kembali tenaga Thian Kong Ki Leknya, dan lekas-lekas loncat ke pinggir Ketika itu tangkisan Ti Kian Su Seng dan tangkisan kedua tinjunya si orang tua berjubah abu-abu saling beradu, dan dua-duanya terpental dengan menderita sakit dan luka dalam,

Kedua kawan yang saling beradu tinjunya merasa pusing kepala, kupingnya berdengung dan matanya berkunang- kunang, sedangkan Pek Yun Hui berdiri mengawasi tidak jauh dari mereka.

Pek Yun Hui pun insyaf bahwa kedua lawannya sedang menangkis serangannya dengan mengerahkan semua tenaga dalamnya, Dengan menggunakan ilmu To Im Kiam Yang atau Memimpin Tenaga Dalam dan Menyalurkan Tenaga Luar, ia berhasil membikin tinju-tinju lawan-lawannya beradu, dan ia sendiri melejit keluar menyelamatkan diri.

Ti Kian Su Seng kalah setingkat daripada si orang tua berjubah abu-abu, ia terpental satu depa lebih. Lama ia tak dapat bangun.

Melihat kejadian itu ketiga orang tinggi besar itu menjadi terperanjat Mereka kira Pek Yun Hui adalah kawan Ti Kian Su Seng, Setelah melihat Pek Yun Hui loncat menerkam Ti Kian Su Seng dan si orang tua loncat menyerang Pek Yun Hui, mereka baru tahu bahwa Pek Yun Hui bukannya kawan dari musuhnya. Mereka mengetahui bahwa Ti Kian Su Seng dan siorang tua berjubah abu-abu adalah jago-jago silat yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw, dan mengira bahwa betapa tingginya ilmu silat Pek Yun Hui, pemuda itu takkan dapat melawannya.

Oleh karena itu mereka sudah bermufakat, untuk membantu Pek Yun Hui jika perlu. Bukan main herannya ketika mereka lihat dengan jurus To Im Kiat Yang, Pek Yun Hui dapat membikin kedua jago silat nomor wahid itu berkunang-kunang matanya, bahkan Ti Kian Su Seng seperti ikan emas dikeluarkan dari air sedang kelabakan dan mengap-mengap!

Setelah orang itu yang di tengah dan bersenjata sepasang kaitan baja telah melihat bahwa Ti Kian Su Seng parah lukanya, ia berpikir "Jika kesempatan ini aku Icwatkan, aku harus menanti kapan lagi?" Lalu ia pun menyerang Ti Kian Su Seng dengan ilmu jurus Siang Liong Cut Sui atau Dua naga keluar dari laut Kedua senjata kaitan bajanya menyerang berbareng Ti Kian Su Seng yang berada dalam keadaan setengah mati itu hanya dapat menggulingkan diri menghindari serangan itu, sedangkan si orang tua berjubah abu-abu membentak: "Hei, jahanam! Kau keji sekali! Menyerang lawan dalam keadaan demikian?" sambil menerjang menjambret senjata kaitan baja lawannya.

Pek Yun Hui yang berdiri tidak jauh dari Ti Kian Su Seng, setelah melihat senjata kaitan itu menyambar ke arah Ti Kian Su Seng, juga berusaha menolong dengan jurus Gie Sin Hoan Wi atau memindahkan arah dengan bayangan, Betut jurus- jurus yang digunakan oleh si orang v tua berjubah abu-abu dan Pek Yun Hui dilancarkan secepat kilat, akan tetapi senjata kaitan baja itu pun dilancarkan cepat sekaIi. Kelihatan nyata kaitan baja itu, segera menyabet atau menebas Ti Kian Su Seng, ketika satu sinar terang tiba-tiba terbang menyambar!

Senjata rahasia itu terbang menyambar ke arah orang yang menyerang dengan kaitan baja, dan ketika dia insyaf dan hendak menangkisnya, senjata rahasia itu telah mengenai pundak kanannya, Segera senjata rahasia itu telah mengenai pundak kanannya, Segera senjata rahasia itu meledak dan mengeluarkan asap hijau dan membakar tubuhnya, Kaitan di kedua tangannya tergetar. Kesempatan itu digunakan oleh Pek Yun Hui untuk menyodok lengan-lengan yang memegang kaitan baja dengan jari saktinya, sehingga terlepaslah kaitan baja ke tanah!

Si orang tua berjubah abu-abu segera peluk Si Tian Houw alias Ti Kian Su Seng dan dibawanya menyingkir 8 kaki jauhnya. ia melihat ke sekitarnya, ia menyaksikan bahwa orang yang menyerang Si Tian Houw tadi sedang berguling- guling di tanah berusaha memadamkan api hijau yang membakar pakaian dari tubuhnya! Tetapi makin dia bergu!ing- gulingan, makin ganas api itu membakarnya,

Suara jeritan dari orang yang berguling-gulingan itu sangat memilukan hati, Senjata rahasia itu belum pernah disaksikan oleh mereka semua, Kedua kawan dari orang yang menyerang tadi juga berdiri terpaku agak lama sebelumnya mereka berusaha menolong,

Sekonyong-konyong terdengar suara orang mengejek: "He! He! He! Kalian sekarang dapat menyaksikan dengan kepala mata sendiri betapa lihaynya senjata rahasiaku ini. Orang yang kena akan binasa terbakar oleh asap hijau atau dikubur hidup-hidup dengan pasir!" 

Ketika itu korban senjata rahasia itu sudah hampir terbakar seluruh tubuhnya, ia menjerit-jerit kesakitan dan jeritannya memilukan hati! Ketika ia bergulingan dan menindih lagi kaitan bajanya, ia ambil kaitan itu dan gorok lehernya sendiri Darah segera menyembur dari tenggorokan nya, dan sejenak kemudian ia pun menarik napasnya yang penghabisan sebagai mayat yang hangus gosong!

Kedua kawannya yang sebetulnya datang untuk membikin pembalasan setelah melihat kawannya mati konyol, mereka tidak sudi berdiam lebih lama lagi. Mereka loncat dan berlalu.

Pada saat itu Ti Kian Su Seng rupanya sudah mulai sadar dari pusingnya, dan ia melihat si wanita yang jelek itu sedang menghampiri dirinya. ia berseru dengan terperanjat sekali: "Kau...!"

Si orang tua berjubah abu-abu sedang mengejar kedua musuhnya yang melarikan diri, ketika ia mendengar Si Tian Houw berseru, ia segera balik kembali, ia mendengar si jelek itu mengancam: "Hm! Kau takkan menyangkanya bahwa aku ini masih hidup, Aku telah bunuh mati lawan mu itu karena aku kuatir kau dibunuh orang lain!"

Si Tian Houw mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan tenaganya, lalu ia menjawab: "Jika kau tidak ingin aku dibunuh orang lain, kau tentu ingin membunuh aku?"

Pek Yun Hui berdiri di samping mereka menyaksikan pereakapan kedua musuh besar ilu. ia segera mengenali si jelek itu adalah Sam Sou Lo Shi yang ia jumpai di atas dahan pohon cemara, dan sehingga saat itu ia masih tak dapat mengerti siapakah diantara mereka itu yang sebetulnya jahat, tetapi ia tidak menghendaki Ti Kian Su Seng mati, karena akan menyukarkan ia untuk mencari Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan. Oleh karenanya ia bersikap waspada untuk menjaga Ti Kian Su Seng diserang oleh Sam Sou Lo Shi.

Si orang tua berjubah abu-abu juga berdiri siap sedia memberikan pertolongan

Sam Sou Lo Shi jalan menghampiri Ti Kian Su Seng, tetapi ia berhenti pada jarak empat kaki dari musuhnya itu. ia menoleh melihat Pek Yun Hui, dan menanya: "Apakah kau juga siap membantu dia?"

Pek Yun Hui menjawab dengan tenang: "Pertikaian antara kalian berdua aku tidak sudi turut campur, bahkan tak sudi menanya, Tetapi aku hanya mohon kau untuk sekarang ini jangan mengganggu dia. "

Si jelek tidak menunggu Pek Yun Hui bicara habis, ia membentak dengan marah sekali: "Kau betul-betul mulut besar! Aku akan membuktikan bahwa aku se-gera. " Sambil

membentak ia lekas-lekas ambil keluar satu panah beracun

Pek Yun Hui tidak menunggu si jelek dapat mengeluarkan anak panahnya, Dengan jurus Tiauw Hoat Lam Hai atau Gelombang menyapu ke laut selatan, ia tahan tangan yang sedang mengeluarkan anak panah beracun dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memijat lengan kanannya si wanita jelek itu dengan jurus "Cui Liu Hui Hong" atau Daun Pohon Liu Terhembus Angin. Mendapat pijatan itu, Sam Sou Lo Shi merasa seluruh tubuhnya lumpuh, dan sukar bernapas, ia coba angkat tangannya tapi tak bertenaga lagi!

Jurus-jurus yang dilancarkan oleh Pek Yun Hui itu cepat sekali, dan bagi orang yang tidak mengerti tentang ilmu silat, seolah-olah ia hanya membujuk si jelek jangan melakukan perbuatan keji itu. Si jelek menahan sakit kedua matanya melotot mengawasi Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui tersenyum dan berkata: "Kau betul-betul bandel, dan masih bisa juga menahan sakit!" Lalu ia tepuk punggungnya si wanita jelek itu. Keringat segera keluar dari seluruh tubuhnya wanita jelek itu, dan hilanglah sakitnya.

Ti Kian Su Seng dan si orang tua berjubah abu-abu juga mengerti cara membebaskan totokan jalan darah, tetapi cara yang dilakukan oleh Pek Yun Hui membikin mereka tereengang,

ilmu membebaskan totokan yang dilakukan oleh Pek Yun Hui sukar dipelajari Orang harus mengetahui betul letak luka luka atau jalan-jalan darah manakah yang telah tertutup sebelumnya menepuk punggung yang diliputi syaraf-syaraf yang dapat mendorong peredaran darah,

Lagipula cara memijat lengannya Sam Sou Lo Shi itu luar biasa hebat nya. Meskipun tubuhnya wanita jelek itu dibuat dari besi atau baja, ia tak dapat menahan sakitnya, dan segera terlihat air matanya mengucur keluar seolah-olah minta dikasihani dan ditolong.

Ti Kian Su Seng dan si orang tua berjubah abu-abu hendak berlalu menyingkir Tetapi Pek Yun Hui sudah dapat rampas anak panah beracun dari Sam Sou Lo Shi dan memutar tubuhnya menghadapi kedua musuhnya si jelek itu, Lalu Pek Yun Hui berkata: "Nah, sekarang kalian bertiga gempur aku, aku tidak takut!" Lalu dengan kedua mata melotot ia menanya Ti Kian Su Seng: "Hei! Di mana kau sembunyikan Suheng dan Sumoyku! Jika kau coba memperlambat waktu dan berdusta, jangan menyesal aku segera kirim kau ke akherat!"

Sam Sou Lo Shi yang sudah dibebaskan oleh Pek Yun Hui, setelah mengerahkan tenaga dalamnya, supaya hendak mengambil lagi satu anak panah beracun dari tabung panahnya, Pek Yun Hui segera melihat bahwa mereka itu telah bertekad melawan pada nya. Mereka sebaliknya mengagumi ilmu silat dan siasatnya Pek Yun Hui, pun merasa sedikit takut terhadap ia, tetapi dalam keadaan terdesak, mereka seperti juga tanpa bermufakat dulu, telah bertekad bersama-sama menggempur Pek Yun Hui.

Pek Yun Hui insyaf bahwa ia dapat dengan mudah membunuh mereka satu persatu jika mereka terpencar, tetapi melawan mereka bertiga yang ilmu silatnya terkenal nomor wahid, ia khawatir ia kehabisan tenaga, Lagi pula, yang terpenting ialah menolong Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Jika ia bertindak sembrono, ia khawatir Suheng dan Sumoynya itu binasa, Dengan keadaan yang terpaksa itu, ia bersikap dan berlaku waspada.

Demikianlah keempatnya berdiri agak lama saling pandang memandang, dan tidak ada seorang yang berani menyerang lebih dulu,

Tiba-tiba dari rumah gubuk terdengar suara orang tertawa, Tie Kiam Su Seng dan si orang tua berjubah abu-abu menjadi pucat setelah mendengar suara tertawa ladi, Berkali kali mereka ingin mundur dan kembali ke rumah gubuk, tetapi mereka membatalkan maksud itu karena khawatir diserang,

Pek Yun Hui juga menjadi heran mendengar suara tertawa itu, karena ia yakin bahwa orang yang tertawa itu tentu memiliki tenaga dalam yang luar biasa sehingga tertawa itu terdengarnya nyaring dan muluk.

Dalam keadaan terdesak itu Ti Kian Su Seng mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada Pek Yun Hui, dan berkata dengan sikap memohon: "Jika kau sudi membantu kami mengusir orang yang datang ke rumah gubuk kami itu, aku bukan saja mengembalikan Suheng dan Sumoymu, bahkan aku akan menghadiahkan satu mustika dari kedua mustika yang kami jaga selama lima belas tahun ini. " Dengan tidak menunggu jawaban lagi, ia berbalik dan lari ke rumah gubuk. ia segera diikuti oleh si orang tua berjubah abu-abu.

Pek Yun Hui menoleh ke arah rumah gubuk itu, dan dalam cuaca malam yang gelap, dengan kedua matanya yang tajam ia dapat melihat bahwa orang yang telah datang ke rumah gubuk itu bukan !ain daripada Souw Peng Hai, pemimpin dari partai silat Thian Liong, dan yang sangat ditakuti oleh Ti Kian Su Seng dan kawan nya.

Di belakang Souw Peng Hai juga terlihat empat orang yang berpakaian baju kuning dan bersepatu rum-put, mukanya seram,

Pek Yun Hui dan Sam Sou Lo Shi pun jalan ke rumah gubuk itu.

Souw Peng Hai sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang mengawasi Sam Sou Lo Shi, Ti Kian Su Seng dan si orang tua berjubah abu-abu. ia mengejek: "Kesempatan ini sukar terdapat! Sukar! Yang mana ingin menjumpai Giam Kun dulu? (Giam Kun = Raja Akherat). 

Ti Kian Su Seng mengerutkan keningnya dan menjawab dengan tabah: "Souw Piauw Tou terkenal sebagai f jago silat nomor wahid di kolong langit Jago-jago silat di kalangan Kang- ouw semuanya menghormati kau. Jika Souw Piauw Tou berada di kalangan Kang-ouw, kami berdua tentu tidak ada tempat untuk berdiri Oleh karena itu, kami telah tinggal terpencil di dekat puncak Ngo Houw Leng ini melewati hari dengan tenang."

Souw Peng Hai tertawa dan berkata lagi: "Kau pandai bicara! Kau terlampau pandai bicara. Jika di dekat puncak Ngo Houw Leng ini tidak ada Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti), aku tak sudi datang ke sini, Tetapi mungkin kau Si Tian Houw dan saudara angkatmu itu tak dapat terus menerus. " ia melihat Sam Sou Lo Shi, dan ia tertawa sambil mengejek: "Ha! Ha! Maaf, aku mula-mula tidak mengenali kau. Apakah kau bukannya Pang Siu Wie alias Sam Sou Lo Shi yang pada tiga puluh tahun berselang menjagoi di daerah selatan dan juga di daerah utara?"

Sam Sou Lo Shi menjadi panas dan ia menjawab dengan suara yang keras: "BetuI! Sekarang aku berada di sini untuk menyaksikan ilmu silatmu yang disohori sebagai yang nomor wahid di kolong langit!"

"Ha! Ha!" berkata Souw Peng Hai, "Aku tidak menduga kita bisa berjumpa di sini, Tetapi mengapa kau juga berada di dekat puncak Ngo Houw Leng ini? Aku yakin Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti) tidak dapat memulihkan wajah yang cantik jelita dari Pang Siu Wie siocia pada tiga puluh tahun yang lalu Ha! Ha! Ha!"

Ejekan itu sangat menyinggung Pang Siu Wie, sebagaimana layaknya seorang wanita yang dicela kejelekannya, ia menahan marahnya, dan menanti kesempatan untuk melepaskan senjata rahasianya, karena ia yakin bahwa Souw Peng Hai itu bukannya lawan yang remeh, dan jika ia salah tindak, maka berakhirlah riwayat nya. Lagi pula ia yakin bahwa ia harus berlaku cerdik, dan membiarkan Souw Peng Hai bertempur melawan musuh-musuh yang lain dulu untuk kemudian menggempur padanya, bila dia sudah pulih.

Souw Peng Hai telah mengetahui bahwa Pang Siu Wie sangat benci Si Tian Houw karena laki-laki itu telah merusaki mukanya, dan ia yang cerdik juga mengharap agar kedua musuh besar itu bertempur dulu,

Ti Kian Su Seng mengawasi Pang Siu Wie yang sedang berdiri gemetar menahan amarah nya, dan yakin bahwa wanita itu tak akan menggempur ia pada waktu itu. Seperti juga satu batu besar terangkat dari dadanya dengan senyuman terpaksa ia berkata: "Souw Piauw Tou mungkin salah paham tentang Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti) itu, dan kedatangan Souw Piauw Tou ke sini aku khawatir adalah perjalanan yang hampa!"

Keempat orang yang bertubuh tinggi besar dan berbaju putih setelah mendengar kata-kata yang mengandung hinaan itu menjadi marah, mereka hendak me-nyerang,

Pek Vun Hui menggempur empat penjagaan

Si Tian Houw telah mengenali keempat orang itu yang terkenal di daerah tengah propinsi Sucoan sebagai "Em-pat iblis", Empat orang itu di zaman lampau pernah berbuat sewenang-wenang di propinsi Sucoan, Hupeh, Hunan dan Anhwei, Tiga partai silat Bu Tong, Ngo Bi dan Cengshia pernah mengirim jago-jago silatnya untuk mengepung mereka, tetapi tidak berhasil karena mereka sangat cerdiknya, yakin melawan bila ungkulan, dan lari atau bersembunyi jika merasa tak dapat melawan,

Dengan ilmu silatnya yang tinggi, jago-jago silat dari ketiga partai silat tersebut tidak sedikit yang terluka dihajar mereka, Oleh karena itu ketiga partai silat itu pernah berapat merundingkan siasat untuk mengejar atau membunuh mereka, Bahkan beberapa jago-jago silat yang sudah mengundurkan diri pun telah muncul pula untuk membantu membasmi mereka,

Setelah tiga bulan dilakukan penyelidikan dan pengintaian, beberapa jago-jago silat ketiga partai silat itu berhasil mengetahui jejak mereka, Pada suatu malam ketika keempat iblis itu berada di kota Bo Kee, mereka lantas dikurung, keesokan harinya ketika mereka keluar dari suatu rumah penginapan, mereka dikuntit dan dikepung di suatu tempat yang sunyi di luar kota.

Untuk menolong diri, mereka terpaksa melawan, dan bertempur dengan hebatnya, pertempuran berlangsung dari tengah hari sehingga senja, Dalam pertempuran itu mereka dihajar babak belur, akan tetapi mereka berhasil meloloskan diri, Di pihaknya ketiga partai silat itu pun tidak sedikit yang mendapat luka, selanjutnya mereka sukar dicari lagi, Mereka muncul dan lenyap seperti setan, mereka tetap terkenal sebagai empat iblis yang sangat ditakuti oleh sebagian besar jago-jago silat di kalangan Kang-ouw.

Si Tian Houw alias Ti Kian Su Seng pernah menjumpai keempat iblis itu, ia mengetahui bahwa mereka tidak boleh dipandang rendah, Dengan sikap waspada ia menanya: "Apa kalian ingin bertarung bersama-sama atau satu lawan satu?"

Empat iblis itu loncat maju dari belakangnya Souw Peng Hai dan mengambil kedudukan mengurung, Yang berdiri di sebelah kiri berkata: "Kami bersama lawan kau seorang, Jika kalian sepuluh orang, kami tetap berempat maju bersama!"

"Baik! Kalian boleh maju segera melawan aku se-orang!" kata Si Tian Houw,

sebetulnya caranya keempat iblis itu menyerang terkenal sebagai "Siasat empat penjagaan" karena mereka menyerang bersama-sama, dan cara pertempuran mereka itu telah mempereundangkan banyak jago-jago silat di kalangan Bu Lim.

Ketika itu Souw Peng Hai tidak memperhatikan gerak- geriknya keempat iblis itu, sebaliknya ia memperhatikan Pek Yun Hui. ia tidak mengerti mengapa pemuda itu berada di dekat puncak Ngo Houw Leng. Pikirnya, "Pemuda ini tidak membantu Ti Kian Su Seng, dan kedatangannya ke sini tidak bermaksud mencari musuh-musuhnya. Aku yakin ia tak akan turut campur di dalam pertempuran kali ini." Lalu ia gulung sebelah lengan bajunya dan terus mengawasi Pek Yun Hui.

Ti Kian Su Seng menoleh ke arah si orang tua berjubah abu-abu dan berkata: Toako, tolong ambilkan senjataku!" Lalu ia berbisik: "Melihat keadaan sekarang, rupanya kita harus bertempur sampai ada yang binasa!"

Si orang tua berjubah abu-abu itu mengangguk lalu berbalik dan pergi,

Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak dan membenlak: "Berhenti!" Si orang tua tidak menghiraukannya, ia terus jalan, Tetapi segera ia merasa sambaran angin di be-lakangnya, dan ia jatuh tersungkur, ia lekas-lekas bangun, dan melihat seorang yang berusia lebih kurang lima puluh tahun, mengenakan baju hi(am, bersenjatakan martil yang memakai tali, Dia adalah Kiok Goan Hoat, pemimpin bendera hitam dari partai silat Thian Liong. Kiok Goan Hoat mengangkat kedua tangannya memberi hor-mat, katanya mengejek: "Ciu Heng, sudah dua puluh tahun kita tidak berjumpa, apakah kau baik?"

Si orang tua memandangnya sepintas: "Hm! Aku kira siapa, Sudah dua puluh tahun kita tak berjumpa, dan ilmu silatmu tentu sudah banyak maju, jotosan yang kau kirim tadi betul-betul lihay sehingga aku jatuh tersungkur.

Tetapi sebagai orang yang terkenal di kalangan Kang-ouw, sebetulnya tidak patut menyerang orang dari belakang Aku khawatir jika hal ini tersiar, tentu akan membikin kau malu!

Hm! Menyerang lawan dari belakang!" katanya menyindir

Kiok Goan Hoat menyengir dan berkata lagi: "Ciu Heng terlampau memuji aku. jotosan aku tadi hanya dilancarkan dengan separuh tenaga, Jika aku gunakan sepenuh tenaga, mungkin Cui Heng sudah menjadi mayat!"

Si orang tua menjadi gusar: "Belum tentu!" Tetapi tiba-tiba ia merubah kata-katanya dengan suara ramah: "Melihat keadaan malam ini, rupanya pertempuran dahsyat sukar dielakkan. Karena pemimpin partai silat Thian Liong telah datang, kami tentu tak dapat tidak meladeninya, Perkenankanlah aku pergi mengambil senjata dulu, dan kemudian aku minta kau mengajarkan aku beberapa jurus ilmu silat!"

Kiok Goan Hoat tertawa, "Kau pandai bicara, Tetapi dalam hal ini aku tak dapat mengambil keputusan Jika kau perlu senjata, martilku ini dapat kupinjamkan!"

Si orang tua menjadi marah lagi, ia membentak: "Aku yang sudah hidup berpuluh-pu!uh tahun belum pernah mendengar seorang jago silat meminjamkan senjatanya kepada orang lain, Aku tak sudi pinjam!" Lalu ia berdiri dengan mata melotot menunggu jawaban,

"Meskipun aku biarkan kau pergi ke rumah gubuk, tetapi maksudmu tak akan terkabul Peta tentang mustika itu mungkin sudah ada di dalam tangannya orang lain.,." kata Kiok Goan Hoat mengejek

Si orang tua terkejut dan berseru: "Ha! Benarkah.,.?!" Kiok Goan Hoat terus mengejek: "Aku tidak dusta, Ketika

Ciu Heng sedang bicara dengan pemimpin partai silat kami,

sudah ada orang masuk ke dalam kamar tidur kalian, mungkin dia mengambil peta berharga itu!"

"Perbuatan sangat keji!" bentak si orang tua, dibarengi dengan satu jotosan hebat

Kiok Goan Hoat mengegoskan diri, lalu dengan kedua tinjunya ia membalas menyerang dengan jurus Siang Hong Koan Ji atau Dua hembusan angin men-dampar kuping, Si orang tua harus loncat mundur menghindari jotosan maut itu, lalu pertempuran hebat lantas terjadi antara kedua jago silat itu. Setelah pertempuran berlangsung selama sepuluh jurus lebih dan masih juga tak ada yang kalah, si orang tua yang khawatir akan peta berharganya, sekonyong-konyong menjerit keras dan menyerang berturut-turut dengan tiga jotosan.

Ketiga jotosan itu dilancarkan dengan nekat sekali, Kiok Goan Hoat insyaf bahwa ia tak dapat menangkis jotosan-jotosan itu, ia loncat ke kiri lima kaki jauhnya

Dengan kesempatan itu si orang tua loncat dan lari menuju ke rumah gubuk, Tapi Kiok Goan Hoat segera mengejarnya.

Si orang tua terus lari, setelah masuk ke dalam rumah gubuk ia terus masuk ke kamar tidurnya,

Si orang tua menghampiri sehelai gambar burung bangau yang digantung di atas tembok sebelah barat Selagi ia singkap gambar itu, Kiok Goan Hoat pun telah menyusul masuk ke dalam kamar tidurnya itu! Si orang tua segera loncat ke atas tempat tidurnya yang dibuat dari kayu dan segera mengambil pedangnya yang digantung di atas tembok dekat tempat tidur itu, ia pun mengambil satu pengayuh besi yang disandarkan di sisi pembaringannya, dengan kedua senjata itu ia menyerang dadanya Kiok Goan Hoat

Martil bertali dari Kiok Goan Hoat tak dapat digunakan dengan leluasa di tempat yang sempit itu. Terpaksa ia loncat keluar dari kamar tidur itu, Si orang tua mengejar, dan menyabet lawannya dengan pengayuh besinya.

Kiok Goan mengegos dan terhindarlah ia dari sabetan pengayuh besi itu.

"Ciu Heng! Apakah kau bersedia bertempur mati-matian melawan aku kali ini?"

Tetapi si orang tua tidak menjawab, ia terus menyerang dengan pengayuh besinya,

Kiok Goan Hoat tidak menggunakan martilnya, hanya dengan kedua tangannya ia berusaha melawan sambil mundur agar dapat keluar dari tempat yang sempit itu.

pada saat itu keempat iblis telah mengurung dan menyerang Ti Kian Su Seng, tetapi mereka tidak menggunakan senjata, Mereka bertempur dengan tangan kosong!

Sam Sou Lo Shi (Pang Siu Wie) dengan kantong pasir di tangan kanan dan anak panah beracun di tangan kiri hanya menonton pertempuran antara empat iblis di satu pihak dan Si Tian Houw di lain pihak.

Pek Yun Hui dengan wajah yang menunjukkan kecemasan nya juga menyaksikan pertempuran itu, dengan sebentar- sebentar ia melihat keadaan di sekitarnya,

Souw Peng Hai meskipun wajahnya nampaknya te-nang, akan tetapi ia pun sebentar-sebentar mengawasi keadaan di sekitarnya, sikapnya itu menunjukkan bahwa hatinya ge!isah. Si orang tua dan Kiok Goan Hoat sudah berada di dalam pekarangan rumah gubuk, dan mereka bertarung lebih sengit lagi sehingga hembusan angin dari senjata-senjata yang menyabet, menyapu, mengemplang atau menyodok terdengar nyata sekali,

Di dalam pekarangan itu Kiok Goan Hoat tidak mundur lagi, ia loloskan senjata martilnya yang memakai tali dari pinggangnya, dan mulai menyerang. ia lakukan dengan tenaga dalamnya dan si orang tua terpaksa menjaga diri.

Di pihak keempat iblis dengan cara "Siasat empat penjagaan4 telah mulai melancarkan serangan-serangannya yang dahsyat, dan terlihatlah mereka loncat ke kiri atau ke kanan sambil mengirim jotosan-jotosannya kepada Si Tian Houw.

Si Tian Houw yang ilmu silatnya lebih tinggi daripada keempat iblis itu, mungkin dapat mengalahkan mereka dengan bertempur satu lawan satu, Akan tetapi dengan menghadapi mereka berempat, ia tak dapat bertahan lama, Maka setelah pertempuran berlangsung sepuluh jurus lebih, Si Tian Houw sudah menjadi keteter

Si orang tua juga telah melihat bahwa saudara angkatnya itu mulai keteter, akan tetapi ia tak dapat menv bantunya, karena ia sendiripun sukar membebaskan diri dari serangan- serangan martilnya Kiok Goan Hoat. Da-lam keadaan gelisah itu, pengayuh besinya menjadi makin lambat gerakannya, Kesempatan ini digunakan oleh Kiok Goan Hoat untuk mendesaknya

Harus diketahui bahwa dalam perkelahian di waktu lawan menjadi kendor adalah merupakan kesempatan yang baik sekali bagi si penyerang. Kiok Goan Hoat yang terkenal dapat menghancurkan batu dengan tinjunya segera melancarkan serangannya, membuat si orang tua terus menerus terdesak mundur Di pihak lain, keempat iblis itu makin lama makin unggul, dan sudah tiga kali Si Tian Houw nyaris terpukul Sam Sou Lo Shi dan Pek Yun Hui juga sudah berkali-kali ingin membantu, tetapi mereka membatalkan maksudnya karena keadaan tak mengizinkan.

Sejenak kemudian, Si Tian Houw agaknya sudah tak dapat bertahan lagi, Sam Sou Lo Shi berkata kepada Pek Yun Hui, "Jika dia terbunuh di tangan orang lain, aku kira tidak baik bagi kita!"

"Mengapa kau tidak keluar membantu?" Pek Yun Hui balik menanya.

Sebetulnya Sam Sou Lo Shi bermaksud agar Pek Yun Hui yang keluar membantu nya, dan ia akan menggunakan senjata rahasianya membinasakan musuh, justru pada saat itu terlihat Si Tian Houw kena dipukul Jika ia tidak kuat, ia pasti sudah jatuh.

Sam Sou Lo Shi membentak: "Tahan!"

Tapi ke empat iblis itu tidak gubris tegurannya, Mereka terus menyerang Si Tian Houw yang sudah sempoyongan dan berusaha mengegos dan berkelit.

Nampak Pang Siu Wie menjadi gusar sekali, tetapi ia belum juga gunakan pasir beracunnya, karena pasir beracun itu jika dilontarkan ke arah keempat iblis itu juga akan mengenai Si Tian Houw, dan orang yang telah kena pasir beracun itu pasti binasa dalam hanya satu jam. Dalam rencananya membikin pembalasan terhadap Ti Kian Su Seng alias Si Tian Houw itu, ia telah tinggal bersembunyi selama dua puluh tahun, dan selama itu ia telah mengumpulkan rupa- rupa racun dan ditumbuknya menjadi halus seperti pasir, dan juga berhasil membuat anak panah beracun yang dapat membakar mati lawan-nya.

Dengan kedua macam senjata rahasia yang ampuh itu ia baru keluar dari tempat persembunyiannya untuk mencari musuhnya, Si Tian Houw, Tapi Si Tian Houw sudah lima belas tahun mengundurkan diri dari kalangan Bu Lim, ia berkelana ke sebelah utara maupun ke sebelah selatan dari sungai Yanciu untuk mencari Si Tian Houw.

Tiga tahun ia telah membuang waktu untuk mencari musuh besarnya itu, tetapi hampa, pada dewasa itu, partai silat Thian Liong sedang mementang sayapnya, dan nama pemimpinnya Souw Peng Hai sedang termashurnya.

ia menduga bahwa Si Tian Houw yang bermusuhan dengan keepat iblis orang-orangnya Souw Peng Hai tentu ditawan oleh keempat iblis itu, Lalu ia pun pergi ke markas besar partai Thian Liong di sebelah utara dari propinsi Kwiciu untuk menyelidiki Dengan kebetulan ia memperoleh kabar bahwa Souw Peng Hai juga ingin mencari Si Tian Houw yang sedang bersembunyi di puncak Ngo Houw Leng di pegunungan Ngo Bi San dan sedang menjagai dua mustika yaitu BAn Lian Hwe Kwi (Kura sakti) dan Sio Kim Toan Giok Po Kiam (Pedang sakti) yang dapat menebas emas dan batu Giok.

Setelah memperoleh kabar itu, ia berlalu dari propinsi Kwiciu dan menuju ke pegunungan Ngo Bi San, dan betul saja di dekat puncak Ngo Houw Leng ia melihat Ti Kian Su Seng alias Si Tian Houw dan saudara angkatnya Lam Tian It Tiauw (Burung elang dari selatan) alias Ciu Kong Liang telah membangun rumah gubuk di kaki puncak Ngo Houw Leng itu.

Dengan hati-hati ia bersembunyi di tempat gelap untuk mengintai gerak-geraik Ciu KOng Liang dan Si Tian Houw, dan setelah lewat setengah bulan ia mengetahui bahwa kedua orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi, dan oleh karena itu ia harus bertindak lebih hati-hati lagi agar tidak meninggalkan bekas atau menimbulkan kecurigaan musuhnya itu.

Betul ada banyak kesempatan bagi ia menggunakan senjata rahasianya untuk membinasakan Si Tian Houw, akan tetapi ia pun ingin mendapati dua mustika itu.

Pada suatu malam, ketika angin meniup dengan hebatnya dan hujan turun sangat lebatnya, ia berhasil mendatangi rumah gubuk musuhnya tanpa diketahui ia menghampiri jendela kamar tidur musuhnya, Ciu Kong Liang dan Si Tian Houw tidak menduga kalau ada orang diluar kamarnya sedang mengintai-intai mereka.

Terdengar Si Tian Houw tertawa dan berkata kepada Ciu Kong Liang: "Ha! Ha! Ha! Kita berdua tinggal berdiam di kaki puncak Ngo Houw Leng sudah lima belas tahun |amanya. "

Ciu Kong Liang memotong perkataannya Si Tian Houw: "Meskipun kita harus menunggu sampai dua puluh tahun, bagiku tidak menjadi soal, asal kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi (Kura sakti) itu. Ya, aku tidak menyesal menunggu lama jika kura sakti itu tertangkap oleh kita. "

"Menurut penyelidikanku selama sepuluh tahun lebih ini, apa yang digambarkan dalam peta tidak keliru, dan dengan menuruti petunjuk-petunjuk di atas peta itu, kita mungkin akan dapat menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu, Aku hanya khawatir kabar ini tersiar di kalangan Kang-ouw!" kata Si Tian Houw,

"Tapi." menanya Ciu Kong Liang. "Apakah betul Ban Lian Hwe Kwi itu sakti?"

Ti Kian Su Seng tertawa gelak-gelak: "Harap Toako jangan khawatir Bila kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe kwi itu, tidak sampai sepuluh tahun, kita segera dapat menjagoi di kalangan Kang-ouw, mungkin juga di kolong langit!" Sampai di sini, suaranya menjadi rendah, Pang Siu Wie yang berdiri di luar, karena gaduhnya hembusan angin dan jatuhnya air hujan, serta gemuruhnya guntur, sukar menangkap perkataan selanjutnya ia mendekati lagi, dan berhasil mendengar Ti Kian Su Seng yang berkata: ". dulu, karena aku gemas, aku telah

merusak mukanya Pang Siu Wie, dan perbuatan aku yang sembrono itu, aku tak bisa lupakan, dan aku sangat menyesal Jika kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu, aku yakin aku dapat memulihkan mukanya menjadi cantik pula seperti sediakala, Tapi apakah Pang Siu Wie itu masih hidup. Ai!" ia

mengakhiri ucapannya dengan menarik napas panjang sekali. Pang Siu Wie tak terasa mengucurkan air matanya, dan ia berpikir "O! Dia masih ingat kepadaku. "

ia menyeka air matanya, dan ia berseru seorang diri: "Pang Siu Wie! Pang Siu Wie! Kau telah bersembunyi di pegunungan ini, dan telah menderita selama dua puluh tahun, bukankah karena ingin membalas dendam terhadap Si Tian Houw yang telah merusak kan mukamu?" ia raba mukanya, dan perasaan bencinya timbul lagi bertambah lipat kali,

Seruan itu rupanya membikin kedua musuhnya di dalam kamar menjadi curiga, karena mereka segera bangun dari tempat duduknya, dan berdiri dengan memasang kuping, dan melihat di sekitar kamar

Pang Siu Wie lalu loncat dan bersembunyi di belakang satu batu gunung yang besar Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang segera keluar dan loncat naik ke atas atap rumah gubuknya, Dengan basah kuyup mereka kembali masuk ke dalam kamarnya setelah menyelidiki keadaan di sekitar rumah gubuk itu,

Lalu Pang Siu Wie berlalu dari belakang batu yang besar itu, dan lari ke suatu tempat yang sepuluh lie jauhnya, Pengintaiannya itu telah membawa hasil bagi ia. Meskipun ia belum memperoleh seluruh rahasia dari kedua orang itu, akan tetapi ia telah membuktikan bahwa Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang tinggal berdiam di rumah gubuk itu yang terpencil semata-mata untuk menjagai dua mustika, dan ia lebih-Iebih tertarik akan Ban Lian Hwe Kwi itu yang dapat memulihkan mukanya menjadi cantik kembali Lalu ia bertekad dengan menggunakan Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang mendapatkan Ban Lian Hwe Kwi duIu, dan kemudian membalas dendam terhadap Si Tian Houw.

ia betul-betul memiliki kesabaran Tiga hari ia tidak kembali lagi pada malam keempatnya, setelah lewat tengah malam, ia kembali mendatangi rumah gubuk itu, ia bersembunyi di atas satu cabang pohon cemara, tidak jauh dari rumah gubuk itu. ia pun telah membawa air dan makanan, karena ia bertekad mengintai gerak-gerik kedua orang itu,

ia segera mengetahui bahwa tiap-tiap malam setelah lewat jam dua, Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang keluar dari rumah gubuk untuk menyelidiki daerah di dekat rumah gubuknya,

Pada hari ke tiga, Ciu Kong Liang pergi dan sudah tiga hari ia tidak kembali

Pada malam ke empat, Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan membawa Bee Kun Bu yang luka parah dan minta menginap di dalam rumah gubuk itu, dan pada malam itu juga Ciu Kong Liang kembali

Kebetulan sekali pada malam itupun Souw Peng Hai membawa Kiok Goan Hoat dan empat iblis ke kaki puncak Ngo Houw Leng sehingga pertempuran yang dahsyat sukar dielakkan,

Demikianlah, meskipun Pang Siu Wie sangat benci Ti Kian Su Seng, tetapi dalam keadaan yang mendesak ia terpaksa membantu, karena jika Ti Kian Su Seng binasa di dalam tangannya keempat iblis itu, maka harapan untuk ia memperoleh mustika Ban Lian Hwe Kwi itu pun akan musnah, Orang-orangnya partai silat Thian Liong lebih banyak dan lebih pandai Ditawan nya atau di!ukai-nya Si Tian Houw akan merugikan juga padanya, Dengan pertimbangan itu, ia terpaksa membantu

Keempat iblis itu tidak gubris tegurannya Pang Siu Wie tidak menggunakan pasir beracunnya karena khawatir mengenai Si Tian Houw, ia menghadapi Souw Peng Hai dan berkata dengan suara mengancam: "Jika kau tidak perintahkan orang-orangmu berhenti bertempur, kau harus merasai pasir dan anak panah beracunku!"

Souw Peng Hai melihat kantong dari kulit di pinggangnya Pang Siu Wie, ia menduganya pada pasir be-racun, tetapi dengan keyakinan bahwa ia memiliki ilmu silat yang tinggi ia tak gentar dengan gertakan wanita jelek itu, ia hanya memandang wanita jelek itu dengan sikap menantang.

Pang Siu Wie tidak dapat menahan kesabarannya lagi, Dengan tangan kirinya ia lepas anak panah be-racunnya,

Baru saja Souw Peng Hai mengangkat toya besinya yang ujungnya berbentuk seekor naga untuk menang-kisnya, tiba- tiba ia insyaf bahwa senjata rahasia tersebut mengeluarkan sinar hijau di tempat yang gelap, ia terkejut, dan ia tidak menangkis senjata itu dengan toya besinya, tetapi ia mengegos, dan anak panah beracun itu terbang melewati tubuhnya dan terus terbang ke rumah gubuk, Setelah terdengar suara benda beradu, maka cahaya hijau segera menyala berkobar-kobar membakar rumah gubuk itu sehingga suasana di sekitar tempat itu menjadi terang benderang!

Dengan kepala mata sendiri Souw Peng Hai menyaksikan keampuhan senjata rahasianya Pang Siu Wie, ia berpikir: "Untung aku tidak menangkis serangan senjata rahasia itu dengan toya besiku! Wanita yang memiliki senjata rahasia yang sangat berbahaya itu jika masih hidup di dunia akan menerbitkan banyak bahaya dan membinasakan banyak korban!" ia kerahkan tenaga dalamnya siap sedia memukul mati wanita itu dengan satu serangan

Setelah melepaskan anak panah beracun nya, Pang Siu Wie mengacungkan kantong pasir nya dan mengancam: "Hei! Apakah masih ingin merasai pasirku ini?"

Souw Peng Hai tidak berani menyerang karena melihat wanita jelek siap sedia menyebar pasir beracunnya. ia yakin bahwa pukulannya pasti membinasakan wanita jelek itu, dan juga membikin kantong pasir beracun itu terbang berhamburan empat iblis dan jago-jago silat lain-lainnya,

justru pada saat Souw Peng Hai masih ragu-ragu, Si Tian Houw kena dijotos. Meski Si Tian Houw tidak terjotos jatuh, akan tetapi ia sudah sempoyongan Pek Yun Hui melihat bahwa jika Si Tian Houw kena terpukul lagi tentu akan terpukul mati, pikirnya jika orang- orangnya partai Thian Liong menang, maka keadaan akan merugikan ia yang masih perlu dengan Si Tian Houw untuk mencari Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Maka setelah ia bersikap ragu-ragu, akhirnya ia membentak: "Hei! Empat iblis menang melawan satu orang, Kemenangan itu tidak dapat dihitung jempol!" Bentakannya itu ia sertai dengan satu loncatan untuk mendesak mundur keempat iblis yang sedang menghajar Ti Kian Su Seng.

Pek Yun Hui telah memperhatikan cara pertempuran "Siasat empat penjagaan dari keempat iblis itu ketika melawan Si Tian Houw, Maka ketika ia loncat maju, belum lagi kedua kakinya menginjak tanah, kedua tinjunya sudah dilancarkan berbareng: tinju kiri menarik dan tinju kanan menyodok Secepat kilat ia meloncat ke atas satu depa lebih tingginya sehingga keempat iblis itu menangkis atau menyerang angin! Bahkan dua antaranya telah tertarik dan saling beradu. Dari atas Pek Yun Hui menendang iblis satunya lagi dengan kaki kanannya, dan tinju kirinya menotok kepalanya iblis ke empat sebelumnya ia tiba lagi di atas tanah.

"Aduh! Aduh!" terdengar suara jeritan dari dua iblis yang kena tendangan dan totokan, Dan dengan demikian cara "Siasat empat penjagaan11 yang ampuh terhadap lawan- lawan lain telah dibuat permainan oleh Pek Yun Hui.

sebetulnya "Siasat empat penjagaan dari keempat iblis itu dilakukan dengan berbareng di waktu menyerang atau menangkis, Tetapi karena dua dari mereka telah dibikin saling bertubrukan maka punahlah siasat yang ampuh itu, dan dalam keadaan mereka yang bingung, Pek Yun Hui berhasil menendang satu dan menotok satu lagi.

Pek Yun Hui tidak membantu lagi, ia loncat dan berdiri di sampingnya Pang Siu Wie. Souw Peng Hai yang bermaksud membunuh mati Pang Siu Wie, setelah melihat Pek Yun Hui berdiri di sampingnya, Dan setelah melihat cara Pek Yun Hui membikin keempat iblis kucar-kacir dan babak belur, juga membatalkan lagi maksudnya,

iblis yang kena tendangan bernama Tan Ing, yang kena totokan bernama Bee Kie, dan yang beradu untuk kemudian dijotos dadanya oleh Si Tian Houw bernama Tio Kin dan yang kena dipukul bernama Ciu Pang, Demikianlah keempat iblis itu telah terluka, dan mereka masih kesakitan atau pusing kepalanya

Dengan satu bentakan Souw Peng Hai memanggil. "Kembali ke sini!" dan Tan Ing, Bee Kie, Tio Kin dan Ciu

Pang segera menghampiri Souw Peng Hai yang keras itu bukan saja telah menghentikan pertempuran empat iblis berhadapan Si Tian Houw, bahkan Kiok Goan Hoat yang sedang bertempur melawan Ciu Kong Liang ikut berhenti juga, dan loncat kembali untuk berdiri di sampingnya Souw Peng Hai. Kiok Goan Hoat menanya dengan hormati "Piauw Tou ada perintah apakah?"

Souw Peng Hai tidak menjawab, ia mengawasi Pek Yun Hui, lalu menanya dengan hormati "Dengan dua jurus kau telah membikin orang-orangku kucar-kacir, Aku mohon tanya, kau murid dari partai silat apakah? dan siapakah namanya Siocia?"

Pek Yun Hui mengerutkan kening, ia berpikir "Mes-kipun aku meyamar sebagai seorang pria, tetapi ia dapat mengenali aku sebetulnya seorang wanita, ilmu silatnya betul-betul tinggi!" Dengan tak terasa ia menunduk dan memeriksa pakaiannya sendiri

Souw Peng Hai tertawa dan berkata lagi: "Ha! Ha!

Meskipun usiaku sudah lanjut, tetapi mataku masih tajam, Gerak-gerik Siocia telah membuktikan kepadaku bahwa siocia bukannya seorang laki-laki!" Dengan suara mengejek Pek Yun Hui berkata: "Kau tak perlu tahu aku berpakaian sebagai seorang laki-laki, karena ini adalah urusanku sendiri!"

Souw Peng Hai tersenyum dan berkata: "Ya, kau suka berpakaian secar laki-laki. Sifat demikian sangat lazim di kalangan Bu Lim. Aku tidak menyela!"

Pek Yun Hui memaki di dalam hatinya: "Kau tua bangka ini sangat usilan, Sayang, aku harus bersabar sebelum aku mengetahui tentang keselamatannya Bee Kun Bu dan Li Ceng Loan." ia hanya berdiri mengawasi Souw Peng Hai dengan hati mendongkol.

Di tempat mereka berada sekarang keadaannya menjadi sunyi, akan tetapi suara rumah gubuk terbakar dan cahaya yang terang benderang dari kebakaran itu sangat mencemaskan Si Tian Houw dan Ciu Kong Liang, Maka sejenak kemudian Si Tian Houw berseru, dan lari masuk ke rumah gubuk Kiok Goan Hoat coba menahan, tetapi pengayuh besi dari Ciu Kong Liang mencegah perbuatan nya.

Si Tian Houw mendobrak pintu kamarnya, dan ia terperanjat ketika melihat gambar burung bangau yang digantung di tembok kamar itu sudah lenyap!

Kagetnya itu sukar dilukiskan dengan perkataan Selama lima belas tahun ia menjagal gambar burung bangau yang sebetulnya peta untuk mencari mustika. Kini peta itu lenyap tak berbekas! ia jotos tembok itu, lalu menerjang keluar dari kamar yang hampir terbakar sambil menjerit ia lari dan menerkam Souw Peng Hai dengan jurus Pai San In Ciong atau Tinju yang dapat mendorong lautan, Kedua tinjunya menyodok dadanya Souw Peng HaL

"Hei! Apakah kau hendak mencari mati?" tegur Souw Peng Hai sambil menyambut sodokan kedua tinju itu dengan tangan kirinya, Cara ia sambut sodokan kedua tinju itu seolah-olah tanpa mengeluarkan tenaga, akan tetapi sebetulnya tangkisan itu ia lakukan dengan jurus Hoat In Kian Gwat atau Menghalaukan awan melihat bu!an. Si Tian Houw tidak keburu menarik kembali sodokannya, ia segera merasa bahwa sodokan nya di tangkis dengan tenaga Lui Ka Kong Lek atau tenaga Dalam MujijaL ia berusaha mengegos sekuat tenaga, karena ia yakin jika ia teruskan ia pasti binasa!

-ooo0ooo-

Karena enggan membalas menjadi kawan

Harus diketahui bahwa tenaga dalam Lui Ka Kong Lek dari Souw Peng Hai itu bukan main dahsyatnya, Ti Kian Su Seng pasti tidak dapat menahan, maka ia berusaha sekuat tenaga mengegos, Tetapi ia sudah kehabisan tenaga, Semua orang menyaksikan bahwa Si Tian Houw akan segera binasa oleh tenaga dalam Lui Ka Kong Leknya Souw Peng Hai ketika sekonyong-konyong Souw Peng Hai berjengit, karena ia pun merasakan suatu hembusan angin merintangi tenaga dalamnya yang ia sedang kerahkan itu, Souw Peng Hai terkejut!

Ia tak dapat menarik kembali Lui Ka Kong Leknya, ia merasa tubuhnya terbetot, dan ia membentur Kiok Goan Hoat, Demikianlah Si Tian Houw nyaris binasa dari Lui Ka Kong Leknya Souw Peng Hai, ia hanya menyelonong sampai tujuh- delapan kaki melewati Souw Peng Hai. ia menyaksikan Pek Yun Hui yang menggunakan tenaga dalamnya membetot Souw Peng Hai untuk menolong kepadanya, Pada saat itu ia merasa malu terhadap Pek Yun Hui.

sebetulnya Souw Peng Hai telah terbetot oleh ilmu To Im Kiat Yo (Menarik Tenaga Dalam Lawan untuk Mendorong) dari Pek Yun Hui, dan ia terkejut bereampur kagum. ia mengawasi Pek Yun Hui, dan menduga Pek Yun Huilah yang melancarkan ilmu To Im Kiat Yo itu.

Pada saat itu sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang panjang dari rumah gubuk yang sedang terbakar itu, Setelah mendengar siulan tersebut, Souw Peng Hai mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada Pek Yun Hui sambil berkata: "Ilmu silat Siocia betul-betul luar biasa, sebetulnya aku si tua bangka ini ingin menguji ilmu silat Siocia akan tetapi karena urusan yang penting mendesak padaku sekarang ini. aku mohon untuk menunda ujian itu sampai kelak kita berjumpa lagi!" Lalu dengan satu loncatan ia menuju ke rumah gubuk, diikuti oleh Kiok Goan Hoat dan empat iblis,

Ti Kian Su Seng ingin mengejar akan tetapi ia yakin ia tak dapat menggempur lawan-lawannya, bahkan mungkin terbunuh jika ia tempur dengan mereka. Dalam keadaan yang gelisah itu ia menghadapi dan mengawasi Pek Yun Hui

seolah-olah minta petunjuknya. ia yakin, jika Pek Yun Hui tidak membantu, tidak satu dari mereka dapat melawan Souw Peng Hai. Tetapi ia malu mengutarakan keinginannya terhadap Pek Yun Hui.

Api yang membakar rumah gubuk telah makin berkobar- kobar, akan tetapi tidak satu dari mereka berusaha memadamkan api itu.

Pek Yun Hui membentak: "Si Tian Houw! Di manakah kau sembunyikan Suheng dan Sumoiku?"

"Suhengmu terluka parah, aku kuatir tak dapat ditolong..." jawab Si Tian Houw dengan terharu.

Pek Yun Hui membentak lagi: "Itu bukan urusanmu! Aku hanya menanya mereka kini berada di mana?"

"Harap Siocia jangan gelisah, Mereka berada di tempat yang aman," jawab Si Tian Houw.

"Jika mereka mendapat celaka, kau hari ini juga menjadi mayat!" Pek Yun Hui mengancam.

Dengan tenang Ti Kian Su Seng berkata: "Aku dapat mengajak kau sekarang menengok mereka." Lalu ia pun berjalan, diikuti oleh Ciu Kong Liang dan Pang Siu Wie. Mereka berjalan melalui rumah gubuk yang belum juga habis terbakar, kemudian melalui pagar bambu untuk turun ke suatu lembah. Setelah mereka membelok di suatu sisi gunung, mereka harus berjalan di jalan yang sempit dan ber!iku-liku. Si Tian Houw berhenti sejenak dan sambil menghadapi Pek Yun Hui ia berkata: "Di ujung jalan yang sempit ini ada satu goa batu, Suheng dan Sumoimu berada di dalam goa batu itu."

"Apakah kau yang membawa mereka ke dalam goa batu itu?" tanya pula Pek Yun Hui.

Si Tian Houw memberikan penjelasan: "Setelah saudara angkatku Ciu Kong Liang kembali, ia memberitahukan aku bahwa malam ini mungkin akan terjadi pertempuran suhengmu menderita luka parah, dia tak boleh terkejut atau kaget. Demi keselamatannya, aku membawa dia ke dalam goa batu. "

Pek Yun Hui tidak sabar lagi, ia memotong pembicaraan itu, dan setelah mengawasi wajahnya Ciu Kong Liang ia mendesak: "Sudah, nanti baru bicara lagi. sekarang lekas- lekas bawa aku melihat mereka!"

Si Tian Houw yang sudah mengenal kepandaian dan kelihayannya Pek Yun Hui, tidak berani berlagak-lagak lagi, ia berpikir: "Dia rupanya sangat mendongkol terhadap aku. ilmu silatnya tinggi sekali, aku dan Toakoku tak dapat menandinginya. Aku kuatir setelah dia melihat Suheng dan Sumoinya, dia akan lebih gusar lagi terhadap aku. Ai.."

Sambil menundukkan kepala ia melanjutkan perjalanannya dan berusaha mencari daya menghindari amarahnya Pek Yun Hui.

Ciu Kong Liang dan Pang Siu Wie mempunyai pikiran yang berlainan Mereka pun sangat waspada, dan siap menjaga diri bila Pek Yun Hui mengamuk,

Tidak lama kemudian mereka tiba di mulut goa batu yang dimaksud, Mulut goa batu itu tertutup oleh satu batu gunung yang besar Si Tian Houw berkata kepada Pek Yun Hui: "Suheng dan Sumoi berada di balik batu gunung yang besar ini. Goa batu yang terpencil dan tersembunyi itu betul-betul merupakan satu tempat berlindung yang aman, hanya suasana di dalam goa itu sangat gelap, Dengan mendorong batu gunung yang besar itu Si Tian Houw terus jalan masuk ke dalam, diikuti oleh Pek Yun Hui. 

Jantungnya Pek Yun Hui memukul keras, ia membayangkan bahwa ia segera akan menyaksikan apakah suhengnya masih hidup atau mati. ia berhenti sejenak, dan

Ciu Kong Liang dan Pang Siu Wie yang mengikuti di belakang juga berhenti

Tiba-tiba terdengar suara tertawanya Si Tian Houw yang memanggil "Siocia! Sucimu datang menengoki kau. "

Pek Yun Hui mengertak gigi, lalu ia loncat masuk ke dalam, Di dalam itu ia dapatkan satu kamar kecil yang rupanya sengaja dibikin dengan memahati batu goa itu. Di atas batu tempat tidur yang dibuat dari kayu pohon cemara tampak rebah terlentang Bee Kun Bu. Di pinggir tempat tidur ada satu meja bundar yang dibuat dari batu gunung, dan di atas meja itu ada satu lampu kecil, Lie Ceng Loan sedang duduk di atas satu batu yang merupakan bangku sedang menunggui atau menjagai Bu Kokonya.

Pek Yun Hui menghampiri Lie Ceng Loan dan memegang pundaknya: "Loan Moi, kau menderita. " ia menanya dengan

ramah, tetapi kedua matanya mengawasi Ti Kian Su Seng.

Ti Kian Su Seng mengerti bahwa jika Lie Ceng Loan mengatakan bahwa ia telah menderita, maka Pek Yun Hui pasti akan menghajar padanya, Maka ia mundur beberapa tindak dan berdiri dengan waspada.

Lie Ceng Loan geleng-geleng kepalanya, ia mengawasi Si Tian Houw sejenak, lalu jawabnya: "Setelah Cici keluar, dia segera masuk ke dalam kamar dan bicara kepadaku, Ketika aku lengah, tiba-tiba ia menotok jalan darahku. " Pek Yun Hui menyengir Tiba-tiba tangan kirinya mencekal pergelangan tangan kanannya Si Tian Houw, Tapi Si Tian Houw telah siap sedia, ia berkelit diri, dan setelah membungkukkan tubuhnya, secepat kilat ia mencekal lehernya Bee Kun Bu yang rebah terlentang di atas tempat tidur, Betul-betul Si Tian Houw dapat mengelit dan mencekal lehernya Bee Kun Bu, tetapi Pek Yun Hui telah berhasil memijat jalan darahnya di pergelangan tangan kanannya, Dalam keadaan yang terdesak itu Si Tian Houw berhasil mencekal bajunya Bee Kun Bu dan dengan sekuat tenaga mendudukkan Bee Kun Bu di atas tempat tidur

Bee Kun Bu yang menderita luka parah tak dapat melawan, Maka dengan tangan kirinya mencekal bajunya Bee Kun Bu dan tangan kanannya dicekal oleh Pek Yun Hui, Si Tian Houw mengancam: "Jika kau melukai atau membunuh aku, Bee Kun Bu mati sekarang juga!"

Pek Yun Hui membentak: "Lekas lepaskan cekalan-mu!

Dia sudah luka parah sekali! Dia tak dapat menahan goncangan lagi! Ayo, lepas! jangan berbuat keji terhadap orang yang hampir mau mati!" ia membentak sambil melepaskan pijatannya di pergelangan tangan kanan lawan nya.

Sambil tertawa Si Tian Houw berkata: "Ha! Ha! Di kalangan Kang-ouw tidak ada yang jago!" Lalu ia angkat tinjunya di atas dadanya Bee Kun Bu seolah-olah ia ingin memukul mati Bee Kun Bu.

Dengan terkejut Pek Yun Hui berseru: "Hei! Apa yang kau hendak lakukan?"

"Ha! Ha! Ha! jika kau masih berani melukai aku, dengan tinju ini aku kirim Bee Kun Bu ke akherat!" mengancam Ti Kian Su Seng.

Pek Yun Hui terpaksa mundur tiga langkah demi keselamatannya Bee Kun Bu. Lie Ceng Loan yang telah menyaksikan kejadian itu, perlahan-lahan jalan menghampiri Si Tian Houw, katanya: "Jika kau berani memukul mati Bu Koko, Pek Cici pasti tak dapat memberi ampun lagi!"

"Jika kau ingin aku lepas Suhengmu, kau harus setuju melaksanakan permintaanku," kata Si Tian Houw,

Dengan mata berlinang Lie Ceng Loan berpaling kepada Pek Yun Hui dan menanya: "Pek Cici, apakah aku yang turuti kehendaknya?"

Dengan kedua mata melotot Pek Yun Hui menanya, suaranya keras: "Permintaan apakah? Sebutlah, agar aku dapat mempertimbangkan."

Si Tian Houw tidak berani mengawasi sepasang mata yang sangat tajam itu. ia melengos dan mengumpulkan semangatnya, Lama ia tidak menjawab, Tiba-tiba terdengar suara orang berkata: "Hengtee, hati manusia sukar dijejaki, Kau jangan tertipu!"

Pek Yun Hui menoleh ke arah suara itu, dan melihat Ciu Kong Liang dan Sam Sou Lo Shi berdiri di luar kamar di dalam goa itu, Lalu Ti Kian Su Seng tertawa gelak-gelak dan berkata: "Souw Peng Hai, pemimpin partai silat Thian Liong yang terkenal, telah merampok dan membawa pergi peta tentang tempatnya Ban Lian Hwe Kwi (Kura Sakti)

Dia tidak akan merasa puas jika dia tidak memperoleh kura sakti itu, Tetapi dia hanya mengetahui cara merampok peta yang berharga itu, dia tak akan dapat membaca peta itu, Dia pasti akan datang kembali untuk mencari kura sakti itu. Aku dan saudara angkatku tentu tak dapat melawan dia dan orang- orangnya, Oleh karena itu aku. "

"Kau menghendaki aku membantu kalian merintangi Souw Peng Hai dan orang-orangnya mencari Ban Lian Hwe Kwi?" Pek Yun Hui memotong,

Si Tian Houw mengawasi Pek Yun Hui, lalu berkata: "Suhengmu telah menderita luka parah, dan aku yakin hanya Ban Lian Hwe Kwi yang dapat menyembuhkan dia. Ya, di dalam dunia ini hanya Ban Lian Hwe Kwi yang dapat menyembuhkan Suhengmu. "

"Tetapi suhengku sudah payah sekali, dia tak dapat menahan sakit terlampau Iama.  " kata Pek Yun Hui, yang

sudah mulai ketarik mendengar bahwa Ban Lian Hwe Kwi itu dapat menyembuhkan Bee Kun Bu.

Sambil tersenyum Ti Kian Su Seng berkata: Tada waktu permulaan musim bunga ini, kura sakti itu akan keluar dari tempat berlindungnya setelah dia tidur nyenyak selama musim dingin, Di dalam beberapa hari ini kura sakti itu akan keluar Cuma aku tak mengetahui hari apa ia akan keluar Jika Suhengmu dapat bertahan setengah bulan lagi, aku yakin dia. "

Pek Yun Hui geleng-geleng kepalanya dan berkata: "Suhengku tak dapat bertahan sampai setengah bulan, Dia hanya dapat bertahan pali'ng lama sepuluh hari. "

Tetapi dalam jangka waktu sepuluh hari, kita mempunyai harapan akan berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu. "

kata Ti Kian Su Seng, "Dan Sumoymu harus turut perintahku selama sepuluh hari itu?"

"Apa?" menanya Pek Yun Hui.

"Sumoymu harus mentaati perintahku di dalam jangka waktu sepuluh hari, dia tak boleh berbuat sesukanya." Si Tian Houw menegaskan.

Dengan hasrat menolong jiwanya Bee Kun Bu. Pek Yun Hui terpaksa menjawab: "Baik! Lekas lepaskan Suhengku!"

Tapi jika aku lepas, kau dapat juga melupakan janji, dan membunuh aku " kata Si Tian Houw dengan perasaan curiga.

"Hm!" kata Pek Yun Hui. "Perkataan atau janjiku pasti dipenuhkan. Kau jangan khawatir, dan jangan anggap orang

!ain seperti kau sendiri!"

Setelah mendapat kepastian itu, barulah Si Tian Houw lepaskan cengkeramannya pada bajunya Bee Kun Bu, dan sambil tersenyum ia pun turun dari tempat tidur itu, Pek Yun Hui segera menghampiri Bee Kun Bu. sebetulnya ia ingin memeluknya, akan tetapi di hadapan banyak orang, terutama di hadapannya Lie Ceng Loan, ia merasa canggung jika ia berbuat demikian Hanya tampak mukanya menjadi merah. ia memandang lagi Si Tian Houw yang rupanya masih merasa curiga terhadap ia.

"Apakah kau masih merasa curiga terhadap janjiku?" tanyanya kepada Si Tian Houw.

Ti Kian Su Seng mengangguk dan menjawab: "Aku minta kau bersumpah, aku baru mau pereayai

Pek Yun Hui terpaksa bersumpah bahwa di dalam jangka waktu sepuluh hari ia harus mendengar perintah

Lalu sambil tersenyum Si Tian Houw berkata: "Suhengmu betul-betul sukar dibikin sembuh oleh obat biasa, Jika kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi, suhengmu tentu terto1ong. Tadi aku telah mengatakan bahwa aku akan memberi hadiah, aku akan memenuhi janji itu. "

"Aku tidak menghiraukan hadiah itu, Aku telah berjanji mendengar perintahmu dalam jangka waktu sepuluh hari dan janji itu adalah membantu kau menolak musuh, Tentang mencari mustika, aku tidak akan turut campur," kata Pek Yun Hui, lalu ia menghampiri tempat tidur

"Betul!"kata Ti Kian Su Seng, "Urusan mencari mustika, kami tak akan minta bantuan Siocia. silahkan kalian duduk, dan aku segera datang kembali dengan santapan dan arak yang harum." Lalu ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan keluar dari kamar goa itu. Ketika ia melihat Sam Sou Lo Shi ia berkata: "Ban Lian Hwe Kwi itu bukan saja dapat menyembuhkan rupa-rupa penyakit, tetapi juga dapat memulihkan muka Pang Siocia."

"Kau jangan khawatir Di dalam sepuluh hari aku tak akan berbuat sesuatu terhadap kau. Tetapi setelah lewat sepuluh hari, urusannya akan lain lagi!" jawab Pang Siu Wie. "Ha! Ha! Ha!" Si Tian Houw tertawa, "Mungkin tidak sampai sepuluh hari. Bila kita berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi, mukamu yang cantik jelita tentu pulih kembaIi. "

"Hm." Geram Pang Siu Wie, "Aku akan menuntut bukti, SeteIah Ban Lian Hwe Kwi itu kau tangkap, kita baru membikin perhitungan!"

Si Tian Houw tidak hendak berbantahan lagi, ber-sama- sama Ciu Kong Liang ia berlalu dari goa batu itu. Pang Siu Wie menunggu di luar goa dengan sabar

Pek Yun Hui menegur "Hei! Mengapa kau masih juga belum berlalu dari sini? Apa maksudmu tetap berdiri di luar?"

Si wanita jelek itu menghela napas, lalu menjawab-nya: Ti Kian Su Seng itu seorang yang pintar busuk. Aku khawatir dia menipu kau lagi!"

Pek Yun Hui menjadi sedikit khawatir dan ia menanya: "jebakan apa lagi yang dia akan pasang?"

Pang Siu Wie bertindak masuk, ia meneliti keadaan di sekitar goa itu, lalu ia berkata, "Santapan dan arak yang ia sediakan, lebih baik kita jangan makan dan minum." Tetapi kita sangat lapar " kata Lie Ceng Loan, "Jangan khawatir

mati kelaparan Di daerah ini masih banyak tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang dapat dimakan," kata Pang Siu Wie.

sebetulnya Pek Yun Hui tidak menghendaki Pang Siu Wie berada di dalam kamar goa itu, Tetapi mengingat keadaannya Bee Kun Bu yang perlu ditolong dengan membebaskan delapan urat-urat syarafnya yang penting, ia batalkan maksudnya mengusir Pang Siu Wie.

Tiap-tiap kali membebaskan urat-urat syaratnya Bee Kun Bu, Pek Yun Hui harus menggunakan tenaga dalamnya, dan setelah itu ia harus beristirahat selama tiga jam untuk memulihkan tenaga nya. Lie Ceng Loan masih hijau dan tak dapat melawan mereka, Meskipun Sam Sou Lo Shi belum kelihatan watak sejatinya, tetapi dia adalah seorang wanita, dan dalam keadaan yang mendesak itu, Pek Yun Hui pikir lebih baik berkonco dengan dia untuk menghadapi Ti Kian Su Seng yang banyak tipu muslihalnya!

Maka ia berkata kepada Pang Siu Wie: "Apa yang kau telah beritahukan kepadaku ketika kita berada di atas pohon cemara semuanya betuL Si Tian Houw adalah seorang yang sopan luarnya tetapi kejam hatinya!"

"Hm!" jawab Sam Sou Lo Shi, "Dan tipu muslihatnya banyak, Jika dia tak memerlukan bantuanmu untuk melawan musuhnya, mungkin kalian sudah ada yang binasa!"

"Jika aku tidak memikir keselamatan Suhengmu, dia sudah menjadi mayat!" kata Pek Yun Hui kepada Lie Ceng Loan sambil menjotoskan tinjunya keluar dengan gemasnya.

Pang Siu Wie tersenyum, dan meneruskan: "He! He! He!

Tetapi akhirnya Si Tian Houw yang menang juga. Dengan ilmu silatmu yang tinggi, kau masih dapat dikendalikan olehnya, dan kau harus taati perintahnya selama sepuluh hari Siocia, banyak hal dapat terjadi di dalam jangka waktu sepuluh hari yang akan datang, Dalam ilmu silat, aku mengakui aku kalah, tetapi tentang pengalaman, aku yakin aku lebih unggul daripadamu

Tentang ini aku dapat buktikan dengan cara kau menghadapi Ti Kian Su Seng, Tetapi jika kau pereaya, aku. "

ia berhenti sejenak untuk memperhatikan sikapnya Pek Yun Hui, lalu meneruskan: "Sekarang kita harus membuang perasaan bermusuhan antara kita, dan kita harus berserikat menghadapi dia dan saudara angkatnya!"

Pek Yun Hui tersenyum dan menanyai "Apa yang kau curigai? Kita orang perempuan selalu kalah cerdik daripada Iaki-laki. "

"Kita dapat atur cara begini," Pang Siu Wie men jelaskan, "Sebelumnya Ban Lian Hwe Kwi itu tertangkap, mereka tentu akan mentaati janjinya, Tetapi setelah mereka memperoleh kura sakti itu, aku khawatir mereka akan melupakan janji-janji atau sumpah-sumpahnya..." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan "SudahIah. Aku hendak pergi mencari makanan untuk kalian." Lalu ia loncat keluar dari goa itu entah kemana,

Setelah Pek Yun Hui melihat Pang Siu Wie loncat keluar dari goa, ia ingin membebaskan urat-urat syaratnya Bee Kun Bu, tetapi ia ingat akan bangaunya yang sudah lama ia tidak lihat, ia berkata kepada Lie Ceng Loan "Loan Moi, kau jagai Bu Koko, aku pergi mencari bangau ku."

Lalu ia jalan keluar dari goa itu. Sambil berdiri di mulut goa ia bersiul, dan siulan yang nyaring itu terdengar jelas di malam yang sunyi senyap itu. Tetapi setelah ia menunggu sekian lama, tidak juga ia mendengar atau melihat bangau nya.

ia menjadi cemas, Dengan ilmu Leng Kong Hi To atau Melayang di angkasa ia meloncat ke atas bukit yang tinggi, Di atas bukit itu ia bersiul lagi, dengan terbawa angin siulan itu dapat terdengar sepuluh lie jauhnya, Tetapi bangaunya masih juga tidak menampakkan diri Hal yang demikian belum pernah terjadi maka ia menjadi khawatir sekali

Bangau sakti itu sangat tajam pendengarannya dan penglihatannya, Bila mendengar siulannya Pek Yun Hui, dia segera terbang menghampiri Pek Yun Hui menjadi sedih, dan air matanya mengucur....

ia terkejut ketika mendengar suara tindakan kaki di belakangnya, ia seka air matanya dan menoleh ke belakang ia melihat Sam Sou Lo Shi sedang memanggut seekor anak menjangan tengah mendatangi

Pek Yun Hui berlagak gembira, akan tetapi Sam Sou Lo Shi tak dapat diabui ia menarik napas panjang dan berkata: "Meskipun suhengmu menderita luka berat, akan tetapi dia masih dapat ditolong. Ti Kian Su Seng meskipun jahat, akan tetapi dia terpelajar Jika dia katakan bahwa Ban Lian Hwe Kwi dapat menyembuhkan Suhengmu, dia mengetahui itu dengan penuh keyakinan Kini kau harus menjaga diri untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan datang."

Mendengar nasihat yang luhur itu, Pek Yun Hui berpikir: "Nasihat perempuan ini harus aku perhatikan. Bee Kun Bu sedang menderita, Lie Ceng Loan masih hijau, Nasib mereka di dalam tanganku, Aku harus ber-besar hati dan berusaha menolong mereka, dan aku harus waspada." Meskipun bangaunya tidak kembali ia memaksakan diri melupakan hal itu.

"Jika Ban Lian Hwe Kwi betul-betul mujijat, aku juga tentu membantu kau memulihkan wajahmu seperti sediakala!" jawabnya.

Seperti orang yang sedang mengenangkan peristiwa yang lampau, Pang Siu Wie berkata: "Selama 20 tahun aku telah biasa membawa muka yang jelek ini, Meskipun aku gagal memulihkan wajahku seperti dulu, aku tidak pikiri lagi, Hanya aku harus membalas dendamku terhadap orang yang merusaki mukaku ini! Aku hanya harap Siocia membantu aku. Satu lawan satu, aku yakin aku dapat melawan Si Tian Houw, Dengan pasir beracun dan anak panah beracunku, aku lebih unggul daripada dia. Tetapi jika saudara angkatnya Ciu Kong Liang membantu aku tak dapat melawan mereka, permintaanku ialah, jika Ciu Kong Liang membantu dia, kau juga membantu aku."

"Hal yang demikian itu sudah lazim di kalangan Bu Lim, ialah satu lawan satu jika membalas dendam, Hanya di dalam 10 hari ini aku tak dapat membantu kau, karena aku harus menuruti perintahnya."

Pang Siu Wie mengangguk, lalu berkata: "BetuI. Aku

telah bisa menunggu selama 20 tahun, apalagi hanya menunggu 10 hari, Kita lihat saja jalannya urusan ini. Oh ya, Siocia dan Sumoimu mungkin sudah lapar sekali, Aku telah memperoleh menjangan kecil ini, Ayo kita panggang untuk dimakan bersama-sama!" Lalu mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh turun dari atas bukti itu, Setelah Pang Siu Wie mengumpulkan kayu bakar, mereka lalu menunggang menjangan kecil itu dan dimakannya sekenyangk-kenyangnnya,

Tidak lama kemudian Si Tian Houw juga membawa santapan dan arak. Ketika ia melihat Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan telah makan menjangan panggang, ia segera merasa bahwa ia tetap masih dicurigai ia taruh makanan dan arak itu, dan berlalu tanpa bicara,

Seterusnya Ti Kian Su Seng membawa santapan dan arak pada waktu-waktu makan yakni sehari tiga kali. Akan tetapi di dalam tiga hari, tiap-tiap kali ia membawa makanan dan arak, ternyata Pek Yun Hui dan Lie Ceng Loan sudah makan, dan mereka tidak pernah menanya apa-apa kepada nya. Pang Siu Wie yang juga berdiam di dalam kamar goa itu tidak sudi makan atau minum barang-barang yang ia bawa, Namun, ia membawa santapan dan arak sebagaimana layaknya,

Selama tiga hari itu, Pek Yun Hui telah membebaskan urat-urat syaraf nya Bee Kun Bu dua kali, lukanya agak mereda, akan tetapi belum lagi sadarkan diri, Untuk menolong secara demikian, Pek Yun Hui telah menghamburkan banyak tenaga dan menjadi agak kurusan,

Pada hari ke empat, ketika Pek Yun Hui sedang membebaskan urat-urat syaratnya Bee Kun Bu, tiba-tiba Si Tian Houw masuk ke dalam kamar goa. ia telah perhatikan wajah yang pucat dari Pek Yun Hui. tetapi ia tidak menanya,

Sam Sou Lo Shi yang telah tinggal bersama-sama di dalam kamar goa itu selama empat hari telah menjadi kawan karibnya kedua gadis itu, Sam Sou Lo Shi menegur ketika Si Tian Houw masuk sekonyong-konyong: "Hai! Maksud apakah kau datang masuk ke sini?" Si Tian Houw menyengir dan menjawab: "Semalam aku telah menjumpai jejaknya Ban Lian Hwe Kwi. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk memberitahukan."

Pek Yun Hui berhenti memijat urat-urat syarafnya Bee Kun Bu, ia bangun dan menegur Si Tian Houw, "Jikakau sudah melihat jejaknya, mengapa kau tidak berusaha menangkapnya?"

"Bukan saja orang-orang nya partai silat Thian Liong, tetapi juga, menurut penyelidikanku di dalam beberapa hari ini, aku telah lihat para jago-jago silat dari kesembilan partai silat yang tersohor pada dewasa ini!"

Pek Yun Hui mendesak: "Aku harus mendengar perintahmu dalam sepuluh hari ini, Ayo, katakanlah, apa yang aku harus lakukan?"

Si Tian Houw mengawasi Bee Kun Bu yang masih berbaring tak berdaya di tempat tidur. ia menarik napas sebelum menjawab: "Kura sakti Ban Lian Hwe Kwi itu bukan saja besar faedahnya bagi ki(a, tetapi lebih besar manfaatnya bagi Suhengmu itu " ia menunjuk ke arah Bee Kun Bu.

Pek Yun Hui tidak sabar lagi, ia mendesak: "Ayo, katakanlah apa yang harus kulakukan Harap kau jangan membuang waktu mengatakan ini dan itu!"

Si Tian Houw tetap tenang. ia berkata: "Suhengmu menderita sakit yang berat Jika kita gagal pendapatku, setelah aku menyelidiki di dalam beberapa hari ini, sudah banyak

jago-jago silat dari kalangan Bu Lim yang datang ke puncak Ngo Houw Leng ini, Partai silat Tian Liong yang telah memperoleh peta tentang letaknya Ban Lian Hwe Kwi itu, tentu akan mencari menurut petunjuk peta itu.

Dan mungkin mereka menggambarnya, aku telah khawatir bahwa peta itu dapat dicuri atau dirampas orang lain, maka banyak tempat-tempat yang penting aku tandai dengan kode- kode yang aku sendiri mengerti Kode-kode itu tak mudah dimengerti oleh mereka, Namun, kita harus mendahului mereka pergi menangkap kura sakti itu, Ke satu, demi kepentingan atau jiwanya Suhengmu, Ke dua, demi memulihkan wajah yang cantik dari Pang Siocia.

Dengan berkumpulnya banyak jago-jago silat di puncak Ngo Houw Leng ini, sebelum kita bertindak, kita harus mempunyai rencana yang baik, justru untuk merundingkan rencana ini, aku segera datang ke sini..."

Sam Sou Lo Shi menanyai "Kau ingin merundingkan rencana apa?"

Ti Kian Su Seng mengawasi Pek Yun Hui, lalu mengawasi Pang Siu Wie, setelah itu ia melanjutkan "Di dalam beberapa hari ini, aku telah melihat jejaknya Ban Lian Hwe Kwi itu tiga kali, Menurut pengalamanku selama tujuh belas tahun ini, tiap- tiap kali kura sakti itu keluar, dia akan terus menerus keluar selama tujuh hari, Dan itu terjadi hanya setahun sekali, dan dia keluar kebanyakan di bulan-bulan lima, enam atau tujuh.

Aku heran mengapa dia keluar di bulan tiga pada tahun ini? sebetulnya aku ingin memaksa dia keluar dengan mengepulkan asap, dan siasat ini aku ingin lakukan, Hal ini aku tidak rundingkan bersama saudara angkatku, Ciu Kong Liang, agar kita lakukan malam ini saja, Segala sesuatu yang diperlukan aku telah siapkan, Cuma bilamana kita lakukan siasat kita ini, orang yang berada di daerah ini mungkin akan mendapat tahu karena kepulnya asap itu, Aku datang ke sini perlunya untuk menanya kalian cara kita melawan para jago- jago silat yang telah berkumpul di daerah ini jika kita diserang."

"Apakah betul Ban Lian Hwe Kwi dapat menyembuhkan Suhengku?" menanya Pek Yun Hui, suaranya agak keras,

tanganlah kau bersangsi lagi," jawab Si Tian Houw, "Meskipun Suhengmu menderita sepuluh kali lebih he-bat, aku jamin dia pasti akan sembuh, jika tidak potong kepalaku ini!"

Pek Yun Hui menoleh ke arah Bee Kun Bu dan ia berseru: "Asal Ban Lian Hwe Kwi dapat menyembuhkan Suhengku, aku pasti membantu dengan sekuat tenaga melawan mereka semua. Aku hanya khawatir mereka menyerang kita dari banyak jurusan sehingga kita sukar menggempurnya!"

Tentang itu aku pun telah pikirkan, Goa batu ini sangat terpencil dan tidak sembarang orang dapat ketahui kata Si Tian Houw, "Siocia jangan khawatir suhengmu diganggu di dalam goa ini, dan Siocia dapat bertarung dengan mencurahkan semua perhatian Kita akan menahan musuh di suatu jalan yang sempit, karena musuh tentu akan berjalan melalui jalan itu untuk datang ke lobang Ban Lian Hwe Kwi. Jalan yang sempit itu sukar dilalui, karena letaknya di pinggir jurang dan air terjun yang deras, Jika Siocia menahan musuh di situ, Siocia pasti dapat mencegah atau merintangi mereka!"

"Namun," kata Pek Yun Hui, "Aku harus menyuruh Sumoyku tinggal di kamar goa ini menunggui Suhengku!"

Ti Kian Su Seng tersenyum, dan berkata: "Baiklah, sementara setelah lewat jam dua belas tengah malam, aku akan datang lagi, dan minta kalian berdua keluar membantu kami." ia membungkukkan tubuh menghaturkan hormat lalu loncat keluar dari goa itu.

Sam Sou Lo Shi mengikuti sampai di mulut goa, dan menunggu sampai Si Tian Houw tak kelihatan lagi, barulah ia masuk kembali dan berkata kepada Pek Yun Hui: "Si Tian Houw sangat licin dan cerdik, Kita juga harus jaga jangan sampai dia melarikan diri setelah memperoleh kura sakti itu!"

"Jika dia berani melarikan diri, dan tidak memenuhi janjinya, aku akan bunuh dia dan menguburnya di pegunungan ini!" kata Pek Yun Hui lalu menghampiri Lie Ceng Loan dan menanyai "Apakah Bu Koko mendusin?"

Lie Ceng Loan geleng-geleng kepalanya: "Dalam beberapa hari ini dapat dikatakan dia belum pernah membuka matanya, Jika dia mati, aku juga menyertai dia mati." Air matanya tak tertahan keluar mengucur, ia menangis tersedu-sedu, hatinya hancur luluh!

Pek Yun Hui menghibur "Loan Moi, kau jangan memikirkan hal yang bukan-bukan, Malam ini kita akan berhasil menangkap Ban Lian Hwe Kwi, dan Bu Koko segera tertolong! Kau jangan bersedih hati."

Lalu ia berusaha memijat urat-urat syaratnya Bee Kun Bu lagi, Tetapi baru saja ia naik ke atas tempat tidur itu, tiba-tiba sedang berseru: "Pek Siocia! Berhenti!" Secepat kilat, si wanita jelek itu telah loncat ke atas tempat tidur juga,

Pek Yun Hui terperanjat dan ia menegur, suaranya keras: "Kau mau berbuat apakah?"

Si Thian Houw dipaksa masuk partai silat Thian Liong Pang Siu Wie berkata: "Tiap-tiap kali aku menyaksikan kau

menolong Suhengmu membebaskan urat-urat syaraf-nya, kau

senantiasa menjadi letih, betul tidak?"

"ltu adalah urusanku, kau tidak usah ambil pusing!" kala Pek Yun Hui, agak mendongkol.

Sam Sou Lo Shi tersenyum menampak Pek Yun Hui salah paham, ia berkata dengan ramah: "Tadi Si Tian Houw mengatakan bahwa banyak jago-jago silat dari kalangan Bu Lim telah datang berkumpul di puncak Ngo Houw Leng. pertarungan untuk merebut mustika pada malam ini tentu dahsyat sekali, Sekarang sudah hampir tengah malam, aku khawatir setelah kau menolong Suhengmu, kau akan menjadi letih dan tak dapat memulihkan tenaga dalam waktu yang singkat Apabila kau bertempur melawan musuh dalam keadaan letih, aku khawatir kau tak dapat mengatasinya sehingga membahayakan juga Suheng dan Sumoymu."

Mendengar nasihat yang luhur itu Pek Yun Hui lalu duduk diam mengumpulkan tenaga dalamnya lagi. Pang Siu Wie juga beristirahat menyiapkan diri untuk pertempuran yang segera akan terjadi Sang waktu berlalu dengan cepat sekali, dan Si Tian Houw datang membawa santapan dan arak di waktu senja, Setelah ia taruh makan dan arak itu di atas meja, ia berkata sambil tersenyum: "Pertempuran malam ini pasti hebat, Dengan jalan ini aku menyatakan terima kasihku atas kerelaan kalian membantu kami menolak musuh, Harap kalian tidak curiga dan menolak dahar makanan dan arak yang aku siapkan ini."

Pang Siu Wie mendahului menjawab: Terima kasih. Tetapi kau harus makan dulu!"

Sambil menyengir Si Tiau Houw mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan berkata: "Harap kalian jangan curiga." Lalu ia keluar dari goa ilu.

Pang Siu Wie periksa dengan teliti sayuran dan makanan yang disediakan itu, dan berkata kepada Pek Yun Hui: "Dia perlu tenaga kita. Menurut perhitunganku dia tak akan meracuni kita dengan makanan dan arak ini. Namun dia adalah seorang yang pintar dan busuk, aku harus periksa dengan teliti sebelum kita makan dan meminumnya."

Dengan sumpit Pek Yun Hui dahar makanan itu dengan napsu, karena telah beberapa hari ia hanya makan daging menjangan dan daun-daun yang dipetik dari daerah pegunungan itu, Kemudian Pang Siu Wie dan Lie Ceng Loan juga turut makan dan minum.

Ketika cuaca sudah menjadi gelap, Si Tian Houw datang lagi dengan mengenakan pakaian serba hitam pedangnya ia pancangkan di punggungnya, Dengan wajah yang gelisah ia memberitahukan: Tadi aku dapat lihat jejak musuh-musuh kita di kaki puncak Ngo Houw Leng. "

Pek Yun Hui memotong pembicaraannya, dan menanyai "Apakah kau telah siapkan barang-barang yang harus digunakan?"

"Semua sudah disiapkan Aku hanya perlu memberitahukan kalian bila harus keluar untuk membantu," jawab Si Tian Houw, "Loan Moi," kata Pek Yun Hui kepada Lie Ceng Loan. "Kau jaga Bu Koko baik-baik. Aku membantu Si Tian Houw menangkap Ban Lian Hwe Kwi untuk menyembuhkan Bu Koko."

Lie Ceng Loan yang sangat khawatirkan kesehatan-nya Bee Kun Bu sudah beberapa hari duduk termenung, ia jarang bicara, dan mukanya selalu muram, ia hanya mengangguk

Pek Yun Hui menghela napas, lalu jalan keluar dari goa sambil berkata kepada diri sendiri: "Ban Lian Hwe Kwi itu adalah harapan besar yang dapat menolong jiwanya Bee Kun Bu. Malam ini aku harus membantu dengan sungguh-sungguh menangkap kura sakti itu!" Lalu ia menanya Si Tian Houw: "Apakah kau masih ada senjata lainnya?"

"Senjata apakah yang Siocia perlukan?" tanya Si Tian Houw,

"Paling baik berikan aku Po Kiam (pedang)," kata Pek Yun Hui.

"Masih ada satu pedang, hanya aku tidak tahu apakah pedang itu cocok bagi Siocia," kata Si Tian Houw, Tetapi siocia lihat saja, Mari, turut aku!"

Si Tian Houw loncat keluar dari goa itu, diikuti oleh Pek Yun Hui dan Pang Siu Wie. Setelah mereka melalui beberapa tikungan, mereka tiba di suatu jalan yang sangat berbahaya, jalan itu hanya satu depa lebih lebarnya, di kedua sisinya adalah lereng gunung yang curam, Walau jago silat yang memiliki ilmu meringankan tubuh pun tak mungkin mendaki lereng gunung yang sangat curam itu,

"Kita sekarang berdiri di suatu jalan yang tingginya lebih dari tiga ratus depa dari kaki gunung ini." Si Tian Houw menjelaskan "Di kaki gunung ini adalah tempat persembunyiannya Ban Lian Hwe Kwi. Coba lihat air terjun di seberang kita! Orang tak dapat jalan dari dekat air terjun itu, jalan itu adalah jalan satu-satunya untuk keluar dan masuk ke puncak Ngo Houw Leng. Kedua Siocia jika dapat menjaga jalan ini, aku yakin musuh dapat ditahan. " Belum lagi ia

bicara habis, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa keras dan lama,

Pek Yun Hui menengadah dan melihat Souw Peng Hai yang dikawal oleh empat iblis sedang berusaha turun dari atas puncak itu, Di belakang mereka terlihat juga enam-tujuh orang. Nampaknya Souw Peng Hai sangat tenang,

Si Tian Houw terperanjat melihat Souw Peng Hai dan orang-orangnya telah mendatangi Dengan muka yang pucat ia berkata kepada Pek Yun Hui: "Siocia, itulah ada musuh- musuh kita yang lihay, jika kita berhasil menahan mereka, separoh dari usaha kita berhasil " Betul ucapan itu ia

katakan dengan suara yang rendah, akan tetapi dari jarak yang hanya beberapa depa Souw Peng Hai yang pendengarannya tajam sekali bisa mendengar jelas.

Terdengar ia tertawa gelak-gelak, dan secepat kilat ia loncat dari atas ke depan di mana mereka berdiri Dengan toya besinya yang berkepala naga dipegang di tangan kanannya, ia berdiri di hadapan Si Tian Houw hanya lebih kurang dua depa jauhnya, "Si Tian Houw! jika kau dapat sambuti pukulan toya besiku tiga kali, orang-orang partai silat Thian Liong segera berlalu dari sini, dan aku kembalikan peta tentang tempat persembunyiannya Ban Lian Hwe Kwi kepadamu!" kata Souw Peng Hai, mengejek

Si Tian Houw yang pernah rasai tenaga dalamnya Souw Peng Hai yakin ia tak dapat menahan pukulan toya besi itu, ia cabut pedangnya dan menjawab: "Aku menyesal tak dapat menerima tantanganmu, Tetapi aku sedia orang yang dapat melayani kau. "Ja melirik ke arah Pek Yun Hui, dan

meneruskan, "Dan orang itu juga ingin kau menerima pukulannya tiga kali!"

Pek Yun Hui menjadi gemas, Tetapi dalam waktu sepuluh hari menurut janjinya ia harus turut perintahnya Si Tian Houw, dan ia terpaksa keluar melaksanakan perintah itu, ia maju setindak menghadapi Souw Peng Hai.

Ketika itu, keempat iblis segera berdiri berderet di belakangnya Souw Peng Hai, dan enam-tujuh orang di belakang juga telah mendatangi dan segera berhenti lebih kurang satu depa di belakangnya Souw Peng Hai,

Dengan tekad menolong Bee Kun Bu, Pek Yun Hui berdiri dengan tenang menghadapi Souw Peng Hai. Dengan kedua mata yang bersinar ia menegur Souw Peng Hai: "BaikIah. Aku menerima pukulan toya besimu tiga kali!"

Souw Peng Hai tertawa gelak-gelak dan menanya: "Siocia dengan Si Tian Houw ada hubungan apa? Mengapa rela menggantikan dia?"

Segera mukanya Pek Yun Hui menjadi merah. Ia merasa canggung dengan pertanyaan itu, ia tak dapat menjelaskan sebab musababnya mengapa ia rela menggantikan Ti Kian Su Seng menerima tiga pukulan toya besinya Souw Peng Hai yang terkenal lihay di kalangan Kang-ouw. ia yang berwatak agung tidak mudah menerima perintah orang lain, Di kalangan Kang-ouw ia hanya takuti dua atau tiga orang. Ejekan Souw Peng Hai itu menusuk hatinya, tetapi ia terpaksa memenuhi janjinya demi menolong jiwanya Bee Kun Bu setelah

menelan ejekan itu, ia menjawab dengan senyuman terpaksa: "Aku tidak mempunyai kesabaran untuk mengadu lidah dengan kau. Lebih baik dengan mengadu silat kita bereskan perselisihan kita!"

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Souw Peng Hai. "Baik!" Tetapi ia masih juga tidak menyerang, karena semenjak ia menyaksikan dengan kepala mata sendiri betapa lihaynya ilmu silat Pek Yun Hui, ia pun tak berani bertindak sembrono,

Pek Yun Hui mendengar suara tawanya Souw Peng Hai laksana meraung nya seekor naga, ia berpikir "Orang ini tenaga dalamnya luar biasa, Aku harus waspada menerima pukulannya!" Souw Peng Hai terus menerus tertawa dan suaranya memusingkan telinga, Pek Yun Hui terkejut, dan ia berpikir lagi: "Rupanya dia sengaja tertawa lama untuk menguji tenaga dalamku." ia menoleh ke arah Si Tian Houw siapa ia lihat berkeringat. Rupanya Si Tian Houw tak dapat menahan suara tertawanya Souw Peng Hai yang menggoncangkan sukma.

Pek Yun Hui tidak tahan diperlakukan demikian oleh Souw Peng Hai, Sambil menjerit ia menjotos dengan jurus Hun Ceng Tan atau Membuyarkan Abu Menjernihkan Suasana dengan tinju kirinya, dan secepat kilat dua jari tangannya berusaha menotok tenggorokan Souw Peng Hai!

Souw Peng Hai segera berhenti tertawa. Terlihat kedua pundaknya bergerak ia mengelit totokan lawan nya, dan terus menyabet dengan toya besinya.

Pek Yun Hui hanya mundur satu langkah, dan terus menyodok dada lawan nya, serangannya ini sangat berbahaya, ia melancarkan sodokan itu dengan mengambil resiko yang besar, karena toya besi Souw Peng Hai setelah luput menebas, segera kembali membabat pinggangnya

Souw Peng Hai telah menjumpai dan melawan banyak musuh, akan tetapi cara Pek Yun Hui menyerang dengan berani mengambil resiko yang besar itu, ia belum pernah jumpai!

Sodokan itu dilakukan dengan jurus Peng Hong Tiang Ho atau Membekukan Arus Sungai yang deras yang dilancarkan dengan tenaga dalam bukan saja dapai menahan sabetan toya besi, bahkan berhasil menyentuh dadanya Souw Peng Haij apabila Souw Peng Hai tidak lekas-lekas loncat mundur, ia pasti akan tewas!

Souw Peng Hai terkejut! Setelah ia loncat mundur dengan menjejakkan kakinya ia lompat menerkam lawan nya!

serangan atau kelitan kedua belah pihak menakjubkan orang-orang yang menyaksikan Belum pernah mereka menyaksikan pertarungan yang dilakukan dengan ilmu silat demikian tingginya, Kelitan, egosan, menahan toya besi untuk menerus kan menyodok yang dilakukan Pek Yun Hui adalah jurus-jurus yang dapat dipelajari dari kitab silat Kui Goan Pit Cek, dan hanya Souw Peng Hai yang memiliki ilmu silat tinggi dapat luput dari sodokan maut tadi,

Terkaman Souw Peng Hai pun dengan mudah dapat diegosi oleh Pek Yun Hui. Souw Peng Hai menubruk angin! Dengan perasaan kagum ia berseru: "Siocia, berhenti ilmu silat Siocia aku belum pernah jumpai, Aku pun tidak menduga bahwa aku si tua bangka ini beruntung menjumpai lawan yang setimpal. Aku minta Siocia memberitahukan kepadaku siapa gerangan guru Siocia?"

Souw Peng Hai yang telah lanjut usianya dan telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di kalangan Kang-ouw, dan telah banyak kali bertempur melawan jago-jago silat, harus mengakui bahwa Pek Yun Hui itu adalah jago silat yang lebih luar biasa daripada yang luar biasa, Tiap-tiap serangan yang dilancarkannya sangat aneh ajaib, dan ia harus keluarkan semua kepandaiannya untuk mengelit serangan tersebut

Pek Yun Hui berkata sambil menyindir "Kita harus bertempur untuk menentukan siapa yang lebih unggul, dan aku tak perlu memberitahukan siapa guruku!"

Souw Peng Hai menjadi gusar dihina oleh gadis sepantar usia putrinya, ia membentak: "Ha! Kau betul-betul kurang ajar, Kau berani mengejek aku si tua bangka yang pantas menjadi ayahmu!" Baru saja ia ingin menyerang dengan satu kemplangan yang nekat dari toya besi nya, tiba-tiba loncat ke depan salah seorang jago silat, Setelah mengangkat tinjunya ke depan dada sebagai tanda menghormat, jago silat itu berkata: "Harap Cong Piauw Tou (Pemimpin Partai) menahan kemurkaanmu, Perkenankanlah aku melawan gadis itu!"  jago silat itu adalah Kiok Goan Hoat, pemimpin bendera hitam dari partai Thian Liong, Souw Peng Hai terpaksa mundur dan memperingatkan dengan suara rendah: "Kau harus hati-hati melawan gadis itu!" Belum pernah Souw Peng Hai dihina demikian rupa, tetapi karena ia yakin tidak dapat menundukkan Pek Yun Hui, maka ia memperkenankan Kiok Goan Hoat maju melawan.

Kiok Goan Hoat berdiri menghadapi Pek Yun Hui sambil mengumpulkan tenaga dalamnya.

Pek Yun Hui terus mengejek: "Ha! Apakah ini namanya jago silat? Mengapa melawan seorang gadis harus bergiliran? jika kalian takut majulah kalian semuanya melawan aku seorang!"

Kiok Goan Hoat tidak menggubris ejekan itu, ia berpaling kepada Si Tian Houw dan menegurnya: "Si Tian Houw! Kau betul-betul seorang yang cerdik, Kau berhasil menarik seorang jago silat untuk melawan kami! Dan kau sendiri seperti seorang pengecut bersembunyi di belakang!"

Ucapan itu menyinggung Pek Yun Hui, seolah-olah ia adalah budaknya Si Tian Houw yang dapat disuruhnya menurut kehendaknya, ia membentak: "Hai, kau jangan banyak bicara! Ayo, kau maju menyerang!"

Sam Sou Lo Shi memperingatkan "Pek Siocia, kau jangan masuk perangkap! Dia sengaja membikin kau marah!"

Pek Yun Hui insyaf akan kekeliruannya, ia seger berlaku tenang kembali sebetulnya Kiok Goan Hoat bermaksud mengejek Pek Yun Hui sambil menegur Si Tian Houw, dan kemudian mengambil kesempatan kejengahan Pek Yun Hui, ia akan menyerang tiba-tiba, Tapi akalnya itu dilihat oleh Pang Siu Wie. ia tertawa lagi, dan ia mengejek si wanita jelek: "Aha, orang ini tidak mirip manusia, dan juga tidak mirip setan!

Apakah kau ini bukannya Pang Siocia, yang dulunya cantik jelita, dan kemudian mukamu dibikin rusak oleh Si Tian Houw? Aku beruntung dapat menyaksikan muka yang demikian rusak itu. Ha! Ha!" Ejekan itu menusuk hatinya Pang Siu Wie, dan juga Si Tian Houw, yang khawatir Pang Siu Wie segera menerkam ia.

Dalam kegelisahannya Si Tian Houw berkata: "Kiok Goan Hoat, aku ketahui maksudmu, kau ingin Pang Siocia menjadi marah dan menyerang aku, dan dengan demikian memecah belahkan kami!"

"Ha! Ha!" tertawa Kiok Goan Hoat. "Kau sudah tinggal bertapa di pegunungan ini hampir enam belas tahun, dan kau tentu telah memiliki ilmu silat yang tinggi Pang Siocia mana bisa menggempur kau?"

Si Tian Houw membalas mengejek, karena ia bukannya anak kemarin dulu yang dapat ditipu: "Jika aku binasa di tangan Pang Siocia, partai Thian Liong akan memperoleh Ban Lian Hwe Kwi dengan mudah! Aku tak dapat diabui!"

Pang Siu Wie juga dapat menerka tipu muslihatnya Kiok Goan Hoat, ia berkeputusan dengan membikin pembalasan dendamnya terhadap Si Tian Houw ketika itu.

Saat itu Kiok Goan Hoat telah mengumpulkan tenaga dalamnya, tiba-tiba ia menjerit dan loncat menyerang Pek Yun Hui dengan kedua tinjunya,

Pek Yun Hui yang telah dibikin panas, dan melihat ia diserang sekonyong-konyong, seperti juga api yang disiram bensin, Dengan tangan kirinya ia menangkis jotosan-jotosan, dan dengan tinju kanannya ia berusaha menjotos lambung lawannya,

Kiok Goan Hoat terkejut Lekas-lekas ia geprak tinju Pek Yun Hui dengan kedua tangannya, lalu loncat ke belakang, "Ai," ia berseru di dalam hatinya, "Sedikit lagi tamat ajalku! Gadis ini sukar digempur!"

Sebetulnya semenjak ia melawan Souw Peng Hai, Pek Yun Hui telah mengerahkan tenaga Hut Men Sian Thian Ki Kong (Tenaga dalam ajaib kurnia Tuhan yang dapat menjaga tubuh), dan tenaga itu dilakukan dengan ilmu judo: ialah lemas kelihatannya, tetapi keras dan ampuh hasi1nya. Pek Yun Hui tidak memberikan kesempatan Kiok Goan Hoat untuk menyerang lagi, ia loncat ke kiri dan mengejar

Kiok Goan Hoat belum berdiri teguh ketika tinjunya Pek Yun Hui melayang ke mukanya, ia tak dapat mengegos lagi, dengan terpaksa ia berlaku nekat menangkis tinju itu dengan sekuat tenaga,

jika Pek Yun Hui meneruskan, tinjunya pasti beradu dengan tinju I awan nya, dan mungkin tangannya menjadi remuk meskipun tangan lawannya hancur ia tidak bodoh membiarkan tangannya remuk, Lekas-lekas ia tarik kembali tangannya dan loncat ke depan.

Kiok Goan Hoat nyaris dari maut, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya!

Si Tian Houw melihat bahwa Ban Lian Hwe Kwi segera akan keluar dari lobangnya, ia harus membikin persiapan, dan ia tak dapat segera menyingkir dari tempat itu. ia menjadi gelisah sekalL.,

Di pihak Souw Peng Hai yang telah menyaksikan pertempuran antara Kiok Goan Hoat dan Pek Yun Hui, ia juga sangat khawatirkan orangnya, ia yakin bahwa lambat laun, Kiok Goan Hoat akan dapat dipukul mati oleh Pek Yun Hui.

Jika ia panggil Kiok Goan Hoat, ia sendiri harus menghadapi Pek Yun Hui, dan ia yakin tak dapat mengalahkan gadis itu. Oleh karena itu ia pun menjadi geIisah....

justru pada saat itu, terdengar suara hembusan angin yang segera disertai dengan berkelebatnya bayangan orang, Bayangan tersebut melayang turun di samping Kiok Goan Hoat.

Pek Yun Hui adalah orang yang pertama melihat bayangan itu, Orang yang tiba-tiba datang itu berusia lima puluh tahun lebih, wajahnya putih bersih, jenggotnya putih, mengenakan jubah putih, dia adalah Sao Kong Gie yang terkenal sebagai tabib sakti dari telaga Poyang-ouw. Baru saja ia ingin menegur, ketika Sao Kong Gie mengangkat kedua tangannya memberi hormat seraya berkata: "Apakah Siocia masih ingat kepadaku ini, tukang menangkap ikan?"

Pek Yun Hui membalas hormat itu, dan sambil tersenyum ia menjawab: "Angkatan tua, kau baikkah? Aku tidak menduga bahwa angkatan tua sudi datang ke pegunungan yang terpencil ini, Aku merasa beruntung dapat berjumpa lagi,"

Sao Kong Gie tertawa.

"Siocia terlampau merendahkan diri. Panggilan angkatan tua aku tak dapat terima, Ketika aku menjumpai Siocia di pinggir telaga Poyang-ouw, aku segera menduganya bahwa Siocia memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Tadi dengan kepala mata sendiri aku menyaksikan Siocia bertarung, ternyata dugaanku tidak keliru!"

Pek Yun Hui merasa malu mendengar pujian itu, ia segera berkata dengan merendah: "Angkatan tua terlampau memuji."

Lalu Sao Kong Gie mengawasi Si Tian Houw, dan menanya Pek Yun Hui: "Siocia, aku mohon tanya, Siocia mempunyai hubungan apa dengan Si Tian Houw?"

Si Tian Houw yang melihat bahwa Pek Yun Hui dan Sao Kong Gie sudah saling mengenal menjadi cemas, ia lekas- lekas berdiri di belakangnya Pek Yun Hui dan berbisik: "Ingat! jangan lupa janjimu! Dalam sepuluh hari kau harus turut perintahku Aku memberikan kau batas waktu selama seperempat jam untuk memukul mundur dan mengusir mereka semua keluar dari jalan ini!"

Pek Yun Hui terperanjat, dan menjawab, suaranya rendah: "Hm! lima hari telah lewat, dan aku tentu mentaati janjiku lima hari lagi!"

"Betul, Lima hari lagi, jika aku tewas, aku tak akan menyesali Tetapi dalam lima hari, kau harus mendengar perintahku." kata Si Tian Houw, Dengan terpaksa Pek Yun Hui berkata kepada Sao Kong Gie: "Angkatan tua, aku terpaksa minta kau berlalu dari sini, sebetulnya aku juga harus minta orang-orangnya partai Thian Liong berlalu dan jangan berusaha merebut Ban Lian Hwe Kwi, agar urusan ini menjadi reda!"

Sao Kong Gie segera mengetahui bahwa Pek Yun Hui berada di bawah desakannya Si Tian Houw, tetapi ia tak dapat menerka alasannya, ia pun tak dapat berkata apa-apa lagi,

Tiba-tiba terdengar Souw Peng Hai menjerit ia tekan ujung toya besinya di atas tanah untuk melonjak ke atas seolah-olah terbang melewat di atas kepalanya Pek Yun Hui untuk mengemplang Si Tian Houw dengan toya besi nya!

Serangan yang tiba-tiba itu membikin Si Tian Houw terkejut Dengan pedangnya ia jaga kepalanya dan meloncat mundur tiga Iangkah.

Souw Peng Hai belum tiba di atas tanah, tiba-tiba ia merubah jurusnya, Segera terdengar suara pedangnya Si Tian Houw dipukul terpental dari cekalannya, dan sekejap kemudian terlihat Si Tian Houw dicekal pergelangan tangannya oleh Souw Peng Hai.

Serangan tiba-tiba itu dilakukan secepat kilat Pek Yun Hui tidak keburu menolong! Tetapi ia berhasil melompat di belakangnya.

Kesempatan itu digunakan oleh Pek Yun Hui untuk mengirim Jotosannya beruntun tiga kall, Souw Peng Hai terpaksa lekas-iekas melompat mundur

Souw Peng Hai telah mengetahui bahwa Pek Yun Hui pasti berusaha mencegah atau menolongnya, Oleh karena itu ketika ia mencekal pergelangan tangan kanannya Si Tian Houw, ia pun mengegos ke samping, Namun, bajunya tersentuh oleh ujung jari Pek Yun Hui yang berusaha menotok punggungnya,

Kemplangan toya besi, pijitan pergelangan tangan, egosan dan melemparkan tubuhnya Si Tian Houw di depan Pek Yun Hui dilakukan Souw Peng Hai cepat sekali. Dan ketika Pek Yun Hui ingin menolongnya, angin dari telunjuk saktinya Souw Peng Hai sudah hampir tiba di dadanya Si Tian Houw.

Si Tian Houw sudah memejamkan kedua matanya menanti ajalnya, Ketika Souw Peng Hai menahan telunjuk saktinya dan mengancam: "Hei, Si Tian Houw! Apakah kau ingin Ban Lian Hwe Kwi atau ingin jiwamu?!"

Dalam saat segenting itu, Si Tian Houw tiba-tiba bergulingan lagi, akan tetapi toya besinya Souw Peng Hai menahan padanya, Kesempatan itu digunakan oleh Pek Yun Hui untuk mengirim jotosannya beruntun tiga kali, Souw Peng Hai terpaksa lekas-Iekas Ioncat mundur tiga langkah setelah mencekal lagi pergelangan tangan kanannya Si Tian Houw,

Si Tian Houw menjerit kesakitan dan berkata: "Pek Siocia, jangan serang dia lagi! Jangan! Jangan! Dia dapat memijit aku sehingga binasa.,.!"

"Ha! Ha! Ha!" kata Souw Peng Hai. "Jika Siocia coba menyerang lagi, jahanam ini akan mati seketika!"

Keadaan memaksa Pek Yun Hui berhenti menye-rang, ia Ioncat mundur empat langkah dan mengejek: "Hm! Kau pegang dia sebagai sandera! ini bukan semangat jantan! Ayo, lepaskan dia dan bertarung melawan aku. "

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Souw Peng Hai. "Siocia dan aku si tua bangka tak ada dendaman apapun, mengapa mesti bertempur mati- matian?"

Si Tian Houw terus mengejek: "Betul-betuI kau bukan ksatria, kau bernyali tikus! Seorang jago silat tak akan gentar terhadap tantangan!"

Ketika itu, Kiok Goan Hoat, Sao Kong Gie dan keempat iblis dari partai Thian Liong telah mengambil kedudukan mengurung, dan Pang Siu Wie juga telah datang berdiri di sampingnya, Pek Yun Hui sambil memegangi kantong pasir beracun di tangan kanan dan anak panah beracun di tangan kiri, siap sedia bertempur jika perlu! Souw Peng Hai mengawasi Pek Yun Hui dengan perasaan gemas, lalu ia berkata kepada Si Tian Houw: "Hei! Si Tian Houw! Aku membentuk partai silat Thian Liong bukan karena ingin mencari nama di kalangan Kang-ouw, akan tetapi karena aku memikir para jago-jago silat yang tidak tergabung dalam sembilan partai silat lainnya, Cobalah kau pikir, di dalam beberapa puluh tahun ini,, sudah berapa banyak jago-jago silat yang telah dihina, dilukai bahkan dibunuh oleh orang- orang dari kesembilan partai silat itu. " Souw Peng Hai

berhenti sejenak dan mengawasi keadaan di sekitarnya, lalu meneruskan "Jika kita yang tidak tergaung dalam partai silat tidak berserikat dan menjaga diri terhadap kesembilan partai silat itu, aku yakin kita semua akan musnah di tangan mereka!"

Sambil menahan sakit Si Tian Houw berkata: "Apa-kah kau bermaksud menarik aku masuk ke dalam partai Thian Liong?"

Souw Peng Hai menjadi reda. ia tersenyum dan berkata: "Pintu dari partai Thian Liong senantiasa terbuka lebar, dan selalu menyambut dengan senang hati para jago-jago silat yang tidak tergabung dalam sembilan partai yang terkenal pada dewasa ini!"

"Tetapi kau jangan paksa aku dengan memijit keras pergelangan tanganku, Dengan paksaan, aku lebih suka mati daripada dihina semacam ini!" jawab Si Tian Houw,

Souw Peng Hai lepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangannya Si Tian Houw, lalu mundur dua langkah. "Jika saudara betul-betul suka menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong, aku akan membantu kau sekuat tenaga untuk menangkap Ban Lian Hwe Kwi. Saudara harus mengetahui bahwa Ban Lian Hwe Kwi itu bukan satu rahasia lagi, Jago-jago silat di kalangan Kang-ouw sudah banyak yang telah mengetahuinya, Pada dewasa ini aku yakin sudah banyak jago-jago silat dari kesembilan partai yang terkenal itu datang ke daerah ini dengan maksud menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu. Aku senantiasa mentaati janji, dan pereayalah bahwa aku lebih menghargai orang-orang pandai daripada segala mustika serupa Ban Lian Hwe Kwi itu. Nah! Sekarang terserah kepada saudara Si Tian Houw sendiri untuk mengambil keputusan."

Bujukan itu membikin Si Tian Houw berpikir mundur maju, ia memandang wajah Pek Yun Hui, tetapi ia tak dapat menyelami perasaan gadis itu. PerIahan-lahan ia bangun dengan pikiran mengaduk, untuk sementara waktu ia tak dapat mengambil keputusan

Justru pada saat itu terdengar siulan yang nyaring, Sejenak kemudian terlihat dari jauh dua bayangan orang sedang berlari- lari mendatangi Mereka semua mengetahui bahwa kedua orang yang tengah mendatangi itu memiliki ilmu silat yang lihay sekali, Kedua orang itu berhenti lebih kurang satu depa jauhnya dari tempat dimana mereka berkumpul

Menampak mereka itu, Ti Kian Su Seng menjadi terkejut, karena salah satu dari kedua orang itu, yang mengenakan jubah dan bersenjata toya bambu, brewokan dan berambut putih adalah Tu Wee Seng, pemimpin dari partai silat Hoa San. yang satu lagi, berbaju pendek, tubuhnya tinggi besar, sedikit bungkuk punggungnya, kedua lengannya luar biasa panjangnya dan kedua matanya bersinar, adalah saudara angkatnya Tu Wee Seng, bernama To It Kang, alias si lengan baju,

Sebetulnya Ti Kian Su Seng masih belum dapat mengambil keputusan tentang tawaran Souw Peng Hai, akan tetapi setelah melihat Tu Wee Seng dan To It Kang datang, ia berkata kepada Souw Peng Hai dengan nada yang rendah tetapi sungguh-sungguh: "Untuk aku menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong tidaklah sukar Tetapi kali ini aku minta semua orang-orangnya partai Thian Liong menuruti kehendakku agar Ban Lian Hwe Kwi tidak terjatuh ke tangan orang lain!" "Orang-orang partaiku pasti mendengar perintahku, dan aku berjanji bahwa sebelumnya kau memperoleh Ban Lian Hwe Kwi, semuanya menuruti kehendakmu!" jawabnya Souw Peng Hai.

"Dan setelah kita dapat menangkap Ban Lian Hwe Kwi, akulah yang berhak mengatur pembagian nya," kata Si Tian Houw,

"Asalkan kau suka masuk partai Thian Liong, soal itupun kami setuju menuruti kehendakmu," sahut SouwPeng Hai.

Lalu Si Tian Houw berpaling kepada Pek Yun Huiu dan berkata: "Perjanjianku kepada Siocia ialah memberikan satu mustika lain kepada Siocia disamping menyembuhkan suhengmu dengan Ban Lian Hwe Kwi,

Meskipun aku sudah masuk menjadi anggota partai Thian Liong, perjanjianku terhadap Siocia, aku tetap penuhi!"

Pek Yun Hui tersenyum.

Tentang hadiah itu, aku sebetulnya tidak hiraukan, Tetapi tentang menyembuhkan Suhengku, kau tak dapat memungkirnya. "

"Harap Siocia jangan kuatir jika kita telah dapat menangkap Ban Lian Hwe Kwi itu, kita segera menolong Suhengmu dulu," kata Si Tian Houw,

pada saat itu Kiok Goan Hoat, keempat iblis dari propinsi Sucoan dan lain-Iainnya telah siap sedia menghadapi Tu Wee Seng dan To It Kang.

semenjak mereka datang, mereka tidak menghampirinya lebih dekat lagi. Mereka tetap berdiri pada jarak satu depa lebih jauhnya sambit mengawasi Souw Peng Hai yang telah berhasil membujuk Si Tian Houw menggabungkan diri ke dalam partai Thian Liong,

Souw Peng Hai menjadi reda setelah berhasil menarik Si Tian Houw menjadi anggota partainya, Dengan toya besinya di tangan ia bertindak menghampiri Tu Wee Seng, dan berkata sambil tersenyum: Tu Heng betul-betul tajam pendengarannya. semenjak kita berpisah di pegunungan Kwat Cong San, hampir satu tahun telah lewat, dan kita baru bertemu kali ini."