Bangau Sakti Jilid 11

 
Jilid 11

Hanya Hian Ceng Tojin tidak keluar air mata, tetapi wajahnya menunjukkan kesedihan hati Suara seruling itu makin lama makin jauh terdengarnya, dan lambat laun tidak kedengaran lagi, Lalu Hian Ceng Tojin berkata: "Menurut cerita di kalangan Kang-ouw, seruling batu Giok dari Giok Siu Sian Cu dapat mengeluarkan lagu yang menyedihkan bahkan menghancurkan hati, Malam ini kita menyaksikan buktinya, jika kita dengar lagunya tadi itu, menurut pahamku, lagu itu keluar dari hati yang hancur Rupanya ia telah jatuh cinta terhadap Bee Kun Bu, dan cintanya itu tak terbalas!"

Giok Cin Cu tidak segera menjawab ia berpikir, lalu menghela napas, ia berkata: "Kau katakan muridmu Bee Kun Bu itu berbudi baik sekali Pek Yun Hui yang cantik dan Giok Siu Sian Cu yang elok, dua-duanya mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali, jauh lebih tinggi daripada silatnya Bee Kun Bu.

Mungkin mereka itu sudi merendahkan diri dan menjadi seperti ulat sutera yang melilit diri dan terbelenggu? Lie Ceng Loan menjadi muridku atas permintaanmu dan aku tidak ingin ia menderita, Dalam beberapa minggu ini, aku telah memperhatikan bahwa ia juga merindukan Bee Kun Bu.

Cobalah kau perhatikan ia sekarang menjadi banyak lebih kurus, sifatnya berubah, Dulu ia riang gembira, wajahnya selalu berseri-seri, Sekarang.,.? ia menjadi pendiam, ia selalu muram ia jarang bicara terhadap aku. Aku sebagai gurunya tak dapat membiarkan ia terus dalam keadaan demikian. Ia rindukan muridmu, Bee Kun Bu. "

Giok Cin Cu bicara dengan tegas, suaranya makin tama makin sengit Loan Giok Pin yang berdiri di sampingnya meneruskan "Suhu, Loan Moi pernah mengatakan kepada aku. ia merindukan Bu Kokonya, Bangau yang membawa Pek Cici terbangnya pesat, dan jika tak terhalang, Bu Kokonya pasti telah kembali ia sangat merindukan Bu Kokonya."

Ucapan itu seperti bensin disiramkan ke dalam atas api, membikin Giok Cin Cu lebih marah lagi. Dengan bergemetaran ia berkata dengan suara keras: "Misalnya muridmu itu membikin Lie Ceng Loan terlantar, mungkin juga menghancurkan hatinya, kau akan mengambil tindakan apakah?"

Dengan khidmat Hian Ceng Tojin menjawab: "Aku telah mendidik dan mengajar ia selama dua belas tahun, Dan selama itu, Bee Kun Bu tidak lupa akan budi dan berbuat yang tidak pantas, ia seorang yang berbudi, mulia dan agung, Mungkin ada hal-hal yang kita belum mengetahui Kita harus menunggu ia kembali untuk menanya atau menyelidiki dengan jelas. Bila tak dapat menghukum dia tanpa alasan Jika ternyata ia melanggar peraturan partai kita, aku pasti tak akan memberi ampun kepadanya!"

Mendengar Hian Ceng Tojin masih juga membela muridnya, ia menjadi makin gusar ia menanya lagi: "Apakah kau pikir ia akan kembali lagi. Bukankah sudah waktunya ia kembali sekarang?"

Hian Ceng Tojin bungkam Bee Kun Bu sudah pergi hampir setengah tahun, tetapi belum kembali ke pegunungan Kun Lun. Biarpun ia tidak tunggang bangau nya Pek Yun Hui, dalam jangka waktu setengah tahun, ia tentu sudah dapat kembali ke kuil Sam Goan Kong, ia khawatir kalau-kalau Bee Kun Bu mendapat halangan Lalu Giok Cin Cu mengejek: "Jika kau tak sampai hati menghukum muridmu, aku bisa minta Ji-suheng yang menghukum padanya."

Di sini ia teringat tentang Pek Yun Hui yang telah menyembuhkan ia dari racun ular ia merasa malu telah mengucapkan perkataan itu. ia balik badan dan masuk ke dalam kamarnya,

Hian Ceng Tojin pun lalu menuju ke pintu untuk keluar Liong Giok Pin mengantar Supeknya.

"Tidak usah, Suhumu malam ini sedang marah-ma-rah. Kau harus menjaga dan melayani ia baik-baik," jawab Hian Ceng Tojin,

Liong Giok Pin berkata: "Teecu telah salah omong sehingga suhu menjadi gusar Teecu minta maaf

"Aku tidak salahkan kau, sudahlah Lekaslah kau pergi melayani suhumu!" kata Hian Ceng Tojin, lalu ia berjalan menuju ke kamarnya,

Co Hiong dari tempat sembunyinya di dekat kamar Giok Cin Cu dapat melihat dengan terang segala sesuatu di dalam ruang di mana mereka bereakap-cakap, ia telah tidak menghiraukan perjalanan yang jauh dengan maksud terutama mencari Lie Ceng Loan, dan kedua, membikin perhitungan terhadap ketiga pemimpin partai silat Kun Lun yang ia anggap telah mencelakakan ia ketika berada di pegunungan Cie Lian San.

ia pun mengetahui Giok Siu Sian Cu telah datang untuk mencari Bee Kun Bu, tetapi ia tak mengetahui untuk maksud apa karena ia berada di luar rumah tidak dapat mendengar jelas pereakapan mereka. Setelah Giok Cin Cu berlalu, ia pun telah mendengar suara seruling yang nadanya sangat menawan bahkan menyedihkan sampai Hian Ceng Tojin berlalu,

Ketika itu telah lewat jam empat ia belum juga berhasil mencari Lie Ceng Loan. ia memandang ke sekitarnya, dan juga lihat rumah-rumah berderet-deret, Apakah ia harus menyelidiki rumah-rumah itu satu persatu yang mungkin akan menimbulkan kegaduhan dan membangunkan semua murid- murid partai Kun Lun? Kemudian pikirnya lebih baik ia keluar dari pekarangan kuil Sam Goan Kong, dan menunggu di dekat puncak Kim Teng Hong itu. Jika kesempatan yang baik tiba, ia dapat bertindak dengan seksama. Dengan berkeputusan itu, ia loncat keluar dari pekarangan kuil Sam Goan Kong untuk mencari tempat sembunyi yang sentosa di luar

ia telah menanti kesempatan di puncak Kim Teng Hong itu selama sepuluh hari lebih, dan telah tiga kali ia menyo!ong masuk ke dalam, tetapi ia tiada menemukan atau melihat Lie Ceng Loan, Karena gerak-geriknya sangat hati-hati, maka selama sepuluh hari lebih ia bersembunyi di dekat kuil Sam Goan Kong diluar tahunya orang-orang dari kuil itu, Tetapi setelah sepuluh hari lewat, ia harus berusaha mencari makanan, karena perbekalan makanan keringnya telah habis dimakannya, Di musim dingin itu sukar bagi ia menangkap burung atau , binatang untuk dibuat makanan, ia terpaksa mencari buah-buahan untuk menangsel perut.

Pada hari yang ke tiga belas, Co Hiong tak tahan hidup hanya dengan makan buah-buahan saja, ia berkeputusan turun dari puncak di waktu malam dan mencari makanan di desa yang terdekat, dan kemudian kembali lagi.

Puncak Kim Teng Hong itu hanya seluas seratus bau lebih, tetapi separuhnya termasuk daerah kuil Sam Goan Kong. Di sekitar puncak itu telah tumbuh pohon-pbhon cemara dan terdapat batu-batu gunung, Selama dua belas hari Co Hiong dapat bersembunyi diantara pohon-pohon cemara atau batu- batu gunung itu dengan aman.

Ketika hari mulai petang, ia naik ke suatu pohon cemara untuk mencari jalan yang paling mudah untuk turun dari puncak itu. Malam yang agak gelap itu, ditambah dengan menghembus nya angin gunung yang di-ngin, dirasakan sangat seram, ia pun agak sukar melihat jauh. Tetapi sekonyong-konyong ia melihat dua bayangan orang meloncat keluar dari tembok kuil Sam Goan Kong,

Cara meloncatnya kedua bayangan tadi, menurut pendapatnya, tidak sebaik seperti ia, dan ia menduga bahwa kedua orang tadi bukannya pemimpin-pemimpin partai Kun Lun, "Ai, aku sedang mencari jalan yang aman untuk turun dari puncak ini agar tidak meninggalkan tanda," kata ia pada diri sendiri, "Sekarang kedua orang yang telah melompat keluar dari kuil itu pun agaknya hendak turun dari puncak ini. Baik sekali untuk aku mengikuti mereka.

Pada saat itu kedua orang tadi sudah berada dekat pohon di atas mana ia sedang bersembunyi dan tepat mereka berhenti di bawah pohon itu. Co Hiong memperhatikan bahwa kedua-duanya mengenakan jubah dan membawa pedang yang menonjol keluar di belakang bahunya, Salah seorang yang lebih muda usianya terdengar berkata: "Suheng, Sam Susiok kita baru menerima murid, Apakah kau pernah melihatnya?"

"Orang mengatakan bahwa murid yang baru diterima Sam Susiok itu adalah seorang gadis cantik jelita, Tetapi aku belum pernah melihatnya," kata kawannya sambil geleng-gelengkan kepalanya,

Yang mudaan berkata lagi: "Murid baru dari Sam Susiok itu aku pernah lihat dua kali, ia betul-betul seorang gadis yang cantik elok, Dulu diantara saudara-saudara dan saudari- saudari seperguruan Liong Giok Pin lah yang paling baik ilmu silatnya diantara murid-murid wanita, dan Toa Suheng yang tampan paling tinggi ilmu silatnya diantara murid-murid pria, mereka sangat disayang oleh Sam Susiok,

Mungkin juga mereka berdua akan diajarkan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam. Tetapi setelah Sam Susiok menerima murid baru itu, dan semenjak Supek kembali ke Sam Goan Kong, keadaan menjadi berubah, Sam Susiok agaknya sayang sekali kepada muridnya yang baru itu, Apakah Liong Giok Pin akan diajarkan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam di kemudian hari? Aku merasa ragu-ragu juga sekarang, Tetapi yang lebih penting ialah, apakah Toa Suheng akan menduduki tempat pertama ?"

Kawan yang tuaan itu terkejut, menanya lagi: "Ha! Apakah kedudukannya Toa Suheng juga terganggu?"

"Pada satu bulan berselang, Suhu, Supek dan Sam Susiok berunding di kamar tengah, Kebetulan aku yang ditugaskan melayani mereka maka aku dapat ketahui apa yang dibicarakan," kata orang mudaan itu,

"Apa yang telah dirundingkan?" kawannya mendesak "Mungkin kau telah mengetahui Urusan pimpinan kuil Sam

Goan Kong sebetulnya dipegang oleh Supek.

Tetapi Supek seperti juga seekor meliwis. ia tidak suka pegang pimpinan, ia telah serahkan pimpinan kepada Suhu, dan pergi keluar untuk menjadi kepala kuil Sam Ceng Koan. Kini Supek telah kembali ke kuil Sam Goan Kong, selayaknya pimpinan kuil harus diserahkan kembali kepadanya, sehingga murid-murid Suhu juga menjadi suatu pertanyaan ( apakah termasuk murid-murid Suhu atau Supek? Antara kita kesembilan murid, aku yakin tidak seorang yang dapat menandingi Supek dalam hal ilmu silat."

"Betul. Meskipun Toa Suheng ingin merebut kedudukan ia tak mampu menandingi Supek dalam segala hal.."

Tetapi kata-kata itu dipotong oleh yang mudaan, katanya: "Urusan ini telah direncanakan oleh Supek, ia telah mengajarkan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam kepada muridnya, Toa Suheng pernah mengatakan bahwa ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam itu adalah ilmu silat yang ampuh dari partai Kun Lun, Menurut katanya, bahwa Supek, Suhu dan Susiok pernah berjanji bahwa tanpa persetujuan ketiga orang, pernah ilmu itu tak dapat diturunkan kepada seorang murid, Tapi Supek telah melanggar janji, ia telah mengajarkan muridnya tanpa persetujuannya ketiga orang, Yang menjadi rintangan ialah Susiok tidak keberatan dan telah menyatakan bahwa murid Supek yang telah menerima pelajaran ilmu itu antara lain seorang yang berbakat, berbudi, berbakti dan bertanggung jawab, kelak di kemudian hari pasti dapat mengangkat namanya partai Kun Lun. Oleh karena itu, aku merasa ragu-ragu tentang kedudukan Toa Suheng kita."

"Apakah kau telah memberitahukan berita yang kau dapat dengar ini kepada Toa Suheng?" tanya orang yang tuaan,

"Sudah!"

"Dan bagaimanakah reaksinya?"

Toa Suheng bersikap acuh tak acuh, ia hanya tersenyum, tapi tidak menyatakan pendapatnya," jawab orang yang mudaan,

Sambil memegang erat-erat lengan kawannya yang mudaan, orang itu berkata dengan khidmat: "Urusan ini kau jangan bicarakan lagi kepada orang lain, Kaupun mengetahui bahwa menyampaikan segala pembicaraan guru kita kepada orang lain merupakan suatu pelanggaran besar. "

Belum lagi ia selesai bicara, dari kuil Sam Goan Kong terlihat lagi bayangan orang secepat kilat loncat keluar, dalam sekejapan sudah berada hanya dua depa dari pohon di mana mereka berdiri

Orang yang mudaan meloncat keluar dari tempat. gelap dan menanyai "Siapa di depan? Mengapa tengah malam buta keluar berkeluyuran dari kuil?"

"Aku! Aku hendak pergi tengok Li Sumoy," jawab orang yang ditegur itu sambil tertawa,

"O Liong Cici, Maaf kelancangan Siaotee, Li Sumoy itu bukankah murid yang baru diterima oleh Sam Susiok?" kata orang yang menegur itu, setelah melihat tegas dan mengenali siapa sebenarnya bayangan itu. "Betul!" jawab Liong Giok Pin, loncat pergi dan lari ke lain jurusan.

Kedua orang di bawah pohon itu juga melompat keluar dan lari menuju ke timur

Co Hiong yang bersembunyi di atas pohon, bukan saja telah mendengar sedikit rahasianya partai Kun Lun, ia pun telah mendengar berita tentang Lie Ceng Loan, Dengan bersemangat ia lompat turun dari pohon dan mengejar Liong Giok Pin, yang lari ke belakang puncak Kim Teng Hong.

Di belakang puncak Kim Teng Hong itu merupakan suatu jalan menurun yang dalam, di dalam suasana yang gelap itu Co Hiong sukar melihat keadaan di sekitarnya. Jika ia tidak mengikuti Liong Giok Pin, ia tak berani terus turun. Setelah tiba di bawah turunan, ia berada di suatu lembah yang sempit, hanya satu orang dapat berjalan dengan leluasa, Co Hiong terus mengikuti di belakang Liong Giok Pin, dan setelah menempuh jarak lebih kurang satu lie, ia tiba di ujung jalan yang sempit itu, Hawa yang harum menembusi lubang-Iubang hidungnya, menyegarkan tubuh,

Setelah keluar dari jalan yang sempit itu, Co Hiong tampak satu lapangan berumput dengan lereng-lereng gunung yang curam di sekitarnya, Pohon-pohon bunga Bwee tumbuh dengan suburnya, Bulan di langit menyinari pohon-pohon bunga Bwee yang diselubungi salju yang putih, dan hawa harum yang terhembus angin membikin seolah-olah disitu tempatnya dewa-dewi.

Tetapi Co Hiong tidak menghiraukan pemandangan atau keadaan di tempat itu, ia selalu mengawasi liong Giok Pin, ia tak berani mengikutinya terlampau dekat sebegitu jauh gerak- geriknya masih belum diketahui liong Giok Pin, berkat ilmu meringankan tubuh yang tinggi

Liong Giok Pin terus berjalan di atas jalan kecil diantara pohon-pohon Bwee, dan karena pohon-pohon tersebut banyak sekali, Co Hiong dapat terus mengikuti tanpa dipergoki, Di ujung jalan kecil di kaki lereng gunung terlihat tiga buah rumah gubuk yang rupanya belum berapa lama dibangun Tempat yang terpencil ini dengan pemandangan yang penilai mungkin tempat bernaungnya Lie Ceng Loan," pikir Co Hiong, panah asmara terhadap Lie Ceng Loan mulai menancap lagi dengan hebatnya,

Memanglah maksud utama Co Hiong datang ke pegunungan Kun Lun ialah untuk mencari Lie Ceng Loan, dan harapan bahwa tempat itu adalah tempat bernaungnya si gadis yang ia rindukan membikin jantungnya berdenyut lebih gencar!

Rindu asmara membikin Lie Ceng Loan menderita Liong Giok Pin lalu masuk ke dalam pekarangan dari

ketiga buah rumah gubuk yang dilingkari pagar bambu itu, ia

memanggil Lie Ceng Loan beberapa kali, tetapi tidak ada suara jawaban, Lalu ia panggil-panggil Supek-nya, juga tak dapat jawaban, ia menjadi cemas, ia dorong pintunya yang dengan mudah segera terbuka.

Rupanya pintu itu tidak dikunci, ia melangkah masuk ke dalam, di bawah sinar lilin ia hanya melihat toya besinya Ngo Kong Toa-su dan pedangnya Lie Ceng Loan, ia agak sedikit reda. "Mungkin karena terang bulan, mereka tengah menikmati sejuknya hawa udara dan pemandangan yang menenangkan pikiran," pikir Liong Giok Pin menduga-nya. ia duduk di atas kursi sebentaran, lalu ia berpikir lagi: "Tetapi mengapa sehingga jam empat ini mereka belum juga kembali?"

Dengan perasaan gelisah, ia bangun dari tempat duduknya dan jalan keluar dari rumah itu, Baru saja ia bertindak keluar, tiba-tiba ada orang yang membentak "Siapa itu! Mengapa tengah malam datang ke sini?" Bentakan itu dibarengi dengan meloncatnya satu bayangan orang, Liong Giok Pin lantas mengenali suaranya Ngo Kong Toa- su, "Supek, jangan salah paham, Aku Liong Giok Pin diperintah Suhu, disuruh mengantar Lie Sumoy pulang."

Ketika itu Ngo Kong Toa-su sudah berada di depannya Liong Giok Pin. ia berkata: "Oh, kau disuruh mengantar Lie Ceng Loan?"

Di bawah terangnya rembulan Liong Giok Pin dapat memperhatikan bahwa Ngo Kong Toa-su bermuram durja. ia terkejut "Supek, kau mengapa nampaknya, bermuram durja? Di manakah Lie Sumoy?"

Sambil geleng-gelengkan kepala Hweeshio tua itu berkata: "Kebetulan kau datang, aku dapat bicara dengan kau. Tunggu aku ambil suatu barang, kemudian aku ajak kau melihat Loan Jie." Lalu ia terus masuk ke dalam rumah,

Meskipun dalam hati merasa cemas, Liong Giok Pin tak berani menanya, ia hanya menunggu di luar rumah. Sejenak kemudian ia lihat Ngo Kong Toa-su memadamkan lilin di dalam rumah, dan jalan keluar dengan membawa toya besinya dan satu bungkusan kecil ia merasa heran dan khawatir "Bukankah Supek hendak mengajak aku menemui Lie Sumoy? Mengapa Supek membawa senjata?"

"Aku ingin segera pergi ke pegunungan Koat Cong San," jawab Ngo Kong Toa-su.

"Ha! Pergi ke pegunungan Koat Cong San pada tengah malam buta?" tanya Liong Giok Pin. "Urusan penting apakah yang memaksa dan mendesak Supek pergi ke situ?"

"Aku harus mencari Bee Kun Bu!" kata si Hweeshio tua. Tetapi Supek mesti ajak aku melihat Lie Sumoy dulu,"

mendesak Liong Giok Pin.

Tentu saja aku lebih dulu ajak kau melihat Loan Jie, baru kemudian aku berangkat pergi ke pegunungan Koat Cong San," jawab Ngo Kong Toa-su. Liong Giok Pin tak menanya lagi. ia mengikuti Ngo Kong Toa-su keluar dari pagar bambu, melewati pohon-pohon Bwee dan terus menuju ke arah timur Mereka berjalan dengan cepat sekali, agaknya Hweeshio tua itu ingin lekas-lekas mencari Bee Kun Bu.

Tak lama kemudian mereka tiba di kala suatu puncak gunung.

"Bisakah kau mendaki puncak ini?" tanya Ngo Kong Toa-

su.

Liong Giok Pin mendongak ke atas dan memperhatikan

muka jurang yang curam itu, di mana telah banyak tumbuh pohon-pohon dan rumput Lalu ia mengangguk "Bisa!" jawabnya.

Ngo Kong Toa-su yang hanya memikiri Lie Ceng Loan tidak bicara banyak ia segera loncat mendaki jurang yang curam itu, diikuti oleh Liong Giok Pin. Ketika tiba di atas, Liong Giok Pin telah berkeringat, dan Ngo Kong Toa-su terus menuju ke satu batu besar di atas puncak itu, ia berlari-lari mengejar Hweeshio itu, Ketika ia tiba di bawah batu yang besar dan mendongak ke atas, segera ia menjadi terkejut melihat Lie Ceng Loan duduk termenung di atas batu itu dengan tak menghiraukan angin dingin yang meniup-niup tubuhnya! ia memanggil: "Lie Sumoy!"

Tetapi teriakannya yang keras itu rupanya tak terdengar oleh Lie Ceng Loan. ia duduk termenung seperti patung, Liong Giok Pin datang menghampiri ia tampak kedua matanya Ceng Loan berlinangkan air mata, pakaiannya yang putih penuh dengan bola-bo!a salju kecil, air matanya yang menetes turun di atas pakaiannya telah beku menjadi es! ia pegang tangan kanannya Ceng Loan, lalu merangkulnya sambil menjerit: "Lie Sumoy...!"

Hancur hatinya melihat keadaan adik seperguruannya menderita demikian ia menangis untuk melampiaskan kesedihan hatinya, ia pun tampak menyeka matanya dengan lengan bajunya, Hatinya sakit seolah-olah tertusuk oleh senjata tajam! Dia duduk di situ sudah dua hari dan satu malam," kata Ngo Kong Taa-su. "la, dua hari dan satu malam tanpa makan dan minum. ia tidak menangis, dan tidak bicara, ia biarkan tubuhnya diserang salju dan angin yang dingin, Sudah berkali- kali aku membujuk ia makan dan minum, dan memaksa ia turun dari puncak ini, tetapi ia tak menghiraukannya. ia bukannya Lie Ceng Loan puteri angkatku, Entah tenaga gaib apakah yang telah merubah ia! ia bukannya. " Hweeshio itu

tak dapat meneruskan, kata-katanya rasa sedihnya merintangkan ucapan nya. Air matanya mengucur deras di kedua pipi nya!

"Supek!" kata Liong Giok Pin, "Kita harus berusaha menolong dia, Jika dia terus menerus menyiksa diri seperti ini, ia bisa. " Liong Giok Pin juga tak dapat meneruskan

ucapannya, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluki erat- erat tubuhnya Lie Ceng Loan.

Lalu Ngo Kong Toa-su berkata: "Sudahlah, janganlah dipeluknya erat-erat Tubuhnya mungkin sudah beku, pelukan mu yang keras dapat melukakan dia,.,."

"Supek, mengapa Supek tidak paksa dia? Angkat dia turun dari puncak ini?" tanya Liong Giok Pin.

Si Hweeshio tua menarik napas panjang, "Selama setengah bulan ini, dia telah menderita rindu asmara, Saban hari ia menanyakan apakah Bu Kokonya sudah kemba!i. Mula- mula aku berusaha menghiburkannya, Tetapi aku tak dapat terus-terusan berdusta, kini rupanya ia tak pereaya lagi kepadaku, sudah beberapa hari dia tak sudi bicara dengan aku, Sudah dua hari dan satu malam

"Lie Sumoyl" panggil Giok PIn. TapI seruannya Ku tak didengar oleh Ceng Loan.

Ia duduk di sini dengan tidak makan, tidak minum, tidak bicara dan tidak tidur!" Ketika pertama kali Liong Giok Pin mengenal Lie Ceng Loan, ia segera tertarik oleh wajahnya yang cantik, jujur dan mulia. ia sangat bersimpati terhadapnya, setelah ia menjadi muridnya Giok Cin Cu atau saudari seperguruannya ia sayang gadis itu seperti saudara kan-dung, Karena perasaan sayang itulah ia lupa bahwa ia telah bicara keras terhadap paman gurunya, "Tetapi mengapa Supek membiarkan dia datang ke puncak ini?" demikian katanya,

Sambil geleng-geleng kepala, Ngo Kong Toa-su berkata: "Jika dia dapat menangis dan mengeluarkan isi hatinya kepadaku, aku masih dapat mencegah ia datang ke sini, Tetapi sudah hampir satu minggu, dia seperti satu patung dan boneka, dia tidak bicara, tidak menangis, Berulang kali aku membujuk, mendesak, bahkan mengancam nya, tetapi ternyata sia-sia!

Dengan payah dua hari berselang, tetapi sekarang kau saksikan dengan kepala matamu sendiri bahwa sikapnya. " ia

berhenti sejenak, lalu meneruskan: "Jika ia terus tidak makan tidak minum, tidak tidur jjiga, terus duduk di sini, aku khawatir ia tak dapat bertahan tiga hari lagi. Rindu asmaranya tak dapat disembuhkan dengan apapun!" ia berdiri dengan menundukkan kepalanya, menahan rasa sedih hatinya,

Lalu ia menarik napas panjang, dan meneruskan: "Dua hari berselang, entah mengapa, tiba-tiba ia memberitahukan aku bahwa Bu Kokonya akan segera kembali, dan ia ingin mendaki satu puncak yang tinggi menanti kedatangan nya. Mula-mula aku merasa girang, karena ia mulai mau bicara lagi, Aku pikir ada baiknya ia berjalan-jalan keluar dari rumah. aku tidak mencegah keinginannya, Setelah ia menanya letaknya pegunungan Koat Cong San dan berada di jurusan mana, segera ia mendaki puncak ini. Demikianlah ia berada di atas batu di puncak ini selama dua hari dan satu malam !"

Nampak Liong Giok Pin agak gusar, "Ai! Mengapa Bee Kun Bu melupai, dan menyiksa padanya? Aku yakin jika Suhu ketahui perbuatan ini, beliau takkan membiarkannya, Aku harus segera minta Suhu mengutus orang memanggil kembali Bee Kun Bu untuk diadili!" kata Liong Giok Pin dengan gusar dan menyesali

Dengan mengertak gigi, Ngo Kong Toa-su berkata: H Urusan ini tak usah gurumu yang menghukumnya. Aku pun tak dapat memberi ampun kepadanya karena dia telah membikin Loan Jie menderita, jika aku ketemukani dia, aku pasti hajar padanya dengan toya besi ini, dan akhiri omongannya dengan menghantamkan toyanya ke tanah.

Baru saja ia berkata-kata, tiba-tiba dari belakang mereka terdengar orang bicara, suaranya nyaring,

"Jika Bee Kun Bu telah melanggar peraturan guru-gurunya, kau tak usah turun tangan, Aku pun tak akan membiarkannya, Aku akan cari padanya di manapun ia berada, untuk dibunuh mati dengan pedang ini!"

Entah kapan, Hian Ceng Tojin juga telah mendaki puncak itu. Di bawah terangnya sinar bulan terlihat wajahnya yang menunjukkan kemarahan, ia berjalan menghampiri mereka.

Melihat Hian Ceng Tojin, Liong Giok Pin lekas-lekas berlutut menghormat di hadapannya,

"Maaf jika Liong piok Pin telah salah omong," Giok Pin berkata, ,

"Jika Bee Sute mu telah melupakan budi dan kasih sayang, melanggar peraturan partai, ia harus dihukum, Aku tak mempersalahkan kau. Ayo, bangun!" kata Hian Ceng Tojin. Lalu ia mendekati Lie Ceng Loan, dan memperhatikan wajahnya, Lalu ia menarik napas panjang dan berkata: ttAi! Anak ini menderita hebat. Kita harus lekas-lekas menolong dia." Kemudian ia tepuk jalan darah di punggungnya Lie Ceng Loan,

Tetapi Ngo Kong Toa-su melepaskan tinjunya dengan ilmu Hui Hong Jok Liu atau Angin puyuh menghalau daun Liu, dan anginnya dari tinju itu mencegah tepukannya Hian Ceng Tojin. "Kau tahu dia menderita hebat, tetapi mengapa kau gegabah menepuk punggungnya? Tepukanmu itu dapat menolong dia, tetapi dapat juga membinasakannya! Jika keadaan tubuhnya tidak berbahaya, aku siang-siang sudah menolongnya," kata Ngo Kong Toa-su.

Semenjak Hian Ceng Tojin kenal dan bersahabat kepada Ngo Kong Toa-su, belum pernah ia melihat Hweeshio itu demikian gusarnya. Biasanya mereka saling hormat menghormati dan senantiasa menunjukkan sikap ramah tamah, Cegahan dan bentakan itu mengejutkan ia. ia mundur dua langkah, dan berkata sambil tersenyum:

"Sudah setengah bulan hawa udara sangat buruk, Malam ini kebetulan hawa udaranya baik. sebetulnya aku hendak mengajak kau nenikmati keindahan malam terang bulan ini, tetapi ketika aku datang ke rumahmu, nyata kau sudah pergi, Jika aku tidak mendengar pereakapanmu berdua, aku tidak mengetahui bahwa kau berada di atas puncak ini." Kata Hian Ceng Tojin.

Tidak menunggu Hian Ceng Tojin bicara habis, Ngo Kong Toa-su berkata:

"Maafkan perkataanku yang kasar tadi. Aku dan Loan Jie telah melewatkan waktu di atas puncak ini selama dua hari dan satu malam, Aku merasa letih sekali, Maaf jika aku tak dapat menemani kau menikmati malam terang bulan ini."

Hian Ceng Tojin tersenyum. "Kita telah bersahabat beberapa puluh tahun mustahil kau masih tidak memahami sikap dan isi hatiku? Seumur hidupku aku tak hanya terima dua orang murid. Murid yang besar telah aku usir, tapi dia telah minta ampun selama tiga hari tiga malam di kamar tengah, memohon agar diterima kembali, dengan perjanjian ia akan dapatkan peta Ceng Cin Tauw untuk aku,

Ketika itu kau pun menyaksikan dengan kepala mata sendiri bahwa dia telah menunaikan janjinya, dan tewas ketika membawa peta itu tidak jauh dari kuil Sam Ceng Koan. Jika Bee Kun Bu melanggar peraturan partai, aku pasti tidak akan memberi ampun kepadanya, ia mesti mati di bawah pedangku! Kau tadi kata ingin pergi ke pegunungan Koat Cong San mencari dia, aku suka menyertai kau pergi ke pegunungan itu. Tetapi sekarang lebih terpenting menolong Loan Jie dulu!" kata HianCeng,

Tampak Ngo Kong Toa-su agak serba salah dan bingung. "Aku telah bersumpah akan mengurus dan menjaga Loan

Jie. Demi kepentingannya, aku tak menghiraukan bahaya apapun, Aku harus " ia tak dapat meneruskan kata-katanya.

ia merasa kecewa sekali terhadap Bee Kun Bu yang telah membikin puteri angkatnya menderita hebat,

"Lie Ceng Loan telah diterima menjadi murid partai Kun Lun, Kami tidak akan tinggal diam kami akan berusaha membereskan soalnya, sekarang kita yang menolong dia." Kata Hian Ceng Tojin menghibur Lalu ia raba jidatnya Lie Ceng Loan. ia terkejut karena jidat itu dingin sekali ia menanya:

"Mengapa kau membiarkan dia diam di atas puncak ini? Hawa yang dingin mungkin telah membekukan jalan-jalan darahnya, Aku khawatir aku tak dapat menolong untuk membebaskan jalan-jalan darahnya."

Ngo Kong Toa-su tidak segera menjawab. ia merasa bersalah Tiba-tiba ia berkata: "Ai! Kita cari Bee Kun Bu!"

"Ai!" keluh Hian Ceng Tojin. "Jika aku tak bisa menolong Ceng Loan, apalagi Bee Kun Bu apakah dia dapat menolongnya?"

"Lebih baik Bee Kun Bu yang menolong atau membinasakan puteriku daripada kau, bukan?" kata Ngo Kong Toa-su agak ketus,

Ucapan itu merupakan suatu sindiran Hian Ceng Tojin tidak berkata lagi, ia hanya menarik napas panjang, Untuk sementara waktu semua orang membisu, seolah-olah tak berdaya menolong Lie Ceng Loan, Pada saat itu dari jauh terdengar suara seruling yang makin lama makin dekat terdengarnya, Liong Giok Pin yang pertama terpengaruh oleh suara seruling itu. Dengan kedua mata berlinang ia menanya: "Supek, mungkinkah Giok Siu Sian Cu datang lagi?"

Hian Ceng Tojin mengangguk

iblis wanita itu mengapa belum berlalu dari daerah ini?" ia berkata,

Suara seruling itu menjadi semakin memilukan hati, seolah-olah seekor kera yang terluka merintih-rintih kesakitan

Ketiga mereka, kecuali Lie Ceng Loan, dipengaruhi oleh suara seruling yang indah itu, akan kemudian terlihat seorang wanita yang mengenakan pakaian hitam dengan rambut terurai mendatangi dengan memegang sebuah seruling dari batu Giok, Kali ini ia tidak menutupi mukanya dengan selubung kain hitam, dan wajahnya kelihatan bermuram durja.

Hian Ceng Tojin, setelah mengawasi Giok Siu Sian Cu, lalu memperhatikan wajahnya Ngo Kong Toa-su.

Hweeshio tua itu kelihatannya sedih sekali Rupanya ia terkenang kepada peristiwa-peristiwa yang lampau, "Karena terlampau sedih, Lie Ceng Loan telah tak dapat mengendalikan kecemasannya yang merangsang asmara, Meskipun berbahaya untuk menolong membebaskan jalan- jalan darahnya, tetapi dengan berusaha menolong, aku masih berharapan dapat menolong Jika aku tidak berusaha, ia pasti tak dapat hidup lebih lama lagi, Kini ia masih tak sadarkan diri ada baiknya aku segera berusaha membebaskan jalan-jalan darahnya," pikir Hian Ceng Tojin.

Dengan tekad demikian, lalu dengan tinju kanannya ia tumbuk jalan-jalan darah di kedua pundak Lie Ceng Loan, Tumbukan itu dilakukan dengan cepat sekali, ia melakukan perbuatan itu dengan perhitungan bahwa jika ia tak berhasil, Ngo Kong Toa-su pasti mengamuk dan melabrak ia. Tetapi karena ia bermaksud mulia, ia rela menghadapi segala kemungkinan! Dengan perasaan yang sangat tegang itu ia berusaha membebaskan jalan darahnya Lie Ceng Loan yang penting,

Sekonyong-konyong Lie Ceng Loan menjerit, kedua matanya terbelalak darah keluar dari mulutnya, tubuhnya jatuh ke belakangan Hian Ceng Tojin lekas-Iekas menyanggapnya dan direbahkan di tanah, ia menggosok-gosok, memijit-mijit dan menguruti bagian-bagian yang ia telah tumbuk tadi, Terlihat keringat keluar dari seluruh tubuhnya Hian Ceng Tojin selagi ia melakukan pembebasan jalan darah itu, meskipun hawa di atas puncak sangat dinginnya

Sejenak kemudian Lie Ceng Loan dapat bergerak, dan ia berusaha bangun, Hian Ceng Tojin bantu membangunkan dan didudukkan di atas tanah, Lie Ceng Loan memandang ke sekitarnya, dan ketika melihat Ngo Kong Toa-su, ia segera menanyai "Apakah Bu Koko telah kembali?"

Hian Ceng Tojin mengusap-usap rambutnya" Lie Ceng Loan, "Dia segera akan kembali Kau harus berlaku tenang menanti kembalinya," jawab Hian Ceng Tojin menghiburkan dengan senyumyang menghancurkan hati, Lie Ceng Loan berkata lagi:

"Aku tentu menanti kembalinya, Sepuluh tahun, seratus tahun, aku tetap menanti!"

Kemudian terdengar lagi bunyinya seruting, dan semuanya tunjukkan pandangannya ke arah Giok Siu Sian Cu yang berdiri tidak berapa jauh sambil meniup serulingnya, Suara seruling yang sedih membikin semua mereka mengucurkan air mata, suara itu lambat laun terdengarnya sangat sedih dan pilu seolah-olah seorang wanita menangis tersedu-sedu, tereampur suara tangisan-nya Lie Ceng Loan di atas puncak yang sunyi senyap itu. Ketika suara seruling berhenti, Lie Ceng Loan pun berhenti menangis, ia melihat ke arah Giok Siu Sian Cu, lalu berkata: "Jika kau ingin mencari Bu Koko, kau harus menanyakan kepada Pek Cici." Giok Siu Sian Cu tidak mengerti ucapannya Lie Ceng Loan. ia menanya: "Aku kenal Bu Kokomu, tapi siapakah Pek Cici itu?"

Hian Ceng Tojin segera peluk Lie Ceng Loan dan bersama-sama gadis itu, ia ingin meloncat, tetapi Giok Siu Sian Cu mencegat: "Sam Ceng Koan Cu (kepala kuil Sam Ceng Koan), siapakah gadis ini? Mengapa kau tak memberi kesempatan kepadanya untuk bicara terus?" tanya Giok Siu Sian Cu.

"Kau tak perlu tahu siapa gadis ini!" jawab Hian Ceng Tojin dengan ketus.

Giok Siu Sian Cu menjadi gusar

"Karena aku memandang Bee Kun Bu, aku tidak ingin ribut dengan orang-orang dari partai Kun Lun. Tetapi jangan anggap bahwa aku takut bertempur melawan kau!"

Hian Ceng Tojin khawatir Giok Siu Sian Cu melukai Lie Ceng Loan, maka sebelumnya menjawab, ia lebih dulu loncat ke dekat Liong Giok Pin sambit membawa Lie Ceng Loan. ia serahkan Lie Ceng Loan kepada Liong Giok Pin, lalu bertindak maju lagi, Secepat kilat Giok Siu Sian Cu loncat ke arah Liong Giok Pin yang segera menahan dengan pedangnya,

Dengan seruling batu Gioknya, Giok Siu Sian Cu menangkis tusukan pedang Liong Giok Pin, lalu diteruskan menyodok sehingga Liong Giok Pin terpaksa bertindak mundur tiga langkah,

Ketika mereka saling menyerang dan menangkis, Hian Ceng Tojin tetap menjagai Lie Ceng Loan. sebetulnya Giok Siu Sian Cu ingin menyerang Hian Ceng Tojin dan memaksa Lie Ceng Loan memberitahukan di mana Bee Kun Bu berada, tetapi Hian Ceng Tojin selalu merintangi, perbuatan ini membikin Giok Siu Sian Cu menjadi murka sekali, Sambi! menjerit ia serang Hian Ceng Tojin dengan jurus "Liong Seng li Sut" atau Naga nyeruduk satu jalan, dan menyodok lawannya bertubi-tubi dengan seruling batu Gioknya,

Hian Ceng Tojin yang harus menjagai Lie Ceng Loan hanya dapat menangkis tak dapat menyerang, Sodokan yang bertubi-tubi itu berhasil menyodok betis kanannya yang digunakan untuk menendang, ia merasa sakit dan panas, Giok Siu Sian Cu telah melihat ini, ia mendesak terus, Tiba-tiba ia merasa ada hembusan angin di belakangnya.

Giok Siu Sian Cu yang biasa melawan lawan-lawan yang lihay, segera insyaf bahwa orang yang ada di belakangnya pasti tinggi ilmu silatnya ia tidak berbalik untuk melawan, tetapi ia loncat ke depan untuk menghindarkan diri dari hembusan angin itu sambil menyodok lagi kepada Hian Ceng Tojin,

Orang yang menyerang ia dari belakang ialah Ngo Kong Toa-su yang tepaksa turun tangan karena melihat Hian Ceng Tojin keteter Ketika Giok Siu Sian Cu loncat ke depan sambil menyodok lagi kepada Hian Ceng Tojin yang terus menjagai Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su lihat bahwa sodokan itu tak dapat dielakkan oleh kawannya

Jika Hian Ceng Tojin menangkis, maka sodokan itu dapat melukai Lie Ceng Loan, ia tidak keburu menolong menangkis, maka dengan satu sabetan toya besinya ia paksa Giok Siu Sian Cu meloncat ke samping dengan jurus Tiauw Hoat Lam Hai" atau menghalau ombak ke laut selatan,

Di lain pihak Hian Ceng Tojin yang melihat sodokan maut memperdengarkan jeritannya, Sambil memeluk Lie Ceng Loan ia menotokkan kesepuluh ujung jari kakinya di atas tanah meloncat tinggi dan tiba di tanah satu depan lebih jauhnya!

Giok Siu Sian Cu harus loncat ke samping meng-egoskan sabetan toya besinya Ngo Kong Toa-su yang sudah menjadi beringas sekali, Wanita yang kepala batu itu tidak senang diserang dari belakang. ia berbalik, dan dengan secepat kilat ia serang Ngo Kong Toa-su dengan maksud menotok jalan- jalan darah lawannya, Ngo Kong Toa-su terkejut ia loncat mundur tiga langkah, lalu dengan mengayun toya besinya ia balas menyerang dengan jurus "Lek Sin Ngok Gak" atau Me-nyapu bersih lima gunung,

jarang ada orang yang dapat tahan sapuan loncat mundur Hweeshio tua itu, Giok Siu Sian Cu harus loncat mundur beberapa tindak untuk maju dan berusaha menotok jalan-jalan darah lawan nya. Ngo Kong Toa-su mengetahui bahwa totokan yang dilancarkan dengan ujung seruling batu Giok itu tak dapat dipandang remeh. ia loncat ke kiri dan ke kanan mengegos dari semua totokan, tetapi jubahnya masih juga kena tersabet ujung seruling batu Giok itu.

Inilah untuk pertama kali ia alami selama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw tiga puluh tahun lebih, ia merasa malu, mukanya menjadi merah, Tetapi ia menjadi semakin nekat Lalu ia keluarkan semua kepandaiannya, Sambil menjerit-jerit seperti me-raungnya seekor naga mengamuk ia menyerang dengan jurus-jurus ilmu toya Ciang Liong Coang Hoat atau ilmu toya naga turun dari angkasa,

Ketika itu Hian Ceng Tojin telah menyuruh Liong Giok Pin bawa Ue Ceng Loan ke tempat yang agak jauh, dan ia berdiri menonton kawannya bertempur melawan iblis wanita itu. ia menyaksikan bahwa Giok Siu Sian Cu terkurung oleh sabetan, kemplangan, sodokan dan geprakan toya besinya Ngo Kong Toa-su, dan wanita iblis itu harus meloncat-loncat ke kiri dan ke kanan atau ke atas untuk mengegoskan diri dari serangan toya maut itu! Tiba-tiba terlihat Giok Siu Sian Cu loncat tinggi ke atas, dari atas ia menyerang kepalanya Ngo KongToa-su. Sinar terang memancar keluar dari seruling batu Giok itu!

Ngo Kong Toa-su terkejut Dengan memegang toya besinya di kedua tangannya, ia putar toya itu dengan jurus Cai In Ki Teng atau membubarkan awan di atas puncak, Giok Siu Sian Cu tekas-lekas loncat ke samping dan turun di tanah untuk segera menyerang Hian Ceng Tojin yang sedang menonton Tetapi Hian Ceng Tojin dengan pedang terhunus sudah siap meladeni iblis wanita itu, "Praang!!!" terdengar seruling batu Giok beradu dengan pedangnya Hian Ceng Tojin, Dengan bentroknya kedua senjata itu, Giok Siu Sian Cu coba meloncat ke atas lagi dan turun di belakang Ngo Kong Toa-su untuk menyodok jalan darah punggungnya Hweeshio tua itu,

Ngo Kong Toa-su tidak keburu menangkis, ia lekas-lekas loncat ke depan delapan kaki jauhnya, lalu berbalik menyerang dengan jurus "Kauw Pa Kim Ceng" atau memukul keras lonceng emas,

Tetapi serangan atau totokan Giok Siu Sian Cu itu sangat cepat Barusaja kakinya menyentuh tanah, ia telah meloncat ke atas lagi setinggi hampir dua depa, dan jatuh lagi di atas kepalanya Hian Ceng Tojin.

serangan dari atas ini cepat sekali dan tak terduga, Untung Hian Ceng Tojin tinggi ilmu silatnya, ia bertindak mundur dua langkah, menanti turunnya si iblis wanita, lalu menusuknya dengan jurus Tiang Hong Keng Tian atau pelangi panjang menembusi angkasa, Tusukan itu dielakkan sambil loncat maju seolah-olah terlepasnya anak panah dari busurnya!

Giok Siu Sian Cu sangat lincah, Lagi-lagi sudah loncat ke atas dan jatuh di depan Ngo Kong Toa-su. ia harus keluarkan seluruh kepandaiannya melawan dua guru silat yang termashur itu, dan selama pertempuran berlangsung hampir tujuh puluh jurus ia belum juga berhasil menaklukkan lawan- lawannya, ia hanya dapat loncat ke atas menyerang yang satu, lalu loncat ke atas lagi menyerang yang lain, dan pada tiap-tiap menyerang, ia harus meloncat lagi mengegosi serangan balasan yang merupakan tusukan dari Hian Ceng Tojin atau sodokan dan kemplangan dari toya besinya Ngo Kong Toa-su. Apabila ilmu silatnya tidak lihay, mungkin dalam lima jurus ia sudah menjadi mayat!

Kepala kuil Sam Ceng Koan bertempur melawan iblis wanita

Selama pertempuran berjalan tiga puluh jurus itu, Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su masih belum insyaf lihaynya ilmu silat lawannya, Mereka hanya merasakan bahwa lawannya itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, dan dapat menggunakan tangkisan-tangkisan untuk meloncat mencelat ke atas, Setelah lewat tiga puluh jurus lawannya tiba-tiba merubah jurus-j urus nya. ia berusaha keras menotok jalan darah mereka dengan seruling batu Gioknya dalam jurus-j urus Mo In Cap Pwee Cau atau menyentuh awan dengan delapan belas langkah, Serangan- serangan itu harus dilakukan dengan meloncat ke atas,

Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su berdiri hanya satu depa lebih terpisahnya melawan iblis wanita itu yang menyerang sambil meloncat ke atas ke kiri dan ke kanan, seolah-olah seekor burung walet menyamber sebatang rumput untuk sarangnya, dan serangan-serangannya makin lama makin gencar.

Iblis wanita ini betul-betul lihay," pikir Hian Ceng Tojin sambil bertempur "Seumur hidupku baru kali ini aku menjumpai lawan yang berat Aku harus melawan dengan penuh perhatian dan sekuat tenaga." Dengan tekad itu Hian Ceng Tojin lalu mengumpulkan semua tenaga dalamnya untuk menyongsong dengan dahsyat.

Ketika itu Giok Siu Sian Cu sedang turun menyerang Hian Ceng Tojin, Dengan menjerit keras, Hian Ceng Tojin meloncat ke atas setinggi satu depa lebih, lalu dengan jurus Ban Hong Cut Cao atau Ribuan tawon menyerang keluar dari sarang, pedangnya terputar-putar dan menusuk bertubi-tubi kepada lawannya!

jurus Ban Hong Cut Cao ini merupakan salah satu jurus yang istimewa dahsyatnya dari ilmu pedang Cui Hun Cap Ji Kiam, serangan pedang itu menderu-deru dan berkilau-kilau, Giok Siu Sian Cu tak berani menangkis, ia harus berkelit dan mengegos, Dengan gesit ia berlarian di tanah, dengan demikian ia menghindari serangan Ban Hong Cut Cao dari Hian Ceng Tojin, Menampak jurus nya tiada hasil, Hian Ceng Tojin melompat melewati kepalanya Giok Siu Sian Cu yang ketika itu seperti seekor ular berbisa menyambar dan menyerang Ngo Kong Toa-su, Hian Ceng Tojin mengejar sambil membentak "Hei! jika kau bertempur dengan berlari-larian, kau tidak terhitung pandai Nyatalah julukan Giok Siu Sian Cu (Dewi seruling batu Giok) hanya nama kosong belaka!"

Ejekan tersebut membikin panas hatinya Giok Siu Sian Cu, ia tidak jadi terus menyerang Ngo Kong Toa-su, tetapi balik melawan Hian Ceng Tojin. Kedua senjata beradu, dan kedua- duanya mereka terpental mundur Sambil memegang seruling menjagai dadanya Giok Siu Sian Cu berkata: "Kau jangan mengejek Aku bersedia melawan kau dengan cara bagaimanapun Tetapi kita harus bertempur dengan bertaruh!"

"Ha! Bertaruh apa? Kau sebutlah! Aku sanggup bertaruh potong kepala!" kata Hian Ceng Tojin mengejek

"Jika aku kalah, aku akan patahkan seruling, memotong rambut, dan berlalu dari kalangan Kang-ouw untuk tinggal menyendiri di pegunungan!" kata Giok Siu Sian Cu.

"Jika aku kalah," kata Hian Ceng Tojin, "Aku potong lengan kananku, dan seterusnya tidak dapat menggunakan pedangku lagi!"

Giok Siu Sian Cu menggeleng-gelengkan kepalanya,

Tidak usah demikian hebat Jika kau kalah, cukuplah kau beritahukan di mana Bee Kun Bu berada!"

Mendengar jawaban itu, Hian Ceng Tojin terkejut ia insyaf bahwa iblis wanita ini pun telah tergila-gi!a kepada muridnya itu, ia tidak segera menjawab sebetulnya ia menaruh kepereayaan penuh terhadap muridnya, dan yakin bahwa muridnya yang mulia dan setia itu tak akan melakukan perbuatan yang tidak pantas, Meskipun Sumoynya, Giok Cin Cu, mencela, ia selalu membela muridnya. jawaban Giok Siu Sian Cu telah membikin kepereayaan atau keyakinannya tergoyang. "Di dalam setengah bulan ini, kau telah dua kali datang ke pegunungan Kun Lun, apakah maksudmu itu untuk menemui Bee Kun Bu?" tanya Hian Ceng Tojin dengan bimbang,

Giok Siu Sian Cu mengangguk, kemudian dengan senyuman yang sedih ia berkata: "Sebetulnya aku tidak ingin melihat dia lagi, Akan tetapi suatu dorongan di dalam hatiku mendesak aku untuk menengok dia lagi!"

^sebenarnya apa maksudmu hendak melihat dia?" tanya Hian Ceng Tojin. "Kau harus ketahui bahwa peraturan partai Kun Lun kita sangat keras, Seorang murid yang telah melanggar peraturan ini tak dapat diberi ampun. Kau tak dapat sembarangan memfitnah dia sehingga muridku itu dihukum tanpa salah."

Tiba-tiba Giok Siu Sian Cu mendongak ke atas dan tertawa keras, Lalu dengan kedua mata melotot ia membentak "Jika kalian berani mengatakan Bee Kun Bu berbuat salah atau tidak pantas, aku segera bakar habis seluruh kuil Sam Goan Kong!"

Hian Ceng Tojin menjadi gusar lagi, ia balas membentak "Bee Kun Bu adalah muridku! Mengapa aku tak berani menegur dia, Jika kau mau bakar kuil Sam Goan Kong, kau boleh coba! Kami ketiga pemimpin partai Kun Lun tidak takut kepadamu!"

"Membakar kuil Sam Goan Kong mudah sekali, Jika kau tidak pereaya, aku akan lakukan pembakaran itu di dalam jangka waktu satu tahun," kata Giok Siu Sian Cu mengejek "Kini kita harus membereskan urusan pertaruhan kita dulu, Jika kau kalah, apakah kau sudi memberitahukan aku di mana jejaknya Bee Kun Bu?"

Hian Ceng Tojin melihat kepada Ngo Kong Toa-su yang berdiri dengan siap untuk menyerang lagi dengan toya besinya, Lalu ia menjawab: "Baik! Jika kau menang, aku akan memberitahukannya!" Lalu ia menghampiri Ngo Kong Toa-su dan berbisik: "Kau lekas-lekas bawa Loan Jie turun dari puncak ini. ia tak tahan hawa yang dingin dari puncak ini." sebetulnya Giok Siu Sian Cu ingin merintangi lawannya menghampiri Ngo Kong Toa-su, tetapi setelah menyaksikan jurus Ban Hong Cut Cao ia tak berani bertindak sembrono Lagi pula maksudnya hanya ingin dapat keterangan tentang Bee Kun Bu. ia harus menang, untuk dapat mengetahui jejaknya Bee Kun Bu.

Kedua-duanya berdiri berhadap-hadapan, Giok Siu Sian Cu mulai menyerang dengan serulingnya, Hian Ceng Tojin putar lengannya, hembusan angin dari lengan itu menghalaukan sodokan seruling batu, dan pedangnya dibarengi menusuk pundak lawannya,

Giok Siu Sian Cu mengegos untuk segera menyerang lagi, Ketika mereka bertempur dengan jurus-jurus yang lain.

Mereka menyerang dengan tenaga dalam, oleh karena itu tiap-tiap serangan mengandung tenaga dari seribu kati, dan tiap-tiap serangan merupakan dorongan yang dapat merobohkan gunung!

Karena hebat serangan-serangan itu, kedua belah pihak tidak berani sembarangan, karena tiap-tiap serangan jika menemui sasaran, akan membawa maut! Bagi orang yang tak mengerti ilmu tenaga dalam (Lweekang), nampaknya mereka bukan sedang bertarung, mereka hanya saling pandang memandang dengan kedua mata terbelalak sambit menahan napas untuk mengumpulkan tenaga dalam. Bila satu serangan tertangkis atau terhindar maka mereka mundur lagi mencari lowongan untuk mengirim serangan yang menghasilkan Bagi orang yang mahir dalam ilmu silat, terlihat bahwa tiap-tiap serangan dilancarkan dengan ilmu yang tinggi sekali

Demikianlah mereka bertempur selama hampir satu jam, dengan belum ada yang menang atau kalah.

Giok Siu Sian Cu tak sabar lagi, ia menjerit dan loncat tinggi ke atas. Tapi Hian Ceng Tojin tidak memberi kesempatan, ia mengejar dan menyerang dengan jurus Ki Hong Teng Kauw atau Burung Garuda Mengejar Naga dengan tusukan pedangnya, Giok Siu Sian Cu merapatkan kedua betisnya, ia mengegos ke samping, lalu dari atas dengan serulingnya ia menyodok kepalanya Hian Ceng Tojin,

Setelah gagal menusuk lawannya dengan jurus Ki Hong Teng Kauw, Hian Ceng Tojin lekas-lekas mencelat ke belakang menghindari totokan di atas kepalanya, dan segera menyerang lagi dengan jurus Pwee Pui Hong Ji atau Taufan menyerang dari delapan penjuru sambil memutar dan menusuk dengan pedangnya!

Tapi sambil tertawa Giok Siu Sian Cu merapatkan kedua betisnya untuk meloncat ke atas satu depa lebih tingginya.

Htan Ceng Tojin terkejut Belum pernah ia menemui lawan yang demikian lihay ilmu meringankan tubuhnya, Cara lawannya menghindarkan atau mengelakkan diri dengan meloncat ke atas demikian cepat dan lincahnya mungkin tak ada taranya di kalangan Kang-ouw, pikirnya,

Dua kali ia telah menyerang dengan jurus-jurus istimewa dari Cui Hun Cap Ji Kiam, namun kesemuanya gagal! justru pada saat ia terkejut, ia merasa angin hebat menghembus di atas kepalanya, Lekas-lekas ia putar pedangnya di atas kepalanya untuk menjaga segala serangan. terlihat olehnya Giok Siu Sian Cu menukik dari udara menuju ke arah kepalanya dengan serulingnya di putar siam sekali jurus itu adalah salah satu jurus yang amat lihay dari ilmu Bo In Cap pwee Cao.

Hian Ceng Tojin harus lebih waspada menyerangnya, Setelah memutarkan pedangnya di atas kepala, ia melangkah mundur dua tindak untuk menyabet lagi la-wannya, pedang itu ditangkis oleh seruling batu Giok dan dua senjata beradu hebat sekali, memuncratkan lelatu dan bersuara nyaring, Kesempatan itu digunakan oleh Hian Ceng Tojin untuk menebas tangan lawan yang memegang seruling batu Giok,

Tidak pereuma jika Giok Siu Sian Cu peroleh julukan iblis Wanita, Betapapun cepatnya tebasan pedang itu, satu gentakan dari serulingnya telah mendorong pedang ke samping, dan Giok Siu Sian Cu telah meloncat ke atas lagi untuk melancarkan serangan-serangan baru.

Dalam pengalaman-pengalamannya selama beberapa puluh tahun di kalangan kang-ouw, Hian Ceng Tojin telah bertempur melawan banyak jago-jago silat, Tetapi seorang jago silat yang menyerang lawan dari udara adalah pertarungan pertama kali yang ia pernah hadapi.

Pertarungan berlangsung tiga puluh jurus lagi, tetapi masih belum ada yang menang atau kalah Diserang dengan ilmu Bo In Cap Pwee Cao, Hian Ceng Tojin tak memperoleh kesempatan melancarkan serangan terus menerus, ia harus mencari jalan lain untuk menghadapi lawan yang luar biasa itu! ia tidak tergesa-gesa lagi menyerang lawan nya. Dengan lebih waspada dan teliti ia menanti kesempatan yang baik mengirim satu tusukan yang dahsyat Betul kesempatan untuk menang menjadi kurang, tetapi ia tak dapat terkalahkan

Giok Siu Sian Cu merasa pasti bahwa dengan jurus yang istimewa itu ia pasti dapat mengalahkan lawannya dalam dua puluh jurus, tetapi setelah pertarungan berlangsung hampir empat puluh jurus, ia masih tak berhasil mengalahkan lawannya, ia menjadi cemas. ia maju merapat lawannya, lalu menyodok dadanya Hian Ceng Tojin dengan serulingnya,

Hian Ceng Tojin telah siap, Dengan pedangnya ia menggentak seruling itu ke atas, lalu balas menusuk berturut- turut tiga kali dengan jurus In Liong Sam Sat atau Naga Putih Nyeruduk Tiga kali!

Tiap-tiap tusukan pedang itu dibarengi dengan jotosan tinju ke depan sehingga hembusan angin yang keluar dari jotosan tinju itu juga membantu mendorong lawan, Tetapi Giok Siu Sian Cu juga menjotos ke depan dengan tinju kirinya sehingga kedua-duanya terdorong mundur lebih kurang lima kaki ke belakang

Setelah berdiri diam sejenak Giok Siu Sian Cu loncat menerkam lagi Hian Ceng Tojin juga sudah mengumpulkan semua tenaga dalamnya, ia mengegos, dan lawannya menyodok angin, Lalu ia menusuk lawannya dari belakang, tetapi Giok Siu Sian Cu telah meloncat ke atas dua depa lebih tingginya.

Setelah pertarungan berlangsung hampir seratus jurus, kedua-duanya telah basah dengan keringat Dan saat untuk menang atau kalah segera akan tiba, karena kedua-duanya sudah menjadi letih. Pihak yang manapun akan kalah jika bertindak lengah sedikit saja!

justru dalam saat yang genting ini terdengar oleh mereka suara orang tertawa gelak-gelak yang nyaring dan sejenak kemudian orang itu telah berdiri tidak jauh dari mereka.

Kedua-duanya mengawasi orang itu yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata dua toya besi yang pendek dan berujung kepala naga, Mereka mengenali orang itu. Dia adalah Sin Goan Tong, kepala partai silat Kong Tong Pay, Tibanya Sin Goan Tong telah mengejutkan mereka yang sedang bertarung itu.

Hian Ceng Tojin memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya.

"Angin apakah telah meniup saudara Sin datang Ke pegunungan Kun Lun ini? Maaf jika aku tak menyambutnya dengan seksama," kata Hian Ceng Tojin,

Sin Goan Tong tidak menjawab pertanyaannya Hian Ceng Tojin, ia hanya berpaling kepada Giok Siu Sian Cu.

"Meskipun kau lari ke dasar lautan atau ke ujung langit, aku pasti dapat mencari kau!" kata Sin Goan Tong menyindir.

Giok Siu Sian Cu mengerutkan kening, dan berpikir

" Aku telah bertarung melawan Hian Ceng Tojin lebih dari seratus jurus, aku telah merasa letih, Aku khawatir tak dapat bertahan melawan dua puluh jurus lagi, Paling baik aku berhenti bertempur mencari kesempatan untuk beristirahat Dengan keputusannya itu ia mengawasi Sin Goan Tong dan membentak: "Perlu apa kau mencari aku? sekarang sudah ketemu, mau apa kau?"

Suasana berada di saat-saat yang genting, tiba-tiba terdengar oleh mereka suara orang tertawa gelak-gelak dan menyusul kemudi orang itu telah berdiri tidak iauh dari mereka.

Sin Goan Tong tampak pakaiannya Giok Siu Sian Cu basah dengan keringat, ia ketahui bahwa wanita ini telah letih dalam pertempuran itu. Lalu ia menjawab "Aku mencari kau, karena aku khawatir kau dihina, Oleh karena itu dengan tak menghiraukan perjalanan yang jauh dan sukar aku berusaha mencari kau.,." kata Sin Goan Tong bermaksud meredakan amarahnya wanita itu.

Giok Siu Sian Cu tidak menjawab, ia hanya tertawa, ia berpendapat bahwa siasatnya akan berhasil

Sin Goan Tong juga merasa girang melihat Giok Siu Sian Cu yang ia gilai tertawa gembira, Setelah itu barulah ia berpaling kepada Hian Ceng Tojin dan berkata: "Aku telah lama mendengar tentang ilmu pukulan Tian Kong Ciang dan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun yang lihay sekali Tadi aku pun telah menyaksikan dengan kepala mata sendiri saudara bertarung melawan adikku ini. Aku pun ingin belajar dari saudara beberapa jurus, Aku yakin saudara tidak menolak, karena aku ingin mengetahui sampai di mana kelihayan ilmu silatnya partai Kun Lun."

Mendengar ejekan itu, Hian Ceng Tojin menjadi marah.

Dengan tak menghiraukan keletihannya, dengan pedang terhunus ia menuding dan membentak: "Meski-pun aku telah bertarung lama, aku masih dapat melayani saudara, Ayo!

Seranglah!"

Sin Goan Tong melihat keadaan di sekitarnya, ia hanya melihat Hian Ceng Tojin dan Giok Siu Sian Cu. "Kuil Sam Goan Kong tidak jauh dari puncak ini, mengapa tidak ada orang yang menyaksikan mereka bertempur?" Sambil berpikir ia ambil dan pegang kedua toya besi pendeknya, dan siap sedia menyerang Hian Ceng Tojin. ia sengaja mengumpulkan tenaga dalamnya untuk menyerang dengan dahsyat, karenanya yakin Hian Ceng Tojin masih letih, dan dapat digempur dengan mudah, Dengan demikian ia dapat lekas berlalu dari tempat itu, dan terhindar dari kepungan orang- orangnya partai Kun Lun.

Baru saja Sin Goan Tong hendak menyerang, tiba-tiba Giok Siu Sian Cu membentak: "Aku sedang bertarung melawan Hian Ceng Tojin, mengapa kau campur tangan?" Lalu ia menyerang Hian Ceng Tojin lagi!

Sin Goan Tong lekas-lekas loncat mengelakkan serangan yang ditujukan kepada Hian Ceng Tojin, lalu membantu menyerang Hian Ceng Tojin sekuat tenaga, Hian Ceng Tojin menangkis serangan-serangan dari kedua lawan-lawannya itu sambil mundur tiga langkah, lalu balas menyerang dengan jurus Gek Hong Bong Siauw atau angin taufan menyapu dengan hebat

Terlihat pedangnya berkilau-kilau ketika ia menyabet ke kiri dan ke kanan dengan beringas, jurus tersebut adalah salah satu jurus yang dahsyat dari Cui Hun Cap Ji Kiam dan tiap- tiap serangan lebih ampuh daripada yang telah dilepaskan, dan lawan-lawannya hanya dapat menjaga, mengegos, atau mengelit untuk menghindari sabetan-sabetan pedang, kalau tidak ingin tewas seketika, Kedua lawannya terpaksa loncat mundur beberapa depa jauhnya,

"Ai, partai Kun Lun tidak mempunyai dendam terhadap partai Kong Tong Pay. Mengapa Sin Goan Tong menyerang dengan nekat? ia sama sekali tak menghiraukan peraturan Bu Lim." pikir Hian Ceng Tojin, ia terus mengejar dan mengirim jotosan Tian Kong Ciang-nya. Tapi kedua lawannya telah mengegos lagi,

Sin Goan Tong lalu berkata sambil mengejek: "Aku telah mendengar ilmu silat saudara yang tinggi, cobalah tahan ini!" ia barengi ucapannya dengan satu jotosan sekonyong- konyong. Hian Ceng Tojin tak berani menangkis jotosan itu, karena ia sudah letih, ia hanya mengegos ke samping,

"Ha! Mengapa saudara tak berani menangkis jotosanku?" mengejek lagi Sin Goan Tong dengan maksud mengirim tinju Im Hong Ciangnya yang luar biasa am-puhnya,

Dalam saat yang genting itu tampak lari mendatangi Tong Leng Tojin, Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su.

Tong Leng Tojin loncat dan berdiri di depan Hian Ceng Tojin menghadapi Sin Goan Tong dengan pedang terhunus, "Saudara Sin rupanya datang ke pegunungan Kun Lun hanya dengan maksud mencari ribut Aku siap meladeni kau!" bentaknya,

Melihat orang-orang Kun Lun sudah datang, Sin Goan Tong yakin bahwa ia tak dapat melawan ketiga guru partai Kun Lun itu dengan dibantu oleh Ngo Kong Toa-su. ia menghampiri Giok Siu Sian Cu dan berbisik: "Kita harus lekas- lekas enyah dari sini!"

Giok Siu Sian Cu lalu hadapi Hian Ceng Tojin dan berkata: "Kali ini pertempuran kita dapat katakan seri, Tapi di dalam tujuh hari aku akan kembali untuk mengadu kepandaian pula!"

"Aku senantiasa siap sedia meladeni kau!" jawab Hian Ceng Tojin dengan geregetan,

Lalu Giok Siu Sian Cu balik badan dan turun dari puncak itu, Sin Goan Tong diam mengawasi dengan wajah yang menyatakan entah cinta atau benci! Tong Leng Tojin ingin mengejar, tetapi dicegah oleh Hian Ceng Tojin. "Jangan kejar dia. Dia datang ke sini bukan hendak mencari ribut Biarlah dia berlalu!"

Sejenak kemudian, Sin Goan Tong seperti juga orang baru sadar dari tidurnya, ia berlalu dari tempat itu mengejar Giok Siu Sian Cu. Tetapi Tong Leng Tojin mencegah dengan berdiri di depannya, "Saudara Sin sebagai pemimpin partai Kong Tong tidak mengerti peraturan Bu Lim. Kau datang ke pegunungan Kun Lun hanya untuk mencari ribut Kami dari partai Kun Lun tak dapat membiarkan sikap yang congkak itu!" kata Tong Leng TojiiL

Giok Cin Cu tak tahan melihat sikap Toakonya, ia menanyai "Toa Suheng, kau terlampau baik hati. Kau selalu mengalah Sikapnmu yang demikian itu tak dapat menegakkan namanya partai Kun Lun, Bila kita selalu mengalah, apa kata orang lain di kalangan Kang-ouw? Aku khawatir mereka akan mengatakan bahwa kita pengecut takut menghadapi atau takut menghukum orang yang menghina partai kita."

Hian Ceng Tojin tersenyum, "Pemimpin dari partai silat Thian Liong, Souw Peng Hai, sangat besar cita-citanya, ia ingin menjagoi di kalangan Kang-ouw, sehingga tak ada satu partai atau satu jago silat yang tidak tunduk terhadapnya. ia telah merancangkan untuk bertarung di kalangan Kang-ouw, Aku menduganya tiga tahun lagi akan terbit peristiwa perlombaan ilmu silat diantara para partai sila

Mengadu silat yang maha dahsyat pada tiga ratus tahun yang lampau akan terjadi lagi, Jika kita sekarang melukai hatinya Sin Goan Tong, kita akan menimbulkan perasaan bencinya terhadap kita, partainya pasti membalas dendam, Untuk meladeni partai Kong Tong, kita akan hilang tenaga, mungkin juga dapat luka, Kita tak akan mempunyai hubungan kedudukan lagi di kalangan Kang-ouw, bukan?"

Alasan yang diberikan oleh Hian Ceng Tojin dapat diterima bukan saja oleh Giok Cin Cu, tetapi juga oleh Tong Leng Tojin, Ngo Kong Toa-su lalu mengajak mereka semua turun dari puncak itu.

Tong Leng Tojin lekas-lekas kembali ke kuil Sam Goan Kong, tetapi Hian Ceng Tojin, Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa- su lekas-lekas kembali ke rumah di mana Lie Ceng Loan berbaring di tempat tidurnya,

Sudah hampir setengah bulan Giok Cin Cu tidak melihat muridnya dan terhadap murid barunya itu, ia sangat menyayangi nya. Kasih sayangnya terhadap murid baru itu bahkan dapat memanjakannya, Melihat Lie Ceng Loan berbaring di atas tempat tidurnya, ia terkenang akan kisah diri sendiri Karena ia pun telah menderita penyakit asmara beberapa puluh tahun, dan ia menahan penderitaan itu tanpa orang lain menghibur atau menasehatinya, Kini ia melihat kisahnya terulang di atas diri murid kesayangannya. Makanya begitu tiba di rumahnya Lie Ceng Loan ia segera menerjang masuk ke kamar tidurnya, Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su menunggu di kamar depan,

Lilin menyala di dalam kamar, dan sinarnya terang sekali Lie Ceng Loan tidur terlentang di atas pembaringan dengan kedua matanya ber!inang. Begitu melihat gurunya datang, Liong Giok Pin segera bangun dan berlutut di hadapan gurunya,

"Mengapa Sumoymu masih tidur saja? Apakah penyakitnya sudah baikan?" tanya gurunya.

Dengan suara yang sedih, Liong Giok Pin menjawab: "Ia... ia menderita hebat sekali. "

Giok Cin Cu datang menghampiri dengan wajah yang muram, ia raba jidatnya Lie Ceng Loan. ia terkejut, karena jidat itu dingin sekali! Dengan kedua mata melotot ia membentak Liong Giok Pin, "Sumoymu telah menderita sakit begini hebatnya, Mengapa aku tak diberi tahukan?"

Teecu telah diperintahkan datang menengoki Loan Sumoy, akan tetapi ia tak ada di sini Lalu Ngo Kong Toa-su Supek ajak Teecu naik ke puncak, dan diatas puncak Teecu baru menemui Loan Sumoy yang telah tertiup beku oleh angin yang dingin, Ngo Kong Toa-su Supek bilang Loan Sumoy telah berada di atas puncak selama dua hari satu malam," kata Liong Giok Pin menjawab gurunya,

Giok Cin Cu mengangguk dan Liong Giok Pin meneruskan: "Kemudian Toa Supek juga telah datang, Ketika Toa Supek ingin menolong Loan Sumoy, tiba-tiba terdengar suara seruling dari wanita yang mengenakan pakaian hitam. Setelah bicara dengan Toa Supek, wanita itu lalu bertarung melawan Toa Supek, Ngo Kong Toa-su dan Teecu lalu bawa Loan Sumoy ke dalam rumah ini, Barusan ia masih menangis, tetapi kemudian ia tertidur Meskipun Ngo Kong Toa-su telah berusaha menyadarkan ia tetapi hampa. Teecu disuruh menunggu di dalam kamar ini ketika Ngo Kong Supek pergi memanggil Toa Supek."

Si Hweeshio tua setelah menarik napas panjang berkata kepada Giok Cin Cu: "Karena aku sibuk merawati Loan Jie, aku lupa bahwa di atas puncak sedang terbit pertarungan yang dahsyat, dan aku baru ingat memberitahukan kepada kau dan Tong Leng Tojin setelah mereka bertarung agak lama."

sebetulnya Ngo Kong Toa-su karena terlampau gelisah ia hanya pergi ke kuil Sam Goan Kong untuk memberitahukan Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu tentang penderitaannya Lie Ceng Loan, ia telah lupa bahwa Hian Ceng Tojin sedang bertempur melawan Giok Siu Sian Cu di atas puncak, Baru kemudian ia ingat dan memberitahukan tentang pertarungan tersebut Oleh karena itu ketika Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu tiba di atas puncak, mereka menyaksikan Sin Goan Tong sedang hendak menyerang Hian Ceng Tojin.

Penuturan Liong Giok Pin tentang penderitaannya Lie Ceng Loan didengarkan dengan penuh perhatian tileh Giok Cin Cu. ia yakin bahwa Lie Ceng Loan menderita rindu asmara yang hebat, dan bahwa hawa dingin di atas puncak telah melukai bagian dalam tubuhnya. ia mengucurkan air mata dengan penuh rasa kasihan terhadap murid barunya itu.

Dengan suara rendah Hian Ceng Tojin menasehati kan: "Barusan ia dapat menangis, dan tangisannya itu lelah meredakan kepepatannya yang tertindih di dalam dadanya, Jika hawa dingin yang telah merembes masuk ke dalam tubuhnya dapat dikeluarkan, aku yakin ia akan lekas sembuh-"

Giok Cin Cu menyusut air matanya, "Loan Jie adalah murid yang kau perkenalkan kepadaku Jika ia mati, bagaimana?" katanya. pertanyaan itu menusuk hatinya Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su yang segera mengucurkan airmata, Lalu Hian Ceng Tojin menyarankan: "Coba kau berusaha melancarkan peredaran darahnya dengan ilmu Tui Kong Hiatttoat!"

Ngo Kong Toa-su geleng-gelengkan kepalanya,

Tidak guna, aku telah mencobanya dia tetap tak sadar!"

Hian Ceng Tojin datang menghampiri pembaringan dan memperhatikan bahwa mukanya pucat pasi, dan sedikit cahaya darah pun tak kelihatan Kedua matanya tertutup, dan napasnya lemah sekali penyakitnya betul-betuI berat ia cemas sekali "Jika ia mati, aku tak dapat mengampunkan Bee Kun Bu!" pikirnya.

kegelisahan timbul di dalam hatinya semua orang di dalam kamar itu, sedangkan di luar suasana masih sunyi senyap, Atas saran Hian Ceng Tojin, meskipun Ngo Kong Toa-su telah mengatakan pernah mencobanya Giok Cin Cu berusaha melancarkan peredaran darah muridnya dengan ilmu Tui Kong Hiat Hoat.

ia telah mengurut, menggosok, memijat bagian-bagian yang penting yang dapat melancarkan peredaran darah, tetapi setelah ia sendiri berkeringat Lie Ceng Loan masih tetap tertidur tak sadarkan diri.

Fajar menyingsing, matahari di sebelah timur mulai memancarkan sinarnya di seluruh daerah pegunungan dan juga menyorot ke dalam kamarnya Lie Ceng Loan melalui jendela.

Ngo Kong Toa-su dan Hian Ceng Tojin melihat keringat membasahi pakaiannya Giok Cin Cu yang tak putus asa bahwa usaha menolong muridnya yang sedang dilakukan dapat menolong juga kepada Lie Ceng Loan, Jika gadis itu dapat dibikin sadar, maka harapan untuk mengeluarkan hawa dingin di dalam tubuhnya besar sekali Tiba-tiba terlihat Lie Ceng Loan menarik napas panjang, dan perlahan-Iahan membuka kedua matanya, Hal itu menggirangkan mereka, Kemudian setelah melihat gurunya, ia berkata, suaranya lemah sekali: "Suhu, apakah Suhu dapat jumpa dengan Bu Koko?"

Belum lagi Giok Cin Cu menjawab, Lie Ceng Loan sudah pejamkan kedua matanya lagi, dan tertidur pula!

"Baru saja ia sadar, ia segera tertidur lagi, Mungkin luka- luka di dalam tubuhnya itu sangat parah," berkata Ngo Kong Toa-su dengan cemas sekali

Hian Ceng Tojin yang banyak pengalaman melihat keadaan itu merasa gembira,

"Aku merasa reda melihat dia membuka matanya dan berkata sesuatu barusan Menurut pahamku, Loan Jie hanya menderita luka-luka karena serangan hawa dingin di dalam tubuh, dan karena itu darahnya agak terhambat Biarlah ia tidur terus untuk memulihkan letihnya, sebentar kita akan berusaha lagi melancarkan peredaran darahnya dengan ilmu Tui Kong Hiat Hoat."

perkataan itu meredakan yang lainnya, karena mereka mengetahui bahwa Hian Ceng Tojin juga mahir dalam ilmu pengobatan

"Aku telah berusaha menolong dia dengan semua . kepandaianku Hanya aku merasa heran setelah tersadar sebentar, ia tertidur lagi," berkata Giok Cin Cu.

"Hawa dingin di atas puncak dapat merembes masuk ke tulang," kata Hian Ceng Tojin, "Loan Jie yang diserang rindu asmara telah tak menghiraukan hawa dingin tersebut dan tidak menggunakan tenaga dalamnya untuk menghalau merembesnya hawa dingin itu. Kau telah berhasil melancarkan peredaran darahitya, dan ia telah siuman, Kini ia tertidur itu adalah gejala baik ia harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya, Aku yakin harapan besar dia dapat tertolong." Ngo Kong Toa-su yang paling sayang Lie Ceng Loan juga terhibur mendengar uraian Hian Ceng Tojin, Lalu mereka keluar dari kamar setelah memerintahkan Liong Giok Pin menjaga Sumoynya baik-baik.

Liong Giok Pin duduk di sisi pembaringan mengawasi Sumoynya, Hatinya hancur melihat penderitaan Sumoynya yang ia sangat sayangi itu, ia mengenangkan kisah yang lampau: "Suatu malam ketika mereka berada di rumah penginapan dan Lie Ceng Loan menanyakan ia apakah ia juga suka Bee Kun Bu. ia khawatir jika Bee Kun Bu tak lekas-lekas kembali, akibatnya akan membinasakan Lie Ceng Loan yang suci murni, ia yakin bahwa hanya Bee Kun Bu seorang yang dapat menyembuhkan-nya.

Ia juga mengenangkan wajah dan senyum Bee Kun Bu yang menawan hati. ia sendiri pun telah tertawan hatinya, Bukankah Giok Siu Sian Cu juga telah jatuh hati? Bukankah iblis wanita itu jauh lebih tinggi ilmu silatnya daripada Bee Kun Bu? Mengapa iblis wanita itu rela merendahkan diri, dan menjadi mangsa "asmara"?"

Kenangan-kenangan itu telah merangsang di otak-nya, dan dengan tak terasa air matanya mengalir di atas pipinya, dan ia tak berusaha menahan hancur hatinya,

Ketika ia sedang duduk termenung dengan air mata mengucur deras, sekonyong-konyong ia membaui harum dari bunga Bwee, ia angkat kepalanya dan melihat guru-nya, Giok Cin Cu, masuk ke dalam kamar itu. sepasang matanya mengawasi ia, seolah-olah gurunya ingin memberitahukan suatu rahasia, ia lekas-lekas bangun dari tempat duduknya, dan lari berlutut di depan gurunya,

"Suhu, maafkan Teceu, Teceu telah ngelamun melihat keadaan Loan Sumoy. Teecu menjadi sedih hati melihat penderitaannya Loan Sumoy," ia berkata.

Giok Cin Cu menyuruh Uong Giok Pin bangun, lalu jalan menghampiri pembaringannya Lie Ceng Loan. -ooo0ooo-

Pendekar Ajaib masuk ke dalam kamar

Liong Giok Pin terkejut, seolah-olah ia baru sadar dari lamunan ketika Giok Cin Cu menghampiri padanya, Sambil berdiri tegak ia angkat kedua tangannya memberi hormat

"Mengapa kau menangis?" tanya Giok Cin Cu.

Teecu sedang memikiri betapa kejamnya Bee Su-heng, Dia telah membikin Loan Sumoy demikian men-derita!" jawab Liong Giok Pin.

Giok Cin Cu menghela napas, lalu duduk di sisi ranjang, ia raba dadanya Lie Ceng Loan, dan merasakan denyutan jantung yang sangat lemah, ia mengerutkan kening dan menanya dengan cemas: "Apakah Sumoymu tidak bergerak- gerak?"

pertanyaan itu membingungkan Liong Giok Pin, karena ia tidak memperhatikan apakah Sumoynya bergerak atau tidak, ia hanya memikirkan nasibnya Sumoy itu.

"Rupanya kau semalam tidak tidur, pergilah kau beristirahat!" perintah Giok Cin Cu.

Teecu tidak merasa Ietih. Biarlah Teecu menjagai Loan Sumoy!" jawab Liong Giok Pin.

Giok Cin Cu tidak memaksa, ia lalu jalan keluar dari kamar itu. Tetapi Liong Giok Pin mendadak merasa hatinya cemas, segera ia pun jalan keluar hingga dalam kamar itu tinggal Lie Ceng Loan seorang diri yang berbaring tak sadarkan diri,

Co Hiong yang mengikuti Ngo Kong Toa-su dan Liong Giok Pin mendaki puncak, bersembunyi di tempat yang gelap, ia telah menyaksikan kejadian-kejadian di atas puncak itu.

Ketika Ngo Kong Toa-su dan Liong Giok Pin menolong Lie Ceng Loan turun dari puncak, dan Hian Ceng Tojin bertarung melawan Giok Siu Sian Cu, karena ia ingin membalas dendam terhadap Hian Ceng Tojin. Ia tidak mengikuti Ngo Kong Toa-su dan Liong Giok Pin, ia bersembunyi di belakang satu batu yang besar dengan maksud menggempur Hian Ceng Tojin jika mereka letih bertempur ia tidak menduga bahwa Tong Leng Tojin dan Sin Goan Tong juga telah datang ke atas puncak itu, oleh karena itu, ia tak memperoleh kesempatan melaksanakan maksud nya. Tetapi ia tidak mundur karenanya, ia mengikuti Hian Ceng Tojin dan kawan-kawannya ke rumah gubuk, lalu bersembunyi di atas pohon cemara di dekat kamarnya Lie Ceng Loan.

Ketika ia melihat Giok Cin Cu dan Liong Giok Pin keluar dan berlalu dari kamar, ia segera turun dari pohon dan masuk ke kamarnya Lie Ceng Loan.

Ketika itu sinar matahari sudah mulai menyorot masuk dari jendela ke atas ranjangnya Lie Ceng Loan. Kulitnya yang putih halus, wajahnya yang pucat pasi, rambutnya yang panjang dan hitam semua terlihat nyata,

Hian Ceng Tojin, Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su sangat cemas dengan keadaannya Lie Ceng Loan, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa ada orang sedang bersembunyi dekat rumah gubuk itu.

Co Hiong menghampiri ia meraba tubuhnya Lie Ceng Loan, ia terkejut ketika ia mengetahui bahwa beberapa jalan- jalan darah yang penting telah kaku, ia insyaf bahwa jika terlambat lagi, maka jalan-jalan darah itu akan menjadi tertutup dan jiwanya sukar ditolong,

ia merasa banyak lebih pandai setelah mendapat pelajaran dari Kiok Gie. ia pun telah mempelajari ilmu-ilmu sakti dari kitab San Im Shi Ni, dan menjadi paham akan luka-luka di dalam tubuh, Setelah ia meraba-raba lagi untuk memeriksa luka-luka di dalam tubuh, ia menemui sumber daripada luka- luka di dalam tubuh gadis itu, yang ternyata terluka karena hawa yang sangat dingin, yang telah merembes masuk ke dalam jalan-jalan darah, dan urat-urat syaraf "Dengan tenaga dalamku, aku dapat membebaskan jatan- jalan darahnya yang sudah tertutup ini, tetapi aku akan kehilangan banyak tenaga!" pikir ia. Baru saja ia hendak berlalu, tiba-tiba ia terkenang peristiwa yang lampau, Ketika Lie Ceng Loan terluka di pegunungan Cie Lian San karena diserang seorang Hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie, ia pernah menolong membawa gadis itu di atas kuda ajaibnya ke suatu lembah yang sunyi, dan meninggalkan Bee Kun Bu sendirian melawan banyak Hweeshio-hweeshio, Ketika itu lukanya Lie Ceng Loan agak parah, dan dengan setengah sadar ilu, tiba- tiba ia dibikin luka entah oleh siapa dengan ilmu Tu Kut Ta Me atau melukai urat nadi dengan memukul tulang, Ketika ia sadar kembali, Lie Ceng Loan sudah tidak ada di situ...

Kenangan peristiwa itu timbul kembali dengan tegas sekali ia mengawasi wajahnya gadis yang berhari ng, meskipun tubuhnya sudah banyak lebih kurus, tetapi tetap menawan hati, ia tergiur, dan hatinya berdebar-debar, "Ai! Co Hiong! Co Hiong! Jika kau lepas Lie Ceng Loan, apakah kau akan dapat gadis yang lebih cantik sebagai gantinya?" ia berseru.

Lalu ia menghampiri lagi, dan dengan tangan kanannya ia berusaha membebaskan dua belas jalan-jalan darahnya Lie Ceng Loan dengan menggunakan ilmu yang ia telah pelajari dari kitab San Im Shi Ni. ia dapat lakukan pertolongan itu dengan baik, hanya ia masih kekurangan tenaga dalam, dan setelah berusaha menolong beberapa menit, ia telah bermandikan keringat ia insyaf bahwa dengan menolong Lie Ceng Loan secara demikian, ia akan kehilangan banyak tenaga, semangat dan tenaganya baru bisa pulih setelah tujuh-delapan hari, ia khawatir orang-orangnya partai Kun Lun datang, pasti ia tak dapat melawan dalam keadaan yang sangat letih demikian ia beristirahat sejenak, lalu loncat keluar dari jendela,

Belum lagi Co Hiong berlalu, Liong Giok Pin masuk lagi ke dalam kamar ia sangat tertib dan teliti ia ingat akan keadaan dalam kamar sebelum ia keluar tadi, Oleh karena itu, ketika ia masuk ia tampak bahwa selimut Lie Ceng Loan agaknya pernah disentuh orang, ia terperanjat, ia lekas-lekas memeriksa tubuhnya Lie Ceng Loan dan merasa reda lagi setelah mengetahui bahwa Su-moynya tidak terganggu ia duduk di sisi ranjang dan memperhatikan bahwa cahaya mukanya Lie Ceng Loan berubah, ia ingin memberitahukan hal ini kepada guru-nya, tapi baru saja ia bertindak keluar, Lie Ceng Loan memanggil "Bu Koko, ayo kita pergi menangkap ikan?" Tetapi kedua matanya masih tetap menutup.

Liong Giok Pin berbisik di kupingnya: "Loan Sumoy!" Tetapi Lie Ceng Loan ternyata tidur lagi tidak bergerak ia menepuk tubuhnya Lie Ceng Loan dua kali, tetapi tetap tidak sadar ia tak dapat berbuat lain. ia lari pergi ke kamarnya Ngo Kong Toa-su.

Ketika itu si Hweeshio tua sedang duduk di atas kursi dari bambu, dan Hian Ceng Tojin dan Giok Cin Cu juga duduk menghadapi ia. Melihat Liong Giok Pin masuk tergesa-gesa, Hian Ceng Tojin menanya: "Ada apa lagi? Apakah Sutnoymu berubah pikirannya?"

"Barusan Loan Sumoy siuman sebentaran dan memanggil tetapi segera ia tertidur lagi, Aku khawatir..." jawab Liong Giok Pin,

" Apakah yang dikatakan olehnya?" Giok Cin Cu menanya dengan tidak menunggu ucapannya Liong Giok Pin.

"la mengajak Bee Kun Bu menangkap ikan," jawab Liong Giok Pin.

"Ai, jika muridmu tidak lekas kembali, dia sukar menjadi sembuh," kata Giok Cin Cu kepada Hian Ceng Tojin,

"Mari kita pergi tengok keadaannya!" mengajak Hian Ceng Tojin sambil bangkit dari kursinya,

Lalu semua pergi ke kamarnya Lie Ceng Loan, Hian Ceng Tojin segera periksa keadaannya Lie Ceng Loan dan kelihatan bahwa betul keadaan gadis itu banyak baikan. ia merasa heran, tetapi ia tidak segera mengambil kesimpulan ia duduk di sisi ranjang, dan mendengar Lie Ceng Loan menarik napas, Kemudian perlahan-Iahan gadis itu membuka kedua matanya, Melihat keadaan di sekitarnya, dan dengan senyuman ia berkata: "Suhu, Supek, Pin Cici?"

Giok Cin Cu gembira melihat muridnya itu telah sadar dan dapat bicara, ia mendekati, dan dengan sikap seperti seorang ibu, sambil mengusap-usap rambutnya ia menanya: "Kau harus beritahukan aku di mana yang kau rasakan sakit?"

"Jantungku rasanya dingin sekali," jawab Lie Ceng Loan suaranya lemah sekali,

Giok Cin Cu menutupi seluruh tubuh muridnya dengan selimut "Kau telah berdiam terlampau lama di atas puncak gunung yang sangat dingin, Kau harus beristirahat beberapa hari, dan kau akan sembuh kembali?"

"Aku pergi ke atas puncak gunung menanti kedatangannya Bu Koko, tetapi ia tidak datang!" kata Lie Ceng Loan,

"Kau harus beristirahat Bee Kun Bu segera akan kembali!" Hian Ceng Tojin menghibur

Lie Ceng Loan menangis, "Tetapi bilakah dia kembali? Dan jika sekarang dia kemba!i, aku tak dapat menyambut padanya. " Seterusnya ia tak dapat mengucapkannya yang

hendak diucapkannya

Dengan suara yang keras Ngo Kong Toa-su berseru: "Jika Bee Kun Bu tidak kembali. "

Lie Ceng Loan buka matanya dan menoleh ke arah Ngo Kong Toa-su.

"Bu Koko pasti kembali, dan aku senantiasa menanti kedatangannya dengan sabar Andaikata dia berubah hati terhadap aku, dia pasti memberitahukan. " Lalu ia pejamkan

matanya dan tertidur lagi, Ngo Kong Toa-su lari menubruk Lie Ceng Loan sambil berseru: "Loan Jie, Loan Jie." Tetapi Lie Ceng Loan tidur terus, hanya terdengar napasnya saja,

Dengan ilmu Tui Kung Kwo Hiat atau mengurut membebaskan jalan darah, Hian Ceng Tojin berusaha menyadarkan gadis itu kembali, Tetapi dengan semua kepandaiannya itu ia tak berbuat banyak. Lie Ceng Loan masih tetap tertidur!

Setelah berusaha dengan susah payah, Hian Ceng Tojin berkata sambil goyang-goyang kepalanya: "Meski-pun ia kelihatannya sudah banyak baikan, akan tetapi ia belum lagi sadar. Dengan sesungguh nya, aku tidak mengetahui bagaimana harus menolongnya." ia menarik napas menyatakan kekecewaannya.

Giok Cin Cu yang juga tidak berdaya hanya berdiri seperti patung, sedangkan Ngo Kong Toa-su nampaknya gelisah sekali, ia berjalan mundar-mandir di dalam kamar seolah-olah menanti pertolongan Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka bertiga tak berdaya, mereka keluar dari kamar, meninggalkan Liong Giok Pin yang menjagainya,

Ketika Liong Giok Pin melihat-lihat ke jendela, ia memperhatikan bahwa kayu jendela itu sedikit basah, ia menghampiri untuk menjadi terkejut melihat bahwa di atas tanah di luar rumah itu ada tanda-tanda bekas tapak kaki.

ia mulai menduga bahwa ketika ia berlalu dari kamar, ada orang telah masuk ke dalam kamar dan telah berusaha menolong Lie Ceng Loan, dan orang itu telah masuk dan keluar dengan mengambil jalan dari jendela, Tetapi sebelumnya ia merasa pasti, ia tidak ingin melaporkan kepada gurunya.

Demikianlah Lie Ceng Loan tertidur tak sadarkan diri selama beberapa hari dan selama itu Liong Giok Pin selalu menjagainya, bahkan tidur bersama-sama di kamar itu. Giok Cin Cu datang menengoki di waktu siang, dan baru kembali di waktu petang ke kuil Sam Goan Kong, Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su bersama-sama tinggal di suatu rumah gubuk, mereka sering-sering duduk bereakap-cakap sehingga jauh malam itu Ngo Kong Toa-su terus menerus gelisah, agaknya Hian Ceng Tojin tak dapat menghibur padanya.

Berkat perhatiannya, Liong Giok Pin menemui bahwa tertidurnya dan sadarnya Lie Ceng Loan pada jangka-jangka waktu yang tetap yakni sadar tiga kali dalam waktu dua belas jam, di waktu sadar itu, Liong Giok Pin beri ia makan atau minum.

Demikianlah keadaannya Lie Ceng Loan, dan pada hari ke enam, cuaca sangat buruk. Liong Giok Pin duduk dekat jendela memperhatikan keadaan di luar. ia Iekas-lekas ambil pedangnya dan menanti segala kemungkinan Secepat kilat orang itu loncat masuk dari jendela, Liong Giok Pin menusuk, tetapi orang itu menepuk pedangnya sambil tertawa, lalu membuka selubung kain hitam yang menutupi mukanya, Orang yang datang itu adalah Giok Siu Sian Cu.

Liong Giok Pin tidak berani melawan lagi, karena ia mengetahui kelihayan lawannya, ia hanya harap dengan pereakapan mereka, Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su yang gubuknya tidak seberapa jauh dapat men-dengarnya, Dengan senjata ia menanya, suaranya keras: "Apa maksudmu datang ke sini? Cobalah lihat! Tempat apakah ini?"

Giok Siu Sian Cu lihat Lie Ceng Loan, dan menanya tanpa menghiraukan tegurannya Liong Giok Pin: "Siapakah orang yang rebah ini? Dia menderita penyakit apa-" kah?"

"Dia adalah Lie Ceng Loan Sumoyku," jawab Liong Giok Pin.

Giok Siu Sian Cu perlahan-Jahan menghampiri dan meraba jidat dan urat nadi di pergelangan tangannya Lie Ceng Loan,

"Ai! penyakitnya agak berat Jika terlambat ditolong mungkin akan sukar diobati!" kata Giok Siu Sian Cu. Mendengar ucapan itu, Liong Giok Pin kira bahwa Giok Siu Sian Cu dapat menolong Ceng Loan sambil menghela napas,

"la sangat baik, Tetapi entah mengapa ia harus mengalami penderitaan ini," kata Liong Giok Pin.

Giok Siu Sian Cu segera dapat menebak maksud ucapan itu. ia berkata sambil tersenyum: "Kau pikir aku " tidak mempunyai waktu."

Baru saja kata-kata itu habis diucapkan segera tampak Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su menerobos masuk, Melihat Giok Siu Sian Cu, Hian Ceng Tojin berkata: "Ha, betul- betul kau memenuhi janjimu!"

"Hari ini adalah hari untuk kita mengadu silat lagi Baiklah kita mencari tempat yang sunyi agar kita dapat bertempur dengan tenang dan menentukan siapa yang lebih unggul!" jawab Giok Siu Sian Cu.

"Baik sekali? Baik sekali!" sambut Hian Ceng Tojin,

Lalu secepat kilat Giok Siu Sian Cu melompat keluar dari jendela untuk mencari tempat mengadu silat Hian Ceng Tojin keluar menyusul "Tidak jauh dari sini ada lembah yang sunyi Bagaimanakah pendapatmu jika kita mengadu silat di situ?" tanya Hian Ceng Tojin,

"Tapi aku telah memilih suatu tempat lain, Aku minta Tojin ikut aku untuk memeriksanya," jawab Giok Siu Sian Cu.

"Jika kau sudah pilih tempatnya, aku kira tempat itu pasti cocok," kata Hian Ceng Tojin,

Kemudian Giok Siu Sian Cu loncat maju dan lari ke tempat yang ia telah pilih diikuti oleh Hian Ceng Tojin.

Ngo Kong Toa-su mengejar dari belakang.

"Hei! Berhenti, aku ingin bicara kepada kalian berdua!" teriaknya,

Mereka terpaksa berhenti larL Hweeshio tua itu segera juga sampai di depan mereka. "Kalian hendak mengadu silat, apakah aku boleh menjadi saksi?" tanya Ngo Kong Toa-su.

Sambil tersenyum Hian Ceng Tojin berkata: "Kita telah bersahabat sepuluh tahun lebih, Kau pasti tidak akan tinggal diam jika aku terluka, Kau pasti datang membantu Menurut pendapatku lebih baik kau tidak turut."

Ngo Kong Toa-su menarik napas, "Sebetulnya kita tiada dendam, Mengapa karena urusan kecil lantas hendak bertarung mati-matian...?" berkata Ngo KongToa-su.

Giok Siu Sian Cu tidak sabar lagi mendengar ucapan yang ingin mencegah mereka bertempur ia lari terus, Hian Ceng Tojin berkata kepada Ngo Kong Toa-su: ilmu silat iblis wanita itu betul-betul lihay, Sukar dipastikan siapa yang akan menang. Di kalangan Bu Lim soal pembalasan dendam dan sebagainya, sebetulnya hanya karena nama saja.

Dari zaman dahulu sampai sekarang, banyak jago-jago silat, pendekar-pendekar atau pahlawan-pahlawan banyak yang celaka karena memperebutkan nama, Misalnya Tian Ki Cin Jin atau San Im Shi Ni, mereka tidak kenal satu sama lain, mereka tinggal terpisah jauh sekali, Tetapi mengapa San Im Shi Ni dengan tidak menghiraukan perjalanan yang jauh datang ke pegunungan Koat Cong San hanya untuk mengadu silat melawan Tian Ki Cin Jin?

Mereka telah bertempur beberapa hari dan malam, tetapi belum ada yang menang atau kalah, Akhirnya mereka bertempur dengan menggunakan semua tenaga dalamnya sehingga kedua-duanya menderita luka parah yang hanya mempereepat kematian mereka! Untuk apakah? Hanya untuk memperebutkan nama!

Tetapi pada saat mereka mengetahui bahwa mereka " pasti akan mati, mereka berubah menjadi sahabat, dan telah bersama-sama menyusun semua kepandaian silatnya dibuatkan kitab Kui Goan Pit Cek agar kepandaian silatnya dapat diturunkan kepada jago-jago silat angkatan muda, Tetapi mereka tidak menduga bahwa kitab Kui Goan Pit Ceknya itu menjadi barang perebutan diantara jago-jago silat, sehingga banyak jiwa yang telah melayang karena ingin memiliki kitab itu!"

Lalu ia cabut tusuk rambut dari kepalanya yang dibuat dari batu Giok, Sambil menyerahkan tusuk rambut itu ia berkata: "Jika dalam satu hari satu malam aku tidak kembali, itu berarti aku tidak beruntung menang, Tusuk rambut ini kau harus simpan baik-baik. jika Bee Kun Bu menyeleweng dari peraturan partai Kun Lun, aku minta kau mewakili aku menghukum padanya dengan seksama!"

Air mata tak tertahan mengucur dari kedua matanya Ngo Kong Toa-su ketika ia menyambut tusuk rambut itu. lalu Hian Ceng Tojin lari mengejar Giok Siu Sian Cu.

Giok Siu Sian Cu sedang menunggu di bawah jurang, ia berseru: "Aku kira kau tidak datang!"

Mukanya Hian Ceng Tojin menjadi merah padam, "Satu patah kata dari satu taki-laki empat kuda tak dapat mengejarnya Meskipun aku harus melalui lautan api, aku tak akan ingkar janji!" jawabnya dengan murka,

Lalu Giok Siu Sian Cu mendaki lereng gunung dengan ilmu meringankan tubuhnya, diikuti oleh Hian Ceng Tojin.

Ngo Kong Toa-su tidak segera pulang, ia berdiri terpaku. ia mengenangkan akan pertempuran terhadap Giok Siu Sian Cu pada enam hari berselang dan ia yakin bahwa pertempuran yang akan dilakukan pasti menjadi dahsyat ia baru sadar ketika ada orang yang menegur padanya,

"Lo Toa-su (Hweeshio tua) mengapa kau berdiri seperti patung?" tegur orang itu.

Ngo Kong Toa-su membalikkan badan dan ter-senyum: "Giok Cin Cu Sumoy, aku sedang memikirkan apakah

suhengmu dapat melawan Giok Siu Sian Cu." pemberitahuan itu mencemaskan Giok Cin Cu. ia mendesak: "Ha! Apakah iblis wanita itu datang lagi untuk mengacau?"

Ngo Kong Toa-su mengangguk :

"Betul, dia dan suhengmu sedang pergi ke tempat yang telah ditentukan untuk mengadu silat pu!a!"

"Mereka bertempur di mana? Mereka lari ke jurusan manakah?" desak Giok Cin Cu,

Ngo Kong Toa-su menunjuk ke jurang di hadapan mereka dan berkata: "Mereka mendaki jurang itu, Ke-mana mereka pergi aku tak tahu."

Giok Cin Cu tidak menanya lagL ia terus lari turun ke jurang yang ditunjuk itu Ngo Kong Toa-su jalan menuju ke gubuknya Lie Ceng Loan.

Begitu ia masuk ke dalam kamar, ia menjadi terperanjat melihat Uong Giok Pin menggeletak dengan pedang terhunus di tangannya ia lari menghampiri Lie Ceng Loan, dia merasa girang ketika mengetahui Lie Ceng Loan masih tertidur ia berjongkok dan memeriksa Liong Giok Pin dengan cermat, ia mengetahui bahwa Liong Giok Pin telah ditotok jalan darahnya. Untung totokan itu tidak hebat Setelah dibebaskan oleh Ngo Kong Toa-su, gadis itu sadar kembali

Setelah Giok Siu Sian Cu dan Hian Ceng Tojin keluar dari kamar itu, Liong Giok Pin yang tertarik ingin tahu, telah mengikuti di belakangnya Ngo Kong Toa-su. Kemudian ia ingat bahwa tugasnya ialah menjaga Lie Ceng Loan, ia segera kembali

Tapi baru saja ia bertindak masuk, ia merasakan hembusan angin di belakangnya, dan lengan kanannya di totok. ia jatuh pingsan, ia tuturkan kejadian itu kepada Ngo Kong Toa-su: "Mengapa di dalam beberapa hari telah datang jago-jago silat ber-turut-turut ke puncak Kim Teng Hong yang biasanya sunyi senyap ini? Giok Siu Sian Cu, Sin Goan Tong, dan orang yang menotok Liong Giok Pin. Apakah orang yang menotok itu seorang kawan atau musuh? Apakah mak- sudnya?" pikir Ngo Kong Toa-su,

Liong Giok Pin tidak menegur Ngo Kong Toa-su yang sedang berpikir itu. ia menghampiri ranjangnya Lie Ceng Loan, dan duduk di sisinya,

sekonyong-konyong Lie Ceng Loan membuka kedua matanya, agaknya ia hendak bangun, tetapi tak bisa, Liong Giok Pin berkata: "Sumoy, jangan bangun, Kau harus beristirahat?"

"Pin Cici, apakah Bu Koko sudah kembali?" tanya Lie Ceng Loan.

"Belum," jawab Liong Giok Pin.

"Apakah dia akan kembali untuk aku lagi?" tanya Lie Ceng Loan.

pertanyaan itu sukar Liong Giok Pin menjawabnya.

Dengan senyuman terpaksa ia berkata: "Aku kira dia akan segera kembali Oleh karena itu, kau harus beristirahat dan menunggunya dengan sabar."

Terlihat wajah yang puas di mukanya Lie Ceng Loan, "Ucapan Cici betul Jika Bu Koko tidak ditahan oleh Pek

Cici, mungkin ia menjumpai rintangan di perjalanan Tapi ia pasti akan kembali!"

Ucapan itu membikin Liong Giok Pin berpikir.

"Dalam beberapa hari ini, semua orang anggap Bee Kun Bu itu tidak mengenal budi atau berwatak keji, Mereka lupa kalau-kalau Bee Kun Bu juga mendapat rintangan di perjalanan pikirnya, Dengan pikirannya itu yang menyadarkan ia dari kekeliruan ia berseru: "Betul! Mungkin ia menjumpai rintangan di perjalanan?"

Tiba-tiba Lie Ceng Loan bangun dan berseru: "Supek!

Supek!" Ngo Kong Toa-su terkejut, dan kedua matanya terbelalak Apakah Hweeshio tua itu menjadi girang atau cemas? ia menghampiri pembaringan dan dengan mata berlinang ia berkata: "Loan Jie, apakah kau merasa baikan?"

" Lie Ceng Loan tidak menjawab, sebaliknya ia menanya: "Bu Koko belum kembali? Aku yakin ia menjumpai

rintangan di perjalanan Kita harus lekas-Iekas pergi menolong

dia!"

pernyataan itu menyadarkan Ngo Kong Toa-su, ia selalu anggap Bee Kun Bu tidak mengenal budi, dan tidak pikir bahwa Bee Kun Bu dapat menjumpai rintangan-rintangan di perjalanan

ia mengenangkan peristiwa yang lampau di pegunungan Cie Lian San.

"Pek Yun Hui telah menderita luka karena melawan musuh, Bee Kun Bu mengantar ia kembali ke pegunungan Koat Cong San. Aku insyaf bahwa Pek Yun Hui sangat segani Bee Kun Buj jika tidak, dia tak akan datang ke pegunungan Cie Lian San untuk menolongnya, Aku dan Hian Ceng Tojin telah datang ke kuil Toa Gok Sie di pegunungan Cie Uan San untuk minta buah Sie Can Ko guna mengobati Giok Cin Cu.

Tetapi buahnya tidak dapat, sebaliknya aku berdua tertawan di dalam penjara dari batu, Jika Pek Yun Hui tidak datang membebaskan kita di waktu malam, mungkin kita masih berada di dalam tawanan musuh, Pek Yun Hui besar budinya terhadap kita, Tetapi dia rupanya juga telah jatuh cinta terhadap Bee Kun Bu, dan menjadi saingannya Loan Jie, Bee Kun Bu mengantar Pek Yun Hui ke pegunungan Koat Cong San dengan menunggang bangau, pegunungan Koat Cong San jauh sekali dari pegunungan Bee Kun Bu, mungkin Pek Yun Hui tidak rela melepaskan Bee Kun Bu kembali ke pegunungan Kun Lun sendirian Tapi bangau itu adalah seekor bangau sakti, dan dapat membawa Bee Kun Bu dengan selamat ke sini."

Kesimpulan itu meyakinkan ia, dan ia berkata: "ia, dapat menunggang bangau kembali ke sini, tak mungkin ia menjumpai rintangan di perjalanan-"

Sambil merebahkan diri Lie Ceng Loan berkata: "Jika demikian, pasti Pek Cici menahan dia-"

"Loan Jie, kau beristirahatlah Jika kau sudah sem-buh, aku ajak kau pergi ke pegunungan Koat Cong San mencari dia." Ngo Kong Toa-su menghibur

Lie Ceng Loan menatap ayah angkatnya "Aku tak ingin pergi kepegunungan Kwat cong San. Aku yakin Bu Koko akan kembali!" katanya,

MBaiklah. Dari itu kau harus beristirahat dan lekas-lekas sembuh menanti kedatangannya," jawab Ngo Kong Toa-su menghibur

Dengan senyuman getir Lie Ceng Loan tutup kedua matanya, Ngo Kong Toa-su tertusuk hatinya melihat kesedihan puteri angkatnya itu.

Ngo Kong Toa-su tidak mengerti mengapa dengan tak langsung ia terlibat lagi dalam soal asmara ini. ibunya Lie Ceng Loan yang telah mencintai pria lain, telah menghancurkan hatinya, sebagai akibat daripada kehancuran hati itu, ia telah menjadi Hweeshio agar dapat menjauhkan diri dari penghidupan duniawi.

Tetapi, setelah Lie Ceng Loan terlantar, dan setelah ayahnya gadis itu terbunuh, ia harus memelihara, merawat dan menjaga gadis itu demi kasih sayangnya yang tak dapat hilang terhadap ibunya gadis itu, Kini setelah Lie Ceng Loan menjadi gadis remaja, ia harus menderita karena puteri angkatnya terserang rindu, Lie Ceng Loan merupakan puteri kandungnya, dan ia harus membela! ia duduk termenung di sisi ranjang, baru keluar dari kamar setelah Lie Ceng Loan tidur lagi, Tapi Liong Giok Pin menahan dan berkata: "Supek, aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu."

Ngo Kong Toa-su berpaling kepada Liong Giok Pin. "Loan Sumoy tiba-tiba berubah. Apakah Supek tidak

memperhatikan keganjilan ini?" tanya Liong Giok Pin

melanjutkan perkataannya,

Sambil menunduk Ngo Kong Toa-su menjawab: "Aku yakin ada orang yang kita belum tahu siapa telah datang menolong mengobati Ceng Loan, Mungkin orang itu adalah yang menotok kau juga, Orang itu tinggi sekali ilmu silatnya, Menurut pahamku untuk mengobati Loan Jie, obat apa saja tak akan menolong,

Lukanya Loan Jie di dalam tubuh, dia tak akan sembuh dengan jalan membebaskan jalan-jalan darahnya saja, Orang itu mempunyai ilmu istimewa, orang-orang yang memiliki ilmu demikian tinggi ilmunya sudi datang ke pegunungan Kun Lun yang sangat jauh ini? Menurut pengetahuanku hanya ada seorang yang memiliki ilmu istimewa tersebut.-."

"Apakah bukannya Pek Yun Hui, pemilik bangau sakti?" tanya Liong Giok Pin,

"Betul. Menurut pendapatku, hanya Pek Yun Hui yang dapat mengobati Loan Jie." kata Ngo Kong Toa-su.

Liong Giok Pin berpikir sejenak.

"Aku ingat Pek Yun Hui telah menolong menyembuhkan Suhu yang telah menderita karena racun ular, dan ia datangi menolongnya secara tiba-tiba. Aku pun ketika itu telah ditotok olehnya, Tadi aku ditotok demikian cepatnya sehingga aku tidak mengetahui siapa yang menotoknya!" kata Liong Giok Pin.

"Jika ia bersembunyi di belakang pintu, dan tiba-tiba menotok kau, kau tak akan dapat mengetahui juga, Tetapi yang menotok kau tadi belum tentu Pek Yun Hui, karena dia pasti datang dengan berterus terang, sudah tentu dia akan menjumpai kita lebih dulu, ia tak usah bersembunyi Lagi pula, keadaan Loan Jie sudah baikan semenjak lima-enam hari berselang, Pek Yun Hui tidak akan bersembunyi demikian lamanya, untuk membikin Supek, Suhumu dan aku dalam teka-teki," kata Ngo Kong Toa-su.

Liong Giok Pin ingin memberikan alasan lain, karena pikirnya bahwa bagi wanita, rasa cemburunya sangat hebat Seorang wanita dapat melakukan perbuatan yang bukan- bukan karena cemburu, Pek Yun Hui telah jatuh cinta kepada Bee Kun Bu, dia tak akan segan menyingkirkan saudari kandungnya sendiri jika perlu merebut kekasihnya, Demikian alasannya itu.

Ngo Kong Toa-su memperhatikan sikap Liong Giok Pin yang masih penasaran itu. ia berkata: "Untuk mengetahui siapa yang telah datang menolong, aku kira orang itu akan datang lagi, Lebih baik kita bersembunyi menanti kedatangannya!"

"Betul! Akal itu baik sekali! Aku bersembunyi di dalam kamar ini, untuk mengintip siapa yang datang, berbareng dapat menjaga Sumoy," kata Liong Giok Pin.

"Jika kau ingin bersembunyi di dalam kamar ini, kau harus jangan bertindak sembrono. Kau harus beri isyarat kepadaku agar aku bisa segera datang!" kata Ngo Kong Toa-su.

Demikianlah Ngo Kong Toa-su lalu bersembunyi di luar gubuk, dan bila ia lihat ada orang yang datang, ia akan memberi isyarat kepada Liong Giok Pin di dalam kamar Tetapi jika orang itu langsung masuk ke dalam kamar, dan Ngo Kong Toa-su tidak mengetahui, maka Liong Giok Pin harus memberi isyarat kepada Ngo Kong Toa-su.

Ketika itu angin dan turunnya salju mulai reda, tetapi keadaan di sekitarnya sunyi senyap, kecuali derunya angin dan suara turunnya salju di atas tanah dan di atap rumah. Ngo Kong Toa-su bersembunyi di belakang sebuah pohon cemara yang besar dan tua, memasang mata dengan waspada akan segala keadaan di sekitarnya.

Mengorbankan tenaga dan semangat untuk menolong murid Kun Lun

"Sebetulnya segala soal di dunia aku sudah tidak mau pusingkan, tapi mengapa Loan Jie terlibat lagi dalam jaring asmara? Hai!" ia mengeluh dan menarik napas panjang dari tempat persembunyiannya.

Marilah pembaca, kita tengok Giok Siu Sian Cu dan Hian Ceng Tojin, mereka telah mendaki jurang dengan mudahnya.

Ketika mereka tiba di atas puncak, Giok Siu Sian Cu berhenti dan menunjuk dengan seruling batu Gioknya ke arah satu puncak yang lebih tinggi "Puncak itu yang selalu diselubungi salju merupakan tempat yang cocok untuk kita bertempur tanpa gangguan," katanya sambil tertawa,

"Kau betul-betul bisa memilih tempat Memang tempat itu cocok sekali," jawab Hian Ceng Tojin.

"Berapa jauh dari sini kau kira puncak itu?" tanya Giok Siu Sian Cu.

"Kurang lebih dua puluh lie," jawab Hian Ceng Tojin.

Sambil tertawa Giok Siu Sian Cu berkata lagi: "Bagaimana jika kita bertempur sambil menuju ke puncak itu?"

"Aku mengiringi Tidak pereuma kau terkenal sebagai wanita yang berani!" jawab Hian Ceng Tojin, dan ia segera cabut pedangnya.

Giok Siu Sian Cu menyerang dengan serulingnya yang secepat kilat ditangkis oleh Hian Ceng Tojin, Lalu dengan jurus Tan Hong Liauw In atau Burung Hong menyambar awan, Giok Siu Sian Cu menyapu kedua betis lawannya, Hian Ceng Tojin harus loncat ke atas untuk menghindarkan diri dari sabetan seruling itu.

Demikianlah mereka maju ke depan sambil bertempur dan masing-masing berlomba untuk mencapai puncak di depan,

Giok Cin Cu setelah mendengar dari Ngo Kong Toa-su tentang pertempuran yang akan dilakukan Toa suhengnya dengan Giok Siu Sian Cu mengejar terus. Tapi, di manakah ia mencarinya di daerah pegunungan seluas itu?

Sekonyong-konyong dari atas berkelebat bayangan di depan nya. ia mendongak melihatnya, ia tampak bangaunya Pek Yun Hui sedang terbang melewati di atas kepalanya, ia terperanjat "Bangau ini mengapa sudah berada di daerah ini? Apakah ia membawa Bee Kun Bu kembali? Apakah ia terbang datang sendiri saja?" pikir Giok Cin Cu.

Tengah ia berpikir, dari hutan pohon-pohon Bwee yang tidak jauh dari tempat ia berdiri berkelebat lagi bayangan orang, ia mengawasi ke arah bayangan itu. Baru saja ia ingin mengejar, tetapi ia mendadak mundur lagi. ia pikir lebih baik bertindak waspada. Lalu ia bersembunyi di belakang sebuah pohon cemara yang besar,

Tidak lama kemudian dari hutan pohon-pohon Bwee yang lebat itu tampak jalan keluar satu pemuda, Karena jaraknya agak jauh, ia tak dapat melihat tegas wajahnya pemuda itu. Tetapi dari gerak-geriknya, ia yakin bahwa pemuda itu bukan Bee Kun Bu. Dia lari menuju ke gubuknya Lie Ceng Loan dia meloncat ke atas pohon Bwee, dan dengan ilmu meringankan tubuh dia meloncat turun ke atas atap rumah gubuk itu.

Gerakannya orang itu yang lincah mengejutkan Giok Cin Cu. Menurut pemandangannya, pemuda itu mempunyai ilmu silat yang tinggi, dan Liong Giok Pin pasti tak dapat melawannya. ia harus lekas-lekas datang me-nolong, dan tanpa berpikir panjang lagi ia lekas turun gunung dan lari menuju ke gubuknya Lie Ceng Loan, Pemuda itu terlihat sedang duduk di atas atap rumah mengumpulkan semangatnya sambil memejamkan kedua matanya, Ketika itu Ngo Kong Toa-su juga telah naik ke atas atap rumah dengan toya di tangannya, hanya enanv tujuh kaki dari pemuda itu. Pemuda itu tidak menghiraukan Ngo Kong Toa-su. ia tetap duduk di atas atap rumah, ia dapatkan pemuda itu sangat tampan rupanya, dan pedangnya dipancangkan di,belakangnya. ia menghampiri dan membentak: Heif siapakah kau?"

pemuda itu buka kedua matanya, lalu mengawasi Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su. ia tertawa.

"Ai, mengapa kalian lupa? Bukankah kita pernah berjumpa di pegunungan Cie Lian San. Mustahil baru setengah tahun saja kalian sudah lupa?"

Ketika Co Hiong ditotok jalan darahnya di pegunungan Cie Lian San. Hian Ceng Tojin pernah menolong membebaskan jalan darahnya tetapi Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu hanya melihat saja, mereka lalu pergi, Dan ketika ia menolong masuk dan bersembunyi di dalam kuil Sam Goan Kong ia telah mendengar per-cakapan yang berlangsung antara Hian Ceng Tojin, Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu, dan telah melihat mereka berkali-kalL

Teguran Co Hiong membikin Giok Cin Cu teringat akan Toa suhengnya yang pernah menolong orang di suatu gua di pegunungan Cie Lian San. Lalu ia menanya: "Apakah kau ini orang dari partai silat Thian Liong? Pada lebih kurang setengah tahun berselang, Sumoymu Souw Hui Hong telah membawa kau, tetapi pada waktu itu kau sedang menderita entah luka apa. H

"BetuH" jawab Co Hiong tidak menunggu ucapannya Giok Cin Cu selesai "Aku bernama Co Hiong. Di pegunungan Cie Lian San aku tidak sakit, tetapi telah dianiaya oleh seseorang. Kali ini aku datang ke pegunungan Kun Lun ini dengan maksud mencari orang yang telah mencelakakan aku untuk membikin perhitungan Giok Cin Cu terperanjat "Apakah kau kira orang yang mencelakakan kau itu ada di puncak Kim Teng Hong?" tanya Giok Cin Cu.

Co Hiong tertawa, "MuIa-mula aku mencurigai bahwa orang itu adalah salah satu pemimpin partai Kun Lun, tetapi sekarang aku yakin bukan para pemimpin Kun Lun," jawabnya.

Dengan rasa cemas Giok Cin Cu berkata, suaranya agak mengejek: "Hm! Kami dari partai Kun Lun tidak akan melakukan perbuatan keji, Kami adalah orang-orang yang pernah menolong jiwamu!"

"Mungkin kalian pernah menolong jiwaku, Tetapi hanya dengan usaha kepala dari kuil Sam Ceng Koan yang coba membebaskan jalan darahku, aku terbebas dari kebinasaan di'pegunungan Cie Lian San!"

"Orang yang pernah menolong kau adalah orangyang berbudi," kata Giok Cin Cu. "Tentang apakah kau ingin membalas budi itu, kami dari partai Kun Lun tidak hiraukan atau harapkan! sekarang kau telah ketahui apa yang telah terjadi, mengapa kau masih tidak berlalu dari sini. sebetulnya maksud apakah yang menahan kau diam lebih lama di sini?"

Co Hiong belum dapat memulihkan tenaga dalam dan semangatnya yang telah digunakan untuk menolong Lie Ceng Loan, ia bangun perlahan-Iahan dengan merasa masih letih.

"Aku datang untuk membalas budi ketika aku terluka di pegunungan Cie Lian San, dan aku rela menolong murid dari Kun Lun!"

Giok Cin Cu terharu, kegusarannya mereda, "Lie Ceng Loan menderita hebat, mungkin kau tak dapat mengobati dia," katanya dengan lembut

"Jika aku tidak datang menolongnya mungkin pada detik ini dia sudah ada di dalam liang kubur!" kata Co Hiong. "Tapi dia belum sembuh betul Mengapa kau tidak terus menolongnya agar menjadi sembuh benar?" kata Ngo Kong Toa-su campur bicara,

Co Hiong tersenyum. "Kalian menghadapi aku dengan senjata terhunus seolah-olah hendak mengepruk aku, Apakah aku harus bertempur dulu melawan kalian baru masuk menolong menyembuhkan padanya?"

Ngo Kong Toa-su lekas-lekas turunkan toyanya, dan turun dari atap rumah itu. Co Hiong dan Giok Cin Cu juga loncat turun mengikuti Ngo Kong Toa-su masuk ke kamar Lie Ceng Loan, Sambil berjalan Ngo Kong Toa-su mengancam: "Hati- hati! Kau jangan takabur dengan mulut besarmu mengatakan mampu menyembuhkan nya. jika ternyata kau membohongi awas toyaku ini!"

Co Hlong yang telah belajar banyak dari Kiok Gie, guru dari pemimpin-pemimpin kuil Toa Ciok Sie, menjawab dengan menantang: "Meskipun kau bersenjata toya, belum tentu kau dapat melawan aku dengan kedua kepaianku ini!"

Ngo Kong Toa-su balik badan dan membentak: "Kau anak kemarin dulu ini betul-betul mulut besar!" Lalu ia berdiri siap bertempur melawan Co Hiong, Tetapi Co Hiong hanya tersenyum, ia jalan terus dan masuk ke dalam gubuk menghampiri ranjangnya Lie Ceng Loan, Liong Giok Pin berdiri siap sedia dengan pedangnya

Pada enam hari berselang Co Hiong pernah coba mengobati Lie Ceng Loan akan tetapi karena tenaga dalamnya belum cukup, ia hanya berhasil membebaskan tiga dari delapan jalan-jalan darah yang penting, karena pertolongannya itu, ia harus beristirahat paling sedikit enam hari untuk memulihkan tenaga dalam dan semangatnya,

Ketika ia kembali lagi setelah beristirahat Giok Siu Sian Cu datang untuk menantang Hian Ceng Tojin bertempur, dan Ngo Kong Toa-su juga pergi untuk menyaksikan pertempuran itu, ia masuk ketika Liong Giok Pin keluar, dan menotok jalan darahnya di waktu dia kembali masuk. Dan ia tolong membebaskan empat- jalan darahnya Lie Ceng Loan lagi sehingga ia betul-betul kehabisan tenaga, sebetulnya ia ingin beristirahat di dalam hutan pohon-pohon Bwee, ia ingat bahwa ia harus membebaskan satu jalan darahnya lagi, Dan pikiran tersebut mendorong ia kembali lagi untuk membebaskan satu jalan darah itu.

Ngo Kong Toa-su yang sedang meronda di depan telah melihat bayangannya Co Hiong, lalu ia bersembunyi di belakang sebuah pohon, ia juga loncat naik ke atas atap rumah gubuk itu ketika Co Hiong loncat ke atas atap, dan mencegah dengan toyanya,

Co Hiong insyaf bahwa ia tak dapat melawan, maka ia duduk di atas rumah sambil memejamkan kedua matanya. Kemudian Giok Cin Cu datang, ia semakin tak berdaya melawan mereka dengan keadaan tubuhnya yang sangat letih itu,

Sebab-sebab di atas itulah mengapa Co Hiong duduk di atas atap rumah gubuknya Lie Ceng Loan sambil menghadapi Ngo Kong Toa-su.

Co Hiong yang telah menghampiri ranjangnya Lie Ceng Loan menyaksikan Lie Ceng Loan masih tidur nyenyak ia tersenyum karena ia yakin bahwa pertolongannya berhasil Dengan menghadapi Giok Cin Cu ia berkata:

"Dia telah menderita luka-luka di dalam tubuhnya karena hawa gunung yang dingin telah merembes masuk ke jalan- jalan darahnya, bahkan ke dalam tulang-tulangnya, Aku harus membebaskan kedelapan jalan-jalan darahnya yang penting, aku telah membebaskan tujuh jalan darahnya kini masih tinggal satu lagi yang harus dibebaskan

Kita perlu air panas untuk menyeduh bawang merah.

Setelah aku berhasil membebaskan jalan darahnya yang satu itu, ia harus diberi minum air bawang merah yang telah diseduh. ia harus tidur selama satu jam, dan akan sembuh setelah ia mendusin dari tidurnya." Giok Cin Cu melakukan segala apa yang diminta, Bersama Liong Giok Pin ia menyediakan air panas dan bawang merah, Ngo Kong Toa-su berdiri di samping ranjang puteri angkatnya, menyaksikan Co Hiong yang berusaha membebaskan jalan darahnya Lie Ceng Loan,

Co Hiong mengerti bahwa Hweeshio tua itu masih mencurigai padanya, sekonyong-konyong dengan tangan kirinya ia membalikkan tubuhnya Lie Ceng Loan, lalu menepuk punggungnya gadis itu dengan tangan kanan-nya. Ketika itu terlihat ia berkeringat nampaknya letih sekali Setelah melakukan pertolongan itu, dengan napas sengal-sengal ia mundur dua tindak, lalu berkata:

"Semua... jalan-jalan darahnya... yang penting telah aku bebas.,, kan,., setelah ia dapat tidur satu jam, ia akan mendusin!" kata Co Hiong yang nampaknya lelah sekali, Kemudian ia jalan keluar dari kamar itu untuk menyedot hawa segar di luar,

Ngo Kong Toa-su yang telah menyaksikan dengan kepala matanya sendiri pertolongan yang diberikan itu lalu menghampiri Co Hiong: "Siotee telah mengorbankan tenaga dalam dan semangatmu untuk menolong orang, aku si tua bangka ini sangat terharu dan berterima kasih, Sudilah Siotee maafkan kekasaran kami tadi Mari kita masuk ke gubukku untuk minum teh yang hangat."

Tapi Co Hiong mengetahui bahwa Hweeshio tua itu bukannya ingin mengundang ia minum teh. Hweeshio tua itu masih mencurigai ia, apakah ia betul-betul menolong Lie Ceng Loan, atau mencelakakannya. ia ditahan di gubuk Hweeshio tua itu sambil menanti akibat pertolongannya yang ia berikan kepada Lie Ceng Loan. ia yakin bahwa pertolongannya itu pasti akan berhasil ia tidak menjawab, tetapi ia tersenyum, lalu mengikuti Ngo Kong Toa-su masuk ke kamar si Hweeshio tua itu.

Dengan khtdmat Ngo Kong Toa-su menuangkan teh yang istimewa untuk tamunya, Co Hiong pun tidak segan-segan meminumnya dengan sekali teguk Kemudian dengan tanpa permisi, ia berbaring di atas tempat tidurnya si Hweeshio tua untuk beristirahat dan memulihkan tenaga dalam dan semangatnya lagi,

Ngo Kong Toa-su menjadi marah melihat sikap yang lancang itu, ia ingin menegur, tetapi ia ingat akan usahanya Co Hiong menolong puteri angkatnyua. "Jika ia telah betul- betul dan sungguh-sungguh menolong menyembuhkan Loan Jie, biarlah ia bersikap congkak dan lancang. Aku hanya menanti akibat dari pertolongannya, jika ia hanya takabur, aku masih mempunyai kesempatan untuk bikin perhitungan kepadanya!" pikirnya,

Karena memikir demikian Ngo Kong Toa-su duduk menantikan di dekat ranjang di mana Co Hiong berbaring masing-masing dengan pikiran yang berlainan Ngo Kong Toa- su cemas akan keadaan puteri angkatnya, sedangkan Co Hiong merancangkan cara bagaimana ia dapat membawa lari gadis itu setelah sembuh, Mereka berada di dalam kamar agak lama juga tanpa pereakapan apapun sehingga suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi senyap, Tiba-tiba Liong Giok Pin datang tergesa-gesa dan berbisik di kupingnya Ngo Kong Toa-su: "Loan Sumoy sudah tersadar dan bangun dari tidurnya, dan Suhu minta Supek segera datangi"

Ngo Kong Toa-su segera loncat dan lari ke kamarnya Lie Ceng Loan, Co Hiong buka kedua matanya, ia tersenyum kepada Liong Giok Pin, lalu memejamkan matanya lagi, senyuman itu menggiurkan hatinya Liong Giok Pin yang kebetulan menengok ketika hendak keluar dari kamar.

Betul saja Lie Ceng Loan sudah dapat duduk di atas pembarjngannya, Tubuhnya banyak lebih kurus, tetapi wajahnya tidak pucat Iagi, Ngo Kong Toa-su gembira melihat perubahan itu. Sambil mengusap-usap kepalanya gadis itu ia menanya dengan ramah: "Loan Jie! Apakah kau merasa enakan?" Lie Ceng Loan mengangguk

"Aku telah menderita sakit agak lama dan telah membikin Suhu dan kalian banyak susah, Bila aku sudah sehat dan kuat, aku tentu akan berusaha membalas budi yang besar dari kalian," kata Lie Ceng Loan.

jawaban itu menggembirakan bukan saja si Hwee-shio tua, juga Giok Cin Cu yang duduk di pinggir ranjang mengawasi gerak-gerik muridnya itu. Ngo Kong Toa-su baru insyaf bahwa ia telah lupa memberi hormat kepada Oiok Cin Cu. ia buru- buru mengangkat kedua tangannya sambil berkata: "Aku si tua bangka ini bahna kegirangan telah lupa memberi hormat Maaf!"

Giok Cin Cu lekas-lekas membalas hormat itu. "Hai! Toa- su terlampau tertib, sebetulnya aku masih merasa cemas tentang perubahan Loan Jie, dari itu aku minta Toa-su datang untuk berdamai," katanya,

"Sebutlah apa yang aku harus lakukan demi untuk kepentingan Loan Jie," jawab Ngo Kong Toa-su.

Giok Cin Cu mengerutkan kening.

"Apakah orang yang menolong menyembuhkan Loan Jie adalah Co Hiong yang kita jumpai di pegunungan Cie Lian San?" tanya Giok Cin Cu.

"Betul," jawab Ngo Kong Toa-su, "Melihat gerak-geriknya dan caranya dia menolong membebaskan jalan-jalan darahnya, aku tak me ragu kan lagi."

Tapi..." kata Giok Cin Cu, "Yang aku meragukan ialah ketika dia berada di pegunungan Cie Lian San, ia terluka parah, Ketika itu Souw Peng Hai dan orang-orangnya telah berlalu, hanya Souw Hui Hong dan kita masih tinggal di tempat itu. Kemudian Co Hiong naik kudanya dan berlalu entah kemana, siapakah yang menolong dia? Dan untuk menolong Loan Jie, ilmu yang tinggi sangat diperlukan, dan orang yang mempunyai ilmu demikian tingginya kau belum pernah dengar di kalangan Kang-ouw. Misalnya Souw Peng Hai kepala dari partai Thian Liong, meskipun namanya terkenal di empat penjuru, tetapi ia tak mampu menolong Loan Jie, Pek Yun Hui telah menolong aku dengan membebaskan delapan jalan darah yang penting, dan kini Loan Jie tertolong dengan cara yang serupa, Oleh karena itu aku ragukan tentang orang yang menolong Loan Jie,"

Seperti juga orang baru bangun dari tidurnya, Ngo Kong Toa-su berseru: "Betul! sebetulnya siapakah yang menolong Loan Jie?"

"Barusan aku berada di dekat puncak gunung, dan aku telah lihat bangau nya Pek Yun Hui," kata Giok Cin Cu, "Kini aku berusaha memecahkan teka-teki yang rumit ini. Bee Kun Bu sudah hampir setengah tahun tidak kembali, tetapi tiba-tiba Co Hiong muncul di pegunungan Kun Lun ini, Mengapa ia rela membuang tenaga menolong Loan Jie? Kita lihat bangau putih, tetapi kita tidak lihat majikannya atau Bee Kun Bu.

Bangau itu disuruh oleh Pek Yun Hui datang ke sini?"

Si Hweeshio tua mendengari dengan penuh perhatian tetapi ia tak dapat memecahkan teka-teki itu.

Sambil menarik napas panjang Giok Cin Cu melanjut kan: "Pek Yun Hui sangat tinggi ilmunya, cantikorangnya, Dia

dan Bee Kun Bu sangat.,.," ia tidak teruskan ucapannya itu.

"Suhu, mengapa kau tak bicara terus? Apakah kau takut aku mendengarnya dan membikin aku menjadi sedih hati?" memotong Lie Ceng Loan dengan per-tanyaannya,

"Urusan mereka berdua lambat laun kau pun dapat mengetahuinya. Tidak jahatnya jika aku sekarang menyatakan pendapatku," kata Giok Cin Cu.

"Pek Yun Hui telah menolong aku, kemudian ia datang ke pegunungan Cie Uan San lagi-lagi menolong kita, Budinya terhadap kita besar sekali, Tetapi menurut pendapatku, semua pertolongannya itu karena Bee Kun Bu, Aku menduganya, setelah dia menolong Co Hiong, dia suruh Co Hiong datang ke puncak Kim Teng Hong, Tapi dengan maksud apa Pek Yun Hui berbuat demikian, aku belum dapat menduganya."

Ketika itu terdengar oleh mereka suara bunyinya bangau, Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su lari keluar dan mendongak ke atas untuk melihatnya. Mereka lihat bangau itu terbang dengan pesatnya dan menghilang di balik sebuah puncak!

Ngo Kong Toa-su menghadapi Giok Cin Cu dan berkata: "Betul, apa yang kau katakan tadi, Bangau itu adalah bangaunya Pek Yun Hui!"

Baru saja Giok Cin Cu hendak menjawab tiba-tiba Co Hiong keluar dari rumah gubuknya Ngo Kong Toa-su dan mendaki puncak gunung, ia mengejar dan loncat di depannya.

"Cuaca sangat buruk Lebih baik kau beristirahat duIu, Lagipula urusanmu belum beres, Aku harus kembali untuk membereskannya," tegur Giok Cin Cu.

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab: "Aku kira aku telah membayar semua hutang terhadap partai Kun Lun yang pernah menolong aku, Urusan apa lagi yang belum beres?" Lalu ia siap sedia untuk menyerang jika perlu,

"Apakah Pek Yun Hui yang menyuruh kau datang ke sini?

Bagaimanakah Pek Yun Hui mengetahui bahwa Lie Ceng Loan menderita sakit Bukankah Pek Yun Hui berada di pegunungan Kpat Cong San?" tanya Giok Cin Cu.

pertanyaan itu membingungkan Co Hiong. ia kira Giok Cin Cu sengaja menahan ia. ia menjadi marah,

"Pek Yun Hui? Aku tidak mengenal padanya! jika kau sengaja mencari lantaran, aku Co Hiong tidak takut melawan kau!" bentaknya lalu ia hendak menyerang Giok Cin Cu.

Tetapi segera ia merasa kedua matanya menjadi gelap, karena tenaga dalam dan semangatnya belum pulih, ia bertindak mundur tiga langkah, Ketika itu Giok Cin Cu juga telah menjadi marah karena ditantang, ia ingin menyerang, tetapi ia dengar Lie Ceng Loan menjerit "Suhu! jangan serang dia. Dia adalah kawan karibnya Bu Koko!"

Giok Cin Cu dan Co Hiong menoleh ke arah Lie Ceng Loan, mereka terperanjat tereampur girang menyaksikan Lie Ceng Loan telah dapat berjalan Tampak Ngo Kong Toa-su mengikuti di belakangnya,

Lie Ceng Loan menghampiri gurunya, "Dia adalah kawan karibnya Bu Koko, Bolehkah aku bicara dengan dja?"

Giok Cin Cu mengangguk, dan Li Ceng berdiri di depan Co Hiong, ia berkata: Tempo hari, ketika kau menderita sakit, aku panggil-panggil kau, tetapi kau tidak menyahut."

Co Hiong tersenyum dan menjawab: "Betul, Karena ketika itu aku menderita sakit keras."

"Aku menderita sakit, tetapi ada Suhu, Supek dan Suciku yang merawati aku. Kau menderita sakit tiada orang yang merawatnya Kasihan!" kata Lie Ceng Loan,

"BetuI! Tetapi nasib masing-masing orang berlainan, dan manusia tak dapat menghindarkan penyakit atau maut jika sudah ditakdirkan Jika aku sakit dan tiada orang yang merawat, itu lumrah saja," jawab Co Hiong,

Tapi apabila kita menderita sakit tiada orang yang merawati, kita menjadi lebih sedih iagi, Bila kau sembuh ? siapakah yang menolong kau di Cie Lian San?" tanya Lie Ceng Loan,

Co Hiong terharu mendengar kata-kata yang setulus hati

itu.

"Untung aku menjumpai seorang Hweeshio tua, dialah

yang mengobati dan menyembuhkan aku."

"Apakah bukan seorang gadis yang cantik elok yang merawat dan mengobati kau? Dan setelah itu mengirim bangaunya datang ke puncak Kim Teng Hong?" Giok Cin Cu mengejek Co Hiong tidak mengerti akan ejekan itu. ia hanya tersenyum dan berkata kepada Lie Ceng Loan: "Jalan-jalan darahmuyang penting telah kubebaskan Kau hanya perlu beristirahat beberapa hari Iagi. "

Lie Ceng Loan memegang jidatnya sendiri dan memejamkan kedua matanya sambil berseru: "Aku merasa pusing dan jantungku berdebar-debar!"

Ngo Kong Toa-su lekas-Iekas bertindak maju dan memegangi tubuh puterinya sambil memanggil-manggil "Loan Jie! Loan Jie! Mengapa kau?"

Tampak wajahnya Lie Ceng Loan menjadi pucat, bibirnya biru, dan seluruh tubuhnya menggigil Giok Cin Cu terkejut, perhatiannya dicurahfean kepada Lie Ceng Loan, Co Hiong mengambil kesempatan ini ngeloyor pergi.

Ketika Giok Cin Cu ingat akan Co Hiong lagi, pemuda itu sudah tidak kelihatan mata hidungnya! ia berjingkrak dan berseru: "Betul tepat dugaanku Dengan alasan menolong Lie Ceng Loan, dia telah melukai lebih hebat lagi, Ayo lekas-lekas bawa Lie Ceng Loan ke tempat tidurnya, dan aku hendak mengejar jahanam itu-"

Sambil memegangi tubuhnya Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su berdiri bengong terpaku karena bingung-nya. seluruh tubuhnya gemetaran bahna gemas dan gusarnya akan perbuatan Co Hiong terhadap puteri ang-katnya, Kemudian air matanya mengucur, dan ia berseru seperti orang hilang ingatan: "Loan Jie! Loan Jie! mengapa nasibmu demikian buruknya? Mengapa kau harus menderita sampai begini!"

Toa-su, kau jangan terlalu sedih hati, Loan Jie harus lekas- lekas ditolong, Dia adalah murid dari partai Kun Lun, kita tidak akan tinggal diam terhadap orang yang membikin dia celaka!" kata Giok Cin Cu menghibur

Ngo Kong Toa-su lalu pondong Lie Ceng Loan dibawa ke pembaringannya ia memperhatikan bahwa ranjang itu telah diganggu orang, ia ingat akan Liong Giok Pin dan ia tidak lihat gadis itu! Giok Cin Cu juga menjadi kaget ia mencarinya di dalam katnar, lalu ia lari keluar Di bawah sebuah pohon Bwee ia tampak Liong Giok Pin berdiri terpaku dengan kedua matanya mengawasi langit seperti orang dungu "Celaka!" seru Giok Cin Cu.

"Anak itu telah ditotok orang! Dan siapakah yang menotoknya?" ia loncat dan berdiri di depan gadis itu, tetapi lalu tetap berdiri bagaikan patung, dia tidak merasa ada orang berdiri di depannya ia membentak "Hei! Giok Pin! Apakah yang kau lakukan, sumoymu menderita sakit keras, mengapa kau berdiri disini?" ..

Teecu. Teecu,,." jawab liong Giok Pin tapi ia tak dapat

bicara terus.

Giok Cin Cu membentak: "Ayo, katakanlah! Kau mengapa?"

Sebetulnya Liong Giok Pin adalah seorang anak yatim piatu waktu berusia tiga tahun, Giok Cin Cu telah menolong dan mendidik ia di kuil Sam Goan Kong selama delapan belas tahun, Diantara muridnya Liong Giok Pinlah yang paling disayang, ia tidak dianggap sebagai murid, tetapi seperti anak kandungnya ia pun menganggap Giok Cin Cu seperti ibu kandungnya,

Tetapi setelah Giok Cin Cu menerima Lie Ceng Loan sebagai murid, Giok Cin Cu yang masih mencintai Hian Ceng Tojin memandang Bee Kun Bu sebagai Hian Ceng Tojin, dan Lie Ceng Loan sebagai dirinya sendiri, oleh karena itu ia sayang sekali Lie Ceng Loan. Beruntung sekali Lie Ceng Loan yang mulia itu tidak mengiri terhadap Liong Giok Pin yang ia cintai sebagai saudara kandungnya sendiri,

Liong Giok Pin yang telah tinggal bersama-sama Lie Ceng Loan cukup lama sudah paham betul akan sifat dan wataknya Lie Ceng Loan, juga sayang sayangnya ia telah sering diajak berkelana oleh gurunya dan telah berpengalaman Dengan kepala matanya sendiri ia sering menyaksikan penderitaan manusia, dan ia telah bertekad menjadi satu rahib. Tetapi ia tidak menduga bahwa setelah melihat Co Hiongyang tampan, hatinya tergiur Soal ini ia tak berani memberitahukan kepada gurunya, sebetulnya ia keluar ingin menjumpai Co Hiong, Untuk pertama kali ia menjawab gurunya dengan berdusta.

"Karena Teecu tidak ingin mendengarkan pereakap-an Suhu dan Supek, maka Teecu keluar ke sini," demikian jawabnya,

Giok Cin Cu tak dapat diabui oleh jawaban itu.

Tetapi untuk menghindarkan salah paham, ia hanya mengangguk dan berkata: "Sumoymu tiba-tiba menderita lagi, dan ia kini tidak sadarkan diri pula, Ayo, kau lekas-lekas pergi menjaga dia!"

Liong Giok Pin mengangkat kedua tangannya memberikan hormat, lalu ia lari ke kamar Lie Ceng Loan.

Lie Ceng Loan tertidur di atas pembaringan dengan kedua mata tertutup, Ngo Kong Toa-su sedang mundar-mandir di dalam kamar dengan sikap yang gelisah sekati, Melihat keadaannya Lie Ceng Loan, Liong Giok Pin menubruk dan berseru: "Loan Sumoy! Loan Sumoy." ia menangis sedih, Berkali-kali ia memanggil tetapi Ue Ceng Loan tetap tertidur

Mereka menjadi gelisah dan tak tahu apa yang akan diperbuatnya, Tiba-tiba jalan masuk seorang pemuda mengenakan pakaian hijau sambil menanya: "la sakit apa? Apakah ia menderita sakit hebat ?" Suara yang nyaring dan lemah lembut itu membikin Ngo Kong Toa-su dan Liong Giok Pin terpesona, pemuda itu terus menghampiri ranjangnya Lie Ceng Loan. Baru saja ia duduk di pinggir ranjang, Ngo Kong Toa-su membentak: "Hei! Pek Yun Hui! Apa maksudmu datang ke sini?"

Pek Yun Hui menoleh ke arah Ngo Kong Toa-su, dan mengawasi si Hweeshio tua itu dengan kerlingan matanya yang jeli. "Tak bolehkah aku datang ke sini?" kata Pek Yun Hui suaranya tetap lembut,

Ketika itu Liong Giok Pin juga telah mengenali Pek Yun Hut yang pernah menolong gurunya dari racun ular, ia mengetahui bahwa ilmunya Pek Yun Hui tinggi sekali ia hanya berdiri dengan sikap waspada.

Ketika Pek Yun Hui hendak memegang tubuhnya Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su loncat maju untuk mencegahnya, Pek Yun Hui menjadi heran, Dengan nada yang keras ia membentak "Ia sakit keras sekali! Mengapa kalian tidak berikhtiar menolong padanya? Sekarang aku hendak menolong, kalian coba mencegah Apa maksud kalian ini?"

Ngo Kong Toa-su menjawab dengan mengejek: "Ha! jika ia sakit dan mati, bukankah kau gembira?"

Jawaban itu menusuk hatinya Pek Yun Hui, ia maju setindak dan mengirim tinju kanannya ke dada Ngo Kong Toa- su, dan tangan kirinya merampas pedangnya Liong Giok Pin. Semua ini dilakukan cepat sekali Ketika itu, Giok Cin Cu sedang masuk ke dalam kamar ia lempar pedangnya Liong Giok Pin untuk menahan Giok Cin Cu.

Demikianlah sekali ia gebrak, ia dapat menahan tiga orang sekaligus untuk sementara waktu, Ngo Kong Toa-su yang tidak menduga akan diserang, tidak keburu mengelakkan diri, ia terdorong mundur beberapa tindak, Liong Giok Pin tidak berdaya setelah pedangnya di-rampas, Giok Cin Cu, yang sedang masuk dan melihat penolongnya, tidak menduga ia akan diserang dengan pedang yang dilontarkan ke arahnya, ia menyanggapi pedang itu, lalu bertindak masuk ke dalam kamar dengan waspada, Tetapi ia merasa lengan kanannya yang me-nyanggap pedang itu sedikit sakit dan lumpuh!

Lalu Pek Yun Hui meraba jidatnya Lie Ceng Loan sambil memanggil: "Loan Moy-moy, Loan Moy-moy!" Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu loncat dan berdiri di belakangnya Pek Yun Hui, siap sedia menyerang Pek Yun Hui jika Lie Ceng Loan dianiaya.

Pek Yun Hui berbalik dan sambil menghadapi Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu ia menanyai "Ia menderita sakit hebat, mengapa kalian tidak berdaya upaya mengobatinya?"

Giok Cin Cu tidak menjawab ia ingat akan pertolongannya Pek Yun Hui ketika ia kena racun ular, ia berterima kasih.

"la menderita sakit karena memikir Bee Kun Bu, ia pergi berdiri di atas puncak beberapa hari dan malam menanti kembalinya Bee Kun Bu tanpa makan dan minum, ia menderita karena diserang oleh hawa gunung yang dingin. "

Ngo Kong Toa-su menjawab dengan ketus,

Pek Yun Hui tidak menanti ucapan itu selesai. ia menanya dengan kedua mata terbelalak "Apa?! Bee Kun Bu belum kembali ke puncak Kim Teng Hong ini?"

Ngo Kong Toa-su menyengir dan berkata lagi: "Sudahlah, kau jangan pura-pura. Kau tidak sudi melepaskan Bee Kun Bu. Kau malah menyuruh Co Hiong menganiaya Lie Ceng Loan. Kau betul-betul lebih kejam daripada ular!"

Rupanya Pek Yun Hui tidak memperhatikan ejekan Ngo Kong Toa-su. ia heran mengapa Bee Kun Bu belum juga kembali ke puncak Kim Teng Hong. ia berkata kepada dirinya: "Dia telah mengantar aku pulang ke pegunungan Koat Cong San. Pada esok harinya, dia meninggalkan sepucuk surat dan berlalu, Mustahil selama hampir tujuh bulan dia belum juga kembali? Apakah dia menjumpai rintangan-rintangan di perjalanan nya ?"

Sikap Pek Yun Hui diperhatikan oleh Giok Cin Cu yang menduga ia berpura-pura, ia pun menjadi geram, ia ingin menegur Tetapi didahului Ngo Kong Toa-su yang berkata dengan mengejek: "Aku kira Bee Kun Bu masih berada di pegunungan Koat Cong San!" Pek Yun Hui tidak menghiraukan ejekan itu. Dari kantong di dadanya, ia keluarkan sepucuk suraL ia serahkan surat itu kepada Giok Cin Cu: inilah surat yang Bee Kun Bu tinggalkan untuk aku. Cobalah periksa tulisannya," kata Pek Yun Hui sambil mengangsurkan surat di tangannya itu.

Giok Cin Cu menyambuti dan membuka surat itu dengan tulisan sebagai berikut:

"Aku ini sebetulnya dungu dan bodoh, tetapi kau telah sudi menerima aku sebagai kawan karib, Aku merasa sangat beruntung, sebetulnya aku harus pergi setelah kau sembuh betul. Tetapi pada dewasa ini, guru dan paman-paman guruku sedang menghadap banyak urusan, dan aku sebagai seorang murid partai Kun Lun harus membantunya sekuat tenaga, Aku tidak berani enak-enakan bernaung di bawah perlindunganmu dengan tidak menghiraukan urusan guru dan paman-paman guruku. Mungkin juga guru dan paman guruku sedang menanti kembalinya aku. Aku terpaksa segera berlalu, Aku sangat berterima kasih atas semua pertolonganmu Tertinggal, hormatku Bee Kun Bu."

Dari tanggal surat tersebut ternyata Bee Kun Bu sudah berlalu meninggalkan pegunungan Koat Cong San lebih dari setengah tahun.

Setelah Giok Cin Cu membaca surat itu, Pek Yun Hui menarik napas, "Ketika itu aku sedang tetirah, Sedari aku sembuh, ia telah berlalu setengah bulan Iebih. Dan dalam setengah tahun belakangan ini, aku terus menerus berlatih suatu ilmu, dan belum pernah berlalu dari pegunungan Koat Cong San. "

Si jari Sakti mempereundangkan Si Lingkaran Emas Giok Cin Cu merasa bersalah setelah membaca suratnya

Bee Kun Bu, ia pun mendengar ratapan Pek Yun Hui, ia mengangkat kedua tangannya dan menghaturkan maaf kepada Pek Yun Hui. "Jika Pek siocia tidak datang, kami tidak mengetahui duduknya perkara, dan kami dapat terus menerus menduga yang bukan-bukan terhadap diri Siocia." Lalu ia menuturkan halnya Co Hiong mengobati Lie Ceng Loan.

Dengan senyuman sedih Pek Yun Hui berkata: "Aku pun tak dapat mempersalahkan kalian. Tetapi yang terpenting sekarang ialah mengobati Lie Ceng Loan." Lalu ia duduk di samping ranjang dan memeriksa luka-luka yang diderita Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su, Giok Cin Cu dan Liong Giok Pin mengawasi dengan penuh perhatian cara Pek Yun Hui mengobati Lie Ceng Loan.

Mereka memperhatikan bahwa wajahnya Pek Yun Hui berubah selagi kedua tangannya mengurut dan memijat tubuhnya Lie Ceng Loan. Sejenak kemudian ia berkata: "Delapan jalan-jalan darahnya yang penting sudah bebas, Hanya letak lukanya aku masih belum dapat cari."

Ucapan itu seperti juga ujung pedang yang tajam menusuk jantungnya Ngo Kong Toa-su. Keringat mengucur dari seluruh anggota tubuhnya, ia menarik napas panjang, lalu berseru: "Meskipun aku bukan ayahmu, tetapi aku telah menjaga kau selama tiga puluh tahun, dan aku tak dapat membiarkan kau menderita terus menerus!" Lalu ia lari keluar dari kamar itu seolah-olah orang yang kalap!

Giok Cin Cu mengejar dan mencegat sambil membujuk "Loan Jie bukannya tak dapat ditolong! Kau harus tenang, dan kau tidak boleh meninggalkan dia!"

Ngo Kong Toa-su tertawa gelak-gelak,

"Aku tidak mempunyai apa-ap lagi, Aku hanya harus membunuh Ouw Lam Peng saja.,." katanya lalu dari

kantong di dadanya ia keluarkan sepucuk surat dan diserahkan kepada Giok Cin Cu sambil berkata: "lnilah surat Suhengmu, Sebelum dia pergi bertempur melawan Giok Siu Sian Cu, dia berikan surat ini kepadaku, Dia memintanya aku membantu ia menyelidiki muridnya, Bee Kun Bu. Sekarang aku serahkan tugas ini kepadamu, Nah! Selamat tinggal!" Lalu ia lari pergi ke gubuknya untuk mengambil sedikit perbekalan Ketika ia bertindak keluar dari rumah gubuk itu dengan membawa toyanya, Giok Cin Cu mencegat dengan pedang terhunus: "Jika Toa-su hendak pergi juga, sedikitnya harus menjumpai Toa Suheng dulu," kata Giok Cin Cu.

Ngo Kong Toa-su tertawa gelak-gelak seolah-olah orang yang miring otaknya, kemudian air matanya mengucur keluar Sejenak kemudian ia loncat melalui Giok Cin Cu dan lari keluar!

Giok Cin Cu mengejar sambil berseru: "Toa-su! Toa-su! Jika kau bertekad berlalu, aku pun tak dapat menahannya, Tetapi aku minta Toa-su menunggu kembalinya Toa Suheng dulu!"

Ngo Kong Toa-su menjadi marah.

"Bagaimana kalau dia tidak kembali hari ini?" bentaknya. "la pasti kembali," jawab Giok Cin Cu, "Paling lambat

malam ini ia sudah akan kembali, Bila malam ini Toa Suheng tidak kembali, Toa-su dapat berangkat besok pagi."

"Aku tidak ingin berdiam lebih lama lagi," kata Ngo Kong Toa-su. "Aku ingin berangkat sekarang, Ayo, kau jangan merintangi aku lagi

"Tetapi jika Toa Suheng menanyaku, apa yang aku mesti jawab?" Tanya Giok Cin Cu.

Ngo Kong Toa-su angkat toyanya, ia mengancam.

"Jika kau masih terus merintangi aku, jangan salahkan aku si tua bangka ini tidak mengenal aturan!" katanya mengancam.

Giok Cin Cu mengerti bahwa si Hweeshio tua itu telah menjadi nekad dan beringas karena kecewa bahwa Lie Ceng Loan tak dapat ditolong, dan bahwa ia harus membikin perhitungan terhadap Ouw Lam Peng yang telah membunuh ibu dan ayahnya Lie Ceng Loan, Tetapi Giok Cin Cu tidak dapat melepaskan ia pergi melawan Ouw Lam Peng yang lihay ilmu silatnya. Jika ia membiarkan si Hweeshio tua itu pergi, juga ia lepaskan si Hweeshio tua itu masuk ke dalam gua macan, Oleh karena itu dengan tersenyum ia berusaha merintangi, dan membujuk lagi.

"Toa-su dan Toa Suheng telah berkawan lebih dari dua puluh tahun, kau telah membantu Toa Suheng mencari kitab Kui Goan Pit Cek di pegunungan Koat Cong San, telah bersama-sama pergi ke dalam kuil Toa Ciok Sie mengambil buah Sie Can Ko untuk aku, Semua budi yang besar itu, kami dari partai Kun Lun tak dapat lupakan, Disamping, Loan Jie telah menjadi muridnya partai Kun Lun. "

Dalam pikirannya yang kalap itu Ngo Kong Toa-su membentak: "Jika Loan Jie tidak menjadi murid partai Kun Lun, mungkin ia tidak menderita. "

Giok Cin Cu tersinggung, ia pun berkata dengan suaranya keras pula: Toa-su mengapa bicara demikian? partai Kun Lun tidak merebut Lie Ceng Loan menjadi murid! Harap Toa-su pikir dulu sebelum mengucapkan kata-kata yang menyinggung!"

Ngo Kong Toa-su menjadi merah mukanya, ia loncat melalui Giok Cin Cu dengan maksud melarikan diri, Tetapi Giok Cin Cu mengejar, karena ia bertekad mencegah si Hweeshio tua itu pergi, Dengan pedang terhunus ia loncat melalui Ngo Kong Toa-su dan mencegah jalannya sambil berkata: Toa-su harus menunggu Toa Suheng kembali!"

"Jika aku tidak mau?!" membentak si Hweeshio tua. "Aku akan merintangi kau pergi sampai Toa Suheng

kembali!" jawab Giok Cin Cu.

"Apakah kau dapat mencegah aku si tua bangka ini?" tanya Ngo Kong Toa-su.

Giok Cin Cu menuding dengan pedangnya. "Lihat saja!" katanya, "Kau boleh coba-coba berlalu!"

Ngo Kong Toa-su melompat lagi, tetapi Giok Cin Cu dengan ilmu Ceng Teng Sam Tiao Sui atau Capung menotol air tiga kali berhasil melompat dan jatuh turun di depan Hweeshio tua itu.

Ngo Kong Toa-su yang menjadi nekad karena ia kira Lie Ceng Loan tak dapat ditolong telah melampiaskan kegusarannya kepada Hian Ceng Tojin dan Giok Cin Cu.

Berkali-kali ia telah dicegat oleh Giok Cin Cu, ia selalu menahan diri tidak menyerang, Tetapi ketika Giok Cin Cu mencegat ia lagi untuk kelima kalinya, ia melabrak Giok Cin Cu dengan jurus Kim Kang Kai San atau toya besi membongkar gunung.

Giok Cin Cu telah siap menangkis segala serangan. Labrakan toya itu ia elakkan dengan loncat ke samping,

Ngo Kong Toa-su yang sudah beringas itu melabrak terus dengan semua kepandaiannya, Lima sodokan itu ia lancarkan dengan jurus Ciang Liong Cong Hoat atau ilmu silat toya naga menerka m. Giok Cin Cu harus meloncat ke kiri dan ke kanan menghindari sodokan-sodokan maut itu, ia insyaf bahwa ia tak dapat terus menerus mengalah dengan mengegos dan mengelit, karena perbuatan itu dapat membahayakan kedudukannya, Maka ia pun membalas menyerang dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat, Dalam sekejap saja toya dan pedang berkelebatan berkilau-kilauan seakan-akan banyak orang yang bertempur dengan sengit sekali!

Setelah mereka bertempur lebih kurang 10 jurus, Giok Cin Cu menyerang dengan jurus Coan In Ti Goat atau Di balik awan memetik bulan, dan pedangnya terus menusuk ke arah dadanya Ngo Kong Toa-su.

Ngo Kong Toa-su menandinginya dengan jurus Sin Liong Cut In atau Naga sakti keluar dari awan, ia berhasil menangkis tusukan dahsyat itu. Serangan-serangan Giok Cin Cu sangat lancar, tetapi ia khawatir akan melukai Hweeshio tua itu. Maka berka!i-kali ia harus tarik kembali tusukan pedangnya, sebaliknya si Hweeshio tua yang sudah menjadi gila terus melabrak Giok Cin Cu dengan sungguh-sungguh, dan berkali-kali Giok Cin Cu terpaksa loncat mundur untuk mengelakkan kemplangan atau sodokan toya si Hweeshiot tua itu.

"Ai!" pikir Giok Cin Cu. "Jika aku tidak tunjukkan gigi, dia akan anggap orang-orang partai Kun Lun dapat dipermainkan!" maka ia segera menyerang dengan jurus-jurus Ki Hong Teng Kauw (Burung Hong terbang mengejar Naga), Hong Bong Siauw (Angin taufan menghembus hebat) dan Kiam In Siu (Pedut hitam menutupi awan), pedangnya berputar-putar dan memancarkan sinar yang menyilaukan mata,

Ngo Kong Toa-su keteter ia harus bertindak mun-dur, tapi ia menjadi lebih sengit karenanya baru saja ia ingin menyerang dengan semua tenaga dalamnya, sekonyong- konyong ia mendengar jeritan di belakangnya: "Supek, mengapa kau bertempur melawan Suhu?"

Mereka berhenti bertempur dan menoleh ke arah orang yang menjerit itu. Mereka melihat Lie Ceng Loan berdiri tidak jauh dari mereka, pakaiannya putih, rambutnya yang hitam dan panjang terurai, dan wajahnya tegang sekali, Di belakang Lie Ceng Loan tampak berdiri Pek Yun Hui dengan wajah yang murka.

Ngo Kong Toa-su lempar toyanya dan lari menubruk Lie Ceng Loan sambil bersemi "Loan Jie, apakah kau... kau... kau sudah sembuh?"

Lie Ceng Loan menangis di dalam rangkulan ayah angkatnya,

"Pek Cici benar-benar pandai meskipun bagaimanapun beratnya penyakitku, ia pasti dapat mengobati Tapi mengapa Supek bertempur melawan Suhu?" Ngo Kong Toa-su sangat terharu. Air matanya tak henti- hentinya mengucur ia paksa tertawa.

"Betul! Aku sedang berlatih silat melawan Suhumu," kata Ngo Kong Toa-su berdusta,

"Hm!" Pek Yun Hui menegur: "Orang yang demikian lanjut usianya masih berlaku seperti anak kecil! Kalau kau melukai lawanmu, bagaimana?" Teguran itu merupakan suatu teka-teki apakah untuk si Hweeshio tua, atau untuk Giok Cin Cu, dan dua-duanya menjadi merah mukanya!

Sejenak kemudian Pek Yun Hui berkata lagi: "Se-betulnya, penderitaan Lie Ceng Loan itu hebat, tadi aku tak dapat cari letak lukanya dengan cepat-cepat," kata Pek Yun Hui tersenyum dan melanjutkan "Meskipun delapan jalan-jalan darahnya sudah dibebaskan, tetapi hawa dingin di dalam tubuhnya itu telah merembes masuk ke dalam jantung, nyali dan limpanya, Aku telah berhasil memaksa keluarkan hawa dingin itu dari jantung, nyali dan limpanya, tetapi belum dapat mengeluarkan dari tubuhnya..." kata Pek Yun Hui.

Ngo Kong Toa-su tidak menunggu ucapan itu selesai, ia mendesak menanyai "Jadinya Pek Siocia tidak mampu mengobati ia sampai sembuh?"

Pek Yun Hui mengawasi Lie Ceng Loan, lalu berpaling kepada Ngo Kong Toa-su. "Untuk menolong Loan Moy-moy, aku telah menghamburkan banyak tenaga dalamku, tapi aku tidak menyesal Kini ada suatu urusan yang memerlukan perhatikan kedua Toa-su dan Sin-ni."

"Sebutlah apa yang kami harus lakukan, aku si Hweeshio tua tidak akan menolaknya!" jawab Ngo Kong Toa-su.

"Hawa dingin yang telah merembes masuk ke dalam tubuhnya tak dapat disembuhkan dengan obat apapun, Hawa dingin itu hanya dapat dikeluarkan dengan tenaga dalam, untuk mengeluarkannya, paling sedikit mesti memakan lima hari lima malam. Selama waktu itu, kita harus jaga jangan ada orang yang mengganggu atau membikin kacau, Rintangan atau gangguan meski sedikitpun dapat membahayakan jiwa Loan Moy-moy dan aku juga. Oleh karena itu, aku memerlukan bantuan Toa- su dan Sin-ni berdua untuk menjaga kami dengan baik-baik," Pek Yun Hui melanjutkan kata-katanya.

Tugas itu kami akan lakukan dengan baik, Pek Siocia jangan khawatir!" kata Ngo Kong Toa-su sambil menoleh ke arah Giok Cin Cu. "Lie Ceng Loan adalah murid dari partai Kun Lun, kami dari partai Kun Lun tidak akan berpeluk tangan, kami akan memerintahkan semua mu-rid-murid dan orang- orang kami untuk menjaga baik-baik selama jangka waktu yang Pek Siocia perlukan itu!" kata Giok Cin Cu menyambungkan,

"Justru jika terlampau banyak orang dapat menimbulkan curiga, Menurut pendapatku, Toa-su dan Sin-ni berdua sudah cukup, Nah! sekarang kita dapat sediakan makanan dan air dan barang-barang yang dibutuhkan, karena aku akan segera memulai menolong dia!" kata Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan menghampiri Pek Yun Hui dan berlutut di hadapannya, "Pek Cici baik sekali terhadap aku. Kukhawatir aku tak dapat membalas budi Cici yang maha besar itu!"

Pek Yun Hui tersenyum sambil mengangkat bangun Lie Ceng Loan. ia sebetulnya sedang menghadapi saingannya, Bee Kun Bu tak akan mencintai orang lain jika Lie Ceng Loan masih hidup, dan Lie Ceng Loan tidak dapat hidup lebih dari satu bulan jika ia tidak menolong mengobatinya, Namun, ia tidak demikian kejam melihat gadis yang suci dan jujur itu meninggal dunia ia berdiri terpaku dengan pikiran-pikiran yang saling bertentangan itu.

"Pek Cici, apakah yang Cici pikirkan?" Lie Ceng Loan menegurnya.

Seperti orang tersadar dari mimpinya, Pek Yun Hui terkejut, lalu menjawab: "Aku sedang memikirkan mengapa Bu Kokomu belum juga kembali Bila ia melihat kau menderita sakit, ia pasti gelisah."

"la belum kembali, mungkin ia mendapat rintangan di perjalanannya. Jika aku tidak sakit, kita dapat bersama-sama mencari padanya," kata Lie Ceng Loan.

"Cari dia? Di mana carinya?" tanya Pek Yun Hui, "dan mengapa mesti mencarinya bersama-sama aku?"

"Bukankah kau baik sekali terhadap Bu Koko? Apakah kau tidak khawatir keselamatannya?" tanya Lie Ceng Loan.

Pek Yun Hui tidak segera menjawab, ia pegang erat-erat tangannya Lie Ceng Loan. Kemudian ia berkata: "Aku hanya bersenda gurau saja, Bila nanti kau sudah sembuh betul, kita bersama-sama cari padanya."

Lalu ia tuntun Lie Ceng Loan masuk ke rumah gubuk dan terus ke dalam kamarnya, Giok Cin Cu perintahkan Liong Giok Pin sediakan segala keperluan, lalu bersama-sama Ngo Kong Toa-su ia duduk di kamar depan.

Liong Giok Pin segera menyediakan makanan dan keperluan-keperluan lainnya, dibawa ke kamarnya Lie Ceng Loan.

Setelah memberikan sedikit makanan dan air kepada Lje Ceng Loan, Pek Yun Hui mulai turun tangan dalam usaha menyembuhkan gadis itu, ia suruh gadis itu duduk menghadapi dinding, dan ia sendiri berlutut di belakangnya gadis itu dengan tangan kanannya mengurut urat-urat penting dari gadis itu, ia mengurut selama lebih kurang dua jam, dan Lie Ceng Loan merasa seluruh tubuhnya menjadi hangat

Hari mulai senja, akan tak lama kemudian suasana menjadi gelap, Di bawah sinar pelita di dalam kamar itu hanya terdengar suara bernapasnya Lie Ceng Loan, Lalu Pek Yun Hui berkata: "Sebentar lagi kau akan merasa sakit di seluruh tubuhmu, Betapapun sakitnya, kau harus menahannya, Dan dengan tenaga dalammu, kau harus berusaha mengeluarkan hawa dingin yang telah melumpuhkan kau. ingat baik-baik, kau jangan sekali-sekali berpikir pada soal-soal lain, Seluruh perhatianmu harus dicurahkan atas tenaga dalam yang kau keluarkan setelah kau berbuat demikian lamanya kira-kira dua jam, kau harus beristirahat dan tidur sebanyak-banyaknya, Kau jangan bicara, ingatlah baik-baik."

Lie Ceng Loan mengangguk Kemudian Pek Yun Hui memijat-mijat lagi punggungnya gadis itu. Kali ini ia menggunakan tenaga dalamnya, Gadis itu mengertak gigi mehanan sakit tetapi ia tidak mengeluh ia taati pesan penolongnya, Setelah selang dua jam, ia merasa sangat letih, dan lekas juga ia tertidur

Demikianlah Pek Yun Hui menolong menyembuhkan gadis itu tiap-tiap sore dengan tak terasa tiga hari tiga malam telah berlalu, Hanya Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu anggap sang waktu sangat lambat, karena disamping cemas akan keselamatan Lie Ceng Loan, mereka harus betul-betuI memasang mata, kuping, bahkan hidungnya mengamati-amati keadaan di sekitar rumah gubuk tersebut Berat tanggung jawabnya bagi keselamatan jiwanya ke dua gadis itu.

Di hari ke empat, keadaan Lie Ceng Loan menampakkan kemajuan, sebaliknya Pek Yun Hui menjadi makin lesu karena letihnya, Mukanya semakin pucat, dan tubuhnya tampak banyak lebih kurus, ia telah mengeluarkan seluruh tenaga dalam dan semangatnya untuk menolong Lie Ceng Loan,

Pada hari ke lima, sebagian besar hawa dingin di dalam tubuhnya Lie Ceng Loan telah dikeluarkan dan gadis itu merasa banyak lebih segar Pek Yun Hui juga telah mengajarkan ia menghafalkan jampe untuk mengumpulkan tenaga dalam dan menguatkan semangat ia telah belajar banyak ilmu menenangkan pikiran dan menguatkan semangat dari Pek Yun Hui. Boleh dikatakan bahwa Lie Ceng Loan memperoleh rezeki dari penderitaannya, karena ia telah memahamkan jampe yang diajarkan kepadanya! Sampai waktu lohor, Pek Yun Hui telah menolong mengobati Lie Ceng Loan enam kail "Kini luka-lukamu sebagian besar sudah sembuh, Setelah lewat lohor ini aku akan mengobati kau sekali lagi untuk yang penghabisan karena semua hawa dingin telah keluar dari tubuhmu dan kau sembuh betul sudah."

Sambil tersenyum Lie Ceng Loan berkata: "Dan aku dapat segera berangkat mencari Bu Koko?" Lalu ia menoleh ke belakang kepada Pek Yun Hui akan segera ia menjadi terkejut! Pek Yun Hui yang enam hari sebelumnya ia lihat sehat wal'afiat, segar dan bersemangat kini tampak olehnya pucat, lesu dan kurus, seolah-olah orang yang sedang menderita sakit keras! Dengan airmata berlinang-Iinang ia berkata: "Pek Cici, sudahlah, kau jangan melakukan pengobatan lagi Kau telah berkorban terlampau banyak untuk aku. "

Dengan senyuman sedih Pek Yun Hui menjawab: "Tidak bisa, jika aku tidak meneruskan penyakitmu akan kambuh pula. "

Tapi karena Cici menolong mengobati aku telah menjadi kurus kering, Aku sembuh, tetapi Cici menjadi sakit, dan aku...

aku tak mampu mengobati Cici." kata Lie Ceng Loan.

"Aku tidak apa-apa. Setelah aku beristirahat beberapa hari, tenaga dalamku akan pulih kembali Tetapi jika aku tidak meneruskan mengobati kau, jerih payahku selama beberapa hari ini akan sia-sia belaka! Sudahlah, aku tak usah pusingkan hal itu. Turutlah kehendakku," kata Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan menyandarkan tubuhnya di pelukan Pek Yun Hui, air matanya mengucur karena harunya.

"Kau jangan bersedih hati Kau harus bergembira, karena kau kelak akan sembuh betul Jika kau tidak turut apa yang kukatakan, aku betul-betul menjadi sedih hati," menghibur Pek Yun Hui, Lalu ia meneruskan lagi pengobatan nya kepada gadis itu. Tak lama kemudian keringat keluar dari seluruh tubuhnya Lie Ceng Loan, membuat pakaiannya basah kuyup, justru pada saat itu terdengar suara bentakan Ngo Kong Toa-su, disusul dengan suara beradunya senjata tajam, lalu pintu kamar ditendang hingga terbuka, dan Co Hiong menerobos masuk.

Lie Ceng Loan menoleh ke belakang, ia lihat Co Hiong menerobos masuk dengan pedang terhunus, ia ingin menegur tetapi Pek Yun Hui mendesak: "Lekas-lekas pejamkan kedua matamu, dan ucapkan jampe sambil mengerahkan tenaga dalammu, jangan hiraukan apa yang terjadi di sekitarmu.

Lie Ceng Loan segera turut petunjuk-petunjuk Pek Yun Hui. ia pejamkan kedua matanya, ucapkan jampe dan mengerahkan tenaga dalamnya.

Co Hiong melihat satu pemuda dengan pakaian hijau duduk di belakang Lie Ceng Loan di atas ranjangnya, ia segera menjadi cemburu dan gusar sekali, Sambil menyengir ia meloncat ke depannya Pek Yun Hui dan menusuk dadanya dengan pedangnya, Pek Yun Hui menggunakan dua jari tangan kirinya menjepit pedang Co Hiong, di saat menyentuh gagang pedang, dua jari tangan itu membarengi mementil pergelangan tangannya Co Hiong, ilmu itu adalah ilmu Tan Cit Shin Tong atau jari sakti yang merupakan ilmu silat yang luar biasa tingginya.

Co Hiong tidak mengetahui siapa orang yang ia serang, ia segera merasakan lengan kanannya yang memegang pedang itu menjadi lumpuh, dan pedangnya terlepas dari pegangannya, lingkaran-lingkaran emasnya pun jatuh berantakan di lantai Ngo Kong Toa-su telah menyusul masuk, dengan jurus Hui Pa Tan Ceng atau Toya terbang menghantam lonceng besar, ia kemplang punggungnya Co Hiong, Tapi Co Hiong cepat-cepat mengegos dan berhasil menghindari kemp!angan maut i(u. Lalu dengan ilmu yang ia dapat pelajari dari kitab San Im Shi Ni, ia loncat secepat kilat ke samping Ngo Kong Toa-su, dan berbareng menangkis toya lawannya dengan tangan kanan sambil menotok lengan kanan lawan dengan tinju kirinya.

Ngo Kong Toa-su yang baru saja berdaya mencegah Co Hiong menerobos masuk, dan telah bertempur beberapa jurus, telah memperhatikan bahwa lawannya itu tak dapat dipandang enteng, Ketika ia mengejar, ia berlaku sangat waspada, Namun, jurus yang digunakan Co Hiong tak dapat dijaga olehnya memegang toya. Tapi dengan tangan kirinya ia kirim satu jotosan ke lambungnya Co Hiong setelah ia melemparkan toyanya.

Co Hiong tidak menduga Hweeshio tua itu masih dapat mengirim pukulan setelah lengan kanannya lumpuh, ia harus meloncat mundur tiga tindak menghindari jotosan yang dahsyat itu.

Ngo Kong Toa-su cepat-cepat mengambil toyanya di lantai dan mengemplang lawannya lagi dengan seluruh tenaganya Co Hiong tangkap toya itu. Ngo Kong Toa-su betot toyanya dan menendang dengan kaki kanannya, tapi Co Hiong berhasil menangkap kaki nya, dan mendorong ke depan sehingga ia terjengkang ke belakang, ia terkejut

"Hebat betul ilmu silatnya!" pikirnya, ia tidak lepas toyanya meskipun lengan kanannya sudah lumpuh, ia tahan tubuhnya, lalu menerkam ke depan lagi dengan jurus Tiau Hut Lam Hai atau Ombak besar menyapu lautan selatan,

Kali ini Co Hiong yang berbalik menjadi terkejut ia pikir: "Hweeshio tua ini hebat sekali, Meskipun lengan kanannya telah lumpuh, tapi ia masih dapat menerkam seperti kucing hutan." ia harus menangkis dan berkelip karena si Hweeshio telah pulihkan lengan kanannya dengan tenaga dalamnya, dan sedang menyerang bertubi-tubi dengan jurus-jurus Cap pwee Lo Han Ciang atau Tinju maut terdiri dari delapan belas jurusan!

Setelah Co Hiong menangkis tiga jotosan, ia membalas menyerang dengan tiga jotosan pula sambil terus pegang kencang-kencang toya lawannya, Mereka hanya terpisah dua kaki saja jauhnya, Dalam jarak yang dekat itu masing-masing menyerang atau menangkis dengan satu lengan atau tangan saja, tapi tiap-tiap pukulan, jotosan dan totokan itu berarti maut!

Demikianlah mereka bertempur selama dua puluh jurus, Ngo Kong Toa-su lebih kuat tenaganya, tapi Co Hiong lebih pandai dalam hal berkelit diri Co Hiong bertempur sambil sebentar-sebentar mengawasi pemuda baju hijau yang sedang menguruti punggungnya Lie Ceng Loan yang ia sangat gilai, Si Hweeshio tua bertempur dengan penuh perhatian dan kesungguhan demi keselamatan puteri angkatnya dan Pek Yun Hui.

Co Hiong mengerti bahwa pemuda baju hijau itu sedang mengobati Lie Ceng Loan, tetapi ia merasa heran mengapa Lie Ceng Loan yang ia telah bebaskan semua jalan-jalan darah pentingnya belum juga sembuh? Dalam saat bingungnya itu Ngo Kong Toa-su berhasil mengirim satu jotosan hcbat, Co Hiong tak keburu menangkis, ia harus lepaskan pegangan kepada toya lawannya dan mencondongkan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari jotosan lawannya yang dahsyat itu, lalu loncat ke pintu untuk menjumput pedang dan lingkaran-Iingkaran emasnya di lantai

Kemudian dengan pedang di tangan ia berdiri tegak mengawasi Lie Ceng Loan dan pemuda baju hijau di atas ranjang, juga Ngo Kong Toa-su yang sedang menghampiri

Ngo Kong Toa-su setelah dapat mengendalikan toya-nya, sebetulnya ingin menyapu lawannya dengan dua kemplangan toyanya, Tetapi setelah lihat pedang terhunus dan lingkaran- lingkaran emas itu, ia khawatir jika ia terus bertempur keselamatannya Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui terancam, karena senjata tajam itu dapat melanggar dan melukai kedua gadis di atas ranjang, Maka ia tidak menyerang, ia berdiri di depan ranjang menghadapi Co Hiong. Sikap itu dapat diterka oleh Co Hiong lalu ia menanyai "Hei, siapakah pemuda yang menggunakan pakaian hijau itu? Apakah ia sedang mengobati Lie Ceng Loan?"

"Kau tidak perlu tahu siapa dia!" jawab Ngo Kong Toa-su dengan ketus: Tapi ia betul sedang mengobati Lie Ceng Loan!"

Co Hiong tertawa dan berkata: "Apa salahnya jika aku menanya? Jika ia sedang mengobati Lie Ceng Loan, aku menjadi bebas dari tugas mengobati dia!" Lalu ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu.

Ngo Kong Toa-su mengejar dan menegur "Mendengar ucapanmu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau datang ke sini untuk mengobati Lie Ceng Loan!"

Co Hiong berhenti dan berbalik "Jika aku datang dengan maksud menganiaya dia, meskipun dia mempunyai dua puluh jiwa pun dia tak dapat hidup lama!" jawab Co Hiong.

Ngo Kong Toa-su belum menyahut, dari dalam kamar terdengar suara mengejek: "Hm! Jika kau tidak membebaskan jalan-jalan darahnya, hawa dingin yang berbahaya tak dapat menyerang jantung, nyali dan limpanya, Hampir-hampir ia meninggal dunia karena perbuatanmu yang kepalang tanggung itu!"

Co Hiong menoleh ke arah orang yang mengejek itu, yang sedang berdiri di pinggir ranjang dengan wajah pucat dan tampaknya sangat letih. sebetulnya ia benci terhadap pemuda baju hijau itu, tetapi setelah ia ingat cara ia ditotok, ia menjadi gentar.

Ketika itu Giok Cin Cu juga sudah datang dengan pedang terhunus "Hanya si Hweeshio tua dan rahib wanita ini sudah sukar aku lewali, Ditambah dengan pemuda baju hijau yang mempunyai ilmu silat tinggi, aku pasti kalah. Lebih baik aku lekas-Iekas berlalu dari sini," pikir Co Hiong, Lalu ia bertindak keluar Giok Cin Cu coba mencegat, tapi sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke samping, dengan pedangnya ia menyabet ke kanan dan menyapu ke kiri, ia berhasil melewati Giok Cin Cu.

Pek Yun Hui melihat bahwa sabetan dan sapuan itu adalah serangan-serangan yang dapat menotok jalan-jalan darahnya Giok Cin Cu. ia terperanjat. Lalu dengan tak menghiraukan tubuhnya yang sudah letih, ia lari menerkam Co Hiong, Co Hiong berbalik dan menusuk dengan pedangnya, Pek Yun Hui semprot pedang itu sambil mengebatkan lengan baju nya.

Pedang Co Hiong terhempas ke samping, dan secepat kilat pergelangan tangan kanannya dipijat oleh Pek Yun Hui.

Co Hiong terkejut ia loncat mundur tiga langkah, dan rubah jurus-jurus ilmu pedangnya, Pedang dan ling-karan-lingkaran emasnya tampak berkilau-kilau,

Pek Yun Hui bertempur dengan menggunakan kedua lengan bajunya yang hijau: tangan kirinya menangkis serangan-serangan pedang, tangan kanannya menyerang Dalam sekejapan saja mereka telah bertempur lima jurus, Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu menyaksikan mereka bertempur dengan luar biasa cepat dan lihaynya sehingga mereka berdiri terpaku, Tiba-tiba terdengar satu jeritan dan Co Hiong loncat mundur satu tindak lebih, Tapi Pek Yun Hui berkelit, lalu menotok pundak kirinya Co Hiong siapa harus loncat mundur lagi dan melarikan diri.

Pek Yun Hui tidak mengejar lagi, karena wajahnya kelihatan pucat sekali, Lengan kanannya tergantung seolah- olah tulangnya patah, Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu datang memburu dan menanyai "Pek Siocia, apakah kau terluka?"

Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjawab sambil tersenyum: "Tidak apa-apa. Dia telah berhasil menotok jalan darah di sikutku!" Segera ia kerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan jalan darah yang telah tersumbat "Melihat caranya dan bertempur ilmu silat pedang dan ilmu pukulannya itu mungkin dari partai silat pegunungan Altai, Tapi aku sangsi jika ilmu-ilmu silat dari Allai masih ada orang yang dapat mewarisinya."

Kemudian ia berbalik dan masuk lagi ke dalam kamarnya Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu telah mengetahui tentang kitab ilmu silat Kui Goan Pit Cek yang digemari dan dikejar-kejar para jago silat Ketika Pek Yun Hui menyebut partai silat Altai, mereka ingat akan San Im Shi Ni yang bersama-sama Giok Liong Cin Jin telah menyusun kitab tersebut yang memberi petunjuk-petunjuk ilmu silat yang luar biasa tingginya,

Kini Lie Ceng Loan sudah sembuh betul, karena semua hawa dingin telah berhasil dikeluarkan dari tubuhnya.

Melihat mereka masuk, dengan tersenyum Lie Ceng Loan menanyai "Pek Cici, apakah Supek dan Cici telah dapat mengusir Co Hiong pergi?"

"Orang itu busuk sekali! Di kemudian hari bila kau berjumpa dengan dia, kau harus waspada, Pada setengah tahun berselang, ketika kau menderita luka di pegunungan Cie Lian San, jika aku tidak keburu datang, kau sudah..." jawab Pek Yun Hui, ia tidak meneruskan kata-kataya, ia merasa ragu-ragu untuk memberitahukan seluruhnya.

Tapi Lie Ceng Loan memotong pembicaraannya dengan berkata: "Dia adalah kawan karib Bu Koko, jika aku menyinggung padanya, aku akan dimarahi Bu Koko."

Pek Yun Hui telah ketahui bahwa Lie Ceng Loan adalah seorang gadis yang suci dan polos jujur, bahwa ia tak dapat menjelaskan dengan ucapan-ucapan yang menyindir ia khawatir melukai hatinya jika ia jelaskan duduknya perkara. ia bungkam!

Barusan ia telah bertempur melawan Co Hiong meskipun ia harus mengambil resiko besar karena tenaga dalam dan semangatnya belum pu!ih. ia berhasil mengalahkan Co Hiong, tetapi ia pun kena ditotok jalan darahnya di sikutnya, ia bisa dengan lantas membebaskan jalan darah yang tersumbat ttu, tapi ia telah hamburkan banyak tenaga, Maka ia berbaring di atas ranjangnya Lie Ceng Loan, lalu memejamkan kedua matanya untuk beristirahat

Lie Ceng Loan tak berani mengganggu ia menubruk ayah angkatnya, Melihat muka yang segar dari puteri angkatnya, Ngo Kong Toa-su menjadi girang sekali.

"Loan Jie, betulkah aku sudah sembuh?" serunya.

Lie Ceng Loan mengangguk, dan menyahut: "Aku telah sembuh betul akan tetapi Pek CicL.," ia tidak dapat meneruskan kata-katanya lagi, ia melihat keadaan di sekitarnya, lalu menanyai "Mana Suhu dan Liong Cici?"

"Toa Supekmu telah berjanji mengadu silat dengan Giok Siu Sian Cu, sampai kini lima hari dia belum kembali Suhumu telah menjaga kau hampir enam hari enam malam, tidak pernah berlalu dari rumah gubuk ini, Setelah melihat Pek Cici keluar untuk mengusir Co Hiong, dia mengetahui bahwa kau sudah sembuh. Mungkin dia sedang mencari Toa Supekmu!"

Dengan air mata berlinang, Lie Ceng Loan berkata: "Supek, kau jaga Pek Cici, dan aku juga ikut Suhu mencari Toa Supek!"

"Kau baru saja sembuh, Biarlah aku yang pergi, dan kau diam di sini bersama Pek Cicimu," kata Ngo Kong Toa-su. Lalu ia keluar dari kamar Lie Ceng Loan mengejar tapi si Hweeshio tua sudah tidak kelihatan lagi!

ia terharu melihat keadaan di luar Pohon-pohon Bwee berkembang baik. ia masuk kembali dan duduk di samping Pek Yun Hui,

-ooo0ooo-

Liong Giok Pin dirangsang asmara Setelah Co Hiongdibikin tunduk oleh "Jari Saktinya" Pek Yun Hui, ia yakin ia bukan tandingannya Pek Yun Hui. Oleh karena itu ia mencari kesempatan untuk lekas-lekas berlalu.

Setelah berlari-lari kurang lebih sepuluh lie jauhnya, ia rasakan pundak kirinya dan pergelangan tangan kanannya yang telah ditotok oleh Pek Yun Hui mulai mengilu, ia terkejut dan berhenti untuk mengerahkan tenaga dalamnya menyembuhkan lukanya dari totokan-totokaa Tetapi ia segera rasakan seluruh tubuhnya menjadi sakit dan lambat laun kedua lengannya sukar diangkat ia insyaf bahwa ia telah ditotok oleh lawan yang ilmu silatnya lebih tinggi daripada ia.

Ketika itu ia berada di suatu puncak, dan jurang tersebut sangat curam dan tinggi sehingga tidak kelihatan bawahnya, ia tak dapat meneruskan perjalanannya dengan tubuh yang separoh lumpuh ilu, karena bila ia tergelincir, ia pasti jatuh ke bawah dan tewas, ia duduk di atas rumput berusaha memulihkan atau membebaskan jalan-jalan darahnya yang tersumbat karena totokan

Baru saja ia hampir tertidur, ia terkejut mendengar suara kaki orang berlari ia buka kedua matanya lebar, dan menoleh ke jurusan suara itu. ia melihat satu laki-laki yang tegap dan gagah, berusia lebih kurang tiga puluh tahun, memegang sebuah pedang, datang menghampiri padanya.

Orang itu berhenti setelah berada kira-kira dua depa dari Co Hiong dan menuding dengan pedangnya ia menegur "Siapakah kau? Mengapa kau duduk di tempat yang terpencil ini?"

Setelah mengawasi agak lama, Co Hiong mengenali bahwa orang itu adalah yang berlatih silat dengan seorang rahib wanita ketika ia baru masuk ke pegunungan Kun Lun. Ketika itu ia pun merasa banyak baikan dan ia menjawab sambil tersenyum: "Pegunungan Kun Lun bukannya milikmu seseorang, Mengapa aku tak boleh duduk di sini?" Orang itu terperanjat mendengar jawaban itu. ia mengawasi Co Hiong lebih teliti sebelumnya ia berkata lagi: "Betul! Meskipun pegunungan Kun Lun bukannya milikku atau milik partai Kun Lun, tetapi di dalam daerah yang luasnya sepuluh lic di sekitar puncak Kim Teng Hong ini, orang tak dapat masuk tanpa izin!"

Co Hiong bangun dan berdiri tegak, ia berkata, suaranya keras: "Aku telah masuk tanpa izin! Apa yang kau hendak perbuat terhadap aku?"

Orang itu menjadi marah, ia membentak: "Kau betul-betul kurang ajar!" Ucapan itu ia barengi dengan tusukan pedangnya,

Co Hiong hanya menyondongkan tubuhnya sedikit ke samping dan mengegosi tusukan itu, lalu loncat dan mengirim satu jotosan dengan tinju kirinya. Orang itu lekas-Iekas loncat mundur dan berdiri menghadap lawannya dengan kedua mata yang beringas.

jika Co Hiong tidak luka, tinju tangan kirinya itu pasti menemui sasaran ia masih merasa sakit, dan tak dapat menggunakan lengan kirinya, Oleh karena itu, ia pun loncat mundur dua langkah karena ia khawatir lawannya menyerang dengan tusukan-tusukan atau bacokan-bacokan lagi, ia yakin dengan keadaan tubuhnya itu, ia tak dapat melawan meskipun seorang murid partai Kun Lun. Ketika itu ia hanya dapat menggunakan dengan leluasa kedua kakinya.

Orang itu datang menyerang lagi dengan sabeltn pedangnya. Untuk menghindarkan diri dari sabetan itu, ia harus tendang lengan kanan lawannya jurus Kwi Sing Ti Tauw atau Bintang sapu membentur bintang sabit, Orang itu kena tertendang dan merasakan sakit, lalu dia bertempur dengan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat (ilmu silat pedang memancarkan sinar) sehingga daerah yang sempit itu menjadi terang dari sinar pedang yang berkilau-kilau, dan Co Hiong dipaksa meloncat ke kiri dan ke kanan Setelah pertempuran berlangsung dua puluh jurus lebih, Co Hiong sudah berkeringat meskipun ilmu silatnya jauh lebih unggul daripada murid partai Kun Lun itu. ia merasa bahwa ia tak dapat menyerang dengan anggota tubuh bagian atas yang hampir lumpuh, Setelah bertempur sepuluh jurus lagi, rupanya darahnya mulai beredar lancar lagi di bagian atas tubuhnya, dan luka-luka dari totokan Pek Yun Hui makin terasa kan sakitnya.

Orang yang menyerang Co Hiong itu bernama Oey Ce Eng, murid ke satu dari Tong Leng Tojin yang memegang pimpinan kuil Sam Goan Kong, Diantara beberapa puluh murid partai Kun Lun, ia adalah yang terpandai, Setelah melihat cara-cara Co Hiong mengegos, mengelit, meloncat menghindarkan diri dari serangan pedangnya ia yakin bahwa lawannya lebih pandai daripada ia, meskipun ia bersenjata, ia tak dapat menaklukkan lawannya.

Ia hanya merasa heran mengapa lawannya hanya menggunakan kedua kakinya untuk bertempur Kemudian setelah melihat lawannya berkeringat dan mukanya menjadi pucat, ia berhenti menyerang, ia mundur dua langkah dan menanyai "Jika kau tidak menggunakan senjata tajam melawanku, aku khawatir dalam sepuluh jurus lagi, kau akan tewas di bawah pedangku. Lagi pu!a, aku Oey Ci Eng tidak sudi diganda, dan tak akan melawan lagi jika kau tidak bertempur dengan menggunakan pedangmu!"

Co Hiong tersenyum: "Jika aku menyerang, meskipun tanpa senjata, kau pasti akan terluka parah atau tewas!" jawabnya,

Oey Ci Eng menjadi murka, ia membentak: "Ha! Kau mulut besar! Kau boleh gunakan senjatamu, dan lihat siapa diantara kita yang luka parah!" Ucapan itu ia barengi dengan tiga serangan yang berturut-turut

Ketiga serangan itu bukan main cepatnya dan mendesak Co Hiong mundur sampai ke pinggir jurang, Satu sodokan lagi saja mungkin Co Hiong tergelincir jatuh ke bawah jurang, Tetapi Oey Ci Eng tidak menyerang terus, ia tarik kembali pedangnya dan berkata sambil tertawa: "Meskipun kau berilmu tinggi, tetapi tanpa senjata, kau sama saja juga mencari jalan kematianmu Ayo gunakan senjatamu!"

Co Hiong menoleh ke belakang dan melihat jurang yang curam dan berbahaya itu. Lalu ia menjawab: "Nah, coba tangkis seranganku ini!" ia loncat menubruk lawannya!

serangan itu cepat sekali, Oey Ci Eng terpaksa loncat mundur tiga langkah sambil menyabet dengan pedangnya, ia segera melihat Co Hiong, dengan kedua mata mendelik dan menggertak gigi, memijat lengan kanannya yang memegang pedang!

Oey Ci Eng terkejut Secepat kilat ia geprak tangan kanan lawannya dengan tinju kirinya. Co Hiong condongkan tubuhnya, tangan kirinya mengikuti tinju kiri lawannya dan memijat sikut lawannya, jika Co Hiong tidak menderita luka- luka di dalam tubuh, lengan kiri lawannya pasti remuk tulangnya, Tetapi dengan bagian atas tubuhnya yang hampir lumpuh itu, ia hanya dapat mendesak lawannya loncat mundur, meskipun untuk pijatan-pijatan itu, ia merasa lukanya bertambah sakitnya!

Oey Ci Eng loncat mundur dua depa lebih, ia rasakan lengannya yang kena pijat itu menjadi !umpuh, ia mengawasi lawannya dengan kagum. ia kira lawannya sengaja tidak ingin membunuh ia. Maka ia berkata: "Aku Oey Ci Eng berterima kasih atas kemurahan hatimu, Aku yakin kau dapat membunuh aku tadi jika kau mau." Lalu ia berbalik dan lari pergi!

Co Hiong berdiri tertegun melihat sikap lawan nya. Ketika itu ia merasakan pundak kiri dan lengan kanannya bukan main sakitnya. ia lekas-lekas duduk lagi dan memejamkan kedua matanya untuk menyembuhkan luka-lukanya dengan tenaga dalamnya,

Setelah berkurang rasa sakitnya ia buka kedua mata-nya. ia tarik napas melihat awan-awan putih di langit ia berkata kepada dirinya sendiri: "Mustahil aku Co Hiong ini tidak dapat bertempur lagi di kemudian hari? Ai, ilmu silat yang aku telah pelajari dengan susah payah selama sepuluh tahun lebih sia- sia belaka!"

ia mengertak gigi dengan penasaran ia gemas terhadap Pek Yun Hui yang telah melumpuhkan ia.

"Berapa lama lagi aku dapat hidup dengan tubuh serupa ini?" ia berseru sambil membanting kaki, "Per-cuma aku hidup dengan keadaan tubuh seperti ini, lebih baik aku lekas-lekas mati!"

Kisah-kisah lampau yang telah dialaminya dalam pikirannya ia ingat akan ilmu silat yang ia telah dapat pelajari dari gurunya semenjak ia berusia sembilan tahun, ia belajar ilmu silat bersama-sama Sumoynya, Souw Hui Hong, sampai mereka menjadi dewasa dan senantiasa hidup berdamping- dampingan, mereka telah saling cinta mencintai, kemudian setelah ia menjumpai Lie Ceng Loan, ia tergiur dan tertarik oleh wajah yang cantik, sikap ramah dan watak yang suci murni gadis itu, dan oleh karena Lie Ceng Loan, ia telah lupakan Souw Hui Hong, dan berdaya upaya dapatkan Lie Ceng Loan meskipun ia harus datang ke pegunungan Kun Lun yang jauh sekali dari tempat kelahirannya ia gemas jika memikiri bahwa ia telah ditotok oleh orang yang lebih pandai daripadanya, dan ia menjadi lumpuh, sehingga semua ilmu silat yang ia telah miliki menjadi hampa!

"Hm! Jika bukan karena Lie Ceng Loan, aku Co Hiong tidak akan menjadi begini!" ia berseru, Dan ia merasa sakit sekali pada bagian atas tubuhnya dan bertambah sakitnya di waktu ia bertegang.

Entah berapa lama sudah ia berdiri di atas puncak itu seperti seorang yang dungu, Tiba-tiba ia teringat akan kitab catatan San Im Shi Ni. Mungkin di dalam kitab itu ia dapat menemui ilmu yang dapat menyembuhkan luka-luka di dalam tubuhnya, pikirnya. Setelah melihat keadaan di sekitarnya, lalu ia mencari jalan untuk turun dari puncak itu. Sambil berjalan ia berpikir lagi tentang pertempuran melawan Oey Ci Eng tadi, ia khawatir kalau Oey Ci Eng pergi melaporkan peristiwa tadi, ia akan dikejar, dan mungkin juga kitab catatan San Im Shi Ninya dirampas oleh partai Kun Lun, ia tak berdaya karena luka- lukanya. Dengan kecemasan itu ia lekas-lekas mencari empat untuk bersembunyi

jurang yang curam itu harus ditempuh dengan susah payah, ia baru tiba di kaki puncak setelah memakan tempo setengah jam.

Lembah di bawah jurang tidak luas, tetapi pohon-pohon cemara dan rumput tumbuh dengan suburnya, Co Hiong jalan di lembah itu, setelah menempuh jarak lebih kurang enam lie, ia tiba di suatu tempat yang luas, tetapi dilingkari oleh gunung- gunung di sekitarnya, dan jalan satu-satunya untuk masuk ke tempat itu hanya jalan yang ia barusan tempuh,

Di tengah-tengah tempat itu ada satu kolam dengan airnya yang jernih bening, ia merasa berada di suatu dunia yang indah, Tempat yang terpencil dan sunyi senyap itu baik sekali untuk ia bersembunyi pikirnya, Di sebelah utara Co Hiong melihat satu gua batu, satu kaki lebar dan enam kaki tingginya, ia datangi gua itu, dan masuk ke dalamnya, Baru saja ia berjalan lebih kurang 10 langkah, ia harus berbelok tiga kali, karena jalan di dalam gua itu berliku-liku.

Gelap betul di dalam gua itu, ia tak tahu berapa dalamnya, ia berhenti "Gua batu ini ganjil sekali! Aku khawatir ada binatang buas atau ular berbisa di dalamnya, Aku tak akan berdaya terhadap mereka!" pikirnya, ia ingin keluar lagi, tetapi ia pikir lebih baik ia masuk terus, karena ia tidak berarti lagi soal mati hidupnya. ia lalu jalan terus melalui dua belokan lagi, dan terus jalan di tempat gelap itu sampai ia menjumpai suatu kamar yang dibangun dengan memahat dinding gua i(u. Di dalam kamar ia dapatkan mangkok berisi minyak dan sumbu lampu, ia nyalakan sumbu-sumbu itu. Kamar yang gelap itu menjadi agak terang, Co Hiong yang cerdas itu segera mengetahui bahwa kamar atau gua batu itu ada penghuninya, ia memeriksa dengan cermat, dan memperhatikan suatu dinding batu yang karangnya terbelah, ia menduga bahwa karang yang sedikit terbelah itu mungkin adalah satu pintu rahasia, ia pikir bahwa di dalam gua adalah suatu tempat persembunyian yang terbaik, ia keluarkan kitab catatan San Im Shi Ni dan coba mencari catatan tentang ilmu pengobatan luka-Iuka,

Karena kitab itu adalah harapannya yang terakhir untuk menyembuhkan luka-Iukanya, maka ia membacanya tiap-tiap huruf dengan teliti, Arti daripada catatan di dalam kitab itu tidak mudah dimengerti Sambil membaca, Co Hiong juga dapat mempelajari lebih mendalam ilmu-ilmu silat yang Kiok Gie Hweeshio pernah ajarkan kepadanya, Tapi, bagian belakang, dari kitab yang menuturkan ilmu melatih dan memelihara tenaga dalam, meskipun ia baca berkali-kali, namun tetap ia tidak mengerti ia mencari lagi pada bagian- bagian tentang pengobatan luka-luka di dalam tubuh, juga tanpa hasil!

Dengan rasa kecewa ia lempar kitab itu di lahtai, dan duduk bengong mengawasi sumbu-sumbu lampu minyak yang sedang menyala, ia berkata kepada diri sendiri: "Si Hweeshio tua karena dengan berjerih payah, bahkan dengan banyak pengorbanan memperoleh kitab itu. Tetapi sebelum dia dapat pahamkan semua ilmu-ilmu yang tereatat di dalamnya, dia telah dianiaya oleh muridnya sendiri dengan mencongkel keluar kedua biji matanya, membuntungkan kedua betisnya, dan dirantainya di dalam gua.

Dia telah menerima aku sebagai muridnya dengan menyembuhkan aku dari penganiayaan orang, dan telah mengajarkan semua ilmu-ilmu silat yang tinggi kepadaku dengan harapan agar aku dapat mewakili dia membalas dendam kepada muridnya yang durhaka, Untuk mempereepat rencana nya, dia telah serahkan kitab itu untuk aku baca dan pelajari, dan akhirnya dia menjadi korban dari ilmu Hut Hiat Co Kut (menyumbat jalan darah dan mematahkan tulang) yang tereatat di dalam kitab itu.

Sebetulnya setelah aku miliki kitab sakti ini dengan jalan membunuh dia, aku dapat pelajari dan berlatih dengan mahir tiga belas ilmu-ilmu silat yang tinggi, dan kemudian dapat menjagoi di kalangan Kang-ouw, Tetapi sebelum maksudku terkabul, aku telah dianiaya oleh orang lagi! Jika aku mati, maka kitab sakti itu akan jatuh ke dalam tangan orang lain, Ah!

Lebih baik aku bakar musnah kitab itu...!M

ia lalu berdiri tegak, ia pungut kitabnya dan hendak dibakarnya. sekonyong-konyong ia dengar suara kaki orang yang berlari-lari di luar kamar Co Hiong Iekas-lekas tiup padam kedua lampu di dalam kamar, dan berdiri merapat di dinding menanti kedatangannya orang itu. ia keluarkan satu jarum beracun dan berpikir "Jika terpaksa dia mesti mati bersama-sama aku dengan jarum beracun ini!"

Derap kaki itu makin lama makin dekat terdengar-nya, dan terdengar lagi suara seorang wanita, Lalu berkelebat bayangan orang di mulut gua. Co Hiong baru saja angkat lengannya siap melontarkan jarum beracunnya, tiba-tiba ia merasa lengannya sakit dan lumpuh.

Orang itu rupanya insyaf bahwa di dalam gua sudah ada orang, maka ia bertindak maju dengan pedang terhunus Ketika mereka berhadap-hadapan, orang itu menusuk dengan pedangnya Co Hiong lekas-lekas loncat menghindarkan diri dari tusukan, Pada saat itu, ia lihat bahwa orang yang menyerang adalah Liong Giok Pin. Co Hiong berseru: "Kau yang datang?" Lalu ia nya ia kan kedua lampu di dalam kamar itu.

Dengan mengawasi Co Hiong, Liong Giok Pin menanyai "Mengapa kau berada di dalam gua ini?"

"Mengapa aku tak boleh datang ke sini? Apakah tempat ini miliknya partai Kun Lun?" kata Co Hiong dengan congkak, "Karena kau tidak mengetahui ini tempat apa, aku dapat maafkan kau," kata Liong Giok Pin.

Dengan heran Co Hiong menanyai" Apakah gua ini tempat bertapanya guru besar partai Kun Lun?"

Liong Giok Pin mengangguk: "Betul! Gua ini adalah tempat bertapanya angkatan tua dari partai Kun Lun, dan merupakan tempat terlarang. Hanya setelah mendapat izin dari pemimpin kuil, barulah murid Kun Lun dapat datang ke sini," kata Liong Giok Pin.

"Tapi aku bukannya murid partai Kun Lun, dan aku tidak dilarang datang ke sini," kata Co Hiong, lalu ia tertawa.

Melihat Co Hiong tertawa dengan wajahnya yang penuh keringat, Liong Giok Pin menanyai " Apakah kau sedang tertawa atau sedang menangis?"

Ketika Co Hiong tertawa, ia merasa sakit iagi, dan untuk menahan sakitnya itu, keringatnya tak tertahan mengucur keluar ia tidak segera menjawab pertanyaannya gadis itu. Liong Giok Pin lepas pedangnya dan datang menghampiri "SebetuInya kau ini mengapa?" tanya Liong Giok Pin. Ketika itu Co Hiong jatuh karena pingsan. Liong Giok Pin lekas-lekas menahan tubuhnya. X?engan tak menghiraukan segala apa, Liong Giok Pin yang telah tertarik oleh wajahnya Co Hiong, berusaha menolong membebaskan jalan-jalan darahnya.

Segera Co Hiong menjadi sadar kembali, ia terperanjat melihat dirinya dirangkul oleh gadis itu, Ia lekas-lekas hendak bangun, tetapi tidak bisa, ia bertekuk lutut menahan sakit di dalam tubuhnya.

Liong Giok Pin yang menyaksikan dengan kepala matanya sendiri penderitaannya pemuda itu, menanya lagi dengan ramah: "Luka-Iuka yang kau derita parah agaknya, Tempat ini baik sekali untuk kau beristirahat Dan lebih baik kau diam di sini dulu, Kau boleh berlalu setelah sembuh!"

Sebetulnya luka-lukanya Co Hiong makin lama makin hebat ia tak mengetahui Pek Yun Hui telah menggunakan ilmu apa yang membikin ia menjadi orang tak berdaya. ia pejamkan kedua matanya.

Liong Giok Pin mengawasi Co Hiong dengan perasaan cemas. ia khawatir ada orang ketahui Co Hiong sedang berada di dalam gua yang terlarang itu, Menurut peraturan, ia harus menangkap Co Hiong, karena Co Hiong adalah musuh dari partai Kun Lun. Tetapi ia tak berdaya untuk berbuat demikian.

Co Hiong buka kedua matanya dan menanya, suaranya rendah: "Kau katakan tempat ini terlarang. Kini aku telah tak berdaya, karena bagian atas anggota sudah lumpuh, Kau dapat menangkap aku."

Sambil geleng-gelengkan kepala nya, Liong Giok Pin menjawab: "Gua ini betul-betul terlarahg. jalan masuk ke gua ini terjaga, Tapi cara bagaimanakah kau dapat menerobos masuk?"

Co Hiong mengawasi gadis itu, dan menikmati sikap yang ramah, suara yang merdu, disamping muka yang cantik jelita dari gadis itu,

Sebetulnya, sebelumnya Lie Ceng Loan diterima menjadi murid, diantara murid-murid wanita partai Kun Lun, Liong Giok Pin lah yang tereantik, ia lebih sering-sering mengenakan jubah putih, semenjak kehilangan ibu ayahnya, sedari kecil ia telah mengikuti Giok Cin Cu sehingga besar di dalam kuil Sam Goan Kong.

Penghidupan yang terpencil di pegunungan Kun Lun telah membikin ia canggung, dan berwatak dingin, Oey Ci Eng, murid kesatu dari Tong Leng Tojin, telah jatuh cinta kepadanya, dan cintanya tak berubah selama itu, Tetapi Liong Giok Pin tak menghiraukan kasih sayang Oey Ci Eng itu, Guru dan paman serta bibi guru mereka tidak melarang mereka bereumbu-cumbuan asal saja bersikap sopan dan bijaksana,

Oey Ci Eng dan Liong Giok Pin adalah murid-murid pandai di mata Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu, yang anggap mereka patut menjadi pasangan Tetapi Liong Giok Pin tidak setuju dengan pendapat guru dan paman gurunya, dan ketika ia berusia lima belas tahun, ia pernah memohon kepada gurunya, Giok Cin Cu, agar ia dapat dipindahkan kepada supeknya, Hian Ceng Tojin di kuil Sam Ceng Koan, meskipun telah berkali-kali ia me-mohon, tapi Giok Cin Cu tetap meriolaknya,

Akhirnya Giok Cin Cu memperkenankan juga dengan syarat Liong Giok Pin harus menunggu lagi. Ketika Liong Giok Pin tidak memakai jubah lagi, Oey Ci Eng menjadi heran, tetapi ia tak berani menanya sebab-sebabnya. ia hanya menahan kesedihan hatinya, Meskipun ia insyaf bahwa Liong Giok Pin tidak mencinta ia, ia tetap cinta Liong Giok Pin. Untuk menjauhkan diri dari Oey Ci Eng sedapat mungkin, Liong Giok Pin selalu berdaya berada di sampingnya Giok Cin Cu, Tapi Oey Ci Eng tetap cintai ia, dan sering-sering menunjukkan rindu hatinya,

Demikianlah keretakan antara saudara seperguruan itu dengan sikap dingin dari Liong Giok Pin berjalan bertahun- tahun, Akhirnya Liong Giok Pin mengambil keputusan tidak akan menikah untuk membalas kesetiaan dan cintanya Oey Ci Eng yang murni.

Tetapi Liong Giok Pin tidak memperhitungkan betapa hebatnya cinta jika panah asmara telah melukai jantung! semenjak ia berjumpa dengan Co Hiong, ia tak dapat melupakan senyumannya wajahnya, gerak-gerik-nya! Karena cintanya, ia telah lupa bahwa Co Hiong itu adalah musuh dari partai Kun Lun. Kini ia berada berhadapan di dalam gua yang terpencil Dan kekasihnya itu sedang menderita luka parah, ia tak dapat berbuat lain daripada menunjukkan cintanya,

Co Hiong hanya merasa perutnya sakit, dan seluruh tubuhnya panas napasnya sengal-sengal, ia berseru: "Jika....

Jika,., kau tidak menangkap aku, aku... aku pun tak dapat

hidup lama.,.," Dengan suara menghibur Liong Giok Pin berkata:

^tenangkanlah hatimu, Aku akan menjaga kau beristirahat di sini, karena tempat yang terlarang ini hanya aku dan Toa suhengku yang diperbolehkan datang ke sini."

Tapi jika Toa suhengmu datang, bukankah dia juga dapat menangkap aku.,.?" tanya Co Hiong dengan sangat lelahnya,

"Kau jangan khawatir," jawab Liong Giok Pin, "Kini adalah giliranku yang menjaga gua ini, Selama delapan belas hari itu baru Toa suhengku bergilir menjaga, Maka di dalam delapan belas hari ini, kau dapat beristirahat dan berobat dengan tenang di sini."

Ucapan itu dikeluarkan sebagai sikapnya seorang ibu, dan menawan hatinya Co Hiong, ia berpikir "Gadis ini tidak lebih jelek daripada Souw Hui Hong dan tidak kalah ramahnya dibanding dengan Lie Ceng Loan, Rupa-nya ia telah jatuh cinta kepadaku." Baru saja ia hendak pegang tangannya Liong Giok Pin ia segera ingat parah luka-Iuka di dalam tubuhnya,

"Lukaku sangat parah, jangankan delapan belas hari, meskipun aku beristirahat dan berobat di sini tiga puluh delapan, aku khawatir aku tidak bisa sembuh...H kata Co Hiong,

"Tapi." jawab Liong Giok Pin, "Sekarang kau perlu dan harus beristirahat kau tak dapat jalan keluar dari gua ini."

"Perkenankanlah aku menolong mengobati kau, nanti baru kita bicara lagi setelah lewat beberapa hari, Sudahlah, Aku hendak pergi mengambil sedikit makanan dan minuman untuk kau."

Co Hiong tidak dapat menolak lagi, ia tak berdaya. ia lalu berbaring di lantai, sebelumnya berlalu Liong Giok Pin berbisik: "Kau beristirahat di sini dengan tenang-tenang saja, dan paling lambat sebentar malam jam dua aku datang ke sini lagi." Lalu ia pungut pedangnya dan jalan keluar dari gua itu, Liong Giok Pin lari terus dengan hati berdebar-debar, karena ia terserang panah asmara, ia berpikir dengan jalan apa ia dapat menolong Co Hiong dan menyatakan cintanya,

Baru saja ia lari keluar dari jalan lembah yang sempit itu, terdengar ada orang yang menegur dan memanggil padanya, ia berhenti dan menoleh ke arah orang yang memanggil itu. Ia lihat Oey Ci Eng lari mendekat dengan pedang terhunus.

Liong Giok Pin terkejut melihat Toa Suhengnya. Ia khawatir kalau perbuatannya telah diketahui. Ia tundukkan kepalanya dan tidak berani melihat wajahnya Oey Ci Eng.

"Liong sumoay! Mengapa kau? Kau darimana?" tegurnya Oey Ci Eng yang penuh dengan kasih sayang.

Liong Giok Pin angkat kepalanya dan melihat wajahnya Oey Ci Eng yang penuh kasih sayang.

"Aku tidak apa-apa. Barusan aku berlari-lari dan merasa sedikit letih." Jawab Liong Giok Pin. Lalu ia pun berlalu.

Oey Ci Eng menarik napas, lalu berjalan pergi ke lain jurusan, ia agak kecewa sekali. Dengan tak terasa air matanya Liong Giok Pin keluar mengucur. Ia insyaf bahwa ia melukai hatinya Toa suhengnya lagi. Ia ingin memanggil dan menangis dalam rangkulan To suhengnya untuk melampiaskan kesedihan hatinya. Tetapi senyuman dan rayuan Co Hiong berbayang di depan matanya.

Ia susuti air matanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah gubuk dimana Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui sedang menjagai, karena Ngo Kong toa-su dan Giok Cin Cu sedang mencari Hian Ceng Tojin yang bertempur melawan Giok Siu Sian cu.

Pek Yun Hui telah menggunakan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan lukanya yang tertotok oleh Co Hiong. Ketika Liong Giok Pin masuk, Lie Ceng Loan segera loncat dan lari ke pintu dengan pedang terhunus. Tetapi setelah ia mengetahui siapa yang masuk,ia tertawa dan berseru: "Oh Liong cici! Apakah kau menjumpai suhu?" Liong Giok Pin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak!" jawabnya. "Bagaimana keadaan Pek Cici?"

"Pek cici sedang menggunakan tenaga dalamnya menyembuhkan luka di dalam tubuhnya, dia telah memejamkan kedua matanya selama tiga jam. Ai! Karena aku, aku telah membikin susah kepadanya!"

Liong Giok Pin berpikir: "Co Hiong dilukai oleh Pek Yun Hui dan Pek Yun Hui pasti mengetahui bagaimana mengobatinya. Tetapi dengan jalan apakah aku dapat mendesak dia menolong Co Hiong ?"

Melihat Liong Giok Pin diam membungkam, Lie Ceng Loan menanya: "Liong cici, apa yang kau pikirkan?"

Seperti orang yang dibangunkan dari mimpinya, Liong Giok Pin terkejut. Mukanya menjadi merah, ia menjawab dengan tergesa-gesa: "Aku sedang memikir Bu Kokomu, mengapa ia belum kembali?"

Tetapi kata-kata dusta yang tak sengaja diucapkan Liong Giok Pin itu telah menusuk hatinya Lie Ceng Loan. Ia tersenyum getir. Ia berkata: "Bu koko telah pergi kembali, meskipun sudah hampir lewat delapan bulan. Apakah ia menjumpai rintangan di perjalanannya?" kata Lie Ceng Loan dengan air mata mengucur dari kedua pipinya.

Liong Giok Pin pun mengucurkan air mata bukan terhadap sumoaynya tetapi ia memikirkan penderitaan Co Hiong di dalam gua.

"Liong cici, apakah kau juga memikirkan Bu koko?" tanya Lie Ceng Loan setelah melihat Liong Giok Pin memangis.

Mukanya Liong Giok Pin menjadi merah karena jengah, tapi ia segera simpangkan pembicaraan.

"Apakah kalian sudah makan nasi?" tanyanya menyimpang. Lie Ceng Loan menggeleng-gelengkan kelapa "Belum. Aku menjaga Pek Cici, aku tak mempunyai waktu untuk makan." jawabnya,

Sambii tersenyum Liong Giok Pin berkata: "Baiklah, aku akan sediakan makanan untuk kalian."

"Aku sebetulnya beruntung kata Lie Ceng Loan sambil menarik napas. "Meskipun aku tak mempunyai ibu dan ayah, tetapi semua orang baik terhadapku Bahkan Pek Cici, kau dan Co Hiong juga tidak terkecuali

BeIum lagi ucapannya selesai, Lie Ceng Loan dengar Pek Yun Hui berkata: "Apa? Co Hiong yang durhaka itu? ia sekarang tak akan dapat berbuat keji dan durhaka lagi!"

Liong Giok Pin terkejut, ia menanyai "Mengapa? Apakah ia akan mati?"

"Meskipun aku tidak membunuh mati dia, tetapi dia telah tak dapat menggunakan ilmu silatnya lagi, dan seumur hidupnya, ia tak dapat melawan orang lain lagi!" jawab Pek Yun Hui dengan tenang,

Liong Giok Pin berdiri terpaku mendengar ucapan tlu, sebetulnya ia ingin menanya dengan jalan apa dapat menolong Co Hiong, tetapi setelah mendengar kata-kata Pek Yun Hui yang penuh rasa kebencian, mulutnya seakan tersumbat! ia tak berani melihat Pek Yun Hui, karena ia merasa berdosa, dan ia anggap Pek Yun Hui dapat melihat hatinya yang sudah mulai berkhianat

Lie Ceng Loan yang polos berkata: "Pek Cici, Co Hiong adalah kawan karibnya Bu Koko, jika Cici membunuh mati dia, Bu Koko, setelah mengetahuinya, pasti menjadi gusar."

Pek Yun Hui menjawab sambil tersenyum: "Dia tak akan mati, aku hanya menotok jalan darahnya di bagian pundak kiri dan lengan kanan, Dia tidak boleh berlatih silat lagi, atau bertempur melawan jago silat lain. Dia harus beristirahat dia tak akan mati. Tetapi jika dia keluarkan tenaga ia tentu merasa sakit di seluruh tubuh-nya "Pek Cici!" tanya Lie Ceng Loan, "Apakah ada jalan untuk menolong dia?"

"Ada!" jawab Pek Yun Hui, Tetapi kalau dia ditolong, entah berapa orang lagi akan tewas di tangannya?"

"Baiklah," kata Lie Ceng Loan seperti anak manja, "Pek Cici ajarkan aku cara menolongnya."

"Untuk apakah kau pelajari cara-cara menolong orang yang menderita luka di dalam tubuh?" tanya Pek Yun Hui.

"Jika aku menjumpai dia, aku akan memberitahukan dia cara menolong dirinya menyembuhkan luka-Iuka di dalam tubuhnya." jawab Lie Ceng Loan,

Pek Yun Hui tidak menjawab, ia mengawasi gadis yang jujur itu, seolah-olah ingin mendampratnya.

Lie Ceng Loan menghampiri dan berkata dengan ramah: "Cici jika tidak sudi memberitahukan atau mengajarkan ilmu itu, aku pun tidak mendesak, Harap Cici jangan gusar."

Pek Yun Hui rendah hatinya, dan dengan terharu ia menjawab: "Aku bukan tidak ingin mengajarkan ilmu itu kepadamu, tetapi aku tidak ingin dia sembuh Jika dia sembuh, dia pasti akan menganiaya lebih banyak orang lagi dan lebih banyak orang menjadi korbannya!"

Lalu ia mengusap-usap rambutnya Lie Ceng Loan dan berkata lagi: "Aku sangat sayang kepadamu kelak semua kepandaianku aku akan wariskan kepadamu, Kini kau belum kuat betul, dan dasar daripada ilmu silatmu belum teguh, Dari itu belum waktunya kau pelajari ilmu-ilmu silat dan lain-lain dari aku. Sabarlah."

"Aku memang yakin bahwa Cici sayang aku. Tetapi jika cici tidak kasih tahu cara mengobati Co Hiong, dia tak akan sembuh, dan dia akan menjadi seorang cacad seumur hidupnya, Bagaimana kalau Bu Koko dapat ketahui?

Bukankah Co Hiong kawan karibnya Bu Koko? Bu Koko pasti maki aku, dan katai aku tidak mengenal budi orang.. Bukankah dia di Cie Lian san pernah menolong jiwaku? Aku akan melupakan budinya itu,? Aku tidak perlu belajar semua ilmu-ilmu silat dari Cici, aku hanya mohon cici mengajarkan cara mengobati Co Hiong.

-ooo0ooo-

Apakah jurang yang dalam mengambil korban?

Melihat sikapnya yang polos dan wajahnya yang simpatik,

Pek Yun Hui tidak tega mengecewakan gadis itu, ia menghela napas, "Baiklah, aku memberitahukan," jawabnya.

Lie Ceng Loan menjadi gembira "Betulkah Cici ingin memberitahukan kepadaku?" tanya Lie Ceng Loan.

"Kau masih muda dan tak dapat membedakan apa yang baik dan apa yang buruk, Tetapi kau selalu menarik perhatian. Meskipun kau telah memiliki ilmu silat yang tinggi aku khawatir, kau tak akan luput dari bahaya-bahaya di kalangan Kang-ouw," kata Pek Yun Hui. 

"Tetapi setelah Bu Koko kembali aku tak akan berpisah lagi, Dia pasti menolong dan membantu aku. Dengan demikian aku tak usah khawatir orang jahat menganiaya aku," kata Lie Ceng Loan.

"Dia?" Kata Pek Yun Hui, "Dia pun tak dapat membedakan orang yang baik dan orang yang jahat."

"Jika demikian, aku lebih-lebih tak sudi berpisah dari dia, karena dia dengan mudah dapat ditipu atau dianiaya orang," jawab, Lie Ceng Loan. Ia berhenti sebentar, lalu meneruskan "Pek Cici, kau juga jangan berpisah dengan aku."

Pek Yun Hui tersenyum, lalu berkata:" "Ayo! Aku ajarkan cara menolong Co Hiong!"

Liong Giok Pin mengawasi mereka masuk ke dalam kamar, lalu ia pergi ke dapur menyiapkan santapan untuk ia bersantap bersama-sama Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui. Ketika Lie Ceng Loan membantu Liong Giok Pin mencucikan piring mangkok dan sebagainya, ia berkata kepada Liong Giok Pin.

"Pek Cici mengatakan bahwa Co Hiong itu sebetulnya adalah seorang busuk. Tetapi dia menjadi kawan Bu Koko, dan Bu Koko tak akan sudi menjadi kawannya jika dia seorang jahat"

"Betul," jawab Liong Giok Pin, "Aku pun anggap Co Hiong itu tidak jahat."

"Tetapi sekarang aku tidak mengetahui dia berada di mana dan aku tak dapat memberitahukan dia cara menyembuhkan luka-lukanya." kata Lie Ceng Loan.

Liong Giok Pin terkejut "Rupanya cara menyembuhkan luka-lukanya itu sukar sekali, aku kira orang lain tak akan mampu menyembuhkannya," kata Liong Giok Pin.

Dengan tersenyum Lie Ceng Loan berkata: "Pek cici memberitahukan aku bahwa dia telah melukakan Co Hiong dengan ilmu Tian Kong Shin Cit atau ilmu jari sakti, dan telah menotok jalan-jalan darahnya Co Hiong di lengan kanan dan pundak kiri sehingga darahnya di bagian tersebut terhenti jika dia mengerahkan tenaga maka dia segera merasa sakit sekali, Untuk menyembuhkan nya, dia harus jungkir balik atau kakinya di atas dan kepalanya di bawah agar darahnya mengalir berbalik untuk beberapa hari, Hanya dengan demikian dia dapat sembuh."

Liong Giok Pin merasa girang sekali mengetahui cara menyembuhkan itu. "Hm! ilmu Pek Cici betul-betul tinggi sekali!" katanya.

Lie Ceng Loan yang tidak mengetahui maksud daripada sau dari seperguruannya itu terus bicara dengan leluasa: "Pek Cici menotok jalan-jalan darahnya Co Hiong dengan ilmu Tian Kong Shin Cit serentak dengan tenaga dalamnya. Dia mengatakan bahwa Co Hiong memiliki ilmu silat tinggi, dan hanya dengan ilmu Tian Kong Shin Cit, dia baru dapat ditaklukkan ilmu lain dia dapat menyembuhkan sendiri. Kini dia terluka, dan dia tak mampu menyembuhkan dirinya. Jika dia tidak ditolong dalam waktu tujuh hari, maka dia tak akan dapat sembuh lagi dengan cara apapun jua." ia menarik napas panjang, dan air matanya berlinang.

Setelah semua piring, mangkok dan sebagainya dicuci bersih, Lie Ceng Loan melihat Liong Giok Pin bengong saja, ia tak mengetahui bahwa Sucinya itu sedang memikirkan Co Hiong yang menderita di dalam gua. "Liong Cici, apakah kau sedang memikirkan Suhu kita?"

Liong Giok Pin terkejut, dan sambil memegang crat-eral tangannya Lie Ceng Loan ia menjawab: "Suhu telah merawat aku semenjak kecil, dan telah mengajarkan aku ilmu silat Budi Suhu besar sekali, aku tak dapat lupakan." Ketika ia berkata begitu, ia pun betul-betul mengenangkan kasih sayang gurunya selama sepuluh tahun lebih. ia menjadi bingung ketika ia mengingat sedang menyembunyikan Co Hiong, musuh dari partai silat Kun Lun. Bagaimanakah akibatnya bila perbuatannya yang melanggar peraturan partai Kun Lun itu diketahui? Bukankah ia telah berbuat khianat dan akan menghancurkan hati gurunya?

Tapi Lie Ceng Loan tidak mengetahui isi hati Sucinya. Dengan tersenyum, ia berkata: "Suhu baik sekali terhadap kita, Tetapi mengapa dia pergi begitu lama belum juga kembali? Aku menjadi gelisah, Tentang ini lebih baik aku beritahukan kepada Pek Cici."

Dengan terharu Liong Giok Pin menjawab: "Baiklah, Kita akan minta bantuannya Pek Cici pergi mencari Suhu." Ketika itu katanya yang bersih telah dapat menindih pikirannya yang keji, ia ingin beritahukan soal Co Hiong kepada Lie Ceng Loan, dan kemudian menangkap Co Hiong untuk diserahkan kepada Supeknya, Tong Leng Tojin, Tetapi segera juga senyuman Co Hiong yang menawan hatinya terbayang lagi di depan matanya, Untuk menutupi kegelisahan nya ia segera menjawab: "Kau baru saja sembuh, Lebih baik kau lebih banyak beristirahat Jika Suhu malam ini tidak kembali, aku akan beritahukan Supek, agar Supek berusaha mencarinya."

"Dulu soal apapun aku tidak tahu, Kini aku mengerti bahwa orang hidup di dalam dunia ini seringkali mengalami banyak soal-soal yang memusingkan kepala.,." kata Lie Ceng Loan, menghela napas,

Hari lekas menjadi senja, tetapi Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su belum juga kembalL Liong Giok Pin keluar dan mendaki sebuah puncak untuk melihat lebih jauh apakah ada tanda-tanda bahwa Suhunya sedang kembali bersama-sama Ngo Kong Toa-su, tetapi keadaan ketika itu sunyi senyap, dan matahari sedang terbenam di sebelah barat

Segera suasana menjadi gelap, angin gunung meniup sangat dinginnya, Liong Giok Pin teringat akan janjinya kepada Co Hiong bahwa ia akan membawa makanan dan minuman selambat-lambatnya jam dua malam. "Aku harus memenuhi janjiku, Aku akan memberitahukan dia cara menyembuhkan luka-lukanya, setelah dia sembuh, aku akan membujuk dia supaya lekas-lekas berlalu dari pegunungan Kun Lun," berkata Liong Giok Pin seorang diri

Lalu ia kembali ke rumah gubuk, mengambil sedikit makanan dan minuman, dengan waspada ia berlalu dari rumah gubuk itu menuju ke gua di mana Co Hiong bersembunyi Ketika ia tiba di dalam kamar batu di dalam gua itu, ia tampak Co Hiong sedang duduk diam, ia letakkan makanan dan minuman di lantai, lalu berkata sambil tersenyum: "Kau tentu sudah lapar betul Makanan ini adalah aku yang masak. Daharlah."

Co Hiong mengambil makanan itu, tetapi baru saja ia angkat tangannya, ia segera meringis karena merasa sakit, ia memandang kepada Liong Giok Pin dan berpikir: "Di daerah ini selainnya bangunan kuil Sam Goan Kong, tidak ada bangunan-bangunan lainnya dan makanan ini yang rupanya lezat, di manakah dia membuatnya?" Liong Giok Pin yang melihat Co Hiong tidak segera memakannya lalu menanya: "Mengapa kau tidak makan? Bukankah kau sudah lapar?"

"Apakah makanan ini dari kuil Sam Goan Kong?" tanya Co Hiong,

"Aku masak ini di dalam rumah gubuk di mana Lie Ceng Loan tinggal," jawab Liong Giok Pin, "Apakah kau takut bahwa aku taruhkan racun?"

Jawaban itu membuyarkan semua kecurigaannya Co Hiong. "Aku bukan curiga, aku pereaya akan kejujurannya aku hanya ingin tahu saja," kata Co Hiong dan ia mulai makan.

"Bagaimana rasanya makanan yang aku masak ini?" tanya Liong Giok Pin.

"Enak benar," jawab Co Hiong, "Tetapi meskipun lezat makanan ini tak dapat menyembuhkan luka-luka-ku."

Liong Giok Pin mengawasi wajah yang muram dari Co Hiong, ia berkata: "Betapapun hebatnya luka-lukamu, masih dapat disembuhkan."

Co Hiong pejamkan kedua matanya tidak menjawab, Liong Giok Pin bertindak keluar dari kamar di dalam gua itu, ia menghampiri kolam di luar goa dan duduk di pinggirnya, Hatinya gelisah. Apakah ia harus benci atau menolong Co Hiong? Tiba-tiba dia dengar tindakan kaki orang yang sedang mendekati ia menoleh, dan melihat Co Hiong sedang lari keluar dari gua dan terus menuju ke jalan di dalam lembah yang sempit itu.

Liong Giok Pin mengejar dan segera menahan sambil berkata: "Di depan lembah ini ada orang yang jaga, Dengan luka-lukamu ini, kau tak dapat luput dari mata mereka, kau pasti akan tertawan!"

Dengan senyuman pahit getir Co Hiong menjawab: "Jika aku terus diam di dalam gua itu, sama saja seperti ditawan juga!" "Ayo kau kembali, dan aku akan beritahukan kau caranya menyembuhkan luka-Iukamu." Liong Giok Pin membujuk

Co Hiong tertawa dan mengejek: "Ha! Aku sendiri tak mengetahui cara menyembuhkannya. Mustahil kau dari partai Kun Lun bisa menyembuhkannya?" Segera ia meringis lagi karena kesakitan Dengan tertawa ia telah mengerahkan tenaga, maka ia segera merasakan sakiL ia berlutut di tanah menahan sakitnya,

Melihat penderitaan itu, Liong Giok Pin tidak tega. ia angkat Co Hiong sambil berkata: "Kau telah dilukai oleh ilmu Tian Kong Shin Cit, dan dua jalan darahnya, ialah Sayo dan Sao-im (pipa darah hidup dan pipa darah mati), telah terluka, Jika tidak lekas-lekas dibikin sembuh, maka dalam waktu tujuh hari, kau akan menjadi seorang cacad! ilmu Tian Kong Shin Cit itu adalah ilmu silat yang luar biasa tinggi nya, yang hanya melukai dalam tubuh.

Di luar kau kelihatannya sehat, tetapi dalam tubuhmu luka parah, karena sebagian besar peredaran darahmu tersumbat tak dapat beredar Jika dalam tujuh hari kau tidak tertolong, maka kau akan menjadi lumpuh!"

"Betul!" jawab Co Hiong, "Kini aku baru mengetahui bahwa jalan-jalan darah Sayo dan Sao-im telah terluka, dan dua jalan darah itu merupakan jalan darah yang terpenting. "

Liong Giok Pin tidak menunggu habis kata-kata Co Hiong, ia memotong: Tetapi aku mengetahui cara menyembuhkan nya."

Dengan setengah pereaya Co Hiong menanyai "Dengan cara apakah aku dapat sembuh. "

Liong Giok Pin tidak segera menjawab, ia balik badan dan jalan menuju ke gua. Co Hiong yang cerdik dan cerdas, dan yang telah mengetahui bahwa gadis itu telah terpikat hatinya, lalu mengejar ia insyaf bahwa sebegitu jauh ia belum pernah menyatakan terima kasihnya atas semua pertolongan gadis itu.

Liong Giok Pin terus masuk ke dalam gua dan mengumpulkan piring, mangkok dan sisa makanan, Ke-tika ia hendak keluar, Co Hiong mencegat dan membentak "Kau telah datang ke sini untuk menengoki aku, tetapi kau tak menolong menyembuhkan aku. Ayo, bunuh saja aku!"

Liong Giok Pin coba keluar, tetapi Co Hiong masih menghalaunya, Lalu satu tinju dikirim ke dadanya Co Hiong, dengan maksud agar Co Hiong mengegos ke samping, dan ia dapat loncat ke lain samping untuk lari keluar, Tetapi Co Hiong tak dapat mengelakkan nya, ia terpukul dan jatuh terlentang di tanah!

Liong Giok Pin tidak tega melihat pemuda itu jatuh tak berdaya, Buru-buru ia mengangkat bangun sambil menanyai "Apakah aku telah melukakan kau lagi?"

"Jika kau benci aku, bunuhlah aku sekarang?" kata Co Hiong,

Liong Giok Pin terharu, air matanya mengucur "Kau tidak mengetahui bagaimana sukarnya aku mencari tahu tentang cara menyembuhkan luka-lukamu, dan kau masih saja tak pereaya aku!" kata Liong Giok Pin sedih,

Co Hiong mencoba bangun dan duduk di tanah, Sejenak kemudian ia berkata dengan ramah: "Maaf jika aku telah berbuat kasar kepadamu, Dengan luka-Iuka di dalam tubuhku ini, aku lebih suka mati daripada kau. Jika kau betul-betul mengetahui cara menyembuhkannya, aku minta kau lekas- lekas beritahukan kepadaku."

Lalu dengan tegas dan terang Liong Giok Pin memberitahukan Co Hiong cara penyembuhan itu, dan Co Hiong mendengarkannya dengan penuh perhatian Kemudian ia turuti petunjuk-petunjuk Liong Giok Pin itu, ia berjungkir balik, atau dengan menyandar di dinding kamar gua, ia berdiri tegak dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas. Lalu ia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya agar darahnya beredar dengan jurus-jurus terbalik Betul ia merasa sakit pada tubuhnya, tetapi lambat laun sakit itu berkurang, Kemudian keringat keluar dari sekujur tubuhnya, dan merasa lukanya meringan. ia turunkan kedua kakinya dan duduk sambil memejamkan kedua matanya untuk mengumpulkan semangat

Liong Giok Pin menanyai "Bagaimanakah kau me- rasakannya, setelah kau melakukan cara penyembuhan?"

Dengan tersenyum Co Hiong menjawab: "Aku merasa baikan."

"Nah!" kata Liong Giok Pin, "Jika cara itu berhasil.

Co Hiong menuruti petunjuk Liong Giok Pin, yaitu dengan menyandar ke dinding gua, ia berdiri tegak dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas kau harus dengan cara tersebut berusaha menyembuhkan dengan seksama, Besok aku akan datang lagi." Lalu ia pun keluar dari gua itu,

Demikianlah Co Hiong di dalam gua melakukan cara pengobatan itu, dan tiap kali ia lakukan, ia merasa banyak baikan,

Liong Giok Pin lari kembali ke rumah gubuk dan tiba pada lebih kurang jam 4 hampir pagi. Suasana di dalam rumah itu gelap sekali ia mengetok pintu kamar Lie Ceng Loan dan memanggil dua kali, akan tetapi tak dapat jawaban, ia menjadi curiga, ia dorong pintu itu dan masuk ke dalam.

ia telah mendampingi Lie Ceng Loan dan paham betul akan keadaan dan segala sesuatu di dalam kamar itu, ia nyalakan lampu di atas meja, dan segera tampak bahwa pembaringan Lie Ceng Loan dan Pek Yun Hui tidak ada orangnya, entah kemana!

ia padamkan lampu dan keluar dari kamar Di luar suasana sunyi senyap dan gelap gulita. ia lari menuju ke hutan pohon- pohon Bwee. Harum bunga-bunga Bwee menusuk hidung, tapi dalam keadaan gelisah itu Liong Giok Pin tidak menghiraukannya, Tiba-tiba suara yang telah dikenal menegur padanya: "Hari sudah mendekat pagi, mengapa Sumoy belum tidur?"

ia terkejut dan segera membalikkan badan, ia tampak Oey Ci Eng menegur sambil bersandar di sebuah pohon Bwee yang jaraknya kurang dua depa dari ia.

Dengan tersenyum ia menjawab: "Dan kau juga mengapa masih berada di sini?"

Oey Ci Eng datang menghampiri dan sambil menarik napas ia berkata: "Sebetulnya aku banyak omongan yang aku ingin ucapkan kepada Sumoy, Bolehkah aku mengatakannya sekarang?"

S!AN HOK StN ON - T.S.S. Jtlid 6 55

Liong Giok Pin mengerutkan keningnya. "Di waktu malam seperti ini tidak baik kita bicara di sini, jika kau ingin bicara dengan aku, besok saja!" jawab Liong Giok Pin setelah diam sejenak, lalu ia berbalik dan berlalu,

Di dalam beberapa tahun belakangan ini, meskipun Liong Giok Pin sering-sering berusaha menjauhkan diri dari Oey Ci Eng. Tetapi ia belum pernah bersikap demikian kasarnya, Oey Ci Eng heran dan bengong melihat sikap Sumoynya yang kasar itu, seolah-olah jemu kepada nya. Liong Giok Pin pun agak merasa keterlaluan memperlakukan Suhengnya, ia hentikan tindakan kakinya dan berbalik lagi sambil menanyai "Sebetulnya suheng ada omongan penting apakah, yang hendak diucapkan itu?"

Sebetulnya Oey Ci Eng mempunyai banyak kata-kata yang ia ingin ucapkan, akan tetapi ia menjadi terpaku dan bisu ketika menampak sikapnya gadis itu. Sejenak ke-mudian, dengan perasaan tersinggung ia menjawab: Tidak... tidak ada omongan yang penting, Maaf jika aku telah mengganggu Sumoy." Lalu dengan menghela napas ia pun berlalu,

Liong Giok Pin mengawasi Oey Ci Eng berlalu dengan langkah yang masgul, ia merasa bersalah telah memperlakukan suhengnya demikian "Dia senantiasa baik terhadap aku, tetapi aku tidak gubris kasih sayangnya terhadap aku, Sungguh kejam aku ini!" pikirnya, dengan tak terasa air matanya mengucur ia lari kembali ke rumah gubuk dan masuk lagi ke kamarnya Lie Ceng Loan.

ia lemparkan dirinya di atas pembaringan dan menangis sedih, ia telah kena anak panah dewi asmara, dan segala perbuatannya telah melanggar peraturan partai Kun Lun, ia merasa berdosa terhadap guru, paman-paman guru dan saudara-saudari seperguruarinya, yang semuanya sayang kepadanya dengan perbuatannya menolong Co Hiong, musuh dari partai Kun Lun. ia menangis tersedu-sedu ketika pintu kamar terbuka dan Ue Ceng Loan bertindak masuk bersama Pek Yun Hui. ia lekas bangun sambil menyeka air matanya, Lje Ceng Loan lari menghampiri dan menanya: "Liong Cici, mengapa kau menangisi Urusan apakah yang membuat kau sedih? Cobalah beritahukan aku agar aku dapat menolong kau."

Pek Yun Hui mengawasi wajahnya Liong Giok Pin dengan kedua matanya yang tajam tapi tidak bicara, Liong Giok Pin merasa bahwa sinar kedua matanya Pek Yun Hui telah menembusi jantungnya dan dapat membaca isi hatinya. ia tak berani melihat mukanya Pek Yun Hui. ia merasa berdosa, Sambil gcleng-geleng kepala ia menjawab: "Aku hanya memikirkan diriku yang malang ini, karenanya aku menjadi sedih. "

"Apakah kau memikirkan ayah bundamu yang telah meninggal dunia?" tanya Lie Ceng Loan,

"Sumoy telah menebak jitu. Aku memikirkan diriku sebagai anak yatim piatu, dan aku tak tahan untuk tidak menangisi jawab Liong Giok Pin. Lalu ia bangun dan jalan keluar dari kamar itu,

Pek Yun Hui terus tidak bicara, setelah Liong Giok Pin keluar dari kamar, barulah ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Sucimu itu rupanya mempunyai urusan yang ruwet!"

"Mungkin," jawab Lie Ceng Loan, "Jika seseorang teringat akan ayah bundanya almarhum, dia tentu akan sedih hali, Pek Cici, apakah kau masih mempunyai ibu bapak?"

Pek Yun Hui tersenyum "Riwayatku sangat panjang dan memilukan hati Nanti aku menceritakan kepadamu."

Ketika Lie Ceng Loan lari keluar, ia tampak Liong Giok Pin lagi Dalam setahun ini ia telah mengalami banyak perubahan, dan pula memperoleh banyak pengetahuan bahwa ayah angkatnya itu belum kembali ia kembali ke kamarnya dan berkata kepada Pek Yun Hui:

"Pek Cici, Supek dan ayah angkatku sudah lama pergi belum kembali Apakah mereka mendapat rintangan?" ""Meski tidak menemui rintangan," jawab Pek Yun Hui "Aku hanya khawatir Suhumu tidak dapat mencari mereka. Giok Siu Sian Cu bukan lawan yang enteng, Supekmu harus melawan enam-tujuh hari, dan siapakah yang akan menang, aku tak dapat menentukan Besok dengan menunggang bangau kita pergi cari mereka. "

Kata-kata Pek Yun Hui belum habis diucapkan, tiba-tiba mereka dengar suara tindakan kaki orang jalan mendatangi Pek Yun Hui tersenyum dan berseru: "Suhu dan ayah angkatmu sudah kembali!"

Lie Ceng Loan lari keluar, tetapi dalam suasana gelap gulita itu ia tak dapat melihat apa-apa, ia menunggu, tak lama kemudian betul saja ia tampak mendatanginya Ngo Kong Toa- su dan Giok Cin Cu.

Mereka memberi hormat kepada Pek Yun Hui, "Kami menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Siocia terhadap Loan Jie dan kami semua," kata mereka,

"Loan Moi adalah bidadari yang baik budi serta jujur, dia senantiasa dilindungi Thian (Tuhan), dengan kehendaknya aku datang ke sini untuk memberi pertolongan," jawabnya Pek Yun Hui seraya membalas hormat Lie Ceng Loan menghampiri Giok Cin Cu dan menanya: "Suhu, apakah Suhu telah dapat menjumpai Supek?"

Giok Cin Cu tidak menjawab, tapi Ngo Kong Toa-su yang lantas mewakilinya menjawab: "Aku dan Suhumu telah berusaha mencarinya dengan terpisah, tetapi setelah kita kitari daerah seluas sepuluh lie, kami hanya melihat bekas-bekas pertempuran mereka di suatu puncak, tetapi orangnya entah di mana."

Pek Yun Hui menanya dengan cemas: "Apakah di atas puncak itu terdapat bekas darah?"

"Puncak itu demikian tingginya dengan jurangnya pun curam, mungkin seribu depa dalamnya, sehingga tak kelihatan dasarnya, jurang dan puncak itu senatiasa diselubungi salju sehingga menjadi licin sekali Aku khawatir mereka tergelincir ke dalam jurang di waktu bertempur hebat Jika mereka tidak mendapat kecelakaan dan tewas dalam jurang, sangat mustahil setelah bertempur tujuh hari tujuh malam belum juga berhenti dengan tidak ada yang menang atau kalah?"

Sikap yang tenang dari Giok Cin Cu tak dapat menutupi kegelisahan nya, dan Pek Yun Hui telah memperhatikan ini "Aku belum melihat dengan kepala mata sendiri tempat di mana mereka bertempur Kecuali jika mereka memang sudah berjanji bertempur sampai ada yang tewas, serta tergelincir ke dalam jurang tak mungkin, Andaikan benar mereka telah tergelincir namun dengan ilmu meringankan tubuh dan sebagainya, mereka masih dapat menolong diri Aku yakin mereka tidak tewas, sebetulnya Hian Ceng Tojin mempunyai dendam apakah terhadap Giok Siu Sian Cu?"

Pek Yun Hui tanya akhirnya, "Sebetulnya kami dari partai silat Kun Lun tidak mempunyai dendam apapun terhadap Giok Siu Sian Cu, Toa Suheng pun tidak membenci dia. Hanya pada suatu malam dia masuk ke dalam kuli Sam Goan Kong, dan dia mengatakan ingin mencari muridnya Toa Suheng, Bee Kun Bu. Kami telah beritahukan padanya bahwa Bee Kun Bu tidak ada di kuil Sam Goan Kong, tetapi dia tak pereaya, dan dengan masgul dia berlalu Tetapi kemudian bersama-sama Sin Goan Tong dia datang lagi membikin ribut Dia bertempur melawan Toa Suheng, Ketika aku dan Ji Suheng datang, dia dan Sin Goan Tong baru berlalu seraya menjanjikan akan kembali pula tujuh hari kemudian untuk bertempur mati matian."

Selagi Giok Cin Cu menuturkan itu, Pek Yun Hui nampaknya menjadi cemas, "Apa maksudnya dia mencari Bee Kun Bu? Apakah dia sudah bosan hidup?"

"Aku dan Toa Suheng juga telah menanya maksudnya mencari Bee Kun Bu, tetapi dia tidak mau mem- beritahukannya," kata Giok Cin Cu.

"Sekarang sudah dekat fajar," kata Pek Yun Hui. "Besok pagi, kita berantai pergi ke puncak itu menyelidiki jurangnya."

Giok Cin Cu tidak yakin jika Pek Yun Hui dapat " turun ke dalam jurang yang sangat dalam itu, tetapi ia tidak berani menanya, Lalu ia minta diri untuk berlalu, Ngo Kong Toa-su memberi hormat sebelum ia keluar dari kamar itu,

Setelah kedua orang pergi, Lie Ceng Loan menanyai "Pek Cici, mengapa Giok Siu Sian Cu ingin mencari Bu Koko.

"la ingin mencari Bu Kokomu untuk membikin perhitungan." jawab Pek Yun Hui dengan bersenda gurau.

"Sebetulnya Bu Koko telah mengambil apanya? Apakah Bu Koko pernah menyinggung dia?" tanya Lie Ceng Loan.

"Bu Kokomu telah mengambil hatinya Giok Siu Sian Cu, dan juga telah makan buah Sie Can Ko yang dicuri oleh Giok Siu Sian Cu," jawab Pek Yun Hui.

Lie Ceng Loan terkejut Dengan gemas ia berkata:

"Aku tahu, aku tahu! Giok Siu Sian Cu juga gilai Bu Koko! ia perlukan datang ke puncak Kim Teng Hong yang jauh ini untuk mencari Bu Koko, Bu Koko adalah seorang yang baik, banyak orang suka padanya, Pek Cici, apakah kau juga sukai dia?"

Pertanyaan yang wajar itu membikin Pek Yun Hui gelagapan Mukanya menjadi merah, dan untuk sementara waktu ia tak dapat menjawab Lie Ceng Loan yang melihat Pek Yun Hui diam saja, lalu menanya lagi: "Pek Cici, apakah aku salah omong?"

Pek Yun Hui geleng-gelengkan kepalanya. "Kau tidak salah omong. Hanya hatiku yang menjadi kalut Aku ingin segera jawab kau, tetapi tiku harus pikir dulu apakah aku suka dia atau tidak," jawabnya.

"Masakan pertanyaan itu sukar dijawab Jika Pek Cici menanya kepadaku, aku segera dapat menjawab," kata Lie Ceng Loan.

"Betul," kata Pek Yun Hui, "Urusan Bu Kokomu, bagimu adalah mudah. Tetapi bagiku, urusan itu menjadi suatu soal yang sulit Loan Moi, aku belum dapat menjawab dengan pasti Kau harus memberikan kesempatan kepadaku untuk menjawabnya."

"Jika aku mengetahui Cici sukar menjawabnya, aku pun tidak akan menanya lagi," kata Lie Ceng Loan.

Pek Yun Hui tersenyum dengan penuh kasih sayang, Lalu ia berkata: "Sudah dekat fajar, marilah kita pergi beristirahat dan besok pagi kita mencari Supekmu."

"Jika Supek betuI-betuJ telah tergelincir ke dalam jurang, dia tentu menderita tuka-luka. Jika Bu Koko mengetahui, dia pasti bersedih hati," kata Lie Ceng Loan.

Tapi Toa Supekmu dan Giok Siu Sian Cu tidak mempunyai dendam yang dahsyat mustahil mereka akan saling membunuh Kau jangan kecil hati," menghibur Pek Yun Hui.

Fajar segera menyingsing, dan pada esok paginya, Pek Yun Hui, Giok Cin Cu dan lain-Iainnya pergi ke atas puncak untuk menyelidiki jurang yang katanya sangat curam itu. puncak itu tinggi sekali, dilingkungi oleh puncak-puncak gunung lainnya, Betul di bawah puncak itu ter-tampak jurang yang curam lagi licin, karena diselubungi salju, Di atas puncak itu Pek Yun Hui menjerit, dan jeritannya yang nyaring itu seolah-olah menembusi ang-kasa, dan gemanya terdengar nyaring dan jauh, Berturut-turut ia menjerit tiga kali, dan tiba- tiba setumpukan salju tergerak dan merosot ke bawah jurang.

Tumpukan salju itu tergerak karena getaran suara, Giok Cin Cu, Ngo Kong Toa-su dan Lie Ceng Loan menyaksikan dengan rasa ngeri ketika tumpukan salju itu merosot dengan pesat ke bawah jurang, dan suaranya terdengar hebat sekali.

Ketika itu Pek Yun Hui sudah mulai turun dari atas puncak ke bawah jurang, dan ia memberi isyarat kepada Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu untuk mengikuti jejaknya,

Ngo Kong Toa-su berkata kepada Giok Cin Cu: "Ai! BetuI- betul lihay ilmu meringankan tubuhnya, Seumur hidupku, belum pernah aku menyaksikan ilmu meringankan tubuh demikian hebatnya. Dengan tumpukan salju dan es ia telah berusaha membuka jalan, lalu dengan ilmu Pik Houw Pan Pik atau Cicak merayap di tembok, ia turun ke bawah jurang dengan mudahnya

Giok Cin Cu yang juga telah menyaksikan telah menjadi sangat kagum, ilmu yang tinggi sekali," serunya, "Mari kita ikuti dia!"

Ngo Kong Toa-su lalu berkata kepada Lie Ceng Loan: "Loan Jie, kau jangan turut, kau diam menunggu di atas puncak ini. Biarlah aku dan Suhumu yang ikut Pek Siocia turun!" Lalu dengan ilmu Pik Houw Pan Pik ia juga turuti Giok Cin Cu turun ke bawah jurang,

Pek Yun Hui turun sambil menyelidiki tanda-tanda yang mungkin ditinggalkan oleh Hian Ceng Tojin, dan Giok Siu Sian Cu. ia dapat lihat banyak tanda-tanda bekas tapak kaki Lalu ia berhenti di lereng gunung itu menanti datangnya Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su, yang tak lama kemudian pun datang menyusul, ia berkata: "Me-reka telah bertempur dengan hebat sekali, Menurut tanda-tanda kaki mereka, rupanya belum ada yang menang atau yang kalah."

"Apakah mereka telah tergelincir jatuh ke dalam jurang?" menanya Giok Cin Cu dengan cemas,

"Aku belum dapat memastikan Kita harus terus turun dan menyelidiki lebih jauh," jawab Pek Yun Hui,

"Apakah kita dapat turun ke bawah?" tanya Ngo Kong Toa- su, "Aku tak dapat melihat dasarnya jurang ini."

"Untuk turun ke bawah, orang harus menggunakan ilmu Cok Kiam Hui Heng atau Pedang Sakti Terbang Terjun, ilmu meringankan tubuh apapun tak akan berhasil Meskipun aku telah menghafalkan jampinya, tetapi aku belum mahir betul melakukannya," menjelaskan Pek Yun Hui."

Baru saja Pek Yun Hui beri penjelasan itu, sekonyong- konyong terdengar suara bunyinya bangau, seekor bangau putih yang besar terbang mendatangi, setelah melihat majikannya, dia terbang turun dan berdiri di samping Pek Yun Hui.

Giok Cin Cu berpikir: "Ai, mengapa dia tadi tidak membawa bangau itu yang dapat terbang turun ke dasar jurang."

Pek Yun Hui lalu menunggangi bangaunya, dan bangau itu terbang berputaran beberapa kali putaran lalu terbang turun ke dasar jurang, dan bayangan putih dari mereka terlihat makin lama makin kecil sehingga lenyap teralingkan kabut.

Setelah tiba di dasar jurang, Pek Yun Hui loncat turun dari punggung bangau dan menyelidiki keadaan di sekitarnya, Hawa yang dingin menembus tulang-tulang, Dasar jurang itu meskipun curam tetapi tidak luas, Pek Yun Hui menyelidiki seluruh dasarnya jurang itu, tapi ia tidak melihat bekas-bekas Hian Ceng Tojin dan Giok Siu Sian Cu HDi kaki jurang yang dingin ini tak mungkin binatang liar atau ular dapat hidup di sini Jika mereka telah terjerumus di sini, tanda bekas- bekasnya tidak sukar untuk dapat dicari Mungkin mereka telah loncat ketika mereka tergelincir untuk menolong diri," pikirnya, lalu ia lanjutkan penyelidikannya, tapi tetapi tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.

Ia menunggangi bangaunya lagi Bangau itu berbunyi lama untuk kemudian terbang naik ke atas, dan tiba di puncak yang diselubung salju. Pek Yun Hui memberi isyarat kepada bangau itu terbang ke lereng gunung di mana Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su menunggu.

-ooo0ooo-

Dalam suasana gelap gulita terjadi perbuatan mesum Dengan gelisah Giok Cin Cu menghampiri Pek Yun Hui

yang telah turun dari atas punggung bangaunya, "Pek Siocia, apakah mereka dapat diketemukan?" sebetulnya ia ingin berkata: "Apakah kau menjumpai mayat-mayat-nya?" ia mengawasi wajahnya Pek Yun Hui dengan jantungnya berdenyut keras sekali

Pek Yun Hui menjawab sambil mengge!eng-gelengkan kepalanya: "Di kaki jurang yang sempit salju bertumpuk tebal, hawanya dingin sekali Aku yakin binatang apapun tak dapat hidup di situ, Aku telah menyelidiki tetapi tidak melihat tanda bekas-bekas manusia atau tanda darah."

"Jika demikian, mereka tidak tergelincir dan terjerumus ke dalam jurang, Namun sangat mustahil mereka pindah bertempur ke tempat lain?" tanya Giok Cin Cu dengan mendesak

Tak mungkin," jawab Pek Yun Hui, "Daerah sekitar puncak ini cukup luas untuk mereka bertempur Tapi mengapa mereka berlalu dari puncak ini, aku pun sukar menebaknya."

"Apakah tidak mustahil mereka menjumpai rtntang-an- rintangan lain?" tanya Ngo Kong Toa-su.

"Mungkin," jawab Pek Yun Hui setelah berpikir sejenak, "Tentu ada urusan yang lebih penting telah membuat mereka menghentikan pertempuran mere-ka. " Belum selesai ia bicara, tiba-tiba ia berseru dan segera loncat turun. Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su mengejar Pek Yun Hui berhenti di depan satu karang dengan huruf-huruf yang digurat oleh ujung pedang dan berbunyi "Bee Kun Bu menjumpai bahaya, kita pergi menolong." Huruf-Huruf itu nyata sekali dibuat oleh Hian Ceng Tojin, pemberitahuan tersebut menggoncangkan hatinya Pek Yun Hui, ia bersiul lagi memberitahukan bangaunya untuk terbang lagi Ngo Kong

Toa-su menahan sambil berkata: "Pek Siocia tunggu sebentar Aku ada sedikit omongan."

"Omongan apa lagi? Loan Jie sudah sembuh betul, kita tak usah khawatir lagi." jawab Pek Yun Hui.

"Bukan urusan itu. Huruf-huruf itu mungkin tidak dibuat beberapa hari berselang, dan kemanakah Pek Siocia ingin mencari mereka?" kata Ngo Kong Toa-su,

Pek Yun Hui tidak menjawab, ia berdiri bengong. Lalu Giok Cin Cu berkata: "Kini jika kita bertindak tergesa-gesa, aku khawatir tidak akan berhasil. Pikirku lebih baik kembali dulu untuk merundingkan dan merancangkan tindakan apa harus kita tempuh."

Pek Yun Hui loncat turun dari bangaunya sambil mengutuk: "Hm! Betul-betul terkutuk! Giok Siu Sian Cu itu."

Semenjak Ngo Kong Toa-su kenal Pek Yun Hui, belum pernah ia melihat Pek Yun Hui demikian gemas-nya. sikapnya biasanya tenang dan agung, tetapi pemberitahuan Hian Ceng Tojin itu menggelisahkan dia. Sejenak kemudian Ngo Kong Toa-su berkata: "Aku duga ketika Hian Ceng Tojin bertempur melawan Giok Siu Sian Cu, kebetulan Bee Kun Bu datang, Giok Siu Sian Cu menotok jalan darahnya Bee Kun Bu dan membawanya pergi.,.,"

Giok Cin Cu geteng-geleng kepala, "Bee Kun Bu telah dapat pelajari ilmu silat dari Toa Suhengku, Betul dia tak dapat menangkan Giok Siu Sian Cu, tetapi dia masih dapat melawan dan menjaga. Giok Siu Sian Cu tak mudah membawa dia lari," kata Giok Cin Cu. Pek Yun Hui menjadi merah mukanya, Di dalam kegelisahannya ia telah menjadi kehilangan pegangan, Hanya dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu (Langkah ajaib), yang ia telah ajarkan kepada Bee Kun Bu, Giok Siu Sian Cu sudah pasti tak dapat menawan Bee Kun Bu, pikir ia.

Tetapi Ngo Kong Toa-su mempunyai pendapat lain, ia insyaf betapa hebatnya Pek Yun Hui gilai Bee Kun Bu sehingga segala sesuatu yang mengenai Bee Kun Bu selalu mendapat perhatiannya, ia sangat khawatir nasibnya Lie Ceng Loan di kemudian hari bila Pek Yun Hui merebut kekasihnya,

Lalu Giok Cin Cu mendesak: "Ayo, kita kembali ke rumah gubuk untuk merundingkan suatu keputusan dan rencana yang harus ditempuh." Segera dengan ilmu Pik Houw Pan Pik atau Cicak merayap di atas tembok mereka mendaki jurang untuk menuju ke rumah gubuk, Di atas puncak Lie Ceng Loan menyambut dan menanya Pek Yun Hui: "Pek Cici, apakah Supek sudah ketemu?"

Pek Yun Hui mengusap-usap rambutnya gadis itu, "Supekmu tidak tergelincir ke dalam jurang. Dia pergi mencari Bu Kokomu," jawabnya,

Dengan gembira Lie Ceng Loan berkata: "Supek mempunyai ilmu silat yang tinggi, dan ia tak akan tergelincir Jika Supek pergi mencari Bu Koko, kita boleh tunggu di rumah saja!"

Sebetulnya Pek Yun Hui ingin memberitahukan bahwa Bee Kun Bu menghadapi bahaya sehingga Hian Ceng Tojin pergi menolong, tetapi ia insyaf bila ia mengatakan demikian akan membikin Lie Ceng Loan khawatir

Dengan ilmu meringankan tubuh mereka semua tiba di rumah gubuk hanya dalam jangka waktu seperempat jam. Di sepanjang jalan Pek Yun Hui berpikir: "Agaknya urusan ini erat sekali hubungannya dengan Giok Siu Sian Cu. Jika Bee Kun Bu menjumpai bahaya, dia tak akan dapat minta pertolongan orang lain untuk mencari guru-nya, dan orang itu tentu- memberitahukan Hian Ceng Tojin dan juga Giok Siu Sian Cu bahwa ia mendapati bahaya.

Tapi siapa gerangan orang itu? Dan dimanakah Bee Kun Bu sekarang berada? Apakah dia masih hidup? puncak gunung hanya dua puluh lie jauhnya dari kuil Sam Goan Kong. Mengapa Hian Ceng Tojin tidak kembali memberitahukan dulu, tetapi segera pergi menolongnya seorang diri."

Setelah mereka berdua di dalam rumah gubuk, Pek Yun Hui masih juga termenung. Giok Cin Cu memecahkan kesunyian itu dengan menanya Ngo Kong Toa-su: "Menurut pendapatmu, pertempuran diantara Toa suheng dan Giok Siu Sian Cu, siapakah yang menang?"

ilmu silat kedua-duanya tinggi Dalam ilmu silat pedang, Toa suhengmu lebih unggal, tetapi dalam ilmu meringankan tubuh, Giok Siu SianCu lebih tinggi sedikit Caranya dia meloncat ke udara seolah-olah orang terbang sebetulnya merupakan suatu ilmu yang luar biasa di kalangan Bu Lim," jawab Ngo Kong Toa-su.

"Jika pendapatmu betul," kata Giok Cin Cu, "Bee Kun Bu tak dapat dibawa lari oleh Giok Siu Sian Cu, karena dia telah pahami hampir semua ilmu silat Toa Suheng, apalagi Toa Suheng berada di sampingnya, tak mungkin wanita itu dapat berbuat sesukanya Yang terpenting ialah bagaimanakah mereka yang sedang bertempur dapat mengetahui bahwa Bee Kun Bu menjumpai bahaya."

"Betul! Kita harus mencari tahu bagaimanakah mereka mendapat tahu Bee Kun Bu berada dalam bahaya, atau siapakah yang memberitahukan bahwa Bee Kun Bu menjumpai bahaya, Untuk mencari tahu semua ini, aku pereaya tidak mudah. Biarlah aku mencari tahu dulu," Pek Yun Hui campur bicara,

"Dunia sangat luas, di mana kau mencarinya?" tanya Ngo Kong Toa-su. "Hanya dengan tanda sedikit saja, misalnya jejak kaki, bekas injakan kuda, secarik kain dan sebagainya, aku yakin aku dapat mencari tahu," jawab Pek Yun Hui yang pereaya akan diri sendiri

Lie Ceng Loan yang telah mendengar bahwa Bee Kun Bu mungkin menjumpai bahaya, ia menghampiri Pek Yun Hui dan berbisik: "Pek Cici, jika kau pergi mencari Bu Koko, aku turut"

"Baik!" jawab Pek Yun Hui, "Kita berangkat sekarang."

Ngo Kong Toa-su berjingkrak: Tidak! Dengan cara demikian, kau seperti juga mencari jarum di dasar laut Menolong orang seperti juga menolong bahaya kebakaran jika Bee Kun Bu betul-betul menjumpai bahaya, meskipun kita dapat ketemukan dia sekarang, kitapun terlambat menolongnya, bukan,? Kita harus mencari dengan rencana yang sempurna."

Pek Yun Hui menjawab: "Pendapatmu belut Aku hargai Tetapi menurut pendapatmu, daripada mencari tanpa rencana lebih baik kita duduk diam menunggu, bukankah begitu?"

"ltu bukan maksudku," jawab Ngo Kong Toa-su,

"Hian Ceng Tojin sangat bijaksana, Jika dia sendiri tak dapat menolong, dia tentu memberitahukan kami di kuil Sam Goan Kong. Aku yakin bahwa karena Bee Kun Bu berada di dalam bahaya, maka Hian Ceng Tojin dan Giok Siu Sian Cu berhenti bertarung agar dapat bersama-sama menolong Bee Kun Bu."

Mendengar alasan yang diberikan oleh si Hweeshio tua itu, Pek Yun Hui betul-betul menghargai pendapat itu. Tapi karena Bee Kun Bu berada dalam bahaya, bagaimanakah ia dapat duduk diam? Lama ia berpikir barulah ia berkata lain: "Kata- katamu betul Tetapi segala sesuatu dapat terjadi dengan tak terduga, Kedua angkatan tua menunggu saja di puncak Kim Teng Hong ini menanti berita baik tentang Hian Ceng Tojin dan lain-lainnya, Aku dan Loan Moi hendak pergi mencari merekah jika aku memperoleh berita baik, aku nanti kirim bangauku untuk mengabarkannya. Tapi jika di dalam waktu sepuluh hari aku gagal mencarinya, aku dan Loan Moi tentu kembali ke sini, dan jika kedua angkatan tua memperoleh kabar dari Hian Ceng Tojin, sudilah meninggalkan kabar agar kamipun dapat pergi membantu."

Giok Cin Cu mengangguk dan berkata: "Jalan ini pun baik." Lalu sambil tersenyum Pek Yun Hui tarik tangannya Lie

Ceng Loan keluar dari rumah itu. ia bersiul memanggil bangau nya. "Loan Moi, dulu kau ingin menunggang bangau putih, bukan? Nah, sekarang keinginanmu terkabul." Lalu lebih dulu ia tunggangi bangau itu, dan suruh Lie Ceng Loan menunggang di beIakangn-nya. Bangau itu berbunyi dan mementang kedua sayapnya yang besar dan panjang, akan segera terbang ke atas,

Matanya Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu mengikuti terbangnya bangau itu sampai lenyap tak tertampak pu!a, Lalu Giok Cin Cu berkata: "Kita tak usah khawatir akan Loan Jie jika ia pergi bersama-sama Pek Yun Hui, karena aku tahu Pek Yun Hui sayang sekali kepada Loan Jie."

Ngo Kong Toa-su hanya menarik napas panjang, Ketika itu Liong Giok Pin datang menghampiri mereka, ia berlutut di hadapan gurunya memberi hormat. Selama dua hari Giok Cin Cu bersama Ngo Kong Toa-su sangat sibuk mencari Toa suhengnya sehingga tidak memperhatikan gadis itu, "Pin Jie kemana saja kau selama dua hari ini?" tanya guru itu.

pertanyaan itu membikin Liong Giok Pin terkejut, tapi ia segera menjawab: Teecu semalam telah datang ke kamarnya Loan Moi, kemudian kembali ke kuil Sam Goan Kong-" ia nampaknya ketakutan, karena jawabannya itu tidak semuanya jujur, dan ia tak mengetahui apakah gurunya semalam telah pergi ke kuil Sam Goan Kong,

Meskipun melihat sikap muridnya agak ganjil, Giok Qn Cu yang berjiwa besar tidak mendesaknya, ia menanya dengan wajan "Bagaimana keadaan Ji Supekmu di dalam kuil Sam Goan Kong?" Sebetulnya pertanyaan itu tidak perlu, karena setelah Tong Leng Tojin kembali dari kuil Toa Ciok Sie di pegunungan Cie Lian San, ia telah mencurahkan semua perhatiannya melatih tenaga dalamnya, dan jarang sekali keluar dari kuil Giok Cin Cu pereaya jawaban muridnya, ia lalu berkata kepada Ngo Kong Toa-su: "Harap Toa-su beristirahat di dalam rumah, aku ingin pergi ke kuil Sam Goan Kong untuk menanya apakah ada kabar dari Toa Suheng, dan minta Ji Suheng mengirim murid-murid mencari Toa Suheng," ia memberikan hormat dengan mengangkat kedua tangannya dan berlalu.

Ngo Kong Toa-su bertindak masuk ke dalam rumah gubuk dengan hati berat, sedangkan Liong Giok Pin masih saja khawatir akan keselamatan Co Hiong. Maka dengan kesempatan itu ia kembali ke kamarnya dan menyiapkan makanan enteng untuk Co Hiong di dalam gua.

Ketika itu Co Hiong sedang melakukan cara menyembuhkan luka-luka di dalam tubuhnya, Liong Giok Pin menunggu sampai Co Hiong selesai dan duduk di lantai, baru memberikan santapan yang dibawanya itu,

"Siapakah pemuda berbaju hijau yang telah melukakan aku?" tanya Co Hiong sambil makan.

"Dia bukan pria tetapi seorang gadis cantik, Dia mengatakan kepada Lie Ceng Loan bahwa kau adalah seorang yang busuk!" jawab Liong Giok Pin sambil ter- senyum,

Co Hiong menjadi murka karena ia dianggap seorang busuk. "Kalau kau telah ketahui aku seorang busuk, kau tak usah perdulikan aku lagi!" katanya mendongkol

Liong Giok Pin terperanjat Untuk sementara waktu ia tak dapat menjawab, ia mengawasi betapa lahapnya Co Hiong dahan Kemudian dengan sungguh-s unggun ia berkata: "Mengapa kau mengucap demikian? Jika aku pereaya perkataannya, aku tentu tidak datang menolong kau." Lalu ia menangis dengan sedih, Co Hiong hanya memandangnya sambil mengisi perutnya, ia tersenyum, senyuman itu menggiurkan Liong Giok Pin, membikin ia buta akan kebusukan, kekejaman dan kekejiannya Co Hiong, semenjak kecil ia dirawat di dalam kuil Sam Goan Kong, dan senantiasa menuntut penghidupan yang suci dan tenang.

Oey Ci Eng telah memperhatikan ia selama sepuluh tahun lebih, tetapi ia tak menghiraukan kasih sayangnya Yang ganjil ialah ketika ia melihat Co Hiong, ia segera tertarik oleh gaya, sikap dan wajahnya Co Hiong, senyumannya pemuda itu selalu menggiurkan hatinya, Mesipun ia insyaf bahwa perbuatannya menolong Co Hiong adalah suatu perbuatan yang durhaka, namun ia masih juga lakukan, ia telah terangsang asmara yang membuta!

Selesai makan, Co Hiong pejamkan matanya mengumpulkan semangat Liong Giok Pin benahkan piring, mangkok dan sebagainya bekas Co Hiong makan, lalu duduk di sampingnya, Agaknya ia segan berlalu, Co Hiong tampaknya banyak lebih segar Liong Giok Pin pegang tangannya Co Hiong dan menanya dengan ramah: "Apakah luka-lukamu banyak baikan?"

Co Hiong dapat rasakan kulit yang halus laksana sutera menempel di tangannya serta mendengar suara yang merdu dari gadis itu. ia buka kedua matanya, dan menjawab sambil tersenyum: Terima kasih, Aku rasa banyak baikan, Aku kira dua atau tiga hari lagi aku akan sembuh betuI."

Liong Giok Pin menarik napas, lalu berkata lagi: "Jika kau sudah sembuh, kau segera akan berlalu dari sini, entah kapan kita dapat berjumpa lagi. " ia menjadi sedih, dan air matanya

mengucur membasahi pakaiannya.

Co Hiong juga merasa kasihan terhadap gadis itu. "Berpisah hidup atau berpisah mati untuk selama-lamanya adalah peristiwa-peristiwa lazim selama kita hidup, Aku kira soal tersebut kita tak usah terlampau disedihkan." Hiburan itu makin membikin si gadis bertambah sedih. "Kalian murid-murid dari partai Kun Lun," Co Hiong terus menghibur "Apakah semuanya mengenakan pakaian serupa? Mengapa Lie Ceng Loan tidak berpakaian seperti lain-lain murid Kun Lun?"

Liong Giok Pin mengangkat kepalanya dan ingin menjawab, tetapi kata-kata yang hendak diucapkannya tersumbat di kerongkongannya. Co Hiong pun tidak mendesak lagi, Dengan mulut membungkam Liong Giok Pin bawa piring, mangkok dan sisa makanan, lari keluar dari gua itu.

Sejenak kemudian, Co Hiong yang sudah merasa banyak baikan, dan dapat menggunakan kaki tangannya dengan leluasa, berjalan keluar dari gua itu. Hawa yang segar dan harum menghangatkan tubuhnya, ia merasa gembira kesehatannya telah pulih kembali, Kegembiraannya terlihat pada wajahnya yang berseri-seri. Ia kembali ke gua dan merebahkan diri di tanah, dengan cepat ia tertidur.

Ketika ia tersadar dari tidurnya, suasana sudah menjadi malam, ia membaui hawa yang harum, dan ia merasa ada orang di sampingnya, Betul saja Liong Giok Pin tidur di sampingnya, Ketika itu ia pandang gadis itu yang cantik molek itu, tiba-tiba timbul napsu birahinya, Lupa akan kesopanan, ia memeluk gadis itu erat-erat.

Liong Giok Pin yang sedang tidur tersadar dan terkejut ia buka matanya dan membentak: "Hei, apa yang kau hendak perbuat? Lekas lepaskan aku...!" ia pun meronta-ronta melepaskan diri.

Tetapi Co Hiong tidak melepaskan pelukannya, malah tertawa dan berkata: "Ha hal Bukankah kau suka kepadaku? Mengapa kau berlagak malu-malu dan gusar?"

"Hem! Jika aku tahu watakmu demikian rendah dan kejinya, aku pasti membiarkan kau mati!" Lalu dengan sekuat tenaga ia meronta, Setelah terlepas dari cengkeraman "iblis" itu, ia lari keluar dari gua. "Ha! Apakah kau kira kau bisa kabur?" kata Co Hiong sambil loncat dan tinju kirinya menahan gadis itu dengan ilmu Liong Sin Jiauw atau Naga Hitam Menerkam dengan Kukunya, dan Liong Giok Pin tertawan !agi!

Co Hiong yang sudah hampir sembuh betul sangat gesit dan cepat gerakannya, Liong Giok Pin coba melawan dan memukul tinju kirinya Co Hiong sambil menendang lambungnya dengan kedua kakinya, Tapi Co Hiong yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya, dan lebih kuat tenaganya dapat mengegosi tendangan itu dengan loncat ke samping, lalu menerkam lagi,

Liong Giok Pin terkejut, ia lekas-lekas loncat mundur berdiri di ambang pintu mencegah gadis itu. ia berkata sambil tertawa: "Aku mengetahui bahwa kau sukai aku, dan kini aku pun suka kepada mu. Apa kau kira aku, Co Hiong ini, tidak pantas untuk menjadi pasanganmu?"

Bukan main marah dan malunya Liong Giok Pin. ia mundur lagi dua tindak dan mencabut pedangnya, ia membentak: "Jika kau tidak kasih aku lewat, jangan salahkan aku, terpaksa aku harus menggunakan senjata tajam ini!"

Co Hiong tetap tertawa dan berkata: "Keluarkan semua kepandaianmu Malam ini jangan harap kau dapat lolos dari tanganku!"

Liong Giok Pin tidak bicara lagi. ia tusuk dadanya Co Hiong dengan pedangnya, Co Hiong mengegos diri menghindari tusukan itu, sambil mengirim satu jotosan ke pundaknya gadis itu, Liong Giok Pin loncat ke sam-ping, lalu menusuk lagi berturut-turut tiga kali sekuat tenaga, Co Hiong dengan tenang menghindari pukulan itu, dan untuk menaklukkan ia menggunakan ilmu Lek Pi Hua San atau Tenaga Dahsyat Menggempur Gunung, Angin yang keluar dari kedua tinju itu dapat menahan tusukan-tusukan maut itu, dan satu totokan kepada lengan kanannya gadis itu membikin pedangnya terlepas dari cekalannya, ilmu yang Co Hiong gunakan adalah jurus-jurus yang ia dapat pelajari dari kitab San Im Shi Ni. Liong Giok Pin tak berdaya, Pada saat si gadis itu terpaku karena kaget dan bingungnya, Co Hiong datang dan memeluk ia erat-erat.

Liong Giok Pin menangis dan memohon: "Lepaskan aku!

Kelakuanmu ini sangat biadab!" Lalu ia coba meronta lagi, tetapi Co Hiong menotok tulang punggungnya dan ia tak berdaya,

Lampu di dalam kamar gua itu tiba-tiba dipadamkan, dan terdengar gadis itu menangis tersedu-sedu. Sejenak kemudian lampu dinyatakan lagi dan gadis itu masih saja menangis, bahkan tangisnya makin keras.

sekonyong-konyong dari luar gua terdengar orang menegur: "Siapa yang menangis di dalam gua?"

Kamar itu letaknya beberapa puluh kaki jauhnya dari mulut gua, tetapi dalam suasana malam yang sunyi senyap segala sesuatu terdengar nyata, Liong Giok Pin yang mendengar teguran itu berhenti menangis, karena ia mengenali suara itu!

"Ai, Toa suhengku datang, bagaimana?" seru Liong Giok Pin.

Co Hiong berdiri tegak dan mengejek: "Meskipun guru dan paman-paman gurumu datang ke sini, aku tidak takuti Nanti aku keluar dan bunuh dia!" Lalu ia jalan keluar dengan pedang terhunus.

Liong Giok Pin coba menahan dengan memegangi pakaiannya, ia memohon: "Jangan! jangan bunuh dia. "

"Jika aku tidak bunuh ia, dia pun tak dapat mengampuni aku!" jawab Co Hiong.

Liong Giok Pin berkata: "Kamar di dalam gua ini adalah tempat yang terlarang, Tanpa izin paman guruku yang memegang pimpinan kuil, siapapun tidak diperbolehkan masuk, Sekarang giliranku yang menjaga, Toa suhengku tidak berani masuk ke sini, Aku minta kau diam di sini, dan biarlah aku keluar dan mengusir dia pergi dengan akal tipuku!"

Co Hiong tersenyum. "Baiklah, Tetapi jika ia tidak berlalu, aku akan bunuh mati padanya!"

Liong Giok Pin tidak menjawab lagi, ia jalan keluar dan tampak Oey Ci Eng yang berpakaian hitam dan memegang pedang di mulut gua, Melihat gadis itu keluar, Oey Ci Eng mundur tiga tindak dan memperhatikan wajahnya gadis itu,

"Apa yang kau awasi? Apakah kau belum kenal aku?" bentak Liong Giok Pin.

Tadi aku dengar suara tangis di dalam gua. Apakah kau yang menangis?" tanya Oey Ci Eng.

"Aku yang menangis memikiri nasibku, Mengapa kau masih berkeliaran di tengah malam ini?" kata Liong Giok Pin.

"Aku pun sedang melamun memikirkan bahwa Su-siok terlampau berat sebelah, Lie Sumoy belum lama menjadi murid Kun Lun, tetapi dia sangat disayang oleh Susiok..." kata Oey Ci Eng seraya menarik napas.

"Toa Suheng! Kau jangan bicara sembarangan! Lie Sumoy adalah kesayanganku, dia baik sekali terhadap aku. Susiok pun tidak berat sebelah, dia senantiasa bertindak adil!" bentak Liong Giok Pin,

"Tapi mengapa kau menangis di dalam gua?" tanya Oey Ci Eng.

"Aku sebetulnya memikirkan nasibku yang sebatang kara..." kata Liong Giok Pin.

"Hari sudah lekas menjadi fajar Ayo kau lekas-lekas pergi tidur, dan jangan menangis lagi," kata Oey Ci Eng. Lalu dengan sikap yang ramah ia berlalu, Tapi Liong Giok Pin berkata: Tunggu! Aku pergi memadamkan Iampu. Aku akan berjalan dengan kau." Oey Ci Eng merasa heran akan perubahan sikap itu. Selama setengah tahun belakangan ini, gadis itu selalu bersikap adem terhadapnya, tetapi sekarang ia ingin berjalan bersama ia. ia merasa girang tereampur heran, dan menunggu di luar gua.

Liong Giok Pin lari masuk ke dalam kamar dan melihat Co Hiong duduk bersandar di dinding, Co Hiong menanyai "Apakah Toa Suhengmu sudah berlalu?"

"Ia sedang menunggu di luar, dan aku harus pergi ke kuil Sam Goan Kong bersama-sama dia!" jawab Liong Giok Pin. "Bila kau benar-benar sayang aku, kau harus bawa aku lari."

Co Hiong terkejut, lalu menanya: "Apakah kau tidak takut jika guru dan paman-paman gurumu mengirim orang untuk membunuh mati kau?"

Setelah menyeka kering air matanya, Liong Giok Pin menjawab: "Dunia ini sangat lebar Kita dapat mencari tempat yang sentosa untuk bersembunyi dan kau akan selalu menjagal aku. "

Co Hiong geleng-geleng kepalanya dan menjawab sambil tersenyum: Tidak! Aku masih banyak urusan yang harus dibereskan Aku tak bisa membawa kau lari untuk bersembunyi!"

Hancur hatinya Liong Giok Pin, dan air matanya mengucur lagi, ia memukul dadanya Co Hiong sambil berkata dengan sengit: "Jika kau tidak membawa aku...

"Sudahlah! Sudahlah!" kata Co Hiong, Toa suhengmu menunggu di depan. Ayo lekas keluar jangan sampai dia mencurigai kau! Nanti kita dapat bicara lagi. "

"Kau harus menunggu aku di sini, sebentar aku akan kembali." kata Liong Giok Pin sambil mengeringkan air matanya,

Dengan hati yang bingung, gelisah dan cemas Liong Giok Pin lari keluar "Apakah Sumoy sedang membersihkan kamar di dalam?" tanya Oey Ci Eng di luar

"Betul!" jawab Liong Giok Pin, "Maaf, jika kau menunggu terlampau lama."

"Mengapa kau masih saja bersedih hati?" tanya Oey Ci Eng.

Tidak apa-apa." jawab si gadis, lalu mereka berjalan cepat menuju ke kuil Sam Goan Kong, Setelah melewati beberapa tikungan, tiba-tiba dari tempat yang gelap meloncat keluar satu orang dengan pedang terhunus, dan orang itu membentak: "Siapa yang lewat?" Lalu orang itu tertawa dan berkata lagi: "Aku kira siapa, Toa Suheng, Liong Suci, kalian dari mana? Orang itu memegang pedangnya di depan dadanya sebagai tanda memberi hormat

Liong Giok Pin tersenyum dan meneruskan langkahnya, tetapi Oey Ci Eng berhenti dan bicara dengan saudara seperguruannya itu. sebetulnya Liong Giok Pin ingin lekas- lekas lari, tetapi karena khawatir gerak-geriknya yang tergesa- gesa menimbulkan curiga, maka ia berjalan dengan sikap yang tenang sebisanya. Tetapi setelah ia menikung lagi, ia segera lari agar tak dapat dikejar oleh Oey Ci Eng,

Ketika ia tiba di hutan pohon Bwee, ia merasa letih sekali, ia duduk di bawah sebuah pohon Bwee, Sambil menghadapi pohon-pohon Bwee di depannya ia mengenangkan kembali peristiwa di dalam gua tadi, ia mengutuk dirinya yang telah berbuat ceroboh, dan merasa berdosa karena ia telah dicemarkan kehormatannya oleh Co Hiong. ia mengutuk Co Hiong yang bersifat seperti binatang, tapi ia lantas lupakan perbuatan kejinya Co Hiong itu mengingat senyumannya yang menggiurkan hati,

Bagaimanakah jika Co Hiong telantarkan padanya?

Bagaimanakah jika guru dan paman-paman gurunya ketahui perbuatannya yang durhaka? Kenangan-kenangan itu menghancurkan hatinya, kembali ia menangis tersedu-sedu. -ooo0ooo-

Melarikan diri karena berdosa

Ia menangis entah berapa lama, Tiba-tiba suara yang nyaring dan ramah menegur ia: "Pin Jie. Mengapa kau katanya berketetapan.

"Meskipun Susiok sangat sayang kepadamu, kau tak akan terluput dari hukuman mati!" mendesak Oey Ci Eng,

"Aku telah berbuat salah! Aku berdosa! Aku harus rela dihukum mati!" jawab Liong Giok Pin seolah-olah sudah nekad.

Oey Ci Eng menundukkan kepalanya dan berpikir ia ingin mencari jalan menolong Sumoynya yang ia tetap sayang meskipun ia telah mengetahui perbuatannya yang tak pantas, Lalu ia berkata: "Dunia ini luas, tetapi mengapa kau ingin mati di kuil Sam Goan Kong.-.?"

Liong Giok Pin terperanjat ia pikir: "Betul! aku telah berdosa dan aku harus menerima hukuman. Aku tak takut dihukum mati, tetapi sebelum dihukum mati aku harus menjelaskan dosaku dengan jujur di hadapan para muridmu rid partai Kun Lun, dan ini aku tak dapat lakukan."

"Coba lihat matahari akan segera terbit," Oey Ci Eng memperingatkan lagi, "Aku tak dapat menahan kau lebih lama lagi, Nah, aku berlalu dan selamat tinggal!" Lalu ia bangun dan berlalu meninggalkan Liong Giok Pin seorang diri dengan perasaan yang berat sekali

Liong Giok Pin mengejar, dan ketika sudah berada di sampingnya ia berkata: "Toa Suheng, kau baik sekali terhadap aku, Aku,.,."

"Aku mengerti Ayo kau lekas-lekas melarikan diri!" jawab Oey Ci Eng, hatinya dirasakan hancur Tapi Liong Giok Pin masih saja berdiri di hadapan-nya. Sambil menghela napas Oey Ci Eng berkata lagi: "Sumoy, meskipun aku jarang berkecimpungan di kalangan Kang-ouw, tetapi dari kisah guru dan paman guru, aku telah insyaf seorang pendekar silat harus bersikap waspada, Ayo, lekaslah kau berlalu, Dan untuk mengurungkan perhatian, bukalah jubahmu."

Lalu ia paksakan diri jalan dengan menahan sakit dari

luka-lukanya. Liong Giok Pin berdiri mengawasi sehingga Oey Ci Eng menghilang dari pandangan matanya di suatu tikungan di sudut kaki puncak. Lalu ia pun berusaha mencari jalan keluar dari daerah partai Kun Lun itu.

Diceritakan sebaliknya Oey Ci Eng tidak jalan terus, ia diam sejenak dan berpaling ke arah di mana tadi ia berpisah dengan Liong Giok Pin. Setelah ia melihat gadis itu melarikan diri, hatinya mendadak menjadi gelisah, ia segera merasa kehilangan orang yang ia cintai itu. ia berdiri terpaku mengenangkan peristiwa-peristiwa yang lampau, Lama ia diam melamun, baru kemudian ia meneruskan perjalanannya ke kuil Sam Goan Kong,

Baru saja ia tiba di depan pintu kuil, empat orang berjubah dan bersenjata pedang berbareng mengangkat tangan dan memberi hormat sambil berseru: Toa Suheng kebetulan kembali, Kami sedang mencari Toa Suheng!" "Ada urusan apakah? Di mana Suhu?" tanya Oey Ci Eng dengan terperanjat

Yang berdiri di pinggir kiri menjawab: "Suhu di ruang belakang sedang menanti Toa Suheng."

Oey Ci Eng segera lari masuk ke dalam kuil diikuti oleh empat saudara-saudara seperguruannya,

Kuil Sam Goan Kong adalah sebuah kuil besar, dibangun dengan tembok tebal dan tinggi, gentengnya merah, tiang- tiangnya terukir dan lantainya dibuat dari batu gunung, Ruang belakang diterangi dengan delapan lilin yang besar Tong Leng Tojin sedang duduk di ruang itu, dan dua anak laki-Iaki yang berusia lebih kurang empat belas tahun berdiri di kiri kanannya, di belakang berdiri empat pendeta-pendeta muda, dan di hadapannya duduk Giok Cin Cu. Oey Ci Eng jalan maju, lalu berlutut di hadapan Tong Leng Tojin sambil berkata: "Teecu Oey Ci Eng datang menghadap Suhu!"

Tong Leng Tojin menanya: "Di manakah Liong Sumoymu?"

Pertanyaan yang tak disangsikannya itu, Oey Ci Eng rasakan seperti halilintar dan mengejutkan Dengan gugup ia menjawab: "Liong Sumoy setelah menolong membalut luka- lukaku, dia telah pergi entah kemana!"

"Sekarang kau jawab pertanyaanku: Murid yang menghina guru dan merusak nama baik partai Kun Lun harus dapat hukuman apa?" tanya Tong Leng Tojin, wajahnya berubah bengis.

Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya Oey Ci Eng, dengan gemetar ia menjawab: "Hukuman mati."

Dengan kedua mata terbelalak Tong Leng Tojin membentak: "Kau sebagai murid kepala harus ketahui peraturan partai yang keras. Ayo kau harus beritahukan dengan jujur, kemanakah Liong Sumoymu pergi?!"

Teecu.... Teecu... betul tidak mengetahui dia pergi kemana..." jawab Oey Ci Eng dengan gugup,

Tong Leng Tojin pereaya bahwa murid kepalanya itu tidak berdusta, ia berpikir sejenak, lalu menanya lagt: "Betul kau tidak tahu?"

"Dengan sebenarnya, Suhu," jawab Oey Ci Eng dengan tetap,

"Ji Suheng jangan mendesak dia," Giok Cin Cu campur bicara, "Murid yang durhaka itu telah menyembunyikan musuh di kamar dalam gua, dan aku yakin ia telah merencanakan lebih dulu, Ai, sayang sekali! Aku telah meme!ihara, merawat dan mengajar dia dengan sungguh-sunggun selama sepuluh tahun, kini ternyata cape lelahku menjadi hampa!"

Tong Leng Tojin menghibur "Melihat sikap dan wataknya, aku yakin ia berbuat demikian tanpa dipikir-nya, dan tidak direncanakan lebih dulu, Kau tak usah terlampau sesalkan diri Kita harus menyelidiki dengan seksama."

Giok Cin Cu berdiri tegak dan berkata: "Ji Suheng, menurut pendapatku, kita harus menangkap murid yang durhaka itu, kemudian kita akan mengadilinya dengan peraturan partai, Dia lari baru satu jam, biarlah aku kejar padanya!"

"Kemana kau hendak mengejarnya?" kata Tong Leng Tojin,

"Jika murid yang durhaka itu terbukti dosa nya, meskipun aku harus mencari di seluruh empat penjuru dunia ini, aku akan lakukan sampai aku dapat tebas putus lehernya!" kata Giok Cin Cu dengan sengit

Lalu Tong Leng Tojin berkata kepada kedua anak yang di sampingnya: "Toa Suhengmu harus ditawan di dalam kamar di belakang, tidak boleh keluar sebelum dapat izin dari aku."

Kedua anak itu lalu antar Oey Ci Eng masuk ke dalam kamar tahanan di belakang,

"Jangan lupa obati luka-lukanya," pesan Giok Cin Cu. "Song Ji dan Hok Ji telah mengerti akan obat-obatan, kita

tak usah khawatir Ayo kita berdua mencari dan tangkap murid

yang durhaka itu!" kata Tong Leng Tojin,

"Ji Suheng tidak ingin membantu, Toa Suheng belum dapat kita cari, dan sekarang Ji Suheng ini membantu aku Iagi. Mengingat ilmu silat Co Hiong yang hebat, kita harus jaga dia kembali membikin onar di kuil Sam Goan Kong. Ji Suheng harus menjaga kuil, Biarlah aku sendiri yang pergi menangkap Liong Giok Pin." Tong Leng Tojin menghela napas dan berkata: "Aku menangis di sini?"

ia terkejut dan melihat gurunya dengan menunjukkan wajah dari seorang ibu terhadap anak penuh dengan kasih sayang,

ia mengawasi wajah gurunya dan berseru: "Suhu....

Suhu... aku. aku.,,." sebetulnya ia ingin menuturkan semua

kejadian-kejadian mengenai dirinya dan semua perbuatan- perbuatan yang ia telah lakukan, tetapi ketika ia ingat akan peristiwa di kamar dalam gua tadi ia berhenti bicara.

"Ada urusan apakah?" tanya Giok Cin Cu, "Katakanlah kepadaku, Aku tentu akan menolong."

Ucapan itu seperti ujung sebuah pedang menusuk jantungnya, ia menyesal bahwa ia telah bertindak ceroboh dan keji terhadap guru dan paman-paman gurunya yang sangat sayang kepada nya. Baru saja ia hendak bicara pula, tiba-tiba berkelebat bayangan orang di depan mereka,

Setelah Liong Giok Pin melihat tegas orang yang mendatangi, ia tertegun, karena orang itu luka parah dipundak kanannya dan darah me noda kan pakaiannya, Setelah melihat Giok Cin Cu, orang itu berseru: "Susiok," dan segera jatuh pingsan di tanah!

Giok Cin Cu menghampiri dan berusaha menolong dengan memijat beberapa urat syaratnya yang penting, Orang itu hanya membuka kedua matanya sejenak, lalu meram lagi, Giok Cin Cu menanya: "Mengapa kau luka?" Tetapi orang itu sudah pingsan lagi,

Orang yang luka itu adalah murid kepala dari Tong Leng Tojin, Oey Ci Eng. Setelah Giok Cin Cu berhasil membebaskan totokan di beberapa jalan darahnya, ia membuka matanya lagi dan menuturkan apa yang terjadi sebagai berikut: "Ketika Teecu sedang meronda, Teecu menjumpai satu pemuda mengenakan pakaian kuning. " ia

tak dapat bicara dengan leluasa, Giok Cin Cu berusaha menolong lagi, dan Oey Ci Hng meneruskan tuturannya: Teecu menjumpai pemuda itu di dekat jalan yang menuju ke gua. "

Giok Cin Cu menoleh kepada Liong Pin. "Ayo, kau balut lukanya, dan bawa dia ke kuil Sam Goan Kong, serahkan kepada Ji Supekmu agar dapat diobati." Lalu Giok Cin Cu lari menuju ke jalan yang menuju ke gua.

pundak kanannya Oey Ci Eng terluka dalam, Liong Giok Pin balut luka itu dengan kain dari jubah Oey Ci Eng dan berkata: Toa Suheng, Aku akan bawa kau ke kuil Sam Goan Kong, Ji Supek pasti dapat mengobati dan menyembuhkan lukamu."

Sambil tersenyum Oey Ci Eng berkata: "Kau harus lekas- lekas lari, dan jangan pedulikan aku. Meski lukaku parah, tetapi setelah aku beristirahat sebentar, aku dapat berjalan sendiri ke kuil,"

Liong-Giok Pin terkejut dan mendesak lagi, "Kau, kau sebetulnya bagaimana terlukanya,.,?"

"Aku minta kau jangan banyak bicara," kata Oey Ci Eng. "Aku telah mengetahui semuanya, Ilmu, tenaga dan kepandaian pemuda berbaju kuning itu semuanya lebih baik daripada kepandaianku Ayo kau lekas lari, jika Susiok kembali, kau tak dapat melarikan diri lagi!"

Dengan gelisah Liong Giok Pin menanya, "apakah dia telah memberitahukan di mana itu kepadamu?"

Dengan tersenyum Oey Ci Eng menjawab: Tidak! Tetapi aku bisa tebak. Pin Sumoy, mungkin kita berdua tidak berjodoh, dan mungkin juga tak dapat berjumpa lagi, Akan tetapi perkenankanlah aku mengeluarkan isi hatiku yang telah tersimpan selama sepuluh tahun lebih ini, dan jika ada yang menyinggung kau, aku mohon kau dapat memaafkannya."

Tak tertahan lagi Liong Giok Pin menangis tersedu-sedu, "Sebetulnya akulah yang harus minta kau maafkan. Toa Suheng, kasih sayangmu terhadap aku besar sekali, dan aku yang tak berbudi seperti binatang tak mengenali orang yang baik dan luhur seperti kau. Aku minta bunuh aku. "

Oey Ci Eng pegang tangannya Liong Giok Pin dan menghiburkan, "Tempat ini bukan untuk kita bicara, Lekaslah kau pergi ke tempat yang sentosa." Keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan ia menahan sakitnya sambil menghibur Lalu dengan dibantu oleh Liong Giok Pin ia berdiri dan berjalan ke suatu tempat di kaki puncak gunung melalui hutan pohon-pohon Bwee,

"Sumoy, apakah kau masih ingat tempat ini?" tanya Oey Ci Eng. Liong Giok Pin memandang keadaan di sekitarnya tetapi ia tidak menjawab, Kemudian ia mengawasi wajahnya Oey Ci Eng dan menanyai "Toa Suheng, apakah kau membenci aku?"

"Tidak," jawab Oey Ci Eng. Liong Giok Pin menyandarkan kepalanya di dadu Oey Ci Eng dan menangis sedih. Toa Suheng, kau baik sekali terhadap aku. Aku tak dapat melarikan diri, aku hendak menghadap Suhu dan minta ia menusuk mati aku!" kata Liong Giok Pin. Dengan sangat terharu Oey Ci Eng mengusap-usap rambutnya, dan teringatlah kisahnya mencintai gadis yang kini berada di dalam pelukannya, ia insyaf bahwa jika gadis itu terlambat melarikan diri, akan tak terhindar dari hukuman mati, ia mendorong gadis itu dan berkata: "Sumoy, jangan menangis lagi, Fajar telah menyingsing. Kau kau harus lari!"

Liong Giok Pin menyeka air matanya, "Aku tak akan melarikan diri! Aku hendak pergi menjumpai Suhu!"

merasa malu tak dapat berbuat apa-apa. Kini ada dua urusan dan mencari Toa Suheng adalah penting. Biarlah aku pergi mencari Liong Giok Pin dengan jalan lain, Apabila setelah dicarinya di daerah seluas seratus lie tak berhasil, kita harus kembali ke kuil, Setelah itu kita harus mencari Toa Suheng dulu baru bersama-sama mencari murid yang durhaka itu." Giok Cin Cu mengangguk dan menyatakan setuju-nya.

Lalu ia loncat keluar dari kamar itu.

Setelah memesan kepada keempat pendeta muda, Tong Leng Tojin pun keluar dari kuil untuk mencari Liong Giok Pin.

Matahari telah memancarkan sinar menerangi seluruh jagat Giok Cin Cu mengejar ke jurusan timur, dan Tong Leng Tojin menuju ke jurusan timur laut, kedua jalan itu mungkin yang ditempuh oleh Liong Giok Pin.

Puncak Kim Teng Hong di mana kuil Sam Goan Kong terletak berada di punggung sebelah tenggara pegunungan Kun Lun. Di sebelah utara dari puncak tersebut terletak pegunungan Alkimsan, dan setelah melalui pegunungan Alkimsan itu, tampak gurun pasir yang membentang sangat luasnya, Di sebelah selatan dari pegunungan Kun Lun adalah propinsi Tibet dengan pegunungan Kokosilisan yang tinggi dan curam.

Maka jalan yang agak mudah adalah ke jurusan sebelah tenggara, timur laut dan timur Liong Giok Pin yang sering mengikuti Giok Cin Cu keluar dari pegunungan itu paham betul jalan-jalan di pegunungan itu, Betul Giok Cin Cu dan Tong Leng Tojin dapat menerka jalan yang akan ditempuh Liong Giok Pin, tapi jalan-jalan di pegunungan yang banyak itu, mereka tidak mengetahui jalan mana yang diambil oleh Liong Giok Pin. Setelah mereka mencari di daerah seluas seratus lie tanpa hasil, mereka kembali ke kuil.

Marilah kita tengok Liong Giok Pin yang melarikan diri itu. Setelah kegelisahannya agak berkurang, ia mulai melihat akan kedudukannya, ia pikir: "Peraturan partai Kun Lun sangat keras, dan dijalankan dengan seksama untuk tiap-tiap pelanggar, BetuI aku sangat disayang oleh guru, tetapi kecil harapan akan dapat luput dari hukuman pelanggaran yang aku perbuat adalah suatu dosa besar, sudah pasti aku dihukum mati, Aku harus melarikan diri agar dapat menghindari malu bila tertawan dan diadili di kuil Sam Goan Kong."

Tetapi ketika ia ingat kasih sayang dan budi dari guru, paman-paman guru dan semua saudara-saudari seperguruannya, ia menjadi sedih dan menyesal sekali, Pada saat ia terbayang akan wajahnya Co Hiong, ia mengutuk manusia jahanam itu. Pikirnya: "Jika aku harus mati, aku akan membunuh diri di hadapan dia!" ia loloskan jubahnya dan melarikan diri dengan mengambil jalan )ain, maka guru dan paman gurunya tak berhasil menyandak padanya, 100 lie lebih ia berlari-lari tanpa menjumpai orang. Untuk mengisi perutnya yang lapar ia harus makan buah-buahan yang ia dapat petik, dan minum air di mana ia menjumpai mata air.

Beberapa hari kemudian ia telah berada di daerah propinsi Ceng Hai, tetapi karena tak beruang, ia tak dapat pergi menginap di rumah penginapan atau membeli makanan di kedai nasi, ia terpaksa makan buah-buahan yang |a pelik dari pohon-pohon di sepanjang jalan, dan bermalam di kuil-kuil yang tua.

ia telah dilatih bersikap sopan dan jujur, maka meskipun ia terdesak oleh lapar dan kedinginan, ia tidak mempunyai pikiran untuk mencuri atau berbuat tidak pantas,

Ketika ia tiba di tapal batas propinsi Sucoan, tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing, Keringat dingin membasahi pakaiannya, ia demam terpaksa ia minta bermalam di suatu rumah penginapan Setelah berada di dalam kamar, ia rasakan demamnya bertambah hebat, dan ia tak dapat berdiri lagi. pelayan rumah penginapan itu membawakan ia air teh yang panas, tetapi ia yang tidur terlentang di atas pembaringan tak dapat bergerak dengan leluasa

"Ai! Tamu ini pakaiannya compang-camping dan menderita sakit keras, ia pasti tak mempunyai uang untuk membayar sewa kamar," pikir pelayan itu. ia lalu menghampiri tempat tidurnya Liong Giok Pin, dan ingin menyelidiki keadaannya, Tiba-tiba ia melihat pedang, ia berpikir la'gi: "Gadis ini masih muda, tapi pakaiannya kotor dan tak karuan. Mengapa ia membawa pedang? Aku yakin ia bukan orang baik-baik."

Ketika itu Liong Giok Pin berseru: "Tiamkee! Tiam-kee! (Pemiliki rumah penginapan), Aku minta air, aku haus sekali!"

pelayan itu mengawasi wajahnya Liong Giok Pin, dan ia berdiri terpesona!

sebetulnya dengan pakaian yang kotor dan compang- comping, Liong Giok Pin menimbulkan jemu dan perasaan kecurigaan orang. Tetapi ketika pelayan melihat air mukanya yang cantik jelita, pelayan itu tertarik,

"Hei! Aku minta air! Apakah kau tidak dengar?" tegur Liong Giok Pin,

"lya, ya! Aku lantas bawa!" jawab pelayan itu.

Liong Giok Pin coba bangun, tetapi ia tak dapat menggerakkan tubuhnya karena ia merasa kepalanya pusing sekali, pelayan itu membantukan ia bangun, Liong Giok Pin menjotos pelayan itu, karena ia tak suka dipegang orang laki- laki lagi. Meskipun dalam keadaan sakit, tinjunya itu agak keras juga, pelayan itu terpental sehingga cangkir teh di tangannya pun jatuh hancur di lantai!

Dengan meninjunya itu Liong Giok Pin merasa sakitnya makin hebat kepalanya makin pusing dan segera ia pun pingsan,

Ketika ia siuman, hari sudah menjadi malam, Lampu minyak di kamarnya hanya mengeluarkan terang sedikit sekali sehingga seluruh kamar masih tetap gelap,

Karena terlampau haus, ia coba bangun untuk mengambil air dari teko di atas meja, Setelah berjalan beberapa tindak, kedua betisnya menjadi lemas, ia terjatuh di lantai, Dengan kedua tangannya ia berusaha memegangi kaki meja untuk bangun mengambil air di dalam teko.

Seperti anak kecil ia minum dari corot teko itu. Setelah minum sebanyak setengah teko, ia duduk bersandar di kaki meja, dan merasa demamnya agak mereda. Kemudian ia merayap naik ke tempat tidur untuk mencoba tidur

ia tidur sehingga lohor keesokan harinya, Ketika ia membuka kedua matanya, seorang yang berusia lebih kurang tiga puluh tahun sedang berdiri di pinggir pembaringannya, Dengan wajah yang penuh welas asih orang itu berkata: "Siocia, apakah kau datang ke sini seorang diri?"

Liong Giok Pin terharu dan menangis, Orang itu berkata lagi: "Kau menderita sakit berat, aku telah suruh orang memanggil tabib untuk mengobati kau."

"Tapi aku tidak mempunyai uang dan tak mempunyai apa- apa yang berharga, Aku hanya mempunyai pedang, Aku minta paman tolong dijualkan pedang ini untuk membayar biaya pengobatan," jawab Liong Giok Pin.

Sambil tersenyum orang itu berkata: "Minta kau tenang- tenang saja, Biaya pengobatan, biarlah aku yang bayar."

Dengan terharu Liong Giok Pin berkata: "Aku tak mengenal paman, tapi paman sudi menolong aku. Budi yang besar ini bagaimanakah aku membalasnya?"

Belum lagi orang itu menjawab, pelayan telah datang membawa masuk seorang tabib, Tabib itu memeriksa penyakitnya Liong Giok Pin, lalu berkata sambil garuk-garuk kepalanya: "Penyakitnya agak berat Rupanya hawa dingin dan angin jahat telah merembes ke dalam tulangnya, Aku akan coba membikin resepnya." Lalu ia menulis resep obat, dan setelah menerima bayaran dari si orang tua itu, ia lantas berlalu,

"Paman, kau tak usah beli obat, aku tak sudi minum obatnya!"

"Siocia, dia adalah seorang tabib yang termashur di kota TiongIeng. Resep obatnya selalu jitu," kata si orang tua. Baru saja Liong Giok Pin hendak membuka mulut, tiba-tiba ia dengar suara seruannya seorang yang ia kenali: "Kudaku harus diberikan kacang, dan lekas kau sediakan makanan dan arak untuk aku, karena aku akan segera berangkat lagi setelah bersantap....

Liong Giok Pin paksakan diri bangun dari ranjang, dan lari keluar dari kamarnya, Sambil bersandar di tiang pintu kamar ia melihat Co Hiong sedang bicara dengan pelayan diluar rumah penginapan itu, Apakah ia harus bergirang atau marah setelah melihat Co Hiong?

Ketika Co Hiong hendak bertindak masuk, ia pun dapat melihat Liong Giok Pin. ia terkejut, lalu jalan menghampiri

Bukan main jantungnya Liong Giok Pin berdebar-debar, Seolah-olah ia mempunyai seribu perkataan di dalam hatinya yang ia ingin ucapkan sekaligus, tetapi ia Liong Giok Pin tak berdaya lagi, karena tangan yang menabok tadi dipegang erat oleh Co Hiong, tak tahu bagaimana harus mulai, ia hanya berdiri mengawasi wajahnya Co Hiong yang sedang menghampiri padanya.

Setelah tenang kembali, Co Hiong berkata sambil tersenyum: "Mengapa kau seorang diri? Apakah kau diusir oleh gurumu?" ia ucapkan pertanyaan itu dengan sikap acuh tak acuh, dan tiap-tiap perkataannya seperti juga ujung pisau yang tajam menusuk jantungnya Liong Giok Pin. ia tak tahan lagi, ia tabok mukanya Co Hiong,

Tapi Co Hiong dengan hanya mengangkat tangan kanan- nya, Uong Giok Pin tak berdaya lagi, karena tangan yang menabok tadi dipegang erat-erat oleh Co Hiong, "Kita dapat bicara dengan tenang." Tapi segera ia menjadi terkejut "Ha! Mengapa tanganmu ini panas? Apakah kau sakit?"

"Hm! Aku mati pun kau tak gubris!" jawab Liong Giok Pin yang segera jatuh di lantai karena ia tak tahan berdiri lebih lama lagi, Co Hiong angkat dan pondong gadis itu dibawa ke atas tempat tidurnya,

Sambil pegang resep obat, si orang tua menghampiri Co Hiong dan berkata: "Siocia ini menderita sakit agak berat. "

Co Hiong menjawab dengan ketus: "Dia menderita sakit apa hubungannya dengan kau?"

Si orang tua terperanjat mendapat jawaban yang ketus itu, tapi ia berkata pula: "Aku kasihan melihat dia seorang diri menderita sakit di sini, dan aku menolong memanggilkan tabib memeriksa penyakitnya, inilah resep obatnya.,.,"

Co Hiong rampas resep obat itu sambil berkata: "Kau baik hati! Hm! Rupanya kau takut mengeluarkan uang!"

Si orang tua tak tahan lagi berhadapan dengan Co Hiong yang congkak itu, dengan wajah merah padam ia meninggalkan kamar itu,

Co Hiong pun tidak perdulikan orang tua itu, ia keluarkan sebutir pil putih dari kantong di dadanya, dan paksa Liong Giok Pin telan pil itu dengan secangkir teh. Pil obat itu adalah pil obat mustajab buatan Sao Kong Gie, dan dapat menyembuhkan segala macam penyakit Liong Giok Pin tertidur setelah makan pil obat itu, dan ketika ia tersadar dari tidurnya, ia rasakan penyakitnya banyak baikan ia melihat Co Hiong sedang duduk di sisi ranjang mengawasi ia.

Ia pejamkan matanya lagi untuk berpikir, apakah ia harus lakukan terhadap laki-laki yang telah menjerumuskan pada nya. ia merasa Co Hiong mendekati ia dan berbisik: "Dengan makan pil obat yang aku beri kan, kau pasti akan sembuh, Kau harus beristirahat satu hari lagi, dan besok kau sembuh betuI."

Liong Giok Pin membentak: "Aku tidak suruh kau menyembuhkan aku! Aku benci kau!"

"Jika kau membenci aku, nah kau boleh pukul aku!" kata Co Hiong bersenda gurau. Liong Giok Pin bangun dan sambil duduk ia me-nampar pipinya Co Hiong, Tamparan itu tidak sakit, karena ia masih tak bertenaga,

"Nah, setelah kau menampar aku, apakah kau masih membenci aku? Jika masih membenci, kau boleh pukul aku lagi," kata Co Hiong main-main sambil tersenyum.

senyuman itu menggiurkan dan Liong Giok Pin segera lupa semua keburukan atau kebusukan laki-laki jahanam itu, Dengan senyuman tertahan ia membentak: "Kau ini betul-betul nakal, selalu menganggap aku. " Ketika itu ia merasa lemas,

ia lekas-lekas rebahkan dirinya lagi.

"Apa yang aku katakan," Co Hiong memperingatkan "Penyakitmu meskipun sudah baik, tetapi kau masih lemah, Kau harus beristirahat, aku nanti pesan sop ikan yang hangat untuk kau." Lalu ia keluar dari kamar itu,

Pil obat itu betul-betul mustajab, pada keesokan paginya, Liong Giok Pin merasa sehat dan segar ia terkenang akan peristiwa pada setengah bulan yang lampau, ia bergidik mengingat perbuatan yang keji dari Co Hiong, Tapi ia pun harus sesalkan dirinya sendiri yang telah jatuh hati kepada manusia jahanam itu.

Bukankah ia seperti seekor ikan mendekati seekor kucing lapar? Kini perbuatannya telah melampaui batas, dan ia telah berdosa, apakah ia harus sayang atau benci Co Hiong?

Tak lama kemudian seorang pelayan membawakan sop ikan, ia makan dengan lahapnya, Kemudian Co Hiong pun datang disertai dengan seorang penjahit pakaian, "Aku bawa penjahit ini untuk membikinkan kau pakaian, aku yakin besok kau akan sembuh betul-betuI, dan esok pagi kita lantas dapat berangkat pergi," kata Co Hiong,

"Kemana kau ingin bawa aku?" tanya Liong Giok Pin. "O, kita pergi ke tempat-tempat yang indah dan permai

menawan hati, aku akan ajak menikmati pemandangan yang permai itu," jawab Co Hiong. Liong Giok Pin mengerutkan kening tidak mengatakan sesuatu,

"Apakah kau takut gurumu mengejar kau?" tanya Co Hiong,

"Aku ingin mencari satu tempat yang terpencil," kata Liong Giok Pin. Co Hiong tidak menjawab, ia hanya suruh penjahit mengukur pakaian untuk Liong Giok Pin dan menyuruhnya diselesaikan dan diantar kan kepadanya keesokan pagi.

Demikianlah satu hari dilalui oleh Liong Giok Pin dengan pikiran kusut, tetapi Co Hiong anggap perbuatannya yang durhaka itu lazim bagi semua manusia. Keesbkan paginya, penjahit membawa pakaian untuk Liong Giok Pin, dan setelah membersihkan tubuh, bersolek dan mengenakan pakaian baru, Liong Giok Pin berubah menjadi gadis yang menawan hati, Co Hiong telah menyediakan seekor kuda putih yang bagus untuk Liong Giok Pin, Setelah membayar semua biaya penginapan kedua mereka berangkat meninggalkan kota TiongIeng. 

Musim dingin baru saja berlalu, dan musim bunga datang berganti dengan bunga-bunga yang beraneka warna, burung- burung bergembira menikmati perubahan alam yang indah.

Sambil bertunggang kuda Co Hiong berkata dengan tersenyum: "Dengan mengenakan pakaian baru itu, kau tidak kalah cantiknya daripada Lie Ceng Loan..."

"Dengan pakaian yang baru ini aku merasa canggung," jawab Liong Giok Pin. "Jika guruku melihat aku dengan pakaian ini, ia tentu sangat gusar."

Tetapi kau telah diusir keluar dari partai Kun Lun, dan kau tidak terikat lagi, kau merdeka mengenakan pakaian yang kau suka," kata Co Hiong. ""Aku bukan diusir keluar tapi melarikan diri, dan urusan kita telah diketahui oleh Toa Suhengku..." jawab Liong Giok Pin, lalu ia menanya: "Apakah kau yang melukai dia?"

Co Hiong tertawa dan menjawab: "Betul! Selain dia, aku pun telah melukai dua pendetal yang menjaga jalan ke gua!"

sebetulnya ketika Liong Giok Pin sedang bicara dengan Oey Ci Eng, mereka telah diketahui oleh dua murid partai Kun Lun. Oey Ci Eng menjadi curiga setelah liong Giok Pin berlalu, bersama-sama dua saudara seperguruan itu ia pergi ke gua dan menjumpai Co Hiong yang kebetulan keluar dari gua. pertempuran terjadi, dan Oey Ci Eng terluka, dan kedua murid tersebut yang bernama Cing Siu dan Cing Ceng pemuda menggempur Co Hiong,

Setelah pertempuran berjalan sepuluh jurus lebih, dengan ilmu Hong Coan Can Im atau Angin menghembus awan Co Hiong berhasil menebas lengan kirinya Cing Siu dan menusuk betis kanannya Cing Ceng sehingga kedua-duanya jatuh pingsan, Kesempatan itu digunakan oleh Co Hiong untuk memanggil kuda ajaib-nya. Karenaia mengetahui jalan di pegunungan itu, maka dengan menunggang kuda ajaibnya ia berhasil keluar dari pegunungan dan tiba di kota Tiongleng,

Melintasi pegunungan yang tinggi mengundang orang sakti Setelah Oey Ci Eng terluka pundak kanannya, dan ketika

Cing Siu dan Cing Ceng sedang bertempur melawan Co Hiong, Oey Ci Eng masuk ke dalam gua untuk menyelidiki Di dalam kamar ia melihat sisa makanan yang Liong Giok Pin bawa untuk Co Hiong.

Ketika ia keluar, ia menyaksikan kedua saudara seperguruannya terluka, karena ia sendiri pun telah terluka parah dan tak dapat menolong, ia berusaha lari menuju ke kuil Sam Goan Kong, dan ketika melalui hutan pohon-pohon Bwee ia telah menjumpai Giok Cin Cu dan Liong Giok Pin. Mendapat keterangan dari Oey Ci Eng itu, Giok Cin Cu lari pergi ke gua dan melihat Cing Siu dan Cing Ceng yang terluka baru saja siuman dari pingsannya.

Cing Siu dan Cing Ceng feiu menceritakan peristiwa yang telah terjadi Dengan sikap dan gerak-gerik, yang ganjil selama beberapa hari dari Liong Giok Pin. Maka Giok Cin Cu menarik kesimpulan bahwa murid kesayangannya itu telah berbuat khianat Untuk menolong Cing Siu dan Cing Ceng, ia lekas- lekas lari ke kuil Sam Goan Kong, dan pertolongan segera diberikan kepada kedua murid itu oleh Tong Leng Tojin, Kemudian Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu masuk ke dalam gua untuk membikin penyelidikan.

Sisa makanan dan lampu yang menyala memberi kesimpulan bahwa Uong Giok Pin telah berbuat khianat menolong musuh dari partai Kun Lun. Ketika mereka kembali ke kuil tidak menjumpai Liong Giok Pin dan Oey Ci Eng, Tong Leng Tojin lalu mengirim empat orang murid mencari Oey Ci Eng, dan Oey Ci Eng ketika itu sedang mendesak Liong Giok Pin melarikan diri.

Demikianlah peristiwa yang telah terjadi di daerah pegunungan Kun Lun setelah Co Hiong ditolong oleh Liong Giok Pin.

Untuk menghilangkan perasaan jemu Co Hiong terus menerus mengejek partai Kun Lun. "Orang kata partai Kun Lun termasuk salah satu partai yang terkuat antara sembilan partai silat di kalangan Bu Lim. Tetapi menurut pendapatku, partai silat Kun Lun tidak usah diiakutL." kata Co Hiong mengejek

Liong Giok Pin menjadi marah, dan ia membentak: " Apakah kau kira kau memiliki ilmu silat tinggi sekali? Mengapa kau dapat dibikin tak berdaya dan yang bersembunyi di dalam gua?"

Baru saja Co Hiong hendak menjawab, tiba-tiba ia ditegur oleh satu orang yang menunggang kuda di depan jalan mereka, Orang itu melarikan kudanya sambil berseru: "Saudara Co, selama kita berpisah, apakah kau baik? Tidak terduga kita berjumpa lagi di sini!"

Co Hiong angkat kepalanya dan mengawasi orang yang sedang melarikan kudanya dan menegur ia. Liong Giok Pin juga angkat kepalanya dan mengawasi ia melihat orang itu mengenakan pakaian hitam dan mengikat kepalanya dengan kain hitam puta, pedangnya menonjol keluar di atas pundaknya dari punggungnya, wajahnya berseri-seri. ia terkejut, karena orang itu tidak lain tidak bukan adalah Bee Kun Bu.

Begitu tiba di depan mereka Bee Kun Bu loncat lurun, dan sambil pegangi tali kekang kudanya Co Hiong ia berkata dengan gembira: "Semenjak aku terpisah dari kau, aku senantiasa memikiri kau.,,." ia berhenti ketika melihat Liong Giok Pin, ia tertegun sejenak sebelum ia menegur: "Ai!

Mengapa Liong Cici mengenakan pakaian itu? Aku hampir tidak mengenalinya!"

Teguran itu mengharukan Liong Giok Pin dan air matanya mengucur keluar Hancur hatinya mengingat perbuatannya yang khianat, dan ia tak mempunyai muka menghadapi "bekas saudara seperguruannya41 itu.

Bee Kun Bu juga menjadi heran melihat Liong Giok Pin menangis, dan ia menanyai "Hai, mengapa kau me-nangis? Apakah kau dimarahi oleh Susiok?"

Dengan tersedu-sedu Liong Giok Pin menjawab: "Aku... aku telah melanggar peraturan partai., dan aku tak dapat kembali ke puncak Kim Teng Hong,.,."

"Ha! Apakah kau diusir keluar oleh gurumu?" tanya Bee Kun Bu dengan kaget

"Aku melarikan diri..." jawab Liong Giok Pin.

Bee Kun Bu mengerutkan kening, memikir, lalu berkata: "Menurut pandanganku, Susiok sangat sayang kau, dan dia berjiwa besar jika Liong Cici turut aku kembali, aku yakin Susiok dapat mengampuni kau, Aku suka bantu membela kau di hadapan Susiok."

Tawaran yang keluar dari hati yang suci murni itu sangat mengharukan dan Liong Giok Pin menangis semakin sedih, ia tundukkan kepalanya tak dapat berkata-kata. Tetapi Bee Kun Bu terus membujuk "Partai Kun Lun sangat terkenal di kalangan Kang-ouw. Tiap-tiap murid yang bertindak keliru akan me noda kan nama baiknya partai, dan juga mencemarkan nama baik dirinya sendiri Liong Cici, pelanggaranmu mungkin dapat dibela, dan aku rela membantu."

Saat itu Bee Kun Bu sudah dapat menduga bahwa Liong Giok Pin melarikan diri karena terpikat oleh Co Hiong, dan ia tak ingin menegur Co Hiong, maka ia berusaha membangkitkan hati kecilnya Liong Giok Pin. . ia tidak menduga bahwa Liong Giok Pin yang telah dirangsang keras oleh asmara dan telah melupakan kasih sayang dan budi telah bertekad melarikan diri, Dengan senyuman terpaksa Liong Giok Pin menanyai "Setelah kau mengantar Pek Cici pergi ke pegunungan Koat Cong San dari pegunungan Cie Lian San, kau pergi kemana lagi?"

Bee Kun Bu yang berwatak luhur dan agung menjawab "Dengan menunggang bangau sakti, hanya dalam jangka waktu dua hari kami telah tiba di pegunungan Koat Cong San. Karena aku ingin lekas-lekas kembali ke-pegunungan Kun Lun, setelah aku antar Pek Cici ke pegunungan Koat Cong San, aku meninggalkan sepucuk surat sebagai tanda meminta diri.

Aku sebetulnya belum pernah berkelana dari pegunungan Koat Cong San ke pegunungan Kun Lun, dan aku pun tak mengetahui berapa jauhnya perjalanan itu. Tetapi menurut perhitunganku aku dapat tiba di pegunungan Kun Lun selama Jebih kurang satu bulan, tetapi di luar dugaanku di perjalanan aku menjumpai rintangan sehingga terhambat setengah tahun lebih. "

"Apakah kau tidak memikiri Loan Sumoy selama itu?" tanya Liong Giok Pin.

Bee Kun Bu merah mukanya, lalu menjawab: "Aku mengetahui bahwa Lie Sumoy sangat disayang oleh Susiok dan Suci, maka aku tak khawatir akan keselamatannya."

"Jadinya selama setengah tahun itu kau selalu bergembira!" mengejek Liong Giok Pin.

Bee Kun Bu tersinggung, tetapi dengan ramah ia menjawab: "Selama setengah tahun meskipun aku menjumpai banyak rintangan-rintangan tapi syukur aku dapat luput dari bahaya, aku juga telah mengalami banyak kesulitan dan penderitaan Tapi bagiku semua itu tidak memperkecil semangatku!"

"Di situ letaknya perbedaan antara wanita dan pria! Kau tidak mengetahui bahwa Loan Sumoy telah menderita hebat karena terus merindukan kau, dan hampir saja ia meninggal dunia karena kau apabila Pek Cici tidak datang menolong!" Liong Giok Pin menjelaskan. 

Bee Kun Bu terkejut mendengar pemberitahuan itu, wajahnya menjadi pucat Co Hiong yang mendengari pereakapan mereka berdua selama itu, lalu berkata: "Saudara Bee barusan mengatakan telah terhambat sampai setengah tahun karena menjumpai rintangan Mung-kin urusannya ruwet sekali."

Bee Kun Bu tersenyum, lalu menjawab: "Kisahnya agak panjang. Jika saudara Co tidak ada urusan penting, marilah kita mencari tempat penginapan dan aku dapat menceritakan kisahku itu."

Liong Giok Pin mengawasi Co Hiong, talu menanya Bee Kun Bu dengan suara keras: "Aku adalah murid yang telah berontak! Apakah kau tidak segera menangkap aku, dan menyeretnya ke pegunungan Kun Lun?"

Dengan senyuman terpaksa Bee Kun Bu menjawab "Aku tak berani! Tapi aku minta liong Gci ingat akan kasih sayang guru dan paman-paman gurumu, begitupun saudara dan saudari seperguruan dan ikut aku kembali ke pegunungan Kun Lun. Aku bersumpah akan membela kau!"

Liong Giok Pin tertawa gelak-gelak seperti orang yang hilang ingatan, lalu ia menangis tersedu-sedu, Adegan demikian memilukan hati, dan Co Hiong menjadi gelisah karena ia merasa bahwa semua ini karena perbuatannya yang keji. Tetapi Bee Kun Bu, yang berjiwa besar dan yang telah melihat bahwa Liong Giok Pin telah terjerumus ke dalam jurang kehinaan karena perbuatan Co Hiong yang keji, lalu bertindak maju. Tiba-tiba tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kirinya Liong . Giok Pin dengan ilmu Cit Siu Pok Liong atau Tangan telanjang menerkam naga, dan tangan kanannya menepuk punggung Liong Giok Pin.

Tepukan di punggung itu membikin Liong Giok Pin segera berhenti menangis, dan sambil mengawasi Bee Kun Bu ia menanya: "Jika kau ingin menangkap aku dan membunuh aku di sini saja! Aku "

Liong Cici, jangan salah paham! Aku hanya berusaha membikin Liong Cici sadar Aku tidak mempunyai maksud menangkap kau!" kata Bee Kun Bu.

"Apakah kau mengetahui aku telah melanggar peraturan yang mana?" tanya Liong Giok Pin.

Tidak," jawab Bee Kun Bu. "Aku tidak mengetahui pasal mana telah dilanggar olehmu."

"Aku telah melanggar peraturan sehingga hanya dua jalan terbuka bagiku, Kesatu, menerima dihukum mati. kedua, menjadi murid pemberontak dan selamanya tak dapat kembali ke puncak Kim Teng Hong lagi!" Liong Giok Pin menjelaskan dengan sikap yang menantang. Tapi jika Susiok betul-betul mengejar kau, aku yakin kau tak akan luput dari pengejarannya.,." kata Bee Kun Bu.

Co Hiong menyengir dan memotong ucapan itu: "Meskipun semua pemimpin-pemimpin dan murid-murid partai Kun Lun datang mengejar, dia tak dapat di-tangkap!"

Kata-kata Co Hiong itu melukakan hatinya Bee Kun Bu, ia merasa sangat tersinggung, Tetapi mengingat bahwa Co Hiong pernah menolong Lie Ceng Loan, ia coba tahan amarahnya, Dengan senyuman terpaksa ia berkata: "Saudara Co, bila kau telah pergi ke pegunungan Kun Lun? Apakah kau juga mengetahui soal Suciku melarikan diri?"

Meskipun ia berusaha menekan amarahnya, tetapi pertanyaan itu mengandung sindiran, dan Co Hiong menjadi merah mukanya, Namun, ia menjawab: itulah ada urusan partai Kun Lun. Tapi mengapa saudara Bee menanyakan soal itu kepadaku?"

"Aku hanya ingin menanya apakah saudara Co Hiong mengetahui, lain tidak!" jawab Bee Kun Bu.

Co Hiong tertawa gelak-gelak, dan sikap itu diketahui oleh Bee Kun Bu, ia bersikap waspada, Liong Giok Pin menyelak di tengah dan berkata kepada Bee Kun Bu: HBee Sulee, kau jangan menyalahi orang lain, Jika kau ingin menangkap aku, kau dapat lakukan se-karang!" Ketika itu Co Hiong juga berhenti tertawa, tapi ia mengawasi Bee Kun Bu dengan wajah yang beringas.

Bee Kun Bu berkata: "Suci, aku tahu kau tidak sudi kembali Nah, sudahlah Kau dan saudara Co dapat meneruskan perjalananmu!" Lalu ia bertindak jalan ke pinggir Sikap yang mengalah itu mengharukan Liong Giok Pin. ia teringat akan watak Bee Kun Bu yang dapat diuji, ia kagumi pemuda yang luhur itu.

Melihat mereka masih juga tidak berlalu, Bee Kun Bu loncat ke atas punggung kudanya, dan sambil melarikan kudanya ia berseru: "Liong Cici, saudara Co, harap kalian waspada!" Sejenak kemudian ia sudah tak tampak lagi.

Lalu Co Hiong mengejek kepada Liong Giok Pin: "Jika kau tidak suka turut aku, kau masih dapat mengejar dia!"

Liong Giok Pin membentak: "la berwatak luhur dan bersikap agung. janganlah kau memperbandingkan orang lain dengan dirimu!"

"Ha! Ha!" kata Co Hiong, "Jika demikian, kau anggap aku ini orang yang busuk?"

"Apakah kau anggap kau seorang yang baik?" mengejek Liong Giok Pin.

"Sebetulnya antara orang yang baik dan yang busuk tidak banyak bedanya, dan merupakan soal remeh," jawab Co Hiong,

Liong Giok Pin tidak mau beribut mulut lagi, ia segera larikan kudanya, dan Co Hiong mengejar dari belakang,

Bee Kun Bu di lain pihak baru berhenti setelah menempuh jarak delapan-sembilan lie. sepanjang jalan ia memikirkan tentang nasib Liong Giok Pin yang tersesat karena perbuatannya Co Hiong, ia berhenti karena ia dikejar dari belakang, dan mengenali orang yang mengejar itu adalah Souw Hui Hong.

ia berhenti di sisi jalan di suatu desa dengan sawah-sawah yang luas, Satu sungai mengalir di bawah pohon-pohon yang rindang sedikit jauh dari jalan itu. Souw Hui Hong mengejar dengan mengaburkan kudanya, dan rupanya ia sengaja ingin menabrak kudanya Bee Kun Bu.

Ketika kuda tiba hanya beberapa kaki dari kudanya Bee Kun Bu ia mengegos ke kanan, dan Bee Kun Bu terpaksa menepuk kepala kuda itu dengan tangan kanannya, Tepukan itu hebat, kudanya Souw Hui Hong berjingkrak sehingga gadis itu terlempar jatuh di tanah, Bee Kun Bu lekas-lekas turun dari kudanya dan menghampiri sambil menanyai "Apakah kau dapat luka?"

"Ai! Aku kaget setengah mati!" sahut Souw Hui Hong dengan napas terengah-engah,

"Tetapi mengapa kau sengaja menubruk kudaku?" tanya Bee Kun Bu.

"Kau betul-betul kejam! Aku kaget setengah mati, tapi kau katai aku sengaja!" bentak Souw Hui Hong dengan berlagak marah,

"Sudahlah, Tetapi mengapa kau mengejar aku?" tanya Bee Kun Bu.

"Jalan ini bukannya milikmu. Siapa juga boleh jalan di jalan ini, dan kau tak dapat melarang!" kata Souw Hui Hong,

Bee Kun Bu tidak mendesak lagi, ia bantu angkat bangun gadis itu dan berkata: "Sudahlah, aku terima salah, sekarang aku ingin kembali ke pegunungan Kun Lun, apakah kau juga ingin turut?"

Lalu ia cemplak lagi kudanya ingin berlalu, tetapi Souw Hui Hong menahannya sambil berkata: Tunggu! Kau telah pukul mati kudaku. Kau harus mengganti!"

Bee Kun Bu menengok dan betul saja kuda itu menggeletak di tanah dengan darah keluar dari mulut dan hidungnya, ia loncat turun dari kudanya dan menyerahkan tali kekang kudanya kepada gadis itu sambil berkata: "Baik! Baik! Aku mengganti kudamu dengan kuda ini." Lalu ia berbalik dan bertindak pergi.

Tetapi Souw Hui Hong menyambar bajunya sehingga baju itu robek, Bee Kun Bu menjadi gusar, dan dengan sekonyong- konyong ia berbalik dan menyerang gadis itu dengan jurus Shin Liong Yao Biu atau Naga sakti goyang-goyang buntut Tapi gadis itu mengegos dan balas menyerang juga.

"Hai! Apakah kau mau aku pula mati padamu?" bentak Bee Kun Bu. Sambil loncat ke belakang gadis itu menjawab: "Aku tahu kau tidak akan menyerang aku dengan sungguh-sungguh."

"Kau jangan coba merintangi aku dan membikin aku gusar,H Bee Kun Bu memperingatkan

Souw Hui Hong menarik napas panjang, lalu air matanya mengalir keluar ia berkata: "Mengapa kau benci aku. Tetapi mengapa kau juga menolong aku? Apakah aku betul-betul merintangi kau.,.?"

Bee Kun Bu menjadi bingung tak mengerti melihat sikap gadis itu. ia berkata: "Aku menolong kau karena dorongan kewajiban Tetapi apakah karena menolong kau aku bersalah?"

Tentu saja kau salah!" kata Souw Hui Hong. "Jika kau tidak tolong aku, aku bisa mati, Dan jika aku sudah mati, aku tak dapat melihat kau lagi, dan aku tak menderita lagi karena merindukan kau.,,."

Bee Kun Bu membanting-bantingkan kakinya dan berseru: "Ai, mengapa kau bersikap seperti kanak-kanak? Mengapa kau demikian manja? Aku ada urusan penting dan harus lekas-lekas berIa!u. "

Souw Hui Hong menghampiri dan berkata: "Me-ngapa kau jemu sekali terhadap aku? Dengan sikap itu kau menghancurkan hatiku."

Bee Kun Bu geleng-geleng kepalanya dan membujuk: "Janganlah kau bertindak keliru, Saudara Co Hiong lebih tampan dan gagah daripada aku, ia sangat mencintai kau. Aku Bee Kun Bu hanya seorang kelas rendah. "

"Aku tahu kau telah jatuh hati kepada seorang gadis yang cantik jelita. " kata Souw Hui Hong.

Bee Kun Bu menegur: "Harap kau jangan singgung- singgung gadis itu. Dia seorang yang suci murni." Lalu ia bertindak maju ingin berlalu. Tetapi Souw Hui Hong loncat dan mencegat jalannya sambil berkata: "Aku minta kau memberi maaf jika aku telah salah omong, dan aku minta kau tidak membenci aku, sebetulnya aku ada sedikit omongan yang ingin kuberitahukan kepadamu."

Bee Kun Bu menghentikan langkahnya dan me-nanya: "Omongan apakah? Lekas, beritahukan sekarang!"

"Kau tergesa-gesa pergi ke pegunungan Kun Lun apakah ingin menjumpai gurumu?" tanya Souw Hui Hong,

"Betul!" jawab Bee Kun Bu.

"Gurumu tidak ada di pegunungan Kun Lun," kata Souw Hui Hong,

"Aku tak pereaya omonganmu!" kata Bee Kun Bu. "Aku tidak berdusta," kata Souw Hui Hong dengan

khidmat, "Kau telah menolong aku dari bahaya sehingga kau sendiri ditawan orang, Tetapi ketika kau dalam bahaya, aku telah berkali-kali berusaha menolong kau tanpa hasil Oleh karena ilu, aku pergi ke pegunungan Kun Lun untuk mencari gurumu."

"Apa? Kau telah pergi ke kuil Sam Goan Kong?" tanya Bee Kun Bu.

Souw Hui Hong geleng-geleng kepalanya dan menjawab: Tidak, pegunungan Kun Lun sangat luas, dan aku tidak mengetahui di mana letaknya Sam Goan Kong. Aku telah berlari-lari kian kemari di pegunungan yang luas itu untuk mencari kuil Sam Goan Kong. Bukan main letihnya dan laparnya aku. Tapi aku mencari terus karena aku khawatir terlambat memberi pertolongan kepadamu."

Bee Kun Bu terharu. ia menarik napas panjang dan berkata: "Aku menolong kau karena kau pernah menolong aku. Dan aku minta soal itu kau tidak buat pikiran!"

Souw Hui Hong tersenyum, lalu meneruskan kisah-nya: "Meskipun aku telah menjadi letih dan lapar, namun aku tidak berhenti semangatku masih kuat, dan dengan membabi buta aku telah mendaki sebuah puncak yang selalu diselubungi salju, Mungkin Thian mengasihi aku, maka di dekat puncak itulah aku menjumpai Hian Ceng Tojin, dan aku memberitahukan gurumu itu bahwa kau berada dalam bahaya dan tertawan!"

"Di manakah kau menjumpai guruku?" tanya Bee Kun Bu.

Souw Hui Hong meneruskan: "Dia sedang bertempur dengan musuhnya di atas satu jurang yang curam dan berbahaya di mana aku tiba."

"Guruku bertempur melawan siapa?" tanya Bee Kun Bu. "Musuhnya bersenjata seruling batu Giok dan berpakaian

hitam," jawab Souw Hui Hong,

"O! Dia itu Giok Siu Sian Cu!" kata Bee Kun Bu.

"Aku sudah letih sekali, aku hanya dapat menjerit dan minta mereka berhenti bertempur," meneruskan gadis itu, "Hian Ceng Tojin melihat aku lantas ingin berhenti Tetapi lawannya terus menyerang, dan mereka bertempur terus! Aku menjerit lagi dan memberitahukan bahwa kau telah ditawan dan berada dalam bahaya, Aneh sekali! Mereka segera berhenti bertempur! Lebih aneh lagi bahwa wanita yang berpakaian hitam itu mendesak menanya aku tentang keselamatanmu! Aku hanya menuturkan lagi kejadian-kejadian yang menimpa kau dan bagaimana kau tertawan."

Tapi bagaimana sikapnya guruku setelah mendengar pemberitahuan kau itu?" tanya Bee Kun Bu,

"Nampaknya wanita itu lebih cemas daripada Hian Ceng Tojin, ia agaknya tak tahan sabar lagi, ia berkata kepada gurumu: Totiang, kita jangan mengadu silat lagi! Tentang Bee Kun Bu tidak lekas-lekas kembali ke kuil Sam Goan Kong, mula-mula aku mengiranya bahwa dari partai Kun Lun berdusta dan menipu aku. Bee Kun Bu dalam bahaya, kita harus segera pergi menolong." Lalu ia lari lebih dulu, dan gurumu juga mengikuti mengejar di belakangnya meninggalkan aku seorang diri di atas puncak yang tinggi! Karena letih dan tapar, aku tak dapat mengejar mereka, aku duduk beristirahat dan telah tertidur dan baru terbangun setelah seluruh langit kelihatan merah karena sinar matahari yang terbenam, Seumur hidupku belum pernah aku mengalami kesengsaraan demikian hebatnya! HaL.!"

Bee Kun Bu terharu, dan ingin menyatakan terima kasihnya, tetapi kata-kata yang hendak diucapkannya itu tersumbat di tenggorokannya, dan ia hanya menghela napas.

"Ya, ketika aku sadar, aku kedinginan dan kelaparan, di sekitarku hanya salju dan es. Aku hanya dapat memetik buah- buah cemara untuk menangsel perut, dan isap-isap es untuk menghilangkan dahaga, Aku berkeliaran di pegunungan itu selama sepuluh hari lebih, Aku yakin setelah lewat sepuluh hari wanita itu dan gurumu sudah tiba di pegunungan Ngo Bie San.

"Sekarang guruku berada di mana? Aku telah berlalu dari pegunungan Ngo Bie San enam hari," tanya Bee Kun Bu.

"Betul Hian Ceng Tojin datang ke pegunungan Ngo Bie San untuk menolong kau, tetapi segala sesuatu adalah karena aku yang terbitkan, oleh karena itu aku sekarang harus menyertai kau pergi lagi ke pegunungan Ngo Bie San.,." kata Souw Hui Hong.

"Tidak usah, aku seorang diri dapat pergi ke sana!" kata Bee Kun Bu.

Souw Hui Hong mengawasi Bee Kun Bu dengan penuh kasih sayang, lalu air matanya mengucur keluar Sambil menarik napas ia berkata: "Mengapa kau benci aku? Apakah aku melukai hatimu?"

Bee Kun Bu tersenyum dan menghibur: "Kau baik terhadap aku. Tapi antara pria dan wanita harus ada perbedaan Jika kita berdua pergi, orang lain dapat menyangka yang bukan- bukan, peraturan partai Kun Lun keras sekali Jika desas- desus yang dibuat-buat orang tiba di kuping guruku, aku pasti dimaki atau dihukum."

Lalu ia berbalik dan bertindak maju. Souw Hui Hong berdiri terpaku, dan ia pun tak dapat mendesak, ia berpikir: "Hm! Kau betul-betul kejam, Kau tidak memperdulikan aku, Awas! Aku akan bikin kau memperhatikan aku."

Ketika itu Bee Kun Bu telah berjalan agak jauh, Souw Hui Hong memanggil-manggil: "Bee Siangkong, Bee Siangkong.,.!"

Bee Kun Bu berhenti, dan Souw Hui Hong mengejar Lalu berkata: "Kau boleh pergi seorang diri ke pegunungan Ngo Bie San. Tapi kau ingin lekas-lekas pergi ke pegunungan itu, bukan? Nah, lebih baik kau menunggang kuda, sebab pegunungan Ngo Bie San agak jauh dari sini."

Tapi aku telah memukul mati kudamu, dan kuda itu untuk mengganti kudamu!" jawab Bee Kun Bu.

Souw Hui Hong tersenyum ia tidak jawab pertanyaan itu, ia menanya lagi: "Apakah kau telah menjumpai Co Hiong?"

Bee Kun Bu terkejut sebelumnya menyahut: "Sau-dara seperguruan Co Hiong itu memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi,.,."

Tetapi ia kejam dan banyak tipu musIihatnya, Be-t^lkah?" kata Souw Hui Hong.

Lalu Bee Kun Bu menceritakan bagaimana ia berjumpa dengan Co Hiong di jalan tadi, tetapi ia tak menceritakan hubungannya dengan Liong Giok Pin karena hanya akan mencemarkan nama baiknya partai Kun Lun belaka sebab Liong Giok Pin melarikan diri bersama-sama Co Hiong,

"Aku tidak mau menceritakan watak Suhengku, tetapi ia memiliki seekor kuda ajaib yang dapat menempuh jarak seribu lie sehari," kata Souw Hui Hong, "Betul, aku tahu, dan ia ingin berikan kuda itu kepadamu," kata Bee Kun Bu.

"Bagaimanakah kau dapat ketahui?" tanya Souw Hui Hong,

"Aku tahu karena dia pernah omong soal itu ke-padamu," jawab Bee Kun Bu sambil menyempIak kudanya, "Dan dia pun mengatakan bahwa dia sangat sayang kau,"

Souw Hui Hong buka matanya lebar-lebar dan ber-kata: "Jika demikian, dia sendiri mencari pusing!"

Setelah meminta diri, Bee Kun Bu kaburkan kudanya menuju ke pegunungan Ngo Bie San.

Souw Hui Hong mengikuti jejaknya Bee Kun Bu dengan harapan Bee Kun Bu menoleh ke belakang lagi, tetapi harapannya hampa!

Bee Kun Bu dengan hati berdebar-debar ingin lekas-lekas tiba di pegunungan Ngo Bie San menjumpai guru-nya, dan lekas tiba di tepi sungai Bin Kong.

ia berhenti di tepi sungai itu agar kudanya dapat minum air. ia berdiri sambil berkata kepada diri sendiri: "Ngo Bie San masih lima-enam ratus lie jauhnya dari sini. Dengan kuda ini mungkin aku tiba di sana dalam satu hari dan satu malam Jika aku naik perahu, aku dapat tiba di kota Ka Teng, dan dari Ka Teng pegunungan Ngo Bie San hanya lebih kurang seratus tie jauhnya. Aku lebih baik naik perahu."

Dengan berkeputusan itu ia coba mencari perahu, dan tidak jauh dari tempat di mana ia berdiri ia melihat bahwa perahu layar sedang berlabuh ia jalan menuju ke perahu- perahu itu,

Tempat yang kecil itu agak ramai, karena merupakan satu pusat perdagangan Di tempat itu juga ada banyak kedai-kedai arak di mana orang dapat membeli makanan dan minuman. ia masuk ke dalam sebuah kedai arak dan memesan makanan ia menanya seorang pelayan: "Apakah hari ini ada perahu yang berlayar ke kota Ka Teng?"

Pelayan itu menjawab sambil geleng-geleng kepa!a-nya: "Perahu yang berlayar ke kota Ka Teng berlabuh di dekat kota Tiong Leng."

Tetapi perahu-perahu di sini mustahil tidak ada yang berlayar ke kota Ka Teng?" tanya Bee Kun Bu sambil menunjuk ke perahu-perahu yang sedang berlabuh itu. Terahu-perahu itu adalah perahu-perahu nelayan, tetapi jika Siangkong ingin menyewa, aku dapat menanyakannya," jawab pelayan itu. Lalu ia pergi untuk menanyakannya.

Sebentar kemudian pelayan itu kembali dengan wajah berseri-seri. ia berkata: "Siangkong beruntung Kebetulan ada sebuah perahu yang akan berlayar ke kota Ka Teng.

Siangkong dapat berangkat sekarang."

Bee Kun Bu menghaturkan terima kasih, dan setelah membayar makanan dan minumannya, ia menuju ke perahu dengan diantar oleh pelayan kedai.

BetuI saja ada satu perahu yang baru saja mengangkat sauhnya, pelayan kedai ajak Bee Kun Bu naikperahu, tetapi ada satu tukang kedai mengawasi Bee Kun Bu dari atas sampai ke bawah, ia berkata: "Tanpa pemberitahuan dari aku, orang tak dapat keluar dari kamar perahu, jika sudah tiba di kota Ka Teng, aku tentu memberitahukan kau."

Bee Kun Bu yang selalu memikirkan keselamatan gurunya menurut saja, dan di dalam tergesa-gesanya itu sehingga ia lupa kepada kudanya yang masih berada di depan kedai arak itu.

Perahu berlayar mengikuti arus air sangat pesatnya, dan karena di dalam perahu ada beberapa penumpang wanita, Bee Kun Bu hanya duduk diam di dalam perahu akan kemudian ia pun jatuh puIcs di dalam kamar perahu itu.

Dalam tidurnya ia seolah-olah mendengar suara seorang wanita tertawa di sampingnya. ia buka kedua matanya, dan ia terkejut melihat seorang gadis remaja yang cantik jelita berdiri di sampingnya

Gadis itu mengenakan pakaian putih, dan rambutnya yang hitam seperti bulu burung gagak disisir licin ke belakang dengan sanggul yang mirip buah pepaya menggelantung di dahannya, Kulitnya putih laksana salju, matanya jeli, pipinya merah seperti warna bunga mawar yang dadu, sedangkan kedua bibirnya yang mungil berwarna merah delima, senyumannya merayu sukma, dan untuk sementara waktu Bee Kun Bu tak pereaya jika orang yang di depannya adalah manusia belaka, dan bukannya bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Bee Kun Bu berpikir, setelah ia mengawasi gadis itu dari atas sampai ke bawah: "Siapakah gadis ini, mengapa ia telanjang kaki?"

Segera ia bangun, dan ia lupa bahwa ia naik perahu itu sebagai penumpang, Baru saja ia ingin menanya, sekonyong- konyong datang lagi tiga gadis yang mengenakan pakaian putih, dan ketiga gadis yang baru datang itu hampir serupa pakaiannya, cara bersoleknya dan gaya dan sikapnya seperti gadis yang pertama: semuanya cantik jelita dan menggiurkan hati.

"Apakah gadis-gadis ini suku bangsa Han? Mengapa pakaiannya demikian rupa? Apakah mereka suku bangsa Biouw, Tubuhnya sehat dan segar kelihatannya!" pikir Bee Kun Bu.

Sikap yang canggung itu diperhatikan oleh mereka, dan gadis yang pertama menanya dengan suara yang agak keras,

"Kau siapa? Mengapa kau dapat naik perahu ini?" pertanyaan itu diucapkan dalam bahasa suku bangsa Han yang lancar

Bee Kun Bu ingin menjawab dan memberitahukan mengapa ia naik perahu itu. Jika terpaksa ia juga ingin memberitahukan atau menjelaskan mengapa ia terpaksa naik perahu itu. ia pikir dengan maksud yang luhur, jika ia telah berbuat kekeliruan, mungkin gadis-gadis itu dapat memaafkan ia.

-ooo0ooo-

Mustika di dalam perahu

pertanyaan yang diajukan itu membikin Bee Kun Bu bingung, ia harus menjawab, Lalu sambil tersenyum ia menyahut: "Karena aku harus pergi ke kota Ka Teng dengan lekas, aku telah berdamai dengan tukang perahu dan naik perahu ini. Jika aku bersalah, aku minta Siocia-siocia maafkan."

Keempat gadis itu mendadak menjadi murka, Salah satu gadis itu mengejek: "Tukang perahu itu betul-betuI kurang ajar, Dia telah mengambil kesempatan di waktu kita beristirahat dengan diam-diam dia memasukkan satu penumpang!" Lalu dengan beringas ia menanyai "Apakah kau tahu siapa kami ini?"

"Aku tak tahu, tetapi jika aku hanya menjadi penumpang dan tidak berbuat yang tidak pantas, aku yakin aku tidak melanggar peraturan."

Bee Kun Bu yakin bahwa keempat gadis tersebut adalah jago-jago silat, maka ia sengaja sebut-sebut peraturan di kalangan Bu Lim. Tetapi alasan yang diberikan itu rupanya tidak memuaskan Yang termuda lalu me-nanya kepada yang lebih tua:

"Cici, apakah yang dikatakan peraturan Bu Lim? Apakah kau tahu?"

"Peraturan Bu Lim ialah peraturan peraturan yang harus ditaati oleh jago-jago silat di kalangan Bu Lim," jawab gadis yang ditanya, Bee Kun Bu membantu menjelaskan "Orang-orang yang pernah berlatih ilmu silat semuanya orang-orang dari kalangan Bu Lim."

"Diam!" yang tua membentak "Aku tidak menanya kau! Aku tak menghiraukan peraturan Bu Lim, tetapi kau telah naik di atas perahu ini tanpa izin dari kami, kau telah bersalah!"

Bee Kun Bu tidak gentar, dan ia menjawab dengan hormat: "Setelah perahu ini tiba di kota Ka Teng, aku lantas mendarat Kini perahu masih berada di tengah sungai. Bagaimanakah aku dapat mendarat?"

Keempat gadis itu lalu berdamai sambil berbisik, Kemudian gadis itu yang pertama datang berkata: "Kakak kami kini masih tidur Kalau dia mengetahui bahwa di atas perahu ini terdapat penumpang lain, dia pasti menjadi gusar, dan mungkin ia akan ceburkan kau ke dalam sungai Kami tidak berdaya meski ingin menolongnya. Menurut pendapat kami, sekarang dia belum bangun, lebih baik kau sekarang meninggalkan perahu ini."

"Kini perahu sedang berlayar di tengah-tengah sungai dengan pesatnya, aku.,,." Kata Bee Kun Bu, belum habis diucapkan, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring menusuk kuping, dan dengan cepat keempat gadis itu lari pergi.

Melihat caranya keempat gadis itu berlalu demikian cepatnya, Bee Kun Bu berpikir: "Keempat gadis itu semuanya cantik dan lincah, mereka pasti lihay ilmu si ia t nya. Tetapi gerakannya berlainan daripada jago-jago silat di kalangan Bu Lim, sebetulnya siapa mereka itu, dan dari mana?"

ia pun ingin mengetahui siapa pemimpin dari gadis-gadis itu, ia menanti segala kemungkinan ia melihat seorang wanita muda yang berpakaian putih menghampiri padanya, Tangannya memegang satu nampan, dan di atas nampan ada satu cangkir teh yang dibuat dari batu Giok, ia berdiri tegak menghadapi wanita itu, dan ber-kata: "Aku merasa gembira dapat berjumpa dengan Sio-cia. Tetapi aku tidak berdahaga." Wajah dari wanita yang muda itu sangat merah, ia taruh nampan itu di hadapan Bee Kun Bu, dan membentak "Kau mesti minum teh ini, talu berbaring, Mes-kipun air teh ini tidak beracun, tetapi dapat bekerja dengan berhasil tanpa membikin kau merasa sakiti Ayo! Minum!"

Sambil geleng-gelengkan kepalanya Bee Kun Bu menjawab: "Umpama aku telah melanggar peraturan, aku bersalah dan harus minum air teh itu untuk membunuh diri, aku tak akan lakukan, Apa pula aku merasa tak bersalah, sudah pasti aku menolak meminumnya!"

"Sebetulnya kami ingin ceburkan kau ke dalam su-ngai, Tetapi saudari-saudariku mengusulkan supaya diberi air teh saja, untuk diminumnya karena kau seorang yang baik, dan tak harus mati konyol!"

Bee Kun Bu menjadi marah. Dengan kedua mata terbelalak, i? mengawasi wanita itu. Lalu ia tertawa gelak- gelak.

"Apakah yang membikin kau tertawa? Apakah kau betul- betul berani menolak minum air teh ini?" tegur wanita itu.

"Saudari-saudarimu orang baik!" kata Bee Kun Bu. "Betul!" kata wanita itu, "Dan mereka semuanya cantik

jelita."

"Tolong beritahukan mereka bahwa aku menolak minum air teh itu," kata Bee Kun Bu. "Siapakah pemimpinmu itu?

Beritahukan dia bahwa aku menolak minum air teh itu!"

"Kau berani menolak? Dan kau berani menantang kepada pemimpin kami? Apakah kau ingin mati konyol?" tanya wanita itu,

"Sekali kukata tidak minum, aku tetap tidak minum!" jawab Bee Kun Bu dengan suara tetap,

"Jadi kau lebih suka diceburkan ke dalam sungai agar mati konyol?" kata wanita itu, "Aku tidak cukup berani menyebur ke dalam sungai, Aku terpaksa harus minta kalian semua menceburkan aku!" kata Bee Kun Bu dengan menantang.

"O! sekarang aku tahu, kau juga bukan seorang baik," kata wanita itu, "Kau ingin melihat pemimpin kami yang cantik jelita, maka kau ingin dia yang datang menceburkan kau!"

Melihat sikap yang kepala batu dari wanita itu, Bee Kun Bu menjadi ingin mengetahui siapa pemimpin wanita-wanita itu,

Sambil tersenyum wanita itu menanya: "Coba lihat kepadaku apakah aku ini cantik?"

"Kau cantik, tetapi mengapa kau tak bersepatu?" kata Bee Kun Bu.

Waivta itu tereengang, lalu menanya: "Apakah dengan tak bersepatu kau anggap kurang pantas? Di rumah kami, kami dapat dikatakan tidak berpakaian, karena pakaian itu hanya menghambat gerak-gerik kami."

"Di manakah rumahmu?" tanya Bee Kun Bu.

Baru saja wanita itu ingin menyahut, tiba-tiba terdengar suara kim (alat musik Tionghua kuno, semacam gitar), Wanita itu mendengar suara alat musik itu, ia terkejut Dengan tergesa-gesa ia memaksa: "Ayo! Kau lekas minum air teh ini. Jika tidak, aku akan dimaki!"

Bee Kun Bu terperanjat Pikirnya: "Betul-betuldogol gadis ini, Dia tak mengerti jawabanku, Apakah dia kira aku demikian tolol untuk dipaksa minum air teh itu untuk membunuh diri?"

ia mengawasi gadis itu yang berlinangkan air mata, hatinya merasa kasihan, Lalu wanita itu menyodorkan nampan ke mukanya Bee Kun Bu, dan tangan kanannya secepat kilat coba mencengkeram pergelangan tangan kanannya Bee Kun Bu.

Dengan terkejut Bee Kun Bu loncat ke belakang dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Po atau Langkah ajaib, dan berhasil menghindarkan cengkeraman itu. Si gadis terkejut menyaksikan lihaynya Bee Kun Bu, tapi ia terus menyerang dan Bee Kun Bu dapat mengegos lagi dengan ilmu langkah ajaibnya, Begitu juga serangan ketiga dapat dikelitnya, Gadis itu menyerang dengan mengirim jotosan beruntun lima kali, karena setelah yakin ia tak dapat menangkap Bee Kun Bu, ia menyerang dengan maksud melukakan dan membikin lawannya tak berdaya. Maka kelihatan lengan bajunya yang putih berkibar melambai seolah-oleh kupu-kupu beterbangan diantara bunga-bunga,

Serangan-serangan itu sangat cepat, beruntung sekali Bee Kun Bu telah pahami ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu yang Pek Yun Hui ajarkan kepadanya, Berkat ilmu itu ia dapat mengegos dan mengelit semua serangan-serangan meskipun ia berada di tempat yang kecil dan sempit.

sementara itu perahu berlayar sangat pesatnya, Si gadis menyerang, tetapi Bee Kun Bu hanya mengegos, mengelit dan berusaha menghindari serangan ^serangan lawannya, Yang luar biasa adalah nampan yang dipegang si gadis dengan tangan kirinya tidak jatuh meskipun ia menyerang dengan keras dan lancar dengan tangan kanannya.

Sekonyong-konyong suara alat musik berbunyi lagi dengan nyaring sekali Si gadis berhenti menyerang, dan Bee Kun Bu juga berhenti menjaga diri. Tetapi dengan tak terduga gadis itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menyabet Bee Kun Bu dengan kaki nya. Bee Kun Bu tidak waspada, hampir saja ia disapu jatuh!

Bee Kun Bu menjadi murka, ia mulai menyerang dengan mengirim tinju kanannya, Tapi gadis itu loncat mundur, dan lari keluar dari kamar perahu itu!

Sambil pegangi UJung gagang pedangnya, Bee Kun Bu mengejar Di luar keempat gadis tadi telah berdiri siap mengurung padanya, gadis yang lari tadi masih tetap memegangi nampan, sambil berdiri tegak megawasi padanya,

Begitu lekas Bee Kun Bu keluar, ia lantas disambut dengan serangan berbareng oleh kelima gadis itu dari kiri dan kanan, dan mereka berusaha menotok jalan-jalan darahnya Bee Kun Bu.

Serangan-serangan mereka itu cepat sekali, dan Bee Kun Bu tak keburu menangkis, ia terpaksa loncat mundur ke belakang, dan kembali ke dalam kamar perahu nya.

Gadis-gadis itu tidak mengejar Mereka menunggu di luar, seolah-olah Bee Kun Bu tertawan di dalam kamar perahu itu, tak dapat keluar

Dengan marah Bee Kun Bu berteriak: "Hei! sebetulnya kalian ingin berbuat apa terhadap aku?" pertanyaan itu tidak dapat jawaban. Bee Kun Bu menanya lagi dengan suara yang keras: "Jika kalian masih juga merintang-rintangi aku, jangan salahkan aku jika aku harus bertempur dengan sungguh- sungguh melawan kalian semua!"

Tetapi ancaman itu tidak dihiraukan. Bee Kun Bu loncat keluar dengan marah sekali, Lalu dengan jurus Lo Han Su Pik atau Pendeta menyodok hebat, tangan kirinya menyapu, dan dengan jurus Hui Pa Tang Ceng atau GanduIan besi memukul lonceng, tangan kanannya menyerang semua gadis-gadis itu, ia menyerang dengan mengerahkan semua tenaganya, dan bukan main dahsyatnya serangan-serangan itu.

Gadis-gadis itu terperanjat dan dengan semua kepandaian nya, mereka berusaha mengegos, mengelit menghindarkan diri dari serangan-serangan itu sambil mencari kesempatan mengirim jotosan dan menyapu dengan kaki masing-masing sehingga Bee Kun Bu terdesak lagi dan harus masuk lagi ke dalam kamar perahu. Ketika ia loncat keluar lagi, ia menyerang dengan jurus Yun Liong Pen Bu atau Naga Putih Menyembur Buyar Awan dan Kabut, Jurus tersebut adalah keistimewaan dari ilmu tinju Sa Cap Lak Sut Thian Kong Ciang atau ilmu pukulan menyerang lawan dengan tiga puluh enam jurusan, dan bukan main dahsyatnya.

Lagi pula serangan itu dilancarkan dengan tenaga dalam, sehingga gadis-gadis itu tak ada yang berani menangkis, Mereka hanya loncat mundur, dan memberi kesempatan bagi Bee Kun Bu berdiri leluasa di atas lantai perahu itu Kemudian dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu ia bikin terpencar semua gadis-gadis itu yang berusaha menyerang padanya.

Berkat jurus Ngo Heng Bi Cong Pu ia dapat menghindarkan semua serangan-serangan yang serentak dari gadis-gadis itu, dan juga dapat mengirim tinjunya, dan untuk sekian lamanya Bee Kun Bu masih berada di atas angin meskipun pertempuran telah berlangsung lebih kurang seratus jurus, Lalui gadis yang tertua berseru: "Saudara-saudara, berhenti bertempur! Kita yang beramai-ramai mengerubuti seorang, dia senantiasa dapat menangkis atau menghindarkan serangan kita, Dia itu lihay ilmu silat nya. Kita harus waspada!" 

Lalu yang termuda berkata: "Jika kita tak dapat gempur dia, lebih baik kita beritahukan kepada pemimpin kita!"

Baru saja kata-kata itu selesai, diucapkan lalu terdengar suara wanita yang nyaring berkata: "Kalian tak dapat menyerang dia, karena dia menggunakan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu!"

Bee Kun Bu terkejut Selama setengah tahun belakangan ini ia berhasil membebaskan diri dari bahaya-bahaya atau rintangan-rintangan dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu, dan selama itu tak seorang pun mengetahui ilmu apakah yang ia telah gunakan, Kini ia mendengar orang itu memberitahukan tentang ilmu langkah ajatbnya, maka ia terkejut

ia menoleh ke arah orang yang berseru tadi, dan di depannya, lebih kurang sedepa jauhnya ia tampak seorang gadis yang luar biasa cantiknya, mengenakan pakaian putih, memakai selendang biru dan sepatu sutera, Dia berdiri tegak, dan sikapnya sangat tenang, Semua gadis bertindak mundur ketika melihat padanya dan setelah memberi hormat dengan mengangkat kedua ta-ngan, semuanya berdiri tegak di kedua sampingnya, Bee Kun Bu bertindak maju, dan memberi hormat, lalu berkata: "Aku bernama Bee Kun Bu. Karena aku ingin lekas- Iekas pergi ke kota Ka Teng, maka aku telah naik perahu Siocia, Dengan kelancangan yang aku tidak sengaja ini aku mohon Siocia dapat memaafkannya."

Gadis yang rupanya menjadi pemimpin itu menanyai "Hm! siapakah yang ajarkan kau ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu itu?"

"Seorang kawan," jawab Bee Kun Bu.

"Melihat cara kau menggunakan Ngo Heng Bi Cong Pu, aku yakin ilmu silatmu tinggi, Semua mereka ini bukan tandinganmu Aku juga yakin bahwa kau seorang yang berwatak luhur, Meskipun mereka terus menerus menyerang kau selama lebih kurang seratus jurus, tapi kau senantiasa mengelak atau mengelit, dengan tidak membalas menyerang kau tidak berniat melupakan merekah

Bee Kun Bu mendengarkan dengan penuh perhatian dan ia sendiri merasa heran, bahwa setelah pertempuran berlangsung hampir seratus jurus, ia masih tidak mengetahui jurus-jurus apa yang mereka lancarkan.

Pemimpin itu lalu berkata lagi: "Kau seorang baik, dan sebetulnya aku tak harus merintangi kau lagi. Tetapi ibuku pernah mengatakan bahwa tidak ada seorang laki-laki yang baik. Mereka semuanya hanya baik di luarnya, tetapi busuk hatinya, Maka kau juga bukan seorang baik, Bee Kun Bu tak tahan untuk tidak tertawa mendengar alasan yang tak masuk akal itu. Tapi ia lantas dibentak oleh gadis itu. "Apa yang kau tertawakan? itu adalah ucapan ibuku, dan aku pereaya dia tak akan keliru!

Pemimpin itu menjadi merah mukanya, dan air matanya berlinang selagi ia menyahut: "lbuku telah meninggal dunia, Meskipun dia masih hidup, dia tak akan sudi menjumpai kau."

"Mengapa?" tanya Bee Kun Bu.

"lbuku paling benci orang laki-laki," kata pemimpin itu. "Oleh karena itu, ketika dia hendak menutup mata, dia telah memesan kepadaku, jika aku sukai seorang laki-laki, maka laki-laki itu aku harus bunuh mati," perkataan itu diucapkan dengan tenang, dan suara yang tetap.

Bee Kun Bu terperanjat mendengar keterangan itu, Lalu ia berkata: "Aku baru saja berjumpa dengan Siocia, dan aku yakin kita tak dapat bicara tentang urusan suka atau tidak suka, Karena aku harus lekas-lekas sampai ke kota Ka Teng, maka aku telah naik perahu Siocia, Jika aku mengetahui lebih dulu bahwa Siocia benci orang laki-laki, aku lebih suka bertunggang kuda, aku tentu tidak berani naik perahu ini."

Pemimpin itu diam sejenak, lalu berkata dengan tertawa di paksa: "Aku tidak katakan bahwa aku harus membunuh kau, tetapi aku tak dapat lupakan pesan ibuku." ia diam berpikir

Bee Kun Bu sangat tertarik dan hormati gadis yang cantik dan sikapnya yang agung itu. sekonyong-konyong gadis itu berkata dengan suara keras: Tidak! Aku tidak bunuh mati kau, karena aku tidak suka kau!"

Tapi Bee Kun Bu menjadi murka, ia membentak: "Maksud apa sebenarnya yang kau kandung? Seorang satria tak dapat dihina, tetapi dapat dibunuh Tentang soal mati atau hidup, bagiku ada urusan kecil, tetapi aku tak sudi dihina!"

pemimpin itu menarik napas panjang, lalu berkata: "Sebetulnya aku tak ingin menyinggung kau lagi, tetapi aku tak dapat lupakan pesan ibuku, Di waktu ibuku menutup mata, keadaannya sangat memilukan hati. " Gadis itu tidak

meneruskan kata-katanya ia memegangi dadanya untuk menahan kesedihannya. ia pejamkan kedua matanya dan berusaha menahan mengucurnya air matanya, Tetapi air matanya tak tertahan mengalir keluar dan membasahi pakaian nya.

Setelah berselang lama juga ia baru buka kedua matanya, dan dengan terharu ia meneruskan sambil menyeka air matanya: "Aku telah memberitahukan kepada roh ibuku bahwa jika kau dapat menahan satu laguku, aku tak akan menghalang-halangi kau lagi." Mendengar keterangan itu, Bee Kun Bu menjadi t heran bereampur bingung melihat sikap gadis yang aneh itu. Tapi ia berkata: "Aku berterima kasih atas penghargaan Siocia, kepadaku, Aku suka mendengar lagu itu, Hanya aku khawatir aku tak paham akan lagu."

"Kau jangan takut," kata gadis itu, "Aku akan memperdengarkan lagu yang bersemangat keramahan." Lalu ia berbalik dan masuk ke kamarnya, diikuti oleh semua gadis- gadis lainnya,

Bee Kun Bu menarik napas lega, ia berdiri mengawasi arus air sungai yang deras, Pua tukang perahu yang berdiri memegang kemudi berdiri seperti orang ketakutan karena perahu telah berlayar menuju ke jalan sungai yang lebih luas dan lebar, karena dua cabang sungai telah mengalir ke satu sungai sehingga arusnya semakin deras.

"Melihat sikapnya gadis pemimpin tadi dia rupanya tak paham ilmu silaL Tetapi jika aku lihat ilmu silat saudari- saudarinya, aku yakin bahwa ilmu silatnya tinggi sekali Tetapi mengapa dia ingin aku mendengar lagu yang akan ia mainkan dengan alat musiknya? Apakah lagu itu mempengaruhi aku?"

Kemudian ia teringat akan lagu dari serulingnya Giok Siu Sian Cu yang dapat mempengaruhi orang lain, Ketika itu terdengar suaranya alat musik mulai dipetik, dan suara itu demikian menggetar sehingga Bee Kun Bu merasa bahwa jantungnya berdebar-debar hebat sekali, perahu itu pun tiba- tiba tergoncang, karena kedua tukang perahu yang memegang kemudi juga telah dipengaruhi oleh lagu itu, mereka tak tetap mengemudikannya sehingga perahu itu bergeser dari j urusannya.

Bee Kun Bu loncat keluar dari kamar perahunya, dan berteriak: "Siocia, harap kau tidak meneruskan lagu itu!" ia jalan menghampiri kamarnya si gadis pemimpin itu, segera kedua gadis membuka kerei yang menutupi kamar perahu dan mempersilahkan Bee Kun Bu masuk, ia melihat bahwa gadis pemimpin itu sedang mainkan gitarnya sambil duduk di sebuah kursi kecil, dan dua gadis berdiri di kedua sampingnya.

Bee Kun Bu mengangkat kedua tangannya memberi hormat seraya berkata: "Aku minta Siocia tidak mainkan lagu itu."

"Mengapa? Apakah kau takut mendengarnya. tanya si gadis,

"Meskipun aku takut mendengarnya, bagiku tidak menjadi soal," kata Bee Kun Bu, Tetapi pengaruhnya suara dari alat musik itu besar sekali terhadap tukang-tukang perahu, sekarang perahu sedang berlayar di tempat yang airnya deras, jika tukang-tukang perahu yang mengemudikan perahu ini lupa akan dirinya, aku khawatir perahu ini akan menabrak karang dan tenggelam, dan kita semua akan binasa di dalam sungai ini!"

"Hm! Kau takut mati binasa di dalam sungai ini?" tanya gadis pemimpin itu.

"Aku telah katakan, bagiku mati atau hidup tidak menjadi soal, tetapi bagaimana terhadap kau dan saudari-saudari lainnya?" kata Bee Kun Bu sambil menunjuk ke arah gadis- gadis lainnya,

Tetapi aku tak takut mati kelelep di dalam sungai ! ini!" kata si gadis pemimpin dengan ketus.

Bee Kun Bu pun menjadi bisu, Lalu kedua gadis yang berdiri di sampingnya berjalan keluar dari kamar perahu itu.

Selang tak lama seorang gadis yang termuda masuk lagi dan bisik-bisik di kupingnya si gadis pemimpin yang segera mengangguk dan berkata sambil tersenyum: "Aku telah suruh mereka menotok jalan-jalan darahnya tukang-tukang perahu itu, sekarang mereka telah tak berdaya lagi, Dua saudari- saudariku kini memegang kemudi, dan perahu tak akan menabrak karang atau tenggelam." Bee Kun Bu telah melihat banyak alat musik semacam itu, tapi kepunyaan pemimpin itu mengherankan ia, karena bukan dibuat dari kayu atau logam, tetapi terbuat dari batu Giok, dengan ukiran-ukirannya yang indah. ia mengawasi kim itu dengan penuh kekaguman, maka gadis pemimpin itu menegur: "Apa yang kau awasi? Kim ini adalah milik ibuku, dia sering memainkannya semasa hidupnya."

Bee Kun Bu teringat akan Pek Yun Hui ketika memetik kim di tengah telaga Po Yang Auw. sebetulnya ia ingin menanya tentang alat musik itu, tetapi si gadis pemimpin sudah mulai memetik tali gitarnya sambit memejamkan kedua matanya.

Lagu yang dimainkan merayu kan sukma dan men-debar- debarkan hatt, dan Bee Kun Bu berdiri terpaku mendengarkan lagu itu, Hanya di dalam waktu beberapa menit saja keringat mengucur keluar dari seluruh tu-buhnya, dan kemudian ia tak tahan berdiri lagi, Sambil menjerit ia loncat keluar dari kamar perahu itu. Meskipun kedua gadis di depan kamar coba menghalanginya tetapi ia masih juga loncat keluar

Perahu berlayar sangat lajunya, dan Bee Kun Bu berusaha melawan pengaruh suara yang keluar dari gitar itu dengan berlari-larian di atas lantai perahu bagaikan orang yang hilang ingatan, Si gadis pemimpin juga keluar menyaksikan akibat dari lagu girangnya, Bee Kun Bu merasa sangat sedih dan putus asa, ia seolah-olah ingin menceburkan diri ke dalam sungai untuk membunuh diri, tetapi si gadis pemimpin memetik tali gitarnya tiga kali, dan nada yang keluar dari tali tersebut menahan kehendak Bee Kun Bu, karena nada itu seperti juga suaranya seorang ibu memanggil putera kesayangannya, Bee Kun Bu berbalik dan berdiri menghadapi si gadis pemimpin itu.

Air matanya berlinang di kedua matanya gadis itu, Dan dadanya berombak-ombak, Gadis itu berhenti memetik alat musiknya dan berdiri mengawasi Bee Kun Bu dengan wajah yang muram Bee Kun Bu datang menghampiri. Lalu si gadis berkata: "Kau pasti membenci aku, betulkah? Akupun tak mengetahui bahwa kau telah menderita luka-Iuka di dalam tubuh karena suara kim itu. Ayo kau ikut aku masuk ke dalam kamar perahu agar aku dapat mengobati

Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya Bee Kun Bu berkata: "Terima kasih, Aku Bee Kun Bu tak mau membikin kau pusing soal hidup atau matiku, tak usah mengobati aku, aku hanya minta Siocia masuk ke dalam kamar, dan perkenankan aku naik perahu ini sampai di kota Ka Teng.

Nanti setelah aku mendarat di Ka Teng, aku akan menghaturkan terima kasih lagi."

Tiba-tiba si gadis pemimpin itu memejamkan kedua matanya, dan memegang erat-erat kedua tangannya Bee Kun Bu setelah ia letakkan gitarnya di atas lantai perahu, Lalu dengan kepala mendongak ke langit ia berseni: "lbu! Anak tak dapat lupakan pesan ibu. Aku tak dapat menyukai pria yang manapun selama hidupku, Tetapi lagu yang aku telah mainkan tadi yakni lagu "Mi Cin Li Hun" atau "Menyesatkan pikiran dan mengusir roh telah melukai orang, dan aku harus mengobati dia. Aku tidak menyukai ia, tapi aku tak dapat membikin dia mati, Aku harus mengobati dia!"

Kemudian ia buka kedua matanya dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Aku telah beritahukan kepada roh ibuku bahwa aku harus mengobati kau, dan kau tak usah t khawatir lagi!"

Bee Kun Bu coba kerahkan tenaga dalamnya, dan ia terkejut, karena semua tenaga dalamnya ternyata telah lenyap, segera ia merasakan dadanya menyesak, jantungnya berdebar-debar keras, dan kaki tangannya menjadi lemas, ia yakin bahwa ia terluka di dalam, dan ia khawatir jika tak lekas- lekas diobati, ia akan menjadi seorang cacad. Ketika ia coba menahan pengaruh daripada lagu tadi, ia telah menggunakan tenaga dalamnya sehingga darahnya beredar lebih lancar Tetapi setelah usahanya tidak berhasil darahnya tersumbat di beberapa jalan-jalan darahnya dan ia menjadi lemas tak bertenaga. pengobatan harus segera dilakukan atau ia akan menjadi seorang cacad. Setelah mendengar kata-kata gadis pemimpin ilu, ia berpikir "Jika aku tidak menerima tawarannya mengobati aku, mungkin aku tak dapat bergerak lagi setibanya di kota Ka Teng, Ya! Apa boleh buat!" lalu ia jalan masuk ke dalam kamar gadis itu.

Ia disuruh duduk bersila, lalu disuruh menuruti mengucapkan jampe, Setelah lewat seperempat jam, ia merasa # napasnya banyak lebih tega, Di waktu ia mengobati, gadis pemimpin itu didampingi oleh gadis-gadis lain,

Bee Kun Bu buka kedua matanya dan tampak si gadis pemimpin duduk termenung menghadapi jendela perahu, memandang keluar ia menegur: "Siocia, terima kasih. Aku merasa banyak baikan."

Si gadis pemimpin tersenyum. "Aku harus mengobati kau dua kali lagi, dan kau akan sembuh betul," kata gadis itu.

Bee Kun Bu hanya mengangguk

"Aku yakin bahwa lagu dari gitarku dapat melukakan kau, Tetapi aku tak mengira luka itu hebat sekali Jika aku mengetahui akibatnya, aku tak akan melukakan kau cara demikian," kata si gadis pemimpin, lalu ia menarik napas panjang,

Bee Kun Bu mengawasi sambit mendengarkan dengan penuh perhatian, ia masih ragu-ragu akan kejujurannya gadis itu.

Kemudian si gadis pemimpin menyuruh seorang gadis yang lebih muda mengambil satu dos obat Dari dos obat itu, ia ambil dua butir pil obat berwarna merah, ia berikan pil obat itu kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Pil obat ini adalah dari pegunungan-pegunungan dan pantai-pantai telaga, Dia mengatakan bahwa pil obat ini, disamping dapat menyembuhkan segala luka-luka di dalam tubuh, juga dapat menambah tenaga, Aku telah melukai kau, aku mengganti kerugian dengan memberikan kau dua pil obat yang mustajab ini." Lalu ia mengambil secangkir air teh dan disuruhnya Bee Kun Bu telan pil obat itu,

sebetulnya Bee Kun Bu masih curiga, tetapi setelah melihat wajah gadis itu, ia sambuti dua pil obat itu sambil berkata: Terima kasih, Tetapi aku belum ingin makan sekarang Biarlah aku simpan baik-baik."

Ketika itu Bee Kun Bu kebetulan melihat isi daripada dos obat tadi Disamping beberapa kitab kecil, dan pada atas kulit kitab tertulis Kui Goan Pit Cek, Buku ajaib yang telah diburu, dikejar, dibuat perebutan oleh para jago-jago silat di kalangan Bu Lim dengan tak disangka berada di depan matanya!

Bukankah karena kitab Kui Goan Pit Cek itu, banyak jago-jago silat telah menjadi korban? ia hampir tak pereaya akan penglihatannya, ia buka matanya lebar-Iebar dan melihat lagi!

Melihat sikapnya Bee Kun Bu yang demikian itu, si gadis berkata sambil tersenyum: "Sebelum ibuku meninggal dunia, dia hanya mewarisi lima butir pil obat ini. Aku telah berikan kau dua butir, kini hanya ketinggalan tiga butir lagi."

Bee Kun Bu hanya berseru: "O!" ia angkat kedua tangannya memberikan hormat, lalu jalan masuk ke kamarnya, ia tidak mendengar jelas kata-kata gadis itu, karena ia dibikin bingung oleh kitab Kui Goan Pit Cek di dalam dos obat tadi.

-ooo0ooo-

Pergi ke kuil Ban Hut di pegunungan Ngo Bie San mencari guru

Ya, kitab Kui Goan Pit Cek tersebut telah memakan ratusan, bahkan ribuan jago-jago silat selama tiga ratus tahun belakangan ini, dan telah menimbulkan gelombang hebat di kalangan Bu Lim.

Dengan diam-diam ia berjalan masuk ke dalam ka-marnya, dan berusaha menenangkan perasaannya, tetapi hatinya tetap tak tenang. Gaya tarik kitab Kui Goan Pit Cek itu hebat sekali, Meskipun ia belum mempunyai jalan memperoleh kitab itu, tetapi ia sedang memikirkan dengan jalan apa ia bisa memperolehnya, Berkali-kali ia bangun dan hendak pergi menanya gadis pemimpin tentang kitab itu, tetapi untuk sekian kalinya ia mundur lagi. ia memikirnya hendak meminjam kitab itu, tetapi ia mundur maju akan akhirnya ia kembali lagi ke dalam kamarnya,

Kemudian seorang gadis yang termuda datang masuk ke dalam kamarnya dengan wajah berseri-seri. ia menghampiri Bee Kun Bu dengan sikap yang wajar ia pegang tangannya Bee Kun Bu dan diseretnya sambil berkata: "Ayo, ikut aku, pemimpin kami ingin bicara dengan kau!"

Bee Kun Bu terperanjat menyaksikan sikap yang berani dari gadis yang muda belia itu, dan ia menanyai "la ingin bicara apa?"

Si gadis hanya membetot tangannya Bee Kun Bu, dan berkata: "Aku hanya disuruh memanggil kau, Apa yang hendak dibicarakan aku tidak mengetahui

"Baiklah!" kata Bee Kun Bu.

Si gadis itu berkata sambit menghela napas: "Sebelum guru kami meninggal dunia, ia paling benci orang laki-laki, dan pemimpin kami sekarang pun benci laki-Iaki.

Bee Kun Bu berpikir " Apakah gadis pemimpin itu berubah pikiran? Atau dia ingin menceburkan aku ke dalam sungai?"

Sambil berjalan gadis itu menanyai "Apakah kau mengetahui namaku?"

Bee Kun Bu menggelengkan kepala dan menjawab: "Aku tak tahu."

Si gadis berkata sambil tersenyum: "Kami semua mengenakan pakaian putih, apakah kau tahu sebabnya?"

"Soal itu aku pun tidak tahu," kata Bee Kun Bu. "Kau ini orang bodoh! Semua kau tidak tahu!" kata si gadis.

Bee Kun Bu tidak menyahut dan juga tidak tersinggung dikatakan bodoh.

Lalu si gadis berkata: "Maaf, jika aku kata kau bodoh. sebetulnya aku yang salah, Jika aku tidak memberitahukan kau, kau tidak mengetahui

Bee Kun Bu tersenyum, dan berkata: "Kalian sebetulnya dari mana? Kalian pergi ke kota Ka Teng untuk urusan apakah?"

"Kami datang dari lembah Peh Hua Hok, dan kemana kami akan pergi, kami tidak tahu. jika kau ingin mengetahui, sebentar kau tanya pemimpin kami," kata si gadis,

Bee Kun Bu mengerutkan kening, dan menanya lagi: "Lembah Pek Hua Mok itu dimana letaknya?"

"Lembah itu cantik permai pemandangannya dengan daun- daun pohon yang rindang, rumput yang hijau dan segar, bunga-bunga yang beraneka warna, kelinci-kelinci yang berlarian, kupu-kupu yang beterbangan, dan telaga yang bening airnya," kata si gadis.

Mereka lekas juga tiba di kamar si pemimpin, dan si gadis pemimpin itu sedang duduk termenung memegangi gitarnya.

"Kakak, dia telah datang!" kata gadis yang membawa datang Bee Kun Bu itu.

Si gadis pemimpin mengangkat muka dan tersenyum, "Sebetulnya aku tak ingin menyusahkan kau lagi. Tetapi

ada suatu urusan yang aku ingin tanya kau, Apakah kau sudi menjawabnya?" tanya gadis pemimpin itu.

Bee Kun Bu menyahut: "Sebutlah urusan apa. Jika aku tahu, aku tentu dapat menjawabnya."

"Di manakah letaknya pegunungan Koat Cong San?" Pegunungan Koat Cong San jauh dari sini, letaknya di sebelah timur dari propinsi Cekiang, Kalian bisa pergi ke sana dengan perahu ini mengambil jalan menuju ke kota Cinkang, lalu mendarat untuk pergi ke pegunungan itu," jawab Bee Kun Bu.

Apakah kau pernah pergi ke pegunungan itu ?" tanya si gadis pemimpin

Bee Kun Bu mengangguk "Sudah pernah pergi dua kati," katanya

"Jika demikian, kau tentu mengetahui tentang lembah Pek Yun yang sempit," kata si gadis pemimpin dengan wajah berseri-fteri.

Bee Kun Bu terkejut, dan ia berpikir "Pada setengah tahun berselang ketika aku mengantar Pek Yun Hufke sebelah timur propinsi Cekiang untuk berobat, aku pernah dengar dia mengatakan bahwa dia tinggal berdiam di lembah Pek Yun yang sempit itu. Urusan penting apakah gadis ini punyai yang memerlukan dia pergi ke lembah Pek Yun? Aku ingin mengetahui seluk beluknya," Lalu ia menanya: "Menurut penglihatanku, Siocia dan Siocia-siocia lainnya tidak mirip orang-orang yang biasa berkelana, sebetulnya dengan maksud apa kalian hendak pergi ke pegunungan itu?"

Si gadis pemimpin menarik napas panjang lalu berkata: "Aku menjadi besar di dalam lembah Pek Hua Hok, dan tahun ini aku berusia tujuh belas tahun, selama itu aku belum pernah meninggalkan lembah Pek Hua Hok, Ketika ibuku hampir meninggal dunia, ia berkata kepadaku bahwa aku harus pergi ke pegunungan Koat Cong San untuk menjumpai seseorang. itu adalah pesan ibuku yang aku harus melaksanakannya."

"Siapakah gerangan yang kau hendak jumpai di Koat Cong San itu?" tanya Bee Kun Bu.

Dengan senyuman yang terpaksa si gadis pemimpin menjawab: "Aku harus menjumpai seorang she Tio, tetapi aku tak tahu namanya, ibuku pernah melukiskan wajahnya, jika aku lihat orang itu, aku dapat mengenalinya."

Dengan tak tertahan air matanya mengucur keluar dari kedua matanya gadis itu, "Ketika ibuku meninggal dunia dia suruh aku pergi ke pegunungan Koat Cong San dan mencari orang itu di lembah Pek Yun, dan mainkan beberapa lagu dengan kim ini untuk dia mendengarnya!"

Bee Kun Bu tereengang dan berkata: "Gitarmu itu mempunyai pengaruh suara yang luar biasa. Mustahil kau dapat memetik dengan sesukanya untuk orang lain men- dengar?"

Dengan khidmat gadis itu berkata: itulah pesan ibuku, Mengapa aku harus mainkan gitar ini untuk didengar oleh orang itu, aku tak mengetahui Tetapi barusan aku telah mainkan suatu lagu untuk kau mendengar dan aku telah menyaksikan dengan kepala mata sendiri akibatnya terhadap kau. Aku kira aku mulai mengerti maksud daripada ibuku!"

"Maksud apa itu?" desak Bee Kun Bu.

ibuku tentu sangat benci orang itu, dan dia menghendaki aku mainkan gitar ini untuk melukai dia!" jawab gadis itu.

Bee Kun Bu mengangguk dan berkata: "Hm! Untuk membikin dia menderita dan terluka, mungkin juga membinasakan dia!"

"Oleh karena itu, aku sekarang merasa serba salah, Apakah aku harus mencari orang itu atau jangan? Semenjak kecil aku diajarkan ibuku memainkan gitar ini, dan ketika itu akupun tak mengetahui akibat dari lagu-lagu yang aku mainkan, Aku telah mempelajarinya dengan tekun, Ketika aku menjadi dewasa, aku lihat kitab Kui Goan Pit Cek, dan aku baru mengerti bahwa lagu-lagu yang aku dapat mainkan banyak guna nya. sebelumnya aku masih tidak pereaya akan manfaat daripada lagu-lagu itu, tetapi setelah melihat kau terluka, aku insyaf akan kebenaran uraian di dalam kitab Kui Goan Pit Cek itu."

Bee Kun Bu merasa gembira, karena gadis itu me- nyinggung-nyinggung soal kitab Kui Goan Pit Cek. ia terus menanya: Tetapi mengapa lagu-lagu yang kau mainkan tak dapat mempengaruhi kau sendiri?"

Si gadis sambil tersenyum berkata: "Di dalam kitab" Kui Goan Pit Cek tertulis ilmu Toa Pan Yok Hian Kong atau ilmu ajaib membikin diri menjadi kebal, Dengan memahami itu aku tak dapat dipengaruhi kata gadis itu,

Bee Kun Bu terpaku mendengar penuturan itu, ia berpikir "llmu Toa Pan Yok Hian Kong itu betul-betul sakti, dengan ilmu itu orang dapat mengatasi segala sihir dan sebagainya."

Melihat sikap yang ganjil dari Bee Kun Bu, si gadis tersenyum dan berkata: "Mengapa kau bersikap seperti seorang dungu?"

Bee Kun Bu tersadar dari lamunannya, ia tersenyum, "Bagaimanakah jika aku minta kau menolong aku tentang

suatu urusan?" tanya si gadis.

"Siocia telah memperoleh kitab Kui Goan Pit Cek, dan aku yakin bahwa sedikit sekali jago-jago silat dapat menandingi kau jika kau telah dapat pahami ilmu-ilmu yang tertera di dalam kitab ajaib itu, Aku tak mengerti mengapa kau masih minta pertolonganku."

Dengan mengawasi wajahnya Bee Kun Bu si gadis menjelaskan dengan khidmat: "Semua ilmu-ilmu yang tertera di dalam kitab Kui Ooan Pit Cek itu aku telah dapat ucapkan satu persatu hurufnya, Tapj yang aku pelajari hanya ilmu Toa Pan Yok Hian Kong saja, dan mainkan gitar ajaibku."

Bee Kun Bu ingin mengatakan bahwa ia tak pereaya akan kata-kata itu, tapi ia tidak ingin menyinggung gadis itu dengan menyatakan isi hatinya, ia hanya tersenyum dan menanya lagi: "Disamping pergi ke pegunungan Koat Cong San untuk mencari orang itu, siocia ingin mencari siapa lagi?" ia menanya demikian karena ia khawatir jika ada sesuatu yang bersangkutan dengan Pek Yun Hui, penoIongnya,

Si gadis geleng-geleng kepalanya. Tidak. ibuku hanya suruh aku mencari orang she Tio itu seorang," jawabnya,

Bee Kun Bu masih belum merasa puas. ia menanya lagi: "Apakah kau mengenal seorang gadis she Pek?"

Si gadis menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku hanya mengenal ibuku dan gadis-gadis yang mengikuti aku ini. Dan aku sekarang kenal kau. Apakah kau bernama Bee Kun Bu?"

Bee Kun Bu terperanjat Dan heran mengapa si gadis pemimpin itu ketahui namanya? Dengan kedua mata terbelalak ia menanya: "Dari siapakah kau mengetahui namaku?"

Si gadis tertawa dan menjelaskan "Barusan kau telah dilukai karena mendengar lagu dari gitarku, Lalu aku menawarkan diri untuk mengobati luka-luka di dalam tubuhmu, tetapi mula-mula kau menolak-"

"Betul!" kata Bee Kun Bu.

"Setelah kau terluka karena gitarku, kau membenci aku," meneruskan si gadis itu, "Dan dengan congkak kau berkata: "Aku Bee Kun Bu tidak menghiraukan soal mati atau hidup!" Apakah itu bukan kau yang memberitahukan kepadaku!"

Bee Kun Bu tersenyum, sekarang ia ingat mengapa gadis itu mengetahui namanya, ia berpikir "At! Gadis ini betuIlbetul pintar dan cerdik, ia hanya belum pernah keluar dari tempat kediamannya yang terpencil maka ia kurang pengalaman Jika ia banyak berkecimpungan di kalangan Kang-ouw, dengan kepandaian yang telah di-punyai, dan dengan berlatih menurut petunjuk-petunjuk dari kitab Kui Goan Pit Cek, dia pasti menjadi seorang jago silat yang lihay sekali.

Guruku pernah mengatakan bahwa orang yang baru keluar dari rumah perguruan dan bertindak masuk di kalangan Kang- ouw, harus bertindak waspada, karena jika menjumpai orang yang jahat, kita dapat tersesat dan terjerumus di dalam jurang kemusnahan. Gadis ini masih hijau dalam pergaulan, dan tak mengetahui duri-duri di dalam dunia yang luas ini, dengan mudah dia bisa terpikat oleh orang yang jahat " Lalu ia

teringat akan saudara seperguruannya, Liong Giok Pin, yang telah terjerumus, dan ia bergidik memikirkan nasib Sucinya itu.

Melihat Bee Kun Bu melamun lagi, si gadis menegur. "Apakah yang kau bengongkan? Dengarlah kisahku ini.

Kami semuanya menjadi besar di dalam lembah Pek Hua Hok,

dan inilah untuk pertama kali kami keluar Oleh karena itu banyak urusan kami tidak mengerti pesan ibuku senantiasa kuingat di dalam otakku, ibuku benci semua orang laki-Iaki, tetapi setelah menjumpai kau, aku mulai. " ia tak meneruskan

ia segan mengucapkan kata-kata tentang perasaannya terhadap Bee Kun Bu. ia menanyai "Aku minta kau membawa kami pergi ke pegunungan Koat Cong San, apakah kau sudi?"

Bee Kun Bu menundukkan kepalanya ia berpikir agak lama. Ketika ia angkat kepalanya lagi, kedua mata yang jeli dari si gadis mengawasi ia dengan sikap yang merayu sukmanya, ia menarik napas, dan sambil geleng-geleng kepalanya ia menjawab: "Aku masih ada urusan yang penting belum diurus, Aku tak dapat menyertai kalian ke pegunungan itu. " ia tak dapat meneruskan kata-katanya itu. ia melengos

dan mengawasi air sungai yang mengalir deras,

Si gadis pemimpin itu tidak serupa Pek Yun Hui yang sikapnya agung, atau serupa Lie Ceng Loan yang selalu menimbulkan perasaan kasihan. Pek Yun Hui yang agung dan cantik jelita adalah laksana salju dan es. Lie Ceng Loan yang mungil dan polos serta menawan hati adalah laksana bunga haitang dihembus angin ketika hujan gerimis membasahi tanah. Tetapi gadis yang ia hadapi adalah laksana bunga teratai putih di tepi telaga yang luas. ia tampaknya suci murni tetapi mulia dan meriah, ia tak dapat menebak isi hatinya.

PenoIakan itu membikin si gadis duduk terpaku, Untuk beberapa saat ia tak bicara. ia terus mengawasi wajah dan sikapnya Bee Kun Bu, sehingga Bee Kun Bu menjadi serba salah, Kemudian Bee Kun Bu bertindak keluar dari kamar itu.

ia masuk lagi ke kamarnya, ia pejamkan kedua matanya untuk menentramkan hatinya, Tetapi hatinya tetap berdebar- debar, cemas akan keselamatannya gadis-gadis itu yang baru saja melangkah ke dalam kalangan Kang-ouw tanpa pengalaman apapun juga,

Bagaimanakah jika mereka menjumpai orang-orang yang jahat dan kejam? ia juga sangat khawatir tentang kitab Kui Goan Pit Cek jatuh ke tangan orang-orang jahat dan tak mengenal perikemanusiaan ia membayangkan yang runtuh di bawah tangan jago-jago silat yang tak mengenal perikemanusiaan yang berhasil merampas kitab Kui Goan Pit Cek itu.

Semua gambaran itu menegangkan ia. ia pun menyesal telah menolak menyertai mereka, Mungkin jika ia menyertainya, ia senantiasa dapat memberi petunjuk atau nasehat bila mereka bertindak keliru, dan terutama ia senantiasa dapat memperingatkan mereka menjaga baik-baik kitab Kui Goan Pit Cek agar tidak terjatuh ke dalam tangan penyamun atau perampok, atau jago-jago silat yang kejam dan jahat Tetapi berbareng ia pun membayangkan gurunya yang berada di dalam bahaya, Yang mana ia harus tolong dulu? ini membikin ia gelisah,

Perahu terus berlayar dengan pesat sekali, dan ketika perahu tiba di kota Ka Teng, hari sudah menjadi senja,

Bee Kun Bu loncat ke darat setelah menghaturkan terima kasih. Segera perahu berlayar terus, ia mengawasi perahu itu dengan harapan pada suatu hari ia dapat berjumpa lagi dengan si gadis pemimpin tadi atau gadis-gadis lainnya itu.

Wajah dari gadis pemimpin itu tetap terbayang-bayang di dalam pikirannya, dan ia memenangkan hal-hal yang terjadi selama ia berada di atas perahu. Demikianlah ia berdiri di tepi sungai dalam lamunan, dan ia tak mengetahui beberapa lama. ia melamun.

Angin menghembus agak keras, dan ia sadar dari lamunannya ia berseru: "Hei! Bee Kun Bu! Bee Kun Bu! Urusan penting belum beres!" ia pikir lagi keselamatan gurunya, ia bertindak maju, dan ketika ia membelok di suatu tikungan dari jalan ia melihat seorang Hweeshio beberapa depa jauhnya dari ia. Hweeshio itu memegang satu mangkok nasi terbuat dari tembaga, dan datang menghampiri ia dengan tindakan yang tergesa-gesa, lalu menubruk Bee Kun Bu!

Bee Kun Bu lekas-lekas mengegos, tetapi si Hweeshio menyambit ia dengan mangkuk nasi nya sambil tertawa.

Tempat nasi tersebut dapat memuat lima liter beras, dan angin daripadanya ketika dilontarkan ke arah tubuhnya Bee Kun Bu menghembus keras sekali Secepat kilat Bee Kun Bu menangkap tempat nasi dari tembaga itu dengan kedua tangannya.

Melihat cara Bee Kun Bu menangkap tempat nasinya yang beratnya lebih dari seratus kati demikian ringannya, si Hweeshio terkejut ia coba merebut kembali, tetapi Bee Kun Bu membentak: "Tahan! Taysu! Tangkap kembali milikmu!" Bentakan itu dibarengi dengan sambitan tempat nasi itu ke arah si Hweeshio.

Lemparan itu dilakukan dengan sekuat tenaga, dan segera dadanya Bee Kun Bu dirasakan sakit, dan darah keluar dari mulutnya,

SebetuInya, setelah ia terluka di atas perahu, ia belum sembuh betul, Sekarang ia mengerahkan banyak tenaga, maka luka-Iukanya menjadi hebat lagi,

Si Hweeshio menyanggapi miliknya, dan ketika melihat Bee Kun Bu keluar darah dari mulutnya, ia tertawa gelak-gelak dan berkata: "Ai! Anak kemarin, kau gegabah! Apakah kau kira tempat nasi ini enteng?"

Meskipun Bee Kun Bu seorang peramah, tetapi ia senantiasa tidak sudi dihina, Mendengar ejekan si Hweeshio, ia menjadi murka. ia tak menghiraukan luka-luka-nya, ia kata: "Aku dan Taysu tidak kenal mengenal, satu pada lain kita tak dapat bicara tentang soal budi atau dendam, Tetapi mengapa kau tanpa alasan menyambit aku dengan barang yang berat itu?"

Si Hweeshio masih tertawa, lalu ia menjawab: "Aku hanya ingin menguji silatmu! Tetapi jika kau tidak tahu diri dan tidak ingin lekas-lekas lari, aku khawatir jiwamu tak terjamin!" Lalu ia lari pergi dengan membawa tempat nasinya.

Bee Kun Bu merasa heran mengapa ia diganggu demikian rupa. Tetapi ketika melihat caranya Hweeshio " ,, itu berlari- larian, ia segera mengetahui bahwa Hweeshio itu sedang mabok arak.

ia merasa sakit di dadanya, ia teringat akan pil obat yang diberikan oleh si gadis pemimpin di atas perahu, ia ambil satu butir dan segera ditelannya, Ajaib sekali, sakitnya hilang! ia merasa kagum akan khasiat pil obat itu, dan ia merasa berterima kasih kepada si pemberinya, ia ingin menelan satu butir lagi, tetapi ia berpikir "Pil obat ini sangat mustajab Lebih baik aku simpan untuk keperluan lain kali."

Lalu ia mencari tempat yang sepi. ia duduk bersila, dan mengucapkan jampe menurut petunjuk si gadis pemimpin untuk menyembuhkan luka-luka di dalam tu-buhnya, Setelah ia merasa reda lagi, ia baru berangkat menuju ke pegunungan Ngo Bi San. ia masih saja khawatir akan keselamatan gurunya, maka dengan ilmu meringankan tubuh ia lari dengan pesatnya, pada waktu hampir fajar, ia telah tiba di suatu kuil Po Kok Si yang terletak dijalan untuk masuk ke pegunungan Ngo Bi San.

Setelah beristirahat sebentaran, ia meneruskan lagi perjalanannya, Karena ia pernah mengejar musuh untuk menolong Souw Hui Hong, dan pernah bertempur melawan banyak orang dari partai silat Ngo Bi, ia telah mengenal baik jalan ini, dan dapat menghemat banyak waktu,

Dengan cepat ia tiba di kaki gunung dengan puncaknya yang tinggi ia berhenti sejenak untuk menyelidiki keadaan di sekitarnya, dan kenali bahwa puncak itu adalah puncak Ban Hut Teng, dan di atas puncak tersebut kuil Ban Hut Si dari partai silat Ngo Bi terletak

Pada beberapa hari berselang, ia melarikan diri dari kuil itu, sekarang ia datang kembali ia mengetahui bahwa tiap-tiap Hweeshio dari kuil Ban Hut Si itu lihay silatnya,

Partai silat Ngo Bi sama terkenalnya seperti partai silat Kun Lun di kalangan Bu Lim. Pada beberapa hari berselang, karena menolong Souw Hui Hong, ia pernah menerjang masuk ke dalam kuil itu, dan setelah bertempur dengan dahsyat setengah malam dan menggunakan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu. ia berhasil menolong Souw Hui Hong dengan melewati semua rintangan rintangan dari Hweeshio di dalam kuil itu, Tetapi ia sendiri telah ditangkap oleh Tio Pan Toa-su, pemimpin kuil Ban Hut Si itu, dan telah disekap di dalam penjara yang dikitari oleh air.

sekarang ia datang kembali, ia yakin bahwa jika ia tertangkap pu!a, ia tak akan disekap di dalam penjara seperti du!u, akan tetapi ia pasti dibunuh mati, atau dibikin menjadi orang cacad seumur hidup,

Bahaya atau resiko yang ia harus ambil itu besar sekali, tapi demi keselamatan gurunya, dengan seorang diri ia datang kembali!

jurang yang ia harus lintasi lebih daripada tiga ribu kaki tingginya dan ia merasa letih setelah tiba di atas puncak, ia beristirahat sejenak, ia mengawasi keadaan di sekitarnya, dan bangunan kuil yang besar dan luas itu di dalam suasana yang sunyi senyap menakjubkan sekali Baru saja ia ingin bertindak maju, ia ingat bahwa ia harus berlaku waspada, "Apakah guruku berada di dalam kuil itu?" tanyanya seorang diri, "Jika aku menyelonong masuk, aku melanggar peraturan Bu Lim. Lebih baik aku masuk dengan terang-terangan, dan minta keterangan tentang jejak guruku, partai silat Ngo Bi adalah suatu partai yang besar, mereka pasti akan bertindak dengan seksama menurut peraturan Bu Lim pula."

Dengan keputusannya ia bertindak maju, Tiap-tiap ) terdengar suara orang mengejek: "Ai! Anak ini besar nyalinya! Apa kau tak takut mati?"

Ejekan itu disertai dengan loncat keluarnya seorang Hweeshio yang bertubuh tinggi besar, tangannya memegang tempat nasi dari tembaga, Hweeshio itu adalah Hweeshio yang Bee Kun Bu telah jumpai di dekat pinggir sungai tadi, Bee Kun Bu segera kenali ia, dan mengetahui bahwa ia dari kuil Ban Hut Si. Bee Kun Bu membungkukkan tubuhnya memberi hormat seraya berkata: "Aku adalah dari partai silat Kun Lun. "

"Aku tahu kau dari partai Kun Lun!" si Hweeshio berkata,

Si Hweeshio memperhatikan sikapnya Bee Kun Bu. ia yakin bahwa Bee Kun Bu tak dapat melawan ia, tetapi ia melihat bahwa Bee Kun Bu tidak gentar, ia merasa kagum. ia lempar tempat nasinya ke udara setinggi empat depa. Tempat nasi yang beratnya seratus kati lebih cepat jatuh kembali ke tanah, dan ditangkap dengan mudah sekali olehnya, Lalu ia berkata lagi: "Betul! Di dekat pinggir sungai Bin Kong, kita pernah berkenalan Dan aku pernah memperingatkan kau lebih baik lekas-Iekas berlalu, tetapi kini malah kau menyatroni kuilku!"

Melihat caranya Hweeshio itu menangkap tempat nasi yang berat itu, Bee Kun Bu terkejut Tetapi ia tetap tersenyum akan kemudian berkata: "Taysu adalah dari partai Ngo Bi.

Kebetulan sekali Aku kali ini kembali ke kuil Ban Hut Si, sebetulnya. " Si Hweeshio membentak: Tempo hari dengan memandang peraturan Bu Lim, aku tidak mengejar kau. Apa kah kau kira kami tidak mengetahui bahwa kau melarikan diri? Kali ini kau kembali, bukankah seperti juga mencari mati

Bee Kun Bu berpikir: "Hweeshio ini adalah suhengnya Tio Pan Taysu, tidak heran jika tenaga dan ilmunya demikian hebat nya. Aku lebih baik menanya dia dengan hormat." Lalu ia berkata: "Aku dari angkatan muda berani kembali lagi ke kuil Ban Hut Si karena mohon menanya satu urusan."

Si Hweeshio menjadi gusar dan membentak: "Urusan apakah? Dan apa perlunya kau datang menanya kami dari kuil Ban Hut Si?"

Dengan tetap tenang Bee Kun Bu berkata: "Aku mohon tanya, Hian Ceng Tojin dari partai Kun Lun apakah telah datang ke kuil Ban Hut Si?"

Si Hweeshio tampaknya agak lebih sabar, dan ia menanya sambil tersenyum: "Kau ada hubungan apakah dengan Hian Ceng Tojin?"

"Hian Ceng Tojin adalah guruku yang budiman," jawab Bee Kun Bu.

"Aku dan gurumu pernah ada hubungan beberapa kail Apakah dia masih tinggal di kuil Sam Ceng Koan?" tanya si Hweeshio,

"Tidak, guruku telah pindah ke kuil Sam Goan Kong di pegunungan Kun Lun," jawab Bee Kun Bu.

Si Hweeshio tertawa dan berkata: "Kau lekas-lekas pulang menjumpai gurumu, dan beritahukan kepadanya bahwa sahabat karibnya Tong pun Hweeshio menanyakan keselamatannya dan kirim salam kepada nya. Ayo kau lekas- lekas turun gunung."

Bee Kun Bu terperanjat, ia segera menjelaskan "Guruku memperoleh kabar bahwa aku tertawan, maka dia lantas pergi ke kuil Ban Hut Si. Dan aku pun lekas-lekas datang ke sini mencari guruku."

Si Hweeshio berkata dengan tenang: "Apa gunanya kau datang? Partai Ngo Bi dan partai Kun Lun tak ada hubungan atau ikatan, Hanya aku sendiri pernah ada hubungan dengan Hian Ceng Tojin, jika kau bukannya murid Hian Ceng Tojin, sekarang juga kau sudah binasa tertimpa tempat nasi dari tembagaku ini!"

Bee Kun Bu berkata: "Di kalangan Bu Lim seorang murid harus menghormati gurunya, Aku angkatan muda datang ke kuil Ban Hut Si karena ingin mencari guruku!"

Si Hweeshio mengerutkan kening sebelumnya berkata: "Tempo hari kau datang ke kuil Ban Hut Si dan membikin onar, ketika itu aku tidak ada di kuil, karena aku belum kembali dari perjalananku Barulah sesudah kembali, aku dapat dengar dari Suteeku tentang perbuatanmu Kau mengetahui bahwa menerjang atau menerobos masuk ke daerah orang lain adalah suatu pelanggaran besar di kalangan Bu Lim."

Bee Kun Bu berlutut di hadapan Hweeshio itu. "Untuk pelanggaran itu aku angkatan muda sudi mohon dimaafkan. "

Dan kata-kata itu belum habis djucapkan, tiba-tiba terdengar suara ejekan yang nyaring: "Kuil Ban Hut Si bukan tempat terlarang, Orang boleh keluar masuk se-sukanya, dan tak usah takut kepada siapapun! Kau tak usah minta maaf, Dengan demi kian, mereka anggap kau bernyali kecil! Lagi pula Tio Pan Taysu terlampau cong-kak. Dia anggap dirinya sangat tinggi, dia sungkan menjumpai orang!"

Suara yang nyaring dan mengejek itu membikin Bee Kun Bu terkejut, karena ia kenali suara itu. ia bangun dan menghampiri orang yang mengejek itu sambil ber-seru: "Giok Siu Sian Cu! Untuk maksud apakah kau datang ke sini?"

Giok Siu Sian Cu masih saja menyengir dan mengejek "Toa-su! Sudah empat-lima tahun kita tidak ber-jumpa, Apakah kau baik-baik saja? Aku datang ke kuil Ban Hut Si karena ada satu urusan." Lalu ia berdiri di samping Bee Kun Bu, tangan kanan memegang seruling batu Giok, dan tangan kiri mengusap-usap rambutnya,

Tong Pun Hweeshio menyahut dengan menyindir "Aku khawatir kau bisa datang, tetapi tidak bisa pulang!"

Taysu, aku bisa datang dengan leluasa, sudah tentu aku pun bisa pergi dengan merdeka!"

jawaban itu membikin Tong Pun Hweeshio menjadi murka. ia membentak: "Mungkin orang lain takut meng-gempur kau, tapi aku Tong Pun Hweeshio tidak!" Ben-takannya itu ia barengi dengan menggeprak Giok Siu Sian Cu dengan tempat nasi dari tembaga secepat kilat

Giok Siu Sian Cu mengegos sambil berkata: "Ha! Kau betut-betul ingin mengadu silat dengan aku?"

Bee Kun Bu cabut pedangnya dan menyerang Giok Siu Sian Cu.

Giok Siu Sian Cu loncat mengegos dan berkata sambil tersenyum: "Hei! Apakah kau sudah gila menyerang aku?"

Bee Kun Bu menjawab dengan pedang terhunus menuding-nuding Giok Siu Sian Cu: "Aku sedang bicara dengan Toa-su, mengapa kau memotong pembicaraanku dan turut campur urusanku?"

Tong Pun Hweeshio berpikir "lblis perempuan ini betul- betul lihay, jika mau, dia dapat segera melukakan Bee Kun Bu. Aku lebih baik membakar-bakar dia." Lalu ia berkata: "Hei!

Kau tak dapat lawan dia, lebih baik kau lekas-Iekas enyah!" Lalu ia berdiri di tengah-tengah me-reka, menghadapi Giok Siu Sian Cu.

Giok Siu Sian Cu menyengir dan mengejek lagi: "Apakah yang kau khawatirkan? Tunggu sampai aku bicara dengan dia, dan kemudian kita dapat mengadu silat!" Tong Pun Hweeshio tidak menyahut ia berbalik mengawasi Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu masukkan pedangnya ke dalam sarungnya dan sambil mengangkat tangan memberi hormat ia berkata: "Aku mohon menanya Taysu, apakah Suhuku telah datang ke kuil Ban Hut Si?"

"Soal ini aku belum dapat mengetahui jawab Tong Pun Hweeshio

Tiba-tiba Bee Kun Bu ingat soal gurunya meninggalkan pegunungan Kun Lun bersama-sama Giok Siu Sian Cu. ia menanya kepada Giok Siu Sian Cu: "Ke-manakah guruku pergi?"

Giok Siu Sian Cu yang barusan diserang dengan pedang masih merasa dongkoL ia menjawab dengan ketus: "Aku tidak tahu!"

Bee Kun Bu insyaf akan sikap kasar itu, lalu dengan ramah ia berkata: "Bukankah kau berlalu dari pegunungan Kun Lun bersama-sama guruku?"

"Dia bukannya anak kecil yang baru berusia tiga tahun, Dia bisa pergi kemana dia suka, bukan?" jawab Giok Siu Sian Cu.

"Ha! Mengapa kau menjawabnya dengan ketus, dan selalu menyinggung orang lain dengan kata-katamu?" kata Bee Kun Bu.

"Jika aku menyinggung orang lain, kau bisa apa kah?H menentang Giok Siu Sian Cu.

Bee Kun Bu menjadi bisu, ia insyaf ia tak dapat melawan iblis wanita itu. Tetapi ia khawatir akan jejak gurunya, dan dalam gusar tereampur khawatir, ia berdiri seperti seorang dungu.

Giok Siu Sian Cu tertawa melihat sikapnya Bee Kun Bu. "Jika kau tidak sudi memberitahukan sudahlah! Mengapa

kau mesti tertawa?" kata Bee Kun Bu mendongkol Giok Siu Sian Cu mendekati, dan dengan suara rendah ia berkata: "Melihat sikap dan wajahmu, aku yakin kau menderita sakit atau luka, betulkah?"

Tidak perlu kau tahu!" jawab Bee Kun Bu, masih mendongkol

senyuman itu menggiurkan hati, tetapi Bee Kun Bu masih membentak: "Mengapa kau selalu merintangi aku? Aku benci kau!"

"Betapapun kau membenci aku, kau tak dapat membinasakan aku," kata Giok Siu Sian Cu mengejek.

Ketika itu terdengar dua siulan yang nyaring, dan mereka menoleh Lalu terlihat mendatanginya empat orang Hweeshio yang terus mengurung Bee Kun Bu, dan Giok Siu Sian Cu,

"Nah! Bagaimana sekarang?" kata Giok Siu Sian Cu dengan manja kepada Bee Kun Bu, "Jika kau membenci aku, kau harus menghadapi Hweeshio-hweeshio ini seorang diri!"

Bee Kun Bu tak dapat berbuat apa-apa terhadap wanita yang demikian kepala batu, Dalam keadaan yang terdesak itu, ia pikir lebih baik membiarkan kehendaknya wanita itu, Lalu menghadapi Tong Pun Hweeshio ia berkata: Taysu adalah kawan karib guruku, dan aku dari angkatan muda tentu tak berani bertindak sembrono, Dengan jalan ini aku minta Taysu antarkan aku menghadap kepada pemimpin kuil Ban Hut Si agar aku dapat menanyakan jejak guruku."

Tong Pun Hweeshio mengerutkan kening, lalu me-nanya salah satu empat Hweeshio yang baru datang: "Hian Ceng Tojin dari partai Kun Lun apakah pernah datang ke kuil Ban Hut Si?"

Hweeshio yang ditanya itu talu mengangkat toya besinya dan pegang melintang di depan dadanya sebagai tanda hormat, lalu menjawab: "Teecu belum dengar tentang itu, Tetapi pemuda ini adalah pemuda yang telah melarikan diri dari kuil kita, sehingga Ji Suheng menjadi murka karenanya, Kita tak menduga dia berani datang kembali Kali ini kita tak akan memberikan kesempatan untuk dia melarikan diri pu!a."

Tong Pun Hweeshio pandang wajahnya Bee Kun Bu, lalu berkata: "Karena aku pandang gurumu, Hian Ceng Tojin. Kali ini aku memberi ampun lagi kepadamu, Ayo! Lekas-lekas enyah dari sini!"

Bee Kun Bu yang memikir keselamatan gurunya itu segan berlalu, ia hadapi Giok Siu Sian Cu yang berdiri dengan tenang mengusap-usap rambutnya sambil ter-senyum. ia ingin menanya pendapatnya, tetapi ia mundur lagi, Kemudian ia berkata lagi kepada Tong Pun Hwee-shio: "Aku diberitahukan oleh seorang kawan bahwa guruku betul-betul telah datang ke sini, Jika Taysu menganggap kawan karibnya dari guruku, Taysu tentu suka menolong menanyakan jejak guruku."

Tong Pun Hweeshio menjadi ge!isah. ia berkata: "Kau berlalu dari sini dulu, Nanti setelah aku kembali ke kuil, aku akan menanyakan hal itu. Jika betul Hian Ceng Tojin berada di dalam kuil, aku akan membujuk pemimpin kuil ini untuk melepaskan dia."

Taysu sebagai kawan karib guruku, sudi kiranya memberikan kesempatan kepadamu menjumpai pemimpin kuil." Bee Kun Bu mendesak

Belum lagi habis ucapannya itu, tiba-tiba Hweeshio yang tadi ditanya, membentak: "Meskipun kau bertangan tiga dan berkaki tiga, kau tak berhak menjumpai pemimpin kami!"

Bee Kun Bu menjadi marah, dan ia ingin menyahut, tetapi didului Giok Siu Sian Cu yang mengejek: "Hwee-shio ini galak betul! Rupanya ia sudah bosan hidup!"

Hweeshio itu sebetulnya murid Tio Pan, pemimpin kuil Ban Hut Si, bernama Sin Lei. ia sangat disayang oleh Tio Pan, dan ilmu silatnya pun lebih baik daripada saudara-saudara seperguruannya, Ketika Bee Kun Bu menolong Souw Hui Hong keluar dari kuil Ban Hut Si, ia kebetulan tak ada di dalam kuil karena ia sedang keluar mengurus suatu perkara, Ketika ia kembali ia baru mendapat dengar bahwa dua Suheng dan dua Suteenya tak dapat menangkap Bee Kun Bu. Oleh karena itu ia sangat benci Bee Kun Bu. Akan tetapi Tong Pun Hweeshio berada di depa n nya, ia tak berani bertindak sewenang-wenang,

ia tidak mengenal Giok Siu Sian Cu, maka ketika ia diejek, ia menjadi makin gusar Dengan tak banyak bicara !agi, toya besinya menyambar dengan jurus Kim Kong Sok Pik atau Baja Emas Menebas Lengan, disertai jeritnya: "Kita lihai siapakah yang bosan hidup!" 

Dengan tenang dan sambil tertawa Giok Siu Sian Cu loncat ke samping Bee Kun Bu mengegoskan sabetan toya besi itu, dan ia menanya Bee Kun Bu: "Apakah aku harus bunuh dia?"

Lalu Giok Siu Sian Cu loncat ke samping Sin Lie dan berkata: "Baik! Biarlah aku suruh dia merasai sedikit sakit!" Lalu secepat kilat seruling batu Gioknya di tangan kanan menyerang dua Hweeshio yang berdekatan, dan tangan kirinya menepak punggungnya Sin Lei,

Bayangan mangkok nasi tembaga dan angin yang keluar dari sabetaft seruling bertempur sangat dahsyatnya

Caranya Giok Siu Sian Cu menyerang bukan saja sangat cepat, tetapi juga sukar dk)uga, Seolah-olah ia menyerang dadanya Sin Lei, tetapi ketika Sin Lei menjaga dadanya dengan toya besinya, tangan kirinya Giok Siu Sian Cu menepuk punggungnya

Tepukan itu adalah totokan jalan darah di punggung. Sin Lei tidak keburu mengegos atau mengelit, ia hanya merasakan kedua tangannya menjadi lemas, dan toya besinya terlempar di tanah!

Tong Pun Hweeshio terkejut ia tak dapat membiarkan perbuatan itu. ia loncat ke depan sambit menumbuk Giok Siu Sian Cu dengan tempat nasi tembaganya dengan jurus Kai SanTo Liu atau Menggempur Gunung Membuka Jalan.

Giok Siu Sian Cu tak berani menangkis, ia loncat mengapung dan terus menyodok dadanya Tong Pun Hweeshio dengan seruling batu Giok-nya.

Tong Pun Hweeshio buru-buru menahan sodokan itu dengan genggamannya sambil melangkah mundur tiga tindak.

"Ha! Ha! Taysu, jangan lari! Ayo layani aku main-main!" mengejek Giok Siu Sian Cu. Ejekan itu disertai sodokan tiga kali beruntun.

Tong Pun Hweeshio menjerit sambil mengayun genggamannya yang seratus kati bertanya mengitari tubuhnya Tang! Tang! Tang!" terdengar tiga suara beradunya seruling dengan tempat nasi tembaganya. Tiga sodokan Giok Siu Sian Cu tertangkis, dan si Hweeshio menubruk lagi dengan genggamanannya.

Meskipun genggaman itu sangat berat, tetapi si Hweeshio dapat mengendalikannya dengan leluasa dan cepat sekali, dan untuk sementara waktu terlihat berkelebatnya bayangan tempat nasi tembaga itu dan mendengungnya hembusan angin dari sabetan seruling batu Giok.

Semua orang yang menyaksikan pertempuran itu berdiri terpesona! Kemudian Hweeshio-hweeshio yang lain mulai menyerang Bee Kun Bu, dan Bee Kun Bu terpaksa mencabut pedangnya-melakukan perlawanan

Hweeshio-hweeshio yang menyerang Bee Kun Bu . adalah murid-murjd dari pemimpin partai Ngo Bi, Tio Pan Taysu, dan ilmu silatnya tinggi, Untung baginya, Sin Lei murid yang terpandai teliti ditotok jalan darahnya oleh Giok Siu Sian Cu tak berdaya. Bee Kun Bu harus melawan tiga orang Hweesio dengan pedang di tangan kanan Bee Kun Bu melawan dengan ilmu Hun Kong kiam Hoat (ilmu silat pedang yang memancarkan sinar) dan tinju kirinya mengirim jotosan-jotosan dengan ilmu Cap Pwee Lo Han Ciang (ilmu tinju yang menyerang dari delapan belas jurusan), pedangnya menusuk, menyabet, membacok secepat kilat, sedangkan tinjunya mendorong, memukul, bahkan menyodok seperti palu besi"

Di pihak Giok Siu Sian Cu dan Tong Pun Hweeshio pertempuran telah Berlangsung empat puluh jurus, dan masing-masing telah keluarkan semua kepandaiannya.

Tong Pun Hweeshio adalah salah satu dari empat pemimpin partai Ngo Bi, dan tinggi sekali ilmu silatnya.

Tetapi menghadapi Giok Siu Sian Cu, ia tak dapat kesempatan untuk memperoleh kemenangan ia harus menjaga diri dengan sepenuh tenaga, setelah pertempuran mulai masuk ke jurus empat puluh satu, Giok Siu Sian Cu menjerit, dan dengan ilmu Mo Im Cap pwee Jiauw atau Mencakar Awan dari delapan belas jurusan.

Serulingnya berkelebat-kelebat berkilauan dengan cepat sekali, sedangkan ia sendiri terapung-apung laksana awan di langit.

Tong Pun Hweeshio hanya berhasil menangkis dan menjaga diri selama tujuh-delapan jurus, dan ia mulai keteter Lalu tubuhnya sempoyongan seperti orang mabuk arak sambil meloncat ke kiri dan ke kanan untuk mengegos atau mengetit sodokan-sodokan seruling batu Giok satunya! Masih untung tempat nasinya dapat berkali-kali menangkis sodokan- sodokan seruling maut itu, dan sekian lamanya ia masih belum terluka."

Giok Siu Sian Cu yang banyak pengalaman dan sering berkelana di banyak tempat pernah dengar tentang ilmu menggoyang-goyang tubuh untuk membikin mabuk lawan dari partai Ngo Bi. setelah melihat Tong Pun Hweshio sempoyongan, ia telah menduga bahwa Hweshio itu sedang menggunakan ilmu Cui Pwee Sian sat lim simhoat (ilmu menggoyang-goyang tubuh yang dapat membikin dewa-dewi mabuk) ia segera berlaku waspada. Demikianlah pertempuran berlangsung dengan serunya tanpa salah satu pihak memperoleh kesempatan melukai lawannya, Di pihak Bee Kun Bu dengan menggunakan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoat dan ilmu tinju Cap pwee Lo Han Ciang, meskipun ia tak berhasil menerobos keluar dari kepungan ketiga Hweeshio, tapi ia masih dapat mempertahankan diri selama pertempuran yang telah berlangsung empat puluh jurus,

Kemudian di tengah-tengah suara beradunya senjata- senjata tajam dan jeritan-jeritan dari orang-orang yang bertempur terdengar pula suara jeritan yang nyaring sekali Tiga Hweeshio yang melawan Bee Kun Bu segera loncat mundur berhenti bertempur, demikian pun Tong Pun Hweeshio.

Bee Kun Bu menoleh ke arah jeritan yang ajaib tadi, ia tampak seorang Hweeshio tanpa senjata berdiri satu depa jauhnya dari mereka, Hweeshio itu mengenakan jubah merah, tubuhnya tinggi besar. Dia adalah Tio Pan Taysu, pemimpin dari partai Ngo Bi.

Di sebelah kiri berdiri seorang Hweeshio berjubah putih, tubuhnya kurus kecil, sedangkan di sebelah kanan nya berdiri satu Niko (rahib wanita) yang mengenakan pakaian putih dan berusia lebih kurang empat puluh tahun.

Ketika itu Sin Lei yang telah ditotok telah berhasil membebaskan diri dengan tenaga dalamnya.

Bee Kun Bu segera dapat menduga bahwa yang datang itu adalah pemimpin-pemimpin dari partai Ngo Bj, maka ia lekas- lekas, membungkukkan diri memberi hormat sambil berkata: "Aku angkatan muda dari partai Kun Lun mohon berjumpa dengan angkatan tua dari partai Ngo Bl Aku Bee Kun Bu menghaturkan hormat."

Tio Pan Taysu tersenyum, ia mengawasi Bee Kun Bu sejenak, lalu mengawasi pula Giok Siu Sian Cu, dan berkata: "Maafi Maafl Tidak diduga jago silat yang terkenal di kalangan Kang-ouw, Giok Siu Sian Cu, sudi datang mengunjungi pegunungan ini!"

Giok Siu Sian Cu tersenyum: Taysu terlampau merendahkan diri. Aku hanya datang jalan-jalan saja," kata Giok Siu Sian Cu.

Lalu Tio Pan Taysu menanya Bee Kun Bu: Tidak heran kau berani datang lagi, karena ada orang yang membantu kau."

Bee Kun Bu menyahut dengan tergesa-gesa: "Aku datang kembali ke pegunungan Ngo Bi hanya ingin menanya tentang jejak Suhuku."

HwetShio yang kurus kecil dan berdiri di sebelah kiri tiba- tiba mempelototkan, dan mengawasi dengan beringas kepada Bee Kun Bu. ia menanya dengan suara keras: "Apakah gurumu Hian Ceng Tojin?"

"Betul!" jawab Bee Kun Bu. "Apakah Taysu pernah menjumpai dia?"

Hweeshio itu berseru: "O Mi To Hut!" Lalu memejamkan matanya tidak bicara lagi, Bee Kun Bu yakin bahwa si Hweeshio kurus kecil itu mengetahui jejak gurunya, hanya segan memberitahukan kepadanya, Dalam napsunya ia menanya dengan suara keras: Taysu telah mengetahui jejak Suhuku, mengapa tidak sudi memberitahukan kepadaku?

Apakah. "

Tio Pan Taysu tertawa gelak-gelak memotong kata- katanya Bee Kun Bu: Tahukah kau tempat ini? Apakah kau anggap boleh sembarangan orang datang dengan sesukanya? Di kalangan Kang-ouw telah terkenal bahwa pengajaran partai Kun Lun sangat keras, Rupanya tata terbitnya kurang sempurna, Aku tak mengerti mengapa ketiga pemimpin dari partai Kun Lun telah mengajar seorang murid yang tak tahu peraturan serupa kau!"

Dimaki demikian oleh Tio Pan Taysu, Bee Kun Bu tak dapat menjawab. ia berdiri terpaku di hadapannya, Tetapi Giok Siu Sian Cu berkata sambil tertawa: "Ketiga pemimpin dari partai Kun Lun semuanya baik, Menurut pendapatku, mereka lebih baik daripada pemimpin-pemimpin partai Ngo Bi. lagi pula tentang urusan murid dari partai Kun Lun bukan urusanmu, Kau hanya berhak mengajar murid-murid partai Ngo Bi, dan tak berhak menasehatkan murid dari partai lain!"

Hweeshio yang kurus kecil lalu buka kedua matanya dan mengawasi Giok Siu Sian Cu. Kemudian ia menanya: "Apakah kau jago silat wanita yang bernama Giok Siu Sian Cu?"

Giok Siu Sian Cu tertawa: "Betul! BetuI! Tapi siapakah nama Taysu? Aku juga ingin mengenalnya!" jawabnya

Hweeshio kurus kecil memejamkan matanya, ia bersabda: "O Mi To Hut! Aku si Hweeshio tua ini adalah orang gunung, dan nama baikku tidak penting, dan aku tak perlu memberitahukan kepadamu!"

Niko (Rahib wanita) yang berdiri di sebelah kanan tidak tahan tertawa, ia mengejek: "Di kalangan Kang-ouw nama Giok Siu Sian Cu memang terkenal sekali dan aku juga mengagumi Aku hari ini beruntung bisa melihat orangnya dengan kepala mata sendiri!" Lalu ia maju ke depan, mengangkat kedua tangannya dan bersabda: "O Mi To Hut!"

Giok Siu Sian Cu segera insyaf bahwa ia kini menghadapi musuh yang tidak ringan. Hweeshio yang kurus kecil dan memejamkan matanya yang ia tak kenal mungkin lihay ilmu silatnya, Tio Pan Taysu ia telah tahu kepandaian ilmu silatnya Niko itu pasti tidak lebih bawah daripada ia dalam soal ilmu silat Tetapi ia tetap tenang, Sambil mengusap-usap rambutnya ia berkata: "Jika ingin menguji silat dengan aku, janganlah berlagak menanya ini atau menanya itu. "

Ucapan itu ia barengi dengan serangan "Sam Seng Tui Goat" atau tiga bintang mengejar bulan, seruling batu Gioknya menyodok secepat kilat ke dadanya Niko itu tiga kali beruntun.

Nikoh itu tidak keburu mencabut pedangnya yang dipancangkan di belakangnya, ia hanya mengegos ke samping menghindarkan sodokan-sodokan seruling itu sambil melangkah mundur lima tindak. Kemudian dengan kedua tangannya ia balas menyerang dengan mengirim jotosan- jotosan yang gencar sekali,

Tio Pan Taysu terperanjat, ia menjerit "Hei! Giok Siu Sian Cu! partai kami tidak mempunyai dendam atau permusuhan terhadap kau! Mengapa kau dengan tanpa alasan datang ke kuil Ban Hut Si untuk membikin ribut? Hari ini jika, kami lepas kau keluar hidup-hidup dari sini, nama partai Ngo Bi tak tahu harus taruh di mana!"

Dengan sikap yang tetap tenang Giok Siu Sian Cu berkata: "Apakah kau kira kau dapat menahan aku dengan mudah di dalam kuil.,.?" kata-katanya belum selesai, Niko itu telah mencabut pedangnya dan menusuk pundak kanannya Giok Siu Sian Cu dengan jurus Thian Li Hun Ko atau Bidadari Menusuk Dari LangiL

Giok Siu Sian Cu menangkis pedang itu dengan serulingnya, dan ia pun balas menyerang Lalu kedua wanita itu bertempur dengan sengitnya. Gidk Siu Sian Cu bertempur sambil mengawasi Tio Pan Taysu dan Tong Pun Taysu yang masing-masing berdiri di sebelah kiri dan kanan, tetapi si Hweeshio kurus kecil masih saja berdiri memejamkan kedua matanya memegang erat kedua tangannya dalam sikap bersembahyang. ia pun melihat Bee Kun Bu bertempur lagi melawan tiga orang Hweeshio. ia merasa khawatir jika Bee Kun Bu tak dapat bertahan melawan ketiga Hweeshio itu.

Lalu dengan satu serangan cepat dan lihay ia mendesak Niko itu mundur dua langkah, dan ia loncat ke tempat Bee Kun Bu. Tetapi ia tidak menduga bahwa ia dicegat oleh Tio Pan Taysu yang segera loncat menghalau dengan mendorong kedua tinjunya ke depan dengan jurus Pai San To Hai atau Merobohkan Gunung dan Mem-balikkan Lautan,

Tio Pan Taysu yang menjadi pemimpin kuil Ban Hut Si memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar, Kedua tinjunya bukan main dahsyatnya, dan memaksa Giok Siu Sian Cu loncat mundur Pada saat ia loncat mundur, Niko itu menusuk punggungnya dengan pedang-nya, Giok Siu Sian Cu berbalik dan mengetok pedang itu dengan serulingnya, Lalu dengan menotokkan kedua kakinya ia loncat ke atas untuk terjun kembali ke bawah dan menyodok Niko itu dengan serulingnya yang dilancarkan dengan ilmu Yun Liong Sam Hiam atau Naga Langit Muncul Di tiga Tempat.

Niko itu harus lekas-lekas mundur atau binasa disodok oleh seruling lawannya, Benar-benar lihay iblis wanita ini, pikirnya, Baru saja ia ingin maju menyerang lagi, tapi terlihat Giok Siu Sian Cu menjepit rapat kedua betisnya, dan segera melonjak ke atas untuk loncat keluar beberapa depa jauhnya, ia menotok tanah dengan ujung jarinya, dan dalam dua kali loncat yang cepat sekali, ia berhasil mendesak mundur dua orang Hweeshio yang sedang mengerubuti Bee Kun Bu. ia berbisik: "Kita tak dapat bertahan lama, Kita harus lekas-lekas melarikan diri!"

Tetapi Bee Kun Bu geleng kepala dan membentak: "Aku tidak minta atau suruh kau datang membantu akui Kau boleh lekas-lekas lari!"

"Apabila kau tidak lari, kali ini kita berdua akan binasa,.,." Giok Siu Sian Cu mendesak, tetapi Niko itu telah menerjang dengan pedang terhunus dan berusaha menusuk dadanya, sedangkan Hweeshio-hweeshio yang mengerubuti Bee Kun Bu juga berbareng menyerang dengan toya-toya besi nya.

Sambil meloncat tinggi menghindarkan diri dari tusukan pedangnya Niko itu, Giok Siu Sian Cu berseru kepada Bee Kun Bu: "Jika kau betuNbetul tidak ingin lari, akupun harus melawan terus!" Lalu ia putar seruling batu Gioknya dan menyerang secepat kilat kepada Niko itu, serangan itu hebat sekali, dan Niko itu tak dapat menahan,

Bee Kun Bu juga bertempur dengan nekat ia lancarkan jurus-jurus Hui Pu Liu Coan (Air Terjun Ke Dalam Sungai), Heng Hua Cun Ji (Hujan Turun Di Musim Semi) dan Tui To Tay San (Menggempur Roboh Gunung Taysan), dan ia berhasil membuka jalan keluar dari kepungan Hweeshio- hweeshio itu,

Sin Lei Hweeshio menjadi lebih ganas melihat Bee Kun Bu berhasil membuka jalan, ia menyerang lagi dengan sekuat tenaga dengan toya besi nya. Tapi Bee Kun Bu berhasil mengegoskan diri,

Setelah pertempuran berlangsung beberapa puluh jurus lagi, Bee Kun Bu merasa ia akan kehabisan tenaga, Giok Siu Sian Cu yang selalu memperhatikan Bee Kun Bu sambil melawan Niko itu tetek melihat bahwa Bee Kun Bu telah menjadi lelah, Ki rifeiyerang bertubi-tubi untuk mendesak mundur Niko itu, lalu loncat membantui Bee Kun Bu. Satu sabetan dengan jurus Thian Goa Lai Yun atau Awan Datang Dari Angkasa, memaksa seorang Hweeshio mundur, dan ia dapat berdiri di sampingnya Bee Kun Bu, ia berbisik: "Ayo, kita bersama-sama menggempur musuh...!" Belum lagi ucapannya selesai, satu jotosan Tio Pan Taysu datang menyerang, Giok Siu Sian Cu harus lekas-lekas loncat mundur,

Giok Siu Sian Cu mengejek: "Ha! Kau menyerang di waktu orang tak berjaga! Beginikah caranya pemimpin partai Ngo Bi menyerang orang dengan curang?"

Tanpa permisi kau telah menerobos masuk ke daerah kuil Ban Hut Si, apakah itu tidak melanggar peraturan Bu Lim?" batas Tio Pan Taysu,

Giok Siu Sian Cu menyengir dan menantang: "Baiklah. Ayo, kalian semua datang menyerang! Aku siap melawan kalian semua!"

"Ha! Melawan kau Giok Siu Sian Cu tak usah semua datang menyerang, Cobalah terima pukulan-pukulanku," kata Tio Pan Taysu, yang segera dibarengi dengan satu jotosan yang keras!

Giok Siu Sian Cu menyabet dengan seruling dan mengirim jotosan ke pundak lawannya, Tio Pan Taysu harus menarik kembali tinjunya atau hancur disabet seruling! Giok Siu Sian Cu tak dapat memperhatikan Bee Kun Bu lagi, karena ia terpaksa mencurahkan semua perhatian dan tenaganya melawan pemimpin partai Ngo Bi yang lihay itu, Tiap-tiap jotosan membawa maut, karena jotosan-jotosan itu disertai tenaga dalam yang luar biasa dahsyat nya, seolah-olah dapat merobohkan gunung!

Giok Siu Sian Cu masih dapat melayani selama beberapa puluh jurus, tetapi ia merasa kalah tenaga, Dengan satu jeritan, ia rapatkan kedua betisnya, lalu loncat ke atas udara dengan serulingnya dari atas menyodok kepalanya dari Tio Pan Taysu.

Tio Pan Taysu terkejut, ia harus lekas-lekas meng-gegos, ia berpikir: "Ai! Betul-betul lihay iblis wanita ini! Loncatan itu cepat dan tak terduga!" Lalu ia menunggu lawannya jatuh di tanah untuk menyerang lagi dengan tinju Kim Kong coan (Tinju Keras Seperti Baja) ialah ilmu tinju partai Ngo Bi yang sangat ditakuti di kalangan Kang-ouw. Giok Siu Sian Cu yang gesit, dan lincah, meskipun ia sudah letih, bukan suatu lawan yang enteng, dan selama pertarungan itu tidak kelihatan pihak mana yang lebih unggul!

Tetapi Bee Kun Bu ketika itu telah terdesak, ia yang berwatak ksatria terpaksa menggunakan kelihayannya dan melupakan perikemanusiaannya. Dengan menjerit seperti orang gila, ia menyerang dengan jurus-jurus dahsyat dari Hun Kong Kiam Hoat, Ketika itu Sin Lei Hweeshio sedang mengemplang dengan toya besinya, dan tiga Hweeshio lainnya menyodok atau memukul dengan masing-masing toya besinya,

Ya, keempat Hweeshio itu menyerang serentak Tetapi dengan jurus-jurus Ban Hong Cut Sao atau Puluhan Ribu Tawon Keluar dari Sarang dan Hui Pa Tang Ceng atau GunduIan Besi Memukul Lonceng, pedangnya terlihat berkilau-kilau menyabet, menebas, menusuk, bahkan membacok Hwee-shio-hweeshio itu! Keempat Hweeshio itu terpaksa mundur lagi, Mereka tak dapat maju, Sin Lei Hweeshio menjadi gemas, tetapi kagum akan ilmu silat pedang lawannya, Tiba-tiba ia loncat maju sambil menyodok lawannya, ia terlambat, karena pedangnya Bee Kun Bu berhasil menusuk belakang lehernya! Ketika ia loncat maju, secepat kilat Bee Kun Bu mengegos, lalu menusuknya setelah putar pedangnya yang membingungkan Hweeshio- hweeshio lain-lainnya.

Pada saat itu Bee Kun Bu menoleh ke arah Giok Siu Sian Cu dan Tio Pan Taysu, ia melihat mereka sedang bertempur dengan sengitnya, Tenaganya Tio Pan Taysu besar sekali, dan tiap-tiap jotosan menimbulkan hembusan angin, dan Giok Siu Sian Cu harus melawan dengan jurus Mo Im Cap pwee Jiauw atau Mencakar Awan Dari delapan belas jurusan, dan hanya terlihat lambaian pakaiannya yang halus dan lemas membingungkan lawannya, Tio Pan Taysu bertempur laksana geledek menyambar, tetapi Giok Siu Sian Cu mengelit atau mengegos laksana awan terapung-apung di hembusan angin di angkasa, menanti kesempatan mengirim totokan dengan seru!ingnya,

pertempuran berlangsung demikian dahsyatnya, dan Bee Kun Bir"yang senantiasa memikirkan keselamatan gurunya, yakin tak dapat berhenti bertempur, dan tak dapat melarikan diri dari kepungan Hweeshio-hweeshio itu, ia harus melawan dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu (Langkah Ajaib) menghadapi empat Hweeshio dengan toya-toya besinya, Lagi pula Hweeshio-hweeshio itu adalah murid-murid yang lihay dari partai Ngo Bi Heng yang terkenal di kalangan Kang-ouw.

Setelah pertempuran berlangsung lagi beberapa puluh jurus, Sin Lei Hweeshio putar toya besinya dan menyerang laksana ombak menyerang pantai, dan cara menyerangnya itu ditelad oleh kawan-kawannya, Bee Kun Bu terkurung rapat, tetapi ia masih dapat menghindarkan semua serangan- serangan itu dengan ilmu Ngo Heng Bi Cong Pu, dan dalam sekejap saja ia dapat loncat keluar dari kepungan untuk mendekati Tong Pun Hweeshio dan berkata dengan suara keras:

"Hei! Angkatan tua! Kedua partai satu pada lain tidak mempunyai dendam apapun juga, Mengapa orang-orang partai Ngo Bi ingin bertempur membinasakan aku? Aku khawatir. " Belum habis kata-katanya itu ketika Sin Lei

Hweeshio datang mengempIang dengan toya besinya, ia mengegos, tapi menyapu kedua kakinya Bee Kun Bu. Sapuan itu adalah jurus Shin Liong Cauw Tou atau Naga Sakti Menyeruduk dengan kepala, Suatu jurus istimewa dari ilmu silat toya Ngo Bi. Bee Kun Bu terkejut, dan yakin tak dapat menghindarkan diri dari sapuan itu. Lalu ia loncat menerkam Sin Lei Hweeshio,

Tapi ternyata Sin Lei Hweeshio sangat gesit, ia dorong Bee Kun Bu dengan pasang melintang toyanya. Bee Kun Bu bertahan dengan tenaga dalamnya, tapi karena ia belum sembuh betul, maka darah keluar dari mulutnya, ia menjadi nekat Dengan jurus Cuan Im Ti Gwat atau Melalui Awan Memetik Bulan ia tusuk dadanya Sin Lei Hweeshio dengan ujung pe-dangnya, Bagaikan babi hutan yang mogok terluka, Bee Kun Bu mengamuk, dan tusukan dengan jurus Cuan Im Ti Gwat itu tak dapat dielakkan lagi oleh lawan nya. Bee Kun Bu cabut kembali pedangnya yang telah berlumuran darah, dan satu tendangan dahsyatnya melempar mayatnya Sin Lei Hweeshio tujuh-delapan kaki jauhnya!

Tetapi Bee Kun Bu sendiri sudah menjadi sangat lelah dan lemas, darah masih terus keluar dari mulutnya, Untung baginya tiga Hweeshio lainnya menjadi terpaku melihat Sin Lei Hweeshio sudah menjadi mayat dengan dadanya yang berlumuran darah, Bee Kun Bu dapat kesempatan untuk menahan sakitnya dengan mengerahkan tenaga dalamnya,

Ketiga Hweeshio itu tiba-tiba berbalik dan menyerang ia dengan serentak, agaknya ia akan dipukul mati oleh ketiga Hweeshio itu. Tiba-tiba dari atas loncat turut Giok Siu Sian Cu dengan jeritan yang membisingkan telinga, dan Tang! Tang! Tang!" serulingnya menangkis kemp!angan ketiga toya besi dari Hweeshio-hweeshio itu!

Lalu satu gentakan dari serulingnya memukul hancur batok kepala seorang Hweeshio.

Ketika itu Giok Siu Sian Cu sedang melawan Tio Pan Taysu dengan ilmu Mo Im Cap pwee Jiauw, ia mendengar jeritan Bee Kun Bu, ia segera loncat ke samping Bee Kun Bu justru pada saat ketiga Hweeshio menyerang serentak,

Dengan serangan yang gencar, dengan mudah sekali ia mendesak mundur kedua Hweeshio lainnya, ia lihat Bee Kun Bu sudah tak berdaya, Kedua matanya terpejam, mukanya pucat pasi, dan pakaiannya berlumuran darah! Dengan tak tertahan air matanya mengucur melihat keadaan kekasihnya itu!

justru pada saat ia bersedih hati, Tong Pun Hweeshio telah mengangkat tempat nasi tembaganya, dan Niko itu telah mengangkat pedangnya untuk loncat mengurung ia dari kiri dan kanan sedangkan Tio Pan Taysu telah mengumpulkan semua tenaga dalamnya untuk mengirim tinju mautnya!

Giok Siu Sian Cu mengenak gigi, dan secepat kilat ia totok Niko itu dengan jurus Siauw Cit Thian Lam atau Telunjuk Sakti Menusuk Ke Selatan. ia telah yakin bahwa Niko itu yang paling gampang digempur, dan betul saja Niko itu loncat mundur ia loncat keluar sambil memeluk Bee Kun Bu yang telah pingsan, Tetapi Niko itu, setelah loncat mundur segera maju lagi dan mengirim jotosan yang mengenai lengannya Bee Kun Bu.

jotosan itu di luar dugaannya Giok Siu Sian Cu, ia berusaha menangkis, tetapi ia sendiri kena dipukul oleh Niko itu, dan ia rasa lengan kanannya sakit sekali

Tio Pan Taysu membentak: "Giok Siu Sian Cu! Partai kami tidak mempunyai permusuhan dengan kau. peristiwa kali ini adalah ciptaanmu! jika kau tidak menyerah, jangan harap kau dapat keluar lagi! Giok Siu Sian Cu tidak segera menyahut ia sedang menahan sakit dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan sakit dari pukulan tadi, Sedang sesaat baru ia berkata mengejek: "Kalian semuanya mengaku salah satu partai silat jempolan di kalangan Bu Lim, tetapi tindak tandukmu semuanya tidak satu yang tidak melanggar peraturan Kang-ouw!"

Tio Pan Taysu menjadi marah, ia membentak: "Kau jangan sembarang kata! Dalam hal apakah kami melanggar peraturan Kang-ouw?"

"Dengan jumlah yang lebih banyak kalian memukul kami berdua, apakah ini tidak melanggar peraturan Bu Lim?" jawab Giok Siu Sian Cu.

Tapi kau telah menerobos masuk di daerah kami tanpa permisi Bukankah kau telah melanggar peraturan Bu Lim?" tanya Tio Pan Taysu,

Ketika itu Giok Siu Sian Cu telah merasa sakitnya hilang, dan tenaganya pulih kembali ia tidak bicara lagi, tapi ia menyodok Tio Pan Taysu dengan seruIingnya, Tio Pan Taysu tidak berani menangkis dengan tangannya, ia loncat mundur menghindarkan diri dari sodokan maut itu! Lalu ia maju mengirim jotosan-jotosan dengan kedua tinjunya, Giok Siu Sian Cu yakin bahwa jotosan-jotosan itu seperti palu besi yang beratnya seribu kati, ia pun tak berani menangkis, ia hanya loncat mundur Tapi Tio Pan Taysu terus menyerang seperti kerbau gila, dan tiap-tiap jotosannya dilancarkan secepat kilat!

Giok Siu Sian Cu mengerti bahwa ia tak dapat melarikan diri lagi, Sambil dengan lengan kirinya, memeluk Bee Kun Bu yang pingsan tangan kanannya menangkis dan menyerang lawannya, pertarungan itu bagi Giok Siu Sian Cu adalah pertarungan nekat, dan jika terpaksa ia rela berkorban untuk membela Bee Kun Bu, ia keluarkan semua kepandaiannya dan dapat meladeni Tio Pan Taysu selama tiga puluh jurus lebih. Tong Pun Hweeshio dan Niko itu hanya berdiri di samping menyaksikan pertempuran yang dilakukan dengan ilmu silat yang tinggi itu dengan penuh perhatian, dan merasa kagum akan ketangkasannya Giok Siu Sian Cu yang dapat menahan jotosan-jotosan Kim Kong Coan dari Suhengnya. "Lihay benar wanita ini. jika dia terlepas dari tangan kita, di kemudian hari partai Ngo Bi tentu akan mengalami banyak pusing kepala menghadapi dia!" pikir Niko itu.

Lalu Niko itu bertindak maju satu langkah, begitupun Tong Pun Hweeshio bertindak maju satu langkah, siap sedia membunuh mati Giok Siu Sian Cu jika dia terlepas dari jotosan-jotosan Tio Pan Taysu.

sebetulnya selama hidupnya dan selama ia berkecimpung di kalangan Kang-ouw, Giok Siu Sian Cu pernah melawan banyak jago-jago silat, tetapi belum pernah ia bertempur demikian sengit dan payahnya seperti sekarang menghadapi orang-orang dari partai Ngp Bi itu. Dengan sambil memeluki Bee Kun Bu ia harus melawan lebih hati-hati lagi, karena ia harus menjaga juga Bee Kun Bu dari serangan-serangaa

Pada satu saat ia melihat 1owongan. ia menyerang tiga kali beruntun dan mendesak Tio Pan Taysu loncat mundur ia berusaha lari keluar dengan membawa Bee Kun Bu, tetapi Tio Pan Taysu sudah mengejar lagi dengan mengirim satu tinju, Giok Siu Sian Cu telah menduga serangan itu, ia mengegos sedikit ke samping dan tinju itu lewat, lalu seruling di tangan kanannya menyabet dengan jurus Kong Ciok Kai Pin atau Burung Merak Mementang Sayap, Tio Pan Taysu terkejut, ia lekas-lekas tarik tinju kirinya yang ia ingin kirim ke tubuhnya Giok Siu Sian Cu tadi dan lekas-lekas mengegos ke samping,

"Ha! Di mana kau ingin bersembunyi?" mengejek Giok Siu Sian Cu, sambil menotok lagi tubuhnya Hweeshio yang tinggi besar itu,

Segera terdengar jeritan keras laksana meraungnya harimau yang sedang mengamuk Tio Pan Taysu kena ditotok pundaknya, dan ia menjerit kesakitan sambil loncat mundur enam-tujuh langkah, Hampirsaja ia jatuh tersungkur, Tetapi Giok Siu Sian Cu juga kena dipukul punggungnya oleh tinju kirinya Tio Pan Taysu sehingga ia pun loncat mundur satu depa jauhnya dan dijotos dari kiri dan kanan oleh Niko itu dan Tong Pun Hweeshio pukulan di punggung dari tinju Tio Pan Taysu sudah cukup merobohkan ia, ditambah dengan dua tinju lagi dari Niko dan Tong Pun Hweeshio, ia telah tambah menderita luka-luka hebat di dalam tubuhnya, Dengan memeluk erat-erat Bee Kun Bu, ia jatuh telentang di atas tanah!

Niko dan Tong Pun Hweeshio lari menghampiri Tio Pan Taysu dan menanya berbareng: "Apakah kau luka parah?"

Tio Pan Taysu geleng-geleng kepalanya dan pejamkan kedua matanya, tetapi tidak bicara, Mereka segera yakin bahwa Tio Pan Toa-su telah menderita luka parah, Lau Niko itu loncat menghampiri Giok Siu Sian Cu yang ketika itu berusaha bangun, Mukanya Giok Siu Sian Cu sudah pucat sekali, rambutnya terurai tak keruan, dan darah keluar dari mulut dan hidungnya, tangan kirinya masih memegangi Bee Kun Bu, tetapi seruling di tangan kanannya telah terlepas,

ia mengawasi Bee Kun Bu dengan tak menghiraukan Niko yang menghampiri dengan pedang terhunus,

Niko itu menandalkan ujung pedangnya di atas dadanya Giok Siu Sian Cu dan menanya dengan sikap yang mengejek: "Giok Siu Sian Cu! Mungkin kau tidak bermimpi bahwa kau akan tewas di daerah Ban Hut Si!"

Giok Siu Sian Cu seolah-olah tak gubris ujung pedang yang ditandalkan di atas dadanya, ia mengawasi Niko itu, lalu memandang lagi Bee Kun Bu yang masih pingsan untuk berbisik: "Dik! Dik Kun Bu! Bukalah matamu dan pandanglah aku, karena aku segera akan binasa. " Darah keluar deras

dari mulutnya merintangi ucapan nya.

Niko itu berkata dengan suara gemetar: "Giok Siu Sian Cu!.... Aku sekarang membunuh kau. " Giok Siu Sian Cu berusaha bangun, dan ia peluk Bee Kun Bu erat-erat sebagai meminta diri karena ia akan meninggalkan dunia yang fana!

justru pada saat itu, suara yang nyaring dan garing memecahkan suasana yang sunyi senyap dan tegang itu, Suara itu lantas mengejek: "Lekas taruh pedangmu dan mundur tiga langkah!" Niko itu menoleh ke arah orang yang mengejek ia, dan ia melihat berdirinya seorang tua yang jaraknya hanya satu depa lebih jauhnya tengah mengawasi ia dan rupanya siap sedia melontarkan lingkaran baja di tangannya!

Niko itu terperanjat tetapi si orang tua itu meng-ancam: "Apa kau ingin rasai lingkaran bajaku ini?"

Ketika itu Tong Pun Hweeshio segera loncat menerkam si orang tua sambil membentak: "Hei! Ouw Lam Peng! Untuk maksud apakah kau datang ke kuil Ban Hut Si?"

Ouw Lam Peng mengegos dan tangan kirinya menggeprak punggungnya Tong Pun Hweeshio, sedangkan lingkaran baja di tangan kanannya dilontarkan secepat kilat

Lingkaran gelang tersebut yang sebesar bulan langsung terbang menyerang Ntko, Harus diketahui bahwa lingkaran baja terbang dari Ouw Lam Peng adalah senjata yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw, Angin dari lingkaran itu santar terdengarnya, sekejap saja lingkaran itu telah terbang menyerang kepalanya Niko,

-ooo0ooo-

Jago-jago silat partai Thian Liong mengunjuk gigi

Melihat lingkaran besi terbang menyerang kepalanya, Niko itu segera menangkis dengan pedangnya, Lingkaran beradu dengan pedang, dan kembang api terbit dari beradunya kedua senjata itu, Niko itu rasakan lengannya sakit, dan terdorong mundur dua langkah, Lingkaran baja itu terbang terus dan membentur satu batu karang yang segera menjadi hancur

Ouw Lam Peng harus melawan Tong Pun Hweeshio dan mendesaknya mundur tiga depa lebih sebelum ia dapat datang menghampiri Giok Siu Sian Cu, Ketika itu Tio Pan Taysu sudah dapat buka kedua matanya dan orang yang pertama ia lihat adalah Ouw Lam Peng. ia bangun dan jalan menghampiri Niko itu menjadi cemas melihat Tio Pan Taysu mendekati Ouw Lam Peng, "De-ngan luka di dalam tubuh bagaimanakah dia dapat melawan?" pikirnya, Lalu ia loncat dan jalan mengikuti Tio Pan Taysu,

Pada saat itu si Hweeshio kurus kecil membuka matanya dan memandang segala sesuatu di sekitarnya, Ketika ia melihat Ouw Lam Peng, ia berseru: "O Mi To Hut! Ouw Si Cu (pemimpin Ouw), kau baikkah? Apakah kau masih ingat aku si Hweeshio tua ini?" ia pun menghampiri Ouw Lam Peng.

Teguran itu mengejutkan Ouw Lam Peng. Mukanya berubah, tetapi lekas tenang kembali Sambil memegang lingkaran bajanya ia ambil dari punggungnya ia berkata sambil tersenyum: "Aku baik-baik saja, Terima kasih, Tetapi rupanya kali ini kalian bisa menang karena orang-orangmu berjumlah lebih banyak!"

sekonyong-konyong dari bawah puncak terdengar siulan yang panjang dan nyaring, suara gemanya agak lama sebelum orang yang bersiul itu tiba di atas puncak.

Tio Pan Taysu menoleh ke arah suara itu, dan melihat bukannya seorang, tetapi dua orang datang berbareng, dan dalam sekejap saja kedua orang itu telah berada hanya beberapa kaki di belakangnya,

Mereka mengenakan baju kurung, dan berusia lebih kurang lima puluh tahun, yang di sebelah kiri memakai baju kurung kuning dan mengikat kepala, bersenjatakan kipas yang panjangnya lebih kurang dua kaki. Yang di sebelah kanan berbaju kurung hijau, dan di atas pundaknya menonjol keluar sebilah golok besar, sedangkan di tali pinggangnya tergantungkan satu kantong Piauw (Piauw = potongan besi kecil berujung tajam),

Ouw Lam Peng nampaknya sangat hormati orang yang berbaju kuning itu, karena ia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya,

Orang berbaju kuning itu tersenyum dan berkata: "Ouw Piauw Tauw (Pemimpin cabang partai silat Ouw) terlampau hormat," Lalu Ouw Lam Peng menghadapi si Hweeshio kurus kecil dan berkata: "Hweeshio ini rupanya panjang umurnya!"

Si Hweeshio tertawa gelak-gelak dan menjawab: "Aku selalu dijaga oleh Hut-co kau ingin aku si Hweeshio ini mesti mati bagaimana?"

Si baju kuning mengejek: "Aku kira Hut-co tidak menahan kau untuk kau membantu kami melakukan suatu urusan yang mulia!"

Si Hweeshio berubah mukanya, ia mengawasi si baju kuning dengan kedua matanya terbelalak Kemudian ia berkata dengan satu senyuman terpaksa: "Ong Si Cu (Pemimpin cabang silat Ong) terlampau mentaati tata tertib, Meskipun pemimpin partai Thian Liong, Souw Peng Hai sekalipun, dia tidak berani mempermainkan aku si Hweeshio tua ini."

Belum lagi si baju kuning membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, Mereka yang baru datang itu semuanya memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, dan suara wanita yang terdengar jauh itu membikin mereka berhenti bicara, Segera seorang gadis yang berpakaian sebagai seorang jago silat wanita lari mendatangi ia berlari-lari sampai di depannya si baju kuning, ia menyeka air keringatnya, lalu berkata dengan sengal-sengal:

"Ai! Aku cape setengah mati. " ia berhenti ketika melihat

Bee Kun Bu yang masih pingsan dan sedang dipeluki oleh seorang wanita berpakaian serba hitam dan tak bergerak ia terkejut melihat wanita berbaju hitam itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya, Gadis yang baru datang itu tidak lain tidak bukan ialah Souw Hui Hong, puteri kesayangan pemimpin partai silat Thian Liong, Souw Peng Hai.

Ketika Bee Kun Bu berpisah dari ia di dekat kota Tiong Leng, ia yang sangat sayang Bee Kun Bu selalu memikir keselamatannya, ia mengawasi Bee Kun Bu berlalu tanpa menoleh ke belakang, ia menjadi sedih hati, dan menangis di bawah sebuah pohon, Entah berapa lama ia menangis, ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat seorang dengan baju kuning, berikat kepala dan berusia lebih kurang lima puluh tahun duduk di sampingnya.

Setelah mengenali orang itu, seperti satu anak yang manja, ia tubruk orang berbaju kuning itu, dan menangis di dalam pelukannya melampiaskan kesedihannya. Lalu ia keluarkan isi hatinya: "Ong Siok (Paman Ong), aku dihina oleh orang, Ayahku telah membiarkan aku seorang diri di tempat yang jauh ini, tidak mencarinya, Ayah membiarkan aku dihina orang lain. "

Sambil mengusap-usap rambutnya gadis itu, si baju kuning berkata: "Aku telah datang, siapakah yang menghina kau?

Aku nanti berikan hajaran ke-padanya!"

Nampak Souw Hui Hong berubah menjadi sangsi Apakah ia harus memberitahukan bahwa Bee Kun Bu yang menghina ia? Harus diketahui bahwa si baju kuning ini adalah pemimpin cabang partai Thian liong yang lihay ilmu silatnya diantara kelima pemimpin-pemimpin cabang lain, dan ilmu silatnya hanya di bawah Souw Peng Hai, pemimpin partai silat Thian Liong.

Betul namanya sama tingkatnya dengan pemimpin- pemimpin cabang-cabang bendera merah, biru, putih dan hitam, tetapi pada hakekatnya ia menduduki tempat wakil pemimpin partai Thian Liong, dan semua pemimpin cabang itu menghormati padanya, Souw Peng Hai telah dapat menakluki pemimpin-pemimpin cabang-cabang bendera merah, biru, putih dan hitam dengan ilmu silatnya. Tetapi terhadap pemimpin cabang bendera kuning ini, yang bernama Ong Han Siong, cara menaklukinya lain sekali Souw Peng Hai telah mengujungi ia di tempat bertapanya di pegunungan Yen Tang San, dan telah dengan susah payah membujuk ia keluar membantu pemimpin partai Thian Liong agar ia dapat berdiri sejajar, atau lebih tinggi, dengan partai- partai silat yang terkenal di kalangan Bu Lim.

Ong Han Siong bukan saja tinggi ilmu silatnya, tetapi juga mahir sekali di dalam kesusasteraan. ia paham betul tentang kitab-kitab Si Su Ngo Keng (Sastra kuno dari pujangga- pujangga zaman purbakala) dan kitab-kitab suci lain-lainnya. Selama ia bertapa tiga puluh tahun lebih di pegunungan Yen Tang San, ia selalu mempelajari dan berlatih segala ilmu silat, ilmu pengobatan dan ilmu melumpuhkan sihir Souw Peng Hai dapat menjagoi di kalangan Kang-ouw dengan partai Thian Liongnya adalah berkat petunjuk dan bantuannya Ong Han Siong.

Souw Hui Hong yang sedari kecil selalu mengikuti | ayahnya, dan menjadi besar selama ada partai Thian Liong, mengenal betul watak dan sifat Ong Han Siong pamannya itu, wajahnya Qng Han Siong yang mirip seorang pelajar dan ramah menutupi wataknya yang congkak dan adem tak terhingga, dan ia tak suka bertempur melawan musuh, Tetapi jika ia turun tangan, maka keras dan kejam serangan- serangan dan hajaran-hajarannya, Selama dua puluh tahun berdirinya partai Thian Liong, ia hanya baru dua kali menggempur musuh: sekali diberitahukan oleh Co Hiong, dan sekali lagi, Souw Hui Hong melihat dengan kepala matanya sendiri

Dan musuh yang digempur oleh Ong Han Siong adalah jago jago silat yang sangat dimalui di kalangan Kang-ouw. Jago silat itu mula-mula telah mengalahkan lima jago-jago silat dari cabang bendera kuning sehingga Ong Han Siong yang menjadi pemimpinnya menjadi murka, Dengan tangan telanjang ia mengirim jotosan-jotosannya, dan hanya dalam tiga jurus, jago silat itu menjadi mayat! peristiwa itu dilihat oleh Souw Hui Hong sendiri

Betul Souw Hui Hong mendongkol terhadap Bee Kun Bu yang telah perlakukan ia dengan sikap yang adem, tetapi ia sangat sayang pemuda itu. ia yakin bahwa jika ia sebut namanya Bee Kun Bu, maka pemuda itu pasti tewas di tangan Ong Han Siong, Dalam keadaan yang serba salah itu, ia hanya menangis terus.

Ong Han Siong yang telah menanti jawaban agak lama, dan melihat sikap gadis itu, mendesak: "Apakah yang membikin kau sedih? Jika kau tak memberitahukan kepadaku, bagaimanakah aku dapat menolong? jawablah bahwa Pamanmu ini tidak akan mengecewakan kau."

Tiba-tiba ia ingat akan peristiwa bagaimana ia ditolong oleh Bee Kun Bu. ia segera menjawab: "Aku telah ditawan oleh para Hweeshio-hweeshio dari kuil Ban Hut Si, dan telah disekap di dalam gua sehingga beberapa hari aku ke)aparan!"

"Berapa hari kau disekap dan dibikin lapar oleh Hweeshio- hweeshio dari Ban Hut Si?" Ong Han Siong menanya,

"Dua hari," jawab Souw Hui Hong.

Ong Han Siong tertawa dan berkata: "Baik! Aku segera pergi ke kuil Ban Hut Si untuk menangkap Tio Pan Taysu, pemimpin partai Ngo Bi. Lalu kita sekap dia di markas besar partai Thian Liong dan membikin ia kelaparan dua puluh hari!"

Souw Hui Hong berhenti menangis, dan berbalik menjadi gembira, ia seka air matanya dengan sapu ta-ngannya, lalu berkata: "Paman, kita berangkat sekarang ke pegunungan Ngo Bi San." ia ingat juga bahwa Bee Kun Bu sedang menuju ke pegunungan itu.

"Mengapa demikian tergesa-gesa? Hweeshio-hweeshio dari kuil Ban Hut Si tak akan lari kemana-mana, Kita berangkat besok pun tak akan terlambat kata Ong Han Siong dengan tenang, Tetapi Souw Hui Hong tak sabar Karena dalam hatinya ia khawatir keselamatannya Bee Kun Bu. Ia geleng-geleng kepalanya dan berkata: "Aku sangat benci Hweeshio- hweeshio itu, lebih lekas mereka dihukum, lebih senang aku merasa."

Ong Han Siong berkata lagi: Tetapi Ouw Piauw Tauw pemimpin cabang bendera merah, dan Yap Piauw Tauw pemimpin cabang bendera putih telah datang ber-sama-sama aku ke sebelah barat dari propinsi Sucoan ini, dan aku telah berjanji malam ini bertemu di kota Hua Yang. Aku harus memberitahukan mereka dulu baru dapat berangkat ke pegunungan Ngo Bi San."

Souw Hui Hong bertambah gembira mendengar bahwa Ouw Lam Peng dan Yap Eng Ceng juga berada di daerah itu, Dengan manja ia berkata: "Paman, ayo kita lekas-lekas pergi ke kota Hua Yang!"

Betapapun congkak dan sombongnya Ong Han Siong sangat setia terhadap Souw Peng Hai, pemimpin partai silat Thian Liong itu ayahnya Souw Hui Hong itu, ia pun sangat sayang gadis itu, dan ia tak dapat menolak permintaannya, ia hanya tersenyum dan berkata: "Baik-lah, Kita berangkat sekarang." Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia lari dengan pesat sekali, sehingga Souw Hui Hong harus mengejarnya sekuat tenaga,

Ong Han Siong tampaknya seperti orang ber!eng-gang- lenggang kangkung dengan larinya yang laksana awan terhembus angin dengan pesatnya, tetapi Souw Hui Hong harus mengejarnya dengan susah payah. Ong Han Siong merasa kasihan melihat gadis yang dipaksa berlari-lari, Setelah menempuh jarak lebih kurang dua puluh lie, ia berhenti dan berkata: "Jika kau dapat berlari secepat aku, maka kita dapat tiba di kota Hua Yang sebelum gelap, Mari aku bantu kau berlari."

Lalu dengan tangan kanannya ia mendorong punggungnya si gadis, melanjutkan perjalanannya, Mereka berlari pesat sekali, dan Souw Hui Hong tak merasa letih lagi didorong punggungnya oleh paman angkatnya itu.

Mereka tiba di kota Hua Yang setelah hari menjadi senja, partai silat Thian Liong juga mempunyai ranting di kota Hua Yang, Pada saat mereka menginjak kota Hua Yang segera datang menyambut dua orang yang bertubuh tinggi besar yang segera membungkukkan tubuh memberi hormat di hadapan Ong Han Siong, Beberapa puluh ranting di propinsi Sucoan telah didirikan oleh Ong Han Siong, dan semua kepala ranting kenal kepadanya.

Kedua orang tadi segera mengajak Ong Han Siong dan Souw Hui Hong ke suatu rumah penginapan, dimana Quw Lam Peng dan Yap Eng Ceng telah berada di rumah penginapan itu menunggu kedatangannya. Souw Hui Hong yang cemas akan keselamatannya Bee Kun Bu tak dapat berbuat lain daripada mendesak Ong Han Siong segera berangkat, maka ketiga pemimpin itu menuruti kehendaknya, Dengan perahu mereka berlayar menuju ke kota Ka Teng, dan setelah mendarat di kota Ka Teng, mereka melanjutkan dengan berjalan kaki ke pegunungan Ngo Bi San.

Souw Hui Hong harus dibantu oleh Ong Han Siong agar dapat berjalan lebih pesat Ketika mereka tiba di puncak Ban Hut Teng, mereka mendengar pertempuran sedang berlangsung sangat seru nya.

Ouw Lam Peng paling dulu mendaki puncak itu, dan tiba di atas ketika si Niko tengah hendak menusuk mati Giok Siu Sian Cu. Dengan melontarkan lingkaran bajanya ke arah Niko itu, Ouw Lam Peng telah menolong jiwanya Giok Siu Sian Cu, Tak lama kemudian pun Ong Han Siong dan Yap Eng Ceng tiba di atas puncak, diikuti paling belakang oleh Souw Hui Hong yang segera menyaksikan Bee Kun Bu dalam keadaan pingsan di dalam rangkulan Giok Siu Sian Cu.

Ia menjerit, lalu menubruk tubuhnya Bee Kun Bu! Dalam keadaan yang kacau itu, ia tak menghiraukan orang-orang lain. Ketika ia lari hendak menubruk Bee Kun Bu, ia kebetulan menghadapi Tio Pan Taysu, Tong Pun Hweeshio berdiri paling dekat Tio Pan Taysu, Ketika Souw Hui Hong lari menubruk, ia kira gadis itu ingin menyerang Tio Pan Taysu, ia angkat tempat nasi tembaganya dan berseru: "Gadis ini besar nya!inya..." dan tempat nasi tembaga itu menggeprak datangi

Souw Hui Hong yang sedang gelisah dan bingung tidak perhatikan serangan maut itu, ia hanya merasa hembusan anginy lebat di punggungnya, dan dibarengi dengan suara "Tang!. Bruk!" Tempat nasi tembaga itu telah dikebut oleh

kipas baja Ong Han Siong dan terpental jatuh di tanah! Souw Hui Hong tidak mengetahui bahwa ia hampir binasa dikejar tempat nasi tembaga itu, ia terus lari menubruk Bee Kun Bu, lalu merampas pemuda itu dari rangkulan Giok Siu Sian Cu! ia tidak menghiraukan sama sekali orang-orang lain yang mengawasi ia. ia raba dadanya Bee Kun Bu dan masih dapat merasa jantungnya mendenyut ia membalikkan tubuhnya Bee Kun Bu dan berusaha menolong menyadarkan pemuda itu dengan memijatdan menggosok-gosok dada-nya.

Ketika itu Tong Pun Hweeshio telah didesak mundur oleh Ong Han Siong, sedangkan Ouw Lam Peng dengan lingkaran bajanya dan Yap Eng Ceng dengan goloknya telah siap sedia menanti segala kemungkinan

Ong Han Siong tetap bersikap tenang, ia mengipas-ngipas dengan kipas bajanya seolah-olah tidak menghadapi sesuatu, Satu kebutan dari kipas bajanya telah membikin tempat nasi tembaganya Tong Pun Hweeshio

terpental dan dua sodokan telah mendesak Tong Pun Hweeshio mundur ia menyaksikan sikap Souw Hui Hong yang berusaha menyadarkan Bee Kun Bu! Dengan tenang ia menghampiri dan menanya: "Hong Jie, siapakah pemuda yang kau ingin tolong itu?"

"Ong Siok-siok! Lekas tolong dia!" meminta Souw Hui Hong. Ong Han Siong mengawasi pemuda itu dan menanya lagi: "Siapakah orang ini? Mengapa kau hendak tolong dia?"

"la pernah menolong jiwaku, dan aku harus membalas budinya!" jawab Souw Hui Hong.

Ong Han Siong tersenyum, Dengan tenang ia berjongkok Lalu dengan tangan kirinya ia pijat jalan darah di punggungnya Bee Kun Bu, dan kemudian mengurut jalan-jalan darah di bagian perut, lambung dan belakang lehernya,

Sejenak kemudian, Bee Kun Bu menarik napas panjang dan perlahan-lahan membuka kedua matanya.

Bukan main gembiranya Souw Hui Hong, ia membantu Bee Kun Bu bangun untuk duduk di atas tanah, dan menanya: "Coba kau lihat siapa yang datang!"

Bee Kun Bu tersenyum dan mengangguk ia ingin bicara, tetapi darah keluar lagi dari mulutnya sehingga pakaian Souw Hui Hong kecipratan darahnya.

Gadis itu terkejut, lalu merangkul Bee Kun Bu dengan air mata berlinang.

Ong Han Siong juga mengawasi Giok Siu Sian Cu yang masih terlentang di samping Bee Kun Bu dan kedua matanya mengawasi Bee Kun Bu yang dirangkuI Souw Hui Hong.

Adegan yang memilukan hati itu telah membikin semua jago-jago silat dari pihak partai Thian Liong maupun dari pihak partai Ngo Bi, terperanjat, dan merasa kasih an.

Ong Han Siong merasa masgul melihat keadaan demikian, ia mendongak ke atas, lalu menjerit Jeritannya terdengar seperti meraungnya seekor naga, dan menggetar keras dan nyaring, Semua jago-jago silat berdiri gemetar

Si Hweeshio yang kurus kecil merangkapkan kedua tangannya seperti orang bersembahyang dan berseru: "O Mi To Hut." Lalu ia pun menjerit seperti meraungnya seekor singa, dan menggetarkan jantung! Lalu Ong Han Siong mengejek: "Setelah kita berpisah di pegunungan Koat Cong San, delapan belas musim panas telah lewat. Aku tidak menduga bahwa kau masih hidup, Raunganmu seperti singa tadi pun lebih nyaring daripada dulu!"

sebetulnya si Hweeshio kurus kecil itu bernama Tio Goan, seorang jago silat yang paling jempol dari angkatan ke tiga belas partai Ngo Bi. Bersama-sama jago-jago silat angkatan ke tiga belas lainnya, yaitu Tio Pan Tatsu yang memimpin kuil Ban Hut Si. Tong Pun Hweeshio dan Tio Hui Niko terkenal sebagai empat pemimpin partai Ngo Bi.

Dengan ilmu silat yang tinggi dan perhatian Tio Goan telah berhasil memperoleh banyak murid, Gurunya pe-mimpin- pemimpin kuil Ban Hut Si itu adalah It Tong Taysu yang hanya menerima empat orang murid, Diantara empat murid itu, Tio Goan adalah yang tertua dan juga yang paling lihay ilmu silatnya, Kemudian Tio Ceng (Tong Pun Hweeshio), Tio Pan (Tio Pan Taysu), dan Tio Hui Niko berturut turut diterima menjadi murid, Tio Goan dengan kedudukan sebagai murid pertama telah membantu gurunya mengajar ilmu silat kepada Tio Ceng, Tio Pan dan Tio Hui.

Tetapi tiga tahun sebelumnya It Tong Taysu menutup mata, Tio Goan telah melanggar peraturan partai silat Ngo Bi itu, dan diusir keluar dari kuil Ban Hut Si oleh gurunya, dan hanya dapat kembali ke Ban Hut Si setelah lewat dua puluh tahun. Dengan diusirnya Tio Goan, gurunya harus memilih seorang murid untuk meneruskan pekerjaan partai silat itu. ia panggil Tio Ceng, Tio Pan dan Tio Hui Niko untuk diuji ilmu silatnya, dan ternyata Tio Panlah yang paling lihay diantara ketiga murid itu.

It Tong Toa-su memerintahkan Tio Pan dengan melalui Tio Ceng yang lebih tua maupun lebih duluj diterima sebagat murid telah melanggar peraturan Bu Lim yang lazim, tetapi Tio Ceng tak dapat membantah Ketika Tio Goan kembali ke kuil Ban Hut Si setelah menunaikan hukuman nya, Tio Pan telah memimpin Ban Hut Si tujuh belas tahun, Selama dua puluh tahun itu Tio Goan telah berkelana ke banyak tempat dan lama berkecimpungan di kalangan Kang-ouw sehingga watak dan sifatnya banyak berubah ia tidak iri hati terhadap Tio Pan yang masih tetap memimpin Ban Hut Si, bahkan membantunya memajukan dan memperbesar partai Ngo Bi.

Biasanya bersama-sama Tio Ceng (Tong Pun Hweeshio) ia berkecimpungan di kalangan Kang-ouw untuk menyelidiki keadaan di luar dan memperoleh berita di kalangan Bu Lim. Pada delapan belas tahun berselang, karena ingin mencari peta Cong Cin Touw, ia pernah menjumpai Ong Han Siong di pegunungan Kwat Cong San. Meskipun mereka belum bertempur, tetapi mereka pernah mengadu tenaga dalam, Ouw Hui mengerahkan tenaga dalamnya dengan meraung seperti seekor naga dan Tio Goan balas menggeram seperti seekor singa, Sebelum mereka dapat mengetahui siapa yang menang, pemimpin partai silat Huan San, Tu Wee Seng si lengan delapan, juga datang ke pegunungan Koat Cong San, maka mereka berhenti mengadu tenaga dalamnya, Delapan belas tahun kemudian, mereka berjumpa lagi di atas puncak Ban Hut Si. Tio Goan Taysu berkata sambil menyengir Tapi Ong Piauw Tauw pun lebih lihay tenaga dalamnya sekarang!"

Ong Han Siong mengebutkan kipas bajanya dan berkata: "Partai Ngo Bi terkenal sebagai salah satu partai yang sangat dimalui diantara sembilan partai silat yang besar di kalangan Kang-ouw, dan memandang rendah partai Thian Liong kami yang keciL Tetapi aku Ong Ha Siong tidak gentar menghadapi segala pemimpin dari sembilan partai silat yang besar itu, Di dalam jangka waktu tiga tahun, partai Jliian Liong tentu akan mengundang semua jago-jago silat dari ke sembilan partai besar di kalangan Bu Lim datang ke markas besar kami di propinsi Kwiciu untuk mengadu silat. "

Ketika itu Tio Pan Taysu juga sudah merasa lebih reda, ia buka kedua matanya dan mengawasi Ong Han Siong. Lalu ia campur bicara: "Jika pemimpin-pemimpin partai Thian Liong mempunyai maksud demikian, itu bagus sekali, Aku yakin atas undangan partai Thian Liong, para jago silat dapat mengadu silatnya masing-masing lebih seru jika dibandingkan dengan pertarungan di atas puncak Sao Sit Hong pada tiga ratus tahun yang lampau, jika partai Ngo Bi pun turut diundang, kami tentu akan datang berkunjung!"

Ong Han Siong menyengir dan menjawab: "Tentang turut serta atau tidaknya partai Ngo Bi agak tidak penting bagi partai Thian Liong. sekarang ada satu urusan yang aku minta diberi petunjuk!"

Tio Pan Taysu tertawa dan berkata: "Jika Ong Piauw Tauw ada urusan, sebutlah, aku bersedia mendengarnya."

Lalu dengan khidmat Ong Han Siong berkata: "Partai Ngo Bi sudah terkenal selalu mentaati peraturan Bu Lim, tetapi mengapa kau menangkap puteri dari pemimpin partai Thian Liong kami dan menyekapnya di kuil Ban Hut Si? Bukankah ini telah melanggar peraturan Bu Lim?"

Tio Pan Taysu membuka kedua matanya lebar-Iebar untuk melihat Souw Hui Hong yang sedang merangkul Bee Kun Bu di samping Giok Siu Sian Cu yang masih terlentang di tanah. ia berpikir sejenak, lalu menjawab: "Ong Piauw Tauw telah bicara betuL piauw Siocia pernah ditangkap dan dibawa ke kuil Ban Hut Si oleh murid-murid kami, tetapi bukannya tanpa alasan. Dengan senjata Paiw Souw Siocia telah melukai dua murid kami, dan Piauw itu mengandung racun sehingga kedua murid kami itu mati seketika. perbuatan yang kejam itu telah dilakukan dengan direncanakan lebih dulu. "

Ouw Lam Peng mengejek: "Di kalangan Kang-ouw jika sudah bertempur, masing-masing tentu menggunakan kesempatan untuk membinasakan musuhnya dengan motto aku tewas atau kau mati, Jika kita menggunakan senjata rahasia, kita tidak melanggar peraturan Bu Lim, tetapi jika mengerubuti orang dengan harapan menang, itulah baru perbuatan yang hina dan rendah!"

Tio Pan Taysu melihat ke arah Ouw Lam Peng, lalu meneruskan: "Kami telah tawan Souw Siocia di dalam kuil Ban Hut Si, tetapi kami tidak menyiksa padanya, Hal ini kalian boleh tanyakan Souw Siocia sendiri."

Sambil mendongak ke atas Ong Han Siong mengejek: "Sebab musabab urusan ini kita tak usah bicarakan dulu, Tetapi menangkap puteri pemimpin partai kami adalah suatu perlakuan yang menghina terhadap pemimpin partai Thian Liong. Dengan cara apakah partai Ngo Bi hendak membereskan soal itu?"

Ejekan itu membikin panas Tio Pan Taysu, ia berseru: "O Mi To Hut," dan ingin menjawab, Tapi tiba-tiba Souw Hui Hong menjerit! ia menoleh ke arah gadis itu, dan melihat Bee Kun Bu sedang meronta-ronta, dan setelah bertindak dua langkah terjatuh lagi di atas tanah,

Souw Hui Hong menjerit karena ia terkejut melihat Bee Kun Bu berontak bangun dan bertindak jalan, ia coba membantu, tetapi Bee Kun Bu sudah jatuh lagi, hanya lebih kurang dua langkah dari tempat di mana Giok Siu Sian Cu masih terlentang!

Bee Kun Bu dengan memaksakan diri lekas-lekas ambil sebutir pil obat merah dari kantong di dadanya, lalu dijejalkan ke mulutnya Giok Siu Sian Cu. Souw Hui Hong tidak mencegah, ia hanya mengawasi saja, Lalu ia membantu Bee Kun bangun dan duduk di atas tanah.

Sebetulnya Giok Siu Sian Cu sudah seperti satu lampu minyak yang hampir habis minyaknya, di waktu Bee Kun Bu jejalkan pil obat itu, ia sudah tak dapat menelan, Tetapi obat yang mustajab itu segera lumer di dalam mulutnya dan mengeluarkan hawa harum. Pil obat yang mustajab itu adalah pemberi dari gadis di atas perahu, dan satu pil lainnya Bee Kun Bu telah makan ketika ia menderita luka parah di pinggir sungai dekat kota Ka Teng. Pil yang tinggal satu di dalam kantong dadanya itu, ia berikan kepada Giok Siu Sian Cu yang telah menolong jiwanya.

Bukan main mustajabnya pil obat tersebut! Setelah makan pil obat itu, Giok Siu Sian Cu segera merasa tubuhnya menjadi hangat dan rasa sakitnya perlahan-lahan lenyap, ia menarik napas panjang, dan loncat berdiri seolah-olah orang baru bangun dari tidurnya, ia telah menjadi sehat wal'afiat. ia berdiri bangun, karena ia ingat bahwa barusan ajalnya telah tiba. Tetapi ia telah sembuh dan sehat kuat sebagaimana sediakala! ia pungut serulingnya dari tanah, lalu menghampiri Bee Kun Bu dan menanya: "Dik! Obat apakah kau telah berikan kepadaku? Mengapa kau sendiri tidak makan obat itu? Apakah obat itu masih ada? Di manakah kau memperolehnya obat itu agar aku pun dapat ambil untuk kau."

Sambil geleng-geleng kepalanya Bee Kun Bu menjawab dengan suara tertahan: "Aku... aku hanya mempunyai sebutir.."

Giok Siu Sian Cu terperanjat mendengar keterangan itu. ia kucurkan air matanya. ia lempar serulingnya dan memegang pundak Bee Kun Bu seraya mendesak: "Mengapa kau sendiri tidak makan? Mengapa???"

Souw Hui Hong membentak: "Karena kau bertindak keliru sehingga dia harus menderita begini!"

Giok Siu Sian Cu tidak memperdulikan teguran itu, ia berpikir dan memandang Bee Kun Bu, lalu ia berkata: "Dik! Tunggu, Aku bunuh mati Tio Pan, dan kemudian kita dapat mati bersama-sama!"

Baru saja ucapannya selesai, ia pungut serulingnya dan loncat secepat kilat menyodok Tio Pan dengan jurus Siauw Cit Thian Lam atau Jari Sakti Menyodok ke Selatan, serangan sekonyong-konyong itu tidak diduga sama sekali oleh Tio Pan yang menganggapnya telah terluka parah tlan akan segera binasa, ia tak keburu mengegos, menangkis atau mengelit!

Bahkan Tong Pun Hwecshio dan Tio Hui Niko yang berdiri di sampingnya juga tak dapat berbuat apa-apa!

Tetapi justru pada saat itu, terdengar Tio Goan tertawa keras dan terlihat kedua pundaknya bergerak, dan entah kapan ia telah berdiri di depan Tio Pan sambil mengirim tinju kirinya menyodok ke arah Ong Han Siong! Ong Han Siong telah siap sedia. Sambil menyengir ia berseru seraya mundur satu tindak mengelakkan tinju kirinya Tio Goan. "Ha! Tak mudah kau menyerang aku!" Egosannya itu dibarengi dengan kebutan kipas bajanya ke seruling Giok Siu Sian Cu dan terus menotok pergelangan tangan Tio Goan yang menjotos ia!

Semua serangan, egosan, kelitan dan serangan kembali dari ketiga orang itu demikian cepatnya sehingga orang-orang yang menyaksikan tak dapat membedakan gerakan-gerakan itu.

Hembusan angin dari kipas bajanya Ong Han Siong telah dirasakan oleh Tio Goan, dan ia yakin bahwa kebutan itu dilancarkan dengan tenaga dalam yang lihay dan dapat menghancurkan batu, maka ia lekas-lekas menarik kembali tangan kirinya itu. sedangkan seruling Giok Siu Sian Cu tidak menjumpai sasarannya karena terdampar oleh angin tinjunya Tio Goan dan kebutan kipas baja Ong Han Siong. Namun angin daripada sodokan serulingnya Giok Siu Sian Cu telah melukakan sedikit tubuhnya Tio Goan, yang dirasakan sakit sekali "Hai! iblis wanita ini betul-betul lihay!

Dalam keadaan luka parah dia masih dapat menyerang demikian hebatnya! jika ia tak terluka, mungkin aku dapat terbunuh seketika!" pikir Tio Goan, karena ia tidak mengetahui bahwa Giok Siu Sian Cu telah sembuh setelah makan pil obat yang mustajab Lalu sambil meraung seperti singa ia menyerang Ong Han Siong lagi dengan tinju kanannya, sedangkan tinju kirinya ia kirim ke arah Giok Siu Sian Cu.

Ong Han Siong senantiasa siap sedia, ia melangkah v ke samping dan kirim tinju kirinya dengan jurus Tie Ki Tu Cut atau Kuda Sakti Nyeruduk ke Depan, dan berusaha menyekal tinju kirinya Tio Goan yang dikirim ke dadanya Giok Siu Sian Cu, sedangkan kipas bajanya ia gunakan untuk menjaga dadanya sendiri. Tinju kanannya Tio Goan dapat digeprak hanya dengan angin kebutan kipas bajanya Ong Han Siong, dan ia harus loncat mundur menghindarkan cekalan lawannya. Seperti macan yang sudah nekat, ia mundur sambil menyerang juga Yap Eng Ceng yang berdiri di be!akang-nya, dan Yap Eng Ceng mengegos.

Ong Han Siong mengejar, dan menendang dengan jurus Tou Sing Ti Tao" atau Bintang Sapu Membentur Bulan, ke lambungnya Tio Goan sedangkan kipas bajanya memukul dengan serentak serangan serangan kaki dan kipas baja yajig serentak itu secepat kilat dan Tio Goan terpaksa loncat mundur tujuh-delapan kaki ke belakang. Sambil tersenyum Ong Han Siong mengejar dan menyerang terus sehingga Tio Goan terus menerus terdesak mundur

Giok Siu Sian Cu juga mengejar, tapi Tio Hui Niko loncat menghalau dengan pedang terhunus. Mereka segera bertempur dengan sengit seka li.

Ketika itu Tong Pun Hweeshio masih juga belum datang membantu ia berdiri mengawasi Ouw Lam Peng dan Yap Eng Ceng, ia yakin bahwa jika ia turun tangan, kedua jago-jago silat itu pasti bergebrak menyerang padanya ia hanya berdiri siap sedia dengan tempat nasi tembaganya, ia pun juga yakin bahwa Tio Pan masih terluka, dan ia sangat khawatirkan keselamatan saudara seperguruannya itu."

Demikianlah pertempuran antara Ong Han Siong dan Tio Goan telah berlangsung dua puluh jurus tebih, dan Tio Goan tak dapat ketika untuk membalas me-nyerang, Berkat tenaga dalamnya dan kelincahannya, meskipun ia tak bisa menyerang, ia masih dapat mempertahankan diri.

Giok Siu Sian Cu yang baru sembuh telah keluarkan banyak tenaga lagi, ia segera menjadi letih, Keringat membasahi pakaiannya dan serangan-serangannya juga makin lambat Baru saja Tio Hui Niko ingin menusuk lawannya dalam keadaan letih, sekonyong-konyong Ouw Lam Peng membentak dan melontarkan lingkaran bajanya ke arah Niko itu. Lalu ia berseru: "Hei! Kau baru saja sembuh, bagaimanakah dapat bertempur lama? Ayo, pergi beristirahat!"

Dalam keadaan biasa, teguran demikian akan membikin Giok Siu Sian Cu menjadi marah, Tetapi ketika itu ia merasa letih sekali, ia tersenyum dan mundur untuk duduk di tanah beristirahat

Setelah menangkis pedangnya Tio Hui Niko dengan lingkaran bajanya, Ouw Lam Peng tidak menyerang ia terus mengawasi pertempuran antara Ong Han Siong dan Tio Goan yang sedang bertempur sangat dahsyatnya, Tio Goan keluarkan ilmu khas Ngo Bi dengan jurus-jurus Kim Kong Coan (Tinju Baja) dan tiap-tiap jotosan menghembuskan angin yang santar ia lebih kuat dan pandai daripada Tio Pan, dan serangan-serangan ia dapat lancarkan lebih dahsyat daripada Tio Pan.

Di pihak Ong Han Siong, mereka menyaksikan ia menggunakan ilmu Coa Heng Pat Kwa Ciang atau Tinju Menyerang Seperti Larinya Ular, dan tubuhnya bergoyang- goyang ke kiri dan ke kanan laksana pohon cemara dihembus angin. Tiap-tiap tinju yang ia lancarkan nampaknya enteng, tetapi sebetulnya dikerahkan dengan tenaga dalam, apabila menemui sasaran, maka tinju itu pasti mengambil korban!

ilmu silat Ong Han Siong telah dipahami oleh Tio Goan, dan ia berusaha mengelakkan serangan-serangan tinju maut maupun gebrakan kipas bajanya, Demikianlah mereka bertempur yang satu dengan Kim Tong Coan dan yang lain dengan Coa Heng Pat Kwat Cong, dan semua menyaksikan pertempuran kedua j'ago silat yang tinggi i!munya.

Demikianlah Tio Goan dengan tinju yang dapat menggempur gunung, dan Ong Han Siong dengan tinju yang dapat menembusi baja ditambah geprakan atau sabetan kipas bajanya yang dapat menghancurkan se-suatu, terus bertempur untuk menentukan siapakah yang lebih unggul Bie -ooo0ooo-

Dengan satu tinju Ong Han Siong menaklukkan partai Ngo

Pertempuran telah berjalan seratus jurus lebih, belum juga ada yang dapat dikalahkan Tio Goan telah melancarkan ilmu pukulan Kim Kong Coan/,"dengan mengerahkan dan menghamburkan banyak tenaga, jika lawannya lebih lemah, dalam hanya tiga-Iima jurus akan dapat dihajar atau dibinasakan Tapi kini ia bertempur menghadapi Ong Han Siong yang lihay, dan yang bertempur dengan jurus Pat Kwa Cong Hoat (ilmu tinju segi delapan),

Hanya tertampak tubuhnya Ong Han Siong yang melingkar-lingkar laksana seekor ular, dan mengirim jotosan bila terdapat lowongan, sehingga Tio Goan sibuk mengegos dan berkelit Meski tenaga dalam Kun Goan Ki Kongnya

(tenaga jasmani dahsyat) dapat menghancurkan batu, tetapi ia harus bertempur dengan lawan yang juga bertempur dengan keras. Melawan Ong Han Siong dengan jurus Pat Kwa Cong Hoatnya, seringkali pukulan-puku!annya Tio Goan memukul angin Maka setelah ia bertempur lebih dari seratus jurus ia mulai merasa letih, seluruh tubuhnya basah dengan keringat!

Tio Goan insyaf bahwa jika ia terus menerus bertempur cara demikian, meskipun ia tak terluka, tetapi lambat laun ia akan menjadi letih dan dapat dipukul binasa oleh lawannya, Dengan keinsyafan itu ia segera robah jurus jurus nya dari menyerang keras menjadi hanya menjaga diri dan menanti kesempatan mengirim jotosan-jotosan mautnya.

Ong Han Siong tertawa mengejek "Ha! ilmu pukulan Kim Kong Coan yang terkenal di kolong langit hanya begitu saja!" Ejekan itu ia barengi dengan satu loncatan ke depan dan jari- jari tangan kananya berusaha menotok jalan-jalan darah lawannya dan tangan kirinya menyapu ke samping kepada lengan lawannya yang coba menangkis totokannya. serangan itu dilakukan secepat kilat, dan Tio Goan pasti binasa jika ia tidak lekas-lekas loncat mundur ke belakang, "Hm! ilmu silatnya Ong Han Siong betul-betul lihay!

Serangan-serangannya tak ter-duga! Rupanya pertempuran sekarang ini adalah pertempuran mati atau hidup!" pikir Tio Goan

Ong Han Siong tidak mengejar ia lipat kipasnya kembali dengan maksud menyodok lawannya dengan ujung kipasnya itu. Tiba-tiba Tio Goan datang menjotos secepat kilat itu tak dapat diegosi meskipun Ong Han Siong memiliki ilmu silat yang tinggi sekali, ia merasa hembusan angin dari jotosan itu dari d ada nya. Dengan menjejakkan kedua kakinya ia loncat ke atas, terhindarlah ia dari jotosan maut itu, tetapi hembusan angin pukulan itu telah membikin ia terlempar dua depa lebih jauhnya!

Seumur hidupnya belum pernah ia dibikin terpelanting. ia menjadi gusar Setelah ia berdiri lagi di atas tanah, ia segera loncat menerkam dan menyabet lawannya dengan kipasnya, Sabetan itu dilakukan dengan jurus Wan Tee Hoan In atau angin taufan menyapu awan. Tio Goan loncat mundur untuk mengirim kedua tinjunya berbareng, Ong Han Siong menggegos ke samping, dan dengan jurus Lak Cap Si Sut Coa Heng Pat Kwa Ciang (Jalan ular dari ilmu pukulan delapan segi dengan enam puluh empat perubahan) ia loncat ke kiri dan ke kanan sambil melingkari lawannya sambil melihat lowongan untuk menotok lawannya dengan ujung kipasnya, jurus itu dilakukan cepat sekali sehingga orang- orang yang menonton tak mengetahui apa yang ia sedang lakukan,

Meskipun Tio Goan telah mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi lawannya, ketika itu ia sukar menduga serangan-serangan yang dilancarkan lawannya, ia menjadi cemas sekali!

Tio Ceng dan Tio Hui telah melihat bahwa Toa suhengnya berada dalam bahaya, sekiranya jika pertempuran berlangsung terus, Toa suhengnya pasti dapat dihajar rubuh, Mereka ingin membantui tetapi baru saja mereka bertindak maju, terdengar Ong Han Siong meng-ejek, dan ejekan tersebut disertai dengan suara geprakan, dan terlihat tubuhnya Tio Goan Taysu yang kurus kecil terlempar tujuh- delapan kaki jauhnya!

Tio Goan menahan dirinya dan berdiri di tanah, akan tetapi seluruh tubuhnya bergemetar. Agaknya ia terluka tidak enteng!

Tio Ceng segera datang menyerang dengan periuk tembaganyaj tetapi Ong Han Siong lebih cepat daripada ia. Satu loncatan yang lincah, Ong Han Siong telah berada di belakang Tio Goan, dan tinju kanannya menjotos jalan darah di punggung lawannya, jalan darah di bagian itu adalah salah satu dari dua belas jalan-jalan darah yang penting, Satu jotosan yang jitu dapat segera membunuh mati korbannya.

Tio Ceng yang sedang datang menolong terlambat, dan Tio Hui terkejut menyaksikan jotosan maut itu. Tetapi tepat ketika Tio Hui menjerit dan tinjunya Ong Han Siong hampir mengenai punggung Tio Goan, secepat kilat terlihat Tio Goan menjatuhkan diri berguling-gulingan dan tinju kanannya menyambar ke lambungnya Ong Han Siong. jika Ong Han Siong tidak lekas-lekas loncat ke belakang, mungkin ia terpukul binasa,

Tio Goan menjotos sambil berusaha menyingkir dan dalam kedudukan terdesak itu, Ong Han Siong menerkam kembali dan berhasil memukul Tio Goan jatuh, tetapi ia sendiripun kena dipukul betis kanannya, Dua-duanya jatuh, dan ketika Tio Ceng datang hendak membantu, mereka masih belum dapat bangun, karena kedua-duanya telah terluka.

Tio Ceng mengangkat bangun Toa Suhengnya, Di lain pihak Ouw Lam Peng pun datang mengangkat bangun Ong Han Siong,

Ong Han Siong yang hebat sekali tenaga dalamnya, dengan menahan sakit ia mengejek: "Hei! Hweeshio, bagaimanakah rasanya jotosanku tadi?" "Jotosanmu hebat, tetapi tubuh si tua bangka ini masih dapat bertahan..." jawab Tio Goan,

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Ong Han Siong, dan terus menantang: "Jika begitu, mari kita bertempur terus beberapa jurus lagi!"

Dengan memaksakan diri, Tio Goan berdiri,

"Baik! Si tua bangka ini takkan gentar!"

Dengan satu loncatan, Ong Han Siong berdiri lagi menghadapi Tio Goan, lalu menyodok dada lawannya dengan ujung kipasnya,

Tio Goan mengegos dan terus mengirim satu jotosan, Mereka insyaf bahwa pertempuran ulangan itu akan memperhebat luka-luka yang mereka derita dan akhirnya mereka berdua akan rubuh karena luka-luka itu.

Harus diketahui bahwa jika telah menderita luka-Iuka di dalam tubuh, mereka harus menggunakan tenaga dalamnya dan berusaha membebaskan jalan-jalan darah yang terluka atau melancarkan peredaran darah di seluruh tubuh. Tetapi jika mereka bertempur lagi, maka luka-lukanya akan makin menghebat dan tak dapat di-pu!ihkan dengan tenaga dalam, dan luka-luka itu akan menyebabkan kematian atau cacad seumur hidup,

Mereka keduanya mengerti akan hal ini, dan merekapun insyaf bertempur pula akan hanya mencelakakan diri sendiri Tetapi ketika itu, mereka tidak ingin kehilangan muka,

Baru saja pertempuran ulangan itu berlangsung dua jurus, Ouw Lam Peng loncat dan berdiri di tengah-tengah mereka dan mendorong Tio Goan mundur beberapa tindak.

Tio Goan pun datang menyerang Ouw Lam Peng dengan periuk tembaga nya. Ouw Lam Peng loncat mundur tiga langkah dan mengejek: "Pemimpin dari partai Thian Liong kami telah mengundang semua partai-partai silat dari kalangan Bu Lim untuk mengadu silat nanti tiga tahun lagi, pertempuran kali ini kami tidak akan teruskan!"

Lalu ia menghadapi Ong Han Siong dan berkata: "Perintah dari pemimpin kita tak dapat ditentang. Ong Heng harus mentaati nya. Lagipula Ong Heng mempunyai tugas penting, tidak seharusnya karena urusan kecil akan membawa akibat yang tidak diingini bagi partai silat kita."

Ong Han Siong mengerti bahwa bujukan Ouw Lam Peng itu karena khawatir akan luka-Iukanya, maka sambil tersenyum ia berkata: "BetuI! perkataan Ouw Piauw Tou beralasan!" Lalu dengan sungguh sungguh ia berkata kepada Tio Goan: "llmu silat Taysu boleh juga, Kali ini kita tangguhkan pertempuran kita, Waktu kita berjumpa masih banyak-"

Sambil tersenyum Tio Goan menjawab: "O Mi To Hut! Si tua bangka ini pasti datang meladeni tantangan itu!"

"Dan nanti kita bertempur sampai ada yang binasa!" mengejek Ong Han Siong.

Tio Goan menahan kedongkolannya, "Ong Si Cu memiliki ilmu silat yang tinggi dan mungkin tiada taranya. Si tua bangka ini sebetulnya tak dapat menandinginya. Akan tetapi untuk memenuhi janji aku, si tua bangka ini pasti tidak mundur!"

"Toa-su terlampau merendahkan diri." Ouw Lam Peng memotong pembicaraan Lalu ia jalan melalui Tio Ceng menghampiri Souw Hui Hong.

Ketika itu Souw Hui Hong masih memeiuki Bee Kun Bu yang menderita luka, Beberapa langkah dari mereka Giok Siu Sian Cu sedang duduk bersila sambil mengawasi mereka berdua. wajahnya tetap tenang, tetapi kedua matanya berlinang. Ouw Lam Peng menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tidak turut. Harap paman beritahukan kepada ayah untuk membunuh semua Hweeshio-hweeshio dari Ban Hut Si ini. "

Yap Eng Ceng juga menegur: "Apakah kau masih juga ingin diam di sini?" ia melihat Bee Kun Bu yang berada di dalam pelukannya Souw Hui Hong. "Aku pun hendak menemani dia berdiam di sini!"

Ketika itu Ouw Lam Peng memperhatikan Bee Kun Bu yang masih memejamkan matanya dan darah masih terus keluar dari mulutnya. Sambil geleng-geleng kepala ia berkata: "Dia sudah payah. jika kau terus berdiam di sini, kau pun juga takkan dapat menolong jiwanya!"

Dengan tak tertahan lagi Souw Hui Hong mengucurkan air mata, dan dengan senyum getir ia berkata:

"Aku tahu dia tak dapat hidup lama lagi oleh karena itu hendak berdiam di sini menemani dia. "

"Jika dia mati!" tanya Ouw Lam Peng.

"Jika dia mati, aku akan menggali lobang untuk mengubur dia. Kemudian aku.,." jawab Souw Hui Hong.

"Ayahmu terkenal di kalangan Kang-ouw, dan ia memimpin partai silat Thian Liong yang besar," kata Ouw Lam Peng, memotong pembicaraan "Apakah kau tidak memikir ayahmu? Mengubur orang )ain bukannya urusanmu Lagipula dia adalah murid dari partai Kun Lun, seharusnya ketiga pemimpin partai Kun Lunlah yang datang membikin perhitungan dengan partai Ngo Bi. Ayo! Lepaskan dia, dan turut aku pergi!"

Ketika itu Giok Siu Sian Cu perlahan-lahan bangun dan datang menghampiri Souw Hui Hong.

Yap Eng Ceng lalu loncat dan berdiri di hadapannya sambil menegur: "Kau hendak berbuat apa? Apakah kau mengetahui bahwa dia adalah puteri kesayangan pemimpin partai Thian Liong kami?" Dengan mengacung-acungkan seruling batu Giok di tangannya, Giok Siu Sian Cu menjawab: "Aku tahu, Tetapi apakah kau ingin bertempur dengan aku?"

Sambil tersenyum Yap Eng Ceng berkata: "Kau sudah letih dan telah menderita luka, Meski aku menangpun aku hanya akan diejek, Tetapi jika kau bermaksud mengganggu puteri pemimpin kami, kau sama juga mencari mati!"

Sambil tersenyum Giok Siu Sian Cu berusaha menotok Yap Eng Ceng dengan seruling batu Gioknya. Yap Eng Ceng mengegos dan membalas kirim dua jotosan yang mendesak Giok Siu Sian Cu mundur tiga tindak.

"Kau ingin melawan aku sekarang? Aku kira kau harus tunggu sampai kau sembuh betuI!" Yap Eng Ceng memperingatkan

Tetapi Giok Siu Sian Cu menjawabnya dengan serangan yang bertubi-tubi sehingga Yap Eng Ceng sibuk menangkis dan mengegos.

Ketika serangan-serangan Giok Siu Sian Cu mulai menjadi lambat, Yap Eng Ceng membalas menyerang dengan empat jotosan memaksa lawannya mundur lagi empat langkah,

Giok Siu Sian Cu telah letih karena ia telah menderita luka. ia dapat berdiri berkat obat mustajab yang Bee Kun Bu berikan kepadanya, pertempuran itu telah membikin ia menjadi letih lagi,

Yap Eng Ceng juga tidak menyerang, ia berkata: "Pemimpin partai silat kami mengagumi ilmu silatmu, dan telah berusaha menjumpai kau. Tetapi kau sukar di-carinya, ia tetap mengagumi kau. Jika kau sudi turut partai silat kami dan pimpin cabang bendera ke lima, dia akan sangat gembira, karena kau dapat memperkuat partai kami," ia berhenti sejenak, lalu meneruskan: "Sebetulnya partai silat Thian Liong dipandang remeh oleh sembilan partai silat yang terkenal di kalangan Bu Lim. Jika terjadi perebutan kedudukan, partai silat kami akan dianggap musuh bersama oleh kesembilan partai lainnya, Oleh karena itu, kami selalu berusaha memperkuat partai silat kami, Bila perebutan kedudukan terjadi lagi di puncak Sao Sit Hong, kami tak akan gentar menghadapinya, Kini sebagian besar jago-jago silat di kalangan Kang-ouw telah menggabungkan diri ke dalam partai silat Thian Liong, pemimpin kami bukan saja ilmu silatnya tinggi, tetapi juga memiliki jiwa besar.

Aku berani jamin bahwa jika kau sudi menggabungkan diri dan sekarang turut kami pergi ke markas pusat di sebelah utara propinsi Kwiciu, pemimpin kami tentu akan menerima kau. Setelah nanti menjumpai pemimpin kami, kau dapat mempertimbangkan lagi kau suka menggabungkan diri atau tidak, Kau ini menderita luka parah, tidak mudah dibikin sembuh oleh obat apapun, Tetapi pemimpin kami memiliki ilmu Kian Goan Cit Shin Kong (ilmu jari tangan sakti), asalkan bagian-bagian, anggota di dalam tubuhmu tidak hancur, dia tentu dapat menyembuhkannya." ia berhenti dan mengawasi sikapnya Giok Siu Sian Cu. "Nah, bagaimanakah pendapatmu? Sudi turut kami menemui pemimpin kami?"

Sambil tersenyum Giok Siu Sian Cu menjawab: "Souw Peng Hai betul-betul orang yang luar biasa, Dia dapat menaklukkan kau Yap Eng Ceng, seorang jago sifat yang jarang ada tandingannya, Tetapi pada dewasa ini, aku belum dapat turut. "

ia menoleh ke arah Bee Kun Bu, lalu sambil menarik napas ia meneruskan: "Aku harus membereskan urusan dia. jika aku masih hidup, aku pasti pergi ke markas besar partai Thian Liong."

Ketika itu Ong Han Siong juga telah menggunakan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka-Iukanya di dalam tubuhnya dan memulihkan tenaganya, ia menghampiri Souw Hui Hong dan juga memperhatikan Bee Kun Bu. Sambil geleng-geleng kepala ia berkata: "Luka-nya dia berat sekali, sedikit harapan dia dapat hidup. Sia-sia belaka kau menunggu dan merawat dia!"

Ucapan itu membikin Souw Hui Hong menjadi pucat, karena ia telah mengetahui tentang pengetahuan obat-obatan dan ilmu pengobatan dari Ong Han Siong yang sebanding dengan ayah angkatnya, Sao Kong Gic Tetapi ia terus memduki Bee Kun Bu dengan maksud agar Ong Han Siong dapat menolongnya. ia pun mengetahui bahwa Ong Han Siong belum tentu dapat menolong menyembuhkan Bee Kun Bu. Kata-kata Ong Han Siong yang mengatakan bahwa Bee Kun Bu mungkin tak dapat ditolong lagi bukan saja membikin ia terkejut, bahkan membikin ia menjadi pusing kepala dan lemas, Dengan tak terasa Bee Kun Bu terlepas dari pelukannya sehingga tubuhnya jatuh lagi di atas tanah, ia menubruk lagi sambil menangis tersedu-sedu.

Ouw Lam Peng menghampiri dan memegang pundaknya Souw Hui Hong. ia memperingatkan "Souw Siocia! ini tempat apa! Apakah kau tidak malu dilihat orang?"

Ong Han Siong segera menotok jalan darahnya Souw Hui Hong,-lalu berkata kepada Ouw Lam Peng: "Me-ngapa kau maki dia? Ayo! Lekas bawa dia pergi!"

Misalnya Souw Hui Hong bukan puteri kesayangan pemimpin Souw Peng Hai, mungkin ia dipukul mati oleh Ouw Lam Peng. Untuk melampiaskan amarahnya, Ouw Lam Peng tendang tubuhnya Bee Kun Bu yang menggeletak di tanah.

Karena terhadap Souw Hui Hong ia tak dapat berbuat menuruti kehendak hatinya,

Giok Siu Sian Cu tidak keburu menangkis tendangan itu. ia sambit Ouw Lam Peng dengan seruling batu Gioknya, dan berhasil mengenai kakinya Ouw Lam Peng yang terpaksa lekas-lekas menarik kembali kakinya itu. Lalu Giok Siu Sian Cu menubruk tubuhnya Bee Kun Bu. Tetapi dicegah oleh Ouw Lam Peng yang membentak: "Hei! Apakah kau hendak mencari mati?" Giok Siu Sian Cu tidak menjawab ia semprot dengan darah yang keluar dari mulutnya sehingga seluruh pakaiannya Ouw Lam Peng terkena noda darah, Ketika itu Giok Siu Sian Cu telah loncat tujuh-delapan kaki jauhnya siap menanti segala serangan.

Yap Eng Ceng ingin mencegat, tetapi dicegah oleh Ong Han Siong.

"Yap Piauw Tou, jangan kejar! Kali ini, kita lepaskan dia!" Baru saja ucapannya selesai, Ong Han Siong sekonyong-

konyong membalik badan dan menerkam Tio Pan Taysu

dengan kipas di tangan kirinya, dan setelah mendesak Tio Hui yang berdiri menjagai Tio Pan, ia berhasil menotok jalan darahnya Tio Pan Taysu.

Serangan yang tiba-tiba serta sangat cepatnya itu, tak dapat dicegah oleh siapapun, Ong Han Siong tidak menunggu lagi tubuhnya Tio Pan Toa-su jatuh lalu merangkul pinggangnya, Dengan satu loncatan ia telah bawa tubuhnya Tio Pan Toa-su yang tidak berdaya ke sampingnya Ouw Lam Peng dan memerintahkannya, "Lekas berlalu! Aku dan Yap Piauw Tou akan meladeni musuh yang datang mengejar!"

Setelah menerima tubuhnya Tio Pan Toa-su yang sudah tak berdaya, Ouw Lam Peng terpaksa lari membawanya sambil menahan sakit kakinya, ia tidak setuju akan perbuatannya Ong Han Siong, karena perbuatan itu pasti akan menimbulkan amarahnya partai Ngo Bi San. Tetapi karena kedudukan yang tinggi dari Ong Han Siong di dalam partai silat Thian Liong, ia tak berani menentang,

Betul saja, perbuatan Ong Han Siong itu telah menimbulkan murkanya Tio Goan, Tio Ceng dan Tio Hui secara yang segera datang menyerang Tio Goan dan Tio Hui menyerang Ong Han Siong, dan Tio Ceng menyerang Yap Eng Ceng.

Goloknya Yap Eng Ceng dengan jurus Lek Ciong Ngo Gak (menggempur lima gunung) berhasil menangkis periuk tembaganya Tio Ceng, sambil membalas menyerang dengan tiga bacokan beruntun.

Ong Han Siong dengan kipas besinya meladeni pedangnya Tio Hui dan tinjunya meladeni jotosan-jotosan Tio Goan. Baru saja pertempuran berlangsung enam-tujuh jurus, tiba-tiba Tio Goan mundur Lalu dengan kedua tinju di depan dadanya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya^ Kedua matanya melotot mengawasi Ong Han Siong,

Sambil melawan Tio Hui yang menyerang dengan pedang, Ong Han Siong telah perhatikan sikap Tio Goan itu, ia insyaf bahwa Tio Goan sudah menjadi nekat dan ingin bertempur mati-matian. Satu geprakan hebat dari kipasnya memaksa Tio Hui loncat mundur beberapa tindak, Lalu ia berkata dengan suara keras: "Kalian telah menawan puteri pemimpin partai silat Thian Liong kita dan menyekapnya selama dua hari di dalam kuil Ban Hut Si.

Maka kami datang untuk membikin perhitungan yang setimpal Kami hendak bawa Tio Pan ke markas besar kami dan akan menyekapnya selama dua puluh hari, setelah itu, dengan mentaati peraturan Kang-ouw, kami akan kirim dia kembali ke pegunungan Ngo Bi San ini. Apabila kalian masih tidak ptfas, terpaksa kalian berurusan dengan aku, Ong Han Siong!" Belum lagi kala-katanya selesai, ia telah loncat ke samping Yap Eng Ceng, dan satu sabetan kipasnya dengan ilmu Thian Wi Lai In atau Awan datang tiba-tiba, ia berhasil melempar periuk tembaganya Tio Ceng sehingga Hweeshio itu juga terpental beberapa kaki jauhnya, "Yap Piauw Tou, mari kita berlalu!" Dan iapun telah loncat jauh

Yap Eng Ceng pun segera loncat jauh sambil mengambil satu butir biji besi dari kantongnya.

Tio Goan Toa-su membentak: "Hai, Ong Han Siong! Apakah kau kira kau dapat lari dengan gampang?" ia pun mengejar cepat sekali, Setelah berada delapan-sembilan kaki jauhnya dari Ong Han Siong, kedua tinjunya dari depan dadanya disodokkan keluar dengan serentak! Ong Han Siong mengetahui bahwa ia tak dapat menangkis kedua tinju itu dengan satu tangan, karena serangan itu dikerahkan dengan seluruh tenaga da!am, ia segera menjatuhkan diri berguling-gulingan sampai tujuh-delapan kaki jauhnya sehingga ia berada dekat sekali di sisi jurang.

Yap Eng Ceng terkejut ia loncat dan menjambret pakaiannya Ong Han Siong, Tiba-tiba terlihat tangan kanannya Ong Han Siong menjambret satu batang pohon cemara yang tumbuh di sisi jurang itu. justru pada saat itu Tio Goan loncat mengejar Batang pohon tersebut digunakan oleh Ong Han Siong untuk landasan melonjak ke belakang, dan secepat kilat terlihat tubuhnya seolah-olah terbang ke atas.

Kesempatan baik itu digunakan oleh Yap Eng Ceng untuk mengirim jotosan ke lambungnya Tio Goan, Tetapi Tio Goan telah waspada dan siap sedia untuk menjaga-nya. Ketika tinju kanannya berusaha mendorong Ong Han Siong agar terjerumus ke bawah jurang, tangan kirinya menjaga diri, Maka jotosan Yap Eng Ceng dapat diegosi dengan jurus Lek Pin Thian Lam atau Angin selatan menahan awan.

Tetapi ia tidak menduga jika Yap Eng Ceng menjotos dengan susah payah ketika jotosan kedua datang menyambar lagi. ia terpaksa loncat ke belakang, Yap Eng Ceng mengejar Tio Ceng tidak tinggal diam, ia menyerang dari belakang, Dalam keadaan demikian, Yap Eng Ceng tak dapat menghindari gebrakan periuk tembaganya Tio Ceng, dan jika periuk tembaga yang lebih dari seratus kati itu menumbuk punggungnya, maka habislah riwayat nya.

Justru pada saat itu Ong Han Siong seperti seekor harimau yang sedang mengamuk loncat secepat kilat dan memukul lengannya Tio Ceng dengan kipas besinya,

"Aduh!" menjerit Tio Ceng kesakitan, dan periuk tembaganya jatuh di tanah,

Ong Han Siong tidak memberikan kesempatan lagi, ia menyerang terus, Tio Ceng terpaksa lekas-lekas loncat mundur sambil menangkis serangan-serangan yang dilancarkan oleh lawan nya. sekonyong-konyong berkelebat pedangnya Tio Hui di depan dadanya untuk menolong padanya, Satu gerakan dari kipas besinya Ong Han Siong berhasil membikin pedang itu terlempar, dan kipas besi itu dikebat ke atas untuk menotok jalan darah di pinggangnya Tio Hui.

Tio Hui terkejut ia lekas-lekas loncat mundur Ketika itu Tio Ceng sudah mengangkat periuk tembaganya lagi, dan Tio Goan pun sudah datang siap mengirim jotosan-jotosannya pula, Ong Han Siong mengegos ke kiri dan ke kanan menghindarkan diri dari serangan-serangan itu. Dengan demikian semua jotosan-jotosan Tio Goan memukul angin, dan Tio Ceng pun tidak memperoleh kesempatan untuk menumbukkan periuk tembaganya di atas tubuhnya Ong Han Siong,

-ooo0ooo-

Co Hiong yang kejam perlihatkan kebusukannya Meskipun serangan-serangannya tidak menemui sasaran,

akan tetapi Tio Goan tidak berhenti menyerang, ia lalu mengambil jarak untuk menghadapi lawannya yang sudah siap mengirim serangan-serangan balasan,

Ong Han Siong berkata kepada Yap Eng Ceng: "Yap Piauw Tou, kau jalan dulu, Biarlah aku sendiri menahan mereka bertiga."

Tetapi aku,.,." Belum lagi habis Yap Eng Ceng berkata, ketika Tio Goan, Tio Ceng dan Tio Hui telah datang dan mengurung dari tiga jurusan.

Ong Han Siong menyengir sejenak, lalu secepat kilat ia menjotos Tio Ceng dan kipas besi di tangan kirinya menyodok Tio Goan, sedangkan Yap Eng Ceng ayun goloknya menyerang Tio Hui, Segera terjadi pertempuran yang maha seru, masing-masing mengeluarkan kepandaiannya untuk mengalahkan lawannya, Terlihat-tah berkelebat-ke lebat nya cahaya pedang dan golok yang berkilauan, hembusan angin dari sabetan senjata-senjata dan jotosan-jotosan berdenging- dengtng membisingkan sekali

Ong Han Siong dengan ilmu pukulan Coa Heng Pat Kwa Ciang Hoat (ilmu tinju dengan langkah ular) meng-gempur Tio Goan dan Tio Ceng, sedangkan Yap Eng Ceng yang telah mendapat sedikit luka karena geprakan periuk tembaganya Tio Ceng melawan Tio Hui dengan sengitnya,

Tio Hui bukannya tandingan Yap Eng Ceng, maka setelah bertempur tiga puluh jurus, ia merasa tak dapat melawan lagi, ia yang khawatir atas keselamatan Tio Pan Taysu yang telah dibawa pergi dalam keadaan tak berdaya telah bertempur dengan sekuat tenaga dengan maksud dapat lekas-lekas menang.

Setelah tiga puluh jurus, ia baru insyaf bahwa ia tak dapat melawan Yap Eng Ceng yang tenaganya jauh lebih kuat daripada ia. ia lalu rubah jurus-jurus ilmu pedangnya ia berusaha mengegos dan mengelit, dan ia baru menyerang bila terdapat lowongan, dan dengan demikian ia tak menghamburkan banyak tenaga, dan dapat terus meladeni I awan nya.

Mereka terus bertempur selama seratus jurus lebih, Ong Han Siong dengan ilmu Coa Heng Pat Kwa Ciang Hoatnya telah membikin Tio Goan dan Tio Ceng kewalahan, Tetapi ia pun insyaf bahwa ia tak dapat terus menerus bertempur, karena Iuka-lukanya yang diderita dalam pertempuran melawan Tio Pan Toa-su belum sembuh betul.

Dengan memikir keselamatan dirinya, tiba-tiba ia menyerang kedua lawannya bertubi-tubi dengan tinju dan kipas besi nya. Kedua lawannya terpaksa mundur beberapa langkah, "llmu silat kalian hanya sedemikian saja? Aku telah mengetahui sekarang kita berhenti bertempur, lain kali kita melangsungkan pula." Lalu ia balik badan dan lari turun dari gunung itu. Yap Eng Ceng mengerti akan maksud kawannya, ia pun menyerang hebat dengan goloknya untuk mendesak Tio Hui mundur Kemudian ia pun balik badan dan lari turun gunung mengikuti kawannya,

Tio Goan, Tio Ceng membentak dan mengejar, disertai juga oleh Tio Hui.

Meskipun kedua belah pihak hanya terpisah dua-tiga depa jauhnya, akan tetapi Ong Han Siong dan Yap Eng Ceng tetap tak dapat dicandak setelah mereka berkejar-kejaran lima- enam lie jauhnya,

Yap Eng Ceng menjadi masgul melihat ketiga pemimpin partai Ngo Bi San itu masih terus mengejar ia mengambil satu biji besi dari sakunya lalu ditimpukkan ke arah musuh- musuhnya.

Biji besi itu, terkenal sebagai Cu Bo Kong Tan, merupakan suatu senjata rahasia yang ampuh, Tio Goan Toa-su yang sedang mengejar paling depan melihat terbangnya Cu Bo Kong Tan itu, ia lekas-lekas mengegos, dan Cu Bo Kong Tan itu terbang lewat dan menyerang Tio Ceng yang berada di belakangnya, Tio Ceng tidak keburu mengegoskan diri, ia angkat periuk tembaganya menangkis, Periuk tembaganya berbunyi nyaring dan tergetar hebat ia terkejut, karena tiba- tiba ia merasakan betis kanannya sakit sekali ia berhenti sejenak, lalu dengan menahan sakit ia mengejar pula.

Di dalam biji besi Cu Bo Kong Tan dari Yap Eng Ceng itu terisi pula lima butir baja, jika Cu Bo Kong Tan beradu dengan senjata dari logam, maka kelima butir baja itu keluar menyerang lawan, Tadi Cu Bo Kong Tan telah beradu dengan periuk tembaga, dua dari kelima butir biji baja telah melesat keluar menyerang mengenai betis kanannya Tio Ceng,

Tio Hui yang mengejar di belakang Tio Ceng, ketika mendengar suara periuk tembaga beradu dengan Cu Bo Kong Tan, segera berhenti Dua butir biji baja terbang menyerang lagi, ia egosi sebutir, dan sebutir lainnya ia geprak jatuh dengan pedangnya. Ketika itu Ong Han Siong dan Yap Eng Ceng telah lari jauh, Tio Goan hanya dapat mengawasi dari belakang dan insyaf bahwa mereka tak dapat dikejar lagi, ia mem-banting- bantingkan kaki bahna gusar dan mendongkot-nya,

Luka di betis kanannya Tio Ceng bertambah hebat, ia merasa seakan-akan betis itu dibakar ia periksa dan melihat betisnya mulai bengkak, sekonyong-konyong terdengar Tio Goan tertawa gelak-gelak. Tio Ceng dan Tio Hui menjadi heran melihat sikap Toa suhengnya itu,

"Toa Suheng! Kau mengapa.,.?" tanya Tio Hui,

Tio Goan Toa-su berhenti tertawa, Air mata mengucur dari kedua matanya, lalu dengan gemas ia berkata: "Semenjak kita membentuk partai silat Ngo Bi, kita belum pernah mendapat hinaan serupa ini. Seorang pemimpin kita dibawa kabur Apakah kita masih ada muka di kalangan Bu Lim?

Bagaimanakah kita harus hadapai roh-rohnya angkatan tua???"

Dengan menahan sakit Tio Ceng berkata: "Toa suheng jangan terlampau bersedih hati, Kejadian semua ini bukan karena Toa Suheng, Yang penting ialah bagaimana kita harus merampas pulang Tio Pan Toa-su membikin perhitungan terhadap orang-orang yang menghina kita,.,." ia tak dapat meneruskan, karena ia tak tahan sakit di betis kanannya.

Tio Goan dan Tio Hui berjongkok memeriksa betis kanannya Tio Ceng, Tio Hui terkejut dan berseru: "Ai! Kau telah kena senjata beracun!"

"Sakitnya seperti dibakar Aku tak mengetahui racun apa ini," kata Tio Ceng sambil meringis,

Ketika itu bukan saja betis kanannya sudah membengkak, bahkan bagian bawah tubuhnya sudah mulai bengkak pula, "Lukamu agak hebat, harus lekas-lekas diobati. Ayo, kita kembali ke kuil! Di kemudian hari kita pasti membikin perhitungan terhadap jago-jago silat dari partai Thian Liong!" kata Tio Goan. ia cemas menampak lukanya Tio Ceng, Dengan perasaan putus asa Tio Hui berkata: "Partai silat Thian Liong besar, dan jago-jago silatnya bukan main hanyak. Kita hanya bertiga, aku yakin kita tak dapat berbuat apa-apa, Menurut pendapatku, kita harus ber-serikat dengan partai- partai silat Bu Tong, Ceng Shia, Swat San untuk menggempur partai Thian Liong, Aku yakin ketiga partai itu tentu sudi berserikat dengan partai Ngo Bi kita. Karena ketiga partai itu sudah mempunyai ganjelan terhadap partai Thian Liong. "

"Partai silat Ceng Shia mempunyai hubungan erat dengan partai Ngo Bi kita," kata Tio Goan, "Sudah tentu mereka sudi membantunya, Tetapi partai-partai Bu Tong dan Swat San, meskipun mempunyai ganjelan terhadap partai Tian Liong, aku masih khawatir mereka tak sudi membantu, Untuk menarik kedua partai silat itu ke pihak kita, kita harus mempunyai rencana yang baik, sekarang lekas kita kembali ke kuil untuk menolong Ji Sutee, dan kemudian merundingkan siasat menggempur partai Tian Liong!" Lalu ia panggul Tio Ceng. Mereka kembali ke kuil Ban Hut Si.

Di dekat kuil itu, di bawah sebuah pohon cemara yang besar, terlihat seorang wanita yang berpakaian serba hitam, rambutnya terurai-urai, mukanya pucat pasi, sedang duduk menghadapi satu pemuda yang berbaring terlentang karena pingsan, Waktu itu tidak menangis, ia duduk bengong laksana patung, tidak menghiraukan angin gunung yang sangat dinginnya!

Tiba-tiba pemuda di depannya membuka kedua matanya, dan dengan susah payah berkata: "Aku.,, aku luka parah, Kukira... aku akan segera. mati, Sudahlah, jangan pedulikan

aku lagi.... pergilah kau, urus dan jaga dirimu sendiri. "

"Tidak aku tidak pergi!" jawab wanita itu. "Aku akan menyertai kau meski ke akherat pun!"

Pemuda itu berusaha bangun, tetapi sia-sia belaka. "Tidak! Aku Bee Kun Bu tak dapat menerima budimu yang

demikian besarnya! Jika,., jika,., aku masih dapat hidup, aku tak akan lupakan budimu.,,." ia tak dapat meneruskan, Kepalanya pusing, dan ia memuntahkan darah lagi!

Wanita yang berpakaian hitam itu segera menubruk pemuda itu, dan menegur: "Kau tidak boleh banyak bicara, Kau luka parah dan harus beristirahat "

Bee Kun Bu tersenyum, "Aku berterima kasih atas perhatianmu,., dan aku.,, aku ingin mati dengan perasaan puas. "

Tetapi. kau selalu baik hati, dan tidak menyakiti orang

lain. sebetulnya jarang ada orang semacam kau," wanita itu

menghibur.

Bee Kun Bu tutup matanya menahan darah yang hendak keluar lagi, lalu ia berkata: "Kau seorang wanita, dan aku seorang pria, kau tidak harus mem perlakukan aku seperti demikian, Aku kuatir aku hanya mencemarkan namamu Giok Siu Sian Cu."

Giok Siu Sian Cu tersenyum: "Aku senantiasa bermaksud luhur terhadap kau, aku tak menghiraukan apa yang orang lain akan katakan, Kau sekarang hanya menanti waktunya untuk meninggalkan dunia yang fana ini, aku minta kau memperkenankan aku menyertai kau. "

"Jika kau mengetahui bahwa aku hanya menanti waktu. "

kata Bee Kun Bu, "Mengapa kau tidak lekas-lekas berlalu? Jika kau terus berdiam di sini, kau hanya memberatkan aku.,.,"

Lalu dengan khidmat Giok Siu Sian Cu berkata: "Aku tak tahan menyaksikan kau bertambah menderita, Aku akan mengakhiri penderitaanmu." Lalu ia ambil seruling batu Gioknya dan hendak memukul mati Bee Kun Bu.

Secepat kilat dan sekuat tenaga Bee Kun Bu berguling menghindari pukulan seruling itu, lalu dengan jurus Tok Liong Peng Bu atau Naga sakti menyemprot racun, ia dijotos pundak kanannya Giok Siu Sian Cu. jurus itu adalah salah satu jurus istimewa dari pukulan Tian Kong Ciang yang ia dapat pelajari dengan mahir betul, dan bukan main ampuhnya, Akan tetapi dalam keadaan payah seperti itu, ia hanya berhasil membikin seruling terlepas dari pegangan Giok Siu Sian Cu.

Egosan dan serangan Bee Kun Bu itu membikin Giok Siu Sian Cu terperanjat Bee Kun Bu segera bangun dan lari ke arah puncak gunung di depannya,

Giok Siu Sian Cu mengejar dengan perasaan heran, ilmu silatku lebih tinggi daripada dia, Dan lukaku pun tidak lebih parah daripada dia, Aku telah makan pil obat mustajab dari dia, dan pil obat itu bukan saja dapat menyembuhkan segala luka, bahkan dapat memperpanjang umur. Tetapi mengapa aku tak dapat mengejar dia?"

Dengan cepat Bee Kun Bu tiba di atas puncak, Ketika itu, ia insyaf bahwa Bee Kun Bu berniat membunuh diri dengan terjun dari atas jurang, ia menjerit: "Bee Siang-kong! Tahan! Kau jangan berbuat nekad! Aku tak akan mengejar kau lagi!" Dan ia menangis sedih sekali

Mendengar tangisan yang memilukan hati, Bee Kun Bu berhenti ia menoleh ke belakang dan melihat Giok Siu Sian Cu benar tidak mengejar ia lagi, Wanita itu menangis sedih sekali ia tak tahan berdiri lebih lama lagi, ia merasa kedua matanya menjadi gelap, kepalanya pusing, dan ia jatuh terjungkal!

Giok Siu Sian Cu terkejut, dan ia mengejar dan menubruk tubuhnya Bee Kun Bu. Betul jantungnya masih berdenyut, tetapi pemuda itu sudah pingsan lagi

Menurut pengalamannya, setelah melihat wajahnya Bee Kun Bu mukanya yang demikian pucatnya, ia yakin bahwa Bee Kun Bu tak dapat ditolong lagi, Tak tertahan airmatanya keluar mengucur

sebetulnya Bee Kun Bu dapat bertahan karena telah makan pil obat dari gadis di atas perahu. Giok Siu Sian Cu berdaya menyadarkannya dengan memijat dan mengurut beberapa jalan-jalan darahnya, Lama sudah ia berdaya menoIongnya, keringat mengucur di seluruh tubuhnya, Bee Kun Bu masih tetap tidak sadarkan diri ia duduk mengawasi seperti orang yang hilang ingatan, Kemudian ia tertawa gelak-gelakdan berkata: "Bee Siangkong! Aku segera mencari tempat untuk kau beristirahat dengan lenang, Dan aku akan meninggalkan semua urusan Kang-ouw untuk selalu berada di sampingmu! sekarang aku hendak pergi mencari tempat itu!" Lalu ia peluk tubuhnya Bee Kun Bu, dan kemudian ia pungut seruling batu Gioknya untuk turun dari puncak gunung itu, sambil panggul Bee Kun Bu di atas bahunya.

Meskipun ia berjalan, tetapi seperti juga orang yang hilang ingatan, ia tak tahu harus pergi kemana. ia terus turun, dan ketika tiba di kaki gunung, ia berhenti di pinggir suatu sungai kecil, ia letakkan Bee Kun Bu di tanah, dan minum dari sungai kecil itu,

ia angkat kepalanya dan melihat puncak-puncak gunung di sekitarnya, ia melihat satu puncak yang lebih tinggi daripada yang lain, cipratan air terjun yang turun dari puncak itu merupakan kabut di sekitar puncak itu, lalu ia panggul lagi Bee Kun Bu dan mendaki puncak menuju ke air terjun itu, Makin dekat ia menghampiri makin keras suara air terjun itu. Tidak lama kemudian, ia telah tiba di suatu tempat dimana air terjun itu menumpahkan airnya ke dalam suatu telaga.

Suasana di tempat itu sunyi senyap dan semua tumbuh- tumbuhan sangat subur dan segar nampaknya, Matahari di atas memancarkan sinarnya, membikin tempat itu sangat indahnya, ia lihat wajahnya Bee Kun Bu yang masih tetap pingsan, ia berbisik: "Bee Siangkong, mengapa kau tak berontak lagi? Kau dapat tidur terus dan aku akan menjagal kau."

Lalu ia menghampiri satu goa gunung di dekat telaga, Di mulut goa ia memperhatikan bahwa tempat tersebut terdapat banyak kotoran binatang sehingga bau sekalL ia berlalu dan berusaha mendaki puncak itu lagi, dan setelah ia mendaki lebih kurang dua puluh depa tingginya, ia tiba di suatu birai, Di lereng gunung, di ujung birai itu tertampak satu goa batu. Ia masuk ke dalam goa batu itu, lalu letakkan Bee Kun Bu di tanah.

Bee Kun Bu masih juga belum sadar diri, seluruh tubuhnya kaku: Hanya jantungnya yang masih terus berdenyut dan napasnya menunjukkan bahwa ia masih hidup, ia duduk menghadapi tubuh itu. Tiba-tiba ia berkata sambil memegang serulingnya: "Bee Siangkong! Kau segera berangkat! Tetapi aku akan meniup suatu lagu untuk penghabisan kali untukmu!"

Segera terdengar suara seruling ajaib yang memilukan hati itu, Giok Siu Sian Cu memangnya sudah bersedih hati, dan lagu serulingnya menggambarkan kesedihan hatinya, ia meniup dengan penuh perasaan dan air mata mengucur deras,

Entah berapa lama sudah ia meniup serulingnya, tiba-tiba ada orang menegur padanya: "Siocia terlampau bersedih hati, Meniup lagu yang demikian memilukan hati untuk orang yang segera akan mati, sebetulnya tiada gunanya, Meskipun kau meniup terus sampai sepuluh tahun, dia tak akan sembuh!"

Giok Siu Sian Cu terkejut! ia menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat apa-apa. ia melihat ke mulut goa, dan tampak satu pemuda yang tampan, mengenakan baju kuning, pedangnya terpancang di punggungnya dan tangannya memegang beberapa lingkaran emas, sedang mengawasi ia dan tubuhnya Bee Kun Bu.

ia lekas-lekas bangun dan menanya: "Kau siapa?" Pemuda itu tidak lantas menjawab, ia mengawasi Bee Kun

Bu dengan penuh perhatian Lalu dengan tersenyum ia berkata: "Aku bernama Co Hiong, Siocia rupanya Giok Siu Sian Cu yang terkenal, dan dia itu adalah murid partai silat Kun Lun bernama Bee Kun Bu."

Giok Siu Sian Cu heran mendengar jawaban itu. Co Hiong jongkok dan memeriksa Bee Kun Bu, lalu berkata: "Hai! Saudara Bee ini meskipun menderita luka parah, akan tetapi sangat beruntung, Di waktu sehat warafiat ia didampingi oleh gadis cantik, dan di waktu dekat mati, ia disertai oleh wanita yang elok manis dan yang rela meniup lagu bela sungkawa untuknya. "

Ejeken tersebut sangat menyinggung Giok Siu Sian Cu. ia sodok pundaknya Co Hiong dengan serulingnya, tetapi dengan secepat kilat Co Hiong mengegos dan tangan kirinya menahan seruling itu dengan jurus Hun In Ki Gwat atau Membuyarkan awan memetik bulan, Lalu dengan tangan kanannya ia rangkut tubuhnya Bee Kun Bu dan loncat keluar dari goa batu itu!

Giok Siu Sian Cu mengejar sambil berteriak-teriak. ia mengetahui bahwa jalan untuk turun atau naik jurang itu sangat sukar dan berbahaya, ia yakin Co Hiong tak dapat lari jauh dengan membawa Bee Kun Bu. Tapi alangkah herannya ia ketika menyaksikan dengan kepala mata sendiri bahwa Co Hiong dapat berlari-lari sambil membawa Bee Kun Bu dengan lincahnya.

Ketika sudah dekat sekali, dengan jurus Sam Sing Cui Gwat atau tiga bintang mengejar bulan, Giok Siu Sian Cu menyodok punggungnya Co Hiong beruntun tiga kali dengan serulingnya, Tetapi dengan secepat kilat, sambil memegangi Bee Kun Bu di tangan kanannya, Co Hiong berbalik dan menangkis sodokan-sodokan seruling lawan dengan tangan kirinya, Cara Co Hiong berbalik dan menangkis serangan belum pernah dilihat oleh Giok Siu Sian Cu dalam pengalamannya beberapa tahun di kalangan Kang-ouw. ia tak mengerti ilmu silat apa yang dimiliki oleh pemuda ilu. Hanya terdengar Co Hiong tertawa gelak-gelak, dan dalam sekejap mata pemuda itu datang menerkam.

Giok Siu Sian Cu, yang sudah menjadi gusar karena kelancangan Co Hiong, menyabet dengan serulingnya dengan jurus Kong Ciok Kai Peng atau Burung merak membuka kedua sayap. Sabetan itu menghembuskan angin yang dapat mendampar terpelanting lawan nya.

Tetapi terkaman yang dilakukan oleh Co Hiong adalah salah satu jurus yang ia dapat pelajari dari kitab sakti San Im Shi Ni. setengah tahun berselang terkaman tersebut telah ia gunakan terhadap gurunya Kiok Gie Taysu di dalam goa sehingga gurunya terjerumus dan binasa karena kepalanya terbentur batu karang gunung, Terkaman itu dilancarkan dengan jurus Yu Hie Gek Lang atau ikan berenang melawan arus ombak.

Giok Siu Sian Cu tidak mengetahui lihaynya jurus itu. sekonyong-konyong ia melihat Co Hiong sudah berada di sampingnya setelah sabetan tidak berhasil ia terkejut Lekas- lekas ia menyodok lagi, justru sodokan itu yang diharapkan oleh Co Hiong, Ketika sodokan itu mendatangi Co Hiong betot lengannya Giok Siu Sian Cu dan meneruskan memijatnya, Pijatan itu lebih lihay daripada totokan jalan darah yang lazim dilakukan oleh jago-jago silat umumnya.

Meskipun Giok Siu Sian Cu telah berkecimpung di kalangan Kang-ouw, ia tak mengetahui cara menghindarkan pijatan itu, ia mengertak gigi menahan sakit, dan secepat kilat loncat mundur ke belakang.

Sambil tersenyum Co Hiong menanyai "Siocia, apakah kau menyerah kalah?"

Tidak!" jawab Giok Siu Sian Cu dengan geregetan, "Jangan harap aku minta ampun!"

"Jika aku ingin membunuh kau, aku hanya perlu memukul sekali lagi, Tetapi aku ingin kau mengaku kalah!" kata Co Hiong.

Giok Siu Sian Cu tidak menyahut ia mengawasi Co Hiong dengan sikap yang waspada menjaga diri, ia harus akui bahwa Co Hiong ini adalah seorang pemuda yang tampan, dan lihay sekali ilmu silatnya, Co Hiong menegur lagi: "Apakah kau tidak mau mengakui kalah?"

Giok Siu Sian Cu menjawab dengan satu loncatan tiba-tiba dan menyodok mukanya Co Hiong dengan serulingnya Lagi- lagi Co Hiong mengegos dan menggunakan jurus Yu Hie Gek Lang,

Giok Siu Sian Cu terbetot tangannya, dan terdengar Co Hiong mengancam dengan beringas: "Ha! Kau tidak mengaku kalah? Kau rasai pukulanku ini-?"

Belum habis ucapannya ketika ia mendengar Bee Kun Bu yang berada di dalam pelukannya berseru, suaranya lemah: "Co Hiong, jangan... jangan lukai dia. "

Co Hiong tidak teruskan mengirim pukulan mautnya, ia terperanjat mendengar permintaan Bee Kun Bu. ia melihat mukanya Bee Kun Bu yang sudah membuka kedua matanya, Entah kapan Bee Kun Bu telah siuman, Co Hiong lepaskan tangannya yang mencekal Giok Siu Sian Cu, dan sambil memeluk Bee Kun Bu ia loncat keluar dari goa itu! Ketika ia lihat lagi, Bee Kun Bu sudah memejamkan kedua matanya lagi, ia melihat ke bawah jurang, dan pikiran busuknya timbul Dengan kedua tangan ia angkat tubuhnya Bee Kun Bu ke atas dan berseru: "Bee Heng! Jika kau menunda mati secara begini, kau hanya berdosa besar terhadap pemuda-pemuda lain, Aku kali ini terpaksa mengakhiri riwayatmu!"

Baru saja ia hendak melemparkan tubuhnya Bee Kun Bu ke bawah jurang, tiba-tiba ia rasakan hembusan angin orang menyerang Ternyata Giok Siu Sian Cu datang menyerang dari belakang, Dengan satu enjotan dengan penuh tenaga, Co Hiong lempar tubuhnya Bee Kun Bu ke dalam telaga di bawah jurang. Ketika itu serulingnya Giok Siu Sian Cu sudah hampir menyodok punggungnya,

Meskipun dari Kiok Gie Toa-su, Co Hiong telah pelajari banyak ilmu, ditambah lagi dengan ilmu-ilmu silat yang ia pahami dari kitab sakti San Im Shi Ni, akan tetapi kebanyakan ilmu-ilmu silat itu ia belum berlatih dengan mahir Lagi pula sodokan seruling Giok Siu Sian Cu dilancarkan dengan nekat sekali Dalam keadaan demikian Co Hiong tidak keburu berbalik, dan untuk menghindari sodokan maut itu, ia juga terjun ke bawah, ke dalam telaga,

Giok Siu Sian Cu lagi-lagi menyodok angin, Sodokan itu ia lakukan dengan nekat dan sekuat tenaga sehingga ia sendiri hampir-hampir ikut terjerumus jatuh ke bawah,