Bangau Sakti Jilid 09

 
Jilid 09

Suasana segera menjadi nuh dan gaduh, bahkan Tia Lat Leng Hai juga terkejut Tinju yang ia ingin lepas untuk memukul lawannya tertahan ketika melihat dua Hweeshio jatuh di lantai!

Tong Leng Tojin menggunakan kesempatan itu untuk loncat mundur tigai tindak ia menoleh ke tempat di mana Hweeshio-hweeshio berdiri mencegat jalan keluar, pada saat itu ia lihat tiga orang menerobos masuk ke dalam ruang, Orang yang di tengah adalah Toa suhengnya Hian Ceng Totiang, yang di sebelah kanan dengan kumis dan jenggot yang panjang dan memegang toya kayu adalah Ngo Kong Toa-su dan yang di sebelah kiri adalah Pek Yun Hui yang menyamar sebagai pria,

Datangnya ketiga orang dengan sekonyong-konyong itu dan di saat genting telah menggirangkan Tong Leng Tojin, Tong Leng Tojin dan kawan-kawan Bee Kun Bu yang melihat suhunya datang segera menghampiri dan berlutut di hadapannya, Lie Ceng Loan menubruk Ngo Kong Toa-su sambil berseru karena terharunya.

Tong Leng Tojin mengangkat tangannya memberi hormat secara partai Kun Lun, lalu membungkukkan tubuhnya sambil berkata: "Toa-suheng! Syukur Toa-suheng dalam keadaan sehat wal'afiat!" Tapi Giok Cin Cu dengan air mata berlinang berseru: Toa-suheng, Toa-su, kalian telah banyak menderita dan berkorban untuk aku. Aku, Giok Cin Cu, merasa malu karena itu!"

Hian Ceng Totiang membalas hormat kepada Tong Leng Tojin dan menyahut: "Aku baik Terima kasih Sutee, Tetapi aku tak harus menerima kehormatan demikian besar Kini ada gSiranku menanyakan kesehatan Sutee yang telah serahkan pimpinan partai Nanti setelah kita keluar dari kuil Toa Ciok Sie ini, aku rela akan menerima hukuman."

Toa-suheng, tentang urusan itu Sumoy kita telah menjelaskannya, Dalam keadaan mendesak, perbuatan Toa- suheng dapat dimaklumi dan tak dapat dikatakan melanggar peraturan partai," berkata Tong Leng Tojin sambil tersenyum.

Tapi," kata Hian Ceng Tojin, "Aku minta maaf juga untuk perbuatanku." Lalu ia angkat tangannya dengan sebelah dikepalkan sebelah lagi dibuka serta membungkukkan tubuh sebagai tanda minta maaf Kemudian ia suruh Bee Kun Bu bangun, dan tersenyum kepada Giok Cin Cu.

Pek Yun Hui terluka karena tinju Tiong Im Han Cong.

Di waktu mereka bereakap-cakap itu lilin-lilin telah padam dinyatakan kembali, dan dari balik tirai kain sutera kuning perlahan-lahan bertindak keluar Sin Hut Leng Yan dan Ku Hut Leng Kong, dua pemimpin kuil Toa Ciok Sie.

Kemudian terdengar suara tertawa gelak dari Sin Hut Leng Yan. ia berkata: "O Mi To Hut! Selamat! Selamat! Selamat!

Aku menghaturkan selamat kepada kalian berdua yang telah luput dari bahaya!"

Dengan mengejek Hian Ceng Tojin menyahut: "Apa-Icah kau kira gua batu itu dapat memenjarakan kami sampai mati?"

"Ha! Ha! Ha!" kata Sin Hut Leng Yan, Tojin sangat berlebih-lebihan! Mustahil beberapa batu dan jeruji-jeruji besi dapat memenjarakan kedua Tay-hiap (pen-dekar terbesar)?" Belum lagi Sin Hut Leng Yan meneruskan pembicaraannya Ku Hut Leng Kong memotong dengan pertanyaannya, suaranya agak keras: "Aku minta orang yang membebaskan kedua Tay-hiap keluar memperkenalkan diri!"

Dengan sikap sombong yang dibuat-buat Pek Yun Hui menyahut: "Aku yang membuka gua batu dan membebaskan mereka! Apakah perbuatanku itu terlarang? Aku ingin mengetahui akibat dari perbuatan untuk menolong orang- orang itu!"

jawaban yang menantang itu membikin Ku Hut Leng Kong menjadi murka, ia hendak mendamprat lagi, Tetapi didahului Sin Hut Leng Yan yang berkata: "Dapatkan kalian keluar dari kuil Toa Ciok Sie?" perkataan itu diucapkannya sambil mengawasi Lie Ceng Loan, Lalu ia mengebut kedua lengan bajunya, yang anginnya telah membikin semua lilin-lilin yang baru dinyatakan itu padam kembali, ruangan pun menjadi gelap pula! Dua anak tanggung di samping ia segera loncat menerkam Lie Ceng Loan!

Bukan main cepatnya dan gesitnya kedua anak tanggung itu. Dengan tak terduga oleh semua orang dalam sekejapan saja kedua anak tanggung itu telah berada di kedua samping Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su yang berdiri paling dekat di samping Lie Ceng Loan baru saja hendak menolong, tetapi Pek Yun Hui telah dulu turun tangan, Dari dalam lengan bajunya yang hijau kedua tinjunya menjotos ke kiri dan ke kanan, dan jotosan itu disusul dengan jeritannya kedua anak tanggung tersebut yang lekas-lekas loncat mundur lagi!

Ketika lilin-lilin dinyatakan lagi, suasana di dalam ruangan itu telah menjadi sangat tegang! Ketiga pemimpin partai silat Kun Lun dan Ngo Kong Toa-su telah siap sedia untuk mengeluarkan semua kepandaian silatnya menggempur musuh-musuh yang ganas dan jahat! Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong juga sudah siap menerjang musuh-musuhnya. Hanya Pek Yun Hui dan Sin Hut Leng Yan yang kelihatannya masih bersikap tenang. Kedua anak tanggung yang telah loncat mundur dan menjerit karena tak tahan damparan angin tinjunya Pek Yun Hui telah berdiri lagi di kedua samping Sin Hut Leng Yan.

Mereka sangat disayang oleh Sin Hut Leng Yan, yang dengan sungguh-sungguh dan tekun mengajarkannya silat

Melihat murid-murid kesayangannya itu dilukai oleh angin tinjunya Pek Yun Hui, ia menjadi gusar sekali, Tampak wajahnya dari tenang menjadi bermuram durja, Dengan mengepalkan kedua tangannya tak henti-hen-tinya "m mengawasi Pek Yun Hui dengan kedua mata melotot lebar!

Ketiga pemimpin partai Kun Lun telah melihat bahwa Sin Hut Leng Yan sedang mengumpulkan tenaga dalamnya untuk menyerang Pek Yun Hui, mereka khawatir kalau-kalau Pek Yun Hui tak dapat menahan serangan-serangan Hweeshio jahanam itu. Mereka lekas-lekas menghampiri dan berdiri di dekat Pek Yun HuL

Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong juga berdiri di kedua samping Sin Hut Leng Yan, menanti isyarat untuk menyerang berbareng

Tiba-tiba terdengar Sin Hut Leng Yan menjerit keras sekali sambil menyodok dengan sekuat tenaga tinju ka-nannya, Angin daripada tinju tersebut menyerang dan mendesak mundur beberapa lawan-lawannya!

Ketiga pemimpin partai Kun Lun yang telah siap berjaga segera menangisnya dengan melepaskan tinjunya dengan sekuat tenaga dalamnya, tetapi Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong pun telah menyerang pula, Ngo Kong Toa-su yang telah rela berkorban untuk membantu atau menolong kawan karibnya juga telah keluarkan tenaga dalamnya menangkis serangan-serangan angin tinju-tinju ketiga pemimpin kuil Toa Ciok Sie.

Di saat itulah, tenaga dalam dari tujuh orang jago silat yang lihay telah dikerahkan, pukulan mereka segera juga telah memadamkan hampir semua lilin-lilin yang menyala, kecuali tujuh batang lilin yang menyalanya menjadi kelap-kelip karena hembusan angin tinju!

Ketiga pemimpin partai Kun Lun dan Ngo Kong Toa-su setelah berusaha menangkis serangan-serangan ketiga Hweeshio Toa Ciok Sie itu segera yakin bahwa mereka tak dapat menandinginya apalagi mengalahkannya terutama ilmu silatnya Sin Hut Leng Yan yang dapat membunuh mereka sekaligus! Betul dengan ilmu tenaga dalam Lui Ka Kong Lek mereka masih dapat bertahan, tetapi jika musuhnya menyerang dengan senjata pula mereka yakin tak dapat bertahan lama!

Dengan firasat ini, Hian Ceng Tojin berseru: "Lekas mundur!" Seruan itu ditaati oleh kawan-kawannya, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan lebih dulu loncat keluar dari ruang, kemudian Ngo Kong Toa-su dan ketiga pemimpin partai Kun Lun,

"Ha! Apakah kalian kira dapat lolos!" membentak Sin Hut Leng Yan yang datang mengejar.

Pek Yun Hui yang menyertai Bee Kun Bu loncat keluar mengambil pedangnya Bee Kun Bu sambil berkata: Tenaga yang keluar dari tinju Hweeshio durhaka itu lihay sekali Jika kita terus menangkis serangan tinju-nya, aku yakin pasti ada yang luka. Ayo lekas kalian melarikan diri, biar akulah yang berusaha mencegah ia dan menguji kepandaiannya!"

Meskipun nada suaranya ramah didengarnya, tetapi dalam ucapannya itu terdapat kekerasan yang tak dapat dicegah untuk melakukan kehendaknya. Ketiga pemimpin partai Kun Lun tak berani membujuk agar ia juga turut melarikan diri, mereka hanya berhenti sejenak menunjukkan tak sampai hati meninggalkan Pek Yun Hui yang berbudi itu seorang diri melawan musuh-musuh yang jahat tapi lihay ilmu silatnya,

Dengan mata melotot Pek Yun Hui membentak: "Kalau kalian tidak turut perkataanku segera ada orang yang terluka dan akan menyesal Ayo, lekas berlalu!" Hian Ceng Tojin sambil menarik napas dan dengan pedang terhunus membuka jalan, diikuti oleh Giok Cin Cu, Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su dan Tong Leng Tojin sengaja lari paling belakang untuk menjaga musuh yang mengejar

Banyak Hweeshio-hweeshio yang menghalangi coba-coba merintangi atau mencegat kaburnya mereka, tapi Hweeshio- hweeshio itu bukan tandingannya Hian Ceng Tpjin, banyak dari mereka yang terluka di ujung pedang,

Sin Hut Leng Yan, Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong juga telah mengejar sampai di luar ruang, Sin Hut Leng Yan melihat Hian Ceng Tojin memimpin rombongannya melarikan diri, ia menjadi murka sekali, Lalu sambil menjerit Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong meloncat tinggi dengan ilmu Pa Pu Ceng Kong atau langkah ajaib naik ke atas dalam usaha menyerang atau mengejar musuh-musuhnya.

Dalam saat kedua Hweeshio-hweeshio itu melompat ke atas, mereka diserang Pek Yun Hui melompat ke udara dengan pedang terhunus! Serangan pedang Pek Yun Hui itu adalah serangan maut yang dapat membunuh mati musuh- musuh meskipun berada dalam jarak sepuluh depa jauhnya kalau orang yang melakukannya sudah mahir dan mencapai puncaknya, Karena Pak Yun Hui belum mahir dalam hal itu, maka angin dari serangan pedangnya hanya berhasil merintangi kedua Hweeshio-hweeshio lawannya, Namun ilmu melompatnya lebih lihay daripada lawan nya.

Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong terkejut menampak pedang yang berkilau-kilauan sekonyong-konyong di depan mereka! Mereka buru-buru menjotos sinar tersebut dengan angin tinjunya sambil melompat mundur lagi satu depa lebih!

Pek Yun Hui kalah tenaga dari kedua Hweeshio itu.

Setelah menyerang dengan pedang yang dilepas dengan tenaga dalam sambil melompat tinggi, ia tak mempunyai cukup tenaga lagi untuk terus menyerang dan membunuh mati musuhnya! Serangan pertama telah dilakukan dengan mengeluarkan semua tenaga dalamnya karena ia berkeyakinan bahwa lawan-lawannya adalah musuh-mu-suh berat Selama pengalamannya membasmi jago-jago silat yang berwatak keji dan jahat, belum pernah ia menjumpai jago-jago silat seperti ketiga pemimpin kuil Toa Ciok Sie itu.

Tinju yang dilepaskan oleh kedua Hweeshio itu adalah ilmu pukulan Lui Kee Kong Lek, dan Pek Yun Hui harus menahan angin tinju itu dengan mengerahkan semua tenaga dalamnya pula, Setelah ia turun dari loncatannya di tanah, ia harus

lekas-lekas herusaha mengumpulkan tenaga lagi sebagai persiapan menghadapi musuh-musuhnya,

Dengan mata melotot Sin Hut Leng Yan yang telah datang di hadapannya membentak: "Kau masih muda, tetapi ilmu silatmu tinggi, Di mana kau dapat belajar ilmu itu?"

Dengan sikap congkak Pek Yun Hui menyahut: "Di mana aku dapat belajar adalah urusanku, kau tak perlu tahu!"

Satu jotosan melayang pertanyaan tadi hanya siasat bagi Sin Hut Leng Yan mengumpulkan tenaga dalamnya untuk ia kirim jotosan. Dan jotosan itu dilepaskannya dengan semua tenaga dalamnya, Pek Yun Hui yang sedang berusaha memulihkan tenaga dalamnya itu tidak keburu mengegoskan diri. ia terpaksa menggunakan tenaga dalamnya pula untuk menangkis jotosan dengan tangan kirinya, ia segera merasakan seluruh badannya menjadi dingin. ia terkejut ia buru-buru berusaha membebaskan jalan-jalan darah di dalam tubuhnya yang seolah-olah terhalang peredarannya karena terluka oleh angin tinju Tiong Him Han Ciang (tinju yang menghantam jitu urat nadi). ia makin terkejut, karena ia tak berdaya membebaskan jalan-jalan darahnya!

Lalu Sin Hut Leng Yan berkata sambil mengejek: "Ha! Ha!

Kau telah terluka oleh pukulan Tiong Im Han Ciang-ku. Meskipun kau mempunyai Ceng Sun Lui Kang (tenaga dalam mujizat), kau tak akan dapat memulihkan tenaga dalam waktu tujuh hari lamanya, Kini jiwamu telah berada dalam tanganku!

Kalau kukehendaki aku segera dapat membunuh mati kau! Tetapi kau pun masih dapat hidup dengan syarat, bahwa ilmu silat pedang Gak Kiam Cu Sut (ilmu silat pedang menyambar di udara) yang kau punyai, kau harus ajarkan aku. Dan barulah setelah itu aku akan menyembuhkan luka-luka yang kau derita di dalam tubuhmu!"

Dengan senyum mengejek, Pek Yun Hui meloncat pergi beberapa depa, lalu lari secepat kilat keluar dari pekarangan kuil Toa Ciok Sie!

Ketika itu Hian Ceng Tojin dan kawan-kawannya telah lolos dari kepungan atau rintangan para Hweeshio, dan tak dapat dikejar lagi!

Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong dengan beringas mengejar Pek Yun Hui, Meskipun telah terluka di dalam tubuhnya, Pek Yun Hui masih dapat menggunakan ilmu Gak Kiam Cu Sutnya,

Tidak hanya Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong yang mengejar Pek Yun Hui, Mereka dibantu pula oleh enam Hweeshio lainnya,

Ketika Pek Yun Hui balik badan dan menyerang dengan ilmu Gak Kiam Cu Sut, pedangnya terlihat bergetar dan berkilau-kilauan menyilaukan mata.

Enam Hweeshio-hweeshio dengan serentak menangkis dengan toya besinya! Tapi mereka bukannya tandingan Pek Yun Hui meskipun sudah mendapat luka, Keenam toya-toya mereka semuanya terlempar ke udara ketika menyentuh ujung pedangnya Pek Yun Hui, dua diantaranya telah tertebas putus masing-masing satu le-ngannya, dan darahnya mengucur keluar membasahi tubuh mereka!

Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong menjotos dari be!akang. Pek Yun Hui lekas-lekas mengegos, Tapi Ku Hut Leng Kong datang menerkam lagi dengan ilmu Hui Eng Pu Tiauw atau burung elang menyambar kelinci ia melompat tinggi, lalu dengan kedua tangan turun menerkam lawannya, Pek Yun Hui yang baru saja melucutkan toya-toya besi enam Hweeshio dan menebas buntung lengan-lengan dari dua Hweeshio, dan kemudian mengegos agar dapat menghindarkan tinju dari dua pemimpin kuil Toa Ciok Sie yang menyerang dari belakang ditambah luka-Iuka yang ia sedang derita di dalam tubuhnya, sudah menjadi sangat letih sekali, ia yakin tak dapat melawan terus. Untuk menolong jiwanya, ia terpaksa meloncat ke kanan dan ke kiri menusuk Tia Lat Leng Hai untuk membuka jalan dan kemudian ba-gaikana angin cepatnya ia putar pedangnya untuk menjaga diri dari terkaman Ku Hut Leng Kong!

Setelah Tia Lat Leng Hai mengelit tusukan pedang, dengan dua tinju ia menyerang lagi seolah-olah hendak merobohkan gunung.

Pek Yun Hui tidak berani menahan serangan kedua tinju dengan tenaga seribu kati itu! ia melompat tinggi, Ku Hut Leng Kong telah menanti jatuhnya di tanah, Begilu lekas Pek Yun Hui turun menginjak tanah, dengan ilmu Sin Liong Cao To atau Naga sakti mencakar kelinci, tangan kirinya Ku Hut Leng Kong datang mencengkeram lehernya dan tangan kanannya menjotos lambungnya Pek Yun Hui, sehingga menggetarkan ujung pedangnya, sambil melangkah mundur satu tindak untuk menghindari cengkeraman dan jotosan lawannya, ia menusuk jalan darahnya Ku Hut Leng Kong! Tusukan-tusukan itu dilakukan sangat cepat dan bahaya,

Meskipun Ku Hut Leng Kong mempunyai ilmu silat tinggi k tak berhasil mengelaki serangan dahsyat itu! ia buru-buru mundur ti&a tindak dan Tia Lat Leng Hai menjadi terpesona melihat serangan luar biasa itu! Ke-sempatan itu digunakan Pek Yun Hui untuk meloloskan diri dengan ilmu Pa Pu Peng Kong atau Langkah ajaib naik ke atas. ia loncat tinggi seolah- olah terbang lebih dari sepuluh depa jauhnya, akan kemudian menghilang entah kemana di bawah sinar bulan di malam itu! Ku Hut Leng Kong dan Tia Lat Leng Hai masih ingin mengejar, tapi ditahan oleh Sin Hut Leng Yan yang membujuk: "Lawan kita tadi, meskipun masih muda usia-nya, tetapi ia mempunyai ilmu silat yang luar biasa tingginya, dan aku belum pernah berhadapan lawan selihay ia. Aku yakin dalam beberapa tahun lagi, mungkin dalam satu atau dua tahun, kita bertiga takkan dapat melawan ia seorang.

Tadi aku telah berhasil menyerang ia dengan tinju Tiong Im Han Ciang, dan di dalam tujuh harj, jika ia tak berhasil mencari obat, ia pasti menderita sakit yang hebat sekali dan dapat menewaskannya, Sayang ilmu silat Gak Kiam Cu Sutnya kita tak dapat pelajari!" ia menarik napas panjang menyatakan kecewanya. ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu dengan mendongak ia tertawa gelak-gelak sambil berseru: "Meskipun ia berkepandaian tinggi dan mempunyai ilmu silat pedang Oak Kiam Cu Sut, tetapi ia kena juga aku lukai dengan tinju Tiong Im Han Ciang, Aku lebih lihay daripada ia. Ha! Ha! Ha!" ia tertawa terus dengan gembira karena yakin bahwa Pek Yun Hui akan tewas karena tinjunya,

Tetapi sekonyong-konyong ia berhenti tertawa. ia berdiri seperti orang ketakutan Dengan diam bengong ia memandangi bulan seperti orang yang hilang ingatan!

Sikap yang mendadak berubah itu dari gembira berubah menjadi ketakutan dan diam bengong tak dapat dimengerti oleh saudara-saudara angkatnya, Meskipun mereka telah tinggal bersama-sama selama beberapa puluh tahun. Ku Hut Kong dan Tia Lat Leng Hai tak dapat memahami sikap aneh yang diperlihatkan saudara sepupunya itu, yang baru kini mereka saksi kan. perubahan sikap yang mendadak dari Sin Hut Leng Yan betul-betul mencemaskan mereka!

Hampir seperempat jam Sin Hut Leng Yan berdiri terpaku seperti orang yang hilang ingatan, Lalu dengan sikap acuh tak acuh ia mengawasi kedua saudara ang-katnya, Kemudian ia menyuruhnya: "Kalian harus mengurus dan mengobati orang- orang kita yang terluka, kemudian lantas kerahkan semua murid-murid kita, dari angkatan ke satu sampai angkatan ke tiga, untuk mencari tahu tentang jejaknya pemuda berbaju hijau tadi, dalam jangka waktu dua hari dia harus dapat ditangkap hidup-hidup atau mati!" Lalu ia balik badan dan berjalan per-lahan-lahan kembali ke kuilnya dengan kepala ditundukkan termenung!

perintah yang diberikan demikian tertib dan kerasnya membikin semua Hweeshio-hweeshio di dalam kuil menjadi tegang dan khawatir Tia Lat Leng Hai harus menolong It Lee dan It Yun yang kena senjata rahasia Pek Yun Hui ketika datang menolong Hian Ceng Tojin dan kawan-kawannya yang terkepung di ruangan kuil dan juga mengobati dua muridnya yang telah tertebas buntung masing-masing sebelah lengannya. Lalu ia panggil berkumpul semua Hweeshio- hweeshio untuk disuruh pergi mencari tahu tentang jejaknya musuh mereka yang berbaju hijau dan menangkapnya hidup- hidup atau mati, Ku Hut Leng Kong juga melepaskan tujuh ekor burung elang untuk bantu mencari

Burung-burung elang yang dipelihara di dalam kuil Toa Ciok Sie itu semuanya besar-besar dan telah berusia lebih dari satu abad, Burung-burung itu selain besar dan kuat juga merupakan burung yang ganjil dan jarang pula. Sin Hut Leng Yan telah dapat tangkap sembilan ekor setelah ia gunakan seluruh kepandaiannya,

Masing-masing burung ia telah beri makan buah mujizat Sie Can Ko agar menjadi lebih cerdas dan kuat, dan telah mencurahkan semua kepandaian dan berjerih payah untuk menjinakkannya, kemudian diajarkan dan melatihnya mencari jejak musuh-musuh, membawa kabar dan se-bagainya, Diantara sembilan ekor itu ada tiga ekor yang luar biasa besarnya dan dapat ditunggangi orang, tapi kini dua diantaranya telah tewas - satu dijotos mati Pek Yun Hui dan satu dipatok mampus bangau saktinya Pek Yun Hui. Dengan demikian hanya tinggal satu yang dapat ditunggangi manusia! Ketika semua Hweeshio-hweeshio dan burung-bu-rung elang dikerahkan untuk mencari Pek Yun Hui, Pek Yun Hui sendiri telah meloloskan diri untuk mengejar Hian Ceng Tojin dan kawan-kawannya dan menjumpai mereka di kaki puncak di atas mana kuil Toa Ciok Sie terletak

Begitu melihat Pek Yun Hui mendatangi, Lie Ceng Loan lantas lari dan merangkulnya sambil menanyai "Cici, apakah kau telah bertempur dengan Hweeshio-hweeshio yang durhaka itu?"

Pek Hun Yui mengembalikan pedangnya Bee Kun Bu, lalu menyahut sambil tersenyum: "Aku telah tempur mereka, tapi aku tak berhasil menundukkan mereka! Kita harus lekas-lekas berlalu dari daerah ini. Mungkin mereka sudah dekat, karena mereka terus mengejar kita!"

Semua orang ketika itu sedang berlutut di hadapannya Pek Yun Hui untuk menghaturkan terima kasihnya, tetapi setelah mereka mendengar dikejar terus oleh musuh, dan Pek Yun Hui pun mendesak mereka agar mereka lekas-lekas berlalu, tanpa tanya lagi mereka segera bangun dan terus lari lagi

Ketika fajar menyingsing, mereka telah menempuh jarak jauh sejauh tujuh puIuh-delapan puluh lie, Lie Geng Loan telah basah kuyup dengan keringat, Bee Kun Bu pun sudah sengal- sengal, Hian Ceng Tojin dan Ngo Kong Toa-su meskipun mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi, tetapi setelah dikurung dalam gua batu, juga telah menjadi agak lemah.

Mereka pun tak terkecuali merasa letih. juga rombongan itu terpaksa mencari tempat untuk bernaung dan beristirahat

Kesempatan itu digunakan oleh mereka sepenuhnya untuk memulihkan tenaga dan semangatnya sehingga matahari menyorot dengan sinarnya yang gilang gemilang di tempat mereka beristirahat Sejenak kemudian terdengar jeritan dari bangau, dan jeritan itu menyadarkan Hian Ceng Tojin dan lain- lainnya yang telah tertidur Bangau itu segera juga turun dari angkasa dan berdiri laksana salju, dan jenggernya yang merah, ditambah dengan sikapnya yang agung, membikin semua orang kagum melihatnya!

Dalam suasana yang terang bendera ng, Hian Ceng Tojin dapat memperhatikan bahwa Pek Yun Hui yang duduk di atas rumput di samping bangau putihnya kelihatan pucat wajahnya, Keringat masih saja kelihatan mengucur dari dahinya, dan tak tampak kegembiraannya sebagaimana semuIa, ia agaknya sedang menderita sakiti Hian Ceng Tojin terkejut melihat keadaan penolongnya yanjf budiman itu. ia berbisik kepada Giok Cin Cu: "Sumoy, lekas kau tanya dia, apakah dia telah menderita tuka!" Bisikan itu cukup keras untuk didengar oleh Bee Kun Bu dan lain-lainnya. Terkejutlah semuanya ketika mereka memperhatikan wajah yang sangat pucat lesu dari penolongnya itu, Mereka datang menghampiri Pek Yun Hui yang duduk dengan napas tersengal-sengaL Untuk sementara waktu, mereka menjadi bisu bahwa terlampau terperanjat dan bingungnya melihat keadaan penolongnya itu!

Kemudian Lie Ceng Loan keluarkan sapu tangannya dan menyeka keringat di mukanya Pek Yun Hui. ia merasa sedih hati melihat penolongnya menderita dan air matanya tak dapat ditahan lagi mengucur deras di kedua belah pipinya, Lalu ia dekati Bee Kun Bu dan menanyakan: "Bu Koko, dugaanmu apakah Cici menderita sakit yang hebat? Apakah ia dapat lekas sembuh?"

"Rasanya ia dapat lekas sembuh dan memulihkan lagi tenaganya," sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum, sebetulnya Bee Kun Bu sedang menderita batin, ia telah berhutang budi besar kepada Pek Yun Hui, tetapi di waktu Pek Yun Hui menderita luka, ia tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya mengawasi wajahnya Pek Yun Hui dengan sikap serba salah, Berkali-kali ia coba tahan keluarnya air matanya, Sebagai satu laki-laki ia merasa malu jika menangis. Begitu juga halnya dengan Hian Ceng Tojin dan lain- lainnya. Mereka bersedih hati tak dapat berbuat malu jika menangis.

Begitu juga halnya dengan Hian Ceng Tojin dan lain- lainnya, Mereka bersedih hati tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong Pek Yun Hui. Mereka menjadi gelisah dan cemas, putus asa agaknya,

Tiba-tiba Pek Yun Hui membuka kedua matanya, dan sambil tersenyum ia berkata: "Aku telah terserang tenaga dalam yang dilancarkan oleh Sin Hut Leng Yan yang menggunakan ilmu pukulan Tiong Im Han Ciang, Aku menderita luka-luka di dalam tubuh, dan aku khawatir aku tak dapat bertahan sampai tujuh hari."

Dengan terkejut Giok Cin Cu berkata: "Siocia telah melawan banyak musuh-musuh demi kepentingan kami. Kami dari partai Kun Lun tak dapat duduk diam, kami harus berusaha mengobati Siocia meskipun kami harus berkorban!" Lalu air matanya mengucur keluar

Sambil cabut pedangnya, Tong Leng Tojin berkata dengan khidmat: "Kami tiga pemimpin Kun Lun jika tidak membalas dendam terhadap Hweeshio-hweeshio dur-haka dari kuil Toa Ciok Sie itu kami tidak mempunyai muka untuk hidup di dunia ini!"

Pek Yun Hui memotong pembicaraannya dengan berkata: Tetapi ketiga pemimpin Toa Ciok Sie itu mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi. Meskipun kalian ingin berkorban untuk membalaskan dendamku, aku yakin dan pereaya bahwa kalian akan gugur hilang jiwa belaka!"

"Untuk membalas budi Siocia yang demikian besar-nya, kami tak hiraukan lagi mati atau hidup!" sahut Tong Leng Tojin dengan sikap dan kata-kata yang tegas nyala,

Pek Yun Hui menggeleng-gelengkan kepalanya ber-kata lagi: "Kita telah mengetahui bahwa kita tak dapat mengalahkan mereka, tetapi kita masih nyeruduk terus, bukankah perbuatan itu sangat bodoh?"

Jawaban itu membikin merah mukanya Tong Leng Tojin, ia diam tak bicara lagi, Untuk membela saudara angkatnya, Hian Ceng Tojin berkata: ilmu silat maupun ilmu terraga dalammu, Siocia, lebih tinggi daripada kami. Siocia telah luka terkena pukulan Tiong Im Han Ciong. Betul kami tak dapat melawan Hweeshio-hweeshio itu, tetapi kami masih bisa mencari daya upaya membalas dendam, bukan? Kini, yang terpenting ialah mengobati iuka-luka Siocia, Bukankah buah mujizat Sie Can Ko dapat menyembuhkan segala luka dan penyakit? Me- ngapa buah itu kita tidak mencobanya untuk mengobati Siocia?"

Pek Yun Hui mengawasi Hian Ceng Tojin, lalu berpaling mengawasi Bee Kun Bu, akan kemudian berkata lagi: "Baru- baru ini sebuah Sie Can Ko di dalam kuil Toa Ciok Sie telah dicuri orang, Oleh karena pencurian itu sejak saat itu kuil tersebut terus dijaga semakin keras, Lagi pula tinju Tiong Im Han Ciang itu telah melukai tujuh jalan darahku, Apakah buah Sie Can Ko dapat menyembuhkan luka-luka itu, aku sendiri masih ragu-ragu."

Tetapi amat mustahil luka-luka itu tak ada jalan untuk membikin sembuh?" menanya Bee Kun Bu dengan penasaran

Sikap yang simpatik itu membikin Pek Yun Hui terharu, Dengan wajah yang gembira ia menyahut: "Kalau ada orang yang dapat membebaskan tujuh jalan darahku, setelah aku beristirahat tujuh hari, aku akan sembuh kembali dan semua tenagaku dengan sendirinya pulih pula seperti sediakala,"

jawaban itu menggembirakan Tetapi untuk membebaskan tujuh jalan darah tidaklah sembarang orang dapat melakukannya, Semua orang yang berada di situ tak mampu melakukan cara pengobatan tersebut Maka setelah bergembira sejenak, mereka menjadi muram lagi.

Dengan menarik napas panjang, Hian Ceng Tojin berkata: "Kami dari partai Kun Lun tak dapat melakukan cara pengobatan itu. Aku harap Siocia memberitahukan kami, siapakah yang dapat melakukannya, Kami rela untuk pergi mencari orang itu dan minta ia datang menolong mengobati Siocia, Usaha kami yang tak berarti ini sedikitnya dapat juga membalas budi Siocia."

"Menurut pengetahuanku sahut Pek Yun Hui, "Di kalangan Kang-ouw hanya ada seorang yang dapat menolong aku. Tapi tempat tinggalnya orang itu jauh sekali, dan sikapnya pun sangat angkuh, Aku ketahui ia tidak sudi menerima tamu, Aku khawatir kalian takkan berhasil dan cuma-cuma membuang tenaga dan tempo saja,"

Keterangan yang mengejutkan hati itu, bagi orang lain akan merupakan keputus-asaan dan pemadam semangat Tetapi bagi ketiga pemimpin partai Kun Lun maupun murid- muridnya, keterangan itu merupakan suatu sinar harapan, Dengan ilmu silat dan watak yang budiman serta maksud yang mulia, mereka yakin dapat berhasil Mereka tak akan menjadi puas jika tak dapat menolong orang yang demikian besar budinya, Mereka tak segera menjawab Mereka sedang memikirkan daya yang akan memungkinkan berhasilnya mereka,

"Orang itu adalah guru," menyambung Pek Yun Hui tiba- tiba. Ucapan terakhir itu membikin semua terperanjat Dua belas mata dari enam orang ditujukan kepada Pek Yun Hui, Mereka menjadi gembira sekali, dan yakin bahwa guru tersebut pasti tidak menolak untuk mengobati muridnya, Mereka bernapsu menanti Pek Yun Hui menyebut nama gurunya, yang pasti mempunyai ilmu yang sakti tiada bandingannya.

"Guruku tinggal di pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek Kiang, perjalanan dari sini pulang pergi mungkin sepuluh ribu lie jauhnya, Luka-Iuka yang aku derita ini kan tak dapat disembuhkan lagi setelah lewat tujuh hari, Meskipun seribu lie dapat ditempuh dalam sehari, tapi perjalanan pulang pergi akan memakan waktu sepuluh hari," kata Pek Yun Hui selanjutnya, lalu lagi-lagi ia mengawasi Bee Kun Bu. Hian Ceng Tojin yang banyak pengalaman di kalangan Kang-ouw segera mengerti maksudnya Pek Yun Hui, Ketika itu ia melihat bangau putih yang berdiri di sampingnya Pek Yun Hui, ia berpikir "Bangau yang besar itu pasti dapat ditunggangi orang dan dapat menempuh jarak yang jauh lebih cepat Mungkin bangau itu dapat membawa orang pergi ke pegunungan Koat Cong San dan kembali lagi sebelum lewat tujuh hari."

Giok Cin Cu juga mengawasi bangau putih itu, ia teringat akan kulit ular yang telah dibawakan oleh bangau itu di pegunungan Koat Cong San. ia merasa murka karenanya, tetapi ketika ia ingat bahwa bangau putih itu juga yang telah mengeluarkan racun ular di dalam tubuhnya di rumah penginapan di kota Yo-ciu, ia berbalik menjadi berterima kasih,

Pada saat itu terlihat oleh Lie Ceng Loan seekor burung elang terbang di atas mereka. ia bersemi "Bu Koko, coba lihat burung elang itu, tidakkah serupa dengan burung elang yang membawa aku ke kuil?"

Pek Yun Hui angkat tangannya ke atas, dan bangau putih di sampingnya segera terbang ke atas udara mengejar burung elang itu, Dengan satu patokan yang dahsyat burung elang itu dipatok mati oleh bangau putih yang segera terbang turun lagi dan berdiri di samping Pek Yun Hui.

Dengan satu patokan yang dahsyat burung elang itu dlpatok mati oleh bangau putih yang segera terbang turun lagi dan berdiri di sampingnya Pek Yun Hui.

"Burung elang itu dari kuil Toa Ciok Sie, dia sangat cerdas," kata Pek Yun Hui, "Mungkin Hweeshio-hwee-shio dari Toa Ciok Sie juga telah berada tidak jauh dari sini, Kita harus lekas-Iekas berlalu jika tidak ingin ter-tawan, karena jumlah Hweeshio-hweeshio yang datang pasti tidak sedikit!

Hian Ceng Tojin segera berkata dengan tidak tedeng aling- aling lagi: "Aku yakin bahwa Pek Siocia ingin menunggangi bangau putih itu dan terbang pergi ke pegunungan Koat Cong San untuk minta diobati oleh guru Siocia, silahkan berangkat segera, kami dapat berusaha lari dari sini."

Pek Yun Hui mengangguk dan menyahut "Dengan menunggangi bangau ini aku dapat pergi menemui guruku dalam tiga hari."

"Pek Siocia sedang menderita luka-luka parah, Aku berkhawatir Siocia bersendirian," kata Hian Ceng To-jin, "Ada baiknya jika Bee Kun Bu menyertai Siocia, Hanya aku sangsi apakah bangau itu dapat membawa dua orang."

Pek Yun Hui tidak lantas menjawab ia menoleh ke arah Lie Ceng Loan. ia khawatir kalau-kalau ia menimbulkan perasaan cemburunya gadis itu. Tapi Lie Ceng Loan dengan sikap agung menghampiri Pek Yun Hui, dan berkata dengan ramah tamah: "Cici, aku sebetulnya ingin menyertai Cicu Tapi aku khawatir bangau itu tak dapat membawa tiga orang, Bu Koko lebih pandai dan lebih kuat daripada aku, dan ia pasti dapat melayani Cici dengan seksama, Setelah nanti Cici sembuh, perkenankanlah Bu Koko menunggangi bangau itu mencari aku di pegunungan Kun Lun."

Lalu ia datang mendekati Bee Kun Bu dan berkata: "Bu Koko, kau harus menyertai Pek Cici, Aku berempat Suhu, Susiok dan Supek segera menuju ke pegunungan Kun Lun dan menanti Koko di sana."

Bee Kun Bu mengangguk, dan menanya Pek Yun Hui: "Apakah bangau Cici dapat membawa dua orang?"

Pek Yun Hui mengangguk, ia mendahului menunggangi bangau putih di depan, dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Ayo, kau menungganginya di belakang!"

Setelah mengucap selamat berpisah kepada Lie Ceng Loan dan kawan-kawannya, bangau putih itu segera pentang kedua sayapnya dan terbang ke atas menuju pegunungan Koat Cong San, Lie Ceng Loan terus melihat bangau itu dengan air mata berlinang, Setelah bangau itu tak kelihatan lagi, ia jalan menghampiri Ngo Kong Toa-su dengan wajahnya yang sedih,

Ngo Kong Toa-su telah memetiharanya semenjak kecil menjadi cemas melihat sikap gadis itu. ia menanya, suaranya rendah: "Loan-ji mengapa kau tampaknya sedih hati?"

Dengan malu-malu Lie Ceng Loan menyahut: "Aku tidak sedih hati, Aku hanya merasa berat melihat Pek Cici menderita karena kita. Bu Koko pasti akan kembali setelah mengantar Pek Cici ke pegunungan Koat Cong San. Aku tidak sedih hati." Lalu ia paksakan tersenyum, sambil menyeka air matanya,

Ngo Kong Toa-su menarik napas lega, dan ketika ia hendak bicara dengan Hian Ceng Tojin, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang dan nyaring, Tong Leng Tojin menoleh ke jurusan suara itu. ia melihat di sebelah barat datang berlari- larinya lima orang Hweeshio dengan senjata toya-toya besi, Mereka tidak keburu melarikan diri, karena Hweeshio- hweeshio itu sudah dekat sekali, Orang yang paling depan adalah Ku Hut Leng Kong. ia memimpin It Yun, It Lee, It Tien dan It San,

Setelah cabut pedangnya, Hian Ceng Tojin berkata kepada Ku Hut Leng Kong: "Aku mengusulkan agar aku dapat bertempur melawan Toa-su seorang." Lalu ia maju menyerang Hweeshio itu,

Dengan menyengir Ku Hut Leng Kong menangkis serangan pertama itu, sedangkan It Yun, It Lee, It Tien dan It San berdiri di empat penjuru mengurung kedua jago silat itu bertarung,

Tong Leng Tojin, Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su tidak ingin pertempuran berlangsung lama, Mereka segera menyerang Hweeshio-hweeshio yang mengurung Lie Ceng Loan tidak mau ketinggalan ia pun cabut pedangnya dan menyerang, Dengan demikian semua orang-orang partai Kun Lun bertempur melawan Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie di bawah sinar matahari yang terang benderang Kali ini, mereka dapat bertarung satu lawan satu,

Ketika Hian Ceng Tojin memisah enam kaki dari Ku Hut Leng Kong, ia pegang melintang pedangnya di depan dada, dan dengan kedua mata melotot ia siap menusuk lawannya lagi, Ku Hut Leng Kong setelah berhasil menangkis serangan untuk mengemplang lawannya dengan toya besinya, Kedua- duanya sedang mengumpulkan tenaga dalamnya dan bersiap menyerang bilamana towong-an yang baik terlihat

Tiba-tiba terdengar lagi suara orang tertawa keras, dari sebelah timur Tia Lat Leng Hai memimpin It Hong, It Ceng dan It Goat mendatangi Pada saat itu juga semua orang berhenti bertempur Setelah Tia Lat Leng Hai tiba.

Ku Hut Leng Kong menanya Hian Ceng Tojin: "Hei! Pemuda baju hijau yang datang bersama-sama kalian sekarang berada di mana?"

Dengan tenang Hian Ceng Tojin menyahut: "Soal itu kau tak perlu tahu!"

jawaban itu dibalas dengan satu jotosan dari Tia Lat Leng Hai. Tapi Hian Ceng Tojin keburu melompat ke samping, Ku Hut Leng Kong coba mengemp!ang pula, dan Hian Ceng Tojin segera menggunakan jurus Hun Kong Kiam Hoat (memancar sinar) yang menyilaukan mata lawan sehingga kemplangannya meleset!

Lalu Tia Lat Leng Hai menerkam Lie Ceng Loan, ia bermaksud menangkap gadis itu. Tapi Ngo Kong Toa-su telah siap, terkaman Tia Lat Leng Hai itu disambut dengan tongkat besinya dengan jurus Hiap Can Cao Hai atau ombak menerjang lereng gunung. Tia Lat Leng Hai tidak berani menangkis kemplangan tongkat besi yang hebat itu, ia buru- buru mengegos mengelaki kemplangan, lalu dengan kepalan kirinya ia mendorong, dan dengan tinju kanannya ia menjotos Ngo Kong Toa- su. jotosan itu yang dilepas dengan tenaga dalam itu jika menemui sasaran pasti mengambil korban, Ngo Kong Toa-su lekas-lekas mundur tiga langkah untuk lantas maju menyerang lagi dengan jurus "Lek Sie Ngo Gay" atau menyapu hebat lima puncak,

Tia Lat Leng Hai yang bertubuh besar seperti kerbau sangat lincah gerakannya, Dengan tangan kirinya coba tangkap tongkat besi lawannya serta tangan kanannya mendorong keras dengan ilmu Ngo Kong Teng Pik Ciok atau lima palu menggempur batu.

Ngo Kong Toa-su terkejut ia buru-buru loncat mun-dur, lalu ia putar tongkat besinya dengan jurus Hut Liong Ji Cap Si Sut atau Naga mengamuk dan menyerang dari dua puluh empat penjuru, jurus itu mempunyai keisti-mewaannya, anginnya menghembus-hembus hebat sekali dari sab&tan tongkat besi itu. pertempuran menjadi he-bat! It Hong, It Ceng, It Goat, It Yun, It Lee, It Tien dan It San (tujuh murid angkatan kesatu) lalu bergebrak menyerang dengan toya-toya besinya,

Dengan satu jeritan yang keras, Tong Leng Tojin loncat menusuk It Yun yang terdekat, lalu membacok dan membabat It Tien, It Lee dan It San, sedangkan Giok Cin Cu melompat ke sisinya Lie Ceng Loan untuk bersama-sama melawan It Hong, It Ceng dan It Goat.

Pertarungan itu jarang terlihat dikalangan Bu Lim, mereka bertarung dengan sengit dan beringas, karena masing-masing pihak bersiasat membunuh mati lawan-lawannya.

Hanya Hian Ceng Tojin yang kalah tenaga dalamnya daripada Ku Hut Leng Kong, ia harus menggunakan Hun Kong Kiam Hoatnya untuk menyesatkan serangan-se-rangan lawan. Tong Leng Tojin masih dapat bertahan dikerubuti empat Hweeshio, Begitu pula Ngo Kong Toa-su dengan ilmu Hut Liong Ji Cap Sie Sut dapat meladeni Tia Lat Leng Hai, pemimpin kedua dari kuil Toa Ciok Sie. Giok Cin Cu dan Lie Ceng Loan tampak lebih unggul menghadapi tiga orang Hweeshio,

Ku Hut Leng Kong yang lebih unggul itu tidak mudah untuk segera dapat melukai lawannya, karena Hian Ceng Tojin, di samping ilmu silat pedangnya yang tinggi juga telah banyak pengalaman melawan bajingan-bajingan di kalangan Kaftg- ouw, ia masih dapat membela diri, dan kadang-kadang menyerang lawan-lawannya.

Ketika pertempuran berlangsung seru nya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mengiriskan hati, It Yun telah tertebas putus tiga jari tangan kanannya oleh pedangnya Tong Leng Tojin, jeritan itu membikin kedua pemimpin Toa Ciok Sie makin beringas

Ku Hut Leng Kong yang lebih unggul itu tidak mudah awasi Hian Ceng Tojin dengan kedua mata terbelalak ia bermaksud mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk membunuh mati lawannya, Hian Ceng Tojin telah insyaf akan maksud Hweeshio durhaka itu. ia berdiri siap waspada! ia lihat Ku Hut Leng Kong mengangkat tangan kanannya pertahan-lahan ke atas, dan tangan yang kurus kecil itu perlahan-lahan menjadi besar dan kasar

Hian Ceng Tojin tidak mengetahui bahwa Ku Hut Leng Kong mempunyai latihan Pek Tok Ciang Lek (Tenaga dalam tinju beracun). Tetapi ia pun siapkan tenaga dalamnya di lengan kirinya untuk menangkisnya, Kemudian muka yang kurus dan hitam dari Hweeshio itu menyengir, dan giginya di bawah sinar matahari tampak menyeramkan ia seperti juga satu iblis! ia bertindak maju perlahan-laan, dan Hian Ceng Tojin terpaksa bertindak mundur pertahan-lahan pula!

Dalam saat yang genting itu, ketika orang-orang dari partai Kun Lun bertarung mati-matian membela diri melawan Hweeshio-hweeshio yang durhaka dan yang dipimpin oleh dua orang gurunya, sekonyong-konyong dari lereng gunung terdengar suara jeritan yang memekakkan telinga, Lalu terdengar seruan: "Loan-moi (Adik Loan)! jangan takut Kami datang membantu!" Seruan itu disertai terbang datangnya dua Hui-piauw (senjata tajam berbentuk kepala lembing) yang melalui Giok Cin Cu dan Lie Ceng Loan untuk memukul (menusuk) It Hong dan It Ceng! Terbangnya kedua Hui-piauw itu cepat sekali, dua Hweeshio gundul tidak keburu menangkis dengan toya besinya. Hui-piauw itu ternyata diperlengkapi pula dengan jarum-jarum beracun, It Hong dan It ceng setelah kena tertusuk Hui-piauw tersebut, segera merasakan seluruh tubuhnya dingin dan lemas, kaki tangannya lumpuh, pada saat itulah Giok Cin Cu menebas putus lengan kanannya It Hong dan diteruskan menusuk It Ceng.

Hanya tinggal It Goat seorang yang melancarkan serangannya terhadap Lie Ceng Loan, Melihat kedua kawannya gugur, ia pun menjadi keder ia membungkukkan diri menghindarkan sabetan pada Lie Ceng Loan untuk terus kabur, dan kebetulan ia lari ke depan Hian Ceng Tojin yang sedang menghadapi Ku Hut Leng Kong yang tepat waktu itu melepaskan tinju Pek Tok Ciang Leknya, Ku Hut Leng Kong tak keburu menarik jotosan itu, It Goat menjerit kesakitan terkena jotosan dahsyat itu, dan tubuhnya terpental ke atas satu depa tingginya untuk jatuh terbanting di tanah tidak bernyawa lagi! peristiwa yang sangat cepat dan hebatnya itu membikin semua jago-jago silat berhenti dan berdiri tertegun!

Hian Ceng Tojin menoleh ke arah yang melepaskan Hui- piauw, ia tampak seorang gadis berbaju hitam dengan wajah muka yang cantik datang menghampiri Lie Ceng Loan seperti seorang kakak yang sudah lama tidak menjumpai adiknya pertemuan mereka itu mesra sekali, Di belakang gadis berjalan mengikuti seorang tua dengan jenggot putihnya yang panjang menutupi dada, bajunya hijau dan panjang sampai ke lutut ia bersenjata sebatang toya berkepala besi berbentuk naga, ia adalah ketua partai dari pemimpin silat Thian Liong bernama Souw Peng Hai, dan gadis itu adalah puterinya, Souw Hui Hong.

Di belakang Souw Peng Hai tampak mendatangi juga tiga jago silat, yakni pemimpin-pemimpin dari cabang-cabang bendera merah Ouw Lam Peng, bendera Hitam Yap Eng Ceng dan bendera Putih Kiok Goan Hoat!

Kan Goat Cit Shin Kong memberi hajaran kepada Toa Ciok

Sie

Dengan mata yang bersinar Souw Peng Hai melihat

keadaan di sekitar tempat pertempuran. Lalu ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada Hian Ceng Tojin: "Ketiga pemimpin dari partai Kun Lun telah datang ke pegunungan Ci Lian San, apakah ada urusan penting?"

Hian Ceng Tojin membalas kehormatan itu, dan menyahut: "Kami dari partai Kun Lun telah datang ke pegunungan Ci Lian San dengan maksud minta buah Sie Can Ko dari kuil Toa Ciok Sie untuk mengobati Sumoy kami yang terkena racun ular di dalam tubuhnya, Tetapi bukan saja buah itu tidak diperolehnya, bahkan kami diserang dan hendak dibunuh oleh Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie."

"Ketiga pemimpin Kun Lun telah datang, dan di kalangan Bu Lim sukar mencari jago-jago silat yang dapat melawannya Aku yakin oleh karena itu buah Sie Can Ko pasti sudah diperolehnya," kata Souw Peng Hai yang melihat Giok Cin Cu dalam keadaan sehat walafiat Lalu ia mengawasi Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong, dan menanya lagi: Tapi kedua Hweeshio itu, si gemuk dan si kurus, bukankah mereka juga dari kuil Toa Ciok Sie?"

ia tidak menunggu jawaban dari Hian Ceng Tojin. Dengan wajah yang congkak ia mengawasi Tia Lat Leng Hai dan berkata dengan suara yang keren: "Ketiga pemimpin partai Kun Lun telah dapat satu buah Sie Can Ko untuk mengobati Sumoynya yang kena racun ular Apakah bangsat-bangsat gundul dari kuil Toa Ciok Sie juga bisa memberikan aku buah Sie Can Ko itu? Jika tidak, aku Souw Peng Hai tentu ada jalan lain mengambilnya !" Hian Ceng Tojin mengerutkan kening, ia berpikir "Caranya Souw Peng Hai bicara itu bersifat mengejek Mungkin ia mengira Giok Cin Cu telah sembuh karena makan buah Sie Can Ko. Apa gunanya ia mencari musuh terhadap Hweeshio- hweeshio itu?" ia berpikir sejenak lagi, lalu berkata: "Souw Kiok Cu (pemimpin partai Souw)! Jika Souw Kiok Cu mempunyai perhitungan harus dibereskan terhadap Hweeshio-hweeshio kuil Toa Ciok Sie, kami dari partai Kun Lun pasti suka mengalah." ia pun lantas mengajak orang- orangnya mundur

Ketika itu, dari ke tujuh Hweeshio-hweeshio murid-murid angkatan ke satu It Hong, It Ceng, dan It Goat tiga orang sudah menjadi mayat sisanya yakni It Yun, It Lec, It Tien dan It San, juga satu diantaranya telah terluka parah, peristiwa yang menyedihkan itu belum pernah dialami oleh kuil Toa Ciok Sie, sehingga Tia Lat Leng Hai dan Ku Hut Leng Kong menjadi murka sekali Setelah diejek oleh Souw Peng Hai, karena mereka belum mengetahui hal ihwalnya partai Tian Liong, mereka pun tidak berani bertindak sembrono.

Tapi Souw Peng Hai dengan toya berkepala naga di tangannya datang menghampiri Hweeshio-hweeshio itu, dengan diikat di kiri kanannya oleh empat jago-jago silat yang berwajah seperti iblis dan terkenal sebagai empat iblis dari daerah pertengahan propinsi Sucoan, Souw Peng Hai berhenti dan berdiri satu depa jauhnya di depan Hweeshio-hweeshio itu, Dengan toyanya ia menuding Tia Lat Leng Hai dan baru ia hendak bicara, tetapi didahului Ku Hut Leng Kong yang berkata: "Kamu dan kita belum mengenal satu dengan yang lain, tetapi kau katakan hendak bikin perhitungan dengan kami Aku tak mengerti akan maksud omongan mu itu, Kau harus menjelaskan dulu, kemudian jika kau masih ingin menari-nari dengan toyamu itu, kau masih belum terlambat!"

Dengan menyengir Souw Peng Hai berkata: "Jika aku sebut satu nama, kalian segera mengetahui kita mempunyai perhitungan apa. Kenalkah kalian kepada Sao Kong Gie?" Dengan geli Ku Hut Leng Kong menyahut: "O, urusan itu! Aku kira urusan besar jadinya kau ingin membikin perhitungan untuk orang lain? Betul, aku kenal Sao Kong Gie, dan akulah yang telah persen ia jarum beracun, Cuma aku khawatir kau tidak mampu melakukan pembalasan untuk dia, bahkan sebaliknya kau sendiri akan mengantarkan jiwa!"

Souw Peng Hai tertawa keras seperti meraungnya seekor singa sehingga seluruh suasana di pegunungan itu tergetar

Ku Hut Leng Kong terkejut ia berpikir Tua bangka ini rupanya lihay Umunya. Aku tak boleh memandang remeh!"

Setelah berhenti tertawa, Souw Peng Hai menyahut: "Bagus! Bagus! Aku si tua bangka ini dengan mengambil kesempatan sebaik-baiknya ini minta jago-jago dari kuil Toa Ciok Sie sudi mengajarkan sejurus atau dua jurus ilmu silat Meskipun aku binasa, aku tidak akan menyesal!"

Ku Hut Leng Kong lalu memandang kepada ketiga pemimpin-pemimpin cabang yang berdiri di belakang Souw Peng Hai dengan sikap waspada, ia beranggapan semuanya bukan lawan yang enteng. Tapi ia tak tahan diejek, maka dengan tidak menyahut lagi, kedua tinjunya ia lepaskan menyerang Souw Peng Hai.

Souw Peng Hai tidak pereuma menjadi pemimpin partai Thian Liong, dan tidak mudah dipermainkan oleh Ku Hut Leng Kong, Begitu dua jotosan lawannya maju ia pun batas menyerangnya dengan menyapukan toyanya ke arah lengan lawannya, Ku Hut Leng Kong terkejut ia buru-buru melompat mundur sambit menarik kembali kedua tinjunya. ia tidak menduga bahwa lawannya lebih cepat dari dia.

Souw Peng Hai tertawa, dan baru saja ia hendak mengejar, Ouw Lam Peng tiba-tiba menegur bicara sedikit

Souw Peng Hai menoleh ke belakang dan berkata: "Kau mau bicara apa? Katakanlah!"

Dengan tenang Ouw Lam Peng berkata: "Ketiga pemimpin partai Kun Lun sedang membikin perhitungan dengan bangsat gundul ini, Bukankah lebih baik kita menunggu mereka membereskan perhitungannya dulu?"

Hian Ceng Tojin setelah mengawasi Ouw Lam Peng, berkata: "Ouw Kiok Cu (pemimpin cabang) bicara betul Pihak kami sukar bertarung melawan mereka lebih dulu."

Ouw Lam Peng tersinggung dengan ucapan itu, ia menegur: Tojin bicara terlampau getas!"

Tapi Souw Peng Hai membentak: "Aku mempunyai perhitungan terhadap si gundul kurus itu, Aku tak sudi orang lain yang membereskan urusanku!"

Yap Eng Ceng dan Kiok Goan segera buru-buru datang mencegah sambil berkata: "Cong Kiok Cu! Tidak perlu Cong Kiok Cu yang menghajar si gundul itu, Kasihlah kami dulu memberikan hajaran, jika nanti ternyata kami tidak mampu, barulah Cong Kiok Cu yang turun tangan."

Biarpun Souw Peng Hai mendengarkan pembicaraan kawan-kawannya, tetapi kedua matanya senantiasa mengawasi gerak-gerikiiya Ku Hut Leng Kong yang sedang menggerakkan tenaga dalamnya disalurkan kedua tinjunya, Tengah Souw Peng Hai dibujuk kawan-kawannya, Ku Hut Leng Kong menjerit, dan menjotos dengan tinju kanannya, Souw Peng Hai mengelit jotosan itu secepat kilat, lalu dengan tangan kirinya ia coba cekal lengan kanan lawannya, dan menotok jalan darahnya dengan satu jari tangan kirinya itu!

Ku Hut Leng Kong yang kejam telah berniat memukul mati Souw Peng Hai dengan tinju Pek Tok Ciang Leknya, tetapi tenaga dalamnya Souw Peng Hai tiada tandingannya, Begitu tinjunya dilepaskan, ia segera rasakan hembusan angin yang agak ganjil, dan mengetahui bahwa pukulan itu dilepaskannya dengan tenaga dalam yang luar biasa, Dengan kekuatan yang telah terkumpul di lengan kirinya, sambil menjerit sekeras geledek ia mengegos menghindari jotosan lawannya sambil menotok lengan kanan lawannya dengan satu jari kirinya yang dikerahkan dengan ilmu Kan Goan Cit Sin Kong (Jari sakti menembus baja),

sebetulnya tinju Pek Tok Ciang dari Ku Hut Leng Kong merupakan pukulan yang sangat ampuh, ilmu tersebut ia telah pelajari dan melatihnya beberapa tahun lamanya, Bukankah It Goat yang kebetulan lari di depan Hian Ceng Tojin terpental satu depa ke atas dan jatuh tak bernyawa hanya karena anginnya jotosan Pek Tok Ciang Lek itu? Tetapi Souw Peng Hai berhasil menghindari jotosan yang dahsyat itu dan balas menotok jalan darah di lengan kanannya dengan ujung jari tangan kirinya dengan ilmu Kan Goan Cit Sin Kong, Ku Hut Leng Kong sebelumnya yakin betul bahwa Souw Peng Hai pasti binasa di bawah jotosan Pek Tok Ciang Lek, ia tidak menduga sama sekali akan sambutan yang lebih lihay dari lawannya,

Segera ia merasa tangan kanannya menjadi panas dan lemas, kemudian menular ke seluruh tubuhnya, ia terkejut ia coba membebaskan totokan itu, tapi ia tidak berhasil.

Untung ada Tia Lat Leng Hai yang berdiri tidak jauh segera menjaga kawannya yang terpental, talu dengan tinju kirinya ia menyerang Souw Peng Hai dengan jurus Im Met Kit Lang atau Menutup tanggul membendung ombak, sedangkan tangan kanannya coba menolong kawannya membebaskan totokan tadi!

Tetapi Souw Peng Hai yang sudah menjadi beringas tidak memberikan kesempatan lagi, Setelah menotok lawannya dengan ilmu Kan Goan Cit Sin Kongnya, dan melihat Tia Lat Leng Hai datang menyerang, ia juga menyerang Tia Lat Leng Hai dengan toyanya. Empat iblis di kedua sampingnya segera membantu, yaitu dua dari mereka Lo Toa dan Lo Sam menjotos Tia Lat Leng Hai, dan yang dua orang lagi Lo Ji dan Lo Si menerkam Ku Hut Leng Kong,

Tia Lat Leng Hai dengan mementangkan kedua lengannya menangkis serangan Lo Toa dan Lo Sam, dan dengan kaki kirinya ia menendang toyanya Souw Peng Hai. Tangkisan tersebut ia lakukan dengan jurus Ji Liong Hun Cui atau Dua naga membuka jalan. Tetapi Souw Peng Hai menyerang terus, Tia Lat Leng Hai terpaksa bertindak mundur Ketika itu It Yun, It Lee, It Tien dan It San datang membantu, Dengan bentakan keras Ouw Lam Peng dan Yap Eng Ceng masing- masing melemparkan arit terbang dan biji besinya.

Arit itu terbang menyambar kepalanya It Yun yang hanya dapat kesempatan untuk menjerit kesakitan untuk terus menjadi mayat! Dan biji besi memukul dadanya It Lee yang segera terdorong mundur lima tindak, lalu memuntahkan darah dan jatuh tertiarap menyusul ka-wan-kawannya menghadap raja akherat!

Kedua macam senjata rahasia itu sudah terkenal di kalangan Kang-ouw, dan jarang gagal mengambil korban. Setelah melihat It Yun dan It Lee tewas terkena senjata rahasia, It Tien dan It San menjadi mengkeret, mereka tidak berani datang menyerang dengan sembrono lagi,

Ketika itu Ku Hut Leng Kong telah ditangkap oleh Lo Ji dan Lo Su (Dua dari empat iblis pengawal pribadinya Souw Peng Hai), Dengan demikian pihak Toa Ciok Sie hanya ketinggalan Tia Lat Leng Hai dan It Tien dan It San. Tujuh murid angkatan kesatu telah tewas empat lima orang. Ku Hut Leng Kong, pemimpin ketiga telah tertangkap hidup-hidup, Untuk bertempur terus, Tia Lat Leng Hai yakin tak akan menang, maka ia pun berhenti bertarung sambil lari mundur beberapa depa,

Dengan mengayun toya berkepala naga, Souw Peng Hai mengejek: "Hei, gundul! Sao Kong Gie, tidak mempunyai dendam apapun terhadap kuil Toa Ciok Sie. Tapi mengapa ia telah dihajar dengan jarum beracun " Lalu ia ingat bahwa Ku

Hut Leng Konglah yang hajar Sao Kong Gie dengan jarum beracun, maka ia berpaling kepada Hweeshio kurus yang sedang diikat oleh Lo Jin dan Lo Su itu, dia membentak: "Hweeshio kurus dan gundul ini yang melukai Sao Kong Gie, ia pasti dapat menolong dan membuangkan racun yang telah merembes masuk ke dalam tulang-tulang. Kita harus bawa ia segera jika Hweeshio-hweeshio yang lain ingin menolong ia, mereka boleh datang ke sebelah utara propinsi Kwiciu.

ke markas besar partai Thian Liong, Tapi jika di dalam jangka waktu setengah tahun belum juga ada yang datang menolong, maka nasibnya si kurus ini aku tak jamin lagi!"

Ucapan tersebut telah didengar jelas oleh Tia Lat Leng Hai, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa, karena ia tak mampu melawan lagi dengan hanya dua orang muridnya yang masih hidup itu, lagi pula ilmu silatnya tak setinggi Ku Hut Leng Kong yang mempunyai ilmu pukulan Pek Tok Ciang Lek. Pek Tok Ciang Lek dapat digempur oleh ilmu jari sakti Kan Goan Cit Sin Kong. ia sendiri mempunyai ilmu Tay Im Kit Kong (ilmu kekuatan menggempur hancur dengan jotosan dua tinju), dan yakin ilmunya tak dapat bertahan melawan Kan Goat Cit Sin Kong,

Tapi sifatnya yang congkak memaksa ia mengancam: "Aku khawatir kalian tak dapat keluar dari pegunungan Ci Lian San ini!" Lalu ia ajak kedua muridnya lari kabur! Kiok Goan Hoat hendak mengejar, tapi ditahan oleh Souw Peng Hai, Yap Eng Ceng melontarkan biji besinya ke punggung Tia Lat Leng Hai, Biji besi itu terbang sangat pesatnya mengejar si Hweeshio gemuk. Tapi Tia Lat Leng Hai berbalik dan menjotoskan tinju- nya, biji besi itu jatuh terpental kena angin tinju Tay Im Kit Kongnya,

Pada saat itu, Ouw Lam Peng telah membelokkan kedua matanya dari Tia Lat Leng Hai yang melarikan diri kepada Lie Ceng Loan, Dengan arit di tangan, kedua matanya mengawasi Lie Ceng Loan dengan wajah yang beringas, Lalu perlahan- lahan ia mendekati

Ngo Kong Toa-su dan Hian Ceng Tojin telah memperhatikan sikap yang ganas dari Ouw Lam Peng, Mereka lekas-lekas loncat di sampingnya Lie Ceng Loan, dan berdiri siap menjaga gadis itu yang sedang berdiri ber- damping-dampingan dengan Souw Hui Hong. Souw Hui Hong juga telah perhatikan dengan sikap yang mendadak berubah dari Ouw Lam Peng, sementara itu terlihat juga olehnya Yap Eng Ceng dan Kiok Goan Hoat datang menghampiri Suasana yang tiba-tiba berubah ini memaksakan Giok Cin Cu dan Tong Leng Tojin mencabut pedangnya.

Keadaan menjadi genting pula.

Rupanya Ouw Lam Peng hendak menimbulkan onar lagi, Suasana yang sunyi senyap itu segera terpecah belahkan oleh tertawanya Ouw Lam Peng yang berkata, suaranya keras: "Apakah gadis yang berbaju putih ini adalah murid dari partai Kun Lun?"

Hian Ceng Tojin menyahut sambil tersenyum: "Be-tul! Ouw Hun Kiok Cu (pemimpin cabang She Ouw) tentu tidak mengenal anak kemaren dulu ini."

Melihat Souw Hui Hong sangat akrabnya dengan Lie Ceng Loan, Ouw Lam Peng tidak segera melontarkan aritnya, ia berkata: "Souw siocia aku minta kau minggir!"

Souw Hui Hong merasa heran, ia tak mengerti mengapa Ouw Lam Peng benci Lie Ceng Loan, dan dendam apakah yang tertanam di antara mereka. Tapi ia mengetahui bahwa arit Ouw Lam Peng itu dahsyat sekali, bisa dilontarkan dengan tangan kiri atau kanan, ia tidak minggir, bahkan ia memeluk Lie Ceng Loan sambil berkata: "Ouw Siok-siok (paman Ouw), Paman tahun ini telah berusia lima puluh tahun, Bagaimanakah Paman dapat berdendam terhadap gadis yang belum berusia dua puluh tahun?"

Dengan menyengir Ouw Lam Peng berkata: "Se-belumnya aku menanyakan keterangan-keterangan jelas, aku pasti tidak sembarang turun tangan." Lalu ia berbalik menanya Hian Ceng Tojin: Tojin yang telah lama berkecimpungan di kalangan Bu Lim tentu tak akan berdusta, Aku mohon tanya, gadis berbaju putih apakah bukan puterinya Lie Su Long, pelajar yang selalu mengenakan baju biru?" Hian Ceng Tojin kememek. ia tak dapat menjawab ia menoleh ke arah Ngo Kong Toa-su dengan maksud agar Ngo Kong Toa-su yang memberikan jawaban

Tetapi Ngo Kong Toa-su tampaknya tambah gelisah setelah ditanya Ouw Lam Peng. Seluruh tubuhnya gemetar an. ia teringat akan peristiwa dari beberapa puluh tahun yang lampau, Apakah ia harus membikin perhitungan sekarang?

Apakah ia mampu melawan Ouw Lam Peng? Semua pikiran itu membingungkan ia.

Souw Hui Hong yang cerdas dan tangkas yang cukup pengalaman di kalangan Kang-ouw, setelah melihat sikap dan wajah masing-masing orang yang bersangkutan segera dapat menebak keberatan-keberatannya Hian Ceng Tojin atau Ngo Kong Toa-su.

Apabila mereka memberikan keterangan pada saat itu, maka pertempuran yang hebat tak dapat dihindarkan lagi dan jika sudah bertempur, tidak guna lagi untuk membujuknya Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dengan suara keras ia berseru: "Ayah, bagaimana dengan racun jarum di dalam tubuh ayah angka tku, Sao Kong Gie! Bukankah lebih cepat kita menolongnya lebih baik? Mengapa kita harus diam di sini lebih lama?"

Souw Peng Hai juga telah merasa tidak ada manfaatnya mencari permusuhan terhadap partai Kun Lun, Setelah ditegur oleh puterinya, ia menegur "Ouw Hun Kiok Cu!"

Ouw Lam Peng segera berbalik menghadapi Souw Peng Hai sambil menanya: "Cong Kiok Cu ada perintah apakah?"

Souw Peng Hai berkat a: "Jika kau mempunyai perhitungan yang harus dibereskan dengan partai Kun Lun, pada waktu sekarang dan di tempat ini tidaklah tepat Kesempatan untuk membikin perhitungan masih banyak, tidak usah sekarang juga!"

Ouw Lam Peng yang bertabiat juga berangasan dengan bersikap congkak tak berani membantah perintah atasannya, ia membungkukkan tubuh dan menyahut: "Aku Ouw Lam Peng mentaati perintah!"

Sambil tersenyum Souw Peng Hai berkata lagi kepada Hian Ceng Tojin: "Aku pun minta dengan sangat Tojin pandang aku si tua bangka ini, dan jangan membikin perhitungan sekarang, Kemudian hari jika ada kesempatan kami pasti ingin diajarkan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat dan ilmu pukulan Thian Kong Ciang."

Sambil tersenyum Hian Ceng Tojin menyahut: "Umu silat partai kami tidak seberapa, malah kami harus minta Souw Cong Kiok Cu mengajarkan ilmu Kan Goan Cit Sin Kong!"

Lalu Souw Peng Hai tegur puterinya, dengan ber-kata: "Hei, anak tolol! Kau tidak segera berjalan mau tunggu apa lagi?"

Souw Hui Hong hanya tersenyum, ia menyahut: "Ayah jalanlah lebih dulu bersama tiga paman, Aku masih ada omongan sedikit untuk Loan-moi."

Tapi Souw Peng Hai membentak: Tidak, ayo lekas jalan!"

Aneh juga, jago silat dan pemimpin partai silat Thian Liong yang sangat dimalui oleh jago-jago silat di kalangan Kang-ouw itu tak dapat menundukkan puterinya, meskipun semua orang bawahannya berdiri gemetar menerima perintahnya. ia terlampau sayang puterinya,

Souw Hui Hong berkata lagi: "Tidak! Aku masih ada sedikit omongan untuk Loan-moi. urusanku ini tak me-rintangi siasat atau urusan ayah!"

Untuk sementara waktu Souw Peng Hai menjadi gusar, tapi lekas juga kegusarannya itu berubah menjadi senyuman, Sambil geleng-geleng kepalanya ia berkata lagi: "Kau telah berusia dua puluh tahun lebih, mengapa masih nakal dan bandel seperti anak kecil ? Apakah kau tidak malu terhadap orang lain?" Kali ini, Souw Hui Hong tersenyum, dan dengan manjanya ia menyahut: "Aku tidak bilang aku tidak jalan, Aku hanya ingin bicara sedikit dengan Loan-moi, Ayah dan paman jalan duIu, aku segera menyusuI."

Dengan memandang Hian Ceng Tojin, Souw Peng Hai berkata: "Puteriku ini bandel Aku mohon Tojin tidak mencelanya." Lalu ia balik badan dan berlalu, Ku Hut Leng Kong yang telah diikat dan digotong oleh Lo Ji dan Lo Su, dan ketiga pemimpin cabang Ouw Lam Peng, Yap Eng Ceng dan Kiok Goan Hoat mengikuti di belakang Souw Peng Hai.

Souw Hui Hong menanya Lie Ceng Loan: "Loan-moi, bagaimanakah kau bisa mempunyai dendam terhadap Ouw Hun Kiok Cu? ia telah berusia lima puluh tahun, dan kau baru tujuh belas tahun?"

Dengan wajah yang suram Lie Ceng Loan menyahut sambil kepalanya digoyang-goyangkan: "Aku pun tak tahu dan tak mengerti persoalan ini. Aku tidak kenal dia," dan ia menghadapi Ngo Kong Toa-su dan menanya: "Supek (paman guru), apakah ayahku bernama Lie Su Liong?"

Ngo Kong Toa-su baru saja merasa reda dari ketegangan yang ditimbulkan oleh Ouw Lam Peng, ia menjadi gelisah lagi ketika ditanya demikian oleh puteri angkatnya, Dengan muka sedih ia memandang Lie Ceng Loan. Lalu dengan wajah yang berubah menjadi murka ia memperingatkan suara yang keras: "Loan-ji! Seterusnya kau tidak boleh menanya kepadaku urusan itu lagi!

Belum pernah Lie Ceng Loan melihat ayah angkatnya begitu marah, ia pun terkejut melihat kegusaran itu. ia pegang tangannya Souw Hui Hong erat-erat, Lalu ia menubruk lututnya Ngo Kong Toa-su, dan dengan air mata berlinang ia berkata dengan suara yang memilukan hati: "Supek! Jika aku salah omong, ampunilah akui Aku... aku... tak mempunyai maksud apapun membikin Supek menjadi kesal Am... ampunilah aku!" Akhirnya ia menangis, Hancurlah hatinya orang itu melihat kesedihannya gadis yang ia lebih sayang dari pada dirinya sendiri ia lekas -lekas mengangkat bangun, dan dengan kedua mata berlinang ia coba menghibur: "Urusan ayah bundamu aku telah beritahukan semuanya kepada gurumu, Hian Ceng Tojin.

Kelak jika telah tiba saatnya, kau pasti diberitahu kan. Tetapi untuk sementara waktu ini, aku harap kau jangan bertanya- tanya tentang itu."

Sambil menyeka kering air matanya, Lie Ceng Loan menyahut: "Supek... akupun harap Supek jangan buat pikiran lagi Aku tidak akan menanya lagi soal itu."

Ngo Kong Toa-su belum menjawab, dari jurusan di belakang mereka terdengar suara derap larinya kuda. Mereka menoleh dan dapat lihat kudanya Co Hiong mendatangi

Kuda ajaib itu berhenti di samping Souw Hui Hong, dan setelah melihat kuda itu dengan sikap yang gelisah, agaknya Lie Ceng Loan usap-usap leher kuda dan berkata kepada Souw Hui Hong: "Cici, inilah kuda ajaibnya Co Hiong, kawannya Bu Koko, Larinya bukan main hebat-nya!"

Dengan sikap terperanjat Souw Hui Hong balik menanya: "Ha! Apakah kalian telah mengenal Co Suhengku?"

Lie Ceng Loan menyahut sambil goyang-goyang kepalanya: "Aku sendiri tidak hanya Bu Koko yang kenal dia dan diperkenalkan kepadaku, Kini Bu Koko sedang menyertai Pek Cici."

Ketika menjumpai Lie Ceng Loan sebetulnya Souw Hui Hong ingin menanyakan tentang Bee Kun Bu, tetapi ia khawatir menimbulkan rasa curiga. Kini Lie Ceng Loanlah yang menyebut-nyebut Bee Kun Bu, maka ia anggap telah memperoleh kesempatan baik untuk menanyakan hal ihwalnya Bee Kun Bu. "Kau juga mempunyai kakak dik Loan?" tanya ia.

Sambil tersenyum Lie Ceng Loan menyahut: "Pek Cici adalah kawan baiknya Bu Koko. ilmu silatnya tinggi sekali, Kalau tiada pertolongan nya Kakak Pek itu, mungkin Bu Koko sudah tidak ada di dunia ini!"

Souw Hui Hong yang selalu menaruh perhatian tentang Bee Kun Bu menjadi tereengang mendengar ucapan itu. "Apakah kau tidak curiga dan cemburu Bu Kokomu mengikuti wanita lain?" tanya Souw Hui Hong.

Dengan sikap yang polos dan penuh kepereayaan, Lie Ceng Loan menyahut: "Pek Cici sangat budiman dan ramah. ia tak akan terlantarkan Bu Koko, dan aku bertentram hati. Bu Koko mengikuti Pek Cici." perkataan itu diucapkan dengan setulus hati dan wajar, karena ia sebegitu jauh belum mempunyai perasaan cemburu, Tetapi pemberitahuan itu menusuk hatinya Souw Hui Hong, yang telah jatuh cinta kepada Bee Kun Bu. ia merasa hidungnya panas, dan air matanya tak tertahan mengucur keluar

Sikap itu mengejutkan Lje Ceng Loan, ia pegang kedua tangannya Souw Hui Hong dan menanya: "Hong Cici (Kakak Hong), mengapa kau menangis? Apakah aku salah omong?"

Souw Hui Hong tidak segera menyahut ia menengok ke arah kudanya Co.Hiong, dan berkata, menyimpang dari pertanyaannya: "Kuda ini tak ditunggangi oleh Co Suhengku, Tapi sekarang hanya kudanya yang datang tanpa majikannya itu, apakah ia terhadang atau mendapat kecelakaan?"

Lie Ceng Loan pun menjadi cemas, ia berkata: "Co Suhengmu itu juga baile ia bukan saja telah menjadi kawan Bu Koko, ia pun pernah menolong aku. Kini hanya kudanya saja kelihatan Aku khawatir ia menemui rintangan Ayo! Kita cari padanya!" Lalu ia berkata kepada Giok Cin Cu: "Suhu aku dan Souw Cici hendak pergi mencari Co Hiong, bolehkah?"

Tong Leng Tojin menyahut: "Orang yang pernah menolong murid dari partai Kun Lun kita, kita harus menolongnya juga jika ia berada dalam bahaya, Sumoy, kau harus perkenankan ia pergi." Giok Cin Cu mengerutkan kening, lalu menyahut: "Daerah pegunungan Ci Lian San ini sangat luas, Mencari orang di tempat seluas ini tidak mudah."

"Tapi.kuda ajaib ini sangat cerdas," kata Souw Hui Hong, "Dengan menunggangi kuda ini, aku kira mencari Co Hiong majikannya tidak sukar." Lalu ia cemplak kuda ajaib itu yang segera lari menuju ke arah selatan, Souw Hui Hong segera diikuti oleh beberapa orang itu,

Kuda itu seakan-akan memimpin jalan dan beberapa orang itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh dapat mengikuti dari belakangnya,

Setelah lewat satu jam, mereka tiba di kaki suatu puncak gunung, dan kuda ajaib itu berhenti untuk me-nunggui orang- orang yang" mengikuti di belakangnya puncak itu. Kemudian dengan berbunyi beringas ia mendaki puncak yang curam itu.

Ketiga ketua partai Kun Lun dan Ngo Kong Toa-su dengan ilmu meringankan tubuhnya yang lihay dengan mudah dapat mendaki puncak yang curam itu, dan segera tiba di atas puncak itu,

Di bawah puncak lainnya itu terletak tanah datar dengan satu telaga kecil seluas satu bou (lebih kurang tiga puluh meter persegi) dengan airnya yang jernih dan satu sungai kecil mengalir melewati telaga tersebut untuk turun mengalir ke bawah, Melihat keadaan tempat itu, Lie Ceng Loan berseru: "Aku tahu, aku tahu! Aku pernah datang ke tempat ini dua kali! Tiap Pek Cici menolong aku, ia tentu bawa aku kemari!"

Giok Cin Cu melihat keadaan di sekitarnya, ia tampak di kedua samping puncak di mana mereka berdiri, ada dua puncak lagi yang diliputi awan turun dari puncak itu menuju telaga yang terletak di bawah. Di sekitar telaga tersebut, rumput tumbuh sangat segar dan lebatnya, kembang- kembang liar berlomba-lomba mempertunjukkan kecantikannya Kuda itu terus jalan menuju ke depan satu gua batu dan berhenti di mulut gua itu, Lie Ceng Loan tidak ragu-ragu lagi, Goa batu itu adalah tempat di mana Pek Yun Hui sembunyikan ia ketika ia tertolong dari penculikan Di dalam gua itulah ia berjumpa lagi dengan Bee Kun Bu yang telah berusaha keras mencari ia. Segala sesuatunya di dalam gua itu masih seperti sediakala, tidak berubah. ia masuk ke dalam gua seperti juga ia masuk ke dalam rumahnya sendiri, diikuti Souw Hui Hong.

Mereka terkejut ketika melihat Co Hiong menggeletak tertelentang tidak bergerak di tanah rambutnya terurai Apakah ia menderita sakit, atau terluka, atau binasa???

110 BANGAU SAKTt - T.S.S. Jtltd 4

Dengan terharu Lie Ceng Loan dan Souw Hui Hong datang menghampiri dan berlutut di sampingnya Co Hiong,

Souw Hui Hong yang menjadi besar bersama-sama di bawah satu asuhan dan hidup seperti saudara kandung, bukannya tidak terharu melihat keadaan Co Hiong, Ha-nya semenjak ia melihat Bee Kun Bu dan telah jatuh cinta pada pertemuan pertama, ia lebih sering mengenang wajah dan sikapnya Bee Kun Bu daripada Co Hiong yang ayahnya ingin menjadi suaminya, Tetapi ketika melihat keadaan Co Hiong yang mengkhawatirkan itu, ia segera menubruk dan memanggil namanya,

Co Hiong perlahan-lahan bergerak dan membuka kedua matanya, ia melihat wajah kekasihnya, dan sambil tersenyum ia berkata, suaranya rendah sekali: "Aku telah terluka parah, dan aku tidak menduga dapat bertemu dengan kau lagi-" Lalu ia pejamkan matanya pula dan berhenti bicara,

Lie Ceng Loan menanya: "Souw Cici, kenapa dia? Apakah dia terluka parah? Jika ia hanya terluka, ia tentu dapat dibikin sembuh." Lalu air matanya tak tertahan lagi mengucur keluar Souw Hui Hong periksa seluruh tubuhnya Co Hiong, dan tidak melihat tanda Iuka. ia raba jidatnya tapi jidat itu tidak panas, Untuk sementara waktu ia menjadi bingung dan tak mengerti Tiba-tiba ia terkejut ia pandang mukanya Co Hiong lalu menangis tersedu-sedu, Tangisan itu mengejutkan ketiga pemimpin partai Kun Lun dan Ngo Kong Toa-su yang masih berdiri di mulut gua. Hian Ceng Tojin masuk lebih dulu dan berusaha menghibur Souw Hui Hong, lalu memeriksa dengan tertib seluruh tubuhnya Co Hiong,

ia merasa bahwa beberapa urat nadinya telah tertotok, tetapi ia tak dapat mengetahui letak luka-lukanya. Dengan singkat keadaannya Co Hiong mengkhawatirkan sekali!

Namun Hian Ceng Tojin terus dengan kepandaiannya berusaha menolong membebaskan beberapa jalan darahnya, dan telah berhasil juga membebaskan beberapa jalan darahnya,

Co Hiong menarik napas panjang, lalu membuka kedua matanya lagi. Kali ini ia melihat juga Lie Ceng Loan. ia menjerit, dan keringat keluar dari seluruh tubuhnya, Rupanya ia telah terluka beberapa hari, dan ia berada di dalam gua itu tanpa makan atau minum, Hian Ceng Tojin berkata dengan khidmat kepada Souw Hui Hong: "Suhengmu telah menderita totokan yang luar biasa, dan keadaannya sangat mengkhawatirkan, Namun ia takkan lekas mati, Cobalah kau berikan ia sedikit air dan makanan. ia terlampau lapar dan dahaga! Kita dapat berusaha mencari jalan menolong jiwanya."

Souw Hui Hong sangat bersedih hati, ia turut petunjuk Hian Ceng Tojin. ia lekas-lekas mencari air yang bersih untuk diberikan kepada Co Hiong, Kemudian ia keluarkan perbekalan makanannya dan ia suapkan ke mulut Co Hiong dengan sabar sekali

Sejenak kemudian, Co Hiong membuka lagi kedua matanya, Ketika ia melihat Hian Ceng Tojin, ia tanya Souw Hui Hong: "Sumoy, Tojin (pendeta) ini siapakah?" Lie Ceng Loan tidak menunggu Souw Hui Hong menjawab, ia berkata: "la adalah gurunya Bu Koko, dan juga Supekku (paman guru), Co Suheng, bagaimana kau rasakan sekarang? Apakah merasakan cnakan?"

Co Hiong mengawasi Lie Ceng Loan yang bersedih karena ia. ia berpikir "Ketika ia pingsan, ia kira aku Bee Kun Bu, dan aku telah lupa akan diri sendiri dan menggoda ia. Aku berdosa. " Ketika ia melihat Hian Ceng Tojin mengawasi

padanya, ia berpikir lagi: "Tojin ini adalah gurunya Bee Kun Bu. ia adalah pemimpin dari kuil Sam Ceng Koan, Betul Lie Ceng Loan aku pernah tolong, tapi perbuatan aku yang tak pantas itu jika ia telah mengetahuinya, celaka aku ini!" pikiran itulah yang membikin ia ketakukan. ia bersaiah, ia berdosa, maka ia merasa takut akan hukuman yang akan ditimpakan kepadanya oleh Hian Ceng Tojin ia terteletangdiam dengan mata terbelalak

Souw Hui Hong melihat sikap Co Hiong banyak berubah itu. ia pegang satu tangannya Co Hiong dan menanyai "Co Suheng! Bagaimanakah kau rasakan diri-mu, enakkah?"

Co Hiong berseru: "O!", lalu ia mengawasi Lie Ceng Loan lagi yang masih terus mengucurkan air mata.

Hian Ceng Tojin menggunakan ilmu kekuatan tenaga dalamnya untuk menolong Co Hiong. Meskipun ia berhasil membebaskan beberapa jalan darahnya, tetapi ia tak dapat menyembuhkan luka-luka yang dideritanya, Tubuh Co Hiong yang tadinya tak dapat bergerak telah dapat digerakkan kembali ia berkata: "Aku telah berusaha sekuat tenaga, akan tetapi aku hanya dapat menolong kau sedikit sekali Luka-luka yang kau derita, aku tak dapat menyembuhkannya, Aku menyesal sekali." Lalu ia menarik napas panjang,

Dengan tersenyum Co Hiong menyahut: Tentang sembuh atau tidaknya aku tak menghiraukan, Paling buruk aku meninggal dunia, Tetapi kalau aku tidak mati, aku bersumpah akan membikin pembalasan terhadap orang yang telah melukai aku ini!" "Kau akan membikin pembalasan atau tidak," kata Hian Ceng Tojin. "Aku pun tidak ambil pusing bukan urusanku, Tetapi orang yang telah melukai kau ini bukannya seorang musuh sembarangan Aku khawatir musuh itu bukan tandinganmu, dan sukar bagimu membalas dendam!"

Co Hiong hanya menyengir, dan tidak menyahut Lalu Hian Ceng Tojin berkata kepada Lie Ceng Loan: "Loan-ji, mari kita berlalu!" ia pun keluar dari gua itu!

Lie Ceng Loan bangun, ia tinggalkan makanan ke-ringnya di dekat Co Hiong sambil berkata: "Kau belum dapat bergerak dengan leluasa. Makanan kering ini kau dapat makan."

Dengan perasaan terima kasih ia melihat gadis itu sejenak, Kemudian dengan paksakan diri nya, ia bangun dan berkata dengan suara yang keras: "Siapakah bilang aku tak dapat bergerak leluasa!" Lalu ia coba lari keluar dari gua itu!

Beberapa jalan darah Co Hiong telah dibebaskan oleh Hian Ceng Tojin, ia sekarang dapat bergerak, tapi luka- lukanya masih hebat, maka baru saja ia tindak beberapa langkah, ia jatuh tersungkur lagi di tanah!

Souw Hui Hong dan Lie Ceng Loan lekas-lekas menolong membangunkannya. Ketika itu matanya terbelalak giginya terka ncing, dan tubuhnya seperti orang yang semaput "Suheng! Kau kenapa!?" seru Souw Hui Hong,

Lalu Co Hiong tertawa keras seperti orang yang kurang ingatan, dan bangun lari keluar gua. Kudanya yang berdiri di luar gua, setelah mendengar majikannya tertawa juga perdengarkan bengernya dan berjingkrak-jingkrak-an, sehingga seluruh lembah itu menjadi riuh dan gaduh dengan suara mereka yang menggema!

ia lari dan dipegangi oleh kedua samping oleh Lie Ceng Loan dan Souw Hui Hong. Kudanya setelah melihat majikannya, lalu datang mendekati Co Hiong berontak, dan merayap naik ke atas kudanya, Begitu ia dapt me-nyemplak lagi kudanya, dengan memegangi leher kuda itu, ia gencet perut kudanya dengan kedua kakinya, Lalu kuda ajaib itu loncat dan lari secepat angin!

Co Hiong belajar ilmu silat tinggi dari seorang tua.

Souw Hui Hong terkejut ia coba mengejar sambil memanggil Tetapi bagaimana ia dapat mengejar kuda ajaib yang larinya sangat cepat itu? Setelah menikung di lereng di satu gunung, Co Hiong dan kudanya tak kelihatan lagi, Yang terdengar hanya suara jeritan dari Souw Hui Hong saja!

Kaburnya Co Hiong itu sudah telah melukai hatinya Souw Hui Hong, ia berdiri di suatu puncak gunung dengan matanya mengikuti kaburnya kuda ajaib itu! ia berpikir juga bahwa ia sering-sering mengabaikan perhatian atau kasih sayangnya Co Hiong, Ketika kesempatan terbuat untuk ia menebus "dosanya" dengan merawat Co Hiongyang menderita luka, agaknya Co Hiong tidak menghiraukan ia lagi, ia merasa menyesal akan perbuatannya atau perlakuan nya terhadap Co Hiong, ia merasa kecewa terhadap dirinya yang telah jatuh cinta kepada Bee Kun Bu. ia menjadi sedih dan air matanya tak tertahankan mengucur keluar

"Hong Cici! janganlah menangisi kata Lie Ceng Loan yang juga datang mengejar di belakang ia. "Co suhengmu adalah seorang yang baik. Aku yakin ia akan tertolong!"

Dengan membanting satu kakinya, Souw Hui Hong berkata dengan geregetan: "Kau lihat tadi bagaimana ademnya ia terhadap aku, Aku pun tak akan perhatikan ia lagi!"

Lie Ceng Loan terus menghibur Sejenak kemudian ketiga pemimpin partai Kun Lun dan Ngo Kong Toa-su juga telah datang dengan maksud menghibur Hian Ceng Tojin berkata: Tempat ini tidak aman untuk kita berdiam lama-lama, Ayahmu telah minta aku menjaga Siocia. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berlalu dari tempat ini, Setelah kita keluar dari pegunungan Ci Lian San, Siocia dapat berpisah dan kembali ketemu ayah sendiri." Souw Hui Hong tidak ingin menyuruh atau membikin

orang-orang lain susah, ia turut mereka berlalu dari tempat itu,

Marilah pembaca kita ikuti Co Hiong yang dibawa lari oleh kudanya dalam keadaan luka tubuhnya. Untung baginya, kudanya mengerti akan penderitaan majikan nya, dan lari dengan memilih jalan yang agak rata, Hembusan angin membikin Co Hiong tak sadarkan diri lagi, dan seterusnya ia dibawa lari kudanya dalam keadaan pingsan,

Ketika ia sudah siuman kembali, hari telah mulai menjadi senja, tubuhnya terbaring di atas rumput dengan ^ kudanya berdiri di sampingnya menjagai dia. Di sekitarnya adalah lereng-tereng gunung yang hijau dengan pohon-pohon. ia masih berada di daerah pegunungan!

ia paksakan diri untuk bangun dan berusaha berjalan, tetapi setelah beberapa langkah, ia merasa separuh tubuhnya merasa lumpuh, ia terjatuh lagi, Sambil menarik napas panjang ia berkata kepada dirinya sendiri: Tidak diduga bahwa aku dengan senjata lingkaran emas yang ampuh harus mati dan dikubur di daerah pegunungan ini!" ia berbaring dengan terlentang dan mengawasi kuda ajaibnya yang masih berdiri dekat ia dengan setia, "Jika aku harus menarik napas panjang untuk penghabisan di sini, kuda ajaibku ini pasti akan terjatuh di tangan orang lain," pikirnya, "Bukankah lebih baik ia juga tewas bersama-sama aku di sini?"

Dengan ketetapan hati itu, ia keluarkan dari kantong di dadanya beberapa jarum beracun, ia mengawasi kuda-nya, dan bermaksud melontarkan jarum-jarum beracun tersebut ke dalam tubuh kuda, Kasihan! Kuda yang setia itu harus dibunuh demikian dan kuda itu tidak menduga sama sekali bahwa ia akan dibunuh oleh majikannya!

Baru saja Co Hiong hendak melontarkan jarum-jarum beracun itu, segera ia merasa lengannya lumpuh tidak bertenaga dan tak berdaya sama sekali. ia menarik napas panjang lagi memikirkan nasibnya yang buruk, Sejenak kemudian ia pun tertidur karena keletihannya. Suara kudanya telah membikin ia bangun lagi, ia buka kedua matanya, dan menyaksikan kudanya sedang bertarung terhadap dua ekor serigala, Satu serigala telah ditendang dan tewas dengan kepala hancur

"Baiknya aku tidak berhasil membunuh mati kudaku dengan jarum-jarum beracun, Jika tidak, aku pasti telah mati dimakan serigala-serigala itu!" pikir ia. ,

Dengan lekas kuda itu berhasil menendang serigala yang masih hidup, serigala itu terpental, tapi tidak mati, lalu lekas- lekas kabur! Kuda itu tidak mengejar ia harus berada di samping majikannya, ia harus menjaga majikannya dan dengan hidungnya ia menyentuh-nyentuh tubuh majikannya seolah-olah seekor anjing yang ingin diusap-usap,

Co Hiong yang telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw telah mengetahui bahwa serigala yang kabur itu akan kembali lagi memanggil kawan - kawan nya, dan dengan datangnya serigala-serigala itu, maka ia berada dalam bahaya yang lebih besar lagi, Oleh karena itu ia berusaha sekuat tenaga merayap ke atas punggung kudanya. Kuda itu rupanya mengetahui keadaan majikannya.

Ia berdiri agar majikannya dapat naik ke atas punggungnya. Betul saja sejenak kemudian terdengar me- raungnya serigala-serigala Begitu lekas ia telah berhasil naik ke pungung kuda. Kuda itu segera lari ke jurusan lain, menyingkir dari serangan serigala-serigala yang mendatangi Dengan memegang erat rambut suri kuda, Co Hiong mendesak kudanya agar lari lebih cepat lagi!

Kuda ajaib serta mengerti itu berlari-lari membawa majikannya, dan telah melalui banyak lereng-lereng gunung, dan masih juga berada di daerah pegunungan, tapi mereka lelah berhasil menyingkirkan diri dari serangan serigala yang telah jauh ketinggalan di belakang Ketika hari sudah mulai fajar, mereka sudah berada di suatu lembah gunung yang dikitari dengan puncak-puncakyang tinggi, Mereka berhenti Kuda itu segera makan rumput yang segar, dan Co Hiong yang baru separoh tubuhnya telah menjadi lumpuh juga coba makan makanan kering, karena ia merasa lapar

Pada saat itu terdengar dari jauh bunyi nya lingkaran- lingkaran besi. Co Hiong terkejut "Dari manakah suara lingkaran-lingkaran besi itu datangnya di daerah pegunungan ini?" pikir ia. ia mengawasi sekitarnya, karena cuaca di waktu fajar itu masih belum terang benar ia berada di dekat suatu gua yang letaknya hanya beberapa depa jauhnya, Gua itu berada di kaki sebuah puncak, dan di mulut gua telah tumbuh beberapa pohon-pohon cemara seakan-akan menutupi gua itu,

Suara lingkaran besi datangnya dari gua itu. Karena ingin tahu ia berusaha merayap menghampiri gua. Gelap betul di dalam gua itu dan tak diketahui berapa dalamnya, Kemudian terdengar lagi suara orang-orang menarik napas. Tidak salah lagi," pikirnya, "Di dalam gua ini ada orangnya!"

Tapi mengapa orang itu tinggal di dalam gua? Apakah ia seorang sakti?" Ketika ia sedang coba menerka-nerka dari dalam gua terdengar orang menanya sambil membunyikan lingkaran-lingkaran besinya: "Siapakah yang datang ke sini? Apakah yang datang ingin menemui si tua bangka...?"

Belum lagi Co Hiong menyahut, ia telah merasakan ada hembusan angin keluar dari dalam gua itu. ia berusaha menggelinding ke samping menghindarkan diri, karena ia yakin bahwa angin itu keluar dari jotosan yang dilepas dengan tenaga dalam. Tetapi hembusan angin itu telah dapat menahan ia akan kemudian menariknya! Co Hiong yang menderita sakit hampir seluruh tubuhnya, makin merasa sakit, diseret oleh angin dari dalam gua itu. ia tak berdaya tubuhnya terseret masuk ke dalam gua!

Setelah ia terseret masuk ke dalam gua, lalu ditanya si orang tua: "Hei, apakah kau diperintahkan datang ke sini untuk mencelakakan aku, si tua bangka?" Lalu ia raba tubuhnya Co Hiong, Co Hiong mengawasi wajah si orang tua itu. ia tampak muka yang bukan main jeleknya dari orang itu yang mirip seperti hantu!