Bangau Sakti Jilid 07

 
Jilid 07

"Semenjak kau menunggangi bangau putih dan terbang pergi," sahut Co Hiong, "Aku telah ketemu dua Hweeshio dari Toa Ciok Sie. Aku segera bertempur tapi Hweeshio-hweeshio yang lain juga datang, Aku pikir jika aku terus bertempur tentu tidak ada hasilnya. Segera aku loncat keluar dari kepungan mereka dengan maksud mencari kau agar kita dapat bersama-sama mendobrak kuil Toa Ciok Sie, dan membasmi Hweeshio-hweeshio yang durhaka ilu. Tapi siapa menduga, sumoymu telah selamat didampingimu?"

Bee Kun Bu menuturkan kisah Lie Ceng Loan sedari diculik sampai mereka berjumpa lagi di dalam lembah,

"Ai! Orang sakti yang memiliki bangau putih itu betul-betul sukar dicari keduanya," berseru Co Hiong,

sebetulnya Bee Kun Bu ingin menceritakan lagi tentang Pek Yun Hui kepBdanya, tapi ketika ia ingat ancaman Co Hiong yang ingin melawan Pek Yun Hui, ia tutup mulutnya, ia hanya berkata: "Kebetulan sekali saudara Co lekas-iekas datang, Aku sangat lapar, Cobalah keluarkan makanan kering yang kau telah bawa sebagai pembekalan!"

Co Hiong lalu mengambil makanan dari suatu kantong yang diikat di pelana kudanya dikasihkan kepada Bee Kun Bu dimakan bersama sumoynya, Tapi ia sendiri tidak makan. Lie Ceng Loan yang melihat sikap itu, menanyai "Saudara Co, mengapa kau tidak makan?" Co Hiong tidak menyahut, ia hanya tersenyum ia taruh kembali makanan itu ke dalam kantong.

Setelah fnakan kenyang, Bee Kun Bu bersemi "Hm!

Hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie betul-betul harus dikasih hajaran, Mereka berbuat sewenang-wenang. Tapi jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah kita. Apa-kah dengan hanya kita bertiga, kita dapat membasmi mereka?"

Co Hiong menyahut: "Kita sudah tiba di pegunungan Cie Lian San. jika kita tidak pergi ke kuil Toa Ciok Sie dan mencuri buah Sie Can Ko, jerih payah kita betul-betul tersia-sia!"

Bee Kun Bu belum menjawab, tiba-tiba dari tempat yang sangat gelap terdengar suara orang mengejek "Apa-kah buah Sie Can Ko enak? Kalian boleh rasai dulu ini." Ejekan itu dibarengi dengan meloncatnya datang, beberapa Hweeshio dengan senjata terhunus!

Dengan cepat Co Hiong membungkukkan tubuhnya untuk Bee Kun Bu dan Ue Ceng Loan loncat mundur beberapa tindak Mereka segera mencabut pedangnya, siap menyerang lawan-lawannya. Dalam cuaca yang suram itu, mereka melihat empat Hweeshio: dua Hweeshio itu menyerang dengan beringas sekali, tapi serangannya tak berhasil!

Co Hiong segera melontarkan jarum-jarum beracunnya serentak Mereka segera mencabut pedangnya, siap menyerang lawannya

Empat Hweeshio itu bukannya lawan yang remeh. Dengan go!ok-golok dan gembolan-gembolan besi me-reka, semua jarum-jarum beracunnya Co Hiong telah digeprak jatuh berhamburan!

Co Hiong menjadi penasaran ia lontarkan Hngkaran- lingkaran emasnya sambil menyerang bertubi-tubi dengan pedangnya. Tiga serangan pedangnya itu menebas ke kiri dan menyapu ke kanan, dan dilakukan dengan tenaga yang hebat sekali sehingga seorang Hweeshio terdesak mundur empat- lima kaki jauhnya,

sebetulnya Hweeshio-hweeshio itu tidak ingin mengerubuti Co Hiong, tapi setelah melihat ilmu silat Co Hiong yang lihay itu, mereka menyerang lagi dengan serentak sedangkan Hweeshio yang telah terdesak mundur dengan menggunakan kakinya menyapu kaki Co Hiong.

Co Hiong berseru, dan dengan ilmu It Hok Tiong Tian atau belibis terbang tegak ke angkasa, ia loncat setinggi satu tombak lebih dan loncat keluar dari kepungan itu! Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak tinggal diam. Mereka telah melihat kekejian Hweeshio-hweeshio itu, Dengan ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam atau dua belas jurus ilmu pedang mengusir setan, mereka menyerang dengan beringas, dan dalam tiga jurus saja seorang Hweeshio telah ditebas putus lengan kirinya oleh Bee Kun Bu, sedangkan Lie Ceng Loan berhasil membikin Hweeshio-hweeshio lainnya kacau balau!

Segera dalam suasana yang sunyi senyap itu terdengar jeritan seorang Hweeshio lagi yang membikin bangun bulu roma, karena Hweeshio itu telah kena tersambar lingkaran emasnya Co Hiong sehingga otaknya berantakan! Hanya dalam beberapa jurus saja, empat Hweeshio itu telah menderita satu mati dan satu luka parah, Tapi satu Hweeshio dengan nekad menyerang Bee Kun Bu dengan goloknya, dan yang lain mengayun gembolannya ke arah Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan terpaksa mundur beberapa tindak. Kedua Kawanan Hweeshio itu menyerang Co Hiong dengan se-rangan-serangan yang hebat dan mematikan

Hweeshio itu lupa bahwa Co Hiong masih bebas, Co Hiong yang berangasan, melihat kesempatan yang baik itu, segera melontarkan lagi jarum-jarum beracunnya, Kedua Hweeshio itu tak dapat menghindarkan jarum-jarum itu! Dua-duanya segera jatuh, senjata-senjatanya terlepas dari cengkalannya, dan mati kaku mengeluarkan darah hitam dari mulut dan hidungnya! Hweeshio yang telah buntung lengan kirinya lekas-lekas melarikan iri. perbuatan itu dapat dilihat oleh Co Hiong yang menegur dengan keras: "Hei, jahanam! Kau mau lari kemana?" ia cemplak kudanya dan mengejar Hweeshio yang kabur itu, Hweeshio yang ketakutan setengah mati itu terus lari dengan tak menghiraukan apapun! Dan sikap ini mengirim ia lebih cepat ke akherat!

Hweeshio itu baru saja, dapat berlari sejauh lima puluh tombak, Co Hiong yang mengejar dengan kuda Cian Li Shin Kioknya (kuda sakti yang dapat berlari seribu lie tanpa letih) telah menebas buntung kepalanya!

Lalu Co Hiong kembali lagi, ia turun dari kudanya untuk mengambil lingkaran-lingkaran yang telah membikin hancur kepalanya seorang Hweeshio. ia berkata sambil tersenyum kepada kawan-kawannya: "Rupanya Hweeshio-hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie kita tak takuti ilmu silatnya hanya begitu saja, Lie Siocia, tadi aku telah meyakinkan dengan kepala mata sendiri ilmu silat pedangmu yang lihay itu, Aku kira dengan ilmu demikian tingginya, kita bertiga dapat membasmi Hweeshio-hweeshio durhaka di dalam kuil Toa Ciok Sie. Bagaimana pendapatmu berdua?"

Bee Kun Bu mengerutkan keningnya, ia tidak menjawab ia ingat akan pesan Pek Vun Hui yang dengan sangat menyuruh ia dan Lie Ceng Loan lekas-Iekas berlalu dari pegunungan Cie Lian San. ia pereaya betul bahwa Pek Yun Hui telah memperingatkan dengan se-tulus-tulusnya, Ketika itu ia tak dapat segera memberikan jawaban yang memuaskan kepada Co Hiong,

Melihat pertanyaannya tidak dijawab, Co Hiong merasa sedikit marah, ia pandang Bee Kun Bu yang sedang mengawasi mayat-mayat Hweeshio yang telah mati konyoI!

Lie Ceng Loan rupanya tidak perhatikan pertanyaan Co Hiong. ia menanya Bee Kun Bu: "Bu Koko! Hweeshio- hweeshio ini harus dikubur dengan seksama. Mari kita menggali lubang untuk mengubur mayat-mayatnya!" Bee Kun Bu mengangguk, dan segera menggali lubang dengan pedangnya, Lie Ceng Loan juga turut menggali

Co Hiong semakin menjadi marah, Mukanya dari merah menjadi pucat ia tak dapat keluarkan kegusarannya, Lie Ceng Loan menegur: "Saudara Co, mengapa kau tidak membantu?"

Co Hiong terkejut! ia merasa malu ditegur oleh gadis secantik itu, Lalu dengan paksakan diri, ia pun membantu menggali lubang, Setelah empat mayat Hweeshio-hweeshio itu dikubur di satu lubang, Lie Ceng Loan memetik sepucuk kembang liar untuk ditancapkan di atas tanah kuburan itu, sambil tersenyum, pertama kepada Bee Kun Bu, dan kemudian kepada Co Hiong,

Entah karena apa tiap-tiap kali Co Hiong melihat mukanya Lie Ceng Loan yang cantik jelita, hatinya berdebar-debar, Lie (^eng Loan yang telah jatuh cinta kepada Bee Kun Bu tidak merasa atau memperhatikan sikapnya Co Hiong. Baginya, di dunia ini hanya Bee Kun Bu-lah seorang pria yang tampan, gagah berani, budiman dan yang agung serta mulia!

Co Hiong pun tak mengerti mengapa ia sangat tertarik oleh wajah dan sikapnya gadis itu, Bukankah ia telah jatuh cinta terhadap Souw Hui Hong, saudara sepupunya?

Ketika itu hari sudah mendekati fajar Mereka harus beristirahat untuk memulihkan tenaga dan semangatnya. Tapi api dari hutan makin besar dan berkobar, sehingga cahayanya yang merah terlihat di sekitar hutan yang terbakar itu.

Sebelum mereka berbaring untuk beristirahat dan tidur bergiliran, Co Hiong berkata: "Lihatlah hutan yang aku telah bakar itu! Apinya makin berkobar dan besar. Besok malam apinya mungkin lebih besar lagi! Aku kira api itu tidak padam dalam tiga hari tiga malam!"

"Dengan demikian, entah berapa banyak binatang- binatang, burung-burung dan kutu-kutu yang mati terbakar atau kehilangan tempat bernaungnya!" seru Lie Ceng Loan yang mempunyai perasaan balus, "Betul!" kata Co Hiong, "Api demikian kini tak dapat dipadamkan oleh lima ratus orang, kecuali jika turun hujan besar."

Baru saja Lie Ceng Loan hendak menanya, tiba-tiba terdengar suara siulan yang nyaring dan tegas dengan nada yang berubah-ubah, Lie Ceng Loan mendekati Bee Kun Bu, dan menanya dengan suara rendah: "Bu Koko, suara apakah itu? Apakah di pegunungan ini ada setan?"

Bee Kun Bu yang sedang memeperhatikan suara yang ganjil dan terdengarnya seperti juga suara seekor makhluk lain dari pada satu manusia, menyahut dengan suara rendah: "jangan takut, itu pasti bukannya setan."

Co Hiong berdiri tegak, dan mendengari dengan penuh perhatian Laiu berkata: "Suara siulan yang ganjil itu adalah cara memberi isyarat di hutan. Cobalah perhatikan nadanya yang sebentar tinggi dan sebentar rendah isyarat itu hanya dapat dimengerti oleh kawan-kawannya orang itu. Tapi suara itu rupanya keluar dari suara benda yang dibuat dari logam atau bambu, Cobalah kita dengar dengan perhatian Nanti siulan itu akan disambut oleh siulan lain!"

Betul saja, setelah siulan itu berhenti, lantas disambut oleh suara siulan lain yang rupanya dikeluarkan dari tempat yang lebih jauh,

Sambil tersenyum Co Hiong berkata lagi: "Aku yakin

siulan-siulan itu adalah isyarat-isyarat dari Hweeshio hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie. Siulan itu akan disambut lagi oleh suara siulan yang lain, Dengan demikian nyata-lah kirim kabar dengan menggunakan suara siulan-siulan itu yang sambung menyambung dari tempat satu ke tempat yang lain dengan cepat seka!L.,"

perkataannya belum selesai diucapkan, dari tempat dekat di mana mereka berdiri terdengar lagi satu siulan yang lebih nyaring dan tegas dari yang sudah-sudah, Co Hiong dan Bee Kun Bu segera cabut pedangnya, siap sedia menghadapi segala kemungkinan! "Hwceshio-hweeshio durhaka dari kuil Toa Ciok Sie itu telah mengetahui tempat kita ini. Mereka telah kerahkan banyak orang untuk mengepung kita!" seru Co Hiong,

Ketika itu Lie Ceng Loan pun telah mencabut pedangnya, dan mereka berdiri tegak dengan mata mengawasi di sekitarnya, dan dengan kupingnya mendengari segala suara,

Melawan Hu Hoat Lo Han di pegunungan Cie Lian San di waktu malam

Dari sinar api yang berkobar-kobar, di atas satu puncak gunung Co Hiong dapat lihat bayangan beberapa orang sedang lari dengan cepat Rupanya mereka itu sedang lari mendatangi

Dengan suara rendah Bee Kun Bu menanya: "Sau-dara Co, perlukah kita lari sekarang?"

"Kita tak dapat melarikan diri lagi, Mereka telah mengetahui jejak kita, Siulan-siulan yang kita telah dengar tadi adalah isyarat-isyarat mereka mengurung kita," sahut Co Hiong sambil tersenyum.

Bee Kun Bu mengerutkan kening, memandang Sumoynya, lalu berkata: "Jika demikian, rupanya kita harus bertempur dengan hebat lagi!"

"Betul!" kata Co Hiong, "Kita harus menggunakan siasat yang kejam untuk lolos dari kepungan mereka, dan kita harus menerobos sekarang sebelum kawan-kawan mereka datang kumpul mengurung kita, Ya, kita harus meloloskan diri sebelumnya fajar Tanpa siasat, kita bertiga tak dapat melawan mereka yang jumlahnya banyak." Lalu ia keluarkan dari kantong di dadanya sejumlah jarum-jarum beracun,

Bee Kun Bu tak dapat membantah, memang ia tak dapat bersikap ramah menghadapi musuh-musuh yang kejam. ia berkata kepada Lie Ceng Loan: "Sebentar jika kita harus bertarung, kita harus berlaku kejam, karena musuh-musuh kita bukannya orang-orang yang budiman, Aku kira kedudukan kita sekarang sangat berbahaya, Kita harus melawan banyak orang."

Lie Ceng Loan pandang Bee Kun Bu dengan kasih sayang, lalu menyahut: "Bu Koko, terima kasih, Koko selalu berlaku baik terhadap aku. Aku pasti memperhatikan pesan Koko."

Pada saat itu musuh telah datang semakin dekat hanya terpisah lebih kurang sepuluh tombak dari mereka, Di waktu malam demikian, pakaian putih dari Lie Ceng Loan terlihat sangat tegas, Tiba-tiba terdengar suara hembusan angin, disertai melayang datangnya tiga benda yang bersinar ke arah Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu telah siap dengan pedangnya, Ketika musuh melontarkan benda-benda yang bersinar ke arah Lie Ceng Loan, dengan ilmu Yun Bu Kim Kong atau sinar emas menyorot kabut ia berhasil menyapu jatuh ketiga benda yang bersinar itu. Lalu ia mengawasi keadaan di depan dengan pedang terhunus, sekonyong-konyong dari atas loncat menyerang seorang musuh dengan golok besar sebetulnya Bee Kun Bu ingin meng-egos, tapi ia khawatir serangan itu melukai Lie Ceng Loan, Dengan mengertak gigi, ia tangkis serangan golok itu dengan pedangnya. "Teng!" terdengar suara kedua senjata beradu, disertai meletiknya lelatu api yang timbul dari beradunya kedua senjata itu! ia segera merasa mulutnya panas, dan tangan kanannya lemas, hampir pedang yang dipegangnya terlepas Dengan mengumpulkan semangatnya ia melihat bahwa musuh yang menyerang itu telah berdiri lebih kurang tiga kaki di depan ia. Musuhnya itu adalah seorang Hweeshio tubuhnya besar, seram sekali, Hweeshio itu juga merasa heran mengapa serangannya tidak mengambil korban. Dengan kedua mata terbelalak ia membentak: "Hei! Kalian ini datang dari mana? Apakah hutan itu kalian yang bakar?" Bee Kun Bu belum lagi menyahut, Co Hiong telah mendahului dengan mengejek: "Betul! Tapi kau mau apa?"

justru pada saat itu sembilan Hweeshio telah datang mengurung mereka bertiga,

Bee Kun Bu yang telah mengetahui bahwa Hwee-shio- hweeshio yang sedang dihadapinya ini mempunyai ilmu silat jauh lebih tinggi daripada yang ia pernah gempur, ia bisiki Lie Ceng Loan agar ia waspada.

Co Hiong dengan pedang terhunus dan Hngkaran- iingkaran emasnya mengawasi semua Hweeshio yang mengurung itu dan memperhatikan bahwa delapan Hweeshio berjubah abu-abu, dan Hweeshio yang tiba-tiba menyerang dengan golok mengenakan jubah merah adalah pemimpin dari rombongan yang mengungkung itu.

Co Hiong agak lama segera mengetahui bahwa jubah- jubah yang berlainan warnanya menunjukkan cekatannya Hweeshio-hweeshio itu menurut kepandaian silatnya, dan Hweeshio yang berjubah merah adalah pemimpin dari rombongan yang mengangku itu, ia tidak gentar, dengan sikap yang tenang ia memperhatikan jejak para Hweeshio itu, Kemudian ia berjalan perlahan-lahan menghampiri Bee Kun Bu, sekonyong-konyong dengan membungkukkan diri ia loncat menyerang Hweeshio yang berjubah merah dengan ilmu Giok Li To Soat atau wanita penenun melontarkan torak,

serangan itu ialah menusuk lawan dengan pedang: tangan kanan menusuk tangan kiri menggeprak ke belakang, dan kedua kaki mengggenjot ke depan, serangan yang secepat kilat itu tidak diduga oleh Hweeshio berjubah merah. Tapi dengan ilmu silatnya yang tinggi Karena ia tak dapat menangkis dengan goloknya, ia condongkan tubuhnya ke belakang, lalu dengan mudah ia loncat satu tombak lebih jauhnya!

Co Hiong mengejar dan menyerang terus, ia tak memberi kesempatan lawannya balas menyerang. Demikianlah yang satu menyerang dan yang lain mengegos dengan gesitnya, Hweeshio-hweeshio yang mengurung itu terpesona menyaksikan ilmu silat yang bukan main tingginya! Ketika si Hweeshio memperoleh kesempatan, dengan ilmu Kim Cin Hai atau jarum emas menentramkan lautan, ia ayun goloknya dan menebas ke atas dan ke bawah, sehingga Co Hiong harus menangkis tebasan di atas dan meloncat untuk menghindarkan tebasan di bawah.

Melihat bahwa Co Hiong masih juga dapat mengegoskan tebasan goloknya si Hweeshio lalu menjatuhkan diri. Ketika Co Hiong datang menyerang lagi, ia berguling-guling ke kanan untuk menghindarkan tusukan pedangnya Co Hiong, Kesempatan ini digunakan oleh empat Hweeshio menyerang Co Hiong dari belakang Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tidak tinggal diam. Mereka merintangi dan menyerang dengan ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam atau dua belas jurus pedang mengusir roh.

Melihat siasat yang keji itu gagal, si Hweeshio berjubah merah lalu bangun dengan menjerit ia ayun goloknya dan membalas menyerang dengan sengit sekali, Demikianlah mereka bertarung dengan dahsyat sehingga seratus jurus, Di lain pihak, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan bertempur melawan empat Hweeshio, mereka dapat mendesak lawan- lawannya, Empat Hweeshio lainnya datang membantu menyerang dengan toya-toya.

Setelah pertempuran berlangsung hampif tiga puluh jurus, Lie Ceng Loan merasa ia tak dapat bertahan lagi, karena kekurangan tenaga, jurus-juf us pedangnya mulai menjadi lambat Bee Kun Bu segera dapat lihat kelemahan Su-moynya, ia tak dapat membiarkan sumoynya terluka, Dengan ilmu Heng Hua Cun Jie atau bunga putih berhamburan ia putar pedangnya demikian cepatnya sehingga delapan Hweeshio yang mengurung mereka terpaksa bertindak mundur untuk menghindarkan diri dari sabetan ujung pedangnya, Kemudian dengan ilmu pwee Pui Hong Jie atau hujan turun dari empat penjuru salah satu jurus Cui Hun Cap Ji Kiam yang dahsyat Bee Kun Bu dapat mendesak delapan Hweeshio itu mundur lagi!

Ketika itu Lie Ceng Loan tersenyum terhadap ia.

"Ai!" pikir Bee Kun Bu, "Gadis ini tak mengenal bahaya maut, ia masih bisa tertawa!"

Di lain pihak, si Hweeshio jubah merah sedang bertarung mati-matian melawan Co Hiong, kedua belah pihak masing- masing berusaha membinasakan lawannya, sehingga hembusan angin dari ayunan golok dan sabetan pedang berdesir-desir, dan sinarnya kedua senjata berkilau-kilau di malam hari sorotan api yang membakar hutan dari tempat yang jauh,

Dalam pertarungan yang dahsyat itu, Co Hiong masih belum memperoleh kesempatan untuk melontarkan jarum- jarum beracunnya, Betul ia tidak terdesak, tapi agaknya ia akan kalah tenaga melawan Hweeshio yang bertubuh besar ituj Tiba-tiba ia menjerit sambil melontarkan lingkaran- Iingkaran emasnya itu merupakan ombak yang menggempur pantai, si Hweeshio harus bertindak mundur tujuh-delapan kaki, Kesempatan ini digunakan Co Hiong untuk melontarkan jarum-jarum beracunnya !

,Tidak salah jika Souw Peng Hai, pemimpin partai silat Tian Liong, dijuluki jago silat lihay di kalangan Kang-ouw. Siasat yang digunakan Co Hiong itu adalah pelajarannya Souw Peng Hai: mendesak lawan, dan menggunakan kesempatan melontarkan jarum-jarum beracun!

Tapi si Hweeshio itu meraung bagaikan seekor harimau Dengan lengan baju kirinya ia kebut jarum-jarum beracun itu lalu dengan kedua tangannya ia membacok Co Hiong dengan beringas, Terjangan dan bacokan-bacokan yang nekad itu membikin Co Hiong sibuk, Bee Kun Bu yang melihat segera loncat dan menyerang dengan ilmu Liong It Seng atau naga menyambar dari satu jurusan, serangan itu adalah salah satu jurus Cui Hun Cap Ji Kiam. Ketika ujung pedang menusuk maka ujung pedang itu bergetar merupakan berpuluh-puluh pedang yang membingungkan lawan, seakan-akan seekor naga sedang menyembur! Si Hweeshio jubah merah berusaha menangkis dengan go!oknya: tetapi ujung pedangnya Bee Kun Bu telah menebas putus dua jari tangan kanannya, Co Hiong menjerit serentak melontarkan satu lingkaran emasnya ke arah si Hweeshio yang lekas-lekas menundukkan kepalanya, Tetapi lingkaran itu berhasil juga menebas sebelah kupingnya, Kesempatan itu digunakan Co Hiong untuk menyerang lagi dengan pedangnya, Hweeshio itu tak dapat bertahan lagi, Setelah ia menangkis serangannya Co Hiong, lalu lari kabur!

Ketika Bee Kun Bu membantu Co Hiong, Lie Ceng Loan seorang melawan delapan Hweeshio. Mereka tidak datang membantu pemimpinnya, tapi terus mengerubuti si gadis yang melawan dengan tangkas dan lincah, Bee Kun Bu lalu datang menyerang lagi dengan menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu yang ia dapat pelajari dari Pek Yun Hui. pedangnya kelihatan menyabet, menebas, menusuk bahkan menyerampang delapan Hweeshio yang keji itu!

ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu dengan disertai ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam membikin ke delapan Hweeshio itu kelabakan, Mereka bagaikan melawan hantu! Seben-tar-sebentar terdengar suara jeritan seorang Hweeshio yang kena ditebas, ditusuk atau dibacok oleh pedangnya Bee Kun Bu, sehingga dalam beberapa jurus saja semua Hweeshio itu menderita luka teraduh-aduh kesakitan Co Hiong lalu tarik tangan Lie Ceng Loan ke pinggir untuk menonton Bee Kun Bu beri hajaran kepada Hweeshio-hweeshio yang durhaka itu. Tetapi segera terdengar suara siulan itu makin lama makin dekat terdengarnya, Bee Kun Bu terkejut, karena ia ingat bahwa Hweeshio jubah merah itu pasti membawa lebih banyak kawan lagi ia tak dapat menyerukan Co Hiong untuk melarikan diri Co Hiong pun yakin bahwa ia harus banyak melawan Hweeshio-hweshio yang keji sekali.

Ketika si Hweeshio jubah merah muncul lagi, ia menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa kedelapan kawannya telah menderita luka parah, dan sedang me-rintih- rintih kesakitan, Delapan Hweeshio itu, meskipun tidak sepandai si Hweeshio jubah merah, akan tetapi ilmu silat mereka tidak kalah daripada jago-jago silat umum-nya. Hanya ia tidak mengetahui bahwa Bee Kun Bu telah menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (langkah ajaib).

sementara itu Co Hiong tidak memberi kesempatan lagi, Ketika si Hweeshio sedang berdiri dengan mengawasi kawan- kawannya yang terluka itu, ia lontarkan lingkaran-Iingkaran emasnya dari kedua tangannya,

Si Hweeshio lekas-lekas menangkis dengan go1ok-nya. ia dapat menangkis dua lingkaran, tetapi lingkaran ketiga telah terbang ke arah mukanya lagi! ia menjerit kesakitan, karena lingkaran itu telah melukai mukanya sedalam satu dim, darahnya mengucur, dan satu matanya mencelat keluar ia jatuh pingsan!

Co Hiong punguti lingkaran-Iingkaran emasnya, lalu memanggil kuda ajaibnya, "Ayo, kita lari! Musuh akan segera datang dengan jumlah yang banyak!" kata Co Hiong.

"Sumoy, kau tentu letih sekali Biarlah kau menunggang kuda bersama-sama Co Hiong, Aku dapat lari." kata Bee Kun Bu kepada Lie Ceng Loan,

Lie Ceng Loan menggeleng kepala dan menyahut: "Jika Koko lari, aku pun ikut Koko berlari-Iari juga!" Bee Kun Bu baru saja hendak membujuk sumoynya lagi, ia tampak Co Hiong, tidak ada di sampingnya, ia menjadi cemas, ia segera cemplak kuda itu, dan bantu sumoynya naik ke atas kuda dan duduk di belakang ia. ia tarikan kuda itu dengan niatan mencari Co Hiong, Rupanya kuda ajaib itu telah mengetahui betul maji- kannya, Dalam lebih kurang lima menit ia telah dapat mengejar Co Hiong, Bee Kun Bu segera loncat turun dari kuda dan ingin menanya, tapi Co Hiong sambil tersenyum mendahului berkata: "Kau tak usah menghaturkan maaf, Kalian berdua boleh terus tunggangi kudaku."

Tapi saudara Co terlampau murah hati terhadap kami," kata Bee Kun Bu, "Saudara Co dapat menungganginya berdua bersama sumoyku, aku sendiri dapat berlari-lari."

Ketika itu Lie Ceng Loan juga turun dari kuda dan berkata: "Saudara Co, kuda itu betul-betul pesat larinya!" -

"Sayang, kuda Cek Yun Cui Kok ini (kuda ajaib yang dapat mengejar angin) aku telah berjanji memberikan kepada sumoyku, Kalau tidak, aku boleh berikan kepada-mu." sahut Co Hiong sambil tersenyum, "

"Mungkin sumoymu cantik sekali," kata Lie Ceng Loan dengan bersenda gurau,

Co Hiong tak menyahut, hanya mukanya menjadi merah, ia lalu tanya Bee Kun Bu: "Kemana kita pergi sekarang?"

"Makin lekas kita keluar dari pegunungan Cie Lian San ini makin baik," sahut Bee Kun Bu.

"Apakah kalian hendak pergi ke propinsi Kiangsi, atau ke pegunungan Kun Lun?" tanya Co Hiong,

Bee Kun Bu tidak segera menjawab, ia berpikir sejenak lalu sambil menarik napas berkata: "Ketika kami berlalu dari propinsi Kiangsi, aku telah tinggal susiok di suatu rumah penginapan Tapi aku yakin beliau tak akan menyusul aku ke sini, Beliau pasti pergi langsung ke pegunungan Kun Lun. Aku ingin lekas-Iekas kembali ke pegunungan Kun Lun menemui susiokku itu yang kini memegang pimpinan partai Kun Lun."

Co Hiong tertawa dan menanya lagi: "Jika kita tak dapat keluar dari pegunungan Cie Lian San?" Bee Kun Bu terkejut: "Apa kau yakin kita tak dapat lolos dari kepungan Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie itu?" tanya Bee Kun Bu.

Co Hiong mengangguk dan berkata: "Sebelum aku melawan Hweeshio yang berjubah merah, aku masih pandang remeh Hweeshio-hweeshio di kuil Toa Ciok Sie, karena aku pikir Hweeshio-hweeshio yang silatnya tinggi tidak akan banyak jumlahnya, Aku taksir paling banyak dua atau tiga orang, dan aku pikir jika kita dapat meloloskan diri dari dua atau tiga orang itu, kita dapat keluar dari pegunungan ini.

Tapi setelah aku melawan Hweeshio berjubah merah itu, aku berpendapat lain, Nyatalah Tong Leng Tan Su tidak berdusta, Hweeshio-hweeshio di kuil Toa Ciok Sie bukan saja banyak jumlahnya, juga ilmu silat mereka berlainan sekali daripada ilmu-ilmu silat yang kita pernah jumpai di kalangan Kang-ouw, Saudara Bee Kun Bu juga tentunya telah melihat perbedaan ilmu silat mereka, bukan?

Biasanya dengan mudah kita menggunakan kesempatan membinasakan musuh, tapi Hweeshio jubah merah itu telah menggunakan suatu siasat yang aku tak dapat pahami, sehingga kita bertempur sampai seratus jurus lebih, aku baru berhasil membinasakan ia dengan bantuanmu, Dan Hweeshio jubah merah itu, aku kira juga seorang murid saja, Murid-murid yang silatnya setinggi ia pasti bukan seorang atau dua orang, Apalagi guru-gurunya!"

Bee Kun Bu tak segera menyahut. ia berpikir ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam adalah jurus-jurus istimewa dari partai Kun Lun, dan jurus-jurus itu baru dapat diwariskan kepada seorang murid apabila telah disetujui oleh ketiga pemimpin, Oleh karena itu, di kalangan Bu Lim banyak orang tidak mengetahui bahwa ilmu silat Cui Hun Cap Ji Kiam adalah jurus-jurus istimewa dari Kong Hun Kiam Hoat, ilmu silat pedang partai Kun Lun. Guruku, Hian Ceng Totiang dengan hasrat memperdalam ilmu silat pedang itu, telah tidak menghiraukan segala bahaya pergi mencari kitab Kui Goan Pit Cek. Aku yakin suhu akan mengajarkan aku semua ilmu silatnya kepadaku, Aku yakin dengan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu dan Cui Hun Cap Ji Kiam, aku dapat juga lolos dari kepungan- kepungan Hweeshio-hweeshio kuil Toa Ciok Sie."

Co Hiong pun telah menyaksikan cara Bee Kun Bu menolong Lie Ceng Loan dari kepungan delapan Hweeshio, juga menolong ia dari bacokan Hweeshio jubah merah, tetapi ia tidak mengetahui tentang ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (langkah ajaib) yang Bee Kun Bu unakan, dan ia merasa kagum bereampur iri hati terali ap ilmu silat yang lihay itu!

Ketika melihat Bee Kun Bu berpikir, ia merasa sedikit cemas, Untung Lie Ceng Loan segera menanyai "Bu Koko, tadi Koko memukul kucar-kacir delapan Hweeshio! Maukah Koko mengajarkan aku ilmu silat yang Koko gunakan itu?"

Mendengar pertanyaan sumoinya itu, Bee Kun Bu tersenyum Di saat itu terdengar lagi suara siulan yang agaknya dekat sekali, dan sekonyong-konyong pula telah loncat seorang Hweeshio menerkam Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu tidak keburu mencabut pedangnya, ia menjotos dengan tinjunya dengan menggunakan ilmu Yun Hiong Pen Bu atau naga membuyarkan kabut, yakni salah satu dari tiga tinju yang maha dahsyat dari ilmu tinjt Tian Kong Cong, Tetapi Hweeshio ini dapat mempunah kan jotosan itu dengan ilmu I San Tin Hai atau memindahkan gunung dan membalikkan laut dengan tangan kiri nya, dan tangan kanannya tetap menjambret bahunya Lie Ceng Loan.

Tangkisan itu hebat sekali sehingga Bee Kun Bu terdorong mundur tiga tindak dan merasai matanya ber-kunang-kunang dan kupingnya mendengung,

Co Hiong telah cabut pedangnya ketika Bee Kun Bu kirim jotosan nya. Dengan jurus-jurus istimewa Hay Tee Lo Goat (Meraup bulan dari dasar laut), ia Poa Hong Yen (Mengusir tawon dengan asap) dan Tian Bong Lo Ciok (Memasang jaring menangkap burung) yang ia dapat pelajari dari Souw Peng Hai, ia menyerang dengan sengit sementara itu Bee Kun Bu juga telah cabut pedangnya, Hweeshio-hweeshio yang menggunakan jubah kuning itu terpaksa mundur dari serangan-serangan Co Hiong dan Bee Kun Bu.

Melihat bahwa Hweeshio itu ingin menerkam mati Lie Ceng Loan, Bee Kun Bu sangat murka, ia berkata kepada Co Hiong: "Saudara Co, jagalah Sumoyku, Biar aku yang beresi Hweeshio jahanam ini!" Sambil bicara ia menyerang Hweeshio itu dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatnya, Si Hweeshio melawan dengan tangan kosong. Bee Kun Bu telah mengetahui ilmu silat dan tenaga lawannya, karena setelah bertempur dua belas jurus tiap-tiap serangan pedangnya dapat ditangkis bahkan kembali lagi! Meskipun ilmu silat pedangnya Bee Kun Bu cepat lihay, tetapi si Hweeshio dengan tangan tanpa senjata dapat menangkis semua serangan-serangannya,

Co Hiong ketika melihat wajahnya Lie Ceng Loan menjadi terkejut, agaknya si gadis itu telah menderita luka parah dari terkaman si Hweeshio, ia lekas-lekas keluarkan satu pil obat Po Beng Tan dan jejalkan ke mulut si gadis, Lalu ia letakkan kepalanya si gadis di dadanya, dan menonton pertempuran yang sedang berlangsung antara Bee Kun Bu dan si Hweeshio,

sekonyong-konyong terdengar lagi siulan yang panjang n ada nya. Co Hiong terkejut, dan berpikir "Si Hweeshio jubah kuning itu agaknya lebih pandai dan kuat daripada Bee Kun Bu yang dapat bertahan karena ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatnya, Tapt jika mereka bertempur lebih lama, aku khawatir Bee Kun Bu akan menderita luka parah, jika lain Hweeshio- hweeshio datang membantunya pula, ia pasti binasa di tangan Hweeshio-hweeshio itu. Bagaimanakah dengan Sumoy-nya yang dicintainya ini?" Lalu ia tunggangi kudanya dengan membawa si gadis untuk mencari tempat yang lebih aman, Bee Kun Bu yang sedang bertempur bertarung melawan si Hweeshio berjubah kuning selalu memikir akan keselamatannya Lie Ceng Loan, Setelah mendengar suara siulan lagi, ia makin menjadi cemas, Lalu ia serang lawannya dengan tiga jurus istimewa dari Cui Hun Cap Ji Kiam dengan maksud lekas-lekas mengakhiri pertempuran itu, Si Hweeshio terdesak mundur enam-tujuh kaki.

Tetapi ketika ia lihat Co Hiong membawa Lie Ceng Loan pergi dengan kudanya, ia menjadi reda, ia pikir Co Hiong pasti dapat lolos dari kejaran musuh dengan menunggangi kuda yang ajaib itu, Lalu dengan hati yang lebih mantap itu, ia menggunakan ilmu Ban Hong Cut Sao atau ribuan tawon keluar dari sarangnya-satu jurus yang terlihay dari partai silat Kun Lun-menyerang musuhnya, pedangnya berputar-putar hebat sekali Meskipun jagat di malam itu agak gelap, tetapi sinar pedang yang terputar-putar itu berkilau-kilauan menyilaukan mata Tawan, Malam yang gelap itu seakan-akan berubah menjadi suatu malam dimana bintang-bintang jatuh berhamburan dari langit!

Si Hweeshio jubah kuning menjadi kelabakan ia tak berani memandang remeh lagi lawannya Lekas-lekas ia keluarkan senjatanya, yakni sebuah kaitan dan lembing pendek, untuk menangkis atau menyerang jurus Ban Hong Cut Sao itu betul- betui dahsyat Satu pedang segera merupakan seribu pedang yang menyerang dari segala jurusan, dan sebetulnya lawan tak mengetahui harus menangkis dari mana, Si Hweeshio juga memutarkan kaitan dan lembing pendeknya untuk menjaga diri. pertempuran berlangsung seru sekali, "Tang! Teng!" terdengar tak hentinya suara beradunya senjata disertai lelatu apinya!

Pada satu ketika, si Hweeshio dapat mendesak Bee Kun Bu, dan kesempatan itu digunakan untuk menotok jalan darah di dadanya Bee Kun Bu. Bee Kun Bu melihat dan mengelakkan diri dari totokan maut itu. Dengan cepat sekali kaitan Hweeshio menyabet bagian bawahnya, Bee Kun Bu menotok tanah dengan kedua ujung jari kakinya meloncat mundur untuk menjaga diri dan menyerang kembali dengan ilmu Kim Kong Yun Bu atau sinar dahsyat membuyarkan pedut.

Kedua belah pihak kini bertempur dengan hati-hati, karena masing-masing telah menginsyafi kelihayan lawan nya. Bee Kun Bu merasa khawatir kawan-kawannya si Hweeshio segera datang membantu ia ingin lekas-lekas mengakhiri pertempuran itu. Lalu dengan mengertak gigi, ia ayun pedangnya dan menyerbu dengan sekuat tenaga! serangan yang nekad itu ia pereaya akan berhasil Tetapi si Hweeshio jubah kuning adalah salah satu dari jago-jago ke delapan belas silat yang lihay dari kuil Toa Ciok Sie, dan terkenal sebagai Cap Pwee Hu Hoat Lo Han yang belum pernah gagal membinasakan lawannya dengan senjata kaitan dan lembing pendeknya itu!

ilmu pedang Cui Hun Cap Ji Kiam dari Bee Kun Bu masih juga belum berhasil mengalahkan atau melukai padanya!

Demikianlah pertarungan berjalan selama seribu jurus, dan ketika si Hweeshio merasa bala bantuan segera akan datang, ia mengerahkan semangatnya mengayun kaitannya untuk melindungi diri, dan dengan lembing pendeknya ia menusuk, menotok dan mengetok Bee Kun Bu. Tusukan, ketokan dan totokan tersebut dilancarkan berbareng secepat kilat Bee Kun Bu harus mengegos ke samping sambil memutar kencang- kencang pedangnya.

Si Hweeshio telah loncat delapan kaki jauhnya, Bee Kun Bu mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, ia tampak empat Hweeshio lagi yang semuanya mengenakan jubah kuning telah mengurung ia. Kemudian Cap Pwee Hut Hoat Lo Han, berkata dengan suara keras kepada empat kawannya yang baru tiba itu: "Anak kemarin dulu ini lihay ilmu pedangnya, Kita harus menggunakan senjata mengepung padanya jangan sampai ia lolos!" Empat Hweeshio itu segera mengeluarkan masing-masing senjata-senjatanya, yaitu kaitan di tangan kiri dan lembing pendek di tangan kanan, mereka segera mengurung rapat Bee Kun Bu. Cap Pwee Hut Hoat Lo Han pun mulai menyerang dengan lembing pendeknya,

Bee Kun Bu menyangsut lembing pendek itu, dan menusuk mundur musuhnya, Pada saat itu keempat Hweeshio telah mengurung semakin rapat dan dekatJJee Kun Bu tidak gentar Dengan tertawa keras ia menuju lawan-lawannya dengan sekuat tenaganya!

Cap Pwee Hut Hoat Lo Han berusaha menjepit pedang lawannya, tapi Bee Kun Bu tarik pedangnya, lalu menusuk lagi, Jurus-jurus yang dilancarkan Bee Kun Bu adalah jurus- jurus hebat dari Cui Hun Cap Ji Kiam, Apabila mengenai sasaran, serangan-serangan itu pasti mengambil korban!

Tetapi kelima Hweeshio-hweeshio bukannya jago-jago silat kodian, Mereka semuanya adalah tiang-tiangnya kuil Toa Ciok Sie. Tiap-tiap serangan pedangnya Bee Kun Bu selalu dapat di tangkis atau dielakkan. Pada suatu saat salah seorang diantaranya dapat kesempatan untuk menusuk jalan darah punggungnya Bee Kun Bu.

Tetapi Bee Kun Bu telah menduganya! ia segera loncat keluar dari kepungan untuk berhadapan lagi dengan Cap Pwee Hut Hoat Lo Han yang telah siap menusuk dadanya dengan lembing pendeknya, Dengan ilmu Cek Sou Pok Liong atau tangan telanjang menerkam naga, lima jari tangan kirinya mencekal pergelangan tangan lawannya yang memegang lembing itu! Tusukan ke dadanya dapat dielakkan, dan ia lolos dari bahaya maut Tapi ujung lembing yang tajam itu telah merobek bajunya, sedangkan si Hweeshio setelah dicekal pergelangan tangan nya, merasa lengannya itu menjadi lumpuh, dan lembing yang dicekal nya jatuh di tanah!

Empat Hweeshio lainnya tidak menduga cekalan itu hebat sekali, ilmu Cek Sou Pok Liong dari Bee Kun Bu telah membikin tereengang mereka, Mereka lekas-lekas coba menolong Cap pwee Hut Hoat Lo Han yang rupanya sudah menjadi lumpuh bukan saja lengan kanannya, bahkan separuh bagian kanan tubuhnya! Kesempatan yang baik ini tidak disia- siakan oleh Bee Kun Bu. ia tancapkan ujung pedangnya di dada Cap Pwee Hut Hoat Lo Han sambil mengejek: "Siapa saja yang bergerak, aku segera bunuh mati dia ini!" Keempat Hweeshio itu terpaksa berhenti bertindak maju, tetapi mereka masih terus mengurung Bee Kun Bu.

sebetulnya delapan belas Hweeshio-hweeshio yang lain ilmu silatnya hebat di kuil Toa Ciok Sie itu memakai nama huruf Goan di depan, Cap Pwee Hut Hoat Lo Han yang telah dibikin lumpuh oleh Bee Kun Bu disebut Goan Kiok. Biasanya ke delapan belas Hweeshio-hweeshio hidup akur dan bela membela, Keempat Hweeshio itu khawatir Bee Kun Bu menusuk mati Goan Kiok, maka mereka terpaksa mundur lagi dua tombak lebih,

Dalam keadaan terjepit Goan Kiok masih bisa mengejek: "Hei anak kemarin dulu! Kau telah ke pegunungan Cie Lian San. Kau tak akan mempunyai harapan keluar dari sini hidup- hidup, Malam ini aku memberi kau kelonggaran, Kau lepaslah aku, dan segera enyah dari sini!"

Bee Kun Bu berpikir "Semua Hweeshio-hweeshio yang mengurung ia bukannya lawan-Iawan yang remeh. jika aku membunuh mati satu belum tentu aku dapat lolos dari keempat Hweeshio lainnya." Lalu dengan mengejek juga ia menyahut: "Aku dapat melepaskan kau, tetapi dengan syarat!"

"Sebutlah syaratmu itu!" kata Goan Kiok,

"Aku ingin tahu untuk mengetahui apakah kalian yang datang ini dari pemimpin-pemimpin dari kuil Toa Ciok Sie?" tanya Bee Kun Bu. "Betul!" sahut Goan Kiok.

"Apakah pemimpin-pemimpin dari kuil Toa Ciok Sie semuanya berjubah kuning?" tanya Bee Kun Bu.

"Betul," sahut Goan Kiok, "Semuanya berjubah kuning dan bersenjatakan lembing dan kaitan!" Mendengar keterangan tersebut Bee Kun Bu terkejut ia berpikir: "Hweeshio-hweeshio yang berjubah kuning ini hanya pemimpin-pemimpin. Bagaimana ilmu silat dari guru-guru mereka di dalam kuil Toa Ciok Sie itu? Tidak heran jika Tong Leng Tan Su memperingatkan aku jangan gegabah datang ke kuil Toa Ciok Sie!"

sebetulnya di samping menolong Lie Ceng Loan, juga Bee Kun Bu ingin mencari Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa- su yang sedang dalam perjalanannya ke kuil Toa Ciok Sie untuk mengambil buah Sie Can Ko untuk mengobati Giok Cin Cu yang luka parah kena racun ular ia ingin menanya apakah guru dan paman gurunya itu telah tiba di kuil Toa Ciok Sie, tapi ia khawatir dengan pertanyaan itu ia bertindak keliru yang mungkin membuka rahasia tentang partai Kun Lun saja, ia menyengir tarik kembali pedangnya, dan balik badan pergi dari tempat itu.

Kelima Hweeshio-hweeshio itu memegang janji Mereka tidak mengejar Bee Kun Bu. Mereka berdiri berjejer mengawasi Bee Kun Bu berlalu. Setelah membelok di suatu jalan gunung itu, Bee Kun Bu baru mulai berjalan lebih cepat untuk menuju. Cepat Co Hiong, Tapi di manakah ia harus mencarinya? Setelah menempuh jalan lebih kurang tujuh lie, ia tiba di suatu puncak yang diselubungi salju, Hatinya cemas sekali, karena di daerah pegunungan yang demikian luasnya, mencari Lie Ceng Loan dan Co Hiong seperti juga mencari jarum di dasar laut!

Angin gunung meniup sangat dinginnya, ia jalan turun lagi, dan berhenti di suatu tembak Karena merasa sangat letih, ia lalu berbaring di atas rumput Segera ia jatuh pulas,

Satu siulan yang nyaring membangunkan ia dari tidurnya, ia buka matanya, dan melihat bahwa matahari telah naik tinggi dengan sinarnya yang berkilau-kilauan menyoroti puncak- puncak gunung, ia berdiri dan segera menjadi kaget, karena ia rasakan tubuhnya ngerentek dan lemas, kepalanya pusing, Nyatalah ia telah jatuh sakiti ia telah bertempur hebat, bermalam-malam kurang tidur, dan berkali-kali menahan lapar Meskipun ia diciptakan dari baja dan besi, ia takkan tahan ujian yang seberat itu! Demikianlah ia jatuh sakit ia paksakan diri berjalan mencari Lie Ceng Loan dan Co Hiong,

Tiba-tiba Bee Kun Bu dengar lagi suara siulan yang datangnya sayup-sayup, Suara siulan itu lain daripada yang ia pernah dengan Nadanya lain, dan makin didengar, makin menggiurkan hati, sebentar lagi terdengar seperti keluhan seorang wanita yang menusuk hati. ia terkejut Di depan matanya terbayang wajah saudara sepupunya, ia mengucurkan air mata mengingat kebaikan dan budi saudara sepupunya itu yang telah mengaso di alam bakal Kemudian karena lelahnya ia berhenti mengenangkan peristiwa-peristiwa yang lampau, Siulan itu berhenti ia bangun lagi untuk melanjutkan perjalanannya, tetapi kembali ia jatuh, ia merasa seluruh tubuhnya ngerentek, matanya berkunang-kunang, dan kepalanya pusing, seluruh tubuhnya pun basah dengan peluh yang keluar sangat derasnya, Namun, ia paksakan diri juga untuk melanjutkan perjalanannya mencari Sumoynya yang ia sangat cintai!

seruling dari batu Giok dan ilmu silat sakti mengobrak-abrik kuil Toa Ciok Sie, ia menggunakan ilmu meringankan tubuh agar dapat berjalan lebih cepat akan tetapi tenaganya tak dapat melaksanakan kemauannya yang keras itu, ia terbaring lagi di atas rumput, dengan tenaga dalamnya menyembuhkan penyakit yang merangsang itu.

Pikirannya masih jernih. Dengan terlentang ia dapat lihat awan-awan putih mengambang di langit, puncak-puncak gunung yang diselubungi salju, pohon-pohon cemara yang hijau, bunga-bunga liar di lereng-lereng gunung. Suasana yang sunyi senyap merupakan suatu tempat yang sempurna untuk mengheningkan cipta... bagi orang yang sehat Bagaimanakah harus ia perbuat bila ia menjumpai musuh lagi? jiwanya berada dalam bahaya! Meskipun ia tidak diserang musuh, tapi jika ia menjumpai binatang buas, ia pun tak dapat melawan atau melarikan diri! ia gelisah dan cemas, Apakah riwayatnya akan berakhir di pegunungan Cie Lian San ini?

Tiba-tiba suara menjerit nya seekor burung memecahkan kesunyian Tak lama kemudian ia melihat seekor burung ganjil yang terbang rendah sekali melewati ia. Burung itu mirip seekor garuda, tapi jauh lebih besar daripada garuda biasa, Besarnya burung itu pada umumnya dari ujung sayap ke sayap lainnyaT paling sedikit delapan kaki panjangnya, ia berpikir: "Burung yang ganjil itu mungkin terbang datang dari kuil Toa Ciok Sie, Bukankah Lie Ceng Loan pernah dibawa oleh seorang Hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie menaiki burung itu?"

Bee Kun Bu mengikuti Hian Ceng Totiang selama dua belas tahun, Di samping mempelajari ilmu silat Kun Lun, ia pun telah mempelajari banyak ilmu sastra maupun ilmu pengetahuan. Dari buku-buku yang ia pernah baca, ia mengetahui bahwa burung yang ganjil itu adalah sejenis garuda yang luar biasa kuatnya, Selagi ia tengah melamun, tiba-tiba burung itu terbang kembali, dan agaknya ingin menyambar ia.

Tidak salah lagi!" pikirnya, "Burung itu adalah burung yang dipelihara oleh Hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie! Dia dilepas untuk mengintai aku. Bukankah Goan Kiok telah mengancam bahwa aku tak dapat lolos keluar dari pegunungan Cie Lian San hidup-hidup?"

Makin ia berpikir makin cemas, Bagaimanakah ia dapat lolos dari terkaman burung itu dengan badannya sedang menderita sakit? ia pejamkan matanya, dan menanti segala kemungkinan! Matahari menyoroti tubuh-nya. ia berbaring terlentang menanti maut! ia tak dapat berbuat jika ia diserang musuh, atau harimau, atau ular! penyakit telah membikin ia tak berdaya, ia serahkan nasibnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. ia pejamkan matanya akan kemudian tidur pula, Entah berapa lama ia tertidur ia dibikin terbangun oleh satu suara bentakan, ia buka kedua matanya, dan melihat tiga orang Hweeshio mengenakan jubah kuning berdiri lebih kurang lima kaki dari ia. Hweeshio yang berdiri di tengah tidak lain daripada Goan Kiok.

Dengan suara mengejek Goan Kiok menegur "Orang yang telah masuk ke daerah pegunungan Cie Lian San belum pernah ada yang dapat lolos hidup-hidup. Hei! Mengapa kau berbaring di sini! Ayo, bangun! Mari, kita bertarung lagi tiga ratus jurus!"

Bee Kun Bu berusaha bangun, tapi tak bisa, Sambil menyengir bangun menyahut: "Aku menderita sakit keras. Bagaimanakah aku dapat bangun melawan kau? Kau boleh bunuh aku atau menawannya hidup-hidup! Ter-serah kehendakmu!" Lalu ia pejamkan kedua matanya dengan tetap berbaring dengan tenang,

Goan Kiok menghampiri dan berlutut di sampingnya Bee Kun Bu. ia lihat bahwa wajahnya pucat lesi. ia usap-usap dahinya Bee Kun Bu, ia rasakan dahinya itu panas sekali, ia memikiri sejenak, lalu berkata: "Untuk membunuh orang yang sedang menderita sakit mudah sekali, Tapi mengingat sikapmu yang ksatria semalam, aku tak mau berbuat rendah. Kini dengan menyimpang dari peraturan yang lazim, kami akan bawa kau ke dalam kuil Toa Ciok Sie untuk diserahkan kepada guru-guru kami, nasibmu akan ditentukan oleh mereka!"

Bee Kun Bu tidak membuka matanya, Dengan tersenyum ia menyahut: "Mati atau hidup, bagiku adalah soal remeh, sedikitpun aku tidak hiraukan, tetapi..." perkataannya belum selesai, sekonyong-konyong terdengar suara seorang wanita yang nyaring dan meneruskan perkataannya Bee Kun Bu: "Mati atau hidup adalah urusan besar. Mengapa jiwamu dipandang remeh?" Ketiga Hweeshio itu terkejut Mereka menoleh ke belakang, dan melihat seorang wanita berpakaian hitam entah dari mana dan kapan datangnya Wqnita itu ber-tutupkan mukanya dengan selubung kain hitam dengan hanya dua lubang untuk kedua matanya. Selain kedua tangannya yang putih halus, seluruh tubuhnya mengenakan pakaian hitam yang ramping singset ia memegang sebuah seruling dari batu Giok di tangan kanannya, dan berdiri membelakangi sinar matahari

Goan Kiok bertindak mundur tiga langkah. ia cabut lembing pendeknya dan membentak: "Kau siapa? Lekas bildfig! jangan kira kau dapat menakuti kami dengan menyamar demikian!" Wanita itu menuding-nuding dengan seruling batu Gioknya dan menyahut: "Kalian ketiga Hweeshio yang derajatnya rendah tidak perlu ketahui namaku, Paling baik lekas-lekas enyah dari sini! Karena aku memandang guru-gurumu, maka aku beri ampun kalian" Lalu suaranya makin keras, "Jika kalian masih tetap membandel kalian segera akan menjadi setan!"

Bentakan itu membikin ketiga Hweeshio itu terperanjat sejenak kemudian Goan Kiok menanyai "Apa-kah Siocia kenalannya guru-guru kami? Kami mohon Siocia berikan isyarat yang membuktikan bahwa Siocia kenal guru-guru kami, segera kami akan kembali ke kuil."

Wanita itu rupanya tidak sabar lagi, Dengan sekali bergerak secepat kilat ia telah berdiri di samping ketiga Hweeshio itu, dan menyabet mereka dengan seruling batu Gioknya ke kanan dan ke kiri, Meskipun ketiga Hweeshio- Hweeshio itu telah siap, tetapi serangan yang mendadak itu memaksa mereka loncat mundur tujuh-" delapan kaki jauhnya. Serangan-serangan wanita berpakaian hitam itu cepat sekali, dan beraneka macam ragam. Ketika Hweeshio itu merasa bahwa ilmu silatnya wanita itu tinggi sekali, mereka menjadi gentar, tapi Goan Kiok menanya lagi: "Melihat pakaian Siocia, apakah Siocia bukannya Giok Siu Sian Cu (Dewi seruling batu Giok)?" Sambil tertawa wanita itu menyahut: "Betul! jikalau kalian telah ketahui siapakah aku ini, enyahlah lekas! Bila guru- gurumu mengetahui peristiwa ini, celaka kah kali-an!"

Mendengar nama Giok Siu Sian Cu, ketiga Hweeshio itu betul-betul menjadi gentar, karena pada tiga tahun yang lampau, ia pernah datang ke kuil Toa Ciok Sie untuk minta buah Sie Can Ko, dan dengan hanya bersenjatakan seruling batu Giok ia dapat menghajar babak belur semua Hweeshio- hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie. Ketika itu kedelapan murid-murid angkatan kesatu, ada tiga murid keluar belum kembali dan satu telah diusir pergi (ialah Tong Leng Tan Su). Empat murid yang berada di dalam kuil, yang semuanya memakai "goan" keluar melawan Giok Siu Sian Cu, tapi mereka dihajar babak belur, dan buah Sie Can Ko berhasil diambil oleh ia. Demi-kianlah nama Giok Siu Sian Cu itu selalu teringat oleh Hweeshio-hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie.

Giok Siu Sian Cu pada tiga tahun yang lampau juga pernah membikin kalang kabut kuil Ceng Yun Giam yang dipertahankan oleh empat Hweeshio yang silatnya lihay,

Goan Kiok dan dua kawannya merasa malu diusir seperti anjing, mereka masih juga tidak pergi Lalu Giok Siu Sian Cu melancarkan pula serangan-serangannya terhadap ketiga Hweeshio itu, Serangan-serangan itu tak dapat ditangkis, maka segera mereka berusaha mencari ketika untuk mengegos dan lari kabur

Setelah ketiga Hweeshio itu kabur, Giok Siu Sian Cu tertawa gc!ak-gelak, Bee Kun Bu yang menyaksikan semua peristiwa itu merasa girang bereampur khawatir ia berpikir "Siapakah penolong ini? Tinggi benar ilmu silatnya! ia dapat menghajar demikian mudahnya ketiga Hweeshio itu! Apakah ia seorang sakti yang dapat segera menyembuhkan penyakitku?"

Wanita ^berpakaian hitam itu datang menghampiri Bee Kun Bu dan menanya dengan ramah: "Kau datang dari mana? Mengapa kau berselisih dengan Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie?" pertanyaan yang lemah lembut itu meredakan kekhawatirannya, ia menyahut: "Hamba bernama Bee Kun Bu, dan murid dari partai Kun Lun. sebetulnya hamba datang ke pegunungan ini untuk mencari kawan, Tapi hamba menjumpai Hweeshio-hweeshio itu lantas menyerang hamba, Mereka terus mengejar hamba sampai ke sini, Untung angkatan tua datang menolong, Terima kasih."

"Apa hamba, apa angkatan tua! Aku tak senang mendengar sebutan-sebutan itu," kata Giok Siu Sian Cu sambil berlutut dan meraba kakinya Bee Kun Bu. "Kau menderita sakit, dan penyakit ini agak berat"

Dengan tersenyum Bee Kun Bu menyahut: "Semalam aku telah bertempur melawan mereka, Aku terlampau letih, perut lapar dan kena angin gunung yang dingin, sekarang aku jatuh sakit."

Giok Siu Sian Cu lalu berdiri dan menanya: "Apakah kau kini ingin hidup atau mati!"

Bee Kun Bu pikir bagi dirinya sendiri mati pun tidak menjadi soal, Tapi ia sangat khawatirkan keselamatan Lie Ceng Loan, Maka ia menyahut: "Aku masih belum dapat menetapkan yang mana lebih baik, Aku minta petunjuk."

Sambil tertawa Giok Siu Sian Cu berkata: "Aku telah berkecimpungan di kalangan Kang-ouw lebih dari sepuluh tahun, jejakku telah terkenal^di utara atau di selatan, Aku pun pernah menjumpai orang-orang yang suka menolong orang, tetapi aku sendiri belum pernah menolong orang yang ingin mati, jika kau ingin aku menolong jiwamu, kau harus menyanggupi satu permintaanku

Aku ketahui bahwa kepandaian silat ketiga pemimpin partai Kun Lun sangat terbatas, dan murid-muridnya pun tidak seberapa lihaynya, jika kau sanggup mengikuti aku, aku rasa segera menolong jiwamu, dan mengajari semua ilmu silatku kepadamu. Aku yakin sepuluh tahun kemudian kau dapat menjagoi di kalangan Kang-ouw. Aku pun tidak ingin kau menghormati aku sebagai guru, Demikianlah syaratku, asal kau sanggupi, aku segera menolong jiwamu."

Bee Kun Bu dengan tidak berpikir lagi, segera menjawab: "Mengkhianati guruku? Aku tak akan berbuat demikian Aku rela mati daripada berbuat khianat!"

"Oh, jadi kau rela mati?" mengejek Giok Siu Sian Cu. "Betul! Tapi aku mati terhormat!" sahut Bee Kun Bu dengan ketus, Lalu ia pejamkan matanya, dan tak sudi melihat kepada Giok Siu Sian Cu itu.

"Hm!" kata wanita itu, "Sebetulnya kau segera akan mati, tapi kau masih keras kepala, Aneh sekali! Aku masih mau mengobati kau!" Lalu ia angkat Bee Kun Bu dengan memegang kedua ketiaknya, Dan dengan ilmu Tak Siat Bo Lang atau menginjak salju tanpa bekas ia bawa Bee Kun Bu melalui banyak puncak, Bee Kun Bu menderita sakit keras tak dapat berbuat apa-apa. ia seakan-akan dibawa terbang oleh wanita sakti itu, Setelah melewati satu puncak yang tinggi Giok Siu Sian Cu harus mendaki satu jurang yang curam sebelumnya masuk ke dalamsuatu gua karang, yang diapit diantara dua puncak yang tinggi,

Setelah Bee Kun Bu diletakkan di atas satu batu gunung, wanita itu lalu membuka selubung mukanya, dan sambil memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya yang cantik itu, ia berkata: "Nah, apakah sekarang kau sudi mengikuti aku?"

Bee Kun Bu buka matanya, ia terpesona! Apakah yang ia saksikan? Wanita yang kulitnya putih seperti salju, bibirnya merah delima, matanya jeli di bawah alis yang kereng sangat menggiurkan hatinya, Wanita itu lebih cantik daripada Sumoynya, senyumannya menawan hati. ia menjadi bisu tidak dapat menyahut Lekas-lekas ia pejamkan matanya lagi, karena ia takut akan berdosa jika karena melihat wanita yang cantik jelita itu membikin napsu birahinya berkobar Dari sakunya Giok Siu Sian Cu keluarkan sebutir pil obat warna putih, ia jejalkan di mulutnya Bee Kun Bu sambil berkata: "Makan dulu pil obat yang dapat menenangkan pikiranmu sebentar jika cuaca sudah menjadi gelap, aku akan pergi ke dalam kuil Toa Ciok Sie mencuri buah Sie Can Ko yang dapat menyembuhkan segala penyakit penyakit ini betul- betul berat, Tanpa makan buah Sie Can Ko, kau mungkin tidak akan sembuh dalam tiga bulan!"

Bee Kun Bu tidak menyahut Ia, biarkan dirinya diurus oleh wanita itu. Sejenak kemudian, ia dapat tidur dengan nyenyak setelah makan pil obat.

Entah berapa jam ia telah tidur Ketika ia mendusin dan membuka matanya lagi, cuaca sudah menjadi gelap, ia lihat di sekitarnya telah ada banyak bunga-bunga yang harum sekali, tetapi Giok Siu Sian Cu tak tampak, ia merasa haus sekali, ia berteriak minta minum, tetapi tidak ada yang menjawab Suasana sepi senyap. Disamping suara binatang-binatang di pegunungan, ia dapat dengar suara napasnya sendiri dengan nyata sekali,

panas tubuhnya meningkat ia merasa semakin haus sekali, dan dalam keadaan seperti orang yang hilang pikiran, ia berteriak-teriak minta air, Tapi di atas puncak gunung yang curam itu, selain Giok Siu Sian Cu yang telah pergi, ada siapa lagi yang dapat melayani ia? yang menjawab teriakannya hanya suara gcma balik dari teriakannya sendiri!

Tapi suatu kegaiban terjadi, Satu tangan yang halus dan licin mengangkat kepalanya, mulut satu teko air yang dingin dimasukkan ke mulutnya, demikian ia dapat minum sekenyangnya menghilangkan dahaganya, ia lalu lihat orang yang merangkul ia, Orang itu ternyata Giok Siu Sian Cu sendiri!

Dengan gaya yang menggiurkan hati dan suara yang lemah lembut Giok Siu Sian Cu berkata: " penyakit mu betul- betul berat! Hanya buah Sie Can Ko yang dapat menyembuhkan penyakitmu. Aku telah coba mencuri buah Sie Can Ko itu, tetapi beberapa Hweeshio tua berada di dalam kuil itu, Untuk mecuri buah itu kini masih agak sukar."

Bee Kun Bu setelah minum hampir seteko air dingin merasa enakan. ia berkata: "Di dalam kuil Toa Ciok Sie banyak Hweeshio senantiasa menjagai buah ajaib itu, Dengan seorang diri aku yakin akan sukar melawan mereka."

Giok Siu Sian Cu menarik napas panjang dan berkata lagi: Tapi tanpa buah Sie Can Ko, penyakitmu takkan sembuh,"

Bee Kun Bu coba mencegah, tapi setelah melihat sikapnya gadis itu mirip dengan sikapnya Co Hiong yang keras kepala, ia tak dapat mencegah nya, ia hanya membujuk saja: "Kita baru saja berkenalan Mengapa kau sangat khawatirkan jiwaku, Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau tidak sudi menolong jiwa orang lain?"

"Rupanya kau ingin betul mati!" kata Giok Siu Sian Cu, Tapi aku akan bikin kau hidup!"

Bee Kun Bu tersenyum. ia tidak menjawab lagi, ia pejamkan matanya dan ingin tidur lagi, Tapi ia tak dapat tidur karena ia merasa demam dan seluruh tubuhnya tak keruan rasanya, Giok Siu Sian Cu yang matanya sangat awas seperti matanya kucing di tempat gelap, melihat penderitaan Bee Kun Bu, ia berkata dalam hatinya: "Aku telah membunuh banyak orang, dan aku belum pernah tergerak melihat penderitaan orang, Mengapa aku tergerak melihat penderitaan dia ini?" Dengan tak terasa ia mengusap-usap jidatnya Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu sedang menderita karena demamnya membentak: "Angkat tanganmu, janganlah menganggu aku lagi!" Giok Siu Sian Cu terkejut ia berpikir: "Selama sepuluh tahun lebih aku belum pernah dibentak oleh seorang laki-laki, Kali ini aku merasa aku betul-betul seorang wanita!"

Aneh juga, wanita yang biasanya berkelana di kalangan Kang-ouw tiba-tiba menjadi lunak, ia angkat tangannya yang mengusap-usap jidatnya Bee Kun Bu, lalu ia berbisik di kupingnya: "Aku akan meniup seruling ini agar kau dapat lekas tidur, dan kemudian aku akan pergi ke dalam kuil Toa Ciok Sie lagi untuk mencuri buah Sie Can Ko."

Bee Kun Bu tidak menyahut Giok Siu Sian Cu Lalu mulai meniup suatu lagu yang merayu, Lagu itu sangat merdu, dan Bee Kun Bu mulai lupa akan sakitnya, ia seakan-akan dibawa ke suatu dunia Iain....

Giok Siu Sian Cu memperhatikan bahwa Bee Kun Bu terhibur mendengar lagu yang merayu itu, dan lekas akan tertidur sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang nyaring sekali Giok Siu Sian Cu terkejut ia berbisik: "Aku ada di sini, kau tak usah khawatir." Lalu ia loncat keluar ia merasa hembusan angin ketika ia loncat keluar ia khawatir mengganggu Bee Kun Bu. ia segera lepaskan tiga serangan dengan tenaga dalamnya kepada orang yang rupanya datang ingin mengganggu. Tapi orang itu agaknya lihay silatnya, Tiga serangan dahsyat dari Giok Siu Sian Cu tidak terlihat hasilnya!

Dengan seruling batu Giok di tangannya Giok Siu Sian Cu mengejek: "Aku tidak menghiraukan meskipun kau pemimpin suatu partai silat yang terkenal! Aku tetap tidak akan menghiraukan kau meskipun kau mengejar-ngejar aku selama dua puluh tahun lagi!"

Orang yang datang itu tertawa gelak-gelak dan menyahut "Omongan wanita tak dapat dipereaya. Aku sudah mengetahui bahwa kau telah mempunyai kekasih, Kau tak dapat menyangkal lagi, Buktinya di depan mata, bukan? Aku telah mengejar-ngejar kau selama enam tahun, tapi kau tak memperdulikan aku, jalan satu-satunya ialah kita bertarung lagi!"

Ketika itu ia telah melihat Bee Kun Bu yang berbaring, Dengan ilmu tenaga dalamnya ia coba membinasakan Bee Kun Bu yang ia anggap saingannya,

Giok Siu Sian Cu mengelakkan serangan itu dengan satu sabetan serulingnya, lalu berkata: Tempat di sini terlampau sempit jika kau ingin bertarung melawan aku, ayo kita turun ke lembah!"

"Ha! Ha! Ha! Lembah itu memang tempat kita bertarung atau bertempur!" sahut orang itu sambil turun ke lembah, Tetapi sekonyong-konyong ia loncat menerkam Bee Kun Bu!

Pada saat orang itu berbalik, Giok Siu Sian Cu telah siap. Dengan jurus "Heng Toan Bu San" atau memenggal gunung, serulingnya menahan orang itu sambit menyerang kembali, sehingga orang itu harus mundur lagi, Orang itu menjadi semakin menjadi murka. ia menyerang wanita itu dengan kedua toyanya, dan pertarungan berlangsung di tempat yang sempit itu selama tiga puluh jurus.

Giok Siu Sian Cu berpikir: "Aku pernah melawan dia lebih dari sepuluh kali, dan selamanya seri. Kali ini untuk menolong Bee Kun Bu, aku harus mengalahkan dia." Tetapi setelah bertarung melawan hampir dua ratus jurus dengan sengitnya, ia masih tak berhasil menaklukkan lawannya, Lalu ia loncat mundur dan berkata: "Kali ini, apakah kau ingin bertempur mati-matian?"

Lawannya menyahut: "Jika dalam jangka waktu yang hampir enam tahun aku telah bertempur melawan kau beberapa puluh kali, dan belum pernah aku berniat membunuh kau."

Tapi dengan maksud apakah kau senantiasa mengejar- ngejar aku?" tanya Giok Siu Sian Cu.

"Apakah perlu aku menjelaskan lagi? Bukankah aku telah mengatakan berkali-kali aku mencintai kau, dan ingin kau menjadi istriku? Lalu aku serahkan pimpinan partai Kong Tong Pay kepadamu, Dengan kita berdua memimpin partai, aku yakin kita dapat menjagoi di kalangan Bu Lim," sahut orang itu.

"Aku tidak ingin memimpin partaimu, Tetapi kini ada suatu hal aku hendak minta bantuan," kata Giok Siu Sian Cu. Orang itu tertawa gelak-gelak dan berkata: "Apakah kau baru mengenal aku? Meskipun kau suruh aku masuk ke dalam gua macan, aku tak gentar Sebutlah urusan apa!"

Lalu Giok Siu Sian Cu berkata: "Sin Goang Tong, aku minta kau menyertai aku masuk ke dalam kuil Too Ciok Sie, karena aku ingin mencuri buah Sie Can Ko. Apakah kau berani?" Sin Tong diam sejenak, lalu menyahut "Partai Kong Tong Payku tidak bermusuhan terhadap Hweeshio-hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie itu. Lagi pula ketiga guru dari Hweeshio-hweeshio di kuil itu bukan orang sembarangan Mengapa kau ingin pergi ke situ?"

"Ha! Ha! Ha! Aku sudah dapat duga, kau takut pergi!" mengejek Giok Siu Sian Cu, "Jika kau takut, lihatlah aku pergi sendiri!" Sin Goan Tong menjadi marah. ia membentak: "Siapa kata aku takut pergi? Tapi kau harus beritahukan kepadaku, Untuk siapakah buah Sie Can Ko itu?" Kata ia sambil mengawasi Bee Kun Bu. "Buah itu untuk menolong jiwanya pemuda itu!" sambut Giok Siu Sian Cu sambil menunjuk kepada Bee Kun Bu yang berbaring karena demamnya sedang menghembaL "Hm, pemuda itu? Bilang saja kekasihmu!" membentak Sin Goan Toang.

Giok Siu Sian Cu menjadi merah mukanya, Tapi maksudnya ialah mendapati buah ajaib, Dengan pergi seorang diri ia khawatir tidak berhasil Maka ia telan ejekan itu, dan menyahut dengan senyuman terpaksa: "Kau jangan sembarangan kata, Dia adalah saudara angkatku pereaya atau tidak, terserah kepadamu. Nah! Sekarang dengan ringkas saja,

Mau atau tidak kau membantu aku? Jika kau masih menarik urat, jangan gusar jika dikemudian hari aku tidak gubris kau lagi!" Ancaman itu tidak dapat dipandang remeh oleh Sin Goan Tong, Lagi pula sebegitu jauh, Giok Siu Sian Cu terkenal sebagai iblis wanita yang kejam, dan belum pernah terdengar ia tersangkut dengan urusan asmara. ia berkata: "Jika pemuda itu saudara angkatmu, mengapa aku belum pernah dengar tentang dia?" "Mengapa kau harus beritahukan segala sesuatu urusanku kepadamu ?" sahut Giok Siu Sian Cu. "Aku bukan anggota keluargamu! Saudara angkatku itu menderita sakit berat jika ia meninggal dunia, aku pun tidak sudi hidup lagi!"

Pereakapan mereka dapat didengar oleh Bee Kun Bu. ia ingin bangun menyangkal bahwa ia bukannya saudara angkat dari Giok Siu Sian Cu, tapi ia tak ber-tenaga,

"Jika ia betul-betul saudara angkatmu, aku pun rela membantu kau. Ayo kita berangkat sekarang!" kata Sin Goan Tong. Sin Goan Tong segera berjalan keluar, tapi Giok Siu Sian Cu menghampiri Bee Kun Bu dan berkata: "Aku segera pergi mengambil buah Sie Can Ko. Kau harus diam-diam beristirahat di sini." Lalu ia pun keluar dari gua itu menuju ke kuil Toa Ciok Sie, Di luar gua angin menderu-deru, Di dalam gua Bee Kun Bu merintih, memikir keselamatan Sumoynya, penyakitnya, susioknya yang ia tinggal di rumah penginapan di Yociu... dan Pek Yun Hui, penolongnya, Semua pikiran itu hanya membikin ia makin gelisah dan menambah erat penyakitnya, ia paksakan bangun dan berjalan baru satu dua tindak, tapi kedua kakinya sudah menjadi lemas, ia jatuh lagi, ia mengeluh memikir bahwa ia tak berdaya!

Di luar gua lalu terdengar suara getaran, seakan-akan batu karang yang besar jatuh ke bawah. ia tak dapat keluar untuk menyelidiki ia pikir: "Suara getaran itu mungkin terbit dari batu- batu karang yang merosot ke bawah terdorong oleh arus salju yang telah lumer akibat dibakarnya hutan oleh Co Hiong." Setelah suara getaran itu hilang, ia dengar lagi suara siulan yang bersilih ganti, "Apakah Hweeshio-hweeshio itu dari kuil Toa Ciok Sie sedang menyelidiki atau mengejar musuh?" ia tanya pada diri sendiri Lalu ia berusaha sekuat tenaga merayap keluar gua. Ketika itu angin telah meniup awan-awan yang menutupi bintang-bintang dan bulan, dan yang ia dapat lihat hanyalah bentuk-bentuk dari puncak-puncak gunung,

Kemudian barulah terdengar pula suara orang berlari-lari melewati gua itu. ia dapat lihat Co Hiong yang tegak dikejar oleh tiga Hweeshio yang bersenjata kaitan dan lembing pendek, ia terkejut, karena tiga Hweeshio yang mengejar itu tinggi sekali ilmu silatnya, ia yakin bahwa Co Hiong tak dapat melawan ketiga Hweeshio itu. ia lupakan penyakitnya, dan coba berdiri, tapi matanya segera berkunang-kuang, dan ia jatuh tersungkur lagi!

Suara jatuhnya itu terdengar lagi oleh ketiga Hweeshio- hweeshio yang sedang mengejar Co Hiong itu, Seorang Hweeshio segera berhenti dan masuk ke dalam gua. Ketika melihat Bee Kun Bu, ia menanya:" siapakah kau? Ayo lekas bilang!" Bee Kun Bu pegang pedangnya dan berpikir

"Aku kini tak dapat melawan, lebih baik aku diam." ia taruh pedangnya di depan dan ia duduk diam, Hweeshio itu membentak lagi, tetap tidak dapat jawaban, Lalu ia mendekti Bee Kun Bu yang tetap duduk diam dan memejamkan kedua matanya, Sikap tersebut membikin Hweeshio itu heran, ia jalan memutari Bee Kun Bu, tapi tidak menyerang, Kemudian ia sentuh tubuhnya Bee Kun Bu. Bee Kun Bu tak dapat diam lagi. ia harus egosi sentuhan itu dengan menyondongkan tubuhnya ke samping, Tapi gerakannya itu membikin ia jatuh lagi!

Si Hweeshio tertawa gelak-gelak dan berkata: "Ha! Ha! Ha!

Kau terlalu banyak bersemedi, dan aku hampir saja dibikin kaget olehmu!" Lalu secepat itu ia datang menusuk lambungnya Bee Kun Bu. Dalam bahaya maut itu, dan karena hasratnya ingin hidup, Bee Kun Bu bergulingan untuk menghindarkan tusukan itu, ia paksakan diri menjepit pedangnya, dengan ilmu Cun Yun Cee atau awan buyar hujan turun ia serang si Hweeshio dari belakang, Dengan kaitan si Hweeshio menangkis serangan pedang, lalu menyabet berturut-turut dua kali dengan lembing pendeknya,

Dalam keadaan sakit itu Bee Kun Bu tak dapat bertahan lama. Setelah menangkis kedua sabetan itu, ia rasakan kedua kakinya lemas sekali, dan pedangnya terlepas dari pegangannya, "Ha! Ha! Ha! Dengan hanya ilmu silat yang demikian, kau berani masuk pegunungan Cie Lian San?" mengejek si Hweeshio, "Aku pun tak perlu ketahui namamu, karena segera aku akan kirim ke akherat!" Lalu dengan lembing pendeknya ia hendak tusuk mati lawan nya. 

Bee Kun Bu tak berdaya sama sekali, Semua tenaganya habis, ia hanya menanti mati! Tapi ketika lembing itu hampir menusuk dadanya Bee Kun Bu, si Hweeshio mendadak merasa sikutnya ditotok jalan darahnya, dan segera lengannya menjadi lumpuh, lembing jatuh ke tanah! ia berbalik dan coba menyerang dengan kaitannya, tapi ia tak melihat apapun! sebaliknya ia merasa tubuhnya tertarik ke depan, dan segera lengan yang memegang kaitan itu pun menjadi lumpuh, dan kaitannya jatuh ke tanah pula!

Ketika itu kedua lengannya telah lumpuh, hanya tubuhnya masih dapat bergerak dan kakinya dapat berjalan ia insyaf bahwa seorang sakti telah menotok jalan darahnya dengan ilmu Pa Hiat Sin Kong atau ilmu sakti menotok jalan darah, Di dalam cuaca yang gelap itu, ia berlutut sambil minta ampun: "Kojin (orang sakti) ampunilah aku pendeta yang lancang ini! Pandanglah guru-guruku di dalam kuil Toa Ciok Sie."

Ucapan itu membikin orang sakti itu semakin murka, Dari jarak yang lebih kurang dua tombak, jauhnya terdengar bentaknya: "Hm! Apakah kau kira aku takut kepada guru- gurumu? Aku tak sudi membunuh mati kau, karena hanya membikin kotor tanganku! Ayo! Enyahlah lekas! Atau aku bikin lumpuh seluruh tubuhmu!"

Tidak membuang waktu lagi, si Hweeshio cepat bangkit dan jalan keluar untuk berlalu dari gua itu, meskipun kedua lengannya sudah menjadi lumpuh, pemimpin partai Kong Tong terjebak ketika melawan tiga guru Toa Ciok Sie.

Bee Kun Bu telah lolos dari bahaya maut ia kenali bahwa suara itu adalah suaranya Pek Yun Hui, Setelah si Hwee-shio- hweeshio lari keluar, ia ingin memanggil Tapi segera ia merasa angin meniup ke arahnya, dan suara yang lemah lembut berkata: "Untung aku keburu datang, Jika tidak, Sumoymu akan menangisi kau sampai ia mati. "

Bee Kun Bu menarik napas panjang, dan berkata: "Ai! Pek Cici kembali menolong jiwaku lagi! Terima kasih, Tapi apakah Cici pun menolong Sumoyku?"

Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata: "Jika aku tolong ia, aku akan berdosa, Begitu ia dapat buka mulut ia pasti tanya Bu Kokonya, Seakan-akan Bu Kokonya itu berada di dalam kantongnya, Bukankah aku berdosa jika aku beritahukan bahwa aku tak tahu di mana Bu Koko-nya?"

Bee Kun Bu berkesimpulan bahwa Lie Ceng Loan telah ditolong juga, maka ia tak mendesak lagi, ia hanya berkata: "Pek Cici, budimu besar sekali Lagi-lagi kau datang menolong aku. "

"Sudahlah." Pek Yun Hui memotong. " Apakah kau ingin melihat Sumoymu?"

Tentu saja," sahut Bee Kun Bu, Tapi aku kini menderita sakit dan mungkin tak dapat berjalan."

Pek Yun Hui berpikir sejenak, karena bangau putihnya sedang menjagal Ue Ceng Loan, La!u ia berkata: "Bagaimanakah kalau aku gendong kau?" ia mendekati Bee Kun Bu dan mengusap-usap dahinya, ia terkejut "Ha! Ha! Ha! Kau betul-betul sakit berat! Sudah berapa hari kau menderita?"

Bee Kun Bu tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya ingin lekas-lekas menjumpai Sumoynya, Dengan sikap ragu-ragu ia berkata: "Jika Pek Cici menggendong aku, bukankah sangat berabe?"

Pek Yun Hui menjadi merah mukanya, ia tak dapat segera menyahut ia pernah memperlihatkan diri bahwa ia seorang wanita, Bagaimana ia dapat menggendong seorang pria? Bee Kun Bu juga menjadi cemas bahwa pertanyaannya tidak dijawab ia khawatir ia menyakiti hatinya, Bee Kun Bu menanya: "Cici, mengapa kau diam saja? Apakah aku telah salah omong? Apakah omongan-ku telah menyakiti hatimu?"

Dengan tersenyum Pek Yun Hui menyahut: "Aku hendak membawa kau melihat Sumoymu, tapi kau telah sebut-sebut soal kesusilaanku, sehingga aku menjadi ragu-ragu." Lalu air matanya mengucur

Bee Kun Bu menjadi makin cemas melihat kesedihan penolongnya ia berkata dengan khidmat: "Cici, mungkin aku telah salah omong, Tapi, pereayalah aku telah omong dengan setulus hati, dan tak mempunyai pikiran yang bukan-bukan, jika aku harus dihukum, aku akan menerimanya dengan rela." ia pun menjadi sedih, air matanya berlinang,

Pek Yun Hui yang sakti itu dapat melihat dengan tegas segala gerak-geriknya Bee Kun Bu meskipun di malam yang gelap itu, Melihat kedua matanya Bee Kun Bu berlinang, ia menghibur "Kau tak usah berkecil hati, aku tak akan salahkan kau."

Tapi mengapa Cici mengeluarkan air mata?" tanya Bee Kun Bu. Sambil usap kering air matanya Pek Yun Hui menyahut: "Orang mengeluarkan air mata bila ia merasa terharu atau bersedih Sudahlah!"

Ketika melihat pedangnya, Bee Kun Bu terkejut ia ingat akan Co Hiong yang sedang dikejar Hweeshio-hweeshio, ia berkata: "Cici, ada satu soal aku mohon bantuanmu."

"Soal apakah?" tanya Pek Yun Hui.

"Tadi aku telah melihat beberapa Hweeshio sedang mengejar kawanku, Aku khawatir kawanku itu tak dapat melawan mereka," kata Bee Kun Bu.

Dengan tertawa Pek Yun Hui berkata: "Apakah kawanmu itu yang berpakaian lucu dan membawa lingkaran ?"

"BetuI! Apakah ia pernah menyinggung Cici?" tanya Bee Kun Bu. "Dengan ilmu silat begitu saja, ia tak dapat membikin kurah," kata Pek Yun Hui. Tetapi manusia yang berwatak demikian, lebih baik jangan dibuat kawan!"

Bee Kun Bu tak mengerti arti kata ucapan terakhir Bukankah Co Hiong rela berkorban membantu ia mencari Sumoynya? sebegitu jauh, Co Hiong belum pernah menyinggung ia. Co Hiong hanya pernah mengomel tentang pemiliknya bangau putih yang dilepas berkeliaran Kedua belah pihak belum pernah bertemu, bagaimanakah Co Hiong telah menyinggung Pek Yun Hui? ia ingin menanya alasannya mengapa ia lebih baik tidak berkawan dengan Co Hiong, tapi ia khawatir ia hanya menentang kehendak penolongnya belaka, Maka ia diam saja

Pek Yun Hui melihat Bee Kun Bu menjadi bisu dengan peringatannya. ia menanya: "Apakah ucapanku menyinggung kau?"

Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya Bee Kun Bu berkata: Tidak, Harap Cici jangan curiga. Aku hanya memikirkan mengapa Cici membenci dia, meskipun Cici tidak mengenal padanya, Dia bukannya seorang yang jahat Dia hanya berwatak kejam, Terhadap aku, dia selalu suka membantu, Bahkan telah mengorbankan tenaga dan kuda ajaibnya membantu cari Sumoyku. Dengan singkat, aku berhutang budi kepadanya, Oleh sebab demikian, karena kini ia berada di dalam bahaya."

"Aku bisa tolong dia, Tapi, aku tidak sampai hati meninggalkan kau seorang diri di sini. Ayo, kita berdua pergi menolong padanya?"

"Menolong orang sama juga seperti menolong rumah terbakar, kita tak boleh terlambat kata Bee Kun Bu. "Jika kau pergi bersama aku yang sedang menderita sakit, aku hanya merupakan suatu beban, Aku suka menunggu di sini. Setelah Cici menolong Co Hiong, kita dapat bersama-sama pergi menemui Sumoyku." Pek Yun Hui bangun dan berkata sambil tersenyum: "Kau mau menunggu di sini? Tempat ini telah dikurung oleh Hweeshio-hweeshio yang dari kuil Toa Ciok Sie." ia berhenti sejenak, lalu berkata lagi: "Baiklah, aku pergi menolong kawanmu dahulu, segera aku kembali ke sini." Mendahului suaranya yang belum menghilang, dengan ilmu meringankan tubuh ia telah lenyap dari tempat itu!

Bee Kun Bu yang tak berdaya, berbaring lagi di tanah dengan demamnya yang hebat menanti kembalinya penolongnya di dalam gua itu. Sejenak kemudian ia mendengar suara orang mendatangi Tanpa melihat lagi ia menanyai "Ai, Cici sudah kembali! Betul-betul cepat!"

pertanyaan itu dijawab seorang wanita yang tegas: "Cepat? Aku khawatir datang terlambat Apakah pe-nyakitmu mendingan? Ayo, lekas-lekas makan buah Sie Can Ko ini.

Lalu kita lekas-lekas berlalu dari gua ini, karena Hweeshio- hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie segera datang mengejar kita!" Sambil bicara wanita itu sambil angkat kepalanya Bee Kun Bu disandarkan di dadanya, Lalu satu buah sebesar telur bebek yang sangat harum baunya dijejalkan ke mulutnya,

Baru saja buah itu menempel di mulutnya, bau harumnya tersebut segera membikin segar seluruh tubuh Bee Kun Bu. ia buka kedua matanya dan melihat- bahwa wanita yang datang itu adalah Giok Siu Sian Cu, disertai oleh Sin Goan Tong,

"Hei, Saudara angkat! Lekas-lekas telan buah itu! Buah itu adalah obat yang paling mustajab di kolong iangit, dan dapat menyembuhkan segala penyakit.,." seru Sin Goan Tong, "Aku Sin Goan Tong telah melatih ilmu tinju Sam Im Ciang (tiga tinju rahasia), dan malam ini aku menggunakan Sam Im Ciang itu untuk pertama kali. Betul saja hasilnya menakjubkan, karena tiga Hweeshio telah luka parah. Aku sebenarnya tidak suka menggunakan Sam Im Ciang kalau bukan untuk saudara angkat." Ucapan itu adalah untuk menganjurkan Bee Kun Bu lekas-lekas makan buah mustajab itu dan lekas-lekas sembuh, juga untuk memulihkan perasaan terhadapnya, Baru saja ucapan itu selesai, sekonyong-konyong terlihat dua sinar yang terang berkelebat di dalam gua itu. Sin Goan Tong balas menangkis dengan toyanya, dan berhasil menggeprak senjata rahasia yang dilontarkan ke dalam gua itu. ia membentak: "Hei, Hweeshio durhaka! Apakah kau datang ke sini mencari mati?" Lalu ia loncat keluar dan menyerang lawan yang berada di luar gua. Segera suara senjata beradu dari pertempuran yang sengit terdengar nyata.

Dalam keadaan yang berubah sangat tiba-tiba itu, Bee Kun Bu menunda menelan buah itu. Dari luar Sin Goan Tong berseru: "Hei! Lekas-lekas suruh saudara angkatmu makan buah Sie Can Ko, kita harus lekas-lekas berlalu! Hweeshio- hweeshio durhaka makin lama makin banyak yang datang, Jika terlambat akan membahayakan kita."

Datam keadaan yang demikian itu, Bee Kun Bu berpikir "Apabila aku binasa, segala sesuatu akan terbengkalai Aku harus sembuh, untuk dapat bertindak menolong Sumoyku." Lalu ia makan buah mustajab itu,

Buah Sie Can Ko betul-betuI buah mujizat dan mujarab yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit Setelah dimakan, segera terasa khasiatnya, Semua jatan darah terbuka, Semua jalan napas bebas, semua otot dan urat menjadi sehat dan kuat, bahkan orang yang makan merasa lebih muda. Dalam hanya jangka waktu yang singkat, Bee Kun Bu tidak merasa sakit lagi, ia betul-betul telah sembuh, ia berdiri dengan kedua matanya bersinar dan wajahnya segar Giok Siu Sian Cu merasa girang melihat perubahan itu. Sambil memegangi sebelah tangannya ia berkata: "Aku girang melihat kau sudah sembuh. Lebih baik kita berlalu dari gua ini segera, dan aku berdua Sin Goan Tong akan beresi makhluk di luar itu."

Bee Kun Bu merasa sangat berterima kasih atas jerih payah dan bahaya yang dialami oleh wanita itu dibantu oleh Sin Goan Tong, ia baru saja ingin mengutarakan rasa terima kasihnya, tiba-tiba suara pertempuran di luar gua semakin berisik dan seru, ia tak dapat tinggal diam, ia ambil pedangnya, dan dengan pedang terhunus ia ingin pergi keluar, Giok Siu Sian Cu yang melihat Bee Kun Bu sudah dapat berdiri, merasa sangat girang sekali, ia menanya: "Apakah kau sudah sembuh betul?"

Bee Kun Bu menyahut sambil tersenyum: "Terima kasih. Aku merasakan badanku sudah sembuh betul -betul, berkat buah Sie Can Ko yang kau berikan itu, Budi sebesar ini, aku Bee Kun Bu, tak akan lupakan." Lalu ia bertindak keluar dari gua itu,

Menampak Bee Kun Bu, demikian dingin Giok Siu Sian Cu menjadi sakit hati, Biasanya, terhadap orang yang perlakukan iademikian, ia tentu memberi hajaran, Tetapi ia seperti juga seekor ular sutera, telah melihat dirinya dengan tali asmara, ia tidak sampai hati melakukan pembalasan ia mengejar Bee Kun Bu dan berdiri di depannya seraya berkata: "Hweeshio- hweeshio dari kuil Toa Gok Sie semuanya lihay siIatnya. Kau baru saja sembuh, lebih baik jangan bertempur melawan mereka, Biarlah aku membuka jalan untuk kau lari ke tempat yang aman!"

Dengan sikap yang dingin Bee Kun Bu menyahut: "Setelah aku berlalu dari gua ini, aku akan berusaha sendiri mencari jalan keluar."

Giok Siu Sian Cu berkata lagi: Tanpa aku sebagai penunjuk jalan, kau tak dapat keluar dari pegunungan ini."

Dengan tegas Bee Kun Bu menyahut: "Aku bisa datang ke pegunungan Cie Lian San, dan aku bisa keluar juga." Lalu ia loncat keluar,

Di luar Sin Goan Tong sedang sibuk melawan delapan Hweeshio yang bersenjata kaitan dan lembing pendek, Bee Kun Bu harus membuka jalan melalui Hweeshiohweeshio itu untuk berlalu dari tempat itu, karena semua tempat seakan- akaan dikurung oleh Hwee-shio-hweeshio itu, Dari belakangnya ia merasakan hembusan angin, ternyata Giok Siu Sian Cu telah membantu melawan Hweeshio-hweeshio itu, Bantuan ini membesarkan hatinya Sin Goan Tong. Satu sabetan dari toyanya ia desak mundur seorang Hweeshio, dan satu tendangan lagi mengirim Hweeshio itu terguling jatuh ke bawah jurang!

Sin Goan Tong sendiri dapat melawan delapan Hweeshio- hweeshio itu, Dengan dapat bantuannya Giok Siu Sian Cu, maka dalam sekejap saja dua Hweeshio menderita luka parah. Demikianlah dari kedelapan Hweeshio telah ketinggalan lima orang. Sin Goan Tong, yang melihat Bee Kun Bu hanya menonton, segera ia ingin memperlihatkan kelihayan ilmu silatnya, Dengatr satu seruan, ia menyerang dengan beringasnya dua Hweeshio sekaligus dengan toyanya, sedangkan sisanya, satu persatu dibikin jatuh terjungkal oleh Giok Siu Sian Cu.

Dengan kesempatan itu Bee Kun Bu loncat keluar dari tempat itu untuk kemudian menuju ke lereng gunung, Tapi gerak-geriknya telah diperhatikan oleh Giok Siu Sian Cu yang menjadi makin sakit hati. ia berpikir HJika aku kejar Bee Kun Bu, Sin Goan Tong pasti mengikuti aku. Dengan silatnya berbandingan dengan si ia t ku, ia dapat selalu mengganggu kehendakku Paling baik dengan kesempatan ini aku beresi ia du!u, dan aku masih mempunyai cukup waktu untuk mengejar Bee Kun Bu." Dengan ketetapan itu, ia membiarkan Bee Kun Bu ngeloyor pergi,

Sin Goan Tong juga telah memperhatikan Bee Kun Eu, tetapi ia mempunyai perhitungan lain, ia masih merasa curiga bahwa Bee Kun Bu itu adalah saudara angkatnya Giok Siu Sian Cu, maka larinya Bee Kun Bu adalah hal yang ia harapkan,

Dengan perhitungan-perhitungan yang berlainan itu, mereka terus melawan Hweeshio-hweeshio itu, Sin Goan Tong sengaja memperpanjang waktu memberikan kesempatan Bee Kun Bu lari lebih jauh, dan Giok Siu Sian Cu mencari kesempatan menghantam Sin Goan Tong. Setelah semua Hweeshio dihajar kucar-kacir, tiba-tiba dengan ilmu Hiap San Cao Hai atau menjepit gunung loncat ke laut, Giok Siu Sian Cu menyerang Sin Goan Tong, Sin Goan Tong terkejut, ia lekas-lekas mengegos sambil kirim satu jotosan ke arah serangan itu, justru pada saat itu, terdengar suara tertawa yang keras dan lama, dibarengi tampaknya bayangan putih yang turun dari atas ke tanah dan mendesak mundur Sin Goan Tong tiga kaki, Giok Siu Sian Cu juga terdesak mundur, dan insyaf bahwa lawan yang kuat telah datang, ia balik menyerang musuh yang baru datang dengan demikian ia membantu Sin Goan Tong lagi,

Orang yang baru datang itu betul-betul tinggi ilmu silatnya, Dengan tangan kanannya ia tahan serangan Giok Siu Sian Cu dengan ilmu Hun Ceng Ceng Tan atau angin taufan menyapu abu, dan dengan tangan kirinya ia kirim satu jotosan dengan ilmu Sin Liong Hian Cao atau naga sakti membuka kuku kepada Sin Goan Tong, Kedua lawannya harus mundur lagi untuk mengelakkan jurus-jurus yang berbahaya itu, Lalu dengan suara keras ia membentak Sin Goan Tong: "Hweeshio-hweeshio dari kuil kami belum pernah berselisih dengan partaimu, mengapa kau menghajar mereka? Dan dengan ilmu tinju Sam Im Ciangmu kau telah melukai murid- murid kami, bahkan datang masuk ke tempat terlarang di kuil kami mencuri buah Sie Can Ko. Apakah maksudmu?"

Orang yang membentak itu adalah seorang Hweeshio berjubah putih, tubuhnya kecil dan kate, berusia enam puluh tahun lebih, dan adalah salah satu dari ketiga guru dari Hweeshio-hweeshio di kuil Toa Ciok Sie. Dengan sikap waspada Sin Goan Tong memandang ke arah Hweeshio yang kecil dan kate itu, ia berpikir Hweeshio tua ini sampai keluar dari kuil! urusannya pasti makin sulit dan gawat kali ini aku rupanya harus bertempur mati-matian untuk meloloskan diri!" Sebelum ia menyahut ia memandang ke arah Giok Siu Sian Cu, dan berbisik: "Hweeshio yang datang itu adalah salah satu ketiga guru dari kuil Toa Ciok Sie dan bernama Ku Hoat Leng Kong, Kita harus melawannya dengan hati-hati!" Giok Siu Sian Cu menyengir dan menyahut: "Mustahil kita berdua takut melawan dia seorang?"

Belum lagi Sin Goan Tong menyahut, Ku Hoat Leng Kong telah mengawasi Giok Siu Sian Cu, dan membentak "Liehiap ini mungkin orang yang pernah curi buah Sie Can Ko pada tiga tahun berselang!"

Dengan tabah Giok Siu Sian Cu menjawab: "Betul! Orang itu atau tepatnya Hweeshio yang baru datang sungguh tinggi Ilmunya, dengan tangan kanan menahan serangan Glok Siu sian Cu, tangan kirinya menggunakan ilmu Naga Saktl membentangkan kuku, menyerang Sln Goan Tong.

Buah Sie Can Ko itu betul-betul mustajab Tiga tahun berselang aku pernah makan satu, dan aku tak bisa lupa. Setelah lewat tiga tahun, aku kembali datang untuk mengambil satu iagi!"

Ketika itu beberapa Hweeshiohweeshio yang telah dipukul jatuh telah datang lagi, maka Ku Hoat Leng Kong menanya: "Kalian datang dengan berapa orang?"

seorang Hweeshio yang berjubah kuning menyahut sambil membungkukkan diri: Teceu telah datang dengan delapan orang, tetapi empat diantaranya telah luka parah, dan dua diantara mereka belum ketahuan apakah masih hidup atau sudah mati."

Dengan kedua mata terbelalak Ku Hoat Leng Kong memandang kepada Sin Goan Tong, kemudian kepada Giok Siu Sian Cu. ia membentak: "Rupanya kalian berdua anggap diri kalian pandai ilmu silatnya karena telah mengalahkan delapan murid-muridku!" Lalu secepat kilat ia menyebutkan kedua lengan bajunya dengan ilmu Soan Hong Sao Hay atau angin taufan menyapu lautan.