Bangau Sakti Jilid 06

 
Jilid 06

"Saudara Co tak dapat pergi seorang diri, Aku harus menyertai kau," kata Bee Kun Bu.

Co Hiong tidak menyahut ia mengawasi sikap si hweeshio yang tak dapat melarang Bee Kun Bu lagi turut serta, ia lalu keluar dari ruang yang besar itu, diikuti oleh Co Hiong dan Bee Kun Bu. Kedua orang itu mengikuti si hweeshio. Setelah keluar dari pintu belakang dan melalui kebun pohon-pohon cemara, mereka menuju ke suatu bukit yang curam. Bee Kun Bu merasa heran, "Mengapa Tong Leng Tan Su tidak tinggal berdiam di dalam kuil itu?" pikirnya,

Co Hiong pun menjadi cemas, ia mengingati jalan yang telah dilalui, ia berpikir lain daripada pikirannya Bee Kun Bu. "Bukit yang agak curam itu mungkin, ada perangkapnya untuk menjebak aku," ia pikir,

Setelah mendaki bukit yang agak curam, mereka harus turun melalui jalan kecil yang berliku-liku ke suatu lembah. Sambil berjalan Co Hiong memperhatikan bahwa jalan itu makin lama makin menjadi sempit, sehingga setelah berjalan setengah lie jauhnya, jalan itu hanya dapat dilewati oleh seorang, karena tembok jurang yang tebing menjepit jalan yang sempit itu! ia jalan tidak mau terpisah jauh di belakang si Hweeshio itu, karena ia bertekad jika ia dijebak, lebih dahulu ia pukul mati Hweeshio di depan nya!

Si Hweeshio berjalan cepat sekali, dan setelah melewati beberapa bilik mereka menyaksikan suatu pemandangan yang berlainan Di hadapan mereka tampak satu lembah yang iuas, Di ujung lembah berdiri tegak satu puncak, dan di belakang puncak itu terlihat lagi tiga puncak gunung. sebidang lapangan rumput yang luasnya hanya lima depa persegi terletak di tengah-tengah ke-empat puncak itu, Lalu si Hweeshio menunjuk ke arah kaki puncak yang berada di tengah sambil berkata: Tong Leng Tan Su kini berada di dalam gua di kaki puncak gunung itu! Kalian boleh masuk ke dalam gua menjumpai beliau!"

Co Hiong memperhatikan bahwa lubang gua itu hanya empat lima kaki lebarnya, tapi sangat dalam agaknya. ia hendak segera masuk, tapi Bee Kun Bu menahan: "Saudara Co, kau tunggul aku di luar gua. Biarlah aku masuk ke dalam memeriksanya!"

Tapi Co Hiong sebaliknya menahan Bee Kun Bu masuk, ia berkata: "Di dalam gua dari gunung ini mungkin ada banyak ular berbisa atau binatang yang ganjil dan berbahaya. Aku harus menanya si Hweeshio dulu." Si Hweeshio menyahut dengan menyengir "Orang yang berani berkelana pasti tidak takut terhadap ular atau binatang buas, Jika kalian takut, masih ada kesempatan untuk mundur!"

jawaban Hweeshio itu membikin Co Hiong agak malu, ia buka lebar kedua matanya dan membentak: "Meskipun gua naga atau harimau, aku tidak takut memasuki nya. Tapi jika aku masuk ke dalam gua tidak menjumpai Tong Leng Tan Su, aku pasti bunuh mati kau dan potong hancur mayatmu!"

Si Hweeshio tertawa gelak-gelak dan menyahut: "Jika kau masuk, kau pasti binasa! Mana bisa keluar membunuh aku lagi?! Ha! Ha! Ha!"

Omongannya Hweeshio itu membikin Co Hiong lebih bernafsu lagi untuk masuk ke dalam gua itu. ia berkata kepada Bee Kun Bu, suaranya rendah: "Sa udara Bee, kau jaga Hweeshio ini. jangan sampai ia lari! Aku masuk ke dalam gua untuk menyelidikinya, Jika ia menipu kita, nanti setelah aku keluar, aku berikan ia hajaran!" Lalu dengan secepat kilat ia lari masuk ke dalam gua, meskipun Bee Kun Bu coba menahannya, sambil berseru: "Saudara Co, biarlah aku yang masuk!"

Si Hweeshio berkata kepada Bee Kun Bu: "Kalian berdua harus ada seorang yang hidup untuk mengurus mayat yang lain. ia rupanya ingin mati, Biarlah ia mati, dan kau boleh bawa pulang mayat nya!"

Ejekan itu membikin murka Bee Kun Bu. ia membentak "Mengapa kau berani pastikan ia tentu binasa?"

"Kau tidak pereaya? Lihat sajalah!" sahut si Hwee-shio, Bee Kun Bu lalu loncat dan ingin masuk ke dalam gua. Tapi si Hweeshio loncat dan berdiri di mulut gua itu menghalangi sambil membentak: "Kau ingin masuk ke dalam? Kau harus menunggu kawanmu keluar Apakah kau tak mengetahui peraturan dari Tong Leng Tan Su?!" Bee Kun Bu terkejut ia dengan wataknya yang lemah lembut dan perasaan halus pikir lebih baik menurut peraturan ia terpaksa menunggu di luar gua.

Betul saja selang tak lama, dari gua itu tiba-tiba terdengar suara jeritan yang disertai hembusan angin yang sangat keras, Co Hiong dengan kedua tangannya menjaga dadanya dan wajahnya pucat terdorong keluar dari gua itu!

Bukan main terkejutnya Bee Kun Bu. ia tubruk Co Hiong dan menanya: "Saudara Co, mengapakah kau? Apakah kau terluka?"

Co Hiong tak segera menjawab, ia hanya mengawasi Bee Kun Bu. ia sedang mengeluarkan tenaga dalamnya dan wajahnya sangat mengkhawatirkan sekali! Bee Kun Bu segera melihat bahwa kawannya telah menderita luka parah, ia terharu dan air matanya tak tertahan mengucur keluar ia berkata dengan tersedu-sedu: "Hai! Saudara Co, karena urusanku, saudara menderita luka parah! AL.!"

Tapi Co Hiong geleng-geleng kepalanya sambil tersenyum.

Bee Kun Bu membantui dia duduk di atas rumput Empat lingkaran emas di tangannya masih ketinggalan dua. "la pasti telah bertempur dan menggunakan lingkaran-Iingkaran emasnya itu! Tapi mengapa ia terdorong keluar dan menderita luka parah?" pikir Bee Kun Bu. Sambil duduk di atas rumput, Co Hiong coba menggunakan ilmu mengimbangi tubuh untuk memulihkan tenaga dan menyembuhkan luka nya. Perlahan- lahan ia bangkit

Lalu dari kantong di dadanya ia keluarkan dua butir pil untuk ditelan, Sejenak kemudian ia tersenyum dan berkata: Tong Leng Tan Su betuI-betul lihay sekali ilmunya. Setelah aku masuk ke dalam gua, aku harus menahan dua jotosan nya, dan aku tak dapat bertahan jotosan yang ketiga lebih dahsyat lagi, Aku keburu menangkis, dan jotosan itu telah melukai tubuhku, Hanya dengan menggunakan lingkaran- lingkaran emas yang ampuh aku terhindar dari bahaya maut dan melarikan diri!" "Apakah kau menderita luka parah?" tanya Bee Kun Bu dengan perasaan khawatir sekali. "Aku telah telan dua pil mustajab," sahut Co Hiong, "Dan aku yakin jiwaku tak terganggu karena pil mustajab dari guruku itu yang diperolehnya dari seorang tabib pandai, Sao Kong Gic Dalam tiga bulan jika sakitnya tak datang lagi, semua luka sudah sembuh, Tetapi jika dalam tiga bulan aku merasa sakit lagi, asal saja tak ada bagian yang hancur, tabib Sao Kong Gie itu pasti dapat menyembuhkan luka-Iuka itu.

Tapi saudara Bee tak dapat segera menemui Tong Leng Tan Su. inilah yang membikin aku gelisah, Aku harus segera kembali ke utara propinsi Kwi-ciu untuk mengajak kawan- kawan yang lebih lihay ilmu silatnya dari markas Thian Liong untuk menaklukkan Tong Leng Tan Su itu. saudara Bee, aku menyesal sekali, usaha kita tak berjalan lancar Tapi kau berjanji aku tak akan berhenti sebelum usaha ini berhasil

Bee Kun Bu menoleh ke belakang melihat si Hwee-shio yang rupanya agak terkejut Mungkin si Hweeshio terkejut karena Co Hiong telah luput dari bahaya maut.

Hweeshio itu yakin betul Co Hiong pasti binasa di bawah tinju dahsyat Tong Leng Tan Su, tapi ia ternyata hanya luka parah!

Setelah melihat Co Hiong dapat bicara, kekhawatir-an Bee Kun Bu agak sedikit reda. ia berkata: "Sa udara Co kembali ke markas di propinsi Kwi-ciu untuk mengajak jago-jago silat akan memakan waktu agak lama, Aku pun berkehendak ingin coba menjumpai Tong Leng Tan Su itu. Lagi pula, setelah ia mengirim tiga jotosan kepada kau, ia pasti telah keluarkan banyak tenaga, sebaliknya tenagaku masih utuh. Baiklah aku mencoba memasuki-nya."

Co Hiong yang mengetahui bahwa Bee Kun Bu tak dapat ditahan karena ingin lekas-Iekas menolong Sumoynya, ia hanya dapat menyahut "Jika saudara Bee ingin tnencoba, aku pun tak dapat mencegahnya. Hanya kau harus waspada, Aku menunggu di luar." Tapi si Hweeshio mengejek: "Orang yang menanti mati tak dapat dicegah meskipun dibujuk! Ha! Ha!" Bee Kun Bu tidak gubris ejekan itu. Secepat kilat ia loncat masuk ke dalam gua, Setelah ia berjalan melalui dua bilik, suasana mulai menjadi tegang. Dinding di kedua samping jalan masuk ke dalam gua itu makin lama makin lebar, tapi masih tetap gelap, Dengan mata kepalanya yang tajam ia mengawasi ke depan dan melihat kira-kira dua depa di depannya ada bayangan berwarna abu-abu, agaknya satu orang sedang duduk bersila.

Bee Kun Bu anggap bayangan abu-abu itu pasti Tong Leng Tan Su yang sedang duduk bersila, ia kumpulkan tenaga dalamnya, siap sedia menangkis serangan Lalu ia bertindak maju dengan waspada,

Ketika ia berada lebih kurang lima kaki jauhnya dari orang yang duduk bersila itu, ia merasa embusan angin yang keras menyerangnya, Dengan kedua tinjunya ia menahan serangan itu, Betul ia dapat menahan embusan angin yang menyerang itu, tapi ia merasakan kehilangan keseimbangannya. ia merasa mabuk kepala dan berjalan sempoyongan jotosan kedua dilepaskan lagi oleh orang yang duduk bersila itu, dan jotosan itu lebih hebat daripada jotosan yang pertama.

Untuk menahan serangan embusan angin yang timbul dari jotosan itu, Bee Kun Bu harus mengeluarkan semua tenaga dalamnya, dan ia pun terdorong mundur sampai empat lima kaki ke belakang Ketika itu ia merasa matanya berkunang- kunang, kupingnya pekak dan kepalanya pening, ia lekas- lekas mengeluarkan ilmu mengimbangi tubuhnya, Tapi lawannya mengirim lagi jotosan ketiga,

Karena ia ingat penuturan Co Hiong yang mengatakan bahwa tinju ketiga luar biasa dahsyatnya, ia tak berani menahan serangan itu. ia lekas-lekas mengegoskan hembusan angin yang timbul dari tinju itu, dengan bertindak minggir dan kedua tangannya menjaga dadanya, Di tempat atau jalan yang hanya empat lima kaki luasnya itu tak dapat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dengan tak terasa olehnya, ia telah menggunakan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu (tindakan ajaib) yang ia telah dapat pelajari dari Pek Yun Hui sambil mengirim jotosan dengan ilmu Po Si Ciang (menjotos bintang) dari Ngo Kong Taysu, Dengan tak terasa olehnya serangan ketiga yang dahsyat itu telah dipunahkan dengan mudah olehnya,

Meskipun telah melepaskan tiga tinju, Tong Leng Tan Su masih juga tak dapat menahan Bee Kun Bu, tetapi sebaliknya ia telah diserang oleh angin yang dilepas dari tinju Po Sin Ciang, ia berpekik, lalu menjotos dengan kedua tinjunya berbareng terus-menerus sampai tujuh ka!i. BetuI Bee Kun Bu berada lebih dekat dari ia, dan tinju-tinju itu dilepaskan lebih dahsyat, tetapi dengan ilmu Ngo Heng Bu Cong Pu (langkah ajaib) yang luar biasa sekali, semua serangan-serangan yang dahsyat itu dapat dibuyarkan dengan mudah sekali!

Setelah Bee Kun Bu berhasil membuyarkan serangan- serangan yang dahsyat itu, dan ia ingin maju ke depan, tiba- tiba Tong Leng Tan Su berseru: "Ai! Ombak dari sungai Yo Cu mendorong ombak yang di depan, Angkatan muda menggantikan tempat angkatan tua! Aku ini betuI-betul sudah dan harus diganti!"

"Tapi Bee Kun Bu telah datang mohon menjumpai angkatan tua Tong Leng Tan Su, seraya menghaturkan selamat!" Lalu ia maju dan berlutut di hadapan Hweeshio tua itu,

Si Hweeshio tua menarik napas panjang, lalu menyahut "Harap maafkan si tua bangka ini yang telah menjadi orang caeat, maka tak dapat bangun menyambut dengan selayaknya pada siotee, silahkan duduk dan bicara dengan si tua bangka ini!"

Bee Kun Bu terus berlutut sambil menyahut: "Siotee datang mohon menjumpai angkatan tua dengan suatu maksud, dan mohon petunjuk."

"Bangunlah," seru si Hweeshio tua. Bee Kun Bu bangun dan memperhatikan bahwa Hweeshio itu berewokan dan duduk bersila di atas satu tempat duduk yang dibuat dari rumput ia mengenakan baju abu-abu. Wajahnya yang seram, ditambah dengan kedua matanya yang bersinar dan giginya yang putih membikin ia kelihatannya seperti makhluk dari dunia lain. Dengan membesarkan hati Bee Kun Bu bertindak lebih dekat lagi, Lalu Tong Leng Tan Su tertawa gelak-gelak dan berkata: "Siotee kau tak usah khawatir lagi! Kau telah dapat menahan tiga tinjuku dan serangan kedua tinjuku yang bertubi-tubi, Aku si tua bangka tak dapat melawan kau lagi!

Selama hampir sepuluh tahun ini aku belum pernah bertemu manusia, Siotee telah berhasil masuk, marilah duduk di sampingku."

Bee Kun Bu mengangkat kedua tangannya memberikan hormat, lalu berkata: "Siotee datang hanya mengganggu Taysu!" Tong Leng Tan Su mengawasi Bee Kun Bu dari atas sampai ke bawah sebelumnya ia berkata: "Melihat jejakmu, kau tak dapat menahan serangan-serangan tinjuku, Tapi mengapa semua serangan-serang-an tinjuku kau telah berhasil membuyarkannya?

Di tempat yang sempit ini, meskipun betapa lihaynya ilmu meringankan tubuhmu, kau pasti gagal menyelamatkan diri dari serangan-seranganku, Tapi Siotee telah berhasil mengegoskan nya, bahkan membuyarkan serangan- seranganku, ilmu apakah yang telah kau gunakan? ilmu yang lihay itu aku baru menyaksikan pertama kali, Siotee pasti mempunyai seorang guru yang sakti," ia berhenti sejanak, lalu menanya: "Aku yang telah menjadi cacat ini, dapat menolong Siotee dengan cara apakah?"

Dengan hormat Bee Kun Bu berkata: Taysu sedang bertapa di dalam gua ini, dan Siotee datang mengganggu Siotee menghaturkan maaf." Sambil tersenyum Tong Leng Tan Su berkata: "Siotee bukan saja ilmu silatnya lihay, bahkan wataknya juga sangat mufia, Siotee ada urusan apakah yang aku si cacad ini dapat menolongnya, Sebutlah!"

Bee Kun Bu mengetahui bahwa si Hweeshio tua ini dulunya pasti seorang jago silat yang lihay sekali, Kini ia tinggal terpencil di tempat ini, jika bukan ingin bertapa memperdalam ilmunya, tentu ada sesuatu yang akan ditunaikan sebelum menutup mata, Setelah diminta oleh si Hweeshio tua itu untuk memberitahukan urusannya,

Bee Kun Bu lalu menuturkan dengan jelas peristiwa Sumoynya, Lie Ceng Loan diculik oleh orang-orangnya partai silat Thian Liong, tapi dirampas lagi oleh kedua Hweeshio, karena inilah sehingga ia dan Co Hiong datang ke kuil Yun Bu Sie. Tentang peristiwa pertempuran antara Co Hiong dan Hweeshio di kuil Yun Bu Sie ia tidak ceritakan.

Tong Leng Tan Su mendengarkan penuturan itu dengan penuh perhatian, dan setelah penuturan itu se-lesai, seluruh tubuhnya gemetaran, ia tarik napas panjang sebelumnya ia berkata: "Jika orang-orangku telah melakukan perbuatan yang durhaka itu, aku betul-betuI malu sekali, Mereka betuI-betul telah menodakan namanya Hud-co. Urusan ini sangat besar jika aku harus menceritakan riwayatnya kedua Hweeshio yang durhaka itu, kau pasti tak menghiraukan bahaya untuk segera mencari Sumoymu, Mungkin kau pergi untuk tak dapat kembali lagi!"

Mendengar jawaban itu, Bee Kun Bu menjadi heran, ia menanya lagi: "Aku mohon Taysu memberitahukan ke mana Sumoyku telah dibawa dan aku merasa berterima kasih!"

Tong Leng Tan Su pejamkan kedua matanya dan tidak menyahut Seluruh tubuhnya gemetaran menunjukkan perasaan terharu nya, AJr matanya mengucur ke-luar, dan ketika ia angkat lengan bajunya untuk menyusut air matanya, Bee Kun Bu lihat bahwa kedua betisnya telah buntung!

Dengan tak terasa Bee Kun Bu menanya: "Taysu! Mengapa kedua betis Taysu itu?!"

Hweeshio itu tidak segera menjawab ia mengawasi Bee Kun Bu lalu menanya: "Bagaimanakah pendapatmu tentang ilmu silatku?" Bee Kun Bu menyahut: "Lihay sekali! Terutama tenaga dalam Taysu." Hweeshio itu anggukkan kepalanya dan berkata: "Meskipun kau mempunyai kepandaian silat yang lihay, dan telah dapat mempelajari ilmu-ilmu silat dari beberapa guru-guru yang sakti, tapi menurut pendapatku tenaga dalammu masih terus harus diperbaiki Untuk menolong Sumoymu, kau harus memperbaiki ilmu tenaga dalammu, SebetuInya, menurut peraturan-per-aturan di kalangan Bu Lim. " ia berhenti sebentar, lalu merangkapkan kedua

tangannya, dan memohon doa: "Hud-co yang maha sakti! Ampunilah hamba untuk membuka rahasia ini!"

Air matanya mengucur lagi. ia seka kedua matanya dan melanjutkan pembicaraannya itu. Bee Kun Bu insyaf bahwa Hweeshio itu merasa berat sekali untuk membuka suatu rahasia, tapi guna ia menolong Sumoynya, Hweeshio itu terpaksa akan membuka rahasia juga, Selesai Tong Leng Tan Su sembahyang minta ampun untuk membuka rahasia, ia muIai: "Aku telah mendapat kabar bahwa Sumoymu telah dibawa ke tempat perguruanku Karena aku telah melanggar peraturan partaiku, aku telah dihukum dan diusir keluar!"

Hukumannya seperti kau lihat, ialah kedua betisku di potong putus, Bahkan dua murid kesayanganku juga telah diusir keluar! Dengan jerih payahku dan kedua muridku, setelah mengalami banyak kesukaran dan kesulitan dan mengatasi segala rintangan selama beberapa tahun, kami berhasil datang ke pegunungan Tay Ouw San ini dan membangun kuil Yun Bu Sie. Karena aku telah kehilangan dua betis, aku tak sudi menjumpai orang lain, Gua ini tepat sekali untuk maksudku bertapa.

Sebelumnya aku diusir keluar kedudukanku di dalam partai silat itu agak tinggi, maka setelah aku tinggal terpencil di gua ini masih ada banyak murid-muridku yang dengan diam-diam telah datang dengan hasrat menjumpai aku. Mereka tidak berani datang terang-terangan, karena peraturan dari partaiku sangat keras itu: orang-orang yang telah diusir keluar tak dapat dikunjungi oleh murid-muridnya lagi. Bilamana seorang murid ketahuan datang mengunjungi orang yang telah diusir keluar itu, maka murid itu akan dihukum mati! Untuk menghindarkan peristiwa yang aku tak ingini itu aku sengaja tinggal di dalam gua ini, dan mengadakan peraturan yang gila-gila, ialah siapa saja yang berkeras mau menjumpai aku, harus menerima jotosan- jotosanku yang dahsyat Selama hampir sepuluh tahun ini, tidak sedikit orang, termasuk juga murid-muridku, yang berkeras kepala datang ke dalam gua ini menjumpai aku, tapi mereka semuanya tak tahan serang-an-serangan tinjuku. "

Baru saja ia bicara sampai di sini, tiba-tiba dari mulutnya keluar darah dan tubuhnya agak limbung.

Bee Kun Bu terkejut, lekas-lekas ia pegangi pundaknya sambil menanya: Taysu! Taysu! Kau kenapa.,.?"

Tong Leng Tan Su berjengkit dan melanjutkan "Ketika aku diusir keluar, aku telah ditotok jalan darahku, dan totokan itu menembusi tulang-tulangku. jalan darah jantung dan lambungku telah ditotok, sukar dibebaskan, kecuali oleh beberapa paman-paman guruku. "

"Apakah Taysu tak dapat membebaskan sendiri?" tanya Bee Kun Bu.

"Aku hanya mengerti sedikit, sehingga dewasa ini aku masih tak berhasil membebaskan seluruhnya, Aku hanya berhasil mempertahankan diri dari kematian!" sahut Hweeshio itu, Totokan yang menembusi tulang-tulangku itu tidak membikin aku binasa, tapi bukannya berarti memberi ampun kepadaku, Aku pun hanya dapat hidup lebih kurang sepuluh tahun, Tadi aku menyerang kau, dan aku telah menggunakan tenaga terlampau besar, maka tempat yang telah ditotok telah mengeluarkan darah!"

Bee Kun Bu menghaturkan maaf dengan berkata: "Diluar dugaan, Siotee telah membikin Taysu menderita lagi-"

Hweeshio tua itu geleng-geleng kepala dan berkata: "Meskipun aku tidak mengeluarkan tenaga, aku pun tak dapat hidup enam bulan lagi, Dengan bertapa di dalam gua ini, aku ingin dapat memperdalam ilmu tenaga dalamku agar dapat menyembuhkan luka-Iuka totokan itu, Tapi setelah aku berusaha selama hampir sepuluh tahun ini, ternyata usahaku itu sia-sia belaka! Dalam beberapa bulan ini, aku pun telah merasa bahwa nyali, limpa dan usus-ususku mulai menjadi kaku.

Tiap-tiap jam empat pagi hari di tempat totokan-totokan menjadi pedih dan sakit seperti diiris, Oleh karena itu, aku yakin bahwa ajalku semakin dekat Dengan masih mempunyai kesempatan ini, aku buka rahasia kejahatan-kejahatan partai silatku itu, Betul perbuatan demikian seakan-akan aku berbuat khianat terhadap partai silatku, tapi aku yakin dengan kejahatan-kejahatannya atau perbuatan-per-buatannya yang durhaka aku telah menebus dosaku, bukan...?H Ketika itu darah keluar lagi dari mulut dan hidungnya, dan seluruh tubuhnya bergemetaran, Bukan main penderitaannya, sehingga Bee Kun Bu menjadi bingung. ia hanya dapat memegangi pundaknya agar Hweeshio tua itu tidak jatuh!

Setelah darah berhenti dari mulut dan hidungnya, Hweeshio itu melanjutkan kisahnya: "Murid-muridku tidak mengetahui bahwa aku bertapa di dalam guaini untuk berusaha mencari jalan menyembuhkan luka-Iuka di dalam tubuhku, pertama kali melihat kau, aku pun tak berniat membuka rahasia ini kepadamu.

Tapi setelah aku mempertimbangkan lagi, apabila aku tak membuka rahasia ini, kau tak dapat menolong Sumoymu, dan orang-orang tak akan mengetahui bahwa di dalam kuil yang mewah yang terletak di tengah-tengah pegunungan yang tinggi telah berkumpul sekelompok manusia yang berjubah, berwajah murah hati tapi hatinya jahat dan kejam, Hweeshio- Hweeshio di dalam kuil itu tak segan-segan melakukan segala kejahatan Aku menyesal pernah menjadi salah satu anggotanya!" Kedua matanya terbelalak ketika ia katakan itu, karena terlampau gemasnya, ia singkirkan tangannya Bee Kun Bu yang memegangi pundaknya, dan meneruskan "Kuil itu adalah sarang dari binatang-binatang yang berbentuk manusia, dan terpencil sekali, Beberapa paman-paman guruku mempunyai kepandaian silat yang tinggi sekali, dan orang yang dapat melawan mereka jumlahnya sedikit sekali."

"Di dalam kuil itu telah tumbuh sebuah pohon yang ajaib dan buahnya bernama Sie Can Ko. Buah itu sangat mustajab Buah itu dapat menghidupkan orang yang sudah mati, membikin orang tua menjadi muda kembali, dan menambah tenaga, Buah ajaib itulah yang mendorongi mereka melakukan perbuatan yang sewenang-wenang dan durhaka!"

Mendengar perihal buah Sie Can Ko itu, Bee Kun Bu memotong dengan pertanyaan: "Apakah kuil yang Taysu ceritakan itu bukannya kuil Toa Ciok Sie yang terletak di pegunungan di tapal batas antara propinsi Kansu dan propinsi Ceng Hay?"

Dengan wajah yang terperanjat Hweeshio itu menanyai "Bagaimana kau ketahui?"

"Aku pernah dengar tentang buah Sie Can Ko itu, Ketika Taysu sebut buah Sie Can Ko, Siotee segera menanya," sahut Bee Kun Bu.

"BetuI, kuil itu adalah kuil Toa Ciok Sie yang terletak di puncak Ceng Yun Giam di pegunungan Cie Lian San. Aku pernah membujuk para paman guruku jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang durhaka, tetapi aku diusir sebetulnya ju)ukanku It Beng Tan Su. Setelah aku pindah di sini, aku tukar menjadi Tong Leng Tan Su.,.," Lalu darah keluar lagi dari mulutnya, dan kepalanya pening. Bee Kun Bu lekas-lekas memegangi tubuhnya dan berusaha menguruti jalan darah jantung dan nyalinya.

Setelah lewat seperempat jam, Tong Leng Tan Su tenang kembali ia buka kedua matanya, dan sambil mengge!eng- gelengkan kepalanya ia berkata: "Aku rasa ajalku sudah dekat Siotee, kau lebih baik jangan pergi ke kuil Toa Ciok Sie. Tapi jika kau berkeras ingin pergi juga, kau harus membawa banyak jago-jago silat yang betuI-betuI lihay. Cara kau membikin punah serangan-seranganku tadi merupakan suatu ilmu silat yang ampuh sekali, Dengan tindakan atau langkah ajaib kau dapat meng-egoskan dan menyerang

Aku yakin ilmu silat tersebut bukannya ilmu silat partai Kun Lun. Kau pasti dapat mempelajari ilmu itu dari seorang yang sakti, Dan ilmu yang lihay itu mungkin dapat digunakan melawan Suhu dan Susiok-Susiokku. " Ketika itu Tong Leng

Tan Su telah menjadi sangat lelih, dan napasnya sudah senin kemis, Tapi ia memaksakan diri dan bicara terus: ". beberapa

paman-paman guruku.,, bukan saja ilmu silatnya lihay terutama paman guruku yang ketiga, Hian Hsi, ia telah memahami ilmu tinju Pek Tok Ciang (tinju beracun seratus jurus). dan satu jotosan dari Pek Tok Ciang itu pasti

membinasakan lawan, Serangan-serangan-nya itu hanya...

dapat dibuyarkan dengan Kan Goan Cit Shin Long (ilmu tenaga jari sakti). "

Si Hweeshio tak dapat meneruskan lagi, ia betul-betul sudah payah, Lalu kedua matanya terbelalak, dan dua biji matanya terbalik ke atasi Darah keluar lagi dari mulut dan hidungnya, ia menjerit, dan pejamkan kedua matanya, lalu menarik napas yang penghabisan! Bee Kun Bu menjadi bingung menyaksikan cara binasanya Hweeshio itu.

Ia menyesal, karena menurut pendapatnya, jika ia tak datang menjumpai Hweeshio itu, maka Hweeshio itu tak usah mengeluarkan banyak tenaga, dan mungkin ia masih dapat hidup beberapa bulan atau beberapa tahun. ia menyesal dan merasa sedih. ia berlutut di hadapannya dengan kedua mata berlinang, ia jalan keluar dari gua itu dengan perasaan kacau, Ketika itu Co Hiong sedang jalan mon-dar-mandir di depan gua menanti kesudahan dari pertemuan Bee Kun Bu dengan Tong Leng Tan Su melihat Bee Kun Bu jalan keluar dengan muka sedih dan langkah yang lesu, ia terkejut Segera ia menanya, "Kenapa kau?" Sambil gelengkan kepalanya Bee Kun Bu menyahut "Aku tak apa-apa. Tapi Tong Leng Tan Su telah meninggal dunia."

Co Hiong membentak: "Hweeshio durhaka telah mati, mengapa kau menjadi sedih hati?!"

Bee Kun Bu belum lagi menyahut tapi Hweeshio yang berbaju abu-abu memotong dan berkata: "Kau jangan dusta. Aku tak pereaya dengan ilmu silatmu itu dapat membinasakan Suhuku!"

Bee Kun Bu menjawab: Tong Leng Tan Su betul-betuI lihay ilmu silatnya, Aku tak dapat me lawan nya. ia meninggal karena luka-luka di dalam tubuhnya."

Si Hweeshio berbaju abu-abu tak menunggu jawaban Bee Kun Bu tagi, ia segera lari masuk ke dalam gua. Selang tak lama ia keluar lagi sambil membawa dua lingkaran emasnya Co Hiong dn melontarkan kedua lingkaran emas itu ke arah Bee Kun Bu, serangan yang tiba-tiba itu telah serempet dan melukai bajunya Bee Kun Bu ketika itu ia mengegos untuk menghindarkannya, lingkaran-lingkaran emas itu penuh dengan jarum-jarum kecil, dan melukai Si Hweeshio lalu toncat menerkam serangan itu disambut oleh Bee Kun Bu dengan ilmu Kie Houw Men Way atau menghalau harimau di luar pintu, Bee Kun Bu menjerit: "Hei, tahan! pembicaraanku belum selesai!"

Dengan mata melotot, dan wajah pucat karena mur-kanya, si Hweeshio tak menghiraukan peringatan lawan-nya, Seperti seekor harimau yang sedang mengamuk ia menyerang lagi.

Bee Kun Bu hanya mengegoskan serangan itu ia ingin membalas menyerang,

Setelah pertempuran berjalan hampir dua puluh jurus, Co Hiong yang menyaksikan itu, membentak: "Saudara Bee, kau terlampau murah hati, Minggirlah, kasih aku melawannya, dan beri ajaran kepadanya!"

Bee Kun Bu yakin bahwa jika Co Hiong yang turun tangan, maka Hweeshio berbaju abu-abu ini pasti habis riwayatnya, Untuk menghindarkan peristiwa yang tak diingini itu, terpaksa ia menggunakan ilmu Cek Song Pok Liong atau tangan telanjang menerkam naga, Secepat kilat ia menyergap dan cekal pergelangan tangannya si Hweeshio, ia membentak: "Gurumu binasa karena totokan jalan darah di jantung dan di nyalinya, beliau binasa bukan karena perbuatanku Kau masuk lagi ke dalam gua dan periksa dengan te!iti! Beliau telah ditotok jalan darahnya ketika diusir keluar dari Toa Ciok Sie di puncak Ceng Giam di pegunungan Ci Lian San! Beliau binasa karena luka-luka itu!"

Mendengar sebutan kuil Toa Ciok Sie yang sangat dirahasiakan itu, si Hweeshio berbaju abu-abu mulai insyaf akan kenekatannya, Air matanya lantas mengucur keluar dengan derasnya, Setelah Bee Kun Bu melepaskan cengkeramannya si Hweeshio itu segera masUk lagi ke dalam gua. Co Hiong berdiri menyaksikan itu dengan perasaan heran, lalu ia pungut lingkaran-Iingkaran emasnya. Kemudian Bee Kun Bu menceritakan pertemuan, pertarungan dan pengalamannya terhadap Tong Leng Tan Su tadi, dan juga rahasia tentang kuil Toa Ciok Sie dan penghuni-penghuninya yang kejam dan durhaka-durja

Selesai penuturan itu, Co Hiong menarik napas panjang dan berkata: "Ai! Tong Leng Tan Su pada hakekatnya seorang yang budiman, ia rela menerima hukuman dan pengusiran daripada melanjutkan per-buatan-perbuatan yang durhaka, Tapi mengapa paman-paman gurunya demikian kejam terhadapnya? Setelah memotong putus kedua betisnya, mereka menotok jalan-jalan darahnya sampai menembusi tulang-tutang untuk membatasi waktu hidupnya! Ai! Mereka betul-betul kejam!" Bahkan Co Hiong yang keras hatinya mengucurkan air mata simpati terhadap Tong Leng Tan Su.

Melihat air mata yang mengucur itu, Bee Kun Bu pikir "Co Hiong ini pun tidak kejam, Mungkin karena ia sedari kecil mengikuti partai silat Thian Liong, dan bereampur gaul dengan jago-jago silat yang beraneka warna sifat dan wataknya, dan menyaksikan pertempur-an-per tempur an yang dahsyat dan pembunuhan pembunuhan yang kejam, ia telah menjadi keras hatinya, "Aku harus menasehatkan ia bila ada kesempatan."

Mereka menunggu di luar gua cukup lama, tapi si Hweeshio berbaju abu-abu tidak keluar pula, Bee Kun Bu menjadi cemas. ia tarik tangannya Co Hiong dan bersama sama masuk lagi ke dalam gua. Di bawah sinar lampu kecil yang samar-samar mereka melihat adegan yang membikin bulu roma berdiri Hweeshio yang berbaju abu-abu itu telah bunuh diri dengan membenturkan kepalanya di dinding gua yang keras itu, dan mati di dekat gurunya, Tong Leng Tan Su!

Bee Kun Bu dan Co Hiong lalu berusaha mengubur kedua mayat itu. Lalu sambil berlutut di hadapan kedua mayat itu, Bee Kun Bu mengucapkan janji dengan suara rendah: "Jika aku Bee Kun Bu telah berhasil menolong Sumoyku dan dapat kembali dengan sela niat, aku tentu datang lagi ke sini untuk menyembahyangi kedua Taysu sebagaimana layaknya!" Lalu mereka keluar dari gua itu, Dengan beberapa batu-batu gunung yang besar mereka tutup mulut gua itu, barulah mereka berlalu dari tempat itu,

Dengan mengikuti jalan yang mereka lalui tadi, mereka keluar dari kuil itu, Kudanya Co Hiong sedang berada di luar kuil tengah memakani rumput di lapangan, Melihat majikannya kuda itu meringkik menyatakan girangnya dan segera lari menghampiri Lalu mereka menunggangi kuda itu untuk menuju ke kuil Toa Ciok Sic Dari jauh mereka masih dapat lihat kuil Yun Bu Sie yang dilingkari tembok merah, tetapi penghuninya dalam waktu hanya lebih kurang dua jam, telah berada di dunia baka,

Dari jurang yang tebing Bangau Sakti menyaksikan kepandaian luar biasa

perjalanan mereka harus melewati jurang-jurang yang terjal dan curam, sungai-sungai yang bening dan deras, hutan- hutan yang sepi dan lebat, karena pegunungan yang mereka tempuh itu luas sekali, Dalam suasana yang sunyi senyap itu dengan warna kehijau-hijauan yang terlihat di mana-mana telah menimbulkan kesan yang mendalam bagi Bee Kun Bu. "Pegunungan ini senantiasa hijau, Tapi kemanakah jago-jago silat yang kenamaan? Mereka tak dapat hidup abadi seperti gunung-gunung ini.

Mereka menjadi abu di dalam liang kuburnya. penghidupan seperti impian! Manusia hidup seperti bermimpi!" Bee Kun Bu melamun sambil duduk di atas kuda di belakang Co Hiong, ia teringat pula akan saudara sepupunya cantik jelita, kawan mainnya di waktu masih kanak-kanak. ia berpisah dengan saudaranya itu ketika ia baru berusia delapan tahun, Ketika ia kembali setelah lewat dua belas tahun saudaranya itu sudah menjadi gadis yang cantik jelita!

Dan ditahun berikutnya, ketika ia kembali untuk menengoki orang tuanya, saudara se-pupunya itu telah berada di dalam liang kubur! Ya, penghidupan hampa belaka! Pikirnya, Air mata ber-linang-Hnang di kedua matanya memikirkan peristiwa menyedihkan itu,

Co Hiong telah melihat sikapnya dan ia menegur "Saudara Bee, apakah kau memikirkan Sumoymu lagi?" Teguran itu membikin Bee Kun Bu sadar ia terkejut, dengan tersenyum, ia menjawab: "Aku sedang pikirkan matinya Tong Leng Tan Su dan muridnya, Untuk membela keadilan, mereka telah binasa!"

"Ha! Ha! Ha! SaUdara Bee, orang lain dapat di bohongi, Kau bukan sedang pikirkan Tong Leng Tan Su. Kau tak akan mengucurkan air mata karena memikirkan Tong Leng Tan Su dan muridnya, Air mata dikucurkan untuk seorang gadis atau wanita yang kau cintai." ia berhenti sejenak, lalu meneruskan Tapi ada satu soal yang dapat dikecualikan,

Misalnya kudaku ini yang aku sangat sayangi, Tapi menolong kau lekas-lekas tiba di kuil Toa Ciok Sie menemui Sumoymu, aku rela mengorbankannya." Ucapan itu menginsyafkan Bee Kun Bu bahwa Co Hiong betul-betul membelanya dan rela berkorban untuknya, ia terharu sekali, demikian besar perasaan berterima kasihnya sehingga ia tak dapat mengutarakan dengan perkataan ia hanya dapat simpan di dalam hatinya!

Dari propinsi Kiangsi ke propinsi Kansu ada dua jalan: Naik perahu atau berkuda, Mereka dapat naik perahu dari propinsi Hupeh melalui propinsi Su-coan, lalu mendarat dan melanjutkan perjalanan ke propinsi Kansu, Atau mereka dapat naik kuda dari Hupeh, melalui propinsi Shensi dan terus ke propinsi Kansu, Bagi para saudara naik perahu akan lebih aman, Tetapi dengan kuda ajaib, Co Hiong berpendapat mereka dapat menempuh jarak yang demikian jauhnya, lebih cepat Maka mereka naik kuda itu menuju ke pegunungan Ci Lian San untuk mencari kuil Toa Ciok Sie, Kuda betul-betul hebat, karena selama lima hari meskipun berlari dengan pesat diwaktu siang maupun malam, ia tak kelihatan letih, pada tengah hari keenam, mereka telah tiba di tapal batas Kansu, Segera mereka masuk ke distrik Leng Tai Shien,

Melihat pertolongan yang sungguh-sungguh dari Co Hiong itu, Bee Kun Bu berkata kepada Co Hiong:

"Saudara Co baru saja kenal aku, tapi telah menolong aku demikian sungguh.... Aku. " Co Hiong potong

pembicaraannya dengan berkata: "Saudara tak usah hiraukan soal itu, sebetulnya aku sendiri sudi datang ke sini. Jika aku tak sudi, meskipun kau memaksanya, tidak akan aku mau.

Sudahlah, jangan dipikirkan soal-soal itu." ia tertawa gelak- gelak, dan ajak Bee Kun Bu mencari tempat penginapan.

"Kita harus mencari tempat penginapan untuk beristirahat Dari sini ke pegunungan Ci Lian San tidak jauh lagi. Kita harus ingat bahwa Hweeshio-Hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie itu, sebagaimana dikatakan oleh Tong Leng Tan Su, silatnya lihay sekali, kita berdua tak dapat melawan dengan mudah, kita harus menggunakan siasat untuk menolong Lie Ceng Loan, dan jika mungkin mencuri juga Sie Can Ko," kata Co Hiong, Bee Kun Bu tak dapat menjawab ia hanya berpikir "Guruku dan Ngo Kong Taysu mungkin juga telah tiba di pegunungan ini, dan mungkin juga telah tiba di kuil Toa Ciok Sie, Jika Lie Ceng Loan betul-betul diculik dan dibawa ke kuil itu, bila guruku dan Ngo Kong Taysu menjumpainya, mereka pasti segera menolongnya, Soal-nya, apakah mereka dapat ketemui Lie Ceng Loan ata\i tidak aku khawatir setelah memperoleh dua buah Sie Can Ko itu, mereka segera lekas- lekas meninggalkan kuil itu. Atau Hweeshio yang menculik Lie Ceng Loan belum tiba di kuiU."

" Melihat sikap yang gelisah dari Bee Kun Bu itu, Co Hiong menegur "Saudara Bee, apa lagi yang kau pikiri?"

"Aku sedang menduga-duga apakah guruku telah tiba di kuil Toa Ciok Sie," sahut Bee Kun Bu.

"Gurumu? Salah satu pemimpin partai Kun Lun?" tanya Co Hiong, Sambil anggukkan kepala Bee Kun Bu menyahut "Betul, Guruku dan ayah angkatnya Lie Ceng Loan, Ngo Kong Toa-su, pergi ke kuil Toa Ciok Sie untuk mengambil buah Sie Can Ko untuk menyembuhkan Susiokku."

Rupanya Co Hiong tak memperhatikan riwayatnya Bee Kun Bu, ia pun tak menanyakan susioknya Bee Kun Bu menderita sakit apa. ia jalan terus sambil menuntun kudanya mencari tempat penginapan

Di tempat penginapan mereka beristirahat setengah hari, Co Hiong sendiri yang mandikan kudanya. Sebelum diberi rumput dan gandum serta air. Kemudian ia berjalan keluar dari tempat penginapan itu seorang diri Ketika ia kembali ke tempat penginapan, ia membawa sebungkus besar obat- obatan dan satu panci besar ia suruh pelayan mengambil anglo, Lalu ia sibuk menyalakan api di anglo itu, ia taruh obat- obat dalam panci yang telah diisikan air, Kemudian dari kantong di dadanya, ia keluarkan sebungkus kecil bubuk obat merah, lalu campur ke dalam panci, kemudian ia memasukkan dan masak sampai matang, Bee Kun Bu menyaksikan semua ini dengan perasaan heran, Setelah Co Hiong duduk menanti matangnya obat itu barulah ia menanyai "Saudara Co, sedang apakah yang kau lakukan?"

Sambil tersenyum Co Hiong menjawab: Tong Leng Tan Su telah memberitahukan kau bahwa Hweeshio-Hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie di puncak Ceng Yun Giam semuanya bukan orang baik"

"Apakah kau pereaya?"

"Aku yakin Tong Leng Tan Su tidak membohongi aku," sahut Bee Kun Bu. "Aku pun demikian Oleh karena itu, kita harus melawan mereka dengan siasat yang buruk pula!" kata Co Hiong.

"Kau sedang bikin racun?" tanya Bee Kun Bu.

Co Hiong mengangguk-angguk sambil tersenyum, dan Bee Kun Bu tak ingin mengganggu atau menanya lagi,

Setelah obat di dalam panci sudah masak betuI, dari satu bungkusan kecil ia keluarkan jarum-jarum terbuat dari baja, dan jarum-jarum itu digodok di dalam panci obat selama semalaman Keesokan aginya Co Hiong keluarkan jarum-jarum terbuat dari baja dari dalam panci, Jarum-jarum baja itu telah menjadi biru warnanya, Co Hiong bungkus lagi jarum-jarum itu, dan setelah membayar sewa kamar lalu bersama Bee Kun Bu dengan menunggangi kuda ajaibnya menuju pegunungan Cie Lian San. Di daerah barat tidak seramai daerah timur

Daerah itu adalah daerah pegunungan, dan makin ke barat jalannya makin sempit dan sukar Tapi dengan menunggang kuda ajaib itu, mereka dapat menempuh jalan itu dengan mudah, setelah tiga hari dalam perjalanan tibalah mereka di kaki pegunungan Ci Lian San. pegunungan Ci Lian San luas dan banyak puncak-pun-caknya, Meskipun waktu itu masanya musim semi, akan tetapi hawa di pegunungan itu sangat dingin, Mereka melanjutkan perjalanan mencari puncak Ceng Yun Giam tanpa menghiraukan hawa yang dingin itu, Di perjalanan Bee Kun Bu berpikir Tegunungan Ci Lian San ini luas sekali serta banyak sekali puncak-puncaknya, Di manakah kita harus mencari puncak Ceng Yun Giam?" Dengan perasaan yang cemas ia berkata kepada Co Hiong: "Saudara Co kita harus mencari seorang pencari kayu untuk menanya jalan ke puncak Ceng Yun Giam."

Co Hiong menoleh ke belakang, dan menyahut sambil tersenyum: "Hm! sebetulnya di pegunungan yang luas ini sukar sekali mencari puncak itu, Tapi dimanakah kita harus cari seorang tukang potong kayu? Bukankah Tong Leng Tan Su pernah memberitahukan kau bahwa pegunungan Cie Lian San ini sangat terpencil Jika seorang tukang potong kayu telah mengetahui di mana letaknya kuil Toa Ciok Sie, aku yakin bahwa tukang kayu itu telah dibunuh mati oleh Hweeshio- hweeshio dari kuil itu."

Bee Kun Bu berdiam sejenak, lalu berkata lagi: "Meskipun Hweeshio-hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie bukannya orang-orang baik, tapi kuil sebesar itu pasti pernah diketahui orang, Mungkin juga kuil itu tak diketahui orang, tapi puncak Ceng Yun Giam pasti diketahui bukankah?"

"Kata-katamu memang beralasan," sahut Co Hiong, Tapi pendapatku berlainan Umsan di kalangan Kang-ouw sering- sering tak dapat dibereskan menurut rencana, Misalnya partai silat Thian Liong, Orang-orangku tersebar di sepanjang sungai Tapi orang luar tak dapat mencari mereka, Di kalangan Bu Lim markas partaiku dikatakan terletak di sebelah utara propinsi Kwiciu, Tapi di bagian manakah dari daerah letak utara di propinsi Kwiciu? Yang mengetahui tepat letaknya markas partai "Kan Liong hanya beberapa orang saja, Kuil Toa Ciok Sie adalah sarang dari Hweeshio-hweeshio yang jahat Kuil tersebut pasti tersembunyi

Dengan tumbuhnya pohon yang berbuah Sie Can Ko, aku yakin kuil itu tak mudah dicari Mungkin juga kita sekarang sudah berada di daerah yang senantiasa dijaga oleh Hweeshio-hweeshio yang jahat itu." "Kau jangan gelisah," kata Co Hiong, "Misalnya Sumoymu yang diculik belum dibawa ke dalam kuil itu, maka Hweeshio- hweeshio yang mengangkutnya pasti membawanya dengan susah payah, dan pasti terlambat lima hari dari kita karena kita datang ke sini dengan kuda yang jempol Dari itu, kita harap dapat menemui kuil Toa Ciok Sie dalam lima hari."

"Tapi pegunungan Cie Lian San ini banyak sekali puncaknya," kata Bee Kun Bu dengan penasaran, "Aku khawatir kuda itu tak dapat bertahan mendaki semua puncak- puncak."

"Hm!" sahut Co Hiong sambil tersenyum, "Kita pilih suatu tempat tinggi yang tumbuh banyak pohon dan rumput Kita bakar tempat itu, Apinya pasti terlihat di sekitar pegunungan ini. orang-orang di dalam kuil Toa Ciok Sie bila melihat kebakaran pasti waktu itu kita dapat kuntit mereka masuk ke kuil Toa Ciok Sie!"

Bee Kun Bu memuji akan akal yang cerdas itu, ia berkata: "Akal itu betul-betul bagus sekali Tapi membakar pohon-pohon dan rumput-rumput di pegunungan ini mungkin dapat memusnahkan segala sesuatu, Pem-bakaran yang kita akan lakukan agak kejam!"

Tentang soal itu, kau serahkan saja kepadaku, pegunungan ini tak akan terbakar habis, Bukankah hawa di pegunungan ini sangat dingin? Hawa dingin ini disebabkan oleh tingginya gunung. Lihatlah semua puncak-puncak gunung diselubungi salju. jika kita bakar sebidang tanah yang penuh dengan pohon-pohon dan rumput-rumput, apinya tak dapat menjalar luas. Mungkin api itu hanya membikin lumar bagian- bagian yang diselubungi atau tertutup salju, dan airnya mengalir turun dengan deras, Aku kira karena keadaan berubah, orang-orang di dalam kuil Toa Ciok Sie pasti keluar dan menyelidikinya jalan yang terbaik untuk mencari kuil itu, menurut pendapatku adalah memikir sedemikian jauh." Bee Kun Bu mendengar dengan penuh perhatian Kemudian ia anggukkan kepalanya dan menyahut: "Siasat saudara Co betul-betul baik sekali Aku kurang cerdas, aku tidak dapat memikir demikian jauh."

Sambil tersenyum Co Hiong berkata: "Saudara Bee bukannya kurang cerdas, tapi terlampau murah hati Menurut pendapatmu, membakar sebidang tanah dapat membunuh mati banyak binatang-binatang yang berada di semak-semak belukar, dan menyusahkan burung-burung yang kehilangan sarangnya, Kau terlampau baik hati Tapi untuk melaksanakan suatu tugas, kita kadang-ka-dang harus berbuat kejam.

Bukankah kau ingin lekas-lekas menolong Sumoymu?"

Bee Kun Bu menjadi merah mukanya, dan untuk menutupi perasaannya ia menyahut: "Aku turut saja, Ayo kita mulai membakar dan menanti keluarnya Hweeshio-hweeshio dari kuil Toa Ciok Sie!"

Co Hiong tersenyum, dan untuk menghibur ia berkata dengan saban "Saudara Bee, pegunungan yang luas ini membikin kita merasa seperti satu kapal kecil di tengah- tengah samudra, Kita harus mencari dulu tempat yang agak tinggi, dan kemudian mencari lagi tempat iain, Ya, kita harus membakar dua tempat agar siasat kita lebih berhasil Ayo kita jalan mencari kedua tempat itu!"

, Lalu mereka tunggangi kuda ajaib mencari kedua tempat yang cocok untuk dibakar Kuda itu dilarikan cepat sekali, tapi tidak kelihatan letih, Bee Kun Bu merasa kasihan melihat kuda yang seakan-akan dipaksa lari terus menerus, ia menegur: "Saudara Co, kasihan kuda ini. Marilah kita berhenti sebentar dan berikan kesempatan kuda ini untuk beristirahat."

Co Hiong hanya menyahut sambil tersenyum: "Jangan khawatir, aku mengetahui betul kekuatan kuda ini." Setelah mereka mendaki lebih kurang dua puluh Iereng-lereng gunung dan menempuh jarak kira-kira seratus lie, Co Hiong baru menghentikan kudanya, "Kita dapat beristirahat di sini," katanya, "Kita dapat memilih tempat setelah kuda itu cukup beristirahat dan diberikan makan."

Lalu ia tuntun kudanya ke bawah suatu pohon cemara untuk diberi makan, Mereka berada di tempat yang tinggi sekali, dan dengan memandang ke bawah mereka dapat melihat puncak-puncak gunung lainnya, Tiba-tiba Co Hiong berseru: "Saudara Bee, cobalah lihat dua puncak di sebelah barat daya itu! Diantara kedua puncak itu banyak tumbuh pohon-pohon cemara, Jika kita bakar hutan cemara itu, mungkin pada tengah malam ini, api nya dapat berkobar dan terlihat di sekitar tiga ratus lie jauhnya."

Bee Kun Bu berpaling ke tempat yang ditunjuk, lalu ia mengangguk dan menyahut: "Betul, hutan pohon-pohon cemara itu lebat sekali!"

"Nah, sehabis makan, kita segera bakar hutan itu!" kata Co Hiong, Lalu dengan bersenda gurau ia berkata lagi: "Sumoymu pasti seorang gadis yang cantik sekali Apakah ia lebih cantik daripada Souw Hui Hong?"

Bee Kun Bu tersenyum, dan ingin menjawab: Tiba-tiba di sebelah barat terbang mendatangi seekor bangau putih yang besar sekali, dan dalam sekejap saja bangau putih itu telah tiba di atas puncak di mana mereka berada, Melihat bangau sebesar itu Co Hiong terpesona dan berseru: "Ai besar betul bangau itu! Bangau itu paling sedikit telah berusia seribu tahun!" Lalu dengan secepat kilat ia loncat ke atas suatu dahan pohon cemara.

Segera ia melontarkan satu lingkaran emasnya ke arah bangau putih itu, Bee Kun Bu ingin mencegah perbuatan itu, tapi terlambat Bangau putih itu mengegos, dan terbang datang menyerang Co Hiong dengan sabetan kedua sayap-nya. Co Hiong tidak menduga seekor bangau dapat menyerang ia, ia tidak keburu mencabut pedangnya. ia buru-buru loncat turun, Bangau itu menerjang dahan pohon demikian hebatnya sehingga patah segera! Bangau itu menjerit untuk terbang ke atas, dan dari udara ia terbang menyerang Co Hiong lagi Ketika itu Co Hiong sudah mencabut pedangnya siap sedia melawan serangan burung ajaib itu. Setelah menyaksikan tenaga burung yang telah membikin patah dahan pohon cemara, Co Hiong sudah menjadi heran bereampur jeri Dengan kedua sayap terbentang bangau itu datang menyambar dan setelah berhadapan dengan Co Hiong, ia menyapu tangannya Co Hiong yang memegang pedang dengan sayap kirinya, sedangkan sayap kanannya menggeprak kepalanya Co Hiong dan kedua kakinya mencakar kedua mukanya Co Hiong dengan kuku-kukunya yang tajam!

Bukan main terkejutnya Co Hiong, dan untuk menghindarkan diri dari serangan yang luar biasa itu, ia harus segera menjatuhkan diri dan berguling-guIing di tanah! Baru saja ia mencoba bangkit, bangau itu sudah datang menyerang lagi, Co Hiong yang sudah menggulingkan diri hampir ke tepi jurang tak dapat menggulingkan diri lagi, ia terpaksa menghadapi serangan itu dengan melontarkan satu lingkaran emasnya lagi! Tapi dengan mudah lingkaran itu dikebut lewat, oleh sayapnya bangau itu, dan sayap kaki kirinya datang menyapu dan mencakar lagi, "Ai, hari ini binasalah aku!" pikir ia.

Dalam saat yang berbahaya itu, tiba-tiba berkelebat sinar terang yang menyambar kaki kirinya bangau itu. Bangau itu mengangkat kakinya dan terbang lagi ke atas dengan membawa j uga Co Hiong yang memegang keras lingkaran- ltngkaran emasnya yang telah dicengkeram oleh kakinya bangau putih itu, Sinar terang itu adalah sabetan pedangnya Bee Kun Bu. Melihat Co Hiong enggan melepaskan Hngkar- an-lingkaran emasnya, ia menjerit: "Saudara Co! Lepas-kan lingkaran-lingkaran itu, Aku kenal majikan bangau putih itu, jika aku menjumpai ia, aku akan minta kembali lingkaran- lingkaranmu! Lepas!!!" Ketika itu Co Hiong telah diangkat dua tombak lebih tingginya, dan mendengar seruan itu, ia segera lepaskan cekalannya dan jatuh di tanah lagi, Lalu ia ambil beberapa jarum beracun disambitkan ke tubuh bangau itu,

Bangau putih itu telah terbang sepuluh tombak tingginya, ia bentangkan kedua sayapnya, Rupanya ia hendak menyerang lagi. Bee Kun Bu tidak melihat Co Hiong telah keluarkan jarum-jarum beracun, dan tidak menduga akan melukai burung itu. ia terkenang akan Pek Yun Hui, majikan bangau itu, yang telah mengajari ia langkah ajaib Ngo Heng Mie Ceng Pu. Dengan langkah ajaib itu ia telah membikin keder Kjok Goan Hoat yang lihay, dan juga telah membikin tunduk Tong Leng Tan Su.

Bangau yang terbang melayang di atas kepala me-reka, setelah terbang memutar dua kali, tiba-tiba datang menyerang Bee Kun Bu! Co Hiong menggunakan kesempatan ini melontarkan jarum-jarum beracunnya ke tubuh bangau itu, Jarum-jarum yang kecil itu dilontarkan dengan tenaga yang hebat sekali, Co Hiong pikir pasti mengenai sasaran nya. Dan bilamana ada satu jarum saja yang menusuk kena, bangau itu pasti tak dapat bertahan lagi, Tapi di luar dugaannya dengan satu sapuan sayap kanannya, semua jarum itu terhempas oleh angin yang dari sayapnya bangau itu yang deras menyerang Bee Kun Bu. Co Hiong terkejut!

Bee Kun Bu yang telah mengetahui kelihayan bangau itu, tenaga kedua sayapnya yang menyapu bagaikan angin topan, patoknya yang keras seperti baja, dan kuku-kukunya yang tajam seperti gaitan besi, dan pemiliknya Pek Yun Hui - segera menjaga mukanya dengan pedangnya, dan mengegosi serangan itu dengan tipu Lam Lu Pa Kun atu keledai malas berguIing-gulingan. Agak-nya si bangau putih dapat mengenali Bee Kun Bu. ia terbang ke atas lagi, dan tidak meneruskan menerkam! Dari udara ia melepaskan lingkaran-lingkaran emas itu, lalu dengan satu jeritan yang nyaring dan tegas, ia 1onjor-kan lehernya dan terbang ke utara! Mereka keduanya mengawasi perginya bangau itu dengan mata terbelalak Kemudian Bee Kun Bu pergi punguti lingkaran-lingkaran emas dan dikembalikan kepada Co Hiong, ia berpikir "Mengapa bangau putih muncul di pegunungan Cie Lian San? Apakah Pek Yun Hui juga telah datang ke pegunungan ini? Dan dengan maksud apakah ?" Lalu ia ingat tentang sehelai kain yang ada tulisannya ketika ia berada di atas suatu kuburan, ia ingin keluarkan sehelai kain itu dari kantong di dadanya, tiba-tiba Co Hiong menanyai "Rupanya bangau itu mengenali kau?"

"Aku kenal maj ikannya, dan aku tidak nyana bangau itu mengenali aku juga. Jika tidak, mungkin usaha kita akan menjadi gagal!" sahut Bee Kun Bu.

Tapi Co Hiong dengan menaruh dendam berkata: "Lain kali apabila aku menjumpai pemiliknya, aku harus memberi peringatan kepadanya, ia tidak boleh lepas bebas bangau yang berbahaya itu!"

Sebetulnya Bee Kun Bu ingin menceritakan kepada Co Hiong tentang Pek Yun Hui, pemilik bangau putih itu, Tapi setelah mendengar ucapan Co Hiong yang - menyalahkan pemilik bangau itu, ia tarik kembali mak-sudnya, ia hanya mengawasi Co Hiong dengan rupa ragu-ragu. Melihat sikapnya itu, Co Hiong menanya: "Mengapa kau kelihatannya cemas? Apakah kau kira aku tak dapat melawan pemilik bangau itu?"

Bee Kun Bu menganggukkan kepalanya dan menyahut "Betul pemilik bangau itu betul-betul seorang sakti dengan kepandaian silatnya yang luar biasa lihaynya, ia bersifat agung sekali Bila kau menjumpai ia, lebih baik aku perkenalkan kau kepadanya jangan coba-coba turun tangan!"

Co Hiong menyengir seperti orang tak mau pereaya omongannya Bee Kun Bu. Lalu setelah ia bersihkan lingkaran- Hngkaran emasnya, ia berseru: "Ayo, kita pergi bakar hutan pohon-pohon cemara diantara kedua puncak itu!" Bee Kun Bu makin menjadi gelisah, karena setelah berdampingan dengan Co Hiong beberapa hari, ia telah mengetahui banyak sifat-sifatnya, Cengirannya itu mencerminkan perasaan tak puas, ia khawatir jika Pek Yun Hui telah datang ke pegunungan Cie Lian San dan menjumpai Co Hiong, pasti kawan ini mengeluarkan ejekan, Pek Yun Hui yang bersifat tinggi tentu tak dapat menerima ejekan itu. Maka suatu pertempuran tak dapat dielakkan, dan Co Hiong bukan lagi tandingannya Pek Yun Hui. pikiran tersebut menggelisahkan ia sangat Karena hatinya bimbang ia berjalan-jalan ketinggalan di belakang

Co Hiong berkaok: "Hei! Saudara Bee, lekas-lekas turun membakar hutan ini!" Bee Kun Bu dibikin sadar dari kecemasannya, lalu mengejar turun ke hutan pohon-pohon cemara itu.

Setelah mereka tiba di hutan itu, Co Hiong berkata: "Hutan yang sudah tua ini, jika dibakar pasti berkobar luas dan lama, Aku membakar dari sudut barat, dan kau membakar dari sudut timur!" Lalu mereka lari ke jurusan masing-masing.

Bee Kun Bu masih juga merasa tidak tega membakar hutan itu yang telah menjadi tempat bernaungnya banyak binatang-binatang dan burung-burung. Berkali-kali ia coba sundut daun-daun kering, tetapi tiap kali ia padamkan lagi, ia kumpulkan lagi daun-daun kering untuk disundut, dan baru saja ia hendak menyu!utnya, sekonyong-konyong ia merasa hembusan angin yang keras meniup tubuhnya.

Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan meloncat tiga kaki ke sebelah kanan, Ketika itu ia melihat bangau putih yang tadi telah terbang turun dari atas dan berada di belakangnya lagi! Bangau itu datang menghampiri Meskipun bangau itu datang dengan ramah tapi ia sangat waspada, ia mengawasi dan siap sedia menjaga diri Bangau putih itu rupanya mengerti perasaannya Bee Kun Bu. ia tundukkan kepalanya, dan patoknya menyentuh-nyentuh tanah sambil berbunyi rendah. Bee Kun Bu menjadi heran akan sikapnya bangau itu. ia menanyai "Apakah majikanmu juga telah datang ke pegunungan Cie Lian San?" bangau itu datang lebih dekat lagi, dan menyandarkan dirinya di tubuh Bee Kun Bu, dan kemudian membuka kedua sayapnya, Bee Kun Bu menanya lagi: "Apakah kau menyuruh aku menunggangi kau untuk menjumpai majikanmu?" Lalu ia tunggangi bangau itu. Bangau itu memanjangkan lehernya, dan sambil menjerit membawa Bee Kun Bu terbang, Co Hiong yang menyaksikan dari jauh menjadi tereengang,

Setelah berada di tempat kira-kira tiga ratus tombak tingginya dari tanah, bangau itu terbang menuju ke utara. , Terbangnya lebih cepat daripada larinya kuda. Bee Kun Bu memegangi erat-erat badan bangau itu, dan merasa hembusan angin gunung yang dingin, ia tak mengetahui berapa puncak gunung yang telah dilewati Kemudian bangau itu terbang turun dan mendarat di suatu batu besar di suatu lereng gunung.

Bee Kun Bu melihat bahwa di sekitarnya adalah jurang- jurang yang curam dari beberapa puncak gunung, dan di tempat yang luasnya lebih kurang dua persegi telah tumbuh berbagai-bagai macam bunga dengan aneka warna, Harum yang dihembus angin dari bunga-bunga itu merayu dan menawan hati, Bee Kun Bu turun dari bangau dan bertindak maju, Tapi baru saja ia bertindak empat-lima langkah, bangau itu segera terbang pergi entah kemana, ia terkejut, dan berpikir:

"Apa maksudnya bangau itu membawa aku ke sini?

Apakah aku mesti menunggu, atau harus pergi mencari Co Hiong lagi?" ia bertindak maju terus menuju ke kaki salah satu puncak gunung, ia mendengar suara air mengucur, dan betul saja air itu mengalir dari atas ke suatu sungai kecil dan mengalir lebih jauh keluar dari tempat yang terkurung itu ke jurang yang berada di belakang sebuah pohon cemara yang besar ia jalan menuju ke pohon itu, dari dekat ia dapat lihat bahwa dekat air yang mengalir turun itu terdapat satu mulut gua batu yang tertutup oleh tumbuh-tumbuhan di lereng gunung itu, Hembusan angin yang halus terasa keluar dari gua batu itu,

"Jika angin dapat meniup dari gua itu maka gua itu pasti tidak dalam," pikirnya, Lalu ia masuk ke dalam gua batu itu untuk menyelidiki keadaan di dalamnya, Setelah berjalan dengan hati-hati dan melalui dua belokan, ia tampak di depan agak terang, dan terdengar suara air mengalir ia maju terus dan keluar dari gua. pemandangan yang ia saksikan di hadapannya luar biasa indahnya: rumput yang hijau seperti permadani ratanya, bunga-bunga yang beraneka warna menyilaukan mata, angin meniup sepoi-sepoi, dan suara air mengalir merayu hati, ia berada di suatu lembah yang di kedua sampingnya telah tumbuh pohon-pohon cemara yang tua sekali dan membikin lembah yang lebarnya lebih kurang sepuluh tombak dan panjangnya seratus tombak kelihatannya ganjil, Dengan rasa kagum dan heran Bee Kun Bu mengawasi keadaan di sekitarnya.

sekonyong-konyong dari belakang sebuah pohon bunga yang lebat terdengar suara anak menjangan, diikuti oleh suara yang nyaring dan tegas yang berkata: "Jika Bu Koko telah menemui aku, aku tak dapat diam di sini main-main dengan kau lagi. "

Bee Kun Bu agaknya mengenali suara itu, ia ter-kenang lagi kepada Lie Ceng Loan. Segera air matanya mengucur keluar memikirkan nasib Sumoynya yang ia sangat cintai itu, Baru saja ia ingin memanggil orang yang mungkin berada di belakang pohon bunga itu, tapi segera ia ingat bahwa tak mungkin orang itu Sumoynya, yang telah diculik dan dibawa pergi ke kuil Toa Ciok Sie, ia hanya maju bertindak dengan hati-hati ke pohon-pohon bunga itu, ia jalan melewati pohon bunga itu dan melihat ke depan. Di pinggir suatu telaga kecil terlihat oleh ia seorang gadis yang berbaju putih sedang duduk di pinggir telaga dengan kedua kakinya yang telanjang menendang-nendang air yang jernih, dan sebelah tangannya merangkul seckora anak menjangan,

Karena Bee Kun Bu melangkah dengan hati-hati, rupanya gadis itu tak merasa bahwa ada orang yang mendatangi ia goyang-goyang kepalanya sambil menarik napas panjang, Lalu ia bangun memeluk dan mengangkat anak menjangan itu, Ketika ia ingin memetik sepucuk bunga, ia dapat lihat Bee Kun Bu. Lalu dengan air mata berlinang gadis itu lari menghampiri sambil berseru: "Bu Koko!" ia lepaskan anak menjangan dan lari menubruk Bee Kun Bu, lalu merangkulnya erat-erat.

Bee Kun Bu sangat tereengang Apakah aku sedang bermimpi? ia menanya dalam hatinya, Tapi gadis itu merangkul ia erat sekali, dan memanggil ia. ia berdiri seperti palung, tak dapat bicara,

Setelah gadis itu berhenti menangis karena girangnya, ia berkata: "Sahabatmu telah memberitahukan aku bahwa Koko akan mencari aku, Oleh karena itu, tiap hari aku datang ke sini menanti kedatangan Koko, Dan... sekarang Koko betul-betul datangi Sahabat itu tak berdusta!"

Di pinggir sebuah telaga kecil, Bee Kun Bu melihat ada seorang gadis yang berbaju putih sedang duduk di tepi telaga, sepasang kakinya menendang-nendang air dan sebelah tangannya merangkul seekor anak menjangan.

Pada saat itu Bee Kun Bu baru sadar, dan peluk Sumoynya erat-erat, dan air matanya mengucur deras,

Lie Ceng Loan menanya: "Bu Koko, mengapa kau menangis?"

"Aku... aku terlampau girang!" sahut Bee Kun Bu sambil coba menelan ludah yang merintangi tenggorokan-nya,

Entah kapan dan dari mana Pek Yun Hui telah berada di belakang mereka, ia masih berbaju hijau, tapi wajahnya kelihatan sedih, Bee Kun Bu melepaskan diri dari pelukan Sumoynya, lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil berkata: "Saudara Pek, budimu yang sangat besar ini, Siotee tak tahu kapan dapat membalasnya, sekarang saudara Pek telah menolong Sumoyku Iagi. "

Pek Yun Hui mengangkat kedua alisnya lalu memotong omongannya Bee Kun Bu: "Kau tak usah pusingi usahaku membantu kau, Kau telah datang ke pegunungan Cie Lian San ini, aku pun menjadi heran, karena kau telah datang dengan cepat sekali Tapi kedatanganmu ini justru baik sekali, karena Sumoymu tiap hari menanya aku tentang kau, ia selalu menanya, mengapa Bu Koko belum juga datang. Aku tak dapat berdusta, aku segera datang, Tapi jika dalam dua hari lagi, kau belum juga dalang, aku pasti suruh bangau putih membawa ia ke Yauw Ciu, karena aku menduga kau akan pergi ke Yauw Ciu mencarinya."

"Rupanya Thian bermurah hati terhadap aku," sahut Bee Kun Bu, "Jika aku tidak menjumpai Co Hiong, pemimpin kedua dari partai Tian Liong, mungkin aku tak datang ke pegunungan Cie Lian San ini."

Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata lagi: "Kau telah datang ke sini cepat sekali Cara bagaimanakah kau datangnya?"

Bee Kun Bu menjawab: "Co Hiong mempunyai seekor kuda Cian Li Pao Kiok yang dapat lari pesat sekali, dalam sehari dapat menempuh jarak seribu lie tanpa letih, dapat mendaki gunung dengan mudahnya."

"Jika kuda itu demikian hebatnya, aku ingin melihat-nya." Kata Pek Yun Hui. Lalu ia membalikkan tubuh seakan-akan hendak berlalu,

Bee Kun Bu mengawasi tubuhnya Pek Yun Hui yang ramping dan ingat akan sehelai kain yang ia ketemukan di atas kuburan, ia ingin menanya hal ihwa)nya sehelai kain itu kepada Pek Yun Hui, tapi Lie Ceng Loan tiba-tiba berkata: "Sahabat Koko itu baik sekali terhadap aku. Tanpa ia, mungkin aku tak dapat ketemu Koko, lagi!" perkataan itu disertai mengucurnya air mata,

Dengan jawaban yang lemah lembut Bee Kun Bu coba menghibur "Kau pasti telah banyak menderita."

Lie Ceng Loan anggukkan kepalanya, lalu berkata lagi dengan suara yang gemas: "Hweeshio-hweeshio itu betul- betuI jahat! Mereka menipu aku, dengan mengatakan akan mengajak aku ke tempat yang indah permai, Kemudian aku insyaf bahwa aku tertipu, Aku ingin membunuh diri, tapi jika aku mati, aku tak bertemu lagi dengan Koko, Aku batalkan niatku itu. Untung bagiku, sahabat Koko datang menolong aku dari bahaya maut!"

Bee Kun Bu menyeka air matanya Lie Ceng Loan dengan sapu t a tiga n nya.

Lie Ceng Loan merasa terhibur dengan kasih sayang yang diperlihatkan kepadanya, ia tersenyum lagi, dan Bee Kun Bu pun menjadi reda melihat senyuman itu.

Pada saat itu Bee Kun Bu menjadi curiga melihat gaya, sikap dan tubuh dari Pek Yun Hui. "Apakah ia seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki?"

pikirnya, "la telah membantu mencari dan menolong Lie Ceng Loan, mengajarkan aku ilmu langkah ajaib, semut ini telah melampaui seorang sahabat jika aku pikir ia telah mengobati Susiok yang telah terluka karena racun ular, dan cara ia memetik Kim (gitar) di telaga Poa Yo Ouw, aku menjadi semakin bingung."

Melihat sikap itu. Lie Ceng Loan menanya: "Bu Koko, kau kenapa?" Seperti orang baru sadar dari tidur, Bee Kun Bu terkejut ketika ditegur Lalu ia menyahut: Tidak apa-apa. Dari manakah anak menjangan itu?"

Lie Ceng Loan angkat anak menjangan itu sambil berkata: "Aku harus kasih makanan kepadanya, Ayo kita pergi ke dalam gua!" Bee Kun Bu mengikuti, sambil berpikir "Untung sekali aku tidak menanyakan Pek Yun Hui tentang sehelai kain yang aku telah dapati di kuburan, sekarang Lie Ceng Loan sudah di sampingku, dan terpenting ialah aku harus lekas-lekas pergi ke pegunungan Kun Lun bersama-sama ia, Liong Giok Pin dan Susiokku."

Ketika sudah mendekati gua, Lie Ceng Loan berkata: "Aku telah tinggal di dalam gua itu bersama-sama sahabatmu,"

Gua itu luasnya hanya lebar satu tombak dan dua tombak panjangnya, keadaan di dalamnya sangat bersih, Lie Ceng Loan tarik Bee Kun Bu masuk, Di sebelah kiri ditutup dengan selimut yang digunakan sebagai tempat tidur Lie Ceng Loan, dan di sebelah kanan, di atas satu batu gunung yang besar terletak beberapa botol susu kambing, buah-buahan dan sayur mayur, Lie Ceng Loan ambil sebotol susu kambing itu dan diberikannya kepada anak menjangan Lalu ia menyuguhkan kue-kue kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Bu Koko, kau makanlah kue ini."

Karena Bee Kun Bu merasa haus, ia segera ambil sebotol susu kambing yang diminumnya habis, baru mulai makan kue

Anak menjangan itu kemudian lantas tidur setelah minum susu kambing, Lie Ceng Loan pun tertidur sambil menyandar di dadanya Bee Kun Bu.

"Mungkin semenjak ia dicu!ik, ia belum pernah tidur nyenyak," pikir Bee Kun Bu. Lalu ia pindahkan Sumoynya di atas selimut, dan ia sendiri duduk di sisinya, ia memandang Sumoynya, dan memandang lagi anak man-jangan. "Bagaimana perasaannya jika ia terpisah dari anak menjangan itu!" ia pikir, "Biarlah aku mencari rotan untuk membikin satu rantang untuk Sumoyku."

Baru saja ia bertindak keluar, anak menjangan itu mendusin dan segera loncat mengikuti Bee Kun Bu sambil berbunyi Bee Kun Bu lekas-Iekas memberikan susu kambing lagi kepadanya, Setelah kenyang, anak menjangan itu tidur kembali ia jalan keluar dari gua itu untuk mencari rotan, Di" jurang banyak tumbuh pohon rotan, tetapi ia harus mendaki jurang itu untuk dapat mengambilnya, Dengan ilmu meringankan tubuh ia mulai mendaki jurang seperti seekor cicak, dan dengan lekas telah tiba di atas,

Tidak jauh dari tempat ia berdiri, di sebelah ka-nannya, ia lihat satu pohon cemara besar dengan pohon rotan, tumbuh di sampingnya, Baru saja ia ingin loncat ke pohon itu, tiba-tiba muncul Pek Yun Hui di depannya, berdiri membelakangi ia tidak bergerak, seakan-akan sedang melihat sesuatu di depannya, ia menghampiri, tapi Pek Yun Hui tetap tidak bergerak, maka ia menegur dengan suara rendah: "Saudara Pek!"

Tiba-tiba Pek Yun Hui mengangkat kepalanya dan mengawasi Bee Kun Bu dengan kedua mata berlinang, Tapi ia menanyai "Kau tidak menemani Sumoymu di dalam gua, mengapa kau datang ke sini yang hawanya dingin?"

"Jika di sini hawanya dingin, mengapa saudara Pek tidak turun ke lembah?" Bee Kun Bu balik menanya,

Dengan suara lemah lembut Pek Yun Hui menanya lagi: "Kau telah mendaki puncak yang tinggi ini, apakah ingin... ingin mencari aku?"

pertanyaan itu membikin Bee Kun Bu menjadi bisu, Sambil tersenyum Pek Yun Hui berkata: ".., air mata kering karena sedih hati. Awan yang jauh diidam-idam-kan, tapi entah kapan kembalinya." Lalu ia jalan pergi ke jurusan utara, Bee Kun Bu mengejar sambil berseru: "Saudara Pek, tunggu!"

Pek Yun Hui menunda langkahnya menoleh ke belakang sambil berkata lagi: "Asmara terpendam hanya menambah kesedihan hati... kau mengapa. " perkataan itu tidak

diteruskan karena air matanya mengucur deras.

Bee Kun Bu lekas-Iekas menanyai "Saudara Pek, mengapa kau pergi dengan tergesa-gesa?"

Dengan menggertak gigi, Pek Yun Hui buka kain yang menyelubungi kepalanya, Segera rambut yang hitam dan panjang turun melambai-lambai di belakang pun-daknya, ia pun membuka juga baju hijaunya, Dengan mata terbelalak Bee Kun Bu menyaksikan dengan kepala matanya sendiri, bahwa Pek Yun Hui itu seorang gadis dengan pakaian wanita ketat, tampak jelas dua buah dadanya dan pinggangnya yang langsing berpakaian baju sutera merah dan celana sutera putih, Belum pernah Bee Kun Bu melihat gadis secantik itu, bahkan lebih cantik daripada sumoynya, ia berdiri terpesona dan dalam beberapa detik itu ia seakan-akan berubah menjadi satu patung!

Dengan suara yang lemah lembut Pek Yun Hui memecahkan kesunyian itu: "Aku, temani Sumoymu di dalam gua itu selama tiga hari, sekarang setelah jelas kau menyaksikan sendiri, bahwa aku seorang wanita kau pasti tak menaruh curiga lagi terhadap Sumoymu atau aku, bukan?"

Bee Kun Bu dengan terharu berkata: Tek Siocia, jangan curiga apa-apa!"

"Lie Ceng Loan seorang gadis yang suci murni, Aku kini sengaja memperlihatkan diriku yang sejati. Kau harus menjaga ia dengan baik, Dan aku khawatir kita kelak akan berpisah, dan seterusn?a kau harus waspada." Kata Pek Yun Hui, lalu ia loncat lima tombak jauhnya.

"Pek Siocia! Pek Siocia!" Bee Kun Bu memanggil Apakah karena kasihan atau masih ada pesan, maka Pek Yun Hui berhenti lagi, Bee Kun Bu loncat dan berdiri di hadapannya. Dengan menghadapi wanita yang demikian cantiknya, mulutnya Bee Kun Bu terkancing lagi: Hanya air matanya mengucur Pek Yun Hui lalu keluarkan sapu tangannya dan menyekal air matanya Bee Kun Bu. Tapi ketika itu Pek Yun Hui telah bersikap lain lagi, ia telah menjadi khidmat dan berkewibawaan lagi, Harum dari sapu tangannya membikin Bee Kun Bu terkenang kembali kepada peristiwa-peristiwa yang lampau, Empat mata beradu... dan ini telah mengutarakan perasaan masing-masing lebih berarti daripada seribu perkataan!

Di dalam perjalanan di pegunungan di waktu malam hari, Bee Kun Bu membasmi musuhnya

Selama hidupnya Pek Yun Hui baru pertama kali dipegang tangannya oleh seorang pria, dan orang yang memegangnya itu adalah !aki-!aki yang ia idam-idamkan.

Ia menyandarkan kepalanya ke dadanya Bee Kun Bu yang segera memeluknya. siapakah dapat menolak tubuh seorang wanita yang secantik itu! Meskipun Bee Kun Bu yang kuat batinnya dan watak kesatriaannya pun menjadi mata gelap, ia peluk Pek Yun Hui erat-erat Tiba-tiba senyuman Lie Ceng Loan terbayang di matanya, ia sadar akan perbuatannya yang tak pantas, ia lepaskan pe-lukannya, dan dengan perlahan ia dorong Pek Yun Hui. ia bertindak mundur satu langkah sambil berkata: "Aku telah banyak ditolong oleh Pek Siocia, begitupun Su-moyku telah ditolong dari bahaya maut Aku tak akan lupa budi yang maha besar itu!"

Ucapan itu menusuk hatinya Pek Yun Hui, tetapi tiba-tiba mukanya menjadi merah, ia mengawasi Bee Kun Bu dengan mulut membungkam Bee Kun Bu merasa cemas kalau-kalau ia telah salah omong. Bukankah Pek Yun Hui ini yang telah mengajarkan ia ilmu langkah ajaib Ngo Heng Mie Cong Pu? Bukankah ia juga yang menolong Lie Ceng Loan kekasihnya? Semua ini memusingkan kepalanya Bee Kun Bu.

Kemudian Pek Yun Hui menjadi tenang kembali, ia berkata: "Aku mengetahui bahwa kau sangat mencintai Sumoymu, dan seterusnya kau harus menjaga ia dengan baik. ia yang masih hijau tak dapat menerima pukulan asmara, Meskipun ia berada di jurang bahaya atau di mulut harimau, ia senantiasa memikiri kau!" Setelah itu ia balik badan dan berjalan lalu beberapa langkah untuk balik menghadapi Bee Kun Bu lagi seraya berkata: "Hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie mempunyai ilmu silat yang lain daripada yang lain, Kau dan Sumoymu tak dapat berdiam lama di sini. Paliftg baik kalian segera berlalu dari pegunungan ini!" Pek Yun Hui tidak menanti jawaban Bee Kun Bu, karena dari sebelah selatan ia lihat ada asap mengepul ke atas, ia loncat ke suatu dahan pohon untuk menyelidiki

Bee Kun Bu sudah mengetahui bahwa asap itu datang dari hutan yang dibakar oleh Co Hiong, ia berpikir "Co Hiong telah mengorbankan segala sesuatu, bahkan kuda ajaibnya untuk membantu Kini ia membakar hutan senti iri, sedangkan aku tak berbuat apa-apa di sini." ia mencari lagi Pek Yun Hui. ia memanggil berkali kali tapi si penolongnya itu entah kemana perginya, Maka ia lekas-lekas kembali ke lembah dan terus masuk ke dalam gua di mana Lie Ceng Loan masih tidur nyenyak. Tapi di atas batu di mana terletak beberapa botol susu ia menemui sehelai kain dengan tulisan yang berbunyi: "Jangan berdiam lama-lama di sini, Harus lekas-lekas berlalu!" ia yakin bahwa Pek Yun Hui yang memperingatinya.

peringatan dari seorang yang sangat sayang kepadanya tak dapat tidak diperhatikan ia buru-buru membangunkan Lie Ceng Loan yang menjadi terkejut sekali, Baru saja ia hendak menanya, tapi Bee Kun Bu berkata: "Kau tunggu dahulu di dalam gua batu ini. Aku harus mencari seorang kawan, segera aku akan kembali!" Lalu ia keluar dari gua itu. Lie Ceng Loan mengejar dan memanggil: "Bu Koko, aku ikut!" Bee Kun Bu pun pikir lebih baik mengajak Sumoynya, karena pada waktu itu tidak ada Pek Yun Hui yang menjagainya lagi, ia berkata: "Baiklah! Ayo lekas-lekas bawa barang-barangmu, kita harus segera pergi!"

Sambil masuk ke dalam gua, Lie Ceng Loan berkata: "Kawan Koko betul-betul baik hati. ia telah tolong aku, dan telah merebut kembali pedangku ia berikan aku kesempatan menunggangi bangau putihnya terbang ke sini menunggu Koko.,., Tapi aku tak dapat segera pergi." Ketika itu Bee Kun Bu tak dapat menerka mengapa Lie Ceng Loan tidak ingin pergi, maka ia menanyai "Mengapa tak dapat pergi?"

"Jika kita semuanya pergi, sebentar jika kawan Koko kembali dan tidak menjumpai kita," sahut Lie Ceng Loan, "la tentu menjadi marah, ia demikian baiknya terhadap kita tak selayaknya kita pergi tanpa memberitahukan kepadanya."

Bee Kun Bu tidak menyahut lagi. ia memikiri kebaikan Pek Yun Hui dan perasaannya terhadap ia. Lie Ceng Loan menjadi heran tidak mendapat jawaban, ia menanyai "Bu Koko kenapa? Apakah kau marah terhadap aku?"

Teguran itu membikin Bee Kun Bu sadar lagi, dan menyahut: "Ayo, kita berangkat ia tak akan kembali lagi!"

Lie Ceng Loan tidak menanya lagi, Sete!ah ia luang susu kambing di satu piring untuk anak menjangan, ia pun lari mengikuti Bee Kun Bu mendaki puncak, Ketika mereka tiba di atas puncak, matahari telah mulai silam, dan sinarnya menyoroti puncak-puncak gunung yang diselubungi salju nampaknya indah sekali."

Bee Kun Bu yang melihat Lie Ceng Loan sebentar- sebentar menoleh ke belakang mengetahui bahwa Su-moynya masih khawatir akan anak menjangannya, ia menghibur: "Ayo, kita harus jalan cepatan, Anak menjangan itu ditangkap oleh kawan Koko untuk menemani aku. Pada hari itu, aku telah menunggui kau di tempat penginapan di Yociu, tapi sehingga lohor belum juga kembali La!u aku beritahukan Susiok bahwa aku ingin mencari Koko, meskipun Susiok menahannya," kata Lie Ceng Loan,

Tapi dengan cara bagaimana kau diculiknya?" tanya Bee Kun Bu.

Sambil menarik napas, Lie Ceng Loan meneruskan kisahnya: "Aku telah berusaha mencari Koko hampir setengah hari, Aku beristirahat di bawah sebuah pohon Uu. Tiba-tiba mendatangi dua orang laki-laki yang bertubuh besar, yang pura-pura sedang menikmati pemandangan telaga, Ketika aku sedang lengah, mereka menotok jalan darahku, Ketika aku sadar, aku telah diikat erat-erat dibawa di dalam sebuah kereta yang ditutupi dengan kain hitam, Aku tak dapat melihat sesuatu apa-pun. Aku tak berdaya!"

"Apakah mereka menyiksa kau?" tanya Bee Kun Bu dengan beringas,

"MuIutku juga telah disumbat oleh mereka!" meneruskan Lie Ceng Loan, "Dan sumbatan itu baru dibuka ketika mereka memberikan aku makanan, Aku tak ma-kan, karena aku jemu dan cemas, sehingga aku kelaparan selama sehari semalam, Kemudian aku pikir bahwa Koko pasti berusaha mencari aku, dan jika aku mati karena kelaparan, aku tak dapat menjumpai Koko lagi sehingga usaha Koko menjadi hampa, tidaklah begitu?"

"Dan bagaimanakah kau terjatuh di tangannya Hweeshio- hweeshio dari Toa Ciok Sie itu?" tanya Bee Kun Bu.

Setelah menyandarkan kepalanya di dada suhengnya, Lie Ceng Loan meneruskan: "Aku di dalam kereta itu tak kelihatan apapun, dan aku pun tak mengetahui dibawa kemana, Tidakkah Koko pun akan merasa cemas?"

Tentu saja!" jawab Bee Kun Bu.

"Kereta yang mengangkut aku itu tiba-tiba berhenti Aku hanya mendengar suara orang yang sedang bertempur hebat sekali, Aku merasa girang, karena aku menduga bahwa Koko telah datang menolong Tapi setelah suara pertempuran berhenti, aku telah menjadi kecele karena orang yang datang itu seorang Hweeshio," kata Lie Ceng Loan,

"Bukankah ada dua Hweeshio? Yang satu bertubuh tinggi besar, dan yang satu lagi kurus kecil, dan kedua-duanya mengenakan baju abu-abu," kata Bee Kun Bu.

"Betul!" sahut Lie Ceng Loan dengan heran, "Me-ngapa Koko bisa mengetahui?" "Kedua Hweeshio yang durhaka itu telah dikirim ke akherat oleh Co Hiong," kata Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan tidak kenal siapakah Co Hiong itu, maka ia menanya: "Siapakah Co Hiong itu? Apakah ia pun juga kawan Koko juga?"

Bee Kun Bu mengangguk dan berkata: "Sebentar lagi juga kau dapat menjumpai ia. Betulkah kedua Hweeshio itu menyerahkan kau kepada lain Hweeshio untuk dibawa ke pegunungan Cie Lian San?" Mukanya Lie Ceng Loan segera menjadi merah, ia tutupi mukanya di atas dada Bee Kun Bu. Lalu air matanya mengucur keluar membasahi bajunya Bee Kun Bu. Sambil mengusap-usap kepala Sumoynya: Bee Kun Bu menghibur "Mengapa kau sedih hati? Apakah Hweeshio- hweeshio yang durhaka itu telah memperkosa kau?"

Dengan mengangkat lagi kepalanya, Lie Ceng Loan berkata dengan gemas sekali: "Kedua Hweeshio yang durhaka itu telah binasa, Mereka membawa aku ke suatu tempat pekuburan yang terpencil. karena aku diikat erat-erat, aku tak dapat melawan atau berontak, Ketika Hweeshio yang kurus ketika membuka sumbatan mulut-ku, aku gigit tangannya!"

Bee Kun Bu menjadi gelisah mendengar penuturan itu. ia memotong penuturan itu, dan menanya dengan bernapas: "Lalu jahanam-jahanam itu berbuat apakah terhadap kau?"

"Kemudian datang lagi satu Hweeshio berjubah ku-ning, ia maki kedua Hweeshio yang durhaka itu, ia buka ikatanku, tapi ia totok lagi dua jalan darahku sehingga aku seperti satu anak bayi tak berdaya sama sekali! ia kenakan aku jubah kuning, membalut kepalaku dengan kain kuning dan angkat aku dari tempat kuburan dibawa aku ke jalan raya, Di jalan raya kami bertemu dengan lain Hweeshio berjubah merah!"

Bee Kun Bu tak tahan mendengar penuturan yang menusuk hatinya, ia peluk Sumoynya erat-erat dan menghibur "Ai! Kau betuI-betul telah menderita banyak sekali!" "Hweeshio jubah kuning itu serahkan aku kepada Hweeshio berjubah merah yang membebaskan totokan jalan darahku agar aku dapat berjalan atau ber!ari, tapi lain daripada itu aku masih tetap tak berdaya, dan aku tak dapat melawan atau kabur!" meneruskan Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu berpikir "Aku berdua Co Hiong menunggangi kuda ajaib datang ke pegunungan ini, Mes-kipun aku datang dua hari terlambat, tapi kuda yang dapat menempuh seribu lie sehari, pasti dapat mengejar kuda-kuda yang lain. Mengapa Lie Ceng Loan dapat dibawa lebih cepat ke pegunungan Cie Lian San ini?" ia tak dapat memecahkan teka-teki itu, ia menanya lagi: " Apakah Hweeshio jubah merah itu segera membawa kau ke pegunungan Cie Lian San ini?"

Dengan gelengkan kepala, Lie Ceng Loan menyahut: Tidak, ia membawa aku selama dua hari dua malam Pada tengah hari di hari ketiga, kami tiba di suatu kuil di dalam gunung, Di kuil itu juga ada banyak Hweeshio-hweeshio, Kami menunggu sampai malam dan suasana menjadi gelap, Entah dari mana, mereka menangkap dua ekor burung yang ganjil, Si Hweeshio jubah merah berir tahukan aku bahwa aku akan dibawa ke suatu tempat yang indah permai, Aku mengetahui bahwa ia menipu aku. Aku memaki, tetapi ia tidak menjadi gusar Lalu aku diikat di belakangnya seekor burung yang ganjil itu, dan ia sendiri menunggangi seekor yang lain. Kami terbang selama semalam."

sekarang Bee Kun Bu baru mengetahui mengapa Sumoynya bisa datang lebih dulu dari ia ke pegunungan Cie Lian San. "Hanya burung-burung yang besar dapat membawa manusia dengan pesat, dan burung itu pasti sejenis burung- burung garuda. Hweeshio yang durhaka itu telah memelihara burung-burung yang besar itu untuk maksud yang jahat dan keji, dan dapat menempuh jarak yang jauh dengan cepat sekali sehingga perbuatan-per-buatan durhakanya tak diketahui orang," pikir Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan meneruskan kisahnya setelah menelan ludahnya yang merintangi tenggorokan nya: "Pada hari ketiga, burung-burung itu mendarat di satu hutan yang besar Si Hweeshio jubah merah membuka ikatanku, dan membiarkan burung-burung itu mencari makanan di hutan, Burung-burung itu makan burung-burung kecil dan kelinci-kelinci hutan, lalu aku diikat lagi, dan bersama si Hweeshio dengan burung- burung itu4cita terbang lagi, Burung-burung itu berhenti beberapa kali untuk beristirahat meskipun burung-burung itu besar dan kuat, tapi menurut pendapatku, mereka tidak sehebat bangau putih kepunyaan kawan Koko."

"Tentu saja!" sahut Bee Kun Bu sambil tersenyum, "Bangau putih itu adalah seekor bangau sakti yang telah berusia diatas seribu tahun, Burung-burung di dalam kuil Toa Ciok Sie tak dapat menandingi bangau sakti itu!"

Lie Ceng Loan meneruskan kisahnya: "Seterusnya kedua burung itu sebentar-sebentar berhenti untuk beristirahat Pada keesokan harinya, kami baru masuk ke daerah pegunungan Si Hweeshio jubah merah beritahukan aku bahwa di hari senja akan pasti tiba di tempat yang indah permai, dan ia beritahukan aku juga bahwa namanya ialah Hoat Lui."

Dengan tak dapat menahan sabarnya, Bee Kun Bu mengutuk: "Hweeshio jahanam!"

"Tapi kemudian ia dipukul jatuh dari atas burung oleh kawan Koko, Aku yakin ia jatuh hancur luluh!" kata Lie Ceng Loan.

"Setelah Pek Yun Hui menolong kau, ia segera membawa kau ke dalam gua baru tadi?" tanya Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan mengangguk dan berkata: "Ketika si Hweeshio bicara kepadaku, kawan Koko sambil menunggangi bangau putih datang mengejar Hebat betul ilmu dan kepandaian nya! Dengan hanya mengangkat satu tangannya, Hweeshio itu dipukul jatuh, Lalu ia loncat ke atas burung yang segera terjun ke bawah, Satu jotosan membikin binasa burung itu. Burung yang lain dipatok mampus oleh bangau putih, Dengan mudah sekali aku dijambret dan diangkat oleh kawan Koko, dan dengan menunggangi bangau putih itu, aku dibawa dengan selamat ke dalam tembah, ia menangkap seekor anak menjangan untuk menenami aku. Aku menanyakan tentang Koko, ia menjawabnya bahwa dalam beberapa hari lagi Koko pasti datang, Dan betul saja Koko telah datang!"

Bee Kun Bu terharu sekali atas budi yang besar dari Pek Yun Hui, Hanya dalam jangka waktu sebulan, Pek Yun Hui telah menolong ia serta Susiok dan Sumoynya, Bagaimanakah ia dapat membalas budi yang sangat besar itu? Ketika itu Lie Ceng Loan masih saja bersandar di atas tubuhnya Bee Kun Bu. ia memandang pemandangan dari pegunungan itu. Setelah ia melihat asap yang mengepul di sebelah selatan, lalu melihat juga api yang berkobar-kobar, ia terkejut ia berseru: "Bu Koko, coba lihat hutan di sebelah selatan itu sedang terbakar !H

Teguran itu membikin Bee Kun Bu ingat lagi bahwa ia harus lekas-lekas menemui Co Hiong, sebetulnya usaha membakar hutan itu adalah untuk membangkitkan perhatian Hweeshio di dalam kuil Toa Ciok Sie. Untuk mencari Co Hiong, ia harus segera pergi ke tempat di mana Co Hiong mulai membakar hutan itu. Tapi pada saat itu, api telah berkobar hebat sekali, dan jalan yang harus ditempuh tidak mudah dilalui ia harus melalui beberapa lembah-lembah dan bukit-bukit,

Jika ia menanti sampai malam, maka jalannya makin sukar, sebaliknya apabila ia tak mencari Co Hiong, ia merasa bersalah Maka ia teruskan perjalanannya mencari Co Hiong, "Ayo, kita jalan terus, Aku harus mencari dapat orang yang membakar hutan!" Lalu dengan ilmu meringankan tubuh mereka pergi ke tempat di mana Co Hiong mulai membakar hutan itu!

Dalam suasana yang suram di daerah pegunungan itu, yang diliputi dengan hutan-hutan lebat, ditambah pula dengan api yang berkobar kobar dan panas hawanya, mereka menjadi bingung harus jalan kemana mencari Co Hiong, Tapi mereka berjalan terus. Setelah berjalan kurang lebih tiga jam, Lie Ceng Loan mengeluh: "Bu Koko, aku merasa letih sekali!"

sebetulnya Bee Kun Bu pun merasa letih. Dengan perut yang lapar pula ia menjadi gelisah, Untuk menghibur Sumoynya ia berkata: "Mari kita jalan lagi, dan Co Hiong pasti dapat diketemukan!" Lie Ceng Loan tersenyum dan sambil memegangi tangannya Bee Kun Bu, ia berjalan terus.

Mereka jalan dan berusaha mencari lagi selama dua jam, tapi tanpa hasil! Melihat Lie Ceng Loan telah menjadi letih sekali, Bee Kun Bu berkata: "Kau betul-betul sudah letih sekali, Marilah kita beristirahat di tempat yang agak tinggi"

"Aku betul-betul tak berguna!" sahut Lie Ceng Loan sambil tersenyum, "Aku hanya merintangi Koko saja."

Mereka memilih tempat yang agak tinggi di bawah suatu pohon besar, dan di situlah mereka beristirahat Dengan sekejap saja Lie Ceng Loan sudah jatuh tertidur Bee Kun Bu duduk di sisinya mengawasi Sumoynya yang ia sangat cintai itu,

Tiba-tiba angin gunung membawa suara derap nya kaki kuda, dan suara itu makin lama makin dekat terdengar nya. Bee Kun Bu tergerak hatinya, "Kuda itu pasti kudanya Co Hiong," pikir ia. "Di kolong langit ini, tak dapat kuda lain yang dapat berlari dalam suasana gelap di pegunungan ini." Lalu ia menjerit memanggil Co Hiong,

Suara jeritan di malam yang sunyi senyap itu terdengar seperti meraungnya seekor singa, menggema dan menggetarkan lembah! Betul saja dari sebelah selatan terdengar suara jawaban Co Hiong, dan Lie Ceng Loan bangun dari tidurnya, Bee Kun Bu segera berdiri, siap menyambut kedatangannya Co Hiong, sebelumnya Co Hiong turun dari kudanya, ia telah melihat Lie Ceng Loan, ia berkata sambil tertawa: "Apakah gadis berbaju merah ini Sumoynya Bee?" Bee Kun Bu mengangguk dan menyahut: "Betul!"

Lalu ia memperkenalkan sumoynya kepada kawannya,

Co Hiong yang tajam penglihatannya merasa kagum melihat kecantikan Lie Ceng Loan. ia berkata dengan bersenda gurau: "Tidak heran jikalau saudara sampai tidak enak makan dan tidur memikiri Li Siocia! Ha! Ha! Ha!"

Bee Kun Bu menyahut: "Janganlah saudara Co menggoda! Tapi cara bagaimanakah kau dapat datang ke sini, sedangkan kami mencari kau sepanjang malam?"