Bangau Sakti Jilid 05

 
Jilid 05

Namun hanya daun-daun pohon-pohon yang berhamburan. Bee Kun Bu entah berada di mana! Kali ini Kiok Goan Hoat mengeluarkan keringat dingin, "Apakah anak kemarin dulu ini mempunyai ilmu ajaib? Tinju yang aku kirim seratus delapan puluh derajat itu belum pernah gagal merubuhkan lawan ku. Tapi kali ini tanpa hasil!" ia pikir Lalu ia loncat ke pinggir dan menoleh ke belakang. Bee Kun Bu tetap berdiri di tempat tadi, ia ingin menanya lawannya tentang ilmu yang digunakannya itu, tetapi ia tak dapat ucapkan.

Maka dengan paksa tertawa, ia berkata: "Partai silat Kun Lun terkenal sebagai salah satu dari sembilan partai silat yang dimalui. Kini aku baru mengetahui karena mempunyai ilmu sihir!" Sambil bicara ia siap memukul lagi lawannya dengan maksud membinasakan Tapi Bee Kun Bu berdiri dengan waspada. ia ucapkan mantera dari Ngo Heng Mie Cong Pu atau langkah ajaib dalam halinya, ia tak dengar sedikit pun perkataannya Kiok Goan Hoat Melihat perkataannya tidak digubris, Kiok Goan Hoat menjadi makin murka, ia totok ujung jari kedua kakinya dan loncat menerkam dengan dua tangan nya.

Bukan main hebatnya terkaman itu, karena dilepaskan dengan tenaga dalam dan datangnya sangat cepat Tapi Bee Kun Bu hanya mengegos sedikit saja, dan ia telah berada, entah dimana. Kiok Goan Hoat menerkam angin! Kiok Goan Hoat yang telah berkecimpungan beberapa puluh tahun di kalangan Kang-ouw, dan pernah bertempur melawan jago- jago sifat yang lihay, belum pernah menyaksikan ilmu silat yang dipertunjukkan Bee Kun Bu. ia berdiri terpisah dari Bee Kun Bu hanya satu depa, tapi Bee Kun Bu seperti juga bayangan iblis sebentar muncuI, sebentar hilang, sebentar di depan, dan sebentar di belakang ia menjadi jeri. Lawan yang dipandang remeh ini mungkin dapat membunuh mati ia! sedangkan Bee Kun Bu dilain pihak pun merasa khawatir ia khawatir jika ia gagal melancarkan ilmu Ngo Heng Mie Cong Pu yang ia dapat pelajari dari Pek Yun Hui.

Tapi kemudian ia bersyukur karena tanpa ilmu itu, mungkin ia telah menjadi mayat! "Apakah perlu aku melawan terus, sedangkan Lie Ceng Loan belum ketemu? Mungkin Sumoyku telah ditawan atau dibokong orang," ia pikir "Dua penunggang kuda yang aku jumpai tadi adalah orang-orangnya partai Tian Liong, dan Kiok Goan Hoat adalah kepala dari bendera hitam dari cabang partai itu, jika Kiok Goan Hoat hendak menangkap Lie Ceng Loan, hal itu tak sukar bagi nya. Aku harus pergi ke markasnya partai Tian Liong untuk mencari Sumoyku!"

Setelah berkeputusan demikian, ia tak ingin kembali lagi ke tempat penginapannya untuk memberitahukan maksudnya kepada Giok Cin Cu karena khawatir ia ditahan lagi Maka tanpa diketahui oleh Kiok Goan Hoat, ia berlalu dari tempat pertarungan itu untuk pergi ke markas partai Tian Liong mencari Sumoynya, Di sepanjang jalan ia tak lupa meninggalkan tanda dari par-tainya di pongkol-pongkol pohon yang dapat menunjukkan ke mana ia telah pergi kepada

orang-orang dari partai Kun Lun.

sepanjang malam ia meneruskan perjalanannya ke markas partai Tian Liong yang terletak di sebelah utara propinsi Kwi- ciu. Pada keesokan paginya ia telah tiba di suatu kota, kota kecil di mana ia membeli sarapan untuk menangsal perutnya yang lapar Lalu ia melanjutkan perjalanannya lagi, B jasanya kalau Lie Ceng Loan berada di sampingnya, ia tak terlalu hiraukan, Kini setelah ia ketahui Lie Ceng Loan tidak pulang, ia menjadi gelisah bagaikan semut di dalam kuali panas, ia baru insyaf betapa hebatnya ia mencintai gadis itu.

Dihari kedua, ia telah tempuh empat ratus sampai lima ratus lie, dan telah tiba di kota Tong Kia Sip di propinsi Kiang- si. Kota itu meskipun tidak besar, tetapi terletak di jalan yang strategis, sehingga ramai sekali, ia mencari tempat penginapan dengan maksud untuk beristirahat dan mendengar-dengar kabar tentang Sumoy-nya.

Tapi ia cari satu restoran untuk minum dan makan, ia telah menempuh perjalanan hampir lima ratus lie dalam dua hari Maka setelah minum beberapa cangkir arak, ia tertidur di meja makan, ia telah tertidur selama satu jam. Ketika ia terbangun dari tempat tidurnya dan hendak membayar pegawai restoran berkata: "Kawan saudara telah membayarnya semua makanan dan arak itu " Bukan main terkejutnya Bee Kun Bu. ia berjingkrak sehingga cangkir arak jatuh dari atas meja ke lantai sehingga hancur peristiwa itu telah menarik perhatiannya tamu-tamu lain di restoran itu. Bee Kun Bu Iekas-lekas menenangkan diri dan menanya pegawai restoran itu: "Ketika kawanku pergi, apakah ia meninggalkan pesan? Dan kawanku itu, bagaimanakah air mukanya? Berusia berapa ?"

pegawai itu pun menjadi heran melihat sikap yang terburu nafsu dari Bee Kun Bu. Sambil tersenyum ia menyahut: "la sudah berusia kira-kira lima puluh tahun lebih, tubuhnya kate dan kurus, Setelah saudara datang, ia pun masuk ke restoran ini, Tapi ia tidak ketemui saudara, ia duduk sedikit jauh dari saudara. Apakah saudara tidak melihatnya?"

Bee Kun Bu melihat meja yang bekas ditempati oleh kawannya, Betul saja di atas meja itu telah tertulis dengan jari tangan yang bunyinya: "Gadis itu dalam keadaan selamat, Kau boleh minum sehingga mabuk tanpa khawatir!" Tapi tulisan itu tak ada tanda langannya, dan itulah yang memusingkan kepalanya, siapakah kawannya itu? Semenjak ia menceburkan diri di kalangan Kang-ouw selama tiga bulan, ia telah menjumpai dan mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh dan ganjil orang-orang yang ia jumpai seperti juga naga- naga yang datang keluar dari pedut atau lautan, ia pasti tak dapat keterangan apapun dari restoran itu, ia tak menanya Iagi. ia berikan uang untuk mengganti cangkir arak yang telah pecah, lalu keluar dari restoran itu. ia berjalan di sepanjang pinggir sungai untuk mengenangkan peristiwa-peristiwa di hari-hari yang lampau.

Dengan tak terasa olehnya, ia telah berjalan sampai senja, ia hendak kembali ke tempat penginapannya, Setelah berjalan lebih kurang satu jam, dari depan mendatangi sebuah kereta yang dikendarai dengan pesat oleh seorang laki-laki yang bertubuh besar, berbaju putih dan mengikat kepala dengan kain putih, kereta itu dihentikan dekatnya, Lalu pengendara itu keluarkan satu terompet tanduk, ia tiup terompet tanduk itu, Nada yang keluar dari terompet itu nyaring dan ganjiL Kemudian pengendara itu loncat turun dari keretanya dan sebentar-sebentar ia menoleh ke arah sungai.

Di dalam kereta itu terdengar suara orang merintih, Bee Kun Bu menjadi curiga mendengar suara rintihan itu, ia cabut pedangnya, dan datang menghampiri kereta itu untuk memeriksa suara rintihan di dalam kereta itu, Ketika ia periksa kereta itu, ia menjadi bengong, Di dalam kereta bukannya Lie Ceng Loan yang ia sedang cari, tetapi tiga orang laki-laki yang menderita luka parah, pada saat itu pengendara yang bertubuh besar itu telah datang menyerang dari belakang, jotosan itu hebat tapi hanya mengegos sedikit lalu dengan pedang terhunus ia menanyai" Apakah kau orangnya partai Tian Liong?"

"Betul," sahut si pengendara itu. "Kawanmu bagaimana memperoleh luka parah? Dan mana pengawal lam-lainnya?" tanya Bee Kun Bu.

pertanyaan itu membingungkan pengendara itu, karena orang-orangnya partai Tian Liong dengan lima cabang- cabangnya sangat banyak jumlahnya, mungkin ribuan, ia hanya dapat menjawab: "Pengawal kami telah ditawan dan kami berempat telah melawan mati-matian." 

"Apakah saudara datang untuk menyambut kami?" Lalu ia angkat tangan kanannya dengan dua jari di-bengkokkan ke depan. itulah tanda memberi hormat dari partai Tian Liong dan juga tanda dari salah satu cabang-cabangnya, Sudah tentu Bee Kun Bu tidak mengerti arti daripada tanda itu, ia tidak membalas.

Si pengendara segera mengetahui bahwa Bee Kun Bu bukan dari partai Tian Liong, Dengan murka ia membentak: "Hai! Anak sambel! Kau berani menipu kami!" bentakan itu dibarengi dengan satu jotosan,

Dengan ilmu Pik Men Tui Goat atau tutup pintu menghalangi bulan Bee Kun Bu mengelakkan jotosan itu dengan tangan kirinya, sedangkan pedang di tangan kanannya sudah berada di tenggorokan pengendara kereta itu, "Aku bukan orangnya partai Tian Liong, tapi aku pun bukan musuh dari partaimu, Aku hanya ingin menanya kau suatu hal," kata Bee Kun Bu. Karena orang itu telah menyaksikan betapa lihaynya silat Bee Kun Bu, dan ujung pedang telah berada di tenggorokannya, ia menyahut: "Saudara mau tanya apa?"

"Bagaimana kalian dapat luka parah?" tanya Bee Kun Bu. "Kami sedang membawa seorang gadis berbaju merah,

lalu ada orang yang merebut tawanan kami, dan pengawal kami juga telah terluka meskipun kami telah melawan mati- matian sehingga menderita luka parah," menjelaskan orang itu,

"Siapakah yang merampas gadis itu?" tanya Bee Kun Bu dengan cemas, "Dan dibawa ke mana?"

"Yang merampas adalah dua Hweeshio (paderi) dan entah ke mana dibawanya," sahut orang itu,

Dengan murka Bee Kun Bu membentak: "Ka(ian dari partai Tian Liong mengapa menculik gadis itu!"

"Kami menculik ia atas perintah atasan. Apakah kau berani menemui pemimpin kami di markas?" kata orang itu.

Dengan mengejek Bee Kun Bu berkata: "Salah satu pemimpin cabang partaimu, Kiok Goan Hoat, aku telah jumpai, dan ilmu silatnya tidak mengejutkan orang, Mar-kas partai Tian Liong belum tentu merupakan suatu benteng dengan tembok besi. Mengapa aku takut pergi ke sana? Tapi orang yang diculik telah dirampas lagi, aku tak perlu lagi pergi ke markas Thian Liong untuk mencari korban, Aku pun tidak sudi mendesak orang di dalam kesukaran. "

Belum lagi pembicaraannya setesai, tiba-tiba dari satu perahu yang baru saja dipinggiri meloncat ke darat empat orang laki-laki yang bertubuh kasar dan besar, yang segera menghadapi Bee Kun Bu. Orang yang mengendarai kereta, setelah melihat kawan-kawannya telah datang, lantas menuding Bee Kun Bu dan membentak: "Hei! Anak kemarin! Apakah kau berani melawan pemimpin kami!"

Bee Kun Bu yang telah dengar bahwa Lie Ceng Loan telah diculik oleh orang-orangnya partai Tian Liong, dan ia sendiri dibentak-bentak telah hilang kesabarannya, Dengan murka ia menjerit: "Na! Kalian semuanya rasai ini!" ia membarengi jeritan itu dengan satu sabetan pedang kepada lima orang itu dengan ilmu Hen Hua Cun le atau bunga berhamburan ketimpa hujan. jurus itu, adalah salah satu jurus istimewa dari Cui Hun Cap Ji Kiam.

Serangan itu betuI-betul seperti berhamburannya bunga- bunga, sehingga lawan-lawannya tak mengetahui bagaimana harus menangkisnya. Kelima orang itu segera mundur teratur menghindarkan sabetan pedang yang lihay itu. Bee Kun Bu membentak lagi: "Kalian menculik Sumoyku atas perintah atasan Aku harus menyelidiki dahulu untuk membikin perhitungan yang setimpal sekarang aku hanya menanyakan kemanakah Sumoyku di bawa. jikalau kalian dusta, pedangku ini akan kirim kalian ke akherat!"

Si pengantin insyaf bahwa mereka berlima tak dapat melawan Bee Kun Bu. ia menyahut: "Orang yang merampas gadis baju merah betul dua orang Hweeshio, Ke mana dibawanya, kami betul-betul tak tahu. Sumoymu betul diculik oleh partai Tian Liong, tapi telah dirampas lagi oleh orang Iain. Urusan ini kami dari partai Tian Liong tidak akan tinggal diam. Gadis itu dirampas lagi dekat tempat pekuburan yang letaknya dari sini lebih kurang tiga puluh lie. Saudara boleh pergi lihat."

Bee Kun Bu hanya dapat pereaya apa yang diberitahukan Yang penting ialah menolong Sumoynya, Maka ia meninggalkan mereka dan menuju ke tempat yane ditunjuk tadi, Dengan semangat yang menyala-nyala Bee Kun Bu telah tiba di tempat pekuburan itu dalam jangka waktu selama orang makan nasi, Dengan matanya yang jeli ia melihat di sekitarnya Pohon-pohon yang tinggi dengan bayangan-bayangannya yang menyeramkan membikin bulu roma berdiri Betul di atas tanah Bee Kun Bu melihat tanda-tanda darah dan rumput telah diinjak-injak orang.

Melihat keadaan itu rupanya tempat tersebut pernah terbit pertarungan ia menyelidiki terus, tapi tak ada tanda lain yang dapat menunjukkan jejaknya Lie Ceng Loan. "Hweeshio- Hweeshio jumlahnya sangat ba-nyak. Di kuil manakah aku harus mencari dua Hweeshio itu yang dikatakan telah merampas Sumoyku?" tanyanya kepada diri sendiri Makin dipikir, makin cemas ia atas keselamatan Sumoynya. Air matanya mengucur keluar dari kedua matanya memikiri nasib Sumoynya, ia duduk di atas suatu gundukan tanah kuburan, memikiri jalan yang ia harus tempuh.

sekonyong-konyong dari belakangnya ia dengar suara orang menarik napas, ia menoleh ke belakang dan mengawasi ke jurusan datangnya suara itu. Di atas satu bongpay (batu nisan) terlihat seorang berbaju putih, ia berdiri siap menghadapi segala sesuatu. Tapi orang itu segera lenyap kembali. ia datang menghampiri ke tempat orang itu berdiri, ia temukan satu sapu tangan putih dengan tulisan yang berbunyi "Sumoymu mengalami rintangan lagi, Aku tak mengetahui jejaknya lagi, Mung-kin dibawa oleh rampok. Tapi jika Sumoymu diganggu, aku pasti membalas. Harap saudara sabar, dalam satu bulan tentu ada kabar baik!"

Membaca tulisan itu, Bee Kun Bu makin cemas dan murka besar, tapi tak berdaya, "Kemana aku harus pergi mencarinya?" Pikirnya, Ketika itu sang fajar telah me- nyingsing, dan ia tetap masih berdiri termenung! Ke-mudian ia dengar suara orang menegur "Bee Lotee! Kau baik-baik?

Tidak diduga kita bertemu lagi di sini!"

Bee Kun Bu hadapi orang yang menegurnya, Orang itu adalah Tee Ju Liong, pemimpin cabang partai Tian Liong di daerah sungai Yang-tse, yang ia pernah jumpai di pinggir telaga Tong Teng, Di belakang Tee Ju Liong ada dua orang laki-laki bertubuh besar dan bersenjata golok sedang menuntun tiga ekor kuda, Bee Kun Bu menyahut ketika Tee Ju Liong sudah datang dekat sekali: "Partai saudara betul besar dan orang-orangnya tersebar diseluruh selatan sungai Tapi banyak orang-orang itu bersifat perampok Apakah Tee Cong piauw juga datang ingin menculik aku?"

Mendengar jawaban itu, Tee Ju Liong menjadi marah. ia membentak: "Bee Lotee, mengapa bicara demikian kasar?! Aku telah menjelaskan bahwa aku datang untuk mengambil peta Cong Cin To- Kini telah ternyata kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu telah diambil orang. Antara kita berdua tidak ada permusuhan atau sengketa lagi, Tapi Bee Lotee, kau membuka mulut menghina aku. ini apakah maksudnya?!"

Dengan suara mengejek, Bee Kun Bu berkata: "Ada orang dari partaimu yang mulutnya manis sekali, tapi hatinya ingin membunuh perkataan yang enak didengar itu tak terbukti baiknya, tapi terbukti dengan perbuatan perbuatan yang keji. Tee Cong Piauw mungkin juga datang untuk menculik aku!"

Tee Ju Liong menjadi heran dengan ucapan yang pedas itu, ia menanya lagi: "Bee Lotee, kau harus bicara sopan sedikit Meskipun kau seorang murid kesayangan Hian Ceng Totiang yang berbudi terhadap aku, kau tak dapat bicara demikian kasarnya terhadap aku. 0rang-orangku semalam telah diserang di tempat tidak jauh dari sini dan keempat- empatnya telah menderita luka parah, Bahkan orang tawanan yang mereka sedang bawa dirampas! Aku setelah mendapat kabar, segera datang untuk menyelidiki dan aku tak sangka bisa berjumpa lagi dengan Bee Lotee...N ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan Tapi semalam orang-orangku telah menjumpai juga , satu pemuda yang bersenjata pedang, apakah Bee Lotee sendiri?"

"Betul!" sahut Bee Kun Bu. "Orang yang ditawan itu, apakah Tee Cong Piauw tahu siapa?"

Tee Ju Liong menggelengkan kepala dan menyahut: "Menurut kata orang-orangku, ia adalah seorang gadis muda. Aku hanya dapat perintah dari pimpinan cabang bendera merah untuk membawa tawanan itu ke utara dari propinsi Kwi- ciu. Tapi semalam tawanan itu telah dirampas orang, dan empat orang-orangku telah menderita luka parah, sedangkan? Satu pengawal entah ke mana. "

Belum lagi omongan itu selesai, Bee Kun Bu sudah naik darah dan membentak: "Sumoyku baru saja menceburkan diri di kalangan Kang-ouw, dan ia tak pernah menyakiti hati orang lain, ia tak mempunyai musuh, Mengapa ia harus diculik oleh partai Tian Liong?!"

Tee Ju Liong terkejut, dan ia menanyai "Ha! Orang yang ditawan itu apakah Sumoy Bee Lotee? Mengapa pemimpin bendera merah menyuruh menculiknya? urusan ini aku betul- betul tidak mengetahui hal ikhwalnya, Mungkin ini satu kekhilafan pemimpin bendera merah adalah Ouw Lam Peng, dan murid dari bendera merah pasti tak berani melakukan sesuatu tanpa perintah, Ta-wanan itu harus dibawa ke markas pusat dan ini terbukti tidak ada niatan mencelakakan Sumoy Bee Lotee. "

Bee Kun Bu tak tahan sabar lagi, ia membentak: "la adalah seorang gadis yang putih bersih, suci batinnya, dan belum pernah menyakiti hati orang lain. Mengapa ia harus diculik?"

Tee Ju Liong coba menenangkan dan berkata: "Per-aturan partai kami keras, orang-orang yang melanggar kesusilaan, segera dihukum berat Ouw Lam Peng terkenal di kalangan Kang-ouw. Mustahil ia berbuat keji?!" Bee Kun Bu berpikir "Ouw Lam Peng terkenal ilmu silatnya, Sebagai pemimpin, ia tak akan berbuat kejL Tapi. " Tiba-tiba ia ingat perkataannya

Pek Yun Hui di telaga Poa Yo Ouw, yang pernah mengatakan kepadanya: "Souw Hui Hong tak akan sudi menderita sendiri karena cintanya tak terbalas, Souw Hui Hong pasti mencari daya, Lagi pula ia adalah puteri dari kepala partai Tian Liong Souw Peng Hai! ia pikir lagi Hui Hong mungkin minta pertolongan Ouw Lam Peng menculik Lie Ceng Loan. karena

asmara segi tiga, Pasti! Pasti! ini tentu perbuatannya Souw Hui Hong!" Tee Ju Liong melihat Bee Kun Bu diam bengong menjadi heran, ia menegur lagi: "Bee Lotee, apakah perkataan si tua bangka ini ada alasannya, Aku yang pernah menerima budi gurumu, dan belum memperoleh kesempatan untuk membalas, pasti tak akan menjerumuskan kau. Kini yang penting ialah mencari di mana Sumoymu berada. Aku akan perintahkan semua orang-orangku di sebelah selatan sungai ini mencari Sumoymu sebagai tanda bahwa aku berhasrat membalas budi gurumu Betul hasilnya belum ketentuan, tapi usaha ini seratus kali lebih baik daripada kau mencari sendiri, bukan? Partaiku dapat menyampaikan kabar sampai empat ratus atau lima ratus lie dalam sehati Na, sekarang terserah kepada kau. Jika kau pereaya aku, aku akan laksanakan usaha ini!"

Melihat bahwa Tee Ju Liong sungguh-sungguh hati ingin menolongnya, dan ia sendiri sudah kehabisan akal, ia ingin memberitahukan kesetujuannya, ketika dari sebelah barat datang seorang penunggang kuda dengan pesat sekali, tak lama kemudian orang yang berkuda itu sudah berada dekat mereka, Kuda yang ditunggangi itu - luar biasa, warnanya merah dan dari kepala sampai di buntut lebih dari sembilan kaki panjangnya, dan tingginya lebih dari enam kaki. Bee Kun Bu belum pernah melihat kuda demikian bagusnya.

Orang yang menungganginya juga luar biasa, ia mengenakan baju kuning, tali pinggangnya putih celananya kuning muda, air mukanya putih bersih, kedua alisnya hitam, hidungnya mancung, kedua bibirnya merah delima, dapat dikatakan dia seorang pria yang "cantik" dan bersenjata empat lingkaran emas yang berkilau-kilauan, ia turun dari kudanya lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat: Tee Cong Piauw sudah datang lebih dulu, Tawanan partai kami, bagaimana kabarnya? Apakah Tee Cong Piauw sudah dapat kabar lebih lanjut?"

Mendengar Lie Ceng Loan dianggap sebagai orang tawanan, Bee Kun Bu menjadi marah lagi, Dengan tak menunggu jawaban Tee Ju Liong, ia mengejek: "Rupanya partai kalian adalah partai bergajul yang hanya bisa menculik orang!"

pemuda itu segera berubah wajahnya, Dengan murka ia menegur dengan menuding: "Hei! siapakah kau? Be-rani sembarangan buka muiut!" ia segera keluarkan lingkaran emasnya yang berkilau-kilauan menyilaukan mata, dan suaranya bising sekali, memusingkan kepala, Untuk mencegah satu pertempuran Tee Ju Liong lekas-lekas berkata: "Kedua Siotee, sabarlah, Di kalangan Kang-ouw ada pepatah: jika tak mengetahui urusannya, tindakan bisa keliru! Marilah aku ajak kenal!" Latu sambil menunjuk kepada Bee Kun Bu, ia berkata: inilah saudara Bee Kun Bu, murid kesayangan Partai Kun Lun." Dan sambil menunjuk ke arah pemuda baju kuning ia berkata: "lnilah pemimpin kedua dari partai Tian Liong, Co Hiong-"

Co Hiong berkata: " Apakah orang tawanan partai kita ada hubungannya dengan saudara Bee?"

"Gadis yang telah ditawan partai kita adalah adik seperguruannya (Sumoy) Bee Lotee," sahut Tee Ju Liong.

Sambil masukkan lagi lingkaran-lingkaran emasnya, Co Hiong berkata: "Mengapa partai kita menawan muridnya partai Kun Lun?"

"ltu aku sendiri belum buktikan Hanya Bee Lotee mengatakan bahwa gadis yang ditawan itu adalah Sumoy- nya," kata Tee Ju Liong,

"Aku mengejar dan mencarinya dari kota Yauw Ciu, mustahil aku berdusta bahwa ia bukan Sumoyku?" menegaskan Bee Kun Bu.

Tee Ju Liong geleng-geleng kepalanya dan berkata: "Aku hanya dapat perintah dari cabang bendera merah untuk mengawal seorang gadis tawanaa Lain daripada itu, aku sedikit pun tak mengetahui Dengan sikap menghaturkan maaf, Co Hiong berkata kepada Bee Kun Bu: "Tidak heran jika saudara Bee demikian marahnya, Kita harus mentaati peraturan partai yang keras, Siapa saja salah membunuh orang yang baik akan dihukum dengan seksama, Ouw Lam Peng yang memegang pimpinan cabang bendera merah pasti tak akan menyeleweng

Pada dewasa ini, aku pun belum mengetahui seluk beluknya urusan ini tentuakan menjadi jelas bagi semua orang yang berkepentingan Pagi ini aku dapat kabar bahwa orang- orang kami telah dibegal dan menderita luka parah, maka aku lekas-Iekas datang, sekarang bukan saja kami belum mengetahui dimana adanya Sumoynya saudara Bee, bahkan empat orang kami telah terluka parah, jika kami telah menemui Sumoynya saudara Bee, aku yakin kita dapat mengetahui segalanya, sekarang aku berpendapat lebih baik saudara Bee dan " aku bersama-sama pergi ke markas besar partai kami di utara propinsi Kwi-ciu menemui pemimpin untuk mencari keterangan yang jelas atau segera mencari dimana Sumoynya saudara Bee."

Bee Kun Bu mendengarkan dengan penuh perhatian lalu ia anggukkan kepala dan menyahut: "Jalan yang saudara Co usulkan baik sekali Untuk mencari Sumoyku, aku harus mendapat bantuan saudara. Aku harus setuju dengan saudara Co."

"Saudara Bee terlampau merendahkan diri, Jika setuju, marilah kita berdua berangkat," kata Co Hiong.

Tee Ju Liong merasa senang melihat kedua pemuda itu telah menjadi baik seperti saudara kandung, ia berkata sambil tertawa: "Tempat ini bukannya untuk kita be-runding, Di pinggir sungai ada berlabuh perahu, Marilah kita pergi ke atas perahu untuk minum arak dan beristirahat Mungkin juga dari orang-orangku, kita bisa dapat kabar tentang Sumoynya Bee Lotee." Lalu ia minta kudanya dari kedua orang-orangnya yang tadi menuntun tiga ekor kuda, ia cempIak kudanya dan berikan kuda lainnya untuk Bee Kun Bu sambil berkata: "Bee Lotee, mari kita berangkat dulu, Kudanya Tio Hiong adalah kuda ajaib yang dapat menempuh seribu lie sehari tanpa letih." Segera mereka sambil tunggang kuda menuju ke perahu yang sedang berlabuh di tepi sungai

Bee Kun Bu dan Co Hiong melawan dua hweeshio dijalan Betul saja Co Hiong yang menunggang kuda merah itu

segera dapat menyusul, bahkan melewati dengan cepat. Ketika mereka tiba di tepi sungai, Co Hiong telah menunggu di atas perahu, Lalu Tee Ju Liong mempersilahkan Bee Kun Bu naik ke atas perahu, Kemudian Tee Ju Liong pasang bendera putih di ujung perahu nya. Dua belas orang-orangnya berdiri tegak dalam dua deretan menanti perintahnya. Setelah menerima perintah dari Tee Ju Liong, maka kedua belas orang itu segera mengayuh perahu itu ke tengah sungai.

Sebagai tuan rumah, Tee Ju Liong melayani tamunya dengan cermat sekali, Tapi Bee Kun Bu yang selalu memikirkan Lie Ceng Loan, tak dapat menikmati makanan yang lezat dan arak yang harum itu. Sikap ini diperhatikan oleh Tee Ju Liong. ia menghibur "Bee Lotee, jangan terlalu dipikirkan Aku telah kirim orang-orangku ke daerah-daerah di propinsi-propinsi Kiang-sie, Hu-nan, Hu-peh dan Kwi-ciu untuk mencari Sumoymu, Mungkin dalam dua hari, kita bisa dapat kabar."

Co Hiong juga berkata: "Asal kita mendapat sedikit kabar saja, aku rela meminjamkan kuda ajaibku kepada saudara Bee. Kudaku dapat menempuh jarak seribu lie, sehari dan dapat mengejar kuda yang manapun, Saudara Bee, aku ingin membantu."

Dengan perasaan berterima kasih Bee Kun Bu menyahut: Tee Cong Piauw, saudara Co, aku menghaturkan terima kasih atas semua itu. Kuda ajaib itu seperti seekor naga, Siotee tak berani meminjamnya."

Sambil tertawa Co Hiong berkata: "Aku telah berjanji kuda itu akan kuberikan kepada Sumoyku, Souw Hui Hong. Tiga bulan lagi kuda itu bukan milikku pula, Dua Hweeshio yang merampas Sumoy saudara Bee aku pun ingin menjumpainya, Apakah mereka itu Tong Ciauw Lo Han atau Tie Ta KLim Kang, Kuda itu kuat, dan kita dapat menunggangnya bersama- sama."

Tawaran yang murah hati itu, aku tak dapat menolak Aku menghaturkan terima kasih terlebih dahuhi!" - sahut Bee Kun Bu,

"Aku sebetulnya beradat congkak. Tapi setelah mengenal saudara Bee, aku merasa seperti kawan akrab, Mengapa? pasti ada sebabnya, Nah! Saudara Bee, harap saudara lupakan sejenak pikiran yang kesal, mari temani aku minum secangkir arak lagi sebagai tanda persaudaraan kita. Tentang perintah dari cabang bendera me-rah, aku sudi menyertai saudara menjumpai pemimpin partai kami Souw Peng Hai," kata Co Hiong. Lalu ia angkat cangkir araknya dan disentuhkan ke cangkir araknya Bee Kun Bu sebelum mereka minum habis arak itu berbareng,

Co Hiong yang cerdas itu sengaja mengajak Bee Kun Bu minum lebih banyak arak dengan maksud membikin ia mabuk agar ia lekas jatuh pulas, Betul saja, karena letihnya, Bee Kun Bu tertidur di dalam perahu Tee Ju Liong itu. Ketika ia mendusin, ia lihat Co Hiong dan Tee Ju Liong masih tidur dekat dia. Selang kemudian Co Hiong pun bangun, sambil tertawa ia berkata: "Hm! Kita telah tidur selama tujuh jam.

Bagaimana saudara Bee? Apakah kau masih merasa letih?"

Sambil tersenyum Bee Kun Bu menyahut: Terima kasih.

Aku tak letih lagi, Aku merasa segar dan ber-semangat." Kemudian lagi Tee Ju Liong pun mendusin dan bangun, ia keluar dari kamar itu, Dua anak berbaju membawa dua baskom air untuk mereka mencuci muka.

Mereka juga keluar dari kamar perahu itu, Bee Kun Bu menanya: "Saudara Co, kita berada di mana sekarang?"

Sambil tersenyum Co Hiong menyahut: "Barusan kami menerima kabar bahwa di dekat kota Lam Ciang dua Hweeshio yang mencurigakan gerak-geriknya telah diketemukan."

Bee Kun Bu menunggu omongan itu selesai, ia segera memotong dengan pertanyaannya: "Apakah Hweeshio yang membawa Sumoyku?"

"Sekarang kita belum dapat pastikan," sahut Co Hiong, "Karena Sumoymu belum kelihatan Tapi pakaian kedua Hweeshio itu serupa dengan Hwesshio yang telah merampas Sumoymu, orang-orang kami di kota Lam Ciang banyak sekali, Mereka harus melaporkan tentang kedua Hweeshio yang dicurigai itu. orang-orang kami tak berani menyergap kedua Hweeshio itu karena mereka khawatir tak dapat melawannya, jalan yang terbaik, ialah mereka laporkan itu kepada Tee Cong Piauw."

"Apakah perahu kita menuju kota Lam Ciang?" tanya Bee Kun Bu.

Sambil anggukkan kepala Co Hiong berkata: "Betul, Begitu Tee Cong Piauw mendapat kabar ia ingin memberitahukan kau. Tapi kau sedang tidur, dan kita sungkan mengganggu Tapi rupanya saudara Bee sangat mencintai Sumoymu, bukan?"

Bee Kun Bu menjadi merah mukanya, ia tak dapat menjawab segera. Setelah lewat sejenak, ia berkata: "la adalah seoranggadis yang putih bersih, berperangai halus, hatinya pemurah. siapakah yang tidak akan menjadi suka padanya?"

Co Hiong mengawasi wajah Bee Kun Bu, lalu berkata: "Meskipun saudara Bee Kun Bu tak memberitahukan, aku pun dapat mengetahuinya."

Sekonyong-konyong Bee Kun Bu menanyakan suatu pertanyaan yang agak sulit bagi Co Hiong untuk di-jawabnya: "Apakah saudara Co mengetahui dengan alasan apakah Sumoyku diculik oleh orang partai Tian Liong?" Co Hiong hanya dapat goyang-goyang kepalanya, dan dengan sungguh-sunggun ia berkata: "Saudara Bee, pereayalah aku, bahwa aku tak mengetahui akan hal itu. Kita harus mencari Sumoy saudara dulu, kemudian baru kita menemui Souw Cong Piauw untuk menanyakan hal itu."

sementara itu, perahu dikayuh dengan pesatnya, keesokan harinya perahu itu tiba di pelabuhan Lam Ciang. Co Hiong menuntun Bee Kun Bu dan mendarat Di darat telah menunggu orang-orangnya partai Tian Liong, Kemudian tiga orang laki- laki yang bertubuh besar dan berbaju hijau datang menyambut "Kedua Hweeshio itu, kini bera(te di mana?" Co Hiong menanya kepada ketiga orang yang menyambut ilu.

Orang yang berdiri di tengah, dan berusia lebih kurang empat puluh tahun menjawab: "Teecu telah kirim orang untuk mengamat-amali jejak kedua Hweeshio itu. Semalam mereka masih berada di suatu tempat penginapan di sebelah barat kota ini. Mungkin sekarang mereka belum berlalu."

Co Hiong melirik ke arah Bee Kun Bu dengan suatu senyuman Lalu ia perintahkan ketiga orang itu: "Satu orang bawa kuda ajaibku, Satu orang menyertai Tee Cong Piauw, dan yang seorang lagi tunjukkan jalan untuk kita pergi ke tempat penginapan."

Lalu orang yang menjawab itu menyuruh kedua kawannya mengurusi kuda dan melayani Tee Ju Liong, sedangkan ia sendiri jadi penunjuk jalan untuk Co Hiong dan Bee Kun Bu pergi ke tempat penginapan Bee Kun Bu memperhatikan bahwa kedudukan Co Hiong dalam partai Tian Liong agaknya lebih tinggi daripada kedudukan Tee Ju Liong, tapi karena ia bukan di daerahnya, ia menghormati segala tindak tanduk dari Tee Ju Liong, ia menanya orang yang menunjuk jalan, "Saudara, bolehkah aku ketahui nama saudara?" Orang itu terkejut, tapi menyahut: "Aku bernama Thio Cay. Dengan perintah Souw Cong Piauw, aku harus mengamat-amati di sekitar kota Lam Ciang ini." Bee Kun Bu menanya lagi: "Ketika dua Hweeshio itu masuk ke tempat penginapan, apakah mereka membawa seorang gadis berbaju merah?"

Thio Gay geleng-geleng kepala dan menyahut: "Setelah mendapat perintah, aku segera kirim empat orang untuk menyelidiki dan mereka menjumpai dua Hweeshio yang pergi ke tempat penginapan, Tapi mereka tidak melihat seorang gadis."

Dengan perasaan kecewa Bee Kun Bu memandang kepada Co Hiong. Sambil tersenyum Co Hiong berkata: "Karena gerak-gerik kedua Hweeshio itu mencurigakan, kita harus pergi menyelidikinya. Sumoy saudara adalah murid yang telah dapat mempelajari ilmu pedang Kun Lun, jika mereka tidak menggunakan tipu muslihat yang keji, ia tak mudah dikendalikan Di kalangan Kang-ouw segala peristiwa yang ganjil dapat terjadi, maka tidak ada salahnya jika kita sendiri pergi menyelidiki bukan?"

Rumah penginapan yang ditunjuk adalah salah satu penginapan yang terbesar di kota Lam Ciang, dan mempunyai tidak kurang seratus kamar Ketika mereka tiba di rumah penginapan tersebut, matahari baru saja naik, dan pintunya belum dibuka, Lalu Thio Cay gedor-gedor pintu itu dengan tinjunya, tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh seorang pegawai yang rupanya dibikin kaget dan terbangun, karena pintu itu digedor hebat sekali Mula-muIa pegawai itu marah- marah, tetapi ketika ia buka pintu dan melihat Thio Cay, ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat dan berkata: Thio Loya, selamat pagi."

"Apakah semalam telah datang menginap dua Hwee- shio?" tanya Thio Cay dengan keren

"Kedua Toa-suhu itu masih berada di dalam, mungkin mereka belum berlalu. Thio Loya ingin menjumpai mereka? silahkan duduk, Aku akan segera mewartakan mereka," sahut pegawai itu. Tidak usah. Kau bawa kami ke kamar mereka," kata Thio Cay.

Setelah melihat Bee Kun Bu dan Co Hiong membawa senjata, pegawai itu merasa sedikit khawatir ia ajak mereka ke pekarangan dalam, lalu ia memanggil dengan suara keras. "Kedua Toa-Suhu! Bangun.,.! Bangun..!" Tapi meskipun ia telah memanggil empat lima kali, di dalam kamar tidak ada jawaban. Thio Cay tidak sabar lagi, ia tendang terbuka pintu kamar itu, dan ketiga orang itu menerobos masuk. Mereka terkejut ketika berada di dalam kamar Bahkan pegawai itu gemetaran

Di dalam kamar tidak terdapat dua Hweeshio itu, tapi dua kepala manusia yang berlumuran darah ditaruh di atas meja dekat jendela, dan di atas kedua tempat tidur menggeletak dua mayat manusia tanpa kepala!

Thio Cay menghampiri dan memeriksa dua kepala manusia itu. ia terkejut lebih hebat lagi, karena dua korban itu adalah orang-orangnya yang ia kirim untuk mengamat-amati gerak-geriknya kedua Hweeshio itu!

Bukan main murkanya Co Hiong setelah mengetahui bahwa dua korban itu adalah orang-orangnya partai Tian Liong. ia mengawasi Thio Cay agak lama sehingga Thio Cay mengkirik melihat sorot mata yang luar biasa itu, Ketika mereka berada di luar kamar, dengan tegas tapi keras Co Hiong berkata kepada Thio Cay: "Kau terlampau sembrono! Mengapa urusan penting ini kau serahkan kepada orang- orangmu yang tak berpengalaman Coba lihat! Bukan kah mereka mati konyol?!"

Dengan wajah yang pucat pasi, Thio Cay menyahut, kepalanya tunduk: "Kedua orang yang aku kirim itu adalah jago-jago silat yang lihay dari cabang Lam Ciang," "Jadinya aku yang salah?" kata Co Hiong dengan mengejek Tidak- Aku hanya mohon Co Ji-Tu (pemimpin kedua) dapat mengampuni atas kekhilafanku ini," kata Thio Cay.

Co Hiong cekal tangannya Thio Cay dan membentak: "Aku dapat mengampuni kelalaianmu, Tapi kau pun telah mengetahui peraturan partai kita, Jika dua Hweeshio saja kau tak dapat menahannya tugas apakah dapat diserahkan padamu?!" Lalu ia coba totok jalan darah di bahunya Thio Cay. Bee Kun Bu tidak tega melihat hukuman yang hendak dijatuhkan kepada Thio Cay itu. Dengan ilmu Wan Tee Poa Yun atau mengembalikan awan, dari bawah ia tepas tangannya Co Hiong sambil membujuk: "Urusan ini kita tak dapat salahkan Thio Cay. Mungkin kedua Hweeshio itu lihay sekali ilmu silatnya sehingga dua jago silat dari partai Tian Liong binasa, dan Sumoyku dapat diperlakukan sewcnang- wenang oleh mereka."

"Apakah saudara Bee hendak membela Thio Cay?" kata Co Hiong, mulai reda,

"BetuI," sahut Bee Kun Bu, "la telah lakukan tugasnya sedapat mungkin."

"Karena memandang saudara Bee, aku ampuni kau kali ini!" kata Co Hiong kepada Thio Cay, lalu ia masuk lagi ke dalam kamar untuk memeriksa lebih teliti kedua mayat itu. Selangsehirupan teh panas, ia berkata kepada Bee Kun Bu: "Saudara Bee tidak salah pendapatnya. Kedua Hweeshio itu bukan jago silat sembarangan

Cara mereka menotok jalan darah bukan saja menghentikan mengalirnya darah, tapi juga melukai daging dan tuIang!" ketika mereka masih berada di dalam kamar, Tee Ju Liong juga telah datang. ia segera memeriksa mayat-mayat itu: Lalu ia perintahkan Thio Cay bungkus mayat-mayat itu dengan selimut untuk dikubur sebagaimana layaknya. Thio Cay segera melaksanakan perintah itu, karena ia merasa bersalah atas binasanya kedua orangnya itu,

Setelah Thio Cay pergi, Tee Ju Liong berkata kepada Bee Kun Bu: Tidak diduga lawan kita demikian lihaynya, Mereka telah membunuh mati dua orang kami, dan telah menyelomoti kita, Jika mereka berlalu dari sini diwaktu malam, mereka pasti belum jauh dari sini, Dr dalam lingkaran seluas delapan ratus lie di kota Lam Ciang ini, aku telah pasang orang, dan mereka telah diberitahukan Kecuali kedua Hweeshio itu mempunyai kepandaian terbang, mereka tak akan dapat lolos dari jaring kami, Bee Lotee, hari ini, atau selambat-lambatnya malam ini, kita pasti mendapat kabar tentang kedua Hweeshio itu."

Meskipun Bee Kun Bu tak menahan kehendaknya menjumpai Ue Ceng Loan, tetapi dalam keadaan itu ia terpaksa berlagak sabar ia berkata: "Angkatan tua Tee, Saudara Co, untuk mencari Sumoyku kalian telah berusaha keras, bahkan telah ada orang-orangmu yang menjadi korban Aku sangat berterima kasih, Tapi. " Belum selesai ia bicara

Co Hiong memotong: "Urusan ini bukan lagi urusan saudara Bee. Dua orang kami telah binasa, kami harus membuat perhitungan Mulai saat ini, aku tidak akan berhenti mencari kedua Hweeshio itu!"

Tee Ju Liong lalu berkata: "Urusan ini kita tak perlu rundingkan lagi. Kita harus segera bertindak Mari naik perahu untuk merundingkan caranya mencari kedua Hweeshio itu!"

Ketiga orang keluar dari rumah penginapan, dan di luar telah menunggu, dua orang memegangi kudanya Co Hiong, Setelah menerima kembali kudanya, Co Hiong berjalan bersama-sama Bee Kun Bu ke perahu dengan Tee Ju Liong mengikuti di belakang,

Ketika mereka hampir tiba di tepi sungai perahu itu berlabuh, mereka melihat, Thio Cay datang menyambut. Setelah membungkukkan tubuh memberi hormat, ia berkata kepada Co Hiong: "Teecu baru saja dapat kabar bahwa kedua Hweeshio itu berada di suatu tempat di sebelah timur laut dua puluh lie dari kota Lam Ciang ini."

Dengan kedua mata terbelalak Co Hiong menanyai "Apakah kabar ini tidak keliru?" Teecu pasti tak berani memberi laporan yang ke-liru," sahut Thio Cay. Lalu Co Hiong berkata kepada Tee Ju Liong: Tee Cong Piauw, kau dapat naik perahu untuk menyusuInya, aku dan saudara Bee akan mengejar kedua Hweeshio itu dengan naik kuda ini," lalu ia cemplak kudanya, dan minta Bee Kun Bu naik kuda itu di belakangnya.

Bee Kun Bu hanya dapat menuruti saja. ia memperhatikan juga meskipun Co Hiong itu tampan mukanya, tetapi air mukanya yang mudah berubah-ubah sebentar marah, sebentar gembira, sebentar cemas, dan sebentar reda membikin ia sukar menduga isi hatinya yang sejati ia harus waspada terhadap Co Hiong, pikirnya,

Satu kedetan dari Co Hiong membikin kuda itu lari secepat angin, dan jarak dua puluh lie itu ditempuh dengan sekejapan saja, Mereka telah tiba di suatu persimpangan jalan ketika Co Hiong tarik tali les kudanya, ia menoleh ke belakang dan berkata kepada Bee Kun Bu: "Jika kedua Hweeshio itu berjalan ke utara, mereka harus menyeberangi telaga Poa Yo Ouw dan aku kira tak mungkin. Mereka mungkin jajanjagnuju ke barat laut, menyeberangi sungai Kang, nie!aWf kota Lo Hoa dan masuk ke pegunungan Kauw Leng San.

Pasti mereka telah melihat jaring kita yang dipasang sangat rapat, dan mereka berusaha meloloskan diri, Aku berpendapat bahwa kedua Hweeshio itu betul-betul cerdas dan pintar, serta berpengalaman sekali, Untuk menghindarkan kepungan orang-orang dari partai Tian Liong, jalan yang paling aman ialah lari ke pegunungan Kauw Leng San."

"Siotee baru saja menceburkan diri di kalangan Kang-ouw, maka tak berpengalaman, Siotee turut saja saudara Co!" sahut Bee Kun Bu. Sambil tersenyum Co Hiong berkata lagi: "Jika laporan Thio Cay tidak salah, kuduga kedua Hweeshio itu kini sedang memasuki daerah pegunungan Dengan kudaku ini, kita dapat mengejar mereka sebelumnya tengah hari, jalan lain telah dijaga oleh orang-orangku." Lalu ia kedet kudanya dan menuju ke barat laut mengejar kedua Hweeshio itu.

Bee Kun Bu yang duduk di belakang Co Hiong ingin melihat ke jurusan depan, tiba-tiba Co Hiong loncat turun dari pelananya, pakaiannya yang kuning berkibar-kibar, dan secepat kilat ia telah loncat turun lima depa dari kudanya di atas jalan!

Ketika ia loncat turun, ia telah tarik tali les kudanya, dan kuda itu telah berjalan perlahan dan kemudian berhenti di sisi jatan. Bee Kun Bu memperhatikan gerak-geriknya Co Hiong. Di depan Co Hiong telah berdiri menghadapi dua Hweeshio yang satu bertubuh tinggi besar dan memikul toya, dan yang lain bertubuh kecil pendek dan bersenjata goIok, Kedua Hweeshio itu mengenakan jubah warna abu-abu dan di tali pinggangnya menggelantung kantong dibuat dari kain kasar

Co Hiong mencegat kedua Hweeshio itu, dan sambil tertawa berbicara kepada Bee Kun Bu: "Saudara Bee, lekas lekas kemari!" Bee Kun Bu segera loncat turun dari kuda, dan lari menghampiri Co Hiong, ia berdiri berdamping-dampingan dengan Co Hiong menghadapi kedua Hweeshio itu.

Dari dekat terlihat bahwa Hweeshio yang bertubuh tinggi besar air mukanya hitara, kedua matanya yang besar dibikin lebih seram kelihatannya dengan alis yang gompyok, wajahnya keseluruhannya sangat seram, seperti satu iblis yang jahat Yang tubuhnya kecil pendek, air mukanya kuning pasi dan kurus kering, tapi kedua matanya seperti kedua mata tikus, sangat celiknya, Mata demikian menunjukkan bahwa ilmu tenaga dalamnya lihay sekali Kedua Hweeshio itu tidak gentar menghadapi lawannya. Mereka mengawasi Co Hiong dari atas sampai ke bawah, lalu memandangi juga kuda ajaibnya, Kemudian yang kecil pendek berkata: "Kuda itu betul bagus!"

Co Hiong mengangkat kedua alisnya dan menanyai "Apakah kedua Toa-su ini ada hasrat menaksir kudaku?" Si kecil pendek menyahut: "Kami biasa berjalan kaki, Kuda itu meskipun bagus tak guna bagi kami" Dengan suara rendah Co Hiong berkata: "Saudara Bee, berhati-hatilah kedua Hweeshio ini mungkin mempunyai ilmu sihir." Bee Kun Bu mengangguk sebagai tanda perhatian.

Hweeshio yang tinggi besar mengejek: "Kami telah katakan, kami tak butuh akan kuda. Jika kalian masih kepala batu ingin mencegat jalan kami, aku harus memperingatkan bahwa kami dapat mengirim kalian ke akherat!"

Dengan senyuman dan tenang Co Hiong menjawab: "Mutut itu besar sekali!" Lalu senyuman itu berubah menjadi wajah yang beringas, Dengan sekejap saja Co Kong keluarkan lingkaran-lingkaran emasnya, dan melanjutkan dengan suara yang kera&: "Di rumah penginapan di kota Lam Ciang, kalian telah membunuh dua orang dari partai Tian Liong, apakah betul?"

Hweeshio yang kecil pendek dengan kedua mata tikusnya menyengir "Dunia ini luas, dan kami dapat berjalan di mana saja, Jika orang-orangmu merintangi kami, kami tentu melenyapkan mereka, Apakah kalian juga ingin mengejar orang-orang itu ke akherat?"

"Jika demikjan, kalian juga yang merampas gadis yang sedang dibawa oleh oerang-orang kami di tempat kuburan di dekat kota Tang Kee Sip!" bentak Co Hiong.

Hweeshio yang kecil pendek itu menyahut: "Kami keluar untuk menunaikan satu janji. Untuk memenuhi janji itu, kami akan lakukan segala apa. Lagi pula urusan itu bukannya urusan besar."

Melihat sikapnya yang acuh tak acuh itu Bee Kun Bu menjadi naik darah. ia membentak: "Orang keluar untuk menunaikan tugas yang suci. Kalian berdua adalah Hweeshio durhaka, Kalian menunaikan tugas durhaka dengan menculik dan membunuh! sekarang kau sembunyikan gadis itu di mana?!" Si tinggi besar lalu menjawab: "Apakah kau menanyakan yang berbaju merah?"

"Betul! sekarang gadis itu dimana?" sahut Bee Kun Bu. "Gadis itu sudah berada di bawah perlindungan kami Kau

ingin menemui ia lagi? jangan harap," kata Hweeshio yang

tinggi besar dengan sikap yang acuh tak acuh,

Bee Kun Bu tak tahan sabar lagu ia cabut pedangnya dan hendak menyerang, Tapi Co Hiong menahan ia. Dengan secepat kilat Co Hiong serang Hweeshio yang kecil pendek dengan lingkaran emasnya dan pedang di tangan kirinya, Sambil mengejek si kecil pendek mengegos lalu mencabut go1oknya.

Gerak itu cepat sekali, tapi Co Hiong lebih cepat lagi.

Dengan gebrak lawannya dengan lingkaran-lingkaran emasnya, pedang di tangan kiri menusuk lagi, Si kecil pendek terpaksa loncat mundur sedepa lebih untuk menghindarkan gebrakan dan tusukan itu! Bee Kun Bu menjadi terpesona melihat cara Co Hiong menyerang I awan nya. Belum pernah ia melihat serangan sedahsyat itu! Tapi si kecil pendek juga bukan lawan yang enteng.

Setelah dibikin keteter dengan serangan dan gebrakan yang cepat itu, ia menjadi panas, segera ia balas menyerang dengan goIoknya, Sinar golok yang diayun dan diputar itu berkilau-kilauan, sedangkan anginnya menderu-deru. Si kecil pendek menyerang dengan nekad. Co Hiong tak berani lengah, ia juga putar pedangnya dengan pesat sekali sehingga tak ada lowongan untuk serangan musuh dapat menyodok masuk, Mereka bertempur selama dua puluh jurus, Co Hiong merasa kagum atas kelihayan si kecil pendek itu. ia bertekad membunuh mati lawannya dengan jurus istimewanya.

Dengan tekad itu, ia rubah jurus nya. Dengan ilmu yang ia dapat pelajari dari Souw Peng Hai, ia serang lawannya dengan jurus-jurus Hai Tie Ceng Pong, Ye Poa Hong Yeng dan Thian Kang Lo Ciok (Menyerok kerang dari dasar laut, Me-nyergap tawon di sarangnya dan Memasang jaring menangkap burung), Lingkaran emas berkilau-kilauan menyilaukan mata, suaranya membising memusingkan kepala seakan-akan ombak besar dari laut menyerbu ke pantai dan menyapu musnah segala-gala!

Jurus-jurus itu adalah modal dari Souw Peng Hai sehingga ia dapat menjadi pemimpin partai Tian Liong. Co Hiong yang telah mengikuti Souw Peng Hai adalah kesayangannya, dan Souw Peng Hai menganggap ia seperti anak sendiri, dan telah mengajari jurus-jurus istimewa itu. Pada waktu itu ia terpaksa menggunakan jurus-jurus itu, Si kecil pendek, meskipun lihay ilmu silatnya, tak dapat menahan serangan-serangan maut itu, ia menjadi gelisah seperti seekor semut di dalam kuali (Penggorengan) yang panas, ia coba mencari lowongan untuk meloloskan diri.

Sambil menjaga serangan ke atas kepalanya dengan go!oknya, ia coba loncat keluar ia dapat terhindar dari lingkaran-lingkaran emas, tapi ia tak dapat luput dari pedangnya Co Hiong. "Hei! Hwceshio durhaka! Ke mana kau mau lari!" bentak Co Hiong, dan pedangnya telah menekan goloknya Hweeshio itu, Satu sodokan keras, pedang itu menusuk pergelangan tangan yang memegang golok dari Hweeshio itu! Satu tabasan lagi, dan putuslah lengan kanannya

Setelah menabas putus lengan si kecil pendek, Co Hiong masih juga belum puas. Setelah ia tendang golok lawannya, ia coba tusuk dadanya si kecil pendek, Tiba-tiba Bee Kun Bu menjerit: "Sa udara Co, awas senjata rahasia!"

Co Hiong memperhatikan peringatan itu, tapi tekad membunuh mati lawannya tetap ada. ia hanya rubah jurusnya, Betul saja tiga "Hayto" (pisau terbang) dilepaskan oleh si tinggi besar... dan menyerempet lewat bajunya, Karena demikian pedangnya jadi meleset ketika ia mengegos pisau-pisau terbang itu, si kecil pendek !oncat keluar dari bahaya maut, Co Hiong memburu, tapi si tinggi besar yang telah gagal membinasakan Co Hiong dengan haytonya, menyerang dengan toyanya, Toya yang digunakan Hweeshio itu ujungnya ada besi bulat sebesar telur bebek. Serangan yang dilepaskan dengan sekuat tenaga, mungkin tenaga sebesar seribu kati, tidak dapat di tangkis dengan lingkaran-lingkaran emas. Co Hiong mengegos menghindarkan pukulan toya itu, sambil ubah silat pedangnya dengan ilmu Kim Sie Can Wan atau tali sutera melilit tangan, si Hweeshio harus lekas-lekas loncat mundur mengelakkan ujung pedang yang datang menusuk lengan- lengannya, Bee Kun Bu yang sedari tadi menonton saja tidak tinggal diam, ia berseru: "Sa udara Co! Berhenti, Hweeshio ini kasihlah aku yang bereskan!" Co Hiong tersenyum, ia tarik kembali pedang dan lingkaran-lingkaran emasnya, dan silahkan Bee Kun Bu maju bertempur.

Bee Kun Bu segera menyerang dengan ilmu Shin Liong Yauw Bie atau naga sakti menggoyang-goyang buntut pedang terhunus menggetar datang menusuk dadanya Hweeshio yang tinggi besar itu!

Hweeshio itu menggunakan ilmu Yang Yun Pang Goat atau awan tebal merintangi bulan menangkis tusukan-tusukan itu. Tapi Bee Kun Bu ubah jurus nya dengan ilmu Soan Hong Sao Siat atau angin taufan menyapu salju, Hweeshio itu meloncat ke atas menghindarkan sabetan pedang lalu dengan ilmu Tok Pik Hua San atau mengeprak jurang gunung curam datang mengemplang Bee Kun Bu. Bee Kun Bu loncat ke samping untuk maju lagi mendempeti si Hweeshio.

Sambil pedangnya menabas tangan kanan si Hweeshio, tinju kirinya menyodok masuk dengan ilmu Hui Pak Tong Ceng atau tinju terbang memukul lonceng, Sodokan dan tebasan itu dilancarkan berbareng dengan cepat sekali untuk diteruskan dengan jurus Yang Hong Co atau angin puyuh menabas rumput dari jurus Cui Hun Cap Jie Kiam, Apabila si Hweeshio tidak lekas-lekas mundur, tangannya tentu putus, tapi dapat mengelakkan sodokan tinju Hui Pak Tong Ceng dari jurus Cap Pwee Lo Han Cong, Buk! Tubuh yang tinggi besar itu terbanting ke tanah seperti sebuah pohon besar ditebang jatuh setelah tinju itu menyodok Iam-bungnya, Darah keluar dari mulut dan hidungnya!

Co Hiong berdiri terpesona melihat Bee Kun Bu menyerang dengan jurus-jurus yang lihay itu. ia merasa kagum tereampur iri hati, "Hm! ilmu silat pedang Kun Lun dan ilmu silat tinju Cap Lo Han Cong itu lihay sekali!" pikirnya,

Bee Kun Bu loncat menghampiri Hweeshio yang telah dipecundangi itu. Dengan ujung pedang diandalkan di dadanya si Hweeshio itu ia membentak: "Tadi kalian membuka mulut besar! Di mana gadis berbaju merah?!"

Si Hweeshio itu keluarkan darah lagi dari mulutnya, lalu menyahut: "Kami kalah, kau dapat bunuh mati karnL Tapi kalau memaksa kami memberitahukan tentang jejak gadis itu, jangan haraplah!"

Co Hiong berkata sambil tertawa: "O! Kalian betul-betul Hweeshio dengan bertubuh besi dan baja, dapat menahan siksaan, Cobalah ini!"

Ketika itu Co Hiong melihat Hweeshio yang telah putus tangan kanannya hendak melarikan diri Satu lemparan dari Co Hiong, maka satu lingkaran emas segera menyambar si Hweeshio kecil pendek itu. Lingkaran itu membabat kepalanya dan segera terlihat otaknya yang putih hancur berhamburan darah, Hweeshio itu segera mati,

Dengan wajah berseri-seri Co Hiong lari mengambil lingkaran emasnya, yang ia seka darahnya di jubahnya mayat Hweeshkx ia kembali dengan menuntun kuda ajaibnya.

Kemudian ia berkata kepada Bee Kun Bu: "Kita kirim dulu satu ke akherat Kawannya ini kita paksa ia memberitahukan tentang jejak Sumoymu. Kita bawa ia ke tempat yang terpencil." Lalu tangan kanannya menotok jalan darah Hweeshio yang segera tak bergerak seperti mayat ia ikat Hweeshio itu di belakang kudanya, Bee Kun Bu hanya serahkan segala sesuatu kepada Co Hiong yang kemudian tuntun kudanya ke suatu hutan belukar yang terpencil Setelah tiba di tempat terpencil itu, Co Hiong membebaskan totokannya segera si Hweeshio siuman dari pingsannya.

Dengan suara mengejek, Co Hiong menanya: Toa-suhu, Tempat ini lebih leluasa, Apabila kau tidak beritahukan di mana adanya gadis berbaju merah, maka aku akan paksa kau memilih cara mati bagimu, Bagaimanakah pendapatmu?"

Dengan meringis si Hweeshio menyahut: "Aku bukannya takut mati. " Co Hiong tidak menunggu si Hweeshio bicara

habis ia membentak: "Baik! jika kau masih keras kepala, kau sekarang rasai ini, jangan salahkan aku berlaku kejam!"

Setelah Co Hiong berkata demikian, ia tersenyum kepada Bee Kun Bu, lalu ia tendang Hweeshio kepala batu itu sehingga tubuhnya yang tinggi besar itu terguling-guling, Dengan tali pinggangnya Hweeshio itu, ia ikat kedua kaki Hweeshio itu, lalu ia gantung di cabang di atas dan kepalanya di bawah. Co Hiong talu mengumpulkan rumput-rumput kering dibakar di bawah kepalanya Hweeshio itu,

Dalam jangka waktu sekejapan saja asapnya mengepul ke atas sehingga Hweeshio itu tak henti-hentinya mengucurkan air mata dan mengeluarkan ingus, Dia tak dapat berbuat apa- apa karena jalan darah di kedua pundaknya telah ditotok, bila ia berkelejetan, maka tali yang mengikat kakinya ke cabang pohon menjadi semakin kencang dan menyakiti pergelangan kakinya.

Bee Kun Bu menyaksikan siksaan ini merasa kasihan. Betul Hweeshio itu bukannya seorang baik, tapi siksaan demikian betul-betul kejam. ia berpaling kepada Co Hiong dengan maksud membujuk Co Hiong jangan terlampau kejam, Tapi ketika ia berhadapan dengan Co Hiong, ia tak dapat bicara, ia hanya pandang wajahnya Co Hiong, Tidak nyana sekali orang yang demikian tampan mukanya dapat melakukan perbuatan yang demikian kejamnya." pikirnya dalam hati. Hweeshio itu dapat bertahan agak lama. Tapi akhirnya ia minta ampun saja, sambil tertawa Co Hiong menanyai "Bagaimana sekarang? Apakah kau masih mau bungkam saja? jika kau tidak memberitahukan di mana adanya gadis berbaju merah itu, aku akan bikin kau merasai siksaan yang lebih hebat lagi."

Hweeshio itu yang telah diasapi lama juga sehingga kulit mukanya menjadi hangus, dan kepalanya panas sampai otaknya rasa kering, menyahut: "Si gadis berbaju merah telah dibawa lagi oleh beberapa saudara-saudara seperguruanku-

"O! Kau masih mempunyai beberapa banyak kawan, lainnya? Ke mana mereka bawa itu?" bentak Co Hiong, - Dengan air mata masih mengucur dan ingus masih meleleh si Hweeshio menyahut: "Aku mempunyai banyak kawan yang ilmu silatnya banyak lebih lihay daripada aku, Meskipun kau berdua mempunyai ilmu silat yang luar biasa, aku sangsikan sekali jika kalian berhasil merebut gadis itu kembali!"

Co Hiong tertawa gelak-gelak dan menanya: "Se-betulnya berapa banyak kawan-kawanmu, nama-nama-nya dan tempatnya di mana mereka bawa gadis itu? Nanti kau dapat saksikan dengan mata kepalamu sendiri kami hajar mereka babak belur! Apabila ternyata kau hanya ingin menggertak dan menipu kami kau pasti dapat siksaan yang lebih hebat lagi!"

Si Hweeshio membisu sejenak. ia rupanya sedang memikiri sesuatu, lalu berkata lagi: "Jika kalian ingin temukan gadis itu, kalian boleh pergi ke pegunungan Tay Ouw, Di dekat puncak gunung tersebut kalian akan dapat tampak satu kuil Yun Bu Sie yang dipimpin oleh Tong Leng Tan Su " ia

berhenti sejenak, lalu melanjutkan: "Aku hanya dapat memberitahukan sekian, dan dengan sejujurnya pula."

"Jadinya gadis itu sekarang berada di dalam kuil Yun Bu Sie?" tanya Co Hiong,

itulah aku tak berani pastikan, Tapi jika kalian pergi menjumpai Tong Leng Tan Su, kalian dapat menanyakan beliau tentang gadis itu, Tentang apakah gadis itu dibawa atau tidak ke kuil Yun Bu Sie oleh kawan-kawanku, aku tak berani pastikan!" sahut Hweeshio itu,

"Kau hanya mengetahui sekian saja?" tanya Co Hiong,

Hweeshio itu angguk-anggukkan kepala nya. Dengan secepat kilat Co Thong itu cabut pedangnya dan menabas batang lehernya Hweeshio itu sehingga kepalanya mental delapan sembilan kaki jauhnya! Bee Kun Bu tak keburu mencegah ia mengerutkan keningnya dan berkata: "Sau-dara Co, mengapa kau bunuh mati padanya? Apakah pereaya bahwa hweeshio itu memberikan keterangan dengan jujur?"

Co Hiong bersihkan pedangnya yang berlepotan darah, dan masukkan pedang itu ke dalam sarungnya, Kemudian sambil tersenyum ia menyahut: "Hweeshio itu bukannya orang yang mengenal budi, ia kejam melampaui iblis, Kau saksikan sendiri bagaimana kejinya ia telah perlakukan orang-orang Thian Liong di rumah penginapan di kota Lam Ciang,

Meskipun aku telah siksa ia dengan hebat, tapi ia masih saja coba menipu kita. Lebih banyak orang sejahat ia dikirim ke akherat, lebih baik bukan? ia sengaja memancing kita pergi ke kuil Yun Bu Sie di pegunungan Tay Ouw San menjumpai Tong Leng Tan Su dengan dua maksud Ke satu menimpakan dosanya kepada orang lain, Ke dua, agar kita bertarung melawan Tong Leng Tan Su dan orang-orangnya. Tong Leng Tan Su itu bukannya jago silat sembarangan Kedua Hweeshio durhaka itu kita telah bunuh mati, tapi aku masih dapat ingat wajahnya,

Tidak salahnya jika kita pergi ke pegunungan Tay Ouw San dan menjumpai Tong Leng Tan Su di kuil Yan Bu Sie. Bilamana Tong Leng Tan Su ada seorang agung, ia pasti tak senang akan perbuatan keji yang telah dilakukan oleh kedua Hweeshio itu, ia tentu akan menolong kita dalam usaha mencari Sumoy saudara, Tapi jika Tong Leng Tan Su seorang iblis dengan bentuk manusia, kita terpaksa turun tangan menggempur ia. Saudara Bee, apakah omonganku beralasan? Menurut pendapatku, untuk mencari Sumoy saudara, tidak jahatnya jika kita pergi ke pegunungan Tay Ouw San.

Bee Kun Bu mendengari omongan itu dengan penuh perhatian Karena ia bertekad keras mencari Sumoynya, ia harus berterima kasih kepada Co Hiong yang sudi membantu padanya, mungkin juga berkorban untuknya,

Dengan angguk-anggukkan kepalanya ia menyahut: "pendapat Saudara Co bagus sekali, Siotee setuju dengan usul itu, Ayo! Kita berangkat sekarang."

Dengan tersenyum Co Hiong berkata: "Saudara Bee betul- betul seperti seekor semut di dalam kuali panas, Sioteepun rasa bahwa lebih lekas kita berangkat lebih baik," Lalu ia cemplak kuda ajaib dan suruh Bee Kun Bu duduk di belakangnya dan berkata: "Sa udara Bee, ayo lekas-lekas cemplak kuda ini di belakangku Kita harus makan dulu, barulah kita menuju ke pegunungan Kauw Leng San untuk meneruskan ke pegunungan Tay Ouw San!"

"Menempuh perjalanan yang demikian jauhnya dan harus melalui jurang-jurang yang curam, jalan-jalan yang sempit dan berbahaya, sungai yang deras, apakah tidak lebih baik kalau aku mencari satu kuda lagi Aku khawatir kuda saudara tak dapat menunaikan tugas seberat itu," kata Bee Kun Bu.

"Ha! Ha! Ha!" tertawa Co Hiong. "Saudara Bee jangan khawatir Aku berani tanggung bahwa besok tengah hari kita pasti akan tiba di pegunungan Tay Ouw San, Bukankah kudaku ini kuda Cian Lie Shin Kiok (Kuda sakti yang dapat berlari beribu-ribu lie tanpa letih)?"

Bee Kun Bu hanya bisa menuruti saja kehendak Co Hiong. ia menyemplak kuda itu dan duduk di belakangnya Co Hiong, Dengan sekali kedet tali kekangnya, maka kuda ajaib itu lari terbang, menuju ke tepi sungai setibanya di tepi sungai, Co Hiong berseru dengan keras, Suaranya bagaikan naga meraung menembusi angkasa, Bee Kun Bu memperhatikan bahwa jeritan itu berlagu, ia menduganya bahwa itulah isyarat panggilan dari partai silat Thian Liong, Betul saja, lebih kurang dua menit, kemudian dua perahu terlihat mendatangi ke tepi sungai dimana mereka berdiri Lalu Co Hiong tuntun kudanya dan loncat naik ke atas satu perahu diikuti pula oleh Bee Kun Bu. Segera perahu itu dikayuh lagi menuju ke seberang, diikuti oleh perahu lainnya dengan banyak orang-orangnya partai Tian Liong,

Setelah tiba di seberang, Co Hiong berkata kepada pemimpin dari orang-orang di dalam perahu itu: "Jika kau menjumpai Tee Cong Piauw, beritahukan beliau bahwa aku dan Kun Lun Tayhiap pergi ke pegunungan Tay Ouw San!" Kemudian ia tuntun kuda nya, dan loncat ke darat bersama Bee Kun Bu. Mereka menunggangi kuda itu bersama-sama dan menuju ke satu kedai untuk membeli makanan Mereka pesan makanan dan seteko arak.

"Saudara Bee, kita harus makan secukupnya, karena kita akan menuju ke pegunungan Kauw Leng San sepanjang malam," kata Co Hiong,

Bee Kun Bu menyahut dengan senyuman Menung-gangi kuda ajaib itu ia merasa seperti juga menunggangi seekor burung yang besar dan jarak sejauh dua ratus lie telah ditempuh dalam jangka waktu singkat sekali,

Ketika mereka tiba di suatu kota kecil di kaki gunung Kauw Leng San, Co Hiong menghentikan kudanya, sambil menunjuk ke puncak gunung, Co Hiong berkata: "Di depan kita adalah pegunungan Kauw Leng San, Kita harus mengambil jalan pendek pergi ke satu dusun Gie Leng, lalu menempuh jarak lebih kurang seratus lie untuk menuju ke pegunungan Tay Ouw San,

Dan terakhir kita harus menempuh lagi jarak lebih kurang tujuh ratus lie baru tiba di pegunungan Tay Ouw San." Bee Kun Bu yang senantiasa memikiri keselamatannya Lie Ceng Loan merasa jemu mendengar bahwa Tay Ouw San itu masih jauh. ia mengerutkan keningnya, lalu menyahut: "Jadi kita harus meneruskan perjalanan meskipun diwaktu malam?" "BetuI," sahut Co Hiong, "Perjalanan yang hampir seribu lie jauhnya, dan harus melalui jurang-jurang yang curam dan berbahaya, meskipun orang yang telah mengetahui betul jalan tersebut dengan ilmu meringankan tubuhnya, harus ditempuh dalam tempo sehari semalam."

Bee Kun Bu tak menjawab, ia hanya ingin lekas-lekas menjumpai Sumoynya. Co Hiong berkata lebih lanjut: "Saudara Bee tak usah khawatir, dengan kuda Cian Lie Shin Kiokku ini, aku tanggung besok lebih kurang jam dua lohor, kita akan tiba di pegunungan Tay Ouw San. Dan jika sumoay saudara Bee betul-betuI ada di dalam kuil Yun Bu Sie, mungkin sebelum fajar kita dapat menjumpai dia." Kemudian ia kedet kudanya lagi untuk mencari kedai nasi,

Mereka makan nasi tergesa-gesa, dan Co Hiong membeli juga makanan kering sebagai perbekalan Mereka melanjutkan perjalanan Dalam sejenak kuda itu sudah berlari di antara batu-batu gunung yang besar Puncak-puncak gunung itu terlihat diselubungi kabut atau awan Makin jauh, makin berbahaya jalan-jalan yang harus ditempuh Mereka harus mengikuti jalan kecil yang biasa ditempuh oleh kambing- kambing gunung,

Mereka harus bertunggang kuda dengan berhati-hati sekali. sekonyong-konyong kuda ajaib itu terkejut dan meringkik, kedua kupingnya berdiri tegak, lalu meloncat sedepa jauhnya ke depan Bee Kun Bu hampir saja terlempar jatuh, Ternyata kuda telah melihat seekor ular, ia terkejut dan loncat melewati ular itu. Lalu ia lari dengan sekuat tenaga ke atas. Meskipun ditunggangi oleh dua orang, kuda itu tetap lari dengan bersemangat dan kuat

"Ai! Hampir saja aku terlempar," seru Bee Kun Bu. "Kudaku telah menolong kita dari rintangan ular tadi!" sahut

Co Hiong. Tapi saudara Bee jangan khawatir, kuda ajaib ini

tak akan mengecewakan kita. Cobalah lihat ke bawah! Kita sudah berada di lereng gunung, dan kuda ini sedikitpun tak tampak letih!" Setelah berjalan hampir dua jam, Co Hiong menghentikan kudanya, ia loncat turun untuk beristirahat sebentar Lalu mereka naik lagi melanjutkan perjalanannya. Ketika hari dingin Tapi Co Hiong tidak menghiraukan Mereka meneruskan perjalanannya meskipun cuaca makin lama makin gelap. Bee Kun Bu menjadi gelisah, ia berkata: "Saudara Co, kuda Cian Lie Shin Kiok ini meskipun hebat dan kuat, tapi jika kita meneruskan perjalanan di dalam cuaca yang gelap, aku khawatir ia kejeblos atau terjurumus ke jurang. Tidaklah lebih baik kita berhenti dulu dan menanti sampai besok? Aku kira tidak terlambat

Setelah mereka melanjutkan perjalanan selama satu jam Iagi, Co Hiong menghentikan kudanya, bersama Bee Kun Bu. ia turun dari kudanya untuk memberikan kudanya beristirahat sebelum melanjutkan perjalanannya lagi, Bulan mulai kelihatan di sebelah timur ketika mereka berangkat lagi, Meskipun Bee Kun Bu melihat bahwa Co Hiong sayang kudanya, akan tetapi caranya ia mendesak kudanya mengejar waktu membikin Bee Kun Bu menjadi cemas.

Dengan suara rendah ia berkata: "Saudara Co, kudamu itu meskipun hebat, akan tetapi dengan lari terus-menerus, aku khawatir kudamu akan menjadi terlampau letih, Dalam suasana gelap gulita ini, jika meneruskan perjalanan dengan cara kau melarikan kuda itu, aku khawatir kita bisa celaka, Lebih baik kita mengaso, dan melanjutkan perjalanan kita besok pagi."

Co Hiong menyahut sambil tersenyum: "Saudara Bee, hatimu ingin sekali lekas-lekas tiba di kuil Yun Bu Sie. jika kita berhent mengaso bukankah kita akan terlambat? Aku dapat menyelami perasaanmu Di kolong langit ini hanya ada dua orang yang aku senantiasa ingat di dalam hati: yang satu ialah guruku, dan yang satu lagi Sumoyku, Bukankah nasibku serupa dengan nasibmu. Kini kau juga menjadi orang yang aku segani. Aku rela hilang kuda ini jika aku dapat menolong kau," Ucapan itu mengharukan Bee Kun Bu, ia berpikir "Orang ini luar biasa, jika melihat ia perlakukan kedua Hweeshio dan membunuh mereka setelah dtsiksanya, aku yakin ia adalah seorang yang kejam sekaii. Tapi... mengapa ia menaruh simpati terhadapku yang ia baru kenal? ia rela mengorbankan tenaga dan kudanya untuk aku, ini aku harus belas." Karena terharu atas ucapan Co Hiong itu, Bee Kun Bu menyahut: "Saudara Co terlampau baik terhadap aku, aku tak dapat membalas budimu yang demikian besarnya,"

Co Hiong menoleh ke belakang dan berkata dengan khidmat, "Kita tak boleh membeda-bedakan usaha yang kita sedang laksanakan sekarang, Aku pun tidak mengharapkan balasan."

Bee Kun Bu yang budiman itu tak dapat menjawab ketika ditegur demikian Karena ia seorang yang cerdas, ia lekas- lekas memberikan jawaban yang dapat meredakan "Saudara Co tadi menceritakan tentang Sumoymu, Mungkin Sumoymu itu pun senantiasa memikirkan kau."

Co Hiong tersenyum, talu ia menarik napas panjang dan menjawabnya: "Sumoyku, Souw Hui Hong, dapat dikatakan seorang Lie Hiap (pendekar wanita) yang luar biasa, dan ilmu silatnya pun dapat dikatakan berimbang dengan aku, ia cantik jelita dan kami menjadi besar bersama di satu tempat dan dapat hidup akur,

Tapi aku belum dapat mengatakan bahwa kami berdua saling cinta mencintai Aku bertahun-tahun berkelana di kalangan Kang-ouw, jarang bertemu muka dengan ia.

Meskipun aku telah menjumpai banyak gadis-gadis yang cantik manis, tapi tidak satu yang dapat menawan hatiku sebagai Sumoyku itu, Dikemudian hari, jika ada kesempatan, aku pasti memperkenalkan ia kepadamu."

sebetulnya Bee Kun Bu ingin memberitahukan bahwa ia pernah berjumpa dengan Souw Hui Hong, tetapi ia khawatir nanti menimbulkan salah paham, maka ia membungkam saja, ia pikir nanti dikemudian hari jika ia menjumpai Souw Hui Hong di hadapan Co Hiong, ia harus bersikap waspada, Demi kian lah mereka menunggangi kuda ajaib itu sepanjang malam tanpa istirahat Meski mereka mengucurkan peluh, tapi angin gunung yang sejuk menghembus sepoi-sepoi membikin mereka tak merasa lelah, Pada kira-kira pukul tiga pagi, mereka telah melewati pegunungan Kauw Leng San dan tiba di desa Gie Leng Shien. Mereka beristirahat sebentar, lalu melanjutkan pula perjalanannya,

Setelah mereka melalui gunung Bu Po San pada pukul lima pagi mereka tiba di kaki pegunungan Tay Ouw San.

Co Hiong turun dari kudanya, dan kuda sudah basah kuyup dengan peluh. ia seka peluh kudanya dan mengusap- usap kepalanya, sambil dipandangnya dengan penuh kasih sayang, tiba-tiba air matanya mengucur dari kedua matanya, Bee Kun Bu yang memperhatikan gerak-gerik kawannya menjadi heran, ia menanyai "Sa udara Co, mengapa kau menangisi

Co Hiong menyahut dengan satu senyuman terpaksa: "Kuda ajaib ini lagi beberapa bulan bukan lagi menjadi milikku, tapi akan menjadi milik Sumoyku itu, Aku bodoh, mengapa aku sedih hati, Kuda ini toh akan menjadi milik Sumoyku, Hm! Aku betul-betul bodoh,"

perkataan itu diucapkan dengan wajah yang ber-ubah- ubah. Co Hiong keluarkan barang makanan yang kering untuk dimakan bersama-sama. Bee Kun Bu dengan membiarkan kudanya makan rumput yang tumbuh di kaki gunung itu, Sambil makan Bee Kun Bu pandang pegunungan Tay Ouw San itu, pegunungan itu tidak tinggi, tapi luas, Kuil Yun Bu Sie harus dicari lagi, ia menjadi cemas lagi. Sikap itu telah diperhatikan oleh Co Hiong yang menanya: "Mengapa saudara bermuram lagi? Apakah khawatir kuil Yun Bu Sie tidak ketemu? Sambil anggukkan kepala Bee Kun Bu menyahut: "BetuL pegunungan yang paling sedikit beberapa ribu lie persegi luasnya itu dimanakah kita harus mencari kuil yang terpencil itu dengan cepat?"

"Urusan ini, harap kau serahkan kepadaku, Kita sudah tiba di sini, mustahil kuil itu tidak dapat kita ketemukan? Meskipun kita tak menjumpai tukang potong kayu, aku masih ada akal untuk mencarinya. sekarang kita beristirahat untuk mengumpulkan tenaga dahu!u, karena khawatir kita harus bertempur melawan Tong Leng Tan Su." Lalu ia merebahkan dirinya di atas rumput untuk tidur

Bee Kun Bu hanya duduk Saja. ia tak dapat tidur, karena kekhawatirannya atas keselamatannya Lie Ceng Loan masih belum dapat dilenyapkan Matahari telah naik tinggi di langit ketika Co Hiong terbangun dari tidurnya, ia loncat bangun dan sambil tersenyum berkata: "Mari kita berangkat mencari kuil Yun Bu Sie!" ia segera lari ke atas gunung- Bee Kun Bu mengikuti, sedangkan kuda ajaibnya pun lari mengikuti juga, ilmu meringankan tubuhnya Co Hiong lihay sekali, dan dengan sekejap saja ia telah berada di tempat beberapa puluh tombak tinggi-nya.

ia pikir Bee Kun Bu pasti tak dapat mengejarnya. ia menoleh ke belakang, dan Bee Kun Bu sudah berada kira-kira lima kaki di belakangnya. ia lari pula terlebih cepat, dan Bee Kun Bu ketinggalan kira-kira satu tombak Iebih. ia merasa gembira, karena pikirannya lebih pandai daripada Bee Kun Bu. Ketika matahari hampir berada di tengah-tengah, mereka telah berada di suatu puncak gunung. Sorot matahari membikin pedut yang menyelubungi puncak itu berwarna kuning emas. Di bawah mereka pohon-pohon cemara kelihatan samar- samar hijaunya. Berdiri di atas puncak itu, mereka merasa seakan-akan berdiri di suatu dunia yang lain.

Tiba-tiba Co Hiong berkata: "Matahari telah demikian tingginya, mengapa seorang tukang potong kayu pun kita belum menjumpai? Apakah aku harus bakar seluruh tempat ini?" Bee Kun Bu terkejut mendengar ucapan itu, dan ingin cnencegah. Tapi Co Hiong meneruskan omongan-nya: "Di depan kita nampaknya seperti tembok merah, Apakah itu tembok nya suatu kuil?" Lalu dengan tidak menunggu jawabannya Bee Kun Bu, ia loncat menuju ke tembok merah itu. Bee Kun Bu mengikuti Dengan cepat, setelah mereka melewati dua lereng gunung, di antara dua puncak, mereka melihat satu kuil yang besar Mereka lari makin cepat, dan dengan sekejap saja telah tiba di depan kuil itu, Mereka mendongak, dan membaca nama kuil itu yang ternyata bertuliskan Yun Bu Sie tiga huruf Mereka buka pintunya yang besar, dan bertindak masuk ke suatu ruangan yang besar, Ruang ini serta delapan kamar lainnya terkurung oleh tembok merah.

Di dalam pekarangan dalam tumbuh pohon-pohon cemara dan bambu, Melihat keadaannya, rupanya kuil itu belum lama diperbaiki Co Hiong bertindak masuk, dan setelah melalui pekarangan depan. ia naik ke tangga batu yang bertingkat tujuh dan masuk ke dalam ruang yang besar, Di tengah- tengah ruang itu, di atas satu meja yang besar dan tinggi, ada dua lampu yang menyala, Di antara dua lampu itu ada suatu hiolo (tempat menancap) dari batu yang tingginya kira-kira satu kaki, Di belakang meja sembahyang ini ada tiga patung Buddha (Hut-co) dari batu yang besar sekali, Seluruh ruang nampak sangat bersih tapi dalam suasana sunyi senyap, menyeramkan!

Sambil menoleh ke belakang Co Hiong berkata dengan suara rendah kepada Bee Kun Bu: "Rupanya Tong Leng Tan Su itu betul-betul seorang pendeta yang agung,.,." Belum lagi ia berbicara habis, tiba-tiba terdengar suara orang-orang mengejek: "Kedua saudara dari mana datangnya? Mencari Tong Leng Tan Su dengan maksud apakah?"

Mereka terkejut, dan lekas balik badan ke arah datangnya suara itu, Di pintu ruang yang besar itu, mereka lihat seorang pendeta berbaju abu-abu, usianya lebih kurang tiga puluh tahun, Mukanya yang pucat pasi, badannya yang kurus kering dan matanya yang berkilau-kilauan membikin pendeta itu nampaknya seperti mayat hidup! Setelah semangatnya kumpul lagi, dengan tersenyum Co Hiong menyahut: "llmu meringankan tubuh Taysu betul-betul lihay, Kami tak mengetahui Taysu datang." Lalu ia menghampiri Hweeshio itu.

Hweeshio itu mengawasi Co Hiong dengan kedua matanya yang tajam dengan sikap yang tenang,

Bee Kun Bu yang telah mengikuti Co Hiong selama beberapa hari telah mengetahui sifat dan adatnya kawan ini. Meskipun wajahnya berseri-seri tapi caranya Co Hiong bertindak sembrono, maka ia menghalangi Co Hiong dan berkata kepada Hweeshio itu: "Aku adalah murid dari partai silat Kun Lun, dan kawanku ini adalah pemimpin kedua dari partai silat Thian Liong, Kami datang mengunjungi Tong Leng Tan Su dengan maksud bermohon menanyakan suatu urusan."

Hweeshio itu menanya dengan mengejek: "Jie-wie telah datang mencari Tong Leng Tan Su, apakah telah mengetahui peraturannya?"

"Belum, Kami mohon Taysu memberi petunjuk," sahut Bee Kun Bu.

Dengan sikap yang terperanjat Hweeshio itu menanya tagi: "Siapa yang memperkenankan kalian datang ke sini, dan mengapa kalian tidak diberitahukan peraturannya?"

sebetulnya Bee Kun Bu hendak menuturkan hal ikhwal kedatangannya ke kuil Yun Bu Sie itu, tapi ia khawatir bahwa penuturannya hanya akan membikin urusannya bertambah ruwet, Untuk sementara waktu ia tak dapat menjawab, dan ia menjadi gelisah.

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Hweeshio itu menjadi murka, ia membentak: "Mengapa kau ragu-ragu. jika kau tak memberitahukan siapa yang menyuruh kalian ke sini maka kalian tak dapat menjumpai Tong Leng Tan Su!" Co Hiong tak sabar lagi. ia bertindak maju, dan menyahut sambil tersenyum: "Kami telah dapat mencari sendiri kuil ini di pegunungan Tay Ouw San. Kami takkan dapat menjumpai Tong Leng Tan Su. Aku tak pereaya ia tidak mau menjumpainya, Jika kami rintangi, jangan mempersalahkan aku, kalau aku bakar seluruh kuil ini. Waktu itu aku ingin lihat apakah ia masih tidak keluar!"

"Ha! Ha! Ha!" tertawa si Hweeshio, "Kau mau bakar kuil ini?! Kau boleh coba, aku ingin lihat!"

Co Hiong tertawa gelak-gelak dan menyahut: "Kau kira aku takut membakarnya? Kau lihatlah!" Segera dari kantongnya ia keluarkan korek api dan mulai membakar kertas untuk menyulut atap kuil itu! Bee Kun Bu terkejut dan lekas-lekas mencegah perbuatan kawannya yang nekad itu sambil berkata: "Saudara Co, sabarlah, Mari kita membicarakannya lagi!" Co Hiong menunda membakarnya, tapi ia masih mengawasi Hweeshio itu dengan beringas, ia berkata: "Baiklah aku pandang saudara Bee. Aku sebetulnya mau segera membakar kuil ini, dan ingin lihat apakah Tong Leng Tan Su itu masih tidak menerima kita?"

Ketika Co Hiong ingin membakar atap kuil itu, Hweeshio itu tidak menghalangi ia hanya mengawasi gerak-geriknya Co Hiong, Rupanya ia ingin menguji keberanian Co Hiong, Setelah Bee Kun Bu mencegah, ia baru berkata dengan mengejek: "Apakah kalian betul-betuI tidak mengetahui peraturannya Tong Leng Tan Su?"

Dengan merendah Bee Kun Bu menjawab: "Kami betul- betuI tidak mengetahui harap Taysu sudi menjelaskannya."

"Jika kalian betul-betul tidak mengetahui aku masih dapat memaafkan," berkata Hweeshio itu. "Enyahlah kalian, karena Tong Leng Tan Su tak mudah dijumpai!" Lalu ia balik badan dan hendak berla!u.

Bee Kun Bu memanggil: "Taysu, aku mohon sedikit kelonggaran!" Hweeshio itu berhenti dan menghadapi Bee Kun Bu. La!u Bee Kun Bu menjelaskan "Kami datang ke sini setelah menempuh jarak seribu lie lebih dengan maksud minta petunjuk dari Tong Leng Tan Su. Oleh karena itu kami mohon Taysu memberi petunjuk agar kami dapat menjumpai Tong Leng Tan Su. Untuk bantuan yang berharga itu, kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih,"

Si Hweeshio mengerutkan keningnya, lalu berkata: "Jika kalian mau menjumpai Tong Leng Tan Su, kalian harus lebih dahulu dapat melewati aku!"

Belum Bee Kun Bu menyahut, Co Hiong dari belakang sudah mengirim satu tinju dengan ilmu Hui Po Liu Coan atau air terjun menimpa batu, Hweeshio itu tidak tengah, ia loncat mundur tujuh kaki untuk mengegoskan jotosan itu, Sambil tertawa Co Hiang berkata: "Aku kira peraturan apa. Jika hanya peraturannya untuk melewati kau, mengapa tidak siang-siang kau mengatakannya?" Lalu perkataan itu dibarengi dengan serangan lagi.

Si Hweeshio tidak mengegoskan pukulan lagi ia tangkis serangan itu dan menyerang dengan ilmu menggempur harimau di luar pintu, tangan kirinya menjotos bahu kanannya Co Hiong, Co Hiong mengegos diri lalu dengan kedua tinju ia menotok dada lawan nya. Si Hweeshio terkejut melihat silat yang demikian lihaynya, ia pikir: "Hai! pemuda yang wajahnya cantik seperti seorang gadis mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi!" Untuk menghindarkan totokan itu, si Hweeshio menjatuhkan tubuhnya di lantai, lalu ia bergulingan enam tujuh kaki jauhnya, Co Hiong mengejek: "Ha! Mengapa kau tak bangun dan membalas menyerang?"

Si Hweeshio menjadi merah mukanya karena malu, Tapi ia menantang lagi: "Kau telah menyerang sebelum aku siap sedia, Mari kita bertempur lagi, Jika aku kalah, aku sendiri yang nanti menuntun kalian menjumpai Tong Leng Tan Su."

Mendengar si Hweeshio tak mau mengaku kalah, Co Hiong menjadi makin murka, Tapi tak kentarakan pada raut wajahnya, meskipun marahnya besar, tapi ia tak memperlihatkan karena ia tetap tersenyum dan mengejek: "Taysu mulailah, dan boleh menyerang dulu!" Lalu ia hampiri lagi si Hweeshio yang juga sudah siap.

Ketika jaraknya tinggal lagi tiga kaki jauhnya dari si Hweeshio, ia loncat dan tangan kanannya menyambar secepat kilat kepada kedua matanya si Hweeshio dengan ilmu Siang Liong Chio Cu atau sepasang naga merampas mutiara, Si Hweeshio yang telah mengetahui kepandaian silat lawannya tak bersikap lengah, ia telah siap sedia, Begitu lekas Co Hiong menyerang, tangan kirinya menangkis serangan dengan ilmu To Pu Tu Kang atau pengayuh kayu menampar air dan tangan kanannya menyerang dengan ilmu Pay San Hu Ciong atau menghalau gunung menggempur karang!

Co Hiong lekas-lekas menarik kembali cakaran itu, ia loncat ke atas dengan maksud menerkam kepala lawannya, Tapi si Hweeshio tidak menunggu Co Hiong turun ke bawah, menyodok lambung lawannya sambil mencondongkan tubuhnya dengan ilmu Kim Pau Lu Cao atau macan tutul memperlihatkan kukunya, Co Hiong harus tendang sodokan tinju itu sebelum ia jatuh di lanlai,

Ketika si Hweeshio diserang oleh Co Hiong pertama kali, ia tidak duga lawannya demikian lihay, ia keteter Tapi selanjutnya ia tak berlaku lengah lagi. ia menyerang dengan sekuat tenaga dengan maksud, jika bisa, membinasakan lawannya, ilmu silat kedua belah pihak berlainan masing- masing mempunyai keistimewaannya.

Si Hweeshio bertempur makin lama makin cepat, serangannya makin menghebat Co Hiong bertempur dengan ilmu silat yang sangat ia andalkan, yakni silat yang ia dapat pelajari dari gurunya, Souw Peng Hai, tapi ia kalah tenaga, Maka setelah pertempuran berlangsung agak lama, Co Hiong menjadi keteter Bee Kun Bu yang menyaksikan pertempuran itu dapat melihat kedudukan kawannya itu, ia ingin menggantikannya tapi ia khawatir Co Hiong salah paham.

Tapi ia bertekad akan turun tangan jika Co Hiong menjadi kalah! Ketika mereka tengah bertempur, Co Hiong berseru: "Saudara Bee, coba perhatikan jurus-jurus Hweeshio ini, apakah serupa dengan jurus kedua Hweeshio yang durhaka?"

Bee Kun Bu memperhatikan dan betul saja ilmu silat Hweeshio berbaju abu-abu itu serupa dengan ilmu silat kedua Hweeshio yang Co Hiong telah kirim ke akherat ia menjadi murka, karena ia ingat bahwa Lie Ceng Loan, Sumoynya, dibawa lari oleh kedua Hweeshio yang dur-haka itu, ia berseru: "Saudara Co, kau mundurlah, kasihlah aku yang gempur Hweeshio ini!"

Sambil bertempur Co Hiong menyahut: sebetulnya aku siang-siang sudah ingin mengakhiri Hweeshio ini, Tapi aku khawatir saudara Bee anggap aku kejam Kini setelah dapat membuktikan Hweeshio ini kambratnya kedua Hweeshio yang durhaka itu, aku kira kau tak lagi menv persalahkan aku jika aku kirim Hweeshio ini ke akhirat!"

Bee Kun Bu merasa malu diperingatkan demikian Tiba-tiba ia tampak Co Hiong merubah jurusnya, Terlihat bajunya yang kuning berkibar-kibar seperti seekor kupu-kupu sedang terbang di antara bunga-bunga mengurung Hweeshio itu, ia tak dapat melihat Co Hiong menggunakan ilmu silat apa karena gerakannya cepat sekali " ia tak mengetahui bahwa Co Hiong sedang menggunakan ilmu yang khas diciptakan oleh Souw Peng Hai, pemimpin partai silat Tian Liong, yakni Sah Cap Lak Cau Hui Su Cong (serangan tinju terbang dengan tiga puluh enam perubahan) ilmu yang digunakan itu seratus kali lebih lihay dari pada ilmu tinju Uu Yun Cong (tinju menyerang awan) yang Lie Cong Loan gunakan melawan Tee Ju Liong tempe hari, Dalam hanya sepuluh jurus saja, si Hweeshio telah menjadi keteter, tubuhnya basah kuyup dengan keringat Bee Kun Bu terkejut bila ia pikir Co Hiong segera akan mengajak mereka menjumpai Tong Leng Tan Su. Baru saja ia ingin mencegah, tiba-tiba terdengar suara jeritan si hweeshio yang kena disodok ulu hatinya, dan jatuh tengkurap di lantai!

Di dalam kamar batu pendeta Tua membuka rahasia Rupanya Co Hiong betul-betul telah menggunakan ilmu

Sah Cap Lak Cau Hui Su Cong (serangan tinju terbang

dengan tiga puluh enam perubahan), dengan bukti jatuh tersungkurnya hweeshio itu di lantai! Lalu Co Hiong berhenti menyerang, dan menoleh ke belakang kepada Bee Kun Bu yang sedang berdiri terpaku menyaksikan serangan kawannya yang sangat dahsyat, ia menegur sambil tersenyum:

"Mengapa kau bingung? Apakah aku telah serang ia terlampau hebat? jika aku lembek hati seperti kau, aku tak dapat berkecimpung di kalangan Kang-ouw. Dalam segala pertempuran pertarungan kita harus selalu ingat: jika kita tak membunuh lawan, lawan pasti membunuh kita! Bermurah hati terhadap lawan yang kejam dan jahat tentu tak merugikan atau mencelakakan kita sendiri Di kalangan Kang-ouw, orang- orang yang lebih kejam dan lebih tak mengenal kasih dari pada aku, tak terhitung banyak nya. Apa gunanya kita bermurah hati jika kita dilukakan parah atau dibinasakan oleh musuh ?"

"Aku bukannya memikiri cara kau menyerang musuh. Aku hanya sedang memikiri." sahut Bee Kun Bu ragu-ragu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Co Hiong tidak menunggu perkataannya selesai, ia meneruskan MKau sedang pikiri jika hweeshio itu binasa, kita tak dapat menjumpai Tong Leng Tan Su, betulkah? sebetulnya kau memikiri yang bukan-bukan. Hweeshio ini memberikan kita keterangan dusta, Kila tak dapat pereaya, Cara ia menyerang, jurus-j urus nya semuanya seperti jurus kedua hweeshio durhaka yang telah membawa kabur Sumoymu, Hwweeshio ini sama durhakanya.

Aku yakin Tong Leng Tan Su pun bukan seorang yang baik. Kuil ini tidak seberapa luasnya. Mustahil kita tidak berhasil menemui dia? Yang kita khawatirkan ialah bagaimana ilmu silat Tong Leng Tan Su itu. Lagi pula hweeshio yang jatuh tersungkur itu belum binasa. Aku hanya totok jalan darah di lehernya, bukan jalan darah jantungnya, sebentar ia dapat sadar kembali!"

Bee Kun Bu mendengar penjelasan yang beralasan itu, ia hanya anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Sejenak kemudian hweeshio yang telah jatuh tersungkur itu mulai mengutik, lalu membuka kedua mata-nya, Bee Kun Bu segera loncat dan berdiri di sampingnya dengan hasrat menolong ia bangun, Tapi baru saja ia angsurkan tangan kanannya, si hweeshio menepak tangannya sambil berkata: "Kau tak usah menolong aku, Aku dapat menolong diri sendiri, Aku sendiri dapat membebaskan totokan jalan darahku!"

Lalu ia bangun dan duduk. Dengan ilmu mengim-bangkan tenaga, si hweeshio itu kelihatan menarik napas, lalu menghembuskan napas berkali-kalL Selang beberapa menit, hweeshio itu dapat bangkit dan berdiri lagi. ia mengawasi Co Hiong dan berkata dengan suara yang mengejek: "Aku kalah melawan kau, Aku dapat mengajak salah seorang darimu menjumpai Tong Leng Tan Su. Kawanmu tak dapat turut!"

Bee Kun Bu memotong pembicaraan: "Cara demikian tidak beralasan. Kami datang bersama-sama, harus kami menjumpai Tong Leng Tan Su bersama-sama juga!"

"Rupanya hweeshio ini hendak menggunakan tipu muslihatnya, Tentang itu aku tak menghiraukan Baiklah, saudara Bee, kau tunggu di sini, aku nanti seret Tong Leng Tan Su menjumpai kau!" kata Co Hiong kepada Bee Kun Bu.