Bangau Sakti Jilid 03

 
Jilid 03

Giok Cin Cu makin menjadi heran. Kedua kupingnya dipasangnya sungguh-sungguh untuk mendengar dari segala suara, Lalu terdengar suara jeritan, serupa dengan suara seruling yang ditiup dengan penuh semangat dan perasaan. Mereka semuanya merasa tertarik oleh suara yang ganjil itu. Bee Kun Bu berkata: "Susiok, suara jeritan yang serupa dengan suara seruling itu betul-betul luar biasa, ia dapat menarik kita sampai kita lupa akan jejak kita sendiri. Suara apakah sebenarnya itu?"

Giok Cin Cu tidak lantas menjawab ia terus mendengarkan suara itu. Tiba-tiba suara itu berhenti Lalu Giok Cin Cu menjelaskan "Suara jeritan yang serupa suara seruling tadi adalah suara yang dikeluarkan oleh tenaga dalam yang luar biasa tingginya, Menurut fahamku, orang-orang yang mempunyai ilmu tenaga dalam yang demikian tingginya tidak banyak jumlahnya, Masa Giok Siauw Sian Cu (Dewa Seruling Giok) telah datang juga ke pegunungan Koat Cong San ini?

Jika siluman wanita yang menamakan dirinya Giok Siauw Sian Cu itu betul-betul telah datang ke pegunungan ini, maka keadaan atau kedudukan guru-mu, Hian Ceng Totiang, menjadi sangat gawat!"

"Siapakah Giok Siauw Sian Cu itu? Apakah ia lebih lihay dari pada Tu Wee Seng si lengan delapan, atau Souw Peng Hai pemimpin partai silat Tian Liong?" tanya Bee Kun Bu.

Sambil menganggukkan kepalanya Giok Cin Cu menyahut "Bagaimana rupanya Giok Siauw Sian Cu itu tak dapat orang melukiskan, karena sedikit sekali orang yang pernah melihatnya, Suara jeritan yang serupa seruling dan mempunyai gaya penarik itu telah banyak sekali menaklukkan jago-jago silat di kalangan Bu Lim, Oleh karena itulah orang- orang memberikan julukan Giok Siauw Sian Cu (Dewi seruling Batu Giok), Kata orang Giok Siauw Sian Cu itu adalah seorang wanita berbaju hitam, dan selalu menutupi mukanya dengan kain hitam yang jarang, Bagaimana wajahnya yang sejati, belum pernah orang melihatnya."

Baru saja selesai keterangannya, terdengar lagi dari jauh suara jeritan burung bangau dan raung seekor singa, Hanya kali ini suara tersebut makin hebat Giok Cin Cu berkata: "Ayo! Kita hampiri, dan lihat apa yang terjadi" Lalu dengan sebuah loncatan ia telah mendaki sebuah jurang yang curam, dan diikuti oleh ketiga murid-mu-ridnya, Mereka menuju ke arah datangnya suara-suara tadi, jalan yang ditempuh sangat berliku-liku dan sebentar naik sebentar turun.

Setelah mereka melewati sebuah puncak, tiba-tiba pemandangan yang mereka hadapi beubah. Di bawah mereka tampak sebuah lembah yang dilingkari oleh puncak-puncak gunung, Lembah itu sempit, hanya tiga atau empat depa luas nya, Di atas lembah sempit yang datar itu telah tumbuh

bunga-bunga yang ganjil dan harum, dan rumput yang hijau dan segan Tapi singa dan bangau tadi entah ke mana perginya.

Dengan ilmu meringankan tubuh keempat orang itu turun ke bawah dan lari di sepanjang lembah itu. Setelah mereka melewati beberapa puluh puncak-puncak yang agak kecil, hari telah senja, Giok Cin Cu melihat bahwa Bee Kun Bu dan lain- lainnya telah Ietih. ia menganjurkan "Hawa lembab ini hangat seperti hawa di musim semi. pemandangannya permai.

Marilah kita beristirahat sejenak!" Matahari mulai terbenam di sebelah barat, dan sinarnya yang merah kelihatan berkiiau- kilauan. Lie Ceng Loan merebahkan diri di atas rumput sambil menikmati pemandangan yang indah itu.

Giok Cin Cu senantiasa bersikap waspada dan mengawasi keadaan di sekitar nya. Tiba-tiba ia melonjak-lonjak dan lari menuju ke pinggir jurang, ia bersandar menghadap ke dinding jurang-jurang itu, dan dengan ilmu Pik Houw Pan Pik atau Cecak merayap di atas tembok, kedua telapak tangannya menempel di dinding jurang tersebut dan kedua kakinya mengenjot ke atas, Dalam sekejap saja ia telah sampai ke atas jurang, Ketiga muridnya menyaksikan perbuatan itu dengan perasaan kagum.

Bee Kun Bu berkata kepada Liong Giok Pin: "llmu Pik Houw Pan Pik dari Susiok betul-betul Iihay. Hanya dengan sekali enjot ia telah naik seratus depa lebih, sedangkan aku hanya dapat naik lebih kurang empat puluh depa!" Sambil tersenyum Liong Giok Pin menyahut: "Aku lebih lemah daripada kau, dan aku hanya dapat naik lebih kurang dua puluh depa." Belum lagi Bee Kun Bu menyambung pereakapan itu,

Lie Ceng Loan berseru: "Bu Koko, ada orang datang!" Mereka segera berdiri dan menoleh ke arah orang yang datang itu. Kiranya benarlah datang, dari sebelah timur seorang pemuda berbaju hijau, Dalam sekejap saja ia telah melewati mereka, Pemuda berbaju hijau itu se-akan-akan tidak menginjak rumput! Bee Kun Bu berpikir "la dapat menempuh jarak lebih kurang lima puluh depa dalam sekejap saja, Alangkah lihaynya ilmu meringankan tubuhnya, mungkin juga lebih lihay daripada Susiok!"

Diceritakan bahwa setelah Giok Cin Cu naik ke atas jurang, ia melihat bahwa di sebelah timur berdiri tiga buah puncak gunung dan merupakan sudut-sudut dari satu segi tiga, Pada puncak yang di tengah tampak garis putih seperti perak yang menurun ke bawah, dan garis putih itu berkilau- kilauan karena sinar matahari yang akan terbenam, Apakah garis putih itu suatu air terjun? Keadaan di bawah puncak itu gelap sekali dan entah berapa dalamnya, Giok Cin Cu memperhatikan letak, bentuk dan keistimewaan dari ketiga puncak itu, lalu dengan ilmu Pik Houw Pan Pik ia kembali kepada murid-murid nya.

Bee Kun Bu menceritakan peristiwa menemui pemuda berbaju hijau tadi. Wajah jago silat wanita yang lihay itu berubah setelah mendengar peristiwa itu, Agak lama juga ia berpikir tanpa berbicara, Dengan ilmu meringankan tubuh yang lebih lihay daripada ilmunya, pemuda tersebut bukan saja dapat melukai lawannya dengan sehelai daun kayu atau sebuah bunga, bahkan juga dapat melintasi segala sungai yang luas dengan hanya menggunakan sepotong ranting kayu, Giok Cin Cu yang telah banyak pengalaman dan lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw, belum pernah mengenal orang dengan ilmu meringankan tubuh yang demikian lihaynya seperti yang diceritakan atau dilukiskan Bee Kun Bu. Lalu ia bertanya: "Berapa kira-kira usianya?"

Bee Kun Bu menggaruk-garuk kepalanya, dan dengan perasaan malu ia menyahut: "Teceu malu sekali. pemuda itu kelihatannya berjalan perlahan-lahan, tapi sebetulnya ia bergerak secepat kilat Teecu hanya memperhatikan gerak- geriknya, dan tidak memperhatikan wajahnya, Tubuhnya kurus, tapi usianya.,., Teecu tak dapat mengetahui”

Sambil menggoyang-goyangkan kepala, Giok Cin Cu berkata: "Jika apa yang telah kau luluskan itu tidak salah, bukankah tidak terasa juga hembusan anginnya, ketika ia melewati kamu?"

"Betul," sahut Bee Kun Bu seperti orang baru sadar, "Ketika ia lewat, bukan saja hembusan anginnya tak terasa, bahkan pakaiannya pun tidak tergerak, dan kedua lututnya tak bengkok, Tindakannya lemas seakan-akan awan terapung- apung di angkasa!"

Giok Cin Cu jadi semakin heran, tetapi ia tetap bersikap tenang, ia tak ingin meneruskan pereakapan tentang pemuda berbaju hijau itu. Suasana mulai menjadi gelap, tetapi tak lama kemudian tampaklah bulan yang bundar seperti roda di langit sebelah timur Giok Cin Cu berjalan-jalan perlahan-lahan di atas rumput sambil melihat ke bulan. Liong Giok Pin mengetahui bahwa suhunya sedang memikiri sesuatu.

Dalam suasana yang sunyi senyap itu tiba-tiba terdengar dari jauh suara siulan yang panjang. Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin segera berdiri dengan sikap waspada, Giok Cin Cu memperhatikan siulan itu dan setelah tak terdengar lagi, ia berkata kepada muridmu rid nya: "Mungkin telah banyak jago-jago silat datang ke pegunungan Koat Cong San ini. Siulan tadi datangnya dari tempat yang kira-kira lima lie jauhnya, Ayo kita berangkat lagi!"

Dengan ilmu menerbangkan tubuh keempat orang itu lari dengan pesat sekali, dan hanya dalam dua jam saja telah lebih delapan puluh lie jarak yang mereka tempuh: tapi lembah itu seolah-olah tak ada batasnya, Makin jauh, makin ganjil suasananya, Kemudian mereka membelok ke kiri dan terdengarlah oleh mereka suara air terjun.

Mereka menoleh ke atas. Di bawah sinar bulan berdirilah tiga buah puncak-puncak yang merupakan sudut-sudut dari sebuah segi tiga, sungguh sangat angker kelihatannya dan air terjun dari puncak yang di tengah kelihatan seperti kain sutera putih metambai-!ambai dari angkasa! Hembusan angin membawa bau yang harum dari seribu satu macam bunga- bunga, dan di tengah-tengah lembah itu terletak hutan pohon- pohon cemara yang tertinggi Di pinggir hutan itu mengalir sebuah sungai kecil yang bening sekali airnya.

Suara air terjun yang menderu-seru sangat memusingkan dan menyebabkan bertambah-tambah seramnya suasana!

Mereka menghampiri tempat di mana air terjun itu jatuh, Tempat itu merupakan sebuah kolam yang besar, Tapi di belakang air terjun itu tampaklah seperti ada sebuah goa yang mungkin menembusi kaki puncak itu. Meskipun sinar bulan cukup terang, namun goa di belakang air terjun itu gelap gulita.

Mereka mengamat-amati goa itu. sekonyong-konyong dari suasana yang gelap gulita dan sunyi senyap itu berkelebatan suatu bayangan putih, dan dalam sekejap mata saja di mulut goa itu berdiri seekor bangau yang bersayap putih laksana salju, Bangau itu adalah bangau yang telah mematok mati ular hitam yang beracun itu. Dengan tak menginsyafi bahaya yang mengancamnya Lie Ceng Loan berseru sambil menepuk- nepuk tangannya: "O! Di dalam goa inikah tinggal bangau yang besar itu?!"

Seruan itu menyebabkan Bee Kun Bu terkejut ia meloncat ke depan dengan tinju kirinya menjagai mukanya, sedangkan dengan tinju kanannya ia menerjang keluar dengan mempergunakan ilmu Tian Kong Cong, Jurus Cek Siu Pok Liong atau tangan telanjang menangkap naga dari ilmu Tian Kong Cong itu dilepaskannya dengan cepat sekali seperti anak panah terlepas dari busurnya ke arah bangau putih itu. Bangau yang sedang menoleh ke atas itu, setelah melihat serangan tinju itu, segera membalikkan tubuhnya dan dengan sayap kirinya disapukannya ke arah Bee Kun Bu.

Angin dari tinju Bee Kun Bu itu terbentur dengan angin dari sapuan sayap bangau, Bee Kun Bu terkejut dan dengan tak disadarinya ia pun tersapu ke atas sampai sedepa lebih tingginya, ia tak ada kesempatan untuk membela diri. ia jatuh ke tanah meskipun Giok Cin Cu berusaha untuk menangkapnya, Lie Ceng Loan hanya dapat berdiri terpesona tak berdaya.

Setelah bangau putih itu menyapu Bee Kun Bu, lalu terbanglah ia ke atas entah ke mana, Giok Cin Cu lekas-lekas memijit-mijit jalan darah Bee Kun Bu untuk menyadarkannya kembali ia melihat mata Lie Ceng Loan berlinang-linang. Lalu tegurnya: "Mengapa kau menangis? Aku tidak terluka." Lie Ceng Loan menghapus air matanya, dan menyahut: "Bangau itu berbahaya sekali Aku tak akan menginginkannya lagi!"

Baru saja perkataan itu selesai diucapkannya, dari hutan pohon cemara terdengar suara orang menegur: "Apakah Loan Jie? Mengapa kau datang ke pegunungan Koat Cong San ini?"

Suara itu sudah dikenalnya betul Lie Ceng Loan telah mendengar suara tersebut selama sepuluh tahun lebih, Tanpa menoleh lagi ia berseru: "Suhu! Suhu!" Dari hutan pohon cemara itu keluarlah dua orang: ialah Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su. Lie Ceng Loan lari menubruk Ngo Kong Toa-su yang memeluknya erat-erat dan berkata: "Loan Jie, kau sudah menjadi murid partai Kun Lun. Mengapa masih panggil aku Suhu?"

Giok Cin Cu begitu melihat Hian Ceng Totiang menjadi sangat terharu, Asmara yang dipendamnya selama beberapa puluh tahun itu tiba-tiba merangsang jantungnya lagi Seluruh tubuhnya menjadi panas, ia berdiri terpesona agak lama. Lalu ia mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat sambil berkata: Toa-Suheng (kakak besar seperguruan) apakah kau baik-baik saja?"

Hian Ceng Totiang menganggukkan kepalanya membalas hormat itu, dan sambil tersenyum ia menyahut: "Mengapa kamu datang ke pegunungan Koat Cong San. Apa Sutee yang memegang pimpinan kuil di pegunungan Kun Lun ada dalam keadaan baik-baik saja?"

Dengan mata berlinang-linang Giok Cin Cu menyahut: "Jie- Suheng baik-baik saja. ia dan aku senantiasa mengingat Toa- Suheng, Aku tidak menghiraukan perjalanan yang jauh dari pegunungan Kun Lun hendak datang ke kuil San Ceng Koan di propinsi Hunan, Tapi di perjalanan aku berjumpa dengan mereka ini Aku telah membaca surat dari Toa-Suheng, dan mengetahui bahwa Toa-Suheng sedang menuju ke pegunungan Koat Cong San ini Oleh karena itu, aku ajak mereka datang ke sini."

Hian Ceng Totiang tidak menjawab ia hanya tersenyum, Lalu diperkenalkannya Giok Cin Cu kepada Ngo Kong Toa-su.

Si pendeta tua mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan berkata: "Aku telah mendengar tentang Sumoy, dan telah lama aku ingin berjumpa, Loan Jie yang yatim piatu telah Sumoy terima, dan aku harap Sumoy dapat mengajarinya dengan baik. Aku si pendeta tua ini tak akan melupakan budi itu, dan dengan kesempatan ini menghaturkan banyak terima kasih!" Lalu ia memberi hormat lagi. Giok Cin Cu lekas-lekas membalas hormat itu dan berkata: "llmu silat Loan Jie sudah baik sekali berkat pengajaran Toa- su. Aku Giok Cin Cu mungkin tak dapat mengajarkan yang lebih lihay lagi kepadanya, sebaliknya diwaktu Toa-Suhengku perlu bantuan, Toa-su rela menyertai, Budi ini, tak akan dapat kulupakan. N Hian Ceng Totiang memotong pereakapan itu

dan berkata "San-sumoy tak usah terlalu cemas. Urusan partai Kun Lun adalah urusan kita semua, dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan partai kita, harus kita usahakan bersama-sama."

"Jie-Suheng telah diserahi pimpinan kuil di pegunungan Kun Lun, dan ia pasti menunaikan tugasnya dengan baik, ia pun telah menerima budi besar dari Toa-Suheng, dan ia pasti tak akan membangkang terhadap segala perintah Toa- Suheng," sahut Giok Cin Cu sambil tersenyum

Ngo Kong Toa-su belum mengetahui bahwa di antara tiga pemimpin partai Kun Lun itu telah timbul peristiwa asmara segi tiga, dan ia tak mengerti pereakapan yang diucapkan oleh Hian Ceng Totiang dan Giok Cin Cu itu, tapi setelah mendengar kesanggupan Giok Cin Cu menerima Lie Ceng Loan sebagai murid, ia pun menjadi terharu, Dengan menotok tanah dengan tongkat besinya ia berseru: "Meskipun aku bukan dari partai Kun Lun, tapi aku pasti ingin berkorban untuk partai Kun Lun!"

Ketika itu Hian Ceng Totiang sedang memikirkan peta Cong Cin To yang berada di tangannya, dan berita ini akan menerbitkan banyak rintangan-rintangan bagi usahanya, karena para jago silat pasti datang ke pegunungan Koat Cong San untuk mengejarnya, Kini Giok Cin Cu dan murid-muridnya telah datang ke pegunungan Koat Cong San. Betul mereka dapat membantu, akan tetapi ia pun harus melindungi mereka, dan dengan demikian bertambahlah bebannya, Semua ini memasgulkan hatinya!

Giok Cin Cu yang telah sepuluh tahun lebih tiada bertemu dengan Hian Ceng Totiang menggunakan kesempatan itu untuk bereakap cakap di bawah sinar bulan bersama-sama Ngo Kong Toa-su dan murid-muridnya. ia menuturkan semua pengalamannya selama dalam perjalanan dari pegunungan Kun Lun sampai ke pegunungan Koat Cong San itu.

Setelah para jago silat dari berbagai-bagai partai mendengar berita bahwa peta Cong Cin To berada di tangan Hian Ceng Totiang, datanglah mereka berkumpul di propinsi Hunan utara. Setelah mendengar keterangan Giok Cin Cu bahwa si lengan delapan (Tu Wee Seng) dari partai Hua San, kedua belibis dari partai Tiam Cong dan Souw Peng Hai dari partai Koat Cong San, Hian Ceng Totiang menjadi cemas, Suara siulan dari seruling batu Giok yang terdengar di lembah dan pemuda berbaju hijau yang tampak datang dan pergi di kaki jurang sebagaimana telah dituturkan oleh Giok Cin Cu menyebabkan ia lebih cemas lagi Apakah mereka berdua itu juga telah datang ke pegunungan Koat Cong San untuk merebut peta Cong Cin To?

Dengan segala kecemasan Hian Ceng Totiang masih tetap bersikap tenang, ia berpaling kepada Giok Cin Cu dan berkata: "Aku dan Ngo Kong Toa-su telah setuju mencari bersama-sama di mana letaknya kitab Kui Goan Pit Cek menurut petunjuk-petunjuk peta Cong Cin To, tapi kita baru tiba di bagian ini." Lalu di bawah sinar bulan dibukanya peta yang dibuat di atas sehelai kain sutera itu.

Betul di atas peta itu terlukis tiga puncak yang berdiri tegak merupakan sudut-sudut dari sebuah segi tiga, dan tampak air terjun di puncak yang di tengah, Mereka sekarang berada di tempat yang tertulis di peta itu. Menurut pendapat mereka kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu tersembunyi dekat-dekat mereka sekarang, Hanya peta itu tidak menunjukkan letak yang tepat Mereka harus memeras otak untuk dapat menafsirkan letak kitab berharga itu dengan tepat Hian Ceng Totiang menoleh ke langit dan mengawasi keadaan sekitarnya, dan dengan tak diinsyafinya ia berseru: "Pohon- pohon cemara me-nyaring sinar bulan, Di atas batu-batu air jernih beraliran." Sajak itu tertera juga di atas kain sutera putih itu. Tiba-tiba ia terlompat-lompat Dikelilingnya pohon-pohon cemara yang tumbuh dekat pinggir sungai yang banyak berbatu-batu itu. Sungai itu mengalir melewati sebuah batu yang besar sebelumnya mengalir masuk ke dalam sebuah goa. Batu besar itu rupanya belum pernah diganggu, Dicabutnya pedangnya dan dicobanya menusuk dan memukul-mukul batu itu, tapi tak tampak tanda-tanda yang mungkin dijadikan kunci untuk membuka rahasia tempat kitab- kitab itu tersembunyi

Melihat air sungai yang jernih, Lie Ceng Loan yang sudah tiga hari tidak mandi, membuka sepatunya dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai itu, Lalu ia berjalan mengarungi sungai yang hanya tujuh atau delapan kaki lebarnya Kemudian ia duduk di tepi sungai dengan kedua kakinya direndamkan di dalam air. "Jika sungai ini agak dalam dan merupakan suatu ko!am, betapa enaknya aku mandi di sini!" pikirnya.

Bee Kun Bu telah mengikuti Suhunya dan juga telah melihat batu besar yang terletak di depan gua. " Apakah yang terletak di bawah batu besar itu? Sajak itu mengatakan: "Air jernih mengalir di atas batu-batu." Apakah batu-batu di dalam sungai ini ada hubungannya dengan letaknya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?" pikirnya, "Tidak salah! Di bawah batu ini mungkin ada sesuatu!" serunya dengan tak terasa, Seruan itu telah menarik perhatian yang lain-lainnya, dan mereka berlari- lari mendatanginya.

Lalu diceritakannya tafsirannya tentang batu besar itu, Hian Ceng Totiang menundukkan kepala berpikir Ketika diangkatnya kepalanya kembali diperintahkannya Bee Kun Bu mencari rotan yang besar dan kuat Setelah rotan itu dibawa dan diberikan kepadanya, Hian Ceng Totiang berkata: "Batu besar ini rupanya dapat memberikan kita kunci dari usaha kita, Aku ingin menyelam dan menyelidiki apa yang terletak di bawah batu besar itu, Kamu menanti aku di tepi sungai ini!"

Lalu diikatnya pinggangnya dengan rotan yang telah disambung-sambung itu dan diperintahkannya Bee Kun Bu memegang ujung rotan yang telah disambung-sambung itu, sebelumnya Hian Ceng Totiang menyelam, Bee Kun Bu berkata: "Suhu, biarlah teecu yang menyelam. " Tapi Hian

Ceng Totiang tersenyum dan menyahut: "Dalamnya sungai ini tak terduga, Apakah di bawahnya ada makhluk-makhluk yang beracun, kita pun belum mengetahui Aku merasa lega jika aku sendiri yang melakukannya."

Giok Cin Cu juga berkata: "Toa-Suheng, biarlah aku yang lakukan." Hian Ceng Totiang menggelengkan kepalanya dan menyahut .” Tidak! Kau harus membantu Jie-Suheng memimpin partai Kun Lun. Jika aku tewas, kau harus menjaga Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang telah kuserahkan kepadamu, dan ajari betul ilmu silat pedang Cui Hun Cap Jie Kiam!"

Merembes masuk ke dalam goa dan memperoleh mustika.

Kemudian Hian Ceng Totiang terjun ke dalam air dan menyelam sedangkan Bee Kun Bu mengulur rotan yang disambung-sambung itu, Telah lebih dua ratus depa rotan yang diulur kemudian terasa isyarat dari dalam air, barulah penguluran itu dihentikan Mereka mengetahui bahwa Hian Ceng Totiang telah tiba di dasar sungai, Mereka menunggu Sejam. dua jam, tapi mereka belum juga memperoleh isyarat

dari Hian Ceng Totiang, Mereka menjadi cemas, tapi tak berdaya!

Bee Kun Bu tak dapat menahan kegelisahannya. "Susiok, aku harus menyelam untuk menyelidiki keadaan Suhu!" ia memaksa, Giok Cin Cu mengetahui ia tak dapat mencegah ia menganggukkan kepalanya dan memperingat "Kau harus hati- hati. Jika tidak melihat Suhu, kau harus lekas-lekas naik ke atas!" Lalu Bee Kun Bu mengikat pinggangnya dengan rotan yang telah disambung-sambung.

Setelah ia menyelam sepuluh depa lebih, ia merasa dingin sekali. Dengan menggunakan ilmu tenaga dalam dihangatkannya tubuhnya, ia memperhatikan juga bahwa makin dalam ia menyelam, makin terus dasar sungai itu, Setelah ia menyelam sampai dua ratus depa lebih barulah ia tiba di dasarnya. Rupanya batu besar itu menutupi sebuah goa di dasar sungai yang luasnya hanya sedepa persegi. Dari situ air mengalir dengan sangat deras ke dalam goa. Goa itu sangat gelap, tapi agak tinggi.

Air yang mengalir deras hanya setinggi lima kaki dan Bee Kun Bu dapat berdiri di dalam air yang mengalir deras itu dengan kepalanya bebas, ia melihat bahwa ia dapat naik ke atas tebing-tebing di kedua pinggir goa itu. ia segera meloncat naik ke atas tebing itu dan jalan dengan hati-hati menuju ke ujung goa yang agak terang tampaknya. Betul saja makin jauh ia berjalan, makin terang suasana di dalam goa itu, karena sinar fajar menyorot ke dalam dari mulut atau ujung goa itu, ia berjalan cepat-cepat dan ketika ia sampai di luar, ia menjadi terpesona. ia berseru "Wahai! Luas betul dunia ini! ajaib betul dunia ini! siapakah yang akan menduga bahwa dari dasar sungai orang dapat menemui tempat yang seindah ini dengan melalui gua yang dapat dikatakan terletak di dasar sungai!"

Lalu ia berjalan terus sambil mengawasi apa saja yang ada di sekitarnya, Dalam keadaan yang sunyi senyap itu, suara apapun juga dapat terdengar ia mendengar suara orang sedang menarik napas panjang, ia tahu bahwa suara itu adalah suara tarikan napas gurunya, ia lari menuju ke arah suara itu, Di suatu lapangan rumput di antara pohon-pohon bunga tampak olehnya gurunya Hian Ceng Totiang sedang duduk sambil menengadah ke langit, Meskipun hanya dua depa jarak antar mereka, tapi tampaknya gurunya seakan- akan tak mengetahui kehadirannya di sana,

Bee Kun Bu merasa heran, ia ingin maju, tapi ia berpikir "Mengapa Suhu duduk terpaku seakan-akan seorang yang hilang ingatan? Apakah Suhu terkurung oleh pohon-pohon bunga ajaib itu sehingga tak dapat bergerak?" Baru saja ia ingin bertindak maju, tiba-tiba Hian Ceng Totiang berdiri dan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, Lalu ia melangkah sambil menghitung jumlah langkah-langkah tersebut ia melangkah ke kiri dan ke kanan, tapi tidak melewati batas sebuah lingkaran yang garis menengahnya tidak lebih dari lima depa.

Pada suatu ketika ia rupanya dapat keluar dari semak pohon-pohon bunga, tapi kemudian ia balik lagi ke tempat asalnya, Bee Kun Bu berteriak: "Suhu! Melangkah dua langkah lagi, dan Suhu dapat keluar dari semak pohon-pohon bunga itu!" jeritan yang keras itu seakan-akan tidak terdengar oleh Suhunya, karena suhunya tetap kembali ke tempat asal dan duduk sebagaimana pertama kali sambil menarik napas panjang yang terdengar nyata oleh Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu menjadi sangat cemas, Suhunya dengan ilmu Pat Kwa Jie Li Ngo Heng atau lima langkah melampaui rintangan dari delapan jurusan tidak mampu keluar dari belenggu pohon-pohon bunga yang ajaib itu! Dan... ia sendiri tak mampu menolong gurunya! Apakah yang harus dilakukannya? ia mengasah otaknya mencari akal untuk menolong gurunya.

Dihitungnya jumlah pohon-pohon bunga yang mengurung gurunya, dan ternyata ada sembilan kali sembilan sama dengan delapan puluh satu, jika ditebangnya sebuah pohon, mungkin khasiat pohon-pohon bunga ajaib yang mengurung gurunya dapat dipunahkan Dengan tekad yang demikian dicabutnya pedangnya dan dipancungnya sebuah pohon bunga, ia menunggu sebentar, tapi tidak tampak perubahan Dipancungnya sebuah lagi, juga tak tampak perubahan. ia menjadi marah. Dipancungnya terus sampai tiga kali tiga kali tiga sama dengan dua puluh tujuh buah pohon, "Sing....

sing. sing!!!" bunyi suara yang nyaring dan bising entah dari

mana. Dan. kedua mata Hian Ceng Totiang bersinar! ia

menengok ke arah Bee Kun Bu sambil bangun berdiri

Lalu dengan tenang ia melangkah keluar dari tengah- tengah pohon-pohon bunga itu, dan berkata: "Ai! Aku telah menggunakan ilmu Pat Kwa Ji Li Ngo Heng untuk keluar dari perangkap pohon-pohon bunga yang ajaib ini, tapi tak berhasil Untung sekali kau datang menoIong, Tapi... bagaimanakah caranya kau datang ke sini?" Bee Kun Bu merasa girang karena telah dapat menolong gurunya, Lalu diceritakan nya bahwa karena ia khawatir akan keselamatan gurunya, ia pun menyelami sungai, Tentang bagaimana caranya Teecu menolong Suhu," ia melanjutkan Teecu pun tidak mengetahui Teecu hanya menolong menurut pendapat sendiri untuk melepaskan orang dari jaring, kita harus memotong putus talinya, bukan? Rupanya pohon-pohon bunga itu telah merintangi jalan keluar untuk Suhu, maka Teecu tebaslah mereka itu."

Sambil menggoyang-goyang kepalanya, Hian Ceng Totiang berkata: "Ai! Aku dengan membabi buta telah masuk ke dalam semak pohon-pohon bunga itu, dan tidak menghiraukan akibatnya, Kini dua puluh tujuh pohon-pohon telah kau tumbangkan, aku kira mereka tak berbahaya lagi! Mari kita masuk lagi dan menyelidiki hal-hal yang lain-lainnya!

Bee Kun Bu masih juga khawatir Dicabutnya pedangnya, dan dengan pedang terhunus diikutinya guru-nya. Dengan mata kepalanya sendiri disaksikannya kerangka-kerangka manusia di bawah pohon-pohon itu, ada yang berbaring, ada yang duduk, dan ada pula yang berlutut dengan kepala di atas tanah, ia terkejut dan bertanya. "Suhu! Apakah rangka-rangka ini korban dari perangkap pohon-pohon bunga itu?"

Hian Ceng Totiang tak segera menyahut ditariknya napas panjang-panjang, lalu berkatai "Hai.,.! Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah banyak mengambil korban. orang-orang ini telah berusaha mencarinya, dan telah masuk ke dalam perangkap pohon-pohon bunga ajaib ini. Mereka tak dapat keluar Mereka tewas karena kelaparan dan kedinginan Aku pun bisa seperti mereka, meninggalkan rangka di sini, jika kau tak datang menolong! Hai. "

Setelah melalui semak pohon-pohon bunga ajaib itu, mereka menghadapi sebuah dinding jurang gunung yang curam. Di kaki jurang itu ada dua buah batu gunung yang besar yang merupakan pintu dari sebuah gua. Dengan tenaga dalamnya, Hian Ceng Totiang mengirim pukulan ke arah batu- batu itu, dan sekarang terbukalah pintu tersebut Mereka menjenguk ke dalam dan tampaklah sebuah batu gunung yang besar sekali dan dua batu hijau yang lebih kecil di kedua sampingnya, Di atas kedua batu yang lebih kecil itu ada dua buah patung: sebuah merupakan pendeta laki-laki dan yang lain merupakan rahib perempuan

Di atas batu yang besar terletak sebuah kotak dari batu Giok yang berukuran satu kaki kali satu kaki kali lima dim (atau tiga puluh sentimeter kali tiga puluh sentimeter kali lima belas sentimeter). Di depan batu yang besar terdapat sebuah pedupaan dari batu yang berwarna putih, dan di dalam pedupaan itu masih terdapat abu hio (semacam menyan wangi) yang sangat harum baunya, Bau harum ini berhamburan di udara dan menusuk hidung ketika pintu batu terbuka.

Hian Ceng Totiang lalu menjelaskan: "Pendeta laki-laki itu adalah Hian Kie Cin Jin, dan rahib perempuan itu adalah San Im Shin Nie. Keduanya telah menulis ilmu-ilmu silat yang maha dahsyat dan membuat kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Kita harus berlutut memberi hormati Mereka segera berlutut di hadapan patung-patung itu. Kemudian dengan ilmu meringankan tubuh, Hian Ceng Totiang meloncat ke atas batu yang besar tadi dan melihat kotak dari batu Giok itu, Diperiksanya dengan teliti, dan di atas kotak tersebut tertulis delapan huruf yang berbunyi: Pit Cek Cung Po, Cin Si Mok Sen (Kitab-kitab ini sangat berharga, Harus dijaga baik-baik).

Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang dicari oleh para jago silat selama beratus-ratus tahun, Kini Hian Ceng Totiang yang menemuinya. ia terharu, bereampur gembira, seluruh tubuhnya gemetar Dengan kedua tangannya yang gemetar, dicobanya membuka kotak itu, dan di dalamnya ada tiga buah kitab yang tidak terlampau tebal Disampul kitab yang paling atas tertulis dalam huruf merah Kui Goan Pit Cek. Hian Ceng Totiang merasa seolah-olah jantungnya hendak putus, bahna kegirangan Buru-buru ditutupnya kotak itu kembali Dari kantong di dadanya, dikeluarkannya sehelai kain tebal, dan dengan itu dibungkus nya kotak tersebut dengan hati-hati. Kemudian ia turun dari batu itu, memberi hormat kembali kepada kedua patung-patung itu, dan akhirnya diajaknya muridnya lekas-lekas keluar dari gua itu, Setelah keluar, Hian Ceng Totiang menjerit keras, suaranya seperti seekor naga meraung dan bising sekali

Suara jeritan itu dikeluarkan dengan tenaga dalam dan terdengar oleh Ngo Kong Toa-su dan Giok Cin Cu yang sedang menanti di tepi sungai dengan perasaan khawatir yang amat sangat sebetulnya untuk pergi ke gua di mana terletak kitab Kui Goan Pit Cek itu, orang harus menyelam ke dalam sungai Kemudian melalui gua di dasar sungai menerobos keluar ke lembah di mana tumbuh pohon-pohon bunga ajalb, sebelumnya semak pohon-pohon bunga itu dapat dilewati orang tak dapat mendekati dinding jurang yang sangat curam itu untuk membuka pintu batu yang menutupi gua di mana kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu tersimpan.

Hian Ceng Totiang dan Bee Kun Bu dengan ilmu tenaga dalam dan meringankan tubuhnya telah berhasil menyelam, menerobos masuk gua di dasar sungai, bahkan melewati semak pohon-pohon bunga yang ajaib, Lalu sebagaimana telah diceritakan telah membuka pintu batu dan mengambil kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Lembah dimana mereka berada tak dapat dicapai dengan jalan menuruni jurang yang amat curam itu, dan senantiasa disetubungi kabut yang tebal sekali Kini setelah memperoleh kitab-kitab mujizat itu, dengan ilmu Cit Tiang Sin Kong atau terbang melonjak menembusi langit, mereka menotok tanah dengan kedua ujung jari kakinya, lalu tubuhnya melonjak ke atas secepat kilat dan tiba di atas jurang, kemudian dengan ilmu meringankan tubuh mereka lari dengan pesat melalui batu-batu, semak-semak dan segala rintangan-rintangan, dan berkumpul kembali dengan kawan- kawannya!

Semuanya dapat berlega hati kembali Giok Cin Cu adalah orang yang pertama bertanya pada Hian Ceng Totiang: Toa- Suheng, mengapa lama sekali kau di dasar sungai itu? Apakah kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah diperoIeh?" Sambil tersenyum Hian Ceng Totiang menyahut "Aku telah masuk perangkap semak pohon-pohon bunga, dan hampir tewas, Tapl., ya, sudahlah, akhirnya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah kuperoleh Berkat pertolongan Bee Kun Bu, aku telah beruntung memperoleh kitab-kitab mujizat ini" Lalu diceritakannyalah pengalaman-pengalamannya menyelam ke dasar sungai, cara muridnya menolongnya dari perangkap, dan cara mereka keluar dari lembah yang terpencil tadi

Giok Cin Cu mengawasi Bee Kun Bu dengan perasaan kagum, lalu berkata: "Bukan saja ia cerdik dan cerdas, tapi juga seorang yang budiman, Toa-Suheng beruntung sekali mempunyai murid seperti dia yang dapat menjunjung tinggi kemasyhuran partai Kun Lun kita."

Dengan pujian itu Bee Kun Bu merasa canggung, Hian Ceng Totiang mengawasi muridnya dan berpikir "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek telah diperoleh, dan aku harus mencari suatu tempat yang terpencil dan tentram untuk mempelajari ilmu silat dari kitab-kitab ini yang mungkin memakan tempo setahun atau dua tahun, karena kitab-kitab ini, kalangan Bu Lim menjadi bergolak, dan gelombangnya mungkin dapat menyapu anggota-anggota dari partai Kun Lun. Ya... karena perebutan kitab-kitab ini, para partai silat akan bertarung mati- matian, Betul kitab-kitab ini sangat berharga, akan tetapi mereka pun merupakan sumber dari segala malapetaka!" ia menarik napas panjang memikirkan akibat-akibatnya.

Giok Cin Cu juga merasa heran mengapa Toa-Suhengnya setelah memperoleh kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu masih juga merenung, ia bertanya: Toa-Suheng, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sudah di tangan, seharusnya Toa-Suheng bergembira, Tetapi mengapa sekarang masih duduk terpekur?" Lalu dikeluarkannya kulit ular hitam dan diperlihatkannya sambil berkata: "Aku datang ke pegunungan Koat Cong San ada juga memperoleh hasil Cobalah lihat kulit ular ini! Bukankah kulit ini mujizat?" Hian Ceng Totiang mengambil kulit ular itu dan melihat dengan teliti sisik- sisiknya, lalu sambil tersenyum ia berkata: "Kulit ini betut-betul berharga, dan sukar dicari Dari mana kau peroleh?"

"Kulit ular ini aku peroleh tanpa kesukaran, Jika aku sengaja mencarinya pasti tidak akan berhasil Partai Kun Lun kita dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek dan kulit ular ini pasti akan menjagoi di kalangan Bu Lim..." sahut Giok Cin Cu.

Belum habis Giok Cin Cu bicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa, Hian Ceng Totiang terkejut ia bangun dan membuka kedua matanya dan mengawasi keadaan di sekitarnya.

Suara tertawa itu kedengarannya dekat sekali, tetapi entah dari mana asaInya. Dengan ilmu tenaga dalamnya ia dapat mengetahui daun pohon jatuh lejauh lima depa, Tapi suara tertawa yang kedengarannya sangat dekat itu, tak dapat diketahuinya dari mana datangnya. Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su juga mendengar suara tertawa itu akan tetapi sedikit pun tak tampak tanda-tanda dari mana datangnya,

Sekonyong-konyong Lie Ceng Loan menjerit: "O! Bangau putih datang kembali!" Semuanya menoleh ke atas, Bangau itu datang dan menyambar Hian Ceng Totiang secepat kilat dengan sayapnya dan sekaligus merebut kulit ular dari tangannya, Giok Cin Cu yang berdiri dekat Toa-Suhengnya melihat bangau putih itu merampas kulit ularnya dari tangan Toa-Suhengnya.

Sambil menjerit dikibaskannya lengan bajunya dan ia terbang ke atas untuk mengirim jotosan dengan tinju kanannya ke arah bangau putih itu. jotosan yang dikirim dengan tenaga dalam itu luar biasa hebatnya, hembusan anginnya menerjang bangau putih sehingga bangau itu bergoyang-goyang di udara, Lalu dengan suara mengeluh yang panjang ia terbang lebih tinggi melewati awan-awan dan tak kelihatan lagi! Sakit sekali hati Giok Cin Cu karena kulit ularnya dirampas. ia merentak-rentak karena masygulnya.

Tinju yang dikirimnya sebetulnya dapat menghancurkan batu tapi mengapa ia tak berhasil membunuh bangau putih itu? ia heran bereampur masyguI. Hian Ceng Totiang menghampirinya dan menghibur: "Bangau putih itu, yang dapat membunuh mati ular hitam yang berbisa dan panjangnya dua depa lebih, bukan bangau sembarangan ia telah merampas kulit ular tetapi tidak melukai kita, kita sudah seharusnya bersyukur Bangau itu pasti ada majikannya, Jotosanmu paling sedikit dikirim dengan tenaga enam ratus kati.

Dengan tenaga itu segala binatang buas tentu binasa kalau kena. Tapi bangau putih itu seakan-akan tidak menderita apa-apa. Orang yang memelihara bangau demikian pasti seorang yang luar biasa saktinya, Suara tertawa yang baru saja kita dengar, mungkin juga suara tertawa majikan bangau itu, Rupanya ia hanya menghendaki kulit ular Bukankah bangau itu bertarung melawan ular? sedangkan kau mengambilnya tanpa jerih payah, Kau telah merampas hasil pertarungan bangau itu, Marilah kita jalan. Lama-lama berdiam disini tak ada juga gunanya !"

Giok Cin Cu menganggukkan kepala nya, lalu mengikuti Toa-Suhengnya jalan bersama-sama lain-lainnya. Setelah mereka tiba di tempat di mana Bee Kun Bu menemui pemuda berbaju hijau, mereka berhenti untuk beristirahat dan makan,

Mereka makan sambil duduk di atas rumput saja, Lie Ceng Loan bertanya pada Liong Giok Pin: "Cici, apakah di pegunungan Kun Lun ada bangau putih? Jika ada, aku ingin memeliharanya seekor Jika bangau itu besar, akan kusuruh ia merebut kembali kulit ular Susiok dari bangau putih tadi."

Ucapan itu diperhatikan oleh mereka semua, tapi semuanya tidak menyahut, karena pada saat itu dari salah sebuah lembah terdengar suatu suara orang tertawa yang keras sekali seakan-akan menggetarkan jurang-jurang!

Mereka semua menoleh ke arah datangnya suara tertawa yang ganjil itu, Giok Cin Culah yang pertama bangun, Dari jauh dilihatnya empat orang yang sangat jelek wajahnya sedang mengawal seorang tua yang berambut dan berjenggot putih, bertubuh kurus dan berbaju kurung, berjalan dengan memegang tongkat, Dengan sekejap saja rombongan itu sudah berada dekat mereka. Orang tua itu sangat bersih wajah nya, hanya jenggotnya luar biasa panjangnya, dan kedua alisnya yang putih hampir menutupi kedua matanya karena terlampau panjang.

Tongkat yang dipegangnya mempunyai gagang yang berbentuk seperti kepala seekor naga, Empat orang yang mengawal berbaju buntung semuanya, dan muka mereka bukan main buruknya, penuh dengan bekas-bekas bacokan atau tusukan senjata tajam, Sambil berdiri lebih kurang sedepa jauhnya, orang tua itu mengangkat kedua tangannya memberi hormat, dan berkata sambil tersenyum: Tiga pemimpin partai silat Kun Lun sangat termasyhur namanya di kalangan Bu Lim, Aku si tua bangka ini merasa beruntung dapat menjumpai mereka." Lalu ia tertawa terbahak-bahak, suaranya keras menggetarkan suasana di sekitar mereka.

Sekali melihat wajahnya, Hian Ceng Totiang segera mengenali bahwa ia itu adalah pemimpin partai silat Tian Liong, Souw Peng Hai. Empat pengawalnya yang sangat jelek wajahnya adalah empat iblis dari propinsi Su-coan. Hian Ceng Totiang segera membalas memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke dada seraya berkataj "Souw Cong Piauw (pemimpin Souw) adalah seorang yang lihay silatnya di kalangan Kang-ouw, Partai Tian Liong sangat termasyhur di bawah pimpinannya, Kami dari partai Kun Lun tak dapat disetarafkan dengan-nya."

"Saudara terlampau merendah, Partai Kun Lun adalah partai silat yang lihay dan merupakan salah satu partai besar, dan partai Tian Liong tak dapat disamakan dengan partai Kun Lun," sahut Souw Peng Hai sambil tersenyum. Lalu matanya mengawasi bungkusan kain kuning yang diikat di belakang Hian Ceng Totiang, ia berkata lagi: Tersiar kabar bahwa peta Cong Cin To telah berada di tangan saudara, betulkah begitu?" pertanyaan itu tak mudah dijawab Di kalangan Kang- ouw, jago-jago silat yang budiman enggan berdusta, Oleh sebab itu Hian Ceng Totiang terpaksa berpikir sejenak, kemudian menjawab "Betul Peta tersebut telah kuperoleh!"

"Jika sudah dapat, mengapa tidak saudara cari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek? Apakah bungkusan kain kuning di belakang saudara itu berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?" tanya Souw Peng Hai.

Pertanyaan tersebut seolah-olah tusukan pisau, Hian Ceng Totiang menyahut sambil mengejek: "BetuI! Souw Cong Piauw menanyakan soal itu, apakah maksud saudara sebenarnya ?"

Souw Peng Hai tertawa terbahak-bahak dan berkatai "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek adalah barang-barang berharga di kalangan Bu Lim. Aku Souw Peng Hai tidak hendak merampas sehingga menerbitkan pertarungan yang tak diingini, Aku ada jalan yang adiL Kitab-kitab tersebut dapat saudara pegangj tapi saudara jangan sendiri saja membacanya. Atas nama saudara dan aku, kita mengundang pemimpin-pemimpin dari sembilan partai silat dan jago-jago silat lainnya untuk menyaksikan pertandingan silat pedang antara kita berdua, Dengan de-mikian, jika dapat menyelesaikan persaingan kedua partai kita yang telah berlaru-larut selama beberapa ratus tahun, dan juga dapat menentukan di tangan siapa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu harus jatuh, Bagaimanakah pendapat saudara atas usulku ini?"

Giok Cin Cu tidak sabar lagi. ia menjawab: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek tentu menjadi milik kami, karena kami memperoIehnya dengan susah payah, Tentang bertanding ilmu silat pedang, Souw Cong Piauw dapat mengirim undangan Kami partai Kun Lun pasti setuju dan siap bertanding di mana dan bila saja!" Souw Peng Hai mengawasi jago silat wanita itu dan sambil mengejek berkata: "lni tentulah Giok Cin Cu Liehiap yang termasyhur dari partai Kun Lun. Aku sedang bicara dengan saudara tuamu, Aku harap yang muda tidak turut campur!" Sahutan itu menyebabkan muka Giok Cin Cu menjadi merah, tapi ia tak dapat lantas menjawab ia hanya mengawasi Souw Peng Hai, dan kemudian Suhengnya. Dengan suara yang agak gusar, Hian Ceng Totiang berkata "Souw Cong Piauw berhasrat hendak mengundang para jago silat bertanding silat pedang, kami dari partai Kun Lun pasti tidak akan mundur

Tapi pertandingan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan tak dapat dibawa serta, Kami ada urusan yang lebih penting dan harus lekas- lekas kembali ke pegunungan Kun Lun, dan tak ada waktu lagi untuk berunding, Kami menunggu undangan untuk bertempur di kuil San Goan Kong di pegunungan Kun Lun. Bila telah dapat undangan, partai Kun Lun pasti datangi" Lalu diajaknya orang-orangnya berlalu,

Tapi Souw Peng Hai menghalangi mereka dengan longkatnya, dan berkata sambil tertawa: "Jika kamu berjalan terus, orang lain juga akan mencegatmu, dan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu pasti tak dapat kau pertahankan."

Dengan mengejek Hian Ceng Totiang menyahut "Kami dari partai Kun Lun belum pernah dihina, Kami hanya ingin melihat apakah yang hendak dilakukan Souw Cong Piauw pada kami!"

Tapi jika orang yang merampas kitab-kitab itu, bukankah kami dari partai Tian Liong juga dapat turut merampas?" kata Souw Peng Hai.

"BetuI! Jika Souw Cong Piauw gembira melakukan perampasan, boleh coba saja!" sahut Hian Ceng Totiang,

Souw Peng Hai lalu menurunkan tongkatnya dan membiarkan mereka jalan, ia berkata: "Baiklan, Jika orang lain tidak merampas, kita pun tak akan merampas.

Tapi jika orang lain merampas, kita pun datang merampas!"

Hian Ceng Totiang tak bicara lagi, hanya orang-orangnya saja yang diajaknya jalan terus, Di sepanjang jalan ia berkata kepada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, "Nanti jika ada orang merampas atau mencegat, kamu tak boleh turun tangan, Yang akan mencegat kita bukannya anak kemarin, Mereka semuanya jago jago silat yang luar biasa lihaynya, Jika kamu tak turun tangan, mereka pun tak akan menyerang kamu."

Peringatan gurunya itu diperhatikan betul, dan mereka pun insyaf bahwa gurunya akan berkorban untuk membela kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu. Mereka merasa masygul karena tidak diberi kesempatan untuk membantu bila ada pencegatan atau perampasan,

Mereka jalan terus dan dengan cepat telah dua puluh lie jarak yang mereka tempuh, Angin gunung berhembus sepoi- sepoi basah membawa bau bunga-bunga yang ha-rum, tetapi mereka semuanya merasakan ketegangan dan kegentingan suasana, Ketika mereka lewat di sebuah lembah yang agak sempit, terdengarlah bunyi tertawa dari lereng gunung yang ditumbuhi oleh pohon-pohon cemara, Lalu dari lereng gunung yang tingginya beberapa puluh depa itu meloncat lah turun seorang yang berbaju kurung, berambut putih seperti perak, dan tangannya memegang tongkat bambu, ia mencegat mereka.

Dengan menghadapi Hian Ceng Totiang ia berkata: "Pemimpin kuil San Ceng Koan, sudah lama kita tidak berjumpa, Apakah masih kenal dengan Tu Wee Seng?" Giok Cin Cu menjawabi "Ai! Pemimpin partai silat Hua San dapat dipereayai perkataannya, Kau betuI-betul datang ke pegunungan Koat Cong San?" Tu Wee Seng menyahut sambil tersenyum: "Yang datang ke sini bukan saja aku si tua bangka, Masih ada dua belibis dari partai Tiam Cong dan beberapa belas jago-jago silat lainnya, Tiga kepala cabang partai Tian Liong juga telah datang, semenjak pertandingan silat di atas puncak Sao Sit Hong tiga ratus tahun yang telah lalu, pertemuan yang sekarang ini benar-benar dapat dikatakan pertemuan yang agak besar. Mungkin juga pertarungan yang akan dilakukan merupakan pertarungan yang ramai sekali!" "O,., saudara Tu juga datang untuk turut serta dalam pertarungan?" kata Hian Ceng Totiang dengan mengejek

"Aku hanya ingin membantu meramaikan saja," sahut Tu Wee Seng dengan berlagak merendahkan diri.

Hian Ceng Totiang tidak dapat lagi menahan ke- sabarannya, ia membentak: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek ada di belakangku jika saudara Tu ingin mengambil ayo coba ambil!"

Tu Wee Seng berubah wajah, Dengan gusar ia membentak kembali: ilmu pedang Hun Kong Kiam Sut dan ilmu tinju Tian Kong Cong belum tentu yang nomor satu di kalangan Bu Lim, Aku yakin aku dapat melayani ilmu-ilmu demikian sebetulnya partaiku Hua San dan partaimu Kun Lun tidak bermusuhan Jika kau sudi memberikan kita kesempatan untuk mempelajari ilmu silat dari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, kedua partai kita dapat bergabung dan bersama-sama mempertahankan kitab-kitab itu terhadap serangan-serangan pihak ketiga, Mengapa kau demikian marahnya?"

Hian Ceng Totiang menyahut: "Aku tak dapat menerima maksud baik itu." Dengan mengangkat tongkat bambunya Tu Wee Seng berkata: "Jika demikian, aku harus minta pelajaran ilmu silat beberapa jurus dari saudara!" Hian Ceng Totiang juga segera mencabut pedangnya dan berkata: "Jika aku dapat menerima pelajaran silat dari saudara Tu, aku akan merasa puas bila mati di pegunungan Koat Cong San ini."

Lalu dengan ilmu Siauw Cit Tian Lam atau sambil tertawa menyodok ke selatan Tu Wee Seng menyerang dengan tongkat bambunya. Dengan ilmu Pat Pui Hong Ie atau menjaga hujan dan angin dari delapan jurusan Hian Ceng Totiang secepat kilat merembetkan pedangnya ke tongkat bambu lawannya dari bawah ke atas untuk menyodok ke dada lawannya kembalL Tu Wee Seng mengelakkan tusukan itu sambil berseru: "Ai! Lihay betul ilmu silat pedang itu!" Dipukulnya pedang lawannya, dan sambil meloncat ke atas dipukulnya kepala Hian Ceng Totiang dari udara. Tiba-tiba di sekitar tempat bertempur itu terdapat suatu bayangan yang berkilau-kilauan, karena Hian Ceng Totiang sambil menjerit keras melakukan jurus Hun Kong Kiam Hoatnya (melepaskan sinar menyerang lawan) dengan memutar-mutar pedangnya sehingga tak ada sedikitpun juga lowongan untuk dapat dipergunakan si penyerang, bahkan ia harus menyingkir jauh-jauh untuk menghindarkan sabetan pedang yang diputar dengan demikian pesatnya!

Tiba-tiba sabetan disertai dengan tenaga dalam yang maha dahsyat Tu Wee Seng harus menyingkir dari sabetan- sabetan maut itu, sambil menanti lowongan untuk menyerang, pertempuran dahsyat telah berjalan enam belas atau tujuh belas jurus, Tu Wee Seng telah menjadi beringas Dengan ilmu Shin Liong San Hian atau naga sakti muncul dari tiga tempat dilancarkannya serangan-serangan dengan tongkat bambunya untuk mendobrak tembok baja yang dibuat oleh putaran- putaran pedang lawannya, Pada suatu ketika lowongan itu pun tibalah, ia pun mundur sedepa, dengan tongkat bambu di tangan kanan dipukulnya pedang lawan, sedangkan tangan kirinya datang mencakar Hian Ceng Totiang mengetahui bahwa Tu Wee Seng melakukan serangan itu dengan semua tenaga dalamnya, karena kedua mata memancarkan sinar terang.

Dengan pedangnya ditebasnya tangan yang datang mencakar itu, dan kedua matanya mengawasi mata lawan nya. Giok Cin Cu yang menyaksikan pertempuran itu mengetahui bahwa mereka berdua sedang menggunakan seluruh tenaga dalamnya, dan jika kedua tenaga dalam yang maha dahsyat itu beradu, segera dapat dipastikan siapa yang akan menang dengan luka parah dan siapa yang kalah dan tewas! ia terkejut dan cemas sekali justru pada saat yang menentukan itu, terdengarlah suara orang tertawa dengan keras sekali Kedua orang yang bertempur itu berhenti

"Hai! Kedua saudara jangan bertempur mati-matian!

Apakah kita berdua juga boleh turut serta?" Yang tertawa dan berkata itu adalah kedua belibis dari partai Tiam Cong, Tu Wee Seng ketika melihat mereka datang menjadi masgul sebetulnya Tu Wee Seng berniat sungguh-sunggun untuk merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, Untuk membinasakan lawannya ia akan menggunakan bo!a kecil dari emas yang dapat dijentik dengan jari tangan dengan gaya hendak mencakar karena ia tak dapat melawan dengan tongkat bambunya, sebegitu jauh senjata khasnya yang sangat ampuh itu belum pernah mengecewakannya, dan tak ada taranya di kalangan Kang-ouw.

Lalu setelah ia dapat membunuh lawan nya, ia akan merampas kitab-kitab itu dari belakang Tetapi., usahanya digagalkan oleh kedatangan Tiam Cong dan Tan Piauw, kedua belibis dari partai Tiam Cong itu, Lagi pula, jika ia berhasil merampas kitab-kitab itu, belum tentu ia akan dapat mengatasi kedua belibis itu, dan juga Giok Cin Cu dan Ngo Kong Toa-su pasti tidak akan berdiam diri saja. ia yakin tak dapat mengatasi rintangan-rintangan dari keempat jago-jago silat itu, Bukan main gusarnya atas kedatangan Tiam Cong dan Tan Piauw, ia menjadi muak terhadap kedua belibis itu, dan ia bertekad hendak membasmi mereka lebih dulu, karena ia menduga orang-orang Hian Ceng Totiang pasti tak akan membantu kedua belibis itu. Dengan tekad hendak membasmi, di hadapi nya kedua belibis itu dengan wajah yang gusar.

Tapi Tiam Cong dan Tan Piauw bukannya lawan yang enteng. Tiam Cong yang berjubah, berewok dan Jie-ko dari partai Tiam Cong, terkenal sebagai belibis angkasa, Tan Piauw yang mukanya putih kelimis dan berbaju biru terkenal sebagai belibis angin taufan, Mereka bersama-sama dengan Sia Yun Hong sebagai Toako yang terkenal sebagai belibis penggempur gunung, membentuk partai silat Tiam Cong, Silat Sia Yun Hong yang menjadi Toa-ko paling Hhay, dan ia jarang turun dari gunungnya, Tiam Cong dan Tan Piauw yang sering berkelana, telah mendengar bahwa Hian Ceng Totiang telah mendapatkan peta Cong Cin To, dan mereka ini pun ingin juga mendapatkan kitab-kitab tersebut untuk dibawa ke gunung kepada Toa-ko mereka. Diceritakan bahwa ketika kedua belibis itu melihat wajah Tu Wee Seng yang sangat gusar, terasalah oleh mereka bahwa mereka akan diserang, Mereka menjadi waspada menanti segala kemungkinan Dengan berdiri berdamping- dampingan, mereka mengumpulkan semua tenaga dalamnya untuk menyerang Tu Wee Seng dengan ilmu Pai San To Hay atau menumbangkan gunung dan membalikkan laut bersama- sama, Melihat kedua belibis berdiri dengan khidmadnya seperti dua "buah gunung, Tu Wee Seng tidak segera menyerang, pikirannya tiba-tiba berubah, Dengan tersenyum ia berkata:

"Kesempatan kita berjumpa masih banyak. Aku menunggu untuk dapat bertempur melawan kamu bertiga, berikut Toa- komu!" Tiam Cong dan Tan Piauw mengerti maksud Tu Wee Seng yang hanya ingin merampas kitab-kitab itu seperti mereka juga, jika mereka segera menyerang mungkin kedua belah pihak menderita luka parah. Oleh karena itu mereka pun juga bersabar saja.

Baru saja suasana menjadi reda, tiba-tiba Tan Piauw loncat ke belakang Hian Ceng Totiang dengan maksud merampas bungkusan kain kuning yang berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. perbuatan ini dilihat oleh Giok Cin Cu.

Dengan toyanya ia memukul, menyabet dan menyodok Giok Cin Cu dengan nekad. Giok Cin Cu melayani lawannya dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatnya, dan semua serangan-serangan dengan mudah saja dapat dielakkannya, Setelah pertempuran berjalan delapan puluh jurus masih juga belum dapat diketahui siapa yang menang atau kalah.

Lalu Giok Cin Cu mengeluarkan ilmu Cui Hun Cap Jie Kiam-nya, dan dalam sekejap saja pedangnya berkilau-kilauan di segala jurusan, ilmu pedang Cui Hun Cap Jie Kiam itu adalah jurus yang ampuh dari partai Kun Lun, dan tentu saja Tan Piauw tak dapat menahan, ia terdesak mundur sampai ke pinggir jurang. Dengan sebuah ^sodokan saja, Tan Piauw pasti binasa atau jatuh dari jurang yang sangat tinggi itu. Tapi Giok Cin Cu tidak kejam. Ditariknya kembali pedangnya dan berkata: "Jurus-jurus dari ilmu toyamu lihay juga, tapi belum cukup untuk merebut kitab-kitab Kui Goan Pit Cek!"

Tan Piauw malu sekali dikalahkan oleh seorang wanita, Tu Wee Seng mengejek "Kau sudah dipecundangi oleh seorang wanita, Apakah kau masih ada muka berdiri di hadapan kita?!" ejekan itu menusuk sekali, dan dengan diam-diam Tan Piauw mengeluarkan suatu benda yang panjangnya lebih kurang setengah meter. Sambil memandang kepada Giok Cin Cu ia berkata: "Liehiap, aku berterima kasih, karena kau tidak membunuh aku tadi, Tapi... aku ingin melawan lagi dengan senjata ini!"

Giok Cin Cu menjadi marah sekali melihat bahwa ia tidak mengaku kalah, ia membentak: "Hai! Kau tidak mengenal budi orang! Apakah kau masih tidak mengaku kalah?

"Liehiap, aku memperingati kau. Kali ini kau harus lebih hati-hati bertempur melawanku," kata Tan Piauw. Giok Cin Cu tidak menunggu lagi, ia menyerang dengan jurus-jurus Kie Hong Teng Kauw (garuda mencakar naga), Shin Liong Wen Hian (naga sakti datang me-nyambar) dan Ciok Po Tian Keng (kilat menyambar batu gunung), dan Tan Piauw harus berlari- lari untuk menghindarkan serangan-serangan maut itu!

Hian Ceng Totiang curiga melihat Tan Piauw tidak menggunakan toya, tapi hanya menggunakan sebuah benda yang berbentuk pisau panjang, Sambil memegang pedangnya, ia mengawasi mereka yang sedang bertempur dan mengawasi juga Tu Wee Seng. Tiba-tiba terdengar Giok Cin Cu menjerit keras, dan dengan pedangnya ia hendak menusuk mati lawannya.

Dengan dua mata terbelalak Tan Piauw berteriak: "Liehiap!

Jaga serangan ini!" Secepat kilat senjata yang dipegangnya dilontarkannya ke muka Giok Cin Cu, yang lekas-lekas menangkis dengan pedangnya, Tapi ia segera menjerit, pedangnya terlepas dari pegangannya dan jatuh di tanah! ia terkejut! ia meloncat mundur beberapa depa, dan melihat seekor ular sedang menggigit pergelangan tangannya yang memegang pedang tadi, Ular itu panjangnya lebih kurang dua puluh sentimeter. ia merasa lengannya sakit dan tak bertenaga, lalu kepalanya menjadi pusing, Ketika itu Hian Ceng Totiang, Ngo Kong Toa-su, Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu sudah berdiri dengan wajah beringas menanti segala kemungkinan!

Baru saja Hian Ceng Totiang hendak menebas ular itu, Tan piauw berseru: Tahan! Apakah kau tidak ingin ia hidup!" Tan Piauw menghampiri dan berkata: "Ular berbisa ini luar biasa sekali jika kau tebas mati, racunnya akan mengalir di seluruh tubuh Liehiap, dan paling lama dalam waktu sejam ia akan mati," Lalu ia berkata kepada Giok Cin Cu: "Kau harus menggunakan tenaga dalam untuk menahan supaya racunnya tidak menjalar ke seluruh tubuhmu."

Sambil tersenyum Giok Cin Cu berkata kepada Hian Ceng Totiang, "Toa-Suheng aku puas jika aku sekarang mati, karena aku tewas dalam menunaikan tugas untuk Toa- Suheng." Lalu ia duduk dan menggunakan tenaga dalam untuk menahan menjalarnya racun ular di tubuhnya. Hian Ceng Totiang sangat terharu terhadap pengorbanan Sumoynya yang sangat setia dan mencintainya itu. Dengan wajah yang khidmat ia berkata kepada Tan Piauw: "Jika kau dapat menolong jiwanya, kitab-kitab suci Kui Goan Pit Cek yang kau idam-idamkan, aku serahkan kepadamu!"

Semua orang terharu mendengar ucapan yang sungguh- sungguh itu. Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin mengucurkan air mata melihat keadaan gurunya yang kritis itu, Tan Piauw juga terharu, dan setelah menarik napas yang panjang, seakan-akan ia menyesal atas perbuatan kejinya ia berkata: "Sebetulnya aku datang untuk merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, sesungguhnyalah aku ini sangat keji, karena telah menggunakan ular beracun terhadap Liehiap yang telah menolong jiwaku, Tapi aku tak tahan diejek."

Lalu dikeluarkannya dari kantong di dadanya sebuah botol kecil yang berisi beberapa pil merah, dan melanjutkan " Pil ini dapat menahan menjalarnya atau meluasnya racun ular ini. Liehiap harus memakannya dua butir dan harus secepat mungkin dibawa ke kota untuk dioperasi bagian yang kena gigitan agar racunnya dapat dikeluarkan Kita tak dapat melakukan operasi di sini, karena tak ada obat yang dapat menyembuhkan luka dari pembedahan." Kemudian dengan jempol dan telunjuknya dipijitnya leher ular itu untuk dimasukkan ke dalam pipa besi yang bentuknya seperti pisau panjang dan yang telah digunakannya untuk menghadapi lawannya tadi. Disuruhnya Giok Cin Cu menelan dua buah pil dan kemudian diserahkannya botol yang berisi pil itu kepada Hian Ceng Totiang,

Hian Ceng Totiang mengerutkan keningnya, dan dengan suara gusar ia berkata: "Seorang ksatria tak akan menarik kembali omongannya, Aku telah berjanji menyerahkan kitab- kitab ini kepadamu jika kau dapat menolong jiwa Sumoyku, Nah, terimalah ini!" Lalu ia berkata kepada Ngo Kong Toa-su dan lain-lainnya: "Marilah kita berangkat ke kota yang terdekat untuk melakukan operasi

Pada saat itu terdengar Tu Wee Seng membentak dan dengan tongkat bambunya di tangan kanan diserang-nya Tan Piauw, dan dengan tangan kirinya dicobanya merampas bungkusan kain kuning yang berisi kitab-kitab Kui Goan Pit Cek. Untuk menghindarkan serangan tongkat bambu dari Tu Wee Seng itu, Tan Piauw lekas-!ekas mundur tujuh atau delapan tindak, Tiam Cong tidak lengah, ia meloncat merampas bungkusan itu, dan dengan ilmu meringankan tubuh ia lari dan mendaki jurang yang curam dengan ilmu Pik Houw Pan Pik atau cecak merayap di atas tembok, diikuti oleh kawannya.

Rampasan itu dilakukan dengan cepat sekali, Tidak salah jika mereka telah memperoleh julukan belibis angkasa dan belibis angin taufan, karena cara mereka melarikan diri tak ubahnya dengan burung-burung belibis! Semua yang menyaksikan menjadi terpesona, Hian Ceng Totiang yang hanya memikiri keselamatan Sumoynya hanya dapat menarik napas, Tapi Tu Wee Senglah yang paling penasaran ia mengejar Rupanya Tu Wee Seng juga sangat lihay ilmu meringankan tubuhnya, ia dapat mengejar kedua belibis itu, Tan Piauw harus melawan dengan maksud memberikan kesempatan Tiam Cong lari, Tu Wee Seng yang bertempur dengan nekad telah berhasil mendesak lawannya ke pinggir jurang, ia hanya menghiraukan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan ia tak ingin membunuh Tan Piauw, ia mengejar terus.

Lalu dari jarak lebih kurang tiga puluh depa dengan ilmu Tong Cong Ngo Yok atau satu jotosan merubuhkan lima gunung dikirimnya sebuah jotosan ke arah Tiam Cong yang sedang lari membawa kitab-kitab dalam bungkusan kain kuning. Embusan angin jotosan itu telah mengenai punggung Tiam Cong, ia merasa mulutnya panas dan tenaganya lenyap, ia terkejut dan berpikir "Ai! Tu Wee Seng si lengan delapan itu betul-betul lihay!" ia lekas-lekas mengumpulkan tenaga dalamnya kembali, dan dengan ilmu Bong Tao Hui Teng atau gelombang besar melonjak ke langit dicobanya melompat ke jurang yang tidak jauh dari tempatnya itu, tetapi Tu Wee Seng dengan ilmu meringankan tubuhnya yang lihay sekali sudah berada di belakangnya!

Di sepanjang jalan, Hian Ceng Totiang yang hanya memikirkan keselamatan Sumoynya, berkata kepada Ngo Kong Toa-su: "Ai, kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu hanya membawa malapetaka, Cobalah lihat Sumoyku. " ia tak tahan

lagi perkataannya tersangkut di tenggorokannya, ia mengucurkan air mata,

Ketika Giok Cin Cu sadar, ia melihat Hian Ceng Totiang tidak lagi menggendong bungkusan kain kuning, ia bertanya: "Kemana kitab-kitab Kui Goan Pit Cek?"

Dengan tersenyum Hian Ceng Totiang menjawab: "Kitab- kitab itu hanya membawa malapetaka, Tak usah kita hiraukan lagi."

"Jika Toa-Suheng menukar jiwaku dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu, Toa-Suheng salah, karena jiwaku tak akan tertolong," kata Giok Cin Cu. "Kau keliru, Kau telah menelan pil untuk mencegah racun itu meluas, Bekas gigitan ular berbisa tadi hanya perlu dioperasi Kau tentu akan sembuh dan sehat sebagaimana sediakala, Kau tak usah khawatir," menghibur Hian Ceng Totiang,

Pada saat itu di depan mereka terdengar suara orang sedang bertarung Tiam Cong yang membawa kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sedang dikejar oleh Tu Wee Seng dan Tan Piauw juga sedang lari untuk membantu kawannya,

Ketika Giok Cin Cu melihat bungkusan kain kuning itu, ia berseru: Toa-Suheng, kita dapat merampas kembali bungkusan itu!" Tapi Hian Ceng Totiang menyahut: "Aku telah mengatakan bahwa kitab-kitab itu hanya membawa malapetaka saja, Lagi pula aku telah menyerahkan kitab-kitab itu kepada Tan Piauw. Yang penting ialah: kau lekas-lekas sembuh."

Di depan mereka pertempuran terus berlangsung, Tu Wee Seng dengan tongkat bambunya kini sedang melawan Tiam- Cong dan Tan Piauw, Tiba-tiba terdengar lagi suara siulan yang panjang, sekonyong-konyong meloncatlah lima orang ke dalam lembah itu, dan sejenak kemudian tiga orang lagi. Hian Ceng Totiang mengenali semua orang itui ialah Souw Peng Hai dengan empat pengawalnya, dan yang tiga adalah Ouw Lam Peng, kepala cabang bendera merah, Yap Eng Ceng, kepala cabang bendera putih, dan Kiok Goan Hoat, kepala cabang bendera hitam. Lalu Souw Peng Hai dengan toyanya meloncat di tengah-tengah mereka yang sedang bertarung dan menghentikan pertarungan Sambil tertawa ia berkata: "Kalian berhenti bertempur! Aku ingin berbicara!" Melihat Souw Peng Hai telah datang dengan sekian banyak orang- orangnya, Tu Wee Seng dan kedua belibis itu segera bertanya-, "Souw Cong Piauw, apa yang hendak dibicarakan? Cobalah katakan!" Di pegunungan Koat Cong San kedua belibis bertempur melawan Souw Peng Hai

Ketika itu Souw Peng Hai telah melihat bungkusan kain kuning berada di punggung Tiam Cong, ia menoleh ke arah Hian Ceng Totiang dan berkata: “Totiang, rupanya kitab-kitab Kui Goan Pit Cek sudah jatuh di tangan orang lain. Jika aku rampas kembali kitab-kitab itu, bagaimanakah pendapat Totiang?"

Hati Tiam Cong menjadi panas, Ketika ia lari, serasa ada sesuatu hawa yang selalu menariknya, ia menduga bahwa hawa tarikan itu berasal dari Souw Peng Hai yang menggunakan ilmu Sip To Jip Tong atau menarik ombak ke dalam gua dan oleh sebab itu ia tak dapat lari dengan pesat ia pun memperhatikan bahwa Tu Wee Seng tak dapat mengejar sebagaimana yang dikehendakinya, dan kini mereka berhadapan lagi dengan rombongannya Hian Ceng Totiang, "Semua ini pasti perbuatan Souw Peng Hai," pikirnya,

Dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat, Hian Ceng Totiang menyahut. "Kitab-kitab itu telah kuserahkan kepada saudara Tan Piauw, dan aku tak berhak mengatakan apa-apa." Souw Peng Hai tertawa dan berkata. "Totiang betul- betul murah hati. Aku Souw Peng Hai sangat kagum." Lalu ia memandang ke arah Tan Piauw, dan berkata dengan suara keras: "Jika demikian halnya, kita semua boleh merampas kitab-kitab itu!"

Tu Wee Seng mengangkat tangannya dan berkata: "Untuk merampas kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, siapapun boleh. Tapi apakah tidak baik kita urus menurut peraturan yang layak?

Souw Cong Piauw telah datang dan tiga kepala cabang dari lima cabang partai Tian Liong juga sudah datang, Souw Cong Piauw kini mempunyai delapan jago-jago silat Aku kira Souw Cong Piauw akan mengatur dengan cara yang seadil-adilnya siapa yang berhak mengambil kitab-kitab itu!"

"Perkataan saudara Tu itu betul," sahut Souw Peng Hai, "Partai Tian Liong telah datang dengan banyak orang, Tapi jangan khawatir bahwa semuanya akan turun tangan "

Belum lagi habis ia berbicara, ia segera meloncat menerkam Tiam Cong untuk merampas bungkusan kain kuningnya, Tu Wee Seng mencoba mencegah, tapi sebuah jotosan dari Souw Peng Hai telah menyebabkan Tiam Cong terpental ke udara.

Tan Piauw buru-buru menolong ketika Tiam Cong jatuh kembali ke tanah, Darah keluar dari mulutnya, Dengan marah Tan Piauw membentak: "Souw Cong Piauw, tinju itu betul- betul lihay, Kami ketiga belibis tak akan lupa." Lalu dari kantong di dadanya dikeluarkan sebuah botol pil obat berwarna emas, dan berkata kepada Tiam Cong: "Kau telan pil obat ini. Tentang pukulan dahsyat itu akan kita adakan perhitungan setelah kita kembali menemui Toa-ko kita." Dalam keadaan luka itu Tiam Cong membuka bungkusan yang diikatnya di punggungnya, lalu oleh Tan Piauw dibukanya bungkusan itu, kemudian dibacoknya kotak yang dibuat dari batu Giok sampai hancur, dan dengan kedua tangan diangkatnya ketiga kitab Kui Goan Pit Cek itu. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.

Souw Peng Hai, Tu Wee Seng dan lain lainnya melihat bahwa ia hendak merusakkan kitab-kitab itu. Mereka terkejut Dengan berbareng Souw Peng Hai dan Tu Wee Seng datang menyerang, Tan Piauw merampas kitab-kitab itu, dan dengan tangan kirinya dicoba nya menahan lawan-lawannya, Tinju kiri itu dilepas dengan sekuat tenaga, dan Tu Wee Seng menangkis jotosan itu dengan tongkat bambunya, ia merasa tangannya tergetar, dan cepat-cepat meloncat mundur Souw Peng Hai ketika itu sedang mencoba merampas kitab-kitab itu, tapi di-cobanya juga menahan Tu Wee Seng.

Setelah itu secepat kilat ia berhasil mencekal tangan Tan Piauw, Dengan satu pijitan yang dahsyat kitab-kitab itu jatuh dari tangannya, dan satu tendangan akan mengenai lambung Tan Piauw kalau ia tidak lekas-lekas melompat mundur Kitab- kitab itu telah dirampas oleh Souw Peng Hai, Tan Piauw buru- buru datang menolong Tiam Cong yang sudah pingsan, karena darah terlampau banyak keluar dari mulutnya.

Tu Wee Seng menjadi masyguI dan murka setelah melihat Souw Peng Hai telah merampas kitab-kitab itu, Dari kantong di dadanya, dikeluarkannya sebuah pelor emas, ia ingin menggunakan senjata rahasianya yang ampuh itu. Tiba-tiba dari belakang terdengar orang membentaknya: "Hai! Apa gunanya kau menggunakan pelor emas itu! Cobalah lawan aku dengan arit terbangku!" Tu Wee Seng menoleh, dan melihat Ouw Lam Peng menegurnya sambil memegang arit tembaganya.

Ketika itu Yap Eng Ceng juga telah siap dengan sepasang belati Ouw Lam Peng dan Yap Eng Ceng dengan senjata- senjata rahasianya yang ampuh adalah jago-jago silat yang lihay dan terkenal di kalangan Bu Lim. Tu Wee Seng berpikir bahwa ia tak akan dapat melawan mereka berdua, apalagi ditambah pula dengan Kiok Goan Hoat dan empat orang pengawal Souw Peng Hai, tentu ia tak akan menang.

Menyerang terus pada waktu itu sama juga halnya dengan menggunakan telur memukul batu, atau mencari sendiri jalan maut ia tersenyum, lalu memasukkan kembali pelor emasnya, dengan tekad menanti ketika yang baik untuk merampas kitab- kitab Kui Goan Pit Cek itu.

Baru saja ia menyimpan pelor emasnya, terdengarlah Souw Peng Hai tertawa keras, dan melemparkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek kepada nya. Souw Peng Hai menghampiri Hian Ceng Totiang dan berkata sambil mengejek: “Tidak heran mengapa kau telah menyerahkan kitab-kitab itu kepada orang lain. Kau sendiri berdiri dengan tenang menonton

orang-orang lain bertarung merebut benda yang tak berharga!"

Hian Ceng Totiang menyahut dengan marah: "Setelah kudapati kitab-kitab itu, belum pernah kubuka dan kubaca, Kau jangan sembarang memfitnah orang saja!" Souw Peng Hai mengejek lagi: "Kalian saksikaniah perkataanku yang dapat dibuktikan Aku tak akan memfitnah orang lain tanpa bukti!" Belum lagi Hian Ceng Totiang menyahut, Ngo Kong Toa-su turut berbicara: "Hian Ceng Totiang belum pernah berdusta, ia betul-betul belum membuka dan membaca isi kitab-kitab itu!"

"O, jadinya kau anggap aku sengaja memfitnah orang lain?! Bawa kemari kitab-kitab itu, dan semuanya dapat menyaksikan!" Tu Wee Seng lalu membawa kitab-kitab itu dan meletakkannya di hadapan Souw Peng Hai dan Hian Ceng Totiang, Lalu tiga kepala cabang partai Tian Liong, Bee Kun Bu dan kawan-kawannya juga datang melihat kitab-kitab itu.

Hian Ceng Totiang membuka sampul kitab pertama yang bertulisan empat huruf "Kui Goan Pit Cek" dengan warna merah, Tapi halaman pertama adalah kertas putih dengan sebuah gambar kura-kura, dan halaman kedua di atas kertas putih tertulis huruf-huruf yang artinya sebagai berikut: "Kacang itu tak dapat dimakan, karena bisa menyakitkan perut. Tahu itu harus ditambahi arak agar sedap rasanya." Dibaliknya terus halaman-halaman lainnya, dan di atas kertas yang putih itu hanya ada gambar-gambar burung-burung atau binatang- binatang, Tak sehelai pun yang ditulisi dengan ilmu silat, Ketika dibaliknya sampai halaman terakhir dari kitab yang ketiga, dibacanya: "Setelah melihat gambar-gambar lukisan dan huruf-huruf, bagaimanakah pendapatmu?"

Hian Ceng Totiang mengeluarkan peta Cong Cin To, dan membandingkan huruf-huruf nya dengan huruf-huruf di dalam ketiga kitab itu. Segera tampak bahwa huruf-huruf itu berlainan, dan warna haknya (tintanya) juga berlainan, Souw Peng Hai yang juga pandai menulis segera melihat bahwa tinta di dalam kitab-kitab itu hanya lebih kurang tiga puluh tahun tuanya, sedangkan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen sudah berumur beberapa ratus tahun, Hian Ceng Totiang menarik napas, lalu berkata: "Kitab-kitab Kui Goan Pit Cek yang tulen sudah diambil orang, Kita semua telah dipermainkan." Semua orang berdiri terpesona Souw Peng Hai yakin bahwa Hian Ceng Totiang tidak berdusta. ia menoleh ke arah Tiam Cong, tetapi Tiam Cong telah digendong pergi oleh saudaranya, Tan Piauw. Ketika itu hari sudah mulai senja, dan matahari sudah berada di sebelah barat Souw Peng Hai lalu memerintahkan semua orang-orangnya berlalu setelah menghaturkan hormat kepada Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su. Yang terakhir adalah Tu Wee Seng. sebelum ia pergi ia pun berkata kepada Hian Ceng Totiang, "Urusanku masih banyak yang harus ku kerja kan, dan banyak perhitungan harus kubereskan Sampai berjumpa lagi!" Lalu dengan ilmu meringankan tubuh ia pun pergi dengan cepat sekali entah kemana,

Setelah semuanya pergi, Hian Ceng Totiang berkata: "KJta harus lekas-lekas ke kota!" Lalu Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin mendukung Giok Cin Cu di kiri kanannya sambil melanjutkan perjalanannya, Lie Ceng Loan yang halus perasaannya bertanya kepada Bee Kun Bu yang berjalan di sampingnyaj "Bu Koko, apakah kau mengetahui obat yang mustajab untuk menyembuhkan luka guru kita?"

"Aku tidak tahu," sahut Bee Kun Bu sambil menarik napas, "Jika ular tadi dipatok oleh bangau putih, pasti ia segera mati!" kata Lie Ceng Loan, Ucapan itu menyebabkan Hian Ceng Totiang berpikir "Jika bangau putih dapat membunuh mati ular hitam yang besar, bangau itu pasti sakti sekali, jika ia mempunyai majikan, majikannya pasti dapat mengobati orang yang terluka karena gigitan ular berbisa." Tapi pikirannya itu tidak diutarakannya pada orang lain,

Mereka berjalan terus, dan ketika itu hari sudah menjadi malam, tetapi mereka tidak berhenti, karena mereka ingin lekas-lekas tiba di kota, Ketika fajar menyingsing, mereka telah menempuh jarak seratus lie iebih, dan berada di kaki sebuah puncak gunung, Hian Ceng Totiang talu mendaki puncak itu dengan ilmu meringankan tubuhnya, Dari sana ia melihat ke daerah di hadapan dan di bawahnya.

Dalam suasana yang gelap itu, ia masih dapat melihat sebuah kota dengan lampu yang banyak, Menurut taksirannya, kota itu lebih kurang tujuh puluh lie jauhnya, Dengan kecepatan maksimum yang dapat mereka capai dalam berjalan, ia menaksir akan dapat sampai di kota itu pada esok pagi nya. ia agak merasa girang, karena di kota tersebut mungkin dapat ia membeli obat yang dibutuhkan ia turun kembali dan memberitahukan bahwa kota yang terletak di kaki gunung dapat dicapai esok pagi, dan diperintahkannyalah semuanya beristirahat sebentar

Lie Ceng Loan lalu mengajak Bee Kun Bu ke suatu sungai kecil untuk mencuci muka yang sudah penuh debu, Ketika mereka sedang mencuci muka di pinggir sungai itu, mereka mendengar seakan-akan ada orang tertawa, Lie Ceng Loan bertanya, setelah melihat keadaan di sekitarnya: "Apakah itu suara orang?"

"Betul, tapi silat orang itu lihay sekali!" sahut Bee Kun Bu. "Karena kita tak dapat mengetahui di mana ia berada?"

"Ayo, kita beritahukan guru kita!" kata Lie Ceng Loan, "Jangan!" sahut Bee Kun Bu, "Orang itu tidak mengganggu

kita. Kita tak usah memusingkan kepada guru kita."

Kemudian mereka kembali ke tempat berkumpul dan Hian Ceng Totiang lalu memerintahkan supaya berangkat lagi.

Betul saja, pada hampir tengah hari, mereka tiba di suatu kota yang bernama Leng Kee. Mereka mencari tempat penginapan. Setelah Giok Cin Cu dapat berbaring di tempat tidur, Hian Ceng Totiang pergi keluar untuk membeli obat yang dibutuhkan setelah terlebih dahulu menyuruh Liong Giok Pin dan Lie Ceng Loan menunggui Giok Cin Cu. Ngo Kong Toa-su menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam operasi yang akan diadakan Bee Kun Bu mengambil kesempatan itu untuk berjalan-jalan ke pekarangan belakang, kemudian ke depan untuk menyambut kembalinya Hian Ceng Totiang,

Rumah penginapan itu tidak besar, tetapi di kota Leng ICee ialah yang terbesar Di bagian depan adalah restoran, dan di bagian belakang tempat penginapan Waktu itu restorannya penuh sesak, dan suasananya riuh sekalL Di sebuah meja kecil di sebelah dinding kanan tampak seorang pemuda yang tampan berbaju hijau. Setelah melihatnya, Bee Kun Bu merasa bahwa pemuda itu adalah orang yang luar biasa, Di antara para tamu di dalam restoran itu tak ubahnya ia seperti seekor bangau di antara ayam-ayam.

Dengan tak disengaja pemuda itu menoleh ke arah Bee Kun Bu dan tersenyum Tapi kedua mata yang besar mengeluarkan sinar dan menyebabkan Bee Kun Bu terkejut Karena terkejutnya, Bee Kun Bu tidak memperhatikan dengan tegas wajah pemuda itu.

Pada waktu itu, Hian Ceng Totiang juga telah kembali Bee Kun Bu menerima obat yang telah dibeli nya, akan tetapi ia masih saja memikirkan pemuda tadi, dan kemudian ia melirik lagi ke arahnya,

Ketika Hian Ceng Totiang masuk ke dalam kamar Giok Cin Cu, dilihatnya segala sesuatu yang dibutuhkan telah disiapkan Diperintahkannya Liong Giok Pin memasak air di dalam sebuah panci besar untuk menggodok obat yang baru dibeli Lalu ia berkata kepada Giok Cin Cu: "Sumoy, obat telah kubeli dan kini sedang dimasak, Segera aku akan melakukan operasi di pergelangan tanganmu untuk mengeluarkan racun ular, Aku harap kau tenang-tenang saja, dan aku yakin aku dapat melakukan operasi itu dengan baik, dan menyembuhkan luka itu. Kemudian aku akan mencurahkan segala tenagaku untuk mencari obat guna mengembalikan tenagamu."

"Jika kau tidak berhasil?" menanya Giok Cin Cu sambil tersenyum

"Aku akan membuat pembalasan membunuh mati orang yang menyebabkan kau menderita, atau.,." sahut Hian Ceng Totiang, tapi ia tak dapat meneruskan karena perkataannya seakan-akan berhenti di tenggorokannya.

Giok Cin Cu tak dapat menahan air matanya, lalu berkataj "Meskipun aku meninggal dunia, dalam partai Kun Lun masih ada Toa-Suheng dan Jie-Suheng. Aku... aku... yakin partai Kun Lun kita tidak akan terhalang walaupun aku sudah. " "Bee Kun Bu sangat pintar dan cerdas, Dalam sepuluh tahun ia pasti dapat meneruskan usaha partai Kun Lun kita," menghibur Hian Ceng Totiang,

Ketika obatnya sudah masak, Giok Cin Cu diberi minum semangkok, Keringat keluar dari seluruh tu-buhnya, Hian Ceng Totiang lalu membakar sebuah pisau yang sangat tajam, dan dengan menggigit bibir ia melakukan operasi itu, Darah tidak mengalir keluar lagi, karena daging di bagian pergelangan tangan itu sudah mulai busuk, Dipotongnya daging busuk itu, lalu luka itu dicucinya dengan air obat yang panas sekali Giok Cin Cu menjerit kesakitan, tetapi Hian Ceng Totiang terus melakukan operasi itu dengan penuh perhatian Lalu dibungkusnya luka itu setelah terlebih dahulu menutupi- nya dengan daun-daun obat Setelah operasi tersebut selesai, Giok Cin Cu disuruh lagi meminum semangkok obat yang sudah dimasak tadi, kemudian disuruh tidur.

Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su lalu keluar dari kamar itu dengan perasaan lega.

Bee Kun Bu lalu berkata kepada Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin: "Pergi!ah kalian beristirahat Biarlah aku yang menjagal Kedua gadis itu yang telah hampir dua hari memanggul Giok Cin Cu, dan kemudian menyaksikan pula operasi dengan perasaan cemas bereampur sedih, lalu pergi ke kamar lain untuk beristirahat Bee Kun Bu menjagal Giok Cin Cu sambil duduk, ia memenangkan peristiwa-peristiwa yang telah dialaminya dan sebentar-sebentar ia menarik napas panjang, ia bangun dan jalan menghampiri jendela.

Di buka nya jendela itu dan dari jauh tampaklah puncak- puncak gunung, Tiba-tiba dari langit yang biru tampak olehnya suatu benda yang putih mendatangi dengan pesat sekali seakan-akan bintang jatuh dari angkasa, Melihat benda putih itu, Bee Kun Bu terkejut, karena benda putih itu adalah bangau putih yang pernah dijumpainya di pegunungan Koat Cong San! Ia berdiri terpesona di belakang jendela, "Bangau itu telah terbang dari pegunungan Koat Cong San yang letaknya jauh sekali dari kota ini Pasti ada maksudnya, Dalam beberapa hari ini, aku pun merasa seperti ada orang yang senantiasa membayangiku. Mengapa?" pikir-nya.

Lalu ia berniat hendak memberitahukan perasaannya dan perihal ia melihat bangau putih itu kepada gurunya bila ada kesempatan yang tepat

Setelah beristirahat selama dua hari, Giok Cin Cu kelihatan lebih bersemangat tapi masih tetap lemah, wajahnya masih tetap muram, karena ia merasa sayang sekali bahwa kepandaian silat yang telah dipelajari dipahami dan dimilikinya telah menjadi tak berguna lagi!

Toa-Suhengnya selalu menghiburnya, "Hari ini kita beristirahat lagi, dan besok kita berangkat menuju ke telaga Poa Yo Ouw di propinsi Kian-sie menemui Biauw Souw Hie Wen Sao Kong Gie yang terkenal sebagai seorang dokter nomor satu di kolong langit Dokter itu telah banyak sekali menyembuhkan orang yang kena racun, Aku yakin ia dapat mengobati dan memulihkan tenagamu lagi, Sumoy, aku bersumpah, aku tak akan berhenti berusaha menolong kau?"

Giok Cin Cu tersenyum, dan berkata: “Tentang diriku, aku tak terlampau hiraukan. Tapi partai silat Tian Liong akan mengundang sembilan partai silat yang kenamaan di kalangan Bu Lim kelak, tiga tahun lagi untuk mengadu silat pedang. Jika Toa-Suheng tidak lekas-lekas kembali ke kuil San Goan Kong di pegunungan Kun Lun, bagaimanakah Jie-Suheng dapat meladeni semua tantangan?"

Hian Ceng Totiang berpikir sejenak, lalu menyahut: "Jika demikian halnya, Liong Giok Pin dapat disuruh kembali lebih dulu ke pegunungan Kun Lun dan memberitahukan Sutee bahwa partai kita tak turut serta dalam pertandingan silat yang diadakan oleh partai Tian Liong, Sebetulnya, bagiku sekarang, usaha menjagoi di kalangan Bu Lim, tidak berarti lagi, Aku hanya ingin kau lekas-lekas sehat dan pulih!" Dengan mata terbelalak Giok Cin Cu berkata: "Nama partai Kun Lun telah termashur beberapa ratus tahun, masa partai ini akan putus atau habis pamornya di tangan kita? Apakah kita tidak malu terhadap nenek moyang guru-guru kita yang telah mempereayakan partai Kun Lun kepada kita? Sudahlah, aku rela mati sekarang agar Toa-Suheng dapat mencurahkan pikiran dan tenaga demi kepentingan partai Kun Lun!"

Hian Ceng Totiang menundukkan kepalanya dan tinggal diam. Lalu ia berkata: "Nah,., kita pergi dahulu ke telaga Poa Yo Ouw mencari dokter Biauw Souw Hie Wen Sao Kong Gie, dan kemudian kita kembali ke pegunungan Kun Lun!" Ya... asmara yang telah mereka pendam di dalam hati selama beberapa puluh tahun baru mulai diutarakan semenjak Giok Cin Cu menderita. Asmara yang murni itu hanya dapat dipertahankan dengan mulia oleh orang-orang yang kuat imannya.

Keesokan harinya mereka meninggalkan kota Leng Kee menuju ke telaga Poa Yo Ouw di propinsi Kiang-si. Mereka harus melewati pegunungan Koat Cong San kembali, kemudian pegunungan Sian Hia Leng dan pegunungan Bu Ie. perjalanan itu jauhnya seribu lie lebih. Bilamana semuanya sehat-sehat saja, maka perjalanan itu dapat ditempuh dalam lima atau enam hari. Tapi dengan keadaan Giok Cin Cu yang harus dipanggul oleh kedua gadis muridnya, perjalanan itu harus dilakukan dengan hati-hati.

Setelah lima hari, mereka telah melewati distrik King Yun dan masuk ke daerah pegunungan Sian Hia Leng yang banyak puncaknya dan curam sekali jurang-jurang-nya. Ketika hari sudah senja, mereka terpaksa beristirahat karena letihnya di suatu lapangan di antara jurang-jurang pegunungan itu.

Kedua gadis itu lalu membuat api untuk memasak dan membuat hidangan untuk dimakan ber-sama-sama. Lalu, setelah semuanya makan, mereka mencoba hendak tidur, Hian Ceng Totiang melihat bahwa Sumoynya tak dapat tidur, ia duduk ke dekatnya dan menceritakan kisah-kisah tentang ilmu silat di kalangan Bu Lim, yang didengarkan dengan perhatian oleh Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin.

Ketika hari telah tengah malam, terdengarlah suara orang menginjak batu gunung, Bee Kun Bu menoleh ke arah suara itu, ia terkejut ketika dalam gelap gulita itu datang seorang pemuda berbaju hijau yang telah dilihatnya di restoran di kota Leng Kee, pemuda itu jalan perlahan-lahan menghampiri Bee Kun Bu dengan sikap tak menghiraukan orang-orang lain kecuali Bee Kun Bu. ia jalan melewati Bee Kun Bu, lalu melihat di sekitarnya dengan sikap yang congkak, Sejenak kemudian pemuda itu tidak nampak lagi dalam suasana yang gelap itu, "Ganjil sekali sikap orang itu, Tapi ia tidak mempunyai maksud jahat terhadap kita," kata Hian Ceng Totiang, "Di kota Leng Hee Siauw-tee pernah menjumpainya, Rupanya ia memperhatikan Siauw-tee," sahut Bee Kun Bu,

Lalu Hian Ceng Totiang menanyakan apa yang terjadi antara pemuda itu dengan Bee Kun Bu, dan Bee Kun Bu menceritakan tentang ia berjumpa dengan pemuda itu, Dengan wajah muram Hian Ceng Totiang berkata: "Di kalangan Kang-ouw sering-sering terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak kita duga-duga, Kita harus waspada." Sambil berkata, ia berpikir dan coba menafsirkan sikap pemuda yang ganjil tadi, "Bee Kun Bu baru saja menerjunkan diri di kalangan Bu Lim, dan pasti ia tak mempunyai musuh atau dendam terhadap orang lain terutama terhadap pemuda berbaju hijau tadi," pikirnya, Pikiran itu terus merangsang di otaknya sehingga ia semalam-malaman tak tertidur!

Pada esok paginya, mereka meneruskan perjalanan Setelah melewati pegunungan Sian Hia Leng, mereka harus melalui pegunungan Bu Ie. Selama sepuluh hari lebih mereka harus berjalan dengan susah payah melalui jurang-j0ang yang curam, lernbah-lembah yang sempit dan jalan-jalan yang berbahaya, Kemudian mereka masuk ke propinsi Kiang-si.

Akhirnya mereka menyewa kereta yang ditarik oleh kuda untuk meneruskan perjalanannya, dan tiba di telaga Poa Yo Ouw setelah lewat beberapa hari. Tempat itu merupakan sebuah pelabuhan, Toko toko dan warung-warung banyak sekali, dan penduduknya pun banyak puIa, Setelah mencari tempat penginapan Hian Ceng Totiang menjumpai lagi urusan yang memusingkan kepala, Biauw Souw Hie Wen Kong Gte yang terkenal sebagai dokter yang pandai sekali, telah lama memisahkan diri dari kalangan Kang- ouw, dan telah pergi ke suatu tempat terpencil untuk bertapa, Di daerah Poa Yo Ouw yang luas itu sukar mencarinya, ia telah berusaha mencarinya selama tiga hari tapi tak berhasil Pada hari keempat, Hian Ceng Totiang telah pergi lagi mencari keluar, tapi sampai tengah hari belum juga kembali.

Bee Kun Bu menjadi khawatir ia keluar untuk mencari gurunya, dan dengan tak terasa ia telah tiba di pinggir telaga Poa Yo Ouw, Di depan dilihatnya air telaga yang biru dan luas, pemandangannya indah dan permai, dan menakjubkan!

Ketika ia tengah menikmati keindahan telaga itu, dari belakang didengarnya suara orang tertawa dengan merdu, seraya menegur: "Mengapa kau sendiri saja yang menikmati keindahan telaga ini? Mengapa Sumoymu tidak mendampingi mu ?" Bee Kun Bu mencium bau yang harum, Ketika ia memutar badannya dilihatnya seorang gadis berbaju hitam, berwajah cantik jelita dan tersenyum memandanginya, Gadis itu adalah Souw Hui Hong, puterinya Souw Peng Hai pemimpin partai Tian Liong, yang telah jatuh hati padanya,

Melihat Bee Kun Bu terpesona tak dapat menyahut, ia melangkah maju menghampiri seraya berkata: "Kau sudah lupa pada budi orang! Aku telah pernah menolongmu melarikan diri, tetapi ketika hari ini kau berjumpa dengan aku, kau bukan saja enggan menyatakan terima kasih, bahkan ingin lagi menyingkir dari aku. "

Bee Kun Bu melihat gadis itu mengucurkan air mata, ia tak dapat menahan perasaannya yang halus, Dengan senyum paksaan dicoba nya menghibur "Aku. aku sedang banyak

pikiran, Maka aku tak dapat. " Souw Hui Hong melihat ia

mengaku salah, memotong pembicaraan-nya, dan bertanya: "Pikiran apakah? Bolehkah aku tahu? Mungkin aku dapat menolong." Bee Kun Bu mengerutkan keningnya, lalu berkata-

, "Aku sedang mencari seorang dokter."

"Bukankah kau mau mencari Biauw Souw Hie Wen Sao Kong Gie?" tanya Souw Hui Hong.

"Betul," sahut Bee Kun Bu. "Apakah kau tahu di mana ia?"

"Jika kau tidak berjumpa denganku di sini, mungkin dalam tiga bulan kau akan mencari-cari tanpa hasil," mengejek gadis itu.

"Apakah Siocia mengetahui di mana dokter itu?" tanya Bee Kun Bu dengan bernafsu sekali,

"Aku pasti mengetahui! ia adalah ayah angkatku," sahut gadis itu,

"Dapatkah Siocia memberitahukan di mana rumahnya?" tanya Bee Kun Bu.

Dengan kedua mata terbelalak Souw Hui Hong berkata: “Tidak, Ayah angkatku telah menutup pintunya dan telah lima tahun ia tidak menerima tamu lagi."

Biauw Souw Hie Wen Kong Gie dengan jarum saktinya

Bee Kun Bu menarik napas panjang, ia merasa kecewa, Dari jauh mereka datang ke Poa Yo Ouw untuk mencari dokter pandai itu, Tapi setelah tiba di tempatnya, dokter itu menutup pintu, tak menerima tamu, ia memikirkan nasib gurunya, dan yakin bahwa hanya dokter itulah yang akan dapat menyembuhkan gurunya, ia hendak memaksa gadis itu memberitahukan rumah dokter itu, tapi ia mundur lagi. Sikap yang serba salah ini diperhatikan oleh Souw Hui Hong yang lalu mengejek: "Kulit mukamu tipis sekali, sebentar saja mukamu sudah merah, Bagaimana-kah kau dapat berkecimpung di kalangan Kang-ouw? Apakah kau mencari Biauw Souw Hie Wen Sao Kong Gie untuk penyakit Sumoymu? Melihat sikapmu itu, aku yakin bahwa Sumoymu itu sakitnya keras."

Bee Kun Bu yang menghendaki pertolongannya tak dapat marah. Ditahannya semua ejekan, mungkin juga hinaan, Digeleng-gelengkannya kepalanya dan berkata: "Bukan Sumoyku yang menderita sakit Susiokku (bibi guru)!"

Dengan kedua mata terbelalak Souw Hui Hong bertanya dengan heran: "Apa? Masa Giok Cin Cu yang sakit? Salah seorang pemimpin partai Kun Lun?"

"Betul," sahut Bee Kun Bu. "la telah kena racun ular kepunyaan Tan Piauw!"

Ketika itu datanglah sebuah perahu ke tempat mereka berdiri Di atasnya berdiri seorang gadis berbaju merah, berusia lebih kurang lima belas tahun, Belum sampai perahu itu merapat, gadis kecil itu telah meloncat ke darat, menghampiri Souw Hui Hong dan memberi hormat sambil membungkukkan tubuh, ia berkata: "Sio-cia, kami sudah siap menyediakan santapan enak untuk tamu, Siocia diminta naik perahu ini."