Bangau Sakti Jilid 02

 
Jilid 02

Dengan wajah yang seram Tee Ju Liong menyahut: "Siocia lihay betul silatnya, Tapi aku Tee Ju Liong tidak sudi bertempur melawan anak perempuan Siocia diminta berdiri di pinggir Aku hanya ingin bertarung melawan kakakmu!"

"Ha! Ha! Kakakku lebih lihay daripadaku Bagaimanakah kau dapat melawannya?!"

Ejekan itu menyebabkan Tee Ju Liong gusar sekali, "Jika kau tidak mengerti maksud baik ini, kau harus mencoba serangan-seranganku!" bentaknya,

"ltu baru betul! jika aku kalah, kau baru menggempur kakakku!" sahut Lie Ceng Loan. ia tersenyum kepada Bee Kun Bu, lalu dikipaskannya lengan baju merahnya, dan dengan kedua tangannya ia menyodok mata lawannya, Sambil tertawa Tee Ju Liong mencoba mencekal tangan kanan lawannya dengan tangan kirinya dengan maksud hendak memijit jalan darah di tangan kanan lawannya, dan tinju kanannya dikirim ke bahu lawannya secepat kilat Si gadis tidak menunggu sampai serangan itu tiba, melainkan lekas-lekas mengubah serangannya.

Dengan tinju kiri ditotoknya lengan kanan lawannya dengan ilmu Peh Hok Tiam Ko atau bangau putih mematok gabah, Tee Ju Liong tidak menduga bahwa serangan itu demikian pesat nya. ia merasa kena ditotok, karena lengan kanannya menjadi lemas, ia gusar, dan menyerang lawannya kembali dengan kedua tinjunya delapan jurus sekaligus, Serangan yang gencar itu tak tiapat ditahan oleh Lie Ceng Loan. ia buru-buru mundur beberapa langkah, dan menanti sampai jurus-jurus lawannya selesai, untuk menendang kemaluan lawannya dengan kaki kanannya, Tee Ju Liong terkejut dan meloncat mundur cepat-cepat.

Bee Kun Bu yang menyaksikan pertempuran itu merasa khawatir Sumoynya tak dapat melawan. ia ingin membantu, tapi tendangan maut yang baru saja dilepas menyebabkan ia ingat kepada Ngo Kong Toa-su dengan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Congnya, Betul saja tendangan itu diiringi dengan tinju keras ke arah kepalanya Tee Ju Liong! Tee Ju Liong mengelak: pertempuran berlangsung lebih kurang lima puluh jurus, dan masih belum ada yang kalah.

Si gadis dengan silat tinjunya yang gencar dan cepat dapat melawan si jenggot putih yang silat dan tenaganya lebih baik, "Aku sebagai kepala dari cabang partai Tian Liong, jika kalah melawan gadis ini, tentu akan malu sekali menemui pemimpin partai Tian Liong," pikirnya sambil bertempur.

Lalu ia mengubah jurus serangannya, Dengan satu tinju yang dibarengi dengan satu tendangan ia mendesak si gadis, Serangan itu dilakukan dengan tenaga dalam yang besar sekali sehingga Lie Ceng Loan yang kalah tenaga harus lekas-lekas meloncat seperti seekor bajing, ia terkejut dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin! Bee Kun Bu cemas melihatnya, dan menjadi gusar mengapa si tua bangka terlalu

kejam menyerang seorang gadis, ia hendak membantu, tapi si gadis sudah mengubah lagi jurus-jurus serangannya.

Rupanya ia menggunakan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Cong dengan sedikit perbedaan sebetulnya ilmu silat tinju Cap Pwee Lo Han Cong yang telah diajarkan Ngo Kong Toa-su kepada Lie Ceng Loan dapat melawan musuh yang manapun juga, Tapi harus dilakukan oleh orang laki-laki yang besar tenaganya, Lie Ceng Loan seorang gadis, dan betapa besar pun tenaganya, ia tidak akan dapat menandingi tenaga seorang jago silat laki-Iaki.

Oleh karena itu Ngo Kong Tao-su telah mengajarkan pula ilmu silat tinju Liu Yun Cong atau Tinju Awan Terapung yang cocok sekali bagi si gadis yang gesit dan lincah itu, Seperti awan terapung tubuh gadis itu ber!ari-Iari kian kemari sehingga lawannya tak dapat mengirim jotosan yang jitu, tetapi ia dapat sebentar-sebentar mengirim jotosan-jotosan ke tubuh Iawannya. Karena Tee Ju Liong kuat sekali, ia masih dapat bertahan.-Tapi jika tinjunya mengenai sasaran, gadis itu pasti tewas atau luka parah!

Bee Kun Bu insyaf bahwa pertempuran itu akan berlangsung lama, ia mengangkat kedua lengannya, lalu menerjang masuk di antara kedua orang itu dengan ilmu Hun Lang Toan Li atau memecah arusnya dua ombak.

Kedua lengannya mendorong ke arah kedua orang itu dan berkata sambil tertawa: "Kedua-duanya tak mempunyai dendam, mengapa bertempur mati-matian? Tuan dari angkatan tua besar tenaganya, jika bertempur terus, Lie Sumoay pasti kalah, Lebih baik berhenti bertempur!"

Tee Ju Liong mengerti bahwa perkataan itu adalah untuk merendahkan diri, ia insyaf bahwa ia tak dapat mengalahkan gadis itu, Mendengar ucapan tersebut, ia menyahut: "Silat partai Kun Lun tidak dapat diremehkan, Jika hari ini aku betul- betul mengadu silat melawan Sumoaymu, aku mengaku kalah."

"Yang satu lihay tenaganya dan yang lain lincah gerak- geriknya. Jika tuan dari angkatan tua sudi berhenti bertempur sampai di sini saja," kata Bee Kun Bu. "Nanti aku, Bee Kun Bu, setelah menunaikan tugas pergi ke Barat, pasti datang menjumpai tuan dari angkatan tua dan pemimpin partai Tian Liong untuk menjelaskan kesalah-pahaman karena peta asli Cong Cin To itu, dan bersedia pula mencegah timbulnya perselisihan antara kedua partai kita. Tapi jika tuan dari angkatan tua ingin juga meneruskan, aku tidak dapat tinggal diam, aku harus membela nama partai kami, Harap tuan dari angkatan tua berpikir masak-masak."

Tee Ju Liong si Naga Sakti dari Sungai Yang Tsu mengawasi wajah Bee Kun Bu sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya dan berkata: "Bee Lotee betul omongan nya. Akupun tahu kami bukan musuh, Tapi aku datang atas perintah Harap Bee Lotee memberi maaf."

"Ha! jadinya kita harus bertempur lagi?!" kata Bee Kun Bu dengan heran, Belum lagi perkataannya selesai, terdengar suara siulan, Empat orang datang berlari-lari ke tempat itu.

Empat orang itu dikenal oleh Bee Kun Bu, Mereka adalah orang-orang Tee Ju Liong yang masing-masing berdiri di muka perahu di telaga Tong Ting Ouw, Mereka berlari mendatangi dengan golok terhunus!

Bee Kun Bu mengawasi ke empat orang-orang itu, lalu dengan menghadapi Tee Ju Liong ia membentak: "Rupanya tuan dari angkatan tua telah merencanakan bokongan ini?!" Tapi Tee Ju Liong tidak menjawab. ia bertanya pada salah seorang dari keempat orang-orang-nya: "Apakah orang-orang dari pusat sudah datang?!" Orang yang ditanya membungkukkan tubuh dan menyahut: "Kepala cabang bendera merah Ci dan kepala cabang bendera hitam Ko telah bersama-sama memimpin orang-orangnya pergi ke kuil San Ceng Koan. Souw Hiang Cu dari pusat juga telah tiba di telaga Tong Ting Ouw, Mungkin ia kelak datang ke sini."

Tee Ju Liong mengerutkan keningnya dan berkata: "Mengapa sampai puteri pemimpin juga datang?" Orang itu menyahut: "Menurut pemimpin sendiri, mungkin beliau sendiri akan datang karena urusan ini amat pentingnya,"

Pereakapan tersebut didengar oleh Bee Kun Bu dengan jelas dengan wajah tidak berubah, Tee Ju Liong menarik napas panjang, karena ia merasa malu jika mengingat budi Hian Ceng Totiang.

Karena Tee Ju Liong tidak menyerang, Bee Kun Bu mengajak Lie Ceng Loan pergi, Ke empat orang-orang-nya Tee Ju Liong mencoba menahan, tapi Tee Ju Liong melarang mereka. Setelah kedua pemuda dan pemudi itu pergi jauh, Tee Ju Liong berkata kepada empat orang-orangnya "Jika kita lawan mereka sekarang, tidak ada gunanya, Setelah kita mendapat bantuan, tidaklah terlambat kalau kita menyerang mereka lagi sekarang kita bersembunyi di sekitar rumahnya dan mengintai gerak-gerik mereka." Salah satu dari empat orang-orangnya bertanya: "Apakah perlu minta Souw Hiang Cu lekas-lekas datang ke sini?"

Tee Ju Liong menganggukkan kepalanya, dan orang itu segera pergi. Tee Ju Liong dan ketiga orang-orangnya lalu menuju ke rumah Bee Kun Bu. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, dari hutan terdengar suara ejekan,

Tee Ju Liong menoleh ke belakang, dan di atas sebuah gundukan tanah di pinggir hutan tadi berdiri seorang tua yang kurus kering. Rupanya kulitnya tertutup dengan bulu ayam dan bulu bangau, rambutnya putih laksana perak, mengenakan Cong Sam (baju kurung panjang) yang hitam ia mirip seorang hweesio atau pendeta, memegang sebuah tongkat yang hitam mengkilat dan ujung tongkat tersebut berbentuk kepala ular ia berdiri di atas gundukan tanah itu dengan tak bergerak-gerak, Orang tua itu tidak seram kelihatannya.

Hanya pakaiannya yang ganjil dan tongkat hitam berujung kepala ular itu menyebabkan orang seram melihatnya Tee Ju Liong sudah lama berkecimpung di kalangan Kang Ouw, Tentang orang yang ganjil itu rupanya telah pernah ia mendengar Hanya pada saat itu tak dapat mengingatnya, Dengan suara rendah ia perintahkan orang-orangnya: "Jangan hiraukan, Kita jalan terus." Mereka berjalan terus, Ketika mereka menoleh lagi, orang tua itu telah hilang entah ke mana, "Bukan main cepatnya," Tee Ju Liong berpikir, "Rupanya rumah Bee Kun Bu telah didatangi orang banyak, dan Bee Kun Bu sudah dikurung oleh musuh-musuh. Partaiku ingin menangkap Bee Kun Bu untuk dijadikan jaminan, dan pasti akan banyak menjumpai rintangan-rintangan, dan harus bertempur melawan saingan yang tak sedikit Ai! Peta asli Cong Cin To itu betul-betul banyak mencelakakan orang."

Ketika sudah dekat rumah Bee Kun Bu yang bernama "Sui Goat San Cong", mereka bersembunyi di belakang semak belukar Pada saat Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan tiba di rumah, ayahnya Bee Liong sedang berada di ruang tamu membaca buku, Melihat anaknya dan Lie Ceng Loan kembali, ia menegur "Kamu baru kembali dari kuburan Ling Sio Cien?"

"BetuI," sahut Bee Kun Bu. "Ananda pikir, lebih baik kami lekas-lekas pergi ke pegunungan Kun Lun."

"Baik," sahut ayahnya, "Aku pun telah suruh A Luk menyiapkan keperluanmu lihat bungkusan itu di atas meja." ia menunjuk sesuatu ransel besar berikut pedang Bee Kun Bu dan pedang Lie Ceng Loan. Rupanya ayahnya ingin supaya mereka lekas-lekas berangkat Bee Kun Bu terpaksa lekas- lekas pergi, karena semakin lama mereka berangkat, semakin berbahaya bagi mereka, bahkan bagi ibu bapaknya.

Setelah berlutut di hadapan ibu dan ayahnya untuk minta diri, mereka keluar dari rumah itu menuju ke pegunungan Kun Lun. Di sepanjang jalan Bee Kun Bu selalu termenung ia mengenang-ngenangkan bahwa ia harus lekas-lekas berangkat meskipun baru saja dua hari sampai di rumah, Dengan meninggal nya kakak sepupunya Ling Sio Cien yang cantik jelita dan berbudi, ibu bapaknya tak menghiraukan lagi kesenangan dunia, Dan peta asli Cong Cin Toyang diperebutkan oleh para jago-jago silat sehingga merupakan sumber maut Lie Ceng Loan menegur: "Kakak Kun Bu, apa yang direnungkan?"

"O!" sahutnya sambil tersenyum. "Apakah kau mengetahui bahwa banyak jago-jago silat di kalangan Kang Ouw mengintai-intai kita? Kita harus lekas-lekas keluar dari daerah ini untuk luput dari kurungan mereka."

"Dengan berada di samping kakak, apapun juga tidak kutakuti?" sahut si gadis dengan penuh tekad "Kakak suka aku terus mengikuti?"

"Aku akan menjaga kau sebagai adik kandungku," kata Bee Kun Bu, Setelah lewat sejam, mereka sudah kembali lagi ke jalan yang menuju ke kota Gak Yo. Di jalan itu tampak tiga ekor kuda yang sedang dipacu ke arah mereka. Kuda yang terdepan ditunggangi oleh seorang gadis berbaju hijau, dan gagang pedang terlihat keluar punggungnya.

Sedang kuda yang lain ditunggangi oleh dua orang laki-laki yang tinggi besar tubuhnya, Kemudian tampak lagi seorang laki-laki yang disuruh memanggil orang oleh Tee Ju Liong, ketika Lie Ceng Loan bertempur melawan si Naga Sakti Sungai Yang Tsu di depan kuburannya Ling Sio Cien. Begitu sampai di depan Bee Kun Bu, gadis berbaju hijau itu menahan kudanya, Orang yang paling belakang lalu berseru: "Souw Hiang Cu! itu mereka!" Souw Hiang Cu menghentikan kudanya, ia mengawasi Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, Lalu bertanya sambil tertawa: "Apakah kedua saudara ini dari partai Kun Lun?"

"Betul," sahut Bee Kun Bu. "Siocia ada urusan apakah maka menanya kami?"

Si gadis berbaju hijau itu segera turun dari kudanya, lalu berkata: "Partai Kun Lun dengan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat dan ilmu tinju Tian Kong Cong telah terkenal di kalangan Bu Lim, Aku tak berani merintangi saudara berdua, Aku hanya ingin mengurus sesuatu hal dengan cara damai."

Bee Kun Bu menaksir gadis itu berusia dua puluh dua tahun, Kedua pipinya merah jambu, kedua alisnya melengkung kedua bibirnya berbentuk buah lengkak, hidungnya bangir dan air mukanya cantik molele Hanya dari sorot matanya kelihatannya ia gagah perkasa dan kejam.

Sambil bertindak mundur Bee Kun Bu berkata: "Siocia ada urusan apakah? Sebutlah!"

"Tapi jika kau tak setuju...?" tanya si gadis,

Ucapan itu seperti ancaman, dan Bee Kun Bu menjadi naik darah, "Setuju atau tidak itu urusanku, Kau tak dapat memaksaku!" Sambil tersenyum si gadis mengejek "Rupanya kau ini kepala batu! Aku akan memaksamu jika kau tak setujui Terhadap gurumu juga aku akan menuntut begini!"

"Ha! siapakah kau! Mulutmu terlampau besar!" bentak Bee Kun Bu.

"Apakah peta asli Cong Cin To bukannya di tangan partai Kun Lun?! Jika berada di tanganmu, lekas-lekaslah serahkan kepadaku untuk menghindarkan hal-hal yang tak diingini!"

Dengan cepat tusukan itu ditangkis oleh si gadis berbaju hijau, kedua pedang segera bentrok dan Bee Kun Bu merasa lengan kanannya tergetar seakan-akan pedangnya akan terlepas dari pegangannya.

Dengan suara mengejek, Bee Kun Bu menyahut: "Misalnya peta itu ada di tanganku, dan aku tidak mau menyerahkan, kau mau apa?!

"O begitu? Kamu berdua tak dapat keluar dari jalan ini." Mengancam si gadis berbaju hijau,

Bee Kun Bu tak dapat bersabar lagi, ia berbisik pada Lie Ceng Loan supaya menerjang bersama-sama. Lalu secepat kilat mereka mencabut pedangnya dan meloncat sedepa lebih ke belakang untuk mengambil posisi Tapi secepat kilat pula si gadis baju hijau dengan pedang terhunus sudah berada di hadapan Bee Kun Bu untuk merintanginya maju. "Pikir lagi, apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan?!" Mengancam si gadis berbaju hijau itu,

Sambil menusuk dengan pedangnya, Bee Kun Bu berteriak: "Kau ini keterlaluan! jaga tusukan ini!" Dengan cepat tusukan itu ditangkis oleh si gadis berbaju hijau, dan kedua pedang itu beradu, dan Bee Kun Bu merasa lengan kanannya tergetar seakan-akan pedangnya akan terlepas dari pegangannya, Pada saat itu ia melihat wajah lawannya juga berubah menjadi pucat! Dilain pihak Lie Ceng Loan sibuk bertempur melawan tiga orang lain-lain yang bertubuh besar Lie Ceng Loan tidak sabar seperti Bee Kun Bu. ia ingin segera menaklukkan lawan-lawannya dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatnya, ia menyerang ke kiri dan ke kanan seakan-akan naga menari-nari di lautan. sebetulnya ilmu silat pedang Kun Lun itu tak ada taranya di kalangan Bu Lim, karena serangan-serangannya maupun kelitan-kelitannya beraneka warna dan secepat kilat Hanya dalam sepuluh jurus saja tiga orang laki-laki yang bertubuh besar itu sudah berada di pinggir jurang kematian!

Bee Kun Bu yang hanya ingin luput dari kepungan agar dapat lekas-lekas tiba di pegunungan Kun Lun, setelah bertempur sepuluh jurus, segera insyaf bahwa gadis lawannya itu bukan lawan yang enteng, ia tak dapat berlalai-lalai. Lalu digunakannya ilmu Cui Hun Cap Ji Kiam atau ilmu mengusir roh. Dengan jurus Kie Hong Teng Kiauw (burung Hong mematok naga), jurus Ni Hong Bong Siauw (angin taufan menderu-deru) dan jurus Bu Hiam Yun Siu (pedut meliputi awan bergumul) si gadis terdesak mundur untuk meluputkan diri dari tusukan-tusukan atau tebasan-tebasan maut! Setelah mendesak mundur lawannya, ia meloncat ke samping Lie Ceng Loan, dan menebas putus tangan lawan Lie Ceng Loan, sambil berbisik: Turut aku menerjang keluar!"

Lalu sambil tersenyum Lie Ceng Loan mengeluarkan jurus Hun Hua Hut Hut, (bunga berhamburan diembus angin) pedangnya menusuk lawan-lawannya sehingga mereka harus kocar-kacir jika tidak ingin dikirim ke akhirat!

kemudian dengan ilmu meringankan tubuh, Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meloncat keluar dari kepungan itu, dan dalam sekejap saja sudah menghilang,

Souw Hiang Cu masih juga belum hilang dari terkejut nya. ia berdiri terpesona Lalu diperintahkannya salah seorang pengiringnya: "Kau laporkan kepada pemimpin partai bahwa mereka sudah luput dari kepungan Beritahukan supaya beliau menunggu di tepi telaga Tong Ting Ouw untuk sementara waktu!" Setelah itu, dipacunya kudanya, dan seorang diri berusaha mengejar Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan,

Diceritakannya bahwa setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan merasa aman dari pengejaran, mereka mengambil jalan yang melalui hutan. Diwaktu lohor, tiba-tiba langit menjadi gelap, Hujan akan segera turun, Untuk berlindung dari hujan, mereka harus mencari sebuah pohon besar Betul juga hujan turun dengan derasnya, Tapi mereka masih kebasahan, Bee Kun Bu memanjat pohon itu dan mencoba mencari tempat berlindung yang lebih baik, Dari jauh tampak olehnya sebuah rumah kecil ia turun dan bersama-sama Sumoynya menuju ke rumah kecil itu, Rumah kecil itu adalah sebuah kuil tua yang telah ditinggalkan Ruang tengahnya masih utuh dan patung- patung yang besar-besar masih berdiri di belakang sebuah meja sembahyang, Mereka merasa aman di dalam ruangan itu, sedang di luar hujan turun dengan lebatnya dan angin menderu-deru.

Selagi mereka duduk di lantai di ruangan itu, tiba-tiba Lie Ceng Loan bertanya: "Kakak Kun Bu, apakah peta Cong Cin To berada di tanganmu?"

"Tidak," sahut Bee Kun Bu sambil menggelengkan kepalanya,

"Mereka itu tak mengenal aturan, Kau tidak memegang peta itu, mengapa kau yang dikejar-kejar?!"

"Mereka ingin menangkap aku untuk dijadikan jaminan guna memaksa Suhuku memberikan peta asli Cong Cin To itu!" Bee Kun Bu menjelaskan

"Jika demikian peta asli Cong Cin To itu berada di tangan Hian Ceng Totiang?" menanya si gadis.

"Aku pun belum mengetahuinya soal itu," sahut Bee Kun Bu. Lalu mereka merebahkan diri di lantai untuk beristirahat pemuda itu tertarik sekali oleh cantik jelita-nya si gadis, akan tetapi ia adalah seorang pemuda yang agung, dan dipandangnya gadis itu sebagai adik kandungnya! Dihalaukannya semua pikiran-pikiran atau maksud-maksud yang keji!

Di dalam gemuruh hujan yang lebat itu, ketika hari sudah mulai malam, terdengar oleh mereka suara siulan yang panjang, Bee Kun Bu menendang Lie Ceng Loan, lalu mereka berdiri Di luar kuil itu mereka dengar orang berkata sambil tertawa: "Hujan ini tak lekas-lekas berhenti Coba kau naik ke atas atap kuil dan mengadakan penyelidikan Aku ingin masuk ke dalam dulu."

Bee Kun Bu menarik tangan Lie Ceng Loan untuk bersembunyi di belakang patung-patung yang besar Kemudian mereka lihat dua orang masuk berturut-turut Yang pertama adalah seorang pendeta berjubah hitam, bertubuh tinggi besar, matanya besar, alisnya berdiri, brewokan dan berusia lima puluh tahun lebih, Di pundaknya kelihatan sebuah pedang, dan tangannya memegang senjata gaitan,

Yang kedua adalah seorang pelajar berwajah putih dan berusia lebih kurang empat puluh tahun, ia berpakaian baju biru dan di pinggangnya terselip senjata, Setelah mereka masuk ke dalam, mereka menyusut air hujan dari pakaiannya, lalu duduk berhadap-hadapan di lantai, Si pelajar berkata: "Pemimpih kuil San Ceng Koan bukannya jago silat picisan, Untuk merebut peta Cong Cin To, pertarungan dahsyat tak dapat dihindarkan.

Menurut pendapatku selama dua hari ini, banyak jago-jago silat yang telah mengetahui itu, Tapi jumlah orang-orang yang terbanyak adalah dari partai Tian Liong, Hua San dan Kong Tong, Partai-partai lain misalnya partai-partai Bu Tong, Siauw Lim, Ngo Bie, Ceng Sia hanya mengirim murid-muridnya.

Pemimpin-pemimpinnya belum datang, dan kita tak usah khawatir Yang kita takuti ialah orang-orang partai Tian Liong dan partai Hua San, Aku mendapat kabar bahwa partai Hua San dipimpin sendiri oleh pemimpinnya Tu Wee Seng, si lengan delapan, partai Tian Liong, meskipun pemimpinnya Souw Peng Hai tidak datang, akan tetapi kepala-kepa!a cabang bendera hitam, bendera putih dan bendera merah sudah datang ke propinsi Hunan.

Siapa yang datang dari partai Kong Tong, belum kudapat kabar." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Suheng kita (saudara seperguruan) belum datang, Bila hanya kita berdua saja, tak dapat kita melawan orang-orang partai Hua San dan Tian Liong," Si pendeta menganggukkan kepalanya dan berkata: "San-tee (adik ke tiga) terlampau cemas, Tapi cara kita bertindak berlainan Betul orang-orang partai Tian Liong dan partai Hua San banyak jumlahnya, akan tetapi orang- orangnya yang penting-penting berkumpul di sekitar kuil San Ceng Koan.

Lagi pula ilmu silat Hian Ceng Totiang tidak dibawah ilmu silat Tu Wee Seng si lengan delapan Dengan orang sebegitu banyak mungkin mereka dapat mengalahkan Hian Ceng Totiang, tapi untuk menangkapnya hidup-hidup... pasti tak mungkin! Kita harus menangkap muridnya dulu, Lalu kita pergi ke kuil San Ceng Koan menemui Hian Ceng Totiang, Mu- ridnya itu adalah jaminan kita untuk membujuknya supaya ditukar dengan peta Cong Cin To."

Baru saja ucapannya selesai dari luar kuil terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak, dan seterusnya di ambang pintu berdiri orang tua yang kulitnya berbulu bangau, berjubah abu-abu, berambut putih, dan memegang sebatang tongkat bambu, ia masuk tanpa menyusut air hujan di atas pakaiannya, Kedua matanya bersinar dan sambil mengawasi pendeta dan si pelajar itu ia menegur "Kamu berdua bukan main gembiranya bereakap-cakap di dalam kuil tua ini.

Apakah Suhengmu tidak datang?"

Mereka mengawasi orang tua itu, dan segera mengenalinya bahwa ia adalah pemimpin partai Hua San, Tu Wee Seng, si lengan delapan, Mereka terkejut, dan buru-buru mengangkat tangan memberi hormat, sambil serentak menyahut: "Suheng kami sibuk mengurus urusan partai, dan jarang turun gunung, Kami selalu berkelana di kalangan Kang Ouw, dan merasa beruntung dapat menjumpai saudara Tu." Tu Wee Seng berkata: "Partai Tiam Cong semenjak dipimpin oleh Suhengmu telah tampak banyak kemajuan-nya. Tapi kamu berdua juga banyak membantunya, dan berjasa terhadap partai, Aku pun merasa gembira dapat berjumpa denganmu!"

Pendeta berjubah hitam itu menyahut sambil tersenyum: "Saudara Tu memimpin partai Hua San, dan terkenal sebagai pendekar yang lihay. Apakah ada urusan penting, maka kali ini datang ke propinsi Hunan?"

Dengan kedua matanya dia menyapu si pendeta dan si pelajar, lalu menyindir Tertanyaanmu itu lucu sekali, Apakah urusanmu yang penting, sehingga kamu datang ke propinsi Hunan?" Si pelajar berusaha menyimpang dan berkata: "Lebih baik kita berbicara tentang urusan lain, Untuk apa kita berselisih?"

Tu Wee Seng membentak: "O! Jadi kamu ingin mencari gara-gara?!"

Si pelajar juga melotot dan berkata: "Saudara Tu kau dengan biji emasmu mungkin ditakuti orang-orang di kalangan Bu Lim, tapi kami sepasang belibis dari partai Tiam Cong tidak gentar menghadapi itu!"

Tu Wee Seng si lengan delapan tertawa terbahak-bahak, dan suaranya seperti seekor naga meraung sehingga atap kuil itu bergetar! Setelah berhenti tertawa berkatalah ia: "Ketiga- tiga belibis dari partai Tiam Cong betuI-betuI besar nyalinya, Sayang Suhengmu tidak datang!"

Si pendeta membentak: "Untuk melawan kau, tidak usah Suheng kami ikut pula!"

"Ha! Ha! Ha! Baiklah, aku akan menguji silat kedua belibis ini!" mengejek Tu Wee Seng,

Tapi," memotong si pelajar, "Kalau kita sekarang bertanding, tak kan ada gunanya, Kesempatan kita untuk mendapatkan peta Cong Cin To. Tapi sekarang kita berjumpa kembali masih banyak, Kita datang untuk sudah saling bunuh- membunuh, sedangkan hasilnya orang lain yang akan memperoleh Bukankah bodoh perbuatan kita itu?"

Tu Wee Seng menganggukkan kepalanya dan berkata: "Betul, jumlah orang-orang dari partai Tian Liong banyak seka!i... kita harus,.,." Belum lagi selesai per-cakapannya, terdengarlah dari luar kuil suatu jeritan yang keras sekali Tu Wee Seng berlari keluar untuk menyelidiki. ia bersiul menyambut jeritan itu. Dua orang laki-Iaki yang bertubuh besar datang seakan-akan jatuh dari langit dan berdiri di depan Tu Wee Seng, Keduanya lalu berbisik di telinga Tu Wee Seng, Kemudian ketiga-tiganya meninggalkan kuil itu, meskipun hujan masih sangat lebat.

Si pelajar berkata kepada si pendeta berjubah hitam: "Tu Wee Seng itu pasti menerima laporan murid-mu-ridnya, Ayo kita selidiki!" Si pendeta menganggukkan kepalanya, lalu bersama-sama mereka keluar dari kuil itu untuk mengejar Tu Wee Seng.

Segala sesuatu yang telah terjadi dan telah diucapkan oleh ketiga orang tadi di dalam kuil itu telah dilihat dan didengar oleh Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan yang bersembunyi di belakang patung-patung,

"Ketiga orang itu sedang mencari kita, Jika kita menjumpai mereka, pertarungan tak dapat dihindarkan lagi, bukan?" bertanya Lie Ceng Loan.

Bee Kun Bu tak segera menyahut. ia sedang memikirkan betapa berbahayanya kedudukan mereka, Yang ingin menangkapnya bukan orang-orang sembarangan semuanya jago-jago silat yang luar biasa, Dengan hanya dibantu oleh Lie Ceng Loan saja, ia yakin bahwa semua rintangan itu tak akan teratasi Dengan wajah yang menyatakan kecemasan, ia menyahut: "Betul, Oleh karena itu kita harus menghindarkan segala pertempuran sebentar lagi jika hujan sudah agak reda, dalam suasana gelap gulita, kita harus berlalu dari kuil ini, dan lekas-lekas menuju ke utara, Jika kita sudah di luar propinsi Hunan ini, aku yakin kita baru merasa aman." Lie Ceng Loan selalu menuruti kehendak Bee Kun Bu. ia duduk diam di belakang patung menanti hujan berhenti Hujan berhenti pada tengah malam, lalu dengan waspada mereka keluar dari kuil itu menuju ke utara,

Pada waktu fajar mereka telah berada dekat jalan raya, tetapi mereka berjalan terus. Mereka tidak mengetahui bahwa di belakang ada orang yang mengikuti itu menegur: "Rupanya kamu berdua sedang riang gembira!"

Bee Kun Bu menoleh ke belakang, dan kiranya orang yang menegur itu adalah gadis yang pernah merintangi mereka kemarin pagi, hanya kali ini ia mengenakan baju hitam ia bersenjata pedang dan pada ikat pinggangnya yang terbuat dari sutera putih tergantung sebuah kantong piauw (senjata seperti kepala lembing), Dengan sabar Bee Kun Bu menegur: "Mengapa Siocia selalu ingin merintangi kami? Kau dan kami tidak bermusuh, bukan?" "Siapakah gadis itu?" bertanya si gadis baju hitam "la Sumoyku, jika kau masih saja merintangi kami, aku, Bee Kun Bu tidak takut melawan mu!" sahut Bee Kun Bu, yang telah mulai murka.

"Mengapa kau menjadi beringas? ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat telah kusaksikan Jika kau betu!-betuI bertarung mati-matian, aku pun belum tentu kalah, Hai!

Sumoymu cantik Aku senang melihatnya," kata si gadis baju hitam

Bee Kun Bu tidak ingin meladeninya lagi, Diajaknya Lie Ceng Loan berjalan 4erus. Tapi dengan ilmu Pwee Pu Kan San atau delapan langkah mengejar jangkrik, si gadis baju hitam telah melompat dan berdiri di hadapan mereka, "Daerah seluas seratus lie ini dijaga oleh orang-orangku, Kau akan sukar melewatinya!" Mengancam si gadis baju hitam itu.

Bee Kun Bu membentak: Tak usah kau turut campur dalam urusan ini! Jika kau masih saja berkepala batu, aku terpaksa menggunakan kekerasan!" "Hai Apakah kau kira aku takut? Apakah yang pernah ditakuti oleh Bo Ing Li Hiap, Souw Hui Hong alias Souw Hiong Cu? Aku telah memperingatimu dengan baik jhati, tapi kamu masih saja berkepala batu!" kata si gadis baju hitam

Bee Kun Bu yang hanya ingin menghindarkan segala pertempuran lalu menjawab dengan ramah: "Maaf, jika aku telah menyinggung, Siocia, Kini baru aku mengetahui bahwa Siocia adalah puteri dari pemimpin partai silat Tian Uong."

Souw Hui Hong terkejut "Mengapa ia mengenal aku?" pikimya, sebetulnya Bee Kun Bu juga hanya menerka saja, Soal itu pernah didengarnya dari per-cakapan si naga sungai Yang Tsu. "Souw Siocia telah terkenal sekali di kalangan Kang Ouw, dan aku Bee Kvfh Bu sangat mengagumi ilmu silat Siocia yang lihay, KaU ini kami minta diri, Sampai bertemu lagi," katanya sambil menarik tangan Lie Ceng Loan

Dengan pujian yang muluk itu Souw Hui Hong menjadi terharu, ia tidak merintangi lagi, dan hanya melihat saja mereka berdua pergi. sebetulnya ia juga telah tertarik oleh wajah yang tampan dan sikap yang gagah dari Bee Kun Bu, oleh sebab itu ia pun menjadi iri hati terhadap Lie Ceng Loan. ia menarik napas panjang, lalu dengan menghantamkan kedua ujung jari kakinya ia melompat terbang mengejar Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan kembali

Ketika Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus melalui sebuah hutan pohon-pohonan, mereka berjalan perla-han- lahan dengan sikap yang waspada. Baru saja mereka keluar dari hutan itu, muncullah di hadapan mereka seorang orang tua yang kurus kering, berjenggot putih, berbaju hitam dan memegang tongkat bergagang menyerupai kepala ular Bukan main terkejut mereka melihat orang tua yang ganjil itu!

Mereka berhenti sejenak Lalu Bee Kun Bu menarik tangan Lie Ceng Loan berjalan ke samping orang tua itu, Tapi orang tua itu mengejek: "Aku tak ingin menyerang kamu, Kamu hanya harus bicara terus-terang. Di mana peta asli Cong Cin To? Jika kamu beritahukan padaku, akan kuantarkan kamu keluar dari daerah ini dengan selamat Aku telah menotok jalan darah semua orang-orang partai Tian Liong yang mengurung rumah ayahmu, sehingga mereka tak berdaya lagi. Tapi di daerah seluas seratus lie dari kota Gak Yo, telah banyak jago- jago silat yang amat lihay menantikanmu, dan kamu berdua tak akan dapat melawan mereka. Nah! sekarang kamu pilih.

Kamu beritahukan kepadaku, kau akan keluar dengan selamat dari daerah ini. Tidak mau memberitahukan kamu pasti menjumpai bahaya maut!"

Bee Kun Bu mengawasi orang tua itu, dan memperhatikan juga bahwa gagang tongkat yang berbentuk kepala ular itu dibuat dari baja, ia menjawab dengan tenang: "Bagaimana bentuknya peta asli Cong Cin To tak kuketahui karena aku belum pernah melihatnya, Ba-gaimanakah aku dapat memberitahukan kepada bapak?"

"Kau belum pernah melihat peta asli itu? Mungkin kau mengatakan dengan sejujurnya, Tapi,., jika peta itu berada di tangan Suhumu Hian Ceng Totiang, masa kau tak diberitahukannya?!" kata orang tua itu lagi, lalu dihampirinya Bee Kun Bu. "Ya, aku harus menangkap kamu berdua untuk dijadikan jaminan, Kemudian akan kutukarkan kamu dengan peta itu kepada Suhumu!"

Bee Kun Bu mundur selangkah, lalu membentak: "Siapakah kau yang berani bertindak sewenang-wenang!"

Orang tua itu tidak menyahut Dari jauh terdengar siulan panjang, Segera juga tiga orang meloncat turun di hadapan orang tua itu. Ketika itu Bee Kun Bu segera mengenali bahwa yang datang adalah Tu Wee Seng, si lengan delapan, bersama-sama dua orang-orangnya,

Tu Wee Seng yang memegang tongkat bambu lalu melihat orang tua yang memegang tongkat bergagang kepala ular, ia berkata sambil tersenyum: Tan Heng betul-betul panjang umurmu, Kau betul-betul belum mati!" Orang tua yang kurus kering menyahut Terima kasih, Aku masih segar bugar! Beruntung sekali kita dapat berjumpa di sini!"

Lalu Tu Wee Seng bertanya kepada Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan: "Hai! Kamu berdua dari partai Kun Lun?"

Bee Kun Bu yang telah mendengar pereakapan mereka di dalam kuil dan mengenalinya sebagai pemimpin partai Hua San, lalu mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil menyahut: "Kami dari angkatan muda betul dari partai Kun Lun. Apakah tuan dari angkatan tua pemimpin dari partai Hua San?"

Tu Wee Seng terkejut "Mengapa mereka mengenal aku?" pikirnya, Lalu ia menganggukkan kepalanya dan berkata: "Betul! Aku ini Tu Wee Seng. Mengapa kamu mengenal aku?"

siasat yang sedang dilaksanakan oleh Bee Kun Bu itu ialah untuk melunakkan lawan. Sambil tersenyum ia berkata: "Aku sering mendengar dari guruku tentang partai dari bapak Tu, dan guruku sangat menghargai bapak karena ilmu silat bapak yang amat tinggi itu."

Tu Wee Seng tertawa terbahak-bahak karena gembira, lalu berkata: "SebetuInya aku dan gurumu telah sering berjumpa, partai Kun Lun dan partai Hua San adalah partai silat yang terpenting di kalangan Bu Lim.... Tapi... apakah gurumu telah memperoleh peta Cong Cin To?"

Bee Kun Bu pikir, bahwa jika ia mengatakan tak tahu, mungkin mengakibatkan si tua bangka marah, ia menyahut: "Menurut pandanganku, guruku telah memperoleh sebuah kotak yang indah, Tapi, apakah isinya peta Cong Cin To atau bukan, aku tak mengetahuinya." "Suhumu telah meninggalkan kuil San Ceng Koan. Ke mana ia pergi?" tanya Tu Wee Seng.

Belum sampai Bee Kun Bu menjawab, orang tua yang kurus kering membentak: "Hm! Kau menipu aku. Akan kuhajar kamu du!u!" Lalu ia menyerang dengan tongkat gagang kepala ular nya dengan ilmu Hui Pu Liu Coan atau air terjun menimpa mata air, Tapi serangan itu ditangkis oleh Tu Wee Seng dengan ilmu Lan Kang Cai To atau merintangi bintang sapu jatuh. ia mengejek: "Hm! Apakah kau mengira dengan ilmu silatmu yang begitu saja dapat menghina angkatan muda, Tan Piauw!" Tan piauw menjadi marah, dan menyahut: "Kau jangan bermanis mulut, Kau juga datang dari jauh ke propinsi Hunan untuk merebut peta Cong Cin To!"

-ooo0ooo-

Pertolongan datang melalui jalan berduri

Dengan tertawa terbahak-bahak Tu Wee Seng berkata lagi: "BetuI! siapapun juga tentu menghendaki peta Cong Cin To ilu. Kini peta itu berada di tangan Hian Ceng Totiang, dan kita harus menangkap kedua murid ini!"

Tan Piauw mengejek: "Saudara Tu, kau memandang enteng kepadaku, Soalnya tidak demikian mudah!"

Tu Wee Seng membentak: "Apa? Kau berani me- rintangiku?!" Lalu ia menyerang dengan ilmu Ni Lui Kit Teng atau "petir menyambar atap rumah" ke lambung Tan Piauw, Dengan ilmu Wan Te Hoan Yun atau angin taufan membuyarkan awan, Tan Piauw mengelakkan serangan itu.

Sambil menjerit keras Tu Wee Seng menyeruduk dan menyerang bertubi-tubi dengan cepat sekali. Tidak salah jika ia memperoleh julukan si lengan delapan, dan tidak pereuma ia menjadi pemimpin partai Hua San, Tiap-tiap serangannya dahsyat sekali, dan Tan Piauw harus mengeluarkan semua kepandaiannya mengelit, mengegos dan menangkis serangan-serangan maut itu.

pertempuran berlangsung dengan hebat sekali sehingga angin dari sabetan-sabetan tongkat-tongkat mereka menderu- deru, Tan Piauw juga bukan lawan yang remeh, dan sangat ditakuti orang di kalangan Kang Ouw, Pada dua puluh tahun yang lampau, mereka pernah bertempur, dan Tan Piauw pernah kalah. Untuk mencuci malu yang besar ini, ia pergi bersembunyi di pegunungan Kauw Hua San, dan dengan tekun melatih dan memperdalam ilmu silatnya.

Dalam jangka waktu dua puluh tahun, ia telah memperoleh kemajuan besar Dilain pi-hak, Tu Wee Seng dengan ilmu silat tongkat terdiri dari delapan puluh satu jurus belum pernah mengalami kekalahan dan belum pernah ada seorang lawan pun yang dapat melawannya selama sepuluh jurus saja, Tapi kini setelah pertempuran berlangsung dua puluh jurus lebih ia masih juga belum dapat menaklukkan si tua bangka, yang kurus kering itu. ia menjadi marah sekali, dan menyerang dengan lebih ganas lagi.

Sebetulnya Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan dapat menggunakan kesempatan untuk lekas-Iekas lari. Tapi pertempuran yang maha dahsyat itu menarik perhatian mereka, dan dengan menyaksikannya, mereka banyak mendapat pelajaran Tiba-tiba Bee Kun Bu merasa tangannya ditarik dengan diiringi seruan: "Ayo, kita lari, Kesempatan ini baik sekali!" Bee Kun Bu mengira bahwa yang menarik tangannya itu pasti Lie Ceng Loan, ia menoleh. Tapi kiranya Souw Hui Hong yang telah jatuh hati ke p ada nya. Lie Ceng Loan juga merasa heran mengapa gadis itu demikian ramahnya terhadap Bee Kun Bu. ia ingin menanyakan Baru saja ia hendak membuka mu!ut, Bee Kun Bu berkata dengan suara rendah: "Jangan banyak omong. Ayo! Kita lari!"

Souw Hui Hong mengawasi dari belakang ketika mereka lari masuk ke dalam sebuah hutan yang lebat.

Pertempuran antara Tu Wee Seng dan Tan Piauw berlangsung terus, Souw Hui Hong yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketinggian ilmu silat dari kedua belah pihak, menjadi terperanjat ia juga tidak yakin bahwa ia akan dapat melawan salah seorang dari keduanya, Bagaimanakahjika ia dijadikan sasaran setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan lari?

Tu Wee Seng sudah tahu bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan telah Jari. Sambil menjerit keras ia menyapu dengan tongkat bambu nya untuk memaksa Tan Piauw mundur beberapa tindak, Lalu dengan tinju kirinya yang disertai dengan tenaga dalam diserangnya dada lawannya. pukulan itu seperti palu yang beratnya seratus kilo.

Tan Piauw mengetahui bahwa jika ia menangkis jotosan itu dengan tenaga dalamnya, kedua belah pihak dapat tewas dengan segera, Secepat kilat ia menghantamkan jari-jari kakinya dan dengan segera seluruh tubuhnya melonjak ke atas, ia terhindar dari jotosan maut itu, tetapi hembusan angin nya telah mematahkan banyak cabang-cabang kayu dan merontokkan daun-daunan di hutan!

Tan Piauw jatuh tepat di hadapan Souw Hui Hong yang ingin melarikan diri, Dengan heran ia bertanya: "Hai! Siocia ini siapa? Kemanakah pemuda dan pemudi tadi?r

Souw Hui Hong yang telah merasa simpati terhadap Bee Kun Bu tidak ingin memberitahukan apalagi setelah dilihatnya betapa tingginya ilmu silat orang tua tersebut, ia khawatir kalau-kalau Bee Kun Bu tak dapat melawannya. ia tak menjawab Lalu Tu Wee Seng membentak: "Hai! Apakah kau ini juga muridnya partai Kun Lun?! jika kau masih berdiam diri, jangan nanti aku disalahkan lagi!"

Souw Hui Hong telah dijaga keras oleh kedua orang tua itu, dan tak dapat meloloskan diri, ia menyahut dengan ramah: "Aku pun sedang mencari murid-murid partai Kun Lun. Ketika melihat bapak-bapak berdua bertarung demikian dahsyatnya, aku telah tertarik oleh ilmu silat bapak-bapak, Kini pertempuran telah berhenti, aku pun hendak pergi." Lalu ia melangkah untuk pergi.

Tu Wee Seng yang melihat sikap congkak dari si gadis itu merasa tersinggung "Tanpa memberi hormat lagi terhadap orang yang lebih tua, gadis ini segera hendak pergi, kurang ajar!" pikirnya, Dirintanginya gadis itu sambil membentak: "Hei! Hendak ke mana kau?" bentakan itu diiringi dengan sebuah pukulan tangan kanannya, Souw Hui Hong mengegos dengan sigap. ia yang selalu dimanjakan oleh ayahnya, tidak senang dihina, Tetapi meskipun ia yakin, bahwa ia tak akan dapat melawan, namun ia tidak mau tunduk. Dicabutnya pedangnya, dan dengan membelalakkan matanya ia membentak: "Hei, tua bangka ? Apakah maksudmu merintangiku?! Aku dapat menerobosi

"Ha! Ha! Ha! Cobalah menerobosi mengejek Tu Wee Seng, Lalu Souw Hui Hong menyerang dengan pedangnya, dan serangan itu ditangkis oleh angin dari kedua tinju Tu Wee Seng, Tadi baru saja Souw Hui Hong telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa hebatnya tenaga dalam yang keluar dari kedua tinju Tu Wee Seng, sehingga dapat mematahkan batang-batang kayu walaupun beberapa puluh depa jauhnya, ia yakin bahwa jika ia terus memegang pedangnya, mungkin pergelangan tangannya akan patah!

Lekas-lekas ditariknya kembali serangan itu, dan dirubahnya dengan ilmu Tie Ki Tok Cut atau besi potongan tiba-tiba menyambar Disabetnya kedua kaki Tu Wee Seng, Tapi tanpa bergeser Tu Wee Seng mengipaskan serangan itu dengan lengan bajunya, lalu dengan disertai hembusan angin ia telah melompat ke samping si gadis, ia tidak ingin menyerang gadis itu. ia hanya ingin supaya pedang Souw IJui Hong terlepas, Maka setelah berada di sampingnya, dicobanya menotok jalan darah di bahu kanan Souw Hui Hong dengan tangan kirinya:

Si gadis mengegos lagi, Tidak pereuma saja ayahnya, Souw Seng Hai, yang menjadi pemimpin partai Tian Liong, menurunkan ilmu silat pedangnya kepadanya, Tu Wee Seng mengira bahwa hanya dengan empat atau lima jurus ia akan berhasil menaklukkan si gadis, Tapi setelah pertempuran berlangsung dua puluh jurus lebih, belum juga pedang itu terlepas dari tangan si gadis, yang telah mempelajari hampir tujuh puluh persen dari ilmu silat pedang ayahnya, Tu Wee Seng mengetahui bahwa ilmu silat pedang yang lihay adalah dari partai-partai Bu Tong, Kun Lun dan Ngo Bie. Tapi ia tak tahu dari partai manakah ilmu silat pedang si gadis ini, yang selama ini belum pernah dilihatnya, tetapi ternyata cukup lihay. Lalu dilepaskannya tiga buah tinju secara bertubi-tubi, Sungguh dahsyat tinju-tinju itu, dan hembusan anginnya telah mendorong gadis itu mundur sedepa lebih, Si gadis yang telah dimanjakan itu masih juga melawan, ia menyerang kembali dengan pedangnya, Tu Wee Seng tak sabar lagi, ia harus memberi hajaran, ia menanti ujung pedang itu datang, lalu dengan tenaga dalam dijepitnya pedang tersebut.

Si gadis merasa, bahwa jika dipegangnya terus gagang pedang itu, mungkin pergelangan tangannya akan putus! Dengan sengaja dilepaskannya, dan terlempar lah pedang itu tujuh atau delapan depa jauhnya! Buru-buru diambilnya sebuah Piauw (senjata berbentuk kepala lembing) dari kan- tongnya, dan sambil menjerit dilontarkannya ke arah Tu Wee Seng, Piauw itu terbang seperti burung walet, dan di ujungnya ada sebuah jarum tajam yang beracun, Tu Wee Seng yang banyak pengalaman mengawasi Piauw itu menyambar kepalanya. 

Dengan tinju kirinya ia mengipas ke udara, dan angin yang keluar dari kipasan tinju itu segera menampar Piauw yang datang menyerang kepalanya dan jatuh di tanah! Ketika jarum di ujung, Piauw menyentuh tanah, racun dari jarum itu menyempit keluar Tu Wee Seng yang tajam sekali peng- lihatannya, buru-buru meloncat jauh-jauh untuk menghindarkan racun yang menyemprot itu. "Hei! Anak sam- bal! Kau menggunakan senjata rahasia yang beracun! Hari ini harus kuhajar kau!" ucapan itu diiringi dengan jotosan tinju kiri.

Piauw kedua Souw Hui Hong yang kedua belum lagi dilontarkan, tapi jotosan itu telah dilepas, dan anginnya menyerang tubuh Souw Hui Hong. ia tak berani menangkis serangan itu, Dengan ilmu Kim He To Coan Po atau ikan emas menyelam di dalam laut ia mundur dua depa lebih, Tapi Tu Wee Seng mengejar Souw Hui Hong tidak sempat bangkit ia lekas-lekas berguling ke sebelah kiri. Ketika ia hendak bangun, didengarnya Tu Wee Seng mengejek: "Kepandaian apakah lagi yang kau punyai?!" ucapan itu dibarengi dengan jotosan ke bahunya.

Tapi Souw Hui Hong berhasil meloncat ke depan dan menghindari lagi jotosan itu, Tu Wee Seng mengejar, dan menotok jalan darah di punggungnya, Kali ini Souw Hui Hong tak dapat mengegos lagi... tapi sekonyong-konyong dari udara jatuh dua orang yang segera melepaskan tinju dengan berbareng! Tu Wee Seng harus lekas-lekas menghindarkan jotosan kedua orang itu dengan jalan melompat secepat kilat ke samping, ia mengawasi kedua orang yang datang itu.

Dua-duanya berusia lima puluh tahun lebih, dan berbaju hitam. Yang satu bersenjata palu, dan yang lain arit baja, Kedua orang itu sangat terkenal di kalangan Kang Ouw, karena yang bersenjata arit adalah kepala cabang bendera merah partai Tian Liong, Ouw Lam Peng, si langkah terbang, dan yang bersenjata palu adalah kepala cabang bendera hitam dari partai Tian Liong, Kiok Goan Hoat, si tangan kilat Ouw

Tu Wee Seng mengejar dan menjotos ke jalan darah di punggung si nona, Katl ini Souw Hui Hong tak dapat mengegos lagU tapi sekonyong-konyong dari udara turun dua orang yang segera melepaskan tinjunya dengan berbareng.

Lam Peng membungkukkan tubuh membantu Souw Hui Hong, dan Kiok Goan Hoat mengejek: "Ai! Betul-betuI kejam kau! Mengapa kau demikian kejam terhadap seorang gadis? Apakah kau tidak malu jika peristiwa ini tersiar di kalangan Kang Ouw, bahwa si lengan delapan, pemimpin partai Hua San berbuat kejam terhadap seorang gadis?! Hm! Tidak malu?"

Merah sekali muka Tu Wee Seng mendengar ejekan itu. ia menyahut: "Aku telah berkali-kali menanyakan namanya, tapi ia tak menyahut Aku hanya ingin supaya ia melepaskan pedangnya, dan aku senantiasa hanya menggunakan tangan telanjang melawannya. Tapi,., ia telah menggunakan senjata rahasia yang beracun melawanku. Tidak pereaya... tanya saja Tan Piauw yang menyaksikan pertempuran kami! Kau jangan menfitnahku dengan sembarangan! Apakah kau kira, aku takut melawan kau, Kiok Goan Hoat?"

Kiok Goan Hoat mengejek lagi: "Kita tak usah menyebut- nyebut takut atau tidak takut Partai Tian Liong kami pada satu waktu pasti bertempur melawan partaimu." Lalu sambil tertawa terbahak-bahak ia mengawasi Tu Wee Seng.

Ouw Lam Peng berbisik kepada Souw Hui Hong: "Untung kau, apakah kau dapat luka di dalam?" Sambil menggelengkan kepala Souw Hui Hong menyahut: Tidak apa, Lukanya belum sampai ke dalam tubuh." Lalu Ouw Lam Peng menghadapi Tu Wee Seng dan mencaci maki: "Hei, orang kejam!"

Tu Wee Seng menjadi marah sekali difitnah demikian ia mengawasi Kiok Goan Hoat yang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang, ia pun mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan tinju mautnya, Ketika itu Ouw Lam Peng insyaf bahwa jika mereka bertempur salah seorang pasti ada yang tewas, ia lekas-lekas berdiri di tengah kedua orang itu dan dengan tertawa paksaan ia berkata:

"Kedua saudara harus sabar Dengar aku berbicara, Saudara Tu telah meng-gempur Souw Hui Hong karena ia tidak mengetahui Souw Hui Hong itu adalah puteri kesayangan pemimpin partai Tian Liong kita, Tapi Souw Siocia tidak menderita luka parah. Saudara Kiok, harap kau sabar." Lalu ia menghadapi Tu Wee Seng dan berkata: "Saudara Tu, sebetulnya totokan jari tanganmu itu tak ada taranya di katangan Bu Lim.

Saudara Kiok dan Siotee sudah lama mengaguminya, Pemimpin kita telah mengirim surat-surat undangan kepada para jago-jago silat dari kesemutan partai silat terbesar untuk mengadu silat, dan waktunya itu tak lama lagi, Apakah tidak baik pada waktu itu kita baru mengadu silat kita, Aku harap supaya saudara Tu menyabarkan diri dan dapat menghindarkan pertempuran sekarang ini!"

(

Kemarahan Tu Wee Seng menjadi reda, dan dengan mengangkat tongkat bambunya ia berkata sambil tertawaj "Hm! pemimpin partai Tian Liong mempunyai usul demi-kian? Baik sekali! Kita dari partai Hua San pasti mengirim jago-jago silat kita pada waktu yang ditetapkan itu. Tadi, karena tidak mengenal gadis itu, aku telah melukai puteri pemimpin saudara, aku mohon maaf, dan aku minta kedua saudara menyampaikan permintaan maafku ini kepada pemimpin saudara-saudara."

Lalu ia bersiul panjang dan pergi entah ke mana, diikuti oleh kedua orang-orangnya, Setelah Tu Wee Seng pergi, Ouw Lam Peng datang menghampiri Tan Piauw dan berkata: "Hei, kau ini tua bangkai pemimpin kita telah mengutus orang- orangnya mencari kau sampai tiga kali, namun kau tak juga mereka jumpai Hari ini kita dapat bertemu bagaimana pendapat mu ?"

Sambil tertawa Tan Piauw berkata: "Untuk menghendaki aku masuk partaimu, tidak sukar Tapi aku ingin melihat dulu, pemimpin partai Tian Liong, Souw Peng Hai, telah dapat membujuk kamu berdua, tentu ini disebabkan oleh caranya yang luar biasa. Tapi aku ini, jika belum sampai ke sungai Hoang-ho, aku belum ingin menjumpai pemimpinmu. Ya... tunggu tiga atau empat tahun lagi! Mengapa aku harus terburu nafsu?"

"Ha! Kau betul-betuI sombong! Meskipun kau berlatih lima puluh tahun lagi, kau tak dapat melawan Souw Peng Hai dalam sepuluh jurus! Kau tak pereaya? Mari, akan kutunjukkan padamu!" kata Kiok Goan Hoan,

Sambil tertawa Kiok Goan Hoat dengan kedua matanya yang tajam, Tan Piauw mengejek: "O! Jika demikian, kau tak dapat melawan Souw Peng Hai dalam sepuluh jurus, bukan?" Kiok Goan Hoat marah, ia membentak: Tiap-tiap kepala dari cabang partai Tian Liong pasti dapat meng-gempur kau, Tan Piauw, Mau coba?!"

Tan Piauw menyahut dengan tenang: "Baiklah! Aku berjanji bahwa dalam jangka waktu setengah tahun, akan datang melawan Souw Peng Hai, Tapi sekarang aku tak sudi melawan kamu, Nah, sampai bertemu lagi!" Lalu ia pun pergi,

Setelah Tan piauw tak kelihatan lagi, Ouw Lam Peng bertanya pada Souw Hui Hong: "Apakah kau telah menemui murid-murid Hian Ceng Totiang?"

"Aku pernah melihatnya sekali, tapi aku tak dapat menahannya. Apakah Hian Ceng Totiang masih berada di dalam kuil San Ceng Koan?" tanya si gadis,

Kiok Goan Hoat menggelengkan kepalanya dan berkata: "Pendeta itu telah berlalu, Mengapa kau bertempur melawan Tu Wee Seng?"

Souw Hui Hong telah mengetahui bahwa di antara kelima kepala cabang partai Tian Liong, kepala cabang bendera merah lah yang paling tertib gcrak-geriknya dan paling banyak tipu muslihatnya, dan kepala cabang bendera hitam Kiok Goan Hoat yang paling buruk tabiatnya dan yang paling kejam. Jika diberitahukan nya peristiwa tentang Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, berarti bahwa ia hanya menerbitkan rintangan yang lebih banyak lagi bagi mereka berdua, Tapi peta Cong Cin To sedang dicari oleh ayahnya. ia menjadi serba susah, ia tak dapat segera menjawab Dicobanya mengelakkan pertanyaan itu dengan jawaban lain:

"Aku bertemu dengan mereka di mulut gunung Tong Bo Leng. ilmu silat pedang partai Kun Lun betul-betul lihay, Aku tak dapat melawan, dan mereka berhasil menerobos, Aku kejar mereka sampai ke sini, dan aku menyaksikan Tu Wee Seng dan Tan Piauw sedang bertempur Aku tertarik, dan menonton Tapi Tu Wee Seng memaksa aku memberitahukan ke mana murid-murid partai Kun Lun itu lari, dan pertempuran pun segera terjadL" Lalu Ouw Lam Peng berkata: "Menurut pandanganku Hian Ceng Totiang telah tiba di pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang. Jika ia telah memperoleh kitab-kkab Kui Goan Pit Cek, maka walaupun kita telah menawan muridnya untuk dijadikan jaminan, namun ia tak akan sudi menukar murid-muridnya dengan kitab-kitab Kui Goan Pit Cek itu. Aku akan menemui pemimpin kita dan membujuknya supaya mengerahkan semua jago-jago silat dari ke lima-lima cabang untuk mengejar Hian Ceng Totiang di pegunungan Koat Cong San. Aku yakin bahwa peta Cong Cin To itu benar-benar berada di tangannya, dan ia segan mempereayakannya pada murid-muridnya, tak ada gunanya untuk menangkap murid- muridnya itu!"

Souw Hui Hong tertawa, dan merasa lega, ia berkata: "Perkataan itu tepat Lebih baik kamu keduanya lekas-lekas kembali menemui ayahku dan membujuknya!"

Kiok Goan Hoat berkata: "Ayo, kau juga ikut dengan kami. Pada dewasa ini banyak jago-jago silat berada di daerah ini. Kau berangasan, dan mudah berselisih dengan orang lain."

Souw Hui Hong menyahut: "Aku tak takut jalanlah kamu lebih dahulu menemui ayahku, Aku pulang setengah bulan lagi!" ia tak menunggu jawaban lagi, di-pungutnya pedangnya yang dilemparkan oleh Tu Wee Seng, dan lari seperti terbang entah ke mana, meninggalkan Kiok Goan Hoat dan Ouw Lam Peng berdiri keheran-heranan!

Diceritakan, bahwa Bee Kun Bu setelah menarik tangan Lie Ceng Loan untuk lekas-Iekas melarikan diri, telah melalui hutan yang lebat dengan pesatnya. Setelah mereka berlari dua puluh lie lebih, mereka baru berjalan, "Kakak Kun Bu, tadi kedua orang tua itu bertempur dengan hebat sekali, dan lihay betul ilmu silat mereka, Tapi... gadis yang berbaju hitam itu, bukankah ia bermaksud hendak merintangi kita? Mengapa ia beramah tamah terhadap kakak?" tanya Lie Ceng Loan,

"Ya, jika ia tak mendesakkita lari, mungkin kita masih berada dalam bahaya." sahut Bee Kun Bu, Rupanya Lie Ceng Loan sedang gembira. Di bawah sinar bulan ia berjalan dengan lincahnya di samping Bee Kun Bu. Ketika mereka membelok di sebuah tikungarr, ia telah bertumbukan dengan seseorang, ia merasa bahwa bahu kirinya dicekal orang itu, Sambil membentak dicoba-nya menangkis cekalan orang itu, dengan tangan kanannya.

Orang itu adalah seorang rahib wanita, yang berusia lebih kurang dua puluh empat tahun, berambut hitam, berparas cantik, dan berbibir merah delima, Setelah melihat egosan yang cepat dari Lie Ceng Loan, ia mencoba pula menotok jalan darahnya. Tapi Lie Ceng Loan buru-buru meloncat mundur tujuh atau delapan kaki jauhnya, Lalu dengan pedang terhunus dihampirinya orang itu,

Orang itu lekas-lekas mengelakkan tusukan pedang yang pertama, lalu mencabut pula pedangnya, Mereka bertempur selama delapan jurus, dan kedua-duanya merasa heran, karena semua jurus-jurus serangan atau tang-kisan-tangkisan mereka adalah dari ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun! Rahib ingin menghentikan pertempuran tapi Lie Ceng Loan masih saja merasa gusar dan menyerang terus.

Bee Kun Bu tidak memperhatikan jurus-jurus silat yang dilancarkan oleh rahib itu. ia mencabut pula pedangnya dan dengan ilmu Ciok Po Tian Keng (batu pecah menggetarkan langit) dan Tio Hoat Lam Hay (ombak bergulung di lautan selatan) dari Cui Hun Cap Ji Kiam ia berhasil mendesak rahib itu sampai mundur ia tidak kejam, Sudah cukup baginya bila ia dapat mendesak mundur lawannya itu, Lalu ditariknya tangan Lie Ceng Loan untuk lari terus, Tapi baru saja mereka berlari enam atau tujuh depa jauhnya, dengan tiba-tiba melompatlah turun seorang rahib perempuan di depan mereka, yang berusia setengah abad, dan sambil memegang sebilah pedang. Dengan khidmat rahib perempuan itu mencegat mereka berdua, Bee Kun Bu menyerang dengan ilmu Pe Yen Kian Wie atau burung walet menggunting buntut. Melihat Bee Kun Bu menerobos itu, rahib perempuan itu menjadi gusar Dengan pedangnya diserangnya Bee Kun Bu dengan ilmu Shin Liong Pay Bie atau naga sakti menggoyang- goyangkan ekor tiga jurus sekaligus! Tapi jurus-jurus itu ditangkis oleh Bee Kun Bu, yang segera merasa lengan kanannya kesemutan Sambil menahan pedang Bee Kun Bu dengan pedangnya, rahib perempuan itu bertanya:

Tadi kau menggunakan jurus-jurus Cui Hun Cap Ji Kiam, siapakah yang mengajarkannya?!" pertanyaan itu mengejutkan Bee Kun Bu, karena jurus Cui Hun Cap Ji Kiam hanya gurunya dan saudara atau saudari gurunya yang tahu. ia buru-buru menghentikan pertempuran mundur dua langkah dan menyahut: "Siotee adalah murid Hian Ceng Totiang dari partai Kun Lun. Shin Ni siapakah? Apakah sebabnya sampai dapat mengenali ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam?"

Sebelum rahib wanita itu menyahut, rahib yang lebih muda yang tadi bertempur melawan Lie Ceng Loan, membentak: "Jika kau murid paman guru kita, Hian Ceng Totiang, mengapa melihat bibi kita kau tidak menghaturkan hormat?!"

Bee Kun Bu berdiri bingung, tak dapat dengan segera menyahut Rahib yang lebih tua berkata: "Aku bernama Giok Cin Cu. Apakah Suhumu tidak pernah memberitahukan kepadamu?"

Ucapan itu melenyapkan kecurigaan Bee Kun Bu. ia segera berlutut di hadapan rahib perempuan itu memberi hormat, seraya berkata: "Teecu diperintahkan datang ke pegunungan Kun Lun untuk menemui paman guru ke dua Kim An dan membawa surat untuk bibi guru, Aku tak menduga akan menjumpai bibi guru di tempat ini."

Giok Cin Cu lalu mengawasi sikap dan wajahnya Bee Kun Bu. Sambil tersenyum ia berkata: "Aku tidak menyangka Suheng mengajari Cui Hun Cap Ji Kiam kepadamu. Apakah gadis berbaju merah itu juga murid partai Kun Lun?" Bee Kun Bu buru-buru menarik Lie Ceng Loan untuk berlutut dan memberi hormat Lalu dari kantong di dadanya dikeluarkannya dua pucuk surat dari gurunya dan diberikan nya pada bibi gurunya, ia menyahut: "Teecu telah diperintahkan membawa kedua pucuk surat ini kepada bibi guru. Tentang isinya, tentu bibi guru akan paham setelah membacanya."

Giok Cin Cu menerima surat-surat itu, membukanya dan membaca, Surat-surat tersebut ditulis sendiri oleh Hian Ceng Totiang, ia terkenang akan kisah tiga puluh tahun yang lampau. Ketika ia baru berusia belasan tahun, tapi ia dirawat dan disayangi oleh kedua Suhengnya. Setelah guru mereka meninggal, sebetulnya ia dan Toa Suhengnya, Hian Ceng Totiang yang harus menjaga kuil, akan tetapi karena Toa Suheng melihat bahwa Ji suhengnya amat menyayanginya.

Toa Suheng mengalah dan berpisah, agar urusan kuil dapat diurusnya bersama-sama dengan Ji Suheng, Toa Suheng pergi selama lima tahun, dan ia sendiri tak mengetahui entah kemana, Ji Suheng yang bernama Tong Leng Tojin telah berusaha keras mencarinya, karena ia lebih muda tentu saja tak berani memegang kuil itu jika Toa Suheng masih ada. Setelah mereka mencari tanpa hasil, Tong Leng Tojin terpaksa menjadi kepala kuil itu, Tapi setelah menjadi kepala dua tahun, barulah Hian Ceng Totiang telah kembali ke kuil San Goan Kong di puncak gunung Kim Teng Hong dari pegunungan Kun Lun,

Lalu Tong Leng Tojin mengembalikan kekuasaan kepada Hian Ceng Totiang, tapi selalu ditolak, ia berkata: "Setelah kau mengurus kuil, kau harus meneruskan Aku berhasrat pergi ke suatu tempat, dan setelah urusanku beres, aku segera berangkat." Betul saja, setelah Hian

SlAN HOK SBS CKS - T.S.S. jilid I 93

Ceng Totiang tiba di kuil San Goan Kong dan menginap selama sepuluh hari lebih, ia meninggalkan pegunungan Kun Lun, dan tinggal dengan tenang di kuil San Ceng Koan di propinsi Hunan, dan jarang kembali lagi ke pegunungan Kun Lun, Maksudnya ialah, supaya Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu dapat kawin, kemudian barulah kembali ke kuil San Goan Kong.

Tapi Tong Leng Tojin dan Giok Cin Cu telah mengerti maksud Toa Suhengnya, dan tidak mau lagi membicarakan soal-soal asmara, ia sendiri sebetulnya mencintai Toa Suheng, tetapi ia pun tak ingin pula melukai hati Ji Suheng, Oleh karena itu ia berpegang teguh pada pendirian: hidup dengan tidak kawin selama beberapa puluh tahun, Kini ia telah berusia setengah abad, dan kisah itu sudah lewat Tapi tetap merupakan suatu kenang-kenangan,

Giok Cin Cu ngelamun dan lupa bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan masih terus berlutut dihadapannya, Rahib yang muda menghampiri Giok Cin Cu dan berkata: "Suhu, lekas- lekas suruh mereka bangun!" Dengan terkejut Giok Cin Cu menyuruh mereka bangun, Lalu diteruskannya membaca surat-surat itu di bawah sinar bulan.

Setelah selesai membacanya, ia bertanya pada Lie Ceng Loan sambil tersenyum: "Apakah kau yang bernama Lie Ceng Loan? Kau sudi menjadi murid partai Kun Lun?" Lie Ceng Loan menganggukkan kepalanya. Bee Kun Bu lalu membisikkan agar ia lekas-lekas berlutut kembali memberi hormat sebagai murid yang resmi. Lie Ceng Loan berlutut dan berseru: "Loan Jie memberi hormat kepada Suhu!" Tentang riwayat Lie Ceng Loan, sudah dijelaskan oleh Hian Ceng Totiang di dalam su-ratnya, Lalu Giok Cin Cu berkata: "Loan Jie, bangun, Beri hormat kepada Sucimu itu!"

Lie Ceng Loan menghadap kepada rahib muda itu dan menyebut: "Cici!" Rahib muda itu juga menganggukkan kepalanya membalas penghormatan itu, dan ber-kata: "Sumoy, aku bernama Liong Giok Pin." Bee Kun Bu lalu menganggukkan kepalanya memberi hormat dan berseru:

"Giok Pin Cici, Siotee bernama Bee Kun Bu." pemberian hormat itu dibalas dengan senyum manis: "Kau lebih besar daripadaku, lagi pula kau adalah murid Toa Suhu. Panggii aku Sumoy saja! Aku adalah anak yatim piatu, Ketika aku berusia dua tahun, aku ditolong oleh Suhu dan dibawa ke pegunungan Kun Lun. Aku telah dirawat, dididik selama delapan belas tahun," katanya.

"Kau lebih tama daripada aku masuk partai Kun Lun. Aku hanya baru dua belas tahun, Aku harus panggil kau Suci," sahut Bee Kun Bu.

Lie Ceng Loan memotong pereakapan mereka dengan berkata: "Pin Cici, aku juga seperti kau, sudah semenjak bayi tak mempunyai ibu dan ayah lagi."

Ketika itu Giok Cin Cu sedang memikirkan bagaimana harus mengurus peta asli Cong Cin To, karena Hian Ceng Totiang telah memberitahukan padanya bahwa peta itu sudah diperoleh, dan bahwa ia telah mengambil keputusan untuk pergi ke pegunungan Koat Cong San bersama-sama Ngo Kong Toa-su dari kuil Huan Lim Si untuk mencari kitab-kitab Kui Goan Pit Cek, dan bahwa Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan harus tinggal di kuil San Goan Kong di puncak Kim Teng Hong. jika kitab-kitab tersebut telah diperoleh, Hian Ceng Totiang akan kembali ke pegunungan Kun Lun, dan ia tidak ingin Leng Tong Tojin atau Giok Cin Cu pergi mencarinya di pegunungan Koat Cong San. Tapi Hian Ceng Totiang tidak menduga Giok Cin Cu telah datang ke propinsi Hunan untuk mencarinya.

Setelah berpikir sebentar, Giok Cin Cu berkata kepada Bee Kun Bu: "Suhumu telah mendapatkan peta Cong Cin To, dan telah pergi menuju pegunungan Koat Cong San. Desas- desusnya banyak sekali, tapi aku belum mau pereaya, Malam ini jika tak bertemu dengan kamu berdua, mungkin kami pergi ke kuil San Ceng Koan untuk mengetahui dengan pasti." ia berhenti sebentar, lalu meneruskan "Sebetulnya menurut kehendak Suhumu, kau dan Lie Ceng Loan harus tinggal di kuil San Goan Kong.

Tapi sekarang keadaan telah berubah. ia tak mengira bahwa aku akan datang ke propinsi Hunan, Dari sini ke pegunungan Kun Lun masih jauh, Jika berita tentang peta Cong Cin To itu bocor aku khawatir akan keselamatanmu berdua, karena kamu kurang pengalaman aku khawatir kalau- kalau kamu akan menjumpai banyak rintangan-rintangan, Lebih baik kamu tidak pergi ke pegunungan Kun Lun, melainkan kita bersama-sama pergi ke pegunungan Koat Cong San mencari Suhumu, dan bila perlu membantunya."

Ucapan itu menyebabkan Bee Kun Bu menceritakan semua peristiwa-peristiwa yang telah dialaminya bersama- sama dengan Lie Ceng Loan selama dua hari ini. Setelah mendengar keterangan itu, sambil mengerutkan keningnya berkatalah Giok Cin Cu:

"Tu Wee Seng dari partai Hua San, tiga belibis dari partai Tiam Cong, dan pendeta kurus Tan Piauw, semuanya adalah jago-jago silat yang lihay sekali, Lagi pula, pengaruh partai silat Thian Liong dengan cabang-cabangnya di sebelah selatan sungai juga tak dapat dipandang enteng. Suhumu, meskipun lihay silatnya, mungkin tak dapat melawan semua jago-jago silat itu. Mereka semua hendak merebut peta Cong Cin To, dan akan menggunakan segala tipu muslihat busuk untuk memperolehnya. Ya! Malam ini juga berangkat menuju ke pegunungan Koat Cong San!" Berbicara sampai di sini, Giok Cin Cu berhenti Kedua matanya mengawasi ke arah sebuah pohon besar yang tiga depa jauhnya, ia menegur: "Siapakah yang datang? Mengapa bersembunyi?" Baru saja teguran itu diucapkannya, maka meloncatlah dari atas pohon yang besar itu seseorang dengan wajah kanak-kanak, disertai tertawanya yang terbahak-bahak, rambutnya seperti bulu bangau, jenggotnya putih seperti perak, dan mengenakan baju kurung berwarna abu-abu. ia memegang tongkat bambu.

Sambil tersenyum ia menyahut: "Aku ini Tu Wee Seng, tidak sejajar dengan orang-orang dari partai Kun Lun!", Bee Kun Bu yang telah mengenali Tu Wee Seng, dan khawatir kalau-kalau ia akan menyerang lagi, segera memegang pedangnya, Giok Cin Cu berkata sambil tertawa: "Aku kira siapa yang datang, Kiranya adalah pemimpin partai Hua San. Aku mohon maaf jika kurang hormat menerimamu."

Dengan tertawa Tu Wee Seng menyahut: "Aku tak dapat menerima penghormatan yang terlampau besar Partai Kun Lun betul-betul tidak pereuma namanya, Masih ada dua orang lagi orang-orangku yang selalu mengikuti aku."

"Mengapa tidak kau suruh mereka menunjukkan dirinya," menegur Giok Cin Cu. Dari tempat sejauh lima depa, terdengar lagi suara orang tertawa, dan segera secepat kilat meloncatlah keluar dari dahan pohon itu dua orang, dengan disertai hembusan angin, Yang seorang bertubuh tinggi besar, brewokan, kedua matanya besar, alisnya berdiri dan berusia lima puluh tahun lebih, Yang lain mirip seperti seorang pelajar, wajah mukanya putih kelimis, berbaju biru dan kepala diikat dengan sehelai kain.

Lalu Tu Wee Seng berkata: "Aku datang untuk memperkenalkan kedua saudaraku ini. Mereka adalah Lao-ji dan Lao-san, dua orang dari tiga belibis yang terkenal dari partai silat Tiam Cong dari propinsi Kwi-ciu. Dan ini adalah salah seorang dari tiga pemimpin-pemimpin partai Kun Lun, Giok Cin Cu." Sambil tersenyum Giok Cin Cu berkata: "Sudah lama aku mendengar nama-nama yang termasyhur itu. Aku beruntung dapat menjumpainya." Lalu Lao-ji dan Lao-san mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat, dan Lao-san berkata: Tiga pemimpin dari partai Kun Lun juga sangat mashur namanya di kalangan Bu Um, terutama ilmu

silat pedangnya yang bernama Tian Kang Kiam dan Hun Kong Kiam Hoat, Kita juga beruntung dapat menjumpai salah seorang pemimpinnya di propinsi Hunan ini."

Lalu Tu Wee Seng berkata: "Aku ada urusan, oleh sebab itu harus segera pergi, Kita bertemu lagi di pegunungan Koat Cong San." Kemudian ia mengulurkan keluar tinju kirinya, dan dengan melalui kedua belibis itu, meloncatlah ia seakan-akan terbang keluar dari tempat itu, Lao-san berseru: "Saudara Tu, tunggul Kita berangkat bersama-sama!" Lalu ia pun minta diri kepada Giok Cin Cu dan mengejar Tu Wee Seng, diikuti oleh Lao-ji.

Setelah mereka pergi Giok Cin Cu menarik napas dan berkata: "Aku hanya ingin mengutarakan maksudku kepada kamu berdua, tapi ucapan itu telah terdengar oleh mereka sehingga mereka mengetahui kemana suhengku pergi." Sambil menundukkan kepalanya, berkatalah ia lebih lanjut: "Kun Bu, kita pun harus lekas-lekas berangkat."

Pegunungan Koat Cong San terletak di sebelah tenggara propinsi Cek-kiang, dan lebih dari seribu lie dari propinsi Hunan, Karena memikirkan keselamatan Su-hengnya, mereka terus-menerus melanjutkan perjalanannya siang dan malam, Dengan pengalamannya dan pim-pinannya, mereka dapat berjalan lebih cepat, dan setelah lebih dua puluh hari mereka telah tiba di perbatasan propinsi Cek-kiang di suatu distrik Sian Kie Hian.

Distrik Sian Kie Hian terletak di kaki gunung Koat Cong San dan agak terpencil, tapi kedai-kedai dan rumah-rumah penginapan cukup banyak. Setelah tiba di distrik itu Giok Cin Cu mencari sebuah rumah penginapan - Giok G'h Cu dan Bee Kun Bu masing-masing memakai sebuah kamar, dan Lie Ceng Loan dengan Liong Giok Pin bersama-sama di sebuah kamar, Lalu mereka memesan makanan dan minuman,

Setelah selesai makan dan minum, Giok Cin Cu berkata: "Besok kita berangkat masuk ke pegunungan Koat Cong San, pegunungan itu luasnya lebih dari seribu lie, dan banyak sekali puncak-puncaknya dengan jurang-jurangnya yang curam dan berbahaya, Untuk mencari orang di pegunungan itu tidaklah mudah, dan kita pun tidak mengetahui berapakah lamanya kita akan berada di pegunungan itu. Malam ini lebih baik

siang-siang tidur agar dapat beristirahat secukupnya, Besok pagi-pagi sekali kita dapat berangkat.

Pesan itu diterima dengan khidmat, lalu mereka semuanya masuk ke kamar untuk tidur. Selama perjalanan yang berlangsung dua puluh hari lebih, Lie Ceng Loan selalu berada di samping Liong Giok Pin, dan ia menceritakan segala-galanya kepadanya. Malam itu setelah mereka makan dan minum, mereka pun tidak segera tidur Dengan duduk berhadap-hadapan di dalam kamar, Lie Ceng Loan bertanya: "Cici, jika aku masuk partai Kun Lun, apakah aku juga harus menjadi rahib perempuan?"

Liok Giok Pin menyahut sambil tertawa: "Belum tentu, itu terserah atas kemauan kau sendiri Tapi murid-murid dari partai Kun Lun kebanyakan memang menjadi pendeta atau rahib wanita,"

Lie Ceng Loan tidak segera melanjutkan pembicaraannya, ia menarik napas panjang, lalu berkata: "Sebetulnya aku ingin kawin, Tapi jika aku menjadi rahib perempuan, tentu aku tak dapat sering-sering bermain dengan kakak Kun Bu. Oleh karena itu, aku minta Cici menolong aku jika perlu."

Perkataan itu diucapkan dengan setulus hati Liong Giok Pin terharu, dan sambil mengusap-usap rambutnya, ia berkata: "Cici akan menolong kau, Tapi Suhu tak dapat memaksamu kawin, itu terserah kepada kemauanmu sendiri.

Dengan tertawa yang dipaksa-paksa Lie Ceng Loan berkata: "Kakak Kun Bu sangat baik budinya, Apakah Cici menyukainya?"

Pertanyaan itu menyebabkan muka Liok Giok Pin merah dan kepalanya pusing. Tapi karena ia paham bahwa Lie Ceng Loan seorang gadis yang murni dan jujur, ia tak tersinggung. ia balik menanya: "Jika kakak Ku Bu-mu bermain-main dengan gadis lain, bagaimanakah perasaanmu?" Lie Ceng Loan duduk terpaku, kepalanya menjadi pusing, kedua matanya terbelalak mengawasi wajah Liok Giok Pin, Lalu ia menyahut:

"Jika ia tetap baik kepadaku, aku tak pusing, Tapi jika ia berubah terhadapku, dan tidak menyukaiku lagi, aku kira pereuma juga aku hidup!" Dengan tak terasa olehnya, air matanya berlinang di kedua matanya, dan mengucur jatuh ke atas pakaiannya, Untuk menghibur Liong Giok Pin memeluknya dan berkata: "Aku yakin kakak ku Bu-mu tetap mencintai kau, dan tak akan berubah hatinya, Ayolah kita tidur!" Tapi Lie Ceng Loan menyahut: "Cici tidurlah kau dahulu, aku hendak pergi menemui kakak Kun Bu dan menanyakan apakah hatinya dapat berubah atau tidak di kemudian hari." liong Giok Pin terkejut, dan mencoba menahan, tetapi gadis tersebut telah keluar dari kamar menuju ke kamar Bee Kun Bu.

Bee Kun Bu juga belum tidur ia sedang duduk di dalam kamarnya, Ketika Lie Ceng Loan masuk, ia pun terkejut ia buru-buru menyambut dan menanyai "Apakah sebabnya, maka kau juga belum tidur?"

Si gadis menanyai "Kakak Kun Bu, apakah bisa berubah hatimu terhadap aku?"

Bee Kun Bu terpaku, lalu menanya: "Mengapa kau bertanya demikian? Hatiku tak akan berubah. Ayo, lekas pergi tidur!"

Lie Ceng Loan menyusut air matanya, dengan tersenyum keluarlah ia dari kamar itu sambil berkata: "Kakak Kun Bu, kau betul-betul baik. " Apa yang sedianya akan diucapkannya,

pasti lebih kuat dari sumpah apapun juga,

Ular dan Bangau bertempur menginsyafkan Bee Kun

Bu

Pada esok paginya, keempat orang itu meninggalkan

distrik Hian Kie Shien menuju ke kaki pegunungan Koat Cong San. Betul Giok Cin Cu telah lama berkecimpung di kalangan Kang-ouw, akan tetapi di pegunungan Koat Cong San yang luas itu, tak ubahnya ia seperti sebuah perahu kecil di tengah- tengah samudera yang luas dan besar, Jurang-jurang yang curam dan berbahaya, puncak-puncak yang tinggi dan ganjil- ganjil bentuknya, dan hutan-hutan yang lebat menakjubkan sekali.

Lagi pula Hian Ceng Totiang tidak memberitahukan ke bagian yang manakah ia hendak pergi. Meskipun Giok Cin Cu sangat pintar dan cerdas, akan tetapi ketika ia berada di lereng gunung itu, ia pun menjadi cemas, Tidaklah dapat diketahui dimanakah jalan gunung yang berliku-liku itu berakhir Mula-mula mereka masih dapat menjumpai dua atau tiga orang penebang kayu, Kemudian tidak kelihatan lagi sebuah jalan kecil pun.

Dengan ilmu meringankan tubuh mereka dapat mendaki lereng gunung yang curam itu dengan mudah sekali, Ketika mereka telah melewati beberapa puncak yang tinggi, matahari telah berada di sebelah Barat Mereka beristirahat di tepi sebuah batu gunung yang besar, dan mengeluarkan makanan dari bungkusan masing-masing, Kemudian Giok Cin Cu mendaki sebuah puncak gunung yang curam di sebelah kanan.

Dengan ilmu meringankan tubuhnya dalam sekejap saja ia telah sampai setinggi beberapa ratus depa. Lie Ceng Loan sangat kagum akan kepandaiannya menyaksikan bagaimana caranya ia mendaki puncak gunung, dan ia berseru: "llmu meringankan tubuh Suhu betul-betul lihay, Aku ingin belajar sampai selihay itu pula!" Bee Kun Bu berkata: "Jika kau ingin betul-betul mempelajari ilmu, kau jangan malas-matas.

Dengan ketekunan kau pasti berhasil mempelajarinya." Sambil tersenyum Liong Giok Pin berkata:

"ilmu dalam maupun luar dari Loan Sumoy sudah mempunyai dasar yang baik, Dengan tubuhnya yang langsing, dalam waktu tiga tahun ia tentu dapat mempelajari ilmu meringankan tubuh maupun ilmu silat lain-lainnya, dari Suhu, ia hanya harus dengan tekun mempelajari nya, dan Bee Sutee harus senantiasa memberi anjuran kepada nya," Muka Bee Kun Bu menjadi merah dan ia pun tak dapat lagi menjawab, ia menoleh ke dalam sebuah jurang, sedang Lie Ceng Loan menoleh ke udara mengawasi awan yang terapung-apung di ang-kasa, sekonyong-konyong Bee Kun Bu terkejut dan berseru, Liong Giok Pin dan Lie Ceng Loan segera menoleh ke bawah jurang, Di bawah jurang yang curam itu tampak oleh Bee Kun Bu seekor ular yang panjangnya lebih kurang dua depa sedang bertarung dengan seekor bangau putih, Ular hitam dengan sisiknya yang berkilau-kilauan itu sedang melingkar menanti kesempatan untuk menyerang, Ba-ngau putih itu juga pun luar biasa besarnya, mungkin tiga atau empat kali lebih besar daripada bangau biasa, Jeng-gernya merah seperti api dan ia sedang berputar-putar di udara menanti kesempatan menyerang ular yang melingkar di bawahnya,

Tiba-tiba ular itu melonjak ke atas menyambar bangau putih itu, akan tetapi bangau putih itu dengan gesit segera terbang lebih tinggi Yang ganjil ialah ketika tiap-tiap kali bangau putih itu menyerang dengan paruhnya, ular besar itu menyemburkan uap beracun, Bangau putih itu segera terbang lebih tinggi untuk menghindarkan uap beracun itu, lalu terbang turun untuk menyerang lawannya kembali Kedua binatang tersebut bertarung dengan dahsyatnya selama lebih kurang seperempat jam, dan rupanya ular itu tak dapat lebih bertahan ia ingin melarikan diri ketika bangau terbang ke atas untuk menghindarkan uap beracunnya, tapi bangau itu lebih cepat lagi menyerangnya

Bee Kun Bu memperhatikan sikap bangau itu, Dilihatnya bahwa bangau putih itu sengaja memancing supaya ular itu menyemburkan uap beracunnya, dan ia sendiri membuka mulutnya untuk menghisap uap racun itu, lalu kemudian menyerang kembali Pada suatu ketika, ular hitam itu melonjak ke atas dan menyambar dengan gigi racunnya, Bangau putih itu memukul dengan sayapnya yang besar, lalu mencakar kepala ular itu dengan kukunya, PukuIan dan cakaran itu dilakukan demikian cepatnya sehingga tampak ular tersebut terangkat dari tanah ke udara, lalu jatuh kembali ke tanah dengan tidak bergerak lagi!

Setelah membunuh ular besar itu, bangau tersebut merobek perut ular itu dengan kuku-kukunya untuk makan empedu ular itu. Kemudian dibentangkannya kedua sayapnya, lehernya dilonjongkan dan terbanglah ia ke atas sambil menjerit Bangau itu terbang berputar-putar di atas Bee Kun Bu dan kawan-kawannya, dan tampaklah oleh mereka bahwa sayap bangau itu lebih kurang lima kaki panjangnya, Di pegunungan Kun Lun, Liong Giok Pin sering melihat burung atau binatang yang ganjil dan luar biasa, akan tetapi bangau itu adalah untuk yang pertama kali dilihatnya

Seluruh bulunya putih laksana salju, jengger merahnya sebesar tinju manusia, paruhnya yang panjang keras seperti baja, dan kuku-kukunya yang tajam seperti gaetan besi.

Karena khawatir kalau-kalau burung itu datang menyerang, Bee Kun Bu dan kawan-kawan nya bersikap waspada, Tapi setelah berputar-putar di atas mereka, bangau tersebut terbang ke arah timur Setelah tak kelihatan lagi, Lie Ceng Loan menarik napas panjang, lalu berkata: "Ai! bukan main besarnya bangau putih itu. jika dapat kutunggangi pasti aku dapat dibawanya naik ke langit!"

Ketika itu Bee Kun Bu sedang memikirkan cara bangau putih itu bertempur, sedangkan Liong Giok Pin merasa kasihan pada ular hitam yang telah binasa ttu. Ular itu pasti berusia ratusan tahun karena demikian benar panjangnya, Suhunya pernah memberitahukan dan jika dibuat untuk bahan baju, ia dapat menghindarkan segala macam senjata tajam, dan sangat disegani oleh para jago-jago silat di kalangan Bu Lim, Hanya saja untuk mencarinya amat sukar

Bee Kun Bu yang tengah memikir cara-cara bangau putih itu bertempur, dengan tidak sadar mencoba meniru gerak- gerik bangau putih tadi. Diangkatnya lengan kirinya ke atas, dan menerkam ke depan dengan lengan kanannya, Lie Ceng Loan memperhatikan gerak-geriknya, dan ingin menegur Tapi sekonyong-konyong didengarnya Giok Cin Cu menegur dengan suara rendah: "Jangan ganggu ia!" Lie Ceng Loan terkejut dan bertanya "Suhu, apakah yang sedang dilakukannya?"

"la sedang berlatih silat ia sangat cerdas, dan ia ingin belajar dari apa saja yang dianggapnya akan berguna. Tidak heran jika Toa suhengku mengajari ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam kepadanya, Mungkin juga partai Kun Lun kita akan terkenal karena ia," menjelaskan Giok Cin Cu. Karena ia sendiri telah jatuh hati kepada Hian Ceng Totiang, tapi impiannya itu tak terkabul merasa simpati terhadap Lie Ceng Loan yang telah jatuh hati terhadap Bee Kun Bu. ia akan berusaha agar mereka berdua dapat mengikat tali perjodohannya, dan agar Lie Ceng Loan tidak akan mengalami nasib seperti ia. ia menjadi sayang sekali kepada Lie Ceng Loan yang cantik jelita itu, Tapi... manusia berusaha, dan Tuhan berkuasa, Kadang-kadang idam-idaman itu hanya impian belaka!

"Kau jangan bicara, Lihat betapa tekunnya ia berlatih silat," Giok Cin Cu menasehati Lie Ceng Loan. Setelah Bee Kun Bu meniru cara bangau putih menerkam mangsanya berkali-kali, masih belum juga dapat rupanya ia memahaminya. Ditariknya napas panjang-panjang, dan berhenti ber!atih. Ketika melihat Susioknya, (paman atau bibi gurunya) yang walaupun telah berusia hampir setengah abad, tapi masih tetap cantik seperti baru berusia tiga puluh tahun lebih, ia lekas-lekas memberi hormat kepadanya, dan bertanya: "Susiok, jurus apakah yang baru saja kulakukan?"

"Mula-mula kukira kau sedang melakukan jurus Cek Sou Pok Liong atau tangan telanjang menangkap naga dari ilmu silat tinju Tian Kong Cong. Tapi kiranya bukan. Dari mana kau belajar jurus tersebut?" kata Giok Cin Cu.

"Baru saja aku telah menyaksikan cara seekor bangau putih yang luar biasa besarnya menerkam seekor ular hitam dan berbisa dan yang juga luar biasa panjang dan besamya. Aku lihat bahwa bangau itu dengan sekali terkam saja dengan kuku-kukunya telah dapat membunuh mati ular tersebut.

Rupanya memang seperti jurus Cek Sou Pok Liong dari ilmu silat Tian Kong Cong. Teecu telah mencoba menirunya dan berlatih, akan tetapi masih juga belum memahami nya," sahut Bee Kun Bu,

"Sayang sekali aku tak menyaksikan Tadi aku menyaksikan kau berlatih dengan kedua tangan menyambar dan menerkam dengan serentak, aku yakin jika jurus itu dipahami betul-betul, besar sekali manfaatnya," kata Giok Cin Cu selanju tnya, "Sebetulnya tiap-tiap jurus dari ketiga pukulan enam jurus-jurus dari ilmu silat tinju Tian Kong Cong, telah banyak memakan jerih-payah angkatan tua kita untuk membuat supaya jurus-jurus itu lihay sekali Dan jika kau sendiri berhasil menciptakan jurus baru, dan menambah jurus Tian Kong Cong menjadi tiga puluh jurus, bukankah kau juga akan berjasa bagi partai Kun Lun kita?"

Anjuran itu diperhatikan sekali oleh Bee Kun Bu. Ketika itu, Liong Giok Pin yang juga seperti Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan, tak mengetahui bahwa Giok Cin Cu telah kembali entah dari mana, tampil di hadapan gurunya dan bertanya: "Suhu, coba lihat ular hitam itu. Apakah itu bukan ular hitam yang bersisik besi? Baru saja ia bertempur melawan seekor bangau putih, dan dari mulutnya tak berhenti-hentinya menyembur keluar uap beracun." Giok Cin Cu memperhatikan ular hitam yang mati itu, ia terkejut. Ular itu betul ular hitam yang bersisik besi, tapi alangkah besar dan panjangnya! ia belum pernah melihat ular sebesar dan sepanjang itu! "Ayo! kita turun melihat dari dekat!" perintahnya,

Segera mereka berempat, setelah mendapat tempat yang baik meloncatlah mereka ke bawah melewati banyak batu- batu, karang-karang dan pohon-pohon tanpa kesukaran, Setelah tiba di bawah, Giok Cin Cu mencari sebuah batu gunung, dan dengan sebuah tendangan, terlontarlah batu itu ke tubuh ular tersebut Batu itu seakan-akan membentur baja, karena ular itu tergerak, tapi batunya telah hancur menjadi potongan-potongan kecil, Kulit ular itu sedikitpun tak luka.

Mereka menghampiri ular yang telah mati itu, Giok Cin Cu tertawa dan berkata: "Kita beruntung sekali Kita telah memperoleh benda yang sangat berharga sekali! Cobalah kamu cabut pedangmu, dan pancung tubuh ular ini!" Bee Kun Bu segera mencabut pedangnya, lalu memancung dengan sekuat tenaganya sampai tiga kali, tapi sedikitpun tubuh ular itu tidak luka, sedangkan mata pedangnya menjadi tumpul ia terpesona dan menjadi bisu. Giok Cin Cu mengambil pedang Bee Kun Bu. Dengan pedang itu dibalikkannya tubuh ular itu, Kemudian dengan mengikuti garis putih di bagian perut ular itu, dibelahnya perut itu dengan ujung pedang.

Lalu keluarlah darah yang amis sekali baunya, Kemudian mereka berempat sibuk mencuci kulit ular itu sampai bersih. Giok Cin Cu berkata: "Ular hitam yang berbisa ini sangat ganas. Uap beracun yang disemburkan nya dapat segera memabukkan dan memingsankan orang. Kulitnya sangat berharga sekali, dan sangat disukai oleh para jago silat di kalangan Kang-ouw, karena jika baju dibuat dari kulit itu, maka segala senjata tajam tidak dapat menusuk atau melukainya, Baru pertama kali inilah aku melihat ular sebesar ini." Lalu dilipatnya kulit itu dan kemudian diperintahkannya semua naik kembali ke puncak gunung.

Giok Cin Cu telah mendengar bahwa peta Cong Cin To terletak di dekat puncak Peh Yun Giam. Betul Peh Yun Giam belum pernah didakinya, tapi menurut pendapatnya, puncak itu seharusnya senantiasa diliputi oleh awan-awan putih, Dari pada berjalan tanpa tujuan, lebih baik jika mereka menuju ke suatu puncak di sebelah tenggara yang diliputi oleh awan- awan putih begitulah pikiran Giok Cin Cu. Dipimpinnya ketiga murid-murid-nya ke arah puncak di sebelah tenggara, Di sepanjang jalan Lie Ceng Loan masih saja berpikir tentang bangau putih tadi, ia bertanya kembali pada Bee Kun Bu: "Ba- ngau yang tadi itu besar sekali, Aku ingin menung-ganginya." Bee Kun Bu menyahut sambil tersenyum: "Nanti jika ia kujumpai kembali, akan kutangkap untukmu !"

"Bangau itu terbangnya pesat sekali Cara bagaimanakah kau dapat menangkapnya?" tanya Lie Ceng Loan, pertanyaan tersebut memerankan muka Bee Kun Bu. sebetulnya jawaban tadi hanya untuk menghibur saja, tapi si gadis menganggapnya dengan sungguh-sungguh. "Betul, aku tak dapat menangkapnya," sahutnya,

"Bu Koko, kau tak usah merasa kecewa, akupun tak ingin menunggangi bangau itu," menghibur Lie Ceng Loan, Sambil tersenyum Bee Kun Bu berkata: "Baiklah, tapi aku akan menangkapkan yang kecil untukmu."

"Kau harus tangkap dua ekor, kau juga perlu mempunyai seekor, bukan?" Lie Ceng Loan berkata sambil mengirimkan kasihnya melalui pandangan ke arah wajah Bee Kun Bu.

Pada malam itu mereka bermalam di atas gunung di bawah sebuah pohon yang besar, Pada waktu fajar, mereka berangkat lagi, dan tiba tengah hari di tengah-tengah pegunungan Koat Cong San. Dengan jurang-jurang yang curam di sekitar mereka, suara air terjun dari berbagai sudut, suasana yang sunyi senyap, mereka merasa seolah-olah berada di dunia lain, Mereka harus berjalan terus jika matahari masih menerangi tempat itu, dan sudah berapa banyaknya puncak-puncak gunung yang telah mereka lewati, tapi puncak yang senantiasa diliputi oleh awan-awan putih masih juga belum tampak, Giok Cin Cu menjadi cemas.

Apakah pegunungan Koat Cong San tak ada batasnya?

Pada waktu senja, dengan tiba-tiba terdengar raungan seekor binatang buas menggema di daerah pegunungan itu. Mereka mengawasi dari mana datangnya suara itu. Di salah sebuah sisi sebuah puncak tampak oleh mereka sejauh kira-kira lima depa sebelah atas, seekor singa sedang berjalan, Singa itu berhenti ketika melihat mereka, dan mengawasi dengan kedua matanya yang besar.

Tiba-tiba singa itu meloncat ke bawah hendak menerkam mereka, Giok Cin Cu menantikan singa itu sampai dengan tenang, Lalu dengan tenaga dalamnya ia siap untuk mengirim tinjunya, sementara itu, Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan dan Liong Giok Pin masing-masing telah mencabut pedang-pedangnya dan berdiri berdamping-dampingan siap menghadapi segala kemungkinan Tapi, setelah singa itu meloncat sampai di hadapan mereka, ia berbalik dan lari kabur Giok Cin Cu heran menyaksikan singa yang dapat julukan raja hutan menjadi demikian takutnya melihat mereka, dan segera kabur, Belum lagi ia dapat mencari sebab-sebabnya, tiba-tiba dari atas terdengar jeritan seekor bangau, Mereka menoleh ke atas. Betul saja seekor bangau yang besar dan berjengger merah sedang terbang turun ke arah mereka, Lie Ceng Loan bertepuk tangan dan berseru: "Bu Koko, bangau yang kemarin datang lagi!"

Kira-kira seratus depa lagi jauhnya dari mereka, bangau itu membelok ke arah larinya singa tadi, di jalan antara dua jurang yang sempit