Bangau Sakti Jilid 01

 
Jilid 01

Di antara kebun raya To Hoa Goan di sebelah Utara propinsi Hunan, ketika bunga-bunga Bwee sedang mekar nya, tiba-tiba keluarlah dari hutan pohon-pohon Bwee tersebut seorang gadis yang berpakaian merah dan memegang seikat bunga-bunga Bwee di tangan kirinya. Gerakannya sangat lincah ketika ia berjalan dari hutan pohon-pohon Bwee itu menuju ke tepi sungai Gadis itu berparas cantik, dan pakaiannya yang dari sutera merah itu menyebabkan lebih cantik lagi kelihatannya,

Setelah ia tiba di tepi sungai dipetiknya beberapa tangkai bunga-bunga Bwee yang sedang dipegangnya dengan tangan kirinya dan dilemparkannya ke dalam sungai yang mengalir dengan sangat derasnya itu. Pada saat itu dari hulu sungai datanglah sebuah perahu dengan laju sekali karena didorong oleh arus air yang deras itu.

Di atas perahu itu berdiri seorang pendeta yang berusia enam puluh tahun lebih, berjubah abu-abu, dengan wajah yang menampakkan kemurahan hatinya, setelah melihat pendeta itu, dengan tegas gadis itu berseru dengan suara yang nyaring: "Suhu (guru)..." lalu melemparkan seikat bunga- bunga Bwee ke dalam sungai ia menghantamkan ujung jari kakinya ke tanah, dan secepat kilat meloncatlah ia ke atas perahu itu setelah menyentuh terlebih dahulu dengan ujung jari kakinya, ikatan bunga-bunga yang terapung di atas sungai ia meloncat dari tepi sungai ke samping pendeta itu dengan gesit sekali pendeta tua itu tertawa dan berkata: "Gadis berusia tujuh belas tahun, mengapa demikian nakalnya!" Lalu diambilnya jangkar besi dan dilemparkannya ke tepi sungai.

Tenaga pendeta tua itu betul-betul amat menakjubkan, karena baru saja gadis itu berada di sampingnya, jangkar besi itu telah dilemparkannya ke tepi sungai dan terpancang di dalam tanah di tepi sungai itu, Lalu dengan mengibaskan lengan bajunya, pendeta tua itu meloncat ke tepi, walaupun jarak dari perahu ke tepi sungai itu masih lima depa lagi jauhnya.

Setelah berada di tepi sungai, pendeta tua itu melihat bahwa gadis itu juga ingin meloncat ke tepi sungai, Rupanya gadis itu kurang cukup mengeluarkan tenaganya Agaknya ia akan kecemplung ke dalam sungai, akan tetapi lekas dibentangkannya kedua lengannya ke atas, dan ia pun melonjak ke atas lalu mendarat di samping pendeta tua itu! Sambil tertawa ia berkata: "Suhu, bagaimana pendapat Suhu tentang ilmu burung walet terbang di udara?" pendeta tua itu menyahut sambil tersenyum: "Kau telah peroleh kemajuan Tetapi tenaga yang kau curahkan masih kurang, Jika kau berada di dalam kepungan musuh, loncatan serupa tadi itu tak akan berhasil untuk membebaskan dirimu dari kepungan

Mendengar celaan itu gadis tersebut rupa-rupanya tidak gembira, dan ia diam tidak bicara lagi Si pendeta tua mengerutkan keningnya, dan berpikir "Aku tak dapat memanjakannya terus-menerus, Ada baiknya aku cela ia pada kesempatan ini agar ia dapat mengerti maksud baik dari celaan itu, Jika sifat kepala batunya telah dapat dibasmi, maka mudahlah bagiku untuk mengajarnya Jika aku melihat parasnya yang cantik dan sikapnya yang menawan hati, aku teringat akan ibunya pada tiga puluh tahun yang lalu dan aku menjadi sedih, Tak sampai hatiku mencelanya lagi" Dan dengan tak disadarinya, berkatalah ia dengan suara rendah: "Loan Jie, mari sini!"

Gadis yang sedang menahan kemarahannya itu menoleh ke arah pendeta tua itu ketika mendengar teguran itu, ia melihat mata pendeta tua itu berlinang-linang. Terkejutlah ia dan cepat-cepat ia berlutut di hadapannya Sambil menangis ia berkata: "Suhu, jangan marah, Loan Jie tak akan bersikap angkuh lagi terhadap Suhu, Mohon Suhu sudi memaafkan." Pendeta tua itu lalu mengangkatnya sampai berdiri dan berkata sambil tersenyum: "Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun. ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoatnya tak ada taranya di kolong langit Untuk melatih ilmu silatmu, aku telah berjanji dengan dia untuk tukar menukar mengajar mu-rid- murid masing-masing. ialah yang akan berhasil mempelajari ilmu silat pedang tersebut agar kau sendiri dapat membalas dendam ibu-bapakmu " ia berhenti, mengerutkan keningnya,

dan tak bicara lagi ia terkenang lagi pada kisah yang lampau.

Si gadis merasa cemas melihat Suhunya tidak berbicara lagi Dipegangnya tangan pendeta tua itu, dan dengan suara yang ramah ia menghibur "Suhu, jangan bersedih hati lagi Loan Jie telah berjanji tak akan menyedihkan Suhu lagi." ia teringat suatu soal, dan bertanya: "Suhu, baru saja Suhu berbicara tentang ibu-bapakku, Soal itu selalu menjadi buah pikiranku, tetapi Suhu tidak sudi menceritakan tentang kelahiranku Aku tak ingat sedikit pun tentang ibu-bapakku, jika Suhu tidak menceritakannya, Loan Jie betul-betul merasa sedih." Air matanya pun mengucur keluar dari kedua matanya.

Wajah pendeta tua itu menjadi sedih. Diusap-usapnya rambut gadis itu dan berkata: "Soal itu akan kuceritakan juga kelak kepadamu, Hanya waktunya belum tepat, Aku menghendaki agar kau mempelajari ilmu pedang Hun Kong Kiam Sut dulu dari paman gurumu Hian Ceng Totiang. "

Ketika pembicaraan mereka sampai di situ, pendeta tua itu melihat seorang pemuda bertubuh tegap, berwajah tampan dan berpakaian hijau berjalan keluar dari kebun pohon-pohon Bwee, Dihampirinya pendeta tua itu, lalu sambil membungkukkan tubuh memberi hormat, berkatalah ia: "Guruku mengetahui bahwa Ngo KongSu Pek akan datang menyambut Teecu tidak menduga Su Pek telah tiba."

Si pendeta tua berkata sambil tertawa: "Selama tiga bulan Loan Jie mungkin telah berbuat kenakalan dan mengganggu gurumu Ceng Siu."

Cepat-cepat pemuda itu menggoyangkan tangannya dan menyahut: "Ceng Loan Sumoy sangat pintar dan cerdas, ia telah mempelajari ilmu silat dari Ngo Kong Su Z Pek. Guruku sering berkata bahwa kemajuannya di kemudian hari tak akan terhingga, Teecu ini bodoh. Selama tiga bulan telah berlatih silat bersama-sama Ceng Loan Sumoay, dan Teecu memperoleh banyak manfaat dari-padanya, Bagaimanakah dapat dikatakan ia mengganggu?" Si gadis mendengar ia dipuji merasa gembira, dan wajahnya yang sedih tadi lenyap, berubah menjadi berseri-seri. ia mengawasi pemuda itu, yang tak berani mengawasinya kembali

Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, pendeta tua itu menarik napas dan berpikir "Setelah Loan Jie berjumpa dengan pemuda ini, ia sering-sering mengajak aku datang ke kuil San Ceng Koan dengan alasan memetik bunga-bunga Bwee. Aku insyaf bahwa Loan Jie telah jatuh cinta pada pemuda ini, jika aku ingat akan masa muda ku, aku pun pernah menghebohkan karena asmara, Tetapi aku beruntung dapat menjumpai seorang sakti, guna mempelajari ilmu silat yang luar biasa. Ya... kisah-kisah yang lampau laksana impian, Selama dua puluh tahun aku menjadi pendeta dan sembahyang di hadapan Hut-cu, Tapi aku tak dapat menghilangkan kenang-kenangan itu. Hampir tiap-tiap malam aku berjumpa dengannya di dalam mimpi. Kini ia telah meninggal dunia karena dicelakakan orang. Ketika ia hendak menarik napas yang penghabisan ia mengatakan bahwa Loan Jie adalah puterinya, Aku harus menjaga Loan Jie baik-baik demi untuk kenang-kenangan. " Ketika itu keringat keluar dari

seluruh tubuhnya, Matahari pun sudah condong ke sebelah Barat, dan melalui hutan pohon-pohon Bwee menyorot muka Ceng Loan yang masih mengawasi pemuda itu. pendeta tua itu pun mengawasi pemuda itu dan berpikir "Hian Ceng telah pilih pemuda ini sebagai murid, sebetulnya pemuda ini luar biasa. Hati Loan Jie yang cantik jelita telah tertawan padanya, akan tetapi ia seakan-akaa tak tertarik pada Loan Jie!"

Pada saat itu pemuda berpakaian hijau itu membungkukkan tubuhnya memberikan hormat lagi, dan berkata: "Guruku telah menanti Su Pek (paman guru) di kamarnya. Mohon Su Pek datang ke kuil." Si pendeta tua menganggukkan kepalanya dan mereka bersama-sama menuju ke kuil San Ceng Koan dengan jalan melalui hutan pohon-pohon Bwee,

Ketiga orang itu baru saja berjalan beberapa tindak, tetapi sekonyong-konyong terdengar oleh mereka suara jeritan yang nyaring seperti juga seekor burung terluka dan menjerit-jerit karena sakit dan sedih sehingga menyebabkan bulu roma berdiri Ngo Kong Toa-su mengerutkan keningnya, dan Ceng Loan beserta pemuda berpakaian hijau itu juga telah berhenti dan berdiri tegak, jeritan itu kedengaran makin lama makin dekat. Ketika suara jeritan tersebut berhenti, terdengar oleh mereka suara senjata yang saling beradu seakan-akan dua orang sedang bertarung dengan menggunakan senjata tajam.

Pemuda yang berpakaian hijau mengerutkan kening dan berpikir: "Tempat di luar kuil San Ceng Koan maupun di tepi sungai Goan Kang senantiasa aman dan tenang, Suara itu rupanya dari tepi sungai Masa perampok-perampok berani datang ke sini dan merampok para saudagar yang kebetulan lewat di sini Aku harus pergi menyelidiki Lalu ia lari ke tepi sungai

Ceng Loan masih saja dimabuk asmara, dan setelah melihat pemuda itu lari ke tepi sungai, ia pun tak dapat menahan diri ia berseru-seru: "Bee Suheng, tunggu aku! Kita pergi bersama-sama!"

Si pemuda berhenti sejenak menunggu Ceng Loan yang berseri-seri wajahnya Tepat pada saat itu, di jalan hutan pohon-pohon Bwee lari keluar seorang yang bertubuh besar dengan berlumuran darah, ia memegang sebuah golok besar, dan di belakangnya mengejar dua orang, Ketiga orang itu pesat sekali larinya, dan sudah hampir mendekati Ceng Loan dan pemuda berpakaian hijau itu.

Orang yang mengejar paling depan mengeluarkan pisau perak dan melemparkannya ke punggung orang yang dikejarnya itu. Meskipun sudah luka dan kena senjata rahasia, orang yang dikejar itu masih berusaha lari secepat-cepatnya. Ketika melihat si gadis dan si pemuda, orang yang dikejar itu berteriak: "Lekas-lekas panggil kepala kuil San Ceng Koan!"

Pada saat itu ia berteriak, ia telah tertangkap, dan dipukul oleh kedua orang yang mengejarnya, Orang yang bertubuh besar itu tak dapat bertahan lagi ia jatuh ke tanah, dan darah mengalir keluar dari mulutnya,

Pemuda berpakaian hijau yang menyaksikan dahsyatnya tinju-tinju kedua orang yang mengejar itu, juga terkejut ia telah mendengar orang yang jatuh itu menyuruhnya lekas-lekas memanggil kepala kuil San Ceng Koan, gurunya, ia menduga bahwa orang itu ada hubungannya dengan gurunya.

Dengan tidak memikirkan akan akibatnya, ia meloncat dan berdiri di hadapan orang-orang yang sedang memukul orang yang bertubuh besar itu, Kedua pengejar-pengejar itu telah melihat bahwa orang yang bertubuh besar itu telah kena jarum Liong Si Cin (kumis naga) dan tinju Pai San Cong (menggempur gunung), dan yakin orang itu tak akan dapat melarikan diri lagi Mereka berhenti memukul dan menghadapi pemuda itu.

Pemuda yang berpakaian hijau bernama Bee Kun Bu. ia adalah murid kesayangan Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan, dan Hian Ceng Totiang adalah salah seorang dari ketiga guru-guru partai Kun Lun yang termasyhur dengan ilmu pedang Hun Kong Kiam (memancarkan sinar) dan ilmu silat tinju Tian Kang Cong (meninju bintang-bintang di langit) di kalangan Bu Lim, Bee Kun Bu telah tinggal bersama gurunya, Hian Ceng Totiang selama dua belas tahun dan telah mempelajari hampir semua ilmu silat partai Kun Lun.

Dengan berdiri tegak Bee Kun Bu mencegah kedua orang itu. Ketika ia mengawasi wajah kedua orang. itu, ia pun terkejut ia melihat bahwa kedua orang itu berusia lebih dari lima puluh tahun, Yang seorang mempunyai alis mata yang merupakan huruf M, matanya berbentuk segi tiga, mukanya hitam di sebelah kiri dan putih di sebelah kanan, dan rambutnya hanya tiga dini panjangnya.

Yang seorang lagi, mukanya agak putih, akan tetapi pucat pasi seperti mayat dan berkumis kuning, Keduanya berjubah kain goni dan bersandal kain goni pula, Pada umumnya rupa keduanya membangkitkan perasaan seram!

Ceng Loan melihat Bee Kun Bu maju seorang diri, merasa khawatir kalau-kalau ia tak dapat meladeni kedua orang itu. ia meloncat maju, tetapi ketika melihat rupa kedua orang itu, ia pun merasa seram! Lalu orang yang bermuka belang itu bertanya dengan mengejek: "Kamu ini, pemuda dan pemudi, apakah hubunganmu dengan kuil San Ceng Koan? Ayo! Lekas-lekas enyah! jangan merintangi kami!"

Bee Kun Bu sangat waspada, karena ia tadi telah menyaksikan betapa dahsyatnya tinju kedua orang itu, ia menduga, bahwa kedua orang ini, jika bukan perampok- perampok besar, tentunya jago-jago silat Sebelum ia memperoleh sesuatu keterangan ia pun tidak ingin mencari kerusuhan, Apalagi kedua orang itu bukan musuhnya. ia bermaksud merintangi perbuatan kejam dari kedua orang itu dengan jalan memberi peringatan, sambit mengulur waktu sampai gurunya datang.

Lalu dengan suara rendah ia berbisik pada Ceng Loan: "Loan Sumoay, kau lekas-lekas pergi minta Su Pek datang." Ceng Loan menganggukkan kepalanya, lalu lari memanggil Suhunya, Kemudian sambil membungkukkan tubuh, dengan ramah Bee Kun Bu berkata kepada kedua orang yang ganjil itu: "Hamba adalah murid dari San Ceng Koan, Hamba ingin mengetahui nama-nama kedua Bapak ini, agar hamba dapat menyampaikan kepada guru hamba, bahwa ada tamu-tamu datang."

Kedua orang ganjil itu telah menerka maksud Bee Kun Bu, dan dengan tertawa si muka belang mengejek: "Kau ini banyak akal. Apakah kau kira dengan menggunakan nama Hian Ceng Totiang kau dapat menakut-nakuti kita?!" Belum lagi selesai ia bicara, si muka pucat meneruskan: "Lote, mengapa kau banyak bicara." Lalu ia menerkam orang yang bertubuh besar yang menggeletak di tanah, Bee Kun Bu tak dapat menyabarkan dirinya.

Dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya, dirintanginya si penerkam dengan ilmu Heng Kang Cai Tou atau melangkah lebar untuk mengambil bintang, "Buk!" terdengar suara dari dua tenaga yang beradu! Tubuhnya Bee Kun Bu terdorong mundur lima atau enam kaki, dan tubuhnya si muka pucat, yang tidak menduga lihaynya Bee Kun Bu, juga terdorong mundur tiga atau empat kaki, Bee Kun Bu merasa kepalanya pusing, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa orang yang telah terluka dan menggeletak di tanah itu terguling-guling tujuh atau delapan kaki jauhnya, Dengan kedua matanya terbelalak, dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya Kedua orang-orang ganjil itu menyerang lagi dari kiri dan kanan, dan si muka belang membentak: "Kau ini mau mati! jangan menyalahkan kami kejam!" Baru saja Bee Kun Bu dapat merasakan, bahwa ia tak dapat melawan si muka pucat, bagaimanakah sekarang ia dapat melawan mereka berdua? ia bertekad untuk melawan terus, karena ia ingin mengetahui barang apakah yang hendak mereka ambil, dan ia menduga bahwa barang itu tentu ada hubungannya dengan gurunya, Maka ketika ia diserang oleh kedua orang itu, dibentangkannya kedua lengannya dan menangkis dengan sekuat tenaga, Baru saja ia mementangkan kedua lengannya, terdengar olehnya suara orang berseru: "Kun Bu! Lekas mundur! Apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?!" Mendengar seruan itu, Bee Kun Bu buru-buru menarik kembali kedua lengannya, dan dengan ilmu Yan Ceng Cap Pwee Hoan atau "Burung walet melakukan delapan belas putaran", ia meloncat terbang ke atas membebaskan diri dari serangan- serangan dahsyat lawannya! ia membaui hawa yang harum dan punggungnya terdorong ke depan!

Sebetulnya, ketika Bee Kun Bu diserang oleh kedua orang yang ganjil itu, meloncatlah dari udara seorang pendeta dan seorang rahib yang menangkis serangan-serangan kedua orang yang ganjil itu, Tangkisan tersebut dilakukan dengan menggunakan ilmu Pik Kong Cong Lit atau tinju menumbangkan tembok besi sehingga kedua perampok itu terpelanting jauh sekali

Hian Ceng Totiang lalu menghampiri murid kesayangannya dan mengetahui bahwa muridnya telah terluka enteng, Dengan kedua mata terbelalak Hian Ceng Totiang membentak: "Hei! siluman dari sebelah Selatan sungai!

Mengapa kamu mengganggu daerah San Ceng Koan lagi! Mengapa kamu melukai murid-muridku? Aku, meskipun memegang pedang bertahun-tahun, tak pernah mengganggu orang-orang dari kalangan Kang Ouw, Kamu telah menghina dan melukai murid-muridku, apakah kamu ingin memaksa aku untuk menggunakan pedang?!"

Kedua perampok itu belum menyahut, tetapi orang yang menggeletak dan berlumuran darah di seluruh tubuhnya tiba- tiba berusaha bangkit dan sambil menunjuk dadanya ia menjerit "Suhu! Peti surat rahasia Kui Goan. " Sayang

ucapan itu belum habis, si muka pucat melemparkan Hui- tonya (senjata tajam yang pendek) ke tubuh orang yang terluka itu. Hian Ceng Totiang tidak menduga, bahwa siluman itu sedemikian benar kejamnya, ia tak sempat menolong, Hui- to itu terpancang di dada orang yang terluka itu. ia telah kena Liong Si Cin (senjata rahasia kumis naga), dan meskipun ia berusaha menahan dengan tenaga dalamnya, ia pun tak dapat menahan lagi, ia menjerit keras, menarik napas panjang, dan jatuh lagi untuk menarik napas yang penghabisan! Hian Ceng Totiang mengenali bahwa orang yang terbunuh itu adalah Sim Cong, muridnya sendiri yang telah di usir nya dua puluh tahun yang lampau, karena perbuatannya yang rendah, Meskipun demikian, ia merasa sedih menyaksikan kematiannya. ia menjadi gusar sekali, dan menghadapi kedua perampok itu. Tetapi si muka belang telah secepat kilat meloncat menerkam dada Sim Cong yang telah menjadi mayat!

Kali ini, Hian Ceng to Tiang telah siap, ia tidak memberi kesempatan lagi, Sambil menjerit, dengan jurus Hong Lui Kauw Kit atau "Geledek Menyambar di Waktu Badai" ia mendorong dengan kedua telapakan tangannya ke depan ke arah tubuh si muka belang! Ngo Kong Toa-su yang telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa kejamnya kedua siluman tersebut menyerang orang yang telah terluka, juga bukan main marahnya Dengan lengan bajunya dikipaskannya muka si muka pucat dengan ilmu Liu Eng Bu Kong atau "Kunang-kunang Mencari di Angkasa", Hian Ceng Totiang adalah yang sangat ditakuti di kalangan Bu Lim pada dewasa itu, dan dorongan tersebut betul-betul hebat seperti petir. Si muka belang yang sedang menerkam mayat Sim Cong merasakan angin serangan itu, tetapi tak sempat mengelak Dengan tinju kanannya dicoba nya menangkis, Tapi lengannya segera patah dan ia terlempar tujuh atau delapan kaki jauhnya membentur sebuah pohon!

Ngo Kong Toa-su juga menyerang si muka pucat dengan seluruh tenaga, Kebutan lengan baju itu ditahan oleh si muka pucat dengan kedua tinjunya disertai dengan tenaga dalam, Tubuhnya tergetar, dan ia buru-buru menarik kembali tinjunya, akan tetapi terlambat ia merasa seakan-akan dadanya di timpa palu yang beratnya seribu kilo, ia jatuh tertelentang di tanah, dan darah mengalir keluar dari hidung dan mulutnya, Kedua siluman itu telah menderita luka-luka yang hebat sekali di dalam tubuhnya, akan tetapi karena ilmu silat yang sangat tinggi, mereka tidak segera mati, Si muka belang menggunakan ilmu tenaga dalamnya, lalu ia berdiri lagi, Dengan tertawa sebagai orang gila ia berkata: "Hian Ceng Totiang, Ngo Kong Toa-su, serangan-serangan itu hebat sekali, dan kita tak akan lupa, Begitu lama kita masih bernapas, kita pasti datang membalas dendam ini!" Ketika itu si muka pucat juga telah bangkit setelah menahan mengalirnya darah dengan ilmu tenaga dalamnya, Lalu bersama-sama si muka belang, ia lari ke dalam hutan

menjerit-jerit seperti setan-setan menangis, dan dalam sekejap mata saja mereka tak kelihatan lagi,

Lalu Hian Ceng Totiang menghampiri Bee Kun Bu yang menderita sedikit luka, dan Ngo Kong Toa-su yang bermurah hati, juga tak mengejar kedua jahanam yang lari ke dalam hutan, Setelah yakin bahwa Bee Kun Bu tidak menderita hebat, Hian Ceng Totiang menghampiri

Hian Ceng Totiang menampak bahwa di atas kain sutera itu ada lukisan pemandangan gunung, sungai dan sebagainya mayat Sim Cong yang penuh dengan tusukan senjata tajam, dan seluruh pakaiannya basah kuyup oleh darah. ia mengucurkan air mata ketika mengingat bahwa Sim Cong itu adalah bekas muridnya. Lalu diperiksanya dada mayat itu, karena ia ingat bahwa ketika Sim Cong hendak menarik napas yang penghabisan, ia telah mengatakan tentang suatu di dadanya, Betul saja Hian Ceng Totiang menemukan sebuah kotak kecil, yang terbuat dari batu Giok. Kotak itu dibukanya, dan tampaklah sehelai sutera putih yang luasnya lebih kurang satu kaki persegi, dan di atas kain sutera itu ada lukisan pemandangan gunung, sungai dan sebagainya,

Lukisan tersebut memperlihatkan tiga puncak gunung yang berdiri tegak merupakan segi tiga karena sebuah puncak berada di belakang dua puncak yang berdampingan Air terjun mengalir dari puncak yang di belakang dan di tengah.

Hian Ceng Totiang tak dapat menafsirkan arti daripada lukisan di atas kain sutera itu. ia membalikkan kain sutera itu, dan melihat bahwa kain sutera itu terdiri dari dua lapis yang dijahit menjadi selapis, Dibukanya lapisan itu dan diperiksanya di dalamnya, Segera ia merasa seolah-olah jantungnya tertusuk, dan air matanya mengalir keluar!

Agak lama juga mayat Sim Cong diawasinya, Sambil menarik napas panjang ia berkata: "Dengan kesetiaanmu kau telah menunaikan tugasmu, Meskipun kau telah tewas, namun kau tewas sebagai seorang murid partai Kun Lun yang setia. " perbuatan Hian Ceng Totiang membikin Ngo Kong

Toa-su berdiri terpesona,

Bee Kun Bu karena hendak merintangi perbuatan yang kejam dari kedua siluman itu, telah menderita luka di dalam tubuhnya, Beruntung sekali Hian Ceng Totiang cepat tiba untuk menolong, dan ia terluput dari tinju yang maha dahsyat dari kedua siluman tadi, Dan ketika ia terpental ke udara karena angin yang timbul dari tinju yang maha dahsyat itu, Ceng Loan cepat tiba menangkap tubuhnya dan menolong membebaskan jalan darahnya.

Betul Bee Kun Bu telah menggunakan tenaga dalamnya menahan tinju kedua siluman itu, akan tetapi jalan darahnya harus dibebaskan agar ia tidak pingsan. Ketika ia membuka matanya dilihatnya bahwa ia berada dalam pelukan Ceng Loan. Mukanya merah karena malu dan ia cepat-cepat berdiri Melihat Bee Kun Bu telah dapat berdiri, Ceng Loan menjadi gembira dan bertanya: "Bee Suheng, apakah engkau luka?" Bee Kun Bu menganggukkan kepalanya dan menyahut: "Baru saja aku merasa sukar bernapas. Tapi sekarang aku merasa lega, berkat pertolongan Sumoay, Terima kasih." Sambil tersenyum Ceng Loan berkata lagi: "Jika demikian halnya, aku merasa puas."

Lalu mereka menghampiri Hian Ceng Totiang yang sedang mencoba mengangkat mayat Sim Cong, Bee Kun Bu bertanya: "Suhu, siapakah ia? Biarlah Teecu yang mengangkat Hian Ceng Totiang melihat, bahwa ia sudah segar kembali juga merasa gembira, dan berkat a: "Orang ini adalah Suhengmu, Ayo beri hormat kepada jenazah -nya!"

Bee Kun Bu terkejut, karena disangkanya Hian Ceng Totiang hanya mempunyai seorang murid - yakni ia sendiri dan gurunya belum pernah memberitahukan bahwa ia mempunyai murid-murid lain, Mengapa sekarang secara tiba- tiba saja datang seorang murid yang telah menjadi mayat?

Melihat wajah gurunya yang muram, ia pun tak berani menanyakan hal itu lebih lanjut ia memberi hormat dengan membungkukkan tubuh di hadapan mayat itu, lalu dengan kedua lengannya diterimanya mayat itu dari tangan gurunya.

Ngo Kong Toa-su yang juga mendengar ucapan Hian Ceng Totiang itu tak ingin pula menanyakan Bersama-sama Ceng Loan ia berjalan melalui hutan pohon-pohon Bwee ke kuil San Ceng Koan, setibanya di kuil, Hian Ceng Totiang membakar mayat Sim Cong, lalu abunya dimasukkan ke dalam sebuah guci kecil dari porselin untuk dikuburkan di pekarangan belakang kuil itu. Di depan kuburannya ditegakkan sebuah batu dengan tu-lisan: "Kuburan murid partai Kun Lun, Sim Cong."

Pekerjaan mengurus jenazah Sim Cong telah berlangsung sampai senja, Malam itu kebetulan terang bulan, Untuk menghilangkan perasaan sedihnya, Hian Ceng Totiang keluar berjalan-jalan di sekitar kuil, disertai oleh muridnya Bee Kun Bu. ia mengenangkan kisah yang terjadi pada beberapa puluh tahun yang lampau, dan dengan tak sadar ia berkata: "Hai!

Muridku, Suhengmu karena tabiatnya yang berangasan telah bersalah karena melukai orang-orang dari partai silat Siauw Lim, dan hampir-hampir merenggangkan kedua partai silat itu. Karena perbuatannya yang rendah itu, aku terpaksa mengusirnya. Tapi... ia kemudian menyesal dan insyaf akan kesalahannya, dan berusaha memperbaiki dirinya. Dengan susah payah ia telah kembali dan minta ampun kepadaku.

Tiga kali ia datang, tetapi ketiga-tiga kalinya aku menolak menerimanya kembali menjadi murid. Pada ketiga kalinya, ia bersumpah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ia akan menunaikan tugas apapun yang diberikan kepadanya asal saja ia dapat diterima kembali olehku, Ketika itu aku mengatakan kepadanya "Cari peta asli dari barang-barang simpanan berharga dari kalangan Bu Lim. Jika kau gagal memperoleh peta asli itu, jangan pikirkan hendak kembali pada ku ! Dengan tekun ia berusaha menunaikan tugas itu, dan selama dua puluh tahun ia telah berusaha mencari peta asli itu, ia berhasil, dan dalam perjalanannya kembali ke kuil ini, sebagaimana telah kau saksikan, ia telah dikejar oleh kedua siluman yang kejam dari sebelah selatan sungai, dan ia telah terbunuh di luar kuil San Ceng Koan. Dikemudian hari, setelah kau memahami betul-betul ilmu silat yang kuajarkan kepadamu, kau tak boleh berlaku kejam terhadap orang yang baik, akan tetapi orang-orang yang jahat di kalangan Kang Ouw, harus kau basmi dengan sesungguh hati!"

Bee Kun Bu yang mengikuti gurunya dari belakang hanya mengangguk dan menyatakan akan memperhatikan pesan gurunya itu. Lalu mereka kembali ke kuil Ngo Kong Toa-su sedang menunggu di kamar, dan ingin berbicara dengan Hian Ceng Totiang, Tapi melihat wajahnya yang masih muram, tidak ingin ia memusingkan kawannya itu dengan banyak pertanyaan ia hanya berdiri mengawasi perubahan sikap kawan karibnya itu! Setelah masuk ke dalam sebuah kamar, Hian Ceng lotiang membuka laci sebuah meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang berwarna merah. Kotak merah itu ditaruhnya di atas meja, lalu ia berlutut dan memberi hormat Dibukanya kotak itu, dan diambilnya sehelai kain sutera untuk dipancarkan di atas tembok di belakang meja itu, Bee Kun Bu mengawasi lukisan di atas kain sutera itu.

Di atas kain sutera yang berwarna kuning itu tersulam dengan benang putih gambar seorang tua yang mengenakan jubah. Dari punggungnya menonjol keluar sebatang pedang, Setelah melihat gambar itu Bee Kun Bu terpesona dan tiba- tiba dibentak oleh Hian Ceng Totiang: "Kun Bu! Ayo beri hormat kepada nenek laki-laki dari partai silat Kun Lun yang menciptakan ilmu silat pedang Tin San Kiam Hoat (ilmu silat pedang yang dapat menumbangkan gunung)!"

Ngo Kong Toa-su yang menyaksikan itu, setelah mendengar ucapan kawan karibnya, buru-buru maju ke depan meja itu dan membungkukkan diri memberikan hormat kepada gambar di atas tembok itu! Kemudian ditariknya lengan Ceng Loan, keluar dari kamar itu.

Setelah Bee Kun Bu memberi hormat dengan berlutut di depan gambar itu dan membungkukkan tubuh sehingga kepalanya menyentuh lantai tiga kali, Hian Ceng Totiang menyimpan kembali gambar itu baik-baik di dalam laci.

Dengan khidmat ia berkata, "Di kalangan Bu Lim banyak orang salah anggap bahwa ilmu silat pedang Kun Lun Hun Kong Kiam Hoat (memancarkan sinar) hanya ada sembilan puluh enam rupa, Anggapan itu keliru! Hun Kong Kiam Hoat adalah seratus delapan rupa dengan seratus delapan jurus, Di antara seratus delapan jurus itu, ada dua belas jurus yang paling dahsyat dan yang paling sukar dipahami, dan dua belas jurus ini mempunyai nama istimewa ialah: "Cui Hun Ciap Ji Kiam atau Dua belas Jurus Mengusir Setan"! Aku telah berjanji dengan Su Pekmu (paman Guru), jika tidak dapat persetujuannya ketiga guru-guru dari partai Kun Lun, aku tak dapat menurunkan ilmu silat ini kepada murid yang manapun, Malam ini aku telah minta izin dari nenek laki-laki partai silat Kun Lun kita untuk melanggar janji itu dan mengajarkan dua belas jurus tersebut kepadamu, Nah... mulai besok, kuajarkan kepadamu satu jurus tiap-tiap hari. "

Lalu ia diam sejenak Kemudian diperintahkannya Bee Kun Bu: "Sekarang kau keluar dan panggil Ngo Kong Su Pek, Malam ini adalah malam terang bulan, kau dapat berjalan- jalan dengan Ceng Loan, atau berlatih silat dengan dia. Jika aku tidak memanggilmu, kamu tidak boleh masuk ke kamar ini."

-ooo0ooo-

Pertempuran dahsyat di atas puncak

Bee Kun Bu tak berani bertanya lagi meskipun ia mengetahui bahwa kematian Sim Cong bukanlah urusan remeh. ia membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu keluar dari kamar itu. Ngo Kong Toa-su berada di pekarangan belakang sedang memberi petunjuk-petunjuk kepada Ceng Loan tentang cara berlatih ilmu silat Bee Kun Bu menyampaikan pesan gurunya kepada Ngo Kong Toa-su.

Kemudian diusulkannya pada Lie Ceng Loan untuk berlatih ilmu silat bersama-sama, Usul tersebut diterima dengan gembira oleh si gadis.

Ngo Kong Toa-su masuk ke kamar di mana Hian Ceng Tetiang masih memperhatikan kotak yang berisi gambar peta. Ketika Ngo Kong Toa-su menghampiri ia pun terkejut Lalu kemudian bersama-sama mereka mempelajari peta itu. Di atas kain sutera putih tertulis tiga huruf yang berbunyi: "Peta asli simpanan barang-barang yang berharga" dan di bawah tiga huruf tersebut tertulis pula suatu sajak yang berarti:

"Kembali dengan rahasia dari perjalanan Pedang sakti selalu membawa jasa baru Pohon cemara menyaring sinar bulan Air bening mengalir di atas batu." Di bawah sajak tersebut ada lukisan tiga puncak gunung yang mengapit sebuah lembah curam, di mana jalannya berliku-liku dan pohon-pohon cemara tumbuh dengan sangat suburnya, Tampak pula sebuah pohon cemara yang lebih tinggi dari pohon-pohon yang lain, dan daunnya yang rindang merupakan payung. Sinar bulan memancar melalui daun-daun pohon itu ke atas sebuah sungai yang mengalir di bawah pohon itu. Meskipun sungai itu tidak luas, tapi dalam, Sambil mengawasi Ngo Kong Toa-su, Hian Ceng Totiang berkata: "Peta asli simpanan barang-barang berharga ini adalah suatu mustika di kalangan Bu Lim. Untuk mencari peta asli ini, banyak jago-jago silat telah tewas selama seratus tahun ini.

Tapi tanpa banyak kesukaran, aku telah memperolehnya,.,." ia teringat lagi akan tewasnya Sim Gong, dan ia merasa sedih kembali

Tentang sajak yang tertulis di dalam peta asli itu, telah pula kudengar sedikit Tapi tafsirannya beraneka warna," kata Ngo Kong Toa-su, "Partai silat Kun Lun telah menjagoi di kalangan Kang Ouw beberapa puluh tahun, dan mempunyai banyak pengalaman Aku minta saudara menceritakannya."

Hian Ceng Totiang tersenyum, lalu berkata: Tentang arti garis pertama: Kembali dengan rahasia dari perjalanan kita harus menceritakan kisah yang terjadi pada tiga ratus tahun yang lalu mengenai seorang yang luar biasa dan seorang Shin Ni (rahib perempuan), kedua orang tersebut mempunyai ilmu silat yang luar biasa tingginya, dan dapat dikatakan tak ada lawannya, karena ilmu silat luar maupun dalamnya telah mencapai tingkat yang tertinggi Pada zaman itu terdapat banyak partai-partai silat, tapi partai silat Siauw Lim dan Bu Tong adalah yang terkenal, dan murid-muridnya terbanyak.

Lalu partai-partai silat Hua San, Kun Lun, Tiam Cong, Tong Kong, Ceng Sia, Tiang Uong, Ngo Bie menduduki urutan kedua, Partai-partai silat yang lain-lainnya, meskipun banyak jumlahnya, dan mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri, tak dapat juga menandingi ke sembilan partai silat tersebut Lagi pula tiap-tiap partai silat yang terkenal itu mempunyai jago- jago silat yang lihay sekali, dan zaman itu boleh dikatakan zaman emasnya kalangan Bu Lim.

Tiap-tiap partai silat yang terkenal itu, karena ingin menjagoi di kalangan Bu Lim, telah berjanji mengadu silat pedang di atas puncak gunung Sao Sit Hong, dan janji tersebut telah menarik banyak jago-jago silat untuk memperlihatkan kelihayannya, Dengan demikian daerah di sekitar puncak gunung Sao Sit Hong itu telah menjadi tempat berkumpul para jago-jago silat.

Masing-masing partai dari ke sembilan partai silat yang terkenal itu mengirimkan tiga orang jago-jago silat untuk bertempur silat pedang dengan bergiliran melawan saingan- saingan dari partai silat lain selama tujuh hari. Jago-jago silat dari ke sembilan partai silat itu banyak yang luka dan tewas, Partai-partai silat Hua San, Tiam Cong, Tong Kong, Hua San telah dikalahkan, dan partai-partai silat Siauw Lim, Bu Tong, Kun Lun, Ceng Sia dan Ngo Bie masuk dalam pertempuran yang menentukan Sudah pasti jago-jago silat yang harus bertempur adalah jago-jago silat yang luar biasa dari yang luar biasa kelihayannya. Tewasnya seorang jago silat, berarti hilangnya kepandaian silat yang harusnya diwariskan kepada angka tan-angkatan muda.." ia menarik napas panjang, dan tidak meneruskan pereakapannya,

Ngo Kong Toa-su yang ingin mendengar seterusnya, mendesak: "Bagaimanakah hasil pertempuran silat pedang itu? partai silat yang manakah yang keluar sebagai pemenang?"

Hian Ceng Totiang terpaksa meneruskan "Jika pertempuran-pertempuran ketika itu dapat menentukan sehingga dapat pula menetapkan urutan-urutan dari partai- partai silat, mungkin dapat menciptakan keamanan di kalangan Bu Lim walaupun akan banyak memakan korban justru pada ketika para jago itu ingin bertempur, Giok liong Cin Jin buru-buru datang ke puncak Sao Sit Hong dan membujuk supaya pertempuran itu dihentikan saja, Tapi para jago silat dari kelima partai itu, yang dalam beberapa ratus tahun telah dipusingkan mengenai urutan-urutan tentang ketangkasan dan kelihayan silatnya masing-masing, tidak mudah dibujuk, dan tidak ingin menghentikan pertempuran yang menentukan itu, Giok Liok Cin Jin yang telah berusaha membujuk, dan melihat bahwa bujukannya itu sia-sia belaka, menjadi murka, dan dengan kedua tinjunya dilawannya jago-jago silat dari kelima partai silat Siauw, Lim, Bu Tong, Kun Lun, Ngo Bie dan Ceng Sia itu, Jago-jago silat kelima partai itu pun merasa terhina, dan bersama-sama mereka menggempurnya, Tapi... dengan ilmu silat yang tak ada taranya, Giok Liong Cin Jin dengan kedua tinjunya telah mengalahkan semua jago-jago silat dari kelima partai itu hanya dalam lebih kurang lima ratus jurus, Mereka harus mengakui bahwa Giok Liong Cin Jin mempunyai ilmu silat yang nomor satu! Dan perebutan kedudukan oleh kelima partai silat itu lenyap dengan sendirinya!"

Ngo Kong Toa-su menganggukkan kepalanya dan berkata: "Giok Liong Cin Jin sebetulnya bermaksud baik, ia menghendaki semua jago-jago silat dari kelima partai yang terkenal di kalangan Bu Lim itu memelihara dan memperbaiki ilmu silatnya masing-masing, Buktinya? Bukankah ilmu silat di kalangan Bu Lim pada dewasa ini sangat terkenal?"

"Giok Liong Cin Jin telah membubarkan pertempuran yang menentukan urutan masing-masing partai di puncak Sao Sit Hong," Hian Ceng Totiang meneruskan.

Tapi untuk penetapan urutan itu, kelima partai silat tidak tinggal diam, Dengan segala jalan mereka berusaha mengirimkan mu rid-murid nya masuk ke dalam partai silat lain agar dapat mencuri ilmu silat dari lawan-lawannya sebagai persiapan pertempuran yang kedua kalinya, Oleh sebab itu, masing-masing partai silat sangat berhati-hati menerima murid, Disamping memperhatikan watak dan ketangkasan seorang calon murid, riwayat si calon murid tersebut sangat diperhatikan sekali untuk mencegah supaya orang dari partai lawan tidak masuk pertempuran terang-terangan dan penyelundupan calon-calon murid ke partai lain untuk mencuri ilmu silat telah berlangsung selama beberapa ratus tahun sehingga guru dari tiap-tiap partai khawatir mengajarkan ilmu silat yang istimewa kepada tiap-tiap murid. Namun ilmu silat dari masing-masing partai makin hari makin maju, berkat hasrat hendak menjagoi di kalangan Kang Ouw.

Sangat disesalkan bahwa masih ada dua atau tiga guru silat yang mahir sekali silatnya, segan-segan mengajarkan kepandaiannya kepada murid-muridnya, Misalnya bila seorang murid telah terpilih dan beruntung akan memperoleh , ilmu silat yang luar biasa dari seorang guru, maka murid tersebut harus bersumpah setia kepada partainya, partai partai silat maju tampaknya, akan tetapi jumlah dari jago-jago silat yang telah memahami ilmu-ilmu silat istimewa dari guru masing- masing makin hari makin berkurang!"

"Karena ingin memperoleh nama dan kedudukan, maka partai-partai silat dengan tak terasa telah membuat rintangan- rintangan untuk seorang guru mewariskan kepandaiannya kepada seseorang murid!" Ngo Kong Toa-su berkata sambil menepuk tangan,

Hian Ceng Totiang menarik napas panjang, lalu meneruskan: "Sekarang kita bereerita tentang partai silat Kun Lun! Setelah mengadu silat pedang di puncak gunung Sao Sit Hong pada waktu itu, jago-jago silat dari angkatan tua lalu dengan tekun menciptakan ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat (memancarkan sinar) dan Tian Kang Cong Hoat (meninju bintang-bintang di La-ngit), Tapi jurus Hun Kong Kiam Hoat yang dinamakan Cui Hun Cap Ji Kiam tak dapat diturunkan kepada m u rid-murid nya. Pada dewasa ini, disamping aku dan Sutee dan Sumoay semua orang di kalangan Bu Lim mengira bahwa Hun Kong Kiam Hoat dari partai Kun Lun hanya mempunyai sembilan puluh enam jurus, sebetulnya ada seratus delapan jurus, Dua belas jurus yang tak dapat diajarkan kepada murid-murid, merupakan kelihayan daripada seluruh ilmu pedang Hun Kong Kiam Hoatl Aku, Sutee dan Sumoyku telah berjanji bahwa pada seseorang murid pilihan dapat diajarkan setelah ketiga orang setuju Kini aku telah merubah pikirau Aku melanggar janji kami bertiga itu, dan mengambil keputusan mengajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam ini kepada Bee Kun Bu. Anak itu cerdas dan wataknya baik sekali, Tapi ia sangat pemurah hati. ia telah belajar padaku selama dua belas tahun, dan jika telah kuajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam padanya, tak dapat lagi aku mengajarnya ilmu yang lain."

Hian Ceng Totiang tertawa keras, dan suara tertawa itu mirip seperti bunyi seekor naga atau raung seekor macan sehingga api dari kedua lilin yang di atas meja itu tergetar Ngo Kong Toa-su menjadi heran dengan suara tertawa yang ganjil itu, dan ia terus mengawasi sikap rekannya.

"Kunci daripada semua urusan ini ada di dalam peta asli ini!" Hian Ceng Totiang berkata sambil tertawa.

"Pertandingan silat pedang di atas puncak Sao Sit Hong oleh kelima partai telah gagal, dan urutan dari kelima partai silat itu belum lagi ditetapkan, dan meskipun para jago silat dari kelima partai tersebut belum merasa puas, akan tetapi Giok Liong Cin Jin meninggalkan suatu peringatan ia berkata bahwa ilmu silat dari partai manapun sama baiknya, dan para jago-jago silat harus seperti saudara jangan berebut nama atau kedudukan ia pun berkata bahwa ia tak akan tinggal diam jika masih ada jago-jago silat yang bertempur untuk merebut kedudukan atau nama, Tapi maksudnya yang baik itu telah memusingkan dirinya senti iri!"

Tapi dengan ilmu silat yang demikian lihaynya, mengapa ia bisa menjadi pusing?" bertanya Ngo Kong Toa-su.

"Dunia ini luas," sahut Hian Ceng Totiang, "Kadang" kadang kita menyaksikan hal-hal yang luar biasa, Betul Giok Liong Cin Jin mempunyai ilmu silat yang demikian lihay, sehingga dengan seorang diri ia dapat menaklukkan para jago silat dari kelima partai silat yang terkenal tetapi ia tetap manusia, ia dapat meninggal dunia jika tiba saatnya, Menurut cerita sarang ilmu silatnya itu didapat-nya dari sebuah buku, bukan dari seseorang guru. Ten-tang riwayatnya, orang pun tidak mengetahui Sebelum sembilan partai silat pergi ke puncak Sao Sit Hong mengadu silat, semua orang di kalangan Kang Ouw belum pernah mendengar namanya, Tapi setelah ia tiba di puncak itu dan menaklukkan para jago silat, namanya segera terkenal di seluruh kalangan Kang Ouw, dan ia dipuja sebagai jago silat nomor satu dan ia dipanggil Tian Sia Bu Kong Tee It Giok Liong Cin Jin."

Tapi mengapa kedudukan nomor satu itu mencelakakannya?" tanya Ngo Kong Toa-su.

Sambil menggoyang-goyangkan kepalanya Hian Ceng Totiang menyahut: "Di kalangan Bu Lim, meskipun kita mempunyai ilmu silat yang luar biasa, dan memandang harta benda hanya sebagai rumput, namun sifat manusia tak banyak berbeda Giok Liong Cin Jin dengan kedua tinjunya telah menaklukkan para jago silat, sehingga ia dapat julukan Tian Sia Bu Kong Tee It (jago silat nomor satu di kolong langit). Nama ini telah menimbulkan iri hati seorang yang bertabiat ganjil, Orang itu bukan saja seorang wanita tapi juga seorang rahib.

Pada tahun ketiga setelah Giok Liong Cin Jin menaklukkan para jago silat di puncak Sao Sit Hong, rahib wanita itu, yang bernama Sa Im Shin Ni dengan tidak menghiraukan jarak yang jauh telah datang dari pegunungan Altai di sebelah Barat ke Timur, ia datang ke desa Ceng Yun Giam di kaki pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang untuk mengadu silat dengan Giok Liong Cin Jin.

Mulailah suatu pertempuran yang maha dahsyat di desa Ceng Yun Giam itu, pertempuran itu berlangsung selama tiga hari tiga malam, dan telah lebih dari lima ribu jurus yang dijalankan! Namun demikian belum ada juga tampak siapa- yang kalah dan siapa yang menang! Pada hari ke empat, masing-masing menggunakan seluruh tenaga dalamnya, dan demikian dahsyatnya pertarungan tersebut sehingga kedua- duanya luka parah dan kedua-duanya kalah.

Masing-masing mengetahui bahwa mereka tak akan lama lagi hidup dan dalam keadaan payah itu, kedua-duanya jadi berkawan, Mereka tidak mempunyai murid, Bersama-sama mereka mengarang kemahiran dan kepandaian silatnya dan menjadikannya tiga jilid buku, yang mereka simpan di dalam sebuah gua batu di pegunungan Koat Cong San, dan buku- buku tersebut mereka namakan Kui Goan Pit Cik yang artinya sebagai berikut:

"Semua ilmu silat dari segala jurusan mengalir ke satu tempat, dan tak dapat menyimpang dari tujuannya Setelah selesai menyusun tiga buku tersebut, mereka menggambar sebuah peta yang bernama peta asli simpanan barang-barang berharga atau Cong Cin To, dan yang memberi petunjuk tempat tersimpannya barang-barang berharga itu. Cong Cin To itu ditaruh di dalam sebuah kotak dari batu Giok, dan disembunyikan di antara dua jurang.

Kemudian kedua orang-orang yang aneh itu meninggal dunia di pegunungan Koat Cong San. Kisah tersebut telah turun temurun sehingga sekarang selama tiga ratus tahun lebih, Semua partai silat di kalangan Bu Lim selalu mencurahkan perhatiannya dan berusaha memperoleh peta aslinya untuk mendapatkan buku-buku ilmu silat itu.

Disamping jago-jago silat, juga orang-orang sakti yang telah bertapa, perampok- perampok yang kejam, semuanya dengan segala jerih payah berusaha mendapatkan peta tersebut, dan kemudian buku-buku itu.

Pada seratus tahun yang lewat peta itu telah didapat oleh seorang perampok besar. Tapi ia terlampau kejam dan dengan sendirinya banyak musurmya. Ditambah pula dengan amat banyaknya jago-jago silat yang menghendaki peta asli ini. Betapapun juga tingginya ilmu silatnya, setelah ketahuan ia yang mendapat peta asli itu, ia segera dikejar-kejar dan tak dapat lagi ia menghindarkan diri dari penganiayaan atau keroyokan orang lain yang menghendaki peta ini.

Kemudian peta asli ini berpindah-pindah tangan entah beberapa kali, dan entah berapa pula jiwa yang telah melayang karenanya, Tapi belum terdengar bahwa buku-buku Kui Goan Pit Cik tersebut telah didapat orang, Aku pun tak mengetahui bagaimana caranya Sim Cong memperoleh peta asli Cong Cin To ini. Kedua siluman dari sebelah selatan sungai telah mengejar dan membunuh mati Sim Cong karena ingin merebut Cong Cin To ini!" ia menarik napas panjang dengan wajah terharu!

Ngo Kong Toa-su bertanya lagi: "Peta asli Cong Cin To telah jatuh di tanganmu. Apakah yang hendak kau lakukan?

Apakah kau ingin mencari buku-buku Kui Goan Pit Cik?"

Hian Ceng Totiang menganggukkan kepalanya dan menyahut: "Setelah kuajarkan Cui Hun Cap Ji Kiam kepada muridku Bee Kun Bu, aku siap membawa tubuhku yang sudah tua ini untuk dikuburkan di pegunungan Koat Cong San. Coba pikir, selama tiga ratus tahun lebih semua partai-partai silat berusaha mempertahankan perdamaian. sebetulnya mereka mencurahkan semua tenaga mencari Kui Goan Pit Cik itu.

Dalam seratus tahun ini, partai silat Hua San rupanya yang menjagoi di kalangan Bu Lim. Dan semenjak gurunya Tu Wee Seng, yang dikatakan mempunyai delapan lengan karena jurus silatnya yang cepat bagaikan kilat itu, menerima murid- murid, maka banyak sekali jago-jago silat f berkecimpung di kalangan Bu Lim. peristiwa yang memalukan di puncak Sao Sit Hong, tak dapat dilupakan oleh semua partai-partai silat Misalnya partai silat Tian Liong yang tiba-tiba timbul di propinsi Kwi-ciu. Hanya dalam jangka waktu dua puluh tahun, pengaruhnya telah menjalar hampir di seluruh daerah sebelah Selatan sungai Kepala dari partai silat Tian Liong itu, Souw Peng Hai, bersama-sama dengan partai-partai cabangnya yang menggunakan bendera-bendera merah, kuning, biru, putih dan hitam telah mengumpulkan semua jago-jago silat yang tak berpartai dengan maksud mendirikan sebuah partai silat yang besar disamping ke sembilan partai silat yang terkenal itu.

Pada dewasa ini, keadaan di kalangan Kang Ouw tampaknya tenteram saja, Tapi, keadaan yang sebenarnya sangat tegang, Aku kira pertarungan yang kedua kalinya untuk menetapkan urutan kedudukan di kalangan Kang Ouw tidak lama lagi terjadi!" ia berhenti sejenak, lalu meneruskan: "Buku- buku Kui Goan Pit Cik rupanya akan mempunyai hubungan yang erat dengan nasib partai-partai silat kalangan Kang 0uw. Jika buku-buku tersebut jatuh ke tangan orang-orang yang jahat, tak dapat kita bayangkan betapa hebat akibatnya.

Untuk mencegah itu, aku harus pergi ke pegunungan Koat Cong San. Tetapi urusan itu tak dapat dilaksanakan oleh satu orang. Jika kau mempunyai hasrat untuk turut dengan aku,., tapi kau adalah seorang pendeta yang selalu bertindak bijaksana, dan mungkin tidak sudi mengambil resiko, Ya... jika kau tidak sudi turut, aku pun tak dapat memaksa kau. Aku harus mengajari Bee Kun Bu ilmu silat Cui Hun Cap Ji Kiam, Diwaktu aku hendak berangkat, aku akan mengajak kau lagi."

Ngo Kong Toa-su menundukkan kepalanya yang penuh dengan berbagai-bagai pikiran. Tiba-tiba ia mengangkat kembali kepalanya dan berkata dengan khidmat: "Urusan ini besar sekali hubungannya dengan nasib kalangan Bu Lim. Aku si tua bangka tidak dapat menolak Lagi pula usiaku sudah lanjut Mati atau hidup tak ada artinya lagi bagiku, Aku hanya khawatir tentang Ceng Loan, karena ia seorang anak piatu, dan ia mempunyai tugas untuk membalas dendam. " Belum

lagi habis pembicaraan itu, Hian Ceng Totiang berkata sambil ter-senyum: "Urusan Loan Jie, telah kuatur, Jika kau sudi dan memperkenankan ia masuk partai silat Kun Lun, aku dapat menulis surat kepada Sumoayku (saudari seperguruan) Giok Cin dan Loan Jie dapat bernaung di bawah penjagaannya, Kedua siluman dari sebelah Selatan sungai telah kabur, dan telah mengetahui tentang peta asli Cong Cin To ini. Kuil San Ceng Koan ini tak dapat dipertahankan lebih lama lagi. Tidak sampai sebulan, pasti ada orang yang datang menyerbu. Oleh karena itu, sebelum aku berangkai aku harus memindahkan kedua anak-anak itu ke tempat yang aman."

Sambil tertawa Ngo Kong Toa-su menyahut: "Jika ia dapat diterima masuk partai silat Kun Lun, ia akan memperoleh banyak i1mu. Aku si tua bangka rela mati di pegunungan Koat Cong San. Hanya ia memikul beban untuk membalas dendam, Ketika ibunya hendak menarik napas penghabisan ia berpesan kepadaku agar ia bila sudah besar membalas dendam dan membunuh mati musuh orang tuanya, Urusan ini harus kuberitahukan kepadanya, Dan pembalasan dendam itu harus dilaksana-kannya, Apakah pembalasan dendam itu tidak akan memusingkan partai silat Kun Lun? Ya... aku harus berterus-terang, supaya jangan sampai menjadi penyesalan,"

Dengan wajah yang khidmat, Hian Ceng Totiang berkata " Apakah Ceng Loan Bukan puterinya Li Kwi Cee?"

Si pendeta itu segera berubah wajahnya dan ia bertanya kembali: "Bagaimana... bagaimana kau mengetahui urusan ini?!"

Sambil menarik napas Hian Ceng Totiang menceritakan kisahnya: "Kira-kira lima belas tahun yang lampau, suami isteri Li Kwi Cee, ketika melewati sebuah gunung, telah menjumpai kecelakaan, peristiwa tersebut telah diketahui oleh banyak orang-orang di kalangan Kang Ouw, Tapi aku mohon supaya kau tidak memberitahukan riwayatnya ini pada Ceng Loan, karena yang membunuh kedua suami isteri Li Kwi Gee itu adalah Ouw Lam Peng, si kaki terbang, dan ia telah masuk partai silat Tian Liong dan menjadi kepala cabang bendera merah dari partai tersebut Soal pembalasan dendam itu sebaiknya ditunggu sampai ada ketika yang baik, dan tak dapat dilakukan dengan sembrono, jika kau beritahukan Ceng Lian sekarang, sama juga artinya dengan kau mencelakakannya." Ngo Kong Toa-su membuka matanya lebar-lebar dan dengan tubuh gemetar ia berseru: "Jika demikian halnya, aku si tua bangka ini yang harus gempur Ouw Lam Peng!"

Hian Ceng lotiang tersenyum, dan berkata: "Jika kau gempur Ouw Lam Peng, aku yakin kau akan menang, Soalnya... ialah orang-orang partai Tian Liong amat banyak Lagi pula kepala dari partai Tian Liong itu, Souw Peng Hai, adalah seorang jago silat yang lihay sekali pada dewasa ini. Mungkin kau pernah mendengar bagaimana ia seorang diri menaklukkan empat orang musuh-musuhnya! Empat jahanam itu di propinsi Su-coan dan Hupeh telah berbuat sewenang- wenang, dan meskipun jago-jago silat dari partai-partai Bu Tong, Ngo Bie, Ceng Sia telah berusaha mengepung mereka, tetapi mereka dapat memukul kocar-kacir lawan-lawannya, dan orang-orang dari ketiga partai silat itu telah menderita luka-luka.

Ketika Souw Peng Hai melalui sebuah jalan di propinsi Hupeh, pada suatu ketika berjumpa dengan keempat jahanam-jahanam itu, dan hanya dalam semalam saja telah dapat keempat-empatnya ditaklukkannya kemudian diterima mereka sebagai anggota partai Tian Liong, peristiwa ini telah tersiar di kalangan Bu Lim selama tiga tahun yang lampau.

Pada dewasa ini partai Tian Liong dengan semua cabang- cabangnya rupanya menjagoi diantara ke sembilan partai yang telah terkenal jika aku tak salah meramalkan, di dalam jangka waktu sepuluh tahun ini akan timbul perubahan besar, mungkin juga banyak jago-jago silat akan binasa dalam pertarungan-pertarungan yang hebat Urusan pembalasan dendam dari Lie Ceng Loan, harus kita lakukan dengan hati- hati. jika ia telah masuk partai Kun Lun, ia pasti dijaga dan dilindungi oleh kami dari partai Kun Lun."

Ngo Kong Toa-su menarik napas panjang, lalu berkata: "Aku sebetulnya sudah tidak hendak memusingkan kepala lagi mengenai urusan di dunia ini. Tapi urusan Ceng Loan ini senantiasa melekat di pikiranku Orang tak dapat berlaku acuh tak acuh terhadap kejadian-kejadian di sekitarnya selama ia masih bernapas Baiklah, aku pulang dahulu ke kuil Hua Lim Si. Aku si tua bangka ini yang ingin mati di pegunungan Koat Cong San harus lebih dahulu menyerahkan urusan kuil Hua Lim Si ke-. pada orang lain. Nanti tiga hari lagi, aku datang kembali ke sini untuk mengajarkan ilmu silat tinju Cap pwee Lo Han Cong kepada muridmu." Lalu ia berdiri, Setelah ia berada di luar kamar, dengan mengipaskan lengan baju-nya, ia telah menghilang dengan cepat, menuju ke kuil Hua Lim Si.

Setelah lewat tiga hari Ngo Kong Toa-su betul-betul kembali ke kuil San Ceng Koan, Kali ini ia membawa sebuah toya, Lalu dalam jangka waktu setengah bulan kedua orang sakti itu masing-masing mengajarkan ilmu silat pedang Cui Hun Cap Ji Kiam dan ilmu silat tinju Cap Pwee Lo Han Cong kepada Bee Kun Bu.

Jurus Cui Hun Cap Ji Kiam itu adalah jurus yang lihay sekali dari partai Kun Lun. Lie Ceng Loan belum masuk partai Kun Lun maka Hian Ceng To Tiang tidak dapat mengajarkan jurus itu kepadanya,

Jurus Cap Pwee Lo Han Cong telah dipahami oleh Lie Ceng Loan, maka dalam setengah bulan itu, Bee Kun Bu sangat sibuknya, sebab siang hari ia harus mempelajari ilmu tinju dan malam hari ilmu silat pedang, apalagi jurus Cui Hun Cap li Kiam itu sangat sulit Dalam setengah bulan Bee Kun Bu telah paham seluk beluk ilmu itu, akan tetapi ia belum mahir menggunakannya.

Hian Ceng Totiang yang harus lekas-lekas pergi ke pegunungan Koat Cong San tidak sempat melatih muridnya sampai mahir betul Pada suatu hari, dipanggilnya Lie Ceng Loan dan Bee Kun Bu masuk ke dalam kamar ia mengambil dua pucuk surat, dan diberikannya kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Kau telah mengikuti aku selama dua belas tahun, dan kau harus pulang menjelang ibu bapakmu, Setelah kau menemui mereka, kau tak usah kembali ke kuil San Ceng Koan ini untuk mencari aku, tapi kau harus membawa kedua surat ini ke kuil San Goan Kong di atas puncak Kim Teng Hong dari pegunungan Kun Lun dan berikan kepada kedua paman gurumu di sana."

Bee Kun Bu menerima kedua surat itu, Mengingat bahwa ia telah mengikuti gurunya selama dua belas tahun, sedangkan kini harus pula berpisah, ia terharu sekali, ia berlutut di hadapan gurunya dan mengucurkan air mata,

"Di kolong langit tak ada pesta yang tak bubar jangan nangis, lekas bangun!" demikianlah perintah Hian Ceng Totiang. Ngo Kong Toa-su mengusap-usap rambut Ceng Loan, ia berkata: "Paman gurumu, Hian Ceng Totiang, merasa kasihan padamu yang sebatang kara, dan ia telah menerima kau masuk partai Kun Lun. Sekarang kau pergi ke puncak Kim Teng Hong di pegunungan Kun Lun untuk memberi hormat kepada guru-gurumu, dan kau harus sungguh-sungguh belajar." Tak dapat ia menahan air matanya yang mengucur keluar

Mendengar ucapan tersebut, kedua mata Ceng Loan terbelalak, lalu dengan sedih dan sambil mengucurkan air mata ia bertanya: "Mengapa? Apakah Suhu tidak suka menjaga Loan Jie lagi.,.?"

Dengan tertawa yang dipaksa-paksa Ngo Kong Toa-su berkata: "Aku menyerahkanmu di bawah perlindungan partai Kun Lun, hal mana amat bermanfaat bagimu sendiri, Masa anak sebesar kau ini tidak mengerti? Kau pergi ke pegunungan Kun Lun bersama-sama Suhengmu, Bee Kun Bu!"

Ucapan terakhir itu menggembirakan Lie Ceng Loan, karena ia akan banyak mendapat kesempatan berdampingan dengan Bee Kun Bu.

Lalu Hian Ceng Totiang menerima sebuah bungkusan kecil dari kain putih dari Ngo Kong Toa-su dan menyerahkannya kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Bungkusan ini kau serahkan sendiri kepada Sam susiokmu!" Bee Kun Bu menerima bungkusan itu, lalu gurunya berkata: "Kau boleh tinggal di rumah selama sebulan, baru menjaga Sumoaymu Lie Ceng Loan baik-baik!" Bee Kun Bu membungkukkan badannya memberi hormat dan menerima semua pesan- pesan, dan segera didesak oleh Hian Ceng Totiang agar mereka pagi itu juga meninggalkan kuil San Ceng Koan,

Tidak lama setelah Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meninggalkan kuil itu, Hian Ceng Totiang memanggil pendeta- pendeta yang tinggal di dalam kuil itu berkumpul untuk memberitahukan bahwa ia akan meninggalkan kuil itu dan menyerahkan semua urusan kuil kepada pendeta yang tertua. Lalu bersama-sama Ngo Kong Toa-su, ia pun meninggalkan kuil San Ceng Koan menuju ke pegunungan Koat Cong San di propinsi Cek-kiang.

Dieeritakan bahwa setelah Bee Kun dan Lie Ceng Loan berpisah dari Hian Ceng Totiang dan Ngo Kong Toa-su di kuil tersebut, mereka naik perahu menuju ke rumah orang tua nya. Karena air sungai itu sangat deras, perahu itu pun berlayar dengan lajunya, Di atas perahu itu Lie Ceng Loan duduk di samping Bee Kun Bu. Tiba-tiba ia bertanya: "Bee Suheng, apakah kau pernah pergi ke pegunungan Kun Lun?"

Bee Kun Bu menggeleng dan menyahut: "Selama dua belas tahun, selainnya aku dibawa guru pulang ke rumah untuk menengok ibu bapakku dua kali, aku belum pernah menanggalkan kuil San Ceng Koan."

Sambil menempelkan badannya ke badan Bee Kun Bu, Lie Ceng Loan berkata: "Aku masih kecil sekali dibawa oleh guruku ke kuil Hua Lim Si, Selama sepuluh tahun lebih, selain di kuil Hua Lim Si dan ke kuil San Ceng Koan, aku juga belum pernah pergi ke tempat lain. Guruku belum pernah menceritakan tentang riwayatku. Aku mengira bahwa ibu bapakku tidak sayang padaku, dan tidak ingin menerimaku Jika tidak, mengapa selama sepuluh tahun lebih ini, mereka tidak datang menengok aku!" ia tak dapat menahan kesedihannya, dan air matanya pun bereucuran di kedua pipinya!

Bee Kun Bu juga ikut bersedih hati, dan ia berusaha menghibur dengan sikap yang canggung. "Aku tak mengetahui cara bagaimanakah aku harus meredakan sedih hatimu. "

Mereka tiba di telaga Tung Ting Ouw waktu lohor Di tepi telaga yang luas itu tampak oleh Lie Ceng Loan perahu- perahu para nelayan, Untuk bermalam, mereka harus mendarat dan mencari rumah penginapan Lalu perahunya ditujukan ke tepi. Pada saat itu, perahu mereka telah ditubruk oleh sebuah perahu yang datang dari jurusan lain. Lie Ceng Loan menjadi gusar, dan hendak menegur Tapi Bee Kun Bu menasehatkan supaya ia bersabar dan berkata: "Aku ingat akan pesan guruku, Di kalangan Kang Ouw, seringkali menemui peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Terhadap kejadian yang remeh lebih baik kita sabar."

Setelah mereka mendarat, Lie Ceng Loan bertanya: "Kakak Kun Bu, kemanakah kita pergi?"

Bee Kun Bu yang telah jatuh cinta terhadap gadis yang cantik jelita itu menyahut dengan suara rendah: "Kita ke Timur untuk mencari rumah penginapan." Mereka mencari rumah penginapan tanpa hasil Bee Kun Bu lalu mengusulkan naik perahu kembali untuk meneruskan perjalanan "Jika kita berlayar dengan cepat dan tanpa rintangan besok kita akan tiba di rumahku," katanya.

Di atas perahu itu Lie Ceng Loan bertanya: "Kakak Kun Bu, siapakah yang berada di rumah, Apakah ibumu dapat merasa gembira melihat aku? Aku telah dimanjakan oleh Ngo Kong Toa-su sehingga menjadi sangat nakal."

"Ibuku sangat ramah, ia pasti menyukaimu," sahut Bee Kun Bu. Sambil tertawa Lie Ceng Loan berkata: "Jika demikian aku akan berlaku alim agar ia tidak gusar." Telaga Tong Ting Ouw itu sangat luas, dan panjangnya tiga ratus lie lebih, airnya bening, seperti kaca. Angin yang berhembus demikian halusnya sehingga menyebabkan pemuda dan pemudi itu gembira sekali Di sepanjang jalan perahu mereka telah melewati banyak perahu-perahu nelayan, pada suatu ketika tampak oleh mereka sebuah perahu layar yang besar berlayar dengan sangat pesatnya seakan-akan mengejar perahunya, Perahu layar yang besar itu diikuti oleh empat buah perahu- perahu yang lebih kecil, Untuk menjaga diri, Lie Ceng Loan mengambil pedangnya dan memberikan pula sebuah kepada Bee Kun Bu sambil berkata: "Kakak Kun Bu, rupanya perahu yang menubruk kita tadi sedang mengejar kita!"

Baru saja ucapannya selesai ke empat perahu-perahu yang kecil itu telah berada di depan perahu mereka, dan di depan tiap-tiap perahu berdiri seorang yang bertubuh besar, Dengan pedang terhunus, Bee Kun Bu lalu menegur "Aku sebetulnya tidak kenal kalian, Kita juga bukannya saudagar yang kaya. Kalian telah merintangi perahu kita, apakah sebabnya?"

Orang yang berdiri di atas perahu di sebelah kiri dan yang berusia lebih kurang empat puluh tahun, Menyahut: "Jika kamu saudagar-saudagar, kaya, kita tidak menghiraukan Kita ingin bertanya, apakah hubunganmu dengan Hian Ceng Totiang dari kuil San Ceng Koan?"

"Hian Ceng Totiang adalah Suhuku, mau apa?!" sahut Bee Kun Bu dengan gusar

Orang itu berkata lagi: "Hian Ceng Totiang telah menggemparkan kalangan Kang Ouw, Guru kita yang telah mendengar bahwa ilmu silat pedang dari partai Kun Lun yang tak ada taranya di kolong langit, ingin mengambil kesempatan untuk belajar kenal dengan kedua muridnya!"

Dengan sahutan yang ramah itu, Bee Kun Bu menjadi agak reda. ia berkata lagi: "Aku baru keluar dari rumah dan baru berpisah dari guruku, oleh sebab itu aku tak mengerti peraturan dari kalangan Kang Ouw, jika guru saudara ingin menjumpai kami, bukankah lebih baik jika kami yang datang memberikan hormat kepada nya ?"

Orang itu menyahut:” Tapi guru kita telah datang."

Orang tua itu mengangkat kedua tangannya memberi hormat dan sambil tersenyum berkata: "Kami dengan tak sengaja telah melanggar perahu saudara, aku menghaturkan maaf.”

Lalu ia menunjuk ke arah perahu layar yang besar Bee Kun Bu menengok ke arah perahu yang besar itu, yang sangat terang karena amat banyaknya lilin dipasang orang. Di atas sebuah kursi yang ditutupi dengan kulit macan duduk seseorang yang berusia lima puluh tahun lebih, tapi seluruh rambut dan jenggotnya berwarna putih, Di kiri dan kanannya berdiri dua orang yang bertubuh tegap dan memegang golok besar Setelah perahunya berdempetan dengan perahu Bee Kun Bu, orang tua itu bangun dari kursi nya. ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat, dan berkata sambil tertawa: "Kami dengan tak sengaja telah melanggar perahu saudara, aku menghaturkan maaf!"

Bee Kun Bu berbisik pada Lie Ceng Loan: "Kita harus waspada. Mari kita pergi ke perahunya." Lalu dengan sekali meloncat, mereka telah berdiri di hadapan orang tua itu,

Orang tua itu melihat kepada orang-orangnya yang berada di ke empat perahu-perahu kecil dan berkata: "periksalah apakah perahu tamu kita mendapat kerusakan karena bentrokan tadi, Jika ada kerusakan, harus kamu perbaiki dengan segera," Semua orang-orangnya serentak mengangkat lengan kiri dan menekan dada, lalu membungkukkan tubuh memberi hormat, Mereka segera memeriksa perahu Bee Kun Bu. Dengan menghadapi Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan orang tua itu berkata sambil tertawa: "Aku ini kurang hati-hati, Jika perahu saudara menderita kerusakan, aku minta maaf Mari kita minum arak dulu."

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan membungkukkan tubuh memberi hormat, lalu Bee Kun Bu berkata: "Kami baru berpisah dari guru kami, dan tidak mengenal peraturan Mohon dimaafkan Apakah kami dapat kehormatan mengenal tuan dari angkatan tua?"

Orang tua tersebut tertawa dan menyahut: "Pada dua puluh tahun berselang aku telah bertempur melawan Hian Ceng Totiang, dan karena ia baik hati, aku dapat hidup lagi beberapa puluh tahun Mari kita minum arak dulu. Ada banyak hal-hal yang hendak kutanyakan.” Lalu ia mengajak pemuda dan pemudi itu masuk ke dalam kabin Empat orang yang memegang golok besar di depan kabin itu membungkukkan tubuh memberi hormat kepada mereka. Di dalam kabin itu terang benderang karena sinar lilin yang amat banyak dan dihias dengan indah sekali Di atas meja persegi delapan telah tersedia beberapa cangkir teh dan sebuah teko, Dua orang anak yang berbaju hijau menjadi pelayan Setelah mereka duduk, orang tua itu berkata:" Apakah Siocia ini juga dari partai silat Kun Lun?"

"Betul, Aku dan kakak Kun Bu tidak minum arak, Kau ada urusan apa? Ayo lekas-lekas bilang, Kami tak banyak mempunyai waktu, Kami harus lekas-lekas meneruskan perjalanan!" sahut Lie Ceng Loan dengan tidak sabar, Bee Kun Bu mengerutkan kening mendengar jawaban yang agak kasar itu, tapi orang tua itu hanya tertawa, "Baiklah, Siocia," katanya, "Kemanakah kamu hendak pergi? Aku dapat mengikuti agar kamu tak terlambat, dan kita dapat bereakap- cakap sambil perahu-perahu kita berlayar ke tempat yang kau tuju."

Bee Kun Bu menjawab: "Kita bermaksud mendarat di kota Gak Yo, dan kita tidak ingin menyusahkan”.

Orang tua itu menggelengkan kepalanya dan berkata: "Tidak susah, kita dapat bereakap-cakap sambil berlayar."

Lalu diperintahkannya orang-orangnya memasang layar- layar besar agar perahu itu dapat berlayar pesat menuju kota Gak Yo. Diperintahkannya kedua anak kecil yang menjadi pelayan menyuguhkan teh dan menyiapkan makanan untuk kedua tamunya, Sambil makan dan mi-num, mereka melanjutkan pembicaraan

"Gurumu telah menanam budi yang besar padaku, ia telah menolong jiwaku, Aku merasa malu tak dapat membalas budinya selama dua puluh tahun ini," memulai orang tua itu, "Kemarin dulu aku mendapat kabar, bahwa ia telah memperoleh peta asli Cong Cin To. Kabar itu telah menyebabkan banyak jago-jago silat dari kalangan Kang Ouw berkumpul di propinsi Hupeh. Aku khawatir dalam beberapa hari ini akan terjadi pertempuran-pertempuran dahsyat untuk merebut peta asli Cong Cin To itu. Untuk Cong Cin To itu, selama seratus tahun belakangan ini telah tewas banyak jago- jago silat Kamu adalah dari partai Kun Lun, dan kamu tak akan luput dari bokongan-bokongan dari partai silat lain. Aku tidak berani memastikan, bagaimana akibatnya, Aku pun datang dan menjumpai kamu atas perintah orang lain, karena peta asli Cong Cin To itu, Aku yakin dengan ilmu silat yang kamu pelajari dari Hian Ceng Totiang, kamu dapat menjaga dfri, Tapi gerak-gerik atau tindak-tanduk kamu berdua harus dirahasiakan jika ketahuan bahwa kamu dari partai Kun Lun dari Hian Ceng Totiang, kamu segera diintai oleh banyak jago- jago silat Tipu muslihat dan siasat di kalangan Kang Ouw seribu satu macam, dan untuk mencapai maksud nya, mereka akan menjadi kejam dan buas, peringatan inilah yang ingin kuberikan sebagai tanda membalas budi Hian Ceng Totiang yang telah menolong jiwaku, Hari ini beruntung sekali kamu berjumpa dengan kami... jika tidak, mungkin kamu harus melawan dan bertempur dengan susah payah!"

Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan mendengarkan keterangan-keterangan itu dengan sikap gelisah, "Kita telah berpisah dari guru, dan lebih daripada setengah bulan telah lewat semenjak suhengku Sim Cong dibunuh mati selagi membawa suatu benda..." pikir Bee Kun Bu, dan lalu memandang Lie Ceng Loan yang kini telah menjadi bebannya pula. Tiba-tiba ia berseru: "Aku telah memperoleh perhatian tuan dari angkatan tua, dan aku mengucapkan banyak-banyak terima kasih, Apakah guruku telah memperoleh peta asli Cong Cin To atau belum, aku tidak tahu dengan pasti Jika para jago silat telah berkumpul di Hupeh untuk bertempur melawan guruku dan mungkin juga melawan tuan dari angkatan tua, kami pun sebagai murid-murid partai Kun Lun tidak takut mati, Tuan dari angkatan tua telah datang ke sini atas perintah untuk mencari peta asli itu, kami pun tidak ingin merintangi lagi, dan kami segera minta diri!" Setelah mengucapkan perkataan itu, Bee Kun Bu mengajak Lie Ceng Loan keluar dari kabin. Tapi orang tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara keras: "Tidak salah jika Hian Ceng Totiang seorang satria, Coba lihat muridnya, orang-orang dari partai Kun Lun betul-betul tidak dapat dianggap remeh, Aku sangat memuji mereka. Ayo kembali, besok pagi kita mungkin sudah tiba di Gak Yo. Kesempatan ini sukar didapat Ayo kita bereakap-cakap lagi. Siapa tahu di kemudian hari aku harus mohon Siotee mengajarkan kepadaku ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat"

Bee Kun Bu tak dapat menolak ia yakin bahwa orang tua itu merasa girang dapat membalas sedikit budi guru-nya, dan juga merasa canggung karena ia harus merebut peta asli Cong Cin To dari tangan gurunya itu, ia duduk kembali di dalam kabin dan berkata: "Kita betul-betul berterima kasih atas kebaikan tuan dari angkatan tua, sebetulnya aku tak tahu pasti apakah peta asli Cong Cin To itu telah jatuh di tangan guruku."

"Aku pun tidak mengetahui dengan pasti, Tapi atas perintah orang lain, aku harus merebut peta asli itu. Aku hanya ingin memperingatkan kamu lagi, bila berada di daerah ini, yaitu daerah partai Tian Liong, kamu harus bertindak hati-hati sekali, karena jaring dari partai Tian Liong itu sangat rapat, dan orang-orangnya banyak," berkata si orang tua, lalu meneguk secangkir arak, Seterusnya mereka tidak mempereakapkan lagi soal peta Cong Cin To, melainkan hanya menceritakan segala sesuatu yang luar biasa di kalangan Kang Ouw,

Perahu layar itu berlayar dengan laju sekali, dan ketika fajar menyingsing, mereka telah tiba di kota Gak Yo. Mereka mendarat, dan melihat bahwa ke empat perahu yang kecil disertai perahu Bee Kun Bu telah tiba juga. Lalu Bee Kun Bu dan Lie Ceng Loan meloncat ke atas perahu kecilnya setelah minta diri dari orang tua itu. Bee Kun Bu lalu memeriksa barang-barangnya di dalam perahu dan ternyata tidak ada barang yang diganggu, perahunya berlayar sedikit lagi, lalu mereka mendarat

Ketika itu suasana belum terang, karena matahari belum terbit juga tidak kelihatan orang berkeliaran di jalan. Dengan ilmu meringankan tubuh mereka berjalan dengan pesat sekali dan dalam sekejap saja mereka telah menempuh jarak dua puluh lie lebih, Di depan mereka tampak dari jauh sebuah desa yang dilingkari gunung-gunung. Suara air mengalir dari sebuah sungai terdengar dengan nyata, Di sebelah Barat desa itu terletak sebuah rumah bergenteng merah. Sambil menunjuk ke arah rumah itu Bee Kun Bu berkata: "Rumah itu adalah rumahku, Ayahku telah menetap di desa Tiong An ini sejak dua puluh tahun ini."

Sambil tersenyum Lie Ceng Loan berkata: "Desa ini indah sekali, Kita dapat menangkap ikan di dalam sungai diwaktu senggang." Ucapan ini menyebabkan Bee Kun Bu terkenang akan masa kanak-kanaknya, ketika ia ber-sama-sama saudara sepupu perempuannya, Ling Sio Cien, menangkap ikan di dalam sungai, Ling Sio Cien, lebih tua tiga tahun daripadanya, dan menjadi yatim piatu ketika masih kecil.

Lalu ia dipelihara oleh ibunya, dan Bee Kun Bu menganggapnya sebagai kakaknya sendiri, Ling Sio Cien pun yang pintar dan cerdas, juga amat sayang padanya, Ketika Bee Kun Bu berusia delapan tahun dan dibawa oleh Hian Ceng Totiang, bukan main sedih hatinya. Mereka telah berpisah selama dua belas tahun. Betul ia pernah mengunjungi ibu bapaknya dua kali, akan tetapi ia tidak tinggal lama-lama.

Ia hanya menginap dua hari, lalu kembali lagi ke kuil San Ceng Koan, Ketika ia kembali untuk kedua kalinya, ia telah berusia delapan belas tahun, dan Ling Sio Cien dua puluh satu tahun. Mereka telah menjadi jejaka dan gadis, dan masing-masing merasa canggung untuk bereakap-cakap lagi, Ling Sio Cien hanya bisa menasehatkan supaya ia belajar silat dengan tekun, "Hian Ceng Totiang adalah seorang yang luar biasa, Kau beruntung menemuinya dan diterima sebagai muridnya." demikian nasehatnya, Bee Kun Bu yang cerdik segera mengerti maksudnya itu. Kini ia kembali dengan mengajak Lie Ceng Loan, Apakah ia akan menimbulkan salah paham? ia berhenti berjalan ketika pikiran itu datang,

Melihat ia terpesona, Lie Ceng Loan menegur "Kakak Kun Bu, apakah yang kau pikiri?" Bee Kun Bu terkejut dan menyahut: "Aku memikirkan Suhu. " Lalu ia berjalan lagi

menuju ke rumah yang bergenteng merah itu. Setelah mereka menyeberangi sungai kecil dan melalui padang rumput dan hutan bambu, mereka tiba di depan pintu rumah itu, yang memakai papan nama "Sui Goan San Cong" (rumah pegunungan terang bulan"), Seorang bujang tua yang berusia lima puluh tahun lebih yang berada di pekarangan depan melihat mereka datang berseru: "Majikan muda telah datang, Kemarin majikan tua telah berbicara tentang majikan muda, karena besok adalah hari ulang tahun wafat nya Ling Sio Cien Siocia. " Belum lagi ucapan itu selesai, Bee Kun Bu

merasa ngeri dan terkejut! ia bertanya dengan bernafsu: "A Luk! Apakah katamu?! Kakak sepupuku meninggal?!" Dengan menarik napas panjang bujang tua itu menyahut.”Tuhan tak bermata. Ling Sio Cien yang cantik jelita meninggal lebih

dulu daripada aku si tua bangka ini. "

Dengan mencengkeram kedua pundak bujang tua itu Bee Kun Bu bertanya lagi: "Bagaimanakah matinya?!" Sedih sekali hatinya, seakan-akan ditusuk-tusuk dengan belati! Bujang tua itu mengucurkan air mata, dan tak dapat segera menjawab Lie Ceng Loan yang melihat adegan menyedihkan itu juga terharu, tetapi ia masih hijau dan tak dapat menghibur Ketika itu dari dalam rumah berjalan keluar seorang tua yang sudah putih rambutnya dan berpakaian congsam (baju panjang). ia memberitak, "Kun Bu, lepaskan cengkeraman itu, Apakah kau sudah gila? pundak itu bisa remuk!"

Bentakan itu menyadarkan Bee Kun Bu. Dilepaskannya cengkeraman nya. ia menoleh ke rumah, dan melihat ayahnya berjalan keluar ia berlari mendatangi dan berlutut di hadapan ayahnya sambil berkata: "Ananda telah pulang." Ayah Bee Kun Bu lalu bertanya pada bujang tua itu, apakah ia terluka, Bujang tersebut menyahut sambil meringis: "Tidak apa-apa.

Hanya sakit sedikit! Tapi hebat betul cengkeramannya!"

"Kau seperti anak kecil! Jika aku datang terlambat sedikit, mungkin pundaknya A Luk sudah remuk!" demikian ayahnya memarahi Kun Bu. "Anda minta maaf, ananda telah lupa karena mendengar kabar buruk tentang meninggalnya kakak Ling Sio Cien!" sahut Bee Kun Bu.

"Cien Ji masih muda, Sayang sekali ia meninggal dalam usia sedemikian muda, Aku dan ibumu telah berusaha sedapat-dapatnya, tapi manusia berusaha, Tuhan berkuasa!" ia berkata sambil menarik napas panjang, Ketika ia melihat Lie Ceng Loan ia bertanya: "Siapakah gadis berbaju merah ini?"

Bee Kun Bu bangkit dan berkata: "lni adalah Sumoayku bernama Lie Ceng Loan. Atas perintah Suhu, ananda harus membawanya ke pegunungan Kun Lun." Ketika itu Lie Ceng Loan mendekati Bee Kun Bu, dan sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat ia berseru: "Paman!"

Ayah Bee Kun Bu bernama Bee Liong, ia pernah menjadi kepala kampung, akan tetapi karena ia di geser oleh orang atasannya Lauw Khin, ia telah diberhentikan dan kembali ke kampung halamannya, ia tinggal di rumahnya menjalani hari tuanya sambil mempelajari kesusasteraan. Ketika Bee Kun Bu berusia empat tahun dan sedang bermain-main dengan Ling Sio Cien di padang rumput, kebetulan Hian Ceng Totiang lewat, dan melihatnya, Dengan matanya yang awas, Hian Ceng Totiang segera mengetahui bahwa anak itu luar biasa, dan segera timbul hasratnya untuk mengambilnya sebagai murid. Bee Liong yang mengetahui bahwa Hian Ceng Totiang itu bukan orang sembarangan lalu mengundangnya masuk rumah, pertemuan itu telah menyebabkan keduanya mengikat tali persahabatan.

Dan seterusnya tiap tahun Hian Ceng Totiang pasti datang ke rumah Bee Liong. Ketika Bee Kun Bu berusia delapan tahun, Hian Ceng Totiang memberitahukan pada Bee Liong bahwa pu-teranya adalah anak yang luar biasa dan berbakat Bee Liong menyahut "Aku ini orang desa, dan aku tidak mempunyai harapan bahwa puteraku akan menjadi terkenal Jika saudara sudi menerimanya sebagai murid, aku rela menyerahkan." jawaban itulah justru yang diharap-harap oleh Hian Ceng Totiang, ia segera menyanggupi untuk menerima Bee Kun Bu sebagai muridnya, dan berjanji akan mengajarkan segala ilmu silat partai Kun Lun, dan merawatnya seperti anaknya sendiri. Demikianlah Bee Kun Bu dibawa ke kuil San Ceng Koan, dan telah diajari ilmu silat selama dua belas tahun sehingga ia menjadi seorang jago silat yang luar biasa dari yang luar biasa di kalangan Kang Ouw,

Bersama-sama mereka masuk ke dalam ruangan tamu, Setelah duduk, Bee Liong bertanya: "Apakah gurumu baik- baik saja? Kapankah kau kembali lagi ke kuil San Ceng Koan?" Bee Kun Bu menyahut: "Suhu telah memerintahkan ananda menengok ibu dan ayah dulu, Setelah lewat sebulan, ananda harus mengantar Lie Sumoy pergi ke pegunungan Kun Lun menemui paman-paman guru, dan tak akan kembali lagi ke kuil San Ceng Koan."

"Kau adalah murid partai silat Kun Lun, dan harus menaati segala perintah gurumu, Aku dan ibumu sudah berusia lanjut, dan kami tak menghiraukan lagi segala urusan dunia, semenjak kakakmu Sio Cien meninggal, ibumu sangat bersedih hati, dan tiap-tiap hari ia membaca kitab suci, Jika ia sedang membaca, siapapun tak boleh mengganggu sebetulnya ibumu seorang sakti, ia telah dapat meramalkan bahwa Sio Cien tak dapat hidup sampai umur dua puluh lima tahun, Betul juga ia meninggal setahun yang lewat karena menderita sakit cacar, Pamanmu, ketika menjadi wedana, pernah berbuat banyak perbuatan yang bukan-bukan, dan ia telah memperoleh balasan yang setimpal, bahkan dosanya telah menimpa puterinya, Sio Cien itu. sebentar jika ibumu telah selesai dengan membaca kitab suci, kau dapat menjumpainya Besok kau harus pergi sembahyang di hadapan kuburan Sio Cien, Apa yang hendak kau lakukan di kemudian hari, aku tidak menghiraukan karena gurumu tentu lebih mengetahui jalan apakah yang harus kau tempuh, Ya... aku sudah tua, mungkin tak dapat bertemu muka lagi."

Lalu ia menganggukkan kepalanya kepada Lie Ceng Loan dan keluar dari ruang tamu itu. Bee Kun Bu mendengarkan uraian ayahnya dengan kedua mata terbelalak seperti sebuah patung. ia mengawasi ayahnya yang berjalan keluar tanpa menoleh-noleh lagi ke belakang. ia tak mengetahui bahwa ayahnya telah menjadi seorang suci yang tak menghiraukan harta dunia atau kesenangan dunia, dan yang tak mau dipusingkan oleh apa saja yang akan datang, Ya... ia telah bertapa di rumah itu selama dua puluh tahun dengan tenteram, aman dan tenang, Orang semacam itu tidak lagi membedakan mati atau hidup.

Dengan tak disadarinya, air matanya mengucur Lie Ceng Loan menghibur "Kakak Kun Bu, sudahlah, jangan bersedih hati!" Bee Kun Bu lekas-lekas menyusut air matanya, dan dengan senyum paksaan ia mengajak Lie Ceng Loan menemui ibunya. Setelah berjalan melalui sebuah taman bunga, mereka tiba di sebuah kamar di mana tampak seorang wanita yang berusia setengah abad, berparas cantik, sedang memejamkan mata menyanyikan sajak dari kitab suci yang terletak di pinggir meja kayu cemara dan berbentuk delapan persegi Bee Kun Bu menghampiri ibunya, lalu berlutut di hadapannya sambil berkata: "lbu, ananda telah pulang!"

Lalu Bee Hujin membuka matanya, ia mengusap-usap kepala puteranya, dan berkata: "Kau telah pulang, Kebetulan sekali! Besok adalah hari ulang tahun meninggalnya kakakmu, Sebelum ia menutup mata, ia telah menyebut-nyebut namamu, Besok kita pergi ke kuburannya, ia dikuburkan di kaki gunung di sebelah Barat, dimana kamu suka bermain- main ketika masih kecil."

Dengan mata yang berlinang-linang Bee Kun Bu menyahut: "Sayang ananda tak dapat bertemu dengan ia ketika ia meninggal!"

Dengan wajah seorang ibu yang mencintai anaknya, Bee Hujin berkata lagi sambil menarik napas: "Sio Cien pintar dan cerdas, Sayang umurnya pendek. ia meninggal karena dosa ayahnya, Hai, siapakah gadis ini?" Lie Ceng Loan yang juga turut berlutut, ketika ditegur, segera menyahut: "Bibi, aku Lie Ceng Loan, bersama-sama kakak Kun Bu adalah murid dari partai Kun Lun." Bee Hujin lekas-lekas mengangkatnya, dan mengawasi paras mukanya, "O! Kau Sumoynya Kun Bu, berapa usiamu tahun ini?"

"Tahun ini aku berusia tujuh belas tahun," sahut Lie Ceng Loan,

"Kau berasal dari mana? siapakah ibu bapakmu?" pertanyaan itu menusuk hati si gadis. ia ingat bahwa ia dari kecil telah dipelihara oleh Ngo Kong Toa-su yang mencintainya seperti puteri kandungnya, ia merasa sedih karena belum pernah menikmati kasih sayang seorang ibu dan ia pun tak mengetahui siapakah ibu bapaknya.

Pertanyaan tersebut menyebabkan ia menangis, lalu menjawab: "Loan Jie anak piatu semenjak bayi, Ngo Kong Toa-su mengatakan bahwa aku bernama Lie Ceng Loan, akan tetapi tak mengetahui siapakah ibu bapakku. " Tiap-tiap

perkataan yang diucapkan memilukan hati. Bee Hujin mengusap-usap rambutnya seperti seorang ibu yang menghibur puterinya. "Sudahlah, jangan bersedih hati lagi!"

Setelah menyusut air matanya, ia bertanya: "Bibi apakah aku akan bernasib seperti kakak Sio Cien, berumur pendek juga?"

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman seorang ibu.

-ooo0ooo-

Bersumpah di depan kuburan

Lalu untuk meredakan Bee Hujin berkata: "Anak, kau beruntung, kau tidak senasib dengan Sio Cien," Kemu-dian sambil menghadapi puteranya ia berkata: "Anak, ayahmu telah berubah, ia telah berkeras hati bertapa di rumah di desa yang terpencil ini. Aku meskipun telah mempelajari kitab-kitab suci dari Buddha, hatiku tidak sekeras hati ayahmu, Aku senantiasa memikirkan kau. Aku yakin kau berwatak ksatria, dan aku ingin kau selalu begitu, jangan sekali-kali melupakan budi orang."

Lalu Bee Hujin memejamkan mata kembali untuk menyanyikan sajak dari kitab suci. Bee Kun Bu juga tidak ingin lagi mengganggu ia mengajak Lie Ceng Loan keluar dari kamar itu.

Bujang tua sudah menyiapkan kamar untuk majikan mudanya, dan juga untuk Lie Ceng Loan.

Keesokan harinya ia telah menyiapkan keperluan- keperluan untuk sembahyang, dan menunjukkan jalan ke kuburan Ling Sio Cien, setibanya di kuburan itu, Bee Kun Bu berkata: "A Luk, pulanglah kau, tinggalkan aku seorang diri di sini." A Luk berkata sebelum pergi: "Orang yang sudah mati tak akan hidup kembali Majikan muda tak usah terlampau bersedih hati, Aku akan datang sebentar lagi."

Setelah A Luk pergi, Bee Kun Bu tak tahan lagi, Air matanya mengucur, dan karena amat sedihnya ia terjatuh di depan kuburan itu! A Luk yang belum pergi jauh, setelah melihat ini, lekas-lekas datang, dan berusaha menyadarkan majikannya, tetapi tak berhasil ia lekas-lekas lari memberitahukan kepada Lie Ceng Loan yang kebetulan berdiri di depan rumah,

Dengan ilmu meringankan tubuh, gadis itu telah tiba di kuburan dan menyaksikan Bee Kun Bu jatuh bertiarap di depan kuburan, ia terkejut dan menubruk sambil berteriak: "Kakak Kun Bu,., kakak Kun Bu... kakak Kun Bu. " Tapi Bee

Kun Bu tidak bergerak. Dirangkulnya tubuh Bee Kun Bu dan menangis keras-keras, ia berseru: "Kakak Kun Bu, jika kau mati, aku pun tidak mau hidup lagi." " Tiba-tiba ia merasa hembusan angin dan mendengar suara orang yang telah dikenalnya,

"Sobat! Apakah kau tidak ingin ia hidup?!" membentak suara itu. Lie Ceng Loan segera berdiri dan mencari orang yang membentak itu. Si jenggot putih yang dijumpainya di telaga Tong Ting Ouw berdiri di depan nya. Si jenggot putih tak menunggu Lie Ceng Loan berbicara, lalu menjelaskan "Karena terlampau bersedih hati ia telah merintangi jalan napasnya, Jika kau rangkul ia sekeras itu, hawa di dalam tubuhnya sukar keluar, dan ia akan menderita Iuka-luka di dalam tubuh, Dan... ia bisa mati atau menjadi orang cacad."

Sambil menangis tersedu-sedu ia berkata: "Cara bagaimanakah kita harus menolongnya.,.? Jika ia mati, aku pun tidak sudi hidup. "

Si jenggot Putih menghampiri tubuh Bee Kun Bu, Lalu dengan tinju kanannya dipukul nya jalan darah di punggungnya, dan dengan jari-jari tangan kirinya, ia membebaskan jalan-jalan darah di dada dan paru-parunya. Sejenak kemudian, Bee Kun Bu menjerit dan menghembuskan napas dari lubang hidung dan mulutnya, ia sadar, dan segera berdiri kembali Lie Ceng Loan menghaturkan terima kasih kepada si jenggot putih lalu memeluk Bee Kun Bu sambil bertanya: "Kakak Kun Bu, mengapa kau tadi?" Bee Kun Bu tidak menyahut, tapi ia menghaturkan terima kasih kepada si jenggot putih yang berkata: "sebetulnya Sumoaymu juga dapat menolong kau, Hanya ia kurang berpengalaman dan tidak tahu yang harus diperbuatnya apa dalam kebingungan tadi"

"Tuan dari angkatan tua telah memberi peringatan kepada kami ketika di atas perahu, Kini telah menolong jiwaku lagi, Budi tersebut tak akan dapat kulupakan," sahut Bee Kun Bu,

Sambil tertawa si jenggot putih berkata lagi "Bee Siotee telah bicara dengan cepat sebetulnya partai Tian Liong kami dan partai Kun Lun tidak bermusuhan Tapi peta asli Cong Cin To itu merupakan suatu mustika yang sedang diperebutkan oleh berbagai-bagai partai silat Ketika di atas perahu, bukankah aku pernah mengatakan bahwa kita berjumpa lagi, mungkin aku minta Siotee mengajarku ilmu silat pedang Hun Kong Kiam Hoat?" “Tuan dari angkatan tua telah datang ke sini dengan maksud mengejar peta asli Cong Cin To, Sesungguhnya, Con Cin To itu tidak berada di tanganku," berkata Bee Kun Bu sambil tersenyum

"Jika demikian halnya, aku minta Siotee menemui pemimpin partai Tian Liong kami," kata si jenggot putih.

Bee Kun Bu berpikir sejenak, lalu menyahut: "Dari pembicaraan itu, rupa-rupa nya tuan dari angkatan tua ingin menangkap aku hidup-hidup, bukan ?"

Si jenggot putih mengurut-urut jenggotnya dan ber-kata: "Peraturan partai ku sangat keras. Aku si tua bangka tak dapat mengambil keputusan sendiri Aku terpaksa membawa kau menemui pemimpin partaiku."

Dengan berdiri tegap, Bee Kun Bu menjawab: "Kita dari partai Kun Lun tidak mudah digertak Lagi pula menangkap aku hidup-hidup tidak mudah!"

Pada saat itu, si jenggot putih mengejek: "Gurumu betul terkenal sekali, dan kau sendiri mungkin lihay, Tapi aku ingin mencoba ilmu silatmu dalam beberapa jurus! Kemudian baru kita berbicara lagi!"

Dengan merendah Bee Kun Bu berkata: "Siotee tak berpengalaman, ilmu silat yang telah dipelajaripun tidak lihay. Tapi Siotee merasa beruntung dapat kesempatan menguji silat melawan tuan dari angkatan tua dan dengan demikian mungkin banyak mendapat manfaatnya, Tapi kita telah bertemu dua kali, dan sampai sekarang aku belum mengenal siapa sebetulnya tuan dari angkatan tua ini."

"Aku ini pemimpin cabang daerah sungai Yang Tsu dari partai Tian Liong bernama Tee Ju Liong, alias Naga Sakti dari Sungai Yang Tsu," ia menjelaskan sambil tertawa, "Nah, Siotee! jaga serangan ini!" peringatan itu diiringi dengan cengkeraman tangan kanan secepat kilat ke muka Bee Kun Bu, yang buru-buru mengelak Lie Ceng Loan tak tinggal diam. ia membalas menyerang dengan kedua tangannya yang putih halus dengan ilmu Ouw Tiap Hui Bu atau kupu-kupu menari- nari di sinar matahari yang memaksa Tee Ju Liong mundur untuk menghindarkan serangan cakaran yang bertubi-tubi itu!

Lie Ceng Loan membentak: "Kau telah menolong kakakku, aku berterima kasih. Tapi jika kau menyerang ia, aku pasti membalas!"