Badik Buntung Bab 36 Tamat

 
Bab 36 (Tamat)

Thian-hi semakin terkejut, melawan Bu-bing saja sudah berat ditambah orang-orang yang dicekoki racun kena dipengaruhi itu, semakin sulit lagi dilawan

“Kini dia lebih apal lagi keadaan dalam Jian-hud-tong, aku kuatir sulit untuk membekuk dan mengatasi mereka. Cuma untung dari Lam In sendiri atas prasaran Kim-eng Lojin aku mendapat obat pemunah racun Kiu-li-san itu.”

Thian-hi jadi berjingkrak girang, “Obat pemunah macam apakah?” tanyanya. “Berupa bubuk juga. Cukup ditebarkan saja, sekali mereka mengendus bau obat yang harum itu seketika mereka akan sadar, dan tidak terkendali lagi oleh Tok-sim-sin-mo.”

“Kalau begitu kita tidak perlu gentar menghadapi bangsat laknat itu.”

“Tapi obat itu cuma sebungkus, sebungkus ini harus sekaligus dapat mengobati sekian banyak orang. Untuk meramunya lagi waktunya terang tidak keburu lagi.”

Thian-hi terbungkam kuatir, ia terlongong sekian saat.

“Kau simpanlah obat ini,’ ujar Pek Si-kiat menyerahkan sebungkus obat, “jelas dia akan menghadapimu sekuat tenaganya.”

Thian-hi sambuti bungkusan obat itu, ujarnya, “Sebungkus ini lebih baik kubagi menjadi dua saja.” — lalu ia membuka bungkusan itu dan dibagi menjadi dua lalu dibungkus lagi, sebungkus yang lain ia berikan kepada. Pek Si-kiat.

“Nak, marilah percepat, mungkin Ci-ko dan Han Gwat sudah tiba disana.” demikian ajak Pek Si- kiat. Thian-hi mengiakan, mereka langsung menuju ke Jian-hud-tong.

Waktu terang tanah Sotouw Ci-ko dan Ham Gwat sudah tiba diambang mulut gua seribu buddha. Sekian lama mereka berdiri menjublek susah ambil ketetapan. Akhirnya Sutouw Ci-ko berkata, “Adik Ham Gwat, kita terjang ke dalam atau menunggu kedatangan Hun Thian-hi.”

“Entah Thian-hi sudah tiba atau belum, mungkin sudah tiba dan langsung menerjang masuk maka kita pun tak perlu beragu lagi. Cuma untuk menjaga segala kemungkinan, lebih baik kita tinggalkan beberapa patah kata disini, umpama mereka terlambat segera bisa menerjang masuk.”

Sutouw Ci-ko manggut-manggut, dengan ujung pedang ia menggores beberapa huruf dibatang pohon. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara dingin.

Waktu berpaling seketika berubah air muka mereka, yang datang ini kiranya bukan lain Bu-bing Loni adanya, dengan dingin ia menatap muka Ham Gwat.

Dengan dingin dan takabur Ham Gwat balas tatap Bu-bing Loni, saat mana sedikitpun ia tidak lagi merasa gentar menghadapi Bu-bing. Setelah dia jelas mengetahui riwayat hidupnya sendiri, lebih besar pula rasa bencinya terhadap Bu-bing musuh ayah bundanya.

Hawa amarah bergejolak dirongga dadanya menggantikan perasaan takutnya. Semula Bu-bing tidak percaya bahwa Ham Gwat berani bersikap begitu garang dan kurang ajar terhadap dirinya. ‘Ham Gwat,’ jengeknya dingin, “Setelah berhadapan, kau masih berani melawan aku?”

“Jangan toh melawan melihat kau, melihat musuh besarku, aku benci kau ketulang sungsummu, ingin rasanya kusayat dagingmu kubeset kulitmu.” sembari berkata ia melolos pedang.

Bu-bing menyeringai sadis, ia tahu Ham Gwat sudah terlalu benci padanya, Ham Gwat harus dilenyapkan dulu dari depan hidungnya, maka iapun melolos pedang, ejeknya, “Permainan pedangmu hasil ajaranku, kau berani melawan gurumu, agaknya kau sedang mimpi!”

Ham Gwat mandah menyeringai dingin, setindak demi setindak ia menghampiri kehadapan Bu- bing Loni…. Sutouw Ci-ko menjadi Kuatir, murid mana bisa menang melawan guru, situasi membuat hatinya menjadi tabah, rasa takutnya terhadap Bu-bing sudah lenyap, pelan-pelan iapun keluarkan pedangnya ikut mendesak maju.

Ham Gwat tahu juga akan tindakan Sutouw Ci-ko ini, cepat ia mencegah tanpa menoleh, “Ci-ko cici kau mundur saja, aku punya cara menghadapi dia!”

Sutouw Ci-ko tertegun, sambil menyoreng pedang ia berdiri disamping.

“Apa kemampuanmu kau berani melawan aku.” demikian cemooh Bu-bing. Sementara pedangnya sudah terangkat lempang pelan-pelan menuding ke arah Ham Gwat

Langkah Ham Gwat tak berhenti, kedua biji matanya sedingin es menatap Bu-bing, dalam hati ia sedang menerawang cara menghadapi musuh besar ini. Rasa gusar sudah menghayati keberaniannya.

Adalah Bu-bing sendiri sebaliknya menjadi bersitegang leher, pandangan Ham Gwat yang dingin setajam sembilu menusuk sanubarinya, bertambah besar rasa jerinya.

Tiba-tiba Ham Gwat tersenyum sinis, badannya pun melejit ke depan, pedangnya panjang menyampok miring terus menutul bergantian. sekaligus ia menutuk jalan darah Thay-yang-hiat dikedua pelipis Bu-bing Loni.

Mencelos hati Bu-bing, tipu serangan ini bukan dia yang mengajarkan, bukan pula pelajaran dari ibu kandung Ham Gwat. Ong Ging-sia, belum pernah ia melihat jurus serangan aneh ini, begitu ganas dan cepat sekali, keruan bertambah kebat-kebit hatinya, serta merta meningkatkan perhatiannya. Mungkinkah Ham Gwat mendapatkan hasil kemujijadan? Kalau tidak dari mana ia peroleh jurus aneh ini.

Tidak berani balas menyerang ia cuma gerakan pedangnya memunahkan serangan Ham Gwat ini ditengah jalan Benar-benar diluar tahunya, bahwa serangan pedang aneh yang dilancarkan seenaknya ini justru membawa pukulan batin yang teramat besar bagi Bu-bing Loni, hampir saja karena rasa curiganya itu Bu-bing sudah hendak berlari masuk ke dalam gua.

Sebelum kedua batang pedang saling bentur, Ham Gwat memuntir pedangnya, seketika bianglala berkelebat melambung, dengan jurus permainan Hui-sim-kian-hoat ia menyerang secara ganas kepada Bu-bing. Melihat Ham Gwat tidak melancarkan jurus aneh lagi, rada lega hati Bu- bing, tapi hatinya sudah tertekan dan dihantui oleh kekuatiran sendiri, ia jadi was-was bila Ham Gwat melancarkan jurus pedang aneh, maka ia tidak berani balas menyerang setaker tenaganya.

Dengan permainan pedang yang sama, mereka serang menyerang tak berkeputusan, tahu-tahu seratus jurus sudah lewat. Baru sekarang ia sadar bahwa jurus permulaan dari permainan pedang Ham Gwat tadi melulu cuma gertakan belaka, terang dirinya kena tipu belaka. Keruan ia naik darah, dari berjaga kini ia balas menyerang dengan gencar, seketika Ham Gwat terdesak kerepotan di bawah angin.

Tapi Haa Gwat sudah tidak merasa takut lagi terhadan Bu-bing, bahwasanya Lwekangnya sekarang terpaut tidak terlalu jauh dibanding Bu-bing, apalagi permainan pedang Bu-bing pun dipahami pula, dalam seratus jurus betapa pun ia tidak akan terkalahkan, asal Bu-bing tidak melancarkan Lian-hoan-sam sek, jurus berantai terakhir yang paling hebat.

Dari bertahan sekarang Bu-bing berinisiatif menyerang, hawa pedangnya berkembang melebar melingkupi gelanggang pertempuran, tapi Ham Gwat tumplek seluruh perhatian dan semangatnya melayani setiap rangsakan lawan, sedemikian rapat dan hati-hati ia menghadapi lawan sehingga musuh tak berikesempatan menyelinap membokong atau mencari lobang kelemahannya. Jurup demi jurus terus berlalu, lama kelamaan Bu-bing jadi uring-uringan dan dongkol, masa murid didiknya sendiri ia tidak mampu membereskan, ini merupakan pukulan batin dan kejadian yang sangat memalukan…. Soalnya Ham Gwat bermain semakin mantap sehingga ia tidak kuasa berbuat apa-apa lagi.

Semakin lama serangan Bu-bing semakin gencar, nafsunya membunuh semakin berkobar pula, tidak melabrak dengan kesengitan tiba-tiba ia menarik mundur pedangnya malah dan terus menyurut mundur.

Ham Gwat juga melintangkan pedang mundur beberapa tindak, ia tidak mengejar lebih lanjut.

Permainan ilmu pedang Bu-bing sedemikian sampurna, Lwekangnya pun tinggi setingkat di atas kemampuannya, cuma berjaga membela diri saja ia sudah kepayahan, mana ia berani maju mengejar.

Setelah mundur sampai jarak yang tertentu Bu-bing berhenti dan mengawasi Ham Gwat dengan rasa kebencian yang meluap-luap, hawa membunuhnya sudah menghantui sanubarinya, sorot matanya berubah beringas buas seperti mata serigala kelaparan. Dia sudah berkeputusan untuk menggunakan ilmu pedang Lian-hoan-sam-sek yang menjadi permainan pedang rahasia pribadinya, besar tekadnya melenyapkan jiwa Ham Gwat seketika itu juga.

Pedang panjang sudah terangkat pelan-pelan, sekonyong-konyong tergerak hatinya, dengan menuruti kemauan hati melulu ia merasa betapa goblok dirinya ini, bukankah masih ada musuh besar yang paling tangguh macam Hun Thian-hi belum lagi sempat kulenyapkan. Bukankah Ham Gwat merupakan bahan sandera yang paling bermanfaat? Kenapa aku tidak meringkus Ham Gwat untuk kujadikan kaki tangan dan alat melawan musuh. Dengan berbagai akal akhirnya berhasil menawan ayah bunda Ham Gwat kesini, dan sekarang tibalah saatnya mereka dimanfaatkan….

Karena pikirannya ini. Bu-bing mengurungkan niatnya, pedang ditarik kembali, tiba-tiba ujung mulutnya mengulum senyum licik, tanpa bersuara tiba-tiba ia membalik dan lari ke dalam Jian- hud-tong.

Heran dan tak habis mengerti Ham Gwat dibuatnya. Tadi ia lihat Bu-bing sudah mengkonsentrasikan diri untuk melancarkan Lian-hoan-sam-sek dengan setaker tenaganya, pertarungan yang bisa bikin dirinya kalah dan konyol daripada menang ternyata batal dan terhenti. Keruan bukan kepalang rasa lega dan syukurnya. Pelan-pelan iapun simpan kembali pedangnya, pandangannya menjadi kosong mengawasi mulut gua di mana tadi Bu-bing menghilang, hatinya tengah menerawang tindakan Bu-bing untuk selanjutnya.

Sudah lentu segala sepak terjang dan tindak tanduk Bu-bing tidak lepas dari pengawasannya karena sekian tahun ia hidup berduaan dengan Bu-bing, maka watak dan perangai orang sedikit banyak sudah diselami olehnya. Setelah menyadari tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bu-bing Loni, ia jadi termenung dan menekan perasaannya, terpikir olehnya, “apa yang harus kulakukan sekarang? Masuk ke Jian-hud-tong? Apa yang bakal terjadi di dalam nanti sebelumnya sudah dapat ia bayangkan, sampai ia. menjadi ragu-ragu terhadap diri sendiri apakah aku punya keberanian itu? Tapi bisakah aku tidak usah masuk?’

“Marilah kita masuk!” dari samping Sutouw Ci-ko mengajak.

Setelah direnungkan akhirnya Ham Gwat berkepastian, ia manggut-manggut, dengan kalem mereka melangkah masuk ke dalam Jian-hud-tong. Tak berapa jauh mereka masuk, tahu-tahu mereka dihadapi sebuah jalan bercabang, mereka jadi bingung jalan mana harus mereka tempuh. Disaat Ham Gwat berdua sangsi itulah mendadak Ham Gwat memutar tubuh dengan sebat. sesosok bayangan tahu-tahu sudah mengindap dekat di belakang mereka, begitu Ham Gwat bergerak orang itu lantas menubruk dengan kecepatan kilat seraya menghantamkan kedua telapak tangannya.

Ham Gwat mendengus berat, serta merta pedang panjangnya berkelebat menyontek miring terus ditegakkan ke atas menusuk dada lawan. Nyata gerak gerik sipembokong ini sebat luar biasa. ditengah jalan mendadak ia jumpalitan mencelat mundur, disaat yang sama berbareng bayangan hitam yang lain sudah menyergap datang pula dari sebelah samping.

Dikala mendesak mundur penyergap pertama tadi sekilas pandang Ham Gwat sudah dapat melihat orang itu adadah Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko, hatinya bercekat, dalam hati ia membatin bukankah dia sudah berjanji kepada Thian-hi untuk menyembunyikan diri tidak terjun kedunia Kangouw pula? Kenapa sekarang kembali ke Jian-hud-tong?

Waktu ia membalik tubuh dan menangkis sergapan musuh kedua dari samping lagi-lagi bertambah besar kejutnya, mereka adalah gembong-gembong iblis yang pernah berjanji pada Thian-hi untuk mengasingkan diri.

Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi, begitu terdesak mundur tangkas sekali mereka sudah merangsak maju pula. Terpaksa Ham Gwat tidak pandang bulu, sambil menghardik nyaring sebelah tangan kiri menarik Sutouw Ci-ko berbareng pedang ditangan kanan berkelebat laksana lembayung memancarkan cahaya merah dadu, dengan sejurus Wi-thian-tong-te (menjungkir langjt menggetar bumi), ia lancarkan serangan pedang yang dahsyat untuk membela diri. sekaligus ia berhasil mendesak kedua musuhnya mundur pula, selintas kesempatan mereka berhasil membelakangi dinding, dengan cermat mereka siap menghadapi situasi di depan mata.

Bing-tiong-mo-tho membawa dua kawan, mereka mengepung dan merangsak dari tiga jurusan, sementara itu mereka tengah berhenti menghimpun tenaga dan mengatur napas untuk melancarkan serangan gelombang kedua.

Saking uring-uringan cepat Ham Gwat menghardik, “Tahan! Bukankah kalian dulu pernah berjanji tidak akan terjun kedunia persilatan lagi?”

Tapi ketiga orang itu tidak hiraukan segala ocehan Ham Gwat, pelan-pelan mereka sudah angkat tangan, berbareng melancarkan gempuran ke arah Ham Gwat dan Sutouw Ci-ko.

Mencelos hati Ham Gwat, tak sempat banyak pikir, gelombang dahsyat laksana gugur gunung dari gempuran gabungan ketiga musuh sudah melandai tiba, menghadapi rangsakan tenaga raksasa ini Ham Gwat tidak berani menyambut secara keras, sambil menggeret Sutouw Ci-ko, laksana seenteng asap terbawa angin. tahu-tahu mereka melayang menyingkir sebelum gempuran dahsyat musuh tiba, begitu badan melejit terbang mereka mencari tempat berpijak di dalam lorong gua sebelah lain.

Gerak-gerik ketiga musuh juga tak kalah gesitnya, serempak mereka memutar dan memburu maju, enam pasang mata mendelik ke arah Ham Gwat berdua.

Begitu melihat sinar mata ketiga orang ini baru bercekat hati Ham Gwat, sorot mata mereka guram dan kaku seperti orang mati, lapat-lapat sanubarinya menyadari sesuatu keganjilan yang sudah menjadi kenyataan, tak heran mereka tidak mau hiraukan seruannya, kiranya mereka sudah sama dikerjain oleh Tok-sim-sin-mo. Sementara itu ketiga musuh sudan menghampiri dekat, pikiran Ham Gwat bekerja cepat, kedua matanya yang jeli dan tajam menerawang keadaan sekelilingnya. sambil menarik Sutouw Ci-ko ia berkata, “Cici! Mari cari tempat lain untuk memghadapi mereka.” — sembari bersuara badan mereka pun sudah melambung tinggi melesat masuk ke dalam sebuah mulut gua disebelah atas dipojok Sana.

Cepat Sutouw Ci-ko ditarik ke belakangnya, dengan sebilah pedang ia rintangi ketiga musuh yang mengejar datang. Di tempat yang sangat sempit ini Bing-tiong-mo-tho bertiga menjaj mati kutu, apalagi mulut gua itu cukup tiba untuk lewat satu orang saja, tak mungkin mereka bisa merangsak bersama pula.

Meskipun Bing-tiong-mo-tho bertiga sama tokoh-tokoh kosen, tapi kepandaian Ham Gwat rasanya tidak lebih asor dari mereka, apalagi dengan bersenjatakan pedang, dalam sekejap saja ia mampu mentaburkan batang pedangnya laksana kitiran membentuk gugusan sinar pedang laksana gunung kokohnya, maka dengan tenang dan mantap tanpa takut sedikitpun selalu ia berhasil menghalau setiap gempuran mereka bertiga.

Sekejap saja saking cepat pertarungan mereka, seratus jurus sudah berlalu. Ham Gwat lantas berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Cici! Kau mundur dulu, segera kususul kau!”

Sutouw Ci-ko insaf kehadirannya di tempat itu menjadi penghalang dan mengganggu konsentrasi permainan Ham Gwat melulu, cepat ia manggut mengiakan terus mundur ke belakang.

Setelan berjaga sekian lamanya dan dirasa temponya sudah mencukupi, pedangnya mendadak menggelegak getar, hawa pedang lantas luber kesekelilingnya, sekaligus ia gempur ketiga musuhnya tersurut mundur berulang-ulang, mendapat kesempatan ini gesit sekali ia memutar tubuh dan berlari ke sebelah dalam.

Sudah tentu Bing,tiong-mo-tho bertiga tidak rela melepaskan Ham Gwat berdua. mereka mengejar dengan ketat. Sekian saat Ham Gwat berlari-lari akhirnya ia tiba dimulut gua sebelah sana, tapi seketika ia tersentak menjublek ditempatnya. Kiranya Bu-bing Loni sudah menunggu disebelah depan sambil menyeringai iblis. Sutouw Ci-ko meringkuk dibawan kakinya.

Tanpa dipikir Ham Gwat lantas maklum apa yang telah terjadi, sudah tentu parasnya berubah merah padam, dengan sengit segera ia labrak dengan seluruh tenaganya, pedangnya memancarkan kuntum sinar pedang yang berkelompok2 sama menggempur ke arah Bu-bing.

Bu-bing kelihatan beringas, ujung kaki kanannya tiba-tiba diangkat serta mengancam dijalan darah kematian dikepala Sutouw Ci-ko, serunya dengan gusar, “Jangan bergerak!” — lalu ia tertawa dingin beberapa kali. Relung hati Ham Gwat laksana kena dipukui godam, kalau ia turun tangan paling banyak cuma berhasil mendesak mundur Bu-bing, tapi jiwa Sutouw Ci-ko bakal melayang dengan mengenaskan di bawah injakan kakinya….

Serta merta ia menghentikan gerak tubuhnya, serta mundur dua langkah, pedang semampai turun dengan lemas, dengan putus asa. ia menghela napas. Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho bertiga sudah mengejar tiba pula dibelakangnya, serentak mereka menghentikan kaki karena bentakan Bu-bing Loni.

Tanpa berpaling Ham Gwat sudah tahu bahwa tiga pengejarnya sudah menyandak tiba. dalam keadaan ke depan tiada jalan dan belakang ada pengejar datang, Ham Gwat menjadi tenang malah. Otaknya diperas untuk mencari jalan meloloskan diri, ia sudah dapat meraba perbuatan Bu-bing ini pasti ada latar belakang yang tertentu. tujuannya bukan hendak membunuh dirinya. Sambil tersenyum sinis Bu-bing Loni berkata, “Sekarang apa pula yang dapat aku katakan?”

Dalam waktu dekat Ham Gwat menjadi serba sulit. di belakang ada tiga musuh tangguh, tempatnya pun sempit. di depan ia cuma menghadapi Bu-bing yang tidak membekal senjata untuk menerjang keluar mungkin bisa berhasil cuma Sutouw Ci-ko yang meringkuk di bawah Bu-bing itulah yang menjadi kekuatirannya.

Tujuan Bu-bing hendak memperalat Ham Gwat. sudah tentu ia tidak menghendaki orang mampus saat ini juga. jikalau mau dengan sergapan dari dua jurusan, tambah seorang Ham Gwat lagipun jangan harap dapat lari keluar. Cuma ia sudah mengenal karakter Ham Gwat, orang tidak akan begitu mudah dikekang, bukan mustahil dalam keadaan yang kepepet ia terima bunuh diri saja.

“Ham Gwat!” Bu-bing menyeringai pula, “Sekarang masih dapat kuampuni jiwamu, dimana Hun Thian-hi sekarang?”

Mendengar ucapan Bu-bing Loni, tekanan perasaan Ham Gwat menjadi kendor, asal Hun Thian- hi keburu datang situasi bakal berubah dengan cepat. Akal yang menguntungkan satu-satunya bagi dirinya yaitu mengulur waktu, setelah melihat tulisan yang ditinggalkan di atas pohon sekejap saja Hun Thian-hi pasti dapat menyusul tiba.

Tapi dilahirnya sengaja ia mengunjuk rasa keheranan, tanyanya kepada Bu-bing, “Kau dapat mengampuni aku?”

Kini ganti Bu-bing merasa diluar dugaan, ia tahu perangai Ham Gwat maka bukan kepalang herannya setelah mendengar pertanyaan Ham Gwat ini. Kalau menurut biasanya, tentu dengan sikap dingin dan menantang ia balas mengejek dirinya.

Sambil mendengus ia berpikir, “Mungkin setelah bertemu dengan sanak kadangnya, perangainya sudah berubah. Masa ada manusia yang benar-benar tidak takut menghadapi kematian?” demikian pikir Bu-bing, maka cemoohnya. “Jadi kau sudah takut mati?”

Pertanyaan Bu-bing ini justru menepati tujuan Ham Gwat. ia jadi berkesempatan melantur lebih jauh, “Apakah begitu anggapanmu?” — ia pun balas menyeringai.

“Ya, orang yang ikut bersama aku tiada yang takut mati, namun sekali dia berpisah dengan aku,

selalu kalian akan dikejar2 rasa ketakutan itu.” demjkian jengeknya.

Memang siapa saja yang pernah hidup bersama Bu-bing apalagi sejak kecil ia sudah biasa melihat adegan2 seram yang lebih menakutkan dari kematian, dalam ini Ham Gwat memaklumi kata-katanya, karena dia sendiri pernah menyaksikan betapa kejam Bu-bing menyiksa korbannya, tidak begitu gampang mereka mencari kematian.

Terbayang senyum manis diparas Ham Gwat, katanya tawar. “Orang yang hidup bersamamu tidak akan merasa bahwa hidup di dunia banyak kejadian yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam sanubarinya, lain pula bagi mereka yang hidup bebas, justru mereka terbenam dalam kenangan indah yang selalu akan menghayati lubuk hati mereka.”

“Jadi menurut katamu, kau ini merasa berkesan dan berat pula bagi kehidupan manusia di dunia fana ini? Tapi kau harus ingat bahwa aku mampu membuatmu melenyapkan segala kenangan dan kesan yang mendalam itu.” Berubah air muka Ham Gwat, entah tindakan apa yang akan dilakukan Bu-bing atas dirinya. Bu- bing terkenal berhati culas dan kejam, perbuatan2 kejinya itu sudah menjadi kebiasaan bagi tontonan.

Dasar cerdik Ham Gwat tidak mau kalah adu mulut, ejeknya, “Aku kuatir justru kau sendirilah yang tidak akan sempat lagi mengenang masa silammu. Ketahuilah Wi-thian-cit-ciat-sek latihan Hun Thian-hi sudah sempurna. dan kau tidak akan lama tinggal hidup dalam dunia ini.”

“Betulkah begitu? Tadi sudah kutanyakan jejaknya bukan? Dimana dia sekarang?” “Dimana masa kau belum tahu? Sejak tadi dia sudah masuk! Tuh dibelakangmu!”

Tanpa sadar Bu-bing melengak dibuatnya, mengandal kepandiaian Thian-hi sekarang kemungkinan dia sudah berada dibelakangnya tanpa diketahui, seketika dingin perasaan hatinya. Tanpa bersuara Ham Gwat gunakan kesempatan yang balk ini, mendadak laksana anak panah melesat ia berkelebat ke arah samping Bu-bing Loni.

Dikala Bu-bing sadar telah kena tipu, ia menghardik dengan amarah yang berapi-api, kedua telapak tangannya menepuk melintang menempiling kepala dan membabat kepinggang. Ham Gwat juga menggembor keras, pedang panjangnya tergetar mendengung ujung pedangnya menusuk telak kedua biji mata Bu-bing Loni. Apa boleh buat terpaksa Bu-bing urungkan serangan tangannya, ia membela diri lebih dulu untuk menyelamatkan kedua matanya, sementara tubuh Ham Gwat sudah berkelebat pergi menyingkir jauh.

Tapi baru saja kakinya menginjak tanah. Bu-bing sudah membentak keras, “Ham Gwat, apakah kau tidak hiraukan ayah bundamu lagi?”

Ham Gwat jadi tertegun. niatnya hendak menyingkir dulu baru mencari daya menolong Sutouw Ci-ko. Namun ayah bundanya memang berada dicengkeraman musuh, mendengar ancaman itu mau tidak mau ia harus berhenti dan lekas berpaling. Tampak Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing sedang berdiri disebelah sana, mereka sama mengawasi dirinya.

Tiba-tiba tergerak hati Ham Gwat, ia insaf bila ia tetap tinggal disitu keadaannya pasti semakun runyam, cepat ia bergerak hendak tinggal pergi pula. Tak duga tiba-tiba didengarnya suara Ong Ging-sia membentak, “Gwat-ji, Jangan pergi!”

Lagi-lagi Ham Gwat tertegun, karena kesangsiannya ini, sementara itu Bu-bing sudah berkesempatan mencegat jalan larinya pula, sedang Bing-tiong-mo-tho bertiga pun sudah mengepung dirinya juga.

Sekilas Ham Gwat melirik ke arah ayah bundanya. ia tahu bahwa mereka tentu sudah dicekoki obat beracun dan mendengar perintah Bu-bing, maka ia menyurut mundur terus, akhirnya membelakangi dinding, keempat musuhnya pun mendesak maju dari berbagai penjuru.

Sekonyong-konyong ia merasa seluruh tenaganya seperti terkuras habis, tak tertahan lagi air mata mengalir keluar.

Kata Bu-bing dengan sikap dingin, “Ajah bundamu berada disini, akan kulihat bagaimana kau bersikap!”

Ong Ging-sia maju beberapa langkah, ujarnya, “Mana boleh kau begitu kasar terhadap bibimu, semakin besar kau menjadi tidak genah, kenapa kau tidak mau dengar nasehatnya.”

Didapati oleh Ham Gawt sinar mata Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing sama pudar tak bercahaya, mimik wajahnya pun kaku tanpa ada perubahan apa-apa. Mata Bu-bing menyorotkan perasaan senang dan seperti puas akan kemenangan, tapi merasa dengki pula akan hubungan cinta kasih dan kasih sayang Ong Ging-sia terhadap Ham Gwat, tampak matanya mendelik dan alis terangkat. Ong Ging-sia segera maju sambil mengulurkan sebuah bungkusan kepada Ham Gwat, katanya, “Telanlah sebungkus obat ini!”

Tanpa disadari Ham Gwat menyamputi bungkus obat itu dan lantas hendak ditelannya.

Mendadak terlintas diujung matanya sorot mata Bu-bing yang memancarkan cahaya terang, seketika ia menjadi sadar, batinnya, “Mana boleh aku menelan obat macam ini, kalau aku menelan obat ini bagaimana nanti kalau Hun Thian-hi juga datang? — Tatkala itu mereka pasti memperalat diriku untuk menekan atau memancing Hun Thian-hi, atau mungkin pula sebelum Hun Thian-hi bersua dengan Bu-bing sudah keburu mampus ditangan mereka.” Karena terpikir sampai disitu segera ia angkat kepala, dengan tajam ia menyapu pandang kesekelilingnya.

Melihat sikap kesangsian Ham Gwat ini, cepat Bu-bing mendesaknya, “Perintah ibumu berani juga kau bangkang?”

Begitu meneliti keadaan sekelilingnya, Ham Gwat sudah menyadari keadaannya yang serba terjepit ini, mana ia mau menelan obat itu, mendadak ia ayun tangan kiri menghamburkan obat Kiu-li-san itu ke arah Bu-bing.

Mimpi juga Bu-bing tidak menyangka Ham Gwat berani berlaku senekad itu, sebat sekali ia melejit menyingkir sembari membentak gusar, “Ham Gwat! Jangan kau salahkan aku bertindak tidak sungkan-sungkan lagi terhadap kau!”

Dengan tenang Ham Gwat berdiri ditempatnya tanpa bersuara.

Sambil menggeram Bu-bing mengeluarkan sebungkus obat lagi diangsurkan kepada Ham Gwat, katanya, “Kau kan paham, jiwa beberapa orang ini tergenggam ditanganku, kalau kau tidak menelan obat ini…. Hm! Apa akibatnya kukira kau tentu paham.”

“Jadi kau memang sengaja mau menekan dan mengancam aku?”

“Benar-benar! Memang aku mengancam kau, berani kau tidak dengar perintahku.” “Tujuanmu setelah aku menelan obat itu untuk menghadapi Hun Thian-hi bukan?”

“Begitulah, sekarang tergantung kau mau menelan tidak. Jangan kau lupa, jiwa ayah bundamu tergenggam ditanganku.” — sambil menyeringai penuh arti ia angsurkan pula bungkus obat itu.

Bertaut alis Ham Gwat. Menghadapi persoalan antara mati dan hidup, maka ia harus cepat ambil keputusan, karena kalau dia menolak jiwa Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing bakal tamat.

Sebaliknya kalau dia menelan obat itu belum tentu Hun Thian-hi bisa terjebak dan melayang jiwanya, pikir punya pikir akhirnya ia memilih yang ringan dari pada akibat yang berat, pelan-pelan akhirnya ia angsurkan tangan menyambuti Kiu-li-san itu.

Bu-bing menyeringai lebar penuh kemenangan, bagaimana juga toh akhirnya Ham Gwat tunduk pada dirinya.

Tepat pada saat itulah dinding sebelah kiri mendadak mengeluarkan suara gemuruh dan terbukalah sebuah pintu besar, sesosok bayangan manusia sambil membawa suitan panjang melayang keluar, selarik cahaya merah terbang menyerang ke arah Bu-bing Loni. Kejut Bu-bing seperti disengat kala, tanpa sempat mengendalikan yang lain, sebat sekali ia berusaha berkelebat menyingkir. Kedatangan Hun Thian-hi ini membawa kesiur angin berbau harum wangi yang cepat sekali memenuhi seluruh ruang gua itu.

Begitu melihat Hun Thian-hi benar-benar keburu tiba, saking girang dan diluar dugaan Ham Gwat sampai berjingkrak kegirangan dan berteriak, “Thian-hi!” ia berteriak secara reflek diluar kesadarannya, saking senang air mata sampai meleleh keluar.

Begitu Hun Thian-hi menginjak tanah, Bu-bing lantas menyeringai dingin, kedatangan Thian-hi ini bukankah masuk perangkap sendiri? Cepat tangan kanannya melolos pedang sementara matanya menoleh ke arah Bing-tiong-mo-tho maksudnya hendak memberi aba-aba, tapi seketika itu berubah air mukanya, terlihat olehnya Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain kelihatannya sudah sadar dan sedang termangu keheranan ditempatnya.

Cepat Hun Thian-hi berkata kepada Ham Gwat, “Cepat kau antar dulu paman dan bibi keluar gua. Mereka baru saja siuman tentu masih letih dan lemas.”

Bertambah girang hati Ham Gwat, sungguh tidak terkirakan olehnya, begitu Thian-hi muncul sekaligus telah memunahkan obat beracun yang menyesatkan pikiran mereka, segera ia mengiakan.

Sementara itu Ong Ging-sia dan Kiang Tiong-bing memang sudah siuman, begitu melihat Ham Gwat, berbareng mereka berseru, “Nak….!”

Ham Gwat menubruk maju, bertiga mereka saling berpelukan.

Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho bertiga juga tengah termangu, agaknya mereka sedang berpikir cara bagaimana mereka bisa berada di tempat itu.

Sudah tentu Bu-bing berjingkrak gusar, mendadak ia membanting kaki, secepat kilat badannya melejit terbang menuju ke arah Sutouw Ci-ko yang meringkuk di tanah.

Hun Thian-hi menggertak panjang, semula ia tidak perhatikan Sutouw Ci-ko, saking gugup sekali raup ia lantas timpukan serulingnya, berbareng ia tutul kakinya melejit ke arah Sutouw Ci-ko pula. Serulingnya bersuit nyaring terbang mengarah punggung Bu-bing. Terpaksa Bu-bing harus menyelamatkan diri lebih dulu dengan memiringkan tubuh dan menggeser ke kiri sembari menyampokkan pedangnya ke belakang memukul jatuh seruling itu.

Tapi karena sedikit ayal ini Hun Thian-hi sudah keburu hinggap disamping Sutouw Ci-ko, sekaligus ia mengulur tangan membebaskan tutukan jalan darah Sutouw Ci-ko terus ditariknya mundur ke arah Ham Gwat beramai.

Dengan pandangan beringas yang meluap-luap gusarnya Bu-bing mendelik ke arah mereka. Tanpa membuang waktu lagi. tiba-tiba ia melompat maju pedang diputar sekaligus ia lancarkan tiga gelombang serangan pedang kepada Hun Thian-hi.

Thian-hi tidak berani gegabah, ia insaf Lwekang sendiri setingkat lebih rendah dibanding lawan, betapa pun ia harus melawan sekuat tenaga. Tanpa ayal ia pun gerakkan pedangnya dengan permainan Gin-ho-sam-sek setabir cahaya merah bergulung-gulung melingkupi seluruh tubuhnya, ia pusatkan seluruh perhatian dan semangat menghadapi musuh tangguh ini.

Bu-bing Loni terkial-kial panjang, dimana pedangnya diputar laksana naga terbang selulup timbul mempermainkan bola ditengah mega, seiring dengan berkelebatnya badan, yang selalu naik turun itu. ia gempur Hun Thian-hi dari berbagai penjuru. “Lekas mundur!” teriak Hun Thian-hi. Ia menyadari keadaan yang gawat ini maka ia balas melancarkan tiga serangan pedang yang dilandasi kekuatan tenaga dalamnya.

Ham Gwat juga menyadari situasi yang krisis ini, dengan penuh perhatian segera ia berteriak, “Thian-hi kau sendiripun harus hati-hati!” lalu bersama Sutouw Ci-ko mereka melindungi Ong Ging-sia berdua mundur keluar gua.

Begitu mendengar seruan yang penuh rasa kasih sayang dan prihatin itu, hangat dan sjur hati Thian-hi, seketika terbangkit berlipat ganda semangat dan tenaganya, dimana pedangnya berkelebat cahaya yang terpancar dari batang pedang semakin menyala, Bu-bing menjadi kewalahan juga menghadapi tekadnya yang besar ini.

Kini gelanggang adu kepandaian tinggal Bu-bing dan Thian-hi berdua, betapapun Bu-bing tidak akan melepas Hun Thian-hi lagi, ia sudah berkeputusan melancarkan Lian-hoan-sam-sek, ilmu pedang yang dibanggakan dan paling diandalkan.

Tiba-tiba bayangan mereka terpental mundur berpencar…. Saat itu juga tiba-tiba dari sebelah kiri yang dekat sekali berkumandang suara gelak tawa yang memekak kuping, di lain saat Pek Si- kiat sudah meluncur tiba di gelanggang pertempuran.

Keruan Bulbing kaget bukan main, pihak lawan kedatangan bala bantuan, sedang Tok-sim-sin- mo dan kaki tangannya berada di gua belakang menyelidiki keadaan istana sesat, dengan seorang diri meski ia tidak takut tapi untuk mengalahkan kedua tokoh tangguh ini terang tidak mungkin, maka tak berguna ia tinggal terlalu lama di tempat itu, Cepat ia putar tubuh terus lari sipat kuping ke dalam sana.

Sementara itu Pek Si-kiat sudah meluncur tiba disamping Thian-hi, cepat ia berseru, “Lekas kejar, dalam jarak sepemanahan kita harus menyandaknya.”

Semula Thian-hi tiada niat mengejar, tapi mendengar seruan Pek Si-kiat ini ia menjadi berkeputusan untuk menyelesaikan persoalan ini secepat mungkin. Laksana luncuran meteor di bawah petunjuk Pek Si-kiat mereka mengejar melalui jalan-jalan lain yang lebih pendek, setelah berputar dan keluar masuk beberapa tikungan di dalam lorong gelap benar-benar juga Bu-bing terlihat tidak jauh disebelah depan.

“Berhenti!” Hun Thian-hi membentak terus melompat tinggi menubruk disebelah belakang seraya tabaskan pedangnya. Tiba-tiba Bu-bing pun berhenti seraya membalik dan menusukan pedangnya juga, cukup sejurus serangan balasan ia patahkan serangan lawan dan desak mundur Hun Thian-hi, jengeknya, “Kau kira aku takut terhadap kalian….”

Tanpa banyak bacot Thian-hi menerjang maju pula dengan sejurus Hun-liong-pian-yu, Bu-bing mandah tersenyum ejek, pedangnya melintang kesamping terus memutar balik beruntun ia balas menyerang dengan tiga tabasan berantai, ketiga serangan pedang ini sama mengarah tempat mematikan ditubuh Thian-hi. Thian-hi didesak untuk menyelamatkan diri lebih dulu.

Dalam pada itu Pek Si-kiat juga sudah menerjang tiba, sambil menggembor seperti auman singa kedua kepelannya menggenjot bergantian, dengan sepuluh bagian tenaganya ia lancarkan pukulan Pek-kut-sin-ciang.

Bu-bing mandah menyeringai seram, pedangnya dipuntir dan disampokkan kesamping, sekaligus dengan gerakan sambungan ia berhasil memunahkan rangsakan gelombang pukulan Pek Si-kiat. Di saat Pek Si-kiat kesima keheranan itulah, Bu-bing sudah menyambung gerakan pedangnya, Beruntun ia lancarkan Lian-hoan-sam-sek, tampak bibirnya menjebir bersuit panjang menambah perbawa gerakan pedangnya, dimana badannya terapung selarik sinar pedang laksana sabuk putih yang panjang sambung-menyambung berputar-putar mengandung tenaga dahsyat yang bisa menggempur hancur gunung menerjang ke arah Thian-hi berdua.

Terkesiap darah Thian-hi, ia tak sempat melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, sebisa gerakan tangan Cu-hong-kiam ditangan kanan menggunakan jurus Gin-ho-sam-sek jurus kedua dan ketiga yang punya daya pertahanan kuat dan rapat itu berkembang luas melingkupi seluruh ruang gua itu.

Larikan cahaya putih laksana bianglala yang menyolok mata sementara itu sudah menukik turun langsung menembus ke dalam hawa pedang yang bercahaya merah itu. Dimana ketajaman pedang yang kemilau itu menyelonong maju, hawa pedang Cu-hong-kiam kena terpecah kedua arah dan akhirnya tak kuasa lagi bertahan.

Hun Thian-hi sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tapi toh tak kuasa melawan serangan dahsyat musuh. Begitu cahaya kemilau membacok turun ujung pedang Bu-bing Loni sudah tiba di atas kepalanya. Disaat ia pejamkan matanya menunggu ajal tiba-tiba Pek Si-kiat menggembor keras, dengan Pek-kut-sin-kang ia menghantam sekuatnya ke arah lambung musuh.

Pukulan ini merupakan serangan yang mematikan, terpaksa Bu-bing harus berkelit dan tenaga pukulan itu menjadi mengenai batang pedangnya, oleh benturan tenaga dahsyat ini pedangnya kena tersampuk miring kesamping. Keruan bukan kepalang senang Thian-hi, pedang panjangnya terayun naik menangkis rangsakan pedang Bu-bing yang hampir saja menembus kepundaknya. Begitu saling bentur, lelatu api cuma meletik sedikit, ini membuktikan bahwa dua belah pihak sudah sama kehabisan tenaga, mereka tidak kuasa lagi menggunakan keampuhan Lwekang masing-masing untuk adu kekuatan.

Dilain saat tiga pihak sama mencelat mundur pula. Jidat Hun Thian-hi sudah berkeringat, keadaannya sudah sangat payah. Demikian juga Bu-bing merasa dada mual cuma ia pura-pura menenangkan hati. Keadaan Pek Si-kiat jauh lebih mending. Tapi masih berdiri mematung tak berani bergerak.

Setengah jam kemudian, tenaga masing-masing sudah dihimpun pulih sebagian besar, Thian-hi berkeputusan menggunakan Wi-thian-cit-ciat-sek untuk menempur Bu-bing. Bu-bing Loni juga menginsyafi bila Wi-thian-cit-ciat-sek Thian-hi sudah dilatih sempurna belum tentu ia bisa mengambil kemenangan, apalagi dipihak lawan masih ada Pek Si-kiat seorang, te-paksa ia menantang, “Hun Thian-hi! Berani kau bertempur satu lawan satu menentukan kemenangan.”

Mendengar tantangan Bu-bing Loni, Thian-hi menghentikan gaya permulaan dari permainan pedangnya yang sudah dipersiapkan hendak dilancarkan.

Sebaliknya Pek Si-kiat yang cukup berpengalaman terpaksa tertawa gelak-gelak, cemoohnya, “Sekarang pihak kami dua melawan kau seorang. Sebaliknya berapa banyak pihakmu tadi kau mengeroyok Ham Gwat seorang?”

“Ham Gwat maksudmu?” seringai Bu-bing, “Aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk membekuknya, buat apa harus orang lain, mereka cuma merintangi dia melarikan diri saja….”

“Kau mengancam dan menekan dia menelan obat beracun, apakah ini yang dikuatirkan dia melarikan diri?” demikian jengek Hun Thian-hi. Mendelik mata Bu-bing, serunya, “Kalian maju bersama pun aku tidak gentar, hayo kenapa bermuka2 saja. silakan turun tangan.”

Hun Thian-hl menjadi sengit, ucapan Bu-bing telah membakar sifat congkaknya, segera ia berpaling katanya kepada Pek Si-kiat, “Paman Pek! Kau jaga disamping biar kutempur Bu-bing seorang diri”

“Jangan!” dengan tegas Pek Si-kiat menggeleng kepala, ia tahu bahwa satu lawan satu Hun Thian-hi masih belum tandingan Bu-bing Loni, “Sekarang belum bisa! Kau harus waspada akan tipunya mengulur waktu menanti bala bantuan. Bagaimana kalau Tok-sim-sin-mo keburu tiba?”

Bu-bing terkekeh-kekeh panjang sembari menabaskan pedangnya memutus pembicaraan mereka. sekali turun tangan pedangnya bergerak terpencar kedua jurusan sekaligus dalam segebrak ia menyerang kedua jurusan, seketika mereka berkutet lagi, serang menyerang dengan sengit dan gegap gempita.

Sekejap saja seratus jurus telah berlalu, selama itu Bu-bing belum melihat Tok-sim-sin-mo muncul, akhirnya ia tidak sabaran lagi, batang pedangnya menjungkit naik terus membabat miring dari atas kebawah, Thian-hi berdua kena terdesak mundur, Bu-bing membalik tubuh terus lari pula kegua sebelah belakang.

Sudah tentu Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi juga maklum kemana jalan pikiran Bu-bing, kalau dua belah pihak benar-benar bentrok, pihak sendiri dengan kekuatan dua orang ini saja tentu sulit mengambil kemenangan. Tak berapa jauh, tiba-tiba Bu-bing berhenti dan menyeringai tawa menunggu mereka dikala Hun Thian-hi berdua mengejar tiba ke sebelah dalam sana, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam dtsertai gelak tawanya yang nyaring. Tahu-tahu Tok-sim-sin- mo sudah muncul dihadapan mereka.

Keruan Thian-hi berdua terkejut, tapi soal ini sudah mereka duga sebelumnya, setelah tertegun sebentar, segera menerjang maju tanpa gentar.

Tok-sim-sin-mo mengeluarkan sebatang pedang, berendeng sama Bu-bing dua bilah pedang dari kiri kanan menyongsong rangsakan Thian-hi dan Pek Si-kiat. Kontan Thian-hi berdua terdesak mundur setindak.

“Samte!” tiba-tiba Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, “Baik saja selama berpisah?”

Berubah air muka Pek Si-kiat, ia mandah menjengek dingin. Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo meraih ke belakang lalu melemparkan sebatang pedang kepada Pek Si-kiat, serunya, “Kau tidak hiraukan hubungan persaudaraan kita dulu. tapi aku masih punya rasa kesetiaan akan persaudaraan dulu. Hari ini meski pun kalian sendiri yang masuk perangkap, tapi sebelum ajal kuhadiahkan sebatang pedang kepadamu, jangan nanti kau gunakan istilah “kesetiaan” itu untuk menista aku.”

Pek Si-kiat menyambuti pedang itu tanpa bersuara, ia menginsafi situasi sangat mendesak, maka tanpa sungkan-sungkan ia terima pemberian pedang itu.

“Jangan harap kalian bisa lolos dari kematian.” demikian ejek Tok-sim-sin-mo, tangan diulapkan enam laki-laki tua yang menenteng pedang segera melangkah keluar. Bukan saja Lam-bing-it- thiong ada diantara mereka, Bing-tiong-mo-tho pun ada bersama.

Sudah tentu kejadian yang tak terduga-duga ini membuat Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi sama kesirap, Bu-bing sendiri pun ikut terlongong, sungguh tak kira Tok-sim-sin-mo punya akal yang sedemikian lihay dan licik. Hun Thian-hi menjadi was-was, entah bagaimana keadaan Ham Gwat berempat.

“Kau merasa diluar dugaan bukan? Sebetulnya kan soal gampang saja, siang-siang sudah kutunggu di sebelah depan, mereka bertiga baru saja sembuh berani angkat senjata melawan aku memberi kesempatan empat yang lain kabur lebih dulu,” sampai disini ia memicingkan mata sambil mengulum senyum sadis, lalu sambungnya, “Seluk belukmu aku jelas sekali, kau dapat menolong mereka sekali tidak mungkin menolong yang kedua kalinya, benar-benar tidak? Hehe- he, obat pemunah itu sayang cuma ada satu bungkus!”

Ia tertawa terpingkal-pingkal, seolah-olah sangat bangga dan puas akan sepak terjangnya ini.

Bahwa segala tindak tanduk Hun Thian-hi tidak lepas dari pengawasannya, ini berarti ia sudah setingkat menang diatasnya.

Tapi justru perasaan Hun Thian-hi menjadi longgar setelah mendengar penjelasannya ini, bahwa Ham Gwat berempat tidak mengalami bahaya lagi, sekarang tinggal menunggu keenam orang ini maju lebih dekat.

Tok-sim-sin-mo tidak memberi kesempatan bagi Thian-hi menimang-nimang, ia melirik memberi aba-aba kepada Bu-bing Loni, bersama mereka gerakan pedang menyerbu. Lam-bing-it- hiong berenam serempak juga lancarkan serangan pedang, dari delapan panjuru angin, delapan batang pedang sekaligus menuruk ke arah mereka.

Seketika Hun Thian-hi rasakan tekanan besar bagai gugur gunung melandai dari berbagai arah, napas menjadi sesak, tapi mati-matian mereka mainkan pedangnya, kedua batang pedang mereka bergerak mentaburkan jala sinar pedang yang silang menyilang sangat rapat membendung serbuan kedelapan musuhnya.

Betapapun mereka bersuara, dengan kekuatan dua tenaga mana mampu melawan delapan orang. Beruntun Thian-hi berdua sudah terdesak mundur enam langkah dengan sempoyongan. Tok-sim-sin-mo bergelak menggila, tanyanya mengejek kepada Bu-bing Loni, “Suthay menghendaki mereka segera mampus? Atau akan disiksa dulu biar mati lambat-lambat?”

“Kalau Ham Gwat dan lain-lain menyusul tiba, tentu keadaan sulit diselesaikan, lebih baik bunuh saja mereka.” demikian sahut Bu-bing.

“Agaknya Suthay terlalu lemah hati,” demikian ujar Tok-sim-sin-mo sambil bergelak tawa pula, sekali ayun serempak delapan pedang mulai bergerak pula. Sementara itu Hun Thian-hi berdua sudah terdesak mundur berulang-ulang, terpaut tiga kaki lagi mereka sudah terdesak mepet dinding.

Sejak tadi Hun Thian-hi sudah waspada menerawang situasi gelanggang, sebelum kedelapan pedang musuh melancarkan gelombang serangan yang ketiga kali, mendadak ia bersuit nyaring, seiring dengan itu tubuhnya melejit menerjang ke arah satu jurusan. Tepat pada saat itu pula kedelapan pedang musuh, susul menyusul sudah merangsak tiba merintangi jalan larinya.

Hun Thian-hi menghardik laksana geledek, dengan dilandasi seluruh kekuatannya pedangnya melancarkan jurus terakhir dari Gin-ho-sam-sek yang hebat penjagaannya itu, jurus ini memang peranti untuk membela diri tapi juga berguna balas menyerang, ujung pedangnya sampai menyala seperti besi terbakar balas menyerang ke arah musuh.

Untungnya gerakan kedelapan pedang musuh kurang serasi dan saling atas-mengatasi sendiri, justru serangan balasan Hun Thian-hi tepat pada waktunya dan persis pula menyusup ke lobang kelemahan mereka, ujung pedangnya sekaligus berhasil menyampok miring senjata musuh malah ada yang sampai terpental terbang. Dengan kesempatan ini ia berhasil menjebol kepungan dan melesat keluar. Di saat itu juga bau wangi segera berkembang luas di tengah udara. Keruan Tok- sim-sin-mo dan Bu-bing Loni sama berjingkrak kaget. Cepat mereka lihat Bing-tiong-mo-tho dan Lam-bing-it-hiong berenam sedang tongol2 goyang2 kepala mulai siuman dan mendeprok lemas duduk di tanah.

Dikala Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing sama melongo tertegun inilah, Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat sudah melabrak tiba pula lebih sengit dan gemas. Kontan kedua gembong jahat ini menjadi gelagapan, ciut nyalinya, sekarang mereka yang balik terdesak mundur, tapi ini cuma sementara waktu karena tadi belum bersiaga, setelah pikiran tenang kini mereka mampu balas menyerang pula mengatasi situasi.

Dalam pada itu Lam-bing-it-hiong berenam sudah duduk samadi mengempos semangat memulihkan tenaga. Keruan Hun Thian-hi berdua sangat girang, gabungan permainan pedang mereka berkembang laksana layar perahu berkembang tertiup angin kencang, sedemikian rapat mereka menjaga diri tanpa balas menyerang. Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing menjadi kewalahan dan tak mampu berbuat banyak menghadapi kedua musuhnya ini. Mereka insaf kalau terlalu lama bila keenam orang itu sudah pulih tenaganya, tentu mereka bakal bantu pihak Hun Thian-hi melabrak diri sendiri, betapapun tinggi ilmu silat mereka mana mampu melawan keroyokan delapan musuh.

Cuma tak habis heran Tok-sim-sin-mo bahwa Hun Thian-hi ternyata masih punya bungkusan obat pemunah yang lain. Tahu bila dilanjutkan situasi tidak menguntungkan pihaknya akhirnya Tok-sim-sin-mo berkeputusan, serunya, “Kalian jangan keburu senang, ketahuilah rahasia Badik buntung itu sudah dapat kupecahkan, aku sudah berhasil menemukan peta yang berada di kerangka Badik buntung itu!”

Tepat pada saat itu juga dilihatnya Lam-bing-it-hiong berenam sudah membuka mata dan serempak berdiri sambil menenteng pedang.

Tok-sim-sin-mo bergelak menggila, serunya, “Sementara kami mohon diri, selamat bertemu di dalam istena sesat!” — bersama Bu-bing, mereka lari ke dalam.

Terpaksa Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi pimpin pengejaran. Pada saat itu pula Ham Gwat dan lain-lain juga tengah mengejar tiba di belakang mereka.

Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni iangsung lari ke arah istana sesat. Teringat akan peringatan I- Iwe-tok-kun, Hun Thian-hi menjadi gugup, bentaknya, “Jangan masuk kesana!”

Tapi dengan dipimpin Tok-sim-sin-mo diikuti Bu-bing Loni mereka terus menerjang masuk ke dalam sebuah lorong panjang.

Begitu mendengar derap langkah Hun Thian-hi dibelakang, diam-diam bercekat hatinya, “Bagaimana membebaskan diri dari kejaran Hun Thian-hi, Ni-hay-ki-tin terletak didasar istana sesat ini, sekali2 jangan sampai Hun Thian-hi ikut sampai di tempat itu” — serta merta langkah kakinya dipercepat melesat ke arah depan. Bu-bing mengintil tak jauh dibelakangnya.

Melihat orang menuju kejalan kematian, teriakannya tidak dihiraukan, Thian-hi menjadi kehabisan akal. Kalau Tok-sim-sin-mo mempercepat langkah, sebaliknya ia harus memperhatikan berapa kali tikungan kekanan atau kekiri, sehingga langkahhnya tidak bisa cepat, tak lama kemudian bayangan kedua orang di depan sudah lenyap tak kelihatan.

Thian-hi menjadi gugup, baru saja ia mempercepat langkahnya, mendadak didengarnya suara jeritan orang yang menusuk kuping, cepat ia melesat ke depan. Tampak disebelah depan sana ditaburi kabut yang bergulung-gulung, Bu-bing Loni sedang berdiri terpaku ketakutan. Sementara itu Tok-sim-sin-mo sudah menerjang ke dalam kabut itu. tampak pedangnya terjatuh di tanah, kedua tangannya saling cengkeram dengan kencang, pelan-pelan badannya mulai roboh terkapar, tak lama kemudian seluruh tubuhnya mencair menjadi genangan air kuning.

Terbelalak Hun Thian-hi menyaksikan adegan yang seram ini, hatinya mencelos. Ucapan I-lwe- tok-kun. memang tidak salah, racun sedemikian jahatnya siapa yang pernah menyaksikan.

Tiba-tiba Bu-bing Loni membalik tubuh, serta dilihatnya Hun Thian-hi mengadang disana, matanya memencarkan dendam dan gusar yang meluap-luap. Selama ini belum pernah Thian-hi melihat mimik wajah Bu-bing sedemikian seram, tanpa sadar ia tergetar mundur.

Bu-bing melangkah setindak, pedangnya bergerak ia berkeputusan melancarkan Lian-hoan- sam-sek menggempur Hun Thian-hi.

Dalam detik-detik antara mati dan hidup ini, entah darimana kekuatan Hun Thian-hi, mulutnya menggembor keras, tubuhnya melambung ke tengah udara, Cu-hong-kiam bergetar melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, disaat batang pedangnya cuma bergeser beberapa senti itu, tenaga bergelombang laksana damparan ombak dahsyat melandai ke depan dari tujuh arah sasaran yang berbeda menyongsong rangsakan Lian-hoan-sam-sek Bu-bing Loni.

Dua macam ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya saling mengadu kekuatan, seketika hawa pedang membuat udara bergolak, cahaya merah dan putih saling berkutat berkembang menjadi jalur2 laksaan banyaknya. “Tring” maka terlihat Hun Thian-hi terpental mundur melayang jatuh dengan enteng dan tenang. Sebaliknya, Bu-bing Loni terpental mundur sempoyongan ke belakang dimana kabut jahat itu menanti kedatangannya.

Mimpi pun Hun Thian-hi tidak menyangka bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya sekarang sudah berada di atas tingkatan Lian-hoan-sam-sek, karena kegirangan sesaat dia tertegun melongo, serta dilihatnya Bu-bing hampir roboh ke dalam kabut, kejutnya bukan kepalang, rasa kemanusiaannya secara reflek menghendaki ia bertindak cepat.

Laksana kilat sembari menghardik ia melesat ke depan sambil meraih baju Bu-bing terus ditarik balik mentah-mentah. Bu-bing angkat kepala dengan pandangan heran dan kejut ia awasi Hun Thian-hi, tapi rasa heran dan kejut ini cuma sekilas saja, tiba-tiba pedang panjangnya menabas miring menyapu pinggang Thian-hi….

Thian-hi tidak kira setelah jiwanya tertolong Bu-bing malah membalas budi dengan dendam. tak sempat berkelit tahu-tahu bawah ketiak sebelah kanan sudah tergores panjang terluka oleh pedang panjang Bu-bing.

Sambil menahan sakit ia menyurut mundur dua tindak, dengan pandangan kaget dan tak mengerti ia awasi Bu-bing. Bu-bing jadi melongo, tabasan pedangnya gerakan secara reflek saja karena ia menyangka Hun Thian-hi hendak menawan dirinya. Tapi dari sorot mata Hun Thian-hi ini baru dia menyadari tindakkannya yang salah, tujuan Hun Thian-hi tak lain cuma hendak menolong jiwanya.

Kematian Tok-sim-sin-mo yang mengerikan itu segera terbayang dalam benaknya, selama hidup ini baru pertama ini timbul rasa penyesalan dalam sanubarinya.

Sekonyong-konyong seorang Nikoh pertengahan umur berjubah hijau mulus hinggap dihadapan mereka. Seketika Hun Thian-hi menjerit heran, Nikoh ini bukan lain yang tempo hari menolong Ma Gwat-sian dan gurunya. Sebaliknya begitu melihat Nikoh ini seketika pucat muka Bu-bing, badan gemetar dan lemas, pedang tak kuasa dipegang lagi jatuh berkerontangan di tanah.

Lagi-lagi terdengar seruan kejut, Ham Gwat berlari datang ke depan Thian-hi. serunya sambil menahan air mata, “Thian-hi bagaimana kau! Kenapa terluka begini berat?”

Hati Thian-hi menjadi sjurr dan hangat, sambil tersenyum manis pelan-pelan ia tarik Ham Gwat ke dalam pelukannya, sahutnya tertawa, “Adik Ham Gwat, luka ringan saja. tidak menjadi soal!”

Merah jengah selebar muka Ham Gwat, katanya gugup, “Ajah dan ibu juga datang!”

Hun Thjan-hi melengak sebentar. ia pun rada jengah dar terhibur malah, katanya tanpa berpaling, “Tidak menjadi soal!”

Karena dipeluk Ham Gwat tak enak meronta, terpaksa ia sesapkan kepalanya ke dada Thian-hi. ia tak berani bersuara saking malu.

Sementara itu Nikoh pertengahan umur sudah berpaling ke arah mereka, katanya, “Ma Gwat- sian dan gurunya berada di tempatku, mereka minta aku menyampaikan salam bahagia terhadap kalian, keadaan mereka baik-baik saja supaya kalian tak usah kuatir.”

Terangkat kepala Ham Gwat, ia pandang Nikoh pertengahan umur dengan rasa girang dan bersyukur pula.

Nikoh itu berpaling muka lalu ujarnya pula, “Aku bernama julukan Ceng-i sian-cu! Sekarang aku harus cepat pulang. Bu-bing kubawa sekalian!” — tanpa menanti penyahutan Thian-hi berdua, ia tarik Bu-bing terus melayang pergi, sekejap saja menghilang dari pandangan mata.

Ham Gwat dan Hun Thian-hi sesaat melongo. Ceng-i sian-cu, bukankah beliau kekasih Ah-lam Cuncia yang akhirnya menikah dengan Jing-bau-khek, bibi dari Goan Cong dan Goan Liang, murid tunggal Hui-sim Sini? Ternyata dia masih hidup.

Tiba-tiba mereka mendengar suara tawa orang banyak, waktu mereka berpaling, dimana berdiri sebaris orang, Sutouw Ci-ko dan ayah bunda Ham Gwat sama tersenyum girang penuh bahagia.

Saking malu jantung Ham Gwat hampir melonjak keluar, cepat ia sesapkan kepalanya di pelukan Thian-hi pula. Sekian lama mereka saling berpelukan tanpa bersuara tanpa hiraukan godaan orang lain lagi.

Entah berapa lama berselang akhirnya Ham Gwat angkat kepala, tampak oleh Thian-hi kedua pipinya bersemu merah seperti delima matang, paras kulit yang putih halus ini tidak terlihat pucat seperti dulu lagi, pancaran matanya malah begitu mesra dan penuh cinta kasih.

TAMAT