Badik Buntung Bab 35

 
Bab 35

Keburu Pek-kong-liang membuka mata, cepat ia berseru mencegah, “Sute, jangan lakukan.” “Suheng!” seru Bian-hok Lojin, “Apakah perbuatan jahatnya masih kurang, kalau tidak dibunuh

kelak bakal menimbulkan bencana lagi, mana boleh dia tetap hidup!”

Sementara itu, Leng-bin-siu-su sudah siuman dari pingsannya, sekian saat ia menggape2 berusaha hendak merajap bangun, tapi ia sudah tidak kuasa bergerak lagi.

Hun Thian-hi tidak tega, katanya kepada Bian-hok Lojin, “Lukanya sangat parah, tinggalkan saja jiwanya!”

Sementara itu, Leng-bin-siu-su sudah berhasil merajap duduk, dengan gusar ia mendelik teriaknya serak, “Berani kalian melepas aku, kelak tunggulah pembalasanku!”

“Kau ingin menuntut balas? Besar benar-benar tekadmu, mengandal kau sekarang masa kau mampu!” demikian cemooh Bian-hok Lojin. “Jangan kau takabur, jangan cuma kau ditambah sepuluh orang pun aku tidak gentar terhadap kau, soalnya aku kurang hati-hati sehingga terluka!” demikian maki Leng-bin-siu-su dengan amarah yang meluap-luap.

Mendengar ucapan orang Thian-hi tahu bahwa Leng-bin-siu-su tengah menggunakan akal pancingan supaya Bian-hok Lojin melepas dirinya. Tapi kelihatannya Bian-hok Lojin bukan kaum kroco, dengan tertawa panjang ia berkata, “Tiada gunanya kau membakar hatiku, ketahuilah aku punya caraku untuk menyelesaikan jiwamu!” habis berkata tubuhnya melejit maju kedua jari tengahnya terangkap telak sekali menutuk jalan darah Sam-kiau-hiat, Leng-bin-siu-su berusaha menghindar tapi apa daya tenaga sudah lemas kontan ia mengeluarkan suara menguak mulut terpentang menyemburkan darah segar.

Thian-hi terkejut, perbuatan Bian-hok Lojin cukup keji, tutukannya itu sekaligus memunahkan ilmu silat dan memecahkan tenaga dalamnya, selanjutnya Leng-bin-siu-su menjadi orang cacat dan tidak akan bisa mengganas pula. Sekuat tenaga ia berusaha merangkak bangun terus mengelojor pergi tanpa berani banyak cingcong lagi.

Sampai tahap sekarang urusan menjadi beres, hati Hun Thian-hi menjadi lega ia kembalikan pula bola mas itu serta katanya, “Urusan sudah selesai. Karena terpaksa kami menerobos ke tempat terlarang ini, harap Lo-cianpwe suka memberi maaf. Sekarang kami mohon diri.”

Bian-hok Lojin menyambuti bola mas itu serta ujarnya, “Sudah, urusan tak perlu diungkat kembali. Selama tiga puluh tahun tiada seorang pun yang tinggal hidup bila berani masuk ke dalam gedung ini. Dan kalian pun tidak punya maksud jahat terhadap bola mas ini, bolehkah kalian silakan saja.”

Tiba-tiba Pek Kong-liang membuka mata, teriaknya, “Saudara-saudara, tunggu sebentar!” “Cianpwe ada petunjuk apa?” tanya Hun Thian-hi membalik.

“Terhitung aku sudah ketemu dengan ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, kelak pasti kau dapat mengembangkan ilmu pedang tiada taranya ini dan menjagoi seluruh Kangouw, untuk itu kau harus menandingi Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni, kuharap kau tidat sampai kalah.”

“Terima kasih akan petuah Cianpwe!” segera Thian-hi menjura hormat. Pek Kong-liang manggut-manggut lalu pejamkan mata pula.

Setelah pamitan Thian-hi berempat segera keluar dari gedung kayu itu langsung melanjutkan perjalanan ke arah timur. Belum jauh mereka menempuh perjalanan, terdengar pekik suara burung kumandang di angkasa, tampak seekor burung dewata terbang menukik ke arah mereka. Thian-hi jadi kebat-kebit dan girang pula, entah Ham Gwat atau Bu-bing Loni yang datang.

Kejap lain burung dewata sudah meluncur turun, sekilas pandang dilihat oleh Thian-hi, Bu-bing Lonilah yang bercokol di punggung burung dewata itu, suatu perasaan aneh yang menghantui sanubarinya timbul dalam benaknya. Wibawa Bu-bing Loni betapa pun masih berpengaruh dalam hatinya.

Sambil menyeringai dingin Bu-bing Loni menatap Hun Thian-hi tanpa bersuara. Dengan berani Thian-hi pun balas menatap dengan tajam. “Akhirnya kita ketemu pula.” akhirnya Bu-bing membuka kesunyian. Lalu ia menyapu pandang Ce-hun bertiga. “Benar, benar,” sahut Thian-hi sinis, “Sayang tempo hari kau tidak berhasil mendapatkan Jian- lian-hok-ling itu, sungguh sangat disesalkan.”

Sebetulnya Bu-bing sendiri juga rada gentar menghadapi Hun Thian-hi yang merupakan musuh paling tangguh satu-satunya pada masa itu. Ia insaf bahwa tingkat kepandaian silatnya tidak terpaut jauh dibanding kepandaian Hun Thian-hi sekarang. Dia harus bekerja cepat melenyapkan musuh besar ini sebelum orang tumbuh sayap dan unjuk gigi, dengan segala cara yang dapat ia gunakan.

Maka Bu-bing Loni tertawa dingin, katanya, “Tidak menjadi soal. Sekarang tibalah saatnya untuk menentukan siapa menang dan siapa asor.”

“Tepat, kiranya hampir tiba saatnya untuk penentuan itu,” demikian tantang Thian-hi sambil mengerut kening, “Aku harus membalas sakit hati para Cianpwe dari Soat-san, dan kau sudah cukup malang-melintang selama empat puluh tahun dengan ilmu pedangmu, hari ini aku harus jajal sampai dimana kehebatan ilmu pedangmu itu.” lalu dilolos pedang di punggungnya.

Begitu melihat pedang yang dipegang tangan Thian-hi, berkilat pandangan Bu-bing, seringainya, “Ternyata kau sudah ganti senjata menggunakan pedang, malah sebilah pedang pusaka.”

“Jangan cerewet!” sentak Thian-hi gusar, “keluarkan pedangmu!”

Diluar dugaan Bu-bing tidak keluarkan pedangnya, mulutnya malah menjengek dingin, “Kenapa ke-susu, aku sendiri tidak tergesa-gesa, apa pula yang kau ributkan?”

“Aku tidak biasa membunuh orang yang tidak bersenjata.”

Berkobar amarah Bu-bing Loni mendengar cemooh orang, selamanya belum pernah ada manusia berani begitu kurang ajar terhadap dirinya, pelan-pelan ia sudah lolos pedangnya, tapi baru separo ia urungkan niatnya, katanya, “Dalam sepuluh hari ini kunanti kedatanganmu di Jian- hud-tong!” — tanpa bicara lagi ia naik ke punggung burung dewata terus terbang pergi.

Thian-hi tertegun, mulutnya menggumam, “Sepuluh hari kemudian di Jian-hud-tong!” tak perlu disangsikan lagi bahwa Bu-bing sudah sekongkol dengan Tok-sim-sin-mo untuk menghadapi dirinya, mau tak mau bergejolak pikirannya.

Tengah ia menjublek di tempatnya, mendadak dari dalam hutan di depan sana muncul seorang gadis, pandangan Thian-hi menjadi terang, ia tersentak kaget dan berteriak girang, yang muncul ini bukan lain adalah Ham Gwat yang selalu dikenangnya itu. Sungguh tidak habis heran hatinya, bahwa Ham Gwat tiba-tiba muncul di tempat itu. Cepat ia berlari maju memapak.

Sekian lama mereka berpandangan, akhirnya Ham Gwat membuka suara, “Bukankah kau sudah menemukan mereka? Dimana mereka sekarang?”

Thian-hi tahu maksud pertanyaan orang, cepat ia menjawab, “Mereka telah ditolong seorang Cianpwe aneh yang berkepandaian tinggi.”

“Siapa dia?”

“Beliau tidak mau menjelaskan….” Ham Gwat terbungkam sekian lamanya, akhirnya berkata, “Ucapan Bu-bing tadi kudengar semua, sepuluh hari kemudian, kau harus menghadapi bahaya yang paling besar selama hidupmu ini.”

Hun Thian-hi manggut-manggut. Tanyanya, “Apakah paman dan bibi baik?”

Muka Ham Gwat jadi masam, lekas ia berpaling muka, sesaat baru terdengar jawabannya, “Mereka ditawan oleh Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni.”

Mencelos hati Thian-hi, perkembangan ini sungguh diluar dugaannya. Sekian lama mereka sama menjublek tak bersuara.

Ce-hun Totiang bertiga juga mendengar kabar jelek ini, mereka sama ikut merasakan tekanan batin yang berat ini. Siapa akan menduga Bu-bing Loni yang congkak dan tinggi hati itu ternyata sudi merendahkan derajatnya bersekongkol dengan orang orang lain.

“Marilah sekarang juga kita susul ke Jian-hud-tong.” demikian ajak Thian-hi nekad.

Ham Gwat menggeleng kepala, sahutnya, “Meluruk secara serampangan takkan ada gunanya.”

Thian-hi angkat pundak. Urusan berlarut semakin ruwet sulit ditanggulangi, ia jadi termenung memikirkan daya upaya.

Sekonyong-konyong didengarnya langkah kaki yang lirih, Thian-hi terkejut cepat ia putar tubuh terlihat dari dalam hutan berjalan keluar dua Hwesio tua.

Begitu melihat kedua Hwesio ini tiba-tiba Ciok Yan memburu ke depan seraya berteriak kegirangan, “Ajah! Kemana saja kau selama ini.”

Kedua Hwesio ini bukan lain adalah Go-cu Taysu dan Ciok Hou-bu, melihat Ciok Yan memburu tiba tersipu-sipu Ciok Hou-bu berkelit kesamping sambil bersabda buddha dan merangkap tangan. Ciok Yan lantas menubruk dan memeluk kedua kaki Ciok Hou-bu serta menangis sejadi2nya.

Sementara Ciok Hou-bu sedang bicara dengan putri dan menantunya Bun Ciu-giok.

Segera Thian-hi berdua unjuk hormat kepada Go-cu Taysu.

“Jangan sungkan,” cegah Go-cu, “Bisa jumpa dengan tunas muda yang gagah perwira sungguh Lolap sangat senang.”

Sudah lama Hun Thian-hi kenal nama Go-cu Taysu, baru sekarang ia sempat bertemu, tampak orang berperawakan kurus kecil, tapi sepasang matanya bersinar terang, jidatnya sudah berkeriut, selintas pandang orang akan menaruh hormat dan segan pada padri. yang kenamaan ini.

Berkatalah Go-cu taysu, “Agaknya kalian punya jdoh dengan kalangan agama kami, baru pertama kali ini aku berkesempatan ketemu, sebetulnyalah sejak lama sudah kenal.”

Thian-hi merendah, katanya, “Wanpwe pun sudah lama mendengar kebesaran nama Taysu dan ingin bertemu, sayang tidak berjodoh, beruntung hari ini bisa ketemu disini, harap Cianpwe Sudi memberi petunjuk!”

Go-cu menghela napas, ujarnya, “Bu-bing Loni dan Tok-sim-sin-mo ada intrik dan melakukan perbuatan kotor yang terkutuk, mereka bertekad mendapatkan Ni-hay-ki-tin, ayah bunda Ham-sicu ini juga ditawan dijadikan sandera dikurung di dalam istana sesat, mereka perlu segera diberi pertolongan….” Berubah pucat paras Ham Gwat, tubuhnya terhujung hampir roboh. Cepat Hun Thian-hi memapah tubuhnya. Ham Gwat menenangkan pikiran dan membesarkan hati, ia berdiri tegak pula.

Go-cu Taysu berkata lebih lanjut, “Tak berguna sekarang kalian meluruk kesana, yang penting kalian harus lekas-lekas melaksanakan urusan lain yang lebih penting. Sebab Bu-bing dan Tok- sim-sin-mo sudah mendapatkan gambar peta dari rahasia Ni-hay-ki-tin itu, cuma belum dapat memecahkan inti rahasianya, kalau tidak tentu Ni-hay-ki-tin sejak lama sudah berada di tangan mereka, keadaan pasti lebih runyam dan tak tertolong lagi.”

“Apakah Cianpwe punya cara untuk mengatasi?” tanya Hun Thian-hi.

“Sekarang kalian harus memohon bantuan pada seseorang, bila beliau suka memberi petunjuk, urusan betapa sulit pun akan dapat dipecahkan.”

Hati Ham Gwat sedang gundah dan gelisah, ia hampir tidak percaya ada seseorang bisa mengatasi persoalan rumit ini sedemikian gampang.

Agaknya Go-cu merasakan kesangsian Ham Gwat ini, ia tertawa, ujarnya, “Kusebut seseorang, mungkin kalian tidak akan mau percaya.”

“Siapa dia?” tanya Thian-hi. “I-lwe-tok-kun!”

“Dia?” teriak Hun Thian-hi tercengang.

Memang ia tidak menyangka bila Go-cu bisa menyebut I-lwe-tok-kun, itu gembong sesat nomor satu pada jamannya dulu.

Go-cu manggut-manggut, katanya tersenyum, “Sedikit orang yang tahu bahwa dia sudah lama lolos keluar, malah sekarang sedang mawas diri dan mengasingkan diri di suatu tempat tersembunyi.”

“Betulkah dia?” Thian-hi menegas.

“Kau tahu siapa dia sebenar-benarnya?” Go-cu melanjutkan, “Dia adalah majikan dari Jian-hud- tong pada empat puluh tahun yang lampau, setelah dia terkalahkan oleh Ka-yap Cuncia dia masih menetap di dalam Jian-hud-tong itu. Banyak tempat gang orang lain belum pernah mencapainya ia sudah pernah pergi kesana, kuduga kepandaian ilmu silatnya yang tinggi itupun ia peroleh di tempat itu. Sebab dia tidak punya perguruan, menurut hemadku, mungkin dia pun pernah menjelajahi istana sesat itu…. Tempat pengasingannya tidak jauh dari tempat ini,” demikian Go-cu menambahkan, “Aku bisa ajak kalian kesana, tapi dia menderita luka dalam yang tak mungkin disembuhkan lagi, belum tentu beliau suka membantu kesukaran kalian ini.”

Hun Thian-hi menepekur, I-lwe-tok-kun adalah guru Mo-bin Suseng, muridnya terbunuh olehnya entah bagaimana sikapnya nanti terhadap aku. Tapi dalam keadaan kepepet ini cuma akulah yang harus mohon bantuan padanya, terpaksa ku-coba-coba saja.”

Go-cu Taysu membawa Thian-hi berdua menyelinap ke dalam hutan yang semakin lebat, setelah melampaui sebidang tanah lapang di pengkolan sebelah hutan terdapat sebuah mulut gua yang teramat besar. Kata Go-cu Taysu pada Thian-hi berdua, “I-lwe-tok-kun menetap di dalam gua besar itu, bekerjalah menurut gelagat, semoga kalian berhasil, Lolap mohon diri” — lalu ia putar balik mengajak Ciok Hong-hu, Ce-hun Totiang, Bun Cu-giok dan Ciok Yan pergi.

Thian-hi berdua terus maju sampai diambang gua, kata Thian-hi, “Nona Ham Gwat, silakan kau tunggu disini, biar aku saja yang masuk?”

“Apakah tidak lebih baik kita masuk bersama?” usul Ham Gwat dengan suara lembut. Thian-hi tidak berani menyatakan apa-apa, terpaksa manggut-manggut.

Pelan-pelan mereka langsung masuk, setelah berjalan beberapa kejap terasa bahwa gua ini sangat panjang, mengandal ketajaman mata mereka tidak kelihatan sampai dimana ujung pangkal dari gua besar ini. Semakin ke dalam gua semakin gelap, jantung Thian-hi jadi kebat-kebit dan tegang.

Beberapa kejap kemudian terasa dari langit2 gua ada air menetes jatuh, jalan yang diinjak pun berlumut sangat licin. Keadaan gelap dan hening membuat hati mereka rada heran. Gua ini begini panjang lalu dimana I-lwe-tok-kun bersemajam, untungnya jalan gua ini cuma satu, kalau bercabang dua atau tiga entah kemana mereka harus mencari.

Sekonyong-konyong dilihatnya dari sebelah dalam sana berkelebat dua sosok bayangan hitam menubruk datang ke arah mereka. Hun Thian-hi terperanjat, secara reflek ia tarik Ham Gwat ke belakangnya, sebelah tangannya cepat mengeluarkan pedang.

Begitu menubruk dekat tanpa bersuara kedua bayangan itu lantas menyerang dengan kedua telapak tangan masing-masing. Hun Thian-hi menegakkan badan, kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh, pedangnya teracung miring ke depan atas, sekali putar dan babat beruntun ia punahkan serangan kedua musuhnya yang hebat.

Tapi kedua musuh beruntun lancarkan puluhan pukulan, agaknya mereka hendak mendesak Thian-hi berdua mundur keluar gua, maka serangan mereka tidak mengarah tempat-tempat penting yang mamatikan.

Pedang Thian-hi beterbangan, setiap kali gerakan pedangnya selalu berhasil memunahkan daya pukulan musuh. Diam-diam hatinya menjadi heran dan girang pula, batinnya, “Entah siapa kedua orang ini, sedemikian ampuh dan tinggi Lwekang mereka.”

Melihat Thian-hi berdiri tak tergoyahkan, kedua penyerangnya itu semakin gugup, salah seorang sembari menyerang tiba-tiba bersuara. rendah tertahan, “Keluar!”

Begitu mendengar suara itu Hun Thian-hi tertegun, pikirnya, “Suara yang amat kukenal!” — serta merta gerak pedangnya diperlambat kontan ia terdesak mundur satu tindak.

Tanpa memberi kesempatan banyak pikir terdengar seorang yang lain juga membentak rendah tertahan, “Tidak mau mendengar kita ya?”

Tergetar hati Thian-hi, sekarang baru ia sadar, “Ternyata kedua orang ini adalah Hwesio jenaka dan Siau-bin-mo-in, mengapa nada ucapan mereka begitu ketus dan begitu serius. Apakah terjadi sesuatu peristiwa yang luar biasa? Kalau tidak masa begitu tegang.”

Karena pikirannya ini tanpa ayal cepat ia tarik Hum Gwat, laksana meteor jatuh ia berlari terbang mundur kemulut gua. Hwesio jenaka seorang saja yang mengejar sampai diluar gua, mukanya sudah kehilangan senyum tawanya yang selalu berseri lucu itu, dengan nada sedih ia bertanya, “Untuk apa kau datang kemari?”

Melihat sikap Hwesio jenaka ini heran Thian-hi dibuatnya, katanya tertawa, “Siausuhu, apakah I-lwe-tok-kun benar-benar ada di dalam gua!”

Hwesio jenaka tersentak, matanya menatap tajam, sahutnya, “Benar-benar, darimana kau bisa tahu!”

“Wanpwe ada urusan yang mendesak mohon petunjuknya.” “Kau ada urusan apa?” tanya Hwesio jenaka penuh tanda tanya.

Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan kejadian belakangan ini, ia jelaskan pula maksud kedatangannya, iapun jelaskan sudah bertemu dan mendapat petunjuk dari Go cu Taysu.

“Sudah tidak mungkin!” sahut Hwesio jenaka sesaat kemudian. “Kalian terlambat tiba.” Thian-hi terkejut, teriaknya, “Apa! Datang terlambat? Maksudmu beliau sudah meninggal?” Hwesio jenaka menepekur, ia geleng-geleng kepala tanpa bicara.

Thian-hi girang timbul setitik harapan, “Asal orang belum ajal saja.” demikian batinnya.

Setelah menghela napas Hwesio jenaka berkata, “Keadaannya seperti orang sudah mati, sekarang dia sudah gila, betapapun panjang usianya, takkan kuasa hidup beberapa hari lagi.”

Hun Thian-hi tertegun, katanya, “Siau suhu….”

“Aku tahu maksudmu,” demikian tukas Hwesio jenaka, “Kau masih ingin bertemu dengan beliau?”

Thian-hi manggut-manggut, tambahnya, “Urusian ini sangat penting, betapa pun aku harus bertemu dengan beliau.”

“Bukan aku tidak mengijinkan, yang benar-benar dia sudah tidak bisa membedakan orang, kami bersaudara pun dilarang mendekat, apalagi kalian.”

“Bagaimana juga aku mengharap bisa menemui beliau sebentar saja.”

“Baiklah. Tapi harapannya terlalu kecil, mengandal kalian tentu, tidak mudah terluka ditangannya, tapi harus berhati-hati,” kembali ia bawa Hun Thian-hi berdua masuk ke dalam gua. Tak berapa lama mereka sudah tiba diujung gua. Dimana Siau-bin-mo-in sedang berjaga diambang pintu sebuah kamar batu, melihat Hwesio jenaka membawa Hun Thian-hi dan Ham Gwat ia mengerutkan alis, tapi tidak bicara.

Hwesio jenaka berbisik-bisik dengan Siau-bin-mo-in, lalu Hwesio jenaka berbisik pula dipinggir telinga Thian-hi, “Tok-kun sedang tidur, mari kuajak masuk, kalian harus hati-hati.”

Hum Thian-hi berdua dibawa masuk ke dalam kamar batu itu, lalu ia mengundurkan diri keluar. Begitu berada di dalam kamar batu Hun Thian-hi merasa hawanya sangat lembab, dinding sekelilingnya ada mengalir air, dari celah-celah sebelah depan sana ada lobang kecil selarik sinar menyorot masuk sehingga keadaan kamar batu rada terang.

Ditengah membelakangi dinding sana terdapat sebuah dipan batu, dimana duduk bersila seorang tua kurus kering, kedua matanya terpejam, suara napasnya terlalu berat.

Hun Thian-hi membatin orang inikah I-lwe-tok-kun, sekian saat ia amat-amati orang tua di hadapannya ini. Kedua biji matanya sudah cekung, mukanya pucat berpenyakitan, tak serupa sabagai seorang gembong iblis yang sangat ditakuti, yang terang tak lain sebagai kakek tua renta yang sudah loyo, berpenyakitan lagi, serta merta ia menghela napas. Bersama Ham Gwat, Thian-hi berdiri diam ditengah-tengah kamar.

Suasana hening lelap cuma tetesan air yang tak-tik saja yang terdengar, tak lama kemudian cahaya matahari yang remakin dojong menyinari muka I-lwe-tok-kun, tiba-tiba terdengar tenggorokannya bersuara lirih, pelan-pelan ia mulai membuka mata.

Hati Thian-hi dan Ham Gwat menjadi tegang, entah bagaimana sikap 1-lwe-tok-kun serta melihat kehadiran mereka di dalam kamar ini? Menyerang atau mencaci maki mereka? Sungguh mereka tidak berani membayangkan akibatnya, dengan rasa tegang mereka awasi gerak-gerik I- lwe-tok-kun.

Begitu membuka mata, I-lwe-tok-kun seperti tidak melihat mereka, dengan pandangan redup ia menyapu keadaan sekelilingnya baru akhirnya pandangannya jatuh pada wajah mereka. Semula matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti, mendadak sorot matanya berubah beringas dan mendelik tajam laksana ujung senjata menghunjam ke ulu hati mereka.

Akhirnya tercetus pertanyaannya, “Kalian untuk apa datang kemari?”

Hun Thian-hi jadi melenggong, bukankah tadi Hwesio jenaka mengatakan I-lwe-tok-kun sudah gila? Kenapa bisa mengajukan pertanyaan yang genah ini.

Desak I-lwe-tok-kun pula, “Siapa kalian adanya?”

Melihat sikap orang yang kalem dan sadar, Hun Thian-hi tidak beragu lagi, cepat ia menyahut, “Wanpwe Hun Thian-hi bersama Ham Gwat, ada sesuatu urusan mohon petunjuk Cianpwe.”

I-lwe-tok-kun termangu sekian lama, pelan-pelan berkata, “Kau bernama Hun Thian-hi? Kaukah murid Ka-yap Cuncia itu?”

“Memang Wanpwe adanya.”

I-lwe-tok-kun menghela napas lalu menunduk, tak lama kemudian ia bersuara pula, “Jadi kau benar-benar adalah murid Ka-yap Cuncia, kalau begitu ada urusan apa silakan katakan saja.”

Hun Thian-hi semakin mendapat hati dan tabah, katanya, “Konon kabarnya Cianpwe dulu pernah menetap di dalam Jian-hud-tong, apakah kabar ini benar-benar?”

Perlahan-lahan I-lwe-tok-kun manggut-manggut.

“Ada sebuah urusan mohon Cianpwe suka bantu memecahkan. Sekarang Tok-sim-sin-mo dan Bu-bing Loni ada sekongkol dan menjadikan Jian-hud-tong sebagai markas mereka. Kami mohon petunjuk mengenai rahasia dari istana sesat itu. Cianpwe lama berdiam disana tentu sudah apal mengenai segala seluk beluk disana, harap suka memberi penjelasan.” Terbayang senyum lebar dimuka I-lwe-tok-kun, katanya kalem, “Aku tahu aku bakal segera mati, aku kuatir tak mampu lagi bantu kalian.”

Hun Thian-hi terbungkam dan termangu tak bicara.

“Tentu kau tidak mau percaya, ya bukan?” ujar I-lwe-tok-kun tertawa ringan, “Tapi aku sendiri punya perhitunganku, dalam sepuluh hari ini, baru sekarang aku sadar dan pulih ingatanku!” ia mendehem dan manggut-manggut lalu sambungnya, “Aku tahu ini cuma pertanda bahwa ajalku sudah semakin dekat.”

Thian-hi berdua masih bungkam tak bergerak. “Kau tidak perlu kubantu lagi,” demikian I-lwe- tok-kun melanjutkan, “Dalam kolong langit sekarang kecuali aku mungkin tiada orang kedua yang pernah menjelajah istana sesat.”

“Dapatkah Cianpwe memberi petunjuk tentang cara keluar masuknya istana sesat itu.” “Tidak! Apakah Tok-sim-sin-mo punya cara keluar masuk.” ia tertawa-tawa, lalu sambungnya,

“Siapa tahu jalan masuk ke dalam istana sesat, dia bakal mampus seketika….”

Thian-hi tercengang tanpa bicara, tak terpikir olehnya kenapa I-lwe-tok-kun mengatakan begitu.

“Mungkin kau tidak percaya,” I-lwe-tok-kun melanjutkan, “Sebelum ajal biarlah kuberi tahu pada kau. Dulu aku sudah berdaya upaya menghabiskan tenaga dan memeras otak untuk masuk ke dalam istana sesat, Kupikir di dalam istana sesat itu pasti ada dipendam harta benda yang tak ternilai dan tak terhitung banyaknya, kalau tidak masa orang sudi membangun Istana sesat di tempat itu.

Tapi setelah aku berada di dalam istana sesat kudapati tempat itu merupakan daerah mati, mungkin memang ada harta terpendam, tapi dibagian lebih dalam ada tersebar luas hawa beracun yang teramat jahat. Aku dijuluki Tok-kun, aku berani membanggakan diri segala racun pernah kuperoleh, tapi kalau dibanding hawa beracun disana bedanya antara langit dan bumi, sedikit kulitmu tersentuh hawa beracun itu, seketika kau akan mampus dan cara kematianmu adalah sedemikian mengerikan!”

Sampai disini I-lwe-tok-kun tertawa-tawa lagi, katanya lebih lanjut, “Maka tadi kukatakan tak usah kau urus dan bercapek lelah mengenai istana sesat itu, tak usah kuatir Tok-sim-sin-mo berbuat apa-apa, sekali dia berani menerjang masuk kesana, kematian akan menunggunya.”

“Banyak terima kasih akan petunjuk Cianpwe!” tersipu-sipu Thian-hi menjura. “Sampai tahap sekarang ini baiklah kuberitahu kepada kau,” demikian I-lwe-tok-kun

menambahkan, “Sebelum melakukan sesuatu sebelumnya harus dipikir biar masak, jangan kau

menyesal sesudah kasep, itu tidak berguna!”

Bercekat hati Thian-hi, ia tunduk diam mendengar petuah ini, banyak akibat dari perbuatannya yang harus disesalkan.

“Dulu,” demikian, ujar I-lwe-tok-kun sambil mengawasi muka mereka, “Aku malang melintang bersimaharaja anggapku akulah yang paling berkuasa melebihi raja. tapi kenyataan toh aku dikalah-kan oleh Ka-yap Cuncia. Sampai sekarang meski aku ingjn berjuang dan mencapai puncak kedigjayaan itu akhirnya toh mampus juga.” “Cianpwe sekarang sudah insaf dan menyesal, bukankah ini suatu hal baik?” tanya Thian-hi.

“Orang purba mengatakan, tahu salah dapat memperbaiki, betapa bahagia dan bijaksananya ini memang tidak salah, tapi jauh lebih baik kalau kau tidak berbuat kesalahan itu bukan? Cuma orang purba itu pun tidak menyadari bahwa nyawa, atau hidup manusia itu ada batasnya, adanya batas nyawa itu tidak mungkin ada batas penyesalan….”

Thian-hi merenungkan petuah I-lwe-tok-kun yang mengandung arti yang dalam ini, ini merupakan suatu kritik yang mendalam pula bagi dirinya, jiwa mannsia memang cukup pendek dan terbatas, nyawa itu serdiri tidak akan membiarkan manusia berbuat penyesalan yang tiada batasnya, disadari olehnya apa pula yang harus segera dikerjakan sekarang, dia tidak boleh main lambat-lambat dan ragu-ragu lagi.

Selama itu Ham Gwat diam saja, iapun tenggelam dalam pikirannya, banyak yang dapat ia simpulkan dari percakapan ini, dan pendapatannya justru yang paling banyak.

“Aku sudah letih,” tiba-tiba I-lwe-tok-kun mengeluh, “kalian boleh segera keluar!” — pelan- pelan ia pejamkan mata.

Waktu Hun Thian-hi dan Ham Gwat keluar Hwesio jenaka sudah menyongsongnya diambang pintu, katanya tertawa, “Sungguh beruntung nasib kalian.” lalu, ia menghela napas serta ujarnya pula, “Dengan memejamkan mata, tentu Tok-kun tidak akan membuka mata lagi selamanya.”

Hun Thian-hi manggut-manggut, ia maklum kemana juntrungan ucapan orang. “Tujuan kalian sudah tercapai, mungkin kalian masih ada urusan lain, maaf, kami tidak

mengantar kalian.”

Segera Hun Thian-hi nyatakan terima kasih terus keluar bersama Ham Gwat. Tanpa membuang waktu Hun Thian-hi dan Ham Gwat langsung menempuh perjalanan menuju ke Jian-hud-tong.

Sepandiang jalan itu mereka jarang bicara.

Suatu ketika mereka kepergok dengan sebuah bayangan orang, tiba-tiba Hun Thian-hi berjingkrak kegirangan dan memapak maju. Ternyata dilihatnya Sutouw Ci-ko muncul di tempat itu.

“Sutouw cici bagaimana kau datang!” teriaknya.

“Ya, aku datang bersama Gihu (ajah angkat), tapi beliau ada urusan nanti akan menyusul, kemari,” lalu ia berpaling mengamati Ham Gwat, katanya berseri tawa. “Bukankah ini nona Ham Gwat! Sungguh cantik sekali, tak heran adik Hun terpincut kepada kau,” demikian godanya.

Ham Gwat tertunduk ke-malu-maluan, katanya lirih, “Cici tentu nona Sutouw adanya!” Melihat muka dan sikap Ham Gwat yang murung itu Sutouw Ci-ko hertanya kepada Thian-hi,

“Eh. kenapakah kalian, kok tidak bicara.”

Setelah bersua dengan Sutouw Ci-ko perasaan Hun Thian-hi rada ringan, sahutnya tortawa, “Tidak apa-apa, cuma ayah bunda nona Ham Gwat kena tertawan oleh Tok-sim-sin-mo dan Bu- bing Loni.”

“O, Sungguh maaf,” Sutouw Ci-ko tersipu-sipu minta maaf, “Aku tidak tahu ada kejadian ini.” “Ci-ko cici!” Ham Gwat berkata sambil memandang ke arah Thian-hi. Sutouw Ci-ko maklum maka segera ia berkata,, “Adik Thian-hi, coba kau menyingkir, kami hendak bicara”

Apa boleh buat terpaksa Hum Thian-hi menyingkir rada jauh.

“Ci-ko cici.” ujar Ham Gwat setelah Thian,-hi menyingkir, “Boleh aku panggil begitu?” “Sungguh aku senang mendapat adik secantik kau, entah siapa yang bakal beruntung dapat

mempersunting putri secantik bidadari ini!”

Ham Gwat tertunduk malu, ujarnya pula, “Ci-ko cici, apakah kau merasa seolah-olah aku tidak punya perasaan?”

Bercekat hati Sutouw Ci-ko, tapi ia tertawa dibuat-buat, sahutnya, “Adik Ham Gwat, kenapa kau berpikiran begitu? Sedikit pun aku tidak punya perasaan begitu.”

Dengan nanar Ham Gwat pandang rona wajah Sutouw Ci-ko, sesaat ujung mulutnya maengulum senyum manis, katanya pelan-pelan, “Perjalanan ke Jian-hud-tong ini, sungguh aku sangat kuatir bagi keselamatan Thian-hi. Dia harus bertempur untuk menentukan mati atau hidup melawan Bu-bing Loni, sedang ayah bundaku tertawan pula oleh mereka, menurut pendapatmu bagaimana aku harus bertindak!”

Haru dan tersentuh sanubari Sutouw Ci-ko serta. mendengar curahan hati Ham Gwat yang penuh membawa perasaan hatinya. Terdengar Ham Gwat melanjutkan, “Kau tahu, dia terlalu ceroboh. gugup dan lalai lagi, bila sampai tertipu tak berani aku membayangkan akibatnya.”

“Kau tak usah kuatir.” Sutouw Ci-ko coba menghibur, “Bukankah kau selalu mendampinginya?

Aku dan Gihu juga akan kesana, kau tidak perlu kuatir!”

“Tapi dia akan berpencar dengan kita, bagaimana baiknya.”

“Itu tergantung pada kau, asal kau dapat mengendalikan dia, kutanggung tidak akan ada persoalan” demikian ujar Sutouw Ci-ko sambil tertawa penuh arti. “Aku tahu sanubarimu penuh mengandung perasaan, tapi tak pernah kau tunjukkan dilahirmu. Hubunganmu dengan Thian-hi terasa sangat asing bagi dia, kalau kau bisa mengumbar sedikit perasaanmu aku percaya Thian-hi akan menyetujui segala perintahmu. Aku dapat menyelami isi hatinya, kalau huhungan kalian sudah erat dan terbuka hati kalian bisa saling mengisi, dia akan tanya padamu apa yang harus dia lakukan, yakinlah akan hal ini!”

“Memang Thian-hi rada jerih terhadap kau,” demikian Sutouw Ci-ko melanjutkan. “Tapi cuma kaulah yang kuasa mengendalikan dia, hal ini tak perlu disangsikan.”

“Aku kuatir aku tidak punya wibawa begitu besar,” timbrung Ham Gwat tertawa. “Dihadapan orang lain biasanya Thian-hi terlalu bebas dan berani, tapi dihadapanmu seperti

bicara pun tak berani keras. Kukira sejak mula kalian sudah sama-sama canggung dan risi

sehingga sikap kalian sama-sama kurang wajar.”

Ham Gwat menjadi geli. Dalam hati ia mengakui akan kebenar-benaran ini, kini setelah ganjalan hati ini terbuka ia menjadi paham dan lapanglah dadanya, katanya, “Untuk selanjutnya kukira tidak akan terjadi pula!” “Itulah baik. Aku salut pada kalian!” demikian ujar Sutouw Ci-ko, lalu ia berpaling ke arah hutan serta berteriak, “Thian-hi, keluarlah!”

Tapi berulang kali ia berkaok2 tanpa mendapat penyahutan, hati mereka menjadi tegang dan bertanya-tanya. Lekas mereka memburu ke dalam hutan, keadaan disitu sunyi dan melompong, agaknya Thian-hi sudah tinggal pergi lebih dulu.

Sekilas pandangan Ham Gwat menjelajah sekitarnya dilihatnya sebaris tulisan didahan pohon yang berbunyi, “Paman Pek menghadapi bahaya, aku pergi menolong.”

Mereka maklum setalah berhasil menolong Pek Si-kiat tentu Thian-hi langsung menyusul ke Jian-hud-tong, maka mereka pun tidak banyak kata lagi, buru-buru mereka melanjutkan perjalanan.

Ooo)*(ooO

Melihat Ham Gwat berdua mau bicara segera Thian-hi menyingkir ke dalam hutan, tengah ia keisengan tiba-tiba dilihatnya tiga sosok bayangan orang berlari kencang saling kejar di kejauhan, jelas terlihat olehnya orang yang dikejar itu adalah Pek Si-kiat, sedang dua orang pengejarnya adalah Ciang-ho-it-koay dan Ce-han-it-ki.

Cepat ia menulis beberapa patah kata di atas pohon terus lari mengejar dengan kencang, Kira- kira sepul”uh li kemudian baru ia melihat tiga bayangan di depan, segera ia kerahkan tenaganya mengejar lebih pesat. Untung tiba-tiba dilihatnya ketiga orang yang saling kejar itu mendadak sama berhenti, sementara laksana terbang Hun Thian-hi sudah menyandak dekat, cuma sebelum tahu duduk persoalannya ia tak mau muncul unjukkan diri, lekas ia melesat naik kepuncak sebuah pohon lebat dan sembunyi disitu.

Diam-diam heran dan bertanya-tanya benak Thian-hi, entah karena urusan apa ketiga tokoh kelas tinggi ini saling kejar. Tampak Pek Si-kiat membelakangi sebuah pohon besar menghadapi kedua pengejarnya, katanya, “Aku sudah bersabar, tapi kalian mendesak begini rupa, apa maksud kalian?”

“Pek Si-kiat jangan banyak bacot lagi, persoalan empat puluh tahun yang lalu masa pura-pura kau lupakan?” demikian jengek Ce-han-it-ki’

“Benar-benar, memang dulu tidak sedikit aku membunuh orang. tapi sekarang aku sudah sadar dan insaf, apa kalian masih mendesak sedemikian rupa?”’

“Menyesal dan sadar apa?” demikian jengek Ciang-ho-it-koay, “Dengan menyesal dan sadar lantas cukup kau tebus jiwa orang-orang yang kau bunuh itu?”

“Jadi maksud kalian aku Pek Si-kiat harus menembus dengan jiwaku?”

“Dulu Pek-kut-sin-kangmu menggetarkan Bulim biar hari ini aku mencoba pukulan saktimu itu,” demikian Ciang-ho-it-koay tampil ke depan terus menyerahg dengan kedua telapak tangannya.

Pek Si-kiat. melejit mundur menghindar. Kalau dua lawan satu terang ia bukan tandingan, maka ia harus berusaha mencari kesempatan melarikan diri, segera ia kerahkan delapan kekuatan Pek-kut- sin-kang balas menggempur.

Begitu dua pukulan saling bentur, hawa bergolak debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, kedua belah pihak sama tergetar mundur lima kaki. Begitu tersentak mundur Ciang-ho-it-koay segesit kera sudah melompat maju pula seraya kirim lagi tamparan maut. Sementara itu Pek Si-kiat berdiri tegak, ia sudah siap menghadapi rangsakan musuh lebih lanjut, tapi ia cukup cerdik untuk memancing kelengahan musuh, tiba-tiba ia melejit mundur lagi, Ciang-ho-it-koay menjadi gemas. tanpa. menghiraukan seruan Ce-han-it-ki ia mengejar maju seraya menjengek, “Iblis tulang putih hayo jangan lari!”’

Kini persiapan Pek Si-kiat sudah sempurna, tanpa berkelit lagi ia songsongkan pukulan telapak tangan dengan dilandasi kekuatan Pek-kut-sin-kang. Waktu mendengar peringatan Ce-han-it-ki, paling tidak Ciang-ho-it-koay sudah waspada, begitu melihat lawan menyongsong pukulannya ia berusaha mengijak. hakikatnya sikap Pek Si-kiat ini tidak pandang sebelah mata dirinya, berani dia menyongsong gempuran pukulannya cuma dengan sebelah tangannya saja. Seketika berkobar amarahnya sambil kerahkan seluruh tenaganya, kedua telapak tangan menggempur ke arah Pek Si-kiat.

Diluar tahunya siang-siang Pek Si-kiat sudah memperhitungkan dengan masak, begitu melihat lawan menggempur dengan kekerasan, cepat ia tarik pukulannya seraya berkelit kesamping.

Memang Ciang-ho-it-koay menduga Pek Si-kiat tidak akan berani melawan secara kekerasan, begitu melihat lawan berkelit, tiba-tiba ia memutar setengah lingkaran berbareng kedua tangannya menyapu miring terus menggempur pula kehadapan Pek Si-kiat.

Mimpi pun Pek Si-kiat tidak menduga bahwa lawan bisa tergerak begitu cepat dan tangkas, tak sempat berkelit atau merubah permainan, terpaksa ia angkat tangan menangkis dengan sisa tenaga yang masih terkerahkan.

Suara gemuruh seketika menyentak mundur kedua pihak dua tindak ke belakang. Secara langsung dapatlah dinilai dalam adu kekuatan pukulan ini, bahwa Pek Ki-kiat setingkat lebih tinggi dari kepandaian Ciang-ho-it-koay, karena hasilnya seri, pada hal Pek Si-kiat cuma menggunakan sisa tenaga yang masih terkerahkan.

“Lwekang yang hebat,” derdengar Ce-han-it-ki memuji, “Cukat Lote! biar kucoba-coba kepandaian sejati Iblis tulang putih ini!”

Ciang-ho-it-koay maklum bahwa diri sendiri bukan tandingan orang, segera ia mengundurkan diri.

Melihat Ce-han-it-ki tampil ke depan, bercekat hati Pek Si-kiat, ia maklum kepandaian orang jauh lebih tinggi dari Ciang-ho-it-koay, mau tak mau ia harus mengempos semangat dan meningkatkan kewaspadaan.

Dalam pada itu Ce-han-it-ki sudah saling berhadapan, seperti dua jago aduan mereka saling pandang tak berani sembarangan bergerak, mereka menanti kesempatan yang paling baik untuk turun tangan. Sekonyong-konyong Ce-han-it-ki bergerak dulu, kakinya melangkah miring ke depan menduduki posisi yang menguntungkan terus menggempur berhadapan ke arah Pek Si-kiat

Mencelot hati Pek Si-kiat. Cara Ce-han-it-ki menyerang ini entah mengunakan tipu silat apa.

Karena itu dia tidak berani gegabah sedikit angkat kedua tangannya cukup mebendung gempuran tenaga lawan, sementara sebelah kakinya menyurut selangkah.

Tak duga gerakan Ce-han-it-ki ini merupakan pancingan belaka, melihat Pek Si-kiat tidak berani balas menyerang, ia tertawa panjang, cepat sekali permainan pukulannya berubah, ia kembangkan Nu-hun-ciang-hoat (pukulan comot awan), gambaran telapak tangan berkelebatan menerbitkan gelombang angin yang menderu keras, jari-jari kedua telapak tangannya bagai cakar burung mencomot ketubuh Pek Si-kiat. Karena inisiatif penyerangan didahului lawan, kontan Pek Si-kat terdesak di bawah angin dan mati kutu, Pek-kut-ciang sulit dikembangkan lagi, paling-paling cukup untuk membela diri saja. Namun demikian ia kuat bertahan sampai ratusan jurus, sementara kedudukan Ce-han-it-ki semakin unggul, permainan pukulan telapak tangannya semakin ganas dan deras.

Dalam pengalaman bertempur untung Pek Si-kiat jauh lebih matang dari Ce-han-it-ki, detik- detik permulaan tadi lantas ia menginsafi kedudukannya yang kejepit ini, tanpa balas menyerang ia menjaga diri dengan rapat. Tapi setiap kali lawan mengunjuk setitik lobang kelemahan pasti ia menyergap dengan rangsakan yang cukup membuat lawan kelabakan.

Kira-kira dua ratusan jurus mereka saling hantam, Pek Si-kiat jadi mengerutkan kening, sebaliknya Ce-han-it-ki semakin bernafsu. Mendadak Pek Si-kiat mengendorkan pukulan tangannya, Ce-han-it-ki segera menerjang dengan sebelah pukulan tangan, gesit sekali Pek Si-kiat miringkan tubuh sambil balas menggempur.

Sudah tentu Ce-han-it-ki tidak sudi gugur bersama, terpaksa ia sampokan sebelah tangan menangkis, “blang!” dua musuh sama-sama tersurut mundur, sekarang mereka berdiri berhadapan lagi.

Sekonyong-konyong eesosok bayangan orang meluncur turun dan hinggap ditengah gelanggang. Kedua belah pihak sama kaget

Melihat Hun Thian-hi, Ce-han-it-ki semakin beringas, desisnya, “Apa kau ingin membela Pek Si- kiat?”

Hun Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Aku cuma menuntut keadilan saja, harap Cianpwe tidak terbawa oleh perasaan hati.”

“Pek Si-kiat dulu terlalu banyak membunuh orang, berani kau menghadapi kemarahan kaum Bu-lim?”

“Lain dulu lain sekarang, kenyataan sekarang ia tidak pernah membunuh orang.”

“Hun Thian-hi,” sela Ciang-ho-it-koay, “Persoalan Giok-yan Cinjin belum beres, berani kau bertingkah disini?”

“Kukira Cianpwe masih belum pikun. seseorang yang berlatih ilmu Lwekang dari aliran murni macam tokoh Giok-yap Cinjin apakah mungkin bisa tersesat latihannya?”

Ciang-ho-it-koay jadi melengak, ia cuma percaya obrolan orang dan belum pernah memikirkan secara cermat. Kini baru ia jelas duduk persoalannya, jadi kematian Giok-yap memang bukan perbuatan Hun Thian-hi. Seketika ia bungkam seribu basa.

“Sekarang kita tidak mempersoalkan kematian Giok-yap. Kami menagih hutang jiwa Pek Si-kiat pada empat puluh tahun yang lalu.” Ce-han-it-ki mengembalikan persoalan semula.

“Bagaimana kejadian empat puluh tahun yang lalu aku tidak tahu. Memang kudengar sepak terjang Si-gwa-sam-mo dulu terlalu ganas dan telengas. Tapi paman Pek sekarang sudah sadar dan bertobat, malah Ka-yap Cuncia sendiri yang membebaskan beliau. Masakah empat puluh tahun kemudian, hari ini kalian masih mengungkat2 urusan lama dan mendesak sedemikian rupa.” Demikian debat Hun Thian-hi. “Baiklah, kami tidak usah menuntut balas pula padanya,” demikian ujar Ce-han-it-ki menjadi sabar kembali, “Tapi seperti katamu tadi kau harus memberi keadilan bagi keluarga kami yang dibunuh olehnya, bagaimana penyeleaaiannya?”

“Bagaimana menurut pendapat Cianpwe?” dasar cerdik Hun Thian-hi kembalikan persoalan ini supaya orang jawab sendiri.

Ce-han-it-ki tidak menduga bahwa Hun Thian-hi mengembalikan peraoalan ini pada dirinya diam-diam ia mengumpat dalam hati, sekian lama ia berpikir dan tak kuasa mengambil kepastian.

Tiba-tiba Ciang-ho-it-koay menimbrung dari samping, “Dalam jangka tiga bulan suruh dia datang kegunung Tiang-pek langsung minta maaf kepada kami.”

Hun Thi-hi tertegun. Pek Si-kiat pun menjadi marah, sungguh ia tidak ingat lagi siapa yang ia bunuh sehingga kedua orang ini menuntut balas pada dirinya, sekarang suruh aku datang ke Tiang-pek-san minta ampun pada mereka. Mana bisa jadi, hampir saja ia mengumbar amarahnya pula, tapi sekilas pikir, ia mengakui kesalahan terletak dipihak sendiri, mana boleh bekerja menurut adat sendiri.

Bahwasanya kaum persilatan yang terjungkal jatuh pamor sudah umum dan biasa terjadi, tapi kalau minta orang minta ampun kerumah orang belum pernah terjadi. Kedengarannya pembicaraan mereka cukup ramah dan tanpa syarat apa-apa lagi, tapi pelaksanaannya bagi Pek Si-kiat justru sangat berat.

Thian-hi maklum akan hal ini, ia, jadi bingung dan sulit ambil kepastian, seumpama dia sendiri pun belum pasti mau, tapi soalnya sekarang kalau ditolak mentah-mentah pertempuran sengit tentu berulang kembali, dan ini tidak ia kehendaki.

Pek Si-kiat sendiri menjublek ditempatnya, terbayang penghidupan empat puluh tahun di dalam gua yang sunyi, kumandang nasehat dan petuah Ka-yap Cuncia dipinggir kupingnya, ia pun sudah berjanji tidak akan membunuh orang lagi. Sekilas dilihatnya sikap kebingungan Hun Thian-hi, tiba- tiba ia merasa persoalan adalah kesalahanku asal aku mengangguk kepala, segalanya menjadi beres, kalau dulu aku membunuh keluarga mereka, tuntutannya cuma mohon ampun belaka, imbalan ini terlalu ringan bagi dirinya. Mendadak ia bersuara, “Baik! Kululusi syarat kalian ini.”’

Keruan Hun Thian-hi bertiga menjadi terkejut. Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay sama heran dan tak mengerti, mimpi juga mereka tidak menduga Pek Si-kiat begitu polos menerima syarat yang mereka ajukan. Kenyataan sudah mereka hadapi, sesaat menjadi bungkam. Mengandal kedudukan Pek Si-kiat di Bulim, kata-kata yang sudah diucapkan tidak bakal dijilat kembali, apalagi ada Hun Thian-hi menjadi saksi, untuk menyesalpun sudah kasep.

“Kalau begitu, baiklah kami mohon diri, Kutunggu kedatanganmu.” demikian ujar Ce-han-it-ki lalu mendahului berlari pergi.

Setelah bayangan kedua orang ini menghilang tak tertahan lagi, Hun Thian-hi berseru haru, “Paman Pek!”

Pek Si-kiat tersenyum, ujarnya, “Untung kaulah yang datang, kalau tidak entah bagaimana akibatnya tadi Kau sudah ketemu Sutouw Ci-ko belum?”

“Tadi memang aku bersama mereka, tapi melihat paman Sedang dikejar mereka maka kususul kemari lebih dulu.”

“Mereka? Siapa saja yang kau maksudkan?” “Sekarang Ci-ko bersama nona Ham Gwat Kemungkinan mereka langsung menuju ke Jian-hud- tong!”

“Agaknya hubunganmu dengan Ham Gwat sudah lebih akrab. marilah kita pun menyusul kesana.” Demikian ajak Pek Si-kiat. sambil berjalan ia menambahkan, “Kulihat kalian memang jodoh yang setimpal. ini soal besar yang menentukan hari depanmu. Nona Ham Gwat adalah gadis yang baik, berkobar perasaan di dalam sanuharinya, soalnya sejak kecil ia, dibimbing Bu-bing dalam suasana dingin dan mengikuti watak gurunya, sebetulnyalah riwayat hidupnya. harus dikasihani, maka perasaan hatinya sulit ia limpahkan dengan kata-kata.”

Hun Thian-hi tertunduk, ia renungkan setiap kata Pek Si-kiat yang banyak membawa manfaat besar bagi diranya.

“Kau dapat memahami maksudnya tidak?” tanya Pek Si-kiat “Kurang begitu paham!” sahut Thian-hi terus terang.

“Sedikitnya.” Pek Si-kiat memberi petunjuk, “Setiap kali berhadapan dengan dia kau tidak boleh terlalu canggung dan kikuk, bawalah kewajaran dalam hubungan kalian. Kalau tidak perasaan dingin di dalam sanubarinya itu tidak akan luber, perasaan hatinya pun sulit dilimpahkan.”

Sementara Hun Thian-hi merenungkan kata-katanya, Pek Si-kiat menamhahkan, “Yang terpenting belum kututurkan kukira kau masih teringat akan Sin-jiu-mo-ih Lam In bukan?”

Bercekat hati Thian-hi, sesaat ia tertegun, ia sendiri pernah saksikan sepak terjang tabib iblis bertangan sakti itu, adakah terjadi sesuatu diluar dugaan? Demikian ia bertanya-tanya dalam hati.

“Persoalan tidak terletak pada Lam In itu sendiri, sekarang dia berada di tempat Kim-eng Lojin, orang tua pemelihara burung rajawali mas besar itu.”

“Jadi maksudmu tentang obat2an ciptaannya yang menjadi persoalan?”

Pek Si-kiat manggut-manggut, katanya, “Dulu Sin-jiu-mo-in pernah berjanji akan memberi bubuk obat Kiu-li-san, orang yang dicekoki obat ini akan kehilangan akal sehatnya, dia patuh segala perintah orang yang memberi obat beracun ini. Waktu dia pulang kerumah ternyata bahwa bubuk obat itu sudah jcuri oleh Tok-sim-sin-mo”

“Dengan hasil obat curiannya ini, Tok-sim-sin-mo yang berhasil lolos itu meracun Bing-tiong- mo,tho. Lam-bing-it-hiong dan lain-lain kaki tangannya dulu. Apalagi sekarang dia telah berintrik dengan Bu-bing Loni maka kekuatannya berlipat lebih besar.”