Badik Buntung Bab 33

 
Bab 33

Jing-san-khek tertawa seraya manggut-manggut, ujarnya, “Cuma di tempat inilah baru aku bisa mendapatkan kuda hijau itu.”

“Tapi cuma akulah yang berhak memutuskan persoalan ini,” demikian sela Goan Tiong.

Jing-san-khek meliriknya tanpa bicara, akhirnya ia berkata, “Tahukah kau kenapa aku harus memperoleh kuda hijau itu? Pernahkah kau pikirkan sebab musababnya?”

GoaK Tiong geleng-geleng kepala, sahutnya tegas, “Aku tidak peduli apa alasannya, selamanya aku tidak akan sudi menyerahkannya kepada kau!”

“Kuda itu sangat mahir dan teramat cerdik,” demikian ujar Jing-san-khek, “Setelah bibimu bunuh diri jazatnya dibawa menghilang oleh kuda hijau, kalau kita bisa mendapat petunjuknya, mungkin bibimu tidak sampai meninggal!”

Hoan Tiong mendengus, jengeknya, “Sejak lama sudah kutahu akan polahmu ini, sebelum ajal bibi ada berpesan bahwa dilarang seseorang pun yang melihat jazatnya, sudah tentu tiada kekecualian pada dirimu untuk diperbolehkan menemukannya.”

Jing-san-khek kewalahan, ujarnya, “Tapi jikalau dapat menemukan dia, semakin cepat semakin baik, mungkin bisa tertolong hidup kembali!”

“Jelas sekarang tidak mungkin lagi,” demikian jengek Goan Tiong pula, “Kami sendiri tidak rela menyerahkan kuda hijau itu kepada kau!” Pelan-pelan Jing-san-khek berkata, “Jangan kau anggap kuda hijau itu seperti kuda umumnya, aku sudah merasa curiga mungkin bibimu masih belum meninggal sunguh2, sekarang sudah sembuh dan hidup mengasingkan diri.”

Muka Goan Tiong menjadi masam katanya, “Agaknya kau terlalu kukuh pada hasratmu ini, baiklah biar kutunjukan kepadamu supaya kau tidak banyak rewel lagi.”

Cepat-cepat ia bangkit lalu melangkah kepinggir tembok sebelah samping sana menarik sebuah daun pintu besar, maka terlihatlah seekor kuda hijau sedang bertengger di dalam petak kecil itu, kuda hijau ini sudah lama sekali mati.

Beruhah pucat paras Jing-san-khek, mulutnya mengumam, “Tiada harapan lagi! Kalau ini menjadi kenyataan segala sesuatunya tiada harapan lagi!”

Goan Tiong mandah mendengus lalu duduk kembali pada tempatnya semula.

Badan Jing-san-khek tampak gemetar, keringat dingin membasahi selebar mukanya, ia duduk diam

terlongong, sinar matanya semakin guram. Pelan-pelan ia menunduk sambil berkata, “Selama ini aku masih

yakin bahwa dia belum meninggal, kalau dia masih hidup, tapi….”

“Segala perubahan kejadian dalam dunia ini tak mungkin dapat diraba lebih dulu oleh tangan manusia, urusan inipun tidak perlu dibuat duka!” demikian ujar Ah-lam Cuncia.

Jing-san-khek tersenyum ewa, pelan-pelan ia menggeleng kepala, sesaat baru bicara pula, “Aku selalu berdoa, kuharap dia belum meninggal! Atau ingin aku bertemu sekali lagi, ini sudah cukup menghibur sanubariku, tapi sekarang sudah menjadi hampa” — pelan-pelan ia pejamkan mata.

Ah-lam Cuncia menghela napas ringan, keduanya menunduk diam.

Goan Tiong dan Hun Thian-hi serta yang lain-lain juga bersimpuh diam saja, tunggu punya tunggu sekian lamanya tiada tampak perubahan apa-apa, akhirnya Goan Tiong berdua merasa urusan rada ganjil, cepat mereka maju mendekat meraba badan mereka, ternyata sudah kaku mulai dingin, jelas mereka sudah mangkat bersama!

Hun Thian-hi berjingkrak bangun saking kaget, ia menjublek ditempatnya, urusan terjadi diluar dugaan, sungguh ia tidak habis mengerti kenapa kedua orang angkatan tua ini meninggal begitu saja,

Sebenar-benarnyalah hal ini itidak perlu dibuat heran, soalnya mereka berdua sudah berusia amat lanjut, selama ini mereka menguatkan diri untuk bertahan, terutama Ah-lam Cuncia yang terkena racun Ban-lian-ceng, betapapun ia tidak mungkin bisa hidup lebih lama lagi, kalau toh ilmu silatnya mendadak pulih lagi itu tidak lain karena tunjangan dari kekuatan batinnya, meminjam kekuatan Lwekang dan latihan ilmunya selama puluhan tahun untuk memperpanjang hidupnya belaka.

Demikian juga Jing-san-khek sudah puluhan tahun duduk diam tidak bergerak dan tidak bicara. pikirannya sudah linglung, seperti orang setengah gila, sekarang kena pukulan batin yang besar ini sudah tentu tak kuat memepertahankan diri lagi, syukurlah ia meninggal dengan tenang. Goan Tiong Goan Liang sama menghela napas gegetun, sungguh tidak kira Jing-san-khek bakal meninggal dengan cara yang demikian ini, setelah Jing-san-khek tiada baru mereka mau percaya pada ucapannya tadi, sayang sudah terlambat menyesal pun sudah kasep.

Hun Thian-hi saling berpandangan dengan Ma Gwat-sian dan Poci tanpa bersuara, kejadian ini benar-benar sangat mendadak dan diluar dugaan.

Selesai mengurus penguburan jenazah kedua tokoh angkatan tua ini, Hun Thian-hi bertiga lalu menempuh perjalanan menuju ke Tionggoan pula.

Sungguh betapa besar hati Thian-hi, segala urusan yang harus dikerjakan boleh dikata sudah diselesaikan semua dengan sempurna kalau hari2 selanjutnya tiada kejadian lain, sejak saat ini ia bisa kembali ke tempat istirahat gurunya untuk hidup tentram dan bahagia.

Berhari2 mereka menempuh perjalanan yang jauh ini, semakin dekat perasaan mereka semakin longgar, tapi diluar tahu mereka bahwa kejadian yang mengejutkan justru sudah menanti kedatangan mereka, dan saat itu sudah mulai berlangsung.

Kejadian yang selalu dikhawatirkan dalam benak Hun Thian-hi ternyata betul-betul menjadi kenyataan. Secara kebetulan ia menemukan jejak Tok-sim-sin-mo yang disangkanya sudah mati di dalam istana sesat itu, bukan saja durjana ini belum mati malah sekarang meluruk datang! Sudah sekian lama ia menguntit mereka bertiga, kadang-kadang kelihatan tapi cepat-cepat menghilang pula.

Meski Hun Thian-hi melihat jejak Tok-sim-sin-mo tapi cuma sekelebatan saja lantas menghilang lagi, selamanya belum pernah berhenti pada titik yang tertentu pula jaraknya cukup jauh, Hun Thian-hi menjadi was-was, entahlah apa pula tujuan Tok-sim-sin-mo, sebelum ia tahu maksud hati orang ia tidak berani sembarangan bergerak, apa lagi mengejar dan membekuknya, siapa tahu bila orang sengaja memancing dirinya meninggalkan dua orang seperjalanan di bawah perlindungannya ini.

Tiga hari sudah berlalu tetapi masih belum dapat kepastian jejak Tok-sim-sin-mo yang sebenar- benarnya, curiga dan was-was pula hati Thian-hi, cara bagaimana Tok-sim-sin-mo dapat lolos keluar dengan selamat, apakah ia sudah memperoleh Ni-hay-ki-tin itu?

Hari keempat pagi2 benar-benar mereka sudah melanjutkan perjalanan, Ma Gwat-sian merasa adanya gejala2 yang tidak wajar, memang ia tidak terlalu persoalkan Tok-sim-sin-mo tapi ia melihat tindak tanduk Thian-hi yang tidak tentram. ia maklum dan menyadari bahwa sesuatu kejadian yang luar biasa bakal mereka hadapi. kalau tidak Thian-hi tidak akan mengunjuk tingkah laku yang kurang wajar.

Sepanjang jalan Thian-hi selalu celingukan kekanan kiri. Tok-sim-sin-mo sudah menemukan Ni- hay-ki-tin atau tidak ia harus bersiap dan waspada mendiaga sergapannya.

Benar-benar juga dugaannya, sekonyong-konyong dari arah hutan sebelah depan sana terdengar gelak tawa yang menggila lantang menusuk telinga, hati Thian-hi jadi tegang beberapa hari lamanya Tok-sim-sin-mo belum berani mengunjuk diri berhadapan langsung dengan mereka, sekarang dia berani mengunjukkan diri dengan sikap yang begitu takabur tentu sebelumnya mempunyai persiapan yang cukup matang, pertempuran seru tidak bisa dihindari lagi.

Melihat Hun Thian-hi menjadi tegang, biji mata berkilat mendelik Ma Gwat-sian jadi heran, tanyanya, “Siapa yang datang?”

“Tok-sim-sin-mo!” sahut Thian-hi singkat sambjl tersenyum. “Tak asah kuatir.” Poci ikut menimbrung, “Bila kita bertiga selalu bersama dia tidak akan berani turun tangan. mari lanjutkan perjalanan, coba dia berani berbuat apa!”

Thian-hi manggut-manggut membenar-benarkan, mereka maju lebih lanjut Tak seberapa jauh kemudian dari dalam hutan melangkah enteng sesosok bayangan orang. tahu-tahu Tok-sim-sin- mo sudah muncul dihadapan mereka bertiga tanpa mengunjuk rasa takut sedikitpun, sepasang biji matanya yang berkilat dingin memutih seperti mata dracula. mendelik ke arah mereka. mulutnya mengulum senyum sinis.

Bahwa Tok-sim-sin-mo berani muncul dan berhadapan secara terang-terangan membuat kekuatiran Thian-hi himpas sebagian besar, soalnya bukan karena gentar menghadapi ilmu silat orang, cuma sepak terjang lawan yang banyak menggunakan akal muslihat licik dan licin itulah yang perlu ditakuti.

Tatkala mana mereka sudah mencapai sebuah belokan, daerah itu dikeliliingi hutan bambu, hembusan angin pagi yang cukup keras membuat daun-daun bambu mengeluarkan suara geresekan menambah ketegangan hati semakin memuncak.

Dilain kejap terdengar Tok-sim-sin-mo menyeringai tawa, katanya, “Jangan kau berusaha melarikan diri dan kau tidak akan mampu lolos dari pengawasanku. Kalau toh aku berani menghadapimu secara berhadapan tentu aku punya cara untuk menghadapi kau!”

Hun Thian-hi bersikap tenang, ujarnya pelan, “Sudah lama kutahu akan jejakmu, kalau aku takut masak berani melanjutkan perjalanan ini!”

“Kalian sama mengira aku sudah terkurung di dalam istana sesat dan tak mungkin dapat keluar lagi, tapi kenyataan sekarang aku sudah muncul dihadapanmu, hatimu takut bukan!”

“Takut? Haha, walau aku tidak tahu cara bagaimana kau dapat keluar dari istana sesat, maka dapatlah disimpulkan bahwa hakikatnya kau tidak masuk ke dalam istana sesat itu sungguh- sungguh ja, bukan?”

“Terserah bagaimana kau ambil kesimpulan yang terang segala dugaanmu meleset sama sekali, ketahuilah gambar peta yang berada di dalam serangka Badik buntung sudah dapat kukeluarkan!”

Mau tidak mau terkejut juga hati Thian-hi. ia menyangsikan kebenar-benaran obrolan orang.

Ujung mulut Tok-sim-sin-mo mengunjUk senyum dikulum yang penuh arti, tiba-tiba ia melesat mundur beberapa meter jauhnya serta berkata, “Kalian harus hati-hati, dalam jangka sepuluh li di depan sana kau akan takluk terhadap kelihayanku.” Selesai memberi ancaman ia unjuk tawa misterius lalu berkelebat terbang menghilang jdalam hutan bambu.

Bergejolak hati Thian-hi. sesaat lamanya ia menjublek ditempatnya.

“Thian-hi Toako.” setelah menanti sekian lamanya akhirnya Ma Gwat-sian menegurnya, “Menurut hematku lebih baik kami pulang ke Thian-bi-kok saja lebih baik.”

Thian-hi tersentak sadar, namun serta mendengar ucapan Ma Gwat-sian ia tertegun pula. pikirannya sedang kacau dalam waktu singkat ia belum dapat menangkap juntrungan kata-kata orang, secara spontan ia bertanya, “Kenapa?”

“Apa kau tadi tidak dengar? Tok-sim-sinmo sendiri tidak punya pegangan dapat mengalahkan kau. tapi dia pasti menggunakan akal muslihatnya yang jahat, aku cuma menjadi beban beratmu belaka, lebih baik pulang ke Thian-bi-kok saja, kukira jalan ini sempurna daripada menambah rasa kuatirmu.”

Thian-hi jadi geli mendengar alasan Ma Gwat-sian ini, katanya, “Gwat.sian. kau tidak perlu kuatir, aku percaya aku cukup berkelebihan menghadapi Tok-sim. Kalian pun tahu setelah mendapat petunjuk langsung dari Jing-san-khek Cianpwe Wi-thian-cit-ciat-sek latihanku sudah setapak lebih maju!”

Demikian Hun Thian-hi menghibur, karena dia sendiripun ingin lekas-lekas kembali keutara dengan tertawa lalu menambahkan, “Marilah lekas jalan. Jangan takut pada ancamannya!”

Justru tanpa disadari dengan melanjutkan perjalanan ini malah dia mengalami berbagai rintangan dan kesulitan, hampir saja Ma Gwat-sian menemui ajalnya ditangan Tok-sim-sin-mo. sedang dia sendiripun menghadapi persoalan lain yang cukup rumit pula.

Poci sendiri sependapat dengan Hun Thian-hi, mengandal kehebatan ilmu silat Hun Thian-hi kenapa gentar menghadapi Tok-sim-sin-mo, bila mereka selalu bersama tak perlu takut menghadapi akal licik musuh.

Mereka maju lebih lanjut, dimulut Thian-hi memang takabur dan ini cuma untuk menghibur Ma Gwat-sian, sebenar-benarnyalah hati kecilnya tidak berani memandang ringan Tok-sim-sin-mo.

Beberapa jauh kemudian mendadak puluhan batang bambu melintang berserakan ditengah jalan merintangi perjalanan mereka. Thian-hi menggeram rendah, diam-diam ia mengumpat akan perbuatan rendah Tok-sim-sin-mo ini, sebagai tokoh yang kenamaan di Bulim kiranya membuat permainan rendah yang memalukan ini.

Setelah dekat ia berhenti dan memeriksa sekelilingnya. empat penjuru sekitarnya sunyi senyap tak kelihatan sesuatu yang bergerak.

Sekonyong-konyong desiran angin lirih menerjang kepunggungnya dari sebelah belakang, siang-siang Thian-hi sudah waspada sigap sekali ia membalikkan badan di atas tunggangan berbareng sebelah tangannya menyimpok ke belakang.

Terdengar tawa, aneh yang lantang, tampak selembar daun bambu melayang jatuh di atas tanah, berkilat tajam biji mata Hun Thian-hi, sekejap saja gelak tawa itu lenyap tak keruan parannya. Thian-hi mendengus ejek, hatinya gusar namun ia harus berlaku hati-hati supaya tidak terjebak oleh muslihat Tok-sim-sin-mo, akhirnya ia melompat turun menyingkirkan bambu2 yang berserakan ditengah jalan itu.

Hun Thian-hi sudah berada di atas punggung kuda, otaknya juga sedang menerawang, tak habis herannya tujuan apa yang sedang diperbuat Tok-sim-sih-mo, paling-paling ia cuma bisa menerka2 bahwa Tok-sim-sin-mo pasti belum mendapatkan Ni-hay-ki-tin itu dan tujuan kali ini semata2 cuma hendak mengelabui dirinya dan membalas dendam belaka.

Ma Gwat-sian tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Thian-hi. cuma ia maklum tujuan Tok-sim- sin-mo membuat rintangan dan tipu muslihat ini hanya untuk memancing kemarahan Hun Thian- hi, meski sekarang Hun Thian-hi belum dibuat gusar tapi bukan mustahil lama kelamaan ia akan marah juga, jelas sekali dari raut mukanya yang gemas dan gegetun bahwa dia merasa penasaran akan tingkah polah musuh.

Sejak kecil Hun Thian-hi diasuh dan dibimbing oleh Lam-siau Kongsun Hong, dididik untuk berbuat jujur dan bajik, cuma dasar pembawaan sifatnya keras kepala dan tinggi hati, kalau sekarang dia, cuma seorang diri tentu Tok-sim-sin-mo sudah dilabraknya habis2an, soalnya ia mengutirkan keselamatan Ma Gwat-sian dan Poci.

Beberapa li kemudian lagi-lagi mereka dihalangi oleh dahan2 pohon yang malang melintang ditengah jalan, berjengkit alis Thian-hi, hawa amarah sudah mulai terbakar dalam rongga dadanya, laknat benar-benar Tok-sim-sin-mo itu anggapnya aku bisa dipermainkan dengan permainan liciknya ini? Ingin aku tahu betapa tinggi ilmu silat yang kau miliki.

Setelah meneliti keadaan dengan luncuran lempang ke depan ia lompat turun dari tunggangannya sekali kakinya menyapu ke arah dahan2 pohon, yang malang melintang bertumpukan itu. Kontan semua aral rintang itu kena disapu bersih. Dan tepat saat itu pula tampak Tok-sim-sin-mo meluncur keluar dari hutan sebelah kiri sana. Setelah berdiri ia unjuk senyum lebar kepada Hun Thian-hi, senyum yang menganduug ejekan dan memandang rendah dan hina.

Tok-sim-sin-mo terkekeh dua kali lalu serunya, “Hebat, kepandaian cakar ajam begitu tidak lebih cuma pertunjukan pasaran belaka. Sudah kukatakan dalam jarak sepuluh li, sekarang kan belum sampai menempuh setengahnya!”

“Kepintaran apa yang kau miliki silakan pamer dihadapanku permainan mengelabui anak2 macam ini juga kau tunjukkan dihadapanku, sungguh memalukan!” demikian jengek Thian-hi.

“Hahahaha. jangan kau takabur!” ejek Tok-sim-sin-mo sambil terbahak-bahak, “Agaknya kau salah menilai tumpukan bambu dan dahan2 pohon yang berserakan itu- ketahuilah jangan kau harap bisa lewat jarak sepuluh li ini dengan leluasa!”

“Aku tidak takut menghadapi segala muslihatmu, silakan kau atur segala tipu dan akal busukmu, bambu dan dahan2 pohon ini tidak berarti menghalangi aku! Jangan kau bermimpi disiang hari bolong!”

Tok-sim-sin-mo terloroh-loroh. sekali berkelebat ia menghilang pula ke dalam hutan.

Hun Thian-hi naik ke atas kudanya pula, maka Gwat-sian lantas berkata, “Thian-hi Toako, kau harus lebih hati-hati, jangan kau pandang rendah Tok-sim-sin-mo yang busuk itu, sepak terjangnya, teramat licik, bukankah dulu kau pun pernah menghadapinya?”

Memang Thian-hi tidak berani gegabah, waktu di Jian-hud-tong tempo hari kalau Pek Si-kiat tidak keburu datang mungkin ia sudah lama ajal disana. teringat pengalaman yang lalu ia lebih meningkatkan kewaspadaan, pahit getir di dalam gua seribu Budha merupakan pelajaran yang sangat berkesan dalam sanubarinya, kalau dulu ia menghadapi berbagai alat rahasia yang serba rumit kenapa sekarang aku harus takut, sekali aku kena digertak akibatnya pasti fatal. Maka dengan tertawa ia berkata, “Gwat-sian jangan gentar, kalau kau tidak berpisah dengan aku dia tidak akan dapat berbuat apa-apa!”

Girang hati Ma Gwat-sian. ujarnya, “Benar-benar kau tidak berpisah lagi dengan aku!” — bila Thian-hi tidak meninggalkan mereka berdua seratus persen keselamatan mereka pasti terjamin.

Hun Thian-hi mengiakan sambil manggut-manggut, mereka melanjutkan perjalanan tanpa bicara lagi.

Sementara itu, mereka sudah menempuh sejauh tujuh delapan li. hutan bambu dikiri kanan mereka jang tumbuh subur dengan daun-daunnya yang hijau mulus kini berganti dengan bambu kuning ke-merah2an. diam-diam bercekat hati Thian-hi, sungguh tak diketahui olehnya bahwa di tempat ini ada tumbuh bambu kuning, sepanjang jalan ini mereka dapat menempuh sejauh ini dengan sejamat, bukan mustahil dalam hutan bambu kuning inilah Tok-sim-sin-mo sudah mengatur muslihatnya.

Thian-hi dibesarkan di daerah Thian-lam, ia tahu bambu kuning jarang didapat di daerah selatan, bambu kuning yang umumnya tumbuh dilaut kidul jauh lebih kuat dan keras punya daya pegas yang lebih besar pula dibanding bambu umumnya, sedemikian kerasnya tidak mudah dibacok kutung oleh alat senjata umumnya.

Beberapa kejap kemudian mereka sudah jauh menjelajah di dalam hutan bambu kuning itu. lagi-lagi mereka dihalangi oleh batang2 bambu yang malang melintang ditengah jalan dari kanan kiri, tapi batangan bambu kali ini tidak berserakan dan bertumpukan di tanah tapi sama meliuk ke tengah jalan dari kedua pinggir jalan.

Thian-hi mandah tersenyum ejek, segala muslihatmu; jangan harap dapat menghalangi perjalananku? Segera ia keprak kudanya menerjang ke depan, ia maklum akan kekuatan bambu kuning ini tapi ia percaya akan kepandaian sendiri, masa menyingkirkan bambu2 yang sepele ini tidak mampu, demikian batinnya.

Kuatir Tok-sim-sin-mo ada mengatur muslihat lain. Poci dan Ma Gwat-sian juga keprak kudanya mengintil di belakang Thian-hi. Baru saja Thian-hi kerahkan tenaga hendak memukul ke depan dengan kekuatan hantamannya menjjngkirkan bambu2 itu, tiba-tiba kuda tunggangannya meringkik keras, keruan kagetnya bukan kepalang, belum lagi ia menyadari apa yang sudah terjadi, kuda tunggangan Ma Gwat-sian dan Poci juga sama meringkik kesakitan terus roboh terjungkal, sudah tentu lebih kejut pula hatinya.

Tanpa menghiraukan segalanya tersipu-sipu Thian-hi memburu maju menolong Ma Gwat-sian. Maka terdengarlah gelak tawa yang lantang kumandang di dalam hutan, entah kapan Tok-sim-sin- mo sudah muncul pula dipinggir hutan.

Dengan teliti Thian-hi memeriksa ketiga kuda tunggangan mereka, kiranya masing-masing kakinya kena tertusuk duri2 yang amat tajam dan runcing, keruan bukan kepalang amarahnya, tiba-tiba ia jejakkan kakinya terus menerjang ke arah Tok-sim-sin-mo.

Kalau gerakan Thian-hi gesit tapi kaki Tok-sim. sin-mo pun tidak kalah cepatnya. menghilang ke dalam hutan. Hun Thian-hi meragu. kejar atau tidak, kalau kejar kuatirnya kena dipancing dan terjebak muslihat musuh. tapi kalau tidak membekuk Tok-sim-sin-mo rasa penasarannya tidaklah terlampias.

Rasa benci terhadap Tok-sim-sin-mo sampai ketulang sungsumnya, Tok-sim-sin-mo cuma seorang diri, kalau aku dapat selalu mengamati geral geriknya’masa mampu dia menjebak aku, apalagi kepandaian silat Poci juga sebagian besar sudah pulih kembali, agaknya ia cukup kuat bertahan beberapa kejap melawan Tok-sim-sin-mo. Dengan dasar pertimbangan ini Thian-hi tidak bimbang lagi, secepat kilat badannya melenting laksana anak panah menerjang ke dalam hutan.

Baru saja ia masuk tampak disebelah kirinya berkelebat sebuah bayangan terus menghilang, Thian-hi tercengang, tiba-tiba sejalur angin keras menerjang ke arah dirinya, kiranya sebatang bambu yang meliuk sekarang membal lembang ke atas dan tepat menyapu kedua kaki Hun Thian- hi.

Untung Thian-hi cukup waspada sambil menggantak, kedua telapak tangannya. menepuk bersama dengan dilandasi kekuatan Pan-yok-hian-kang, alhasil usahanya dan malah menimbulkan samberan angin keras yang memberondong ke arah dirinya dari berbagai penjuru, kiranya banyak bambu2 yang membal bagaikan pegas sama bergoyang gontai menyabat ke arah dirinya bergantian. Thian-hi insaf bahwa dirinya sudah terjebak masuk ke dalam tipu daya, Tok-sim-sin- mo yang licin. sungguh ia menyesal kenapa begitu gegabah sembarangan bertindak sampai kena dipermainkan.

Hun Thian-hi menggembor sekeras-kerasnya, kaki tangannya bergerak bersama, menghantam dan menendang balik semua bambu2 yang menyerang dirinya, tapi ia merasakan betapa besar daya pegas bambu2 kuning yang besar2 itu, kiranya tidak lebih rendah dari kekuatan. pukulan seorang tokoh silat kelas tinggi.

Begitu terpental mundur bambu2 itu semakin keras pula daya pegasnya membal kembali, ciut nyali Thian-hi, diam-diam ia mengumpat akan kebodohannya sendiri, kalau ia main kekerasan dirinya bakal mati konyol kehabisan tenaga, apalagi bambu kuning disekitarnya tumbuh subur dan rapat sekali tiada jalan untuk lolos keluar. Dalam keadaan tidak berdaya kedua telapak tangannya bekerja lebih lanjut untuk menjaga diri. jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri cuma memberantas kutung semua bambu2 kuning ini. Maka teringat olehrja akan pedang pemberian Jing-san-khek, tanpa ayal cepat ia melolos keluar. dimana cahaya merah melambung tinggi terus membabat silang turun naik bambu2 kuning sekelilingnya sama rontok berhamburan….

Girang dan terpesona pula Thian-hi dibuatnya, sungguh ia tidak nyana pedang pemberian Jing- san-khek itu merupakan sebilah pedang pusaka. waktu ia memunduk meng-amat-amati batang pedang didapati dua huruf yang terbunyi “Cu-hong” (pelangi darah).

Tiada waktu ia membuang waktu memeriksa pedangnya lagi, sebat sekali ia meleaat keluar memburu ke tempat semula. Dari jarak yang cukup jauh tepat dilihat Tok-sim-sin-mno sedang berlari sipat kuping, di bawah ketiaknya masing-masing mengempit satu orang. Keruan bukan kepalang gugup Thian-hi, sambil menggertak dan bersuit panjang laksana burung bangau badannya terbang mengejar.

Tok-sim-sin-mo terkial-kial, serunya sambil berpaling, “Kau mengaku kalah tidak? Tiada gunanya kau kejar aku, kuanjurkan kau pulang saja, atau datanglah ke Jian-hud-tong untuk mengambil dua orang ini!”

Kejut dan teramat gusar hati Thian-hi, gugup lagi, bagaimana ia harus menjelaskan duduk persoalannya kepada ham Gwat bahwa Ma Gwat-sian sampai tertawan oleh Tok-sim-sin-mo sikeparat itu. Nada ucapan TOk-sim-sin-mo cukup mengancam kalau aku mengejar jejaknya keselamatan Ma Gwat-sian bisa terancam bahaya, setelah ragu-ragu sebentar ia bertekad untuk mengejar lebih lanjut.

Dalam pada itu bayangan Tok-sim-sin-mo sedang menerobos kian kemari diantara tumbuhan bambu yang lebat itu, dengan ketajaman pedangnya Thian-hi membabat kekanan kiri, sementara kakinya terus menerjang ke depan memburu ke arah Tok-sim-sin-mo, tapi setelah ia berhasil membabat segala rintangannya sementara itu bayangan Tok-sim-sin-mo sudah menghilang, sesaat ia jadi menjublek lemas putus asa.

Bagaimana ia harus bertindak selanjutnya? Kalau tadi ia tidak meninggalkan Ma Gwat-sian berdua tentu mereka tidak sampai dibekuk musuh, baru sekarang ia menyesal, tapi sudah kasep. Bagaimana ia harus menceriterakan hal ini kepada Ham Gwat?

Sungguh ia menjadi kehilangan akal sehatnya.

Dengan penuh putus asa akhirnya ia melenggong keluar hutan. Tiba-tiba pandangannya seperti kabur, entah kapan tahu-tahu dihadapannya berdiri seorang Nikoh pertengahan umur. Nikoh ini mengenakan jubah hijau kelam, wajahnya putih halus, tangan kanannya menggembol sebuah kebutan, kedua biji matanya hitam kelam dan putih jenuh, tapi dalam penglihatannya selayang pandang seperti samar-samar, Thian-hi seperti merasa seolah-olah ia menghadapi seorang manusia suci dari luar dunia.

Thian-hi tertegun, serta merta ia merasa bahwa telah muncul seorang orang aneh, orang ini muncul dalam kejap yang tidak bisa dirasakan, jelas ilmu silatnya tentu sudah mencapai tingkat yang tidak bisa diukur lagi, tapi entah siapa yang membekal ilmu silat yang begitu tinggi, selamanya belum pernah ia dengar adanya seseorang tokoh kosen macam Ini.

Pendatang ini entah kawan atau lawan, demikian ia meraba-raba, kalau kawan itulah untung, kalau musuh tidak berani ia membayangkan akibat apa yang akan dihadapinya.

Dengan segala ketenangan hatinya ia masukan pula pedangnya ke dalam karangkanya. Dengan mendelong Nikoh itu mengawasi pedangnya, pelan-pelan lalu berkata, “Kedua kawanmu kena diculik orang, apakah kau perlu bantuan untuk menolong mereka?”

Berdetak jantung Thian-hi, sejenak ia berpikir, tiba-tiba terasa bahwa kedatangan si Nikoh terlalu aneh dan mendadak, urusan apakah begitu gampang diselesaikan karena keraguannya ini cepat ia menjura hormat serta sahutnya, “Entah siapakah nama Cian-pwe yang mulia?”

Nikoh itu menggeleng kepala, sahutnya kalem, “Aku sedang tanya kau, masih ada urusan penting yang harus segera kuselesaikan, siapa namaku kau tidak perlu tahu dan tiada sangkut- pautnya dengan kau!”

Siapa Nikoh ini Thian-hi tidak tahu, tapi jelas ilmu silatnya tinggi luar biasa, belum pernah ia menyaksikan kepandaian begitu hebat, mengandal Ginkangnya yang diperlihatkan tadi sungguh hatinya takjub dan kagum sekali, apa yang harus ia lakukan sekarang? 

Kata si Nikoh pula, “Kalau mereka tidak ditolong mungkin jiwa mereka terancam oleh kekejamam Tok-sim-sin-mo, jelas tujuannya akan tercapai karena kau harus menyusul ke Jian- hud-tong!”

Thian-hi mengakui kebenar-benaran kata-kata si Nikoh, kalau ia terlambat datang menolongnya, bila mereka mati, masa ada muka ia memenuhi Ham Gwat kelak?

Tapi….mendadak terpikir olehnya, dari nada ucapan si Nikoh jelas ia tidak membantuku secara gratis, mungkin iapun akan mengajukan syarat imbalannya. Maka dengan lantang ia bertanya, “Entah Cianpwe ada petunjuk apa lagi?”

“Agaknya kau dapat memaklumi maksud hatiku.” demikian ujar si Nikoh, “permintaanku mungkin sulit dapat kau setujui, tapi hal itu ada manfaatnya bagi kau!”

“Silahkan Cianpwe katakan saja, biar Wanpwe mempertimbangkan!”

“Tiada yang perlu kau pertimbangkan! Mau atau tidak kau harus mematuhi pesanku, mengandal kemampuanmu sekarang kau belum berdaya menolong mereka berdua!”

Thian-hi jadi kurang senang, ucapan si Nikoh rada meragukan kemampuannya, ini berarti merendahkan gengsinya seolah-olah tidak memandang sebelah mata kepada dirinya, meski ilmu silatnya setinggi langit, tidak sepantasnya ia begitu menghina orang. “Apa yang sedang kau pikirkan aku tahu,” demikian kata si Nikoh pula, “Mungkin kau tidak terima, marilah kita coba-coba. cabutlah pedangmu, seranglah aku tiga jurus, aku tidak akan melawan, jikalau kaki tanganku sampai bergerak anggaplah aku yang kalah, maka secara sukarela tanpa syarat aku membebaskan kedua temanmu. kalau sebaliknya maka kau harus patuh pada perintahku!”

“Seumpama kepandaianmu setinggi langit masa kuasa menandingi tiga jurus seranganku tanpa menggerakkan kaki tangan, Nikoh ini sungguh jenaka main kelakar dengan aku.” demikian batin Hun Thian-hi.

“Hayo lekas, waktu sangat mendesak!” si Nikoh mendesak tidak sabaran.

Thian-hi melolos pedang lalu menjura serta katanya, “Kalau begitu maaf Wanpwe akan berlaku kurang ajar!”

Nikoh pertengahan umur manggut-manggut, sambil tersenyum ia memberi tanda supaya Thian-hi mulai menyerang.

Thian-hi menghirup hawa segar, kakinya melangkah ringan mengitari si Nikoh satu putaran, dari nada ucapan si Nikoh tadi agaknya ia cukup mampu untuk menang, mungkin si Nikoh tadi sudah menyaksikan permainan silatku maka berani besar mulut tapi sekali-kali aku pantang jual lagak, betapa pun aku harus hati-hati bertindak.

Tampak Cu-hong-kiam mulai bergerak. dengan jurus Liu-si-jian-tiu (benang sutra beribu utas), cahaya merah sinar pedangnya mentiung seperti lembayung terus menerjang ke arah si Nikoh.

Diam-diam Thian-hi berpikir; ‘ingin kulihat tanpa menggerakan kaki tangan cara bagaimana kau menghadapi jurus pedangku ini!’

Pandangan si Nikoh mengikuti gerak Cu-hong-kiam ditangan Thian-hi, begitu pedang menyambar tiba entah dengan gerakan apa tiba-tiba seringan angin tubuhnya melayang naik mundur ke belakang, benar-benar juga kaki tangannya sedikitpun tidak bergerak.

Terkejut Thian-hi dibuatnya, cepat ia menubruk maju, jurus pedangnya dirobah dengan tipu Si- biau-liau-loan (sutra terbang dahan liu berantakan), sinar pedangnya silang menyilang simpang siur tak menentu arah, merangsak begitu cepat dari berbagai arah ketubuh si Nikoh.

Si Nikoh kelihatannya seperti tidak punya berat badan, seenteng asap dapat melayang naik turun di tengah udara, seiring dengan kiblatan sinar pedang Hun Thian-hi badannya ikut terombang ambing selulup timbul, jelas jurus kedua inipun tidak mampu menyentuh ujung bajunya. Apa boleh buat Hun Thian-hi menarik pedang menghentikan serangan selanjutnya. Sementara Nikoh itu juga melayang turun dihadapannya.

Heran dan tidak habis mengerti Thian-hi dibuatnya meski kedUa jurus rangsakkannya dapat dilancarkan sekaligus dalam gerakan berantai, jadi baru terhitung satu jurus, tapi sisa dua jurus selanjutnya jurUs permainan apa pula yang perlu dilancarkan? Ginkang Nikoh ini sungguh luar biasa bagusnya, begitu hebat sampai sukar dibayangkan keindahannya.

Bagaimana jurus selanjutnya? Agaknya Nikoh itu juga tenggelam pikirannya, agaknya ia sedang mereka-reka jurus permainan apa yang hendak dilancarkan Hun Thian-hi, bagaimana pula ia harus menghadapinya.

Setelah direnungkan akhirnya Hun Thian-hi tersenyum lebar, pedangnya digerakkan lagi, kali ini ia gunakan jurus pertama dari ilmu pedang Gin-ho-sam-sek yaitu Tam-lian-hun-in-hap, cahaya merah yang menyolok mata beterbangan membentuk gugusan gunung yang memuncak semakin runcing, nyata sinar pedangnya mulai membabat dan menusuk dari arah atas dan bawah bergantian, batinnya; ‘kali ini dapatkah badan si Nikoh berkelebat mundur menghindar, sementara tajam pedang Hun Thian-hi sudah menindih turun dari atas, naga-naganya si Nikoh seperti sudah menduga Hun Thian-hi bakal menggunakan permainan pedangnya ini, secepat kilat ia melesat mundur, sebelum sinar pedang Hun Thian-hi menukik turun. siang-siang ia sudah berhasil meloloskan diri dan menghindar kesamping.

Lagi-lagi Thian-hi takjup dan terkesima dibuatnya, sungguh diluar dugaannya bahwa gerak- gerik si Nikoh begitu sigap dan cekatan, begitu cepat sampai ia tidak mampu melayani permainan orang, sekian lama ia menjublek lalu pelan-pelan membalik badan.

Nikoh itu manggut-manggut lagi, agaknya ia menyuruh Thian-hi meneruskah serangannya terakhir.

Inilah jurus terakhir, kalah atau menang jurus inilah yang bakal menentukan, dua jurus yang terdahulu ia telah gagal, kegagalan ini banyak mempengaruhi semangat tempur Thian-hi, keyakinannya mencapai kemenangan menjadi gugur dan lenyap sama sekali, dalam keputus- asaannya ini teringatlah akan Wi-thian-cit-ciat-sek, cuma Wi-thian-cit-ciat-sek lah satu-satunya harapan untuk mencapai kemenangan itu. Begitulah ia berkeputusan, soalnya cara lain sudah buntu.

Setelah pikirannya mantap Thian-hi menggentakkan tangan kanan, pedang teracung miring ke atas terus bergerak menyerang ke arah si Nikoh, Kelihatannya Si Nikoh sudah siap siaga dan punya pegangan mengatasi serangan hebat ini, melihat serangan pedang Wi-thian-cit-ciat-sek.

Thian-hi melandai tiba, sedikit pun tidak menjadi gugup, sekarang ia tidak bergerak juga tidak berusaha berkelit atau menghindar dengan tajam matanya mengikuti gerak ujung pedang ditangan Thian-hi.

Hati Thian-hi jadi bimbang, tapi seranggan pedang sudah dilancarkan tak mungkin dibatalkan, dalam kejap itu ujung pedangnya sudah mengancam tubuh si Nikoh malah sudah menyentuh jubah hijau orang,

Berbagai pertimbangan berkelebat dalam benak Thian-hi, kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi ia kerahkan, kalau itu terjadi betapapun tinggi ilmu silat si Nikoh jiwanya tentu amblas.

Begitulah hatinya ragu-ragu dan gerak tangannya pun jadi kendor, kenapa si Nikoh tidak mau berkelit? Apakah dia tidak mengenal jurus yang dilancarkan ini adalah Wi-thian-cit-ciat-sek yang hebat ini?

Keraguan ini melintas cepat di dalam benaknya, sang waktu tidak memberi kesempatan bagi Thian-hi untuk banyak pikir, serta merta secara reflek ia menarik mundur ujung pedangnya.

Biji mata si Nikoh memancarkan sorot yang aneh dengan suara datar ia bertanya, “Kenapa kau menarik pedang membatalkan seranganmu?”

“Kau tidak berkelit aku tidak tega untuk melanjutkan seranganku!” demikian jawab Thian-hi, suaranya datar rendah.

Mata si Nikoh memancarkan cahaya aneh yang sulit dijajaki juntrungannya, suaranya tetap tawar, katanya, “Tapi kau sudah melancarkan tiga jurus serangan. Kau sudah kalah!”

Memang Thian-hi sudah melancarkan tiga jurus serangan, meski serangan terakhir ia batalkan sendiri, tapi sudah masuk hitungan juga, terpaksa ia menyahut, “Silakan Cianpwe katakan perintah apa yang harus kulaksanakan!” Si Nikoh manggut-manggut, ujarnya, “Tidak malu kau sebagai ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, sekarang akan ketolong mereka, tapi setelah berhasil kuselamatkan mereka ikut aku! Hal ini akan lebih baik dan tiada jeleknya!” — habis kata-katanya lenyap pula bayangannya, sekali mencelat ia menghilang ke dalam hutan.

Thian-hi terlongong-longong, sekian lamanya ia termenung-menung, tak tahu dia bagaimana perasaan hatinya saat itu, ia tidak bisa menyangkal kebenar-benaran ini, kalau si Nikoh membawa Ma Gwat-sian pergi tentu dia punya akal untuk menyembuhkan penyakitnya itu, cuma ia tidak tahu siapakah sebenar-benarnya Nikoh itu?

Akhirnya ia menghela napas gegetun, Nikoh itu pasti dari kalangan lurus, hal ini tidak perlu disangsikan, namun kapan baru dia bisa bertemu lagi dengan Ma Gwat-sian? Sekarang apa pula yang harus dikerjakan? Setelah dipikir2 akhirnya ia berkeputusan untuk meluruk ke Jian-hud-tong untuk menyelidiki apakah Ma Gwat-sian berdua benar-benar sudah tertolong keluar. Meski ia harus menerjang sarang harimau dan gua naga, apalagi Tok-sim-sin-mo belum lagi mampus, Badik buntung pun masih berada di tangannya.

Tengah ia terombang-ambing dalam pikiran, sekonyong-konyong didengarnya suara percakapan yang lirih tapi berisi, dapatlah diraba bahwa pendatang ini pasti tokoh kaum Bulim. Bergegas ia melejit menyembunyikan diri. di dalam hutan, dalam hati ia berpikir2 siapakah yang sedang mendatangi.

Tak lama kemudian dari arah depan sana mendatangi dua orang, begitu melihat jelas kedua pendatang itu, Thian-hi melengak heran, kiranya mereka bukan lain adalah Bun Cu-giok beserta gurunya, sungguh tidak habis mengerti untuk apa Bun Cu-giok meluruk kemari dari barat daya yang berjarak begitu jauh.

Paras Bun Cu-giok dan Ce-hun Totiang tampak kecut, agaknya ada sesuatu peristiwa yang mengganggu pikiran mereka, diam-diam Thian-hi heran, entah kejadian apa pula yang telah mereka alami. Ce-hun Totiang sebagai tokoh kosen angkatan Bulim yang kenamaan, entah kenapa raut wajahnya kok mengunjuk rasa duka dan masam.

Thian-hi diam saja mengawasi kedua orang ini semakin dekat, pikirnya setelah mereka lewat segera ia hendak menyusul ke Jian-hud-tong.

Mendadak didengarnya Ce-hun Totiang menghela napas panjang, katanya kepada Bun Cu-giok, “Kalau Hun-siauhiap ada disini tentu lebih baik, mengandal ilmu silatnya, urusan ini pasti dapat diselesaikan dengan mudah,” habis berkata ia berkeluh kesah lagi.

Terdengar Bun Cu-giok ikut bicara, “Belum tentu dia sudi membantu kita, mungkin dia mambenci kami setengah mati!”

“Cu-giok, jiwamu tertalu sempit Hun-siauhiap bukan orang macam itu!”

Thian-hi mendengarkan percakapan mereka, ia sedang mempertimbangkan diri, perlukah ia keluar mengunjukkan diri, sementara itu Ce-hun Totiang dan Bun Cu-giok sudah semakin dekat.

Akhirnya Thian-hi ambil putusan, serunya, “Totiang tunggu sebentar!”

Rupanya Ce-hun Totiang tidak mengira di tempat itu ada orang, cepat ia memutar tubuh serta berteriak tanya, “Siapakah itu?” — tapi serta melihat yang muncul adalah Thian-hi ia jadi kememek, akhirnya ia berseru kegirangan, “Kau!”, namun begitu teringat peristiwa dulu yang memalukan itu ia jadi menyesal dan menunduk, rasanya ingin ia menyembunyikan mukanya. Thian-hi cepat maju sapanya kepada Bun Cu-giok, “Cu-giok, bagaimana keadaanmu selama berpisah?” — lalu ia pun bertanya kepada Ce-hun Totiang, “Kudengar Totiang mencariku untuk sesuatu urusan, entah untuk keperluan apakah?”

Muka Ce-hun berubah serius, katanya tegas, “Sungguh Pinto tidak mengira bakal bertemu Hun- siauhiap di tempat ini, sungguh kebetulan!”, sebetulnya ia rikuh untuk menjelaskan cuma urusan sudah ketelanjur terpaksa ia harus memberi penjelasan, “Sudah lama kami guru dan murid ingin mohon ampun akan dosa2 yang lalu, tapi selama ini belum ketemu dengan Hun-siauhiap!”

Thian-hi menjadi rikuh sendiri, sahutnya tertawa ewa, “Kejadian dulu cuma karena kesalahan paham belaka tak usah diungkat2 lagi, apalagi dulu akupun pernah mendapat pertolongan jiwa dari Cu-giok ke-beberapa kali, budi pertolongan inipun belum semua kubalas!”

Sungguh malu dan menyesal pula hati Bun Cu-giok serta mendengar ucapan Thian-hi ini…. Perbuatan dirinya yang terakhir begitu tercela dan hina, bukan saja tidak dinista malah orang bicara begitu sungkan, maka dengan penuh haru dan menyesal ia berkata, “Hun-siauhiap bicara sungkan, betapa hina dina aku Bun Cu-giok ini, cuma aku harap Hun-siau-hiap suka memaafkan! Betapa cupat dan sempit jiwaku, tapi kau tak dendam akan kesalahanku yang memalukan itu, sungguh aku Bun Cu-giok berhutang budi dan banyak terima kasih!”

“Saudara Cu-giok main kelakar saja, soalnya dulu terdesak oleh keadaan tidak bisa aku bekerja menurut situasi, mana bisa menyalahkan kau!”

Lalu Hun Thian-hi bertanya lebih lanjut kepada Ce-hun Totiang, “Totiang sebenar-benarnya apakah yang telah terjadi, bolehkah beri penjelasan kepada Wanpwe?”

Ce-hun Totiang menghela napas, ujarnya, “Dikata soal besar ya besar, dianggap soal kecil yang sepele. Ciok Yan kena diculik orang, Hoan-hu popo juga terluka oleh orang itu.”

“O,” seru Thian-hi heran, tanyanya pula, “Siapa penculiknya?”

“Kalau orang lain sih mending, soalnya penculik itu adalah Bian-hok Lojin (situa kelelawar)”, Thian-hi bercekat, serunya kejut, “Situa kelelawar maksudmu!” — sungguh ia tidak menduga,

karena si tua Kelelawar merupakan tokoh aneh yang disegani pula di Bulim, seorang diri ia menempati sebuah gedung besar, tiada seorangpun yang pernah melihat ia keluar dari sarangnya, tapi tiada seorangpun juga yang berani memasUki gedungnya itu, orang yang pernah masuk kesana, tiada seorangpun yang bisa keluar dengan selamat. Cuma tiada seorangpun kaum persilatan yang menanam permusuhan atau berhutang budi terhadapnya, maka ia tidak menduga orang yang disegani dan diindahkan ini justru telah menculik seorang gadis remaja.

“Bagaimana bisa terjadi hal ini?”’ tanya Thian-hi minta penjelasan.

Pelan-pelan Ce-hun Totiang menggeleng kepala, katanya, “Aku sendiri juga kurang jelas, sudah sekian lamanya Hoan-hu popo belum sadar waktu peristiwa ini terjadi kebetulan kami tidak ada dirumah!”

Tidak habis heran Thian-hi kenapa situa Kelelawar meluruk jauh kegurun utara, melukai berat Hoan-hu popo serta menculik Ciok Yan. Tempat tinggal situa Kelelawar tidak jauh dari sini setelah berpikir masak segera ia berkata, “Mari kuiringi Cianpwe meluruk kesarangnya!” Tanpa minta bantuannya Hun Thian-hi sudah menyatakan diri bersedia ikut mengurus persoalan ini, keruan bukan kepalang senang dan haru hatinya. ujarnya, “Kalau begitu bikin susah Siauhiap saja!”

“Marilah kita berangkat!” demikian ajak Hun Thian-hi, lantas ia mendahului lari ke arah tenggara.

Sebelum cuaca menjadi gelap mereka sudah tiba diluar sebidang hutan lebat, Hun Thian-hi menghentikan langkahnya seraya membalik badan, katanya, “Sarang situa Kelelawar berada di dalam hutan inikah!” — langsung mereka menerobos masuk hutan berapa jauh di hadapan mereka berdiri tegak sebuah gedung menjulang tinggi keangkasa, bangunan yang sudah setengah rusak tidak terpelihara berdiri dikegelapan malam seolah-olah seperti bayang2 jin raksasa.

Selayang pandang seluruh rumah sudah hampir terbungkus oleh tanaman rotan yang merambat subur ke-mana-mana, suasana sunyi senyap seperti tiada kehidupan insan manusia, mungkin selama ratusan tahun gedung ini tidak pernah dihuni manusia.

Melihat keadaan yang seram ini mau tak mau hati Thian-hi menjadi tegang, selama puluhan tahun tiada seorang pun yang tahu orang macam apakah yang tinggal di dalam gedung raksasa yang bobrok ini, jelasnya seorang tua berusia lanjut, Tidak seorang pun yang tahu betapa tinggi ilmu silat situa Kelelawar itu. Karena siapa saja yang pernah masuk ke dalam gedung tiada yang bisa keluar dengan masih bernyawa.

Ce-hun Totiang dan Bun Cu-giok sampai tidak berani bernapas keras-keras, mereka berdiri diam di belakang Hun Thian-hi, jantung mereka berdebar keras menanti perkembangan yang bakal terjadi.

Akhirnya Hun Thian-hi membuka suara, “Mari kita masuk bersama!”

Ce-hun manggut-manggut, sambil menggandeng Bun Cu-giok pelan-pelan mereka memasuki gedung besar itu. Sepasang mata Hun Thian-hi dengan tajam meneliti setiap tempat yang mencurigakan, tapi keadaan sekelilingnya hening lelap, mereka maju lebih lanjut sampai diambang pintu.

Setelah dekat di ambang pintu Thian-hi memburu dua langkah ke depan. kedua telapak tangannya mengerahkan tenaga mendorong pelan-pelan ke arah pintu besar itu baru saja kedua daun pintunya terbuka sebagian segulung angin dingin dan gerombolan kelelawar yang tidak terhitung banyaknya beterbangan menerjang keluar….

Thian-hi bertiga dibuat terkejut oleh keributan suara dari kelelawar besar2 yang berbau amis dan busuk, hampir saja arwah mereka copot dari badan kasarnya. mereka tahu bahwa situa kelelawar pasti sudah mengetahui jejak kedatangan mereka.

Dengan membesarkan hati Ce-hun Totiang mendahului melangkah masuk. dengan seksama ia amat-amati keadaan gedung besar itu, lalu berpaling bertanya kepada Hun Thian-hi, “Entah bagaimana keadaan dalam gedung sana, maksud Hun-siauhiap kita langsung terjang ke dalam saja atau mengundang situa kelelawar keluar?”

“Maksud Cianpwe….”

“Menurut hematku keadaan di dalam kita tidak jelas. kalau masuk kesana mungkin terjebak, lebih baik kita pancing situa kelelawar keluar saja!”

Thian-hi manggut-manggut sahutnya, “Cuma apakah ia sudi keluar!” Cepat Ce-hun Totiang menarik napas lalu berseru lantang ke arah gedung, “Pinto Ce-hun, dari jauh sengaja memburu datang harap penghuni gedung ini suka keluar untuk bicara!” — karena ia mengerahkan Lwekang suaranya mengguntur seperti gema genta yang bertalu2, sengaja ia hendak menunjuk kepandaian Lwekangnya untuk memancing situa kelelawar keluar.

Tapi setelah gema suaranya sirap, dari dalam gedung tidak terdengar reaksi apa-apa. Ce-hun, menggeram dongkol. teriaknya pula, “Kalau toh berani menculik orang, kenapa main sembunyi2. silakan keluar berhadapan!”

Sebuah tawa dingin yang menusuk kuping mandengung dari dalam gedung, keruan Thian-hi bertiga berjingkrak kaget dibuatnya, terdengar orang dalam gedung berseru, “Kalau kau bernyali besar, silakan masuk saja!”

Ce-hun Totiang menjadi gusar. sambil menggerung murka ia siap menerjang ke dalam. Buru- buru

Thian-hi berseru mencegah, “Totiang, nanti dulu!”

Dari suara tawa dingin, yang menusuk kuping itu Thian-hi tahu bahwa Lwekang situa kelelawar setingkat lebih tinggi dari kepandaian Ce-hun Totiang, apalagi musuh di tempat gelap, kalau secara serampangan Ce-hun Totiang meluruk ke dalam mungkin kena dikerjain musuh.

Ce-hun Totiang membatalkan niatnya. tanyanya, “Ada urusan apa lagi Hun-siauhiap?” “Musuh di tempat gelap kita jadi makanan empuk. Sangat berbahaya kalau kita langsung

menerjang masuk tanpa perhitungan, menurut pendapat Wanpwe lebih baik Totiang dan saudara

Cu-giok tunggu diluar saja, biar aku masuk membuat penyelidikan dulu!”

Ce-hun Totiang maklum akan tujuan Thian-hi. Iapun tahu situa Kelelawar bukan sembarangan tokoh yang dapat dibuat main-main, dengan tertawa tawar ia, berkata, “Seharusnya kami patuh pada petunjuk Hun-siauniap, tapi soal ini adalah urusan kami dua orang mana bisa membiarkan Hun-siauhiap masuk seorang diri menempuh ancaman elmaut, sebaliknya silakan Hun-siauhiap yang tunggu diluar saja, biar aku sama Cu-giok yang masuk ke dalam.”

Hun Thian-hi terbungkam, ia maklum sebagai tokoh kosen yang kenamaan di Bulim adalah aib bagi Ce-hun untuk membiarkan orang lain berkorban demi kepencngan sendiri sedang jiwa sendiri berat dikorbankan. Meski kepandaian sendiri tidak becus betapa pun cdak boleh kehilangan gengsi sebagai laki-laki sejati. meski harus menempuh bahaya sampai jiwa melayang, betapapun ia pantang mundur.

“kalau begitu maksud Totiang sebetulnya Wanpwe tidak bisa menolak,” demikian kata Thian-hi setelah berpikir, “Soalnya kita datang bersama, ada lebih baik kita masuk bersama pula, bagaimana pendapat Totiang?”

“Begitupun baik”, sahut Ce-hun Totiang manggut-manggut. Ia maklum cuma bersama Cu Giok menempuh bahaya ini, harapan untuk menang dan berhasil sangat kecil.

Agaknya gedung besar ini berlapis2, mereka dihadang pula oleh sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Ce-hun Totiang meng-usap2 pintu itu, alisnya terangkat tinggi, mendadak ia menghardik keras, kakinya rada menyurut mundur tenaga dikerahkan pada kedua telapaknya terus mendorong ke depan, “blang” daun pintu yang tebal dan berat seketika semplak dan terbang terpental jauh kena hantaman Ce-hun Totiang yang hebat itu, begitu jatuh di dalam pendopo mengeluarkan suara gedubrakan. Seketika suasana dalam pendopo menjadi ribut, kelelawar yang tidak terhitung banyaknya segera terbang keluar serabutan, cepat mereka mundur tiga langkah, berselang agak lama baru kelelawar terbang keluar semuanya, keadaan pendopo hening lelap lagi.

Ce-hun mendengus hidung. dengan langkah lebar ia mendahului bertindak masuk. Namun baru saja setindak ia maju agaknya Ce-hun menghadapi sergapan yang mendadak, tubuhnya kelihatan mencelat berkelit berbareng tangan kanannya mencakar ke depan sedang tangan kiri merogoh gagang pedang sendiri, tapi belum lagi pedang sempat terlolos ia sudah keburu melompat mundur.

Kejut dan tegang puia Thian-hi dibuatnya, cepat ia memburu maju. Tampak tangan kiri Ce-hun mendekap pundak kanannya, bersuara dengan suara berat, “Awas dalam rumah ada yang membokong! Lihay sekalj!” — suaranya kedengaran gemetar dan jeri.

Thian-hi merasa kaget, pundak kanan Ce-hun seperti terkena oleh senjata tajam, mengandal Lwekang Ce-hun Totiang ternyata kena disergap sebelum ia maju lebih lanjut, cukup segebrak saja sudah terluka, apalagi pedang sendiri belum sempat pula dilolos. maka dapatlah dibayangkan musuh dalam rumah ini pasti tokoh lihay yang kuat, mau tidak mau ia harus meningkatkan kewaspadaan.

Dalam pada itu Bun Cu-giok juga memburu maju, cepat Hun Thian-hi berseru, “Saudara, Cu- giok! Kau tolong obati gurumu dulu, biar aku yang coba-coba, akan kulihat apa yang terdapat di dalam sana!”

Terpaksa Bun Cu-giok mengiakan. Ce-hun Totiang menambahi pesannya dengan suara tertekan, “Hun-siauhiap, hati-hati1ah!”

Sekilas Thian-hi periksa dua samping daun pintu. lalu pelan-pelan maju ke dalam. Dan baru saja langkah kaki Thian-hi yang pertama masuk diambang pintu, tiba-tiba dari depan belakang dan sebelah kiri tiga jurusan terasa samberan tajam dari senjata pedang menusuk dan membabat secepat kilat ke arahnya. secara reflek ia berkelit ke arah kanan, berbareng tangan kanan membalik hendak melolos pedang. Sekonyong-konyong ia merasa juga sebatang pedang tahu- tahu sudah menyentuh punggungnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, ujung pedang ini bukan menusuk maju, sebaliknya ia sendiri yang membiarkan punggumg menggelendot ke belakang, berarti sengaja membiarkan punggungnya tertusuk pedang.

Thian-hi terkejut namun ia cukup cekatan, sekejap mata ia sudah paham kenapa dalam segebrak saja Ce-hun Totiang sudah terjungkal oleh musuh, waktu tidak memberi kesempatan untuk banyak pikir lagi. harapan satu-satunya dalam keadaan yang kepepet dan gawat ini ia harus berhasil meluputkan diri dari tusukan pedang ini.

Dalam keadaan waktu sependek ini tiada kesempatan bagi Thian-hi untuk berpikir lebih cermat, tak perlu disangsikan bahwa tusukan pedang dibelakangnya ini jelas sekali akan menusuk punggungnya lebih dulu dari pada samberan pedang dari tiga jurusan yang lajn. sebat sekali ia miringkan tubuhnya, tapi kejadian selanjutnya sungguh sangat mengejutkan hatinya, kiranya tusukan pedang disebelah belakang cuma gertakan belaka, sedikit pun pedang itu tidak bergerak sesuai dugaannya.

Baru sekarang Thian-hi menyadari dirinya telah ditipu mentah-mentah. tepat pada saat itulah serangan dari tiga jurusan sudah bergabung tiba mencapai satu titik penyerangan yang hebat sekali menusuk kedadanya sebelah kiri, begitu kuat dan deras sekali tusukan pedang ini sampai batang pedangnya mendengung mengeluarkan deru angin yang keras. Tak sempat Thian-hi mengeluarkan pedang, gesit sekali ia mendakkan tubuh sambil miring kebawah berbareng kaki menjejak tanah melesat miring kesamping, dalam jarak cuma serambut beruntung ia dapat terhindar dari serangan telak yang berbahaya itu. samentara ditengah jalan tubuhnya berputar setengah lingkaran, begitu kakinya mencapai tanah, sementara pedang sudah terlolos terus menusuk miring dari samaping ke arah musuh.

Dari kegelapan terdengar orang itu berseru memuji, “Kepandaian yang hebat!”

Dimana sinar merah berkelebat Cu-hong-kiam sudah menukik turun menusuk tiba, agaknya orang itu tahu diri. tak berani melawan lekas-lekas ia memutar tubuh teruS lari terbirit2 ke arah tangga loteng.

Begitu menemukan jejak musuh sudah tentu Thian-hi tidak membiarkan musuh melarikan diri cepat ia membentak keras, “Lari kemana kau!” seiring dengan suara badannya mencelat terbang di belakang orang.

Terpaksa orang itu membalik tubuh sambil lancarkan serangan pedang yang cukup ganas, laksana kepala ular mematuk langsung menusuk kedada Hun Thian-hi.

Tergerak hati Thian-hi, dalam hati ia sudah berkepastian betapapun orang ini jangan sampai lolos, keadaan dalam ruang pendopo sangat gelap, waktu orang ini membalik tubuh, Thian-hi dapat melihat jelas perawakan dan muka asli dari orang yang membokong ini. Orang ini kira-kira berusia lima puluhan, perawakannya tinggi besar, raut mukanya tumbuh jambang bauk yang lekat biji matanya berkilat terang.

Pedang Thian-hi juga kebetulan menusuk ke depan terus dipuntir kesamping, tapi orang tua itu agaknya juga seorang ahli pedang, terdengar hidungnya mendengus, cepat ia menarik mundur pedangnya seraya mencelat kesamping, serunya, “Lebih penting kau rawatlah dulu kawan2mu itu!” — selesai berkata terus melesat naik dan menghilang.

Thian-hi terkejut, mungkinkah dalam gedung ini masih ada orang lain? Karena kuatir cepat ia lari keluar, tampak Bun Cu-giok dan Ce-hun masih berdiri ditempatnya, ia jadi melengak, batinnya, aku kena ditipu pula oleh orang itu, hatinya jadi gemas dan dongkol.

Bun Cu-giok bersama Ce-hun Totiang melangkah masuk, kata Ce-hun Totiang, “Siauhiap apa sudah melihat Bian-hok Lojin?”

“Cuma kulihat seorang tua, entah siapa dia, dia lari ke atas loteng, ilmu silatnya tidak rendah!” “Tak nyana Bian-hok Lojin serasi dengan nama. Kelelawar tidak punya nyali dan penakut,

melihat orang lantas lari atau main bokong tidak berani berhadapan secara langsung.”

Thian-hi sendiri sedang bertanya-tanya kenapa tanpa bertempur sampai menang atau kalah si orang tua itu lantas merat, apakah dia memang kerjanya membokong dan mencelakai jiwa orang dengan akal licik? Rasanya tidak mungkin, didengar dari lengking tawanya yang menusuk pendengaran tadi, tokoh Bulim yang mampu mengalahkan dia rasanya boleh dihitung dengan jari, mana bisa dia mengandal akal liciknya dengan berbagai jebakan mengalahkan musuh!

Soalnya orang tadi belum gebrak sungguh-sungguh dengan dirinya, apakah dia benar-benar Bian-hok Lojin belum ada kepastian.

Kata Bun Cu-giok kepada Ce-hun Totiang, “Biar aku naik kesana memeriksa, sebenar-benarnya apa yang sedang dia lakukan!” Ce-hun menghela napas, ia geleng kepala, katanya, “Tidak perlu, tak berguna meski kau ketemukan dia.” lalu ia berpikir sebentar dan berseru keras ke dalam rumah, “Bian-hok Lojin, kalau kau tidak berani keluar, kita akan membakar habis seisi gedungmu ini!” 

Terdengar tawa ejek dari dalam rumah, sahutnya, “Boleh kau coba-coba, kalian bertiga jangan harap bisa keluar dengan masih hidup.”

“Kenapa kan main sembunyi dan longak-longok tak berani berhadapan.” ejek Ce-hun.

Jawab orang dalam rumah itu, “Orang yang pernah datang kemari selamanya tiada seorang pun yang keluar dengan masih hidup, harapan hidup kalian bertiga sudah nihil, kenapa putar bacot selalu, menyebalkan!”

Thian-hi jadi getol, serunya, “Kau anggap gampang menghabisi jiwa kami bertiga, soalnya kami terpaksa harus meluruk kemari, urusan gampang diselesaikan asal kau lepaskan nona Ciok Yan, kami bertiga segera keluar dari sini.”

Keadaan sunyi senyap, tak terdengar penyahutan. Bertaut alis Thian-hi, katanya, “Harap kalian tunggu disini, biar aku naik melihatnya!” -sekali lejit tubuhnya terbang lempang ke atas, baru saja sampai di tengah jalan, tahu-tahu ujung sebilah pedang panjang sudah menutuk dekat di depan mukanya mengarah tengah-tengah kedua alisnya.

Thian-hi menyedot napas lalu bersuit nyaring, di tengah udara badannya berputar jumpalitan, sementara pedangnya ikut berputar menyelonong keluar miring menyampok turun terus memapas naik membabat ke tubuh Bian-hok Lojin.

Agaknya Bian-hok Lojin juga tidak sungkan-sungkan lagi. sengaja ia hendak jajal Lwekang dan kepandaian Thian-hi yang sejati, begitu kedua batang pedang saling sentuh miring, yang satu masih terapung ditengah udara, sedang yang lain berdiri tegak di atas papan loteng dengan cara yang cukup aneh ini mereka sudah saling mengadu kekuatan dalam.

Terdengar Bian-hok Lojin berseru heran, pikirnya, “bocah ini terlalu takabur, badan masih terapung di tengah udara berani beradu kekuatan dengan Lohu.

Soalnya ia tidak tahu bahwa Thian-hi adalah ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, cara adu kekuatan macam ini benar-benar si orang tua minta gebuk dan harus diberi hajaran, seumpama Bu-bing Loni disini dia pun tidak akan berani mengadu kekuatan secara kekerasan begini, apalagi Bian-hok Lojin, meski Lwekangnya tidak lemah, namun mana dia kuasa bertahan diri menghadapi kedahsyatan tenaga Wi-thian-cit-ciat-sek yang tiada taranya ini.