Badik Buntung Bab 32

 
Bab 32

Kelihatannya Goan Tiong berdua bersikap acuh tak acuh, pedang mereka tetap bergerak menyilang dari kanan kiri, bergerak cepat dan lambat maju mundur langsung menyongsong ke ujung seruling jade lawan.

Baru saja Hun Thian,hi lancarkan serangan serulingnya, mendadak terasa gelombang tenaga yang lunak dan kuat mengurung dirinya dari berbagai penjuru, meski kekuatan Wi-thian-cit-ciat- seknya sanggup menggugurkan gunung membelah bumi juga seketika menjadi sukar dikembangkan lebih lanjut, begitu tenaga sendiri menjadi bujar badannya lantas membal balik dan terpental mundur ke atas tembok lagi, sedemikian hebat tenaga lontaran ini sehingga ia bergoyang gontai di atas tembok hampir terlempar keluar.

Hatinya mencelos, selama ia melancarkan Wa-thian-cit-ciat-sek belum pernah ketemu tandingan sedemikim tangguh, nyata bahwa Wi-thian-cit-ciat-sek sedikitpun tidak mampu menunjukkan perbawanya.

Sungguh tidak habis heran hatinya, apakah mungkin tenaga yang dikerahkan telah salah salurannija? Ataukah jurus permainannya yang kurang sempurna? Terbayang olehnya waktu pertama kali dirinya terjun kegelanggang percaturan dunda persilatan, Ang-hwat-lo-mo cuma mengajar sejurus Pencacat langit pelenyap bumi, mengandal Lwekang sendiri pada waktu itu, kenyataan jurus itu dapat menambah sepuluh lipat tenaganya sendiri. Apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang tiada taranya yang tiada bandingannya, masa lebih asor dibanding Pencacat langit pelenyap bumi? Sebaliknya kalau benar-benar cara penggunaannya. tak mungkin dirinya sedemikian gampang dipermainkan lawan, yang terang dalam sekejap ia akan dapat angkat nama dan menggegerkan seluruh dunia persilatan. Begitulah pikir punya pikir tak terasa ia berdiri berjublek di atas tembok,

Akhirnya pandangannya meneliti keadaan sekitar kebon kembang itu, lambat laun didapatinya sesuatu yang ganjil dari tumbuhan bunga itu, kiranya setiap tanaman kembang dan pepohonan yang satu sama lain mempunyai letak yang persis dan jarak yang tertentu teratur rapi sekali. terang itulah bentuk dari sebuah barisan. Hatinya jadi was-was bahwa kebon kembang inipun ternyata diatur dengan bentuk sebuah barisan, kalau tidak. tidak mungkin Goan Tiong dan Goan Liang dapat bergerak sedemikian lincah dan cepat sekali dalam waktu yang sedemikian singkat pula. Thian,hi insaf untuk menerjang masuk dan menembus langsung ke gedung besar itu adalah sesukar memanjat langit, apa lagi bila ia teringat pengalamannya di dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin dulu, ia jadi jeri untuk sembarangan beranjak ke dalam.

Terpaksa ia putar kayun mengelilingi pagar tembok. Diam-diam ia mencari akal cara bagaimana. untuk menjebol barisan ini, tapi hakikatnya ia tidak akan memperoleh kunci pemecahannya karena ia sendiri tidak tahu segala seluk beluk mengenai barisan apakah yang dihadapinya ini. Saking gemes lalu terpikir olehnya, “Bila Ham Gwat ada disini perkembangan selanjutnya tentu gampang diatasi, bukankah Ham Gwat juga bisa menyelami intisari dari rahasia barisan Thay-si-ciang-soat-lian,mo-tin?” semakin dipikir hatinya menjadi gundah, berbagai pikiran menggejolak dalam becaknya, akhirnya ia menghirup napas dalam-dalam menghilangkan segala pikiran yang membutakan otaknya, dengan seksama ia mulai lagi meneliti keadaan dan kedudukan posisi barisan yang aneh ini.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan abu-abu berkelebat diujung pandangan matanya, sesosok bayangan itu melayang turun dari tengah udara seringan daun melayang jatuh ke tanah dan akhirnya hinggap di atas tembok disebelahnya.

Waktu menegas lihat seketika hatinya menjadi girang2 kejut, karena pendatang ini bukan lain adalah Ah-lam Cuncia adanya. Sungguh tak kira bahwa Ah-lam Cuncia bisa muncul dalam saat dan keadaan yang sulit ini. ini benar-benar suatu hal yang mengejutkan dan menggirangkan pula hatinya. Tapi untuk tujuan apa pula Ah-lam datang kemari?

Sambil tersenyum lebar Ah-lam Cuncia menyapa dulu kepada Hun Thian-hi, “Hun-sicu apa baik- baik saja selama berpisah?”’

Cepat-cepat Hun Thian-hi menjura hormat serta tanyanya, “Entah untuk apakah Taysu datang kemari?”

Ah-lam Cuncia menyapu pandang keadaan kebon kembang di dalam tembok lalu tertawa, katanya, “Hun-sicu sampai meluruk kemari apakah karena persoalan kuda hijau itu?” — dengan tawa berseri ia pandang muka Hun Thian-hi.

Dari nada pertanyaan Ah-lam Cuncia, Hun Thian-hi bisa menarik kesimpulan bahwa beliau pun karena urusan itu pula sehingga datang kemari, keruan hatinya rada terhibur, sebagai Suheng dari Ka-yap Cuncia, sebagai angkatan tua yang aneh dan serba misterius bagi dunia persilatan. pasti beliau dengan gampang saja dapat memecahkan rahasia barisan kembang yang rumit ini. mengandal kepandaiannya, tidak perlu takut lagi menghadapi Goan Tiong berdua.

Belum lagi Hun Thian-hi angkat bicara, keburu Ah-lam Cuncia berkata lagi, “Jikalau Hun-sicu kemari juga karena kuda hijau, maka Loceng menganjurkan supaya Hun-sicu lekas pulang saja!”

“Semula tujuan Wanpwe bukan kuda hijau itu, hendak menolong Ma Gwat-sian. Tapi sekarang urusan sudah menjadi berkepanjangan, mau tak mau kedua urusan ini harus kuselesaikan sekalian!” — lalu ia jelaskan asal mula kejadian ini sampai keadaan yang menyulitkan ini.

Ah-lam Cuncia berpikir sekian lamanya, ujarnya, “Sebab musabab kuda hijau itu terlalu panjang dan rumit untuk dijelaskan. Mo-bin Suseng memang terlalu membawa adatnya sendiri, bekerja tanpa perhitungan sehingga terjadilah keadaan yang menyulitkan ini.” Berdetak jantung Thian-hi mendengar ucapan orang, ditariknya suatu kesimpulan pula bahwa orang yang telah terbunuh oleh pukulannya tempo hari memang benar-benar adalah Mo-bin Suseng bukan Siau-bin-mo-im seperti yang diduganya semula.

Agaknya Ah-lam Cuncia dapat meraba alam p kiran Thian-hi, dengan tertawa welas asih ia berkata, “Orarg yang mati itu memang Mo-bin Suseng adanya, sekarang dia sudah ajal maka budi dan dendam sudah himpas sama sekali.”’

Tak tahu Thian-hi bagaimana perasaan hatinya saat itu, Mo-bin Suseng adalah musuh besar pembunuh ayahnya, ternyata musuh besar sudah mampus oleh tangannya sendiri, bukankah itu berarti bahwa dia sudah berhasil menuntut balas? Sebenar-benarnyalah ia tidak terpengaruh akan perasaan haru atau senang, selama ia kelana di Kangouw, cita-citanya cuma menuntut balas bagi kematian ayahnya, sampai ke ujung langit pun Mo-bin Suseng akan dikejar sampai berhasil dibunuhnya, tapi selama itu muka asli dan bagaimana bentuk Mo-bin Suseng itu belum pernah dilihat atau diketahuinya, namun sekarang mendadak diketahui bahwa sebenar-benarnyalah Mo- bin Suseng sejak beberapa saat lamanya sudah mampus di tangannya sendiri.

Dengan perasaan kosong ia termangu-mangu mengawasi Ah-lam Cuncia, seolah-olah bentuk atau raut muka Mo-bin Suseng sudah tidak berkesan lagi dalam ingatannya, dengan keheranan ia bertanya pada sanubarinya sendiri, “Apakah cita-citaku sudah terkabul?”— sedikit pun ia tidak merasakan hal ini!

“Kau masih punya banyak tugas harus kau kerjakan, banyak pula harapan yang harus kau kejar demi masa depanmu, apakah hidupmu ini melulu cuma demi menuntut balas saja. Kalau demikian saja pandangan dan pendapatmu, rasanya terlalu kecil kau menilai norma2 hidup manusia ini….

Apa pula yang perlu kau kejar dan kau capai, kukira hanya kau sendiri yang tahu!”

Hun Thian-hi tertunduk, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku hidup demi menuntut balas dendam? Rasanya bukan, dan masa itu sudah silam, kalau tidak tiada manfaatnya aku hidup lebih lanjut dalam dunia ini!”

Sekarang ia mulai menyelusuri kembali pengalamannya selama ia terjun ke gelanggang percaturan dunia persilatan, segala sepak terjangnya memang bukan melulu untuk mengejar musuh dan menuntut balas dendam. Mo-bin Suseng sudah mampus sediki tpun tidak terasa senang dalam hatinya, bukan saja tidak gembira iapun tidak merasa bahwa ia sudah menang dan berhasil menunaikan tugas.

Kata Ah-lam Cuncia lagi, “Kau harus tahu, Mo-bin Suseng bukan seorang durjana yang teramat jahat, jangan kau pandang rendah martabatnya. Pesannya sebelum ajal semua ia curahkan dari lubuk hatinya yang paling dalam dan itu benar-benar, tiada terkandung maksud-maksud jahat.

Hwesio jenaka dan Siau-bin-mo-im tentu tidak akan salahkan kau, bahwasanya memang Mo-bin Suseng yang berbuat kesalahan, ia melakukan perbuatan yang sebenar-benarnya tak perlu ia lakukan!”

Hun Thian-hi tersenyum, katanya, “Sekarang sedikitpun Wanpwe tidak punya angan2 untuk menuntut balas apa segala, cuma masih tersekam suatu perasaan aneh, tapi aku sendiri tidak dapat mengatakan perasaan aneh apakah itu!”

“Itu tidak perlu dibuat heran,” ujar Ah-lam Cuncia, “adalah jamak kejadian itu bagi manusia.

Dikala seseorang mengejar sesuatu benda umpamanya, sangkanya setelah ia memperoleh benda itu pasti hatinya akan puas dan kegirangan. Jikalau Mo-bin Suseng sekarang muncul di hadapanmu, dan dia belum lagi meninggal, pasti kau tidak akan hiraukan nasehat atau bujukan orang lain dan melabraknya mati-matian, setelah kau berhasil mencapai kemenangan maka kau sendiri tidak akan merasakan kemenangan itu, tak lain sama seperti biasa saja.” Thian-hi bungkam dan merenung, memang begitulah keadaannya sekarang, tanyanya kepada Ah-lam Cuncia, “Taysu, lalu bagaimana aku harus menempatkan diri supaya tidak terbelenggu oleh semua itu?”

“Jangan ceroboh dan jangan serampangan bertindak setelah kau memperoleh hasil!” demikian ujar Ah-lam Cuncia sambil merangkap tangan di depan dada.

Tersadar benak Thian-hi, cepat ia menjura, serunya, “Terima kasih akan petunjuk Taysu.”

Sesaat lamanya mereka berdiam diri, akhirnya Ah-lam membuka suara pula, “Ni-hay-siang-kiam punya hubungan yang sangat mendalam dengan Jing-san-khek, ada beberapa persoalan adalah urusan intern rumah tangga mereka, kita sebagai orang luar tidak perlu turut campur, begitu juga soal kuda hijau itu tidak perlu kau terlalu mendesak pada mereka, Tapi Ma Gwat-sian dan gurunya adalah ahli waris dari Tay-seng-ci-kou, kau harus menolong mereka keluar, tapi rasanya Ni-hay- siang-kiam tidak begitu gampang mau menyerahkan mereka padamu!”

“Taysu apakah kau punya cara memasuki barisan ini?”

“Aku juga punya hubungan erat sekali dengan pencipta barisan ini, biarlah kucoba-coba, tapi belum tentu aku bisa berhasil.”

Timbul setitik harapan dalam benak Thian-hi, bahwa ucapan Ah-lam jelas memberi tahu bahwa beliau mampu memecahkan barisan ini, cuma kami berdua sama masuk kesana ataukah dia sendiri yang akan menjebolnya.

Rada lama Ah-lam Cuncia meneliti keadaan barisan kembang ini, raut mukanya semakin kelam, Hun Thian-hi menjadi heran, tapi ia sungkan untuk bertanya, dalam hati ia bertanya-tanya entah hubungan apa adanya pencipta barisan ini dengan Ah-lam Cuncia.

Tak lama kemudian terdengar Ah-lam Cuncia berkata, “Mari kuberi petunjuk, coba kau masuk ke dalam barisan.”

Thian-hi rada kaget dibuatnya, pikirnya, “Bahwasanya aku tidak tahu menahu tentang seluk beluk barisan ini, beberapa patah kata-katamu biia dibanding kedatangan Goan Liang berdua rasanya terpaut antara bumi dan langit, bukankah sia-sia saja aku masuk ke dalam barisan sana, sekali kena dirintangi, masa aku mampu melarikan diri!”

Ah-lam dapat melihat sikap ragu-ragu Hun Thian-hi, ia jadi geli dan berkata, “Kau dengar dulu petunjukku! Coba kau lihat!”

Sembari berkata ia menunjuk ke arah sebuah pohon kenari lalu tambahnya, “Kau boleh menuju ke arah pohon kenari itu, setelah di bawah pohon kekiri tiga kekanan dua dan terus kau tempuh cara yang sama, dengan mudah kau bisa masuk dan menerobos keluar dari barisan!”

Thian-hi memandang ke arah pohon kenari itu, disekitar pohon sana terdapat banyak sekali batu gunung-gunungan dan liku2 aliran sungai kecil yang serba rumit, selayang pandang lantas menimbulkan kejerihan hatinya. Tapi justru Ah-lam Cuncia menghendaki dirinya menerobos ke tempat yang paling rumit itu, serta merta semakin ciut nyalinya, tapi perintah Ah-lam Cuncia tidak bisa tidak harus dituruti dan anjuran orang pasti tidak akan salah, jalan itu pasti benar-benar dan tidak perlu disangsi lagi.

Cuma masih terkandung kesangsian dalam benaknya, apakah mungkin barisan kembang yang sangat rumit ini dapat begitu gampang dipecahkan?. Segera Thian-hi melayang turun di bawah pohon kenari itu, ternyata Goan Tiong dan Goan Liong tidak muncul mencegat jalan lagi, mau tak mau terhiburlah hatinya. Tanpa ayal lagi Thian-hi melangkah lebih jauh ke depan pohon kenari, dan belum lagi ia beranjak lebih lanjut tiba-tiba Goan Tiong berdua muncul mengadang di depannya sambil menyoreng pedang. Menghadapi gunung2an batu yang berserakan tidak genak dan kilauan batang pedang yang menyilaukan mata, serta merta hati Thian-hi menjadi keder, kalau ia nekad maju lebih lanjut entah apa yang akan diperbuat oleh Goan Tiong berdua, tapi pesan Ah-lam Cuncia harus dipatuhi dan itu berarti bahwa dia harus maju lebih lanjut.

Tiba-tiba tergerak hatinya sebat sekali ia melejit enteng beberapa inci di atas tanah, laksana air menglir bagai awan mengembang badannya melayang seringan asap berkelebat ke arah kiri terus membelok kekanan pula dengan luncuran yang cepat seperti membresut lewat di atas salju.

Tepat disaat Thian-hi bergerak Goan Tiong dan Goan Liang juga menggerakan kedua pedangnya menyilang ke arah yang berlawanan, terus menerjang ke depan, tapi Thian-hi keburu sudah melesat menyingkir sehingga daya serangan mereka menjadi susut, maka dalam detik lain Hun Thian-hi sudah berhasil menerobos lewat dari kilauan samberan pedang mereka terus meluncur lagi ke arah kiri tapi saat itu ia sudah berada di belakang mereka.

Sudah tentu Goan Tiong berdua merasa diluar dugaan, selamanya belum pernah mereka mengalami kejadian begini aneh, sejenak mereka melengak dilain saat mulut mereka membentak2 dan berkaok mencaci maki.

Kedatangan Ah-lam Cuncia sebetulnya sudah diketahui oleh mereka, percakapan Hun Thian-hi berdua juga sudah mereka dengar dengan cermat, cuma mereka jadi semakin heran dan kaget bahwa Ah-lam bisa begitu cepat memberi petunjuk ke arah pintu hidup dari barisan yang rumit ini, tapi betapa pun mereka tidak mau percaya dengan langkah tiga kanan dua kiri orang akan berhasil menerjang masuk dan bebas tanpa kena rintangan ke dalam barisan.

Begitu permainan langkahnya yang aneh membawa hasil seketika berkobar semangat Thian-hi, semakin besar pula keyakinan hatinya, begitulah ia bergerak lebih lanjut menuruti petunjuk yang didengarnya tadi, dilain saat ia sudah masuk semakin dalam ke dalam barisan, bayangan Goan Tiong berdua kadang-kadang kelihatan di lain saat sudah lenyap pula di sebelah belakangnya, selama itu mereka masih mengejar terus dengan kencang rangsakan pedang mereka tetap bersilang kekanan kiri dan membabat bergantian, tapi dalam jarak cuma serambut saja selalu Thian-hi dapat meluputkan diri dari aambaran pedang yang ganas ini. Tanpa hiraukan dua orang pengejar dibelakangnya Thian-hi lari sipat kuping menuju ke arah gedung besar.

Bahwa serangan mereka berulang kali selalu gagal mau tak mau membuat Ni-hay-siang-kiam menjadi uring-uringan dan mencelos hatinya, sungguh tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa dengan kerja sama ilmu pedang mereka yang begitu serasi masih belum mampu mencapai sasarannya, cukup dengan langkah tiga kiri dan kanan koq dapat mengobrak abrik barisan kembang ini.

“Hai, berhenti dulu!” akhirnya Goan Tiong berteriak.

Sekarang Thian-hi sudah tidak takut dan percaya benar-benar akan kemampuannya, maka segera ia menghentikan langkahnya, dengan tersenyum penuh arti ia pandang kedua orang tua kurus kecil ini.

Dengan mendelik Ni-hay-siang-kiam sama melotot kepada Thian-hi, lalu Goan Tiong berpaling ke arah Ah-lam Cuncia. dan bertanya, “Siapakah kau sebenar-benarnya, dari mana kau dapat tahu rahasia dari barisan ini?” Ah-lam Cuncia tersenyum manis, ujarnya, “Lo-ceng Ah-lam, tentang barisan ini sejak kecil memang pernah kupelajari!”

Goan Tiong menjengek bibir, ejeknya, “Kau bergelar Ah-lam Cuncia aku sudah tahu, cuma aku ingin tahu asal usulmu yang sebenar-benarnya. Ketahuilah bahwa barisan ini diciptakan oleh Hui- sim Sin-ni dari Ngo-bi-pay, kalau mau dikata kau sejak kecil sudah kenal akan barisan ini, bukanlah kau sengaja hendak meng-olok2 kami. Mungkin hanya beberapa orang saja yang kenal barisan ini di seluruh kolong langit ini….”

Ah-lam tetap tersenyum lebar, ujarnya, “Sebagai orang beribadat aku tidak suka membual, adalah benar-benar sejak kecil aku sudah pernah mempelajari barisan ini, karena aku kenal dan bersahabat kental dengan penciptanya, apakah hal ini perlu dibuat heran?” 

“Kau kenal dengan pencipta barisan ini sejak kecil?” jengek Goan Tiong tidak percaya, jelas ia sudah mulai marah dan dongkol.

“Bila sedikit kujelaskan mungkin kau mau percaya,” demikian tutur Ah-lam Cuncia, “Sebetulnya kamu berdua pun sejak kecil sudah kukenal.” sampai disini ia tertawa lebar penuh arti. Adalah Thian-hi menjadi semakin keheranan. Benar-benarkah Ah-lam Cuncia punya hubungan yang begitu kental pula dengan Ni-hay-siang-kiam? Kalau hal ini benar-benar, buat apa lagi ia susah2 bertempur menghabiskan tenaga dan waktu?

Goan Tiong melenggong, bahwasanya ia tidak percaya akan ucapan Ah-lam Cuncia. Namun jelas bahwa Ah-lam Cuncia memang merupakan seorang beribadat yang agung dan mencapai tingkat yang tinggi, semua nasehat dan petuahnya terhadap Hun Thian-hi tadi seakan-akan masih terkiang juga dipinggir telinganya, sungguh ia merasa tunduk dan patuh benar-benar akan petunjuknya itu, apalagi sikap Ah-lam sekarang adalah begitu serius begitu sungguh-sungguh, sedikit pun tiada kelihatan berpura-pura atau bermuka2, hati kecilnya menjadi goyah dan terketuk, mau tak mau ia harus percaya pada ucapan Ah-lam Cuncia.

Setelah merenung, akhirnya Goan Tiong berkata, “Siapakan kau sebenar-benarnya, coba kau jelaskan mungkin aku memang tahu siapakah kau adanya!”

“Waktu mudaku pernah aku bersikap teramat baik terhadap seorang teman perempuan, demikian juga dia sangat baik terhadapku, sampai kami pernah bersumpah sehidup semati. Tapi suatu ketika aku harus keluar pintu masuk perguruan, sekali pergi sampai dua puluh tahun lamanya baru aku bisa kembali, tapi perempuan itu ternyata sudah meninggal sekian lamanya.”

Goan Tiong mendengarkan dengan cermat, ucapan Ah-lam Cuncia ini kedengarannya memang sangat sepele, secara cekak aos saja mengisahkan pengalamannya dulu, namun hal ini sudah cukup melimpahkan perasaan hatinya. Sekarang Goan Tiong sudah dapat mereka siapakah orang dihadapannya ini.

Goan Tiong masih termangu-mangu, baru saja ia hendak membuka mulut, Goan Liong sudah keburu berseru lantang, “Jadi kaulah Ing Su-hing dari keluarga Ing itu!”

“Benar-benar,” Ah-lam Cuncia manggut-manggut, “Akulah Ing Su-hing adanya!”

Goan Liong tertawa ejek, katanya, “Kukira siapa yang begitu apal dan dapat memecahkan barisan ini, ternyata kaulah orangnya!” nadanya kedengarannya mengundang rasa penasaran dan amarah yang berlimpah2. Jantung Hun Thian-hi berdebar semakin keras mengikuti perkembangan yang semakin gawat ini, semula ia mengira bahwa Ah-lam Cuncia bakal berbesanan dengan Goan Tiong berdua, tak nyana ternyata adalah dua keluarga yang saling bermusuhan.

“Urusan sudah berlalu sekian lamanya, meski kesalahanku itu tidak disengaja, tapi kenyataan sudah terjadi, aku yakin diapun tidak akan menyalahkan aku.”

Muka Goan Liong merah padam, “Apa?” teriaknya gusar, “Kau bicara seenak udelmu sendiri, kalau toh kau sudah punya janji sepuluh tahun kenapa harus terlambat sepuluh tahun pula baru kembali, dan yang terang kami tidak pernah melihat kau pula, mana kami tahu apakah benar- benar kau pernah pulang tidak?”

Ah-lam Cuncia tersenyum tanpa bersuara.

Bujuk Goan Tiong dengan suara kalem pada Goan Liang, “Jite jangan begitu kasar, betapa pun dia adalah angkatan tua kita, kenapa kau mengumbar adat saja, apakah kau sudah melupakan pesan bibi yang terakhir sebelum ajal?”

Goan Liong mendengus, sahutnya, “Justru watakku memang tidak sealim bibi!”

Biji mata Ah-lam Cuncia kelihatan berkilat m-mancarkan sinar terang. Hun Thian-hi mengawasinya diam-diam, ia tahu dari sorot mata Ah-lam Cuncia dapatlah diketahui bahwa perasaannya sedang bergejolak, kelihatan pula sikapnya yang tenang berusaha menekan dan mengendalikan perasaannya sendiri, dapat pula terasakan dari mimik wajahnya betapa derita sanubarinya,

Thian-hi menjadi heran, kenapa sinar pancaran biji mata Ah-lam Cuncia menyorotkan cahaya gelap dan kabur, hal ini terlalu janggal bagi seorang tokoh silat macam Ah-lam Cuncia yang sudah punya dasar Lwekang yang kokoh dan dalam, sungguh ia tidak mengerti.

Goan Tiong tidak hiraukan Goan Liang lagi, katanya pada Ah-lam Cuncia, “Semua itu adalah kejadian yang sudah lampau, tidak perlu kami singgung dan ungkap2 lagi, yang terang diantara kita tiada sesuatu hubungan yang mengikat, cuma ingin aku tanya pada kau, untuk apa pula kau sekarang datang kemari? Apakah mau memusuhi kami berdua?”

“Ah-lam Cuncia tertawa, ujarnya, “Sebenar-benarnyalah aku tiada maksud demikian….” “Kalau tidak bermaksud demikian boleh silahkan kau pergi secepatnya,” demikian tukas Goan

Liong yang aseran, “kalau tidak kami tidak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap kau, kami sama ratakan kau terhadap orang-orang lain yang menjadi musuh kami!”

“Goan Tiong,” ujar Ah-lam Cuncia, “tidak patut kau bersikap begitu kasar, bila bibimu masih hidup beliau tidak akan membiarkan kau begini pongah. Ma Gwat-sian dan gurunya adalah ahli waris dari Tay-seng-ci-lou, mana boleh kau menyekap mereka? Untuk urusan inilah aku meluruk kemari!”

Goan Liong tetap bandel, dengan ejek dingin ia bertanya, “Konon kabarnya kau terkena bisa Ban-lian-ceng (muda abadi), kau berusaha mendapatkan kuda hijau untuk menemui Jeng-san- khek mohon petunjuk dan pengobatannya untuk menyambung jiwamu?”

“Kenapa begitu dipastikan?” sahut Ah-lam Cuncia tertawa getir, “Apakah Jing-san-khek benar- benar mampu memunahkan bisa Ban-lian-ceng itu? Kau harus tahu bahwa racun itu sudah enam puluh tahun mengeram dalam tubuhku!” Goan Liong mengejek pula, “Aku tidak percaya, siapa tahu apa yang terpikir dalam benakmu!”

“Apa?” Goan Tiong berteriak kejut, “sudah enam puluh tahun lamanya kau terkena bisa Ban- lian-ceng itu?”

Segera Goan Liangpun merasakan sesuatu yang tidak beres, tanpa merasa ia bergidik dan merinding sendiri, sudah enam puluh tahun lamanya, jadi hal ini terjadi sepuluh tahun sebelum bibinya wafat, jadi jelaslah bukan Ah-lam Cuncia yang tidak menepati janji soalnya karena dia sudah keracunan Ban-lian-ceng itulah.

“Ya. sudah enam puluh tahun,” Ah-lam Cuncia menjelaskan lebih lanjut, “Kalian tahu sejak dilahirkan aku sudah diambil murid oleh perguruan Thay-i-sin-ceng, tapi sampai dua puluh tahun kemudian baru aku diangkat sebagai murid secara resmi, maka meskipun Ka-yap terhitung lebih lama masuk perguruan, tapi dia terhitung menjadi suteku. Enam puluh tahun yang lalu karena persoalan dengan Sin-chiu-mo-kay itu, sehingga Suhu mangkat dan saat itu pula aku terkena bisa Ban-lian-ceng itu!” — ia coba tersenyum lagi, tapi mimik wajahnya kelihatan masam dan gelap.

Agaknya Goan Liang menjadi haru dan terketuk hatinya, sikapnya tidak sekasar tadi, katanya, “Paling tidak seharusnya kau kembali atau memberi kabar!”

Ah-lam Cun-cia memejamkan mata, ujarnya, “Sebelumnya aku tidak menduga urusan bakal berlarut sampai sedemikian jauh, sebelum Suhu mangkat beliau mencukur gundul kepalaku dan minta aku berpikir masak2, tapi aku sudah berkeputusan dan aku berpendapat cuma jalan inilah yang harus kutempuh demi bibi kalian berdua, bahwasanya racun Ban-lian-ceng dalam tubuhku sudah mulai bekerja, jangan kata berjalan, bergerak saja aku tidak mampu, mana aku bisa kembali kesini.”

Goan Tiong dan Goan Liang tertunduk, akhirnya Goan Tiong menutur, “Setiap saat bibi selalu menanti dan meng-harap2 kedatanganmu, tapi para kerabat dalam keluarganya dan guru bibi yaitu Hui-sim Sinni dari Ngo-bi mendesaknya untuk menikah dengan Jing-san-khek!”

Ah-lam memejamkan mata, ia bungkam saja!

Goan Tiong tahu bahwa Ah-lam Cuncia tentu ingin tahu pula keadaan bibinya Ceng-i Siancu waktu itu, tuturnya lebih lanjut, “Tapi bibi menolak mentah-mentah, entah berapa lama berselang desakan dan ancaman datang berulang-ulang, hampir saja beliau mau bunuh diri karena putus asa!” — sampai disini Goan-liong tertawa getir, lalu sambungnya, “Kau juga tahu, Jing-san-khek merupakan tokoh yang kenamaan dan disegani dalam Bulim pada masa itu, sedang kabar beritamu tiada seolah-olah tenggelam dalam lautan, meski kau sebagai murid Thay-i-sin-ceng, tapi kabar yang tersiar diluar mengatakan bahwa kalian guru dan murid sudah gugur bersama. Dan bila kau benar-benar sudah mati maka calon satu-satunya tinggal Jing-san-khek seorang!”

Ah-lam menengadah, terlongong memandang angkasa tanpa bersuara.

“Akhirnya,” Goan Tiong meneruskan, “Orang tuanya berkeputusan menjodohkan bibi dengan Jeng-san-khek, akibatnya….” sampai disini Goan Tiong tertawa menyengir, suaranya sedih dan pilu, “Bibi meninggal dengan merana!”

Mata Ah-lam Cuncia berkedip2 mengembeng air mata, Hun Thian-hi juga ikut bersedih. Setelah batuk2 Goan Tiong melanjutkan, “Sejak kecil bibi paling sayang pada kami berdua,

kami benci kepada kau, bila kami tahu kaulah Ah-lam adanya, sejak lama dulu tentu kami sudah

mencarimu. Masih ada seorang lagi yaitu Jing-san-khek, dia mendesak begitu keterlaluan, bila dia seorang Kuncu seorang sastrawan, punya sikap dan pambek sebagai seorang yang terpelajar, bibi tidak akan meninggal begitu menyedihkan!”

Ah-lam berdiri diam dan mendengarkan cerita Goan Tiong, orang menyangka dirinya tidak tahu kejadian itu, sebetulnyalah apa yang dia ketahui jauh lebih banyak lebih jelas dari apa yang diketahui oleh Goan Tiong berdua. Dia tahu kenapa Jing-san-khek begitu kukuh, dan iapun tahu cara kematian Ceng-i Siancu serta sebab musababnya, dan semua kejadian ini pernah membuat hatinya haru, gegetun dan pilu.

“Sekarang baru aku tahu bahwa kau tidak salah,” demikian Goan Tiong menyambung, “tapi kuda hijau adalah satu-satunya benda peninggalan bibi, malah kau pula yang memberikan kepadanya, betapapun kami tidak rela memberikan kepada Jeng-san-khek, kecuali kau sendiri yang punya maksud demikian!”

Ah-lam Cuncia menghela napas panjang, katanya sambil menunduk, “Apa kalian tahu kenapa hari ini aku kemari?” — ia menghela napas pula lalu sambungnya, “Jeng-san-khek diapun akan kemari!”

Goan Tiong dan Goan Liang menggeram bersama, serunya, “Dia juga datang kemari!”

Kata Ah-lam pelan-pelan, “Walaupun dia pernah berbuat salah, bagaimana juga dia termasuk tokoh dari kalangan lurus, aku ada omongan yang hendak kusampaikan padanya, aku harap kalian suka memberi hak kuasa kepadaku untuk kali ini.”

Goan Tiong bungkam saja pikirannya bekerja. Hun Thian-hi menyangka kali ini pasti Goan Tiong suka memberi muka dan melulusi, tak nyana dengan tegas ia menggeleng dan sahutnya, “Uhtuk urusan lain boleh saja, untuk urusan ini aku tidak setuju!”

Thian-hi melengak, tak diketahui olehnya alasan apa Goan Tiong tidak setuju, tapi kenyataan memang begitu.

“Bagaimana juga beliau adalah bibi kami berdua,” demikian Goan Tiong menjelaskan, “Sebagian tanggung jawab urusan ini perlu pertimbangan kami pula, maka keputusannya kami juga perlu tahu, mana boleh kau sendiri yang pegang kuasa.”

“Segala urusan yang kalian tahu, akupun tahu semua,” demikian ujar Ah-lam Cuncia, “Memang Jing-san-khek salah, tapi urusan sudah lampau sedemikian lamanya, sang waktu sudah cukup berkelebihan memberi hukuman padanya, apalagi dia pun sudah sangat menyesal!”

“Sekarang tak perlu kami persoalkan hal ini, nanti kita bicarakan lagi bila dia sudah tiba. Bila kau dapat menyelesaikan dengan sempurna, sudah semestinya aku memberikan persetujuan kami!”

Ah-lam tidak banyak kata lagi, pelan-pelan ia menghela napas.

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan hijau muncul di kejauhan sana, meluncur berlompatan dengan enteng bagaikan burung bangau, sekejap saja tahu-tahu sudah mendekat.

Tampak oleh Thian-hi pendatang ini mengenakan jubah hijau, tahu ia bahwa orang ini pasti Jing-san-khek adanya, usia Jeng-san-khek agaknya sudah lanjut, rambut dikepalanya serta alis dan jenggotnya sudah ubanan, sorot matanya juga guram, orang yang tidak mengenalnya tidak akan mau percaya bahwa orang tua yang kelihatan lemah ini ternyata adalah Jing-san-khek, tokoh aneh nomor satu dari Bulim di daerah selatan. Begitu Jeng-san-khek hinggap di atas tembok ganti berganti ia pandang para hadirin lalu berhenti pada muka Ah-lam Cuncia.

Ah-lam Cuncia juga tidak bersuara. sesaat kemudian mereka berdua sama-sama lompat turun terus langsung menuju ke dalam gedung besar itu….

Hun Thian-hi bersama Goan Tiong dan Goan Liang sama mengintil di belakang mereka.

Seolah-olah tidak menemui rintangan apapun Ah-lam Cuncia dan Jeng-san,khek beranjak ke depan dengan lenggang kangkung dengan mudah dalam waktu singkat mereka sudah tiba di dalam gedung dan terus masuk ke dalam. Dengan cara tiga kiri dua kanan menurut petunjuk itu Hun Thian-hi pun berhasil sampai masuk ke dalam gedung besar itu.

Ah-lam Cuncia berdua langsung memasuki sebuah pendopo yang amat luas. kira-kira empat lima puluh meter persegi luasnya, mereka duduk berhadapan ditengah-tengah pendopo, sama memejamkan mata tanpa bergerak dan membuka suara.

Dalam kejap lain Goan Tiong dan Goan Liang juga sudah tiba di dalam pendopo itu. mereka mencari duduk disebelah kiri dan kanan-

Jang paling dikuatirkan Hun Thian-hi cuma keselamatan Ma Gwat-sian dan gurunya, tengah ia celinguk, kebeulan Ma Gwat-sian bersama gurunya sedang melongok ke dalam pendopo ini dari sebuah pintu disebelah pojokan sana.

Sudah tentu girang Thian-hi bukan main, bergegas ia bangkit terus menghampiri ke arah sana, begitu melihat Hun Thian-hi kelihatannya Ma Gwat-sian sangat kaget, sesaat ia melenggong lalu menyurut mundur dengan tersipu-sipu. Poci menyingkir kesamping mengawasi Ma Gwat-sian tanpa bersuara.

Sambil tunduk Ma Gwat-sian mundur pelan-pelan. Cepat Hun Thian-hi menjura hormat kepada Poci, tanpa menanti balasan hormat orang lekas-lekas ia memburu ke arah Ma Gwat-sian, panggilnya lirih tertahan:

“Gwat-sian!”

“Ada urusan apa kau mencari aku?” akhirnya Ma Gwat-sian berhenti dan bertanya.

Sekejap itu Thian-hi tak kuasa bicara, terpaksa meng-ada2, “Jeng-san-khek dan Ah-lam Cuncia sama-sama berada di dalam sana, marilah kita masuk kesana dulu?”

Ma Gwat-sian kelihatannya rada bimbang, namun akhirnya manggut-manggut, beriring mereka lantas masuk kependopo dan duduk mengelilingi mereka berempat, selama ini Ma Gwat-sian selalu menundukkan kepala.

Dalam waktu dekat ini Thian-hi harus menyampingkan urusannya ingin ia tahu bagaimana perkembangan urusan Jeng-san-khek dengan Ah-lam serta Goan Tiong dan Goan Liang.

Kira-kira seperminum teh kemudian baru Jeng-san-khek membuka mata dan berkata kepada Ah-lam Cuncia, “Sudah lama sekali aku mencari kau sampai yang terakhir ini baru kudengar tentang kabar beritamu.”

Pelan-pelan Ah-lam juga membuka mata, sahutnya, “Aku tahu kau sedang mencari aku, kalau tidak masa aku bisa mengundang kau, untuk berkumpul disini!” “Kalau begitu berarti hubungan persahabatan kami sudah sejak lama berselang….”’ Ah-lam tersenyium manis, tidak berkata-kata lagi.

Kata Jeng-san-khek lagi, “Urusan tempo duiu sungguh aku merasa bersalah kepada kau!”

Ah-lam Cuncia tertawa wajar, ujarnya, “Itu urusan yang sudah lampau, kenapa disinggung lagi sekarang? Urusan yang sudah lampau. tak perlu diungkat2 lagi.”

“Itu hanya pendapatmu sendiri,” tiba-tiba Goan Tiong menyela, “Adalah kami bersaudara justru akan memperpanjang persoalan itu, betapa pun kami tidak rela peristiwa itu menjadi silam ditelan sang waktu.”

Jeng-san-khek tertawa getir, katanya, “Sekarang akupun tidak mampu memutar balik kenyataan, jika kalian merasa tidak senang terhadapku! boleh aku pasrah diri pada kalian terserah bagaimana kalian hendak bertindak atas diriku!”

“Marilah kita berdua coba membicarakan urusan kita dulu”“ demikian, ajak Ah-lam.

Goan Tiong berjingkrak bangun sambil mengebut lengan bajunya, serunya gusar, “Kalau urusan dulu kalian anggap himpas dan selesai sampai disini saja, aku tidak mau terima, bagaimana juga pembicaraan kalian nanti jangan sekali2 menyinggung tentang permohonan sesuatu kepada kami!”

Ah-lam Cuncia dan Jeng-san-khek sama-sama pejamkan mata tak bersuara lagi.

Sebetulnya Goan Tiong dan Goan Liang sudah sama berdiri dan berniat tinggal pergi, tapi entah teringat sesuatu atua akhirnya mereka batal dan duduk kembali.

Jeng-san-khek angkat kepala memandang Ah-lam Cuncia, katanya, “Kabarnya kau terkena racun Ban-lian-ceng, semula aku belum tahu bahwa Ah-lam adalah duplikatmu, seharusnya sejak dulu kau datang mencariku, urusan tentu tidak berlarut sampai sekarang.”

Ah-lam Cuncia cuma tersenyum saja tak menjawab.

Setelah menarik napas Jeng-san-khek berkata pula perlahan-lahan, “Tapi aku sendiri juga ada salah, seharusnya aku tahu kecuali kau seorang di seluruh kolong langit ini tiada setorang pun yang pantas terkena racun Ban-lian-ceng itu!”

Ah-lam tertawa-tawa, ujarnya, “Agaknya kau terhanyut oleh perasaanmu sendiri.”

Jeng-san-khek manggut-manggut, katanya, “Kita sudah sama tua. tulang dan urat2 kita sudah kaku sudah tiba saatnya sinar guram dan minyak habis.”

Ah-lam Cuncia tidak bicara, ia sudah tahu kemana harus menempatkan diri, namun sedikitpun ia tidak takut atau gentar, ia anggap kematian seperti pulang ke tempat asal, kalau bisa istirahat dengan tentram dan aman itulah memang kehendaknya.

Thian-hi semakin bingung dibuatnya, jelas kedua orang ini saling bermusuhan dalam asmara, tapi dalam nada bercakap-cakap kok seperti sahabat lama yang sudah lama tidak jumpa. Waktu ia melirik dilihatnya Ma Gwat-sian sudah angkat kepala, dengan penuh perhatian ia mendengar percakapan orang, tapi begitu Thian-hi melirik ke arahnya seakan-akan ia mempunyai indra keenam lekas-lekas ia pejamkan mata menunduk kepala. Selama itu Poci diam saja mengawasi kedua anak muda ini, akhirnya iapun memejamkan mata sambil menghela napas dalam-dalam.

Berselang agak lama kemudian terdengar Jeng-san-khek membuka kesunyian, katanya, “Kau masih ada urusan apa yang perlu kubantu kerjakan?”

Pelan-pelan Ah-lam Cuncia berpaling kepada Hun Thian-hi, katanya kepada Jeng-san-khek, “Bocah ini adalah ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, bagaimana menurut penilaianmu?”

Dengan seksama Jeng-san-khek mengamati Thian-hi, katanya kalem, “Cukup bagus, tulang muda berbakat baik merupakan tunas harapan masa mendatang, tapi Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang paling tinggi dan dalam, entahlah apakah dia mampu menyelami intisari dari kemujijatan ilmu itu? Kalau tidak tak berguna ia pelajari ilmu pedang yang tiada taranya itu!”

Kata Ah-lam Cuncia kepada Hun Thian-hi, “Hun-sicu sudikah kiranya kau tunjukan ilmu pedang Wi-thian-cit-ciat-sek itu, supaya Jeng-san-khek Cianpwe memberi penilaian dan petunjuk yang berharga!”

Thian-hi maklum bahwa Ah-lam memang hendak memupuk dirinya, tanpa diminta lagi segera ia bangkit lalu menjura terus mundur beberapa tindak sambil melolos seruling jadenya.

Goan Tiong dan Goab Liang sama mendengus dan menjebir bibir, mereka tidak bicara, tapi dari sikap mereka ini kelihatan bahwa mereka merasa tidak senang akan tingkah laku Hun Thian-hi.

Setelah mengkonsentrasikan pikiran dan semangat pelan-pelan tumit kaki Thian-hi terangkat naik lalu turun lagi, sementara serulingnya sudah teracung miring, maka dilain kejap tubuhnya sudah melambung ke tengah udara berbareng seruling ditangannya bergetar dalam pergeseran antara jarak yang cuma beberapa mili itu lantas kekuatan dari jurus Wi thian-clt-ciat-sek ini sudah melandai keluar dengan dahsyatnya, dari batang seruling jade itu memancarkan cahaya gemilang yang berkilauan seperti kabut perak menerpa ke arah depan, hawa dalam pendopo seketika seperti bergolak, terdengarlah suara gemericik dari desiran deru angin yang hebat itu.

Wi-thian-cit-ciat-sek ini cukup dilancarkan dalam waktu sekejap, dikala Thian-hi meluncur tiba di tanah iapun sudah merubah gaya dan berdiri pula seperti semula. Goan Tiong berdua diam- diam bercekat dalam hati, Wi-thian-cit-ciat-sek yang dipamerkan Hun Thian-hi ini benar-benar tidak boleh dipandang rendah, dengan daya kekuatannya yang begitu dahsyat jelas satu persatu mereka tidak akan kuasa melawan, meski bergabung pun belum tentu dapat menyambut gelombang tenaga yang begitu dahsyat.

Setelah Thian-hi berhenti Jeng-san-khek termenung sebentar, tanya Ah-lam Cuncia, “Bagaimana menurut penilaianmu akan latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya?”

Jeng-san-khek menyahut tawar, “Tidak lebih cuma dapat menggertak orang belaka, tiada manfaaatnya yang dapat diketengahkan!”

Hun Thian-hi menjadi melongo, pikirnya seumpapama Jeng-san-khek tidak memberi pujian tidak mungkin beliau mencercah dan menilai sedemikian rendah akan latihan Wi-thian-cit-ciat-sek yang dapat ia lakukan dengan sempurna sekali, sedemikian memalukan cuma dikatakan peranti menggertak orang, sudah tentu terketuk perasaannya, dengan terlongong ia pandang Jeng-san- khek, ingin ia mendapat teguran lebih lanjut. Agaknya Goan Tiong dan Goan Liang juga merasa terpukul oleh kritikan Jeng-san-khek, sombong dan takabur benar-benar kau ini, jurus pedang yang begitu dahsyat laksana gugur gunung koq dikatakan permainan untuk menggertak orang belaka, demikian batin mereka.

Ma Gwat-sian pun angkat kepala memandang ke arah Jeng-san-khek dengan penuh tanda tanya.

Demikian juga Poci punya perasaan yang sama. Pelan-pelan Jeng-san-khek pandang semua hadirin satu persatu lalu berhenti pada muka Ah-lam Cuncia. dilihatnya rona wajah Ah-lam tiada menunjukkan perubahan apa-apa, mimiknya tetap wajar, kelihatannya ia sudah tahu apa yang bakal diucapkan tadi. mau tak mau, ia merasa kagum dan memuji akan ketenangan orang.

Dari balik punggungnya ia turunkan sebilah pedang bersama serangkanya, lalu berkata pada Hun Thian-hi, “Mungkin kau tidak percaya, namun boleh dicoba, silahkan kau gunakan serulingmu menyerang sekuatmu kepadaku!”

Semula Thian-hi rada bimbang tapi terpikir olehnya, kalau orang berkata demikian tentu punya maksud-maksud tertentu dan hal ini tentu ada manfaatnya yang cukup bernilai, orang tentu punya pegangan sehingga tidak kuatir apa-apa, begitulah pelan-pelan ia angkat pula serulingnya, begitu tenaga disalurkan langsung ia menyerang kepada Jeng-san-khek.

Belum lagi getaran serulingnya yang berpindah tempat dalam jarak beberapa mili itu sebanyak tujuh kali, ujung pedang Jeng-san-khek sudah menutul tiba yang diarah adalah ketiak sebelah kanan, mulut Thian-hi bersuit panjang tubuhnya mencelat naik ke tengah udara, berbareng ia kembangkan lebih lanjut jurus Wi-thian-cit-ciat-sek yang hebat itu menungkrup ke atas batok kepala Jeng-san-khek.

Sebelum seruling Hun Thian-hi sempurna melancarkan serangannya, tiba-tiba Jeng-san-khek menarik balik pedangnya, keruan Hun Thian-hi melengak, tak duga olehnya bahwa tusukan pedang lawan cuma gertakan sambel belaka. Tapi serulingnya sudah kebacut melancarkan Wi- thian-cit-ciat-sek, tenaga sudah dikerahkan sampai puncaknya, maka terlihat Jing-san-khek lagi- lagi menggerakkan pedangnya, beruntun tiga macam gerakan ia melancarkan tiga ilmu pedang yang sangat dahsyat mengancing dan menutup jalan luncuran seruling lawan, seketika Hun Thian- hi mati kutu dan tidak mampu menyelesaikan permainan Wi-thian-ciat-seknya karena tenaga dalamnya seolah-olah membentur jalan buntu tak mampu dikerahkan pula.

Setelah berdiri tegak sekian lamanya ia menjublek di tempatnya, sebaliknya Jing-san-khek duduk tenang seperti tak terjadi apa-apa, pedang panjangnya melintang di atas pangkuannya, tanpa mengeluarkan banyak tenaga dan tanpa menggerakkan tubuhnya dengan cara yang sederhana dan mudah sekali ia sudah memecahkan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek yang ampuh, sirnalah perbawa kekuatannya yang teramat dahsyat itu.

Hun Thian-hi sendiri baru sekarang menyadari bahwa Wi-thian-cit-ciat-sek yang dilancarkan tadi masih terdapat lobang kelemahannya, cuma ia sendiri tidak tahu dimana letak kelemahannya sendiri, adalah sebaliknya Jing-san-khek dapat sekali serang mengarah titik kelemahannya sendiri untuk mematikan ilmu yang tiada taranya ini.

Goan Tiong dan Goan Liang juga terlongong, mereka sudah saksikan sendiri betapa dahsyat permainan Hun Thian-hi yang hebat tadi, namun akhirnya toh gagal juga ditengah jalan karena tidak mampu lagi melansir tenaga dalamnya untuk menyambung kekuatan pondasi yang diperlukan dalam melancarkan ilmu pedang yang tiada taranya ini.

Terdengar Jing-san-khek membuka suara, katanya kepada Hun Thian-hi, “Tahukah kau dimana letak kelemahan sendiri?” Hun Thian-hi tenggelam dalam pikirannya, tiba ia berlutut dan menyembah, serunya, “Harap Cianpwe suka memberi petunjuk!”

Sekilas Jing-san-khek melirik ke arah Ah-lam Cuncia lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Coba kutanya dulu, jurus apakah yang kau lancarkan tadi?”

Hun Thian-hi jadi bingung, entah apa maksud Jing-san-khek menanyakan hal ini, tapi ia menyahut, “Wanpwe menggunakan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek bukan?”

“Masa benar-benar?” balas tanya Jing-san-khek, “Benar-benarkah kau tadi melancarkan Wi- thian-cit-ciat-sek?”

Thian-hi tertegun, ia tidak tahu kemana juntrungan kata-kata Jing-san-khek.

Kata Jing-san-khek, “Dikala kau melancarkan permainanmu itu apakah tidak pernah terpikir olehmu jurus permainan apakah Wi-thian-cit-ciat-sek itu? Itulah jurus ilmu pedang, mana boleh kau gunakan dalam permainan serulingmu, maka daya kekuatannya paling sedikit menjadi berkurang lima puluh persen!”

Hun Thian-hi mendengarkan dengan cermat, akhirnya ia jadi sadar bahwa pedang dan seruling merupakan dua macam senjata yang berlainan bentuk dan berlainan pula guna dan manfaatnya, apalagi dalam penggunaan pada ilmu tingkat tinggi dari aliran Lwekeh yang teramat dalam, betapapun kurang mencocoki selera, terutama Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang yang tiada taranya, memang Wi-thian-cit-ciat-sek diciptakan khusus dalam permainan dengan senjata pedang.

Berkatalah Jing-san-khek lebih lanjut, “Bukan itu saja inti-sarinya, kaupun harus tahu, setiap kau melancarkan seranganmu tujuannya adalah menyerang musuh. Kalau kau lancarkan permainanmu secara serampangan dan tanpa dilandasi keyakinan yang besar lebih baik kau berpeluk tangan saja jangan bergerak mandah digorok lehermu. Bagi tokoh silat tingkat tinggi setiap melancarkan permainan tipu-tipu silatnya sekali tidak mengenai sasarannya, pasti harus pula memikirkan akibat dari kegagalan serangan itu, resikonya teramat besar sekali, ini merupakan pantangan paling besar dan lagi dikala kau lancarkan tipu-tipu silatmu kau harus dapat membuat suatu tekanan paling besar bagi musuhmu untuk merasakan bahwa seranganmu itu merupakan maut bagi jiwa musuhmu baru kau dihitung berhasil.”

Hun Thian-hi insaf bahwa segala kegagalannya selama ini karena permainan ilmu pedangnya tidak sempurna sesuai dengan dua persoalan yang jang ditunjuk tadi, sekarang baru ia sadari bahwa ia terlalu gegabah dalam melancarkan tipu silatnya, demikian juga latihannya memang belum cukup matang benar-benar.

Tiba-tiba Jing-san-khek angsurkan pedangnya panjang kepada Hun Thian-hi serta berkata, “Kulihat kau belum punya pedang, pedang ini sudah lama s-kali menyertai aku, sekarang kuberikan kepada kau, kuharap kau menyimpannya baik-baik!”

Dengan hidmat Thian-hi maju menerima serta menyatakan terima kasih pada Jing-san-khek.

Kata Jing-san-khek, “Sebetulnya pengetahuanku dalam ilmu silat juga sangat cetek, sebaliknya ilmu silatmu memang sudah mencapai titik kesempurnaannya, sudah tiba saatnya kau dapat mencapai puncak tertinggi yang cukup gemilang, tapi jurus permainanmu harus dapat kau mainkan dalam sekali gebrak permainan jangan dipetel2 dan jangan diberikan terlalu banyak variasi!” Maka terbayanglah oleh Thian-hi akan jurus-jurus permainan Wi-thian-cit-ciat-sek itu, jurus demi jurus Wi-thian-cit-ciat-sek ia renungkan secermat-cermatnya, akhirnya parasnya menjadi terang dan berseri kegirangan.

Setelah bicara sedemikian panjang lebar kelihatannya Jing-san-khek menjadi kelelahan, pelan- pelan ia pejamkan mata dan duduk diam pula.

Demikian juga sejak tadi Ah-lan Cuncia sudah pejamkan matanya, mereka duduk berhadapan pula, sambil menenteng pedangnya Thian-hi kembali ke tempat duduknya semula.

“Adakah urusan lain yang perlu kubantu?” agak lama kemudian Jeng-san-khek membuka kesunyian pula.

Ah-lam Cuncia tersenyum, katanya, “Apakah kau tahu tentang Tay-seng-ci-lou?”

Jing-san-khek berpaling ke arah Ma Gwat-sian dan gurunya, katanya, “Apakah kedua orang ini ahli waris dari Tay-seng-ci-lou?” — sejenak ia menggeleng kepala lalu sambungnya, “Sekali ini aku tidak mampu membantu, psnyaMt Liok-im-ciat-tin itu sudah tidak mungkin dapat diobati lagi!”

Tergetar badan Thian-hi. waktu Ah-lam menunjuk Ma Gwat-sian ia sudah tahu kemana maksud pembicaraan ini, ternyata Jing-san-khek sendiri juga tidak mampu menolong seketika ia menjadi terlongong hampa.

Dengan sorot mata yang penuh kejut dan ngeri Ma Gwat-sian angkat kepala, ia sendiri tahu bahwa badannya dihinggapi suatu penyakit, cuma tidak terpikir olehnya bahwa Liok-im-ciat-tin kalau itu benar-benar berarti jiwanija tinggal hidup ratusan hari lagi. Sungguh ia tidak pernah membayangkan bahwa kenyataan ternyata lebih kejam dan lebih mengerikan dari apa yang pernah dibayangkan.

Poci Berdiri juga hampir berjingkrak bangun saking kaget waktu mendengar Jing-san-khek membeber rahasia ini, soal penyakit itu Ma Gwat-sian sendiri tidak tahu mana boleh rahasia ini dibeber secara terus terang?

Sekejap itu Jing-san-khek juga merasakan akan keganjilan ini, ia menjadi menyesal dan haru. tapi ia sudah kebacut buka mulut betapapun tak mungkin ditarik kembali.

Ma Gwat-sian merasa sorot mata semua orang sedang tertuju kepada dirinya. sekonyong- konyong benaknya merasa kepedihan yang tak terbendung lagi, timbullah kekerasan jiwanya dalam menghadapi pukulan batin yang amat berat ini, pelan-pelan ia bangkit berdiri lalu keluar pintu.

Bercekat hati Hun Thian-hi, ia berpaling ke arah Poci lalu bergegas bangkit mengejar ke arah Ma Gwat-sian.

Ma Gwat-sian tahu bahwa Hun Thian-hi telah mengejar tiba. tapi ia tidak berpaling, kakinya melangkah terus dengan langkah halus dan cepat.

Ah-lam Cuncia pandang Jing-san-khek sambil menghela napas panjang, ia menunduk lalu geleng-geleng kepala lagi, sekecap pun ia tidak bersuara lagi.

Gwat-sian!” sepu Thian-hi lirih diibelakangnya. “Ada apa kau kemari?” tanya Ma Gwat-sian. Dalam lubuk hatinya yang dalam ia merasa bahwa pandangan semua orang memancarkan rasa iba dan kasihan terhadap nasibnya. tapi ia tidak mau menerima segala rasa kasihan atau sayang, termasuk pula Hun Thian-hi.

“Gwat-sian, jangan kau bersikap begitu terhadapku, bukankah hubungan kami baik-baik saja?

Kenapa, kau berubah sedemikian cepat?”

Badan Ma Gwat-sian gemetar, agaknya ia menahan perasaan hatinya, namun air mata tak tertahan lagi meleleh keluar, katanya, sesenggukan, “Kalau tidak ada urusan jangan kau ganggu, aku tidak suka ada orang mengganggu usikku sekarang!”

“Sudah sering dan banyak kali kau pernah bantu aku, sungguh aku sangat terima kasih dan sayang pada kau, apalagi dengan engkohmu akupun bersahabat baik, aku tahu kau akan paham akan diriku!”

Ma Gwat-sian tahu ucapan Thian-hi menyinggung tentang hubungannya dengan Ham Gwat, setelah diam sebentar ia berkata dingin, “Aku tidak perlu rasa ibamu, soal engkohku itu urusan kalian berdua tiada sangkut paut dengan aku. Kalau kau suka menuruti permintaanku, harap cepat kau tinggalkan aku seorang diri, aku hendak mencari tempat yang sunyi dan tenang untuk menenteramkan hatiku!”

Ma Gwat-sian sendiri tidak tahu kenapa ia bisa punya keyakinan untuk melawan segala kehendak orang lain, dalam kesimpulannya, betapapun baik dan besar cinta Hun Thian-hi terhadapnya, semua itu tidak lebih karena dilandasi rasa kasihan belaka, sebaliknya ia sendiri menyadari bahwa ia tidak perlu akan segala2nya itu.

“Gwat-sian!” berselang agak lama baru Hun Thian-hi berkata pula setelah berpikir secara masak, “Aku dapat memaklumi perasaammu sekarang, tapi tahukah kau betapa perasaanku pula? Bagaimana jalan pikiranku mengenai dirimu? Banyak sekali isi hatiku yang perlu kulimpahkan kepada kau!”

Ma Gwat-sian menunduk diam, hati kecilnya memang mengharap apa yang hendak dikatakan Hun Thiani-hi, apakah sebenar-benarnya isi hatinya!

“Marilah bicara diisebelah sana saja!” demikian ajak Hun Thian-hi, lalu mereka duduk di bawah sebuah pohon yang rindang.

Sekian lama mereka membungkam diri, agaknya Hun Thian-hi sedang memusatkan pikiran, akhirnya ia tertawa-tawa katanya, “Menurut hemadku bila seseorang ingin mengerjakan pekerjaan yang dia cita-citakan, mengucapkan kata-kata yang ingin dia limpahkan, meski apapun akibatnya sanubarinya pasti bakal menjadi terang dan tentram.”

Ma Gwat-sian menunduk diam, tangannya mempermainkan ujung bajunya.

Berhenti sebentar Thian-hi melanjutkan pula, “Kedatanganku di Thian-bi-kok adalah atas perintah Ka-yap Cuncia, semula aku diharuskan menyembunyikan diri, apalagi mengenai kepandaian ilmu silat harus dirahasiakan.” Sampai disini ia tertawa lalu sambungnya, “Hal ini kau sendiri juga sudah tahu! Sampai terakhir baru aku sadar kenapa Ka-yap Cuncia menyuruh aku sembunyi di Thian-bi-kok, kenapa pula melarang aku menggunakan ilmu silat! Tujuannya adalah supaya aku bisa melatih kesabaran dan tahan uji! Disana. waktu pertama kali aku melihat kau, seolah-olah seperti melihat bidadari dalam sekelebatan saja, namun cukup sekilas melihat bentuk tubuhmu saja kesannya teramat mendalam dilubuk hatiku. sampai sekarang masih segar dalam ingatanku betapa perasaan hatiku tatkala itu kau muncul secara tidak terduga?. memhuat aku rada takut dan was-was, sebab kukenal kau sebagai ahli waris dari Tay-seng-ci-lou, sehingga seolah-olah aku merasa berdosa besar, disamping ada pula perasaan aneh yang menyekam dalam sanubariKU, besar hasratku melihat paras wajahmu yang asli, sebetulnya siapakah kau adanya yang menjaj ahliwaris Tay-seng-ci-lou ini! Sebagai murid Lam-siau betapa besar hasratku untuk mengetahui rahasia ini.”

Alam pikiran Ma Gwat-sian terbawa kembali oleh uraian Hun Thian-hi pada masa pertemuan mereka pertama kali dulu, waktu itu. Ia-pun rada gelisah dan Kaget bahwa seseorang telah mengenal akan Tay-seng-ci-lou. Terasakan oleh Ma Gwat-sian perasaan apa yang terkandung dari ucapan Thian-hi dari nada kata-katanya ini, sejak mula memang Hun Thian-hi sudah sangat mengharap berkenalan dengan dirinya, dan ini adalah jamak.

“Akhirnya? aku bisa berhadapan muka dengan kau!” demikian sambung Hun Thian-hi. “Biasanya aku tidak pernah berbohong, sebenar-benarnyalah sekali pandang lantas hati kecilku tertarik amat kepadamu, tapi kau pun tahu bahwa lama sebelum pertemuan kita aku sudah bersua dengan Ham Gwat, aku tidak suka perasaan hatiku tercerai berai, besar harapanku supaya dia mempunyai masa depan yang cukup gemilang! Tatkala itu sungguh aku merasa hampa dan terombang ambing oleh keadaan. Ham Gwat adalah murid Bu-bing Loni, apalagi dia menyangka akulah musuh besar pembunuh ayahnya, kalau aku ingin mengikat persshabatan dengan dia adalah mustahil. Tahukah kau pernah aku ingin melimpahkan perasaan macam itu kepada kau. cuma soalnya kau sendiri tidak menghendaki hal ini!”

Ma Gwat-sian yang berdiam sejak tadi kelihatannya seperti terkejut. memang jatungnya berdebar-debar, ia tahu dan maklum akan perasaan Thian-hi pada waktu dulu, cuma ia tidak pernah menyangka bila seseorang terlebih dulu sudah mengetuk kalbunya. Dulu ia sangat bangga, pada pribadinya sendiri, anggapannya Thian-hi tidak akan mungkin bisa punya teman yang setaraf lebih unggul dari segala kepintaran dan kecerdikan otaknya, maka sikapnya waktu itu cuma acuh tak acuh tanpa ambil sedikitpun perhatian khusus dalam persoalan ini, tidak pernah ia memperhatikan atau melimpahkan pikirannya pada perasaan Hun Thian-hi ini. Masa2 itu ia sangat bangga dan terlalu jumawa menghadapi Hun Thian-hi, karena ia menganggap bahwa Hun Thian-hi akan menetap selama hidupnya di Thian-bi-kok, tapi setelah ia sadar bahwa kenyataan tidak seperti apa yang pernah ia bayangkan semula, segalanya sudah kebacut dan terlambat, tak mungkin dirubah pula.

Uraian Hun Thian-hi pelan-pelan dan cukup terang, perasaan Ma Gwat-sian semakin tertekan dan menyesal sekali, bilamana waktu itu ia tidak bersikap tahan harga, akan menghadapinya dengan sikap yang simpatik, sejak lama ia sudah menang dalam kompetisi yang jujur ini.

Tapi sekarang hidup jiwanya cuma tinggal ratusan hari lagi, kenapa aku berpikir muluk2 ataukah memang jalan yang kutempuh ini sebenar-benarnya tidak salah. pikir punya pikir ia jadi tertawa ewa, katanya, “Tiada, sesuatu yang perlu diperbincangkan pula, kejadian selanjutnya aku jelas mengetahui. demikian juga persoalanmu aku tahu juga, dalam berbagai bidang memang Ham Gwat tiici mempunyai ciri2 yang jauh lebih kuat dan menang dari aku, kau harus mencari dia!”

Thian-hi tidak menanggapi langsung ucapan Ma Gwat-sian ini, cuma ia menambahkan. “Apa yang kukatakan adalah limpahan dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak perlu main sembunyi dan menutup-nutupii hal ini, aku harap kau bisa memahami diriku!”

“Apakah Ham Gwat Cici yang menyuruhmu mengajak aku kembali?” tanya Ma Gwat-sian. Hun Thian-hi manggut-manggut sambil mengiakan.

“Kalau begitu baiklah aku ikut kau pulang!” — sekarang hatinya sudah longgar rada terhibur dan cukup puas. Betapapun Hun Thian-hi pernah mencurahkan perhatiannya terhadap diriku, sebelum ajal aku harus melaksanakan sesuatu demi kepentingan Hun Thian-hi dan ia pasti suka dan rela menerima uluran bantuan ini.

Kejut2 girang pula hati Hun Thian-hi, sungguh diluar dugaan bahwa Ma Gwat-sian suka kembali ikut dirinya, sesaat ia terlongong mengawasi paras Ma Gwat-sian nan elok rupawan, tak tahu apa pula yang harus dia ucapkan.

Dalam kejap lain mereka sudah masuk kembali ke dalam pendopo, tampak Jing-san-khek dan Ah-lam Cuncia. masih bersimpuh berhadapan. Setelah mereka duduk kembali, Jing-san-khek membuka mata serta berkata kepada Ah-lam Cuncia, “Kau tidak punya urusan lain, kini tiba giliranku minta bantuan kau!”

Sahut Ah-lam Cuncia sambil membuka mata, “Kalau urusanmu itu menyangkut paut diriku, sudah tentu aku suka membantu sekuat kemampuanku.”

“Sudah tertu sangat erat sangkut pautnya dengan kau!” ujar Jing-san-khek tersenyum. “Sebelum ajal Ceng-i Siancu sudah membakar seluruh benda-benda peninggalannya, cuma

kuda hijau itu yang masih ketinggalan, tapi sekarang sudah bukan menjadi milikku lagi, aku tidak

punya hak akan binatang itu,” demikian Ah-lam Cuncia memberi penjelasan lebih dulu.