Badik Buntung Bab 31

 
Bab 31

Semangat dan nyali Thian-hi semakin besar, dengan tak kalah dinginnya iapun balas menjengek, “Begitukah sangkamu? Yang terdahulu memang aku merasa diluar dugaan, tapi untuk selanjutnya justru kau sendirilah yang bakal merasa diluar dugaan!” Sin-jiu-mo-ih mengunjuk tawa sinisnya, tangannya mengulap ke belakang, dari dalam hutan pelan-pelan berjalan keluar seseorang, sekali pandang mencelos hati Thian-hi, yang muncul ini bukan lain adalah salah satu dari Si-gwa-sam-mo yaitu Kiu-yu-mo-lo.

Berkatalah sin-jiu-mo-ih kepada Kiu-yu-mo-lo, “Ajo bantu aku membekuk Hun Thian-hi itu!” — cepat Kiu-yu-mo-lo berkelekat maju terus menubruk ke arah Thian-hi.

Jang membuat Thian-hi terkejut adalah bahwa Kiu-yu-mo-lo sudah sadar dan tergugah imannya dari sesat kejalan terang, tapi sekarang muncul di tempat ini, pasti dia telah dikerjain oleh tabib sakti bertangan jail ini.

Begitu Kiu-yu-mo-lo melesat tiba Thian-hi lantas mencelat menyingkir, kelihatannya kepandaian Kiu-yu-mo-lo sudah jauh lebih maju, setelah terhindar segera ia berteriak kepada Lam In, “Berhenti dulu!”

Sin-jiu-mo-ih rada bimbang, tapi akhirnya ia berseru kepada Kiu-yu-mo-lo, “Tahan sebentar.

Coba dengar apa yang hendak dia ucapkan!”

Kata Hun Thian-hi, “Bahwasanya apakah tujuanmu coba bicara terus terang saja, mungkin persoalan ini masih bisa kita rundingkan, jikalau kau keras kepala ingin main kekerasan, aku bisa naik burung dewata tinggal pergi, apa yang mampu kau perbuat atas diriku?”

“Tujuan apa? Tujuanku adalah Jian lian-hok-ling itu, jikalau kau bisa menyerahkan sekarang aku tidak ambil panjang urusan ini. Kalau tidak meski kau bisa naik burung dewata, aku berani bertaruh kau tidak akan mampu lari dari tanganku.”

“Kalau begitu marilah kami coba-coba!” demikian tantang Thian-hi sambil tertawa tawar, lenyap suaranya tiba-tiba ia melejit naik kepunggung burung dewata, burung itu segera pentang sayap terbang keudara.

Sin-jiu-mo-ih terkekeh-kekeh dingin, mendadak sepuluh jarinya terkembang, puluhan ekor burung-burung kecil berbulu hijau seketika beterbangan, bau obat yang tebal segera beterbangan di tengah udara dari badan burung-burung hijau kecil itu, kontan terdengar burung dewata memekik panjang, sayapnya terpentang menggelepar tapi tak mampu terbang ke tengah udara, kelihatannya seperti berat sekali tak mampu lagi membawa badannya.

“Bagaimana, percaya tidak?” demikian jengek Sin-jiu-mo-ih sambil menyeringai dingin.

Bercekat hati Thian-hi, seruling jade seketika dilolos keluar badan pun cepat melambung tinggi terus diputar sambil meluncur ke atas, sekaligus ia serang puluhan burung-burung kecil berbulu hijau yang terbang teramat gesit, tujuannya hendak memukul roboh sekali hantam.

Tapi Sin-jiu-mo-ih ternyata tidak tinggal diam, lagi-lagi ia tertawa panjang, badannya melejit tinggi laksana seekor burung rajawali langsung menerjang ke arah Hun Thian-hi.

Sebagai tokoh kelas wahid pada jaman ini sudah tentu Thian-hi tidak gentar menghadapi segala permainan Sin-jiu-mo-ih, terdengar ia mendengus dingin, serulingnya ditukikkan miring turun ia lancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, segulung sinar putih kemilau segera menyongsong kedatangan

Sin-jiu-mo-ih

Berani menghadapi Hun Thian-hi yang terkenal hebat dan lihay ini, sudah tentu Sin-jiu-mo-ih Lam Im punya bekal yang cukup berkelebihan untuk mengatasi serangan lawan, tampak begitu ia meluncur tiba Hun Thian-hi sudah merobah jurus permainannya untuk menyerang dirinya, tangkas sekali ditengah udara sebelah kakinya menjejak sebelah kaki yang lain, seenteng asap badannya tiba-tiba melambung lebih tinggi lagi menghindari serangan musuh.

Sudah tentu Thian-hi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, jikalau sekarang ia tidak segera turun tangan, babak selanjutnya belum tentu bisa memperoleh kesempatan sebaik ini.

Tanpa ayal iapun layangkan tubuhnya menerjang lebih tinggi mengejar pula dengan rangsakan yang lebih dahsyat.

Tiba-tiba Sin-jiu mo-ih mengebutkan sepasang lengan bajunya yang panjang lebar, bubuk obat warna putih seketika beterbangan di tengah udara, dan yang lebih hebat seluruhnya menerjang ke arah kepala Thian-hi.

Sudah tentu bukan kepalang kejut Thian-hi melihat permainan licik musuh, cepat serulingnya digentakkan serta dibolang-balingkan di depan tubuhnya, syukur ia berhasil menghalau bubuk obat itu dengan kekuatan tenaga dalamnya, gebrak selanjutnya ia menjadi jeri mengejar pula, cepat ia lorotkan tubuhnya meluncur turun ke tanah. Meski ia cukup cekatan tak urung ada sebagian bubuk obat yang berhasil tersedot ke dalam hidungnya, kontan ia rasakkan dadanya sesak dan mulut menjadi mual hendak muntah2, yang lebih celaka lagi kepala terasa pusing dan pandangan berkunang-kunang.

Thian-hi insaf bahwa ia sudah menyedot racun, cepat ia loncat pula ke belakang keluar dari lingkupan bubuk-bubuk putih itu, terus berdiri tegak mengempos semangat dan tak berani sembarangan bergerak.

Terdengar Sin-jiu-mo-ih tertawa menggila ditengah taburan bubuk obatnya yang beracun, badannya segera menukik turun secepat burung elang menerkam anak ajam langsung menepuk ke batok kepala Hun Thian-hi dengan kedua telapak tangannya.

Meski Thian-hi cuma menyedot sedikit saja bubuk obat itu, tapi ia sendiri maklum bahwa ia sudah keracunan cukup berat, sebisanya ia mengerahkan serulingnya ke atas memunahkan rangsakan Sin-jiu-mo-ih Lam Im yang sangat berbahaya itu.

Sementara Sin-jiu-mo-ih sendiri juga teramat heran, bagaimana mungkin Hun Thian-hi tidak segera roboh mampus setelah menyedot obat beracunnya yang sangat jahat, setelah mencelat mundur sejenak ia berpikir lalu katanya dingin, “Tiada gunanya, meski kau pernah menelan buah ajaib, sama saja kau bakal mampus ditanganku!” — lalu ia terbahak-bahak lagi lebih menggila.

Dengan berhasilnya Thian-hi menghalau rangsakan Lam Im yang mematikan itu, kepala Thian- hi pun terasa semakin berat pikirannya mulai kabur, setiap perkataan Lam Im seakan-akan sebuah pukulan godam yang mengetok batok kepalanya sehingga kepalanya terasa hampir pecah.

Selesai berkata segera Lam Im mendesak maju pula kepada Thian-hi, ingin rasanya sekali hantam ia bikin lawan kecilnya ini mampus seketika, adalah setimpal hukuman ini bagi Thian-hi karena dialah yang telah menggagalkan usahanya dalam memperoleh Jian-lian-hok-ling itu.

Pandangan Thian-hi kepada Lam In yang berada di depannya semakin kabur, tahu dia bahwa sembilan bagian dari sepuluh jiwa raganya sudah tercengkeram di tangan Lam Im, bayangan beberapa raut wajah yang sangat dikenalnya berkelebatan dalam benaknya, terasa olehnya betapa penderitaan seseorang dalam mendekati ajalnya, banyak alasannya untuk memperjuangkan hidupnya karena banyak urusan yang belum selesai ditunaikan, dan lagi segan dan berat rasanya meninggal dunia fana yang membawa banyak kenangan bagi sanubarinya, suatu pemikiran yang cukup dapat menghibur hatinya cuma bila ia benar-benar mati, meski ia belum berhasil menunaikan tugasnya tapi tiada seorang pun dalam dunia ini yang bakal menanggung sengsara karena dirinya.

Dengan menyeringai sadis Lam Im menghampiri pula ke arah Thian-hi, didapatinya sekarang dengan pasti bahwa Hun Thian-hi sudah kehilangan daya pertahanan terhadap serangannya.

Sekonyong-konyong ditengah udara kumandang sebuah teriakan, “Lam Im nanti dulu!”

Sin-jiu-mo-ih terkejut, sekilas ia melengak, dalam jaman ini orang yang berani gembar-gembor memanggil namanya cuma beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari, sedang para sahabat karibnya yang aneh2 banyak yang sudah wafat, tak terpikir olehnya siapakah orang ini yang berani meneriakan namanya secara langsung, cepat ia menengadah melihat ke atas udara.

Thian-hi sendiri juga tersentak sadar mendengar teriakan ini, timbul setitik harapan dalam sanubarinya, dengan susah payah ia coba angkat kepala mendongak ke atas angkasa.

Seekor burung rajawali yang besar berbulu emas pelan-pelan menukik turun dan hinggap dimuka bumi, kiranya pindatang ini adalah murid Thay-si Lojin. keruan kejut dan girang pula hatinya. Thay-si lojin merupakan seorang tokoh yang berjiwa luhur dan berwatak aneh berkepandaian tinggi pula, maka muridnya itu pasti bukan sembarang tokoh pula, sekarang dia berani muncul dalam keadaan yang gawat ini. maka harapan hidup jiwanya semakin besar, dari teriakan atau panggilan tadi dapatlah diduga bahwa beliau pasti kenal akan Sin-jiu-mo-im Lam Im.

Begitu melihat siapa pendatang ini, tergetar benak Sui-jiu-mo-ih Lam Im, cepat ia memapak maju lalu menjura serta sapanya hormat, “Kiranya kau orang tua yang datang, Lam Im tidak tahu harap maaf bila kurang hormat!”

Melihat kelakuan orang semakin lega sanubari Thian-hi, tingkat kedudukan Thay-si Lojin di Bulim teramat tinggi dan cukup diagungkan tiada yang tidak mengindahkan ketenaran namanya, dilihat gelagatnya mereka saling berkenalan, maka tiada sesuatu pula yang perlu dikuatirkan dirinya.

Terdengar si orang tua berkata pada Lam Im sambil tertawa, “Selama berpisah apakah kau baik-baik saja?”

Lam Im menundukkan kepala tidak bersuara. Gurunya Sin-chiu-ih-sing adalah keponakan Thay- si Lojin, beliau banyak mendapat bimbingan dan asuhan sangat berharga dari tokoh agung ini, demikian juga dirinya tidak sedikit mendapat petunjuk dan bimbingan dari Thay-si Lojin.

Orang tua itu tertawa. ujarnya, “Ilmu ketabiban adalah untuk menolong jiwa orang, sekali2 pantang digunakan, untuk mencelakai jiwa manusia, ketahuilah hukum karma, sesuatu yang pernah kau perbuat kelak akan menimpa pula akan dirimu.”

Karena berlega hati pertahanan Thian-hi semakin kendor dan akhirnya tidak tertahan lagi, kepalanya semakin berat, tampak bayangan si orang tua, dan Sin-jiu-lo-jin sama semakin kabur dan beterbangan di depan matanya, beberapa kali ia melihat Sin-jiu-mo-ih membuka mulut hendak bicara tapi suaranya tidak terdengar, pelan-pelan kepalanya tertunduk dan kaki menjadi lemas pula setelah sempoyongan akhirnya ia meloso jatuh dan tidak ingat diri.

***

Entah berapa lama berselang, akhirnya Thian-hi pelan-pelan siuman dari pulasnya, tatkala itu cuaca sudah gelap gulita, bintang-bintang beterbaran dicakrawala yang cerah cemerlang, sesaat kemudian ia celingukan kian kemari, sekelilingnya kosong melompong tiada sesuatu pun yang menarik pandangan matanya.

Thian-hi menjadi keheranan, masih jelas dalam ingatannya ia pernah kena racun yang sangat jahat. kebetulan si orang tua datang menolong jiwanya, tapi apa yang telah terjadi selanjutnya ia tidak tahu.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri, terlihat serulingnya menggeletak di tanah sebelah kakinya, pelan-pelan dijemputnya senjatanya itu, tampak pada batang serulingnya itu tertempel secarik kertas, dimana tertulis, “Lam Im sudah kubawa pergi, lekas menyusul ke Ni-hay!”

Thian-hi tahu bahwa orang tua itulah yang meninggalkan pesan ini, sejenak ia terlongong, lalu menjelajahkan pandangannya kesekelilingnya. tampak burung dewata masih mendekam di bawah pohon sana, cepat ia menghampiri terus naik ke atas punggungnya dan terbang langsung menuju keselatan, ke Ni-hay.

Waktu terang tanah Thian-hi sudah sampai di Ni-hay dan turun di pesisir yang berpasir halus, ia periksa keadaan sekelilingnya, dalam hati ia bertanya-tanya siapakah sebenar-benarnya yang mengundangku kemari kenapa si orang tua juga menyuruhku kemari juga? Sekarang aku sudah tiba di tempat tujuan jelas tidak akan salah kaprah, kenapa takut-takut lagi, orang yang mengundang aku pasti akan muncul menemui aku sendiri.

Ia ulapkan tangannya menyuruh burung dewatanya menyingkir pergi, seorang diri ia beranjak dipesisir Ni-hay yang tak berujung pangkal.

Sekonyong-konyong terdengar sebuah suitan panjang dari sebuah kapel yang terdapat dipinggir sebelah atas yang dibangun di atas batu karang dipinggir laut sebelah depan. sana, Thian-hi menghentikan langkahnya, dalam waktu sepagi ini, masa mungkin ada orang berkunjung ke tempat ini. jelas pasti orang yang mengundang aku itulah yang memanggil diriku.

Dengan cermat Thian-hi mengawasi ke arah kapel di depan sana, sekarang ganti terdengar suara gelak tawa yang lantang, tapi arah suaranya sudah berganti tempat disetelah sana.

Thian-hi jadi mengerutkan kening, sabenar-benarnya orang macam apakah yang mengundang aku kemari? Demikian ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa begini humor dan suka berkelakar agaknya, entah bagaimana aku bersikap nanti setelah ketemu dengan beliau.

Tampak sebuah sosok bayangan abu-abu berkelebat keluar dari kapel itu lalu berlari-lari kencang menyelusuri pesisir yang berpasir.

Cepat Thian-hi melompat mengejar, dari kejauhan ia berteriak, “Cianpwe harap tunggu sebentar!”

Agaknya orang itu tidak peduli atau mungkin anggap tidak dengar akan teriakan Thian-hi, langkah kakinya malah dipercepat. Apa boleh buat terpaksa Thian-hi kerahkan tenaganya mengejar lebih pesat pula.

Bayangan abu-abu itu melesat secepat kjlat menuju ke arah sebuah kapel lain disebelah depan sana, sekali berkelebat tiba-tiba bayangannya lenyap dibailk kapel itu.

Thian-hi langsung mengejar masuk, setiba ia di dalam kapel didapati keadaan kosong melompong tiada jejak manusia, mau tak mau ia mengerutkan alis. hatinya menjadi gelisah dan cukup kesal, tapi agaknya orang sengaja main sembunyi2 dan kelakar padanya. Thian-hi jelajahkan pandangannya mengawasi kesegala pelosok kapel yang tidak begitu besar ini, tapi sungguh ia tidak habis mengerti kemana orang itu bisa sembunyi dengan mengelabui matanya, saking kewalahan ia berdiri mematung diam saja, sesaat kemudian ia baru bersuara, “Untuk keperluan apakah sebenar-benarnya Cianpwe mengundang Wanpwe kemari, kenapa tidak mau unjuk diri untuk bicara?”

Baru saja habis ia berkata, mendadak terlihat sesosok bayangan melesat terbang dari puncak kapel terus melesat keluar jauh sana. Cepat Thian-hi melesat keluar kapel belum jauh ia mengejar tiba-tiba tampak orang itu membalikkan tangan, tampak ia melemparkan segulung benda kecil warna putih melesat pesat ke arah mukanya.

Sekali raih Thian-hi berhasil menangkap, kiranya itulah segulung kertas, waktu ia angkat kepala lagi tampak bayangan itu sudah menghilang pula dibalik kapel di depan sana, cepat Thian-hi membuka lempitan kertas itu, dimana ada tertulis, “Bahwasanya kita tidak pernah mengundang kau kemari!”

Saking dongkol Thian-hi menjublek ditempatnya, sesaat ia sukar berkata-kata. Gerakkan tubuh orang itu sungguh teramat pesat, ia insyaf bahwa dirinya tidak akan lebih unggul dan berhasil menyandaknya, tapi apakah dia mudah dipermainkan demikian saja? Tidak! Betapapun aku harus mencari dan mengejar sampai orang itu muncul, bila orang mau unjukan diri segala urusan pasti bisa diselesaikan.

Karena pikirannya ini cepat Thian-hi melesat pula ke kapel disebelah depan sana. Baru saja kakinya bergerak tampak pula olehnya sebuah bayangan abu-abu yang lain melesat keluar dari kapel semula terbang pesat ke arah jurusan lain.

Thian-hi jadi melengak heran, pikirnya, “Kiranya bukan melulu seorang saja, tak heran dalam tulisan itu ia menyebut “kita”, naga-naganya sedikitnya mereka berjumlah dua orang!”

Ia tidak hiraukan bayangan yang bergerak belakang ini, langsung ia menyusul ke Kapel yang ada di sebelah depan sana. Baru saja kakinya tiba di ambang pintu secarik kertas melayang jatuh dari langit2 kapel, sekali raih Thian-hi mengambilnya, keadaan kapel kosong melompong tiada jejak manusia.

Gesit sekali Thian-hi jejakkan kakinya melompat mundur keluar kapel, waktu ia baca tulisan dalam kertas itu seketika darah bergolak di rongga dadanya, saking marah ia mematung ditempatnya sambil kertak gigi, kiranya tulisan itu berbunyi, “Bujung kau terlambat datang, aku tinggal pergi, jangan kau marah lho!”

Sesaat lamanya Thian-hi masih terlongong li tempatnya, ia pikir aku terhitung seorang tokoh kelas wahid juga, sungguh tidak nyana di tempat sejauh ini aku dipermainkan orang, sukar dipercaya ada orang yang mampu lolos dari pengamatan sepasang matanya yang jeli.

Akhirnya ia bersuara ke arah kapel di depannya itu, “Cianpwe harap jangan main sembunyi lagi…. aku tahu bahwa kau orang tua masih belum meninggalkan kapel ini, harap suka unjukkan diri untuk bicara dengan Wanpwe!”

Tidak terdengar penyahutan. Thian-hi berkata lagi, “Cianpwe jangan permainkan aku lagi, kepandaian silat Cianpwe sungguh membuatku kagum dan takluk benar-benar, silakan kalian keluar saja!”

Maka terdengarlah sebuah suara tawa dari dalam kapel itu, berkatalah sebuah suara serak yang bernada rendah, “Bujung macammu ini kiranya cerdik juga, tapi aku orang tua tidak gampang kena kau tipu!” Berdiri diluar kapel Thian-hi menyahut tertawa, “Akupun tidak akan kena dikelabuhi lagi, cukup aku berdiri diluar sini, kecuali kau melarikan diri. kalau tidak betapa pun kau akan muncul juga!”

Sesaat lamanya suasana menjadi sunyi, kemudian terdengar sebuah dengusan hidung, suara serak itu berkata pula, “Untuk apa kau bujung ini selalu menguntit aku? Kerjaan penting tidak kau selesaikan, sehari2an kau melakukan pekerjaan tak genah!”

Diam-diam Thian-hi lantas membatin, “Entah siapa yang bekerja gegabah, usiamu sudah sedemikian lanjut, tapi bersikap edan2an tak tahu adat. sekarang kau menegur aku malah” — dalam hati ia membatin begini, tapi mulutnya berkata lain, “Jadi maksud Cianpwe supaya aku lekas-lekas meninggalkan tempat ini?”

“Benar-benar!” suara serak itu menyahut, “usiamu masih semuda itu tapi sehari2an mengejar2 perempuan, tidak tahu malu, hayo lekas pulang!”

Thian-hi jadi menyengir, ia garuk2 kepalanya yang tidak gatal, teguran orang tidak masuk alasan, sejenak ia berpikir lalu serunya, “Kalau begitu baiklah Wanpwe segera pulang, harap Cianpwe suka capaikan diri merawat mereka berdua.” — ia siap melangkah pergi.

“Hai nanti dulu!” suara serak itu berteriak tinggi….

Sebenar-benarnya Thian-hi cuma pura-pura belaka, mendengar teriakan itu, ia putar balik lagi, katanya, “Ada urusan apa lagi? Cianpwe?”

Kedengarannya orang itu menjadi gugup, katanya, “Masa mau tinggal pergi begitu saja!” “Habis apa yang harus Wanpwe lakukan?” demikian sahut Thian-hi, “Cianpwe tidak mau unjuk

diri untuk bicara, terpaksa tinggal pergi saja, urusan boleh kita bicarakan lagi lain kesempatan!”

Orang itu mendengus, katanya, “Jangan kau gunakan alasan itu untuk main ancam terhadap aku ya!”

“Sedikitpun Wanpwe tidak berpikiran begitu,” demikian Thian-hi berdiplomasi sambil tertawa, “soalnya aku menurut kehendak Cianpwe supaya aku lekas pulang bukan!”

Baru saja ia selesai bicara mendadak didengarnya kesiur lambaian baju dibelakangnya, luncurannya sedemikian pesat jarang ditemui selama ini. Sebat sekali ia berkelebat menyingkir. Tahu-tahu seorang tua yang berbadan kurus kecil sudah muncul dihadapannya.

Mulut orang tua kurus kecil ini mengeluarkan suara aneh, lalu berkata ke arah kapel, “Lotoa, bocah ini rada aneh sedikit, pukulanku kiranya berhasil dihindari olehnya.”

Orang didalam. kapel itu mendengus, dilain kejap tampak sesosok bayangan melayang turun bentuk orang tua ini hampir sama dengan orang tua yang terdahulu, cuma raut mukanya tampak sedikit lebih gemuk dan lebih tua. Sejenak ia mengawasi Thian-hi lalu ia tanya, “Naga-naganya kau memang punya banyak kepandaian tulen, hari ini akan kupaksa kau membojong seluruh kepintaranmu itu.”

Mendadak Thian-hi ingat secara reflek tadi ia sudah gunakan langkah Ling-coa-pou untuk meluputkan diri dari sergapan si orang tua kurus kecil ini, tidak perlu dibuat heran bila mereka menjadi takjup dan ingin menjajal kepandaiannya. Cepat ia menjura serta berkata, “Wanpwe Hun Thian-hi, harap tanya nama mulia Cianpwe berdua!” Orang tua yang rada gemuk menjadi kurang sabar, katanya, “Aku bernama Goan Tiong, dia bernama Goan Liang, orang menyebut kami Ni-hay-siang-kiam, sudah cukup bukan, mari sekarang kau boleh unjuk sejurus dua gebrak kepandaianmu.”

Dari samping Goan Liang ikut menyela, “Toako main sungkan apa segala? Makin sungkan kepalanya semakin besar, justru aku tidak percaya kepandaian sejati apa yang dia miliki, biar kujajal dia lagi betapa tinggi kepandaian bocah keparat ini.”

Sembari berkata kakinya sudah melangkah ke depan, keruan Thian-hi merasa kaget, melihat gerak gerik kedua orang tua yang begitu gesit dan tangkas tadi, Thian-hi tahu bahwa dirinya bukan tandingan mereka berdua, cepat ia melangkah mundur serta berteriak, “Nanti dulu!”

Goan Liang menghentikan kakinya, tanyanya, “Masih mau ngobrol apa lagi kau?”

Melihat sikap kasar orang Thian-hi jadi gemas dan dongkol, tapi apa boleh buat, sejenak ia merandek lalu katanya, “Cara ini kurang adil! Kalian menindas bocah kecil, berdua main keroyok lagi, apakah kalian tidak takut ditertawakan orang, Ni-hay-siang-kiam yang kenamaan kok mengeroyok bocah kecil?” ~sebenar-benarnyalah baru hari ini ia pertama kali mendengar nama Ni-hay-siang-kiam ini.

Cepat Goan Tiong mencegah Goan Liang, “Loji jangan main kasar. Ucapan bujung ini memang benar-benar, masa begitu gampang kau hendak menjatuhkan pamor kita selama puluhan tahun?”

Terpaksa Goan Liang mundur pula ke tempatnya semula.

Kata Hun Thian-hi, “Cianpwe berdua mengundang aku kemari entah ada keperluan apa?” “Konon kabarnya kau bakal menjadi jagoan nomor satu di seluruh kolong langit ini, apalagi

sebagai ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, maka kuundang kau kemari untuk belajar kenal!”

“Kalau hanya untuk keperluan itu, tidak perlulah dilanjutkan persoalan ini, bagaimana ilmu silatku Cianpwe berdua tadi sudah menyaksikan, terpaut terlalu jauh dibanding kalian berdua, kabar angin kenapa harus dipercaya!”

Goan Tiong menggeleng kepala, “Belum tentu begitu, bukan mustahil hal itu bisa kenyataan.”

Thian-hi tertawa besar, “Wah, aku terlalu diagulkan, tapi tokoh-tokoh silat yang berkepandaian tinggi dalam dunia ini jumlahnya laksana bintang-bintang yang tersebar, di cakrawala, siapa yang berani mengagulkan diri sebagai jago nomor satu?”

Goan Tiong berdua melengak, sesaat mulut mereka terkancing.

Kata Goan Liang, “Tapi toh pasti ada yang nomor satu bukan, apakah kau sendiri tidak berani mengakui?”

Thian-hi menggeleng kepala, ujarnya, “Soal ini tidak bisa dibicarakan secara khusus, ilmu teramat luas dan tergantung dari orang-orang yang mempelajarinya, seperti pepatah ada berkata ada gunung yang lebih tinggi dari gunung yang lain, orang pintar ada pula orang lain yang melebihi kepintarannya, sulit untuk menentukan nomor satu itu dengan suatu kepastian dalam teori belaka”

“Jite.” sela Goan Tiong, “ucapannya memang benar-benar, sudah jangan main debat lagi, yang terang kami akan menjajal sampai dimana tingkat kepandaiannya, kenapa melantur segala” “Ya benar-benar, kenapa aku menjadi linglung!” ujar Goan Liang tertawa geli sendiri.

Maka berkatalah Hun Thian-hi, “Kalau Cianpwe berdua sudah berketetapan, akupun tidak bisa mengelak lagi, cuma bila bertarung secara keras lawan keras bukan mustahil salah satu pihak bisa terluka dan hal ini akan merugikan nama Cianpwe berdua, maka kuharap Cianpwe berdua suka mencari cara lain yang lebih sempurna!”

Goan Tiong bergelak-gelak, serunya, “Kau hendak main gertak untuk mempersukar kami berdua? Betapa pun kami tidak akan dapat kau kelabui, bukankah tadi kau katakan pelajaran ilmu tergantung bakat dan ketekunan orang yang mempelajarinya? Kepandaian apa yang paling kau banggakan silakan pamor pada kami, bila kami berdua memang tidak ungkulan, kami rela mengaku kalah, cara ini kukira cukup menguntungkan bagi kau!”

Thian-hi tertawa-ewa, ujarnya, “Tapi tiada sesuatu pelajaran yang boleh kubanggakan!”

Goan Tiong menarik muka, katanya bersungut, “Jangan kau pungkir lagi, kalau tidak aku tidak akan main sungkan-sungkan lagi pada kau!”

Apa boleh buat akhirnya Thian-hi berkata, “Bicara mengenai ilmu kebanggaanku, sebenar- benarnyalah tiada satupun yang kumiliki, tapi Cianpwe mendesakku begini rupa, terpaksa kuanggap segala pelajaran yang kumiliki itu sebagai ilmu bekalku, lalu bagaimana baiknya?”

“Sombong benar-benar kau,” semprot Goan Liang, “Cobalah nanti kau pamer segala kemampuanku itu, apakah kami berdua mampu melayani kau. Bagaimana cukup puas belum!”

Hun Thian-hi tertawa lebar, memang kesanalah tujuannya semula, untuk gebrak2 yang akan datang betapapun ia pantang menyerah, jika sampai kalah, bila Ni-hay-siang-kiam dua bangkotan aneh ini mengajukan persoalan2 pelit, pasti dirinya menjadi semakin runyam.

Sejenak Thian-hi berpikir lalu ia berkata, “Guruku diberi julukan Seruling selatan, seperti apa yang kalian lihat aku pun menggunakan seruling sebagai senjata, maka aku lebih peka dalam pengetahuanku mengenai nada atau ritme musik, sekarang cobalah kalian dengarkan irama lagu serulingku ini!”

Goan Tiong tertawa besar. serunya, “Sejak lama kudengar huhwa Seruling selatan punya kepandaian khusus menggunakan irama serulingnya untuk menundukkan musuhnya, dengan irama seruling menutuk jalan darah sangat kenamaan di dunia persilatan. fsungguh tak duga hari ini kami memperoleh kesempatan untuk menikmati kepandaian yang tiada taranya ini!”

Thian-hi tertawa-tawa, kesepuluh jarinya sudah mulai bergerak pada posisi masing-masing di atas lobang batang seruling itu, pelan-pelan ia lekatkan di depan bibirnya, dengan cermat ia pandang kedua orang di depannya.

“Silakan tiup saja,” demikian ujar Goan Tiong dan Goan Liang bersama, “Jangan kau kuatir kami tidak akan kuat bertahan.”

Sebetulnya Thian-hi punya perhitungan atau rencananya sendiri, melihat sikap orang ia maklum bahwa kedua orang ini tentu sudah menelan Jian-lian-hok-ling itu, kalau tidak masa berani mereka begitu takabur, agaknya untuk menang dan mengalahkan kedua musuhnya ini teramat sulit sekali. Tapi bagaimana juga ia harus mencobanya. mengandal lwekang betapapun aku tidak rela kena dikalahkan tanpa diuji sebelumnya meski aku harus dikeroyok dua.

Dalam kejap lain irama serulingnya sudah mengembang ditengah udara, suaranya lembut rendah dan merdu sekali irama musik ini kedengaran kalem tapi sebenar-benarnya sekaligus Thian-hi sudah melagukan Ngo-im-ho-bing (paduan lima nada), sedemikian merdu dan mengasjikkan sekali mengili hati seperti aliran sungai mengalir gemercik lembut, pendengarnya pasti teralun ke dalam alam inilah yang mempesonakan.

Gioan Tiong dan Goan Liang berdua diam-diam menjadi heran, sebagai murid Lam-siau adalah jamak bila Thian-hi punya kepandaian yang tinggi dan mendalam dalam ilmu serulingnya ini dan kepandaian ini tentu juga merupakan ilmu khusus yang dipelajarinya sejak kecil tapi kenapa rasanya begini longgar dan cetek saja pengetahuannya dalam bidang ilmu musik ini. Tapi meski punya pikiran memandang ringan betapapun mereka selalu siap waspada, soalnya ini baru merupakan gebrak permulaan.

Irama seruling masih mengembang terus dan nadanya semakin meninggi lalu mengalun turun pula menyelusuri dataran rendah melebar kesegala penjuru, sekelilingnya seolah-olah sudah diramaikan oleh kicauan irama berbagai bunyi kicauan burung, baru sekarang Goan Tiong dan Goan Liang mulai terkejut dan terkesiap hanya kiranya Thian-hi memang cukup cerdik memancing pendengarannya terjebak ke dalam khayalan pikirannya, sedikit kurang hati-hati celakalah mereka, cepat mereka mulai mengerahkan hawa murni dan tenaga untuk bertahan.

Tanpa disadari oleh mereka bahwa irama lagu yang dikerahkan dengan kekuatan hawa murni yang hebat itu bahwasanya sudah merasuk ke dalam hatinya, begitu mereka mengerahkan tenaga untuk melawan, kontan irama seruling lantas menerjang seperti gelombang laut yang mendampar batu-batu karang tidak berkeputusan. nada lagunya juga semakin tinggi dan cepat, suara kicauan burung yang mengasjikkan dan bau kembang yang menyejukkan badan telah lenyap, kini berganti auman binatang buas yang saling berpaduan dengan rupa rendah, laksana ratusan kuda berderap langkah dengan lari kencang.

Lambat laun Goan Tiong dan Goan Liang mengunjuk kepayahan, jidatnya basah oleh keringat, betapa kuat mereka mengerahkan pertahanan namun karena dasarnya semula kurang kuat dan keterjang pula dari luar dan dalam. sehingga pertahanan yang terjepit itu lama kelamaan semakin kendor dan hampir bobol sama sekali, jelas mereka sudah tidak kuat lagi mempertahankan diri….

Biji mata Thian-hi berkilat-kilat, tiba-tiba bibirnya bergerak irama serulingnya melambung tinggi, seolah-olah membawa semangat kedua lawannya naik ke atas awan mengembang ditengah angkasa lalu dibantingnya jatuh pula ke tanah, begitulah berulang kali diombang ambingkan turun naik seperti sebuah sampan kecil dihempas naik turunkan dalam gelombang samudra yang mengamuk.

Goan Tiong sudah tak kuasa lagi mengendalikan diri, cepat ia membuka mulut lebar-lebar dan menggembor sekeras-kerasnya, demikian juga Goan Liang tidak mau ketinggalan, mulutnya pun mengeluarkan pekik tinggi yang nyaring, kedua suara mereka berpadu sejajar melawan irama seruling yang sedang mengamuk seperti angin puyuh ditengah padang pasir. Begitu dua macam suara saling bentrok, irama seruling Thian-hi rada kena terdesak, keruan Thian-hi kaget, tahu bahwa bila dilanjutkan cuma membuang-buang tenaga dan belum tentu bisa menang, ia turunkan serulingnya dan seketika lenyaplah irama lagu yang mengamuk dan memistik hati itu.

Sambil membasut keringat di jidatnya Goan Tiong tertawa dibuat-buat, katanya, “Gebrakan ini jelas kau tidak mampu mengalahkan kami, coba kau masih punya kepandaian apa lagi, silakan boyong keluar!”

Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Irama serulingku tak dapat menang, kepandaian lain apa lagi yang aku miliki?” “Tidak menjadi soal? bukankah kau tadi mengatakan setiap ilmu yang kau bekali merupakan kepandaian yang sama-sama kau banggakan?” demikian olok Goan Tiong. “Cobalah belum tentu kau bakal kalah.”

Terpikir oleh Thian-hi suatu cara untuk memperoleh kemenangan, namun dalam mulut ia masih merendah, katanya, “Mengandal kepandaian Wanpwe yang masih begini cetlk mana berani aku bertanding lebih lanjut dengan Cianpwe berdiua?”

Goan Tiong menjadi senang, katanya tertawa lebar, “Kenapa main sungkan-sungkan, bukankah kau ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek? Cobalah dengan ilmu ini? Konon ilmu ini cuma merupakan sejurus tunggal yang teramat lihay dikalangan persilatan, hayo beri kesempetan pada kami berdua untuk menyaksikannya.”

“Adanya perintah dari orang yang lebih tua, aku yang lebih muda harus patuh dan menurut saja. sebelumnyalah meski Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan jurus tunggal yang tiada taranya di seluruh kolong langit ini, dalam pembawaan Wanpwe yang kurang becus ini, pasti bukan apa-apa bagi Cianpwe berdua.”-demikian Thian-hi masih merendah diri.

Karena diagul2kan Goan Tiong dan Goan Liang menjadi kesenangan. serunya tertawa besar, “Masa ija. marilah dicoba-coba!”

Pelan-pelan Thian-hi mengacungkan serulingnya. serunya, “Awas Cianpwe! Wanpwe akan mulai.”

“Dengan tertawa Goan Tiong dan Goan Liang membuka tangan, maksudnya supaya Thian-hi mulai saja tak usah kuatir pada mereka, terang sikap mereka ini memandang rendah.

Mereka tetap bertangan kosong, diam-diam Thian-hi mengupat dalam hati. karena jelas sekali orang terlalu memancang rendah pada Wi-thian-cit-ciat-sek, hal ini malah membuatnya kuatir, tak enak rasanya mengerahkan seluruh kemampuannya. Tapi dalam keadaan terdesak begini mau tak mau ia harus melancarkan jurus-jurus ilmunya itu, maka begitu jejakkan kakinya badannya melambung ke tengah udara dan berputar setehgah lingkaran, serulingnya menutul kesamping terus ditukikkan kebawah, itulah jurus Wi-thian-cit-ciat-sek salah satu dari kembangan variasinya, segulung tenaga dahsyat kontan menerjang ke arah Goan Tiong berdua.

Goan Tiong dan Goan Liang berdiri jajar, serempak menekuk dengkul, gerak gerik mereka serasi benar-benar, sama-sama mendorong kedua telapak tangan ke depan menyongsong rangsakan Thian-hi.

Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan jurus tunggal yang tiada taranya dikolong langit, masa dapat digempur dan dipunahkan begitu gampang oleh Ni-hay-siang-kiam cukup dengan songsongan empat pukulan telapak tangan belaka, tujuh jalur tenaga dahsyat berputar dan saling silang bergantian berputar menyampok balik gelombang pukulan mereka berdua, malah jauh berkelebihan tenaga yang mendampar itu terus menerpa ke arah mereka berdua.

Seketika dada kedua orang seperti dipukul godam, saking kejutnya serempak mereka melompat mundur, begitu berdiri tegak pula tangan masing-masing sudah menghunus pedang.

Sebenar-benarnia Thian-hi sendiri tidak melancarkan serangannya sepenuh hati, apalagi sikap kedua lawannya terlalu memandang enteng, apa boleh buat terpaksa ia kendorkan tenaga serangannya, tapi saat mana Ni-hay-siang-Kiam sudah keburu melolos pedang, cuma Thian-hi sudah menarik serangan lebih lanjut maka ia batalkan rangsakan selanjutnya. Goan liong dan Goan Liang saling pandang, kata Goan Tiong, “Kenapa kau mundur dan batalkan seranganmu?”

Hun Thian-hi tertawa, sahutnya, “Tenaga Wanpwe kurang kuat tak kuasa meneruskan lagi.” Ia tahu bila ia mengatakan dirinya sudah menang kedua lawannya ini pasti tidak terima,

betapapun harus dicoba sekali lagi, kini mereka sudah menghunus pedang, ada lebih baik aku

mundur setapak, siapa tahu dengan caraku ini aku bakal memperoleh keuntungan.

Dengan memicingkan mata Goan Liang mengawasi Hun Thian-hi, katanya, “Tapi jikalau kau kalah. jangan harap kami suka menyerahkan kedua orang itu kepada kau!”

Hun Thian-hi tertawa, katanya, “Sudah tentu aku maklum. tapi tidak mudah aku mengambil kemenangan!”

Goan Tiong dan Goan Liang sama adalah tokoh-tokoh silat kelas tinggi. sudah tentu mereka tahu kemana jutrungan ucapan Thian-hi. soalnya mereka sudah kebiasaan bersikap sombong dan takabur, mana bisa mereka mau mandah menyerah?

“Bagaimana?” kata Goan Tiong, “Silakan kau coba sekali lagi!”

Hun Thian-hi sudah tahu bahwa kedua musuhnya pasti akan mendesaknya, ia mandah tertawa ewa, sahutnya, “Tak perlulah, coba-coba juga sama saja, bila Cianpwe berdua suka memberi kelonggaran Wanpwe punya suatu cara, tapi entahlah Cianpwe berdua apa setuju?”

“Cobalah kau sebutkan caramu itu!” seru Goan Tiong berdua.

Hun Thian-hi girang, bila dua lawannya ini setuju kemenangan jelas bakal dicapainya, betapapun usul yang akan diajukan ini sulit untuk ditampik oleh kedua lawan tuanya ini. Maka ia menambahkan, “Tapi usulku ini agaknya rada kurang menguntungkan bagi Cianpwe berdua.”

Goan Tiong dan Goan Liang beradu pandang, terpaksa mereka kertak gigi, sahutnya, “Baiklah silakan kau sebutkan, sebetulnya cara baik apa?”

Hun Thian-hi berpikir sebentar, ia berpendapat mengandal ilmu silat ia tidak mampu mengalahkan kedua lawannya, tapi ia harus mencari suatu akal untuk menundukkan mereka, akhirnya ia berkata, “Aku ada beberapa persoalan yang sulit dipecahkan. entah apakah Cianpwe berdua suka memberi petunjuk?”

Lagi-lagi Goan Tiong berdua beradu pandang, kata Goan Tiong, “Maksudmu kau hendak menguji kami dengan persoalanmu itu untuk menentukan menang kalah?”’

“Bukan begitu maksudku seluruhnya, cuma aku ingin tahu beberapa persoalan, dengan pengalaman dan pengetahuan Cianpwe berdua yang luas. tentu kalian dapat memberi penjelasan padaku!”

Alis Goan Tiong bertaut, ia merenung sekian lamanya, tidak bisa tidak ia harus menyetujui permohonan Thian-hi ini. cuma persoalan apakah yang hendak Thian-hi tanyakan? Ini sulit diketahui, bila perlu nanti setelah kami menang secara kebesaran jiwa kami serahkan Ma Gwat- sian dan gurunya kepada Hun Thian-hi, betapapun aku tidak boleh kalah. Sejenak ia berpikir apa boleh buat terpaksa ia manggut-manggut, katanya, “Baik, tapi harus ada batasnya, kau hanya boleh mengajukan tiga pertanyaan!” Thian-hi manggut-manggut, dengan mengajukan cara ini sudah tentu dia sudah punya persiapan, setelah berpikir sebentar ia lantas berkata, “Ingin aku tahu cara bagaimana Ma Gwat- sian diantarkan masuk dan cara bagaimana pula keluar dari lembah itu?”

Goan Tiong menyengir girang, sejak tadi hatinya kebat-kebit, entah pertanyaan apa yang hendak diajukan oleh Hun Thian-hi? Sekarang mendengar pertanyaan yang sepele ini ia menjadi geli dan berlega hati, bahwasanya mereka paling jelas mengenai hal ini, kalau tidak masa begitu gampang mereka bisa mendapatkan Jian-lian-hok-ling itu?

“Masa hal yang sepele itu tidak dimengerti! Dimana terdapat Jian-lian-kok-ling itu disekitarnya pasti terdapat pula Laba-laba darah, laba-laba darah ini setiap setengah bulan pasti tertidur.

Tatkala Cian-lian-hok-ling itu hampir matang baunya yang harum tersuar luas dan memabukkan, kebetulan pula laba-laba merah itu sedang tertidur, kesempatan inilah digunakan Ang-hwat untuk memasukan Ma Gwat-sian berdua kesana, begitulah kejadiannya! Soal cara bagaimana kami menolong mereka keluar, hal ini jauh lebih gampang lagi, kami turun dari belakang gunung, bukanlah seperti menjinjing kantong saja kami mengeluarkan mereka?”’

Thian-hi manggut-manggut sambil tersenyum, tanyanya pula, “Masih ada sebuah pertanyaan, yaitu mengenai kuda hijau, apakah Cianpwe berdua tahu soal ini?”

Goan Tiong berdua beradu pandang lagi, tampak rona wajah mereka rada berubah, kata Goan Tiong pada Hun Thian-hi, “Apa maksudmu mengajukan pertanyaan ini kepada kami?”

Rada kaget juga Thian-hi mendapat pertanyaan balasan ini, sangkanya kedua orang ini pasti tidak tahu, dikolong langit ini masa benar-benar ada kuda warna hijau, pasti obrolan Siau-bin-mo- im saja sebelum ajal, atau mungkin Jing-san-khek itu sengaja hendak mempersukar Siau-bin-mo- im, seumpama memang benar-benar ada kejadian ini, tidak mungkin sekali ia ajukan pertanyaannya lantas tepat pada orang yang berkepentingan.

Dari perubahan air muka kedua orang ini agaknya mereka pasti tahu seluk beluk kuda hijau itu, malah persoalan ini agaknya cukup penting, kalau tidak masa mereka kelihatan bersikap waspada dan hati-hati.

Dalam hati ia terkejut namun lahirnya tetap tenang-tenang saja, katanya pula sambil tertawa, “Aku cuma dengar dikolong langit ini ada seekor kuda hijau, kukira Cianpwe pasti tahu akan kebenar-benaran ini maka kuajukan pertanyaan ini, sebenar-benarnya aku tiada punya maksud apa-apa!”

Goan Tiong menarik muka, katanya dengan sungguh-sungguh, “Apakah benar-benar dan dapat dipercaya ucapanmu ini?”

Thian-hi tidak tahu apa hubungan atau sangkut paut kedua orang ini dengan Kuda hijau itu, maka iapun tidak berani memberitahu apa yang dia ketahui. dari cerita Siau-bin-mo-im, katanya, “Berani sumpah bahwa aku memang tidak tahu bila Cianpwe berdua ada mengetahui soal kuda hijau itu!”

“Urusan ini bukan persoalan sembarangan, dikolong langit cuma beberapa orang saja yang tahu perihal kuda hijau itu, dari mana kau kisa tahu, lekas kau jelaskan padaku.”

Thian-hi menjadi ragu-ragu, entah mengapa begitu penting dan kelihatannya sangat gawat perihal kuda hijau itu, sebetulnya akulah yang mengajukan persoalan ini kepada mereka, sekarang berbalik menjadi aku yang diperas keteranganku, serta merta ia menjadi kecewa dan menyesal, cuma mencari kesulitan sendiri saja. Sudah tentu iapun segan menjelaskan keseluruhannya, katanya, “Bagaimana keadaan sesungguhnya aku tidak tahu jelas, aku tidak bisa sembarangan omong!”

Goan Tiong mendengus, sebaliknya Goan Liang lantas bertanya, “Kalau begitu, percakapanmu ini bisa disimpulkan bahwa persoalan ini menjadi tidak begitu penting menurut penilaianmu semula!”

Hun Tliian-hi manggut-manggut, katanya, “Boleh dikata begitulah, tak tahu aku kenapa Cianpwe berdua kelihatannya menjadi tegang, sudah tentu aku menjadi segan untuk meneruskan persoalan ini!”

Tanya Goan Tiong lagi, “Persoalan lain aku tidak peduli, tapi bila kau mendapatkan kuda hijau itu. cara bagaimana kau hendak mengurusnya?”

Thian-hi harus hati-hati, ia tahu bahwa Goan Tiong berdua sedang menyelidik dan mengorek isi hatinya, nanti akan diketahui olehnya dimana pendirian kedua belah pihak. ia harus berpikir lebih cermat perlukah ia menjelaskan, bila ia terus terang bukan mustahil mereka akan bersikap bermusuhan terhadap dirinya,

kalau hal ini sampai terjadi bukan saja perihal kuda hijau itu tidak berhasil dikorek, Ma Gwat- sian dan gurunya pun tidak akan dapat diketemukan atau mungkin pula tidak akan diserahkan pada dirinya.

Thian-hi harus termenung sekian lamanya, Goan Tiong menjadi tidak sabar, desaknya, “Mau tidak kau menjelaskan terserah pada kau, tapi bila tidak kau jelaskan Ma Gwat-sian berdua tidak akan kami serahkan kepada kau!” — berhenti sebentar ia melirik memberi isyarat kepada Goan Liang lalu sambungnya, “CobaJah kau pikir lebih matang, tiga hari lagi kau boleh datang kemari!” lalu mereka bergerak hendak tinggal pergi.

“Hai, nanti dulu!” teriak Thian-hi membantu maju.

“Apa sekarang juga kau hendak bikin penyelesaian? Begitupun baik!”

Kata Hun Thian-hi, “Ketahuilah bahwa Ma Gwat-sian dan gurunya pernah menolong jiwaku, mereka tidak punya sangkut-paut dengan persoalan ini, boleh kujelaskan cuma setelah kuterangkan, Cianpwe berdua harus berjanji mau melepas mereka keluar!”

Goan Tiong berpikir sebentar lalu manggut-manggut ujarnya, “Begitupun baiklah!”

Pelan-pelan Hun Thian-hi menghela napas, terasa olehnya bahwa urusan tidak bakal bisa lancar menurut dugaannya semula, maka katanya, “Soal kuda hijau itu, aku mendapat tahu dari penuturan Siau-bin-mo-im!”

Goan Tiong menggeram sambil membanting kaki dengusnya, “Siau-bin-mo-im?”

Thian-hi menjadi kurang senang melihat sikap orang yang kurang simpatik, kenapa pula dengan Siau-bin-mo-im? Kenapa pula kelihatannya kau memandang rendah dan menghina pribadinya?

“Beliau teringat akan perihal kuda hijau itu,” demikian Thian-hi melanjutkan, “sebelum ajal beliau ada pesan padaku supaya menanyakan hal ini kepada Jing-san-khek, tapi aku harus memperoleh Kuda hijau itu lebih dulu, kalau tidak Jing-san-khek tidak akan mau memberi tahu padaku.” “Agaknya kau salah lihat, orang itu adalah Mo-bin Suseng bukan Siau-bin-mo-im,” demikian Goan Tiong menjelaskan dengan sikap dingin, “Kecuali Mo-bin Suseng tiada orang kedua yang mau membeberkan rahasia ini kepada orang luar!”

Thian-hi terkejut, namun lahirnya tenang tertawa-tawa, katanya, “Mereka tiga bersaudara berbentuk sama, kuyakin bahwa beliau Siau-bin-mo-im adanya!”

Goan Tiong menjengek bibir, sindirnya sinis, “Anggapmu aku tidak tahu? Ketahuilah cuma Mo- bin Suseng seorang saja yang tahu perihal ini, Hwesio jenaka dan Siau-bin-mo-im sama sekali tidak tahu menahu soal ini!”

Thian-hi tertegun, sungguh tak nyana bahwa urusan bisa berubah begini besar, soalnya ia sendiri tidak bisa membedakan mana Siau-bin-mo-im atau Mo-bin Suseng tulen. Betapapun ia tidak percaya manusia tambun pendek yang meregang jiwa itu adalah Mo-bin Suseng, dengan mata kepalanya sendiri ia saksikan Siau-bin-mo-im mangkat, begitu juga seperti bayangan setan tahu-tahu Ah-lam Cuncia sudah muncul dihadapannya lalu menghilang pula dengan langkah seenteng asap mengembang, beliau membawa jenazah Siau-bin-mo-im, mana mungkin orang itu adalah Mo-bing Suseng!

Tengah Thian-hi tenggelam dalam keraguannya, terdengar Goan Tiong berkata dingin, “Apapun alasanmu tidak berguna lagi, kalau toh kau sudah datang kemari karena pesan Mo-bin Suseng itu marilah kita bicara terus terang saja, kuda hijau memang berada di tempat kami, maka silakan bicara terus terang pula padaku saja!”

“Hun Thian-hi semakin melenggong, katanya tertawa, “Moh-bin Suseng adalah musuh besar yang membunuh ayahku, mana sudi aku mendapat pesannya, harap Cianpwe berdua tidak salah paham!”

Goan Liang segera menibrung, “Berani dia membocorkan perihal ini kepada orang luar, malah berpura-pura dan bermuka2 begitu mirip sekali, tapi ketahuilah kami berdua tidak begitu gampang dapat dikelabui dan ditipu mentah-mentah. Gurunya I-lwe-tok-kun kan berada disini juga, dia sendiri tidak berani datang kemari justru kaulah yang diutusnya kesini!”

Tak habis heran Thian-hi, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Goan Tiong berdua begitu kukuh berpendapat bahwa orang yang memberi tahu perihal itu kepadanya adalah Mo-bin Suseng adanya, malah menuduh dirinya adalah utusan Mo-bin Suseng pula, begitulah pikir punya pikir semakin besar tanda tanya yang mengganjal sanubarinya, seluruh persoalan ini benar-benar luar biasa.

“Kalau kau benar-benar ingin minta kuda hijau itu boleh kami berikan kepada kau, cuma asal kau sendiri punya akal dan mampu bekerja sendiri! Mari kau ikut kami.” — lalu mereka mendahului beranjak lari ke arah depan sana.

Tanpa banyak pikir Thian-hi segera mengintil di belakang mereka, pikirnya, Ah-lam Cuncia agaknya sudah sehat kembali, matanya sudah melihat dan ilmu silatnya sudah pulih kembali, pastilah tiada sesuatu keperluan apa-apa lagi, aku sendiri tidak punya kepentingan atas kuda hijau itu, cuma Ma Gwat-sian masih berada ditangan mereka, terpaksa aku harus ikut kemanapun mereka menuju,

Begitulah dengan berlari-lari kencang Ni-hay-siang-kiam membawa Hun Thian-hi masuk ke pedalaman terus manjat ke atas gunung, tak lama kemudian mereka sudah beranjak di dalam hutan-hutan yang lebat di dalam pegunungan yang tinggi dan terjal. Segala rintangan tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka, mereka terus berlari bagai terbang, setiba disebuah tikungan tiba-tiba Goan Tiong berdua berhenti dan berpaling ke belakang, sekejap saja tahu-tahu Hun Thian-hi juga sudah meluncur turun di belakang mereka, sejenak mereka beradu pandang, mata mereka sama memancarkan sorot terang yang membayangkan rasa kejut hati mereka.

Cepat Hun Thian-hi pun menghentikan luncuran tubuhnya, katanya kepada Goan Tiong, “Tujuanku cuma minta Ma Gwat-sian bisa dikembalikan secepatnya, tiada niatku mencari gara- gara soal kuda hijau apa segala!”

“Kenapa? Apa kau jadi ketakutan?” demikian jengek Goan Tiong dingin.

Thian-hi tertawa2, ujarnya, “Selamanya aku tidak gampang dipancing atau dibuat marah, aku menjadi heran kenapa Cianpwe berdua agaknya hendak mempersukar diriku hanya karena soal kuda hijau itu?”

Kalau aku tidak gampang terpengaruh oleh keadaan itulah baik”, demikian Goan Liang menyeletuk, “sebaliknya aku menjadi bersedih bagi temanmu itu, bukankah kau sendiri mengatakan sudah menyanggupi untuk mengurus persoalan ini menurut pesannya, kenapa sekarang kau harus berhenti ditengah jalan dengan hampa!”

“Ah, memang mungkin aku yang salah. Cuma ilmu silat Ah-lam Cuncia sudah pulih kembali, jadi agak nya tidak perlu aku bersusah payah lagi,” demikian Hun Thian-hi coba membela diri dengan alasannya

Tak duga Goan Tiong menggeram sambil menjebir bibir dengan sinis, katanya, “Dapatlah seseorang yang pernah menelan Ban-lian-ceng bisa sembuh kembali? Dalam hal ini bocah berumur tiga tahun pun jangan harap dapat kau apusi. Apalagi bila ilmu silatnya sudah pulih betul- betul, kenapa pula muridnya harus berpesan kepada kau sebelum ajal.”

Thian-hi jadi terbungkam, ia sendiri juga bingung dan sulit meraba kemana juntrungan persoalan ini, mau tidak mau keyakinan hatinya menjadi goyah, memang ia jadi bingung bagaimana harus beri penjelasan lebih lanjut. Tersimpul olehnya cara penjelasan paling baik yaitu diakui bahwa orang yang berpesan sebelum ajalnya itu benar-benar adalah Mo-bin Suseng bukan Siau-bin-mo-im, tapi apakah mungkin hal ini terjadi? Ia tenggelam dalam renungannya.

Terdengar Goan Tiong berkata dingin, “Penjelasan paling baik bagi kau adalah bahwa orang itu bukan Siau-bin-mo-im, tapi Mo-bin Suseng adanya. Gurunya berada di tangan kami betapapun ia tidak akan berani membocorkan rahasia ini, kalau tidak gurunya bakal mengalami derita dan ancaman elmaut.”

Bercekat hati Thian-hi, mukanya menjadi masam, batinnya jadi benar-benarlah orang itu adalah Mo-bin Suseng adanya, hatinya menjadi mendelu dan entah pahit entah getir atau ia harus bergirang, sesaat lamanya ia jadi sukar merasakan perasaan hatinya.

Goan Tiong mendengus keras-keras lalu menarik Goan Liang berlari pula menuju ke sebuah perkampungan dan terus lari masuk.

Keruan Thian-hi jadi gugup cepat ia mengejar, teriaknya, “Nanti dulu Cianpwe, omonganmu belum selesai.”

“Sekarang tak perlu banyak bicara lagi, marilah kau ikut!” Goan Tiong berseru tertawa. Tatkala itu cuaca baru saja terang tanah, jalan menuju ke perkampungan masih sepi tak kelihatan ada bayangan manusia, laksana dikejar setan saja mereka bertiga beriringan melesat lari ke dalam perkampungan itu. Dalam kejap lain mereka sudah tiba di sebuah kebon kembang yang teramat luas.

Thian-hi loncat ke atas tembok, tampak taman kembang ini kira-kira seluas beberapa li, dalam kebon kembang ini terdapat berbagai aneka ragam kembang yang indah dan gunung2an besar kecil serta jembangan yang tersebar dimana-mana. Begitu berada di dalam taman kembang ini bayangan Ni-hay-sian-kiam lantas lenyap.

Thian-hi jadi dongkol, kenapa kedua orang itu tidak tahu aturan, entah apa sangkut pautnya kedua orang ini dengan kuda hijau itu, lagaknya mereka tidak sudi menyerahkan kuda hijau itu kepada Jeng-san-khek, inilah kejadian yang aneh dan amat mengherankan hatinya.

Dari ketinggian tempatnya berdiri terlihat di depan rada jauh sana terdapat sebuah bangunan gedung yang tinggi megah, sekitarnya dikelilingi pohon-pohon pendek dan bunga2 yang sedang mekar saling berlomba memperlihatkan keindahannya. Pasti mereka menuju ke sana itulah, demikian pikir Thian-hi, dua orang itu paling suka menonjolkan diri dan suka jaga gengsi, betapapun segan untuk melarikan diri, apalagi ilmu silat mereka sudah sedemikian lihay tentu takkan terjadi hal-hal seperti dugaannya ini.

Thian-hi rada was-was untuk bertindak ke dalam, kuatirnya dalam kebon ini ada dipasang alat2 rahasia untuk menjebak orang, terpaksa ia melolos serulingnya sekali enjot tubuh enteng sekali kakinya hinggap di tanah. Baru saja ia berdiri tegak, tiba-tiba Goan Tiong menerobos keluar dari belakang sebuah gunung2an menghadang di hadapan Thian-hi sambil menghunus pedang, katanya dingin, “Kami berdua cuma ingin merintangi kau, bilamana kau berhasil menerjang masuk ke dalam gedung itu, segala urusan bisa segera diselesaikan.”

Lagi-lagi Thian-hi kaget dibuatnya, Goan Tiong muncul lagi begitu cepat dan tak terduga-duga, bila tadi ia langsung menyerang pasti aku terdesak di bawah angin, sekarang ia menghadapiku dengan persyaratannya ini, sebagai ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, meski mereka pernah menelan Jian-liang-hok-ling, agaknya sulit untuk mencapai kemenangan, tapi kalau cuma menerjang ke sebelah dalam mencapai pintu gedung itu rasanya tidak terlalu sukar.

Tanpa bicara lagi Thian-hi acungkan serulingnya, sementara kakinya beranjak mendekat, langsung ia menerjang dengan tutukan kedada Goan Tiong. Sangkanya dengan mengajukan syaratnya itu tentu Goan Tiong akan mati-matian merintangi dirinya, tak nyana bukan saja menangkis atau melawan ternyata Goan Tiong berkelit mundur lalu lenyap dibalik gunung2an batu.

Thian-hi tidak hiraukan kemana Goan Tiong melenyapkan diri, ia berlari kencang menerjang terus ke depan. Tapi belum berapa langkah ia maju. tahu-tahu Goan Tiong dan Goan Liang telah muncul pula mencegat jalannya, dua batang pedang menyamber bersilang dari kanan kiri membabat keleher Hun Thian-hi, serangan ini cukup ganas dan lihay sekali.

Tergerak hati Thian-hi, kenapa aku tidak main gertak saja terhadap mereka yang maju dan menyergap bersama ini, meminjam tenaga mereka untuk jumpalitan menerjang ke arah depan malah?

Seiring dengan pikirannya ini, serulingnya cepat ditutukkan ke depan menangkis tepat pada persilangan kedua pedang lawan. Tak duga baru saja serulingnya menyetuh kedua senjata musuh kontan ia rasakan segulung tenaga besar menerjang ke arah badannya seketika ia terpental mundur dan mencelat tinggi sampai terlempar keluar tembok. Cepat Thian-hi menyedot hawa, mengendalikan badan memberatkan tubuh, waktu meluncur tubuh tepat kakinya berhasil hinggap di atas tembok, waktu ia angkat kepala pula bayangan Goan Tiong dan Goan Liang sudah menghilang tanpa bekas.

Berkerut alis Thian-hi, tiba-tiba ia berlari-lari kencang sekali di atas tembok yang memagari kebon kembang yang luas itu, tak lupa kedua matanya yang jeli mengawasi ke dalam kebon, apakah bayangan Goan Tiong dan Goan Liang ada kelihatan, tapi sedemikian jauh ia tak berhasil melihat bayangan apapun kecuali kembang2 dan pepohonan yang hidup subur, sekali berkelebat Thian-hi mencari posisi lain dari tempatnya yang baru ini ia coba menerjang ke dalam. Tapi baru saja ia mencapai tanah, tahu-tahu Goan Tiong dan Goan Liang sudah muncul pula terus menyerang dengan pedang masing-masing.

Thian-hi tercengang kaget, sungguh tak duga bahwa gerak kedua orang ini sedemikian tangkas dan cepat, apalagi seolah-olah sudah tahu sebelumnya dirinya bakal menubruk dari jurusan mana dan di tempat itu pula mereka sudah menanti. Betapapun sekali ini aku harus menjajal sampai dimana kepandaian mereka, demikian pikirnya, seruling teracung tinggi miring, pelan-pelan ia kerahkan kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek.