Badik Buntung Bab 28

 
Bab 28

Teringat akan langkah-langkah permainannya Tok-sim-sin-mo jadi menyesal, kenapa ia pancing Hun Thian-hi ke tempat Pek-tok Lojin, sekarang segala rencananya semula gagal total malah.

Begitulah ia berpikir2, mendadak ia tersentak sadar kenapa aku berpikiran tidak karuan, yang penting bagaimana aku harus menghadapi kenyataan di hadapanku ini?

Maka ia angkat kepala meanandang ke arah Hun Thian-hi, Katanya kalem, “Kalau begitu bila kulepas kau, bukankah keselamatan jiwaku malah terancam bahaya?”

“Lalu bagaimana menurut kemauanmu?”

“Kau seorang tokoh Bulim kelas wahid, demikianlah aku pula, mari jadikan pertukaran antara aku dan kau saja, akan kuantar kau keluar dari Jian-hud-tong!”

“Demikian saja?” ejek Hun Thian-hi. “Umpama usulmu ini kuterima, apakah kau tidak beranggapan tindakanmu ini malah lebih menguntungkan bagi aku?”

Tok-sim-sin-mo terbungkam. diam-diam ia mengakui akan kecerdikan Hun Thian-hi, sungguh ia merasa kaget dan heran akan diplomasi Hun Thian-hi yang cukup lihay ini, sesaat ia menjadi terbungkam tak kuasa menjawab.

Hun Thian-hi menarik muka lalu melanjutkan, “Menguntungkan bagi aku, tapi sangat tidak adil bagi mereka bertiga!” — Lalu ia tuding ke arah Pek-tok Lojin, sambungnya, “Bila kau bikin dia gusar, lalu menyerang pula kepada kau aku yakin kau bakal konyol pada detik-detik yang mendatang!” ia menyeringai dingin dan sinis, katanya pula, “Kalau begitu bukankah kau terlebih rendah menilai dirimu sendiri?”

“Agaknya kau tidak sudi gugur bersama, marilah kita cari jalan atau penyelesaian lainnya. Marilah kita bicara terus terang. dan sebelumnya perlu kutandaskan bila mau kulepas paling banyak cukup dua orang saja, yaitu kau dan Pek-tok Coh Jian-jo berdua harus tetap tinggal disini, aku masih memerlukan tenaga mereka.”

Hun Thian-hi tertawa besar serunya, “Sungguh menggelikan ucapanmu ini, kalau begitu kami menjadi kena dirugikan seorang. tadi bila kami bertiga tidak muncul kemari bagaimana kau selanjutnya?”

“Bicaramu jangan begitu muluk2, seumpama kalian tidak kemari, betapapun tidak mungkin kalian bisa keluar dengan selamat dari gua ini, apa lagi bertiga!”

“Belum tentu, aku mampu menolongnya keluar sudah tentu aku punya caraku untuk mengantarnya keluar!”

Tok-sim-sin-mo terdiam lagi. dalam hati ia sudah berkeputusan untuk bertindak menurut rencananya, kalau tidak ia bakal kehilangan segala miliknya. Andai itu sampai terjadi sungguh merupakan Suatu hal yang luar biasa.

Hun Thian-hi tertawa tawar pula, katanya, “Kenyataan aku telah muncul bers;ma. malah terkurung di dalam kamar batu ini, tujuanku kemari demi tolong Coh Jian-jo tapi tidak berhasil. Musuh sasaran yang utama adalah aku, menurut hematku biarlah aku saja yang tinggal disini dan biarkan mereka bertiga keluar, bagaimana?” Dengan gusar Tok-sim-sin-mo terkekeh dua kali, ujarnya, “Bicara terus terang tindakkanmu ini hanya cuma merintangi aku supaya Ni-hay-ki-tin tidak terjatuh ketanganku bukan!”

Ia merendek sebentar, ujung mulutnya Menyungging senyum sinis lalu menyapu pandang ganti berganti antara Hun Thian-hi dan Pek-tok Lojin, katanya, “Tudiuanku hari ini adalah untuk menemukan Ni-hay-ki-tin itu, jikalau aku bisa memperoleh Ni-hay-ki-tin apa pula yang perlu kutakuti terhadap kalian. Jikalau sebaliknya akupun sudah insaf sulit untuk dapat bercokol selamanya di Bulim. harapanku terlalu kecil. Maka aku harus menahan Coh Jian-jo berdua disini, kalian berdua boleh silakan pergi.”

“Enak benar-benar kau putar bacot, ketahuilah seluruh manusia dikolong langit ini tidak akan mandah membiarkan kau melaksanakan angan2mu yang gila itu.”

“Sekarang aku bisa memberi kelonggaran dengan langkahku yang terakhir. cucu Coh Jian-jo ini boleh kau bawa serta, tapi aku tidak akan mengalah lagi, coba kau pikir2 dulu!”

Hun Thian-hi maklum setelah mengalah dan memberi kelonggaran sedemikan banyak, betapapun Tok-sim-sin-mo tidak akan sudi mundur lagi, lalu bagaimana ia harus bertindak selanjutnya?

“Hun-siauhiap!” seru Coh Jian-jo biji matanya berkilat-kilat, “Sudah kau setujui saja, aku tidak akan membocorkan rahasia Ni-hay-ki-tin itu kepadanya!”

Hun Thian-hi menunduk, hatinya merasa hambar, ia tahu bahwa penyelesaian inilah yang paling sempurna bagi mereka berdua, iapun yakin bahwa Coh Jjan-jo tidak bakal membocorkan’

Ni-hay-ki-tin kepada Tok-sim-sin-mo, tapi bila ia harus tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak tenteram.

Waktu ia menunduk sorot mata Coh Siau-ceng justru bentrok dengan pandangannya, sinar matanya penuh mengandung permohonan, meski ia tidak bicara, tapi rasanya ia memohon supaya Hun Thian-hi cepat bertindak.

Hun Thian-hi masih beragu sesaat lamanya, akhirnya ia angkat kepala ke arah Tok-sim-sin-mo. “Bagaimana?” tanya Tok-sim-sin-mo dengan pandangan dingin.

“Apa boleh buat akhirnya Hun Thian-hi manggut-manggut, baru saja ia manggut lantas ia merasakan suasana yang ganjil, dilihatnya sorot mata Tok-sim-sin-mo begitu terpengaruh oleh perasaan hatinya, apakah dia mempunyai muslihat keji? Atau mungkin dia punya pegangan untuk mengompes Coh Jian-jo supaya membocorkan rahasia Ni-hay-ki-tin itu? Dengan nanar ia pandang Tok-sim-sin-mo.

Tampak biji mata Tok-sim-sin-mo mengunjuk sinar aneh dan kejut. secara tiba-tiba pula Hun Thian-hi merasa ada seseorang telah berada diambang pintu kamar. sigap sekali ia membalikkan tubuh.

Muncul sebuah bentuk manusia yang sangat dikenalnya. hatinya berdetak keras. orang ini muncul disini secara mendadak. keruan hatinya sangat kaget.

Jang lebih terkejut justru Tok-sim-sin-mo. ia berdiri melongo dan mematung tanpa bergerak. otaknya sedang diperas untuk mencari daya untuk menghadapi situasi yang berkembang lebih lanjut ini. Waktu Hun Thian-hi membalik tubuh menengok ke belakang tanpa merasa iapun ikut terkejut. yang datang ini ternyata bukan lain adalah Mo-bin Suseng, atau mungkin pula Hwesio jenaka, karena bentuk dan wajahnya mirip benar-benar dengan Ngo-sing alias Siau-bin-mo-in yang telah meninggal belum lama berselang.

Tok-sim-sin-mo tidak tahu siapakah orang yang baru datang ini, cuma sudah jelas bahwa orang adalah musuh dan bukan kawan, otaknya bekerja cepat, diam-diam ia mencari akal untuk menghadapi perkembangan yang tak terduga ini.

Mendadak Ham Gwat dan Su Giok-lan juga ikut muncul. Sebenar-benarnya hati Hun Thian-hi teramat kejut dan heran sekali, ia tahu bahwa Mo-bin Suseng berada di sekitar Jian-hud-tong, selama ini belum pernah muncul lagi, maka sembilan puluh persen dapatlah diyakinkan bahwa manusia cebol tambun ini adalah Mo-bin Suseng adanya. Tapi setelah melihat Han Gwat dan Su Giok-lan ikut muncul, baru ia sadar bahwa orang ini tentu Hwesio jenaka adanya, keruan hatinya sangat senang dan mantep.

Kalau pikiran dan hati Hun Thian-hi menjadi tenang dan mantap sebaliknya Tok-sim-sin-mo semakin gentar ketakutan, Su Giok-lan dan Ham Gwat sama adalah murid Bu-bing Loni, entah apakah maksudnya mereka muncul di tempat dan diwaktu yang genting ini, dirinya terluka cukup parah, musuh berada di sekelilingnya lagi, dengan ditambah mereka berdua keadaan dirinya semakin terjepit dan lebih berbahaya.

Sekilas melihat situasi dalam kamar lantas Ham Gwat dapat merasakan keadaan yang menyulitkan. Tapi dengan kedatangan bala bantuan mereka berdua posisi Hun Thian-hi sekarang menjadi lebih menguntungkan, cuma Tok-sim-sin-mo terang semakin kukuh menggunakan Coh Jian-jo dan cucunya sebagai sandera untuk mengancam mereka.

Su Giok-lan bergerak hendak bertindak, cepat Ham Gwat menarik tangannya, diam-diam Hwesio jenakapun sudah hampir bertindak, tapi melihat isyarat Ham Gwat lantas ia maklum kemana juntrungannya, ia batalkan niatnya.

Dengan sikap dan raut wajahnya yang memang dingin Ham Gwat maju selangkah, ia berdiri tegak dan tak bicara, sedikit banyak ia sudah paham akan situasi dalam gelanggang, namun dalam sesingkat ini ia belum berani mengambil keputusan, apalagi bagaimana duduk perkara sebenar- benarnya ia belum jelas, maka lebih baik bersikap diam untuk menumpas segala pergerakan, biarlah salah satu pihak diantara kedua belah pihak ini bicara baru dirinya ikut menimbrung dan bersiap cara bagaimana ikut terjun dalam persengketaan ini.

Tok-sim-sin-mo sendiripun seorang yang cerdik pandai, sedikit menerawang lantas ia tahu diantara tiga orang pendatang baru ini, adalah Ham Gwat yang menjadi pentolannya, otaknya terus bekerja mencari akal untuk memecahkan situasi yang Semakin menjepit dirinya. Tapi sebetulnya apa yang hendak dilakukan oleh Su Giok-lan? Dimana pendirian dan kemana tujuan mereka? Inilah pertanyaan yang ingin diketahui.

Setelah meneliti sebentar, lantas ia buka bicara kepada Ham Gwat, “Apakah kalian kemari untuk menolong Hun Thian-hi?” — dengan cermat ia awasi air muka Ham Gwat. dengan pancingannya ini ia ingin mengetahui dimana pendirian Ham Gwat, bila Ham Gwat benar-benar hendak menolong Hun Thian-hi, maka kedudukannya jelas berlawanan dengan dirinya, maka dengan adanya Coh Jian-jo berdua sebagai sandera ia harus cepat-cepat berlindung keluar. Bila mereka punya tujuan lain, maka perlulah ia berpikir lebih lanjut bagaimana ia harus menghadapi mereka pula.

Memang muka Ham Gwat selalu kaku dingin tanpa expresi, laksana kilat otaknya berputar menerawang, pertanyaan Tok-sim-sin-mo adalah pancingan untuk mengetahui tujuan kedatangan mereka bertiga, otaknya dengan cermat memikirkan berbagai jawaban dan berbagai akibatnya pula, bila dia menjawab begini, bagaimana pula akibatnya?

Semua berkelebat cepat sekali dalam benaknya, ia harus mencari suatu jawaban yang cukup diplomatis supaya Tok-sim-sin-mo tidak tahu bahwa kedatangannya tidak punya maksud tertentu.

Terpikir olehnya segala peristiwa dan kejadian sejak Su Giok-lan meninggalkan Jian-hud-tong ini, maka pelan-pelan ia lantas berkata, “Kudengar katanya serangka Badik buntung terjatuh di tangan Ling-lam-kiam-ciang, kuluruk kemari untuk memintanya kembali!” 

Tok-sim-sin-mo menggeram dalam mulut, otaknya pun bekerja keras mempertimbangkan kebenar-benaran jawaban Ham Gwat ini, benar-benarkah Ham Gwat kemari karena serangka Badik buntung? Masa tujuannya pun hendak mendapatkan Ni-hay-ki-tin itu? Segera ia dapat meneguhkan jawabannya yang terakhir ini, maka dengan menyeringai ia bertanya, “Apakah gurumu yang suruh kau kemari?”

Sejak tadi Ham Gwat sudah meraba. Mungkin sejak Su Giok-lan meninggalkan Jian-hud-tong, Tok-sim-sin-mo pun kebetulan sampai kembali di Jian-hu-tong, dan menemukan Badik buntung berada ditangan Coh Jian-jo. Maka dengan situasi yang dihadapi sekarang, jelas sekali yang paling diberati oleh Tok-sim-sin-mo melulu adalah Coh Jian-jo seorang yang harus tetap tinggal. soalnya cuma dia seorang yang mengetahui rahasia dalam Badik buntung itu, jikalau bisa mendapatkan Ni- hay-ki-tin, tak perlu lagi ia takut menentang seluruh kaum persilatan di dunia ini.

Agaknya rekaannya sebagian besar tepat, segera ia memikirkan tindakan lebih lanjut, cara bagaimana kedatangan mereka bertiga bisa membawa manfaat yang paling mengesankan.

Ham Gwat menyambung pula dengan suara kalem, “Banyak bertanya tiada manfaat bagi kau. Guruku tidak datang tapi kau harus tahu, sekarang aku minta orang dan minta serangka pedang itu dari tanganmu, apa yang akan kau lakukan dan bagaimana akibatnya, kukira kau sudah maklum!”

Memang keadaan semakin runyam dan menyulitkan bagi Tok-sim-sin-mo. Tujuan Ham Gwat bukan menolong Hun Thian-hi, tapi justru demi Coh Jian-jo pula, ia insaf sangat fatal akibatnya bila main keras dengan Ham Gwat, tapi bagaimana juga ia tidak rela menyerahkan Coh Jian-jo apalagi serangka Badik buntung itu, lalu bagaimana baiknya? Otaknya harus diperas dan bekerja keras untuk memecahkan situasi yang serba kontras bagi dirinya ini.

Untuk mengulur waktu segera ia meng-ada2 bertanya kepada Ham Gwat, tapi tangannya menuding

Hwesio jenaka, “Entah siapakah”

Hwesio jenaka meringis lebar, serunya, “Jangan kau bertanya siapa aku, aku toh tidak utang apa-apa pada kau, lebih penting kau lekas jawab pertanyaan penting tadi, apa yang hendak kau lakukan hayo lekas jawab!”

Tiba-tiba tergerak hati Tok-sim-sin-mo, mereka bertiga tidak sejalan dengan Hun Thian-hi, tapi tujuan mereka sehaluan sama hendak menolong Coh Jian-jo, kenapa tidak kuadu domba mereka dulu, setelah mereka berhantam sampai keletihan, keadaan selanjutnya bukankah jauh sangat menguntungkan bagi diriku? Segera ia angkat bicara, “Soalnya aku sudah terluka parah, terjepit pula oleh Hun Thian-hi, aku tak kuasa ambil keputusanku sendiri, kalau kau ingin jawaban silakan kau tanya dia, bila ia setuju, aku pun tak perlu banyak bacot lagi!” Terpikir olehnya bahwa Bu-bing Loni merupakan musuh kebujutan Hun Thian-hi, betapapun tak mungkin menyerahkan Coh Jian-jo kepada Ham Gwat soalnya permainanku semula sudah salah langkah sehingga seluruh percaturan ini kalang kabut, seolah-olah aku terjerambab masuk ke dalam jebakan yang kugali sendiri.

Dalam pada itu Hun Thian-hi tersenyum tawar, katanya, “Terima kasih akan kebaikanmu untuk menyerahkan Coh Jian-jo kepadaku, tapi entahlah kau memang bertujuan baik ataukah cuma tipu daya belaka!”

“Jangan kau kira dengan kata-katamu ini kau hendak membakar kemarahan orang, orang lain tidak berpikiran begitu goblok seperti otakmu yang tumpul itu!”

Ham Gwat segera menimbrung, serunya, “Persetan dengan pertikaian kalian, yang terang Coh Jian-jo dan serangka Badik buntung harus segera diserahkan kepadaku!”

“Tapi harini aku tak kuasa lagi!” demikian ujar Tok-sim-sin-mo, lalu ia berdiri minggir kesamping serta melepas tangan Coh Jian-jo, dalam hati diam-diam ia bersorak, ingin ia saksikan Hun Thian-hi dan Ham Gwat dua generasi muda yang sama-sama tokoh kelas wahid, yang satu ahli waris Hui-sim-kiam-hoat yang hebat, dan yang lain adalah ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek, biarlah mereka sama bertanding mengadu kepandaian, ingin aku menyaksikan siapakah sebenar- benarnya lebih unggul dan asor.

Setelah ia lepas tangan dan menjauhkan diri ia ulapkan tangan menyuruh Bing-tiong-mo-tho memecah diri kedua samping. Ham Gwat lantas melangkah masuk ke dalam kamar sekarang dia berhadapan dengan Hun Thian-hi, pandangan mereka sama berkilat memancarkan sorot aneh yang menakjupkan.

Pandangan Hun Thian-hi langsung mengawasi Ham Gwat, dilihatnya orang begitu agung, sederhana dan cukup berwibawa, selamanya belum pernah ia mengawasi orang secara langsung begitu jelas dan cermat, laksana sebuah patung dewi yang membuat ia bertekuk lutut dan memujanya.

Mereka berdiri mematung sekian lamanya tak bergerak dan sama bersikap aneh, masing- masing melayangkan pikirannya kembali ke alam yang sudah silam. Lambat laun Tok-sim-sin-mo melihat keganjilan sikap mereka, timbul kecuriagannya, namun cuma sekilas saja karena ia menyangka kedua belah pihak tak berani memandang enteng musuh. keadaan mana sering dilihat sebelum pertempuran sengit antara dua tokoh tingkat tinggi berlangsung. Sungguh diluar tahunya bahwa diantara mereka sebenar-benarnya sudah terjalin tali asmara yang semakin mendalam dan terikat semakin kencang.

Sesaat lamanya baru terdengar Ham Gwat membuka suara dingin, “Sekarang Coh Jian-jo berada di tanganmu, apa kau mau kata?”

Perasaan Hun Thian-hi menjadi hambar, dia tidak tahu apa yang terpikir oleh Ham Gwat, sebab ia tahu keadaan Tok-sim-sin-mo cukup kepepet dan hanya dapat bergerak dalam lingkungan yang terbatas, kalau tidak mungkin sejak tadi ia sudah keluar melarikan diri.

Melihat keraguan sikap Hun Thian-hi, Ham Gwat menjengek dingin, katanya, “Apa pula yang perlu kau katakan?”

Thian-hi tahu Ham Gwat terlalu jauh dan panjang menilai persoalan disini, tapi ia segan menghalangi maksud dan segala sesuatu yang telah dipikirkan oleh Ham Gwat, maka dengan tertawa tawar ia berkata, “Ni-hay-ki-tin merupakan incaran setiap insan manusia, umpama Bu-bing Loni sendiri datang pun aku tidak takut, masa aku gentar menghadapi kau!” “Aku belum pernah belajar kenal Wi-thian-cit-ciat-sek marilah kita buktikan apakah Hui-sim- kian-hwat lebih unggul atau wi-thian-cit-ciat-sek lebih hebat!”

Hati Tok-sim-sin-mo menjadi mendelu dan keheranan, nada tanya jawab kedua orang agaknya ngelantur semakin jauh dari persoalan, tanya jawab mereka kedengarannya memang saling mengancam, tapi jelas sekali menyimpang dari adat dan kebiasaan sepak terjang mereka pada umumnya. Terutama watak Thian-hi berbeda dengan biasanya, jika menurut rekaannya, Hun Thian-hi pasti tidak akan mengalah dan memberi angin pada lawannya, malah bukan mustahil minta kembali sekalian Badik buntung dari Ham Gwat. Tapi apa yang disaksikan sekarang jauh menyimpang dari dugaannya yang sebenar-benarnya.

Sekilas Thian-hi melirik ke sekitarnya, dilihatnya sorot mata Tok-sim-sin-mo yang tajam, sedang mengawasi mereka, ia tahu bahwa pandangan orang hendak menembus isi hati atau sikapnya, tapi perkembangan selanjutnya membuat hatinya semakin tabah, memang ia ingin benar-benar Tok-sim-sin-mo mengumbar adatnya bila perlu memancing kemarahannya malah.

Ham Gwat sendiri juga merasa was-was, bila sandiwara mereka berdua kali ini sampai konangan oleh Tok-sian-sin-mo pasiti akan terjadi pertempuran sengit secara terbuka.

Terdengar Hun Thian-hi tiba-tiba bergelak tawa lantang, “Kalau kita berdua berhantam. disini bukankah menguntungkan Tok-sim-sin-mo malah?”

Diam-diam Tok-sim-sin-mo mengumpat dalam hati, secara tidak langsung ucapan Thian-hi memutar balik mengadu domba antara dirinya dengan Ham Gwat. dan memang itulah tujuan Tok- sim-sin-mo, terpaksa ia menjengek dengan gusar, “Apa kau takut?”

Ham Gwat tahu bahwa maksud Thian-hi mendesak supaya Tok-sim-sin-mo memberi peluang pada mereka untuk bertempur keluar gua. Ia diam-diam saja, biji matanya berputar mengawasi To-sim-sin-mo.

Bercekat hati Tok-sim-sin-mo, ia menjadi gentar bila Ham Gwat sampai berbalik memusuhi dirinya,

Dalam Jian-hud-tong di mana-mana tempat banyak dipasang berbagai alat rahasia yang bisa menembus kesegala penjuru, cuma kamar batu tempat tahanan Coh Jian-jo inilah yang terkecuali, bila disini dipasang pula pintu2 rahasia tentu sejak lama Coh Jian-jo sudah merat menghilang.

“Jikalau kalian kurang lega,” demikian kata Tok-sim-sin-mo, “Mari kuantar kalian keluar, lapangan diluar gua sana cukup besar.”

“Sepanjang jalan ini ada terpasang berbagai alat2 dan pintu rahasia, cara bagaimana kita harus berjaga-jaga dari akal licikmu?” demikian jengek Thian-hi

Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, ujarnya, “Kalian mengharap berhantam diluar gua, tapi tidak berani keluar, apakah kau punya cara lain yang lebih sempurna?”

“Benar-benar,” sahut Thian-hi lantang, “Kau ingin kami bertarung maka kau sendiri pun perlu mempertaruhkan dirimu sebagai sandera, marilah kau saja yang melindungi kita beramai sampai di luar gua?”

Usul Thian-hi ini cukup pelit, bila dirinya tidak mau menandakan bahwa dirinya tidak tulus hati, bila sebaliknya menyetujui seakan-akan sengaja hendak mengadu mereka bertempur mati-matian, apalagi sekarang dirinya di bawah belenggu Thian-hi, siapa tahu peristiwa apa pula yang bakal terjadi selanjutnya? Akibatnya itulah yang menyulitkan untuk dipikirkan, dengan terlongong ia menepekur, ia menemui kesulitan untuk menjawab.

‘Kau takut apa?” ejek Thian-hi, “Bila aku mau bertindak terhadap kau sejak tadi aku sudah turun tangan, seumpama sekarang aku bertindak pada kau apa pula yang dapat kau lakukan?”

Ucapan Thian-hi memang bukan bualan, bila Thian-hi sekarang turan tangan. Ham Gwat pasti tinggal berpeluk tangan menjadi penonton saja. Sesaat ia terbungkam.

Adalah hati Ham Gwat bercekat malah, baru sekarang ia menyadari bahwa kamar batu ini ternyata tiada terpasang alat2 rahasia, jadi sejak tadi bahwasanya Tok-sim-sin-mo sudah menjadi bulus yang terkurung di dalam gentong, hampir saja tadi dirinya melepasnya keluar,

Berkilat biji mata Tok-sim-sin-mo, ia semakin merasa situasi semakin buruk dan tidak menguntungkan bagi dirinya. Ia insaf bila Ham Gwat dan Thian-hi sampai bergabung mengeroyok dirinya, jelas jiwanya takkan tertolong lagi, lapat-lapat teraba olehnya bahwa permusuhan antara Ham Gwat dengan Thian-hi tidaklah begitu mendalam seperti yang dia bayangkan sebelumnya. malah secara tidak langsung kelihatannya ada terjalin perjanjian yang tidak mengikat diantara mereka berdua.

Sekarang dia insaf cara mengadu domba kepada kedua lawannya ini terang tiada membawa manfaat, akhirnya ia tertawa lebar. katanya kepada Hun Thian-hi, “Begitupun baiklah. kalian sama adalah keturunan dari aliran kenamaan, Bu-bing Loni selamanya tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Lam-siau pun merupakan tokoh pendekar yang budiman, untuk sementara ini baiklah terpaksa aku mempercayai ucapan kalian sekali ini!”

Semula Thian-hi yakin bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan menyetujuj usulnya itu, diluar dugaan ia telah setuju, mau tak mau hatinya berdegup dan melengak, diam-diam iapun kagum akan perubahan sikap Tok-sim-sin-mo yang pintar melihat angin memutar haluan dengan cara memuji guru mereka menjadi seperti dipantek supaya tidak berbuat curang.

Sebaliknya Ham Gwat yang cerdik dan cermat itu dapat menangkap kemana juntrungan maksud Tok-sim-sin-mo, ia merasa lebih baik ia membekuk Tok-sim-sin-mo walaupun kehilangan kepercaan, ini lebih penting, segera ia mengerling ke arah Su Giok-lan, dengan sebuah kedipan ia beri tanda padanya supaya siap menghadapi musuh.

Pelan-pelan Su Giok-lan melolos pedang dari punggungnya, dengan menyoreng pedang ia berdiri siaga.

Tok-sim-sin-mo menjadi tegang, terasa olehnya keadaan yang rada ganjil ini, segera ia mengajukan pertanyaan kepada Ham Gwat, “Bagaimana pendapatmu terhadap usulnya?”

“Usul kami sama supaya secepatnya membunuh kau. Bila kami biarkan umurmu berkepanjangan menimbulkan bencara di Kangouw, bukankah dosa2 kami yang patut diberi hukuman berat!”

Baru sekarang Tok-sim-sin-mo mendadak tersadar akan sikap berlainan dan luar biasa dari Thian-hi dan Ham Gwat, kontan ia bergelak tawa, ia berpaling ke arah Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya, anak buahnya itu kira-kira cukup kuat untuk menghadapi Hun Thian-hi dan Ham Gwat berdua, bila memang bukan tandingannya terpaksa menerjang keluar saja meloloskan diri.

Beruntun ia menengadah tertawa kering dua kali, serunya, “Kalian selalu mengagulkan diri sebagai kaum pendekar yang pegang janji dan kebenar-benaran, kiranya sedemikian rendah sampai sifat2 keadilan kebijaksanaan pun kalian injak2 menjiiat ludah sendiri, perbuatan dan kelakuan kalian sungguh hina dan memalukan, bahwasanya kalian sekomplotan kenapa main tipu dan pura-pura bermusuhan dihadapanku?”

Ia menyeringai dingin, lalu sambungnya pula, “Tahukah kalian? Inilah penipuan!”

Dari samping Hun Thian-hi menyela, “Tidak boleh kehilangan kepercayaan demi untuk memperkosa kebenar-benaran atau keadilan, sejak jaman dulu kala soal ini sudah menjadikan ajaran yang tersurat di dalam setiap ejaan buku. Demikianlah keadaan sekarang, tidak boleh karena kehilangan kepercaan lantas kami melepas kau, apalagi bila sampai kau mengganas dan menimbulkan banyak malapetaka di Kangouw!”

Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, ia insaf bahwa Ham Gwat dan Hun Thian-hi akan bergabung menumpas dirinya, sungguh dia sangat menyesal, kenapa tadi ia melepas Coh Jian-jo dan cucunya, harapan untuk hidup menjadi semakin kecil.

Tiba-tiba biji matanya memancarkan sinar tajam menghijau seperti mata binatang jalang yang kelaparan, hanya menerjang dengan kekerasan jalan satu-satunya yang harus ditempuh, asal dapat keluar dari kamar batu ini, diluar sana sekali tangannya bergerak mengerahkan alat2 rahasianya, dalam sekejap saja ia akan dapat meloloskan diri bersama seluruh anak buahnya.

Sejenak Tok-sim-sin-mo berpikir, tiba-tiba tangannya kanan diulapkan. Serempak Bing-tiong- mo-tho, Biau-biau-cu, Lam-bing-it-hiong dan lain-lain menggerakkan senjata masing-masing menyerbu ke arah Ham Gwat.

Ham Gwat tahu Tok-sim-sin-mo sudah kepepet orang pasti menerjang keluar dengan kekerasan, sedang tenaga dalam sendiri belum pulih seluruhnya, sembari melolos keluar pedangnya kakinya menyurut selangkah. ia berdiri jajar bersama Su Giok-lan, dua jalur sinar pedangnya memetakkan segundukan cahaya gemerdek yang rapat tak tertembuskan membendung terjangan para musuhnya.

Hwesio jenaka segera menyingkir kesamping, sambil menggendong tangan ia menonton saja sambil berseri tawa.

Hun Thian-hi juga tahu Tok-sim-sin-mo pasti akan menjadi nekad dan berontak, Ham Gwat berdua pasti akan menghadapi banyak kesulitan dikeroyok para musuhnya, sejak tadi ia sudah bersiap, begitu Lam-bing-it-hiong melolos pedang, bersamaan waktunya seruling jadenya segera menutuk dan mengetuk kepunggung Lam-bing-it-hiong dan lain-lain.

Sementara itu Tok-sim-sin-mo sudah memperhitungkan, bahwa Hun Thian-hi pasti tidak tinggal diam, begitu melihat Thian-hi bergerak iapun cepat bertindak, langsung ia menyergap ke arah Coh Jian-jo berdua.

Thian-hi tahu bahwa Coh Jian-jo berdua berada dalam lindungan Pek-tok Lojin ia percaya dengan kepandaian Pek-tok Lojin akan mampu mengatasi Tok sim-sin-mo maka ia diam-diam saja tanpa menghiraukan lawan, sebaliknya serulingnya dimainkan secepat kilat menyerang Bing-tiong- ho-tho dan lain-lain dari belakang.

Adalah diluar perhitungannya bahwa Tok-sim-sin-mo sendiri juga punya pengangan yang cukup mantep, kalau tidak sekali2 ia tidak akan mengambil banyak resiko menempuh bahaya besar melaksanakan niatnya.

Begitu ia menerjang ke arah Coh Jian-jo, Pek-tok Lojin lantas menyeringai dingin, pikirnya aku belum lagi mencari kau malah kau sudah meluruk datang sendiri, sungguh kebetulan malah. Gesit sekali ia bergerak melancarkan ilmu pukulannya yang beracun dikombinasikan dengan langkah kakinya yang aneh gentayangan, tahu-tahu telapak tangannya sudah menyelonong tiba di depan dada musuh, sekali tepuk pasti dapat menamatkan jiwa musuh besarnya ini.

Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo tertawa dingin, di saat telapak tangan Pek-tok Lojin hampir saja mengenai sasarannya sekonyong-konyong selarik sinar putih kemilau melesat datang langsung menusuk ke tenggorokan Pek-tok Lojin.

Keruan bukan kepalang kaget Pek-tok Lojin, bila telapak tangannya diteruskan menepuk ke dada musuh, Tok-sim-sin-mo jelas bakal mampus, tapi dirinya sendiri juga pasti menjadi korban tusukan pedang lawan, sudah tentu ia tidak mengira bahwa Tok-sim-sin-mo masih punya simpanan sebilah pedang tajam, secara reflek cepat luar biasa ia mencelat mundur, batal menyerang sekaligus menyelamatkan diri.

Begitu ia mundur cukup setindak saja Tok-sim-sin-mo sudah melintangkan pedang pendeknya dileher Coh Jian-jo, sembari tertawa besar ia berseru, “Semua berhenti!”

Waktu ia berpaling pergolakan angin samberan senjata mereka yang bertempurpun sudah mereda, tapi kesudahan pertempuran itu sungguh sangat mengejutkan hatinya. Tampak Lam- bing-it-hiong dan lain-lain sudah kena tertutuk oleh seruling Hun Thian-hi, mereka berdiri kaku mematung.

Sedetik dalam waktu yang bersamaan dari hasil seruling Thian-hi menutuk para musuhnya mendadak ia mendengar seruan Tok-sim-sin-mo waktu ia membalik tubuh, iapun dibikin kaget, diam-diam ia gegetun kenapa tadi terlalu mengentengkan penilaiannya pada lawan, sekarang menyesal pun sudah kasep, Coh Jian-jo terjatuh pula ke tangan Tok-sim-sin-mo.

Coh Jian-jo memejamkan mata tak bergerak atau bersuara. Pedang pendek Tok-sim-sin-mo mengancam tenggorokannya, nalurinya merasa bahwa pedang Pek-bong-kiam bikinannya yang paling dibanggakan sekarang ternyata dibuat mengancam jiwa penciptanya sendiri, betapa pedih hatinya sungguh seperti diiris-iris pisau.

“Bagus!” seru Thian-hi terlongong, “Sungguh aku kagum akan kecerdikanmu, baiklah hari ini kami mengampuni jiwamu sekali ini!”

“Ya, Coh Jian-jo berada ditanganku, apa yang kuperintah pada kalian harus segera dilaksanakan, kalau tidak bagaimana akibatnya kukira kalian cukup paham!”

“Benar-benarkah ucapanmu itu? Meski Coh Jian-jo berada di tanganmu, tapi apa yang berani kau lakukan terhadapnya?”

“Bebaskan tutukan jalan darah anak buahku!” seru Tok-sim-sin-mo, nadanya meninggi dan dingin.

Perang batin sedang bergejolak dalam benak Hun Thjan-hi, ia berdiri tegak mengawasi Tok- sim-sin-mo kelihatannya tekanan Tok-sim-sum-mo bisa berhasil dengan gemilang, bila aku tidak menuruti perintahnya mungkin jiwa Coh Jian-jo bisa terancam atau piaing ringan mendapat siksaan yang cukup membuatnya menderita, apakah yang harus dilakukan? Mengorbankan Coh Jian-jo atau menuruti perintah Tok-sim-sin-mo yang berarti bertekuk lutut padanya?

Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, bentaknya. “Bagaimana kau tidak patuh?”

Dalam hati Thian-hi masih rada bimbang, serunya mendengus, “Apa yang berani kau lakukan pada Cih Jian-jo silakan kau laksanakan. Tapi sekali kau salah bertindak awaslah kau, seumpama harus mengorbankan dia seorang kita tidak akan memberi ampun kepada kau…. Kau harus tahu semakin keji dan telengas cara turun tanganmu mungkin kau sendiri nanti pun tidak akan tahan menerima pembalasannya!”

Tok-sim-sin-mo mengertak gigi, baru saja ia siap bertindaj mendadak terkilas dalam pikirannya bahwa betapapun seluruh jerih payahnya ini akhirnya bakal sia-sia, Hun Thian-hi cukup hebat, betapa pun ia tidak mau mengalah sehingga ia mati kutu, Memang ia tidak akan berani bertindak apa-apa kepada Coh Jian-jo, akhirnya ia mengalah dengan penuh kekecewaan, serunya, “Baiklah, kalian minggir. mari kuantar keluar sampai dipintu Jian-hud-tong, nanti kuserahkan dia kepada kalian!” — Besar harapannya sepanjang menuju keluar gua sana, banyak kesempatan dapat digunakan untuk mengubah keadaannya yang terdesak ini menjadi orang yang dipihak unggul.

Thian-hi tahu bahwa perjalanan ini teramat berbahaya, namun kecuali cara ini tiada penyelesaian yang lebih baik. Betapapun Tok-sim-sin-mo tidak akan sudi mengalah pula. Tapi jika ia menyetujui prakasa ini. lalu cara bagaimana ia harus bersikap dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan? Dasar Tok-sim-sin-mo memang seorang licik dan licin yang sulit dihadapi, apalagi Coh Jian-jo berada ditangannya lagi, maka dia akan lebih pongah dan takabur, untuk menghindari segala tipu muslihatnya sungguh sulit sekali.

Terpaksa akhirnya ia manggut-manggut, “Baik! Tapi jangan kau main curang, kalau tidak kau tidak akan bakal lolos dalam lima tindak cukup lima langkah aku dapat membereskan jiwamu dengan seluruh tubuhmu hancur lebur!”

Tok-sim-sin-mo menyeringai leoar, hatinya melonjak kegirangan, ia pernah melihat kepandaian silat Hun Thian-hi, naga-naganya memang rada lebih unggul dari kemampuannya, tapi alat2 rahasia dalam Jian-hud-tong ini teramat banyak dan sulit diraba, betapa pun tinggi ilmu silatnya, juga sulit mengembangkan dengan sempurna. Lima langkah? Hanya tiga langkah saja dirinya dapat menghilang, kenapa harus lima langkah?

Sampai berpikir2 dalam hati diam-diam ia tertawa geli, sungguh senang dan bersorak hatinya, tak perlu disangsikan bahwa kali ini ia bakal gagal lagi, menang atau kalah merupakan babak yang menentukan, maka jangan sekali2 menyia-nyiakan kesempatan ini, Begitulah sembari tertawa dingin Tok-sim-sin-mo beranjak keluar sambil menyeret Coh Jian-jo. Rona wajah Coh Jian-jo yang sedih dan lesu mendadak lenyap sama sekali, biji matanya memancarkan cahaya berkilat yang terang, terunjuk keteguhan hati pada air mukanya, ia mandah saja diseret oleh Tok-sim-sin-mo keluar dari kamar batu itu.

Sebelum berangkat Hun Thian-hi melirik ke arah Bing-tiong mo-tho dan lain-lain, sesaat ia kehilangan akal, mereka sama adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, kalau dilepas bakal menambah beban kalau tidak dilepas tak bisa digusur keluar, sesaat ia menjadi kebingungan.

Kebetulan Pek-tok Lojin maju mendekat, berturut-turut ia amat-amati orang-orang itu lalu satu persatu membuka tutukan jalan darah mereka. Semula Hun Thian-hi rada terperanjat, tapi karena Pek-tok Lojin yang melakukan ia tahu pasti perbuatannya punya alasannya sendiri.

Setelah dapat bebas Lam-bing-it-hiong dan lain-lain tanpa kuasa sama bergidik dan gemetar. hati semua orang sama mendelu. mereka tahu bahwa Pek-tok Lojin sudah menaruh racun pada tubuh mereka, entah kapan racun itu bakal kumat dan tibalah ajal mereka.

Pek-tok Lojin merupakan tokoh tertinggi dan terlihay dari Pek-tok-bun. cara buatan dan permainannya dalam menggunakan racun punya kepandaian khusus yang amat lihay, bagi korban yang kena racunnya sulit dapat diobati sendiri. Sudah tentu Tak-sim-sin-mo samgat gusar, namun ia dapat berpikir panjang, nanti bila dapat membekuk Hun Tnian-hi dan lain-lain, pertama-tama ia harus menekan Pek-tok Lojin untuk menyerahkan obat pemunahnya.

Setelah mengerjain para korbannya Pek-tok Lojin lantas berkata, “Sekarang kalian sudah terkena racunku, dimana kusimpan obat pemunahnya tiada seorang pun yang tahu.” — Habis berkata ia tertawa dingin.

Kejadian ini merupakan suatu tekanan pula bagi sepak terjang Tok-sim-sin-mo selanjutnya, soalnya orang-orang ini masih sangat diperlukan tenaganya untuk menghadapi Ang-hwat-lo-mo kelak, tapi urusan sudah lanjut maka ia harus dapat bertindak secara tepat dan tegas. Begitulah segera ia berseru, “Marilah kita berangkat!”

Sambil menenteng serulingnya Hun Thian-hi memburu dibelakangnya, Su Giok-lan menggandeng Coh Siau-ceng berada dibelakangnya, sedang Lam-bing-it-hiong dan lain-lain berada ditengah, sedang Ham Gwat berada dipaling belakang.

Begitu berada diluar kamar. Coh Jian-jo lantas bersuara, “Hun-sauhiap hati-hatilah, di depan sebelah kiri ada sabuah pintu rahasia, malah ada jebakannya pula!”

Mendengar peringatan ini lekas-lekas Hun Thian-hi melangkah dua tindak lebih dekat, sudah tentu Tok-sim-sin-mo gusar bukan main, tapi apa yang dapat ia perbuat pada Coh Jian-jo. Tiba- tiba ia menghentikan langkahnya. dan menyeringai kepada Coh Jian-jo. Sungguh diluar dugaannya bahwa Coh Jian-jo dapat menunjuk tempat-tempat rahasia itu sedemikian’hapal dengan cara yang sepele lagi kalau keadaan ini berlangsung lebih lanjut, mana dirinya dapat menjebak dan meringkus Hun Thian-hi dan lain-lain. Kecuali menggunakan akal licik lainnya, begitulah otaknya berputar memikirkan cara yang lebih bagus dan lebih licik.

Dari belakang Hun Thian-hi mengejek, “Jangan kau mengatur tipu dayamu yang lain, aku berani bertaruh kau tidak akan mendapat keuntungan apa-apa, mungkin malah mempercepat keruntuhan cita-citamu yang gila2an itu!”

Sebagai seorang ahli bangunan dengan kepandaian tehniknya yang luar biasa, adalah mustahil kalau mau mengelabui Coh Jian-jo akan segala peralatan rahasia di dalam Jian-hud-tiong ini, tapi justru Tok-sim-sin-mo harus mencari akal cara bagaimana ia harus menghilangkan duri yang merupakan ancaman langsung bagi tindakan dirinya selanjutnya. Sedikit berpikir akhirnya ia seret pula Coh Jian-jo melanjutkan ke depan.

Sepanjang jalan ini sering Coh Jian-jo memberi peringatan dimana ada dipasang alat2 rahasia, tapi kelihatannya Tok-sim-sin-mo sudah tidak terpengaruh akan hal-hal ini, ia terus gusur Coh Jian-jo dengan pelan-pelan.

Lambat laun tekanan batin Hun Thian-hi semakin kendor, dengan adanya Coh Jian-jo disitu menjadi banyak lega dan tidak perlu kuatir lagi akan segala lintangan alat2 rahasia itu.

Berselang agak lama perjalanan itu terus dilanjutkan dengan situasi yang sama Hun Thian-hi semakin lega tapi mendadak Coh Jian-jo berseru keheranan, seakan-akan ia menemukan sesuatu keganjilan yang menarik perhatiannya. Thian-hi menjadi tegang mendengar seruannya itu, cepat ia mendekat dua langkah.

Terdengar Coh Jian-jo berkata, “Sepanjang jalan ini bukankah tadi sudah pernah kita lalui?” “Apakah kau tidak salah lihat, Jian-hud-tong ini seperti istana sesat di belakang sana, cara

bangunannya sangat mirip dan serupa!” Dalam percakapan itu mereka beranjak terus ke depan, Hun Thian-hi menjadi was-was, sebagai seorang ahli pasti Coh Jian-jo punya alasan mengucapkan kata-katanya. Tapi Tok-sim-sin-mo tidak peduli apa yang terpikir oleh Hun Thian-hi, ia seret terus Coh Jian-jo ke depan.

Memang Coh Jian-jo punya pandangannya sendiri. ia tahu siapapun meski ia seorang ahli dalam bidangnya, tak mungkin dapat menciptakan dua barang yang sangat mirip bentuk dan rupanya.

Sekarang Tok-simsin-mo berputar-putar dalam gua yang rumit dan menyeramkan ini, entah apakah tujuannya.

Sementara Tok-sim-sin-mo sendiri belum tahu bahwa akal liciknya ini sudah diraba oleh Coh Jian-jo tapi dia harus bertindak secepat mungkin sebelum Hun Thian-hi dan lain-lain tahu kemana tujuannya lantas melaksanakan tindakan selanjutnya itulah yang bakal menjadi kunci penentuan.

Tiba-tiba ia menyeret Coh Jian-jo melangkah lebih cepat mencapai sebuah serambi panjang tiba di sebuah pengkolan lalu secepat kilat menyusup ke dalam belokan itu.

Ham Gwat lebih dulu dapat meraba permainan licik Tok-sim-sin-mo ini. Orang sengaja membawa mereka putar kayun sehingga ketegangan semakin mengendor dan perhatianpun tidak terhimpun lagi. lalu dengan caranya yang kilat ia berkelebat menghilang ke dalam jalan rahasia. Tangkas sekali tubuh Ham Gwat. Tiba-tiba melambung tinggi terus menukik turun menubruk ke arah Tok-sim-sin-mo.

Tetapapun Tok-sim-sin-mo merupakan seorang yang licik dan licin punya pengalaman luas, langkah permainan ini sudah dipersiapkan begitu rapi dan sulit diketahui sebelumnya, begitu cepat ia bergerak sampai Coh Jian-jo tidak sempat berteriak, tahu-tahu badannya ikut terseret masuk ke jalan rahasia itu.

Cepat sekali jalan rahasia itu sudah tertutup kembali, sedikit terlambat sedetik Ham Gwat sudah tercegat di depan pintu, pedangnya panjang membacok di atas pintu batu yang keras itu, sehingga memercikkan lelatu api.

Sesaat semua orang sama berdiri terlongong, Ham Gwat menghela napas dengan kecewa, Hun Thian-hi sendiri yang paling menyesal akan kelalaiannya, otaknya diperas dengan keras memikirkan cara meloloskan diri, tiba-tiba ia dapat firasat betapa berbahayanya mereka tetap tinggal di tempat itu, segera ia berseru, “lekas! Kita tinggalkan tempat ini dulu!”

Tapi Lam-bing-it-hiong dan kawan2nya tegap berdiri tak bergerak, melihat Tok-sim-sin-mo dapat lolos, terang Hun Thian-hi terjatuh pula dalam belenggu majikannya, harapan mereka untuk hidup lebih besar, asal mereka tidak mau pergi, apa yang Hun Thian-hi dapat perbuat pada mereka, bagaimana juga Hun Thian-hi masih memerlukan lindungan mereka.

Hun Thian-hi menjadi gemes dan gegetun, ia paham akan situasi yang berbahaya ini bakal digunakan Tok-sim-sin-mo untuk mengatur tipu daya yang lebih keji sekali ia menggerakkan alat2 rahasianya, mereka pasti menjadi korbannya yang pertama.

Maka Lam-bing-it-hiong dan lain tidak boleh ketinggalan, segera ia mengancam, “Hayo jalan!

Kalau tidak kubunuh kalian, kalian sudah kena racun, masa dapat hidup berapa lama lagi!”

“Justru karena tidak dapat hidup lebih lama lantas kau berani berbuat apa terhadap kami, bila kami mati kau pun bakal modar dengan tiada tempat kubur kalian!” demikian jengek Bing-tiong- mo-tho. Sekilas Ham Gwat pandang Siang Bu-ki dan lain-lain, lalu berkata tawar, “Biar mereka tinggal disini, mari kita tinggal pergi saja!”

Sesaat Hun Thian-hi beragu, akhirnya ia manggut-manggut bersama Pek-tok Lojin dan lain-lain mereka maju ke depan. Ia insaf sebagai manusia durjana Tok-sim-sin-mo tidak akan melepas mereka hanya karena Bing-ting-mo-tho dan lain-lain berada bersama mereka. Sebagai musuh besar rasanya. Tok-sim-sin-mo tidak akan lega sebelum mereka sama dilenyapkan.

Baru saja mereka mulai bergerak, tiba-tiba diempat penjuru sekelilingnya terdengar suara gemuruh, tampak dua lembar papan batu tebal pelan-pelan maju menghimpit dari dua samping mereka, jadi mereka terkurung di tengah lorong gelap itu.

Hun Thian-hi tertegun, menurut perkiraannya setiap lembar papan batu ini paling ringan ada ribuan kati beratnya, tenaga manusia tidak akan mungkin kuasa menjebolnya keluar. Jelas mereka terkurung rapat dan tinggal menunggu waktu untuk ajal belaka. Untung Tok-sim-sin-mo masih memerlukan tenaga Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain, sehingga mereka masih punya. setitik harapan. kalau dapat bertindak secepat-cepat dan tepat mungkin nanti ada kesempatan untuk meloloskan diri meskipun cuma satu atau dua diantara mereka.

Selama itu Hwesio jenaka tinggal berdiri diam menggendong tangan. Melihat orang teringat oleh Hun Thian-hi akan Siau-bin-mo-in, serta merta hatinya terharu dan pedih rasanya.

Semua orang sama melayangkan alam pikirannya masing-masing, tapi mereka sama pula harus meronta untuk hidup sebelum ajal mendatang.

Lapat-lapat terdengar gema gelak tawa Tok-sim-sin-mo yang menggila kesenangan dalam gua sebelah dalam sana, begitu lantang dan bergelombang suara tawa itu, bagi pendengaran Hun Thian-hi sangat menusuk perasaan.

Dari tempat yang agaknya sangat jauh itu Tok-sim-sin-mo berteriak, “Bagaimana, sebenar- benarnyalah siapa yang menang dan siapa yang kalah?” suara begitu bangga dan mendengung, “Syarat apa yang hendak kau ajukan, lekas katakan!” Lalu terdengar pula tawanya terbahak- bahak.

Dengan pandangan dingin Thian-hi pandang Bing-tieng-mo-tho dan lain, katanya, “Lepaskan kami keluar nanti kami serahkan anak buahmu ini.”

Tok-sim-sin-mo tergelak-gelak menggila, serunya, “Begitu saja.”

Thian-hi menjadi gusar, serunya, “Cukup begitu saja, hanya itulah syarat yang dapat kuajukan!”

“Kalau hanya itu syaratmu aku tidak bisa terima, kau kan paham, akupun ingin ajukan syaratku yang tidak boleh dibantah lagi, kau, Ham Gwat dan Pek-tok bertiga tetap tinggal disana, tiga orang yang lain boleh silakan pergi untuk mengganti jiwa mereka!”

“Jadi syarat yang kuajukan tidak dipertimbangkan sama sekali.”

“Jangan kau tekan aku dengan alasan seenak udel-mu sendiri, sekarang kaulah yang meminta2 kepadaku, tidak menjadi soal bagi aku sembarang waktu dapat ku turun tangan tanpa pedulikan mati hidup mereka! coba kau berpikir kembali!”

“Kaum persilatan bukan melulu beberapa orang seperti kami ini, seumpama kami mati semua, bulu sayapmu juga bakal dipreteli, akibat ini teramat fatal bagi kau sendiri ingat Ang-hwat-lo-mo akan semudah membalikKan tangan menumpas kau serakang. Kau memutar balik persoalan, coba kau pikir lebih lanjut adalah kepentinganku terhadapmu? Cobalah kau pikirkan dengan seksama!”

Gelak tawa Tok-sim-sin-mo terdengar semakin menjauh dan akhirnya sirna tiada terdengar suaranya pula. Sementara dua papan batu dikiri kanan itu pelan-pelan pula bergerak menggeser ke tengah menggencet mereka.

Bercekat hati Thian-hi. kelihatannya Tok-sim-sin-mo punya pegangan yang sudah matang, pertanyaan Thian-hi ia jawab dengan reaksi yang kenyataan ini, kelihatannya sedikitpun ia tidak ragu-ragu lagi mengambil keputusannya.

Semula Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya memang mengemban setitik harapan, tapi dalam keadaan yang sudah gawat dan kenyataan ini, mau tak mau mereka menjadi mencelos hatinya. ternyata Tok-sim-sin-mo begitu tega membuang mereka seumpama membuang sampah, dan yang lebih celaka mereka bakal ikut menjadi korban keganasannya bersama musuh2nya.

Hwesio dienaka yang jarang buka bicara itu, tiba-tiba berseru kepada Tok-sim-sin-mo, “Tadi kau hendak melepas aku keluar, apakah kau tahu siapa aku sebenar-benarnya, begitu rendah kau menilai diriku?”

Dari jauh terdengar jawaban Tok-sim-sin-mo, “Persetan siapa kau, setelah kubereskan kau siapa kau adanya tak berguna lagi!”

Berkilat-kilat mata Hwesio jenaka, serunya, “Akulah saudara Lam Im!”

Agaknya Tok-sim-sin-mo tersentak kaget. kedua papan batu itu segera berhenti” bergerak, sebenar-benarnya ia hanya ingin menggertak dan menakut2i Hun Thian-hi dan lain-lain, demi mendegar ucapan Hwesio jenaka, segera ia berhenti menggerakkan alat2 rahasianya.

Hatinya berpikir2, apakah benar-benar? Benar-benarkah Lam Im punya saudara? Ia jelas sekali akan watak dan tabiat Lam Im, bila smpai membikin dia gusar, urusan pasti sulit diselesaikan, cuma soalnya apakah benar-benar Lam Im punya saudara sedikitpun ia tidak tahu, maka ia pun tidak berani segera mengambii kepastian.

Hwesio jenaka mengunjuk seri kegirangan. waktu pertama kali melihat tampang Pek-tok Lojin lantas ia pernah mimikirkan ke arah itu, orang yang dapat mengulupas kulit manusia dengan cara yang begitu rapi dan bagus mungkin hanya Sin-jiu-mo-ih Lam Im seorang. Kalau benar-benar dia, betapapun Tok-sim-sin-mo pasti merasa segan turun tangan kepadanya.

Begitu Hwesio jenaka buka bicara lantas Hun Thian-hi maklum kemana juntrungannya. dikolong langit ini mungkin memang hanya Sin-jiu-mo-ih seorang yang dapat mengoperasi muka orang dengan begitu sempurnanya.

Adalah Tok-sim-sin-mo ragu-ragu dan bimbang, raut wajah dan bentuk tubuh Hwesio jenaka jauh berbeda dengan Lam Im, apalagi sesudah keadaan mendesak baru Hwesio jenaka mengajukan persoalan ini, kemana juntrungannya, sungguh mencurigakan.

Tapi iapun heran dari mana Hwesio jenaka kenal akan Lam Im, pikirannya; bila hal ini sampai tersiar luas dikalangan Kangouw, pasti besar akibatnya, sebentar ia berpikir lalu serunya kepada Hwesio jenaka, “Seumpama benar-benar kau adik kandungnya pun tak berguna, ketahuilah dia sudah meninggal!” Hwesio jenaka melengak, tapi bukan kesana tujuannya, segera ia menyahut tertawa, “Aku hanya ingin tahu siapakah orangnya yang begitu pintar dapat mencari jenazah Giok-yap Cinjin, setelah sekian lama aku mereka-reka baru sekarang kuteringat pada beliau!”

Tok-sim-sin-mo tertawa dingin., ia insyaf akan akibatnya terlalu fatal bila hal ini sampai diketahul orang luar kalau sampai geger pasti Lam Im tidak mau keluar pula membantu dirinya.

Begitu hwesio jenaka selesai mengucapkan kata-katanya. papan batu itu pelan-pelan bergerak lagi, bercekat hati Hwesio jenaka, serunya, “Kenapa begitu sempit pikiranmu, bila kau ketemu dia harap bertanya kepadanya bahwa orang yang ingin dia cari sekarang sudah datang, nama gelaranku adalah Ceng Gwat!”

Tek-sim-sin-mo berjingkrak mundur saking kaget, matanya terbelalak, ucapan Hwesio jenaka terakhir ini bukan main-main, Ceng Gwat adalah murid Siau-bin-kim-hud yang berhubungan kental dengan Lam Im! Tapi dalam keadaan yang kontras ini ia tak bisa banyak pikir lagi, ia harus tetap bertindak menurut keputusan terakhir, cuma Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain cukup disayangkan.

Dinding batu itu bergerak terus semakin dekat hati semua orang sudah sama diliputi pikiran gelap dan bayangan kematian, mereka insaf bahwa dewa elmaut sudah dekat dan siap mencabut nyawa mereka bersama.

Sekonyong-konyong, sebuah batu bergeser disebelah samping depan sana dan terbukalah sebuah lobang yang cukup besar, tampak Pek Si-kiat seperti melayang turun dari kajangan bagai dewa penyelamat saja layaknya berdiri diambang lobang besar itu,

Hun Thian-hi sampai tersurut kaget, dilain saat ia berjingkrak kegirangan, sebenar-benarnya ia sudah siap begitu dinding batu itu bergerak semakin dekat Ia hendak kerahkan seluruh kekuatan gabungan semua orang untuk berontak bersama, apakah dinding batu setebal itu mampu bertahan terhadap pukulan bersama dari sepuluh lebih tokoh-tokoh kelas wahid.

Pek Si-kiat segera menggapai tangan ke arah Hun Thian-hi, bergegas Thian-hi seret Ham Gwat dan lain-lain memburu kelorong rahasia sebelah sana, katanya sembari berlari. “Paman Pek, kenapa kau mendadak muncul disini?”

Pek Si-kiat tertawa, ujarnya, “Empat puluh tahun lamanya aku bersemajam dalam gua ini, daerah mana saja sudah pernah kujelajahi!”

Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain jadi serba runyam. Untung segera Pek Si-kiat berkata, “Aku jauh lebih mendalami sifat Tok-sim. Kalian harus sadar, sesuatu yang bergabung demi kepentingan pribadi akhirnya pasti akan bujar pula karena kepentingan itu pula. Dan ini kenyataan, disaat dia tidak lagi meimerlukan tenaga kalian, atau dia tidak akan ragu-ragu lagi untuk meninggalkan kalian tetap hidup!”

Dalam pad itu begitu Tok-sim-sin-mo menggerakkan alat2 rahasianya lantas tinggal pergi, tapi meski ia sudah tak hadir di tempat itu, ia tahu bahwa urusan sudah menyimpang atau telah terjadi sesuatu perubahan. yang jelas bahwa Hun Thian-hi dan lain-lain sudah berhasil meloloskan diri dan menghilang dilorong yang lain. Keruan kejut dan murka pula hatinya, siapakah orang yang datang menolong, begitu pintar dia mampu menolong keluar Hun Thian-hi dan lain-lain.

Sementara itu Pek Si-kiat membawa Thian-hi dan lain-lain menyusuri lorong2 panjang yang belak belok, dia jauh lebih apal akan segala seluk beluk lorong2 itu dari Tok-sim-sin-mo. Ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo pasti juga sudah tahu bahwa seseorang telah datang membebaskan para tawanannya, mungkin tindakan selanjutnya segera bakal terjadi, sejenak ia menerawang sekelilingnya, lalu berkata, “Menyelusuri sepanjang lorong ini bila tidak terjadi suatu perubahan kita bakal tiba diluar gua, Thian-hi harus cepat putar balik bersama aku untuk mengejar Tok-sim- sin-mo. kalau terlambat, mungkin dia sudah menghilang!”

Thian-hi merasa diluar dugaan akan tekad Pek Si-kiat yang teguh itu. Apakah dia akan menurut usul orang, samar-samar ia merasa rada berat untuk meninggalkan sesuatu tapi mau tak mau

harus segera mengintil di belakang Pek Si-kiat, beberapa langkah kemudian ia berpaling

memandang ke arah Ham Gwat wajah orang kelihatan tetap dingin kaku, sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan hatinya. Mencelos hati Thian-hi, cepat ia memburu di belakang Pek Si- kiat.

Pek Si-kiat juga tahu akan tindak tanduknya, tapi saat ini lebih penting dari persoalan asmara muda mudi, segera ia bawa Hun Thian-hi menyusup kesebuah jalan rahasia disebelah samping.

Beberapa kejap kemudian, Pek Si-kiat membalik tubuh dan berkata lirih kepada Hun Thian-hi, “Perlahan-lahan sedikit. kalau tidak salah dia semestinya berada disekitar sini!”

Perasaan Hun Thian-hi menjadi tegang, berulang kali Tok-sim-sin-mo dapat berinisiatif mengambil kedudukan yang menguntungkan dari posisi yang terdesak, ini merupakan hal yang tidak terlalu enteng dan mudah, mau tak mau ia harus memuji dan kagum akan kecerdikan otaknya, kini ia harus berhadapan pUla, dengan Tok-sim-sin-mo lawannya yang setimpal, sedang Ling-lam-kiam-ciang berada ditangannya pula, bukan saja ia harus berhadapan secara kekerasan bila perlu iapun harus mengadu kecerdikan otak dan kepintaran.

Dengan seksama Pek Si-kiat meneliti keadaan sekelilingnya, iapun merasa bahwa musuhnya sulit dihadapi, kalau tidak ia tidak perlu minta bantuan Hun Thian-hi.

Pek Si-kiat sendiri juga merasa was-was apakah Tok-sim-sin-mo dapat mengetahui akan kedatangannya, yang jelas dia pasti sudah tahu bahwa Jian-hud-tong telah kedatangan seseorang tamu yang tak diundang, malah bisa menggunakan alat2 rahasia dalam gua ini untuk menolong para tawanannya, entahlah dimanakah Tok-sim sekarang berada.

Sebelum melihat jejak dan orangnya Pek Si-kiat sulit menentukan dimana kedudukan Tok-sim- sin-mo sekarang, ia tidak perlu takut Tok-sim-sin-mo bakal menggunakan alat2 rahasia dalam gua mengurung dirinya, soalnya seluk-beluk mengenai alat2 rahasia dalam gua ini ia jauh lebin matang dari Tok-sim-sin-mo sendiri malah mungkin lebih jelas dan menyeluruh, tapi bagaimana juga ia harus berjaga-jaga dari segala muslihat musuh, seumpama Tok-sim-sin-mo menyergap dengan caranya yang licik, bukan mustahil dalam kalapnya ia gunakan segala daya upayanya untuk menyerang mereka kalau itu terjadi mereka bisa terdesak dalam bahaya.

Setelah menyelusuri sebuah serambi panjang, mendadak terdengar jengekan dingin dari tempat yang gelap disebelah sana, mereka berpaling bersama, tampak sepasang biji mata yang terang kemilau berkelap kelip di kegelapan sana, Tok-sim-sin-mo beranjak keluar dari sebuah jalan rahasia yang lain katanya, “Jite! Sungguh tak kuduga Kau adanya. Ternyata kau jauh lebih apal keadaan seluruh Jian-hud-tong ini dari aku!”

“Benar-benar atau tidak, kau sendiri paham,” sahut Pek Si-kiat masam, “Empat puluh tahun lamanya kita tersekam bersama dalam gua ini, kalau kau dibelenggu tak mampu bergerak sebaliknya aku dapat bebas bergerak kemana aku suka, sudah tentu aku jauh lebih jelas segala seluk beluk dalam gua ini.”

“Marilah sekarang kita bicara secara gamblang, segala peralatan dalam gua ini aku tidak sepaham kau, untuk melawan kau, jangan kata dua lawan satu, apalagi aku sudah terluka, satu lawan satu diantara kalianpun aku bukan tandingan lagi. Tapi perlu kuingatkan Coh Jian-jo masih berada di tanganku, kalau kau ingin dia tetap hidup kalian harus dengar ucapanku, aku masih mampu untuk melaksanakan rencanaku yang terakhir!”

Thian-hi ikut beragu, ia rasakan juga situasi sekarang yang menyulitkan, secara gamblang Tok- sim-sin-mo gunakan Coh Jian-jo untuk menekan dan mengancam mereka, terpaksa ia ikut bicara, “Kau punya permintaan apa silakan katakan saja.”

“Yang terang aku tidak akan bebaskan dia sebelum Ni-hay-ki-tin dapat kucapai. Tatkala itu aku pasti punya caraku sendiri untuk meloloskan diri!”

“Menanti kau memperoleh Ni-hay-ki-tin? Bukankah terlalu ngelantur dan jauh persoalannya?

Seumpama kau tidak mampu memperoleh Ni-hay-ki-tin itu lalu bagaimana?” “Coh Jian-jo tidak akan kubebaskan. Begitulah keputusanku!”

“Syarat yang kau tawarkan ini terlalu tinggi, begitu besar hasratmu untuk mendapatkan Ni-hay- ki-tin, tapi kenyataan kau tidak akan mungkin memperolehnya!”

“Kau kan belum tahu akan kemampuanku!”

“Bilamana kau mampu mencapainya, sejak lama orang lainpun sudah mengambilnya. Bukti menunjukkan selama sepuluh tahun Pek-tok Lojin masuk kesana, akhirnya ia kembali dengan bertangan kosong, agaknya kau menilai urusan ini menurut pandanganmu yang sempit, ketahuilah banyak aral rintangan yang tidak mungkin dapat kau jebol atau dapat kau atasi menurut akal sesatmu yang cupat itu. Jikalau kau mengukuhi pendapatmu, betapapun kami tidak akan tinggal diam!”