Badik Buntung Bab 27

 
Bab 27

Thian-hi melengak, bahwasanya ia tidak tahu bahwa di dalam Jian-hud-tong ini ada tersimpan harta benda apa maka ia menyahut tawar, “Untuk mencari harta? Kalau untuk harta benda apa perluku kemari. yang terang aku dipancing Tok-sim-sin-mo masuk ke tempat ini.”

Agaknya orang itu juga merasa diluar dugaan.

“Tok-sim-sin-mo?” gumamnya, matanya segera memancarkan rasa gusar yang berapi-api, sesaat kemudian baru ia bersuara pula, “Kau ahliwaris dari Wi-thian-cit-ciat-sek? Siapa kau? Dan murid siapa?”

Melihat sikap orang sudah tidak segarang semula, Thian-hi menjadi lega, sahutnya kemudian, “Benar-benar aku ahliwaris Wi-thian-cit-ciat-sek, Aku bernama Hun Thian-hi. Murid Lam-siau!”

“Lam-siau?” dengus orang itu.

“Ya!” sahut Thian-hi tersenyum ewa. “Tapi Ka-yap Cuncia menganugerahkan Wi-thian-cit-ciat- sek kepada aku, apakah ada salahnya? Sudan banyak yang kau tanyakan padaku, sekarang giliranku bertanya pada kau. Siapa kau sebenar-benarnya?”

Agaknya orang itu rada melengak akan jawaban dan pertanyaan Thian-hi, sesaat baru ia menjawab, “Tak menjadi soal kau tahu siapa aku. Akulah Pek-tok-kau Kaucu Pek-tok Lojin!”

Thian-hi tercengang. Pek-tok-kau bercokol di daerah barat daya. Pek-tok Lojin merupakan calon seorang iblis yang sangat disegani pada jamannya dulu, sepuluh tahun yang lalu mendadak menghilang dari percaturan dunia persilatan hingga kini belum diketemukan jejaknya, sehingga Pek-tok-kau pun menjadi cerai berai dan bubar karena tiada orang yang memimpinnya. Siapa duga sepuluh tahun kemudian, Pek-tok Lojin muncul pula di dalam gua yang sempit dan gelap ini, malah membekal ilmu silat yang lebih aneh dan lihay lagi. sungguh sulit dibayangkan akan kebenar-benarannya.

Dan yang menambah keheranannya bahwa Pek-tok Lojin kenapa bermuka mirip sekali dengan Giok-yap Cinjin. Tokoh macam Pek-tok Lojin yang diberitakan di Kangouw dulu tidak menyerupai bentuknya sekarang.

Agaknya Pek-tok Lojin tahu apa yang tengah di sangsikan oleh Thian-hi, katanya tertawa dingin, “Kau heran kenapa aku berubah seperti bentukku ini bukan? Baiklah kujelaskan. Sepuluh tahun yang lalu aku masuk ke Jian-hud-tong dengan tujuan mencari Ni-kay-ki-tin, tapi sepuluh tahun kemudian baru aku berhasil dapat keluar.”

Tersentak hati Thian-hi, serunya, “Ni-hay-ki-tin?” — Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya bahwa Ni-hay-ki-tin berada di dalam Jian-hud-tong ini, mimpi juga tidak menduga sebelumnya.

“Ya, berada di dalam gua ini,” jengek Pek-tok Lojin. “Jika masuk lebih dalam sana tibalah di Mi- kiong (istana sesat), aku masuk kesana dan menghabiskan waktu sepuluh tahun baru berhasil keluar. Waktu berjalan keluar aku sudah kehabisan tenaga, kebetulan bentrok dengan Tok-sim- sin-mo. Dalam keadaan payah sudah tentu aku bukan tandingannya, gampang saja aku teringkus olehnya, dia mengupas kulit mukaku dan mengganti dengan bentuk lain, ia menekan aku harus mendengar perintahnya!” ~ sampai disini ia bergelak tawa saking murka dan penasaran. Sekarang baru jelas bagi Thian-hi duduk perkara sebenar-benarnya Tok-sim-sin-mo memang sengaja hendak membuat geger dunia persilatan dengan rencana jangka panjang secara diam- diam ia menculik jasat Giok-yap Cinjin dan mengelupas kulit mukanya untuk ditempelkan di muka Pek-tok Lojin, secara berani ia coba-coba melaksanakan rencana jahatnya. Untung Pek-tok Lojin tidak sampai kena diperalat olehnya, kalau tidak entah bagaimana jadinya dengan gelombang pertikaian dunia persilatan.

Terdengar pula Pek-tok Lojin melanjutkan, “Beruntung akhirnya aku dapat lolos dari genggamannya itu, aku sembunyi di tempat ini dan kebetulan ketemu dengan Siau pek-mo (siular putih kecil, pernah terjadi hampir saja Tok-sim~sin-mo menemui ajalnya di bawah keganasan bisa Siau-pek-mo. Sayang ia takut melihat sinar cahaya!” — Sampai disini ia merandek lalu sambungnya mendengus dingin, “Kalau tidak mungkin sejak lama bersama Siau-pek-mo aku sudah keluar dari gua ini. Tapi selama mengeram diri disini aku berhasil juga mempelajari Ling- coa-pou, tapi aku tak kuasa meninggalkan tempat ini.”

Hun Thian-hi berpikir sejenak. lalu katanya, “Cara Bagaimana kau bisa punya hasrat untuk mencari Ni-hay-ki-tin itu. Kalau kau tidak memiliki Badik buntung mana bisa menemukan Ni-hay- ki-tin itu?”

Pek-tok Lojin terkekeh dua kali, ujarnya, “Bagaimana juga, aku harus menemukan Ni-hay-ki-tin itu. Sepuluh. tahun aku berdiam dalam gua ini, selama sepuluh tuhun ini aku sudah menjelajahi seluruh Mi-kiong (istana sesat), di setiap tempat penting ada kutinggalkan tanda2 rahasia, aku tahu cara bagaimana masuk juga tahu cara bagaimana keluar. Aku percaya sekali lagi aku masuk kesana pasti dapat menemukan Ni-hay-ki-tin itu!”

Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Mungkin kau bisa, apakah kau yakin benar-benar sekali lagi hendak kesana, kau tidak bakal tinggal terkurung lagi selama sepuluh tahun?” — berhenti sejenak lalu ia melanjutkan, “Kau sudah berkorban sepuluh tahun, sehingga Pek-tok-bun lenyap dan dilupakan para sahabat Kangouw, kau mendapat lebih banyak atau kehilangan lebih banyak? Coba kau renungkan antara untung dan ruginya.”

Pek-tok Lojin menggeram, ia menunduk tanpa bersuara.

Hun Thian-hi berkata lebih. lanjut, “Kalau kau sudah tahu bahwa Ni-hay-ki-tin pasti tersimpan di dalam Jian-hud-tong, masa tiada orang lain pula yang tahu? Kenapa mereka tidak meluruk kemari? Bukan mustahil kehilangan atau kerugian yang mereka derita jauh lebih besar dari apa yang mereka dapatkan.”

Pek-tok Lojin menggeram sekali lagi, meski wataknya keras dan seperti penasaran tapi hatinya sudah mulai menyesal, tekadnya mencari Ni-hay-ki-tin semula memang menyala-nyala, dan usahanya ini merupakan suatu taruhan yang sangat berbahaya bagi jiwa dan raganya. Alhasil ia kalah dalam taruhan, apakah aku harus melanjutkan permainan judi ini? Atau berhenti sampai disini saja? begitulah ia sedang menerawang apa yang harus dia lakukan selanjutnya.

Sementara itu Hun Thian-hi juga sedang melayangkan pikirannya, ia rasakan betapa culas dan keji jiwa Pek-tok Lojin ini, bila sekarang dia dapat keluar, pasti harus dua orang bersamaan, tak mungkin seorang diri ia keluar dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Tapi bila dapat keluar. pasti Pek-tok Lojin bakal menimbulkan bencana bagi kaum persilatan umumnya, ini merupakan suatu persoalan pelik yang sulit dipecahkan.

Ia berpikir cara bagaimana supaya Pek-tok Lojin tidak mengganas pula di Bulim bila nanti bisa keluar? Kecuali Pek-tok Lojin’ dapat digugah watak dan pikiran sesat menjadi lurus, kalau tidak tiada jalan lain yang lebih sempurna. Akhirnya Pek-tok Lojin angkat kepala, katanya kepada Hun Thian-hi, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku terpikir bila seseorang dapat melanjutkan kehidupannya dalam keadaan keputus-asaan, lalu apa yang harus dia lakukan?”

Berkilat biji mata Pek-tok Lojin, dua kali hidungnya mendengus, katanya, “Aku pun tidak tahu.

Kenapa kau harus berpikir sedemikian banyak dan begitu rumit?”

Thian-hi menyahut pelan-pelan, “Aku merasa itu sangat penting. Sekarang kita harus siap dan menyadari lebih dulu apa yang harus kulakukan sesudah aku dapat keluar?”

“Jangan kau berangan2.” demikian jengek Pek-tok Lojin, “Kita berdua tidak akan mampu keluar, seorang diri aku sudah terkurung sepuluh tahun, mendapat kau sebagai teman juga bolehlah”

“Memang mungkin tak bisa keluar. Tapi apakah kau tidak ingin keluar?”

“Keluar? Kerdil benar-benar pikiranmu. Seumpama tiada orang yang merintangi kau, kau takkan mampu keluar seorang diri, apalagi Tok-sin-sim-mo ada diluar sana, memasang berbagai alat rahasia lagi. untuk keluar sesulit memanjat ke atas langit.”

Hun Thian-hi tersenyum, katanya, “Betapapun sukarnya, aku harus keluar. Masih banyak tugas yang harus kurkerjakan, aku harus keluar!”

“Anggapmu aku sendiri tidak punya urusan?”

Hun Than hi pandang Pek-tok Lojin, terlihat sorot matanya mengunjuk rasa kepedihan hatinya ia tertawa lalu berkata, “O, begitu? Semula kusangka kau tidak ingin keluar?”

Melihat sikap Pek-tok Lojin, ia mereka-reka orang pasti mempunyai ganjalan dalam lubuk hatinya, tapi entah persoalan apa. Pikirnya siapa saja, setiap manusia bila dia masih punya rasa perikemanusiaan. hatinya tentu takkan terlalu bejat, sebelum watak kemanusiaannya pudar pasti dia dapat diinsafkan dari perbuatan jahatnya, manusia sejak dilahirkan memang bersifat bijaksana dan kenal cinta kasih. soalnya cara bagaimana ia menjalani hidupnya dalam pergaulan masyarakat. Demikianlah Pek-tok Lojin, meskipun ia jahat dan keji. namun dia masih mempunyai kesadaran jiwa yang masih bisa ditolong dari jurang kesesatannya.

Pek-tok Lojin menjengek hidung, ia menengadah dan berpikir.

Hun Thian-hi tertawa-tawar, katanya, “Di mulut saja aku bicara; tapi asal percaya bahwa setiap orang tentu mempunyai gagasan hidupnya. masih banyak urusan yang mesti kukerjakan. Dan karena semua urusan itulah aku harus berjuang untuk hidup, maka aku harus keluar dengan tetap hidup. Entahlah dengan persoalanmu!’“

“Seumpama kau tadi sudah ajal di tanganku bagaimana?”

“Kenyataan aku masih hidup! Sepuluh tahun lamanya kau tersekap dalam gua ini kau masih tetap hidup, kenapa?”

Pek-tok Lojin tertunduk lebih dalam. terketuk sanubarinya. Hun Thian-hi berkata pula, “Selama kita masih hidup, meski hanya satu hari. maka kita harus menjadi manusia, secara baik-baik. Kau tahu apakah manusia itu? Manusia itu adalah yang punya jiwa dan prikemanusiaan, bila seseorang telah kehilangan prikemanusiaan, maka dia bukan manusia lagi.”

Mendadak Pek-tok Lojin angkat kepala, matanya mendelik gusar kepada Thian-hi desisnya, “Kau sedang memberi pengajaran kepadaku?”

“Kau tersinggung?” ujar Thian-hi tawar, “Aku tidak tahu asal-usulmu, tidak tahu karaktermu, mana bisa aku menyinggung kau?” sampai disini ia menepekur sebentar lalu sambungnya, “Kau pun tidak tahu riwayat hidupku. Ketahuilah ayahku menjadi korban secara konyol karena memiliki Badik buntung, akhirnya beliau meninggal di tangan Mo-bin Suseng.” dengan kalem lalu ia menceritakan pengalaman hidupnya selama ini.

Pek-tok Lojin mendengarkan dengan seksama, hatinya mulai tergugah, lambat laun ia seperti baru siuman dari tidurnya yang pulas dan masih ragu-ragu akan impian yang dialaminya. dalam tidur pulasnya itu. Dia masih belum mau percaya begitu saja akan ketulusan hati Thian-hi menceritakan segala urusan yang melibatkan dirinya dengan panjang lebar. Tapi keadaan mau tidak mau mengharuskan dia mesti percaya. Segala urusan sampai yang paling mendetail semua diceritakan oleh Hun Thian-hi tanpa malu-malu, satupun tiada yang disembunyikan.

Begitulah dalam pendegaran itu, hatinya pun ikut bergejolak akan situasi Kangouw yang timbul tenggelam, ia merasa kuatir pula akan urusan dirinya yang masih mengganjal dalam sanubarinya Ia merasa masih banyak urusan atau pekerjaan yang harus segera ia lakukan.

Sesaat lamanya cerita Hun Thian-hi berakhir, sambil tertawa ia menambahkan, “Adalah sangat gampang bagi seorang manusia untuk berbuat kelewat batas diluar kesadarannya, sebuah urusan yang dianggap sepele atau tidak berarti bagi orang itu, dapat meninggalkan kesan yang mendalam dan diukir di lubuk hati orang lain. Umpamanya aku dengan menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi sekaligus kubunuh puluhan jiwa manusia, tatkala itu aku merasa aku tidak berdosa, mungkin tujuanku melulu untuk membela diri dan demi keselamatan jiwa, tapi orang lain sebanyak puluhan orang harus dikorbankan, seumpama mereka tidak menyesali perbuatanku, aku pun akan menyesal dan selalu menjanggal dalam sanubariku…. yang jelas keluarga atau sanak famili orang-orang yang menjadi korban itu akan membenci dan dendam kepadaku selama hidup ini!”

Pek-tok Lojin menepekur diam, agaknya benaknya mulai menyadari akan perbedaan antara baik dan buruk, asal kita berbuat berlandaskan kebenar-benaran dengan kebijaksanaan pula, dengan adanya cinta kasih bagi sesama umat manusia pula, orang akan tergugah dari pikiran sesatnya dan kembali ke jalan benar-benar.

Dengan tertawa Hun Thian-hi menandaskan, “Aku harus keluar, bagaimanapun akibatnya!.”

Pek-tok Lojin menunduk, tekad Hun Thian-hi begitu besar, membuat hatinya merasa sesal dan terketuk, akhirnya ia membuka mulut dan tersenyum, katanya, “Sepuluh tahun yang lalu waktu aku meninggalkan rumah, keluargaku melarang aku kemari, tapi akhirnya aku kemari juga.

Diwaktu aku terkenang pada mereka, mereka sudah tidak berada di sampingku lagi!”

Mendengar ucapan dan sikap Pek-tok Lojin, sungguh berjingkrak hati Thian-hi katanya, “Mengandal kekuatan kita bersama, mungkin dapat menjebol keluar gua.”

Pek-tok Lojin menunjuk memandangi si ular putih kecil yang melingkar di tanah, sambil menghela napas ia ulapkan tangannya ke arah si ular putih serta berkata, “Kau masuklah, aku hendak pergi, kelak kutengok disini.” Ular kecil putih itu seperti bisa mendengar ucapan manusia, ia berputar satu lingkaran di bawah kaki Pek-tok Lojin sambil menengadahkan kepalanya lalu melata masuk ke dalam gua yang dalam dan gelap sana.

Setelah melihat si ular putih itu menghilang, Pek-tok Lojin menghela napas panjang, keadaan memaksa dia harus meninggalkan tempat ini, mendadak merasa kepercayaan pada dirinya bertambah kuat dan teguh, seolah-olah ia sudah mendapat firasat dan yakin benar-benar bersama Hun Thian-hi mereka akan dengan mudah bebas dari kurungan.

Akhirnya ia berpaling ke arah Thian-hi, katanya, “Baik, mari kita berangkat!”

Hun Thian-hi tertawa lebar dan puas, terasa olehnya bahwa sekarang Pek-tok Lojin sudah pulih kembali akan kesadaran kemanusiaannya, seolah-olah ia seperti kehilangan suatu tekanan sehingga hatinya terasa longgar dan enteng. Sementara racun di lengan tangannya pun sudah lenyap dan sudah pulih seperti sediakala. Begitulah mereka beranjak keluar, dia belum tahu apakah mereka bakal mampu menerjang keluar dari kepungan yang ketat dalam gua yang penuh alat2 rahasia, tapi mereka harus mencoba dan berjuang.

Setelah Tok-sim-sin-mo memancing dan menjebak Hun Thian-hi masuk ke jalan rahasia itu, akhirnya ia meloloskan diri melalui jalan rahasia lainnya, sambil mengulum senyum kemenangan dan sinis ia tinggal pergi, ia tahu akan tabiat Pek-tok Lojin kalau Hun Thian-hi masuk ke sana jelas kematianlah yang bakal menimpa dirinya, apalagi. muka Pek-tok Lojin sudah dikelupas dan diganti dengan kulit muka Giok-yap Cinjin, dalam keadaan kaget dan ketakutan melihat keadaan yang seram itu, bukan mustahil Hun Thian-hi mesti terbunuh oleh Pek-tok Lojin yang ganas itu.

Begitulah sambil berpikir2 dengan keriangan hatinya langsung ia melangkah ke kamar tahanan Coh Jian-jo. Kira-kira beberapa kejap kemudian, waktu ia tiba di sebuah jalan lorong yang lurus, dilihatnya Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho berlari-lari mendatangi tergesa-gesa, kontan ia mengerut alis, cepat Bing-tiong-mo-tho maju memberi hormat serta memberi lapor, “Pangcu! Hun Thian-hi sudah menyelundup masuk di Jian-hud-tong!”’

Tok-sim-sin-mo menyapu pandang mereka, katanya, “Dia sudah kupancing menuju ke tempat Pek-tok Lojin, mari kita tengok keadaan Coh Jian-jo!”

Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho saling pandang dengan terkejut, mereka terbungkam seribu basa, betapapun Tok-sim-sin-mo jauh lebih hebat dan lihay dalam segala tindak tanduk, begitulah mereka mengintil di belakang orang.

Waktu mereka sampai di kamar batu itu, tampak Coh Jian-jo sedang duduk terpekur entah memikirkan apa. Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo maju menghampiri, katanya menjengek dingin, “Coh Jian-jo! Pek-tok-hek-liong-ting buatanmu itu sungguh baik sekali, ja, aku harus berterima kasih kepada kau. Apakah kau pernah memikirkan cucumu perempuan?” — Nadanya sinis matanya berapi-api mengunjuk hawa membunuh.

Pelan-pelan Coh Jian-jo bangkit sahutnya, “Hal itu sejak mula memang kuketahui, meski aku tahu cara membuatnya, tapi baru pertama kali itu kupraktekkan pembuatannya bukan mustahil ada kekurangannya.”

Tiba-tiba telapak tangan Tok-sim-sin-mo melayang dan “Plok” Coh Jian-jo ditamparnya sampai tersungkur jatuh, mulut Tok-sim-sin-mo mendesis dengan kejam, “Benar-benarkah begitu?”

Perlahan-lahan Coh Jian-jo merangkak bangun, dengan bungkam ia berdiri tegak. Tok-sim-sin-mo menj< i katanya, “Tidak menjadi soal bila kau ingin modar, tapi kau harus ingat

cucumu perempuan berada ditanganku, hati-hatilah aku bisa menyiksanya dengan berbagai alat kompes, tahu!”

Raut mata Coh Jan-jo berkerut-kerut dan gemetar, katanya, “Kau tak perlu berlaku kasar padaku, bila kau baik kepadanya, aku akan bekerja lebih baik bagi kau, persetan dengan orang lain yang terang kau harus baik-baik terhadap cucuku.”

Biji mata Tok-sim-sin-mo jelalatan, katanya, “Jangan kau main-main dengan aku, bila hasilnya tidak memuaskan, akan kupertontonkan kepadamu betapa dia menderita!”

Ternyata Coh Jan-jo menyahut dengan tawar, “Hun Thian-hi memperoleh Wi-thian-cit-ciat-sek, meski sekarang belum sempurna latihannya sehingga Lwekangnya tidak bisa disalurkan sampai puncak tertinggi, tapi kau sendiri punya perhitungan dan tahu benar-benar lambat atau cepat Pek- tok-hok-liong-ting tidak akan dapat melawannya. Jikalau aku tidak bantu kau, kau akan roboh dan jatuh di tangannya.”

Mendengar nada ucapan Coh Jan-jo mendadak berubah begitu ketus jauh berlainan dengan sikapnya semula, Tok-sim-sin-mo rada diluar dugaan, namun dasar cerdik terpikir olehnya dengan sikap Con Jian-jo yang aneh ini, pasti dia mempunyai suatu rahasia yang belum diketahui orang lain, kenapa aku tidak memanfaatkan tenaga dan pikirannya demi kepentinganku? Serta merta ia tertawa menyeringai lagi, ujarnya, “Sayang ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek sekarang sudah mampus!”

Coh Jian-jo tersentak tertegun, ia tunduk termenung tanpa bersuara lagi!

“Bagaimana?” desak Tok-sim-sin-mo. “Adakah yang perlu kau beritahukan kepadaku? Kalau tidak segera aku harus segera kembali, ingat cucumu perempuan berada di genggamanku!”

Coh Jian-jo tertawa tawar, katanya, “Kalau kau mau melulusi satu permintaanku, akan kubuatkan semacam alat rahasia yang teramat jahat dan berbisa pada Kau, para orang-orang gagah di seluruh kolong langit ini tiada seorang pun yang mampu menyelamatkan diri dari serangan buah tanganku ini”

Terpancar sinar terang dari biji mata Tok-sim-kin-mo, katanya, “Senjata rahasia apa, coba kau sebutkan dulu!”

“Setelah alat rahasia itu dapat kuciptakan, seluruh kaum persilatan di Bulim pasti takkan memberi pengampunan kepadaku, tatkala itu seumpama kau melepas aku pergi, akupun takkan dapat keluar seorang diri. Tapi hanya satu pengharapanku kepada kau, lepaskan cucuku perempuan. sungguh aku akan sangat berterima kasih kepadamu!”

Tok-sim-sin-mo terkekeh-kekeh, sejenak ia berpikir lalu katanya. “Kau katakan dulu barang apakah ciptaan barumu itu?”

“Tidak!” sahut Coh Jian-jo menggeleng kepala. Kali ini aku tidak akan sebutkan lebih dulu!”

Tok-sim-sin-mo tertawa kering, katanya, “Kau harus tahu. sekarang kaulah yang memohon kepadaku bukan aku yang meminta2 kepada kau, sedang cucu perempuanmu masih di tanganku, ingatkah kau!”

“Aku tidak akan dapat kau ancam pula sekarang. kau sendiri akan paham, selamanya adalah kau yang meminta2 kepadaku, soalnya karena kau tangkap cucuku untuk dijadikan sandera belaka. Seumpama benar-benar Hun Thian-hi sudah meninggal, toh aku bukan tidak tahu orang pandai dan lihay di dunia ini bukan melulu dia seorang…. Terutama Ka-yap Cuncia belum lagi muncul, Bu-bing Loni kau jauh bukan tandingannya. meski jiwamu seorang dapat kau pertaruhkan atas jiwa kita kakek dan cucu tapi cobalah kau berpikir sekali lagi atau akan kutunggu sampai kau berpikir dua belas kali.”

Berkilat-kilat sorot kekejaman dimata Tok-sim-sin-mo, dengan geram ia membanting kaki, dengusnya, “Urusan tidak segampang seperti yang kau katakan, aku boleh mati ditangan Ka-yap Cuncia, atau terbunuh oleh Bu-bing Loni, tapi mungkin cucumu bisa segera mampus dihadapanmu.”

Coh Jian-jo rada terpengaruh akan ancaman ini, katanya sember, “Kau pun tahu Ka-yap Cuncia selamanya tidak membunuh orang, bila dia meringkus kau, mungkin kau bisa disekap lagi selama lima puluh tahun!”

Biji mata Tok-sim-sin-mo semakin mendelik gusar, desisnya, “Kau sangka aku bakal tunduk akan ancamanmu?”

“Aku tidak tahu apakah kau bakal menyerah,” ujar Coh Jian-jo, “Tapi bila kau melebarkan pandanganmu mungkin kau akan berbuat menurut usulku!”

“Coba kau terangkan dulu, senjata rahasia macam apa?”

Sesaat Coh Jian-jo beragu, akhirnya ia membuka mulut, “Namanya Kiu-siau-biat-hun-tan! Terbikin dari bahan pembakar yang paling ganas, tiada seorang pun yang kuat bertahan dari semburan api yang dahsyat.”


“Baik. sesaat berpikir Tok-sim-sin-mo lantas menyetujui, “Sekarang juga kusiapkan peralatannya, besok dapat kau mulai bekerja” — lalu ia menyeringai dingin dengan penuh kemenangan, bergegas ia membalik terus tinggal pergi.

Setelah Tok-sim-sin-mo pergi Coh Jian-jo menghela napas, dilihat dari sikap orang terang dia tidak punya ketulusan hati sesuai dengan janjinya, entah apa pula alasan yang diajukan besok pagi, urusan sudah telanjur sedemikian jauh, inilah tindakan terakhir bagi jalan yang harus ditempuh dirinya, jikalau tidak berhasil terpaksa ia harus berbuat menurut rencana, begitulah sambil berpikir2 ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

Betapapun Tok-sim-sin-mo tidak perlu disangsikan akan keculasan hatinya, kelihatannya memang dia rada mengalah, namun bukan mustahil dia memang punya rencana dan caranya sendiri. Dia tahu bahwa yang dikuatirkan Coh Jian-jo melulu keselamatan cucunya perempuan, bila cucunya dilepas jadi dia tidak punya kekuatiran pula, maka selanjutnya tidak perlu membuat segala peralatan untuk dirinya. yang terpenting sekarang ia harus cepat bertindak, kelihatannya sikap Coh Jian-jo mulai ketus dan teguh pendirian, kalau salah langkah pasti segalanya akan menjadi runyam, bukan mustahil pula orang akan rela gugur bersama!”

Cepat sekali, hari kedua sudah tiba, disaat Coh Jian-jo masih mondar-mandir berpikir2 Tok-sim- sin-mo sudah mendatangi. Segera ia perintah anak buahnya meletakkan segala peralatan di pinggir kamar, lalu berkata pada Coh Jian-jo, “Silakan sekarang kau mulai bekerja!”

Coh Jian-jo malah tinggal duduk tenang tanpa bersuara, dengan tenang ia pandang Tok-sim- sin-mo. Hatinya mulai gundah, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan menepati janjinya, dengan kesabaran dan ketenangan ia duduk ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan Tok-sim- sin-mo. Semalam suntuk ia tidak pejamkan mata, betapapun ia tidak boleh mundur setapakpun dari urusan ini!

Tok-sim-sin-mo menyeringai, katanya, “Kau persoalkan cucumu perempuan bukan? Biar kuberitahu padamu, tidak mungkin kulepas dia!”

Coh Jian-jo mandah tertawa hambar tak bersuara.

“Bila kulepas dia tiada membawa manfaat bagi kau, sewaktu2 aku bisa menangkapnya kembali, apalagi bila dia tidak tergenggam olehku, maukah kau membuatkan peralatan senjata rahasia itu kepadaku?”

“Persetan bagaimana kelak jadinya yang terang sekarang juga kau harus melepas dia pergi, segala urusan aku tidak perlu urus dan tidak mau tahu.”

“Besok kuringkus dia kembali, kau tidak mau peduli?” “Itupun tiada halangannya!”

Tok-sim-sin-mo melangkah kehadapan Coh Jian-jo, ancamannya, “Jangan kau main-main dengan tipu daya kepadaku, kau tahu, aku tidak bakal tertipu olehmu!”

“Mau tidak kau melepas cucuku terserah pada kau. Tapi kelak bila Kiu-siau-biat-hun-tan terjadi pula kerewelan jangan kau salahkan aku!”

Bukan kepalang gusar Tok-sim-sin-mo kontan tangannya terayun, Coh Jian-jo kena dihantamnya roboh telentang di tanah.

Bersamaan itu terdengar suara gemerincing, Tok-sim-sin-mo berseru heran, dilihatnya sebuah serangka pedang pendek menggeletak di tanah, sambil menyeringai dingin pelan-pelan dijemputnya, katanya tertawa lebar, “Ternyata serangka Badik buntung berada di tanganmu. Tapi diluaran sana sedang geger saling berebutan karena barang ini!”

Pukulan Tok-sim-sin-mo cukup keras, sekian lamanya Coh Jian-jo rebah di tanah, sesaat lamanya baru pelan-pelan merangkak bangun lagi.

“Hayo cepat kerjakan,” bentak Tok-sim-sin-mo, “Kalau tidak awas akan kubeset kulit cucumu, kau tahu, aku dapat berbuat sesuai dengan ancamanku.”

Melihat Badik buntung jatuh ke tanah Tok-sim-sin-mo sungguh Coh Jian-jo sangat menyesal. Kenapa ia tidak beritahukan saja rahasia di dalam sarung Badik buntung itu kepada Hun Thian-hi, sekarang terjatuh ke tangan manusia durjana ini, dia pasti akan memaksa pula, aku membocorkan rahasianya, bagaimanakah baiknya?

Tok-sim-sin-mo mengamat-amati sarung Badik buntung dengan seksama, akhirnya ia menyeringai senang, katanya, “Coh Jian-jo, orang yang mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin mungkin cuma kau seorang, banyak orang saling memperebutkan sarung badik ini, aku tidak perlu capai mengeluarkan tenaga, soalnya kau berada di tanganku, sekarang….”

“Bahan bakar Kiu-siau-biat-hun-tan perlu diramu dan diaduk sembilan kali, cobalah kau saksikan hasil buatanku yang pertama, bila kau merasa puas silakan kau bebaskan cucuku, sebaliknya bila hasil kerjaku tidak memuaskan terserah apa yang kau hendak lakukan terhadapnya, setuju?” Tok-sim-sin-mo berpikir sebentar, katanya, “Baik, syaratmu ini dapat kusetujui, memang jalan inilah satu-satunya yang harus ditempuh. Tapi aku berpendapat ada lebih baik bila dia kubawa kemari supaya dekat dengan kau?”

“Tidak perlu, aku tidak perlu dia berada disini!”

Berubah air muka Tok-sim-sin-mo, tanyanya, “Kenapa? Apakah kau punya sesuatu rencana keji?”

“Dia masih merupakan gadis kecil yang hijau, setiap hari harus hidup dalam kegelapan dan dalam kamar tahanan yang lembab, kukira kurang baik bagi kesehatannya.”

“Sebaliknya aku berpendapat lain!” jengek Tok-sim-sin-mo lalu ia ulapkan tangannya keluar serta berteriak, “Gusur cucunya kemari, biar mereka kakek dan cucu bersua disini!” seringainya lebih sadis, ia mendekat lagi serta katanya, “Sekarang tibalah saatnya kutanyakan soal rahasia Ni- hay-ki-tin itu, sebenar-benarnya dimanakah tersimpan Ni-kay-ki-tin itu, cepat beritahu kepadaku!”

“Sarung badik buntung ini adalah peninggalan leluhurku,” demikian sahut Coh Jian-jo tertawa ewa, “Tapi baru beberapa hari yang lalu Hun Thian-hi memberikan kepadaku, aku belum lagi membukanya, darimana aku bisa tahu?”

“Takdir sudah menentukan aku bakal sukses, tak mengapa kau tidak mau buka mulut, coba nantikan bila cucumu perempuan sudah diantar kemari!”

Coh Jian-jo berjalan dua lingkaran dalam kamar itu, ia insaf bahwa ia harus nekad melaksanakan tekadnya.

Sementara terdengar pula Tok-sim-sin-mo berkata, “Jangan kau mengatur tipu dayamu terhadapku, cucumu perempuan berada di tanganku, bila sampai terjadi hasil kerjamu kurang memuaskan atau kurang sempurna, cucumulah yang akan menerima akibatnya!”

Baru saja kata-katanya habis diucapkan, dari luar pintu terdengar seseorang menyanggah, “Belum tentu!”

Tok-sim-sin-mo tersentak kaget. cepat ia memutar tubuh, tampak di ambang pintu kamar tahanan itu berdiri tegak Hun Thian-hi, di sampingnya berdiri pula seorang gadis remaja berpakaian kuning, dia bukan lain adalah cucu Coh Jian-jo yang bernama Coh Siau-ceng!

Sudah jamak kalau Tok-sim-sin-mo merasa kaget karena ia menyangka Hun Thian-hi pasti mampus di dalam gua sana, sungguh diluar dugaannya bahwa mendadak Hun Thian-hi muncul dihadapannya laksana setan gentayangan. malah menolong keluar pula cucu Coh Jian-jo dari tempat kurungannya yang terjaga kuat dan terahasia. itu.

Setelah menenangkan hati dan gejolak darahnya, ia menyeringai dua kali lalu katanya dingin, “Hun Thian-hi, kiranya kau belum mampus!”

“Benar-benar!” sahut Hun Thian-hi mendengus, “Aku tidak mati, diluar dugaanmu bukan?

Bukan saja tidak mati malah sekarang kuberdiri dihadapanmu!”

“Kau beruntung terhindar dari kematian, tapi kau tidak akan mampu lari keluar dari Jian-hud- tong. hari ini kau akan mampus dalam gua ini tanpa ada tempat untuk mengubur kau!”

“Masa begitu gampang? Apakah tidak pernah terpikir oleh kau cara bagaimana aku bisa keluar?

Berani kau takabur mengobral bacotmu!” “Apa bedanya. Setelah kubunuh kau, buat apa memeras keringat memikirkan cara kau lolos keluar! yang jelas kau bakal mati!”

Tiba-tiba Hun Thian-hi menggapai ke samping, katanya, “Coba kau lihat siapa dia!”

Bagai dedemit tiba-tiba Pek-tok Lojin muncul di samping Hun Thian-hi. Sudah tentu bukan kepalang kejut Tok-sim-sin-mo, begitu hebat terguncang perasaannya sampai ia tersurut mundur. Sungguh tidak habis terpikir olehnya bahwa Pek-tok Lojin bakal bergabung dengan Hun Thian-hi untuk menjebol kurungan. Betapa jahat racun Pek-tok Lojin ia tahu betul, ditambah Wi-thian-cit- ciat-sek” Hun Thian-hi yang tiada taranya itu. mau tidak mau hatinya menjadi ciut dan gentar ketakutan.

Pek-tok Lojin batuk2 dua kali lalu menyeringai tawa, serunya, “Tok-sim-sin-mo selamat jumpa kembali! Aku akan bertindak menurut budi dan dendam. Cara bagaimana tempo hari kau perlakukan diriku, kurasa masih segar dalam ingatanmu bukan, sekarang tibalah saatnya aku membalas, akan kukupas pula kulit muka dan seluruh tubuhmu!”

Tok-sim-sin-mo melangkah mundur setindak saking ngeri mendengar ancaman orang. namun dasar licik ia masih main garang, jengeknya. “Jangan kau lupa, Jian-hud-tong berada dicengkeraman kekuasaanku. dalam waktu singkat bakal ada bala bantuanku yang datang, hati- hatilah kalian, setelah tiba saatnya bukan aku yang mati tapi adalah kalian yang mampus.”

Pek-tok Lojin melangkah maju mendesak ke arah Tok-sim-sin-mo, tiba-tiba kedua tangannya didorong ke depan menepuk ke arah lawan. Tok-sim menjengek dingin, kedua tangannya pun diangkat terus menyongsong ke depan merangsak juga ke arah Pek-tok Lojin.

Tiba-tiba Tubuh Pek-tok Lojin gentayangan seperti hampir roboh, dengan menggunakan langkah Ling-coa-poiu, tiba-tiba tubuhnya menyusup ke dalam angin pukulan musuh, kedua cakar tangannya langsung mengancam kemuka dan tenggorokan orang….

Pandangan Tok-sim-sin-mo menjadi kabur dan tahu-tahu Pek-tok Lojin sudah mendesak tiba di depan, hidungnya, keruan kejutnya seperti disengat kala, sebat sekali kakinya menjejak badannya lantas mencelat mundur ke belakang, tapi tak urung baju di depan dadanya kena tercengkeram robek oleh cakar Pek-tok Lojin.

Bergidik dan gemetar seluruh tubuh Tok-sim-sin-mo, bulu romanya berdiri merinding. Melihat kedua cakar tangan Pek-tok Lojin yang mempunyai kuku yang panjang dan runcing melengkung penuh ditaburi racun2 berbisa, hatinya menjadi dingin dan merinding. Dulu waktu Pek-tok Lojin melarikan diri, ia mengejar dan akhirnya kebentur mundur karena terdesak oleh siular kecil putih yang lihay sekali itu. Sekarang gerak-gerik aneh dan lucu itu sudah dapat dipelajari oleh Pek-tok Lojin, untuk menempur dan mengalahkannya dalam waktu dekat rasanya bukan soal gampang.

Pek-tok Lojin melangkah ke depan, sebaliknya Tok-sim-sin-mo mundur terdesak, Pek-tok Lojin mengejek, “Kiranya kau pun tahu rasanya ketakutan sekarang?”

Dalam pada itu Coh Jian-jo sudah memburu ke depan saling berpelukan dengan cucunya Coh Siau-ceng dan bertangisan gerung-gerung.

Cepat Hun Thian-hi berkata, “Sebentar lagi pasti ada orang datang, mari lekas kita mundur.” Baru saja ucapannya selesai, didengarnya derap langkah orang banyak berlari mendatangi,

Keruan Thian-hi terperanjat, tahu dia bahwa orang-orang yang tadi kena mereka tutuk jalan darahnya itu sekarang sudah keburu datang bersama kawan2nya yang lain. Mendadak Tok-sim-sin-mo mendongak dan bergelak tawa. Pek-tok Lojin mendengus ejek, “Hidupku sudah kebacut hampa, tiada tujuan tiada keperluan, dan yang perlu kuperjuangkan hanyalah mencabut jiwamu! Anak buahmu datang pun tak berguna, yang terang kau bakal mampus ditanganku.”

Tok-sim-sin-mo memusatkan perhatian dan mengerahkan tenaga. dengan waspada ia hadapi musuh dihadapannya ini, sedikitpun tak berani lalai. soalnya bila dia mendapat kesempatan lebih dulu melancarkan dua kali serangan sudah pasti ia dapat mengambil inisiatif pertempuran, dari terdesak menjadi dipihak yang mendesak dan menang.

Tiba-tiba Pek-tok Lojin bergerak pula dengan langkah gentayangan dan badan berlegat-legot menyerupai gerak-gerik ular, begitu aneh ia bergerak tahu-tahu sudah melancarkan serangannya yang sangat berbahaya. Saking gentarnya Tok-sim-sin-mo mengembangkan kelincahan tubuhnya, sebat sekali ia berloncatan terbang, namun gerak gerik Pek-tok Lojin cukup lincah dan aneh pula, kemanapun Tok-sim-sin-mo melejit menghindar selalu diikuti dengan ketat, bagaimana juga ia tidak mampu lolos dari kejaran dan ancaman elmaut. 

Seperti layaknya seekor anjing yang kepepet dan dihajar pun akan nekad berani melawan dan menggigit majikannya. Demikianlah keadaan Tok-sim-sin-mo, dalam ruang kamar yang tidak begitu besar ia menjadi kelabakan lari pontang-panting seperti tikus dipermainkan kucing, akhirnya ia nekad dan menghardik keras, berbareng kedua telapak tangannya memukul sekuat tenaga kemuka dan perut Pek-tok Lojin.

Mulut Pek-tok terdengar mengeram, tubuhnya berkelebat menghilang tahu-tahu melejit tiba di belakang Tok-sim-sin-mo, dengan cara penyerangan yang aneh, ia menyerang sambil membelakangi badan dan yang diarah adalah panggung Tok-sim-sin-mo pula.

Begitu mendadak merasakan angin kencang melandai dari belakang, lagi-lagi Tok-sim-sin-mo berjingkrak kaget dibuatnya, sebetulnya ia sudah siap melompat mundur bila serangannya tidak membawa hasil, dan sekarang terpaksa dia harus menghindar ke depan, memang keadaan yang tegang dan membahayakan jiwanya ini memaksa dia harus menjatuhkan diri ke depan.

Begitu Tok-sim-sin-mo roboh menyentuh tanah, Pek-tok mengira bahwa serangannya telah mengenai sasaran, ternyatalah Tok-sim cukup licik dan cerdik menghindar dengan cara yang tak terduga.

Keruan gusarnya bukan kepalang, dengan sengit ia angkat kakinya kanan terus mendepak ke belakang dan telak sekali tubuh Tok-sim kena didepak mencelat terbang, tanpa menghiraukan keadaan tubuh yang luka-luka Tok-sim berusaha mengendalikan tubuh mengerahkan tenaga untuk meluncur turun pula di tanah sehingga tidak terbanting jatuh.

Tatkala itu diluar kamar tahanan sudah penuh sesak berjubel anak buah Hek-liong-pang, diantara mereka terdapat Bing-tiong-mo-tho, Biau-biau-cu, Lan-bing-it-hiong dan lain-lain yang setingkat dengan mereka serta kaki tangannya, mereka berusaha menerjang masuk ke dalam kamar batu itu, namun tak berani sembarangan bertindak.

Sejenak Hun Thian-hi menerawang situasi, dengan tajam ia awasi mereka, ia insaf hari ini takkan terhindar dari pertempuran sengit, menang atau kalah sulit diduga pula sebelumnya.

Kebetulan Tok-sim-sin-mo melorot jatuh di sebelah samping kamar, tubuhnya sebelah kiri bagian yang kena didepak terasa kesemutan, seolah-olah seluruh tulang belulangnya sudah pecah dan berantakan, tapi ia masih bersyukur dalam hati, untung ia kena tedepak oleh kakinya Pek-tok Lojin, bila kena terpukul atau kesentuh tangannya, jiwanya pasti takkan dapat hidup lebih lama lagi.

Jarak tempat dimana ia berdiri dengan Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain kira-kira cuma tiga tombak. tapi dia tidak berani meloncat terbang langsung ke arah mereka. soalnya ia tahu luka-luka dalamnya tidaklah ringan, sedikit bergerak pasti dapat diketahui oleh lawan, apalagi bila Hun

Thian-hi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyergap dirinya di tengah jalan, celakalah dirinya.

Karena adanya perhitungan ini, sambil menahan sakit ia menyedot napas lalu berseru tertawa, “Kalian berempat hari ini jangan harap dapat lolos dari kamar batu ini!” — lalu ia mengumbar tawa gelak-gelak.

Hun Thian-hi mengawasi terus segala gerak-gerik lawan, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo pasti terluka, entahlah berat atau ringan luka-lukanya itu, cara untuk dapat menyelamatkan diri cuma berusaha meringkus benggolannya ini dan dijadikan sandera baru mereka dapat melarikan diri.

Melihat Thian-hi mengamat-amati dirinya, rada bercekat Tok-sim-sin-mo, nelan2 kakinya bergerak menggelemet keluar, tiba-tiba ia mengulapkan tangan, memberi syarat kepada anak buahnya untuk mengepung dan meluruk ke arah mereka berempat.

Thian-hi kaget, sekarang ia yakin bahwa luka-luka Tok-sim-sin-mo pasti cukup parah kalau tidak masa dia nekad memberi perintah pada anak buahnya.

Dalam pada itu Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain sudah menubruk tiba, kontan Hun Thian-hi merasa bila ia tidak segera mencegat jalan mundur dan berusaha meringkus musuh utama ini, keselamatan mereka bakal terancam bahaya, kecuali secara mengadu untung dapat membekuk Tok-sim-sin-mo sebagai sandera untuk lolos, tiada cara lain lagi.

Cepat ia mengerahkan hawa murni dari pusernya, mulut bersuit panjang, berbareng seruling jadenya terlolos keluar terus teracung miring ke depan melancarkan Wi-thian-ci-ciat-sek, tabir perak terpancar cemerlang. dalam kamar batu itu terus menerjang ke arah Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya.

Memang tiada jalan lain kecuali tindakannya yang terpaksa ini, harapannya cuma begitu ia lancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, secepat itu pula Pek-tok Lojin dapat menyadari kemana tujuannya, disaat ia membendung serbuan dari luar, dengan kesempatan ini Pek-tok Lojin harus melaksanakan tugasnya membekuk Tok-sim-sin-mo, inilah jalan yang paling sempurna untuk mereka berempat lolos.

Bing-tiong-mo-tho dan kawan2nya bukanlah lawan lemah. sebelum Hun Thian-hi melancarkan serangannya, mereka sudah sama-sama melolos senjata, serempak sinar pedang berkelebat gemerlapan, kekuatan bergabung membendung serangan Hun Thian-hi yang hebat itu.

Dalam detik-detik yang sangat berharga itu, dalam waktu dekat Pek-tok Lojin tidak bisa menyimpulkan kemana tujuan Hun Thian-hi sebenar-benarnya, sambil menggerung keras ia melejit ke tengah udara terus menerjang ke arah pintu, niatnya membantu Hun Thian-hi namun ditengah jalan lantas ia sadar akan kesalahannya bertindak, cepat ia menekuk tubuh dan mencelat balik.

Dilain pihak begitu melihat Hun Thian-hi melancarkan serangannya yang hebat itu lantas Tok- sim-sin-mo dapat meraba kemana tujuan Thian-hi sebenar-benarnya, dasar cerdik sekilas berpikir saja lantas ia mendapat akal, tidak lari keluar sebaliknya ia menubruk ke arah Coh Jian-jo yang masih berpelukan dengan cucunya. Sudah tentu Pek-tok Lojin menjadi kaget luar biasa, sungguh hatinya menyesal akan tindakannya yang salah langkah, kenapa tidak sejak tadi meringkus Tok-sim-sin mo saja.

Ternyata Tok-sim-sin-mo dapat bertindak selangkah lebih cepat, dimana tangannya meraih, Coh Jian-jo beserta cucunya kena diseret mepet dinding, dengan menyeringai ia berkata pada Pek- tok Lojin, “Berani kau maju selangkah kedua orang ini akan melayang jiwanya!”

Yang paling terkejut mendengar ancaman ini adalah Hun Thian-hi, ia mengeluh bahwa usahanya ternyata gagal di tengah jalan, Coh Jian-jo jatuh ke tangan musuh, apakah mereka berdua harus menyerah dan terima diringkus pula? Apalagi saat mana ia tengah menghadapi tekanan kekuatan besar dari sekelilingnya, setiap kali Wi-thian-cit-ciat-sek dikembangkan, cukup dalam pergeseran gerak serulingnya dalam jarak beberapa mili saja menyalurkan seluruh kekuatan Lwekangnya untuk menyerang musuh, tapi sekarang ia menghadapi tekanan gabungan dari para musuhnya yang teramat hebat dan kuat, sehingga tekanan yang hebat ini menyulitkan dirinya sampai Wi-thian-cit-ciat-sek sulit dikembangkan lebih lanjut.

Ia tahu dan insaf bahwa percaturannya telah kalah dan gagal, Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain pun melancarkan rangsakan yang lebih hebat, mereka berusaha menjebol kekuatan Wi-thian-cit- ciat-sek untuk menerjang masuk ke dalam kamar.

Tiba-tiba, berkelebat sebuah pikiran dalam benak Thian-hi. ‘Bukankah Tok-sim-sin-mo masih berada di dalam kamar itu pula, asal orang tidak sampai lolos keluar serta kuat bertahan membendung Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain tidak menerjang masuk, keadaan yang kaku dan sama bertahan ini, akan jauh lebih menguntungkan bagi harapan hidup mereka berempat.’

Sekilas memperoleh ilhamnya ini, Thian-hi serempak menghardik keras, seruling jadenya menggentak ke atas melancarkan sisa kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek yang belum selesai dilancarkan tadi, beruntung ia dapat mendesak Bing-tiong-mo-tho keluar kamar. mulutnya lantas berterlak, “Kalian dilarang masuk kamar, kalau tidak Pangcu kalian segera kubunuh tahu!”

Lawan2nya menjadi keder dan sesaat kebingungan.

Di belakang sana Tok-sim-sin-mo mengejek tawa, “Hun Thian-hi, kau harus tahu, Coh Jian-jo dan cucunya berada di tanganku, sembarang waktu aku dapat bikin mampus mereka!”

Dengan membelakangi Tok-sim-sin-imo. Thian-hi balas mengancam tanpa berpaling, “Masa kau berani?” suaranya begitu tegas dan penuh rasa kecongkakan, mau tak mau membuat Tok-sim-sin- mo bergidik dan merinding.

Tok-sim-sin-mo maklum bila Thian-hi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyerang dirinya, pasti jiwanya bakal melayang, tapi dia mengeraskan kepala berseru ke arah Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain, “Kalian terjang masuk saja, dia takkan berani berbuat banyak!” — dalam berkata-kata itu ia sendiri menjadi ragu-ragu, bagaimana akibatnya nanti hal itulah yang ditakutkan.

Sementara Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain masih beragu, maju atau mundur mereka susah berkepastian. Ucapan Tok-sim-sin-mo seperti menganjurkan mereka menerjang masuk, tapi kedengarannya juga seperti menjajal reaksi Hun Thian-hi.

“Silakan kalian coba-coba.” demikian tantang Hun Thian-hi. Nadanya begitu tegas dan berwibawa, sehingga keberanian Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain untuk maju menjadi sirna.

Beruntun Tok-sim-sin-mo menjengek dua kali, ia sudah dapat menerawang situasi, pihaknya berada dalam posisi yang menguntungkan, Hun Thian-hi tidak lebih seperti binatang buas yang terperangkap dalam kurungan, setindak ia salah langkah begitu Hun Thian-hi nekad dan mengadu jiwa untuk gugur bersama. pasti runyam akibatnya. Sebenar-benarnyalah ia hanya menggertak saja, hakikatnya ia tidak suka menyuruh Bing-tiong-mo-tho dan lain-lain menerjang masuk.

Menyusul ia menggoyangkan tangan memberi isyarat kepada Bing-tiong-mo-tho supaya tidak usah masuk kemari, matanya berkilat-kilat ia pandangi punggung Hun Thian-hi, sementara Pek-tok Lojin berdiri di samping sana mengawasi dirinya.

Tok-sim-sin-mo tahu untuk mencapai kemenangan secara gemilang terang tidak mungkin. Cara yang terbaik adalah bertahan seperti sekarang, disamping itu mencari daya upaya untuk tetap menahan Coh Jian-jo dan cucunya di lain pihak berusaha mengantar Hun Thian-hi dan Pek-tok Lojin keluar. Atau tetap menahan Pek-tok Lojin pula dan hanya melepas Hun Thian-hi seorang?

Tapi soalnya cara bagaimana ia melaksanakan daya pikirannya ini. Ini tergantung cara bagaimana ia dapat menguasai situasi yang dihadapi sekarang.

Sebaliknya Hun Thian-hi seorang yang cerdik pandai, kalau Tok-sim-sin-mo dapat berpikir ke arah itu masa Hun Thian-hi tidak berpikir lebih sempurna, apa yang terpikir oleh lawan paling tidak dapat terpikir pula delapan sembilan bagian dari keseluruhan tujuan Tok-sim-sin-mo. Dalam hati ia sedang memperhitungkan, untuk mundur secara sempurna tanpa kurang suatu apa, kecuali ia menunggu sesuatu keajaiban yang bakal muncul secara kenyataan, untuk dapat keluar iapun harus menunggu perkembangan selanjutnya, tindakan apa yang akan dilakukan oleh Tok-sim-sin- mo.

Adalah Pek-tok Lojin yang paling menyesal, bila tadi ia bisa bertindak secara cermat dan berhasil membekuk Tok-sim-sin-mo, jelas mereka berempat pasti dapat keluar dengan selamat dan tidak kurang suatu apa, sekarang keadaan menjadi sama bertahan dan entah bagaimana perkembangan selanjutnya.

Tok-sim-sin-mo terus memutar otak mencari akal, tiba-tiba ia berkata, “Hun Thian-hi, ingatkah kau sekarang berada di Jian-hu-tong, disini adalah tempat kekuasaanku, kalau bertahan lebih lanjut, keadaan akan lebih memburuk bagi kalian!”

“Hal itu aku tidak banyak tahu dan tidak perlu tahu, yang terang sekarang kau berada dikekuasaanku. sembarang waktu aku dapat menghabisi jiwamu!”

Keruan Tok-sim-sin-mo menjadi berjingkrak gusar, “Kau berani?” seringainya geram. “Kenapa tidak berani!” jengek Hun Thian-hi, “Yang mengganas dan bersimaharaja di dunia

persilatan kau yang paling menonjol, kalau bisa melenyapkan manusia semacam kau, terhitung

aku telah mendharma baktikan diriku bagi kepentingan masyarakat umumnya, seumpama harus berkorban akupun tidak perlu menyesal.”

“Mari, boleh kau coba-coba!” demikian tantang Tok-sim-sin-mo.

“Aku berani meluruk kemari sudah tentu tidak kuhiraukan keselamatan diriku, tapi bukan itu maksud tujuanku yang sebenar-benarnya!”

Selama bicara itu Hun Thian-hi tetap menghadap ke ambang pintu dan tidak memutar balik menghadapi Tok-sim-sin-mo,

Tok-sim-sin-mo menjadi mati kutu, ujarnya, “Manusia mana di dunia ini yang tidak takut mati?

Bila aku mati, maka kalian berempat juga akan mampus dengan tiada tempat untuk mengubur kalian, orang mati takkan hidup kembali. dendam ayahmu belum lagi terbalas, kau harus berpikir pula sebelum mengambil keputusan terakhir!” Mendengar ucapan yang terakhir terbayang dalam benak Thian-hi akan wajah Siau-bin-mo-in, tanpa merasa hatinya menjadi pilu. dilain kejap terbayang pula akan wajah Ma Gwat-sian, Ham Gwat. Mukanya masam terpengaruh oleh perasaan hatinya, sesaat ia menjadi terbungkam.

Biji mata Tok-sim-sin-mo berjelalatan, ia sedang meraba-raba jalan pikiran Hun Thian-hi, akhirnya pelan-pelan ia berkata lagi, “Apalagi kau satu-satunya ahli waris Wi-thian-cit-ciat-sek kau pula calon utama dari pimpinan kaum persilatan golongan kependekaran yang akan datang. Cuma Wi-thian-cit-ciat-sek pula yang cukup kuat dan berharga dapat menandingi Hui-sim-kiam-hoat yang hebat itu.”

“Apakah benar-benar seperti katamu?”

“Benar-benar atau tidak kau sendiri lebih paham dari aku!”

Secara langsung Hun Thian-hi merasakan akan kebenar-benaran kata-kata Tok-sim-sin-mo mengenai dirinya. Bukan mustahil pula Tok-sim-sin-mo sudah merebut serangka Badik buntung dari tangan Coh Jian-jo, sehingga ia berani begitu takabur, kalau tidak tentu dia akan mengukuhi pendapatnya semula dan tidak akan rela melepas dirinya pergi. Dan itu tidak akan menjadi hal yang mustahil pula bila dia sudah mengetahui rahasia Ni-hay-ki-tin itu.

Terdengar Tok-sim-sin-smo berkata pula, “Tapi kau pun harus ingat, bahwa kau merupakan musuhku yang paling utama inilah kesempatanku yang paling baik untuk melenyapkan kau dari muka bumi ini. Tapi selama hidup ini aku belum pernah ketemu tandingan yang setimpal, dan kau pulalah justru yang menjadi musuhku yang setanding. Sekarang dengan senang hati dengan kelapangan dadaku kulepas kau keluar, ingin aku mengadu segala kepintaran dan kecerdikan, kutantang kau untuk mengadu kekuatan dalam langkah-langkah selanjutnya, biarlah kenyataan yang menjadi wasit siapa lebih unggul atau asor!”

“Kau melepas aku, banyak terima kasih. Tapi kau harus tahu apakah aku sudi melepas kau?”

Terdengar Pek-tok Lojin yang berdiam sejak tadi tertawa terloroh-loroh, selama ini hatinya selalu bersitegang leher. Ia kuatir kalau Hun Thian-hi tinggal pergi begitu saja. tanpa hiraukan pula dirinya, sebagai ahli waris Wi-thian-cit-ciait-sek tidak mungkin ia bisa menjadi korban secara konyol di tempat ini, betapapun hatinya akan penasaran sekali sekarang setelah mendengar ucapan Hun Thian-hi, mau tak mau ia memuji dan merasa kagum akan sikap Thian-hi, lain hal bila dirinya lolos dulu lebih penting, soal membalas dendam baiklah diperhitungkan kelak.

Saking gusar Tok-sim-sin-mo sampai membanting kaki seraya menggeram, serunya, “Kecuali kau ingin melihat Coh Jian-jo dan cucunya kupukul mampus, Kalau tidak kuperingati kepada kau jangan sembarang bergerak!”

Coh Jian-jo tertawa getir dengan penuh kesedihan, serunya, “Hun-siauhiap jangan kau hiraukan aku, aku sudah tua renta tak berguna lagi. tapi berulangkali menyulitkan Hun-siauhiap saja!”

“Coh Jian-jo!” bentak Tok-sim-sin-mo, “Jangan lupa pada cucumu perempuan.”

Bergetar badan Coh Jian-jo, ia melirik melihat ke arah cucunya perempuan, tampak dengan lemah dan penuh ketakutan cucunya sedang angkat kepala memandang ke arah dirinya, cepat Coh Jian-jo tertunduk, katanya dengan suara lirih tak bertenaga, “Aku kuatir justru sekarang kau tidak berani mengganggu usik seujung rambutnya pun!”

Tok-sim-sim-mo terkekeh menyeringai mengunjuk gigi2nya yang sudah banyak ompong sekali gentak ia dorong cucu Coh Jian-jo tersungkur jatuh di tanah. Tapi gadis remaja itu tidak mengenal takut malah. dengan mata mendelik dan berapi-api penuh kebencian ia mendeliki Tok-sim-sin-mo. Berubah hebat air muka Coh Jian-jo, tak tertahan lagi air mata mengalir deras, ia berteriak dengan suara gemetar dan tersendat, “Siau-ceng! Siau-ceng!” betapa pedih dan pilu rasa hatinya.

Tiba-tiba Hun Thian-hi membalikkan badan. matanya mendelik tajam ke arah Tok-sim-sin-mo, begitu biji mata Tok-sim-sin-mo bentrok dengan sorot mata tajam Hun Thian-hi, kontan ia merasa bulu tengkuknya merinding, badan gemetar.

Sekilas memandang ke arah Coh Siau-ceng Hun Thian-hi lalu berkata dengan suara berat, “Agaknya kau suka memilih untuk gugur bersama dalam kamar ini bersama Kita? Jangan kau beranggapan setelah kubunuh kau lantas kita tak mampu keluar, seumpama memang tidak berhasil, paling tidak anak buah Hek-liong-pang pasti banyak yang menjadi pengiring kita!”

Tok-sim-sin-mo menyeringai lebar, sekarang hatinya lebih mantap bahwa Hun Thian-si sudah merasakan punya pertanggungan jawab yang besar, maka ia berkata dingin, “Sangkamu setelah kau bunuh aku kalian masih bisa keluar? Meski Wi-thian-cit-ciat-sek sangat hebat, paling-paling kau baru mempelajari kulitnya belaka, masa kau ingin merebut kemenangan, masih terpaut terlalu jauh!”

Tergerak hati Thian-hi, diam-diam ia mengeluh dalam hati, bila Tok-sim-sin-mo diberi angin dan berada di atas angin dalam perang urat syaraf ini, sungguh konyol dan memalukan, pelan-pelan dengan sikap dingin membeku ia mengacungkan seruling jadenya.

Tok-sim-sin-mo juga tidak mau unjuk kelemahan, pelan-pelan ia menggeser kaki kirinya mendekat ke arah Coh Siau-ceng, maksudnya bila Hun Thian-hi berani maju selangkah atau banyak bertingkah, Coh Siau-ceng akan segera diinjaknya mampus.

Biji mata Hun Thian-hi tidak tenang, sanubarinya sedang bergejolak menghadapi suatu pertempuran lahir dan batin, darah seperti berontak dalam rongga dadanya, diam-diam ia berkeputusan dalam hati, hanya jalan satu-satunya itulah yang harus ditempuh, atau paling sedikit pihak sendiri harus berkorban dua orang, betapapun dalam saat begini dirinya pantang mengunjuk kelemahan.

Seruling jade ditangan Thian-hi semakin terangkat tinggi. Semua orang yang hadir sama menahan napas dan tutup mulut, perhatian semua orang terhanyut oleh ketegangan yang melingkup sanubari mereka.

Pek-tok Lojin berkilat biji matanya, diam-diam ia menerawang situasi sekeliingnya, kegagalannya tadi merupakan suatu pengalaman pahit yang harus ditebus mahal dengan perkembangan yang berbuntut seperti keadaan sekarang ini, maka sekarang ia harus meningkatkan kewaspadaannya, ia harus menjaga dan bila perlu mengadu jiwa andaikata Bing- tiong-mo-tho dan lain-lain menerjang masuk.

Coh Jian-jo sudah tak kuasa berdiri lagi, matanya dipejamkan dengan mengalirkan air mata, kaki Tok-sim-sin-mo sudah terangkat tinggi di atas jidat Coh Siau-ceng, Coh Siau-ceng sendiri rebah celentang tak bergerak, kedua biji matanya dengan penuh ketekadan dan keberanian yang menyala-nyala mendelik kepada Tok-sim-sin-mo.

Rona wajah Hun Thian-hi memperlihatkan keteguhan hatinya, tiba-tiba mulutnya bersuit melengking panjang, pergelangan tangannya rada ditarik menekan kebawah.

Sekonyong-konyong Tok-sim-sin-mo merasakan hatinya seperti tertekan berat dan dilumuri ketakutan yang luar biasa, ia yakin benar-benar seyakin2nya bahwa Hun Thian-hi tidak akan berani melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek, tapi ia tidak kuasa menerima rasa ketakutan yang luar biasa ini, memang gampang saja bila dia mau sedikit tenaga saja cukup menamatkan jiwa Coh Siau-ceng, namun ia tidak berani membayangkan apa akibat dari perkembangan selanjutnya.

Seluruh tubuhnya menjadi basah kuyup oleh keringatnya dingin, tiba-tiba ia berseru keras, “Nanti dulu!”

Hun Thian-hi menunda gerakan tangannya, telapak tangannya pun sudah basah oleh keringat, dia sendiri juga menyadari akibat apa yang bakal dihadapi, soalnya keadaan sudah kepepet kecuali ia berani bertindak secara drastis pihaknya tidak akan menang.

Disebelah sana Tok-sim-sin-mo sudah menarik turun kakinya, baru pertama kali ini ia kena dikalahkan dalam situasi yang tegang ini, ia menjadi patah semangat dan lesu serta uring-uringan, katanya menjengek, “Hari ini terhitung kau yang menang, apa maumu? Coba kau katakan!”

“Mari kita adakan pertukaran yang adil, kami tidak akan mempersukar kau, dan kaupun harus melepas kami berempat keluar dari Jian-hud-tong!”

“Apakah pertukaran ini kau anggap adil?”

“Dengan mempertaruhkan jiwa ragamu, masa kurang setimpal?” “Aku tidak punya jiwa yang sedemikian besar dan berharga!”

Thian-hi terdiam, ia tahu bahwa Tok-sim-sin-mo tidak akan mau menyetujui usulnya, ia lantas berpikir, bila tadi waktu berada di atas angin lantas aku bertindak lebih lanjut mungkin hasilnya bakal diluar dugaan.

Maka dengan tertawa tawar ia berkata, “Akupun tahu kau tidak setimpal dan tidak berharga bagi aku, tapi masa tidak berharga bagi kau sendiri?” terkilas senyum dikulum mulutnya.

“Jangan kau lupa Coh Jian-jo dan cucunya masih berada digenggamanku, bila kau tidak merasa gentar dan memikirkan keselamatan mereka, cobalah sekarang kau bertindak!”

“Agaknya kau memang keras kepala dan mengukuhi pendapatmu, tidak menjadi soal untuk mencobanya sekali lagi!”

Tok-sim-sin-mo mengawasi Hun Thian-hi dengan cermat, dalam hati ia mereka-reka, apakah kata-kata Hun Thian-hi betul-betul berani dilaksanakan ataukah melulu gertakan sambel belaka? Kalau dirinya mengukuhi dan tak mau mengalah, apakah dia bakal berlaku nekad tanpa memikirkan akibatnya? Dia tenggelam dalam pemikiran dan pertimbangan, soalnya gebrak selanjutnya merupakan langkah yang menentukan bagi mati hidupnya.

Sementara Hun Thian-hi sendiri juga sedang menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tok-sim-sin-mo, akhirnya ia bersuara, “Suheng Ka-yap Cuncia yang bergelar Ah-lam Cuncia sekarang sudah muncul, ilmu silatnya pun sudah pulih kembali, kau tak usah menguatirkan aku tiada seorang yang dapat menguasai Bu-bing Loni, bila Ah-lam Cuncia sudi mengulurkan tangannya, dua orang Bu-bing Loni juga tidak perlu ditakuti lagi!”

Bercekat hati Tok-sim-sin-mo, sedapat mungkin ia tekan gejolak hatinya supaya tidak sampai kentara pada roma wajahnya, ia berpikir sekarang tinggal beberapa langkah permainan caturku saja bila terus kujalankan, dunia persilatan bakal geger, soalnya cara bagaimana ia bisa keluar dengan selamat dan tidak kurang suatu apa.