Badik Buntung Bab 25

 
Bab 25

“Bila kau sudi membantu kami, itu berarti sudah menambal kekurangan itu!”

Coh Jian-jo tertawa ewa, katanya, “Apa gunanya kau tolong aku keluar? Setelah berada diluar, dalam tiga hari pasti aku bakal mampus, apa pula gunanya?”

Thian-hi terlengak, pikirnya, “Kiranya begitu, Tok-sim-sin-mo pasti mencekoki semacam obat beracun padanya, obat pemunah Sutouw Ci-ko belum lagi dapat dicari, kecuali aku mendapatkan obat pemunah itu, tiada jalan lain untuk dapat melemaskan hatinya. Dalam waktu dekat ini terang tiada daya untuk menolong Coh Jian-jo keluar.”

Coh Jian-jo masuk ke dalam kamar, tak lama kemudian keluar pula dengan membawa sebuah gergaji, panjang gergaji ini cuma satu kaki tapi mengkilap hitam agaknya terbuat dari Kiu-thian- ham-giok, tanpa banyak kata segera ia berkerja menggergaji sela-sela antara pintu besi dan batu karang itu, lalu tertawa berkata kepada Hun Thian-hi, “Sekarang kalian boleh tinggal pergi!” Lalu ia membalik tubuh masuk ke dalam pula….

Sekonyong-konyong teringat suatu hal oleh Thian-hi, cepat ia berseru keras, “Coh-cianpwe. harap tunggu sebentar!”

Coh Jian-jo merendek dan berpaling ke arah Hun Thian-hi, katanya, “Aku sendiri punya perhitunganku, kau tidak usah kuatir akan diriku, tak lama lagi kau akan tahu sendiri!”

“Bukan itu maksud saya,” ujar Hun Thian-hi.

“Ada sebuah benda yang ingin kuperlihatkan kepada kau!”

Coh Jian-jo melenggong. tak tahu ia benda apa yang akan diperlihatkan kepadanya. Tampak Hun Thian-hi pelan-pelan merogoh keluar sarung Badik buntung dari dalam bajunya terus diangsurkan kepada Coh Jian-jo.

Mengawasi, sarung Badik buntung itu terpancar sorot aneh dan berkilat dari biji mata Coh Jian- jo, begitu kesima ia mengawasinya tanpa berkedip, akhirnya dia tertawa ujarnya, “Jadi sarung Badik buntung berada ditangan Hun-siauhiap?”

Thian-hi manggut-manggut, sahutnya. “Wanpwe ada dengar kabarnya rahasia dari Ni-hay-ki-tin hanya Cianpwe seorang saja yang tahu, maka dengan lancang berani kukeluarkan sarung Badik buntung ini mohon petunjuk. Ingin aku tahu mengapa kaum persiliatan sama ingin memperoleh Ni-hay-ki-tin itu?”

Coh Jian-jo tertawa tawar, katanya, “Mengenai soal itu. hakikatnya aku tidak tahu menahu mungkin Hun-siauhiap salah dengar dari obrolan orang yang suka membual!”

Tahu bahwa Coh Jian-jo segan membocorkan rahasia ini. Hun Thian-hi pun tertawa saja, katanya, “Sarung Badik buntung ini tiada gunanya selalu ku-bawa2, harap Cianpwe suka menerimanya, mungkin jauh lebih selamat bila Selalu ku-bawa2.” — Lalu ia berikan sarung Badik buntung itu kepada Coh Jian-jo lalu menyeret tangan Su Giok-lan menerjang-keluar.

Sambil memegangi sarung Badik buntung Coh Jian-jo terlogong ditempatnya, sesaat ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Sungguh mimpi juga ia tidak mengira bahwa Hun Thian-hi sudi menyerahkan sarung Badik buntung itu kepada dirinya.

Melihat Hun Thian-hi berdua hendak pergi. cepat Nyo Ceng berseru, “Hun tayhiap, diluar ada Biau-biau-cu berjaga, jangan Hun-siauhiap memandangnya terlalu enteng!”

“Blang” tanpa banyak pikir Hun Thian-hi tendang pintu besi itu hingga terpental ambruk. Ia insaf sepanjang jalan lorong2 ini pasti terpasang berbagai alat rahasia, yang berbahaya, bersama mengembangkan Ginkang Ling-khong-pu-si (berjalan di tengah udara) mereka berdua melesat keluar laksana anak panah.

Peringatan Nyo Ceng akan Biau-biau-cu yang berjaga diluar menimbulkan kewaspadaan Hun Thian-hi, karena Bu-ing-sin-sa atau pasir beracun tiada bayangan Biau-biau-cu merupakan kepandaian tunggal yang paling disegani juga di Bulim.

Begitu menerjang keluar dari kamar batu mereka melesat terus ke depan, beberapa jauh kemudian tiba-tiba di depan mereka tampak berdiri seorang Tosu tua, sekilas pandang lantas Thian-hi tahu, pasti dia itulah Biau-biau-cu, cepat ia melolos keluar Serulingnya, bersama Su Giok- lan mereka menerjang terus ke depan.

“Berhenti!” Biau-biau-cu membentak dengan suara berat.

Hun Thian-hi. tertawa besar. serunya, “Tergantung dari kepandaianmu sejati!” -dia pernah dengar bahwa sambitan Bu-ing-sin-sa tiada mengeluarkan suara dan tiada bayangannya, maka sedikitpun ia tidak berani lalai, seruling ditangannya segera ditaburkan dengan putaran cepat seperti kitiran untuk melindungi badan sendiri dan Su Giok-lan.

Keruan Biau-biau-cu naik pitam bahwa seruannya tidak digubris, sambil menggerung gusar kedua telapak tangannya dihantamkan ke depan menyongsong ke arah Thian-hi.

Sementara itu Su Giok-lan juga sudah mengeluarkan pedangnya panjang, bersama ia putar senjatanya menyerbu kepada musuh.

Melihat betapa hebat dan dahsyat gabungan rangsakan kedua musuh mudanya ini, bukan kepalang kejut Biau-biau-cu, insaf bahwa dirinya terang bukan tanjngan, dasar berotak cerjk, lekas-lekas ia melejit mundur dan mundur terus.

Hun Thian-hi menarik Su Giok-lan berlari terus ke depan, sepanjang jalan ini mereka menjadi leluasa terus menerobos melalui serambi panjang dan lorong sempit akhirnya tibalah mereka dijalan rahasia yang menembus keluar itu. Setelah berada diluar gua mereka sama berpandangan. sejenak Hun Thian-hi berpikir lalu katanya kepada Su Giok-lan, “Giok-lan, kau berangkat dulu ke Jian-hong-kok bagaimana? Setelah urusan disini selesai segera aku menyusul kesana!”

Su Giok-lan beragu, katanya tertawa, “Kenapa harus begitu? Biar kutunggu kau menyelesaikan urusan disini lalu berangkat bersama. Kau ingin menolong, Coh Jian-jo dan pula harus mendapatkan obat pemunahnya itu bukan?”

Thian-hi manggut-manggut, ujarnya. Urusan ini sangat mendesak, menurut perhitunganku. mungkin Tok-sim-sin-mo segera bakal tiba paling lambat besok pagi. Maka°aku harus bekerja secepatnya sebelum dia kembali! Kalau tidak mereka berjumlah begitu banyak. seorang diri mana aku kuasa melawan mereka.”

Su Giok-lan manggut-manggut katanya, “Tapi Coh Jian-jo toh tidak mau keluar!”

“Dia akan mau keluar. Betapapun aku tidak akan meninggalkan dia seorang diri bukan saja Tok-sim akan menyiksanya dengan berbagai cara keji, apalagi kepandaian tehniknya yang hebat tadi sudah kita saksikan’ sendiri. Betapa tinggi kepandaiannya itu cukup hanya beberapa gerakan

tangan yang tidak berarti saja dia mampu membuka pintu besi. Bila dia sampai kena diperalat oleh Tok-sim, dapatlah kau bayangkan akibatnya!”

Lalu ia merenung sebentar, katanya, “Dan bukan itu saja persoalannya. Menurut apa yang kudengar dari penuluran Kiu-yu-mo-lo, hanya dialah satu-satunya orang yang jelas tahu akan rahasia disarung Badik buntung itu. Maka dia pulalah orang yang sedang diperebutkan antara I- lwe-tok-kun dan Tok~sim-sin-mo. Maka aku harus dapat menolongnya keluar dari mara bahaya ini, malah harus kulindungi keselamatan jiwanya!”

Su Giok-lan tunduk diam, hatinya berpikir. “Entah orang macam apakah sebenar-benarnya Mo- bin Suseng itu, kenapa selama ini belum pernah muncul, tapi dengan langkah-langkahnya yang tersembunyi itu cukup dapat membuat geger seluruh dunia persilatan, sebetulnya apakah tujuan sebenar-benarnya? Apakah benar-benar dia adalah duplikat I-lwe-tok-kun? Hal inilah yang cukup mencurigakan, bila benar-benar dia adalah i-lwe-tok-kun. sudah pasti banyak orang yang mengenalnya, lalu kenapa pula dia harus merahasiakan muka aslinya, bertindak serba misterius?”

“Sudah lama gurumu tidak melihat kau, adalah baik bisa sekarang kau menjenguk mereka kesana.” demikian ujar Thian-hi, “Kalau Tok-sim-sin-mO belum kembali, urusan disini cukup dapat kuatasi sendiri. Jika dia sudah pulang. meski kau bantu juga bukan menjadi tandingan mereka!”’

Su Giok-lan masih tunduk menepekur tak bersuara. Thian-hi lantas melanjutkan, “Tolonglah setiba disana kau sampaikan salam hormatku kepada guruku, katakan tak lama lagi aku akan segera menyusul datang menghadap pada beliau. Sudah begitu saja, berangkatlah!”

Melihat Thian-hi bersitegas menyuruh dirinya pergi Su Giok-lan menjadi geli. katanya, “Terpaksa aku mengalah saja!” — mereka memutar kegunung depan memanggiil burung dewata, dilain saat Su Giok-lan sudah terbang tinggi dipunggung burung dewata.

Setelah bayangan Su Giok-lan dan burung dewata tidak kelihatan Hun Thian-hi dapat menghela napas lega, sesaat ia menepekur memikirkan cara bagaimana untuk mendapatkan obat pemunah itu untuk menolong Coh Jian-jo dan cucunya perempuan.

Mendadak didengarnya langkah kaki yang sangat perlahan di belakang tubuhnya, sudah tentu kagetnya bukan main, di tempat dan disaat seperti itu, ada orang muncul disini, tidak perlu diragukan lagi pasti dia komplotan dari Hek-liong-pang. Sigap sekali ia memutar tubuh, tampak seorang Hwesio tua sedang tersenyum manis menghadapi dirinya. Hun Thian-hi berjingkrak kegirangan seperti putus lotre, Hwesio tua ini bukan lain adalah padri tua yang memberikan buah ajaib dulu kepadanya. Terlihat olehnya si Hwesio tua ini masih segar bugar, wajahnya masih kelihatan begitu welas asih penuh kerendahan hati, namun kedua biji matanya tetap terpejam.

Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi hormat, sapanya, “Losuhu, apakah kau baik!” Hwesio itu tertawa. sahutnya, “Nak! Apakah kau baik selama berpisah?”

Thian-hi membungkuk tubuh, sahutnya, “Terima kasih atas perhatian dan bimbingan Losuhu tempo hari!”

Dengan lekat Thian-hi amati muka orang, tampak orang masih mengunjuk senyum dikulum, timbul rasa hormat dalam hati, tanyanya, “Apakah nama julukan Losuhu adalah Go-cu?”

Padri tua itu tertawa-tawa, sahutnya menggeleng, “Salah! Ada seorang lain yang bernama Go- cu Tay-su. Aku bukan Go-cu Taysu!”

Hun Thian-hi melengak keheranan, banyak orang mengatakan bahwa padri tua yang ditemui itu adalah Go-cu Taysu, tapi secara langsung sekarang disangkal oleh sipadri tua ini, lalu siapakah sebenar-benarnya padri tua ini? Mungkin seorang Cianpwe lain yang menyembunyikan nama dan asal usulnya. tapi entah apakah nama julukannya?

Kata padri tua jambil tersenyum, “Hun-sicu tak perlu banyak pikiran, soal ini kelak Hun-sicu bakal tahu sendiri, tapi sekarang ada sebuah urusan yang perlu kuberitahukan kepada Hun-sicu!”

“Ada urusan apa pula harap Cianpwe suka memberi petunjuk!”

“Apakah Hun-sicu tahu bahwa Mo-bin Suseng sekarang sudah tiba di Tionggoan. Dan sekarang kira-kira sudah berada disekitar Jian-hud-tong ini. Dia ingin menculik Coh Jian-jo dari sarang musuhnya.”

Thian-hi tercengang, sejenak ia celingukan keempat penjuru, ingin dia menemukan dimana jejak Mo-bin Suseng.

Padri tua tertawa dan katanya, “Hun-sica sekarang tidak akan dapat melihatnya, tapi akan kuberitahu kepada kau, hal ini sudah lama ingin kau ketahui, walaupun sebetulnya sudah kau ketahui, cuma apa yang kau ketahui itu belum lagi pasti dan tepat!”

Merandek sebentar lantas ia melanjutkan, “Ketahuilah Mo-bin Suseng bukan I-lwe-tok-kun!” “Bukan?” desis Hun Thian-hi sesaat kemudian.

Padri tua manggut-manggut, ujarnya, “Tapi Mo-bin Suseng adalah murid I-lwe-tok-kun, selamanya tiada seorang pun yang pernah melihat wajah aslinya, tapi bila kau sendiri yang melihat dia, pasti kau kenal padanya!”

Hun Thian-hi garuk2 kepalanya yang tidak gatal, ia tidak paham kemana juntrangan kata-kata sipadri tua ini!

Terdengar ia melanjutkan, “Mo-bin Suseng adalah saudara kembar Hwesio jenaka! Bentuk tubuh dan wajah mereka satu sama lain sangat mirip sekali!” Lagi-lagi Thian-hi melengak dibuatnya, teringat olehnya waktu ia mendapatkan buah ajaib dulu, adalah Hwesio jenaka yang membantunya sehingga ia berhasil mendapatkan buah ajaib itu.

Pernah juga Hwesio jenaka mengajukan syarat yang ditampiknya saat itu, kiranya….Thian-hi menjadi

serba sulit, betapa besar budi bantuan Hwesio jenaka terhadapnya, laksana gunung tingginya sedalam lautan pula, bila Hwesio jenaka minta dia menghapus dendam kesumat ini, bagaimanakah dia harus menjawab?

Sekian lama mereka berdiam diri, akhirnya si padri tua berkata pula, “Perlu kau ketahui bahwa mereka tiga bersaudara kembar. Orang yang pertama kau temui itu bukan Hwesio jenaka, yang membantu kau dulu adalah muridku, seorang iblis kenamaan di Bulim dulu yang bernama julukan Siau-bin-mo-in (orok iblis bermuka tawa), sekarang nama gelarnya adalah Ngo-sing!”

Thian-hi semakin menjublek ditempatnya, tak tahu dia bagaimana perasaannya setelah mengetahui rahasia ini. Kiranya mereka tiga bersaudara kembar, teringat olehnya waktu Pek Si- kiat pertama kali ketemu dengan Hwesio jenaka sikap dan lagak mereka kelihatannya seperti sudah kenal lama, tapi siapa tahu bahwa Hwesio tambun itu kiranya adalah Siau-bin-mo-in.

Terdengar sipadri tua menghela napas. lalu sambungnya, “Diantara mereka tiga bersaudara, Mo-bin Suseng adalah yang tertua, Hwesio jenaka paling kecil. Tapi Hwesio jenaka alalah murid Siau-bin-kim-hud Hoat-pun yang kenamaan itu. Hubungan mereka bertiga justru sangat akrab dan kental sekali, sayang menyajangi. Mo-bin Suseng berbuat begitu lantaran dia harus menolong gurunya, dia ingin membantu gurunya untuk memulihkan ilmunya yang dicapainya dulu, diluar kesadarannya bahwa perbuatannya itu justru telah menimbulkan gelombang pertikaian yang berkepanjangan di Bulim!”

Thian-hi menunduk prihatin, akhirnya ia bertanya, “Dapatkah Wanpwe tahu nama gelaran Lo- suhu yang mulia?”

Padri tua tertawa ewa, katanya, “Ka-yap sudah meninggal, dalam dunia ini mungkin tiada lagi seorang yang mengenal siapa aku. Tidak tahu lebih baik, aku harus segera pergi, kau harus jaga dirimu baik-baik!”

Melihat sipadri tua tidak mau memperkenalkan diri, Thian-hi menjadi bungkam.

Padri tua sudah memutar tubuh ke arah hutan, tiba-tiba ia memutar ke arah Thian-ni serta serunya, “Tiada seorangpun dikolong langit ini yang dapat mengatasi tipu daya kelicikan Mo-bin Suseng, kau harus lebih hati-hati.” habis berkata tubuhnya melayang pergi.

Thian-hi terlongong ke depan, entahlah bagaimana perasaan hatinya sekarang. Hanya terasa olehnya bahwa segala sesuatu yang diketahuinya sekarang adalah diluar dugaan dan perhitungannya. Hwesio jenaka ternyata ada tiga orang, sedang padri tua ini bukan Go-cu pula, entah siapakah dia, pastilah tingkat kedudukannya sangat tinggi tidak di bawah tingkatan Ka-yap Cuncia.

Pikir punya pikir akhirnya ia menghela napas panjang, pelan-pelan kakinya melangkah ke belakang gunung dalam hati ia membatin, “Sementara kukesampingkan dulu soal ini, yang penting sekarang aku harus menolong Coh Jian-jo dan cucunya perempuan!”

Begitu ia tiba di belakang gunung, mendadak ia berdiri melongo, seseorang yang bentuk dan raut mukanya persis Hwesio jenaka tengah bertengger di puncak sebuah batu besar diketinggian sana, orang itu tersenyum lebar memandang dirinya. Sudah tentu Hun Thian-hi terperanjat, tadi si-hwesio tua yang buta itu memberitahu, padanya bahwa Mo-bin Suseng dan Hwesio jenaka adalah saudara kembar yang sangat mirip rupa satu sama lain. Terpikir olehnya bahwa Siau-bin-mo-in tentu masih berada dibarat laut, sedang Hwesio jenaka jauh berada di Siongsan, jadi Hwesio cebol gemuk dihadapannya ini terang adalah Mo-bin Suseng adanya, mengawasi musuh besar dihadapannya ini seketika menggelora darah dalam ronggo dadanya.

Sebaliknya Hwesio cebol gemuk itu masih berseri-seri tawa menghampiri ke arah Hun Thian-hi, ujar-nya, “Hun-sicu, kau tidak menyangka aku bisa selekas ini muncul pula disini bukan!”

Dengan cermat kedua pasang mata Hun Thian-hi menatap Hwesio cebol di depannya ini, orang ini memang sangat mirip sekali dengan Hwesio jenaka, mendadak teringat olehnya, walaupun Siau-bin-mo-in berada dibarat laut, tapi dia masih ada kemungkinan bisa muncul juga di tempat ini. Bukankah dirinya sendiri baru saja berpisah dengan Hwesio jenaka di Siong-san toh kenyataan sekarang aku sudan berada disini. Maka bukan mustahil bahwa Hwesio jenaka bisa juga muncul disini?

Dalam pada itu Hwesio cebol itu setindak demi setindak menghampiri ke arah Thian-hi. Sesaat itu Thian-hi menjadi bingung tak dapat ia membedakan siapakah sebenar-benarnya orang tambun yang berada di depannya ini, hatinya lebih condong bahwa pastilah orang ini adalah samaran. dari Mo-bin Suseng, karena katanya ia berada di sekitar Jian-hud-tong.

Orang tambun itu mendekat lagi dua langkah, hati Thian-hi masih dirundung kegoncangan yang belum menentu. Jika benar-benar adalah Mo-bin Suseng, betapa pun tidak boleh membiarkan orang mendekati diriku, sebaliknya bila benar-benar adalah Hwesio jenaka atau Siau- bin-mo-in yang bergelar Ngo-sing lalu bagaimana? Pikir punya pikir tanpa merasa jidatnya basah oleh keringat. Sulit ia menarik suatu kesimpulan.

Akhitnya ia kertak gigi, pikirnya, “Tak peduli apa pun yang akan terjadi nanti, bila dia, berani mendekati lebih jauh, akan kupancing siapakah sebenar-benarnya kau adanya!”

Begitu diam-diam Thian-hi sudah bertekad dalam hati, sementara dengan tajam ia awasi orang tanpa bergerak.

Mendadak orang tambun itu menghentikan langkahnya agaknya ia heran akan sikap kaku Hun Thian-hi yang ganji ini, tanyanya, “Hun-sicu kenapakah kau? Apakah nona Su telah menghilang?”

Hun Thian-hi melengak, pikirnya; apakah benar-benar Hwesio jenaka adanya? Kalau bukan kenapa ia bisa tahu bahwa Su Giok-lan ada bersama diriku? Karena rekaannya ini mulutnya sudah bergerak hendak bicara, tapi ia menarik kesimpulan lain pula, bukan mustahil Mo bin Suseng tadi sudah melihat pula bahwa aku berada bersama Su Giok-lan, maka tidak perlu diherankan jika dia mengajukan pertanyaannya ini.

Tergerak hatinya, jangan harap kau dapat mengelabui aku, baik biarlah kucoba isi hatinya. segera ia bertanya, “Siau-suhu! Begitu cepat kau dapat menyusul kemari dari Thay-san yang begitu jauh!” Setelah mengajukan pertanyaan ini hatinya berpikir; ‘coba kulihat cara bagaimana ia menjawab pertanyaanku ini, dari jawabannya akan kuketahui siapa kau sebenar-benarnya!’

Orang itu agaknya melengak, sahutnya, “Hun-sicu, apa yang kau tanyakan?”

Hun Thian-hi menyedot napas. pikirnya, “Sebenar-benarnya Hwesio jenaka atau Mo-bin Susengkah orang ini?” — Terpaksa ia bertanya pula, “Kenapa Siau-suhu menyusul kemari pula dari Thay-san?” dengan lekat ia awasi perubahan air muka orang…. pikirnya; betapapun licik kau akan kukenali siapa kau sebenar-benarnya. Ingin Hun Thian-hi coba mencari tahu siapakah orang dihadapannya ini, Hwesio jenaka asli atau Mo-bin Suseng? Maka ia ajukan pertanyaannya pula, “Siau-suhu, bukankah kau berada di Thay-san? Kenapa menyusul kemari pula?”

Sejenak orang itu tertegun. sahutnya, “Apa katamu?” Berkilat sorot mata Hun Thian-hi, ia ulangi pertanyaannya.

Orang itu tertawa, sahutnya, “Kudengar katanya Mo-bin Suseng hendak kemari, maka cepat- cepat aku susul kemari!”

Mendengar jawaban orang Thian-hi membatin pula, “Pintar kau main pura-pura, meski Hwesio jenaka! menanam budi sedalam lautan padaku, terpaksa kebaikannya itu kubalas kelak kemudian hari. Kalau kau ingin lolos dari tanganku, mungkin kau sedang mimpi” Ujung mulutnya mengulum senyum dingin, pelan-pelan ia maju menghampiri ke depan Mo-bin Suseng, mulutnya pun berkata, “Sungguh cepat langkah Siausiuhu!”

Agaknya Mo-bin Suseng dirundung persoalan lain, ia berpaling terlongong ke arah hutan lebat di belakang sana, mulutnya pun bersuara, “Urusan ini cukup serius, sudah tentu harus kususul secepatnya?”

SetetLah berada di depan Mo-bin Suseng, tangan kanan Hun Thian-hi meraba seruling dipinggangnya, katanya dingin, “Siau-suhu! Apakah kau langsung menyusul kemari dari Thay- san?”

Mo-bin Suseng tertawa, katanya, “Hun sicu! Ada sebuah hal perlu kuberitabukan kepada kau!” Menghadapi Mo-bin Suseng dendam kesumat bertahun2 yang mengeram dalam rongga dada

Hun Thian-hi seketika bergolak seperti api membara. tapi bagaimana juga ia masih rada gentar

menghadapi Mo-bin Suseng musuh besar yang belum pernah dilihatnya ini. Betapa licik dan jahat tipu daya Mo-bin Suseng ia tahu dengan jelas, sekarang ia tidak boleh memberi kesempatan pula pada orang untuk melaksanakan muslihatnya.

Dia sudah tidak kuat menahan sabar lagi, kalau ia tahu apa akibatnya bagi diri sendiri bila ia terlambat turun tangan. Dia belum tahu bagaimana kepandaian silat Mo-bin Suseng, bila sekali sergap tidak berhasil pasti sulitlah dibayangkan bagaimana nanti kesudahannya.

Pikiran ini secepat kilat berkelebat dalam benaknya, serta merta ia menjengek dingin dan tertawa terkial-kial. serunya, “Mo-bin Suseng, kembalikanlah jiwa orang-orang yang menjadi korban keganasanmu dulu!” — seiring dengan bentakannya seruling ditangannya sudah teracung tinggi melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek menyerang Mo-bin Suseng.

Sekilas tampak sorot mata Mo-bin Suseng mengunjuk rasa takut dan heran yang aneh, mulutnya sudah bergerak hendak bicara, tapi rangsakan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek yang hebat itu sudah melandai tiba, sekuat tenaga ia jejakkan kakinya melompat mundur jumpalitan, berbareng kedua telapak tangannya berputar menepuk ke atas menyongsong ke arah gelombang tekanan serangan Hun Thian-hi.

Namun betapa hebat dan dahsyat kekuatan serangan Wi-thian-cit-ciat-sek ini, menghadapi musuh besar pula sudah tentu Hun Thian-hi menyerang dengan sekuat tenaga. Bagaimana cepat dan gesit Mo-bin Suseng berusaha berkelit atau menghindar diri, tak urung ia terpental juga oleh terjangan tenaga dahsyat bagai gugur gunung yang menerpa datang, terdengar mulutnya. menguak seperti babi disembelih kontan badannya terguling2 menyemburkan darah, empat jalan darah mematikan di tubuhnya kena tertutuk buntu, seumpama dewa juga tidak akan mampu hidup kembali.

Hun Thian-hi menarik kembali serangan selanjutnya yang sudah disiapkan, dengan berdiri terlongo ia pandang tubuh Mo-bin Suseng yang menggeletak tidak bergerak. Sekarang dendam sudah terlampias, ia sudah menuntut balas sakit hati keluarganya. Tapi benar-benarkah ia sudah menuntut balas? Hati kecilnya tidak merasakan kepuasan sesuai dengan tuntutan nuraninya.

Sekarang terbayang olehnya sorot mata dan air muka Mo-bin Suseng sesaat sebelum serangannya mengenai badan orang, terketuk dalam relung hatinya suatu firasat jelek yang menghantui sanubarinya.

Mendadak tampak olehnya badan Bo-bin Suseng bergerak-gerak, rasa ketakutan menggedor hati Hun Thian-hi, serta merta kakinya menyurut mundur. Dengan pandangan tidak mengerti ia pandang badan Mo-bin Suseng yang berkelejetan itu. Ternyata Mo-bin Suseng belum lagi mati, sungguh ia tidaK berani membayangkan, setelah kena tertutuk empat jalan darah kematian di tubuhnya orang ternyata masih mampu bertahan hidup sekian saat.

Dengan kencang Thian-hi genggam serulingnya, meski ia tahu seumpama Mo-bin Suseng tidak segera mampus, terang jiwanya juga tidak mungkin diselamatkan lagi. Bagi manusla yang tertutuk buntu jalan darah kematiannya adalah tidak mungkin berkepanjangan umurnya, apalagi kena diterjang begitu hebat oleh kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek yang begitu ampuh, terang urat nadi dan sendi tulangnya sudah putus dan hancur, harapan hidup sudah tiada lagi.

Mo-bin Suseng menggeliat tubuh dan terbalik celentang, dengan susah payah ia berusaha merangkak bangun. Menyaksikan keadaan yang menyedihkan ini telapak tangan Hun Thian-hi berkeringat dingin, ia tak tahu kekuatan darimana yang dapat melandasi kekerasan hati Mo-bin Suseng sehingga ia mampu bertahan hidup, suatu hal yang mustahil dan tak mungkin terjadi, tapi kenyataan disaksikan di depan matanya.

Mo-bin Suseng meronta bangkit dua kali, dua2nya gagal dan akhirnya ia rebah kelemasan, dengan putus asa ia menghela napas panjang, terdengar suaranya lirih dan kalem, “Hun-sicu! Aku bukan Mo-bin Suseng. Kemarilah kau, ada beberapa patah yang perlu kusampaikan kepadamu!”

Seakan-akan kepala Thian-hi dipukul godam mendengar ucapan orang, terasa olehnya ketulusan ucapan seseorang yang menjelang ajal adalah jujur, seketika pucat pasi selebar mukanya, keringat segede kacang mengalir dari jidatnya, dengan tertegun mulutnya bicara, “Apa? Kau bukan Mo-bin Suseng? Benar-benarkah itu? Lalu Siapa kau sebenar-benarnya?”

Orang itu menghela napas tak bersuara, sesaat setelah menghimpun tenaga baru bersuara lagi, “Kemarilah kau!”

Tiba-tiba Hun Thian-hi seperti tersadar siapa sebetulnya orang di hadapannya, serunya terlongong, “Jadi kau adalah Ngo-sing Suhu?”

Orang itu berdiam diri!

Hati Hun Thian-hi seperti menciut, rasa ketakutan menjalar seluruh sanubarinya bergegas ia memburu maju serta berjongkok disamping orang terus memampah badannya.

Pelan-pelan orang itu membuka mata, katanya dengan suara tak bertenaga, “Hun-sicu, aku tidak akan tertolong lagi, tapi sebelum ajal ada sebuah permohonanku terhadap kau, kau harus memberi persetujuanmu….” Hwesio cebol yang tambun ini ternyata benar-benar adalah Ngo-sing adanya, sungguh pedih dan seperti ditusuk sembilu perasaan hati Hun Thian-hi, air mata meleleh deras membasahi pipinya, sungguh ia menyesal akan perbuatannya yang gegabah dan ceroboh, sedikitpun tidak terpikir olehnya bahwa bukan mustahil orang yang dihadapi ini adalah Ngo-sing Suhu alias Siau- bin-mo-in.

Ngo-sing tertawa halus, katanya lirih, “Hun-sicu tidak perlu bersedih, dosa2ku dulu terlalu keliwat takaran, memang aku sudah ditakdirkan begini, Hun-sicu tidak perlu menyalahkan diri dan menyiksa dirimu karena nasib yang menimpa diriku ini, ini sudah suratan takdir!”

“Ngo-sing Suhu!” ujar Hun Thian-hi mengembeng air mata, “sungguh aku sangat menyesal akan perbuatanku yang bodoh ini!”

Ngo-sing pejamkan mata sesaat lamanya, baru kuasa bicara lagi, “Hun-sicu! Selama hidupku ini ada sebuah cita-citaku yang belum terlaksana kukerjakan, aku ingin mohon supaya Hun-sicu suka mewakili aku mengabulkan cita-citaku ini.”

“Ngo-sing Suhu silakan katakan saja, selama jiwa masih dikandung badan Hun Thian-hi pasti akan melaksanakan pesanmu sekuat tenaga!”

Ngo-sing menghela napas lega, katanya tertawa, “Semula aku tidak paham kenapa kau bisa panggil aku Mo-bin Suseng, sampai detik terakhir ini baru aku sadar, tentu kau tadi sudah ketemu dengan guruku bukan?”

Hun Thian-hi manggut sambil sesenggukkan, sahutnya, “Benar-benar, baru saja aku jumpa dengan beliau. Menurut katanya Mo-bin Suseng ada memperlihatkan jejaknya di sekitar Jian-hud- tong, dan kenyataan kaulah yang muncul, maka kusangka kaulah Mo-bin Suseng adanya!”

“Itulah yang dinamakan takdir,” demikian kata Ngo-sing perlahan, “Kudengar Mo-bin suseng akan tiba disini, dia adalah engkohku tertua maka hendak kutolong jiwanya. sekali2 dia tidak boleh bertemu muka dengan kau, siapa nyana justru kau telah tahu beluk-beluk persoalan ini.” — sampai disini napasnya memburu dan berhenti bicara, sesaat kemudian baru melanjutkan lagi, “Hwesio jenaka ada beritahu padaku dia berada di Siong-san, sebaliknya pertanyaanmu bilang aku menyusul datang dari Thay-san Kusangka entah karena urusan apa Hwesio jenaka telah pergi ke Thay-san pula.”

Sungguh Thian-hi menyesal dan gegetun lagi akan perbuatan bodohnya yang tidak punya perhitungan ini, ingin untung menjadi buntung, orang baik-baik macam Ngo-sing yang beberapa kali pernah membantu dirinya disangkanya Mo-bin Suseng dan melukai berat begini rupa, terang tiada harapan hidup lagi,

Ngo-sing tersenyum halus. katanya: .Hun-sicu tidak usah menyesal dan salahkan diri sendiri, nasiibku ini memang sudah suratan takdir aku tidak salahkan kau. Mungkin hanya guruku seorang yang mengetahui rahasia persaudaraanku ini di seluruh dunia.”

Meski Ngo-sing berkata tanpa pamrih, tapi betapa pedih dan pilu perasaan Hun Thian-hi sungguh susah dilukiskan. Dia kuasa menerima segala cercah dan nista yang ditimpakan dirinya oleh seluruh golongan persilatan di Bulim, tapi dia tidak akan kuasa menerima kesalahan yang diperbuatnya hari ini. Tempo hari dirinya telah dibebani dosa tak berampun oleh seluruh kaum persilatan. tapi dia tolak mentah-mentah. Justru hari ini Ngo-sing mewakili dirinya menolak pula dosa2 ini pula, meski perbuatan ini merupakan suatu kesalah pahaman yang tidak dimengerti, tapi ia tahu, bahwa segala akibat dari perbuatan kelalaian ini harus menjadi beban dan tanggung jawabnya. Sekian lama Ngo-sing pejamkan mata, tiba-tiba ia membuka suara pula, “Guruku itu adalah Suheng Ka-yap Cuncia, beliau bernama gelar Ah-lam Cuncia. Ka-yap Cuncia juga sudah anggap beliau sudah wafat. Beliau paling pantang seseorang mengetahui nama dan asal usulnya.”

Terbayang oleh Thian-hi akan Hwesio tua yang picak itu, sungguh tidak nyana bahwa Hwesio tua itu ternyata adalah Suheng Ka-yap Cuncia

Ngo-sing berkata pula, “Selama hidupku inj tidak sedikit aku menerima budi besar dari beliau orang tua. tapi kedua matanya yang picak sehingga seluruh kepandaian silatnya pun musnah menjadi cacat badan juga lantaran diriku!”

Hun Thian-hi berdiam diri. terasa hatinya hambar dan kosong, dia berdiri menjublek tak tahu apa yang sedang terpikir dalam benaknya.

“Ai, beliau terkena racun Ban-lian-ceng. meski kepandaian silatnya setinggi langit, tapi sekarang sudah punah dan tak berguna lagi. Untuk menyembuhkan sepasang mata dan memulihkan Lwekangnya kembali. cuma dapat memohon pada seseorang saja!” demikian Ngo-sing melanjutkan ceritanya.

Mendadak tersedar Thian-hi dari lamunannya, tanyanya, “Maksud Ngo-sing Suhu supaya aku pergi mencari orang itu bukan? ‘

Ngo-sing harus mengempos semangat dan mengatur napas sebentar baru bisa melanjutkan bicara, “Orang ini adalah Suheng Thaysi Lojin yang kenamaan di Bulim dulu bemama Jing-san- khek. Dulu aku pernah ketemu beliau, tapi selama hidup ini dia membisu diri tak mau bicara sekecap pun Orang ini merupakan seorang cerdik pandai, tiada persoalan yang tidak dapat dibereskan oleh beliau. Akhirnya dapat kuselidiki alasan kenapa dia membisu diri, ternyata karena dia kehilangan semacam barang, dan barang itu adalah milik istrinya yang tercinta. Bila kau dapat menemukan barang itu dan menghadap pada beliau, pasti hasilnya diluar dugaan.” — Sampai disini napasnya menburu lagi dan terbatuk2 hebat, akhirnya jatuh kelemasan.

Cepat-cepat Thian-hi memajangnya bangun, tanyanya cepat, “Barang apakah itu?” Dengan lemah Ngo-sing membuka mata, suaranya tergagap. “Kata mereka….itulah

….seekor….seekor kuda….kuda hijau….sampai disini melayanglah jiwanya.

Dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi letakkan badan orang terus berdiri, otaknya seperti butek dan tidak punya pegangan lagi, mulutnya menggumam, “Kuda hijau? Kuda yang berwarna hijau?” -Mana mungkin ada kuda warna hijau di dunia ini? Dan lagi Ngo-sing sudah meninggal, dia meninggal begitu saja. Betapa aku takkan malu berhadapan dengan para sahabat Kangouw?

Tengah ia terlongong, tiba-tiba dilihatnya Hwesio tua picak yang bernama Ah-lam Cuncia seperti penuturan Ngo-sing berjalan keluar dari hutan.

Dengan mendelong Hun Thian-hi pandang Ah-lam Cuncia, hatinya menjadi was-was dan takut, hampir saja ia melarikan diri, Ah-lam Cuncia pernah menanam budi pada dirinya, demikian juga Ngo-sing tidak kecil pula bantuannya terhadap dirinya, Tapi kenyataan Ngo-sing sekarang sudah menjadi korban kelalaiannya.

Dengan, perasaan hampa segera ia melangkah kehadapan Ah-lam Cuncia, terus bertekuk lutut dan menangis gerung-gerung dihadapan kaki orang. Ah-lam Cuncia mengelus-elus kepalanya, rada lama kemudian baru ia bersuara, “Dalam hati Siau-sicu sekarang sedang berpikir apa, apakah Siau-sicu sendiri tahu?”

Hun Thian-hi geleng-geleng kepala sahutnya sambil sesenggukan, “Wanpwe tidak tahu, harap Taysu suka memberi petunjuk!”

Ah-lam Cucia berkata pelan-pelan, “Kalau Siau-sicu sendiri tidak tahu, lalu siapa bakal tahu?”

Tergetar dada Thian-hi walau Ah-lam Cuncia mengucapkan kata-katanya ini sangat lirih dan enteng, namun setiap katanya seperti meresap dan memasuki sanubarinya.

Sekonyong-konyong sadarlah ia dari pulasnya, bayangan masa lampau dari segala sepak terjangnya yang penuh noda2 berdarah laksana air bah yang menerjang ke dalam relung hatinya, sadarlah ia bahwa dosa2nya membunuh terlalu berat, akhirnya ia berkata perlahan, “Untuk selanjutnya Tecu pasti tidak akan membunuh sembarangan orang!”

Lalu perlahan-lahan ia mendongak melihat wajah Ah-lam Cuncia, seketika ia melenggong kaget, tampak kedua biji mata Ah-lam Cuncia terbuka melek, dengan senyum welas asih ia pandang dirinya, biji matanya memancarkan sorot tajam yang menembus kerelung hati orang. Hun Thian-hi masih berlutut dengan mendelong ia pandang muka Ah-lam Cuncia.

Ah-lam cuncia tampak tersenyum, ujarnya, “Hawa membunuh Siau-sicu sudah kabur, namun nafsu asmara masih bersemi dalam hati, selanjutnya kau masih perlu berhati-hati dalam segala tindak tanduk. Loceng segera minta diri bila kelak masih jodoh, pasti akan jumpa pula!” habis berkata

dimana lengan jubahnya mengebut jenazah Ngo-sing tahu-tahu sudah berada dikempitannya, sekali berkelebat dilain saat beliau sudah melesat menghilang tanpa bekas.

Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, hampir ia tidak percaya pada penglihatan matanya sendiri, Ah-lam Cuncia sudah sembuh kembali, kedua matanya sudah melek dan dapat melihat, betapa tinggi Kepandaiannya, sungguh sukar diukur dan sangat menakjubkan. Apa yang sekarang disaksikan sungguh berbeda terlampau jauh dari penuturan Ngo-sing tadi.

Entah berapa lama Hun Thian-hi terlongong tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba ia tersentak sadar akan tugas apa yang harus segera dilaksanaKan sekarang, cepat ia berlari menuju kejalan rahasia yang menembus kegua seribu Buddha.

Baru saja ia berada di dalam kegelapan lorong gua, mendadak terasa dua gelombang angin deras menerjang tiba dari kanan kiri, betapa kuat terpaan jalur kedua angin pukulan ini, benar- benar merupakan rangsakan dari tokoh kelas wahid dalam kalangan persilatan umumnya.

Sedikit terkejut lantas Hun Thian-hi siaga dengan seluruh kemampuannya, ia insaf bahwa jalan rahasia ini sudah konangan orang lain, malah musuh kedatangan bala bantuan lagi, atau mungkin Tok-sim-sin-mo sendiri sudah kembali pulang dan berada si Jian-hud-tong pula sekarang.

Tanpa ada tempo untuk banyak pikir, sebat sekali ia berkelit mundur seraya mengembangkan kedua tangannya kekanan kiri untuk menyampok serangan musuh, berbareng kakinya menjejak tanah, kontan tubuhnya menerjang maju ke depan, lolos dari gencetan dua arus pukulan dahsyat.

Begitu menerobos lewat dari gencetan dua arus pukulan angin musuh, gesit sekali ia berdiri membalik dan memasang kuda-kuda siap waspada, dilihatnya dari tempat gelap dari dua samping muncul Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho. Tahu dia sekarang bahwa Tok-sim-sin-mo pasti benar-benar sudah kembali, tanpa merasa berdegup keras jantungnya. Melihat Hun Thian-hi mampu meloloskan diri dari serangan gabungan yang begitu dahsyat dilancarkan secara membokong lagi, sungguh Biau biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho menjadi kesengsem, tanpa banyak bicara mereka bergerak pula dari jurusan masing-masing dengan serangan telak ke arah Hun Thian-hi Tiba-tiba tergerak hati Hun Thian-hi, ia menduga bahwa kedua musuhnya ini pasti belum sempat memberitahu akan jalan rahasia yang ditemukan ini pada kawan2nya yang lain, maka ia berpikir harus bertindak secepatnya, sebaliknya kedua lawannyapun ingin dapat membekuk Hun Thian-hi secara diam-diam pula tanpa mendapat bantuan orang lain yang berarti menurunkan derajat dan mengurangi jasa2 mereka pada pemimpinnya. Begitulah kedua belah pihak sama bertekad untuk merobohkan lawannya. maka masing-masing melancarkan ilmu pukulan dan tipu-tipu yang paling diandalkan.

Tiga gelombang pukulan dahsyat seketika berkutet dan saling bentur dengan kekerasan yang dahsyat sehingga menimbulkan suara ledakan yang gemuruh. Badan Hun Thian-hi tergetar sempoyongan tersurut mundur ke belakang. Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho serempak menghardik Keras, mereka mengejar datang pula serta menambahi pula dengan tamparan dan sodokan yang mematikan, sementara kelima jari Bing-tiong-mo-tho terjulur panjang mencakar kemuka Hun Thian-hi. Demikian juga Biau-biau-cu merubah sodokan sikutnya dengan sebuah tutukan jari yang mengarah jalan darah Yu-kin-hiat. Besar hasrat mereka dalam serangan serempak yang dahsyat ini dapat membinasakan Hun Thlan hi seketika itu juga.

Tiba-tiba Hun Thian-hi menjengkangkan atas tubuhnya ke belakang, berbareng kedua kakinya terangkat ke atas bergantian menendang ketenggorokan kedua musuhnya yang menyerang maju dengan nafsu yang berkobar itu.

Keruan kedua musuhnya kaget bukan kepalang, sungguh mereka tidak nyana bahwa Hun Thian-hi dapat bergerak begitu lincah dan pintar, dalam keadaan terdesak berbalik balas menyerang dengan serangan telak yang sekaligus telah membebaskan diri dari renggutan maut serangan musuh.

Lebih diluar dugaan pula bagi kedua musuhnya bahwa gerak serangan Hun Thian-hi ini melulu hanyalah serangan pancingan belaka, begitu kedua kakinya terangkat dan menendang, mendadak tubuhnya melejit mumbul ke atas berbareng berputar satu lingkaran, dimana kedua tangannya menyamber kontan kedua lawannya kena terpukul mundur sempoyongan.

Keruan ciut nyali Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho bahwa dengan dua lawan satu ternyata Hun Thian-hi masih mampu mendesak kedua lawannya dan berada di atas angin, bila pihak sendiri tidak mengundang bala bantuan pasti sulit dapat mengatasi keadaan yang terdesak ini.

Mendapat angin Hun Thian-hi pun melancarkan serangan yang lebih dahsyat, begitu lincah gerak geriknya terus mendesak maju, sekonyong-konyong kedua telapak tangannya terkembang terus menepuk ke atas batok kepala kedua musuhnya.

Melihat Hun Thian-hi melancarkan serangan denganb kekerasan tanpa menjaga lobang kelemahan tubuhnya Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho mendengus gusar, serempak mereka memiringkan tubuh mkenyongsongkan telapak tangan masing-masing menyambut pukulan Hun Thian-hi, cara tangkisan mereka ini cukup licik bukan saja dapat memunahkan sebagian tenaga pukulan Hun Thian-hi berbareng mereka susulkan pula pukulan telapak tangan yang lain dengan tenaga yang lebih dahsyat.

Tapi Hun Thian-hi punya perhitungannya sendiri, mana begitu gampang ia bisa dikelabuhi oleh kedua musuhnya. Ia insyaf bila bertempur secara kekerasan jelas dirinya bukan tandingan Biau- biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho. Tapi bila kedua musuhnya ini tidak dapat bekerja sama dan dirinya dapat bertindak menggempur kelemahan mereka masing-masing, meski satu lawan dua ia percaya masih mampu mengatasi, malah ia percaya dapat menang’ mengandal kecerdikan otaknya.

Begitulah seiring dengan jalan pikirannya ini, tampak kedua musuhnya sudah melancarkan pula serangan yang bertujuan sama hendak menggempur dadanya, seketika otaknya yang cerdik dapat meraba cara bagaimana ia harus bertindak, sebat sekali kedua telapak tangannya terkembang berputar di tengah jalan ia robah pukulan telapak tangan menjadi tutukan jari yang mengarah jalan darah Sim-hu-hiat di depan dada kedua lawannya.

Sim-hu-hiat adalah salah satu jalan darah mematikan yang berjumlah tiga puluh enam di seluruh tubuh manusia, begitu kena tertutuk jiwa segera melayang. Angin tutukan jari Hun Thian- hi laksana ujung pedang tajamnya, menembus lewat dari arus pukulan mereka sendiri terus menerjang kejalan darah Sim-hu-hiat.

Serasa arwah terbang keluar dari badan kasar Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho, mereka insyaf bila dengan gabungan mereka berdua main adu kekerasan sama Hun Thian-hi belum tentu dapat menamatkan jiwa Hun Thian-hi, malah bukan mustahil pihak sendiri yang terkapar binasa di tanah, sedetik sebelum benturan yang menentukan terjadi sebat sekali mereka menarik diri terus menyurut mundur, sekali mundur terus mundur berulang-ulang.

Siang-siang Hun Thian-hi sudah bersiap dan sudah memperhitungannya bahwa kedua musuhnya pasti

akan mundur. maka segala persiapannya segera diberondong keluar dengan tubrukan maju serta gempuran yang dahsyat dilandasi Pan-yok-hian-kang. gelombang angin pukulan laksana angin topan dan prahara menerpa mereka berdua.

Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho terdesak mundur terus tanpa mampu balas menyerang, tubuh mereka sungsang sumbel gentayangan, sementara Hun Thian-hi terus mendesak maju dengan gempuran yang susul menyusul, sehingga mereka berdua kena terdesak mundur keluar lorong sempit jalan rahasia itu.

Tanpa memberi kesempatan pada kedua musuhnya untuk bertindak sesuatu yang memungkinkan, cepat-cepat Thian-hi angkat sebuah batu besar terus disumbatkan kemulut gua, dilain saat ia sudah berlari keluar dan menghilang dari belokan jalan rahasia yang lain. Begitu Biau-biau-cu dan Bing-tiong-mo-tho terdesak keluar gua setelah dapat menenangkan diri baru tahu bahwa mulut gua sudah tersumbat oleh batu besar, sesaat mereka berdiri berpandangan, serempak mereka lancarkan dua pukulan telapak tangan, “Blang” batu besar itu kena dibobol hancur berantakan.

Tapi keadaan dalam gua sunyi senyap tak kelihatan bayangan orang. Mereka tidak tahu apakah Hun Thian-hi masih berada di dalam sana untuk menyergap mereka bila menerjang masuk ke dalam gua.

Untuk sesaat lamanya mereka berdiri tertegun tak berani bergerak, sekian lama mereka menjadi serba susah dan kebingunan.

Sesaat lamanya mereka berpandangan, dasar licik masing-masing tidak mau mendahului menerjang masuk supaya tidak menjadi korban lebih dahulu, tapi apakah selamanya mereka harus berdiri terlongong di tempat itu? Bila Hun Thian-hi masih berada disana itulah mending, bila dia sudah merat dan menerjang ke dalam gua sebelah dalam dan menimbulkan huru hara, bukankah celaka dan merupakan dosa bagi mereka yang kurang cermat menjalankan tugas? Karena terpikir akan akibat dari hukuman yang berat, akhirnya mereka nekad, perlahan-lahan mereka menggeremet maju bersama memasuki gua rahasia disebelah depan. Begitu sampai di dalam bayangan Hun Thian-hi sudah tidak kelihatan lagi, keruan mereka berseru kaget, bergegas mereka lari mengejar kesebelah dalam.

Sementara itu, setelah Thian-hi keluar dari lorong rahasia, dia tidak berani lari menuju langsung ke tempat tahanan Coh Jian-jo, bila dirinya sampai terkurung lagi disana, mungkin sangat fatal bagi dirinya untuk membebaskan diri.

Apalagi Tok-sim-sin-mo sudah kembali, bukan mustahil saat ini dia berada disana pula, lalu apa gunanya aku meluruk langsung kesana. Adalah lebih baik disaat Tok-sim-sin-mo tidak berada ditempatnya bila aku dapat mencari obat pemunah itu, dan tindakan selanjutnya baiklah bekerja melihat gelagat.

Begitulah sambil menerawang tindakan selanjutnya kakinya berlari-lari kecil ke depan. Jalan- jalan lorong dalam Jian-hud-tong itu seperti jaringan laba-laba yang rumit sekali, sesaat Hun Thian-hi menjadi bingung dan mengerutkan alis, entah kemana ia harus mencari jurusan yang benar-benar!.

Setelah menempuh perjalanan belak belok yang cukup jauh, mendadak dilihatnya Tok-sim-sin- mo sedang berjalan mendatangi dari arah sebelah sana. Berdetak jantung Hun Thian-hi, pikirannya, “mungkin Tok-sim-sin-mo hendak menuju ke tempat kurungan Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo.”

Dalam pada itu tampak kaki Tok-sim-sin-mo melangkah enteng lewat di bawah Hun Thian-hi terus beranjak ke depan.

Secara kebetulan baru saja ia lewat di bawah Hun Thian-hi, mendadak ia menghentikan langkahnya, sejenak ia berdiri terlongong seperti sedang memikirkan sesuatu lalu bergegas melanjutkan kelorong sebelah samping.

Diam-diam Hun Thian-hi merasa heran. entah mengapa setelah beberapa tindak ke depan Tok- sim-sin-mo memutar kesamping sana, apakah dia sudah mengetahui akan jejakku? Atau melupakan sesuatu? Demikian ia mereka-reka dalam hati.

Karena ingin tahu secara diam-diam ia menguntit di belakang Tok-sim-sin-mo, ingin ia tahu kemana tujuan orang. Tampak Tok-sim-sin-mo terus maju ke arah depan tanpa menoleh lagi, tidak lama kemudian ia membelok kesebuah pengkolan, mendadak keadaan disini tampak menjadi terang benderang, kesanalah Tok-sim-sin-mo terus beranjak masuk.

Hun Thian-hi menguntit terus, baru saja ia tiba di tempat terang itu, tampak Tok-sim-sin-mo membelok pula ke arah sebuah tikungan di sebelah sana, baru saja ia hendak menyusul kesana, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh dibelakangnya. Sungguh kejut Thian-hi bukan main, ternyata jalan mundur dibelakangnya kini telah tertutup rapat oleh pintu besi, tahu dia bahwa ia masuk perangkap, cepat ia berlari ke depan mejusul ke arah dimana Tok-sim-sin-mo tadi menghilang.

Keruan Thian-hi melengak keheranan. sungguh ia tidak habis mengerti cara bagaimana Tok- sim-sin-mo dapat mengetahui bahwa dirinya sedang menguntit dibelakangnya. Apa boleh buat dengan langkah lemas lunglai pelan-pelan ia melanjutkan ke depan. Bahwa Tok-sim-sin-mo sengaja memancing dan mengurung dirinya di tempat ini pasti dia mempunyai tujuan tertentu.

Waktu Thian-hi angkat kepala mendongak ke atas dinding, dengan seksama ia memeriksa keadaan sekitarnya. Bahwa Tok-sim-sin-mo dapat menghilangkan jejaknya dalam waktu yang begitu singkat, pastilah tempat itu ada sebuah jalan rahasianya yang tersembunyi tapi dimana letaknya.

Mendadak dilihatnya mutiara besar yang terporotkan di atas dinding itu terbayang bentuk badannya sendiri, baru sekarang ia sadar, meski tadi dirinya sembunyi di atas dinding yang tersembunyi tapi dari bayangan yang terkaca di atas mutiara itu pastilah Tok-sim-sin-mo sudah mengetahui jejaknya, bukan mustahil bahwa dia sudah mengetahui akan kehadiran dirinya. di dalam sarangnya ini.

Teringat olehnya waktu Tok-sim-sin-mo mendadak menghentikan langkahnya tadi. persoalannya pasti tidak begitu gampang, tentu dia sedang menerawang cara bagaimana mencari akal untuk menghadapi atau menjebak dirinya. Bila Ling-lam-kiam-ciang terkurung disekitar sjni, bukan mustahil bahwa dalam lorong2 gua yang sempit itu tersembunyi berbagai alat rahasia.

Adalah jamak bila Tok-sim-sin-mo tidak sudi mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran, cukup dengan alat2 rahasia sudah berkelebihan untuk menghadapi dirinya.

Keadaan gua dimana sekarang ia berada jauh lebih benderang dari keadaan gua yang lain.

Sesaat Hun Thian-hi menjadi was-was dan curiga. Dari suara gemuruh turunnya pintu besi yang tebal itu dapatlah ia mengukur bahwa mengandal tenaganya tidaklah mungkin ia kuat mencebolnya keluar.

Tok-sim-sin-mo sekarang sudah menghilang, kecuali dapat menemukan alat rahasia dan jalan keluarnya, kalau tidak dirinya harus terima nasib mati kelaparan atau bunuh diri saja.

Dengan cermat Thian-hi meraba-raba dinding sekitarnya, diperiksanya setiap jengkal dinding batu yang dicurigai apakah disana letak alat rahasia yang bakal menolong dirinya keluar. Tapi kecuali mutiara yang cerlang cemerlang terporot di atas dinding itu…. ia tidak menemukan sesuatu yang dapat menolong dirinya.

Mendadak ia seperti menemukan sesuatu yang menimbulkan perhatiannya, di bawah mutiara itu, lapat-lapat seperti ada sebuah goresan anak panah yang menunjuk kesuatu arah tertentu, goresan itu begitu ringan sekali sehingga sukar dapat dipandang dengan mata biasa, tapi bagi sepasang biji mata Thian-hi yang jeli dengan bekal Lwekangnya yang tinggi. ia dapat melihat dengan jelas sekali, memang bila tidak diperhatikan orang tidak akan tahu adanya tanda rahasia ini.

Berdetak jantung Thian-hi. dengan adanya petunjuk ini apa pula yang perlu kutakuti, mengiringi petunjukan tanda rahasia yang tergores di bawah mutiara2 itu setindak demi setindak ia maju ke depan.

Beberapa lama kemudian mendadak ia mendapat firasat yang kurang baik, penerangan dalam gua tetap sama, tapi lambat laun tanah sekitarnya semakin lembab dan basah, empat dinding sekitarnya kelihatan basah dan meneteskan air.

Wilajah Tun-hong terkenal dengan gurun pasir yang teramat luas. tanah disini tandus dan kering, letak Jian-hud-tong berada di dalam pegunungan tandus yang geesang pula, tapi kenapa dirinya seperti berada di dalam bawah tanah yang sangat rendah, pikir punya pikir lambat laun timbul rasa ketakutan yang semakin menghantui sanubarinya, pikirnya; ‘Entah apakah yang berada disebelah dalam sana?’

Thian-hi merasakan keganjilan rasa dalam relung hatinya, timbul was-was dan kewaspadaannya, pelan-pelan ia beranjak maju terus ke depan. Tapi mendadak ia melihat sesuatu yang luar biasa ganjilnya muncul di depan sana, sudah tentu kejutnya bukan kepalang, tanpa terasa ia tersentak mundur selangkah.

Dalam lobang gua sebelah dalam sana, ada seseorang sedang berjalan mondar-mandir, orang itu berpotongan sebagai Tojin dan sekilas pandang saja cukup jelas bahwa Tosu ini bukan lain adalah Giok-yap Cinjin itu Cianbunjin Bu-tong-pay yang pernah dikenalnya dan akhirnya terbunuh secara gelap.

Jantung Thian-hi melonjak-lonjak sangat keras, apa yang dilihatnya sekarang sungguh sangat mengejutkan hati dan perasaannya, bahwa Giok-yap ternyata belum mati dan muncul di tempat ini, adalah Tok-sim-sin-mo pula yang sengaja memancing dirinya kemari. entahlah kemana maksud tujuannya!

Thian-hi menahan gejolak hatinya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba terpikir olehnya, tadi aku hanya melihat dari bayangan samping orang itu, mungkin memang bentuk tubuh dan raut muka orang itu rada mirip dengan Giok-yap Cinjin, yang benar-benar dia adalah seorang yang lain. Tujuan Tok-sim-sin-mo memancingku kemari adalah supaya orang ini membunuh aku. Karena pikirannya ini ia melongokkan kepalanya pula ke dalam, pandangan sekali ini, hampir saja membuat semangat dan arwahnya seperti copot dari badan kasarnya.

Ternyata Tosu itu sekarang tahu-tahu sudah berdiri dihadapannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Begitu ia melongok ke dalam hampir saja ia beradu muka dengan orang, sekarang lebih jelas dan boleh dipastikan, siapa lagi kalau Tosu ini bukan Giok-yap Cinjin adanya?

Meski Hun Thian-hi membekal kepandaian silat setinggi langit, walaupun nyalinya sebesar gajah, menghadapi keadaan yang seram ini tanpa merasa ia tersurut mundur berulang-ulang, seluruh tubuhnya gemetar merinding, dengan pandangan penuh ketakutan ia pandang ke dalam lorong sana.

Ooo)*(ooO

Munculnya Ham Gwat secara mendadak sungguh merupakan suatu pukulan batin bagi Bu-bing Loni, sedikit terkejut konsentrasinya menjadi bujar, pedang yang sudah bergerak hendak menyerang menjadi batal di tengah jalan.

Sesuai dengan tatapan matanya yang dingin Ham Gwat menyapu pandang para hadirin dalam gua itu, rona wajahnya masih kelihatan begitu beku dan kaku

Sekonyong-konyong terketuk rasa ketakutan yang menyelubungi sanubari Bu-bing Loni, agaknya ia merasa terketuk dan gentar menghadapi sinar mata Ham Gwat yang kaku dingin dan cemerlang itu, apalagi secara langsung dihadapan Kiang Tiong-bing.

Mendadak ia merasa terketuk pula bahwa wibawa dan keangkeran dirinya sudah diinjak2, Ham Gwat adalah asuhannya sejak kecil, sekarang berada di hadapannya berani begitu kurang ajar tidak tahu sopan santun dan tata krama, maka dengan rasa gusar yang berapi-api ia deliki Ham Gwat, mulutnya pun menggeram desisnya, “Ham Gwat! Di hadapanku berani kau berlaku kurang hormat ya!”

Sekilas agaknya Ham Gwat terpengaruh akan wibawa dan kekerasan gurunya, pelan-pelan pandangannya tertunduk kebawah, namun dalam kejap lain ia sudah angkat kepala lagi memandang Bu-bing Loni dengan tidak bersuara dan tidak berkedip.

Kedua biji mata Bu-bing pun menatap Ham Gwat lekat-lekat, kalau menurut adat kebiasaannya, sejak tadi ia sudah pukul mampus Ham Gwat, tapi betapa pun Ham Gwat adalah buah asuhannya sejak masih baji, seluruh harapan hidupnya ia tumplekkan kepada bimbingannya kepada Ham Gwat pula, sungguh ia tidak rela begitu saja melenyapkan Ham Gwat dari kehidupan ini, apalagi masih ada Poci pula, bila dirinya menyerang Ham Gwat bukan mustahil dia akan bantu mengeroyok dirinya.

Bagaimana kepandaian silat Ham Gwat ia paling jelas, tingkat kepandaian silat Ham Gwat tidak terlalu jauh bedanya dengan kemampuannya terutama Ginkangnya malah sudah sebanding dengan dirinya.

Bu-bing mendengus, jengeknya gusar, “Dua puluh tahun jerih payah mengasuh dan membesarkan kau sampai sekarang, dan apa yang kudapat sekarang adalah sikap kurang ajaranmu kepadaku ini?”

Ham Gwat tidak gubris ucapannya, pelan-pelan sepasang biji matanya beralih memandang ke arah Kiang Tiong-bing, agaknya ia merasakan sesuatu yang aneh, terketuk perasaan sanubarinya bahwa orang tua laki-laki di hadapannya ini seolah-olah adalah familinya yang terdekat, terpancar dalam sorot matanya harapan akan buaian cinta kasih yang belum pernah dirasakan dan diresapi selama hidup ini.

Dari samping Poci membuka suara, “Orang tua itu adalah ayah kandungmu!”

Tergetar hati Ham Gwat, terasakan olehnya berita yang datang secara mendadak merupakan suatu pukulan yang sulit untuk diterima dengan nalarnya yang masih kebingungan, hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya, sesaat ia terlongong dan menjublek di tempatnya.

Jang paling terkejut justru adalah Bu-bing Loni, ia tahu bahwa rahasia ini sekali2 pantang diketahui oleh Ham Gwat, karena bila Ham Gwat mengetahui seluk beluk persoalan ini, bagaimana akibatnya siang-siang ia sudah dapat membayangkan. Demikian juga Poci telah mengetahui rahasia ini, bertambah pula rasa kejutnya, tapi ini memang akibat yang pasti terjadi, kalau toh Ham Gwat mendadak bisa muncul disini, mana mampu dirinya menutupi atau merahasiakan terus persoalan ini.

Sekonyong-konyong berkobar nafsunya, biji matanya berubah buas dan beringas kenyataan mendesak dia harus cepat-cepat turun tangan sebelum Ham Gwat dapat memulihkan kesadaran pikirannya. Bila terlambat lagi sesaat lamanya, mungkin kesempatan yang ada dan baik ini sulit dicapai lagi.

Pedang di tangan kanannya terayun melengkung, sinar pedangnya berkelebat laksana biang lala menusuk dan membabat ketubuh Ham Gwat dalam dua sasaran atas dan tengah.

Melihat Ham Gwat mendadak terlongong mematung di tempatnya, tiba-tiba terasa oleh Poci keadaan yang membahayakan jiwanya ini, Poci menjadi sadar bahwa ucapannya tadi sudah terlalu pagi di katakan sehingga terjadi akibat yang diluar dugaan ini.

Begitu pedang Bu-bing Loni menyamber ke arah Ham Gwat segera ia berteriak memperingatkan;

“Awas!” — baru mulutnya berseru, sebuah pikiran berkelebat pula dalam benaknya, secara reflek tangan kanannyapun segera bekerja menarik kelima senar harpanya keras-keras, begitu kelima senar harpanya putus dan mengeluarkan gelombang suara yang nyaring melengking menembus langit menerjang ke depan, Sungguh dahsyat dan hebat benar-benar suara kelima senar harpa yang terputus itu. Bu-bing Loni tidak men-duga-duga. tubuhnya bergetat hebat. sedang pedang panjang ditangannya pun terlepas jatuh di atas tanah, sekilas pandangan matanya mendelik berapi-api penuh dendam kebencian ke arah Poci, sebat sekali tiba-tiba tubuhnya berkelebat melayang keluar gua dan menghilang

Poci masih duduk bersimpuh di tanah, begitu bayangan Bu-bing lenyap kontan mulutnya terpentang menyemburkan darah segar, badannya pun terus roboh lemas.

Lekas-lekas Ma Gwat-sian dan Ham Gwat memburu maju. dengan raut muka dibasahi air mata Ma Gwat-sian berteriak-teriak, “Suhu! Suhu! Bagaimana keadaanmu?

Perlahan-lahan Poci membuka mata, ia tersenyum manis ke arah Ma Gwat-sian, ujarnya, “Nak, aku tidak apa-apa, kau tak usah kuatir!”

Lalu ia berpaling ke arah Ham Gwat serta sambungnya, “Lekas kau tengok keadaan ayahmu!”

Sungguh Ham Gwat merasa sesal dan terima kasih pula, tahu dia bahwa Bu-bing Loni pasti terluka dalam yang cukup parah karena serangan getaran suara kelima senar harpa yang putus tadi, kalau tidak masa ia melarikan diri. Tapi luka dalam yang diderita Poci rasanya jauh lebih berat pula, demi akulah sehingga orang terluka berat, tapi sikapnya masih begitu baik pula terhadap aku, demikian batin Ham Gwat dengan haru.

Maka dengan penuh keharuan Ham Gwat berkata, “Terima kasih Cianpwe. kelak Wanpwe pasti akan membalas budi kebaikan ini!” — Lalu tersipu-sipu ia berlari ke arah Kiang Tiong-bing dan membuka jalan darah yang tertutuk ditubuhnya.

Mengawasi Ham Gwat tak tertahan lagi mengalir deras air mata Kiang Tiong-bing, tiba-tiba ia peluk Ham Gwat erat-erat, katanya sesunggukan, “Nak! Beberapa tahun ini sungguh kau banyak menderita.”

Mendadak Ham Gwat seperti merasai hatinya menjadi kosong. terasa bahwa kekesalan lubuk hatinya selama ini mendadak meledak dan semua membanjir keluar, baru pertama kali ini ia mengalirkan air mata, malah begitu deras dan tak terbendung lagi air mata kesedihan dan kegirangan, serta merta mulutnya berteriak seperti orang histeri, “Ayah! ayah….”

Ma Gwat-sian terketuk sanubarinya, perlahan-lahan ia menundukkan kepala, tanpa tertahan air matanya pun mengalir juga.

Baru sekarang ia mendadak memahami, lambat laun dirinya semakin terpaut menjauh dari rasa kebahagiaan yang didambakan selama ini, berlawanan dengan keadaannya Ham Gwat ia sedang melangkah menuju ke arah bahagia yang sudah tiba diambang sanubarinya, ia sadar bahwa ia harus lekas-lekas kembali ke Thian-bi-kok.