Badik Buntung Bab 23

 
Bab 23

Dengan lirikan hina Po Ci menyapu pandang para hadirin. sahutnya, “Baru hari ini aku pertama kali kebetulan hadir dalam pertemuan besar kaum persilatan. Ternyata golongan kependekaran Bulim di Tionggoan juga cuma begini saja!”

Ce-hun semakin berang, hardiknya, “Siapa kau?”

Po-ci menyahut tawar, “Jangan kau urus siapa diriku. terangkat jari-jarinya dengan lincah memetik senar, Hun Thian-hi akan kubawa pergi. Siapa diantara kalian yang tidak terima silakan mencari perkara terhadapku. Ketahuilah aku tidak gentar kalian keroyok!”

“Kenapa harua keroyok, biar aku saja yang mencoba sampai dimana kepandaianmu sejati, berani kau bicara takabur disini!” seiring dengan kata-katanya Ce-hun Totiang lancarkan sejurus serangan dengan tipu Poh-hun-kian-jit (menyingkap awan melihat matahari), sekaligus ujung pedang panjang bergerak begitu cepat menusuk beberapa kali mengarah jalan darah yang berlainan diberbagai tempat ditubuh Po-ci. Poci mandah tertawa ejek, dimana tangan kirinya bergerak serentetan irama musik lantas mengalun dari nada yang rendah terus menjulang tinggi seperti hampir menembus angkasa. samar-samar terasa adanya nafsu memburnuh yang segera melingkupi perasaan orang, seketika hati semua hadirin menjadi tertekan tegang, yang paling hebat justru Ce-hun seperti kena pukulan godam, belum lagi serangan pedangnya mengenai sasarannya, dadanya sudah sesak dan sempoyongan mundur, keruan kagetnya bukan main, lekas ia empos semangat dan kendalikan napas, berbareng pedangnya dibolang balikkan di depan dada, tapi tak urung mukanya sudah basah oleh keringat dingin.

Hun Thian-hi sendiri juga ikut terkejut, waktu Poci mengembangkan irama kekal abadi tempo hari. kepandaiannya tidak begitu lihay seperti sekarang. Kiranya tempo hari sengaja ia memberi kelonggaran.

Melihat Ce-hun payah kepontang panting Hoan-hu juga terkejut, cepat ia meraih sebatang pedang terus menubruk maju, pedangnya berubah menjadi setabur titik-titik kunang-kunang kecil terus merangsak kepada Poci.

Kelopak mata Poci sedikit pun tidak bergerak, sikapnya tetap tenang. Waktu ia mulai memasuki wilajah Tionggoan lantas ia dengar kabar katanya Ce-hun dan Hoan-hu berada diluar perbatasan mendapat perlindungan dari Sam-kong Lama, dia jelas mengetahui hubungan kental antara Sam- kong dengan Hun Thian-hi. Sekarang seumpama Hun Thian-hi memang dipihak yang salah paling tidak mereka harus memberi muka dan kesempatan, bukan saja mereka tidak merasa sungkan malah meluruk ke Tionggoan dan mencari perkara disini.

Memang sengaja ia hendak memperlihatkan akan kelihayan Tay-seng-ci-kou untuk menghajar adat pada kedua orang tua2 yang sudah dianggapnnya pikun ini. kelihatan lengan kirinya terangkat dan naik turun jari-jarinya bergerak lincah, suasana semakin tegang dengan lingkupan hawa membunuh yang semakin tebal. Batok dan leher Hoan-hu sudah basah kuyup oleh keringat tak kuasa ia pegang pedangnya lagi, terpaksa duduk bersimpuh mengerahkan Lwekang untuk melawan mati-matian.

Dilain pihak Ang-hwat-lo-mo yang licik dan mengenal gelagat itu bercekat pula hatinya, bahwa pendatang ini membekal ilmu Tay-seng-ci-lou yang dikabarkan sudah putus turunan itu. dalam gerak gerik beberapa jari yang lincah memetik harpa itu telah berhasil merobohkan Ce-hun dan Hoan-hu berdua. Insaf ia bahwa dirinya pun bukan tandingan, apalagi dirinya terluka berat, kecuali melarikan diri tiada jaian lain untuk hidup lebih lanjut.

Karena pikirannya ini sepasang biji matanya segera melirik, menerawang situasi gelanggang dicarinya kesempatan untuk melarikan diri. Karena Tay-seng-ci-lou tidak bisa dibanding senjata tajam umumnya, dia dapat dilancarkan dilain bentuk yang tidak kelihatan, untuk lari kecuali dapat menyandak jarak yang cukup jauh dalam sekejap waktu, seumpama kedua tangan menutupi kuping pun tidak akan kuat bertahan dari getaran musik yang hebat itu!

Orang yang paling diperhatikan Situa Pelita. justru musuh besarnya yaitu Ang-hwat-lo-mo begitu biji mata Ang-hwat pelirak-pelirik, ia lantas dapat menebak isi hati orang segera ia bersiap siaga melejit ke depan terus menubruk ke arah musuh besarnya ini. mulutnya menjengek, “Apa hari ini kau masih ingin lari?”

Ang-hwat-lo-mo tertawa dingin, serunya, “Bila aku memang mau pergi. masa kau mampu merintangi.”

Dengan gerungan yang mengguntur Situa Pelita dorongkan kedua telapak tangannya menggenjot kedada musuh. Ang-hwat-lo-mo melintangkan pedangnya membabat dan menutuk kejalan darah ditelapak tangan lawan, tapi gerak gerik Situa Pelita yang cukup lincah dengan kehebatan Ginkangnya sudah tentu tak begitu gampang mandah tangannya dilukai. Dengan sengit ia rangsak semakin gencar, begitulah mereka bertempur seru pula tanpa dapat diketahui siapa yang lebih unggul. Soalnya Ang-hwat sudah terluka, tapi ia membekal pedhng menghadapi sepasang pukulan Situa Pelita, untuk waktu dekat Situa Pelita tiada mampu merobohkan lawan. sebaliknya Ang-hwat punya rencananya sendiri untuk lari, maka pun tiada minat untuk mengejar kemenangan.

Mata Po Ci menyapu pandang ke arah mereka berdua, katanya kepada Hoan-hu dan Ce-hun, “Meski kalian tidak kenal aku, tapi aku kenal kalian, di daerah barat daya sana kalian sudah menerima budi kebaikan orang, bukan saja tidak berusaha untuk membalasnya, sekarang berbalik kerja sama dengan manusia macam Ang-hwat-lo-mo untuk mengeroyok Hun Thian-hi. Kalian juga tahu bahwa Hun Thian-hi adalah sahabat kental Sam-kong Lama, murid angkat Ka-yap Cuncia, apakah kalian anggap punya pandangan yang lebih cemerlang dari Ka-yap Cuncia?”

Lambat laun lemas semangat Ce-hun, tangan yang menyekal pedang semampai turun, biji matanya memancarkan rasa penyesalan yang tak terhingga, sungguh kata-kata orang sangat menusuk perasaannya, akhirnya ia tertunduk dengan penuh sesal, setelah membanting kaki tanpa bicara lagi terus berlari pergi. Melihat kelakuan orang Hoan-hu mendelik ke arah Poci, lalu ia memberi isyarat kepada Bun Cu-giok dan Ciok Yan, bersama mereka mengundurkan diri.

Sementara itu pertempuran Ang-hwat-lo-mo melawan si Tua Pelita masih berlangsung terus dengan serunya, sambil tempur Ang-hwat-lo-mo main mundur dan semakin jauh dari gelanggang pertempuran semula.

Terdengar Poci berkata pula, “Marilah kita pergi, urusan orang-orang Tionggoan biar diselesaikan mereka sendiri, buat apa kita lama-lama di tempat ini.”

Ang-hwat-lo-mo menjadi berlega hati, sebat sekali ia melejit jauh terus terbang lari sekencang angin. Dengan kencang Situa Pelita mengejar di belakangnya, tampak Siang-hou-it-koay juga berlari mengejar.

Semua hadirin satu persatu bubar. Sementara itu dengan menengadah mengawasi awan di atas langit lapat-lapat terasa sesal dalam benak Hun Thian-hi, kenyataan Ham Gwat tidak kunjung datang seperti yang diharapkan, justru yang datang malah Ma Gwat-sian, sungguh kedatangannya diluar dugaannya, demikian ia berpikir.

Melihat sikap Hun Thian-hi yang kaku itu dingin perasaan Ma Gwat-sian, sebagai seorang yang cerdik dan dapat melihat gelagat, terasa olehnya bahwa sikap Hun Thian-hi terasa kurang hangat dan simpatik, tidak seperti harapan dalam angan2 pikirannya sebelum tiba disini. Kelihatannya Hun Thian-hi sedang dirundung kekesalan hati dan entah apakah yang sedang dipikirkan, mungkin dia sedang menguatirkan seseorang lain, demikian ia memtatin, tanpa merasa hatinya menjadi pilu, air mata hampir menetes keluar.

Dari samping dengan tenang Poci awasi kedua insan muda ini, iapun merasa perkembangan keadaan sekarang benar-benar sangat menyesatkan perasaan, berdiri berendeng seolah-olah mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

Terdengar Pek Si-kiat membuka suara kepada Hun Thian-hi, “Hun-hiantit, kau harus menyembuhkan lukamu dulu, aku masih ada urusan lain yang perlu kuselesaikan, kelak kita jumpa lagi.” Hun Thian-hi maklum bahwa Pek Si-kiat tidak ingin mengganggu dirinya. maka setelah merenung ia menjawab, “Begitupun baik, dalam satu bulan ini aku pasti kembali, harap paman tidak usah kuatir akan diriku.”

Pek Si-kiat minta diri terus tinggal pergi.

Pelan-pelan Ma Gwat-sian membalik tubuh, katanya tertawa kepada Hun Thian-hi, “Thian-hi Toako. kau sedang terluka sementara biarlah bersama kami saja, setelah luka-lukamu sembuh nanti kita bicarakan lagi tindakan selanjutnya!”

Hun Thian-hi tersenyum dipaksakan, sahutnya, “Kalau begitu merepotkan kalian saja.”

Segera Ma Gwat-sian melangkah maju, lengan baju Hun Thian-hi segera disobek, katanya, “Biar kuperiksa dulu bagaimana keadaan lukamu.”

Hun Thian-hi menjadi kikuk dan risi, tapi. Ma Gwat-sian bermaksud baik, tempat itu kecuali tinggal gurunya tiada orang luar lainnya, akhirnya ia membiarkan saja orang memeriksa lukanya.

Dengan seksama Ma Gwat-sian memeriksa luka-luka Hun Thian-hi, diam-diam hatinya mendelu, air mukanya yang kaku prihatin, setelah terluka Thian-hi harus menguras tenaga lagi, sehingga seluruh pundaknya sudah berubah warna hitam karena darah bumpet dan membeku.

Hun Thian-hi memang merasa pundaknya kaku kesakitan, waktu ia menunduk tiba-tiba di atas kepalanya terdengar pekik burung yang nyaring itulah suara rajawali besar itu yang terbang melayang di atas kepalanya, begitu cepat daya terbang burung itu samar-samar dilihatnya bayangan Ham Gwat di atas punggungnya.

Mencelos perasaan Hun Thian-hi dengan mendelong ia awasi arah dimana burung rajawali tadi menghilang. Tahu dia bahwa Ham Gwat telah tinggal pergi lagi, bagaimana juga dia tidak akan

muncul di saat keadaan yang serba runyam ini, lalu selanjutnya.

Ma Gwat-sian juga menengadah dan terlongong memandang ke arah hilangnya burung rajawali sana, pelan-pelan ia turunkan kedua tangannya, hatinya terasa pilu dan sedih, tak tertahan air mata mengalir dari ujung matanya.

Poci mandah menghela napas panjang dengan rawan, ia bungkam.

Entah berapa lama Thian-hi menjublek di tempatnya, pelan-pelan akhirnya ia menunduk, dilihatnya Ma Gwat-sian mengembeng air mata, tahu dia bahwa bayangan yang dilihatnya tadipun telah dilihat pula oleh Ma Gwat-sian, sesaat ia menjadi bingung cara bagaimana ia harus berbuat.

Pelan-pelan Ma Gwat-sian membalik tubuh, terus melangkah keluar hutan bambu.

Hun Thian-hi sangat menyesal. Bahwa Ma Gwat-sian dari tempat yang begitu jauh menyusul dirinya kemari, menolong jiwanya lagi dalam keadaan gawat tadi, kenyataan dirinya bersikap begitu dingin dan tak berperasaan sama sekali. Setelah rada sangsi. dengan tertawa dibuat-buat ia memanggil, “Gwat-sian!”

Ma Gwat-sian berpaling sambil mengembeng air mata, mulutnya tetap bungkam. Sesaat Hun Thian-hi kehilangan kata-kata. dengan mendelong ia awasi Ma Gwat-sian.

Poci melangkah ke depan Hun Thian-hi dan pandang muka orang dengan seksama, Thian-hi tertunduk malu. pelan-pelan Poci bertanya, “Dia siapakah, dia?” “Ham Gwat! Murid Bu-bing Loni!” sahut Hun Thian-hi dengan suara tertelan di tenggorokan.

Poci menjadi serba runyam, ia pandang Ma Gwat-sian lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Mari kesini, ada omongan yang perlu kubicarakan dengan kau!” lalu ia mendahului melangkah keluar hutan.

Dengan penuh perasaan dan prihatin Hun Thian-hi pandang Ma Gwat-sian sekejap lalu membuntut di belakang Poci. Sementara Ma Gwat-sian masih menunduk tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. melirik pun tidak ke arah Hun Thian-hi.

Tiba di tempat yang rindang Poci segera membalik tubuh dan berkata pada Hun Thian-hi, “Nak!

Ada suatu hal yang perlu kujelaskan kepada kau. selanjutnya terserah bagaimana kau hendak menyelesaikannya!”

Kata Poci selanjutnya, suaranya tertekan, “Gwat-sian adalah warga dari Thian-bi-kok, menurut aturan tidak pantas kubawa dia ke Tionggoan sini. Bagaimana juga aku tidak akan melakukan pelanggaran ini. Tapi kenyataan aku sudah membawanya ke Tionggoan sekarang, malah langsung kubawa dia ke Siau-lim-si sini. Apa kau tahu. kenapa aku lakukan hal ini?”

Hun Thian-hi bungkam tak bersuara.

Poci meneruskan dengan tertawa tawar, “Mungkin kau beranggapan karena dia cinta pada kau maka lantas kukabulkan permintaannya untuk menyusul kau ke Tionggoan bukan?”

Kali ini Thian-hi angkat kepala, sahutnya tertawa getir, “Bahwasanya Wanpwe tidak tahu apakah alasannya!”

“Sejak kecil Gwat-sian angkat guru kepadaku,” demikian Poci melanjutkan, “Dengan tekun kuajarkan Tay-seng-ci-lou kepadanya, tapi apakah kau tahu kenapa aku tidak ajarkan dia ilmu silat? Bakatnya luar biasa, otaknya cerdik dan pandai lagi, aku hanya ajarkan seni musik macam Tay-seng-ci-lou dan tidak memberi ajaran silat, menurut umumnya adalah tidak adil dan kurang bijaksana!”

Tergerak hati Thian-hi, batinnya waktu aku pertama ketemu Ma Gwat-sian juga timbul pertanyaanku ini, kuduga dia merupakan tokoh terpendam yang kosen, siapa duga bahwa dia sama sekali tidak pandai main silat.

Poci tertawa rawan, sambungnya, “Sebab hakikatnya dia tidak mungkin bisa berlatih silat. Sejak kecil dia sudah kena penyakit Liok-im-coat-tin, (bisul dalam urat nadi) setelah usianya mencapai dua puluh tahun ia bakal meninggal dunia!”

Tergentak jantung Hun Thian-hi, sesaat ia berdiri kesima, katanya, “Apa? Gwat-sian….dia….” mimpi juga tidak terpikir olehnya bahwa Ma Gwat-sian sudah terserang penyakit berbahaya yang mematikan itu, malah tidak akan lebih melampaui dua puluh tahun dalam usianya yang masih remaja ini. mungkinkah terjadi?

“Dengan mengajarkan Tay-seng-ci-lou maksudku demi untuk mengurangi tekanan batinnya yang selalu dirundung kemurungan, mungkin dengan keriangan hatinya jiwanya akan bertambah lama hidup, tapi….” sampai disini Poci tak kuasa melanjutkan, ia menghapus air matanya. Lalu sambungnya lagi, “Tapi akhirnya kudapati pula bahwa seluruh usahaku akhirnya bakal sia-sia belaka, sekarang jiwanya tinggal tiga bulan lagi untuk hidup, dia sendiri masih belum tahu akan keadaannya yang sebenar-benarnya!” Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, seolah-olah jantungnya dipukul godam yang berat, sungguh pedih dan seperti ditusuk sembilu perasaan hatinya, aku masih demikian kikir memberikan cintaku terhadap seorang gadis remaja yang aju rupawan dan lemah dan sekarang jiwanya tidak kurang cukup hidup tiga bulan belaka, kenapa selama ini aku menyembunyikan perasaanku, apakah Ma Gwat-sian buruk rupa? Apakah dia berhati jahat? Tidak! Wajahnya begitu rupawan tidak kalah dibanding Ham Gwat, malah dia punya kelebihan dari sifat kelincahan pada gadis remaja umumnya.

Apakah Ma Gwat-sian goblok? Tidak sama sekali, kepintarannya dalam segala bidang aku Hun Thian-hi sedikitpun tak mampu memadainya, tapi kenapa selama ini belum pernah bersemi rasa cintaku terhadapnya? Sungguh diapun merasa heran!

Akhirnya Poci membuka kesunyian pula, katanya menghela napas, “Cintanya terhadap kau adalah sedemikian murni, begitu suci dan luhur, aku sendiri berharap dalam jangka sisa hidupnya yang masih ketinggalan tiga bulan ini dapat membawa kebahagiaan dan kesenangan terhadapnya. Aku tidak akan paksa kau, boleh kau pikirkan sendiri, terserah bagaimana keputusanmu!”

Kembali Hun Thian-hi menengadah ke atas langit. Sementara Poci pelan-pelan tinggal pergi.

Hun Thian-hi maklum kemana juntrungan ucapan Poci tadi, harapan orang adalah dirinya bisa hidup bahagia bersama Ma Gwat-sian dalam jangka melulu tiga bulan ini.

Thian-hi meragukan akan hal ini, bayangan Ham Gwat selalu terbayang di kelopak matanya, tapi sebagai manusia yang punya nalar sehat dan dapat menerima rasio dengan perasaan hati membuat Hun Thian-hi merasa simpatik dan kasihan akan nasib Ma Gwat-sian, timbul dalam benaknya bahwa dia harus memberikan kesenangan dan kebahagiaan itu kepada Ma Gwat-sian dalam jangka tiga bulan yang pendek itu, aku harus berbuat sekuat mungkin demi keluhuran jiwa manusia. Karena keputusan lahir batin ini akhirnya ia pelan-pelan menyusul ke dalam hutan sana.

Teringat Ham Gwat ia menjadi kuatir bagaimana orang akan bersikap kepadanya kelak. mungkin Ham Gwat bisa salah paham kepada dirinya, tapi ia yakin bahwa pengorbanannya kali ini adalah benar-benar demi kemanusiaan, yakin siapa saja bagi orang yang punya perasaan akan menempuh jalan yang sama dengan keputusannya ini.

Ketika tiba di dalam hutan ia menjadi terlongong, suasana di dalam hutan hening lelap tiada kelihatan bayangan seorangpun, Ma Gwat-sian telah menghilang tanpa bekas, kiranya sejak tadi ia telah meninggalkan hutan bamfou ini.

Resah dan gelisah pula perasaan Hun Thian-hi, sunggguh ia merasa betapa dirinya tidak dapat diberi maaf lagi, teringat olehnya, sejak dirinya memasuki Thian-bi-kok dulu, hati kecilnya telah terisi pula bayangan bentuk Ma Gwat-sian, selama hidupnya ini dia tidak akan pula melupakan raut wajah nan aju semampai itu. Selama hidup dan mengalami berbagai kesulitan betapa Ma Gwat- sian telah memberikan bantuannya yang tak ternilai kepadanya, jelas bahwa hidupnya ini tidak mungkin membebaskan diri dari kebaikan2 Ma Gwat-sian itu.

Kini setelah kembali ke Tionggoan, jarak yang ribuan li jauhnya, namun Ma Gwat-sian telah menyusulnya kemari, bukan saja dia harus meninggalkan negara dan kampung halamannya, tempat indah dimana ia dilahirkan, dan yang terutama bahwa dia telah mengejar cinta pada dirinya, tepat kedatangannya dan menolong pula jiwanya dari renggutan dewa elmaut. Sekarang justru karena keingkaran hatinya ia telah tinggal pergi, bagi siapapun bila dia menempatkan dirinya dipihak Ma Gwat-sian dia pun pasti akan tinggal pergi, entah dia pergi kemana, meski ia harus hidup merana yang terang karena dia masih punya harga diri, dan bagi dirinya mungkin harga diri ini jauh lebih tebal dari milik orang lain. Begitulah Hun Thian-hi terlongong ditempatnya. Sementara itu Poci juga sudah pergi entah kemana, ia pergi meninggalkan Ma Gwat-sian untuk dirinya, tanpa banyak bicara aku telah menerima peninggalan ini, namun sekarang terjata Ma Gwat-sian juga telah pergi dan menghilang, entah kemana.

Entah berapa lama kemudian mendadak ia tersentak sadar dari lamunannya, didapatinya ia masih menjublek ditempatnya, lekas-lekas ia membanting kaki, seketika tubuhnya melenting tinggi menerobos pohon-pohon terus mengejar keluar hutan.

Betapa sedih dan pilu hati Ma Gwat-sian waktu ia tahu bahwa relung hati Hun Thlan-hi kiranya sudah terisi blbit asmara bagi orang lain. Meski Po-ci mengira bahwa Ma Gwat-sian tidak tahu bahwa jiwanya tinggal bisa hidup tiga bulan lagi. memang meski Ma Gwat-sian tidak tahu bahwa dirinya tinggal dapat hidup tiga bulan lagi, tapi ia sudah mendapat firasat bahwa tubuhnya rada berlainan dengan orang lain. Sering ia merasakan tubuhnya letih dan lemas, apalagi Poci bersikap begitu baik, segala permintaannya pasti dituruti, insyaf dia bahwa sikap sang guru ini bukan mustahil ada latar belakang tertentu atas tubuhnya yaitu bahwa dia sedang terserang suatu penyakit yang tidak mungkin tersembuhkan, kalau tidak. tidak mungkin Poci bersikap begitu manja dan mengumbar pada dirinya.

Demi gengsi dan harga dirinya, ia tidak rela bila Hun Thian-hi berkasihan pada dirinya dan menyerahkan cinta orang lain kepada dirinya.

Setelah Poci dan Hun Thian-hi menyingkir jauh pelan-pelan iapun meninggalkan hutan bambu itu, langsung menuju ke arah hutan yang lebih lebat jauh lebih belukar dan menanjak tinggi.

Setelah berada diatas. Ma Gwat-sian berpaling, tampak gereja Siau-lim jauh di belakang bawah sana, dengan ringan ia mengnela napas panjang, hampir tanpa tujuan kaki melangkah menuju ke arah yang tidak menentu, bagaimana selanjutnya aku harus menempatkan diriku? Hal ini tidak pernah terpikir olehnya!

Beberapa kejap kemudian tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, sepasang matanya yang jeli berkedip mengawasi ke depan dengan terbelalak. Dihadapannya berdiri seorang gadis rupawan mengenakan pakaian serba hitam, disampingnya berdiri pula seekor rajawali, orang pun sedang mengawasi dirinya dengan sikap dingin dan kaku. Tahu Ma Gwat-sian bahwa inilah orang yang terbang melampaui di atas kepalanya tadi, inilah murid Bu-bing Loni yang bernama Ham Gwat.

Begitulah untuk sekian lamanya kedua belah pihak saling pandang tanpa berkesip. Gwat-sian tidak tahu bagaimana perasaan hatinya saat itu. hampir ia merasakan akan kerendahan dirinya Bukankah dia dihinggapi penyakit yang tidak dapat ditolong lagi!

Sebetulnya ia sangat bangga, akan dirinya, akau kepintaran dan bentuk wajahnya sendiri. Kalau dulu ia merasa bahwa kecantikan dirinya adalah yang nomor satu di seluruh kolong langit ini, tapi Ham Gwat yang berdiri dihadapannya sekarang kiranya juga mempunyai bentuk wajah yang tidak kalah agung dan cantiknya. Dia bangga bahwa Tay-seng-ci-lou atau ilmu yang dipelajarinya itu tiada tandingan di seluruh jagat, tapi jelas bahwa Ham Gwat yang berdiri dihadapannya ini justru adalah ahli waris Hui-sim-kiam-hoat, itu ilmu pedang nomor wahid tanpa tandingan di seluruh dunia persilatan.

Adalah aku sendiri sedikitpun tidak pandai bermain silat.

Akhirnya Ma Gwat-sian tertunduk dengan sedih, tapi dilain saat ia angkat kepala pula tidak mau tunduk begitu saja, begitulah ia adu pandang pula dengan Ham Gwat.

Entah berapa lama mereka beradu pandang tanpa berkesip, dalam hati kecil Ma Gwat-sian mengharap Ham Gwat suka mengalah setindak padanya, tapi kenyataan tidak, dari sorot pandangan Ham Gwat ia merasakan, bahwa sedikitpun Ham Gwat tidak akan mengalah pada dirinya.

Serta merta terasa oleh Ma Gwat-sian air mata telah mengembeng memenuhi kelopak matanya, lekas-lekas ia menunduk dan memejamkan mata, sambii mengemban harpanya ia berlari kencang ke depan lewat samping Ham Gwat.

Tanpa bergeming Ham Gwat tetap berdiri, biji matanya memancarkan sorot cahaya yang sangat aneh, kelihatannya seperti senang, tapi seperti sedih dan menyesal pula, akhirnya ia pelan- pelan membalik tubuh, dipandangnya punggung Ma Gwat-sian yang mengghilang dikejauhan.

Sambii tertunduk ia berpikir, kakinya melangkah pelan, sekonyong-konyong terasa angin berkesiur sesosok bayangan orang melayang hinggap di depannya. Itulah Poci yang mendatangi pelan-pelan. Dengan pandangan penuh selidik ia pandang Poci yang semakin dekat.

Untuk sesaat lama Poci harus mengendalikan perasaan sebelum bicara, akhirnya ia membuka suara dengan suara tertekan, “Nona Ham Gwat, ada beberapa patah kata yang perlu kusampaikan kepada kau, apakah kau sudi mendengar?”

Sebetulnya Ham Gwat rada heran pada sepak terjang Poci dan tingkah laku Ma Gwat-sian, mungkinkah mereka tadi sudah bertengkar dengan Hun Thian-hi? Karena rekaan hatinya ini, ia manggut-manggut.

Setelah menghela napas Poci berkata, “Betapa dalam dan suci cinta Hun Thian-hi terhadap kau. hal ini aku tahu dengan jelas. “demikian ia mulai dengan uraiannya. Sampai disini ia berhenti.

Ia pandang air muka Ham Gwat, melihat orang tidak mengunjuk perubahan pada mimik mukanya, lalu ia melanjutkan, “Tapi haruslah kau ketahui bahwa Ma Gwat-sian juga kepincut terhadap Hun Thian-hi, begitu besar rasa cintanya terhadap Hun Thian-hi seperti cinta Hun Thian- hi terhadap kau. Tapi dia….”

Tersekat sekian saat Poci tak kuasa melanjutkan kata-katanya karena terganggu oleh perasaan hatinya, “Ma Gwat-sian sendiri juga belum tahu,” demikian ia melanjutkan lagi, “Bahwa jiwanya kini tinggal dapat hidup tiga bulan lagi, ini adalah tinggal harapannya yang terakhir, kuharap nona suka berkorban diri demi kebahagiaannya yang sangat pendek ini.”

Begitu mendengar penjelasan terakhir ini, otak Ham Gwat seperti dipalu godam, terhujung mundur sempoyongan, matanya terbelaiak dan menjublek ditempatnya, sesaat kemudian baru ia kuasa membuka suara, “Baru saja dia lewat kesana!”

Poci tertegun. Ia sangka Ma Gwat-sian masih berada dihutan bambu dan sekarang tengah bersama Hun Thian-hi, tapi ternyata kejadian benar-benar diluar perhitungannya, keruan ia tersentak kaget, teriaknya, “Apa?” — tanpa banyak bicara lagi segera ia berlari mengejar.

Ham Gwat menjadi melongo, sunguh ia tidak tahu bahwa Ma Gwat-sian tinggal dapat hidup selama tiga bulan lagi, Ma Gwat-sian menyusul dari tempat yang ribuan li jauhnya, Poci tidak akan menipu dirinya akan hal-hal yang tidak benar-benar. Sebetulnya. rasa cintanya terhadap Hun Thian-hi setinggi gunung sedalam lautan, adakah jiwaku begitu sempit, begitu tega aku tanpa memberi sedikitpun kelonggaran terhadap seorang gadis remaja yang tinggal hidup tiga bulan lagi.

Dengan mengeluh ia mendongaK memandang ke-cakrawala. Sekarang hanya ada satu jalan dapat menolong keadaan yang sudah kronis ini, kalau jalan ini dapat ditempuh dan bisa terlaksana betapa ringan perasaan yang mengunjal sanubarinya. Sebat sekali segera ia melesat ke arah, Siau-llm-si.

Setelah melewati Ham Gwat, sanubari Ma Gwat-sian seperti diserang rasa sedih yang bergelombang tak kenal putus, air mata tak terbendung lagi mengalir dikedua pipinya, hampir saja ia berteriak nyaring dengan tangis yang gerung-gerung.

Dia terus berjalan ke depan tanpa membedakan arah, mendadak rasa letih menyerang seluruh sendi2 tulang dan urat nadinya, tubuhnya terasa lemas lunglai, ia berdiri sekejap memejamkan mata, waktu ia buka mata lalu menuju ke arah sebuah gua yang dilihat ada di depan sana.

Semakin jauh aku pergi meninggalkan mereka akan lebih enak dan ringan perasaanku, biar mereka selama hidup ini tidak akan menemukan aku lagi, tanpa sangsi2 langsung ia memasuki gua itu. Begitu berada di dalam ia celingukan kian kemari, meski tidak besar dan luas, tapi lorongnya cukup panjang ke dalam sana. entah bakal menembus kemana.

Rada sangsi sebentar Ma Gwat-sian lalu beranjak maju lebih lanjut, semakin dalam ia berjalan badan semakin lemas, tiba-tiba dilihatnya sebentuk batu giok putih menggeletak di atas tanah, karena ketarik tanpa ambil pusing dijemputnya terus melanjutkan ke depan.

Beberapa puluh langkah kemudian rasa letih dan pening mendadak merangsang kepala dan kaki tangannya, serta merta ia lantas berdiri menggelendot didinding gua, sekian lama ia berdiam diri sambii memejamkan mata.

Sekonyong-konyong ia tersentak bangun oleh langkah-langkah kaki ringan yang mendekat, waktu ia membuka mata dengan siaga, dilihatnya seorang laki-laki tua dengan muka kurus berdiri dihadapannya, dengan penuh perhatian orang pandang dirinya.

Terkejut hati Ma Gwat-sian, batinnya, “Kiranya gua ini ada penghuninya.” dengan seksama dan tanpa berkesip iapun pandang orang tua. entahlah apa yang akan diperbuat pada dirnya.

“Nak,” tiba-tiba orang tua itu tertawa lebar penuh welas asih, “Kenapa kau tertidur di tempat ini, bila ada ular atau sebangsa binatang buas lainnya bagaimana kau.” — terangkat sebelah tangannya untuk mengelus-elus rambut Ma Gwat-sian.

Dengan kejut dan takut Ma Gwat-sian berusaha mundur menghindar, serta melihat orang tua dihadapannya ini tidak mengandung maksud jahat, ia biarkan saja kepalanya diusap2.

Sekian lama si orang tua mengelus-elus rambut Ma Gwat-sian sembari menghela napas rawan, lalu ia pun tenggelam dalam renungannya, akhirnya ia angkat kepala dan tertawa, katanya, “Nak. kau tadi pernah menangis kenapa?”

Serta merta terbit rasa hormat dan bersahabat dalam relung hati Ma Gwat-sian. sambil angkat kepala ia balas bertanya, “Paman tua, kenapa seorang diri kau menetap di dalam gua ini?”

Si orang tua tersenyum ewa, katanya, “Cahaya disini kurang terang, mari kau ikut aku.” — lalu diajaknya Ma Gwat-sian menuju kegua yang lebih dalam.

Semakin dalam keadaan gua semakin terang dan lebar, setelah membelok beberapa kali lekukan. tibalah mereka disebuah kamar batu, kamar batu ini hanya terdapat sebuah dipan dan sebuah meja kecuali itu banyak buku tertumpuk disana.

Dari luar kamar batu sebelah sana menyorot masuk cahaya terang, jauh diluar sana tampak sebuah air terjun mencurah tumpah dengan mengeluarkan suaranya yang gegap gempita. dari reflek cahaya air terjun inilah, keadaan kamar batu itu semakin terang benderang. Sembari tertawa lebar si orang tua menggerakkan tangan supaya Ma Gwat-sian duduk, dia sendiri juga lantas duduk di atas dipan

Ma Gwat-sian beragu sebentar, pelan-pelan ia duduk. Kata si orang tua dengan tertawa. “Sudah lima aku tidak pernah ketemu dengan orang asing, entah cara bagaimana kau bisa masuk kamari?”

Sembari berkata itu si orang tua mengamati Ma Gwat-sian dengan seksama. tiba-tiba dilihatnya sebentuk batu giok pttih ditangan Ma Gwat-sian, serunya terkejut, “Kau tidak bisa main silat?”

Ma Gwat-sian manggut-manggut. Heran dia mengapa orang mengajukan pertanyaan ini, kedengarannya seperti daerah ini adalah tempat terlarang bagi orang luar. terutama bagi orang- orang yang pandai main silat menjadi pantangan untuk memasuki daerah itu.

Si orang tua menghela napas ringan, ujarnya, “Para padri dari Siau-lim-si masa tiada seorangpun yang merintangi kau?”

Ma Gwat-sian menggeleng. sahutnya. “Mereka sendiri sekarang sedang repot. mana ada waktu merintangi kedatanganku kemari?”

Si orang tua menghela napas lega, katanya kalem, “Kau sudah datang sudah tentu kau memang berjodoh denganku. Tapi kau harus tahu, bahwa batu giok yang kau pegang itu adalah Sim-giok-ling milik Bu-bing Loni, setelah melihat Sin-giok-ling bukan saja kau tidak mundur dan meninggalkan tempat ini malah kau jemput dan kau anggap sebagai mainan. Bu-bing Loni” tidak akan membiarkan kau hidup lebih lama!”

Ma Gwat-sian mandah tertawa tawar, ujarnya, “Jadi miliknyakah batu giok ini!” — kelihatannya sendikitpun ia tidak ambil perhatian akan mara bahaya yang bakal menimpa dirinya. Dia tahu nama dan siapakah itu Bu-bing Loni. tapi ia tidak tahu Sin-giok-ling itu. Dia percaya dengan kehebatan Tay-seng-ci-lou gurunya, apa perluja takut menghadapi Hui-sim-kiara-hoat Bu-bing Loni? Kenapa pula harus takut menghadapi dia?

Terunjuk rasa heran dan kesangsian pada sorot mata si orang tua, hatinya bertanya-tanya siapakah sebenar-benarnya Ma Gwat-sian ini? Dikata dia tidak bisa main silat, tapi kelihatannya koq tidak gentar menghadapi Bu-bing Loni, bila dikata ia bisa main silat, siapa pula orangnya dikolong langit ini yang pandai main silat yang tidak gentar menghadapi Bu-bing Loni?

Demikian ia. merenung, akhirnya ia berkata tertawa. “Nak, siapakah tadi yang telah menyakiti hatimu, kenapa kau bersedih hati?”

Tersentak Ma Gwat-sian dibuatnya, cepat ia angkat kepala memandang si orang tua. tampak orang tersenyum welas asih serta memandanginya dengan kasih sayang, seolah-olah jalan pikiran dan janggalan hatinya sudah dapat diraba dan diketahui semua.

“Tidak apa-apa!” akhirnya Ma Gwat-sian menjawab singkat setelah termenung sesaat lamanya. “Jangan kau kelabui aku,” ujar si orang tua tertawa. “Kalau kau katakan mungkin tekanan

batinmu akan lebih ringan, jangan kau sekam perasaan hatimu sehingga nanti bisa merusak kesehatanmu sendiri. Kau masih muda maka kau harus dapat membuka dada dan berpandangan jauh ke depan,”

Ma Gwat-sian tertawa. sahutnya, “Paman, tak perlu membicarakan soal itu. kenapa seorang diri kau tinggal di tempat ini? Apalagi kau tadi berkata sudah lama tidak pernah ketemu orang luar?” “Aku bernama, Kiang Cong-bing!” akhirnya si orang tua memperkenalkan diri, “Nak. pertanyaanku tadi belum lagi kau jawab bukan!”

Melihat orang menarik kembali kepersoalan semula Ma Gwat-sian menjadi bimbang sahutnya, “Sebetulnya tiada apa-apa, hanya karena badanku terasa kurang sehat belaka!”

Si orang tua menghela napas, untuk sekian lama mereka sama bungkam, suasana menjadi lelap. Sebetulnya terketuk perasaan Ma Gwat-sian, si orang tua bersikap begitu baik malah sudah memperkenalkan nama dirinya, sebaliknya aku masih mengelabui keadaan diriku yang sebenar- benarnya sudah tentu teraSa betapa hancur sanubarinya, setelah sangsi sekian lama akhirnya bibirnya bergerak namun suaranya tertelan kembali.

Mendadak si orang tua tertawa, ujarnya. “Sebetulnyalah aku tidak pantas banyak bertanya pada kau, seumpama aku tahu kesulitanmu akupun tidak bakal bisa bantu kau mengatasi persoalanmu, soalnya, entah mengapa aku menjadi ketarik terhadap segala persoalan yang menyangkut dirimu itu.” Sampai disini ia menghela napas, lalu sambungnya pula, “Mungkin aku hanya terbawa oleh keadaan yang kuhadapi ini sehingga mengetuk lubuk hatiku saja. Ketahuilah akupun punya seorang putri, mungkin sekarang juga sebesar kau ini!” 

“Dimanakah dia sekarang?” tanya Ma Gwat-sian.

Kiang Tiong bing menghela napas, sahutnya, “Akupun tidak tahu dimana dia sekarang. Raut wajah dan bentuk tubuhnya sama benar-benar dengan ibunya, sekarang sudah dua puluh tahun, bila dia berada disini, mungkin secantik kau ini.”

“Apakah kau dikurung Bu-bing Loni di tempat ini? tiba-tiba Ma Gwat-sian bertanya.

Kiang Tiong-bing manggut-manggut, katanya perlahan. “Ya, dua puluh tahun sudah aku terkurung disini!”

“Apakah aku bisa bantu mengatasi kesulitan paman?”

“Banyak terima kasih. Kau sudah menjemput Sinn-giok-ling itu. kukira takkan lama lagi Bu-bing Loni bakal kemari. Bila dia benar-benar datang aku kuatir kau tidak akan bisa melarikan diri.”

“Begitu juga baik, aku tidak takut!”

“Apa!’ teriak Kiang Tiong-bing tersentak kaget, “Apa! katamu” serunya pula menegas. Sungguh tak habis herannya, kenapa Ma Gwat-sian punya nyali begini besar?. Apakah benar-

benar dia kuat menerima akibat yang bakal menimpa dirinya nanti?

Ma Gwat-sian berkata terbawa oleh perasaan hatinya, setelah melihat reaksi dari Kiang Tiong- bing hatinya menjadi menyesal, serta didesak pertanyaan oleh Kiang Tiong-bing pula ia hanya menjawab tawar, “Berani Bu-bing Loni membunuh aku? Pasti guruku juga akan bunuh dia.”

Kiang Tiong-bing tercengang, tanya, “Gurumu adalah….”

“Aku datang dari Thian-bi-kok, bukan warga dari Tionggoan sini….!”

Kiang Tiong-bing manggut-manggut, katanya kalem, “Benar-benarkah gurumu mampu membunuh Bu-bing Loni?” Melihat mimik wajah Kiang Tiong-bing yang begitu serius tergerak hati Ma Gwat-sian, katanya tertawa, “Tay-seng-ci-lou apakah paman Kiang pernah mendengar akan ilmu ini.”

“Jadi nona adalah ahli waris dari Tay-seng-ci-lou?”

“Tapi sekarang aku tidak tahu entah dimana guruku berada!”

Seolah-olah Kiang Tiong-bing tidak mendengar lagi ucapannya, kepalanya menengadah memandangi air terjun, air tampak berpercik berhamburan kemana-mana, terbitlah cahaya reflek dari timpaan sinar matahari yang indah dan menakjupkan, titik harapan tampak semakin tumbuh dalam cahaya lembayung yang dilihatnya itu.

Melihat orang tenggelam dalam pikirannya, Ma Gwat-sian maklum bahwa orang tentu pernah mengalami masa2 kehidupan pahit getir yang sangat menekan batinnya, sekarang biarlah ia berkesempatan menikmati harapan hidup baru dalam angan2-nya.

Tak lama kemudian Kiang Tiong-bing tersentak dari lamunannya, ia menunduk lalu tertawa dan berkata pada Ma Gwat-sian, “Sesaat aku menjadi kehilangan akal dan nalar, harap nona jangan salah paham!”

“Bukan maksudku membuat Lo-ciangpwe terlalu bergirang hati, kalau tidak keputus-asaan bakal menimpa lebih berat lagi. Saat ini aku tidak tahu dimana guruku berada, apalagi menurut apa yang dia pernah katakan bahwa Hui-sim-kiam-hoat tidak boleh dipandang enteng, dia sendiripun tiada punya pegangan dapat mengalahkannya!”

Dengan mendelong Kiang Tiong-bing menatap Ma Gwat-sian.

Ma Gwat-sian tertunduk, lalu dengan suara kering ia berkata, “Tapi aku tahu ada seseorang yang dapat membantu pada kau. Orang ini adalah ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek.”

“Siapakah dia?” seru Kiang Tiong-bing kegirangan.

Sekonyong-konyong didapatinya nada ucapan Ma Gwat-sian ada ganjil, seolah-olah ada sesuatu ganjalan hati yang menyekam sanubarinya, dengan rasa penuh tanda tanya ia awasi Gwat-sian.

“Dia bernama Hun Thian-hi!” sahut Ma Gwat-sian sembari tertawa getir. “Apakah dia seorang pemuda?”

Terketuk lubuk hati Ma Gwat-sian, terangkat kepalanya, matanya terkesima menatap Kiang Tiong-bing, wajahnya rada bersemu merah, seperti ia merasa bahwa Kiang Tiong-bing telah dapat mengorek rahasia hatinya yang sesungguhnya.

Sambil tersenyum Kiang Tiong-bing berkata pelan-pelan, “Aku punya seorang putri tahun ini berusia dua puluh. Begitu melihat nona lantas aku teringat padanya.” sampai disini ia berhenti sambil tersenyum lebar, lalu melanjutkan, “Aku belum lagi mengetahui nama harum kau nona.”

“Aku bernama Ma Gwat-sian!” sahut Ma Gwat-sian lirih, “Apakah paman tidak percaya akan ilmu silat Hun Thian-hi?”

Terasa dari pertanyaan orang tadi bahwa Kiang Tiong-bing rada menyangsikan kepandaian sejati Hun Thian-hi, agaknya ia menyangsikan apakah benar-benar Hun Thian-hi mampu membantu dirinya, maka selanjutnya ia tidak banyak bertanya pula. “Gwat-sian, Gwat-sian, Gwat-sian!” mulut Kiang Tiong-bing menggumam, dengan cermat ia tatap Ma Gwat-sian sekian lamanya, akhirnya menghela napas, katanya, “Berapa usiamu sekarang?”

Dengan menahan sabar Ma Gwat-sian menyahut, “Hampir dua puluh!”

Kiang Tiong-bing tersenyum lebar, tanyanya pula, “Lalu berapa usia Hun Thian-ni?” “Kurang lebih dua puluh tahun juga!”

“Dua puluhan tahun sudah,” akhirnya Kiang Tiong-bing terhenyak. “hampir dua puluh tahun sudah aku menetap disini.”

Habis berkata ia menghela napas dengan rawan.

Ma Gwat-sian juga menghela napas, pikirnya, “Bila Hun Thian-hi terketuk sanubarinya dan menyesal serta mengejar kemari, alhasil yang ditemui pasti hanyalah Ham Gwat belaka, setelah ketemu dengan Ham Gwat mungkinkah dia mau kemari lagi?”

Terdengar Kiang Tiong-bing berkata pula dengan suara kalem, “Sudah dua puluh tahun aku terkurung disini, aku tidak perlu takut mati. tapi aku tidak berani keluar, soalnya, kalau aku keluar putriku itu akan dibunuh oleh Bu-bing Loni!”

Mendengar penjelasan ini Ma Gwat-sian berjingkrak bangun, matanya terbelalak besar menatap Kiang Tiong-bing, bibirnya bergerak berkata lirih tertekan, “Jadi kau adalah ayahnya Ham Gwat!”

Kiang Tiong-bing juga tersentak bangun, teriaknya, “Ham Gwat! Apakah kau pernah melihatnya?”

Ma Gwat-sian meloso duduk lagi dengan lunglai, sahutnya pelan, “Baru belum lama berselang diluar gua yang tak jauh sana kulihat dia, tapi sekarang…. mungkin dia sudah pergi!”

Terbayang perasaan hambar dari sorot mata Kiang Tiong-bing, iapun jatuh terduduk lagi dengan lesu dan murung, sekonyong-konyong kepalanya terangkat dan bertanya pada Gwat-sian, “Apakah Ham Gwat bersama Hun Thian-hi itu?”

Ma Gwat-sian menggeleng, ia tertunduk tak buka suara.

“Ai, akhirnya dia datang juga,” demikian keluh Kiang Tiong-bing, “Tapi dia tidak tahu bahwa ayah kandungnya sedang merana di tempat ini, tidak diketahui pula olehnya bahwa ibunya berada jauh diujung langit sana!” — tanpa kuasa air mata mengalir membasahi pipinya.

Tiba-tiba terasa oleh Ma Gwat-sian bahwa riwayat hidup Ham Gwat kiranya juga begitu kasihan dan penuh liku-liku yang tidak diketahui olehnya sendiri. Sejak kecil dia dibesarkan dan dibimbing oleh musuh besarnya sendiri tanpa dia sadari, malah diangkat sebagai ahliwarisnya lagi.

Baru pertama kali ini ia dapat mengecap betapa manisnya madu cinta itu, namun sayang harapan yang dinantikan setiap saat itu ternyata telah terebut oleh orang lain, betapa hati ini takkan merana, betapa hati ini takkan menjadi gersang. Oh, nasib, apakah aku memang ditakdirkan lahir dalam kehidupan yang sengsara penuh derita ini? Air mata meleleh deras menetes ke atas tanah dan terhisap tanpa bekas. Dengan rada terkejut Kiang Tiong-bing meng-amat-amati Ma Gwat-sian, ternyata Ma Gwat-sian pun dirundung rasa kesedihan yang begitu berlimpah, tapi apakah sebab kesedihannya?

“Paman!” ujar Ma Gwat-sian sambil bangkit berdiri, “Mari kubantu kau keluar mencari dia mungkin saatt ini dia belum lagi pergi, atau biar aku saja yang mencarinya kemari!”

Dengan penuh haru dan rasa terima kasih yang tak terhingga Kiang Tiong-bing berkata, “Terima kasih akan kebaikanmu. Nona Ma, kukira dia sudah tiada lagi disana. Jangan kau mencapaikan dirimu!”

“Tapi ada lebih baik ku-coba-coba pergi mencarinya!”

Melihat sikap dan kekukuhan hati Ma Gwat-sian ini, Kiang Tiong-bing maklum bahwa Ma Gwat- sian pasti berdiri di pihak lawan berat dalam bidang asmara, tapi adalah sikap Ma Gwat-sian yang tanpa pamrih ini sungguh mengetuk jiwanya, sungguh haru dan pilu benar-benar hati si orang tua yang hidup penuh derita ini.

Maju dua langkah ia rangkul Ma Gwat-sian ke dalam pelukannya, ujarnya sesenggukan, “Nak, aku

entahlah cara bagaimana aku harus membalas kebaikanmu ini!”

Tak tertahan air mata Ma Gwat-sian pun mengalir dengan derasnya.

Berselang lama baru Ma Gwat-sian kuasa buka suara, “Biarlah aku segera keluar, kalau terlambat kuatir dia sudah pergi!” — begitu ia putar tubuh seketika ia menjerit kaget dan mundur dua langkah. Tampak seorang Nikoh tua sedang berdiri tegak di ambang mulut gua, dengan wajahnya yang membeku dingin, sorot matanya yang kaku ia awasi mereka berdua tanpa bersuara.

Betapa kejut hati Ma Gwat-sian, tahu dia bahwa si Nikoh tua pasti Bu-bing Loni adanya….

Beranjak masuk ke dalam kamar batu dengan pandangannya yang dingin Bu-bing Loni menjengek sinis, dengusnya, “Tak usah pergi. Sudah sejak tadi Ham Gwat meninggalkan tempat ini.”

Kiang Tiong-bing maju dua langkah, tampak air mukanya mengunjuk kekerasan hatinya yang nekad, dengan kedua tangannya ia tarik Ma Gwat-sian ke dekat tubuhnya, matanya setajam pisau mengawasi Bu-bing Loni.

Bu-bing Loni mendengus hidung, katanya kepada Ma Gwat-sian, “Siapa kau? Begitu besar nyalimu berani masuk kemari setelah melihat Sin-giok-ling!”

Ma Gwat-sian tertawa tawar, sahutnya, “Guruku berada di sekitar sini, segera dia bakal kemari.

Tay-seng-ci-lou apakah kau pernah dengar?”

Terpancar sorot cahaya aneh berkelebat di rona Bu-bing Loni, sesaat ia berpikir lalu katanya, “Tapi mungkin kedatangannya sudah terlambat nanti! Karena sekarang juga kau sudah harus menuju ke alam baka!” selesai berkata setindak demi setindak ia menghampiri Ma Gwat-sian.

“Tak kuijinkan kau mengusik dia!” bentak Kiang Tiong bing menghadang ke depan. Terpancar pula rasa aneh di kelopak mata Bu-bing Loni, serta merta kakinya merandek, kepalanya tertunduk berpikir, sekian lamanya ia bungkam. Akhirnya ia angkat kepala pula serta ujarnya, “Apakah itu permintaanmu kepadaku?”

Kiang Tiong-bing mandah menjengek saja tanpa bersuara.

Kata Bu-bing Loni pula, “Bila kau yang memohon kepadaku segala permintaanmu pasti kukabulkan!”

“Tutup mulutmu!” bentak Kiang Tiong-bing. “Kalau begitu aku minta segeralah Kau mampus!”

Beringas muka Bu-bing Loni, tampak hawa marah telah membakar dadanya, maju dua langkah telapak tangannya lantas menampar ke arah Kiang Tiong-bing.

“Plak”, kontan Kiang Tiong-bing terhujung mundur dua langkah, pipinya bengap, Ma Gwat-sian terlepas dari cekalannya, ujung mulutnya mengalirkan darah segar, tapi tanpa takut dengan muka gusar dan pandangan berapi-api yang penuh dendam ia deliki Bu-bing Loni.

Bu-bing Loni terlongong menjublek di tempatnya, sesaat baru ia bersuara dengan penuh derita, “Tiong-bing, begitu baik sikapku terhadap kau, sebaliknya kau selalu begitu….”

“Benar-benarkah kau bersikap baik terhadapku?” teriak Kiang Tiong-bing, “Apa yang telah kau lakukan terhadap Ging-sia, kau telah merusak wajahnya, kau mengurungnya selama dua puluhan tahun, apakah perbuatan kejimu ini kau anggap baik terhadapku?” — waktu berkata-kata ia mengepal tangan, sungguh betapa murka dan gemas hatinya.

“Semua perbuatanku ini karena cintaku terhadap kau. Kenapa sampai sekarang kau masih merindukan

Ging-sia saja. Dalam hal apa dia lebih baik dari aku?”

“Hatinya lebih baik, jiwanya jauh lebih baik dari kau. Sebaliknya hatimu jauh lebih jahat dari bisa ular, apakah yang kau lakukan kukira kau sendiri paham!”

Dicercah sedemikian rendah sungguh bukan kepalang murka Bu-bing Loni, matanya membelalak gusar menatap Kiang Tiong-bing.

Dari samping Ma Gwat-sian mengelus dada, ia paham apa yang telah terjadi, tidak lebih karena ikatan asmara pula. Tampak olehnya dari muka Bu-bing yang semakin beringas sebuas binatang itu, timbul nafsunya untuk membunuh. Sesaat ia beragu lalu tanpa ayal lagi segera jarinya bergerak lincah memetik harpanya, begitu irama lagu mendengung kontan menerjang ke arah Bu- bing Loni.

Begitu mendadak mendengar getaran irama harpa yang deras itu, cepat Bu-bing berpaling ke arah Ma Gwat-sian, hawa membunuh semakin tebal menyelubungi wajahnya.

Lekas Ma Gwat-sian duduk bersimpuh, kedua jari tangannya bergerak lincah, irama lagunya segera memberondong keluar dengan tekanan berat mengandung nafsu2 membunuh.

Ooo)*(ooO

Hun Thian-hi meloncat naik kepucuk hutan bambu. matanya celingukan ke arah sekitarnya, namun bayangan Ma Gwat-sian sudah tidak kelihatan lagi, sesaat ia beragu dan menjadi kesal, entah kejurusan mana Ma Gwat-sian telah pergi. Mendadak terpikir olehnya, “Mungkinkah Ma Gwat-sian beranjak ke arah biara? Bila dia masuk kesana sebaliknya aku mencarinya di luar sudah tentu takkan ketemu lagi” karena pikirannya ini segera ia terbang melesat ke arah gereja Siau-lim….

Para padri dalam biara besar itu kelihatannya sedang sibuk. kelihatan mereka berlalu lalang kian kemari, sekilas pandang dilihatnya sebentuk tubuh yang dikenalnya, lekas ia meluncur turun, setelah dekat betul juga padri itu bukan lain adalah Ti-hay. segera ia menjura dan menyapa kepada Ti-hay.

“Ti-hiay Suheng. Harap tanya apakah kau ada lihat seorang perempuan masuk kemari?”

Ti-hay beranngkap tangan dan menjawab dengan penuh hormat. “Kiranya Hun-sicu, sejak tadi aku berada di sekitar ini, tiada kulihat ada seorang perempuan masuk kemari!”

Berkerut alis Hun Thian-hi, katanya pula, “Terima kasih akan penjelasanmu, aku sedang mencari seseorang, maaf tidak dapat kuberada disini terlalu lama, harap sampaikan salam hormatku kepada Suhumu!” — Habis berkata lantas ia terbang melesat dan menghilang.

Sepanjang jalan ini ia keheranan dibuatnya, kemanakah sebenar-benarnya Ma Gwat-sian.

Demikianlah, dalam berpikir itu tubuhnya melesat terus ke depan. laksana bintang jatuh mengejar ke arah jalanan yang menuju kebawah gunung. Tapi sampai di bawah gunung bayangan Ma Gwat-sian masih belum dilihatnya, dengan putus asa ia menengadah mengawasi mega di atas langit.

Mendadak tampak di ujung barat sebelah sana terbang mendatangi seekor burung rajawali yang teramat besar, tergetar hatinya, bukanlah itu Ham Gwat yang putar balik pula? Sungguh girang dan kuatir pula hatinya, sesaat waktu ia kebingunan, disaat burung rajawali sudah semakin dekat tiba-tiba ia membelok dan terbang ke arah timur sana terus menuju ke arah yang lain.

Hun Thian-hi terlongong ditempatnya, kenapa Ham Gwat membelok ke arah lain pula?

Demikian ia bertanya-tanya, sekonyong-konyong dilihatnya pula dua burung dewata, muncul diujung barat sebelah sana, berdebur keras jantung Thian-hi, Bu-bing Loni muncul pula di tempat ini, tidak heran Ham Gwat segera harus tinggal pergi, tapi untuk apakah Bu-bing Loni ke tempat ini?

Ditengah jalan kedua burung dewata itu berpencar. seekor langsung menuju ke arah dirinya, sedang seekor yang lain putar kesamping terus menukik ke arah pegunungan sana. Setelah dekat dan hinggap di tanah baru terlihat oleh Thian-hi Su Giok-lan meloncat turun dari burung dewata. Agaknya Su Giok-lan juga terkejut melihat kehadiran Thian-hi ditetmpat itu.

Sesaat Hun Thian-hi menjadi serba salah, sikap Su Giok-lan terhadap dirinya masih rada disangsikan, entah kawan atau lawan, dilain saat terpaksa ia maju menyapa, “Nona Su apa kau baik!” — Mulutnya bicara. hatipun berpikir; ‘mungkin Ma Gwat-sian menuju ke arah pegunungan yang lebat sana. Sekarang Bu-bing pun menyusul kesana, apakah yang harus kulakukan?

Mendengar sapa Huh Thian-hi Su Giok-lan mandah mendengus hidung saja. setiap kali melihat pemuda ini selalu hatinya merasakan sesuatu yang ganjii, terasa olehnya selalu ia pasti merasa ingin bermusuhan saja tapi setelah kejadian berlangsung akhirnya pasti ia akan menyesal sendiri. Ia maklum bahwa Hun Thian-hj bahwasanya tidak pernah berlaku kasar atau membuat suatu dosa terhadap dirinya, bicara secara lahir batin. justru dirinyalah yang berbuat salah dan menyakiti hati Hun Thian-hi malah, apalagi selama beberapa bulan terakhir ini terasakan pula olehnya betapa kejam dan telengas segala tindak tanduk dari perbuatan Bu-bing Loni, terlihat kedok aslinya yang sudah terbuka itu. Tapi kenapakah aku harus menlcari permusuhan dengan Hun Thian-hi? Entah dia sendiri pun tak kuasa menjawab pertanyaan hatinya.

Memang Hun Thian-hi sendiri juga masih beragu apakah Su Giok-lan dipihak lawan atau menjadi kawan, melihat sikap uring-uringan Su Giok-lan, ia berkata. “Aku punya urusan yang harus kukerjakan dipedalaman sebelah sana!” — demikian katanya sambil menunjuk kemana tadi Bu-bing Loni menghilang.

“Guruku berpesan melarang siapapun menuju ke tempat sana!” demikian Kata Su Giok-lan tegas.

“Jadi gurumu datang karena persoalan itu,” demikian kata Hun Thian-hi tawar, “Tapi Tok-sim- sin-mo dan gembong silat lainnya sudah pergi semua!”

Begitu ketemu Hum Thian-hi lantas hendak pergi. sudah tentu Su Giok-lan merasakan sesuatu kejanggalan sikapnya ini. katanya, “Guruku tidak menjelaskan tentang persoalannya, yang jelas kau dilarang kesana!”

“Maksud nona Su aku benar-benar dilarang kesana?” “Ya siapapun dilarang kesana!’

“Nona Su,” ujar Thian-hi tertawa, “Kau angkat Bu-bing Suthay sebagai gurumu, bermula aku ikut bergirang bagi kau, sebaD ilmu silat Bu-bing Suthay nomor satu di seluruh jagad, dengan memperoleh petunjuk dan bimbingannya pastilah harapan dan masa depanmu tak dapat diukur. Tapi toh akhirnya aku merasa kuatir dan kasihan pula terhadap nasibmu, ketahuilah bahwa kekejaman hati Bu-bing Suthay juga merupakan rahasia umum lagi, bila kau selalu tunduk dan harus tunduk melakukan perintahnya aku kuatir kau harus melakukan perbuatan yang melanggar azas2 kemanusiaan. Misalnya aku inilah. sejak berkecimpung di dunia persilatan, segala sepaK terjangku kau pernah melihat dan pernah mendengar pula. satu hal yang paling membuatku paling menyesal adalah bahwa aku telah mempelajari ilmu ganas dari Ang-hwaat-lo-mo!”

sampai disini ia menghela napas dengan kesal. waktu ia pandang Su Giok-lan tampak orang menuduk dengan muka pucat dan murung. Giok-lan maklum bahwa segala pengalaman Thian-hi itu adalah akibat dari perbuatan paman, engkohnya dan dirinya bertiga.

Thian-hi berkata lagi, “Sebenar-benarnya tidak menjadi soal mempelajari jurus ganas itu, tapi bagi seorang yang Lwekangnya belum mencapai tingkat yang dibutuhkan bukan saja tidak dapat memanfaatkan ajaran itu menurut kehendak hatinya, malah kadang kala terbawa oleh nafsu kesetanan, tanpa disadarinya bahwa dirinya telah diperalat untuk membunuh manusia.” — sampai disini ia menghela napas lalu sambungnya, “Waktu pertama kali aku melancarkan jurus ganas itu kau pun pernah menyaksikan. Dan akibatnya kau sendiripun telah lihat dengan mata kepalamu sendiri.”

Su Giok-lan terbungkam seribu basa, ia maklum bahwa Hun Thian-hi tengah membujuk dirinya supaya jangan mau diperalat oleh Bu-bing Loni, mau tidak mau ia harus berpikir dan merenungkan persoalan ini, akhirnya ia berkata tawar, “Seluruh tokoh silat di kolong langit ini adakah seseorang yang ilmu silatnya lebih unggul dari Bu-bing Suthay?”

“Benar-benar, seumpama ilmu silatnya tiada tandingannya di seluruh dunia, bagaimana juga ia tidak kuasa mengubah jalannya sejarah dan jaman, mampukah dia mengendalikan hati nurani manusia?”

Su Giok-lan menggeleng dengan pilu, ia menunduk. “Bu-bing Suthay sedang mencarinya ke-mana-mana, bila ketemu pasti celakalah akibatnya.

Tapi mungkin ada seseorang tokoh lihay yang sengaja menyembunyikan dirinya kalau tidak mengandal ketajaman mata burung dewata, betapapun ia tidak bakal bisa menghilangkan jejaknya, kalau aku bicara

terus terang, aku tidak berani!”

Hun Thiani-hi menghela napas, tak bicara lagi.

Su Giok-lan tidak tahu entah mengapa mendadak timbul rasa haru dan terima kasihnya terhadap Hun Thian-hi, terketuk benar-benar hatinya bahwa sedemikian besar perhatian Hun Thian-hi terhadap dirinya. Akhirnya ia buka suara pula, “Mo-bin Suseng mengutus seseorang meminta pada beliau untuk membunuh kalian semua, lekaslah kau tinggalksn tempat ini, kalau sampai kepergok dengan dia bagaimana jadinya nanti!”

Bercekat hati Thian-hi, “Mo-bin Suseng!” mulutnya menggumam lirih Seketika berkobar amara hatinya bahwa Mo-bin Suseng kiranya berintrik dengan Bu-bing Loni, terbayang olehnya waktu pertama kali di puncak gunung salju berjumpa dengan Bu-bing Loni, tatkala itu Soat-san-su-gou ada menyinggung nama Mo-bin Suseng tampak biji mata Bu-bing Loni memancarkan sinar aneh yang menakutkan sekali.

Rongga dadanya hampir meledak rasanya, namun ia masih tetap berdiri dengan tenang, dua puluh tahun, dua puluh tahun yang lalu, keluarga Ham Gwat tertimpa bencana, dan ayahnya pun karena Badik Buntung sehingga menemui ajalnya dibunuh oleh Mo-bin Suseng, bukankah sangat kebetulan sekali. yang lebih kebetulan lagi justru pada dua puluh tahun yang lalu dikala Ka-yap Cuncia meninggalkan Tionggoan menuju ke Thian-bi-kok, pasti semua kejadian ini bukan terjadi secara kebetulan belaka!”

“Kenapa kau?” tanya Su Giok-lan terkejut melihat perubahan air muka orang.

Hun Thian-hi tersentak sadar, ia menyedot hawa dalam-dalam, katanya, “Tiada apa, mungkin sejak mula kita sudah salah langkah, yang terang kita hanya dipermainkan dalam genggaman telapak tangan Mo-bin Suseng tanpa kita sadari, sebaliknya kita anggap diri sendiri terlalu pintar, tapi sampai pada detik ini, belum pernah aku melihat tampang asli dari Mo-bin Suseng!”

“Lalu bagaimana sekarang aku harus bersikap?” “Kemana tujuan Bu-bing Loni tadi?”

“Aku tidak tahu, kemana dia pergi selamanya tidak pernah beritahu padaku, apalagi tanpa ajakannya kita dilarang ikut, kalau kita membandel kematianlah bagiannya.”

Hun Thian-hi beragu, kemanakah Bu-bing Loni, ia insaf bahwa kepandaian sendiri masih bukan tandingan Bu-bing Loni, menyusul kesanapun hanya mengantar jiwa saja. Sedang ia berdiri bingung sesosok tubuh kecil pendek tiba-tiba muncul di balik pohon-pohon sana, seketika ia berteriak kejut:

“Siau-suhu!”

Hwesio jenaka berjalan keluar, katanya tertawa, “Kau baik?”

“Siau-suhu, bukankah kau berada di Thian-lam? Masa begitu cepat bisa sampai di Siong-san apakah kau ada ketemu dengan guruku?” “Gurumu sudah ditolong keluar, kau tidak usah kuatir!” ujar Hwesio jenaka, lalu sambungnya kepada Su Giok-lan, “Bukankah nona Su Giok-lan adalah murid Pedang utara Siau-sicu?”

Mendengar orang menyinggung gurunya yang lama yaitu Pedang utara Siau Ling, Giok-lan menjadi hambar, sahutnya, “Wanpwe memang Su Giok-lan, apakah Siau-suhu ada ketemu dengan guruku?”

“Suami istri Pedang utara gurumu itu sekarang sedang bersama dengan guru Hun Thian-hi Seruling selatan Kongsun Hong. Mereka baik-baik saja, cuma mereka rada kangen pada kau.”

Su Giok-lan menunduk rawan, sejak kecil dia dan engkohnya dibesarkan dan dibimbing oleh Pak-kiam suami istri, dianggapnya mereka sebagai anak kandung sendiri, sekarang engkohnya sudah meninggal, sedang dirinya bertekuk lutut angkat guru kepada Bu-bing Loni, sekian lamanya ia tidak pernah jumpa lagi dengan guru tercinta, betapa hati takkan bersedih, terutama bahwa dirinya telah ingkar terhadap ajaran2nya.

Begitulah ia berpikir dan menerawang sepak terjangnya selama ini, ia menista dan menyesali perbuatannya yang dianggap durhaka, akhirnya dengan tekad yang keras ia angkat kepala memandang Hun Thian-hi lalu bertanya pada Hwesio jenaka, “Dimana sekarang mereka berada?”

Hun Thian-hi sendiri juga sedang dirundung berbagai pertanyaan dan keheranan, gerak-gerik Hwesio jenaka yang serba cepat dan cekatan ini benar-benar sangat mengejutkan dan mencurigakan, kecuali siang malam Hwesio jenaka tidak berhenti menempuh perjalanan dan begitu sampai lantas putar balik, kalau tidak mustahil bisa begitu cepat dia muncul lagi di Siong- san sini.