Badik Buntung Bab 22

 
Bab 22

Siau Hong membalas lambaian tangan. serunya, “Berangkatlah, mungkin bersama Siocia kami juga akan menyusul kesana, hati-hatilah kau, Tok-sim-sin-mo sangat jahat.”

Thian-hi manggut-manggut, sementara itu burung rajawali sudah mengembangkan sayapnya terus melambung ke tengah udara, sebentar saja mereka sudah berada ditengah angkasa menuju ke Siong-san.

Ooo)*(ooO

Senjakala tiba, Thian-hi pun tiba di Siong-san, burung rajawali segera menukik turun dan hinggap di atas puncak yang berdekatan. Setelah turun dan menginjak tanah Thian-hi menepuk leher Kim-ji serta berkata, “Kim-ji! Silakan kau pulang, sampaikan salam hormat dan terima kasih pada majikanmu!”

Kim-ji berbunyi sekali sambii manggut-manggut terus terbang kembali dan menghilang.

Setelah Kim-ji tidak kelihatan lagi, Thian-hi celingukan memandang sekitarnya, lalu pelan-pelan ia menuju ke Siau-lim-si. Tempo hari ia pernah ikut Hwesio jenaka kemari tapi diwaktu malam. keadaan disini tidak diingat terlalu jelas, maka sekarang dia harus main selidik dan celingukan mencari jalan lalu pelan-pelan menuju ke Siau-lim-si.

***

Setelah melompati pagar tembok Hun Thian-hi melesat naik sembunyi di atas puncak pohon, dengan ke jelian matanya ia mengawasi keempat penjuru, rada jauh di depan sana terdapat sebidang hutan bambu, tergerak hati Thian-hi, pikirnya, “Bukankah disana tempat tinggal Thian- cwan Taysu?

Thian-hi berlaku sangat hati-hati, setelah melihat sekelilingnya sunyi sepi tanpa ayal segera ia melesat ke arah hutan bambu sana, karena sekelilingnya tidak terjaga, maka tubuhnya seenteng burung langsung meluncur tiba dan hinggap di atas pucuk sebatang bambu. Waktu ia menunduk memandang kebawah, tampak olehnya seorang Hwesio tengah duduk bersimpuh berhadapan dengan seorang tua bermata putih kemilau, itulah Thian-cwan Taysu dan Tok-sim-sin-mo dua orang.

Terdengar Tok-sim-sin-mo sedang berkata pada Than-cwan Taysu, “Hun Thian-hi segera bakal tiba. Sangat kebetulan kedatangannya, sekaligus aku bisa menumpasnya bersama Siau-lim kalian.” lalu ia terkekeh-kekeh dingin.

Thian-cwan Taysu pejamkan mata, sesaat baru bicara, “Mungkin tidak begitu gampang, kunasehati pada kau supaya cepat merubah haluan dan lakukan perhitungan lain, ketahuilah I- lwe-tok-kun dia tidak akan membiarkan cita-citamu ini terlaksana seenak udelmu sendiri.”

Tok-sim-sin-mo menjengek hidung, ancamnya, “Bila dia berani masuk ke Tionggoan, mungkin datangnya hidup tapi takkan dapat pulang dengan jiwa masih hidup ke Thian-lam.”

Thian-cwan duduk tenang tak menghiraukan dia lagi.

Dengan pandangan dingin berkilat Tok-sim-sin-mo pandang Thian-cwan Taysu lekat-lekat, sekonyong-konyong ia menengadah menyapu pandang ke pucuk bambu.

Berdetak jantung Thian-hi, pikirnya, “Hati-hati jangan sampai konangan olehnya!” ia menahan napas, otaknya harus bekerja cepat mencari cara untuk bertindak nanti.

Tok-sim-sin-mo menunduk lagi. Hun Thian-hi celingukan ke sekelilingnya, tak terlihat sebuah bayangan orangpun, sebuah pikiran mendadak berkelebat dalam benaknya, “Dalam keadaan sekarang ini,

Tok-sim-sin-mo hanya. seorang diri, kenapa aku tidak turun saja berhadapan secara langsung? Dengan kekuatan dua orang untuk membekuk Tok-sim-sin-mo rasanya segampang membalikkan telapak tangan!”

Karena dilandasi pikirannya ini, segera tubuhnya melejit maju lalu melayang turun dengan ringan ke bawah.

Begitu mendengar kesiur angin lambaian baju Hun Thian-hi, sebat sekali kelihatan Tok-sim-sin- mo melejit mundur dua tombak, sepasang matanya berkilat mengawasi Hun Thian-hi. Terpancar rasa heran yang aneh dari sorot matanya itu.

Begitu hinggap di tanah Hun Thian-hi tersenyum simpul, ia celingukan ke kanan kiri lalu maju dua langkah di hadapan Thian-cwan serta memberi hormat membungkuk badan, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap pada Taysu!”

Thian-cwan Taysu juga membuka mata mengawasi dirinya dengan heran, katanya, “Hun-sicu apakah baik selama berpisah ini?”

“Terima kasih akan perhatian Taysu. Kudengar katanya Tok-sim-sin-mo berada disini maka Wanpwe juga menyusulnya kemari!”

Dengan sikap dingin mulut Tok-sim-sin-mo mengulum seringai sadis, katanya, “Ternyata kau berani datang seorang diri. Besar benar-benar nyalimu!”

Hun Thian-hi berpaling memandang ke arah Tok-sim-sin-mo sekejap lalu berkata pula kepada Thian-cwan Taysu, “Taysu! Tok-sim-sin-mo si durjana ini jangan diberi pengampunan lagi…. kenapa tidak dilenyapkan saja!” Thian-cwan Taysu menghela napas panjang, tak bicara.

Tok-sim-sin-mo tertawa panjang, serunya, “Kau ingin mengeroyok aku bersama dia bukan?

Kalau begitu salah besar perhitunganmu, ketahuilah ilmu silatnya sudah punah sejak lama!” Tersentak jantung Hun Thian-hi.

Terdengar Tok-sim-sin-mo menjengek pula, “Kedatanganmu hari ini justru menempuh jalan kematian!” baru habis ucapannya seekor burung dara melayang turun dari angkasa terus hinggap di tangan Tok-sim-sin-mo.

Berubah air muka Tok-sim-sin-mo, dari kaki burung ia mengambil selarik surat terus dibaca, tampak berubah hebat air mukanya, desisnya dengan mata mendelik, “Kiranya begitu, jadi kau sudah berserikat bersama I-lwe-tok-kun.”

Timbul rasa heran dalam benak Thian-hi, kenapa Tok-sim-sin-mo mengajukan pertanyaannya ini, sepintas lalu pikirannya bekerja, lantas ia menjadi paham, “Mungkin Ang-hwat-lo-mo dan I- lwe-tok-kun sudah meluruk bersama ke Tionggoan, dan mungkin juga sedang menempuh perjalanan kesini sehingga dia menuduh diriku punya intrik dengan mereka.”

Tengah mereka bersitegang leher berdiri diam berhadapan, sekonyong-konyong sesosok bayangan merah melambung datang memasuki gerombol hutam bambu, begitu hinggap di tanah baru kelihatan jelas, itulah Ang-hwat-lo-mo adanya. Di belakangnya menguntit seorang tua bertubuh kecil kurus. Begitu hinggap di tanah mereka berpaling ke kanan kiri, akhirnya pandangan Ang-hwat-lo-mo berhenti pada tubuh Hun Thian-hi.

Dari belakang dibalik rumpun bambu sana terdengar derap lirih orang banyak. tampak Bing- tiong-mo-tho Su-kong Ko dan Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong dan lain-lain beranjak masuk. Ada dua diantaranya tidak dikenal oleh Thian-hi. Mereka berdiri siap siaga.

Terdengar Ang-hwat-lo-mo berkakakan dua kali sikapnya sangat congkak, setelah berpaling ke arah Thian-cwan Taysu ia bicara pada Hun Thian-hi, “Berani kau tidak menyusul ke Thian-lam.

Ketahuilah gurumu Lam-siau Kongsun Hong sudah berada di tempat kediamanku, kenapa kau tidak mau datang?”

Tok-sim-sin-mo tertawa lebar, jengeknya dingin kepada Ang-hwat-lo-mo, “Tak kunyana kau bisa datang begitu cepat!”

“Benar-benar aku telah datang, dan hanya membawa Seorang sahabat belaka.” sambung Ang- hwa-lo-mo dengan sombong sambil menunjuk orang kate di belakangnya, serunya pula, “Mari kuperkenalKan, inilah Ting-hou-it-koay Lenghou Khek!”

Thian-hi mengamati si orang tua kate, dalam hati ia berkata, “Kiranya orang ini adalah ayah Kim-i Kongcu yang kubunuh Sing-hou-it-koay, entah mengapa selama ini dia tidak meluruk mencari diriku.”

Tok-sim-sin-mo mandah tersenyum ejek, tanpa bicara ia maju menghampiri kehadapan Thian- cwan Taysu terus duduk.

Ang-hwat-lo-mo juga tertawa-tawa, dengan ulapan tangan ia mempersilakan Sing-hou-it-koay duduk, sedang dia sendiri juga lantas duduk. Melihat Tok-sim-sin-mo tetap berdiam diri akhirnya Ang-hwat-lo-mo bergelak tawa. serunya, “Bagaimana! Apakah si tua dari Si-gwa-sam-mo menjadi gentar dan ketakutan terhadap diriku?” — ia bergelak tawa pula!” Tok-sim-sin-mo masih menyeringai iblis saja tanpa memberi reaksi. Sungguh hatinya murka sekali akan sikap takabur Ang-hwat-lo-mo, namun ia punya perhitungan dalam situasi seperti sekarang ia harus bertindak hati-hati. terpaksa bersabar ulur waktu dan mencari jalan yang lebih mantap dan matang.

Menghadapi sikap tenang Tok-sim-sin-mo rada kejut perasaan Ang-hwat-lo-mo, bila Tok-sim- sin-mo mengumbar nafsu amarahnya, dia akan merasa terhibur dan senang malah, karena itu menandakan bahwa pihak lawan tiada persiapan. tapi sekarang Tok-sim-sin-mo bersikap diam menanti dan tidak banyak bicara. terang kalau punya persiapan yang sudah matang, jangan karena urusan kecil melalaikan tugas besar? Demikian pedoman kerja pihak lawan. Maka dengan cermat ia menyelidik keadaan empat penjuru, tapi tiada persiapan apa-apa.

Sekonyong-konyong tampak pula berkelebat dua sosok bayangan hitam yang melesat masuk ke dalam hutan bambu ini. waktu Thian-hi angkat kepala yang datang ini kiranya adalah salah seorang dari Tiang-pek-siang-ki yaitu Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, seorang yang lain laki-laki tua beruban yang mengenakan juhah kuning.

Ang-hwat-lo-mo terbahak-bahak. serunya, “Sungguh hari ini sangat beruntung. Tiang-pek- siang-ki sudi berkunjung datang bersama, hari ini Siau-lim-si bakal menjadi tempat kumpulan tokoh-tokoh kosen yang cukup ramai dan menyenangkan!” — kelihatan betapa rasa girang hatinya melihat kedatangan kedua orang tokoh dari Tiang-pek-san ini, entah apa tujuan kedatangan kedua orang ini? Menghadapi dirinya atau mencari perkara kepada Tok-sim-sin-mo?

Tanpa merasa Hun Thian-hi melirik lebih tajam ke arah orang tua berjubah kuning, kiranya orang tua ini bukan lain adalah Ce-han-it-ki, It-ki dan It-koay sama muncul di tempat ini, entah apa tujuannya.

Melayangkan pandangan matanya Ce-han-it-ki membuka suara, “Kedatangan kami hanya ingin ikut menyelesaikan perkara di Siau-lim-si sini, tentu Tok-sim-sin-mo sudah berada disini bukan?”

Sementara itu Ciang-ho-it-koay juga sudah melihat kehadiran Hun Thian-hi. mulutnya menggerung gusar, matanya mendelik besar ke arah Thian-hi. mukanya diliputi hawa membunuh. dengan lirikan tajam iapun melerok ke arah Ang-hwat-lo-mo.

Tok-sim-sin-mo masih tetap bersikap tenang tanpa peduli percakapan dan kedatangan lain orang. Adalah Ang-hwat-lo-mo yang bersorak dalam hati begitu mendengar Ce-han-it-ki hendak mencari Tok-sim-sin-mo, musuh yang utama justru adalah ToK-sim-sin-mo, maka segera ia bersuara menuding kepada Tok-Sim-sin-mo, “Tuan inilah tertua dari Si-gwa-sam-mo itu.”

Dengan cermat Ce-han-it-ki mengawasi Tok-sim-sin-mo. mulutnya terkancing tak bersuara. “Bocah keparat!” seru Ciang-ho-it-koay kepada Hun Thian-hi, “Panjang benar-benar nyawamu,

belum mampus kau ya! Hari ini aku tidak akan memberi ampun lagi pada kau. setelah urusan disini selesai, kuharap kau jangan lari” — Lalu ia berpaling ke arah Ang-hwat-lo-mo dan sambungnya, “Demikian juga kau!”

Melihat sikap Tok-sim-sin-mo yang jumawa itu mendengus berang Ce-han-it-ki, kakinya beranjak menghampiri ke belakang Tok-sim-sin-mo.

Dengan gaya tetap duduk bersila mendadak tubuh Tok-sim-sin-mo mencelat naik ke tengah udara, berhenti sebentar seperti mengembang lalu terbang berputar setengah lingkaran, menghindar diri bila Ce-han-it-ki menyergap dari belakang. Keruan seluruh hadirin melengak dibuatnya, betapa mereka takkan terkejut melihat pertunjukan Cin-kang Leng-kong-pau-si maha lihay dan menakjubkan itu, seluruh hadirin adalah tokoh-tokoh kosen yang bisa juga mempertunjukan Ginkang macam begitu, sulitnya untuk berhenti mengembang sebentar ditengah udara itulah yang tiada seorangpun mampu melaksanakan, bukanlah tidak beralasan bila mereka sama terkejut.

Dari luar lantas berkelebat masuk pula sebuah bayangan orang, yang datang ini adalah Pek Si- kiat. Begitu tiba sepasang matanya segera menyapu selidik keseluruh gelanggang, melihat Hun Thian-hi juga sudah hadir, kelihatan ia rada terkejut. Melihat Pek Si-kiat juga datang sungguh girang Thian-hi bukar main, pihak sendiri terhitung tambah seorang tenaga yang sangat dapat diandalkan. segera ia memburu maju serta menyapa, “Paman Pek, kau baik!”

Pek Si-kiat manggut-manggut. sahutnya, “Sungguh tidak nyana kaupun sudah tiba, aku bergegas menyusul kemari dari barat daya. sangkaku bisa datang lebih cepat dari kedatanganmu, siapa duga aku terlambat satu tindak!”

Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay rada asing terhadap masing-masing Pek Si-kiat dan Tok-sim- sin-mo, dengan penuh rasa curiga dan tanda tanya mereka awasi dua orang tokoh dari Si-gwa-ji- mo bergaantian. mereka tidak tahu akan hubungan dua orang ini.

Melihat kehadiran Pek Si-kiat, Tok-sim-sin-mo bangkit berdiri, serunya kalem, “Memang kedatanganmu sedang kutunggu!”

“Masih ada aku seorang lagi!” terdengar orang berkata dingin dari luar hutan dalam kejap lain ia sudah meluncur turun dan hinggap di tanah. Pendatang baru ini bukan lain adalah Situa Pelita.

Thian-hi kaget dibuatnya, kenapa hari ini seluruh tokoh-tokoh lihay sama meluruk datang.

Situa Pelita mendelik dan berludah ke arah Ang-hwat-lo-mo, pelan-pelan ia memutar tubuh lalu berkata kepada Tok-sim-sin-mo, “Kau memaksa dan menindas seluruh golongan dan aliran persilatan di Tionggoan menutup pintu dan menyimpan pedang, sekarang kau pun main kekerasan pula terhadap Siau-lim, selama kaum gagah masih hidup jangan harap kau dapat melaksanakan angan2 gilamu, seluruh kaum persilatan akan bangkit dan menumpas kau. Sebentar lagi Ce-hun dan Hoan-hu juga akan meluruk kemari untuk membuat perhitungan pada kau, jangan kau takabur dan bersimaharaja disini!”

Tok-sim-sim-mo memicingkan mata, dengan mengejek dingin ia pandang Situa Pelita, bentaknya, “Besar benar-benar bualanmu, siapa kau?”

Malu dan murka pula hati Situa Pelita, di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh kosen Tok-sim- sin-mo bersikap begitu merendahkan terhadap dirinya, sambil membanting kaki ia menggerung gusar. serunya, “Kau dibekap lima puluh tahun oleh Ka-yap Cuncia, sudah tentu kau tidak kenal aku.”

Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo duduk kembali, katanya kalem, “Kalau begitu, kunanti setelah bantuan kalian datang semua baru bicara lagi!”

Situa Pelita mengalihkan pandangan matanya yang berapi-api ke arah Ang-hwat-lo-mo.

Ce-han-it-ki berpaling ke arah Cukat Tam, ujarnya, “Begitupun baik!” bersama Cukat Tam mereka duduk berendeng.

Baru sekarang Thian-cwan Taysu membuka mata, dengan pandangan kalem ia awasi seluruh hadirin satu persatu, akhirnya ia menghela napas panjang. “Kenapa Taysu menghela napas!” tanya Situa Pelita.

Thian-cwan Taysu menunduk, sesaat kemudian baru bicara, “Jalan suci cukup panjang, akal iblis harus dijaga, para sicu harus hati-hati, janganlah sampai diperalat oleh musuh.”

Thian-hi pun merasakan akan situasi yang terpecah belah diantara sekian banyak hadirin ini, hati masing-masing punya rasa permusuhan terhadap yang lain, terutama Ciang-ho-it-koay dan si Tua Pelita punya pertikaian sama dirinya, entah apa yang bakal mereka lakukan terhadap dirinya sebelum Ce-hun dan Hoan-hu keburu datang, demikian juga rasa permusuhan mereka terhadap Ang-hwat-lo-mo.

Terdengar Ang-hwat-lo-mo tertawa besar, serunya, “Harap kutanya pada kalian, apa tujuan kita kemari?”

Bagi golongan putih semua sama pasang kuping dan meningkatkan kewaspadaan mendengar pertanyaannya itu, mereka gentar dan rada jeri menghadapi iblis ini, semua orang tahu bahwa orang ini adalah iblis laknat yang harus ditumpas dari percaturan hidup manusia, entah mengapa hari ini mendadak mengajukan pertanyaan ini? Entah apa tujuannya!

Thian-cwan Taysu menanggapi dengan helaan napas panjang lagi, matanya dipejamkan.

Kata Ang-hwat-lo-mo pula, “Kita jangan mengulur waktu lagi, dosa2 Tok-sim-sin-mo tidak terampun lagi, demikian juga aku punya pertikaian terhadap kalian, tapi kenapa sekarang harus persoalkan pertikaian kecil ini, yang penting kita harus bersatu lebih dulu menumpas kelaknatan sepak terjang Tok-sim-sin-mo, soal urusan kita marilah kesampingkan dulu!”

Mendengar propokasi ini Tok-sim-sin-mo tidak bisa tinggal diam, segera iapun menimbrung, “Kau sangka aku gentar terhadap kalian semua!” lalu ia mendengus, pelan-pelan bangkit sambil mendelik ke arah seluruh hadirin.

Hati Ciang-ho-it-koay menjadi jeri, serunya, “Kalau begitu mari kita sama-sama menumpas Tok- sim-sin-mo lebih dulu!”

Situasi menjadi tegang, semua orang saling pandang. Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat mundur ke samping, mereka insaf bahwa Tok-sim-sin-mo bukanlah kaum keroco yang mudah ditundukkan. Terutama senjata Pek-tok-hek-liong-tingnya itu sulitlah dihadapi, mana boleh bertindak begitu ceroboh.

Tok-sim-sin-mo menyeringai sadis, sambil tertawa sinis ia pandang Thian-hi berdua lalu melambaikan tangau. serunya, “Kalian sudahkah pernah dengar nama Pek-tok-hek-liong-ting?” seiring dengan ucapannya ini dari empat penjuru segera terpancang puluhan laras Pek-tok-hek- liong-ting ke arah seluruh hadirin.

Keruan berubah pucat muka seluruh hadirin, mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi adalah mustahil bila tidak mengenal asal usul kehebatan Pek-tok-hek-liong-ting.

Tok-sim-sin-mo menyeringai lagi. ujarnya, “Kalian sendiri agaknya sudah bosan hidup, janganlah salahkan aku bila aku turun tangan kejam pada kalian. Tapi aku tidak akan turun tangan sekarang, tadi kudengar Ce-hun dan Hoan-hu juga akan datang, baiklah aku tunggu kedatangan mereka baru bekerja!”

Meski Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat sudah mundur disamping, namun merekapun masuk dalam kepungan. Diam-diam ia menerawang situasi dalam gelanggang, ia maklum untuk melarikan diri sendiri adalah tidak sulit bagi dirinya, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek sekarang sudah dapat diselami dalam sanubarinya, petunjuk si orang tua itu sungguh sangat berharga sehingga ia dapat menembus kesukaran yang dialami dalam latihannya. Hanya latihan prakteknya saja memang belum sempurna dan matang.

Para hadirin terdiri dari golongan sesat dan aliran lurus, kedua belah pihak sama punya rasa permusuhan yang menghayati sanubari masing-masing, mana mungkin dia turun tangan menolong mereka?

Sedang Ang-hwat-lo-mo adalah tokoh kosen dari golongan sesat. Meski dalam nada perkataan Tok-sim-sin-mo tadi tidak menaruh sebelah mata pada dirinya, tapi Thian-hi jelas mengetahui bahwa Ang-hwat-lo-mo bukan tokoh sembarang tokoh yang boleh dipandang ringan, entah mengapa Tok-sim-sin-mo begitu menghina dan memandangnya rendah.

Tapi dapatkah dia tidak menolongnya? Bukan saja dia sendiri yang harus lolos, bahwa seluruhnya hadirin jelas bersikap memusuhi Tok-sim-sin-mo, bila mereka semua roboh Siau-lim-si pun bakal runtuh secara total dapatkah aku menguasai situasi?

Hatinya sedang bimbang, seluruh hadirin tiada satu pun yang buka suara, seolah-olah mereka sedang dicekam tekanan batin akan ancaman kematian yang sedang dihadapi ini, begitu Ce-hun dan Hoan-hu datang, semua orang tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.

Sang waktu berjalan terus, hati masing-masing tengah memikirkan urusan sendiri, sudah tentu apa yang mereka pikirkan satu sama lain berlainan. Tok-sim-sin-mo mengulum senyum sinis, biji matanya yang memutih berkilat dengan dingin memandangi seluruh hadirin, begitu Ce-hun berdua tiba. segera ia akan bikin mampus semua orang yang hadir disini.

Mata Hun Thian-hi berkilat, akhirnya sambil kertak gigi ia membuka suara kepada Tok-sim-sin- mo, “Kuharap sementara ini jangan kau terlalu takabur, tempo hari aku tidak berbuat kelebihan terhadap kau karena Wi-thian-cit-ciat-sek memang belum sempurna kulatih, sekarang, apakah kau ingin coba perbawa Wi-thian-cit-ciat-sek yang tulen?”

Thian-hi maklum untuk meloloskan diri dari Kepungan adalah mudah. Tujuan Tok-sim-sin-mo adalah menumpas seluruh hddirin lalu menghadapi dirinya seorang, bagi dirinya untuk mengatasi situasi gelanggang supaya semua orang dapat menyelamatkan diri adalah terlalu sulit dan berat, tapi aku sudah hadir dan ikut terjun dalam gelanggang yang genting ini, masa aku harus mundur dan ragu-ragu, terpaksa harus kucoba lebih dulu.

“Anggapmu dengan kekuatanmu seorang dapat menandingi kakuatan Pek-tok-hek-liong-ting?” demikian jengek Tok-sim-sin-mo, tiba-tiba tangannya bertepuk lagi, dari empat penjuru muncul pula puluhan laras Pek-tok-Hek-liong-ting.

Tercekat hati Thian-hi, tanpa ayal segera tubuhnya mencelat terbang lempang ke depan, sembari melesat terbang ini, tangannya meraih keluar serulingnya terus menerjang keluar.

Tok-sim-sin-mo berjingkrak gusar. tangan kanan segera diangkat tinggi, seketika puluhan laras Pek-tok-hek-liong-ting terpancang ke arah Hun Thian-hi, dimana terdengar pegas2 berbunyi, udara seketika diliputi hujan Hek-liong-ting yang menerjang bersama ke arah Thian-hi.

Pek-tok-hek-liong-ting merupakan senjata rahasia yang paling ganas dan jahat dikalangan persilatan bukan saja perbawanya sangat besar, di bawah ciptaan seorang ahli sehingga dia dapat meluncur dengan kekuatan deras yang hebat sekali, apalagi setiap pakunya sudah direndam racun berbisa yang sangat jahat, begitu kena kulit lantas melepuh, meresap ke dalam darah jiwa segera bakal melayang. Seluruh hadirin sama merasa kuatir bagi Hun Thian-hi, meskipun diantara mereka ada yang berasa benci dan ingin membunuhnya, tapi serta melihat sepak terjangnya sekarang tiada yang tidak merasa kagum dan memuji dalam hati. Sungguh mereka akan merasa sayang dan gegetun bila seumpama dia berkorban demi keselamatan lain orang, bila diantara mereka ada yang memiliki kepandaian setinggi dan setingkat dengan Hun Thian-hi belum tentu mereka rela untuk berkorban diri demi keselamatan orang lain menghadapi keganasan Pek-tok-hek-liong-ting seorang diri.

Demikianlah sambil mengeluarkan suara desisan yang ramai seluruh paku2 naga hitam yang tak terhitung banyaknya itu serabutan saling samber ditengah udara. Tampak tubuh Hun Thian-hi jumpalitan setengah lingkaran ditengah udara, mulutnya bersuit panjang bagai pekik naga yang marah mengalun tinggi menembus angkasa. Bersama dengan itu Wi-thian-cit-ciat-sek telah dikembangkan. Dimana seruling pualamnya bergerak seketika terbit gelambung kabut memutih mengepul kesekitar gelanggang, kelihatan batang seruling itu rada tergetar, diantara pergerakan yang beberapa mili itu saja ia sudah melancarkan tenaga hebat yang tak terbendung. tujuh jalur gelombang tenaga dengan kekuatan berkisar yang dahsyat memberondong keluar dari tujuh jurusan yang berlainan, berbareng menyambut maju ke arah Hei-liong-ting yang beterbangan diudara.

Para tokoh-tokoh kosen yang hadir semua menjadi melongo dan menahan napas, mereka manjadi kesima dan seperti lupa diri menyaksikan pertempuran hebat yang tiada bandingannya di seluruh dunia persilatan.

Seperti telah diketahui bahwa Wi-thian-cit-ciat-sek adalah ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya yang diagungkan dalam dunia persilatan, bersama Hui-sim-kiam-hoat mempunyai perbawa dan menjunjung keangkerannya masing-masing, tapi dia menpunyai bidang yang lain dari Hui-sim-kiam-hoat itu yaitu cara Kui-sim-kiam-hoat melancarkan tenaganya memerlukan gerakan besar, justru berlainan dengan Wi-thian-cit-ciat-sek. cukup dengan gerakan yang beberapa mili meter belaka sudah dapat mengembangkan tenaga atau melancarkan kekuatan dahsyat yang tiada bekas dan tidak kelihatan.

Begitu kekuatan dua rangsakan yang berlawanan saling bentrok, Pek-tok-hek-liong-ting kepergok oleh perbawa kekuatan Wi-thian-cit-ciat-sek, daya luncurannya yang cepat dan hebat itu seketika menjadi merandek dan lembek tenaganya.

Begitu Hun Thian-hi kerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya, seluruh Pek-tok-hek-liong-ting seperti berhenti ditengah udara, akhirnya bergerak berpular menurut tuntunan tenaga gerakan seruling Hun Thian-hi terus meluncur keluar dan berjatuhan tercerai berai diluar hutan.

Diam-diam Hun Thian-hi bersyukur, ia sendiri menjadi sangsi bahwa dirinya sekarang telah membekal Lwekang yang begitu dahsyat. Sebaliknya mata Tok-sim-sin-mo memancarkan sinar aneh yang menakutkan dengan dada berkembang kempis ia menatap Hun Thian-hi lekat-lekat.

Dari iuar hutan tampak melangkah masuk Ce-hun Totiang dan Hoan-hu Popo. dibelakangnya mengintil pula Bun Cu-giok dan Ciok Yan, melihat keadaan situasi gelanggang, seketika mereka pun melengak dan mencelos

Setelah menyapu pandang seluruh hadirin berserulah Tok-sim-sin-mo, “Penyelesaian urusan hari ini baiklah aku tunda sementara waktu, biar kita selesaikan lain kesempatan saja, sekarang aku permisi lebih dahulu!” lalu ia pimpin Lam-bing-it-hiong dan lain-lain meninggalkan hutan bambu itu. “Nanti dulu!” tiba-tiba terdengar Situa Pelita dan Ciang-ho-it-koay membentak bersama sebelum Tok-sim-sin-mo dan lain-lain tinggal pergi.

Tok-sim-sin-mo membalikkan tubuh, ganti berganti ia pandang kedua orang ini sambil memicingkan matanya.

Seru Ci-ing-ho-it-koay Cukat Tam, “Anggapmu hari ini dapat tinggal pergi sesuka hatimu?” Tok-sim-sin-mo terkekeh dingin, katanya memandang ke arah Hun Thian-hi, “Kekuatan Pek-

tok-hek-liong-ting tadi kalian sudah menyaksikan, diantara Kalian siapa lagi yang mampu bertahan

dari serangannya?” — Lalu ia menambahkan kepada Hun Thian-hi, “Jangan lupa, Sutouw Ci-ko sudah minum obat racunku!” lenyap suaranya tubuhnya pun berkelebat keluar menghilang.

Mendengar ucapan Tok-sim-sin-mo sebelum berlalu itu Pek Si-kiat menjadi tertegun. serunya kepada Thian-hi, “Apa benar-benar ucapannya?”

Pelan-pelan Hun Thian-hi manggut-manggut, ia tidak bersuara lagi.

Seluruh pandangan hadirin tertuju ke arah Hun Thian-hi, semua adalah tokob2 kosen tapi dalam hati mereka maklum, bahwa tiada diantara mereka yang kuat melawan Hun Thian-hi lagi.

Pek Si-kiat menjadi gugup serunya pula, “Kalau begitu mari lekas kita kejar!” Hun Thian-hi hanya tersenyum tawar, matanya memandang pada para hadirin. Situa Pelita segera menjengek dingin, “Ingin lari segampang itu kau?”

Pek Si-kiat menggeram gusar, matanya mendelik, semprotnya kepada Situa Pelita, “Sombong benar-benar

kau. mengandal kau seorang berani menahan kami?”

Saking murka Situa Pelita tergellak tawa. serunya, “Hun Thian-hi berbuat dosa dan durhaka, dosa2nya tak berampun lagi, kau sendiri jiwamu belum tentu dapat kau selamatkan berani kau hendak melindungi orang lain?”

Bertaut alis Pek Si-kiat, bentaknya, “Jikalau Hun Thjan-hi tadi tidak mengunjuk kepandaiannya, sejak tadi kalian sudah mampus di bawah serangan Pek-tok-hek-liong-ting sekarang berani kau mengumbar mulut!”

Seketika Situa Pelita terbungkam seribu basa, memang kenyataan ucapan Pek Si-kiat dan tidak dapat dibantah lagi, betapapun lincah lidahnya pandai bermain sekarang dia terbungkam mulutnya.

Thian-cwan Taysu pelan-pelan bangit berdiri, katanya, “Kalian harus tahu bahwa kematian Bu- tong Ciangbunjin Giok-yap Cinjin bukan terbunuh oleh Hun Thian-hi, untuk hal ini aku berani mengatas nama seluruh keagungan nama Siau-lim-pay sebagai jaminan, bila urusan ini masih berkepanjangan biar akulah yang bertanggung jawab.”

Ucapan Thian-cwan Taysu ini seketika membuat seluruh hadirin tertegun kaget. Demikian juga Hun Thian-hi tidak kepalang kejutnya, sungguh haru dan terima kasih yang tak terhingga kepada padri agung ini. Sungguh tidak habis herannya mengapa Thian-cwan Taysu mau menjamin akan kesucian dirinya, sebagai bekas Ciangbunjin dari Siau-lim-pay yang terdahulu, ucapannya dapatlah mewakili nama seluruh partai Siau-lim. Ucapannya ini tak perlu disangsikan lagi sekaligus akan mencuci bersih segala dosa2 berlimpah yang dituduhkan atas dirinya.

Tapi Ang-hwat-lo-mo memang licik segera ia coba mendebat, “Tapi ada orang melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Hun Thian-hilah yang membunuh Gjok-yap. Coba kau jelaskan?”

Dasar licin ia mempunyai perhituagan demi keuntungannya sendiri. Bahwa Hun Than-hi rela mengabaikan dendam pribadi dan mengunjuk kepandaian yang tiada taranya demi menolong jiwa seluruh hadirin tadi, meski pun Lam-siau Kongsun Hong berada dicengkeraman tangannya.

Thian-hi pun takkan mau diperas dan diancam oleh dirinya.

Apalagi kepandaian silat Hun Thian-hi sudah begitu hebat, beberapa waktu lagi tentu ilmu silatnya bakal lebih maju, bila sekarang tidak mencari kesempatan untuk melenyapkan jiwanya, kelak mungkin merupakan lawan terberat yang bakal merugikan kepentingannya.

Sekarang perhatian seluruh hadirin terpusatkaa pada Thian-cwan Taysu. terdengar sipadri agung inj menjawab pelan-pelan, “Itu hanya sekedar permainan Mo-bin Suseng belaka, kalian semua harus percaya akan ucapanku!”

“Ucapan Thian-cwan Taysu selamanya memang benar-benar,” demikian jengek Ang-hwat-lo- mo, “Sebagai tokoh yang diagungkan kaum persilatan sudah pantas kalau kami percaya setiap nasehatnya. Tapi kami pun harus sadar, bahwa ilmu silatnya sudah dipunahkan oleh Tok-sim-sin- mo, kami sendiri pun sudah kenal akan permainan Tok-sim yang keji dan licin itu, apakah Thian- cwan Taysu melulu hanya dipunahkan ilmu silatnya?” — Sampai disini ia bergelak tawa, lalu sambungnya lagi mempertegas tuduhannya tadi, “Ingat ada orang yang melihat sendiri bahwa Hun Thian-hilah yang membunuh Giok-yap Cinjin!”

Nada perkataannya jelas menerangkan akan kesangsian hatinya bahwa kemungkinan besar Thian-cwan Taysu sudah diperalat oleh Tok-sim-sin-mo, entah itu dengan cara obat beracun atau dengan jalan keji yang lain.

Thian-cwan angkat kepala, pancaran matanya main selidik dimuka semua hadirin. melihat sikap mereka ia tahu bahwa situasi tidak menguntungkan bagi Hun Thian-hi, terpaksa ia berkata pula, “Aku hanya dapat menerangkan seringKas tadi, terserah kalian mau percaya? Aku tiada punya hak untuk tanya pada kalian. Tapi kalian juga harus ingat dan sadar bahwa Ang-hwat adalah gembong iblis yang durjana pula!”

Lalu ia berpaling ke arah Hun Thian-hi serta katanya pula, “Hun-sicu, karena sedikit kecerobohan. Lolap sehingga aku perintahkan Suteku pimpin anak muridnya mengejar dan mengepung Sicu. sekarang aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk menebus kesalahan itu, harap Hun-sicu suka maklum dan memaafkan dosa2 ini!”

“Terima kasih Lo-cianpwe.” ujar Hun Thian-hi menjura, “Begitu besar kepercayaan Cianpwe terhadap diriku, betapa besar rasa terima kasih Hun Thian-hi!”

Thian-cwan Taysiu manggut-manggut sembari menghela napas, ia berpaling kekanan diri. dalam hati ia membatin, “Dengki dan dendam kesumat, membuat semua orang ini luntur hatinya”

— Lalu katanya pula kepada Thian-hi, “Siau-sicu harap berlaku hati-hati. Lolap segera minta diri terlebih dulu. Siau-sicu kali ini telah menolong bencana yang bakal menimpa dan menimbulkan kemusnahan bagi Siau-lim kita, Lolap beserta, seluruh anak murid Siau-lim akan selalu mengingat kebaikan ini sepanjang masa.”— Selesai berkata pelan-pelan ia tinggal keluar hutan bambu. Ia insaf sebentar lagi tempat ini tentu bakal timbul pertempuran besar. Melihat Thian-cwan Taysu sudah pergi, tertawalah Ang-hwat-lo-mo, serunya, “Kalian tentu heran kemanakah juntrunganku bukan? Kenapa aku bicara seperti tadi, kelihatannya sedang mengadu domba kalian. Bicara terus terang, meskipun karena kalian tapi juga karena aku sendiri. Dulu aku pernah menolongnya karena dia bejat, tapi ilmu silatnya tidak becus. Dan sekarang dia tidak berubah baik, malah bergaul keluntang keluntung dengan salah seorang Si-gwa-sam-mo yaitu Pek-kut-sin-mo itu. tapi ilmu silatnya sudah tinggi tiada tandingan, bila hari ini kita tidak memberantasnya, kelak siapa yang kuasa mengendalikan dirinya?”

Seluruh hadirin menjadi saling pandang, hampir tiada seorang yang hadir merasa simpatik dan bersahabat terhadap Hun Thian-hi, pertunjukan kehebatan ilmu pedangnya justru menimbulkan rasa sirik dan dengki hati mereka, kalau bisa melenyapkan jiwa Hun Thian-hi memang merupakan keentengan suatu beban yang sekarang terasa memberati sanubari masing-masing.

Pek Si-kiat terkial-kial dingin, suara tawanya panjang bergelombang, dengan tajam ia menyapu pandang keseluruh hadirin, jengeknya dingin, “Hun Thian-hi adalah ahli waris dari Wi-thian-cit- ciat-sek. murid angkat dari Ka-yap Cuncia. diantara kalian siapa yang berani bicara bahwa pandangan kalian jauh lebih cermat dari Ka-yap Cuncia? Demi kepentingan pribadi kalian sendiri sehingga kalian rela melakukan perbuatan tercela yang memalukan!”

Ce-hun Totiang yang baru datang segera tampil ke depan, katanya dingin, “Siapa yang bisa memberi bukti bahwa bukan dialah yang membunuh Suhengku Giok-yap Cinjin? Ketahuiliah banyak orang menyaksikan bahwa dialah yang membunuh Giok-yap Cinjin!”

Terbakar rongga dada Pek Si-kiat, amarahnya tidak terkendali lagi, dengan delikan mata berapi- api ia pandang Ce-hun Tocang. dengusnya, “Pertanyaanmu memang tepat. Apakah benar-benar ada seseorang yang telah melihat Hun Thian-hi menghunjamkan Badik buntung kedada Giok-yap Cinjin? Hayo jawab!”

Ce-hun Totiang tertegun, mulutnya kememek tak mampu menjawab, sesaat kemudian ia berkata tersekat, “Sudah cukup bila ada orang melihat dia sedang mencabut Badik buntung dari dada Suhengku. Apalagi Badik buntung memang miliknya dan berada ditangannya, jelas tiada lain orang yang mampu berbuat demikian, kecuali dia sendiri bisa membuktikan bahwa bukan dialah yang melakukan pembunuhan itu.”

“Besar benar-benar mulutmu, ja” jengek Pek Si-kiat.

“Pek-kut!” teriak Situa Pelita, “Kaupun seharusnya sudah bertobat. Ka-yap Cuncia mengurungmu lima puluh tahun, kau masih belum mampus. justru hari inilah saat kematianmu.”

Pek Si-kiat menggeram sambil menahan gusar dan kertak gigi, pelan-pelan ia membalik dan setindak demi setindak menghampiri ke arah Situa Pelita.

Ciut nyali Situa Pelita, serta merta kakinya melangkah mundur. Terdengar Ciang-ho-it-koay menggerung juga. ia maju selangkah mendekat ke arah Situi Pelita. Bertambah besar nyali Situa Pelita. segera ia berdiri tegak sambil mengerahkan tenaganya.

Pek Si-kiat melangkah lagi setindak. Berbareng Si tua Pelita dan Ciang-ho-it-koay melejit maju seraya melancarkan serangannya dari kanan kiri ke arah Pek-kut-sin-mo. Mereka sama sebagai tokoh kosen tingkat tinggi, dengan serangan gabungan, sudah tentu perbawanya bukan kepalang hebatnya, seluruh hadirin menjadi berdetak jantungnya.

Terdengar Pek Si-kiat menjerit lantang, sebagai Si-gwa-sam-mo sudah tentu kepandaiannya merupakan ilmu2 yang hebat pula. sedikit bergerak miring kekanan kiri, enteng sekali kedua telapak tangannya ditepuk menyongsong ke depan, berbareng kakinya bergerak selincah kera melejit keluar dari lingkungan kedua musuhnya berbareng membalikkan pukulan balas menyerang Situa Pelita dan Cian-ho-it-koay sama bercekat hatinya, tak terduga oleh mereka bahwa Pek Si-kiat bergerak segesit itu, baru sekarang terpikir oleh mereka bahwa julukan nama Si-gwa-sam-mo niscaja bukan nama kosong belaka, kepandaian Pek Si-kiat yang terkecil dari Si-gwa-sam-mo sudah begitu hebat apalagi kepandaian Tok-sim-sin-mo dapatlah dibayangkan….

Begitulah Situa Pelita berdua pun bergerak tidak kalah sebatnya, begitu berputar berbareng layangkan pukulannya menyambut dengan gertakan, tapi ditengah jalan tiba-tiba mereka mencelat berpisah dan menubruk pula kepada Pek Si-kiat.

Pek Si-kiat menjadi murka. tahu dirinya diledek demikian rupa, serentak ia tambah tenaga dan pergencar serangan. Diam-diam ia sudah menerawang situasi gelanggang, seluruh hadirin adalah tokoh-tokoh yang berkepandaian silat cukup lihay, dengan satu lawan dua ia percaya dirinya tidak akan terkalahkan. tapi untuk menang ia pun rada ragu-ragu.

Sekonyong-konyong ia mencelat mundur rada jauh. menjengek dingin kepada dua lawannya lalu berpaling kepada Hun Thian-hi, katanya, “Kau terjang dulu keluar, biarlah aku yang menghalangi sepak terjang mereka.”

“Masa ada kejadian begitu gampang.” demikian seru Ang-hwat-lo-mo sambil bergelak tawa. Dimana ia menggerakkan tangan tahu-tahu sebilah pedang pendek yang memancarkan, sinar kekuning mas sudah dicekal ditangannya, pedang ini panjang tiga kaki sinarnya nenyilaukan mata. Terang bukan senjata sembarangan.

“Kau tidak lebih hanya seorang Siaupwe saja. jangan anggap bahwa kau tiada tandingannya di jagat ini!” demiKian maki Pek Si-kiat dengan nada menghina.

Ang-hwat-lo-mo tertawa panjang, pedang ditangan kanan terayun kontan ia lancarkan jurus ciptaan tunggalnya yang ganas yaitu Jan-thian-ciat-te (mencacat langit pelenyap bumi) taburan sinar kuning keemasan seperti lembayung memancar ke tengah udara terus menungkrup ke atas kepada Pek Si-kiat.

Rada terkejut hati Pek Si-kiat menghadapi serangan hebat ini, sekilas pandang saja lantas ia dapat menjajaki bahwa kepandaian dan Lwekang Ang-hwat-lo-mo sebetulnya memang sangat tinggi tak dapat dipandang ringan. terutama Lwekangnya jauh lebih tinggi dari bayangannya semula, memang tidaklah bernama kosong dan tiada sebabnya bila Ang-hwat-lo-mo diagungkan sebagai gembong iblis yang ditakuti pada jaman ini, dibanding dirinya sendiri kiranya juga cuma terpaut beberapa tingkat saja. Apalagi sekarang Ang-hwat-lo-mo menyerang dengan senjata tajam yang luar biasa menghadapi kedua tangannya yang kosong. jelas dia sudah mengambil keuntungan.

Pek Si-kiat menjadi beringas, seluruh kekuatan Pek-kut-sin-kangnya dikerahkan untuk menghantam dan melawan rangsakan pedang lawan, hawa memutih dari uap pukulan tangannya yang sakti meluber laksana air bah terus melandai ke depan menyongsong pedang lawan, pikirnya bila perlu biar gugur bersama, betapa pun ia pantang mundur.

Sedetik sebelum kekuatan dua belah pihak yang dahsyat itu saling bentur, tiba-tiba Hun Thian- hi bersuit panjang, tubuhnya mencelat tinggi ke atas, Dari samping ia menonton dengan jelas bila kedua belah pihak benar-benar mengadu kekuatan secara kekerasan pasti berakhir dengan sama luka parah kalau tidak sampai meninggal, sudah tentu Thian-hi tidak menghendaki bila Pek Si-kiat sampai terluka parah, maka begitu tubuhnya mencelat mumbul lempang. serulingnya segera menutuk ditengah antara kedua rangsakan tenaga raksasa yang hampir bentrok itu, dengan jurus Burung bangau menjulang tinggi menembus awan ia pecahkan kekuatan tenaga yang hampir saling bentur itu, berbareng seperti menunggang awan tubuhnya mengikuti gelombang tenaga dua belah pihak yang bocor itu terus jumpalitan turun pada diarah yang berlawanan.

Bercekat hati Ang-hwat-lo-mo sekian lama ia terlongong-longong memandangi diri Thian-hi.

Sementara Thian-hi sendiri juga dirundung keheranan, waktu tubuhnya mencelat tinggi tadi ia sudah memperhitungkan hendak melancarkan sejurus dari kembangan Wi-thian-cit-ciat-sek. tapi serta sudah berlangsung ditengah jalan tanpa disadari ia melancarkan jurus ketiga dari Gin-ho- sam-sek itu ternyata hasilnya juga begitu memuaskan dan diluar perkiraannya, begitu mudah ia memisah suatu bentrokan yang sulit dibayangkan akibatnya sebelumnya. Maka terasa olehnya sendiri bahwa Lwekangnya sekarang sudah maju pula berlipat ganda, tenaganya dapat dikendalikan sesuka penggunaannya.

Dalam pada Itu Ce-han-it-ki juga tengah memandang Thian-hi dengan rasa heran. tanyanya, “Apa hubunganmu dengan Soat-san-su-gou?”

Semula Thian-hi melengak mendengar pertanyaan ini. Sudah lama ia tidak dengar orang menyinggung nama Soat san-su-gou, sekarang Ce-han-it-ki menyinggung nama suci para beliau itu mungkinkah orang ini punya hubungan yang sangat erat dengan mereka? Soat-san-Su-gou tergolong lurus dan bermartabat gagah, betapa tinggi kepandaian silat mereka. rasanya tidak lebih rendah dari setiap hadirin disini. Kebaikan para beliau2 itu rasanya hanya guru budiman Kongsun Hong yang memgasuh dan membesarkan dirinya yang bisa membandingi.

Dengan tersenyum ia menjawab, “Entah apa hubungan Cianpwe dengan mereka berempat?”

Mendadak Ang-hwat-lo-mo menghardik murka, rambutnya sampai berdiri dan mata beringas ia menubruk pula, kali ini pedangnya bergerak menyerang dengan jurus Thian-ko-te-wi langit tinggi bumi berputar sasarannya adalah perut Hun Thian-hi.

Laksana ular hidup berlaksa banyaknya yang melenggang dari segala penjuru sekaligus merangsek bersama ke arah Thian-hi. Terangkat tinggi alis Thian-hi, seruling segera diacungkan miring, kontan ia lancarkan sejurus Wi-thian-cit-ciat-sek. seluruh kekuatan rangsakan Ang-hwat-lo- mo kena tergulung berkisar hebat menerpa balik keempat penjuru pula.

Dipihak lain sepasang biji mata Situa Pelita pun Sudah memancarkan sorot berkilat yang menakutkan, seluruh keluarganya dibabat habis oleh kekejaman Ang-hwat-lo-mo, selama ini ia sudah tekun dan rajin belajar mempertinggi kepandaian silatnya. sekarang kebetulan secara langsung sudah berhadap dengan musuh besarnya, tapi dia punya pikiran dan perhitungan pula. dia ingin supaya Ang-hwat-lo-mo menempur Hun Thian-hi lebih dahulu, adalah lebih baik dan menguntungkan bila kedua belah pibak sama gugur. Tapi dilihatnya waktu Ang-hwat-lo-mo melancarkan Pencacat langit dan pelenyap bumi ternyata dapat dipecahkan oleh Thian-hi begitu gampang, sekarang mengembangkan pula langit tinggi dan bumi berputar. Maka terbayanglah akan adegan dimana seluruh keluarganya kena dibabat dibacok dan ditendang serta entah diapakan lagi dengan cara kekejaman yang luar biasa, timbul kesadaran dalam benaknya akan sifat egoisnya sehingga sanubaarinya terketuk, badannya gemetar tanpa kedinginan. sungguh ia merasa sangat sesal, dia beranggapan bahwa dirinya sudah melepas budi setinggi2nya kepada Hun Thian-hi. sekarang dia menjadi heran kenapa aku mendadak mengharap Hun Thian-hi gugur bersama musuh besarnya ini?

Sungguh dia tidak habis herannya tak tahulah kenapa mendadak punya perasaan yang tercela ini, mungkin secara mendadak ia merasakan bahwa beranggapan dirinya telah kena ditipu oleh Hun Thian-hi, rasa harga dirinya yang melibatkan pendiriannya ke arah yang nyeleweng ini, sehingga tanpa beralasan tanpa punya dasar yang kuat ia mengharap Hun Thian-hi gugur, seumpama ia sudah menyadari bahwa angan2nya itu salah. namun ia pun takkan mau memperbaiki kesalahannya itu pula.

Baru sekarang Situa Pelita mulai insaf, ia sadar dan menyesal, untunglah ia belum terlibat untuk memberikan kepercayaannya terhadap Hun Thian-hi. Sesaat ia menenangkan pikirannya waktu ia mendongak melihat keadaan gelanggang pertempuran. situasi sudah banyak berubah, tampak Ang-hwat-lo-mo, Ce-han-it-ki, Ciang-ho-it-koay dan Ce-hun Totiang serta Hoan-hu Popo bersama sedang menempur Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat. Keadaan mereka berdua sudah rada payah.

Keruan ia tersentak kaget, seluruh tokoh-tokoh silat yang hadir sudah menerjunkan diri dalam pertempuran sengit ini, masa dirinya masih menjublek dan melamun….

Dengan sekuat tenaga dan seluruh kemampuannya Hun Thian-hi layani segala serangan dan rangsakan musuh2 kuatnya. Betapa ilmu silat Ang-hwat ia sudah dapat menyelaminya.

Kepandaian Ce-hun Totiang dan Ce-han-it-ki secara diluar dugaannya kiranya juga tidak lebih rendah dari Ang-hwat-lo-mo,

Betapapun Hun Thian-hi tidak akan menyerah, dengan sengit ia tempur lawan2nya, namun lama kelamaan ia rasakan tekanan dari empat penjuru semakin berat hampir ia susah bernapas. Insaf dia bahwa untuk menang hari ini agaknya sangat sulit dan tak mungkin lagi. Harapannya terakhir hanyalah melancarkan Wi-thian-cit-ciat-sek. memang secara coba-coba saja meski tidak berguna paling tidak Pek Si-kiat akan dapat diberi peluang untuk meloloskan dirinya.

Sesaat lamanya Situa Pelita masih bingung, entah apa yang harus dilakukannya, ingin dia membantu Hun Thian-hi supaya orang dapat menerjang keluar kepungan, tapi apakah kekuatannya mampu untuk menjebol masih tanda tanya, bukan mustahil malah dirinya bakal menimbulkan rasa marah mereka dan aku sendiri yang bakal konyol nanti. Pikirnya ia hendak meminjam tenaga orang banyak untuk membunuh Ang-hwat. tapi keadaan yang sengit ini tak mungkin keinginannya bisa tercapai.

Hun Thian-hi bersuit panjang, seruling teracung miring ke atas, terpaksa ia harus lancarkan Wi- thian-cit-ciat-sek, semua pengepungnya terdesak mundur, kesempatan yang baik ini segera mereka menjejakkan kaki bersama Pek Si-kiat terbang keluar melarikan diri.

Ang-hwat-lo-mo segera melancarkan pula Jan-thian-ciat-te yang ganas itu untuk menyerang dari belakang. Tanpa berjanji Thian-hi berdua membalik tubuh menangkis, musuh yang lain jadi berkesempatan memburu tiba pula, Hun Thian-hi berdua terkepung pula.

Soalnya Thian-hi segan melukai siapa saja bagi setiap pengerojoknya ini, tapi dalam keadaan terpepet, setelah usahanya meloloskan diri gagal, sekarang terkepung lagi, sinar matanya menjadi berkilat, akhirnya dalam hati ia ambil ketetapan, sang waktu tidak boleh diulur pula. Untunglah tepat pada saat itu juga Situa Pelita menghardik keras, tubuhnya terbang mencelat menubruk ke arah Ang-hwat-lo-mo, sebelah tangannya dengan kekuatan dahsyat menggempur ke punggung Ang-hwat-lo-mo.

Keruan Ang-hwat-lo-mo terkejut, sungguh ia tidak menduga dalam situasi gawat yang menguntungkan ini mendadak Situa Pelita menyerang dirinya, dengan mendengus gusar, pedang masnya membabat balik ke belakang, secara gencar iapun balas menyerang ke pada Situa Pelita.

Dasar cerdik dan cukup cekatan Hun Thian-hi tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini sekonyong-konyong serulingnya menyelonong miring ke depan menutuk jalan darah mematikan di depan dada Ang-hwat-lo-mo. Tapi bersamaan waktunya Ciang-ho-it-koay pun sedang memukulkan kedua telapak tangannya menghantam punggung Thian-hi. Begitu merasa angin keras menyerang tiba terkejut Ang-hwat-lo-mo dibuatnya, sungguh tak nyana olehnya di bawah serangan gencar para musuhnya itu Thian-hi masih sempat menyerang balik kepada dirinya pula, agaknya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri pula, mungkin sudah nekad. Namun bila lawan main nekad dan ingin gugur bersama, adalah dirinya tidak mau roboh begitu saja secara konyol, apalagi seruling Hun Thian-hi menutuk begitu telak, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk balas menyerang kepada Situa Pelita, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan diri sendiri.

Dengan sendirinya Situa Pelita juga tak mau kehilangan kesempatan untuk melukai musuh. Di bawah gencetan dari dua jurusan rangsakan dua tokoh hebat Ang-hwat-lo-mo masih berusaha berkelit tapi tak urung lengan kirinya kena tertutuk seruling Thian-hi, demikian juga pukulan keras Situa Pelita telak sekali mengenai sebelah kiri punggungnya. Kontan Ang-hwat menjerit keras, darah segera menyemprot dari mulutnya, tubuhhja pun terhujung hampir roboh.

Tujuan tutukan Hun Thian-hi akan menamatkan riwayat Ang-hwat-lo-mo, sayang rangsakan Ciang-ho-it-koay yang memukul dari belakang itu pun tak kuasa dihindari lagi, betapa hebat pukulannya, kontan iapun tersampuk sempoyongan ke samping, lengannya kanan kesakitan dan kesemutan, hampir saja ia tidak kuasa memegang serulingnya lagi.

Terdengar pula suara bentakan dan teriakan keras saling bersahutan. Sekuat tenaga Ang-hwat menghimpun tenaga dan semangatnya menggempur balik ke arah Situa Pelita, kedua belah pihak gunakan kekerasan untuk saling serang dengan seru, keadaan pertempuran semakin gegap gempita.

Meski Hun Thian-hi membekal Lwekang maha tinggi, karena lengan kanan sudah terluka tenaganya menjadi banyak berkurang, cara gerak jurus permainannya sudah tidak sehebat dan sekuat tadi.

Sementara itu Situa Pelita pun ikut terkepung di tengah keroyokan orang banyak, terdengar ia berteriak, “Kenapa kalian tidak bunuh Ang-hwat si durjana ini?”

Ciang-ho-it-koay menggeram jengeknya, “Setelah bunuh Hun Thian-hi masih belum terlambat melenyapkan Ang-hwat sekalian. Kejahatan dan ketelengasan Hun Thian-hi jauh lebih berbahaya dari Ang-hwat si iblis laknat ini.”

Hun Thian-hi menengadah bergelak panjang, serunya pada Pek Si-kiat dan Situa Pelita, “Mari kubantu kalian, membobol keluar kepungan dulu!”

“Boleh kau coba!” jengek Ce-han-it-ki seraya melintangkan pedang panjangnya untuk membendung arus rangsakan seruling Hun Thian-hi.

Badan Hun Thian-hi terbang lempang ke depan serulingnya menukik dari atas kebawah, dimana ia kerahkan tenaga dalam kembangan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek. kontan para pengepungnya seperti terdorong mundur oleh tenaga dahsyat seperti air bah yang tidak kelihatan, kepungan yang rapat saketika menjadi bobol. yang lebih hebat lagi kedua senjata ditangan Bun Cu-giok dan Ciok Yan kontan terbang lepas dari cekalannya. Bersamaan waktunya terdengar Ce-hun Totiang dan Hoan-hu Popo membentak berbareng seraya membacok dan menusuk pedang masing-masing ke arah Hun Thian-hi, mati-matian mereka bekerja keras untuk mencegat jalan lari mereka bertiga.

Tapi Hun Thian-hi sudah menyerbu membabi buta. seperti banteng ketaton, sayang lengan kanannya terluka, terpaksa ia harus mundur ditengah jalan. kepungan kembali diperketat, kedua belah pihak kembali terlibat dalam pertempuran mati-matian yang cukup seru.  Dalam sekejap lagi cuaca bakal gelap gulita meskipun mereka sudah bekerja sekuat tenaga tapi selama itu mereka tak berhasil merobohkan musuh dan tidak mungkin berhenti begitu saja ditengah jalan. dalam keadaan saling berkutat dan bisa maju dan tak mungkin mundur, pertempuran berjalan terus sama kuat, kegelapan sang malam akhirnya berganti dengan sang fajar yang telah menyingsing tiba. Jadi mereka sudah bertempur sehari semalam tanpa ada kesudahan yang menentukan.

Sebenar-benarnya Ang-hwat-lo-mo sudah tidak kuat bertahan lagi. Dia tabu bahwa luka-luka tubuhnya tidaklah ringan. tapi betapa pun ia tidak rela melepas kesempatan yang bagus ini, kalau sekarang dia melepas Hun Thian-hi pergi, mungkin kelak bakal menjadikan bibit bencana atau perintang utama bagi pergerakan cita-citanya. Apalagi Hun Thian-hi sendiri juga sudah terluka, sekejap lagi tidak akan kuat bertahan. dan akhirnya yang bakal roboh justru Hun Thian-hi sendiri.

Luka lama Hun Thian-hi belum lagi sembuh dan pulih seluruhnya, kini ia terluka pula tidak ringan, apalagi sudah bertempur sekian lama badan pun sudah lelah dan kehabisan tenaga. Nuraninya benar-benar berharap, meski pun ini hanya angan2 kosong supaya Ham Gwat bisa segera tiba menolong dirinya seperti kejadian beberapa waktu yang lalu…. Bukan saja dirinya bakal bebas dari ancaman bencana, Ang-hwat-lo-mo juga pasti dapat ditumpas.

Pertempuran terus berlangsung, masing-masing pihak terus berkutat dan tiada yang mau mengalah, segala kepandaian dan ilmu dibojong keluar demi mempertahankan hidup dan mati, tapi selama itu keadaan tetap sama kuat alias setanding.

Suatu kesempatan Hun Thian-hi mendongak melihat Angkasa, tampak rasa putua asa membayang dalam sinar matanya, bila Ham Gwat mau datang sejak tadi ia sudah hadir dalam pertempuran ini, atau mungkinkah dia punya urusan lain yang tebih penting?

Ce-han-it-ki dapat melihat perubahan air muka Hun Thian-hi segera ia memberi isyarat kedipan mata pada teman2 lainnya, serempak mereka merabu lagi dengan segala daya upaya, udara seperti menjadi bergolak dan angin badai kontan menerpa ke arah Hun Thian-hi bertiga.

Hun Thian-hi kertak gigi, baru saja ia menghimpun seluruh kekuatan untuk melawan secara kekerasan, sekonyong-konyong dari luar hutan bambu sana terdengar irama harpa yang dipetik ringan lincah. seketika perasaan Hun Thian-hi menjadi enteng dan segar kembali semangatnya. Bukankah itu irama Kekal abadi? Serta merta mulutnya mencebir dan bersuit panjang mengalun tinggi. ia empos seluruh tenaga dan kekuatannya terus diberondong keluar, Pek Si-kiat dan Situa Pelita segera juga membantu dengan setaker tenaga masing-masing, seketika mereka merasa tekanan dari luar menjadi enteng, berbareng mereka mencelat jauh dan keluar dan kepungan.

Tampak Po-ci dan Ma Gwat-sian melangkah ringan memasuki hutan bambu ini, sebelah tangan Po-ci mengemban sebuah harpa kuno biji matanya yang jeli pelan-pelan dan kalem menyapu pandang seluruh hadirin.

Tersipu-sipu Hun Thian-hi maju menjura serta sapanya, “Terimakasih akan budi pertolongan Cianpwe” — dalam berkala2 ini tarasa kepalanya menjadi pening pandangan menjadi gelap, tahu dia tadi terlalu banyak mengeluarkan tenaga sehingga kedua kakinya menjadi lamas, lekas ia mengendalikan badan berdiri tegak pula.

Lekas-lekas Ma Gwat-sian memburu maju dan memapah badan Hun Thian-hi, ujarnya dengan lemah lembut dan prihatin, “Bagaimana keadaanmu?” Melihat laku Ma Gwat-sian yang begitu wajar dan menunjukkan perhatian yang berkelebihan dihadapan umum, merah jengah selebar muka Hun Thian-hi. Cepat ia menyahut: .,Terima kasih, aku tidak apa-apa.”

Ma Gwat-sian tersenyum manis, Katanya. “Baru saja Suhu dan aku menyusul tiba. Begitu memasuki wilajah Conggoan lantas kami mendengar kabar. katanya kau meluruk ke Siau-lim-si, maka bergegas kami menyusul kau kemari!”

Hun Thian-hi rada kikuk. sesaat ia bungkam tertawa. “Kalau begitu aku harus lebih berterima kasih

akan kebaikan kalian!” demikian kata Thian-hi sesaat kemudian.

Ma Gwat-sian pandang wajah Thian-hi lekat-lekat. sesaat baru ia bersuara pula dengan suara lirih, “Kau…. diantara kau dan aku kenapa harus berlaku begitu sungkan. kenapa kau harus berterima kasih pula padaku?”

Tergetar jantung Thian-hi, tak tertahan ia tunduk diam. Ucapan Ma Gwat-sian sudah sangat jelas kemana juntrungannya, bagaimana aku harus bersikap terhadapnya? Demikian ia bertanya terhadap dirinya sendiri. Sulit ia mengambil ketetapan.

Melihat hubungan mereka yang kelihatan begitu intim Pek Si-kiat menjadi maklum. gadis remaja dihadapannya ini pasti bukan perempuan yang bernama Ham Gwat itu, kalau begitu….ai…. asmara…. tak berani ia memikirkan lebih lanjut.

Tanpa bersuara dengan tenang Po-ci awasi mereka berdua dengan muka berseri, disangkanya bahwa Hun Thian-hi memang ada ketarik terhadap Ma Gwat-sian, kalau tidak masa sikapnya kelihatan begitu mesra. Mana dia tahu bahwa sebenar-benarnyalah dalam benak Hun Thian-hi sudah terkait oleh Ham Gwat, batinnya tengah bergejolak, entah cara bagaimana ia harus menempatkan dirinya.

Sambil menenteng pedangnya panjang Ce-hun Totiang maju menghampiri Po-ci, serunya, “Siapa kau? Kau ingin membantu Hun Thian-hi dan mencari permusuhan dengan seluruh kaum persilatan?”