Badik Buntung Bab 21

 
Bab 21

Hun Thian-hi terlongong heran, tanyanya, “Siapakah Kim-ji itu?”

“Kim-ji adalah seekor burung rajawali yang besar. Pemberian dari seorang kakek tua ubanan kepada siocia!”

Baru sekarang Thian-hi menjadi sadar, mungkin Ham Gwat memperoleh suatu pengalaman aneh di tempat ini bersua dengan seorang tokoh kosen aneh, entah siapakah beliau?

“Keadaanmu sungguh sangat berbahaya, banyak orang ingin membekuk kau, sedang kau berkeras kepala ingin ke Siau-Iim-si, aku menjadi kuatir dan takut bagi keselamatanmu!” “Kenapa kau kuatir dan takut bagi diriku?”

Siau Hong mengejapkan matanya, sahutnya tertawa jenaka, “Kenapa tidak? Bukankah kau seorang baik! Sayang nasibmu terlalu jelek, jikalau aku punya kepandaian silat yang tinggi tentu aku bantu kau!”

“Aduh sungguh bahagia dan terima kasih pada kau!”

“Kau harus terima kasih kepada siocia baru betul!” demikian goda Siau Hong sembari tertawa penuh arti.

“Sudah tentu, bukankah kali ini dia yang menolong jiwaku.”

“Bukan itu yang kumaksudkan. sungguh bodoh kau, aku tak mau bicara lagi padamu.” — Lalu ia berlari keluar dan menghilang.

Thian-hi tercengang, ia menjadi bingung, tak tahu dia kemana juntrungan maksud kata-kata Siau Hong, pikir puhja pikir ia menjadi keletihan, akhirnya ia himpun semangat dan mengatur napas mulai samadi.

Kecuali luka dipundaknya kiri masih terasa sakit. mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah sehingga kepalanya terasa pusing dan mata berkunang-kunang. Serta merta terpikir dan terbayang lagi wajah Ham Gwat, entah kemana dia selama ini?

Sedang ia termangu, derap langkah lirih mendatangi pelan-pelan, yang muncul memang Ham Gwat adanya. Setelah tiba disamping Thian-hi, Ham Gwat berkata, “Bagaimana kau ini. dari keadaanmu ini jelas bahwa tadi kau tidak istirahat secara baik-baik!”

Thian-hi tertawa kikuk, sahutnya, “Banyak urusan yang tidak bisa tidak harus kupikirkan.” — Tak tertahan ia tertawa geli.

“Kau punya janggalan hati, tiada halangannya turun berjalan-jalan. cuma badanmu rada lemah karena terlalu banyak keluar darah, jalan-jalan melemaskan otot dan melapangkan pikiran juga ada faedahnya bukan!”

Thian-hi termangu tak bicara.

“Aku masih ada urusan,” demikian ujar Ham Gwat. “Kau jalan-jalan sendiri atau nanti aku panggil Siau Hong untuk temani kau?”

Pelan-pelan Thian-hi merangkak bangun, katanya tertawa dibuat-buat, “Tak usahlah! Aku jalan- jalan sendiri saja.”

Ham Gwat termenung sebentar, mulutnya terbuka namun urung bicara, setelah Thian-hi berdiri ia berkata, “Kalau begitu aku pergi dulu!” — Ia tinggal pergi.

Hun Thian-hi menjadi merasa hambar melihat sikap Ham Gwat yang tidak menentu itu, kadang- kadang hangat simpatik, dilain saat dingin, wajahnya tak pernah mengulum senyum manis, akhirnya Thian-hi tertawa geli sendiri. Batinnya, “Bagaimana aku ini, seorang laki-laki sejati kenapa tak punya pendirian tetap, seumpama aku punya rasa cinta terhadap Ham Gwat, tak seharusnya aku berpikiran tidak genah, apalagi aku belum begitu mengenal pribadi dan keadaannya, mana bisa bicara soal cinta terhadap dia!” Pelan-pelan ia menggeremet maju dan keluar dari kamar. Begitu berada diluar didapatinya dirinya berada di dalam sebuah hutan bambu, hawa disini rada sejuk dingin, sebuah jalan berliku memanjang tepat di depan pintu. Pelan-pelan Thian-hi menyelusuri jalan kecil ini keluar dari hutan bambu. Tanah luas dan subur terbentang dihadapannya, kembang liar tumbuh dimana-mana. Pikiran Hun Thian-hi lantas melayang, sekarang sudah musim semi, selama kelana setahun ini bukan saja tidak membawa hasil yang diharapkan malah dirinya memikul dosa berlimpah dan berkepanjangan tiada penyelesaian, sehingga gurunya sendiri berpendapat bahwa aku sudah tersesat semakin dalam dan mengusir dari perguruan. Ia menghela napas dengan murung, kepalanya mendongak celingukan kesekelilingnya.

Terpikir oleh Thian-hi bahwa segala sesuatu dalam lingkungan yang melibatkan dirinya adalah begitu aneh begitu misterius. Sekarang ini betul-betul ia belum mengetahui keadaan sekeliling Ham Gwat, sebetulnya siapakah yang telah ditemui oleh Ham Gwat? Ibu Ham Gwat Ong Ging-sia sangat terkenang dan ingin jumpa dengannya. entah apakah dia tahu bahwa ibu kandungnya masih hidup dan sehat walafiat di dunia ini, haruskah aku memberitahu hal ini padanya?

Thian-hi sendiri tak kuasa memberi jawaban. Kini pikiranmja melayang pada persoalan dirinya sendiri, Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna. Bu-bing Loni begitu lihay pula, bila tidak ditolong oleh Haim Gwat, mungkin dirinya sudah ajal ditangannya. Begitulah duduk di atas tanah berumput ia menengadah mengawasi mega yang mengembang dilangit, terpikir olehnya apa yang harus kulakukan selanjutnya?

Tengah pikirannya melayang mendadak terasa olehnya dibelakangnya ada seseorang, gesit sekali tiba-tiba ia membalikkan tubuh, pendatang ini kiranya adalah Ham Gwat, ia menghela napas lega, ujarnya, “Kiranya kau!”

Sorot mata Ham Gwat memancarkan senyum manis, tiba-tiba ia menunduk malu-malu, katanya, “Tak tahu aku apa yang sedang kau lakukan disini, aku datang menengok kau!”

“Wah banyak terima kasih akan perhatianmu!”

“Tadi kau termangu dan asjik berpikir, kedatanganku malah mengejutkan kau, maaf ya!” “Aii, berkelebihan ucapanmu. Kau harus salahkan aku berlaku kurang waspada!”

“Tentu kau merasa sangat heran terhadapku bukan?” tiba-tiba tanya Ham Gwat.

“Tidak! Aku hanya merasa kau rada misterius sepak terjangmu Sulit diraba, aku merasa ada sesuatu yang kurang kupahami atas dirjmu!”

“Kelak pasti kau akan paham!” desis Ham Gwat lirih.

Sampai disini mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Thian-hi merasa kehabisan kata-kata, setiap kali berhadapan ia menjadi mati kutu dan tak kuasa membuka isi hatinya.

“Mengandal ketekunan dan keyakinanmu pasti kelak kau berhasil. Wi-thian-cit-ciat-sek sudah berhasil kau pelajari kelak tentu kau akan menjagoi dan memimpin rimba persilatan. Sayang kau sekarang belum dapal menyelami intisarinya, perlahan-lahan aku yakin akan dapat membantu kesukaranmu ini.”

Thian-hi lantas bangkit, katanya, “Kalau begitu kuharap nona sudi memberi petunjuk!” “Bukan diriku yang kumaksud. Aku kenal seorang kosen yang aneh, tentu beliau dapat bantu

kau, bila Kau sudi, aku dapat membawamu kepada beliau.” “Apakah beliau sudi menerima aku?”

“Mungkin, tapi coba kutanyakan dulu, kau tunggu sebentar disini!” lalu ia membalik tubuh dan menghilang di rumpun bambu.

Setelah Ham Gwat tidak kelihatan, Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, entah siapakah tokoh kosen yang dimaksudkan? Tengah pikirannya bekerja, sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, sekilas pandang saja ia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian orang itu, keruan terkejut hatinya.

Memang luncuran tubuh orang itu juga mendadak berhenti, agaknya iapun sudah melihat kehadiran Thian-hi di tempat itu, kiranya itulah seorang nenek tua renta yang ubanan.

Dengan cermat Thian-hi awasi nenek tua ini tanpa bicara, hatinya kejut dan heran, ilmu silat nenek tua ini begitu lihay, sekarang berhenti dan mengawasi dirinya, kelihatannya sudah kenal pada dirinya.

Nenek tua itu menyeringai iblis, katanya, “Kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau, kau adalah Hun Thian-hi, ya bukan?”

“Siapa kau?” tanya Thian-hi melongo.

“Tiada halangannya kuberitahu pada kau, aku bernama Kiu-yu-mo-lo, kukira kau sudah kenal nama besarku itu bukan?”

Thian-hi benar-benar terperanjat, batinnya, “Kiu-yu-mo-lo sudah muncul kembali, dia memperoleh Hian-thian-mo-kip, kepandaian silatnya sekarang tentu sudah teramat lihay, entah apa tujuannya dengan menampakkan dirinya ini?”

Kiu-yu-mo-lo menyeringai tawa dua kali, ujarnya, “Kiranya kau tidak mampus, dimana Tok-sim- sin-mo? Aku ingin mencarinya untuk membuat perhitungan padanya!” — sebelum Thian-hi sempat menjawab, mendadak Kiu-yu-mo-lo menubruk maju serta berkata, “Mari kau ikut aku saja!”

Hun Thian-hi menjejakkan kakinya mundur dengan cepat, namun kedua telapak tangan Kiu-yo- mo-lo bergerak mencomot dan meraih dari kanan kiri, dua gelombang tenaga lunak menerpa keluar dari telapak tangannya mencengkeram ke arah Hun Thian-hi.

Thian-hi mengeluh dalam hati, sungguh celaka pengalamannya hari ini, baru saja dirinya keluar jalan-jalan menyegarkan badan tak nyana kepergok oleh Kiu-yu-mo-lo yang kebetulan lewat, dia punya pertikaian dengan Sutouw Ci-ko yang belum terselesaikan, tentu diapun tak mau melepaskan dirinya.

Thian-hi berdaya berkelit sekuat tenaganya, sayang darahnya keluar terlalu banyak sehingga kelincahan gerak-gerik tubuhnya banyak berkurang, namun Lwekangnya memang jauh lebih hebat dibanding dulu, meski gerak-geriknya rada lamban, sekuatnya ia masih berhasil lolos dari sergapan Kiu-yu-mo-lo yang pertama. Keruan Kiu-yu-mo-lo sendiripun bukan kepalang kejutnya, jikalau hari ini ia tidak berhasil membekuk Hun Thian-hi, cara bagaimana ia harus mencari Pek-kut-sin-mo dan Tok-sim-sin-mo kelak?

Terdengar ia menggeram murka, tubuhnya bergerak begitu lincah dan sebat sekali, sekali berkelebat, kelima jarinya secepat kilat mencengkeram kejalan darah di pundak Thian-hi. Insaf bahwa dirinya tidak akan mampu membebaskan diri lagi, saking gugup Thian-hi berteriak, “Tahan!”

Tapi serangan Kiu-yu-mo-lo tidak berhenti karena bentakannya ini, tahu-tahu Thian-hi rasakan kepalanya berat, mata berkunang-kunang, pundak kirinya sudah dicengkeram keras oleh jari-jari Kiu-yu-mo-lo yang kurus dan berkuku runcing itu, jengeknya, “Apa yang hendak kau katakan?”

Memandang muka orang Hun Thian-hi menjadi kecewa dan putus asa, Kiu-yu-mo-lo bicara setelah berhasil meringkus dirinya, untuk mengulur waktu sudah tak mungkin lagi, tawar2 saja ia menyahut, “Sekarang tak ada apa-apa lagi!”

“Kau kira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan?” jengek Kiu-yu-mo-lo, “Sangkamu aku hanya ingin tahu jejak Tok-sim-sin-mo belaka? Apa yang ingin kudapat belum tentu bisa kuperoleh dari atas tubuhmu!”

Mendengar nada perkataan orang, tahu Thian-hi bahwa Kiu-yu-mo-lo ini tentu sangat congkak dan takabur akan kepandaian dan kemampuannya sendiri, maka ia bersuara, “Tidak!”

“Kau masih punya teman bukan?” Kiu-yu-mo-lo menyeringai sadis, “Kau main ulur waktu supaya kawanmu menolong kau bukan?”

“Pikiranmu ini sungguh sangat menggelikan.”

Terpancang hawa membunuh dalam sorot mata Kiu-yu-mo-lo, namun sekilas lantas lenyap. Ejeknya, “Lalu kau tadi menyuruh aku ‘tahan’ apa maksudmu? Berani kau mentertawakan aku?”

Thian-hi mandah tersenyum ewa, batinnya, “Kiu-yu-mo-lo tentu sudah sekian lama mengasingkan diri, sembari mengobati luka-lukanya sembari mempelajari ilmu yang diperolehnya dari Hiari-thian-mo-kip itu. Sekarang sudah berhasil jadi ia berani muncul di Bu-lim untuk mencari perhitungan sama Tok-sim-sia-mo dan Pek-kut-sin-mo, secara kebetulan di tempat ini melihat diriku, tahulah dia bahwa Tok-sim-sin-mo tentu juga sudah lolos, dia menyangka bahwa aku tentu dapat mengetahui dimana jejak Tok-sim-sin-mo, tentu dia minta aku membawanya mencari musuh besarnya itu….”

Karena rekaannya ini segera ia buka bicara, “Tok-sim-sin-mo sekarang menjadi Pangcu Hek- liong-pang, kekuatannya sudah menjangkau selatan dan utara sungai besar, dia punya persenjataan Pek-tok-hek-liong-ting yang amat ampuh lagi, kau berani mencari dia, bakal konyol belaka.”

Kiu-yu-mo-lo menjengek mulut, matanya bersinar beringas, mulutnya terbungkam.

Melihat sikap orang senang hati Thian-hi, ujarnya, “Banyak kejadian di Kangouw belakangan ini yang tidak kau ketahui. Semua kejadian itu banyak yang punya sangkut paut terhadap dirimu!”

Kiu-yu-mo-lo termangu, entah, apa yang sedang dipikir, sesaat kemudian ia bersuara, “Kau sudah angkat Tok-sim sebagai gurumu bukan?”

$

“Kau kira aku sudi?” jawab Thian-hi tawar. “Meski ilmu silatku tidak becus masa aku sudi angkat guru padanya? Ketahuilah dia sedang menarik Pek-cianpwe yaitu saudara kecilmu yang ketiga untuk membantu pergerakkannya, tapi beliau pun tidak sudi!” Melihat orang tidak mengunjukan reaksi apa-apa, Thian-hi lantas meneruskan, “Belum lama aku berpisah dengan beliau, sekarang dia bersama Sutouw Ci-ko!”

“Sangkamu aku mencari kau karena segala urusan tetek bengek itu?” demikian tukas Kiu-yu- mo-lo dengan keras, “Ketahuilah aku masih punya urusan lain yang lebih penting.”

“Hwe-tok-kun sekarang bersama Ang-hwat-lo-mo, mereka sama mendirikan sebuah partai lain sebagai tandingan yang kuat dari Hek-liong-pang pimpinan Tok-sim-sin-mo!”

“Aku tidak peduli segala peristiwa itu, bukan itu tujuanku ….” — tiba-tiba tangannya mencengkeram lebih keras serta membalik tubuh secara mendadak, sehingga mereka sama berputar.

Ham Gwat berdiri tegak tiga tombak di belakang sana. Biji matanya memancarkan sorot aneh mengawasi Kiu-yu-mo-lo.

“Siapa kau?” tanya Kiu-yu-mo-lo.

Ham Gwat berdiri tegap tak bersuara, lambat laun sinar matanya tenang kembali, seakan-akan selamanya perasaannya begitu tenang tapi dingin dan kaku.

Secara langsung terasa oleh Kiu-yu-mo-lo bahwa Ham Gwat bukanlah orang yang gampang dapat digertak dan gebah pergi begitu saja, sebelah tangannya membalik beruntun ia menutuk beberapa jalan darah ditubuh Hun Thian-hi, lalu dengan waspada ia awasi Ham Gwat.

“Kenapa kau harus menutuk jalan darahnya?” tanya Ham Gwat pelan-pelan. “Persetan dengan kau? Siapa kau?” teriak Kiu-yu-mo-lo, suaranya melengking tinggi.

Kelihatannya Ham Gwat memeras otak, entah apa yang sedang dipikirkan, sekian lama ia berdiam diri. Kiu-yu-mo-lo sendiri menjadi risi dan bingung, serunya geram, “Kutanya kau apakah kau tidak dengar?”

Tawar2 saja Ham Gwat pandang orang, ia sedang menggunakan kecerdikan otaknya mencari akal cara untuk menolong Thian-hi. Tanpa bicara tiba-tiba ia membalik tubuh terus jalan kembali dari arah datangnya semula.

Dada Kiu-yu-mo-lo menjadi terbakar, dengan wataknya yang begitu berangasan dan congkak itu, masa dia terima dipandang hina dan tidak direwes oleh Ham Gwat, dengan murka ia menghardik, “Berhenti!”

Seperti tidak mendengar Ham Gwat terus berjalan ke depan pelan-pelan. sedikitpun ia tidak peduli apakah orang akan marah atau mencak-mencak. yang terang ia kerahkan Lwekang tingkat tinggi mengembangkan Ginkang Ling-khong-pou-si, tubuhnya bergerak laksana awan mengembang dan air mengalir melesat terbang cepat sekali.

Karuan Kiu-yu-mo-lo semakin murka. sambil mengempit Thian-hi segera ia kembangkan ilmu ringan tubuhnya mengejar ke arah Ham Gwat. Ham Gwat berjalan beberapa langkah lebih dulu, Kiu-yu-mo-lo sendiri juga mengempit Hun Thian-hi, sudah tentu kecepatan gerak tubuhnya tidak dapat mengungguli Ham Gwat.

Sementara itu Ham Gwat sudah berkelebat memasuki hutan bambu, semakin murka Kiu-yu-mo- lo dibuatnya, diam-diam iapun merasa kejut akan Lwekang Ham Gwat yang tinggi dan Gingkangnya yang lihay, masa gadis kecil yang masih remaja tidak kuasa dikejar olehnya, apa pula yang telah berhasil dilatih selama beberapa bulan mengasingkan diri belakangan ini. Tok-sim-sin- mo sudah lolos dari belenggu kurungan, dilihat keadaan sekarang, apakah dirinya dapat menghadapi Tok-sim-sin-mo kelak menjadi suatu pertanyaan besar, tengah pikirannya melayang, dilihatnya Ham Gwat sudah tiba di belakang sebuah gunung dan membelok kesana terus memasuki hutan pohon jati dan menghilang.

Kiu-yu-mo-lo menjerit enteng, cepat ia menyedot napas tubuhnya lantas menerjang ke depan laksana anak panah. Tanpa sangsi dan banyak pikir ia terus menerobos masuk ke dalam hutan jati itu, namun jejak Ham Gwat sudah menghilang, sambil mengempit Hun Thian-hi ia melangkah terus ke depan, pikirnya, setelah menembus hutan pohon jati ini hendak kulihat kemana pula kau lari.

Begitulah Kiu-yu-mo-lo berlari-lari kencang mengejar terus ke depan, kira-kira setengah jam sudah berlangsung pengejaran itu, selama itu tidak kelihatan bayangan Ham Gwat tapi hutan jati ini tidak kunjung habis dari kaget lambat laun hati Kiu-yu-mo-lo menjadi ciut dan takut, waktu ia angkat kepala, pohon nan subur itu sedang berkembang mengluarkan baunya yang wangi, waktu ia celingukan kian kemari jalan menjadi buntu, sekelilingnya dilingkungi oleh pohon-pohon besar kecil yang tumbuh subur.

Sekian lama ia berdiri terlongong, semakin pikir hatinya semakin ciut dan kejut, tak tahu dia cara bagaimana dirinya nanti keluar dari hutan jati yang lebat dan membingungkan ini. Pikir punya pikir Kiu-yu-mo-lo menggeram dengan aseran, tiba-tiba ia berlari lagi menerobos hutan, tapi loncatan tubuhnya hanya tiga empat kaki tingginya, seolah-olah daun-daun pohon di atas kepalanya tak mampu dicapainya.

Bukan kepalang kejut hatinya, seketika ia menjadi sadar dan terpikir olehnya suatu kabar berita yang pernah didengarnya dulu, seketika mukanya berubah pucat, tangannya menjadi lemas, Hun Thian-hi yang dikempit di bawah ketiaknya melorot jatuh di tanah. Ia berdiri terlongong dengan putus asa.

Menurut kedaan yang dihadapinya sekarang, apakah dirinya sudah masuk ke dalam barisan Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin? Sejak dulu pernah kudengar nama barisan yang hebat itu, apakah hari ini aku mengalami sendiri jatuh ke dalam barisan penggugah iblis itu? 

Karena dipengaruhi oleh pikirannya ia berdiri tegak terkesima dengan muka pucat, bila sudah terjebak masuk ke dalam barisan menggugah iblis itu seumpama kepandaian maha lihay setinggi langi tpun jangan harap dapat keluar dari kurungan, demikianlah keadaan dirinya sekarang harus pasrah nasib jiwa sendiri tergenggaan ditangan orang.

Waktu ia angkat kepala celingukan sekelilingnya hening lelap. Mendadak teringat olehnya akan Hun Thian-hi segera ia menyeringai dingin, teriaknya, “Apakah jiwa Hun Thian-hi tidak kalian hiraukan lagi? Awas kubunuh dia!” sembari mengancam ia angkat tangannya mengincar batok kepala Hun Thian-hi, sedang kuping dipasang serta mata memeriksa keadaan sekelilingnya.

Sekonyong-konyong sebuah suara yang lirih seperti bunyi nyamuk terkiang dipinggir kupingnya, “Setelah masuk ke dalam Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin masih berani timbul angan2 jahatmu?”

Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kiranya benar-benar dirinya sudah terjebak ke dalam Thay-si- ciang-soat-lian-mo-tin konon kabarnya barisan ini setiap seabad muncul sekali di Kangouw, tujuannya adalah menggugah kesadaran jiwa setiap gembong iblis yang sudah terlalu banyak membuat kejahatan, tapi selama itu tiada seorangpun yang tahu alamat dan keadaan sebenar- benarnya dari barisan yang lihay itu. tapi itu kenyataan bukan khayal belaka, dan buktinya sekarang dirnya telah berada di dalam barisan yang sangat ditakuti oleh kaum sesat itu. Ilmu silat yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip belum lagi mendapat hasil yang memuaskan, sungguh penasaran kalau dirinya harus berkorban secara konyol disini. setelah terlongong, akhirnya ia berseru, “Hun Thian-hi berada ditanganku, dia menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, dengan segala rahasia yang berharga itu untuk menebus jiwaku, apakah belum setimpal?

Ingatanku sekarang masih segar bugar, bila kudapati rahasia Ni-hay-ki-tin itu pasti akan kuhancurkan lebih dulu, kuharap kau tidak menyesal setelah terlambat!”

Sesaat kemudian suara lirih seperti nyamuk itu berkata lagi, “Kejahatan yang kau pernah lakukan terlalu banyak. dosamu tak berampun, masih kan berani menggunakan Hun Thian-hi untuk mengancam padaku. dosamu lebih tak bisa diampuni lagi. kau kira kau masih segar dan belum hilang ingatan? Bila ingatanmu masih segar, sejak tadi kau sudah keluar dari barisan itu!”

— Lenyap suaranya suasana sekelilingnya kembali menjadi lelap.

Dengan rasa kebencian yang berlimpah Kiu-yu-mo-lo mengumpat caci. pelan-pelan tangan yang terangkat tinggi diturunkan, rasanya kurang tepat bila membunuh Hun Thian-hi sekarang. pikirnya bila Hun Thian-hi berada ditanganku. dengan adanya sandera yang kuat ini akan kulihat sampai kapan kau kuat bertahan mengurung aku.

Begitulah ia lantas duduk bersimpuh, tangan kanannya masih mencengkeram pergelangan tangan Hun Thian-hi, ia pejamkan mata dan pelan-pelan mulai melatih ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-pit-kip.

Angin menghembus sepoi-sepoi, dedaunan pohon disekitarnya terdengar berkeresekan seperti bergerak. Kiu-yu-mo-lo duduk tenang tanpa bergerak. tahu dia bahwa Thay-si-ciang-soat-lian-mo- tin sudah mulai bergerak. tapi terpikir olehnya bahwa semua itu tak lebih sebagai pandangan khayal yang mengaburkan ingatan manusia belaka, asal aku kuat mengendalikan hati dan pikiran, apa yang harus kutakuti!

Hawa nan sejuk di dalam hutan semakin terasa panas, pohon-pohon disekelilingnya kelihatannya berubah menjadi serba merah, seluruh hutan jati ini seperti terbakar jago merah yang membara lambat laun kobaran api semakin besar, seluruh hutan jati ini menjadi lautan api. Kian lama Kiu-yu-mo-lo merasa seluruh badan makin panas seperti dipanggang, sungguh tidak tartahan lagi suhu panasnya.

Ia menengadah celingukan ke arah sekitarnya, tampak dimana-mana api sudah menjilat semakin besar, berulangkali ia ingin bangkit dan lari keluar dari lingkungan kobaran api ini, tapi selalu gagal dan urung, akhirnya ia duduk bersimpuh kembali.

Akhirnya Kiu-yu-mo-lo berpikir; bila aku benar-benar ingin lari juga tidak mungkin lolos dari Kepungan kobaran api yang begini besar. Seumpama mati juga ikhlas karena Hun Thian-hi akan menyertainya ke jalan alam baka, bila kalian memang tidak ingin menyelamatkan jiwa Hun Thian- hi, apa boleh buat, biar aku gugur bersama dia.

Demikian ia berpikiran secara nekat Karena tujuan orang mengurung dirinya di dalam barisan ini terang bertujuan untuk menolong Hun Thian-hi. Dengan adanya Hun Thian-hi sebagai sandera apa lagi yang perlu dilakuti.

Sementara itu bara api disekitarnya lambat laun mulai mengecil dan akhirnya padam. Empat penjuru menjadi gelap gulita, pulih seperti sediakala. hutan jati yang lebat dan sejuk, sunyi dan lelap.

Kiu-yu-mo-lo menjadi terlongong, baru sekarang ia sadar, kiranya tadi matahari sedang terbenam, sebaliknya dirinya mengira dirinya terkurung di dalam lautan api. Begitulah ia termangu-mangu, tiba-tiba terasa hawa mulai dingin dan angin menghembus keras. Kiu-yu-mo-lo mandah mendengus hidung, waktu ia melirik ke arah Hun Thian-hi yang rebah disampingnya. tampak orang seperti tertidur pulas tak kurang suatu apa, ia kertak gigi pikirnya pasti aku terombang-ambing di dunia khayalan belaka, kenapa aku urus segala gejala yang menyesatkan ini?

Batinnya memang merasa akan gejala yang tidak wajar itu dan tak mau peduli lagi, tapi hembusan angin kenyataan semakin dingin seperti hampir membekukan seluruh sendi tulangnya. Ia kertak gigi dan berpikir, “Hembusan angin dingin betapapun tidak akan mempersukar dan meruntuhkan kekuatan batinku!” — begitulah ia duduk tenang tanpa bergeming.

Berselang tak berapa lama, hawa semakin dingin tiba-tiba ia membuka mata mengawasi Hun Thian-hi, tiba-tiba timbul pikirannya, “Bila dia siuman bagaimana perasaannya?” — Segera ia kebutkan lengan, bajunya membebaskan seluruh jalan darah Thian-hi yang tertutuk.

Pelan-pelan Hun Thian-hi siuman dan membuka mata, kuatir orang melarikan diri cepat-cepat Kiu-yu-mo-lo menggencet urat nadi pergelangannya. Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun duduk bersila, sekilas ia pandang Kiu-yu-mo-lo tanpa bersuara, ia tidak tahu cara bagaimana dirinya bisa sampai di tempat itu, yang terang dirinya masih tertawan oleh Kiu-yu-mo-lo jadi Ham Gwat tak berhasil menolong dirinya.

Sikap Hun Thian-hi tenang dan acuh tak acuh akan keadaan sekelilingnya, Kiu-yu-mo-lo jadi heran. tanyanya, “Tahukah kau dimana sekarang kita berada?”

Thian-hi memandangnya tawar, ia rada curiga akan sikap pertanyaan Kiu-yu-mo-lo ini, mimpipun ia tidak mengira bahwa dirinya ternyata ikut terjeblos di dalam barisan menggugah iblis yang lihay itu. Tanpa bersuara ia menundukkan kepala.

Kata Kiu-yu-mo-lo menjelaskan, “Ketahuilah kita berdua sudah terperangkap ke dalam Thay–si- ciang-soat-lian-mo-tin oleh kawan baikmu itu!”

Thian-hi tersentak kaget sambil menengadah mengawasi Kiu-yu-mo-lo, sungguh kejut dan girang pula hatinya, sungguh tidak nyana bahwa dirinya sekarang berada di dalam Thay-si-ciang- soat-lian-mo-tin. Entah dengan cara apa Ham Gwat bisa berhasil mengurung Kiu-yu-mo-lo ke dalam barisan ini.

“Kelihatannya kau sangat girang ya?”

Thian-hi tertunduk diam. Kiu-yu-mo-lo menjadi berang, jengeknya, “Jangan kau merasa senang lebih dulu. Ketahuilah bila, aku tidak bisa keluar kau pun takkan bisa hidup. Dengan ada kau disini, betapa pun mereka takkan berani berbuat apa-apa terhadap diriku.”

Thian-hi manggut-manggut, ujarnya, “Benar-benar, aku sendiri menjadi tidak tega bila kau terkurung sendirian disini, Apalagi bila kau dapat keluar paling tidak dapat memberi tekanan berat terhadap Tok-sim-sin-mo!”

Mendengar nada perkataan Hun Thian-hi berubah cegitu cepat, sesaat Kiu-yu-mo-lo menjadi melongo dibuatnya. Tanpa hiraukan Kiu-yu-mo-lo. Thian-hi bersimpuh dan mejamkan mata, pelan- pelan ia kerahkan Pan-yok-hian-kang untuk memulihkan kesegaian badannya.

Sementara itu Kiu-yu-mo-lo sudah merasa hawa semakin dingin sehingga badannya yang tua renta itu gemetar. Dilihatnya Thian-hi duduk tenang-tenang seperti tidak kurang suatu apa, hatinya merasa aneh tak habis herannya, akhirnya iapun menghimpun semangat dan memusatkan pikiran mulai samadi. Hari kedua, waktu terang tanah badan Hun Thian-hi sudah pulih kesegarannya, sebaliknya keadaan Kiu-yu-mo-lo semakin lesu dan jompo. Hun Thian-hi menjadi heran dan bertanya-tanya. Tapi terpikir olehnya mungkin Kiu-yu-mo-lo sudah terseret ke dalam alam khayal yang mulai menyedot sukmanya yang sesat kalau keadaah begitu terus berlarut dalam jangka dua hari lagi mungkin dia sendiri takkan kuasa mengendalikan dirinya lagi.

Sebetulnya Kiu-yu-mo-lo juga menyadari akan hal ini. Waktu ia melihat cara latihan Thian-hi yang begitu wajar dan tenang, Lwekangnya yang tinggi dan ampuh itu sebetulnyalah bahwa dirinya takkan mampu lagi mengendalikannya, diam-diam terpikir cara lain untuk mengatasinya.

Hun Thian-hi menyedot hawa segar, Kiu-yu-mo-lo segera melepaskan cengkeraman tangannya katanya, “Jangan mimpi kau dapat lari dari hadapanku!”

Hun Thian-hi mandah tertawa ewa, jalan darah pergelangannya dicengkeram musuh sehingga ia tak kuasa menyempurnakan latihannya menurut kesukaan hatinya, tapi dari persentukan tangan ini diam-diam ia dapat mengukur sampai dimana sebenar-benarnya kepandaian sejati Kiu-yu-mo- lo. sebenar-benarnyalah bahwa Lwekang Kiu-yu-mo-lo jauh di bawah perkiraannya semula, juga terlalu jauh dibanding dengan Tok-sim-sin-mo. Tak tahu kenapa ia harus kelana pula di Kangouw sebelum ilmu yang dipelajari dari Hian-thian-mo-kip sempurna, malah katanya hendak membuat perhitungan dengan Tok-sim-sin-mo apa segala. Atau mungkim dia punya tujuan lain, justru yang ketemu adalah dirinya.

“Lekas kau suruh perempuan baju hitam itu melepas kita keluar!” demikian desak Kiu-yu-mo-lo dengan aseran.

Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Aku sendiri pun ingin keluar, tapi bila kau ikut keluar pasti dia tidak akan melepaskan kau. Ka-yap Cuncia sudah membelenggu kau selama lima puluh tahun, hukuman selama itu masih belum bisa membuat kau bertobat dan mencuci hati membina diri, kembali menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, sebaliknya kau berbuat kejahatan pula di Bulim, aku sebagai manusia biasa tak kukenal parbedaan antara berat dan ringan. Coba bila kau sendiri yang menjadi dia, bagaimana sikap dan apa yang akan kau lakukan?”

Kiu-yu-mo-lo menyeringai sinis. katanya, “Kau menggembol rahasia Ni-hay-ki-tin, bekal yang kau bawa itu jauh cukup dapat menjadikan kau bersimaharaja di Bulim, masa kau sendiri tidak tahu atau pura-pura tidak tahu!”

Hun Thian-hi tartawa tawar, ujarnya, “Maksudmu Badik buntung itu bukan? Ketahuilah bahwa Badik buntung sudah terjatuh ketangan Bu-bing Loni, kau belum tahu.”

Kiu-yu-mo-lo rada tercengang, tanyanya, “Serangkanya juga maksudmu?”

Melonjak keras jantung Hun Thian-hi, pikirnya, “Apakah rahasia Ni-hay-ki-tin itu berada di atas serangka Badik buntung itu?” — ia manggut-manggut membenar-benarkan.

Kiu-yu-mo,lo menghela napas lesu, dengan putus asa ia menunduk, katanya sesaat kemudian, “Kalau begitu, tiada halangannya kuberitahu soal ini kepada kau. Ketahuilah rahasia Ni-hay-ki-tin di seluruh kolong langit ini hanya aku dan Tok-sim-sin-mo serta I-lwe-tok-kun bertiga yang tahu, Samte atau Pek Si-kiat kita kelabui, sengaja kami tidak mau memberitahu padanya.”

Bercekat hati Hun Thian-hi, kiranya mereka bertiga sama dalam satu gerombolan.

“Bicara terus terang, yang benar-benar tahu jelas segala rahasia ini bukan melulu kami bertiga saja.” demikian sambung Kiu-yu-mo-lo. “Itulah Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo, dia paling tahu dan jelas sekali mengenai rahasia ini, ketahuilah bahwa Ni-hay-ki-tin adalah warisan dari leluhurnya. turun temurun sampai jaman ini, tapi Badik buntung selalu berpindah tangan. Kami bertiga pun tiada yang mau mengalah satu sama lain, kami masing-masing insyaf diri sendiri tidak akan kuat menghadapi dua orang yang lain maka tiada berani sembarangan turun tangan merebut Badik buntung itu.”

Sampai disini ia menepekur sekian saat baru melanjutkan, “Coh Jian-jo pernah tertawan oleh kami bertiga, sayang ia berhasil melarikan diri. Dan tidak lama setelah kejadian itu Si-gwa-sam-mo sama dikurung oleh Ka-yap Cuncia di dalam Jian-hud-tong!”

“Jadi maksudmu rahasia Ni-hay-ki-tin itu sebetulnya berada di atas serangka Badik buntung itu?” tanya Hun Thian-hi.

Kiu-yu-mo-lo manggut-manggut, sahutnya, “Mungkin begitu. tapi kebenar-benarannya harus tanyakan langsung kepada Coh Jian-jo!”

Diam-diam Thian-hi mengutuk kejahatan Mo-bin Su-seng, meski dia sudah dibikin cacat dan dipunahkan ilmu silatnya oleh Ka-yap Cuncia, namun masih tidak mau menyerah, begitu tamak dengan segala kelicikan dan kekejamannya berusaha mendapatkan Badik buntung sehingga dunia persilatan menjadi geger dari kemelut karena perebutan Badik buntung itu, secara licik ia hendak menunggangi keuntungan dalam perebutan ini, yang diincar melulu serangkanya saja, untung dalam dua kali peristiwa perebutan itu tidak tercapai harapannya.

Teringat oleh Thian-hi akan serangka Badik buntung yang sekarang masih tersimpan di dalam kantong bajunya, ingin rasanya dikeluarkan untuk diperiksa, sebetulnya macam apakah rahasia menemukan Ni-hay-ki-tin itu, sehingga menimbulkan perebutan manusia-manusia tamak dan mengambil banyak korban.

“Mungkin kau heran, kenapa kami ingin memiliki Ni-hay-ki-tin itu bukan?” demikian tanya Kiu- yu-mo-lo, “Bahwasanya jarang kaum persilatan yang tahu, mereka menyangka disana terpendam harta benda yang tak ternilai harganya, sebetulnyalah disana tiada sepeserpun barang-barang berharga, yang ada hanyalah pelajaran ilmu silat yang maha lihay.”

“Tapi sekarang kau telambat untuk dapat memilikinya!”

“Tidak, kukira aku masih punya harapan untuk keluar, setelah keluar aku akan langsung mencari Bu-bing Loni!”

“Anggapmu Bu-bing Loni kamu keroco? Janganlah kau lupa beliau adalah keturunan dari ilmu Hui-sim-kian-hoat dari Ngo-bi-pay!”

Kiu-yu-mo-lo menjadi tertegun, katanya, “Kalau keturunan murid Ngo-bi-pay emangnya mau apa. Anggapmu aku tidak kuasa menempur dia?”

“Kukira kau bukan tandingannya, semestinya kau sendiri juga jelas akan hal ini. Tentu kau menghadapi kesukaran dalam berlatih Hian-thian-mo-kip bukan?”

Mendelik gusar biji mata Kiu-yu-mo-lo, desisnya, “Darimana kau bisa tahu? Kau ….” mendadak ia sadar mana boleh dia membocorkan rahasia ini begitu saja sehingga Hun Thian-hi ikut

mengetahui, meskipun batinnya sangat berang, tapi segera ia tutup mulutnya.

“Pelajaran Hian-thian-mo-kip tidak bakal berhasil dilatih dalam waktu singkat, jelas kau pasti menemui kesukaran, tapi sudah mendapat hasil yang lumajan, kuatir bila Tok-sim-sin-mo lolos dari belenggu dan sukar diatasi, kau ingin pula mengangkangi Ni-hay-ki-tin itu, maka terpaksa kau muncul pula di Kangouw, benar-benar tidak?”

Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, katanya, “Analisamu memang benar-benar, yang penting aku hanya ingin mencari seseorang, orang ini dapat membantu aku menyempurnakan latihan pelajaran yang termuat di dalam Hian-thian-mo-kip itu!”

Berkilat mata Hun Thian-hi, mulutnya bungkam.

Kiu-yu-mo-lo menengadah memandangi pohon-pohon jati nan jauh di depan sana, suaranya lirih, “Kau belum tahu akan kelicikan dan keganasan Tok-sim-sin-mo, dia merupakan satu pasangan dengan I-lwe-tok-kun itu, tapi daya pikirnya masih rada ketinggalan oleh kecerdikan I- lwe-tok-kun Kalau aku bisa keluar dari barisan ini tujuan yang pertama aku harus bunuh dia!”

Hun Thian-hi tersenyum geli, katanya, “Duduk saja tenang-tenang, selama hidup ini takkan ada harapan dapat keluar!”

Kiu-yu-mo-lo menghela napas rawan, ujarnya, “Kau kira Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini begitu gampang? Kecuali yang pasang perangkap sengaja melepas kita, kalau tidak selama hidup ini kau dan aku memang harus tetap disini, jangan harap bisa keluar!”

Melihat orang menghela napas Hun Thian-hi rada heran, Kiu-yu-mo-lo sudah mulai lemah, agaknya batinnya mulai sadar. Terpikir olehnya bila setiap hari berada di tempat ini apalagi pikiran dan pandangan selalu tenggelam dalam khayalan, betapapun sebagai manusia biasa kita takkan kuat bertahan, justru Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin merupakan alat penyadar dan penggugah kesesatan yang tidaklah gampang dihadapi begitu saja!

Sambil terengah-engah Kiu-yu-mo-lo bangkit sembari menyeret Hun Thian-hi, katanya, “Kau ikut aku, jangan mimpi untuk lari. jika kau lari, segera kubunuh kau!” lalu mereka beranjak ke depan, entah kemana tujuannya.

Begitulah pelan-pelan ia seret Thian-hi maju terus ke depan, entah berapa lama dan berapa jauhnya, mendadak dilihatnya di depan Sana terbentang daun-daun pohon nan subur menghijau, itulah rumpun pohon-pohon bambu yang kelihatan sangat menyolok dan menyegarkan.

Dengan kejut ia kucek2 kedua matanya, ia ragu-ragu dengan apa yang dia lihat, tapi kenyataan apa yang dia lihat ini bukan khayalan belaka, keruan bukan kepalang girang hatinya, syukurlah akhirnya toh aku bisa keluar dari kurungan pohon jati ini.

Tengah Kiu-yu-mo-lo kegirangan, mendadak terasa tangannya kesendal oleh saluran tenaga dalam yang kuat, kontan pegangan kelima jarinya terlepas, sembari menggerung gusar ia membalik tubuh, kedua telapak tangannya bersama menepuk ke arah Hun Thian-hi.

Gesit sekali Hun Thian-hi sudah menyurut mundur terus menggelinding dan menghilang di dalam rumpun daun-daun semak belukar.

Kiu-yu-mo-lo tidak berani mengejar, ia takut kehilangan kesempatan untuk keluar dari barisan, terpaksa ia mengumpat caci dan melampiaskan gusarnya dengan menghantamkan tangannya ke arah semak-semak, keadaan yang rapi dari semak pohon-pohon itu seketika menjadi porak peronda, daun berguguran.

Waktu Kiu-yu-mo-lo membalik tubuh, tampak daun-daun menghijau di depan Sana masih kelihatan, pelan-pelan ia lantas beranjak menghampiri, setelah dekat itulah serumpun hutan bambu, keluar dari hutan bambu ini dihadapannya berdiri tegak sebuah bangunan gedung berloteng, sejenak ia berdiri menjublek, pikirnya, setelah sampai disini kenapa harus takut-takut masuk kesana. Begitulah ia maju lagi setiba diambang pintu ia mendongak tempak di atas pintu bertuliskan empat huruf besar “Thay-si-yu-king” (Alam khayalan), mencelos hatinya, setitik harapan yang bersemi dalam sanubarinya tadi seketika amblas, kabut berbondong-bondong mengepul dari tanah disekitar kakinya, lambat laun dirinya seperti dibungkus oleh kabut putih yang bergulung-gulung itu, selayang pandang melulu warna putih yang tidak berujung pangkal lagi. Pikirannya Kiu-yu-mo-lo juga menjadi kosong dan seperti memutih sama sekali,

Sekian lama ia menjublek, akhirnya meloso duduk kelelahan. otaknya sudah berhenti bekerja. yang terasa bahwa sang waktu selalu berhenti di dalam kejap yang sama, dunia ini terasa sepi dan hening seolah-olah tiada kehidupan lagi dimajapada ini, hatinya semakin dikili2 seperti ingin meronta, rela sudah bila aku mati saja daripada tersiksa macam ini!

Entah berapa lama, keadaan masih seperti itu, sungguh sedih dan rawan sekali batin Kiu-yu- mo-lo, akhirnya ia berteriak-teriak seperti orang gila sesambatan, namun yang didengar hanyalah gema suaranya sendiri dari empat penjuru. Akhirnya ia berhenti berteriak. dengan putus asa ia celingukan ke sekitarnya, ‘aku sudah kejeblos ke dalam alam khayal yang menyesatkan pikiran. mungkin selama hidup ini tidak akan bisa keluar lagi.’

Duduk bersimpuh pikiran Kiu-yu-mo-lo sekarang mulai bekerja, tapi kalut dan berpikir secara abnormal. Terpikir olehnya bila dia berhasil keluar pekerjaan apa yang harus dia lakukan, aku akan bunuh seluruh manusia yang tidak kusenangi, aku harus mendapatkan Ni-hay-ki-tin, menjadi jago silat nomor satu di seluruh kolong langit yang tiada tandingan, barisan macam setan yang menyesatkan ini akan kuhancur leburkan, tidak ketinggalan pencipta dari barisan gaib inipun akan kusiksa sampai mampus….

Begitulah alam pikirannya melayang-layang. entah berapa lama ia memutar otak, kadang- kadang mulutnya menggeram, tangan menepuk tanah, matanya berkilat menyapu sekelilingnya, tapi yang dilihatnya sama adalah alam keputihan yang menyilaukan pandangan matanya, akhirnya ia menghela napas. Sekarang otaknya terasa kosong pula, yang terpikir tadi melulu hanyalah khayalan hatinya belaka. pikiran yang tidak mungkin dicapai dan dilakukan olehnya.

Kini teringat olehnya akan waktu mudanya. sejak ia masih bocah mengangkat guru belajar silat sampai dia kelana di Kangouw, ganti berganti pengalaman dulu terbayang dikelopak matanya, heran dia kenapa aku bisa mengenangkan masa lalu, belum pernah aku terkenang akan masa yang telah silam itu tapi masa silam yang penuh kenangan itu sekarang terbayang dalam alam pikirannya.

Hatinya mulai mengeluh dan merasa derita. Terbayang betapa takut hatinya waktu pertama kali ia membunuh orang, dari kelakuan lurus aku semakin terperosok kejalan sesat dan menyeleweng dari ajaran guru, akhirnya malang melintang sebagai salah seorang dari Si-gwa-sam-mo yang ditakuti, perbandingan dari awal mula dan babak terakhir ini, perubahan yang begitu cepat betul- betul membuat sanubarinya merasa heran dan kejut.

Dalam Jian-hud-tong tanpa disadarjnya ia menetap lima puluh tahun lamanya, meski dalam waktu yang begitu lama selalu aku berpikir mencari akal untuk meloloskan diri untuk menuntut balas kepada Ka-yap Cuncia. terutama waktu secara tak terduga memperoleh Hian-thian-mo-kip, angan2 untuk menuntut balas semakin membakar sanubarinya. Tatkala itu aku bertahan untuk hidup dan hidup ini memang untuk menuntut balas, tapi bagaimana sekarang?

Entahlah aku tidak tahu lagi. di dalam dunia kehidupan yang serba memutih ini, apa pula yang harus kutuntut untuk kubalas? Lambat laun ia menyesal dan putus asa, “Thay-si-ciang-soat-lian- mo-tin tidaklah begitu gampang dibobol atau dipecahkan seperti dugaannya semula, keadaan yang abstrak tidak berbentuk ini, betapapun jauh lebih hebat lebih sukar dihadapi daripada belenggu rantai dari Ka-yap Cuncia. Untuk meloloskan diri harapannya sangat nihil.

Kiu-yu-mo-lo menepekur lagi, pikirannya melayang kembali mengenang pengalamannya dahulu, ia duduk dengan hampa dan perasaan kosong. entah apa yang harus dilakukan, ia mandah terima nasib saja. Lambat laun ia merasa menyesal dan bertobat. perbuatannya dululah yang justru membuat dirinya sekarang menerima akibatnya ini. Dengan mendelohg ia pandang ke sekelilingnya tak berani ia kenang masa silam pula, ia menjadi sebal dan gegetun karena keadaan sekelilingnya” tetap sama tak pernah berubah seakan-akan sang waktu berhenti berjalan tak bergerak lagi. Dibanding di dalam Jian-hud-tong jauh lebih sunyi dan lelap.

Tak tahan lagi ia bergegas melompat bangun, kedua telapak tangannya terayun menepuk dan menghantam serabutan ke segala penjuru, kemana angin pukulannya yang dahsyat itu menyamber keluar, sedikitpun tidak dengar desir angin atau gelombang pergerakan akibat dari pukulannya, akhirnya ia berteriak melengking putus asa, tapi gema teriakannya pun tak terdengar lagi, ia meloso duduk lemas, airmata meleleh keluar. suaranya sendiri pun tak kuasa dikendalikan lagi.

Dengan lemas ia bersimpuh memejamkan mata, lambat laun timbul rasa sesal dalam benaknya dan rasa menyesal ini semakin besar sampai mengetuk sanubarinya, ja, sepak terjang dulu waktu masih muda harus disesalkan, batinnya mulai bertobat.

Hati kecilnya berteriak dengan kekosongan jiwa yang menggersang, sungguh ia sendiri pun tidak nyana bahwa akhirnya ia harus menyesal, terasa betapa kerdil jiwanya ini begitu bejat dan kejam serta telengas hidup jiwanya ini, suka membunuh dan selalu ingin membunuh seolah-olah jiwa manusia tidak berharga sepeserpun, membunuh manusia seperti membabat rumput layaknya. Sebenar-benarnyalah setiap manusia sangat menghargai jiwa masing-masing. tapi kenapa aku tidak menghargai jiwa mereka?

Karena rasa sesalnya ini sekian lama ia terlongong. Baru sekarang ya sadar dan insaf bagaimana mungkin dirinya terjeblos ke dalam barisan penggugah iblis ini, seharusnya ia tidak punya rasa benci dan dendam, apa pula salahnya jiwaku tergugah dari kesesatan disini! Detik demi menit berlalu, lambat laun keadaan sekitarnya terasa mulai berubah, keadaan menjadi terang benderang dan bercahaya menyegarkan hati, namun ia masih duduk tenang tak bergerak.

Dalam pada itu. setelah luput dari pengejaran Kiu-yu-mo-lo Hun Thian-hi berhasil lari sembunyi ke dalam gerombolan semak-semak rumput tinggi, waktu ia merangkak bangun dan celingtikan tiba-tiba dari semak-semak rumput di depannya sana muncul sebuah wajah nan jelita, itulah Ham Gwat yang muncul dari balik semak-semak sana, berdiri tegak dihadapannya, dengan cermat ia pandang dirinya.

Thian-hi menjadi haru dan sangat berterima kasih, katanya melangkah mendekat, “Kali ini nona pula yang menolong jiwaku!”

“Bukan aku melulu yang menolong kau,” ujar Ham Gwat pelan-pelan, “Lo-cianpwe yang kukatakan itu ingin menemui kau, mari kau ikut aku menemui beliau!”

Tanpa bicara Hun Thian-hi ikut di belakang Ham Gwat, hatinya dirundung berbagai pikiran hatinya rada malu dan menyesal, biasanya aku selalu membanggakan dan mengagulkan kepandaian sendiri, beberapa kali kena diringkus atau tertawan oleh musuh selalu Ham Gwat yang menolong diriku.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan jati, Hun Thian-hi berpaling ke belakang sungguh ia hampir tidak percaya bahwa hutan jati ini adalah Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin yang tenar dan ditakuti di Bulim, jadi orang aneh yang ingin ditemui atas prasaran Ham Gwat ini pasti adalah Thay-si Lojin yang kenamaan di seluruh kolong langit tapi belum ada orang pernah melihat akan ujudnya. Kalau begitu sungguh beruntung nasib Ham Gwat.

Ham Gwat membawa Thian-hi memasuki sebuah kamar batu, kata Ham Gwat, “Silakan kau masuk sendiri menemui beliau, kutunggu kau disini!”

“Terima kasih!” kata Thian-hi, sejenak ia pandang Ham Gwat lalu pelan-pelan berjalan-jalan masuk.

Dalam kamar batu yang remang-remang tampak duduk bersila seorang tua. setelah dekat baru jelas bahwa kedua kaki orang tua ini sudah buntung, kelihatannya terpotong oleh senjata tajam.

Raut wajah orang tua ini sudah penuh keriput. namun selebar mukanya mengulum senyum manis, dia mengangguk kepada Thian-hi, segera Thian-hi berlutut dan menyembah, sapanya, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Cianpwe!”

“Lekas bangun,” ujar si orang tua lemah lembut, menurut kata Gwat-ji kau adalah keturunan atau ahli waris dari Wi-thian-cit-ciat-sek?”

Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Terima kasih pada Cianpwe yang telah menolong jiwaku.”

Si orang tua menggoyang tangan, ujarnya, “Kau tak usah sungkan, sebagai ahli waris “Wi- thian-cit-ciat-sek seharusnyalah aku menolong kau, apalagi kau harus segera menyusul ke Siau- lim-si bukan!” Lalu ia melanjutkan, “Menurut Gwat-ji kau hanya memperoleh Kiam-boh dari Wi- thian-cit-ciat-sek itu, tapi belum mempelajarinya secara sempurna, intisari yang dalam itu?”

Hun Thian-hi manggut-manggut, sahutnya, “Memang begitu, harap Cianpwe suka memberi petunjuk,” dari lubuk hatinya yang dalam timbul suara perasaan bahwa si orang tua dihadapannya ini agaknya bersikap sangat baik terhadap Ham Gwat. kalau tidak salah mungkin punya hubungan dalam yang sangat erat. sehingga iapun bersikap ramah dan baik terhadap aku. tapi dari sorot matanya itu kelihatan bahwa hatinya pasti dirundung janggalan hati yang belum terlampias.

Kata pula si orang tua sembari tertawa, “Ham Gwat bersikap baik terhadap kau, kaupun bagus, aku…. kuharap kau ingat kata-kataku ini, berlakulah baik terhadapnya, dia….” sampai disini ia menghela napas, lalu melanjutkar dengan suara lebih lirih, “Bila kau tahu riwayat hidupnya. pasti kau akan merasa dan tahu bahwa hidupnya sungguh harus dikasihani!”

Hun Thian-hi terbungkam menunduk, akhirnya tak tertahan ia bertanya, “Cianpwe tahu akan riwayat hidupnya?”

Pelan-pelan orang tua manggut-manggut, ujarnya, “Ya, tapi dia sendiri justru tidak tahu.”

Heran dan terperanjat hati Thian-hi, heran dia kenapa orang tua ini bisa tahu jelas akan riwayat hidup Ham Gwat, tapi kenapa tidak memberitahu kepadanya, entah apakah sebabnya.

Dengan seksama orang tua awasi Thian-hi, sesaat baru buka suara, “Kaupun sudah tahu riwayat hidupnya bukan?”

Thian-hi rada sangsi, dia tidak tahu apa hubungan orang tua ini dengan Ham Gwat, namun tentu tiada maksud jahat terhadapnya, akhirnya ia manggut-manggut, sahutnya, “Tahu sedikit.”’ Terpancar cahaya tegang dan rasa heran dari sinar mata si orang tua, tanyanya, “Darimana kau ketahui?

“Kudengar langsung dari penuturan ibundanya!”

Tergetar badan si orang tua, matanya semakin berkilat dan memancarkan sinar aneh, bibirnya gemetar, agaknya banyak kata-kata yang ingin diucapkan tapi urung, akhirnya ia tertunduk.

Heran Thian-hi dibuatnya, hatinya bertanya-tanya, tapi ia tutup mulut.

Berselang lama si orang tua menepekur, akhirnya ia angkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, banyak omongan yang perlu kuberitahu pada kau. Tapi kau harus berjanji sementara tidak memberitahu hal ini kepada Ham Gwat!”

Thian-hi menjadi ragu-ragu malah, tanyanya, “Apakah aku perlu mengetahui hal-hal itu?”

Orang tua itupun berpikir, katanya, “Tahukah engkau siapakah aku? Aku adalah Suheng ibundanya, juga menjadi Suheng dari Bu-bing Loni. Tapi aku banyak berbuat kesalahan terhadap ayah bundanya, agaknya Ham Gwat sudah mendapat firasat ini, dia selalu tidak mau menerima segala bantuanku, tapi kali ini demi kau dua kali ia memohon kepada aku!”

Kejut dan girang pula hati Thian-hi, sungguh tak diketahuinya akan terjadinya hal-hal itu. Orang tua ini pasti sedang menyesali perbuatannya dulu, entahlah kesalahan besar apa yang dulu sudah dia perbuat atas diri ayah bunda Ham Gwat.

“Selama hidupku ini aku hanya sesalkan perbuatanku itu,” demikian tutur si orang tua, “Tapi kesalahanku itu selama hidup ini mungkin takkan mungkin dapat kutebus lagi.” ia menghela napas rawan.

“Tahu bersalah dapat mengubahnya itulah perbuatan seorang susilawan, kenapa pula harus berkeluh kesah, cobalah kau lakukan segala sesuatunya yang kau pandang baik demi perikemanusiaan, mungkin Segala perbuatan dharma bhaktimu itu akan menebus segala dosa2 yang lalu. Kau belum lagi pernah melaksanakan darimana kau bisa tahu bahwa kesalahanmu takkan dapat ditebus”

Orang tua itu manggut-manggut, ujarnya, “Kau sudah pernah ketemu ibunya, kau harus tahu yang mencelakai ibunya adalah Bu-bing Loni, tapi algojonya adalah aku. Aku pernah sirik dan menjelusi ayahnya, sehingga aku melakukan segala perbuatan tercela yang tidak mungkin dapat kusesali pula selama hidup ini, aku ingin menyesal dan sesalanku itu harus kutebus pada diri Ham Gwat, namun dia selalu menampik secara halus segala bantuanku!”

“Tapi yang jelas akhirnya kau sudah menyesal bukan?” tanya Hun Thian-hi prihatin.

Orang tua tertawa tawar, kepalanya menengadah matanya mengawasi jauh ke depan, sesaat baru bersuara, “Akhirnya! Akhirnya Bu-bing membacok buntung kedua kakiku ini, mempunahkan seluruh ilmu silatku lagi, tatkala itu baru aku sadar, baru aku merasa menyesal setelah kasep.

Untung Thay-si Locin sudi menerima aku sebagai muridnya, setelah beliau wafat aku lantas berdiam disini mengurus dam menjaga Thay-si-ciang-soat-lian-mo-tin ini!”

“Tidak terlambat, belum terlambat, kau sudah pernah menyesal, maka sesalanmu itu belum lagi terlambat, ketahuilah bahwa kesadaran dari sesal itu selamanya tidak mengenal terlambat.”

Tanya si orang tua ragu-ragu, “Dimanakah ibunda Ham Gwat sekarang? Bagaimana keadaannya?” “Beliau sekarang baik-baik, dia tidak akan menyalahkan kau!” jawab Thian-hi tersenyum.

Si orang tua terduduk, akhirnya dia berkata tertawa, “Seumpama dia tidak mau memberi ampun padaku, akupun harus bertobat kepadanya, aku harus menerima segala hukuman karena dosa2ku itu!”

Kembali mereka tenggelam dalam alam pikiran masing-masing, sesaat lamanya tak bicara. “Tak lama lagi kau harus segera menyusul ke Siau-lim-si,” demikian ujar si orang tua membuka

kesunyian. “Sudah tentu, disana kau memerlukan tenagamu sendiri untuk menyelesaikan segala pertikaian. Wi-thian-cit-ciat-sek belum kau sempurnakan, aku sendiri tiada mampu membantu kau, cobalah kau gembleng dan kau latih sendiri menurut praktek. Tapi perlu kuberitahu pada kau, sudah ratusan tahun lamanya Wi-thian-cit-ciat-sek malang melintang di dunia persilatan, dia melulu hanya sejurus saja, kau harus ingat, sejurus, hanya sejurus saja!”

Bercekat sanubari Thian-hi, maka permainan Wi-thian-cit-ciat-sek secepat kilat lantas terbayang dalam kelopak matanya, memang melulu hanya sejurus dengan tujuh kembangan yang penuh variasi yang sulit diraba, menggunakan dasar Lwekang tinggi, serta gerak ilmu pedang yang lihay tiada taranya, dalam sekejap kilasan mata beruntun melancarkan tujuh gerak kembangan jurus pedangnya. Otaknya timbul tenggelam membayangkan serentetan ilmu yang sudah menghayati batinnya.

Betapa girang hatinya, jika bisa terlaksana seperti yang terbayang dalam angan2nya ini mungkin gerak pedang yang digdaya, ini takkan ada lawannya dikolong langit ini.

Tersipu-sipu ia menyembah serta berseru kegirangau, “Terima kasih akan petunjuk Cianpwe!” “Tak perlu sungkan-sungkan,” ujar si orang tua tertawa, “apa yang kujelaskan tadi kudapat

baca dari catatan peninggalan Thay-si Locin, sayang ilmu silatku sendiri sudah punah!”

Mulut Thian-hi mengiakan lirih, ia rada kejut, sangkanya sebagai murid Thay-si Lojin tentu ilmu silatnya lihay luar biasa, siapa nyana beliau ternyata. tak bisa main silat.

“Sekarang kau boleh keluar, Ham Gwat tentu sedang tunggu kau diluar pintu.”

Thian-hi maklum segera ia bangkit dan mohon diri lalu keluar dari kamar batu. Benar-benar juga Ham Gwat sedang menunggu dirinya diluar, begitu melihat Thian-hi keluar segera ia bertanya, “Kau kembali dulu mengobati luka-lukamu, setelah sembuh segera menyusul ke Siong- san!”

Thian-hi mengiakan sambil menyatakan terima kasih.

Ham Gwat berdiri menanti sambil mengawasinya tajam, entah mengapa Thian-hi tak berani adu pandang, cepat ia menunduk menghindari pandangan orang. Terpancar sinar aneh dari biji mata Ham Gwat, kelihatan sorot matanya itu rada mengandung kekecewaan, akhirnya mulutnya berkata lirih, “Tak perlu sungkan, kau pun pernah menolong aku!”

Terketuk sanubari Thian-hi, iapun merasakan kemana juntrungan pandangan Ham Gwat tadi, ia dapat membayangkan apa yang sedang berpikir dalam benak Ham Gwat, tapi bisakah aku memberitahu kepadanya?

Tak lama kemudian ia sudah berada di kamar batunya, Ham Gwat berdiri sebentar lalu pamit dan meninggalkannya. Perasaan Thian-hi menjadi hambar, duduk bersimpuh pelan-pelan ia kerahkan Pan-yok-hian- kang untuk mengobati luka-luka dalamnya.

Sekejap saja tiga hari telah berlalu, kesehatan Hun Thian-hi sudah pulih sebagian besar, selama tiga hari ini Ham Gwat entah kemana tidak pernah muncul menemui dirinya, mungkin ada keperluan menempuh perjalanan ke tempat yang jauh.

Thian-hi tanya pada Siau Hong, kelihatannya Siau Hong rada berat menerangkan, katanya Ham Gwat sudah berpesan supaya dia tidak banyak bicara soal dirinya.

Fajar telah menyingsing, sang surya menyinarkan semarak merah bercahaya. Waktu Hun Thian-hi bangun tidur, datanglah Siau Hong ke dalam kamarnya, kiranya ia sudah mempersiapkan hidangan,

Setelah makan sekadarnya Thian-hi berkata, “Siau Hong, aku ingin hari ini juga berangkat. ingin aku ketemu Siociamu untuk nyatakan terima kasihku padanya!”

Siau Hong tertawa, ujarnya, “Siocia sudah tahu, beliau suruh aku memberitahu pada kau tak usah banyak sungkan lagi, Kim-ji (burung rajawali) sudah menunggu di depan pintu. kau naik burung menuju ke Siong-san, kelak masih ada kesempatan bertemu!”

Hun Thian-hi terlongong, mulutnya sudah terbuka tapi tak kuasa berbicara.

Kata Siau Hong pula, “Sudah jangan melamun, kata-kata Siocio tidak akan salah.”

Mendelu rasa hati Thian-hi, pikirnya; kenapa Ham Gwat berlaku demikian terhadap diriku, si orang tua itu mengatakan bahwa dia sangat baik terhadapku. memang sikap dan lakunya sangat baik terhadap aku, namun kenapa ia menghindari pertemuan dengan aku, sebelum aku berangkat untuk meninggalkan dia kenapa tidak mau datang, mungkinkah ada suatu persoalan yang tidak disenangi akan diriku? Demikian hatinya mereka-reka, akhirnya ia tertunduk.

Melihat keadaan Thian-hi berkilat biji mata Siau Hong, matanya melirik keluar lalu pelan-pelan maju mendekat dan katanya lirih, “Bodoh. Kelakuan Siocia ini adalah demi kebaikanmu, hayo berangkat, jangan melamun lagi!”

Tergetar sanubari Thian-hi, dengan kaget ia angkat kepala mengawasi Siau Hong. Siau Hong kegelian menutup mulut terus berlari keluar.

Thian-hi menjublek lagi ditempatnya, dia masih belum paham kemana maksud juntrungan kata- kata Siau Hong tadi, tapi ia percaya bahwa Siau Hong tidak akan ngapusi dirinya, akhirnya bergegas ia memburu keluar, terpikir olehnya Kim-ji pernah memancing Bu-bing Loni sehingga terluka parah oleh pedangnya, sekarang aku harus meniliknya dan melihat bagaimana keadaan sebenar-benarnya.

Diambang pintu kamar batu. Benar-benar juga berdiri seekor burung rajawali besar. Tingginya melebihi badan manusia, matanya merah berkilat, lehernya berkilau mas membundar, sekilas pandang perawakannya memang sangat angker dan gagah.

Melihat Thian-hi sudah keluar segera Siau Hong berlari datang, serunya, “Coba kau lihat, bagaimana Kim-ji ini?”

“Sangat gagah dan kereng, seperti seorang jendral saja layaknya!” Siau Hong senang dan tertawa geli, dengan tangannya ia peluk leher burung rajawali serta katanya, “inilah orang yang tempo hari kau tolong itu, dia adalah sahabat karib Siocia kami, bawalah dia pergi ke Siong-san!”

Rajawali itu berpaling dan memandang tajam kepada Hun Thian-hi, mulutnya bersuara rendah. Siau Hong menggerakkan tangan minta Hun Thian-hi maju mendekat, dengan tertawa ia berkata sambil mengelus-elus bulu leher sang burung, “Terima kasih akan pertolonganmu kepadaku tempo hari!”

Burung itu berpekik keras sekali lalu manggut-manggut. kedua sayapnya dipentang lebar.

Terlihat oleh Thian-hi sepasang sayap burung itu terbentang ada dua tombak lebih, diam-diam ia kejut dan girang.

Kata Siau Hong, “Dia minta kau lekas naik, cepatlah kau berangkat saja.”

Setelah berada dipunggung burung rajawaJi, Thian-hi mengapai tangan kepada Siau Hong serunya, “Selamat bertemu!”