Badik Buntung Bab 20

 
Bab 20

Pikiran ini hanya berkelebat dalam alam pikirannya, waktu ia berpaling dilihatnya Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko memang sudah berhasil mengacau balaukan perlawanan musuh dan berada di atas angin, namun selama itu belum berhasil menerjang lolos dari kepungan musuh.

Laksana seekor burung garuda tiba-tiba Thian-hi melompat jauh mencemplak ke atas kudanya terus dikeprak maju, berbareng pedang di tangannya menyerang dengan jurus Gin-go-sam-sek yang ketiga. Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu pedang yang maha sakti tiada taranya. jurus ketiganya justru merupakan tipu yang paling hebat dan tepat untuk menggempur kepungan, dimana pedang panjangnya berkelebat, hawa pedangnya ikut berkembang melebar, kontan Siang Bu-wong kena terdesak mundur, tanpa ayal mereka bertiga segera menerjang lewat dan terus dibedal menuju ke Giok-bun-koan.

Melihat Thian-hi bertiga berhasil meloloskan diri dengan menghela napas rawan Siang Bu-wong mendelong mengawasi bayangan mereka yang semakin kecil dan hilang dikejauhan. Waktu ia membalik tubuh jauh di arah yang barlawanan sana dilihatnya rombongan Tok-sim-sin-mo tengah mendatangi dengan cepat, sayang kedatangan mereka setindak telah terlambat, Hun Thian-hi bertiga sudah tidak kelihatan lagi bayangannya….

Dari jauh Tok-sim-sin-mo sudah melibat bayangan Siang Bu-wong dan anak buahnya, kontan dingin perasaannya, tahu dia bahwa Hun Thian-hi pasti sudah berhasil meloloskan diri, bila mereka sudah keluar dari Giok-bun-koan jelas dirinya tidak mungkin dapat membekuknya Kembali.

Setelah dekat mereka memperlambat lari kuda, cepat Siang Bu-wong beramai maju memapak serunya memberi lapqr, “Aku sendiri tidak becus, mereka bertiga sudah lolos pergi.”

Tok-sim-sin-mo ternyata mandah tertawa besar, ujarnya, “Siang-lote, bukan salahmu, kami sudah tahu mereka pasti berhasil lolos, cuma coba-coba saja merintangi, bila tidak berhasil tak perlu diambil dalam hati, kelak tentu aku punya cara untuk mengatasinya, Betapapun Hun Thian- hi pasti akan kembali ke Tionggoan, tatkala itu akan kami beri sebuah jalan kematian kepadanya!” habis berkata ia bergelak tawa pula.

“Maksud Pangcu adalah….” Siang Bu-wong bicara ragu-ragu.

Dengan pandangan dingin Tok-sim-sin-mo menyapu pandang seluruh anak buahnya, ujarnya, “Hun Thian-hi tidak lebih seorang bocah angkatan muda, dimana wibawa dan kegagahan kita pada waktu dulu? Masa takut terhadap bocah keroco itu? Aku bersumpah harus membunuhnya lebih dulu sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek berhasil ia latih sempurna. Aku harus bunuh dia.”

Habis berkata ia menggeram dengan gegetun, lalu katanya pula kepada Siang Bu-wong, “Kau tetap bertugas disini, bila Hun Thian-hi masuk perbatasan jangan kau ganggu usik dia, cukup asal kau memberi kabar dengan burung pos.” lalu ia putar kudanya dan kembali ke arah timur diikuti anak buahnya.

Setelah keluar dari Giok-bun-koan, terbentang padang rumput nan luas di hadapan Hun Thian- hi bertiga. Entah berapa lama kemudian, akhirnya mereka turun dan beristirahat. Sutouw Ci-kolah yang paling merasa lelah, dengan suara lesu ia berkata tertawa, “Setelah sampai disini, kita tidak perlu takut lagi terhadap Tok-sim-sin-mo. Dia tidak akan berani mengejar keluar dari Giok-bun- koan.”

Begitulah sambil istirahat mereka menutur pengalaman masing-masing sejak berpisah, kira-kira satu jam kemudian, setelah badan terasa segar dan perut sudah kenyang, mereka berangkat lagi menuju ke Hwi-king-ouw (telaga kaca terbang) di Thian-san.

Entah berapa lama sudah mereka, menempuh perjalanan, tiba-tiba di hadapan mereka muncul seseorang, begitu melihat orang itu Hun Thian-hi lantas berteriak kegirangan, “Siau-suhu!

Bagaimana bisa kau berada disini?” cepat ia turun dan memburu maju. Hwesio jenaka tertawa lebar, serunya, “Aku sedang tunggu kau disini…. Eh, kenapa kau tidak panggil Siau-suhu lagi?”

Hun Thian-hi tersipu-sipu malu. Hwesio jenaka berpaling dan merangkap tangan ke arah Pek Si-kiat, ujarnya, “Tuan ini bukankah Pek Si-kiat Pek-sicu. Apakah Pek-sicu baik selama ini?”

Begitu melihat tegas Hwesio jenaka kontan berubah air muka Pek Si-kiat, serunya kaget, “Kau kiranya?”

Sambil cengar-cengir Hwesio jenaka manggut-manggut, tangannya sedikit digoyangkan, ia memberi tanda kepada Pek Si-kiat supaya tidak membocorkan rahasia dirinya. Pek Si-kiat mandah tersenyum penuh arti tak bicara lagi. Sungguh dia tidak nyana orang ini bisa berubah menjadi berbentuk seperti sekarang.

Sutouw Ci-ko pernah dengar mengenai Hwesio jenaka ini dari penuturan Thian-hi…. cepat ia loncat turun dan memberi hormat pada Hwesio jenaka.

Dengan cengar cengir Hwesio jenaka amat-amati Sutouw Ci-ko, lalu katanya berpaling pada Thian-hi, “Ci-ko sudah berhasil kau tolong. Sekarang kau tidak punya urusan yang lebih penting bisakah sekarang kau ikut aku ke Bu-la-si?”

Thian-hi bertiga kaget.

“Sekarang?” tanya mereka bersama, “Adakah keperluan penting disana?” tanya Pek Si-kiat lebih lanjut.

Hwesio jenaka tertawa lebar, katanya pada Pek Si-kiat, “Dalam hal ini kau jangan turut campur saja.” — Lalu katanya pula pada Hun Thian-hi, “Pergilah nanti kau akan tahu. Kukira kau akan lebih berprihatin dari aku.”

Thian-hi terlongong sejenak, katanya, “Baiklah sekarang juga aku berangkat, Tapi sebetulnya ada kejadian apakah, bolehkah kau beritahu aku dulu?”

Hwesio jenaka tertawa, sesaat kemudian baru bicara, “Soal mengenai Ham Gwat.”

Thian-hi melengak, hatinya menjadi gugup, bukankah Ham Gwat diutus Bu-bing Loni untuk meringkus dirinya pulang? Dengan pulang bertangan kosong tentu Bu-bing Loni akan memberi hukuman berat padanya. Cepat ia berkata pada Pek Si-kiat, “Paman Pek, terpaksa aku harus pergi ke Bu-la-si dulu!”

Pek Si-kiat mengerut alis, akhirnya manggut-manggut. Ia tidak bicara karena dalam anggapannya semula ia mengira hubungan kental Thian-hi dan Sutouw Ci-ko merupakan pasangan yang setimpal. Tapi dari keadaan sekarang dapatlah da meraba bahwa sebetulnya hati Thian-hi sudah tertambat pada gadis lain. memang nasib SutOuw Ciko harus menjadi kakak angkatnya saja.

Kata Thian-hi kepada Sutouw Ci-ko, “Ciko-ci, ada urusan lain yang harus kuselesaikan. Setelah urusan beres biar kudatang mendenguk kau, tunggulah aku di Hwi-king-ouw.!”

Sutouw Ci-ko sendiri tidak bisa mengatakan bagaimana perasaan hatinya pada saat itu, seakan- akan ia merasa hatinya sangat pedih. namun terasa juga rada girang. Matanya berkejap2, dengan berseri tawa ia manggut-manggut, katanya, “Pergilah, kutunggu di Hwi-king-ouw, tapi kau harus hati-hati menghadapi Bu-bing Loni.” “Terima kasih Ciko-ci, aku akan cepat pulang.” — Lalu ia serahkan kudanya pada Sutouw Ci-ko, setelah ambil berpisah bersama Hwesio jenaka menuju ke selatan.

Ditengah jalan ia bertanya pada Hwesio jenaka, “Siau-suhu, apa kau tahu bagaimana keadaan Ham Gwat sekarang?”

Hwesio jenaka berpaling mengawasinya, katanya tertawa, “Kau tak perlu gugup. dia tidak kurang suatu apa. Bu-bing Loni tidak akan berani menyakiti dia. Tapi Bu-bing Loni sekarang berada di Bu-la-si, petentengan dengan Ngo-hong Locu, kau sendiri sudah mendapat berkah dari Ka-yap Cuncia, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah kau pelajari meski belum sempurna, perlu juga kau memburu kesana selekasnya.”

Thian-hi menjadi kaget. kenapa Hwesio jenaka ini begitu jelas segala gerak geriknya, bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek dirinya belum sempurna juga sudah diketahui. Karena pikirannya ini, dengan heran dan melenggong ia. pandang Hwesio jenaka.

“Kau tak perlu heran, soal ini ada orang yang beritahu kepadaku, baru saja aku menyusul datang dari Bu-la-si.”

Sambil berlari-lari kencang otak Thian-hi bekerja, tak lama Kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana keadaan Bun Cu-giok sekarang? Apakah baik-baik saja?”

“Dia kena diusir dari Tionggoan oleh Tok-sim-sin-mo, untung dia didukung oleh gurunya Ce-hun dan Hoan-hi dua orang. Sam-kong Lama juga mau membantu dia, kalau tidak sejak lama dia sudah runtuh total, tapi keadaannya sekarang pun sudah payah, jikalau Tok-sim-sin-mo sedang tekun menghadapi perlawanan Hwe-tok-kun, mungkin dia sudah habis berantakan.”

Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia merasa bahwa Bun Cu-giok hakikatnya bukan seorang jahat. Hanya jiwanya rada sempit, dalam suatu ketika juntrungannya kurang lapang dan kurang dapat dihargai. tapi untunglah bila dia tidak sampai dicelakai oleh Tok-sim-sin-mo.

“Sekarang dia sudah menikah dengan putri Ciok Hou-bu!” demikian tutur Hwesio jenaka.

Dingin perasaan hati Thian-hi, entah betapa perasaan sanubarinya sekarang, sebelum ia tahu hubungan antar Bun Cu-giok dan Sutouw Ci-ko, dia pernah merasa adalah jamak dan lumrah hubungan eratnya dengan istrinya sekarang. Tapi lain pula keadaan sekarang, terasa olehnya bahwa Bun Cu-gioklah yang salah dalam hal ini, diam-diam ia sesalkan tindakan Bun Cu-giok yang tidak punya pribadi seorang laki-laki sejati.

Sesaat lamanya ia berdiam diri, lalu tanyanya lagi, “Untuk apa Bu-bing Loni mencari urusan dengan Ngo-hong Locu?”

“Mengandal ilmu silatmu sekarang, kau boleh mengetahui.” demikian ujar Hwesio jenaka sambil tertawa lebar. Sesaat kemudian baru melanjutkan, “Sebab beliau adalah ibunda Ham Gwat.”

Melonjak jantung Thian-hi, saking kaget kakinya sampai berhenti berlari, sekian lama menjublek ditempat. Ong Gin-sia adalah ibu Ham Gwat? Kalau begitu…. Sungguh hal ini diluar dugaannya.

Waktu ia angkat kepala, Hwesio jenaka sudah jauh setengah li lebih di depan sana, cepat ia angkat kaki mengejar dengan kencang, sambil lari pesat hatinya merasa heran, setelah direnungkan sekian lama baru ia sadar. Tapi hatinya masih dirundung keheranan. Lalu bagaimana pula bisa terjadi ayah Ham Gwat bisa dibunuh oleh Ang-hwat-lo-mo? Setelah dekat mengejar Hwesio jenaka ia bertanya, “Siau-suhu, apakah benar-benar ayahnya mati terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo?”

Hwesio jenaka tidaK hiraukan pertanyaannya, setelah rada jauh mereka berlari baru tiba-tiba ia berpaling dan jawabnya, “Siapa yang bilang? ayahnya masih sehat baik-baik, bagaimana bisa mati dibunuh Ang-hwat?”

Thian-hi menjadi bingung. ia heran kenapa segala kejadian itu begitu ganjil, tidak diketahui olehnya cara bagaimana peristiwa macam itu bisa terjadi. Lebih heran lagi kenapa Bu-bing Loni bilang kepada Ham Gwat bahwa ayahnya terbunuh oleh Ang-hwat-lo-mo, sehinggga hampir saja dirinya mati secara konyol oleh Ham Gwat.

Ujar Hvosio jenaka, “Jangan kau percaya obrolan Bu-bing Loni. Semua itu hanyalah bualannya terhadap Ham Gwat waktu masih kecil, namun sekarang dia sudah dewasa. Bu-bing Loni masih mengelabui padanya!”

Thian-hi menjadi paham sekarang. Tapi entahlah sekarang Ham Gwat sudah tahu rahaSia ini belum?

Terdengar Hwesio jenaka berkata pula, “Tapi jangan kau bocorkan rahasia ini kepada siapapun juga. Kelakuan Bu-bing Loni selamanya sangat kejam dan telengas, tapi terhadap Ham Gwat ia sangat sayang dan baik. Tapi Ham Gwat cukup cerdik betapa pun Bu-bing tidak kuasa menutupi bualannya, karena itu entahlah bagaimana kelak akibat dari penyelesaiannya.”

Hun Thian-hi menjadi prihatin akan persoalan ini, sesaat lama kemudian ia bertanya, “Apakah Ham Gwat sendiri tahu akan hal ini? Apakah dia tahu siapa ayah bundanya?”

Hwesio jenaka tertawa lebar, ujarnya, “Soal ini hanya dia sendiri yang tahu, tiada seorang pun yang tahu seluk beluknya, tapi nanti bila kau ketemu dia jangan sekali2 kau bocorkan rahasia ini!”

Thian-hi manggut melulusi. Hatinya jadi bertanya-tanya kenapa Hwesio jenaka berpesan wanti- wanti kepadanya mengenai hal ini? Hatinya rada menyesal, waktu Hwesio jenaka membantu dirinya dulu, kenapa ia tidak melulusi syarat yang diajukan itu. Sekarang untuk bicara rasanya tidak gampang. Hatinya mendelu dan menyesal.

Begitulah mereka berlari-lari kencang tanpa berhenti, lama kelamaan Hun Thian-hi menjadi heran. Betapa tinggi Lwekang Hwesio jenaka ini kiranya tidak lebih rendah dari Situa Pelita, namun kenapa selama ini dirinya beluim pernah. dengar ketenaran namanya dikalangan Kangouw.

Sekejap saja tiga hari sudah berlalu, Thian-hi berdua melanjutkan menuju ke Bu-la-si. Setelah semakin dekat pada tujuan Hwesio jenaka berkata pada Thian-hi, “Aku tak enak bertemu dengan Bu-bing Loni, silakan kau masuk sendiri, mungkin beliau masih belum pergi!”

Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya ia manggut-manggut, pelan-pelan ia masuk ke dalam biara besar itu. Baru saja kakinya melangkah masuk tampak Sam-kong Lama sudah menunggu diruang pendopo, tersipu-sipu ia maju memberi hormat kepada Sam-kong Lama.

Sambil berseri tawa Sam-kong mengawasinya, katanya, “Kata Hwesio jenaka dia pergi mencari kau, ternyata benar-benar dapat ketemukan kau.”

“Cianpwe, apakah Bu-bing Loni masih berada didalam?”

“Mari ikut aku. Dia masih disini. Baik sekali kau datang, kukira takkan ada persoalan lagi.” Thian-hi cuma tertawa, dia tahu untuk mengalahkan Bu-bing Loni, saat ini jelas tidak mungkin, apalagi Su Giok-lan pasti juga mengintil kemari. Entah bagaimana keadaannya sekarang, sebelum ajal Su Cin kakaknya pernah berpesan supaya aku perhatikan dan mengasuhnya, tapi sekarang dirinya malah saling bermusuhan.

Begitulah dia ikut di belakang Sam-kong Lama masuk ke dalam, melewati serambi panjang dan sebuah pekarangan besar, dimana terlihat dua ekor burung dewata bertengger disana, itulah burung piaraan Bu-bing Loni.

Setelah melewati pekarangan, mereka memasuki sebuah kamar batu. Di dalam kamar batu ini tampak Ong Ging-sia sedang duduk berhadapan dengan Bu-bing Loni, mereka sama pejamkan mata dan tidak bergerak. SU Giok-lan berdiri di belakang Bu-bing Loni membelakangi pintu.

Begitu Hun Thian-hi memasuki kamar, tanpa berpaling tiba-tiba Bu-bing Loni mendengus serta bersuara, “Siapa itu yang datang?”

Hun Thian-hi diam saja. Sepasang biji mata Ong Ging-sia sedikit dibuka, seketika matanya mengunjuk rasa girang dan aneh.

Su Giok-lan berpaling ke belakang, begitu melihat kehadiran Hun Thian-hi, ia terkejut sampai mundur setindak. Segera Bu-bing Loni bersuara pula tanya pada Su Giok-lan, “Lan-ji, siapakah yang datang.”

“Hun Thian-hi!” sahut Su Giok-lah pelan-pelan.

Bu-bing Loni tersentak kaget, kedua biji matanya terbelalak ke depan, hampir dia tidak mau percaya, begitu mendengar langkah orang lantas dia dapat mengukur betapa tinggi kepandaian pedatang ini. Meski betapapun besar rejeki Hun Thian-hi, lwekangnya tidak mungkin maju begitu pesat dan mencapai tingkat teratas, pelan-pelan ia berpaling, dilihatnya yang baru datang ini memang Hun Thian-hi.

Dengan sinis Hun Thian-hi pandang Bu-bing Loni dan Su Giok-lan, mulutnya bungkam. Hidung Bu-bing Loni mendengus lirih, sekarang dia harus percaya, sekilas ia pandang Hun

Thian-hi lalu menoleh pula, seolah-olah ia tidak pedulikan kehadiran Thian-hi, namun mulutnya

berkata pada Su Giok-lan, “Lan ji, aku sedang ada urusan disini, coba kau usir dia keluar!”’ Su Giok-giok mengiakan, segera ia melolos pedang.

“Nanti dulu!” seru Thian-hi.

“Toaci!” seru Ong Ging-sia tertawa, “kau tak usah repot2, akulah yang mengundangnya kemari, bukankah kau hendak mencari dia? Kenapa pula kau usir dia?”

Bibir Bu-bing mengejek, dengusnya, “Itu urusanku kau tak usah ikut campur. Bila Ham Goat sampai mencari kemari, itulah tanda saat kematiannya!”

Berdetak jantung Thian-hi, ia melangkah maju menjura kepada Ong Ging-sia, “Wanpwe Hun Thian hi, menghadap pada Cianpwe!”

“Tak usah banyak beradatan, apa kau baik selama ini?” sapa Ong Ging-sia lemah lemhut. “Berkat doa Cianpwe segalanya baik, terima kasih akan perhatian ini. Cuma tempo hari bikin

repot Cianpwe saja.” — Waktu bicara ia angkat kepala mengawasi Ong Ging-sia. Perasaannya kali ini jauh berbeda dengan tempo yang lalu, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, dia menjadi risi dan kikuk malah entahlah apa yang harus diperbuat selanjutnya.”

BU-bing melirik hina, semprotnya kepada Thian-hi, “Apa saja yang telah kau ucapkan kepada Ham Gwat? Kemana dia sekarang?”

Sesaat Hun Thian-hi menjublek, “Apa dia sudah pergi?” tanyanya berseri girang.

Bu-bing menggeram marah, jengeknya, “Bila kau mendengar apa dan berani mengadu domba diantara kami, aku tidak akan gampang memberi ampun pada kau. Selama ini kemana pula kau berada?”

Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya, “Apa yang kau tanyakan aku tidak tahu!”

Bu-bing Loni menyeringai sinis, katanya, “Baik. mungkin kau temukan rejeki aneh, ilmu silatmu sekarang sudah tinggi, aku harus membuat perhitungan selama setahun ini padamu. Lalu ia berpaling ke arah Su Giok-lan dan berkata pula, “Lan.ji, belakangan ini bagaimana latihan Hui-sim- kiam-hoat mu?”

Su Giok-lan bersangsi sejenak, sahutnya, “Murid sendiri kurang jelas, paling tidak dapat mencapai taraf yang ditentukan oleh Suhu!”

“Itupun sudan cukup,” ujar Bu-bing mendengus, “Gunakanlah Hun Thian-hi untuk mencoba latihan ilmu pedangmu!”

Su Giok-lan mengiakan dan patuh. Memang kesannya terhadap Hun Thian-hi rada jelek, meski tempo hari Hun Thian-hi pernah menolong dirinya, namun sekarang dia merasa tidak puas dan sirik terhadap Thian-hi, orang telah menjerumuskan Ham Gwat, sejak mula Su Giok-lan sangat simpatik dan patuh sekali terhadap Ham Gwat, terutama beberapa bulan belakangan ini, sikap Ham Gwat terlalu baik terhadapnya. Sekarang Ham Gwat telah lari mengkhianati gurunya, sebab musababnya adalah karena Hun Thian-hi yaitu karena Ham Gwat telah melepasnya pula itu berarti dia membangkang terhadap perintah gurunya.

Su Giok-lan melangkah maju sambil menenteng pedang.

“Nona Su,” kata Hun Thian-hi tertawa, “Apakah harus bergebrak dengan aku?” “Jangun cerewet.”

Pelan-pelan Hun Thian-hi melolos Hwi-hong-siau dari pinggangnya, ujarnya, “Kalau begjtu harap nona Su memberi petunjuk!”

Tanpa ayal pedang Su Giok-lan lantas terangkat dan mulai menyerang, beberapa bulan terakhir ini ia rajin dan tekun melatih Hui-sim-kiam-hoat, Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tertinggi dan sangat menakjupkan. Begitu Su Giok-lan menggerakkan pedang sejurus permainannya saja lantas terlihat sinar pedangnya berkelebat memutih laksana lembayung menggulung ke arah Hun Thian-hi.

Biji mata Hun Thian-hi berputar mengikuti samberan sinar pedang, mulutnya menyungging senyum manis, sebat sekali ia angkat serulingnya, dengan mengembangkan Gim-ho-sam-sek ia melawan serangan musuh, pancaran cahaya merah dadu dari seruling ditangannya berkembang melebar seperti kabut merah, melindungi badannya, sinar pedang Su Giok-lan berubah berkuntum2, mengembang keempat penjuru merangsak dari berbagai jurusan, sedemikian gencar serangan pedangnya, namun sedemikian jauh ia tidak mampu mendesak maju setengah Undakpun.

Begitulah setengah jam sudah lewat, yang satu menyerang dengan bernafsu yang lain bertahan dengan rapat dan kuat, Hun Thjan-hi cukup menggunakan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari Gin-ho-sam-sek ajaran Soat-san-su-gou, seluruh rangsakan pedang Su Giok-lan berhasil dihalau ditengah jalan.

Menyaksjkan pertempuran ini, lama kelamaan bercekat hati Bu-bing Loni, mengandal kepandaian Thian-hi yang tinggi sekarang, jangan kata Su Giok-lan bukan tandingannya, seumpama dirinya sendiri yang maju juga belum tentu pasti bisa menang dalam waktu singkat secara gampang.

Beberapa jurus lagi, segera ia berseru, “Lan-ji, kau mundurlah!”

Su Giok-lan menarik pedang mundur beberapa langkah, hatinya pun dirundung keheranan, kepandaian silat Hun Thian-hi kiranya sudah maju begitu cepat berlipat ganda, sungguh sukar dipercaya kalau tidak menyaksikan dan membuktikan sendiri.

Disamping heran hatinya pun menjadi dengki, betapapun ilmu silat Hun Thian-hi selalu lebjh maju lebih tinggi dari kemampuannya, sanubarinya yang paling dalam diam-diam merasa sirik karena akhir2 ini ia beranggapan setelah pelajaran ilmu pedangnya maju pesat, kecuali Bu-bing Loni dan Ham Gwat dua orang, seluruh kolong langit ini tiada orang ketiga yang dapat mengalahkan dirinya.

Sambil tersenyum Hun Thian-hi pun mundur sambil menyimpan serulingnya, sekilas tampak olehnya rasa kurang puas dari pancaran mata Su Giok-lan, terlihat pula rasa penasaran dan hawa pembunuh dari sorot mata Bu-bing Loni.

Kata Bu-bing Loni kepada Hun Thian-hi, “Selama ini kemana saja kau pergi?”

Ong Ging-sia malah yang menjawab pertanyaannya ini, “Ketahuilah dia adalah murid angkat Ka-yap Cuncia.”

Kontan berubah hebat air muka Bu-bing Loni. selama hidupnya ini, otaknya terlalu berangan2 bahwa dirinya tiada tandingannya di seluruh kdlong langjt. konon bahwa Ka-yap jauh lebih kuat dari dirinya, namun sudah sekian lamanya menghilang dari percaturan dunia persilatan. Siapa nyana sekarang Hun Thjan-hi diangkat menjadi murid angkat Ka-yap Cuncia. Dari kepandaian Thian-hi yang begitu hebat dan tinggi ini dapatlah diukur sampai dimana tingkat kepandaian Ka- yap Cuncia.

Bu-bing terlongong sesaat lamanya, akhirnya sambil bangkit ia tertawa dingin, “Kalau begitu, kutantang kau tiga hari lagi bertemu di Yan-bun-koan, kau tidak datang, aku pun bisa temukan kau dimana saja kau berada.” — Selesai bicara sekilas ia pandang Ong Ging-sia, tampak mulut orang sudah bergerak, namun urung bicara.

Bu-bing mendengus hidung berjalan di depan ia bawa Su Giok-lan keluar dari kamar batu terus naik burung dewata, dikejap lain mereka sudah terbang tinggi dan menghilang.

Hun Thian-hi menganiar dengan pandangan matanya, setelah tidak kelihatan lagi baru dia menoleh kembali. Seketika jantimgnya berdetak keras, tampak sapasang biji mata Ong Ging-sia mengembang air mata, seolah-olah ada banyak ucapan sedih yang ingin dilimpahkan, namun tak kuasa diucapkan. Pelan-pelan Hun Thian-hi menunduk. ia berdiri bungkam.

Sebentar kemudian. Ong Ging-sia menghasut air matanya, serta berkata, “Hun-siauhiap, belum lama, ini kau pernah ketemu Ham Gwat bukan?”

Thian-hi manggut-manggut. sahutnya, “Jangan Cianpwe panggil aku demikian, panggil aku Hun Thian-hi saja!”

Pancaran mata Ong Ging-sia mengunjuk rasa senang, katanya, “Baiklah aku pun tidak perlu sungkan-sungkan, Bu-bing Loni mengurungnya, namun ia berKesempatan melarikan diri dengan pelayannya. Bu-bing menyangka aku telah membocorkan perkara ini kepada kau, sehingga Ham Gwat datang kemari menemui aku, ingin dia tahu apakah betul Ham Gwat pernah kemari!”

Thian-hi manggut-manggut lagi tanpa bersuara, diapun tengah heran, sebetulnya kemanakah Ham Gwat telah pergi?”

Kata Ong Ging-sia pula setelah menghela napas, “Kukira Hwesio jenaka sudah memberitahu pada kau bahwa Ham Gwat sebetulnya adalah putriku. Waktu kau ketemu dia tempo hari bagaimana keadaannya?”

Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Dia baik sekali, dia….” ia menjadi kememek tak tahu apa yang harus dia ucapkan….

“Bagaimana kesanmu terhadapnya?” tanya Ong Ging-sia tersenyum.

Merah dan panas muka Thian-hi, ia menunduk malu. sesaat baru menjawab, “Dia seorang baik, pintar

dan tidak congkak. malah….” sampai disini ia merandek dan tertawa geli sendiri, tak melanjutkan kata-katanya.

“Benar-benarkah begitu?” seru Ong Ging-sia kegirangan,

“Meski ini menurut ucapanku saja. namun aku bicara setulus hati, aku percaya siapapun bila kenal dan bergaul dengan dia lantas akan merasakar hal-hal itu.”

Ong Ging-sia menunduk, otaknya tepmenung mengenang kembali masa dua puluh tahun yang lalu. sampai sekarang berarti dua puluh tahun sudah ia tidak pernah bertemu dengan Ham Gwat putri tunggalnya sendiri yang sudah dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik rupawan.

Sungguh ingin sekali ia bertemu, tapi aku…. mukaku seburuk ini, seumpama ketemu Ham Gwat, hanya membuat hatinya seram belaka, terpikir sampai disini ia menghela napas dengan rawan dan murung.

Suasana menjadi sepi sekian lama, akhirnya Thian-hi membuka suara pula, “Dia cantik sekali, Cianpwe ingin bertemu dengan dia?”

Ong Ging-sia angkat kepala, tanyanya, “Dia tahu bahwa aku berada disini?” “Mungkin dia tidak tahu, kita tahu pasti dia sudah memburu kemari.” “Jangan kau beritahu dia, kuharap dia tidak menemui aku….” berhenti sebentar lalu menambahkan, “Bila kau bisa, setelah bertemu dengan dia, beritahu padaku dimana dia berada, biar aku pergi melihat dia.” — Ia menunduk sambil menitikkan air mata kesedihan.

Thian-hi menjublek tak Bersuara. Ong Ging-sia menggeleng, katanya, “Perjanjian tiga hari itu. jangan kau layani tantangan Bu-bing. kau kerjakan urusanmu yang lain saja, aku….aku tak mampu bantu kau untuk menghadapj dia, hatinya kejam dan telengas. yang penting kau harus sempurnakan dulu Wi-thian-cit-ciat-sek lebih dulu. Sementara ini boleh kau menetap disini saja, bila Bu-bing meluruk kemari biar aku yang hadapi dia!”

Thian-hi berpikir, akhirnya ia manggut-manggut sahutnya: .Begitu pun baiklah!”

Ong Ging-sia menunduk, diam-diam hatinya senang, Hun Thian-hi terang menaruh cinta terhadap Ham Gwat. ia berpikir lagi lalu berkata angkat kepala, “Thian-hi pernahkah terpikir olehmu, kemanakah sebenar-benarnya Ham Gwat telah pergi?”

“Aku juga tidak tahu, tapi pasti ada sasaran tempat bagi tujuannya sehingga dia berani merat. Kupikir waktu masih ada dua hari, selama ini dapat kusempurnakan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, beberapa hari lagi biar kumencari jejaknya!”

Rasa senang Ong Ging-sia terunjuk pada air muka dan sinar matanya, tentu Hun Thian-hi sudah sangat rindu dan kangen betul terhadap Ham Gwat, mendapat calon suami seperti Hun Thian-hi, Ham Gwat pasti bahagia dan akupun harus lega dan terhitung sudah menyempurnakan tuntutan hidup putrinya.

Melihat reaksi perkataannya mengubah sikap dan air muka Ong Ging-sia, tanpa merasa Thian- hi menjadi tegang sendiri, Ong Ging-sia adalah ibunda Ham Gwat, hubungan dirinya dengan Ham Gwat belum lagi intim, mana bisa menampilkan rasa hatinya sedemikian rupa, apakah tidak terburu nafsu? Entah bagaimana pendapat dan penerimaan Ong Ging-sia?

“Kalau begitu bikin susah padamu saja,” ujar Ong Ging-sia tertawa. “Sementara ini kau tinggal saja di Bu-la-si ini….”

Baru saja ia selesai bicara, mendadak Hwesio jenaka melangkah masuk dari luar, katanya Kepada Thian-hi, “Aku baru saja tiba. Apa benar-benar kau mau menetap sementara di Bu-la-si?”

Thian-hi manggut-manggut. Ia tidak tahu kemana Hwesio jenaka telah pergi, namun melihat kedatangannya ini, diam-diam Thian-hi berpikir pasti ada sesuatu peristiwa besar telah terjadi, terasa olehnya hati seperti dibebani ribuan kati batu besar.

Kata Hwesio jenaka kepada Ong Ging-sia, “Kurasa saat ini tidak mungkin. Ketahuilah Tok-sim- sin-mo sudah bersumbar dalam waktu sepuluh hari dia sendiri hendak meluruk ke Siau-lim-si dan menumpasnya habis2an bila kau tidak menyusul kesana dalam jangka waktu yang ditetapkan ini!”

Berubah air muka Thian-hi, cara kerja Tok-sim-sin-mo sungguh cukup ganas dan jahat, belum lagi racun di badan Sutouw Ci-ko dipunahkan, sekarang sudah menekannya dengan urusan lain pula, apakah aku harus kesana masuk perangkapnya?”

Kata Hwesio jenaka pula tertawa, “Ang-hwat-lo-co juga ingin supaya kau pergi ke Thian-lam, katanya gurumu Kongsun Hong sudah terjatuh di tangannya bila kau meluruk pada tantangan Tok-sim-sin-mo berarti jiwa Kongsun Hong tak bisa diselamatkan lagi!”

Lebih kejut dan gugup lagi hati Thian-hi, tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Akhirnya Ong Ging-sia bersuara sambil menghela napas, “Terpaksa kau harus memburu ke Tionggoan saja!”

“Benar-benar,” timbrung Hwesio jenaka, “kau pergi ke Siongsan dulu, bekerja menurut situasi dan keadaan…. Soal Thian-lam biar aku kesana lebih dulu, Ang-hwat tidak akan berani turun tangan seceroboh itu. Jelasnya kau harus hati-hati melawan kelecikan Tok-sim-sin-mo.”

Thian-hi berpikir mantep, akhirnya ia ambil berpisah dengan Ong Ging-sia, langsung menuju ke Tionggoan.

Siau-lim-si selama berdirinya tetap digdaya dan diagungkan, banyak anak muridnya yang pandai dan berbakat tinggi. Bila benar-benar Siau-lim-si runtuh, maka kaum persilatan di daerah Tionggoan sini pasti akan tenggelam dalam hidup kegelapan, betapapun tinggi kemampuan seseorang takkan mampu mengembangkan kembali kejayaan semula. seperti sepandai Thian- cwan Taysu yang teragung dan terpandang di mata dunia.

Sekarang terpaksa Thian-hi harus kembali pula ke Tionggoan. mengandal ilmu silat dan kecerdikan otaknya, mungkin dapatlah menggagalkan atau menolong bencana yang bakal melanda ke seluruh kepentingan kaum persilatan disini. Tapi betapapun ia tidak tega dan sangat menguatirkan keselamatan guru pembimbingnya Kongsun Hong yang telah mengasuhnya sejak kecil.

Selama menempuh perjalanan dari Bu-la-si ke Siau-lim-si, belum pernah pikiran Thian-hi menjadi tentram. hatinya selalu dirundung kekusutan dan kegugupan. Perjanjian tiga hari dengan Bu-bing sudah terlupakan olehnya…. Juga tidak terpikir olehnya apakah kelak Bu-bing mandah mau membiarkan dirinya yang ingkar janji ini?”

Cuaca sudah gelap. Sebuah bayangan hitam melesat terbang diantara semak-semak pegunungan. orang itu bukan lain adalah Hun Thian-hi adanya. Sekonyong-konyong pekik burung dewata berkumandang di tengah udara. Thian-hi menjadi tersentak kaget dan sadar, hari ini tepat tiba perjanjiannya tiga hari itu. Kenapa aku melupakan perjanjian beradu pedang dengan Bu-bing Loni.

Sesaat ia terlongong dan menghentikan langkahnya, dari tengah udara meluncur turun sesosok bayangan, sekejap saja sudah berdiri tegak dihadapannya, siapa lagi kalau bukan Bu-bing Loni.

Dengan memicingkan mata Bu-bing pandang Thian-hi dengan sikap kaku, “Kemana kau hendak lari?” demikian jengeknya.

Mulut Thian-hi terbungkam, ia pandang Bu-bing lekat-lekat. Dia tahu sepak terjang Bu-bing selalu dilandasi kemauan hati melulu, dia tidak pernah kenal apa itu keadilan, maka dengan tawar ia menyahut, “Apakah sekarang saja dimulai bertanding pedang,”

Melihat sikap Hun Thian-hi yang demikian congkak, Bu-bing Loni menjadi murka, alisnya terangkat tinggi, serunya, “Jangan kau kira Pan-yok-hian-kang dan Gin-ho-sam-sekmu dapat menjagoi di seluruh Kang-ouw. Hari ini akan kuperkenalkan padamu kepandaian ilmu pedang yang sejati!”

Thian-hi mundur setengah tindak seraya melolos pedang di punggungnya, kedua biji matanya lekat-lekat mehgawasi gerak gerik Bu-bing Loni.

Pelan dan acuh tak acuh Bu-bing menanggalkan pedang dari serangkanya, pelan-pelan ia melolosnya keluar, seenaknya saja ia buang serangka pedangnya ke samping, dengan mengawasi batang pedang mulutnya bicara, “Seluruh kaum persilatan di dunia ini belum ada seorang pun yang benar-benar pernah melihat Hui-sim-kiam-hoatku seluruhnya. Terutama tiga gerak serangkai dari jurus yang terakhir, sekarang sebelum kau ajal akan kupertunjukkan kepada kau!”

Melihat Bu-bing Loni bicara begitu enak dan enteng saja, seolah-olah tidak pandang sebelah mata dirinya, dingin perasaan Thian-hi. Wi-thian-cit-ciat-sek latihan dirinya belum lagi sempurna, bila sekarang dia kembangkan untuk melawan Hui-sim-kiam-hoat, bukan saja tidak mampu menandingi tiga rangkai serangan pedang musuh, malah mungkin akan menambah gelora angkara murka hati Bu-bing Loni untuk melenyapkan dirinya.

Karena pikirannya ini tanpa merasa hatinya menjadi lemas. Tapi dendam ayah belum terbalas, merabahaya sedang mengancam keselamatan hidup kaum persilatan di seluruh Tionggoan, mana boleh aku ayal begitu gampang saja.

Pandangan mata Bu-bing dari batang pedang pelan-pelan beralih kemuka Thian-hi. Terasa oleh Thian-hi dalam pandangan mata Bu-bing Loni ini terkandung rasa penghinaan dan merendahkan dirinya yang berkelebihan, agaknya hatinya akan menjadi senang setelah melihat orang lain menjadi mayat.

Sontak terbangkit rasa kejantanannya, alisnya tegak berdiri, darah menggelora, dengan pandangan berkilat gusar ia balas pandang ke arah Bu-bing Loni.

Melihat Hun Thian-hi tidak mengunjuk rasa gentar atau takut berjengkit alis Bu-bing Loni, katanya sambil menjengek bjbir, “Mungkin kau belum tahu cara kerjaku. Kau tidak akan bisa segera mati, akan kusayat dan kukuliti kulit dan dagingmu sedikit2 sampai kau mampus. Aku akan bekerja pelan-pelan, mungkin tiga hari atau mungkin sampai setengah bulan baru badanmu habis kusayati!”

Hun Thian-hi mandah menyeringai tawa, ujarnya, “Kedengarannya memang enak dan nikmat sekali. tapi apakah kau mampu?’“

Bu-bing Loni menggeram gusar sambil membanting kaki, tiba-tiba wajahnya mengunjuk senyum-tawa yang sangat aneh, katanya, “Mungkin aku tidak mampu, tapi mungkin pula bisa bukan! Nanti akan kamu buktikan dan kau akan tahu akibatnya!”

Melihat senyum aneh diwajah Bu-bing Loni, sontak terbit suatu rasa ketakutan dalam sanubari Hun Thian-hi, selamanya belum pernah ia melihat tertawa aneh Bu-bing Loni semacam itu. Bukan saja tawanya itu tidak bersahabat, malah sebaliknya terasa adanya hawa kesadisan sedang mengancam setiap waktu di sekelilingnya.

Sekilas saja ai rmuka Bu-bing Loni pulih seperti sedia kala, tanpa expresi ia berkata, “Kau sudah siap belum? Aku akan segera turun tangan awaslah kau.”

Kaki kanan Hun Thian-hi mundur setengah langkah. pedang siap melintang di depan dada, ia berdiri tegak siap siaga.

Laksana awan mega nan enteng tubuh Bu-bing Loni melejit maju. ringan tanpa menimbulkan kesiur angin pedangnya terayun, menjojoh ke depan tengah alis Hun Thian-hi. Sigap sekali dalam waktu yang bersamaan Hun Thian-hi juga menggerakkan pedangnya dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai dari ilmu Gin-ho-sam-sek untuk memapaki serangan musuh, begitu jurus permainan kedua belah pihak sedikit kebentur, lantas Hun Thian-hi rasakan gaya gerak pedang

Bu-bing Loni yang kelihatan bergerak enteng itu mengandung tekanan tenaga yang luar biasa besarnya menggetar mundurkan tubuhnya, keruan kejutnya bukan kepalang, tak berani menyambut secara kekerasan ia melejit mundur. Terdengar Bu-bing Loni menjengek dingin. pedangnya terbang membalik lagi. jurus kedua ini lebih hebat, berbareng dengan samberan batang pedang hawa sekelilingnya seperti menjadi dingin ikut menerpa ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi harus beruntun menggerakkan dua tipu pedangnya baru berhasil memunahkan daya kekuatan serangan jurus pedang Bu-bing Loni yang kedua ini. Serta merta timbul keheranan dalam hatinya, karena cara permainan jurus-jurus ilmu pedang yang dimainkan Bu-bing Loni ini jauh berlainan dengan permainan Su Giok-lan tempo hari. Terbit pancaran heran dari sorot pandangan Bu-bing Loni melihat Thian-hi mampu memunahkan gelombang tekanan serangan kekuatan pedangnya, namun rasa heran itu hanya sakilas saja.

Dilain saat tubuhnya sudah melejit mumbul terbang ke tengah udara, berbareng ia lancarkan ilmu Hui-sim-kiam-hoat yang tulen, seketika Hun Thian-hi terkurung dalam kilatan sinar pedangnya.

Hun Thian-hi menyedot napas dalam-dalam, Pan-yok-hian-kang dikerahkan selurufhnya ke arah batang pedang, dengan Gin-ho-sam-sek yang kuat dan rapat serta kokoh penjagaannya itu ia layani rangsak membadai dari serangan pedang BU-bing Loni.

Saking cepat permainan mereka, sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu Sambil mengunjuk rasa hina dan mengejek Bu-bing Loni mengurung Hun Thian-hi dalam kurungan kilat sinar pedangnya. Pertempuran mereka berdua kali ini, rasanya jauh lebih hebat dan seru dibanding Bu- bing Loni melawan Swat-san-su-gou dipuncak Soat-san setahun yang lalu itu. Begitu menakjupkan seolah-olah dapat menyedot sukma bagi setiap orang yang menonton. Hanya bedanya kalau dulu Soat-san-su-gou satu melawan empat, sebaliknya sekarang Thian-hi satu lawan satu, dan keadaan selama ini masih tetap seimbang.

Selama tempur terasa oleh Thian-hi tekanan dari empat penjuru semakin besar, begitu besar gencetan ini sampai dada terasa sakit dan susah bernapas. Tapi kelihatannya Bu-bing bergerak begitu bebas dan seenaknya saja, seperc belum mengerahkan setaker tenaganya. tujuannya tak lain tak bukan adalah hendak mengurung Thian-hi sampai mati lemas.

Lama kelamaan Thian-hi naik pitam, bahwa dirinya dipermainkan seperii kucing mempermainkan tikus merupakan suatu penghinaan terhadap dirinya, dengan menghardik keras, mendadak pedangnya mencorong terang, ia kerahkan seluruh kekuatannya melancarkan jurus ketiga dari Gin-ho-sam-sek yang terhebat yaitu jurus Ho-jong-boh-hun-siau (bangau terbang menembus awan mega), dengan kekerasan ia terjang dan merangsak ke arah tembok pertahanan sinar pedang Bu-bing Loni yang mengepung dirinya

Melihat Hun Thian-hi mendadak melancarkan jurus permainan pedangnya. yang aneh rada bercekat hati Bu-bing, cepat pedangnya berkelebat membandir dengan jurus Lian-so-kim-liong (merantai naga mas) pedangnya menekan dan menggubat seluruh badan Hun Thian-hi.

Sudah tentu Thian-hi tidak mau mandah terima binasa begitu saja, mau tak mau ia harus kerahkan seluruh tenaga dan kemampuan untuk menjebol segala rintangan, kedua belah pihak menjadi sama kerahkan setaker tenaga masing-masing. Begitu pedang kedua belah pihak saling bentur “Creng”, kontan tubuh Hun Thian-hi mencelat tinggi ke tengah udara. tubuhnya terbang keluar dari lingkaran sinar pedang Bu-bing Loni yang mengurung dirinya.

Tapi setelah ia berhasil hinggap di tanah kembali seketika berubah pucat air mukanya, karena pedang pusaka ditangannya sudah patah menjadi dua tergetar oleh benturan dahsyat tadi. Dilain pihak Bu-bing Loni juga menarik mukanya yang membeku dingin. Sungguh tak nyana olehnya kurungan sinar pedangnya yang begitu ampuh dan hebat itu berhasil dijebol oleh Hun Thian-hi. Dengan kaku dan dingin ia pandang Hun Thian-hi, lama sekali mereka berdiri saling pandang tanpa buka suara.

Sekonyong-konyong tubuh Bu-bing Loni melambung tinggi lagi, pedang panjang bergerak cepat menyerang pula kepada Hun Thian-hi. Tak sempat Thian-hi banyak pertimbangan lagi, dimana tangan kanannya terayun ia sambitkan kutungan pedang buntung itu ke arah Bu-bing sekuat tenaganya. Tanpa susah Ba-bing Loni menggerakkan pedangnya menyampok jatuh sambitan kutungan pedang Hun Thian-hi, mulutnya menyungging seringaj sadis. dimana pedangnya terayun ia menusuk kejalan darah Jian-kin-hiat dipundak Hun Thian-hi.

Gesit sekali Hun Thian-hi meloncat berkelit berbareng tangannya meraih kepinggang merogoh keluar seruling pemberian Ong Ging-sia. Tanpa, banyak berpikir lagi Hwi-hong-siau menuding miring ke depan, ia kembangkan jurus Wi-thian-cit-ciat-sek jurus pertama yang dinamakan Thian- wi-te-liu (langit berputar bumi mengalir).

Dengan permainan pedangnya yang hebat tiada taranya itu Bu-bing menyangka jurus serangan kali ini pasti berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi, tak lebih tiga jurus belaka. selanjutnya Hun Thian-hi harus tunduk dan patuh mendengar perintahnya.

Tak nyana begitu tusukan pedangnya dilancarkan, mendadak dilihatnya Hun Thian-hi mengacungkan senjata seruling, sedikitpun ia tidak ambil perhatian, tapi tiba-tiba tusukan pedangnya belum lagi mengenai sasarannya mendadak terasa tangan kanannya kesemutan, segulung angin berkekuatan dahsyat melanda tiba dengan daya kisaran yang hebat sekali. Hampir saja ia terdesak melepaskan pedang sendiri.

Keruan bukan main rasa kejutnya, lekas-lekas ia menyurut mundur beberapa langkah. dengan dingin ia tatap muka Hun Thian-hi. Selamanya memang ia belum pemah kebentur dengan Wi- thian-cit-ciat-sek, tapi sejak lama pernah dengar namanya. Kini Wi-thian-cit-ciat-sek ternyata muncul atas bocah keras kepala yang menjadi musuhnya ini, bila sekarang tidak diberantas dan ditumpas, bila dia sampai melatihnya sampai sempurna kelak pasti bakal merupakan lawan tangguh yang paling berbahaya bagi dirinya.

Dasar culas dengan dingin mulutnya menggeram seperti binatang kelaparan. Thian-hi insaf tibalah kini saatnya bagi dirinya untuk berjuang bagi hidup dalam menghadapi mara bahaya yang mengancam ini. Sedikit berpikir segera mulutnya bersuit panjang, tiba-tiba tubuhnya meluncur terbang lempang dan lurus ke depan, ditengah jalan tubuhnya menjulang ke atas lalu menukik pula meluncur dengan kecepatan kilat, dimana tubuhnya bergerak memutar seruling ditangan melancarkan pula tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek, yang diarah adalah batok kepala Bu-bing Loni.

Tidak malu Bu-bing Loni diagungkan sebagai jago pedang nomor satu di seluruh dunia ini, tanpa gugup ia sambut serangan hebat Thian-hi ini dengan tipu-tipu Hui-sim-kiam-hoat yang sakti itu, dimana kekuatan tenaganya terpancar dari ujung pedangnya serangan seruling Thian-hi kena tergetar miring. Tapi Wi-Thian-cit-ciat-sek memang bukan olah-olah hebatnya, ditengah udara Thian-hi terbang berputar, sedikit serulingnya bergerak saja, setabur kekuatan hawa yang berkisar besar menerjang ke arah Bu-bing Loni.

Dengan tenang Bu-bing Loni pandang permainan Thian-ni, cukup ia gerakkan pedangnya pula setiap jurus serangan Thian-hi kena dibendung diluar lingkaran. Tapi tak urung hatinya kaget juga. dia heran bahwa kepandaian Hun Thian-hi bisa maju pesat sedemikian tingginya,

Wi-thian-cit-ciat-selk yang digjaya dan hebat ini memang bukan ilmu sembarang ilmu yang dapat dihadapi secara serampangan, untung latihan Hun Thian-hi belum matang. Kalau tidak mungkin hari ini dirinya sendiri yang bakal terjungkal ditangan musuh mudanya ini.

Melihat rangsakannya berulang kali selalu gagal Hun Thian-hi semakin gugup dan kaget.

Memang tidaklah malu Bu-bing Loni disebut tokoh kosen nomor satu di seluruh dunia ini. dibanding Tiang-pek-lokoay boleh dikata terlalu jauh bedanya, tidaklah heran bahwa Ang-hwat-lo- mo juga gentar terhadapnya. malah begitu takut dan takutnya ini tidaklah bukan beralasan. Sekarang Thian-hi baru insaf jangan kata untuk menang, supaya tidak kalah saja juga rasanya tidak mungkin lagi, aku tidak bisa mati demikian saja dan tidak bisa mati secara konyol. Sembari tempur Hun Thian-hi memutar otak, akhirnya ia berkeputusan. seketika tubuhnya melambung tinggi pula, disaat Bu-bing Loni hanya bertahan menyelami serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, tiba-tiba ia meluncur jauh dan lari sipat kuping ke depan sana.

Bu-bing menggerung gusar, sebagai tokoh yang banyak pengalaman perbuatan Hun Thian-hi masa dapat mengelabui kejelian matanya, begitu tubuh Hun Thian-hi melambung ke depan, ia lantas dapat meraba maksud tujuan Hun Thian-hi, tahu-tahu tubuhnya pun sudah berkelebat mengejar.

“Mau lari kemana kau?” jengeknya sambil menghadang jalan lari Thian-hi.

Thian-hi tidak bicara, serulingnya menggempur dengan seluruh kekuatannya. Bu-bing menyeringai dingin ringan sekaii ujung pedangnya menutul ke depan, ia balas serang dada Hun Thian-hi sebelum serangannya tiba.

Sementara itu. tenaga Hun Thian-hi sudah terkuras tidak sedikit, apalagi serangannya selalu gagal. tenaganya sudah habis lagi, ia insaf bahwa dirinya tidak akan mampu menempur Bu-bing lebih lanjut terpaksa ia puter tubuh dan lari lagi.

“Mau lari pula kau? Cobalah rasakan Lian-hoan-sam-kiamku ini!” — Pedang panjang ditangan Kanannya teracung, hawa pedang segera merembes keluar dari batang pedang, seiring dengan gerak pedang tubuhnya ikut menggeser kedudukan, hawa pedang yang semakin padat laksana lembayung segera menyapu dan merangsak ke arah Hun Thian-hi.

Thian-hi menyedot napas panjang, ia insaf bahwa dirinya hari ini sulit menyelamatkan diri pula, terpaksa harus mengadu jiwa. cepat seruling disapukan miring ke depan, ia sambut rangsekan hebat musuh ini dengan Wi-thian-cit-ciat-sek pula.

Bu-bing sudah tidak perlu gentar menghadapi serangan Wi-thian-cit-ciat-sek, namun ia sendiri belum mendapatkan cara untuk memecahkan perlawanan Thian-hi ini, kecuali dengan kekuatan Lwekangnya yang ampuh untuk menekan seret gerak serangan musuh tiada jalan lain untuk mengatasinya. Begitulah sekilas ia berpikir tiba-tiba tajam pedangnya meluncur laksana bintang jatuh melesat ke ulu hati Hun Thian-hi.

Thian-hi menekuk dengkul mendakan tubuh untuk menghindar, bersamaan tangannya menggentak senjata dengan tipu-tipu Wi-thian-cit-ciat-sek menghalau rangsekan Bu-bing selanjutnya. Bu-bing sudah berkeputusan hari ini betapapun ia harus bunuh Thian-hi dengan pedangnya, memang dengan perhitungan yang cukup masak, serangan kali ini hanya gertak sambel belaka, tiba-tiba badannya menerjang maju ke depan, berbareng pedang panjang dibalikkan berputar terus disambitkan lempang ke depan, ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya utk melontarkan pedang, tujuannya sekaii gebrak harus berhasil melumpuhkan perlawanan Hun Thian-hi.

Tapi kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah bukan olah-olah tingginya, begitu melihat serangan balasan serulingnya mengenai tempat kosong mulutnya lantas membentak mengguntur, berbareng kaki kiri menggeser setengah langkah badan ikut berputar setengah lingkaran. serulingnya lantas menjungkit dari bawah ke atas, ia sendal ke arah pedang panjang lawan yang meluncur tiba dengan kekuatan dahsyat itu.

Usaha Thian-hi memang berhasil, ujung serulingnya telah dapat menyungsang pedang lawan tapi diluar perhitungannya bahwa lontaran pedang Bu-bing kali ini menggunakan seluruh Lwekangnya yang ada, apalagi ia hanya sempat menggerakkan tenaga dengan kuda-kuda sedikit jongkok dan tubuh miring, maka tenaga sendalannya bukan saja tidak berhasil menyampok jatuh pedang musuh, malah luncuran pedangnya menusuk ke atas sedikit dan tahu-tahu amblas ke dalam pundak kirinya, begitu deras daya luncuran pedang ini sehingga pundaknya tertembus lewat sampai ke punggung, keruan sakitnya bukan kepalang, sesaat seperti seluruh badan menjadi kejang.

Tujuan serangan Bu-bing adalah Jian-kin-hiat, jalan darah di atas pundak, namun hanya terpaut beberapa mili saja yang kena cuma tulang pundak Thian-hi saja. Tapi hasil tusukan pedang cukup menghabiskan tenaga perlawanan Hun Thian-hi, mandah saja dicincang atau disiksa oleh musuh.

Dengan terpaku oleh selaras pedang yang menembus pundak kirinya, Thian-hi mengeraskan hati berdiri tegak, separo tubuhnya sudah basah kuyup oleh darah, tangan kanan masih kencang- kencang menggenggam seruling, dengan pandangan berapi-api ia deliki Bu-bing Loni.

“Kau masih ingin melawan?” ejek Bu-bing Loni.

Terasa oleh Thian-hi kesakitan yang luar biasa di pundaknya kiri, darah menyembur semakin deras. seluruh tubuhnya semakin lemah dan seperti hampir lumpuh, diam-diam ia tutup jalan darah sendiri berusaha membendung darah yang bocor keluar. Tapi luka yang begitu berat, mana mungkin dapat ia atasi begitu saja di saat ia harus menghadapi musuh yang masih mengancam jiwanya ini.

Pelan-pelan selangkah demi selangkah Bu-bing mendesak maju. Thian-hi gentakkan serulingnya menyerang, namun tenaganya sudah lemah, sekali raih saja Bu-bing berhasil merampas serulingnya, sebat sekali ia merabu beruntun ia tutuk tiga jalan besar di atas tubuh Thian-hi.

Setelah Thian-hi tidak berdaya, ia menyeringai dingin, otaknya menerawang, cara bagaimana ia harus memberi hukuman pada Hun Thian-hi. Sekonyong-konyong kupingnya mendengar pekik burung dewata yang penuh kekuatiran dan takut, berubah air mukanya, cepat ia menengadah ke belakang sana, hatinya menjadi terkejut, belum pernah terjadi hal seperti sekarang, kecuali ketemu lawan berat, atau ketemu orang yang sudah dikenal, burung dewata tidak sembarangan berpekik demikian.

Dengan sebelah tangan mengempit Hun Thian-hi ia berlari-lari menuju ke selatan, setelah keluar dari hutan, ia mendongak, tampak burung dewata sedang bertempur hebat dengan seekor burung rajawali yang cukup besar pula.

Beringas muka Bu-bing. Begitu melihat kedatangan Bu-bing burung dewata berusaha menukik turun, tapi selalu kena dihalangi dan terdesak naik pula ke tengah udara. Bu-bing menjadi gusar mulutnya menjebir hina, kelihatannya burung rajawali ini peliharaan orang, setelah mengukur jarak ketinggiannya, hidungnya mendengus, batinnya, “Kau kira jarak begini tinggi aku tidak mampu naik?” segera ia letakkan tubuh Thian-hi di tanah, tubuhnya mendadak mencelat tinggi ke tengah udara, laksana burung besar kedua tangannya berkembang terus meluncur tinggi tepat sekali hinggap di atas punggung burung dewata, berbareng ia ayun pedang di tangannya membacok ke arah burung rajawali.

Rajawali itu berpekik kejut dan ketakutan, agaknya ia tahu akan kelihayan Bu-bing Loni. cepat ia melambung tinggi terus terbang meninggi hendak lari. Tapi Bu-bing sudah keburu gusar, pedang panjang disambitkan seperti anak panah melesat ke arah burung rajawali itu. Burung rajawali itu memang cukup cerdik ia jumpalitan sekali terus menukik turun, tapi sudah terlambat tak urung sayapnya sudah tertusuk pedang, terdengar mulutnya berpekik kesakitan, membawa pedang yang menancap di badannya ia terbang rendah terus menghilang di balik lembah sebelah sana.

Bu-bing menyeringai sinis dengan kemenangan, waktu ia menunduk melongok ke bawah, Hun Thian-hi yang diletakkan di tanah tadi sudah tidak kelihatan pula bayangannya, sejenak ia terlongong, lantas meluncur turun memeriksa dan mencari ubek2an, namun tidak berhasil menemukan jejaknya.

Sungguh terbakar rongga dadanya, gusarnya bukan kepalang, siapakah yang telah memancing dirinya dengan burung rajawali tadi lalu menolong pergi Hun Thian-hi. Terpaksa ia naik ke punggung burung dewata, ia periksa dan obrak-abrik seluruh pelosok gunung ini namun hasilnya nihil. Akhirnya dengan rasa gusar dan penasaran ia tinggal pergi.

Bu-bing tak habis herannya, ia bertanya-tanya dalam hati siapakah yang tahu jelas akan tabiatnya dapat mengatur tipu daya sebegitu rapi dan cermat sekali, bukan saja dirinya dapat dikibuli jejak musuhpun tak berhasil dicarinya.”

Dalam pada itu, Thian-hi sejak ditutuk tiga jalan darah besar di atas tubuhnya lantas jatuh pingsan, tutukan hebat itu melumpuhkan seluruh sendi2 badannya, apalagi pundaknya terluka parah, keadaannya sangat lemah dan payah. Entah berapa lama kemudian, waktu pelan-pelan ia rasakan pulih kesadarannya, pelan-pelan ia membuka mata, terasa ia rebah di atas ranjang batu, lambat laun pandangan matanya menjadi terang, terlihat bentuk sesosok tubuh orang yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya, keruan kagetnya bukan main, hampir saja ia melonjak bangun. Orang yang berdiri di hadapannya ini bukan lain adalah Ham Gwat.

Melihat Thian-hi sadar dan membuka mata. Ham Gwat berkata lirih dan lemah lembut, “Hun- siauhiap! Bagaimana perasaanmu?”

Dengan terlongong Thian-hi pandang sepasang mata Ham Gwat yang bening cerah, ia heran bagaimana mungkin dia mendadak muncul di hadapannya, bukankah dia sudah minggat dan melepaskan diri dari ikatan sama Bu-bing Loni. Sebenar-benarnya apakah yang telah terjadi?

Adakah terjadi sesuatu atas dirinya? Serta merta mulutnya menggumam tanya, “Kenapa kau berada disini?”

Dengan seksama Ham Gwat juga awasi wajah orang, sahutnya lirih, “Kau jangan kesusu tanya.

Jelasnya sekarang kau sudah aman, Bu-bing Suthay sekarang sudah pergi!”

Sekian lama Thian-hi terlongong, pelan-pelan ia berkata pula, “Kiranya kaulah yang menolongku!”

Ham Gwat manggut-manggut, pandangannya mendelong ke arah jauh sana, ujarnya, “Bukan begitu sebetulnya. Luka-lukamu belum lagi sembuh, kelak kau akan tahu duduk perkara sebenar- benarnya.”

Melihat Ham Gwat tak mau banyak bicara, Thian-hi pejamkan matanya, Sungguh tak nyana bahwa di tempat ini ia bakal bersua kembali dengan Ham Gwat, banyak kata yang sebenar- benarnya ingin diutarakan, namun tak kuasa diucapkan.

Tiba-tiba Ham Gwat bersuara, “Sudah jangan terlalu banyak pikiran, istirahat saja supaya lukamu lekas sembuh!”

“Berapa lama lagi baru luka-lukaku bisa sembuh?” “Tiga lima hari tentu bisa sembuh!” Mencelos hati Thian-hi, tiga lima hari lagi, bagaimana mungkin dirinya bisa menyusul ke Siongsan Siau-lim-si dalam jangka waktu sepuluh hari yang ditentukan itu? Bukankah menyia- nyiakan perkara besar.

Ham Gwat mengawasinya dengan tajam, katanya, “Tiada gunanya kau menyusul ke Siong-san, ketahuilah bahwa Tok-sim-sin-mo sudah menyebar jaringan kaki tangannya ke-mana-mana menanti kau masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang dia tidak berani mendesakmu menjadi anggota, tujuan yang utama adalah melenyapkan jiwamu yang dipandang saingan terberat bagi kehidupan gerombolannya!”

“Bagaimana juga situasi yang akan kuhadapi nanti, betapapun aku harus menyusul kesana,” kata Hun Thian-hi tegas.

“Memang kau harus pergi ke sana. Baiklah akan kubantu kau tepat pada waktunya dapat menyusul ke sana!” — sekian lama ia termangu memandangi Thian-hi lalu katanya pula, “Aku keluar sebentar, kau istirahatlah baik-baik” ia memutar tubuh terus keluar dari kamar batu itu.

Mengantar punggung Ham Gwat pikiran Thian-hi melayang tak menentu arahnya. Ia merasa bahwa diri Ham Gwat ini penuh diliputi kemisteriusan, jejaknya tidak menentu dan sulit diraba juntrungannya.

Entah cara bagaimana ia bisa menolong dirinya dari cengkeraman Bu-bing Loni. Entah berapa lama ia termangu dan berpikir, selama itu tak memperoleh kesimpulan yang diharapkan, akhirnya ia menghela napas panjang.

Mendadak didengarnya derap langkah lirih yang mendatangi dengan cepat, waktu ia berpaling, dilihatnya yang muncul adalah Siau Hong. Sembari berseri tawa Siau Hong maju menghampiri, serunya lincah, “Sungguh berbahaya keadaanmu kemarin, syukur Siocia menggunakan akal memancing Suthay dan berhasil menolong kau, kalau tidak mungkin saat ini kau sudah menderita oleh siksaannya yang kejam itu!”

“Cara bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?” tanya Thian-hi.

Siau Hong meleletkan lidahnya, sahutnya, “Aku sendiri juga tidak tahu, siocia yang membawa aku kemari, kebetulan mendengar pekik burung dewata, siocia lantas suruh aku sembunyi, belum lama setelah dia pergi, ia perintahkan Kim-ji memancing pergi Suthay, lalu ia berkesempatan menolong kau kemari. Tapi Kim-ji sendiri sekarang juga terluka parah.”