Badik Buntung Bab 17

 
Bab 17

Terkejut hati Thian-hi, kelihatan tangan kedua gadis pelayan itu gemetar dan ketakutan, begitu dekat salah seorang menuang arak di depan Thian-hi serta berkata bergidik, “Tio-cjangkun!

Silakan minum arak!”

Karena takut dan gemetar arak banyak tumpah di atas meja. Tan-siangkok mandah tersenyum manis, matanya melirik congkak menyapu pandang ke sekelilingnya. Dua laki-laki berseragam hijau segera maju menyeret gadis itu, cepat gadis itu berlutut di hadapan Thian-hi serta meratap, “Tio-ciangkun, tolonglah jiwaku!”

“Nanti dulu!” Thian-hi berjingkrak bangun. matanya menyapu ke seluruh hadirin.

Sikap Tan-siangkok acuh tak acuh, duduk dengan angkernya. Keruan bukan kepalang gusar Thian-hi. Serunya, “Siangkok Tayjin, apakah boleh pandang mukaku, ampuni jiwanya?”

Tan-siangkok tertawa, katanya, “Apakah Tio-ciangkun benar-benar tidak mau memberi muka?” Pandangan Hun Thian-hi menyapu keadaan sekelilingnya.

Ing Si-kiat segera bangkit seraya berkata, “Sungguh Tio-ciangkun membuat Tan-siangkok serta runyam dan kena malu!”

Dilihat oleh Thian-hi air muka Ma Bong-hwi yang geram, seperti tidak tahan sabar lagi, dengan lirikan matanya ia mencegah orang berbuat gegabah, lalu katanya tersenyum kepada Tan- siangkok, “Kalau Siangkok memaksa terpaksa tak dapat kutolak lagi, namun Ma-ciangkun terang tak bisa minum, biarlah aku yang mewakili saja, bagaimana menurut pendapat Siangkok?”

Baru saja Tan-siangkok hendak bicara, Ing Si-kiat keburu mendahului, katanya, “Begitupun baik, ucapan adik perempuan Ma-ciangkun seolah-olah lebih tinggi dari perintah raja bagi dia, maka Tan-siangko kpun tak perlu memaksanya lagi.”

Sekaligus Thian-hi tenggak habis dua cawan arak, begitu masuk perut terasa perutnya seperti dibakar, terang itulah arak beracun yang sangat jahat, heran dia kenapa tadi Tan-siangkok bisa minum, mungkinkah mereka sudah minum obat pemunah sebelumnya.

Melihat sikap Thian-hi yang masih berdiri tegak tanpa bergeming dengan gagah, diam-diam terkejut hati Ing Si-kiat dan Tan-siangkok, serta merta mereka saling berpandangan.

Menurut perhitungan Ing Si-kiat dia terlalu tinggi menilai ilmu silat Hun Thian-hi, melihat orang rela mewakili Ma Bong-hwi minum arak, dalam hati ia membatin; hanya meringkus Thian-hi seorangpun bolehlah, soal Ma Bong-hwi gampang saja dihadapi dengan pasukan pendam yang sudah dipersiapkan diluar. Siapa kira setelah Hun Thian-hi minum arak itu sedikitpun ia tidak kurang suatu apa.

Keruan kejut dan gentar hatinya, mungkinkan arak beracun itu tidak mujarab lagi khasiatnya? Bergegas Tan-siangkok berdiri minta diri ke belakang untuk tukar pakaian, karena gemetar Ing

Si-kiat berlaku kurang hati-hati tangannya menyenggol jatuh sebuah cawan arak. Ma Bong-hwi melonjak bangun sambil meraba pedangnya, dia siap menghadapi segala kemungkinan. Tapi kenyataan keadaan tetap tenang tiada terjadi apa-apa. Dengan tajam matanya menyelidik ke empat penjuru, akhirnya berhenti di muka Ing Si-kiat, katanya tertawa tawar, “Ing-ciangkun menjatuhkan cawan membuat aku kaget!”

Sudah tentu Ing Si-kiat yang paling kaget dan pucat mukanya, bagaimana mungkin pasukan sebanyak lima ratus orang yang telah dipersiapkan diluar itu satupun tiada yang muncul, apakah telah terjadi sesuatu di luar dugaan?”

Dasar licik, sebentar saja dia dapat mengendalikan perasaannya, dengan tersenyum simpul ia berkata, “Minumku juga terlalu banyak, sebuah cawan saja sampai tak kuasa kupegang.”

Ma Bong-hwi mandah tertawa ejek, hatinyapun heran dan bertanya-tanya, kenapa suasana masih demikian tenang, sampai dimana tingkat kepandaian ilmu silat Ing Si-kiat ia tahu jelas, takkan mungkin sebuah cawan saja tak kuasa memegangnya, apalagi arak yang diminumnya tidak banyak, tak mungkin kena mabuk, tapi kenyataan pasukan terpendam itupun tidak muncul.

Begitulah hatinya bertanya-tanya, dia pun heran apakah arak yang diminum itu beracun? Tan- siangkok sendiri tidak kurang suatu apa, demikian juga Hun Than-hi tetap segar bugar, sungguh hatinya bingung dan tak mengerti.

Demikian juga hati Thian-hi dirundung rasa heran yang sama, kenapa pasukan pendam yang dipersiapkan itu tidak muncul menyerbu. Tengah ia bertanya-tanya dalam hati, tampak seseorang pengawal yang mengenakan seragam Busu serba merah muncul langsung menghadap ke depan Thian-hi, “Lapor komandan, sekarang juga Baginda raja ingin bertemu dengan Komandan dan Ma- ciangkun, diperintahkan untuk segera menghadap!”

Thian-hi bersama Ma Bong-hwi lantas berdiri, katanya kepada Ing Si-kiat, “Perintah Baginda memanggil, terpaksa kami tak bisa tinggal lebih lanjut, harap Ing-ciangkun mewakili kami mohon diri kepada Tan-siangkok.”

Habis berkata angkat tangan menjura lalu melangkah lebar keluar, dengan hambar dan terlongong Ing Si-kiat berdiri di tempatnya, sesaat lamanya mulutnya terbungkam tak kuasa bicara…. Bagaimana ia harus bertindak selanjutnya, mau menahan orang terang dirinya tidak mampu, kalau membiarkan mereka berdua pulang, bak umpama membiarkan harimau kembali kesarangnya. Kejadian hari ini betapa pun harus dirahasiakan. Bila besok pagi waktu piket dihadapan Baginda Ma Bong-hwi membeber intrik kejahatan ini, Tan-siangkok sendiripun takkan terhindar dari bencana….

Begitulah waktu ia mendongak lagi, Thian-hi berdua sudah pergi jauh, tersipu-sipu ia memburu keluar dan memeriksa ke empat penjuru, tampak olehnya kelima ratus tentara pendamnya yang bersenjata lengkap itu semua rebah di tanah, sebagai seorang ahli silat sekali pandang saja lantas dia tahu duduk perkaranya, ternyata seluruh pasukan pendamnya telah tertutuk jalan darah penidurnya, keruan kejut dan murka pula hatinya, darimana datangnya tokoh kosen yang telah menggagalkan rencananya, merobohkan lima ratus pasukan pendamnya tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, sungguh lihay dan tinggi kepandaian tokoh silat itu.

Sekonyong-konyong tersentak sanubarinya, pikirnya mungkinkah semua ini hasil berpuatan Bu- wi Ciangkun Tio Gun itu? Sekujur badannya menjadi basah oleh keringat dingin, arak beracun dipandangnya minuman nikmat yang menyegarkan badan, betapa tinggi lwekangnya sungguh tak berani dibayangkan. Semakin pikir Ing Si-kiat menjadi semakin takut, mengandal ilmu silat Hun Thian-hi yang begitu menakjupkan itu, bila mau memenggal kepala mereka rasanya segampang mengambil barang di dalam kantong bajunya sendiri.

Sementara itu, begitu keluar dari gedung Tan-siangkok langsung Thian-hi berdua naik kuda terus dibedal ke depan cepat-cepat, setelah di perjalanan, Thian-hi ulapkan tangan, lari kuda diperlambat, segera ia kerahkan tenaga mendesak arak beracun itu keluar dari perutnya. Begitu arak itu menyemprot di tanah, rumput sekitarnya yang kecipratan arak itu kontan menjadi kuning terbakar.

Diam-diam bercekat hati Ma Bong-hwi, begitu jahat arak beracun ini, namun lebih kagum lagi akan kekuatan Thian-hi yang bisa bertahan lama mengendom arak beracun dalam perutnya.

Setelah mengeluarkan arak beracun, badan Thian-hi terasa lemas dan kesal, batinnya; jahat benar-benar arak beracun ini.

Melihat keadaan temannya itu Ma Bong-hwi segera berkata, “Lote, lebih baik malam ini kau menginap dirumahku saja!”

Thian-hi tertawa-tawa, katanya, “Badanku masih cukup kuat, mungkin Baginda ada urusan dengan aku, aku harus berada di tempat tugasku.”

Begitulah akhirnya mereka berpisah ditengah jalan, Thian-hi langsung pulang keistana. Dalam hati selalu ia heran dan bertanya-tanya kenapa pasukan pendam Ing Si-kiat tidak muncul. Begitu memasuki kamarnya, tampak di atas mejanya terletak secarik kertas. dimana tertulis, “Besok tengah malam, bertemu dipuncak Thian-ting datanglah dan jangan membangkang!” — surat ini tidak dibubuhi tanda tangan, hanya tergambar sepasang pedang. Berkerut alis Thian-hi. pikirnya, aku belum ada kenalan di tempat ini, darimana orang ini bisa mengundang aku untuk bertemu muka, tanda sepasang pedang ini entah apa pula maksudnya, mungkin merupakan julukan seseorang.

Begitulan hati Thian-hi menjadi gundah, mau pergi atau tidak. kalau orang itu bisa keluar masuk dalam istana dan meninggalkan secarik kertas ini di atas meja, ilmu silatnya tentu tidak lemah, tapi apa tujuannya dia mengundang aku?

Tengah Thian-hi terpekur, seorang Gi-lim-kun beranjak masuk, lapornya, “Baginda minta Tio- ciangkun segera menghadap diistana!”

Thian-hi rada melengak, sembari menyimpan kertas itu ia mengiakan terus melangkah tersipu- sipu menuju keistana raja.

Setelah Thian-hi melakukan sembah sujudnya segera Baginda berkata kepadanya, “Apa kau tahu cara bagaimana sehingga kau dapat memangku jabatan Komandan Gi-lim-kun ini.”

Berdetak jantung Thian-hi, sahutnya, “Sebetulnya hamba masih banyak kekurangan, semua itu berkat budi dan anugrah Baginda raja.”

Baginda menggeleng pelan-pelan, ujarnya, “Tidak! Menurut maksudku semula hendak kuangkat kau sebagai wakil Ma Bong-hwi, namun tuan putri sangat simpatik terhadap kau, katanya jabatan komandan Gi-lim-kun masih kosong, kaulah yang paling cocok mendudukinya!”

Thian-hi bungkam, Ma Gwat-sian ternyata menebak betul. Kiranya memang maksud hati tuan putri yang mencalonkan dirinya pada kedudukan sekarang ini.

Dengan lesu Baginda menghela napas, katanya, “Apa kau tahu kenapa aku tidak mengusut lebih lanjut perkara hilangnya benda-benda mestika itu?”

“Hamba tidak tahu!”

“Begitu melihat situasi dan keadaan selama ini lantas aku maklum, tujuan orang itu bukan melulu mencuri barang-barang mestika itu, para pembesar dalam lingkungan istana saling berebutan pegang kuasa, aku menjadi pusing dan tak mau urus mereka lagi!” — Selesai bicara, ia menunduk dengan lemas lunglai. hatinya tampak sangat sedih dan murung.

Sungguh haru dan tergugah perasaan Thian-hi, Baginda raja ini kiranya bukanlah raja lalim yang begitu ceroboh seperti dugaan mereka semula. Bagi seorang raja, ternyata setiap hari setiap saat dirundung kerisauan hati yang memuncak. Memang kalau dia mengusut perkara ini labjh lanjut, pasti selurah negara bakal terjadi keonaran besar.

Terdengar Baginda berkata lagi, “Tuan putri adalah anakku satu-satunya, aku mengharap dia baik, tanpa dia mau bilang akupun tahu perasaannya. Selamanya dia pasti dapat memperoleh barang apa saja yang diinginkan, ternyata sekarang dia tidak sudi mendesak dan memaksa pada kau, aku sendiri aku pun tidak akan paksa kau. kalau mungkin saja, kuharap kau tidak menyia- nyiakan harapannya yang suci.”

Thian-hi tunduk semakin dalam tanpa buka suara.

Setelah menghela napas. Baginda berkata pula, “Cara bicaraku ini tiada perbedaan antara raja atau pembesar lagi, aku bicara sebagai orang tuanya!” “Baginda,” kata Thian-hi sambil angkat kepala, “Apakah kau tahu asal usulku?”

Dengan seksama Baginda pandang mata Thian-hi. katanya, “Aku sendiri kurang jelas, tapi aku tahu bahwa kau adik angkat Ma Bong-hwi, dan yang terpenting aku percaya penuh kepada kau!”

“Nama asliku bukan Tio Gun, yang benar-benar aku bernama Hun Thian-hi, aku juga bukan rakjat dari Thian-bi-kok ini, aku menyelundup datang dari Tionggoan.”

Terkejut Baginda, “Apa?” serunya berjingkrak bangun.

Thian-hi menunduk lagi, sahutnya, “Aku tahu akibat apa setelah aku menjelaskan asal usulku, tapi sekarang aku terpaksa harus bicara terus terang. tak lama lagi aku harus kembali ke Tionggoan.”

Baginda pandang Thian-hi lekat-lekat, sesaat lamanya bungkam dan duduk kembali, katanya, “Kau cukup jujur. Bagi orang yang menyelundup ke Thian-bi-kok ini hukumannya adalah penggal kepala, betapa pun tinggi kepandaian silatmu, puncak Thian-ting sana tidak kurang tokoh-tokoh kosen yang mampu meringkus kau. Rahasia ini hanya aku saja yang tahu, jangan kau katakan kepada orang lain!”

“Terima kasih akan budi dan keluhuran Baginda!”

“Dikala kita bersemajam bersama, aku tidak mau kau bicara begitu rupa, aku simpatik akan sikapmu yang perwira dan pambekmu yang tinggi. Kuduga tuan putri pasti ketarik juga akan sifat2mu ini!”

Thian-hi tidak bicara, dalam hati ia sangat bersyukur akan kemurahan hati Baginda. Sejenak merandek, Baginda meneruskan, “Sebelum kau pulang meninggalkan kami, apakah kau sudi tetap tinggal di istana saja?”

“Dengan senang hati hamba akan tetap tinggal dan menunaikan tugas sekuat tenaga.” “Apa kau mau bertemu dengan tuan putri?”

Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya manggut-manggut.

Baginda segera bangkit membawa Thian-hi masuk ke istana keputrian. waktu mereka memasuki sebuah kamar tidur yang besar, para dayang segera menyingkir minggir serta memberi sembah hormat. Di tengah sebelah pojok dinding sana terletak sebuah ranjang, disanalah tuan putri rebah, wajahnya kelihatan pucat dan rada kurus, kedua biji matanya terpejam, kelihatannya sedang tidur nyenyak.

Baginda menghela napas ringan, ujarnya, “Dia tidur nyenyak, mari kembali keluar saja!”

Mendadak tuan putri membuka biji matanya, sekilas pandang dilihatnya Thian-hi berada di situ dengan kaget tersipu-sipu ia berusaha bangun duduk dengan sikut menahan badannya, kedua matanya terbelalak besar, serunya, “Kau….”

Cepat Thian-hi membungkuk memberi hormat, sapanya, “Tio Gun memberi hormat pada tuan putri, semoga tuan putri lekas sembuh dan sehat walafiat!”

Baginda bergegas maju mendekat, sekian lama tuan putri terlongong memandangi Thian-hi, akhirnya dengan rasa hambar ia lepaskan topangan tangannya, badannya rebah lagi dengan lesu. Thian-hi menunduk, diam-diam dalam hatinya ia mencercah diri sendiri, “Apakah harus aku kemari menemui dia? Tetapi tinggal di istana belum tentu lantas benar-benar, pengalaman yang kuhadapi di Thian-bi-kok ini sungguh belum pernah terbayangkan sebelumnya.”

Sementara itu Baginda sudah dipinggir ranjang, tuan putri masih terlongong bungkam, Baginda menjadi rawan dan menghela napas, ujarnya, “Ih-ji….jangan kau membuat aku bersedih hati!”

Kelopak mata tuan putri mengembeng air mata, sesaat kemudian baru bersuara dengan sesenggukkan, “Hanya hatiku saja yang rasanya kurang enak, sebentar saja tentu sudah baik, aku tidak apa-apa, ayah tidak perlu bersedih!”

“Dia memang benar-benar, tak lama lagi dia akan segera kembali ke Tionggoan, untuk kau dia kurang cocok!”

Tuan putri termangu-mangu, sesaat lamanya baru tersenyum dan berkata, “Aku tidak akan salahkan dia!”

Dengan mengembeng air mata Baginda manggut-manggut, katanya, “Aku hanya punya seorang putri, kau tahu aku tidak bisa kehilangan kau!”

Thian-hi tahu dirinya tidak enak tinggal terlalu lama di tempat itu, secara diam-diam ia mundur keluar terus kembali ke tempatnya sendiri. Dalam hati ia berpikir Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna, bagaimana juga aku jangan menyia-nyiakan waktu untuk berlatih, maka malam itu semalam suntuk ia tekun dan lebih giat mempelajari Wi-thian-cit-cit-sek.

Hari kedua setelah selesai piket Ma Bong-hwi datang, Thian-hi lantas bertanya soal tanda sepasang pedang itu merupakan julukan siapa?

Dengan heran Ma Bong-hwi berkata, “Apa Thian-bi-siang-kiam juga tidak kau kenal?”

Melihat sikap Ma Bong-hwi ini bercekat hati Thian-hi, mungkin Thian-bi-siang-kiam itu merupakan tokoh aneh yang berkepandaian sangat tinggi, namun sediki tpun aku tidak tahu, jangan sampai aku memperlihatkan kebodohanku ini. Maka segera ia menjawab tak acuh, “Selamanya aku tidak tahu akan seluk beluk hal ini!”

Ma Bong-hwi mengawasinya dengan pandangan tidak percaya, serunya, “Apa! Jadi mereka mencari dirimu?”

Thian-hi mandah tertawa-tawa tanpa bersuara lagi. “Ini bukan soal main-main, mereka berdua mengasingkan diri di Thian-ting, kecuali urusan yang sangat besar selamanya mereka segan turut campur menguruS segala tetek bengek, bila benar-benar mereka mencari kau, jelas kau bakal menemui kesulitan, bila urusan baik itulah tak menjadi soal, kalau urusan buruk, kukuatir….”

“Tiada apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja,” tukas Thian-hi.

Ma Bong-hwi tidak percaya, katanya, “Dalam istana tiada tugas yang penting, mari kau ikut pulang ke rumahku, hanya adikku saja yang rasanya dapat mengorek keteranganmu, terhadap aku agaknya kau tidak sudi bicara blak2-an!”

Thian-hi menampik dengan alasan, namun Ma Bong-hwi memaksa dan menariknya keluar, apa boleh buat terpaksa Thian-hi ikut pergi. Setelah sampai di rumahnya Ma Bong-hwi suruh Thian-hi duduk menunggu di ruang tamu, tersipu-sipu ia masuk memanggil Ma Gwat-sian, tak lama kemudian tampak mereka keluar sambil bicara.

Melihat Ma Gwat-sian keluar Thian-hi lantas bangkit dan menyapa, “Toa-moaycu, kau baik?” Ma Gwat-sian tersenyum, katanya sambil duduk, “Apakah Thian-bi-siang-kiam mencari kau?”

Dengan kikuk Thian-hi manggut-manggut, seolah-olah dihadapan Ma Gwat-sian sedikit pun ia tidak berani membual, daya pikir dan analisa Ma Gwat-sian membuat dia sulit untuk bohong di hadapannya.

Ma Gwat-sian tertawa geli, Ma Bong-hwi segera menyeletuk, “Nah apa aku bilang? Setiap kali kau bertemu dia seperti tikus melihat kucing!”

Benak Thian-hi dan Ma Gwat-sian bergetar bersama, sekilas mereka saling beradu pandang, otaknya lantas membayangkan pikiran sendiri, tanpa bersuara.

Akhirnya Ma Gwat-sian tertawa, katanya, “Menurut dugaanku mungkin karena kedua biruang itulah sebabnya!”

“Biruang?”

“Apakah yang sedang kalian perbincangkan, apa boleh dijelaskan kepada aku?” Ma Bong-hwi menukas.

“Soal ini tak ada sangkut paut dengan kau, maka kaupun tidak perlu banyak tanya!” sahut Ma Gwat-sian.

Ma Bong-hwi menghela napas, ujarnya, “Begitulah aku yang menjadi engkoh ini, setiap urusan selalu harus dengar ucapan adik! Baiklah aku menyingkir saja supaya tidak mengganggu keasjikan kalian bicara!” ia bangkit terus tinggal pergi sambil tertawa lebar.

Merah jengah selebar muka Ma Gwat-sian, katanya tersenyum manis, “Sebagai seorang pejabat tinggi engkohku bicara terlalu bebas!”

Thian-hi juga tertawa, katanya, “Mungkin sekedar kelakarnya saja untuk menyenangkan hati belaka!”

Sejenak mereka berdiam diri, lalu Ma Gwat-sian berkata, “Apakah benar-benar kau gunakan tenaga dalam untuk memukul mati kedua biruang itu!”

Thian-hi manggut-manggut. Tatkala itu dia sudah punya pikiran bila hal ini diketahui orang lain pasti bakal menimbulkan buntut perkara yang menyulitkan dirinya, sayang waktu itu dia tidak memendam saja kedua ekor biruang itu, sekarang menyesalpun sudah kasep.

Kata Ma Gwat-sian, “Thian-bi-siang-kiam pasti sudah tahu bahwa orang yang membunuh kedua ekor biruang itu tentu kau adanya. Lwekang mereka sangat tinggi, mungkin kau bukan tandingan mereka. Tapi sebagai Bu-wi Ciangkun tentu mereka tidak berani berlaku kasar terhadapmu, yang penting hanya mencari tahu asal usul perguruanmu saja.”

Thian-hi tenggelam dalam pikirannya, tanyanya, “Orang macam apakah sebenar-benarnya Thian-bi-siang-kiam itu?” “Kalau kau tidak tahu bila ketemu mereka mungkin lantas dapat diketahui asal usulmu, bahwa kau

bukan warga Thian-bi-kok asli, dalam wilajah Thian-bi-kok ini tua muda laki perempuan tiada seorang pun yang tidak kenal akan kebesaran nama Thian-bi-siang-kiam!”

Bercekat hati Thian-hi; ‘untung hari ini aku kemari, kalau tidak kesulitan bakal lebih besar kuhadapi!’

Setelah merandek Ma Gwat-sian melanjutkan, “Mereka bernama Giok-hou-sian dan Pek-bi-siu.

Sepuluh tahun yang lalu, dari Tionggoan ada serombongan gembong-gembong iblis yang menyelundup kemari segera mereka yang tampil ke depan membunuh seluruh gembong-gembong iblis itu. Maka seluruh rakjak Thian-bi-kok tiada yang tidak kenal ketenaran mereka.” 

Thian-hi lantas membatin, “Thian-bi-siang-kiam ini pasti bertangan gapah dan kejam, yang jelas ilmu silat mereka pasti sangat lihay!”

Sekian lamanya mereka tenggelam lagi ke alam pikiran masing-masing, akhirnya Ma Gwat-sian menunduk serta bicara kalem, “Hun-toako, apakah benar-benar kau rada takut terhadapku seperti yang dikatakan oleh engkohku itu? Terhadap urusan orang lain aku dapat meraba dan memberikan pandanganku, namun serta menghadapi urusan yang melibatkan diriku sendiri, hatiku menjadi bingung dan kehilangan akal sehatku!”

Thian-hi tertawa, katanya, “Sebetulnya aku sangat kagum pada kau, kau benar-benar seorang cerdik pandai!”

“Kata Ma Gwat-sian, “Guruku sudah pergi lagi, entah kapan beliau baru akan pulang. Bila beliau ada disini, mungkin aku bisa minta pertolongannya. Bolek dikatakan guruku merupakan tokoh paling aneh di seluruh negeri kecil ini, ada beliau yang tampil ke depan, urusan sebesar gunungpun akan dibikin beres segampang membalikkan tangan.”

Thian-hi tertawa seraya menyatakan terima kasih, katanya, “Ini menyangkut urusanku sendiri tak enak kalau gurumu ikut campur, apalagi gurumu sedang pergi, mungkin sedang menyelidiki persoalanku di Tionggoan!”

Ma Gwat-sian mengawasi Thian-hi lekat-lekat, katanya, “Guruku menyuruh aku jangan terlalu dekat dengan kau, katanya waktu berada di Tionggoan kau dijuluki Leng-bin-mo-sin, sedang kau sendiri kau memang berwatak tinggi hati ya bukan?”

“Benar-benar,” Thian-hi mengakui, “Dikala gurumu pulang, saat itulah bencana bakal menimpa diriku. Sebelum kemari guruku pemah berpesan supaya aku tidak menunjukkan ilmu silatku, atau sebaliknya aku bakal ketimpa bahaya besar!”

“Kalau begitu jadi gurumu juga seorang tokoh aneh yang tinggi kepandaiannya, apalagi cara bagaimana beliau bisa mengetahui adanya tempat terasing ini?”

Thian-hi geleng-geleng kepala sembari tertawa tanpa buka suara.

“Ketahuilah guruku seorang yang cukup bijaksana dan mengenal aturan, bila kau tidak melakukan perbuatan yang tercela kau tidak perlu takut terhaday beliau, dia tidak akan sembarangan turun tangan tanpa alasan, apalagi….apalagi aku bisa mohon pengampunan pada beliau.” “Aku sendiri tidak merasa takut, sudah sering aku kebentur urusan yang menyulitkan diriku, aku sendiri juga bisa mengakui akan julukan Leng-bin-mo-sin itu, julukan ini memang cukup menakutkan bukan?”

Ma Gwat-sian termangu-mangu, agak lama kemudian mendadak bertanya, “Hun-toako, apa kau sudi beritahu lebih banyak tentang dirimu kepada aku?”

Thian-hi beragu sesaat lamanya, ujarnya, “Sekarang aku belum bisa bicara, bila kukatakan seakan-akan memberi bahan kepada kau untuk minta pengampunan terhadap gurumu, lebih baik setelah gurumu memberitahu kepada kau baru akan kujelaskan, begitu lebih jelas lebih baik!”

“Selalu aku merasa sikapmu terlalu congkak, apa kau merasa akan hal ini?”

“Selamanya aku pantang meminta2 kepada orang lain, pernah aku mengalami pahit getir yang mengenaskan, toh aku tidak pernah mendapat simpatik dan belas kasihan orang lain!” — teringat olehnya peristiwa di Giok-bun-koan dimana dia berhadapan secara langsung dengan Situa Pelita, yang dia minta dan pengampunan bukan untuk dirinya, tapi demi hidup Sutouw Ci-ko, saudari angkatnya itu!

“Aku tahu akan watakmu ini! Cara bagaimana kau akan menghadapi Thian-bi-siang-kiam nanti malam?”

“Aku sendiri belum tahu apa tujuan mereka mencari aku, mana bisa aku ambil kepastian?” “Watak mereka juga sangat takabur dan tinggi hati, kecuali guruku selamanya tidak mau

tunduk pada orang lain, mereka tentu akan menanyakan perguruanmu, dan kau tentu sulit untuk menerangkan. Urusan ini tentu sulit diselesaikan secara damai.”

“Kalau begitu aku menjadi tak berminat untuk kesana!”

“Kau harus pergi, kalau tidak mereka tentu akan mencari kau. Dengan kehadiranmu disana malah mempelihatkan jiwa ksatriamu, kau bisa membawa sikapmu yang sombong tapi jangan keterlaluan, atau mereka tidak akan memberi angin kepada kau, jiwa mereka rada sempit!”

“Terima Kasih akan nasehatmu ini, tiba pada waktunya tentu akan berbuat seperti apa yang kau katakan!”

“Aku pernah dengar kau mengajar meniup seruling kepada Siau-hou, tiupan seruling yang merdu itupun pernah kudengar juga, namun kau belum pernah mempelajari intisari keindahan seninya. Bila kau mempelajari Tay-seng-ci-lau segala persoalan tentu bisa dibereskan.”

Thian-hi tertawa-tawa tanpa bersuara.

Ma Gwat-sian melanjutkan, “Guruku pantang pandangan subjektif, kesan beliau akan sepak terjangmu selama berada di Thian-bi-kok ini sangat baik, namun soal urusanmu di Tionggoan rada kurang dapat menerimanya, bila kesannya terhadapmu baik mungkin beliau bisa menurunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepada kau, pada waktu itu kau akan menjadi seorang tokoh tanpa tandingan di seluruh jagad!”

“Beliau belum lagi pulang, dari mana kau bisa tahu? Jangan kecewa dan berputus asa!” “Bahwasanya kau sendiri juga paham akan persoalan inj, kenapa kau ngapusi dirimu?” Kecut perasaan Ma Gwat-sian, dengan mendelu ia menundukkan kepala. Sebetulnya dia sendiri tahu akibat apa yang bakal terjadi, namun sungguh aneh dan heran kenapa selalu ia berpikiran- ke arah yang baik, menurut anggapannya Hun Thian-hi pasti bisa merubah haluan dari sesat menuju kejalan benar-benar, sehingga dia mau sembunyi di tempat ini. Bila gurunya pulang dan mengetahui liku2 hidupnya tentu Hun Thian-hi bakal mendapat hukuman yang setimpal apakah adil sikap dan keputusan demikian ini?

Lama dan lama sekali Ma Gwat-sian menepekur. tiada memperoleh jawaban cara bagaimana ia harus membantu Hun Thian-hi, kecuali ia turunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepadanya, tapi dia tidak berani, karena bila dia mengajarkan ilmu hebat itu akan membuat gurunya lebih murka lagi, mungkin Hun Thian-hi akan menerima akibat yang lebih berat.

Entah berapa lama mereka berdiam diri, tenggelam dalam alam pikiran masing-masing. Tahu- tahu Ma Bong-hwi berjalan mendatangi. serunya, “Kalian sudah selesai bicara belum?”

Hun Thian-hi tersipu-sipu bangun, Ma Siau-hou memburu kehadapannya, serunya, “Guru!

Jangan kau pulang keistana lagi, lebih baik tinggal dirumahku saja, ajarkan aku meniup seruling!”

“Siau-hou sendiri bisa belajar! Aku tiada tempo lagi, kelak bila ada waktu pelan-pelan kuajarkan kepada kau!”

“Siau-hou selalu terkenang pada kau, tahu bahwa kau pun pandai main silat, diapun ingin berguru kepadamu!” demikian ujar Ma Bong-hwi.

“Guru,” seru Ma Siau-hou mendongak. “Kapan kau tinggal lagi dirumah kami?” Hun Thian-hi tertawa, sulit untuk memberi jawaban.

“Siau-hou,” kata Ma Bong-hwi. “Gurumu sangat repot. lekas kau masuk membantu ibumu!”

Siau-hou menarik tangan Thian-hi dan tak mau pergi, sesaat ia celingukan memandang Ma Gwat-sian, lalu katanya nakal, “Aku tahu!”

“Bocah kecil Kau tahu apa?” tanya Ma Bong-hwi.

Ma Siau-hou berlari masuk, serunya, “Ajah berkata pada ibu katanya pak guru sedang berkencan dengan Bibi. mungkin pak guru hendak menikah dengan bibi. setelah menikah tentu pindah tinggal disini!”

Keruan merah malu muka Ma Gwat-sian, demikian juga Thjan-hi menjadi kikuk dan geli. Ma Bong-hwi segera membentak dan suruh anaknya pergi.

Ma Gwat-sian lantas minta diri kembali ke kamarnya. Thian-hi juga minta diri kepada Ma Bong- hwi. Setiap kali ia selalu mendapatkan Thian-hi bicara dengan Gwat-sian di belakang orang lain, diam-diam ia girang hatinya, pikirnya: ‘kelak Thian-hi pasti bakal menjadi iparku.’

Cuaca sudah gelap, dengan tetap mengenakan pakaian seragam kebesaran Thian-hi naik kuda terus dicongklang menuju ke Thian-ting. Sepanjang jalan hatinya menerawang cara untuk menghadapi mereka, supaya urusan ini tidak berlarut dan membawa akibat yang buruk, terpikir pula olehnya bahwa sebelum guru Ma Gwat-sian pulang ia harus sudah menyelesaikan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, seumpama terjadi sesuatu diluar dugaan, dengan mudah ia bisa tinggal pergi dengan cepat. Tak lama kemudian ia sudah tiba dipegunungan Thian-ting. langsung ia bedal kudanya manjat ke atas, alam pegunungan gelap gulita, pekik burung malam sebangsa kokok-beluk saling bersahutan membuat suasana sunyi di pegunungan bertambah seram.

Jalan pegunungan semakin lelak lekuk, akhirnya kudanya tak kuasa lagi berjalan, terpaksa Thian-hi tinggalkan kudanya, meski pun latihan Lwekang Thian-hi belum mencapai puncak kesempurnaan, namun boleh dikata sudah cukup ampuh dan hebat.

Segera ia empos semangat dan menarik napas, cukup mengerahkan lima bagian tenaganya. tubuhnya lantas meluncur naik laksana roket menembus angkasa, ringan sekali setiap kakinya menutul tanah badannya lantas mumbul pesat kepuncak gunung. Setiba dipuncak tertinggi keadaan hening lelap, tiada kelihatan bayangan seorang pun, angin malam di atas pegunungan mengbembus kencang menderu dipinggir telinga, namun sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi sedikitpun Thian-hi tidak terganggu oleh keadaan alam yang ribut ini.

Tak lama ia menanti sambil celingak-celinguk tampak di bawah sana dua titik putih kecii sedang meluncur mendatangi dengan pesat. Tahu dia itulah Thian-bi-siang-kiam. Sejap lain Thian-bi- siang-kiam sudah hinggap di pucak gunung. Sambil tersenyum lebar Thian-hi awasi mereka satu persatu.

Kelihatan kedua pendatang ini orang-orang yang berpakaian aneh dan sudah lanjut usia, yang satu rambut dan jenggotnya sudah ubanan namun seorang yang lain rada lucu, rambut dan jenggotnya ternyata tetap menghitam, punggung mereka memanggul pedang panjang, sekali pandang saja lantas dapat diketahui yang berambut ubanan itulah Pek-bi-siu dan seorang lain sudah tentu Giok-hou-sian adanya.

Sementara itu dengan seksama mereka berdua juga tengah mengamati Thian-hi, segera Thian- hi maju selangkah serta menjura, sapanya, “Wanpwe Tio Gun, sesuai dengan Undangan kedua Cianpwe kemari, entah ada petunjuk apakah para Cianpwe?”

Pek-bi-siu tertawa, katanya, “Hanya ketarik dan heran saja kita mengundang Tio-ciangkun kemari, ada beberapa omongan ingin kami tanyakan kepada Tio-ciangkun.”

Giok-hou-sian menimbrung bicara, “Dalam Thian-bi-kok mendadak muncul seorang tokoh kosen yang lihay, kami merasa sangat heran dan kejut, maka kami merasa ketarik!”

“Sebetulnyalah Wanpwe bukan seorang kosen apa segala, ilmu silat aku hanya belajar secara sambil lalu dan cakar kucing belaka, bila Cianpwe berdua begitu memuji, sungguh Wanpwe merasa sangat malu!” demikian Thian-hi merendah.

Pek-bi-siu tertawa lebar, kelihatannya ia simpatik akan sikap Thian-hi yang merendah diri dan tahu tata kehormatan, katanya, “Tio-ciangkun, setelah melihat biruang yang kau bunuh dengan pukulanmu itu, meskipun harus kau tambahi dengan sebuah tusukan pedang lagi, namun Lwekangmu yang hebat itu sungguh jarang kami lihat selama ini. Entahlah apakah Tio-ciangkun sudi beritahu kepada kami siapakah gurumu yang mulia?”

Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Sebetulnya tusukan pedangku itulah yang tepat mengenai sasarannya, tiada yang perlu dibanggakan.”’

Melihat Thian-hi bicara menyimpang tidak mau menyinggung gurunya, Giok-hou-sian tidak sabar dan mendesak, “Siapakah sebenar-benarnya guru Tio-ciangkun….”

“0,” Thian-hi seperti tersentak sadar, sahutnya, “Pelajaranku ini kuperoleh dari sebuah buku saja!” “Jadi Tio-ciangkun belajar sendiri?” tanya Pek bi-siu menegas.

Sudah tentu Thian-hi tak leluasa menyebut nama gurunya Lam-siau atau menyinggung kebesaran Ka-yap Cuncia terpaksa ia manggut-manggut membenar-benarkan.

Terangkat alis Giok-hou-sian, tampak mukanya merengut berang, katanya, “Dinilai dari usiamu mungkinkah kau belajar sendiri dapat memperoleh tingkat kepandaian yang begitu tinggi?”

“Secara kebetulan aku memperoleh rejeki, aku pernah memakan Kiu-thian-cu-ko!” Thian-bi-siang-kiam saling pandang, tanya Pek-bi-siu, “Di tempat mana kau dapat?”

Thian-hi beragu sesaat lamanya, tahu dia bahwa jawaban kali ini tidak boleh ngelantur. sambil tertawa ia berkata, “Apakah Cianpwe berdua harus mengetahui?”

Pek-bi-siu mendengus, jengeknya, “Di dalam wilajah Thian-bi-kok ini, bila di tempat mana ada tumbuh buah ajaib seperti yang kau katakan itu, masa ada keserapatan giliranmu?”

Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang dan tersenyum simpul, katanya, “Dengan alasan apa Cianpwe berdua berani begitu yakin? Rejeki yang berjodoh tiada punya sangkut paut dengan tinggi rendah kepandaian seseorang!”

Diam-diam curiga dan sangsi pula hati Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian, namun dalam batin mereka mengakui akan kebenar-benaran kata-kata Thian-hi ini.

Kata Giok-hou-sian, “Soalnya kau main sembunyi2, tak berani bicara terang-terangan supaya diketahui oleh kami berdua?”

“Soalnya kenapa pula aku harus beritahu kepada kalian?” demikian Thian-hi tak mau kalah debat, “Selamanya aku belum saling kenal dengan kalian, kalian pun baru saja tahu adanya seseorang macam aku ini, apakah seseorang yang punya sekedar kepandaian silat harus kalian periksa dan diselidiki asal usulnya?”

Giok-hou-sian menjadi murka oleh debat Thian-hi yang beralasan itu. dengan menggeram ia melangkah setindak, jengeknya, “Tajam benar-benar mulutmu, kami mengajukan pertanyaan, selamanya tiada seorang pun yang berani tidak menjawab!”

Thian-hi pura-pura melengak dan angkat pundak keheranan, serunya, “Kalian adalah tokoh kosen dari aliran lurus bukan? Kenapa berkata demikian, aku tiada punya permusuhan atau sakit hati dengan kalian, kenapa pula aku harus menjawab setiap pertanyaan kalian?”

“Sahabat kecil,” Pek-bi-siu cukup licin, ia mengubah sikap dan merubah suasana yang semakin tegang ini. “Maksudmu bila ada permusuhan atau ada hutang budi baru boleh mengajukan tanya jawab?”

Thian-hi melenggong, tak tahu ia apakah Pek-bi-siu ada permusuhan atau pernah menanam budi terhadap dirinya, dalam hati bertanya-tanya, namun lahirnya tetap bersenyum, jawabnya, “Boleh dikata begitulah!”

“Kami Thian-bi-siang-kiam tiada sebab takkan mengajukan pertanyaan kepada kau, sebelum ini kamipun pernah sekedar membantu kau mengerjakan urusan kecil saja. Ketahuilah lima ratus pasukan pendam digedung Siangkok yang bersenjata lengkap itu, semua berhasjl kami tutuk jalan darah penidurnya. Anggaplah perbuatan kami ini sebagai budi kecil belaka!” — habis berkata Pek- bi-siu tertawa lantang. seolah-olah ia sangat bangga akan buah karyanya itu, bahwa sebenar- benarnyalah Thian-hi harus mengetahiii bahwa Thian-bi-siang-kiam bukan golongan tingkat rendah yang boleh diajak main-main.

Baru sekarang Thian-hi sadar, “Kiranya adalah perbuatan kalian”

“Bagi kami kejadian itu tidak perlu dibanggakan. tapi sekarang kau boleh menjawab pertanyaan kami bukan?” demikian desak Pek-bi-siu.

“Kiranya Cianpwe berdualah yang turun tangan, “Kemaren aku heran kenapa pasukan pendam itu seperti mati kutu, kalau begitu aku harus ucapkan banyak terima kasih pada kalian!”

“Kami sudah menerimanya dan tidak perlu disinggung lagi,” kata Pek-bi-siu, “yang penting kau harus menjawab pertanyaan yang kuajukan tadi.”

Thian-hi tahu kalau dirinya menjelaskan urusan bakal semakin runyam, Thian-bi-siang-kiam sudah puluhan tahun menetap di Thian-bi-kok, tempat mana saja yang tidak diketahui oleh mereka, maka katanya, “Seharusnya aku menjelaskan. Soalnya aku pernah berjanji kepada seseorang supaya tidak membocorkan rahasia tempat itu, harap Cianpwe berdua maklum dan memberi maaf!”

Giok-hou-sian mendengus, jengeknya, “Jelas kau hanya membual belaka! Menurut aku asal- usulmu kurang jelas, mungkin kau datang dari Tionggoan, betul tidak?”

Bercekat hati Thian-hi, sahutnya tertawa, “Cianpwe main menuduh karena aku tidak sudi menjelaskan dimana aku menemukan buah ajaib itu?”

Giok-hou-sian semakin berang, sebaliknya Pek-bi-siu tertawa, katanya, “Kalau begitu cobalah kau sebutkan nama orang yang melarang padamu itu!”

“Aku tidak tahu siapa namanya, diapun tak mau menerangkan padaku!”

“Usiamu masih muda, tapi berani membual hendak menipu kami berdua,” demikian jengek Giok-hou-sian, “masa ada urusan begitu gampang, dia yang kasihkan kau atau kau sendiri yang memperoleh buah ajaib itu?” .

Jelas kelihatan oleh Thian-hi bahwa Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian ini masing-masing berwajah warna merah dan putih, karena diberondong oleh pertanyaan terus ia menjadi jengkel, sahutnya dingin, “Apakah Cianpwe berdua anggap pernah menanam budi lantas mendesakku sedemikian rupa? Kenapa sikap kalian begitu kasar dan kurang terhormat? “

Pek-bi-siu merengut membesi, katanya kereng, “Soalnya karena asal usulmu yang tidak jelas jangan kau sangka ilmu silatmu sudah lihay, usiamu masih begitu muda berani memandang rendah orang lain!”

“Jika kalian tiada urusan lain lagi, maaf, aku mohon diri saja, tugas di istana menjadi bebanku, tidak bisa aku meninggalkan dinas terlalu lama!”

Tiba-tiba Giok-hou-sian terloroh-loroh dingin panjang, serunya, “Baru hari ini aku melihat ada seseorang berani bersikap begitu kurang ajar terhadap kami, ingin aku melihat betapa lihay bocah macammu yang belajar sendiri tanpa bimbingan guru ini!”

“Cianpwe tidak berhasil memeras dan mengorek keterangan, lantas hendak menggunakan kekerasan adu kepandaian?” “Sungguh besar nyalimu, tapi dengan sikapmu yang jumawa terhadap angkatan tua, sudah seharusnya kami berdua mengajar adat terhadapmu, tapi kau tak perlu takut. kami tidak akan mengeroyok kau seorang!”

Mendengar orang hendak menghajar adat pada dirinya, Thian-hi insaf bahwa hari ini sulit terhindar bentrok, betapapun sanubari Thian-hi tidak mau turun tangan, terutama ia tidak suka memperlihatkan ilmu silat aslinya. Dengan tertawa tawar ia berkata, “Satu lawan satu boleh! Satu lawan dua pun tidak menjadi halangan.”

“Bocah sombong!” teriak Giok-hou-sian menyeringai dingin, “bila kami tidak menghajar adat padamu, kau tidak akan tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, mari aku saja yang menjajal kepandaianmu, dalam dua puluh jurus bila kau tidak terkalahkan. pasti kami berdua tidak akan mempersulit lagi kepada kau!”

Girang hati Thian-hi, memang kata-kata inilah yang hendak dipancingnya dari mereka, serunya tertawa besar, “Sikap dan pembawaan yang gagah ini sungguh tidak malu kalian diangkat menjadi Thian-bi-siang-kiam!” lalu pelan-pelan ia melolos pedang serta katanya lagi, “Mari silakan Cianpwe mulai dulu!”

Walaupun Giok-hou-sian tahu bahwa dirinya sudah tertipu oleh pancingan Thian-hi, serta melihat tantangan Thian-hi yang mengumpak itu, hatinya menjadi girang juga. Pelan-pelan iapun mengeluarkan pedangnya, katanya, “Mari kau saja yang mulai serang!”

Thian-hi angkat kedua tangannya sedikit menjura lalu dari kejauhan menyodokkan pedangnya ke depan lalu ditariknya kembali dan berdiri tegak tak bergerak lagi.

Melihat Hun Thian-hi tidak sudi diberi hati dan tidak mau mengalah jengkel hati Giok-hou-sian, tanpa banyak cingcong lagi, tahu-tahu pedangnya melesat miring, segulung angin pedang yang menderu tajam kontan menerpa ke arah Thian-hi.

Diam-diam Thian-hi sudah ambil keputusan, ia tidak mau banyak urusan lagi, asal dirinya sudah menyambut dua puluh jurus serangan musuh berarti urusan dapat selesai begitu saja. Maka pedang panjangnya terangkat naik sedikit dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap ujung pedangnya memapak maju, begitu permainan pedangnya dikembangkan, segulung bayangan pedang yang kelabu memutih berkembang melebar di sekitar tubuhnya, membendung serangan pedang Giok- hou-sian.

Tujuan serangan Giok-hou-sian . ini adalah hendak menjajaki sampai dimana Lwekang Hun Thian-hi, serta serangan pedangnya dilancarkan, tahu-tahu kekuatan tusukan pedangnya ternyata sirna dan amblas di tengah jalan, hakikatnya dia gagal menjajaki betapa tinggi atau rendah Lwekang Thian-hi, sekali lagi pedang terputar membuat sebuah bundaran melancarkan tipu Hohg- sa-liu-co (pasir angin mengalir), kontan berkembanglah gugusan bayangan pedang yang kemilau merangsak dari berbagai penjuru menyerang kepada Thian-hi.

Melihat jurus serangan Giok-hou-sian yang aneh dan lihay ini, terkejut hati Thian-hi, serta merta hatinya sedikit gentar, demikian juga permainan jurus pedangnya menjadi merandek dan sedikit lamban, bahwasanya sejak mulai ia tidak kerahkan seluruh Lwekangnya, begitu kedua pedang masing-masing saling bentrok, kontan ia tergetar mundur dua langkah.

Mendapat hasil Giok-hou-sian tidak memberi hati, kaki melangkah maju pedang bergerak pula melancarkan serangannya yang lebih gencar. Kali ini Thian-hi lancarkan jurus lain dari Gin-ho-sam- sek yaitu Gelombang perak mengalun berderai, bayangan sinar pedangnya sekokoh gunung tegak memunahkan seluruh rangsekan Giok-hou-sian yang hebat itu. Penjagaan Thian-hi begitu rapat begitu kokoh kuat, sedikitpun Giok-hou-sian tidak bisa lihat atau menyelami jurus permainan apa yang digunakan oleh Thian-hi, demikian juga ia merasa jurus permainan pedang Thian hi sangat aneh, tanpa terasa ia berseru memuji, “Kepandaian yang hebat!” Pedangnya bergerak dan menyerang lagi lebih sengit.

Menurut perkiraannya semula, sejurus ia dapat menjebol bendungan lawan jurus-jurus selanjutnya pasti gampang mengocar-kacirkan pertahanan lawan, tak nyana perubaban permainan Thian-hi ternyata begitu cepat dan cekatan. meskipun rangsekannya cukup cepat, namun sekarang tidak mampu lagi mendesak mundur Thian-hi meski hanya setengah tindak saja.

Sekejap saja sepuluh jurus telah lewat. Sungguh kejut dan gusar pula hati Giok-hou-sian, selama ini Thian-hi melulu gunakan kedua jurus permainannya itu saja. sehingga serangannya yang lihay dan hebat itu selalu kandas ditengah jalan. Semula ia beranggapan betapa tinggi kedudukan Thian-bi-siang-kiam dan betapa tenar namanya di Thian-bi-kok, menghadapi bocah macam Hun Thian-hi ini meskipun dengan perjanjian dua puluh jurus, rasanya sudah berkelebihan dan sudah menurunkan derajatnya sendiri, maka selama puluhan jurus ini ia tidak mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya.

Separo dari perjanjian sudah dilewati, serangannya selalu kandas pula ditengah jalan, bila tidak kerahkan segala kemampuan lagi, mungkin dirinya bakal terjungal ditangan seorang bocah muda yang dianggap masih berbau pupuk ini.

Karena kekuatiran hatinya inilah serta merta kerahkan Lwekang di atas batang pedangnya.

Diiringi dengan kegesitan gerak tubuhnya yang lincah, pedang panjangnya berkelebat melayang seperti bianglala kelap-kelip, kemilau sinar pedangnya berputar terbang mengelilingi Thian-hi dengan rangsekan membadai.

Kontan Thian-hi rasakan empat penjuru sekelilingnya bertamhah gencetan tenaga yang besar sekali, karena kuatir dapat dilihat dan diketahui seluk beluknya Thian-hi tidak berani kerahkan kekuatannya, namun ia insaf bila dirinya tidak menyambut serangan musuh, mau tidak mau, akhirnya dirinya mesti terdesak untuk mengerahkan Lwekangnya. Sebat sekali ia mengegos miring, kakinya menjejak tanah tubuhnya lantas melayang naik keudara, dengan menukik turun inilah ujung pedangnya menutul kebawah dengan jurus Hun-liong-pian-yu salah satu jurus terlihay dari Thian-liong-cit-sek, yang diarah adalah ubun-ubunnya kepala Giok-hou-sian.

Melihat Thian-hi mulai lancarkan serangan balasan Giok-hou-sian lebih waspada dan bersikap hati-hati, tanpa berani ayal sedikitpun ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan serangan musuh. Ujung pedangnya teracung tinggi lalu berputar membabat dan membacok serabutan,

Sejak mula pertempuran Thian-hi tidak mau kerahkan Lwekangnya, sudah tentu dia punya perhitungan permainan pedangnya. melihat rangsekan balasan lawan pedangnya diputar turun naik merabu dengan berbagai tipu serangan gertak sambel saja, sedikit mengancam musuh terus ditarik pulang kembali tanpa benar-benar hendak melukai lawan.

Giok-hou-sian gusar mencak-mencak, lima enam belas jurus sudah berlalu, sedemikian jauh ia masih belum berhasil menjajaki sampai dimana tinggi atau rendah Lwekang Hun Thian-hi. Tiba- tiba ia bersuit nyaring panjang, pedangnya berubah memainkan jurus Hou-tiong-jit-gwat, Serangan pedang ini dilancarkan dengan penuh variasi yang menakjubkan, dikata satu jurus sebetulnya mengandung perubahan yang tidak terhitung banyaknya, bayangan pedang seperti sebuah poci pendek bundar saja menungkup ke atas kepala Thian-hi. Melihat itu bukan kepalang kaget Giok-hou-sian, serentak secara reflek ia lancarkan tiga jurus kembangan berantai untuk merintangi luncuran serangan balasan Thian-hi itu. Namun ia tidak berhasil menahan terjangan musuh. Dua puluh jurus pun tepat telah berakhir. Dilain saat Hun Thian-hi sudah jumpalitan hinggap di tanah, segera ia rangkap tangan serta menjura, katanya, “Atas kemurahan hati Cianpwe. Wanpwe sudah menandingi dua puluh jurus!”

Betapa pedih dan pilu hati Giok-hou-sian, anggapannya semula sepuluh jurus saja Thian-hi tidak akan mampu bertahan, tapi sekarang dua puluh jurus mampu ditandingi, malah dirinya sendiri yang terdesak dipihak yang runyam. tanpa merasa ia goyang2 tangan dengan rawan.

Kun Thian-hi menjadi girang, sangkanya urusan sudah selesai sampai disitu saja, baru saja ia niat tinggal pergi, tiba-tiba Pek-bi-siu membentak, “Nanti dulu!” — dengan kejut dan heran Thian- hi berpaling memandang Pek-bi-siu.

Kata Pek-bi-siu tertawa sinis, “Dimulut kau berkata sungkan, namun sepak terjang dan tingkah lakumu sangat takabur, kau memakai seragam militer, mengenakan mantel panjang lagi, dan yang lebih menjengkelkan kau tidak mau terima kebaikan orang lain!”

“Jadi maksudmu hendak menahan aku lagi?” demikian batin Thian-hi, namun lahirnya ia berkata, “Cianpwe! Sebetulnya Wanpwe terpaksa, kalau tidak mengenakan seragam ini, mana aku bisa pulang masuk kota!”

Pek-bi-siu menyeringai, ujarnya, “Itu bukan soal, yang jelas kulihat aliran silatmu dari Tionggoan, untuk hal ini kau harus memberi keterangan sejelasnya, ketahuilah selamanya Thian- bi-kok tidak akan membiarkan orang Tionggoan menyelundup kemari!”

Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang, sahutnya, “Kalau Cianpwe menuduh demikian aku pun tidak bisa main debat, tapi ingin aku tanya, uraiannya ilmu silat tiada perbedaan dengan garis yang tegas, entah apa yang disebut aliran Tionggoan atau golongan Thian-bi”

“Permainanmu ada beberapa jurus yang aneh, ada beberapa jurus pula seperti pernah kulihat entah dimana, tapi yang pasti bahwa dalam wilajah Thian-bi-kok tidak ada jurus permainan silat seperti itu.” demikian jengek Pek-bi-siu dingin.

Dalam pada itu Giok-hou-sian tengah menjublek, kelihatannya iapun dibuat keheranan, meskipun mereka melarang orang-orang Tionggoan kemari, tapi dulu sering mereka ke Tionggoan. Diapun merasa walau pun permainan silat Thian-hi rada aneh, samar-samar seperti pernah dilihatnya.

“Bagaimana! Kau datang dari Tionggoan bukan?” desak Pek-bi-siu.

Belum lagi Thian-hi menjawab, mendadak Giok-hou-sian berseru keras, “Tadi waktu kau balas menyerang aku apa namanya jurus itu?”

Berdetak jantung Thian-hi, jurus itu adalah Han-liong-pian-yu, Ilmu Thian-liong-cit-sek memang hebat, tidak sedikit kaum Kangouw yang pernah melihat dan tahu akan kehebatannya. Dari nada seruan Giok-hou-sian ini kelihatan memang dia pernah menyaksikan ilmu ini.

Sejenak ia merandek lalu jawabnya, “Jurus kesebelasankah yang kau maksudkan?”

Mendadak Giok-hou-sian berkata lagi, “Dulu pernah aku melihat ada orang menggunakan jurus permainanmu ini!” Thian-hi tertawa geli, ujarnya, “Permainan silat yang sama di seluruh dunia ini tidak terhitung banyaknya, jurus permainanku itu belum rampung seluruhnya, masa kau tahu apa betul jurus yang kau maksudkan tadi?”

“Siapapun yang datang dari Tionggoan harus diberantas lenyap!” seru Pek-bi-siu, “Sebelum kami jelas duduknya perkara, bila kau mengaku terus terang, kami akan beri jalan hidup padamu, paling-paling hanya larang kau pamerkan ilmu silatmu selamanya menetap di Thian-bi-kok. Tapi setelah dapat kami selidiki jelas, kematianlah jalan yang harus kau tempuh.”

Sudah tentu Thian-hi tidak sudi pilih satu diantara kedua cara yang ditunjuk ini, ia geleng- geleng kepala katanya, “Aku tidak mau main debat dan bertengkar dengan Cianpwe berdua. Kenyataan aku sudah bertahan sebanyak dua puluh jurus sesuai dengan janji kalian sendiri aku harus pulang, apakah Cianpwe berdua hendak menjilat ludah sendiri?”

Melihat sikap Thian-hi begitu tenang, namun kata-katanya selalu menghindari pertanyaan langsung Pek-bi-siu menjadi dongkol, katanya mendengus, “Kuanjurkan bicaralah terus terang!”

Selama ini memang Thian-hi sengaja men-cari2 alasan, tapipun tidak berani membual secara langsung. katanya tertawa, “Silakan kalian menyelidiki saja, sekarang mungkin Baginda sedang mencari aku, aku harus cepat pulang.”

“Pek-bi!” tiba-tiba Giok-hou-sian berteriak. “Pernahkah kau dengar Thian-liong-cit-sek dari Tionggoan?” — dengan seringai sinis ia tatap tajam muka Thian-hi.

Bercekat hati Thian-hi, bila orang tahu akan nama Thian-liong-cit-sek, terang mereka bisa tahu akan nama-nama jurus permainannya tadi.

Pek-bi-siu manggut-manggut, sahutnya, “Ya, sekarang aku ingat lagi!”

Dengan lekat Giok-hou-sian awasi Thian-hi, katanya pelan, “Kiranya kau sealiran dengan Lam- siau, apakah kau tidak mau mengaku?” — seringainya lebih seram.

Thian-hi tersenyum, sahutnya, “Kapan Cianpwe pernah dengar nama Lam-siau?”

Giok-hou-sian menggerung gusar, serunya, “Lam-siau Kongsun Thoan! Apakah dia ayahmu?” Mendengar nama Kongsun Thoan, itulah nama Sucou Thian-hi, atau ayah Kongsun Hong,

Thian-hi tertawa, sahutnya, “Selamanya Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan kepada orang luar!”

“Apakah nama Tio Gun itu bukan nama aslimu?” desak Giok-hou-sian.

Belum lagi Thian-hi membuka mulut, Pek-bi-siu bergelak tawa panjang, katanya, “Darimana bisa kau tahu sedemikian banyak, urusan Bulim di Tionggoan ada berapa banyak orang di Thian- bi-kok ini yang mengetahui? Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan orang luar, baru sekarang aku tahu dari mulutmu, dari mana kau bisa tahu begitu jelas? Apakah kau masih tidak berani mengaku bahwa kau datang dari Tionggoan?” sampai disini mendadak mereka mencelat berpencar kekanan kiri mengepung Thian-hi dari depan dan belakang.

Thian-hi insaf tidak mungkin mengelabuhi lagi, terpaksa katanya tertawa, “Buat apa kalian begitu bersitegang leher, apakah kalian takut menghadapi aku seorang?”

“Sepuluh tahun yang lalu dari Tionggoan ada meluruk kemari delapan orang, mereka dapat merambat naik ke Thian-bi-kok sudah tentu bukan tokoh silat kelas kambing, namun mereka berhasil kami bunuh seluruhnya, masa sekarang kami takut menghadapi kau seorang! Tapi kau bisa menetap disini begitu lama tanpa konangan kedok aslimu, sekarang malah menjabat kedudukan Komandan Gi-lim-kun lagi, kau betul cukup licin!”

Sesaat Thian-hi menjadi mati kutu tidak tahu harus menjawab apa. ujarnya, “Banyak orang yang sudah tahu, melulu kalian saja yang ketinggalan!”

Pek-bi-siu menggerung murka, semprotnya, “Tapi kamilah yang tidak akan beri ampun padamu.”

Sembari berkata telapak tangannya menyelonong maju menepuk kepunggung Thian-hi.

Caranya turun tangan cepat dan ganas, kekuatannyapun bukan olah-olah katanya.

Melihat Pek-bi-siu turun tangan, terpaksa Thian-hi harus mengadu jiwa, namun pertarungan ini menang atau kalah untuk selanjutnya terang dirinya tidak akan bisa menetap lama lagi diwilajah ini. Kecuali ia bunuh kedua orang ini supaya tutup mulut dan rahasia tidak diketahui umum!

Seiring dengan jalan pikirannya ini, ia membalik sebuah tangannya menyambut pukulan orang, menggunakan daya pental kekuatan benturan pukulan itu tubuhnya mencelat terbang kesamping terus berkelebat menyingkir, maksudnya mau tinggal merat saja.

Dilain pihak Giok-hou-sian sudah bersiaga diluar gelanggang sudah tentu ia tidak mandah membiarkan Thian-hi melarikan diri begitu saja, segera tubuhnya mencelat terbang, sebelah tangannya menindih ke atas kepala Thian-hi dengan pukulan berat.

Cepat-cepat Thian-hi menyedot hawa, sekonyong-konyong badannya terbang jumpalitan ditengah udara, badannya mumbul lebih tinggi. lolos dari serangan lawan.

Pek-bi-siu menjadi murka serunya, “Jangan harap hari ini kau dapat lolos?”

Sembari mengancam tubuhnya ikut melesat tinggi mengejar, kedua telapak tangannya didorong keluar memukul dari jarak jauh dengan setaker tenaganya.

Begitu mendengar kesiur angin pukulan musuh yang dahsyat ini terkejut Thian-hi. Kepandaian Pek-bi-siu memang tidak rendah, kecuali Si-gwa-sam-mo, mungkin tokoh-tokoh macam Situa Pelita pun tidak akan lebih ungkulan dibanding mereka berdua ini.

Untung Thian-hi membekal latihan Pan-yok-hian-kang, Lwekangnya maju pesat berlipat ganda Untuk menang dari keroyokan kedua orang ini memang tidak mudah, kalau untuk meloloskan diri saja cukup berkelebihan segampang membalikkan telapak tangan.

Begitu melihat serangan dahsyat yang menerpa tiba ini, Thian-hi memutar balik kedua telapak tangannya terjulur maju, kekuatan Pan-jok-hian-kang terkerahkan penuh, memukul balik ke arah serangan musuh.

Pek-bi-siu menjadi geram, pikirnya, “Bukankah kau cari mati ini?” Kontan ia kerahkan seluruh kekuatannya terus memapak maju secara kekerasan.

“Blang!” kekuatan pukulan sama bentur ditengah udara, menimbulkan gelombang angin yang menderu laksana angin topan, batu pasir beterbangan. Tampak tubuh Thian-hi terpental terbang ke belakang, sementara Pek-bi-siu melorot jatuh mentah-mentah terus sempoyongan beberapa langkah, setelah berdiri tegak mulut terpentang terus menyemprotkan darah segar.

Masih untung baginya karena Thian-hi rada memberi kelonggaran padanya, kalau tidak mungkin luka-luka yang dideritanya bakal lebih berat. Melihat Pek-bi-siu kalah dan terluka, sungguh kejut dan heran pula Giok-hou-sian, cukup sekali pukul pemuda yang masih bau pupuk bawang ini berhasil melukai Pek-bi-siu, lwekang sendiri setingkat lebih rendah dari saudaranya jelas diri sendiri jauh bukan lawannya.

Namun betapapun ia tidak rela membiarkan Thian-hi tinggal pergi begitu saja. dengan menghardik keras ia terbang mengejar, namun jaraknya sudah setengah li ketinggalan oleh Thian- hi, tampak tubuh Thian-hi melesat turun seperti meteor jatuh secepat kilat. Sungguh murka bukan kepalang hatinya, namun apa yang dapat dilakukan?

Sungguh Thian-hi merasa girang bukan kepalang. siapa nyana sekali pukul ia berhasil membuat Pek-bi-siu terluka parah, kini dapat membebaskan diri lagi dari kecokan mereka, namun demikian hatinya rada was-was pula, mungkin musuh terlalu pandang ringan dirinya, selanjutnya bagaimana untuk menghadapi kericuhan ini?

Thian-bi-siang-kiam jelas sudah mengetahui bahwa dirinya datang dari Tionggoan, soal ini bakal menimbulkan keonaran di seluruh negeri kecil ini, mungkin tiada tempat berpijak lagi dalam wilajah Thian-bi-kok bagi dirinya.

Tengah pikirannya melayang, sementara kakinya masih berlari kencang secepat anak panah. sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar petikan irama kecapi. Kontan berubah air muka Thian-hi, itulah irama kekal abadi, tempo hari ia pernah dengar lagu ini, namun orang yang memetik harpa kali ini jauh lebih pandai iramanya juga lebih mantap, jelas bukan petikan Ma Gwat-sian, jika bukan Ma Gwat-sian tentu gurunyalah yang sudah kembali. Dan yang lebih menguatirkan justru Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya.